Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 30 Tamat

 
Jilid 30 (Tamat)

TERASA lega dan kendor perasaan tegang Koan San gwat selama ini, katanya tertawa. “Kau sebagai penyambut tamu dari Thay khek pay, tiada heran kau sekarang lebih gemuk dan hidup kesenangan.”

Lau Sam thay terkekeh geli, katanya “Ling cu terlalu sungkan bekalku hanyalah cukup banyak makan saja, Thay khek bu hari ini baru didirikan secara resmi, aku sedang hendak berangkat menyampaikan undangan kepada para sahabat Bulim ” Koan San gwat mendadak bertanya. “Bagaimana nona Thio membuat penyelesaian dengan Thian mo kun?”

“Nona Thio adalah orang yang bijaksana, dia tidak suka main bunuh, kemaren waktu Ki Houw membawa kamrat kamratnya nona Thio pernah memberi nasihat dan ancaman keras kepadanya, supaya selanjutnya tidak membuat kejahatan, kalau tidak tentu tidak akan diberi keampunan, tanpa berani bercuit Ki Houw mencawat ekor.”

“Ceng ceng memang seorang yang gagah yang patut diberi penghargaan, Thian mo kau sudah lenyap, semoga dunia aman sentosa, jasa jasanya kali ini sukar ditakar, sudah pantas aku menyampaikan selamat dan salut setingginya.”

Lau Sam thay memicingkan mata, katanya tergagap. “Ling cu! kau. ”

“Ada persoalan apa? Silahkan tanyakan saja!”

Lau Sam thay tampak ragu ragu dan pelegak peleguk, katanya “Ling cu! nona Thio pernah berpesan, katanya siapa saja dia tidak mau menemui termasuk kau pula, dan lagi dia tidak mendinginkan kau naik ke atas gunung.”

“Dia tidak mau menemui aku? ”

“Ya, diapun berkata, umpama kau datang, dia hendak menyampaikan dua patah kata, menurut katakan tugas dan kewajiban untuk mengamankan dunia silahkan serahkan kepadanya saja, kau boleh mengejar kehidupan bahagia bersanding dengan istrimu!”

“Betulkah mereka berkata demikian? ”

“Aku punya berapa kepala berani berkata bohong. Ling cu, aku tahu rasa cintanya terhadap kau amat mendalam, mungkin hanya karena kedongkolan hati sementara saja, kau tidak perlu ambil dalam!”

Koan San gwat menjublek di tempatnya. Lau Sam hay berkata pula. “Penghuni gunung ini kebanyakan adalah kenalan lama mu, semua ingin bertemu sekali lagi dengan kau, terutama Liu tongcu dan Lok Siau hong setiap saat mereka selalu mengenang dan memikirkan dirimu. Kukira lebih baik kau keatas dulu, meski aku harus dihukum penggal kepala, aku pun rela memikul tanggung jawab ku ini, mungkin setelah bertemu muka dengan kau, dia bisa mengubah pendiriannya!”

Koan San gwat menggeleng kepala, katanya. “Tidak usahlah! Lebih baik tidak bertemu saja, aku tahu bahwa dia sudah mencapai maksud yang begitu tinggi akupun ikut senang dan puas!” lalu ia panggil Kang Pan dan mengajakanya berlalu.

Lau Sam thay lekas mengejar, serunya “Lingcu! Kalau toh kau tidak mau naik keatas gunung, silahkan tunggu di sini sebentar, aku bisa mengundang yang lain lain kemari, mereka benar benar ingin bertemu dengan kau!”

“Tidak usah! Siapapun aku tidak mau menemui, tidak usah kau bicara dengan mereka bahwa pernah kemari. Lau samko selamat bertemu, semoga kalian hidup rukun dan senang semunya lancar dan mendapat sukses lebih besar.”

Habis berkata bersama Kang Pan mereka berjalan cpat, setelah jauh dan keluar dari lingkungan pegunungan Ngo tai san baru mereka mengendorkan langkah, air muka Kang pan tampak sungguh, katanya ragu ragu. “Koan toako, apakah nona Thio bertengkar dia berpisah dengan kau karena gara garaku?”

