Pedang Bunga Bwee Jilid 14

Jilid 14

DI TENGAH bentakan keras, ujung pedangnya membentuk sekilas cahaya tajam langsung menusuk ulu hati Kian Hoo tiada bersenjata, melihat datangnya ancaman yang begitu hebat ia cuma bisa berkelit kesamping belaka.

Namun pemuda she Peng itu tak mau lepas tangan begitu saja, ia lanjutkan pengejarannya ke depan, serangan pedang dilancarkannya semakin gencar hingga membuat Liem Kiun Hoo jadi kalang kabut.

Ong Bwee Chi yang menyaksikan keadaan sahabatnya jadi gelisah, buru-buru ia melemparkan ikat pinggang warna kuning yang berhasil ia rampas tadi kearah Kian Hoo sambil berseru:

"Liem-heng, tangkap senjata ini gunakan-untuk menghadapi serangan kunyuk dogol itu !".

Tatkala Liem Kian Hoo menyambut datangnya ikat pinggang tersebut, segera ia getarkan ikat pinggang tersebut keluar.

Tidak ampun lagi pedang tawan bkena dibelenggud kencang-kencanag dan tak bisa bterlepas lagi, agaknya pedang pemuda tadi adalah senjatu mustika, terbukti setelah terbelenggu tidak seperti pedang Kian Hoo tadi segera tergencet patah jadi beberapa bagian, pedang itu terbelenggu oleh ikat pinggang itu dan melekat erat-erat sedang kedua belah pihak berusaha untuk menariknya kearah belakang.

"Adduh celaka ! " salah seorang padri tua itu menjerit kaget, "Ruyung Merak emas dari sute telah terjatuh ketangan bajingan jahat itu, hal ini sama halnya dengan memberi sayap buat harimau ganas.".

Kakek tua she-Peng itu menguatirkan keselamatan putranya, buru-buru ia kebas pedangnya maju membantu.

Dalam keadaan gemas sekuat tenaga Liem Kian Hoo betot ikat pinggangnya, dan begitu hebat tenaga betotan tadi sampai-sampai pemuda itu beserta pedangnya tertarik kemuka,

Cahaya pedang dari sikakek tua itu dengan cepat mengurung seluruh tubuh Kian Hoo sehingga memaksa sianak muda itu harus menunjukan kelihayannya, tangannya diangkat keatas lalu digetarkan keras-keras, tenaga sang pemuda she- Peng tidak memadahi Kian Hoo sehingga ia tak kuasa menahan diri, pedangnya segera terlepas dari genggamannya.

Pada saat yang bersamaan pula serangan dari sikakek tua itu telah tiba, ia segera putar senjata dan menangkis ancaman tersebut.

ikat pinggang berwarna kuning itu masih te tap membelenggu pedang panjang pada ujungnya maka terpaksa Kian Hoo harus putar senjata untuk menghadapi serangan- serangan gencar dari kakek tua itu.

Walaupun ia tidak lancar menggunakan senjata tadi, namun dengan andalkan ilmu silatnya yang beraneka ragam serta tenaga dalam yang amat sempurna untuk sementara waktu ia berhasil membendung seluruh serangan gencar dari orang tua itu.

Sementara itu setelah pemuda she-Peng kehilangan pedang, ia mundur kesisi kalangan dengan wajah murung dan sedih, sekarang ia baru tahu kalau musuhnya itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay.

Perlahan-lahan gadis cantik itu maju menghampiri kesisi tubuhnya, kemudian dengan suara lembut ujarnya:

"Bukankah sejakr tadi aku sudaht berkata bahwa qdia sangat lihary sekali, sudah kunasehati dirimu jangan berkelahi dengan dirinya karena kau musti kalah, siapa suruh kau tidak mau menurut."

Ucapan ini sangat menyinggung perasaan pemuda she- Peng tersebut, hawa amarahnya kembali barkobar dalam dadanya, ia meraung keras, kemudian dengan tangan kosong menubruk kearah punggung Kian Hoo.

Ketika itu Liem Kian Hoo sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi serangan serangan gencar dari sikakek tua itu, ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan belakang, dengan begitu punggungnya jadi terbuka dan gampang terserang.

Tampaklah tubrukan itu segera akan mengena sasaran, tiba-tiba disaat yang amat kritis itulah dari sisi kalangan berkelebat lewat sesosok bayangan manusia disusul dua buah serangan yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaram kilat.

Serangan pertama telah menghalangi tubrukan dari pemuda she-Peng itu, sedangkan serangan kedua bersarang telak diatas dada pemuda tadi sehingga badannya mencelat kebelakang dan muntah darah segar.

Mendengar suara gaduh dibelskang tubuhnya Liem KianHoo berpaling, ia temukan orang yang barusan membantu dirinya bukan lain adalah Ong Bwee Chi, dengan sinar mata penuh rasa berterima kasih ia melirik sekejap kearahnya.

Dalam pada itu dengan badan gemetar gadis cantik tadi kembali menyembunyikan diri disudut ruangan. Sikakek tua she-Peng itu jadi terperanjat tat kala menyaksikan putranya terluka, ia segera menghentikan serangannya dan lari menghampiri tubuh pemuda tersebut, ketika ditemukan bahwasannya lelaki itu muntah darah dan jatuh tidak sadarkan diri, ia jadi amat sedih bercampur gusar.

"Bajingan ! " teriaknya, "Berani benar kau turun tangan keji terhadap putraku."

"Hmmm ! siapa suruh ia melancarkan serangan bokongan dari belakang punggung orang ? terhadap manusia pengecut macam dia sudah sepantasnya kalau dijatuhi hukuman yang setimpal!" dengus Ong Bwee Chi sinis.

"Lonte busuk ! " teriak kakek itu semakin gusar, sambil mencekal pedang ia segera loncat kedepan, "Ini hari jangan harap kau bisa loloskan diri dari ujung pedang loohu. ".

Liem Kian Hoo segera melepaskan pedang yang terbelenggu diujung ikat pinggang itu dan dilemparkannya kearah Ong Bwee Chi sambil berseru:

"Nona Ong, sambut pedang tersebut ! dan apabila tidak terpaksa janganlah melukai orang !"

Setelah menyambut datangnya pedang itu belum sempat Ong Bwee Chi buka suara, cahaya pedang sikakek itu sudah menggulung tiba, terpaksa ia mengepos tenaga untuk menyambut datangnya serangan lawan.

Tenaga serangannya tidak sekuat tenaga Kian Hoo, tetapi gerakan tubuhnya jauh lebih ringan dan lincah, ditengah serangan-serangan gencar yang dilancarkan sikakek tua itu meski ia rada keteter namun dengan andalkan kelincahan badannya setiap kali ia berhasil loloskan diri dari ancaman bahaya.

Sementara itu Thian Sim thaysu telah berpaling memandang sekejap kearah tiga orang padri tua itu lalu berkata: "Suheng sekalian ruyung merak emas milik siauw-te telah lenyap, harap suheng sekalian suka bantu siaute untuk meranipasnya kembali...".

Air muka tiga orang padri tua itu berubah keren dan membesi, tanpa mengucapkan sepatah katapun dari pinggang masing-masing mengambil keluar sebuah ruyung lemas yang berbentuk seperti ikat pinggang, warna ruyung itu adalah keperak-perakan, hijau membesi serta merah membara. Bentuk maupun ukurannya persis seperti ruyung yang berada ditangan Kian Hoo.

Da!am waktu singkat ketiga orang padri tua itu sudah menyebarkan diri membentuk posisi segi tiga dan mengurung Liem kian Hoo ditengah kalangan.

"Thaysu bertiga adalah padri agung " seru Liem Kian Hoo dengan wajah serius. "Apakah kalianpun hendak mengerubuti diriku secara massal ?".

