-->

Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 18

 
Jilid 18

Terdengarlah gwat hoa Hujin berkata tertawa : “Bagus sekali, mungkin kau memang serba bisa, maka berani takabur, Khong ham kiong memiliki tujuh kepandaian biar kuperlihatkan satu diantaranya saja. Jing Tho! Keluarkan harpa dan siapkan pertandingan!”

Jing Tho mengiakan bergegas kepojok mengeluarkan sebuah harpa, setelah membuka kain sutra, dikeluarkannya sebuah alat musik yaitu harpa model kuno diletakan dibawah panggung batu, terus mengundurkan diri.

Lemah gemulai pelan pelan Gwat hoa Hujin bangkit lalu melangkah turun kedekat harpa, katanya tertawa: “Untuk bertanding main harpa tidak perlu susah susah dengarkan saja petikan harpaku sampai selesai, bila tidak terpengaruh sedikitpun, baru aku mau percaya kau sebagai pemetik harpa nomor satu tanpa tandingan diseluruh jagat …”

“Urusan sudah terlanjur, tidak mungkin dirinya mundur, terpaksa Koan San gwat harus menghadapi kenyataan. Sejak kecil ia sudah mendapat bimbingan Tokko Bing, tentang musik bakatnya memang cukup berbobot, apalagi menghadapi seorang ahli dalam bidang ini, sekali jiwa lena bisa celaka, seorang ahli lwekang dapat menyalurkan tenaga dalam permainan alat musiknya, melukai orang tanpa membawa bekas …

Tapi Koan San gwat tidak kelihatan takut. Pertama dia percaya bahwa Gwat hoa Hujin tiada niat mencabut jiwanya, kedua nada musik dapat melukai orang karena membingungkan alam pikiran orang itu lalu menguasai sanubari dan semua gerak geriknya. Asal dapat mendengar seperti tidak mendengar, tentu ia tidak akan terpengaruh oleh segala suara yang mengelabui semangatnya.

Maka segera ia duduk bersimpuh, kedua telapak tangan diletakkan di atas kedua lutut nya seperti hwesio yang semedi, matanya di picingkan lalu katanya: “Silahkan Hujin mulai!”

Gwat hoa Hujin tersenyum melihat gaya dudukanya itu, katanya perlahan “Kelihatanya kau mamang ahli dalam bidang ini, awas yaa!”

Seiring dengan kata katanya, jari jarinya yang runcing halus sudah mulai memetik senar harpa, begitu suara senar berbunyi, badan Koan San gwat seperti tersentak perlahan diam diam ia terkejut, terasa irama harpa ini luar biasa, seolah olah ujung jarum yang runcing menusuk telinga meski tidak terasa sakit, namun babak selanjutnya sulit dikatakan. Gwat hoa Hujin memperhatikan reaksi nya , iapun sangat heran, karena selentikan senarnya yang pertama, jarang ada orang yang kuat bertahan, sebalikanya anak muda dihadapannya ini hanya mukanya saja yang mengkeret sedikit, badan sedikitpun tidak bergeming.

Sesaat ia menjublek, tiba tiba hatinya mangkel, seolah olah wibawa dan keagungannya tergempur, beruntun jari jarinya segera bergerak, irama musik yang mengalun panjang dan tinggi…

Semula Koan San gwat terpengaruh oleh gelombang musik itu, namun belakangan ia makin tenang dan akhirnya seperti tidak mendengar sama sekali, mengulum senyum manis malah.

Bukan saja keadaan ini membuat Gwat hoa Hujin melengak heran dan kaget, Jing Tho yang menonton disebelah sampingpun tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Diantara tujuh bawahan Gwat hoa Hujin hanya dia seorang yang bahwa irama yang dipetik Gwat hoa Hujin adalah gelombang musik pembunuhan yang tiada taranya diadunia ini, meski beliau belum mengerahkan seluruh kemampuannya, tapi taraf yang diperlihatkan ini sudah bukan olah olah hebatnya.

Namun anak muda ini bukan saja tidak terluka, malah seolah olah sedang menikmati musik yang mengasikan pendengaran, tersenyum senyum lagi. Hanya satu penjelasannya bahwa anak muda ini memang benar benar seorang ahli dalam bidang musik, seorang yang berbakat tinggi dan orang kosen pula dalam pedang.

Hilang senyum tawa yang terkumpul di wjah Gwat hoa Hujin, rona wajahnya amat serius dan kelam, jarinya bergerak semakin cepat seperti menari saja diatas senar. Tiba tiba gema suara rendah berat dan kuat berkumandang semakin keras dan bertenaga. Diantara tujuh pembantu itu, kecuali Jing Tho, semua sudah menutup kuping, tidak berani mendengar lebih lanjut.

Koan San gwat duduk tenang seperti tidak terjadi apa apa, ketenangan dan senyuman nya makin mengobarkan marah Gwat hoa Hujin, kulit mukanya yang putih halus makin merah padam dan matanya memancarkan napsu membunuh yang terkobar, kelima jari nya tertekuk bersama, ia sudah siap bergaya untuk menjentik senar senar diatas harpa di depannya.

Saking kejut tak tahan Jing Tho menjerit kuatir: “Hujin jangan !”

Bentak Gwat hoa Hujin dengan amarah yang meluap luap: “Memangnya aku harus mengaku kalah terhadap bocah sekecil ini? ”

Sudah tentu Jing Tho tidak berani menjawab, Gwat hoa Hujin mendengus, jari jari dilanjutkan menjentik senar.

Agakanya dia sudah berkeputusan untuk gugur bersama, tindakan yang nekad.

Wajah Jing Tho pucat pasi, ia menunggu gelombang suara yang mengandung pembunuhan itu berkumandang … tapi tunggu punya tunggu sekian lamanya, masih belum terdengar suara yang dinanti nantikan, keruan ia jadi heran cepat ia angkat kepala memandang kearah Gwat hoa Hujin, tampak orang duduk menjublek tak bergerak.

Ternyata disaat ia siap menjentik senar yang menentukan, senar dihadapannya tiba tiba putus sendiri, putusnyapun aneh, putus tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Terlongong sekian lamanya, mendadak berubah air muka Gwat hoa Hujin, lekas tangan nya menuding keluar pintu, tujuh pembantu nya paham apa maksud tudingan itu, cepat sekali mereka melejit terbang keluar.

Baru saja mereka tiba diambang pintu, didengarnya suara lantang yang keras berkata tertawa: “Aku ini tamu yang tidak diundang kenapa mencapaikan kalian menyambut kedatanganku!” Tujuh pembantu itu terkejut, serta merta mereka berhenti, segera Jip Hoat beteriak “Si Bungkuk yang tiba!”

Baru suaranya berbunyi, diambang pintu muncul seorang tua bungkuk yang berperawakan besar, selebar mukanya merah menyala, tertawa terkekeh kekeh, sekali ulur tangan ia jewer pipi Jip Hoat, katanya: “Budak tidak punya aturan, apakah kau sesuai memanggil aku Si Bunguk segala?”

Meski sakit Jip Hoat cuma mengerutkan alis, namun ia tidak berani meronta.

Gwat hoa Hujin menarik muka, katanya dingin “Tho ong berlakulah yang genah, jangan kau bersikap seperti mereka!”

Orang tua bungkuk bergelak tawa sambil melepas serunya: “Bagus! Bagus Hujin ada perintah, mana berani tidak dengar!”

Sambil mengusap pipinya segera Jip Hoat minggir kesamping, matanya mendelik.

