-->

Pedang Bengis Sutera Merah Jilid 3

Jilid 3

Tapi banyak orang di belakangnya menunggunya tak mungkin dia menyatakan jati diri yang sebenarnya masalahnya yang pelik, setelah berpikir lama lalu dia mengumpulkan tenaga dalamnya, dengan cara menyampaikan suara jarak jauh ke dalam lembah yang tidak bisa didengar oleh orang lain, "Wanpwe ada urusan penting ingin ketemu Sien Ce Cianpwe. dia tidak berani menyebutkan namanya, takut Ma Gwe Kiau benar ada di dalam, habis bicara, dengan langkah mantap dia mulai maju.

Semula hanya terlihat pohon-pohon pendek dan batu-batu cadas, sesudah maju beberapa puluh meter, berobahlah pemandangan di depan mata, pohon besar menutup langit, puncak kecil malang melintang, sulit untuk menentukan arah, dia kaget bercampur kagum akan formasi yang menakjubkan ini. Pui Cie berdiri di tempat, tidak mau bergerak, sekali lagi menyampaikan suara jarak jauhnya, "Mohon bisa bertemu dengan Cianpwe!" '

Tiba-tiba sebuah barang yang lancip menotok nadi kematiannya, Pui cie merasa seluruh tubuh kesemutan, dia masih bisa bicara dan bilang, "Apakah Cianpwe, Twako apakah tahu cayhe?"

Kata-katanya ternyata berpengaruh besar, terdengar suara Bo Yu Sien Ce menghardik, "Siapa kau?"

Dengn gembira Pui Cie bilang, "Wanpwe Pui Cie terpaksa merobah wajah."

Sebuah bayangan bergoyang, Bo Yu Sien Ce sudah di depan mata, tekanan di punggung Pui Cie mengendur, Ku Tien Chan tangannya yang memegang belati sudah memutar ke depan.

Pui Cie masing-masing memberi hormat, dengan sopan berkata, "Wanpwe terpaksa begini merepotkan Cianpwe dan Twako."

Ku Tien Chan berkata dengan tutur kata tidak jelas tapi masih dapat didengar, dengan suara Kua Kua Kua lalu melihat ke sekujur tubuh Pui Cie menganggukan kepala, menyatakan dia sudah terasa ini Pui Cie asli bukan tiruan.

Bo Yu Sien Ce pesan pada Ku Tien Chan, "Anak, kau awasi terus mulut lembah!"

Ku Tien Chan pergi menurut perintah.

Bo Yu melangkah dan bilang, "Ikut aku, kita duduk disana untuk berbicara."

0-0-0

Di mulut lembah Shin Kiam Pangcu sudah hadir, dia mengumpulkan Guan Cen Ce, Ti Kuang Beng, Yipha Yauci, dan komandan pengawal berunding masalah penting.

Ti Kuang Beng berujar dengan suara rendah, "Si Baju Ungu jagoan yang jarang ada, kalau bisa mendapatkannya perkumpulan kita akan bertambah jaya." Dengan suara curiga Shin Kiam Pangcu berkata, 'Asal usulnya mencurigakan, beberapa tahun ini yang menonjol hanya Pui Cie, belum pernah mendengar nama yang satu ini, siapa orang yang sanggup mengajar orang sehebat begini?..."

Guan Cen Ce menyahut, "Aku rasa kita harus kompromi lebih lanjut tentang masalah ini, orang yang hebat biasanya angkuh, kalau tidak kebetulan bukannya mendapatkan keuntungan malah sebaliknya."

Kata Shin Kiam Pangcu, "Betul sekali pendapat pimpinan."

Yipha Yauci dengan halus berkata, "Sekarang jati dirinya belum jelas, akan berbahaya sekali kalau dia sejalan dengan Ma Gwe Kiau."

Shin Kiam Pangcu dengan mata berbinar berkata, "Kalau tidak bisa tahu asal usulnya, lebih baik dimusnahkan saja, perkumpulan kita seperti pohon besar banyak tertimpa angin, musuh juga tidak sedikit, kalau dia tidak bisa dipergunakan oleh kita, juga jangan sampai dipakai oleh orang lain."

Ti Kuang Beng dengan pelan berkata, "Apa ketua bisa memberi kuasa padaku untuk mengurusnya?"

Shin Kiam Pangcu terdiam sejenak, lalu mengangguk, "Boleh!

Semua kuserahkan kau yang urus."

Ti Kuang Beng membungkukkan badan menjawab, "Aku menerima perintah."

Shin Kiam Pangcu menoleh, "Penasihat Liu!" Yipha Yauci membungkuk, "Aku disini!"

Kau bantu Ti pengurus utama khusus masalah si Baju Ungu. "Ya!"

"Peraturan tidak berubah, kalau tidak dapat digunakan oleh kita, sedapat mungkin dimusnahkan saja."

"Ya!" Setelah itu mata Shin Kiam Pangcu memandang semua orang yang ada disitu, dengan suara keras dia berkata, "Rencana semula tidak berubah, gerakan ini tetap dipimpin oleh Komandan Guan." Habis berpesan begitu seperti terbang sekejap dia langsung menghilang.

0-0-0

Pui Cie duduk di hutan bebatuan dalam formasi bersama Bo Yu menanti perkataannya.

Bo Yu dengan gemas berkata, "Shin Kiam Pangcu apakah betul Phei Cen?"

"Ya!"

"Bagaimana kau akan menghadapinya?"

"Wanpwe berencana masuk ke perkumpulannya, menanti kesempatan menangkap hidup-hidup Phei Cen, menghukum berat sesuai dengan peraturan perguruan."

"Kenapa tidak sekarang pancing dia masuk ke dalam lembah?" "Dia sangat licik dan banyak curiga, ini... susah memancing dia,

Wanpwe sejak terjatuh ke dalam  jurang sampai sekarang belum

melihat dia kembali."

Sebenarnya Pui Cie ingin sendirian menyelesaikan perintah perguruan, tidak mau dibantu oleh siapapun sebab dia adalah penerus ketua perguruan. <

Ku Tien Chan datang kedepan mereka berdua, bicara dengan gaya kaki dan tangan, mulutnya mengeluarkan suara ,"Wu.. a., i., ya...!" tetapi Pui Cie tidak paham.

Bo Yu Sien Ce berkata, "Katanya ada seorang berbaju indah bertopeng muncul lalu pergi lagi."

Pui Cie menggigit bibir, "Itulah Phei Cen!"

Bo yu Sien Ce mendadak berdiri, "Aku punya akal bisa menangkap dia." Ku Tien Cen sudah pergi lagi melihat keadaan di mulut lembah. Sepasang mata Pui Cie bersinar. Dia berkata, "Cian pwe, punya akal apa untuk menangkap Phei Cen?"

Kata Bo Yu Sien Ce, "Dua orang Biauw mencoba masuk dan telah terkurung dalam formasi. Tadinya aku mau melepaskannya, kau sebagai utusan katakan bahwa Ma Gwe Kiau berada didalam lembah ini dan dia mau berunding dengan Phei Cen mengatasi segala persoalan. Aku nanti buka formasi dan membiar dia masuk setelah itu kita robah formasinya dan menangkapnya. Bagaimana?"

Pui Cie pikir seksama, lalu dia berkata, "Menurut adatnya, dia tidak akan mudah mau mengambil resiko. Kalau siasat ini ketahuan olehnya, apa-apa yang telah aku rencanakan akan jadi sia-sia. Lebih baik lepaskan dua orang Biauw itu dulu sebagai tangga masuk ke perkumpulan mereka. Baru nanti cari kesempatan untuk membalas, sepertinya lebih aman."

Bo Yu berpikir lagi sejenak, lalu bilang, "Baiklah! Terserah padamu. Aku sudah tidak bernafsu terhadap masalah dunia persilatan. Aku hanya ingin menghabiskan masa tuaku disini. Anak dan ibu bertapa disini. Tidak mau tahu lagi masalah dunia luar." Bicaranya begitu tapi matanya jadi merah.

Pui Cie sangat terharu. Ini adalah masalah cinta generasi terdahulu. Dia tidak mau pikir siapa betul siapa salah. Ini akan terlupakan seiring waktu yang berlalu. Dia berpikir-pikir lalu bilang, "Wanpwe, mau tanya sesuatu." "Masalah apa?" "Masalah Hu Leng Hun.." "Masalah ini kau jangan ikut campur!" "Aku berhutang budi pada anaknya, Hu Sing Yi. Dia telah menolongku dari malapetaka. Dan aku pernah mengiyakan mau mencari tahu masalah ini. Bukan mau ikut campur."

Wajah Bo Yu berubah-ubah. Terakhir dia menghela nafas dan berkata, "Baiklah aku akan memberitahumu. Tapi kau harus jaga mulutmu tidak boleh bocor keluar."

Pui Cie dengan sendirinya agak tegang. Dia mengangguk dan berkata, "Aku pasti bisa menjaga mulutku." Bo Yu dengan berat hati berkata, "Hu Leng Hun adik seperguruanku..."

