Pedang Kayu Cendana Jilid 06

Jilid 06

SELAMA dua puluh tahun, Tok-ni kau-hun Ni Ping ji giat berlatih dan banyak mencipta ilmu khusus untuk melawan dan memecahkan Siang- hoan-coat itu, jerih payahnya ternyata tidak sia-sla, meski dia tidak yakin dirinya mampu memecahkan ilmu lawan, tapi dia yakin latihannya pasti ada hasilnya.

Sayang dalam waktu yang terdesak ini, tidak sempat dia menggunakan ilmu simpanannya itu. Sudah tentu diapun segan mengadu sepasang tangannya dengan tombak lemas Pakkiong Yau- Liong yang dilandasi tenaga lwekang yang hebat.

Tidak menggembor, tapi mendadak dia tarik napas dalam, seluruh kekuatan tenaganya dia salurkan ketelapak tangan, mendadak dia menggempur dengan Bik-khong-ciang kearah ruyung lemas lawan- Walaupun usahanya dilakukan tergesa-gesa dan dalam tempo yang sangat singkat, tapi gempuran telapak tangannya ternyata cukup mengejutkan-

Kekuatan dahsyat Bik-khong ciang yang dilancarkan Ni Ping-ji ternyata sirna ditelan tenaga serangan ruyung lemas Pakkiong Yau Liong yang lambat tapi kuat itu, beruntung tubuhnya yang terapung itu berhasil meminjam daya pantul dari benturan keras itu melayang pergi sebelum jurus kedua Siang hoat coat Pak kiong Yau Liong sempat dilancarkan, dengan enteng dia melayang turun setombak jauhnya. Diam-diam dia melelet lidah dan mengucap syukur dalam hati.

Dalam waktu sekejap ini, baru Pakkiong Yau-Liong memperoleh peluang ganti napas.

Bahwa serangannya tidak membawa hasil, kalau reaksi dirinya kurang cekatan, jiwa sendiri malah terancam oleh senjata lawan, karuan saja Ni Ping-ji semakin berkobar amarahnya. Padahal, dalam sekejap ganti napas ini, Pakkiong Yau Liong sendiri pun merasa kaget dan heran, karena Ni Ping-ji mampU membebaskan dirinya dari dua jurus Siang hoan-coat yang dilancarkan-

Menerawang situasi yang dihadapi, Pak kiong Yau-Liong insyaf bahwa untuk mencapai keinginan menuntut balas kematian orang tuanya, harapannya terlalu kecil, walau umpama Ni Ping ji ditengah jalan maU mengUndUrkan diri dalam percaturan adU tenaga dan otot ini, Pakkiong Yau-Liong maklum tenaganya sekarang sudah banyak terkuras, sisa tenaga yang ada sekarang tidak akan cukup kuat umuk melabrak Toh-bing sik-mo pula.

Jelas betapa sedih dan penasaran hatinya, sungguh sukar dilukiskan. Karena dendam dan penasaran tidak terlampias, saking gegetun air matanya serasa hampir bercucuran.

Pada saat itulah, setelah maklum perkembangan situasi yang dihadapi, NiPing-ji bertekad bulat, maka tanpa mengeluarkan suara dengan mendelik buas, dia mendorong kedua tangan dari depan dada, segumpal tenaga dahsyat terbit diantara kedua tangannya yang menyilang itu terus melandai kearah Packiong Yau-Liong. Memangnya Pakkiong Yau Liong sudah nekad, dalam gusarnya diam-diam dia berkeputusan juga : "Baiklah, biar aku adu jiwa dengan kau."

Pakkiong Yau-Liong tidak ragu lagi, mendadak dia pasang kuda- kuda, lutut ditekuk kedua ibu jari tangannya menggantol ruyung lemas, kedua telapak tangan terbalik lurus menghadap kedepan serta, pelan-pelan didorong ke depan, tenaga lunak yang tidak kelihatan diam-diam timbul dari telapak tangannya.

Walau kelihatannya tidak sedahsyat damparan gempuran Ni Ping- ji, tapi kekuatan dorongan Pak kiong Yau-Liong mengandung dua unsur tenaga keras dan lunak. sehingga merupakan jalinan kekuatan yang tangguh juga , apalagi Pakkiong Yau-Liong sudah bertekad adu jiwa, maka diapun menggempur dengan seluruh kekuatannya, dapatlah dibayangkan betapa besar kehebatannya.

"Plak" suara benturan tidak keras, tampak Ni Ping-ji tergentak mundur setombak lebih, mulutnya terbuka menggelak tawa aneh Pak kiong Yau-liong seperti digentak keras, tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, kedua lengannya terasa lemas pegal, ruyung lemasnya terpental lepas dari pegangan-

Kalau Tok ni-kau-hun NiPing-ji bergelak tawa, adalah Pakkiong Yau-Liong amat pilu dan hilap. Bibirnya gemetar, mulutnya terpentang ingin menggembor melampiaskan penasaran hati, namun kerongkongan terasa kering, lidah kelu suaranya tertelan kembali.

Tanpa memberi peluang, ditengah gelak tawanya Ni Ping-ji sudah merangsak pula. makin meledakama rah Pakkiong Yau-Liong, ada niat mengerahkan seluruh kekuatan Lwekang-aya mengadu kekuatan biar gugur bersama musuh. Dia sudah siap menggempur, sayang dalam pandangannya yang berkaca-kaca air mara, tiba-tiba muncul pula adegan mengerikan yang tidak pernah terhapus dalam ingatannya yaitu bayangan berlepotan darah dengan rambut kepala awut awutan, sebatang panah menancap tembus di dadanya. Maka luluhlah semangatnya, diam diam dia membatin : "Pakkong Yau-Liong, jangan terlalu emosi dan diburu oleh perasaan hati menghadapi persoalan genting ini, bila salah langkah ceng-hun-kok adalah tempat kuburmu maka ayahmu yang dia lam baka tidak akan mati dengan meram. Sudah sepuluh tahun aku menanti, apa bedanya tertunda pula beberapa hari ? Selama gunung tetap menghijau, kenapa kuatir kehabisan kayu bakar, situasi hari ini tidak menguntungkan, kenapa kau tidak berusaha meloloskan diri saja?" itulah keputusannya setelah dia sadar dan berhasil menekan rangsangan nafsunya ingin menuntut balas, walau keputusan ini sendiri amat mengetuk sanubarinya, tapi dalam keadaan seperti sekarang dia sudah tiada jalan atau pilihan lain-

Sebelum Ni Ping-ji menubruk tiba, dia sempat berjongkok meraih senjata, berbareng kakinya menggenjot dengan gaya IHun-pih-loh yan-heng, tubuhnya mencelat jauh kepinggir hinggap dibawah dinding lembah, tanpa ayal kembali tumitnya menutul bumi, tubuhnya lantas melejit mumbul, melayang seringan asap dengan punggung menempel dinding terus melesat terbang keatas. Mendadak tubuhnya bersalto sekali, kini menghadap kedinding, kaki tangan bekerja sama seperti orang manjat pohon layaknya, kaki menotol tangan menarik, tubuhnya melenting lebih pesat lagi menuju kebatu gunung yang agak menonjol keluar dari dinding curam itu.

