Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 28

 
Jilid 28

SETELAH KOAN SAN Gwat membunuh dua tiga ratus, saking keletihan tangan terasa susah digerakan lagi, sementara Coa Sin sudah berganti empat lima ekor, selama ini ia berkutet terus dengan Jin kau. Gerak gerik Jin kau tampak tidak segesit dan selincah tadi, namun ia masih begitu besar gairahnya, begitulah saking ngiler ia menubruk dan berusaha terus mendesak maju, namun setiap kali tentu kena digempur terpental mundur oleh pukulan Coa Sin. Terpaksa Koan San Gwat beahenti istirahat, namun Coa Sin tidak memberi kesempatan padanya, dengan penuh kebencian matanya melotot dan beringas, serunya mendesak. “Anak muda! Jangan berhenti, bencana ini kaulah yang menimbulkan, akulah yang kena getahnya, kalau kau tidak lekas bekerja mati matian, akupun boleh cuci tangan.”

Koan San Gwat naik pitam, serunya gusar. “Mahluk ini adalah peliharaanmu.”

“Tapi aku tidak suruh kau menguntungi lehernya, sampai dia meninggalkan badan kasarnya!”

“Menggunakan dia kau hendak bunuh aku! Masakah aku harus mandah terima kematian begitu saja!”

“Kentut!” maki Coa Sin tertawa, “Aku mengurungnya didalam kamar, toh bukan aku yang memaksa kau masuk, seumpama kau terbunuh oleh dia, kau salah sendiri.”

Koan San Gwat melengak, serunya “Kau berbuat tidak senonoh kepada Ling koh bagaimana aku bisa tidak turut campur.”

“Apa benar kau mampu mengurusnya! Kalau bukan aku sendiri yang membatalkan niatku, budak kecil itu sejak tadi sudah menjadi korban, tahumu sih hanya main gagah gagahan dan main jempolan, kebanyakan urusan cuma mencelakai jiwa orang melulu.”

Tersumbat mulut Koan San gwat, sekian lama ia tidak mampu bersuara lagi.

Namun Coa Sin tidak memberi hati, katanya lebih lanjut sambil tertawa dingin “Kalau toh kau hendak menjadi pendekar menolong yang lemah menumpas yang jahat, sekarang justru bukan saatnya kau istirahat main malas malasan, mesti lelah sampai mati juga setimpal, karena pekerjaanmu ini menyangkut laksaan jiwa insan hidup, kalau sampai mahluk keparat ini keluar, adalah kesalahanmu seorang, meski aku memelihara binatang ganas ini, kalau kau tidak banyak urusan, dia tentu tidak akan sembarang melukai orang !” Benak Koan San Gwat bergelora penuh amarah, namun sepatah katapun tidak mampu diucapkannya.

Sesosok bayangan berkelebat dimulut lubang, ternyata Ling koh sedang menyelinap masuk, segera ia berkata dingin. “Coa Sin! Kau salah! Kalau Koan kongcu tidak berbuat kesalahannya itu, Jin kau peliharanmu ini pun tidak akan lepas menjadi incaran Cia Ling Im untuk memperalatnya. Ketahuilah sejak mula mereka sudah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna.”

“Kau membual apa !” sentak Coa Sin gusar.

“Sedikit pun aku tidak membual, pengetahuan Thio Hun cu mengenai Jin kau jauh lebih banyak dari kau, rencana mereka semula adalah menggunakan Jin kau itu untuk menundukan kau cuma persiapannya saja yang terlambat dan belum lagi mereka sempat bekerja Koan kongcu sudah bergerak lebih dulu. ”

Coa Sin tertegun, tanyanya heran. “Mereka mampu mengekang mahluk keparat ini?”

“Tidak salah!” “Menggunakan cara apa?”

“Daun jatuh kembali keakarnya, sudah tentu menggunakan kelongsong telurnya yang keras waktu dia dilahirkan dulu, konon kabarnya kelongsong telurnya itu bila dibubuk lembut ditebarkan diatas badannya, dia pasti bisa menjadi jinak!”

Coa Sin terbahak bahak, serunya “Hal itu akupun sudah tahu, tapi kelongsong telurnya itu jauh lebih keras dari besi baja, dibakar dua ribu tahun dalam bara api juga tidak akan terbakar menjadi abu ”

“Terserah kau mau percaya, aku tidak ngapusi kau, sekarang Thio Hun cu sedang menggunakan tungku raksasa untuk membakar kelongsong telur itu, malah sebentar lagi bakal selesai, waktu aku datang, kelongsong itu tinggal sedikit lagi ...”

Karuan berubah air muka Coa Sin, cepat ia bertanya. “Apa benar? Cara bagaimana dia bekerja?”

“Mana aku tahu, yang terang dia sudah menyelesaikan kerjaannya dengan baik…”

Berubah pula air muka Coa Sin, serunya “Hal itu tidak boleh terjadi! Aku harus segera mencegah usahanya itu.” Sembari bicara ia lempar ular di tangannya terus menerjang kemulut lubang.

Cepat Jin kau menyongsong lemparan itu terus membuka mulut dan menggigit kepalanya sampai putus menghisap racunnya dengan lahapnya, setelah memuntahkan kepalanya, ia mengejar ekor yang lain pula.

Baru saja Koan San Gwat bergerak hendak merintang, Ling koh sudah menarikanya. “Koan kongcu! Kau tidak akan mampu merintangi dia. Lwekangmu jauh tidak ungkulan dibanding Coa Sin.”

“Lalu bagaimana baikanya?”

“Tidak cara apapun, malah kau harus cepat mengundurkan diri bila Jin Kau sudah kenyang menghisap racun, untuk mundur kau pun sudah terlambat.”

“Tidak!” sahut Koan San Gwat menggeleng, “Binatang ganas ini betapapun tidak bisa dibiarkan hidup, bila terjatuh ketangan Cia Ling im, akibatnya bakal lebih celaka.”

“Lebih baik terjatuh ketangan Cia Ling Im dari pada dia beterbangan kemana mana mencelakai orang orang tidak berdosa, paling tidak keganasannya masih ada orang yang bisa mengendalikan, tidak akan sembarangn terbang dan main terjang.” “Tapi bila Cia Ling Im memiliki binatang ganas pembunuh orang dan malang melintang bersimaharaja, siapa pula yang kuasa mengendalikan dia? Apakah benar Thio Hun cu membakar kelongsongan kura kura itu?”

“Benar, Cia Ling Im menyoreng pedang sedang berjaga dipinggiran, aku ingin mengganggu dan menggagalkan usaha mereka tapi aku kewalahan, dan lagi aku sendiri ragu ragu untuk mengganggu karena aku tidak bisa berbuat dosa…” disaat mereka bercakap cakap inilah beruntun Jin kau sudah menghisap puluhan racun ular, semangatnya terbangkit gerak gerik nya semakin lincah dan gesit.

Gerak terbangnya pun menjadi cepat sekali gigit satu ekor, segampang orang makan kwaci saja. Lama kelamaan Koan San Gwat menjadi merinding dan mencelos hatinya.

