Pedang Kayu Cendana Jilid 03

Jilid 03

SECERCAH cahaya mulai mengintip di ufuk timur, tabir kegelapan mulai sirna oleh datangnya sinar mata hari. Hembusan angin pagi di musim rontok terasa dingin membuat orang merinding dan berdiri bulu romanya. Hujan rintik2 membasahi jagat raya, berjatuhan merata dari angkasa tanpa bersuara, nampak angin menghembus semakin kencang.

Toh- bing-sik-mo yang tetap membalut perban diseluruh anggota badannya tampak bercokol dipunggung kuda putihnya, mumi yang serba aneh dan misterius ini berada di Bong-hun-kok. agaknya dia tidak merasakan hembusan angin dingin dimusim rontok yang mengiris kulit ini, seakan dia tidak merasakan hujan rintik2 yang telah membasahi kuyup sekujur tubuhnya.

Kuda putih berdiri menunduk. tidak meringkik juga tidak menendang kakinya, Toh-bing-sik-mo juga tidak bergelak tawa, kecuali hujan rintik dan angin lalu tiada kedengaran suara apapun didalam lembah, hanya terasa bau darah yang amis itu terbawa hembusan angin lalu, keheningan yang menggelitik sanubari, suasana sepi yang menakutkan.

Toh- bing sik-mo yang membalut seluruh tubuhnya itu tampak menunduk. agaknya dia merasa tawar pula, karena terdengar suara helaan napasnya yang merisaukan.

Dikala seorang diri, ternyata Toh- bing-sik-mo menghela napas dan mereras diri sendiri, kenapa dan apa sebabnya ? Entah keputus- asa-an yang menggambar perasaannya, ataukah keluhan yang keluar dari sanubarinya... ? Helaan napas yang bernada ruwet ini kecuali diri sendiri, orang lain jelas takkan tahu dan dapat menyelami perasaannya. Sayup2 seperti kedengaran dia menggumam seorang diri. "sudah setengah tahun ya, sudah setengah tahun, mungkinkah..."

Lambat2 dia angkat kepalanya, bola matanya yang kelihatan dibalik perban itu, kini tidak lagi memancarkan cahaya terang menyala, tapi sorot mata yang menampilkan kerisauan, kehampaan dan kemasgulan.

Se-konyong2 bola matanya terbelalak. serta jelilatan. Mungkin bakal terjadi sesuatu ?

Betul juga , ditengah hujan rintik2 serta hembusan angin kencang itu, sayup2 terdengar derap lari kuda yang mendatangi. Terpancar cahaya yang penuh harapan, agaknya derap kaki kuda dimulut lembah sana memberikan setitik harapan bagi Toh-bing sik- mo. maka dia menghimpun tenaga memusatkan pikiran menunggu dengan tenang dan sabar.

Memang dari luar mulut Bong-hun-kok tampak dicongklang seekor kuda, setelah berada didalam lembah, lari kuda diperlambat, Eh, kiranya seorang gadis jelita penunggang kuda yang gigih berwarna, coklat itu, tubuhnya ramping, wajahnya bulat telur, sebatang pedang tampak terselip dipunggungnya, napasnya sedikit menderu karena menempuh perjalanan jauh dan menahan hawa yang dingin ini.

Cuaca buruk tidak mengurangi ketajaman pandangan matanya yang penuh tekad dantegas, sebelah tangannya terangkat kebelakang memegang gagang pedang, diam 2 dia berdoa.

"Semoga arwah ayah dialam baka memberkahi anak. supaya hari ini anak berhasil menuntut balas kematian ayah."

Sambil berdoa, dia memicing mata, seolah 2 dia membayangkan bagaimana kematian ayahnya dulu yang amat mengenaskan di dalam lembah ini.

Waktu itu dia baru berusia tujuh tahun, Hari itu sepuluh tahun yang lalu dia sedang ber-main2 didepan Piaukiok^ dengan mata kepala sendiri dia saksikan Piausu HuiPiu membawa pulang jenazah ayahnya, keadaannya yang mengenaskan dan mengerikan sungguh tidak terlupakan seumur hidup ini.

Sejak saat itu, peristiwa menyedihkan ini telah terukir didalam sanubarinya, diam2 dia bersumpah akan datang disuatu ketika dia harus menuntut balas kematian ayahnya.

Gadis ini bukan lain adalah putri tunggal pemilik Gi teng Piaukiok yang paling besar dan terkenal dikota Pakhia, Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping namanya Tio Swat- in-

Setiba dilembah ini, tak tertahan lagi air mata ber-kaca2 dikelopak matanya, kedua tangan semampai seperti tidak bertenaga lagi, sehingga konral-kantil menyentuh buntalan bekalnya yang digantung disamping pelana.

Didalam butiran air mata yang ber-kaca2 itulah terbayang pula boneka kain yang berlepotan darah oleh2 ayahnya sepulang perjalanan, dan selama sepuluh tahun ini, boneka kain berlepotan darah itu tak pernah berpisah dengannya^

Boneka kain itu ibarat kematian ayahnya yang mengenaskan, setiap hari tak pernah lupa diapasti menengoknya, karena boneka kain inilah sehingga tak pernah terlupakan dalam ingatannya akan kematian sang ayah.

Ibunya menangis gerung2 dan sesambatan sambil memeluk jenazah sang ayah, air matanya sampai kering dan terakhir darahlah yang mengalir dari kelopak matanya, sementara seorang pelayan dalam Piaukiok menggendong dan memeluk dirinya serta diajak menyingkir supaya dirinya tidak menyaksikan kematian ayahnya yang mengerikan.

Padahal waktu paman Hou Pui kembali membawa jenazahnya kedua matanya melotot, sekujur badan berlumuran darah, sebatang panah merah menembus jantung.

"Aku harus menuntut balas Ayah, aku akan menuntut balas kematianmu." suara ini seperti bergema dalam relung hatinya.

Tio Swat- in menyeka air matanya yang mulai meleleh kebawah pipinya, dia tegakkan tubuh serta menjepit kedua kakinya, kuda di keprak berlari lebih kencang kedalam lembah.

Darah bergolak. dendam mendidih didalam rongga dadanya, angin berhembus dingin hujan masih rintik2 tapi semua ini seperti tidak terasakan oleh Tio Swat-in, hanya satu pikiran yang menunjang semangat dan tekadnya dia harapkan dilembah mega hijau yang lembab dan guram ini dia bisa menemukan mayat aneh yang membungkus seluruh badannya dengan perban putih, dengan pedang yang di bekalnya dia akan cacah musuh keparat itu. Kudanya berlari kencang mengikuti liku 2 lembah yang sempit itu, sambil menahan napas Tio Swat- in pasang mata dan kupingnya, dengan penuh harapan dia maju terus menyelusuri jalanan lembah sempit yang penuh berlumuran darah ini.

Sebulan yang lampau, sahabat baik gurunya Hwi-khong Loni, yaitu To-Liong-siam-si mendadak berkunjung ke ciong-lam-san, kedatangannya membawa khabar bahwa Toh- bing-sik-mo telah muncul dan mengganas pula untuk kedua kalinya di ceng hun-kok.

Untuk menuntut balas, dengan bercucuran air mata Tio Swat- in berlutut di hadapan gurunya mohon diperkenankan turun gunung tekadnya amat besar meski dengan berat dia harus berpisah dengan sang guru Hwi-khong Loni yang telah mengasuh dan membesarkan dia selama delapan tahun, tanpa mampir ke-rumah untuk menjumpai dan mohon restu ibunya, Tio Swat-in langsung menempuh perjalanan keperbatasan Kiam-slok. ke lembah mega hijau yang terletak dua puluh li di luar ko ta sia-tay sebelah utara.

