Pedang Kayu Cendana Jilid 05

Jilid 05

TIDAK lantaran kehilangan kuda tunggangan kedua mumi ini lantas menghentikan perkelahiannya, mereka kelihatan semakin kalap dan menyerang dengan nekad, ini dapat dibuktikan dari gelak tawa.

Demikian pula bola mata mereka merah membara, agaknya terlalu besar tekad mereka untuk membinasakan lawannya. Terutama Toh-bing sik-mo yang tadi membelakangi Tio Swat-in, serangannya tampak begitu gencar dan lebih ganas, keadaannya tidak ubahnya waktu Tio Swat-in melabraknya tadi, seolah-olah Toh- bing-sik-mo lawannya itu adalah musuh besarnya yang harus dibunuhnya seketika.

Tio Swat-in masih berdiri terlongong, ingin turut campur, tapi tidak tahu dari mana dia harus mulai, hasratnya pun besar untuk membunuh Toh-bing-sik-mo, tapi dia juga tahu dirinya belum mampu, namun apakah dirinya harus membuang kesempatan baik untuk menuntut balas kematian sang ayah yang penasaran sejak sepuluh tahun lalu ? Sesaat hatinya bimbang dan tak tahu apa yang harus dia lakukan- Hujan rintik makin deras, anginpun berhembus kencang. Ditengah hujan rintik dengan hembusan angin kencang itu, dari luar lembah terdengar dua ekor kuda yang dibedal kearah sini.

Tio swat-in heran, hatinya bertanya-tanya siapa yang datang dan apa akibat kedatangan pula orang lain- Lekas sekali lari kuda yang acak-acakan itu semakin dekat, diam-diam hatinya memperoleh firasat sesuatu yang luar biasa pasti akan terjadi.

Dalam pada itu kedua Toh-bing-sik-mo yang lagi bertarung itu tetap berhantam dengan sengit seperti tidak mendengar kedatangan dua ekor kuda yang dilarikan kencang. Tio swat-in mawas diri, dia merasa dirinya harus menyingkir dari medan laga ini, entah mengapa indranya yang keenam seperti mendapat petunjuk bahwa derap kaki kuda yang acak-acakan ini bakal mendatangkan malapetaka yang tidak menguntungkan-

Niat sudah timbul, sayang sebelum dia bertindak. air lumpur tampak muncrat, dua ekor kuda tahu tahu sudah berlari tiba, penunggangnya cukup mahir pegang kendali, setelah meringkik keras kedua kuda itu akhirnya berhenti.

Diatas punggung seekor kuda bercokol seorang kakek bertubuh kurus kecil, kulit mukanya kering semu coklat, mengkilap lagi sehingga kelihatan seram, kupingnya tinggal satu, tapi sorot matanya tajam, Thay-yang-hiat tampak menonjol besar, sekilas pandang orang sudah tahu bahwa kakek kurus kecil ini seorang ahli tenaga dalam yang tangguh.

Kuda yang lain ditunggangi perempuan cantik berusia tiga puluhan, alisnya lentik, matanya mengerling tajam dan pelarak pelorok, gerak-geriknya tampak genit.

Mengawasi dua Toh-bing-sik-mo yang lagi berhantam sengit diatas tanah, kakek kurus kecil tiba-tiba bergelak tawa aneh, seolah- olah dia tidak ambil perhatian dan ketarik oleh kejadian didepan mata. Namun diam-diam berpikir:

"Bukankah mahluk aneh bergendewa merah ini dahulu pernah bertemu sekali dengan aku di Biau-kiang dua puluh tahun yang lalu Jadi Toh-bing sik-mo yang terakhir ini membuat geger dunia persilatan dan mengganas di lembah ini adalah perbuatan jailnya. Selama dia hidup diBiau-kiang, sejak kapan dia masuk kewilayah Tiong toh, kenapa berdandan seperti itu, sekaligus muncul dua lagi." 

Agaknya kakek kurus kecil ini jauh lebih tahu dari Tio Swan-in akan asal usul Toh-bing-sik-mo meski tidak jelas sekalinya. namun dia lebih heran dan tidak habis mengerti di banding Tio Swat-in-

"Pletak" mendadak dua Toh-bing-sik-mo melompat mundur bersama, sebelum berpijak diatas bumi, tiba-tiba selarik bayangan merah telah meluncur lepas dari tangan, kiranya gendewa patah, dan anak panah telah ditimpukkan kearah Toh^bing-sik-mo yang lain.

Begitu gendewa saling bentur, tanpa kuasa tubuh mereka tergentak mundur beberapa langkah, celaka adalah gendewa milik Toh-bing sik-mo yang merangsak sengit patah menjad dua, memangnya dia sudah merasa bersenjata gendewa dan anak panah tidak mencocoki permainannya, saking marah dan penasaran, segera dia timpukkan kuningan gendewa dan panahnya.

Begitu lawan berkelit disertai pekik gusar dengan menggentak kedua lengannya, maka terdengarlah suara berisik, seluruh kain perban putih yang membungkus tubuhnya peretelan putus berkeping-keping oleh getaran tenaga dalamnya, dibawah hembusan angin kencang cuilan kain-kain putih itu tertiup beterbangan-

Di tengah hujan rintik, tampak berdiri seorang pemuda berwajah tampan kaku dingin,alisnya tebal, kulitnya putih, tanpa marah pun kelihatan berwibawa, apa lagi dalam keadaan angkara murka menghadapi musuhnya, sungguh sikapnya yang gagah cukup menciutkan nyali.

Pemuda ini bukan lain adalah Pakkiong Yau-liong, selama setahun belakangan ini dengan sebatang ruyung lemas singa emasnya telah melalap seluruh jago- jago silat kilas tinggi diwilayah utara dan selatan sungai besar. Selama setahun ini dia menguber jejak pembunuh ayahnya. Karena Pakkiong Yau-Liong adalah putera jago pedang nomor satu di Kangpak sepuluh tahun yang lalu Bok-kiam-Tiong-siau Pakkiong Bing.

Setahun yang lalu setelah menamatkan pelajarannya di Hun- seng, dia sudah mulai usaha mencari jejak pembunuh ayahnya, Musuh utamanya sudah tentu adalah Toh bing-sik-mo yang merebut pedang pusaka milik ayahnya... yaitu pedang Kayu cendana.

Dari pesan ayahnya sebelum ajal, dia tahu Toh- bing-sik-mo membungkus tubuhnya dengan perban, bersenjata gendewa dan anak panah merah, dan masih ada lagi keistimewaannya rambut kepalanya merah.

Setengah tahun sudah menjelang setelah dia mengembara di Kangouw, jangan kata menemikan Toh- bing-sik-mo yang membungkus tubuh dengan perban, sampaipun musuh- musuh besar ayahnya dimasa hidupnya dulu, Hiat- dan Tou Pitlip juga tak karuan parannya.

-o0dw0o-

Berkat kepandaian yang tiada tandingan kaum persilatan memberi julukan Kim-ni-sin-jio (ruyung sakti singa emas), sayang jejak musuh besar belum juga berhasil ditemukan, hal ini membuatnya patah semangat dan keCewa.

Hidupnya jadi kelantang keluntung, namun pada setiap kesempatan tak lupa dia mencari berita. Agaknya Yang Maha Kuasa memang maha pemurah, didalam suatu kesempatan yang tidak terduga, walau jejak Toh-bing- sik- mo belum juga ditemukan, dia mendapat berita tentang Hiat ciang Tou Pit lip yang menantang musuhnya berduel di Ceng-hun-kok untuk menuntut balas kematian muridnya.