“Aku percaya karena bukan hal itu.”

“Lalu kenapa dia tidak mau menemui kau? ” “Kau tidak akan paham.”

Kang Pan membelalakan matanya, namun Koan San gwat sudah segan bicara lebih lanjut. Sesaat kemudian baru dia bertanya dengan suara lirih. “Koan toako, kemana sekarang kita hendak pergi?”

Koan San gwat tertegun dunia selebar ini, belum terpikirkan olehnya suatu tempat yang menjadi tujuannya. Sejak ia muncul di dunia bebas dengan nama kebesaran Bing tho ling cu, sampai sekarang belum ada kesempatan istirahat melepaskan istilah, karena selalu sibuk dan dikejar kejar oleh tugas dan urusan yang belum bisa diselesaikan selama ini sekarang agakanya tiada sesuatu yang perlu dikerjakan lagi.

Dia pernah berjanji pada diri sendiri untuk menempatkan diri sebagai penyelamat kehidupan masyarakat umum dari tindasan dan kelaliman kelompok kelompok penjahat akan tetapi berdirinya Thay kek pang sudah merupakan tandingan pula bagi tugas tugasnya yang bisa dipikul bersama, berarti tugas tugasnya mendatang menjadi berbagi dua dan rada ringan namun rasa hati menjadi hampa kosong, setelah menjublek setengah harian baru ia menarik napas, dan berkata. “Sekarang terpaksa aku harus menyusul kebelakang Bu san untuk menengok kerjaan Li sek hong bagaimana, tapi aku kuatir kedatatanganku sudah terlambat.”

“Sudah terlambat? Kenapa bisa terlambat? ”

Bahwa Oen lolo suka menyempurnakan diri dalam soal sebab dan akibat, kerjaan Li Sek hong pasti dapat dilakukan dengan leluasa maka kukatakan terlambat!!!. ”

Koan San gwat manggut manggut, ujarnya “Ya, hanya tugas itulah yang bisa kulakukan sekarang,”

“Selanjutnya bagaimana ?”

“Kelak kita harus pulang ke Kho ham Kiong di Tay pa san, disana kita bisa hidup secara tenang dan tentram, persoalan di kangouw tidak perlu aku yang mengurusnya lagi!” kata katanya mengandung kehawatiran hati. Kang Pan dapat merasakan gejolak hatinya ini, katanya kalem. “Koan toako! kau pasti tidak akan bisa mengecap kehidupan demikian.”

“Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tidak akan bisa mengecap kehidupan macam itu?”

“Aku pun sulit menjelaskan tapi aku tahu orang macam kau ini, mutlak tidak akan bisa hidup secara tenang dan tentram, karena kau laksana seekor kuda liar yang lepas dari pingitan.”

“Kuda liar yang lepas dari pingitan? Maksudmu kecuali hantam menghantam, aku tidak punya cara kehidupan kehidupan lain yang lebih harmonis, kau tahu watakku paling membenci pembunuhan!”

“Bukan maksudku hendak mengatakan kau suka membunuh orang, tapi aku percaya kau tidak bisa hidup tenang tanpa terlibat urusan, cukup asal mendengar benturan alat senjata, darah panas dalam rongga dadamu seketika akan bergolak sifat perjuangan yang perwira selalu melandasi sanubarimu, apalagi jiwamu masih amat muda.”

Baru saja Koan San gwat mendebat uraiannya, mendadak didengarnya derap kaki kuda dan kelintingan kumandang disebelah belakang, waktu ia berpaling dilihatnya Thio Ceng ceng sedang menuggang seekor kuda tinggi besar berlari mendatangi.

Seketika ia mendelong dan berdiri mematung menunggu orang membedal kudanya lebih dekat, begitu tiba Thio Ceng ceng lantas melompat turun, kedua matanya memancarkan sinar terang dan sinar mengawasi dirinya tanpa bersuara.

Menunggu sesaat kemudian baru dia berkata “Koan toako, kau tidak akan membenciku bukan?” suaranya lirih dan gemetar.