Untuk pulang kerumah kali ini dia ingin membuat kejutan kepada sang ibu, bahwa dia telah berhasil melaksanakan cita2 selama sepuluh tahun yang diidamkan itu, sesuai apa yang diharapkan juga oleh sang ibu, berhasil menuntut balas kepada musuh besar Toh- bing-sik- mo.

Kudanya terus dicongklang dalam tempo sedang, akhirnya tiba juga dipengkolan dalam lembah, mengikuti arah lembah Tio Swat - in membelokkan kudanya. Tampak seekor kuda putih yang gagah tegak berdiri disana, di-punggungnya bercokol mayat hidup yang dibalut perban menghadap kearah dirinya, hanya bola matanya yang hitam gelap mencorong benderang seperti bintang dilangit yang kelap-kelip.

Gelak tawa aneh yang bernada tinggi tiba2 bergema di dalam lembah sehingga udara lembab dan basah ini terasa bergolak.

Betapapun besar nyali Tio Swat-in, betapa besar tekad dan dendamnya untuk menuntut balas, tentunya tak akan lebih berani dari gembong2 penjahat yang sudah malang melintang puluhan tahun di Kangouw.

Keadaan yang tak terduga ini memang amat mengejutkan sehingga berdiri bulu kuduknya, badannya yang memang sudah basah kuyup oleh hujan mendadak terasa dingin dan tak tertahan dia bergidik, serta merta dia menarik tali kekang kudanya.

Penemuan mendadak ini, entah membuat hati Tio Swat-in kaget atau girang, tetapi kenyataan yang dihadapinya ini memang teramat mendadak. Ditengah gelak tawa aneh si mumi, jantungnya seperti sudah hampir melonjak keluar, bibirnya gemetar dan matanya terbelalak. lama dia terlongong dipunggung kudanya, seakan dia terlupa untuk apa tujuan kedatangan dirinya, da npikirannya sekarang kosong, hambar dan seputih lembaran kertas.

Sorot mata Toh- bing-sik-mo yang mencorong dingin itu ternyata menampilkan rasa heran dan bingung, sungguh diluar dugaannya bahwa dua tombak didepannya, yang duduk dipunggung kuda coklat ternyata adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun, wajahnya yang molek dengan potongan badan yang menggiurkan, terutama bola matanya yang bundar jeli, begitu mempesona.

Gelak tawa aneh itu seketika sirna, meski dingin sorot matanya, namun tidak mendelik penuh ancaman, dibalik tatapannya yang tetap tajam tapi lengang itu, tersembunyi rasa kecewa dan putus asa. Selama setengah tahun ini, sudah sering dia dibuat kecewa.

Hening lelap kembali melingkup lembah sempit ini, namun ditengah hujan rintik dengan hembusan angin kencang didalam lembah ini, suasana ternyata sedikit demi sedikit bertambah memuncak tegang.

Akhirnya Toh- bing-sik-mo menarik sorot matanya, pelan2 kepalanya tertunduk, tali kekang kuda ditariknya kekanan, kudanya mulai bergerak terus beranjak pergi dengan langkah pelan2. Tapal kuda putih agaknya dibuat khusus tebal dan berat sehingga bunyi dentam dipermukaan bumi ternyata terdengar keras, berat dan nyaring, yang terang dentam nyaring ini menimbulkan perasaan hangat disanubari Tio Swat-in, walau gemetar bibirnya tak menjadi berkurang karenanya, namun perasaan hatinya yang kosong memutih sudah mulai tumbuh warna dan bergejolak.

Dari bayangan Toh- bing-sik-mo yang putih seperti terbayang olehnya pemandangan noda-noda darah yang berlumeran disekujur badannya, darah yang membasahi seluruh tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

Kenangan lama di waktu dirinya masih kecil seketika seperti terulang kembali didepan mata.

Pandangannya menjadi kabur, lembah terasa berputar, bayangan orang satu persatu seperti berkelebat didepan kelopak matanya, tapi pandangannya terakhir kembali memutih hampa dan berubah menjadi hitam gelap.

Sontak darahnya mengalir kencang dan makin mendidih, mendadak dia meraung penuh kepanikan, padahal mulutnya terpentang lebar dengan mimik muka geram dan beringas tapi suaranya tidak keluar dari mulut.

Mendadak dia keprak kudanya, kudanya kaget, mengangkat kaki depannya sambil meringkik terus loncat kedepan, ternyata kepandaian menunggang kuda Tio Swat-in amat mahir, di saat kudanya melompat kedepan itulah sebelah tangannya membalik ke belakang, sekali uIur dan tarik, "Sret" dering nyaring disertai sinar kemilau menyambar, pedang pusaka yang tersandang dipunggung telah terlolos, sinar pedang laksana ceplok2 kuntum kembang bertebaran diudara, ditengah deru lari kudanya pedang ditangannya itu langsung menyabet kepala Toh- bing-sik-mo.

Meski kelihatan kaku tetapi gerak gerik Toh bing-sik-mo ternyata amat cekat dan tangkas, sedikit mengegos dengan mudah dia hindari bacokan pedang Tio Swat in-

Tekad mengadu jiwa telah merasuk sanubari Tio Swat-in, begitu serangan pertama luput, dia tidak ayal lagi melancarkan serangan susulan, pergelangan tangan ditekan sambil menarik pedang sementara tangan kiri bergerak dengan jurus Kim-ciam-toh-wi, angin jarinya laksana anak panah menutuk ke Thay-yang hiat dipelipis Toh- bing-sik-mo.

Toh- bing sik-mo kempit perut kudanya, kuda putih itu mendadak melonjak kemuka sehingga tubuhnya luput dari serangan- Tapi Tio Swat-in sudah nekat, diapun keprak kudanya mengejar, pedang pusaka ditangannya kembali bekerja, dengan jurus Hiang-cian-jan- hun cahaya dingin membawa deru kencang menerpa kearah Toh- bing-sik mo.

Selama delapan tahun digembleng oleh Hwi-khong Loni, Tio Swat-in sudah mewarisi kepandaian gurunya, ditambah bakatnya dan mau rajin belajar dan giat berlatih, kekuatan luar dalamnya cukup tangguh, taraf kepandaiannya sekarang sudah terhitung kelas wahid di kalangan Kangouw.

Kini dia sudah menyerang dengan segala kemampuannya, menyerang secara gencar lagi, padahal serangan pedang dan tutukan jarinya teramat lihay dan jarang ketemu tandingan, dilandasi lwekang lagi, hebatnya bukan main-

Tapi lubuh Toh-bing sik-mo yang kelihatan kaku itu kini bukan saja tidak kaku lagi, ternyata gerak-geriknya amat cekatan dan lincah, mengegos atau berkelit dengan gaya yang indah dan memadai. Tapi sejauh ini dia hanya berkelit melulu, belum pernah balas menyerang atau menangkis.

Terunjuk pandangan heran dan kaget dari bola mata Toh-bing sik-mo. Memang tepat dan patut dibuat kaget dan heran, bahwa selama setengah tahun ini, belum pernah ada orang yang bernyali sebesar ini, berani bergebrak atau melabraknya malah.

Apalagi bukan saja cewek ini ayu jelita, usianya yang masih muda, ternyata memiliki Kungfu sehebat dan selihay ini, adalah jamak kalau semua hal ini membuat Toh- bing-sik-mo menjadi kaget dan heran.

