Pedang Bengis Sutera Merah Jilid 2

Jilid 2

Pui Cie merobah posisinya, jari jarinya bergerak seperti mengeluarkan aliran listrik, terdengar dua kali suara mengaduh, jatuhlah kedua orang itu ke tanah.

Kata Thu Sing Sien, "Cepat seret ke pinggir hutan dan kuburkan!"

Pui Cie menurut, ditariknya kedua mayat mata-mata itu ke pinggir hutan, lalu menggali lubang dan menguburnya, tanah di atasnya dirapikan lalu ditutupi dengan ranting-ranting kering dan dedaunan dengan cepat.

Thu Sing Sien berdiri dipinggir dan mengacungkan jempol, "Nah, ini baru namanya bekerja!" Pui Cie dengan pelan bertanya, "Cianpwe, kenapa., mereka tidak diinterogasi dulu?"

Thu Sing Sien melongok keluar hutan berkata, "Di daerah ini sekarang banyak mata-mata, gerak gerik kita tidak boleh ketahuan mereka, apalagi tentang dirimu yang masih hidup."

Pui Cie mengangguk-angguk dengan terharu, dia bertanya lagi, "Apakah rombongan Shin Kiam Pang masih berada disekitar sini?"

"Ya, itu sudah pasti!"

"Apa maksud tujuan operasi mereka ini?"

"Mereka sedang mencari jejak Tuan Chang Hua Ma Gwe Kiau." "Ma Gwe Kiau bersembunyi di hutan pohon pinus ini?"

"Sudah tentu, kalau tidak mana mungkin Ke Co Ing bisa mati didalam jurang?"

"Cianpwe sudah., tahu semua?"

"Tahu operasi mereka tapi tidak tahu ketua Shin Kiam Pang yang sakti adalah Phei Cen."

"Tadi di warung Cianpwe bilang semua rencana harus diubah.." "Ya, kalau tidak bertemu dirimu, aku dapat sedikit kabar saja

sudah puas, tapi sekarang setelah tahu Shin Kiam Pangcu adalah Phei Cen, urusan jadi lain persoalannya."

Sesudah pikir bolak balik Pui Cie. berkata, "Maksud Cianpwe.. kita harus melakukan apa dulu?"

Thu Sing Sien menggoyang-goyang tangan, "Jangan bilang kita berdua, yang bertindak adalah dirimu, aku hanya mendukung saja, tidak ikut-ikutan."

Dengan ketawa kikuk Pui Cie berkata, "Wanpwe tahu peraturan Cianpwe tak boleh dilanggar, tapi Wanpwe ingin tahu siapa mereka yang menjadi pengikut Shin Kiam.." Tu Sing Sien mengangkat bahu, "Masalah kedua orang ini, orang terpelajar itu adalah Ti Kuang Beng dengan panggilan Kui Siu Chai (Sastrawan Iblis), di dunia persilatan selatan, tak ada orang yang mau berurusan dengan bajingan ini, dia bengis luar biasa, cerdik banyak akal, sedangkan Padri tua itu adalah Guan Cen Ce dari aliran Kong Tong yang sudah kesohor namanya sebagai Padri cabul, dia penjahat dari luar daerah, anak kecil kalau malam hari tak berani menangis bila mendengar namanya.."

Pui Cie menghela nafas,"yang wanita itu.." "Yipha Yauci?"

"Ya, menurut Wanpwe seharusnya umur dia sudah uzur.."

"Kau salah, dia bukan Yipha Yauci yang sebenarnya, tapi penerusnya namanya Liu Siang E, tapi dia tetap memakai panggilan siluman tua itu."

"O, begitu.."

"Binatang sejenis selalu bersatu, serigala dan rubah sama saja."

Terdiam sekian lama, Pui Cie bicara lagi, "Wanpwe tidak habis pikir, siapakah yang mengulurkan rotan untuk menolongku?"

Thu Sing Sien dengan tenang berkata, "Kalau tidak terpikirkan biarkan saja nanti juga akan ketahuan, pokoknya tentu bukan musuh, kalau musuh tak mungkin mau menolong, sekarang kita bicarakan yang serius saja, asal usul Shin Kiam Pangcu yang tahu hanya kau dan aku, kau bisa lolos dari maut tidak ada orang ketiga yang tahu, makanya..."

Pui Cie sudah tidak sabar, "Makanya bagaimana?" Thu Sing Sien bilang, "Sementara menyamar!" "Menyamar?"

"Ya, kalau tidak percuma kau mati satu kali, juga jangan berharap bertemu dengan Phei Cen, asal dia tahu kau masih hidup, sulit dibayangkan dia akan bertindak seperti apa padamu." "Ya, ini., sudah bisa ditebak, tapi bagaimana caranya merobah penampilan?"

"Hei.. Hei.. ini kan keahlianku!" sambil merogoh baju depan mengeluarkan sebuah botol poselen kecil ditumpahkan keluar 2 butir pil sebesar biji lengkeng hitam dan putih, dia berkata, "Pil merobah warna ini tidak mudah didapat, seumur hidupku baru satu kali memakai 2 butir, sekarang sisa empat butir, untukmu dua butir, sisa 2 butir terakhir..."

"Pil merubah warna?"

"Eh! di dunia persilatan tidak banyak orang yang pernah mendengar barang ini, yang hitam begitu diminum, kulit langsung berobah, yang putih untuk kembali ke bentuk semula, setelah berubah tidak takut kena sinar matahari dan air, kehidupan sehari- hari tidak terganggu, ini teknik terbaik di bidang merobah wajah."

"Sekarang kau minum yang hitam, yang putih disimpan baik-baik, kalau tidak seumur hidupmu jangan harap bisa kembali lagi kewajahmu seperti semula."

Setelah diterima, Pui Cie ragu juga, tapi akhirnya dikunyah dan ditelan juga pil itu dengan air liur, yang putih dia simpan baik-baik dalam bajunya.

Thu Sing Sien mengeluarkan sebuah baju sutra ungu, diberikannya kepada Pui Cie, "Coba pakai dulu baju ini, mungkin cocok dengan tubuhmu."

Dengan kagum Pui Cie berujar, "Cianpwe... Sudah mempersiapkan semuanya?"

Thu Sing Sien menjawabnya, "Cobalah dulu, ini tidak khusus untukmu."

Pui Cie menerimanya dengan mencoba, ternyata pas sekali seperti dibuat menurut ukuran badannya, tiba-tiba dia melihat warna kulit kedua buah tangannya menjadi coklat, dan kulit wajahnya juga ikut berubah, dengan kaget dia berkata, "Benar-benar ajaib.." belum selesai dia berkata, suaranya menjadi serak-serak seperti suara orang lain, asing sekali rasanya, pil itu bukan saja telah merobah warna kulit dan mukanya, ternyata suaranya pun ikut berobah, luar biasa.

Thu Sing Sien berseri-seri, "Berhasil!" katanya.

Pui Cie dengan semangat tinggi berkata, "Kita bisa bergerak leluasa sekarang."

Thu Sing Sien dengan tegas berkata, "Dengar! kau sekarang sudah jadi orang yang lain, baik-baiklah dengan jati dirimu ini, jangan bertindak sembarangan sebelum yakin benar, kalau gagal tidak ada kesempatan kedua kali, semua menjadi sulit, kalau mereka bertiga melawan dirimu lagi, jangan harap mendapat keberuntungan lagi."

Pui Cie dengan cepat menjawab, "Terima kasih Cianpwe, atas nasihatnya."

Thu Sing Sien mengangguk, "Sekarang kita berpisah, ingat, jangan bergaul dengan orang yang tidak kau kenal karena musuh masih berada dalam gunung pinus ini pergilah mengadu nasibl'dia berhenti sejenak lalu berkata lagi, "Jangan terlalu mengandalkan ilmu silat, jalan yang terbaik, gunakanlah kecerdasanmu dengan akal dan sedapat mungkin menguasai diri emosi sendiri, menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, tidak ceroboh, tidak serampangan, bisa menahan diri, kalau kau bisa melaksanakan semuanya kau akan mendapatkan hasil yang memuaskan, pergilah!"

Pui Cie bersoja, "Kata-kata Cianpwe akan Wanpwe ingat selalu, dan Wanpwe juga sudah banyak mengerti sekarang, terimakasih Cianpwe, sampai jumpa!"

"Tunggu!"

"Cianpwe, masih mau pesan apa lagi?"

"Masalah orang-orang perguruanku yang terbunuh, semuanya masih belum jelas, jangan lupa menyelidiki juga, harus ingat itu!"

Pui Cie menarik nafas panjang, "Wanpwe takkan lupa semua!" Thu Sing Sien mengibas-ngibaskan lengannya, "Pergilah!" Pui Cie memberi lagi hormat, dia segera keluar hutan menuju jalan keluar gunung, petuah Thu Sing Sien banyak memberi inspirasi baginya, sekarang dia merasa lebih dewasa, perbuatannya yang sudah-sudah terasa sangat ceroboh, hanya mengandalkan tenaga dan keberanian saja mau jadi seorang pesilat sejati, masih terlalu jauh rasanya, dengan sedikit petuah tadi, dia merasa telah merobah semua emosi dirinya.

Setelah memasuki daerah pegunungan tidak ada lagi tujuannya, karena dia tidak mendapatkan jejak lawan, dia hanya mengadu nasib saja.

