Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 19

 
Jilid 19

MENDENGAR YANG DIPERSOALKAN adalah Siu lo jit sek, Koan San gwat melengak, heran bahwa peristiwa itu Sin li hong di Bu san bagaimana PekThi hun bisa tahu?

Melihat anakanya tenggelam dalam keraguan Gwat hoa Hujin kecewa, katanya : “Nak.. mungkin kau tidak ingin memberitahu, aku pun tidak memaksa!”

“Tidak!” Bukan aku tidak mau mengatakan, tapi aku belum jelas siapa sebenarnya yang membunuh Lau Ih yu, menurut apa yang kutahu, diatas dunia ini yang bisa menggunakan ilmu pedang ada beberapa orang …”

“Orang dari barisan Dewa, iblis dan setan dalam Liong hwa hwe banyak yang mempelajari ilmu pedang itu!”

Gwat hoa Hujin makin heran dan ketarik katanya : “Liong hwa hwe?  Apa pula dewa iblis dan setan itu? ”

Kian San gwat tahu bila dijelaskan satu persatu betapa panjang dan memakan waktu, maka setelah berpikir ia berkata “Bu! Kau tidak perlu tanya sebanyak itu! Cukup sal kau melukiskan perawakan orang berkedok pada dua puluh tahun yang lalu, mungkin aku tahu siapa dia? ”

“Perawakan orang itu tidak terlalu tinggi suaranya serak kasar, sulit kutentukan dia laki atau perempuan, namun dari gerak gerik dan tingkah lakunya, mungkin kaum hawa!”

Koan San gwat melengak, pikirnya, Kaum hawa dalam Liong hwa hwe yang bisa melancarkan Siau lo jit sek tidak banyak, apalagi dua puluh tahun yang lalu, Lim Hiang ting belum setingkat duduk dalam barisan dewa, sementara Li Sik hong tidak pernah mempelajari ilmu pedang itu, sedang Liu Ih yu masih gadis kecil! Sedang Sebun Bu yam pun tidak mungkin, sulit menentukan siapa sebenarnya perempuan itu.

Melihat orang masih termenung sekian lamanya, Gwat hoa Hujin mendesak:”Sudah terpikir alehmu siapaka dia? ”

“Sulit ditentukan, meski aku tahu ada beberapa perempuan, tapi mereka jelas tidak mungkin …”

Pek Thi hun mempertegas “Benar!” Beberapa orang perempuan, itu meski ilmu silatnya cukup baik, tapi tidak mungkin lebih kuat dari Lau Ih yu!”

“Paman Pek! kau kenal beberapa orang itu? ” “Mana bisa aku kenal mereka? ”

“Lalu dari mana kau tahu perbuatan Siau tit di Bu san? ”

“Aku mendapat tahu dari orang, orang itu boleh dikata seorang sahabatku! Dia tahu jelas tentang dirimu, waktu aku menanyakan persoalan ini kepadanya, dia menyinggung kau kepadaku, katanya cuma kau seorang saja yang tahu. Semula aku tidak kenal siapa kau, cuma waktu berada di bawah gunung kulihat kau naik kemari menunggang unta putih …”

“Siapakah kawanmu itu? ” tanya Koan San gwat heran. “Kuberi tahu sekarang tidak menjadi soal dia adalah

Hweshio tua!”

“Go hay ci hang!” Koan San gwat berteriak.

“Kepala gundul itu pandai membadut, dengan watakanya yang edan edanan itu berani menggunakan Suci macam itu? ”

“Hweshio tua ini memang aneh, setiap kejadian tentu ada bagiannya, orang macam apakah dia? ”

“Aku sendiri kurang jelas, kita berkenalan setelah berkelahi.

Pada suatu hari dia melancong ke Tay ceng san, tempat kediamanku dia hendak mencuri sumber air hidup mujarab kembali miliku, sudah tentu tidak kuberi ijin, akhirnya berkelahi. Begitu Kay san kun kang bentrok dengan Tau lik kim kong ciangnya, dia tergetar luka dalam, namun aku rasa dia orang baik, maka kuberi pengobatan, sejak itu terjalinlah hubungan kental, dia memanggil aku sibungkuk, aku memanggilnya kepda gundul …

Gwat hoa Hujin tidak sabar, selanya “Tho ong! Persoalan belum selesai!”

“Apa yang kutahu hanya begitu saja, sisanya kau tanya kepada putramu.” demikian ujar Pek Thi hun Gwat hoa Hujin berpaling kearah Koan San gwat menggeleng, katanya”Aku juga kurang jelas, beberapa perempuan yang kukenal itu mahir beberapa gerakan ilmu pedang itu lwekangnya jelas tidak memadai untuk mengidahkan Liu Ih yu!”

Gwat hoa Hujin memejamkan mata, merenung sebentar, mendadak ia berseru “Bukan saja lwekang orang berkedok itu amat tinggi, usianya pun sudah cukup tua, badannya kurus kering seperti kayu, kulitnya hitam …”

“Tahu aku sekarang!” teriak Koan San gwat, tentu dia adanya !”

“Siapa dia?” tanya Gwat hoa Hujin tersipu sipu.

Koan San gwat serba sulit teringat olehnya akan Mo li Oen Kiau, menurut bentuk yang digambarkan, jelas menyerupai keadaannya, tapi agakanya kurang tepat dan tidak mungkin pula, Oen Kiau mengasingkan diri puluhan tahun lamanya mana mungkin keluyuran di luar melukai orang? ”

“Siapakah dia?” desak Gwat hoa gugup “Teringat olehku seorang Cianpwe, tapi selamanya dia tidak pernah keliaran, lebih tidak mungkin mengikat permusuhan dengan orang …”

“Jangan urus begitu banyak” Gwat hoa Hujin naik pitam, “Beritahu dimana dia tinggal, biar kucari dia, asal aku berhadapan dengan dia, tentu aku tahu apakah dia orang yang dulu berkedok itu!” Koan San gwat melengak. katanya “Bu! Harap kau maafkan aku …”

“Kenapa?” teriak Gwat hoa Hujin mendelik, “masa kau tidak mau beritahu kepadaku? ”

“Tidak, aku pernah mendapat bantuan yang berharga dari dia, pernah berjanji supaya tidak membocorkan tempat pengasingannya kepada orang lain, dan lagi tempat itu amat tersembunyi tak pernah diinjak manusia, meski kukatakan, belum tentu kau bisa menemukan tempat itu!”

Berubah air muka Gwat hoa Hujin, tapi akhirnya ia manghela napas, katanya: “Nak aku tahu apa maksudmu sebenarnya, tapi akut tidak hak memaksa kau untuk mengadakannya cukup asal aku tahu adanya orang itu, pasti aku akan berusaha menemukan dia.”

“Tidak! Bu, Harap kau percaya kepadaku, aku pernah bersumpah kepada Cianpwe itu, aku tidak boleh ingkar janji, tapi aku bisa berjanji kepada kau akan menyelidiki peristiwa itu sampai terang duduk perkaranya”

“Bagaimana rencanamu? ”

“Aku akan menghadap Cianpwe itu sekali lagi, akan kutanyakan padanya apakah pernah terjadi peristiwa itu? ”

“Kalau benar? ”

“Akan kuminta dia keluar membuat penelesaian dengan kau!”

“Bila sampai bergebruk, pihak mana yang kau bantu? ” “Pihak manapun tiada yang kubantu!”

