Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 29

 
Jilid 29

“Dari mana asal mula alasanmu ini? Untuk membenci aku kan kaupunya alasan.”

“Tanyakan kepada ibumu.”

“Apa sangkut paut hal ini dengan beliau!”

“Amat besar hubungannya, sebelum dia melihat kau, hatinya selalu dirundung kesedihan dan yang dibayangkan selalu adalah putranya yang hilang, mungkin dia anggap aku tidak tahu, sebetulnya sejak lama Hwi kak sudah memberi tahu kepadaku, sejak saat itu aku sudah mulai benci kau, akhirnya ditambah persoalan Thio Ceng Ceng, maka aku tidak bisa berdiri sejajar dengan kau.”

Koan San gwat menjublek mendengar uraian yang dianggap gila ini. Lau Yu hu meneruskan dengan suara gegetun dan benci. “Selamanya kalian dipihak yang unggul, ayahku terima diperhina dan hidup merana, rela rujuk kembali demi kebahagiaan rumah tangga, namun ia tidak bisa menarik kesenangan hati ibu, setelah generasi mendatang keadaan lebih parah lagi, didalam sanubari ibu kedudukannya jauh lebih berat dan disayang, didalam lubuk hati Ceng ceng, aku malah tidak bisa menempati posisi yang kuharapkan, apakah aku tidak pantas membenci kau?”

“Kau salah. ” ujar Koan San gwat menghela napas.

“Sedikitpun aku tidak salah, apa yang kuuraikan adalah kenyataan, suruh aku meningalkan Thian mo kau adalah kumpulan sesat, akupun tahu Cia Ling im adalah seorang durjana, tapi tanpa banyak pikir aku rela masuk menjadi salah satu dari kelompok mereka, malah tidak kepalang tanggung kubongkar kuburan ayah almarhum, kuberikan sebarang pedang Ceng so kiam kepadanya kau tahu apa sebabnya?”

“Aku tidak tahu.” sahut Koan San gwat menggeleng. “Aku hanya tahu bahwa kau sudah gila!”

Lau Yu hu menyeringai seram, ujar nya. “Boleh dikatakan demikan, aku gila karena penyebabnya, setiap orang yang menjadi musuhku, adalah sahabat karibku, apapun yang bakal menjadi milikmu aku akan menempuh jalan yang berlawanan dari kau!”

Koan San gwat berpikir sejenak, mendadak ia berkata dengan sikap serius. “Lau yu hu, tidak kata kata yang perlu kukatakan pula kepada kau, sebetulnya aku sudah berjanji kepada ibu untuk mengampuni jiwamu, sekarang aku terpaksa mohon pengampunannya...”

“Kau tidak perlu minta pengampunannya hakikatnya dia hanya punya kau sorang putra dia, kau dan Bing Gwat yang sudah mampus itu, kalian bertiga baru satu keluarga ”

“Lalu kau ini apa?” damprat Koan San gwat naik pitam.

Lau Yu hu menarik muka dan berkata. “Aku hanyalah bibit pembalasan dendam yang ditinggalkan ayahku, biar kuberi tahu kepada kau, setelah kubunuh kau, lawan yang kedua yang kuincar adalah ibu!”

“Keparat dan durhaka! Apakah beliau bukan ibumu?” “Bukan!” teriak Lau Yu hu beringas. “Lau Yu hu tidak punya

ibu, Liu Ih yu pun tidak punya istri, walau ayahku menyuruh

aku memaafkan dia, sebaliknya tidak pernah kupikirkan hal ini.”

Amarah Koan San gwat tidak tertahan lagi, mengayun pedang kontan ia menusuk ke dada orang, lekas Lau Yu hu melintangkan pedang, tenaga yang dikerahkan cukup kuat. “Trak” kedua senjata beradu amat keras dan berbunyi nyaring, seketika Koan San gwat terhentak mundur dua tapak, dan lagi Pek hong kiamnya bukan lawan kesaktian Ci seng kiam, tajam pedangnya tergumpil pecah sebesar kacang.

Lekas Kang pan mengansurkan Ui tiap kiam kepadanya, serta berteriak. “Koan toako gunakanlah pedang yang ini!”

“Yang mana bolehlah, didalam Ngo ih kiam, Ci seng merupakan yang terunggul.”

Koan San gwat sudah keretak gigi, sambil menenteng Pek kong kiam ia sedang menghimpun tenaga murni siap melancarkan Pek hong kiam itu, salah satu jurus terganas yang mematikan dari Hu mo kiam hoat.

Mendadak dari samping sana menerobos keluar dua sosok bayangan, mereka ternyata Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin adanya.

Kang Pan berdiri melongo, cepat Gwat hoa Hujin sudah melejit tiba terus rebut Ui tiap kiam dari tangannya. Koan San gwat terkejut dan heran, cepat ia memapak maju, serunya. “Bu, kenapa kaupun kemari ?”

Gwat hoa Hujin tidak menghiraukan seruannya, matanya berkilat melata Lau Yu hu. Adalah Li Sek hong memberi jawaban sambil datang menhampiri. “Hujin amat kuatir akan keselamatanmu. Jing Tho disuruh memimpin orang orang lain menuju, ke Tay pa san menunggu di sana, lalu dia mengajak aku untuk membaatu kau! bagaimana keadaan disini?”

Koan San gwat tidak sempat menjawab pertanyaannya, dengan gelisah ia berseru kepada Gwat hoa Hujin. “Bu biar aku saja...”

“Tidak usah!” sahut Gwat hoa Hujin tegaz dan perihatin. “Dengan tanganku sendiri akan kubunuh anak durhaka ini!” Waktu Koan San gwat memburu menghadang diantara mereka, Gwat hoa Hujin lantas menghardik bengis. “Anak Gwat! Kaupun tidak mendengar ucapanku lagi!”

Tampak oleh Koan San gwat muka orang pucat dingin lagi, hatinya menjadi luluh, terpaksa ia mundur kesamping, adalah Lau Yu hu Sa mundur beberapa langkah didesak oleh Gwat hoa Hujin yang maju menghampirinya.

“Bukankah kau hendak bunuh aku?” damprat Gwat hoa Hujin beringas. “Kenapa tidak berani turun tangan?”

Lau Yu hu tidak mundur lagi, matanya pun memancarkan rasa penasaran dan berteriak kalap. “Tak usah tergesa gesa kau ingin mampus, tunggulah setelah aku membinasakan bocah she Koan itu, akan datang giliranmu nanti, sekarang jangan kau desak aku turun tangan!”

Gwat hoa Hujin tertawa pedih dan seram. “Aku paksa kau? Kalau aku tahu kau seorang yang berhati lebih kejam dari binatang, masakah aku bisa membiarkan kau tumbuh dewasa sebesar ini? Sungguh aku menyesal kenapa diwaktu melahirkan aku tidak mencekik mati kau saja!”

Pancaran kilat Lau Yu hu yang sudah kesetanan itu semakin menyala, pekiknya. “Menyesalpun sekarang kau sudah terlambat.” lenyap suaranya pedang ditangannya kontan menyambar kedepan, ujung Ci seng kiam seketika memancarkan cahaya ungu yang menyala dimana sinar pedang berelebat, hanya terdengar kesiur angin deras yang melengking, rambut panjang yang tersanggul diatas kepala Gwat hoa Hujin seketika rontok dan terpapas berhamburan separuh diantaranya.

Sembari melintangkan pedang dengan kedua tangannya, berkata Lau Yu hu tertawa. “Sudah kulihat sendiri belum inilah Bau hun sam sek peninggalan ayahku, hanya permainan pedang jurus jurus itu barulah bisa mengembangkan wibawa dan keampuhan Ci seng kiam. Jurus pemainan merontokkan rambut sebagai ganti memenggal kepala, anggap saja sebagai balas budi akan kebaikanmu melahirkan aku ”

Belum lenyap suaranya, sinar ungu memancarkan dan berkelebat pula, ia memapas kutung lengan baju Gwat hoa Hujin pula, katanya tertawa dingin. “Jurus kedua, aku memotong pakaian sebadai ganti badan sebagai penebus budimu membimbing dan mengasuh aku, maka jurus ketiga ini akan menagih pembalasan ayahku. Yang hidup merana bersanding dosa. ”

Sekonyong konyong seperti kesurupan Gwat hoa Hujin menerjang dengan kalap dimana Ui tiap kiam menyambar, tampak bayangan kupu kupu menari nari mengitari Lau Yu hu, dalam sekejap bayangannya sudah lenyap terbungkus libatan sinar pedang.

Setiap hadirin sama tertarik perhatiannya akan kejadian yang tegang dan serius ini, sehingga tiada seorangpun yang memperhatikan Cia Ling im secara diam diam menggeremet pergi dan menghilang seperti bayangan setan.

Ditengah bayangan kupu kupu yang sedang menari nari itu terdengarlah suara berdenting berulang ulang. Tentulah Lau Yu hu sedang berjuang mati matian demi keselamatan jiwa didalam kepungan hawa pedang yang deras dan tajam itu. Bagi penonton di luar arena hanya melihat ditengah cahaya kuning itu menggulung gulung ceplok ceplok kabut ungu yang semakin menebal, laksana didalam rumpun kembang yang mekar dimusim semi sedang dirubung oleh kupu kupu yang mesari nari tak terhitung banyakanya.

Kedua pihak terus berkutet dan bertahan cukup lama, rangsakan berantai Gwat hoa Hujin selama itu tidak mampu menjebol musuh tabir penjagaan Ci Sek Kiam yang kokoh rapat. Sebalikanya selama ini Lau Yu hupun belum lagi melancarkan jurusnya yang ketiga. Akhirnya Koan San gwat tidak sabar lagi, sambil bersuit nyaring pedang ditangannya dengan tipu Pek hong kiam jit, membawa cahaya memanjang seperti sabuk kemala menerjang masuk dalam arena. Begitu hawa ungu kena diterjang oleh cahaya putih menyala seketika melembang besar dan meluas, seolah olah angin lesus yang deras dan mendampar dengan kekuatan yang tiada taranya melandai datang, yang pertama tama kena di diterjang adalah bayangan kuning yang membelit disekelilingnya, lalu menggulung seperti damparan ombak samudra kearah cahaya putih menyala. “Trang” terdengar benturan nyaring menusuk ketelinga, tahu tahu Pek hong kiam ditangan Koan San gwat sudah tinggal separuh, badannyapun tergentak mencelat setengah tumbak.

Rambut Gwat hoa Hujin awut awutan, ia berdiri tegak ditempatnya tanpa bergerak ujung pedang Ui tiap kiam menjulur keatas Bumi, kedua tangannya lemas semampai dari pinggangnya mengalir darah deras tepeiti sumber air.

Sementara Lau Yu hu masih menentang Ci seng kiam, mukanya yang beringas tadi sudah hilang sekarang, sekarang terlihat seperti mimik aneh yang sulit diraba bagaimana perasaan hatinya, seperti hampa menyesal dan rawan pula.

Kang Pan menjerit ketakutan sambil menutupi mulutnya dengan muka pucat pias, akhirnya tak tertahan rasa amarahnya, teriakanya. “Siau giok, gigit mampus manusia durhaka yang lebih kejam dari binatang itu !”

Siau giok siular sakti secepat kilat segera menerjang keluar, lekas Lau Yu hu menebaskan pedangnya, namun gerak gerik Siau giok teramat cepat lincah dan gesit, cukup badannya melengkung dan melinting, tahu tahu giginya sudah mematuk pergelangan tangannya. 

Lekas Koan San gwat melangkah lebar memburu kedepan, pedang kutungan ditangannya kontan terayun. “Cras” tangan sebatas sikunya ia tebas kutung, lalu ia menjemput Ci seng kiam dan diserahkan kepada Lau Yu hu, katanya. “Kau pergilah lalu dipaksa untuk bertindak begini, racun berbisa Siau giok tiada obat pemunahnya, tunggulah setelah luka luka mu sembuh, biar kita mencari perhitungan lagi.”

“Koan toako.” ujar Kang Pan terbelak, “Kenapa kau menolong dia? Kenapa melepasnya pergi pula?”

Koan San Gwat tidak hiraukan pertanyaan, ia memburu kedepan Gwat hoa Hujin dan berlutut didepan kakinya, suaranya tersendat “Ibu, anak….”

Darah mengucur semakin deras dari pinggang Gwat hoa Hujin, tapi agaknya ia sudah lupa merasakan sakit, sebelah tangannya terulur mengelus kepalanya. “Nak, bukan salahmu kalian adalah putra putraku yang baik... aku amat girang, betapapun Yu hu masih punya perasaan, kuharap kau bisa memberi maaf kepadanya.”

Koan San gwat mengadahkan mukanya yang berlinang air mata, sahutnya terisak. “Bu! Aku patuh akan pesanmu. ”

Memancar terang sinar mata Gwat hoa Hujin, mukanya menampilkan senyum lebar yang terhibur, katanya. “Watak asli Yu hu masih bajik dan welas asih, ayahnyalah yang dipersalahkan, tidak pantas dia menanam bibit dendam kesumat kedalam relung hatinya, dialah yang membuatnya menjadi seperti sekarang, tapi dia....” bicara sampai disini agakanya dia sudah tidak kuat bertahan lagi, namun ia menguatkan hati dan meneruskan kata katanya. “Betapapun dia adalah anak yang baik hati, kau.... bukan saja harus memaafkan dia, harus pula membimbingnya ke jalan lurus, jangan kau biarkan dia bergaul dengan orang orang jahat ”

Akhirnya badan rubuh juga, tapi Koan San gwat berada dihadapannya, lekas ia memeluknya, Gwat hoa Hujin menekan tangannya katakan pula. “Nak! Cabutlah kutungan pedang dalam pinggangku!” “Jangan bu,” lekas Koan San gwat mencegah. “Luka luka mu masih ada harapan disembuhkan.”

Dengan lemah Gwat hoa Hujin menggeleng kepala, ujarnya. “Tidak mungkin nak. Tusukan pedang ini amat kebetulan memutuskan urat nadiku lekas cabut keluar. Aku masih punya dua pesan yang amat penting…”

Tapi Koan San gwat mash belum berani menyentuh potongan pedang itu. terpaksa Gwat hoa Hujin mengerakkan sisa tenaganya mencabut potongan pedang yang menghujam kedalam pinggangnya dengan kekerasan. Darah segar memancar deras. Lekas dengan sebelah tangannya ia menekan luka lukanya, tangan yang lain mengangsurkan kutungan pedang kepada Koan San gwat ujarnya “Anak ku! Ambil dan simpanlah. Kalau Lau Yu hu meluruk datang mencari kau pula, atau bila kau teringat hendak mencari dia, boleh kalian melihat pedang kutung ini, bayangkan kematianku…” mulutnya menyemburkan darah juga, diwaktu Koan San gwat gerung gerung memeluk dm sesambatan memanggil namanya, lambat laun ia sudah kehilangan kesadaran kutungan pedang itupun tidak kuat dipegangnya lagi.

Orang lain yang menonton dipinggiran termasuk Li Sek hong Kang Pan dan Ling koh sama heran dan tidak habis mengerti.

Gwat hoa Hujin sudah meninggal mati diujung kutungan pedang itu, kutungan pedang adalah Pek hong kiam yang dibekal oleh Koan San gwat, apakah Koan San gwat yang membunuh ibu kandungnya sendiri?

