Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 04

 
Jilid 04

“KOAN- TOAKO!” TAK tahan lagi Thio Ceng Ceng berteriak terus memburu kesana. Tapi begitu tiba di tempat itu, seketika ia berdiri terlongong. Sebab kedua biji mata Koan San-gwat memandang lurus ke depan seakan-akan tidak kenal dirinya, seperti tidak mendengar teriakannya pula.

Thio Ceng Ceng menjadi pilu, memburu dua langkah ia tarik dan genggam erat-erat tangan Koan San-gwat, teriaknya sambil menangis, “Koan-toako! Apakah kau sudah sembuh! Kenapa kau diam saja….”

Koan San-gwat menarik tangannya, tidak menjawab juga tidak hiraukan dirinya, Thio Ceng Ceng melengak dan menjublek, jauh-jauh dari tempat puluhan ribu Li dia bawa Koan San-gwat kemari mau minta pengobatan, setelah lolos dari lobang maut, kini di luar dugaan bersikap begitu dingin terhadap dirinya.

Peng-toanio yang berpikiran jernih segera memperingatkan, “Nona cilik, jangan kau sentuh dia, apa kau tidak perhatikan biji matanya, hakikatnya dia tidak melihat apa-apa.”

Baru sekarang Thio Ceng Ceng menyadari hal ini, rona muka dan sikap Koan San-gwat seperti orang linglung, pendengarannya pun sudah tuli, maka sikapnya kaku.

“Peng Kiok-jin!” terdengarlah gadis baju merah itu menjengek dingin kepada Peng-toanio, “Besar ya nyalimu, bukankah Suhu sudah memberitahu kepadamu kau dilarang bawa gadis ini ke dalam lembah, berani kau semena-mena.”

Peng-toanio mendengus, “Apa yang kuperbuat aku yang bertanggung jawab, tak perlu kau banyak bacot!”

Ceng Ceng tahu gadis baju merah ini tentu Khong Ling-ling adanya, cepat ia menimbrung, “Khong-cici bagaimanakah keadaan Koan-toako?” “Bukankah matamu bisa lihat sendiri, kenapa harus tanya kepadaku?” sindir Khong Ling-ling.

Mendapat jawaban kasar, Thio Ceng Ceng menahan emoai, katanya pula, “Maksudku apakah dia bisa sembuh seperti sedia kala….?”

“Kau ini apanya? Begitu besar perhatianmu kepadanya!” ejek Khong Ling-ling.

Ceng Ceng melengak, tak tahu bagaimana harus menjawab. Untung Peng-toanio sagera menimbrung, “Dia adalah calon istrinya, sudah sepatutnya ia memperhatikannya!”

Berubah air muka Khong Ling-ling, tanyanya dangan bengis, “Apa betul?”

Merah jengah muka Ceng Ceng, serba salah dan runyam untuk menjawab, maklum belum pernah ia mencurahkan isi hatinya kepada Koan San-gwat. Ingin berterus terang tapi malu, kalau menyangkal, jelas bikin malu Peng-toanio.

Terdengar Peng toanio tertawa dingin, jengeknya, “Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan kau, tak usah kau mencampuri urusannya.”

Khong Ling-ling naik pitam, amarahnya tertuju kepada Peng-toanio, teriaknya beringas, “Peng Kiokjin! Berani kau bicara padaku dengan nada kurang ajar begitu!?”

“Kentut!” Peng-toanio juga berang, “Kau ini barang apa, karena memandang muka Soat-lo Thay-thay, selalu aku mengalah terhadap kau, bicara tentang tingkatan di kalangan Kangouw, bapakmu pun harus membungkuk hormat kepadaku, berani kau gembar-gembor memanggil namaku secara langsung?”

Saking marah muka Khong Ling-ling menjadi kelabu, teriaknya pula sambil menuding, “Hwi-thian-ya-ce, jangan kau mengudal aturan Kangouw, kau tidak lebih cuma budak guruku, segalanya harus dengar perintahku. Ssekarang kuperintahkan keluar dari sini.”

Peng-toanio menarik muka, katanya berat, “Kecuali Soat-lo Thay-thay, siapapun tiada hak main perintah kepada aku!”

“Suhu sedang menutup pintu dan semadi, aku mewakili beliau, kau mau pergi tidak.?”

“Soat-lo Thay-thay sendiri juga sungkan mengusir aku dengan kata-kata kasar, kau budak busuk ini rasanya perlu dihajar!”

Khong Ling-ling mendengus, tiba-tiba badannya berkelebat, tangannya menampar ke muka Peng-toanio, gerak geriknya bagaikan setan. Peng-toanio tidak siaga. “Plak” pipinya kena digampar keras

Sambil bertolak pinggang, Khong Ling-ling tertawa dingin, “Hwi-thian-ya-ce! Kalau kau tidak tahu diri, awas aku tidak berlaku sungkan lagi terhadap kau!”

Lima jari yang berwarna merah yang menyolok membekas di pipi Peng-toanio. Biji-matanya mendelik gusar, sambil menggerakkan kedua telapak tangannya sudah merangsang ke dada Khong Ling-ling. Khong Ling-ling berhasil mematahkan serangannya, malah dia berhasil mencengkeram urat nadinya, desisnya dengan bengis, “Peng Kiok-jin, kalau tidak memandang muka Suhu, segera kucabut nyawamu, menggelindinglah!”

Begitu tenaqa dikerahkan, sekali sendal badan Peng-toanio mencelat tinggi jatuh terduduk di atas tanah tak bergerak, kedua matanya menjublek tanpa berkesip.

Sekian lama ia terduduk diam, akhirnya seperti sadar dari mimpi buruk, sekonyong-konyong ia menggembor keras, mulutnya menyemburkan darah segar, badannya pun berguling rubuh ke belakang. Meski berkumpul cuma beberapa hari, tapi kesan Thio Ceng Ceng terhadap perempuan ini sangat baik, cepat ia memburu maju serta memaapahnya, teriaknya, “Toanio, toanio. Kenapa kau?” sembari berteriak tangannya mengurut dada orang, sejak kecil ia hidup berdampingan dengan Thio Hun-cu sedikit banyak paham soal pengobatan, ia tahu Peng-toanio jatuh pingsan karena sesak napas, maklum terlalu mengandung malu dan gusar, kalau darah yang menyumbat dada tidak dikeluarkan dan sampai membeku, kelak bisa menjadi bibit penyakit.

Khong Ling Ling menghampiri seraya menjengek dingin, “Dia sedang pura-pura mati! Lekas kau bawa dia keluar!”

Thio Ceng Ceng memohon, “Khong-siocia. Tolong usahakan supaya aku bertemu dengan Soat-lo Thay-thay, aku ingin tanya keadaan penyakit Koan-toako!”

Khong Ling-ling membeku, sahutnya menggeleng, “Tidak bisa, Suhu melarang kau kemari, beliau sudah pesan bila kau berani melangkah setapak ke dalam lembah ini, kau harus dibunuh tanpa perkara, kini kuberi kesempatan keluar dari sini, itu berarti sudah melanggar pesan Suhu.”

“Kenapa Soat-lo Thay-thay sedemikian benci kepadaku?” “Tidak tahu!” teriak Khong Ling-ling aseran. “Hayo

mengelinding pergi, jangan memancing amarahku. Aku tidak segan turun tangan!”

Thio Ceng Ceng insyaf bila berkelahi dirinya jelas bukan tandingan orang, terpaksa dengan duka dan rawan ia jinjing tubuh Peng-toanio. katanya sambil sesenggukan, “Khong siocia, Koan-toako….”

Khong Ling-ling sudah tidak sabar, dengusnya, “Legakan saja hatimu, di bawah pengobatan guruku, tanggung dia tidak akan mampus!”

