Naga Kemala Putih Bab 15. Masuk Perangkap

Bab 15. Masuk Perangkap

Tentu saja Tong Hoa memahami rasa panik dan cemas Wi Hong-nio, maka setelah berputar satu lingkaran di seputar gedung itu, ia sudah balik kembali dan berkata, “Nasibmu memang lagi mujur, menurut berita yang kudapat, katanya Tio Bu-ki sedang dalam perjalanan menuju kemari, bahkan kemungkinan besar besok pagi sudah tiba di sini!”

Tentu saja Wi Hong-nio sangat gembira, tapi sebagai wanita cerdik, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, tegurnya tiba- tiba, “Dari mana kau bisa tahu?”

“Ah gampang saja, bukankah tempat ini salah satu markas besar Tayhong-tong? Di mana ada markas besar, di situ pasti ada anggota Benteng Keluarga Tong yang menyusup. Gampang kan?”

Wi Hong-nio tidak bicara lagi, karena yang dikatakannya memang tepat sekali.

“Asal aku bertanya kepada seorang penyusup, segala sesuatunya menjadi jelas. Setiap hari mereka pasti melakukan kontak dengan Benteng Keluarga Tong. Padahal Tio Bu-ki adalah target utama kami, mana mungkin pihak Benteng Keluarga Tong tidak menyebar orang di mana-mana untuk melacak dan mengikuti gerak-geriknya?”

Kata-katanya pun sangat masuk di akal. Tapi... bukankah Tong Hoa telah mengkhianati Benteng Keluarga Tong, berkhianat dengan mengajaknya kabur? Masa para penyusup dari Benteng Keluarga Tong belum tahu tentang kejadian ini?

Wi Hong-nio segera mengemukakan kecurigaannya itu kepada Tong Hoa.

Namun jawaban Tong Hoa pun sangat masuk di akal, ujarnya, “Selama hidup aku belum pernah datang kemari, orang yang menyusup di sini pun belum pernah bertemu aku. Mereka hanya kenal dengan kode rahasia untuk berhubungan, tak pernah mengenali siapa lawannya.”

Sekarang Wi Hong-nio dapat berlega hati. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang adalah menunggu, menunggu datangnya fajar di esok hari. Lalu menyampaikan berita yang menggemparkan ini kepada Bu-ki, agar dia mencari Sangkoan Jin dan membuat perhitungan atas dendam berdarah ini. Tong Hoa diam-diam mengawasi perubahan raut wajahnya, dia pun dapat melihat sikap penantian perempuan itu dengan perasaan gelisah, panik, karena harus menunggu kedatangan Tio Bu-ki.

Oleh sebab itu ketika Wi Hong-nio dengan sorot mata penuh rasa terima kasih memandang ke arahnya, tanpa menanti sampai dia buka suara, ujarnya lebih dulu, “Kau tak usah berterima kasih kepadaku, aku melakukan semua ini dengan rela dan ikhlas...”

Hampir saja air mata meleleh keluar dari mata Wi Hong-nio saking terharu dan terima kasihnya.

Kembali Tong Hoa berkata, “Aku tahu, setelah Tio Bu-ki datang kemari, kehadiranku pasti akan membuat kau kurang leluasa, maka...”

“Kau hendak pergi?” tanya Wi Hong-nio. “Benar.”

“Kenapa?”

“Bukankah sudah kukatakan, kehadiranku di sini akan membuatmu sangat tidak leluasa.”

“Mana mungkin? Kau adalah orang yang menyelamatkan aku bahkan sudah banyak membantuku, Bu-ki pasti amat berterima kasih kepadamu!”

Tong Hoa memperlihatkan senyuman yang amat getir, sahutnya, “Aku tidak berharap rasa terima kasihmu kepadaku, aku hanya minta...”

“Tak mungkin aku bisa memberikan yang satu itu untukmu,” tukas Wi Hong-nio cepat, “sebab di hatiku hanya ada Bu-ki seorang. Bukankah sejak awal sudah kukatakan kepadamu?”

“Aku tak akan memaksakan kehendak, aku pun tidak mengharapkan hal yang berlebihan, asal di hatimu selalu ingat padaku, sudah lebih dari cukup!”

“Aku pasti akan selalu ingat dirimu, budi kebaikanmu tak pernah akan kulupakan!”

“Apakah kau hanya akan teringat dengan budi kebaikanku saja?” kembali Tong Hoa memperlihatkan senyum getirnya.

Wi Hon g-nio segera terbungkam, dia tak tahu harus berkata apa, dia tak tahu kata-kata yang cocok untuk menghibur pemuda itu.

“Sudahlah,” ujar Tong Hoa kemudian, “toh aku harus segera pergi dari sini, segala sesuatunya sudah tidak berarti lagi...” Wi Hon g-nio hanya bisa menatapnya tanpa berkedip, sampai lama, lama sekali dia baru bertanya, “Kapan kau akan pergi?”

“Sekarang.” “Sekarang?”

“Kalau mesti menunggu lagi, aku bisa gila...” Sekali lagi Wi Hong-nio termenung. “Jaga dirimu baik baik.”

Nada suara Tong Hoa terdengar menggetar, seolah dia sedang menahan agar air matanya tidak mengalir keluar.

Wi Hon g-nio tak kuasa menahan diri lagi, airmatanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Tanpa berpaling lagi Tong Hoa pergi dari situ dengan langkah lebar, keluar dari gedung keluarga Tio.

Kemampuan bersandiwaranya memang hebat, selain hidup, segala sesuatunya dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Buku harian palsu dari Tio Kian pun sangat mirip, sedemikian miripnya hingga nyaris tak berbeda dari yang asli.

Kemampuan dan kekuatan Benteng Keluarga Tong memang luar biasa, tak heran kalau Wi Hong-nio masuk perangkap tanpa disadarinya sama sekali.

