Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 09

 
Jilid 09

HILANG SUARANYA IA LANTAS keprak tunggangannya dan berlari cepat dikeremangan malam menuju kearah depan sana, maka terdengarlah derap kaki kuda yang ramai dibelakangnya mengejar dengan cepat. Lu Bu wi seketika keprak kudanya mengejar dibelakangnya. Derab kuda dan langkah unta yang tegap dan berat itu seolah olah menjadi perpaduan musik yang gagah mengiringi mereka maju kemedan laga.

Kira kira setengah bulan kemudian, mereka berempat sudah tiba disungai Pe long kang yang terletak di perbatasan Su cwan dan Kam siok, setelah menyebrang sungai mereka memasuki wilayah Su cwan yang terkenal sulit dan penuh bahaya. Setelah tiba di daerah sulit perasaan Koan San gwat malah lebih longgar, mereka menginap disebuah rumah penginapan kecil, setiap hari kerjanya cuma makan minum dan pelesir dipinggir sungai besar, melihat pemandangan, sedikit waktu bertemu muka dengan Lu Bu wi, waktunya sebagian besar berada d luar.

Beberapa hari sudah berselang Lok Siau dan Lau Sam thay tidak sadar kalau Lau Sam thay tidak berani banyak bicara, Lok Siau hong sudah tidak tahan lagi, maka pada suatu pagi dikala Koan San gwat sudah siap berangkat, cepat ia memburu serta bertanya : “Koan toako, kau hendak kemana lagi?”

“Hari ini aku akan tamasya ke Mo thian ling (bukit pencakar langit) konon puncak gunung itu sangat tinggi menembus awan, pemandangan disana lain dari pada yang lain!”

“Koan toako,” ujar Lok Siau hong kedatangan kita kesini bukan untuk bertamasya bukan?”

“Aku tahu, hidup ini sangat terbatas, mumpung ada waktu baiklah menikmati tempat tempat indah yang menyenangkan, kelak mungkin tiada kesempatan lagi!”

Lok Siau hong melengak, tanyanya: “Koan toako apa maksudmu?”

“Tiada maksud apa apa, mungkin kau terlalu iseng karena senggang, baiklah hari ini kau boleh ikut!”

Lok Siau hong paham dimulut kedengarannya Koan San gwat bicara enteng, tapi urusan tentu tidak sepele, serta mendengar Koan San gwat hendak mengajak kesuatu tempat, karuan ia berjingkrak kegirangan.

Mereka menunggang unta dan kuda yang dibedal kencang, tidak lama kemudian sudah menempuh perjalanan pegunungan yang berliku liku menjurus kearah puncak gunung, Mo thian ling termasuk dalam wilayah Bing san, susun bersusun sepanjang ribuan li ke barat memasuki wilayah Ceng hay ketimur menjorok kepropinsi Ouw pak, merupkan pegunungan terpanjang.

Waktu hampir tiba dipuncak bukit, hembusan angin pegunungan sedemikian kerasnya awan menggembung dibawab kaki, seolah olah karena susah berpisah dengan dunia fana ini pohon siong dan Pek menjulang dan berdiri kekar, tumbuh subur dimana mana tersebar luas, burung bangau berterbangan, kera berloncatan dipucuk pohon, ternyata pemandangan di sini memang mempersonakan.

Selama hidup belum pernah Lok Sian hong melihat pemandangan seperti yang disaksikan sekarang, tak tertahan ia tuding sana tnnjuk sini seperti menari saja ia diatas punggung tunggangannya.

“Hati hati, jalananan disini tumbuh lumut dan licin sekali, kendalikan kudamu baik baik, jangan sampai terpeleset, kalau sampai jatuh kau bisa lenyap tanpa bekas!”

“Jangan kuatir, meski kudaku tak sehebat untamu, dia merupakan tunggangan yang lumayan juga, jalan pegunungan begini tidak bakal mempersukar dia….”

Tengah bicara tiba tiba kaki depan tunggangannya mendadak tertekuk kedepan entah tersandung apa, hampir saja ia terjengkang ke depan, untung gerak geriknya cekatan gesit sekali ia melesat kedepan, untunglah unya tunggangan Koan San gwat lekas menyusul tiba, leher panjangnya terulur menahan tubuh k da itu sehingga tidak tergelincir jatuh kebawah gunung.

Begitu menginjak tanah Lok Siau hong lantas mengayun cambuknya memecut pantat kudanya seraya memaki “Celaka, baru saja memuji kau, secepat itu pula kau bikin aku sakit” cepat menyampok cambuknya. Terdengar Koan San gwat berseru: “Jangan kau ribut dan main pukul ditempat ini, kalau dia kesak itan dan mergumbar adatnya, sekali loncat tamatlah riwayatnya!”

Lok Siau hong memonyongkan mulutnya katanya bersungut: “Tamat ya sudah, paling aku turun gunung jalan kaki.”

“Enak berkata, dua hari lagi kita harus melanjutkan pejalanan, masa kau hendak menjadi buntut mengejar jalan kaki.”

“Jadi harus berangkat lagi?” tanya Siau hong tertegun. “Sudah tentu,  kan  belum  sampat ketempat  tujuan,  aku

sedang menanti bala bantuan dari pihak Ciong lam pay!”

“Tidak heran setiap hati kau bicara dengan Lu bu wi toako, sungguh aku kurang paham untuk apa kau memerlukan sedemikian banyak orang, kalau berkelahi masa mereka bantuan kau?”

“Aku tidak perlu bantuan mereka untuk berkelahi, yang jelas ada tugas lain yang lebih penting perlu bantuan mereka untuk mengerjakan!”

Lok Siau hong hendak bicara lagi tapi Khoan San gwat menggeleng kepala, katanya: “Kau bukan anak kecil lagi, tapi sifatmu masih suka merengek masa nona besar masih suka merengek!” demikiin goda Koan San gwat.

Merah muka Lok Siau hong, selanjutnya ia banyak berdiam diri. Sementara itu Koan San gwatpun sudah turun dari tunggangannya matanya menjelajah sekelilingnya akhinya ia menghela napas serta berkata mangut manggut: “Tempat ini sungguh segar dan menyenangkan, semoga kelak akupun dapat memperoleh tanah subur nan sunyi begini, selama hidup terpisah dari keramaian dunia….”

“Apakah baiknya tempat ini, “sela lok Siau hong, “Kecuali mega pohon dan gunung serta burung dan binatang liar, kalau seng gang dan iseng untuk mencari orang ajak bicarapun tiada, kadang kala bermain man sih boleh, kalau selama hidup tinggal di tempat yang sepi begini, kalau tidak mati kebal sudah untung!”

“Nanti setelah usia mu dewasa kau akan tahu menikmati kehidupan bersih dan sunyi paling nikmat, akan datang saatnya kaupun bisa menyenangi tempat semacam ini!”

Mata Lok Siau hong berkedip kedip mendadak ia tertawa cekikikan, ujarnya “Koan Toako katamu tempat ini tiada jejak manusia?”

“Ya, pohon siong dan burung bangau yang diselimuti awan putih mengembang, seolah tempat kediaman para dewata saja tempat ini.”

Mata Lok Siau hong berputar katanya: “Dewa yang kau maksud tentu adalah Lu Tong pin dan Thi koay dari dongeng delapan dewa menyebrangi lautan itu bukan!”

“Kenapa kau bicara begitu?” tanya Koan San gwat melengak.

