Mustika Gaib Bab 17

 
Bab 17

DENGAN GIGIH DAN SEJAK semalam suntuk Siong In membantu Kang Hoo dari kekangan orang-orang topeng hitam. Dipagi hari itu dikala Kang Hoo telah dibawa terbang oleh gadis Biauw. Dan dikala ia menghadapi keroyokan orang-orang topeng hitam, mendadak muncul sang ayah. Tapi sikap dan gerak-gerik sang ayah yang selama beberapa belas tahun lenyap dari rumah, kini sangat aneh dan misterius. Setelah sang ayah kembali lenyap mendadak, di dalam rimba, Siong In berdiri mematung, baju merahnya berkibar-kibar ditiup angin, otak si gadis penuh terisi pikiran bercabang tiada ujung pangkal.

Mengetahui kalau di dalam hutan itu sudah tak kedapatan seorang manusiapun, ia menengadahkan kepalanya ke langit, mengenang akan wajah Kang Hoo yang terluka sejak satu malam itu dilindunginya dari tangan jahat orang seragam-hitam, dan kini telah lenyap, Siong In tidak tahu, bagaimana perkembangan nasib Kang Hoo yang telah dibawa lari oleh gadis Biauw. Hati Siong In kecewa, karena pemuda itu telah dibawa kabur oleh lain gadis yang memelihara burung raksasa. Setelah menghela napas Siong In melesat meninggalkan hutan itu, melanjutkan pengembaraannya. Hari demi hari dilewatkan dalam kesepian, jalan gunung dan rimba bukan halangan baginya, dan tanpa dirasa akhirnya dua tahun telah dilewati. Selama dua tahun mengembara, pengalaman si nona bertambah banyak, pedang pemberian ibunya entah sudah melukai berapa banyak orang jahat dan kaum berandal, hingga dalam dua tahun itu telah tersiar berita tentang munculnya satu nona baju merah gagah perkasa yang tak mau dikenal namanya. Karena pada setiap kali Siong In turun tangan membantu yang lemah menghancurkan kaum penjahat dan berandal-berandal ia tak pernah menyebut-nyebut namanya.

Manakala dipagi hari Siong In keluar dari jalan pegunungan, ia memasuki propinsi Ouw-lam. Pemandangan alam dalam propinsi Ouw lam sebenarnya tidak beda dengan keadaan pemandangan di kampung halamannya sendiri, tapi bagi pendatang asing, tentunya pemandangan alam yang baru dilihatnya itu terasa indah dan menyenangkan hati. Hari itu masih pagi, jalan rimba yang sempit di propinsi Ouw-lam, penuh dengan serakan daun-daun tua yang rontok ditiup angin malam tadi, di kiri kanan jalan merupakan semak-semak belukar dan batang batang pohon besar berjejer tiada teratur. Keadaan jalan yang senpit dan sunyi kian siang tambah ramai, satu-satu ia bertemu dengan orang yang lewat, kadang-kadang mereka jalan berombongan, bergegas. Ada pula yang menunggang kuda. Gerakan mereka seperti sedang memburu sesuatu, dan corak dandanan mereka bermacam ragam. Melihat keramaian itu, hati Siong In jadi gembira, karena tak lama lagi tentu ia akan tiba di sebuah kampung atau kota.

Seumur hidupnya belum pernah Siong In keluar pintu rumah, dalam dua tahun itu ia mengembara dengan membekal ilmu silat dan sebatang pedang. Pengalaman yang telah didapatnya dalam dua tahun ini membuat hatinya tambah mantap karena ilmu silat yang ia pelajari dari gurunya, nikho aneh itu dapat diandalkan untuk menjaga diri. Siong In yang pakaian merahnya sudah dekil, dan wajahnya yang kotor penuh debu, menutupi kecantikannya Tapi keadaan itu lebih menguntungkan dirinya. Karena setiap mata laki-laki yang memandang wajah si nona yang kotor itu mereka hanya tersenyum lalu bergegas menuju tujuan masing-masing. Di pinggir jalan di dalam rimba itu, dengan langkah kaki ringan Siong In terus menuju ke arah orang-orang yang lewat. Selagi ia memperhatikan keadaan jalan dan menikmati cahaya matahari di timur, mendadak saja kembali ia mendengar suara langkah kaki kuda yang ramai di belakang dirinya. Siong In menoleh ke belakang, tidak jauh di belakangnya berlari sembilan ekor kuda dengan kencangnya.

“Gila, jalan begini sempit mereka melarikan kuda semau-maunya!” pikir si nona sambil lompat masuk ke dalam semak-semak belukar, menghindari tubrukan kuda-kuda yang berlari kencang itu. Bertepatan dengan lompatnya Siong In rombongan berkuda lewat, dan salah seorang penunggang kuda menoleh ke arah semak belukar dimana Siong In lompat masuk. Dari mulut orang itu terdengar berkata, “Potongannya bagus, tapi tampangnya sedikit kumal.”

Siong In mendengar suara itu yang kemudian lenyap ditelan derapnya kaki kuda. “Hidung belang!” gerutu Siong In, sambil lompat kembali ke pinggir jalan. Yang beberapa lie lagi, Siong In tiba di tepi sebuah telaga.

Dari tepi ia memandang jauh ke tengah telaga, diantara riaknya air telaga, berlayar hilir mudik beberapa perahu layar. Di seberang telaga tampak deretan pegunungan nan menghijau, di seberang sana juga tampak samar-samar sebuah bagunan berloteng. Siong In asyik menikmati keindahan pemandangan di tengah tefaga, mendadak ia teringat akan rombongan orang- orang yang menuju ke arah ini, seingat si nona jalan yang dilewati tak bercabang, tentunya mereka semua menuju ke tempat ini, tapi di tepi telaga ini mengapa sunyi dan rombongan orang-orang itu kemana perginya?Selagi Siong In bertanya-tanya dalam hatinya mendadak dari sebelah kiri pantai berlari seseorang mendatangi.

Mendengar suara langkah kaki orang itu. Siong In menoleh, ternyata itulah seorang muda berusia duapuluh tahunan, mengenakan baju dan celana pendek hitam. Wajahnya sedikit kehitam-hitaman. Pemuda tadi begitu tiba di samping Siong In, ia segera bertanya, “Nona, apa hendak menyeberang? Mari naik perahuku. ”

Siong In belum tahu nama telaga itu, ia bertanya, “Ini telaga apa?”

“Eh, apa nona tidak tahu?” balik tanya tukang perahu. ”Inilah telaga Tong-Seng, tempat yang paling indah dalam propinsi Ouw-lam. Di seberang telaga terdapat loteng Gak-yang-louw yang terkenal, dari atas loteng orang bisa menikmati pemandangan di sekitar telaga sambil minum arak.”

Mendengar keterangan tukang perahu, Siong In memandang ke seberang telaga, kemudian katanya sambil menunjukkan jari, “Bukankah loteng itu disebut Gak yang-louw. Dan apa kau melihat beberapa rombongan orang berkuda datang kemari?”

Si tukang perahu mengkerut kening, berpikir sebentar kemudian katanya, “Hari ini sejak pagi, banyak orang berkuda menyeberang ke sana. Rombongan mana yang nona maksud?”

Mendengar ucapan tukang perahu, Siong In sudah tahu kalau orang-orang yang tadi lewat menuju ke seberang telaga, maka ia tidak segera menjawab, tapi memandang ke tengah telaga dimana tampak aneka warna kain layar perahu sedang berkembang melaju mengikuti angin turutan.

Setelah memandang aneka warna layar-layar perahu yang bergerak ke seberang, baru Siong In berkata, “Mana perahumu?”

Si tukang perahu, menunjuk ke arah kiri, katanya,“Di sana aku bersama ayahku hidup dari penghasilan ini. ”

Siong In mengikuti arah yang ditunjuk tukang perahu muda, benar saja diujung kiri tepi telaga di bawah pohon terdapat sebuah perahu layar yang sedang bergoyang dimainkan riak air. Siong In yang ingin menambah pengalamannya sekalian bertamasya menikmati pemandangan, tanpa banyak pikir lagi lalu meminta si tukang perahu menyebrangkan dirinya. Dengan girang si tukang perahu membawa Siong In ke tempat perahunya, di sana sudah menunggu tukang perahu tua, kemudian ia lebih dulu menarik perahu tadi ke tepi agar si nona dengan mudah naik ke atas perahu. Tapi Siong In yang pandai silat, mendadak dengan ringannya telah lompat ke atas dek perahu. Dua orang tukang perahu menyaksikan gerakan Siong In mereka memandang melongo, setelah Siong In lompat ke atas dek perahu, si tukang perahu tua, segera memasang layar. Sementara tukang perahu muda membawa masuk Siong In ke dalam gubuk perahu.