Sudah tentu tidak mungkin terjadi, lalu cara bagaimana kutungan pedang itu bisa berada didalam pinggang Gwat hoa Hujin? Mereka tiada yang bisa menjawab. Meski sejak tadi mula dengan penuh perhatian dan cermat mereka mengikuti pertempuran sengit tadi akan tetapi sulit diikuti oleh pandangan mata, sehingga apa yang terjadi mereka sama tidak tahu.

Tangisan Koan San Gwat yang gerung gerung dan melolong seperti pekikan serigala kesakitan yang terkena panah, air mata berderai membasahi selebar mukanya. Orang orang lain yang hadir menjadi ikut sedih dan mencucurkan air mata pula. Berselang agak lama, Ling koh baru maju menarik narik tangannya katanya. “Koan kongcu, kau jangan menangis lagi. Orang meninggal tidak akan bisa hidup lagi, kau bersedih tiada gunanya, yang penting sekarang harus mengurus pemakaman Hujin….”

Li Sek hong yang mendekat, katanya. “Koan kongcu serahkanlah jenasah ibumu kepadaku menghadapi kematiannya ini, aku jauh lebih sedih daripada kau! Tidak lebih hanya kehilangan seorang ibu…”

Meski sedang dirundung yang tak terhingga, mau tidak mau Koan San gwat tercengang mendengar katanya ini.

Li Sek hong tertawa pilu, ujarnya rawan. “Mungkin kau tidak akan bisa memahami ucapanku bicara soal cinta, sudah tentu   aku tidak lebih berat dari hubungan kalian ibu dan anak, tapi semula kau tahu bahwa kau punya seorang ibu, setelah kau dapatkan kini kau ditinggalkan pula. jadi tidak akan membawa banyak pengaruh terhadap kelanjutan hidupmu, sebalikanya aku kehilangan saudara hidup yang terakhir…”

Koan San gwat bingung mendengar kata kata orang. Li Sek hong mengusap air mata lalu berkata pula “Kau tahu sejak mening galkan Sin ti hong, seperti perahu terombang ambing ditengah samudra, aku tidak punya tempat berteduh lagi, akhirnya secara kebetulan berjumpa dengan ibumu dia begitu baik laksana adik kandung sendiri terhadap ku, dia ingin selanjutnya kami bisa hidup berdampingan mengecap hari tua yang penuh penderitaan ini. Siapa tahu nasib telah mempermainkan kita setitik harapan kinipun tidak bisa kunikmati lagi.”

Koan San gwat amat haru, tak tertahan ia menekuk lutut dan berkata pelan. “Li sian cu kau sebetulnya memang angkat tuaku, mengikat persahabatan yang begitu mendalam lagi dengan ibuku, selanjutnya kau adalah bibiku yang terdekat.”

Li Sek hong menerima Gwat hoa Hujin dari tangan Koan San gwat, lalu ia menariknya bangun, setelah menatap sebentar ia berkata pelan “Aku amat senang punya famili seperti kau, tapi aku tidak mau mengakui keponakan macam kau ini, sebab aku akan mengajukan berbagai pertanyaan yang mempersingkat jawabanmu…”

“Persoalan apa?”

“Dengan ibumu aku sudah angkat saudara kali ini dia ajak aku kemari seolah olah sudah mendapat firasat bahwa umurnya tidak akan panjang maka sebelumnya sudah memberi pesan kepadaku, seluruh milik dan persoalannya ia serahkan padaku termasuk Khong ham kiong di Tay pa san dan kalian pelayannya…”

Cepat Koan San gwat berkata. “Hal itu tidak menjadi soal, biar aku memberi tahu mereka supaya mereka ikut kau saja!”

“Tidak perlu, mereka sudah tahu karena bibimu sudah berpesan langsung dihadapan mereka tapi yang harus kuberi tahu kepada kau bukan paroalan ini”

“Persoalan apa saja?”

“Pertama tama aku harus tahu cara bagaimana kematiannya?”

“Kenapa kau harus menanyakan hal ini?”

“Ini sangat penting aku harus berpegang pada hal ini baru berkeputusan untuk mengurus pesan pesannya, karena dia ada memberi dua pesan yang berlainan. Pesan yang kau tidak perlu tahu.”

Koan San gwat berpikir sebentar, lalu katanya “Boleh dikata beliau mati ditanganku tapi boleh dikatakan mati ditangan Yu hu…”

Tegak alis Li Sek hong. “Sebenarnya siapa yang membunuh dia?”

“Sudah tentu aku.”sahut Koan San gwat terisak.

Berubah air muka Li Sek hong, berkata pula Koan San gwat “Jurus ketiga dilancarkan Yu hu memang bukan olah olah hebatnya, mungkin tiada tandingan diseluruh jagat. Waktu mengharap ibu ia masih ragu ragu dan segan menggunakan jurus itu, tapi setelah ku kejar kedalam gelangang, baru ia melancarkan jurus yang lihay itu, sasarannya adalah aku, ibu melihat aku akan kehebatan dan mara bahaya yang mengancam jiwaku, lekas ia menghadang kedepan, akhirnya dia sendiri yang menjadi korban…”

Li Sek hong bingung tanyanya. “Jadi pedangnya yang membunuhnya...”

“Benar, melihat ibu memapak keputaran pedangnya, Yu hu didesak menarik kembali ditengah jalan, di saat ia menarik pedangnya itulah ia mengutungi pedangku…”

“Jadi kutungan pedang itulah yang menusuk pinggang ibumu ?”

Koan San gwat menunduk diam. Li Sek hong menghela napas perlahan lahan, gumamnya. “Serba salah kalau begitu.”

“Sebetulnya pesan apa yang ibu katakan kepada kau?” “Bahwa akhirnya ia pasti mati di tangan putranya sendiri

hal ini sebelumnya dia sudah duga, cuma tidak duga adalah kau, dia selalu menyangka adalah Lau Yu hu.” Tak tahan Ling koh menyeletuk bicara “Kalau teliti secara keseluruhan, kita harus menyalahkan Lan Yu hu, kalau dia tidak turun tangan kepada Hujin, mana bisa terjadi peristiwa ini? Koan kongcu hanya…”

“Keduanya tidak bisa disalahkan” Li Sek hong menukas. “Hanya nasiblah yang harus disalahkan. Urusan selanjutnya yang belum terlaksana dia minta aku mengerjakan, ia merasa berdosa terhadap Lau Yu hu, kalau dia mati ditangan Lau Yu hu dalam sakit hati ini boleh dikata terlampias. dan tidak perlu banyak mulut, sekarang terpaksa aku harus melaksanakan pesannya yang terakhir.”

“Pesan terakhir apa, mungkin aku bisa….”

“Kau tidak bisa, apalagi kau tidak akan mampu mengerjakan!”

Koan San gwat tertegun, kata Li kek hong lebih lanjut “Ia minta dikubur bersama ayahmu !”

“Sudah tentu, ayahku dikubur di Chang ya san, paman bungkuk tahu...”

“Ibumu pernah menyinggung orang itu, tapi dia minta dikubur setelah menunaikan sebuah urusan kau tahu urusan apa yang dia minta.”

“Aku tidak tahu!”

“Pertama dia ingin menemui gurumu, kedua, hendak menuntut balas bagi Lau Ih yu mencari orang yang melukainya dulu!”

“Itulah….” Koan San gwat menjadi gugup.

“Itulah Sinio, sekarang beliau berada bersama gurumu kedua urusan ini bisa dikerjakan bersama, tapi dapatkah kau mewakili aku mengerjakan kedua urusan ini?”

“Aku tidak bisa aku dan oen lolo. ..” “Aku tahu kau tidak mungkin bisa ibumupun tidak mau suruh akan menyelesaikan urusan ini.”

“Memangnya kau sendiri bisa?”

“Tiada soal bisa atau tidak bisa bagi aku sebab aku tidak punya hubungan hutang budi dengan perguruan sebaliknya persahabatan dengan ibumu amat kental dan mendalam aku harus bekerja demi menentramkan arwahnya dialam baka.”

“Tapi Lim siancu dan guruku berada disana, jikalau mereka…”

“Melihat aku, mereka tidak akan berani merintangi aku bekerja, pendek kata jelaskanlah dimana tempat itu kepada aku. Demi ketentraman arwah ibunya kau harus memberi tahu kepada aku!”

Koan San Gwat tenggelam dalam pikiran yang serba menyulitkan, mengawasi jenasah ibunya, lalu ia pandang pula Sek hong sekian lama ia sulit ambil kesulitan.

Melihat orang tidak memberi reaksi yang tegas, Li Sek hong menjadi jengkel katanya “Ibumu cukup bijaksana dalam menghadapi persoalan antara dendam dan budi, semasa hidupnya dan setelah meninggal, sedikitpun ia tidak suka hutang dan berbuat salah terhadap seseorang kenapa kau begitu tele tele tidak punya pendirian”

Berkata Koan San Gwat dengan pedih “Lau Yu hu adalah putra Lau Ih hu, soal balas dendam boleh diserahkan kepadanya…”

“Kalau Lau Yu hu minta kepada kau supaya mengantar manemukan Oen lolo bagaimana”

“Aku akan mengajak kesana, karena dia punya alasan yang kuat.”

“Justru akupun punya alasan yang lebih kuat lagi,” dengus Li Sek hong dongkol. “Karena ibumu sudah menyerahkan persoalan ini kepadakau, kalau tidak dia harus dikubur bersama Lau Ih yu, apa kau rela melaksanakan hal ini?”

“Sudah tentu tidak sudi, tapi bibi tidak perlu memberi kepastian ini?”

“Sebalikanya ibumu harus berbuat demikian, karena secara resmi dia adalah istri Lau Ih yu, dia harus berbuat menurut tugas dan kewajiban seorang janda.”

“Mengasuh dan membimbing Lau Yu hu sampai dewasa, dia sudah menunaikan kewajibannya itu!”

“Pengertianya terhadap ibumu terlalu cetek, megasuh anak adalah kewajiban seorang ibu, menuntut balas bagi kematian suami justru adalah tanggung jawabnya, kalau urusan ini belum sempurna masakah dia ada muka dikubur bersama ayahmu. Dimasa hidup sudah berbuat salah, setelah mati arwah tidak bisa tenang…. Lihatlah kedua mata tidak mau terpejam, kau sebagai putranya ini sebenanya mengandung maksud apa?”

Memang kedua mata Gwat hoa Hujin hanya setengah terpejam, lekas Ling koh coba mengusap wajahnya pelan pelan, sudah terpejam lalu membuka lagi.

Sambil meneteskan air mata Kang Pan maju mendekat, katanya “Koan toako katakan saja, kau harus memberi ketentraman kepada bibi.”

Li Sek hong tertawa dingin, ujarnya “Sebetulnya ibumu cukup bijaksana dan sayang kepada kau. Coba kau pikir kalau urusan ini dia serahkan kepada kau, apakah kau bisa menolakanya? Umpama dia mohon kau sebelum ajalnya tadi.”

Koan San gwat berlutut lagi, katanya sambil menangis. “Ibu, kuharap kau suka memaafkan, aku benar benar tidak bisa, bukan persoalan Oen lolo seorang, masih ada guruku, aku pernah berjanji tidak akan memberitahukan tempat itu, kuharap arwahmu dapat memaapkan aku, bu… kau minta aku segera mampus juga bolehlah.”

Li Sek hong menarik napas, ujarnya. “Terpaksa aku membawanya pulang ke Khong ham kiong dan menguburnya bersama Lau Ih yu… Kiok ci, sungguh aku tidak nyana kau melahirkan anak seperti…”

KoanSan gwat amat terpukul oleh kata kata ini, mengangkat pedang kutung ia sudah bergerak hendak menghujam ke ulu hati sendiri, untunglah Kang Pan mencegah perbuatannya ini. “Koan toako, apa yang hendak kau lakukan?”

“Kalau kukatakan aku tidak setia dan ingkar janji, kalau tidak dikatakan aku menjadi anak durhaka yang tidak berbakti kepada orang tua, begini sukar menjadi manusia, lebih baik mati saja.”

“Koan kongcu!” mendadak Ling koh menyela dingin. “Silahkan kau mati saja silakan bunuh diri. Kalau kau sudah mati Cia Ling im tentu tertawa lebar sampai mulut nya sukar terkatup seluruh dunia ini tiada seorang pun yang akan mampu menundukan dia.”

“Cia Ling im? Dimana dia?” baru sekarang Koan San gwat tersentak sadar.

“Sudah pergi sejak tadi! masakah dia harus tetap disini menunggu kematiannya?”

“Oh, Thian!” jerit Coan San gwat sambil memukul kepala. “Apakah yang harus kulakukan !”

“Cara yang amat gampang! Kau tidak usah mati, tidak perlu menjadi putra yang tidak setia tidak berbakti, angan angan ibu mupun bisa terkabul !”

“Kau punya cara apa?” tanya Koan San gwat terlongong. “Biar aku yang kawani Li siancu, menemui Lolo!” “Kau ...” teriak Koan San gwat berjingkrak.

“Tidak salah! Hanya aku yang tahu tem pat itu meski beritahu belum tentu Li sian cu bisa menemukan tempat itu ada lebih baik aku saja yang membawanya…”

Dengan nanar. Koan San gwat mengawasi gadis cilik ini, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya.

“Bukankah begitu lebih baik?”

“Tapi…” Koan San gwat tersendat bicaranya.”

“Terhadap kejadian melukai Lau Ih yu Lolo amat menyesal dan selalu menjadi beban pemikirannya, sabagai seorang beribadah yang memperdalam ajaran Thian, dia paling mengutamakan sebab dan akibat, beliau menghadapi persoalan ini lekas dibereskan, supaya tanpa membawa ganjelan hati meninggalkan dunia fana ini. Maka sebetulnya kau tidak perlu merahasiakan tempatnya, waktu aku keluar kalian pernah berpesan wanti wanti kepada aku, suruh aku hati hati dan menyirapi urusan ini…”

Koan San gwat masih belum percaya, terpksa Ling koh berkata pula, “Silahkan kau tanyakan Li siancu, waktu aku pertama kali aku bertemu dengan ibumu, kami pernah membicarakan soal ini waktu itu aku sudah berjanji kepadanya.”

Sorot mata Koan San Gwat beralih ke arah Li Sek hong dilihatnya orang tersenyum manggut manggut, serta merta ia meng hirup napas panjang katanya masgul “Li sian cu, kau sudah tahu, kenapa pula harus bertanya kepada aku ?”

Li Sek heng tersenyum, katanya “Ibumu sendiri yang menyuruh aku berbuat begini.”

“Ibuku?” tanya Koan San gwat menegas heran “Kenapa ?” “Cara ini baru bisa menyelesaikan angannya tentu tidak akan sia sia, lihatlah bukankah kedua matanya sudah tertutup?”

Koan San gwat menunduk, betul juga kedua kelopak mata Gwat hoa Hujin sudah tertutup rapat, raut wajahnya tenang dan wajar, ujung mulutnya malah mengulum senyum manis dan tertawa. Koan San gwat garuk garuk kepala dan tidak habis mengerti.

“Kenapa kau tidak berpikir.” ujar Li Sek hong kalem, “Ibumu menyerahkan tugas terakhir ini kepada aku, mengandal kemampuanku masakah bisa ungkulan melawan Sunio? Kalau aku tidak bisa menang, apa pula gunanya?”

“Lalu bagaimana sekarang ?”

“Sekarang aku percaya pasti bisa, kalau Ling koh menceritakan sikapmu terhadap Sunio, demi putra Kiok cici, Sunio pasti akan menyempurnakan keinginannya.”

