Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 23

 
Jilid 23

BARU SEKARANG KOAN SAN GWAT sadar dan paham duduk perkatanya, katanya. “Tak heran lwekang ku mendadak maju berlipat ganda ternyata demikian duduk perkaranya!” “Begitulah!” ujar Kang Pan menjelaskan lebih lanjut “Sayang diwaktu kau menelannya keadaanmu amat payah, sehingga kasiat obat itu menjadi berkurang sebagian besar, karena untuk menolong kehidupan jiwamu, kalau tidak dalam dunia ini mungkin tiada seorang pun yang kuasa melawan kekuatanmu!”

“Apa yang kumiliki sekarang sudah jauh lebih dari cukup dan akupun cukup puas. Aku tidak ingin menjadi tokoh kosen nomor satu diseluruh jagat, cuma besar keinginanku menyumbangkan kehidupan ini, demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia damai dibumi sentosa dalam kehidupan. Di kala seluruh orang orang jahat diselusruh dunia ini sudah tersapu bersih, aku rela memunahkan seluruh kepandaian silatku, menjadi manusia biasa. ”

Semua orang merasa takjup dan tepekur oleh ucapan Koan San Gwat yang keluas dari relung hatinya yang paling dalam, timbul rasa hormat dan segan mereka kepadanya. Akhirnya It ouwlah yang membuka suara. “Marilah lekas kita pergi! Cia Ling im bersama kamrat kamratnya mungkin sedang kegirangan mendengar bahwa Koan siheng sudah keracunan marilah kita melurukanya ke sana biar mereka merasa terkejut dan heren.”

“Tidak usah tergesa gesa, mereka sendiri yang akan meluruk kemari, Cia Ling im pasti akan berusaha merintangi nona Kang memberi pengobatan kepada Koan kongcu, karena mereka tidak tahu perkembangan disini, kuduga secepat mungkin mereka sudah akan tiba, malah yang datang tentu tidak sediklah jumlahnya,”

“Apakah Lau Yu hu juga pasti ikut datang?” tanya Gwat hoa Hujin.

“Sekarang dia sebagai Hu kaucu, dapatlah kita bayangkan akan penghargaan Cia Ling im terhadapnya, sudah tentu ia harus datang!” “Binatang itu, setelah kulihat kedatanpan nya, pasti akan kubunuh dia !” demikian desis Gwat hoa Hujin geram.

Tengah mereka bicara, dari jalan raya sebelah depan sana tampak serombongan orang yang berjumlah besar memenuhi jalan sedang memburu datang dengan langkah lebar. Yang berjalan paling depan memang Cia Ling im dan Liu Yu hu, disebelah belakangnya lagi adalah Sebun Bu yam dan Hwi Kak, dan dibelakangnya lagi Ki Houw dan Ki Cu seng, salah satu Hwecu yang pernah dikalahkan oleh Koan San Gwat dulu. Begitu tiba perhatian mereka semua tertuju kepada Koan San Gwat. Waktu mereka melihat Koan San Gwat berdiri paling depan dengan masih segar bugar, serempak mereka berpaling kepada Ki Houw dengan mata mendelik, agakanya menyaksikan pambicaraannya yang membual. Ki Houw kelihatan amat gugup dan berkeringat dingin, menggaruk garuk kepala yang tidak gatal, dengan gelagapan akhirnya ia menunjuk ketanah, katanya. “Kau cu! Ucapan hamba bukan bohong belaka, lihatlah besi besi pecahan senjataku yang hancur tadi. ”

Cia Ling im hanya mendengus tawar, perhatiannya kini tertuju pula kepada Koan San Gwat.

Dengan muka tidak menunjukkan perasaan hatinya, Koan San Gwat menyapa. “Kalian para dedemit kerbau dan siluman siluman ular tidak sedikit ya jumlahnya.”

Cia Ling im tersenyum, ujarnya “Jumlah kalian pun tidak sedikit bukan? Kita harus main keroyokan atau maju satu satu?”

Koan San Gwat berpaling kearah orang orangnya dibelakang, meski jumlah pihakanya mungkin kelebihan satu dua orang, namun bila bertempur secara keroyokan belum tentu pihaknya bisa menang, terutama pihak musuh membekal dua pedang pusaka yang hebat perbawanya, sementara pihak sendiri cuma punya Ui Ciap kiam yang paling diandalkan. Kalau di pertimbangkan ada lebih baik bertempur satu lawan satu saja, maka dengan tawar dia menanggapi. “Thian mo kau hanya kau seorang belaka yang durjana, aku hanya ingin melenyapkan jiwamu saja, tidak perlu merembet yang lain.”

Cia Ling im bergelak tertawa, serunya “Pendapatmu ini ternyata cocok dengan keinginanku, Thian mo kau belum lama berdiri, pihak kita sedang perlu tenaga tenaga berbakat, kulihat beberapa orang di pihakmu bisa kami pakai, soalnya mereka sama mengandalkan dirimu, setelah kau kami lenyapkan pasti mereka akan suka rela menghambakan diri pada pimpinanku!”

“Jadi urusan hari ini cukup diselesaikan antara kau dan aku saja?”

“Boleh dikatakan demikian. Tapi masih ada seorang yang ingin mengadu jiwa pula dengan kau….”

Lau Yu hu tidakatahan sabar lagi segera tampil kedepan, teriakanya bengis. “Koan San gwat, serahkan Ceng Ceng kepadaku!”

Seketika Koan San Gwat melenggong katanya. “Apa katamu?”

Merah padam muka Lau Yu hu, teriaknya lebih bengis. “Jangan pura pura pikun, bukankah Ceng ceng sudah kau rebut kembali.”

Baru sekarang Koan San gwat paham orang anggap menghilangnya Thio Ceng ceng sebagai perbuataanya, keruan iapun gusar, dengusnya. “Didalam Khong ham kiong dengan tipu muslihat tendah kau bendak mecelakai aku, menculik Ceng ceng pergi pula, sampai sekarang aku belum pernah melihatnya, belum sempat aku meluruk padamu minta pertanggungan jawabmu, kini kau mencak mencak di hadapanku mengenai Ceng ceng, sungguh dunia sudah terbalik agaknya.” Lau Yu hu tampak tercengang, katanya lebih kalem. “Apa!

Jadi orang berkedok malam itu bukan kau.”

“Kalau aku datang se Ngo tai san tentu datang secara terang terangan, tidak bakal mengenakan kedok menutupi muka segala dan lagi kalau aku berhasil memasuki markas Thian mo ka kalian, tidak bakal hanya Thio Ceng ceng saja yang kubawa keluar.”

Sekian lama Lau yu hu menjublek di tempatnya tanpa bersuara lagi, tiba tiba Cia Ling im menyeringai dingin, ujarnyu. “Lau lote! Jangan kau dengar obrolannya menurut para penjaga pedang yang dibawa orang berkedok itu adalah Pek hong kiam, siapa lagi kalau bukan bocah keparat ini?”

“Orang itu membawa Pek hong kiam?”

“Aku tidak tahu, hari kebetulan kami tiada dimarkas kalau tidak masa kami membiarkan orang itu membawa lari Ceng ceng?”

“Pek hong kiam semula memang berada ditanganku, tapi sepuluh hari yang lalu Liu Ih yu, jelas orng yang menculik Ceng ceng pasti Liu Ih yu adanya.”

“Siapa itu Liu Ih yu?” tanya Lau Yu hu.