Siong In yang telah duduk di dalam gubuk perahu, ia memperhatikan kedua ayah anak tukang perahu, mereka memiliki wajah jujur dan manis budi. Tukang perahu yang muda baru berusia 20 tahun bernama Sam Su. Di dalam gubuk perahu, sambil melayani Siong In, si tukang perahu muda Sam Su bercerita tentang pengalaman hidupnya. Ia menceritakan bahwa sejak kecil ia sudah biasa hidup di atas ombak, dan sebelum mereka menjadi tukang perahu, pekerjaan mereka memancing atau menjala untuk menyambung hidup. Dan baru pada beberapa tahun belakangan ini, mereka ayah dan anak membuat sebuah perahu untuk mengangkut penumpang dan barang, mereka telah paham sekali dengan perjalanan air di tempat propinsi sekitarnya. Juga mereka memiliki sifat pengagum pada keindahan alam. Sam Su Juga menceritakan, bagaimana indahnya pemandangan dari atas loteng Gak yang louw yang tersohor, pulau- pulau kecil tampak seperti terapung-apung di tengah air, telaga biru muda yang berombak-ombak.

Siong In yang mendengar kalau si tukang perahu telah mengenal daerah sekitarnya, juga Sam Su pandai bercerita, maka timbul rasa girangnya, dalam perjalanan itu ia tak merasa kesepian, ia yang baru saja mengembara di rimba persilatan, senang sekali mendengar cerita-cerita yang terjadi di atas muka bumi, dan saking girangnya maka ia menyatakan untuk pesiar ke sekeliling telaga dan sebelumnya minta diantar dulu ke loteng Gak-yang-louw ia ingin melihat bagaimana loteng Gak-yang-louw yang sering disohorkan orang. Si tukang perahu mendengar kalau muatannya hendak pesiar, maka ia telah jadi bersemangat, dan mengatakan suka menjadi penunjuk jalan.

Siong In yang merasa kuatir kalau biaya perjalanannya kurang, maka ia telah mengeluarkan beberapa belas tail perak dan diserahkan pada si tukang perahu, katanya, “Apa dengan jumlah uang ini cukup untuk pesiar?”

Sam Su yang melihat si nona menyodorkan uang, ia jadi gugup katanya, “Nona, separuh dari itu sudah cukup untuk satu hari pesiar, dan biasanya pembayaran selalu dibayar belakangan. ”

“Hmmm. Kalau begitu kau simpan separuh uang ini” seru Siong In.

Sam Su semula menolak, tapi karena si nona memaksa maka sambil mengaturkan terima kasih ia menerima uang sewa perahu. Di sepanjang perjalanan mereka mengobrol, maka Siong In tidak merasa kesepian. Siong In yang mendadak teringat akan rombongan orang-orang berkuda, dan beberapa orang- orang rimba persilatan yang ia temui di tengah jalan maka ia bertanya, “Apa orang-orang yang sejak pagi tadi berduyun-duyun kemari itu juga menyeberang kesana untuk minum arak di atas loteng Gak-yang-lauw?” Sam Su mendengar pertanyaan si nona, ia tidak menjawab, menoleh ke arah belakang kemudi, memandang sang ayah. Melihat kelakuan Sam Su, si nona sedikit curiga, ia juga mengikuti pandangan Sam Su menoleh ke arah si tukang perahu tua. Si tukang perahu tua sambil mengangguk kepala berkata, “Apa salahnya, ceritakanlah!”

Mendengar itu Sam Su lalu menghadapi Siong In, katanya, “Nona rupanya datang dari tempat jauh tidak heran bila tidak mengetahui keadaan tempat di sini dan apa yang terjadi. Aku yang seumur hidup tinggal di daerah ini sedari kecil bila ada waktu senggang suka kasrak kusruk ke gunung-gunung dan ke hutan-hutan, tapi selama hidup belum pernah menemukan suatu kejadian yang aneh, tapi pada beberapa hari ini telah muncul satu peristiwa yang sangat mengherankannya, suatu peristiwa yang sangat menggemparkan telah terjadi. ”

“Peristiwa apa?” potong Siong In. “Ah . . itu . . itu . . . ” jawab Sam Su, “Sebenarnya aku sendiri hanya mendengar kabar burung, kalau di puncak Kun san telah muncul beberapa hweeshio jahat, hweeshio itu telah merampas beberapa buah kelenteng, Tapi selama itu mereka belum sanggup merampas satu kelenteng, itulah kelenteng Tiok-san-koan. Dan itu hweeshio-hweeshio jahat sebenarnya bersarang pada kelenteng Ceng-hie- koan. ”

Mendengar cerita sampai di situ Siong In memotong, tanyanya, “Mau apa itu hweeshio-hweeshio jahat merampas kelenteng orang?”

“Itulah. ” kata Sam Su “Sejak dahulu kala di atas Kun- san, para Lama dan Tosu, selain mendapatkan hasil dari uang hio dalam kelenteng, mereka juga bercocok tanam. Para hweeshio jahat ada kemungkinan tertarik oleh uang hio kelenteng, mereka mengacau dan merampas kelenteng yang ada di Kun-san. Tapi sampai hari ini kelenteng Tiok-san koan merupakan satu-satunya kelenteng yang tak mampu mereka rebut. Telah terjadi beberapa kali para tosu jahat datang mencari onar, dan bermaksud merebut kelenteng itu dengan kekerasan. Tetapi, tanpa terjadi perkelahian apapun, tidak perduli bagaimana galaknya para tosu jahat yang mencoba membunuh ketua kelenteng Tiok-san-koan, tapi buntutnya tosu-tosu jahat yang hendak mencari onar mendadak ngelepot balik dengan lesu. Hingga kelenteng Tiok-tan-koan tidak bisa direbut oleh golongan tosu jahat. Kejadian itu sesungguhnya sangat membingungkan orang, karena semua orang tahu ketua kelenteng Tiok- san-koan adalah seorang tosu yang betul-betul memegang aturan agama, dan kalau dilihat gerak- geraknya setiap hari, sedikitpun ia tidak mempunyai sedikit kepandaian, tapi herannya bagaimanapun galaknya tosu-tosu jahat yang akan merebut kelenteng, begitu berhadapan dengan ketua kelenteng Tiok-san- koan, mereka mundur teratur. Bukankah kejadian itu sangat aneh?”

Mendengar sampai di situ Siong In berkata, “Apa hubungannya kejadian itu dengan orang-orang yang pagi ini datang ke tempat ini?”

“Inilah. ” kata Sam Su “Entah bagaimana berita itu bisa tersebar luas?”

“Berita apa?” tanya Siong Ia mendesak' “Coba ceritakan yang jelas. ”

“Begini,” jawab Sam Su. “Di dalam kelenteng Tiok- san koan, tinggal seorang tosu, ia selalu mengenakan pakaian rombeng. Dia tidak seperti tosu-tosu lain membaca kitab, tetapi pekerjaannya sehari-hari minum arak sampai mabuk. Kadang-kadang ia sampai satu atau dua tahun lamanya meninggalkan kelenteng, baru balik kembali. Karena ketua kelenteng orangnya baik, dan tosu-tosu lainnya kebanyakan jujur dan baik hati, maka mereka tidak mau ambil pusing atas kelakuan tosu pemabukan itu, malah kerap kali ketua kelenteng sendiri membelikan seguci arak baik, dihadiahkan untuk dia mabuk-mabukan. Menurut penduduk Kun-san, tosu pemabukan itu tidak mempunyai she, dan namapun tidak punya, karena ia sering mabuk-mabukan orang-orang menyebutnya Cui tojin. Cui tojin tinggal dalam kelenteng Tiok-san-koan bukan sedikit tahun, usianya juga sudah tua, tapi wajahnya sama seperti ketika ia muda dulu, dan tidak pernah kelihatan menjadi tua. Dia sering keluar kelenteng mabuk mabukan di luaran, Kadang-kadang ia pergi juga ke Gak-ciu, pesiar di jalan jalan ”

