-->

Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 16

 
Jilid 16

HANYA TIGA GERAKAN serangkai yang seenakanya, Koan San gwat berhasil memperoleh kemenangan gilang gemilang, begitu Tay lo kiam sek, secara kenyataan sudah menunjukkan wibawa dan kesaktiannya.

Semula semua hadirin terpesona dan terbelalak keadaan hening sebentar, dilain saat terdengarlah sorak sorai gegap gempita menyambut kemenangan Koan San gwat.

Pelan pelan Koan San gwat mengendorkan tenaga menarik hawa murninya, mengawasi Ki Houw dan Khong Ling ling yang serba ngenas itu, ia berkata : “Sebetulnya aku bisa bunuh kalian, namun aku tidak ingin berbuat demikian!”

Ki Houw tidak bicara, ia membalikkan badan terus pergi.

Khong Ling ling mendelik, teriakanya : “Kenapa? Kenapa kau tidak bunuh kami berdua? ”

“Mungkin karena tantangmu kepadaku, karena kau hendak menuntut balas bagi kematian ayahmu, terpaksa aku harus memberi kesempatan pula pada kau.”

Gigi Khong Ling ling berkerutukan, bibir sampai tergigit pecah berdarah, teriakanya “Kelak kau akan menyesal, akan datang saat nya kau terjatuh ditanganku, aku tidak akan sungkan terhadapmu!”

“Terserah! Aku punya prinsip dalam setiap tindakkanku masih ada sebab lain kenapa aku tidak membunuh kau, waktu di Kun lun san dulu, kau pernah merawat aku menurut apa yang pernah kudengar, maka aku rasa bahwa aku masih berhutang budi kepada kau!”

Berubah air muka Khong Ling ling sekian saat ia terlongong, lalu tanpa bersuara lagi ia mengundurkan diri.

Berkata lah Liu Ih yu: “Tujuanku bantu kau, kenyatan malah kau yang membantu aku. Begitu hidup leluasa kau menghadapi musuh sebetulnya tidak perlu aku membikin sulit kepada kau.”

“Tidak, bantuanmu cukup berarti, betapa pun hebat keampuhan Tay lo kiam sek baru pertama kali kugunakan untuk menghadapi musuh, kalau kau tidak menghadapi Khong Ling ling, bila aku tergencet dari dua jurusan, mungkin tidak bisa menyelaminya begitu cepat!” 

“Kukira babak selanjutnya Siu lo sendiri bakal tampil, apakah punya keyakinan, perlukah kubantu pula! Bila perlu biar kuminta Ji suci keluar membantu…”

“Tidak perlu!” sahut Koan San gwat menggeleng, “Jurus keempat dari Tay lo kiam sek kekuatannya berlipat ganda, mungkin sendiri tidak kuasa menguasainya, kalian menyelip diantara kami mungkin sulit mengembangkan seluruh kekuatan dan keampuhanya.”

Terpaksa Liu Ih yu mengundurkan diri. Sementara Cia Ling im, sudah beranjak maju dengan sikap percaya pada diri sendiri, setelah berada dihadapan Koan San gwat ia berdiri, “Akhirnya kau sendiri yang keluar!” demikian cemooh Koan San gwat tenang.

“Ya! Sejak mula tidak pernah terpikir olehku untuk tampil sendiri menghadapi kau!”

“Salahmu sendiri kau memelihara sekawanan anjing anjing ajak yang tidak becus!”

Cia Ling im menjadi berang oleh olok olok ini, alisnya bertaut serunya : “ Anak muda! Kau hanya mengandal ketajaman pedang dan beberapa jurus Tay lokiam hoat belaka, sikapmu sudah pongah, meski kau sudah menang satu babak, belum dapat dikatakan bahwa Siu lo jit sek tidak ungkulan melawan Tay lo kiam …”

“Dalam hal ini aku cukup mengerti, ilmu pedang tergantung pada manusia, aku percaya bila Siu lo kiam hoat kau yang mengembangkan, kekuatannya tentu jauh lebih hebat dari tadi.”

Sikap Cia Ling im semakin takabur, jengekanya: “Kalau kau sudah tahu akan kenyataan ini kau masih berani bergebrak dengan aku? ”

“Situasi hari ini tiada pilihan lagi bagi aku meski aku tahu kurang becus, namun harus mencoba juga, karena ratusan jiwa manusia tiada seorangpun yang bisa lolos dari kekejianmu!”

Mendengar bicara orang lemas, Cia Ling im makin takabur, ujarnya: “Penilaianmu terhadapku terlalu berkelebihan, membunuh orang aku tiada minat, asalkan mereka tidak membangkang keinginanku, Liong hwa hwe masih boleh dipertahankan, keadaan tetap seperti dulu kita boleh hidup rukun bersama!”

“Tidak mungkin, Liong hwa hwe sendiri merupakan organisasi gila, dulu mereka terpaksa karena tekanan dan ancaman, maka mereka gampang dibelenggu dalam kandang

…”

“Bohong!” semprot Cia Ling im gusar, “Gurumu sendiri dulu tidak ditekan atau diancam, kenapa dia suka rela masuk menjadi anggota Liong hwa hwe selama dua puluhan tahun!”

“Karena Liong hwa hwe pada waktu itu dibawah pimpinan Hang tiang sian cu masih mengenal keadilan dan kebenaran, bilamana Liong hwa hwe berada didalam genggamanmu kau pernah berantas orang orang yang berhaluan lurus, mereka bakal merasakan hidup tidak matipun sulit…” “Kentut!” damprat Cía Ling ím murka, “Binatang! Kau sudah bosan hidup ya!”

Sikap Koan San gwat tetap tawar, sahut nya tawar “Benar!

Aku sedang menunggu cara bagaimana kau hendak membunuh aku? ” tiba tiba Cia Ling im tersentak sadar, ia tahan hati nya, katanya pelan pelan “Anak muda! Kau tahu aku selamanya tidak bekerja kepalang tanggung …”

“Aku amat jelas, justru karena kau tidak rela dipimpin orang dalam Liong hwa hwe karena kaupun menyadari bahwa Hiang Ting sian cu sulit dihadapi, maka kau menekan ambisi ini sampai sekarang!”

“Tepat sekali! Sampai pada tahap terakhir baru aku menyadari bahwa sebetulnya Hiang ting sebetulnya tidak perlu ditakuti, rencanaku semula hendak minta dia menyerahkan hak kekuasaan pada pertemuan besar Liong hwa hwe kali ini, tak nyana dia cukup cerdik …”

“Hiang ting sian cu sudah tahu akan ambisimu maka siang siang ia sudah siap siaga!”

“Dia menyingkir adalah tindakannya pertama, karena dia tahu bahwa dia tidak akan mampu menundukan aku …”

Cia Ling im bergelak tertawa, serunya : “Lalu apa tindakannya yang kedua! Apakah memilih kau sebagai tameng untuk menindas aku? ”

“Benar! Dia percaya bahwa aku mampu menundukan engkau!”

Cia Ling im tercengang, lalu terloroh loroh latah, serunya : “Dia memilih kau justru memperlihatkan kebodohannya … aku percaya kau paham akan arti perkataanku ini!”