Itulah Ginkang kelas tinggi Yan-teng-hun siang-in. Begitu mencapai dinding tubuhnya seperti lengket terus meluncur pula keatas. begitulah beberapa kali menotol dan tangan bekerja, tubuhnya bergerak diatas dinding yang curam dan licin setinggi lima puluhan tombak telah dicapai dengan mudah.

Bahwa Pakkiong Yau-Liong sudah hampir dikalahkan total, sudah tentu Ni Ping-ji amat senang, kini melihat Pakkiong Yau Liong melarikan diri dengan cara yang luar biasa ini, sudah tentu tidak rela dia membiarkan orang merat, apalagi ruyung lemas Pakkiong Yau- Liong telah meninggalkan tanda mata dipahanya. Beruntun Ni Pingji memekik pendek. secepat terbang tubuhnyapun memburu kearah dinding, begitu kaki tangan menempel dinding segera dia kerahkan tenaga dalam, sekali bergerak tubuhnya segera merambat naik secepat panah meluncur, gerak-geriknya mirip cecak yang mengejar mangsanya.

Ni Ping-ji memang mengembangkan Pia-hau-kang (ilmu cecak) dengan landasan tenaga dalamnya. Lekas sekali NiPing-ji juga sudah mencapai pucuk dinding dan melompat berdiri diatas jurang Selepas matanya memandang tampak dua puluhan tombak diarah barat bayangan seseorang tengah berlari kencang seperti dikejar setan- Maka dengan pekik yang mengerikan segera dia mengudak dengan Ginkangnya yang tinggi

Pada saat itulah di dalam lembah terdengar beberapa kali hardikan, serta merta Ni Ping ji merandek dan memutar balik, dia teringat kepada nyonya muda yang datang bersamanya itu. Nyonya cantik yang direbutnya dengan kekerasan beberapa hari yang lalu, betapapun dia segan meninggalkannya begitu saja.

Dia tahu bila daya obat yang diminumnya sudah punah, nyonya ini akan meninggalkan dirinya dengan rasa dendam yang tidak terlampias. Karena dia maklum, kecuali dendam hakikatnya nyonya ini tidak pernah menaruh cinta terhadapnya, meski sudah beberapa hari ini mereka tidur seranjang. Maka dia berpikir: "Pakkiong Yau Liong sudah kehabisan tenaga, lari juga tidak akan bisa jauh, biar aku menaruhnya disuatu tempat aman dulu putar balik membuat perhitungan kepadanya."

Ni Ping-ji sudah membenci Pakkiong Yau Liong ketulang sumsumnya, dendam gurunya telah dia limpahkan kepada Pakkiong Yau Liong, maka dia sudah berkeputusan, Pakkiong Yau-Liong harus dibekuk hidup,hidup, baruperlahan-lahan dia akan menyiksanya sampai mati.

Hardikan nyaring kembali berkumandang dari dasar lembah. Dengan terlongong Tio Swat-in menyaksikan pertempuran ditengah gelanggang, rona mukanya selalu berobah mengikuti perkembangan pertempuran ditengah arena.

Untuk sementara dia lupa akan tujuan kedatangannya, karena didalam waktu yang tidak singkat ini, entah mengapa nalurinya seperti telah diliputi khayal yang tidak mampu dia sendiri mengemukakan, keselamatan sipemuda yang tengah menyabung nyawa ditengah arena menjadi perhatiannya yang utama. Sudah tentu Tio Swat- in sendiri tidak tahu, kenapa timbul perasaan aneh dalam benaknya.

Akhirnya dia menyaksikan pemuda yang tadi menyaru Mumi dan beberapa kali memberi peluang kepada dirinya telah kabur melesat terbang keatas dinding jurang. Setelah bayangan orang telah lenyap dari pandangan matanya, baru dia menarik napas lega. begitu tertunduk perasaannya seketika hambar, seperti kehilangan apa- apa.

Tekanan batin yang mengendor, menyebabkan pikirannya lebih jernih, dalam sekejap ini, suatu pikiran mengetuk sanubarinya, seketika dia sadar akan kehadiran dirinya didalam lembah ini, baru sekarang dia menyadari dirinya terlongong setengah hari tanpa guna didalam lembah yang becek. sementara musuh pembunuh ayahnya Toh-bing-sik-mo tampak tidak jauh disana. Segera dia angkat kepala serta menatap dengan sorot dingin, ternyata Toh- bing-sik-mo juga tengah menatapnya.

Maka adegan yang mengerikan itu kembali terbayang dikelopak matanya. darahnya seketika mendidih, hawa amarah meledak dirongga dadanya, bibirnya gemetar, air matanyapun berlinang.

Tatapan dingin yang mengandung sinar hijau itu memang menggiriskan hatinya, tapi selama sepuluh tahun ini dia sudah mengecap penderitaan dan kesengsaraan hidup, keluarga berantakan, ayah bunda gugur, sanak saudara tidak diketahui parannya, dalam hatinya sudah timbul satu tekad yang membara, kekuatan yang amat besar, balas dendam, itulah suara yang bergema direlung hatinya, tidak pernah putus gema suara yang menuntut dirinya untuk berusaha menuntut balas.

Maka sambil menghardik nyaring segera dia menubruk kearah Toh bing-sik mo, dengan jurus Hwi-ngo-kip to, dikala tubuhnya terapung diudara dia sudah melolos pedang serta memutarnya sehingga menerbitkan deru kencang menerjang kearah Toh bing sik-mo.

Serangan mendadak ini menimbulkan reaksi kaget dan heran dari sorot mata Toh-bing sik-mo. Apalagi yang menyerang adalah gadis belia yang berusia tujuh belasan-

Hanya bergerak lembut Toh- bing-sik- mo sudah mundur beberapa kaki, pandangannya tetap heran dan tak habis mengerti.

Sudah tentu Tio Swat-in tidak hiraukan sorot mata orang, luput serangan pertama dengan suaranya yang serak kembali dia menghardik, kini serangan berubah jurus Boan-ciang-ci ki, pergelangan tangan ditekan pedang menyusup keatas senjatanya menyontek ketiak Toh-bing sik-mo.

Bukan saja tidak menangkis, Toh- bing-sik, mo juga tidak balas menyerang, dia hanya menyingkir kepinggir, gerak geriknya seringan daun melayang.

Pedangnya menusuk tempat kosong, kembali tubuh Tio Swat-in bergerak mengikuti gaya pedang nya, kali ini langkahnya tampak lincah dan pedangpun bergetar, dengan jurus Ih-sing-coan gwe (bintang pindah mengitari rembulan) sinar pedangnya membentuk sekuntum kembang yang bertaburan, diiringi desis tajam yang dingin, secepat kilat menggulung kearah Toh- bing-sik- mo, serangannya kali ini memang lebih lihay dan mengejutkan.

Melihat gaya pedang Tio Swat-in makin ganas, rasa heran dalam sorot matanya makin besar, lekas dia menjejak kaki mundur setombak jauhnya.

Bahwa Toh- bing-sik- mo tiga kali memberi peluang kepadanya, Tio Swat-in sendiri juga heran dan tidak mengerti. Pikirnya: "Kenapa dia mengalah tiga jurus kepadaku? Apakah mumi yang satu ini juga palsu ?"