Terdengar Gwat hoa Hujin berkata dingin, “Dari mana hasrat Tho ong untuk datang kemari? ”

“Kudengar Hujin sakit, Losiu meluruk jauh ke ci ta bok ho diperbatasan Tibet, untuk meminta obat sumber air sakti …”

“Terima kasih akan jerih payahmu, penyakitku sudah sembuh lama!”

“Dari bawah puncak Losiu mendengar Hujin memetik harpa dengan lwekang yang hebat, jelas memang sudah memperoleh obat mustajap, agakanya jerih payah Losiu ini sia sia …”

Gwat hoa Hujin menarik muka, katanya “Jerih payahmu mengambil sumber air sakti kuterima dengan tulus hati, cuma Tho ong …”

“Hujin menyalahkan Losiu kenapa memutus kesenangan Hujin …” Gwat hoa mendengus sambil bersungut gusar.

Orang tua bungkuk berseri tawa, katanya “ Kuharap Hujin memberi maaf, sudah lama Losiu mendengar Hujin ahli pemetik harpa, sungguh beruntung dapat menikmati buaian musik yang mengisikan sehingga hati terasa gatal, tak tertahan lantas bersenandung untuk mengiringi …”

Melotot mata Gwat hoa Hujin lalu berpaling kearah Koan San gwat katanya gegetun: “Aku sudah menduga seorang membuat gara gara, kalau tidak mana bisa bocah ini kuat melawan petikan …”

Ucapan ini menyentak, sadarkan ketujuh pembantunya itu, demikian pula Koan Sin gwat paham sekarang.

Ternyata disaat Gwat hoa Hujin memetik tadi, tusukan irama yang tajam seperti ujung jarum sungguh membuatnya menderita bukan main, namun sampai babak terakhir lapat lapat mendengar sebuah senandung yang amar lirih dan jelas terngiang dipinggir kupingnya, nada senandung ini enteng nyaman dan lembut, sehingga petikan harpa yang keras menusuk itu berubah menjadi gelombang halus, sehingga perpaduan kedua suara ini begitu mengasikan, maka raut mukanya lantas menampilkan senyum dikulum. Waktu itu ia pun heran dan tidak tahu duduk perkara sebenarnya, kini setelah dikatakan oleh orang tua bungkuk ini, baru dia tahu bahwa dirinya mendapat bantuan yang berarti dari orang tua ini tak tahan segera ia dengan perasaan penuh terima kasih. Diam kiam ia merasa kagum dan takluk terhadap lwekang orang yang ampuh dan tinggi itu.

Berkatalah siorang tua bungkuk: “Dari irama harpa Hujin yang semula lembut itu, Lo siu merasakan napsu membunuh Hujin semakin besar, terpaksa Losiu memberanikan diri”

“Kau memberanikan diri menggerit putus senar harpaku!” demikian tukas Gwat hoa Hujin dingin. “Ya karena Hujin sudah marah besar dan hendak menggunakan Cun thian sin mo Losiu maklum tidak kuat menandingi gempuran hebat itu, terpaksa aku bertindak lebih dulu!”

“Tho ong terlalu sungkan, Cun thian im memang lihay , namun aku tahu belum mampuh membuat kau cidera….”

“Jangnlah terbawa nafsu Losiu tidak ingin membuat gara gara dengan Hujin, Cun thian im itu banyak menguras tenaga dan hawa murni, apalagi penyakit Hujin baru sembuh kenapa harus mengorbankan jiwa orang dengan sia sia!”

Semestinya Gwat hoa Hujin hendak mengumbar adatnya, tapi agakanya ia gentar terhadap orang tua bungkuk ini, maka akhirnya ia bersabar, katanya “Ya, memang ada. Tentang urusan yang paling ingin diketahui Hujin, Losiu sudah meadapat sedikit sumber penyelidikan.”

Berubah hebat wajah Gwat hoa Hujin, cepat ia ulapkan tangan menyuruh tujuh pembantunya keluar. Lekas Jing Tho menghampiri Koan San gwat serta hendak menariknya ke luar. Tapi sibungkuk berseru mencegah, seru nya “Biar dia tetap di sini!”

Koan San gwat sudah berkesan baik terhadap orang tua bungkuk ini, diam diam dia sudah maklum bahwa sibungkuk ini tentu bukan orang sembarangan orang.

Dari pertandingan pedang melawan Tam Kiam tadi Koan San gwat menginsafi bahwa penghuni Khong ham kiong rata rata berkepandaian tinggi, terutama Gwat hoa Hujin, entah berapa lipat lebih tinggi kepandaiannya. Untunglah sibungkuk telah membantunya secara diam diam melawan petikan harpanya, sehingga ia kuat bertahan. Adalah lebih hebat pula sibungkuk ini, dari kejahuan ia kuat menggetarkan putus senar harpa Gwat hoa Hujin, dari sini dapatlah dinilai bahwa ilmu kepandaiinnya benar benar sulit diukur, Tidaklah heran kalau ketujuh pembantu Khong ham kiong menaruh hormat dan jerih terhadapnya.

Namun yang betul betul mengetuk sanubari Koan San gwat adalah kata kata terakhir si bungkuk ini. Semula ia hanya mengatakan urusan penting yang amat ingin diketahui dan bersangkut paut dengan Gwat hoa Hujin. Sementara Gwat hoa Hujin segera menyuruh para pembantunya keluar, dari sini dapatlah dabayangkan bahwa urusan ini amat rahasia, namun sibungkuk justru menyuruh dirinya tetap tinggal …

Gwat hoa Hujin juga tidak mengerti, ini hanya melorot dan bertanya. “Kenapa dia harus tetap tinggal disini? ”

Si bungkuk tertawa, katanya “Sudah tentu Losiu punya alasan, kerena persoalan yang Bu jin ketahui, bocah ini bisa memberi keterangan, malah jauh lebih jelas dari apa yang Losiu ketahui!”

“Bohong!” sentak Gwat hao Hujin tidak percaya, “Baru saja dia naik ke …”

“Kenapa Hujin tidak dengar dulu penjelasanku baru memberi keputusan.”

“Baik! Katakanlah!”

Si bungkuk mengelus jenggot kambingnya, lalu berkata pelan pelan: “Pertama Losiu akan menyampaikan sebuah berita duka kepada Hujin. Bahwa orang yang ingin ketahui jejaknya sudah meninggal di Khong ay san dua puluh tahun yang lalu …”

Berkerut kerut wajah Gwat hoa Hujin, sedapat mungkin ia menahan perasaan hatinya, akhirnya tercetus pertanyaan gemetar: “Apakah benar?”

Si bungkuk manggut manggut, dari dalam bajunya ia mengeluarkan kutungan gelang jade, katanya sambil mengacung kedepam “Hal ini pasti tidak salah, untuk membuktikannya Losiu pernah berkunjung ketempat makamnya kukeduk kuburan dan kubongkar peti mati nya, tulang belulang sudah tiada.”

Gwat hoa Hujin menerima kutungan gelang itu, lalu di elus elus dan diamati dengn seksama. kelopak matanya lambat laun mengembang air mata, katanya dengan hambar “Aku tahu dia tidak dapat hidup lama, waktu meniggalkan aku, luka lukanya cukup berat”

Rona wajah Koan San gwat tiba tiba berubah, maju selangkah ia berkata. “Hujin! kutungan gelang ditanganmu bolehkah aku melihatnya? ”

“Minggir kau!” bentak Gwat hoa Hujin gusar, “Jangan kau cerewet!”