Merah padam selembar wajah padbri tua yang berd warna keperak aperakan itu, sebgera jawabnya:

"Untuk menghadapi seorang bajingan tengik macam dirimu, buat apa kami harus menuruti peraturan Bu-lim dengan satu lawan satu ! Hmmm ! justru kami hendak membinasakan dirimu lebih cepat berarti lebih baik !".

"Kalian semua keledai-keledai gundul yang bermata tak berbiji, mulut kamu semua tidak bersih dan memaki diriku dengan bajingan tengik Hmmm ! padahal kalianlah yang sebenarnya pantas disebut manusia goblok yang tidak punya otak !"

Tiga orang padri tua itu jadi amat gusar mendengar seruan tersebut, tiga buah ruyung lemas bagaikan hembusan angin puyuh segera menggulung keluar.

Liem Kian Hoo menanti dengan hati tenang, hawa murninya disalurkan keseluruh badan, Menanti serangan lawan telah tiba ia baru putar senjata ruyungnya dan terjadilah suatu pertempuran yang amat seru ditengah kalangan itu.

Mula-mula hwesio tua yang bernama Thian Sim Thaysu itu cuma menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan, tetapi lama kelamaan ia jadi kaget juga setelah menyaksikan keampuhan Liem Kian Hoo, ia termenung sejenak akhirnya dari belakang meja sembahyangan ia mengambil keluar sebuah toya Poothung dan terjunkan diri pula kedalam kalangan.

Dengan demikian keadaan Liem Kian Hoo semakin runyam, senjata yang biasa ia gunakan adalah sebilah pedang, kini harus mengunakan ruyung lemas, bukan saja merasa tidak biasa, bahkan menghadapi pula serangan-serangan gencar yang semuanya ditujukan untuk mencabut selembar jiwanya, ia makin kelabakan, seluruh tenaga dalam yang harus dikerahkan untuk mempertahankan diri.

Tenaga dalam yang dimiliki tiga orang padri tua itu jauh diatas tenaga dalam dari Thian-Sim Thaysu, jurus serangan dalam permainan ruyungpun jauh lebih sempurna. Untuk menghadapi mereka bertiga sudah cukup kerepotan apalagi sekarang bertambah dengan ancaman toya besi dari Thian Sim Thaysu, maka tidak sampai belasan gebrakan ia sudah kecapaian setengah mati, keringat mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, lengan yang digunakan untuk mainkan ruyungpun terasa linu dan sakit.

Ketika suatu saat ia punya kesempatan untuk berpaling, tampaklah olehnya Ong Bwee Chi pun kena terdesak hebat oleh seranbgan-serangan gedncar kakek tua aitu, ia jauh lebbih banyak bertahan daripada menyerang dan keadaannya kritis sekali, berarti keadaan mereka semakin bahaya.

Agaknya sikakek tua she-Peng itu sangat mendendam terhadap kedua orang muda-mudi ini, terutama sekali setelah putranya terluka, terdengar ia berteriak keras-keras: "Thaysu seka!ian, perketat serangan ! kita harus cepat- cepat binasakan sepasang anjing laki perempuan ini !".

Sambil berseru permainan pedangnya pun semakin dipergencar, membuat Ong Bwee Chi tak sanggup mengerahkan tenaga untuk menghindarkan diri lagi, terpaksa gadis itu harus gertak gigi menerima semua serangan dengan keras lawan keras hingga keadaannya makin berbahaya.

Liem Kian Hoo sendiripun makin bertarung makin lelah, ia sadar keadaan sangat tidak menguntungkan dirinya, dengan hati sedih bercampur gusar segera teriaknya:

"Sungguh tak nyana aku bakal mati ditangan kalian manusia-manusia goblok yang tidak punya otak, dikemudian hari apabila dunia persilatan dilanda bencana pembunuhan masal, maka kalianlah yang harus bertanggung jawab atas kejadian itu".

Thian Sim thaysu tertawa dingin.

"Asal kami berhasil membinasakan kau bajingan tengik yang terkutuk berarti dalam dunia persilatan telah kehilangan seorang bibit bencana !" serunya.

Menyaksikan orang orang itu belum juga sadar dari keadaan yang sebenarnya, Liem Kian Hoo mendongkol bercampur gusar, hawa amarah berkobar dalam dadanya, dengan kerahkan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya ia ayunkan ruyung-nya kedepan.

Plaaaaak...! ruyung tadi dengan telak menghajar diatas tongkat besi tersebut, diiringi suara bentrokan nyaring, tongkat tersebut seketika patah jadi dua bagian.

Namun pada saat itulah tiga buah ruyung dari hweesio hweesio tua itu sudah menyapu datang dari tiga arah yang berlawanan sianak muda itu dipaksa harus enjotkan badan untuk menghindarkan diri, ambil kesempatan itulah Thian Sim thaysu menyodorkan kutungan toyanya ke arah depan. Dengan demikian keadaan dari Liem Kian Hoo jadi amat berbahaya sekali. Berada ditengah udara sianak muda itu segera sambit ruyungpun ke arah gadis cantik itu sambit berteriak gusarr:

"Siluman peretmpuan! kali iniq apa yang kau hrarapkan segera akan terwujud !".

Ruyung itu meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa, agaknya Thian Sim thaysu takut gadis itu tak kuasa menahan diri, maka pada saat yang bersamaan ia tarik kembali serangannya dan membabat kearah ruyung tersebut dengan sekuat tenaga ia berhasil menangkap senjata tadi.

Thian Sim thaycu terperanjat mimpipun ia tidak menyangka kalau gadis cantik yang kelihatan lemah lembut itu memiliki tenaga dalan yang begitu sempurna, ia lupa menarik serangannya sehingga tongkat tadi segera menghantam kearah tubuh gadis tersebut.

Gadis cantik itu tertawa dingin, ruyungnya digetarkan mendatar kemuka, mengikuti datangnya serangan toya tadi senjata tersebut meluncur kedepan.

Tampaklah cahaya berkelebat lewat batok kepala Thian Sim thaysu yang gundul tahu tahu sudah berpisah dari tubuhnya dan terjatuh keatas tanah, darah segar muncrat keluar keempat penjuru.

Menyaksikan peristiwa ini tiga orang padri tua lainnya jadi amat terperanjat dengan wajah melengak, buru-buru mereka tarik kembali ruyungnya dan berdiri menjublak.

Gadis cantik itu sama sekali tidak pilih kasih, ruyungpun dibabat kemuka lebih jauh, laksa na bayangan setan badannya menubruk kemuka dengan dahsyatnya.

"Brrruuk... bruukkk... bruuuk!" darah segera kembali muncrat keempat penjuru membasahi lantai, kembali tiga sosok mayat menggeletak diatas tanah tanpa kepala. "Aduuuh celaka ! teriak Kian Hoo keras-keras "penyakit edan dari iblis wanita ini kumat lagi, ayoh cepat kita...".

"Nona Bwee, kau..." terdengar kakek tua she-Peng itupun berseru kaget sambil berdiri menjublak.

Sinar mata yang amat tajam berkelebat lewat dari ujung mata gadis itu, ruyungnya digetarkan kemuka menyapu ulu hati kakek tua tersebut. Melihat datangnya ancaman sikakek tua she-Peng itu jadi terperanjat buru-buru pedangnya diputar kedepan hendak menangkis, namun belum sempat ia bergerak tahu tahu ujung ruyung lawan sudah bersarang diatas dadanya.

Kakek tua itu menjerit ngeri, dadanya berlobang dan darah segar muncrat keluar membasahi seluruh lantai, tidak sempat berkutik lagi tubuhnya roboh binasa keatas tanah.

Perbuatan keji gadis cantik itu tidak sampai disana saja, ruyung lemasnya dibuang keatas tanah dan ia sambar pedang panjang dari mayat kakek tua itu kemudian ditusukkan kearah tubuh Ong Bwee Chi.

