-->

Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 02

 
Jilid 02

“HA HA HA…. itulah semacam obat yang jarang terdapat, tumbuhnya di Sing-siok-hay di pesisir pasir kuning di sebelah sumber air, dimana ada tumbuh semacam tanaman yang bernama Ciu-Ceng, akar dari pohon ini ada tumbuh semacam bisul, akar bisul ini dapat diperas getahnya lalu diramu dengan berbagai obat-obatan rumput lain. maka jadilah semacam obat yang tidak berwarna, tidak berbau dan tiada rasanya, obat ini dapat menyembuhkan penyakit rheumatik dan penyakit tulang lainnya yang sangat mujarab ….”

“Kalau obat mujarab kenapa bisa menggebah bocah itu dan kenapa pain dia bakal mampus?” tanya Kok Using tidak mengerti.

“Kalau cuma setetes memang merupakan obat mujarab, tapi kalau sampai sepuluh tetes dapat menghancurkan usus dan isi perut lainnya. Dalam dinding cangkir itu sebelumnya sudah kupolesi obat itu, takarannya dapat sekaligus memburuh puluhan orang, begitu obat ini masuk ke dalam perut segera menjalar ke kaki tangan serta tulang-tulang seluruh badan, tiada obat untuk menyembuhkannya.”

Kok Liang berpikir sebentar lalu bertanya, “Bukankah Khong-ji sianseng sendiri juga ada minum arak dari cangkir itu, kenapa kau tidak keracunan. ….?”

Khong Bun-ki terbahak-bahak, ujarnya, “Dalam suhu udara biasa Ui-ho ciu-ce-sa itu tidak mudah terbaur dalam cairan arak atau air, cuma setelah dipanaskan mendidih dengan sendirinya arak itu jadi beracun, arak yang kuminum arak dingin, maka aku sendiri tidak kurang suatu apapun.”

Kok Liang menepuk paha sambil memuji, ujarnya, “Jadi Khong-ji sianseng menggunakan tenaga dalam membuat arak itu mendidih kiranya punya maksud tertentu.”

“Benar, meski keparat itu berusia muda tapi latihan Lwekangnya rasanya tidak kalah oleh Tokko Bing dulu, kalau tidak menggunakan akalku itu, mana bisa mengalahkan dia. Aku tahu kalau cuma mengandal Le-hwe-sin-kang tidak akan berhasil menundukkan dia, maka terpaksa kugunakan sedikit akal muslihat. Ternyata keparat itu kena diketahui, mimpi juga ia tidak akan menyangka bahwa arak itu mengandung racun jahat.”

“Khong-ji sianseng mempunyai rencana matang dengan perhitungan yang lihay. sungguh besar pahalamu untuk menentramkan seluruh jagat ini.”

Para ketua atau pimpinan dari berbagai golongan dan aliran memuji dan bersorak mengacungkan jempol.

Cuaca sudah hampir terang tanah, segera Khong Bun-ki bersoja ke sekelilingnya, ujarnya, “Urusan sudah selesai, kita boleh bubar saja, maaf terpaksa siau-te harus mendahului pulang.” “Silahkan Khong sianseng!” Kok Liang membungkukkan diri dengan hormat.

Karena dirangsang rasa terima kasih, banyak kaum persilatan itu yang mengantarkan Khong Bun-ki dengan laku hormat berkelebihan. Tapi Khong Bun-ki cukup menganggukkan kepala dan membusungkan dada tinggal pergi sambil menggoyang-goyangkan kipasnya.

Tak lama kemudian barisan orang-orang gagah yang berkumpul di padang pasir itu sudah bubar dan menghilang, tinggal Thong-sian Taysu dan para muridnya belum bergeser dari tempatnya semula, lekas-lekas Lu Bu wi maju bertanya, “Ciangbunjin, adakah sesuatu yang kurang beres menurut nalar Taysu?”

Thong-sian menunduk khidmat, katanya, “Apakah dunia kini sudah aman dan damai, Lolap kuatir kaum persilatan selanjutnya bakal dihadapi berbagai keonaran dan keributan yang tiada habisnya.”

“Kemana juntrungan kata-kata Ciangbunjin?” tanya Lu Bu- wi tidak mengerti.

“Firasat telah menyentuh, tapi Lolap tidak bisa menunjukkan bukti-bukti secara kenyataan, semoga Tuhan Yang Maha Esa suka memberi jalan kehidupan yang sempurna kepada umatnya, kalau tidak …. aih!”

Lu Bu-wi ikut tenggelam dalam keprihatinan, agaknya iapun dapat menyimpulkan apa-apa, katanya, “Ucapan Ciangbunjin, juga terasakan oleh Losiu. Dari pertemuan malam ini sudah kentara bahwa Loh-hun-kok punya angan-angan untuk menjagoi dan bersimaharaja di Bulim. meskipun orang she Khong mewakili merebut kembali tanda kebesaran kita, tapi entah bagaimana dalam perasaan Losiu, sedikitpun tidak merasa simpati terhadapnya.”

Thong-sian taysu menghela napas lalu mohon diri, bersama para muridnya pelan-pelan mereka beranjak pergi tanpa bersuara, pertemuan yang, gegap gempita tadi, kini sudah berubah sunyi dan sepi.

Memang dalam lubuk hati sementara orang amat haru dan senang bahwa kedatangan mereka malam ini tanpa mengeluarkan tenaga tapi adapula sementara orang yang merasa kasihan dan sayang akan nasib Koan San-gwat, mereka sayang karena pemuda gagah seperti Koan San-gwat harus menemui ajal tanpa ada tempat untuk menguburnya.

Angin berlalu pasir pun berterbangan merubah bentuk gundukan pasir yang melebar luas tak berujung pangkal. Di tengah suara angin ribut dengan selingan pasir berterbangan secara lapat-lapat terdengar suara kelintingan yang nyaring, itulah suara kelintingan di bawah leher unta yang sedang berlari kencang di tengah padang pasir.

Koan San-gwat memeluk punuk untanya tanpa mampu mengeluarkan tenaga. Dia sudah bertahan selama dua hari, selama dua hari dua malam dia disiksa dalam kesengsaraan dari penderitaan yang luar biasa. Dia sendiri heran dan tidak habis mengerti bahwa dirinya kuat bertahan sekian lamanya. Sebab setiap orang yang terkena racun Ui-ho-ciu-ce-sa, tiada yang mampu hidup lewat enam jam. Sebaliknya dia, kondisi badan yang luar biasa dengan kekuatan batinnya yang menyala-nyala ternyata kuat bertahan dua hari meski disiksa penderitaan yang kelewat batas.

Meski demikian, ia paham bahwa tidak akan luput dari renggutan elmaut yang akan mencabut nyawanya. Dan saat itu pula dia sedang menuju ke jalan kematian, malah semakin lama semakin dekat pada puncak kematian.

“Oh, guru berbudi! Agaknya aku harus menyia-nyiakan harapanmu, kalah di bawah akal licik sungguh mati pun aku merasa penasaran dan tidak rela. Terpaksa aku menghancur- leburkan harapan dan kebesaran namamu, bagaimana aku bisa menentramkan arwahmu di alam baka….” Dia ingin menyumpah dan sesambatan kepada Tuhan, atau menggembor sekeras-kerasnya untuk melampiaskan rasa penasaran hatinya, tapi tenggorokannya sudah kering merekah karena racun, terpaksa hanya mengumpat caci dan mengeluh di dalam hati.

Tiba-tiba di dalam deru angin kencang didengarnya suara lain yang memburu datang, menurut pengalamannya yang sudah lama bertempat tinggal di daerah gurun pasir, ia tahu itulah suara derap kaki kuda yang dibedal pesat, ada penunggang kuda mengejar datang di belakangnya.