“Tiada alasan aku membenci kau, kebalikannya cukup alasan kau membenci aku.” “Tidak! Koan toako kau salah sangka bukan karena aku pribadi aku tidak menemui kau dan bukan karena aku membenci kau aku tidak mau menemui kau, sedikitpun aku tiada maksud hendak membenci kau!”

Kata kata orang membuat Koan San gwat melenggong. Melihat orang berdiri mematung Thio Cen ceng bertanya. “Koan toako kau paham maksudku?

“Thio Ceng, ceng! sungguh aku tidak paham!”

Thio Ceng ceng tertawa getir. “Koan toako, dalam perjuangan hidup ini, kau memerlukan wadah kekeluargaan untak melanjutkan kehidupan dihari tua yang mendatang, tapi diatas Ngo tai san terlalu banyak permpuan perempuan yang membawa nasib jelek ada lebih baik kau tidak bersua dengan mereka!”

Seperti diiris iris hati Koan San gwat lekad ia ulapkan tangan, katanya. “Sudah Ceng ceng, kau tidak perlu mengutarakan lebih lanjut!”

Sekilas Thio Ceng ceng melirikanya dengan lesu, akhirnya berkata dengan tegas, dan lirih. “Secara objektif kupandang situa si Bulim dalam beberapa tahun belekangan ini, kukira kekuatanku masih kuasa mengendalikannya tapi aku tidak berani tanggung kuasa menguasai keadaan selamanya.”

“Ceng ceng. Aku paham akan maksud mu, tapi kau harus tahu ..” tiba tiba ia sadar bahwa Kang Pan berada disampingnya lekas ia menghentikan kata katanya, akan tetapi sorot matanya menampilkan bahwa maksud hatinya masih belum kuasa melimpahkan isi hatinya.

Namun Ceng ceng cukup paham dan manggut manggut, katanya. “Koan toako! Aku pun memaklumi isi hatimu, malah sedikitpun aku tidak menaruh kebencian terhadapmu, sedikitpun aku tak cemburu atau jelus teerhadap nona Kang yang bisa selalu mendampingi kau...” Mendadak Koan San gwat angkat tangan katanya. “Ceng ceng, aku tak kan melupakan budi kebaikanmu ini selama hidupku ini, maka akupun tidak perlu banyak kata lagi!

“Koan toako, bagaimana perhitungan langkah langkahmu selanjutnya? ”

“Ada sebuah urusan yang belum sempat kulaksanakan, setelah urusan itu dapat kuselesaikan, mungkin aku akan menetap di Khong ham kiong sampai di hari tua, selama hidup tidak akan terjun kedunia ramai.”

“Baiklah, aku tak akan lama lama, menahan kau, silahkan. Cuma kau harus tetap ingat bahwa kita tetap masih bersahabat, bila kau perlu bantuanku….”

“Aku percanya tidak perlu lagi, urusanku hanya aku sendiri baru bisa diselesaikan, siapapun tidak akan bisa membantu aku, tapi aku selalu mengingat ucapanm, kalau kau punya waktu luang…”

“Aku akan menengok kau, entah kapan belum bisa kutentukan !”

Koan San gwat melengak, katanya “Kapan saja kau merupakan tamu agung paling ku nanti dan kusambut dengan senang hati.”

Thio Ceng ceng tertawa getir katanya. “Koan toako, aku tidak percaya selamanya kau akan menjadi naga sakti yang tidak bisa dikekang, tapi aku sediri juga tahu lama lama kau bisa menemukan belenggu dalam bidang asmara, maka akan kuajakan hari pertemuan kita dalam batas waktu yang tidak bisa di tentukan, bicara terus terang yang akan ku tengok bukanlah kau, adalah ”

“Itu tidak mungkin” sahut Koan San gwat pendek dan tegas.

“Aku tidak percaya, gurumu harus menunggu dua puluh tahun baru mendapatkan nya, masakah kau akan lebih lama lagi, tapi aku pecaya dalam masa hidupmu ini, akan datang suatu ketika terjadilah peristiwa yang kutunggu tunggu.”

Sejenak Koan San gwat terlongong akhir nya ia bersaja dan berkata. “Ceng ceng, selamat bertemu kapan saja!”

