Pedang Kayu Cendana Jilid 07

Jilid 07

BAU AMIS, apek dan kelembaban merangsang hidung. Tidak tahu sekarang siang atau malam. Karena tempat itu tak pernah kena sinar matahari, tak pernah melihat redupnya cahaya rembulan- Hanya kegelapan melulu yang dihadapi dan terbentang di depan mata, kegelapan yang tidak berujung pangkaL Disini tak pernah dia menghirup hawa segar, hanya bau kotor saja yang lelalu menyesakkan rongga dadanya.

Tidak pernah hujan tiada angin, hawapun rasanya beku, seperti tiada kehidupan lagi. Mungkin di mana adalah sebuah rumah, atau penjara di bawah tanah ? Mungkin juga bukan rumah atau penjara, tapi berada di neraka.

Dalam kesunyian ditempat gelap itu, mendadak berkumandang gelak tawa aneh, gelak tawa yang lebih seram dari jerit setan atau pekik dedemit, di dalam kedelapan yang dingin dan mencekam ini, lima jari sendiri tidak kelihatan, siapa tidak akan merinding dan berdiri bulu kuduknya.

Suara berkedut berkumandang sekejap. lalu tampak secercah cahaya menembus ketempat gelap itu, tampak sesosok bayangan berkelebat masuk. yang menyelinap kemari adalah seorang nyonya muda berusia tiga puluhan, berwajah cantik anggun membawa lamplon merah, diri alisnya yang berkerut nampak hatinya seperti dirundung banyak kegelisahan-

Dibelakangnya ikut masuk seorang kakek. kurus pendek, kupingnya tinggal satu, dia bukan lain adalah Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji Dengan sorot mata jalang Ni Ping-ji menatap kearah dinding segera dia mengulum senyum puas dan sadis.

Selangkah demi selangkah kedua orang ini maju menghampiri makin dekat. Dibawah penerangan lamplon yang guram, tampak di atas dinding bergantung menempel dinding seorang laki-laki yang berambut kusut masai dengan muka pucat kurus.

Kepalanya tertunduk lunglai, dua rantai sebesar ibuj ari kaki menembus tulang pundaknya dan terpantek di atas dinding, kaki tangannya terpentang lebar seperti melekat di dinding. Pakaiannya yang sudah koyak-koyak sudah tidak kelihatan warnanya, keadaannya begitu mengenaskan karena tersiksa. Setiba dibawah dinding, Ni Ping-ji menatap tajam penuh perhatian, seperti seorang seniman yang lagi asyik menikmati karyanya sendiri, lalu bergelak tawa kial-kiaL

Pelan-pelan akhirnya dia menekan sebuah tombol yang menonjol di dinding sisi kiri, maka terdengar sutra gemerincing, pelan-pelan orang yang tergantung diatas tembok melorot turun, namun kedua kaki orang itu agaknya sudah tidak kuasa menyanggah berat seluruh tubuhnya yang sudah kerempeng tinggal kulit pembungkus tulang, tubuhnya terus meloso jatuh terduduk. punggUngnya menggelendot di dinding.

Ni Ping-ji mendehem sekali lalu maju dua langkah, sekali renggut dia jambak rambut kepala orang itu sehingga kepalanya yang tertunduk lunglai jadi menengadah. Dengan seksama dia awasi muka orang itu, siapa lagi kalau bukan Pakkiong Yau-Liong.

Mulutnya tergagap, bibirnya gemetar, napasnya juga sudah senin kemis, matanya guram setengah terpejam. Hanya berselang setengah bulan, ternyata keadaannya sudah begitu mengerikan oleh siksaan Ni Ping-ji yang keluar dari batas perikemanusiaan.

"Keparat " damprat Ni Ping-ji. "Jangan pura pura modar. Masih ada siksaan yang lebih nikmat belum kau rasakan, tahu ?"

Melihat mula Pakkiong Yau-Liong yang kurus tinggal kulit pembungkus tengkorak, melihat sinar matanya yang redup, kembali Ni Ping-ji terkial-kial puas dan senang, begitu dia melepas renggutannya, kepala Pakkiong Yau-Liong terkulai pula.

Diam-diam dia membatin: "Dua hari ini kenapa kau tidak mengamuk tidak mencaci maki..."

Tiba-tiba suatu pikiran berkelebat dalam benaknya, sambil tertawa menyeringai dia menatap muka Pakkiong Yau-Liong, akhirnya dia membuka suara: "Keparat, hari ini akan kusampaikan sebuah berita gembira patut di rayakan. Bukankah kau hendak menuntut balas kematian bapakmu ? Bukankah kau hendak mencari Toh-bing-sik-mo ? Nah, biar kuberi tahu kepadamu, dia berada diBiau-kiang, bukankah berita ini cukup menggembirakan ?" Dalam keadaan setengah sadar, lapat-lapat Pakkiong Yau-Liong mendengar sebutan Toh-bing-sik-mo, pelan-pelan dia angkat kepalanya matanya memancar sinar aneh, bibirnyapun gemetar, namun hanya sebentar saja, kepalanya tertunduk lunglai lagi.

Ni Ping-ji terkial-kial pula, lalu berkata: "Ayolah tertawa keparat, silahkan pergi keBiau-kiang mencari Toh-bing-sik-mo, tuntutlah sakit hati bapakmu." Lalu jarinya menutuk ke Siau-yau-biat dipinggang Pakkiong Yau-Liong.

Kial tawa Ni Ping-ji yang menggila membuat tawa Pakkiong Yau- Liong yang terpingkel-pingkel kelelap. suaranya serak dan semakin lirih, tubuhnya mengejang dan gemetar. Tawa Ni Ping-ji sudah berhenti, tapi Pakkiong YauLiong masih terpmgkel pingkel.. suaranya semakin lirih dan pelan, akhirnya berhenti, tapi tubuhnya makin gemetar, darah mulai meleleh dari mulutnya^

Ni Ping-ji tertawa dingin. Wajah perempUan yang menenteng lamplon menampilkan perasaan yang sUkar dilukiskan, seperti kasihan, simpatik dan penderitaan- Bukan hanya sekali ini dia menyaksikan adegan seperti ini, tapi dia tidak berani menentang atau memperlihatkan reaksinya, maklum nasibnya sekarang tidak lebih baik dari Pakkiong Yau-Liong, kalau Pakkiong Yau-Liong tersiksa badaniah, tapi dia tersiksa batinnya.

Perempuan ini bukan lain adalah yang bercokol diam karena pengaruh obat bius Ni Ping ji sejak di ceng-hun-kok tempo hari.

Ternyata belum puas juga Ni Ping-ji menyiksa tawanannya. Dia tepuk sekali di dada Pakkiong Yau-Liong, tubuhnya tidak lagi mengejang atau gemetar, tidak tertawa pula, namun mukanya tiba- tiba mengkerut, matanya yang terpejam terbuka sedikit, gignya gemertak menahan sakit yang luar biasa, tubuhnya seperti di tusuki ribuan jarum, setiap sendi tulangnya seperti hampir copot, keringat dingin membasahi sekujur badannya. Rasa sakit memang sukar ditahan, dia ingin menjerit, meratap. menangis atau meraung, menyesali nasib dirinya. Selama setengah bulan ini dia telah disiksa oleh Ni Ping-ji setengah mati, badannya sudah kurus tinggal kulit pembungkus tulang ingin hidup tidak bisa, ingin mati- juga sukar.