“Siapakah mereka? Apakah orang-orang gagah Bulim yang hendak mengejar dan membunuh aku?” demikian pikirnya. “Lebih baik aku mati tanpa terkubur dengan menjadi mangsa burung elang daripada terjatuh ke tangan mereka. Aku! Generasi kedua dari Bing-tho-ling-cu! Mana boleh menghembuskan napas yang penghabisan di hadapan musuh

….”

Ingin dia mengeprak tunggangannya supaya berlari lebih pesat, tapi tenaga mengangkat jari saja tidak mampu, terpaksa di dalam hati ia mengeluh, “Ahhh…. sahabat tuaku, ayo lekas lari. Bing-tho-ling-cu II betapapun pantang mati di tangan musuh. Meski aku bakal menjadi generasi terakhir dari Bing-tho Ling-cu….”

Agaknya unta tunggangannya itu dapat mendengar gemboran hatinya ternyata ia kerahkan tenaga larinya lebih pesat dari angin.

Timbullah setitik harapan dalam benak Koan San-gwat, diam-diam ia bersyukur, “Sahabat tuaku, ternyata kau memang pintar, unta sakti tidak mengena usia tua, tenaga baru semangat tetap menyala. Cuma sayang aku tak akan kuasa menemani kau sepanjang masa….”

Setelah lari sekian lamanya akhirnya ia jadi keheranan pula, sebab derap di belakangnya bukan saja ketinggalan semakin jauh malah terdengar semakin dekat, karuan hatinya menjadi gundah dan gugup.

“Ayah sahabat tua, kenapa kau tidak becus lagi, di atas pasir masa kau tidak mampu menandingi kecepatan lari kuda?”

Kecepatan lari unta tetap seperti sedia kala, tapi derap kaki kuda di belakang semakin kencang. Tanpa terasa ia menghela napas panjang dan gegetun, karena ia mendapati bahwa tunggangannya tidak berlari sepenuh tenaga, maka lama- kelamaan terkejar oleh kuda di belakangnya. Padahal tenaga untuk angkat jari saja tak mampu dikerahkan, bila untanya berlari pesat, goncangan tubuhnya tidak akan terkendalikan lagi, bukan mustahil ia bakal terjungkal jatuh.

“Sahabat tua! Jangan hiraukan aku, betapapun kita pantang jatuh ke tangan musuh ”

Dengan watak kekerasan seekor binatang, si unta mendengus rendah, tetapi kakinya tetap berlari dengan kecepatan sama. Kuda di belakang itu sudah mengejar dekat, dari punggung kuda tampak melesat sesosok bayangan orang meraih tali kekang yang terikat di besi dan tergigit di mulut unta, leher panjang si unta bergerak berusaha menghindar. Koan San-gwat yang berada di punggungnya tidak kuasa mengendalikan badannya lalu terjungkal jatuh.

Orang yang berusaha menghentikan lari si unta cepat melompat ke belakang meraih tubuhnya. Samar-samar di antara sadar tak sadar Koan San-gwat hanya melihat seraut wajah yang putih halus dan seikal rambut panjang yang terkuncir di belakang kepala. Selanjutnya apa yang terjadi tak diketahui olehnya.

Di kala ia siuman, baru dia tahu bahwa dirinya telah terbaring di tengah padang rumput yang menghijau, di sampingnya terdapat sebuah kolam air, itulah oase, sumber air di padang rumput yang tumbuh subur di tengah padang pasir.

Begitu siuman Koan San-gwat lalu ingin membuktikan apakah dirinya masih hidup atau sudah mati. Orang yang hidup di gurun pasir semuamengharap dapat menemui ajal di oase, maka begitu ia melihat dirinya ada di padang rumput, ia jadi menganggap bahwa dirinya sudah ajal.

Dengan susah payah ia berusaha menggerakkan badan, tapi seluruh badannya terass sakit dan menderita luar biasa, cuma semangatnya saja yang rada pulih kembali. Serta merta ia menghela napas, keluhnya, “Kata orang, bila orang yang sudah mati hilanglah segala penderitaannya, tapi kenapa badanku masih begini sakit….?”

Tiba-tiba di belakangnya seseorang berkata tertawa, “Orang yang takut melihat setan seumpama mati juga tidak akan mendapatkan tempat yang sentosa.”

Dengan kejut Koan San-gwat menoleh, dilihatnya seorang gadis remaja berusia tujuh belasan, mengenakan pakaian gembala, wajahnya bundar putih, biji matanya yang besar hitam dan bening, kuncir rambutnya panjang dan besar, itulah raut wajah yang dilihatnya sekilas sebelum ia jatuh dari atas tunggangannya di padang pasir itu, tanpa disadari ia jadi terlongong sekian lamnnya, katanya tersendat, “Nona…. sebetulnya aku sekarang masih hidup atau sudah mati?”

Gadis itu membelalakkan matanya yang bundar, semprotnya sambil cemberut, “Kau sudah mati! Sekarang kau sedang berhadapan dengan setan dan aku inilah setannya!”

Koan San-gwat tertegun dibuatnya, dari sikap dan nada perkataan gadis di hadapannya ini ia tahu orang sedang berkelakar dan menggoda dirinya, maka dengan sendirinya ia sadar bahwa dirinya belum mati, lalu dengan menghela napas ia berkata, “Hm, nona jangan marah, karena aku terluka parah dan aku anggap diriku tidak tertolong lagi, maka begitulah jalan pikiranku ….”

“Kalau kau telah tahu terluka berat,” sempot gadis itu pula dengan uring-uringan. “Kenapa mendengar kami menyusul kau lari, kami kan bukan rampok, kalau tahu begitu lebih baik kami tidak menolong kau saja.”

Terpaksa Koan San-gwat menyengir kecut. Sebetulnya gadis itu marah ingin mengomelinya, tapi mendadak dari samping didengarnya sebuah suara menyela, “Ah-ceng! Tuan ini terkena racun dalam tubuhnya belum punah seluruhnya. Jangan kau bikin ribut, cuma membuang energi dan tenaganya saja.”

Koan San-gwat cuma melihat sebuah bayangam yang samar-samar, mendadak dirasakannya Ling-tay-hiat kena tertutuk dan selanjutnya apapun tidak terlihat lagi, cuma kupingnya lapat-lapat masih mendengar gadis itu bertanya, “Yah, sebetulnya ia terkena racun jahat apa? masa Siau-tok- san mu yang mujarab itu tidak mampu menyembuhkannya?”

Lalu didengarnya pula jawaban seorang laki-laki pertengahan umur, “Jangan kau banyak tanya lagi, racun macam itu merupakan tantangan bagi dunia pengobatanku, terpaksa kita harus menggotongnya pulang ke gunung, dengan segala daya upayaku, ingin kulihat apakah aku mampu mengendalikan racun semacam itu.”

selanjutnya di antara sadar tak sadar Koan San-gwat seperti merasa badannya terangkat, ingatannya semakin kabur, dan akhirnya tak ingat apa-apa lagi.

0000)0(ooco

KHONG BUN-THONG majikan dari Loh-hun-kok di Liok-cau- san waktu itu mengundang orang-orang gagah kenamaan di seluruh dunia persilatan, di antaranya pada Ciangbunjin dari sembilan Pay dan Para Pangcu dari berbagai Pang yang tersohor untuk menghadiri perayaan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh. Pertemuan besar di gurun pasir pada malam itu kini sudah berselang tiga tahun….

Berkat kelicikan Khong Bun-ki yang berhasil meracuni Koan San-gwat murid tunggal Bing-tho-ling-cu akhirnya seluruh golongan dan aliran yang hadir dapat mengambil balik tanda kebesaran mereka masing-masing, untuk ini mau tidak mau nama Liok-cau-san makin menonjol dan menempatkan darinya pada kedudukan tertinggi sebagai datuk persilatan.