Sejak gadis cantik itu melakukan pembunuhan massal Ong Bwee Chi sudah bikin persiapan melihat datangnya ancaman ia segera putar pedangnya menyambut, sementara badannya cepat-cepat mundur kebelakang.

Pedang itu tergetar oleh tenaga serangan sang gadis yang amat kuat itu sehingga terbang ke angkasa, untung Ong Bwee Chi sempat menghindarkan diri.

Gadis cantik itu ada maksud mengejar lebih jauh, namun pada saat itulah Liem Kian Hoo telah turun tangan, telapaknya berkelebat melancarkan serangan sedangkan tubuhnya menubruk ke-muka, dengan telapak tangan ia tabok ujung pedang lawan. Agaknya gadis itu benar-benar jeri terhadap Liem Kian Hoo, sebelum pedangnya sempat melukai Ong Bwee Chi ia sudah geserkan senjata itu kesamping kiri.

"Perempuan siluman ! kau benar benar sudah edan !" teriak Kian Hoo keras-keras.

Badannya bergerak kedepan dan sekali lagi melancarkan sebuah serangan menghantam dadanya, Gadis itu tidak menghindar maupun berkelit, ia biarkan telapak sianak muda itu menghajar dada-nya, diiringi bentrokan dahsyat gadis itu mengeluh lirih.

Perasaan yang timbul dalam hantaman ini ternyata jauh berbeda sewaktu Kian Hoo melancarkan cengkeraman tempo dulu, ia merasa tangan nya menyentuh sesuatu yang lunak dan halus, ia tak mengerti mengapa serangannya tadi tak berhasil melukai dirinya.

Sinar mata buas yang memancar keluar dari sepasang mata gadis itu mendadak lenyap tak berbekas, sebagai gantinya muncullah suatu cahaya aneh dan sukar dilukiskan dengan kata-kata diatas mukanya, kemudian sang tubuhpun segera meleset mundur kebelakang.

Liem Kian Hoo mengira gadis itu akan melancarkan serangan kembali kearahnya, buru-buru ia putar sepasang telapak mencengkeram urat nadi gadis cantik itu.

Suatu senyuman manis mendadak tersungging diujung bibir gadis itu, kena senyuman manis iniKian Hoo tergiur, sepasang tangannya yang semula mencengkeram urat nadi gadis itu erat-eratpun segera jadi kendor, sebab ia merasa bahwa senyuman ini laksana sang surya muncul diufuk timur, bagaikan bunga mawar yang sedang berkembang, indah menawan dan mempesonakan hati.

Cantik, wajahnya benar benar cantik hingga sukar dilukiskan dengan kata kata. Misterius, tingkah lakunya benar benar misterius sehingga sukar untuk dipecahkan dengan akal. Kecantikan macam ini serta kemisteriusan macam ini membuat ia jadi tergiur, terpesona tatkala ia genggam tangannya, begitu tergiur sampai ia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Dan waktupun seolah olah berhenti, waktu sesingkat itu terasa amat lama bagaikan beratus-ratus tahun lamanya.

Beberapa saat kemudian ia baru mendusin dari lamunan, ia teringat kembali bahwa gadis cantik ini bukan lain adalah Hwe Thian Mo-li yang dengan susah payah dicari, dikejar dan ditangkap untuk dibinasakan tenaga dalamnya segera disalurkan keseluruh tubuh, sianak muda itu bermaksud menghancurkan tulang tulang tubuhnya.

Tetapi secara tiba-tiba gadis itu menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman sianak muda itu kemudian meraba dadanya dan berbisik dengan suara lirih:

"Bwee Hoa dengan penuh rasa hormat menanti kedatanganmu didepan sana !"

Habis berkata badannya melayang kedepan, bagaikan seekor kupu-kupu ia melayang keluar lewat pintu pagoda dan lenyap dibalik kegelapan.

Dengan termangu-mangu Liem-Kian-Hoo berdiri ditempat sambil mengawasi bayangan punggungnya berlalu dari sana, lama sekali ia berdiri tertegun disana kendati bayangan tubuhnya sudah lenyap.

Mendadak terdengar suara helaan napas ringan berkumandang datang dari belakang tubuh-nya, buru buru ia berpaling, tampaklah orang yang barusan menghela napas bukan lain adalah Ong-Bwe-Chi, ia jadi kebingungan dan tidak habis mengerti melihat sikap gadis itu.

Tampak Ong Bwee Chi tersenyum lalu berkata:

"Liem-heng, bagaimanapun juga kau tetap seorang pria !". Nada ucapannya penuh dengan nada menyindir dan mengejek.

Merah jengah selembar wajah Kian Hoo, ia tahu Ong Bwee Chi sedang mentertawakan dirinya karena tidak tega membinasakan gadis cantik itu, dengan nada kikuk segera sahutnya:

"Nona Ong, aku telah salurkan hawa murniku untuk membinasakan dirinya, tetapi tenaga seranganku sama sekali tak berdaya menghadapi dirinya !".

Tentu saja Ong Bwee Chi tak mau percaya dengan penjelasan tersebut, ia tetap berdiri sambil tertawa.

Buru-buru Liem Kian Hoo membuka tangannya sambil berseru:

"Kalau kau tidak percaya boleh periksa tanganku, warna merah darah yang ada diteIapak-ku adalah bekas mengerahkan tenaga dalam masih belum hilang !".

Tetapi ketika ia buka telapaknya kembali si anak muda itu berdiri tertegun, ternyata tatkala gadis cantik itu hendak berlalu, ia sudah tinggalkan batu pualam berbentuk bunga bwee itu didalam genggamannya, entah kepandaian apakah yang telah digunakan sehingga ia sediripun sama sekali tidak merasa.

Batu pualam Giok-Bei itu masih tetap utuh namun rantai emas yang ada diujung batu pualam itu sudah berubah jadi seutas serat tipis yang halus, buru buru Kian Hoo menuding emas tersebut sambil berseru:

"Coba kau lihat, rantai emas inipun telah berubah jadi serat serat emas yang tipis oleh tenaga tekananku !".

Air muka Ong Bwee Chi rada berubah, ia segera mengangguk. "Siauw-moay tidak berani mencurigai watak serta perbuatan Liem heng." katanya, "Hanya saja aku lihat agaknya iblis wanita itu sudah menaruh rasa cinta terhadap diri Liem heng ".

"Aaaaaa ! hal ini mana bisa terjadi ? harap nona jangan ajak diriku untuk bergurau." seru Kian Hoo dengan wajah berubah jadi merah-padam.

"Meninggalkan Giok-Bei mengambil mutiara, hal ini pada umumnya menunjukkan apabila kedua belati pihak saling menaruh hati sekalipun Liem-heng ingin memikirpun pada saat ini tak mungkin lagi ! pesannya sebelum berlalu tadi mengata kan bahwa ia akan bertemu kembali dengan dirimu diperjalanan depan, agaknya iblis wanita itu tidak menaruh suatu perasaan jahatpun terhadap diri Liem heng".

Selesai mendengar ucapan tersebut, Liem Kian Hoo baru sadar bahwa pakaian bagian dadanya sudah tersingkap, batu Giok Bei itu berada disana namun sebutir mutiaranya telah lenyap sungguh tak nyana rabaan gadis itu menjelang berlalu dari sana tadi bukan lain adalah mengambil mutiara tersebut.

Sianak muda ini jadi gelisah, serunya: "Aaaaa, sekarang bagaimana baiknya ! benda tersebut merupakan benda mustika dari keluargaku, bahkan benda itu sangat bermanfaat bagiku."

"Disimpan dalam sakunya, kan jauh lebih aman daripada Liem heng bawa sendiri ! " goda Ong Bwee Chi kembali sambil tersenyum.

