Mustika Gaib Bab 18

 
Bab 18

DARI ITU, Hong Pin meninggalkan loteng Gak-yang- louw, dengan menggunakan tongkat Tiok ciat-piannya, ia jalan menyusuri tepi telaga. Dengan menotol-notolkan tongkat Tiok-ciat-pian di depan, si pemuda buta berjalan ke selatan, ia mengikuti tepian telaga, akhirnya, perjalanan kian lama kian jauh juga, telaga Tong-teng telah ditinggalkannya.

Meskipun tampak gerak langkah Hong Pin jalan dengan bantuan tongkat seperti lambat tapi kenyataan cepat, karena kadang kala meskipun sepasang matanya buta, ia dapat melompati batu-batu di tepi sungai. Hari itu matahari sudah doyong ke barat, siliran angin sudah berganti arah, telaga Tong-teng sudah jauh di belakang, kini hanya aliran anak sungai yang mengaliri air telaga.

Perjalanan kian lama kian sulit juga, karena ia sudah mesti jalan dengan melompati batu-batu besar, dan jalan tepian sungai mulai curam mendaki ke atas. Tepian di kedua tepi sungai melupakan tebing-tebing batu yang amat tinggi dan curam. Kalau saja orang biasa jalan di tepi sungai yang merupakan tebing-tebing curam itu pastilah ia sudah tergelincir jatuh dan masuk kecemplung di sungai, walau Hong Pin memiliki sepasang mata buta, ia seperti tidak mengalami kesulitan apapun, dengan bantuan tongkatnya, ia terus maju sambil lompatan. Satu saat mendadak saja Hong Pin menotolkan dengan keras tongkatnya pada batu, badannyapun melambung ke atas, lalu turun berdiri di sebuah batu, pandangan matanya ditujukan ke bawah, ia seperti sedang memperhatikan suara air sungai, tak lama baru ia duduk bersandar pada lamping batu, tongkatnya diletakkan di samping kiri, matanya memandang jauh ke depan ke depan ke seberang lamping tepi sungai. Sinar sang matahari sore yang akan terbenam menyorot wajah Hong Pin.

Di dalam apitan dua tebing curam, riak air sungai bergelombang, suara kericikannya air terdengar jelas di telinga si pemuda. Hong Pin duduk melamun di atas tebing di tepi sungai, lama ia duduk demikian rupa, entah apa yang dipikirkannya, hingga matahari menggelusur ke belakang balik sela puncak gunung, barulah dengan malas-malasan ia bangkit berdiri, lalu dibukanya baju luarnya kemudian baju dalamnyapun di-tanggalkan, ditumpuknya di atas tongkat Tiat-ciat-pian yang menggeletak di atas batu.

Dalam keremangan senja tampak kepolosan badan Hong Pin, sejenak ia memperhatikan keadaan dirinya, tangannya meraba-raba kulitnya yang halus kuning, pinggangnya ramping kedua betis kakinya licin mengkilat, bentuk potongan tubuh itu tidak mirip potongan badan seorang laki-laki, tapi itulah satu bentuk indah dari tubuh seorang gadis remaja. Setelah sekian saat Hong Pin memperhatikan dan meraba-raba potongan badannya, baru ia lompat terjun ke dalam sungai.

Pluuunnnnnnggggg . . . . . . . Hong Pin nyemlung ke sungai, ia berenang kian kemari, timbul tenggelam di permukaan air di bawah keremangan cahaya disenja hari. Rambutnya yang digelung sudah terurai basah, wajahnya yang kotor menjadi bersih licin menguning. Setelah sekian saat ia membersihkan badannya, berenang sepuas hati lalu lompat naik ke tepian, dengan sepasang matanya yang buta ia berlompatan naik ke atas. Tiba di samping tumpukan bajunya, Hong Pin berdiri, berulang kali ia berlompatan mengeringkan sisa- sisa air sungai yang masih melekat di tubuhnya, rambutnya berulang kali ditepas-tepaskannya. Rambut itu terurai panjang sampai di pinggang, itulah uraian rambut seorang gadis, bagian dadanya tampak tersembul keluar. Betis dan pahanya kuning licin. Wajahnya menunjukan kecantikan yang luar biasa. Kalau dibanding dengan kecantikan Siong In, wajah Hong Pin tidak kalah cantiknya, hanya sayang sepasang matanya buta. Setelah sisa-sisa air yang melekat pada tubuhnya menjadi kering, barulah ia mengenakan pakaian. Menggulung rambutnya digelung ke atas, dan dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan sebuah botol, dari dalam botol itu, ia menuangkan semacam cairan kemudian diulasnya ke wajahnya, maka wajah yang cantik itu kini sudah berubah menjadi wajah seorang pemuda tampan.

Si gadis buta Hong Pin, kembali menyamar menjadi seorang pemuda buta. Haripun tambah lama menjadi gelap, siang sudah merayap berganti malam. Bagi Hong Pin yang sepasang matanya buta apalah artinya pergantian siang dan malam, siang ia bisa berjalan mengandalkan tongkat dan pendengaran serta perasaannya yang tajam, malam baginya tak ada beda, bila lelah ia istirahat tidur, bila bangun ia melanjutkan jalannya. Malam itu setelah mandi dan dandan sebagai seorang pemuda buta, Hong Pin rebah telentang, di sela- sela batu, tongkat Tiok ciat-pian, diletakkan di sebelah kiri badannya kemudian kelopak matanya terpejam. Tapi baru saja ia mengatupkan sepasang matanya, telinganya yang menempel pada batu mendengar suara beberapa langkah kaki orang. Mendengar itu Hong Pin kaget, ia miringkan kepalanya, kini telinganya ditempelkan pada bumi mendengarkan suara itu datangnya dari arah mana. Setelah mendengar sekian saat mendadak saja Hong Pin bangun berdiri, lalu dengan tongkatnya, ia berlompatan di pinggiran sungai mengejar arah datangnya suara langkah kaki orang. Kalau saja sepasang mata Hong Pin tidak buta, ia bisa melihat di dalam kegelapan malam di atas lamping gunung tidak jauh di depannya tampak sinar sinar api obor bergerak-gerak kemudian lenyap di tikungan jalan gunung. Hong Pin hanya mengandalkan pada ketajaman pendengarannya, sering kali ia menempelkan telinganya pada lamping batu gunung untuk mendengar suara tapak-tapak kaki yang ramai. Setelah suara itu mendadak lenyap ia menengadahkan kepalanya ke atas, pikirnya, “Suara langkah kaki itu tidak kurang dari seratus orang, mereka jalan di arah lamping gunung, hmm, tengah malam buta begini mereka beramai-ramai mau bikin apa?”