Toh-bing-sik mo tetap berkelit dan menyingkir dari serangan gencar dan kalap lawannya yang jelita ini, dia tidak habis mengerti, kenapa cewek ini menyerbu secara membabi-buta kepadanya, pikirnya.

"Mungkin kedatangannya ingin menuntut balas bagi sanak kadangnya atau untuk ayah bundanya..."

Tak pernah terbetik dalam ingatan Toh bing-sik-mo untuk balas menyerang atau melukai cewek ayu yang mempesona ini, tetapi serangan pedang orang justeru sejurus lebih lihay dan mematikan dari jurus yang semula, orang hanya merangsak belaka tanpa buka suara.

Akhirnya dia kewalahan juga dibuatnya, terpaksa dia putar haluan kudanya terus dikeprak kedepan- Lekas Tio Swat-in juga memutar haluan kudanya, tampak setombak didepan sana Toh bing-sik-mo telah tegak dipunggung kudanya, tangan kanan pelan2 sudah menanggalkan gendewa yang semula digantung disamping pelananya, kedua matanya memicing, secercah cahaya dingin terpancar menatap Tio Swat in, se-olah2 memberi peringatan kepadanya:

"Jangan kau menyerbu lagi bila jiwamu ingin selamat, lekas tinggalkan lembah ini, kalau masih bandel terpaksa aku bertindak tak kenal kasihan lagi."

Tapi dendam Tio Swat-in sudah membara, mati hidup sendiri sudah tidak terpikir lagi olehnya, lekas dia keprak kudanya menyerbu maju, pedangnya kembali menciptakan cahaya gemerdep mirip kuntum bunga mekar, dengan jurus Yau-thau-pay bwe, pedang pusaka ditangannya itu laksana ular sakti yang menari, bayangan pedang dengan hawanya yang dingin tajam terus menderu dan menerpa kearah Toh- bing-sik-mo, perbawa serangan pedang ternyata amat deras dan menakjubkan.

Toh-bing sik-mo tetap bertengger dipunggung kudanya, tidak berkelit atau menyingkir dimana tangannya menggentak dengan jurus Sian gai ceng-bu-siau, gendewa panjang ditangannya itu tiba2 berputar menimbulkan bayangan merah ber-lapis2, sehingga tubuhnya yang diperban itu seperti terbungkus oleh bayangan merah, padahal gendewa itu hanya berkelebat sekali laksana kilat menyambar ditengah mega terus menutuk kebatang pedang Tio Swat-in yang menusuk tiba.

Melihat Toh- bing-sik-mo menyendal gendewa seketika menerbitkan bayangan merah yang ber-lapis2, sehingga seluruh tubuhnya seperti dibungkus oleh bayangan merah itu, sedemikian rapat dan ketat pertahanannya, tahu2 ujung gendewa mengetuk ke pedangnya pula, tahu untuk menarik mundur sudah tidak sempat lagi, terpaksa Tio Swat-in pegang kencang pedangnya siap untuk melawan secara kekerasan, sekaligus untuk mencoba dan mengukur sampai dimana sebetulnya taraf Lwekang Toh- bing-sik-mo.

"Trak" gendewa dan pedang kebentur terus membal pula. Tubuh Tio Swat-in tampak limbung diatas kuda, benturan keras yang terjadi dalam sepersepuluh detik itu telah menyebabkan seluruh lengan kanannya linu kesemutan, hampir saja dia tidak kuat lagi bercokol dipunggung kudanya.

Agaknya Toh- bing-sik-mo merasa heran dan takjup pula, pengalaman setengah tahun ini, belum pernah ada orang jago silat kosen manapun yang mampu menyambut satu atau setengah jurus serangannya. Kapan dia pernah menduga bahwa seorang gadis belia berusia belasan tahun ternyata mampu melawan ketukan gendewanya, bukan saja pedang tidak terpental lepas, dia masih kuat bertahan dipunggung kudanya.

Sudah tentu Tio Swat-in sendiri juga terkejut bukan main, bentrokan sekejap itu telah berhasil mengukur Lwekang Toh- bing- sik-mo dia tahu kemampuan sendiri masih bukan tandingan lawan, tetapi tekadnya tetap membara untuk menuntut balas kepada musuh besarnya yang satu ini.

Ternyata Toh-bing sik-mo tidak mengambil kesempatan untuk balas merangsak kepadanya tapi hanya menatap lekat2 dengan pandangan dingin dan peringatan, seakan dia mengharap cewek ayu ini tahu diri dan segera mundur teratur. Rasa takut dalam benak Tio Swat-in padahal tidak pernah luntur, tanpa sadar dia melengos karena ditatap sedemikian rupa, kecuali menuntut balas tiada persoalan lain yang pernah merasuk benaknya, ya membalas dendam. Maka nalarnya bekerja tanpa komando, pelan2 dia kerahkan hawa murninya sehingga lengan yang linu kesemutan dalam sekejap telah pulih seperti sedia kala.

--o0dw0o--

Se-konyong2 dia menghardik sekali, pedang pusaka di tangannya kembali menyerang dengan jurus Lui-sim tim-te, selarik dingin bagai samberan kilat membawa deru angin yang ganjil membelah kearah Toh-hing sik-mo.

Toh-bing sik-mo tetap tidak bergerak dipunggung kudanya, tapi tangan kiri menepuk kuda, kuda putih itu segera mendongak sambil melangkah maju selangkah, maka dia terhindar dari tebasan hawa pedang Tio Swat- in, kembali dia membalik pergelangan tangannya, bayangan merahpun berkelebat, dengan sejurus Le-cu-cian-cian- toh, ujung gendewanya yang runcing ternyata mengeluarkan desis angin melengking, seCepat halilintar mendahului menutuk keJian- kin-hiat dipundak Tio Swat- in-

Serangan pedang Tio swat- in mengenai tempat kosong, tahu2 ujung gendewa lawan telah menutuk tiba, lekas dia menikam kedepan dipunggung kuda sehingga tubuhnya merapat dengan leher kuda, pedang di tangan bergerak mengikuti gerak gerik rubuhnya, dimana lengannya ditarik dan diulur kedepan, dengan jurus Han-bwe-ro-ci, tajam pedangnya mengiris kain- kain perban yang membungkus tubuh Toh-bing-sik-mo.

Tubuh Toh-bing-sik-mo tetap tidak bergerak. tetap dalam gaya semula, kaku dan seperti sukar bergerak. tapi dikala dia menekan tangan, gerakan gendewa ditangannya ternyata telah berubah menjadi tipu Ih-pau-say jian-sin, gendewa merah berubah gulungan bayangan merah seperti hendak melilit lengan Tio Swat in- Gerak permainannya ternyata begitu cepat dan tangkas, hakikatnya dua gerakan merupakan satu jurus, landasan tenaga yang disalurkan ternyata juga berubah dari kuat jadi lunak, dari lunak bisa berubah kuat pula.

Dikala Tio Swat-ia mendorong ujung pedang kemuka, berbareng deru tenaga gendewa lawan telah menggulung tiba,jelas dirinya tiada kesempatan untuk melukai lawan pula lebih penting menjaga keselamatan diri sendiri, maka tersipu-sipu dia berusaha menarik senjata serta berkelit.

Namun kecepatan gerakannya ternyata masih kalah cepat dari serangan ujung gendewa lawan, tahu-rahu gendewa runcing itu telah menyentuh bajunya, dia insyaf lengan kanannya ini bakal putus atau paling ringan cacat untuk selamanya.