Menurut pendapat Thu Sing Sien, Phei Cen membawa banyak jagoan ke gunung ini tujuan utamanya untuk menangkap Ke Co Ing dan Ma Gwe Kiau. Sekarang Ke Co Ing sudah mati di jurang, sasarannya hanya tinggal Ma Gwe Kiau, yang aneh kenapa Ke Co Ing dan Ma Gwe Kiau bisa berpisah dan jalan sendiri-sendiri? Apa kedua belah pihak sudah berselisih, Ma Gwe Kiau karena tidak tahan terus ditinggal pergi? Tapi dia adalah seorang ahli racun, apa yang diandalkan Phei Cen dan kawan-kawannya?"

Pui Cie melamun sendiri, "Aku bersumpah Ma Gwe Kiau juga merupakan sasaran diriku untuk dibunuh, sekarang bisa berhasil atau tidak susah ditentukan."

Pui Cie jalan dan berjalan lagi, tiba-tiba ada suara dentingan phipa terdengar.

Suara phipa pernah menarik dia masuk kejalan kematian, rasa kesal masih membara di dadanya, sekelilingnya di selidiki, dengan tidak sengaja dia berada lagi di depan puncak gunung tunggal, alamat yang sama tempat Yipha Yauci berphipa, untuk apa? Bersiasat lagi? Sasarannya siapa? Masih berfikir begitu dia sudah meluncur naik ke puncak gunung.

Di atas puncak, dipinggir batu terjal, di atas batu yang sama, sesosok bayangan merah menyala sedang main phipa, suaranya begitu sedih dan menyayat, dalam terpaan matahari senja suasana begitu mengharukan. Pui Cie mengadukan gigi-giginya, dia berfikir di dalam hati. "aku akan membunuhmu!" tapi sekilas pikiran yang lain menghampirinya, Yipha Yauci bukan sasaran utamanya, kalau dibunuh bisa jadi masalah, sekarang wajahnya sendiri juga sudah berubah, untuk sementara lebih baik bersabar dulu, jika dirinya bisa memancing Phei Cen keluar, itu baru sukses.

Sesudah pikir kesana baru berkurang rasa kesal dan dendamnya.

Dia meneliti, memandang sekeliling, rotan yang melilit di batu itu sudah tidak ada.

Suara phipa mendadak berubah menjadi keras, seperti hujan angin tiba, petir dan guntur bersahutan.

Perasaan Pui Cie pun mulai gelisah, bergulung-gulung bersama alunan suara itu, seperti mau mendidih, darah seolah-olah mau menyembur, masih ada sedikit ingatan dia merasa ada yang tidak beres cepat-cepat dia menggunakan tenaga dalam untuk menenangkan pikiran dan hatinya, mengusir perasaan buruk, melawan suara phipa dengan kekuatan tenaga dalamnya.

Kira-kira waktu seperminuman teh, suara phipa mendadak berhenti, sekujur tubuh Pui Cie sudah basah kuyup oleh keringat dingin, dia bergumam, "Alunan musik maut yang lihai sekali, kalau tenagaku kurang mantap pastilah akan mati karena darahnya bisa mengalir terbalik arah."

Yipha Yauci pelan-pelan berdiri dan menoleh.

Wajah yang penuh pesona, tubuh yang begitu indah, tergentarlah hati Pui Cie.

Suaranya seperti anak burung sangat memikat, sepasang alis Yipha dikerutkan dan berkata, "Tenaga dalammu cukup mantap kau berasal darimana?"

Pui Cie hampir lupa dirinya sudah berubah rupa, mulut sudah terbuka tapi segera sadar kembali, dengan dingin dia berkata, "Murid dan guru satu aliran, nona penerus Yipha Yauci kan?"

Yipha Yauci dengan kaget berkata, "Luas juga pandanganmu!" dia berkata begitu berarti mengakui jati dirinya, sejenak kemudian dia berkata, "Tuan pasti bukan orang sembarangan." Pui Cie asal tertawa, "Nona keliru, aku orang kecil di dunia persilatan, belum punya nama apalagi gelar."

Yipha Yauci pelan-pelan bergeser ke dekat Pui Cie, dia memandang sejenak, keningnya dikerutkan lagi. orang berbaju ungu dengan wajah gelap ini sungguh tak sedap dipandang, dengan wajah asam dia berkata, "Siapakah tuan sebenarnya?"

Pui Cie berfikir sejenak berkata, "Si Baju Ungu."

Yipha Yauci menyunggingkan mulutnya, "Belum pernah kudengar nama ini."

Pui Cie seraya bilang, "Aku kan tadi sudah bilang, aku orang kecil yang tidak dikenal orang di dunia persilatan."

"Tapi tenaga dalammu cukup bagus." "Terlalu memuji!" ,

"Mau apa kau kesini?" "Cari orang!"

"Cari siapa?"

Pui Cie sengaja mengangkat alis, "Pui Cie!"

Yipha Yauci kaget sekali, "Tuan mau mencari Pui Cie?" "Betul!"

"Ada apa?"

"Mau menantangnya!" "Menantang?"

"En!"

"Kenapa begitu?"

Pui Cie langsung membual, "Pui Cie selalu bilang Pa Kiam (pedang bengis) tidak ada lawannya, aku mau buktikannya sendiri."

Yipha Yauci mula-mula tercengang lalu tertawa, "Bagus, ide yang bagus, jika bisa mengalahkan Pui Cie maka dalam semalam saja kau akan langsung kesohor, Tuan ingin cepat punya nama besar di dunia persilatan, sayang hasrat Tuan takkan tercapai selamanya!"

Pui Cie pura-pura terkejut, "Apa artinya nona berkata begitu?" Wajah Yipha Yauci muram, "Sayang dia sudah meninggal." "Apa? Dia.. Dia meninggal?"

"Ya! Jenazahnya ada di bawah jurang ini."

"Siapa., yang bisa mendesak Pui Cie jatuh ke dalam jurang?" "Tuan tak perlu tahu."

"Sayang, em! Ini pasti siasat, mungkin nona yang.."

Yipha Yauci membelalakan kedua bola matanya, ada keinginan membunuh tapi tak lama wajahnya muram lagi dan dengan lesu berkata, "Aku memang salah, seharusnya jangan menghiraukan yang lain tapi menolongnya, sekarang terlambat sudah..."

Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang tidak pantas dikatakan dengan suara keras memekik, "Kenapa aku jadi berkata begini padamu.. Apa maksudmu sebenarnya?"

Melihat wajahnya hati Pui Cie bergetar, dengan suara rendah dia berkata, "Aku tadi sudah berkata mau bertarung pedang dengannya."

"Kenapa kau bisa datang ke gunung ini mencari dia?" "Aku dengar dia ada di gunung ini maka aku mencarinya?" "Begitukah?"

"Aneh benar pertanyaan nona masa ada sebab yang lain? Orangnya juga sudah mati, apa yang mau dikatakan lagi? Tapi kenapa nona bermain phipa disini?"

Yipha Yauci memalingkan badan menghadap kejurang, dengan sedih berkata, "Memainkan sebuah lagu untuknya, menyatakan hatiku yang berduka padanya."

Hati Pui Cie tersentak lagi, pikirannya melayang, "Mungkin dia yang mengulurkan rotan hutan ke jurang untuk menolong diriku? Mungkin setelah menurunkan rotan dia tidak melihat ada orang naik jadi dia lalu pergi, tapi diakan yang membikin perangkap sehingga aku terjebak, mengapa dia harus berbuat begitu?" setelah dia berfikir begitu lalu dia memancingnya, "Mendengar perkataan nona, sepertinya melihat sendiri dia jatuh ke jurang tetapi tidak keburu memberikan pertolongan, jatuh ke jurang tidak selalu mati, kenapa sesudah itu tetap tidak mengusahakan pertolongan?"

Yipha Yauci mengeluh, "Jatuh ke jurang maut tentu hancur lebur mana bisa menolongnya?"

Pui Cie tercengang lagi dalam hati berpikir, "Kalau begitu yang mengulurkan tali rotan menolong dirinya bukanlah dirinya, lalu siapa yang melakukannya?"

Di tempat berdirinya dia memandang sekelilingnya, tiba-tiba dia melihat satu bayangan orang yang berlari ke atas bukit, begitu di teliti lagi muncul nafsu untuk membunuh.

Yipha Yauci juga mengetahui kedatangannya, dengan membalikkan badan bertanya dengan keras, "Sudah mendapatkan keterangannya?"

0-0-0

Yang datang ternyata adalah sastrawan setengah baya yang telengas yang waktu itu bersama-sama mendesak Pui Cie jatuh ke dalam jurang.

Sastrawan setengah baya ini begitu melihat Pui Cie dengan wajah menyeramkan lalu bertanya, "Siapa dia?"

Yipha Yauci menjawab, "Si Baju Ungu." Sastrawan setengah baya meneliti sekali lagi kepada Pui Cie, "Si Baju Ungu?... Mau apa kesini?"

Yipha Yauci berkata, "Katanya, datang ke gunung ini untuk bertarung pedang dengan Pui Cie."

Sastrawan setengah baya matanya menyorong, dengan kaget dia berkata, "Bertarung dengan Pui Cie? Sombong benar!"