Ceng-cun-kok adalah tempat dimana Toh bing-sik-mo muncul dan mengganas sehingga lembah itu diganti namanya menjadi Bong-hun-kok. sejauh mana nama itu masih segar didalam ingatan Pakkiong Yau Liong. Entah dari mana datangnya ilham, tiba-tiba dia mendapat akal, berkeputusan untuk menyamar jadi Toh- bing-sik-mo, dengan nama Toh- bing-sik-mo dia akan membunuh siapa saja yang lewat di Ceng-hun-kok.

Caranya memang tepat dia menggunakan kelemahan watak manusia yang suka menang dan jaga gengsi untuk memancing Toh- bing-sik-mo asli keluar dari kandangnya.

Sesuai yang digambarkan ayahnya tentang bentuk dan keadaannya, dia menyamar jadi Toh- bing-sik-mo, demikian pula kuda putih, gendewa besar dan anak panah merah.

Hasilnya memang cukup memuaskan, dia berhasil memanah mati Hiat-ciang Tou Pit lip malah dalam keadaan terpaksa tak sedikit pula gembong-gembong penjahat yang telah dibunuhnya juga .

Maka lembah yang semua sudah direhabilitir kembali jadi Ceng- hun-kok terpaksa di robah pula menjadi Bong-hun-kok (lembah pelenyap sukma), setiap peristiwa yang terjadi dalam lembah pasti menggemparkan dunia persilatan, lalu siapa pula yang berani lewat lembah sempit itu.

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, demikian seterusnya, orang yang lewat Ceng-hun-kok semakin jarang. Tapi Pak kiong Yau-Liong menunggu dengan sabar dan tekun. Karena dia percaya perhitungannya pasti tidak akan meleset, sebelumnya dia sudah menyelidik daerah ini, bila dirinya adalah Toh- bing-sik-mo yang dahulu pernah mengganas disini, lalu mendengar seseorang menyaru dirinya melakukan pembunuhan seperti yang pernah dia lakukan dahulu di Ceng hun-kok, dia yakin Toh- bing-sik-mo yang asli itu pasti akan meluruk datang.

Karena adanya keyakinan ini maka selama ini dia masih menunggu dengan penuh harapan tak nyana dia harus menghabiskan waktu setengah tahun.

Akhirnya saat yang dinantikan, dikala hujan rintik-rintik fajar menyingsing ini, setelah dia dliabrak oleh Tio Swat in, penantiannya ternyata menjadi kenyataan, perhitungannya sudah terbukti. Toh- bing-sik-mo yang tulen muncul di-depan matanya, inilah musuh pembunuh ayah nya yang diubernya selama ini. Dia menekan gejolak hatinya, melabrak Toh- bing-sik-mo seperti Tio Swat- in tadi melabrak dirinya, ratusan jurus telah lewat, usahanya masih jauh dari berhasil membunuh musuh ayahnya ini, malah gendewa dan panahnya tergetar putus, bahwa gusarnya, dikala melompat mundur, kutungan gendewa itu dia timpukkan seperti melepaskan senjata rahasia.

Dikala Toh-bing sik-mo berkelit menyelamatkan diri, dengan kekuatan tenaga dalam nya dia menggetar hancur perban yang membalut seluruh tubuhnya.

Persoalan sudah nyata, dia merasa tidak perlu menyaru lagi, setelah menggetar hancur perban yang mengikat kebebasannya, kini dia mengeluarkan senjatanya, dengan ruyung lemas singa emas Toh- bing-sik-mo harus di mampuskan untuk menuntut balas kematian ayahnya, sekaligus merebut balik pedang Kayu Cendana.

Sepasang bola matanya merah membara, dengan tajam dia pandang Toh- bing-sik-mo, mukanya beringas diliputi hawa nafsu yang sadis. Pakkiong Yau-Liong meraung keras menimbulkan gema suara mendengung dalam lembah.

Tampak tangannya terbalik sinar emaspun berkelebat, sebatang ruyung emas lemas dengan ujungnya berkepala singa disendalnya kaku lurus ke depan.

Ruyung emas yang lemas itu dibawah landasan tenaga dalamnya kini menjadi kaku laksana sebatang tombak. panjangnya ada empat kaki, diujung kepala singa yang terbuka mulutnya menjulur dua ujung runcing berwarna emas dan perak perpaduan warna yang serasi sekali.

Tangan kanan Pakkiong Yau-Liong diulur dan ditarik, ujung tombak bergetar memetakan sekuntum cahaya kemilau dengan putaran dua lingkar. Sebelum lenyap dua kuntum cahaya kemilau itu, tubuh Pakkiong Yau-Liong sudah berkelebat, dengan gerak Ui- Liong- hoan-hoan-seng tubuhnya tiba-tiba melejit, kelihatannya lamban kenyataan pesat sekali menubruk kearah Toh- bing-sik-mo.

Dalam waktu yang sama, sebuah lengking suara tinggi menembus angkasa, bayangan seorang dengan kecepatan luar biasa tahu-tahu menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong.

Sementara itu Pakkiong Yau -Liong sedang terapung ditengah udara, tiba-tiba bayangan terasa menjadi gelap disebelah kiri, sesosok bayangan orang dengan deru angin keras menerjang kearah dirinya. Mau tak mau Pakkiong Yau-Liong terperanjat

'Cepat amat' demikian teriaknya dalam hati.

Begitu kedua tangan menyilang Pakkiong Yau-Liong pindahkan ruyung lemasnya ketang kanan, dengan jurus Jio si-kim-yong-joh, tampak dimana tabir cahaya kemuning mengemban ruyung singa emas nya tahu-tahu menyongsong terjangan bayangan itu dengan tusukan.

Pindah tangan serta melancarkan serangan tombaknya, boleh dikata dilakukan dalam sedetik oleh Pakkiong Yau- Liong, kecepatan gerak serangannya sebat sekali, tapi gerakan tubuh orang yang menerjang itupun cepat dan aneh. Baru saja ujung tombak Pakkiong YauLiong menusuk. bayangan orang tahu-tahu sudah berkisar kedepannya. Hakikatnya Pakkiong Yau-Liong tidak tahu lawan menggunakan gerakan apa-apa, karuan dalam hati dia mengeluh dan memuji.

Tahu-tahu sejalur angin tajam telah menerjang lambungnya, Pakkiong Yau-Liong tidak berani ayal, lekas tubuhnya ditekuk lalu diluruskan pula dengan gaya Yan-teng hun-siang-in, tubuh yang terapung itu mendadak melejit lebih tinggi lagi hampir dua tombak. lalu dengan gaya yang tidak berobah dari ketinggian tempatnya dia menukik turun tetap menerjang kearah Toh- bing-sik-mo, gerakannya luwes indah, perobahannya pun menakjupkan.

Dua orang ini sama-sama terapung diudara, masing-masing melancarkan sejurus serangan, dengan perobahan gaya dan gebrakan pula, kejadian padahal hanya singkatsaja. Pak kiong Yau-Liong mengutamakan menuntut balas pada musuh besar, bahwasanya siapa yang menyergap dirinya ditengah jalan tidak diperhatikannya, sebenarnya memang tidak sempat, yang terang tubrukkannya sudah mencapai atas Toh-bing sik-mo, kembali dia pindah ruyung lemas ketangan kiri, dikala tubuhnya bersalto, ruyung lemas itu tiba-tiba menyelonong turun dengan seringan Jiong-ce-hoan-gwa-hong, bayangan ruyung tampak berlapis- lapis disertai bintik-bintik perak yang dingin berputar mengelilingi Toh- bing-sik-mo terus menungkrup laksana jala. Padahal serangan mematikan atau paling tidak luka parah, tetapi gaya serangan nya ternyata biasa.