Lalu dengan bekal apa pula kelak dia akan menuntut balas pula. Maka diam-diam dia berteriak dan meratap dalam hati: "Ayah, jangan kau salahkan aku, aku sudah berusaha sepenuh tenaga ..."

Akan tetapi, kejadian didunia ini kadang kala susah diukur oleh nalar manusia biasa, pada detik yang menentukan itu, tampak sorot mata Toh-bing-sik-mo memancarkan cahaya yang ganjli, mendadak dia hentikan gerakan tangan kanan serta menekannya kebawah dan "cret" sebuah batu besar disamping sana seketika hancur menjadi korban sebagai ganti lengan Tio Swat in karena kena tuding ujung gendewanya.

Padahal Tio Swat- in sudah rasakan lengannya seperti ditindih benda berat ribuan kati, sehingga di waktu lawan menghentikan gerakan serta menekannya turun kesamping, dia juga merasakan lengannya seperti ketarik keluar pula, namun tekanan itu sirna seketika.

Lekas Tio swat-in menegakkan tububnya, sementara kuda tunggangannya meringkik sambil angkat kaki depannya memutar haluan kearah lain- Lekas Tio Swat-in kerahkan tenaga murninya menembus seluruh urat nadi ditubuhnya, ternyata tanpa gangguan dan mencapai klimak yang diharapkan, tahulah dia bahwa dirinya tidak cidera apa-apa.

Toh-bing-sik-mo berduduk kaku di atas kudanya, sorot matanya yang dingin setajam pisau tetap menatap Tio Swat-in tanpa berkesip. tatapan peringatan untuk terakhir kali supaya jangan mengabaikan jiwa raga sendiri.

Tio Swat-in melenggong, sekilas dia melerok kearah Toh-bing- sik-mo yang berada setombak disamping sana, rasa takut masih menghantui sanubarinya terhadap mayat hidup yang menyeramkan dan berkepandaian tinggi ini, dia ridak berani menatapnya, apa lagi beradu pandang dengan cahaya matanya yang berwibawa, dia kuatir rasa takut akan semakin merasuk jiwa dan hatinya, sehingga jerih payahnya selama sekian tahun di bawah gemblengan sang guru akan sia-sia.

Sebetulnya dia amat berani: Konon Toh-bing-sik-mo bertangan gapah berhati culas, kenapa hari ini terhadapku dia begini lembut dan menaruh belas kasihan, jangan kau coba menanam budi atas diriku supaya aku membatalkan niatku menuntut balas kematian ayahku. Hm, jangan kau kira persoalan dapat dibereskan semudah ini.

Dendam kesumat memang lebih merasuk sanubarinya dari pada rasa takut itu, maka dia kertak gigi serta keprak kudanya menerjang pula kearah Toh-bing-sik-mo. pedang ditangan kini menyerang dengan jurus Pak-hun-jut-jo, berbareng telapak tangan kiri ikut membelah dengan tipu Liu-am-hwa bing, dua jurus secara bersusun menjadi dwi tunggal, sehingga antara hawa pedang dan angin pukulannya merupakan kekuatan gabungan yang dahsyat, bukan kepalang perbawa serangan kali ini.

Lekas Toh-bing-sik-mo tarik tali kekang sehingga kudanya menyurut mundur sejauh mungkin. Sudah tentu serangan Tio Swat- in untuk kesekian kalinya gagal pula, lekas dia tarik kuda serta membelokkan arah, sinar pedang berkelebat pula, sekalian dia gunakan jurus Hu Tiou-ciang-Liong-gay. pedangnya seperti lambat tapi juga cukup cepat menabas kearah Toh-bing sik-mo. Dengan gerakan santai Toh bing sik-mo angkat gendewanya. dengan jurus cui-Liong-tio-thian-yong, dia sambut serangan pedang Tio Swat-in-

Kelihatannya gerakannya kedua pihak amat lamban, namun tenaga yang dikerahkan ternyata sangat dahsyat, dikala pedang dan gendewa sudah hampir saling bentur itu. Tiba-tiba Tio Swat-in merubah gaya pedangnya dengan jurus Hwi-rim ceng-tam, sinar pedangnya berkelebat miring kekiri sementara kuda atau tubuhnya bergerak ke samping, laksana samberan kilat pedangnya sudah meluncur ketenggorokan Toh-bing-sik-mo.

Satu jurus dua gerakan, yang satu cepat yang lain lambat, pertama gerakan pancingan menyusul serangan telak yang mematikan, gerak serangannya ternyata amat ganjil dan lucu serta sukar diduga.

Bahwa gendewanya mengenai tempat kosong, sementara serangan pedang lawan sudah menabas tiba, karuan Toh-bing-sik- mo kaget juga dibuatnya, sekalian dia merebahkan tubuh kedepan sehingga tubuhnya hampir mendekam dileher kuda, syukur masih sempat dia meluputkan diri, namun keadaannya sudah cukup runyam

Karena memandang enteng lawannya, hampir saja Toh bing-sik- mo termakan oleh pedang Tio Swat-in, karuan dia naik pitam, sorot matanya seketika mencorong gusar, gelak tawanya yang mengandung getaran dahsyat kembali berkumandang dari mulutnya.

Bila orang lain mungkin sudah menjadi korban keganasan pedang Tio Swat-in, tapi Toh-bing-sik-mo memang memiliki kelebihan yang luar biasa. Ditengah kumandang gelak tawanya itu, Toh-bing sik-mo yang dibalut perban itu, tubuhnya mendadak berubah seringan asap. gerak-geriknya yang semula kaku kini ternyata indah gemulai, mumbul pelan2 terapung keatas udara, itulah Ginkang tiada taranya dari Bulim yang sudah lama putus turunan Yan-ting-bun-siang-hun. Waktu mengikuti pelajaran gurunya Hwi-khong Loni, pernah Tio Swat-in mendengar cerita dari gurunya tentang Ginkang yang dinamakan Yan-ting-hun-Slong-hun (mega bergolak diatas awan), ternyata hari ini dia saksikan Ginkang tiada taranya itu didemonstrasikan oleh Toh-bing-sik mo, betapa hatinya takkan kaget dan ciut nyalinya, wajahnya seketika berubah pucat pasi.

Dikala Tio swat-in melenggong sekejap itulah, tubuh Toh-bing- sik-mo yang mengapung mumbul keatas itu seperti merandek pula, disusul dengan perubahan gerak dengan Sin-liong-wi-khong-coan, tubuh yang terapung di tengah udara itu mendadak berputar cepat laksana gangsing, gendewa ditarikan pula dengan jurus Hun jui sik cau ang, bayangan putih terbaur dalam libatan sinar merah, dengan membawa deru kencang yang tak terbendung, laksana gugur gunung langsung menindih keatas kepala Tio Swat-in-

Meski Tio Swat-in memiliki Kungfu setinggi langit, kini dia tak mampu lagi mengembangkan bakat kemahirannya karena desakkan Toh-bing sik-mo, karuan disamping rasa takut merasuk hati, hatinyapun kecewa dan putus asa, tanpa kuasa air mata telah bercucuran dari kedua matanya.

Tapi Kungfu lawan yang satu ini memang hebat luar biasa, apa boleh buat terpaksa dia pasrah nasib saja? Akhirnya terbetik sebuah keinginan dalam benaknya: "Menuntut balas jelas aku tidak mampu lagi, dari pada mati konyol di tangan musuh lebih baik aku bunuh diri saja." Maka sambil memejamkan mata segera dia angkat pedang terus menggorok leher sendiri.

