-->

Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 08

 
Jilid 08

Kini Lok Siau hong memang bekerja menurut rencananya, tapi sikap Lok Heng kun bertiga, rasa urusan agak berbeda, hal ini di luar dugaannya karuan ia tertegun dan kebat kebit, terpaksa ia tanya kepada Liu ju yang yang duduk disebelahnya: “Cianpwe, kenapa kalian tidak mengijinkan nona Lok melawan bangkotan tua itu, umpama kalah jiwanya kan tidak bakal terancam!”

“Sulit dijelaskan” sahut Liu ju yang “Siau hong memang sembrono, akibatnya akan jauh lebih berat dari pada ia segera mati, istri ku dan Lok toaci justru sudah merasakan penderitaan ini, sehingga meraka membekal dendam dan kebencian selama hidup ini….”

Koan San gwat tidak berhasil menggerek keterangan yang diinginkan, tapi ia menyadari urusan sangat penting, diam diam hatinya jadi menyesal Siau hong seorang gadis yang polos yang tidak mengenal seluk beluk keculasan manusia, aku yang membujuk dia untuk melakukan perbuatan bodoh ini bila terjadi sesuatu yang marugikan dirinya, aku akan menyesal selama hidup ini.

Karena tekanan Pok Thian cun terpaksa Pok Siau hong harus turun gelanggang, sambil menenteng cambuk dengan sikap gagah ia sudah siap berhadap dengan musuh, adalah Pok Thian cun menyeringai lebar.

Sekonyong konyong Koan San gwat, berkelebat meninggalkan tempat duduknya melesat kehadapan Pok Thian, tangan terayun koatan ia persen dua kali tamparan dikanan kiri pipi Pok Thian cun, tenaga yang digunakan besar sekali, suaranyapun nyaring.

Karena tidak bersiaga meski Pok Thian cun kena digampar, sedikitpun ia tidak cedera, cuma dengan gusar ia berteriak: “Bocah keparat apa apaan perbuatanmu ini?”

“Tua bangka yang harus mampus!” ujar Koan San gwat tersenyum, “Kalau kau suka menyelesaikan urusan baru, babak pertama ini kau harus menghadapi aku dulu!”

Kejadian diluar dugaan semua hadirin, Lok Heng kun bertiga berjingkrak berdiri, demikian juga Ki Hauw gusar, Lok Siau hong merasa heran, tak tahu kenapa Koan San gwat melanggar janjinya sendiri.

SeSant lamanya suasana hening tegang, akhirnya Ki Houw membuka suara dengan amarahnya yang meluap “Koan San gwat! Berani kau bertingkah dihadapan Pun coh.”

Sambil bertolak pinggang Koan San gwat balas bertanya tidak kalah garangnya: “Tuan ini orang macam apa?”

Baru saja Ki Houw hampir mengumbar amarahnya. Liu ju yang keburu menyela bicara,

“Kedudukan Siheng hari ini hanya sebagai saksi lebih baik jangan tersesat kedalam pertikaian ini apa pun yang terjadi hari ini kelak masih bisa diselesaikan, dan lagi akhli waris unta sakti belum terhitung kalangan dalam.”

Ki Houw tidak menduga alasan yang di kemukakan tadi malah mengikat dirinya pula terpaksa dengan mendengus dingin ia berkata: “Orang dari kalangan luar ternyata berani kurang ajar terhadapku, maka dosanya lebih tidak berampun!”

Liu Ju yang berpikir sebentar lalu menjawab: “Kedudukan Siheng diperoleh secara tradisi, sebaliknya Tokko Bing seara langsung menyerahkan lencana unta sakti kepada Koan Siheng, maksud kelak pun akan mendapat warisan kedudukannya, bicara soal kedudukan dan jabatan, boleh dikata dia sejajar dengan kau, malah mangkin setingkat lebih tinggi, meski dia bersikap kasar terhadap Ki siheng, kurasa tidak termasuk bersikap kurang ajar!”

Saking marah muka Ki Houw sampai pucat jengeknya: “Agaknya kau tahu banyak mengenal segala peraturan itu!”

“Benar” sahut Liu Ju yang tersenyum, “Dalam rapat anggota waktu menegaskan perundang undang ini aku dipercayakan sebagai notulis, maka aku sangat jelas segala seluk beluk peraturan ini, jauh lebih jelas dan mengerti dari orang lain. Meski Siheng berkedudukan diantara ketiga Sam kun, dalam peraturan yang berbelit belit ini, aka percaya belum tentu kau tahu jelas soal peraturan itu dari aku orang she Liu!?”

Sejenak Ki Houw kebingungan, mendadak ia angkat jari kelingking tangan kirinya diatas diatas kelingking itu, ia mengenakan sebuah cincin batu jade warna putih, dia memutar cincin itu dari sebelah sama tampak ukiran kepala setan yang sangat hidup, kata nya bengis “Apakah kalian kenal benda ini?”

Liu Ju yang dan Lok Heng kun berdua seketika berubah air mukanya, mereka berdiri tegap menurunkan kedua tangannya.

Ki Houw terkekeh kekeh dingin, katanya : “Secara resmi sekarang aku keluarkan perintah Sam mo ling, kuberi wakru tiga bulan dalam jangka waktu itu kalian harus datang kemarkas melaporkan diri!”

“Menurut perintah!” serempak mereka bertiga menyahut dengan hormat.

Sikap Ki Houw berubah kalem dan tertawa tawa lagi katanya: “Sampai jangka waktunya, aku masih belum melihat kalian, jangan salahkan aku berlaku telengas!” Dengan suara bergetar Lok heng kun berkata: “Seumpama dalam tiga bulan ini kami tidak keburu mampus, pasti kami akan mengutus orang mengirim tulang belulang kami ke markas untuk menerima hukuman!”

“UntuKitu kalian tidak perlu kuatir. Cara kerjaku jauh lebih cermat dari mendiang ayah, dalam tiga bulan ini aku tanggung tidak ada orang yang berani menyentuh seujung rambut kalian, tapi kalian masih berani menyembunyikan diri, sampai keujung langit pun aku bisa menemukan kalian, Silahkan duduk!”

Liu ju yang bertiga mengiakan lalu duduk, jelas hati mereka semakin tidak tentram. Maka terdengarlah Ki Houw berkata kepada Pok Thian cun: “Lok Pok! kau tunggu apa lagi, ayolah mulai!”

Segera Pok Thun cun menggerung kepada Koan San gwat, makinya: “Keparat majulah! perhitungan lama Tokko Bing hari ini kau bayar seluruhnya!”

Tanpa gentar sedikitpun Koan San gwat menyahut. “Guruku punya pertikaian apa de ngan bangkotan tua kau ini?”

Seringai Pok Thian cun makin sadis, katanya menggerung : Yang terang kau masih hidup dapat menemui Tokko Bing dan langsung tanya kepadanya. Seumpama jiwamu pendek kaupun bisa bertanya kepadanya.”

Koan San gwat tidak sabar, kontan ia ayun telapak tangannya memukul dada orang seraya memaki bangsat, anjing geladak, jangan cerewet!

Kekuatan pukulan telapak tangannya bagai damparan ombak menyapa kedepan, namun pok Thian cun mandah tersenyum lebar, tidak berkelit juga tidak menangkis, ia biarkan pukulan dasyst itu mengenai tubuh nya tapi sedikit pun tidak menimbulkan reaksi apa malah membarengi dengan jengek hidungnya, jari tangannya kedepan mengetuk sendi tulang lengan Koan San gwat.