Melihat gadis itu kembali menggoda, Liem-Kian Hoo tak bisa berbuat lain kecuali menahan rasa malu bercampur gelisah.

Terdengar Ong Bwee Chi menghela napas kemudian berkata kembali: "Gadis cantik macam dia benar-benar merupakan incaran dari setiap mata pria, setiap lelaki akan bergerak hatinya setelah berjumpa dengan dirinya apabila dia adalah seorang gadis yang normal. Ooouw sungguh alangkah baiknya !".

Liem Kian Hoo tak kuasa menahan diri lagi, dengan wajah merah padam teriaknya:

"Nona Ong, harap kau jangan menggoda diriku lagi, dia adalah seorang iblis wanita yang sudah banyak melakukan kejahatan, aku tidak tertarik kepadanya, yang selalu kupikirkan didalam hati adalah bagaimana caranya membinasakan dirinya dari muka bumi...!".

"Siauw-moay tiada maksud untuk menggoda, dengan kepandaian silat yang ia miliki sekarang boleh dikata tiada tandingannya lagi dikolong langit, tidak mungkin kalau kita hendak membinasakan dirinya dengan cinta kasih, mungkin dengan demikian ia akan mengurangi berbuat jahat."

"Dosa ! dosa! hal ini merupakan suatu pekerjaan yang tidak mungkin bisa kulakukan !".

Sementara Ong Bwee Chi akan buka suara, tiba tiba tampaklah pemuda she Peng yang menggeletak diatas tanah mulai menggeiiat dan meronta bangun, akhirnya ia mendusin dan buka matanya.

Benda pertama yang berhasil ia lihat adalah batu pualam Giok Bei yang berada ditangan Kian Hoo, dengan cepat ia loncat bangun kemudian berteriak penuh kegusaran:

"Bajingan keparat ! kau telah apakah diri nona Bwee ?".

Belum sempat Liem Kian Hoo memberi penjelasan, sianak muda she Peng itu telah menemukan pula empat sosok mayat yang menggeletak diatas tanah, ia semakin sedih lagi, teriaknya sambil menangis:

"Bajingan keparat, sungguh keji perbuatanmu." sambil berteriak ia menubruk kedepan, Ong Bwee Chi yang ada disisinya dengan cepat turun tangan menotok jalan darahnya, setelah itu sang telapak diangkat siap membabat batok kepala pemuda itu.

"Nona Ong !" Buru buru Liem Kian Hoo menghalangi niatnya, "Mengapa kau hendak membinasakan dirinya !".

"Iblis wanita itu sengaja membinasakan beberapa orang ini dengan menggunakan ruyung lemas ditanganmu, kemudian meninggalkan pula seorang saksi hidup, jelas ia ada maksud menjatuhkan tanggung jawab atas hutang darah ini kepada dirimu, apabila kita tidak membunuh dirinya maka kesalah pahaman ini tak akan tercuci bersih sepanjang hidup, terutama sekali kalau berita ini sampai tersiar diluaran, bukan saja kau tak dapat menancapkan kaki lagi didalam dunia persilatan, bahkan sepanjang hidup kau tidak akan bisa hidup dengan aman tenteram."

"Siapa benar siapa salah suatu saat tentu akan jadi jelas dengan sendirinya." kata Kian-Hoo sambil geleng kepala, sekalipun orang lain bakal menaruh salah paham sepanjang hidup terhadap diriku, akupun tidak bakan melakukan dperbuatan ini !a".

Dengan pandabngan mendalam Ong Bwee Chi melirik sekejap kearahnya dan berkata:

"Walaupun beberapa orang ini bukan orang orang kenamaan didalam dunia persilatan, namun ilmu silat yang mereka miliki tidak lemah, hubungan serta asal usul mereka tentu luar biasa sekali, apabila kau biarkan pemuda ini berlalu maka di kemudian hari kau bakal menjumpai kerepotan yang tiada tara banyaknya !".

"Soal itu sih tidak mengapa, dalam bertindak aku selalu mencari ketenteraman hati, asalkan aku tidak pernah berbuat maka sekalipun dunia bakal ambruk pun aku tidak akan ambil pusing, lagipula kerepotan yang kuhadapi sudah cukup banyak, sekalipun bertambah dengan kerepotan lainpun tidak mengapa ! ".

"Sungguh tak nyana Liem heng mempunyai kebesaran jiwa yang demikian hebat, siauw moay merasa sangat kagum.".

"Perkataan semacam ini tak perlu kau utarakan, lebih baik cepat-cepat kita bereskan mayat jang bergelimpangan ditempat ini !..."

"Tentang soal itu sih tak perlu kita lakukan, dalam keadaan seperti ini tak mungkin bisa kita selesaikan masalah ini dengan baik,aku lihat lebih baik biarlah sipemuda ini saja yang memberesi mayat tersebut setelah jalan darahnya bebas !".

Liem Kian Hoo berpikir sejenak, ia merasa ucapan ini cengli juga maka ia mengangguk.

"Ucapan nona sedikitpun tidak salah " sahutnya, "Malam ini kita beristirahat semalam, besok pagi kita lanjutkan pengejarannya terhadap jejak iblis wanita itu, bahkan kitapun harus mencari suatu akal guna menaklukkan dirinya !".

Ong Bwee Chi berpikir sejenak kemudian menjawab: "Ditinjau dari persiapan-persiapan yang kita hadapi ini hari,

sekalipun tak usah kita cari dirinya, ia bakal mencari sendiri kita, apakah kau sudah lupa dengan pesannya tatkala hendak meninggalkan tempat ini ? "Bwee Hoa menanti kehadiranmu diperjalanan sebelah depan", perduli jalan manakah yang kita tempuh, ia bisa mengejar bahkan melampaui diri kita dengan demikian bukan kita yang menguntit dirinya, justru malahan dialah yang menguntit diri kita, sedang mengenai dengan cara apa kita hendak menaklukkan dirinya, soal ini sulit untuk dikatakan lebih baik kita hadabpi perubahan tedrsebut sesuai daengan situasi kbetika itu !"

Liem Kian Hoo mengangguk berat, sebelum ia meninggalkan tempat itu sianak muda tersebut telah meninggalkan beberapa huruf besar diatas tanah dengan memakai cairan darah yang tergenang dilantai.

TuIisan itu berbunyi sebagai berikut:

"Orang yang membunuh manusia manusia ini adalah Hwie- Thian-Moli Bwee Hoa !".

"Siapa yang akan percaya dengan tulisanmu itu ?" seru Ong Bwee Chi sambil tertawa.

"Perduli orang lain mau percaya atau tidak, pokoknya kita harus tinggalkan pesan agar orang lain tahu bahwa kita berdua tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut".

Ong Bwee Chi tersenyum dan tidak menja-wab, mereka segera berlalu dari pagoda itu.

Belum lama sepasang muda mudi itu meninggalkan ruang pagoda, sesosok bayangan putih muncul kembali dalam ruang pagoda tersebut, kemudian dengan cepat merubah tulisan yang ditinggalkan Liem Kian Hoo itu jadi:

"Orang yang membunuh manusia ini adalah Liem Kian Hoo serta Ong Bwee Chi !".

Gaya tulisan maupun nadanya persis seperti apa yang ditinggalkan Kian Hoo semula.

= oOo =

Sang surya memancarkan sinarnya menyoroti sebuah jalan raya disebelah Timur kota Lok-yang, Liem Kian Hoo dengan menunggang seekor kuda jempolan diiringi Ong Bwee Chi yang berbaju hitam melakukan perjalanan cepat melewati jalan raya itu.

Dalam waktu singkat kuda-kuda jempolan itu sudah jauh meninggalkan bayangan tembok kota yang tinggi, dihadapan mereka muncul gunung nan hijau dengan hutan yang rimbun. Gunung itu tidak terlalu tinggi namun indah menawan hati, dikaki gunung mengalir sebuah sungai dimana cahaya memantul keempat penjuru ketika dibiarkan oleh permukaan air.