“Mungkin aku paham, namun orang lain justru sebalikanya, tiada halangan kau jelaskan kepada hadirin!” Cia Ling im mulai heran dan kebingungan serta menebak nebak dalam hati, dengan rasa curiga ia menegas “Kau benar berat ingin sku mengumumkan secara terbuka? ”

“Bagi aku tiada halangananya, Secara diam diam kau main akal dan berebut kekusaan dengan Hiang ting sian cu usahamu bukan sekali dua kali saja, dia sangat mengerti akan perangaimu, demikian pula kaupun sangat jelas seluk belukanya, kilau kau buka tsbir rahasia ini dihadapan umum, hal ini dapat membuktikan betapa kecerdikan otakmu …”

Sekian lama mata Cia Ling im main selidik dan menjelajah perubahan muka dan gerak gerik Koan San gwat, akhirnya dengan nada kurang percaya ia berkata . “Yang diandalkan oleh Lim Hiang ting untuk mengatasi aku hanyalah Pek hong kian dan Tay lo kiam hoat, tapi setelah kuselami dan kuselidiki selama beberapa tahun terakhir ini, baru kudapati bahwa kedua pusaka itu bersifat positip, ditangan perempuan betapapun tidak akan berkembang keampuhannya serta kesaktiannya …”

Koan San gwat segera menyela “Kata katamu tepat sekali, karena kau sudah menemukan rahasia ini, ambisimu makin berkobar, maka Hang ting sian cu terpaksa harus sembunyi dan menghindari bentrokan, tapi kini ia sadah menurunkan ilmu pedang Tay lo kiam hoat dan Pek hong kiam kepadaku

…”

Cia Ling im menukas “Justru di situlah letak kebodohannya, meski Pek hong kiam ampuh dan Tay lo kiam hoat amat lihay, harus dilandasi lwekang tinggi baru bisa mengembangkan kesaktiannya, melihat pertunjukanmu tadi, memang aku harus memuji padamu, karena hanya tiga hari kau memperoleh pedang dan ajaran ilmu itu namun sudah mampu melancarkan kekuatan setaraf itu, memang sulir dicari bandingan yang kedua …”

Tergerak hati Koan San gwat kini sikap nya semakin serius dan tegang, Cia Ling im dapat meraba akan perubahan mimik wajahnya ini, tertawalah dia terloroh loroh kepuasan, serunya

: “Kuberi waktu tigi tahun untuk kau berlatih secara giat mungkin aku bisa keder menghadipi kau, sekarang tak perlu aku bersikap demikian …”

Ucapan selanjutnya sudah tidak terdengar lagi karena gelak tawanya, namun beberapa patah kata itu, membuat gempar seluruh hadirin, banyak orang yang yakin akan kemenangan Koan San gwat tadi mulai tenggelam dalam perasaan was was dan gelisah.

Sejenak Koan San gwat menepekur, lalu katanya : “Pengamatanmu sungguh amat cermat, namun kau masih melalaikan satu hal!”

“Soal apa? ” tanya Cia Ling im menghentikan tawanya.

Sepatah demi sepatah dengan tandas dan tegas Koan San gwat berseru lantang : “Tekad dan keyakinan!”

“Tekan dan keyakinan! Memangnya kau bisa berbuat apa?


“Tekad dan keyakinan bisa menciptakan suatu keajaiban!

Dapat merubah segalanya!”

Cia Ling im berpikir sebentar lalu terloroh loroh pula, serunya “Bagus sekali, bila kalian ingin lolos dari tanganku, mungkin harus mengandal keajaiban saja! Matilah anak muda, ingin kulihat keajaiban apa yang kau ciptakan “

Dengan keteguhan dan penuh keykinan Koan San gwat menambahkan : “Justru karena aku bertanggung jawab akan keselamatan jiwa akan banyak orang, maka timbullah keyakinan harus menang, dilandasi oleh tekad dan keyakjaan ini bukan mustahil bisa terjadi suatu keajaiban. Kau tunggu saja akibatnya!”

Ci Ling im tidak bisa tertawa lagi, dari kata kata Koan San gwat ia menyadari sesuatu pemuda ini merupakan lawan tangguh yang menakutkm, Karena dia berjuang dengan semangat pengorbanan diri, demi kepentingan umum!

Didalam keadaan lupa diri karena semangat pengorbanan, orang dapat mengesampingkan keselamatan dan kepentingan diri sendiri semua ini demi tujuan dan keyakinan membaja serta cita cita masa depan maka dia bertempur.

Hal ini mungkin bisa mempercepat kematian seseorang, tapi kemungkinan pula bisa melahirkan suatu kekuatan yang tiada taranya untuk menciptakan keajaiban itu. Maka dia harus hati hati serta prihatin menghadapi pertarungan yang menentukan ini.

Lambat lambat Cia Ling im mencabut pedang, terpancar cahaya terang serta suara nyaring, dari senjatanya dapat dipastikan bahwa pedang kuno ini jauh lebih baik dari pedang yang digunakan Khong Ling ling dan Ki Houw sudah tentu tidak lebih unggul dari Pek hong kiam!

Pelan pelan Cia Ling im menyentil sayap pedangnya sehingga mengeluarkan suara “Ting, ting!” yang menusuk kuping, lalu ia berkata dengan sikap sungguh sungguh: “Inilah Ceng ping kiam, milik Sun Kian pada jaman Sam Kok masih kalah dibanding Pek hong kiam tapi aku percaya dalam gebrak tujuan delapan jurus dia tidak akan gampang dikutungi!”

“Tidak salah! Bila Siu lo jit sek dilancarkan seluruhnya umpama pedang tidak kutung, kutanggung kau sulit mempertahankan batok kepalamu!”

“Benar! Ratusan jiwa pihakmu itu tergantung pada keyakinan dan tekadmu, sementara ratusan jiwa pihakku tergantung pada latihan ku selama puluhan tahun, ini merupakan pertempuran yang seadil adilnya!”

“Kau salah! Kalau aku kalah berapa banyk orang akan meninggal, aku tidak tahu, sebalikanya kalau kau kalah, darah mengalir cuma lima langkah, yang mampus sudah pasti hanya kau seorang…” “Persetan dengan urusanmu, tiada sangkut pautnya dengan aku, kalau aku mati, aku tidak perduli keselamatan mereka, mau dibunuh atau dilepaakan terserah. Yang jelas nilai pertarungan ini cukup adil.”

Kata kata yang harus diucapkan sudah habis seluruhnya, mata kedua orang sama pandang dengan tajam, sementara kaki mereka pelan pelan bergerak, tapak sepatu kedua orang terdengar berkeresekan mengosok tanah dan batu kerikil, sehingga menyolok pendengaran.

Suasana hening lelap. Ditengah kesunyian yang mencekam perasaan ini mendadak meledaklah bentakan menggeledek, Cia Ling im menggetar pedang di tangannya, melancarkan jurus yang pertama.

Jurus yang sama yaitu Hun jan ou jiu (awan ngenes kabut berduka), namun perbawanya jauh lebih hebat, ujung pedang mengepul tabir asap hitam yang bergulung gulung, lama kelamaan seluruh gelanggang menjadi gelap tertutup rapat oleh asap hitam yang pekat, pandangan hadirin menjadi gelap, seluruh hadirin terbungkus didalam kegelapan yang menakutkan, yang terdengar hanya teriakan dan keluhan setan.