Pakkiong Yau-Liong tahu, setelah dirinya kenyang merasakan siksaan ini, akhirnya juga pasti mati, tapi didalam hati kecilnya masih mengharapkan munculnya suatu keajaiban, karena dia masih ingin hidup, banyak tugas belum dibereskan.

Hatinya dendam, benci dan penasaran, namun semua perasaan itu akan turut terkubur bersama jiwanya yang tak akan lama hidup, dia maklum sekujur tubuhnya sudah pati rasa, otaknyapun sudah berhenti bekerja.

Hanya satu yang masih bersemayam dalam sanubarinya, yaitu harapan untuk lolos dari tempat laknat ini, lolos dengan selamat dan hidup, karena dia belum menunaikan tanggUng jawab yang masih dipikulnya, sadah tentu terhadap Tok-ni kau-hun Ni Ping ji diapun akan membuat perhitungan tersendiri pula, tapi semua ini hanya akan tercapai apabila keajaiban muncul dan membebaskan dirinya dari segala penderitaan ini.

Tiba-tiba Ni Ping ji terkial-kial pula, dari dalam lengan bajunya dia mengeluarkan beberapa batang bambu kecil kecil dan runcing. Mulutnya menyungging seringai sadis pula, matanya semakin liar mengawasi Pakkiong Yau-Liong yang tergantung diatas rantai.

Ni Ping-ji memegang sebatang bambu kecil dengan mendelik tiba-tiba dia tusukkan bambu kecil itu di tengah jari tangan Pakkiong Yau-Liong.

Rasa sakit seperti menusuk sanubari, saking kesakitan sekujur tubuh Pakkiong Yau-Liong mengejang, bola matanya yang guram terbeluik, tubuhnya kaku lalu jatuh pingsan

Darah segar tampak meleleh dari ujung bambu yang amblas setengah di tengah kuku jarinya setetes, dua tetes dan seterusnya membasahi tanah. Perempuan yang terblus menenteng lampion pun sampai terbeliak menyaksikan siksaan sadis ini, matanya mendelong mengawasi darah yang menetes dari jari Pakkiong Yau-Liong-Ujung bibirnya tiba-tiba gemetar, napasnya memburu, jantungnya berdetak lebih sepat kebencian sudah bersemayam dalam benaknya, penderitaan orang lain seperti juga penderiaannya sendiri, itulah manusia, manusia yang masih punya perasaan cinta kasih terhadap sesama, padahal pikirannya terbius oleh perbuatan kotor Ni Ping ji, namun sorot matanya tiba-tiba memancarkan cahaya terang, menandakan keteguhan hatinya setelah mengambil suatu keputusan, pelan-pelan dia membalik tubuh sambil menyeka air matanya yang tidak tertahan lagi.

Cahaya lampion yang guram tampak terlalu redup untuk menerangi ruangan yang gelap pekat ini, kepekatan yang menyiarkan bau amis dan anyir yang memualkan.

Agaknya Ni Ping-ji masih belum puas juga melihat hasil karyanya, kembali dia memungut sebatang bambu, pelan-pelan ditusuk kan pula ke jari Pakkiong Yau-Liong yang lain-

Rasa sakit membuat sadar Pakkiong Yau-Liong dari pingsannya, sekujur tubuhnya bergeringgingan, lalu kelejeran, mukanya yang sudah pucat tepos menampilkan rasa kesakitan yang luar biasa, bola matanya yang melotot berwarna merah darah, darah kembali menetes dari ujung bambu membasahi lantai di bawah kakinya.

Rasa sakit memang tidak tertahankan lagi, mulut Pakkiong Yau- Liong megap-megap. namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya, tubuhnya masih terus mengejang, namun keringat tidak lagi keluar. Hanya giginya yang gemerutuk sehingga menjadi paduan suara yang mengerikan dengan bunyi darahnya yang menetes.

Kecuali itu suasana di dalam ruang batu itu seperti beku, Ni Ping- ji tersenyum sadis, siksaan yang mengerikan yang dia lakukan agaknya belum juga mengetuk perasaannya, belum juga memuaskan hatinya, dengan tatapan kejam dia awasi keadaan Pakkiong Yau-Liong yang mengenaskan, mengawasi jari orang yang tertancap bambu serta darah yang mengalir setetes demi setetes.

Kecuali ujung mulutnya yang menyeringai sadis, muka Ni Ping-ji tidak menampilkan perasaan apa-apa, sifat kemanusiaannya agaknya sudah beku. Kembali diambilnya sebatang bambu, ditusuknya pula jari Pakkiong Yau-Liong ditangan yang lain, ditusuk dan bambu itu amblas pelan-pelan-

Rasa sakit kembali menyadarkan Pakkiong Yau-Liong dari pingsannya, tapi kembali dia pingsan pula karena kesakitan itu, gemetar tubuhnya kian keras sehingga rantai yang membelenggu tulang pundak, kaki tangannya berbunyi gemerincing.

Darah masih terus menetes, namun Pakkiong Yau Liong sudah tidak mampu merintih lagi meski rasa sakit menyiksa dirinya. Ni Ping-ji tertawa lagi dengan suaranya yang tinggi rendah menyentak jantung pendengarnya. Dalam kesakitan yang luar biasa, entah dari mana datangnya tenaga mendadak Pak kiong Yau-Liong meronta sekali lalu jatuh lunglai lagi tak ingat diri, tubuhnya setengah tergantung di atas dinding, matanya melotot mulutnya terbuka, darah mengalir keluar.

Rantai yang di sebelah kiri ternyata lepas dari badan Pakkiong Yau-Liong mengeluarkan suara berisik membentur dinding serta bergontai pergi datang. sebatang tulang tampak menongol keluar dari pundak Pakkiong Yau-Liong, tulang pundak kirinya yang terbelenggu rantai ternyata putus karena goncangan tubuhnya tadi. Darah memancur dari pundaknya membasahi tubuh, kulit dagingnya seperti tercacah, mengirikan.

Ni Ping-ji menggerung sekali, lalu dengan mendelik gusar dia menatap muka Pakki ong Yau-Liong. Sesaat kemudian dia mencabut bambu yang menancap diujung jari Pakkiong Yau-Liong, dari dalam kantongnya dia mengeluarkan bubuk obat serta membubuhi pundak dan jari-jari Pakkiong Yau-Liong dengan puyer putih lalu membalut luka- luka nya. Akhirnya dia keluarkan pula sebuah botol kecil dan menuang dua butirpil terus menekan dagu Pakkiong Yau-Liong dengan kekerasan sehingga mulut Pakkiong Yau-Liong terpentang, lalu dia jejalkan dua pil tadi.

Disinilah letak kekejaman Ni Ping-ji, dia sudah menyiksanya sedemikian rupa, tapi dia belum menginginkan korbannya segera mampus. Ni Ping-ji menekan, pula tombol di dinding kiri, bunyi gemerincing kembali bergema didalam ruangan itu, rantai bergerak

Pakkiong Yau-Liong digantungnya pula diatas dinding. Setelah daun pintu yang berat berderit lalu menutup, keadaan kembali menjadi gelap.