Thio Ceng Ceng masih ingin bicara, tapi mendadak Peng- toanio yang berada dalam pelukannya meronta dan melompat seperti banteng ketaton melabrak ke arah Khong Ling ling, karena gerakannya terlalu cepat dan mendadak lagi, Thio Ceng Ceng tidak menduga, sehingga ia terpental jatuh terduduk di tanah.

Agaknya Khong Ling-ling juga tidak waspada, tersipu-sipu ia angkat lengannya menangkis, berbareng tangan yang lain menyengkelit dengan keras, kemudian badan Peng-toanio terangkat , terus dilempar jumpalitan, tapi pipi Khong Ling-ling masih kena tampar dengan cukup keras dan berbunyi nyaring.

Peng-toanio gentayangan beberapa langkah baru ia dapat berdiri tegak, sambil mendongak ia terloroh-loroh, serunya, “Budak, akhirnya aku berhasil membalas tempilinganmu tadi!”

Pipi kanan Khong Ling-ling merah dan bertapak lima jari, pipi kiri menjadi pucat saking marahnya, secepat anak panah badannya terbang melesat, beruntun jari tangannya menusuk dan memuntir, gerak-geriknya lihay, sekaligus beberapa jalan darah Peng-toanio tertutuk dan roboh terkapar di tanah.

Sebelah kaki Khong Ling-ling menginjak dadanya, katanya dengan beringas, “Peng Kiok-jin! Hari ini akan kubuat kau mati tanpa tempat kubur.”

Beberapa jalan darah penting di tubuh Peng-toanio tertutuk, tak mampu bergerak dan balas memaki, tapi sorot matanya menunjukkan kekerasan hatinya. Sorot matanya membuat Khong Ling-ling seperti api disiram minyak, sekali tendang badan Peng-toanio terguling-guling seperti bola.

Thio Ceng Ceng tidak tega, lekas ia menubruk terus memeluk Peng-toanio serta berteriak ke arah Khong Ling-ling. “Khong siocia, Peng-toanio seorang tokoh Bulim yang cukup tenar namanya, kau boleh membunuhnya tapi jangan kau menghina dia sedemikian rupa!”

Khong Ling-ling menyeringai dingin, jengeknya, “Kau minggir! Bukan saja akan kubunuh dia sampai badannya hancur lebur, sebelum mampus akan kubikin dia merasakan penderitaan Hun-kin-joh-kut perguruanku!” “Kong Ling ling!” teriak Thio Ceng Ceng.

“Minggir kau!” damprat Khong Ling-ling, sekali raih dan jambret ia rebut badan Peng-toanio dari pelukan Thio Ceng Ceng, sudah tentu Ceng Ceng berusaha merebutnya pula, tapi baru saja ia mendekat, tiba-tiba Khong Ling-ling membalik sebelah tangannya, dengan cara yang lihay dan menakjupkan ia tekan dan dorong pundaknya, sehingga Thio Ceng Ceng tergentak mundur sempoyongan, beruntun Ling ling tutuk beberapa Hiat-to di badan Peng-toanio.

Muka Peng-toanio menjadi pucat dan mengalirkan keringat dingin sebesar kacang, mukanya berkerut menahan sakit, demikian juga biji matanya jelalatan sangat menderita.

Tapi Khong Ling-ling terlalu keji, dengan gemas ia banting tubuh orang ke tanah, mulutnya menyungging senyum, mukanya diliputi napsu yang sadis, menikmati keadaan Peng- toanio yang menderita itu sambil tertawa-tawa dingin.

Sementara itu, Thio Ceng Ceng sudah menubruk maju pula, teriaknya, “Kau tidak boleh berbuat begini keji seperti ini, lekas bebaskan hiat-tonya.”

“Sekali kau cerewet lagi, biar kaupun merasakan juga siksaanku.”

Entah darimana keberanian Thio Ceng Ceng, mendadak ia layangkan pukulannya serta membentak, “Boleh kau bunuh aku sekali!”

Khong Ling-ling angkat tangan membelit dan menarik mencengkeram urat nadi pergelangan tangan Ceng Ceng, katanya dingin, “Sejak tadi, kutunggu ucapanmu ini, akupun menunggu kau turun tangan lebih dulu. Karena guruku melarang aku tidak boleh turun tangan lebih dulu. Sekarang aku mendapat alasan untuk membunuh kau!”

Seiring dengau ucapannya ia angkat sebelah tangan yang lain terus menepuk ke jidat Thio Ceng Ceng. Sekonyong- konyong terdengar tawa aneh yang mendirikan bulu roma di belakang mereka, disusul berkelebatnya sesosok tubuh dan “blarrrr” pukulan Khong Ling-ling yang mematikan itu tertangkis sehingga tersurut mundur empat langkah.

Di lain saat Thio Ceng Ceng sudah pindah tangan, terasa tangan orang dingin seperti es, cepat ia angkat kepala, seketika ia menjerit kaget, suaranya mengandung rasa takut dan ngeri yang tak terperikan!

Karena teriakan ini, orang itupun lekas melepas cekalannya, tapi sepasang matanya menatap wajah Thio Ceng Ceng, sorot matanya sangat welas asih dan penuh rasa cinta kasih.

Setelah bebas baru Thio Ceng Ceng sadar bahwa jiwanya baru saja direnggut kembali dari jurang elmaut oleh orang ini, meski kejadian sangat mendadak, tapi sikap dirinya tadi terasa kurang hormat. Maka segera ia merubah sikap dan mengangguk serta unjuk senyum manis tanda rasa terima kasihnya yang tak terhingga.

Tak sangka senyumannya membuat orang itu kesima, mulutnya komat-komit mengeluarken suara yang tidak jelas. Thio Ceng Ceng lantas menduga orang ini gagu, tapi selintas pandang bentuk tubulnya memang sangat menakutkan.

Rambut di atas kepalanya awut-awutan, selapis mukanya tumbuh codet bekas luka-luka yang malang melintang besar kecil tidak karuan, sorot matanya bersinar tajam, rambut yang awut-awutan itu sudah banyak uban, maka dapatlah diduga bila usianya sudah tidak muda lagi, dari bentuk mukanya dapat dinilai bahwa kalau wajahnya tidak penuh codet, di waktu mudanya beliau pasti cantik rupawan.

Baju yang dipakaipun sudah buruk dan kumal, seperti pelayan atau budak di pedalaman, tapi ilmu silatnya ternyata sangat mengejutkan, Khong Ling-ling tergentak mundur oleh tenaga pukulannya. Khong Ling-ling sudah tenang kemhali, teriaknya kepada perempuan jelek yang mendadak muncul. “Si gila! Kenapa kau keluar kalau diketahui oleh Suhu, tentu beliau akan membetot uratmu.”

Agaknya ancaman itu membuat perempuan jelek itu jadi takut, cepat ia menyurut mundur ke samping.

Thio Ceng Ceng terkejut, bukan saja jelek, perempuan ini ternyata gila, sungguh sangat kasihan, tapi Khong Ling-ling bersikap keras dan kasar terhadapnya, pelan-pelan mendekat, serunya, “Jangan kau kira orang gila ini bakal menolongmu, diapun tidak berani menentang aku….”

Telapak tangannya sudah terangkat hendak melancarkan serangan lagi, Thio Ceng Ceng tahu bahwa dirinya bukan lawan orang, cepat ia berpaling ke arah si gila dengan pandangan mohon dikasihani.

Ternyata perempuan gila itu terpengaruh oleh sorotan matanya, dengan ahah uhuh beruntun ia berteriak dua kali seraya maju menghadang di depan Thio Ceng Ceng.

Karuan Khong Ling-ling makin murka, bentaknya, “Si gila!

Minggir kau! Jangan kau campuri urusanku!”

Dengan kukuh perempuan gila itu menggeleng kepala, menandakan bahwa dia tidak mau mundur.