Setelah berpikir begitu, Hong Pin lalu mencari-cari jalan untuk merambat naik ke atas. Dengan bantuan tongkat Tiok ciat-piannya, akhirnya ia tiba di atas jalan gunung, dimana tadi terdapat banyak api-api obor yang bergerak! Begitu tiba di atas jalan gunung Hong Pin mendekam di atas jalan menempelkan telinganya di tanah, mendengarkan langkah-langkah kaki orang. Kemudian tak lama ia sudah meletik bangun, lalu jalan menuju belokan jalan gunung. Angin malam berkesiur dingin, sinarnya rembulan menerangi empat penjuru dunia. Hong Pin terus jalan dalam kegelapan, berulang kali ia mendekam di atas jalan mendengar suara-suara langkah kaki orang, ia terus mengikuti gerak suara langkah kaki itu, akhirnya sampai fajar menyingsing. Hong Pin tidak tahu kini berada di tempat apa, dari suara ramainya burung-burung berkicau di angkasa, ia tahu kalau hari sudah berganti pagi. Selagi ia berdiri bengong, mencari-cari jejak suara langkah kaki orang, mendadak saja telinganya mendengar sayup-sayup irama suara seruling. Suara seruling itu sangat aneh kedengarannya, terdengar seperti suara ribuan tikus. Mendengar suara seruling itu, langkah kaki Hong Pin melangkah ke depan mencari dari mana datangnya suara suling. Hong Pin yang jalan dengan mata butanya, ia tidak tahu kini sudah berada di tempat apa. Sedangkan sayup-sayup suara seruling aneh yang mengeluarkan suara ribuan tikus masih terdengar terus. Sambil berdiri dengan tongkatnya Hong Pin memeriksa sekeliling tempat dimana ia berdiri, tongkat baja itu ditotol-totolkan ke depan kiri dan kanan, setelah memeriksa demikian rupa tahulah ia, kalau dirinya sedang berada di atas jalan lamping gunung, di depannya di pinggiran jalan lamping gunung merupakan jurang lembah, dan suara seruling tadi keluar dari dalam lembah. Di sekitar lembah dikurung oleh lamping-lamping gunung, jauh di angkasa tampak puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi menembusi awan. Dari angin yang bertiup dari depannya tahulah Hong Pin, bahwa itu merupakan lembah curam, ia mesti mencari jalan untuk menuruni jalan tebing turun ke dalam lembah. Suara suling yang keluar dari dalam lembah kian lama kian santer, suara itu kadang kala seperti iramanya angin malam yang berhembus, kadang kala berubah seperti suara mencicitnya ribuan tikus.

********0dwkz0lynx0mukhdan0********

HONG PIN yang telinganya lebih tajam dari manusia manapun, ia jadi heran, bagaimana suara seruling tadi bisa mengeluarkan suara ribuan tikus. Kalau dibilang suara yang keluar dari dalam lembah adalah suara dari ribuan tikus itulah juga tidak mungkin, karena telinga Hong Pin mana mungkin bisa dibohongi dengan irama seruling yang demikian rupa. Kalau saja sepasang mata Hong Pin tidak buta dari atas jalan lamping gunung itu ia bisa melihat pemandangan di bawah lembah, di sana sudah berkumpul tidak kurang dari seratus orang bertopeng hitam, pada setiap dada mereka mengenakan gambar lukisan Kalong. Berpuluh-puluh orang seragam hitam bertopeng berkumpul di bawah lembah, mereka menghadap lamping batu di atas tempat itu terdapat sebuah lubang goa yang tertutup oleh rimbunnya daun pohon, dan suara seruling tadi keluar dari mulut goa. Kalau melihat dari tingginya letak goa pada tebing lembah, sebenarnya tidaklah tinggi, karena letaknya goa dari dasar lembah hanya setinggi pohon Siong yang tumbuh tepat di depan goa, dan daun-daun pohon siong di atas sana, menutupi lubang goa hingga tak tampak jelas bagaimana dalamnya goa itu. Dan untuk memasuki lubang goa di atas tebing memang tidak terlalu sulit, dengan memanjat pohon siong yang tumbuh di depan goa, bisa segera lompat masuk ke dalam.

Pada waktu itu sinar matahari pagi baru mencorot keluar, tampak lima orang seragam hitam sudah memanjat pohon siong yang tumbuh di depan goa, setelah tiba di atas rimbunan daun-daun pohon siong, mereka serentak lompat masuk ke dalam lubang goa, dimana terdengar suara suling. Berpuluh-puluh seragam hitam mendongakkan kepala ke atas memperhatikan lima kawan mereka memanjat pohon dan menerjang masuk ke dalam goa. Tapi belum mereka berhasil lompat masuk menerjang ke dalam goa, mendadak terdengar suara lima kali jeritan menggantikan suara suling, kemudian disusul dengan terpentalnya lima sosok seragam hitam keluar goa, kelima sosok seragam hitam itu membentur ranting-ranting pohon, kemudian mereka jatuh di tanah. Di atas tanah berumput tubuh mereka kelejetan. Berpuluh-puluh orang seragam hitam menyaksikan lima kawan mereka berpentalan keluar dengan mengeluarkan suara jeritan, kemudian bergeletakan di tanah, mereka datang memeriksa ternyata pada setiap tubuh orang-orang yang jatuh terpental masing-masing terdapat beberapa ekor tikus menggigit tenggorokan. Suara jeritan dan kesakitan dari lima orang seragam hitam itu tak lama, karena setelah mereka roboh, kelejetan mendapat gigitan tikus tidak ampun lagi mereka binasa, kebinasaan mereka disusul dengan binasanya tikus-tikus yang menggigitnya. Kemudian tubuh seragam hitam bertopeng tadi berubah menjadi cairan biru. Maka lima sosok tubuh manusia dan beberapa ekor tikus telah binasa menjadi cairan warna biru membasahi bumi di pagi hari. Sementara itu suara seruling terdengar lagi membawakan suara ribuan tikus. Dalam suasana demikian rupa, dari rombongan orang- orang seragam hitam terdengar suara siulan panjang, keluar dari mulut si topeng hitam yang mengenakan lukisan Kalong Kuning di dada. Mendengar suara siulan itu puluhan orang topeng hitam dari golongan Kalong, semua berkumpul di tengah lembah, mereka bernaung di bawah rindangnya pohon menanti perintah dari pimpinannya. Si orang topeng hitam berlambang Kalong Kuning, setelah mengumpulkan kawan-kawan mereka lalu lompat melesat lari ke dalam semak-semak belukar yang tumbuh lebat di pinggir lembah. Di balik semak belukar di sana terdapat sebuah tenda hitam, di depan tenda sebelah kiri terdapat satu lukisan binatang Kalong berwarna biru, dan di sebelah kanan dari muka tenda terdapat lukisan buah Tho dan dua lembar daun menghias di atasnya. Setelah tiba di depan tenda, si topeng hitam berlambang Kalong Kuning berkata,”Sam lengcu. Lapor, regu Kalong Putih dan Kalong Kuning gagal menembusi barisan tikus-tikus penjaga goa. ”