Entah berselang berapa lama kemudian, di tengah rasa kesakitan yang masih menyiksa dirinya pelan-pelan Pakkiong Yau-Liong siuman dari pingsannya, pelan-pelan dia angkat kepalanya, mulutpun mulai mengeluarkan rintihan perlahan, itulah berkat khasiat kedua butir pil tadi.

Rasa sakit di pundak dan jari-jarinya sungguh tak akan tertahankan oleh siapapun, tubuhnya seperti kosong, hampa tidak berjiwa atau bersukma lagi, rasanya seperti linu, tapi bukan sakit juga bukan pegal, pendek kata bagaimana perasaan yang tercampur aduk sukar dilukiskan.

Selama setengah bulan ini setiap hari dia disiksa dengan berbagai cara oleh Ni Ping-ji, sebetulnya tubuhnya sudah pati rasa, namun setiap kali dikala napasnya sudah kempas-kempis, Ni Ping ji selalu memberi minum pil kepadanya sehingga dia tidak mati, dengan pil obat mujarab yang bisa menambah darah sekaligus mempertahankan jiwa Pakkiong Yau-Liong namun dengan berbagai cara paling keji pula dia menyiksa Pakkiong Yau-Liong.

Selama setengah bulan ini, dia sudah mengalami siksaan lahir batin, siksaan badaniah yang terutama sampai hari ini, tenaga yang menjerit atau merintih juga sudah tiada lagi.

Keadaannya sudah tidak segagah, setampan serta selincah setengah bulan yang lalu, Pakkiong Yau-Liong yang sudah menggetarkan Kangouw sejak tahun yang lalu, kini tinggal kulit membungkus tulang saja lagi, keadaannya yang mengenaskan, meski setanpun merasa kasihan bila melihatnya, apalagi manusia, kecuali merinding siapapun tak akan tega menyaksikan keadaannya.

Padahal keadaannya sudah kempas-kempis, jangan kata ingin mempertahankan hidup tenaga untuk mencari kematian juga tidak ada lagi.

Dalam kegelapan, ditengah bau amis dan anyirnya darah sendiri, tanpa terasa dia menghela napas panjang, rintihan kembali keluar dari mulutnya.

Tiba-tiba bunyi berkerit yang menusuk pendengaran menyentak lamunannya, dibawah penerangan redup, tampak sesosok bayangan semampai memasuki kamar batu ini, dengan langkah enteng langsung dia mendekati dinding, secara gopoh dia menekan tombol sehingga Pakkiong Yau-Liong yang tergantung diatas dinding dikerek turun.

Pakkiong Yau Liong kaget dan heran, dengan terlongong dia mengawasi perempuan di depannya. Nyonya mudayang cantik berusia tiga puluhan, wajahnya menampilkan senyum manis, rasa tegang terbayang di wajahnya, sekilas dia melirik kepada Pakkiong Yau-Liong sambil tersenyum.

Demi melampiaskan kebencian, karena tidak tega menyaksikan Pakkiong Yau-llorg yang tersiksa, akhirnya dia nekad dan berkeputusan, tanpa memperdulikan segala akibatnya nanti, dia berusaha hendak menolong dan membebaskan Pakkiong Yau-Liong.

Lekas dia membebaskan rantai yang membelenggu kaki, tangan dan pundak Pakkiong Yau Liong, tidak perduli perbedaan laki perempuan, pelan-pelan dia angkat tubuh Pakkiong Yau-liong dan terus menggendongnya, dengan langkah enteng dia beranjak keluar dan ditelan kegelapan-

Dalam keadaan sadar setengah sadar, Pakkiong Yau Liong tahu dirinya digendong orang. Tiba-tiba hembusan angin dingin yang menusuk tulang, membuat tubuh Pakkiong Yau-Liong menggigil, seketika dia sadar dari pingsannya. Segera dia menarik napas dalam, menghirup napas segar, syukurlah bahwa Thian Yang Maha Kuasa telah memberi kesempatan kepadanya untuk melihat kebesaran alam semesta ini, meski keadaan jagat raya diselimuti tabir gelap.

Harapan hidup kembali bersemi didalam sanubarinya. Setelah sadar apa yang terjadi, sayang dia tidak kuasa bersuara untuk menyampaikan rasa terima kasih, tiada tenaga menolak kebaikan orang lagi, namun setulus hati diaamat berterima kasih, haru dan senang. 

Perempuan yang menggendongnya msih terus berlari secepat angin, akhirnya mereka tiba didataran yang banyak batunya, agaknya perempuan itu bersyukur bahwa usahanya berhasil maka dia mengendorkan langkahnya.

Dia bersyukur bahwa rencananya selama beberapa hari ini ternyata berhasil dengan baik. Setelah istirahat sejenak kembali dia tancap gas pula lari sekuat tenaganya, agaknya besar tekadnya untuk membawa Pakkiong Yau Liong kesuatu tempat yang aman-

Sayang napasnya semakin memburu, langkahnya juga semakin berat dan perlahan- Dia betul-betul letih dan kehabisan tenaga, didepan sebuah hutan akhirnya dia berhenti, pelan-pelan dia sudah berjongkok hendak menurunkan Pakkiong Yau-Liong, ingin beristirahat. 

Tiba-tiba gelak tawa dingin yang keras berkumandang dari dalam hutan, seketika perempuan itu berjingkat mundur dengan tubuh gemetar, bergegas dia angkat Pakkiong Yau-Liong terus dibawa lari pula sekencang memburu angin, padahal dia insyaf harapan untuk menyelamatkan diri sudah tidak mungkin lagi.

Sambil menggendong Pakkiong Yau- Liong dia lari terus diantara batu batu gunung yang berserakan, namun setelah gelak tawa tadi, sekelilingnya sunyi senyap. tak terdengar suara apapun dibelakangnya. Akhirnya langkahnya makin lambat lagi, dengan lengan bajunya dia menyeka keringat dijidatnya, kegelapan membentang tidak berujung pangkal didepannya. setelah dia menerobos lewat diantara celah-celah dua batu besar, dia maju lagi beberapa langkah, akhirnya dia bersuara kaget dan mengeluh dalam hati, ternyata lari tanpa arah ini telah membawa dirinya tiba dipinggir jurang, keadaan segelap ini, maka sukar diketahui berapa dalamnya jurang dibawah sana

Setelah menarik napas, pelanpelan dia membalik tubuh, seketika dia memekik kaget dengan muka berobah, entah kapan Ni Ping-ji yang berwajah kurus tepos, dingin kaku dan buas telah berdiri dibelakangnya sejauh dua tombak.

Sambil tetap menggendong Pakkiong Yau-Liong dia berdiri melenggong, Ni Ping-ji menatapnya lekat-lekat, begitu benci dan sadis, sorotnya seperti hendak menelan bulat-bulat. Selangkah demi selangkah dia maju menghampiri.

Perempuan itu seperti mendengar detak jantungnya sendiri, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dia melihat betapa buas sorot mata Ni Ping ji, terbayang betapa mengerikan siksa derita yang dialami Pakkiong Yau Liong umpama harus mati juga harus mati secara wajar.