Selanjutnya Sam Su menceritakan bahwa, Pada suatu malam ketika di dalam kelenteng diadakan keramaian menyembahyangi orang mati, mendadak Cui tojin lari masuk, dan di depan banyak orang ia menjadi gila dengan berjingkrakan kaki dan tangan memeta-meta, sambil memaki-maki dengan rupa sengit. Ketua kelenteng Tiok-san-koan nampak kesal dan dongkol, tapi ia hanya bisa mengucapkan maaf pada sekalian tamu, tidak mau menegor kelakuannya Cui tojin. Dua orang murid kelenteng itu melihat kelakuan Cui tojin demikian rupa di depan orang sembahyang dan melihat cara mabuk Cui tojin terlalu gila, sedang para tamu sudah jadi gusar, maka mereka menghampiri dan menasehati sepatah dua patah, Cui tojin mula-mula tidak ambil perduli dengan nasehat kedua orang tosu itu, tetapi dalam mabuknya mendadak ia jadi gusar dan memaki dengan suara keras, “Bangsat dogol! Kalian sudah bosan padaku, beberapa puluh tahun kelenteng ini selamat dari bencana, itulah karena aku ada di sini, malam ini kalian berani memaki diriku. Bagus, aku juga sudah bosan tinggal di sini. Nah, mana koan cu, hei! Mana itu ketua kelenteng, cepat! Kau kembalikan barangku. Tempo dulu kau bilang kau hanya ingin menyimpan barang itu agar tidak menjadi keributan di atas dunia. Sekarang aku sudah bosan tinggal di sini ayo kembalikan barang itu. Mana itu Patung angsa Emas berkepala Naga Heeheeeee. . . . . . aku sendiri akan membuka rahasia Patung angsa Emas berkepala Naga itu, aku akan mendapatkan satu mustika luar biasa hua-aaaaaaaaaaa

. . . . . . . . Koan-cu penipu mana       ”

Ketua kelenteng mendengar ucapan Cui-tojin demikian rupa ia tadi kaget, wajahnya pucat pasi, sedang orang banyak jadi terheran-heran.

Selagi ketua kelenteng dibikin kaget oleh ucapan Cui tojin yang mabok itu para tamu juga dibikin terheran- heran, mendadak saja Cui jojin sudah lari keluar kelenteng. Ketua kelenteng Tiok san-koan melihat Cui tojin lari keluar, dengan gugup ia berteriak, “Susiok, kau jangan pergi. Teecu masih ada omongan yang hendak dibicarakan!”

Sambil berteriak demikian si ketua kelenteng Tiok- san koan mengejar Cui tojin. Orang-orang yang hendak melakukan upacara sembahyang kematian, mereka baru tahu kalau Cui tojin adalah susiok dari ketua kelenteng, dan mereka juga baru sadar kalau ketua kelenteng memiliki ilmu kepandaian silat. Karena ketika ketua kelenteng lari mengejar Cui tojin, ia bisa lari sangat cepat seperti bayangan setan di tengah malam berlarian melewati jalan hutan di pinggir kelenteng menuju ke belakang gunung. Kalau dilihat dari cara larinya Cui tojin yang sudah mabuk, sempoyongan kelihatannya tidak cepat, tapi entah bagaimana ketua kelenteng tidak bisa mengejar, ia kehilangan jejak Cui tojin.

Baru setelah sekian lama, ketua kelenteng Tiok-san- koan kembali dengan napas tersengal-sengal. Para tamu yang hendak melakukan sembahyang begitu melihat ketua kelenteng itu sudah balik kembali mereka mengajukan banyak pertanyaan, diantaranya salah seorang berkata, “Orang begitu gila kelakuannya, untuk apa disesalkan kepergiannya, meskipun ia menjadi susiok. Apa yang perlu disayangkan. Tadi ia berkata tentang Patung Angsa Emas Berkepala Naga. Mengapa selama ini tidak pernah diperlihatkan pada orang-orang yang pesiar ke dalam kelenteng?”

Mendengar pertanyaan itu ketua kelenteng tampak gugup, katanya, “Jangan dengar ucapan orang mabok, tapi meskipun begitu, terus terang aku banyak menerima budi darinya, tidak sedikit pertolongan yang ia telah berikan. Atas semua pertolongannya aku tidak bisa membalas apa-apa. Tentang itu patung angsa emas. Memang ada, aku di sini sebagai seorang suci tak bisa berkata bohong, sebenarnya telah duapuluh tahun patung itu disimpan di sini. Cui tojin susiok telah membuka rahasianya dalam keadaan mabok ia tidak sadar ”

“Boleh kami lihat!” serentak para tamu berteriak- teriak.

“Maaf, meskipun kepalaku dipenggal, aku tak dapat menunjukkan benda tersebut. Nah sekarang kita lanjutkan sembahyang orang mati. ”

Dengan penuh perhatian Siong In di dalam gubuk perahu yang digoyang ombak, mendengarkan cerita Sam Su. Dan ketika ia mendengar cerita sampai di situ, ia bertanya, “Siapa nama ketua kelenteng itu dan patung angsa emas berkepala Naga itu benda apa?”

Sam Su menyambung ceritanya, “Ketua kelenteng bernama Ceng Hong tojin, tentang itu patung angsa emas berkepala Naga, menurut kabar-kabar belakangan di dalamnya terdapat satu peta tempat dimana terdapat Satu Mustika.

“Mustika?” Ulang Siong In. “Hmmm. ” gumam Sam Su “Sejak Cut tojin lari malam itu. Keadaan kelenteng jadi berubah. Dua hari kemudian, kelenteng tersebut berhasil direbut oleh golongan padri jahat. Dan Ceng Hong tojin kedapatan mati terbunuh!”

“Apa selama itu Cui tojin tak pernah muncul lagi. . ” “Tidak ada orang yang tahu. ” jawab Sam Su “Dan

sejak kelenteng Tiok-san-koan di rebut oleh tosu jahat,

maka di dalam kelenteng itu sering tampak orang-orang pertapaan laki-laki perempuan yang beroman jahat dan bengis, mereka sedikit juga tidak memegang aturan agama. Serta kejadian aneh sering terjadi.”

Siong In duduk di dalam gubuk perahu mendengarkan cerita Sam Su, ia tambah tertarik lalu memajukan pertanyaan, “Apa mereka menemukan Patung angsa Emas berkepala naga itu?”

“Tidak,” jawab Sam Su.

“Sudah berapa lama kejadian itu?” tanya Siong In. “Baru beberapa hari berselang,” jawab Sam Su “Dan

dari beberapa rombongan orang yang aku seberangkan mereka hendak pergi ke Kun-san untuk melihat sendiri keadaan   kelenteng   Tiok-san-koan.   Dan   menyelidiki tentang Patung angsa Emas berkepala Naga!”

“Hmmm . . . ” gumam Siong In “Setelah istirahat di atas loteng Gak-yang-louw, kau antar aku ke Kun-san. Tentunya di sana akan terjadi keramaian. ”

“Ah, waktu ini tempat itu sangat berbahaya.” seru Sam Su kaget. “Para tosu jahat tentunya telah memasang jebakan-jebakan di sekitar kelenteng, maka melarang orang luar masuk dan orang-orang yang muncul hari ini, memiliki roman buas dan bengis, kalau nona seorang diri ke sana jangan-jangan bisa celaka. ”

“Apa kau tidak berani mengantar?” tanya Siong In “Aku tokh hanya mau melihat-lihat saja!”

“Kami bersedia sampai di bawah kaki Kun san. Selanjutnya nona boleh pergi sendiri. Aku hanya pesan hati-hatilah!”

“Baik. Asal kau bisa antarkan aku jalan air, sambil melihat-lihat pemandangan apa salahnya. Aku juga tidak ada niat merebut patung itu. Hanya ingin melihat keramaian. ”

Di dalam gubuk perahu Siong In terus mengobrol bersama Sam Su, sementara itu angin turutan yang mengembuskan layar perahu terasa dingin meniup muka si nona, sedang air telaga berwarna biru muda berombak menggoyang-goyangkan lajunya perahu. Karena berlayarnya perahu mengikuti angin turutan, maka dalam tempo setengah jam mereka telah sampai di seberang telaga. Manakala Siong In lompat ke darat, ia ingin segera untuk mengunjungi itu loteng Gak-yang-lauw yang begitu disohorkan orang. Semula Siong In sangka entah bagaimana bagusnya loteng tempat minum arak Gak-yang-lauw, tetapi setelah sampai di tempat yang dituju, nyatanya loteng itu biasa saja, hanya karena didirikan di tepi dan menghadap telaga Tong teng, maka para pengunjung dapat melihat pemandangan bagian telaga yang jauh. Tapi kebagusan loteng Gak-yang-louw kalau dibandingkan dengan loteng-loteng yang didirikan di tepi telaga Liu-ouw, tentunya kalah jauh. Siong In, yang ingin pesiar dan menikmati pemandangan, ia segera melangkah memasuki halaman bawah loteng Gak-yang-louw. Di dalam ruangan bawah loteng, tampak beberapa orang tamu berdandan bermacam corak ragam pakaian, mereka bicara menggunakan bahasa daerah masing-masing, mereka asik mengobrol satu sama lain. Siong In yang tidak mengerti bahasa-bahasa daerah mereka dan melihat dari dandanan mereka yang kebanyakan terdiri dari kaum pedagang-pedagang,yang sudah biasa jalan mondar mandir di daerah itu menjual hasil dagangannya.

