Mustika Gaib Bab 16

 
Bab 16

TANPA DIRASA SEBULAN sudah dilalui, Kang Hoo masih berdiam dalam goa Hoa-ie-tong menerima gemblengan dari sang guru aneh untuk menciptakan ilmu Karahkter. Keadaan Kang Hoo waktu ini sudah berbeda ketika ia baru saja mendiami goa. Matanya sudah dapat melawan sinarnya matahari sampai satu hari penuh. Begitupun badannya telah sanggup menerima injakan- injakan kaki sang guru, sampai pada jari-jari tangannya.

Di samping mendapat gembelengan latihan tadi, Kong-sun But Ok juga memberikan sang murid pelajaran agama Budha. Semula Kang Hoo sedikit kaget, mendengar sang guru ingin mengajarkan agama Budha padanya, tapi setelah ia mendengarkan penjelasan sang guru, maka ia tidak bisa menolak kehendak gurunya, dan waktu sifat gurunya sudah berubah lunak, tidak seperti ketika pertama kali ia melakukan latihan, gurunya tampak begitu bengis.

“Dua ajaran agama kau pahami!” kata Kong-sun But Ok, “Itu tidak ada salahnya. Karena dari intisari kedua agama itu banyak manfaat untuk diri kita, untuk selanjutnya terserah pada pribadimu. Yang mana kau akan kau anut. Karena semua agama itu baik. Mengajarkan kita bagaimana supaya tahu tata susila. Menjauhkan yang buruk melakukan yang baik. Tujuannya sama satu. Seperti kita hendak ke kotaraja kau boleh ambil jalan dari selatan, lalu ke timur utara tokh akhirnya juga bisa sampai. Atau ambil jalan ke utara dulu baru ke timur atau langsung dari puncak gunung ini menuju ke sana.

”Ketika sang guru berkata seperti itu Kang Hoo duduk, bersila di depan gurunya. Ia mengangguk-angguk kepala. “Selanjutnya aku tidak akan menurunkan ilmu silat, kau boleh gunakan ilmu silat yang kau pelajari dari gurumu Beng Cie Sianseng. Tapi itu juga kukira sudah tidak perlu lagi untukmu, karena dengan mengerahkan kekuatan Karakhter. Kau bisa merobohkan orang tanpa menggerakkan tangan atau kaki. Nanti kau akan tahu sendiri bagaimana bekerjanya ilmu itu kalau kau sudah selesai mempelajarinya. Nah, mulai besok pagi, kau harus melakukan tapa Mati Geni?”

Mendengar keterangan gurunya sampai di situ, Kang Hoo, memandang wajah sang guru katanya, “Mati Geni? Tapa apa itu? Apakah seperti semadhi yang dilakukan oleh para Lama dan tosu?”

Kong-sun But Ok tersenyum mendengar pertanyaan sang murid, lalu katanya, “Tapa Mati Geni memang hampir sama dengan tapa semadhi yang dilakukan oleh para Tosu dan Lama dari golongan Budha. Juga tidak beda dengan ilmu-ilmu semadhi dalam mengatur peredaran jalan darah menciptakan tenaga Kie-kang. Ilmu ini kudapatkan dari negeri Bagdad, dan akan kucoba menerapkan ke dalam dirimu, maka selama sebulan ini aku menggembleng dirimu dengan bengis. Kau tahu maksudku?”

“Guru, apa maksudnya tapa Mati Geni itu?” tanya Kang Hoo. “Hmm. Sudah kukatakan, tapa Mati Geni hampir serupa dengan ilmu semadhi. Melenyapkan hawa marah menarik kekuatan dari pengaruh alam sekitar yang melingkungi diri kita. Mati Geni itu adalah upaya mematikan pengaruh Hwee (api) yang terdapat dalam lima unsur zat Ngo-heng pada diri kita yang terdiri dari zat Kim, Bok, Sui, Hwee dan Touw (emas, kayu, air, api, tanah) Dalam ilmu bathin pelajarannya bangsa negeri Bagdad, semadhi itu disebut Mati Geni, artinya mematikan pengaruh api yang terdapat pada diri manusia. Karena api itulah unsur kehidupan setan. Sedang manusia menurut ajaran agama mereka terbuat dari tanah. Hingga kalau unsur api itu yang ada dalam diri manusia akibat pengaruh perkembangan alam sekitarnya, sudah bisa padam. Maka barulah orang bisa mengerahkan kekuatan bathin yang bersumber dari kemurnian jiwa dan kekuatan itulah merupakan ilmu kekuatan Karakhter yang sangat ajaib. ”

“Guru, mengapa tidak sekalian melatih melenyapkan unsur lima zat itu?”

“Mana bisa!” Kata sang guru di atas pembaringan kayu. “Kalau kita mencoba menghilangkan pengaruh kelima zat itu pada diri kita berarti kita ini sudah tidak bernapas lagi. Kita mati!”