“Agaknya kaupun ingin mampus!” hardik Khong Ling-ling seraya melancarkan serangan mendadak. Ternyata reaksi perempuan itu cukup cepat juga, kedua telapak tangannya membalik keluar “plak!” sekali lagi Khong Ling-ling kena dipukul mundur, keruan Khong Ling-ling melengak dibuatnya, agaknya ia tidak mengira bila perempuan gila ini sedemikian lihai, tapi sikapnya tetap dingin, ancamnya, “Si gila! Kau berani membantu orang luar melawan aku, sebentar akan kuadukan kepada Suhu!” Habis berkata ia putar tubuh lantas tinggal pergi. Agaknya si gila sangat takut akan akibat tindakkannya ini, cepat ia memburu maju menarik tangan Ling-ling, mulutnyapun mengoceh tak karuan, seperti ia minta ampun terhadap Khong Ling-ling. Tak kira mendadak Khong Ling-ling membalikkan tubuh jari kanannya menutuk jalan darah di bawah tetek sebelah kiri.

Si gila tidak mengira dan tidak bersiaga, kontan ia berteriak kesakitan sambil mendekap dada terus berjongkok menahan sakit. Secepat kilat Khong Ling-ling melejit balik serta melancarkan serangan kepada Thio Ceng Ceng pula.

Terpaksa Thio Ceng Ceng melawan sebisa mungkin, akan tetapi Lwekang dan kepandaian silatnya terpaut jauh, “blang” tiba-tiba tubuhnya mencelat terbang, belum lagi badannya terbanting di tanah, Khong Ling-ling sudah memburu datang seraya tertawa dingin, berbareng telapak tangannya membacok lehernya.

Perempuan gila yang terjongkok tadi melompat bangun, agaknya ia menahan sakit yang luar biasa untuk menolong Ceng Ceng, tangannya menangkis bacokan tangan Khong Ling-ling yang keras ini, tapi karena sudah terluka oleh tutukan Khong Ling-ling tadi, Lwekangnya sudah susut sebagian besar, kontan ia tertolak mundur dan terhuyung roboh ke tanah.

Tapi kelihatannya ia kuatir Thio Ceng Ceng terbunuh, tiba- tiba kedua kakinya menjejak tanah melejit bangun lagi, mati- matian ia berusaha merintangi perbuatan Khong Ling-ling.

“Gila!” teriak Khong Ling-ling, “Kau benar-benar menggangguku, biar kubunuh juga!” Kedua telapak tangannya merangsek dengan ganas dan keji, walaupun perempuan gila itu dapat menangkis dan membela diri tak urung ia terdesak mundur berulang-ulang, langkah kakinyapun sudah sempoyongan hampir roboh. Demi dirinya perempuan gila itu harus menghadapi bahaya dan terluka, Thio Ceng Ceng jadi tidak tega, cepat ia menariknya mundur serta katanya penuh haru, “Toama! jangan kau bantu aku lagi, biar dia bunuh aku habis perkara!” tahu bahwa ajal sudah menjelang maka dengan rawan ia mengeluh, “Oh, ayah! Sungguh aku menyesal tidak dengan nasehatmu …. ….aku nekad kemari dan kini kau takkan dapat bertemu muka pula dengan Ceng-ji….”

Mendadak berubah air muka perempuan gila itu, dengan suara serak iapun berteriak, “Ceng-ji…. Ceng-ji…. “

Mendengar perempuan gila ini dapat bicara agaknya Khong Ling-ling juga merasa heran, namun hatinya sudah dirangsang nafsu hendak membunuh Thio Ceng Ceng, maka tidak menghiraukan perobahan perempuan gila itu, kembali ia hendak menyerang kepada Thio Ceng Ceng

Agaknya penyakit gila perempuan itu memang kumat, mulutnya sambung menyambung menggumam, “Ceng-ji…. Ceng-jii…. Ceng….ji….”

Sekarang tidak lagi bertahan ia malah balas menyerang Khong Ling-ling dengan nekad dan beringas, rasa sakit badannya sudah terlupakan sama sekali, tenaganyapun berlimpah ruah, dengan serangan membadai ia desak mundur Khong Ling-ling.

Sudah tentu Khong Ling-ling amat marah, mendadak ia menghardik keras, permainan pukulannya juga berubah, kedua telapak tangannya seperti kupu menari-nari, gerak tipu silatnya sangat aneh dan lucu, puluhan jurus kemudian dada perempuan gila itu kena digaploknya sekali.

Pukulan ini cukup berat seketika perempuan gila itu terkapar roboh mulutnya menyemburkan darah segar dan tidak mampu merangkak bangun lagi.

Agaknya Khong Ling-ling bekerja tidak kepalang tanggung, ia memburu sambil angkat tangannya menepuk ke batok kepala orang, di kejauhan didengarnya sebuah bentakan keras, “Tahan! Mana boleh kau melukainya sedemikian rupa!?”

Khong Ling-ling segera urungkan niatnya, lalu melesat datang sesosok bayangan secepat terbang, seorang nenek tua beruban mendatang tiba, tangannya mencekal sebuah tongkat hitam yang mengkilap, dengan keras ia ketukkan tongkatnya ke tanah serta bentaknya, “Ling-ling? Sungguh besar nyalimu! Berani kau melukai orang di dalam lembah ini?”

Khong Ling-ling kelihatan takut, tapi masih membandel, katanya menuding Thio Ceng Ceng, “Suhu! Peng Kiok-jin berani melanggar pantanganmu membawa perempuan ini ke dalam lembah, Tecu ingat pesanmu, di saat hendak kubunuh mereka….”

Tongkat di tangan nenek beruban diketukkan lagi, semprotnya gusar, “Bukankah sudah kukatakan berulang kali, bukan sebenarnya aku ingin kau benar-benar melaksanakan perintahku, Soat-sin-kok kediamanku ini selamanya belum pernah berlepotan darah, tapi ternyata kau berani mengumbar adat di sini.”

Khong Ling-ling jadi melengak, cepat berkata, “Tecu tidak tahu maksud Suhu yang sebenamya, maka aku bekerja secara patuh, Untung Peng Kiok-jin tidak mati, cuma kututuk jalan darahnya, sebenarnya Tecu tidak ingin membuatnya susah….!”

“Tidak membuatnya susah, lalu kau gunakan Hun kin-Joh- kut menghadapinya. Di kala aku menurunkan ilmu itu kepada kau, apa yang telah kupesan kepada kau?”

Khong Ling-ling semakin gugup dan gelagapan, sahutnya, “Soalnya ia kurang ajar dan bermulut koror, menyinggung kau….”

“Kau bohong!” Thio Ceng Ceng berteriak, “Dia berlaku sangat hormat kepada Lo thay-thay, soalnya kau merasa dengki terhadap dia baru kau turun tangan sedemikian keji!” Kali ini Khong Ling-ling cuma mengerling tajam ke arah Thio Ceng Ceng tidak mengumbar adat di hadapan si nenek tua, si nenek tuapun tidak memberi reaksi, lekas ia berjongkok memeriksa luka-luka perempuan gila itu, berselang agak lama baru dia membentak lagi dengan bengis, “Perkara lainnya sih boleh dibikin habis, tapi kenapa kau berani gunakan Jong-jie- hoat untuk melukainya?”

“Waktu tecu hendak bunuh gadis itu, entah darimana si gila ini mendadak menyerang aku….”

Belum habis Khong Ling-ling bicara, nenek tua itu cepat angkat tongkatnya menghajar pantatnya, dengan keras, kontan Khong Ling-ling tersungkur jatuh ke depan.

“Keparat!” teriak si nenek dengan amarah yang meluap- luap, “Berani kau memanggil “si gila” kepadanya….?”

Saking kesakitan Khong Ling-ling berguling di tanah, tapi ia tidak berani merangkak bangun, dengan sesenggukan ia menjawab, “Tecu tak tahu harus memanggil apa, terpaksa mengikuti Suhu….”

“Aku boleh memanggil demikian, tapi kau tidak. Kau tahu siapa dia?”