Dari dalam tenda terdengar suara orang menggerendeng kemudian membentak, ”Menghadapi rombongan tikus saja kalian tak sanggup menerjang. Manusia-manusia gentong nasi . . . ”

“Tapi, tikus-tikus itu rupanya peliharaan orang peniup suling!” Potong si pelapor.

Dari dalam tenda terdengar lagi suara orang berkata, ”Berapa banyak tikus di dalam lubang goa itu?”

“Belum tahu. Karena orang-orang kita yang menerobos ke dalam, begitu mereka terpental ke luar, sebelum sempat memberi laporan tidak seorangpun yang bisa bernapas. ”

“Hmmm. Kalian siapkan panah berapi,” terdengar suara dari dalam tenda. “Hendak kulihat, apa orang itu masih sanggup sembunyi di dalam goanya. Dan apa yang bisa di bikin oleh tikus-tikusnya. ”

“Baik. ” Jawab si pelapor di depan tenda yang segera membalik badan, kembali pada rombongannya di tengah lembah. Berbarengan dengan berlalunya si pelapor bertopeng hitam dari depan tenda, maka dari dalam tenda keluar dua orang, seorang adalah laki-laki tua berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, rambutnya masih hitam, wajahnya kelimis tak tumbuh kumis atau selembar jenggot, dan seorang lagi adalah seorang gadis berusia tujuh belasan tahun.

Gadis itu mengenakan baju warna merah sedang di dadanya terdapat itu perhiasan berbentuk buah Tho berdaun dua. Dan begitu gadis tadi berada disamping kanan si orang tua ia bertanya,“Ayah, sebenarnya, di dalam goa itu terdapat orang macam apa?”

Orang tua berwajah klimis berambut hitam mendengar pertanyaan si gadis, ia kaget, memandang si gadis, lalu berkata, “Anak, sebaiknya kau jangan turut campur urusan. Pada dua tahun yang lalu sudah ku katakan, kau harus pulang dan berdiam di Hong-san mengurus ibumu, tidak tahunya kau terus keluyuran di rimba persilatan, dan di loteng Gak yang louw kau berkenalan dengan itu pemuda buta, yang telah membuat onar membunuh orang!”

Setelah berkata begitu, orang tua itu melangkah maju meninggalkan tenda menerobos semak-belukar menuju ke tengah-tengah lembah. Si gadis segera mengikuti langkah ayahnya, sambil jalan ia berkata, “Kalau ayah pulang, Siong Inpun pulang. Tapi kalau ayah masih campur urusan orang-orang bertopeng hitam ini, aku mesti turut ayah. ”

“Hmmm. Kau jangan bikin pusing aku. ” kata sang ayah “Urusan ini, bukan urusanmu. Kalau kau menghendaki nyawamu masih melekat di tubuh sebaiknya jangan mencampuri urusan ini. Aku berusaha agar kau jangan sampai ditarik masuk menjadi anggota golongan ”

Sampai di situ si orang tua klimis berambut hitam, yang bukan lain adalah Lo Siauw Houw, menghentikan kata-kata, ia menoleh ke belakang menatap wajah sang putri yang bukan lain adalah Siong In. Ternyata, setelah Siong In diajak pergi oleh Lo Siau w Houw meninggalkan Hong Pin di dalam loteng Gak-yang-louw ia langsung dibawa ke rombongan golongan Kalong. Semula Siong In kaget, begitu sang ayah membawa ia ke dalam rombongan orang-orang bertopeng hitam, dari golongan Kalong, karena ia tahu kalau golongan ini adalah orang- orang yang membuat teror terhadap diri keluarga Kang Hoo pada dua tahun yang lalu dan ia dengan gigih, telah turun tangan membantu Kang Hoo lolos dari cengkraman maut golongan aneh ini, sampai saat ini si pemuda yang pernah ia tolong itu belum tahu lagi kabar beritanya. Juga Siong In sadar tentunya diantara anggota anggota berseragam hitam berselubung hitam ini tentulah ada beberapa orang yang mengenali dirinya ketika pada 2 tahun yang lewat pernah menempur mereka dalam menolong Kang Hoo tapi dalam kenyataan setelah ia tiba dalam rombongan itu, di dalam lembah ini orang-orang seragam hitam bertopeng semua menaruh hormat pada sang ayah, kejadian itu membuat Siong In jadi terlongong-longong, ia tidak menduga bagaimana sang ayah yang setahunya tak pernah memiliki ilmu silat begitu dihormati oleh orang-orang golongan Kalong, bahkan mendapat panggilan Sam lengcu, ia berulang kali bertanya tentang hal itu, tapi Lo Siauw Houw tidak mau menjawab pertanyaan sang putri. Hingga akhirnya Siong In tidak mau bertanya lagi. Dan di pagi ini entah bagaimana rombongan yang sejak semalam turun ke bawah lembah, mereka berusaha untuk menerjang lubang goa yang dihuni oleh ribuan ekor tikus.

Semula Siong In juga merasa heran, untuk apa orang bertopeng hitam ini mesti menerjang barisan tikus yang menghuni goa, memang tikus itu selalu mengeluarkan suara mencicit yang ramai sekali, karena banyaknya, maka suara-suara tikus tadi menggema dan berpantulan di lamping lembah. Ia juga sudah menyaksikan bagaimana sejak orang-orang seragam hitam berselubung muka yang menerjang masuk telah terpental keluar dan binasa digigit tikus. Tapi ia tidak mau memperdulikan mereka. Siong In turut sang ayah masuk ke dalam tendanya untuk istirahat. Dan ketika pelapor dari barisan tempur golongan Kalong memberi laporan bahwa rombongan tikus tak dapat ditembus dan kemudian sang ayah memerintahkan menggunakan panah berapi. Maka ia juga turut keluar untuk menyaksikan, apakah yang akan dilakukan rombongan orang-orang seragam hitam misterius ini.