Pui Cie berfikir terus, Phei Cen masih belum muncul, sebaiknya sekarang jangan bertindak apa-apa dulu, perkataan Thu Sing Sien masih mengiang di telinganya. Kalau urusan kecil tidak bisa dikendalikan, akan merusak semua urusan yang besar, maka ditahanlah semua amarah yang timbul.

Dia berkata, "Aku pikir Tuan tentu jagoan dunia persilatan bagian Selatan, Ti Kuang Beng dengan julukan "Sastrawan Iblis" yang begitu kesohor itukan?"

Semua adalah keterangan dari Thu Sing Sien.

Air muka Ti Kuang Beng berubah, "Sobat, apakah kita pernah bertemu?"

Seperti tidak ada sesuatu ganjalan, dengan suara serak Pui Cie berkata lagi, "Belum pernah, tapi waktu aku pergi ke selatan ada temanku diam-diam mengenalkan tuan padaku."

Ti Kuang Beng percaya juga, berputar bola mata dia berkata, "Jadi aku harus bagaimana memanggilmu?"

"Si Baju Ungu!"

"Aku tidak pernah dengar."

"Ini dikarenakan aku jarang kemana-mana." "Boleh tahu asal-usulmu?"

"Tidak perlu!"

"Apa gara-garanya kau sampai mau bertarung pedang dengan Pui Cie?" "Aku ingin mengukur kemampuanku sendiri." "Kenapa yang dicari harus Pui Cie?"

"Sebab dia adalah ahli pedang yang hebat saat ini."

Dengan sinis dan tidak senang Ti Kuan Beng menutup mulut, "Tidak juga!"

Pui Cie menggunakan kesempatan ini memancing nya, "Mendengar semua ini, sepertinya... tuan lebih hebat?"

Air muka Ti Kuang Beng beberapa kali berubah, dengan suara tertawa dia berkata, "Boleh coba sekarang."

Pui Cie mengangkat alis, "Maksud tuan... mau bertarung pedang denganku?"

Dengan bangga dia berkata, "Benar, Aku ingin mencobamu." "Sudahlah."

"Apa maksudmu?" "Aku tidak berminat."

"Kenapa tidak katakan takut saja?"

"Ha.. Ha.. Ha.. Takut? Yang mau kucari ialah Pui Cie..." "Menurut pendapatmu Pui Cie lebih hebat dariku?" "Dibanding ahli pedang yang lain memang begitu." "Dibandingmu bagaimana?"

"Sesudah bergebrak nanti baru tahu."

Ti Kuang Beng dengan kesal berkata, "Si Baju Ungu, kau terlalu sombong, jangan kau kira seluruh Tionggoan selain Pui Cie tidak ada ahli ahli pedang yang lain, nih kalau kau bisa lolos dari 10 jurus pedangku, kau akan terkenal di dunia persilatan."

Pui Cie dengan dingin berkata, "Kau pernah bertanding dengan Pui Cie?"

"Tentu!" "Ou! Kalah atau siapa yang lebih hebat?" "Dia hanya sanggup bertahan sepuluh jurus."

Pui Cie tidak tahan ingin tertawa, "Sastrawan Iblis, kematian sudah di depan mata masih berani berlaga."

Dengan gemas dia berkata, "Kalau begitu... kau pantas menjadi ahli pedang no 1 di dunia persilatan."

Ti Kuang Beng dengan bangga mengangkat kepala, "Aku tidak berani menyandang gelar ini, pelajaran ilmu silat sangat dalam seperti lautan masing-masing memiliki keahlian yang berbeda tidak berani disebut no 1."

Pui Cie memuji dan mencibir, "Kalau begitu menduduki nomor dua saja!"

Terdiam beberapa lama, Yipha Yauci pelan-pelan berkata, "Si Baju Ungu, tadi kau berkata kau mau bertanding melawan Pui Cie, aneh sekali bisa datang gunung ini!" lalu dia mengedip-ngedipkan mata.

Pui Cie tadinya tercengang, akhirnya mengerti maksudnya, tadi Yipha Yauci secara tidak sengaja membuka rahasia mengatakan Pui Cie mati didalam jurang, sekarang dia berkata begitu untuk menutupi perkataan. Apa maksud sebenarnya?

Dia mengambil bagian mendesak Pui Cie masuk ke dalam jurang, utang piutang ini hanya tinggal masalah waktu saja untuk membereskannya, dia terus berpura-pura tidak ingat, dia mau menunggu sampai nanti Phei Cen telah tertangkap baru dia akan membuat perhitungan, dengan tegas dia melirik lagi.

Pui Cie tersenyum sedikit menahan keinginannya dan berkata, "Ini hanya menghemat waktu, cepat atau lambat akan dia akan kutemui juga."

Yipha Yauci tersenyum, seolah-olah berterimakasih pada Pui Cie yang membantu dia menyembunyikan kebohongannya. Ti Kuang Beng memandang dari kejauhan sepertinya sedang mengatur siasat, setelah lama baru berkata, "Si Baju Ungu, kau berani menerima tantangan 10 jurus pedangku?"

Pui Cie dengan cepat berfikir, "Ini adalah kesempatan baik umtuk membunuhnya, sesudah itu baru aku akan membunuh yang wanita, tapi... kalau kulakukan begitu sudah pasti aku akan langsung berhadapan dengan Phei Cen„ bisa saja dia membikin perangkap secara diam-diam untuk tidak merusak rencananya. Ah.. Sebelum menemukan Phei Cen, lebih baik berhati-hati, jangan bertindak ceroboh."

Pesan-pesan Thu Sing Sien dan kegagalan-kegagalan yang dia alami selama ini sudah membuatnya tambah dewasa, coba kalau dulu, dia langsung bertindak tanpa pertimbangan lagi.

Ti Kuang Beng mendesak, "Bagaimana?"

Karena sudah memastikan tak akan melukai orang, hanya akan membuat satu kesempatan menunjukkan kemanpuan dirinya, lalu dia berkata, "Sepuluh jurus terlalu banyak, satu jurus saja sudah cukup!"

Ti Kuang beng membelalakan matanya, "Apa katamu?" "Aku bilang satu jurus saja sudah cukup!"

"Apa artinya?"

Diantara kita tidak ada dendam kita bertanding hanya ingin mencoba saja, tuan merasa ahli dihidang senjata pedang, tentu tahu sekali, dengan satu jurus saja sudah bisa mengukur tingkat keahlian seseorang."

Ti Kuan Beng berfikir-fikir, "Bagus!" ayo cabut pedangmu!" Sekarang dalam hatinya sudah ada perhitungan yang lain. Dia tidak tahu seberapa lihay Si Baju Ungu ini, karena dia berpandangan jauh, maka harus hati-hati.

Pui Cie pelan-pelan mencabut Pa Kiamnya, diangkat miring-miring.

Ti Kuang Beng mengambil posisi, pedangnya dia cabut dan diacungkan kedepan. , Dua belah pihak berhadapan, saling menatap, sebagai seorang yang ahli, sekali mengulurkan tangan sudah terasa ada tidaknya getaran pedang lawan, Ti Kuang Beng sekarang merasa si Baju Ungu merupakan lawan tangguh yang jarang ada dalam hidupnya.

Rencana semula Pui Cie juga berubah, dia pikir ini adalah kesempatan yang baik, membunuh lawan yang barada dihadapannya, membunuhnya sama dengan memotong sayap Phei Cen...

Segera dia mengerahkan tenaganya menyabetkan pedang, dia yakin Sastarwan Iblis pasti mati di tempat ini.

Tiba-tiba Ti Kuang Beng mundur dan menyimpan pedang, dengan nada rendah dia berkata, "Sudahlah, tak perlu bertanding lagi!"

Pui Cie merasa aneh dan langsung bertanya, "Kenapa?"

Ti Kuang Beng dengan santai dan berlagak yakin berkata, "Mengukur kepandaian, kita masing-masing tahu, satu jurus tak mungkin bisa tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah, kenapa hanya demi sebuah nama harus bertarung mati-matian? Tidak ada kegunaannya, ini sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri, satu jurus gerakan pedang, akan menjadi jurus pedang yang tidak terhitung dan berakhir sampai ada kalah dan menang, atau sampai berubah jadi pertarungan hidup dan mati, untuk apa semua dilakukan?"

Kalau baru pertama kali bertemu Pui Cie pasti tertarik oleh prilakunya yang palsu itu, sayang, sekarang dia sudah waspada dia memaki dalam hati, Sastrawan Iblis, kwalitet orangnya seperti gelarnya cara membualnya juga lebih hebat dari siapapun, dia bisa melihat angin bisa menghindar demi menjaga kebaikan diri sendiri.

Berfikir sampai begitu dia berkata, "Bagiku, tak masalah!" "Kenapa?"

"Satu jurus pedang pasti bisa tahu siapa menang siapa kalah." "Kau ingin cepat-cepat terkenal?" "Tuan yang tadi berkata ingin mencobaku."

Ti Kuang Beng tertawa, "Itu hanya gurauan saja, aku malang melintang di dunia persilatan sudah dua puluh tahun selalu memandang enteng persoalan nama. Apa hebatnya suatu kemenangan? Kalah kenapa harus malu? kalah bisa membuktikan apa? Sekarang kita ada jodoh bisa bertemu, bukan lebih baik kita berkenalan dan berteman saja?"

Bahasanya cukup gagah dan mantap, seseorang yang tidak tahu sifatnya pasti akan menggangap dia sebagai orang hebat, padahal sebenarnya orang ini harus dibunuh 100 kali.