“Tecu tidak tahu, Suhu belum pernah menjelaskan….” “Dia adalah putriku, putri tunggalku satu-satunya….”

Berubah hebat air muka Khong Ling-ling, sedemikian kaget dan herannya, seketika tangisnya pun berhenti, katanya tersekat, “Tecu betul-betul tidak tahu.”

“Sudah! Hayo pulang, menggelindinglah ke kamar obat, tanpa ijinku kularang kau ke luar!”

Dengan terserot-serot Khong Ling-ling merangkak bangun terus mengeluyur pergi tanpa berani bertingkah lagi.

Thio Ceng Ceng keheranan, ia tahu bahwa nenek tua ini pasti Soat-lo Thay-thay adanya, hanya ia tidak menduga perempuan gila itu adalah putrinya, baru saja ia hendak bicara, nenek tua itu sudah membebaskan tutukan Peng- toanio, dengan keripuhan Peng-toanio berkata gagap, “Lo Thay-thay, aku….”

“Sudahlah! Aku tahu semuanya, aku tak salahkan kau! ” ujar si nenek sambil mengulapkan tangan.

Peng-toanio kelihatan lega, cepat ia angkar tangan ke arah Thio Ceng Ceng, maksudnya supaya dia maju memberi hormat kepada Soat-lo Thay-thay, tak nyana si nenek sudah memutar tubuh dan berjongkok pula di samping tubuh perempuan gila itu, tangannya mengurut-ngurut dan menutuk berkali-kali, mulutnya berkata halus, “Sin-ji, bagaimana Perasaanmu? Kenapa kau ngeloyor keluar dari kamarmu?”

Setelah diurut pelan-pelan, perempuan itu siuman, masih menggumam, “Ceng ji…. Ceng-ji….”

Si nenek jadi haru dan kegirangan pula, “Sin-ji! Kau sudah bisa bicara lagi! Oh! sungguh menggirangkan….”

Pandangan perempuan gila itu mendelong, air mata mulai berlinang di kelopak matanya, katanya dengan suara gemetar, “Sin-ji Kau sudah bisa menangis! Tuhan sungguh maha pengasih, ternyata penyakitmu bisa sembuh! Nak, sungguh kasihan kau….”

Mulut perempuan gila itu gemetar, agaknya ingin bicara apa, tapi si nenek cepat berseru, “Sin-ji! Panggil ibu, nak! Sudah dua puluh tahun kau tidak pernah memanggil aku ….”

Air matanya semakin deras meleleh keluar, mulut perempuan gila itupun semakin jelas mengeluarkan suara yang lemah, “Bu…. aku…. Ceng-ji….”

Mendengar perempuan gila itu selalu memanggil namanya, Thio Ceng Ceng heran dan tidak mengerti, tapi cepat-cepat si nenek menutuk jalan darahnya hingga pingsan, pelan-pelan ia bangkit berdiri, katanya kepada Thio Ceng Ceng, “Bopong ibumu dan ikut aku!”

“Dia…. adalah ibuku….?”

Mandadak si nenek mengunjuk rasa marah teriaknya gusar, “Kalian ayah beranak menganiayanya sedemikian rupa, terutama bapakmu yang durhaka dan durjana itu, bila dia berani datang kemari, pasti kugecek hancur leburkan tubuhnya.”

Thio Ceng Ceng menjublek di tempatnya, ia jadi berdiri kaku dengan mendelong sungguh perasaannya goncang oleh berita ini. Menurut cerita ayahnya, bahwa sejak lama ibunya sudah meningga1, kenapa sekarang muncul lagi seorang yang katanya adalah ibu kandungnya?

Melihat dia terlongo, si nenek berteriak lagi dengan marah- marah, “ Hayo lekas, apa kau jijik karena mukanya jelek atau tidak setimpal menjadi ibumu….?”

Melihat muka si nenek membasmi kaku, Thio Ceng Ceng tidak berani banyak bicara, lekas ia memayang tubuh perempuan gila itu serta mengintil di belakang si nenek, Peng- toanio juga mengekor di belakangnya.

Di kala bayangan mereka sudah menghilang di kejauhan sana, Koan San-gwat masih berdiri mematung seperti orang linglung, segala kejadian yang berada di sekitar dirinya seperti tidak didengar dan dilihat. Tidak terpikir olehnya bahwa peristiwa yang baru saja berlangsung ini justru bakal menentukan jalan hidup dan terikat erat dengan jalan hidupnya selanjutnya.

ooo000ooo

Sambil membopong perempuan gila itu, berbagai pertanyaan dan kecurigaan berkecamuk dalam benak Thio Ceng Ceng, begitulah tanpa bersuara ia mengikuti langkah Soat-lo Thay-thay mendahului masuk ke rumah yang berada di tengah, tangannya menuding sebuah dipan, katanya, “Rebahkan ibumu, duduklah di samping menunggui, akan kupersiapkan segala keperluan, sekarang juga mulai kuobati. Inilah kesempatan terakhir untuk menyembuhkan kesehatan ibumu, maka kau harus tabah dan tenang.” Habis berkata tanpa menunggu reaksi atau jawaban terus tinggal pergi ke balik kamar lain.

“Nona Thio!” Peng-toanio maju mendekat, serta bertanya dengan penuh keheranan, “Apakah benar orang ini ibumu? Kalau demikian jadi Soat-lo Thay-thay adalah nenekmu!”

Thio Ceng Ceng menggeleng kepala tanda tidak mengerti, katanya, “Aku sendiri tidak tahu akan kebenarannya, sejak aku berpikir belum pernah kulihat ibuku, menurut ayah katanya ibu sudah mati sejak aku masih kecil, maka soal ini….”

“Tapi perkataan Soat-lo Thay-thay tidak akan meleset, diantara kalian tentu ada latar belakangnya yang berseluk- beluk amat rumit. Sudah lama orang ini berada di atas gunung. karena tidak bisa bicara dan ingatannya rada terganggu, maka Soat-lo Thay-thay lantas mengurungnya dalam sebuah kamar, baru tadi aku tahu bahwa dia adalah putri tunggal Lo-Thay-thay.”

Mata Thio Ceng Ceng jadi merah dan berkedip-kedip menahan air mata, katanya, “Aku jadi mengharap dia benar- benar adalah ibuku, sejak kecil aku sudah kehilangan belaian kasih sayang seorang ibu, melihat anak lain aleman di haribaan ibundanya aku jadi mengiri sekali….”

Dalam pada itu Soat-lo Thay-thay sudah kembali sambil membawa banyak barang-barang dan peralatan, mendengar ucapan yang terakhir ini, biji matanya sekilas mengerling kepadanya, tanyanya dengan suara dingin, “Apakah kau tidak jijik melihat mukanya yang buruk dan sudah menjadi gila lagi?” Thio Ceng Ceng menahan air mata, ujarnya, “Cinta kasih antara ibu beranak tidak mengenal akan buruk atau gila, bila dia memang benar adalah ibu kandungku, dalam pandanganku beliau akan jauh lebih cantik dari yang lain-lain, segalanya kupandang wajar….”

Uraiannya ini agaknya mengetuk sanubarinya Soat-lo Thay- thay, sikap selanjutnya tidak sedingin dan sekasar tadi, sambil menghela napas ia berkata, “Agaknya kau masih punya Liangsim (hati nurani), dibanding ayahmu yang jahat dan brutal itu jauh lebih baik. Dulu ibumupun secantik kau sekarang, justru karena kau pula sehingga dia menjadi berubah seperti sekarang.”

Thio Ceng Ceng heran, tanyanya, “Lolo…. Lolo! Apakah yang telah terjadi pada masa silam?”

Soat-lo Thay-thay mendengus, sahutnya, “Kelak bicara lebih lanjut! Sekarang yang terpenting mengobatinya, inilah kesempatan terakhir yang sulit didapat dan bakal menentukan mati hidupnya!”