Liok-cau-san semula tidak pernah diperhatikan khalayak ramai, dalam jangka tiga tahun itu menjadi ramai, orang- orang gagah dari berbagai aliran berkunjung. Terutama Kimsa-pocu Kok Liang dan beberapa golongan yang berdiri tunggal serta para guru silat punya huhungan yang sangat akrab dengan mereka.

Soalnya tenaga serta wibawa mereka di kalangan Kangouw sudah pudar, tak mungkin membuka lembaran sejarah yang gilang gemilang. Dengan rasa kepercayaan yang menjadi landasan hidup berdampingan begi kaum persilatan, apalagi murid mereka sering membuat onar dan bikin ribut di luaran, mereka tidak angkat senjata dan mandah dihina dan terima nasib melulu, karena kondisi yang buruk ini mau tidak mau mereka menjilat ke pihak Liok-cau-san, paling juga ingin gagah-gagahan dan unjuk garang saja.

Sementara Ciangbunjin dan berbagai Pay dan Pang besar, mengingat budi Khong Bun-ki dahulu karena sungkan lalu mengalah terhadap Liok-cau-san, setiap kali timbul pertikaian, asal salah seorang dari keluarga Khong unjuk diri untuk menyelesaikan urusan itu, kedua belah pihak pasti memberi muka dan anggap perkara itu tidak pernah terjadi.

Selama tiga tahun mendatang ini, pihak Liok-cau-san sangat aktif di kalangan Kangouw. Kaki tangan mereka semakin tersebar luas di mana-mana. Secara terbuka merekapun anggap sebagai pimpinan tertinggi saja. Nama, gengsi dan perbawa mereka jadi semakin menonjol dan besar. Hari ulang tahun keenam puluh majikan Loh-hun-kok Khong Bun-thong merupakan salah satu peristiwa besar dalam kalangan Kangouw tahun ini, setengah tahun sebelumnya mereka sudah menyebar luas undangan.

Sudah tentu para Ciangbunjin atau Pangcu dari berbagai golongan dan aliran itu sama tahu bahwa dalam perayaan hari ulang tahun itu, pihak Liok-cau-san pasti mempertunjukkan sesuatu permainan yang bakal mengggemparkan. Tapi karena soal muka serta gengsi, seumpama mereka sendiri tidak sudi datang, terpaksa harus mengurus anak muridnya sebagai wakil menyampaikan selamat hari ulang tahun.

Perayaan ulang tahun terjadi pada tanggal tujuh belas bulan sembilan, pada tanggal enam belas, para tamu yang diundang sudah datang, Liok-hun -kok di Liok-cau-san yang biasanya sepi kini jadi ramai, dimana-mana didirikan barak- barak darurat yang penuh sesak dihuni para tamu-tamu yang berdatangan, mereka makan minum sepuasnya tak mengenal waktu, agaknya banyak di antara mereka yang siap untuk berpesta pora semalam suntuk.

Mereka makan minum jor-joran. Banyak tamu jadi sinting dan mabok. Begitulah keadaan Kim-sa-pocu Kok Liang, mukanya merah padam, biji matanya mendadak menyala, dengan sempoyongan ia berdiri dan mengeluarkan suara bagai bunyi genta, teriaknya, “Para Losu dan sahabat sekalian, tiga tahun yang silam Khong-ji sianseng dengan secangkir arak beracun berhasil menundukkan Bing-tho-ling-cu sehingga kita berhasil memperoleh kembali tanda kebesaran masing- masing, budi yang luhur ini, seluruh sahabat Kangouw tidak ada seorangpun yang tidak merasa berterima kasih ….”

Ucapannya ini terlalu menusuk perasaan. Kontan hadirin merasa kurang senang, agaknya Kok Liang menyadari omongannya tidak berkenan di hati mereka, cepat ia melanjutkan, “Pertemuan hari itu, meski Tokko Bing sudah mampus, tetapi murid tunggalnya Koan San-gwat ternyata membekal kepandaian yang tiada taranya, jikalau kalian mengandal tenaga dan kepandaian sendiri, siapa pula yang bakal bisa mengalahkan dia!”

Ucapannya ini memang kenyataan, orang-orang yang kurang senang ini mau tidak mau harus menelan rasa penasaran mereka. Setelah menanti sebentar melihat tiada orang yang menyanggah pertanyaannya, Kok Liang lantas mengunjuk sikap gagah-gagahan, serunya, “Besok adalah hari ulang tahun Khong Kokcu, kami sudah menyiapkan kado untuk mewakili seluruh sahabat Kangouw untuk menyatakan hormat dan kagum kepada beliau.” habis berkata ia memberi tanda keluar, segera dua orang laki-laki menjunjung sebuah pigura besar yang bercat kuning emas, di atas pigura ini ada diukir lima huruf besar dengan cat emas yang berbunyi “Thian-he-te-it-keh.”

“Thian-he-te-it-keh” berarti keluarga nomor satu di seluruh kolong langit.

Tanpa menanti reaksi orang banyak, cepat-cepat Kok Liang menambahkan, “Thian-he-te-it-keh, kukira cuma keluarca Khong dari Loh-hun-kok ini yang pantas mendapatkannya, sekarang aku harap tuan rumah suka menerima kado ini.”

Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi yang duduk di sebelah Sim-sian Taysu yang mewakili Siau-lim-si tak tahan lagi segera ia berjingkrak bangun, serunya, “Sungguh tak masuk akal dan tidak punya aturan! Kalau kita diamkan saja keparat ini menganugerahkan pigura itu berarti kami semua sama mengakui bahwa dia memang Thian-he-te-it-keh. Apakah kelima nama ini dapat begitu gampang diperoleh?”

Sim-sian adalah Suheng Thong-sian Taysu, usianya pun lebih tua dari Thong-sian, cuma kepandaiannya sedikit asor, tapi dia merupakan jago nomor dua dari dari Siau-lim-pay, cuma dia rada rikuh untuk menyatakan pendapatnya terpaksa dia tarik baju Lu Bu-wi serta katanya, “Lu-ciangbunjin harap sabar, perbuatan Kok Liang ini meski harus dicela, tapi kukira ucapannya itu pasti punya alasannya sendiri, tiga tahun yang lalu jikalau Khong Bun-ki kalah bertanding, maka Ling-hu atau tanda kebesaran dari berbagai golongan dan aliran tidak akan begitu mudah diperoleh kembali.”

Tapi Lu Bu-wi tidak ambil perduli, katanya, “Dalam keadaan yang memalukan itu meski mendapatkan kembali Ling-hu kami, sebenarnya aku lebih rela milikku itu masih tetap berada di tangan Bing-tho-ling-cu.”

Sim-sian Taysu menggeleng kepala, ujarnya, “Meski kemenangan Khong Bun-ki kurang layak dan tidak bisa dibanggakan, tapi dari jarak yang jauh dapat mendidihkan arak sehingga menguap kering, memanaskan arak mencampur racun, dalam hal latihan dan kesempurnaan pelajaran silat secara kenyataan memang sudah teramat hebat dan sangat mengejutkan sekali.”

Lu Bu-wi menjadi keheranan, tanyanya, “Siau-lim-pay sebagai aliran yang paling diagungkan dan dijunjung tinggi oleh kaum persilatan, apakah Taysu juga mengakui bahwa keluarga Khong merupakan keluarga nomor wahid di seluruh jagat?”

“Orang beribadat seperti kami sudah lepas dari kehidupan duniawi, tidak mengejar nama dan gengsi, menurut pendapat kami siapa pun yang mendapat gelar Thian-he-te-it-keh tiada menjadi soal, cuma kurasa keluarga Khong tidak akan puas melulu mendapat gelar dan simbol yang kosong.”

“Mereka mau apa lagi? masakan kita harus bertekuk lutut terhadap mereka?”