Ling kohpun amat prihatin, serunya. “Kau sudah lihay belum. Betapa hebat lwekang Coa Sin, sedikitpun ia tidak kuasa menundukan, kalau dia betul betul kehilangan belenggu yang mengekang dirinya, dapatlah kau bayangkan akibatnya!”

“Kalau sejak mula tahu begini akibatnya aku lebih suka disembur oleh hawa beracun dari mulutnya!” demikian ujar Koan San Gwat gegetun.

“Tiada gunanya, bila kau mampus hanya sia sia belaka, setelah Cia Ling Im gagal menggunakan ilmu sihirnya untuk mempengaruhi Coa Sin, langkah selanjutnya adalah menggunakan rencana ini ”

Koan San Gwat menerawang sebentar, lalu bertanya. “Apa Kang Pan masih bergebrak dengan Lau Yu hu diluar?”

“Tidak, waktu aku masuk kemari, bayangan seorangpun tidak kulihat.”

“Aku punya akal, mari lekas kita keluar,” bergegas ia seret Ling koh menerjang keluar dari mulut sarang yang kecil itu. Kang Pan dan Lau Yu hu memang tidak kelihatan lagi diapun tidak sempat pikirkan mereka. Lekas ia berkata kepada Ling koh. “Lekas kau bantu aku menutup rapat lubang ini.”

“Tiada gunanya, orang lain masih membukanya lagi!” “Adakah cara lain untuk menggugurkan lamping gunung

ini?” Ling koh berpikir sebentar, mendadak berkata. “Tidak bisa! Tapi aku punya cara lain, kita bisa naik kepuncak sana, dimana ada lubang angin dari sana kita memasukkan bahan belerang sebanyak mungkin. Marilah kita sumbat dulu lubang ini, baru memasukkan belerang dan membakarnya habis perkara Mungkin Jin kau bisa terbakar mampus cuma kita bekerja cepat.”

Koan San Gwat tidak berani berayal lagi lekas ia salurkan tenaga terus menggempur mulut lubang, namun batu batu gunung disini amat keras, hanya sebagian kecil saja yang runtuh.

Ling koh menjadi gugup teriaknya “Cara itu mana bisa, biasanya Coa Sin menggunakan sebuah batu besar untuk menyumbat lubang ini, tuh disana, mari kita kerja sama, mungkin kuat memindahkannya kemari.”

Tampak oleh Koan San Gwat bentuk batu dan besarnya memang tepat dan pas menyumbat mulut lubang ini, cuma terlalu tebal mungkin beratnya ada laksaan kati, maka sedikitpun tidak terpikir olehnya.

Biasanya ia menggunakan senjata peninggalan garunya yang beratnya ribuan kati, maka ia percaya didalam dunia ini dalam adu tenaga tiada seorangpun yang akan kuasa menandingi dirinya. Maka meski mendengar seruan Ling koh ia berusaha menggeser batu itu, namun sedikitpun tidak bergeming. Di saat napasnya sudah ngos ngosan dengan muka merah padam, lekas Ling koh maju membantu, kedua tangannya ikut mendorong dari sisi yang lain, untunglah batu bisa bergeser sedikit. Begitulah dengan kerja sama meski makan tenaga dan waktu akhirnya mereka bisa juga menutup lubang dengan batu besar itu.

Lingkoh menarik napas serta berkata tertawa. “Sungguh berat batu ini perlu dua orang baru mampu menggesernya, Coa Sin hanya seorang diri saja sudah bisa melakukannya, kekuatan raksasanya memang tiada bandingannya!”

Koan San Gwat menghela napas pelan pelan, katanya. “Ling koh, tidak usah menyinggung Coa Sin, kenyataan kau lebih kuat dari aku!”

Melihat sikap orang yang mendelu dan malu, cepat Ling koh menjelaskan. “Koan kongcu, di bawah bimbingan Coa Sin, dan petunjuknya sekarang aku kira kira mampu mengguakan tenaga sampai lima ribuan kati, baru itu berat laksaan kati, meski kita harus kerja sama baru bisa menggesernya, dihitung hitung tenagamu masih jauh lebih besar, kenapa kau bicara begitu sungkan dan merendah?”

“Aku hanya menyesal pada diriku sendiri bahwa kau bisa lebih kuat dari aku, sudah tentu aku harus senang”

“Kekuatan seseorang tidak bisa dijadikan pertanda, kau tidak usah senang bagi diriku dan tidak perlu menyesal pada diri sendiri! Masih perlu manjat kepuncak?”

“Marilah sudah tentu harus kesana. Hal ini justru paling penting.”

“Kukira kau sudah lupa, seumpama tenagaku memang lebih kuat dari kau, tidak perlu kau harus menyesal sedemikian rupa, tujuan mu kemari kan bukan hendak main gagah gagahan dan menang sendiri bukan!”

Kata katanya laksana obat mujarab, dan telak menusuk lubuk hati Koan San gwat, seketika pikiran jadi jernih dan terang. Bersama Ling koh mereka berlompatan terbang naik keatas lereng gunung, terus menuju kesebelah bangunan rumah kecil diatas sana. Didalam rumah batu ini ternyata banyak benar ada disimpan bahan bahan belerang yang tidak terhitung banyaknya yang gampang dibakar.

Di tengah tengah rumah batu itu ada sebuah lubang jendela yang menembus kebawah itulah lubang angin yang dimaksud, lubang itu menembus kebawah dan bisa melihat keadaan sarang ular. Jin kau masih mengejar ular ular dan menghisap racunnya tanpa merasakan capai dan kekenyangan.

Urusan tidak boleh main lambat lambat tepat mereka melemparkan belerang belerang yang tersedia dibawah lubang, setelah cukup banyak mereka mengumpulkan kayu bakar serta menyumbatnya terus dilempar kebawah. Begitu terjilat api belerang lantas terbakar, dimana bara apinya mengeluarkan asap biru menyala, ular ular dimana berlarian saling terjang, sekejap saja kira kira ada setengahnya sudah putus nyawanya.

Sisa lain yang masih hidup sama berebutan menyingkir kepinggir sambil mendesis dan bersuara ribut, bila bata api belerang itu merambat keempat penjuru, tentu merekapun menunggu giliran belaka. Mau tidak mau Koan San Gwat merasa sedih dan tidak tega pula. Ular beracun memang pantas dibunuh, namun dengan cara pembakaran sekaligus dengan sedemikian banyaknya, seolah olah cara ini terlalu kejam. Melihat mimik wajah Ling koh pun dapat merasakan kerawanan hati orang. Katanya dengan tertawa. “Koan kongcu! Kau tidak usah bersedih, ular dalam sarang yang penuh ini, seumpama tidak kita bunuh dengan membakarnya, akhirnya toh akan dibakar orang lain. Ketahuilah simpanan belerang disini adalah Cia Ling Im yang membawanya.”

“Dia yang membawa kemari? Untuk apa dia membawa sedemikian banyak?”