Pui Cie sangat kaget, diluar dugaannya, matanya sampai membelalak besar.

Boyu meneruskan, "Dia adalah satu-satunya murid pewaris yang diterima oleh almarhum ayahku. Ah! Ini sudah masalah puluhan tahun yang lalu. Tapi kejadian masih seperti di depan mata. Waktu itu dia belum dua puluh tahun. Silatnya sudah memandang tinggi. Umur muda  sudah berhasil.

Mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi dia jadi sombong. Kelakuannya di dunia persilatan tidak terkontrol dan memalukan perguruan. Karena dia menyukai seorang wanita yang jelek tabiatnya. Dia telah mencuri sebuah barang yang sangat dipusakakan oleh almarhum ayah. Ayah perintah aku untuk mencarinya..."

"Belakangan bagaimana?"

"Setelah bertemu, dia pura-pura menyesal dan mau berubah, dia menangis dan mengaku salah, aku kira dia sungguh-sungguh..." dalam mata Bo Yu terlihat kesal, sepertinya sangat dendam.

Dia bercerita lagi, "Sewaktu aku lengah, dia mendadak menyerangku..."

"Ah!"

"Waktu itu aku terluka parah. Hidup dan mati hanya dalam hitungan nafas, beruntung ditemukan oleh gurumu. Hu Leng Hun merasa takut dan melarikan diri. aku ditolong dengan susah payah oleh gurumu. Baru bisa mempertahankan nyawa ini. Untuk menyembuhkan lukaku, kami sering bersentuhan tubuh, maka..."

Pui Cie menjadi mengerti, ternyata kejadian yang sebenarnya dengan gurunya adalah begitu.

Rupanya Bo Yu sedih sekali, lama sekali dia baru bicara, "Aku memaksa gurumu. Belakangan... belakangan lahirlah Tien Chan. aku tahu suhumu telah berkeluarga, maka aku meninggalkannya. Aku mohon dalam setahun kami bertemu sekali. Dua puluh tahun sudah berlalu, dia mendadak tidak datang lagi. Saya sangat dendam. Tidak disangka dia terkena malapetaka dan cerita selanjutnya kau sudah tahu semua..."

"Ya!"

"Sampai delapan tahun yang lalu, Hu Leng Hun benar-benar insyaf. Dia tahu sendiri dosanya tak dapat diampuni. Dia datang kesini minta aku mengampuninya, dan minta diterima kembali ke perguruan dengan menghukum diri di depan altar. Tapi aku tidak mengizinkannya. Dia... menunggu disini sampai mati. Inilah kejadiannya."

"Bagaimana dengan pusaka yang dicuri Hu<Leng Hun?" "Sudah hilang. Dia tidak bisa mengembalikan pusaka itu makanya aku tetap tidak mengizinkan dia kembali ke perguruan."

"Pusaka apakah itu?"

"Sebilah Giok Ju Yi (belati terbuat dari giok)" "Giok Ju Yi?"

"Betul, belati itu terbuat dari batu giok yang berumur ribuan tahun. Luka yang bagaimanapun beratnya kalau golok itu ditempelkannya dalam waktu sekian lama dibadan maka luka itupun akan segera sembuh. Itu adalah pusaka yang jarang ada di dunia persilatan" 

Saat itu Pui Cie terharu sekali. Dia teringat masalah 'pedang raja' yang asli dan palsu. Menurut penuturan Thu Sing Sien yang dia dengarkan, Shin Kiam Pang telah menyuruh orang mencuri Giok Ju Yi dari keraton, dan menyuruh 'San Yen Pi Hu Kui' mengawal pulang. Tapi malah dibawa kabur oleh Oey Thao yang juga terbunuh waktu itu.

Belakangan Shin Kiam Pangcu memakai pedang palsu yang disebut 'Pedang Raja', untuk memancing pedang asli keluar. Pedang Raja akhirnya telah didapatkan oleh Tan Yang Ce Ayah ibuku meninggal karena kasus Pedang Raja'. Kebetulan diriku bisa mendapat rahasia pedang itu, dan berhasil mendapatkan jurus maut Pa Kiam(pedang bengis).

Sewaktu berfikir begitu, dia langsung berkata, "Belati Giok itu sudah jatuh ke tangan Phei Cen."

Bo Yu kaget setengah mati, dengan suara gemetar bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu?"

Pui Cie menceritakan kembali persoalan "Pedang Raja' itu. Bo Yu dengan suara gemetar bilang "Ini., dengan cara apapun Belati Giok itu harus didapatkan kembali."

Bo Yu berfikir cukup lama, lalu dia berkata, "Aku sudah bersumpah tidak akan terjun lagi ke dunia persilatan. Masalah ini... kau harus membantuku menyelesaikannya. Kalau sudah mendapatkan belati itu suruh anak Hu Leng Un yang mengembalikan, selanjutnya akan kumohonkan ampun dari Couwsunya atas dosa-dosa Hu Leng Hun."

Pui Cie mengangguk-angguk, "Wanpwe pasti akan melaksanakannya."

Sudut mata Bo Yu kelihatan seperti berair dia menghela nafas dan berkata, "Anak, apakah kau tetap akan menjalankan rencana ini menurut pemikiranmu?"

Sepatah kata 'anak' ini menyentuh sekali hati Pui Cie. Dia merasa hangat hatinya. Dengan nada pasti dia berkata, "Ya, Phei Cen tidak saja mendapatkan Giok Ju Yi juga telah membunuh delapan orang anak buah Khang Khang Mui, mencuri setengah buku rahasia ilmu silat. Urusan ini mereka menuduh aku yang melakukannya maka Khang Khang Mui mau buat perhitungan denganku. Ini semua sekalian akan kuurus."

Bo Yu dengan suara 'oh' dia berkata, "Baiklah, kau boleh bawa kedua orang biauw itu keluar. Kau jalankan saja semua rencanamu itu." Lalu dia membawa Pui Cie berputar-putar beberapa posisi dan menunjukan, "Orang yang terkurung didalam barisan."

Dua Orang Biauw yang terperangkap dalam formasi itu sudah tidak berkutik. Mungkin sudah terlalu lama terkurung tenaganya menjadi habis. Sekarang mereka berdua bergelimpangan disitu. Melihat Pui Cie dan Bo Yu muncul, dengan perasaan takut mereka menggeliat mau bangun.

Pui Cie membalikan dirinya dan berlutut pada Bo Yu berkata, "Wanpwe mau permisi!" setelah berkata begitu dia berdiri dan mencabut Pa Kiamnya menunjuk, "Jalan!"

Dua orang Biauw itu menjadi pucat pasi. Karena biasanya mereka bersikap angkuh, tangan masing-masing memegang pisau ..

Pui Cie berkata dengan suara dingin, "Kalau tidak ingin mati, hayilah keluar!"

Salah seorang suku Biauw dengan suara keras bertanya, "Siapa kau?"

"Si Baju Ungu!" "Kau mau apa?"

"Sesudah keluar lembah kau akan tahu. Ayo jalan!" ujung pedangnya sudah menempel di tubuh mereka.

Dua orang itu saling berpandangan, mereka mulai melangkah. Di bawah petunjuk Bo Yu mereka keluar dari barisan ajaib ini. Baru saja menampakan diri di sisi batu raksasa, ahli-ahli silat dari Shin kiam Pang sudah mengurung dua orang Biauw tadi. Melihat orang Shin Kiam Pang, mereka berdua takut setengah mati. Meraka berusaha menjauhkan diri mau...

Jari Pui Cie segera bergerak menotok secepat kilat. Keduanya langsung roboh ditotoknya. Ti Kuang Beng dan kawan-kawannya semua terkaget-kaget memandang Pui Cie. Ti Kuang Beng ke depan dan berkata, "Adik, bagaimana sebenarnya masalahnya?"

Dengan santai Pui Cie menjawab, "Kedua orang ini karena dikejar ketakutan, sembarangan menerobos masuk ke lembah, dan terperangkap disana, aku membawa keduanya keluar, setelah mendapat persetujuan Cianpwe yang ada di dalam. Masalah keberadaan Ma Gwe Kiau kau tanya saja sendiri!" Ti Kuang beng tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Bagus, sudah kuduga perkataan dan perbuatan anda sejalan."

Guan Cen Ce memandang Pui Cie dan berkata, "Tadi aku semua curiga Siauhiap sealiran dengan Ma Gwe Kiau. Maafkan kelancanganku!" sambil membungkukkan badan sikapnya menjadi berubah sekali.

Pui Cie mngangkat kedua belah tangan, "Tidak apa-apa!" dalam hati dia berkata, "Kalau saatnya telah tiba kalian satu persatu akan mati di bawah Pa Kiam ku!"

Orang berbaju indah setengah baya mendekat ke depan dua orang Biauw itu, setelah melihat sebentar, berkata, "Mohon petunjuk Komandan, bagaimana mengatur mereka."

Guan Cen Ce mengibaskan lengan jubahnya sambil berkata, "Bawalah dulu, nanti aku yang mengatur!"

