-->

Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 25

 
Jilid 25

“O YA! BIARLAH AKU MENUNGGU kabar baik kalian. ”

Sebalikanya Koan San Gwat lantas berkata.”Ma siansing! Mengenai calon ahli waris, kau harus hati hati, jikalau kau temukan anak muda pilihan yang benar benar berbakat, sekali kali jangan kau sia siakan kesempatan. ”

Berubah air muka Kang Pan, katanya. “Koan toako, bukankah tadi kau sudah setuju untuk mencalonkan anak kita sebagai ahli warismu? Kenapa pula kau ingkar janji? ”

Sungguh Koan San Gwat amat kewalahan katanya menghela napas. “Bukan aku ingkar janji, mati hidup kita sendiri masih merupakan persoalan ”

Kang Pan manggut manggut dan paham maksudnya, katanya. “Aku tidak memikirkan kearah hal itu, begini saja! Tiada halangannya Ma siansing bersiap siap mencari seseorang calon, seumpama kami tidak mati, baru kau…”

“Ya, aku akan waspada, untunglah untuk membimbing seorang tunas muda menjadi orang yang betul betul matang diperlukan masa yang cukup panjang, sembarang waktu masih bisa diubah.”

“Betul! Ma siansing, lekaslah berangkat kami sudah menghabiskan banyak waktu!” demikian ujar Kang Pan.

Unta sakti datang mendekat terus menekuk kaki depannya membiarkan Ma Pek poh naik kepunggungnya, Koan San Gwat tidak banyak bicara lagi, segera ia melambaikan tangan serunya. “Ma siansing, hati hati dan bekerjalah dengan cermat! Sahabat tua, kaupun harus hati hati, pergilah ikut Ma siansing semoga kita masih bisa bertemu. ”

Unta sakti manggut manggut, kakinya di pentang dengan langkah lebar ia tinggal pergi menuju kebarat laut.

“Ma siansing! Lo pek! Jagalah diri kalian baik baik, kami pasti segera melahirkan anak dan kubawa kepada kalian! Selamat bertemu! Selamat bertemu!” demikianlah teriak Kang Pan sambil melambaikan tangan.

Koan San Gwat mengerutkan alis, katanya. “Nona Kang, selanjutnya jangan kau tuturkan ucapanmu itu kepada orang lain!”

Kang Pan melengak katanya. “Omongan apa? ”

Koan San Gwat merandek sebentar baru berkata. “Sudah tentu kata katamu yang barusan kau ucapkan kepada Ma siansing. ”

Kata Kang Pan tertawa. “Soal pesanmu terhadap Ma siansing adalah sebuah rahasia, sudah tentu aku tidak akan katakan kepada orang lain! Soal pernikahan kita ”

“Hal itu lebih tidak boleh kau katakan,” lekas Koan San Gwat menukas.

“Kenapa?” tanya Kang Pan tertegun, “Meski aku tahu urusan, namun aku tahu soal pernikahan adalah urusan agung yang harus dibuat gembira, tiada alasan harus main sembunyi sembunyi, aku berpendapat bisa menjadi istrimu betapa bangga dan menyenangkan, ingin rasanya aku beritahukan kepada setiap orang.”

Koan San Gwat menarik napas, ujarnya “Setelah kita menikah secara resmi sudah tentu kita boleh beritahukan kepada siapa saja, tapi sekarang belum terikat menjadi istri

....”

“Kukira tidak menjadi soal, yang jelas... toh kau sudah setuju soal pernikahan ini, aku tanpa kau pun tidak akan menikah cepat atau lambat masyarakat bakal tahu akan hal ini. Kenapa harus main rahasia segala? ”

Apa boleh buat Koan San Gwat menjelaskannya. “Pernikahan jelas memang suatu hal yang harus dibanggakan dan terjadi secara gamblang, tapi sebelum upacara resmi dilakukan masakah boleh setiap ketemu orang lantas cerita padanya, terutama bagi anak perempuan sebelum menikah. ”

“Aku tidak paham,” sela Kang Pan sambil memonyongkan mulut. “Sebelum dan sesudah menikah ada perbedaan apa. ?”

“Sebelum menikah anak perempuan harus menjaga nama baik dan kesuciannya, meski sudah bertunangan, juga dilarang membicarakan soal hubungan antara laki laki dengan perempuan, kalau tidak orang akan mentertawakan dan menghina kita. ”

“Aku tidak perduli dengan segala cemoohan atau obrolan mereka….” ujar Kang Pan menggeleng kepala.

“Aku perduli!” Sentak Koan San Gwat keras. “Aku tidak bisa membiarkan kau menjadi bahan tertawaan khalayak ramai.”

Melihat orang marah, terpaksa Kang Pan berlaku kalem, katanya lembut. “Baiklah tidak kukatakan saja! Koan toako, jangan kau marah marah.” Melihat sikap aleman dan mesra orang, Koan San gwat menjadi luluh hatinya, katanya perlahan. “Pethatikanlah baik baik! Aku tidak marah, hanya kuberitahu bagaimana jadi manusia bebas yang hidup dalam lingkungan adat istiadat yang mengekang segala tindak tanduk kita, didalam kebiasaan itulah kau tidak patut melakukan perbuatan seperti keinginanmu tadi!”

Kang Pan mengerling tertawa, katanya. “Baik! Masih banyak yang belum kuketahui, kau harus pelan pelan menjelaskan kepadaku. Aku pasti mendengar nasehatmu, tapi adat istiadat itu sebetulnya kurang beralasan ”

“Banyak adat istiadat yang memang tidak memenuhi selera dan janggal, tapi manusia hidup diatas dunia ini mau tidak mau harus mematuhi segala aturan aturan lapuk itu! Perlahan lahan kau akan paham sendiri!”

Begitulah sembari bicara mereka melanjutkan kedepan. Entah berapa jauh kemudian tiba tiba dilihatnya Ma Pek poh putar balik dan sedang mendatangi dengan tergesa gesa.

Cepat mereka menyongsong maju serta bertanya. “Ma siangsing, kenapa kau putar balik lagi? ”

Sahut Ma Pek poh dari atas unta. “Tadi aku sudah menempuh kira kira dua li perjalanan, didepan sebuah toko dalam desa didepan sana kulihat dua orang, meskipun mereka mengenakan kedok samarannya, namun masih dapat kukenali bahwa mereka adalah Ki Houw dan Sebun Bu yam. ”

Koan San Gwat melengak, tanyanya. “Apakah mereka tak merintangi perjalananmu? ”

“Tidak!” tutur Ma Pek poh. “Melihat aku mendatangi menunggang unta sakti, kelihatannya Ki Houw hendak turun tangan tapi lekas Sebun Bu yam merintangi dengan menarik lengannya, karena gerak gerik mereka yang mencurigakan ini maka dapat kulihat kedok penyamaran mereka. Ki Houw menyamar sebagai petani, sementara Sebun Bu yam menutupi wajahnya dengan secarik kain, mengenakan pakaian laki laki.”

“Cara bagaimana kau bisa mengenali penyamaran mereka?


Ma Pek poh tertawa geli, ujarnya. “Dada Sebun Bu yam

amat montok meski mengenakan pakaian laki laki toh tidak dapat mengelabui pandangan seorang ahli seperti aku ini. Meski Ki Houw sendiri tidak menunjukkan suatu tanda khusus, namun sepasang matanya itu memancarkan hawa beringas yang sesat, sudah lama aku bergaul dengan dia, sekali pandang lantas konangan,”

Koan San Gwat berpikir, katanya kemudian “Tentu mereka sedang menunggu dan hendak mempersulit aku.”