Berteman adalah ide yang lumayan inilah jalan terbaik untuk mendekati Phei Cen.

Waktu itu juga dia memasukkan pedangnya ke dalam sarung sambil menekan semua kekesalannya, dia tersenyum berkata, "Pendapat yang bagus, tuan benar-benar sosok orang yang mengagumkan."

Ti Kuang Beng tertawa lagi, "Adik berasal di perkumpulan atau dari aliran mana?"

Tergerak hati Pui Cie, "Aku tidak ikut perkumpulan manapun juga tidak mempunyai aliran, aku biasa jalan sendiri."

"Ow! Kalau begitu pesilat mengembara, hebat! Tapi aku ada sebuah anjuran..."

"Apa itu?"

"Melihat kepiawaian adik, kalau bisa bekerja di sebuah tempat akan lebih cepat dikenal orang, itu juga sebuah usaha yang bagus."

"O! aku ingin tahu juga!"

"Kalau adik berminat, nanti aku akan perkenalkan dengan seseorang."

Perkataannya sudah sangat jelas, cocok dengan keinginan Pui Cie, tetapi demi gengsi dengan asal asalan dia berkata, "Aku sudah biasa bebas, mendadak terikat rasanya kurang leluasa." Ti Kuang Beng mengangkat alis, "Jadi adik menolak?"

Pui cie berujar, "Beri aku waktu untuk berfikir, apa boleh tahu tuan disana berkedudukan sebagai apa?"

Dengan bangga Ti Kuang Beng berkata, "Pengurus Utama Shin Kiam Pang," tidak meleset dari dugaannya, bahwa kedudukan Sastrawan Iblis di perkumpulan ini amatlah tinggi sebagai Pengurus Utama.

Pui Cie menoleh Yipha Yauci, lantas berkata, "Nona ini sepertinya juga orang penting di perkumpulan.."

"Sebagai Penasihat Utama."

"Pui Cie dengan suara parau berkata, "Tidak terduga kalian berdua adalah orang terpenting di perkumpulan paling besar saat ini, senang sekali bisa berjumpa!" Perkataan ini entah memuji entah menejek susah ditebak.

Ti Kuang Beng dan Yipha Yauci air mukanya berubah. Ti Kuang Beng berkata, "Tidak usah sungkan!"

Saat ini, hari mulai gelap dimana tempat mereka berada cuaca mulai remang-remang.

Tiba-tiba dikejauhan muncul sebuah sinar merah meroket ke langit.

Ti Kuang Beng memberi isyarat kepada Yipha Yauci lalu berkata pada Pui Cie, "Lauwte, sampai jumpa lagi di lain kesempatan, yang dibicarakan tadi harap dipertimbangkan lagi." Habis berkata begitu dengan tergesa-gesa dia sudah melejit pergi.

Setelah bayangan Ti Kuang Beng lenyap, Yipha Yauci dengan suara rendah berkata, "Si Baju Ungu, yang tadi aku bicarakan soal Pui Cie anggap saja aku tak pernah ngomong, lupakanlah saja! Kalau tidak kau akan menyesal." Setelah berkata begitu dia juga pergi secepatnya.

Pui Cie tahu, sinar merah adalah tanda ada urusan penting, sekarang dia sedapat mungkin belajar menahan diri, kalau terburu- buru tentu akan mencurigakan, sepintas seperti tidak ada apa-apa, dia tahu Phei Cen memanggil anak buah untuk berkumpul, tidak berapa lama dia segera mengejar.

Malam itu di dalam gunung lebih kelam daripada di dataran, Pui Cie dengan kulit berwarna coklat dan baju ungu, badannya bergerak ringan seperti hantu, orang yang melihat juga susah melihatnya.

Pui Cie seperti asap melayang menuju tempat yang mengeluarkan sinar merah.

Diantara bebatuan diatas punggung gunung, tiga bayangan orang berkumpul, Yipha Yauci Liu Siang E, Sastrawan Iblis Ti Kuang Beng, yang satu lagi si Tua Jenggot Putih Guan Cen Ce.

Pui Cie menyembunyikan diri di belakang bebatuan, dengan tidak bersuara dia sudah mendekat ke tempat tiga orang itu berada, kira- kira 10 meter jauhnya, Pui Cie kecewa berat sebab tidak kelihatan Phei Cen muncul.

Hanya terdengar suara Guan Cen Ce dengan nada rendah berkata, "Pesan ketua, besok seputar 30 km carilah dengan teliti, bagaimanapun juga, harus menemukan siluman perempuan Ma Gwe Kiau supaya tidak menjadi masalah dikemudian hari."

Ti Kuang Beng bertanya, "Mana ketua?"

Guan Cen Ce menyahut, "Sudah berangkat, sekarang kira-kira sudah lebih 10 km jauhnya."

Yipha Yauci dengan suara manja berkata, "Pegunungan sebesar ini mau mencari orang yang bersembunyi, seperti mencari jarum didalam lautan."

Guan Cen Ce bilang, "40 orang pengawal tangguh besok akan menysul kesini dalam operasi penyisiran ini."

Diam-diam dalam hati Pui Cie timbul nafsu membunuhnya, kalau ketiga orang laki laki dan perempuan ini bisa dihabisi sekarang, yang tertinggal hanya Phei Cen seorang, tapi setelah dipikir lagi, terasa kurang bagus, tiga orang yang berada di depan mata ini bukan orang sembarangan kalau sampai lolos saja satu, sama dengan menggoyang rumput mengagetkan ular.

Sekali bergerak membunuh tiga orang ini, rasanya juga tidak mungkin, dengan menyisakan mereka bertiga pasti Phei Cen akan terpancing keluar, karena mereka sering berhubungan, berfikir sampai kesitu, terpaksa ditekan lagi nafsu untuk membunuhnya.

Yipha Yauci mendadak memuutar topik pembicaraan, "Pengurus utama, apakah anda benar akan memperkenalkan Si Baju Ungu?"

Guan Cen Ce merasa aneh lalu bertanya, "Siapa itu Si Baju Ungu?"

Yipha yauci menjawab, "Seorang ahli pedang yang tidak jelas asal usulnya, dengan tegas berkata mau bertarung dengan Pui Cie."

"O, begitu!" Guan Cen Ce menyahut.

Ti Kuang Beng, "Menurut pandanganku, Si Baju Ungu adalah seorang ahli pedang yang jarang ada, kalau bisa diajak bergabung akan sangat membantu kita."

Guan Cen Ce menyambung, "Orang yang hebat silatnya, pandangannya juga pasti sangat tinggi. Mungkinkah?"

"Kita berusaha sedapat mungkin, kalau dia sampai diambil musuh, maka akan menjadi lawan kita yang menakutkan."

"Si Baju Ungu, belum pernah kudengar nama ini, kalau dia masih berada dalam hutan ini, pasti kita bisa bertemu!"

"Apakah dia tahu masalah Pui Cie?"

"Kelihatannya sih belum tahu, kalau tidak kenapa mau bertanding dengannya? Kalau kita bisa menjaga mulut, didunia persilatan takkan ada yang tahu."

Pui Cie ketawa sendiri dengan kesal.

Yipha Yauci bicara dengan nada dingin, "Menurutku, Si Baju Ungu asal usulnya mencurigakan, mungkin dia mencari Pui Cie bertarung pedang hanya alasan, mungkin dia orangnya Ma Gwe Kiau. Kesatu, kalau dia jago kenapa belum pernah mendengar namanya, di seluruh Tionggoan tidak pernah ada orang yang menyinggung namanya?

Kedua, dia datang ke hutan gunung ini hanya demi bertarung pedang dengan Pui Cie sepertinya tidak masuk diakal."

Guan Cen Ce berujar, "Betul! Mungkin dia musuh kita, harus diselidiki dulu." Berhenti sejenak, dia berkata lagi, "Apa pendapat Pengurus Utama?"

Ti Kuang Beng dengan nada seram berkata, "Cocok kita pakai, tidak cocok kita bunuh saja!"

Menurut Yipha Yauci, "Menurut pendapatku... Kita tak boleh menyerempet bahaya ini!"

"Maksud Penasihat Liu ialah..." Kata Guan Cen Ce. Yipha Yauci, "Hapus pendapat itu!"

Ti Kuang Beng berkata, "Perkumpulan kita sekarang sedang membutuhkan orang-orang yang ahli, kalau dibunuh juga sayang, biar aku mencari tahu asalnya dulu." Masih tetap menggunakan istilah itu, "Cocok kita pakai, tidak cocok bunuh saja!"

Yipha Yauci merobah posisi badan memandang empat penjuru, "Sekarang kita harus mencari tempat bermalam, aku tetap disini, kalian berdua mencari tempat yang cocok, pantau terus daerah ini."

Guan Cen Ce menggangguk, lalu pergi bersama dengan Ti Kuang Beng.

Pui Cie berfikir, "Aku harus ikuti terus Yipha Yauci, lambat atau cepat pasti ketemu Phei Cen."

Yipha Yauci duduk di atas batu besar, sambil memeluk phipa miring-miring, sesudah duduk sejenak, lalu memetik dengan jarinya, keluarlah suara berdentingan.

Gunung begitu kosong dan sunyi, alunan phipha begitu syahdu. Pui Cie duduk tenang sambil mendengarkan tidak terasa sampai terlena, dalam keadaan bimbang, tiba-tiba pundak ditotok orang, ternyata ketika ingatan belum pulih kembali dia sudah terkena lagi dua totokan, dengan mengeluarkan sedikit suara dia langsung terjatuh.