Alis Sim-sim Taysu berkerut semakin dalam, katanya menghela napas, “Kalau hanya bertekuk lutut dan patuh karena perintah sih lumayan, dunia bakal aman dan tenteram, untuk itu Pinceng tidak merasa….”

Lu Bu-wi jadi patah semangat mendengar uraian Si Hwesio tua ini, ia rasakan orang terlalu lemah dan gampang terpengaruh. Tetapi tatkala itu Khong Bun-thong tuan rumah yang merayakan hari ulang tahun itu sedang cengar-cengir melangkah ke tengah siap menerima pigura besar itu, dari barak-barak sekitarnya sudah terdengar tepuk tangan.

Khong Bun-thong tidak perduli sambutan tepuk tangan itu hanya sebagian kecil kaki tangannya belaka, serunya sambil tersenyum lebar, katanya, “Budi kebaikan Kok-heng bagaimana juga sungguh aku tidak berani terima. Tiga tahun yang lalu adikku cuma sedikit menyumbaang tenaganya, masa mengandal kepandaian yang tak berarti itu kami berani menempatkan diri sebagai keluarga agung nomor satu di seluruh jagat, maka harap pigura sumbangan Kok-heng ini dianugerahkan kepada tokoh kosen yang sesuai saja.”

Kok Liang mengulur leher mengeraskan suara, serunya, “Pada jaman sekarang ini, tokoh kosen mana yang bisa dibanding dan lebih kosen dari Khong-kokcu?”

“Bukan begitu persoalannya,” ujar Khong Bun-thong. “Aku sendiri tidak berani mengakui sebagai seorang kosen, kukira orang lain pun tidak akan berani sembarangan mengakui dirinya orang kosen, kalau tidak percaya coba Kok-heng lihat air muka para sahabat yang hadir.”

Kok Liang berpaling dan menjelajahkan pandangannya ke segenap penjuru, memang dilihatnya rona wajah banyak orang menunjukkan rasa kurang senang dan penasaran, kecuali pihak Siau-lim-pay, para Ciangbunjin atau wakil lain sembilan partai besar lainnya sama mengunjuk tawa dingin dan mengejek.

Kok Liang jadi serba runyam, tapi segera berteriak lantang, “Bila siapa yang tidak menyetujui pandanganku ini, maka dia hanya manusia kerdil yang tidak mengenal budi kebaikan.”

Ucapannya ini terlalu berat. Baru saja lenyap suaranya, hampir berbareng ada lima orang menekan meja bergegas berdiri, terutama Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi tidak tahan lagi, bentaknya dengan suara berat, “Oranng she Kok, Kau ini manusia apa berani bertingkah dan main gembar-gembor dihadapan sekian banyak orang-orang gagah!”

Baru saja Kok Liang hendak balas memaki keburu Khong Bun-thong turun tangan mencegah, ujarnya, “Para saudara demi ikut menghadiri hari ulang tahunku sam berkunjung ke Liok-cau-san, untuk ini aku sudah merasa bersyukur dan berterimakasih, jarang sekali karena urusan kecil sampai timbul pertikaian merusak persahabatan, mari ku persembahkan secangkir arak untuk menyatakan rasa terima kasih kami.”

Lalu ia bertepuk tangan berbareng berteriak dengan suara lantang, “Bawa arak kemari.”

Dari luar barak sana segera mendatangi empat laki-laki besar, dengan pikulan mereka sama menggotong sebuah guci arak yang besar sekali, tinggi guci itu kira-kira ada tiga kaki, panjang perutnya yang gendut itu ada sembilan kaki, dengan dipikul empat orang kelihatan masih terasa berat, maka dapatlah dibayangkan betapa berat seluruh arak di dalam guci itu.

Guci itu baru diletakkan setelah tiba di sampingnya, dua orang diantaranya bekerja sama membuka tutupnya, benar juga di dalamnya terisi arak yang bagus, sambil tersenyum lebar, Khong Bun-thong memegangi kedua pinggir guci besar itu, katanya, “Karena hadirin terlalu banyak, terpaksa kugunakan cara yang paling praktis saja untuk menyuguhkan arak ini.”

Bertepatan dengan lenyapnya suaranya, arak dalam guci itu mendadak menyemprot keluar seperti sebuah tonggak besar melambung tinggi dua tombak, lalu di tengah udara seperti meledak berpencar ke empat penjuru menjadi titik-titik bintang bertaburan. Maka di lain saat terdengarlah suara tak tik, itulah hujan tetesan arak yang masuk ke dalam cangkir. Seluruh hadirin sama mengeluarkan seruan heran dan kagum, ada pula yang menghela napas, sebab sekejap saja cangkir setiap hadirin sama sudah terisi penuh arak, persis rata dengan mulut cangkir, tidak sampai luber.

Permainan Khong Bun-thong menunjukkan bahwa Lwekangnya sudah mencapai tingkat paling sempurna. Sekaligus ia sudah menunjukkan tiga macam permainan yang sulit dilakukan.

Pertama arak yang dia tebarkan menggunakan Lwekangnya cuma persis mengisi secangkir semua hadirin. Apalagi duduk para tamunya itu terpencar lebar, meja yang mereka tempati selain berisi bermacam-macam makanan masih banyak tempat luang, tapi setetespun tidak ada yang tercecer di luar.

Kedua, bahwa cangkir sementara orang masih ada sedikit sisa arak, tapi dia dapat mengisi cukup sampai cangkir itu menjadi penuh saja, isi dari setiap cangkir itu sama rata dengan mulut cangkir.

Ketiga, dengan cara menebarkan arak ke tengah udara untuk mengisi arak ini, sekaligus ia kerjakan terhadap ribuan tamu yang hadir dalam berbagai barak yang terpencar luas, tapi tiada satupun yang ketinggalan.

Kim-sa-pocu yang memang bersifat penjilat itu mendahului bertepuk tangan sekeras-kerasnya, mau tidak mau hadirin yang lain juga ikut bertepuk tangan bahkan kagum, maka tepuk tangan kali menjadi amat ramai dan lama sekali.

Terbayang senyum puas dan rasa bangga pada wajah Khong Bun-thong, cepat ia lepas pegangannya terus angkat tangan bersoja ke empat penjuru, berulang kali mulutnya mengucapkan kata-kata merendah, lekas-lekas Kok Liang menjinjing lagi pigura besar itu terus diangsurkan ke hadapannya, katanya, “Kepandaian silat dan sastra Khong Kokcu tak ada bandingannya di dunia ini, maka pigura ini sudah selayaknya kami persembahkan….” Kali ini tak ada seorangpun yang berani menentang, Lu Bu- wi jadi lesu dan patah semangat, tapi dalam hati ia masih uring-uringan tapi pertunjukan kepandaian Khong Bun-thong benar-benar sudah menciutkan nyali, sehingga ia tidak berani banyak bercuit lagi. 

Khong Bun-thong sengaja pura-pura sangsi dan menolak, tapi setelah melihat tak ada orang yang menantang lagi, dengan cengar-cengir ia mengulur tangan menerima, katanya, “Banyak terima kasih akan anugrah yang sangat besar artinya ini.”

Dengan diterimanya pigura itu berarti semua hadirin diam- diam sudah mengakui bahwa keluarga Khong merupakan Thian-he-te-it-keh, dengan mendapat anugerah yang memang sudah lama dicita-citakan, sudah tentu Khong bun-thong teramat senang, katanya, “Inilah anugrah dari para orang gagah yang hadir hari ini, kalian harus hati-hati, serahkan kepada Jikong-cu untuk disimpan.”