Sedikit banyak Koan San gwat sudah tahu seluk beluk orang, maka pukulannya dia lancar dengan kekuatan penuh dan tidak akan ditarik kembali, kenyataan tenaga pukukan nya memang tidak menimbulkan reaksi apa apa atas musuhnya, maka begitu melihat ketukan jari Pok Thian cun tergerak hatinya sengaja memapak maju ingin dia menjajal sampai di mana kehebatan kepandaian lawan.

Liu Ju yang terperanjat serunya cepat:

“Awas Koan San gwat, jangan menyetuh dia…” Belum lenyap suaranya pukulan kedua pihak saling bentur.

Koan San gwat tidak merasai benturan ini meski tenaga ketukan jari itu cukup kuat namun ia masih kuat bertahan dan tidak terluka tapi timbul semacam perasaan aneh yang timbul dalam badannya seperti gatal dan hangat tidak bisa dikatakan bagaimana perasaannya, ternyata Koan San gwat tidak ambil perhatian sebat sekali kakinya menggelincir mundur, sementara otaknya mencari akal untuk mengatasi musuh.

Wajah Liu Ju yang menunjuk rasa watir yang berlebihan, baru saja ia mau buka suara, Ki Houw sudah menarik muka membentak dingin “Sebagai saksi aku larang penonton banyak mulut mengganggu pertandingan!”

Terpaksa Liu Ju yang bungkam sambil melirik kepada istrinya, agak nya ia mengharap bantuan isterinya. Tapi Lok Siang kun dingin dan laku seperti tidak peduli sikap suaminya dengan mendelong ia mengawasi gelanggang pertempuran.

Sementara itu, setelah Koan San gwat berputar puluhan langkah sekonyong konyong ia kirim sebuah jotosan. Agaknya Pok Thian cun punya persiapan yang cukup matang, sikapnya tetap tenang, acuh tak acuh menghadapi serangan hebat ini. Namun sebelum pukulan Koan San gwat nengenai sasarannya tiba tiba ia merasakan adanya gejala gajul, cepat ia mengerahkan tenaganya hendak merubah haluan, namun sedikit terlambat. Secara mendada Koan San gwat menarik tenaga pukulanrya , tanpa tertahan Pok Thian Cu terseret maju sehingga badannya sebelah atas doyong kedepan Koan San gwat tersenyum lebar, kontan ia persen dengan sebuah tamparan membalik kesebelah belakang dan tepat menggaplok punggung orang.

Seperti bola tertendang badan Pok Thian cun jatuh terjerembab dan mengelundung beberapa tombak jauhnya baru berdiri lagi.

Serta merta Lok Heng kun menghela napas dan berkata tertegun: “Bocah ini benar benar jenius, bergebrak baru satu jurus ia sudah meraba, kondisi lawan dan memperoleh akal untuk menguasainya sayang akalnya tidak akan maju gebrak selanjutnya …”

Tergerak hati Kaon San gwat mendengar kata kata Lok Hen kun, untuk mencapai hasil tadi, Koan San gwat sudah menghabiskan jerih payah yang cukup berat. Setelah tahu bahwa kepandaian Pok Thian cun aneh dari luar biasa, tapi ia tidak percaya didalam dunia ini ada manusia yang tidak bisa terluka karena dipukul dan dihajar, pertarungan dengan kepandaian silat adalah pertarungan adu tenaga dan kekuatan, jelas Pok Thian cun memandang ringan pukulannya tentu ada sesuatu aturan tersendiri yang melandasi kepandaian nya. Maka serangannya yang partama kali tadi hanyalah pancingan belaka untuk menjagai di mana sebenarnya sebab musabab dari keanehan itu.

Dengan bekal ilmu silat dan bakatnya, akhirnya ia menemukan letak keanehan itu. Ternyata Pok Thian cun memang memiliki semacam ilmu aneh yang luar biasa, badan nya secara reflek timbul suatu tenaga terpendam yang melawan tekanan atau pukulan dari luar semakin besar tekanan atau tenaga itu, semakin besar pula daya perlawanannya kekuatan perlawanan ini tidak kentara dan sulit diketahui orang luar , maka setelah dia kena pukulan kedua kekuatan itu saling bentrok dan sirna tanpa bekas, maka selintas pandang seolah olah sedikitpun ia tidak terpengaruh oleh pukulan yang keras itu.

Otaknya bekerja kilat, akhirnya terpikir olehnya suatu teori dalam ilmu silat yang berbunyi : “Bagi seorang cerdik cendikia, dia harus dapat merobah tenaga perlawanan itu menjadi tenaga bantuan untuk mendorong….” menurut teori, pada waktu melancarkan pukulan kedua, tenaga yang dikerahkan bukan tenaga dorongan tapi tenaga sedot yang hebat. Kali ini Pok Thian cun tidak sadar, maka ia melawan tetap menggunakan caranya yang terdahulu.

Daya perlawanan terhadap tekanan luar kini malah memperkeras daya sedot yang kuat itu sehingga tanpa kuasa badanya tersuruk maju, untung latihannya cukup sempurna, maka reaksinya pun cepat, lekas ia merubah tenaga perlawanannya, namun demikian ia sudah terlambat dan kecundang.

Lok Heng kun dapat meraba seluk beluk ini, dengan gumamnya ia memberi peringatan kepada Koan San gwat, bahwa cara itu sekali berhasil tidak akan berguna untuk kedua kalinya.

Keruan Pok Thian cun naik pitam, seru nya bengis sambil berpaling: “Lok Heng kun, tak usah kau memberi peringatan kalau bocah keparat ini mampu membanting aku lagi, aku menyerah dengan suka rela.”

Koan Sana gwat terseyun sahutnya: “Untuk membantingmu sekali lagi tedak sulit usia dan kedudukanku cukup tua dan tinggi, setelah kalah sejurus pantas kau tak malu dan mengaku kalah saja!”

“Benar!” Liu Ju yang ikut menimbrung, “Pok Thian cun, kau seangkatan dengan Tokko Bing, gurunya, kalah yang sudah sepantasnya mengaku kalah!” “Tidak!” sahut Ki Houw menggeleng.

“Terhitung juri apa kau ini? Kenapa kau bantu tua bangka ini memungkiri kekalahannya!” demikian maki Koan San gwat gusar, Ki Houw menarik muka, sikapnya ketus ujarnya: “Dalam hal apa aku berlaku kurang adil?”

Kata Koan San gwat menuding Pok Thiam cun: : “Dia sudah terbanting jatuh, apakah tidak terhitung kalah?”

Ki Houw manggut manggut, sahutnya “’Sudah tentu, tapi kau tadipun kena tutukan Cun yang ci, satu sama lain saling impas, malah kau rada mengambil sedikit keuntungan!”

Koan San gwat melengak dibuatnya tanyanya “Bagaimana setelah kena tutukan Cun yang ci tadi?”

“Silahkan kau tanya kepada mereka taci adik, nanti kau tahu bagaimana akibatnya!?” demikian jengek pok Thian cun sambil menuding Lok Heng kun berdua.

Gejulak amarah membuat selebar muka Lok Heng kun dan Lok Siang kun merah padam namun mereka malu membuka mulut. Mendengar nama tutukan itu serta melihat sikap Lok Heng kun berdua ditambah perasaan hatinya, lambat laun Koan San gwat dapat meraba sasaranya, maka sambil tertawa ia bertanya: “Berapa lama Cun yang ci mu itu akan menunjukan kasiatnya?”

Pertanyaan ini merubah air muka pok Thian cun, Liu Ju yang dan Lok Heng kun berduapun sama mengunjuk rasa heran dan curiga.