Si bungkuk tertawa, katanya: “Anak muda! Urusan ini tiada bagianmu, tunggulah sebentar ada urasan lain yang perlu penjelasan mu !”

Koan San gwat membandel, katanya: “Tidak! Aku harus memeriksanya sebab …”

Gwat hoa Hujm sudah penarik muka dan hampir mengumbar nafsunya, si bungkuk mengerutkan alis, katanya: “Anak muda! kenapa kau harus memeriksanya? ”

“Karena kuingat dulu akupun memilik benda yang hampir sama dengan itu!”

Gwat hoa Hujin dan sibungkuk tertegun Gwat hoa bertanya “Dimana? ”

“Entahlah, waktu aku berusia sembilan, guruku menyimpannya, selanjutnya tidak pernah dikembalikan kepadaku. Sekarang mungkin masih ada pada guruku …”

“Siapa gurumu? Dimana dia sekarang? ” desak sibungkuk lebih lanjut.

“Guruku adalah Bing tho ling cu Tokko Bing, sekarang … jejakanya menghilang” Hampir ia menjelaskan jejak Tokko Bing, untung segera mengubah kata katanya, sebab ia tahu bahwa gurunya tidak sudi diganggu oleh sembarangan orang.

Si bungkuk menatap mukanya dengan tajam, sementara sikap Gwat hoa Hujin menjadi lemah lembut, segera ia angsurkan potongan gelang serta berkata “Coba kau lihat! Apakah mirip dengan milikmu itu? ”

Koan San gwat mengulur tangan menerima, gelang jade itu terlalu lama terpendam dalam tanah, sehingga kelihatan kotor dan guram, setelah digosok mengkilap lapat lapat masih kelihatan lukisan irisan berlingkar lingkar. Setelah memeriksa sekian lamanya, ia kembalikan kepada Gwat hoa Hujin serta berkata “Bentukanya hampir sama, tapi agak berbeda dengan milikku itu …”

Wajah Gwat hoa Hujin kelihatan tegang teriakanya: “Apanya yang berbeda? Coba terangkan? ”

Koan San gwat tidak tahu kenapa orang bersikap begitu aneh, setelah berpikir ia menjelaskan : “Aku sudah lupa, tapi gelang jadeku itu terukir pemandangan gunung, diujung atas nya terdapat bulan sabit! Tidak sama ukiran melingkar ini …”

Mulut Gwat hoa menjerit tertahan, tubuhnya tergeliat dan gemetar, Koan San gwat jadi heran, tanyanya : “Hujin, kenapa kau? ”

Gwat hoa berusaha menenangkan perasaannya, katanya pelan pelan sambil menggeleng: “Tidak apa apa! Lanjutkan penjelasanmu, dari mana kau peroleh gelang jade itu? ”

“Aku kurang terang, kuingat sejak kecil sudah tergantung dileherku, waktu kecil dulu aku tidak paham apa maksud ukiran kembang disebelah bawahnya sampai usiaku genap sembilan tahun, mendadak, teringat olehku namaku adalah Koan San gwat, bukan mustahil ada hubungannya dengan gambar ukiran itu. Waktu kutanyakan hal ini kepada Suhu menjadi marah besar dan memaki aku lalu merampas gelang jade itu, sejak itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadaku!” “Bukankah kau bernama Bing Jian li, kenapa ganti nama Koan San gwat segala!” tanya Gwat hoa Hujin heran.

Kon San gwat merandek sebentar, lalu sahutnya “Tay Su mengganti namaku sementara waktu!”

Gwat hoa Hujin tidak pedulikau penjelasannya, tanyanya lebih lanjut: “Adakah gurumu menjawab pertanyaanmu? ”

“Tidak! Dia hanya suruh aku jangan berpikir sembarangan!” “Apakah kau memang she Koan? Bagaimana sal usulmu

…”

“Entah! Sejak kecil aku ikut Suhu, sedikitpun tidak tahu

menahu tentang asal usulku, nama Koan San gwat adalah pemberian Suhu pula!”

“Kenapa Suhumu memberi nama itu kepada kau?”

“Mana aku tahu!” sahut Koan San gwat geleng kepala. “Kenapa kau tidak tahu apa apa.” hardik Gwat hoa Hujin

uring uringan.

“Memang aku tidak tahu. Suhu mengajarkan ilmu kepadaku, tapi tidak mau memberitahu asal usulku, cuma dikatakan bahwa aku anak yatim piatu, sejak kecil sudah diasuh dan dibesarkan beliau.”

“Berapa umurmu tahun ini? ” “Tahun ini dua puluh enam!”

Gwat hoa Hujin menekuk jari menghitung hitung, air mata menetes deras, katanya perlahan : “Tidak salah! Duapuluh enam tahun. Aku matipun dia masih membenci aku!”

Sibungkuk berseru sambil menepuk belakang lehernya : “Sungguh kebetulan! Aku hampir tidak percaya, didunia ini ada kejadian sedemikian kebetulan …” “Tho ong,” ujar Gwat hoa Hujin angkat kepala, “Soal itu harus ditanyakan biar jelas.”

“Tidak usah tanya! Aku berani tanggung tidak salah lagi!” “Tidak! Aku merasa kita hati hati. Perasaanku amat risau

dan gundah, dan lagi …”

Sibungkuk manggut manggut, katanya “Losiu paham, silahkan Hujin menyingkir dulu, setelah Losiu mencari tahu dan memang cocok dengan kabar yang kuperoleh diluaran, baru akan kusampaikan kepada Hujin mengenai kejadian dulu apakah perlu juga kukataan? ”

“Kalau tidak salah!” demikian kata Gwat hoa Hujin setelah berpikir sebentar, “Silahkan Tho ong menyampaikannya, meski sekarang aku tidak punya beban dan kekuatiran apa namun bila urusan lama disinggung pula betapapun rada …”

“Hal itu Losiu tahu, Hujin silahkan!”

Sekilas Gwat hoa pandang Koan San gwat lagi, lalu pelan pelan masuk kedalam.

Koan San gwat keheranan dibuatnya, setelah Gwat hoa Hujin tidak kelihatan, berkatalah sibungkuk dengan kereng. “Anak muda! Duduklah kau! Losiu akan bercerita sebuah kisah lama kepadamu. Cerita ini mungkin ada hubungannya dengan kau, kau harus mendengar dengan cermat!”

Koan San gwat tidak tahu permainan apa yang hendak dilakukan orang, namun melihat sikap kerengnya itu, terpaksa ia duduk di lantai, siap mendengarkan ceritanya. Sibungkuk menengadah sebentar lalu meaarik napas panjang dan mulai bercerita “Kisah ini harus diamulai sejak tiga puluh tahun yang lalu, waktu itu Losiu masih muda, baru lima puluhan…”

Mendengar orang berusia lima puluh masih di katakan muda, hampir saja Koan San gwat tertawa. Lekas si bungkuk melototkan mata, katanya: “Jangan tertawa! Meski sudah berusia lima puluh namun rambut Losiu masih hitam pekat, kelihatan tidak lebih tua dari kau, kenapa tidak terhitung muda

… Ah kenapa aku ngelantur, baiklah kumulai saja.. Tiga puluh tahun yang lalu, Lohu berkenalan dengan seorang sahabat, temanku itu jauh lebih hebat dari aku, ilmu sastra atau ilmu silat sama sama hebat melebihi orang lain. Usianyapun baru tiga puluhan begitu bertemu dengan Lohu lantas menjadi sahabat kental. Waktu itu Losiu punya dua musuh buyutan kedua musuh buyutan ini terdiri suami istri, meski usia mereka rada muda dari aku, namun kepandaian silatnya tidak lebih asor dari Losiu, sejak mula sampai yang terakhir Losiu sudah bertanding puluhan kali dengan mereka belum pernah sekalipun aku bisa mengalahkan mereka!”