Siong In berjalan dibelakang sang ayah, mendadak ia teringat akan ucapan kata-kata pelapor tadi, kalau tikus- tikus itu ada orang yang memelihara, maka saking herannya ia bertanya, “Ayah, bagaimana mereka tahu, kalau dalam goa itu terdapat manusia sebagai raja tikus?”

Sambil melangkah terus ke depan Lo Siauw Houw berkata, “Kau jangan bicara yang bukan-bukan, kedatangan kita ke tempat ini, pertama untuk mencari itu rahasia Angsa Mas Berkepala Naga, tapi di atas Kun san mendengar berita kalau di dalam kelenteng Tiok-san- koan sudah tak terdapat itu benda. Dan kemarin malam dari salah seorang penyelidik kita, diketahui bahwa di dalam goa itu telah terdengar keluar beberapa patah ucapan dari agama baru yang kita mesti tumpas sampai ke akar-akarnya. Maka kita telah meninggalkan kelenteng Tiok-san-koan datang ke tempat ini, untuk membasmi itu manusia yang mengeluarkan kalimat larangan.”

Mendengar keterangan sang ayah sambil jalan di belakang, Siong In berkata, “Apakah golongan Kalong tidak melakukan pertempuran dengan padri-padri jahat yang telah merebut kelenteng Tiok san koan?''

“Diam!'' Tiba-tiba Lo Siauw Houw membentak, langkahnya terhenti, ia membalik badan, menatap Siong In dengan mata mendelik. Begitu sang ayah membentak, Siong In kaget bukan kepalang, kekagetan mana bertambah lagi ketika sang ayah membalik badan memandang ia dengan kedua mata mendelik keluar. Maka serentak juga ia menghentikan, langkahnya, berdiri melongo. “Kau jangan sembarang omong,” seru Lo Siauw Houw kemudian. Dengan masih rupa bingung Siong In berkata,“Ayah! Kau. Kenapa ?”

Lo Siauw Houw menundukkan muka dalam-dalam ia menghela napas, kemudian katanya, “Sebaiknya kau jangan banyak bicara, padri-padri di atas Kun san itu semua adalah orang dari Pek-houw san, kita tidak punya permusuhan dengan mereka. Sementara isi tugas kita melenyapkan masuknya agama baru ke Tionggoan!”

Mendengar kata-kata sang ayah, Siong In lebih bingung lagi, sampai ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun memandangi sang ayah dengan rupa mendelong. “Ayo jalan. Nanti apa yang kau lihat saksikan saja, jangan turut campur dan jangan banyak bicara,” Seru Lo Siauw Houw membalik badan melanjutkan perjalanannya menuju ke tengah lembah, melewati semak-semak belukar.

Sementara itu suara cicit tikus masih berkumandang di dalam lembah, suaranya sangat aneh, karena sekali terdengar suara berisik tidak keruan dari suara tikus-tikus yang asli, dan kadang kala berubah seperti berirama, itulah suara tikus yang keluar dari hembusan seruling. Begitu Lo Siauw Houw dan Siong In keluar dari semak belukar yang melindungi kemah mereka dari pandangan mata mendadak saja Lo Siauw Houw melangkah mundur wajahnya menunjukkan kekagetan. Ia memandang ke tengah lembah.

Di tengah lembah, rombongan orang-orang bertopeng hitam kacau balau tidak keruan, beberapa orang tampak terpental mundur dan binasa seketika. Siong In juga menyaksikan kejadian itu orang-orang seragam bertopeng hitam kini sedang melakukan pertempuran, rupanya lawan yang muncul di tempat itu adalah seorang jago yang kuat, karena puluhan orang seragam hitam itu, tak sanggup menghadapi serangan- serangan maut lawan. Dan karena jumlah orang-orang seragam hitam yang mengeroyok lawan terlalu banyak dan gerakan orang yang dikeroyok terlalu cepat hingga sulit untuk segera dilihat bagaimana bentuk dan perawakan serta wajah lawan yang mereka hadapi. Hanya dari gerak bayangan-bayangan lompatan orang itu dapat diketahui kalau orang tadi menyerang dengan menggunakan senjata seperti pedang tapi bukan pedang, di mana senjata itu berkelebat maka robohlah seorang seragam hitam.

Gerakan bayangan tadi lincah dan gesit, berkelebat memainkan senjata, kadang kala badannya mumbul ke atas, melakukan serangan dari udara, kadang kala ia mengamuk membabi buta, melakukan serangan dari bawah hingga puluhan orang seragam hitam kocar kacir tidak keruan, dan beberapa orang yang berada di belakang kawan mereka yang terdorong mundur akibat amukan orang itu, jadi pada terpelanting tertubruk kawan sendiri. Lo Siauw Houw yang menyaksikan pertempuran itu, mendadak saja ia bersiul. Begitu terdengar suara siulan, maka sisa-sisa orang-orang seragam hitam yang melakukan pertempuran serentak berlompatan mundur, mereka menghentikan serangan dalam posisi mengurung lawan di tengah. Siong In yang begitu pertempuran terhenti, ia berteriak,“Hong Pin!”

Tapi suara teriakan itu mendadak terhenti di tengah udara, karena satu tamparan telak melayang ke pipi si nona. Sebenarnya Siong In dengan mudah bisa mengelakkan datangnya tamparan tadi, tapi karena yang melakukan tamparan itu adalah sang ayah sendiri, ia hanya berdiri bengong saja, dan setelah tamparan itu berlalu ia tinggal mengusap-usap pipinya yang sudah terpeta lima jari tangan sang ayah. Sementara itu salah seorang dari antara rombongan orang berselubung hitam yang memiliki lukisan Kalong Kuning, berlari ke arah Lo Siauw Houw, melihat dari dedak perawakan orang itu, ia adalah orang yang tadi memberi laporan di depan tenda. Belum lagi orang tadi sempat membuka mulut melapor sudah didahului oleh pertanyaan Lo Siauw Houw, serunya, “Kalian bagaimana tidak berguna menghadapi satu orang saja, mesti memakan banyak korban. ”

“Sam lengcu, anak buta itu memiliki kecepatan luar biasa, dan itu senjata Tiok-Ciat-piannya sangat ganas!”

“Hmmmm,” Lo Siauw Houw mengeluarkan suara dari hidung. “Apa kau tahu asal usulnya?”