“Betul !” sahut Ma Pek poh. “Semula begitu melihat unta sakti ini, tentu mereka menyangka Tayhiap yang datang, untunglah mata Sebun Bu yam cukup celi, dia lebih dulu melihat aku yang bercokol diatas unta maka lekas lekas menarik lengan Ki Houw, maka aku bisa lewat dengan leluasa. Kuatir Tayhiap kena dijebak maka aku putar balik kemari memberitahu Tayhiap supaya kalian tidak terjebak kedalam perangkap mereka.”

Setelah menepekur akhirnya Koan San Gwat berkata. “Baiklah, aku sudah tahu terima kasih akan pemberitahuan ini, silahkan kau berangkat lagi lebih dulu !”

“Jangan!” tiba tiba Kang Pan menyela. “Sekali mereka sudah memberi kelonggaran kepada Ma siansing tentu tidak akan mereberikan kedua kalinya apalagi jejak mereka sudah konangan, apakah Lo pek cukup mampu menerjang lewat rintangan mereka berdua? ”

“Analisamu cakup beralasan” demikian ujar Koan San Gwat. “Meski Lo pek cukup sakti, namun untuk menerobos sergapan dari kekuatan mereka berdua, mungkin memerlukan tenaga yang bukan kecil...” Berpurar biji mata Kang Pan, tiba tiba ia berkata. “Kalau Ma siansing hendak lewat dengan aman dan tidak kurang suatu apa, aku mendapat sebuah akal!” lalu ia suruh Ma Pek poh maju mendekat bertiga mereka berbisik bisik merundingkan sesuatu.

Akhirnya terdengar Koan San Gwat berseru memuji. “Bagus sekali! Nona Kang, akalmu ini cakup baik, biarlah kita bekerja menurut rencanamu.”

Mendapat pujian Kang Pan berseri tawa lebar kesenangan. Sebalikany Ma Pek poh merengut dan sungkan, katanya. “Cara itu memang dapat membebaskan aku dari kesulitan tapi kalian berdua…”

“Tidak menjadi soal !” ujar Koan San Gwat goyang tangan. “Ingatlah akan tugasmu yang berat, nasib unta sakti dan masa depan Bing tho ling cu berada ditangan Siansing, aku harap kau tidak banyak kuatir dan main sungkan segala. ”

Terpaksa Ma Pek poh manggut manggut, urusan akhirnya berkeputusan dan mereka mulai bekerja menurut rencana.

Unta sakti berlenggang kedepan pelan pelan dengan Ma Pek poh tetap bercokol dia atas punggungnya. Sikap orang yang duduk di punggung unta kelihatan amat tegang dan was was, sementara gerak gerik serta langkah unta sakti kelihatan tidak wajar dan seperti risi dan keri.

Untunglah jarak satu li akhirnya mereka tempuh dengan susah payah, desa yang dimaksud disebelah depan sudah kelihatan dari kejauhan kira kira puluhan tumbak dari warung kecil di pinggir desa, dari dalam rumah mendadak menerobos keluar seorang laki laki berpakaian petani, panggulnya menyandang sebuah pacul besi, mencegat ditengah jalan ia membentak dengan murka. “Ma Pek poh! Kau bangsat yang makaa dilain membantu orang luar, masih hendak lari kemana kau?” Laki laki itu memang samaran Ki Houw samarannya memang cukup pintar, bentukanya sekarang sama sekali lain. Mendengar Ma Pek poh buka mulut lantas mengenali dirinya, seketika ia tertegun, kiranya sambil menurunkan caping diatas kepalanya. “Ma Pek poh! Cara bagaimana kau bisa kenali aku? ”

Ma Pek poh tersenyum manis, ujarnya. “Penyamaran Ki congkoan cukup lihay, hamba hanya mana bisa tahu, cuma hamba punya suatu keahlian yaitu memelihara dan menundukkan binatang, dapat pula membedakan bau rengus dari berbagai jenis binatang, dari bau itulah hamba dapat mengenali Ki congkoan...”

“Badanku ada bau apa?” tanya Ki Houw melengak.

“Kalau dikatakan mungkin Ki congkoan bisa marah, karena bau di atas badan Ki congkoan amat istimewa dan lain dari yang lain meski berada ditempat jauh empat lima li hamba juga merasakannya!”

Ki Houw menjadi tidak sabar, sentakanya. “Jangan ngelantur! Lekas katakan badanku ada rasa bau apa? ”

“Bau badan Ki eongkoan tidak akan sama dengan bau manusia, namun mirip benar dengan bau amis badan keledai!”

“Kunyuk.” Seketika Ki Houw berjingkrak gusar. “Kemarin didepan mata. berani kau menghina dan memaki aku!”

Ma Pek poh tergelak tertawa, serunya. “Bukan saja bau badan Ki congkoan seperti bau apek badan keledai, sampai suara bicaramupun seperti dengus dan berbenger keledai malah….”

Sudah tentu Ki Houw amat murka mendengar olok olok yang menyakiti hati nya ini, kontan pacul diatas pundaknya terangkat terus menyapu keatas. Sikap Ma Pek poh amat tenang, seakan akan sedkitpun tidak melihat akan serangan dahasyat ini, disaat pacul besi lawan sudah hampir saja mengenai perutnya....

Dari biwah perut unta sakti mendadak menerobes keluar sesosok bayangan, sebat sekali menyambut kedatangan samberan pacul terus didorong mundur, sedemikian besar daya tolakannya ini sampai Ki Houw ikut tersurut mundur beberapa langkah.

Setelah berdiri tegak terlihat oleh Ki Houw orang yang merintangi dirinya ini ternyata adalah Kang Pan. Karuan ia melongo di tempatnya.

Sementara Ma Pek poh bergelak tertawa terpingkal pingkal diatas unta, serunya. “Ki congkoan, nona Kang mendapat kabar katanya daging keledai dari Samsay amat gurih dan enak rasanya, dia ingin coba mencicipi jangan kau membuatnya kecewa. Maaf aku tidak bisa melayani kau lama lama.”

Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa orang itu adalah Sebun Bu yam adanya, meski dia menyamar dengan pakaian laki laki dan menutupi mukanya pula. Tapi seperti yang dituturkan oleh Ma Pek poh, kedua buah dadanya yang montok besar itu lapat lapat masih kelihatan, apalagi diwaktu ia bergerak kelihatan lebih nyata pula, terpaksa Ma Pek poh menghentikan tunggangannya, serunya tertawa terloroh loroh sambil menuding dada orang. “Sebuh huhoat! Tidak pantas kau mengenakan pakaian laki laki, seorang laki laki masa punya dada yang sedemikian montok dan menggiurkan, sungguh lucu dan ganjil sekali. ”

Karena mukanya tertutup, jadi sulit mengetahui bagaimana perubahan air mukanya tapi dari gerak geriknya, terang Sebun Bu yam sudah naik pitam dan amat murka. Begitu menyingkap baju ia segera mengeluarkan sebuah bumbang bambu yang dicat merah, panjang kira kira satu kaki sebesar lengan bocah, dengan garang matanya mendelik sementara tangan yang lain sudah siap hendak membuka tutup bumbung yang terbuat dari kapok kapas.