Ooo)))(((ooo

Setelah menerima kabar dari Tong Hoa melalui merpati pos, Tong Ou benar-benar gembira setengah mati. Segala sesuatunya berjalan sesuai rencana, kelancaran yang di luar dugaan ini membuatnya kegirangan.

Semenjak berhasil menarik Sangkoan Jin bergabung dengan kelompoknya, sampai meracuni Tio Kian hingga mati, dan sekarang menjebak Tio Bu-ki untuk melenyapkan Sangkoan Jin, pada hakekatnya semua persoalan sudah ada dalam genggamannya, bagaimana mungkin dia tidak merasa girang?

Sekarang tinggal satu persoalan yang membuatnya kuatir, mampukah Tio Bu-ki menandingi Sangkoan Jin?

Mengenai persoalan ini, tentu saja dia juga mempunyai penyelesaian yang hebat, dan sekarang dia mulai menjalankan langkah berikutnya. Tidak terlalu sulit baginya untuk menjalankan rencana berikut, asal ia berhasil menemukan seseorang, maka semuanya akan beres.

Orang ini adalah seorang wanita, putri Sangkoan Jin, Siangkoan Ling-ling.

Dia mengenal Siangkoan Ling-ling sewaktu sedang membicarakan masalah pengkhianatan Sangkoan Jin terhadap perkumpulan Tay-hong-tong.

Terhadap gadis ini, boleh dibilang ia sudah menyukainya sejak pertemuan pertama, tapi sikap Siangkoan Ling-ling terhadapnya justru acuh tak acuh, hal ini membuatnya agak ragu dan tak bisa meraba apa yang sebenarnya dikehendaki nona itu.

Tapi dalam hal ini dia tak ingin terburu-buru, sebab masalah perkawinan baginya merupakan masalah yang kesekian. Ia selalu mengedepankan masalah penting lainnya ketimbang urusan pribadi. Asal perkumpulan Tayhong-tong bisa dilenyapkan, itulah saatnya ia menguasai dunia.

Oleh sebab itu terhadap Siangkoan Ling-ling dia selalu bersikap melindungi dan menyayangi, dia tidak berharap gadis itu menunjukkan rasa cintanya dalam waktu singkat.

Ia menyukai perasaan cinta yang mengalir bagai arus air, lembut, tak berisik, ia tak suka cinta yang meledak-ledak, mula-mula panas membara kemudian menyusut dan dingin kembali.

Yang paling penting lagi adalah Sangkoan Jin pernah berjanji kepadanya, selesai membangun usaha besar dan menguasai dunia, dia pasti akan menyerahkan putrinya untuk menjadi istrinya.

Sekalipun tidak terburu-buru, dia pun tidak mengijinkan Siangkoan Ling-ling jatuh hati kepada orang lain.

Apa mau dikata, ternyata Siangkoan Ling-ling telah jatuh hati kepada orang lain, dan orang itu justru merupakan musuh bebuyutannya.

Tentu saja orang itu adalah Tio Bu-ki.

Tak heran jika Tong Ou sangat membenci Tio Bu-ki, rasa bencinya adalah rasa benci yang sangat menakutkan, bukan sembarangan rasa benci. Sedemikian besarnya rasa benci itu hingga memungkinkan dia membunuh lawannya setiap saat.

Tapi Tong Ou tidak berharap Tio Bu-ki mati secara utuh, mati secara cepat. Dia ingin menyiksanya perlahan-lahan, agar dia menyesal, agar dia melewatkan sisa hidupnya dalam kebencian dan penyesalan. Sebab itulah dia sengaja membebaskan Tio Bu-ki dari Benteng Keluarga Tong, kemudian sengaja mengatur rencana Naga Kemala Putih, agar Tio Bu-ki datang untuk membunuh Sangkoan Jin.

Dia punya cara untuk membuat Tio Bu-ki tahu kalau rencana keji yang mengaturnya membunuh Sangkoan Jin adalah rencana keji dari Benteng Keluarga Tong, agar dia menyesal sepanjang masa.

Jika seseorang berada dalam kondisi menyesal, kepandaian silatnya pasti akan merosot tajam, itulah sebabnya dia mengatur pertarungan satu lawan satu dengan pemuda itu di saat setelah rencana Naga Kemala Putih terlaksana.

Dalam keadaan sedih dan menyesal, Tio Bu-ki pasti tak dapat berkonsentrasi secara baik. Saat itulah dia akan mengalahkan anak muda itu, agar semangat dan cita-citanya hancur berantakan.

Semua ini tentu saja membutuhkan perencanaan.

Tapi, mungkinkah semua yang dirancang akan terlaksana sesuai dengan harapan? Tak seorang pun yang tahu, tentu saja, kecuali Thian. Tapi ia tetap percaya diri, ia yakin kemenangan tetap berpihak kepadanya.

Kini, dengan penuh percaya diri dia berjalan menuju ke kamar tidur Siangkoan Ling-ling.

Sejak Siangkoan Ling-ling menderita luka tusukan Bu-ki di tenggorokannya gara-gara ingin menyelamatkan nyawa ayahnya, dia selalu berbaring di ranjangnya, sedemikian lemah kondisi tubuhnya membuat ia sama sekali tak mampu bergerak.

Waktu itu Sangkoan Jin sedang pergi untuk menerima serah terima benteng Siangkoan-po, sebenarnya gadis ini ingin ikut, namun setelah dibujuk Tong Ou akhirnya dia urung pergi. Tong Ou berjanji akan mengantarnya sendiri ke sana setelah beristirahat beberapa hari.

Bila nanti Sangkoan Jin setuju dengan usul ini, tentu saja Siangkoan Ling-ling tak bisa membangkang lagi.

Padahal keputusan ini yang diharapkan Tong Ou, karena lagi-lagi mereka sudah terjebak dalam siasatnya.