Yang berdiri di sampingnya ternyata Yipha Yauci, entah sejak kapan sudah tahu tempat persembunyiannya, karena ceroboh dia telah terpikat oleh suara phipha, sekarang menyesal juga sudah terlambat. Pui Cie yang tertotok tapi masih bisa bicara, "Nona, apa maksudnya ini?"

Yipha Yauci dengan wajah sadis berkata, "Si Baju Ungu, aku harus membunuhmu!"

Pui Cie marah dan menyesal bercampur aduk, coba kalau tidak banyak pertimbangan banyak kesempatan untuk membunuhnya. Sekarang malah dia yang terjatuh kedalam tangannya, tapi dengan tenang dia berkata, "Kau mau membunuhku, kenapa"

Yipha Yauci menjawab, "Sebab kau sudah tahu bahwa Pui Cie mati didalam jurang, aku mau tak mau harus membungkam mulutmu!"

Sambil mengigit-gigit bibirnya, Pui Cie berkata, "Itu kan kau yang membocorkan, Bukan..."

Yipha Yauci, "Memang! Karena aku ceroboh aku jadi kelepasan bicara, sekarang aku terpaksa harus memunuhmu untuk menutup mulut!"

Dengan keras Pui Cie berkata, "Begitu pentingkah rahasia itu sehingga nona harus membunuh orang untuk menutup mulut?"

Kata Yipha Yauci, "Tentu penting, sekarang aku terus terang kepadamu supaya tidak mati penasaran, Pui Cie sangat erat hubungannya dalam dunia persilatan, dibelakangnya ada banyak orang tak boleh terganggu, kalau berita ini sampai bocor, akan mendatangkan banyak keruwetan bagi Shin Kiam Pang, karena dengan tidak sengaja aku telah membocorkannya, kalau ketahuan oleh ketua perkumpulan akibatnya akan fatal, maka dengan terpaksa aku harus membunuhmu." Pui Cie merasa geli, lalu berfikir, "Apakah aku harus membuka jati diriku yang sebenarnya? Menurutnya, main phipa di pinggir jurang untuk mengenang korbannya, mungkin dia sudah jatuh hati pada dirinya, kalau dia memperlihatkan jati dirinya, semuanya akan berubah tapi apa jadinya kalau seorang penerus Bu Lim Ce Cun mengemis pada seorang siluman wanita?"

Belum selesai berfikir, Yipha Yauci sudah mengangkat tangan dan dengan lantang dia berkata, "Hai Si Baju ungu, terimalah nasibmu!"

Pui Cie tidak berdaya seperti sudah mau mati, tidak bisa melawan sedikitpun, dengan suara gemetar dia berteriak, "Tunggu dulu!"

Tangan halus Yipha Yauci yang sudah terangkat berhenti di tengah jalan, dengan suara nyaring berkata, "Masih mau berkata apa lagi?"

Pui Cie tidak rela dirinya dibunuh dengan tidak jelas, saat dia mau berkata...

Mendadak terdengar suara tertawa yang datang dari jauh, kemudian ada suara yang berkata, "Liu Siang E, mana boleh tidak ada sebab musabab membunuh orang?"

Pui Cie tercengang, suara itu tidak asing.

Yipha Yauci cepat-cepat menyembunyikan tangannya dan mundur dengan suara gemetar berkata, "Siapa kau?"

Suara itu berkata, "Liu Siang E, suaraku saja kau tidak bisa membedakan, ai! begitu sungguh-sungguh burung mencari pasangan, sayang semua minat menjadi sia-sia, mimpi yang bagus dari dulu selalu cepat terbangun."

Dengan suara yang keras, Yipha Yauci berteriak, "Siapa sebenarnya dirimu?"

Suara itu berucap lagi, "Senar sudah putus apa bisa disambung lagi?"

Yipha Yauci gemas sekali secepat kilat dia memburu ke tempat asalnya suara. Siapakah yang berkata itu? Pui Cie bingung juga, apa pacar lama dari siluman perempuan ini? Belum habis pikir sebuah bayangan sudah menghampiri dari samping, tidak berkata-kata dengan cepat Pui Cie dikempitnya dandibawanya dia lari masuk kedalam hutan, gerakannya begitu cepat dalam menembus hutan Pui Cie sampai tidak sempat mengenalinya.

Sesudah sekian lama, naiklah dia ke sebuah puncak, kemudian Pui Cie diletakkan dengan pelan-pelan.

Dengan teliti Pui Cie memandang kemudian berseru, "Saudara Hu!" Dia menjerit kegirangan.

Sastrawan Pengecut tersenyum-senyum berkata, "Sudah membuat Twako kaget ya!"

Pui Cie dengan lirih bertanya, "Saudara Hu kenal dengan Yipha Yauci?"

Sastrawan pengecut dengan santai menjawab, "Tentara jangan bosan dibohongi, Siaute memang pengecut, tapi masih mampu menggunakan sedikit taktik. "

Pui Cie tiba-tiba merasa aneh, dirinya telah berrobah rupa, robah penampilan, suaranya juga berobah, kenapa dia bisa mengenali dirinya begitu saja sedikitpun tidak merasa janggal.

Sastrawan Pengecut seperti bisa membaca isi hati orang, dengan santai menjawab, "Twako merasa aneh kan, kenapa Siaute bisa mengenali wajah Twako yang sebenarnya?"

Pui Cie tercengang, "Betul! aku sedang bingung."

Sastrawan Pengecut berkata, "Tak perlu dirahasiakan lagi, hanya Siaute dan tidak yang lain yang bisa-memahami teknik merebah rupa, perubahan wajah secara alamiah atau perubahan dengan alat- alat dan obat-obatan, biarpun Twako telah robah rupa, warna dan suara, tapi potongan kondisi tubuh dan kebiasaan sehari-hari tak bisa berubah, sekali lihat saja Siaute sudah bisa menebaknya."

Pui Cie dengan nada sedih, "Kalau begitu... Apa yang aku lakukan percuma saja?" Sastrawan Pengecut dengan cepat menggoyangkan tangan, "Tidak juga, Twako tidak perlu banyak pikiran, teknik merobah warna dan merobah dengan alat dan obat-obatan aku jauh lebih baik, bukan sombong.

Sekarang ini selain Siaute dan guru Siaute tak ada satu orangpun yang bisa mengenali Twako yang telah berobah wajah, tenang saja!"

Pui Cie dengan tidak terasa berucap, "Siapakah gurumu?" Sastrawan Pengecut dengan nada tidak enak berkata, "Maaf,

Siaute tidak bisa beritahu siapa dan apa sebutan guruku."

Dalam hati Pui Cie penuh pertanyaan, tapi juga tidak enak mendesak karena dia telah menolong dirinya, dengan tersendat- sendat berkata, "Terimakasih atas pertolongannya!"

Dengan tertawa renyah Sastrawan Pengecut berkata, "tidak usah disebut lagi, ini hanya kebetulan saja." Berhenti sebentar dia berkata lagi, "Mendengar kata-kata siluman wanita itu, ada rahasia tentang diri Pui Cie, rahasia apa sebenarnya?"

Terpaksa Pui Cie menceritakan semuanya.

Sastrawan Pengecut menganggukan kepala, "Bagus! Twako akan lebih leluasa tampil dengan muka baru Si Baju Ungu, Twako dimana tempat yang terkena totokan? Biar Siaute..."

Pui Cie memang bawaannya angkuh, cepat-cpat berkata, "Biar aku yang mencoba melepaskan sendiri saja!" Sambil membangunkan badan merobah menjadi posisi duduk, dengan percaya diri mau mencoba membuka totokan, tapi apa boleh dikata pernafasannya ternyata tak bisa naik, beberapa kali dia mencoba tetapi gagal, akhirnya dia mengeluh.

0-0-0

Bayangan mencurigakan Sastrawan Pengecut sekali melihat sudah mengerti Pui Cie tidak mampu membuka sendiri totokannya, dia duduk di dekatnya dan berkata, "Biar Siaute mencoba!"

Pui Cie tak bisa berkata apa-apa, dibiarkan Sastrawan Pengecut meraba semua nadi yang terkena totokan.

Sesudah sekian lama Sastrawan Pengecut baru berhenti dan berkata, "Aneh sekali cara totokan ini?" sepertinya dia juga tidak sanggup membukanya.

Hati Pui Cie menciut, dalam keadaan begini tidak ada tempat untuk dimintai tolong lagi, untuk bergerak saja menjadi masalah, dan lagi aliran darah jika ditotok terlalu lama akan mengakibatkan kerusakan urat nadi dan bisa menjadi cacat seumur hidup.

Masalah yang terjadi sangat diluar dugaan, untuk membuat perhitungan dengan Phei Cen sekarang hanya menjadi sebuah khayalan saja.

Sastrawan Pengecut berdiri, menggosok tangan menggaruk pipi.

Tiba-tiba memekik, "Hanya jalan ini yang bisa ditempuh!"

Pui Cie kelihatan bermuram durja, dia berkata, "Jalan apa?"