“Benar,” Ling koh menimbrung. “Kesan Lolo terhadapmu amat baik dan luar biasa aku percaya bila dia tahu sikap setiamu tanpa hiraukan hubungan kekeluargaan tentu beliau akan suka rela mengabulkan cita cita ibumu.”

“Cara bagaimani mengabulkannya?” tanya Koan San gwat tidak mengerti.

Berkata Ling koh sungguh sungguh “Pandanganku, paling tidak pasti memberi sebelah tangannya untuk dipapas kutung oleh Li siancu, lengan dikorbankan untuk menebus kesalahan, tapi juga untuk menentramkan hatinya.”

“Bukankah cara ini malah aku ..”

“Tidak mungkin! Lolo sendiri suka membebaskan kesalahannya diwaktu hidup, sudah tentu tujuannya juga demi kau, usahanya ini sebenarnya mengandung suatu makna yang amat mendalam.” Koan San gwat menjadi bingung, tanyanya “Cara begitu terhitung Lolo menyempurnakan diriku?”

“Tepat!” sela Li Sek hong. “Beliau menyempurnakan supaya tulang belulang ayah mu bisa terkubur sama ibundamu, sebab kalau hal ini tidak sampai terlaksana betapapun ibumu tidak akan mau berbuat demikian.”

Muka Koan San gwat menampilkan senyum dikulum, katanya “Jadi ibu mem peralat aku untuk mewakili Lau Ih yu menuntut balas?”

“Kehendak ibu terhadap anak tidak termasuk ‘memperalat’ apalagi seumpama tiada unsur unsur yang menentukan dari kau ini, toh belum tentu rencana ibumu tidak bakal sukses. Bukankah tadi sudah kau dengar ucapan Ling koh Sunio sendiri juga ingin menyelesaikan kejadian yang selalu mengganjal dalam sanubarinya, kena terpengaruh oleh kau pula sehingga urusan ini lebih gampang diselesaikan.”

Berubah air muka Koan San gwat, Li Sek hong lekas menambahkan “Kau tidak perlu merasa janggal, ayah bundamu memang rada keterlaluan terhadap Lau Ih yu, kau sebagai putranya adalah jamak menunaikan, tugas dan mewakili mereka untuk penebus kesalahan kesalahan ini.”

Sekilas Koan San gwat terlengong, akhirnya berkata kepada Ling koh dengan sikap kereng “Ling koh! Kau boleh pergi dan dihadapan Lolo kau harus bicara jujur apaadanya secara terus terang kepada beliau. Tapi kaupun harus memberi satu hal kepadanya, dia suka cara bagaimana menyelesaikan terserah kepadanya, jangan karena aku jadi ragu ragu dan serba salah. Bukan saja aku tidak sudi menerima kebaikannya, sabaliknya aku akan membenci selama hidup ini…”

Li Sek hong melengak, ujarnya “Cara bagaimana kami harus menjelaskannya?”

“Begitulah maksudku, dalam segala tindak tandukku selamanya aku berpegang kepada nurani dan kelurusan hati, aku paling ben ci kepada orang yang suka membual dan tukang menjilat, menggunakan tipu daya dan lain lain cara.”

Li Sek hong terdiam mematung, Koan San gwat segera menambahkan “Li Siancu aku tidak ingin memberikan penilaian terhadap mu, tapi aku tidak percaya bahwa kau suka menerima tugas terakhir, cita cita ibuku ini hanya karena persahabatanmu saja dengan beliau.” 

Berubah rona wajah Li Sek hong, Koan San gwat tertawa serta berkata pula “Selama ini kau diam diam mencintai guruku, tapi dia tinggal menyembunyikan diri dengan Lim siancu kan hendak menggunakan kesempatan ini untuk melihatnya. Aku tidak menentang keinginan dan perbuatanmu. Tapi perlu ku beri nasehat kepada kau, bahwa meski kau bertemu dengan mereka tidak akan membawa manfaat kepadamu, beginilah perasaan dan nurani manusia, jodoh tidak bisa dipaksakan….”

Li Sek hong tersenyum getir, sesaat kemudian baru dia berkata pilu “Aku sudah tahu mungkin kali ini aku bisa jauh lebih sedih, tapi aku harus kesana. Pertama luka hatiku biarlah luka lebih parah dan padam. Kedua aku akan menentang uraianmu tadi bahwa hubunganku dengan ibumu memang amat intim laksana kakak adik sekandung, tugas yang pernah kujanjikan harus kulaksanakan.”

Dengan hormat tersipu sipu Koan San gwat menjura kepadanya. katanya “Kalau begitu akulah yang salah, setulus hati aku mohon maaf kepada kau, dengan setulus hati aku memanggik (bibi) kepada kau. Setelah tugasmu selesai, setelah aku membrantas Cia Ling im serta kamrat kamratnya, tentu aku akan kembali dan hidup berdampingan bersama sampai hari tuamu!”

Dengan berlinang air mata dan tidak bicara Li Sek hong tinggal pergi. Dengan terlongong Ling koh berkata “Koan kongcu, adakah omongan yang perlu kau sampaikan kepada gurumu?” “Ling koh,” ujar Koan San gwat perlahan lahan “Usiamu masih kicil namun kutlihat kau sudah pandai berpikir dan tahu urusan, hal itupun tidak bisa disalahkan, guruku dan Lim sianculah yang medidikmu menjadi begini nakal…”

Berubah aia muka Ling koh, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, lekas Koan San gwat menyela “Tidak perlu banyak bicara, semua aku sudah paham, kalau ketemu guruku sampaikan salamku, ucapan banyak terimakasih akan asuhan dan bimbingannya yang berbudi, katakan bahwa akang datand suatu kerika aku akan membalas kebaikannya ini ”

“Hanya kata kata itu saja?”

“Kedua patah kata ini sudah lebih dari cukup sungguh aku tak mengerti kenapa kehidupan dalam dunia ini saling memperalat? Dan sampai antara ibu beranak, guru dan murid pun tidak terkecuali.”

Lingkoh tertegun tanyanya.“Maksudku Ui ho Sianjing juga sedang memperalat dirimu?”

“Tidak salah !” sahut Koan San gwat tersenyum getir, “sejak mula guruku sudah mengatur diriku sebagai wakilnya didalam Liong hwa hwe, supaya cita citanya bisa terkabul mengasingkan diri dan hidup bahagia bersama Ting siancu. Baru hari ini aku paham akan tetapi aku masih simpatik dan salut kepada beliau akupun akan membalas budinya, lekasilah kau pergi, Li siancu sudah jauh.”

Dengan mendelong Ling koh memandang jauh kedepan lalu berkata menekan suara “Koan Kongcu adakah orang yang bersahabat secara suci murni terhadapmu, tanpa punya maksud memperalat dirimu?”

“Sudah tentu ada. Umpamanya Thio Ceng ceng, demi aku dia melakukan banyak pekerjaan, namun terhadapku tiada sesuatu yang diinginkan, aku jadi serba susah malah, entah cara bagaimana aku harus membalas kebaikannya.” Berubah air muka Kang Pan mendengar ucapannya, lekas ia menyeletuk. “Koan toako! Bagaimana dengan aku? Meski aku belum pernah melakukan sesuatu kepada kau, tapi aku….”

“Kaupan temasuk satu diantaranya. Akupun amat berterima kasih kepadamu, ku harap selama kau berlaku polos jujur dan murni”

“Koan Kongcu!” mendadak dengan suara linu yang hampir tidak terdengar Ling koh berkata. “Jangan kau lupakan aku…” habis berkata ia terus lari memburu di belakang Li Sek hong.

Koan San gwat menjadi merasa hampa Kang Pan mendekat disampingnya, katanya “Koan toako, maukah kau percaya? Ling koh pun sedang mencintai kau.”

Koan San gwat menggeleng, ujarnya.”Aku tidak tahu, dia masih bocah kecil”

“Tidak, ia tidak kecil lagi, aku berani katakan sejak lama dia sudah jatuh cinta kepada kau, tempo hari dia rela tinggal disini menemani Coa sin, adalah demi kau pula.”

Koan San gwat menjadi , uring uringan sentaknya. “Jangan peduli janji tetek bengek segala macam, marilah kitapun pergi!”

“Pergi kemana ?”

“Akupun belum ambil kepastian, meski dunia amat luas, seolah olah tiada suatu tempat yang benar benar menjadi tempat tujuan ku, tapi, marilah kita menuju ke Ngo tai san dulu.”

“Ya, Cia Ling im tentu sudah kembali kesana lebih dulu!” “Sulit dikatakan, tapi peduli dia ada tidak disana kerjaannya

tentu bukan urusan yang baik.”

Kang Pan bingung dan tidak paham. Koan San gwat menjelaskan. “Cia Ling im bukan orang goblok, tahu bahwa pasti tidak akan melepas dia, kalau dia masih tinggal di Ngo tai san, itu pertanda dia punya cukup tenaga untuk menghadapi aku, atau sebalikanya tentu dia sudah menyembunyikan diri, kemungkinan pula Thian mo kaupun tidak menunjukkan aktivitasnya lagi.”

“Kalau begitu tak usah kau meluruk kesana tempat itu cukup berbahaya bagi kau kalau dia tidak disana. Thian mo kaupun sudah diboyong kelain tempat, apa pula gunanya kita menyusul kesana?”

Koan San gwat tertawa lantang, ujarnya. “Kalau dia masih disana ku ingin melabrakanya, kalau sudah pindah tempat akan kucari sumber penyelidikkan disana untuk mengejar jejaknya lebih lanjut. Kalau durjana itu tidak dibrantas dunia tidak akan aman.”

Kang Pan memasukan Siau giok kedalam kain kantongnya, katanya “Entahlah, yang terang kemanapun kau pergi kesitu pula aku ikut!”

Koan San gwat menarik napas panjaug Ui tiap kiam milik Gwat hoa Hujin ia masukkan kedalam sarungnya terus diserahkan kepada Kang Pan, menunjuk kantong kainnya berkata “Kang Pan! Aku tidak perlu menggunakan senjata, ada Siau giok sudah lebih dari cukup, kau saja yang bawa Cia Ling im dan Lau Yu hu masing masing punya sebilah pedang mustika, kaupun perlu membawa pedang tajam ini.

Koan San gwat menimang nimang pedang ditangannya, katanya. “Selama hayat dikandung badan, aku akan membekal pedang ini tidak menggunakan senjata lainnya.”

Kang Pan maklum bahwa perasaan hati orang sedang risau maka ia diam saja tak berani banyak bicara mengganggu ketenangan nya, lekas ia bantu menggantung Ui tiap kiam dipiggangnya, namun Koan San gwat tertunduk menjublek mengawasi tanah.

Tampak oleh Kang Pan kutungan lengan itu, itulah lengan Lau Yu hu yang ditebas kutung oleh Koan San gwat, tak urung berdetak jantungnya, dengan rasa was was ia berkata. “Koan toako! Aku tidak tahu keadaan pertempuran, kukira. ”

“Bukan salahmu. Lau Yu hulah yang harus memikul pertanggungan jawab terbesar akan kematian ibuku, terhadap ibu kandung sendiri mana boleh ia bersikap begitu…”

Kang Pan berpikir lalu bertanya. “Koan toako! Menurut omonganmu jadi Lau Yu hu belum terhitung terlalu bejat, yang jahat adalah ayahnya serta pengasuh yang membimbing nya sampai besar bemama Hwi kak itu. Merekalah yang menanamk n bibit, dendam kesumat didalam sanubarinya sampai tumbuh dewasa.”

“Semua salah, semua juga tidak salah mungkin perbuatan Hwi kak memang tidak dapat dibenarkan, berdiri pada pihakanya adalah demi kesetiaannya terhadap Lau Yu hu, lalu siapa pula yang bisa mengatakan dia salah?”

“Koan toko, aku tahu banyak urusan ucapanmu ini membuat bingung hatiku, jadi dalam persolan ini pihak siapa yang benar dan pihak mana yang salah?”

“Sulit untuk menjelaskannya ayahku menyintai nyonya muda yang sudah bersuami hal ini memang boleh dibenarkan, tapi cinta mereka adalah suci dan murni. Setelah mati Lau Ih yu masih mengatur langkah langkah jahatnya, namun dia pula orang yang langsung terkena getahnya, melihat istri tercinta direbut orang adalah jamak kalau dia teramat benci dan sakit hati, kalau dinilai keseluruhannya mereka sama tidak bersalah!”

“Aku tahu sekarang! Kodratlah yang akan permainkan manusia, jikalau ibumu sudah berkenalan lebih dulu dengan ayahmu sebelum menikah dengan Lau Ih yu, peristiwa ini tentu tidak akan terjadi !”

“Terpaksa hanya begitu kesimpulan kita.” “Ibumu memang seorang tua yang patut dihormati, ia jelas membedakan dendam dan budi.”

“Apa yang diatur oleh ibu dalam persoalan ini memang betul, cuma tidak seharusnya dia memperalat aku. ”

“Koan toako, pikiranku amat sederhana tidak dapat kupikirkan aturan besar apa apa, tapi naluriku bicara aku tidak percaya bahwa hal itu adalah maksud langsung dari bibi!”

“Memangnya kenapa?” tanya Koan San gwat tersirap. “Jikalau ia hendak memperalat kau untuk menuntut balas

bagi Lau Yu hu, bukankah lebihh baik ia menyerahkan persoalan ini kepada kau. Kalau toh dia hendak membedakan budi dan dendam, kenapa pula harus bertindak putar balik    ”

“Tepat! Tapi kenapa Li Sek hong harus berbuat demikian.” “Kukira Li Sek hong hendak mengabulkan kepintarannya,

dia mendapat pesan wanti wanti dari ibumu, tapi kuatir dirinya

tidak bisa menunaikan tugas yang diberikan itu, maka dia pikir hendak mengajak dirimu….”

Sebentar Koan San gwat terlongong, mendadak berjingkrak dan berteriak. “Betul! Kenapa tidak kupikirkan kearah itu! Marilah lekas kejar!”

“Untuk apa?”

“Akan kubongkar akal licik Li Sek hong ini, akan ku cegah dia bekerja menggunakan nama baikku, supaya ibuku tidak meninggal dengan rasa was was.”

Lekas Kang pan menarikanya, katanya “Kukira tidak perlulah, Li Sek hong berbuat demikian juga demi ibumu, kalau dia tidak menempuh cara ini, tulang belulang ayahmu tidak bisa akan di kubur bersama ibumu…”

Koan San gwat masih hendak bicara, lekas Kang pan bicara dahulu “Cukup asal kau paham bahwa ibumu tidak mengandung maksud maksud seperti itu, kenapa kau haru mempersulit Li Sek hong, semua bekerja demi keyakinan sendiri sendiri, hubungan Li Sek hong dengan ibumu tidak lebih hanyalah saudara angkat, bahwa dia rela melaksanakan tugas tugasnya ini, dan kau sebagai putra keturunannya, masakah tidak rela menerima sedikit getahnya?”

Koan San gwat menjublek sekian lamanya, akhirnya berkata menarik napas. “Kang Pan ucapanmu memang betul, agaknya pikiranmu jauh lebih tinggi dari aku!”

“Aku tidak mengenal akan licik dan tipu muslihat, semua ku gunakan keringanan, secara lincah dan tulus kupandang maya pada ini, maka didalam pandang aku maya pada ini jauh lebih indah, lebih elok dari apa yang kau lihat…”

Koan San gwat tidak bersuara. Kang Pan berkata lebih lanjut. “Li Sek hong sendiri kurang pengertian terhadap kau, jikalau dia memaparkan maksud keinginan ibumu secara blak blakan kepadamu, mungkin kau suka rela akan mewakilinya menyelesaikan urusan itu.”