Apakah Toh bing sik-mo yang didepan-nya ini palsu atau tulen? Apa pula maksud kehadirannya di sini, kecuali dia sendiri, sudah tentu Tio Swat in tidak mungkin tahu. Meski heran tapi Tio Swat-in tidak kapok. dia sudah bertekad untuk melabrak musuh yang satu ini. Dia yakin kali ini dugaannya pasti tidak akan salah seperti tadi. Begitu menyendal pedang kembali dia memburu maju.

Sekonyong-konyong loroh tawa yang bergelombang menimbulkan perasaan dingin bergema didalam lembah. orang akan bergidik dan merinding mendengar loroh tawanya yang aneh dan khas.

Serta merta Tio Swat-in tekan perasaan dan niatnya yang sudah hendak menerjang, mengawasi Toh-bing sik-mo yang tengah berloroh tawa.

Ditengah loroh tawanya Toh bing-sik-mo mendadak menubruk sambil angkat gendewa merah sehingga menimbulkan getaran bayangan yang bersusun, lincah dan secepat angin menindih kepalanya dengan tekanan dahsyat.

Tlo Swat in dipaksa berkelit kesamping serta balas menyerang dengan sengit. Ditengah pertempuran mereka yang seru, Terdengar derap tapal kuda yang dilarikan pergi. sekilas Ni Ping-ji masih sempat menoleh kearah dua orang yang lagi berhantam, segera dia bawa nyonya muda itu meninggalkan lembah ini.

Tio Swat-in seperti tidak mendengar atau melihat mereka pergi, pedang mestika ditangannya terus merabu dengan deras dan lihay, serangan bertubi yang ganas dan sengit.

Hari memang sudah terang tanah, tapi langit masih mendung, cuasa masih dingin dan lembab. ceng-hun-kok masih guram dan remang-remang, hembusan angin kencang membawa bau anyir yang memuaikan. Tlo Swat-in masih terus menubruk, menendang, melabrak dengan senjatanya, seperti serigala kelaparan yang ingin melalap mangsanya saja, tapi kecuali keringat yang gemerobyos meski hawa teramat dingin, jangan kata melukai atau merobohkan Toh- bing- sik- mo, seujung rambut lawanpun tidak mampu disentuhnya. Sebaliknya dia merasa letih dan kehabisan tenaga, napas nya sengal-sengaL

Sembari menyerang dengan sengit diam-diam dia berdoa, mengharap bantuan arwah ayahnya dari alam baka supaya dia bisa membunuh musuh besarnya ini. Maka dia putar pedangnya dan menyerang berantai dengan jurus tipu yang lihay dan mematikan, serapat jala sederas hujan Toh- bing-sik- mo diceCarnya dengan hebat.

Tetapi kepandaian Toh-bing-sik mo memang teramat tinggi bagi Tio Swat-in, ditengah tatapan dingin lawan, ditengah gelak tawanya yang bernada sinis, setiap serangan Tio Swat-in kalau tidak gagal, luput pasti kandas ditengah jalan.

Karuan Tio Swat-in makin gugup dan gelisah, ditambah lagi rasa dendam dan kesedihan yang tidak terhingga, dalam keadaan serba payah seperti sekarang bertambah pula tekanan lahir batinnya.

Kematian ayahnya yang mengenaskan terbayang kembali dalam matanya. Betapa ibunya menjerit meratap dan sesambatan, air matanya kering sehingga mencucurkan darah, suaranya serak dan akhirnya lunglai ia tak sadarkan diri.

Darah ayahnya seperri masih mengucur dari luka-lukanya, darah masih mengalir dari bola mata ibunya

Bola matanya yang melotot merah berlinang air mata, Tio Swat in mengamuk. menggembor dan memeklk seperti ingin melampiaskan segala derita lahir dan batin ini, dan ini bukan lagi rengek aleman, bukan gerak gemulai, suaranya sudah serak lidahnya kelu tapi dia masih berjuang membabi buta.

Tiba-tiba Toh-bing sik-mo terloroh-loroh pula, gendewa dltangannya mendadak berputar dengan getaran keras lalu mendadak menutuk keluar seperti ular memagur, bayangan merah gendewanya menimbulkan damparan angin kencang menindih kearah Tio Swat-in secara bergelombang.

Amarah sudah membakar dada Tio Swat-in, dendam tidak terlampias lagi, karuan hati nya serasa hancur, wajahnya nan halus cantik sudah pucat, kotor oleh keringat dan lumpur bercampur dengan air mata.

Tlo Swat-in sudah tidak hiraukan keselamatan jiwa sendiri, kini dia tidak main kelit pula, dengan jurus Hwi-yan-toh lin (burung belibis hinggap dihutan), tiba-tiba pedangnya menyelinap masuk ke tengah lapisan bayangan gendewa merah lawan terus menusuk ulu hati Toh- b ing-s ik- mo.

Ternyata Toh bing-sik mo kaget dan menyurut mundur oleh serangan Tio Swat-in yang mendadak dan nekad ini, hakikatnya ini bukan lagi main silat dengan usaha membunuh lawannya tapi lebih mendekati adu jiwa. Tapi pada detik yang gawat itu, untuk menyelamatkan diri tiada kesempatan bagi Toh- bing-sik mo untuk berpikir, buru-buru dia tarik serangan dan melompat mundur setombak lebih.

Walaupun dia tidak berhasil melukai Tio Swat-in, untung dia sendiri berkelit secara tangkas, sehingga kedua pihak tidak mengalami cidera.

Bahwa serangannya yang nekad berhasil mendesak mundur Toh- bing-sik- mo, sudah tentu Tio Swat-in yang mengira dirinya memperoleh peluang baik tidak mengabaikan begitu saja, sambil menghardik segera dia menubruk pula dingin pedang teracung miring menimbulkan gulungan sinar berkembang, ternyata menginsyafi musuh teramat tangguh, Tio swat-in melancarkan Nga- Liong-puh "Seeeerr" batang pedangnya seperti berobah menjadi lima batang, bersamaan merangsak tiga sasaran atas, tengah dan bawah, mengincar lima Hiat-to besar ditubuh Toh- bing-sik- mo.

Baru saja kaki menyentuh tanah, tutukan pedang Tio Swat-in sudah menyerang tiba pula. Kembali sorot matanya menyala menampilkan rasa kaget dan herannya pula, tapi juga seperti amat marah.

Sekilas tampak bola matanya berputar memancarkan sinar buas, mendadak dia menjatuhkan diri, gendewa ditangannya menimbulkan tabir merah mengepruk kearah pedang lawan yang menusuk kelima Hiat-to nya.

"Trak" tidak keras, maka tampak selarik sinar mencelat terbang danjatuh berkerontangan. Ternyata pedang Tio Swat-in telah diketuknya teriepas dan jatuh ditanah.

Tio Swat in merasakan seluruh lengannya pegal dan linu, saking kagetnya, tahu-tahu Yu-bun-hiat didepan dada seperti disentuh sesuatu benda. Itulah ujung gendewa Toh bing-sik- mo yang mengancam jalan darahnya.

Toh-bing sik-mo berdiri didepannya, bola matanya yang menonjol diantara balut perban dikepalanya tampak memancarkan cahaya dingin tapi mengandung rasa puas dan bangga, Tio Swat-in ditatapnya lekit-Iekat.