Lok siau hong berjingkrak sambil bertepuk tangan sahutnya “Karena Lu Tong pin paling suka minum arak, sedang Li Thi koay paling suka gegares (suka makan) sayup sayup sepeti terendus olehku bau arak dan daging panggang!”

Lekas Koan San gwat angkat kepala mengendus endus ia membenarkan ucapan orang katanya keheranan. “Puncak gunung sedemikian tingginya ada siapa makan minum ditempat ini?”

“Sudah tentu para dewata! Manusia umum nya suka kehiduapan dewata yang sunyi dan suci, Sebaliknya para dewa menyukai arak dan daging buatan manusia, dapat disimpulkan bahwa konatradiksi di dunia fana ini memang terlalu banyak !” Tergerak hati Kon San gwat dengan sikap serius ia berkata: “Jangan kelakar, mari kira tinjau kesana!”

Lok Siau hong berloncatan cepat, ia berlari mendahului kedepan, terpakai Koan San gwat menguntit dibelakangnya, mereka menerjang kabut tebal dan langsung mamanjat lebih atas, tak lama kemudian bau arak dan panggang daging semak in keras, tak lama kemudian dia lantas batu besar yang menonjol keluar di kejauhan sana tampak bayangan dua orang sedang duduk berhadapan. Seorang sedang angkat guci arak menenggak dengan lahapnya, seorang yang lain sedang gegares daging panggang dengan nikmatnya.

Koan San gwat mendekat maju, setelah jarak dekat dengan jelas ia sudah melihat kedua orang itu berusia lanjut pakaiannya biasa seolah olah mereka adalah tukang tebang kayu atau pemburu diatas gunung ini, maka perasaan dan waa was tadi menjadi kendor.

Lok Siou hong sangat terkejut sambil ia berkata kiranya tua bangka…. suaranya keras cepat Koan San gwat menggoyangkan tangan kepadanya maksudnya supaya bicraa perlahan supaya tidak didengar oleh mereka dan menimbulkan perkara, karena dandanan kedua orang ini, Koan San gwat menduga mereka pasti bukan orang sembarangan, bila terjadi pertengkaran, watak Lok siau hong berangasan itu tentu urusan bakal berpanjang.

Tak nyana Lok Siou hong tidak pedulikan isaratnya, dengan suara lantang ia berteriak lagi kukira dewata, ternyata dua kakek rencana hampir mampus, sungguh menyebalkan!

Koan San gwat kurang senang, baru saja ia menegor keberandalannya kedua orang tua diatas batu itu sudah bersuara: Engli heng, ternyata ada manusia yang kita anggap bangsa dewata.

Orang yang bicara ini bermuka gemuk, seorang tua lain masih menenggak araknya, dengan sikap acuh tak acuh bermalas malasan ia menjawab: “Seumpama kita anggap diri sebagai dewa kan tidak berkelebihan!”

Tergerak hari Koan San gwat, Lok Siau hong menjebirkan bibir dan mencemoh   , “Masa dewa seperti tampang kalian ini?”

Simuka gendut membanting tulans ditangannya, seraya berpaling dia tertawa, katanya : “Nona cilik, coba katakan seperti apa sebetulnya dewa itu?”

Pertanyaan ini menyegal mulut Lok Siau hong, memang ia tidak bisa menggambarkan seperti apakah sebenarnya bentuk dewa itu.

Sikurus menurunkan guci araknya tertawa gelak gelak, sarunya “Aku Tong pin menengok arak sampai mabuk di Gak yang lau, padahal dia seorang gelandangan yang rudin, Thi koay sian adalah peminta sedekah nasi yang gelandangan sepintas pandang jauh lebih celaka dari kami berdua, masa kita berdua tidak menyerupai dewa malah.”

Berdetak jantung Koan San gwat, Lok Siau hong malah bertepak senang, serunya, “Mendengar percakapan kalian, jadi kalian adalah dewa asli?”

Sambil membersihkan kedua tangannya yang berlepotan minyak kebaju depan dadanya si gendut tertawa ujarnya: “Kita hidup harus menikmati kesenangan, jiwa adalah yang paling berharga dalam dunia ini, dengan hidup senang dan bebas baru boleh dinamakan dewa”

Tergarak pula hati Koan San gwat, cepat ia bertanya: “Siapakah gelarmu dewa kalian…”

“Sudah menjadi dewa masa perlu gelar lagi, nama sudah cukup dan lebih diagungkan!” si kurus cepat menjawab.

“Kalau begitu mohon nama dewa kalian?” Koan San gwat menambahkan. Si muka gendut terbahak bahak sahutnya: “Aku bernama It lun bing gwat, dia bernama Ban li bu in”

Dengan tenang dan penuh keyak inan Koan San gwat berkata : “Kiranya kalian tokoh yang tercantum dalam daftar Sian pang ?”

Kelihatan kedua orang melengak, tapi tidak memperlihatkan reaksi yang berarti akhirnya sikurus bergelak tertawa, ujarnya : “Siang pang (golongan dewa) atau Kui pang (golongan setan) apa segala! Kami tidak paham!”

Ucapan Kan San gwat memang sengaja hendak memancing belaka, dari sikap mereka terlihat delapan puluh persen ia yak in dugaannya tidak meleset, tapi lahirnya ia tetap tertawa tawa katanya: “Karena ku dengar kalian menamakan diri sebagai Sian sian (dewa sakti) menyebut nama yang begituan lagi, maka kuurutkan nama kalian kedalam golongan dewa itulah.”

“Kalau begitu kau salah terka” ujar si muka gemuk, “Secara serampangan kita menarik sebuah nama untuk apusi kau. Hai, bocah, kau bernama apa?”

Koan San gwat berpikir pula lalu berkata “Banli koan san bu im (berlaksa li sepanjang gunung gunung tiada awan), It lun bing gwat tok bing (bulan sabit memancarkan cahaya tunggal)”

Si muka gendut tersentak kaget air muka nya berubah hampir saja ia hendak berteriak, keburu simuka kurus melorot kepadanya, cepat si muka gendut sadar dan mengubah kata: “Bagus! It lun gwat tok bing, ucapanmu sungguh agung mengandung arti yang sesungguhnya, agaknya kau bocah ini pernah bangku sekolah, marilah silakan naik ikut merasakan daging panggang!” sembari berkata tangannya segera meraih kedepan mencomot segempal daging panggang terus dilempar dari jarak jauh, lekas Koan San gwat angkat tangan menyambuti terasa lemparan siorang tua cukup kuat sampai telapk tangannya tergetar sak it, hatinya jadi lebih mantap,

Diwaktu ia menjelaskan makna namanya dia menyinggung nama Tokko Bing gurunya sengaja ia sisipkan nama gurunya ini didalam penjelasan itu, lantas tampak sigemuk terkejut dari mulutnya yang bergerak itu jelas ia hendak berseru: “Tok,” namun karena delikan mata sikurus cepat ia mengubah seruannya, dari sini ia lebih yak in bahwa kedua ini pasti hubungan yang erat dengan Liong hoa hwe, Hong sin pang, Siau se thian dan lain lain yang selalu menjadi pemikirannya.

Akan tetapi sikap orang sangat rahasia betapapun ia harus mencari akal untuk mengorek keterangan mereka, maka sekian lama ia menjublek di tempatnya.