Disebelah sana lekas Ki Houw berteriak “Sebun huhoat, jejak musuh belum kelihatan jangan kau sembarangan gunakan. ”

Dari bawah perut unta sakti tiba tiba keluar Koan San Gwat, serunya tertawa seraya bertepuk tangan. “Aku ada disini, kalian punya pusaka apa untuk menghadapi aku, silahkan keluarkan saja, jangan sungkan, ingin aku lihat barang permainan apa sih. ” lalu ia tepak pantat unta sakti

dan berkata pula. “Sahabat tua! Bikan susah kau saja, sungguh aku menyesal, sekarang kami sudah turun, silahkan kau berangkat lebih dulu.”

Unta sakti segera pentang keempat kakinya berlari pergi bagai terbang.

Ternyata karena hendak muncul secara tiba tiba dan tidak terduga untuk menggertak dan merintangi Sebun Bu yam dan Ki Houw supaya unta sakti membawa Ma Pek poh pergi dengan selamat mereka menggunakan cara yang diusulkan Kang Pan, yaitu mereka berdua sembunyi dibawah perut unta sakti menggunakan bulu bulunya yang panjang untuk menutupi badan, tak heran gerak gerik jalan unta sakti tadi kelihatan berat dan risi serta keri.

Dengan mendelong Sebun Bu yam dan Ki Houw mengawasi unta sakti berlenggang pergi karena dihalangi oleh Koan San Gwat berdua. Tapi tujuan, utama mereka memang terhadap Koan San Gwat, lekas Ki Houw mendekat Sebun Bu yam, sementara Kang Pan juga kumpul bersama Koan San Gwat.

Dalam pada itu Ki Houw menanggalkan topi caping nya, sementara Subun Bu yam sudah mencopot pakaian luar dan kain penutup mukanya, Koan San Gwat jadi geli, godanya. “Kenapa kalian merubah bentuk lagi bukankah samaran begitu lebih baik? Untung Ma Pek poh mengenali samaran kalian, kalau tidak bagaimanapun aku tidak akan kenal tampang kalian sekarang yang lucu ini ...”

Ki Houw menjengek dingin. “Sekarang sudah kau ketahui juga tidak menjadi soal, karena tujuan kami menghalangi kau maju ke depan, batas perjanjian tiba hari belum lagi tiba mimpimu jangan harap kau bisa tiba disana.”

Koan San Gwat tersenyum, tanyanya. “Apakah Cia Ling im berjanji bertemu di Jian Coa kok bersamanaku?”

“Kau sudah tahu kenapa banyak tanya segala? ”

“Dia minta bertemu di Jian coa kok, tentunya hendak menggunakan Coa sin untuk nenghadapi aku, tapi batas tiga hari perjalanan, sisa dua hari yang lain, dengan cara apa ia hendak membujuk dan menundukkan Coa sin? Apakah Coa sin sudi mendengar obrolannya?”

“Setelah tiba waktunya, pasti kau akan itahu segalagalanyai”

Justru aku tidak sabar menunggu, ingin kususul kesana melihat kenyataan.”

“Tidak mungkin!” seru Sebun Bu yam bengis, “Kaucu bilang tiga hari ya tiga hari, sebelum tiba waktunya sekali kali kau dilarang kesana, maksud kami justru merintangi kau kesana.”

“Aku tidak peracaya kalian mampu menghalangi aku. Ma Pek poh sudah megcobanya sekali akibatnya dia malah menyerah dan tunduk kepadaku, kalian. ”

“Kami berdua jangan kau samakan dengan Ma Pek poh. Kausu ada pesan bila kau hendak main kekerasan, segera bunuh saja habis perkara.”

Koan San gwat terbahak bahak, serunya. “Tujuan utama Cia Ling im memang hendak membunuh aku, kalau kalian mampu melaksanakan kenapa harus masih ulur waktu sampai tiga hari lagi? ” “Orang she Koan, jangan kau takabur untuk membunuh kau sebetulnya Kaucu tidak perlu banyak mengeluarken tenaga, soalnya beliau dulu pernah kau tusuk sekali, sakit hati ini harus dia balas dengan cara pertandingan pedang, maka jiwamu bisa bisa terulur sampai sekarang, tapi jikalau kau sudah bosan hidup, kami bisa bantu kau lekas mampus…”

Koan San Gwat berpikir sebentar, lalu katanya. “Untuk membalas sakit hati luka luka pedangnya itu, tidak pantas Cia Ling im mencari Coa sin untuk membantunya, menurut apa yang kuketahui, paling paling Coa sin hanya ilmu silat yang maha tinggi soal ilmu pedang amat biasa aja. ”

“Perseten dengan obrolanmu.” demikian damprat Ki Houw. “Bagaimana pesan Kaucu begitulah aku menunaikan tugas, mau percaya tidak terserah kepada kau, kalau kau memang tidak takut mati, marilah coba coba.”

“Manusia siapa yang tak takut mati mendengar ucapanmu ini, aku jadi tidak berani mempertaruhkan jiwaku untuk menyerempet bahaya, terpaksa baiklah kutunggu sampai tiga hari seperti batas yang dijanjikan saja.”

Habis berkata Koan San Gwat lantas tarik tangan Kang Pan hendak tinggal pergi, sudah tentu perbuataanya ini berada diluar dugaan Ki Houw, sejenak ia melengak, buru buru menyusul maju sambil mengayun paculnya, serunya “Koan San Gwat pulang atau pergi sama saja bakal mampus, kenapa kau tidak sekarang saja mencari jalan kematianmu?”

“Wah, aneh benar kata katamu ini,” demikian sindir Koan San Gwat menyeringai dingin. “Kau melarang kami melanjutkan perjalanan, kini melarang kami kembali.”

“Kaucu ingin membanuh kau di bawah tusukan pedangnya, sebaliknya ingin rasanya aku segera dapat membunuh kau.

Maka kuharap silahkan kau coba menerjang maju kedepan.”

“Tidak!” sahut Koan San Gwat geleng kepala, “Biar hidup sehari lebih lama jauh lebih enak daripada mati konyol,” sembari berkata ia sudah putar badan hendak tinggal pergi pula.

Saking gugup Ki Houw berpaling kepada Sebun Bu yam, teriaknya “Sebun hu hoat, apa lagi yang sedang kau tunggu? Lekasilah turun tangan!”

Tak nyana Sebun Bu yam malah menggeleng kepala, ujarnya “Tidak! Aku harus mematuhi perintah Suheng, kalau dia tidak mau main terobos dengan kekerasan, akupun tidak akan turun tangan, biar Suheng sendiri yang membereskan dia.”

Jelas bahwa bujukan dan desakannya tidak berhasil terpaksa Ki Houw menghadapi Koan San gwat pula serta mengumpat caci “Orang she Koan, kau memang manusia durjana yang lemah dan takut mati, kau ini anak haram dan hina dina, kau adalah keturunan liar yang tak pantas menjadi manusia…” untuk memancing kemarahan Koan San Gwat supaya orang mau turun tangan, Ki Houw menggunakan segala makian yang paling kotor.

Namun sikap Koan San Gwat tetap wajar seperti tidak mendengar belaka, sebalikanya Kang Pan tidak tahan lagi, dampratnya “Bedebah! Mulutmu ini memang terlalu kotor dan perlu disikat !”

Lekas Koan San Gwat menahannya, katanya tersenyum. “Nona Kang! Anjing gila sedang menggonggong kenapa kau hiraukan ocehannya? ”

Namun Kang Pan masih uring uringan omelnya “Tapi aku sebal dan tidak bisa kubiarkan dia berani menghina kau !”