Keadaan yaag seram ini benar benar seperti didalam neraka, siapa pun tiada yang menyangka bahwa Siu lo kiam hoat Cia Ling im sudah dilatih mencapai taraf yang begitu tinggi, ada orang yang bersorak dalam hati, sudah tentu ada pula yang menjadi lesu dan kuatir. Sudah tentu antara yang bersorak dan mengeluh ini berdiri pula kedudukan yang berlawanan. Bagi yang mengeluh benar benar ber kuatir. “Bagaimana keadaan Koan San gwat yang menempur Cia Ling im Hadirin gelisah didalam kegelapan, tiada seorangpun yang mendapat jawaban karena keadaan begitu gelap sampai lima jari sendiri tidak kelihatan, mana bisa mengetahui kedudukan dan keadaan Koan San gwat. Yang jelas kegelapan itu tidak berlangsung lama, lambat laun mulai tampak setitik terang menembus lapisan mega yang gelap pekat ini, seperti sinar surya menembus lapisan mega sehingga setitik sinar terang itu begitu menyolok dan jelas sekali. Lama kelamaan titik sinar itu semakin besar dan terang, semula sebesar cangkir menjadi sebesar mulut mangkok terus membesar semakin gede, seperti gentong air

… akhirnya! Seperti bara api yang menyala dalam kegelapan malam, jalur api yang menyala nyala itu seperti mendadak meledak. Awan pekat menjadi sirna, kabut pun hilang, dunia kembali dalam keadaan yang semula terang benderang, udara cerah dan nyaman.

Setelah sekian lama tertekan baru sekarang semua orang menarik napas panjang dan lega, waktu mereka mencurahkan perhatian ke tengah gelanggang tampak Pek hong kiam di tangan Koan San gwat memancarkan cahaya kemilau yang cemerlang, meski jidatnya basah oleh keringat, namun masih kelihatan gagah teguh dan penuh keyakinan.

Cía Ling im kelihatan memburu napasnya orang orang yang berkuatir dan mengeluh tadi sudah berlega hati, mereka tahu bahwa Koan San gwat sudah berhasil menggempur total jurus pertama lawannya, maka tersimpul senyum cerah diwajah, mereka rada lama kemudian baru Cia Ling im unjuk senyum tawar, katanya “Hebat! hebat! Aku terlalu rendah menilai kemampuanmu! Agaknya waktu menghadapi Ki Houw tadi kau masih banyak menyimpan kemampuan yang berkelebihan!”

Koan San gwat, mengusap keringatnya suaranya terdengar tegas dan tandas : “Lwekang tidak mungkin disimpan! Hanya keyakinan dan tekadlah melandasi aku berhasil lolos dari ujian pertama!”

Seperti tertawa tidak tertawa Cia Ling im berkata “Masih ada enam jurus lagi. Dapatkah tekad dan keyakinan bertahan selama itu? ” “Selama hayat masih dikandung badan keyakinan dan tekad itu tidak akan padam!”

“Bagus! Sungguh gagah perwira! Jurus selanjutnya akan kubuat kau tidak sempat bernapas atau berkesempatan istirahat, akan kulihat dimana kau dapat pertaruhkan tekad dan keyakinanmu!”

Terlihat sinar pedang tersebar mengitari tubuh, jurus kedua ini dirubah menjadi Siu hun loh pek (menagih sukma merebut), kali ini ia tidak mengagulkan perbawaan dan kekuatan seluruh kekuatan hawa pedangnya terpusat meluruk kebadan Koan San gwat, setiap hadirin melihat dengan jelas, namun yang kelihatan bukan Koan San gwat dan Cia Ling im. Karena Koan San gwat sudah digubah oleh cahaya pedang kehijauan, demikian pula Cia Ling im sudah terbungkus didalamnya.

Lingkaran sinar hijau semakin ketat kecil, perasaan hadirin makin ciut dan tegang. Waktu berlangsung dalam sekejap saja, namun terata seperti bertahun tahun lamanya.

Sementara lingkaran sinar hijau makin kecil hampir sebesar bentuk badan seseorang, mendadak berhenti tidak mampu mengkerut lebih kecil lagi didalam sinar hijau yang terhenti itu, tangan Cia Ling im yang memegang pedang mulai gemetar, sebalikanya keadaan Koan San gwat kelihatan bebas dan tenang.

Banyak hadirin ingin tahu apa yang telah terjadi, cuma terdengarlah Cia Ling im bersuara lebih dulu: “Anak muda! Kulihat kau sedang berpura pura dam bermuka muka apakah kau mengandal tekad dan keyakinanmu pula bertahan dari jurus kedua ini? ”

“Benar! Cuma asal mula tekad dan keyakinan kali ini tidak sama!”

“Tidak sama bagaimana? Anak muda jangan kau jual mahal !” “Kali ini bersumber pada tekad dan keyakinanku terhadap jurus jurus tipu pedang, itulah jurus keempat dari Tay lo kiam hoat yang dinamakan San gak ing si (gugus gunung kokoh abadi, seluruhnya merupakan jurus pertahanan, betapapun keji dan ganas serangan pedangmu, betapapun tidak akan mampu menagih sukma merebut raga segala!”

“Betul! Anak muda agakanya kau beruntung! Empat jurus selanjutnya akan kulancarkan beruntun, meski kau sekokoh gunung aku akan melelehkanaya, setenang lautan teduhpun akan kubakar kering seluruhnya!”

Ditengah suaranya yang sengit mulai kalap itu beruntun pedangnya bergerak dengan Hong hong pu hi (hujan badai mengamuk) Niu lui kip san (geledek murka kilat menyarn bar), Mo hwe lian thian (api iblis membakar langit), Liat gam teng saiu (bara membara uap mendidih). Angin, hujan, kilat dan bara sekaligus bekeja, itulah kekuatan perusak paling hebat didunia bergabung dan meletus bersama.

Bumi bergoyang, gunung guguran, seluruh kekuatan perusak yang dahsyat itu tumplek kearah Koan San gwat, sepintas pandang kelihatan dia begitu lemah, begitu kecil, seolah olah setiap saat bisa pudar dan lenyap ditelan bencana tanpa bekas …

Rambut dikepalanya mulai awut awutan, pakaiannya di badannya mulai mengepulkan asap dan percikan api.

Wajahnya saja yang kelihatan tegas, keras penuh dilandasi keyakinan, badannya berdiri tegap tak bergeming.

Perlahan lahan ia mulai mengacungkan Pek hong kiam, pertama ia menggaris setengah lingkaran, cahaya padang cemerlang laksana surya difajar menyingsing, ditengah berbagai lipatan dan kepungan, mendadak memancarkan warna kemerahan yang mencorong.

Hadirin sudah apal akan jurus yang pernah dia lancarkan tadi yaitu Si jit tang seng (surya menyingsing diufuk timur) Setiap pagi surya menyingsing disebalah timur, itu kenyataan abadi, maka jurus pedangnya inipun biasa dan sederhana saja tiada seluk beluk atau liku liku lainnya.

Dibawah pancaran sinar surya yang cemerlang dan cerah, hujan angin dan kilat maupun bara seketika sirna tanpa terasa. Tiba tiba pergelangan tangan Koan San gwat tergetar, gaya serupa itu sudah terlihat tadi. itu jurus serangan satu satunya dari Tay lok kiam sek yang dinamakan Pek hong koan it ( pedang putih menembus matahari ). Ki Houw dan Khong Ling ling membagi pedangnya yang patah dan tertusuk jalan darahnya oleh jurus itu bagaimana pula pengalaman Cia Ling im menghadapi serangan telak ini?

Bagaimana juga dia tidak akan percaya akan pengalaman ini, demikian juga hadirin yang tidak percaya begitu saja.

Pancaran sinar Pek hong kiam mendadak menyala lebih terang, laksana bintang meteor membawa ekor panjang menjurus kedepan menusuk kearah Cia Ling im!