Kelihatannya Lok Siau hong ketarik oleh tingkah lucu kedua orang ini, apalagi setelah perjalanan jauh sejak pagi perutnya memang mulai lapar, dan daging pangang itu merangsang hidungnya lagi, maka air liurnya selalu ditelannya kembali, teriaknya: “Ai, orang tua kenapa kau begitu kikir, ada daging panggang kenapa tidak bagi bagi kepadaku.

Tingkah si gendut yang bernma It lun bing gwat itu lebih jenaka, katanya cengar cengir: “Nona cilik, kau ingin makan daging panggang tapi ada syaratnya yaitu kau harus menjawab dua pertanyaanku dulu!”

Lok Siau hong jengkel, jengeknya “Kedua pertanyaan itu sangat gampang, aku cuma ingin menjajak kecerdikanmu!”

Penjelasan ini menarik Lok siau hong yang masih kekanak kanakan, tanyanya cepat “soal apa yang kau tanyakan?”

sambil menuding hidung sendiri it lun bing gwat berkata : “Pertama, kau harus menjelaskan kenapa aku dipanggil it lun bing gwat!” Lok Siau hong cekikikan sahutnya: “Wah gampang sekali kulihat mukamu yang gendut banyak dagingnya itu bukan, bukankah seperti bentuk rembulan yang bundar?”

It lun bing gwat tercengang, sebaliknya yang bernama Ban li bu in terloroh loroh, serunya. “Gendut julukan mu memang cocok keadaanmu, sekali tebak tepat kena sasaran.”

It lun bing gwat berpikir sebentar lalu berkata pula “Pertanyaan kedua harus menebak secara jitu pula, daging apa yang kupanggang ini.”

Waktu Lok Siau hong pandang daging ditangan Koan San gwat, bentuknya selonjor paha ayam.

Diam diam ia membatin “Bila daging ayam sekali pandang pasti ketahuan, masa aku menebak… tapi dari bentuknya ini pasti sebangsa daging burung …. burung yang boleh dimakan sangat banyak, pasti besar kecilnya paha panggang itu dapat diperkirakan bentuk burung itu pasti cukup besar, sesast ia bingung dan sulit ambil kepastian, ia diam berpikir sekian lamanya.

Sebaliknya It lun bing gwat gelisah malah kuatir tidak tertebak sengaja ia menambahkan, daging ini setiap sast dapat didapatkan diatas gunung ini, coba kau memikirkan dari sumber yang dekat saja.

Lok Siou hong masih memeras otak, karena burung digunung bermacam macam, untuk menunjuk salah satu memang sulit, terpaksa It lun bing gwat memberi tambahan pula “Mahluk itu bisa terbang menjulang tinggi di atas awan!”

Cepat Lok Siou hong berteriak daging burung elang.!

It lun bing gwat jadi lesu dan murung, katanya kesal: “Betapa gagah nama julukanku masa gegares daging binatang yang menyebalkan itu!”

“Kalau begitu sulit ditebak,” sahut Lok Siou hong sambil merengut, “Apa mungkin daging bangau?” “Siapa bilang daging bangau,” teriak it lun bing gwat sambil menepuk paha.

“Tebakanmu jitu, mari silahkan mencicipi sekerat daging ini!” lalu ia mencomot sekerat daging lalu dilemparkan kepada Lok Siau hong. Meski Lok Siou hong mengulur tangan menerima tapi secepat itu pula ia lempar ketanah hatinya mual karena tadi ia melihat sang bangau bertengger di pucuk pohon, sikapnya yang bebas dan tentram seperti seorang dewa yang mengasingkan di mana terpikir olehnya dagingnya bakal dipanggang dan digares oleh manusia.

Bergegas Ii lun bing gwat melopat turun dari atas batu besar menjemput daging panggang itu seraya menggerutu: “Nona cilik tidak tahu kebaikan secara baik hati kuberikan panggang daging bangau ini kepada kau, agaknya kau tidak sudi menikmati kehidupan yang serba bebas menyenangkan ini, dibuang buang begini saja sungguh sayang!” dengan lapar ia masukan daging panggang kedalam mulutnya lalu dikunyah seperti orang kelaparan air liur membasahi pakaiannya.

Lok Siau hong semak in mual, serunya gusar: “Mengagulkan diri sebagai dewa, sedikitpun tidak punya rasa pengasih, sungguh menyebalkan!”

“Anak perempuan kenapa bicara begitu kasar,” ujar It lun bing gwat, “kau tidak percaya betapa enak dan lezat daging panggang ini, tuh diatas masih ada, mari kau keatas, nanti kau cicipi sendiri!” sambil berkata ia ulur tangan hendak menarik lengannya, kontan Lok Siau hong menghardik keras, cambuk ditangannya melecut kepunggung orang, It lun bing gwat masih tersenyum simpul, membalik pergelangan ia mencengkram gagang cambuk orang.

Takkira permainan Ling coa piang hoat Lok Siau hong memang sangat hebat, sedikit pergelangan memelintir, gerak cambuknya berubah menggulung balik mengetuk punggung tangan orang karena perubahannya cepat serangan jitu lagi “plak” telak sekali punggung tangannya kena dilecut sekali. Agaknya It lun bin gwat tidak mengira bila permainan cambuk cewek ini sangat menakjubkan, maka tangan tidak terasa sak it tapi merasa malu, bentaknya gusar: “Nona cilik! Kenapa kau tidak tahu aturan.”

Lok Siau hong pun berjingkrak gusar, teriaknya: “Tua bangka menyebalkan, siapa yang tidak tahu aturan, siapa yang main tangan lebih dahulu?”

“Dengan baik hati Lohu ingin mengajak kau mencicipi daging panggang”

“Aku tidak sudi makan panggang bangau mu!” hati Lok Siau hong tidak kalah gasarnya.

It lun bing gwat gusar menggerung “Selama hidup belum pernah keinginan Lohu ditolak orang secara mentah, kau harus makan sekerat dagingku ini!” sembari berkata jarinya berkembang hendak meraih lengan, lekas Lok Siau hong mengayun cambuknya seperti daun daun pohon berguguran melecut dari berbagai arah keatas kepala dan muka orang.

Adanya pelajaran pertama It Iun bing gwat kali ini berlaku lebih hati hati, meski perawakannya tambun namun gerak geriknya amar gesit dan lincah, kelit kiri menghindar kekanan selalu dapat berputar putar diantara sambaran bayangan cambuk.

Meski Lok Siau hong tidak berhasil menyerang sasarannya, namun permainan cambuk nya yang hebat itu dapat merintangi rangsakan lawan beginilah pergi datang mereka saling menyerang dengan serunya sampai puluhan jurus.

S i kurus Ban li bu in masih ungkang ungkang di atas batu sambil menghirup araknya, terdengar ia menggoda : “Gendut! Semakin lama kau mak in tidak berguna, di Siau se thian kau diusil orang, untuk ini alasan cukup setimpal, hati ini kau kau dipermainkan gadis cilik serunyam ini, benar benar memalukan, menurut hematku lebih baik kepalamu ditumbuk keatas batu gunung saja biar mampus!” Karuan It lun bing gwat berkaok kaok teriaknya “Ban li! Jangan kau ngoceh belaka, soalnya Lohu tidak melukai gadis cilik ini, kalau tidak cukup sejurus saja sudah kutamatkan riwayatnya….”