Tong Ou memang sengaja berharap Siangkoan Ling-ling tidak turut serta dalam perjalanan itu, agar ia bisa melaksanakan rencana berikut. Kendati cintanya terhadap Siangkoan Ling-ling bertepuk sebelah tangan, namun dia sangat memahami watak serta tabiat gadis ini. Dalam melaksanakan rencana berikutnya, dia justru hendak memanfaatkan rasa bakti dan sifat lembut dari Siangkoan Ling-ling itu.

Setelah mengetuk pintu dua kali, ia membuka pintu dan berjalan masuk.

Siangkoan Ling-ling bersandar di pembaringan, seorang dayang sedang menyuapinya makan nasi. Ketika Tong Ou masuk ke dalam ruangan, baru saja gadis itu menyelesaikan makannya.

Ia berpaling sambil melemparkan sekulum senyuman kepada Tong Ou. Setiap kali Tong Ou datang berkunjung, dia memang selalu menampilkan wajah yang sama.

Menanti dayang sudah berlalu sambil membawa sisa mangkuk dan piring, Siangkoan Ling-ling baru berkata, “Silahkan duduk!”

Tong Ou mengambil tempat duduk di kursi yang semula ditempati si dayang. Ia menyodorkan sebuah kotak kepada gadis itu.

“Apa isi kotak ini?” tanya Siangkoan Ling-ling sambil menerimanya. “Buka saja sendiri!”

Siangkoan Ling-ling segera membuka kotak itu, tapi ia segera berseru tertahan.

“Jinsom berusia seribu tahun?”

“Benar! Kebetulan ada orang yang membawanya dari wilayah Timurlaut dan kubeli. Aku tahu kondisi badanmu amat lemah, perlu jinsom semacam ini untuk memulihkan kembali kekuatan tubuhmu.”

“Benda ini mahal harganya, aku tak pantas untuk menerimanya...”

“Kenapa tak boleh? Biar kusuruh orang memasaknya dengan ayam tim, pasti baik untuk tubuhmu!”

“Jangan!”

“Kenapa jangan? Aku yang menghadiahkan untukmu, aku berharap kesehatan badanmu bisa segera pulih seperti sedia kala.”

“Sekarang aku sudah sehat sekali, biar kusimpan saja kedua biji jinsom itu!”

“Menyimpannya?” Tong Ou pura-pura bertanya. Padahal ia sangat paham, dengan watak seperti gadis ini, dia pasti akan menyimpan benda yang sangat berharga itu untuk ayahnya. Dan inilah titik kelemahan yang digunakan Tong Ou, titik kelemahan yang digunakan untuk melaksanakan rencana berikutnya.

Dalam kedua potong jinsom itu sudah dibubuhi racun yang sangat ganas, racun yang sangat mematikan.

“Boleh aku menyimpannya?” kembali Siangkoan Ling-ling bertanya.

“Tentu saja boleh,” jawab Tong Ou, “benda ini sudah kuberikan kepadamu, terserah apa yang hendak kau perbuat!”

“Terima kasih banyak!” seru Siangkoan Ling-ling kegirangan. “Antara kita berdua masa masih diperlukan kata terima

kasih?” ujar Tong Ou sambil makin mendekat.

Siangkoan Ling-ling tertawa manis, perlahan kepalanya digeser sedikit ke samping.

“Padahal seharusnya kau yang makan kedua jinsom itu!” kembali Tong Ou berkata.

“Kenapa?”

“Agar kau cepat sembuh sehingga dapat secepatnya mendampingi ayahmu lagi!”

“Aku sudah sehat, coba lihat...” sambil berkata ia bangkit dari tidurnya.

Buru-buru Tong Ou memayangnya, tapi segera ditampik gadis itu. Ia turun dari ranjang, berjalan dua langkah ke depan dan serunya lagi, “Coba lihat, bukankah aku telah sehat kembali?”

“Benar, coba berjalanlah lagi berapa langkah!”

Padahal Tong Ou memang berharap Siangkoan Ling-ling bisa sehat lebih awal sehingga dapat segera berangkat ke benteng Siangkoan-po dan membujuk Sangkoan Jin minum jinsom beracun itu. Bila tenaga dalamnya mengalami pukulan besar, Tio Bu-ki akan mendapat kesempatan untuk membuat perhitungan dan cukup tangguh untuk menghajarnya.

Tentu saja Siangkoan Ling-ling tidak menyangka sejauh itu, kembali ia berjalan berapa langkah sambil ujarnya, “Bukankah aku dapat berjalan dengan baik? Bagaimana kalau besok juga aku berangkat mencari ayahku?”

“Jika kau memang ingin sekali, tentu saja aku akan menemanimu.”

“Sungguh?”

“Kapan aku pernah membohongimu?” Siangkoan Ling-ling kegirangan setengah mati, saking gembiranya hampir saja ia jatuh terjerembab. Untung Tong Ou segera memeluknya dan sekalian menarik gadis itu ke dalam rangkulannya.

Dengan wajah tersipu-sipu Siangkoan Ling-ling menyandarkan kepalanya di atas dadanya, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan, sementara jantungnya berdebar keras.

Ooo)))(((ooo

Karena besok akan meninggalkan Benteng Keluarga Tong, tentu saja Tong Ou harus melaporkan segala lebih dahulu kepada Lo-cocong, si Nenek Moyang.

Lo-cocong memang amat menyayangi Tong Ou, semua keputusan yang diambilnya, boleh dibilang tak satu pun yang tidak ia setujui, biasanya ia malah menunjang segala rencananya.

Tetapi untuk cara Tong Ou menghadapi Tio Bu-ki, Lo-cocong mengajukan sedikit usul, katanya, “Aku dapat memahami perasaan hatimu, aku pun tahu betapa benci dan dendammu terhadap Tio Bu- ki, tapi kau harus ingat, sekarang adalah pertarungan antara dua perkumpulan besar, jangan sekali-kali karena urusan pribadi, kau membuat masalah besar jadi terbengkalai!”