“Dia adalah sumoyku.” sahut Cia Ling im. “Lote tidak usah kuatir kalau begitu, kalau nona Thio jatuh ditangannya, kutanggung dapat kaudapatkan kembali, cuma satu hal harus kau ingat, meski nona Thio dapat kami bawa pulang, diapun tidak akan mau ikut kau. ”

Lau Yu hu mamicingkan mata mengawasi Koan San Gwat, mukanya kaku dan menampilkan perasaan jelas yang berkelebihan,. “Sheng” tiba tiba ia mencabut Ci eng kiam yang tergantung dipinggangnya.

“Binatang kau!” segera Gwat hoa Hujin, maju beberapa langkah sambil menudingnya, “Masihkah kau kenal padaku?” Sejenak Lau Yu hu menjublek ditempat nya, akhirnya dengan dingin ia berkata”Ihh, kalau kau hendak merintangi aku bunuh Koan San gwat aku tidak akan mengakuimu lagi!

Pucat pias selebar muka Gwat hoa Hujin, mendadak ia mencabut Ui tiap kiam serta makinya pula. “Binatang! Biar kubunuh kau dulu!”

Lau Yu hu mundur selangkah, lalu dengan suara berat berkata. “Ibu! Kuharap kau tidak mendesakku, meski ilmu pedangku kebanyakan adalah kau yang mengajarkan, tapi jangan kau lupa ayahku ada meninggalkan pelajaran ilmu pedangnya kepadaku, sekarang kau bakan menjadi tandinganku!”

Gemetar seluruh badan Gwat hoa Hujin, desisnya. “Baik, biar aku mampus dibawah pedangmu!”

“Bila perlu biar kubunuh kaupun tidak menjadi soal, terhadap ayah, boleh dikata kau sudah bukan menjadi istrinya!”

“Keparat!” tiba tiba Koan San Gwat menghardik dengan murka. “Apa kau ini manusia begitukan kau berkata terhadap ibu kandungmu sendiri!”

“Justru karena itulah aku harap kau lekas menampilkan diri, jangan memaksa aku untuk melawannya!”

“Bu!” ujar Koan San gwat berpaling. “Serahkan pedang itu kepadaku!”

“Tidak!” sahut Gwat hoa Hujin tegas. “Biar aku sendiri yang menghukumnya, sejak saat ini dia bukan menjadi putraku sendiri!”

“Memangnya sejak dulu aku sudah bukan menjadi putramu, maka kubongkar tulang tulang belulang ayahku dan membakar habis seluruh Khong ham kiong karena tempat itu milik Ban Sin Gwat, aku tidak akan membiarkan tulang belulang ayahku diselubungi rasa malu.? Saking murka badan Gwat hoa Hujin sampai bergetar dan berkeringat dingin, Koan San Gwat hendak merebu pedangnya, namun kena didorong minggir, begitu pergelangan tangan dipelintir ujung pedangnya tahu tahu menusuk kearah Lau Yu hu. Lekas Lau Yu hu angkat pedangnya menangkis, Cia Ling im segera melolos pedang, dan maju ketengah gelanggang, katanya. “Lau lote!

Betapapun kau rada kurang leluasa gebrak ini berikan saja kepadaku!”

Lekas Liu Yu hu melompat mundur sambil menjinjing pedang ia terus menerjang kearah Koan San gwat makinya “Bedebah mari. ”

Apa boleh buat terpaksa Koan San gwat gerakkan Tok kak kiam sin menyambut kedatangannya, maka terjadilah dua babak pertempuran dari ke empat orang ini, serang menyerang dengan kalap dan seru.

Pertempuran kedua kelompok ini bukan saja adu kekuatan, yang jelas adalah berlawanan antara lurus dan sesat, jahat dan baik, dari pertempuran kali ini akan mejadikan titik tolak keselamatan dan kesejahteraan bagi umat persilatan seluruh dunia.

Dengan berdirinya Thian mo kau merupakan puncak kejayaan kaum sesat yang secara langsung dikepalai oleh Cia Ling im yang merupakan gembong penjahat terbesar dan kiai muncul pula seorang wakilnya yang terjeblos kedalam jurang kesesatan sehingga kekuatan mereka bertambah lipat ganda.

Terjunnya Gwat hoa Hujin didalam percaturan tegang antara sesat dan lurus ini sungguh merupakan suatu hal yang diluar dugaan adalah Koan San gwat tempat dimana seluruh kaun persilatan yang berjiwa lurus dan luhur mendambakan kemenangan atas dirinya. Maka seluruh perhatian semua orang tertuju kepada babak pertarungan mereka berdua kakak beradik sama ibu lain bapak. Akan tetapi pertempuran pihakanya jauh tidak setegang dan sesengit pertempuran antara babak yang lain, soalnya senjata perlawanan kedua pihak jauh berbeda, senjata Lau Yu hu adalah Ci seng kiam, merupakan pedang mestika terampuh pada jaman ini. Mski pedang itu mengandung keajaiban, namun kebentur Tok kak kim sin milik Koan San Gwat yang tidak kalah ampuhnya segala keajaiban itu sirna tanpa guna.

Entah terbuat dari babat apa pula Tok kak kim sin senjata Koan San gwat itu, keras dan liat sekali, tajam pedang pusaka membacok telak diatas kepala patung emas berkaki tunggal, hanya meninggalkan segaris bekas geresan belaka. Dari taraf karuan tidak berarti yang diderita oleh senjata Koan San gwat ini paling tidak harus dibacok dan diiris untuk berapa ribu kali baru bisa membacokanya kutung, tapi sudah jelas bahwa pertempuran antara kedua lawan setanding ini tidak akan kuat betahan sampai sedemikian banyak jurus.

Sebaliknya demikian juga bagi Koan San gwat, tok kak kim sin merupakan senjata pondasi yang amat kokoh dasarnya.

Justru karena terlalu berat bobotnya, maka diapun tidak mampu mengembangkan seluruh kemampuannya dengan sempurna.

Untunglah Kim sin tidak kena pengaruh oleh ketajaman Ci seng kiam serta keajaibannya, sehingga banyak orang berlega hatinya maka segera ia, kembangkan ilmu ajaran gurunya memainkan senjata beratnya ini dengan tenang, tanpa bura buru mengejar kemenangan maka semua jurus permainannya boleh dikata jarang menyerang daripada membela diri dengan rapat mengandal latihan dan tenaga raksasa

pembawaan sejak lahir, dengan mantap dan tenang dia layani rangsakan pedang lawan yang gencar.

Adalah pertarungan antara Cia Ling im dengan Gwat hoa Hujin jauh lebih seru dan ramai, menarik lagi keduanya adalah ahli ahli dalam ilmu pedang senjata yang dipakai pun pedang mestika. Hawa pedang Ceng so kiam menguap berwarna kehijaun sementara cahaya pedang Ui tiap kiam cemerlang seperti bulu bangau kekuningan dan keajaiban kedua pedang masing masing sesuai benar dengan namanya.

Hawa pedang Ceng so kiam berwarna kehijauan melintir lintir seperti seutas tali tambang besar, bergerak aneh dengan segala perubahannya mengikati tipu tipu pedangnya yang lihay, liku liku tidak dalam satu garis melingkar besar seperti sebuah gubatan besar, lambat laun mengkeret manjadi kecil dan ketat jikalau lwekang lawan lebih rendah dan kalah kuat, sejak tadi tentu sudah terkekang dan terikat tidak mampu bergerak lagi, namun Gwat hoa Hujin bukanlah seorang lawan yang biasa yang berkepandaian rendah.

Memang wibawa atau kekuatan Ui tiap kiam memang lebih asor dibandingkan dengan Ceng so kiam.