Kaca Lok Heng kun kepada adiknya “Aneh, mungkin lwekang bangsat tua ini sudah loyo dan tak berguna lagi?”

“Bohong!” teriak Pok Thian cun, “Apakah kalian berani mencoba sekali lagi, kutanggung kalian bakal menikmati pula sorga dunia…” “Bangsat keparat! Lok Siang kun yang berangasan segera mengumpat, “Tidak malu kau membuka mulut demikian, ingin rasanya kubeset kulit mu secara hidup hidup!” kedua tangannya menekan kursi, badannya segera melayang kedepan, ditengah udara lengan bajunya dikebutkan kedepan menggulung muka Pok Thian cun, lekas Pok Thian cun menekuk leher berkelit, tapi gerak gerik Lok Siang kun tidak berhenti sampai disitu saja, lengan bajunya lagi lagi dikebaskan keluar.

Sebelum rangsakkan hebat ini mengenai sasarannya tiba tiba ditengah udara berkelebat pula sesosok bayangan, tangannya miring ke bawah, cras. lengan baju Lok Siang kun ditabasnya sobek separo. Karena kehilangm keseimbangan badan, terpaksa badan Lok Siang kun meluncur kesamping duduk ditanah.

Karuan Lok Heng kun dan Liu Ju yang terkejut, serempak mereka menubruk maju hendak membantu.

Bayangan yang menabas kutung lengan baju itu ternyara Ki Houw adanya, kontan ia membentak bengis : “Apakah kalian sudah bosan hidup, berani bertingkah dihadapan Pun coh!”

Suaranya keras bagai geledek mengguntur Lok Heng kun berdua jadi kuncap nyalinya cepat mereka berdua menghentikan aksinya dan berdiri tegak, sejenak kemudian dengan rasa was was baru Liu Ju yang angkat bicara: “Siheng sebagai juri kenapa kaupun turun tangan mencampuri urusan ini?”

“Kau harus tanya istrimu yang cacad itu.”

Liu ju yang terbungkam, sambil menahan gusar terpaksa ia payang istrinya kembali ketempat duduknya. Dibawah pandangan Ki Houw yang dingin dan tajam terpaksa Lok Heng kun mundur ketempat duduknya.

Maka berkatalah Ki Houw sambil berpaling kepada Koan San gwat: “Lo pok, agaknya memang kau sudah kalah.” “Aku tidak percaya?” teriak Pok Thian cun. ”Harap juri suka menanti sebentar lagi.”

“Tidak usah menunggu tutukanmu tadi memang terasa juga, tapi sekarang sedikitpun tidak menimbulkan gejala apa apa.”

Dengan nanar Pok Thian cu mengamati Koan San gwat, dilihatnya sikap orang masih gagah penuh semangat, gairahnya melimpah limpah, sedikitpun tidak menujukan perubahan apa apa, terpaksa ia tutup mulut.

Tergerak hati Ki Houw ia manggut kearah Koan San gwat seraya berkata: Saudara memang luar biasa, entah dapatkah kami mengjukan sebuah pertanyaan?”

“Saudara sebagai juri sudah tentu punya hak mengajukan pertanyaan?”

“Tidak” kata Ki Houw menggeleng. Juri hanya memutuskan kalah dan menang, mencegah orang main keroyok, soal mengajukan pertanyaan, belum tentu dia punya hak main selidik terhadap seseorang, maka saudara boleh menolak pertanyaan yang kuajukan!”

“Aku tidak merasa simpatik terhadap kau, namun sebagai juri agaknya kau dapat bertindak secara adil, maka bolehkah aku menjawab pertanyaanmu.”

Berubah air muka Ki Houw, tapi ia menahan sabar, katanya: “Tutukan Cun yang ci Lo pok tidak pernah gagal, dengan apa saudara menghindar dari tutukan jarinya?”

Koan Sangwt berpikir sebentar lalu menjawab: “Sebelum menjawab pertanyaan, inginku tahu lebih dulu sifat sifat dari Cun yang ci itu!”

“Masa kau tidak merasakan? tanya Pok Thian cun sebal. “Perasaan sih ada cuma waktunya terlalu pendek, seolah olah punggung kena sinar msatahari pagi, panas hangat seperti ada ulat merambat didalam badan.”

“Selanjutnya bagaimana?” tanya Pok Thian cua pula.

Selanjutnya sepeti tidur dalam impian, musim semi, maka kuusulkan lebih baik nama tutukan itu diginti dengan Cun bang ci saja.

Saking murka Pok Thian cun hendak mengumpat caci, tapi kuncup oleh pandangan tajam mata Ki Houw.

Itulah semacam ilmu sesat yang jahat dan memalukan Liu Ju yang meninbrung coba menjelaskan

“Goh San sin,” tukas Ki Houw dengan mendelik, sebagai seorang kerabat Mo pang tidak pantas kau menimbulkan ilmunya seburuKitu!”

Terpaksa Liu Ju yang tutup mulut Koan San gwat tahu mereka takut sama Ki Houw segera berkata: “Kini ku rada paham, Cun yang ci itu mungkin semacam ilmu yang dapat membangkitkan nafsu yang berkobar kobar sehingga manusia hilang kesadarannya.”

“Tepat sekali. Itulah ilmu tunggal Lo pok yang tiada duanya,” ujar Ki Houw tertawa lebar.

Koan San gwat mencemoh dengan hina “Tak heran ku tidak terpengaruh oleh kesesatan ku. Karena beberapa Waktu yang alu aku pernah diracun oleh manusia licik dan diobati sebutir pil Ping sip cian bing san dari seorang tabib kenamaan, kasiat obat itu dapat memunahkan segala racun, dapat pula membersihkan hati menghilangkan hawa nafsu”

“Kiranya begitu, sekarang aku paham!” ujar Ki Houw manggut mangut lalu berpaling kearah Pok Thian cun dan berkata dengan kereng: “Lo pok sekarang kau terima kalah tidak?” Pok Thian cun tunduk tak bersuara. Ki Houw berkata pula, “menurut adat kebiaSannmu setelah kalah harus segera menggelinding pergi, untuk apa kau tinggal disini?”

Baru saja Lok Heng kun hendak membuka suara, Ki Houw sudah mengepalkan tangan katanya “Sudah jangan banyak kata lagi! Aku tahu maksud kalian, pertikaian kalian dengan Lo pok memang sulit dibereskan. Maka biar aku yang menugar, tiga bulan yang akan datang, kalian datang lapor kemarkas besar di sana nanti kalian bisa menyelesaikan urusan ini, baru selanjutnya membicarakan urusan lain.”

“Terima kasih Mo kun!” ujar Lok heng kum lirih. Sebaliknya Lok Siang kun diam saja “Tidak perlu sungkan sesama kerabat dalam satu Pang. sudah sepantasnya aku sedikit memberi kelonggaran kepada kalian.” Lalu ia mengulap tangan, pok Thian cun segara mau ngeloyor pergi. Ki Houw menjura kepada Koan San gwat serta berkata: “Selamat bertemu, Selamat bertemu! Naga naganya kita harus berkenalan lebih intim.”

Koan San gwat membalas hormat, katanya: “Tuan tadi cuma mengunjuk sejurus kepandaian, tapi sudah kelihatan membekal kepandain yang hebat, aku orang ske Koan jadi gatal dan ingin mohon pengajaran.”

Lok Heng kun dan Liu ju yang berdua jadi gelisah, berulang mereka memberi isyarat dengan kedipan mata Tapi Koan San gwat anggap tidak melihat, Ki Houw bersikap kalem ujarnya “Kasempatan masih banyak, kenapa mesti hari ini!”