“Bila kau melihat aku bukan tandinganya, kaupun tidak sudi membantu? ”

“Benar!” sahut Koan San gwat mendelu “Bu, kau menuntut balas bagi suamimu, aku terhitung apa?” Gwat hoa Hujin menarik napas, katanya : “Tindakanmu memang betul, aku tidak bisa mohon terlalu benyak kepadamu!”

Berkerut muka Koan San gwat, katanya dengan suara rendah berat: “Bu! Kalau kau terbunuh aku akan menuntut balas bagi kau hanya dalam keadaan demikian baru aku punya alasan untuk turun tangan.”

Pek Thi hun menggebrak meja, serunya: “Bocah bagus! Budi dan dendam berbeda tegas, benar benar sepak terjang seorang laki laki sejati, sahabatku akan meram dialam baka.”

Mendengar orang menyinggung ayahnya almarhum, Koan San gwat tak tahu bagaimana perasaan hatinya, sebelum jelas akan asal usulnya sendiri tidak timbul perasaan apa apa, kini terasa kesunyian mencekam sanubarinya Jip Hoat melangkah masuk sambil membawa sebuah keranjang bersusun, dari dalam keranjang makanan ia keluarkan tujuh delapan macam masakan dijajar diatas meja, serta katanya lirih kepada Gwat hoa Hujin “Sebentar Kongcu akan tiba”

“Siapa sruh kau memberitahu dia!” damprat Pek Thi hun, “Bintang kecil itu membuat orang mual dan muntah muntah belaka!”

Gwat hoa Hujin mengerut alis, omelnya “Jip Hoat, kau memang banyak tingkah, apa kau tidak tahu bila Tho ong tidak cocok dengan dia!”

“Hwi kak yang memberitaku kepadanya, hamba tak berhasil mencegahnya!”

“Hujin! Lekas suruh orang merintangi bocah itu kemari, kalau tidak Lohu akan pergi !”

Gwat hoa Hujin mengerut kening, katanya “Tho ong !

Pandanglah muka Sin gwat, bersabarlah sementara waktu!”

Belum Pek Thi hun menjawab, dari luar pintu sudah kumandang suara dingin : “Bu! Biarkan saja tua Bungkuk itu pergi!” seiring suaranya, diambang pintu berkelebat masuk seorang pemuda yang mengenakan jubah berbulu, pinggang menyoren pedang, sikapnya angkuh dan sombong sekali.

Koan San gwat tahu, bocah ini adiknya yang bernama Lau Yu hu, maka dia mengawasinya penuh perhatian, usianya lebih muda, berparas cakap ganteng alisnya panjang lentik, membusung dada bertingkah takabur.

“Yu hu!” segera Gwat hoa Hujin membentak, “ Tidak tahu aturan terhadap tamu!”

Lau Yu hu menjengek dingin: “Selamanya Khong ham kiong tidak menerima tamu liar!”

“Binatang kecil!” damprat Pek Thi hun “Kau bicara dengan siapa? ”

Lau Yu hu melotot, sahutnya dingin : “Sudah tentu terhadap kau Bungkuk tua!”

Keruan Pek Thi hun. berjingkrak marah, seperti kebakaran jenggot, teriakanya beringas “Binatang, kupandang kau sebagai bocah ingusan, kalau tidak sekali pukul biar hancur lebur!”

“Bungkuk tua!” ejek Lau Yu hu tertawa terkekeh kekeh, jangan tidak tahu malu di Khong han kiong jangan mengagulkan diri sebagai Cianpwe segala!”

Melihat putranya terlalu kurang ajar Gwat hoa Hujin marah serunya menggebrak meja “Yu hu! masih ada ibumu dalam matamu? ”

Sikap Lau Yu bu makin pongah, matanya melirik kearah Koan San gwat, katanya : “Bu! Kau punya seorang putra lagi, masakah peduli sama putramu ini ?”

Gwat hoa Hujin tertegun diam.

Lau Ya hu mendapat angin, jengeknya “Dia ini putramu yang tersayang lihatlah betapa gagah tampangnya, Bu!

Penyakit rindumu sekian tahun sudah terobati …” Saking marah Gwat hoa Hujin gemetar dan berkeringat dingin, sepatah katapun tidak mampu diucapkan lagi.

Mendadak Pek Thi hun bergelak tertawa serunya: “Hujin!

Lau Ih yu punya putra macam ini, suatu hal yang patut dibanggakan juga !”

“Tutup mulutmu!” hardik Lau Yu bu, “Jangan kau menyinggung nama ayahku, ayah ku mati lantaran kalian …”

“Binatang kecil!” damprat Pek Thi hun “Kau mengoceh apa…?”

“Jangan kau kira aku tidak tahu, aku tahu lebih jelas dari kalian!” Mendadak Gwat hoa Hujin melonjak berdiri, tangannya menuding Lau Yu hu dampratnya dengan suara gemetar, “Kau paham apa? katakan coba kau katakan!”

Lau Yu hu menyeringai dingin, ujarnya: “Bu, urusan menyangkut dirimu masa kau tidak Paham, kalau akU yang membeber borokmu, Kurang enak rasanya, lebih baik menutup borok sendiri saja supaya …”

Mendadak Gwat hoa Hujin menyemburkan darah segar, orangnyapun meloso duduk kehabisan tenaga lekas Jip Hoat memayangnya tapi didorong pergi.

“Baik …” katanya dengan suara lirih dan pedih, “Yu hu! Diwaktu ayah mu meninggal kau baru berusia empat tahun, dengan jerih payah aku mengasuh kau sampai besar, tak nyana beginilah imbalan sikapmu yang kurang ajar …”

Lau Yu hu berdiri diam sambil menyeringai dingin.

Koan San gwat tidak tahan lagi, hardik nya dengan keras: “Bedebah! Anak durhaka. Hayo berlutut!”

Lau Yu hu melirik mata, jengekanya dingin. “Jangan berkaok kaok terhadapku, walau kau lebih besar dari aku, dilahirkan satu ibu lagi, tapi aku tidak punya kakak semacam dirimu.” “Siapa sudi menjadi abangmu!” damprat Koan San gwat gusar.

“Baik sekali, lalu berdasar apa kau suruh akan berlutut!” “Akan kuajarkan kepadamu bagaimana menjadi manusia

yang tahu aturan, supaya kau tahu menghormati ibumu!” demikian damprat Koan San gwat marah.

Lau Yu hu tertawa sambil menuding Gwat hoa Hujin, katanya “Dia ini ibumu, tapi bukan ibuku, karena kau hanya dari hubungan cinta murni yang serong, sedangkan aku … Hahaha … aku terpaksa harus lahir setelah dia mengingkari suaminya …”

Pek Thi hun tidak kuasa mengekang amarahnya lagi, sambil menggebrek meja, ia melompat bangun, lekas Lau Yu hu merogoh secarik kain sutra dari kantong bajunya terus dibuang ketanah, serunya “Pek tho cu!”

“Inilah surat berdarah peninggalan ayahku, secara diam diam ia serahkan kepada Hwi kak, waktu aku berusia lima belas tahun, baru diserahkan kepadaku, setelah kalian melihat surat berdarah itu, tentu paham sebab musabab tingkah lakuku hari ini!”

Koan San gwat melengong, ia membungkuk hendak menjemput kain sutra itu, lekas Lau Yu hu mencabut pedang seraya berteriak “Nanti dulu!” Sinar pedang berkelebat dihadapan Koan San gwat, mendesakanya mundur selangkah.