Untunglah pedangnya ini mempunyai suatu keanehan yang amat berguna, hawa pedang ini ternyata merupakan titik titik besar kecil yang menyerupai kupu kupu kuning yang sedang menari dan berloncatan timbul tenggelam dalam sangkar, maka ia jauh lebih leluasa bergerak menghindar daya lengket dari kekuatan lwekang lawan yang dilancarkan melalui batang Ceng so kiam, maka sedemikian jurus dia masih dapat melawan dengan tenang dan mantap, tapi untuk menjebol keluar dan meloloskan diri dari kepungan hawa pedang Ceng so kiam yang ketat itu agaknya merupakan suatu perjuangan yang amat berat baginya.

Bahwa keempat orang itu bertempur mati matian, para penontonpun ikut menjadi tegang, karena pertempuran ini adalah tokoh utama dari kedua pihak yang Sedang mempertaruhkan jiwa dan raga, menang atau kalah dalam pertempuran ini bakal menjadikan keputusan nasib mereka.

Begundal begundal yang dibawa Ca Ling im tidak banyak, Hwi Kak datang ikut Lau Yu hu, yang termasuk menjadi kaki tangannya yang paling diandalkan cuma Sebun Bu yam dan Kik Hoa serta Kik Cu seng. Kepandaian Sebun Bu yan masih setingkat dibawah Li Sek hong, sementara Sian yu it ouw jelas dapat menglahkan Kik Cu seng, cuma kepandaian Ki Houw saja agakanya jauh lebih tinggi dan keluar batas kedudukannya, tapi belum tentu dia bisa menang melawan keroyakan Ban li bu in dan It lun bing gwat. Setelah terluka melawan Koan San Gwat tadi.

Soal Hwi Kak kiranya cukup dihadapi oleh dayang dayang Goat kiong yang dikepalai oleh Jip Hoat apalagi pihak sini masih ada seorang senderan yang cakup kuat dan ampuh yaitu Kang Pan.

It ouw dapat melihat gelagat yang mengutungkan ini, diam diam segera ia berbidik kepada Li Sek hong. “Li siancu, untuk memberantas kaki tangan Cia Ling im, kinilah saatnya yang paling tepat, Cia Ling im terlihat tak mampu membagi awak, musuh musuh yang lain tiada artinya bagi kita ”

Sudah tentu Li Sek hong juga maklum akan hal ini, namun baru saja ia hendak bicara, pihak sana didahului oleh Hwi Kak sudah tampil ke depan sambil menjinjing pedang, serunya. “Kalau kalian hendak main keroyokan marilah silahkan maju rasakan betapa tajam pedangku ini.”

Watak Sui Ki berangasan, segera ia memburu kedepan, dampratnya. “Perempuan jalang, sebagai dayang Gwat kiong, berani kau membangkang majikan mendurhakai dunungan.

Melawan Hujin, dosamu tidak terampunkan, serahkan jiwamu!”

Senjatanya adalah sebuah papan catur yang selalu dibawanya kemana ia pergi, sekali kepruk ia hendak gecak kepala orang. Tapi Hwi Kak mandah tersenyum dingin, pedang panjangnya terangkat miring terus disendal kesamping dengan gampang ia sampok catur Sui Ki, terpental beberapa jauhnya.

Sui Ki amat keget diantara sepuluh dayang dari Khong ham kiong, bicara soal pedang termasuk Tam Kiam saja yang paling hebat dan tinggi, setelah Tam Kiam meniggal dunia hanya Jip Hoat saja yang berkepandaian paling matang dan lihay.

Bicara soal ilmu silat kepandaian Hwi Kak paling rada unggul sedikit dari Coh Bing yang berusia paling tua, namun tangkisan pedang atas senjata Sui Ki tadi agakanya cukup lihay dan jauh lebih unggul.

Jing Hoat dan Tay Su juga merasakan akan hal ini, tanpa berjanji segera melabrak maju, Jing Tho mennggunakan harpanya, sedang Tay Su menggunakan senjata potlot, masing masing adalah senjata khusus sesuai dengan bakat dan pembawaan mereka, bersama papan Catur Sui Ki, tiga macam senjata yang aneh aneh itu memberondong gencar menghujani Hwi Kak, tapi gerak gerik Hwi Kak amat lamban dan seperti berlenggang saja ditengah gempuran gencar ketiga lawannya, pedangya balas menyerang amat leluasa dan berkecukupan menghadapi ketiga rangsakan musuh.

Akhirnya Jip Hoatpun takatahan lagi, ajaran silatnya paling banyak ragamnya, kini dengan bertangan kosong ia ikur terjun dalam arena pertempuran, kekuataanya seorang agakanya tidak dibawah ketiga kawannya.

Tapi dengan empat melawan satu, mereka tetap terbendung diluar kiblatan sinar pedang Hwi Kak yang kokoh dan rapat, paling paling hanya mampu bertahan ditempat masing masing tidak sampai tersurut mundur namun mereka tidak kuasa menerjang masuk meski sejurus tipu serangan yang bagaimana lihaynya.

Melihat adu kekuatan secara menyeluruh sudah dimulai, It ouw segera melolos pedang pula terus menentang Kik Cu seng. “Marilah kitapun jangan nganggur!”

Kik Cu seng tidak hiraukan tantangannya, malah Ki Houw lah yang menandingi seringainya. “Tua bangka! Kau ingin mati mari biar aku saja menyempurnakan kau!” Sian yu it ouw menggerung gusar, dampratnya. “Bedebah kau! Kau ini terhitung barang apa?”

Ki Houw menjadi murka, tanpa ayal lagi segera ia gerakkan pedangnya terus menerjang dengan serangan yang cukup ganas dan keji, It ouwpun tidak berani pandang rendah lawannya, cepat iapun menggerakan pedangnya melawan dengan sengit, pertempuran menjadi kacau balau, dimana mana terdengar berdentingnya senjata tajam dan teriak keras memberi semangat dan kesakitan.

Tanpa ditantang Sebun Bu yam segera menantang Li Sek hong seraya mencabut pedangnya, “Li suci! Kita termasuk satu perguruan, tapi kalian yang cantik rupawan selalu merendahkan derajat aku yang bermuka, buruk, selama ini memang aku mencari kesempatan untuk melampiaskan penasaranku hari inilah tiba kesempatan itu, marilah beri aku beberapa gebrak petunjuk, biar kenyataan menentukan kau lebih unggul atau aku asor! Li Sek hong tidak banyak suara ia pun mengeluarkan senjata, kejap lain merekapun sudah berhantam dengan main kekerasan, tidak peduli hubungan seperguruan segala, yang jelas mereka serang menyerang dengan tidak kalah sengitnya.

Situasi semakin gaduh dan ramai seluruh gelanggang terbagi lima kelompok pertempuran, dengan tiga belas orang saling labrak dan terjang. Babak yang kelihatan enteng adalah pihak Li Sek hong yang melawan Sebun Bu yam, maklum mereka berdua tamat dari ajaran perguruan yang sama, meski ajaran yang mereka terima berlainan namun satu sama lain dapat menyelami intisari permainan lawannya maka selintas pandang, seoloh olah mereka sedang berlatih belaka.

Yang paling ramai adalah kelompok di mana Hwi Kak dikeroyok empat sekoleganya pedang panjang diputar secepat angin lesus menunjukan perbawa yang amat hebat. Waktu berada di Khong ham kiong, meski Hwi Kak membekal kepandaian silat yang dipelajari secara diam diam, namun tidak berani ia mengunjukan kemampuan sendiri, maka keempat temannya ini selalu memandangnya rendah, diapun mandah saja dihina dan menelan rasa penasaran selama ini, maka pedangnya berkali kali memantulkan jurus jurus aneh dengan tipu serangan yang cukup keji dan culas, untunglah keempat pengeroyoknya dapat bekerja sama secara ketat dan rapat, kalau tidak mungkin sejak tadi satu diantara mereka sudah mampus ditembus pedangnya.