“Tak mungkin sampai begitu, Lo-cocong!” jawab Tong Ou. “Tidak mungkin? Seandainya setelah tiba di Siangkoan-po

ternyata Ling-ling tidak segera menyerahkan jinsom itu kepada Sangkoan Jin, apa jadinya?”

“Akan kugunakan bujuk rayu untuk mempengaruhi jalan pikirannya, aku yakin dia pasti akan melakukannya.”

“Kau yakin akan berhasil?”

“Tentu saja, aku sudah sangat memahami tabiatnya, semua tingkah lakunya sudah kuketahui bagai melihat jari tangan sendiri.”

“Bila Sangkoan Jin menemukan gejala kurang beres hingga menaruh curiga?.”

“Mana mungkin? Racun buatan Benteng Keluarga Tong adalah racun yang hebat, siapa yang bisa merasakannya?”

“Seandainya dia mengetahui rahasia ini? Aku bilang seandainya...”

“Seandainya ketahuan pun aku tidak takut!” “Kenapa?” “Sebab racun yang kugunakan kali ini adalah racun hasil olahan baru, baru pertama kali ini keluarga Tong mencoba menggunakan resep ini. Jadi seandainya ketahuan, aku dapat menyangkal kalau racun itu bukan berasal dari keluarga Tong!”

“Dia akan mempercayainya?”

“Pasti percaya. Pertama, dia tak punya alasan untuk mencurigai kita yang meracuninya. Kedua, aku malah akan menunjukkan daftar resep racun keluarga Tong kepadanya. Tidak mungkin dia bakal menemukan kaitan antara resep baru itu dengan resep lama. Dan yang paling penting, kurasa dia tak nanti akan merasakannya!”

“Kau tidak kelewat percaya diri?”

“Aku mewarisi tabiat ini dari leluhur, Lo-cocong!”

“Ha ha ha ha... bagus, bagus sekali!” Lo-cocong tertawa tergelak. “Aku ingin berandai-andai lagi, seandainya racun itu gagal meracuni Sangkoan Jin, apa yang akan kau lakukan?”

“Maka yang bakal mati adalah Tio Bu-ki! Kita semua tak bakal rugi apa-apa, kecuali tentu saja aku sendiri yang akan merasa menyesal sekali.”

“Kau dapat berpikir sejauh itu, hal ini menunjukkan kalau kau memang sudah matang, dapat memimpin semua persoalan yang ada,” dengan perasaan gembira Lo-cocong berkata. “Bukan saja kau telah memimpin Benteng Keluarga Tong, bahkan dapat pula memimpin dunia yang lebih luas, tentu saja setelah berhasil memusnahkan Tay-hong-tong!”

“Lo-cocong, aku tak akan membuatmu kecewa, berdasarkan semua kemungkinan yang bakal terjadi, kau percaya bukan kalau aku tak akan melupakan kepentingan umum demi kepentingan pribadi?”

“Aku percaya, tentu saja aku percaya!”

Lo-cocong benar-benar gembira, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Tong Ou dapat menangkap rasa gembira yang meliputi perasaan neneknya, dia ikut tertawa. Selesai tergelak, tanyanya lagi, “Kapan Tong Hoa tiba di sini?”

“Aku perintahkan dia untuk berdiam sementara waktu di dekat Gedung Keluarga Tio. Dia harus mengawasi terus gerak-gerik Wi Hong-nio, dia baru kuijinkan pulang setelah yakin rencana Naga Kemala Putih telah selesai dilaksanakan.” “Tepat sekali keputusan ini, cuma dia masih harus melakukan satu pekerjaan lagi.”

“Oh ya? Pekerjaan apa?”

“Bunuh Pek Giok-khi, pemilik Pesanggrahan Kemala Putih!” Tong Ou agak tertegun, sesaat kemudian ia baru bertanya, “Kenapa?”

“Kau anggap Pek Giok-khi masih ada nilainya untuk tetap dipertahankan?”

Tong Ou tidak segera menjawab, ia berpikir sejenak kemudian baru berkata, “Siapa tahu di kemudian hari kita masih butuh kemampuannya.”

“Aku rasa tak akan pernah. Coba bayangkan saja, dia sudah kita beli semenjak belasan tahun berselang, tapi baru hari ini kita pakai jasanya satu kali, bahkan sebenarnya dalam urusan kali ini, kita juga tidak harus menggunakan jasanya, bukan begitu?”

Tentu saja benar. Perkataan Lo-cocong ini segera menyadarkan Tong Ou bahwa jalan pikiran serta kemampuan Lo- cocong dalam menganalisa dan mengambil kesimpulan masih sangat hebat. Kemampuannya sama sekali tidak menunjukkan gejala mundur hanya karena usia. Maka segera jawabnya, “Segera akan kukirim surat perintah, agar Tong Hoa segera melaksanakan tugas ini!”

“Bagus sekali! Dengan tindakan ini maka rencana Naga Kemala Putihmu dijamin tak bakal meleset, mengerti?”

Tong Ou mengiakan dan segera berpamitan, dengan menulis sepucuk surat rahasia, ia perintahkan orang untuk mengirimnya melalui merpati pos.

Ooo)))(((ooo

Matahari tengah hari panasnya bukan kepalang, sedemikian teriknya, membuat sekujur tubuh Bu-ki bermandikan peluh.

Sepanjang jalan, beberapa kali ia ingin berhenti untuk beristirahat, menunggu sampai matahari condong ke langit barat, baru melanjutkan kembali perjalanannya. Tapi setiap kali teringat kalau tempat itu sudah tak jauh dari rumah kediamannya, dia lalu tidak memperdulikan betapa teriknya matahari untuk tetap melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, dari cerita orang-orang, ia sudah mengetahui kabar tentang kalahnya Tayhong-tong oleh Benteng Keluarga Tong. Ia juga tahu kalau Sangkoan Jin telah menguasai Siangkoan-po dan berada di garis paling depan untuk menghadapi Tayhong-tong. 