Memang di sekitar daerah telaga Tong-teng dalam propinsi Ouw lam merupakan pusat perdagangan yang penting, tidak heran kalau di sana banyak saudagar dan para pedagang singgah di loteng Gak-yang-louw untuk istirahat sambil minum arak. Setelah memperhatikan keadaan dalam ruangan bawah, Siong In, jalan ke tangga loteng, ia menaiki undakan tangga menuju ke atas. Begitu ia tiba di depan pintu loteng, tampak keadaan di dalam ruangan itu sudah penuh, meja dan kursi terisi semua, Siong In sejenak berdiri di depan pintu, ia mencari meja kosong. Ia mengharapkan dapat tempat di pinggir loteng, agar bisa duduk menghadap telaga Tong teng.

Manakala Siong In sedang memperhatikan tempat duduk, seorang pelayan segera datang menghampiri, memberi hormat dan berkata, “Maaf siocia, keadaan loteng Gak-yang-louw hari ini penuh sesak, harap bisa menunggu sebentar. ” “Ah, lotiang!” seru Siong In memperhatikan perawakan si pelayan. Pelayan itu berusia empat puluh tahunan, kedua pipinya kempot, sepasang matanya sipit, tapi rambutnya masih hitam, ia mengenakan baju pendek warna hitam dan celana gerombongan.

Setelah memperhatikan si pelayan, Siong In berkata lagi, “Sebenarnya, aku tidak butuh banyak tempat, cukup satu kursi untuk duduk di pinggir loteng menghadap telaga. ”

Mendengar permintaan si nona, pelayan tua tadi nampak kebingungan, dan beberapa orang tamu yang sedang duduk di depan meja mereka masing-masing, pada menolehkan kepala memandang Siong In. Sebaliknya, sudut mata si nona juga bisa melihat adanya beberapa orang tamu memandang dirinya, tapi ia tidak mau perdulikan mereka. Dari antara sekian banyak tamu- tamu, rombongan tamu yang duduk menghadap meja di pinggir loteng, setelah mereka memandang Siong In yang berdiri di depan pintu, mereka tampak berbisik-bisik kemudian salah seorang berdiri memanggil pelayan.

Pelayan tua mendapat panggilan sang tamu segera menghampiri, sebelumnya ia berkata pada Siong In.

“Maaf ”

Siong In menyaksikan berlalunya pelayan tadi, menuju meja di pinggir loteng yang diduduki empat orang lama. Empat tamu yang duduk di meja di pinggir loteng, tampak mereka bicara perlahan pada si pelayan, kemudian mereka berdiri dan meninggalkan meja. Si pelayan segera membersihkan meja. Sementara itu empat orang tamu tadi, sudah jalan di depan si nona, mereka tidak mengucapkan sepatah kata, hanya sudut mata mereka memperhatikan keadaan Siong In. “Kebetulan. ” pikir Siong In. Melangkah maju menuju pinggir loteng. Di mana meja telah kosong. Pelayan tua yang melihat si nona sudah datang ia segera mempersilahkan duduk, kemudian jalan membawa piring mangkok, berlalu dari sana. Sementara itu Siong In, yang baru pertama kali pesiar ke tempat indah, begitu ia mendapat tempat yang diharapkan sambil duduk matanya terus memandang jauh ke depan, dimana terbentang air telaga Tong teng yang biru muda ditimpa sinar matahari, riak-riak air berbusa membuat gelombang.

Layar perahu aneka warna simpang siur kian kemari menambah keindahan telaga disiang hari itu. Di empat penjuru pinggiran telaga merupakan bukit-bukit pegunungan menghijau. Selagi Siong In menunggu hidangan dan memandang keindahan telaga Tong-teng dari pinggir loteng, mendadak saja ia dikejutkan oleh suara ribut-ribut yang datangnya dari pintu masuk. Siong In segera menoleh, di sana tampak pelayan tua yang tadi menerima dirinya, sedang membentak-bentak seorang tamu yang sedang berdiri di ambang pintu.

Terdengar si pelayan tua membentak, “Pengemis buta dari mana muncul di tempat ini, tempat kita sedang repot, harap lain kali datang kemari. ”

Dari tempat duduknya, Siong In dapat melihat wajah si pengemis, ia jadi mengkerutkan kening, karena orang yang dikatakan pengemis itu adalah seorang pemuda kumel mengenakan baju putih kasar, rambutnya digelung ke atas, tapi sudah tak teratur susunannya, sedang kedua matanya meskipun terbuka lebar, tapi warna mata itu putih seluruhnya, melihat itu Siong In tahu kalau pengemis itu adalah seorang pengemis buta. Di tangan kanannya memegang sebuah tongkat baja. Meskipun pelayan tua itu bicara sambil membentak-bentak, tapi tampaknya pengemis buta itu memiliki sikap tenang, bahkan ia masih bisa tersenyum sebelum menjawab kata-kata si pelayan yang sedikit kasar.

“Aku sanggup bayar. Bukannya mau minta sedekah!” jawab si pengemis buta. Pelayan itu mana mau mengerti, ia tetap kukuh mengusir pengemis muda buta dari atas loteng, ia tidak mau perduli apa si pengemis buta bisa bayar atau tidak, yang perlu dalam loteng Gak-yang-louw harus bersih, tak boleh ada seorang tamu yang demikian kumel, lebih-lebih sepasang matanya buta. Siong In yang terus memperhatikan ke arah si pengemis dari mejanya di pinggir loteng, setelah berpikir sekian saat, ia jadi memeriksa keadaan dirinya sendiri, betul pakaiannya yang dipakai terbuat dari bahan sutera merah, tapi pakaian itu juga sudah dekil demikian rupa, kalau dibandingkan dengan keadaan pakaian pengemis buta itu, keadaan dirinya hamper sama, hanya pemuda buta itu mengenakan pakaian putih dari bahan kasar. Tapi meskipun sudah begitu kotornya tapi pakaian yang dikenakan pemuda buta itu belum ada tambalannya. Maka si nona berpikir, “Apakah ia ini juga datang dari tempat jauh seperti aku?”

Berbarengan dengan jalan pikirannya, Siong In sudah bangkit dari kursinya, lalu dengan langkah terburu-buru ia jalan melewati beberapa meja tamu menghampiri ke pintu, kemudian berkata, “Lotiang, biarlah dia duduk bersamaku. Di sana masih ada beberapa bangku kosong. Urusan pembayaran kau jangan kuatir. ”

Setelah berkata demikian Siong In mengeluarkan beberapa tail perak dari dalam sakunya disodorkan di depan pelayan. Pelayan menyaksikan kalau si nona menyodorkan uang, dengan wajah berubah ia membungkuk badan memberi hormat katanya, “Nona, harap jangan keluarkan uang, kalau memang kehendak nona demikian, nah silahkan ajak dia……”

Si pelayan tidak meneruskan kata-kata, ia memandang pemuda buta kumel di depannya. Sikap yang diperlihatkan oleh pelayan tua loteng Gak-yang- louw terhadap diri Siong In sangat mengherankan dirinya, mengapa pelayan loteng ini begitu menghormatinya, kalau dilihat keadaan dirinya sebenarnya tidak bedanya dengan keadaan pemuda yang baru datang, hanya yang beda dari sepasang mata pemuda itu yang buta tidak dapat melihat, tapi selanjutnya Siong In tidak banyak dipikir, ia telah mengajak pemuda buta itu jalan ke mejanya di pinggir loteng. Ia juga tidak lupa menambah pesanan makanan pada pelayan. Para tamu yang duduk di meja-meja di atas loteng, mereka memandang Siong In, mana kala Siong In jalan melewati meja mereka kepala mereka berputar mengikuti gerak si nona bersama pemuda pengemis buta, dan ketika ia jalan melewati sebuah meja di sebelah kirinya yang diduduki oleh lima orang laki-laki berbaju kembang terdengar salah seorang berkata, “Pengemis buta, apa gunanya, mengapa tidak mengajak aku saja minum bersama, sampai mabok huaaaaa . . ha .