Sebaliknya Koan San gwat mendesak katanya, “Aku memikul banyak tugas berat, mati hidup sulit diduga, kuharap saudara bisa menentukan waktunya.”

Ki Houw tersenyum ujarnya: “Bukankah kira sudah mengajukan waktu, kuharap tiba pada waktunya, saudara tidak ingkar janji dan tiba di Tay San koan tepat pada waktunya.” Koan San gwat terkejut, teriaknya “O, jadi kau adalah unta terbang.”

Seiring gelak tawa Ki Houw bcrkelebet mengejar dibelakang Pok Thian cun dan sebentar saja menghilang, di udara berkumandang suara jawabannya. “Aku memang Hwi te ling cu!”

Semua orang dalam pendopo sekian lama nya menjublek tak bersuara dan tidak bergerak akhirnya Koan San gwat yang membuka kesunyian. “Tak terduga unta terbang kita adalah dia.”

“Koan siapa,” ujar Lok Heng kun dengan wajah kaku “Ada persoalan aku mohon bantuanmu.”

“Cianpwe ada pesan silakan karakan saja!”

“Aku hanya punya anak tunggal Siau hong, biasanya terlalu kuumbar jadi sifatnya suka aleman dan bugal untuk selanjutnya kuharap Siau hiap luka memberi petunjuk dan bimbingan, supaya dia tidak menjurus kejalan sesat…”

‘“Kenapa Cianpwe berkata demikian….”

“Bukankah Siauhiap saksikan sendiri, tiga bulan ini kami harus melaporkan diri sekali pergi entah mati atau hidup sulit diduga apakah bisa kembali lagi, sukar di ramal kami harap adanya hubungan kental kami denga gurumu, kau pandang patriku…..”

Hembusan angin musim ronrok yang deras menghamburkan daun pohon yang beterbangan, sinar surya redup menyinari Tay san koan, benteng pertempuran kuno yang sunyi sepi.

Bertengger diatas kuda, cahaya matahari menarik panjang bayangan badannya kesebelah samping. Hatinya sedang gundah dan, gelisah, waktu yang telah dijanjikan oleh Unta Terbang. Hari yang sudah dinanti nantikan sekian lamanya untuk mendapat jawaban berbagai pertanyaan yang selalu mencekan dalam sanubarinya.

Tapi dari pagi ia menunggu sempai magrib bayangan Unta terbang tak kunjung tiba. “Apakah dia ingkar janji?” Tidak jauh di sebelah sana Lok Siem hong dan Lam Sam thay sedang duduk di atas tunggangannya, menunggu dengan tenang.

Biasanya Lok Siau hong paling lincah, namun kini ia berusaha pendiam, dalam waktu yang pendek ini, banyak pengalaman dan perubahan yang dialami. Hari ketiga setelah kedatangan Cu hay ih siu, ibu, dan pamannya sama menghilang, ia tahu bahwa mereka menuju, ke suatu tempat untuk melaporkan diri, namun semua kejadian ini justru meninggalkan teka teki baginya. Kini dalam dunia ini ia tidak punya sanak kadang lagi, terpaksa ia ikut Koan San gwat. Sang surya sudah tenggelam, hari sudah mulai gelap, Koan San gwat jadi tidak sabar lagi, sambil keprak kudanya menghampiri kearah Lok Siauw hong berdua mulutnya mengomel : “Mungkin dia tidak datang!”

Tiba tiba dari kejauhan didengarnya derap langkah kuda yang ramai mendatangi, seketika terbangkit semangat Koan San gwat gumamnya: “Sudah datang! Kenapa terlambat selama ini!”

Setelah dekat tampak dua kuda berlari mendatangi, kedua penunggangnya jelas adalah dua laki laki, perasaan Koan San gwat kembali tenggelam, ia tahu bahwa yang mendatangi terang bukan unta terbang, alias Ki thian mo kun Ki Houw.

Setelah tiba di hadapan lebih jelas lagi ke dua penunggang kuda itu ternyata adalah Sun Cit dari Siang ing Piaukiok, seorang yang lain adalah Ciong lam Ciangbun Lu bu wi.

Kedatangan Lu bu wi ini jelas hendak menuntut balas bagi kematian kedua muridnya yaitu Loh he siang ing, tapi kenapa datang sendiri tanpa membawa pengiring. Tapi bergegas ia bersoja: “Cianbujin apa khabar, apakah anda hendak mencari unta terbang? Dia ingkar janji!”

Diluar dugaan Lu bu wi malah menjawab “Tidak! Sebentar lagi Unta terbang akan tiba!”

Koan San gwat melengak, katanya: “Dari mana Ciangbunjin tahu?”

“Waktu datang sebenarnya Losiu membawa enam murid yang paling kuat ditengah jalan tadi kena dibunuh orang semuanya menurut laporan Sun Cit bahwa perempuan adalah unta terbang!”

“Apa! unta terbang seorang perempuan?” Sambil melelehkana air mata Lu bu wi berkata menarik napas “Benar! perempuan memiliki kepandaian silat yang aneh, dalam empat lima juru saja enam muridku yang terkuat itu dirobohkan mandi darah. Kalau dia tidak menaruh belas kasihan, Losiu juga tidak luput dari kematian!”

Koan San gwat tertunduk, ia menerawang unta terbang mana yang tulen. Terdengarlah Lu Bu wi melanjutkan: “Setelah membunuh keenam muridku seru Unta terbang ada titip kabar supaya disampaikan kepada Lingcu katanya karena Unta sakti dan patung emas Ling cu terlambat tiba, maka diapun baru akan tiba setelah bulan bercokol dicakrawala!”

“Aku jadi bingung,” kata Koan San gwat sebenarnya yang mana yang tulen.

“Maksud Lingcu Unta terbang ada yang tulen dan ada yang palsu?”

“Ya, beberapa waktu yang lalu aku pernah berhadapan langsung dengan Unta terbang, dia adalah laki laki tulen bernama Ki Houw… ”

“Salah!” ujar Lu Bu wi menggeleng kepala, “Unta terbang yang Losiu hadapi jelas adalah seorang perempuan!” Koan San gwat menerawang sebentar lalu katanya tegas: “Peduli apa laki atau perempuau yang jelas sepak terjang unta terbang terlalu culas dan kejam, nanti aku harus menumpas nya supaya tidak meninggalkan bibit bencana pada masyarakat ramai!”

Ditengah malam nan sunyj jauh dibawah sana sayup sayup terdengar suara kelentingan unta yang nyaring nan jelas. Seketika bergerak Koan San gwat, serta merta seperti akan dirinya ia berteriak sekeras keras, “Sahabatku! Aku disini!”

Tak lama kemudian seekor unta tingi besar berbulu putih berlari cepat bagai terbang, menghampiri kearah dirinya, kelenting dibawah lehernya berbunyi semakin nyaring. Lekas Koan San gwat melompat terbang maju memapak dan memeluk lehernya dengan perasaan haru ia berteriak : “Sahabatku, akhirnya kita bertemu lagi, sungguh aku sangat kangen kepadamu!”

Unta putih itu juga mengusupkan kepalanya dalam pelukan Koan San gwat, lidahnya menjilat punggung tangannya, manusia dan binatang saling berpelukan sedemikian akrab dan mesra.

Dibawah cahaya rembulan yang redup dari balik semak semak pohon muncul pula sebuah bayangan hitam yang tinggi besar. Itulah seekor Unta hitam mulus di punggung nya bercokol seorang gadis yang memakai baju serba hitam pula, terdengarlah ia mejengek dingin, Koan San gwat bertanding kita boleh dimulai sekarang.