"Biarlah aku mengadujiwa dengan kau." Demikian perempuan ini berkeputusan dalam hati, pelan-pelan dia menurunkan Pakkiong Yau-Liong.

Meskipun tegang, namun dia masih tersenyum dengan perasaan yang melegakan, sekejap dia menatap Pakkiong Yau-Liong sepenuh perasaannya.

Betapa sedih dan harunya hati Pakkiong Yau Liong, penasaran dan gegeran pula, sayang keadaan diri sendiri begini payah, dia tidak mampu berbuat apa-apa.

Dikala Pakkiong Yau-Liong terlongong, tiba-tiba perempuan itu menghardik dengan suara penuh kebencian, terus menubruk kearah Ni Ping-ji. Ni Ping-ji menggerung gusar, sambil menyeringai dia sambut terjangan si perempuan dengan tamparan kedua tangannya, dimana segulung angin melandai.

"Blang." Tubuh perempuan itu seperti menumbuk dinding kaca tubuhnya yang meluncur itu berhenti sekejap di tengah udara, tahu- tahu tubuhnya mencelat balik jungkir balik dan jatuh terbanting menumbuk batu pula, kepalanya pecah membentur batu,jiwanya melayang seketika.

Dengan seringai dingin NiPing-Ji memandang kearah mayat perempuan yang dibunuhnya, tanpa berperasaan pelan-pelan dia memutar tubuh dan menoleh, sorot matanya yang dingin beralih kearah Pakkiong Yau-Liong yang duduk dipinggir jurang dan tak mampu bergerak itu.

Lolong tawa keluar dari mulut Ni Ping-ji pula, suaranya seperti menembus mega menyusup lembah, siapa tidak merinding mendengar tawanya yang tajam memekak telinga.

Gelak tawa itu terus berkumandang di udara dan bergema di dasar lembah, sungguh tidak terperikan sedih hati Pakkiong Yau- Liong.

Menyaksikan kepala yang pecah, mayat yang.menggeletak tidak bernyawa, orang yang lagi bertolak pinggang dan mengakak kesenangan serta menggila, muka yang kurus tepos, telinga yang tinggal satu, manusia laknat macam Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji.

Mendengar gelak tawa lawannya yang masih bergema ditengah udara, perasaan Pakkiong Yau-Liong seperti diiris-iris, sedih nya bukan main, apalagi melihat kepala perempuan yang mumur, perempuan yang berusaha menolong dirinya, dia tidak kenal siapa dla, siapa namanya dimana tempat tinggalnya, bagaimana bisa berada disamping Ni Ping-ji, namun sekarang sudah ajal dalam keadaan yang begitu mengenaskan.

Diam-diam Pakkiong Yau-Liong menyesali nasibnya sendiri, kenapa takdir seperti sengaja mempermainkan nasibnya sehingga dia mengalami siksa derita sekejam ini ? Kenapa pula dalam keadaan yang sudah serba mengenaskan itu perempuan asing yang berusaha menolong dirinya harus ikut berkorban, malah jiwanya mangkat lebih dulu, bagaimana dia harus membalas kebaikannya ?

Gelak tawa aneh yang bergelombang di udara itu lebih memekak telinga lagi, siapa-pun akan mengkirik dan merinding mendengar nada tawa yang mengerikan itu.

Dengan sorot matanya yang dingin Ni Ping-ji menatap Pakkiong Yau-Liong yang duduk tidak jauh di bibir jurang, Pakkiong Yau-Liong yang sudah tidak menyerupai manusia lagi, bukan saja tidak mampu melawan, tenaga untuk bergerak pun sudah ludes, tubuhnya lunglai, maka seringai Ni Ping-ji lebih lebar, lebih sadis.

Dalam hati dia mengumpat: "Pandai juga kau menghasut orang untuk menolong jiwamu. IHm, sekali terjatuh ketanganku lagi, coba saja rasakan siksaanku yang akan datang"

Demikian batin Ni Ping ji sambil melangkah mendekati Pakkiong Yau-Liong.

Jangankan membela diri, Pakkiong Yau-Liong yang sudah tersiksa begitu rupa betul-betul mati kutu, tenaga menggerakkan kaki tanganpun sudah tiada, bagaimana dia bisa melawan atau melarikan diri.

Dalam keadaan demikian terpaksa Pakkiong Yau-Liong hanya memejamkan mata saja membiarkan musuh laknat ini menyeret dirinya pulang serta disiksa setengah mati, siksaan yang dikat batas peri kemanusiaan-

Langkah Ni Ping-ji yang berat semakin dekat, suasana terasa semakin tegang, berat seberat tambur yang ditabuh dengan suaranya yang gaduh, serasa semakin sesak napas Pakkiong Yau- Liong mendengar derap langkah orang.

Melihat betapa lucu dan kasihannya pak kiong Yau-Liong yang sudah mirip domba kecil tinggal dicaplok harimau, seringai Ni Ping-ji semakin telengas, mulutnya terbuka lebar, menampilkan tawa puas dan terhibur. Lambat tapi pasti langkah Ni Ping-ji semakin dekat dan akhirnya berhenti tak jauh didepan Pakkiong Yau-Liong. Mengawasi Pak kiong Yau-Liong dibawah kakinya, sekali raih Pakkiong Yau-Liong yang tidak mampu melawan ini akan dijinjingnya dan diseret pulang, kembali Ni Ping-ji terkial-kiaL Tawanya lebih jelek dari pekik setan danjerit dedemit, nada suaranya seperti menusUk genderang kuping Pakkiong Yau-Liong.

Entah darimana datangnya pikiran itu, mendadak Pakkiong Yau Liong mendapat ilham dari pada mati konyol dan tersiksa, lebih baik mati kenapa aku tidak mencari jalan kematian yang sempurna ?

Serta merta kepalanya sedikit miring, matanya mengerling kebawah jurang yang gelap gulita tidak kelihatan dasarnya. Mendadak boIa mata Pakkiong Yau-Liong melotot sebesar jengkol, ditengah gema tawa Ni Ping-ji yang masih mengalun di dasar lembah tiba-tiba dia menarik napas dalam, entah dari mana datangnya kekuatan, dengan setaker sisa tenaganya dia menjatuhkan tubuhnya terus menggelundung kejurang.

Kontan Pakkiong Yau-Liong merasa dirinya sepeti terombang- ambing di tengah angkasa, melayang ditengah kegelapan tanpa arah tujuan, mendadak kepalanya seperti di tumbuk sesuatu sehingga pusing dan pingsan tidak tahu apa-apa lagi.

Ni Ping-ji masih menengadah dan tertawa kial-kial, tapi mendadak tenggorokannya seperti tersumbat apa-apa sehingga gelak tawanya terputus, mulutpun melongo dan mata mendelik heran.

Buru-buru dia mendekati bibir jurang dengan mimik wajah yang aneh, dalam hati dia agak gegetun, batinnya: "Menguntungkan keparat itu."

Masih sempat dilihatnya tubuh Pakkiong Yau liong jungkir balik dua kali diangkasa terus melayang makin cepat kebawah. Tapi tiba- tiba dilihatnya bayangan hitam berkelebat dari samping kiri, laksana kilat menyambar bayangan hitam ini berhasil meraih tubuh Pak kiong Yau-Liong terus dibawa melayang turun kedepan anjlok kedasar jurang, hanya beberapa kali lompatan bayangan yang menangkap Pak kiong Yau-Liong itu telah lenyap tak karuan paranny a .