“Ia tidak mau menyebut namanya, begitu lompat turun dari atas tebing,” kata si selubung hitam, sambil menunjuk ke atas tebing. “Ia lalu menanyakan apa maksud kita di tempat ini. Maka salah seorang dari kita memberi jawaban, kemudian melakukan serangan. Dengan maksud sekaligus membekuk bocah buta itu, dan kita lempar ke atas lubang goa untuk dijadikan umpan tikus. Tidak tahunya ia telah mengamuk seperti kerbau buta,”

“Huh!” Lo Siauw Houw mengeluarkan suara dari hidung, kemudian mendorong orang itu ke samping, ia lalu maju ke depan, diikuti oleh Siong In.

Siong In sebenarnya ingin mencegah sang ayah turut campur urusan ini, tapi mengingat kalau kedudukan ayahnya di sini merupakan pimpinan dari rombongan golongan Kalong, maka ia membungkam tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mengharapkan agar sang ayah jangan sampai turun tangan menghadapi Hong Pin, kalau tidak pastilah salah satu akan menjadi korban. Sementara itu dengan sepasang mata butanya, Hong Pin berada di tengah-tengah kurungan puluhan orang berseragam dan berselubung hitam, tangan kirinya mencekal tongkat Tiok-ciat-pian yang ditunjangkan di depan dirinya, sedangkan kepalanya bergerak-gerak seakan sedang mendengarkan suara-suara yang berada di sekitarnya, tapi saat itu kecuali suara mencicitnya tikus dari lubang goa di atas lamping yang tertutup oleh rimbunnya daun-daun pohon tak terdengar suara gerakan apapun, hidung Hong Pin juga terus kembang kempis, ia seperti mencium-cium sesuatu. Dengan ia masih berdiri tegak di tengah-tengah kurungan orang berselubung hitam. Pada saat itu, barisan kurungan orang-orang berselubung hitam, begitu mereka mendengar suara langkah kaki Lo Siauw Houw mendatangi, mereka serentak membuka jalan memberi kesempatan Sam lengcu bersama putrinya masuk dalam kurungan. Dengan sepasang telinganya yang sangat tajam, Hong Pin mendengar langkah kaki orang yang telah memasuki kurungan barisan seragam hitam. Dan pandangan mata butanya menatap ke depan. Memperhatikan dengan penuh kewaspadaan. Tongkat Tiok-ciat-pian di tangan kiri disilang di depan dada.

Siong In yang turut masuk ke dalam kurungan barisan orang-orang seragam bertopeng hitam, begitu melihat sang ayah masih terus jalan mendekati Hong Pin, mendadak saja, ia mencekal lengan ayahnya katanya, “Ayah !”

“Diam!” Bentak Lo Siauw Houw, mendorong Siong In. “Kau mundur. ”

Hong Pin sang mendengar suara Song In, ia jadi tersentak kaget, kakinya mundur selangkah ke belakang, keningnya berkerut. Kemudian ia  berkata, “Apakah ini rombongan nona?”

Lo Siauw Houw yang terus jalan mendekati membentak, “Bangsat buta, nona siapa? Kau tidak ada sangkut paut dengan putriku!”

Mendengar suara bentakan itu, Hong Pin kembali mundur selangkah, sambil melangkah mundur ia berkata, “Locianpwee, harap jangan maju lagi, memandang muka anak gadismu, aku bersedia pergi dari tempat ini. ”

“Hmmm. ” Dengus Lo Siauw Houw. ”Baik! Kau ingin keluar dari sini. ”

“Ayah . . . . . ” Terdengar lagi suara panggilan Siong In di belakang. Lo Siauw Houw menoleh ke belakang memandang sang putri. Kemudian katanya, “Kau terlalu banyak cerewet, nah, sekarang kau kemari!”

Mendapat panggilan sang ayah, Siong In jalan menghampiri, begitu ia tiba di samping Lo Siauw Houw, orang tua itu menunjuk pada Hong Pin, lalu katanya, “Kau kenal bocah ini?”

Siong In mengangguk, katanya, “Ia datang ke daerah Kun-san mencari rahasia Angsa Mas Berkepala Naga. Tapi usahanya sia-sia belaka. ”

“Hmmm. Bagus! Bagus!” Seru Lo Siauw Houw mengangguk kepala.

“Kau juga niat mencari rahasia itu. Nah untuk apa benda itu kau inginkan?”

Hong Pin menundukkan kepala, tampak ia berpikir, kemudian baru mengangkat kepalanya memandang Lo Siauw Houw, jawabnya, “Guna mendapat obat menyembuhkan mataku yang buta! Atas perintah suhuku!” “Jadi suhumu itu memerintahkan murid butanya? Bagaimana ia tidak keluar sendiri dari dalam sarang, he?” Kata Lo Siauw Houw. “Dan siapa itu suhumu, dimana perguruanmu?”

“Maaf cianpwee, siaute tak bisa menyebutkan,” jawab Hong Pin.

“Hmm. Mungkin kau juga belum pernah melihat wajah suhumu,” seru Lo Siauw Houw. “Mungkin suhumu itu seorang iblis kejam atau manusia berwajah buruk,”

“Locianpwe, harap jangan sebut-sebut soal guruku,” seru Hong Pin. “Kalau mau turun tangan bertempur, silahkan segera. Aku siap menerima serangan. ”

Mendengar tantangan Hong Pin, yang demikian sombongnya, Lo Siauw Houw tertawa terkekeh, kemudian ia menoleh pada Siong In di samping, katanya, “Kawan butamu itu menantang aku bertempur. Heheee . .

. . Tapi aku tak ada niat bertempur. Nah, kau pergilah bersamanya. Dan ingat, jangan lagi turut campur urusan ayahmu, mengerti!”