“Menurut anggapan Cia Ling Im semula pasti dia berhasil mengundang Coa Sin keluar, lalu dikatakan ular sedemikian banyak ini tiada gunanya lagi, dia sulit untuk melenyapkannya semua. Semula Coa Sin sendiripun sudah setuju…”

“Lantas kenapa mereka tidak segera turun tangan?” “Lantaran Cia Ling Im salah langkah dia hendak main licik,

disaat Coa Sin menjalani oprasi dia hendak menggunakan ilmu sihirnya mempengaruhi pikiran Coa Sin, alhasil tipu dayanya ini gagal karena kenangan oleh Coa Sin. ”

“Bukankah Coa Sin tadi bilang bahwa mereka sudah teringkus dan terkurung dalam sarang ular dibawah ini?”

“Memang benar, namun dia hanya membekuk Cia Ling Im dan Lau Yu hu dua orang masih ada Thio Hun cu tidak ikut terkurung, tentu dialah yang melepas mereka keluar!” Saat mana ular ular didalam sarang di bawah ada sudah banyak yang mampus, hanya Jin kau masih dengan semangat menyala nyala menerjang kian kemari, mengejar dan membunuh serta menghisap racun mereka.

Tampak oleh Koan San Gwat dipojokan sana masih ada beberapa bongkah belerang besar, ia hendak mengangkatnya dan dilempar kebawah untuk menambah bara api. Segera ia membakar mampus Jin kau sekalian, namun Ling koh dengan tegas mencegahnya. Segara ia menyumbat beberapa bongkah belerang diantaranya didalam kamar batu itu. Namun tidak dilemparkan kebawah. Baru saja Koan San Gwat tidak habis mengerti, Ling koh sudah menjemput sebuah diantaranya dan dipegangi.

Lama kelamaan Jin kau merasa kepanasan dan pengap oleh bara belerang itu, akhirnya tak tertahankan lagi, mendadak ia menggetar ekornya yang panjang, badannya lantas meluncur keatas menerjang kearah lubang angin di atas ini.

Keruan mencelos hati Koan San Gwat lekas ia lontar pukulan deras untuk menutup lubang menghalang halangi, tapi gerakan Ling koh lebih cepat lagi, belerang besar yang menyala itu ditangannya itu lekas ia sumbatkan kelubang angin.

Terpaksa Jin kail terdesak mundur pula oleh bara belerang, segera mulutnya menyeringai seram mengeluarkan suara aneh, sikap nya sungguh amat mengerikan.

Serta merta Koan San Gwat berseru memuji. “Kiranya kau sudah memikirkan cara yang baik ini, sungguh cerdik kau!”

“Belum tentu Jin kau takut api, namun bau belerang punya kasiat untuk memusnahkan racun ular, maka sementara masih bisa merintangi dia, kalau tidak tamparan pukulanku tidak mungkin kuat membendung terjangannya!”

Koan San Gwat tidak banyak bicara lagi, dijemputnya sebuah belerang besar terus di lempar kedalam sasarannya kebetulan adalah tempat yang belum terbakar, Jin kau terdesak untuk melompat kesana sini…

Melihat orang masih hendak menimpukkan belerang lagi, lekas Ling koh mencegah “Koan kongcu, perangai mahluk ini cukup sabar dan tahan uji, sisa belerang tidak banyak lagi, jangan kau terlalu boros, yang terpening kita harus menjaganya upaya tidak melarkan diri!”

Koan Sao Gwat mengerut alis, ujarnya. “Bukankah lebih baik melenyapkannya secepat mungkin?”

“Jangan, bila tidak mampu membunuh nya dan tidak kuasa menghalangi dia melarikan diri bukankah lebih celaka? Apa guna nya cepat cepat kalau tidak membawa hasilnya, biarlah kita tunggu saja kalau dia sudah kelelahan dan semaput karena pegal!”

Dihitung sisa belerang yang ada, menurut perhitungan Koan San Gwat paling lama malah kuat bertahan satu jam lamanya, maka ia tidak berani terlalu boros lagi. Dari lubang angin itu ia dapat melihat Jin Kau disebelah bawah sedang terjang sana terjang sini, gerak geriknya sudah tidak selincah tadi kalau kepanasan dan diuap lagi satu jam mungkin sudah dibereskan.

Maka timbullah semangatnya katanya senang. “Jika Jin kau dapat dibunuh, Cia Ling Im tidak akan mampu mengekang Coa Sin lagi malah dia mengikat permusuhan dengan Coa Sin yang merupakan lawan tangguh memang setimpal dengan perbuataanya.”

Sebalikanya Ling koh tidak sependapat, katanya. “Apakah kau sendiri tidak takut sama Coa Sin? Bukan mustahil dia lebih jahat dari Cia Ling im!”

Koan San Gwat melongo, ujarnya. “Rasa nya belum tentu tindak tanduk Coa Sin sedikit masih kenal prikemanusiaan.”

“Kukira sulit dikatakan, sejak lama ia menetap ditempat pengasingan, tidak pernah bergaul dengan khalayak ramai, tindak tanduk selalu menuruti kemauan hatinya. Cukup asal ada seseorang dapat mempengaruhi pikirannya maka dia bisa merubah sikap dan menuruti yang lebih matang . Lalu siapa yang mampu mempengaruhinya?”

“Kesempatan orang orang jahat jauh lebih banyak dari orang orang bijaksana, karena perbuatan jahat yang membawa dosa hakikatnya jauh lebih gampang dilakukan dan lebih menyenangkan, maka dosa dosa dialam baka ini sulitlah diberantas!”

Koan San Gwat menggeleng, ujarnya “Dosa hanya bisa dikecap sementara saja, adalah kemenangan bagi seorang yang bajik adalah kehormatan yang tidak akan luntur, abadi sepanjang masa maka sesat tidak lebih unggul dari kelurusan atau kemurnian, keadilan akan selalu bisa ditegakkan ”

“Teorimu ini boleh kau uraikan kepada orang lain, jangan kau lupa kondisi Coa Sin yang bara saja kembali normal dari dunia setengah binatangnya, didalam sanubarinya, bakal kesenangan yang berfoya foya mungkin jauh lebih besar dari kenormalan …!” Koan San Gwat jadi gelisah, mendadak dilihatnya mimik muka Ling koh menampilkan perasaan yang aneh, seketika tergerak hatinya, cepat ia berkata. “Ling koh, soal ini hanya kau seorang yang mampu menunaikannya!”

Ling koh menghela napas katanya. “Kenapa, harus diriku yang melakukan nya?”

“Hanya kau yang punya pengaruh paling mendalam terhadap Coa Sin Ling koh. ”

Berlinang air mata Ling koh, katanya terisak “Mungkin aku bia menuntunnya kejalan benar, namun pengorbananku teramat besar, selama hidupku aku harus mendatangi orang aneh ini, tiada kehidupan sendiri yang bahagia!”

“Kemudian orang itu jikalau dia terpengaruh oleh perbuatan jahat, mungkin dia bisa jadi lebih jahat, maka seluruh dunia bakal tidak aman lagi ”

“Memang hal itu perlu suatu pemikiran.”

“Ling koh! Aku tahu pengorbananmu teramat besar dan suci, tapi manusia hidup di alam semeta ini bukan untuk diri sendiri, ku kira kau paham akan pengertian ini.”