Waktu Koan San gwat angkat kepala dalam keadaan yang masih diliputi keharuan seketika ia terperanjat. Raut wajah sigadis yang dingin dan kaku ini lapat lapat masih berkesan dalam sanubarinya sejenak ia berpikir, baru ingat gadis ini ternyata bukan lain adalah Khong Ling ling adanya.

Kontan menjerit kaget : “Bagaimana bisa kau!” Khong Ling ling tertawa tawar, sahutnya. “Kenapa tidak boleh aku, kau bisa jadi Bing tho ling cu, akupun boleh saja menjadi Hwi tho ling cu.”

“Aku pernah ketemu dengan orang yang bernama Ki Hauw, diapun mengatakan dirinya sebagai Hwi tho ling cu…”

“Itupun tidak salah, Hwi tho ling cu tidak terbatas cuma satu orang saja, boleh dia boleh juga aku. Aku adalah dia, dia adalah aku..”

Sudah tentu Koan San gwat menjadi bingung dan tak mengerti, sekian lama ia menjublek mengawasi gadis dihadapannya ini, bukan saja ia tidak mengerti maksud kata katanya, iapun tidak percaya bahwa dia adalah Hwi tho ling cu itu.

Melihat orang berdiri rnenjublek, Khong Ling ling jadi berang teriaknya “Koan San gwat jangan kau pura pura pikun, masa kau tidak kenal aku…”

“Sudah tentu aku kenal kau, waktu di Kun lun san…” “Jangan kau singgung tempat itu?” tukas Khong Ling ling

dengan sikap kasar dan uring uringan.

“Sudah tentu kau tidak berani menyebut pula nama tempat itu karena disana kau melakukan perbuatan durhaka, dan berusaha membunuh guru sendiri…”

“Kejadian itu bukan apa apa bagiku nenek tua renta tidak setimpal menjadi guruku. Meskipun selama sepuluh tahun dia mengajar ilmu silat kepadaku tapi diapun telah nenyia nyiakan waktuku 10 tahun permainan cakar ayamnya itu dalam pandanganku sekarang, tidak berharga sepeserpun…”

”Kentut, jangan mengudal mulutmu yang busuk. Nada bicaramu ini masa terhitung seorang manusia…”

“Orang she koan, kaupun jangan memaki orang. Kau tahu kenapa aku tidak suka kau menyinggung urusan lama di Kun lun san itu. Aku cuma benci pada diriku kenapa aku menyiakan kesempatan untuk membunuh musuh besar ayahku. Waktu itu bila aku tahu kau adalah pembunuh ayahku, tentu…”

“Khong Ling Iing! kedengarannya mulutmu manis, sedangkan terhadap guru yang berbudi sedalam lautan kau berani membangkang, aku tidak percaya kau begitu simpatik akan kematian ayahmu.”

“Orang she Koan!” desis Khong Ling ling dengan marah yang meluap luap, serunya sambil melolos pedang : “Jangan cerewet lagi, patung emasmu ada diatas untamu, ayo keluar kan dan kita tentukan siapa menang siapa kalah. Hari ini adalah pertempuran mati atau hidup jangan berhenti bila satu pihak belum roboh binasa.”

“Hari ini aku berjanji dan hanya bertanding melawan Unta terbang yang tulen!”

“Akulah Unta terbang adanya!”

“Tapi yang mengikat perjanjian bukan aku, dia bernama Ki Houw seorang laki laki.”

“Dia adalah suamiku, kami menggunakan julukan yang sama, kau paham!”

“Suamimu? Kapan kalian menikah?”

“Hal ini tidak ada sangkut paut dengan kau, yang benar aku tidak menipukau.”

“Tidak, aku harus tahu duduk perkaranya. Pertikaian dengan Unta terbang bukan meliputi perebutan nama julukan saja, masih banyak urusan yang lain..?”

“Baiklah, masih ada urusan apa yang kau tanyakan?” “Pertama tama aku ingin tahu, siapakah yang membegal

dan membunuh orang di Ling ciu?” “Aku! Karena Ciong lam pay berlaku kurangajar terhadap ayahku,”

“Yang menggunakan perintah Unta terbang dan sengaja mencari aku untuk beritanding juga kau?”

“Bukan! Suamiku, karena dia punya alasan khusus untuk berbuat demikian!”

“Alasan apa?”

“Tidak tahu! Dia tidak memberitahu kepadaku.”

“Lebih baik kau undang dia kemari, masih ada sebuah urusan besar diantara kita harus diselesaikan, urusan Unta sakti dan Unta terbang, hal ini kau tidak akan bisa mewakili dia dan lagi akupun tidak sudi main tangan dengan kaum hawa seperti kau.”

“Orang seh Koan, kalau kau tidak berani lekas berlutut minta ampun saja!”

“Keparat, matipun aku tidak takut, masa gentar menghadapi kau, cuma pertikaian antara Unta sakti melawan Unta terbang teramat besar sangkut pautnya, aku beranggapan kau tidak setimpal menggunakan nama julukan itu untuk menantang aku.”

Rona wajah Khong Ling ling menjadi pucat pias, kentara bahwa amarahnya sudah menghantui sanubarinya namun sikap Koan San gwat yang memandang hina dan dingin terhadap dirinya membuat ia tidak kuasa melampiaskan amarahnya, sejenak ia berdiam diri sambil bernapas ngos ngosan, lalu kata nya dengan suara berat. “Kalau begitu aku menuntut balas bagi kematian ayahku, alasan ini cukup setimpal bukan!”

Sejenak Koan San gwat ragu ragu, sahutnya : “Untuk ini aku orang she Koan serba sulit menampik!” Khong Ling ling keprak untanya berlari puluhan langkah berpaling dan berteriak :

“Pegang kencang patung masmu, kita boleh mulai…!”

Koan San gwat tidak hiraukan seman orang, ia berbalik kepada Lu bu wi dan berkata: “Ciangbunjin harap pinjam pedang sebentar !”

Lekas Lu bu wi melolos pedang dan di serahkan kepadanya, sambil menenteng pedang Koan San gwat melompat naik kepung gung untanya, patung emas berkaki atu yang berada di punggung untanya ia lemparkan kc atas tanah.

Terdengar Khoni Ltng Iing berteriak di kejauhan: “Koan San gwat, kenapa kau tidak pakai patung emas saktimu?”

Koan San gwat tertawa lantang serunya: “Kim sin (patung emas sakti) adalah perlambang Bing tho ling cu, hanya menghadapi Hwi tho ling cu yang tulen baru akan kugunakan! Aku punya alasan menghadapi kau dengan Pedang ini adalah milik Ciong lam pay dengan pedang ini aku hendak menuntut hutang darah dari puluhan jiwa para murid Ciong lam Pay yang kau bunuh,”

Kong Ling ling berjingkrak gusar seraya berteriak ia keprak untanya maju menerjang begitu dekat pedang terangkat terus membacok. Koan San gwat bercokol tenang dan angker diatas puuggung unta pedangnya terangkat mengkis “tring” lelatu api berpercik suaranya berkumandaog dan berguma diudara.

Koan San gwat masih tidak bergeming sebaliknya Khong Ling ling tergentak mundur dua tiga tindak, tapi bukan karena tenga pergelangan tangannya yang kalah kuat adalah unta hitamnya yang tidak kuasa menahan dari tenaga benturan yang dahsyat dari kekuatan raksasa yang saling hantam itu, Koan San gwat terbahak bahak serunya. “Waktu di Liang cu kau menantang, orang bertanding, unta lawan unta, kini tunggangan siapa lebih unggul sudah dapat dipastikan, lebih baik kau lekas beri tahu kepada suamimu, kalau benar benar ingin mengadu kekuatan dengan aku, harap dia mencari tunggangan lain dan aku, harap dia mencari tunggangan lain yang lebih hebat!”