Lalu dibukanya sebuah buntalan dan dikeluarkannya segebung jarum-jarum perak halus panjang tiga inci, sikap Soat-lo Thay-thay sangat prihatin. Setelah semua keperluan dipersiapkan, ia mulai mempergunakan jarum-jarum perak itu menusuk urat nadi, jalan darah dan sendi di atas badan perempuan gila itu dengan cara yang sangat mahir dan cekatan.

Jarum-jarum perak itu menusuk amblas sampai dua inci, setiap kali tusukan jarumnya membuat perempuan gila itu gemetar menahan sakit, jumlah seluruhnya ada hampir seratus batang lebih, semua sudah ditusukan ke badan perempuan gila, setelah selesai baru berkata kepada Thio Ceng Ceng, “Genggamlah kedua tangannya, apapun yang terjadi jangan kau lepaskan, aku akan mulai mengerahkan hawa murn menutup Hiat-tonya!” Thio Ceng Ceng turut segala petunjuk, dengan kencang ia pegang kedua pergelangan tangan perempuan gila, sementara Soat-lo Thay-thay dengan sikap tegang dan prihatin mulai samadi mengerahkan tenaga, tak lama kemudian kedua telapak tangannya berubah merah membara seperti besi yang terbakar. Di kala suhu panas di telapak tangan Soat-lo Thay- thay sudah mencapai taraf yang paling tinggi, pelan-pelan ia alihkan ke dekat badan perempuan gila, jari-jarinya lantas bekembang, kesepuluh jarinya masing-masing menekan dipangkal jarum dan mulailah ia salurkan suhu panas di telapak tangannya ke dalam badan perempuan gila melalui jarum-jarum yang tersebar luas di atas badannya.

Kontan Perempuan gila itu mengeluarkan pekik menggila yang menggetarkan sukma, agaknya merasa kesakitan bukan main, kedua tangannya meronta-ronta sekuat tenaga. Teringat akan pesan Soat-lo Thay-thay, sedikitpun Thio Ceng Ceng tidak berani lengah dan mengendorkan pegangannya. Tapi melihat penderitaan sang ibu, mau tidak mau terketuk pula sanubarinya, tanpa sadar air matanya meleleh membasahi kedua pipinya.

Kesepuluh jari Soat-lo Thay-thay dari ke sepuluh pindah kesepuluh jarum yang lain, setiap jarum yang tersentuh tekanan jari-jarinya pasti mengepulkan uap hitam yang mengandung bau amis terbakar, sangat menusuk hidung dan memualkan.

Di kala mereka sedang bekerja dengan penuh ketegangan dan keprihatinan, mendadak pintu kamar terbuka, tampak Khong Ling-ling melangkah masuk berindap-indap dengan muka yang penuh mengunjuk perasaan gusar dan penasaran.

Perhatian semua orang sedang tercurah kepada pengobatan yang menegangkan ini, sehingga tiada yang melihat akan kedatangannya.

Khong Ling-ling langsung menuju ke belakang Soat-lo Thay-thay, rona wajahnya bengis penuh hawa membunuh yang sudah menghantui sanubarinya, Telapak tangannya mengenai punggung Soat-lo Thay-thay mengeluarkan suara keras dan menusuk kuping. Kontan badan Soat-lo Thay-thay tersuruk ke depan dan rebah tengkurap di atas perempuan gila, tapi cepat pula sudah bangun duduk pula dan pelan- pelan berpaling muka, dengan tajam kedua biji matanya mendelik dengan bengis menatap Khong Ling-ling.

Setelah menyerang dengan dahsyat, ternyata Suhunya masih kuat bertahan dan seperti tidak terjadi apa-apa setelah terkena pukulan yang telak, Khong Ling-ling jadi ketakutan dan tersurut mundur, wajahnya pucat pias.

Khong Ling-ling mundur mepet ke pintu, terdengar Soat-lo Thay-thay berkata dengan suara bengis, “Ling-ling! Saat ini aku lebih penting mengerahkan tenaga untuk pengobatan ini, sementara tidak akan bertindak kepadamu. Lebih baik lekas- lekas lari, lari yang jauh jangan sampai kulihat selamanya.”

Habis berkata kembali ia memutar tubuh melanjutkan pengobatan, telapak tangannya masih tetap kelihatan merah membara. Suhu panas telapak tangannya masih tetap tinggi seperti tungku menyala besar seolah-olah pukulan Khong Ling ling yang fatal itu sedikitpun tidak mempengaruhinya.

Khong Ling-ling menjerit sekali terus lari terbirit-bitit, baru sekarang Peng-toanio tersentak kaget dari lamunannya. Sembari menjerit keras ia bergerak hendak mengejar, tapi Soat-lo Thay-thay keburu berteriak memanggilnya, “Kiok-jin! Kembali!”

Peng-toanio menghentikan langkahnya mundur kembali ke samping mereka, serunya gugup, “Lo-Thay-thay….” ketika hendak bicara, mendadak rona wajahnya berubah hebat, mulutnya terpentang menyemburkan darah segar, badan pun tidak kuat lagi bertahan terus meloso roboh di atas ranjang, karuan Peng-toanio dan Thio Ceng Ceng menjadi gugup, teriaknya, “Lo-Thay-thay….kau kenapakah….?” Soat-lo Thay-thay sedang berusaha menekan kembali darah segar yang hendak berhamburan keluar, dengan suara yang lirih berkata, “Tidak apa-apa! Kiok-jin! Lekas kau ke kamar obat, di atas rak sebelah dinding timur terdapat sebuah botol putih, lekas kau bawa kemari!”

Sambil mengiakan lekas-lekas Peng-toanio berlari pergi, Soat-lo Thay-thay lantas pejamkan mata memulihkan semangatnya, air mukanya sangat buruk. Hati Thio Ceng Ceng jadi geliah dan kuatir, tapi ia tidak berani mengganggu.

Tak lama kemudian Peng-toanio berlari kembali dengan tangan kosong, teriaknya gegetun, “Lo-thay-thay, kamar obat sudah diobrak-abrik tidak karuan, beberapa macam obat- obatan penting semua hilang.”

Berubah pucat air muka Soat-lo Thay-thay hidungnya mendengus, makinya, “Budak keparat itu! kerjanya terlalu keji….”

Cepat Thio Ceng Ceng mengeluarkan sebuah botol tanah liat, katanya, “Lolo! aku masih punya Peng-sip-coan-bing-san, obat ini piranti untuk mengobati luka dalam….”

Dengan tangan Soat-lo Thay-thay mendorongnya ke samping, teriaknya dengan gusar, “Lebih baik mati daripada makan obat buatan ayahmu.”

Karena suaranya terlalu keras, kontan ia menyemburkan darah segar lagi, kini benar-benar tidak kuat bertahan lagi, dengan badannya terperosok jatuh.

Meski Peng-toanio keburu maju menolongnya, tapi toh dia cuma bisa meringis tanpa mampu memberi pertolongan seperlunya.

Tatkala itu meski masih ada beberapa jalan darah belum sempat diurut dan tertekan serta ditusuk jarum, tapi keadaan perempuan gila itu sudah semakin tenang, tidak lagi meronta- ronta. Thio Ceng Ceng melepaskan kedua tangannya, terus mengeluarkan botol obatnya menuang dua butir pil warna putih lalu dijejalkan ke mulut Soat-lo Thay-thay, katanya kepada Peng-toanio, “Toanio, mohon bantuanmu, carilah sedikit arak kemari, obat itu akan lebih mujarab khasiatnya dan bekerja lebih cepat bila ada arak.”

Peng-toanio mengunjuk rasa kuatir dan was-was, katanya, “Nona Thio! Kurasa…. kurasa kurang tepat dan runyam nanti, watak Lo-Thay-thay….”

Dengan penuh prihatin Thio Ceng Ceng berkata, “Tidak jadi soal, bier aku yang tanggung jawab, betapapun aku tidak bisa berpeluk tangan melihat jiwanya di ambang maut….”