Bila dia kerahkan sedikit tenaganya menyodokkan gendewanya, jiwa Tio Swat-in akan melayang seketika. Tapi Toh- bing-sik- mo tidak bergerak. kaku seperti mumi tulen, hanya bola matanya saja yang bergerak menatap tajam Tio Swst-in tanpa berkesip.

Mati...bagi mereka yang sudah bertekad gugur dimedan laga adalah sesuatu yang tidak perlu ditakuti, namun dalam keadaan seperti sekarang, siapapun akan merasa rawan dan pilu.

Demi menuntut balas kematian ayahnya Tio Swat-in memang tidak hiraukan mati hidup sendiri. Tapi dalam keadaan terancam seperti ini, ingin mati tidak mati, ingin hidup juga masih merupakan tanda tanya, mau tidak mau bercucuran keringat dingirnya, telapak tangannyapun basah oleh keringat dingin-

Tekadnya memang besar, tidak takut mati, tapi sekarang dia justru insyaf dan tidak ingin mati Tiba-tiba suatu pikiran berkelebat dalam benaknya, tubuhnya mendadak menjengkang mundur, pikirnya mau membebaskan diri dari ancaman gendewa Toh bing- sik- mo, namun Toh-hing-sik mo tidak kalah tangkasnya langkahnya lebih enteng pula, ujung gendewa tetap mengancam Yu-bun-hiat didepan dadanya, ternyata tenaga masih tetap mantap. tidak tambah juga tidak berkurang.

Beberapa kali Tio Swat-in berusaha tapi tetap gagal, harapan meloloskan diri jelas sudah kandas dan tidak mungkin lagi. Menerawang keadaan dirinya, sungguh pedih dan luluh perasaannya, diam-diam dia lantas berpikir: "Kalau hidup sudah tiada harapan, biarlah aku mati lebih cepat saja." Maka tidak lagi berkelit mundur mendadak^ dia malah menerjang maju menumbukkan tubuhnya kearah ujung gendewa.

Sayang sekali, agaknya Tohbing-sik mo dapat menangkap jalan pikirannya, waktu dia mundur tadi Toh- bing-sik- mo tetap mengincarnya dengan ancaman ujung gendewa di Hiat-to mematikan didepan dada. Sekarang dia menerjang maju, ternyata Toh-bing sik-mo yang mundur selangkah malah.

Ingin hidup tidak bisa mau mati juga tidak tercapai, sungguh Tio Swat-in kecewa dan akhirnya putus asa. Sorot mata Toh- bing-sik- mo yang dingin kelihatan lebih senang dan bangga, maka dia menengadah sambil terloroh tawa pula, Tio Swat-in yang sudah putus asa meski air mata masih bercucuran, Tapi dia sudah amat tentram dan tenang malah, tiada yang dia pikirkan lagi, matanya mengawasi gendewa yang mengancam didepan dadanya, akhir nya pelan-pelan dia memejam mata.

Ceng-hun-kok tetap guram dan lembab, diliputi suasana sedih dan seram, kini ditambah rasa hambar dan putus asa.

Malam telah larut, tabir kegelapan menyelimuti alam semesta, suasana hening lelap.

Enam li jauhnya dari ceng-hun-kok, ditengah gunung terdapat sebuah gua, malam nan gelap menjadikan gua itu lebih pekat.

Sekonyong konyong tawa aneh mengalikan memeCah kesunyian malam, sehingga malam yang dingin terasa seram. Dari jauh gelak tawa itu terdengar masih lirih, tapi cepat sekali sudah makin dekat dan keras, dari keras makin jauh dan lirih, akhirnya lenyap ditelan tabir malam.

Gua dilamping gunung itu ternyata dihuni manusia. Helaan napas rawan berkumandang di dalam gua. Tengah malam yang sudah larut, dialas pegunungan yang belukar, dalam gua yang pekat lagi, setelah mendengar tawa aneh yang mengiriskan itu, tanpa terasa penghuni gua itu menarik napas panjang.

Siapakah penghuni gua itu? Dia bukan Iain adalah Pakkiong Yau Liong yang semula menyaru Toh- bing-sik- mo sehingga kaum persilatan jeri dan takut kepadanya. IHelaan napas rawan tadi melampiaskan rasa gegetun dan dongkolnya bahwa usahanya setengah tahun ini ternyata sia-sia.

Toh- bing-sik- mo yang dipancingnya itu sudah keluar kandang dan berada di- depan mata, tapi dia belum bisa menuntut balas kematian ayahnya sehingga cita-cita sepuluh tahun terbengkalai begitu saja. Gregetan dan gemas pula bahwa Ni Ping-ji si gembong iblis yang ternama ternyata tidak tahu malu, ingkar janji merintangi usahanya melabrak musuh besar.

Rasa sesal kini menyelimuti sanubarinya, dia menyesali diri sendiri kenapa siang tadi dia melarikan diri, dia menyesal tidak memegang teguh hasil jerih payahnya selama setengah tahun ini, dan Toh bing sik-mo ungkang-ungkang menyaksikan dirinya bergebrak dengan Ni Ping-ji dan sekarang entah sudah lari ke- mana, entah kapan dia baru akan bisa menemukan jejaknya .

Dendam tetap akan dituntut, entah kapan pasti akan datang suatu ketika cita-citanya harus tercapai. Bukan hanya Toh- bing-sik- mo saja, demikian pula Ni Ping-ji - kakek kurus pendek yang punya telinga tunggal itu.

Kecuali itu seolah-olah dia merasakan seperti ada sesuatu yang harus diperhatikan juga, perasaan yang belum pernah timbul dalam sanubarinya sebelum mi. Dia berpikir, dan meraba-raba namun dia sendiri tidak tahu dan tidak memperoleh jawaban. Angin malam ribut diluar gua, tiada rembulan tiada bintang, didalam gua ini dia sudah sembunyi selama setengah tahun lamanya, dalam waktu-waktu mendatang dia harus meninggalkan gua ini, maka perasaannya menjadi haru, hambar dan rawan.

Malam ini dia merasa kesunyian, karena kuda putih yang telah menemaninya selama setengah tahun telah gugur dalam menunaikan baktinya dimedan laga. Makin banyak yang dipikir, makin ruwet pikirannya, tanpa Sadar akhirnya dia terkial-kial seperti biasanya bila dia hendak mencabut nyawa orang dilembah mega hijau, tawa itu sudah menjadi kebiasaannya selama setengah tahun ini. Akhirnya tanpa sadar dia menghela napas pula.

Mendadak loroh tawa lain yang keras berkumandang, ditengah malam gelap seperti hendak menyobek tabir malam, bukan saja bernada keras dingin, gelak tawa itupun mengandung getaran aneh yang tercampur rasa serang dan puas. lenyap gema suara itu, didepan gua berkelebat sesosok bayangan orang disertai larikan sinar emas dan perak secepat kilat menerjang keluar.

Begitu Pakkiong Yau-Liong turun dimulut gua, bola matanya jelilatan menyapu sekelilingnya, mulutnya bersuara heran, padahal gema tawa itu masih terkiang di kupingnya, tapi di luar tidak kelihatan ada bayangan orang.