Orang baju indah setengah baya itu mengangkat tangannya, segera ada dua orang pengawal maju membawa kedua orang Biauw itu pergi.

Ti Kuang Beng menunjuk orang baju indah setengah baya pada Pui Cie berkata, "Inilah Komandan pengawal Xiao Ta Chi. Kalian harus saling berkenalan."

Xiao Ta Chi membalikan badan, belum lama ini dia terluka oleh Pa Kiamnya Pui Cie. Air mukanya masih ragu-ragu, dengan terpaksa mengangkat kedua belah tangan memberi hormat.

Pui Cie juga menggenggam kedua belah tangan memberi hormat. Pui Cie juga mengangkat kedua belah tangannya membalas.

Ti kuang Beng berkata, "Adik, mari kita pindah tempat untuk mengobrol."

Pui Cie sudah menangkap apa maksud yang mau dibicarakan itu, dia mengangguk dan berkata, "Baik, silahkan!"

Ti Kuang Beng mengangkat tangan, dan melirik Yipha Yauci dan berkata, "Penasihat Liu apakah juga mau ikut?" Yipha Yauci juga mengangguk, dua laki-laki satu perempuan melangkah pergi.

Di sisi lain, Guan Cen Ce bersama para pengawal membawa kedua Biauw sudah pergi jauh.

Pui Cie, Ti Kuang Beng, dan Yipha Yauci bertiga sampai di sebuah bukit kecil. Mereka mencari tempat untuk duduk.

Ti Kuang Beng tersenyum-senyum baru bicara dengan suara rendah dan pelan, "Adik, ketua kami sangat puas dengan kepiawaianmu. Mari kita bekerja sama menjayakan dunia persilatan. Tetapi..."

Pui Cie asal bicara, "Tetapi apa?"

Dengan muka tegas Ti Kuang Beng bicara, "Menurut peraturan dunia persilatan adik harus menerangkan dulu asal-usulmu."

Pui Cie berpikir-pikir lalu berkata, "Guruku telah meninggal, tidak perlu lagi disebut-sebut." Ti Kuang Beng terdiam saja.

Yipha Yauci menyambung, "Si Baju Ungu, air ada sumbernya Pohon berakar tidak bisa asal jadi saja. Hal yang lain jangan dibicarakan dulu, kau nama dan marga saja belum pernah menyebutkan..."

Setelah berpikir sebentar, Pui Cie berkata, "Aku Ong Giok!" Ong Giok dua huruf, pecah dua dari huruf Cie.

"Ong Giok!"

"Kau jarang berkelana di dunia persilatan?" "Baru selesai menuntut ilmu."

"Ooo!"

"Apa artinya o ini? Aku tidak mengerti."

Ti Kuang Beng berdiri dan berkata, "Aku pergi sebentar anda berdua silahkan ngobrol dulu!" habis bicara sekelebat badannya sudah menghilang. Yipha Yauci menunggu bayangan Ti kuang Beng menghilang.

Dengan dingin bertanya, "Benarkah namamu Ong Giok?"

Pui Cie menyungging mulut berkata, "Lucu, apa nama dan marga bisa dipalsukan?"

Yipha Yauci sedikit tersenyum, "Masalahnya bukan aku puas atau tidak. Mesti dilihat kepuasannya ketua. Kau sudah pastikan dirimu mau bergabung dengan perkumpulan kami?"

Pui Cie berfikir, pura-pura mundur, tetapi kemudian maju berkata, "Tergantung, itu harus lihat syarat perkumpulan kalian. Aku sudah biasa hidup tidak dikekang. Sekarang harus diperintah orang... sepertinya susah juga beradaptasi." Berhenti sebentar dia mencoba memancing, "Kenapa tidak terlihat ketua perkumpulanmu?"

Yipha Yauci dengan malas menjawab, "Kalau dia ada keperluan, dia akan datang menemuimu!"

Bergejolaklah perasaan Pui Cie, jika dia sudah bertemu dengan Phei Cen akan langsung bertindak atau pelan-pelan tunggu waktu sampai saat paling menguntungkan? Sekarang orang-orang didalam gunung, semua merupakan musuh yang tangguh. Kalau mereka bergabung lagi menyerang dirinya akibatnya sulit dibayangkan.

o-o-o

Di tempat yang lain, dua orang Biauw sudah diikat di sebuah pohon. Komandan pengawal Xiao Ta Chi yang melaksanakan, dan Komandan Guan Cen Ce yang akan menghakimi.

Dua orang Biauw itu sudah terluka sekujur tubuhnya, bajunya sudah compang camping, kulitnya terbuka, dagingnya kelihatan, tampaknya seperti menjadi dua manusia darah, pemandangan yang sangat memilukan. Guan Cen Ce dengan bengis menggertak, "Hayo katakan, dimana Ma Gwe Kiau bersembunyi?"

Dua orang Biaw itu melotot dengan gemas sambil menggigit bibirnya. Sedikitpun tak mau mengeluh.

Seorang pengawal membawa ranting-ranting kering ditumpuk dibawah kaki kedua orang ini. Komandan Xiao Ta Chi dengan satu tangan menjambak rambut satu Biauw. Ditarik ke belakang. Secara sadis berkata, "Tidak mau bicara? Sekarang pandang dulu temanmu untuk contoh kau lihat." Lalu ia mengangkat tangan dan memekik, "Bakar!"

Seorang pengawal mengeluarkan pematik api. Diketikan sambil digerak-gerakan. Sebentar kemudian keluar asap, api langsung menyala di tumpukan sebelah kiri.

Saat itu tiba-tiba seorang pengawal lari ke depan, melemparkan sebungkus barang ke dalam api. "Pheng!" dengan suara keras. Asap hitam pun membumbung.

Komandan Xiao Ta Chi memekik, "Apa yang telah kaulakukan?"

Tapi pengawal itu sudah lari lagi memasuki hutan. Guan Cen Ce juga memekik, "Cepat kejar! Dia mata-mata!"

Hampir bersamaan waktunya, bergulung-gulung asap keluar dengan tiupan angin yang kencang. Bunga api berterbangan. Asap menjalar kemana-mana. Asapnya membawa wewangian.

Komandan Xiao Ta Chi sudah mengejar masuk ke hutan.

Guan Cen Ce memekik dengan suara bergetar, "Cepat mundur!

Asap beracun!"

Semua terjadi begitu cepat dan begitu mendadak. Beberapa puluh pengawal yang belum keburu bertindak sudah rubuh.

Guan Cen Ce meloncat sampai 20 meter lebih. Setelah sempoyongan dia langsung terduduk.

Dari tempat itu, suara jeritan yang mengerikan datang. Komandan Xiao Ta Chi lari terbirit-birit dari dalam hutan sambil menyeruduk kepada Guan Cen Ce, tapi sekitar lima meter dia sudah kehabisan tenaga dan terjatuh. Dia masih mencoba berkata, "Komandan... Mata-matanya ialah..." perkataannya belum habis, nafas sudah putus.

Pengawal yang menaruh racun ke dalam bara api itu muncul lagi dan langsung memutuskan tali-tali yang mengikat 2 Biauw itu. Kedua tangannya menarik 2 orang itu menyembunyikan diri dalam hutan. Gerak geriknya begitu cepat dan tangkas.

Kemudian muncul satu lagi bayangan orang seperti kilat menyemprot semacam cairan ke depan Guan Cen Ce.

Guan Cen Ce menjerit-jerit, "Ternyata kau..."

"Phing!" bersamaan dengan itu terdengar jeritan Guan Cen Ce yang kepalanya pecah, kening robek dan mati seketika.

Bayangan orang itu segera menghilang, suasana tenang kembali.

Terlihat mayat-mayat bergelimpangan

Kira-kira setengah jam kemudian Pui Cie dan Yipha Yauci sampai ditempat itu. Mata meraka memandang seluruh lokasi. Dia menjerit. Dengan gemetar berkata, "Perbuatan siapa ini?"

Pui Cie memeriksa beberapa orang pengawal terdekat dengan keras dia berkata, "Mati keracunan, ini pasti perbuatan Ma Gwe Kiau."

Yipha Yauci memutar badan ke samping memandang Pui Cie dengan gemas, "Si Baju Ungu, kau harus menjelaskan!"

Pui Cie melotot aneh, "Kita kan datang bersama, apa yang harus dijelaskan?"

0-0-0

Yipha Yauci melihat sekali lagi mayat-mayat yang bergelimpangan terkena racun itu. Lalu dengan dingin berkata, "Si Baju ungu, dari sini ke lembah tidak jauh jaraknya. Kau bilang didalam lembah tidak ada Ma Gwe Kiau, kau tidak mendapat bukti-bukti yang nyata..."

"Aku telah mengeluarkan 2 orang Biauw itu!" "Sekarang mana orangnya? Sudah ditolong kembali, apa pertanggungan njawabmu?"

"Aku tidak perlu memberi penjelasan, kau mau apa?"

"Aku tidak mau apa-apa, nanti akan ada orang yang membuat perhitungan denganmu!"

"Hah!"