Suasana amat sunyi senyap, angin berhembus sepoi- sepoi.dibawah sebuah pohon liuw yang rindang duduk seorang kakek sedang mengail ikan, suasana nyaman sekali.

Tatkala Liem Kian Hoo menjumpai kegembiraan kakek tua itu mengail ikan ditepi sungai, tak tahan ia mengherla napas dan betrkata:

" Aaaaaiq... dikolong larngit ketenangan jiwa merupakan suatu hal yang sukar dicapai, teringat dua tahun berselang setiap hari aku cuma tahu berpesiar, minum arak dan bikin syair, hidup senang dan penuh kebahagiaan siapa sangka dua tahun kemudian setelah terjunkan diri kedalam dunia persilatan, setiap hari hanya diburu oleh persoalan, entah sampai kapan aku baru bisa mencicipi kehidupan yang aman tenteram macam itu lagi ?.."

"Semua masalah yang ada dikolong langit bersumber pada hati sanubari manusia itu sendiri, ditengah kerepotan belum tentu tiada waktu senggang, diantara waktu senggangpun belum tentu tiada kerepotan." ujar Ong Bwee Chi sambil tersenyum. "Kau lihat sikakek tua itu begitu senggang dan gembira duduk dibawah pohon sambil mengail, namun apakah kau pernah bayangkan seandainya makan malamnya nanti harus menunggu sampai ikan hasil kailannya ini ditukarkan dengan beras ? aku rasa apabila demikian adanya maka kegelisahan hatinya saat ini jauh lebih panas dari teriknya sinar matahari ditengah siang hari bolong."

"Mendengar ucapan dari nona barusan aku jadi berpikir bahwa persoalan yang ada dikolong langit belum tentu terlalu menarik !" "Memang begitu ! persoalan yang ada dikolong langit tiada persamaannya dan tiada keseragaman, perubahan yang sering terjadi kadangkala mirip dengan awan diangkasa, kau mengatakan persoalan itu akan berubah jadi demikian ia akan berubah, kau mengatakan tidak berubah belum tentu akan berubah, maka untuk menilai suatu masalah tidak dapat ditinjau dari suatu sudut belaka, tadi Liem heng mengatakan bahwa berkelana didalam dunia persilatan merupakan suatu pekerjaan yang berat, namun apabila kita tinjau dari perasaan serta kepuasan, apabila kau bisa menolong yang lemah menindas yang kuat bukankah hatimu akan merasa sangat gembira sekali".

"Bagus, tepat sekali, ucapan nona telah menggetarkan hatiku !" teriak sianak muda itu dengan semangat berkobar kembali.

Ong Bwee Chi tertawa hambar, mereka segera larikan kuda mereka kesisi kakek tua ini, kebetulan sekali tali kail ditangan kakek itu bergoyang. agaknya ada ikan yang sedang makan umpan sehingga menggetarkan bel kecil yang sengaja dipasang diujung kail.

Namun kakek tua itu tetap tak berkutik, ia sudah tertidur pulas bersandar disisi pohon, terhadap pancingannya ia tidak merasakan sama sekali.

Liem Kian Hoo jadi tertarik oleh kejadian itu buru buru serunya kepada sikakek tua itu:

"Loo tiang, ada ikan tersangkut pada mata kailmu !".

Kakek tua itu tetap membungkam, agaknya ia tidak mendengar teguran tersebut.

Menanti Kian Hoo berteriak beberapa kali lagi, kakek tua itu baru menggeliat dan buka matanya, ia tidak memandang kearah sepasang muda mudi itu namun meludah kedalam sungai sambil memaki. "Kalian dua orang bajingan cilik, sudah setengah harian lamanya loohu menunggu disini, sampai sekarang kalian baru datang !".

Di sekeliling tempat itu tak ada orang lain, Liem Kian Hoo segera merasa bahwa makian tersebut ditujukan kepada mereka, ia jadi melengak, pikirnya:

"Aku tak pernah mengikat tali permusuhan dengan kakek ini, karena aku lihat mata kailnya bergerak dan takut ikan tersebut keburu lari, maka kubangunkan dirinya, sungguh tak nyana sebagai imbalannya aku dicaci maki, kakek ini benar- benar tak tahu diri."

Dalam hati ia gusar namun perasaan tesebut tidak sampai diperlihatkan diatas wajahnya.

Tampaklah sikakek tua itu angkat kailnya maka terlihatkan diatas sebuah benang terdapat dua mata kail dan diatas setiap mata kail tergantunglah seekor kura kura kecil sebesar telapak tangan.

Sekali lagi Kian Hoo tertegun.

"Sebenarnya ia sedang maki diriku ataukah sedang maki kura kura tersebut!" pikirnya.

Perlahan-Iahan si kakek tua itu menarik senar pancingannya keatas daratan, dua ekor kura kura yang mulutnya terkait dimata kail tampak meronta-ronta tiada hentinya dengan wajah yang sangat menderita. Terdengar kakek tua itu kembali memaki:

"Sepasang bajingan tengik, kembatianmu sudah bderada diambang apintu, berani bbenar kau pentang cakar mau unjuk kelihayan".

Mendengar ucapan itu Liem Kian Hoo merasa amat gusar, dalam hati ia pikir ucapan tersebut terang-terangan sedang memaki dirinya, Namun Ong Bwee Chi yang ada disisinya segera menjawil ujung bajunya sambil berbisik lirih: "Liem-heng, jangan bergerak secara gegabah, mungkin saja orang lain sedang maki kura-kura itu !".

Walaupun ucapan ini diutarakan amat lirih, namun berhasil ditangkap juga oleh sikakek tua itu, ia lantas tertawa ringan.

"Tepat sekali ! " serunya, " Loohu sedang memaki dua ekor kura-kura ini, harap kalian ber dua jangan menaruh salah paham".

Suatu ingatan mendadak berkelebat dalam benak Kian Hoo, ia merasa pendengaran serta penglihatan kakek tua itu tajam sekali, dia tentu bukan nelayan biasa.

Ucapannya barusan terang-terangan sedang mencaci maki mereka berdua, namun Kian Hoo sekalian tak bisa berbuat apa-apa sebab orang lain sudah menerangkan lebih dahulu, maka sambil paksakan diri bersabar mereka tetap menahan diri, Dalam pada itu sikakek tua tadi kembali buka suara memaki:

"Dua orang bajingan cilik yang sudah bosan hidup, loohu berbelas kasihan hendak mengampuni selembar jiwamu, ayoh cepat sipat kuping enyah dari sini".

Liem Kian Hoo benar benar tidak kuasa menahan diri lagi, kali ini makian tersebut sudah jelas ditujukan kepada mereka, karena sikakek tua itu telah menyimpan mata kailnya serta menangkap kedua ekor kura kura itu ditangan.

Siapa sangka sebelum mereka melakukan sesuatu, tiba-tiba kakek tua itu ayunkan tangannya melemparkan kembali dua ekor kura tersebut ke-dalam air sungai.

Bahkan seakan-akan dibelakang punggungnya tumbuh sepasang mata, ia mengetahui semua tingkah laku dari Liem Kian Hoo, Sambil tertawa segera ujarnya kembali :

" Khek Koan, harap jangan gusar Loohu sedang bercakap- cakap dengan kura kura tersebut !" Dalam pada itu Liem Kian Hoo sudah angkat sebelah kakinya untuk melangkah maju, tapi sehabis mendengar perkataan ini maka tberpaksa sambil dmenahan rasa doangkoI ia tarik bkembali kakinya.