“Kalau anjing sedang menggonggong anggap saja kau tidak mendengar. Tujuannya adalah hendak membunuh aku, namun dia tidak berani membangkang perintah Cia Ling im, maka sengaja dia menyakiti perasaanku, supaya aku kena tipu muslihatnya dan dia punya alasan yang tepat untuk turun tangan...” Kang Pan tidak percaya, selanya. “Masa kau percaya bahwa mereka betul betul membunuh kita?”

“Bahwa dia begitu besar tekadnya supaya lekas aku turun tangan, kemungkinan sudah mempersiapkan suatu muslihat yang cukup sempurna, bukan aku takut mati, namun kalau mampus di bawah perangkap keji lawan yang licik macam mereka ini sungguh penasaran dan tiadi harganya. ”

Tak tahan Sebun Bu yam bertanya. “Darimana kau bisa tahu bila kami hendak menghadapi kalian dengan perangkap licik?”

Koan San Gwat bergelak tertawa besar, u jarnya “Mengandal tampang kalian berdua yang tidak becus ini, kalau tidak mengandal tipu muslihat licik, masakah berani mentang mentang berdiri dihadapanku, kalau tidak langsung sejak tadi kalian sudah mencawat ekor dan sembunyi ke tempat yang jauh, jangan kata berani unjuk diri menongolkan kepala pun pasti tidak berani!”

Kata kata ini mengobarkan amarah Sebun Bu yam, “Sret” kontan ia mencabut pedang, teriak nya beringas sambil mengacungkan pedang. “Koan San Gwat, aku hanya pernah dengar katanya betapa tinggi ilmu silat dan permanian pedangmu, namun selama ini belum pernah menjajal mohon petunjuk kepada kau. Malah ingin aku menempur kau dengan sebilah pedangku ini!”

Raut muka Ki Houw mengunjuk sekulum senyum licik yang sadis, dari samping ia menghasut. “Sebun hu Howe! Jangan kau kena ditipu olehnya, ilmu pedang bocah keparat ini jauh lebih lihay dari gurunya, Lim Hiang ting sendiripun sudah bukan lawannya, mana kau mampu melawan dia?”

Kata katanya terakhir lebih mengobarkan amarah Sebun Bu yam, dampratnya berjingkrak. “Kentut! Lim Hiang ting terhitung golekan apa?” Seperti menyiram minyak diatas api unggun, Ki Houw menambahkan. “Tapi, Kaucu masih amat kangen dan tidak melupakan selama lamanya,”

Mungkin Sebun Bu yam paling pantang mendengar kata kata ini, tiba tiba ia membalik badan berbareng pedangnya menyambar balik membabat kearah Ki Houw malah. Ki Houw lekas melejit menyingkir, teriakanya. “Sebun Hu hoat, jangan kau salah mengincar lawan, kalau hendak adu jiwa lawanlah Koan San Gwat, dialah murid Ui ho, Lim Hiang ting sekarang sudah jadi istri Ui ho, hanya membunuh bocah keparat ini, baru kau bisa memancingnya keluar. ”

Seperti sudah gila Sebun Bu yam segera putar tubuh terus menerjang kearah Koan San Gwat dengan kalap. Lekas Koan San Gwat melolos pedang menangkis menyampoki nya terhuyung kesamping, sementara hatinya amar mendelu dan kasihan.

Agakanya perempuan jelek ini amat kepincut dan berkelebihan cintanya terhadap Cia Ling im, sebalikanya Cia Ling im diam diam mencintai Lim Hiang ting, sementara Lim Hiang ting justru jatuh cinta kepada gurunya yaitu Tokko Bing, hingga terjadilah tragedi yang berkepanjangan sampai sekarang ini.

Seperti anjing gila yang kesurupan setan Sebun Bu yam menyerbu datang pula dengan kalap, lagi lagi Koan San Gwat harus acungkan pedangnya menyongsong maju, kali ini ia gunakan tajam pedangnya, betapa tajam dan lihaynya Ui tiap kiam ditangannya. “Trang” pedang panjang Sebun Bu yam seketika putus menjadi dua potong, lebih celaka lagi lengannyapun kena tergores luka panjang, untung Koan San Gwat masih menaruh belas kasihan lekas lekas menarik pedang ditengah jalan, kalau tidak sebuah lengannya ini tentu sudah kutung dan menjadi cacat.

Seperti diketahui dibagian depan cerita sewaktu di Sin li hong dulu, Sebun Bu yam pernah mengorbankan kedua tangannya untuk menolong jiwa Cia Ling im dari ancaman pedang Koan San Gwat, tapi hari ini Koan San gwat menjadi tidak tega hati menurunkan tangan keji, terutama ia melihat bahwa kedua tangan Sebun Bu yam sekarang adalah sepasang tangan palsu.

Dikatakan tangan palu karena kedua tangannya itu bukan asli miliknya, itulah tangan orang lain yang ditrapkan atau disambung dengan kedua lengannya setelah melalui oprasi jangka panjang, cara oprasi menyambung tangan macam ini di bidang ilmu pengobatan memang suatu hal yang menakjubkan, tapi serta ia teringat bahwa ayah Thio Ceng ceng, yaitu Thio Hun cu pun terima menjadi antek dalam Thian mo kau. maka kejadian ini tidak perlu dibuat heran.

Betapa tingginya pengetahun pengobatan Thio Hun cu, mungkin hanya mertuanya sa yaitu Soat lo thay thay yang dapat menandinginya. Dengan tangan asli menyambung tangan yang lain, sudah tentu bukan menjadi persoalan bagi dirinya.

Cuma betapapun lihay dan tinggi keahlian seorang tabib dalam menyambung tangan yang sudah kutung itu, sedikit banyak masih meninggalkan cacat dan tidak bisa menjadi wajar seperti sedia kala, maka mau tidak mau permainan ilmu pedang Sebun Bu yam dengan sendirinyapun jauh menurun dari sejak mulanya dulu, apa lagi gerak gerik kedua tangan palsunya tidak begitu cekatan lagi.

Pek hong kiam milik Koan San Gwat dulu kini sudah dicuri oleh Liu Ih yu, pedang yang berada ditangannya ini adalah Ui tiap kiam yang dapat ia pinjam dari ibunya. Bicara soal pedang Ui tiap kiam masih jauh lebih sakti dari pada Pek hong kiam, tapi bagi Koan San gwat, Pek hong kiam jauh lebih mencocoki seleranya, terutama bila dia perlu mengembangkan Tay lo kiam hoat.

Alasan Tay lo kiam hoat yang diselami oleh Mo li Oen Kiau biasanya mengandal Pek hong kiam untuk latihan, kalau menggunakan Ui tiap kiam malah tidak bisa menunjukkan perbawa semula yang angker dan penuh. Namun demikian Sebun Bu yam toh tidak kuasa melawannya, kutungan pedang dibuang lekas ia mendekati luka luka dilengannya, kedua biji matanya memancarkan sorot buas, liar dan beringas.

Dari samping Ki Houw menyeringai dingin pula. “Bagaimana Sebun Hu hoat! Betul tidak kata kataku! Tempo dulu bocah keparat ini mengutungi kedua tanganmu, meski kini sudah diganti yang baru, bagaimana juga terpaut terlalu jauh dari yang asli, masih untung kau terluka ringan, asal dia mau mengerahkan sedikit tenaga, tanggung seluruh lenganmu yang sudah buntung. Thio Hun cu tidak akan mampu lagi mengoperasi menyambung dengan lengan orang lain pula ”

Kata kata ini tepat mengenai borok lamanya, cepat ia melompat mundur rada jauh seraya berteriak dengan beringas. “Ki Houw! Siappp!” sementara bumbung bambu itu sudah dicekal pula ditangannya.