Kata Lau Yu hu kemudian sambil menarik pedang: “Setelah persoalan kami diselesaikan belum tarlambat kau membacanya!”

“Ada persoalan apa diantara kita? ” tanya Koan San gwat heran.

“Meski kita belum pernah ketemu selama ini, tapi pertempuran hari ini sudah diatur oleh kodrat, sejak aku tahu adanya orang macam kau ini, aku selalu menunggu datangnya hari ini!”

“Apakah dalam surat peninggalan ayahmu ada menyuruh kau bertanding melawan aku? ”

“Tidak! Bukan saja ayahku tidak menyuruh aku mengajak kau bertanding, malah dia menganjurkan aku mencari kau, merubah permusuhan menjadi persaudaraan, beliau suruh aku anggap kau sebagai saudara kandung sendiri …”

“O,” Koan San gwat melengak heran. Lau Yu hu menyeringai dingin, katanya.

“Aku menantang kau karena alasan pribadiku, selama hidupku aku hanya berkeinginan mencari dua orang untuk bertanding, beruntung kedua orang ini ternyata gabung menjadi satu, keduanya terpusat pada dirimu seorang …”

Penjelasan ini makin membingungkan Koan San gwat, segera ia melolos Pek hong kiam serunya “Berkelahi ya berkelahi! Dua orang atau satu orang apa segala …”

Lau Yu hu mendengus “Soal ini harus dibicarakan dulu biar jelas, kedua orang yang kumaksud adalah putra Ban hin gwat yang di lahirkan ibuku, karena orang yang belum pernah dilihatnya itu.. sehingga diriku tiada kedudukan dalam relung hati ibuku …”

Kebetulan Gwat hoa Hujin siuman, mendengar kata kata putranya segera ia berteriak: “Yu hu! Kau membual apa, beberapa tahun ini, sikapku masih kurang baik terhadap kau? ”

“Baik atau tidak persoalan ini,” demikian jengek Lua Yu hu, “Beberapa tahun ini kecuali Ban Sin gwat dan putra yang baru hari ini kau temukan, pernah kau memikirkan orang lain? ” Gwat hoa Hujin tercengeng. Lau Yu hu tertawa dingin, berkata kepada Koan San gwat “Orang kedua yang hendak aku cari Koan San gwat, sungguh kebetulan kaulah orangnya.”

“Kenapa? Aku membuat kesalahan kepadamu.” Terbayang rasa kebencian pada tawa sinis Lau Yu hu,

katanya bengis : “Meski kita baru bertemu hari ini, namun namamu tidak asing lagi bagiku, boleh dikata setiap hari aku mendengar namamu empat lima kali dari mulut Ceng Ceng. Meski aku mengorek hatiku dihadapannya dia tidak pernah melupakan Koan toakonya, pernah aku bersumpah pada diri ku sendiri, asal aku ketemu Koan San gwat aku akan bertempur …”

Baru sekarang Koan San gwat paham duduk persoalannya, Tay Su berjerih payah mengganti namanya menjadi Bing Jan li kenapa Jinhg Tho bertiga minta dirinya jangan membicarakan dan jangan membocorkan asal usuluya yang sebenarnya, ternyata semua itu hanya untuk menghindari pertikaian.

Koan San gwat menghela napas, ujarnya: “Lau Yu hu, aku tidak keberatan menempur kau, tapi tidak karena dua alasan yang kau kemukakan tadi. Aku tidak ingin merebut kedudukan direlung hati ibu, lebih tidak sudi mengadu jiwa hanya demi seorang perempuan …”

Lau Yu bu merasa terpukul, serunya berkaok kaok: “Demi alasan apa …”

Koan San gwat berkata dengan kereng “Karena kau putra Lau Ih yu, maka kutempur kau, tapi hari ini aku menempurmu untuk menghajar adat kepada kau sebagai putra yang durhaka kepada ibunya….”

Sikapnya yang kereng penuh wibawa membuat Lau Yu hu jeri, namun kilas lain sikapnya kembali congkak, teriakanya sambil mengayun pedang “Peduli apa alasanmu, yang terang kalau bukan kau biar aku yang mampus! Marilah .” menerjang terus menusuk. Koan San gwat menangkis serunya keras “Kau salah, hari ini kau berhasrat membunuh aku, aku tidak akan membunuh kau. Dulu pedang bajik ayahku mangalah kepada ayahmu, hari ini aku tidak akan membuatmu cidera.”

Amarah Lau Yu hu berkobar, tiba tiba pedangnya terayun membacok, teriakanya keras “Kentut jangan pura pura bajik, kalau bapakmu orang baik, tidak pantas dia merebut istri orang …”

Koan San gwat merah mendengar ocehannya, sekali lagi dia menangkis dengan pedang, kini mulai dia balas menyerang dengan ilmu pedangnya, pertempuran berlangsung dengan seru.

Permainan ilmu pedang Lau Yu hu amat aneh, kekuatan pergelangan tangannya amat besar. Biasanya Koan San gwat membanggakan tenaganya yang besar, namun ia merasa berat menghadapi rangsakan lawan yang bertubi tubi terpaksa ia keluarkan Tay lo kiam sek untuk melawan.

Tay lo kiam hoat diciptakan khusus untuk menghadapi Siu lo kiam hoat, tapi untuk melawan ilmu pedang lain juga mempunyai wibawa yang besar, Kas kun sip ting. San gak eng si, dua jurus pertahanan sekokoh gunung dengan mudah menghalau seluruh rangsakan dahsyat lawan. Akhirnya terdengar ia membentak laksana geledek, tangannya terayun melancarkan pek jon koan ji, Pek Hong kiam memancarkan cahaya cemerlang seluas satu tumbak sekitar badannya, Lau Yu hu terbendung didalam tabir cahaya terang itu.

Agakanya Lau Yu hu tidak menyangka serangan lawan begitu dahsyat dan ganas pula sejenak ia terpaku, sesaat ia bingung bagaimana harus melawan. Pada saat gawat itu terdengar jeritan kuat r Gwat hoa Hujin, sebetulnya Koan San gwat tidak berniat melukai Lau Yu hu, maka disaat sinar pedangnya mengenai badan Lau Yu hu, segera ia hentikan permainannya serta membentak, dengan suara tendah: “Lemparkan pedangmu? ” Mendadak Lau Yu hu tertawa dingin, pedang panjang berwarna merah gelap di tangannya itu menyandal keatas mengeluarkan gentakan tenaga yang maha dahsyat, Pek hong kiam Koan San gwat dihantamnya jatuh.

Berhasil melucuti senjata lawan, pedang Lau Yu hu berputar lalu menukik turun menusuk balik. Keruan kejut Koan San wat bukan kepalang, lekas berusaha menarik Pek hong kiam untuk membela diri, namun pedangnya tidak bisa bergeming seperti tersedot kekuatan yang maha besar, tanpa mengenal kasihan pedang Lau Yu hu menusuk tiba, terpaksa Koan San gwat melepaskan senjata dan memiringkan tubuh berkelit.

“Rebahlah kau!” bentak Lau Yu hu. Pedangnya berputar satu lingkaran, terbitlah cahaya merah berlapis lapis laksana sebuah jala yang terkembang lebar menungkup ke seluruh badan Koan San gwat.