Setelah menenggak araknya Ban li bu in     , berseru tertawa : “Menghadapi seorang nona cilik, tidak malu kau bicara demikian, memangnya kau ingin menggunakan Thay im ciang yang jahat. Kini sudah sembilan belas jurus, masih sejurus lagi, bila kau tidak berhasil akan kulihat cara bagaimana kau akan tampil dihadapan orang banyak!”

Mendengar seruan ini cepat It lun bing gwat menerobos keluar dan melompat mundur ujarnya menghela nafas: “Nona cilik! Kau membuat Lohu celaka, sengaja kau menggunakan akal mempermainkan aku, Lohu sudah terdesak sehingga tidak nyangka hari ini jiwaku bakal melayang ditanganmu!”

Lok Sian hong tercengang, serunya : “Aku tidak bermaksud membunuhmu.”

“Selama bertanding dengan orang, Lohu pantang dari dua puluh jurus sebaliknya aku harus bubuh diri saja, sekarang kita sudah mencapai jurus kesembilan belas masih sejurus belum tentu aku mampu meringkasnya kau… ai sudahlah, Lohu tidak ingin dikalahkan gadis cilik lebih baik kuturuti nasihat setan kurus menumbuk kan gunung saja!”

Habis berkata ia putar tubuh terus menerjang kearah batu besar di belakangnya. Kaget Lok Siau hong bukan kepalang, tak terduga olehnya jiwa orang tua ini demikian keras dan ketus, cepat ayun cambuk hendak menggulungnya kembali, di luar perhitungan gerakan si orang tua terama, “Blang” telak sekali kepalanya sudah menumbuk batu.

Sungguh aneh bin ajaib benturan keras itu ternyata tidak membuat kepalanya pecah malah badannya terpental balik dan sekali raih ia pegang ujung cambuk Lok Siou hong, sementara tangan yang lain menekan pundaknya, serunya sambil bergelak tawa: “Nona cilik, kali ini berhasil kutangkap kau, mari keatas makan daging panggang.”

Seperti bola yang tertendang badannya mencelat naik keatas batu besar yang tinggi itu meski membawa Lok Siau hong gerak geriknya masih sedemikian enteng dan gasiran, tapi baru saja ujung kakinya menginjak ujung batu, tiba tiba ia menjerit keras lekas ia lepaskan Lok Siau hong yang dikempitnya.

Dengan tenang dan cermat Koan San gwat mengikuti pertarungan mereka, ia tahu ilmu Silat kedua orang tua ini sudah mencapai tingkat tinggi, dan lagi dari mulut Ban li bu in tadi ia mendengar disebutnya Siau se thian, lebih meyak inkan pula dan dugaannya bahwa mereka adalah tokoh tokoh yang terdaftar diatas Hong sin pang dari sekian banyak anggota Liong hwa hwe yang serba misterius.

Lok Siau hong jelas bukan tandingan orang, cuma dalam pertarungan ini It hin bing gwat tidak mengerahkan tenaga dalamnya, ia tahu permainan cambuk Lok Siau hong pasti dapat melayani dengan baik maka ia tidak bersedia membantu orang.

Meski akhirnya Lok Siau hong teringkus, ia masih berlaku tenang karena ia tahu jiwa cewek itu tidak bakal terancam tapi dikala Lok Siau hong terbanting jatuh di atas batu besar, badannya terjerumus masuk jurang yang dalam, baru sekarang ia kaget, tepat ia melompat kedepan menangkap gagang cambuk serta menarik sekuatnya, untung jiwanya dapat di selamatkan.

Sambil memegangi sebelah tangan It hun bing gwat berdiri menjublek diatas batu, sebaliknya Koan San gwat gusar, bentaknya. “Tua bang, kau tidak tahu malu terhadap gadis cilik kau bertindak secara keji.” Dengan bingung It hun bing gwat turun dari aras batu, katanya dengan lesu : “Terserah apa yang hendak kau katakan! kau ingin berbuat apa kepadaku! Lakukan saja!”

Ban li bu in kelihatan sangat heran, dengan suara penuh prihatin ia bertanya “Bing gwat, kenapa kau, jelas kau sudah berhasil, kenapa kau lepas dia pula ditengah jalan.”

It hun bing gwat menunduk murung tanpa bersuara, sebaliknya Lok Siau hong tidak menyadari betapa berbahaya dirinya tadi, dengan riang ia berseru tertawa: “Koan toako. Aku menggunaka duri Ling coa diujung cambuk menusuknya….”

Konta Ban li bu in berjingkrak sambil meletakan guci araknya terus melompat turun teriaknya gusar : “Walaupun sikap gendut terhadapmu kurang sopan, maksudnya tidak jahat terhadap kau kenapa kau gunakan akal licik, apa kau ingin membunuhnya?”

Lok Siau hong melengak gusar, semprotnya “Siapa ingin membunuhnya.”

Ban li bu in menggerung serunya : “Bila gendut berkelahi dengan orang, batasnya dua puluh jurus bila melampaui batas, dia rela menempuh jalan kematian, sejurus saja sebetulnya kau tidak mampu melawan dia. Tapi dia suka kelekar, maka sengaja dia memberi hati kepada kau, tepat pada jurus kedua puluh baru menundukkan kau, paling dia paksa kau makan daging panggang itu, sebaliknya kau pakai akal licik sehinga melampaui batasnya…”

“Kan dia yang membuat undang undang busuk itu, ada sangkut paut apa dengan aku,” demikian jengek Lok Siau hong, “Kau menuduh aku menggunakan akal licik, cara dia meringkus aku tadi apakah tidak menggunakan akal licik.”

Mulut Ban li bu in seperti disumbat, terdengar It hun bing gwat menghela napas, ujar nya: “Sudahlah Kurus! terlanjur banyak bicara tak berguna, aku sendiri yang harus disalahkan kenapa guyon, akhirnya jiwa sendirilah yang harus kupertaruhkan!”

“Bing gwat!” ujar Ban li bu in dengan haru dan sedih! “Kematianmu sia sia aku ikut penasaran …”

“Takdir sudah menentukan begini, apa gunanya penasaran, bila   Sian   pang   dihidupkan pula masa jayanya, tergantung kepada mu saja … ai. Sungguh tidak punya nyana setelah kita rancang bersama sekian lama, dikala tujuan hampir tercapai, aku harus menerima nasibku yang malang ini…..”

Mendengar orang menyinggung, Siau pang, Koan San gwat menyeletuk: “Tadi kutanya apakah kalian tokoh tokoh yang terdaftar dalam Siang pang kalian pura pura tidak tahu, kenapa sekarang mengelu malah apa sebetulnya yang terjadi?”

It lun bing gwat melirik kepadanya, ujar nya: “Bocah! kau sudah tahu tidak perlu kau banyak tanya!”

“Aku tidak tahu, aku cuma pernah dengar kedua nama itu, maka aku ingin bertanya supaya paham seluk beluknya,” demikian sahut Koan San gwat.

“Tapi kami bisa menjelaskan kepada kau memang mulanya kami orang orang yang bercokol disana, karena suatu peristiwa nama kami sudah tercoret dalam daftar itu, sebelum nama kami direhabiliir ( dipulihkan ) tiada hak kamu mempersoalkan hal ini.”

Koan San gwat tercengang tanyanya sesaat kemudian: “Apakah kau betul betul membunuh diri?”

“Apakah urusanku ini boleh dianggap kelakar belaka?” semprot It hun bing gwat.