“Aku tidak paham! Sejak kecil aku diasuh oleh Lim siancu, pendidikan yang kuterima di Bu san, tidak pernah ada pelajaran yang mengharuskan aku hidup untuk dan bagi siapa….”

Koan San Gwat gelisah, katanya membujuk. “Kenapa kau tidak mengerti? Seperti Lim siancu dan guruku, semula mereka bisa saja hidup tanpa segala gangguan tapi demi menindas ambisi Cia Ling im, mereka. ”

Ling koh mendengak kepala, katanya tegas “Mereka toh tidak mendirikan pahala, disaat urusan mencapai saat yang paling genting, sebalikanya mereka tinggal ngumpat hidup di pengasingan di tempat Lolo. ” “Itulah karena mereka belum mampu untuk mengendalikan Cia Ling im, maka harus menunggu sekian lamanya, sampai pada waktu aku bisa menanggulangi tugas berat ini, baru mereka mundur dan mengasingkan diri. Jikalau mereka mencari hidupnya sandiri, sejak lama sudah bisa tinggal pergi tanpa mengurus tugas tugas ini di Liong hwa hwe, kenapa pula harus mandah diserang penyakit rindu pada tempat yang sedemikian jauh dengan hidup merana….”

“Meski mereka menderita akhirnya toh menemukan akibat dari imbalannya. Kalau aku ikut Coa Sin, sepanjang masa ini, aku harus hidup dalam kesengsaraan, akibat apa yang harus kuterima?”

Berkata Koan San Gwat sungguh. “Akibatnya bakal menjadi mendapat kehormatan dan sanjungan puji insan hidup diseluruh jagat !”

“Kau kelana Kangouw tanpa hiraukan mati hidup, apakah tujuanmu juga hanya itu itu saja ?”

Koan San Gwat tertawa getir, ujarnya “Aku sendiri tidak berani punya harapan seperti itu, karena aku sadar tenaga dan kemampuanku amat terbatas, masakah setimpal mendapat kehormatan yang begitu tinggi dari kalayak ramai, aku hanya bermodal dengan tekad hatiku, melakukan apa saja yang kuanggap pantas.”

“Baklah!” Akhirnya Ling koh berkata setelah melongo sebentar, “Sedapat mungkin aku akan mendekati Coa Sin, akan kukasihkan untuk mempengaruhi dia, supaya dia tidak diperalat oleh manusia manusia durjana. Tapi aku bekerja bukan demi orang lain, hanya untuk kau.”

“Demi aku?” tanya Koan San Gwat melengak.

“Ya, demi kau! Waktu dikamar betul hampir saja aku diperkosa oleh Coa Sin, kau pernah berlaku begitu nekad menempuh bahaya hendak menolong aku untuk membalas budi kebaikanmu ini, aku tidak bisa menolak segala permintaanmu, Coa Sin amat benci dan dendam terhadap kau, jikalau sampai kena dipengaruhi orang lain, tindakan pertama yang dia lakukan pasti membunuh kau. Aku harus menghalang halangi perbuatannya!”

Belum lagi Koan San Gwat bicara lebih lanjut, terdenr suara ribut ribut dibawah gunung, pertama tama terdengar suara Coa Sin yang berteriak gugup “Celaka! Kenapa lubang ini tersumbat? Tercium bau belerang lagi….”

Selanjutnya terdengar lagi jeritan Kang Pan. “Celaka dua belas, Koan toako dan Ling koh masih ada di dalam...”

Begitu batu penyumbat dipindahkan dan terbuka, Jin kau yang sudah bertele tele setengah sekarat itu mendadak menegakan ekornya terus menerjang keluar. Hal ini terjadi sangat cepat, Koan San Gwat tidak keburu berseru mencegah.

Waktu Koan 8an Gwat dan Ling koh buru buru turun tiba dibawah gunung, seketika mereka sama menjublek dihadapi situasi didepan mata ini, karena disini hadir seorang yang benar benar di luar dugaan mereka.

Keadaan Coa Sin tidak berubah, cuma sekarang menggunakan celana pendek yang terbuat dari kulit ular keadaannya memang enak dipandang dari pada sebelumnya, sementara Cia Ling Im dan Lau Yu hu menjublek juga d sebelah samping sana.

Kang Pan terlihat sedang menerobos ke luar dari sarang ular, pakaian putihnya berlepotan kotoran hitam dan hanya sekilas pandang melihat Koan San Gwat dan Ling koh tidak kurang sesuatu apa seketika ia berjingkrak kegirangan, serunya “Koan toato! Kukira kau sudah binasa terbakar didalam. ”

Dengan mendelik Cia sin mengawasi Ling koh, tapi kedua orang ini sedikitpun tidak mempelihatkan reaksi apa apa perhatian mereka sama tertuju seorang yang lain, halaman 30 n 31 gak ada

ia tangannya memukul batu besar untuk menyambur lubang itu, lwekangnya memang amat mengejutkan, batu besar berat laksana kati seketika kena dipukulnya pecah menjadi beberapa potong.

Liu Ih Yu malah terloroh loroh kesenangan ujarnya. “Bagus sekali pukulaamu! Dengan seorang tokoh selihay ini, tidak perlu aku takut manusia diseluruh kolong langit ini tidak tergengam dalam telapak tanganku. Selanjutnya aku bisa berbua apa saja menurut keinginan hatiku, tidak akan ada orang yang bisa merintangiku lagi.”

“Jangan takabur,” semprot Coa Sin gusar, “Seekor Jin kau memangnya bisa berbuat apa terhadapku!”

Liu Ih Yu menyeringai, ejeknya. “Apa kau ingn mencobanya!”

“Labrak dia!” sembari memberi aba aba tangannya segera terangkat, Jin kau segera terbang mumbul ketengah udara. Dengan mengerahkan setaker tenaga Coa Sin menyongsong keatas menghantam kemuka Jin kau, namun pukulan maha dahsyat itu sedikit pun tidak membawa pengaruh terhadap Jin kau.

“Wut” tahu tahu Jin kau hinggap diatas pundakanya, dimana kedua pipinya melembung terang dia hendak menyemburkan hawa beracunnya, karuan Coa Sin tersirap darahnya, lekas ia ajukan tangannya, menutupi muka dan hendak menangkis.

Liu Ih Yu terloroh loroh, serunya. “Dapatkah kau bertahan?”

Pucat pasi muka Coa Sin terpaksa ia turunkan kedua tangannya, ia insaf akan kelihayan binatang ganas ini, didalam sarang ular dia sudah menghisap anti racun yang diperlukan sehingga dia laksana harimau tumbuh sayap, tiada sesuatu benda yang mampu melukainya.

“Kau usah takut!” cemooh Lau Ih Yu tertawa, “Aku tidak menghendaki kau binasa

Halaman 34 n 35 gak ada

kan sudah lama pula kupikirkan !”

“Sudah lama kau pikirkan?” tanya Coa Sin tidak percaya, “untuk dapat menjinakkan dan terima menghamba kepadaku kau hanya menggunakan abu dari kelongsongnya itu baru bisa berhasil. Kukira kalian tidak akan memberi sepakat tindakan ini sebelumnya bukan?”