Pakkiong Yau-Liong mendengus sekali, lalu terkial-kial pula lebih keras, dari gelak tawa orang tadi, dia sudah tahu siapa yang datang, maka dia pun memperdengarkan suara tawanya yang khas menantang musuh keluar dari sembunyiannya.

Waktu tidak memberi kesempatan berpikir, belum berhenti dia tertawa, tiba-tiba bayangan berkelebat, dari atas belakangnya, sesosok bayangan tiba-tiba menukik turun dengan tubrukan kencang membawa tekanan tenaga dahsyat.

Gesit sekali gerakan Pakkiong Yau-Liong menyingkir setombak lebih, begitu dia membalik tubuh dilihatnya orang yang menyergap adalah Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji. Dalam kegelapan dua orang berdiri berhadapan, keduanya menginginkan merobohkan lawan sesingkat mungkin, namun kedua nya tiada yang mau bersuara atau bergerak secara sembrono, karena sekali salah langkah, fatal akibatnya.

Pakkiong Yau-Liong kendalikan pernapasannya, menunggu dengan tenang,jikalau Ni Ping-ji melejit pula menubruk kearah dirinya dia sudah siap menggempur dengan seluruh kekuatan-

Ni Ping-ji pun berdiri tegak mengempos semangat dan menghimpun tenaga di kedua telapak tangannya, jikalau Pakkiong Yau-Liong bergerak diapun akan menyergap dengan serangan mematikan.

Pikiran kedua orang sama tujuanpun tak berbeda. Maka keduanya saling pelotot dan berdiri tenang saling tunggu dan menunggu, entah sampai kapan mereka harus menunggu.

Tanpa terasa waktu terus berlalu, namun ketegangan Semakin memuncak. keduanya masih terus saling melotot tanpa berkedip. Kecuali deru angin sekelilingnya sunyi senyap. seakan-akan tiada kehidupan makhluk lainnya didunia ini.

Tiba-tiba sebuah gemboran galak dan pekik gusar memecah kesunyian alam semesta, sehingga burung-burung yang hinggap diatas pohon sama kaget beterbangan- Ditengah gema suara kedua orang, dua sosok bayangan orang saling terjang kedepan dengan kecepatan dan kekuatan dahsyat.

"Pyaaar" ditengah udara keduanya mengadu pukulan menimbulkan ledakan keras menggetar udara dan bumi, keduanya terpental mundur sejauh satu tombak lebih.

Pakkiong Yau Liong meraung dingin, suaranya rendah berat Sebaliknya Ni Ping ji bergelak tawa pula dengan nada menghina dan mencemooh, saking keki Pakkiong Yau-Liong terbayang adegan pagi tadi, di mana mencengkram luka pundaknya, polah lawan yang merintangi usaha menuntut balas... bola matanya mendelik, rona mukanya berobah makin merah padam, napasnyapun makin memburu karena emosi telah membakar hatinya. Rasa sedih, benci dan penyesalan beruntun mengelitik sanubarinya, keresahan hatinya sukar terlampias, laksana gelombang pasang berbagai perasaan itu menggebu lubuk hatinya sehingga dia merasa seperti terbelenggu karena nya.

Maka timbullah berbagai khayalan didepan mata, suara kosong memekak telinga, bayangan gelap berkelebat bergantian dalam benaknya, itulah bayangan ayahnya yang sengsara nan menderita, itulah jerit dan pekik ayahnya disaat meregang jiwa.

Bagai terjadi suatu ledakan, mendadak pandangannya menjadi gelap. darah seperti mengilir cepat sekali, suatu arus yang tak terlukiskan besar dan bentuknya seperti hendak menerjang dari kerongkongannya kepalanya sudah mandi keringat, telapak tanganpun basah, bukan oleh keringat dingin, tapi keringat panas yang membangkitkan semangat juangnya.

Sekonyong-konyong terasa jalur angin kencang menerjang kearah dirinya, dengan kaget sigap sekali Pakkiong Yau-liang kerkelit ke samping lima kaki jauhnya. Ternyata Ni Ping-ji tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak. hanya hembusan angin pegunungan saja yang lalu, karuan Pakkiong Yau-Liong merasa malu dan menyesaL

Ni Ping ji terbahak-bahak^ suaranya melengking menusuk telinga, nadanya menghina dan mencemooh. Karuan Pa kk ong Yau- Liong naik pitam, sambil menjerit tiba-tiba dia menyerang dengan kecepatan meteor jatuh.

Di mana pergelangan tangannya berputar, cahaya emas dan perak bertaburan, dengan jurus Lui-tian-sui-king yau, deru anginnya semacam pisau, ujung tombak emas dan perak memantul dengan putaran seperti gelang ketika menggulung kepala NiPing-ji dari kanan kiri.

Terbeliak mata Ni Ping-ji menyaksikan serangan Pakkiong Yau- Liong, tiba-tiba dia berjongkok, tidak mundur malah mendesak maju selicin belut tubuhnya telah menyusup pergi dari bawah kedua kaki Pakkiong Yau-Liong, lalu sebat sekali tubuhnya membalik balas menyerang dengan jurus Thian-hin-kay-thay. kedua telapak tangannya bergerak secepat kilat menimbulkan putaran angin dahsyat bagai gugur menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong.

Begitu mengayun senjata sambil menerjang maju Pakkiong Yau Liong lantas kehilangan jejak lawannya, diam-diam dia insyaf bahwa dirinya tengah terancam bahaya, betul juga sebelum kakinya menyentuh tanah, dibelakang telah melanda angin dahsyat yang mematikan.

Dalam detik-detik yang gawat ini, amat berbahaya bagi Pakkiong Yau-Liong yang masih terapung diudara, untuk berkelit jelas tidak mungkin, apa lagi mau menangkis. Tapi perjuangan hidup dan usaha menuntut balas menunjang tekad bulatnya, secara reftek mengikuti terjangan agin dari belakang langsung dia menjatuhkan diri kedepan "Plak" tak urung Pak kiong Yau Liong harus tersungkur delapan langkah. Pundak terasa panas, darah seperti hendak menyembur dari dadanya.

Kali ini Pakkiong Yau Liong memang gegabah dan terburu nafsu sehingga serangannya gagal malah dia sendiri yang kecundang pula, pundak belakang terpukul telak oleh Ni Ping-ji, mungkin nasib memang sudah menentukan bahwa dirinya takkan bisa terhindar dari kesulitan.

Namun Kungfu Pakkiong Yau-Liong memang cukup tangguh berkat gemblengan gurunya, lekas dia menarik napas mengempos semangat kendalikan darah yang mendidih di rongga dada, dengan segenap sisa kekuatannya dia mengkonsentrasikan diri mengawasi Ni Ping-ji, segala keruwetan tersingkir dari benaknya, diam-diam dia kerahkan tenaga murninya supaya pundaknya yang terpukul hilang rasa pegal dan linu.

Seperti kucing yang sedang mempermainkan tikus saja, Ni Ping-ji terbahak bahak pula dengan menengadah. Sebaliknya Pakkiong Yau-Liong tidak terpengaruh sedikitpun, kelopak matanya sedikit terpejam, pengalaman telah menyadarkan kesalahannya, kali ini dia tidak berani sembarangan lagi, padahal pundak yang kena pukulan lawan cukup berat dan fatal akibatnya, tapi tekad dan keyakinan masih dipeluknya kencang, dia percaya masih mampu memberikan perlawanan yang berarti, dan bukan mustahil dirinya nanti akan dapat merobohkan lawannya.