Setelah berpikir Koan San gwat bertanya “Apakah tiada jalan untuk menambal kesalahan ini ?” “Meski ada, apa kau kira lohu sudi memerimanya.” “Kalau begitu coba kau jelaskan.”

“Kalau lohu tidak ingin mati maka selama hidup ini lohu harus patuh terhadap setiap petunjuk dan perintah nona culik ini, coba kau piker apakah aku harus menjadi kacungnya ?”

“Aku tidak perlu kau patuh dan tunduk padaku, urusan batal saja!”

“Tidak bisa Lohu harus tunduk pada sumpah, hal ini tiada sangkut pautnya dengan kau

“Kalau begitu jadi tiada jalan keluar untuk menolong jiwamu…”

It lun bing gwat dan Ban ii bu in saling pandang dengan mendelu dan murung, sekian lama mereka bungkam seribu basa. Maka berkata Lok Siau hong: “Kalau kau harus mampus kenapa menjublek saja?”

Sahut It lun bing gwat dengan suara lirih, “Lohu sedang menunggu saat untuk melaksanakan suatu urusan demi kepentingan, inipun salah satu dari aturan yang menjadi sumpahku! Bila orang mampu bertahan dua puluh jurus, Lohu tidak bisa mematuhi perintahnya selama hidup, maka aku harus mewak ili dia melakukan suatu pekerjaannya, baru aku bunuh diri !”

“Kau memang aneh, untuk mati saja toh menggunakan cara yang berbelit belit”

It hun bin gwat marah serunya. “Kau kira urusan ini gampang dilaksanakan? Padahal dalam jagat ini jarang ada orang yang mampu bertahan dua puluh jurus melawan kepandaian silatku, kalau kau tidak becus Lohu mana bisa tipu?”

“Jadi ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang tiada tandingan di seluruh dunia ya!” “Tidak, tapi kalau gebrak benar benar dengan mengerahkan seluruh kekuatan yak in dalam dua puluh jurus Lohu dapat menang, kalau menang tak perlu diributkan kalau tentu jiwaku tak akan selamat. Maka sengaja aku main main dengan sumpahku itu sungguh tidak nyana hari ini perahu terjungkal didalam selokan…”

Tiba tiba tergerak hati Koan San gwat, cepat ia berbisik dipinggir telinga Lok Siau hong, Lok Siau hong tersenyum girang lalu manggut manggut, katanya kepada It lun bing gwat: “Katamu kau hendak melakukan sesuatu untukku, apakah urusan itu ada batasnya?”

“Tidak ada batasnya, apapun akan ku laksanakan sekuat tenagaku, bila benar benar tidak mampu akan kutebus dengan kematian…”

“Kurasa tidak perlu, urusan yang kuajukan ini sangat gampang, maka kau harus dengar baik baik.”

It lun bing gwat menunggu dengan sikap sungguh sungguh dan perihatin, Ban li bu in pun mendengar dengan tegang, maka sepatah demi sepatah Lok Siau hong berseru : “Aku minta kau menghargai jiwa ragamu sendiri, kalau tidak terpaksa kularang kau sembarangan mencari kematian…”

It lun bing gwat, melongo sekian lama, lalu memburu maju dan berseru gugup: “Tidak boleh begitu, hal ini bertentangan dengan kehendak hatiku sendiri, aku tidak bisa menerima permintaanmu ini.”

“Jangan kau lupa, kau sendiri yang membuat aturan itu, tugasmu hanya menerima perintah dan tiada hak menolak atau membangkang, untuk selanjutnya, kau harus makan minum dan hidup seperti biasa sampai hari tua.”

It lun bing gwat terlongong, akhir nya berkata lesu : “Budak kecil kau memang lihay, terpaksa aku harus menghamba kepadamu selama hidup dan mendengar perintahmu…” “Apakah kusuruh kau melakukan apapun kau tidak boleh membangkang?”

“Benar,” sahut It lun bing gwat manggut manggut, “Ini berarti aku mengikat diriku dengan ludahku sendiri, selama hdup aku tidak akan bebas dari belenggu ini.”

“Baik! Kalau begitu aku ingin kau menjelaskan seluk beluk Liong hwa hwe dan Hong sing pang itu.”

Berubah air muka It lun bing gwat, mulutnya ternganga tak bisa bicara.

“Perintah pertama sudah akan kau bangkang ya!” dengus Lo Siau hong kereng.

It lun menghela napas panjang, baru ia hendak membuka mulut, Ban li bu in segera berteriak: “Gendut! Bila kau buka mulut, maka aku akan melabrakan, karena itulah kewajiban, aku tidak hiraukan persahabatan kita selama puluhan tahun lagi.”

It lun bing gwat rertawa getir, katanya. “Ban li heng, lebih baik kau bunuh aku saja, supaya aku tidak menderita dalam melanjutkan hidup ini!”

Ban li bu in angkat telapak tangan nya yang berwarna kuning emas, It lun bing gwat pejamkan mata dengan tenang ia menunggu kematian. Lok Siou hong cepat berseru: “Hai kenapa kau tidak melawan!”

”Kalau Kim hud ciang si kurus dilancarkan aku tidak akan bisa hidup lagi, perlu apa aku melawan?”

Lok Siou hong tidak percaya, tanyanya “Apakah dia lebih lihay dari kau?”

“Tidak!” Ban li malah yang menjawab, “Thay im ciang sigendut dapat juga membunuh ku dalam satu gebrak hingga mampus bersama, tapi aku yak in ia tidak akan berbuat demikian, karena aku berkewajiban membunuh dia, sebaliknya dia tiada hak buat membunuh aku.”

Lok Siou hong jadi serba salah, cepat Koan San gwat memberi tanda kepadanya, cepat iapun berkata: “Anggap batal, aku tarik kembali perintahku tadi, kini kuminta kau ikut kami meninggalkan tempat ini.”

It lun angkat pundak dan menurut saja tanpa bersuara lagi.

Sebaliknya Ban li naenjengek dingin: “Jangan kau kira dengan membawa sigendut ke lain tempat lantas bisa mengompres keterangannya. Aku tidak akan melepas dia, kemana dia pergi kesitu aku datang, setiap waktu ku awasi gerak geriknya!”

“Kalau aku perintahkan mengusir kalian pergi bagaimana?” ejek Lok Siau hong, “Kalau benar benar harus berkelahi kekuatan kedua belah pihak berimbang, akhirnya gugur bersama!”

Lok Siau hong kewalahan, terpaksa ia minta bantuan Koan San gwat untuk menentukan langkah selanjutnya.

Agaknya Koan San gwat juga kehabisan akal, setelah termenung sesaat baru ia berkata: “Baiklah, sementara waktu biar ikut kita, kelak kita bicarakan lebih lanjut.”

Karena ribut ribut ini mereka sudah menghabiskan banyak waktu, terpaksa mereka putar balik turun gunung, meski kedua orang tua gendut gering (kurus) ini berjalan kaki, namun langkah mereka ternyata, tidak kalah cepat dengan lari kuda dan unta.

Waktu mereka sampai dipenginapan Lu Bu wi sudah gelisah menunggu mereka cepat ia memburu datang terus menyeret Koan San gwat kesamping tanyanya: “Orang macam apakah kedua orang itu?”

“Harap jangan tanya, apakah bantuan kalian sudah tiba.” “Sudah tiba empat orang, Losiu sudah perintankan mereka bekerja sesuai dengan pesan Ling cu!”