Selama itu Kang Pan mendengar percakapan mereka dengan berdiri mematung, saat itulah mendadak dia berkata! “Nona Thio Tempat tinggalmu di Ngo tai san apakah masih bisa menerima seorang lagi?”

Thio Ceng ceng melengak sebentar, sahutnya “Kenapa mendadak kau bisa berpikir demikian.”

“Beruntunglah aku mendengar percakapanmu dengan Koan toako barusan, sehinga aku menjadi paham karena aku harus menuju, sepantasnya aku termasuk dalam golongan kalian…”

Koan San gwat tersentak kejut, katanyangugup. “Kang Pan, darimana kau bisa punya pikiran yang tidak genah ini? ”

Thio Ceng cengpun berkata “Nona Kang! Ngo tai san, adalah tempat penampungan bagi perempuan perempuan penasaran dalam mengarungi kegagalan hidup, kau adalah istri Koan toako, hari depan kalian adalah bahagia dan menyenangkan!”

“Koan toako, Thio cici, kalian tidak usah ngapusi aku, meski urusan yang ku mengerti amat sedikit, tapi aku tidak ceroboh terhadap sesuatu urusan yang harus kupahami!”

“Nona Kang! Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan kepada kau, tapi aku tidak menolak bila kau hendak ikut masuk kedalam kelompok kelompok perempuan perempuan penasaran di Ngo tai san….”

“Ceng ceng, kau….” Koan San gwat menjadi gugup.

“Koan toako!” kata Ceng ceng dengan serius, “Aku tiada maksud menggangu dan memecah belah perkawinan kalian yang bahagia, tapi aku merasa bila nona Kang meninggalkan kau betapapun adalah suatu pilihan yang harus dimengerti, dan berani kukatakan pula merupakan jalan pilihan tetap!”

Koan San gwat tidak mampu mendebat.

Dengan berlinang air mata Kan Pan berkata “Koan toako! Aku sendirilah yang ingin meninggalkan kau, meski pernikahan kita hanya berlangsung tutur kata dimulut belaka namun aku tetap akan mengekangmu dan terima kasih kepadamu.”

“Kang Pan, aku bukan orang yang suka menjilat ludahku sendiri...”

“Bukan begitu maksudku dan aku paham kau adalah seorang yang baik hati, kau setuju hendak mengawini aku meski hanya karena merasa kasihan padaku, tapi aku percaya kau akan baik baik menghadapi aku, tapi aku sudah berkeputusan untuk meninggalkan kau…!”

“Aku tak akan menyia nyiakan kau.”

“Sudahlah jangan kau berkukuh pendirian peninggalanku jadi tidak berharga nanti, bahwa aku harus berpisah dengan kau adalah untuk memberikan peluang kepadamu untuk segera bebas memilih jalan yang harus kau tempuh, aku akan seperti Thio cici selamanya akan menunggu kau!”

Tak tertahan Thio Ceng ceng merangkul erat erat, katanya. “Nona Kang, cara bagaimana kau bisa berpikiran sedemikian mendalam? ”

“Sebetulnya aku hanya setengah paham setelah kudengar percakapan kalian baru aku paham, ucapanmu memang betul, Koan toako adalah naga sakti yang sukar dibelenggu, dalam lubuk hatinya selamanya belum pernah jatuh cinta terhadap seorang perempuan, sampai sekarang juga, segala sepak terjangnya, adalah tertekan oleh kesetiaan, keadilan dan kebenaran! Koan toako, ucapanku tidak salah bukan!”

Koan San gwat tak bicara, adalah Thio Ceng ceng berkata dengan suara gemetar “Ucapanmu tidak salah, malah kata katamu lebih tegas lebih menyeluruh, demi aku Koan toako menempuh bahaya menyusul ke Tay pa san, bahwa dia mau menyetujui perkawinan adalah benar karena terikat oleh kesetiaan keadilan, sekali kali tidak pernah tersekap rasa cinta asmara didalam sanubarinya. Sudah tentu terhadap kita bukan seluruh tidak punya perasaan cinta macam itu belum bisa memenuhi kebutuhan kita! Maka…”

Cepat cepat Kang Pan melanjutkan “Maka kita harus menunggu nunggu didalam harapan kosong!”