Dikala tusukan tombak hampir mengenai sasaran, tiba-tiba Toh- bing-sik mo merendahkan tubuh, dimana tubuhnya berkelebat, dua langkah dia menerobos kedepan, berbarengan gendewanya disendal dengan jurus Kim-hong-sik-je, bayangan gendewa bertaburan membawa deru kencang yang tajam membelah kearah Pakkiong Yau-Liong yang bergelantung di tengah udara.

Bola mata Toh- bing-sik-mo memancarkan cahaya biru kemilau nan buas, ingin rasa nya dalam segebrak ini bukan saja menamatkan serangan Pakkiong Yau-Liong yang telah memancingnya keluar kandang, sekaligus membelah nya mampus.

Lengking suara tadi bergema pula diangkasa, sesosok bayangan tadi dengan kecepatan kilat telah menerjang pula kearah Pakkiong Yau-Liong, belum tiba orangnya, tapi deru pukulan tangannya sudah menerjang tiba lebih dulu.

Padahal tubuh Pakkiong Yau-Liong masih terapung, jadi seperti bergelantung ditengah udara, bukan saja gendewa Toh- bing-sik-mo telah membelah kearah dirinya terasa terjangan serumpun angin keras menyergap pula dari samping, menghadapi serangan bertubi- tubi yang dahsyat ini, jikalau Pakkiong Yau-Liong tidak mampus juga pasti luka berat.

Tapi Pakkiong Yau-Liong memang cerdik dan cekatan, perhitungan memang sudah dia siagakan dalam menghadapi berbagai masalah dikala dirinya menyerang, resiko juga telah dipikirkan, kalau tidak mana berani dia menggunakan serangan gaya tubuh yang menghabiskan tenaga, sekaligus juga berbahaya bagi jiwa sendiri.

Tampak tubuh Pakkiong Yau-Liong tahu-tahu membalik, tubuhnya jadi menghadap ke langit, dimana pergelangan tangannya dipelintir, ruyung lemasnya tetap memantek ke gendewa Toh-bing sik-mo, gerak perobahannya begitu aneh dan jarang ada, gerak geriknyapun lincah dan tangkas.

'Trak' suaranya cukup keras, meminjam tenaga benturan dari ruyungnya yang melengkung, sebat sekali dia bersalto pergi sejauh satu tombak, sekaligus dia telah meluputkan diri dari sergapan orang lain-

Sedetik begitu kaki Pakkiong Yau-Liong menyentuh bumi, dia sudah melihat jelas siapa penyergap dirinya, itulah seorang kakek tua aneh bertubuh kurus kecil pendek. dan hanya punya satu telinga. Dengan muka beringas tampak dia berdiri bertolak pinggang, matanya menyala molotot kepada Pakkiong Yau-Liong.

Adanya ruyung lemas singa emas ditangan Pakkiong Yau-Liong, menyaksikan dua gerakan tubuh yang bergaya seindah tadi yang di demonstrasikan pemuda tanggung ini, diam-diam kakek aneh bermata juling dengan telinga tunggal ini sudah berani memastikan bahwa Pakkiong Yau Liong pasti punyahubungan erat dengan Biau- hu Suseng. Maka dia berkeputusan untuk mencari tahu seluk beluk persoalannya.

Sebaliknya Pakkiong Yau-Liong heran dan tak habis mengerti, dikala musuh besar didepan mata, sudah tentu tiada waktu untuk memecah perhatian, kenapa kakek aneh ini turut campur ikut menyerang dirinya.

Tetapi dia merasakan bahwa Kungfu kakek ini masih berada diatas kemampuannya sendiri, tentu punya nama dan kedudukan tinggi diBulim, tapi dalam waktu dan situasi sekarang tiada tempo dia pikirkan soal ini. Begitu ujung kaki menutul bUmi, tubuhnya bergerak menubruk pula kearah Toh-bing sik-mo.

Baru saja dia bergerak, kakek kurus pendek itupun meraung pula terus menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong, Dua orang sama-sama terapung dan saling tumbuk.

"Blang" bayangan mereka terpental mundur setombak jauhnya, tampak Pakkiong Yau-Liong limbung beberapa langkah baru berhasil menguasai tubuhnya, diam-diam hatinya mengeluh dan memuji, pukulan lawan memang hebat dan dahsyat.

Mendelik tatapan mata kearah kakek kurus pendek. hatinya kesal, juga benci dan gusar karena kakek kurus ini berulang kali menghalangi usahanya menuntut balas.

Setelah menarik napas, Pakkiong Yau-liong tekan perasaannya, katanya dengan suara rendah:

"Cianpwe ini berulang kali menghalangi Cayhe. entah apa maksudnya ? Mohon penjelasan."

Kakek kurus kering bertelinga tunggal tiba-tiba terloroh sambil menengadah, dia menarik muka dan menatap Pakkiong Yau-Liong dengan sorotan mata tajam, suaranya melengking dingin: "Kau tahu siapa aku ?"

Bergidik bulu kuduk Pakkiong Yau-Liong pikirnya: "Mungkinkah kakek ini adalah Tok-ni-kau-hun si Ping ji benggolan penjahat dari kalangan hitam ?"

Lalu dia perhatikan perawakan orang serta tampangnya yang tepos dan matanya yang juling, terutama kupingnya yang tinggal satu akhirnya dia yakin bahwa dugaannya tidak meleset. Maka sadarlah dia bahwa urusan hari ini tidak mudah diselesaikan begitu saja.

Tok-ni-kau-hun (telinga tunggal perenggut sukma) NiPing-ji adalah gembong iblis nomor satu sejak dua puluh tahun yang lalu, sudah lama mengasingkan diri, sifatnya nyentrik kejam dan kemaruk paras ayu alias cabul, meski usianya sudah lanjut, entah dari mana datangnya nafsu yang tidak habis-habis.

Kungfunya juga teramat tinggi, kaum persilatan baik golongan hitam (penjahat) maupun aliran putih (pendekar) memandangnya sebagai momok yang paling ganas, siapapun tidak berani membicarakan dia dan menyingkir jauh bila bertemu dengan dia.

Dua puluh tahun yang lalu, dalam suatu duel, kupingnya kena dicopot oleh Biau-hu Suseng, dengan luka parah dia melarikan diri dan sejak itu mengasingkan diri. Mungkin memperdalam ilmu silat untuk menuntut balas sakit hatinya masa lalu.

Kini Pakkiong Yau-Liong menggunakan senjata tunggal perguruan Biau-hu Suseng, yaitu ruyung lemas singa emas, mendemonstrasikan gerakan tubuh seindah itu pula, dia tahu bahwa Pakkiong Yau-Liong pasti punyahubungan erat dengan Biau-hu Suseng, demi melampiaskan dendam hatinya, sudah tentu hari ini dia tidak akan membebaskan pemuda ini.

Pakkiong Yau-Liong juga tahu sebelum hari ini dia membuat penyelesaian, sukar membebaskan diri, maka dengan lantang sambil membusung dada dia menjawab:

"oo, kiranya Ni-locianpwe, sudah lama kudengar nama besarmu.... Guruku sudah meninggal setahun yang lalu, tapi persoalan beliau dimasa hidupnya dulu, Wanpwe pasti akan menanggungnya. Tapi sekarang Wanpwe sedang menuntut balas kematian ayah, bila persoalan ini sudah selesai, pasti Wanpwe akan menyerahkan persoalan kepada Cianpwe untuk dibereskan."