Ki Houw angkat paculnya, katanya ringan. “Nah, semestinya sejak tadi kau sudah bertindak begitu, kenapa pula harus mandah terima dilukai dulu.”

Sambil gertak gigi Sebun Bu yam segera mencopot kapuk kapas yang menutup mulut bumbung bambu itu. Sementara Ki Houw mengetuk ngetuk ujung paculnya sehingga mengeluarkan suara yang menusuk kuping dengan nada dan irama yang tertentu.

Begitu Sebun Bu yam meneriaki Ki Houw bersiap, diam diam Koan San gwat sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan, dia melihat bumbung itu ditutupi kapuk kapas maka ia menduga isinya tentu semacam asap atau kabut beracn yang jahat, lekas lekas ta menutup hidung menahan napas, disampmg itu ia angkat tangan memberi tanda kepada Kang Pan suruh orangpun siap siaga. “Koan toako!” ujar Kang Pan menggoyang tangan sambil tertawa. “Tidak menjadi soal memangnya kau sangka aku takut menghadapi racun...”

Belum habis ia bicara, tiba tiba ia menjerit kaget dan tersentak mundur, cepat sekali ia melejit kesamping Koan San Gwat serta ia tarik lengannya, sikapnya amat gelisah dan gugup serta takut lagi, serunya. “Koan toakol Hati hatilah, binatang itu amat lihay...!”

Koan San gwat sendiri sih bersikap adem ayem, karena yang merayap keluar dari bambu bambu itu hanyalah dua ekor kelabang panjang satu kaki, meski bentukanya kelihatan jelek dan menjijikan, namun gerak geriknya amat lamban dun malas malasan.

Maka dengan pongah Koan San gwat berkata. “Sebun Bu yam, jadi kau mengandal kedua ekor binatang ini untuk mengadapi aku...”

Raut muka Sebun Bu yam amat perihatin, bibirnya mencebir dan mendesis keras dan cepat, suaranya berpadu dengan ketukan pacul Ki Houw dengan adanya perpaduan suara yang memimpinnya, kedua kelabang itu bergerak dari kanan ke kiri, merambat maju lambat lambat, badan mereka memancarkan warna merah yang terang menyala, pasangan kakinya yang banyak itu bergerak gerak sangat menjijikan ke depan.

Cekalan Kang Pan senakin kencang malah mulai gemetar.

Koan San Gwat menjadi keheranan dan tidak habis nengerti, tabyanya. “Nona Kang! Kenapa kau begitu menjadi ketakutan? ”

Jawab Kang Pan dengan suara gemetar. “Memangnya aku paling takut pada kelabang mereka adalah satu satunya lawan tertangguh dari binatang ular ” Koan San gwat sambil tertawa sombong. “Kelabang dapat mengatasi ular, belum tentu mampu mengatasi kita, legakan saja hatimu. Lihatlah aku, nanti kalau maju lebih dekat lagi, biar sekali tebas kubunuh mereka...” di mulut ia bicara sombong, secara diam diam ia bersiap waspada karena dia tahu bila Ki Houw dan Sebun Bu yam mau menggunakan kedua binatang berbisa ini pastilah mereka merupakan musuh musuh yang jahat yang amat tangguh pula. Apalagi dari nada bicara Ki Houw tadi, seolah olah ia anggap kedua binatang ini benar benar merupakan terampuh untuk membunuh dirinya.

Lambat namun pasti kedua ekor kelabang itu merambat maju terus, setelah ada dekat bentuk asli mereka sudah terlihat jelas seluruh panjang tubuhnya terbagi dalam tiga puluh enam ruas, setiap ruasnya tumbuh sepasang kaki lembut.

Ruas terdepan dan paling besar adalah kepalanya, dimana tumbuh sepasang sungut yang berdiri tegak, namun berwarna hitam legam, mulutnya mendesis menyemburkan kabut tipis warna kehijauan.

Koan San Gwat tidak tahu, kelabang itu sendiri yang bisa melukai orang atau kabut hijau yang tersembur dari mulutnya yang dapat melukai orang. Tapi ia sudah berkeputusan bahwa kedua binatang menjijikan itu tidak boleh maju lebih dekat lagi.

Diwaktu kelabang sebelah kiri sudah maju berjarak lima enam kaki dan menongolkan kepalanya, belum lagi ia menunjukkan sesuatu gerakkan apa pedang Koan San Gwat sudah berkelebat menebas miring.

Gerak tebasannya ini boleh dikata dilakukan amat cepat sekali, namun masih ada yang bergerak jauh lebih cepat lagi, disaat tajam pedang hampir saja mengenai kepala kelabang, dari samping mendadak melesat datang selarik bayangan putih menerjang batang pedang. Waktu Koan San Gwat melihat tegas, ki ranya ulah Kang Pan yang dinamakan Giok tai, sungguh ia tak habis mengrti, apa maksudnya merintangi dirinya turun tangan, membunuh kedua kelabang ini.

Maka dilihatnya ular putih seperti sabak kumala itu melentingkan badan, sementara ekornya menyapu kedepan telak sekali menyongsong kearah badan kelabang yang merambat maju terus disendal keluar, kontan badan kelabang itu terpental terbang satu tumbak jauhnya gerak gerik Giok tai teramat cepat, dengan cara yang sama dia singkirkan pula seekor kelabang yang lain ketempat yang jauh.

Setelah kedua kelabang itu disingkirkan rada jauh, baru ular putih menegakkan kepala yang bergerak dan berpaling kearah Koan San gwat, pula menggeleng geleng kepala sementara mulut berdesis aneh. Kang Pan segera berkata “Koan toako! Kata Siau giok jangan kau gunakan pedangmu untuk membacok mereka. ”

Raut muka Ki Houw seketika berubah seringainya dingin. “Koan San gwat! Ularmu ini memang aneh dan amat cerdik sekali…” Habis berkata ia sendiri angkat pacul tanpa banyak cingcong beruntun ia bacok kutung kedua kelabang itu menjadi puluhan banyakanya, sementara suara suitan dari mulut Sebun Bu yam Semakin kencang dan cepat.

Kejadian ini membuat Koan San Gwat tambah bingung dan tidak mengerti bahwa mereka melepas kelabang untuk menghadapi musuh, kenapa pula sekarang membunuhnya sendiri? Tapi teka teki ini tidak lama berselang lantas mendapat jawabanya yang pasti dan aneh serta menggiriskan.

Ternyata potongan potongan kelabang itu begitu terhembus angin seketika tumbuh memanjang, sekejap lain setiap potonganya menjelma bentuk seperti asalnya tadi, kejap lain lengkap dengan kepala dan kakinya, terang bahwa potongan potongan kecil badan kelabang itu bisa tumbuh menjadi puluhan kelabang lain yang sama besanya. Kejadian aneh ini seketika membuat Koan San Gwat tersirap darahnya, terutama Kang Pan amat takut dan kebingungan, teriakanya dengan pucat. “Koan toako mari lekas mundur !”

Ki Houw terloroh loroh dingin, serunya “Sekarang baru ingin mundur, sudah terlambat!” sembari berkata paculnya terus bekerja beruntun ia mengutungi pula beberapa kelabang menjadi puluhan potong dan potongan potongan itu dilempar keberbagai penjuru dengan merata, dalam kejap lain tanah sekitar Koan San Gwat, berdua sudah penuh bertebaran merata, kelabang kelabang yang sama besarnya. Karena setiap potongan potongan badan kelabang itu tumbuh lagi menjadi kelabang hidup, sementara Sebun Bu yam masih bersuit suit tak henti hentinya, memberi aba aba kepada kelabang kelabang itu untuk menyerang, saat mana sudah tidak terhitung banyaknya kelabang kelabang merah darah yang tersebar luas dimana mana.