Apa boleh buat terpaksa Peng-toanio pergi ke dapur mencari sebotol arak lalu dituang ke dalam sebuah cawan kecil serta dilelehkan ke mulut Soat-lo Thay-thay, pil obat itu akhirnya tertelan hancur ke dalam perutnya.

Thio Ceng-Ceng jongkok di sebelah samping mengurut dan melancarkan jalan darahnya, tak lama pelan-pelan Soat-lo Thay-thay siuman dari pingsannya, melihat keadaan dirinya segera ia paham apa yang telah terjadi, dengan amarah meluap-luap ia ayun telapak tangannya serta berteriak beringas, “Budak mampus! Berani kau mencelakai aku dengan obat….”

Thio Ceng Ceng terjengkang jatuh, tapi mulutnya mengeluh dan berteriak, “Lolo! Obat itu adalah kwalitet terbaik untuk mengobati, mana bisa mencelakai kau?”

“Kentut!” teriak Soat-lo Thay-thay lebih murka, “Kepandaian pasaran bapakmu masa mampu membuat obat mujarab apa!”

Thio Ceng Ceng diam saja sambil mengusap air mata, tak tertahan segera Peng-toanio ikut menimbrung, “Lo-Thay-thay, maksud nona Thio baik.” “Baik kentut!” bentak Soat-lo Thay-thay, “Dulu dia berlaku kejam dan telengas terhadap Sin-ji, aku pernah bersumpah akan menemukan dia dan membuat perhitungan lama kepadanya. Sekarang sebaliknya aku menelan obatnya, cara bagaimana aku punya muka untuk menemuinya?”

“I.olo” rengek Thio Ceng Ceng sesenggukan, “Aku tidak tahu kau punya ganjalan hati apa terhadap ayah. Tapi hari ini aku menolong kau bekerja demi Koan-toako dan ibu. Penyakit mereka perlu perawatan dan pengobatan. Kalau kau tetap ngambek dan marah-marah, bila terjadi sesuatu, tamatlah mereka….”

Sekilas Soat-lo Thay-thay berpaling ke arah perempuan gila yang terbaring di ranjang lalu menghela napas, “Ai, memang takdir! Selama hidupku ini kenapa selalu ditimpa kemalangan belaka….”

Pelan-pelan ia menggerakkan badan lalu merambat ke arah ranjang, tangannya terulur meraba erat nadi perempuan gila, lapat-lapat terunjuk rasa girang, serunya, “Bagus! Sin-ji akhirnya bisa tertolong! Sayang budak hina itu tangannya terlalu cepat, sehingga aku belum bekerja tuntas melancarkan seluruh urat sarafnya terpaksa dia harus menderita beberapa hari lagi….”

Lalu ia mulai bekerja pula, kini satu persatu ia cabuti jarum- jarum perak yang menancap tersebar di badan perempuan gila, semua ia serahkan kepada Peng-toanio serta katanya, “Kiok-jin! kau harus pendam jarum-jarum ini di dalam tanah, semakin dalam lebih baik. Setelah itu gunakanlah arak obat menggosok seluruh badannya. Cara kerjamu harus pelan- pelan, jangan sampai membuatnya bangun. Ceng Ceng, kau ikut aku ke kamar obat, aku hendak periksa budak itu mencuri apa saja!”

Peng-toanio mengiakan dan segera bekerja dengan apa yang dipesan. Thio Ceng-Ceng tahu bahwa Soat-lo Thay-thay nenek luarnya ini ada omongan apa-apa hendak dibicarakan dengan dirinya, maka tanpa-sangsi segera ia ikut keluar.

Baru saja tiba di luar pintu, mendadak ia teringat apa-apa, sambil berseru kaget bergegas ia berlari kencang menuju ke mulut lembah. Soat-lo Thay-thay memburu sambil berteriak, “ Budak setan, kenapa kau lari?”

Sembari berlari Thio Ceng Ceng berseru, “Koan-toako masih berada di dalam hutan, aku kuatir Khong Ling-ling berlaku kasar terhadapnya….”

Soat-loThay-thay menjengek, “Bocah busuk itu, kalau memang ditakdirkan mati, sejak lama dia sudah mampus, apa adanya kau buat geger.”

Thio Ceng Ceng tidak hiraukan ocehannya, dengan cepat ia sudah menerobos masuk ke dalam hutan, tampak Koan San- gwat masih segar bugar berdiri di sana, hatinya jadi lega.

Tapi di atas sebatang pohon besar di sebelah Koan San- gwat, berpeta sebuah telapak tangan, dalamnya sampai beberapa senti.

Mungkin Khong Ling-ling sudah kemari, semula memang hendak membunuh Koan San-gwat, entah karena apa, seketika ia batalkan niatnya, tapi ia lampiaskan kedongkolan hatinya di atas pohon.

Mengawasi bekas telapak tangan itu, diam-diam mencelos hati Thio Ceng Ceng, dengan menghembuslsan napas ia menggumam, “Khong Ling-ling, karena hari ini kau sudah menaruh belas kasihan terhadap Koan-toako, kelak bila ketemu, baiklah kuampuni sekali jiwamu!”

Soat-lo Thay-thay tertawa dingin, jengeknya, “Dengan kepandaianmu sekarang masa membunuh dia? Kau sedang mimpi agaknya?” Dengan lekat Thio Ceng Ceng mengawasi, katanya, “Lolo! walaupun sekarang aku masih kalah, tapi setelah mendapat petunjuk dan bimbinganmu, tentu dapat membekuk dia.”

Rada berubah air muka Soat-lo Thay-thay semprotnya, “Darimana kau bisa tahu kalau aku suka memberi petunjuk dan bimbingan kepada kau?”

Dengan laku hormat dan bersikap wajar Thio Ceng Ceng berkata, “Lolo! kecuali kau mau mengumbar murid murtadmu itu!”

“Mengumbar dia,” dengus Soat-lo Thay-thay gusar, “ingin rasanya mengelupas kulitnya. Budak hina itu memang berwatak culas dan jahat, sejak lama memang sudah kuketahui, cuma aku tidak menyangka dia berani turun tangan keji terhadapku. Kelak aku akan mencarinya sendiri untuk membuat perhitungan padanya.”

“Lolo!” kata Thio Ceng Ceng menggeleng kepala, “Kenapa kau mempersulit dirimu sendiri? Setelah kau kena pukulannya, urat nadi tubuhmu sudah tergetar putus atau sungsang sumbel, meski kau bertahan sekuat tenaga dan berhasil menggertak dia lari, tapi tidak dapat mengelabui sepasang mataku. Kau sendiripun tidak akan mampu membekuk dan membereskan dia!”

“Maksudmu aku sudah menjadi seorang cacat?”

“Cacat sih tidak, tapi ilmu silatmu sudah banyak menurun dan tidak mungkin dipulihkan kembali. Maka untuk balas dendam dan menghukum muridmu yang murtad itu, tugas ini harus kau serahkan kepadaku!”

“Kenapa?”

“Sebab aku adalah keturunanmu, cucu perempuan yang tunggal! Unruk sementara waktu Khong Ling-ling dapat kau kelabui. Setengah atau satu tahun, melihat kau tidak mencari dia, pasti dia dapat menyelami perihal itu. Tatkala itu, mungkin dia yang akan mencari kau….”

“Memang aku harus takut terhadapnya?”

“Lolo! Jangan marah-marah lagi, kau tidak perlu takut terhadapnya, tapi bukan mustahil jiwa ibuku bakal diancam olehnya! Demi ibu, kau tidak pantas menolak diriku!”

Sikap keras Soat-to Thay-thay akhirnya lunak, katanya sambil menghela napas, “Akhir akibatnya seperti yang dialaminya sekarang…. Baiklah? Daku akan tuangkan ilmu silat kepada kau, tapi dengan satu syarat!”