Thio Ceng ceng tertawa getir, katanya. “Kau masih belum mencapai harapan itu, sementara aku sudah putus asa didalam harapan ini.”

“Asal dalam lubuk hati Koan San gwat tiada bayangan orang lain, meski sedikit kita masih punya setitik harapan. Thio cici, kau tidak perlu kecewa….”

“Aku paling lama mengenal dia..”

“Kau paling banyak memberikan apa apa kepadanya, juga paling mendalam mencintainya ”

“Pada titik sekarang ini bolehlah dikatakan demikian!” “Kelak pun tidak akan ada orang yang melampaui kau!.”

“Bagaimana juga tidak akan bisa menggerakan hatinya apa pula yang harus kuharapkan? ”

Kang pan tidak berkata kata lagi..

Berkata Koan San gwat dengan rasa malu dan uring uringan “Ceng ceng! Kalian menilai aku seolah olah menjadi manusia dingin tidak berperasaan!”

Ceng ceng menggeleng, katanya dengan suara tegas “Koan toako! Sekali kali aku tidak punya maksud demikian, aku percaya, nona Kang Pan tidak punya maksud demikian. Didalam sanubari kita, kau tetap seorang laki laki yang patut dihormati, patut bagi kita mengorbankan segala galanya demi kau, maka kami tidak membenci kau, malah ku sampaikan selamat dan doa semoga….”

“Terima kasih akan kebaikan kalian selamanya aku tidak lupa akan ketulusan hatimu.”

“Koan toako !” Kang Pan menyeletuk.”Kami tak perlu rasa terima kasihmu, seperti pula kami tidak suka memaksakan pengetrapan perasaanmu pada kami, aku akan hidup berdampingan bersama Thio cici sampai ajal.”

“Dikala kau sudah menemukan cinta yang murni, kami akan datang menengok kau.”

“Kukira tidak mungkin lagi, dalam dunia ini tiada orang lain yang lebih paham diriku kecuali kalian!”

“Kalau begitu silahkan kau tengok kami, sudah tentu kala itu kau harus membekal cinta yang suci dan murni, tidak perduli terhadap siapa, kami akan tetap menyambut kedatanganmu.”

“Itu sih mungkin saja, perasaanku sekarang amat kalut, berilah aku jangka waktu yang cukup lama untuk menenangkan pikiran dan menentukan arah, mungkin aku akan merasakan kepentingan hal itu.”

“Didalam memilih sasaran cinta kau punya kebebasan yang penuh!”

“Kalau aku berkepastian untuk mencintai orang, aku akan memilih satu diantara kalian !”

“Koan toako tidak usah kau membatasi dirimu dalam lingkungan yang begini sempit, persoaan cinta tidak bisa kau putuskan sendiri, tapi untuk ucapanmu ini, kami pasti menuggu kau”

“Kalau begitu kalianpun tidak perlu membatasi diri dengan patokan yang mematikan kalau kalian menemukan…”

“Tidak mungkin! Kita cukup paham terhadap diri sendiri!” Koan San gwat tidak berani banyak kata lagi, lekas ia cemplak keatas kuda, serunya. “Selamat tinggal, kuharap kalian menjaga diri baik baik!” dia tidak berani banyak berpaling memandang kepada mereka, tidak bicara pula, cepat cepat ia keprak kudanya tinggal pergi.

Kedua anak perempuan ini mengawasi punggungnya yang lari semakin jauh dengan berlinang air mata.

Debu mengepul tinggi dan lambat laun menipis dan akhirnya hilang, setelah bayangan Koan San gwat tidak kelihatan lagi, baru Kang Pan berkata terisak.”Apakah dia bisa kembali?”

Thio Ceng ceng mengusap air matanya, sahutnya. “Siapa tahu? Tapi jikalau kau sudah melepas pergi janganlah kau mengandung harapan itu, kalau tidak hanya akan menambah kesengsaraan hidupmu!”

“Tidak! Kesetiaan Koan toako menjadi jaminan dan harus dipercaya, aku percaya akan datang suatu hari dia pasti kembali.”