Sebuah bayangan orang tiba dengan cepatnya. Dia adalah pengurus utama Ti Kuang Beng. Dengan sangat mendongkol dia berkata," Kelakuan Ma Gwe Kiau sangat kejam. Sekali gerak telah membunuh beberapa jagoan perkumpulan kita"

Yipha Yauci memandang sambil berkata, "Bapak pengurus, tadi anda kemana?"

"Menemui ketua minta petunjuk mengenai urusan adik Ong yang ingin masuk perkumpulan."

"Apa kata pangcu?"

"Tidak ketemu. Pangcu telah membawa pengawal pergi mengurus masalah yang lebih penting."

"Ow! Apakah Bapak pengurus sudah tahu apa yang terjadi disini?" "Aku mendengar suara teriakan, kemudian mengejar kesini.

Selanjutnya pergi mengejar musuh." "Ada yang tertangkap?"

"Lolos semua!" "Siapa?"

"Mengapa Liu penasihat menanyakannya? sudah pasti ini adalah perbuatan Ma Gwe Kiau."

"Kemana arah pihak lawan?" "Kabur ke sebelah Barat." "Pengurus utama bukankah sudah mempunyai cara yang sempurna untuk mengatasi Ma Gwe Kiau? Mengapa sampai dia bisa...?"

"Dia membawa empat jagoan yang belum jelas dari mana. Aku..." waktu bicara mengangkat lengan terlihat bajunya yang robek, lengan atas kena tiga goresan pedang yang masih bercucuran darah.

Pui Cie tergerak hatinya, rupanya Ma Gwe Kiau bermaksud melawan Phei Cen.

Yipha yauci berpikir-pikir lalu memandang Pui Cie, dia berkata, "Menurutku, lembah misteri yang diblokir formasi aneh itu yang paling bermasalah."

Ti Kuang Beng menurunkan lengannya. Dengan suara rendah dia berkata, "Aku yakin urusan ini tidak ada hubungannya dengan orang yang berada didalam lembah."

"Berdasarkan apa bapak pengurus berkata begitu?"

"Mata-mata perkumpulan kita disana sama sekali tidak melihat gerakan apa-apa."

"Susah dikatakan!"

"Kita harus segera menemui pangcu biar dia yang memutuskan."

"Yang ini..." "Sekalian ikut!"

Pui Cie girang sekali. Ma Gwe Kiau sekali bikin keributan 2 orang musuh tangguh sudah terbasmi. Sekarang agak ringan tekanannya untuk melawan Phei Cen. Kalau ada kesempatan bisa menyingkirkan laki dan perempuan didepan mata ini, sudah tidak usah kuatir dengan pengawal elit yang tersisa. Hatinya berfikir begitu, mukanya sedikitpun tidak menunjukan apa-apa.

Yipha Yauci mengerutkan dahi, "Bagaimana membereskan tempat ini?" Ti Kuang Beng berfikir sejenak, "Nanti suruh yang lain kesini mengurusinya. Kita lebih penting bertemu pangcu untuk melaporkan kejadian ini semua."

Yipha Yauci menghela nafas berkata, "Kalau begitu mari kita berangkat saja!"

Ketiganya langsung menuju arah jalan keluar pegunungan.

Yipha Yauci berjalan didepan kedua orang itu. Selendang sutra merahnya melambai-lambai tertiup angin. Gaya jalannya luwes seperti dewi turun dari khayangan. Sambil memeluk phipha, daya pikatnya sungguh luar biasa, penuh pesona.

Pui Cie tidak ada hati menikmati ini semua. Dia sedang memperhitungkan apa langkah yang harus ditempuh setelah bertemu Phei Cen.

Saat maghrib ketiganya segera naik ke atas puncak tunggal sewaktu Pui Cie didesak masuk kedalam jurang itu. Dia mendadak merasa terharu dengan tempat ini. Dalam hatinya timbul hasrat membunuh untuk membalas sakit hatinya.

Kenapa datang ke tempat ini lagi?

Kenapa tidak terlihat sosok Phei Cen dan para pengikutnya?"

Yipha Yauci pelan-pelan jalan menuju bibir jurang. Diam bengong disana.

Ti Kuang Beng dengan suara keras meledeknya, "Penasihat Liu, aku tahu kau sedang memikirkan apa."

Yipha Yauci tidak menoleh. Pelan sekali dia menjawab, "Pikirkan apa?"

Ti Kuang Beng berucap, "Kau sedang melamun Pui Cie..."

"Teng" Hati Pui Cie bergetar, dia semula sudah merasa perasaannya. Tapi dia tak mau menghiraukan. Karena waktu dia jatuh ke dalam jurang justru Yipha Yauci yang membuat umpannya, sekarang Ti kuang Beng membuka rahasia, dia juga tak tahu bagaimana perasaan hatinya. Yipha Yauci menoleh dan berkata, "Pengururs Utama, apa artinya perkataanmu itu?"

Ti Kuang Beng bilang, "Apa yang ada dalam hatimu akan terpancar dari luar. Itu tak bisa disembunyikan dari pandangan orang lain. Orang selalu tidak merasa telah membocorkan rahasia isi hatinya, terlebih gadis yang penuh khayalan..."

Yipha Yauci jalan lagi. Mata berbinar dan bilang, "Aneh, kau kenapa punya pemikiran seperti itu?"

"He.. he.. he..", Ti Kuang Beng tertawa-tawa seenaknya terus berkata, "Sayang dia sudah mati, kalau dia didalam sana tahu, hatinya juga tentu akan tentram!"

Alis mata Yipha Yauci ternangkat, "Kau cemburu?"

Sikap dan gayanya yang begitu ceriwis, Pui Cie merasa muak. "Ha., ha., ha..", Ti Kuang Beng tertawa lagi, berkata, "Aku tidak

akan cemburu terhadap orang yang telah mati. Sudahlah Penasihat

Liu, jangan sampai ditertawakan oleh adik ini, Mari kita bicarakan pada persoalan yang serius saja. Kenapa Pangcu dan orang-orangnya semua belum kelihatan?"

Saat itu juga seorang pengawal elit muncul dari kegelapan, dengan satu kaki melutut, menggenggam kedua tangannya sambil memberi hormat, "Hamba Peng Wei, menemui pengurus utama dan penasihat!"

Ti Kuang beng mengangkat tangan, "Kepala bagian Peng.

Bangunlah!"

Peng Wei bangun lalu berdiri dengan sikap hormat, "Hamba mendapat perintah dari Pangcu, bahwa urusan dalam gunung ini harap ditangani oleh pengurus utama dan komandan, sedangkan Penasihat Liu harap segera pulang ke markas."

Ti Kuang Beng mengerutkan kening, "Mana Pangcu?" Peng Wei menjawab, "Sudah kembali ke markas." Pui Cie menjadi lesu, tidak disangka Phei Cen sudah kembali kemarkasnya, sekarang untuk mencari dia kembali menjadi bertambah sulit, sangat mengecewakan. Kenapa dia mendadak tidak mau mengejar dan membunuh Ma Gwe Kiau lagi? Sepertinya dia belum tahu bahwa komandan Guan Cen Ce dan komandan pengawal elit Xiao Ta Chi sudah terbunuh.

Ti Kuang Beng menghela nafas bertanya, "Apakah Pangcu masih ada pesan yang lain?"

Peng Wei melirik-lirik Pui Cie, dengan tersendat-sendat dia bilang, "Ada yang berhubungan..."

"Apa?"

"Silakan, bisakah kita bicara disana." "Hm!"

Ti Kuang Beng dan kepala bagian Peng itu bergeser menjauh, lebih 10 meteran jauhnya. Setelah berbisik-bisik sebentar kemudian berbalik lagi ke tempat semula. Ti Kuang Beng tersenyum-senyum pada Pui Cie dan berkata, "Adik, terpaksa pertemuanmu dengan pangcu harus ditunda. Setelah sepuluh hari kita bertemu lagi di Cao Yang dan kita berunding lagi disana. Bagaimana?"

Pui Cie jadi curiga dalam hati berpikir. Apakah pihak lawan telah menemukan sesuatu yang tidak beres? Dengan asal asalan dia menjawab, "Bagaimana nanti saja!"

Ti Kuang Beng memandangi Yipha Yauci dan berkata, "Penasihat Liu, harap laporkan pada pangcu apa yang telah terjadi sore tadi. Sekarang aku mau cari orang-orang untuk membereskan ini semua. Kita harus menunggu pangcu memberi perintah lebih lanjut."

Yipha Yauci mengangguk, "Ya, nanti aku akan minta petunjuk pangcu!"

Ti kaung Beng membalikkan kepalanya, berkata, "kepala bagian Peng!"

"Hamba disini!"  "Dalam gunung masih ada berapa saudara-saudara kita?" "Dua belas orang!"

"Bagus! Cepat kumpulkan semua dan tunggu perintah!"

"Ya!"

Kepala bagian bermarga Peng itu kemudian berlalu setelah memberi hormat.