“Syarat apa?”

“Kalau kau hendak belajar silat kepadaku, selanjutnya tidak boleh kau mengakui bapakmu yang durhaka itu!”

“Lolo, aku tidak akan setuju dengan syaratmu ini, sebab sejak kecil aku diasuh beliau sampai besar.”

Berubah air muka Soat-lo Thay-thay, tapi dengan kalem Thio Ceng Ceng melanjutkan, “Cuma sebaliknya ayah tidak sudi lagi mengakui aku sebagai putrinya lagi….”

“O, kenapa begitu?”

“Ayah melarang aku datang kemari, katanya bila aku kemari maka dia hendak memutuskan hubungan ayah beranak Akan tetapi. …. demi Koan-toako aku nekad kemari, mungkin selama hidup ini beliau tidak akan memaafkan aku lagi….”

Mendadak Soat-lo Thay-thay tertawa besar, serunya, “Bagus! Thio Hun-cu! Dulu kau merebut putriku, sekarang kau sendiripun kehilangan putrimu, satu lawan satu, inilah pembalasan yang setimpal!”

“Lolo! Kenapa kau begitu benci kepada ayah?” Soat-lo Thay-thay menghela napas, pelan pelan ia menceriterakan kisah lama, sebuah tragedi yang menyedihkan.

Dua pulub tahun yang lalu, Soat-sin-kok tidak sepi seperti sekarang ini. Tabib sakti Ih-bing meninggal pada saat usianya sedang menanjak, tapi seluruh kepandaian dan ajaran ilmu pengobatan ia wariskan kepada istrinya yang tercinta LimKeng-hong.

Di waktu kecil Lim Keng-hong pernah diangkat murid oleh seorang tokoh aneh dan diajari ilmu silat yang lihay dan aneh pula, setelah menikah dan menjadi warga keluarga Soat, mereka menetap di dalam Soat-sin kok di Kun-lun-san menikmati kehidupan suci seperti dewa.

Ilmu pengobatan Soat Ih-bing memang bukan olah-olah hebatnya, tapi dia tidak mampu menolong jiwa sendiri. Karena keluarga Soat mempunyai semacam penyakit turunan yang jahat. Berbagai cara pengobatan tidak membawa hasil, Soat Ih-bing sendiri setelah berjerih payah sekian tahun memperoleh sedikit endusan dalam mengatasi penyakit yang berbahaya itu, apa lacur manusia punya usaha, Tuhan punya kuasa, terpaksa dia meninggalkan tugas penyelidikannya ini kepada istrinya yang janda, semoga dia dapat lebih giat dan rajin memperdalam ilmunya.

Karena adanya penyakit turunan ini maka warga keluarga Soat Ih-bing hanya mempunyai seorang putri tunggal yang diberi nama Soat Ci-sin. Di waktu dia mangkat, usia Soat Ci- sin ini sedang menanjak dewasa, otaknya cerdik dan pintar, wajahnya rupawan dan bentuk tubuhnya pun elok menggiurkan, sayang terlalu diumbar sehingga bermain kurang tekun dalam pelajaran, sangat besar harapan Lim Keng-hong kepada putri tunggalnya ini, ia berusaha menurunkan seluruh ilmu pengobatannya kepada putrinya ini.

Sayang terhadap kedua ajaran ilmu yang membuang-buang waktu dan melelahkan badan itu, sedikitpun putrinya tidak tertarik, karena sejak kecil sudah biasa diumbar dan disayang. Lim Keng-hong tidak tega terlalu memaksa, terserah berapa banyak dia mampu menguasai ajaran-ajarannya itu, lambat laun tentu akan berkembang sendiri.

Waktu Ci-sin berusia sembilan belas tahun, terjadi suatu perubahan di Soat-sin-kok. Datanglah seorang pemuda ke dalam lembah itu.

Pemuda itu She Thio, bernama Hun-cu, sikapnya sopan santun, terpelajar dan berkepandaian silat cukup lumayan, yang lebih menyenangkan bahwa diapun pandai ilmu pengobatan. Hari itu karena mendaki Kun-lun-san hendak mencari Soat-lin, dia kesasar masuk ke Soat-sin-kok.

Karena hidup terasing dan tidak pernah bergaul sesama manusia, begitu bertemu dengan pemuda asing ini, Soat Ci-sin lantas hatinya tertambat pada Thio-Hun-cu ini. Lim Keng-hong pun sangat setuju, beberapa kali kesempatan ia langsung menguji ilmu pengobatan yang pernah diajarkan kepadanya, meski kalah jauh bila dibanding dirinya, tapi di dalam alas pegunungan yang sepi ini memperoleh mantu yang cukup setimpal ini, Ia harus bersyukur dan berdoa akan kemurahan hati Tuhan.

Oleh karena ini bukan saja dia tidak melarang hubungan intim kedua muda-mudi ini, malah secara sengaja ia merestui dan seperti menganjurkan hubungan yang lebih erat, sering ia beri kesempatan mereka mengadakan pertemuan empat mata, untuk menyuburkan dan mempercepat pertumbuhan hubungan mesra mereka.

Tibalah pada suatu hari, sambil tertawa riang, Thio Hun-cu menggandeng tangan Ci-sin datang meenghadap kepadanya. Lim Keng-hong tahu bahwa waktunya sudah tiba, dengan wajah berseri ia menunggu mereka membuka kata. Dengan muka jengah, Thio Hun-cu unjuk hormat kepadanya serta katanya, “Pekbo! Siautit ada sebuah permintaan kepada kau orang tua, sengaja ku kemari mohon persetujuanmu.” “Soal mengenai Ci-sin bukan?”

Thio Hun-cu merasa malu, dia tunduk kepala.

Lim Keng-hong menjadi geli, ujarnya, “Sejak lama aku sudah tahu, memang aku sudah tahu, memang aku sudah menunggu kau buka suara kepadaku.”

“Kalau begitu Pek-bo merestui perjodohan kami ini!?” Saking girang Lim Keng-hong tertawa besar, ujarnya,

“Jikalau   aku   tidak   setuju,   masa   kuijinkan   anak   Sin

berhubungan begitu intim dengan kau. Semula memang aku hendak mengajukan persoalan ini dengan kau, cuma kuharap kalian bisa jauh lebih intim, masing-masing bisa lebih paham dan pengertian.”

Tersipu-sipu Thio Hun-cu berlutut unjuk hormat besar, serunya girang, “Terima kasih Pekbo, aku bersumpah kepada kau, selama hidupku ini pasti kuperlakukan Gi-sin baik-baik, betapapun aku tidak akan meninggalkan dia….”

Dengan tersenyum Lim Keng-hong memapahnya bangun, katanya, “Kau punya tekad yang luhur dan bajik pula, aku sudah cukup puas. Selama ini secara diam-diam segalanya sudah kupersiapkan, besok juga kalian bisa segera melangsungkan upacara, selanjutnya Soat sin-kok ini bakal menjadi dunia kalian.”

Thio Hun-cu rada tercengang, katanya, “Maksud Pekbo, setelah kami menikah, kita harus menetap di sini?”

Lim Keng-hong tertegun, katanya, “Kalau tidak tinggal di sini, lalu menetap dimana?”

Segera Thio Hun-cu berkata, “Di puncak antara utara Thian-san, Siautit punya sedikit peninggalan, disana hawanya sejuk, selamanya hangat dan kehidupan subur….”

Lim Keng-hong merasa di luar dugaan. Mendengar ucapannya ini, cepat ia bertanya, “Sebelum kau mengajukan lamaranmu, apakah kau sudah mendapat persetujuan dari Sin-ji?”

“Sudah,” sahut Thio Hun-cu manggut, “berkat kemurahan hati Gi-sin, dia rela menikah dengan aku.”

“Nikah apa?” teriak Lim Keng-hong melonjak bangun. “Siapa yang berkata demikian?”