Orang-orang itu mengiyakan, baru saja mereka hendak bergerak, dari samping sana muncullah Khong Bun-ki yang tetap mengenakan pakaian sastrawan, katanya sambil berseri tawa, “Toako! Sekarang sudah lewat tengah malam, sudah tibalah saat upacara hari ulang tahunmu. Menurut pendapatku, lebih baik gantung saja pigura itu di samping pendopo ini, kurasa lebih serasi dan cocok dengan keadaan.”

“Jangan!” sahut Khong Bun-thong menggeleng. “Cara ini kurasa terlalu takabur!”

“Tidak, tidak!” tersipu-sipu Kok Liang lantas bicara. “Cuma pendopo upacara Kokcu yang cocok untuk menempatkan pigura ini, kuharap cepatlah Ji-kokcu menggantungkannya di sana, kami ingin segera menyampaikan selamat panjang umur.”

Khong Bun-ki tertawa ringan, sebelah tangannya menyanggah bagian bawah pigura terus disendal ke atas, kontan pigura itu terbang ke atas melampaui kepala para hadirin dan tepat jatuh di atas belandar besar di atas pojok pendopo.

Di atas belandar mungkin sudah disediakan tempatnya, sehingga pigura itu tepat sekali menempel di dinding, di lain saat cepat sekali ke empat laki-laki ini sama mengayun sebelah tangan menimpukkan sebatang paku panjang yang gemerlapan, masing-masing melesat ke empat pojok pigura itu dan tepat sekali memanteknya di atas sana.

Hadirin sekali lagi bertepuk tangan lebih keras dan gegap gempita. Cuma Lu Bu-wi dengan rasa penasaran menggerutu, “Terang sekali semua ini sudah dipersiapkan sebelumnya….”

Sim-sian Taysu menarik bajunya, ia beri tanda supaya orang tidak terlalu banyak kata.

Terdengarlah Kok Liang mendahului berteriak, “Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Ayo, harap tuan rumah menempati tempat duduknya.”

Segera Khong Bun-ki mendorong Khong Bun-thong berdiri di bawah pigura, seorang protokol segera mengumrumkan upacara dimulai.

Maka beramai-ramai para hadirin banngun berdiri, ada yang suka rela dan senang hati, tapi ada pula yang terpaksa, tapi mereka sama membungkuk diri menjura kepada Khong Bun-thong.

Khong Bun-thong tersenyum lebar, mulutnya terbuka lebar, katanya, “Terima kasih, mana aku berani terima penghormatan besar ini.” sambil balas menghormat dengan membungkuk-bungkuk badan, tapi waktu dia angkat kepala, tiba-tiba dilihatnya para hadirin berdiri melongo dan terbelalak mengawasi pigura di atas kepalanya, cepat ia pun mendongak melihat ke atas, kontan ia berjingkrak kaget dan hampir saja ia berteriak terkejut. Ternyata di tengah antara kelima huruf besar di atas pigura yang berbunyi “Thian-he-te-it-keh itu kini bertambah dua huruf kecil berwarna putih yang menyolok sekali, bunyinya, “Thian-he-te-it-bing-tho-keh.” (Keluarga unta sakti nomor satu di seluruh jagat).

Sekian lama Khong bun-thong keheranan dan tidak habis mengerti, akhirnya air mukanya menjadi gelap dan merah padam. Serunya lantang dengan amarah yang meluap-luap, “Sahabat manakah yang mencari gara-gara?”

Beruntun ia berkaok-kaok sampai empat kalitanpa ada reaksi apa-apa. Dengan suara lebih lantang menandakan amarah yang semakin memuncak ia berteriak lagi, “Hari ini adalah ulang tahunku, dengan hati tulus dan sejujurnya kami undang para sahabat Kangouw untuk ikut menikmati secangkir arak, tidak lebih hanya ingin berkenalan dengan orang-orang gagah seluruh dunia yang berkumpul hari ini, kalau mau menyampaikan selamat sebetulnyalah aku tidak berani terima, bahwa kalian sudah hadir dalam perjamuan ini berarti memberi muka kepadaku, tapi entah siapa dengan cara yang memalukan mempermainkan aku, sungguh memalukan dan menghina keluar batas.”

Setelah berkata mukanya semakin membesi hijau, tapi keadaan masih tetap tenang dan sunyi. Selang sejenak, mendadak dari tempat yang agak jauh terdengarlah gelak tawa berkumandang, nada gelak tawa ini mengandung nada menghina dan mencemooh.

Serempak pandangan semua hadirin ditujukan ke arah datangnya gelak tawa, tampak di barak sebelah timur seorang laki-laki pertengahan umur berpakaian seperti gembala di luar perbatasan dengan perawakan tubuhnya yang kekar sedang berdiri bertolak pinggang di atas meja, mukanya rada asing dan belum dikenal, apalagi tempat duduk sebelah timur sana disediakan bagi golongan kelas dua, maka hadirin heran dan kaget bahwa orang ini berani bertingkah begitu kasar dan menghina kepada Khong Bun-thong.

Sambil memicingkan mata, Khong Bun thong mendesis berkata, “Kawan ini siapa dan siapa namamu?”

Orang itu lalu tertawa tawar, sahutnya, “Aku yang rendah Thio Hun-cu, bertempat tinggal di Thian-san utara tidak lebih cuma seorang keroco kelas rendah saja.”

Sekian saat Khong Bun-thong mengamatinya, tapi ia tidak berhasil menemukan asal-usul orang ini, akhirnya dengan menarik muka ia menjengek, “Apa maksud gelak tawa sahabat Thio tadi?”

Thio Hun-cu menengadah terkekeh dua kali, ujarnya, “Untuk ini harus tanya kepada dirimu sendiri. Tadi sudah mengudal mulut membuat sebuah cerita bohong yang mengelabui orang banyak, kedengarannya memang cukup mengasyikan den mengetuk hati semua orang, tapi apa pula maksud tindakan rahasia saudara?”

Berubah hebat air mukanye Khong Bun-thong, matanya menyorot sinar bengis dan buas, teriaknya beringas, “Kawan Thio! Hari ini adalah hari baikku, bahwasanya aku tidak akan membuat salah kepada pare sahabat, tapi sepak terjang saudara tadi agaknya memang sengaja memaksa aku orang she Khong untuk bertindak tidak mengenal kasihan lagi.”

“Khong-kokcu!” seru Thio Hun-cu terloroh-loroh. “Tepat sekali ucapanmu! Hari ini memang hari baikmu, sebab bukan saja hari ini hari ulang tahunmu, tapi juga merupakan hari besar dimana kau dapat mengekang dan menindas kaum persilatan serta menjagoi seluruh jagat ….

“Pembual!” hardik Khong Bun-thong dengan amarah yang meluap-luap. “Meski pigura itu pemberian dari para sahabat Kang-ouw tapi aku sendiri masih ragu-ragu apakah aku orang she Khong sembabat mendapatkan simbol itu.” “Tapi di bawah ancaman dan tekanan jiwa, siapa yang berani membangkang dan tidak mendengar perintahmu?” jengek Thio Hura-cu iambi’ tersenyum.

Rona wajah Kong Bun-thong berubah lebih jelek, sinar matanya mengandung hawa membunuh yang tebal, terutama Khöng Bun-ki yang berada di belakangnya sudah tidak bisa menahan gejolak hatinya, sambil menghardik tubuhnya berkelebat maju sambil angkat tangannya menyerang, mulutnya pun memaki keras, “Bedebah berani mengacau perayaan hari ulang tahun Toakoku, sudah bosan hidup ya….?”

Tangan kiri mengacungkan dua jari menotok dada Thio Hun-cu, tipu yang digunakan cukup ganas dan keji, tapi Thio Hun-cu yang tidak ternama cukup menurunkan pundak dan menekuk lutut dengan mudah meluputkan diri.