Koan San gwat menghela napas, ujarnya. “Mungkin ucapanmu benar, yang terang Li Sek hong tidak pantas berbuat demikian, karena maksud ibuku tidak ingin aku terlibat dalam persoalan ini… Kang Pan! Ucapanmu memang benar, sekarang aku jadi simpatik dan berterimakasih kepada Li Sek hong, tujuan dan maksudnya memang jujur, tadi tidak pantas aku bersikap demikian terhadapnya!”

“Asal kau seperti diriku, pandanglah maya pada ini dengan nurani yang suci murni, akan segera kau dapatkan dimana mana penuh bertaburan bunga bunga mekar semerbak, alam semesta ini diliputi cinta dan kehangatan...

Koan San gwat dan Kang Pan kembali sudah berdiri didepan gunung Ngo tai san, sikap mereka kelihatan melengak dan heran. Bendera kebesaran Thian mo kau ternyata sudah lenyap dari tempatnya berkibar, yang ada hanyalah selarik panji panjang yang tersulam sebatang pedang dan satu huruf Im yang besar dibelakang pedang adalah sebuah lukisan Pat kwa. Gambar Pat kwa ini cukup dikenal oleh Koan San gwat, karena itu tanda kebesaran dan keluarga In dari Bu khek pay.

Bu khek pay hanyalah sebuah sendikat kecil yang bercokol ditengah arus gelombang pertikaian didunia persilatan, masakah mereka mampu merobohkan atau menumbangkan kekuatan Thian mo kau yang besar dan kokoh serta menggantikan kedudukannya. Hal inilah yang membuat orang heran dan melengak.

Adalah pertanda yang terukir diatas panji itu menjadi kenyataan dan tidak biaa disangkal lagi, mau tidak mau mereka harus percaya akan kenyataan ini.

Disaat mereka melenggong dan kebingungan, dari jalan pegunungan sana tampak lari mendatangi seekor kuda yang ditunggangi seorang laki laki bertubuh kekar, golok tersoreng dipinggangnya sikapnya kereng dan angker.

Begitu melihat orang ini semakin heran dan menjadi curiga hati Koan San gwat.

Laki laki ini adalah Cit sing to Lau Sam thay, dulu waktu orang menyelidiki persoalan Hwi tho ling cu baru berkenalan dengan dirinya, dan karena orang ini pula sehingga dirinya timbul persengketaan dengan pihak Bu khek pay.

Sungguh tidak nyana, ditempat ini dan saat ini pula ia bisa bertemu dan melihatnya dan karena inilah, maka Koan San gwat lebih yakin bahwa panji panjang itu jelas pasti ada sangkut paut yang erat dengan Bu khek pay dari keluarga Im.

Badan Lau Sam thay rada gemuk dari dulu, sikapnya lebih gagah dan bersemangat, muka tampak berseri tawa bercokol diatas tunggangannya cuma sikapnya saja yang masih sopan santun dan sungkan sungkan, dari kejauhan lantas turun dari punggung kuda dan menjura memberi hormat, sapanya “Lingcu! Sejak berpisah apakah dia baik baik saja. Kabarnya dalam satu tahun ini kau sudah melakukan perjuangan besar yang menggemparkan seluruh jagat, sekarang namamu tenar sampai keseluruh pelosok dunia, sebagai pendekar yang tiada bandingannya.

Koan San gwat tertawa tawar, ujarnya. “Lau Samcu, kau sendiri juga tambah gemuk dan hidup senang agaknya! Tempat ini adalah. ”

“Teima kasih! Masakah aku berani menerima pujian Lingcu. Disini akupun beruntung bisa bercokol berkat muka dan nama Lingcu belaka ”

“Karena nama dan mukaku apa?” tanya Koan San gwat tidak mengerti.

Lau Sam thay berseri tawa, sahutnya “Tempo hari beruntunglah karena Ling cu sudi mengangkat hamba menjadi pengiring Ling cu, maka nona Im baru sudi mengundang hamba disini aku mendapat tugas sebagai penerima dan menyambut tamu.”

Koan San gwat lebih heran, tanyanya. “Nona Im? Nona Im yang mana?”

“Ling cu memang sering agung yang suka melupakan urusan, nona Im adalah putri terkecil dari Ciangbujin Im Siok kun dari Bu khek pay di Im san yang bernama Im Lee hoa. Bukankah dulu Ling cu pernah melihatnya satu kali?”

Teringat oleh Koan San gwat dulu Thio Hun cu pernah memincut Im Le hoa ini, sehingga pihak Bu khek pay salah paham hendak mencari perhitungan dan adu jiwa pada dirinya. Dan karena peristiwa itulah maka Thio Ceng Ceng tanggal lari dengan jengkel dan malu.

Kenapa Im Le hoa bisa berada ditempat ini?

Lau Sam thay masih tertawa tawa ujar nya. “Nona Im sekarang cukup jempolan, kedudukannya jauh lebih tinggi entah berapa lipat dari ibunya sekarang dia adalah Ciangbunjin dari Tay khek pang oh ya, mungkin kau belum tahu akan Thay khek pang bukan?”

Koan San gwat menggeleng, sahutnya “Betul, aku belum mengetahuinya!”

“Hal ini tidak perlu dibuat heran, Thay khek pang selalu bekerja secara diam diam baru pertama kemarin menerima peninggalan Thian mo kau ini, baru pertama kali ini kita kibarkan panji kebesaran ini!”

“Cara bagaimana Thian mo kau sudi menyerahkan markas besarnya ini? Dimana Cia Ling im?”

“Selama ini Cia Ling im tidak pernah muncul, seluruh anggota Thian mo kau kemarn dipimpin oleh Ki Houw semua mengundurkan diri, dengan leluasa kita lantas menempatinya”

“Bicaramu semakin tidak genah! Cara bagaimana Ki Houw mau menyerahkan pangkalannya kepada kau?”

Lau Sam thay tertawa kesenangan, sahut nya. “Sudah tentu Ki Houw tidak sudi, tapi setelah dia melihat Liu tongcu, terpaksa mencawat ekor seperti halnya dengan Bu khek pay, Thay khek pang seluruhnya dipegang oleh kaum perempuan!”

Koan San gwat keheranan, tanyanya. “Siapa pula Liu tongcu itu?”

“Semua adalah kenalan lamamu, dia ber nama Liu Ih yu, sekarang menjabat sebagai Cong tongcu juga kenalanmu yang paling rapat, kau tahu siapa dia?”

Koan San gwat berpikir sebentar, lalu berkata “Thio Ceng ceng!”

“Sekali tebak kena betul. Orang orang dalam Thay khek pang yang banyak kau kenal seperti Sing tong Tongcu Lok Siang kun, Kong kun tong Tongcu Lok Heng kun, Sian hong tongcu Lok Sia hong dan masih banyak lagi.” Semakin bingung dan tak mengerti Koan San gwat dibuatnya, setelah terpekur ia berkata “Coba katakan cara bagaimana Im Lee hoa bisa diangkat menjadi Ciang bun jin?”

“Sudah tentu karena adanya sangkut paut dengan Thio loyacu, sebetulnya hak kekuasaan Ciang bun jin ini tidak lebih besar dari berkuasa dari Lwe tong Tongcu, karena didalam tingkatan dia lebih tinggi satu angkatan…”

“Dia lebih tinggi seangkatan dari Ceng Ceng. Jadi dia. ”

Lau Sam thay menekan suara, katanya “Soal ini tiada halangan kuberitahu kepada kau toh kau memang sudah tahu, nona Im adalah nyonya muda dan Thio loyacu, jadi ibu tiri nona Thio. ”

Berubah air maka Koan San gwat, katanya. “Jadi kejadian dulu itu memang kenyataan?”

“Bagaimana duduk perkara sebenarnya?”

“Dulu Thio loyacu pernah berkunjung ke berbagai golongan dan partai silat yang tersebar di mana mana, merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, hal ini kau sendiri tentu tahu, kejadian itu ”

“Jadi betul dia adanya!” bentak Koan San gwat. “Tua bangka ini masih pura pura welas asih di Liong hwa hwe dulu terhadapku!”

Lekas Lau Sam thay menggoyang tangan katanya. “Ling cu salah paham, dalam hal ini Thio loyacu mempunyai maksud maksud tertentu, sudah tentu hal ini amat erat sangkut pautnya dengan Liong hwa hwe , ilmu silat Bu tong dan Siau lim merupakan yang lain dari yang lain, sejak lama Cia Ling im sudah mengincer mereka dan hendak melebar kedua partai ini masuk kedalam kekuasaannya. Thio loyacu mendapat bisikan dulu, membunuh kedua Ciang bun jin kedua partai ini, terhadap luar disiarkan kabar bahwa dia merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, sebetulnya hanya buku tiruan saja yang dia bawa buku aslinya masih berada ditempatnya semula!”

Koan San gwat mendengus jengeknya. “Lalu kenapa ia harus membunuh ke dua Ciang bun jin kedua partai itu?”

Kedua Ciang bun jin itu insaf mereka tiada kekuatan untuk melawan kehendak Cia Ling im, demi melindungi ilmu silat peninggaalan cikal bakal mereka supaya tidak terjatuh ketangan orang luar, dengan suka rela mereka mengorbankan diri!”

“Aku tidak percaya !”

“Ciang bun jin angkat bahu dari kedua partai itu, sedikitpun tidak menaruh dendam sakit hati terhadap Thio loyacu dari hal ini kau akan mendapat bukti bukti yang cukup banyak !”

“Lalu bagaimana pula persoalannya dengan Im Le hoa?” “Bicara soal ini jauh lebih mengesankan Thio loyacu

mendapat kabar bahwa Bu khek pay merekapun termasuk dalam daftar yang ditundukan, tapi waktu itu tiba insaf dan melihat kenyataan, terasa bahwa ilmu pedang mereka bahwasannya tiada sesuatu keanehan nya, maka ia membatalkan niatnya semula. Tapi, dasar ilmu pengobataanya teramat tinggi, sekilas pandang ia melihat bahwa Im Le hoa semacam penyakit aneh yang cukup gawat.”

“Penyakit apa?”

“Katanya penyakit Hoa cit!”

“Bohong! Kenapa ibunya tidak tahu?”

“Hoa cit adalah semacam penyakit yang aneh, penyakit ini sejak dilahirkan sudah mengeram dalam tubuh anak perempuan akan kumat setelah dia berusia delapan belas tahun. Waktu Thio loyacu tiba disana kebetulan penyakitnya itu kumat, kalau penyakit itu sedang gawat, seperti gila saja dia mencari laki laki, karena Thio loyacu tidak kenal dengan keluarga Im, maka sulit ia memberi penjelasan, terpaksa dia bekerja diam diam memberi pengobatan.”

Koan San gwat terlongong sekian saat, sungguh tidak kira dalam persoalan ini mengandung seluk beluk yang liku liku.

“Tapi tugas dan kerjaan Thio loyacu amat banyak dan sibuk sekali, tanpa menunggu penyakit orang disembuhkan dia lantas tinggal pergi, tapi dia sudah menyembuhkan sebagian penyakit itu…  akhinya….”

“Akhirnya terjadilah peristiwa yang kita alami dulu!”

“Benar! Penyakit Im Lee hoa waktu itu belum sembuh seluruh nya, mulutnya mengoceh kalang kabut, ibunya tidak tahu duduk perkaranya lantas main tuduh dan bertekad hendak menuntut balas kepada Thio loyacu!”

Ilmu pengobatan Thio Ceng Ceng pada waktu itu sudah cakup baik juga, kenapa ia tidak melihat adanya penyakit aneh itu pada diri Im Lee hoa? Kalau tidak mungkin dia mengalami pukulan batin yang begitu berat.”

“Nah disitulah letak kesalahannya, penyakit Im Le hoa baru sembuh separuh, lahirnya sukar diketahui, maka semua orang mau percaya obrolannya, sebetulnya Thio loycu tidak berbuat tidak senonoh terhadapnya, kau masih ingat hari itu bukankah nona Thio memberikan sebutir obat? Obat itu justru menyembuhkan seluruh penyakit nona Im secara tidak sengaja.”

“ Selanjutnya bagaimana?”

“Setelah penyakit Im Lee hoa sembuh ia tuturkan duduk perkara sebenarnya kepada ibu nya, barulah Im Siok kun insaf bahwa dia salah menuduh Kepada Thio loyacu, tapi waktu itu semua berada di Bu san!”

“O, jadi begitulah duduk perkatanya, tapi waktu di Sio li hong disaat pembukaan Liong hwa hwe, kenapa Thio loyacu tak memberi penjelasan kepada aku?” “ Sebelumnya dia sudah mendapat pesan dari Go hay ci hang, dia disuruh masuk kelompok orang orang Cia Ling im, sudah tentu menjadi sulit memberi keterangan kepada kau sehingga terjadilah peristiwa berbuntut panjang ini!”

“Kejadian selanjutnya aku sudah mengerti, tapi kenapa Im Lee hoa bisa betul betul menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek pay disini?”

“Karena disembuhkan oleh Thio loyacu Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek Pang disini?”

“Karena disembuhkan oleh Thio loyacu. Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan bulim, selama hidup tidak mau kawin, kebetulan akupun ikut kau pergi ke Bu san aku hanya jelas mengetahui keadaan kalian, waktu Im Siok kun mencari aku membawa putrinya, minta aku menemukan Thio loyacu, aku tahu Thio loyacu berada didalam Thian mo kau, namun tidak berani aku menemui dia, sampai kira kira beberapa selang nona Thio Ceng eeng ketemu aku dan bertemu pula dengan nona Im, setelah mendapat penjelasan duduk perkaranya, baru hilanglah kesalah pahamnya terhadap ayahnya. Saat itu pula ia membuat satu keputusan!”

“Keputusan apa?”

“Ia keputusan hendak mendirikan satu kekuatan lain untuk menandingi Thian mo kau. Dia suruh aku mencari bala bantuan dan mengumpul tenaga, yang kukenal hanyalah keluarga Lok ibu beranak, maka kucari mereka akhirrnya urusan terjadi perubahan, entah dengan cara apa Thio loyacu berhasil menundukan seorang aneh, kepandaian silat orang aneh itu cukup berkelebihan untuk menundukkan Cia Ling im.

Koan San gwat tahu orang aneh yang dimaksud tentulah Coa sin adanya, cepat ia bertanya. “Apakah mereka berkumpul diatas gunung?” “Betul! Thio loyacu tidak mau berkecimpung dalam urusan dunia lagi, ia berkeputusan hendak hidup dalam pengasingan diatas gunung sampai hari tua, nona Im bertekad menjadi istrinya, nona Thio Ceng ceng juga mengharap belaian orang tua ada yang merawat dan melayani, dia ikut menyokong dan memberi dorongan, dan lagi ia mengusulkan supaya nona Lu menjadi Ciang bun jin dari Thay khek pang.”

“Kenapa harus menggunakan nama ini?”

“Itulah hasil dari pemikiran nona Thio dari Bu khek ke Thay khek pertanda bahwa Thay khek kun adalah bersumber dari Bu khek karena dulu diapun pernah membunuh beberapa anggota keluaga Im, dengan cara ini ia hendak melimpahkan rasa penyesalannya terhadap Bu khek tay, sebetulnya mengandal kekuatan Thay khek pay sekarang, jelas Bu khek pay bukan apa apanya lagi!”