“Hmmmm. ” Kang Hoo manggut bersila di bawah pembaringan sang guru. “Berapa lama dan bagaimana melakukan tapa itu!”

“Untuk tahap pertama tiga hari tiga malam. ” jawab Kong-sun But Ok. “Selama kau melakukan tapa Mati Geni, kau tidak boleh memakan sedikit makananpun, bahkan setetes airpun tidak boleh masuk ke dalam tenggorokanmu kau mesti duduk bersila, membaca doa- doa yang akan kuajarkan padamu?” Kang Hoo masih duduk terus di bawah pembaringan sang guru, badannya sudah tak mengenakan pakaian, tampak ototnya kekar, berisi, sedang celananya sudah banyak robek-robek ia belum sempat untuk tukar pakaian. Meskipun ia duduk mendengarkan dengan penuh perhatian segala ucapan sang guru tapi hatinya penuh tanda tanya. “Puasa tiga hari tiga malam tanpa makan minum? Dan ini guru bagaimana selama sebulan lebih belum pernah aku lihat ia minum atau makan sedikitpun, apa ia ini sedang melakukan tapa Mati Geni? Huh, kalau aku disuruh melakukan tapa sekian lama. Bisa-bisa aku mati lemas. ”

Tanpa dirasa haripun merayap semakin malam angin gunung yang terus berhembus masuk ke dalam goa dinginnya sudah tak dirasa Kang Hoo. Ia sudah biasa dengan keadaan di atas puncak gunung itu. Hari berikutnya adalah hari di mana Kang Hoo mesti duduk bersila menjalankan tapa Mati Geni selama tiga hari guna melenyapkan pengaruh zat api yang mengandung sifat- sifat setan.

Dengan tekun Kang Hoa, menjalankan tapa itu, ia juga tidak lupa membaca doa dan amalan-amalan yang diberikan oleh gurunya. Ternyata doa itu terdiri dari dua unsur inti dua macam agama. Dalam tiga hari itu, benar- benar Kang Hoo sedang digembleng, menjadi manusia sakti mandraguna. Kalau Kang Hoo duduk bersila di atas lantai goa itu menghadap barat, melakukan tapa Mati Geni, maka Kong-sun But Ok, ia juga duduk bersila memeramkan sepasang matanya. Tidak bergerak dari atas pembaringan kayunya. Kedua manusia itu masing- masing melakukan pertapaan. Meskipun angin gunung berhembus santer memasuki lubang goa, tapi keadaan itu tidak dapat menggangu jalan tapa mereka. Empat hari kemudian. Sang surya baru saja memancarkan sinarnya keadaan di atas puncak gunung sunyi sepi tak seekor burungpun terdengar berbunyi atau terbang. Itulah dikarenakan ketinggiannya puncak gunung dan hawanya yang begitu dingin. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk goa, membentur wajah Kong-sun But Ok yang duduk di atas pembaringan kayunya, di bawah sana duduk bersila Kang Hoo dengan tekunnya. Begitu sinar surya membentur wajah tua Kong-sun But Ok, sepasang mata orang tua itu terbuka, bibirnya tersenyum memandang ke bawah pembaringan dimana sang murid masih duduk bersila,

Sambil tersenyum Kong sun But Ok mengetuk kening Kang Hoo dengan seruling peraknya. “Pletuukkk .

………!”

Begitu keningnya diketuk batang suling, Kang Hoo kaget, ia membuka sepasang matanya, kemudian mengkerutkan kening memandang sang guru yang duduk bersila di depannya di atas pembaringan kayu. “Cukup sudah tiga hari,” kata Kong-sun But Ok, “Kau telah berhasil melakukan tapa Mati Geni. ”

“Guru,” kata Kang Hoo, suaranya begitu lemah seperti tak bertenaga. “Apa sudah cukup tiga hari?”

Sang guru menganggukkan kepala, lalu katanya, “Kau jangan bergerak sembarangan, selama tiga hari kau terus duduk bersila. Kau harus mengatur jalan darahmu, dan dengarkan kata-kataku, kau harus ikuti petunjukku bagaimana kau memulai menggerakkan badan!”

Dengan memasang kuping panjang-panjang Kang Hoo mendengarkan patah demi patah ucapan sang guru. Sementara sang guru sudah berkata lagi, “Sekarang, kau gerakkan kepalamu ke kiri lalu kanan, ulangi sampai tujuh kali. Kemudian setelah itu gerakan kepala itu ke atas ke bawah, juga tujuh kali, lalu badanmu miringkan ke depan dan ke belakang, kemudian ke samping kiri dan kanan, lalu perlahan-lahan putar badanmu itu ke kiri kanan. Semua itu mesti dilakukan tujuh kali. ”Mendengar perintah sang guru Kang Hoo menggerakkan badannya sesuai dengan petunjuk-petunjuk gurunya. Setelah melakukan gerakan tadi seluruhnya. Sang guru berkata lagi. “Sekarang sambil bersila angkat badanmu perlahan- lahan, kemudian duduk kembali.” Kang Hoo mengerjakan perbuatan itu sampai tujuh kali.