Alasan yang dikemuka kan Pakkiong Yau-Liong memang cukup pantas dan masuk akal, dia yakin Tok-ni-kiu-hun meski seorang brutal juga tidak akan merintangi usahanya. Tak nyana setelah mendengar penjelasan Pakkiong Yau-Liong, terunjuk perasaan ruwet disinar matanya, lalu dia terloroh-loroh pula, tawa yang lebih aneh dan jelek dari isak tangis orang, namun suara nya yang keras berisi tenyata menimbulkan gema yang cukup keras dan lama didalam Ceng-hun-kok. tampak betapa jumawa sikapnya. Yang hadir didalam lembah ini mengkirik dan terbeliak.

Agak lama loroh tawa yang jelek mengandung rasa kecewa ini lenyap suara nya, wajahnya yang kurus tepos seperti tertawa tidak menangispun tidak itu, cepat sekali telah pulih seperti sedia kala, kulit mukanya berobah kelam mengkilap. matanya bersinar biru menatap Pakkiong Yau-Liong.

Hari sudah terang, tetapi cuaca didalam Ceng-hun-kok masih terasa lembab dan guram. Hujanpun telah reda, namun ketegangan justeru memuncak. sehingga perobahan cuaca tidak terasa kan oleh mereka.

Hembusan angin pagi nan dingin menghembus lalu, mereka yang berdiri kaku seperti tidak merasakan sama sekali, dua bangkai kuda yang terkapar diantara ceceran darah dan lumpur tidak dihiraukan sama sekali, suasana sunyi lengang. Sesaat kemudian baru Ni Ping- ji mendengus pendek. seperti mengigau dia berkata: "Ternyata tua bangka itu sudah mendahului aku. Hai, menguntungkan dia malah.." Lalu dengan melotot dia pandang Pak kiong Yau-Liong, dan katanya.

"Bagus... Syukur dia menerima kau sebagai muridnya. Bila hari ini kau mampu mengalahkan sepasang tangan kosongku ini, maka permusuhan masa lalu boleh dianggap himpas. Kalau tidak IHmm,jangan katakan kalau aku berlaku kejam."

Dari penuturan gurunya Pakkiong Yau-Liong tahu bahwa Tok- ni- kau-hun orang nya susah diajak kompromi, bahwa dia sudah memberi pernyataan seperti itu, usahanya menuntut balas kematian ayahnya kepada Toh-bing sik-mo agaknya bakal menemui kegagalan.

Padahal musuh besar didepan mata, namun dia tidak bis amenuntut balas, betapa gusar, penasaran hatinya. Sekilas dia melirik kearah Tio Swat-in, tapi orang tidak memberi reaksi.

Sejak Pakkiong Yau-Liong menggetar hancur perban yang membelit tubuhnya, Tio Swat- in lantas berdiri menjublek. Apapun tak pernah terpikir olehnya, bahwa orang yang dilabraknya mati- matian, ternyata adalah pemuda gagah berwajah tampan yang usianya sebaya dengan dirinya.

Agaknya orang membekal nasib dan riwayat yang hampir sama dengan dirinya. Diam-diam dia mereka dalam hati. Pandangannya kearah Pakkiong Yau-Liong lama kelamaan menjadi kabur dan kelabu.

Tio Swat- in dibuat bingung dan risau oleh perasaan yang sukar tercetus oleh lahirnya, dia lupa apa maksud tujuannya kemari, lupa apa yang harus dia lakukan sekarang, kedua matanya memandang lengang, tapi dia tidak tahu apa yang tetjadi didepan mata, agaknya dia sedang berpikir, tapi entah apa yang berkecamuk dibenaknya, dia hanya terlongong.

Tak pernah terbayang dalam benak Pak kiong Yau-Liong, dikala dirinya sudah memancing keluar musuh dan berhadapan, mendadak muncul Tok-ni-kau-hun yang menghalangi usahanya. Dalam keadaan yang kepepet ini, bila dia tidak menempur telinga tunggal perenggut sukma ini, urusan pasti berkepanjangan.

Padahal musuh besar pembunuh ayahnya didepan mata. dikala dia melabrak Ni Ping-ji bukankah Toh-bing-sik mo akan punya kesempatan kabur dari sini.

Serta merta dia teringat kepada gadis yang tadi melabrak dirinya dikala dirinya masih menyamar Toh-bing-sik-mo. sukar dia meraba relung hatinya sendiri, apa yang dia harapkan sekarang, sudah tentu, yang penting supaya Tio Swat- in bantu mencegah Toh- bing- sik-mo bila orang akan melarikan diri.

Bahwasanya Toh- bing-sik-mo meluruk datang dari ribuan lijauhnya kemari, sudah tentu akan membereskan persoalan dalam lembah ini sampai tuntas, sekarang Tok-ni kauhun si Ping-ji tiba-tiba turut campur, sudah tentu menguntungkan dirinya, maka dia berdiri disamping berpeluk tangan sambil menonton. Apa boleh buat, terpaksa Pakkiong Yau-Liong kertak gigi, dengan gerungan gusar ruyung lemasnya disendal melingkar, berbareng secepat terbang tubuhnya bergerak merangsak kearah Ni Ping-ji.

Meski hatiamat gusar, tetapi Pakkiong Yau-Liong tahu dirinya pantang mengumbar amarah, apalagi menghadapi gembong iblis setingkat gurunya, maka sekuatnya dia mengkonsentrasikan pikiran dan semangat, diapikir dalam waktu singkat harus berhasil menggebah musuh tangguh yang satu ini, meski hanya memperoleh kemenangan setengah jurus. Dia yakin sebagai tokoh lihay angkatan tua, Ni Ping-ji pasti mematuhi janjinya sendiri.

Ruyung lemas Pakkiong Yau-Liong tampak berputar-putar, setitik sirar perak kemilau dingin tiba-tiba memarak keluar, dengan jurus Tam-gan-ing-ka-seng, ujung tombak perak tahu-tahu menutuk ke Tam-tlong-hiat didepan dada Tok-ni kau-hun Ni Ping ji.

Ni Ping-ji menyeringai sadis, sebat sekali tubuhnya berkelebat, dengan enteng dia menghindarkan diri. Sudah tentu Pakkiong Yau- Liong tahu bahwa Ni Ping-ji bukan lawan sembarangan, sambil menyerang dia selalu siaga, serangannya ini hanya merupakan pancingan belaka, sudah tentu dia tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Begitu Ni Ping-ji berkelit, ruyung lemas nya bergerak mengikuti perobahan langkah Pakkiong Yau-Liong, kali ini sinar emas yang mematuk sementara sinar perak berpantul, jurus Jiu-tian-kay-ling-ka ini membawa tenaga dahsyat mendesak kearah Ni Ping-ji.

Perobahan serangannya jauh lebih cepat dan aneh. Kali ini Ni Ping-ji tidak menyingkir atau berkelit, sorot matanya menjadi buas, mendadak dia terloroh-loroh keras memekak telinga, siapa mendengar dia mengkirik seram, tubuh gemetar.

Dikala ujung tombak hampir mengenai tubuh, mendadak Ni Ping- ji membuang diri kebawah, berbareng kedua telapak tangan terbalik dengan jurus San-ing-hun-sing dua jari-jari tangan yang kurus kering tiba-tiba menyelonong kedepan, kelima jari tangan kiri seperti cakar mencengkram kebatang ruyung emas Pakkiong Yau- Liong, sementara telapak tangan kanan menepuk keperut bawah.

Sekaligus Ni Ping ji melancarkan sepasang tangan kosong, bukan saja tipunya keji lagi, tangannya yang kurus kering itu ternyata mengeluarkan tenaga yang mengejutkan. Satu di antaranya kedua tangannya mengenai sasaran, bagi Pak kiong Yau-Liong fatal akibatnya.

Pakkiong Yau-Liong menekan tangan menggeliat tubuh, sebat sekali tubuhnya melejit lima kaki kesamping, telapak tangan si Ping ji menyerempet pakaiannya, serambut Pakkiong Yau-Liong telambat bergerak. perutnya sudah belong atau hancur.