Koan San gwat bertangan kosong, dengan sepasang kepalan sudah tentu tidak mampu melawan, apalagi ia tahu pedang ditangan Lau Yu hu adalah pedang pusaka, betapa tajam pedang sakti itu. meski hawa pelindung badan betapapun sakti dan tinggi, takkan mungkin dapat melawan ketajaman pedang pusaka itu, terpaksa ia memejamkan mata menghela napas menunggu ajal.. ..

Disaat yang amat genting tulah, dari sebelah samping melesat sesosok bayangan menerjang ketengah gelanggang sembari membawa taburan cahaya hijau, maka terdengarlah suara gemerinting yang keras, cahaya hijau itu tepat menangkis pedang Lau Yu hu, sekaligus menyelamatkan jiwa Koan San gwat.

Koan San gwat membuka mata kembali dengan rasa kejut dan heran seperti baru sadar dari mimpi, ternyata yang menubruk datang menolong dirinya bukan lain adalah Tam Kiam, salah satu dari tujuh pembantu Khong ham kiong.

Tampak rona Lau Yu hu menampilkan amarah yang tidak tertahankan, dampratnya bengis: “Tam Kiam! Sungguh besar nyalimu!”

Tanpa bersuara Tam Kiam tarikan pedang di tangannya memancarkan cahaya hijau menubruk kearah Lau Yu hu. Lau Yu hu terkekeh kekeh dingin, cahaya merah gelap dari pancaran sinar pedangnya mendadak muncul menjadi satu, lekas menerjang kedalam lingkaran cahaya hijau. Maka terjadilah cahaya merah terpecah berhamburan, dibarengi darah muncrat kemana mana.

Badan Tam Kiam tertebas kutung menjadi dua sebatas pinggang, gerak pedang Lu Yu hu belum berhenti sampai disitu saja, pedang ditangannya yang menyala merah gelap itu mengejar datang menabas leher Koan San gwat.

Maka terdengarlah bentakan dan jerit kaget yang riuh didalam balairung itu. Serempak Jing Tho, Sui Ki, Tay Su dan lain lain bergerak, ingin menolong Kon San gwat.

Lau Yu hu tidak peduli, beruntun pedangnya berpencar keberbagai arah, sekaligus perang empat orang penyerbu ini dengan empat kali tabasan pedang. Diantara penyerang, Gwat hoa Hujin bergerak paling cepat.

Pek Thi hun ikut merangsak pula.

Luncuran Gwat hoa Hujin tiba lebih dulu, sebelah lengannya dikebutkan, lengan bajunya menggulung kedepan mengubat batang pedang Lau Yu hu terus ditarik ke samping. Sementara itu Pek Thi hun juga menubruk tiba, kontan kepalanya menjotos dua kali ditubuh Lau Yu hu, sehingga munduy sempoyongan dua tindak.

Lau Yu hu menyeringai dingin, desisnya “Bagus! Kalian barmusuhan denganku!”

“Yu hu!” suara Gwai hoa Hujin gemetar, “Kau ……”

Tanpa bicara Lau Yu hu putar tubuh terus melesat pergi lewat pintu. Pek Thi hun mengajar tiba dibelakag nya terus melompat tinggi pula hinggap menghadang jalan larinya, begitu kakinya menginjak tanah sementara kepalan tangannya menggenjot pula, kekuatan angin pukulannya menahan daya luncuran tubuh Lau Yu hu, seketika ia berdiri dan tidak mampu maju lebih lanjut.

Lau Yu hu mundur dua langkah, matanya memancarkan dingin dan sadis, seringai nya dingin “Setan bungkuk! Apa keinginanmu? ”

“Akan kubunuh binatang cilik macam ini!” desis Pek Thi hun.

“Betul! Mumpung pihak kalian lebih banyak lekaslah bunuh aku saja, kelak kalian akan mendapat bagian yang setimpal.”

“Kentut!” damprat Pek Thi hun, “Untuk menjegal binatang macam tampangmu segampang membalikan telapak tangan, masa perlu dibantu orang.”

“Setan bungkuk!” teriak Lau Yu hu sambil bergelak

tertawa. “Jangan takabur, kalau kau punya kemampuan, tidak bakal kau terjungkal ditangan ayahku. Meski aku belum setaraf dengan ayahku almarhum, tapi bila satu lawan satu, masakan aku gentar menghadapi si bungkuk tua macam tampangmu.”

Bukan kepalang gusar Pek Thi hun “Wut” kepalannya menjotos kedepan, angin pukulannya deras menerpa kedepan, lekas Lau Yu hu berkisar minggir menghindari tenaga pokok berbarengan kedua tangannya terpencar dari atas dan bawah menggencet ketengah.

Seketika Pek Thi hun melongo dan tersurut mundur, serunya : “Binatang! Kepandaian yang kau pelajari darimana ini? ”

Lau Yu hu menyeringai dingin tanpa meladeni ocehan orang, kedua telapak tangannya menari seperti kupu kupu, kejap saja beruntun sudah melancarkan puluhan pukulan tangan yang lihay dan aneh.

Serentetan pukulan aneh yang lihay. Ini bukan hanya perobahan yang sulit diselami malah kecepatan gerak amat mengejutkan.

Beruntun Pek Thi hun harus berkelit dan menghindar, syukur dapat melayani rangsakan lawan dengan selamat, suatu kesempatan ia melancarkan pula sebuah pukulan, kelihatannya pukulan ini bisa saja tidak mengandung kekuatan, namun disaat ia melancarkan pula pukulan ini mimik mukanya sangat prihatin seperti urat syarafnya menjadi tegang.

Namun Lu Yu hu menyambutnya dengan senyum dikulum, jengekanya “Tua bangka! Keluarkan seluruh kepandaian simpanan mu” mulut bicara badan tidak menunjukan reaksi.

Diwaktu pukulan Pek Thi hun terpaut dua kaki didepan badannya, baru kekuatan tenaganya dikerahkan, maka terdengar sebuah ledakan dahsyat seperti gempa bumi. Seiring dengan suara keras ini, Lau Yu hu roboh celentang datar ditanah, hingga kekuatan pukulan dahsyat laksana gugur gunung itu menyerempet hidungnya, sisa kekuatan yang menyerang kedepan menerjang tembok pagar hingga jebol, balairung yang besar itu sampai hureg.

Cepat sekali kedua tangan Lau Yu hu menekan tanah, badannya mencelat kedepan menubruk lawan, kedua kaki terpentang, seperti gunting layakanya menggunting kedua kaki Pek Thi hun.

Agaknya Pek Thi hun tidak menduga lawan kecil ini bisa menggunakan jurus aneh dan lucu ini, sesaat ia kehilangan akal, kedua kakinya dililit dan keras, ia tidak mampu berdiri tegak pula, badannya roboh kesamping. Beruntung ia terguling guling lima enam tumbak jauhnya baru mengendalikan badannya. Sigap sekali Lau Yu hu sudah melejit badan berdiri tegak lebih dulu melihat Pek Thi hun mampu merangkak bangun tanpa kurang suatu apa, air mukanya menampilkan rasa heran dan terkejut, tapi wajahnya masih mengulum senyum ejek dan menghina, katanya: “Bungkuk tua! Ilmu kekerasan badanmu ternyata sudah sempurna, kau mampu menerima serangan Kim Kiau Cian tui (guntingan kaki naga laut mas )

…”

Pek Thi hun mengeretak gigi, jenggot dan rambut kepalanya berdiri dan berkembang seluruh tulang badanya berbunyi keretekan, jelas ia memusatkan tenaga mengerahkan lwekang yang lihay.