. haa . . . ”

Mendengar kata-kata kotor dan suara tertawa dari meja itu, Siong In melirikkan matanya ke sebelah kiri, dimana duduk lima orang laki-laki berbaju kembang di atas kepala mereka melibat kain merah, begitu mereka melihat si nona memandang, mereka pada mengedip- ngedipkan matanya lalu tertawa berkakakan. “Huh!” Siong In mengeluarkan suara dari hidung, “Mari,” ia mengajak pemuda buta di belakangnya. “Jangan hiraukan mereka. Aku datang ke tempat ini bukan untuk cari keributan, tapi ingin menikmati pemandangan alam. ”

“Sekalian menikmati orang buta. ” terdengar lagi salah seorang laki-laki berbaju kembang berkata. Kemudian disusul dengan suara gelak tertawa mereka. Siong In kembali memandang mereka, tapi ia masih tetap menahan hawa jengkelnya. Dari roman-roman tampang muka mereka si nona tahu kalau lima orang laki-laki ini tentunya sebangsa kaum berandalan. Lebih-lebih di pinggang mereka semua membawa senjata golok, seorang diantara mereka membawa sebuah senjata rantai berduri yang dilibatkan pada pinggangnya.

Pemuda pengemis buta yang jalan di belakang mengikuti Siong In, ia juga mendengar suara ejekkan dan tertawaan lima laki-laki tadi, tapi ia tetap bersenyum saja, dengan tongkat bajanya ia mencari jalan mengikuti jejak langkah si nona. Tak lama setelah melawati beberapa meja lagi, Siong In telah sampai di mejanya ia duduk di satu bangku, kalau ketika tadi ia duduk menghadapi telaga membelakangi meja-meja lainnya, tapi kini karena si pemuda buta mengambil bangku duduk membelakangi telaga menghadap ke dalam ruangan loteng, dan tongkat bajanya digeletakkan di atas meja, maka Siong In kurang enak kalau duduk di bangkunya yang tadi, karena kalau demikian ia jadi duduk tepat menghadapi si pemuda buta, maka ia telah mengambil bangku duduk di samping kanan si pemuda buta, karena duduknya demikian rupa, maka ia bisa melihat pemandangan sekitar telaga di bawah loteng yang terben-tang di sebelah kirinya dan juga bisa melihat suasana ramainya ruangan di atas loteng, yang berada di sebelah kanan.

Sementara itu kalau melihat dari posisi kedudukan pemuda buta, ia seperti sengaja duduk menghadap ke arah meja di mana duduk lima orang berbaju kembang, yang masih saja terus-terusan tertawa tiada hentinya. Kadangkala mereka membalik badan memandang Siong In dan si buta yang duduk di pinggir loteng.

Meskipun lima orang laki-laki berbaju kembang terus- terusan tertawa berkakakan, kadangkala mereka mengeluarkan ucapan-ucapan kotor, tapi Siong In tidak mau menggubris mereka, sedang tamu-tamu lain yang juga mendengar lima orang laki-laki baju kembang itu terus-terusan menunjukan sikap tengiknya, mereka hanya bicara bisik-bisik sambil menggeleng-geleng kepala. Sementara itu Siong In yang duduk di sebelah kanan si pemuda menghadapi telaga, kini ia bisa melihat bentuk tongkat si pemuda buta yang menggeletak di atas meja, tongkat itu berbentuk aneh, terbuat dari baja, panjangnya tiga kaki, bentuknya bulat dan pada batang tongkat terdapat beberapa ruas, seperti ruas-ruas bambu, hanya ruas tongkat itu terbuat juga dari baja seperti sebuah piring kecil melingkari batang tongkat, tampak ruas-ruas tongkat itu hitam tajam. Siong In yang memperhatikan bentuk tongkat pemuda buta ia jadi heran, ruas-ruas tongkat tersebut berjumlah sembilan, dan setiap ruas melingkari tongkat tajamnya seperti pisau, sedang bentuk dari tongkat itu seperti pedang memiliki gagang dan ujung yang tajam. Sampai saat itu hidangan belum juga datang, bau harumya masakan sudah membuat perut Siong In kerocokan, ia berulang kali menoleh ke arah kamar pengurus loteng, seperti orang yang sudah tidak sabar menunggu makanan. Kesempatan ini juga digunakan oleh si nona untuk meneliti keadaan pemuda buta di depan kirinya. Dari bawah kaki sampai ke atas kepala Siong In memperhatikan bentuk perawakan pemuda buta di depannya, dilihat dari wajah pemuda ini cukup tampan, tidak kalah tampannya dari pada Kang Hoo hanya sepasang matanya tak kelihatan warna hitamnya meskipun biji mata itu terbuka tapi seperti tertutup oleh selaput putih.

Pemuda buta yang duduk membelakangi telaga, setelah lama pandangan butanya di tujukan ke arah meja dimana terdengar suara menghina dan tertawa, kemudian ia menoleh ke arah Siong In, lalu katanya, “Aku Hong Pin, she Lie. ” Siong In yang sedang memperhatikan bentuk perawakan pemuda buta Hong Pin, ia jadi keget, segera jawabnya, “Aku, Siong In, she Lo. ”

“Terima kasih,” jawab Hong Pin mengangguk. “Mendengar dari suaramu kau seorang gadis. ”

Mendengar perkataan itu, wajah Siong In jadi merah bagaimana seorang buta bisa menebak kalau dirinya adalah seorang gadis. Tadi ia mau mengajak Hong Pin duduk bersama satu meja, karena merasa kasihan melihat keadaan Hong Pin yang buta tentunya ia tak mengetahui kalau orang yang mengajak duduknya adalah seorang gadis. Tapi kenyataan, Hong Pin dengan hanya mendengar suara kata-kata Siong In sudah bisa menebak jitu. Ia seorang gadis bukan seorang nenek.

Sementara itu dari rombongan orang berbaju kembang, masih terdengar suara ramai suara tertawa berkakakakan mereka. Hong Pin kembali mengarahkan pandangan mata butanya ke arah meja dimana terdengar suara tertawa itu, kemudian ia menoleh lagi ke arah Siong In.

“Jangan hiraukan,” seru Siong In perlahan. Sambil memperhatikan tamu lainnya yang duduk dilain meja. Sebenarnya, siang itu keadaan di atas loteng Gak-yang- louw hampir penuh, karena setiap meja sudah ada orang yang duduk makan minum. Tapi mereka tampaknya tenang-tenang saja, tidak mau ambil perduli dengan rombongan lima orang berbaju kembang yang duduk mentertawai Siong In dan Hong Pin. Mereka seperti tidak mau tahu urusan orang lain. Mengobrol perlahan-lahan bersama kawan-kawan semeja.

SUASANA di bawah loteng Gak-yang-louw yang tadinya ramai, mendadak menjadi sepi, begitu Siong In dan Hong Pin mengambil sebuah meja dan duduk menghadap telaga. Satu persatu para tamu membuat perhitungan makanan lalu ngeloyor keluar. Kalau keadaan di atas loteng ketika setelah terjadinya peristiwa itu, masih ada 3 orang laki-laki tua yang masih berani duduk, tapi di bawah loteng ini yang tamu-tamunya terdiri dari kaum pedagang dan saudagar yang singgah istirahat mereka tidak berani lama-lama berdiam di situ. Mereka telah mengetahui peristiwa yang terjadi di atas loteng dan mereka juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Empat Macan telaga lari kabur, hati kecil mereka singat bersyukur sudah ada orang yang berani turun tangan menghajar Macan-macan Telaga yang selalu memeras menarik pajak gelap dari hasil dagangan mereka, tapi mereka juga takut menghadapi Hong Pin, kuatir kalau pendekar buta yang tidak bisa melihat itu mendadak mengamuk membabi buta. Karena semua meja sudah kosong, Siong In mengajak Hong In pindah duduk di meja paling depan, dekat pintu masuk agar ia bisa melihat sekitar pemandangan telaga Tong-teng. Hidanganpun dipesan kembali. Sebagai seorang gadis, Siong In tidak mau banyak bicara, ia kuatir kalau pembicaraannya nanti bisa menyinggung perasaan Hong Pin, meskipun dalam hati kecil si nona ia ingin sekali menanyakan dengan cara bagaimana ia bisa menghadapi musuh, sedang kedua matanya dalam keadaan buta. Hong Pin yang menyantap hidangan di depannya, mendadak saja berkata, “Siocia, apa kedatanganmu ke tempat ini ada hubungan dengan Patung angsa mas berkepala naga?”