Heran dan kaget Ni Ping-ji dibuatnya, kulit mukanya yang kurus tepos tampak berkerimut beberapa kali, seringai sadis diujung mulutnyapun sirna seketika.

Kini mimiknya bukan lagi menampilkan rasa kecewa, tapi menyesal, dia menyesali dirinya sendiri kenapa tadi ceroboh tidak bertindak tegas saja, sehingga Pakkiong Yau-Liong yang sudah mendekati jurang kematian menggelundung kebawah jurang dan seCara kebetulan ada orang dibawah telah menggondolnya pergi.

Dengan perasaan heran, kaget bercampur gegetun pandangannya lanang mengawasi tabir kegelapan dibawah jurang, kemana bayangan hitam yang menggondol Pakkiong Yau-Liong tadi menghilang, akhirnya dia sadar sesal tak berguna, dengan menggeleng kepala kembali dia tertawa dingin, ujung mulutnya menyeringai sadis pula.

Dengan penuh kebencian mulutnya menggumam: "Hari masih panjang, asal dia tetap hidup, kelak masih ada waktu untuk mencarinya. Ni Ping-ji tetap akan bisa menyiksamu lagi sehingga kau mati tak akan terkubur lagi. IHm demikian pula orang yang hari ini menolongnya, diapun tidak akan terlepas dari siksaanku."

Begitu memutar tubuh dia sudah berniat tinggal pergi, tapi tiba- tiba dia mengerutalis, langkah kakinya yang sudah bergerak ditarik kembali.

Pikirnya "Eh, bukankah aku sudah memberitahukan kepadanya bahwa Toh-bing-sik-mo sudah kembali ke Biau-kiang ? jikalau dia masih hidup suatu ketika pasti akan meluruk ke Biau-kiang menuntut balas pada Toh-bing-sik-mo. Hahaha.. kenapa tidak aku menunggunya saja di Biau-kiang."

Tampak matanya terbeliak. sekali bergerak hanya beberapa kali tubuhnya berkelebat dengan lompatan berjangkit, bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan. ooo00dw00ooo

Sekarang mari kita kembali ke ceng hun-kok. Ditengah kekeh tawa Toh-bing-sik mo yang aneh, Tio Swat- in yang putus asadan mendelik mengawasi gendewa merah ditangan Toh-bing sik-mo pelan-pelan akhirnya memejam mata.

Untunglah di kala hatinya berputus asa itu suatu pikiran lain mendadak berkelebat didalam benaknya. Mata yang telah terpejam mendadak terpentang pula, seluruh kekuatan dia kerahkan dikedua tangan, mendadak menepuk dengan serangan dahsyat menyerang kepada Toh-bing-Mk-mo yang masih mengancam dirinya dengan ujung gendewa merahnya.

Toh-bing-sik-mo agak lena karena terlalu riang bahwa Tio Swat- in telah dibuatnya tidak berkutik, sungguh tak pernah dia bayangkan bahwa Tio Swat-in bakal bertindak senekad ini, sedikit melenggong itulah, tepukan kedua telapak tangan Tio Swat in dengan deru angin kencang telah menerjang tiba.

Dalam keadaan tidak siaga dan jiwa terancam begini, meski Toh- bing-sik-mo memiliki kepandaian lihay, juga susah meluputkan diri dari serangan Tio Swat- in.

Dalam detik-detik yang berbahaya itu, demi menyelamatkan diri, tiada pilihan lain, terpaksa sigap sekali dia berkelit kesamping terus melompat mundur sejauh mungkin.

Karena terlalu bernafsu dia kerahkan tenaga terlalu besar Tio Swat- in sampai tersuruk maju dua langkah baru berdiri tegak pula. walau usahanya tidak berhasil melukai Toh-bing-sik-mo, tapi ancaman gendewa lawan telah berhasil disingkirkan-

Bola mata Toh-bing-sik-mo yang kelihatan dibalik perban yang membungkus tubuhnya tampak memancarkan cahaya dingin buas, mendadak dia terkekeh pula dengan nada tawa yang lebih seram, gelak tawanya kembali didalam lembah mega hijau. Ditengah kekeh tawanya itu, tubuh Toh-bing-sik-mo yang bergerak kaku itu tiba-tiba menerkam kearah Tio Swat- in- Dikala tubuh Toh-bing sik mo menerkad maju itulah, mendadak dari samping terdengarlah sebuah hardikan nyaring dengan volume suara mantap berisi, sesosok bayangan tampak berkelebat keluar dari balik batu besar tak jauh disamping Tio swat- in, menyongsong terkaman Toh-bing-sik mo.

Dua bayangan orang sama cepat dan tangkasnya, keduanya bertemu dan berhantam ditengah udara "Pyar" tampak keduanya terpental balik dan melayang jatuh setombak lebih.

Mendengar hardikan dan melihat bayangan kelabu tadi, seketika Tio Swat-in terbeliak girang, hampir saja mulutnya berteriak mengawasi bayangan kelabu yang terdorong mundur, tapi suaranya urung keluar dari mulutnya setelah melihat dikhawatirkan tidak kurang suatu apa.

Yang menyergap Toh-bing--ik-mo dari samping dan menyelamatkan Tio Swat-in, ternyata bukan lain adalah Hwi-khong sini, guru Tio Swat-in yang telah mengasuh, membimbing dan membesarkan dia selama sepuluhan tahun, baru sebulan dia berpisah dengan sang guru.

Dikala Tio Swat-in terbeliak kesenangan sehinggi suaranya yang sudah serak tidak mampu bersorak girang itu, sesosok bayangan lain tiba-tiba tampak melesat pula dari arah datang nya Hwi- khong Sinni tadi, begitu cepat dan lincah gerakan bayangan orang ini, sebelum Tio Swat-in melihat jelas, tahu-tahu bayangan itu sudah hinggap di sampingnya. Baru kini dia melihat jelas pendatang ini adalah Tok-Liong sianli, sahabat kental gurunya.

Pundak Tio Swat-in segera ditepuk-tepuk ringan sambil tersenyum ramah, pandangannya cukup menghibur perasaan Tio Swat-in yang sebelum ini sudah tidak karuan.

Ternyata sejak Tio Swat-in turun gunung tanpa persiapan yang matang, Hwi-khong Sinni semakin kuatir, kebetulan teman baiknya Tok-Liong-sian-li berkunjung ketempatnya, setelah diperbincangkan mereka mengkhawatirkan keselamatan Tio Swat-in- Walau Tio Swat in sudah memperoleh warisan Hwi-khong Sinni, betapapun Lwekangnya masih cetek. pengalaman juga masih hijau, konon Toh-bing-sik-mo memiliki Lwekang tangguh dan berkepandaian tinggi dan keji, bukan mustahil bukan saja Tio Swat- in tidak berhasil menuntut balas, salah-salah jiwa sendiri ikut berkorban secara percuma, maka setelah dirundingkan akhirnya Hwi-khong Sinni berkeputusan mengajak Tok-Liong sian li turun gunung menyusul ke ceng-hun-kok.