Mendengar kata-kata sang ayah Siong In jadi melompongkan mulut, ia setengah percaya setengah tidak akan ucapan ayahnya itu. Masih tetap berdiri di samping ayahnya. Sepasang mata si nona memandang ke arah Hong Pin yang berdiri dengan menyilang tongkat di depan dada. Kata-kata Lo Siauw Houw tadi membuat Siong In melompongkan mulut tidak percaya atas pendengarannya, bahkan puluhan orang seragam hitam bertopeng, mereka juga tidak percaya akan pendengaran telinga mereka, mereka saling pandang satu sama lain, berbisik apa yang didengar oleh sang kawan, dan jawabannya tentulah sama seperti apa yang di dengar olehnya. Maka merekapun semua melompongkan mulut. Sementara itu suara tikus yang keluar dari lubang goa di atas lamping batu terus terdengar terbawa angin lembah, iramanya bercampur aduk dengan suara bergesekannya daun-daun ditiup angin. Hong Pin masih berdiri di tengah-tengah kurungan orang-orang seragam hitam. Dan Siong In masih berdiri menjublek terlongong-longong atas perintah sang ayah yang menyuruhnya pergi meninggalkan tempat itu bersama seorang buta. Meskpun hati Siong In merasa heran atas ucapan ayahnya itu, tapi sebagai seorang gadis yang belum banyak makan garam rimba persilatan, ia tidak pikir panjang kalau ucapan sang ayah mengandung latar belakang lain. Itulah satu tipu muslihat licik untuk merobohkan si pendekar buta dengan berpura-pura membebaskannya, maka dengan diam-diam Lo Siauw Houw akan melakukan serangan bokongan. Lo Siauw Houw tidak menduga kalau Hong Pin ini sebenarnya juga adalah seorang gadis, begitupun dengan Siong In, ia juga telah tertipu atas penyamaran Hong Pin, bahkan ratusan orang-orang seragam dan bertopeng muka hitam juga sudah menyangka kalau lawan di depannya ini adalah seorang pemuda buta. Maka Lo Siauw Houw ingin menggunakan taktik perempuan membuat lawan lengah. Selagi mereka diam membisu, mendadak sudah terdengar lagi suara Lo Siauw Houw memerintahkan sang putri untuk meninggalkan tempat bersama Hong Pin, katanya, “Siong In, kau pergilah. Jangan tunggu pikiranku berobah. ”

Siong In yang berdiri di samping sang ayah, dengan memandang lesu wajah ayahnya, ia berjalan menghampiri Hong Pin, di depan Hong Pin ia berkata, “Nah, ayahku menyuruh kau pergi bersamaku. Ayo jangan buang waktu. Mari kita pergi!”

Puluhan orang-orang   seragam   bertopeng   muka hitam, yang melakukan pengurungan begitu mereka menyaksikan Siong In sudah jalan mendekati Hong Pin, pandangan mata mereka ditujukan ke arah Lo Siauw Houw, mata mereka penuh tanda tanya dan selidik. Sementara itu, di dalam kurungan mereka Hong Pin dengan masih menyilangkan tongkat Tiok ciat-pian di depan dada, dari pendengarannya yang tajam, ia mengetahui kalau si nona sudah ada di depannya, maka ia berkata, “Nona, hari ini aku benar-benar menemukan kejadian ganjil ayahmu memimpin ini orang-orang buas, mereka ingin membunuh orang yang berada di dalam goa, bagaimana aku bisa tinggal diam begitu saja,”

Mendengar ucapan Hong Pin, kepala Siong In menoleh memandang ke atas lamping, di mana di balik rimbunnya daun-daun pohon siong terdengar suara mencicit dari ribuan tikus. Kemudian dengan masih mengarahkan pandangan matanya ke arah lubang goa yang tertutup oleh daun-daun pohon, Siong In berkata, ”Orang di dalam goa itu, kalau ia seorang jujur tentunya sejak tadi sudah menunjukkan wajahnya, tapi beberapa orang dari orang-orang ayahku setelah berusaha menerobos masuk, mendadak berpentalan keluar dan binasa digigit tikus peliharaan orang aneh itu. Apakah orang itu boleh dikata seorang baik?”

“Hmmm. Aku tahu, tapi urusan mereka dengan orang itu mengapa mesti ambil pusing, kalau kita biarkan orang itu mendekam di dalam goanya bersama tikus-tikusnya, tokh tak akan terjadi hal demikian. ”

Berkata sampai di situ, mendadak saja dari belakang terdengar Lo Siauw Houw tertawa, kemudian berkata, “Bocah buta, kau tahu apa, manusia yang berada dalam goa itu adalah golongan manusia yang mesti dibasmi dari muka bumi. ” “Apa alasanmu?” Tanya Hong Pin. Mendengar pertanyaan Hong Pin, Siong In yang berada d depannya juga menoleh ke arah sang ayah, ia juga mengajukan pertanyaan,“Ya, apa alasan ayah?”

“Sudah kukatakan padamu,” kata Lo Siauw Houw pada Siong In “Orang di dalam goa itu telah mengeluarkan ucapan kata-kata yang terlarang disebar luaskan di dataran Tiongkok. Itulah bunyi dari kitab ajaran agama baru. ”

”Apakah yang telah diucapkan orang itu?” Potong Hong Pin. Mendapat pertanyaan Hong Pin, Lo Siauw Houw memandang ke salah seorang seragam hitam berselubung muka, yang mengurung di sebelah kiri, lalu katanya,“Apa yang kau dengar dari dalam goa, kemarin itu, terangkan pada mereka. ”

Salah seorang seragam hitam bertopeng memandang Lo Siauw Houw, kemudian katanya, “Itulah ucapan, Uuuulah, hukabar . . . . terdengar ketika matahari mulai tenggelam. ”

“Uuulah hukabar?” Ulang Hong Pin mengkerutkan kening. Siong In yang mendengar ucapan itu kembali ia memandang ke lubang goa di atas lamping gunung, wajahnya menunjukkan rupa kaget dan girang, kemudian ia menoleh ke arah orang seragam hitam yang mengucapkan   kata-kata   uulah   hukabar    tadi, katanya, “Hei apa kau tidak salah dengar, apa yang diucapkan orang dalam goa itu bukannya kata Allahu akbar ”

Si seragam hitam berselubung, mendadak tersentak kaget, serunya, “Ya, benar, benar itulah ucapannya, eh bagaimana nona bisa mengucapkan kata itu? Apakah. . .

. . . ?” ”Hmmm. Guruku seorang nikhow dari golongan Budha. Kau jangan tuduh aku sebagai murid golongan agama itu,” potong Siong In cepat.

Lo Siauw Houw yang berdiri di depan kurungan orang-orang seragam hitam, ia segera membentak, “Siong In! Cepat kau berlalu, jangan banyak bicara di sini, ajak itu pemuda buta, kau jangan bikin pusing ayahmu. Ingat apa yang kukatakan di dalam tenda,”

Mendengar peringatan sang ayah, Siong In berpikir kalau melihat sikap ayahnya di tempat ini, sang ayah tentulah merupakan pimpinan dari rombongan seragam hitam ini, tapi rupanya di atas sang ayah masih ada seorang pimpinan lain yang lebih tinggi dan lebih berkuasa dari pada ayahnya, kalau tidak masakan sang ayah mengucapkan sesuatu di depan orang banyak, bahkan ketika Siong In mengucapkan kalimat aneh tadi, sang ayah cepat-cepat membentaknya, rupanya kuatir kalau Siong In dituduh menjadi salah seorang pengikut aliran agama baru itu, sedangkan ucapan kalimat tadi ia dapat dengar dari mulut Kang Hoo pada dua tahun yang lalu, ketika ia melarikan diri dari kepungan orang-orang bertopeng ini di malam rembulan. Dan kalau benar orang di dalam goa mengucapkan kalimat demikian maka tentulah orang itu adalah si pemuda Kang Hoo. Tapi begitu ia teringat lagi kalau si pemuda dibawa lari gadis Biauw, ia jadi ragu-ragu akan dugaannya.