Koan San gwat merenung sejenak, lalu berkata: “Bagus! Hari ini kita lanjutkan wilayah Su cwan, kupercaya kalian tentu sudah tidak sabar menunggu bukan!”

Selama perjalanan Lok Siau hong, Lau Sam thay dan Lu Bu wi bungkam, dengan penuh perhatian mereka mencongklang kuda mengintil dibelakang Koan San gwat yang menunggang unta, sementara It lun dan Ban li berlari dipaling belakang.

Rombongan mereka hari itu tiba dibawah Kiam bun san, unta sakti yang menuntun jalan tiba tiba mengebaskan ekornya membelok kesebuah jalan kecil yang menembus ke atas gunung. Ban li kelihatan gelisah, cepat ia memburu kedepan menghadang jalan seraya berseru : “Kau tahu tempat apa yang hendak kau tuju?”

“Aku tidak tahu tempat apa di sana, tapi aku tahu di sana ada orang yang sedang kucari!” demikian jawab Koan San gwat tersenyum.

Ban li tercengang, serunya serak : “Kau hendak mencari siapa?”

“Seorang yang menggelari dirinya Thian ki mo kun!”

Pucat air muka Ban li bu in, suaranya tersendat “Kau punya hubungan kental dengan dia ?”

“Mesti pernah bertemu sekali, hubungan kental sih tidak. Aku kemari hendak menyelesaikan perhitungan kita yang belum selesai, dan lagi akupun ingin memecahkan beberapa persoalan yang sangat mencurigakan…”

“Tidak! Bocah bagus! Beberapa nama yang kau sebut tempo hari tidak akan dapat kau temukan di sana!”

Sejenak Koan San gwat tertegun, dilain saat ia berkata sambil tersenyum : “Aku tahu tapi hanya Thian ki mo kun seoranglah yang mampu memberikan penjelasan dan jawaban kepadaku.”

Ban li manggut manggut, katanya : “Memang benar, tapi kau masuk pintu besar sarang iblis itu, jangan harap kau bisa keluar pula!”

“Untuk ini tidak perlu kau pusing bagi diriku, aku tidak minta kau ikut dalam perjalanan ini, boleh silahkan tinggal pergi.”

Ban li bersungut duka, sesaat ia menyingkir lalu berpandangan dengan It lun. Urusan sudah ketelanjur terpaksa harus menurut saja.

Di bawah petunjuk sang unta Koan San gwat memanjat kepuncak gunung, perjalanan nanjak ini rada sempit tapi banyak juga banyak cabang, begitu rumit simpang siur seperti sarang laba laba saja, tapi unta sakti itu seperti sudah kenal jalan, dengan enak saja ia berlenggang maju, setelah belak belok akhirnya mereka tiba didepan sebuah hutan gelap. Entah kapan tahu tahu seorang paderi gundul bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang berkulit hitam dengan kedua biji mata berkilat kilat menghadang didepan jalan masuk sambil merangkap kedua tangan.

Dari atas tunggangannya Koan San gwat menjura serta menyapa “Toa suhu, harap memberi jalan!”

“Omitohud!” sabda sipadri tua sambil pejamkan mata, “derita tiada ujung pangkal, kembalilah mencapai tepian, Siau sekalian harap sampai disini saja.”

Koan San gwat tidak hiraukan ucapannya, katanya tertawa

: “Apakah Toa suhu sekomplotan dengan pemilik hutan ini?”

“Pinceng orang beribadah, mana boleh sekomplotan dengan mereka,” sahut padri tua itu sambil menghela napas.

“Lalu untuk apa Toa suhu mencegat jalan kami?” Padri tua menuding It lun dan Ban li katanya : “Karena kedua sahabat lama inilah maka Pinceng membujuk kalian supaya kembali saja….”

“Kepala gundul!” sela Ban li sambil tertawa dingin, “Jangan kau pura pura saleh peristiwa dulu karena gara garamu, walau kejadian sudah berselang sepuluh tahun, tapi kami masih ingat akan kebaikanmu itu, kini kau masih pura pura berhati baik seperti kucing menangisi tikus belaka!”

Berubah sikap paderi tua katanya pelan : “Terhadap kejadian pencoretan nama dulu agaknya kalian masih dendam sampai sekarang?”

It lun yang selama ini pendiam tak tahan lagi, dengan marah marah ia menyemprot : “Sudah tentu! Beberapa tahun ini kau berusaha tekun maksudnya untuk memainkan nama baik kami diatas daftar Hong sio pang baru setelah itu kami akan membuat perhitungan dengan kau kepala gundul.”

“Merindukan hidup kembali, nama terkekang terlibat keuntungan adalah belenggu kehidupan dengan susah payah Lolap mengeluarkan kalian dari lautan derita, kehidupan yang bebas betapa menyenangkan, kenapa kalian tidak insaf dan sesat pikiran malah.”

“Cis! Enak benar bicaramu,” damprat Ban li bu in, “Kenapa kau sendiri tidak mengundurkan diri?”

Perasaan si padri kembali tenang, sahutnya : “Lolap berjanji dan pernah bercita cita hendak memberi keinsafan kepada seratus delapan anggota, bila sehari tugas ini belum selesai seharipun Lolap tidak akan merasa tentram…”

“Sudahlah !” ujar Ban li uring uringan, “Sebal bicara deagan kau, lekas menyingkir saja !”

Paderi tua tertegun serunya : “Andikata kalian tidak sudi mendengar nasehat Lolap, juga tidak perlu ikut masuk kesana, bila sampai terjeblos lagi di dalam maka selamanya kau akan tenggelam dan tidak akan mampu menitis kembali.”

“Kepala gandul!” damprat Ban li berjingkrak gusar, “Urusan kami tidak usah kau turut campur kau mau menyingkir tidak?”

“Ai, nasehat baikku sudah habis kuucapkan kalau kalian tetap tidak mau dengar Lolappun tidak bisa apa apa demi menanam kebaikan dengan sahabat lama baiklah Lolap mengantar perjalanan kalian selintas,”

Habis berkata ia membalik tubuh terus melangkah lebar kedalam hutan, jubah kasar nya yang longgar dan kedodoran melambai tertiup angin, bersamaan dengan itu seluruh seketika memancarkan cahaya kuning mas, sehingga hutan lebar yang gelap pekat itu menjadi terang benderang seperti di siang hari bolong, tampak sepajang jalan masuk kini tulang belulang manusia berserakan dimana mana.

Ban li memandang kepada It lun dengan berubah mukanya, serunya kejut: “Tidak nyana kepala gundul ini sempurna melatih Kong bing hoat su.”

Koan San gwat kaget dan heran, tanya nya: “Siapakah Hweaio tua ini, begitu hebat lwekangnya…”

“Dia bernama Co hay ci hang (mengarungi lautan derita) soal yang lain tidak usah kau banyak tanya lagi.”

Koan San gwat memang tidak banyak tanya lagi, unta dikeprak lekas lekas mengejar kearah sipadri tua yang lain lainpun membuntut dibelakangnya.

Hutan lebat ini ternyata tidak dalam, tak lama kemudan mereka sudah menembus keluar, cuma dikala berada dihutan tadi, mereka merasa hawa dingin menjalar keseluruh tubuh, bila mereka telah tiba di ujung hutan padri tua tadipun sudah tidak kelihatan bayangannya.