Waktu mereka tiba, tadi kebetulan Tio Swat-in tengah terancam gendewa merah Toh-bing-sik-mo, jiwa raganya boleh dikata sudah terbelenggu ditangan Toh-bing-sik-mo. Dalam keadaan segawat itu, terpaksa mereka sembunyi dibelakang batu tidak berani beraksi, khawatir sedikit gerakan yang mencurigakan, jiwa Tio Swat-in bisa menjadi korban oleh gendewa Toh-bing sik-mo, maklum gendewa yang telah mengancam dada itu cukup disodokkan sedikit, jiwa Tio Swat-in pasti melayang seketika.

Mereka ikut tegang dan mengkhawatirkan keselamatan Tio swat- in sehingga berkeringat dingin. Terutama Hwi-khong Sinni, disamping khawatir diapun gugup setengah mati, namun apa yang dapat dia lakukan? Terpaksa mereka menunggu perkembangan selanjutnya, mereka sudah slap bertindak begitu memperoleh sedikit peluang, jiwa Tio Swat-in harus diselamatkan dari ancaman Toh- bing-sik-mo, meski bila terpaksa biar terluka parah sekalipun.

Sungguh tak pernah mereka bayangkan bahwa dalam menghadapi detik-detik kematiannya itu, Tio Swat in berani bertindak senekad itu, entahlah bagaimana datangnya ilham, mendadak dia menyerang dengan Bik-khong-ciang kepada Toh- bing-sik-mo. Untuk menyelamatkan diri, ternyata Toh-bing-sik-mo berhasil dipukul mundur setombak jauhnya.

Saking gusar ditengah kekeh tawanya kembali Toh-bing-sik-mo menubruk kearah Tio Swat-in- Namun Hwi-khong sinni tidak tinggal diam, sekali melejit dia melampaui kepala Tio Swat-in menyongsong tubrukan Toh-bing-sik-mo dengan pukulan telapak tangan. Betapapun perobahan dengan kedatangan gurunya membuat hati Tio Swat-in terhibur dan lega, akhirnya dia menarik napas lalu menghela panjang. Rasa tegangnya seketika pudar, sudah tentu kekuatan yang dikerahkanpun pelan-pelan buyar.

Akan tetapi dendam kesumat masih membara dalam benaknya, tekadnya masih menyala untuk menuntut balas kematian orang tuanya.

Kembali Toh-bing-sik-mo terpukul mundur oleh serangan telapak tangan Hwi-khong Sinni. Dengan kaku dia berdiri, matanya melotot gusar, perobahan yang mendadak ini membuatnya kaget dan heran, dengan seksama dia awasi dua wanita yang baru muncul serta menyelamatkan jiwa Tio Swat in ini.

Tiba tiba Tio Swat-in melompat kepinggir sana meraih pedang mestikanya yang tadi terpukul jatuh oleh gendewa Toh-bing-sik-mo Dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa, dia siap melabrak Toh-bing sik mo.

Sayang diwaktu tubuhnya terbungkuk memungut pedang mestikanya itu mendadak pandangannya menjadi gelap. sekujur tubuhnya tiba-tlba seperti lunglai tak punya tenaga sedikitpun, malah tanpa kuasa tubuhnya menggigil dan sempoyongan dua langkah, untung telah mengerahkan hawa murni dan menarik napas sehingga pikirannya kembali jernih. Mau tidak mau Tio Swat-in membatin.

"Apa sih yang terjadi atas diriku...? Kenapa mendadak kepalaku pening dan pandanganku gelap. belum pernah hal ini terjadi, mungkinkah aku..."

sepetti diketahui Tio swat in meluruk ke cenghun-kok dengan bekal dendamnya yang tak terlampias, setelah tak berhasil mengalahkan Pakkiong Yau Hong yang waktu itu masih menyamar sebagai Toh bing-sik-mo, akhirnya dia melabrak Toh-bing-sik-mo yang sesungguhnya dan kena dikalahkan total, dalam sedihnya, badan basah kuyup lagi oleh hujan, setelah bertempur mati-matian, kehabisan tenaga lagi. Luka hatinya belum lagi sembuh, ditambah rasa duka karena tidak berhasil menuntut balas, tanpa disadarinya dia sudah terserang angin dan badannya mulai demam, begitu kedatangan gurunya, rasa lega dan dada lapang, baru sekarang dia menyadari keadaan dirinya. Namun dasar bandel, sekuatnya dia pegang pedang mestika, sambil menenteng senjata dia menghampiri Toh- bing-sik-mo.

Toh-bing-sik-mo terkekeh-kekeh pula dengan nada gila, matanya mendelik mengawasi Tio Swat-in- Agaknya Hwi-khong Sinni juga sudah menyadari keadaan Tio Swat-in yang agak ganjil, umpama dalam keadaan normal, dia jelas bukan tandingan Toh-bing-sik-mo, apalagi dalam keadaan sekarang, sudah tentu sang guru tidak bisa berdiam diri membiarkan muridnya mencari kematian ?

Tapi diapun menyelami perasaan Tio Swat-in, tekadnya terlalu besar untuk menuntut talas, namun waktu masih panjang, keselamatan muridnya lebih di-utamakan, maka dia menghadang didepan Tio Swat-in sambil berkata sambil tertawa:

"Serahkan kepadaku, setelah kurobehkan dia, boleh nanti kau turun tangan membunuhnya . . . "

Tlo Swat-in mengerling penuh haru dan terima kasih kepada Hwi- khong sinni (gurunya), memang dia insyaf bahwa dirinya sudah tak akan mampu berbuat apa-apa lagi, mengangkat pedang nya sendiripun dia sudah merasa payah, mana mungkin melabrak Toh- bing-sik mo yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari dirinya.

Walau sekuatnya dia masih mampu berdiri dengan mengerahkan sisahawa murninya, tapi kepala berat kaki enteng, seluruh tubuh pegal linu dan lunglai... ... Ucapan Hwi-khong sini merupakan hiburan yang menentramkan gejolak hatinya.

Hwi-khong sinni menggerakkan tangan memberi tanda pada Tok- Liong-sian-li supaya dia menjaga Tio Swat-in- Pelan-pelan dia membalik badan, dari dalam lengan bajunya yang longgar dia mengeluarkan sebatang kebut panjang satu kaki, lalu menatap Toh- bing sik-mo yang berdiri tak jauh didepannya. Dari bentrokan dua kali tadi Hwi-khong Sinni tahu bahwa kepandaian Toh-bing-sik-mo yang tinggi, maka sedikitpun dia tidak berani memandang enteng, dia sudah siap menempurnya dengan seluruh kemampuannya untuk bantu sang murid menuntut balas kematian ayahnya.

Sebelum reda kekeh tawa Toh-bing-sik-mo, sambil menghardik tiba-tiba Hwi khong Sinni berkelebat, secepat kilat dia sudah melancarkan serangan kepada Toh-bing-sik-mo, berbareng tangan kanan bekerja, dengan jurus jun-hong-tek-gi, kebutnya menaburkan bayangan kelabu, dengan segulung angin kencang mengeprak kepala Toh-bing-sik-mo.