Bahwa serangannya tidak berhasil melukai lawan malah jiwa sendiri terancam, saking kaget keringat dingin gemerobyos maka tindakan selanjutnya lebih hati- hati.

Ni Ping-ji memperoleh inisiatif maka dia tidak sia-siakan kesempatan merangsek lebih gencar, Pakkiong Yau Liong dirabunya menggebu, Pakkiong Yau-Liong berkelit mundur sambil bertahan serapat dinding, namun si Ping-ji mendesak lengket dengan menaburkan telapak tangannya, dengan jurus Hau-yan-yong-ci, ditengah taburan telapak tangannya, membawa serumpun gempuran angin dahsyat menindih kepala.

Baru saja kaki Pakkiong Yau-Liong menginjak bumi, pukulan lawan telah menerjang tiba, dikala jiwa terancam itulah, tiba-tiba bayangan seorang dengan rambut kotor awut-awutan, seluruh tubuh berlepotan darah, dadanya menancap sebatang panah merah dengan langkah sempoyongan tiba-tiba muncul diantara taburan telapak tangan, suara yang seram memilukan kembali bergema dipinggir telinga: "Liong-ji, Ingatlah orang yang membelit tubuhnya dengan perban, menggunakan gendewa dan panah, menunggang kuda putih, itulah Toh- bing-sik-mo dengen rambut kepala merah, bukan ayah tidak becus, soalnya ayah sudah terluka parah luka-luka ditubuhku semua karya Hiat-ciang Toh Pir lip dan kawan-kawannya, dan lagi pedang kayu cendana milik milik ayah juga direbut oleh

Toh-bing. " Seolah-olah Pakkiong Yau-Liong mendengar deru napas ayahnya yang sengal-sengal, lalu terdengar mulutnya memuntahkan darah segar, maka bayangan darah yang merah menyala tiba tiba seperti bertaburan didepan mata Pakkiong Yau-Liong. Ayahnya, Bok-kiam- tlong siau Pakkiong Bing sejak sepuluh tahun yang lalu telah ajal dalam keadaan mengenaskan.

Khayalan yang menggelitik sanubarinya hanya sekejap belaka. Tapi napas Pakkiong Yau-Liong tiba-tiba berdesah makin cepat, bola mata nya menyala gusar, diaamat benci dan dendam terhadap Toh- bing sik-mo, lebih dendam lagi terhadap Ni Ping-ji si telinga tunggal yang merintangi usahanya menuntut balas.

Terasa darah seperti bergolak dirongga dadanya, tiba-tiba dia tertawa gelak-gelak sambil mendongak. itulah gelak tawa lantang yang selama setengah tahun yang lalu selalu dia perdengarkan di kala menghadapi musuh tangguh. Gelak tawa yang aneh kedengaran agak pilu dan murka pula dibanding gelak tawanya pada setengah tahun lalu.

Agaknya Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji merinding juga mendengar gelak tawa Pakkiong Yau-Liong, serta merta dia hentikan telapak tangannya yang sudah siap menepuk kebatok kepala Pakkiong Yau- Liong serta menyurut mundur beberapa langkah.

Gelak tawa Pakkiong Yau-Liong akhirnya sirap setelah suaranya menjadi serak. maka hadirin diam tiada satupun yang bergerak atau mengeluarkan suara. Ceng-hun-kok diliputi suasana tegang yang mencekam perasaan-

Sedih, pilu dan kelihatan seram mimik muka Pakkiong Yau-Liong, orang tidak berani beradu pandang dengan bola matanya yang merah mengandung darah seperti membara, dengan tajam dia pandang Tok-ni-kau-hun Ni-Ping ji yang merintangi usahanya menuntut balas, rasanya ingin menelannya bulat-bulat. Sambil menjinjing ruyung lemas singa emas, setindak demi setindak Pakkiong Yau-Liong mendesak kearah Ni Ping-ji. Tok ni-kau-hun seperti tersedot sukmanya oleh gelak tawa Pakkiong Yau-Liong, yang di curahkan dari lubuk hatinya yang paling dalam karena dirundung kesedihan. Lama dia berdiri melongo mengawasi Pakkiong- Yau- Liong, sorot mata yang tajam dengan mimik muka yang sukar dilukiskan itupun tak berani dipandangnya pula, lekas dia melengos kearah lain, namun rasa gengsi dan pamor seolah-olah mencegah dia melakukan sesuatu yang menurunkan derajat, namun ditatap mata yang tajam nan dingin, sudah terbayang rasa jeri dalam sinar matanya.

Maka tanpa disadari, ditelapak tangan, di atas jidatnya, keringat dingin telah bercucuran. Pakkiong Yau-Liong mendesak makin dekat, tinggal lima kaki lagi, jarak lima langkah dapat terjangkau, walau sang waktu terus pergi, tapi bagi Ni Ping ji seperti berlangsung terlalu lama, langkah Pakkiong Yau-Liong juga terasa semakin lambat.

Tio Swat- in masih menjublek. seolah olah dia tidak sadar dan ikut memperhatikan apa yang terjadi didepan mata, tidak melihat juga tidak mendengar.

Disana Toh- bing-sik-mo menyaksikan dengan pandangan heran dan kaget. Sementara perempuan yang bercokol dipunggung kuda, yang datang bersama Tok-nikau-hun Ni Ping-ji juga menampilkan perasaan yang sukar di raba, entah senang, sedih, gugup, penasaran dan sebagainya.

Dongan langkah berat Pakkiong Yau-Liong terus mendekati Ni Ping-ji, lebih dekat dan lebih dekat... Rasa takut yang menyelimuti sanubari Ni Ping-ji juga semakin besar secara reftek timbul keinginan untuk angkat langkah seribu, namun kaki seperti sudah berakar dibumi tak kan mampu digerakkan. Akhirnya pelan-pelan Pakkiong Yau-Liong angkat ruyung tombaknya pelan tapi ruyung itu sejengkal lebih dekat, terus menusuk keulu hati Ni Ping-ji.

Sekonyong-konyong angin dingin menghembus lalu, Ni Ping-ji tersentak sadar seperti disengat kala, mendadak dia menggember sekali, sebat sekali tubuhnya dibanting kesamping terus bersalto setombak jauhnya. Sungguh dia tidak habis mengerti, kaget dan heran akan kelakuannya sendiri yang seperti kena sihir tadi.

Maka rasa panasaran hatinya lantaran kelakuan bedohnya tadi dia tunjukkan kepada Pakkiong Yau-Liong. Dihadapan ratusan jago- jago silat dari golongan hitam maupun putih, Biau-hu Su-seng telah membuatnya malu dan terluka parah, sehingga dia harus mengundurkan diri dari percaturan kangouw, kejadian masa silam kembali terbayang didepan mata, maka dia lebih malu dan murka.

Maka dia bertekad akan membunuh Pakkiong Yau-Liong, bukan sekali tusuk atau tabas dengan senjata tajam menghabisi jiwanya tapi menyiksanya dengan berbagai cara yang paling biadab, biar dia mati pelan-pelan ditengah penderitaan.

Perasaan Ni Ping-ji sekarang tak ubahnya bocah yang dianiaya seorang dewasa, rasa dendam membara dirongga dadanya tapi sukar terlampias. begitu mundur ujung kakinya sudah menjejak disertai gemberan keras, tubuhnya melesat terbang secepat kilat menerkam kearah Pakkiong Yau-Liong. Dengan jurus Cui-song-loh- hoa gerakan angin jarinya laksana gunting, menutuk ke Thian-toh- hiat dileher Pak kiong Yau-Liong.