Dengan keheranan Ban li berkata: “Untung kepala gundul itu menunjuk jalan, kalau tidak mana kita bisa selamat lewat Hek sa mo lim ini, sungguh tidak nyana Thian ki si iblis tua itu makin lama semakin lihai!”

“Iblis tua? Maksudmu Thian ki mo kun seorang iblis tua?” tanya Koan San gwat heran.

“Bukankah kau pernah ketemu dia?” balik tanya Ban li heran.

“Tidak salah, tetapi Thian ki mo kun yang kutemui adalah seorang pemuda, nama nya Ki Houw !”

Berubah air muka It lun dan Ban li lama mereka terbungkam, Koan San gwat tidak tahu kenapa mereka membisu diri, tapi didepan sudah dilihatnya sebarisan bangunan rumah yang tegak menjulang ditaburi kabut tebal, ia segan banyak tanya, unta dikeprak lalu membedal menuju kearah itu.

Waktu mereka tiba didepan deretan rumah itu mereka dihadang sebuah pigura besar tiggi, diatas pigura terukir empat huruf “Thian ki piat hu” yang berwarna kuning emas menyala. Dikedua pinggirannya terdapat dua deret syair panjang, Koan San gwat mendengus mengejek membaca kedua bait syair yang takabur dan ugal ugalan maknanya.

Tepat pada saat itu pintu gapura terbuka dari dalam pintu beruntun keluar sebarisan anak anak kecil seragam hijau, usianya diantara dua tiga belasan, laki dan perempuan terbagi rata, seorang bocah yang memimpin segera bertanya dengan sikap pongah “Kalian setan gentayangan dari mana berani masuk kemari?”

Walau usia bocah ini masih kecil, tapi cara bicara terlalu kurangajar, kalau Koan San gwat tidak ambil peduli, Lok Siau hong naik pitam, kontan ia ayun cambuknya dan melecut keras mengenai pipi bocah laki laki itu.

Dihajar pecut seketika berubah air muka sibocah, bentaknya bengis: “Perempuan busuk, berani kau pukul aku!” Sebat sekali tiba tiba tubuhnya berkelebat seperti bayangan setan menerjang tiba, sudah tentu Lok Siau hong tidak nenduga, sehingga orang berhasil melesat tiba didepan badannya, pecut tidak sempat ditarik kembali pula, terpaksa ia gunakan kepalan tangan yang lain menggenjot kepala sebocah. Maka terdengarlah bocah itu membentak keras: “Menggelindinglah turun!”

Tiba tiba tubuhnya mengkeret kebawah menghindar jotosan Lok Siau hong berbareng ia julurkan sebuah kakinya menendang kaki kudanya, “Krak krak” beruntun dua kali suara patah kaki belakang kuda tunggangan Lok Siau hong disapu patah, karena kesakitan kuda itu berbenger panjang, Lok Siau hong terjengkang jatuh.

Tatkala itu Li lun sudah mendesak maju, sekali ulur telapak tangannya telak sekali menggaplok kepunggung sibocah, mulut pun membentak: “Iblis kecil kurang ajar berani kau mengumbar adat dihadapanku.”

Pukulan telapak tangannya ini teramat lihay dan ganas sekali, kontan bocah laki laki itu membuka mulut menyemburkan darah segar badannyapun mencelat terbang setombak lebih, “bluk” terbanting keras den jiwanya pun melayang.

Barisan bocah bocah kecil itu seketika gempar semua berlari mulur rada jauh.

Saat mana kebetulan Lok Siau hong baru melompat bangun, melihat bocah laki laki itu dipukul mampus oleh Ban li bu in, ia jadi gusar, sentaknya: “Kau tua bangka ini, kenapa kau melukai orang…”

“Nona cilik,” ujar It lun menghela napas, “Karena selanjutnya Lohu terkekang olehmu, terpaksa harus selalu melindungi keselamatan, kalau tadi Lohu tidak cepat turun tangan, mungkin jiwamu sudah melayang karena keganasan iblis kecil itu…” Belum lagi Lok Siau hong sempat bicara, dari dalam pintu muncul pula sebaris orang yang keluar adalah laki dan perempuan yang cukup dewasa, mereka mengunjuk rasa gusar. Jumlah barisan itu hanya sembilan orang laki perempuan bercampur aduk, mereka punya pertanda khusus yaitu selebar muka mereka diselubungi hawa kebengisan, jelas bahwa mereka bukan orang baik.

Terutama laki laki yang menjadi pemimpin mereka paling jelek dan culas, jidatnya gundul tumbuh uci uci sebesar kepel tangan, dengan gerungan gusar ia membentak it lun dan Ban li: “Kiranya kalian dua mestika yang di keluarkan dari daftar nama, sungguh besar nyali, berani membuat keributan di Phiat hu, agaknya sudah bosan hidup ya!”

It lun angkat kepala menegadah kelangit, sedikitpun ia tidak hiraukan ocehan orang. Ban li pun hanya mendengus hidung tanpa bersuara, mukanya mengunjuk senyum ejek menghina.

Laki laki itu berteriak pula: “Kenapa kalian tidak bicara?”

It lun lantas berdaling kepada Koan San gwat, serunya: “Bocah, kaulah yang ingin meluruk kemari, kini saatnya kau bicara…”

Belum lagi Koan San gwat memberi reaksinya, laki laki itu sudah berteriak lagi: “Aku sedang bertanya kepada kau berdua!”

Tiba tiba It lun mengunjuk rasa gusar, jengeknya “Meski nama kami sudah tercoret dari daftar, kami tidak sudi bicara dengan hamba iblis yang rendah!”

“Keparat” maki laki laki itu berjingkrak. “Kau pongah apa? Apakak kita tidak termasuk tokoh tokoh dalam daftar nama itu?”

It lun tersenyum ujarnya : “Enak benar kedengarannya sayang kalian sepuluh orang baru memperoleh satu kedudukan, bilamana hendak angkat bicara dengan kami, maka pentolan kalian yang harus bicara dengan kami.”

Semakin berkobar amarah laki laki itu, teriaknya : “Lotoa sedang ada urusan didalam!”

“Kalau begitu kami tidak sudi melayani kau !” jengek It lun sambil menjebirkan bibir.

Baru saja laki laki itu buka mulut hendak berkaok kaok lagi, Ban li segera menyela sambil menarik muka, katanya “ Diantara Sip toa cu hun (sepuluh sukma gentayangan), aku hanya kenal rasul baju ungu, jangan kau kira karena kami sudah tercoret namanya lantas berani main tingkah terhadap kami, kalau sampai terjadi keributan, kalian sendiri yang menanggung akibatnya !”

Ancaman ini membawa reaksi diluar dugaan, meski laki laki itu memperhatikan rasa gusar yang meluap luap tapi tidak berani bersahut lagi, demikian juga lainnya, cuma mata mereka melotot semakin besar dan berapi api.

Ban li malah tertawa dan berkata kepada Koan san gwat : “Bocah! Nama asli keparat itu adalah Tok kak se (badak tanduk tunggal), kau tahu sebabnya?”

Koan San gwat tidak bersuara, malah Lok Siau hong balas bertanya : “Kenapa?”

“Karena jidatnya tumbuh sebutir uci uci besar, keras dan runcing lagi, persis dengan tanduk badak itu, maka ia memperoleh julukan yang membanggakan itu.”

“Tapi kenapa sekarang tinggal tembong nya saja?” tanya Lok Siou hong, sambil melirik kemuka orang.