Pikiran Pui Cie terus berputar, "Saat ini adalah kesempatan yang paling baik untuk membasmi sepasang laki perempuan ini. Tapi... kalau dibunuh sekarang jalan untuk mendekati Phei Cen menjadi terputus... Ah,' lebih baik sabar dulu!"

Yipha Yauci berjalan dengan langkah gemulai. Kemudian berkata, "Kalau begitu, aku berangkat dulu!"

Ti Kuang Beng mengangguk sambil berkata, "Silakan penasihat Liu, sepuluh hari kemudian kita bertemu lagi di pusat perkumpulan!"

Yipha Yauci memandang Pui Cie dan berkata, "Sampai ketemu lagi!" Selendang sutra merahnya melambai-lambai, dia sudah jalan pergi dikeremangan malam.

Sekarang tinggal Ti Kuang Beng dan Pui Cie berdua di atas bukit tunggal itu. untuk membunuhnya menjadi sangat mudah.

Ti Kuang Beng seperti bergumam, "Benar-benar tidak terduga!"

Pui Cie dengan tidak mengerti bertanya, "Apa yang tidak terduga?"

Ti Kuang Beng merendahkan suaranya berkata, "Sebenarnya aku tidak boleh berkata apa-apa tapi sekarang karena tinggal dirimu dan aku, pasti kau tidak bisa membayangkan, bahwa ternyata Pui Cie tidak mati!"

Hati Pui Cie terguncang keras, sengaja bersuara kaget," apa... Pui Cie tidak mati?"

"Ya!" "Bagaimana ceritanya?"

Ti Kuang Beng tercengang, dia seperti tidak sengaja kelepasan bicara mengenai rahasia ini. Tentu saja mimpipun dia tak akan menyangka siapa orang didepannya ini. Karena dia sangat percaya diri, sangat cepat berpikir dengan suara berbisik dia berkata, "Sebenarnya rahasia ini tidak boleh bocor. Tapi aku percaya padamu, tidak mau membohongimu. Disinilah tempat Pui Cie terdesak jatuh kejurang..."

Pui Cie mundur satu langkah besar, membelalakan sepasang matanya dan berkata, "Siapa yang berkemampuan begitu besar, bisa mendesaknya jatuh kejurang?"

"Pangcu turun tangan sendiri."

"Ow.. kemudian bagaimana dia bisa tahu tidak mati?"

"Satu jam yang lalu, Pangcu menyuruh orang turun ke jurang untuk memeriksa, dan ternyata tidak menemukan mayatnya!"

"Terjerumus ke dalam jurang tidak mati? Ajaib sekali!" "Benar-benar tidak bisa dipikirkan dengan akal!"

"Kalau begitu., apakah perkumpulanmu dan Pui Cie ada persoalan?"

"Em!"

"Seperti apa persoalannya?"

"Itu persoalan lama, aku orang baru, tidak tahu detail-detailnya. Kabarnya... Dia banyak membunuh jagoan-jagoan perkumpulan kami, boleh dibilang air dan arang tidak bisa disatu tempat."

Pui Cie merasa geli, dia memancing dan bertanya lagi, "Boleh tahu siapa nama pangcu anda?"

Ti Kuang Beng tertawa dan dengan kikuk berkata, "Maaf, ini., lain kali aku kasih tahu." Berhenti sejenak, lalu memutar pokok pembicaraan. "Menurut berita, mata-mata kami pernah melihat jejak Pui Cie di luar gunung, maka pangcu kami cepat-cepat pulang ke markas mencari akal untuk mengatasi ini semua.

0-0-0

Pui Cie sengaja tertawa terbahak-bahak, dia berkata, "Kalau Pui Cie tidak mati, berarti keinginanku cepat lambat pasti bisa terlaksana!"

"Kau tetap akan bertarung dengan Pui Cie?"

"Ya!" Mulutnya berkata ya tapi dalam hatinya bergejolak terus, diluar gunung ini bisa menemukan jejak Pui Cie, siapa yang telah menyamar sebagai dirinya? Teringat akan anak buah Khang Khang Mui Ying Ce Jen' dan yang lain-lainbya, lima orang tua tiga anak muda semua yang sudah mati terbunuh, dan pembunuhnya telah membawa kabur setengah buku pusaka yang tak terhingga nilainya, apakah semua perbuatan si penyamar? Tadinya dia mencurigai perbuatan Phei Cen, tapi ternyata perkiraannya ternyata salah.

Ti Kuang beng berkata lagi, "Adik, sepuluh hari kemudian kita bertemu di Cao Yang!"

Pui Cie segera mengangguk, Phei Cen sudah pergi dia tak perlu berlama-lama lagi di dalam gunung ini, sekarang lebih penting adalah mencari orang yang menyamar dirinya. Kasus berdarah terbunuhnya Ying Ce Jen' dan anak buahnya, dia yang harus menanggung akibatnya, siapa tahu si penyamar ini akan melakukan sesuatu lagi?"

Ti Kuang beng menggenggam kedua tangannya berkata, "Adik jaga diri baik-baik, aku mau pergi untuk berjaga-jaga."

Pui Cie juga membalas hormat kembali, "Silahkan!" Ti Kuang Beng sedikit menggerakan tubuhnya, orangnya sudah melayang pergi.

Pui Cie memandangi bayangan punggung Ti Kuang beng yang menghilang, diam-diam dia berfikir dalam hatinya, "Sebenarnya kepandaian Ti Kuang Beng tidak lebih unggul dari Guan Cen Ce. Juga dengan komandan pengawal elit Xiao Ta Chi. Ma Gwe Kiau dan anak buahnya bisa dengan mudah membunuh mereka, kenapa tidak mampu menghadapi Ti Kuang Beng dan beberapa orang pengawalnya? Mereka bertahan di gunung ini apa yang diandalkan?..."

Dalam kegelapan malam, Pui Cie bergerak menuju mulut gunung. Setengah jam kemudian kira-kira sudah menempuh sepuluh lie, tiba- tiba terdengar suara phipa yang begitu merdu. Hati Pui Cie tersentak dan terpaku di tempat/Dia berfikir, "Yauci sudah mendapat perintah pulang ke Cao Yang, ke pusat Shin Kiam Pang, kenapa sekarang di tengah jalan malah memetik phipa? Suara phipa begitu sendu penuh kedamaian, sepertinya bukan sedang menghadapi musuh."

Sesosok bayangan berselendang merah telah muncul di alam pikirannya, Pui Cie mencoba tak mau pedulikan, tapi ternyata dia tak bisa mengabaikan perasaan aneh itu dalam hatinya. Dia mengamati arah datangnya suara phipa sepertinya datang dari tempat yang tidak begitu jauh, tidak terasa dia berjalan menuju kesana lagi.

Sebuah aliran sungai kecil, turun dari bebatuan di atas lembah, samar-samar bisa terlihat pantulan sinar dari riak gelombang yang terpancar. Di atas batu sungai, Yipha Yauci duduk sambil memetik phipa, nada-nada yang merdu keluar dari jari jemarinya, mengalun di kegelapan malam siapapun yang mendengarnya akan merasa begitu tenang dan nyaman.

Sebelum sampai dipinggir sungai, dia berhenti dan melamun sejenak, bola mata berputar, tiba-tiba dia melihat bayangan Yipha Yauci kira-kira sepuluh meteran di atas batu, dibelakangnya berdiri juga sebuah bayangan menusia yang berbaju putih bertutup muka, di pinggangnya terselip sebuah pedang panjang mirip sekali dengan dirinya sendiri, darahnya mendadak mendidih, dalam hatinya menjerit, "Itulah orang yang menyamar diriku!"

Kebetulan sekali, tak usah bersusah payah lagi mencarinya!"

Rasa ingin membunuh, mengalir kencang bersama dengan aliran darahnya.

Suara phipa tiba-tiba berhenti mendadak, Yipha Yauci seperti merasa ada yang mengawasinya, pelan-pelan membalikkan badan menghadap orang berbaju putih, dan berkata dengan suara manja, "Pendekar muda Pui, apakah kau masih tidak mau memaafkan aku?"

Orang berbaju putih dengan pelan berkata, "Jangan bicara soal maaf, aku orang yahg sudah berkeluarga, aku tidak bisa memenuhi keinginan nona."

Dia terang-terangan mengaku dirinya sebagai Pui Cie. Suaranya juga mirip, juga berani berkata bahwa dia sudah berkeluarga. Pui Cie yang sebenarnya menjadi marah, emosinya tak tertahankan badannya sampai gemetaran, susah membendung rasa ingin membunuhnya!

Yipha Yauci tertawa renyah lalu berkata, "Aku tak peduli kau sudah beristri atau belum, aku hanya ingin menjadi sahabatmu."

Orang berbaju putih berkata lagi, "Kita sekarang kan sudah berteman. Di dunia persilatan kalau bukan musuh pasti teman."

Yipha Yauci sudah tidak merasa malu lagi berkata, "Tidak! Yang aku maksud, teman yang lebih. Bukan teman yang seperti biasa!"

"Apa maksudmu...?"

"Teman yang bisa berbicara lebih dekat, bisa bicara dari hati ke hati."