“Coa Sin kukatakan pengetahuanmu memang terlalu cetek

!” demikian cemooh Liu Ih yu, kecuali kelongsong kura kura itu, masih ada sebuah benda lain yang manfaatnya jauh lebih besar, yaitu yang sudah kugunakan untuk menaklukan dan menjinakan Jin kau tadi….”

“Apakah itu? tanya Coa Sin tertegun.

“Tidak menjadi soal, sekarang kuberi tahu kepada kau, waktu kau pertama kali memelihara Jin kau ini, kau lupa menyimpan barang pusaka itu…”

Coa Sin memeras otak dan berpikir, akhirnya, dia berkata menggeleng. “Aku masih punya barang pusaka. ”

Liu Ih Yu terloroh loroh lagi, ujarnya. “Bahwa abu dari kelongsongan kura kura itu bisa menundukan Jin kau, yang penting karena kelongsongan kura kura itu adalah modal dari tulang punggung jiwanya, adalah barang pusaka itu sebalikanya adalah sumber dan asal mula jiwanya!”

“Aku tahu sekarang!” tetiak Coa Sin, “maksudmu adalah kelongsongan telurnya setelah dia dilahirkan ?”

“Tidak salah,” sahut Liu Ih Yu manggut. “Kelongsongan telurnya itu justru merupakan titik tolak dari asal mula jiwanya yang murni, binatang kembali kesarangnya, burung pulang kepucuk pohon yang lama, kasiat dari kelongsongan telur itu bukankah lebih besar dari kelongsongan kura kura itu? Apalagi kelongsongan kura kura itu sendiri teramat keras, dibakar tidak akan luluh. Meski ilmu pengobatan Thio Han cu teramat tinggi, juga tidak akan mampu melakukan hal itu...”

Cia Ling Im segera juga berkata tidak percaya. “Lalu bagaimana Thio Hun cu bisa membakarnya menjadi abu didepan mata hidungku !”

Coa Sin menimbrung. “Benar! Waktu aku menyusul kesana kebetulan kerjaannya selesai….”

“Kalian sudah tertipu oleh permainan ilmunya yang bisa mengaburkan pandangan orang, sebetulnya diatas kelongsong kura kura ia sudah meneteskan semacam obat, obat itu bisa melenyapkan kelongsong kura kura ini sehingga tidak berbekas lagi, abu yang kalian dapatkan bukan lain hanyalah daging dan isi perutnya yang sudah terbakar hangus, sudah tentu abu itu tidak membawa pengaruh apa apa terhadap Jin kau !”

Coa Sin menjublek diam Cia Ling Im pun tertegun melongo.

Berkata pula Liu Ih yu. “Kemaren Thio Hun cu sudah mendatangi lubang dimana dulu Jin kau dilahirkan dan mengambil keluar kelongsong telurnya itu. Karena kalian selalu menguntit setiap jejaknya, sehingga ia tidak berkesempatan membakarnya, maka secara diam diam Jian coa kok. Hari ini aku baru kembali dan kebetulan aku masih sempat memburu waktu!”

Lalu ia berputar kearah Koan San Gwat serta katanya tersnyum. “Dalam hal ini aku harus berterima kasih kepada kau, meski kami punya barang pusaka untuk menaklukkan Jin kau, tapi tidak kuasa mendekati Jin kau, karena Coa Sin sendiri menjaganya begitu ketat, tabasan pedangmu justru telan membantu banyak pada kami!” Koan San Gwat mendengus, katanya. “Kuharap kau menaklukkan Jin kau dan memeliharanya baik baik, jangan kau memperalat dia untuk mencelakai jiwa manusia, kalau tidak aku tidak akan memberi ampun kepada kau!”

Liu Ih Yu menyeringai dingin, jengeknya. “Mati hidupmu sendiri sekarang berada ditanganku, masih kau sembarang, kau tahu cukup aku memberi perintah saja, tulang belulangmupun tidak akan tersisa lagi.”

Tegak alis Koan San gwat, baru saja ia hendak mengumbar amarah, Liu Ih Yu sudah menghela napas dan berkata. “Tapi legakan saja hatimu, aku tidak akan membunuh kau, malah karena permintaan Thio Hun ca, dia berpikir demi masa depan putrinya, Thio Ceng Ceng si nona cilik itu sudah amat kepincut terhadap kau, tapi bila dia sudah tahu bahwa kau sudah setuju memperistri Coa ki, mungkin keadaanmu sekarang tidak seenak dulu!”

Koan San Gwat melenggong, Liu Ih Yu segera menambahkan. “Maka kukatakan demi keselamatan pribadimu, lebih baik kau berpisah dengan Kang Pan.”

Berubah air muka Kang Pan, serunya dengan sedih. “Koan toaku! Kau tidak akan meninggalkan aku bukan!”

Koan San Gwat menariknya lebih dekat katanya “Tidak akan tejadi! Kalau toh mereka sudah tahu kau adalah calon istriku, masakah aku berpeluk tangan tanpa melindungi keselamatanmu. Legakan saja, mati hidup kita tetap bersama!”

Kang Pan amat terhibur dan tersenyum bahagia. Adalah beringas muka Liu Ih Yu bentaknya. “Koan San gwat! Kau tidak ingin hidup?”

“Liu Ih yu! Mungkin hanya maksud hatimu sendiri belaka. Menurut apa yang kuketahui Thio Ceng Ceng adalah seorang gadis jujur polos dan bajik, tidak mungkin dia punya jalan pikiran yang sesat itu!” Semakin beringas muka Liu Ih yu, teriaknya kalap “Tidak salah, memang maksudku sendiri, kau mau apa? Toa suci berkeputusan menjodohkan aku kepada kau, kau berani menolak mentah mentah, jikalau lantaran Thio Ceng Ceng bolehlah aku memberi maaf kepada kau. Karena kalian kenal jauh lebih dulu dan diapun berulang kali pernah menolong jiwamu, tapi Kang Pan baru saja kau kenal, mana boleh kau memperistri dia.”

“Kan toako memang belum mengetahui aku, tapi dia sudah setuju untuk memperistrikan aku...”

“Tak usah kau cerewet, mengandal apa kau hendak menjadi istrinya, masakah aku tidak lebih unggul dari kau?”

“Liu Ih yu!” Koan San Gwat menyeringai dingin. “Terhadap nona Kang Pan kami baru mengikat jodoh dalam pembicaraan tapi karena ucapanmu tidak bisa tidak aku harus mengawininya!”

“Akan kulihat masakah pernikahan kalian bisa terjadi?” ancam Liu Ih yu.