Yang tinggal menganggur kini cuma empat orang, pihak Cia Ling im tinggal Kik cu seng, sementara pihak Koan San Gwat masih ada Ban li bu in dan It lun bing gwat serta Kang Pan.

Watak Kang Pan masih kekanak kanakan dan lincah, tidak pernah ia memikirkan diman dirinya berpihak, ia minggir saja menjauh menonton dengan penuh perhatian dan kesenangan, peduli pihak manapun yang kena serangan atau terluka dan kena pukulan hingga terjungkir segera ia berjingkrak sambil tepuk tangan.

Setelah menonton sebentar, Ban li bu in dan it lun bing gwat hanya Kik Cu seng, seorang saja yang menjadi musuhnya, namun agaknya mereka tiada minat turun gelanggang itulah karena mereka terpengaruh oleh kata kata It ouw tadi.

Didalam Liong hwa hwe dulu kedudukan Kik Cu seng jauh lebih tinggi dari mereka, namun setelah melihat tampapang dan sikap serta kedudukannya sekarang, mereka jadi segan tidak sudi turun tangan melawannya. Seolah hanya mengotori tangan belaka. Adalah Kik Cu seng sendiri yang akhirnya tidak kuat menahan sabar katanya menantang. "Kalian berdua apakah tiada minat melemaskan otot?"

Ban li bu in menyeringai dingin ejekanya “Sebetulnya kami tidak bersedia nganggur, namun tiada semangat untuk melabrak manusia macam tampangmu ini” Dari malu Kik Cu seng menjadi murka, dampratnya. “It ouw bicara demikian masih bisa kuterima, kalian berdua teramasuk barang permainan apa?”

“Meski kami bukan barang permainan masakah sudi berhantam dengan angkatan muda tak berguna seperti tampangmu ini, justru karena kau tuan besar ini terlalu besar dan agung, maka kami jadi segan minta petunjuk!” demikian olok It lun bing gwat.

Membesi muka Kik Cu seng, ejekanya tiada kalah pedasnya, “Jadi kalian sendiri yang cukup ternama dan berkedudukan tinggi, kenapa terlalu mengekor dan berontak mengikuti jejak Koan San Gwat, bukankah dia pun seorang anak hijau yang masih berbau bawang apakah karena terima menjadi anak buyut Ui ho yang setaraf lebih rendah dari muridnya?”

Ban li bu in tertata bergelak, ujarnya. “Apakah Ki Houw cukup setimpal dijajarkan dengan Koan San Gwat? Ingat kami ikut dalam rombongan Koan kongcu ini bukan untuk menerima perintahnya, Koan kongcu selalu menyapa aku dengan sebutan Cinpwe! Bagaimana dengan Ki Houw? Tak ku dengar secara langsung dia memanggil nama kasarmu namun toh rada rada kedengaran cukup sungkan terhadap kau. ”

Menggelap air muka Kik Cu seng, tanpa bicara lagi tiba tiba mengeluarkan sebuah senjata yang berbentuk amat aneh, seluruh nya terwarna hitam legam, bentuknya membulat menyerupai batok yang peranti untuk wadah nasi bagi kaum Hwesio, cuma disebelah belakangnya disambung dengan sebuah gagang kayu yang pendek, Ban li bu in bergelak tawa menjadi jadi serunya. “Kik Cu seng, kenapa semakin tua kau semakin celaka dan rudin agaknya. Apakah pihak Thian ko kau tidak memberi makan sedekah padamu, sehingga kau haru mengemis dikota dari rumah kerumah. ”

Kik Cu seng tidak hiraukan olok olok yang tajam dan memalukan ini, mukanya semakin gelap membesi, tangan kiri perlahan lahan diangkat, dimana pada jari kelingkingnya mengenakan sebentuk cincin terbuat dari besi baja, dengan ringan saja ia ketukan di atas gagang pendek itu, disusul dengan terdengarnya suara jepretan yang berbunyi aneh dari dalam batok yang bermulut rada kecil membundar itu terbang melesat segulung bayangan hitam, dengan cepat dia tidak bersuara sedikitpun melesat kearah Ban li bu in.

Acuh tak acuh segera Ban li bu in mengebaskan lengan bajunya, meski ia tidak melihat jelas benda hitam apa yang menyambar kearahnya, tapi karena daya luncurannya tidak begitu keras dan kuat pikirnya cukup dengan sekali kebas saja untuk menyampoknya jatuh. 

Akan tetapi kenyataan justru jauh diluar dugaannya, titik hitam itu seperti berbentuk namun tiada kelihatan nyata jadi sulit dibedakan, yang terang titik hitam itu menerjang tembus kebasan lengan bajunya, dan tahu tahu terporot tepat mengenai hidungnya.

Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, badan Ban li bu in kontan terbanting terjengkang ke belakang. Waktu It lun bing Gwat memburu maju memeriksanya, ternyata jiwanya sudah melayang.

Cara membunuh orang macam ini sungguh amat aneh dan menakjupkan serta menakutkan sekali, kejut dan murka pula It lun bing Gwat dibuatnya, begitu angkat kepala matanya mendelik kearah Kik Cu seng seperti kelereng yang hampir mencelat keluar dari kelopak matanya, teriakanya beringas. “Dengan cara apa kau turun tangan keji...”

Kik Cu seng angkat batokanya sembari menyeringai sadis, ejeknya. “Mainan inilah apakah kau pernah lihat?”

Mengawasi batok besi hitam legam di tangan orang It lun bing gwat terlongong, sekian lamanya, sekilas pandang batok besi ini tidak menimjukan suatu keanehan tapi kenyataan jiwa Ban li bu in melayang tanpa dia sempat membela dari. Dengan nenangkat senjata anehnya Kik Cu seng dengarkan tawa panjang yang mengiriskan, nada tawanya mengandung kegetiran hati dan sendu, namun mengandung kepuasan hati pula sesaat kemudian baru dia bersuara. “Kukira kaupun tidak akan mengenalnya senjata kuno sejak Ko Ciam le dulu, sampai sekarang sudah tiada orang yang mengenalnya lagi, kalau jaman dulu Ko Ciam le dapat melatih diri sampai ketingkat seperti keadaanku sekarang, kukira meski Cin Si ong mempunyai pasukan pelindung laksaan jumlahnya juga tidak akan terhindar dari kematiannya.

Dengan meninggalnya Ban li bu in yang aneh ini, serta merta dua pihak yang sedang bertarung menghentikan perkelahiannya masing masing, mereka terbagi dua rombongan pula yang saling berhadapan, masing masing menunggu perkembangan lebih lanjut. Mendengar penjelasan Kik Cu seng orang orang dari dua pihak sama mencelos dan kejut.

Pertama tama Koan San Gwat yang bersuara heran. “Itukan Cu ”

“Benar,” tukas Kik Cu seng, “Kalau tidak darimana namaku ‘Kik Cu seng’ kuperoleh?” semua orang sama bungkam.

Semua orang yang hadir sama pernah mendengar cerita sejarah ini dimana seorang patriot bangsa dari negeri Tio Cian le pada suatu pertunjukkan dihadapan Cin si ong yang lalim itu berusaha membunuhnya menggunakan kepandaian mengetuk batok manyambitkan peluru besinya yang amat lihay, sayang dia seorang yang buta sehingga tujuannya tidak tercapai malah harus berkorban diri dengan badan hancur lebur batok kepalanya dibacok ratusan golok para pasukan pengawal raja.