"Nona Liu, jangan lupa perkumpulanmu denganku seperti api dan air, tidak bisa hidup bersama!"

"Aku bisa meninggalkan Shin Kiam Pang!" "Kenapa harus begitu?" "Sebab... aku ingin berteman denganmu.."

"Patut atau tidak itu hanya pendapat orang saja. Urusan dtinia ini kadang-kadang juga susah diberi kepastian!"

Pui Cie sudah tidak tahan, sekali bergerak tubuhnya melayang turun diantara keduanya.

Yipha Yauci segera turun dari atas batu tidak terasa memekik, "Si Baju Ungu!"

Pui Cie memandangi terus si penyamar itu.

Si baju putih tertawa renyah dan berkata, "Sobat, katanya kau mau bertarung denganku?"

Pui Cie merasa geli juga mendongkol, dia bertanya, "Kau apakah benar Pui Cie?"

Si baju putih tertawa, "Ha., ha., ha., lucu benar, apa artinya semua ini?"

Pui Cie dengan kecut berkata, "Dalam hatimu kau sudah mengerti itu semua."

"Aku tidak mengerti." Sambil berkata badannya sudah melayang turun dari batu.

Kata Pui Cie, "Buka topengmu! Pui Cie selamanya tidak pernah memakai topeng."

Si Baju Putih secara sadis berkata,"sobat, maksudmu mencariku adalah untuk bertarung pedang, urusan yang lain tidak perlu dibicarakan. Pertama, sebutkan dirimu dari mana, dan apa sebabnya mau bertarung pedang denganku?"

Bertarung pedang, itu alasan yang dikarangnya setelah dia berobah rupa, tidak disangka sekarang benar-benar bertemu dengan orang yang menyamar sebagai dirinya sendiri, penyamarannya terpaksa sekarang harus dipertahankan dengan benar-benar. Karena pihak lawan sudah mengaku sebagai Pui Cie, jadi apa boleh buat biarkan saja kesalahan ini berlangsung terus, yang penting selidiki dulu kasus berdarah Khang Khang Mui, nanti baru menentukan tindakannya. Sekarang karena sudah ada orang yang menyamar menggantikannya, semua malah bisa mengalihkan sasaran Shin Kiam Pang, tidak jelek malah ada baiknya untuk diri sendiri.?

Sambil berfikir begitu dia sengaja dengan suara serak berkata,"Pui Cie, kita main-main dulu, urusan lain nanti dibicarakankan lagi."

Si Baju Putih berkata, "Aku selalu tidak suka ribut dengan orang lain, apalagi terhadap masalah yang bukan-bukan, orang pintar tidak mau mencari banyak masalah!"

"Enak kedengarannya, kau tidak berani?" "Tidak berani? Ha., ha., ha..!"

"Cabutlah pedangmu!"

"Sobat, kau ingin menjadi terkenal atau ada maksud lain?" "Anggaplah ingin terkenal. Hayo cabut pedangmu!"

"Aku sudah bilang, tidak sembarangan menggunakan pedang." "Aku menantangmu!"

"Aku tidak mau menerima tawaran yang tidak berguna!"

Pui Cie bermaksud mendesaknya "Chiang!" pedang sudah dicabut, dengan asal-asalan pedangnya digoyangkan, "Tidak bertarung juga boleh, asal buang pedangmu dan mengaku kalah. Dari sekarang hapus namamu, aku tidak akan bikin perhitungan lagi!"

Yipha Yauci dengan sinis berkata, "Si Baju Ungu, aku tidak percaya berapa besar kemampuanmu? Sombongnya sampai begitu. Sadarlah! Nyawa sangat berharga, jangan membodohi diri sendiri!"

Pui Cie melihat dia sebentar, bertanya, "Nona Liu, kenapa? Apakah kau merasa sebal?"

"Seperti nya."

"Kalau begitu jangan turut campur!"

"Kau berani benar ngomong begitu padaku!" "Aku sudah baik sekali kepadamu!" "Apa betul?"

"Terus terang, sekarang kau tidak punya kesempatan bermain curang padaku."

"Bagus! Sekarang mari kita bertarung.." dengan berjalan kehadapannya, phiphanya dipegang terbalik. Gayanya sangat aneh. Lantas dia bilang,"ayo silahkan menyerang dulu!"

Dalam hati Pui Cie berkata, "Aku tidak membunuhmu karena takut menggangu urusan yang lebih penting. Kalau tidak kau sudah mati beberapa kali, aku akan menghancurkan phipa jelekmu, aku mau lihat kau akan seperti Sun Go Kong kehilangan pentungan emas, apa masih bisa bertingkah? Berfikir begitu, Pa Kiamnya tiba-tiba tidak terasa sudah diangkat, sorotan mata penuh kejengkelan.

Saat itu juga mendadak datang beberapa bayangan orang.

Pui Cie begitu menengok hatinya terguncang, nafaspun menjadi cepat. Orang-orang yang mendadak datang ternyata adalah Hie Ki Hong, yang telah resmi menjadi istrinya. Dia sekarang sudah tidak memakai baju putih, tapi diganti dengan dandanan kain tenunan keraton, yang datang bersama dengannya adalah ibu tetua Nenek Iblis Cakar Hantu, Kui Jauw Mo Pho. Dan dua orang dayang berbaju hijau.

Mereka muncul pada saat ini adalah diluar dugaan Pui Cie. Sudah tentu setelah dia menyamar dan mengganti penampilan, saat ini dia adalah si Baju Ungu siapapun tidak akan mengenal dia.

Kedatangan keempat orang ini juga diluar dugaan Yipha Yauci, dengan tidak terasa dia mengundurkan diri ke pinggir.

Rombongan Hie Ki Hong langsung mendesak ke depan si Baju Putih.

Kui Jauw Mo Pho membuka suara, "Pui Cie untuk menemukan dirimu ternyata sulit sekali, sekarang ayo pulang bersama kami. Kau tidak boleh begitu saja pergi!" Si Baju Putih segera dengan kalem berkata, "Aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan!" Dia masih tetap berpura- pura sebagai Pui Cie.

Hati Pui Cie yang asli terasa mau meledak. Bagaimanapun juga, Hie Ki Hong istrinya, dia tidak rela kalau istrinya ditipu oleh si penyamar.

Yipha Yauci secara kaku bertanya, "Apa hubungan kalian dengannya?"

Hie Ki Hong membalikan badannya menatap beberapa kali kepada Yipha Yauci dan dengan dingin bertanya, "Kau siapanya dia?"

Yipha Yauci dengan acuh saja berkata, "Sahabat yang baru kenal.

Bagaimana?"

Hie Ki Hong gemas sampai badannya bergetar, balik memelototi si Baju Putih.

Kui Cau Mo Pho mendehem berkata dengan marah, "Hai, perempuan serigala, tinggalkan dia jauh-jauh. Kalau tidak kau akan menyesal."

Yipha Yauci berkata, "Jangan asal buka suara menyakiti orang, kau nenek-nenek berdasarkan apa berani memerintahku?"

Kui Jauw Mo Pho menjawab, "Tidak berdasarkan apa-apa, hanya kau tidak boleh menggaet laki-laki yang sudah beristri!"

"Laki-laki beristri?" ' "Em!"

"Ah! aku sudah mengerti, ternyata..."

Pui Cie sudah tidak tahan lagi, sekali melangkah sudah sampai di depan si Baju Putih, dengan garang berucap, "Kalau kau masih tidak tahu diri, aku bisa buat mayatmu langsung terkapar disini."

Si Baju Putih dengan sendirinya mundur dua lankah besar.

Hie Ki Hong dengan marah memandang Pui Cie, menyentak keras, "Siapa kau?" Sakit betul hati Pui Cie, ini istrinya atau musuhnya? Ayahnya adalah ketua perkumpulan San Chai Men, Hie Bun-Cun menggunakan siasat telah menyelenggarakan perkawinan yang tidak wajar, membuat Kim Hong Ni kesal dan membunuh diri. Secara tidak langsung korban lainnya adalah adik kandungnya, Lie Se Kian. Karena Li Se Kian terlebih dulu diakui sebagai istrinya yang resmi, drama keluarga tragis begini entah bagaimana nantinya?

Kui Jauw Mo Pho menyentak bertanya, "Siapa kau?"

Yipha Yauci menjawabkan, "Dia namanya si Baju Ungu. Ahli pedang yang merasa dirinya paling hebat. Mau bertarung dengan Pui Cie."

Kui Jauw Mo Pho dengan sinis berkata, "Cari mati!"

Pui Cie marah pada si Baju Putih, "Buka tutup mukamu, kalau tidak aku akan menyerang dirimu!"

Kui Cai Mo Pho menyentak, "Kau benar-benar mau cari mati?"

Keadaan jadi kalut, hanya si Baju Putih yang keadaan sebenarnya jelas bagi Pui Cie. Hati Pui Cie kusut sekali, kalau dia menyerang si Baju Putih, Kui Jauw Mo Pho pasti membelanya, akibatnya bisa fatal, yang paling susah yaitu bongkar rahasia si Baju Putih. Berfikir begitu, dia langsung bicara secara keras, "Apakah kau sudah yakin dia Pui Cie?"