“Kenapa tidak jadi biar sekarang juga aku menikah dengan dia dihadapanmu.” Lalu ia menghadap orang banyak serta berseru lantang. “Para hadirin harap dengar, sejak sekarang, nona Kang sudah kuakui mtnjadi istrku, kuharap kalian suka menjadi saksi. Meski upacara ini terlalu sederhana, tapi aku percaya pernikahan ini sudah boleh dianggap resmi, dan tekad kami tidak akan berubah ”

Lau Yu hu segera mengolok ngolok dengan sindiran tajam. “Kiong hi! Kiong hi! Koan San Gwat meski diantara kita ada pertikaian yang belum diselesaikan, tapi aku mengharap bisa menyuguhkan arak bahagia kepada kau… ”

“Benar!” Cia Ling Im menimbrung, “Koan San Gwat kau bisa mengawini seorang isteri sedemikian cantik molek laksana bidadari, akupun ikut gembira, apalagi aku bisa menjadi saksi didalam upacara perkawinan yang begini sederhana dan tiada keduanya dikolong langit ini, sungguh hatiku amat senang dan ikut bangga, keadaan memang serba menyulitkan, silahkan kau pinjam secawan arak kepada Coa Sin, marilah kira rayakan bersama!”

Koan San Gwat melotot dingin kepada mereka, ujarnya. “Kebaikan kalian sungguh kuterima dengan setulus hati. Arak kebahagiaan tidak kupersiapkan, tapi pedang ucapan terima kasih justru sudah kupersiapkan, siapa diantara kalian yang suka terima kematian dulu!”

Cia Ling Im bergelak tertawa, serunya “Upacara perkawinan baru saja selesai, kau lantas berniat membunuh jomblang, wah terlalu tergsa gesa kau ini. ”

Koan San Gwat menarik muka dengus nya “Cia Ling im, tidak usah putar bacot, kaulah yang mengundang aku kemari untuk menentukan mati hidup, marilah bekerja jangan kepalang tanggung lawanlah pedang ku ini!”

“Meski hari ini adalah waktu yang dijanjikan, sungguh aku pun tidak menduga hari ini merupakan hari bahagiamu juga, bolehlah kita mengganti waktu lain saja!”

“Tidak usah diubah!” seru Koan San gwat. “Hari ini juga kita harus selesaikan pertikaian ini!”

Mata Cia Ling Im menyapu kearah Koan San Gwat katanya. “Tidak bisa! Sungguh aku tidak tega hari ini mengadu jiwa dengan kau, apalagi bila mempelai perempuan sampai menjadi janda. Lebih baik setelah kalian mengecap malam pertama perkawinan bahagia ini baru dilangsungkan pertempuran yang menentukan!”

Dari tangan Kang Pan Koan San Gwat merebut Ui tiap kiam, teriaknya “Kalau kau tidak tampil kedepan aku tidak sungkan lagi !”

Berubah muka Liu Ih yu, mengangkat tangan memberi aba. “Ayolah! Bunuh saja perempuan itu !” Jin kau mencelat mumbul ketengah udara terus menubruk kearah Kang Pan, lekas Koan San Gwat menghadang disebelah depan pedang terayun kontan ia membacok kearah Jin kau, lekas Jin kau mengabitkan ekornya panjangnya membelit batang pedang. “Cras” ekor panjang yang lembut itu tiba tiba terputus sebagian.

Lekas Coa ki berteriak memperingatkan. “Kalau seluruh ekor panjangnya kau kutungi gerak geriknya akan lebih cepat dan bebas, tatkala itu jauh lebih sulit dihadapi, sekali kali kau tidak boleh sembarangan…”

Liu Ih Yu menyeringai dingin ujarnya “Meski ia membawa ekor panjang, tiada seorangpun yang akan mampu menghadapinya !”

Setelah ekornya putus sebagian gerak gerik Jin kau jauh lebih gesit, mencelat mumbul lagi lagi ia menukik kearah Kang Pang.

Kali ini Koan San Gwat tidak berani melancarkan serangan pedangnya secara teledor. Setelah mengincar tepat sebuah sasaran, secepat Kilat mendadak ia menusuk batok kepala bagian belakang Jin kau, tapi belakang punggung Jin kau seakan akan juga tumbuh mata, dimana ekornya melejit miring, lagi lagi berhasil menyampok miring pedangnya. Dan karena benturan ini, ekornya lagi lagi putus sebagian pula, kini tinggal dua kaki lebih panjangnya.

Dikala untuk ketiga kalinya dia menubruk kearah Kang Pan, Kang Pan menjerit ketakutan sambil putar tubuh terus lari terbirit birit. Jin kau mencelat terbang mengejar dengan kencang, kecepataanya jauh lebih gesit.

Maka baru saja Kang Pan lari puluhan langkah, Jin kau sudah mengudak tiba dibelakangnya, membuka mulut, terus menyemburkan segulang kabut berbisa, Koan San Gwat ketinggalan rada jauh, untuk menolong terang tidak mungkin. Disaat keadaan kritis itu, jelas Kang Pan bakalan melayang jiwanya oleh semburan hawa yang berbisa itu, sekonyong konyong dari samping menerjang datang sesosok bayangan putih menghadang ditengah antara mereka, beruntunglah Kang Pan terhindar dari ancaman elmaut.

Adalah bayangan putih itu yang tersembur jatuh oleh hawa beracun itu bayangan putih itu bukan lain adalah Siau giok, ular kesayangan Kang Pan yang sakti itu. Begitu badannya menyentuh tanah, dengan nekad ia terus menerjang kearah Jin kau malah.

Begitu melihat Siau giok, Jin kau malah menyeringaikan mulutnya dan melelehkan lidah, kelihatannya amat senang, lenyap hasratnya membunuh Kang Pan, sasaran kini dialihkan kepada Siau giok.

Tadi Koan San Gwat sudah mendengar kelihayan Jin kau, dalam hari ia sudah rada jeri serta dilihatnya Siau giok ternyata mampu hadapi semprotan hawa beracunnya, tak terduga terasa ia menjerit “Bagus Siau giok! Lekas kau gigit mampus mahluk ganas ini!”

Dalam pada itu Kang Pan pun menghentikan larinya, dilihatnya Jin kau terbang berputar putar mengelilingi Siau giok, sementara Siau giok menegakkan kepalanya, lidahnya terjulur keluar masuk, mulutnya mendesis garang dan sengit.

Lekas Koan San Gwat mengejar kesamping Kang Pan, tanyanya. “Apa yang dikatakan Siau giok?”

Seketika Kang Pan mengalirkan air mata terisak sedih. “Demi menolong jiwaku Siau giok rela berkorban jiwa apapun yang terjadi aku tidak akan tinggal pergi meninggalkan dia begini saja, mau mati biarlah kami mati bersama....” sembari berkata dia terus menerjang kearah Jin kau, kebetulan Jin kau sudah memperoleh suatu kesempatan dan sedang menukik turun menyergap keperut Siau giok, tidak sempat melawan, tiba tiba ekor Siau giok menyamber keluar mengubat kedua kaki Kang Pan terus disendal pergi sampai Kang Pan terpental mundur beberapa langkah, sementara dia sendiri secara kebetulan malah bisa terhindar pula dari tubrukan Jin kau.

Karena tusukannya mengenai tempat kosong Jin kau jadi mengamuk, putar haluan ia mengincar kepada Kang Pan lagi. Ditengah udara sekonyong konyong menerjang datang pula sesosok bayangan orang menghadang dihadapan Jin kau, tanpa perduli tiga kali tujuh puluh dua kali, membuka mulut Jin kau lantas mematuk kearah orang itu.