Karuan tercekat hati Khong Bun-ki, cepat kedua telapak tangannya bergerak bersama dari kiri kanan mengatuk ke tengah berbareng ia menepuk pula satu kali, jurus serangan ke dua ini jauh lebih berbahaya dan telengas, seolah-olah saking gemasnya ia ingin sekali pukul membikin mampus lawannya. Kelihatannya Thio Hun-cu sulit terhindar dari mara bahaya, sebab serangan tangan Khong Bun-ki itu di sebelah atas menepuk Thay-yang-hiat sedang bagian tengah mencengkeram lambungnya, betapapun ia dapat mengkerutkan tubuhnya menjadi anak kecil juga tak akan luput dari rangsakan hebat ini.

Akan tetapi di saat semua orang menjerit kaget den kuatir itu, tampak badan Thio Hun-cu mendadak berputar seperti gangsingan cepatnya, sekonyong-konyong badan yang berputar kencang itu menerjang ke arah Khong Bun-ki, maka terdengarlah benturan keras, entah dengan cara apa tahu- tahu badan Khong Bun-ki yang meluncur ke depan ini ditolak mundur sempoyongan lima enam tindak, lengan kanannya lemas semampai tidak bergerak lagi, agaknya terluka oleh serangan musuh.

Maka terdengarlah dengus rendah Khong Bun-thong. Tiba- tiba telapak tangannya terayun menepuk ke punggung Thio Hun-cu, luncuran telapak tangannya keras tapi tidak memperdengarkan suara. Seolah-olah Thio Hun-cu tidak bersiaga, setelah telapak tangan memukul tiba baru ia berjingkrak kaget, tapi sudah terlambat. Kontan ia tersuruk maju beberapa langkah oleh tenaga pukulan yang hebat itu.

Tapi kepandaian orang ini agaknya tidak lemah, di luar dugaan semua hadirin, setelah kena dibokong oleh pukulan telak Khong Bun-thong, ternyata sedikitpun dia tidak terluka, begitu menggeliatkan pinggang di lain saat ia sudah dapat berdiri tegak pula, pelan-pelan ia membalik badan serta tersenyum, katanya kepada Khong Bun-thong, “Orang she Khong, ingat akan pukulanmu ini, nanti pasti akan kubalas sekali pukul kepada kau, tapi dalam melancarkan pukulanku, kulakukan secara terang gamblang, tidak akan kulancarkan secara membokong seperti perbuatanmu yang rendah dan hina ini.”

Muka Khong Bun-thong jadi merah padam karena sindiran ini, di samping itu hatinya pun kaget bukan kepalang, baru sekarang ia insyaf bahwa lawannya bukan sembarang tokoh, karena dapat menerima pukulan tangannya, padahal jarang ada musuh yang mampu menerima genjotan lima bagian tenaganya, sungguh ia tidak mau percaya bahwa di dunia ini ada manusia sekebal ini.

Bahwasanya nama Loh-hun-kok baru tiga tahun ini menonjol di kalangan Kangouw tapi sebenarnya jauh pada dua puluh tahun yang lalu, mereka punya angan-angan untuk merajai dunia persilatan, setiap tokoh kosen persilatan sudah mereka selidiki dengan sempurna, hasilnya mereka menganggap bahwa itu tidak lebih cuma kelas kambing belaka, meski diantaranya membekal kepandaian asli yang murni dari perguruan masing-masing, tapi masih jauh bila dibandingkan Kungfunya, maka ia merasa puas akan bekal sendiri dan bersiap melakukan suatu tindakan yang menggemparkan. Tak nyana mendadak muncullah Bing tho- ling-cu Tokko Bing dalam suatu partandingan yang tidak menyenangkan, sehingga ia kena dikalahkan habis-habisan terpaksa ia harus pendam dulu angan-angan besarnya, menyemhunyikan diri giat memperdalam ilmu. Tunggu punya tunggu ternyata sampai dua puluh tahun.

Pertemuan dipariang pasir itu dulu sebetulnya iapun ikut hadir, tapi karena takut terjungkal lagi dan malu di hadapan sekian banyak orang, terpaksa ia menyamar dan menyuruh adiknya yang menjadi wakilnya.

Sebuah berita yang membuat semangatnya terbangkit adalah bahwa Tokko Bing sudah meninggal, tapi murid tunggalnya Koan San-gwat ternyata juga bukan main hebatnya dalam segala hal agaknya tidak kalah dibandingkan dengan Tokko Bing dua puluh tahun yang lalu. Tapi betapapun pemuda ini masih berusia muda cetek pengalaman dan pengetahuan. maka akhirnya ia terjungkal dalam tipu daya dengan menenggak habis arak yang dicampuri racun jahat, sejak saat itu kemenangan yang tidak tersangka-sangka itu sekaligus telah menjunjung tinggi gengsi dan membuat nama Loh-hun-kok menjulang tiada bandingannya.

Dengan segala daya upaya Khong Bun-thong juga selama tiga tahun ini menghimpun diri memupuk kekuatan, kebetulan meminjam hari ulang tahunnya yang keenam puluh, kesempatan ini hendak ia gunakan untuk mengangkat diri dan mengumumkan kepada dunia, demi mencapai cita-cita dan ambisinya yang luar biasa.

Sungguh di luar tahunya pula bahwa di tengah jalan usahanya ini kena dijegal pula dengan munculnya Thio Hun-cu yang kurang dikenal namanya. Beberapa patah kata Thio Hun-cu hakikatnya telah menggerakkan akal dan perbuatan liciknya. Sekaligus telah merusak nama baiknya pula, banyak diantara hadirin yang merasa kurang senang dengan segala sepak terjangnya tadi, kalau hari ini tidak melenyapkan keparat ini, selanjutnya tidak ada muka baginya bercokol lagi…. ….

Sesaat lamanya termenung, lalu akhirnya Khong Bun-thong berkata sinis, “Kepandaian saudara sungguh membuat hatiku takluk. Dengan kepandaianmu tidak sulit angkat nama di Bulim, tapi kenapa kau sengaja mengacau dalam perayaan hari ulang tahunku ini….?”

Thio Hun-cu tertawa dingin jengeknya, “Meski pun aku punya kepandaian silat tapi cuma untuk menyehatkan badan saja, tiada pikiran untuk angkat nama atau junjung gengsi segala. Hari ini karena terpaksa baru aku mencari perkara kepada kau. Sebetulnya aku tak ingin terjadi bahwa hari ulang tahunmu menjadi hawa kematian sekian banyak tokoh-tokoh Bulim yang hadir dalam pertemuanmu ini.”

Berubah air muka Khong Bun-thong hardiknya dengan bengis, “Kau membual apa lagi?”

“Hatimu sendiri kan paham,” jengek Thio Hun-cu. “Permainan menyuguh arak yang sudah kau campuri Ui-he- ciu-ce-sa masakah dapat menundukkan sekian banyak orang supaya mendengar perintahmu, seumpama racunmu dapat membikin dua tiga orang mampus, semangat juang dan jiwa kesatria golongan persilatan tidak akan begitu mudah kau ancam dan kau kuasai.”

Seketika seluruh hadirin menjadi ribut mendengar kata-kata Thio Hun-cu ini, mimpi juga mereka tak menduga bahwa Khong Bun-thong telah mencampuri racun di dalam araknya.

Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi yang sejak semula sudah sirik terhadapnya, sekarang tak kuasa menahan amarahnya lagi, segera ia melompat menuding Khong Bun-thong, teriaknya, “Khong Bun-thong! Bangsat kurcaci macammu ini berani melakukan perbuatan keji yang memalukan….”

Melihat Thio Hun-cu sudah membongkar rencana kejinya, lebih kaget Khong Bun-thong dibuatnya, cuma ia berlaku tenang, terpaksa ia bertindak nekad, jengeknya, “Lu-heng jangan mengumbar nafsu, racun itu tidak bakal mencabut nyawamu dalam waktu dekat dekat, nanti tentu dapat kuberi obat pemunahnya. Tapi bila kau marah-marah dan mengumbar adatmu, bila kadar racunnya bekerja, itu menjadi resikomu sendiri.”