Ong Bwee Chi yang selama ini selalu membungkam kali ini tak bisa berdiam diri terus menerus mendadak ia nyelutuk:

"Manusia berbicara dengan bahasa manusia kura berbicara dengan bahasa kura !".

Liem Kian Hoo berdiri melengak oleh kata-kata tersebut,sebaliknya sikakek tua itu dengan sepasang alis berkerut segera bertanya:

"Bocah pirempuan, kau sedang mengatakan siapa ?".

"Loo-tiang, harap jangan memikirkan yang bukan-bukan." jawab Ong Bwee Chi sambil tersenyum. " Aku sedang mengatakan seekor kura-kura tua yang berbicara dan berguman seorang diri!"

Seraya berkata jarinya menuding kearah sebuah pohon liuw dipinggir sungai, dimana tampaklah seekor kura-kura tua sedang merangkak naik keatas batu yang menonjol keluar, moncongnya yang runcing megap-megap menghembuskan hawa.

Diam-diam Liem Kian Hoo merasa geli bahkan merasa amat kagum dengan kecerdikan Ong Bwee Ghi. Sejak semula ia sudah tahu kalau sika kek tua ini ada maksud mencari gara gara dengan diri mereka, cuma saja mereka belum tahu apa maksud yang sebenarnya ia berbuat demikian.

Kakek tua itu seketika naik pitam, sehabis mendengar ucapan balasan dari Ong Bwee Chi tak kalah tajamnya itu, maka teriaknya penuh kegusaran.

"Bocah perempuan yang tak tahu diri, berhubung loohu tidak ingin bikin urusan dengan kalian manusia-manusia dari generasi muda, lagi pula tidak percaya kalau ahli waris dari seorang sahabat karibku bisa melakukan perbuatan kejam yang melanggar peri kemanusiaan maka loohu tidak mau percaya sama sekali terhadap tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Peng To kepada diri kalian. Oleh sebab itulah sengaja kujajal tabiat kalian yang sebenarnya siapa sangka kalian benar-benar manusia congkak yang tidak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi...".

Tatkala Liem Kian Hoo mendengar disebutkannya nama "Peng To" dua patah kata, sadarlah sianak muda ini bahwasanya kedatangan sikakek tua ini disebabkan mendengar pengaduan dari pemuda she-Peng tersebut dan kini mereka sengaja datang untuk bikin pembalasan. 

Tentang persoalran ini Kian Hoot sudah menduganqya sejak pertamra kali tadi, tetapi setelah mendengar kakek tua itu mengatakan bahwa dia adalah ahli waris dari seorang sahabat karibnya, Kian Hoo merasa rada bergerak.

Dengan cepat ia menghalangi Ong Bwee Chi menyindir lebih jauh dengan kata-kata tajam, lalu dengan suara mendatar tanyanya:

"Apakah Lootiang maksudkan peristiwa berdarah yang terjadi didalam kuil Ing-Tah-Sie kemarin malam ?"

"Hmmm kalau sudah tahu itu lebih bagus lagi, namun aku mencari dirimu bukan disebabkan persoalan itu tok, meskipun kau telah meninggalkan tulisan yang menyombongkan diri namun aku masih belum percaya kalau kalian benar-benar memiliki kepandaian silat yang begitu dahsyat !".

Liem Kian Hoo berdiri melengak sehabis mendengar ucaran ini, sebab mimpipun ia tak pernah menyangka apabila tulisan yang ditinggalkan dalam kuil tersebut telah diganti orang lain, namun ucapan terakhir dari sikakek tua itu cukup menentramkan hatinya. "Cayhe meninggalkan tulisan tersebut bukan bermaksud hendak cuci tangan terhadap terjadinya peristiwa berdarah itu, namun aku ingin mengutarakan kebersihan hati kami " ujarnya sambil tertawa.

"Apabila Loo tiang percaya terhadap ucapan cayhe, maka sudah sepantasnya bilamana Lootiang suka bekerja sama dengan cayhe untuk melenyapkan iblis wanita itu.".

"Eeeei keparat cilik, kalau bicara jangan melantur, siapa yang kau maksudkan dengan iblis wanita itu ? kau harus tahu bahwa Ing-Tah-Su-Hud empat Buddha dari kuil Ing-Tah-Sie adalah sahabat karib loohu, sedangkan Peng-Siong-sim adalah saudara angkat loohu, aku memahami bagaimanakah keampuhan yang mereka miliki. Oleh sebab itu meski kau telah meninggalkan tulisan di dalam kuil yang mengatakan bahwa mereka semua mati ditangan kalian berdua, loohu masih belum mau percaya !".

"Apa !?" teriak Kian Hoo dengan wajah tertegun "Bukankah tulisan yang cayhe tinggalkan itu sudah mengatakan sangat jelas sekali, orang yang membinasakan manusia ini adalah..."

"Adalah Liem Kian Hoo yang dibantu oleh Ong Bwee Chi, bukankah begitu ?". Tukas sikakek tua itu sambil tertawa dingin. "Dengan andalkan, kemampuan yang kalian miliki sekarang, dapatkah kelima orang tokoh sakti modar ditangan kalian semua ? Hmmm ! sungguh merupakan suatu lelucon yang bisa mentertawakan banyak orang".

"Omong kosong ! kapan aku pernah berkata demikian !" teriak Kian Hoo penuh kegusaran.

Sikakek tua itu melirik sekejap ke arahnya kemudian tertawa dingin.

"Keparat cilik, setelah kau mempunyai kejantanan untuk mengakui perbuatan-perbuaran keji itu adalah hasil karyamu, mengapa sekarang kau tak punya keberanian untuk mengakui secara terbuka ! Liuw Boe Hwie bisa mendapatkan murid macam dirimu, sungguh cukup membanggakan dirinya !".

Mula-mula Liem Kian Hoo sudah dibikin gusar oleh perkataannya, namun setelah nama gurunya si Rasul seruling Liuw Boe Hwie diungkap, teringat pula kata kata sikakek tua itu yang menga takan bahwa dia adalah ahli waris dari sahabat karibnya, sadarlah sianak mudi itu sebenarnya siapakah orang tua ini.

"KAKEK, engkau pastilah Dewa tambur Lui Thian Cun cianpwee!"

"Apakah Liu Boe Wi pernah menyinggung soal namaku?" tanya kakek itu dengannya wajah yang jauh lebih ramah.

Tanpa sadar seraya meraba seruling emas yang berada disakunya, Kian Hoo berseru dengan penuh kegembiraan.

"Guruku selalu menganggap cianpwee sebagai sahabat karibnya, cuma sayang selama ini belum ada kesempatan untuk saling berjumpa muka."

Lui Thian Cun menghela napas panjang.

"Aaa...! aku dengar tangannya telah cacad sebelah hingga tak dapat meniup seruling lagi, sungguh sayang permainan tambur langit ku kecuali hanya bisa berhadapan dengan Im It toosu perempuan itu, tiada tandingan lainnya lagi yang dapat beradu irama dengan aku."

Mendengar keluhan tersebut, debngan cepat Kiand Hoo cabut keluaar seruling emabsnya, sambil diangkat keatas katanya:

"Kendatipun guruku sudah tak dapat bermain seruling lagi, akan tetapi kepandaiannya didalam permainan seruling tidak punah dengan begitu saja, berkat kepercayaan dari suhu, beliau telah wariskan segenap kepandaian serulingnya kepadaku." Lui Thian Cun agak terkejut setelah mendengar ucapan tersebut, akhirnya dengan mata melotot dia berkata: "Untuk mendapatkan sedikit nama besar dalam kolong langit, Liu Bu wi harus mendalami dan meyakini ilmu serulingnya selama puluhan tahun lamanya, bocah cilik! baru beberapa tahun engkau belajar ilmu seruling??"