”Ah . . . ” Siong In kaget, ”Kedatanganku ke tempat ini secara kebetulan saja, aku semula mengembara mencari jejak ayahku yang lenyap belasan tahun. Tidak tahunya di dalam pengembaraan ini aku bisa, tiba di telaga Tong- teng yang disohorkan orang, dan baru mendengar tentang patung angsa emas berkepala naga yang tersimpan dalam kelenteng Tiok sian koan dari tukang perahu. Memang ada niatanku untuk melihat-lihat kelenteng Tiok sian koan. ”

Mendengar keterangan si nona, Hong Pin menunjukkan rupa heran, ia menoleh memandang wajah si nona dengan kedua mata butanya. Kemudian berkata, “KaIau begitu kau tak perlu pergi susah-susah ke tempat berbahaya itu. Karena patung angsa emas berkepala naga sudah lama tak ada di tempatnya. ”

“Dari mana kau tahu?” Tanya Siong In menggeser bangku. Hong Pin tidak segera menjawab pertanyaan si nona, tangannya menyumpit bakso dalam mangkuk, kemudian sambil mengunyah bakso di mulut, ia berkata, ”Sebelum berita ini tersiar, siang-siang aku sudah menyelidiki tempat itu. Dan ketika diadakan sembahyangan orang mati dalam kelenteng, aku juga turut hadir di sana, juga mendengar bagaimana si tosu pemabukan Ciu tojin mengacau, kemudian membuka rahasia tentang patung angsa emas berkepala naga, kemudian ia lari kabur,”

Mendengar sampai di situ, Siong In melompongkan mulut, cerita yang dituturkan oleh Hong Pin ia pernah dengar dari tukang perahu. Kalau Hong Pin sebelumnya telah menyelidiki kelenteng Tiok-siankoan, berarti telah lama mengetahui kalau dalam kelenteng itu tersimpan itu patung angsa emas berkepala naga. Juga sikap Hong Pin dimata si nona sangat luar biasa, bukankah pemuda buta ini baru saja melakukan pembunuhan dan melukai tiga orang laki-laki sampai putus lengan kanan mereka, tetapi dalam menuturkan ceriteranya sambil menjejal bakso ia seperti sudah melupakan apa yang baru terjadi di atas loteng Gakyang-louw.

Karena Siong In merasa tertarik dengan rahasia Angsa Emas Berkepala Naga, ia hanya duduk mendengarkan, sesekali pandangan mata si nona memandang keluar ruangan menikmati keindahan birunya air telaga yang bergelombang.

“Waktu itu malam hari,” terdengar Hong Pin melanjutkan ceritanya, “Aku yang memiliki sepasang mata buta, sama sekali tak dapat melihat apapun, meskipun di dalam kelenteng dipasang lilin-lilin besar bahkan siang dan malam aku membedakan dari bergantinya hawa udara dan setiap gerak-gerak serta kelakuan orang di sekitarku, aku bisa tahu dari pendengaran dan perasaan mata bathinku.” Berkata sampai di situ, kembali Hong Pin menyumpit bakso, dijejalkan ke dalam mulutnya baru kemudian sambil mengunyah ia berkata lagi, “Ketika Ciu tojin mabok, dan setelah membuka rahasia Angsa Emas berkepala naga di depan orang banyak, yang akan melakukan sembahyang orang mati, ia melarikan diri. Tapi mendadak saja ketua kelenteng Ceng Hong tojin berteriak memanggilnya dengan sebutan susiok, lalu ia juga lari keluar mengejar. Para tamu yang akan melakukan sembayang orang mati jadi tambah panik dan terheran-heran dan dari kejadian ini penduduk sekitar Kun-san baru mengetahui kalau Ciu tojin si tosu pemabukan itu adalah susiok dari ketua kelenteng Tiok sian-koan ”

Hong Pin menghentikan ceritanya, ia mengangkat cawan menenggak minumannya. Siong In mulai tertarik dengan cerita itu, ia sudah bertanya, “Bagaimana dengan Ciu tojin, apakah… ?”

Ucapan si nona mendadak dipotong oleh Hong Pin, katanya sambil meletakkan cawan di atas meja. “Begitu Ceng Hong tojin lari keluar mengejar si tosu pemabukan, orang-orang dalam kelenteng serabutan keluar pintu ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Ceng Hong tojin, dan begitu mereka berada di luar kelenteng, mereka melompongkan mulut membelalakkan mata lebar-lebar, karena dari bantuan sinar-sinar bintang di langit, tampak kedua bayangan tosu saling kejar, mereka lari cepat sekali, dari kecepatan lari mereka barulah diketahui kalau ketua kelenteng Ceng Hong tojin juga memiliki ilmu silat yang tidak rendah, sebentar saja kedua bayangan mereka lenyap di belokan jalan gunung. Aku memang sengaja datang untuk menyelidiki dan mencari rahasia Angsa Emas Berkepala Naga, begitu mendengar suara Ceng Hong tojin lari cepat-cepat mengambil jalan memutar menguntit mereka dari balik semak-semak belukar dengan mengikuti suara langkah kaki dan kibaran baju mereka yang ditiup angin malam. Tapi setelah aku mengikuti sampai di belakang gunung, mendadak suara langkah lari mereka tak terdengar. Aku jadi heran dan berdiri memasang kuping untuk mendengar suara-suara yang mencurigakan, dan benar saja lak lama kemudian aku mendengar lagi suara langkah kaki orang yang jalan balik, orang itu mengeluarkan suara keluhan dan penyesalan dari suara keluhan dan penyesalan orang itu aku tahu kalau itulah suara Ceng Hong tojin yang telah kehilangan jejak sang susiok si tosu pemabukan. Dan ia dengan napas tersengal kembali ke dalam kelenteng. Waktu itu suasana di belakang gunung sangat sunyi, suara jangkrikpun tak terdengar, begitu langkah kaki Ceng Hong tojin yang kehilangan jejak sang susiok, aku juga niat balik kembali ke kelenteng, tapi entah bagaimana, setelah jalan beberapa langkah, aku jadi kehilangan arah, aku tak dapat mengenali lagi kemana jalan pulang, dimana tongkatku kutotok-totokan ke depan selalu membentur batang-batang pohon, aku jadi bingung, bagaimana mendadak di kelilingku banyak sekali batang pohon yang tersusun sangat rapat, kejadian itu membuat kepalaku jadi pusing. Maka otakku berpikir “Apakah aku telah kesalahan masuk ke dalam barisan tin yang sengaja di pasang orang?” Begitu berpikir tentang barisan tin, mendadak hatiku jadi girang. Karena aku tahu kini, lenyapnya Ciu tojin tentunya telah masuk perangkap barisan tin. Dan Ceng Hong tojin yang mengejar begitu ia kehilangan jejak susioknya, ia sudah balik kembali ke dalam kelenteng!”

Mendengar sampai di situ tiba-tiba Siong In berseru, “Aaaaa . . . Menurut cerita tukang perahu sejak hari itu Ciu tojin tak muncul-muncul lagi, biasanya setiap hari ia selalu minum arak di atas loteng Gak-yanglouw, apakah kau berhasil menemukan tosu pemabukan itu. ”

Suara kata-kata si nona berkumandang ke seluruh ruangan bawah loteng, tapi karena waktu itu di sana hanya mereka berdua yang masih duduk bersantap dan bicara-bicara, hingga mereka leluasa bicara ke barat ke timur, meskipun Siong In bisa melihat di luar di tepinya telaga Gak-yang-louw beberapa orang laki-laki jalan mondar mandir sambil memperhatikan mereka, tapi si nona tidak mau ambil perduli. Sementara itu Hong Pin yang ceritanya dipotong oleh seruan si nona, ia menggunakan kesempatan itu menenggak arak, kemudian baru melanjutkan ceritanya, “Hutan di belakang gunung rupanya telah dipasang barisan tin. Begitu Ciu tojin yang sedang mabuk, lari ke belakang gunung, ia sudah tersesat dan berputar-putar di dalam kurungan barisan tin tadi. Saat itu aku yang juga sudah kesalahan masuk, sedang mencari jalan keluar, dan ketika tongkatku menotok ke depan mendadak saja, sudah dibetot orang. Berbarengan mana aku mendengar suara bentakan orang memaki, “Apa buta!” dan berbarengan dengan suara bentakan itu, tongkatku ditarik orang ”