“Dari mana asal mula alasanmu ini? Untuk membenci aku kan kaupunya alasan.”

“Tanyakan kepada ibumu.”

“Apa sangkut paut hal ini dengan beliau!”

“Amat besar hubungannya, sebelum dia melihat kau, hatinya selalu dirundung kesedihan dan yang dibayangkan selalu adalah putranya yang hilang, mungkin dia anggap aku tidak tahu, sebetulnya sejak lama Hwi kak sudah memberi tahu kepadaku, sejak saat itu aku sudah mulai benci kau, akhirnya ditambah persoalan Thio Ceng Ceng, maka aku tidak bisa berdiri sejajar dengan kau.”

Koan San gwat menjublek mendengar uraian yang dianggap gila ini. Lau Yu hu meneruskan dengan suara gegetun dan benci. “Selamanya kalian dipihak yang unggul, ayahku terima diperhina dan hidup merana, rela rujuk kembali demi kebahagiaan rumah tangga, namun ia tidak bisa menarik kesenangan hati ibu, setelah generasi mendatang keadaan lebih parah lagi, didalam sanubari ibu kedudukannya jauh lebih berat dan disayang, didalam lubuk hati Ceng ceng, aku malah tidak bisa menempati posisi yang kuharapkan, apakah aku tidak pantas membenci kau?”

“Kau salah. ” ujar Koan San gwat menghela napas.

“Sedikitpun aku tidak salah, apa yang kuuraikan adalah kenyataan, suruh aku meningalkan Thian mo kau adalah kumpulan sesat, akupun tahu Cia Ling im adalah seorang durjana, tapi tanpa banyak pikir aku rela masuk menjadi salah satu dari kelompok mereka, malah tidak kepalang tanggung kubongkar kuburan ayah almarhum, kuberikan sebarang pedang Ceng so kiam kepadanya kau tahu apa sebabnya?”

“Aku tidak tahu.” sahut Koan San gwat menggeleng. “Aku hanya tahu bahwa kau sudah gila!”

Lau Yu hu menyeringai seram, ujar nya. “Boleh dikatakan demikan, aku gila karena penyebabnya, setiap orang yang menjadi musuhku, adalah sahabat karibku, apapun yang bakal menjadi milikmu aku akan menempuh jalan yang berlawanan dari kau!”

Koan San gwat berpikir sejenak, mendadak ia berkata dengan sikap serius. “Lau yu hu, tidak kata kata yang perlu kukatakan pula kepada kau, sebetulnya aku sudah berjanji kepada ibu untuk mengampuni jiwamu, sekarang aku terpaksa mohon pengampunannya. ”

“Kau tidak perlu minta pengampunannya hakikatnya dia hanya punya kau sorang putra dia, kau dan Bing Gwat yang sudah mampus itu, kalian bertiga baru satu keluarga ”

“Lalu kau ini apa?” damprat Koan San gwat naik pitam. Lau Yu hu menarik muka dan berkata. “Aku hanyalah bibit pembalasan dendam yang ditinggalkan ayahku, biar kuberi tahu kepada kau, setelah kubunuh kau, lawan yang kedua yang kuincar adalah ibu!”

“Keparat dan durhaka! Apakah beliau bukan ibumu?” “Bukan!” teriak Lau Yu hu beringas. “Lau Yu hu tidak punya

ibu, Liu Ih yu pun tidak punya istri, walau ayahku menyuruh aku memaafkan dia, sebaliknya tidak pernah kupikirkan hal ini.”

Amarah Koan San gwat tidak tertahan lagi, mengayun pedang kontan ia menusuk ke dada orang, lekas Lau Yu hu melintangkan pedang, tenaga yang dikerahkan cukup kuat. “Trak” kedua senjata beradu amat keras dan berbunyi nyaring, seketika Koan San gwat terhentak mundur dua tapak, dan lagi Pek hong kiamnya bukan lawan kesaktian Ci seng kiam, tajam pedangnya tergumpil pecah sebesar kacang.

Lekas Kang pan mengansurkan Ui tiap kiam kepadanya, serta berteriak. “Koan toako gunakanlah pedang yang ini!”

“Yang mana bolehlah, didalam Ngo ih kiam, Ci seng merupakan yang terunggul.”

Koan San gwat sudah keretak gigi, sambil menenteng Pek kong kiam ia sedang menghimpun tenaga murni siap melancarkan Pek hong kiam itu, salah satu jurus terganas yang mematikan dari Hu mo kiam hoat.

Mendadak dari samping sana menerobos keluar dua sosok bayangan, mereka ternyata Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin adanya.

Kang Pan berdiri melongo, cepat Gwat hoa Hujin sudah melejit tiba terus rebut Ui tiap kiam dari tangannya. Koan San gwat terkejut dan heran, cepat ia memapak maju, serunya. “Bu, kenapa kaupun kemari ?” Gwat hoa Hujin tidak menghiraukan seruannya, matanya berkilat melata Lau Yu hu. Adalah Li Sek hong memberi jawaban sambil datang menhampiri. “Hujin amat kuatir akan keselamatanmu. Jing Tho disuruh memimpin orang orang lain menuju, ke Tay pa san menunggu di sana, lalu dia mengajak aku untuk membaatu kau! bagaimana keadaan disini?”

Koan San gwat tidak sempat menjawab pertanyaannya, dengan gelisah ia berseru kepada Gwat hoa Hujin. “Bu biar aku saja...”

“Tidak usah!” sahut Gwat hoa Hujin tegaz dan perihatin. “Dengan tanganku sendiri akan kubunuh anak durhaka ini!”

Waktu Koan San gwat memburu menghadang diantara mereka, Gwat hoa Hujin lantas menghardik bengis. “Anak Gwat! Kaupun tidak mendengar ucapanku lagi!”

Tampak oleh Koan San gwat muka orang pucat dingin lagi, hatinya menjadi luluh, terpaksa ia mundur kesamping, adalah Lau Yu hu Sa mundur beberapa langkah didesak oleh Gwat hoa Hujin yang maju menghampirinya.

“Bukankah kau hendak bunuh aku?” damprat Gwat hoa Hujin beringas. “Kenapa tidak berani turun tangan?”

Lau Yu hu tidak mundur lagi, matanya pun memancarkan rasa penasaran dan berteriak kalap. “Tak usah tergesa gesa kau ingin mampus, tunggulah setelah aku membinasakan bocah she Koan itu, akan datang giliranmu nanti, sekarang jangan kau desak aku turun tangan!”

Gwat hoa Hujin tertawa pedih dan seram. “Aku paksa kau? Kalau aku tahu kau seorang yang berhati lebih kejam dari binatang, masakah aku bisa membiarkan kau tumbuh dewasa sebesar ini? Sungguh aku menyesal kenapa diwaktu melahirkan aku tidak mencekik mati kau saja!”

Pancaran kilat Lau Yu hu yang sudah kesetanan itu semakin menyala, pekiknya. “Menyesalpun sekarang kau sudah terlambat.” lenyap suaranya pedang ditangannya kontan menyambar kedepan, ujung Ci seng kiam seketika memancarkan cahaya ungu yang menyala dimana sinar pedang berelebat, hanya terdengar kesiur angin deras yang melengking, rambut panjang yang tersanggul diatas kepala Gwat hoa Hujin seketika rontok dan terpapas berhamburan separuh diantaranya.

Sembari melintangkan pedang dengan kedua tangannya, berkata Lau Yu hu tertawa. “Sudah kulihat sendiri belum inilah Bau hun sam sek peninggalan ayahku, hanya permainan pedang jurus jurus itu barulah bisa mengembangkan wibawa dan keampuhan Ci seng kiam. Jurus pemainan merontokkan rambut sebagai ganti memenggal kepala, anggap saja sebagai balas budi akan kebaikanmu melahirkan aku ”

Belum lenyap suaranya, sinar ungu memancarkan dan berkelebat pula, ia memapas kutung lengan baju Gwat hoa Hujin pula, katanya tertawa dingin. “Jurus kedua, aku memotong pakaian sebadai ganti badan sebagai penebus budimu membimbing dan mengasuh aku, maka jurus ketiga ini akan menagih pembalasan ayahku. Yang hidup merana bersanding dosa. ”

Sekonyong konyong seperti kesurupan Gwat hoa Hujin menerjang dengan kalap dimana Ui tiap kiam menyambar, tampak bayangan kupu kupu menari nari mengitari Lau Yu hu, dalam sekejap bayangannya sudah lenyap terbungkus libatan sinar pedang.

Setiap hadirin sama tertarik perhatiannya akan kejadian yang tegang dan serius ini, sehingga tiada seorangpun yang memperhatikan Cia Ling im secara diam diam menggeremet pergi dan menghilang seperti bayangan setan.

Ditengah bayangan kupu kupu yang sedang menari nari itu terdengarlah suara berdenting berulang ulang. Tentulah Lau Yu hu sedang berjuang mati matian demi keselamatan jiwa didalam kepungan hawa pedang yang deras dan tajam itu. Bagi penonton di luar arena hanya melihat ditengah cahaya kuning itu menggulung gulung ceplok ceplok kabut ungu yang semakin menebal, laksana didalam rumpun kembang yang mekar dimusim semi sedang dirubung oleh kupu kupu yang mesari nari tak terhitung banyakanya.

Kedua pihak terus berkutet dan bertahan cukup lama, rangsakan berantai Gwat hoa Hujin selama itu tidak mampu menjebol musuh tabir penjagaan Ci Sek Kiam yang kokoh rapat. Sebalikanya selama ini Lau Yu hupun belum lagi melancarkan jurusnya yang ketiga.

Akhirnya Koan San gwat tidak sabar lagi, sambil bersuit nyaring pedang ditangannya dengan tipu Pek hong kiam jit, membawa cahaya memanjang seperti sabuk kemala menerjang masuk dalam arena. Begitu hawa ungu kena diterjang oleh cahaya putih menyala seketika melembang besar dan meluas, seolah olah angin lesus yang deras dan mendampar dengan kekuatan yang tiada taranya melandai datang, yang pertama tama kena di diterjang adalah bayangan kuning yang membelit disekelilingnya, lalu menggulung seperti damparan ombak samudra kearah cahaya putih menyala. “Trang” terdengar benturan nyaring menusuk ketelinga, tahu tahu Pek hong kiam ditangan Koan San gwat sudah tinggal separuh, badannyapun tergentak mencelat setengah tumbak.

Rambut Gwat hoa Hujin awut awutan, ia berdiri tegak ditempatnya tanpa bergerak ujung pedang Ui tiap kiam menjulur keatas Bumi, kedua tangannya lemas semampai dari pinggangnya mengalir darah deras tepeiti sumber air.

Sementara Lau Yu hu masih menentang Ci seng kiam, mukanya yang beringas tadi sudah hilang sekarang, sekarang terlihat seperti mimik aneh yang sulit diraba bagaimana perasaan hatinya, seperti hampa menyesal dan rawan pula.

Kang Pan menjerit ketakutan sambil menutupi mulutnya dengan muka pucat pias, akhirnya tak tertahan rasa amarahnya, teriakanya. “Siau giok, gigit mampus manusia durhaka yang lebih kejam dari binatang itu !”

Siau giok siular sakti secepat kilat segera menerjang keluar, lekas Lau Yu hu menebaskan pedangnya, namun gerak gerik Siau giok teramat cepat lincah dan gesit, cukup badannya melengkung dan melinting, tahu tahu giginya sudah mematuk pergelangan tangannya. 

Lekas Koan San gwat melangkah lebar memburu kedepan, pedang kutungan ditangannya kontan terayun. “Cras” tangan sebatas sikunya ia tebas kutung, lalu ia menjemput Ci seng kiam dan diserahkan kepada Lau Yu hu, katanya. “Kau pergilah lalu dipaksa untuk bertindak begini, racun berbisa Siau giok tiada obat pemunahnya, tunggulah setelah luka luka mu sembuh, biar kita mencari perhitungan lagi.”

“Koan toako.” ujar Kang Pan terbelak, “Kenapa kau menolong dia? Kenapa melepasnya pergi pula?”

Koan San Gwat tidak hiraukan pertanyaan, ia memburu kedepan Gwat hoa Hujin dan berlutut didepan kakinya, suaranya tersendat “Ibu, anak….”

Darah mengucur semakin deras dari pinggang Gwat hoa Hujin, tapi agaknya ia sudah lupa merasakan sakit, sebelah tangannya terulur mengelus kepalanya. “Nak, bukan salahmu kalian adalah putra putraku yang baik... aku amat girang, betapapun Yu hu masih punya perasaan, kuharap kau bisa memberi maaf kepadanya.”

Koan San gwat mengadahkan mukanya yang berlinang air mata, sahutnya terisak. “Bu! Aku patuh akan pesanmu. ”

Memancar terang sinar mata Gwat hoa Hujin, mukanya menampilkan senyum lebar yang terhibur, katanya. “Watak asli Yu hu masih bajik dan welas asih, ayahnyalah yang dipersalahkan, tidak pantas dia menanam bibit dendam kesumat kedalam relung hatinya, dialah yang membuatnya menjadi seperti sekarang, tapi dia....” bicara sampai disini agakanya dia sudah tidak kuat bertahan lagi, namun ia menguatkan hati dan meneruskan kata katanya. “Betapapun dia adalah anak yang baik hati, kau.... bukan saja harus memaafkan dia, harus pula membimbingnya ke jalan lurus, jangan kau biarkan dia bergaul dengan orang orang jahat ”

Akhirnya badan rubuh juga, tapi Koan San gwat berada dihadapannya, lekas ia memeluknya, Gwat hoa Hujin menekan tangannya katakan pula. “Nak! Cabutlah kutungan pedang dalam pinggangku!”

“Jangan bu,” lekas Koan San gwat mencegah. “Luka luka mu masih ada harapan disembuhkan.”

Dengan lemah Gwat hoa Hujin menggeleng kepala, ujarnya. “Tidak mungkin nak. Tusukan pedang ini amat kebetulan memutuskan urat nadiku lekas cabut keluar. Aku masih punya dua pesan yang amat penting…”

Tapi Koan San gwat mash belum berani menyentuh potongan pedang itu. terpaksa Gwat hoa Hujin mengerakkan sisa tenaganya mencabut potongan pedang yang menghujam kedalam pinggangnya dengan kekerasan. Darah segar memancar deras. Lekas dengan sebelah tangannya ia menekan luka lukanya, tangan yang lain mengangsurkan kutungan pedang kepada Koan San gwat ujarnya “Anak ku! Ambil dan simpanlah. Kalau Lau Yu hu meluruk datang mencari kau pula, atau bila kau teringat hendak mencari dia, boleh kalian melihat pedang kutung ini, bayangkan kematianku…” mulutnya menyemburkan darah juga, diwaktu Koan San gwat gerung gerung memeluk dm sesambatan memanggil namanya, lambat laun ia sudah kehilangan kesadaran kutungan pedang itupun tidak kuat dipegangnya lagi.

Orang lain yang menonton dipinggiran termasuk Li Sek hong Kang Pan dan Ling koh sama heran dan tidak habis mengerti. Gwat hoa Hujin sudah meninggal mati diujung kutungan pedang itu, kutungan pedang adalah Pek hong kiam yang dibekal oleh Koan San gwat, apakah Koan San gwat yang membunuh ibu kandungnya sendiri?