Cia Ling im berusaha melawan, namun baru saja Ceng ling kiam terangkat, kontan tersampok hancur berkeping mengetarkan suara gemeretak disapu oleh cahaya cemerlang Pek hong kiam. Untung ada tangkisan pedang sehingga ia selamat dari babatan putus badan menjadi dua. Sebatas pinggang, lekas ia melambung tinggi badannya jungkir balik sejauh lima enam tumbak.

Koan San gwat tidak berhenti sampai disitu, Pek hong kiam masih mengejar kedepan. Terdengar Sebun Ba yam menjerit keras, tanpa hiraukan keselamatan sendiri mendadak ia menerobos kedepan, dengan kedua tangan kosong mencengkeram kebatang pedang terdengar lengking yang menyayat hati disertai hujan darah yang berceceran kemana mana. Cia Ling im tidak roboh, yang roboh malah Sebun Bu yam, kedua tangannya hancur luluh tak berbekas, seluruh badannya berlepotan darah, demikian juga mukanya yang buruk oleh darahnya sendiri. Dengan mendelong Koan San gwat menarik pedang, tanpa bergerak ia awasi Sebun Bu yam yang berlintingan ditanah menahan sakit yang bukan kepalang. Wajah Cia Ling im kaku seperti tanah, rada lama kemudian baru ia menarik napas serta katanya : “Anak muda! Sungguh keji kau! Begitu ketat kau menyembunyikan kepandaianmu …”

“Ya, aku menyembunyikan serangan dahsyat yang terakhir, tujuanku untuk membunuh kau, dapat melenyapkan kau dari muka bumi, orang lain pasti tidak akan berani berbuat kejahatan “Lalu apa pula yang kau tunggu! Lekaslah turun tangan. Sungguh tidak nyana aku terjungkal di tanganmu … salah mataku sendiri yang kurang tajam menilai lawanku, sejak mula aku tidak percaya kau mampu mengembangkan seluruhnya kekuatan Pek hong kiam !”

Napas Koan San gwat sendiri belum mereda, meski ia menang dalam babak penentuan namun ia merasa teramat sulit dan menderita pula, namun menghadapi musuh yang pasrah nasib terima ajal ini ia menggeleng kepala, katanya pelan : “Tidak! Aku tidak dapat membunuh kau!”

Sudah tentu ucapannya menimbulkan reaksi hebat, Cia Ling im sendiri tidak percaya dengan pendengaran kupingnya. Li Sek bong, Liu Ih yu serta Sian yu it ouw segara memburu ke depan, kata Li Sek hong geliah : “Koan kongcu! Bila sekarang kau tidak bunuh dia, kelak bakal meninggalkan bibit bencana

…”

Koan San gwat menggeleng, sahutnya “Siapapun yang ingin membunuhnya silahkan aku tidak sudi turun tangan lagi

!”

“Kenapa?” desak Liu Ih yu uring uringan, Koan San gwat angkat Pek hong kiam katanya : “Waktu aku menerima pedang ini pernah bersumpah, demi menjaga keselamatan jiwa ratusan orarg baru aku akan menggunakan pedang ini, setiap kali kugunakan pedang cukup menghirup darah satu orang saja. Hari ini darah sudah membasahi pedang ini, meski melukai orang yang tidak ingin kubunuh, namun aku tidak akan menggunakannya lagi!”

Li Sek hong dan Liu Ih yu saling pandang, mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Untuk melenyapkan jiwa Cia Ling im, hanya Kon San gwat seorang yang mampu melakukan, meski Koan San gwat sendiri harus mengandal kesaktian Pek hong kiam, siapa tahu dia justru menepati sumpahnya yang bertele tele itu. Tahu Koan San gwat tidak akan membunuh dirinya, air muka Cia Ling im menampilkan perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata kata. Akhirnya dia baru bergelak tawa yang menusuk pendengaran, serunya : “He … siapa akan menduga! Aku…! Iblis diantara iblis dalam Liong hwa hwe, siu lo sun cia yang besar diagungkan, akhirnya diampuni oleh bocah keparat bebau pupuk bawang

…” gelak tawa nya jauh lebih buruk dalam pendengaran dari suara tangis. Memang dia tertawa untuk mewakili tangisnya, tawa menangis untuk melampiaskai keperihan dan duka lara hatinya yang tercampur kemarahan pula.

“Siu lo sun cia!” ujar Koan San gwat, “Kau tidak perlu bersedih, bicara terus terang tekadku membunuh kau jauh lebih besar dari segala keinginanku. Cuma aku harus menepati sumpahku, sulit aku turun tangan! Setelah hari ini semoga kau tidak kebentur di tanganku pula!”

Muka Cia Ling im berkerut kerut gemetar, namun mulutnya terkancing tak bersuara segera ia membungkuk membopong Sebun Bu yam, terlebih dulu ia tutuk jalan darah mancer darah menyemprot lebih lanjut, terus tinggal pergi!

Baru beberapa langkah, Go hay ci hang memburu dibelakangnya serta berkata merangkap tangan “Cun cia, derita tiada batasnya, kembalilah ketepian, kuharap kau suka mendengar beberapa patah kata Loceng!”

“Kepala gundul!” maki Cia Ling im sambil melotot, “Cukup sepatah kata kuberitahu kepada kau, sukmaku selalu akan tenggelam dalam kesesatan, aku tidak usah berjerih payah menyadarkan aku!”

“Can ciu sungguh bandel dan tidak dengar nasehat … apa boleh buat! Loceng tidak minta banyak, paling tidak kuharap membubarkan kumpulan orang jahat ini, supaya Lolap berkesempatan menyebarluaskan ajaran Budha kelain tempat

…” sembari bicara ia tunjuk ke begundal Cia Ling im.

Cia Ling im tertawa getir katanya: “Kau tidak usah kuatir, apakah mereka bakal dapat kau taklukan aku tidak peduli, paling sedikit setelah mengalami kekalahan yang mengenaskan ini, aku tiada muka untuk memimpin mereka lagi!”

Go hay ci hang merangkap tangan serta bersabda : “Omitohud! Cun cia punya pikiran ini, betul betul merupakan jasa terbesar bagi umat nanusia”

Cia Ling im tidak menghiraukan dia lagi, sambil membopong Sebun Bu yam cepat melangkah pergi. Di belakangnya mengintil Ki Houw dan Khong Ling ling, disebelah belakangnya lagi rombongan orang banyak, semua tertindak seperti ayam jago kalah dalam gelanggang aduan, seperti balon kempes, tinggal pergi tanpa bersuara. Tiada seorangpun yang tinggal, memang tiada orang yang bersuara menahan mereka.

Setelah mereka mengundurkan diri dari puncak Sin li hong, Koan San gwat segera dirubung orang banyak sorak sorai gegap gempita, semua unjuk rasa girang yang berlimpah limpah.

Hanya Lan Ih yu Saja yang masih mengomel dengan nada kurang senang : “Kau ini memang keras kepala, kukuh seperti gurumu. Sumpah apa segala, hari ini kau melepaskan dia, lain kali…”

Liu Sek.hong segera menukas “Kau takut apa! Kau kan punya sandaran!” Liu Ih yu menjadi malu dan rasa jengah. Lekas It ouw menyela sambil tersenyum.