Setelah berpikir panjang, ia memandang ke seluruh kurungan orang-orang seragam hitam kemudian katanya, ”Urusan orang di dalam goa, bukan urusanku. ”

Setelah berkata begitu, ia lalu mengajak Hong Pin meninggalkan tempat itu. Meskipun sepasang mata Hong Pin buta, tapi pendengaran dan perasaan mata bathinnya bisa menduga kalau antara ayah dan anak itu terjadi keanehan, maka dengan menganggukkan kepala, ia segera membalik badan untuk segera meninggalkan lembah ini. Berbarengan dengan gerakan balik badan Hong Pin, mendadak saja kurungan orang-orang seragam hitam bergerak merapat, mereka tidak mau membiarkan Hong Pin berlalu dari situ, karena si pemuda buta telah membunuh banyak kawan-kawan mereka, mana mau mereka melepaskan si buta begitu saja. Tapi mendadak saja, berbarengan dengan merapatnya kurungan orang-orang itu terdengar suara bentakan Lo Siauw Houw yang sudah lompat ke belakang Hong Pin. “Buka jalan!!”

Serentak dengan suara bentakan Lo Siauw Houw, maka kurungan orang-orang seragam hitam yang menghalangi jalan Hong Pin dan Siong In serentak membelah dia membuka jalan. Waktu itu sebenarnya Hong Pin sudah siap dengan tongkatnya, bila saja orang- orang ini berani main gila ia akan melakukan serangan amukan yang luar biasa. Tak seorangpun yang akan diberi kesempatan tidak merasa bagaimana enaknya kemplangan tongkat baja Tok-ciat-piannya. Tapi begitu ia mendengar bentakan Lo Siauw Houw yang memerintahkan kurungan orang-orang jubah hitam membuka jalan, dan mendengar di depannya suara langkah-langkah kaki sang terpencar kedua belah sisi membuka jalan, Hong Pin melanjutkan jalannya, sedang Siong In di samping si pemuda buta menuntun ke depan.

Orang-orang seragam dan selubung hitam mendengar suara perintah dari Lo Siauw Houw mereka tidak berani membantah, hanya hati mereka sedikit dibikin bingung dengan sikap Lo Siauw Houw demikian rupa. Tapi di sini kekuasaan tertinggi terletak di tangan Sam lengcu itu, siapa yang berani membangkang. Sementara itu Lo Siauw Houw, yang telah mengeluarkan perintah buka jalan, ia terus mengiringi jalan di belakang Hong Pin. Hong Pm mendengar kalau di belakang dirinya ada orang yang menguntit, tapi ia tahu itulah langkah kaki Lo Siauw Houw, ayah si nona, maka tanpa banyak curiga ia jalan terus. Tapi baru saja beberapa langkah Hong Pin maju ke depan, mendadak badannya dirasa lemas, tenaganya lenyap seketika, dan tubuhnyapun jatuh menggeloso di samping Siong In. Begitu Hong Pin jatuh menggeloso, Siong In kaget, ia cepat menubruk Hong Pin agar si pemuda jangan sampai jatuh terbanting di tanah, tapi waktu itu dengan mengeluarkan suara tertahan Hong Pin sudah ambruk di tanah. Sementara itu Lo Siauw Houw memberi perintah, “Ringkus bocah buta ini. Lemparkan ke dalam goa di atas tebing itu agar ia jadi santapan tikus-tikus di sana. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan manusia di dalam goa. Bukankah si buta hendak membantu dirinya. Haha orang yang niat membantu tentunya akan jadi korban sendiri. ”

Mendengar kata-kata ayahnya, Siong In baru sadar, waktu itu ia masih membungkukkan badan hendak mengangkat bangun Hong Pin, ia melengak dan berdiri, memandang sang ayah dan bertanya, “Ayah, kau menotok jalan darah bekunya. ”

“Minggir!” Bentak Lo Siauw Houw mendorong Siong In. Sementara itu empat orang seragam hitam bertopeng hitam telah datang menghampiri, salah seorang segera berkata, “Sam lengcu, bagaimana? Kita cincang dulu tubuhnya, ia telah membunuh beberapa puluh anggota kita. ”

”Hmmm. Itu terlalu enak. Nah sekarang kau ajak empat orang lagi lempar dirinya ke atas goa. Agar dagingnya bisa merasakan bagaimana rasa digigit tikus- tikus itu, tentunya manusia laknat di dalam goa menyangka kalau si buta ini datang menerjang dan ia pasti akan memerintahkan gerombolan tikusnya untuk melakukan serangan. Heheee . . heee ”

Sementara empat orang seragam hitam telah menggotong Hong Pin yang tak berdaya, masing-masing mereka menarik kedua tangannya dan kaki si buta, diseretnya ke bawah lamping batu di mana terdapat lubang goa. Melihat itu, Siong In berteriak histeris, serunya, “Ayah, kau . . . . kau. . . . . . . ” Tapi suara teriakan Siong In hanya terdengar sampai di situ saja, karena tangan sang ayah entah dengan gerakan apa ia telah melakukan totokan, dan tubuh si nona juga menggeloso roboh, di bawah kaki Lo Siauw Houw.