Gwat hoa Hujin menjadi terbelak, teriaknya: “Tho ong! pandanglah mukaku, ampunilah jiwanya…”

“Dia mampu menedang Lohu berarti tahu akan dosa dosanya, tapi sengaja melakukannya. Banyak yang harus dibanggakan atas dirinya!” begitulah jengek Pek Thi hun saking gusar.

“Tho ong!” Gwat hoa Hujin semakin gelisah, “betapapun usianya masih muda, apa kau tidak pandang mukaku …”

“Jadi ditendang tanpa diberi kesempatam membalas …” “Yu hu!” segera Gwat hoa Hujin berseru kepada putranya,

“Lekas minta maaf kepada paman, mintalah pengampunannya ketahuilah Poh giok kun kang paman Pek sudah mencapai sekali jotos meremukan batu gunung.. Bagaimana juga kau bukan tandingannya!” nada perkataannya mengandung permohonan yang amat dikasihani, disamping itu secara langsung ia beberkan rahasia ilmu pukulan Pek Thi hun kepada putranya.

Tak nyana sikap Lau Yu hu lebih pongah ujarnya “Putra Lau Ih yu hanya tahu mengadu jiwa, pantang minta maaf kepada lawan!” “Hujin!” teriak Thi hun, “Kau sudah dengar sendiri, jangan kau salahkan Lohu bertangan gapah!” lenyap suaranya, kepalannya sudah menjotos kedepan. Gaya pukulan kali isi kelihatan lebih mantap dan tenang, pukulan nya tidak membawa kesiur angin atau suara.

Lahirnya La Yu hu bersikap takabur, sebenarnya ia menginsafi bahwa pukulan Pek Tai hun amat lihay, belum lagi serangan musuh melayang tiba ia sudah bersiap lebih dulu, kedua tangan menyentuh ujung kakinya, ia biarkan punggung sendiri terbuka dan kena pukulan dahsyat lawan.

Gaya perlawanan yang lucu dan aneh ini membuat hadirin melongo heran, sementara kepalan Pek Thi hun sudah telak mengenai punggungnya, namun ia merasa pukulannya menjotos diatas tumpukan bulu bulu burung yang empuk sedikitpun tidak menimbulkan daya perlawanan apa apa.

Sementara badan yang tertekuk membundar seperti bola itu menggelundung jauh diatas tanah terdorong oleh kekuatan angin pukulan yang dahsyat itu.

“Bagus sekali anak muda!” teriak Pek Thi hun, “Hebat juga kepandaianmu, mari rasakan lagi dua pukulanku ini!”

Belum lagi pukulannya dilancarkan, tahu tahu Lan Yu hu melenting keudara setinggi satu tumbak, samentara cahaya merah membara ditangannya terus menungkrup keatas batok Pek Thi hun.

Ternyata disaat ia menggelundung di tanah itu, sekaligus ia menjemput pedang panjangnya yang tadi digulung jatuh oleh lengan baju Gwat hoa Hujin, ia insaf bahwa kekuatan pukulan Pek Thi hun bukan olah olah hebatnya, maka kali ini ia merangsak lebih dulu Pek Thi hun tertawa panjang, nadanya dingin dan menusuk kuping, secepat kilat pukulannya dilancarkan lagi. Ditengah udara Lau Yu hu angkat pedang dan mengayunnya, membundar, maksudnya hendak menuntun kekuatan tenaga pukulan lawan kesamping serta memunahkannya. Siapa duga pukulan Pek Thi hun kali ini hanya gertak sambal belaka, sehingga ayunan pedangnya tidak membawa saluran tenaga yang berarti. Baru saja Liu Yu hu menginsafi kesalahannya, merubah gerak pedang jelas tidak keburu lagi, terpaksa ia kertak gigi pedangnya terayun kedepan sementara tubuhnya meluncur turun menusuk Pek Thi hun.

Kesempatan yang bagus ini, Pek Thi hun menghardik laksana geledek : “Menggelindinglah!” pukulan tanganpun menyongsong kedepan.

Begitu keras dan hebat angin pukulannya, sehingga badan Lua Yu hu yang terapung dan meluncur turun itu diterjang membal balik ketengah udara pula, tapi dia sendiripun menghadapi elmaut.

Tusukan pedang Lau Yu hu mengadu jiwa, belum lagi menusuk tiba pedangnya memancarkan kabut merah sepanjang lima kaki, kabut merah ternyata menembus kekuatan angin pukulannya dan menyapu keras melanda badannya.

Untung Pek Thi hun siaga dan bermata jeli, begitu pukulan dilancarkan, sebat sekali kakinya menyurut mundur, kabut merah itu hanya menyapu disebelah bawah dagunya memapas jenggot panjangnya.

Sementara Lau Yu hu kena telak oleh jotosan, untung ia berada di tengah udara daya pukulan yang mengenai badannya sudah banyak berkurang kekuatan, namun demikian badannya terbang seperti layang layang putus benang melampaui pagar tembok, sedetik sebelum badannya melewati tembok, ia masih sempat mengayun pedangnya kedepan. Kekuatan babat pedang yang ampuh itu membuat tembok tebal dan kokoh itu gugur berlubang besar, dari lubang besar inilah tubuhnya jatuh keluar.

Agakanya Pek Thi hun belum puas dengan menggerung seperti harimau kelaparan ia memburu keluar, Koan San gwat dan Gwat hoa Hujin menyusul dibelakangnya. Tampak Liu Yu hu merayap bangun dengan susah payah dari runtuhan tembok, ujung mulutnya melelehkan darah segar.

“Binatang cilik!” hardik Pek Thi hun, “Kau tidak boleh diampuni!” kedua kepalan tangan siap dihantamkan tiba tiba sesosok bayangan meledat datang menghadang didepannya.

Melihat penghadang ini adalah Koan San gwat, Pek Thi hun semakin berjingkrak gusar “Anak muda! Apa apaan kelakuanmu ini? ”

“Paman!” ujar Koan San gwat kalem. “ Harap lepaskan saja dia!”

“Apa? ” terjak Pek Thi hun, “Kaupun ingin melepas dia? ” “Ya! Ayahku meninggal dengan tekanan batin karena kalah

dibawah pedang Lau Ih yu, kalau kau bunuh dia, ayahku tidak

bisa meram dialam baka!”

Pek Thi hun menjadi heran dan tidak mengerti, serunya : “Bagaimana maksud ucapanmu ini? ”

Berkatalah Koan San gwat dengan lantang dan prihatin: “Kekalahan yang memalukan dibawah pedang harus ditebus dengan pedang pula. Lau Ih yu sudah mati, untung ada keturunannya ini, kalau aku tidak dapat mengalahkan dia dengan ilmu pedang! Maka aku menjadi anak yang durhaka terhadap mendiang ayahku!”

Baru sekarang Pek Thi hun mengerti keruan maksud perkataannya, namun matanya terbelalak dan bertanya “Kau mampu? ”

“Waktu kami saling gebrak tadi kaupun sudah menyaksikan, bukan karena ilmu pedangku tidak mampu menandinginya, cuma pedangnya itu amat aneh! Bila gebrak lagi untuk kelanjutannya, aku akan jauh lebih hati hati dan waspada …” Terpaksa Pek Thi hun menurunkan kepalannya, ujarnya menghela napas “Baiklah! Kuterima permohonan! Tapi bocah keparat ini amat culas dan berbahaya, kalau kau di rubuhkan oleh dia, jangan kau salahkan aku!”