Sudah tentu tidak mungkin terjadi, lalu cara bagaimana kutungan pedang itu bisa berada didalam pinggang Gwat hoa Hujin? Mereka tiada yang bisa menjawab. Meski sejak tadi mula dengan penuh perhatian dan cermat mereka mengikuti pertempuran sengit tadi akan tetapi sulit diikuti oleh pandangan mata, sehingga apa yang terjadi mereka sama tidak tahu.

Tangisan Koan San Gwat yang gerung gerung dan melolong seperti pekikan serigala kesakitan yang terkena panah, air mata berderai membasahi selebar mukanya. Orang orang lain yang hadir menjadi ikut sedih dan mencucurkan air mata pula. Berselang agak lama, Ling koh baru maju menarik narik tangannya katanya. “Koan kongcu, kau jangan menangis lagi. Orang meninggal tidak akan bisa hidup lagi, kau bersedih tiada gunanya, yang penting sekarang harus mengurus pemakaman Hujin….”

Li Sek hong yang mendekat, katanya. “Koan kongcu serahkanlah jenasah ibumu kepadaku menghadapi kematiannya ini, aku jauh lebih sedih daripada kau! Tidak lebih hanya kehilangan seorang ibu…”

Meski sedang dirundung yang tak terhingga, mau tidak mau Koan San gwat tercengang mendengar katanya ini.

Li Sek hong tertawa pilu, ujarnya rawan. “Mungkin kau tidak akan bisa memahami ucapanku bicara soal cinta, sudah tentu   aku tidak lebih berat dari hubungan kalian ibu dan anak, tapi semula kau tahu bahwa kau punya seorang ibu, setelah kau dapatkan kini kau ditinggalkan pula. jadi tidak akan membawa banyak pengaruh terhadap kelanjutan hidupmu, sebalikanya aku kehilangan saudara hidup yang terakhir…” Koan San gwat bingung mendengar kata kata orang. Li Sek hong mengusap air mata lalu berkata pula “Kau tahu sejak mening galkan Sin ti hong, seperti perahu terombang ambing ditengah samudra, aku tidak punya tempat berteduh lagi, akhirnya secara kebetulan berjumpa dengan ibumu dia begitu baik laksana adik kandung sendiri terhadap ku, dia ingin selanjutnya kami bisa hidup berdampingan mengecap hari tua yang penuh penderitaan ini. Siapa tahu nasib telah mempermainkan kita setitik harapan kinipun tidak bisa kunikmati lagi.”

Koan San gwat amat haru, tak tertahan ia menekuk lutut dan berkata pelan. “Li sian cu kau sebetulnya memang angkat tuaku, mengikat persahabatan yang begitu mendalam lagi dengan ibuku, selanjutnya kau adalah bibiku yang terdekat.”

Li Sek hong menerima Gwat hoa Hujin dari tangan Koan San gwat, lalu ia menariknya bangun, setelah menatap sebentar ia berkata pelan “Aku amat senang punya famili seperti kau, tapi aku tidak mau mengakui keponakan macam kau ini, sebab aku akan mengajukan berbagai pertanyaan yang mempersingkat jawabanmu…”

“Persoalan apa?”

“Dengan ibumu aku sudah angkat saudara kali ini dia ajak aku kemari seolah olah sudah mendapat firasat bahwa umurnya tidak akan panjang maka sebelumnya sudah memberi pesan kepadaku, seluruh milik dan persoalannya ia serahkan padaku termasuk Khong ham kiong di Tay pa san dan kalian pelayannya…”

Cepat Koan San gwat berkata. “Hal itu tidak menjadi soal, biar aku memberi tahu mereka supaya mereka ikut kau saja!”

“Tidak perlu, mereka sudah tahu karena bibimu sudah berpesan langsung dihadapan mereka tapi yang harus kuberi tahu kepada kau bukan paroalan ini”

“Persoalan apa saja?” “Pertama tama aku harus tahu cara bagaimana kematiannya?”

“Kenapa kau harus menanyakan hal ini?”

“Ini sangat penting aku harus berpegang pada hal ini baru berkeputusan untuk mengurus pesan pesannya, karena dia ada memberi dua pesan yang berlainan. Pesan yang kau tidak perlu tahu.”

Koan San gwat berpikir sebentar, lalu katanya “Boleh dikata beliau mati ditanganku tapi boleh dikatakan mati ditangan Yu hu…”

Tegak alis Li Sek hong. “Sebenarnya siapa yang membunuh dia?”

“Sudah tentu aku.”sahut Koan San gwat terisak.

Berubah air muka Li Sek hong, berkata pula Koan San gwat “Jurus ketiga dilancarkan Yu hu memang bukan olah olah hebatnya, mungkin tiada tandingan diseluruh jagat. Waktu mengharap ibu ia masih ragu ragu dan segan menggunakan jurus itu, tapi setelah ku kejar kedalam gelangang, baru ia melancarkan jurus yang lihay itu, sasarannya adalah aku, ibu melihat aku akan kehebatan dan mara bahaya yang mengancam jiwaku, lekas ia menghadang kedepan, akhirnya dia sendiri yang menjadi korban…”

Li Sek hong bingung tanyanya. “Jadi pedangnya yang membunuhnya...”

“Benar, melihat ibu memapak keputaran pedangnya, Yu hu didesak menarik kembali ditengah jalan, di saat ia menarik pedangnya itulah ia mengutungi pedangku…”

“Jadi kutungan pedang itulah yang menusuk pinggang ibumu ?”

Koan San gwat menunduk diam. Li Sek hong menghela napas perlahan lahan, gumamnya. “Serba salah kalau begitu.” “Sebetulnya pesan apa yang ibu katakan kepada kau?” “Bahwa akhirnya ia pasti mati di tangan putranya sendiri

hal ini sebelumnya dia sudah duga, cuma tidak duga adalah

kau, dia selalu menyangka adalah Lau Yu hu.”

Tak tahan Ling koh menyeletuk bicara “Kalau teliti secara keseluruhan, kita harus menyalahkan Lan Yu hu, kalau dia tidak turun tangan kepada Hujin, mana bisa terjadi peristiwa ini? Koan kongcu hanya…”

“Keduanya tidak bisa disalahkan” Li Sek hong menukas. “Hanya nasiblah yang harus disalahkan. Urusan selanjutnya yang belum terlaksana dia minta aku mengerjakan, ia merasa berdosa terhadap Lau Yu hu, kalau dia mati ditangan Lau Yu hu dalam sakit hati ini boleh dikata terlampias. dan tidak perlu banyak mulut, sekarang terpaksa aku harus melaksanakan pesannya yang terakhir.”

“Pesan terakhir apa, mungkin aku bisa….”

“Kau tidak bisa, apalagi kau tidak akan mampu mengerjakan!”

Koan San gwat tertegun, kata Li kek hong lebih lanjut “Ia minta dikubur bersama ayahmu !”

“Sudah tentu, ayahku dikubur di Chang ya san, paman bungkuk tahu...”

“Ibumu pernah menyinggung orang itu, tapi dia minta dikubur setelah menunaikan sebuah urusan kau tahu urusan apa yang dia minta.”

“Aku tidak tahu!”

“Pertama dia ingin menemui gurumu, kedua, hendak menuntut balas bagi Lau Ih yu mencari orang yang melukainya dulu!”

“Itulah….” Koan San gwat menjadi gugup. “Itulah Sinio, sekarang beliau berada bersama gurumu kedua urusan ini bisa dikerjakan bersama, tapi dapatkah kau mewakili aku mengerjakan kedua urusan ini?”

“Aku tidak bisa aku dan oen lolo. ..”

“Aku tahu kau tidak mungkin bisa ibumupun tidak mau suruh akan menyelesaikan urusan ini.”

“Memangnya kau sendiri bisa?”

“Tiada soal bisa atau tidak bisa bagi aku sebab aku tidak punya hubungan hutang budi dengan perguruan sebaliknya persahabatan dengan ibumu amat kental dan mendalam aku harus bekerja demi menentramkan arwahnya dialam baka.”

“Tapi Lim siancu dan guruku berada disana, jikalau mereka…”

“Melihat aku, mereka tidak akan berani merintangi aku bekerja, pendek kata jelaskanlah dimana tempat itu kepada aku. Demi ketentraman arwah ibunya kau harus memberi tahu kepada aku!”

Koan San Gwat tenggelam dalam pikiran yang serba menyulitkan, mengawasi jenasah ibunya, lalu ia pandang pula Sek hong sekian lama ia sulit ambil kesulitan.

Melihat orang tidak memberi reaksi yang tegas, Li Sek hong menjadi jengkel katanya “Ibumu cukup bijaksana dalam menghadapi persoalan antara dendam dan budi, semasa hidupnya dan setelah meninggal, sedikitpun ia tidak suka hutang dan berbuat salah terhadap seseorang kenapa kau begitu tele tele tidak punya pendirian”

Berkata Koan San Gwat dengan pedih “Lau Yu hu adalah putra Lau Ih hu, soal balas dendam boleh diserahkan kepadanya…”

“Kalau Lau Yu hu minta kepada kau supaya mengantar manemukan Oen lolo bagaimana” “Aku akan mengajak kesana, karena dia punya alasan yang kuat.”

“Justru akupun punya alasan yang lebih kuat lagi,” dengus Li Sek hong dongkol. “Karena ibumu sudah menyerahkan persoalan ini kepadakau, kalau tidak dia harus dikubur bersama Lau Ih yu, apa kau rela melaksanakan hal ini?”

“Sudah tentu tidak sudi, tapi bibi tidak perlu memberi kepastian ini?”

“Sebalikanya ibumu harus berbuat demikian, karena secara resmi dia adalah istri Lau Ih yu, dia harus berbuat menurut tugas dan kewajiban seorang janda.”

“Mengasuh dan membimbing Lau Yu hu sampai dewasa, dia sudah menunaikan kewajibannya itu!”

“Pengertianya terhadap ibumu terlalu cetek, megasuh anak adalah kewajiban seorang ibu, menuntut balas bagi kematian suami justru adalah tanggung jawabnya, kalau urusan ini belum sempurna masakah dia ada muka dikubur bersama ayahmu. Dimasa hidup sudah berbuat salah, setelah mati arwah tidak bisa tenang…. Lihatlah kedua mata tidak mau terpejam, kau sebagai putranya ini sebenanya mengandung maksud apa?”

Memang kedua mata Gwat hoa Hujin hanya setengah terpejam, lekas Ling koh coba mengusap wajahnya pelan pelan, sudah terpejam lalu membuka lagi.

Sambil meneteskan air mata Kang Pan maju mendekat, katanya “Koan toako katakan saja, kau harus memberi ketentraman kepada bibi.”

Li Sek hong tertawa dingin, ujarnya “Sebetulnya ibumu cukup bijaksana dan sayang kepada kau. Coba kau pikir kalau urusan ini dia serahkan kepada kau, apakah kau bisa menolakanya? Umpama dia mohon kau sebelum ajalnya tadi.” Koan San gwat berlutut lagi, katanya sambil menangis. “Ibu, kuharap kau suka memaafkan, aku benar benar tidak bisa, bukan persoalan Oen lolo seorang, masih ada guruku, aku pernah berjanji tidak akan memberitahukan tempat itu, kuharap arwahmu dapat memaapkan aku, bu… kau minta aku segera mampus juga bolehlah.”

Li Sek hong menarik napas, ujarnya. “Terpaksa aku membawanya pulang ke Khong ham kiong dan menguburnya bersama Lau Ih yu… Kiok ci, sungguh aku tidak nyana kau melahirkan anak seperti…”

KoanSan gwat amat terpukul oleh kata kata ini, mengangkat pedang kutung ia sudah bergerak hendak menghujam ke ulu hati sendiri, untunglah Kang Pan mencegah perbuatannya ini. “Koan toako, apa yang hendak kau lakukan?”

“Kalau kukatakan aku tidak setia dan ingkar janji, kalau tidak dikatakan aku menjadi anak durhaka yang tidak berbakti kepada orang tua, begini sukar menjadi manusia, lebih baik mati saja.”

“Koan kongcu!” mendadak Ling koh menyela dingin. “Silahkan kau mati saja silakan bunuh diri. Kalau kau sudah mati Cia Ling im tentu tertawa lebar sampai mulut nya sukar terkatup seluruh dunia ini tiada seorang pun yang akan mampu menundukan dia.”

“Cia Ling im? Dimana dia?” baru sekarang Koan San gwat tersentak sadar.

“Sudah pergi sejak tadi! masakah dia harus tetap disini menunggu kematiannya?”

“Oh, Thian!” jerit Coan San gwat sambil memukul kepala. “Apakah yang harus kulakukan !” “Cara yang amat gampang! Kau tidak usah mati, tidak perlu menjadi putra yang tidak setia tidak berbakti, angan angan ibu mupun bisa terkabul !”

“Kau punya cara apa?” tanya Koan San gwat terlongong. “Biar aku yang kawani Li siancu, menemui Lolo!”

“Kau ...” teriak Koan San gwat berjingkrak.

“Tidak salah! Hanya aku yang tahu tem pat itu meski beritahu belum tentu Li sian cu bisa menemukan tempat itu ada lebih baik aku saja yang membawanya…”

Dengan nanar. Koan San gwat mengawasi gadis cilik ini, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya.

“Bukankah begitu lebih baik?”

“Tapi…” Koan San gwat tersendat bicaranya.”

“Terhadap kejadian melukai Lau Ih yu Lolo amat menyesal dan selalu menjadi beban pemikirannya, sabagai seorang beribadah yang memperdalam ajaran Thian, dia paling mengutamakan sebab dan akibat, beliau menghadapi persoalan ini lekas dibereskan, supaya tanpa membawa ganjelan hati meninggalkan dunia fana ini. Maka sebetulnya kau tidak perlu merahasiakan tempatnya, waktu aku keluar kalian pernah berpesan wanti wanti kepada aku, suruh aku hati hati dan menyirapi urusan ini…”

Koan San gwat masih belum percaya, terpksa Ling koh berkata pula, “Silahkan kau tanyakan Li siancu, waktu aku pertama kali aku bertemu dengan ibumu, kami pernah membicarakan soal ini waktu itu aku sudah berjanji kepadanya.”

Sorot mata Koan San Gwat beralih ke arah Li Sek hong dilihatnya orang tersenyum manggut manggut, serta merta ia meng hirup napas panjang katanya masgul “Li sian cu, kau sudah tahu, kenapa pula harus bertanya kepada aku ?” Li Sek heng tersenyum, katanya “Ibumu sendiri yang menyuruh aku berbuat begini.”

“Ibuku?” tanya Koan San gwat menegas heran “Kenapa ?” “Cara ini baru bisa menyelesaikan angannya tentu tidak

akan sia sia, lihatlah bukankah kedua matanya sudah tertutup?”

Koan San gwat menunduk, betul juga kedua kelopak mata Gwat hoa Hujin sudah tertutup rapat, raut wajahnya tenang dan wajar, ujung mulutnya malah mengulum senyum manis dan tertawa. Koan San gwat garuk garuk kepala dan tidak habis mengerti.

“Kenapa kau tidak berpikir.” ujar Li Sek hong kalem, “Ibumu menyerahkan tugas terakhir ini kepada aku, mengandal kemampuanku masakah bisa ungkulan melawan Sunio? Kalau aku tidak bisa menang, apa pula gunanya?”

“Lalu bagaimana sekarang ?”

“Sekarang aku percaya pasti bisa, kalau Ling koh menceritakan sikapmu terhadap Sunio, demi putra Kiok cici, Sunio pasti akan menyempurnakan keinginannya.”