Pakkiong Yau Liong berseru heran, agak nya diapun tersentak dari lamunannya, tampak dia maju selangkah dengan memiring tubuh, telapak tangannya menepis naik terus ditekan turun dengan jurus Jun-lui-siu-boh-cu, angin telapak tangannya membabat, jari- jari tangannya cakar garuda mencengkram urat nadi tangan kanan Ni Ping-ji, berbareng sinar emas berkelebat, ruyungnya menusuk dengan jurus Mo-ay-boan-ping san, ruyungnya lemas laksana tombak baja, dengan deru angin mendesis menusuk batok kepala Ni Ping-ji yang setengah gundul. Serangan mantap tenaga penuh langkah kakipun tangkas, sasaran tepat waktunya pun persis.

Baru saja Tok ni-kau-hun Ni Ping-ji menutuk dengan tangan kanan, telapak tangan dan tombak Pakkiong Yau-Liong telah balas merangsak, tak pernah dia pikir bahwa dalam usia semuda ini Pakkiong Yau- long ternyata telah memiliki taraf kepandaian setinggi ini, agaknya kepandaian Biau-hu Suseng telah diwariskan kepadanya semua. Dibanding dirinya dalam masa setanggung itu, kepandaiannya masih jauh ketinggalan-

Mau tidak mau dia kagum dalam hati. Maka rasa dendam, iri dan siriknya bertambah besar, tekadnya hendak membunuh Pakkiong Yau-Liong lebih besar lagi, sebelum musuh muda ini terbunuh, jiwanya yang angkuh ini rasanya belum puas.

Tok- ni-kau-hun bergerak sambil mengerjakan kedua tangannya, dengan jurus Peh-hoa slok-ih kedua telapak tangannya berputar terus menggempur kearah Pakkiong Yau-Liong. Hebat memang kepandaian Pakkiong Yau-Liong gerakannyapun teramat cepat dan lain dari biasanya, begitu sasarannya luput, sebelum Ni Ping-ni balas menyerang, dia sudah tarik gerakannya serta melangkah miring kesamping, di mana ujung ruyung nya berputar laksana sekuntum kembang, dengan jurus Thian-kjat-sian-coa be, ujung tombak diujung ruyungnya mengeluarkan deru kencang, tipu serangan kali ini memang kelihatan lebih lihay dan ganas.

Baru saja tangan Ni Ping-ji bekerja, lawan sudah berkelit pergi, serangan kedua pihak tampaknya kencang padahal kendor, lambat kenyataan cepat, tahu-tahu ujung senjata lawan sudah menyerang tiba, karuan kagetnya bukan kepalang. Sebat sekali sebelum senjata Pakkiong Yau-Liong mengenai tubuhnya dia sudah mundur lima kaki.

Mau tidak mau Ni Ping-ji takjub menghadapi kelihayan lawan, sambil meraung sekeras singa mengamuk tubuhnya melambung tinggi keatas, ditengah udara mulutnya memekik keras pula sehingga genderang telinga seperti hampir pecah. Tampak tubuhnya meringkel terus membalik laksana meteor jatuh, seperti kilat dari atas dia menyambar kearah Pakkiong Yau-Liong.

Itulah jurus Yam-mi-bik-jiu salah satu jurus dari ilmu Kou-hunsek yang pernah merajai golongan hitam dimasa jayanya Ni Ping-ji waktu masih malang melintang di Kangouw. Setelah dikembangkan perbawanya memang luar biasa, kecepatan geraknya sunggah sukar dibayangkan. Mundur, melejit, membalik tubuh terus menukik turun, terjadi hanya diwaktu Pak kiong Yau-Liong baru saja menarik balik serangannya setelah luput menyerang sasarannya.

Begitu ruyungnya menusuk tempat kosong Pakkiong Yau-Liong menekan lengan menarik serangan, tiba-tiba terdengar gemberan keras melengking, tahu-tahu pandangan gelap. tampak Tok- ni- kau hun Ni Ping-ji seperti roda berputar saja tiba-tiba menerjang turun dari atas dengan kaki tangan bekerja bergantian menimbulkan bayangan ribuan tangan dan kaki, sekaligus menerjangnya dengan kekuatan dahsyat.

Padahal pandangan Pakkiong Yau-Liong teramat tajam, tapi bagaimana musuh menyerang ternyata tidak dilihatnya jelas, karuan dia mengeluh. Tanpa perdulikan serangan yang ditarik belum menyeluruh, dikala tubuhnya masih miring itulah mendadak dia gunakan Sia-kia nso-ou diau, tubuhnya tiba-tiba melompat keatas seperti ada pegas dibawah kakinya, tubuhnya sudah menerjang keluar dari jangkauan serangan kaki dan tangan Ni Ping-ji

Gerak menghindar Pakkiong Yau-Liong boleh dikata sudah teramat cepat, namun orang lebih cepat lagi. Terdengar "Bret" pakaian dipundak Pakkiong Yau-Liong tercakar sobek sebagian, pundaknya merah membekas lima jalur jari tangan berwarna merah.

Beruntung Pakkiong Yau- Liong berhasil melompat setombak lebih, namun demikian tidak utung keringat dingin telah membasahi jidatnya, baru sekarang dia benar-benar menyadari bahwa Ni Ping- ji. benggolan iblis yang merajai golongan hitam memang mempunyai kepandaian sejati.

Karena rasa sakit dipundaknya, membuat pikiran Pakkiong Yau- Liong jernih sejernih-jernihnya. Pelan-pelan dia menarik napas dalam, mata nya menatap tajam, pelan-pelan ruyung lemas ditangannya terangkat lurus, dengan sepenuh perhatian dia nantikan rangsakan lawan, dia sudah siap mengatasi aksi lawan dengan ketenangan lahir batin untuk mengadu jiwa dengan Tok ni- kau-hun Ni Ping ji. Bahwa Pakkiong Yau-Liong mampu menyelamatkan jiwanya dari Yan- mi- bik-jiu jurus mematikan Kau-huncoat-sek yang paling dibanggakan ini.

Ni Ping-ji mendelik kaget dan takjub, tapi kejadian hanya dalam sekejap saja, lekas sekali perasaannya itu sudah lenyap dari sorot matanya.

Kembali Ni Ping-ji terkial-kiai dengan suara nya yang batuk-batuk amat tak enak didengar kuping, padahal tertawa, tetapi tawanya lebih mirip menangis, seluruh rubuh gemetar hampir melonjak- lonjak.

Itulah sikap yang menghina, tingkah yang sombong dan tekebur, dengan tawa menggila aneh itu dia mau memperlihatkan keangkuhannya bahwa dia tidak pandang sebelah mata kepada lawannya yang masih muda ini.

Adalah Pakkiong Yau-Liong sebaliknya memejam mata, berdiri tegak setengah tertunduk sedikitpun dia tidak terpengaruh oleh gelak tawa orang.

Setelah menghentikan gelak tawanya, wajah Ni Ping ji tampak membesi hijau, ujung mulutnya menyeringai sadis. Pelan-pelan dia angkat tangan, pelan-pelan membuka jari-jarinya, dimana tadi dia mencengkram pakaian dan kulit daging Pakkiong Yau-Liong.

Angin menghembus kencang, sobekan kain yang berlepotan darah tertiup jatuh kedepan kaki Tio Swat- in- Mulut Tio Swat- in yang mungil merekah bergerak-gerak. tapi dia tetap berdiri terlongong.