Koan San gwat tertawa enteng, ujarnya: “Siauit tahu! Bagaimana juga tidak akan menyalahkan kau orang tua.”

Lau Yu hu menenteng pedang menunggu kesempatan untuk bertarung dengan Koan San gwat.

Tak nyana Koan San gwat hanya tersenyum saja, katanya: “Kau sudah terluka, meski aku dapat mengalahkan kau tiada artinya lagi, lebih baik kutunggu setelah luka lukamu sembuh barulah diadakan pertandingan yang benar benar adil!”

Lau Yu hu tidak bersuara lagi, putar tubuh terus tinggal pergi, baru melangkah lima enam langkah badannya tampak terhuyung sempoyongan hampir roboh. Gwat hoa Hujin hendak memburu maju memayangnya, tapi ia acungkan pedang mengancam katanya: “Jangan sentuh aku!”

Gwat hoa Hujin melengak, ujarnya, “Yu hu … kau … ibumu sendiri sudah kau tidak pandang lagi….”

Air mata tak terbendung lagi membasahi kedua pipi Gwat hoa Hujin, saking haru ia sampai tidak kuasa mengeluarkan suara.

Lau Ya hu kendalikan darah yang menerjang naik kerongga dada, teriakanya terbatuk batuk “Hwi Kak! Kemari payang akan turun gunung? ”

Hwi kak bermuram durja, sambil mengiakan ia memburu maju cepat ia raih lengan nya, katanya “Kongcu! Kau hendak turun gunung?”

Lau Yu ha mendengus, sahutnya “Sudah tentu harus turun gunung bisakah aku menetap ditempat ini pula? ” “Yu hu!”tenak Gwat hoa Hujin, “Kenapa kau bicara macam itu?”

“Tempat ini memang sarang rahasia Ban Sin gwat bersama kau, kenapa aku orang she Lau menetap disini? ”

Saking marah Gwat hoa Hujin membanting kaki dan menangis sesenggukan. Sementara Hwi Kak sudah memayang Lau Yu hu turun gunung tanpa menoleh pula Setelah mereka pergi jauh, tak tahan Gwat hoa Hujin ingin memburu dan memanggil nya pulang, cepat Jing Tho membujuk dengan lemah lembut “Hujin! Biarlah dia pergi! Dia pergi bukan lantaran tega meninggalkan engkau!”

“Apa maksudmu? ” “Karena nona Thio!”

Tergetar badan Gwat hoa Hujin, ia ber paling kearah Koan San gwat, katanya menggeleng pelan “Ai Nak! Kenapa kau justru Koan San gwat.”

Koan San gwat paham, tapi ia tak dapat berbuat apa apa.

Pek Thi hun kelihatan senang: “Hujin.” katanya, “Putra yang selalu kau kenang sudah ketemu, kehilangan seorang putra mendapat ganti seorang putra, terhadap kau ganti mengganti ini tiada ruginya. Malah putramu yang ini jauh lebih baik dari putramu yang satu itu …”

“Tho ong!” ujar Gwat hoa Hujin menyeka air mata, “Kau tidak paham, dalam sanubari seorang ibu, putra putri mana bisa tukar menukar seperti barang layakanya …”

“Jadi kau tidak mau mengakui putramu yang ini? ” “Tidak! Tho ong! Kau salah mengerti!” Sahut Gwat hoa

Hujin cepat, “Terhadap putraku yang kembali setelah berpisah

sekian lamanya betapa senang hatiku, tapi akupun amat berat kehilangan Yu hu, sebab diapun anak kandungku sendiri.” Pek Thi hun melongo sekian lamanya, akhirnya ia menarik napas sambil meraba jenggotnya yang putus “Memang Lohu tidak tahu, untung aku ini sebatang kara, tidak punya tanggungan keluarga jadi tidak perlu memeras keringat memikirkan segala tetek bengek itu, marilah kita masuk saja kita baca surat peninggalan Lau Ih yu, pesan apa yang dia tulis kepada putranya!”

Gwat hon Hujin masih menjublek mendelong ke bawah gunung, air mata masih bercucuran dari kelopak matanya. Hwi Kak dan Lau Yu hu sudah tidak kelihatan bayangan nya, dengan rawan dan hambar ia masih menjublek sekian lamanya akhirnya tangannya tekan pundak Koan San gwat, pelan pelan ia ajak putranya kembali ke balairung.

Kain sutra yang dilempar Lau Yu hu masih menggeletak di lantai, warna kain sutra itu sudah luntur dan menguning, jelas sudah sekian tahun tersimpan tak pernah disentuh tangan manusia.

Pandangan semua orang tertuju kearah kain sutra itu, semua menunduk tanpa ada seorangpun yang bergerak untuk menjemput nya.

Pek Thi hun yang berangasan kurang sabar untuk lekas mengetahui isi surat itu, terpaksa ia suruh Koan San gwat, katanya : “Hiantit! Coba kau saja yang membacanya.”

Dengan rawan Gwat hoa Hujin birkata getir: “Aku tidak suka melihatnya, kau bacakan saja.” Jing Tho, Sui Ki berlima segera bergerak hendak meninggalkan balairung itu. Lekas Gwat hoa menambahkan: “Kejadian dulu kalian kalian sudah tahu, tak usah kalian menyingkir, kalian boleh mendengar!”

Sui Ki berlima menghentikan langkah dan mengurungkan niatnya keluar. Dari sinilah dimengerti betapa besar keinginan mereka untuk mengetahui pesan yang tertera didalam kain sutra peninggalan Lau Ih yu itu. Pelan pelan Koan San gwat membeber kain sutra itu lalu dibaca lantang perlahan lahan “Disampaikan kepada anak Yu untuk diketahui… Aku sudah akan mati! Sebab musabab kematianku sulit diselami orang lain, sebenar nya hatiku tidak bisa tentram karena marah, dan sedih dan penasaran!… Kalau membicarakan pengalaman dulu, menambah perih dan membangkitkan amarah belaka! Untuk ini anakku boleh bertanya kepada Hwi kak, dia tahu jelas semua seluk beluk peristiwa ini, sedemikian setianya kepadaku, tentu dia bisa menjelaskan segala rahasia apapun yang kan ketahui… kini biar kukisahkan pengalaman pahit getirku,. Kebencianku meliputi tiga persoalan : Pertama Ban Sin gwat merupakan sasaran yang terbesar, Pek Thi hun sebagai pembantu perbuatan tidak senonoh yang tidak dapat diampuni pula, namun sebagai orang luar tidak perlu kau menuntut terlalu banyak kepadanya, cukup asal dapat membunuhnya saja..