Koan San gwat menahan geli, katanya “Cianpwe tidak kenal putus asa selalu mengajak mereka bertanding, keberanian itu sungguh harus dipuji!”

“Losiu seorang diri menghadapi mereka berdua, sudah tentu tidak akan terima.”

“Kenapa Caianpwe tidak mencari pembantu? ”

“Siapa bilang Losiu tidak punya pikiran demikian? Cuma dunia seluas ini, untuk mencari pembantu yang setingkat dengan Losiu, betapa sulitnya? ”

Dalam hal ini Koan San gwat percaya, selama tiga puluh tahun ini betapapun pesat kemajuan kepandaiannya tidak mungkin mencapai tingkatan yang lebih unggul dari kedua lawannya.

Melihat orang tidak menyela, sibungkuk segera meneruskan: “Lohu mengembara menjelajah dunia, akhirnya memperoleh seorang yang dapat kujadikan pembantu yang ampuh betapa girang hatiku tidak perlu kulukiskan, segera kubawa dia dan menantang mereka suami istri…”

Semakin ketarik Koan San gwat dibuatnya tanyanya “Bagaimana akhirnya? ” “Akhirnya pertandingan itu tidak jadi!” “Kenapa? ”

“Diwaktu kami meluruk kerumahnya, kebetulan suaminya tidak berada dirumah!”

“Semula Losiu hendak mengajakanya berduel satu lawan satu, tak kira temanku itu sekali bicara dengan perempuan itu satu sama lain ternyata cocok.”

“Kalau begitu cianpwe dirugikan, kalau mereka menjadi intim, bila suaminya kembali bukankah cianpwe bakal menghadapi mereka bertiga? ”

Ternyata si bungkuk menjadi marah, katanya uring uringan “Anak muda, kalau kau tidak ingin mendengar ceritaku, Losiu tidak akan melanjutkan.”

“Justru wanpwe amat ketarik, sehingga merasa kuatir bagi cianpwe!”

“Sudah tentu kawanku itu tidak akan bertolak belakang membantu musuh, kami bicara sambil menunggu suaminya kembali, baru akan bertanding satu lawan satu, maka Lohu berdua menunggu sampai satu bulan….”

“Apakah suaminya kembali? ”

“Kalau suaminya kembali, urusan tidak bakal berlarut dan gampang diselesaikan.”

“Apakah terjadi peristiwa lain? ”

“Kita menunggu satu bulan, suami perempuan itu tidak kembali, namun ia menerima sepucuk surat suaminya, karena mendadak kebentur urusan amat penting dia harus pergi ketempat yang jauh, kapan pulang belum dapat ditentukan. Sudah tentu kami tidak bisa menunggunya terus dirumahnya itu, terpaksa kami berpamitan, siapa tahu setelah mengalami pergaulan yang amat intim selama satu bulan ini, kawanku itu ternyata jatuh hati pada perempuan itu, berat untuk berpisah, waktu itu ia terpaksa ikut Losiu pergi, beberapa hari kemudian, ia kembali kerumah perempuan itu!”

Kali ini Koan San gwat tidak menyela bicara, ia mandengar dengan penuh perhatian, tak nyana si bungkuk juga berhenti bicara. Setelah tunggu punya tunggu, tak tahan Koan San gwat bertanya “Akhirnya bagaimana? ”

Si bungkuk menghela napas, ujarnya “Bagaimana keadaan mereka Losiu kurang jelas, karena secara kebetulan Losiu memperoleh sebuah i kip buku ilmu silat, aku getol berlatih dan menggembleng diri di Tay Ceng san, tempat kediamanku, tiga tahun lamanya aku memperdalam ilmuku baru sempurna, lalu aku meluruh kerumah suami istri itu, baru aku tahu apa yang terjadi selama tiga tahun ini …”

“Apa yang terjadi?

“Pergaulan kawanku dengan perempuan itu terlalu erat bebas, akhirnya mereka tidak bisa mengendalikan diri, perempuan hamil …”

“Suaminya tidak kembali selama itu? ”

“Tidak! Tapi mengirim surat pula, katanya tak lama lagi ia bakal pulang!”

“Wah urusan bakal berabe, bagaimana perempuan itu menyelesaikan persoalan ini? ”

“Memang mereka sedang kehabisan akal dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kebetulan aku tiba, mereka mohon bantuan ku untuk mengatasi kesulitan ini.”

“Cianpwe memberi saran apa kepada mereka? ”

“Losiu punya saran baik apa? Aku tanya kepada perempuan itu siapa sebenarnya yang dia cintai, kalau dia cintai kawanku itu, jangan sangsi lagi ikut kawanku dan minggat ketempat jauh, atau sebalikanya segera putuskan hubungan kalian, mumpung bocah itu belum lahir gugurkan saja habis perkara, tunggulah suamimu pulang dengan tentram!”

“Ya, memang hanya cara itu saja yang baik, bagaimana keputusan perempuan itu!”

“Ai, dalam dunia ini memang tiada yang abadi, tiada sesuatu yang sempurna! Waktu suaminya pulang dari luar lautan, tahu istrinya hilang sudah tentu tidak bepeluk tangan segera ia keluar mencari kemana mana, seluruh pelosok dunia telah diobrak abrikanya, kira kira setahun kemudian jerih payahnya tidak sia sia, waktu itu anak yang dilahirkan dari hubungan gelap itu sudah berusia lima bulan …”

Koan San gwat menjadi tegang, tanyanya: “Setelah ketemu bagaimana? ”

“Bagaimana lagi, sudah tentu terjadi perkelahian yang sengit, sayang waktu itu Losiu tidak hadir, sehingga tidak bisa nonton pertempuran yang benar benar hebat dan ramai!”

“Akhir pertempuran adu jiwa itu, siapa yang menang? ” “Ilmu silat kawanku amat tinggi, meski suaminya itu diluar

lautan mendapat pengalaman aneh, namun belum mampu mengalahkan dia, disaat elmaut mengancam, perempuan itu mendadak sadar akan hubungan kasih suami istri, ternyata ia turun tangan mengeroyok kawanku itu!”

“Hati seorang perempuan memang suka dijagai, sungguh luar biasa…”

“Ya, maka Losiu beruntung dikaruniai bentuk badan jele ini, selama hidupku aku tidak bakal dibikin susah oleh urusan cinta tetek bengek begitu …”

“Akhirnya bagaimana? ”

“Kawanku tidak menduga perempuan yang dicintainya bakal melawan dirinya, meski ia tidak sudi turun tangan didalam keadaan serba runyam begitu, akhirnya ia membawa orok yang belum satu tahun turun gunung dengan mendongkol …”

Melihat orang menghentikan ceritanya Koan San gwat jadi getol, tanyanya “Cerita ini habis sampai disitu saja? ”

“Sudah tentu belum berakhir, tapi kejadian selanjutnya Losiu sendiri juga kurang jelas, yang kutahu bahwa suami istri itu rujuk kembali, menetap ditempat ini, dua tahun kemudian mereka melahirkan lagi, beberapa tahun kemudian suaminya itu meninggal dunia sementara perempuan itu masih tetap tinggal disini, mengasuh dan membesarkan putranya, dengan bekal kepandaiannya, ia menerima beberapa pembantu pilihan, menetap di sini untuk menghabiakan waktu …”

“Aku tahu perempuan yang kau maksud adalah Gwat hoa Hujin, bagaimana jejak kawanmu? ”

“Dengan amarah yang meluap luap ia pergi, selanjutnya tidak terdengar kabar beritanya, Losiu pernah mencarinya kemana mana tapi seperti batu kecemplung dilautan, hingga beberapa waktu yang lalu, secara kebetulan karena suatu urusan Losiu lewat di Khong ay san, baru kudapat berita mengenai kawanku itu, ternyata setelah pergi, kawanku, menetap di tempat itu, tidak lama kemudian diapun meninggal, mereres diri, sementara putranya diserahkan kepada seorang pelajar dan dibawa pergi …”

“Orang macam apa pelajar itu?” tanya Koan San gwat tegang.