Kui Cai Mo Pho tercengang bertanya, "Apa artinya?"

Pui Cie berkata, "Kenapa tidak suruh dia membuka penutup mukanya?"

Hie Ki Hong sedikit curiga bertanya, "Apelkah.. Dia.. "

Kui Cai Mo Pho langsung memotong, "Jangan dengarkan dia! aku kenal suaranya."

Pui Cie mendongkol sampai keubun-ubunnya, pedang di tangannya langsung diangkat, "Aku lawan dirimu!"

Kui Jauw Mo Pho menghardik, "Berani kau!" sepasang jari tangan seperti kaitan halilintar langsung mencakar. Hie Ki Hong memakai pukulan tangan.

Pui Cie tidak berani menggunakan pedang terhadap mereka berdua. Hanya secepat kilat dia menghindar. Badannya tidak berhenti di udara membuat gerakan setengah lingkaran. Pedang dalam genggaman cepat sekali menggulung ke si Baju Putih.

Si Baju Putih ternyata gerakannya sangat menakjubkan dengan enteng saja dia sudah bisa keluar dari lingkaran pedang Pui Cie.

Bersamaan itu, Kui Cai Mo Pho dan Hie Ki Hong memukulkan telapaknya masing-masing, kerasnya pukulan seperti angin puyuh menggulung, Pui Cie terkena getarannya sampai terhuyung-huyung. Yipha Yauci yang tepat berada di tempat mundurnya Pui Cie. Dia mengangkat phipha mencoba menghantam punggung Pui Cie.

"Stop” terdengar suara pekikan, segumpal angin keras melanda Yipha Yauci hingga terdorong mundur tiga langkah. Yang melakukan ternyata adalah si Baju Putih.

Kata si Baju Putih, "Menyerang orang dalam keadaan tidak siap adalah tidak pantas!"

Pui Cie kaget, tidak terpikirkan bahwa si Baju Putih dalam keadaan terdesak malah membantunya.

Yipha Yauci dengan pipi menggembung mengomel, "Orang baik hati membantumu, malah disebut menggunakan kesempatan orang dalam bahaya.."

Si Baju Putih tiba-tiba dengan suara keras berkata, "Si Baju Ungu, mari aku terima tantanganmu!"

Pui Cie menarik nafas dalam-dalam, "Bagus!" "Tapi jangan disini!"

"Pindah tempat?"

"Betul, aku tidak suka ada orang ketiga yang turut campur!"

Perkataan ini cocok dengan keinginan Pui Cie sehingga dia langsung menjawab, "Baik! dimana?" Kata si Baju Putih, "Ikutlah!" Kui Jauw Mo Pho memalingkan badannya berkata, "Tidak boleh pergi!"

Si Baju Putih bertanya, "Kenapa?" "Selesaikan dulu semua persoalannya!" "Persoalan apa?"

"Kau mau bagaimana mengatur dia?" yang dimaksud dia adalah Hie Ki Hong.

"Bagaimana kalau nanti aja!" "Tidak ada nanti! Harus sekarang!"

"Maaf, aku mau menentukan dulu siapa yang lebih jago dengan si Baju Ungu!" Habis bicara bayangan putih melesat sudah seperti hantu saja menghilang di kegelapan malam. Cepatnya tidak dapat dibayangkan.

Yang ada di lapangan semua kaget. Pui Cie pun terkagum-kagum.

Hie Ki Hong berkata dengan suara gemetar,"Lau-lau..Kita.. harus bagaimana?"

"Tunggu dia di dalam gunung!" "Kita keluar gunung saja!" "Kenapa?"

"Dia., tidak mau denganku lagi!"

"Tidak mungkin begitu, kesatu aku tidak mengizinkan!"

Hati Pui Cie tidak menentu rasanya, sesudah dipikir-pikir, lihat saja nanti belakangan. Begitu melompat langsung dia mengejar, dia tidak mau lawannya kabur. Kalau tidak dia nanti akan menemui kesulitan dikemudian hari.

Diam-diam Yipha Yauci juga meninggalkan tempat itu.

Sepanjang jalan Pui Cie berlari sekencang-kencangnya. Menyebrang gunung, membalik bukit dan menyebrang sungai, menerobos hutan. Tapi tidak terlihat bayangan si Baju Putih, dengan membabi buta mengejar kira-kira tujuh sampai delapan mil, sesudah cukup lelah dia menghentikan larinya. Timbul perasaan kesalnya sampai giginya gemertakan.

Gunung berderet-deret, sungai berbaris-baris. Hutan tiada tepi. Si Baju Putih badannya ringan seperti setan, untuk mencarinya bukan sebuah pekerjan yang mudah, kalau bukan karena kemunculan Hie Ki Hong urusan ini pasti sudah selesai. Pui Cie terbengong tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di depan mata bergoyang bayangan Hie Ki Hong yang susah dilupakan. Istrinya seperti orang asing, perkawinan apakah ini? Ingin melupakan! Tapi apa bisa dilupakan?

Perasaan sedih mencengkram kencang hati Pui Cie. Tiba-tiba si Baju Putih seperti malaikat muncul di depan mata.

Pui Cie tersentak. Pihak lawan ternyata masih berani menampakan dirinya. Benar-benar diluar dugaan. Beberapa saat mereka berdiam saling berpandangan, akhirnya Pui Cie berbicara duluan, "Saat ini hanya ada kau dan aku, terus terang sajalah siapa sebenarnya dirimu?"

"Kau juga, siapa dirimu sebenarnya?" "Si Baju Ungu!"

"Ha., ha., ha., kau boleh dipanggil si Baju Ungu tapi kenapa aku tidak boleh dipanggil Pui Cie?"

"Lancang benar mulutmu!"

"Kalau begitu, aku harus bagaimana?"

"Cabut pedangmu! Pedang akan memberimu jawaban!" "Aku tidak mau bertarung denganmu!"

"Omong kosong!"

"Si Baju Ungu, kau lupa kalau tidak ada aku, Phiphanya Yauci sudah membekas di punggungmu?"

"Aku tidak minta dirimu membantu!" "Ha.. Ha., ha.." Si Baju Putih tertawa, "Aku juga tidak mau memjadi Pui Cie lagi! Sandiwara ini cukup sampai disini!" sambil bicara dia melepas baju putihnya, dan membuang pedangnya pula.

Pui Cie membelalakan mata, tidak tahu pihak lawan mau berbuat apa.

Si Baju Putih memegang saputangan penutup muka, tertawa-tawa bilang, "Bagaimana kalau kau tetap sebagai Pui Cie?"

Pui Cie kaget bukan kepalang sepatah katapun tak bisa diucapkan.Saputangan lepas ditarik, muncul sebuah muka yang tidak asing.

Yang menyamar sebagai Pui Cie ternyata adalah Bo Ta Su Sheng, Sastrawan Pengecut Hu Sing Yi, yang sudak kembali ke suara aslinya berkata, "Twako, aku terpaksa melakukan semua ini!"

Pui Cie dengan suara bergetar bertanya, "Mengapa?"

Sastrawan Pengecut merendahkan suaranya berkata, "Aku melihat sendiri ketua Shin kiam memakai tali menurunkan pendekar-pendekar kedalam jurang mencari Twako, kesimpulannya ternyata terbukti Twako tidak mati. Tentu sekarang mereka semua akan mengerahkan tenaga mencari Twako, aku pikir lebih baik aku menyamar sebagai Twako, suara maupun rupa. Dua kali menampakkan diri. Ini sangat membantu bagi jati diri twako sekarang. Mereka tidak akan menyangka dan mencurigai Twako lagi."

Pui Cie teringat peristiwa berdarah Khang-Khang Mui dengan suara rendah berkata, "Adik Hu, apakah dulu juga pernah menyamar sebagi diriku?"

Bo Ta Su Seng dengan sungguh-sungguh berkata, "Belum pernah!

Ini pertama kali dan juga akan jadi terakhir kali."

Pui Cie tidak langsung percaya lalu bertanya, "Adik Hu kenapa mau berbuat begitu?"

"Membantumu!"

"Apakah tidak takut bertemu dengan musuhku?" "Masalah ini aku percaya, aku tak berani bertarung dengan orang lain. Tapi bila mencari jalan untuk kabur. Ini adalah kepandaianku yang paling istimewa, sampai sekarang tidak ada orang bisa menangkap aku."

"Benar... begitukah?"

"Tiap huruf itu semuanya benar."

Pui Cie tidak bisa berkata apa-apa, kenyataannya tidak percaya pun harus percaya.

Sastrawan pengecut berkata lagi, "Barusan yang memakai baju keraton apakah istri Twako?"

Dengan nafas tersendat, Pui Cie mengatupkan giginya, "Aku tidak mau membicarakan soal ini."

Sastrawan Pengecut berkata lagi, "Maaf, Siaute lancang bicara!" Suaranya mendadak jadi agak sedih, "Twako sudah mencoba mencari tahu bagaimana meninggalnya almarhum ayahku?"