Ia sempat berpikir, cara yang akan digunakan Sangkoan Jin untuk menghadapi serangan Benteng Keluarga Tong yang begitu hebat serta memunahkan ancaman bahaya terhadap Tayhong-tong. Dia juga pernah berpikir, dengan hanya mengandalkan kekuatan Sugong Siau-hong seorang, mampukah dia mempertahankan keutuhan Tayhong-tong?

Dia tidak tahu dan tidak mampu menjawab. Sekalipun ia cerdas dan terlatih baik, tetap saja ia gagal mengambil kesimpulan. Dalam keadaan begini, dia hanya bisa menghadapinya selangkah demi selangkah.

Rumah sudah muncul di hadapannya. Yang membuatnya tercengang adalah mengapa bangunan itu tak nampak terbengkalai. Mengapa semuanya teratur rapi dan bersih? Siapa yang masih berdiam dalam Gedung Keluarga Tio? Dia percaya tak akan ada orang di situ, lalu siapa yang telah membenahi bangunan itu?

Dia mendorong pintu dan masuk. Jawaban pun segera muncul di depan mata.

Wi Hong-nio sedang duduk di gardu, ketika melihat Bu-ki datang, ia segera melompat bangun dan berlarian menghampiri pemuda itu.

Sesuatu perasaan aneh yang membuatnya tercengang sekilas melintas di benak Tio Bu-ki.

Ooo)))(((ooo Berjumpa dengannya, mengapa Hong-nio tidak

menampakkan rasa girang atau gembira? Bagaimana caranya ia bisa

meninggalkan Benteng Keluarga Tong?

Dia ikut berlari menyongsong kedatangan gadis itu. Ia menggenggam tangan Hong-nio erat-erat, dengan perasaan girang yang meluap-luap memanggil namanya, lalu bertanya, “Bagaimana caranya kau meninggalkan Benteng Keluarga Tong?” Wi Hong-nio balas menggenggam tangan Bu-ki erat-erat, sahutnya, “Kita tak usah membicarakan dulu soal itu. Cepat ikut aku, akan kuperlihatkan sesuatu padamu!”

Ia segera mengajak Bu-ki menuju ke ruang rahasia yang biasa digunakan ayahnya semasa masih hidup dulu. Mereka masuk, membuka ruang rahasia, mengeluarkan buku harian dan menyerahkannya ke tangan si pemuda.

Bu-ki tahu benda ini pasti sesuatu yang sangat penting, maka ia segera membuka dan membacanya.

Tulisan yang muncul di hadapannya adalah tulisan yang amat dikenalnya. Tak heran kalau rasa haru dan sedih seketika menyergap hatinya.

Semakin dibaca, perasaannya semakin bergolak, akhirnya dia naik pitam, gusar sekali. Dengan wajah penuh amarah dia mendongakkan kepalanya dan memandang perempuan itu.

Dengan penuh pengertian Wi Hong-nio menganggukkan kepalanya, ia berkata, “Pergilah untuk menyelesaikan persoalan ini, aku akan menanti disini, segala sesuatunya kita bicarakan lagi sekembalimu kemari!”

Bu-ki mengangguk dan segera beranjak pergi dari situ, perasaannya saat itu ibarat sebaskom api yang sedang membara. Dengan nafsu meluap dan amarah yang tak terkendali ia segera berangkat menuju ke benteng Siangkoan-po.

Rasa benci dan dendam telah menutup kesadarannya, dia seakan sudah melupakan segala sesuatu. Lupa untuk menanyakan persoalan yang seharusnya ditanyakan dulu.

--Bagaimana caranya Wi Hong-nio bisa keluar dari Benteng Keluarga Tong?

--Dari mana buku harian itu diperoleh? Bagaimana bisa ditemukan secara tiba-tiba?

Seandainya ia tetap berkepala dingin dan memikirkan segala sesuatu dengan lebih cermat, seharusnya tak sulit untuk menemukan banyak hal yang aneh dan mencurigakan dari kata-kata Wi Hong-nio. Dia pasti segera akan bersangsi dan menaruh curiga atas keaslian buku harian itu.

Tampaknya Tong Ou sudah memperhitungkan sampai di situ. Ia memperkirakan kejiwaan lawannya, setelah membaca buku harian itu, ia tahu dalam keadaan gusar dan penuh diliputi perasaan dendam, Bu-ki pasti akan segera meninggalkan tempat itu. Ketika amarahnya mulai mereda, mungkin dia sudah tiba di benteng Siangkoan-po dan saat itu, biarpun ingin ditanyakan, segala sesuatunya sudah terlambat!

Seperti inilah hidup manusia di dunia. Banyak kejadian memang berlangsung dalam keadaan seperti ini. Dalam kobaran dendam dan benci, orang gampang terlena, lupa untuk menyelidiki dulu persoalan yang sebenarnya, lupa untuk menelitinya secara mendalam. Ketika peristiwa sudah terjadi, menyesal tak ada gunanya, karena bila nasi sudah jadi bubur, tak mungkin semuanya dipulihkan kembali seperti sedia kala.

Mungkin inilah yang disebut manusia dipermainkan nasib.

Hanya saja, kadang-kadang cara manusia dipermainkan nasib bukan hanya itu.

Ooo)))(((ooo

Senja, matahari sore sudah hampir tenggelam di ujung langit. Seperti di hari-hari biasa, Pek Giok-khi mulai memasang lampu lentera dan menggantungkannya di depan pintu.

Pesanggrahan 'Pek-giok-tay', tiga huruf yang besar nampak memantulkan cahaya yang terang ketika tertimpa cahaya lentera.

Dengan bangga dia mengawasi sebentar papan nama sendiri yang berwarna emas itu. Baru kemudian balik ke dalam rumah, duduk di depan meja dan mulai mengerjakan pekerjaan malamnya, menulis huruf indah...