Secara tidak langsung ucapannya terus mengakui bahwa araknya memang dicampur racun, karuan hadirin berjingkrak gusar, yang beradat kadar malah membalikkan meja dan memukul hancur semua perabotnya, berbondong-bondong mereka merubung maju mengurung Khong Bun-thong, ingin rasanya mereka membuat perhitungan dan adu jiwa.

Tapi Khong Bun-thong tidak terpengaruh akan keadaan, sikapnya tetap tenang, sementara Khong Bun-ki sambil menahan sakit berdiri di belakangnya siap dan waspada, di samping itu banyak pula orang-orang Kangouw yang punya haluan suka menjilat. Meski dirinya terkena racun tapi masih rela berdiri di pihak Loh-hun-kok. Mereka jadi sama berhadapan saling pelotot dan ancam seperti ayam aduan.

Thio Hun-cu yang menjadi gara-gara semua keributan ini malah terhimpit ke samping tapi dengan sikap acuh tak acuh dia berkata kepada Lu Bu-wi, “Lu Ciangbunjin! Memang lebih baik kau jangan mengumbar adat, kalau tidak kau akan terima akibatmu sendiri….”

Bahna gusarnya Lu Bu-wi jadi tidak pandang bulu lagi, semprotnya dengan gusar, “Kaupun bukan manusia baik-baik, kalau kau sudah tahu dalam arak dicampuri racun, kenapa tidak sejak tadi kau bongkar kelicikannya, kau mandah saja melihat kita ditipu mentah-mentah!” Thio Hun-cu cengar-cengir, lalu katanya, “Kurasa tidak perlu, karena kalian tidak terancam jiwanya.Sebetulnya Khong Bun-thong tidak punya maksud mencelakai jiwa kalian, cuma bertidak mengekang dan mengancam supaya kalian suka dengar perintah dan rela jadi kaki tangannya. Dia sendiri sudah menyiapkan obat pemunahnya, tapi obat itu cuma dapat menekan kadar racun supaya tidak kumat dalam tubuh kalian, setiap setengah tahun harus minum obat pemunahnya sekali. Jikalau kalian masih ingin hidup, harus tunduk dan patuh akan semua kehendaknya….”

“Kentut!!!!” maki Lu Bu-wi. “Meski harus mengadu jiwa sampai mati, masa kami mandah kena digencet dan bertekuk lutut padanya!”

“Ciangbunjin terlalu mengecil artikan nyawamu sendiri,” ujar Thio Hun-cu tersenyum sinis. “Kalian adalah kesatria gagah dan tunas harapan Bulim pada masa kini, masa begitu gampang harus mengorbankan jiwa, celaka kalau situasi dunia selanjutnya bakal terjatuh ke dalam kekuasaan keluarga Khong yang lalim ini….”

“Kau sendiri sebenarnya termasuk aliran yang mana?” semprot Lu Bu-wi lebih gusar.

“Kenapa bicara plintat-plintut tak punya pendirian, apa kau ingin kami tunduk dan bertekuk lutut padanya?!”

“Bicara mengenai hati nurani aku berdiri di pihak kalian, sebab aku mengutamakan hati yang lapang dan jujur bijaksana, tapi dalam sepak terjang…. aku berdiri di pihaknya, kaum persilatan malang melintang di Kangouw kecuali ilmu silat harus pula menggunakan otak dan pikiran, mana boleh seperti kalian begini tidak becus, begitu mudah dikerjai orang.”

“Bohong! apakah kau sendiri tidak minum arak tadi?” teriak Lu Bu-wi pula lebih murka. “Lain aku lain kalian,” sahut Thio Hun-cu kalem. “Aku sudah tahu ada racun tapi sengaja aku minum juga arak itu.”

Lu Bu-wi jadi melengak heran, tanyanya, “Kau sengaja minum arak yang dicampuri racun!?”

“Tidak salah! Aku memang sengaja meminumnya, ingin kulihat kecuali mati atau bertekuk lutut apakah masih ada jalan ketiga untuk kupilih.”

Berputar biji mata Khong Bun-thong, selanya dingin, “Terhadap kau! Cuma satu jalan saja, yaitu kematian! Orang macammu ini kalau hidup terlalu lama tentu sangat berbahaya, umpama kau mau tundukpun aku tidak akan mengampuni kau!”

Mendadak Thio Hun-cu bergelak tawa, ujarnya, “Jangan kau mimpi! Tiga tahun yang lalu aku pernah menelan Ui-ho- ciu-ce-sa, kenyataannya aku tidak mati keracunan, kalau hari ini kau hendak membunuhku, gunakan dengan cara yang gemilang, selesaikan dengan kepandaian silatmu.”

“Tiga tahun yang lalu….” seru Khong Bun-thong terkejut, “Lalu kau ini adalah….”

Di tengah gelak tawa Thio Hun-cu yang berkumandang nyaring, tiba-tiba ia copot topi kepalanya, telapak tangannya mengusap raut mukanya beberapa kali, mencabut jenggot palsu di tengah dagunya sekejap saja kini ia sudah berubah jadi seorang pemuda yang bersikap gagah dengan semangat menyala-nyala.

Seketika terdengar seruan kaget dari berbagai penjuru, tanpa berjanji mereka sama berteriak, “Koan San-gwat!”

Masih segar da1am ingatan mereka, pemuda di hadapan ini bukan lain adalah pemuda yang menunggang unta sakti di padang pasir dulu dan mengaku sebagai murid tunggal Bing- tho-ling-cu tiga tahun yang lalu itu. Waktu itu dia terkena racun lalu melarikan diri ditelan tabir malam di tengah gurun, semua orang anggap jiwanya pasti sudah melayang, ada sementara orang merasa kasihan dan sayang akan kematiannya itu.

Sungguh tidak dinyana, kini pemuda muncul pula di hadapan mereka secara aneh dan mengejutkan.

Koan San-gwat tertawa lantang, jarinya menuding ke arah pigura yang telah ia ganti huruf-hurufnya, serunya, “Thian-he- te-it-bing-tho-keh! Harap kalian sama ingat, asal suatu hari mampus, keempat huruf Thian-he-te-it-keh itu, jangan harap bakal terjatuh di atas kepala orang lain!”

Laksana naga sakti saja Koan San-gwat mendadak muncul dalam keadaan yang sangat kritis ini, mengeluarkan pernyataan yang takabur dan gagah lagi, kontan semua hadirin sama terpengaruh oleh perbawanya, seluruh hadirin jadi bungkam dan sunyi merayap, tidak seorangpun berani mengeluarkan suara.

Memang dia setimpal menerima anugerah ini, jangan kata Tokko Bing pernah menundukkan dunia. kepandaian silat yang diunjukkan di pertemuan di padang pasir itupun tiada tandingannya.

Malam itu jikalau Khong Bun-ki tidak menggunakan akal liciknya sehingga keracunan, siapapun tidak berani membayangkau betapa akibatnya. Tapi kenyataan bocah ini memang panjang umur, setelah terkena racun sedemikian jahatnya, ternyata masih hidup sehat walafiat malah kini muncul kembali.

Setelah terlongong sekian lamanya, akhirnya Khong Bun- thong tersentak sadar dari lamunannya, tanyanya dengan suara yang hampir tidak mau percaya, “Koan San-gwat! Cara bagaimana kau bisa tetap hidup setelah terkena racun Ui-ho ciu-ce-sa?” “Seluruh benda yang ada di mayapada ini tiada satupun mutlak, ada racun pasti ada obat pemunahnya, kalau tokh aku bisa selamat dan bisa hidup kembali setelah terkena racun jahatmu itu sudah tentu aku sudah mendapatkan obat pemunahnya.”