Koan San Gwat dengan Kang Pan berdiri menjublek di tengah kepungan, hanya lima enam kaki sekelilingnya yang masih kosong, sementara kelabang kelabang yang mengepung disitu mulai bergerak maju mau menyerang bersama.

Tanah kosong Seluas enam kaki itu masih mengandal kehebatan Siau giok untuk meluangkannya, diapun berdiri tegak dengan lidah terjulur keluar masuk dan mendesis desis dengan tak kalah garangnya, sedang ditengah kepalanya tumbuh sebuah jambul berdaging wana merah darah pula.

Agakanya kawanan kelabang itu masih rada jeri juga menghadapinya, sehingga sekian lama masih belum bergerak menyerang, akan tetapi jumlah kelabang bertambah banyak, di bawah aba aba dan dorongan suara Sebun Bu yam mereka maju berhimpitan dan bertumpuk tumpuk kedepan.

Yang berada paling depan terdorong dorong oleh yang ada disebelah belakang, mau tidak mau terdorong maju semakin dekat, dikala mereka maju sampai tiga empat kaki, Siau giok mendadak bersuara aneh dengan gesit bagaikan angin lesus tiba tiba badannya melejit kedepan, dengan kecepatan luar biasa tiba tiba badannya melingkar terus berputar, sementara buntut panjangnyapun berbareng menyapu kedepan, tampak sinar merah terpental berhamburan ketempat jauh, kiranya kelabang kelabang yang mendekat itu kena disapunya terpental jauh keluar kalangan.

Ternyata menggunakan kekuatan ekornya yang keras dan kuat itu ia menyapu terpental kawanan kelabang yang mendekat, untunglah tanah kosong seluas enam kaki itu masih tetap bertahan sekian lamanya.

Akan tetapi kemampuan Siau giok paling paling hanya demikian saja untuk mengusir kawann kelabang itu dengan cara lain terang tidak mampu, selesai bekerja diapun lekas melingkar dibawah kaki Kang Pan, sikapnya kelihatan rada payah dan mengeluarkan banyak tenaga. Kalau kejadian berlangung terus akhirnya bakal celaka juga.

Koan San Gwat menjadi kuatir, lekas dia berkata. “Nona Kang! Tahukah kau permainan apa ini?”

Kang Pan menggeleng kepala.

Ki Houw yang berada dikejauhan segera bergelak tertawa. “Koan San Gwat, biar kuberitahu kepada kau, inilah yang dinamakan Ce ho hwi siong (kelabang terbang ibu beranak), setiap kelabang punya tiga puluh enam ruas asal setiap ruasnya dipotong dan disebar kemana mana dalam waktu singkat akan tumbuh dan hidup menjadi kelabang yang berbentuk seperti asalnya, anak beranak terus menerus tidak putus putus, dibunuhpun tidak bisa. dilenyapkan juga tidak mungkin, jiwa kalian terang amblaslah hari ini...”

Koan San Gwat menjadi gusar, dampratnya. “Aku tidak percaya, kecuali cepat tumbuh berkembang biak, kelabang kelabang ini tiada menunjukan sesuatu kelebihan apa apa biarlah kubunuh saja! Lihat!”

Sembari bicara pedang ditangannya diobat abitkan membacok ke kelabang disekitarnya, cuma gerak gerikanya amat hati hati dan cermat, bukan membacok kebadan kelabang tapi sinar pedang berkelompok seperti kupu kupu itu sama berjatuhan diatas kepala.

Cara ini agaknya membawa hasil diluar dugaan, kelabang kelabang yang terbacok kepalanya tidak tumbuh lebih jauh, malah badan terbaik jiwa lantas melayang. Semula Koan San Gwat hanya main coba coba saja, karena terpikir olehnya bahwa Kepala merupakan pusat dari kehidupan sesuatu mahluk mungkin bisa membunuh mereka.

Cara yang dicoba coba ini ternyata membawa hasil, keruan hatinya girang bukan main, beruntun pedangnya bergerak lagi, ia congkel mayat mayat kelabang yang bergelimpangan itu ketempat yang jauh, sementara mulutnya berseru. “Ki Houw! Kau sudah lihat belum?” 

Ki Houw berdiri diluar lima enam tumbak jauhnya, ia mandah tersenyum ejek saja ujarnya. “Koan San Gwat otakmu cukup cerdik tak kunyana kau bisa berpikir kearah itu!”

“Hal ini tidak perlu dibuat heran, membunuh ular harus mengincar tujuh centi dibavah lehernya, membunuh binatang binatang jahat begini harus mencari tempat kelemahannya. ”

“Jangan kau keburu senang, segera kau akan menyesal dibuatnya.”

“Apa yang harus kusesalkan?”

“Kau akan menyesal bahwa kecerdikkan otakmu yang menemukan cara baik bakal menjadikan kebodohan keluar batas”

Mendengar olok olokanya ini, lekas Koan San gwat berpaling kesana, seketika berubah air mukanya, rasa senang dan puasnya tadi seketika tersapu bersih, seperti yang dikatakan Ki Houw, diam diam hatinya memang sangat menyesal.

Ternyata mayat mayat kelabang yang berjatuhan dikelompok kelompok kelabang yang hidup itu seketika dibuat rebutan dan digares cepat, setiap kelabang yang sudah makan mayat kelabang kelabang itu seketika badannya tumbuh besar satu lipat. Dari satu kaki menjadi dua kaki, semula hanya sebesar ibu jari, kini sudah berlipat ganda sebesar lengan, kelabang kelabang yang badannya membesar ini kekuatan dan gerak gerikinyapun bertambah besar dan gesit lagi.

Beramai ramai mereka berhimpitan dan berdesakan, kawan kawannya yang berbadan kecil disibakkan ke samping terus menerjang maju kedepan, sekejap saja kelabang kelabang bertubuh besar panjang bermunculan disekitar gelanggang.

Seperti cara semula Siau giok menyapukan ekornya pula memukul mundur terjangan, kawanan kelabang itu, namun kali ini sudah jauh lebih sulit dilayani, paling paling hanya bisa memukul mundur tiga kaki jauhnya. Malah ada beberapa ekor diantaranya pentang mulut menggigit kearah ekornya, untuk Siau giok mengandal sisik kulitnya yang tebal dan keras sehingga tidak terluka, namun untuk menghabiskan kelabang kelabang itu harus memeras tenaganya juga, diwaktu ia kembali ketengah gelanggang untuk istirahat, perutnya kembang kempis, kelihataanya amat keletihan.

Ki Houw bergelak tawa, serunya. “Koan San Gwat! Kalau kau sudi bantu membunuh beberapa ekor, supaya badan mereka tumbuh lebih besar, ular saktimu itupun tidak kuasa merintangi lagi!”

Kawanan kelabang itu sudah mulai bergerak hendak menyerbu pula, Koan San Gwat tidak berani sembarangan bertindak, dilihat nya keadaan Siau giok belum lagi pulih, namun sekuat tenaga ia menggerakkan badannya ia bertindak cepat ia gerakan tangannya mencegah, katanya berpaling kepada Kang pan. “Bagaimana kalau tergigit oleh kelabang macam ini? ”

“Aku tidak tahu, kelabang biasa saja tergigit sekali sudah membuat orang sekarat, apalagi kelabang sedemikian besarnya, sudah tentu kadar racunnya jauh lebih jahat, terutama terhadap kita….”