Adalah diluar dugaan tahu mereka bahwa begituan bentuk senjata yang aneh dan pernah menggemparkan jagat itu, tak mereka nyana pula bahwa Kik Cu seng berhasil mempelajari ilmu aneh dengan menyambitkan pelor dari dalam batokanya, malah Cia Ling im sendiri juga merasa terheran heran, maka air muka nya pun seperu juga orang lain mengunjuk rasa heran dan kagum.

Kata Koan San Gwat. “Mesti Ko Ciam le gagal dalam usaha membunuh raja lalim namun dia meninggalkan nama harum dalam sejarah, meski kau sekarang membekal kepandaian yang lebih hebat dari dia, namun terima bertekuk lutut dibawah tekanan manusia jahat dan laknat, bukan saja harus malu diri terhadap pahlawan bangsa yang telah mendahului kita kaupun harus malu terhadap senjata aneh yang berada ditanganmu itu.”

“Binatang kecil!” Tidak perlu kau mengudar teori falsafahmu, selamanya aku berpihak terjang menurut keinginan hatiku sendiri, selamanya tidak perduli lurus atau jahat, hanya ketentraman jiwa dan kesenangan hati saja yang kukejar. Siapa berani menghina aku kepada dialah aku tidak menaruh kasihan lagi.”

It lun bing gwat segera menyela. “Begitu hina dan rendah penghargaan Cia Ling im terhadapmu, apakah termasuk dia memandang tingi harga dirimu?”

Berubah pula air muka Kik Cu seng diam diam Cia Ling im berlaku waspada dan siap siap, siapa tahu air muka Kik Cu seng pulih seperti biasa pula, katanya tawar. “Didalam Liong hwa hwe dulu, kalian suka main sindir dan mengolok kepadaku, hanya Kau cu seorang yang selalu membujuk dan mengendalikan diriku sungguh aku amat berhutang budi terhadapnya, maka akupun tidak perdulikan lagi situasi selanjutnya. ”

Berlega hati Cia Ling im, katanya. “Kim Cu seng! Kau sungguh bisa mengendalikan diri, kalau sejak lama aku tahu kau membekal kapandaian yang lain dari yang lain ini, betapapun tidak ku kesampingkan bakatmu ini, sekarang aku sedang membutuhkan tenaga untuk membangun dasar Thian Mo kun kita, ku kira kau bisa memaklumi kesulitanku….” “Kaucu tidak perlu menjelaskan, hati ku sudah cukup paham sendiri,” demikian sahut Kik Cu seng. “Kalau tidak masakah aku sudi tetap berteduh didalam Thian mo kau!”

Kata Cia Ling im “Kalau sejak lama kau pertunjukan bekal kepandaian tunggalmu ini sudah tentu sejak lama pula kumanfaatkan kepandaianmu ini….”

“Bukan hamba sengaja hendak menyembunyikan kepandainku ini maksudku hanya untuk digunakan perlu saja, bila perlu biar ku sumbangkan tenagaku ini disaat Kaucu menghadapi bahaya yang paling besar, soalnya aku tidak kuat menahan gejolak hati mendengar olok olok mereka yang keterlaluan sehingga kuumbar amarah hatiku….”

Tak tahan It lun bing gwat segera berteriak. “Kepandaian mu ini terhitung ilmu tinggi apa? Tadi kumaki kau, sekarang tetap kumaki kau juga. ”

Kik Cu seng tidak memperlihatkan perubahan mimik wajah, angkat batok besinya sememtara cincin ditangan kiri segera mengetuk gagangnya kontan setitik bayangan hitam melesap keluar dari mulut bundar yang rada kecil terus menerjang kearah It lun bing gwat.

Kali ini banyak orang sudah berjaga jaga, sebelum titik hitam itu melayang datang, Koan San Gwat, It ouw dan enam tujuh orang serempak tanpa janji sebelumnya masing masing angkat senjata untuk menangkis dan m nyampok jatuh titik hitam itu.

Jelas sekali jalan lewat titik hitam itu sudah tertutup rapat, namun semua orang sama menubruk tempat kosong, entah cara bagaimana titik hitam itu bisa menembus pertahanan nan rapat dari berbagai senjata yang menyerang itu. Detik lain terdengar It lun bing gwat menjerit ngeri, kedua tangan mencakar cakar diatas mukanya, sementara badanpun jatuh terjengkang kebelakang, setelah berkelejetan sebentar, badannya tidak bergerak lagi. Yang mengherankan semua orang tampak ditengah tengah hidungnya telak sekali terporot sebuah pelor bundar terbuat dari besi berwarna hitam legam, seolah olah mukanya kini tumbuh sebuah mata ketiga diatas hidangnya.

Kejadian kali ini benar benar membuat seluruh hadirin berjingkrak kaget. Cara Kik Cu seng membunuh orang ternyata begitu ganjil, boleh dikata tidak mampu bertahan dan tidak bisa dihindari lagi, bukankah berarti semua orang bakal menjadi sasaran empuk untuk mudah digasak habis habisan jiwanya.

Mata Cia Ling im memancarkan cahaya luar biasa tajam, namun hanya sekejap saja sirna ditutupi seri tawa lebarnya, katanya sambil mengacungkan jempol kepada Kik Cu seng.”Kepandaian tunggal yang sakti saudara sungguh tiada bandingannya dengan senjata lain ini, kau tiada lawan diseluruh jagad Thian mo kau kita punya seorang tokoh kosen macammu ini, masakah kuatir seluruh jagat ini tiada bakal masuk dalam genggaman tanganku. Kuharap saudara menggunakan senjata aneh ini sekaligus berantas habis seluruh musuh, seluruh anggota Thian mo kau akan bisa tidur nyenyak dalam buaian mimpi...”

Siapa tahu Kik Cu seng malah menyimpan senjata tunggalnya itu, sahutnya. “Maaf hal ini hamba tidak bisa menuruti kemauan kaucu !”

“Kenapa?” Cia ling im menegas heran.

“Kalau kelinci yang lincah dan licik itu sudah habis terbunuh, maka anjing pemburu pun tidak berguna lagi, kalau Kaucu benar benar sudah dapat hidup tenang dan tidur nyenyak tanpa ada yang menggangu, mungkin jiwa hamba inipun tidak akan dapat diperhankan lagi.”

“Apa apaan ucapanmu ini?” tanya Cia Ling im.

“Hamba amat jelas terhadap seluk beluk Kaucu, mungkin kata kataku ini terlalu kurang ajar, namun aku bicara secara kenyataan kukira Kaucu tidak akan menyangkal kata kataku ini”

Cia Lim im berditi terlongong tanpa bergerak tidak menunjukan reaksi.

Kata pula Kik Cu seng tertawa “Tapi harap Kauca banyak berlega hati, meski hamba punya sikap yang kurang hormat, namun tiada keinginan untuk berbuat durhaka dan main menghianat, bahwa aku harus meninggalkan beberapa musuh tangguh ini, barulah akupun basa mempertahankan keselamatan jiwamu sendiri. Adapula sebuah hal yang perlu Kaucu ketahui kecuali kepandaian dengan senjata aneh ku ini, aku tidak membekal ilmu kursus lain nya yang lihay, maka tiada pula aku punya angan angan untuk merajai dunia, jiwa ragaku selanjutnya bisa kukorbankan demi kejayaan dan kedudukan Kaucu sekali kali aku tidak akan saling berikut kekuasaan atau jabatan, kuharap Kaucupun tidak perlu main jaga dan waspada secara berkelebihan terhadapku….”