“Kejadian sudah terlalu lama, orang orang yang menetap disekitarnya sudah lupa, mereka hanya tahu bahwa pelajar itu, secara kebetulan lewat disana, namun berhubungan sangat kental dengan temanku itu, lima enam hari kemudian temanku itu meninggal, setelah pelajar itu mengurus penguburannya sampai selesai baru tinggal pergi membawa bocah itu, tanpa meninggalkan nama memberi tahu tempat tinggal…” Koan San gwat kecewa, katanya: “Apakah pelajar itu tidak menunjukkan sesuatu yang luar biasa pada dirinya!”

“Ada! Orang memberitahu kepadaku bahwa jari tangan kiri pelajar itu ada enam!”

“Benar! Itulah guruku!” teriak Koan San gwat.

“Jadi kaulah orok kecil yang dibawa oleh temanku itu!” sibungkuk berteriak.

KoanSan gwat amat haru, perasaannya bergolak, tak tahu bagaimana harus membuka mulut. Sesaat kemudian bara si bungkuk berkata “Begitu kudengar kau memiliki sebuah gelang jade, lantas kuduga kemungkinan ini gelang jade ini memang sepasang, yang satu terukir bulan, dan yang lain diukir kembang seruni, semua milik Gwat hoa Hujin, ukiran melingkar itu adalah nama mereka berdua, Gwat hoa Hujin bernama Se Ciu kiok, kawan ku itu … anu ayahmu bernama Bun Sin Gwat. Le Cia kiok bergelar Gwat hoa Hujin, nama untuk mengenang ayahmu …”

Koan San gwat terlongong sekian lama baru berkata sambil mengalirkan air mata: “Jadi seharusnya aku she Ban, kenapa guruku mengganti namaku menjadi Koan San gwat? ”

“Untuk itu kau harus bertanya langsung kepada gurumu.” “Tidak perlu ditanyakan lagi,” tiba tiba Gwat hoa Hujin

menerobos masuk sambil berlinang air mata. “Aku tahu, Sin gwat tentu benci kapadaku, diapan tidak suka putranya kelak bertemu dengan aku, maka nama anak nya sendiripun ia ganti, Koan San gwat (hubungan gunung dan bulan) jelas di ibaratkan bahwa asal usul bocah itu ada hubungannya dengan gunung dan rembulan, dia membawa potongan gelangku kedalam liang kubur … tentu ingin melupakan aku sama sekali

…”

Si bongkok tertawa ringan, katanya : “Hujin! Segalanya sudah jelas, kalian ibu beranak silahkan bicara baik baik! Losiu harus mengundurkan diri!” habis berkata ia goyang tubuh melesat terbang keluar.

Cepat Gwat hoa Hujin berseru: “Tho ong Terima kasih! Harap kau suka duduk dulu diruang sebelah, sebentar aku harus menjamu secawan arak pada kau.”

“Sudah tentu!” seru si bungkuk tua sambil tertawa lebar, “Kau suruh aku pergi, aku tidak akan pergi! Beruntung hari ini aku bertemu dengan putra Sin gwat akupun perlu berkumpul dengan dia!”

Setelah dia pergi, tinggal Gwat hoa Hujin dan Koan San gwat saling berhadapan, hati mereka dirasuk haru yang tidak tertahan lagi, mereka terbungkam sekian lamanya, tak tahu apa yang harus dibicarakan. Akhirnya Gwat hoa Hujin bersuara perlahan lahan “Nak! Sudikah kau memanggil aku ibu? ”

Dengan kebanjiran air mata lekas Gwat hao Hujin maju memeluknya erat erat, sambil mengelus rambutnya, ia berkata lemah lembut dan penuh kasih sayang: “Nak! Sungguh aku tidak kira bisa jumpa dengan kau, dua puluh lima tahun sudah, waktu kau pergi, kau baru berusia setengah tahun, tidak heran kita tidak saling kenal, mari biar kulihat, seperti siapa kau sebenarnya? ”

Sembari berkata dia angkat muka Koan San gwat dengan kedua tangannya, serta di amat amati dengan seksama, sesaat kemudian berkata pula kalem. “Matamu seperti ayah, demikian juga hidungmu, hanya alismu seperti aku bentuk mukamu kombinasi dari kami berdua. Aku sungguh bodoh, kenapa waktu bertemu tadi sedikitpun aku tidak teringat akan hal ini.. ai, waktu memang sudah terlalu lama, kesan ayahmu sudah makin pudar dalam benakku, adakalanya aku memejamkan mata, seolah olah kulihat dia berdiri dihadapanku, begitu aku membuka mata bayangan lantas hilang menghilang begitu saja, sehingga aku sulit mengingat bentuk mukanya lagi …” lalu dielus elus pula kepala Koan San gwat, katanya: “Nak! Asal usulmu sekarang sudah terang, tiba waktunya kau mengganti she dan nama!”

Entah kenapa tiba tiba rasa benci dalam benak Koan San gwat, mendadak ia meronta lepas dari pelukan ibunya, serunya : “Tidak kupikir nama itu adalah maksud ayah sendiri! Lebih baik kita tetap mematuhi kehendaknya saja!”

Gwat hoa Hujin melengak, lalu katanya menghela napas : “Begitu baik! Sampai ajal ayahmu masih membenci aku!

Apakah kaupun membenci aku?”

Koan San gwat tidak mampu menjawab selama dua puluh tahun belum pernah ia memikirkan asal usul dirinya, kini mendadak harus mengakui seorang ibu, dia masih bingung bagaimana perasaan hatinya sekarang.

Waktu Jin Tho bertujuh dipanggil masuk kedalam balairung, mereka terkejut dan heran akan sikap dan kelakuan Gwat hoa Hujin yang berdiri dekat dengan Koan San gwat mereka melihat sebelah tangan Gwat hoa Hujin, pegang pundak Koan San gwat, sementara si tua bungkuk menunjukan mimik aneh.

Pandangan Gwat hoa Hujin menyapu ke tujuh pembantunya, katanya: “Coa Ping, kau paling lama ikut aku, terhadap peristiwa yang lalu kau paling jelas, aku pernah bercerita secara sembunyi sembunyi kepada yang lain bukan

?”

Coa ping ketakutan ratapnya “Mana hamba berani …”

“Kau tidak usah takut! Aku tidak akan menghukum kau aku cuma tanya pernah kau berbicara rahasia aku itu?”

Dengan ketakutan akhirnya Coa Ping mengaku “Diwaktu mengobrol, mungkin hamba pernah bicara sedikit dengan Jip Hoat dan Hwi Kak …” “Perkara sudah sampai ditelinga Jip Hoat budak cerewet ini, mana bisa dirahasiakan. Aku percaya ketujuh orang ini sudah tahu semua.” Demikian si bungkuk menyela bicara.