Saking gusar mendadak Khong Ling Ling mengayun pedangnya kebawah dan “cres” kepala Unta hitam tunggaaga nya itu mencelat terbang tertabas kutung dari badannya, sebelum badannya roboh Khong Ling Ling sudah melompat turun di tanah.

“Apa apaan perbuatanmu ini?” seru Koan San gwat tertegun.

“Binatang tidak berguna sudah tentu harus di mampuskan saja!”

“Aku hanya omong sambil lalu, sebetulnya unta hitam, ini binatang pilihan juga, kau begitu kejam membunuhnya.”

“Barangku sendiri aku punya hak untuk memutuskannya, tak perlu kau banyak, urusan turunlah kita lajutkan diatas tanah!”

Koan San gwat melompat turun seraya berteriak gusar: “Kau tiada hak berbuat seudelmu sendiri terhadap suatu jiwa!”

Kong Ling ling menjadi sengit teriaknya pula : “Orang she Koan, jangan takabur, unta putihmu belum tentu seekor binatang tiada tandingan dikolong langit ini, yang kubunuh ini tiada lain barang apkiran belaka, nanti kalau tunggangan suamiku datang, tanggung dia tidak kalah oleh tunggangan milikmu.”

“Kenapa suamimu hari ini tidak datang?”

“Bila kau dapat mengalahkan dia, sudah tentu dia akan muncul, sekarang kau tidak perlu banyak tanya.” Seiring dengan ucapannya pedangnya terayun menyerang kepada Koan San gwat, terpaksa Koan San gwat angkat pedang menangkis dan melayani rangsakan lawan. Karena berada ditanah datar, gerak gerik tidak terhalang, maka tidak perlu setiap gebrak harus mencari peluang mengendalikan tunggangan maka serang menyerang kedua belah pihak berlangsung teramat cepat, dalam sekejap saja puluhan jurus sudah berselang.

Setiap jurus masing masing mengerahkan tenaga dalam yang kuat dan keras setiap dua senjata saling bentur pasti mengiluarkan suara keras dan kercikan letusan api, semakin lama semakin seru dan hebat, diam diam Koan San gwat mencelos hatinya.

Bagi dia yang tenaga raksasa pembawaan sejak kecil, meski senjata yang digunakan hanya sebatang pedang, tapi setiap gerak serangan nya mengandung tenaga ratusan kati beratnya, Khong Ling ling mampu bertahan setanding melawan dirinya, apalagi seorang perempuan bisa memiliki kekuatan yang sedemikian dahsyatnya sungguhnya patut dipuji.

Dan lagi sejurus ilmu pedang yang dia lancarkan memang sangat aneh dan menakjubkan, gerak geriknya lucu dan sulit diraba. Seperti diketahui Khong Ling ling memperoleh didikan sejak kecil di Kun lun san di bawah asuhan Soat lo Thay Thay, tapi kepandaian silat keluarga Soat itu sudah diturunkan ke pada Thio Ceng Ceng dia sendiri menonton dari pinggir, sedikit banyak ia kenal ilmu silat ajaran keluarga Soat itu.

Tapi ilmu pedang yang dimainkan Khong Liag ling sekarang selamanya belum pernah dilihatnya, setiap jurus serangannya, sulit diraba dan menyelonong tiba dari jurusan yang tidak mungkin diraba sebelumnya, dan lagi serangan itu adalah sedemikian ganas dan keji sekali kena jiwa pasti melayang, maka tidaklah heran beberapa murid Siong lam pay itu hanya beberapa gebrak saja sudah dibunuh olehnya dengan cara yang begitu mudah, jikalau dirinya tidak dibekali ajaran Tokko Bing yang digjaya dan murni itu, sejak tadi mungkin iapun sudah melayang jiwanya oleh keculasan lawannya. Pertempuran sudah berjalan tiga puluh jurus, tapi Koan San gwat cuma balas menyerang dua jurus, setiap jurus serangan harus ia layani atau tangkis dengan memakai tenaga dalam yang cukup besar pula, sehingga selalu pihak lawan dapat menempatkan diri dalam posisi yang menguntungkan, meraba dingin serangan yang membadai, terpaksa ia hanya membela diri saja.

Rangsakan pedang Khong Ling ling justru semakn gencar dan telengas, sikapnyapun semakin beringas, terdengar ia mengejek dingin: “Koan San gwat kudengar betapa tinggi namamu di kalangan Kangouw, kiranya cuma nama kosong belaka, Bing tho ling cu menggetarkan dunia, agaknya tidak lebih cuma gentong nasi belaka.”

Dengan tenang mantap Koan San gwat melayani rangsangan lawan, sedikitpun tidak terpengaruh oleh lawan, namun Khong Ling ling mangkin mandapat angin tedengar ia menccemooh lagi: “Dilihat dari permainan pedang yang menyerupai cakar ayam ini, dapatlah dinilaibetapa sebenarnya Tokko Bing, hanya tokoh dungu tidak becus belaka, kalau aku dilahirkan beberapa tahun lebih pagi tanggung didunia ini tidak akan ada Bing tho sebutan yang menyebalkan ini…”

Pedang Koan San gwat diputar kencang melindungi seluruh badannya, tak tahan ia balas menjengek dingin. “Mungkin kau mendapatkan tambahan ilmu dari Ki Houw, berani kau membual mulutmu yang busuk. Kenapa kau tidak gunakan otakmu, dulu pusaka Lo hun kok dari keluarga Kiong besar kalian yaitu Bi seng cu kenapa bisa tearampas dan berada ditangan guruku selama 20 tahun lamanya demikian ayahmu mampus di tangan gentong nasi kalau dibandingkan justru kau ini lebih celaka dari aku yang kau anggap gentong nasi ini.”

Dimulut Khong Ling ling mencemoh dan menghina tapi dalam hatipun terkejut dan was was sebab meski setiap permainann pedang Koan San gwat selalu dapat dipatahkan, tapi gerak geriknya sangat mantap dan dapat maju mundur sesuka hatinya tanpa terpengaruh sedikitpun berulang kali ia sudah memancing dengan berbagai tipu yang cukup meyakinkan tapi pertahanan pedang lawan memang tidak tertembuskan, maka sengaja mencemooh dan menghina, tujuannya membakar kemarahan orang sehingga ia berkesempatan menjebol pertahanan orang yang kokoh.

Tak nyana latihan Koan San gwat memang sudah sangat matang, ejekan balasannya sangat tajam ini menusuk perasaan, bukan saja tidak terpancing malah diri sendiri kepermainkan karuan ia naik pitam.

Sambil melancarkan rangsakan membadai mulutnya berteriak beringas: “Koan San gwat kau memang harus mampus!”

Pedang nya berputar memetakan puluhan kuntum kembang cahaya pedang yang bertaburan keatas dan menukik kebawah, sulit di tentukan yang mana yang kosong dan yang mana yang berisi, sebelah atas lebih dulu atau sebelah bawah lebih cepat menggasak tiba?

Menunjak ketiga lobang didada Koan San gwat tawa Khong Ling ling semakin menjadi jadi serunya “Boleh kau tambahi sebuah huruf Bing tho ling menatap lobang didepan dada orang itu. Karena itulah yang harua dibanggakan oleh Bing tho ling cu yang katanya pernah menundukan dunia.”