Sirap tawanya mata Ni Ping-ji tiba-tiba memancarkan sinar liar, ujung mulutnya memantulkan senyum sinis, selangkah demi selangkah dia menghampiri kedepan Pakkiong Yau Liong. Pakkiong Yau-Liong masih setengah terpejam matanya, seperti seorang padri yang lagi samadi, seolah-olah dia tidak perduli akan situasi yang mengancam jiwanya, tidak merasakan ketegangan yang tengah dihadapinya.

Kewajaran dan ketenangan Pakkiong Yau-Liong justru membuat Ni Ping-ji bimbang dan tertegun, empat langkah didepan Pakkiong Yau Liong dia berdiri, meski dalam hati dia sudah memikirkan suatu cara keji untuk menyerang lawannya, tapi menghadapi pemuda gagah yang membekal kungfu yang luar biasa ini, ternyata Ni Ping-ji tidak berani gegabah, padahal barusan dia berhasil melukai lawan.

Maka keduanya berdiri berhadapan tidak menunjukkan aksi, keduanya tidak berani ceroboh, terutama Pakkiong Yau-Liong.

Malam kelam nan sunyi, hanya terdengar lambaian pakaian mereka yang tertiup angin-

Ketegangan terus memuncak. laksana bahan peledak yang tinggal menunggu waktu saja, sekali disentuh pasti meledak dengin dahsyat, tapi siapapun tiada yang berani menyentuhnya .

Ruyung lemas singa emas Pakkiong Yau-Liong memancarkan cahayanya yang gemerdep. demikian pula sinar mata Ni Ping-ji memantulkan sinar yang sukar dilukiskan.

Terbayang olehnya kejadian dua puluh tahun yang lalu, kejadian yang tak pernah terlupakan selama hidupnya, kenangan masa lalu yang menyedihkan, tanpa terasa otaknya meraba dan menggagap kejadian masa silam.

Di kala dirinya berdiri diatas kedua lututnya, tawa hina dan tatapan mencemooh itu, seperti terulang kembali didepan mata, pemilik pertama ruyung lemas singa emas itu yang dahulu menghadiahkan kehancuran nama dan rasa malu yang tak terhingga di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh persilatan, dia mendapat penghinaan dan siksaan batin yang teramat besar dan mendalam selama hidup, hingga tiada muka berkecimpung dipercaturan dunia persilatan pula,jangan kata mau menjagoi dalam kalangan hitam.

Sejak inilah dia menyembunyikan diri di suatu tempat yang bentuknya menyerupai sumur kira-kira dua ratus li disebelah utara ceng-hun-kok, Kekalahan dua puluh tahun yang lampau telah terukir dalam sanubarinya, maka dia mempersiapkan diri, dikala latihannya telah mencapai taraf yang dapat di ketengahkan dia bersumpah untuk menuntut balas kekalahannya dahulu.

Hari ini, pada suatu kesempatan yang kebetulan, tiba-tiba dia melihat ruyung lemas singa emas dimiliki oleh pemuda berkepandaian tinggi, dari mulut sipemuda baru dia ketahui bahwa biang keladi kesengsaraan dan penderitaannya selama dua puluh tahun kehidupannya itu ternyata telah mampus.

Maka dendam kesumat yang bersemayam dalam tubuhnya selama dua puluh tahun ini dia limpahkan kepada Pakkiong Yau- Liong.

Ruyung lemas dengan sinarnya seperti menantang saja, sehingga amarah Ni Ping-ji semakin memuncak. Terasa olehnya Pakkiong Yau-Liong seperti sedang berobah dan berobah..... bukankah yang berdiri dihadapannya sekarang adalah Biau-hu Suseng yang sedang mengulum senyum hina?

Dengus yang keras keluar dari hidung Ni Ping-ji, kembali ujung mulutnya mengulum Senyum sinis. Pelan-pelan sepasang tangannya yang panjang kurus kering terangkat dan lurus didepan dada. Seiring dengan gerakan Ni Ping-ji, Pakkiong Yau Liong juga pelan- pelan membuka matanya yang terpejam, ruyung yang dipegangnya juga pelan-pelan terangkat bergelantung diatas kepalanya, sikapnya tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan perasaan hatinya. Disertai gerengan pendek mendadak Ni Ping-ji menekuk sikut terus mendorong kedua telapak tangannya dengan jurus Kim - ban- song-ti (mengantar ikan dibaki emas), ditengah jalan kedua telapak tangannya berkembang, jari-jarinya laksana cakar, sementara jari jarinya menekuk terus menuding menimbulkan lima jalur angin laksana gunting menCengkram pundak Pakkiong Yau- Liong .

Sikap Pakkiong Yau-Liong tidak berobah, matanya terbuka lebar menyorotkan sinar dingin, ruyung lemas yang tergantung diatas kepala mendadak tegak lurus dan kencang, begitu pergelangan tangan bergerak. dengan jurus Ui-hoa kay ce-hoan, dibarengi kelebatnya cahaya emas ruyung lemasnya menggulung kearah kedua tangan Ni Ping-ji.

Lekas Ni Ping ji menarik, kedua tangan meluputkan diri dari serangan lihay Pakkiong Yau-Liong, kedua tangan berputar terus mendesak maju hendak balas menyerang dengan gerakan berantai, Tiba-tiba terasa pandangannya menjadi terang, diantara taburan sinar emas dan perak, seperti ada beberapa ekor singa membawa tenaga hebat laksana kilat menubruk kepadanya.

Saking kagetnya, tidak sempat balas menyerang, lekas Ni Ping-ji menutul kaki, sebat sekali dia mundur setombak lebih, beruntung dia masih sempat menghindar, namun keringat dingin sudah membasahi kuduknya, cara berkelitnyapun kelihatan serba runyam.

Ni Ping-ji tak berani memandang enteng lawannya, dari dalam bajunya, dia mengeluarkan sebatang pentung tembaga merah panjang satu kaki, sambil menghentak serta diacungkan maka berkibarlah selembar panji segitiga yang tersulam dari benang sutra hitam di atas kain perak.

Itulah Kau-hun ling ki yang dahulu pernah menggetarkan nyali kaum persilatan dikala Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji malang melintang di kangouw.

Tetap menudingkan ruyung lemas singa emas yang kaku oleh tenaga dalam Pakkiong Yau-Liong, mulutnya terkekeh-kekeh dengan nada monoton. Ni Pingji naik pitam, sambil menggerung dia menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong, di saat rubuhnya terapung, tangan kanan membalik dan "Beerr" panji segitiga dengan sulaman hitam itutelah dikeprukkan kebatok kepala Pak kiong Yau-Liong, perbawa serangan panji kecil ini ternyata dahsyat sekali.

Lekas Pakkiong Yau-Liong berkelit kekiri, ruyung lemahnya balas menyerang dengan jurus Kang hong- ni-koh- hong, kadang-kadang lemas tiba-tiba kaku ruyung singa itu menyabet ke-arah Ni Ping-ji.