Hujan masih rintik-rintik, angin tetap menghembus kencang, alam semesta seakan ikut berduka cita akan tragedi yang berlangsung, mungkin juga ikut bersimpati akan nasib yang menimpa Tio Swat-in, Sang surya yang semestinya sudah menongol diufuk timur juga seperti malu-malu untuk menampakkan dirinya, sehingga cuaca dilembah mega hijaU tampak masih remang-remang lembab, bau darah yang tebal dalam lembah tetap tak tercuci bersih datangnya hujan ini. "Trang" entah apa yang terjadi, dikala Tio Swat-in angkat pedangnya sambil memejamkan mata ternyata pedangnya telah tersampuk pergi.

Didengarnya sebuah helaan napas panjang dari lawannya. Dengan kejut heran Tio Swat-in membuka matanya, dilihatnya Toh bingsik-mo telah bercokol kembali dipunggung kuda putih, matanya terpejam seperti menepekur entah gerangan apa yang merisaukan hatinya? Pelan-pelan dia membelokan kudanya, tanpa angkat kepalanya lagi dia berniat tinggal pergi.

Sudah tentu Tio swat-in takkan paham apa maksud Toh-bing-sik- mo serta menyelami perasaannya, air matanya sudah bercucuran tercampur air hujan- Dia harus menuntut balas, ini sudah merupakan tekat yang tak boleh di tawar lagi, meski jiwa raga sendiri harus di korbankan pula .

Menuntut balas, meski dia tahu dirinya bukan tandingannya Toh- bing-sik-mo. Tio Swat in membatin : "Mau pergi, jangan kira begini mudah, meski kau tidak mau membunuhku, aku tidak terima kebaikkanmu, kalau bukan aku yang mati, biar kau yang mampus hari ini. Sebelum aku mati, jangan harap kau bisa pergi dari sini."

Maka dia menghardik sambil mengeprak kuda: "Lari kemana?" pedang ditangan menyerang dengan jurus Kim-si-jao-hoan membelah ke tengkuk Toh-bing-sik-mo.

Toh-bing-sik-mo menoleh, tampak kedua matanya menyala gusar seperti api las yang benderang, loroh tawanya berkumandang pula, nadanya jelas mengandung kemarahan, tubuhnya tampak bergeser kesamping sambil angkat gendewa dengan jurus ceng-han-hwi-joh- ing, tenaga besar yang dikerahkan ternyata luar biasa bayangan, geadewa seperti berubah ribuan banyaknya sama mengepruk ke batok kepala Tio swat-in-

Memang Tio Swat-in sudah nekat adu jiwa, maka dia tidak menyingkir atau berkelit, serangan ditekuk terus membalik, sekaligus dia- menyerang pula dengan jurus Loh yap-kun-kin yang diserang kali ini adalah muka Toh-bing sik-mo. Jikalau Toh-bing-sik-mo benar-benar memukulnya dengan gendewa, umpama dia tidak mati pasti juga remuk parah oleh pedang pusakanya ini, keCuali dia benar-benar mayat hidup bukan manusia tulen.

Agaknya Toh-bing-sik-mo segan mengadu jiwa, apa lagi dengan cara membabi buta dan nekat seperti kerasukan setan, tidak kenal kapok lagi. Mendadak dia jejak perut kudanya serta mengepraknya mundur berkelit. Maka merekapun bertempur saling serang dan berkutet cukup sengit.

Cahaya merah dan sinar putih seperti saling lilit dan gubat didalam lembah yang mulai benderang, angin bergolak seperti ada angin lesus yang berpusar dilembah sebelah sini. Lekas sekali belasan jurus telah lalu, rasa malu, dendam dan penasaran Campur aduk dalam benaknya sehingga serangannya seperti menggila.

Toh- bing-sik- mo memang kewalahan dibuatnya, namun keadaan Tio Swat-in sendiri juga sudah kepayahan, badannya yang memang basah kuyup lebih basah lagi oleh keringat, napasnyapun ngos-ngosan.

Tiba-tiba Tio Swat-in menghardik pula, gaya pedangnya tiba-tiba berubah lincah dan enteng, dengan jurus Ngo-Liong-pi-i, gerak pedangnya pelan dan mantap. batang pedangnya berubah menjadi lima jalur bayangan, dibawah tekanan tenaga murninya, pedang pusaka itupun menguarkan hawa pedang yang tajam, pedang rampak berayun setengah lingkaran membelah miring kepinggang Toh-bing-sik-mo. Bukan saja gerakannya aneh, Cepat juga lihay.

Begitu melihat gaya pedang lawan, Toh bing sik-mo seperti sudah tahu bahwa jurus serangan pedang kali ini bukan jurus sembarangan, lekas dia tarik tali kekang kuda, maksudnya hendak melompat menyingkir sekaligus meluputkan diri dari serangan lihay ini.

Tapi tak pernah terpikir oleh Toh-bing-sik-mo bahwa kaki depan kudanya justru terjeblos ke dalam lumpur sehingga gerak geriknya kurang leluasa, meski dia sudah tarik tali kekang dan membelokkan kepalanya kesamping, tapi gerakan kudanya sedikit merandek, padahal sinar pedang yang dingin itu sudah menyerang tiba.

Sudah tentu Toh-bing sik-mo kaget, dalam detik-detik yang gawat ini, dia tidak sempat berpikir lagi, secara reftek dia angkat gendewanya mengembangkan Siang-hoan-coat, gerakan peranti membela diri disaat kritis oleh serangan musuh yang berbahaya. Dimana dia tekan pergelangan tangan, dua jurus satu gerakan, yaitu cu-pi-sam-siau-hap dan ii-bu-ngo sekalian, bersatu padu dilancarkan-

Sudah jelas bagi Tio Swat-in bahwa pedangnya sudah membelah, betapapun cepat gerakan Toh-bing-sik-mo, jelas dia takan bisa berkelit lagi, sudah tentu bukan main senang hatinya. Mendadak dilihatnya orang angkat miring gendewa serta menekannya turun, seketika tubuh Toh-bing-sik-mo seperti dibungkus oleh tabir merah yang menyala, dari lingkaran cahaya itulah merembes keluar segulung tenaga lunak, pedang Tio Swat-in tanpa kuasa kena dituntun minggir sehingga tabasannya miring kesamping seperti menepis permukaan tabir merah.

Karuan bukan kepalang rasa kejut Tio-Swat-in, dia tidak habis mengerti bahwa gerakan gendewa Toh bing sik mo ternyata begitu aneh menakjupkan, secara mudah ngo-hong pi-i ajaran gurunya yang paling dibanggakan telah dipunahkan demikian saja.

Harus diketahui bahwa Ngo liong-pi-i ajaran Hwi khong Loni harus dilancarkan dengan landasan Lwekang yang kuar, gerakan seperti lamban tapi kenyataan pesat sekali, dikaIa melancarkan serangan pedang mula pertama, tenaga dalam sudah dikerahkan sehingga sekali gentak pedangnya itu berpeta menjadi lima jaIur pedang, sekaligus bisa menyerang lima Hiatto mematikan ditubuh lawan, walau bayangan pedang menjadi lima jalur, namun sekaligus mengincar kesasaran yang sama dan telak.