Koan San gwat mengerutkan alis ujarnya. “Kita bagaimana? Masakah kita mesti takut menghadapi kelabang kelabang ini? ”

Sejak kecil aku diasuh dengan racun racun ular, kau sendiri pernah menelan empedu ular wulung bertanduk tunggal racun apapun kita tidak perlu takut, hanya kelabang ini saja, karena kadar racun mereka berlawanan, lihatlah Siau giok sebagai bukti, dia terhitung raja dari segala ular, sekarang keadaannya begitu kasihan…”

Koan San Gwat terpekur sebentar, mendadak ia berkata tegas. “Apapun yang terjadi, aku harus menerjang keluar.” Lalu dia siap bergerak.

“Jangan!” Kang Pan segera menarik lengannya. “Koan toako caramu ini amat berbahaya!”

“Tujuan orang hendak bunuh kita masakah kita harus mandah terima nasib saja berdiri disini, dari pada konyol lebih baik berjuang dengan mengadu jiwa.”

Kang Pan melepas tangannya, namun ia bertanya terlongong. “Cuma cara bagaimana mengadu jiwa?”

“Entahlah! Menggunakaa tangan, dengan pedang, gigi dan apa saja yang dapat kita gunakan, asal dapat menerjang keluar dari kepungan kelabang ini.”

Kan Pan berpikir sebentar, lalu katanya. “Mungkin aku punya cara, biarlah suruh Siau giok membuka jalan bagi kau.”

“Tidak!” sahut Koan San Gwat tegas, “Siau giok harus dipertahankan untuk melindungi kau, tujuan utama mereka adalah aku, kalau kita berpisah, mungkin kau dan Siau giok punya harapan meloloskan diri.”

Kata Kang Pan rawan. “Kalau kau mati untuk apa aku harus melarikan diri ?”

Koan San Gwat tertawa getir, katanya “Tanggung jawabmu cukup besar, Ma Pek poh berangkat bersama unta sakti, dikala generasi mendatang dari Bing tho ling cu ketiga dilahirkan, dia masih memerlukan bantuan mu …”

Kang Pan tersengguk katanya. “Aku hanya kenal kau, peduli apa dengan Bing tho ling cu segala!”

Mendadak Koan San Gwat merendahkan suara berbisik di pinggir kupingnya. “Nona Kang! Bukankah kau sudah setuju bakal menjadi isteriku? Meski kita belum resmi menjadi suami istri, namun sudah mejadi istri Bing tho ling cu, maka terhadap Bing tho ling cu, kita punya tanggung jawab yang sama. Pan! Dengarlah kata kataku, jagalah dirimu baik baik demi masa depan kita bersama. ”

Panas selebar muka Kang Pan, baru pertama kali ini ia mendengar ucapan Koan San Gwat yang cukup mesra, namun kali inipun yang terakhir tak tertahan berlinang air mata nya.

Dalam pada itu Koan San Gwat sudah mulai beraksi, sambil melangkah lebar kedepan Ui tiap kiam diputar sekencang kitiran terus menerjang keluar kepungan. Kelabang kelabang itu menjadi marah berbondong bondong menyerbu bersama, namun nafsu juang Koan San Gwat sudah menghayati sanubarinya yang nekad sedemikian kencang pedang diputar seumpama hujan lebatpun tidak akan tertembuskan.

Dimana sinar pedangnya berkelebar menyambar badan kelabang kena ditebas kutung berterbangan kemana mana, namun potongan potongan badan kelabang itu dalam sekejap tumbuh dan hidup berkembang biak semakin banyak jumlahnya tidak berkurang kurang malah semakin banyak dan sesak berjubel. Puluhan langkah kemudian, sekilas Koan San Gwat berkesempatan melirik kedepan, di lihatnya gerombolan kelabang yang luas puluhan tumbak sekarang semakin meluas menjadi dua puluhan tumbak.

Ki Hauw semakin bersorak kegirangan, serunya. “Koan San Gwat! Serahkan saja jiwamu! bukankah tadi sudah kuberitahu kepada kau, semakin kau cacah semakin banyak kelabang Ibu beranak ini, kalau keadaan ini berkembang lebih lanjut, seumpama mereka tidak gigit kau, didesak dan dihimpitpun akhirnya kau bakal mampus!”

Olok olok ini menyadarkan Koan San Gwat namun juga membuatnya semakin dongkol, kini setiap ia menggerakkan pedang dan memang harus dimainkan terus untuk membendung gelombang serbuan kelabang kelabang itu, hanya permainannya menggunakan perhitungan yang cukup matang, setiap tebasan pedangnya cakup hanya mementalkan badan kelabang kelabang itu menjauh tanpa melukai sedikitpun juga. Usaha ini memang cukup baik, cuma serbuan kelabang kelabang itu semakin gencar dan buas, malah ada diantaranya melesat terbang menyerang dari sebelah atas.

Apa boleh buat terpaksa Koan San Gwat memapak kedatangan serbuan kelabang kelabang itu. Kali ini dia gunakan pedang sebagai golok membacok lurus dan lempang dari atas kebwah, cara inipun merupakan penemuan baru saja untuk menghadapi musuh musuhnya yang semakin banyak ini, kalau toh main babat dan potong tidak berhasil, apa pula akibatnya dengan cara bacokan lurus ini.

Kelabang pertama kena terbacok terbelah dua dari atas kepala sampai keekornya, akibatnya ternyata benar tidak menjadi tumbuh dan hidup kembali, cuma dua belah badan kelabang itu menjadikan bahan makanan buat pesta pora oleh kawan kawan sejenisnya.

Kelabang kelabang yang gegares badan kawannya tubuhnya berkembang besar dan kasar, tujuan Koan San Gwat hanyalah hendak mengurangi jumlah mereka, maka tidak bisa berbuat terlalu banyak, sambil berjalan pedang bekerja terus membacok kekanan kiri. Kira kira dua puluh langkah kemudian separoh dari jumlah sekian banyakanya kena terbunuh oleh pedangnya namun luas gelanggang kepungan nya tidak menjadikan lebih sempit karenanya, karena ada beberapa ekor diantaranya sudah tumbuh melar sampai segede gantang besarnya, panjangnya kira kira ada lima enam kaki.

Sebun Bu yam dan Ki Houw sekarang sudah tidak kuasa tertawa lagi, karena kelabang yang badannya tumbuh semakin besar itu lama kelamaan sudah tidak mau mendengar aba abanya lagi ada sebagian diantaranya malah menyerbu mereka.

Suitan Sebun Bu yam diperggencar dan melengking tajam, kawanan kelabang itu rada jeri dan tidak berani menyerbu kearahnya, sebalikanya Ki Houw sudah dikepung oleh puluhan kelabang yang cukup besar besar, saking gugup dan takut ia berteriak. “Sebun Huhoat lekas kau suruh meraka mundur. ”

Sebun Bu yam membelalakan mata, sahutnya menggeleng. “Tidak mungkin, mereka tidak mendengar perintah lagi, kecuali kita gunakan cara terakhir, namun kita tidak akan mampu merintangi Koan San Gwat lagi…”

Mendengar percakapan mereka semakin girang Koan San Gwat, sinar pedang ditangan nya memancar semakin terang, kini ia mengincar kelabang kelabang yang rada gede karena mayat kelabang besar, yang kecil tidak mampu menelannya, kecuali kelabang yang amat besarnya baru bisa sekali telan setengah badan, selanjutnya badan sendiripun melar sekali lipat.