“Saudara terlalu kuatir, masih banyak tenaga yang kuperlukan dari bantuan saudara masakah perlu ragu ragu lagi akan kesetiaanmu, dulu memang akulah yang ceroboh, tidak tahu bahwa saudara memiliki kepandaian hebat kelak apapun yang menjadi miliku akan berarti pula menjadi milik saudara, apapun yang kukecap akan menjadi kesenanganmu pula…”

“Tidak perlu sedemikian jauh, Kaucu adalah seorang benggolan sakti yang tiada taranya, dapat bekerja menunaikan bakti kepada Kaucu adalah menjadi cita citaku, maka bila Kaucu sudi mandang diriku, ingin aku punya kedudukan setingkat dengan saudara Lau ini, kiranya cukup puas dan tercapailah cita citaku selama ini, karena Kaucu tidak boleh dijabat dua orang. Kalau Ha Kaucu bertambah seorang lagi rasanya tidaklah menjadi soal!.”

Cia Ling im segera manggut magggut, sahutnya cepat. “Kenapa tidak boleh, setelah kita pulang kemarkas segera kuundang berkumpul seluruh anggota kita, akan kuumumkan jabatan baru bagi saudara Kik,...”

Sembari seri tawar lebar, lekas Kik Cu seng menjura. “Kalau begitu silahkan Kaucu segera kembali kemarkas!”

Cia Ling im tertegun, serunya. “Sekarang juga kembali!

Bagaimana kita menghadap mereka?”

Sekilas melirik kearah rombongan Koan San Gwat barkatalah Kik Cu seng dengan angkuh. “Asal mereka berani mati, silahkan meluruk datang satu li dekat markas kita, biar hamba seorang yang menghadapi mereka, tapi hamba percaya mereka tidak akan punya nyali begitu besar untuk seluruh meluruk datang”

Melihat semua lawanya agaknya kena gertak oleh kata kata Kik Cu seng, Cia Ling im tertawa terpingkal pingkal, serunya. “Benar! Satu hari saudara Kik bekerja bagi kepetingan Thian mo kau kita, siapapun jangan harap berani melangkah didalam markas kita, para musuh ini memang ada yang berisi dan ada yang kosong, apa pula yang harus ku kuatirkan lagi.” Habis berkata didalam iringan gelak tawa yang ramai menusuk pendengaran, beramai ramai mereka putar balik kearah datangaya semula.

Sebun Bu yam dan Ki Houw mengintil dibelakang Cia Ling im tinggal pergi, hanya Lau Yu hu saja yang masih bertengger ditempatnya dengan tawar hidung Kik Cu seng segera mendengus, katanya. “Saudara Lau kau masih punya urusan apa yang belum sempat diselesaikan?”

Jawab Lau Yu hu sambil menatap Koan San Gwat. “Persoalan aku dengan orang she Koan itu, bagaimanapan harus kami selesaikan hari ini juga.”

Jengek Kik Cu seng dingin “Cayhe bakal diangkat menjadi Hu kaucu, jikalau tidak hadir, rasanya amat mengecewakan sekali, masakan saudara Lau tidak sudi memberi muka dan ikut meramaikan upacara pengangkatan diriku?” Sembari berkata tangannya merogoh kedalam bajunya pula, agakanya hendak mengeluarkan senjata ampuhnya itu, dibawah ancaman dan tekanannya, terpaksa Lau Yu hu mengundurkan diri dengan penasaran, lekas ia memberi perintah kepada Hwi Kak. “Pulanglah! Hari ini sementara kita lepas mereka pulang!”

Setelah mereka berdua berjalan pergi barulah Kik Cu seng terbahak bahak, baru saja ia hendak putar tubuh tinggal pergi mendadak Koan San gwat memburu maju beberapa langkah, serunya bengis “Berhenti! Aku tidak percaya pelor besi dalam alat senjatamu itu betul betul lihay!”

Kik Cu seng tetap langkahkan kakinya kedepan sementara acuh tak acuh ia berkata. “Kalau kau tidak percaya silahkan mengikuti jejak asal satu li sebelum kau tiba dimarkas besar akan kubuat kau mampus tanpa ada tempat untuk liang kuburmu. ”

Benar benar Koan San Gwat memburu dengan langkah lebar, sudah tentu yang lain menjadi kuatir dan mengintil dibelakangnya, terpaksa Kik Cu seng menghentikan langkah serunya. “Jadi kalian benar benar sudah bosan hidup.”

“Benar!” sahut Koan San Gwat angkuh, “Kalau kau mampu silahkan kau bunuh kami semua…”

Kik Cu seng berpaling kebelakang, dilihatnya Lau yu hu dan Hwi Kak sudah berjalan cukup jauh, buru buru ia merogoh kantong mengeluarkan segulungan kertas, terus di selentikan kearah Koan San Gwat, serunya. “Usiamu masih amat muda, kenapa buru buru ingin mampus…” sembari bicara, beruntun ia memberi isyarat dengan kedipan mata.

Koan San gwat menjadi heran dan tidak mengerti, namun Kik Cu seng sudah berlalu pergi dengan langkah cepat, soalnya jarak mereka berhadapan tadi cukup dekat, gulungan kertas yang disambitkan Kik Cu seng langsung terbang masuk kedalan tangannya, jadi tiada orang lain melihatnya, waktu It ouw memburu datang, di lihatnya Koan San gwat masih berdiri menjublek ditempatnya, tak tahan ia bertanya. “Koan kongcu, apakah kita mudah membiarkan mereka pergi begitu saja?”

Lekas Koan San gwat mengulapkan tangannya pelan pelan ia membeber gulungan kertas itu, setelah dibaca dengan cepat leka lekas ia masukan kedalam mulutnya lalu dikunyah dan ditelan kedalam perut.

Semua orang hanya melihat giginya berkecamuk, seperti mengunyah sesuatu meski mereka tidak paham akan tingkah lakunya ini, namun melihat sikapnya yang serius maka mereka pun tidak terlalu banyak tanya lagi, satu persatu mereka cemplak naik keatas kuda. Koan San Gwat naik kepunggung untanya, serta merta mukanya menampilkan perasaan lega dan senyum dikulum.

Setelah rombongan mereka meninggalkan Ngo tai san, akhirnya Koan San Gwat menghentikan rombongannya didalam sebuah hutan untuk istirahat tak tahan lagi Gwat hoa Hujin segera bertanya lebih dulu katanya “Anak Gwat!

Sebetulnya tindakan apa yang hendak kau lakukan?”

Sebalikanya berkatalah Koan San gwat terhadap Jip hoat berempat dengan sungguh sungguh dan prihatin. “Toaci!

Harap kalian suka mencapaikan diri berjaga disekitar hutan, hati hati jangan membiarkan seorangpun mendekat hutan ini, soalnya kaki tangan Thian mo kau tersebar luas, persoalan yang akan rundingan amat penting, sedikit bocor saja bakal menimbulkan bencana bagi kita semua. ”

Sebetulnya Jip hoat berempat juga ingin tahu persoalan apa yang hendak dijelaskan dan dirundingkan oleh Koan San Gwat, namun melihat sikap Koan San Gwat yang serius dan penuh prihatin, membuat mereka sungkan untuk menampik, maka bersama Sui Ki, Tay su dan Jing Tho berpencar menunaikan. Setelah mereka menenpati posnya masing masing, maka Koan San Gwat mengumpulkan seluruh orang yang masih tinggal, dengan kalem ia menjelaskan persoalan yang hampir saja sulit dapat dipercayai oleh mereka bersama.