Ngo Hong pi-i merupakan karya ciptaan Hwi-khong Loni selama puluhan tahun, hasil jerih payahnya setelah mencangkok dan mengkombinasikan ilmu pedang dari berbagai perguruan silat dan sukar dilawan atau dipunahkan. Bahwa gaya pedangnya menyelonong ke samping, sudah tentu Tio Swat-in amat kaget, tapi keajaiban gerak Siang-hoan coat yang di lancarkan Toh-bing-sik-mo ternyata tidak sampai di situ saja, tenaga lunak yang merembes keluar sehingga menggetar miring gerak pedang Tio Swat-in paling hanya setengah dari kekuatan cu- pi-sam-siaw-hap saja, dimana pergelangan tangannya sedikit menyendal pula, hun-sia-ngo-sik-lian telah dilancarkan pula, gendewa yang merah itu telah menimbulkan tabir merah, padahal tenaga amat besar, namun sedikitpun tidak menimbulkan gejolak hawa atau deru angin yang mengejutkan, yang terang Tio Swat-in merasa dirinya seperti diterjang angin badai yang deras.

Bahwa pedangnya didesak minggir Tio Swat-in amat kaget, di kala rasa kaget itu belum lenyap. tabir Cahaya yang melindungi tubuh Toh bing sik-mo ternyata dalam melebar menjangkau jarak tertentu laksana segumpal lembayung yang benderang menindih kearah dirinya, tenaga murni sedemikian kokohnya, tetapi tidak membawa deru angin sedikitpun, berapa hebat, menakjupkan permainan jurus- jurus yang mendekati ajaib ini, sungguh tak pernah ada bandingannya dikolong langit ini.

Terasa oleh Tio Swat- in, cahaya merah dari tabir gendewa yang berlapis- lapis itu agaknya membawa daya tarik yang memikat sanubarinya, pelan-pelan dan samar-samar semakin nyata, begitu indah mempesona.

Dia tahu bila dirinya disentuh sedikit saja oleh tabir lembayung yang menyala itu, meski hanya tersentuh sedikit saja, bila tidak mati juga pasti terluka parah. Tapi dia tak mau berkelit lagi, yang benar, umpama dia nekad mau berkelit meski harus mengorbankan jiwa juga tidak mampu lagi.

Sekarang tiada yang perlu dipikirkan lagi, dengan melongo dia mengawasi tabir cahaya yang mengasyikkan ini, semakin dekat dan mendesak semakin maju, dengan tenang dia menunggu elmaut akan merenggut jiwanya, seolah-olah segala kerisauan, derita dan kerawanan hatinya himpas menyeluruh. Dipinggir jurang antara mati dan hidup ini, jarang ada manusia yang bisa bersikap secara tenang menghadapi kenyataan ini, wajar dan damai seperti Tio Swat-in-

Pada detik-detik yang amat kritis serta pendek itu, sekonyong- konyong bayangan merah sirna tanpa bekas, darah pun muncrat disertai cairan putih kental pula disusul suara gedebukan jatuhnya kuda dan penunggangnya dipecomberan dalam lembah.

Kejadian sungguh teramat cepat dan di luar dugaan, terdengar Tio Swat-in menghardik pula dimana pedangnya berkelebat, mendadak dia menubruk pula kearah Toh-bing sik-mo.

Ternyata karena gregeten, tanpa sadar Toh-bing-sik-mo melancarkan Siang hoan-coat yang peranti melindungi badan sekaligus untuk menyerang musuh. Sudah jelas Tio Swat in sudah pasti bakal menjadi korban dari jurus cu-pi-sam siau-hap dan Hun- sia-ngo-sik-lian, tapi pada detik-detik yang menentukan itu, dilihatnya wajah Tio Swat-in yang pucat dengan air mata bercucuran, bibirnya terbuka sedikit seperti delima merekah, sorot matanya melotot membayangkan keluruhan budi dan kejujuran nan polos, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya.

Tapi dalam detik-detik yang menentukan ini sudah tiada tempo untuk mempertimbangkan lagi, lekas dia tekan dan putar pergelangan tangannya, meski jurus yang dilancarkan tak mungkin dibatalkan, namun gendewa yang sudah kecabut digerakkan itu masih sempat dituntunnya minggir dan "Plak" dengan telak mengetuk kepala kuda Tio swat in, kepala pecah darah muncrat bercampur otaknya yang hancur mumur.

Tiga kali Toh-bing-sik-mo membatalkan niatnya membunuh Tio swat- in, meski korbannya ini sudah tidak mampu apa-apa dan pasrah nasib, entah apa sebabnya, dia sendiri juga tidak tahu, sudah tentu Tio Swat-in sendiri juga tidak habis herannya.

Bahwa jiwanya putar balik dari neraka dan selamat tanpa kurang suaru apapun, sungguh amat ruwet perasaan Tio Swat-in, dia tidak kaget atau senang, juga tidak membenci atau makin ragukan nasib sendiri, yang terang perasaannya amat tertekan seperti ada sesuatu yang mengganjel sanubarinya, hatinya amat sedih dan rawan, badannya seperti tidak enak, dia ingin berteriak^ ingin menggembor sejadi-jadinya, ingin nangis dan mau tertawa pula, tapi tiada suara keluar dari mulurnya.

Kini dia tidak perlu takut lagi menghadapi kenyataan ini, dia harus melampiaskan seluruh tumpuan perasaan harinya, sudah tentu seluruh pelampiasan gejolak hatinya itu dia salurkan pada pedang di tangannya, kepada Toh-bing-sik-mo yang dianggapnya sebagai musuh besar pembunuh ayahnya, meski orang tiga kali membatalkan niatnya membunuh dirinya, tapi sakit hati orang tua apapun yang terjadi tak boleh di abalkan.

Maka dia menghardik pula serta menubruk kearah Toh-bing-sik- mo pula, disaat tubuh terapung pedangnya berkelebat membelah kepala Toh-bing sik-mo, serangannya sudah tidak pakai aturan lagi.

Perasaan Toh-bing-sik-mo agaknya amat ruwet dan ada ganjelan hati yang sUkar dikemUkakan. Deru tebasan pedang terdengar nyata namun Toh-bing-sik, mo tetap memejam mata serta menunduk kepala, hanya tangan kanan mendadak terangkat dengan jurus Ui-Liong hoan- hoan-sin, gendewa merah ditangannya kembali menciptakan selarik bayangan merah memapak kearah tebasan pedang Tio Swat-in-

"Trang" benturan keras menimbulkan suara dengung panjang dari getaran batang pedang pusaka, Tio Swat-in bagai dahan pohon yang gemulai ditiup angin- Lalu, badannya Limbung dan gentayangan sejauh satu tombak lebih.

Begitu melayang, jatuh setombak lebih, kembali Tio Swat-in meiengak kaget, terasa getaran yang ditimbulkan dari tangkisan gendewa lawan meski kuat ternyata lunak, sehingga dirinya tidak terluka sedikitpun, Lengan pun tidak pegal atau linu sedikitpun.

Sudah tentu Tio Swat-in tidak sempat berpikir kenapa dirinya tidak kurang suatu apa, kenyataan memang dia tidak mau menggunakan otaknya, begitu kaki menyentuh bumi, melihat Toh- bing-sik-mo memutar kudanya hendak pergi, kembali dia menggembor panjang kaki menjejak bumi tubuhnya melejit tinggi menubruk pula kearah Toh-bing-sik-mo.

Toh-bing-sik-mo sudah congklang kudanya. mendengar gemborannya seketika dia menoleh dan membelokkan kudanya pula meng hadapi Tio Swat-in yang menubruk datang secara berhadapan pula. Bola matanya kini mendelik gusar, hanya bola matanya yang kentara dibelakang perbannya itu yang bisa menampilkan perasaan hatinya, nafsu membunuh seperti telah merasuk hatinya, agaknya dia membatin:

"Hm, cewek yang tidak tahu diri, diberi hati merogoh ampla, beberapa kali aku batalkan niat jahatku terhadapmu, kau justru tidak insyaf malah mendesakku begini rupa, terpaksa aku..."