Sastrawan Pengecut berkata, "Kalau keluar gunung minta pertolongan tak mungkin dan terlalu jauh, Siaute tahu ada seorang ajaib di dunia persilatan yang sedang mencari obat-obatan dalam gunung ini, kalau nasib baik, Twakobisa bertemu dengannya masalah totokan akan segera teratasi, Siaute segera akan mencarinya besok tengah hari pasti kembali, kalau tidak menemukan, kita cari jalan lain."

Pui Cie sempat terharu akan kebaikan Sastrawan Pengecut, menurut adatnya, dia tidak mau menerima kebaikan orang lain, tapi sekarang mau tidak mau mendapat pelajaran pahit bagi orang angkuh, sangat menyakitkan, dia menarik nafas, dengan terputus- putus dia berkata, "Kalau begitu... sangat merepotkan saudara Hu!"

Dengan sungguh-sungguh Sastrawan Pengecut berkata, "Jangan begitu, bisa berteman dengan Twako sungguh suatu kebanggaan Siaute seumur hidup, ini hanya sedikit bantuan belum bisa diharapkan, supaya tidak terlambat Siaute segera berangkat, disini tempat agak tersembunyi, sepertinya tidak akan terjadi apa-apa, harap Twako sabarlah menunggu." Habis berkata, dia bersoja lalu menghilang.

Memandang ke langit, Pui Cie menjadi bertambah membenci Yipha Yauci sampai masuk ke tulang sumsum, dia bersumpah akan memenggal kepalanya kalau bertemu lagi.

Malam panjang sekali, semenit demi semenit dia lalui, sedikitpun dia tidak bisa memejamkan mata.

Dengan tidak mudah malampun berlalu, langit mulai terang, perasaan Pui Cie seperti sudah berdiam 10 tahun saja, apakah Sastrawan Pengecut akan menemukan orang ajaib yang sedang mencari obat-obatan? Harapannya sangat tipis.

Matahari mulai terbit, memancarkan sinar yang menyilaukan mata, tapi dalam hati Pui Cie terasa gelap semua.

Tiba-tiba, satu pemikiran aneh muncul di kepalanya, dia teringat kepada setengah buku ilmu campuran Buku Pusaka yang tidak ada taranya pemberian almarhun Pao Sen Cong, pembantu tua Raja Lima Pegunungan, buku itu berisi bermacam-macam ilmu campuran, siapa tahu di dalamnya ada ilmu mengurai mengenai totokan? Dia merasa sedikit bersemangat, cepat-cepat mengeluarkan setengah buku pusaka itu dari balik bajunya, tiap halaman dia baca dengan teliti, mencari bagian mengenai ilmu totokan, dia girang luar biasa, ternyata di dalamnya terdapat catatan pelajaran menolong diri sendiri sewaktu pernafasan tak bisa berkumpul, huruf per huruf dia baca terus menerus, segera diapun merasakan munculnya keanehan.

Dia menghafal dengan seksama semua huruf, kata-katanya dia renungkan dan dia coba praktekan.

Setengah jam kemudian pernafasannya mulai teratur, dia terus mengikuti rumusan ringkas mendobrak semua sumbatan-sumbatan di nadi-nadinya...

0-0-0 Sesosok bayangan biru bergerak naik ke puncak, ternyata Sastrawan Pengecut yang sedang mencari tabib.

Mengikutinya muncul lagi sebuah bayangan, dia adalah seorang terpelajar setengah baya. ,

Sastrawan Pengecut yang merasakannya dia membalikan badan, begitu melihat mukanya berubah karena kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu mengikutiku?"

Orang terpelajar setengah baya yang ternyata adalah Sastrawan Iblis dengan muka kecut menjawab, "Gerak gerikmu mencurigakan, terpaksa aku mengikutimu untuk mencari tahu."

Pui Cie yang menempatkan diri di celah-celah bebatuan, sudah mendengar suara Sastrawan Pengecut dan Sastrawan Iblis, hatinya kaget sekali, menurut pembicaraan Sastrawan Pengecut, dia telah dibuntuti oleh Sastrawan Iblis, sekarang totokannya belum terbuka, dia sedang dalam keadaan yang menentukan, maka dia terpaksa tidak mempedulikan semua itu.

Sastrawan Pengecut dengan pelan bertanya, "Coba anda jelaskan, gerak gerik mana yang mencurigakanmu?"

Ti Kuang Beng dengan lagak memojokkan orang berkata, 'Sebutkan dulu asal usulmu.'

"Aku Sastrwan Pengecut!" "Apa? Sastrawan... Pengecut?" "Ya. Boleh tahu anda...?"

"Jangan urus dulu urusan orang lain kau hanya boleh menjawab pertanyaanku, untuk apa kau datang ke gunung ini?"

"Ini... aku suka gunung dan air juga pemandangan indah, bisa menenangkan pikiran membuat dingin hati."

"Didepan Budha tidak perlu membakar dupa palsu tidak perlu membuat kebohongan, katakan! Apa maksudmu kesini?"

"Aku... kan sudah katakan tadi!" "Heh! Dikasih arak kehormatan tidak mau, Malah mau arak hukuman, ingat, kesabaran ku terbatas!"

"Apakah dalam gunung terdapat larangan-larangan?" "Betul, ada larangan!"

"Ini., aku., tidak menemukan tanda-tanda larangan, juga tidak..."

Sekarang kau tahu juga tidak terlambat, cepat terangkan semuanya, tidak boleh ada yang ketinggalan, kalau tidak., kau menyesalpun sudah terlambat."

Pui Cie sekuat tenaga menyelesaikan pengobatannya, sekarang tinggal satu nadi lagi yang terakhir yang belum terpecahkan.

Sastrawan Pengecut dengan kaget memandang Ti Kuang Beng, agak gentar dia berkata, "Karena sedang bernafsu, tidak sadar masuk ke gunung ini untuk bermain, apakah salah?"

Ti Kuang Beng dengan ketus berkata, "Pegunungan ini jauh dan sepi, tidak ada pemandangan yang indah juga tidak ada peninggalan purbakala, tak usah berpura-pura, cepat jelaskan kalau tidak, siap- siaplah mempertahankan nyawamu, aku tidak banyak waktu!"

"Pertahankan nyawaku, apa kau mau...?" ""Iya, aku menginginkan nyawamu."

"Tapi aku., tidak mau bertarung dengan siapapun." "Kalau begitu kau tutup mata dan tunggu mati saja!" "Kau.."

"Lihat pukulan!" Dalam pikirannya sebuah pukulan sudah dia lepaskan.

Sastrawan Pengecut terhempas jauh, dengan menggoyangkan tangan berkata, "Anda tanpa alasan yang jelas bertindak begini jauh padaku, apa tidak ada yang bisa dibicarakan lagi?" cepat sekali ilmu menghindarkan dirinya. Ti Kuang Beng tertawa kecut, "Gerakan tubuhmu bagus, tapi kau takkan bisa lolos!" Sekali terdengar suara "Chiang!" Pedang sudah dicabut, melingkar, memanjang, secara ganas terus menggulung Sastrawan Pengecut.

Sastrawan Pengecut tubuhnya seperti bayangan hantu, seperti kilat sudah meluncur menjauh, wajahnya seperti yang sangat takut, sudah tentu dia berpura-pura.

Pui Cie sudah bisa berdiri setelah dia berhasil menembus totokan urat nadinya yang terakhir.

Ti Kuang Beng marah sekali, lawannya bergerak aneh, tidak mau melawan, seperti takut, dia merasa dipermainkan, dia merubah posisi pedang dan tubuhnya, menyerang lagi sekejap saja dia sudah menusuk sebanyak 18 jurus, tapi Sastrawan Pengecut dengan santai saja menghindar dari kurungan pedang yang bertubi-tubi, baju birunya melambai-lambai gayanya pelan dan luwes benar-benar jarang bandingannya di dunia persilatan.

Pui Cie melihatnya sampai silau, melihat gayanya, dia merasa kalah, hebat benar orang ini, sesuai dengan gelarnya yang Pengecut terdesak juga tidak melawan, benar-benar orang langka di dunia persilatan.

Ti Kuang Beng setelah menyerang satu babak tiba-tiba melihat Pui Cie, "Eh! Si Baju Ungu!" Segera dia menyimpan pedang sambil berseru.

Sastrawan Pengecut kaget sekali melihat Pui Cie sudah bisa berdiri dengan mantap, matanya berbinar, tapi dia diam saja, dia menatap Pui Cie dengan penuh pertanyaan.

Pui Cie pelan-pelan mendekat, "Tuan keterlaluan sekali mendesak orang sampai begini."

Muka Ti Kuang Beng berobah gelap terang tidak menentu, akhirnya dengan tersenyum berkata, "Lauwte dengan Sastrawan Pengecut ini sejalan?"

Pui Cie menjawab dengan asal, "Ya! Kami berteman." Ti Kuang Beng melihat keduanya sekali lagi berkata, "kalau dia teman lauwte, aku mohon maaf!" Habis berkata dia menggenggam kedua tangannya sambil digoyang-goyang.

Pui Cie secara dingin berkata, "Sudahlah!"

Ti Kuang Beng mengangkat alisnya, lalu berkata, "Masalah yang pernah dibicarakan dengan lauwte apakah sudah dipikirkan?"

Pui Cie dengan gemas berfikir sebentar dan menjawab, "Sudah aku pikirkan, kapan aku akan diperkenalkan?"