Ternyata gulungan kertas sambitan Kik Cu seng itu ada bertulisan beberapa baris huruf yang berbunyi. “Saudar sekalian sudah terjebak masuk bahaya, Cia dan Lau dua orang bila tidak mampu menang dalam adu kekuatan hendak menggunakan akal muslihat yang amat keji untuk menjebak kalian. Aku mendapat pesan dari Ui ho, sementara menyerahkan diri terima menghamba kepihak musuh untuk menjadi mata mata dipihak sana, silahkan segera mandur lima puluhan li, nantikan kedatanganku atau akan kukirim seorang untuk memberi kabar lebih lanjut.”

Setelah mendengar surat itu dibacakan Li Sek hong menanggapi. “Mana mungkin bisa terjadi begitu …”

Sebalikanya Sian yu it ouw berkata dengan penuh keyakinan. “Mungkin adalah benar, kalau tidak, masakah Ui ho sudi memilih dia sebagai Hwe cu diantara sekian calon calon lain yang lebih tinggi kepandaian silatnya, dan lagi dilihat dari sepak terjangnya tadi …”

“Sepak terjangnya tadi masakah menunjukkan bahwa dia dapat dipercaya, bahwa dia membekal ilmu hebat yang tunggal itu seharusnya sejak dulu harus sudah membunuh Cia Ling im, akan tetapi dia malah membunuhi dua orang pihak kita…” demikian bantah Li Sek hong.

Belum lenyap suaranya, dari atas kepala mereka terdengar seseorang menjawab. “Kematian Ban li bu in dan It lun bing Gwat cukup setimpal, bahwasannya mereka adalah mata mata Cia Ling im yang terpendam dipihak kalian, khusus bertugas mencari berita dan membocorkan segala rahasia...” seiring dengan kata katanya ini, dari atas pohon melayang turun seorang yang berjubah hijau, jenggot panjang menjulai dipehan dada, kiranya bukan lain Go ay ci hang yang serba misterius itu. Melihat siapa adanya, baru legalah hati It ouw makinya. “Kepala gundul, kenapa kau selalu bertindak main selundup. ”

Go ay ci hang tersenyum segera ia mencampurkan diri dalam percakapan mereka. “Perhitungan semua ini memang sudah dalam genggaman Lolap, soalnya kedatangan kalian terlalu menempuh bahaya Lolap tidak keburu mencegah terpaksa aku harus kirim kabar kepada Kik Cu seng kusuruh dia bekerja melihat gelagat serta memberi bantuan dan petunjuk kepada kalian betul juga tua bangka ternyata bisa bersandiwara dengan amat baikanya, maka Lolappun tidak perlu unjukkan diri lagi…”

“Jadi kau sudah menyaksikan apa yang terjadi tadi?” tanya Li Sek hong.

Go hay ci hang manggut manggut ujar nya. “Lolap selalu berada dibelakang kalian sampai saja kalian mengundurkan diri baru lolap mendahului menyembunyikan diri disini.”

Segera It ouw ikut menyeletuk bicara. “Memang Ki Cu seng masuk Liong hwa hwe atas perkenalan Ui ho, namun setelah dia menjadi anggota, ternyata bergaul lebih rapat dengan Cia Ling im, waktu itu aku sudah amat curiga….”

“Tiada sesuatu yang perlu dicurigai, kecerdikan Tokko Bing seluas lautan, kalau sahabat yang tidak dia pujikan, tidak mungkin dia mau bersahabat kental padanya tapi usahanya ini menang merupakan tugas berat dan sulit, hanya orang macam Kik Cu seng saja yang baru bisa mendapat kepercayaan langsung dari Cia Ling im ”

“Sudahlah, kenapa ngelantur panjang lebar, bicarakan saja mengenai bantuan Kik Cu seng secara rahasia…” demikian tugas Li Sek hong.

Dengan penuh perhatian Go hay ci hang menggeleng kepala, ujarnya “Kik Cu seng sendiri tiada persoalan yang perlu dibicarakan Ui ho Sianjin dan Lim Hiang ting Sian Cu tahu bahwa Cia Ling im, punya ambisi besar hendak pegang kekuasaan, tahu bahwa pihak sendiri tidak akan kuat menumpasnya, maka dia mengatur dua rencana untuk menghadapinya. Pertama yaitu Kik Cu seng bersahabat sekental mungkin dengan Cia Ling im, lama kelamanan menjadi tangan kanan yang paling dipercaya. Kedua adalah menuntun Koan si heng masuk menjadi anggota Liong hwa hwe, atas prakasanya dia mendapat pelajaran Hu mo kiam sek dan mendapat Pek hong kiam dapat mengekang Cia Ling im, betapapun harus memakan latihan selama tiga tahun, setelah pedang dapat bersatupadu dengan batin dan raga, baru bisa mengembangkan perbawanya yang tulen. Menurut maksud semula Ui ho hendak mempertahankan berdirinya Liong hwa hwe sampai dua tiga tahun lagi, setelah Koan San Gwat tempat mempelajari ilmu pedangnya, barulah mengambil keputusan positif, siapa tahu Cia Liam im ternyata meletuskan pemberontaan dengan segala muslihatnya, terpaksa harus bekerja cepat mengganti siasat dan mengundurkan diri dari pertemuan besar Liong supaya aku bisa memberi penjelasan kepada kalian.”

“Utusan yang dikatakan Kik Cu seng apakah Lo siansu adanya?” tanya Koan San gwat.

“Bukan !” sahut Go hay ci hang menggeleng. “Cuma rada tahu sedikit mengenai seluk beluk ini, baiklah kujelaskan persoalan yang kuketahui, soal tipu muslihat apa yang diatur Cia Ling im, untuk menjebak kalian terpaksa harus kita tunggu dari penjelaaan utusannya, karena Lolap tiada kesempatan bisa berhadapan langsung dengan Kik Cu seng paling paling hanya bisa kabar kepadanya kepada, sebalikanya, tidak bisa memperoleh jawabannya...”

Segera Li Sek nong bertanya. “Sebetulnya bagaimana dengan asal usul Kik Cu seng?” hwa hwe tahun ini jadi Koan sihenglah yang ditugaskan untuk bertindak menguasai suasana secara untung untungan dan menyerempet bahaya. ”

“Tak heran dengan mengerahkan seluruh kekuatan masih belum kuasa membunuh Cia Ling im,” demikian ujar Koan San Gwat. “Suhu dan Oen lolo kenapa tidak memberi tahu lebih pagi kepadaku. ”

“Dalam bertempur melawan musuh tangguh bukan saja tergantung pada latihan tinggi rendahnya ilmu silat itu sendiri, juga harus dilandasi keberanian yang berlimpah, kalau sebelumnya memberi tahu kepada kau, muugkin bisa memupuk kepercayaan dan keyakinan hatimu sendiri, perjuangan menyangkut banyak jiwa manusia, terpaksa harus bertindak amat hati hati, untunglah kecerdikan otakmu luar biasa, meski pertempuran itu belum mencapai puncak tertinggi untuk melenyapkan musuh laknat, namun situasi tegang pada waktu itu mau tidak mau banyak berubah dan banyak manfaatnya bagi pihak kita bersama. ”

“Selanjutnya bagamana ?” tanya Koan San gwat setelah menepekur sebentar sebentar.