“Bertanding silat sudah pantas kalau ada yang menang dan kalah, tidak perlu mengudal lidahmu dengan sikap tengikmu itu.”

Jelas bahwa dirinya sudah menang dengan pukulan tiga lobang kecil di depan dada orang tapi serta melihat sikap Koan San gwat masih begitu tenang dan seperti acuh tak acuh mau tak mau Khong Ling ling mejengak marah akhinya tidak tertahan ia berjingkrak gusar, serunya: “Kalau tau begitu, lebih baik ku tusuk dadamu saja!”

“Salahmu sendiri! kenapa kau tidak berbuat demikian?” “Karena suamiku melarang, dia sendiri yang akan membunuh kau!”

“Pendapat suamimu memang, untuk melawan aku memang dia sendiri yang harus maju!”

“Melawan aku saja kau bukan tandingan, masih ingin bertanding dengan suamiku jangan kau bermain api, lekas serahkan lencana unta saktimu, selanjurnya carilah suatu tempat dan menyembunyikan diri!”

“Kalau kelak suamimu benar benar dapat mengalahkan aku, baru aku akan pikirkan lagi.”

“Koan San gwat apa kau ini laki laki. Kenapa tidak tahu malu kau masih tidak mengaku kalah!”

Mendadak Koan San gwat menarik muka serunya lantang, “Orang she Koan laki laki sejati Bing tho ling cu pun sudah menggetarkan Kangouw, soal menang kalah mesti didebatkan kalau kau angggap dirimu sudah menang, coba ketuklah hatimu dan tangannya meraba kedepan dadanya, seketika berubah air mukanya sekian lamanya ia tidak mampu bersuara.

Ternyata baju depan dadanya dari kiri, tapi tergores sebuah garis yang lurus, hanya baju luarnya saja yang tergores maka ia tidak merasakan. Tapi ia tidak tahu kapan baju luarnya ini tergores ujung pedang lawan.

Terbayang olehnya adegan pertempuran selami tiga puluh jurus tadi, Koan San gwat cuma membalas serangan tiga jurus, dua jurus yang terdahulu ditarik ditengah jalan, hanya jurus terakhir dilancarkan dengaa nekad dengan tujuan gugur bersama, tapi serangan itupun berhasil ia hindari.

Pikirannya hanya jurus ini yang terakhir inilah yang besar. Maka dengar menempelkan muka ia bertanya dengan kereng: “Tipu yang bagus! Apa nama jurus seranganmu itu?” “Meski ada namanya, tapi kedengannya tidak enak yaitu si li kiu seng (mencari hidup dalam kematian).”

Khong Ling ling berpikir sebentar lalu berkata dingin : “Mesti dengan ini nama kedengarannya

“Untuk bisa gagur bersama suatu kejadian yang sulit, itu diperlukan permainan tipu serangan kedua belah pihak seimbang pula kehebatannya, sehingga pihak yang lain berkesempatan membunuh lawannya lebih dulu, tapi ilmu pedang sudah terlatih setaraf kau sekarang, mungkin sulit dicari waktu yang kebetulan itu, maka kita perlu sama sama mengejar waktu yang pendek itu, mungkin kau masih ingat, tadi siapa yang bergerak lebih dulu?”

Berubah pula muka Khong Ling ling mulutnya, terbungkam, menang dan kalah sudah jelas duduk perkaranya, memang gerakan serangan pedang Koan San gwat lebih cepat dari tutulan tiga kali ujung pedangnya, kalau tabasannya itu betul betul dia laksanakan maka ketiga tutulan ujung pedangnya itu tidak mungkin mengenai sasarannya.

Setelah terpaku sekian lamanya, dengan muka menghijau ia berkata : “Koan San gwat hari ini kepandaianmu lebih tinggi, tapi jangan kau takabur, cepat atau lambat aku pasti menebus kekalahan ini!”

“Sekarang tibalah giliran suamimu, mengunjukkan diri!” jengek Koan San gwat.

“Hari ini tidak lain yang lebih penting maka akulah yang mewakili dia kemarin!”

Dengan suara kereng Koan San gwat. “Urusan apapun tidak sepenting pertemuan ini, seorang manusia tidak punya kepercayaan tiada berharga hidup kalau dia seorang yang tidak dapat dipercaya, aku menyusul mengadakan janji pertemuan disini!” Berapi api biji mata Khong Ling ling teriaknya “Orang she Khoan, kau sudah bertemu dengan suamiku, kau harus tahu bahwa dia tidak takut terhadap kau, dan lagi kau pasti tahu bila sekarang dia tidak kemari itu menandakan bahwa urusan itu tentu jauh lebih penting.”

Koan San gwat berpikir sebentar lalu manggut manggut, sahutnya “Baik aku percaya sekali obrolanmu ini, tapi dapatkah kau beritahu kapan dan dimana perjanjian yang akan datang?

“Aku pun tidak tahu,” sahut Khong Ling ling menggeleng. “Tapi aku percaya dia pasti memberi khabar kepada kau!”

“Baik, selalu ku tunggu kabarnya.”

Sambil mendengus Khong Ling ling putar tubuh terus tinggal pergi, tapi beberapa langkah ia dihentikan oleh Koan San gwat, sambil membanting kaki Khong Ling ling berseru gusar: “Ada apa lagi! Apa kau tidak mau melepas aku pergi?”

“Bukan! Kalau aku ingin menahan kau tabasan pedangku tadi tidak melukai cuma menggores baju luarmu saja, kalau hari ini kau terima kalah, maka harus mematuhi satu syaratku!”

“Syarat apa? Jangan kau ajukan persoalan berabe dan serba runyam, aku tidak bisa memberi kepastian kepada kau,” tanya Khong Ling ling curiga.

“Sebelum pertemuan kedua dan sebelum adanya adu kepandaian yang akan datang dengan suamimu, aku larang Lencana Unta terbang kalian muncul didunia persilatan.”

Khong Ling ling bimbang, Koan San gwat segera menandaskan: “Kalau tadi kau mewakili Hwi tho ling cu, kau sudah menyerah kalah, maka Hwi tho ling cu tidak boleh di pakai lagi, kalau kau tidak berani mengambil keputusan, suamimu ingkar janji, maka diapun terikat oleh syarat yang kuajukan ini!” Mendengar alasan ini Khong Lia ling malah tertawa dan perasaan menjadi longgar katanya: “Boleh karena alasan ini pasti suamiku tiada alasan menolak maka baiklah aku akan meyetujui usulmu ini!”

“Silankan pergi!” ujar Koan San gwat mengulapkan tangan. “Beritahu pada suami mu semakin cepat lebih baik!”

Kini Khong Ling ling pergi tanpa menoleh lagi.

Koan San gwat mendekati Unta saktinya dia berbisik bisik di pinggir telinganya, entah apa yang diucapkan, tapi sang unta selalu manggut manggut atau menggeleng sebagai menjawabnya.

Dengan lesu Lu Bu Wi menuntun kudanya, menghampiri Koan San gwat, katanya “Lingcu Losiu mohon diri lebih dulu!”

“Ciangbunjin hendak kemana?” tanya Koan San gwat.

“Ai, pihak Ciong lam pay sudah runtuh total, tiada muka Losiu menduduki jabatan yang memalukan ini, tiada harapan menuntut balas, masa depanmu suram, Losiu ingin membawa jenasah murid pulang gunung, akan ku umumkan penutupan dan pembubaran golongan kami.” 

“Losiu akan mengasingkan diri saja !”