Lenyap kekeh tawa Toh-bing-sik-mo, tiba-tiba bayangan putih berkelebat, dengan mudah dia mengegos, berbareng gendewanya menukik dengan sasaran urat nadi Hwi-khong Sinni, sementara tangan kiri menjojoh keluar, ditengah jalan dua jari tengah dan telunjuknya yang terbungkus perban itu secepat kilat menutuk Jian- kin-hiat Hwi-khong sinni.

Hwi-khong sinni memang tidak menganggap ringan musuh nya, jurus jun-hong-tek-gi (angin musim semi mendapat arti) memang hanya gerak pancingan, diwaktu Toh-bing-sik mo mengegos itu, dia sudah menekan tangan memiringkan tubuh, sekaligus diapun meluputkan diri dari serangan balasan Toh-bing--ik,-mo yang lihay.

Disaat berkelit Hwi-khong Sinni sudah mengincar pertahanan didepan dada Toh-bing sik-mo yang terbuka, maka tidak mundur dia justru menyelinap maju, sekaligus dia gunakan jurus jui-tu-tan-ham (lengan mengebut hawa dingin), kebutnya mengencang runcing, secepat kilat menusuk ke Seng-kay-hiat ditengah lambung Toh- bing-sik-mo, gerakannya lincah serangannya telak dan tepat lagi.

Begitu serangan luput tahu-tahu ujung kebut lawan sudah mengancam perutnya sendiri, Toh-bing-sik-mo menekuk ping gang sambil menarik gendewa, kelima jari tangan kiri bagai cakar menggunakan jurus siong-kian hwi-cwao (s umber air diselokan gunung), bayangan telapak tangan putih bertaburan membawa deru angin yang mengiris kulit. Laksana samberan kilat mencengkram keujung kabut Hwi-khong Sinni yang menutuk tiba.

Setelah mengadu kekuatan ditengah udara dua kali tadi, Toh- bing-sik-mo yakin lwekangnya sendiri masih lebih tinggi dari Hwi- khong Sinni, maka kali ini dia berani tanpa berkelit tangannya mencengkram keujung kebut lawan yang menutuk tiba. jikalau lawan tetap mempertahankan serangan dan tidak merobah posisi, sementara dirinya tidak mampu membendung serangan lawan maka dirinya selanjutnya tidak akan mampu merenggut sukma orang pula.

Tapi jikalau dia mampu menangkap kebut Hwi-khong Sinni, berarti mematahkan serangan lawan dan senjata Hwi-khong Sinni bakal terampas, ini berarti ancaman jiwa pula bagi Hwi-khong Sinni.

Hwi-khong sinni mendengus sekali, pikirnya: "Buat apa aku mengadu jiwa denganmu?" pikiran bekerja, tanganpun bergerak^ menarik kebut berbareng dia mengeluarkan tangan kiri menyerang dengan jurus Hun-gi-jiu-ting telapak tangannya menyelonong keluar dari dalam lengan bajunya, membawa kesiur angin yang membisingkan telinga membelah kelambung Toh- bing-sik- mo.

Perobahan serangan Hwi-khong sinni bukan saja cepat juga aneh dan mendadak, tak pernah terpikir dalam benak Toh-bing-sik-mo bahwa Hwi-khong sinni mengabaikan kesempatan paling baik yang sukar diraihnya, mendadak menarik serangan merobah gerakannya malah, berbareng dikala cengkraman jarinya luput, lalu tiba-tiba membalik balas menyerang pula.

Saking kejut Toh-bing sik mo tidak sempat mengerjakan kakinya lagi, lekas dia menekuk pinggang menjengkang badan ke belakang, berbareng kaki menutuk bumi dengan gerakan Ki- hong- loh- yap (angin lesus menyapu daon) tubuh nya bersalto dua kali mundur kebelakang setombak jauhnya, untung masih sempat dia meloloskan diri dari serangan maut Hwi-khong sinni yang lihay dan mendadak ini. Begitu kaki menginjak tanah, Toh-bing sik-mo naik darah, sebat sekali sambil meraung tiba-tiba tubuh nya melejit keatas tetus bersalto pula, tangan kanan terbalik gandewa merah ditangannya menjojoh dengan jurus Jiu-ltn sip-ciau (sinar surya didalam hutan), bayangan gendewa merahnya membawa sejalur kekuatan dahsyat menindih kearah Hwi-khong Sinni.

Gerak-gerik Toh-bing-sik-mo meski kelihatan kaku ternyata gesit dan tangkas, maju mundurnya setangkas tupai saja, dikala Hwi- khong sinni merobah posisi mengganti serangan, dia sudah menggunakan ketangkasannya merangsak dengan hebat.

Belum seluruh serangan Hwi-khong sinni ditarik balik, tahu-tahu Toh-bing-sik-mo sudah merangsak maju pula secepat meteor jatuh, dalam keadaan kepepet, jelas tidak mungkin bagi Hwi-khong Sinni untuk menangkis atau mematahkan setangan lawan, umpama di paksakan juga akibatnya pasti fatal.

Tapi Hwi-khong sinni sudah bertekad untuk bertempur secara mantap dan tenang, setiap lobang kesempatan tidak akan diabaikan untuk menyergap musuh merebut kemenangan sudah tentu dia tidak mau mengadu kekuatan secara kekerasan, apalagi posisi sendiri lebih ringan, tujuh puluh prosen dirinya bakal dirugikan.

Maka tanpa ayal lekas dia menggeser langkah berpindah kedudukan, seiringan kupu kupu menari dia menyelinap mundur setombak jauhnya.

Berhasil mendesak musuhnya Toh-bing sik-mo terkekeh pula, nada tawanya kedengaran amat sombong dan takabur, suaranya mendengung di udara bergema dalam ceng hun-kok.

Tio Swat-in yang sudah lemah kondisinya menjadi semakin payah mendengar kekeh tawa yang mengiriskan, hakikatnya dia tidak melihat apa yang telah terjadi diarena pertempuran, pandangannya terasa gelap dan memutih, berbagai bayangan seperti berkelebatan dipelupuk matanya. Akhirnya dia mendelong sambil berdiri limbung, bertopang pada pedang panjangnya. darah serasa mendidih dalam dadanya, kepalanya pusing tujuh keliling.

Namun dasar bandel dan keras kepala dia tetap bertahan berdiri berusaha mengempos semangat dan mengumpulkan hawa murni, dia insyaf bila usahanya gagal maka dirinya akan ambruk dan jatuh sakit untuk jangka panjang.

Dengan penuh perhatian Tok-liong-sianli menyaksikan pertempuran, dia heran bahwa Toh-bing-sik-mo ternyata memiliki kepandaian yang luar biasa, khawatir Hwi-khong Sinni keCundang maka dia mempersiapkan diri memberi bantuan bila perlu.

Begitu kaki menyentuh tanah kembali tubuh Toh-bingsik- mo bergerak kaku menubruk kearah Hwi-khong sini yang berkelit mundur. Hwi-khong menjengek dingin, sebelum lawan menubruk tiba, dia miringkan tubuh sambil menggeser langkah kedepan, berbareng pergelangan kanan berputar, kebutnya menyerang dengan jurus Hing hun-yu-kok (mega mengembang didasar lembah) dengan desing angin yang kencang menggulung kearah Toh- bing- sik- mo.