Apalagi semakin besar mereka, tidak mau lagi mendengar aba aba, sampai akhir nya ada beberapa ekor diantaranya sudah tumbuh setumbak lebih, Sebun Bu yam sendiri sudah tidak kuasa mengendalikan mereka, kini dia sendiri pun kena terkurung tak bisa berkutik lagi. Setelah badan menjadi besar selera makan kelabang kelabang itupun semakin besar tidak menemukan yang mati, yang hiduppun bolelah, kelabang kelabang satu dua kaki panjang nya sama menjadi sasaran mereka, satu kali telan tiga empat ekor dapat digaresnya bersama.

Yang besar mencaplok yang sedang, yang sedang untuk menghindarkan diri dan menyelamatkan jiwanya terpaksa mengalihkan sasarannya kepada yang kecil kecil, supaya badan sendiri tumbuh besar pula.

Dengan adanya saling rebut dan bunuh membunuh sendiri diantara kawanan kelabang itu, tekanan terhadap Koan San Gwat mejadi ringan, namun keadaannya tidak bagitu mendingan, karena setelah kelabang kelabang itu menjadi raksasa kulit dagingnya pun menjadi keras, kalau tenaga kurang kuat bahwasanya pedang tidak kuasa melukai mereka, kalau sekuat tenaga ia berhasil membunuh dua tiga ekor pula, namun kelabang yang lain tumbuh semakin besar dan banyak.

Pacul di tangan Ki Houw hanya berguna untuk menghalangi serbuan kelabang kelabang itu, sementara Sebun Bu yam tidak membekal gaman apa apa, hanya bumbung bambu yang dibawanya tadi dibuatnya alat untuk berusaha mempertahankan diri.

Dalam gelanggang kini tinggal ada empat belas ekor kelabang yang besar besar, tiga diantaranya mengepung Koan San gwat, masing masing panjang dua tumbak, tajam pedang ditangn Koan San Gwat sudah tidak kuasa melukai mereka lagi.

Sementara Ki Houw dan Sebun Bu yam masing masing dikepung empat lima ekor kelabang cuma rada kecil kira kira setumbak lebih panjang, dan yang paling besar kira kira tiga tumbak panjangnya, begitu besar sampai badannya sebesar gentong air. Dia menyendiri berhadapan dengan Kang Pan dibela oleh Giok tai yang siap siaga, kedua pihak bertengger saling pandang dengan tajam, masing masing siap menyergap ketempat lemah bagi musuhnya.

Melihat keadaan ini, tak tertahan bergelak tawalah Koan San Gwat, serunya. “Ki Houw, Sebun Bu yam, kalian tidak menduga bukan, semula kalian hendak mencelakai aku, kini jiwa kalian sendiripun terancam bahaya. ”

Ki Hou mengertak gigi, serunya sengit. “Ya, meski harus ajal bersama kau pun akan kulakoni!” habis berkata, tiba tiba ia membalikan pacul terus membacok putus lengannya sendiri, sungguh hebat dia, sedikitpun tidak mengeluh kesakitan, dengan sebelah tangannya yang lain ia jemput potongan tangannya terus d lempar kearah Koan San Gwat. Sigap sekali Koan San gwat bolang baling kan pedang nya, tangan potongan itu kontan hancur lebur berserakan kemana mana.

Karena bau anyir darah yang merangsang kelabang kelabang raksasa itu menjadi buas dan liar, serempak mereka menyerbu dengan lebih ganas, memang sudah kelaparan mereka menyerang dengan membabi buta. Sementara Ki Houw sendiri seketika juga menjerit ngeri, entah bagaimana tahu tahu badaanya sudah tergigit seekor kelabang dan terangkat tinggi di tengah udara.

Dengan sekuat tenaga Koan San Gwat dorongkan pedangnya menyampok mundur kelabang pertama yang menerjang datang, sementara dua ekor yang lain menyerbu dari kiri kanan, kedua sungutnya yang besar laksana dua bilah golok baja berkilauan.

Dengan setaker kekuatannya, Koan San gwat ayunkan pedangnya memapas kutung gigi kelabang besar yang menyerbu dekat, sekonyong konyong ia rasakan pinggangnya mengencang, tahu ia bahwa seekor kelabang yang lain sudah menyerang datang dari jurusan lain.

Di kejap lain ia pun merasakan badannya seperti keadaan Ki Houw terangkat naik kontal kantil ditengah udara, ia tahu bahwa pinggangnya sudah tergigit masuk ke mulut kelabang raksasa itu, karuan takut dan tersiap darahnya.

Tapi itu hanya perasaan gugup semetara saja kejap lain terasa olehnya meski gigitan mulut kelabang raksasa itu amat kencang dan kuat namun belum sampai bisa melukai dirinya. Semula ia sendiri tidak paham akan kejadian ini, cuma di saat ia sedikit berontak dan menggerakkan badan, pelan pelan terasa sakit, apalagi bila dia menggunakan tenaga, jepitan atau tekanan pada pinggangnya semakin berlipat kuatnya.

Gigi runcing kelabang itu teraba seperti tangan besi yang kuat menjepit pinggang, sehingga terasa sakitnya itu pun segera lenyap. Hal itu bukan terjadi karena ia tidak bergerak lantas kelabang raksasa itu mengendorkan gigitannya.

Demikian pula keadaan Ki Houw di sebelah sana, cuma keadaannya jauh lebih runyam dan menyedihkan.

Karena hendak memancing kemarahan dan kebuasan kelabang kelabang itu, Ki Houw mengorbankan sebuah lengannya, menggunakan bau anyirnya darah untuk merangsang kemarahannya sehingga mereka menyerbu lebih gencar dan ganas, namun dia sendiri justru menjadi korban pertama dari sergapan kelabang raksasa itu, begitulah dia terangkat kontal kantil ditengah udara tanpa mampu berbuat apa apa.

Untunglah sebelumnya Ki Houw sudah punya persiapan, setelah lengannya buntung lekas di bubuhi obat ditempat potongan lengan nya sehingga darah tidak mengalir keluar lebih lanjut, lalu ia mengerahkan hawa murni untuk bertahan, sehingga gigitan keras dari gigi kelabang tidak sampai mengutuskan seluruh pinggangnya.

Dengan menghisap darah segarnya, tenaga kelabang raksasa itu agaknya bertambah kuat, terasa oleh Ki Houw tenaganya semakin terkuras keluar, dan pertahanan dirinya sudah semakin lemah, keringat sudah membanjiri diseluruh badannya. Melihat keadaan Ki Houw yang berontak mati matian, lama lama Koan San gwat menjadi paham, kelabang kelabang raksasa itu karena pertumbuhan badan mereka yang membesar secara serempak memerlukan bahan makanan yang cukup banyak pula, maka perut terasa amat lapar sehingga jadi liar dan ganas, ingin rasanya seketika ia telan mangsa manusia diujung mulutnya ini kedalam perut.

Tapi adalah kebalikan dari keadaan Ki Houw, karena secara reflek dari dalam badannya timbul tenaga perlawanan yang maha hebat, itulah karena dia pernah menelan empedu ular wulang bertanduk ribuan tahun, kasiat dari empedu ular itu bisa menjadikan kulit dagingnya kebal dan kuat, senjata tajam biasa tidak akan kuasa melukai seujung rambutnya, sudah tentu betapapun tajam gigit kelabang raksasa ini tidak berguna pula atas dirinya dan lagi empedu ular wulung bertanduk usia ribuan tahun juga menambah lwekangnya berlipat ganda.

-oo0dw0oo-