Yang paling sulit dipercaya adalah ibu kandungmu sendiri, dikala aku cidera berbaring diatas ranjang, dia malah terkenang pada orang lain, hal ini merambah perih dan gusarku yang tidak tertahan lagi sehingga sulit penyakitku diobati, akan tetapi betapa besar cintaku kepadanya, tidak pantas bila kau berbuat durhaka membunuh ibu kandung mu sendiri, maka cukup asal kau menista dan memakinya saja sebagai pembalas dendam penasaranku… Ibumu melahirkan seorang putra dari Han Sin gwat, usianya lebih tua dua tahun dari kau, ibumu amat merindukan dan prihatin pada putra besarnya itu. Boleh setelah kau membunuh Ban Sin gwat, menyeretnya kehadiran ibumu, mengorek jantungnya dan mencacah hancur jasatnya. Pembalasan ini.. Kukira cukup setimpal untuk membalas sakit hati dan melampiaskan rasa penasaran selama ini… Dari luar lauran aku pernah memperoleh sejilid buku ilmu pedang, sejak kembali belum sempat kupelajari secara mendalam, kini sudah kubungkus secara rahasia dan kuserahkan kepada Hwi Kak untuk disimpannya nanti setelah kau berusia lima belasan, kau sudah cukup dewasa untuk memulai mempelajari ilmu pelajaran itu, carilah satu tempat yang sunyi untuk mempelajari ilmu peninggalanku ini secara sembunyi sembunyi, bekal ini kelak untuk menuntut balas bagi dendam sakit hatiku ini, sepuluh tahun mendatang kau sudah cukup matang untuk memulai usaha ini. Sebelum latihanmu berhasil jangan kau sembarangan bertindak, karena Ban dan Pek kedua musuh amat tinggi dan lihay ilmu silatnya jangan sampai kau menjadi konyol… Dan lagi orang yang melukai aku ilmu pedangnya teramat lihay, kelak bila ilmu silatmu sudah sempurna kau latih boleh kau cari dia dan balaskan sakit hati tusukan pedang pada diriku ini. Jelasnya orang itu adalah seorang nenek tua yang berparas amat buruk menakutkan, boleh kau gunakan sim yang sio kang dari ce sia kau untuk melawannya …”

Setelah Koan San gwat membaca surat itu, semua orang berdiam diri dan tenggelam dalam pikiran masing masing.

Akhirnya terdengar Gwat hoa Hujin, berkata pilu : “Tak nyana sedemikian dalam dan besar rasa benci Lau Ih yu terhadapku, sebelum ajal ia sudah mengatur semua ini …”

Pek Thi hun juga menimbrung dengan prihatin : “Tak heran bocah keparat itu berani melawan dua jurus pukulan Bok giok kun yang kulancarkan tadi, ternyata secara diam diam Lau Ih yu ada meninggalkan warisan pelajaran silat kepadanya.

Tahun ini ia baru berusia dua puluh empat, kurang satu tahun lagi baru latihannya sempurna, tatkala itu mungkin Lohu sendiri tidak akan unggulkan melawannya.”

Gwat hoa Hujin masih berdiri terlongo ujarnya: “Sejak kecil dia selalu berada disampingku, setelah ia berusia belasan tahun, mendadak ia minta menepati sebuah villa tersendiri di puncak Ce kwi hong sana, semula kukira bocah jika sudah menanjak dewasa, tidak mau lagi bergaul terlalu rapat dengan ibu kandungnya, siapa tahu secara diam diam ia membelakangi aku melatih silat secara rahasia …” Suasana kembali hening lelap, tiada seoranpun yang buka suara tak lama kemudian Pek Thi hun, pula jauh membuka kesunyian: “Ai , urusan sudah keterlanjur, bicarapun tidak berguna, yang jelas Lau Yu hu tidak akan kembali kehari depanmu!”

“Ya,” ujar Gwat hoa Hujin dengan berlinang air mata, “Kalau tiada kejadian Thio Ceng Ceng. mungkin tidak begitu besar tekad nya unruk meninggalkan aku.”

“Siapakah Thio Ceng Ceng itu!” tanya Pek Thi hun, “Kejadian apa yang telah terjadi?”

“Thio Ceng Ceng adalah anak gadis yang cantik rupawan, ilmu pengobatannya yang sangat tinggi dan lihay, suatu ketika secara tidak sengaja ia menerobos naik keatas gunung bersama seorang nenek tua she Peng, waktu itu kebetulan penyakitku sedang kumat, kedatangannya amat kebetulan dan berhasil menyembuhkan menyakitku. Akan tetapi kecantikan serta sikapnya yang lembut sekaligus telah menambat sanubari Lau Yu hu terhadap nya, begitu besar rasa cintanya sehingga seperti orang sinting saja, bicara terus terang akupun amat suka dan sayang padanya maka kuminta dia tetap tinggal disini, semula aku hendak membujukanya supaya sudi menikah dengan Yu hu, namun genduk ayu itu ternyata sudah punya pujaan hatinya sendiri …”

“Kini paham aku,” ujar Pek Thi hun, “Pujaan hatinya itu adalah Koan San gwat, martabat dan karakter keponakanku ini jauh dari bocah keparat itu, mana bisa gadis ayu itu mengalihkan cinranya kepada pemuda ini!”

“Tepat dugaanmu! Berapa baik sikap Yu hu kepada Thio Ceng Ceng, namun setiap buka mulut tutup mulut Thio Ceng Ceng selalu tidak melupakan Koan toakonya, saking kewalahan akhirnya aku suruh nenek she Peng itu turun gunung mencari Koan San gwat …” Mendadak Pek Thi bun menjengek dingin “Tujuanmu mencari Koan San gwat adalah hendak membunuhnya bukan? ”

Gwat hoa Hujin bungkam tidak mampu menjawab Pek Thi hun cepat mendesak: “Kenapa kau tidak mau bicara? ”

Gwat hoa Hujin menggigit bibir, katanya “Ya, semula memang aku punya maksud demikian! Soalnya aku tidak tega melihat Yu hu menderita batin! Seorang ibu demi kebahagiaan putranya dia dapat saja melakukan apa saja tanpa mengingat segala akibatnya …”

“Bu! segera Koan San gwat berseru dengan “Mungkin tidak pantas aku mengeritik kau, namun perbuatanmu ini jelas salah dan amat tercela, persoalan cinta asmara sekali kali pantang dipaksakan, terutama menggunakan cara yang tidak senonoh dan memalukan …”

Gwat hoa Hujin amat menyesal, ujarnya “Nak mana aku tahu bahwa Koan San gwat adalah kau!”

“Peduli kau tahu atas tidak yang jelas parbuatan ini amat hina dina, seumpama kau berhasil membunuh aku dan merangkap jodoh mereka, akhirnyapun akan terjadi suatu tragedi yang menyedihkan, kau sendiri sudah mengecap penderitaan yang menjadi kenyataan hidupmu kenapa pula harus melakukan kesalahan tumbal yang memalukan ini …”

Gwat hoa Hujin tertunduk bungkam, sementara Koan San gwat, masih uring uringan, tanyanya “Dimana Geng Ceng sekarang? ”

“Berada digedung kaca, lekas kau kesana menengoknya!” sahut Gwat hoa Hujin.

“Dimana letak gedung kaca? ”

“Hamba suka membawa Kongcu kesana! “lekas Tay Su maju menyediakan diri. Begitulah dengan Tay Su sebagai penunjuk jalan Koan San gwat berdua menyelusuri sebuah jalan pegunungan kecil yang berliku liku kira kira beberapa li jauhnya, tak lama kemudian dari kejauhan tampuk didepan sana diatas puncak sebuah gunung mencorong reflek sinar putih kemilau yang menutupi sebuah bangunan berloteng kecil, setelah tiba dibawah puncak, lekas Tay Su menjura dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh terus mengundurkan diri.

Terpaksa Koan San gwat melanjutkan naik keatas seorang diri, baru saja ia tiba disamping gunung, dari kejauhan lantas dia tarik suara dan berteriak lantang:” Ceng ceng Adik Ceng! Aku telah datang! Koan toakomu sudah datang.”