Sambil tersenyum geli agaknya Ban li memang sedang menunggu pertanyaan ini lintas menjawab : “Itulah kisah yang sangat lucu, dalam perjamuan besar besaran, diantara hadirin ada sepuluh orang mengadakan lomba membunuh kerbau, akibatnya tanduk tunggal diatas jidatnya itu dicabut sampai copot dari tempatnya. Tahukah kau siapakah pemberani yang mencopot tanduK itu…”

“Tentu kau adanya!” Lok Siau hong sambil membelalakan mata.

Ban li terbahak bahak, serunya: “Nona cilik, kau pintar benar, sekali tebak kena dengan jitu…”

Saking gusar laki laki itu pucat pias, bekas tembong diatas mukanya itu malah berwarna merah membara, sekian lama ia menahan sabar kini tidak tahan lagi, dengan bengis ia berteriak “Ling Sam kui! kau terlalu menghina orang!”

Ban li juga balas berteriak dengan beringas: “Berani kau menyebut nama asli Lohu, kau tahu, apa dosamu?”

Bermula laki laki itu tertegun, akhirnya ia nekad, serunya: “Kau orang yang sudah di usir, memang nama aslimu kiranya tidak menjadi soal…”

Ban li terkekeh kekeh dingin jengeknya “Bagus! Sekian lama Lohu maninggalkan Perserikatan ini, kiranya aturan boleh dirubah sesuka hati, untunglah Thian ki Piat hu justru tempat perundang undang, nanti Lohu akan cari orang untuk menanyakan hal ini secara jelas!”

Berubah hebat air muka laki laki itu, dengan kalap ia melejit sambil ayun kepalan menonjok muka Ban li bu in, Ban li bu in diam saja ditempatnya, tidak berkelit dan tidak balas menyerang, mandah dirinya dihantam.

Begitu kepalan lawan mengenai dadanya terdengarlah suara keras, kontan laki laki itu tergentar mundur beberapa tindak malah, terdian temannya yang lainnya pun segera siap siaga.

“Wah, kalian handak berontak ya!” It lun segera membentak maju. Bentaknya ini laksana geledak mengguntur semua orang melengak dan kuncup nyalinya, semua menghentikan langkah. Laki laki pertengahan umur itu berteriak : “Para kerabat, kedua tua bangka ini berani terobos masuk kesini membawa orang luar pula, dia sudah melanggar pantangan kita, mari kita menghajarnya, pasti tidak melanggar aturan.”

Mendengar anjuran ini teman temannya bergerak lagi Sekonyong konyong dari dalam pintu berkelebat keluar sesosok bayangan, yang muncul ini berpakaian sastrawan berusia pertengahan umur juga, jubahnya ungu, berhidung betet bermata bundar, wajah nya mengunjuk kekerasan hatinya.

Karena munculnya sastrawan ini, orang yang mulai bergerak itu menghentikan aksi nya, laki laki pertengahan umur, cepat maju memapak seraya berkata : “Toako, kebetulan kau tiba, dua tua bangka ini datang membikin onar dia membunuh salah seorang Tong cu penjaga pintu,…”

Muka Ban li mendengus, serunya : “Rasul ungu, kau masih kenal kami?”

Sastrawan itu unjuk senyum lebar, katanya : “Kalian adalah pahlawan dalam serikat kita, meski karena sedikit pertikaian sampai rercoret namanya, tapi para kerabat masih segan terhadap kalian, kedudukan kalian masih kosong dan menunggu untuk dijabat kembali, kita semua percaya adakalanya kalian akan memulihkan kedudakan dan jabatan ini…”

Ban li mengunjuk tawa lebar, katanya :

“Kalau begitu, agaknya kami dua dua tua bangka belum menemui jalan buntu sehingga tiada tempat untuk menempatkan diri kami!”

Rasul ungu tersenyum, katanya: “Anggapan yang tidak benar, siapapun bila sudah tercantum dalam daftar Hong sio pang selama hidup menjadi tokoh diagungkan didalam Liong hwa hwe, kalian sudah memendam diri dan memperdalam ilmu sekian tahun, kuduga tentu sudah punya persiapan untuk kembali bukan?”

“Ah, kau terlalu mengumpat saja” ujar Ban li, “Walau kami ada sedikit kemajuan, kami belum kuat menyambut Lui Sam ki itu!”

“Kalian sangat merendah diri, untunglah pertemuan besar sudah menjelang percaya kalian akan memberi pertunjukan yang mengejutkan.” demikian umpat si rasul ungu.

Mendadak it tun menyela, jengeknya: “Tapi Tok kak se berani menyebut nama asliku kalau begitu sip toa yu bun kalian lebih sukses dari Sian pang kami, sejajar dengan para Hwe cu. Kurasa kalian agak tergess gesa, bagaimanapun kalian baru boleh mengumumkan berita girang ini pada pertemuan yang akan datang!”

Rasul ungu kelihatan terkejut, tanyanya “Lohu, apa benar demikian?”

Laki laki pertengahan umur gelagapan, sahutnya “Mereka menghina orang diluar batas sengaja mengorek boroku buat olok olok …”

Rasul ungu menarik muka, desisnya: “Lo kau memang ceroboh! Dulu Hu lo maksudnya Ban li membunuh sapi mencopot tanduk tidak lah permainan yang diijinkan oleh Hwe cu, meski hatimu tidak senang, mana boleh kau salahkan Hun lo, karena itulah permohonan langsung…”

Pucat pias wajah laki laki pertengahan. Sambil unjuk seri tawa segera rasul ungu menjura kepada Ban li, katanya: “Sudilah kiranya Hun lo memberi ampun kali ini?”

Ban li tertawa dingin ujarnya: “Waktu nama kita dicoret, siapa yang memberi maaf kepada kami? Apalagi disini adalah Thian ki hiat hu, konon Mo kun sudah ajal.” “Benar! Mo kun sudah berangkat ke alam baka, kini putranya yang melanjutkan jabatan beliau.” Demikian rasul menjelaskan Ban li menghela napas, ujarnya: “Bila Liong hwa hwe dibuka lagi, mungkin banyak diganggu oleh muka muka baru !”

“Cuma tujuh belas orang sudah ajal, mereka sudah mencalonkan penggantinya kebanyakan adalah anak murid perguruan mereka, yang jelas kepandaian dan kemampuan mereka lebih asor, maka dapatlah diduga pertemuan mendatang akan jauh lebih ramai.”

Tanya Bangli : “Bagaimana calon Mo kun yang baru ini bila dibandingkan Ki loji? bisakah dia melompat keurutan Sian pang dan ikut merebut jabatan Hwe cu?”

Rasul ungu menjelaskan dengan bangga: “Mo kun yang baru ini lebih gagah dalam segala bidang kiranya tidak lebih asor dari Mo kun yang sudah ajal, untuk jabatan Su tay hwe cu pasti beliau bisa memperolehnya.”

“Maka nya kalian berani mengagulkan diri saat mana kedudukan jadi sederajar, tak heran To kak se bersikap pongah memanggil nama asli Lohu, kiranya kalian memang sudah mempersiapkan diri!”

Berubah air muka Rasul ungu, katanya : “Apakah Hun lo benar benar tidak sudi memberi ampun?”

“Lohu tidak kuasa untuk memberi keputusan, silahkan tanyakan langsung kepada Mo kun kalian”

-oo0dw0oo-