Kepandaiannya menulis adalah yang terhebat di wilayah itu.

Dengan hanya menjual beberapa lembar tulisannya, ia sudah bisa hidup cukup. Namun ia tak pernah merasa puas akan hasil itu, dia selalu ingin memperoleh uang lebih banyak lagi.

Dia memang butuh uang banyak, karena ia perlu membiayai semua kesenangannya, kesenangan yang memerlukan uang seperti koleksi barang antik, menikmati wanita cantik, membeli pakaian mewah...

Oleh sebab itu mau tak mau dia harus mengkhianati Tayhong-tong, diam-diam bekerja sebagai mata-mata Benteng Keluarga Tong. Membuat buku harian palsu untuk Benteng Keluarga Tong, Tong Hoa telah menghadiahkan uang sebanyak seratus tahil perak. Dia harus pergi merayakannya, pergi menikmatinya. Dan dia memang berniat begitu, hanya saja karena malam belum menjelang tiba maka ia belum berangkat. Ia senang akan malam yang sepi dengan cahaya lentera yang benderang, meneguk secawan arak, menikmati dua tiga macam hidangan didampingi satu dua orang gadis cantik. Hal semacam inilah merupakan kesenangannya yang paling utama dalam hidupnya.

Malam ini, dia pun berencana untuk menikmati hiburan semacam itu. Untuk menunggu datangnya waktu, ia mulai menulis berapa huruf. Sedang asyik menulis, mendadak ia menghentikan pitnya, mendongakkan kepala dan menjerit kaget.

Ternyata Tong Hoa sudah berdiri di hadapannya, mengawasi wajahnya dengan sekulum senyuman.

Sejak kapan Tong Hoa muncul di situ? Ia sama sekali tidak merasa apa-apa. Kejadian semacam ini belum pernah dialaminya sejak dulu.

Biasanya, asal ada langkah kaki mendekat pintu gerbang, ia pasti akan mendengarnya, sekalipun perhatiannya sedang terpusat untuk menulis huruf, ia tetap akan menghentikan gerakan pitnya, bangkit berdiri dan menyambut kedatangan tamunya.

Kunci sukses bagi seorang penjual jasa adalah keramah- tamahan dan sikap yang hormat, dia tak ingin tamunya menunggu terlalu lama.

Tapi hari ini, ternyata ia tidak mendengar suara langkah kaki Tong Hoa, mungkinkah lantaran dia kelewat gembira, kelewat bangga?

Buru-buru dia bangkit berdiri, ujarnya kepada Tong Hoa sambil tertawa, “Tong-kongcu, ada keperluan?”

“Benar!” Tong Hoa manggut berulang kali. “Apa yang harus kulakukan?”

“Sederhana sekali, aku percaya setiap orang dapat melakukannya.”

“Oh ya? Apa maksud Tong-kongcu? Aku tidak paham...” “Jelasnya, aku hanya ingin kau melakukan tiga kata saja.” “Tiga kata? Menulis buku harian? Lagi-lagi menulis buku

harian?”

“Bukan!” “Lalu...”

“Segera pergilah mati!” “Segera pergilah mati?” Pek Giok-khi seakan tidak paham dengan kata-kata itu. Dia mengulang sekali lagi kata-kata itu dengan nada yang lebih berat.

“Aku ingin kau segera pergi mampus!”

Dengan sangat terperanjat, Pek Giok-khi mundur selangkah, matanya terbelalak lebar, diawasinya wajah Tong Hoa tanpa berkedip, “Apa kau bilang?”

“Mampus! Aku menyuruh kau segera mampus, belum mengerti?” Paras muka Pek Giok-khi berubah hebat, badannya gemetar keras, terbata-bata ia bertanya, “Kenapa?”

“Alasan tua semacam ini pun tidak kau pahami? Tentu saja untuk melenyapkan saksi dan membungkam mulutmu untuk selamanya!”

“Melenyapkan saksi dan membungkam mulutku? Sudah sekian tahun aku bekerja untuk kalian, pernahkah kubocorkan rahasia penting kalian?”

“Belum pernah.”

“Mengapa mulutku harus dibungkam?”

“Sebab kejadian apa pun pasti ada yang pertama kali, kami tak bisa menduga atau meramalkan semua persoalan yang ada. Ini namanya sedia payung sebelum hujan!”

“Aku...”

“Kau tak usah banyak bicara lagi. Aku amat menyukaimu, tapi aku harus melaksanakan perintah yang kuterima. Sekarang, kau akan menghabisi nyawamu sendiri, atau...”

Mendadak Pek Giok-khi menyambar pit yang ada di meja dan melemparkannya ke arah Tong Hoa. Pada waktu yang sama tubuhnya berputar cepat ke belakang, kemudian kabur secepat- cepatnya

meninggalkan tempat itu.

Tampaknya Tong Hoa sudah menduga sampai ke situ, ia segera bergerak cepat melintangkan tubuhnya ke samping, begitu lolos dari sambitan pena, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerkam ke muka, pedangnya disodokkan ke depan lalu ditarik ke belakang...

Semburan darah segar segera memancar keluar dari punggung Pek Giok-khi, tanpa bersuara tubuhnya roboh tersungkur di atas tanah. Tong Hoa membalikkan badan, mengambil selembar kertas dari atas meja, membersihkan noda darah yang membasahi ujung pedangnya, lalu sambil menyarungkan kembali senjatanya, ia berjalan keluar meninggalkan Pesanggrahan Kemala Putih.

Ooo)))(((ooo

Nasib selalu mempermainkan manusia, kata ini memang aneh tapi begitulah kenyataannya. Mimpi pun Tong Hoa tidak menyangka kalau perhitungan dan perkiraannya kali ini meleset jauh. Dia tak mengira telah melakukan kesalahan besar.