“Benar,” Ling koh menimbrung. “Kesan Lolo terhadapmu amat baik dan luar biasa aku percaya bila dia tahu sikap setiamu tanpa hiraukan hubungan kekeluargaan tentu beliau akan suka rela mengabulkan cita cita ibumu.”

“Cara bagaimani mengabulkannya?” tanya Koan San gwat tidak mengerti.

Berkata Ling koh sungguh sungguh “Pandanganku, paling tidak pasti memberi sebelah tangannya untuk dipapas kutung oleh Li siancu, lengan dikorbankan untuk menebus kesalahan, tapi juga untuk menentramkan hatinya.”

“Bukankah cara ini malah aku ..” “Tidak mungkin! Lolo sendiri suka membebaskan kesalahannya diwaktu hidup, sudah tentu tujuannya juga demi kau, usahanya ini sebenarnya mengandung suatu makna yang amat mendalam.”

Koan San gwat menjadi bingung, tanyanya “Cara begitu terhitung Lolo menyempurnakan diriku?”

“Tepat!” sela Li Sek hong. “Beliau menyempurnakan supaya tulang belulang ayah mu bisa terkubur sama ibundamu, sebab kalau hal ini tidak sampai terlaksana betapapun ibumu tidak akan mau berbuat demikian.”

Muka Koan San gwat menampilkan senyum dikulum, katanya “Jadi ibu mem peralat aku untuk mewakili Lau Ih yu menuntut balas?”

“Kehendak ibu terhadap anak tidak termasuk ‘memperalat’ apalagi seumpama tiada unsur unsur yang menentukan dari kau ini, toh belum tentu rencana ibumu tidak bakal sukses. Bukankah tadi sudah kau dengar ucapan Ling koh Sunio sendiri juga ingin menyelesaikan kejadian yang selalu mengganjal dalam sanubarinya, kena terpengaruh oleh kau pula sehingga urusan ini lebih gampang diselesaikan.”

Berubah air muka Koan San gwat, Li Sek hong lekas menambahkan “Kau tidak perlu merasa janggal, ayah bundamu memang rada keterlaluan terhadap Lau Ih yu, kau sebagai putranya adalah jamak menunaikan, tugas dan mewakili mereka untuk penebus kesalahan kesalahan ini.”

Sekilas Koan San gwat terlengong, akhirnya berkata kepada Ling koh dengan sikap kereng “Ling koh! Kau boleh pergi dan dihadapan Lolo kau harus bicara jujur apaadanya secara terus terang kepada beliau. Tapi kaupun harus memberi satu hal kepadanya, dia suka cara bagaimana menyelesaikan terserah kepadanya, jangan karena aku jadi ragu ragu dan serba salah. Bukan saja aku tidak sudi menerima kebaikannya, sabaliknya aku akan membenci selama hidup ini…” Li Sek hong melengak, ujarnya “Cara bagaimana kami harus menjelaskannya?”

“Begitulah maksudku, dalam segala tindak tandukku selamanya aku berpegang kepada nurani dan kelurusan hati, aku paling ben ci kepada orang yang suka membual dan tukang menjilat, menggunakan tipu daya dan lain lain cara.”

Li Sek hong terdiam mematung, Koan San gwat segera menambahkan “Li Siancu aku tidak ingin memberikan penilaian terhadap mu, tapi aku tidak percaya bahwa kau suka menerima tugas terakhir, cita cita ibuku ini hanya karena persahabatanmu saja dengan beliau.” 

Berubah rona wajah Li Sek hong, Koan San gwat tertawa serta berkata pula “Selama ini kau diam diam mencintai guruku, tapi dia tinggal menyembunyikan diri dengan Lim siancu kan hendak menggunakan kesempatan ini untuk melihatnya. Aku tidak menentang keinginan dan perbuatanmu. Tapi perlu ku beri nasehat kepada kau, bahwa meski kau bertemu dengan mereka tidak akan membawa manfaat kepadamu, beginilah perasaan dan nurani manusia, jodoh tidak bisa dipaksakan….”

Li Sek hong tersenyum getir, sesaat kemudian baru dia berkata pilu “Aku sudah tahu mungkin kali ini aku bisa jauh lebih sedih, tapi aku harus kesana. Pertama luka hatiku biarlah luka lebih parah dan padam. Kedua aku akan menentang uraianmu tadi bahwa hubunganku dengan ibumu memang amat intim laksana kakak adik sekandung, tugas yang pernah kujanjikan harus kulaksanakan.”

Dengan hormat tersipu sipu Koan San gwat menjura kepadanya. katanya “Kalau begitu akulah yang salah, setulus hati aku mohon maaf kepada kau, dengan setulus hati aku memanggik (bibi) kepada kau. Setelah tugasmu selesai, setelah aku membrantas Cia Ling im serta kamrat kamratnya, tentu aku akan kembali dan hidup berdampingan bersama sampai hari tuamu!” Dengan berlinang air mata dan tidak bicara Li Sek hong tinggal pergi. Dengan terlongong Ling koh berkata “Koan kongcu, adakah omongan yang perlu kau sampaikan kepada gurumu?”

“Ling koh,” ujar Koan San gwat perlahan lahan “Usiamu masih kicil namun kutlihat kau sudah pandai berpikir dan tahu urusan, hal itupun tidak bisa disalahkan, guruku dan Lim sianculah yang medidikmu menjadi begini nakal…”

Berubah aia muka Ling koh, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, lekas Koan San gwat menyela “Tidak perlu banyak bicara, semua aku sudah paham, kalau ketemu guruku sampaikan salamku, ucapan banyak terimakasih akan asuhan dan bimbingannya yang berbudi, katakan bahwa akang datand suatu kerika aku akan membalas kebaikannya ini ”

“Hanya kata kata itu saja?”

“Kedua patah kata ini sudah lebih dari cukup sungguh aku tak mengerti kenapa kehidupan dalam dunia ini saling memperalat? Dan sampai antara ibu beranak, guru dan murid pun tidak terkecuali.”

Lingkoh tertegun tanyanya.“Maksudku Ui ho Sianjing juga sedang memperalat dirimu?”

“Tidak salah !” sahut Koan San gwat tersenyum getir, “sejak mula guruku sudah mengatur diriku sebagai wakilnya didalam Liong hwa hwe, supaya cita citanya bisa terkabul mengasingkan diri dan hidup bahagia bersama Ting siancu. Baru hari ini aku paham akan tetapi aku masih simpatik dan salut kepada beliau akupun akan membalas budinya, lekasilah kau pergi, Li siancu sudah jauh.”

Dengan mendelong Ling koh memandang jauh kedepan lalu berkata menekan suara “Koan Kongcu adakah orang yang bersahabat secara suci murni terhadapmu, tanpa punya maksud memperalat dirimu?” “Sudah tentu ada. Umpamanya Thio Ceng ceng, demi aku dia melakukan banyak pekerjaan, namun terhadapku tiada sesuatu yang diinginkan, aku jadi serba susah malah, entah cara bagaimana aku harus membalas kebaikannya.”

Berubah air muka Kang Pan mendengar ucapannya, lekas ia menyeletuk. “Koan toako! Bagaimana dengan aku? Meski aku belum pernah melakukan sesuatu kepada kau, tapi aku….”

“Kaupan temasuk satu diantaranya. Akupun amat berterima kasih kepadamu, ku harap selama kau berlaku polos jujur dan murni”

“Koan Kongcu!” mendadak dengan suara linu yang hampir tidak terdengar Ling koh berkata. “Jangan kau lupakan aku…” habis berkata ia terus lari memburu di belakang Li Sek hong.

Koan San gwat menjadi merasa hampa Kang Pan mendekat disampingnya, katanya “Koan toako, maukah kau percaya? Ling koh pun sedang mencintai kau.”

Koan San gwat menggeleng, ujarnya.”Aku tidak tahu, dia masih bocah kecil”

“Tidak, ia tidak kecil lagi, aku berani katakan sejak lama dia sudah jatuh cinta kepada kau, tempo hari dia rela tinggal disini menemani Coa sin, adalah demi kau pula.”

Koan San gwat menjadi , uring uringan sentaknya. “Jangan peduli janji tetek bengek segala macam, marilah kitapun pergi!”

“Pergi kemana ?”

“Akupun belum ambil kepastian, meski dunia amat luas, seolah olah tiada suatu tempat yang benar benar menjadi tempat tujuan ku, tapi, marilah kita menuju ke Ngo tai san dulu.”

“Ya, Cia Ling im tentu sudah kembali kesana lebih dulu!” “Sulit dikatakan, tapi peduli dia ada tidak disana kerjaannya tentu bukan urusan yang baik.”

Kang Pan bingung dan tidak paham. Koan San gwat menjelaskan. “Cia Ling im bukan orang goblok, tahu bahwa pasti tidak akan melepas dia, kalau dia masih tinggal di Ngo tai san, itu pertanda dia punya cukup tenaga untuk menghadapi aku, atau sebalikanya tentu dia sudah menyembunyikan diri, kemungkinan pula Thian mo kaupun tidak menunjukkan aktivitasnya lagi.”

“Kalau begitu tak usah kau meluruk kesana tempat itu cukup berbahaya bagi kau kalau dia tidak disana. Thian mo kaupun sudah diboyong kelain tempat, apa pula gunanya kita menyusul kesana?”

Koan San gwat tertawa lantang, ujarnya. “Kalau dia masih disana ku ingin melabrakanya, kalau sudah pindah tempat akan kucari sumber penyelidikkan disana untuk mengejar jejaknya lebih lanjut. Kalau durjana itu tidak dibrantas dunia tidak akan aman.”

Kang Pan memasukan Siau giok kedalam kain kantongnya, katanya “Entahlah, yang terang kemanapun kau pergi kesitu pula aku ikut!”

Koan San gwat menarik napas panjaug Ui tiap kiam milik Gwat hoa Hujin ia masukkan kedalam sarungnya terus diserahkan kepada Kang Pan, menunjuk kantong kainnya berkata “Kang Pan! Aku tidak perlu menggunakan senjata, ada Siau giok sudah lebih dari cukup, kau saja yang bawa Cia Ling im dan Lau Yu hu masing masing punya sebilah pedang mustika, kaupun perlu membawa pedang tajam ini.

Koan San gwat menimang nimang pedang ditangannya, katanya. “Selama hayat dikandung badan, aku akan membekal pedang ini tidak menggunakan senjata lainnya.”

Kang Pan maklum bahwa perasaan hati orang sedang risau maka ia diam saja tak berani banyak bicara mengganggu ketenangan nya, lekas ia bantu menggantung Ui tiap kiam dipiggangnya, namun Koan San gwat tertunduk menjublek mengawasi tanah.

Tampak oleh Kang Pan kutungan lengan itu, itulah lengan Lau Yu hu yang ditebas kutung oleh Koan San gwat, tak urung berdetak jantungnya, dengan rasa was was ia berkata. “Koan toako! Aku tidak tahu keadaan pertempuran, kukira. ”

“Bukan salahmu. Lau Yu hulah yang harus memikul pertanggungan jawab terbesar akan kematian ibuku, terhadap ibu kandung sendiri mana boleh ia bersikap begitu…”

Kang Pan berpikir lalu bertanya. “Koan toako! Menurut omonganmu jadi Lau Yu hu belum terhitung terlalu bejat, yang jahat adalah ayahnya serta pengasuh yang membimbing nya sampai besar bemama Hwi kak itu. Merekalah yang menanamk n bibit, dendam kesumat didalam sanubarinya sampai tumbuh dewasa.”

“Semua salah, semua juga tidak salah mungkin perbuatan Hwi kak memang tidak dapat dibenarkan, berdiri pada pihakanya adalah demi kesetiaannya terhadap Lau Yu hu, lalu siapa pula yang bisa mengatakan dia salah?”

“Koan toko, aku tahu banyak urusan ucapanmu ini membuat bingung hatiku, jadi dalam persolan ini pihak siapa yang benar dan pihak mana yang salah?”

“Sulit untuk menjelaskannya ayahku menyintai nyonya muda yang sudah bersuami hal ini memang boleh dibenarkan, tapi cinta mereka adalah suci dan murni. Setelah mati Lau Ih yu masih mengatur langkah langkah jahatnya, namun dia pula orang yang langsung terkena getahnya, melihat istri tercinta direbut orang adalah jamak kalau dia teramat benci dan sakit hati, kalau dinilai keseluruhannya mereka sama tidak bersalah!”

“Aku tahu sekarang! Kodratlah yang akan permainkan manusia, jikalau ibumu sudah berkenalan lebih dulu dengan ayahmu sebelum menikah dengan Lau Ih yu, peristiwa ini tentu tidak akan terjadi !”

“Terpaksa hanya begitu kesimpulan kita.”

“Ibumu memang seorang tua yang patut dihormati, ia jelas membedakan dendam dan budi.”

“Apa yang diatur oleh ibu dalam persoalan ini memang betul, cuma tidak seharusnya dia memperalat aku. ”

“Koan toako, pikiranku amat sederhana tidak dapat kupikirkan aturan besar apa apa, tapi naluriku bicara aku tidak percaya bahwa hal itu adalah maksud langsung dari bibi!”

“Memangnya kenapa?” tanya Koan San gwat tersirap. “Jikalau ia hendak memperalat kau untuk menuntut balas

bagi Lau Yu hu, bukankah lebihh baik ia menyerahkan persoalan ini kepada kau. Kalau toh dia hendak membedakan budi dan dendam, kenapa pula harus bertindak putar balik    ”

“Tepat! Tapi kenapa Li Sek hong harus berbuat demikian.” “Kukira Li Sek hong hendak mengabulkan kepintarannya,

dia mendapat pesan wanti wanti dari ibumu, tapi kuatir dirinya

tidak bisa menunaikan tugas yang diberikan itu, maka dia pikir hendak mengajak dirimu….”

Sebentar Koan San gwat terlongong, mendadak berjingkrak dan berteriak. “Betul! Kenapa tidak kupikirkan kearah itu! Marilah lekas kejar!”

“Untuk apa?”

“Akan kubongkar akal licik Li Sek hong ini, akan ku cegah dia bekerja menggunakan nama baikku, supaya ibuku tidak meninggal dengan rasa was was.”

Lekas Kang pan menarikanya, katanya “Kukira tidak perlulah, Li Sek hong berbuat demikian juga demi ibumu, kalau dia tidak menempuh cara ini, tulang belulang ayahmu tidak bisa akan di kubur bersama ibumu…”

Koan San gwat masih hendak bicara, lekas Kang pan bicara dahulu “Cukup asal kau paham bahwa ibumu tidak mengandung maksud maksud seperti itu, kenapa kau haru mempersulit Li Sek hong, semua bekerja demi keyakinan sendiri sendiri, hubungan Li Sek hong dengan ibumu tidak lebih hanyalah saudara angkat, bahwa dia rela melaksanakan tugas tugasnya ini, dan kau sebagai putra keturunannya, masakah tidak rela menerima sedikit getahnya?”

Koan San gwat menjublek sekian lamanya, akhirnya berkata menarik napas. “Kang Pan ucapanmu memang betul, agaknya pikiranmu jauh lebih tinggi dari aku!”

“Aku tidak mengenal akan licik dan tipu muslihat, semua ku gunakan keringanan, secara lincah dan tulus kupandang maya pada ini, maka didalam pandang aku maya pada ini jauh lebih indah, lebih elok dari apa yang kau lihat…”

Koan San gwat tidak bersuara. Kang Pan berkata lebih lanjut. “Li Sek hong sendiri kurang pengertian terhadap kau, jikalau dia memaparkan maksud keinginan ibumu secara blak blakan kepadamu, mungkin kau suka rela akan mewakilinya menyelesaikan urusan itu.”