Go hay ci hang menggeleng, ujarnya. “Urusan selanjutnya kau adalah kau sendiri yang menimbulkan. Kau mendadak pergi megghilang di Sin li hon dan Bu san, bukan saja membeber rahasia asal usul dirimu, kaupun membuat seorang musuh besar macam Lau Yu hu yang cukup tangguh pula.

Kecerdikan Cia bahwasanya tidak lebih asor dari Ui ho, seperti juga Kik Cu seng, dipihak kalianpun sudah menanam mata mata disamping kalian…”

Jadi Ban li bu in dan It lun bing gwat adanya?” tanya It ouw.

Go hay ci hang manggut manggut, ujarnya “Cara kedua orang ini menyembunyikan nama dan kedudukan mereka memang cukup rapi dan pintar, sengaja Cia Ling im membuat gara gara mengeluarkan mereka dari kelompok Sian pang menyuruh mereka bersikap benci dan mendendam, lalu masuk dalam kelompok kita, maka dengan leluasa mereka dapat mengelabui kalian, untunglah ada Kik Cuseng kalau tidak tiada seorangpun bisa tahu rahasia ini.”

“Kedua keparat itu memang setimpal di bunuh !” demikian damprat It ouw.

“Yang pantas mampus sudah mati. Dalam membunuh mereka sedikitpun Kik Cu seng tak menunjukkan tanda tanda, mau tidak mau Lolap harus memuji akan kecermatan dan kelihayannya bertindak, dari sini dapatlah dimaklumi, untuk merahasiakan sesuatu ada lebih baik dari jumlah jangan tarlalu banyak asal usul Kik Cu seng hanya Lolap seorang yang tahu. Sebalikanya karena kedua tua bangka keparat itu membocorkan perihal Gwat hoa Hujin kepihak markas besar Thian Mo kau, baru diketahui asal usul mereka oleh Kik Cu seng.”

“Sungguh menakutkan!” demikian desis Li Sek hong. “Memang kedua orang ini cukup menakutkan, kalau tidak

segera diberantas, Cia Ling im selalu akan bertindak selangkah dihadapan kita, baru saja asal usul Koan siheng terbongkar, Cia Ling im segara menemui Lau Yu hu dan menariknya kedalam komplotan nya, lebih jauh dengan akal muslihatnya ia menipu dua pedang mustika kepihanya...”

Sesaat kemudian baru Li Sek hong membuka kesunyian. “Kik Cu seng membekal kepandaian tunggal yang tiada taranya, kenapa tidak dia gunakan untuk membunuh Cia Ling im ?”

Agaknya kalianpun tertipu olehnya, kepandaian tunggalnya untuk membunuh Ban li bu in dan Se lun hing Gwat memang berkecukupan, kalau untuk menghadapi Cia Ling im terpautnya masih amat jauh. Kalau tidak sejak lama dia sudah bekerja dengan baik masakah perlu diulur ulur sampai sekarang?”

It ouw kurang percaya katanya “Waktu dia membunuh It ouw tadi, kami beramai berusaha untuk menggagalkan usahnya namun toh sia sia menghadapi kelihayannya itu, masakah tidak mampu melukai Cia Ling im ?”

“Pelor tebang yang keluar dari senjatanya yang aneh itu, bahwasanya dilandasi dengan tenaga khikang, titik hitam yang melesat keluar itu merupakan bentuk yang abstrak, mana mungkin kalian bisa menangkisnya?”

Koan San Gwat juga heran dan tidak mengerti, timbrungnya. “Tapi kedua orang yang dibunuhnya itu, kedua hidungnya sama terkena pelor yang melekat dihidungnya.”

“Itu hanyalah bubuk besi, mengmdal ketukan tenaga dalam dan suaranya untuk menggerakkannya keluar sewaktu mengenai sasarannya baru berkumpul jadi satu membentuk sebutir pelor bundar, Ban li bu in mati karena tidak berjaga jaga, sedang It lun saking ketakutan mereka hanya perhatikan bayangan kosong, tanpa mengerahkan hawa murni untuk bertahan, maka mereka mampus demikian gampang!”

Semua orang terbungkus mulutnya, maka berkata pula Go hay ci hang dengan tertawa. “Mengandal latihan ilmu silat Cia Ling im sudah mencapai taraf tidak usah mengerahkan hawa murni, dalam tubuh secara reflek bisa timbul daya perlawanan yang cakup kuat, maka pelor Kik Cu seng… tidak! Seharusnya dinamakan pasir terbang dari dalam batoknya lebih tepat, pasir terbang dari dalam batoknya itu untuk mencelakai jiwanya boleh dikata tidak mungkin terjadi, tapi, paling tidak kejadian tadi sudah menggertak dan cukup membuat hatinya rada jeri ”

Koan Sau Gwat bepikir sebentar, mendadak ia membanting kaki, serunya. “Kalau kenyataan seperti itu, posisi Kik Cuk seng menjasi amat bahaya, betapa licik manusia seperti Cia Ling im itu, mana dia sudi kena ditekan oleh seorang bawahannya, maka hatinya pasti amat murka dan dendam, meski lidah Kik Cu seng, bisa melimpahkan madu manis Cia Ling im tidak akan berlega hati, maka permainan pasir terbang dari dalam batokanya itu, akhirnya pasti tidak bisa lagi mengelabui matanya.”

Go hay ci hang manggut manggut ujarnya “Lolap juga pernah memikirkan hal ini, maka pernah kupesan Kik Cu seng didalam keadaan yang amat kepepet baru boleh dia menunjukkan kepandaian tunggalnya itu, saat ini kukira tidak akan ada perubahan apa apa, bukankah dirinya bakal celaka!”

Berubah air muka seluruh hadirin, Go hay ci hang yang menjadi gugup. “Benar, Kenapa kita lupa melenyapkan kedua mayat mereka. Omitohud! Semoga Thian yang maha pengasih memberi berkah dan perlindangan padanya, Kik Cu seng sendiri pun dapat memikirkan akan keteledoran ini ….” hati semua orang menjadi gundah dan gelisah, mereka mulai kuatir bagi keselamatan Kik Cu seng.

Tak lama kemudian dari luar hutan sana terdengar derap kaki kuda yang dibedal kencang mendatangi, terdengar bagi Koan San Gwat, cepat ia menyongsong keluar hutan katanya penuh dengan semangat. “Mungkin utusan Kik Cu seng sudah tiba!”

Semua orang mengikuti dibelakangnya, sebelum mereka tiba diluar hutan didengarnya derap kaki kuda lari kencang semakin menjauh malah, karuan mereka mereka merasa heran dan diluar dugaan, segera mereka mempercepat langkah tampak, Jip hoat yang berjaga diluar hutan sedang menenteng sebuah buntalan, sedang berdiri menjublek dilemparnya jauh kira kira satu li didepan sana tampak setitik hitam sedang membedal kencang lari kudanya.

“Jip hoat!” lekas Gwat hoa Hujin maju bertanya. “Siapakah yang datang!” Dengan terlongong Jip hoat menjawab. “Hwi Kak barusan datang!”

Semua orang melengak pula, tanya Koan San gwat cepat. “Hwi Kak! Untuk apa dia kemari.”

“Dari kejauhan dia melempar buntalan ini kepadaku, tanpa bicara terus memutar kudanya tinggal pergi pula, hamba sendiri sedang kebingungan maksud kedatangannya!”

Seketika berubah air muka Koan San Gwat, baru ia menyambuti buntalan itu terus dibuka diatas tanah, disebelah dalam terdapat sebuah buntalan kertas minyak, segera terdengar Koan San Gwat menjerit. “Kik Cu seng tentu menemui bahaya!”

-oo0dw0oo-