“Memang harus diakui bahwasanya Tokko Bing berbakat dan berkepandaian, luas pengetahuan lagi, cuma d

aalam ilmu pengobatan sedikitpun ia tidak paham, maka betapapun aku tidak percaya bahwa kau bisa memunahkan racunku itu!”

Koan San-gwat manggut-manggut, ujarnya, “Memang tidak salah ucapanmu, guruku tidak mahir ilmu pengobatan, sehingga aku kau kelabui mentah-mentah, tapi di saat jiwaku cuma tergantung pada seutas benang, aku ketemu orang kosen yang mengasingkan diri, bukan saja beliau telah menolong jiwaku, beliaupun berhasil menyelidiki cara memunahkan racun jahatmu itu!”

“Siapa orang itu?!” desak Khong Bun-thong.

Koan San-gwat menuding seseorang di sampingnya, katanya, “Orang kosen ini sangat terkesan dan kagum kepada kau yang bisa meramu obat beracun macam Ui-ho-ciu-ce-sa itu, kali ini ia ikut kemari untuk berkenalan dan cari pengalaman, tadi aku menggunakan nama beliau. Sekarang marilah kuperkenalkan, beliau adalah seorang tabib sakti yang sejak lama menyembunyikan diri di puncak Thian-san, Thio Hun-cu Cianpwee adanya.”

Pandangan semua orang beralih ke arah yang ditunjuk, tampak seorang laki-laki pertengahan umur mengenakan pakaian gembala bermuka kuning seperti penyakitan, di sebelahnya berdiri pula seorang nona remaja, pakaiannya seperti gembala di padang rumput, hidungnya mancung matanya bening. Parasnya yang cantik itu membayangkan wataknya yang keras dan sikapnya yang gagah, raut wajahnya hampir mirip dengan laki-laki pertengahan umur itu, sekali pandang dapat diketahui bahwa mereka ialah ayah beranak.

Sebetulnya Thio Hun-cu berdiri agak jauh, begitu Koan San-gwat menuding ke arah dirinya, cepat ia maju menghampiri sambil tersenyum lebar, orang-orang di sekelilingnya menyingkir ke samping memberi jalan kepadanya, akhirnya dia berdiri berendeng dengan Koan San- gwat.

Gadis remaja itu berada di belakangnya, ujung mulutnya menyungging senyum manis, agaknya ia jadi

tertarik akan keadaan yang bergolak ini.

Khong Bun-thong menatap ke arah Thio Hun-cu sampai orang berada di hadapannya, baru dia batuk- batuk, kulit mukanya kelihatan rada gemetar jelas bahwa hatinya sudah mulai tegang, dengan tertawa dibuat-buat ia berkata setenang mungkin, “Tak nyana di puncak Thian-san masih ada tokoh yang sembunyi di sana, kami menyambut kurang hormat, sungguh keterlaluan!”

Thio Hun-cu tertawa ewa, katanya, “Ah, kenapa Kokcu begitu sungkan, orang liar dari perbatasan seperti kami bisa mendapat tempat duduk dalam meja perjamuan Kokcu sudah merupakan suatu kehormatan bagi kami. Maklum dari tempat yang jauh kami tak bisa menyediakan kado yang berarti, kami hanya bawa beberapa butir buah Tho yang kutanam sendiri sebagai kado, tapi karena Kokcu sangat repot, tiada kesempatan kupersembahkan sekarang. Mohon Kokcu suka terima dengan senang hati!”

Lalu ia berpaling kepada gadis remaja itu, “Ah-ceng! Persembahkan buah Tho kepada Kokcu yang berulang tahun.


Dengan lemah gemulai gadis itu menurunkan buntalan yang diikat di punggungnya, setelah dibuka ternyata berisi lima enam buah Tho sebesar mangkok. Warnanya merah bersemu kuning, dengan kedua tangannya si gadis mengangsurkan sebuah di antaranya ke hadapan Khong Bun- thong. Katanya tertawa manis, “Harap tuan rumah suka terima dan mencicipinya!”

Di hadapan sekian banyak tamunya terpaksa Khong Bun- thong mengulurkan tangannya mengambil buah itu, dengan terpaksa ia menyengir tawa, sahutnya, “Terima kasih!”

Thio Hun-cu juga tertawa, ujarnya, “Buah Tho ini hasil dari puncak Thian-san, meski tidak berharga bila dinilai dengan uang, tapi rasanya manis dan sedap. Kalau Kokcu sudi, silahkan cicipi bagaimana rasanya.”

Khong Bun-thong mengamat-amati buah Tho itu sekian lamanya, tidak terlihat adanya sesuatu yang mencurigakan. tapi ia tahu bahwa buah Tho ini pasti bukan buah Tho seperti buah-buahan umumnya,

maka sesaat lamanya ia jadi ragu dan tak berani segera memakannya.

“Apakah Kokcu merasa sumbanganku ini terlalu tidak berharga?”

Khong Bun-thong jadi serba runyam, sahutnya dengan kikuk, “Mana, mana! Sebetulnya aku orang she Khong sangat senng daen terpesona akan buah Tho sebesar ini, entah bagaimana aku harus membalas pemberian ini. Aku yakin buah macam ini tentu sulit didapat. Biarlah kusimpan saja pelan-pelan kunikmati lain kesempatan saja.”

“Terserah pada kehendak Kokcu, cuma sudah lama aku mendengar ketenaran nama Kokcu, katanya mampu meramu Ui-ho-ciu-ce-sa pula, maka sengaja kupetikkan buah Tho itu sebagai permainan. Mohon petunjuk kepada Kokcu, kalau Kokcu tidak sudi memberi muka, anggap saja sia-sialah segala jerih payahku.” Kedengarannya ia mengobrol seenaknya saja, tapi bagi pendengaran Khong Bun-thong sangat menusuk perasaannya dan menjatuhkan gengsi, sebetulnya ia memang kuatir bila buah Tho itu ada rahasia apa-apa, tapi setelah ditantang dengan sindiran tajam Thio Hun-cu, ia jadi lwbih tak enak kalau tak makan buah itu, tapi dengan pura-pura sungkan ia berkata, “Kalau begitu terpaksa aku terima pemberian ini.”

“Orang she Khong,” jengek Koan San-gwat. “Jangan terlalu cepat kau melulusi permintaannya, buah Tho itu tumbuh di puncak Thian-san, dinamakan Thinn-toh (buah langit). Sesuai dengan namanya, bila kau berani makan, jiwamu segera bakal melayang ke sorga, apakah kau benar- benar berani memakannya?”

Berubah air muka Khong Bun-thong, teriaknya gusar, “Meski obat yang bisa menghancurkan isi perut, orang she Khong juga tidak gentar!” segera ia angkat buah itu ke mulutnya.

Dengan gugup Khong Bun-ki merintangi, “Toako! buat apa kau menuruti perasaan hati!”

Tak terasa tangan Khong Bun-thong jadi merandek. Cepat Thio Hun-cu tertawa ujarnya, “Kokcu kan seorang ahli dalam menggunakan racun, tentu kau paham bahwa buah itu sedikitpun tidak beracun, kalau Khong-jie Sianseng tidak percaya, coba silahkan kau cicipi lebih dulu.”

Khong Bun-thong terloroh-loroh, serunya, “Umpama mengandung racun aku orang she Khong juga tidak takut!”

Lalu dengan dua jarinya ia pijat sampai buah di tangannya pecah dan mengalirkan sari buahnya yang bening, cepat ia menyedot dengan mulutnya, setelah ia kunyah habis daging buahnya, ia lemparkan kulitnya, lalu bergelak tertawa, serunya, “Wah, enak sekali, ternyata memang wangi dan segar buah ini….”

-oo0dw0oo-