Liem Kian Hoo tertawa ringan, "Meskipun aku belum lama belajar ilmu, dan aku tak berani tekebur dengan mengatakan sudah menguasahinya dengan sempurna akan tetapi secara paksa dapat kukatakan bahwa aku mengenali semua pelajaran yang telah diberikan kepadaku, akupun telah bersedia untuk memenuhi harapan suhuku dengan melakukan pertarungan melawan tambur langit dari cianpwee"

"Haaah... haaah... haaah... bocah cilik, engkau jangan mimpi disiang hari bolong?!" seru Lui Thian Cun sambil tertawa ter bahak2. "kalau tambur langit dibunyikan maka air sungai akan bergolak, bukit dan batu akan berguguran, apa engkau kira tambur langitku boleh digunakan secara sembarangan???"

"Lalu kapankah cianpwee baru bersedia untuk mainkan tambur langitmu itu..."

"Kecuali kalau aku bertemu dengan Im It atau lengan Liu Bu Wi yang kutung tiba2 telah tersambung kembali." jawab Lui Lhian Cun sambil tertawa angkuh.

Mendengar ucapan yang amat tekebur itu, Liem Kian Hoo tertawa riang, dengan wajah yang tetap tenang ia menjawab:

"Kalau begitu, rupanya hari ini aku memang tak berjodoh untuk menikmati suara pukulan tambur dari cianpwee, karena aku menyadari bahwa kesempurnaan dalam permainan seruling masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan guruku, tentu saja aku tak berani untuk menantang cianpwee berduel Irama, bila clanpwee tidak keberatan bagaimana kalau sekarang kumainkan irama seruling seperti apa yang diajukan oleh guruku, sedang cianpwee memberi petunjuk dari samping???"

"Ooobo. ! tentu bodleh boleh saja!a" sahut Lui Thiban Cun

sambil mengelus jenggotnya dan tertawa.

Sambil tersenyum Kian Hoo loncat turun dari kudanya kemudian berjalan menuju ke sebuah batu bulat ditepi selokan, seruling-nya dicabut keluar kemudian pusatkan pikirannya sambil menengadah memandang awan diangkasa.

Lui Thun Cun sendiri bersandar diatas dahan pohon dengan sikap acuh tak acuh, seakan-akan ia tak perduli sebelah matapun terhadap perbuatan sianak muda itu menanti Kian Hoo sudah menunjukkan sikap serius, hatinya baru agak bergerak, segera serunya:

"Bocah cilik. engkau dapat bersikap hingga dalam keadaan lupa akan segala-galanya, hal ini menunjukkan bahwa engkau memang dapat di andalkan.!"

Kian Hoo sama sekali tidak menggubris, bibirnya bergerak meniup serulingnya dan meluncurkan irama seruling yang terputus-putus melonjak ke tengah udara.

"Tuut... tutt...tuuut. "

Ketika bibirnya meniup seruling itu untuk ketiga kalinya, se akan2 tertusuk oleh jarum yang tajam tiba2 Lui Thian Cun loncat turun dari atas pohon, dengan wajah berubah hebat teriaknya keras2:

"Berhenti ! berhenti ! berhenti ! bocah cilik, engkau pelajari irama seruling tersebut darimana ?"

"Irama tersebut merupakan not pembukaan dari irama pembingung sukma dari guruku, irama ini memiliki perubahan yang amat banyak suhuku telah berpesan andaikata bukan berjumpa dengan cianpwe atau dewi Seruling In lt maka irama maut itu tidak di-perkenankan ditiup secara sembarangan !" Mendengar perkataan itu Lui Thian Cun segera menghela napas panjang.

"Aaaai ! Liu Bu Wi memang tidak malu disebut malaikat seruling, engkau bocah cilik memang pantas untuk berduel irama dengan tambur langitku...!"

"Terima kasih atas penghargaan dari cianpwee!"

Ong Bwee Ci yang berada disamping sambil mencibirkan bibirnya segera menyindir "Huuuh... mengejek lebih dulu kemudian menghormat kakek tua, engkau memang pandai berlagak..."

Merah padam selrembar wajah Luit Thian Cun sakiqng jengahnya, ira segera bersuit nyaring keatas bukit seakan- akan sedang memberi tanda kepada orang berada diatas bukit untuk menyiapkan tambur langitnya, kemudian dengan wajah serius ia segera berkata terhadap gadis she Ong tersebut.

"Bocah perempuan, apa yang kau pahami? tambur merupakan alat musik yang paling susah memainkan irama not, lagipula benda tersebut merupakan sejenis alat musik yang mengandung kekuasaan besar, dalam setiap perubahan irama terseliplah kekuatan untuk memimpin, oleh sebab itulah aku tidak bersedia untuk adu kepandaian dengan sembarangan orang, jika aku mainkan tambur nanti kuanjurkan kepadamu lebih baik menyingkirlah jauh2!"

"Kenapa?? apakah aku tak boleh ikut mendengarkan?" seru Ong Bwee Ci dengan mata melotot.

Lui Thian Cun tertawa dingin tiada hentinya, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Liem Kian Hoo sendiri sambil tersenyum segera berkata: "Nona Ong, lebih baik ikutilah nasehat dari Liu locianpwee,

karena Lui cianpwee tersohor sebagai Raja tambur, jika tambur langitnya diperdengarkan maka irama yang terpancar sudah pasti amat dahsyat dan luar biasa sekali perubahan iramapun tidak sebanyak perubahan irama serulingku yang dapat dipancarkan sesuai dengan perasaan hati. bila engkau berada disekitar tempat ini, aku kuatir isi perutmu akan tergetar sehingga menderita Iuka."

"Bocah cilik, engkau tak usah takebur" teriak Lui Thian Cun sambil mendengus dingin, merah padam wajahnya, "aku mengakui bahwa ilmu tambur memang susah dikendalikan sehingga semua kekuatan itu hanya khusus ditujukan kepada kau seorang, tetapi setelah kau dengarkan permainanku nanti, dengan cepat engkau akan mengetahui apakah permainan tamburku itu berirama tunggal atau beraneka ragam!"

"Cianpwce tak usah gusar, aku sama sekali tiada bermaksud pandang rendah diri cianpwee, apa yang kuucapkan tidak lain meninjau dari kenyataan."

Lui Thian Cun mendengus gusar, sedangkan Ong Bwee Ci dapat merasakan seriusnya persoalan dan kerdipan mata sianak muda itu tanpa membantah ia segera tuntun dua ekor kuda tersebut dan pergi menjauhi dari tempat kejadian.

Beberapa saat kemudian, dari atas bukit muncullah seseorang sambil membopong sebuah tambur besar yang menyerupai sebuah meja bulat, pada ketiaknya masing2 mengempit sebuah kursi menjepit untuk tambur serta sepasang alat untuk pemukul tambur yang besarnya seperti lengan manusia.

Gerakan tubuh orang itu sangat cepat dan jelas mempunyai dasar ilmu silat yang lumayan, setibanya dihadapi mereka ia turunkan tambur besar itu keatas tanah.

Pada waktu itulah Kian Hoo baru kenali orang itu sebagai satu2nya pemuda yang berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat dari kuil in Tan si, dan sekarang telah diketahui namanya sebagai Peng To!

Dengan sorot mata memancarkan cahaya ber-api2 yang mengandung perasaan benci dan dendam, Peng To melotot sekejap kearah Kian Hoo tanpa berkedip, kemudian dengan penuh emosi serunya:

"Empek Lui, engkau telah menyanggupi permintaan keponakan untuk belaskan dendam sakit hatiku!"