Pui Cie mendesah, hatinya berfikir, haruskah ceritakan saja sejujurnya? Kalau dia sudah tahu sebenarnya, bisa terjadi bagaimana? Akankah membalas dendam pada Bo Yu Sien Cie? Belum habis pikir, Sastrawan Pengecut dengan pelan berkata, "Ada orang datang, silahkan twako hadapi?" habis berkata itu dia langsung bergerak menghilang.

Pui Cie mencoba mendengar, ternyata ada suara yang sangat ringan menerobos ranting menyisikkan daun-daun. Dia sangat memuji ketajaman pendengaran Sastrawan Pengecut, Dia berfikir lagi, kalau sekarang yang datang adalah istrinya Hie Ki Hong, harus bagaimana nanti menghadapinya?"

Suara itu bertambah dekat, Pui Cie pikir lebih baik menghindar saja, tapi hatinya tak mengizinkan, setelah dipikir lagi, dengan terpaksa dihadapinyalah. Dia sengaja jalan dengan suara keras.

Sesosok bayangan muncul, yang datang ternyata adalah Yipha Yauci, orang ini tidak jemu-jemunya mengejar. Pui Cie menghentikan langkah, Yipha Yauci sudah tidak sabar lagi, begitu bertemu langsung bertanya, "Pui Cie terkejar tidak?"

Pui Cie menjawab dengan asal, "Sudah!" "Mana orangnya?"

"Sudah pergi!"

"Kalian sudah bertarung pedang?" "Em!"

"Hasilnya bagaimana?"

"Bertarung sepuluh jurus, tidak ada yang kalah dan menang!" "Artinya kau sama-sama kuat?"

"Ya begitulah!"

Yipha Yauci matanya berbinar, dengan suara keras berkata, "Aku tidak percaya!"

Hati Pui Cie tergerak, "Kau tidak percaya? Kenapa?" Kata Yipha Yauci, "Kau sama sekali bukan tandingannya."

0-0-0

Menempuh bahaya

Hati Pui Cie tergerak lagi, "Nona, berdasarkan apa kau berkata bahwa aku bukan lawan Pui Cie?"

Yipha Yauci menyunggingkan bibirnya, "Tidak berdasarkan apa- apa, aku bisa berpendapat kau bukan lawannya."

Perkataannya memang sangat egois. Tapi hati Pui Cie malah jadi bergolak, perkataannya menyatakan bahwa dia sudah tidak malu- malu dengan cintanya kepada Pui Cie. Wanita macam apapun kalau hatinya sudah terpaut cinta selalu bersikeras tidak bisa dirobah, karena itu dendam Pui Cie terhadap dirinya menjadi berkurang banyak. Saat itu dia sengaja asal berkata, "Boleh juga, tapi pertarungan malam ini hanya dibatasi sepuluh jurus saja. Mungkin lain kali... harus sampai menentukan siapa yang kalah dan menang."

Yipha Yauci menghela nafas, "Kearah mana dia pergi?" Pui Cie dengan asal-asalan berkata, "Keluar gunung!"

Yipha Yauci bergumam sendiri, "Aku tahu dia mau berbuat apa, aku mau menyusulnya."

Tiba-tiba ada suara seorang perempuan mencibir, "Perempuan murahan! berdasarkan apa kau mau pergi mengejarnya?"

Mendengar suara ini Pui Cie sudah tahu siapa yang datang. Dia ingin sekali menghindar... Tapi Hie Ki Hong telah muncul.

Yipha Yauci berkata, "Oh, ternyata kau...kau memaki siapa?"

Hie Ki Hong berkata, "Memaki dirimu! Karena kau tidak tahu malu!"

Yipha Yauci karena marah malah balik tertawa, "Kau tahu malu, kau kebagian nomor ke berapa?"

"Aku istrinya! Kau mau apa?" "Benarkah? Setahu aku bukan begitu!" "Apa maksudmu?"

"Kalau kau istrinya, kenapa waktu di gunung fadi dia tidak mau menyapamu?"

Perkataan ini seperti sebilah pisau menusuk hati Hie Ki Hong, betul, kelakuan Pui Cie tidak seperti suami terhadap istrinya. Kedua belah pihak telah bertemu tapi seperti orang yang tidak kenal sama sekali.

Pui Cie sendiri merasa merinding, betul-betul tidak tahu harus berbuat bagaimana. Hie Ki Hong dengan gemas memandang Yipha Yauci dan berkata, "Masalah kami suami istri tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu!" Yipha Yauci sedikitpun tidak mau mengalah, lalu berkata, "Memang tidak ada sangkut pautnya denganku, tapi aku merasa lucu saja!"

Hie Ki Hong dengan tajam berkata, "O, lucu? Aku mau sekarang kau menangis pun tak bisa!"

Sebenarnya Yipha Yauci marah sekali, tapi setelah dipikir-pikir dia menahan diri. Dengan suara dingin dia berkata, "Sudahlah! Aku tidak mau ribut denganmu, memboroskan waktu saja!" habis berkata itu dia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya melayang terbang kemudian menghilang.

Hie Ki Hong memandang kemana hilangnya bayangan punggung Yipha Yauci, sambil menghentakkan kakinya dia terus memutar badan menghadap Pui Cie dan berkata, "Kau barusan berkata jurus pedangmu dengan Pui Cie hampir sama?"

Pui Cie menggigit mulut, "Ya, memang begitu!" "Apakah dia benar sudah keluar gunung?" "Em!"

"Dia... kenapa dia menghindariku?" Hie Ki Hong menggumam sendiri.

Hati Pui Cie bergetar, dia sendiri berfikir, kenapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan sikapnya? Tapi setelah dipikir lagi, dia merasa kurang tepat waktunya. Sekarang masih ada tugas berat yang disandangnya. Jati diri tidak boleh dibuka dulu. Kalau istrinya mau membenci apa boleh buat.

Hie Ki Hong memutar badannya lalu pergi dengan hati sedih.

Tidak terasa Pui Cie menghela nafas sedih, dia sendiri adalah sebagai salah satu pemeran drama yang menyedihkan ini.

Bo Ta Su Seng muncul lagi, dia tidak menanyakan masalah kedua perempuan tapi, dia langsung menyeletuk, "Twako, tolong kasih tahu cerita tentang almarhum ayahku." Pui Cie hatinya belum merasa tenang. Lama sekali baru dia berkata, "Masalah ini... aku.. entah harus bagaimana mengatakannya..."

Sastrawan Pengecut memberi hormat lalu berkata, "Harap Twako jangan menutup-nutupi lagi. Kalau aku belum jelas dengan cerita yang sebenarnya, aku siang malam tidak bisa tenang!"

Pui Cie tidak bisa berkata apa-apa lagi, lalu menceritakan kembali semua yang dia dengar dari Bo Yu Sien Ce tentang ayah Sastrawan Pengecut.

Sesudah mendengar selesai cerita itu, Sastrawan Pengecut menengadahkan kepala memandang langit malam. Badannya tak henti-hentinya gemetaran. Manusia, semua ingin punya nama baik. Terutama orang tua. Di hati anak-anak selalu terlihat luhur, tidak mau ada kejelekan. Tapi kesalahan ayahnya semasa hidupnya sangat memalukan, memang sepuluh tahun kemudian dia sudah menyadari kesalahannya tetapi sudah terlambat. Siapa yang harus dia benci? Ayahnya? Bo Yu Sien Ce? Perguruan ayahnya? Semuanya tidak benar!

Pui Cie bisa mengerti perasaan Sastrawan Pengecut tapi dia tidak punya kata-kata yang cocok untuk menghiburnya. Yang paling dia kuatirkan, Bo Ta Su Seng menjadi marah dan malu, lalu bermusuhan dengan Bo Yu Sien Ce, itu akan bertambah gawat.

Lama sekali Bo Ta Su Seng baru berkata, "Terimakasih Twako telah mau memberitahuku semua ini!"

Dia tidak menjelaskan isi hatinya, membuat orang menjadi kuatir. Pui Cie pelan-pelan berkata, "Adik Hu, orang bukan Tuhan. Mana ada yang tidak salah? Ayahmu terakhir bisa menyesali dan minta diampuni, itu perbuatan orang bijak. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Adik Hu jangan terlalu risau dan sedih lagi."

Dengan tersendat-sendat Bo Ta Su Seng berkata, "Terima kasih Twako atas sarannya. Kita yang menjadi anak tidak berhak mengomentari mereka, hanya Twako tadi mengatakan mengenai Giok Ju Yi, adik akan cari kembali barang itu, meneruskan cita-cita ayah yang belum kesampaian, menyelesaikan tugas yang belum tercapai sebagai seorang anak berbakti."

Muka Pui Cie berubah, dia berkata, "Aku sangat mengagumi kebijakan adik, mengenai masalah Giok Ju Yi, bagaimanapun juga aku akan bantu kakak, guruku dan ayahmu ada hubungan. Jadi kita berdua tidak termasuk orang luar."