Muka Ti Kuang Beng mendadak berubah menjadi berseri-seri, setelah berfikir sebentar lalu berkata, "Kalau begitu aku akan segera mengaturnya, selekasnya Lauwte memberi jawaban, kalau nanti tidak bisa bertemu di pegunungan ini lagi harap Lauwte menuju ke Cao Yang saja!"

Pui Cie mengangguk, "Ya, begitu pun boleh!"

Sinar gembira terlihat di wajah Ti Kuang Beng, "Aku akan secepat mungkin memperkenalkan Lauwte kepada rekan yang lain, harap sabar!" Habis berkata, matanya melirik Sastrawan Pengecut, lalu berkata, "Temanmu juga seorang yang hebat dan langka, kalau bisa nanti juga hadir, majikanku membutuhkan sekali orang-orang yang ahli pasti dia sangat senang menerima kalian berdua!" Sekarang aku ada urusan penting, aku permisi dulu!" dia mengangkat kedua belah tangan memberi hormat, lalu memutar badannya pergi.

Pui Cie tahu dia cepat-cepat mau pergi berkumpul untuk mengepung Ma Gwe Kiau, kelihatannya dia tidak tahu perbuatan Yipha Yauci tadi malam.

Sastrawan Pengecut berkata, "Twako, hati-hati terjebak oleh orang yang bermarga Ti itu, dia orang yang sangat keji!"

Pui Cie menyunggingkan senyuman berkata, "Aku tahu!"

Sastrawan Pengecut berkata, "Barusan dia berkata kau mau diperkenalkan, memang ada masalah apa?" Pikiran Pui Cie berputar, "Ini masalah besar tidak boleh bocor, kalau bocor bisa berbahaya."

Lalu dengan tidak enak dia berkata, "Adik Hu, sebenarnya ini tidak boleh dirahasiakan padamu, tapi karena ini masalah besar yang berhubungan dengan urusan pribadiku, aku takut diluar dinding ada kuping mendengar, nanti saja kalau sudah beres aku akan ceritakan semuanya kepadamu!"

Sastrawan Pengecut berseri-seri, "Tidak apa-apa, aku hanya sambilan saja bertanya, Eh, Twako bagaimana kau bisa membuka totokan itu?"

Ini juga masalah lain yang sukar dijawab juga, dia agak ragu, akhirnya dengan asal-asalan dia menjawab, "Kebetulan suhuku pernah memberi aku pelajaran membuka totokan, tak disangka ternyata sangat manjur."

Sastrawan Pengecut dengan lantang berkata, "Bagus sekali, aku tidak berhasil bertemu tabib ajaib itu, sepanjang perjalanan terus berfikir harus berbuat bagaimana, sekarang hatiku sudah plong jadinya."

Pui Cie merasa tidak enak hatinya, orang begitu tulus membantu dia sendiri membalasnya dengan cara begini, tapi apa boleh buat, keadaaan memaksa dia harus begitu, sesudah berdiam sejenak dia berkata, "Kakak Hu, aku masih ada urusan semoga di kemudian hari ada kesempatan kita minum arak sambil ngobrol, tidak masalah kan?"

Sastrawan Pengecut dengan lapang dada, tidak berfikir panjang lagi menjawab, "Kalau ada urusan silakan jalan duluan, Siaute juga ada urusan, siapa tahu kita masih akan bertemu lagi dalam gunung ini, disana nanti kita bisa ngobrol lagi."

Akhirnya mereka berdua berpisah juga.

Pui Cie ingat urusan Phei Cen, sesudah turun gunung dia langsung masuk hutan belukar, dijalan dia banyak menemukan orang-orang Shin Kiam Pang, tentu saja dia tidak mau membuat keributan hanya karena persoalan kecil, tidak terasa, dia sampai ke lembah tempat Bo Yu Sien Ce, anak dan ibu yang sedang bertapa.

Dipandang dari kejauhan banyak orang sedang bergerak, tertarik hati Pui Cie, dari samping dia memutar mendekat.

Di mulut lembah depan batu besar yang menjulang, ada Yipha Yauci dan biksu tua Guan Cen Ce, sepertinya ada komandan pasukan pengawal Shin Kiam Pang, tapi tidak terlihat Shn Kiam Pangcu Phei Cen dan Sastrawan Iblis Ti Kuang Beng.

Sedang apakah mereka? Apakah Phei Cen telah masuk ke dalam lembah? Ti Kuang Beng dari tadi mengapa belum tiba?

Masih befikir begitu, kelihatan Guan Cen Ce mengangkat tangan memberi aba-aba, semua yang ada disana menepi masing-masing mencari tempat untuk bersembunyi, dilihat gelagatnya orang-orang Shin Kiam Pang pasti sedang membuat suatu gerakan.

0-0-0

Memperlihatkan Kemampuan

Setelah semua orang menyibak kesamping, dengan pelan-pelan Guan Cen Ce mundur juga.

Kebetulan sekali Yipha Yauci mundur, dan tempat dia mundur pas di tempat persembunyian Pui Cie, begitu dia melihatnya, dia langsung menjerit, karena kaget mukanya menjadi jelek sekali.

Setelah bertemu dengan musuh yang luar biasa dibencinya, dengan pandangan penuh dendam Pui Cie menyorot muka Yipha Yauci.

Suara jeritan tadi mengejutkan semua orang, mereka semua segera menuju ketempatnya Pui Cie.

Guan Cen Ce yang pertama-tama tiba, dia kaget dan memekik, "Si Baju Ungu!" Yang lain juga ikut mengurung, tapi siapapun juga tidak ada yang kenal dengan Si Baju Ungu.

Pui Cie tidak perduli orang lain, dia melototi Yipha Yauci dan dengan suara seram dia berkata, "Liu Kouwnio tidak terduga olehmu bukan?"

Yipha Yauci matanya berputar dengan senyum terpaksa berkata, "Si Baju Ungu, apa kau kebetulan kesini?" Pedas juga perkataannya, juga kelihatan dia mencurigai Pui Cie, arti katanya mengisyaratkan bahwa Pui Cie muncul disini bukan disengaja.

Pui Cie berkata dengan suara sangat dingin, "Apakah perlu aku kasih tahu semua orang bagaimana aku bisa berada disini?"

Muka cantik Yipha Yauci berubah, tiba-tiba seperti orang baru ingat sesuatu dia berkata, "O., aku mengerti, ayo kita bicara disana!" habis berkata begitu dia langsung melayang pergi.

Pui Cie terbengong-bengong, akhirnya mengikuti juga.

Diluar hutan setelah tiga puluh meteran terkejarlah Yipha Yauci, Pui Cie dengan marah sekali berkata, "Aku tidak mati dicelakai olehmu, sekarang giliran dirimu bertanggung jawab!"

Tangan kanannya sudah memegang pegangan pedang.

Yipha Yauci masih bisa tertawa cekikikan berkata, "Si Baju Ungu, aku kan terpaksa berbuat begitu."

Dengan mulut tersungging senyuman sinis Pui Cie berkata, "Aku sekarang juga terpaksa membunuhmu!"

"Si Baju Ungu, kau kan masih hidup. Sudahlah..." "Sudah? Enak saja kau bicara!"

"Kita bikin satu perjanjian yang jujur, kau pegang rahasia itu, kita., tidak saling mengancam."

Pui Cie sudah tidak tahan lagi hatinya penuh dengan nafsu membunuh, Pa Kiamnya segera akan dicabut keluar dari sarungnya, dengan menggigit bibir dia berkata, "Siapa yang mau berjanji denganmu? Aku hanya mau menbunuh orang!"

Yipha Yauci mundur dua langkah berkata, "Si Baju Ungu, kau belum tentu bisa membunuhku, andai kau bisa membunuhku kau juga takkan bisa kabur dari sini, percaya tidak?"

Dengan kecut Pui Cie bilang, "Aku tidak percaya!"

Yipha Yauci gemertakan giginya katanya, "Kalau saja Pui Cie tidak mati, aku ingin sekali melihat kau mati roboh di bawah pedangnya!"

Perkataan ini menyentuh hati Pui Cie, waktu mendesak dirinya jatuh ke jurang dia berlagak bodoh, sekarang dia seperti yang teringat selalu hati seorang wanita seperti jarum dalam lautan, susah diraba.

Yipha Yauci memandang ke mulut lembah berkata, "Mereka sudah bergerak."

Pui Cie mendadak teringat dengan masalahnya, orang dalam lembah Bo Yu Sien Ce adalah istri almarhum suhunya, dia menbawa Ku Tien Chan, adalah darah daging suhunya, apakah aku bisa berpangku tangan saja? Sesudah berfikir sejenak dia cepat-cepat bertanya, "Mau apa mereka?"

Yipha Yauci berkata, "Membuka paksa pintu gerbang lembah dengan dinamit, kemudian masuk ke dalam menangkap orang."

Pui Cie tidak berkata apa-apa dia segera membalikkan badannya secepat kilat mengejar kesana.

Guan Cen Ce sesudah menyulut dinamit, orangnya segera meloncat menjauh.

Sebaris asap dengan cepat menjalar ke batu besar di mulut lembah.

Pui Cie melayangkan dirinya tepat di tempat itu.

Guan Cen Ce dengan keras memekik, "Si Baju Ungu, mau apa kau!?" ' Pui Cie pura-pura tidak dengar, dia mendekat kebatu raksasa itu, dengan satu tangan membabat, batu dan tanahpun berhamburan, sumbu dinamit terputus, terlambat beberapa detik saja suasana sudah akan menjadi lain.