Pendapa Losiu sesuai dengan perkataan Liu siancu, sehari Cia Ling im belum ajal, kelak merupakan bibit bencana. Mendadak Koan San gwat tertawa getir katanya merendahkan suaranya “Biar kuberi tahu pada kalian, bahwasanya tidak pernah aku bersumpah segala, tapi aku tidak punya maksud hendak melepaakan Cia Ling im, hanya …”

Karuan pernyataan Koan San gwat membuat semua orang kaget, lekas Liu Ih yu mendesak : “Kenapa kau tidak membunh diri? ”

“Hakikatnya aku tidak mampu membunuh dta, sebalikanya bila hendak bunuk aku, segampang membalikkan tangan …”

Orang banyak terkejut. Sambil menggeleng Koan San gwat coba menjelaskan. “Dengan bekal lwekangku, aku hanya mampu mengembangkan keampuhan pedang ini sekali saja, sampai sekarang aku tidak berani membayangkan akibat apa yang bakal terjadi. Untung Sebun Bu yam menjadi korban, bukan menolong dia malah menolong aku…”

Banyak orang yang mengerti, namun banyak pula yang kurang paham. Terpaksa Koan San gwat melanjutkan keterangan : “Keampuhan Pek hong kiam tiada taranya, asal cahaya pedangnya dapat mencapai sasaran, tiada orang bisa hidup, akhirnya aku hanya mampu mengutungi kedua tangan Sebun Bu yam, maka dapatlah kalian bayangkan sampai dimana taraf kekuatanku, namun aku tidak berani menampilkan pada lahirku …”

“Jadi ucapanmu tadi hanya untuk menipu saja? ” tanya Liu Ih yu.

“Benar! Untung dia tidak tahu bualanku, waktu itu aku menyerempet bahaya, mulutku bicara, namun punggungku sudah basah kuyup oleh keringat, kukira kalian juga melihat aku bicara ambil bernapas ngos ngosan.” Perasaan longgar semua orang menjadi tertekan lagi.

Orang orang gagah yang ketinggalan sudah bubar, mereka tidak pamit kepada Koan San gwat saking lelah saat itu ia tertidur pula beralaskan bongkot pohon, hanya beberapa orang saja yang menjaga disekeliling nya, Liu Ih yu, Li Sek tiong, It ouw dan Ling koh mereka dengan setia dan penuh perhatian menjaga keselamatannya.

Mengawasi punggung orang orang yang bubar itu, perasaan menjadi hambar dan mendelu. Pelan pelan It ouw berkat sambil menghela napas “Kali ini benar benar bubar, Liong hwa hwe … ketiga huruf ini sejak hari ini tidak akan menjadi timbul kebesaran lagi, selanjutnya tinggal menjadi kenangan belaka!”

Pada saat itu ada beberapa orang menghampiri, ternyata mereka adalah Hiat lo at Lok Heng kun, Coh san sin Liu Ju yang dan Pak kut sin mo Lok Siang kun suami istri serta Lok Siau hong It ouw sedikit mengangguk sambil bertanya tersenyum . “Apakah kalian hendak pergi? ” Lok Heng kun manggut manggut, katanya perlahan : “Dendam kesumat beberapa tahun sudah terlampiaskan oleh Koan kongcu. Koan kongcu tidak akan bangun dalam waktu dekat terpaksa harap Ouw lo suka menyampaikan rasa terima kasih kami!”

It ouw tidak menjawab, ia cuma meng nggak Segera mereka menjura terus putar tubuh tinggal pergi. Hanya Lok Siau hong yang merasa berat, katanya : “Bu, kenapa tidak tunggu sebentar, aku ingin bicara dengan Koan toako!”

Lekas Lok Heng kun menarikanya serta di bawa lari. Liu Ih yu mengantar punggung mereka dengan pandangan penuh perasaan gusar dengusnya “Anak perempuan itu sangat menyebalkan…”

Li Sek hong melirikanya sekali, katanya : “Sumoy! Kalau kau ingin mendapatkan laki laki ini, lebih baik jangan sampai dia mendengar ucapanmu…” Berubah air muka I.iu Ih yu, sejenak ia termangu mendadak berkata dengan suara ganjil : “Jikalau ada orang ingin memecah belah hubungan kami, akan ku …” ucapan selanjutnya tidak diteruskan, namun jelas sekali sudah melimpahkan perasaan hatinya.

Li Sek hong terperanjat, katanya menghela napas : “Sumoy! Kau belum lagi mendapatkan dia, belum apa apa kau sudah melepaakan kesempatan baik ini …”

Berubah sikap Liu Ih yu, hidung mendengus serta tertawa dingin, suasana jadi begitu dan tegang, tiada seorangpun diantara mereka yang buka mulut lagi.

Kecuali Li Sek hong, Liu Ih yu, Siao yu at ouw dan Go hay ci hang serta Ling koh yang melindungi Koan San gwat yang sedang tidur pulas ini, puncak Sin li hong sudah kosong melompong tiada seorang lagi.

Mendadak pandangan banyak orang tertuju kearah bayang bayang batu cadas besar disebelah depan sana, dikegelapan sana tampak bayangan tubuh manusia yang berdiri mematung. Lekas It ouw memburu kesana, setelah melihat tegas raut muka orang itu, segera ia bertanya dengan heran. “Eh! Kenapa kau belum pergi? ”

Orang ini terayata Hwi thian ya ce Peng Kiok jin mukanya tidak menunjukkan perasaan berdiri tegak tak bergerak, sesaat baru ia menjawab “Aku sedang menunggu Koan San gwat!”

Memangnya Liu Ih yu sedang uring uringan, tiba saatnya ia lampiaskan kedongkolan hatinya meleset kedepan ia menbentak: “Kenapa kau berani langsung memanggil namanya? ”

Peng Kiok jin menyahut rawar: “Dia memanggilku toanio! kenapa aku tidak boleh memanggil namanya! Dihadapannya juga aku memanggil namanya!” Tegak berdiri alis Liu Ih yu. Lekas Go hay ci hang maju “Liu sian cu, Koan siheng pernah terluka parah, berkat asuhan dan perawatannya sehingga kesehatannya pulih kembali, apa salahnya memanggil langsung namanya? ”

Maka, berkatalah Peng Kiok jin dingin “Liong hwa hwe sudah bubar, bubungan kita tidak terikat lagi, tiada perbedaan tinggi dan rendahnya …”

Liu Ih yu menahan amarah dan menahan sabar, tanyanya: “Untuk apa kau menunggu dia!”

“Akan kutanya sebuah persoalan dan kuberi tahu satu urusan !”

“Tanya apa dan memberi tahu apa? Bicara saja padaku sama saja!”

Membalik biji mata Pek Kiok jin, jengek nya: “Dengan apa kau akan mewakili dia? ”

Berubah hebat air muka Liu Ih yu, sentakanya”Kenapa tidak bisa, memangnya aku belum dengar…”

Pek Kiok jin menyeringai dingin, jengek nya “Sudah tentu aku pernah dengar, tapi kam belum resmi?”

Tangan Liu Ih yu sudah meraba gagang pedang, tanyanya mendesis dingin: “Cara bagaimana baru dianggap resmi? ”

Pek Kiok jin acuh tak acuh, sahutnya: “Aku ingin dia langsung bicara kepada aku!”

Liu Ih yu tidak kuat lagi menahan amarah, tiba riba ia mencabut pedang seraya berteriak bengis: “Nenek tua keparat! Kau terlalu menghina orang.”