Dalam anggapannya, tusukan maut yang dilancarkannya pasti telah merenggut nyawa Pek Giok-khi.

Dia keliru besar!

Tapi kalau mesti berbicara jujur, kesalahan ini tak bisa dibebankan ke pundaknya seorang. Manusia semacam Pek Giok-khi adalah manusia langka, belum tentu dalam sepuluh ribu orang terdapat satu orang seperti dia.

Orang biasa jantungnya terletak di sebelah kiri, maka tusukan yang dilancarkan Tong Hoa tadi, seperti pada umumnya, dihunjamkan ke dada kiri Pek Giok-khi.

Sayang dia tak menyangka, kalau Pek Giok-khi punya kelainan, letak jantungnya tidak di sebelah kiri tapi lebih bergeser ke arah kanan.

Oleh sebab itu tusukan tersebut sama sekali tidak membuatnya tewas seketika.

Pek Giok-khi pun terhitung manusia cerdik, begitu kena tusukan pedang, tubuhnya langsung tersungkur ke tanah dan pura- pura mati. Menanti berapa saat kemudian, setelah yakin Tong Hoa telah pergi jauh, dia baru berusaha merangkak bangun.

Dia tahu sudah kehilangan banyak darah, walaupun tusukan tersebut tidak membuatnya tewas seketika, namun dengan kondisi luka seperti ini, biarpun tabib Hoa To hidup kembali belum tentu nyawanya bisa diselamatkan.

Maka dengan langkah sempoyongan dia merangkak masuk ke dalam kamar tidurnya, membuka peti rahasianya dan mengambil keluar buku asli yang diserahkan Tong Hoa kepadanya.

Memang begitulah kebiasaan yang dia lakukan selama ini, setiap kali selesai melaksanakan satu tugas, ia selalu menyimpan bahan aslinya ke dalam peti rahasia. Baginya, menyimpan sedikit bukti akan lebih menguntungkan, siapa tahu suatu ketika akan diperlukan, seperti halnya sekarang, kalau toh pihak Benteng Keluarga Tong bersikap keji terlebih dulu, tentu saja dia akan menghadapi pengkhianatan ini dengan tindakan tidak setia kawan.

Setelah mengambil keluar buku asli, tanpa sempat lagi membalut lukanya, dengan menahan rasa sakit yang merasuk hingga ke tulang, ia berjalan keluar meninggalkan pesanggrahan Pek-giok-tay.

Dia berjalan dan berjalan terus hingga tiba di gedung keluarga Tio, setiap kali jatuh terjerembab, dia merangkak bangun dan berjalan lagi.

Akhirnya ketika tiba lebih kurang satu kaki dari pintu gerbang gedung keluarga Tio, dia tak sanggup menahan diri lagi, “blaaam!” tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.

Tapi ia berusaha meronta terus, seinci demi seinci dia merangkak terus, tangannya sudah meraih ujung pintu gerbang, tapi sayang tenaganya sudah lenyap tak berbekas, kelima jarinya mengendor dan akhirnya terjatuh ke tanah bagaikan segenggam pasir.

Meskipun begitu, tangan kirinya masih tetap menggenggam kitab asli itu, memegangnya erat-erat.

Tong Hoa telah kembali ke tempat penginapannya, memesan sayur dan arak dan menikmatinya seorang diri, dia harus merayakan kemenangan dan keberhasilan yang telah diraihnya.

Selama berada di Benteng Keluarga Tong, dia selalu ingin untuk meraih posisi yang lebih tinggi. Dia tahu, tidak mungkin baginya untuk menempati posisi yang diduduki Tong Ou saat ini, sebab tampaknya Lo-cocong amat menyayangi Tong Ou. Di samping itu, Tong Ou memang berbakat menjadi seorang pemimpin, memiliki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa. Tapi bagaimana dengan Tong Koat? Dia berpendapat, kemampuannya sendiri masih jauh

melebihi kemampuan orang itu, jadi sepantasnya bila posisinya berada jauh di atas posisi Tong Koat.

Setelah berhasil menjalankan siasat Naga Kemala Putih ini, sekembalinya ke benteng nanti ia berencana untuk memamerkan jasa di hadapan Lo-cocong. Siapa tahu si nenek moyang jadi senang dan mengutusnya untuk menjalankan tugas penting lainnya. Bila hal ini terjadi, sudah pasti dia akan semakin terpandang.

Terhadap kemampuannya, ia selalu merasa bangga dan percaya diri. Maka cawan pun diisinya penuh-penuh, kemudian sekali teguk dia habiskan seluruh isi cawannya.

Ketika meletakkan kembali cawannya ke meja, mendadak suatu perasaan tak tenang melintas dalam hatinya.

Mengapa perasaannya tak tenang? Ia tidak tahu pasti, sambil menggenggam cawan araknya dia mulai berpikir dengan seksama.

Ia mulai membayangkan kembali semua tingkah lakunya selama ini, dimulai dari melaksanakan siasat Naga Kemala Putih. Setiap langkah yang telah diperbuat kembali diingat dan dibayangkan secara cermat. Dia ingin tahu adakah kesalahan yang telah dilakukannya. Lebih penting lagi adalah mencari tahu persoalan apa yang tiba-tiba membuat perasaannya tak tenang.

Tapi, perasaan tak tenang tetap berkecamuk dalam benaknya.

Mengapa bisa begitu?

Tiba-tiba ia melompat bangun. Ah benar! Dalam hal ini tidak boleh ada kesalahan yang dia lakukan. Sekarang dia teringat, ternyata ada satu hal dia telah lakukan secara ceroboh.

Setelah menghabisi nyawa Pek Giok-khi, seharusnya ia menggeledah tubuh mayat itu serta seluruh bangunan rumahnya. Ia tak boleh membiarkan naskah asli Rencana Naga Kemala Putih terjatuh ke tangan orang lain, apalagi kalau sampai jatuh ke tangan orang Tay-hong-tong.