Tadi dia tersentak sadar oleh gelak tawa Pakkiong Yau-Liong yang menyedihkan, tetapi lekas sekali lahir batinnya kembali tersedot ke alam bebas lainnya pula, suatu perasaan yang sukar diutarakan dengan kata-kata bersemayam dalam relung hatinya, sehingga dia mengawasi dengan penuh perhatian, entah mengapa dan dari mana datangnya, dalam sanubarinya timbul rasa simpatik yang mendalam terhadap Pak kiong Yau-Liong, seolah-olah dia telah menyelami banyak tentang pribadinya. Gelak tawa Pakkiong Yau-Liong yang memilukan tadi, secara langsung menyuarakan isi hatinya pula, melampiaskan dendam dan kerawanan hatinya, maka timbul gema suara yang seirama didalam lubuk hatinya, tanpa sadar perhatiannya begitu besar terhadap perjaka yang satu ini, sudah tentu keselamatan sang-pemuda menjadi pula perhatiannya.

Setelah membuang sobekan kain ditangannya Tok- ni-kau-hun Ni Ping ji segera menubruk pula kearah Pakkiong Yau-Liong. Sebelum Ni Ping-ji tiba didepannya, Pakkiong Yau-Liong juga sudah memapak maju, dimana tangannya berputar ruyung lemas mendadak tegak lurus menciptakan tiga kuntum cahaya emas, sekaligus mematuk keluar dengan jurus Lian-cu yau-ping-gwe, ditengah pusaran cahaya emas, tampak sinar perak melonjak keluar menyongsong tubrukan Ni Ping-ji.

Serangan ini cukup keras dan keji, tenaga nyapun kuat, namun sedikitpun tidak menimbulkan deru angin- Serangan keras Pakkiong Yau-Liong memang terlalu mendadak, sasaran ujung tombaknyapun tepat dan telak bila mengenai sasaran, gayanyapun indah mempesona.

Ni Ping-ji bukanlah lawan lemah sambil mendehem sekali gerak tubuhnya tiba-tiba merandek terus miring kekiri, dengan Yan-ing- heng-kang, tubuhnya menerobes kepinggir lima kaki, maka dia terhindar dari tusukan tombak ruyung lawan-

Bahwa tubrukannya tidak berhasil menyergap lawan, malah jiwa sendiri nyaris direnggut tombak lawan, karuan Ni Ping-ji naik pitam, begitu kaki menyentuh tanah, dengan Plan to-be-hoan, mendadak dia tarik tubuhnya secara mentah-mentah, tangan bekerja mengikuti gerak tubuh, kali ini dia robah serangan dengan jurus Jiu- hong loh-yap. sesuai namanya anginnya menderu bagai hujan bayu, kekuatan dahsyat menerpa kearah Pakkiong Yau-Liong.

Agaknya Pakkiong Yau-Liong sudah siaga menghadapi serangan lawan, meski sepasang telapak tangan Ni Ping-ji menyerang tiba, kelopak matanya pun tidak bergerak. padahal damparan angin kencang itu hampir membuatnya susah bernapas. Namun tubuhnya tiba-tiba doyong kepinggir sehingga tubuhnya lurus menempel tanah, dimana ruyung lemas nya ditariknya, sinar emas yang menyiiau mata berkelebat. Sesekali menyerang dengan dua gerakan Jam-bu-ui-ho-tiang dan Som-kiau-bik-gwe-hwi. Sinar kemilau itu berkembang sedahsyat gugur gunung, selincah ular sakti pula menggulung kearah Ni Ping-ji.

Bahwasanya serangan Tok- ni-kau-hun Ni Ping-ji sudah dilancarkan sekuat tenaga dan mencapai titik tenaga yang penghabisan, namun Pakkiong Yau-Liong mendadak menjatuhkan diri serta balas menyerang dengan sejurus dua gerakan, bukan saja lihay dan cepat, serangannyapun aneh dan berbeda dengan permainan ilmu silat umumnya.

Karuan Ni Ping-ji tersirap kaget sampai mukanya berubah pucat, untuk menarik serangan dan berkelit jelaS tidak mungkin lagi, dalam detik-detik gawat ini jelaS dia bakal kecundang oleh tombak diujung ruyung Pakkiong Yau Liong.

Tio Swat- in yang menyaksikan diluar gelanggang masih terlongong, tapi sorot matanya memancarkan sorak gembira, sayang tenggorokannya seperti tersumbat sehingga dia tidak kuasa bersuara.

Toh- bing-sik-mo tetap terlongong di tempatnya, sorot matanya yang dingin beku menatap tanah didepan kakinya, sorot matanya tidak menampilkan perasaan apa-apa.

Demikian pula perempuan yang tetap bercokol dipunggung kuda tetap tidak bergerak atau memberikan reaksi apapun, sorot matanya memancarkan cahaya ruwet yang sukar di selami.

Kecuali kedua orang yang lagi baku hantam ditengah arena, tigaorang diluar gelanggang berdiri kaku seperti patung, tidak bersuara pula.

Ditengah keheningan itulah, sebuah pekik keras seperti menembus angkasa. Insyaf berkelit sudah tidak keburu lagi, dikala terdesak itulah Ni Ping-ji mendadak mendapatkan akal, mengikuti gerak tubuhnya, mendadak dia kerahkan tenaga diujung kakinya, tahu-tahu tubuhnya melejit lewat dari atas cahaya tombak emas dan perak Pakkiong Yau-Liong.

"Cret" tak urung celananya tertusuk belong dan sobek. Begitu Pakkiong Yau-liong menekan tangan sambil menarik. ditengah perpaduan cahaya emas dan perak tampak sinar darah muncrat, ternyata kaki Ni Ping-ji tertusuk belong dan tergores panjang beberapa dim oleh ketajaman tombak emas Pakkiong Yau-Liong.

Sebat sekali Pakkiong Yau-Liong telah melejit bangun, dia kira Ni Ping-ji tidak akan menjilat ludahnya sendiri, sebagai tokoh silat tinggi yang sudah ternama pasti menepati janji Maka dia tidak akan menarik panjang persoalannya dengan Tok ni0-kau-hun Ni Ping-ji, tanpa bicara langsung dia menubruk kearah Tohbing-sik mo yang masih berdiri dipinggir.

Adalah diluar tahunya bahwa Ni Ping-ji sudah bertekad hendak membunuhnya, karena memandang enteng lawan, kakinya malah terluka oleh Pakkiong Yau-Liong, sudah tentu gusar dan penasaran membakar hatinya, tak ingat janji tak hiraukan gengsi, sambil menggerung kembali dia menubruk dengan sengit.

Baru saja tubuh Pakkiong Yau-Liong bergerak setengah lingkar, ditengah gerungan gusar lawan, bayangan orang berkelebat, tahu- tahu Ni Ping-ji telah menerjang pula kepadanya. Pakkiong Yau-Liong mendengus gusar pula, pikirnya:

"Siapa nyana benggolan iblis yang sudah ternama di Kangouw juga tidak hiraukan aturan dan ingkar janji."

Secara keras dan cepat dia tarik balik tubuhnya yang sudah bergerak setengah lingkar, dimana tubuhnya bergerak tombaknyapun ikut menyapu kearah Ni Ping ji.

Meski dibakar amarah, namun Tok ni-kau hun Ni Ping-ji tidak berani gegabah, tampak dia mengembangkan kelincahan tubuhnya, laksana air mengalir dan mega mengambang, serangan telapak tangannya berantai tidak putus-putus membawa kekuatan dahSyat laksana gugur gunung. Pakkiong Yau-Liong diserang Secara menggebu. Ruyung lemas tombak singa pakkiong Yau-Liong berputar membUngkus tubuhnya, seperti tabir cahaya telah mengelilingi sekujur badan, sering pula tombaknya bergerak balas menyerang setiap ada kesempatan-

Walau Lwekang Ni Ping-ji tinggi, tetapi pertahanan Pakkiong Yau- Liong ternyata juga ketat dan kuat, dia tidak mengutamakan menang, yang penting adalah bertahan dan selamat, maka dalam waktu dekat jelas Ni Ping-ji tidak akan mampu merobehkan dia apa lagi mau membunuhnya .