Sebelum pedang terayun pergelangan tangannya sudah digenggam erat oleh Li Sek hong, alisnya tegak dan menegurnya:”Sumoy! Jangan gegabah …” Sembari meronta Liu Ih yu berteriak “Manusia rendah dari kawanan iblis berani berlaku kurang ajar terhadapku, apakah pantas …”

Lekas Go hay ci hang membujukanya perlahan “Liu sian cu, Liong hwa hwe sudah bubar batas kedudukan dan tingkat dewi, iblis dan setan sudah dihapus, kau perlu mencuci bersih pengertian ini …”

Sedikit banyak Liu Ih yu masih merasa jerih terhadap Hweshio tua ini, menahan gejolak hatinya, dengan kuat kuat menyentak lepas tangannya dari cengkraman Li Sek hong, lalu menyarung pedangg menghampiri Koan San gwat serta menggoncang badannya yang sedang tidur pulas, teriakanya: “Bangun ! Bangun !”

Koan San gwat menyingkat bangun, tangan mengucek ngucek kedua matanya yang masih kantuk ia bertanya, heran “Ada urusan „„ apa..?”

Maka Liu Ih yu merah membara, napas pun memburu turun naik.

Karuan semakin heran Koan San gwat di buatnya, tanyanya

: “Apakah yang terjadi? Agakanya kalian bentrok sendiri …”

Peng Kiok jin batuk batuk ringan, katanya “Akulah yang bertengkar dengan Liu sian cu …”

Heran Koan San gwat, tanyanya “Toanio? Kenapa kau bertengkar dengan Liu sian cu”

Karena sebutan “Liu sian cu” yang ganjil dari mulut Koan San gwat, berubah pula air muka Liu Ih yu, ia meluruk maju seraya berteriak kalap: “Koan San gwat soal jodoh kita sebetulnya sudah masuk hitungan belum? ”

Dalam hati Koan San gwat sudah maklum kemana juntrangan persoalan ini, namun lahirnya pura pura tidak mengerti “Urusan apa?” tanyanya. Amarahnya sudah bergejolak dirongga dada Liu Ih yu, tangan sudah meraba pedang namun belum mencabut keluar, badannya tiba tiba ambruk pelan pelan.

Saking marah dan merasa terhina akhir nya ia semaput.

Cepat Li Sek hong memapah tubuhnya katanya dengan penuh kekuatiran. “Koan kong Cu, berkat petunjuk Toa suci Sumoy pasrah nasibnya kepadamu, hal ini sudah diumumkan secara terbuka dihadapan orang banyak jangan kau anggap main main …”

Koan San gwat gugup sekali, katanya “Darimana harus dibicarakan persoalan ini.”

Li Sek hong tertegun, katanya “Apa! Masa Toa suci tidak pernah membicaran hal ini kepadamu?”

Koan San gwat garuk garuk kepala, sahut nya “Kukira tidak pernah …”

“Lalu kenapa diam saja dihadapan sekian banyak orang ..?” Koan San gwat berpaling kearah Go hay ci hang, tanyanya

: “Taysu! Harap kau saja yang memberi penjelasan, waktu itu

kaulah yang menyuruh aku.”

Terbuka lebar mulut Go hay, suaranya tersekat, sesaat baru ia mampu bicara : “Lolap mendapat petunjuk Hiang ting siancu untuk merangkap perjodohan ini, sedang Hiang ting sian cu melalui Ling koh memberi kabar bahwa Koan siheng katanya sudah setuju!”

Li Sek hong mendelik kearah Ling koh, dampratnya : “Setan cilik! Bicaralah yang jelas, apakah benar Toa suci beritahu kepada kau?”

Mendelong matanya Ling koh, sahutnya tergagap : “Ya.. ya begitulah!”

“Bohong! Kapan aku pernah menyetujui!” teriak Koan San gwat! Lingkoh mencebirkan bibir, katanya “Hiang ting sian cu katanya kau pernah melulusi sesuatu kepadanya, malah katanya tidak akan ingkar janji …”

Koan San gwat menjelajah lagi pengalamannya beberapa lari ini, akhirnya ia paham dua jawaban, “mana bisa salah paham segala…”

Koan San gwat menhela napas, katanya: “Lim sian cu minta aku melakukan sesuatu untuk dia tidak menjelaskan tentang persoalanya, demi membalas kebaikan budi Lim sian cu maka tanpa ragu ragu aku menyetujui permintaannya!”

“Ai!” desah Li Sek hong membanting kaki “Sungguh menyulitkan, kenapa Toa Suci begitu ceroboh …”

“Hal ini tidak bisa salahkan Lim sian cu,” lekas Ling koh menyanggah, “Meski beliau sudah ambil keputusan, tapi diapun beri tahu kepadaku, katanya waktu belum matang, minta ku memberitahu kepada Go hay Taysu supaya bekerja melihat gelagat …”

Pandangan orang banyak tertuju kepada Go hay, hweshio tua menghela napas serta sahutnya “Sebetulnya Lolap tidak ingin mengemukakan, Liu sian cu sendiri yang terlalu bernafsu kemukakan isi hatinya.”

Li Sek hong menghela napas, pandangan nya tertuju kearah Koan San gwat, katanya: “Urusan sudah terlanjur, kuharap kau mengambil sikap yang tegas …”

Koan San gwat jadi serba sulit.

Kata Li Sek hong pula:”Bagaimana keputusanmu? ”

Koan San gwat berpikir mendalam, akhir nya ia menjawab perlahan: “Aku tidak bisa menikah dengan dia …”

Suaranya lirih namun orang mendengar jelas, kecuali Peng Kiok jin perasaan orang banyak tertekan. Maka sambil mendengus berkatalah Li Sek hong “Kenapa? Apakah dia tidak setimpal menjadi istrimu? ”

“Bukan soal setimpal atau tidak, aku tidak akan menikah dengan perempuan yang tidak kucintai…”

“Busyet! cintanya begitu mendalam, jauh lebih hangat dari api membara!”

“Bukan dia yang kumakaud, aku sendiri lah yang tidak punya rasa cinta.”

Li Sek hong geleng kepala, gelap sinar mukanya, ujarnya “Jodoh ini sulit dipaksakan!”

“Li sian cu aku salut setinggi tingginya kepada kau …” “Aku termasuk orang luar, sedikitpun tiada sangkut

pautnya, tapi ingin kuberi nasehat kepada kau!” “Harap siancu cu memberi petunjuk!”

Mengawasi Liu Ih yu yang pingsan berkatalah Li Sek hong penuh haru, “Kalau kau tidak ingin mengawininya, lebih baik sekarang juga kau bunuh dia …”

Koan San gwat berjingkrak kaget, sulit ia menerima maksud kata kata Li Sek hong. Namun Li Sek hong segera menambahkan “Aku tidak berkelakar perasaan perempuan, entah cinta atau benci yang ditempuh adalah jalan paling ujang, sian sumoy justru menempuh jalan ujung yang buntu, cintanya bisa berubah menjadi kebencian yang keluar batas, hari ini kau menolak cintanya dibawah rangsangan perasaan yang kecewa dan gagal ini, mungkin dia akan jauh lebih menakutkan dari Cia Ling im? ”

Koan San gwat mundur sambil geleng kepala.

Li Sek hong menambahkan: “Meski dia Sumoyku tapi aku tidak menyalahkan kau ku kira orang lain pula demikian, aku percaya pandangan mereka tentang hal ini sama seperti pendapatku …” It ouw mengangguk kepala, Ling kohpun manggut manggut, sedang Go hay ci hang tidak mengangguk tapi dia pun tidak menentang. Sementara pandangan Peng Kiok jin malah memberi dorongan kepadanya.

Ini pertanda bahwa ucapan Li Sek hong bukan gertak belaka tapi kenyataan seratus prosen.