Keruan ketujuh pembantu itu tercekat hatinya, terutama Jip Hoat menjadi pucat mukanya, namun sedikitpun Gwat hoa Hujin tidak memperlihatkan rasa gusar, katanya dengan muka jengah “Kalian tidak perlu takut kalau kalian sudah tahu pengalamanku yang lalu, maka tidak perlu banyak penjelasan lagi, kalian tahu kecuali ilmu silat aku masih mempunyai seorang putra yang hilang pada dua paluhan tahun yang lalu

…”

Ketujuh pembantunya saling pandang, tidak tahu apa makaudnya.

Segera sibungkuk tua menimbrung: “Sekarang putranya itu sudah ketemu dia inilah…” sembari bicara ia menunjuk Koan San gwat.

Berubah air muka ketujuh pembantu saking terperanjat Gwat hoa Hujin menjadi kikuk.

Setelah menjublek sekian lama akhirnya Jip Hoat berteriak : “Aduh! Bing hengte! Jadi kau adalah Toa kongou … payah, payah! Kalau begitu selanjutnya aku tidak bisa panggil Bing hengte…”

Koan San gwat berseru”Aku bernama Koan San gwat …” “Apa? Koan San gwat? ” Jip Hoat tercengang dibuatnya. Koan San gwat manggut manggut.

“Benar!” Gwat hoa Hujin menegas, “Tay Su kau tidak usah kuatir, kau mengganti namanya untuk mengelabui aku, sungguh besar nyalimu, tapi kali ini aku boleh ampuni dosamu.” Sampai disini tiba tiba raut mukanya menjadi tegang, perlahan mengguman: “Koan San gwat! Koan San gwat … Jadi Koan San gwat yang selalu digaukan oleh Ceng Ceng adalah kau? ” “Benar! Aku kemari untuk mencarinya!” sahut Koan San gwat.

“Darimana kau tahu bila dia berada disini? ” Koan San gwat ragu ragu untuk menjelaskan.

“Tidak apa apa nak!” ujar Gwat hoa Hujin, “Katakan saja, hari ini aku bisa menemukan kau, perkara apapun boleh ku kesampingkan!”

“Peng Kiok jin Toanio yang membawa kemari,” terpaksa Koan San gwat menjelaskan.

Berubah air muka Gwat hoa Hujin, Tay Su tampil menjelaskan “Hujin! Tujuan Peng Kiok jin memang baik, melihat nona Thio menerjang naik keatas gunung, waktu itu kebetulan penyakit jantung Hujin sedang kumat, ilmu pengobatan nona Thio memang lihay dengan resep obatnya penyakitnya Hujin bisa disembuhkin oleh …”

“O,” seru si bungkuk heran, “Nona kecil itu ternyata mampu menyembuhkan penyakit lama Hujin, sungguh harus dipuji!”

“Beruntung Siautitpun pernah ditolong dua kali olehnya …” demikian timrung Koan San gwat.

“Hubungan kalian cukup intim bukan, kalau, tidak kenapa sejauh itu kau meluruk kemari hendak mencari dia!” Demikian goda si bungkuk itu.

Koan San gwat tidak menjawab, Tay Su pula yang bersuara

: “Nona Thio amat cinta dan merindukan Koan kongcu, sering dalam tidurnya ia mengigau namanya…”

“Tidak salah lagi. Bocah ini memper (mirip) bapakanya, paling menonjol dikalangan perempuan, kawanku punya keturunan, sungguh aku situa bangka ini girang setengah mati

…”

Tiba riba dilihatnya air muka Gwat hoa Hujin ganjil, cepat ia hentikan tawanya serta bertanya: “Hujin! Kenapa kau murung jadinya! Putramu sudah kembali keharibaan, malah membawa calon istri yang cantik lagi …”

Perlahan lahan Gwat hoa Hujin menghela napas, mulutnya terkanciig, demikian juga sikap ketujuh pembantunya ikut prihatin dan menunduk diam, karuan keadaan janggal mem buat si bongkok tua daun Koan San gwat heran dan tidak mengerti.

Tak tahan si bongkok tua mendesak “Hujin, apakah yang terjadi sebetulnya? ”

“Kelak saja dibicarakan!” demikian ujar Gwat hoa pelan pelan, “Tho ong! Aku pernah mengundang kau makan minum, sekarang juga boleh dimulai, Hwi Kak keluarkan Pek ho a lok yang tersimpan digudang kamar satu guci, Jip Hoat pergilah menyiapkan makanan!”

Kedua perempuan itu mengiakan bersama sama terus mengundurkan diri melaksanakan perintah.

Sementara Coa Ping mendekati Koan San gwat, karanya rada terpengaruh oleh perasaan harunya: “Kongcu! Tentu kau tidak ingat aku lagi. Waktu kecilmu akulah yang sering membopongmu!”

“Waktu itu dia berusia lima bulan, mana mungkin bisa ingat kepada kau!” demikian ujar si bongkok tua dengan riang gembira.

“Kongcu, kau tumbuh demikian besar dan kekar, lebih tegap dari Ban loya dulu, apakah Ban loya baik….”

Gwat hoa menarik muka, sentakanya: “Coa Ping! Jangan cerewet!”

Si bongkok menghela napas, katanya”. “Coa ping! Ban loya sudah meninggal !”

Kesilat Coa Ping mendengar berita duka ini, kelopak matanya mengembang air mata, katanya tetharu: “Sudah meninggal… Ban loya begitu baik hati, kenapa tidak hidup lebih tua beberapa tahun lagi! Bila beliau masih hidup sampai sekarang betapa menyenangkan…”

“Coa Ping!” Bentak Gwat hoa Hujin, menggebrak meja, “Berani mati kau …”

“Ya Hujin!” sahut Coa Ping sambil menyeka air mata, suaranya gametar “Hamba memang… kurang sopan. Setelah hamba melihat Kongcu, hatiku amat senang.”

“Hujin, kenapa kau salahkan dia?” demikian bujuk si bungkuk dengan suara lembut, “Dulu Sin gwat amat baik terhadapnya adalah jamak kalau dia kasih kepada bocah ini, anak muda, tiada halangannya kau memanggil suci kepadanya. Karena dulu pernah berkelakar hendak menerima dia sebagai murid. Kalau kau ingin tahu perihal ayahmu boleh kau minta penjelasannya dia lebih jelas dari aku.”

Memang Koan San gwat simpatik terhadap perempuan ini, dengan hormat ia menyapa “Suci!”

“Kongcu terlalu sungkan, mana hamba berani terima.” Kata Coa Ping sambil menekuk dengkul.

“Anak muda! Aku berhasil menemukan ibu kandangmu cara bagaimana kau hendak menyatakan terima kasih kepadaku ?”

“Cianpwe …” tersipu sipu Koan San gwat berlutut. “Cianpwe apa? Ayahmu adalah sahabat kentalku, cukup

panggil paman saja.” “Paman!”

Si bungkuk lekas menarikanya bangun, tanya: “Anak baik, jangan berlaku bodoh, paman hanya berkelakar dengan kau, bagaimana latihan silatmu? bungkuk tua tidak berguna seperti aku ini ingin memberi ajaran kepada kau !” Gwat hoa Hujin tertawa, timbrungnya “Ilmu pedang Tam Kiam bukan tandingannya, silahkan Tho ong membeli bimbingan…”

“Putra Sin gwat masa tidak jempol? Aku tidak punya ahli waris, kecuali dia siapa lagi yang mau kuberi ajaran silatku yang rendah ini, harap Hujin jangan marah, putramu yang lain itu aku justru kurang senang …”

Sedikit berubah air muka Gwat hoa Hujin. Si bungkuk segera menyambung “Hujin, sama sama putramu, kalau aku berat sebelah namun kau tidak boleh berat sebelah!”