Tubuh Toh-bing-sik-mo yang masih terapung itu ternyata bisa merandek dan membalik, gendewa merahnya diulur kedepan depan jurus Gwe-jui -san-ya (rembulan doyong di tegalan liar), bayangan merah berkelebat mengepruk batok kepala Hwi-kiong Sinni.

Bersama dengan itu tangan kiri tegak membelah dengan jurus Gik,san-wan-ciau (rembulan menerangipucuk gunung) menabas keleher Hwi-khong Sinni.

Hwi-khong Sinni memiringkan tubuhnya sambil doyong kebelakang meluput diri dari keprukan gendewa, sementara tangan kanannya setengah tergenggam balas menyerang dengan jurus Kong gi-beng-goat (sinar memancar kabut timbul) dari samping dia berusaha mencengkram urat nadi pergelangan tangan kiri Toh-bing- sik-mo. Kebut ditangan kanan sekaligus terayun dengan setangan Tiang- siu-biau-hiang (lengan panjang menyibak harum) dengan deru angin keras balas menampar muka Toh-bing-sik-mo, dua jurus serangan dilancarkan bersama.

Lekas Toh bing-sik- mo menurunkan lengan membalik gendewa, dengan tangkas dia berkelit, lalu dengan jurus Jiu-khang-ce tiau (kehilangan biduk di muara luas), bayangan gendewanya berlapis- lapis, kembali Hwi-khong Sinni dirabunya dengan gencar.

Maka Nikoh tua yang berjubah kelabu ini harus mengembangkan Ginkang dan ketangkasan gerak tubuhnya berhantam melawan Toh- bing-sik-mo yang digubat perban sekujur badannya.

ceng-hun-kok masih guram dan beCek serta licin, tapi kedua orang ini memang memiliki ketangkasan luar biasa, gerak-gerik mereka tetap gesit dan lincah saling serang dan berkutet sengit.

Betapapun kepandaian Toh- bing-sik mo memang setingkat lebih tinggi, namun dalam waktu singkat dia belum mampu meroboh kan Hwi-khong Sinni.

Meski Hwi-khong sinni berpedoman dengan bertempur mantap dan tenang, lunak mengalahkan keras dan sikap diam melawan aksi lawan, setiap peluang pasti menyergap lawan, namun dia pun tidak mampu melukai apalagi merobohkan Toh-bing-sik-mo.

Cepat sekali, enam puluh jurus telah lewat. Walau belum dapat merebut kemenangan, lama kelamaan Hwi-khong sinni semakin bingung dan gerak-geriknya agak lamban dan makan tenaga.

Dengan tegang, tanpa sadar Tok-Liong-sianli selangkah demi selangkah maju mendekati arena. Dia khawatir bila Hwi-khong Sinni kalah cepat dan tertawan oleh musuh, sehingga seluruh perhatiannya dia curahkan atas keselamatan Hwi-khong Sinni, melupakan Tio Swat-in yang dipasrahkan kepadanya.

Agaknya Toh-bing-sik-mo juga tahu bahwa Hwi-khong Sinni sudah kepayahan melawan dirinya, maka serangannya semakin gencar dan lihay, seperti hujan badai saja dia incar Hwi-khong Sinni dengan berbagai serangan gendewa dan telapak tangan.

Tiba-tiba Toh-bing-sik-mo tampak membalik dengan putaran jungkir balik, kaki di atas kepala dibawah, tubuhnya lurus tegak^ tangan kanan berputar dengan jurus Lui-sin-tin ce (malaikat guntur menggetar bumi) gendewa merahnya membawa kesiur angin dan membisingkan telinga, laksana gugur gunung saja menindih kepala Hwi-khong Sinni.

Bukan saja serangan keji, gerak-geriknya cepat dan aneh pula, maka dapat dibayangkan betapa berbahaya serangan ini.

Hwi-khong Sinni terkesiap kaget, lekas dia melesat mundur, namun "Bet" tak urung pakaian dipundaknya tergantol sobek oleh ujung gendewa lawan, goresan merah tampak diatas pundaknya.

Baru kaki menyentuh tanah dan belum sempat memperbaiki posisi, kekeh tawa yang memekakkan telinga seperti hampir memecah genderang telinganya, tanpa memberi kesempatan Toh- bing-sik-mo telah menubruk tiba pula dengan rangsekan yang menggebu.

Saking murka kali ini Hwi-khong Sinni tidak berkelit lagi, dilihatnya Toh-bing-sik-mo telah menubruk datang, kontan dia menyendal kebutnya, dengan jurus Ngo-Liong-pi-gi (lima naga membanting cakar), serangan yang mengejutkan, kebutnya menimbulkan lima jalur satu kekuatan angin kencang masing- masing melesat mengarah lima Hiat to besar di dada Toh-bing sik- mo, lima jalur angin laksana anak panah, bila tersambar pasti belong dan jiwapUn melayang.

Inilah jurus serangan ilmU kebut ciptaan Hwi-khong Sinni yang dipelajarinya selama belassan tahun. Dengan Ngo-Liong-pi-gi yang dibanggakan ini, entah berapa jago-jago silat yang pernah dia kalahkan-

Sebetulnya Toh-bing-sik-mo sudah merasakan kelihayan jurus serangan ini waktu melawan Tio Swat-in tadi, cuma tadi Tio Swat-in menyerang dengan pedang, kini Hwi-khong Sinni sendiri yang melancarkan pula dengan kebutnya. Lwekang nya lebih tinggi, latihan lebih matang pula, maka perbawa jurus ini sudah tentu lebih lihai dan menakjubkan-

Tahu Ngo-Liong-pi-gi tak boleh dilawan, lekas Toh-bing-sik-mo melorot turun sambil miring tubuh terus berkelit mundur.

Tapi deru angin pukulan telapak tangan yang dahsyat tahu-tahu telah memapak dari belakang Toh-bing-sik-mo. Penyerangnya adalah Tok-Liong sian li, sejak tadi dia memang sedang menunggu kesempatan baik untuk menyergap musuh dan membekuknya, maka dia tidak hiraukan lagi peraturan dunia persilatan atau menjaga gengsi segala, kebetulan Toh-bing sik-mo mencelat mundur membelakangi dirinya, maka dia yang sejak tadi sudah siap segera menggencet dari arah yang berlawanan dengan Hwi-khong Sinni.

Toh-bing-sik-mo berusaha menyelamatkan diri, tapi begitu merasa dari belakang ada serangan pula, segera dia insyaf arah yang ditempuhnya salah, diam-diam dia mengeluh dalam hati.

Dalam gugupnya lekas dia menjatuhkan diri kesamping berbareng gendewanya bekerja menangkis serangan gencar serta lihay Hwi-khong Sinni.

Tapi dalam sedetik itu kebut Hwi-khong sinni yang berpencar menjadi lima jalur itu tiba-tiba bergabung pula menjadi satu, dengan gaya serangan sama tetap menutuk kearah Toh -bing-sik- mo.

Kontan Toh-bing-sik-mo merasa lengan kanannya terserempet miring oleh tusukan kebut Hwi-khong sinni, sehingga perban yang membalut lengannya pecah dan berhamburan, gendewa yang dipegangnya hampir saja terlepas dari pegangan.

-oo0dw0oo-