Tapi keadaan bangunan loteng kecil itu tetap sunyi lengang tiada terdengar suara apapun juga, keruan Koan san gwat menjadi gelisah, dengan langkah lebar cepat ia memburu kearah bangunan loteng tanpa sempat mengamati keadaan sekelilingnya, langsung menentang masuk kedalam.

Bawah loteng sunyi senyap tiada tampak bayangan seorangpun, lekas ia berlari naik keatas, kain sutra lembut semampai, sinar lilin masih menyala terang, segala perabot masih teratur rapi, namun tiada kelihatan bayangan atau jejak seorangpun. Keruan hatinya semakin gugup dan gelisah. “Kemana dan dimana Ceng ceng berada ?” demikian ia bertanya. Sementara kakinya berlari kian kemari sambil menggeladah kesegala tempat, akhirnya disebuah kamar berloteng sebelah belakang ditemukan dua anak perempuan berusia lima belasan tahun rebah ditanah. Seorang diantaranya batok kepalanya pecah terbacok senjata tajam, darah berceceran kemana mana, jiwanya sudah lama melayang. Sementara seorang yang lain cuma rebah tak berkutik kena tertutuk jalan darahnya tanpa kena cidera apa apa.

Mencelos hari Koan San gwat, serta merta ia merasakan firasat jelek, lekas ia jinjin kesamping perempuan kecil yang belum ajal itu serta memeriksa keadaannya, akhirnya diketahui bahwa Hiat tou Ciang tai hiat dibelakang kepalanya kena ditabok keras keras oleh seseorang sehingga ia jatuh semaput.

Untuk mengetahui jejak dan kejadian apa yang dialami Thio Ceng ceng, terpaksa ia harus menekan gejolak perasaan hatinya, dengan sabar ia membuka pakaian perempuan kecil, itu kedua tangannya mulai mengurut dan menekan memberi pertolongan sekedarnya untuk membuatnya siuman. Tak lama kemudian terdengar mulut si dara kecil ini mengeluh lalu pelan membuka mata dan siuman, begitu ia melihat jelas seketika ia menjerit ngeri dan ketakutan.

Dengan lembut segera Koan San gwat berkata “Adik cilik!

Jangan takut! Lekas beri tahu padaku, kemana nona Ceng ceng pergi? ”

Dara kecil itu membelalakkan matanya. Sikapnya masih takut dan ngeri.

Sudah tentu Koan San gwat semakin gagap, teriakanya keras “Lekas katakan! Dimana nona Thio? Apa yang telah terjadi disini? … Aku bernama Koan San gwat.”

Begitu mendengar namanya dara cilik ini lantas melompat bangun dan menunjuk kearah jendela, teriakanya”,”Jadi kau adalah Koan toako … Koan siangkong yang sering dikatakan Siaucia…”

Lekas Koan San gwat manggut manggut, tanyanya cepat: “Dimana nona Thio? ”

“Siocia diusir pergi oleh bibi Hwi Kak, dia lari dari sana, aku bernama Siau hong, masih seorang lagi bernama Siao lik, dia dibunuh oleh bibi Hwi Kak…”

Dada Koan San gwat seperti dipalu godam, tak sempat mendengar penuturan lebih lanjut, sebab sekali badannya melayang menerobos keluar jendela terus berlari kencang kedepan, sementara Siau hong memburu ke jendela dan berteriak:”Koan siankong, kau salah jalan, menuju sebelah kiri!”

Sejak Koan San gwat menghentikan langkahnya, sesaat jadi ragu ragu dan kurang percaya karena sekitarnya cuma sebuah jalan yang terbentang dearah depannya saja, letak bangunan berkaca ini dibangun dipuncak gunung yang kedua sampingnya merupakan jurang terjal yang amat curam.

Terdegar Siu hong berseru pula dengan gugup: “Sedikitpun tidak akan salah, dia diusir siocia dan melompat turun kesana bersama.”

Soalnya sebelah kiri adalah jurang, menurut tafsiran Koan San gwat tingginya ada tiga empat puluh tumbak, maka dia tambah kurang percaya. Namun Si hong berteriak meyakinkan lagi “Koan siangkong, aku tidak akan ngipusi kau, Hwi Kak menenteng pedang dengan sikap kasar dan bengis mengancam nona Thio, semula nona Thio melawan, lekas Siau lik maju hendak memisah, namun dia kena dibunuh oleh bacokan pedang Hwi Kak, sementara aku sendiri pun lantas ditutuknya …”

“Nanti dulu!” Koan San gwat sadar “Kala toh kau kena tertutuk, darimana kau bisa tahu bahwa mereka lompat tutun dari sini? ”

“Meski aku tertutuk jalan darahku kuping ku masih bisa mendengar dan matapun bisa melihat, kulihat nona Thio lompat dari jendela dikejar Hwi kak, malah kudengar pula suara mengancam sambil mengudak.. ‘Kau terjun kejurangpun akan kukejar kau!’ saking gugup, aku sampai jatuh pingsan!”

Melihat sikap orang tidak seperti orang berbohong, namun Koan San gwat bertanya lebih tegas “Tempat apakah dibawah jurang sana? ” “Disebelah bawah sana terdapat sebidang hutan, diluar hutan terdapat sebuah aliran sungai yang bisa tembus keluar gunung …”

Tanpa bertanya lebih lanjut Koan San gwat melompat kedepan dan terjun kebawah jurang. Lompat turun dari tempat dan terjun kebawah jurang, Lompat turun dari tempat yang sedemikian tinggi baru pertama kali ia lakukan, namun terpikir olehnya kalau Thio Ceng ceng berdua bisa lompat turun kebawah kenapa aku sendiri tidak mampu?

Tepat kakinya dapat menginjak sebuah batu gunung yang menonjol keluar semetara sebelah bawah adalah jurang yang amat dalam tak terduga sebelum ia bisa berdiri tegak tiba tiba batu gunung tempat ia berpijak bergeming dan runtuh seluruhnya, kontan ia ikut terjungkal kebawah, tanpa kuasa ia terjun masuk kedalam aliran arus sungai yang deras dan tergulang gulung kebawah gunung, Koan San gwat tidak terlihat menongol pula keluar dari permukaan air.

Siau hong yang berdiri dipinggir jurang melihat kejadian ini tiba tiba ditambah seorang lain, bukan lain adalah Hwi kak, mengawasi Koan San gwat, yang tertelan gelombang sungai, ia tepuk tepuk pundak Siau hong pujinya: “Siau hong! Bagus sekali kau menjalankan tugas! Sekarang lekas kita tinggalkan tempat ini!”

Dari bayangan besar dipinggir jurang sebelah sana mereka angkat bersama Thio Ceng ceng yang tidak sadarkan diri, Hwi Kak melolos ikat pinggangnya, terus mengangkat Thio Ceng ceng diatas punggungnya tak lama kemudian mereka sudah berlari lari kearah semula Koan San gwat tadi hendak menuju, sekejap bayangan mereka sudah tidak kelihatan lagi.

Semua hadirin di Khong ham kiong sama mengunjuk rasa prihatin dan membeku, hal ini terjadi kira kira setengah hari setelah Koan San gwat terjungkal kedalam jurang. Dengan marah marah Pek Thi hun segera berteriak “Hujin! Sampai detik ini kau masih berusaha mengeloni bocah keparat itu, menurut dugaanku pasti putra bangsatmu sekongkol dengan Hwi Kak yang melakukan perbuatan tercela itu …”

-oo0dw0oo-