Tapi lekas orang itu mengayun tangan menaburkan segenggam bubuk abu. Kalau dikatakan memang aneh, begitu Jin kau terkena bubuk abu itu, seketika ia menghentikan serangannya, begitu orang itu menjulurkan tangan menggapai kepada Jin kau serta memanggilnya dengan suara halus. “Kemari! Kau dilarang melukai orang !”

Dengan jinak Jin kau menurut terbang dan hinggap diatas tangan orang itu. Baru sekarang semua melihat jelas orang itu ternyata adalah seorang perempuan yang sedih dan sendiri dirundung kepedihan, dia tak lain tak bukan adalah Thio Ceng ceng yang dicari ubek ubekan oleh Koan San gwat.

Pertama tama Lau Yu hu memburu maju kearahnya serta berseru. “Ceng ceng! Kenapa kaupun datang kemari ...”

Thio Ceng ceng mengacungkan tangannya, serta berteriak bengis. “Aku larang kau mendekat, kalau tidak dengan kata biar kusuruh dia menggigit mampus kau.” Jin kau sudah bergerak garang siap menerjang, karuan Lau Yu hu menceles hatinya, cepat cepat dia menghentikan langkahnya, Liu Ih Yu segera tampil kedepan serunya. “Thio siocia… Apa yang sedang kau lakukan ?”

Sekilas Thio Ceng ceng meliriknya, segera katanya “Sejak tadi aku sudah tiba, ayah amat kuatir terhadap kau, katanya tentu kau menggunakan Jin kau malang melintang melakukan perbuatan tercela, suruh aku menyusul kemari mencegah perbuatanmu, memang tepat jaga dugaan ayah…” “Aku kan melanggar perjanjian, perempuan ini adalah….” Air muka Thio Ceng ceng amat kalem dan sabar katanya.

“Aku tahu, dia adalah istri Koan toako, tadi waktu ikatan jodoh

mereka kebetulan aku tiba disini. Untuk tidak mengganggu kalian terpaksa aku menyembunyikan diri. Liu siancu, perbuatanmu memang keterlaluan, kalau toh kami tidak bermusuhan dengan Koan toako, mana boleh kau mencelakai istrinya?”

Liu Ih Yu pucat pasi lalu berubah merah padam pula, tiba tiba ia ulurkan tangan hendak merebut Jin kau ditangan Thio Ceng ceng.

Tapi Thio Ceng ceng menarik muka serta mengancam dengan suara berat “Liu siancu! Kau rebutpun tiada gunanya, kadar obat yang ayah berikan kepada kau tidak begitu benar, asal aku hadir disini, jangan harap Jin kau mendengar perintahmu.”

Agaknya Liu Ih Yu tidak percaya, Thio Ceng ceng berkata pula “Selamanya ayah bekerja pasti dengan parhitungan cukup matang, tidak mungkin dia mau menyerahkan seekor binatang ganas seperti Jin kau ini padamu maka lebih baik urungkan saja rencana jahatmu!”

Beruntun Liu Ih Yu sudah manggil dan memberi aba aba kepada Jin kau, namun Jin kau tidak perdulikan, terpaksa dengan lesu dan kecewa akhirnya ia mundur kesamping, sorot matanya memancarkan dendam kebencian yang menyala nyala.

Baru sekarang Koan San Gwat ada kesempatan maju kehadapan orang, cuma ia jadi kemekmek, tak tahu apa yang hendak diucapkan.

Malah Thio Ceng ceng bersuara lebih dulu sambil tersenyum getir “Koan toako, aku haturkan selamat pada kau, mempelaimu sungguh amat cantik.” “Ceng ceng!” seru Koan San Gwat gugup dan tersipu sipu. “Kau... kau tak tahu.”

“Memang aku tidak tahu, dan sekarang pun tidak perlu tahu,” ujar Thio Ceng ceng mendelu. “Nona ini jauh lebih cantik dari aku, aku ikut gembira akhirnya kau memperoleh seorang jodoh idaman yang sangat setimpal.”

Koan San Gwat menjublek di tempatnya, sepatah katapun tidak kuasa diucapkan. Thio Ceng ceng mengacungkan Jin kau, lalu menyapu pandangan keseluruh hadirin, lalu berkata pula kepada Koan San gwat. “Koan toako! Jin kau berada di tanganku, kau boleh seratus persen melegakan hatimu, aku tak akan menggunakan dia untuk melakukan kejahatan. Pertikaianmu dengan Cia Ling Im dan Lau Yu hu, aku tidak bisa ikut campur lagi. Tapi Coa Sin dan kau tiada punya permusuhan dendam yang mendalam, aku bisa membatasi dia supaya tidak mempersulit dirimu. Coa Sin sekarang juga kau ikut aku pergi!”

Coa Sin berdiri menjublek tidak bergerak dan tidak bersuara. Thio Ceng ceng segera mangangkat Jin kau katanya bengis “Jika kau tidak mendengar ucapanku, segera akan kubuat kau konyol, sebetulnya bila kau ikut aku banyak manfaatnya yang bakal kau dapatkan, kedua kaki yang disambungkan ayah diatas badanmu itu sebelumnya sudah dibubuhi racun, dalam waktu satu bulan, kau akan menjadi seorang yang lumpuh cacat dan tidak akan bisa berjalan lagi, marilah kucarikan tempat untuk memusnahkan racun itu...”

Coa Sin berjingkrak murka, makinya. “Thio Hun cu memang keparat...”

“Soalnya ayah terpaksa,” demikian ujar Thio Ceng ceog kalem. “Ilmu silatmu teramat tinggi, watakmu tidak menentu lagi maka dia harus meninggalkan suatu cara supaya dapat menekan segala tindak tandukmu, sekarang aku sudah memperoleh Jin kau, cukup berkelebihan menghadapi kau, maka tidak perlu harus mengganggu gerak gerikmu, sekarang kau mau ikut aku?”

Meski Coa Sin tidak memberi jawaban, namun reaksinya terang bahwa dia sudah tunduk dan patuh.

Thio Ceng ceng lalu berkata pula kepada Liu Ih yu. “Serahkan kembali Pek hong kiam mu kepada Koan toako, ikut aku meninggal tempat ini!”

Ternyata Liu Ih Yu tidak berani membangkang, menurunkan pedang yang tersanggul dibelakang punggungnya terus dilempar kedepan kaki Koan San gwat, adalah Thio Ceng Ceng yang membungkuk tubuh menjemputnya dan diserahkan kepada Koan San gwat, katanya. “Koan toako! Aku harus pergi! Ayah berkeputusan kembali kepadang pasir di Thian san lagi bersama aku, kalau ada waktu kuharap kalian suami istri bermain kesana…” habis berkata dengan sorot matanya ia suruh Liu Ih Yu dan Coa Sin pergi, begitulah mereka mengintil dibelakangnya, Lau Yu hu juga hendak ikut, segera Thio Ceng ceng membentak dengan bengis , “Orang she Lau! Apakah belum cukup kau mempersulit aku? Kuperingatkan yang terakhir kepada kau, jangan sekali lagi kau terlihat olehku, kalau tidak aku tidak kenal kasihan lagi kepada kau!”