Siong In terus melompongkan mulut mendengar cerita Hong Pin, dan ketika ia mendengar tentang makian orang itu, ia jadi tersenyum. “Memang aneh,” kata Hong Pin melanjutkan, “Aku buta, tapi waktu itu orang yang memaki aku buta tentunya menyangka aku bukanlah orang buta. Dan ketika tongkatku ditariknya, dengan cepat, kaki kiriku, terayun menyerang orang tadi, tapi mendadak aku mengenali suara nada makian tadi. Itulah suaranya Ciu tojin, maka cepat aku melepaskan tongkatku dan menarik tendanganku lompat mundur. Rupanya Ciu tojin yang sedang mabok, begitu mendapat serangan tendangan, ia jadi marah, tongkat yang telah kulepaskan kemudian diayun menghajar batok kepalaku. Beruntung ketika aku melepaskan tongkat aku lompat mundur, hingga sambaran tongkat lewat di depan diriku dan mengenai tanah. Cepat-cepat aku berteriak, “Losianseng, aku memang seorang buta, kau jangan salah mengerti ”

Cerita sampai di situ, Hong Pin menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala, lalu katanya lagi, “Ciu tojin yang mendengar pengakuanku terdengar ia mengeluh kaget. Serunya, “Apa kau buta? Aaaaa, yaaaa, kau buta, tapi tidak buta, akulah yang buta tidak bisa melihat orang buta ”

Selanjutnya sambil berulang-ulang menenggak arak dan makan bakso, Hong Pin terus bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan Ciu tojin yang sama- sama telah masuk ke dalam barisan tin. Ternyata setelah Ciu tojin mengetahui kalau Hong Pin adalah seorang pemuda buta, ia segera mengembalikan tongkat baja kepadanya. Dan saat itu ditengah kegelapan malam dari belakang balik-balik pohon mendadak saja terdengar suara orang berkata, “Tidak disangka, malam ini kita berhasil membekuk dua orang sekaligus. Hei!. Ciu tojin, apa kau sudah merasakan bagaimana enaknya arak memabokkan melenyapkan kesadaran dari golongan Pek-houw-san, huaaa, haaa . . . . ketika kau enak-enak minum arak, minumanmu telah dicampur obat pemabuk melupakan diri keluaran Pek-houw-san. ”

Mendengar suara itu, Ciu tojin jadi kaget, kini ia sadar kalau ia telah masuk perangkap orang dan telah diberi minum arak mabok pelupa diri. Hingga ia jadi mabok seperti orang gila dan membuka rahasia Angsa emas berkepala naga. Tapi waktu itu keadaan Ciu tojin seperti orang yang kebingungan. Beruntung di sana ada Hong Pin yang bisa mendengar pembicaran orang itu, ia cepat- cepat memperingatkan Ciu tojin, agar si tosu pemabukkan memuntahkan minuman yang sudah mengeram dalam perutnya. Mendengar peringatan si bocah, mendadak Ciu tojin berkata, “Benar bocah, matamu buta, tapi hatimu tidak buta. ” Berbarengan dengan akhir ucapannya, mendadak Ciu tojin tertawa berkakakan. Suara tertawanya si tosu pemabukan menggema angkasa di dalam hutan gelap gulita, suara tawa itu lama sekali dikumandangkan. Sementara itu Hong Pin turut mengetahui, kalau di sekitar hutan barisan tin ini terdapat orang-orang yang mengurung mereka, dengan memusatkan perhatiannya ia memasang kuping lebar-lebar untuk meneliti keadaan, dan setelah beberapa kali berpaling ke kiri kanan mendengar suara yang mencurigakan, mendadak saja, ia berkata pada Ciu tojin, “Losianseng, di sekitar tempat ini tidak kurang dari delapan orang. ”

Ketika mendengar kata Hong Pin, Ciu tojin masih tertawa berkakakan, mendadak saja ia menghentikan suara tertawanya, lalu menyemburkan arak dari mulutnya ke depan balik-balik pohon. Berbarengan dengan semburan arak dari mulut Ciu tojin, terdengar suara batang dan daun-daun pohon yang mencereces terkena semburan arak laksana butiran air hujan menyembur datang. Dari balik pohon terdengar suara keluhan tertahan kemudian menyusul terdengar dari bagian belakang suara orang memerintah, “Tinggalkan mereka, dua orang itu pasti akan segera mampus kelaparan. ”

Mendengar cerita Hong Pin sampai di situ Siong In yang masih duduk di bangkunya di bawah loteng Gak- yang louw, ia mengajukan pertanyaan, “Selanjutnya bagaimana?”

Mendengar pertanyaan si nona, Hong Pin tidak segera menjawab, ia mengangkat cawan arak, setelah menenggak, baru berkata, “Aku dan Ciu tojin terkurung dalam barisan tin tersebut. Waktu itu berkelebat pikiran dalam otakku, menunggu hari sampai terang tentunya kita dapat keluar dari kurungan, tapi mendadak saja Ciu tojin menolak pikiranku, ia berpendapat, barisan tin ini sangat luar biasa, siang dan malam keadaannya sama, gelap pekat, dan di sekitarnya banyak dipasang senjata- senjata rahasia. Ciu tojin menyarankan agar aku yang memiliki sepasang mata buta, telah bisa masuk ke tempat ini tentunya dengan mata buta itu aku juga bisa keluar menggunakan ketajaman perasaan dan ingatanku. Maka aku disuruhnya mengingat langkah kaki yang tadi aku lakukan bagaimana aku sampai masuk ke dalam barisan tin ini, mendengar keterangan itu tentu saja aku jadi bingung, karena ketika aku kehilangan arah aku telah menjadi panik dan menotok-notok tongkat mencari jalan yang akhirnya membentur badan Ciu tojin. Tapi Ciu tojin telah memberitahukanku untuk mengulangi kembali apa yang aku lakukan. Maka aku tidak bisa membangkang, lalu aku mulai melakukan gerakan terakhir, dimana aku membentur badan Ciu tojin, kemudian mengikuti gerakan berikutnya secara mundur, dan benar saja akhirnya aku merasa berdiri di satu tempat, dimana aku pernah kehilangm bayangannya dan suara langkah kaki Ciu tojin dan Ceng Hong tojin. ”

Berkata sampai di situ lagi lagi Hong Pin, menuang arak ke dalam cawan, setelah menenggak isinya, ia menoleh ke arah Siong In,   lalu   melanjutkan ceritanya, “Begitu aku sampai di tempat dimana ketika aku baru masuk ke dalam barisan, mendadak Ciu tojin berkata girang, serunya, “Kau berhasil! Kau berhasil! Kita sudah berada di pinggir pintu barisan tin gila ini!” Mendengar itu aku jadi heran, karena mataku buta tentunya aku tak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Ciu tojin, rupanya dengan diam-diam, Ciu tojin juga telah mengikuti langkah kakiku, dimana kakiku melangkah ia melangkah ke situ, hingga aku berdiri tegak, dan ia sudah ada di depanku. Selanjutnya, aku mengingat kembali bagaimana aku bisa sampai masuk dalam barisan ini. Dan aku ambil jalan mundur, tak lama sudah terdengar suara teriakan Ciu tojin yang mengatakan kalau kita sudah berada diluar barisan tin!”

Mendengar sampai di situ, Siong In mendadak berkata, “Kau ceritakan selanjutnya dengan singkat, eh, wajahmu sudah berobah merah pengaruh arak. ”

Mendengar ucapan si nona, Hong Pin ganda tersenyum lalu katanya, “Bagi seorang buta, satu- satunya hiburan adalah minum sampai mabok, aku hanya bisa mendengar lembutnya suara nona, tapi aku tak bisa melihat wajahmu ”

Mendengar ucapan itu Siong In monyongkan mulutnya, beruntung mata Hong Pin tak dapat melihat, dan keadaan di bawah loteng itu juga sepi, maka kelakuannya si nona tak ada orang yang melihat, setelah monyongkan mulutnya, si nona memandang jauh keluar, ia menatapi permukaan air lelaga yang biru muda. “Selanjutnya,” kata Hong Pin, “Aku dan Ciu tojin berhasil keluar dari dalam kurungan barisan tin, kemudian Ciu tojin menanyakan she dan namaku, kuperkenalkan padanya juga maksud kedatanganku. Aku mencari rahasia Angsa emas berkepala Naga. Itulah dikarenakan harapanku di balik rahasia Angsa Emas Berkepala Naga itu tersimpan beberapa macam benda Mustika. ”

“Aaaa. . . . . . . ” Siong In terjengkit kaget. “Lalu bagaimana?”