Melihat kejadian itu beberapa orang seragam hitam sudah berdatangan, tapi cepat Lo Siauw Houw membentak! “Pergi! Urusanku jangan turut campur. Lempar saja itu laki-laki buta yang telah membuat buta putriku. ”

Suara bentakan Lo Siauw Houw menggema berkumandang ke seluruh penjuru lembah, ditelan angin lenyap bercampur aduk dengan suara mencicit yang terus juga keluar dari lubang goa. Sementara itu Hong Pin diseret ke bawah lubang goa, tentu tidak berdaya, meskipun perasaan dan pendengarannya masih bisa bekerja, tapi urat-uratnya sudah kaku, ia tak bisa mengerahkan tenaganya akibat kena totokan gelap Lo Siauw Houw dari belakang, kini tubuhnya sudah diangkat dan diayun-ayun oleh delapan orang. Di masing-masing tangan dan kaki Hong Pin, terdapat dua orang seragam hitam. Mereka mengayun-ayun badan Hong Pin, diombang-ambingkan ke atas dan ke bawah kian lama gerakan ombang ambingan badan Hong Pin kian cepat, karena gerakan mengayun delapan orang itu kian bertambah cepat juga. Sementara itu dari lubang goa pada lamping lembah yang tertutup oleh rimbunnya daun-daun pohon, terdengar terus suara mencicit dari suara tikus-tikus, mereka seperti menunggu datangnya mangsa baru. Lo Siauw Houw berdiri di tengah-tengah lembah, menyaksikan kedelapan orang bawahannya melakukan gerak mengayun-ayun tubuh Hong Pin, sedang di bawah kakinya masih menggeletak Siong In, mata si nona terbelalak lebar menyaksikan si buta diayun demikian rupa, dan sebentar lagi, ia akan dilempar ke atas menerobos masuk ke dalam goa. Diantara ketegangan perasaan Siong In, dan suara-suara mencicit dari suara tikus-tikus di lubang goa, kini terdengar suara delapan orang seragam hitam yang mengayun badan Hong Pin, mereka berbareng berteriak menghitung, ”Satu

. . . . dua . . . . tigaaaa ”

Berbarengan dengan akhir ucapan hitungan tiga, maka badan Hong Pin dilempar ke atas melayang meluncur ke arah lubang goa di balik daun-daun rimbun, kemudian tubuh si buta itu nyeplos menerobos ranting- ranting dan daun pohon, dan lenyap disambut oleh suara cicit tikus yang ramai keluar dari dalam goa. Delapan orang seragam hitam berselubung muka, setelah melempar Hong Pin ke atas, mereka mendongakkan kepala menunggu mental keluarnya kembali badan Hong Pin yang tergigit oleh tikus-tikus di dalam goa. Lama mereka memandang ke atas. Begitu pula Lo Siauw Houw di tengah-tengah lembah, dan juga sepasang mata Siong In yang rebah di tanah memperhatikan ke arah lubang goa yang tertutup daun-daun pohon, tapi selama itu mereka tak melihat adanya sosok bayangan manusia yang mental keluar, dan mendadak saja suara tikus yang ramai juga lenyap seketika. Puluhan orang berseragam bertopeng hitam di bawah lembah menyaksikan adanya perobahan demikian mereka saling pandang melongo, sementara itu Lo Siauw Houw mengetahui kalau Hong Pin sudah dilempar ke dalam lubang goa di atas tebing, ia cepat buka totokan putrinya yang menggeletak di tanah. Begitu totokan si gadis bebas, ia segera bangun berdiri, kepalanya terus memandang ke arah goa, dimana Hong Pin nyeplos masuk ke dalam. Mulutnya terdengar menggumam,“Kejam, kalian manusia-manusia kejam. Dosa apa pemuda buta itu kalian jadikan santapan tikus-tikus. ”

“Hmmmmm. Kau sekarang tahu, siapa sebenarnya penghuni goa itu. Maka jangan turut campur urusan orang tua,” sela Lo Siauw Houw.

“Tapi. . . . . . ” Seru Siong In, “Orang yang mengeluarkan ucapan kata-kata agama baru itu mungkin dialah ”

“Dia siapa?” Tanya Lo Siauw Houw lagi. “Pemuda yang pada dua tahun yang lewat ”

“Hmm! Kang Hoo?” Potong Lo Siauw Houw. “Satu- satunya keturunan she Lie pen liauan Peng pou-y e-long, memang mereka harus dibasmi seluruhnya. ”

“Lie Kang Hoo . . . . Lie Kang Hoo . . . ” Gumam Siong In berulang. “Bagaimana hari ini ia bisa hidup bergaul dengan segala macam binatang tikus. ”

“Heheheee . . . ” Lo Siauw Houw tertawa terkekeh. “Penganut agama baru memang harus bergaul dengan segala macam tikus, ular dan binatang, Mereka tidak patut turut campur hidup di atas pergaulan manusia hehehehe ”

Berbarengan dengan akhir ucapan Lo Siauw Houw, suara mencicit dari dalam goa terdengar lagi. Tapi bayangan Hong Pin tidak muncul keluar.

Delapan orang topeng hitam, yang melempar Hong Pin ke atas lubang goa, mereka pada jalan menghampiri Lo Siauw Houw, sejenak mata mereka memandang ke arah Siong In yang berdiri di samping ayahnya. Salah seorang dari mereka terdengar berkata, “Sam lengcu, sekarang bagaimana?”

“Jalankan rencana semula. Lepas panah berapi. Bakar goa itu. Dan bunuh si penghuni goa. ”Setelah memerintahkan demikian, Lo Siauw Houw menarik tangan putrinya meninggalkan lembah. Semula Siong In menolak untuk turut sang ayah, ia ingin menyaksikan bagaimana orang-orang seragam hitam bertopeng itu melakukan pekerjaannya, tapi sang ayah dengan muka bengis menyeretnya jalan sambil berkata, “Kau jangan banyak tingkah di sini, ayo jalan, sebentar lagi goa itu akan menjadi goa berapi. Urusan mereka jangan kau campuri. ”

Sambil jalan terseret Siong In berkata,“Ini golongan apa? Ayah yang jadi Sam lengcu bagaimana masih takut pada mereka?”

“Anak tolol,” seru Lo Siauw Houw menyeret terus Siong In meninggalkan lembah. ”Di atas aku masih ada seorang tokoh misterius berkepandaian tinggi, aku hanya menjadi tangan ketiga. Dan diantara golongan orang itu terdapat mata-mata yang akan melaporkan semua pekerjaan yang aku lakukan, bila mana sampai kejadian begitu, kau memihak musuh yang perlu dibasmi, maka nasibku serta kau dan ibumu akan segera berubah menjadi mayat. ”

Mendengar keterangan itu hati Siong In bergidik, kemudian tanyanya, “Bagaimana ayah bisa sampai masuk golongan ini?”

“Soal ini . . . . Lain kali kau bisa tahu sendiri. Waktu ini sebaiknya kau jangan banyak tanya. ”

“Satu pertanyaan lagi ayah,” potong Siong In. “Mereka mengenakan seragam hitam dan topeng hitam, bagaimana ayah bisa bebas tak mengenakan pakaian itu?”

“Ini juga bukan urusanmu. ” Jawab Lo Siauw Houw singkat. Dan mereka terus jalan meninggalkan lembah, mendaki lamping-lamping batu, tak lama bayangan kedua orang ayah dan anak lenyap di atas liku-likunya jalan pegunungan.