Koan San gwat menghela napas, ujarnya. “Mungkin ucapanmu benar, yang terang Li Sek hong tidak pantas berbuat demikian, karena maksud ibuku tidak ingin aku terlibat dalam persoalan ini… Kang Pan! Ucapanmu memang benar, sekarang aku jadi simpatik dan berterimakasih kepada Li Sek hong, tujuan dan maksudnya memang jujur, tadi tidak pantas aku bersikap demikian terhadapnya!”

“Asal kau seperti diriku, pandanglah maya pada ini dengan nurani yang suci murni, akan segera kau dapatkan dimana mana penuh bertaburan bunga bunga mekar semerbak, alam semesta ini diliputi cinta dan kehangatan... Koan San gwat dan Kang Pan kembali sudah berdiri didepan gunung Ngo tai san, sikap mereka kelihatan melengak dan heran. Bendera kebesaran Thian mo kau ternyata sudah lenyap dari tempatnya berkibar, yang ada hanyalah selarik panji panjang yang tersulam sebatang pedang dan satu huruf Im yang besar dibelakang pedang adalah sebuah lukisan Pat kwa. Gambar Pat kwa ini cukup dikenal oleh Koan San gwat, karena itu tanda kebesaran dan keluarga In dari Bu khek pay.

Bu khek pay hanyalah sebuah sendikat kecil yang bercokol ditengah arus gelombang pertikaian didunia persilatan, masakah mereka mampu merobohkan atau menumbangkan kekuatan Thian mo kau yang besar dan kokoh serta menggantikan kedudukannya. Hal inilah yang membuat orang heran dan melengak.

Adalah pertanda yang terukir diatas panji itu menjadi kenyataan dan tidak biaa disangkal lagi, mau tidak mau mereka harus percaya akan kenyataan ini.

Disaat mereka melenggong dan kebingungan, dari jalan pegunungan sana tampak lari mendatangi seekor kuda yang ditunggangi seorang laki laki bertubuh kekar, golok tersoreng dipinggangnya sikapnya kereng dan angker.

Begitu melihat orang ini semakin heran dan menjadi curiga hati Koan San gwat.

Laki laki ini adalah Cit sing to Lau Sam thay, dulu waktu orang menyelidiki persoalan Hwi tho ling cu baru berkenalan dengan dirinya, dan karena orang ini pula sehingga dirinya timbul persengketaan dengan pihak Bu khek pay.

Sungguh tidak nyana, ditempat ini dan saat ini pula ia bisa bertemu dan melihatnya dan karena inilah, maka Koan San gwat lebih yakin bahwa panji panjang itu jelas pasti ada sangkut paut yang erat dengan Bu khek pay dari keluarga Im.

Badan Lau Sam thay rada gemuk dari dulu, sikapnya lebih gagah dan bersemangat, muka tampak berseri tawa bercokol diatas tunggangannya cuma sikapnya saja yang masih sopan santun dan sungkan sungkan, dari kejauhan lantas turun dari punggung kuda dan menjura memberi hormat, sapanya “Lingcu! Sejak berpisah apakah dia baik baik saja. Kabarnya dalam satu tahun ini kau sudah melakukan perjuangan besar yang menggemparkan seluruh jagat, sekarang namamu tenar sampai keseluruh pelosok dunia, sebagai pendekar yang tiada bandingannya.

Koan San gwat tertawa tawar, ujarnya. “Lau Samcu, kau sendiri juga tambah gemuk dan hidup senang agaknya! Tempat ini adalah. ”

“Teima kasih! Masakah aku berani menerima pujian Lingcu. Disini akupun beruntung bisa bercokol berkat muka dan nama Lingcu belaka ”

“Karena nama dan mukaku apa?” tanya Koan San gwat tidak mengerti.

Lau Sam thay berseri tawa, sahutnya “Tempo hari beruntunglah karena Ling cu sudi mengangkat hamba menjadi pengiring Ling cu, maka nona Im baru sudi mengundang hamba disini aku mendapat tugas sebagai penerima dan menyambut tamu.”

Koan San gwat lebih heran, tanyanya. “Nona Im? Nona Im yang mana?”

“Ling cu memang sering agung yang suka melupakan urusan, nona Im adalah putri terkecil dari Ciangbujin Im Siok kun dari Bu khek pay di Im san yang bernama Im Lee hoa. Bukankah dulu Ling cu pernah melihatnya satu kali?”

Teringat oleh Koan San gwat dulu Thio Hun cu pernah memincut Im Le hoa ini, sehingga pihak Bu khek pay salah paham hendak mencari perhitungan dan adu jiwa pada dirinya. Dan karena peristiwa itulah maka Thio Ceng Ceng tanggal lari dengan jengkel dan malu. Kenapa Im Le hoa bisa berada ditempat ini?

Lau Sam thay masih tertawa tawa ujar nya. “Nona Im sekarang cukup jempolan, kedudukannya jauh lebih tinggi entah berapa lipat dari ibunya sekarang dia adalah Ciangbunjin dari Tay khek pang oh ya, mungkin kau belum tahu akan Thay khek pang bukan?”

Koan San gwat menggeleng, sahutnya “Betul, aku belum mengetahuinya!”

“Hal ini tidak perlu dibuat heran, Thay khek pang selalu bekerja secara diam diam baru pertama kemarin menerima peninggalan Thian mo kau ini, baru pertama kali ini kita kibarkan panji kebesaran ini!”

“Cara bagaimana Thian mo kau sudi menyerahkan markas besarnya ini? Dimana Cia Ling im?”

“Selama ini Cia Ling im tidak pernah muncul, seluruh anggota Thian mo kau kemarn dipimpin oleh Ki Houw semua mengundurkan diri, dengan leluasa kita lantas menempatinya”

“Bicaramu semakin tidak genah! Cara bagaimana Ki Houw mau menyerahkan pangkalannya kepada kau?”

Lau Sam thay tertawa kesenangan, sahut nya. “Sudah tentu Ki Houw tidak sudi, tapi setelah dia melihat Liu tongcu, terpaksa mencawat ekor seperti halnya dengan Bu khek pay, Thay khek pang seluruhnya dipegang oleh kaum perempuan!”

Koan San gwat keheranan, tanyanya. “Siapa pula Liu tongcu itu?”

“Semua adalah kenalan lamamu, dia ber nama Liu Ih yu, sekarang menjabat sebagai Cong tongcu juga kenalanmu yang paling rapat, kau tahu siapa dia?”

Koan San gwat berpikir sebentar, lalu berkata “Thio Ceng ceng!” “Sekali tebak kena betul. Orang orang dalam Thay khek pang yang banyak kau kenal seperti Sing tong Tongcu Lok Siang kun, Kong kun tong Tongcu Lok Heng kun, Sian hong tongcu Lok Sia hong dan masih banyak lagi.”

Semakin bingung dan tak mengerti Koan San gwat dibuatnya, setelah terpekur ia berkata “Coba katakan cara bagaimana Im Lee hoa bisa diangkat menjadi Ciang bun jin?”

“Sudah tentu karena adanya sangkut paut dengan Thio loyacu, sebetulnya hak kekuasaan Ciang bun jin ini tidak lebih besar dari berkuasa dari Lwe tong Tongcu, karena didalam tingkatan dia lebih tinggi satu angkatan…”

“Dia lebih tinggi seangkatan dari Ceng Ceng. Jadi dia. ”

Lau Sam thay menekan suara, katanya “Soal ini tiada halangan kuberitahu kepada kau toh kau memang sudah tahu, nona Im adalah nyonya muda dan Thio loyacu, jadi ibu tiri nona Thio. ”

Berubah air maka Koan San gwat, katanya. “Jadi kejadian dulu itu memang kenyataan?”

“Bagaimana duduk perkara sebenarnya?”

“Dulu Thio loyacu pernah berkunjung ke berbagai golongan dan partai silat yang tersebar di mana mana, merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, hal ini kau sendiri tentu tahu, kejadian itu ”

“Jadi betul dia adanya!” bentak Koan San gwat. “Tua bangka ini masih pura pura welas asih di Liong hwa hwe dulu terhadapku!”

Lekas Lau Sam thay menggoyang tangan katanya. “Ling cu salah paham, dalam hal ini Thio loyacu mempunyai maksud maksud tertentu, sudah tentu hal ini amat erat sangkut pautnya dengan Liong hwa hwe , ilmu silat Bu tong dan Siau lim merupakan yang lain dari yang lain, sejak lama Cia Ling im sudah mengincer mereka dan hendak melebar kedua partai ini masuk kedalam kekuasaannya. Thio loyacu mendapat bisikan dulu, membunuh kedua Ciang bun jin kedua partai ini, terhadap luar disiarkan kabar bahwa dia merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, sebetulnya hanya buku tiruan saja yang dia bawa buku aslinya masih berada ditempatnya semula!”

Koan San gwat mendengus jengeknya. “Lalu kenapa ia harus membunuh ke dua Ciang bun jin kedua partai itu?”

Kedua Ciang bun jin itu insaf mereka tiada kekuatan untuk melawan kehendak Cia Ling im, demi melindungi ilmu silat peninggaalan cikal bakal mereka supaya tidak terjatuh ketangan orang luar, dengan suka rela mereka mengorbankan diri!”

“Aku tidak percaya !”

“Ciang bun jin angkat bahu dari kedua partai itu, sedikitpun tidak menaruh dendam sakit hati terhadap Thio loyacu dari hal ini kau akan mendapat bukti bukti yang cukup banyak !”

“Lalu bagaimana pula persoalannya dengan Im Le hoa?” “Bicara soal ini jauh lebih mengesankan Thio loyacu

mendapat kabar bahwa Bu khek pay merekapun termasuk dalam daftar yang ditundukan, tapi waktu itu tiba insaf dan melihat kenyataan, terasa bahwa ilmu pedang mereka bahwasannya tiada sesuatu keanehan nya, maka ia membatalkan niatnya semula. Tapi, dasar ilmu pengobataanya teramat tinggi, sekilas pandang ia melihat bahwa Im Le hoa semacam penyakit aneh yang cukup gawat.”

“Penyakit apa?”

“Katanya penyakit Hoa cit!”

“Bohong! Kenapa ibunya tidak tahu?”

“Hoa cit adalah semacam penyakit yang aneh, penyakit ini sejak dilahirkan sudah mengeram dalam tubuh anak perempuan akan kumat setelah dia berusia delapan belas tahun. Waktu Thio loyacu tiba disana kebetulan penyakitnya itu kumat, kalau penyakit itu sedang gawat, seperti gila saja dia mencari laki laki, karena Thio loyacu tidak kenal dengan keluarga Im, maka sulit ia memberi penjelasan, terpaksa dia bekerja diam diam memberi pengobatan.”

Koan San gwat terlongong sekian saat, sungguh tidak kira dalam persoalan ini mengandung seluk beluk yang liku liku.

“Tapi tugas dan kerjaan Thio loyacu amat banyak dan sibuk sekali, tanpa menunggu penyakit orang disembuhkan dia lantas tinggal pergi, tapi dia sudah menyembuhkan sebagian penyakit itu…  akhinya….”

“Akhirnya terjadilah peristiwa yang kita alami dulu!”

“Benar! Penyakit Im Lee hoa waktu itu belum sembuh seluruh nya, mulutnya mengoceh kalang kabut, ibunya tidak tahu duduk perkaranya lantas main tuduh dan bertekad hendak menuntut balas kepada Thio loyacu!”

Ilmu pengobatan Thio Ceng Ceng pada waktu itu sudah cakup baik juga, kenapa ia tidak melihat adanya penyakit aneh itu pada diri Im Lee hoa? Kalau tidak mungkin dia mengalami pukulan batin yang begitu berat.”

“Nah disitulah letak kesalahannya, penyakit Im Le hoa baru sembuh separuh, lahirnya sukar diketahui, maka semua orang mau percaya obrolannya, sebetulnya Thio loycu tidak berbuat tidak senonoh terhadapnya, kau masih ingat hari itu bukankah nona Thio memberikan sebutir obat? Obat itu justru menyembuhkan seluruh penyakit nona Im secara tidak sengaja.”

“ Selanjutnya bagaimana?”

“Setelah penyakit Im Lee hoa sembuh ia tuturkan duduk perkara sebenarnya kepada ibu nya, barulah Im Siok kun insaf bahwa dia salah menuduh Kepada Thio loyacu, tapi waktu itu semua berada di Bu san!”

“O, jadi begitulah duduk perkatanya, tapi waktu di Sio li hong disaat pembukaan Liong hwa hwe, kenapa Thio loyacu tak memberi penjelasan kepada aku?”

“ Sebelumnya dia sudah mendapat pesan dari Go hay ci hang, dia disuruh masuk kelompok orang orang Cia Ling im, sudah tentu menjadi sulit memberi keterangan kepada kau sehingga terjadilah peristiwa berbuntut panjang ini!”

“Kejadian selanjutnya aku sudah mengerti, tapi kenapa Im Lee hoa bisa betul betul menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek pay disini?”

“Karena disembuhkan oleh Thio loyacu Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek Pang disini?”

“Karena disembuhkan oleh Thio loyacu. Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan bulim, selama hidup tidak mau kawin, kebetulan akupun ikut kau pergi ke Bu san aku hanya jelas mengetahui keadaan kalian, waktu Im Siok kun mencari aku membawa putrinya, minta aku menemukan Thio loyacu, aku tahu Thio loyacu berada didalam Thian mo kau, namun tidak berani aku menemui dia, sampai kira kira beberapa selang nona Thio Ceng eeng ketemu aku dan bertemu pula dengan nona Im, setelah mendapat penjelasan duduk perkaranya, baru hilanglah kesalah pahamnya terhadap ayahnya. Saat itu pula ia membuat satu keputusan!”

“Keputusan apa?”

“Ia keputusan hendak mendirikan satu kekuatan lain untuk menandingi Thian mo kau. Dia suruh aku mencari bala bantuan dan mengumpul tenaga, yang kukenal hanyalah keluarga Lok ibu beranak, maka kucari mereka akhirrnya urusan terjadi perubahan, entah dengan cara apa Thio loyacu berhasil menundukan seorang aneh, kepandaian silat orang aneh itu cukup berkelebihan untuk menundukkan Cia Ling im.

Koan San gwat tahu orang aneh yang dimaksud tentulah Coa sin adanya, cepat ia bertanya. “Apakah mereka berkumpul diatas gunung?”

“Betul! Thio loyacu tidak mau berkecimpung dalam urusan dunia lagi, ia berkeputusan hendak hidup dalam pengasingan diatas gunung sampai hari tua, nona Im bertekad menjadi istrinya, nona Thio Ceng ceng juga mengharap belaian orang tua ada yang merawat dan melayani, dia ikut menyokong dan memberi dorongan, dan lagi ia mengusulkan supaya nona Lu menjadi Ciang bun jin dari Thay khek pang.”

“Kenapa harus menggunakan nama ini?”

“Itulah hasil dari pemikiran nona Thio dari Bu khek ke Thay khek pertanda bahwa Thay khek kun adalah bersumber dari Bu khek karena dulu diapun pernah membunuh beberapa anggota keluaga Im, dengan cara ini ia hendak melimpahkan rasa penyesalannya terhadap Bu khek tay, sebetulnya mengandal kekuatan Thay khek pay sekarang, jelas Bu khek pay bukan apa apanya lagi!”

-oo0dw0oo-