Sambil memasang alat tamburnya pada posisi yang menguntungkan, Lui Thian Cu gelengkan kepalanya berulangkali, kemudian berkata:

"Tidak ! dahulu aku tidak percaya kalau dia memiliki kemampuan sebesar itu dan sekarang aku percaya bahwa ia memang memiliki kemampuan yang luar biasa, akan tetapi aku tidak percaya kalau ia dapat melakukan pembantaian secara demikian kejinya karena dari keberhasilannya menguasahi ilmu seruling aku dapat menduga sampai dimanakah kesempurnaan tenaga dalam yang berhasil dikuasahi olehnya, dan manusia dengan kesempurnaan tenaga dalam seperti itu tak mungkin bisa melakukan pembunuhan sedemikian brutalnya..."

"Bukti sudah ada dan lagi Siaubwtit pun menyakdsikan dengan maati kepala sendibri semua perbuatannya itu." seru Peng To dengan gelisah.

"Omong kosong !" bentak Kian Hoo teramat gusar, ketika beberapa orang itu menemui ajalnya engkau masih berada dalam keadaan tak sadarkan diri..."

Peng To menggertak gigi menahan kegusaran yang berkobar dalam dadanya, lalu berseru.

"Sedikitpun tidak salah ! tetapi mereka semua mati diujung ruyung berlubang emas yang berhasil kau rampas dari tangan Thiam sim taysu, engkau tak usah menyangkal lagi. disanapun masih tertinggal tulisan darah sebagai tanda bukti !"

Mendengar soal tulisan berdarah Kian Hoo segera menyadari bahwa dbalik peristiwa itu pasti masih terselip hal 2 yang lain, namun sebelum ia sempat berkata Lui Thian Cun dengan tidak sabaran lelah berteriak keras:

"Peng To, engkau tak usah banyak bicara, tujuanmu toh suruh aku pertunjukkan tambur langit dan aku telah mengabulkan permintaanmu itu, perduli perbuatanku ini untuk balaskan dendam sakit hatimu atau tidak, sepantasnya kalau engkau merasa puas ! ayoh cepat enyah dari sini dan puIang keatas bukit."

Peng To sangsi sejenak, kemudian dengan nada tergagap serunya kembali.

"Paman guru dari In tah su hud empat budha dari kuil In tah-si yang bernama Siu Ciu sangjin telah datang, dia orang tua bermaksud untuk membinasakan bandit keji itu, kau..."

"Enyah dari sini !" hardik Lui Thian Cun dengan mata melolot, "Aku tak sudi berjumpa dengan hweesio tua itu, aku masih mendongkol kepadanya karena permainan catur tempo hari kalau ia mau membalas dendam turuti tunggu saja sampai kuselesaikan dulu pertarungan ini !"

Dengan membawa rasa dendam dan benci yang semakin hebat. Peng To putar badan dan kembali keatas bukit.

Sementara itu Lui Thian Cun telah mempersiapkan tambur langitnya, sambil menggesekkan sepasang alat pemukulnya yang besar sembari berkata.

"Bocah cilik, sekalipun engkau berhasil meloloskan diri dari tujuh pukulan tambur langitku, aku harap engkaupun suka berhati-hati! Sebab Siu Ciu sangjin bukanlah manusia yang gampang dilayani, aku percaya engkau tbidak membunuh mdanusia, akan teatapi kesulitan byang kau temui kali ini luar biasa besarnya, beberapa orang tokoh silat lihai yang ada di kota Lok-yang telang kau pancing datang semua, meskipun beberapa orang itu tidak mencampuri urusan persilatan akan tetapi ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh..." "Terima kasih atas perhatian dari cianpwee!" kata Kian Hoo sambil tertawa, "dan peristiwa pembunuhan yang terjadi kali ini, aku telah mengalami fitnahan keji dari orang lain, begitu sempurna rencana yang disusun orang itu membuat aku merasa sulit untuk mencuci diri dari peristiwa tersebut, yah apa boleh buat.,.? terpaksa aku harus hadapi semua kejadian yang bakal menimpa diriku."

Lui Thian Cun membenturkan sepasang alat pemukulnya hingga menimbulkan percikan bola api, kemudian dengan dahi berkerut serunya.

"Tentang persoalan itu aku tak mau tahu, pokoknya yang lebih penting bagiku pada saat isi adalah duel antara seruling melawan tambur, dibalik pertarungan ini sama sekali tidak terselip maksud untuk tujuan apa pun."

"Kalau memang begitu, kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu atas kemurahan hati cianpwee."

"Tuuung...!" Lui Thian Cun menjatuhkan alat pemukulnya diatas tambur hingga menimbulkan suara getaran yang keras, bumi bergoncang dan air selokan berhamburan ke-atas pantai...

Liem Kian Hoo yang menyaksikan kejadian itu air mukanya segera berubah hebat, dengan dahi berkerut katanya:

"Dentuman suara tambur cianpwee terlalu kuat, sedang tempat ini merupakan jalan raya umum, andaikata ada orang yang melewati tempat ini aku rasa agak kurang leluasa.!"

"Haaaa.... haaah... haaah.. bocah tolol kau tak usah kuatir!" sahut Lui Thian Cun sambil tertawa terbahak, "Peng To telah mengatur semuanya bagi kita, ini hari hanya kita berdua saja yang berada diatas jalan raya ini!"

Sekarang Kian Hoo baru mengerti apa sebabnya jalan raya disekitar sana luar biasa sepinya, ternyata sebelum itu telah diatur oleh mereka secara rapi. Terdengar Lui Thian Cun tertawa terbahak-bahak kembali, kemudian berseru:

"Keinginan yangr terbesar bagiktu selama hidup qadalah menghadarpi Malaikat seruling serta dewi'seruIing dengar tambur sakti penggetar langitku ini, In lt tookoh itu sukar di cari, Liu Bu wi sudah kehilangan lengannya hanya engkaulah ahli warisnya yang tidak membuat aku jadi kecewa, Nah! bersiaplah..."

"Tuuuung,..! Tuuunp,.! Tuuung..."

Kentongan tambur bergeletar kian lama kian bertambah keras, sekarang bukan saja bumi bergoncang bahkan air dalam selokan pun berombak keras dan membumbung keangkasa, membuat Kian Hoo tergetar hatinya.

Ia tahu bahwa irama tambur yang dilihatnya sekarang jauh lebih susah dimainkan daripada permainan khiem bersenar tujuh yang pernah dihadapi gurunya tempo hari sewaktu ada dijembatan kutung kota Yany liu. hawa murninya buru2 dihimpun menjadi satu serulingnya ditiup memancarkan irama tinggi melengking kemudian dengan pusatkan pikirannya dia mainkan irama pembetot sukma.

Irama tambur berat dan kasar sebaliknya irama seruling enteng tapi merdu, dua macam suara yang berbeda ternyata dapat diperpadukan oleh dua orang tokoh maha sakti itu hingga bercampur baur menjadi satu.

Tatkala irama tambur membawakan irama bernada membunuh yang berkobar se-olah2 akan merontokkan seluruh permukaan bumi. irama seruling segera mainkan nada lugu yang timbul bagaikan segulung angin musim semi yang sejuk, seakan2 belaian tangan yang halus membuat angkara murka jadi reda dan bumi pun berubah jadi tenang kembali.

Ketika pasir dengan disertai gulungan ombak yang kencang, bagaikan terkena sihir menerjang keatas tepian, tiba2 seakan-akan terbendung oleh sebuah bendungan raksasa. gulungan ombak itu membuyar kembali kedalam sungai dan berubah jadi tenang kembali.

Beberapa batang pohon ditepi selokan bergoncang keras bagaikan terhembus angin puyuh, daun dan ranting berguguran keatas tanah, kulit pohon tersayat dan berhamburan dimana-mana, dari dalam batang pohon bagaikan tersembunyi segulung kekuatan yang hendak meledak.

Tetapi dengan cepatnya kesemuanya itu berubah jadi tenang kembali...

Sampai akhirnya, irama tambur maupun irama seruling sama2 mencapai pada titik yang tertinggi...

-oo0dw0oo-