Kembali Ni Ping-ji menggerung, seperti orang gila tangannya berputar dengan To-kian kim-cian (menggulung balik kerai emas). Kau hun-ling-ki (panji perenggut sukma) secepat kilat menggulung kearah ruyung Pakkiong Yau Liong yang menyabet datang.

Berbareng tangan kiri dengan jurus ou in-bit-pu (mega mendung makin tebal) taburan telapak tangannya tiba-tiba seraburan menepuk ke batok kepala Pak kiong Yau-Liong. Serangannya telak, keras dan tidak memberi ampun.

Baru saja Pakkiong Yau Liong menyabetkan ruyungnya, Ni Ping-ji sudah balas menyerang dengan jurus yang berlainan dengan tangan kiri sekaligus, satu menyerang yang lain mematahkan serangannya, karuan Pakkiong Yau-Liong kaget, lekas dia mendekam kebawah, berbareng tumitnya menutul, hingga tubuhnya menerobos pergi lima kaki jauhnya.

Diam-diam Pakkiong Yau-Liong berpikir: "Ni Ping-ji telah keluarkan senjatanya, beruntun dua jurus sudah susah kuhadapi, untuk mengalahkan dia agaknya teramat susah bagi diriku." walau mengakui keunggulan lawan, tapi Pakkiong Yiu- Liong tidak punyaniat untuk segera menyingkir, pengalaman siang tadi telah diresapinya, meski gugur dimedan laga, dia tidak akan melakukan perbuatan yang bodoh dan memalukan itu, karena itu akan menambah rasa sesalnya.

Maka tanpa ragu segera dia menjejak kaki, tubuhnya mumbul seringan asap. ditengah udara setelah tubuhnya mencapai ketinggian maksimal, tiba-tiba dia menukik turun, ruyung emasnya membawa tarikan cahaya panjang laksana pelangi menubruk kearah Ni Ping ji.

Melihat Pakkiong Yau-Liong melambung keudara, Ni Ping-ji. tahu orang tengah mengembang Ginkang paling tinggi yang dinamakan Yan-tenghun siang in dikombinasikan dengan gerakan tubuh Sin- Liong- wi-khong-coan sehingga tubuhnya mampu bergerak serta menukik balik dari udara.

Insyaf serangan lawan teramat lihay, tanpa ayal lekas dia menyingkir lima kaki meluputkan diri dari serangan Pak kiong Yau Liong.

Begitu Pakkiong Yau-Liong mencapai bumi dan belum sempat mengganti gerakan untuk melanjutkan serangan susulan, sebat sekali Ni Ping-ji sudah melompat majU seraya mengerjakan tangan, dengan jurus Liong-toh-seng, Kau-hun- ling- king menggulung keluar dengan gerakan gelap yang menepuk ke dada Pakkiong Yau- Liong. Gerak-geriknya ternyata amat lincah, maju mundur dilaksanakan dengan enteng serta aneh.

Belum lagi mempersiapkan diri, tiba-tiba dilihatnya lawan sudah berkelit, maka begitu kaki menyentuh bumi Pakkiong Yau-Liong sudah menekan tubuh merobah posisi, dengan jurus Kim-poh-koan- to-gu, ruyung lemasnya bergetar laksana gelombang samudra yang mendebur, batang ruyung menjadi kaku dan serong menusuk kelambung Ni Ping-ji dari samping.

Serangan kedua orang dilancarkan hampir bersamaan, jaraknya juga dekat, siapa bisa sempat berkelit menyelamatkan diri diri serangan lihay lawan, lawan pasti berhasil dirobohkan.

Sedetik sebelum serangan kedua pihak mengenai sasaran, keduanya samsa-sama membentak. berbareng pula keduanya berusaha mengerem gerakan sambil mengegos miring, sehingga keduanya sama-sama luput dari serangan lawannya.

Dalam jangka sesingkat itulah, terdengar Ni Ping ji mendehem sekali, telapak tangannya yang kiri menyerang dengan jurus Tam- yang-ki-but (merogoh kantong mengambil barang), telapak tangannya yang kurus kering itu menimbulkan deru angin yang kencang, secepat kilat menggenjot keperut Pakkiong Yau-Liong.

Dikala berkelit Ni Ping-ji masih mampu melancarkan serangan yang mematikan, karuan Pakkiong Yau Liong tersirap kaget, padahal ruyung lemas kebacut menyerang, pundak kiri sudah terluka pula, menangkis dengan tangan kiri juga tidak mungkin, sehingga pertahanan bagian depannya tetbuka lebar, di saat-saat yang menentukan mati hidupnya ini, Pakkiong Yau-Liong tidak hiraukan luka luka dipundaknya lagi, tiba-tiba menjengkang tubuh ke belakang sambil menjejak sehingga tubuhnya melesat kebelakang setinggi dua kaki sejajar dengan bumi.

Tubuh yang meluncur sejajar dengan bumi mendadak bergerak dengan gaya Biau-kim-it-si-ki, secara kekerasan tubuhnya itu mendadak bisa menegak pula berdiri. Tak urung keringat telah bertetesan dari jidatnya.

Gerakan Tiam Iik-king-hwe-hwe disusul Biau-kim-it-ci-ki adalah ciptaan Biau-hu Su-seng bukan saja gerakannya sukar dilaksanakan, ternyata gayanya kelihatan lemah gemulai dan indah sekali, namun bila dikembangkan terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Untuk mengembangkan gerakan tubuh ini bukan saja harus memiliki latihan Lwekang yang sudah sempurna, harus memiliki Ginkang yang tinggi pula, karena prakteknya harus mengerahkan seluruh kekuatan, dikala tubuh celentang lurus dan meluncur lalu dirobah dengan gaya Biau-kim-it-ci-ki harus dilandasi tenaga dalam yang kuat sehingga tubuh dengan sendirinya bisa merobah gerakan menjadi tegak. sudah tentu untuk mencapai seluruh gerakan itu amat makan tenaga...

Karena terpaksa Pakkiong Yau-Liong mengembangkan gerak tubuh itu dengan seluruh kekuatannya, sehingga luka- luka dipundaknya tergetar pecah dan mengalirkan darah pula, Sakitnya seperti menusuk ulu hati, sehingga tak tertahan keringat dingin berucuran.

Sambil kertak gigi dia menarik napas panjang, seluruh hawa murni dalam tubuhnya lekas dipusatkan, maksudnya untuk mencegah sakit dan darah tidak mengalir terlalu banyak keluar dari luka- luka dipundaknya. Namun tiba tiba terasa kerongkongannya anyir, segulung hawa menyembur naik dan tak tertahan lagi dia menyembur darah segar.

Pakkiong Yau-Liong merasa longgar malah setelah segumpal darah tertumpah, namun napasnya malah memburu dan makin lemah.

Ni Ping ji terkial-kial melihat sipemuda muntah darah, lengking tawanya menggetar genderang telinga, memecah kesunyian bergema diatas pegunungan. Di kala angin malam menghembus datang, tubuh Ni Ping-ji yang kurus kering itu tiba-tiba menyongsong maju dengan pekik setan yang mengerikan menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong.