Lau Yu hu menghentikan langkahnya dengan lesu dan putus asa, sebetulnya Koan San Gwat hendak bicara beberapa patah kata kepadanya, tapi mendadak ia berkeputusan tidak bicara saja, melolos Pek hong kiam ia tantang Cia Ling im. “Sekarang tibalah saatnya menyelesaikan urusan kita!”

Agaknya Cia Ling Im tidak menduga bahwa situasi bakal berubah sedemikian rupa, setelah terlongong sekian saat baru ia menyeringai dingin, katanya. “Koan San gwat, selamanya nasibmu agaknya selalu beruntung, sudah kuperas otak dengan berbagai daya upaya namun nasibmu masih juga kau lebih unggul, naga naganya untuk membunuhmu memang bukan soal gampang.” Dengan memicingkan mata dan air muka membeku bengis Lau Yu hu membalik badan katanya penuh kebencian. “Untuk membunuh anjing kurap ini segampang mengangkat tangan belaka, waktu di Ngo tai san sebetulnya aku sudah bisa membunuhnya, gara garamu memancingnya kemari hendak mempamerkan tipu muslihat segala ...”

“Lau lote.” ujar Cia Ling Im tersenyum. “Tujuan kita bukan hanya membunuh dia lantas urusan selesai, kau masih harus merebut Thio Ceng ceng yang molek itu, sedang aku hanya ingin membuat Thian mo kau sebagai kumpulan terbesar yang menguasai Bulim merajai dunia, maka bila harus memikirkan urusan kelanjutannya, umpamanya kalau Coa Sin tidak dibereskan, kau dan aku tidak akan tidur nyenyak ...”

“Kau terlalu mengagulkan dirimu sebagai cerdik cendekia dengan berbagai akal muslihat, selamanya tidak pernah gagal segala. Bagaimana buktinya sekarang?” dengus Lau Yu hu.

Cia Ling Im tertawa getir, katanya. “Dalam hal ini tidak bisa salahkan aku, yang terang rencanaku sudah sukses, soalnya kita terlalu percaya akan obrolan Thio Hun Cu, sehingga begitu mudah ditipu mentah mentah olehnya!”

“Aku tidak peduli segala tetek bengek itu,” seru Lau Yu hu, “Yang terang aku tidak bisa memiliki Thio Ceng ceng, maka tujuanku terakhir hanyalah membunuh anjing kurap ini...”

Cia Ling Im menyeringai sadis, katanya membakar. “Benar, menurut gelagat sekarang hal ini merupakan urusan yang tepenting bagi kita Lote, perlukah aku membantu kau?”

“Tidak perlu, aku sendiri sudah lebih cukup?”

“Aku percaya memang kau sendiri sudah cukup dulu aku dikalahkan dia karena ketajaman pedang tidak sebading, sekarang kita sama membekal dua pedang pusaka yang terunggul diantara Ngo Ih kiam perduli siapa, kita tidak perlu gentar dan pasti gampang membunuhnya Lau lote, dendam kesumat kalian jauh lebih mendalam terpaksa babak pertama ini kuserahkan kepada kau!”

Sambil menenteng Ci seng kiam Lau Yu hu maju kedepan, sebalikanya Koan San Gwat berteriak “Kau minggir dulu, persoalan kita cepat atau lambat pasti bisa diselesaikan. Sekarang aku tak punya semangat untuk menghadapi kau, aku ingin membunuh durjana itu dulu.”

“Sebalikanya aku beranggapan urusan kita perlu segera diselesaikan lebih dulu.”

“Lau Yu hu, persoalan kita hanyalah urusan pribadi, sebalikanya membunuh Cia Ling Im adalah demi keamanan dan kesejahteraan umat manusia diseluruh dunia ini, kepentingan umum harus diutamakan, kau tahu sepak terjang Thian mo kau...”

Mendadak Lau Yu hu bergelak tertawa.

Melihat orang tidak berniat mundur, Koan San Gwat semakin murka. “Apa yang kau tertawakan? Aku bicara dengan jujur, kuharap kau bisa membedakan kepentingan umum dan pribadi.”

Tiba tiba Lau Yu hu menghentikan tawanya, ujarnya dingin. “Kutertawakan mulutnya yang suka mengundal teori lapuk itu, namun tidak menunjukkan sasarannya yang tepat, ketahuilah pertempuran kita sekarang ini sekaligus menyelesaikan kepentingan umum dan pribadi sekaligus, jangan kau lupa bahwa aku adalah Hu kaucu dari Thian mo kau.”

Koan San Gwat tercengang, katanya. “Kukira karena hendak mencari permusuhan dengan aku baru kau menjadi anggota Thian mo kau.”

Lau Yuhu menarik muka desisnya. “Koan San gwat, kau terlalu pandang dirimu sendiri, jikalau hanya untuk menghadapi kau, mengandal  pedang ditanganku ini sudah cukup berkalebihan, buat apa aku harus meminjam tenaga orang lain!”

“Lalu apa tujuanmu?”

“Demi usaha, selama hidup ayahku ilmu pedangnya tiada bandingan dan menjagoi dunia akhirnya dia tenggelam begitu saja tanpa meninggalkan nama, malah cara kematiannya bagiku konyol, maka aku harus melampiaskan penasarannya.”

“Bedebah, kemana saja kau bisa membangun usahamu, justru kau menggunakan komplotan sesar sebagai tulang punggungmu.”

“Tutup mulutmu. Memang kau anggap dirinya paling murni dan menempuh jalan lurus?”

“Paling tidak aku tidak pernah melakukan perbuatan melangar zas prikemanusiaan.”

“Tidak salah, kau lebih beruntung dari aku, kelana di Kangouw jauh lebih pagi dari aku, segala urusan seolah olah sudah kurebut seluruhnya, kalau aku berjuang didalam jalan lurus dan murni, sukses yang kucapai tentu tidak akan lebih ungul dari kau.... ketenaran namaku pasti juga tidak akan kumandang dari namamu. ”

“Tegak sebagai laki laki dan berjuang demi pardamaian dunia bukanlah untuk angkat nama dan menanam gengsi.”

“Itukan pikiranmu. Ayahku mati jengkel gara gara ayahmu, putra Liu Ih Yu tidak bisa kelelap dan kena kau ungkuli begitu saja, aku harus memperjuangkan dan melampiaskan penasaran ini!”

“Jadi hanya karena alasan itu belaka?” damprat Koan San Gwat berubah mukanya.

“Itu hanyalah alasan yang bisa dikatakan saja, masih banyak unsur unsur lain yang sukar kukemukakan dengan kata kata, yang terang sejak aku belum pernah melihat kau sudah amat membencimu. Dalam arti kata lain sejak aku mengetahui seluk beluk urusan, lantas kucantumkan kau sebagai musuh hebatku yang terutama, maka aku harus bertentangan dengan kau disetiap tempat diberbagai bidang.”

-oo0dw0oo-