Kematian Pek Giok-khi pasti akan menimbulkan kegemparan, orang-orang Tayhong-tong pasti akan menggeledah seluruh isi rumah, mencari barang-barang peninggalannya untuk mencari tahu sebab musabab terjadinya pembunuhan ini. Andaikata Pek Giok-khi belum memusnahkan naskah asli tersebut, bukankah siasat Naga Kemala Putih terancam gagal dan berantakan?

Benar! Ternyata di sinilah letak kecerobohan yang membuat perasaannya tidak tenang.

Buru-buru dia keluar dari kamar dan segera berangkat menuju ke Pesanggrahan Pek-giok-tay dengan langkah cepat. Ketika hampir tiba, hatinya mulai tenang. Sebab di depan pintu Pesanggrahan Pek-giok-tay tidak ditemukan sesosok bayangan manusia pun!

Jika mayat Pek Giok-khi ditemukan orang, kabar berita ini pasti akan tersebar dalam waktu singkat. Di depan pintu gerbang Pesanggrahan Kemala Putih pasti akan dikerumuni orang-orang yang ingin tahu, datang untuk memeriksa apa yang terjadi.

Tapi kini tak seorang pun kelihatan, tandanya kematian Pek Giok-khi belum diketahui orang. Sungguh kebetulan sekali!

Dengan langkah lebar Tong Hoa masuk ke dalam Pesanggrahan Kemala Putih, tapi ia tertegun, berdiri terperangah di depan pintu.

Bukankah mayat Pek Giok-khi roboh tersungkur di tempat itu? Tapi sekarang, kecuali bercak darah yang masih menggenangi lantai, mayatnya sudah hilang tak berbekas.

Ia melihat bercak darah itu menggenangi lantai di depan pintu hingga ke ruang dalam, buru-buru dia ikuti bercak darah itu hingga masuk ke dalam kamar Pek Giok-khi, kemudian dia pun menyaksikan sebuah peti yang penuh bercak darah, sebuah peti rahasia.

“Celaka!” pekiknya di dalam hati.

Buru-buru dia lari keluar dan menelusuri jalan yang penuh dengan bercak darah, mengikuti terus hingga tiba di depan pintu gerbang Gedung Keluarga Tio. Sekarang ia sudah tahu apa yang telah terjadi, tampaknya Pek Giok-khi dengan membawa naskah ask telah mendatangi gedung keluarga Tio dan bermaksud menyerahkannya ke tangan Wi Hong-nio.

Tapi perasaan hatinya kini sudah jauh lebih tenang, karena ia sudah menemukan mayat Pek Giok-khi, mayat itu terkapar di depan pintu masuk.

Dia menghampiri mayat itu, membolak-balikkan badannya dan menggeledah seluruh isi saku Pek Giok-khi. Namun tak ada yang ditemukan.

Ia mulai keheranan, tercengang, kenapa tidak ditemukan sesuatu apa pun? Sekali lagi digeledahnya seluruh saku mayat itu, tetap tidak dijumpai sesuatu apa pun.

Dia mencoba memeriksa keadaan di sekelilingnya, sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda kalau ada orang yang pernah mendatangi tempat itu. Lalu, apakah artinya dia sudah memusnahkan naskah asli itu sejak awal? Berarti tujuan kedatangannya adalah untuk mencari

Wi Hong-nio dan menuturkan kejadian yang sebenarnya, ataukah mungkin naskah asli itu sudah keburu diambil seseorang?

Untuk beberapa saat Tong Hoa berdiri sangsi, dia tak berani mengambil kesimpulan apa pun.

Menurut perkiraannya, sepertinya Wi Hong-nio belum tahu kalau di depan rumahnya terkapar sesosok mayat. Bila dia tahu ada kejadian seperti ini, dengan tabiatnya, sudah pasti jenasah tersebut akan segera dikuburnya atau menyuruh orang untuk menggotongnya pergi. Tak nanti dia membiarkan mayat itu tetap terbaring di sana.

Dalam hal ini dia merasa sangat yakin.

Itu berarti naskah aslinya telah diambil oleh seseorang yang kebetulan lewat tempat itu. Dia berpendapat perkiraannya paling mendekati kebenaran. Gedung Keluarga Tio terletak sedikit di luar kota, jarang orang berlalu-lalang di sana. Selama berapa hari tinggal di situ, belum pernah ia menyaksikan banyak orang yang lewat di sekitar sana.

Satu-satunya yang bisa membuat dia agak tenang adalah hasil perkiraannya. Tampaknya Pek Giok-khi datang ke sana untuk menuturkan kejadian yang sebenarnya kepada Wi Hong-nio, tapi ketika tiba di depan pintu dia sudah tak sanggup bertahan lebih jauh hingga akhirnya tewas di situ.

Lalu, apa yang terjadi dengan peti rahasia itu? Ia tak berhasil menemukan sebuah benda berharga pun dari saku Pek Giok-khi, tapi mengapa dia membuka peti rahasianya? Sengaja mengatur perangkap untuk menipunya? Pek Giok-khi pasti sudah menduga kalau dirinya bakal balik lagi kesana, dia pun kuatir dirinya belum tentu bisa mencapai gedung keluarga Tio sehingga menggunakan jurus tersebut untuk mengacaukan jalan pikirannya?

Tong Hoa sama sekali tak yakin. Dengan perasaan was-was dia meloncat ke atas atap rumah lalu memeriksa sekeliling bangunan itu.

Ia menyaksikan cahaya lentera masih bersinar terang di balik kamar Wi Hong-nio, tanda bahwa dia masih ada di dalam.

Setelah memeriksa keliling sejenak, dia lalu melompat turun, menyeret mayat Pek Giok-khi ke balik semak belukar kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa pasrah pada nasib. Kembali ke dalam kamarnya, Tong Hoa menghabiskan sepoci arak.