Thio Ceng ceng menuntun kudanya, ujarnya. “Sudah jangan kau mengena-ngena lagi, cukup asal kau mempersembahkan hatimu untuk menentramkan sanubari, jangan sekali kali kau memikirkan sesuatu permintaan terhadapnya, untuk mendapatkan laki laki macam itu, hanya cara inilah yang harus kau tempuh, aku dapat membenarkan bahwa kau dapat bertindak tegas untuk berlisan dengan dia, kalau tidak, kau hanya bisa mendapatkan raganya saja tanpa bisa memperoleh rasa cintanya, sebetulnya dia….”

“Sebetulnya dia hanya menjadi milik kau sendiri, sebaliknya sekarang. ”

Thio Ceng ceng tertawa, katanya. “Benar! sekarang harus membagi sama rata dengan kau tapi aku sedikitpun tidak menyesal, tenagaku seorang terlalu lemah, ditambah kau, kita tidak akan gampang kehilangan dia, marilah pulang, masih banyak urusan yang perlu diselesaikan di Ngo tai san, mungkin kita harus menunggu dalam waktu yang cukup lama.” Mereka memutar kuda dan berlalu enteng menuju kejalan pulang.

Koan San gwat mengeprak kudanya kencang dilinkupi debu tobal yang membumbung tinggi dibelakangnya, beberapa kali ia hendak berpaling kebelakang, tapi akhirnya ia tahan tahan, ia tahu bahwa kedua gadis yang memujanya itu sedang mengantar bayangan tubuhnya. 

Setelah melepaskan diri dari beban berat dari Kang Pan, ia merasa enteng dan bebas kelana, sedikitpun tidak ada ganjelan dalam hati, hilanglah rasa was was dan kuatir.

Thio Ceng ceng memang orang terdekat yang paling memahami pribadinya, begitu metan ia melimpahkan isi hatinya, seperti sebidang kaca bundar yang terang dan jelas menyoroti segala galanya mengenai dirinya.

Sejak pertama kali ia muncul dikalang kangouw di padang pasir menggunakan kebesaran nama Bing tho ling cu, dalam hati nya selalu dihayati oleh semangat juang yang menyala nyala dan sukar dipadamkan.

Thio Ceng ceng adalah anak perempuan yang dikenalnya pertama kali, selanjutnya adalah Khong ling ling, dan kelanjutaanya Lok Siau hong, Liu Ih yu dan Kang Pan, yang terakhir adalah Ling koh yang melimpahkan isi hatinya didalam Jian coa kok.

Beberapa anak gadis itu entah terus nyerang atau secara samar samar dan sembunyi sembunyi sama pernah melimpahkan rasa cintanya terhadap dirinya, yang berani cukup mendalam seolah olah meresap ketulang sumsum, ada pula karena cintanya tidak terbalas menjadi benci, ada pula yang lapat lapat terpaksa mereras diri. Akan terapi diantara sekian gadis gadis ayu tiada seorangpun yang pernah menggerakkan hatinya. Setelah dipikir bolak balik ia belum bisa menemukan keputusan terakhir. Lama kelamaan ia menjadi curiga pada diri sendiri, kecuali dirinya adalah makhluk aneh yang tidak mengenal perasaan       alasan untuk menjawab, keadaanya yang relatif tidak mengenal cinta ini.

Anehnya sedikitpun ia tidak punya angan angan untuk membangun keluarga, terhadap keributan dalam dunia ini iapun seperti sudah bosan. Padang pasir nan luas dan terbentang luas tanpa ujung pangkal barulah menjadikan teman hidup abadi, hanya kelana bebas seperti angin tanpa rintangan, barulah merupakan kebutuhan hidup yang utama.

Masih banyak urusan dunia yang janggal dan tidak kenal keadilan dan tidak kenal, bahwa Bing tho ling cu belum lagi ia serahkan kepada generasi mendatang, maka menjadi keharusan bagi dirinya untuk mempertanggung jawabkan keluhuran nama besar nan agung dan abadi, terus mempersembahkan nyawa dan raganya, mungkin masih banyak berbagai macam kehidupan yang aneka ragam tanyakanya sedang menunggu dirinya.

Tamat