“Aku tahu kau masih membenci Liu Ih yu” demikian ujar Gwat hoa Hujin!

“Aku Pek Thio kun memang musuh buyutnya. Tak mungkin aku bicara demi kebaikannya.”

“Orangnya sudah meninggal, apanya lagi yang dapat kau benci? ”

“Sudah mati ya sudah, tapi aku tidak suka melihat tampang putranya yang sama dengan bapakanya!”

“Kalau begitu silahkan kau membimbing putraku yang ini, soal ilmu pedang kau tidak perlu jerih payah, cuma dalam bidang tenaga saja, ia masih kurang, jika kau sudi mengajarkan Kay san kun hoat kepadanya, cukup menjadi bekal hidupnya.”

“Masa perlu dikatakan lagi! Kepandaian ku akan kuajarkan seluruhnya sampai akar akarnya, bagaimana juga dia tidak boleh kalah dengan bocah she Liu itu!”

Gwat hoa Hujin tidak bersuara, sebentar ia berpikir, mendadak berkata : “Tho ong! Seharusnnya ada persoalan lain yang hendak kau beritahu kepadaku, dan lagi urusan ini ada sangkut pautnya dengan bocah ini!” Sejenak Pek Thi hun melengak, sahut nya tersekat “Ti … tidak.”

“Bohong! Sebelum ini kau belum tahu bila dia putra Sin gwat, namun kau menyuruh dia tetap tinggal, dari sini …”

“Ya, memang begitulah Lohu mengenai urusan kedua yang kau suruh aku menyelidiki”

“Apa! Jadi kau sudah tahu jejak orang itu? ”

“Ya, sebetulnya aku tidak sudi turut campur urusan ini, tapi kau mencurigai Sin gwat wafat sudah dua puluh lima tahun, kecurigaan itu sudah tersapu bersih, maka akupun tidak perlu banyak urusan lagi.”

“Apakah kau tidak sudi membantu sedikit kesulitanku?” tanya Gwat hoa Hujin menarik alis.

“Bukan membantu kau, tapi membantu Lau Ih ya. Apa lagi urusan ini ada sangkut pautnya dengan bocah ini, maka aku lebih tidak sudi mengatakan! coba kau pikir, apakah putra Sin gwat bisa membantu kesulitan Lau Ih yu? ”

“Bu, paman Pek, persoalan apakah yang sedang kalian debatkan? ” tanya Koan San gwat.

“Anak muda! Jangan kau banyak urusan. Bapakmu meninggal membawa dendam derita, meski kau tidak perlu membalas dendam namun pantaskah kau mencelakai jiwa orang yang membalaskan dendam bapakmu? ”

“Sebetulnya bagaimana persoalannya?” tanya Koan San gwat.

Gwat hoa Hujin mendelik mencegah Pek thi hun membuka mulut, lalu katanya: “Nak pamanmu sudah menjelaskan duduk perkara dulu, ayahmu adalah Ban Sin gwat, Lau Ih yu adalah suamiku berdiri pada posisimu sekarang, kau membela Lau Ih yu tidak? ” Koan San gwat berpikir sebentar, sahut nya “Kupikir tidak perlu aku membencinya sebab perbuatan dan sepak terjangnya cukup dimengerti”

“Bocah keparat!” teriak Pek Thi hun. “Ceritaku tadi belum selesai seluruhnya, ketahuilah di waktu ayahmu pergi dia terluka parah, Liu Ih yu menusuk secara licik Coa ping melihat kejadian itu!”

Berubah air muka Koan San gwat. Sementara Gwat hoa Hujin melirik kearah Coa ping dan jengeknya. “Coa ping kau lagi yang cerewet!”

“Ya …” Coa ping mengiakan dengan muka pucat, “Soalnya pek loyacu mendesak hamba untuk mengatakannya”

“Seharusnya kau bicara secara gamblang!” damprat Gwat hoa Hujin.

Coa ping menjadi gugup, katanya “Belum sempat hamba bicara habis, Hujin dan Loya keburu datang, selanjutnya pek loya tidak pernah menanyakan lagi!”

“Kalau begitu hari ini kau harus sejelas nya, kebetulan Kongcupun berada disini …”

Coa ping menenangkan hati lalu katanya pelan “Waktu terjadi perkelahian sengit itu ilmu pedang Ban loya kelihatan amat tinggi, sehingga Lau terdesak mundur berulang ulang, akhirnya Hujin keluar dan terjun diantara mereka, karena kuatir tusukan pedangnya mengenai Hujin Ban loya menariknya saat itu Loya kebetulan menyerang dengan sebuah tusukan dan melukai pundak Ban loya. Sekecap pun Ban loya tidak bersuara, melempar pedang merebut Kongcu dari gendongannu terus tinggal pergi!”

Pek Thi hun menyeringai dingin mendengar penjelasan ini.

Gwat hoa Hujin segera menghadapi Koan San gwat serta bertanya: “Kau percaya akan uraiannya itu? ” Koan San gwat manggut manggut Pak Thi hun semakin gusar teriakanya: “BanSin gwat tidak mungkin mati karena gusar, tusukan pedang itupun tak bisa membuat ajal. Karena sedih dan berduka, apalagi membawa luka berat menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat, darah mengalir terlalu banyak, berapa sebab itulah hingga dia menemui ajal nya.”

Tiba tiba Gwat hoa Hujin menghela napas, ujarnya “Kecuali Ban Sin gwat bangkit kembali dari liang kubur untuk memberi penjelasan kepada kalian, kalau tidak selamanya kalian tidak akan paham sebab kematiannya yang sebenarnya!”

“Maksudmu kematiannya itu karena sebab lain? ” Pek Thi hun menegas.

“Benar! Sebab utama karena berduka, tapi sebab dari dukanya itu bukan seperti yang kalian bayangkan, dia berduka karena dia kalah. Tho ong, kau yang paling menyelami wataknya, dapatkah dia mendapat penghinaan begitu rupa? ”

“Ya, dia meninggal karena hatinya hancur, kalau kau mengatakan sebab dukanya itu karena kekalahannya, itulah karena kau pula yang menyebabkan, kau membuatnya patah arang.”

Gwat hoa Hujin menggeleng, katanya:

“Tidak, dalam permainan asmara dia sebagai pemenang, dalam ilmu pedang, dia dipihak yang kalah, aku bukan bual, perasaanku waktu itu, mengharapkan Sin gwat dapat membunuh Lau Ih yu …”

“Lalu kenapa kau terjun dalam pertempuran itu? ” teriak Pek Thi hun.

“Karena aku harus menolong Sin gwat!”

Pek Thi hun menjublek. Koen San gwat pun menjublek mematung. Kata Gwat hoa Hujin meneruskan “Mungkin kalian tidak percaya, kalau waktu itu aku tidak lekas menerjang menerjunkan diri dalam gelanggang, Sin gwat pasti menemui ajalnya saat itu juga. Karena jurus yang dimainkan Lau Ih yu amat lihay, perbawanya dapat mencapai kemenangan dalam posisi yang terdesak, karena aku mendesak ditengah mereka, sehingga ujung pedangnya menceng sedikit, maka Sin gwat cuma tertusuk pundak nya!”.