Koan San gwat membujuk katanya, “Ciong lam pay sudah ternama puluhan tahun lamanya di Bulim, menderita rugi adalah jamak dalam percaturan dunia persilatan, Ciangbun jin tidak perlu putus asa.”

Lu Bu wi menghela napas panjang ujarnya. “Perguruan mengalami bencana yang menengenaskan, kepandaian sendiri tidak becus lagi, hagaimaa Losiu tidak kecewa!”

Koan Sangwa berpikir sejenak lalu berkata: “Bagaimaua Kalau Ciangbunjin sementara ini melakukan perjaiananaa dengan Cayhe, siapa tahu dalam waktu yang dekat bisa membalas dendam secara langsung, sekaligus dapat memulihkan muka dan mengangkat nama pula.”

Tergerak hati Lu Bu wi Katanianya, “Ling cu ada petunjuk apa?”

“Beri petunjuk sih tidak berani, mendadak Cayhe teringat suatu persoalan, kalau Ciangbunjin ikut melakukah perjalanan ke barat, mungkin disana bisa memperofeh suatu ketuntungan.”

“Untuk apa Lingcu pergi ke barat daya?”

Koan San gwat tertawa sambil menunjuk suaranya, katanya: “Sahabat tuaku inilah yang memberi tahu kepadaku.”

Semua orang melengak tidak mengerti, kata Koan San gwat: “Untaku ini adalah binatang sakti yang cerdik dari daerah barat, setelah mendapat didikan dan bimbingan dari guru selama beberapa tahun, ia punya banyak kemampuan yang luar biasa, bukan saja dapat menempuh perjalanan ribuan li sehari naik gunung terjun keair dan segala tugas berat apa pun dilakukannya ada pula suara kepandaian khas yang dimilikinya yaitu daya penciuman nya teramat tajam, sippapun bila terendus hidungnya, meski kau sembunyi keujung langit pun dapat dikejar dan menemukan tempat persembunyianmu.”

Lu Bu wi kagum dan manggut manggut katanya : “Unta memang merupakan kapal padang pasir, biasa menjelajah seluruh dunia, untuk ini Losiu tidak akan sangat sedikit pun, entah siapa yang hendak Ling cu kuntit?”

“Sudah tentu Khong Ling ling adanya, dengan menguntit dia dapatlah aku secepat nya berhadapan dengan Unta terbang!”

Lu Bu wi termenung tak bersuara, Lok Siau hong berjingkrak kegirangan. Cuma Lau Sam thay yang mengunjuk rasa kuatir, katanya: “Apaka tujuan Ling cu tidak akan berbahaya?”

Koan San gwat berkata” Ki Houw mengingkari janjinya, tentu urusannya ini ada sangkut pautnya dengan perkara yang kubayangkan teka teki ini sudah lama tersekap dalam sanubariku, maka aku harus berdaya upaya untuk menbongkar rahasia, dan sekarang tibalah saatnya.. ..

kalau Lau heng merasa tidak leluasa boleh tidak usah ikut soalnya memang Lau heng tiada hubungannya, dengan persoalan ini….”

“Kenapa Lingcu bicara demikian!” seru Lau Sam thay sambil menggoyangkan tangan. “Aku orang she Lau hanya kaum keroco di kalangan Kang ouw, namun sejak ikut Ling cu kini akan menyelidiki suatu, rahasia besar kaum Bulim, terhitung hidup ini tidak sia sia, meski harus berkorban jiwa aku orang she Lau tidak perlu menyesal, cuma aku kuatirkan keselamatan Ling cu sendiri.”

“Tiada sesuatu yang perlu dikuatirkan bagi diriku.”

“Belum tentu, dalam pandangan kaum Bulim sedang terancam malapetaka yang masih terpendam dan bakal meletus dalam waktu tidak lama lagi, keselamatan kaum persilatan hanya tergantung pada usaha Ling cu seorang untuk mengatasinya, kalau tidak sulit lah dibayangkan apa yang bakal terjadi kelak.”

“Betapa tinggi penilaian Lau heng terhadap diriku, hakikatnya memang aku sudah terlibat dalam pusaran yang rumit ini, seumpama hendak menyingkir juga tidak mungkin lagi, bukan aku saja nona Lok dan Lau heng sendiri pun sudah tidak bisa berpeluk tangan. Kalianpun pernah bertemu dengan Ki Houw kalian pun sudah tahu sedikit seluk beluk mengenai persoalan ini …” Lau Sam thay tidak bicara lagi, sebalik Lok Siau hong membelalakan matanya serunya: “Koan toako ditempat tujuan kita apakah dapat betemu dengan bibi?”

“Aku tidak berani pastikan.” sahut Koan San gwat setelah termenung sebentar, “Tapi aku percaya sedikit banyak kita bakal memperperoleh bahan bahan sebagai pemikiran kita selanjutnya….”

“Tiba tiba Lu Bu wi menyeletuk tanya dengan heran : “Soal rahasia apa yang sedang kalian perbincangkan?”

“Sekarang belum pasti dapat aku jelaskan Ciangbunjin perlu memastikan mau ikut tidak menempuh bahaya sudah pasti dapat terhindar

“Losiu mencari hidup seorang diri, jiwaku sih tak perlu dipikirkan cuma dengan tenaga ku yang tidak becus ini, aku kuatir bukan saja tidak membantu Ling cu malah jadi beban belaka!”

“Cianghunjin jangan merendah, sulit dikatakan sekarang, mungkin banyak urusan yang nanti harus mohon bantuan, dan lagi entah beberapa banyak anggota dari perguruan kalian?”

Lu Bu wi berpikir sebentar lalu katanya: “Enam diantara sembilan saudara seperguruan kami sudah ajal tinggal tiga orang lagi dimarkas, para murid dari generasi kedua kira kira masih tiga puluhan orang yang tersebar luas dimana mana, dengan sebuah tanda rahasia, Losiu dapat mengumpulkan mereka untuk mendengar perintah seluruhnya!”

“Tidak prlu banyak harap Ciagbunjin mengundang tiga Enghiong yang berada dimarkas itu serta, lima, enam murid yang terdekat saja. Tugas ini lebih baik diserahkan kepada Sun Cit sebagai kurir atau penghubung, suruh mereka menyalin rupa. Tidak usah bertemu muka secara langsung dengan kami, asal memperhatikan tanda rahasia penghubung dari perguruan kalian, harus ketat pula mengikuti jejak kita disaat tenaga mereka benar benar diperlukan, biarlah nanti Ciangbunjin sendiri yang memberi tugas yang perlu dilakukannya.”

Lu Bu wi tidak tahu persiapan apa yang sedang dilakukan oleh Koan San gwat namun ia menurut perintah saja, sahutnya: “Khong ling ling membunuh beberapa saudara perguruan kita, kini berkesempatan ikut Ling cu untuk menuntut balas, tugas mulia yang memang sangat kita harapkan!” lalu ia memberikan aba aba kepada Sun Cit, serta menyuruh membereskan jenasah para saudara seperguruannya dan dikirim kembali ke Ciong lam pay untnk dikebumikan.”

Setelah segalanya diatur dengan rapi, Koan San gwat mencemplak kepunggung unta saktinya, katanya: “Mari berangkat! Mungkin perjalananan kita masih bakal menimbulkan gelombang besar yang mendapat seluruh kaum persilatan, mungkin pula seperti mega yang mengembang di angkasa, terhembus lenyap tanpa bekas oleh angin lalu! Tapi apapun yang akan terjadi, inilah jalan satu satunya yang harus kita tempuh!”

-o0dw0o-