Tapi kejap lain, cahaya mata yang mencorong penuh nafsu itu sirna, secara diam-diam benaknya berpikir juga :

"Mungkin seperti juga diriku, dia membekal dendam kesumat keluarganya. Kenapa aku harus membunuh orang ? Bukankah karena terpaksa juga. Sekarang kalau aku juga bunuh dia, untuk apa tadi aku berulang kali mengabaikan kesempatan untuk membunuhnya?"

Dikala benak Toh-bing-sik-mo bekerja itulah, Tio Swat-in sudah menubruk tiba dari tengah udara, pedangnya berputar laksana kitiran seperti ingin melindas batang lehernya.

Toh-bing-sik-mo duduk kaku dipunggung kudanya, kelopak matanya terpejam, padahal Tio Swat-in tinggal lima kaki lagi diatas kepalanya, mendadak kedua telapak tangannya terbalik, satu menggapai dan yang lain menepuk.

Tanpa mengeluarkan angin atau suara, tahu-tahu tubuh Tio Swat-in terlempar pergi sejauh dua tombak lebih, dorongan tenaga deras yang melempar tubuhnya mendadak terputus ditengah jalan, dan "Blang" dengan keras tubuhnya terbanting jatuh ditanah, pedangpun terlepas dari pegangannya. Bu siang ciang yang pernah menggetarkan Bulim sejak sepuluh tahun yang lalu waktu Toh-bing-sik-mo menampilkan diri, hari ini kembali menunjukkan kehebatannya dengan menggetar pergi Tio Swat- in secara enteng dan lunak. lalu ditengah jalan dia tarik tenaganya sehingga sang korban terbanting cukup kuat, dengan cara terakhir inilah baru dia sempat meloloskan dirinya.

Sekilas masih sempat Toh-bing-sik-mo membuka matanya menatap kearah Tio Swat-in, akhirnya dia menarik napas dalam- dalam lalu membelokkan kudanya dicongklang pergi.

Lekas Tio Swat in merangkak berduduk lalu bersimpuh mengerahkan hawa murni ke seluruh urat nadi, ternyata hawa murni berjalan lancar menembus keseluruh badan dan merembes keluar melalui pori-pori tubuhnya berubah uap putih, maka tahulah dia bahwa dirinya tidak cidera apapun, kecuali rubuhnya berlepotan lumpur karena jatuh ditanah pecomberan-

Sayang Toh-bing sik-mo sudah mencongklang kudanya dan pergi jauh, duduk ditanah ya becek hatinya gundah dan ruwet, tanpa terasa air mata bercucuran- Hujan masih rintik-rintik, air lumpur bercampur darah kental kudanya yang sudah jadi mayat takjauh berada disampingnya, suasana jadi amat sunyi merawankan hati.

"Tio Swat in, jangan kau biarkan musuhmu pergi, kau harus menuntut balas, ya, menuntut balas " suara hatinya seketika mengobarkan semangatnya. Kematian ayahnya yang mengenaskan kembali terbayang dalam benaknya. Diam-diam hatinya berteriak:

"Tio Swat-in, jangan kau biarkan dia pergi, sudah sepuluh tahun kau menunggu dan sekarang memperoleh kesempatan baik ini....

mungkin jejaknya akan lenyap pula dari bumi ini, lalu kapan dan dengan cara apa kau harus menuntut balas kematian ayahmu supaya arwahnya tentram dialam baka ? Ibumu masih mengharap kau lekas pulang setelah berhasil menuntut sakit hati ayahmu......

ayo kejar, ke "

Suara tik tak tik tak dari derap kuda putih Toh-bing-sik-mo mendadak sirap, Bong-hun-kok kembali diliputi kesunyian. Tapi darah justeru mendidih dirongga dada Tio Swat-in, seperti serigala yang haus darah, seperti banteng ketaton saja dia raih pedangnya terus mengudak kedepan kemana tadi Toh bing-sikmo melenyapkan dirinya

Pandangannya remang-remang, suaranya sudah serak^ tubuhnya kotor berlepotan lumpur, air matanya sudah campur aduk dengan air hujan, tapi semua itu tidak penting, sekarang dia hanya tahu nekad dan ingin mengadu jiwa, menyandak musuh keparat Toh- bing-sikmo serta membantainya seperti mencacah cacing.

Tiba-tiba dia menghentikan langkah larinya yang bergontai seperti orang mabuk, pelan-pelan dia seka air mata serta kucek- kucek mata pandangannya memang tidak kabur, kenyataan didepan mata membuatnya melongo.

Cuaca tetap lembab dan guram, angin masih menghembus kencang, hujan tetap rintik-rintik.

Dua ekor kuda sama tinggi tegap dan berbulU putih mulus pula sedang berhadapan sambil angkat kepalanya, dipunggung kedua kuda putih duduk dua mayat hidup dengan dandanan yang mirip pula satu sama lain, seluruh tubuh dibungkus perban, hanya kedua bola mata mereka saja yang tampak mencorong saling pandang.

Dalam lembah yang guram lembah ditengah hujan angin, kedua orang sirna saling tatap tanpa mengeluarkan suara, tiada satupun yang bergerak seolah-olah mereka bukan lagi makhluk hidup yang mampu menggerakkan anggota badannya.

Keheningan ini mungkin merupakan perlambang kesunyian sekejap menjelang datangnya hujan badai, perang tanding bakal terjadi duel akan menentukan siapa menang dan siapa kalah, siapa tulen dan mana yang palsu dari kedua mayat hidup yang menyerupai mumi ini. 

"Eh, dua Toh-bing sik-mo." demikian teriak Tio Swat-in dalam hati. "Apakah yang terjadi, mungkinkah ?" akhirnya dia berdiri bingung. Mendadak kedua mumi sama menegadah mengeluarkan suara loroh tawa yang berbeda memecah kesunyian, yang satu bernada sedih pilu dan penuh perasaan lega, yang lain bernada tinggi kereng seperti pekik setan- Pendek kata siapa mendengar kedua macam gelak tawa ini pasti merinding bulu kuduknya.

Tiba-tiba gelak tawa kedua mumi sama-sama sirap. namun gema tawanya masih mendengung dalam lembab, hawa udara yang lembab basah ini diliputi ketegangan yang telah memuncak.

Tampak kedua mumi sama-sama mengangkat tangan menanggalkan gendewa merah masing-masing, pelan-pelan meloloskan sebatang anak panah serta memasang di busurnya lalu pelan-pelan ditariknya serta membidik, kedua mumi sama-sama melotot tanpa mengeluarkan suara, agaknya mereka akan menentukan siapa tulen dan mana yang palsu dalam duel adu memanah. Ketegangan semakin memuncak dengan semakin kencangnya busur di tarik lebar.

Demikian pula rasa heran Tio Swat-in semakin tebal, hatinya dag dig dug, matanya ter beliak, batinnya:

"Agaknya mereka saling bermusuhan, lalu siapa kah pembunuh ayahku ? Kenapa pula mereka masing-masing sama ah, persetan biar mereka saling labrak dan bunuh membunuh, seorang yang ketinggalan hidup, lebih gampang aku membereskan dia."

"Tapi kalau yang menang dan masih hidup itu bukan musuh pembunuh ayahnya, lalu bagaimana baiknya ? Bukankah berarti aku tak berhasil menuntut balas dengan kedua tanganku sendiri ? Lalu bagaimana aku harus..." Sudah tentu Tio Swat-in makin bingung.