Kata Thio Hun-cu heran, “Pekbo sudah merestui pernikahan kami, kenapa tidak mengijinkan dia ikut kepadaku?”

Dengan muka serius Lim keng-hong berkata, “Memang! Tapi dalam hal ini ada seluk beluknya yang perlu dijelaskan dulu. Sin-ji, apakah kau tidak memberitahukan pesan terakhir ayahmu kepadanya?”

Dengan takut-takut Soat Gi-sin menyahut, “Sudah pernah kujelaskan! Hun-cu, dia tidak merasa jijik meski aku punya penyakit, malah pun percaya bahwa aku mempunyai penyakit turunan yang jahat, dan yang terpenting bahwa dia punya keyakinan dapat mengobati penyakitku….”

Lim Keng-hong tertawa dingin, jengeknya, “Ayahmu sendiri seorang tabib sakti yang tiada bandingnya, sedikitpun dia tak mampu mengatasi penyakit jahat itu, dengan kemampuannya yang tak seberapa itu, berani dia membuka mulut besar? Jangan kau meninggalkan tempat ini, kau tidak akan hidup lebih lama dari tiga tahun. “

Baru sekarang Thio Hun-cu paham duduk perkara sebenarnya, cepat ia menyela; “Pekbo ternyata kau menguatirkan kesehatan Gi-sin. Untuk hal ini legakan saja hatimu. Sekarang ini Siautit ada menyelami beberapa peninggalan dari paman Soat, sedikit banyak aku memperoleh sedikit gambaran terhadap penyakit jahat yang biasa kumat dalam jangka waktu tertentu. Kalau Gi-sin bisa pindah ke tempat yang lebih hangat dan dalam suasana yang riang gembira, mungkin bisa membawa manfaat bagi dirinya….” Lim Keng-hong tertawa dingin, “Kalau begitu ilmu pengobatanmu jauh lebih tinggi dan lihay dari ayahnya….?”

“Soal pengobatan Siautit tidak berani mengagulkan diri. Ilmu pengobatan paman Soat memang teramat dalam dan luas sekali, betapapun Siautit tak mampu menandingi beliau. Cuma mengenai penyakit turunan yang jahat itu, agaknya paman Soat belum pernah mengadakan eksperimen lainnya yang berguna, maka berdasarkan kemungkinan yang tertera di atas ajaran teorinya….”

Tiba-tiba Lim Keng-hong menggebrak meja dan berseru gusar, “Jangan kau bicarakan teori dengan aku, di dalam hal ini aku jauh lebih jelas dan paham dari kau, selama beberapa keturunan keluarga Soat sengaja menetap di tempat tinggi di atas alam pegunungan memangnya kau anggap tiada sebabnya, anggap saja teorimu itu memang masuk di akal, bagaimana pun juga Gi-sin tidak boleh ikut kau keluar dari tempat ini, apakah kau tahu bahwa keluarga Soat masih punya perundang-undangan lainnya?”

Cepat Soat Gi-sin menyela, “Bu, aku pernah jelaskan kepadanya, menurut pandangannya sedikitpun aku tidak akan melanggar larangan kakek moyang kita.”

“O, cara bagaimana kau beri penjelasan, coba kau katakan!”

Thio Hun-cu segera menjawab, “Menurut undang-undang leluhur, keluarga Soat tidak melarang keturunannya meninggalkan lembah ini, tapi Gi-sin justru tidak terkekang oleh larangan ini….”

“Anggapanmu dia bukan keturunan keluarga Soat?” seru Lim Keng-hong marah.

Thio Hun-cu tertawa ewa, sahutnya, “Tentu sekarang, benar, tapi setelah dia menikah dan ikut aku, dia bukan she Soat lagi….” Semakin beringas wajah Lim Keng-hong, tanyanya kepada Soat Gi-sin, “Apakah kaupun berpikir demikian?”

Dengan menekan suara Soat Gi-sin menyahut pelan-pelan, “Peraturan leluhur tidak melarang anak putrinya dengan orang luar, bukankah dulu sudah ada contohnya?”

“Lain dulu lain sekarang, kini keluarga Soat hanya punya kau seorang keturunan, setelah kau menikah dengan orang luar, apakah untuk selanjutnya keluarga she Soat harus putus turunan? Di waktu kau menyetujui lamarannya, apakah kau pernah pikirkan hal ini?” 

Soat Gi-sin menunduk dan tidak bersuara lagi. Tak tahan Thio Hun-cu berkata, “Kalau begitu, selamanya Gi-sin tidak bisa menikah dengan orang! Selamanya akan hidup menyendiri dan menyepi di dalam lembah yang dingin dan sebatangkara….”

“Benar! Selamanya tidak boleh menikah dengan orang luar,” bentak Lim Keng-hong. “Tapi dia tidak akan sebatangkara untuk selamanya, kalau tidak masa aku mau merestui pernikahan kalian, apakah kalian tahu makna dari pernikahan itu?”

Thio Hun-cu berpikir sebentar lalu menjawab, “Siau-tit paham, maksud Pekbo adalah ingin Siau-tit menjadi menantu keluarga Soat dan menetap di sini!”

Lim Keng-hong manggut-manggut, ujarnya, “Benar! Itulah cara satu-satunya untuk menyambung keturunan keluarga Soat. Kalau kau benar-benar mencintai Gi-sin, maka sudah sepatutnya berani berkorban bagi dia….”

Thio Hun-cu termenung sebentar lalu menyahut dengan tegas, “Untuk hal ini mungkin Siau-tit tidak bisa menurut. Siau-tit hidup sebatangkara tanpa sanak kadang, kalau aku harus memenuhi peraturan dan menyambung keturunan keluarga Soat, apakah aku tidak boleh menyambung keturunan keluarga Thio kita? Bagaimana aku harus bertanggung jawab kepada leluhurku?”

“Hun-cu!” saking gugup Gi-sin menangis sesenggukan. “Apa kau tidak sudi berkorban demi kepentinganku?”

Thio Hun-cu tertawa getir, katanya, “Gi-sin, kenapa kaupun bisa berpikir demikian?”

Soat-lo Thay-thay terlongong sebentar, mendadak ia menangis sesambatan sambil menutupi mukanya. Thio Hun-cu membanting kaki dan menghela napas panjang.

Lim Keng-hong tidak tega melihat putrinya menangis sedemikian sedihnya, akhirnya ia berkata kepada Thio Hun-cu, “Kenapa kau begitu kukuh! Aku bukan orang yang egois untuk memaksa kau meninggalkan marga leluhurmu, tapi Gi-sin punya kesukaran yang lebih berat dari kau, dia terkekang oleh larangan leluhur. Asal kalian dapat melahirkan dua anak, satu orang satu keluarga bukankah kedua belah pihak sama-sama memperoleh keuntungan?”

Tapi dengan keras kepala Thio Hun-cu menggeleng, katanya, “Tidak mungkin! Kalau Gi-sin tetap tinggal di tempat ini, penyakitnya selamanya tidak akan bisa sembuh, keturunan keluarga Soat kalian akan selalu tunggal, seolah-olah sudah menjadi tradisi, dia tidak akan mungkin memperoleh anak lebih banyak, kecuali dia meninggalkan tempat ini.”

“Kalau dia meninggalkan lembah ini berarti melanggar pantangan leluhur, maka selamanya tidak terhitung keturunan keluarga Soat kita, meski kalian dapat beranak selusin juga tidak diperbolehkan masuk menjadi keluarga Soat….”

Karena adanya alasan-alasan kuat dari kedua belah pihak yang sama dikukuhi, sebuah perkawinan yang semestinya membawa kebahagiaan nampaknya bakal gagal total. Dengan penasaran dan hampa, Thio Hun-cu meninggalkan Kun Lun- san, tapi dua hari kemudian Soat-sin-kok menjadi geger karena Soat Gi-sin ternyata minggat. -oo0dw0oo-