Pek Thi hun masih kurang percaya, katanya : “Jadi ilmu silat Sin gwat lebih asor dibanding Lau Ih yu sulit dipercaya!”

“Ilmu pedang Sin gwat sudah mencapai puncak kesempurnaannya, seperti pula orang nya, didalam nilai nilai tertentu dia lebih unggul dari Lau Ih yu maka ilmu pedangnya itu dapat mengalahkan musuh tapi tidak bisa melukai musuh

…”

“Tidak Salah! Sering San gwat berkata, ilmu pedang adalah ilmu kebaikan, ilmu cinta kasih memang ilmu pedangnya termasuk pedang yang bijaksana yang mengenal cinta kasih terhadap sesamanya….”

“Justru karena watak dan perangainya itulah yang menundukan sanubariku sehingga aku minggat bersamanya. Kalau kita bicara kesucian atau cinta kasih, maka janganlah kita bertempur mempertaruhkan jiwa, menaruh cinta kasih dan bijaksana terhadap musuh berarti berbuat kejam terhadap diri sendiri. Ilmu pedang Liu Ih yu justru mengutamakan kekejaman dan culas, waktu berkelali, meski Sin gwat menang juga tidak akan mampu merobohkan dia!”

Pek Thi hun terbungkam sekarang. Berkata pula Gwat hoa Hujin: “Maka kesudahan dari pertempuran waktu itu Sin gwat maklum bahwa dia sudah kalah, waktu dia pergi dia membuang senjatanya. Bagi seorang ahli pedang, itu berarti bahwa selama hidup ini dia tidak akan menggunakan pedang lagi. Koan San gwat tetap bersikap wajar, katanya: “Kalah satu kali terhitung apa? Bangkit kembali dan ajak berkelahi satu kali lagi!”

Gwat hoa Hujin tertawa getir, ujarnya “Pek tho cu boleh punya pambek demikian, tapi tidak demikian bagi ayahmu, kecuali dia membuang ajaran ilmu pedangnya semula, berlatih pula dari semula, berlatih dari permulaan ilmu pedang yang bisa membunuh orang. Kalau tidak betapapun tinggi ilmu pedangnya sampai setinggi langit umpamanya, kalau dia tidak membunuh orang, orang sebalikanya ingin membunuh dia!”

Akhirnya Pek Thi hun menghela napas, uarnya “Waktu itu tidak seharusnya kau tampil kedepan, biar dia ajal tertusuk oleh pedang Liu Ih yu, keadaan mungkin jauh lebih baik!” Jelas ia percaya akan keterangan Gwat hoa Hujin. Bahwa kejadian memang seperti apa yang diuraikan itu, Gwat hoa Hujin tertawa rawan, katanya : “Memang, maka dia begitu benci terhadap aku, benci kerena aku menolong dia, dia lebih rela mati tertusuk pedang, betapapun tidak sudi mendapat pengampunan musuh!”

Koan San gwat belum paham, katanya “ Itupun belum terhitung minta pengampunan!”

“Nak! Kau masih belum paham sebagai ahli pedang seperti ayahmu dan Lau Ih yu, setelah melancarkan satu jurus kecuali punya maksud merubah ditengah jalan kekuatan luar tidak mampu mengganggu tekad mereke. Maka tusukan Lau Ih yu yang menceng itu karena aku terjun kedalam gelanggang!

Jadi kau jangan salah paham bahwa tusukan itu memang sengaja dimencengkan kerena takut melukai aku!”

“Kalau dia tidak takut melukai kau, kenapa ujung pedangnya menceng?” tanya Koan San gwat.

“Begitu melihat aku tampil melindungi nya, maka dia paham maksudku bahwa aku tidak rela dia membunuh ayahmu, meski dia amat membenci ayahmu, namun demi aku maka dia mengabaikan kesempatan yang paling baik itu. Sudah tentu ayahmu pun paham akan hal ini, maki ia membuang senjatanya dan pergi tanpa bersuara … waktu aku mendapat kabar kematiannya ayahmu sedikitpun aku tidak terpengaruh, aku paham bahwa waktu itu sebetulnya dia sudah meninggal.”

Koan San gwat bungkam sekian lamanya akhirnya ia menyeletuk “Apakah ilmu pedang Lau Ih yu itu ada ahli warisnya.”

“Ada!” cepat Pek Thi hun menjawabnya: “Putranya yang bernama Lau yu hu!”

“Tho ong!” ujar Gwat hoa Hujin sambil mengawasinya. “Apakah kau ingin mereka dua saudara bentrok dan bertanding sekali lagi? ”

Pek Thi hun hanya tertawa tidak bersuara. Sebalikanya Koan San gwat menjawab dengan tegas. “Bu! Hal itu tidak bisa terhindar lagi. Tapi legakan hatimu, asal aku menang, pertandingan ini tidak akan terjadi banjir darah. Meski aku tidak sempat mendapat kan warisan ilmu pedang ayah yang menempuh cinta kasih dan bijaksana itu, tapi aku mewarisi watak dan peranggainya yang bajik dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya!”

“Bagus!” Pek Thi hun menggembor ketus dengan bersemangat. “Memang kau putra Sin gwat sejati! Hujin apakah anjing kecilmu itu punya pambek demikian? Anak baik sungguh kau membuat paman mati kegirangan.”

Gwat hoa Hujin menghela napas, katanya pelan pelan: “Nak, kau … baru setengah hari Khong han kiong seolah olah seperti milik mu sendiri!”

“Sudah tentu! Tempat ini memang milik San gwat, kini harus diwarisi olehnya..” Gwat hoa Hujin mendelu, katanya menggeleng: “Adikmu mungkin tidak sebanding kau tapi usianya lebih muda kau harus mengasuhnya.”

Membeku wajah Koan San gwat kata nya “Bu! Aku tidak punya adik!”

Gelap air muka Gwat hoa Hujin, namun ia bungkam seribu bahasa, sekian lama mereka berdiam diri, akhirnya bersuara lagi: “Baiklah! Sementara kita tidak usah membicarakan ini.

Kini kuminta kau menjelaskan tentang orang itu!” “Siapa? ” tanya Koan San gwat heran.

“Sudah tentu orang yang membunuh Lau ih yu!” Berubah air muka Koan San gwat.

“Lau Ih yu mati dibunuh orang,” demikian tutur Gwat hoa Hujin. Hal itu terjadi dua puluh tahun yang lalu, kebetulan kami sedang bertamasya sekitar Bing kang, disana kau bentrok dengan seorang berkedok, ilmu pedang orang itu aneh sekali, bergerak baru tujuh jurus, Lau Ih yu tertabas kutung lengan kirinya, begitu pulang gunung lantas meninggal. Sejak kejadian itu aku mencari tahu kemana mana, namun tidak berhasil. Soalnya aku tidak kenal wajahnya, terpaksa main selidik bersumber dari permainan pedangnya.”

Koan San gwat melongo, katanya:”Bagaimana aku bisa tahu? ”

Pek Thi hun sertawa katanya tandas “Kau pasti tehu, karena kau pernah melawan ilmu pedangmu itu, ditas Bu San sekali, menghadapi Tam Kiam sekali lagi, dua kali kau menang.”

Gwat hoa Hujin menyambung : “Beberapa jurus ilmu pedang itu aku pernah melihatnya, samar samar, masih kuingat sebagian, sekembaliku lantas kuajarkan kepada Tam Kiam, siapa yang kau temui di Bu san? ” 

-oo0dw0oo-