Tampak sinar emas gemerdep. bayangan orang menari-nari dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan mata, kelihatan lambat kenyataan cepat. Setelah cepat kenyataan lamban, sering menimbulkan gelombang dan pusaran hawa yang dahsyat, sehingga penonton bergidik dingin dan merinding, raungan tawa yang keras pun seperti hampir menggetar pecah genderang kuping orang.

Hanya sekejap seratus jurus telah berselang. Hari sudah betul- betul terang tanah, namun lembah mega hijau masih diliputi cuaca guram dan lembab. Hujan sudah reda, tetapi angin dingin masih menghembus kencang dengan deru yang memilukan.

Tiga orang diluar gelanggang masing2 terlongong tidak bergerak. mereka seperti tidak merasakan dinginnya hembusan angin, tidak merasa bahwa hujan sudah reda, haripun sudah terang tanah, sudah tentu tidak mereka sadari pula bahwa anyirnya darah sudah memenuhi lembah mega hijau.

Hanya satu yang menjadi perhatian mereka, yaitu dua orang yang lagi berlaga ditengah arena, jantung mereka ikut berdebur regang, perasaan mereka berbeda namun sama menonton dengan melotot tanpa berkesip.

Sepasang telapak tangan Tok ni-kau-hun Ni Ping ji bertaburan sederas badai mengamuk. Setiap peluang tidak diabaikan, sekujur badan Pakkiong Yau-Liong menjadi incaran tipu yang mematikan.

Pakkiong Yau-Liong sudah bertempur satu babak lebih dulu melawan Tohbing-sik-mo, berjuang untuk menuntut balas kematian ayahnya, maka dalam melabrak Toh-bing-sik-mo tadi boleh dikata dia sudah mengerahkan segala kemampuannya, dan untuk mencapai keinginan itu, sekarang dia harus merobohkan dulu Tok- ni-kau-hun Ni Ping ji, dendam membara pula didalam rongga dadanya setelah Ni Ping-ji tidak menepati janji, itu berarti usaha menuntut balas akan menghadapi rintangan yang Cukup berat, sebelum musuh gurunya yang satu ini ditamatkan riwayatnya, sukar bagi Pak kiong Yau-Liong membunuh Toh-bing sik-mo.

Rasa pedih dan kebencian menopang rasa dendamnya, sehingga dia bertempur tidak kenal lelah, entah dari mana datangnya semangat yang tidak kunjung padam, ingin rasanya dia menghancur leburkan tubuh Ni Ping-ji si kakek kurus pendek yang tidak tahu malu ini, baru setelah itu dia akan mengunyah tubuh dan menghisap darah segar Toh-bing-sik-mo, supaya arwah sang ayah dialam baka bisa istirahat dengan tentram.

Akan tetapi Pakkiong Yau-Liong sendiri juga menginsyafi dirinya adalah manusia biasa, cepat atau lambat tenaganya akan terkuras habis, bila semangat tempur masih menyala, tidak lain karena dendam kesumat masih menyaIa dalam rongga dadanya, padahal tenaga sudah mulai menyurut, rasa capai telah menghantui sanubarinya, gerak geriknya telah terasa sendiri tidak selincah dan segesit tadi, beberapa kali hampir saja jiwanya terenggut oleh serangan lawan-

Sudah tentu Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji benggolan iblis yang pengalaman ini sudah melihat titik kelemahan Pakkiong Yau-Liong. Mendadak dia menggeram terus tertawa kial-kial dengan nada suara yang menusuk hati.

Gema suaranya memekak telinga tidak enak didengar namun hadirin termasuk Pakkiong Yau Liong sendiri merasakan nada tawanya mengandung rasa puas dan bangga serta sadis.

Bola mata Pakkiong Yau-Liong sudah merah membara, sambil berteriak ruyung lemas ditangannya tiba-tiba berkelebat disertai cahaya perak yang bergetar, beruntun dia lancarkan dua jurus Tam- tho-Giok lun-hun dan Liong ih gin-hankok, tenaga disalurkan pada senjatanya namun gerak ruyungnya ternyata tidak menimbulkan deru senjata sedikitpun, dari atas, tengah dan bawah sekaligus menusuk kearah Ni Ping-ji.

"Huuuaaaa" mendadak Ni Ping-ji memekik, ujung tombak jelas sudah hampir mengenai badannya, mendadak tubuhnya melenting setombak keatas, untung masih keburu dia meluputkan diri dari dua jurus serangan tombak Pakkiong Yau-Liong.

Ditengah udara tubuhnya seperti berhenti sejenak. lalu menukik dengan mengembangkan telapak tangannya yang kurus tinggal kulit pembungkus tulang laksana cakar burung, sekaligus diapun balas menyerang dengan jurus Ban-toh-jun hoa, sesuai namanya telapak tangannya berobah seperti kuntum bunga yang mekar di musim semi bertaburan membawa sambaran angin menerjang kebatok kepala Pakkiong Yau Liong serta mencakar mukanya. cepat lagi aneh dan telak.

Dua jurus serangan dilancarkan bersama, bukan saja tidak berhasil menjatuhkan lawan, tahu-tahu pandangan Pakkiong Yau- Liong seperti teraling apa-apa sehingga menjadi gelap. belum telapak tangan tiba deru angin kencang dan tajam telah menampar kemukanya, cepat kuat dan aneh.

Untuk berkelit jelas tidak keburu lagi, dalam keadaan mendesak serupa itu tiada kesempatan untuk berpikir, tanpa sadar mulutnya menggembor seperti singa mengamuk, mendadak dia menjatuhkan tubuh, berbareng pergelangan tangan berputar, dia dipaksa melancarkan Siang hoa n- coat, jurus khusus untuk melindungi tubuh dari serangan lawan, cu-pit-tam-siau-hap dan Hun-bur-ngo- sek-lian-

Tampak Cahaya emas dan bayangan perak kembali membungkus rapat sekujur badan Pakkiong Yau-Liong, hujan lebatpun tidak akan tembus, ruyung lemas diputar sekencang itu, tidak menimbulkan deru angin, sebaliknya menimbulkan daya kekuatan yang luar biasa merembes keluar dari pertahanan tabir cahaya kemilau itu, meski perlahan tapi pasti mengandung kekuatan keras dan lunak. sehingga kekuatan dahsyat dari luar sukar menerjang masuk karena telah punah oleh kekuatan lunak yang menahannya atau kekuatan keras itu dilawan keras serta didorong minggir kelain arah, hebat dan aneh memang ilmu yang dikembangkan Pak kiong Yau-Liong ini.

Sudah tentu Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji tahu bahwa Pakkiong Yau- Liong tengah mengkembangkan Siang hoan-coat yang diwarisi dari Biau-hu Suseng, dulu dengan bekal ilmunya ini Biau-hu Suseng belum pernah menderita kalah melawan siapapun, tak pernah disangka bahwa dalam usia semuda ini ternyata Pakkiong Yau-Liong juga telah mewarisi ilmu guru nya yang hebat itu.

Padahal untuk mengembangkan Siang- hoan-coat orang harus memiliki ketahanan tenaga yang hebat serta land asan Lwekang dari ajaran murni, bila latihan sudah mencapai taraf sempurna keadaan seperti apa yang diperlihatkan oleh Pakkiong Yau- Liong sekarang, sayang latihannya belum begitu matang, namun demikian Ni Ping ji sudah heran, kaget dan jera.

-ooo0dw0ooo-