“Pertama begitu mendengar maksudku datang ke kelenteng itu, Ciu tojin kaget, tapi mendadak ia menghela napas, katanya, Angsa Emas Berkepala Naga adalah sebuah kunci rahasia untuk membuka pintu dari istana batu misterius. Dan pada Angsa emas berkepala naga itu juga terukir lukisan peta dimana terdapat itu istana batu. Kalau orang tidak mendapatkan kunci yang merupakan Angsa Emas Berkepala Naga jangan harap bisa membuka pintu istana batu, meskipun orang telah tahu dimana letak istana misterius itu ” Berkata

sanpai di situ Hong Pin, menenggak arak lagi, lalu baru melanjutkan, “Waktu itu aku mengajak Ciu tojin segera memasuki kelenteng. Tapi ia tak setuju, katanya dengan serius, bahwa ketua kelenteng saat ini pastinya kalau tidak terluka ia sudah binasa, padri-padri jahat dari Pek- houw san kalau tidak ada aku, mereka bisa berbuat sesuka hati dan dengan mudah bisa merebut kelenteng. Maka Ciu tojin mengajak aku menyelidiki secara diam- diam. Benar saja, setelah kami berada tidak jauh dari depan kelenteng di sana terjadi kepanikan orang-orang yang berada dalam kelenteng hendak melakukan sembahyang orang mati, mereka juga sudah jadi ikutan mati, kepala mereka hancur entah terkena pukulan apa. Aku sendiri tidak bisa melihat kejadian itu, dan hanya bisa mendengarkan dari suara-suara beberapa anak murid tosu jahat yang menyeret mayat-mayat dari sana. ”

“Apa kau bisa masuk ke dalam?” tanya Siong In memotong.

“Ciu tojin memang lihai,” kata Hong Pin “Meskipun ia seorang tosu pemabuk, tapi beberapa belas tahun berdiam di dalam kelenteng ia telah membuat beberapa jalan rahasia, dan dari lubang lorong rahasia di bawah tanah tengah malam itu aku bisa masuk ke dalam. Sedang waktu itu di dalam kelenteng para tosu jahat mereka mengobrak abrik isi kelenteng mencari itu angsa emas. Tapi sayang, seribu kali sayang, ketika Ciu tojin mendapatkan tempat disimpannya Angsa Emas berkepala Naga tempat itu sudah kosong. Hanya tinggal kotaknya saja yang telah rusak digerogoti tikus. ”

“Aaaaaaah. . . . . ” keluh Siong In, “Jadi Angsa Emas itu dimakan tikus. ”

“Hmmmm Menurut Ciu tojin tak mungkin tikus-

tikus makan emas. ” “Kalau begitu, sudah ditemukan oleh padri-padri jahat. ” tanya Siong In. Hong Pin menggeleng kepala, katanya, “Itu juga tidak, kalau mereka telah menemukan itu angsa emas, tentunya si kepala tosu jahat tidak begitu sibuk sampai membongkar terus isi dalam kelenteng!”

“Di mana aku bisa bertemu dengan Ciu tojin?” tanya Siong In memandang Hong Pin.

Hong     Pin     menggeleng      kepala      lagi, katanya, “Entahlah, setelah mengalami keracunan arak hingga ia mabok tak sadarkan diri membuka rahasia Patung Angsa Emas Berkepala Naga, ia niat mengasingkan diri. Tidak mau turut campur urusan dunia kang ouw. ”

“Apa dia tidak mau balas dendam, atas diri kematain Ceng Hong cinjin?” tanya Siong In.

“Itulah, ia mengasingkan diri memperdalam ilmu silatnya, ketua pimpinan dari penjahat itu seorang ahli Hoat sut. Mana bisa Ciu tojin melawan seorang diri. Sedang ketika ia menghadapi tosu itu, bersama Ceng Hong cinjin, hanya bisa membuat si tosu mundur teratur tak dapat melukai dirinya. Itu dikarenakan Ceng Hong cinjin juga sedikit memiliki ilmu Hoat sut, setelah ia binasa siapa lagi yang bisa menghadapi tosu keparat dari Pek-houw-san itu?”

Mendengar sampai di sini, Siong In memotong, “Jadi selama ini Ceng Hong cinjin pandai menyembunyikan ilmu silatnya, hingga orang-orang di sekitar Kun-san menyangka ia adalah seorang yang lemah tiada berkepandaian, juga itu padri dari Pekhouw-san entah sudah berapa lama mereka mengincar kelenteng di atas Kun-san, bukankah jarak dari Pek houw-san ke Kun-san memakan ribuan lie jauhnya?” Berkata sampai di situ mendadak saja sepasang mata Siong In memandang terus keluar, ia memperhatikan seorang laki-laki tua yang jalan dengan lemah dari tepian telaga ke arah loteng Gakyang-louw, lama sinar mata si nona memandang orang itu. Kemudian ia menggeser bangkunya ke belakang dan bangkit berdiri. Hong Pin yang mendengar geseran bangku, ia cepat bangun, tangan kirinya sudah diletakkan di atas gagang tongkat Tiok ciat-piannya yang selalu siap di atas meja, kemudian membalik badan keluar memandang tepian telaga, katanya, “Ada apa?”

Mendapat pertanyaan itu, Siong In kaget, dan ketika ia melihat Hong Pin sudah siap dengan tongkat besinya, segera ia berkata, “Tidak ada apa-apa, orang itu. . . . . .

seperti ayahku ”

Saat itu pandangan wajah Hong Pin pun menatap ke arah telaga tapi karena sepasang matanya buta, ia tak dapat melihat, hanya telinganya saja yang mendengarkan langkah kaki yang mendatangi. Siong In memperhatikan dedak perawakan orang yang mendatangi, benar-benar adalah ayahnya yang pernah ia temukan beberapa tahun yang lewat, mendadak saja berteriak dan lari menghampiri serunya, “Ayah. . . . . . . .

!”

Ternyata orang yang datang adalah ayah Siong In yang misterius, itulah laki-laki tua berambut hitam berwajah kelimis Lo Siauw Houw. Lo Siauw Houw jalan mendatangi loteng Gakyang-louw, ia berlarian menyambut sang putri, kemudian di atas jalan berpasir di tepian telaga ayah dan anak saling peluk. “Siong In, apa kau sudah pulang ke rumah memberi tahu ibu?”

Di dalam pelukan sang ayah Siong In berkata serak, “Ayah, ibu menunggu kedatanganmu. Ketika kedua kalinya aku tinggalkan ia sering sering menderita sakit, kalau kian lama ayah tak datang pastilah ”

“Anak. . . . anak. . . . . . . ” terharu Lo Siauw Houw mendengar ucapan putrinya, “Tak lama lagi ayahmu akan pulang menengok ibu, nah mari ikut aku, kau jangan keluyuran tidak keruan bercampur gaul dengan orang-orang kasar.”

Setelah berkata demikian, Lo Siauw Houw melepaskan pelukannya, ia memandang sejenak ke dalam bawah loteng Gak-yang-louw, lalu menarik lengan Siong In diajaknya berlalu. Siong In juga menoleh ke bawah loteng Gak yanglouw, memandang Hong Pin yang terus berdiri di depan meja menghadap mereka, terdengar si nona berkata, “Tunggu, aku akan pamitan dengan dia, dan eh, rekening makanan belum dilunasi. ”

“Tinggalkan pemuda buta itu, soal rekening makanan sudah kusuruh orang memberesi.”

Dari dalam ruangan bawah loteng, Hong Pin bisa mendengar percakapan Siong In dan Lo Siauw Houw di luar, tapi ia tidak dapat melihat bagaimana rupa ayah si nona, dan ia juga mendengar kemudian datang seorang lain, dari percakapan orang yang baru datang, Hong Pin mengetahui, kalau itulah si tukang perahu yang disewa Siong In, tapi saat itu ayah si nona telah menolak menaiki perahu, dan Siong In pun menyuruh tukang perahu pergi saja, dan sisa uang sewa yang telah dibayarnya tak perlu dikembalikan. Siong In dan ayahnya berlalu dari tepian telaga Tong-teng, sebentar saja bayangan mereka lenyap dari pandangan mata.