Namun Koan San gwat masih menggeleng katanya tegas : “Tidak! Aku tidak bisa mengawininya, tapi akupun tidak bisa membunuhnya. Malah siapa saja akan kurintangi bila hendak melukai seujung rambutnya!”

“Kau tahu akibat sikapmu itu? ” desak Li Sek hong dengan suara gemetar.

“Apapun akibatnya aku yang bertanggung jawab, kalau dia menjadi manusia baik baik akan kusampaikan salut setingginya, tapi bila dia berbuat kejahatan, dengan Pek hong kiam akan kubunuh dia!”

“Apakah tidak terlalu terlambat waktu itu?”

“Ya, mungkin rada terlambat, tapi kita tidak bisa membunuh orang tanpa alasan, apa lagi orang itu tidak punya dosa, apakah kita tidak berdosa malah bila membunuhnya? ”

Li Sek hong merandek, akhirnya merebahkan Liu Ih yu diatas tanah, katanya menghela napas : “Aku tidak tahu apakah tindakkanmu ini benar, namun kejujuran dan kepolosan hatimu membuat aku takluk, bicara soal aturan aku tiada ungkulan, baiklah kuserahkan dia kepada kau!”

Lahirnya ia bicara halus, namun Koan San gwat melihat sorot matanya mengandung napsu membunuh, demikian juga Ling koh dan It ouw, Go hay merangkap tangan serta bersabda katanya “Baiklah Lolap saja yang membawa nya pergi!” sembari berkata ia membungkuk menarik pakaian Liu Ih yu, sementara tangan yang lain menyelonong menepuk ulu hatinya. Untung Koan San gwat cukup tajam dan cekatan, lekas ia dorong telapak tangannya menekan punggung sikut hweshio tua, sehingga tangannya tersampok miring, bentakanya:” Taysu! Apa yang kau lakukan….”

Lwekang Go hay amat tinggi, meski ia tersuluk dua tiga tindak oleh dorongan Koan San gwat, tapi Koan San gwat sendiripun terpental setengah tumbak, Go hay tidak ayal, ia lancarkan pukulan jarak jauh kearah Liu Ih yu yang rebah ditanah. Koan San gwat tidak sempat menolong, saking gugup mulutnya menggerung seperti harimau gila.

Tak nyana begitu badan Liu Ih yu terpukul badannya mencelat tetrbang lima enam tumbak, namun dengan ringan badannya jatuh di tanah sedikitpun tidak mendapat luka apa apa. Matanya memancarkan amarah yang mengandung dendam dan kebencian, Katanya dengan suara serak : “Kalian kurang mengerti terhadapku pribadiku, demikian pula pengertianku terhadap kalian ternyata kurang mendalan.”

Koan San gwat menjerit tertahan, ujarnya “Aih! Kau … tidak pingsan …”

Liu ih yu menyeringai.

“Maksudmu karena persoalan ayahnya dia jatuh sakit? ” Peng Kiok jin manggut manggut.

Koan San gwat menghela napas , ujarnya: “Sungguh bodoh dia! apa sangkut pautnya perbuatan ayahnya dengan dia! didalam Liong hwa hwe kali ini aku bertemu Thio Hun cu, pernah kutanyakan duduk persoalannya kelihatan nya kejadian itu bukan perbuatannya”

“Dia sudah menyikapi, yang bertanding ke semua golongan dan aliran silat besar memang dia, namun yang mencuri buku ajaran silat dan melukai orang adalah perbuatan orang lain.”

“Sungguh sulit dimengerti, lalu apa pula yang dia kuatirkan.” “Tapi peristiwa yang menimpa Bu khek pay di Im san memang benar Thio Hun cu lah yang memelet putrinya Im Le hwa.”

“Dari mana dia memperoleh berita ini”

“Boleh nanti kau tanya langsung kepadanya! aku sendiri tidak tahu, memang aku juga berani pastikan bahwa Thio Hun cu kena fitnah, namun ia bergaul dengan orang orang Mo kiong memang kenyataan, maka sulit membela Thio Hun cu.”

“Untuk apa Ceng Ceng berada di Tay pa san? ” “Bukankah sudah kukatakan dia sakit, sudah tentu ia

merawat penyakitnya disana,” demikian jawab Peng Kiok jin

uring uringn.

Koan San gwat tertawa, dengar sabar ia berkata “Aku merasa heran hanya untuk merawat penyakit kenapa mesti ke tempat yang sepi itu!”

Peng Kiok jin mendengus “Kecuali tempat itu tiada tempat lain ia bisa menempatkan dirinya. Aku tidak perlu banyak omong, nanti kau akan mengerti dengan jelas, bicara terang atas makaudku sendirilah kau kubawa kemari untuk menemuinya, menurut tabiatnya, selama hidupnya ini ia tidak mau bertemu dengan kau!”

“Toanio, kata katamu makin membingungkan, aku tidak mengerti …”

“Tidak perlu kau mengerti, cukup asal kau melimpahkan perasaanmu yang murni, mungkin uluran cintamu bisa menolongnya dari penderitaan!”

Koan San gwat geleng kepala denpan hambar, sejak mengetahui seluk beluk Liong hwa hwe, dia sudah berkecimpung dalam banyak persoalan serba rahasia, ia tahu bila bertanya lebih lanjut tidak akan membawa hasil. Terpaksa ia tutup mulut, menggebah tunggangannya berlari lebih pesat. Akhirnya Peng Kiok jin tidak lahan, tanya : “Kenapa kau tidak bicara? ”

“Apa gunanya bicara? Urusan yang harus ku ketahui kan tidak bisa memberi tahu makin tanya membuat hatiku gundah dan ruwet malah, lebih baik berlaku tenang menunggu perkembangan selanjutnya …”

Peng Kiok jin menjadi gusar, dampratnya “Paling tidak kau harus menyatakan rasa prihatinmu terhadap kesehatannya!”

“Begitu mendengar beritanya, segera aku menyusul kemari bersama kau apakah aku masih kurang perhatian?”

“Begitu saja? Kau tahu betapa dia mengorbankan diri diri untuk kesehatanmu dulu? Untuk menolong jiwamu dia pertaruhkan jiwanya membawa Kau ke Kun lun san di tanah bersalju dia kira kau tidak tertolong lagi menangis sejadi jadinya berusaha menimbun tubuhnya dengan air matanya, sekarang dia lebih …”

“Sekarang dia bagaimana? ”

Peng Kiok jin sadar sudah kelepasen omong, cepat ia tutup mulut, kata nya : “Kau tak usah tanya, yang terang ia telah mengorbankan segalanya, tenggelam dalam penderitaan!”

“Begitu besar dan dalam cintanya terhadapku, kenapa tidak ingin bertemu dengan aku? ”

“Ai, akulah yang sudah linglung karena gelisah, bicaraku tidak genah, putar balik di mulut ia mengatakan tidak mau bertemu dengan kau, namun perasan hatinya tidak dapat mengelabui aku, rasa rindunya terhadap kau jauh lebih besar lebih membara dari apa saja …”

“Aku mengerti! Akupun tidak menyia nyiakan cintanya, di Sian li hong secara tandas kutolak perjodohan dengan Liu Ih yu..” “Karena sikapmu itu baru aku berketetapan untuk memberitahu jejakanya kepada kau!”

Tiba tiba Koan San gwat berkata sungguh: “Toanio, bila kau percaya kepadaku, harap kau suka menuturkan keadaan yang sebenarnya! Sebetulnya bagaimana keadaan Ceng Ceng di Tay pa san…”

Peng Kiok jin menggeleng dengan perasaan pedih dan rawan, sahutnya. “Harap maaf kan aku, tidak bisa aku banyak bicara, membawa kau kesanapun aku sudah bersalah besar, tapi demi nona Ceng, demi membalas kebaikan Soat lo Thay thay, aku banyak bisa menyumbangkan sekedar tenagaku ini!”