Noda darah masih meleleh diujung mulut Pakkiong Yau Liong, wajahnya pucat pasi, sebelum tubrukan Ni Ping-ji tiba, dia menggeser langkah memapak kesamping, ruyung lemasnya bekerja dengan dua jurus Saling Susul lagi ditengah arena, Senjata mereka ternyata Ban-jong-an-cing-seng dirobah menjadi cap- hekjui-bu plan, bintang dingin bertaburan di lingkaran Cahaya emas, dua jurus bergabung menjadi satu, dengan kekuatan dahsyat memapak serangan Ni Ping-ji.

Mendadak Ni Ping-ji meraung, tubuhnya berputar dua kali, tangan dibawah kaki diatas, panji perenggut sukma ditangannya tiba-tiba berkelebat dengan jurus Hong- coat-sip- yau, gagang panji yang terbuat dari tembaga itu menderu dengan kekuatan besar menggulung kearah cahaya ruyung Pakkiong Yau-Liong Itulah jurus terlihay dari Kau-hun-coat-sek Ni Ping-ji yang paling diagulkan-

Tampak begitu bayangan hitam membentur cahaya emas kemilau, tubuh Ni Ping-ji mendadak anjlok kebawah. Dua orang berhadapan pula seperti ayam jago sedang berlaga ditengah arena, senjata mereka ternyata saling gubat. Mata Ni Ping-ji melotot, pelan-pelan tubuhnya merendah, otot dilengan kanannya nampak merongkol, mengerahkan setaker tenaganya mendadak dia menarik ke belakang.

Demikian pula Pakkiong Yau-Liong merendahkan tubuh, kakinya pasang kuda-kuda, tangan kanan menekan pinggang memegang kencang gagang ruyungnya, dia tidak mengejar kemenangan syukur kalau kuat bertahan dan senjata tidak terlepas dari tangan, kuda- kudanya memang sekokoh gunung.

Diatas senjata mereka yang bergubat itulah kedua orang ini mengadu kekuatan tenaga dalam, sedikit lena atau kurang perhitungan, bukan saja senjata terampas, akibatnya teramat fatal, jiwa bisa lenyap seketika.

Maka kedua orang ini tak ada yang berani pecah perhatian, masing-masing mengerahkan Lwekang yang diyakinkan sambil menatap tajam setiap perobahan lawan.

Terasa hembusan angin lalu membawa kabur ketegangan yang mencekam ini. Sang waktu merambat pelan seperti keong, malam nan sunyi semakin kelam dan larut, dalam kesunyian seolah dapat mendengar debur jantung mereka, deru napas semakin berat dan memburu.

Lambat laun dengus napas Pakkiong YauLiong makin keras dan cepat, jantungnya pun seperti berdegup makin besar sehingga deburannya makin cepat, keringat bertetes-tetes diatas kepala dan mukanya.

Senjata yang tergubat dan menegang itu, lambat-lambat tapi pasti berkisar makin mendekati Ni Ping-ji.

Sekonyong-konyong Ni Ping-ji menghardik keras, tangan kiri menekan lengan kanan kontan Pakkiong Yau-Liong merasa tekanan di atas ruyungnya bertambah besar, insyaf dirinya tak kuasa mengendalikan tubuhnya pula, bila dia tidak segera melepas senjatanya. Diam-diam dia mengeluh dalam hati^ "Pakkiong Yau- Liong, mungkinkah hanya begini saja." Dikala detik detik yang menentukan kalah menang bakal terjadi, tiba-tiba gelak tawa aneh menggelegar diudara, tawa yang mengerikan itu memecah kesunyian malam. Sesosok bayangan orang mendadak melambung dengan kecepatan kilat melesat dari atas kepala Ni Ping-ji.

Ni Ping-ji sudah yakin bahwa Pakkiong Yau-Liong sudah pasti dapat dikalahkan, serta merta rasa senangnya membuat dia sedikit lena, lekas dia kerahkan tenaga lebih besar ke- lengan kirinya yang menekan lengan kanan, pikirnya: "coba saja, apakah kau masih kuat bertahan "

Pada saat itulah kupingnya hampir pekak mendengat gelak tawa aneh yang keras, kontan Ni Ping-ji merasa tenaga tarikkannya mendadak seperti kosong, pertahanan lawan blong dan tahu-tahu Pakkiong Yau-Liong melesat lewat diatas kepalanya, berbareng panji perenggut nyawa ditangannya seperti tersendal pula, maka ruyung lemas Pakkiong Yau-Liong yang menggubat panjinya pun terlepas terbawa terbang.

Mimpipun Ni Ping-ji tidak pernah menduga bahwa pada detik- detik yang gawat itu Pakkiong Yau Liong masih mampu meminjam daya tarikannya meluncur terbang sambil membebaskan lilitan ruyungnya pada panji kecilnya.

Saking gugup dan gusarnya, mendadak dia menjejak bumi, tubuhnya melambung sambil berputar arah mengudak kearah Pakkiong Yau-Liong, gerak geriknya selincah kera segesit tupai. Pergelangan tangan berputar dengan jurus Liu-sing-kan-gwe (bintang Sapi mengejar rembulan), sedang tembaga panji kecilnya itu menderu kencang menutuk ke Giok-Sim-Hiat dibelakang batok kepala Pakkiong Yau-Liong.

Baru saja kaki menyentuh tanah, angin kencang sudah mengincar kepala, tanpa berkelit atau memutar badan, Pakkiong Yau-Liong mengayun tangan kebelakang dengan jurus Lik-yap-wiji- yan, cahaya emas berkembang disertai pantulan sinar perak menyabet urat nadi tangan kanan Ni Ping ji. Ni Ping-ji menjerit murka, matanya mendelik buas, tangan kanan ditekan miring dengan jurus Gwe-lng-llng-ho (sinar rembulan menerangi kembang), kelima jarinya terkembang bagai cakar, secepat kilat mencengkram kebatang ruyung Pakkiong Yau Liong yang menyabet tiba.

Bahwa serangannya luput, Pakkiong Yauliong sudah siap melompat pergi, tapi tiba-tiba terasa rayungnya mengencang, ujung ruyungnya ternyata sudah terpegang oleh Ni Ping-ji, karuan kaget dan tertegun Pakkiong Yau-Liong, sedetik dikala dia tertegun itulah dilihatnya bayangan hitam dan sinar kuning berkelebat kontan Jian kiat-hiat dipundak kanannya tertutuk oleh gagang panji perenggut sukma Ni Ping-ji.

Kontan pandangan Pakkiong Yau- Liong menjadi gelap. tanpa kuasa "Bluk" Pakkiong Yau-Liong tersungkur jatuh tak sadarkan diri.

Tawa Ni Ping-ji menggetar langit menggoncang bumi, gema suaranya seperti mendengung dialam bebas. Ditengah keremangan tampak Ni Ping-ji merenggut kuduk Pakkiong Yau-Liong terus dibawanya lari bagai terbang, hanya sekejap bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan-

Alam semesta kembali menjadi hening, tabir malam masih menyelimuti jagat raya, angin menghembus lalu.

Ditengah kegelapan hanya tercium anyirnya darah, sekeliling sunyi senyap, meski keadaan tenang tiada suatu gerakan, tapi siapa pun akan merinding berada di tempat yang seseram ini. Apalagi ditengah kegelapan sana terdengar pula helaan napas yang rawan, penuh derita dan siksa.

-ooo0dw0ooo-