Dalam suara pekikan, para satria yang tadinya bersembunyi sekarang mencabut pedang mendekat dan mengurung, Yipha Yauci juga sudah tiba di tempat itu.

Pui Cie berdiri tegak dengan angkuhnya, bila pihak lawan mulai turun tangan, dia pun akan mulai membunuh.

Semua orang yang ada ditempat tidak mengetahui Si Baju Ungu adalah Sastrawan Putih Pui Cie, dianggapnya dia adalah ahli pedang biasa saja maka mereka berlagak angkuh dan galak.

Karena Guan Cen Ce adalah peminpin diantara orang orangnya maka dia yang memberi perintah, dia mengangkat tangan menghadang semua orang, lalu memandang Pui Cie dengan keji dengan penuh gejolak berkata, "Hai, Si Baju Ungu, kenapa kau merusak rencana kami semua?"

Pui Cie balik bertanya, "Kalian kenapa merusak lembah ini?"

Dengan tertawa cekakakan Guan Cen Ce berkata, "Waktu kau menampakkan diri, aku sudah curiga asal asulmu, sekarang ternyata kau sejalan dengan orang yang berada di dalam lembah ini. Bagus!"

Pandangannya menggeser pada orang setengah baya berbaju indah dengan suara tinggi dia berteriak, "Komandan Siau!"

Orang setengah baya berbaju indah itu segera menjawab, "Aku disini!"

"Tangkap dia!" "Menurut perintah!"

Pui Cie sedang berfikir, mengapa mereka bermusuhan dengan Bo Yu Sien Ce? Apakah juga ada hubungan dengan suhunya?

Komandan bermarga Siau sudah menghunus pedang dan mengancam Pui Cie. Pui Cie segera mengeluarkan Pa Kiam( Pedang Bengis) sambil berfikir, "Kalau kejadian sudah begini sebaiknya menbunuh mereka seluruhnya! Masa Phei Cen tidak mau mengunjukkan dirinya?" Pa Kiamnya dia angkat miring-miring saja.

Suasana di lapangan menjadi tegang, "Yeah!"

Dalam suara yang riuh komandan Siau sudah mulai menyerang duluan.

Pa Kiam yang berkilauan segera disabetkan hebat luar biasa, Pui Cie berfikir membunuh satu berkurang satu yang melawan, dengan sepenuh tenaga dia gunakan tenaganya, kekuatannya menakutkan, suara besi beradu memekakkan telinga dibarengi suara mengaduh, dada sebelah kiri komandan Siau sudah tertusuk berdarah seperti sekuntum bunga merah.

Komandan Siau sebagai pemimpin pasukan pengawal berseragam indah ini sebenarnya ilmu silatnya amat tinggi.

Tapi kali ini baru sekali bergebrak sudah terluka, berarti Si Baju Ungu yang tidak pernah dikenal orang ini ilmunya hebat sekali, yang berada disana semuanya terkesima.

Guan Cen Ce jengkel sampai alisnya berdiri, dia maju sambil membawa pedang dengan memekik dengan keras, "Si Baju Ungu, akan kubunuh dirimu! Mampuslah!" pedang dan suaranya berbareng menyerang, kondisinya seperti naga yang kaget.

Pui Cie teringat akan peristiwa yang paling mengenaskan, ketika dia terjatuh ke dalam jurang karena dikeroyok oleh tiga pedang bergabung oleh pihak lawan, nafsu membunuhnya bertambah membara, tangannya segera di gerakan dengan jurus mematikan menggenpur tempat yang lemah.

Di dalam suara besi beradu yang bertubi-tubi Guan Cen Ce sudah terdesak mundur jauh, beberapa orang pengawal yang berseragam indah di belakang mencoba membantu menyerang sambil menjerit.

Pui Cie memutarkan badan sambil mainkan pedang seperti roda bersinar menggelinding tapi begitu cepat. Dua orang pengawal terjungkal sambil meraung-raung. Satu orang pedang panjangnya terlepas. Yang satu lagi tunggang langgang.

Semua orang terpana di tempatnya, tidak ada yang berani berbuat macam-macam lagi.

Yipha Yauci yang berdiri jauh juga tidak berani bertindak, mukanya terasa berat seperti lempengan besi.

Pui Cie melangkah kearah Guan Cen Ce..

Guan Cen Ce tahu dia tak kuat menahan serangannya, tapi dengan kedudukannya sekarang mau tidak mau mesti menghadapinya, tak bisa mundur lagi.

Saat ini tiba-tiba terdengar suara, "Berhenti!" sebuah pekikan yang menggelegar bersuara dan orangnya muncul bersamaan, yang datang ternyata adalah Sastrawan Iblis Ti Kuang Beng.

Kedua belah pihak menghentikan gerakan untuk menyerang.

Ti Kuang Beng menyapu semua orang yang ada di lapangan dengan mata memelototi Pui Cie katanya, "Lauwte, kau ternyata berada di pihak yang berlawanan dengan perkumpulan kami?"

Pui Cie menjawab dengan dingin, "Menjadi berlawanan juga disebabkan oleh perbuatan perkumpulan kalian."

"Apa artinya?"

"Kenapa mau meledakkan lembah ini?" "Lauwte mau mencegah?"

"Ya!"

Berubahlah air muka Ti Kuang Beng, dengan sadis dia bilang, "Ternyata kau adalah anak buah Ma Gwe Kiau?"

Pui Cie bingung, tidak terasa dia bertanya, "Apa itu Ma Gwe Kiau?"

Guan Cen Ce melotot, "Sudah tahu masih bertanya, memang ada berapa orang Chang Hua Ma Gwe Kiau?" Pui Cie mengerutkan alis bertanya, "Kenapa Ma Gwe Kiau bisa bergabung dengan orang dalam lembah?"

Guan Cen Ce dengan kecut menjawab, "Disini adalah sarang Ma Gwe Kiau, aku melihat sendiri dua orang Biauw masuk kedalam lembah, tak mungkin salah."

Pui Cie menggelengkan kepala, "Tidak mungkin!"

Ti Kuang Beng merasa aneh bertanya, "Kenapa tidak mungkin?" Pui Cie tiba-tiba sadar, mereka mau menggeledah dan membunuh

Ma Gwe Kiau, dikiranya dia adalah anak buah Ma Gwe Kiau, tapi Guan Cen Ce melihat sendiri dua orang Biauw masuk ke dalam lebah, apa mungkin Bo Yu Sien Ce mau menanggung si permpuan sadis itu? Setelah dipikir dengan suara rendah, "Orang yang berada di dalam lembah itu adalah seorang Cianpweku, sudah dua puluh tahunan dia bertapa, tidak mungkin menampung orang luar!"

"Ou.." Ti Kuang Beng aneh, "Siapa Cianpwe mu itu?"

Pui Cie celetuk tanpa pikir lagi, "Maaf, aku tak bisa memberi tahu." Guan Cen Ce dengan kecut bertanya, "Aku lihat sendiri dua orang

Biauw masuk ke dalam lembah, bagaimana kau menjelaskannya"

Pui Cie langsung nyeletuk, "Aku akan masuk ke lembah memeriksanya." Sebenarnya dia bilang begitu hatinya masih ragu, batu besar menutup mulut lembah itu, dia sedikitpun tidak mengerti formasinya. Apakah Bo Yu Sien Ce mengizinkan dia untuk bertemu? Semua ini merupakan sebuah masalah yang belum bisa diketahui, tapi dia sendiri punya keinginan masuk, dia mau melihat kondisi di dalam, sebab kesatu, Ma Gwe Kiau adalah orang yang mau dia bunuh juga, kedua, dia mau cari tahu penyebab kematian ayah Sastrawan Pengecut.

Bola mata Ti Kuang Beng berputar-putar bilang, "Baik! merepotkan lauwte masuk ke dalam untuk memeriksa, kami di luar akan menunggu satu jam, kalau dalam waktu itu kau tidak keluar, kami tetap akan menjalankan rencana semula." Pui Cie mengerti maksud perkataan mereka, kalau dalam satu jam dirinya tidak keluar, berarti dirinya sejalan dengan Ma Gwe Kiau.

Sesudah berfikir, dengan enteng dia berkata, "Baik! satu jam sudah cukup."

Guan Cen Ce dengan suara takut berkata, "Mau melepaskan macan kembali kesarangnya?"

Ti Kuang Beng dengan suara mantap bilang, "Komandan tak usah kuatir, aku tidak akan melakukan apa-apa yang tidak yakin."

Komandan, ternyata Guan Cen Ce telah diangkat oleh Shin Kiam Pangcu menjadi komandan gerakannya, Pui Cie memandang sinis padanya.

Ti Kuang beng mengulapkan tangan, "Lauwte, silakan!"

Ingin sekali Pui Cie bertanya keberadaan Phei Cen, tapi setelah dipikir-pikir kalau terburu-buru malah tidak akan kesampaian maksudnya, maka tidak boleh tergesa-gesa, barusan Ti Kuang Beng bilang tidak akan melakukan apapun kalau tidak yakin. Ini patut dipelajari, akhirnya, dia melangkah ke depan sampai di sisi batu besar tiba-tiba dirinya ingat telah berobah rupa Bo Yu Sien Ce pasti tidak mengenalinya, kalau sembarangan menerobos pasti akan terjadi salah paham.