Koan San gwat maklum akan kesulitan orang, maka ia tidak mendesak lebih lanjut tunggangannya ia bedal lebih kencang, berlari lari kencang dialas pegunungan dengan bebas tanpa mengenal rintangan.

Untung jarak Tay pa san dengan Bu san hanya seribu li, sepanjang jalan ini mereka harus melewati alas pegunungan yang belukar jarang diinjak manusia, kekuatan lari unta Sakti memang tidak diragukan, naik gunung lompat jurang berlari seperti dijalan datar kira kira satu hari mereka menghabiskan waktu perjalanan, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan.

Tujuan mereka ialah puncak Tay pa san yang utama yaitu yang dinamakan Tay pi hong setelah tiba dibawah gunung, perasaan Peng Kiok jin kelihatan tidak tenang katanya: “Aku tidak bisa turut keatas, boleh kau bekerja menurut keadaan! tapi rintangan apa serta kejadian memalukan apapun harus dapat kau terima dengan kebesaran jiwa demi nona Ceng.”

“Jangan kau putus asa jangan patah semangat, maju terus pantang mundur, semoga Thian selalu melindungi kau…” Habis berkata ia melompat turun dari punggung unta terus meleset terbang tinggi pergi.

Koan San gwat terlongong heran melihat tingkah lakunya yang aneh, tapi setelah maju lebih lanjut tiga empat li jalan disini semakin sempit dan sulit dilewati cukup untuk lewat satu orang.

Jalan gantung ini dibangun ditengah himpitan dua dinding gunung yang curam, dinding licin dan rata banyak tumbuh lumut hijau, kalau dia nasih bisa berlari, namun unta nya yang bertubuh tinggi besar sudah tidak mungkin maju lebih lanjut, terpaksa ia tinggalkan untanya, memanggul gada masnya serta menyoreng pedang di pinggang, ia maju lebih lanjut menyelusuri jalan pegunungan ini terus naik keatas.

Jalan gunung ini berputar membundar berbeatuk seperti kiong, semakin berputar semakin tinggi, kira kira tujuh delapan li kemudian baru dia melihat sebuah panggung datar dari batu gunung, awan mengembang angin gunung menghembus sepoi sepoi.

Koan San gwat mengeluarkan keringat panas, berjalan begitu lama diatas pegunungan yang sempit memang amat payah, apalagi ia harus selalu waspada menjaga keseimbangan tubuh. Setelah berada diatas panggung baru, ia menarik napas panjang, setelah menjelajahkan pandangannya, tanpa menarik alis. Ternyata jalan pegunungan ini sampai disini sudah putus, untuk maju lebih lanjut harus memanjat ke atas seperti kera, dengan akar akar pohon yang tumbuh lebat.

Akar akar rotan memang cukup besar, cukup kuat menahan berat badan satu orang, namun ia merasa sangsi. Soalnya terletak pada gada masnya ini, beratnya ada tiga empat ratus kati, dia sendiri sih tidak keberatan, namun kuatkah akar akar rotan itu menunjang berat sedemikian besarnya.

Tebing ini cukup tinggi dan disebelah bawah adalah jurang yang tidak kelihatan dasarnya masakah ia harus bekerja mempertaruhkan jiwa sendiri, kalau gada masnya harus ditinggalkan begitu saja, rasanya berat dan tidak mungkin. Begitulah sekian lama ia memeras otak mencari akal mengatasi kesulitan ini. Dasar otakanya encer, mendadak timbul aksinya, lekas ia turunkan senjata beratnya, ambil mengerahkan tenaga saktinya, ia tancapkan malaikat mas berkaki tunggalnya diatas panggung batu gunung, begitu hebat tenaganya, gadanya itu sampai amblas seleher patung malaikat berkaki tunggalnya, lalu dikeluarkan pula sebentuk lencana Bing co ling. Diporotkan diatas batu pula.

Ia membayangkan untuk mencabut gadanya itu dari dalam batu, memerlukan tenaga lwekang yang luar biasa, orang yang membekal lwekang sedemikian tinggi tidak akan ketarik oleh patung malaikatnya.

Umpama orang benar benar mencabutnya keluar itu pertanda bahwa orang itu menantang dirinya, dan untuk itu pasti dia akan mencari dan menemui dirinya, paling tidak pasti meninggalkan tanda pengenalnya dicari tentu tidak sukar.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, terasa hatinya lega dan longgar. Tapi waktu ia angkat kepala, seketika hatinya terkejut bukan main.

Entah sejak kapan dihadapannya tahu tahu berdiri seorang, orang ini tiba tanpa mengeluarkan suara, entah datang dari bawah atau dari atas.

Orang ini berusia tiga puluhan, mukanya cakap dan cerah, mengenakan pakaian sekolahan, sikapnya sopan santun lemah lembut.

Tapi Koan San gwat tidak demikian, perduli orang datang dari bawah atau atas, kenyataan orang berada dihadapannya tanpa mengeluarkan suara dia tidak diketahui olehnya, jelas membuktikan bahwa orang ini bukan sembarangan orang.

Dengan kaku orang itu menghampiri matanya mengawasi tulisan jari Koan San gwat dipinggir patung malaikatnya yang berbunyi: “Peninggalan Bing tho ling cu? ” Koan San gwat bersoja, sahutnya: “Aku yang rendah Koan San gwat …”

Perhatian orang itu tidak tertuju pada perkenalan namanya, matanya masih menatap tajam tulisan tulisan itu, katanya “Goresan jari saudara sungguh menakjubkan, kekuatan jari itu lebih harus dipuji!”

“Ah tulisan ceker ayam belaka, tidak perlu diperhatikan …” “Ai, kenapa sungkan, hobyku juga menulis, bisa bertemu

dengan seseorang yang punya gaya tulisan sebagus ini kesempatan tidak kusia siakan, kuharap selanjutnya kami bisa sling belajar dan mamberi petunjuk!”

Sudah tentu Koan San gwat tiada hasrat msmbicarakan soal tulisan, cepat ia kerkata. “Kelak kalau ada waktu pasti akupun mohon petunjuk pada saudara. Cuma hari itu…”

“Bagus sekali,” tukas orang itu, “Aku tinggal diatas, sewaktu waktu saudara boleh datang untuk memberi pelajaran.”

Koan San gwat melongo, tanyanya: “Jadi saudara juga tinggal dipuncak sana? ”

“Benar … eh, kata kata “juga” yang saudara ucapkan kedengapannya aneh, apakah tempat tinggal saudara bertetangga dengan Siau te!”

“O, bukan, aku punya seorang kenalan yang tinggal disebelah atas.”

Orang itu manggut, ujarnya: “begitu! orang yang menetap diatas tidak banyak entah siapa sahabat saudara itu? ”

“Seorang anak perempuan, dia bernama Thio Ceng Ceng…”

Berubah air muka orang itu, matanya menatap tajam katanya: “Memang ada orang yang kau maksudkan, jadi saudara kemari mencari dia? Adalah urusan apa? ” Koan San gwat dongkol akan pertanyaan orang yang melit, namun ia menahan sabar sahutnya: “Aku yang rendah adalah sahabat karib nona Ceng, sengaja kemari untuk menjenguknya …”

-oo0dw0oo-