Tapi kenyataan justetu tidak memberi kesempatan untuk dia banyak pikir. "cret"-"cret" bunyi busur hampir berbareng melepas anak panah yang telah dibidikkan, pula larik sinar merah, yang satu kencang yang lain lambat meluncur kearah musuh laksana kilat menyamber.

"Ting" tahu-tahu kedua anak panah itu terpeCah balik pula kearah datangnya masing-masing, jadi begitu dua panah saling bentur kekuatan daya luncurnya telah memental balik panah itu mundur kearah pembidiknya.

sudah tentu Tio Swat-in di samping takjup merasa heran dan kaget pula, pikirnya.

"Ilmu dari aliran manakah ini ? Bidikannya ternyata begitu tepat, dan lagi tenaga yang dikerahkan juga teramat padat dan keras, sungguh mengejutkan."

Dilihatnya kedua mayat hidup sama-sama mengangkat tangannya menangkap anak panah masing-masing yang meluncur mundur.

Sekonyong-konyong Toh-bing-sik-mo yang membelakangi Tio Swat in mengeluarkan suara pekik yang mengerikan, kuda mendadak dikeprak maju terus menerjang kearah Toh-bing-sik-mo didepannya, dimana tangan kiri bergerak dengan jurus Hong-jui- Cui-Liong-kak. panah merah yang runcing ditangannya menus uk ke ciat-hou-hiat diatas jidat lawan, sementara tangan kanan terbalik, dengan jurus Bong ham yau-yam-ih, sinar merah berkelebat, bayangan gendewa bersusun memberondong kemuka lawan, serangan keji cepat dan lihay dilandasi tenaga yang kuat pula.

Begitu melihat jurus serangan Toh-bing-likmo ini Tio Swat-in lantas tahu bahwa Toh-bing sik-mo yang menyerang duluan ini adalah lawan yang tadi bergebrak dengan dirinya, melihat betapa indah dan lihay gerak rubuh orang diam-diam dia memuji dalam hati, diam-diam hatinya merasa simpatik terhadap yang satu ini.

Bahwa Toh-bing-sik-mo yang satu ini lihay kungfunya, demikian pula Toh-bing sik-mo lawannya itu tidak kalah lihaynya. Tampak sekali berkelebat beruntun dia meluputkan diri dari dua jurus serangan lawan yang gencar.

Gendewa merah ditangan kanannyapun balas menyerang dengan jurus Hiap-san-cau-hay (menggrmpUr gunung menguruk laut), damparan angin kuat menimbulkan deru angin yang keras, sehingga hujan rintik-rintik seperti tersibak jauh kesamping. Loroh tawa bergema dalam lembah, Toh-bing-sik-mo yang menyerang dahulu tadi tampak berkelebat minggir, gempuran dahsyat itu berhasil dihindarkan. Berbareng telapak tangan terbalik terus mengubah jurus serangan, Pat hong-cui-khi-siang Ngo- sekssip-hwi-hong, gendewa dan batang panah bergerak sama, kembali dia menyerang dua jurus sekaligus dengan gempuran telak.

Kedua Toh hmg-sik-mo adalah jago- jago Kungfu yang paling top didunia persilatan, maka pertempuran ini berjalan amat seru dan setanding, kadang-kadang cepat tiba-tiba lamban, perobahannya tidak menentu dan sukar diraba, gendewa dan batang panah yang merah berpadu dengan bayangan tubuh mereka yang putih tampak menyolok, namun mengaburkan pandangan.

Dalam sekejap lima puluh jurus telah lewat, setelah serang menyerang secara gencar itu kedudukan masing-masing sama kokoh, setapakpun tiada yang tergeser dari kedudukan semula.

Sekonyong-konyong Toh bing-sik mo yang membelakangi Tio Swat-in dan yang mendahului menyerang tadi, tampak berputar di- punggung kuda, kedua tangan terangkat tinggi diatas kepala, gendewa merah ditangannya tampak menaburkan bayangan merah berputar dua lingka dimana dia menekan pergelangan tangan, dengan jurus Ham-kong-yau-leng-tian, King-khi ping ceng-hong, kembali melancarkan dua jurus serangan sekaligus, cara dan gaya serangannya amat berbeda dengan permainan silat umumnya, anehnya kekuatannya amat besar.

Tio Swat-in yang menyaksikan diluar gelanggangpun merasakan kedahsyatan dari perbawa serangan berantai ini, diam-diam dia sudah membatin dalam hati: "Nah, kali ini pasti dapat dibedakan siapa kuat dan mana bakal kalah."

Gendewa dan anak panah kelihatannya sudah hampir mengena sasaran, maka tampak Toh-bing-sik-mo yang satu tiba-tiba menjatuhkan diri hingga tubuhnya rapat dengan punggung kuda, tiba-tiba kuda tunggangannya itu berjingkrak berdiri dengan kaki belakang sambil berputar, secara mudah serangan gencar dan dahsyat itu telah dihindarkan begitu saja. Tapi sambil berkelit ternyata kedua tangannya juga tidak tinggal diam, dimana dia menggentak tangan "Sret" selarik sinar merah tahu-tahu menerjang kepala kuda lawan-

Padahal serangan lawan sudah kebacut dilontarkan dengan tenaga penuh, meski serangan dan gaya tubuh itu berhasil dikendalikan tapi sudah tidak sempat mengeprak kuda untuk berkelit atau menangkis dengan tipu apapun-

Darah muncrat, sebatang panah merah tampak menancap miring dikepala kuda putih kontan kaki depan kuda itu tertekuk, tubuh- nyapun terkapar jatuh tanpa meronta sedikit-pun, jiwanya melayang seketika.

Dikala kuda terpanah dan roboh terkapar tampak sesosok bayangan putih dengan disertai gerangan murka, laksana segumpal asap tiba-tiba mumbul keatas, itulah Ginkang tingkat tinggi yang sudah putus turunan sejak seratusan tahun yang lalu, Yan-heng- hun-siang-in (asap bergolak diatas mega)

Setelah mencapai ketinggian maksimal di tengah udara tubuhnya yang terapung itu berputar dengan gaya yang indah terus menukik dengan jurus Sin Liong-whi-khong-coan, laksana seekor naga perkasa Langsung menubruk kearah lawan-

Berapa hebat dan mentakjupkan gerakan Toh-bing-sik-mo yang satu ini, sungguh membuat Tio Swat-in yang menyaksikan menghela napas gegetun.

Bahwa panahnya berhasil membunuh kuda lawan, cukup menggirangkan tapi juga mengecewakan, girang karena kuda tunggangan lawan telah mati, kecewa karena tujuan utama adalah penunggang bukan kudanya, tahu-tahu dilihatnya lawan melambung keatas, dimana segumpal bayangan merah laksana kobaran api dengan deru angin keras yang mengejutkan tiba-tiba telah menindih dari atas.

Karuan kagetnya bukan main, tubuhnya yang baru saja tegak tersipu-sipu mendoyong kesamping sambil menarik tali kekang pikirnya hendak membawa kudanya menyingkir. Bahwa dia bisa berkelit cepat, jiwanya selamat, tapi serangan musuh dari atas ternyata tidak kalah cepatnya, begitu kudanya berjingkrak berdiri dengan kepalanya terangkat tinggi, seketika terjadi hujan darah yang muncrat sama-sama kepala kuda di kepruk pecah oleh gendewa merah, tanpa meringkik kuda itupun terbanting roboh binasa.

---ooo0dw0ooo---