“Nah, kaki kananmu gerakan ke depan. ” kata Kong sun But Ok. Seterusnya Kang Hoo mengikuti semua apa petunjuk sang guru akhirnya kaki kirinya juga mesti digerakkan, kemudian ia mesti rebah terlentang, lalu bergulingan di atas lantai batu. Setelah selesai bergerak begitu menuruti petunjuk sang guru, ia rebah di lantai menunggu perintah lebih lanjut.

“Selesai! Semua berjalan baik! Bangunlah!” seru Kong-sun But Ok “Dengan berakhirnya latihan ini, maka kau sudah bisa melatih tahap berikutnya, melakukan beberapa kali lagi tapa yang memakan waktu lebih panjang!”

Sementara itu, Kang Hoo sudah duduk bersila di depan gurunya, terus mendengarkan perkataan sang guru.

Setelah mengetahui si murid sudah duduk di depannya, sang guru memerintahkan Kang Hoo untuk memakan sebiji buah yang mengandung banyak air.

Sejak hari itu kembali Kang Hoo menerima didikan latihan ilmu Karakhter, disamping ia juga mendapatkan pelajaran agama Budha, dan memperdalam pelajaran agama Islamnya, kedua agama itu dihubung- hubungkannya satu dengan lain, dicari-carinya perbedaan dan persamaan, kemudian barulah ia mengerti apa maksud sang guru memerintahkan ia mempelajari agama Budha. Haji Kong-sun But Ok juga tidak lupa mengajarkan Kang Hoo bagaimana cara meniup suling perak dari Bagdad. Tanpa dirasa, dua tahun telah dilewatinya. Selama dua tahun itu ia melatih diri di bawah Kong-sun But Ok, entah sudah berapa puluh kali ia mendengar tentang kekuatan ilmu Karakhter itu, tapi selama itu ia belum pernah mencoba sampai dimana pengaruh kekuatan ilmu itu. Karena selama itu ia belum pernah mencoba ilmunya.

********0dwkz0lynx0mukhdan0********

Suatu pagi, dikala bayangan sang surya memancar di sela puncak gunung, menerangi jagat raya, di dalam goa Kong-sun But Ok terdengar berkata, “Ingat kekuatan Karakhter yang ada pada dirimu saat ini sangat luar biasa, kau jangan sembarang menggerakkan tangan atau kaki. Itu semua bisa menyebabkan orang menjadi celaka!”

“Guru. . . !”

“Jangan bicara dulu!” kata Haji Kong-Sun But Ok, “Dengar baik-baik, kekuatan karakhter itu akan segera muncul melindungi dirimu, bila kau menghadapi orang yang menyerang dan betul-betul ingin mencelakai dirimu, hawa amarah lawan itulah yang akan mencèlakai dirinya sendiri. Begitu kemarahan mereka memuncak, begitu pula besarnya bahaya yang akan mereka dapatkan. ”

Kang Hoo tidak berani memotong ucapan sang guru, ia mendengarkan dengan penuh perhatian. “Sekarahg kau lihat!” kata Haji Kong-sun But Ok, “Aku akan menunjukkan beberapa gerak tangan yang bisa mencelakai orang. ”

Setelah berkata begitu, kedua tapak tangan Kong- sun But Ok dirangkapkan ke depan dada kemudian diangkat naik ke atas sampai berada di atas kepalanya. Kang Hoo memperhatikan gerakan sang guru, dengan rasa heran. Sementara itu rangkapan kedua tangan sang guru yang telah berada di atas kepala disentakkan ke bawah mengembang ke kiri dan kanan. Gerakan itu tidak bedanya seperti gerak jurus Garuda Membentangkan sayap.

“Garuda Membentangkan sayap. ” kata Kang Hoo dalam hatinya.

Setelah melakukan gerakan demikian Haji Kong-sun But Ok bertanya, “Apa kau bisa melakukan gerakan itu?” Tentu saja Kang Hoo bisa, karena gerakan itu sangat mudah, dan hampir serupa dengan gerak jurus ilmu silat yang pernah ia pelajari dari gurunya Beng Cie sianseng. Maka jawabnya singkat,“Bisa. ”

“Mudah, memang sangat mudah. ” kata Kong-sun But Ok, “Tapi akibatnya sangat mengenaskan bagi lawan. Kau jangan sekali-kali melakukan gerakan seperti itu. Kalau tidak terpaksa!”

Mendengar ucapan sang guru sampai di situ Kang Hoo melompongkan mulutnya tidak mengerti, mengapa gerakan begitu saja bisa mencelakai lawan.

“Kau bingung bukan?” tanya sang guru yang mengetahui isi hati muridnya. Kang Hoo menundukkan kepala.

“Lihat aku!” kata Kong-sun But Ok, “Kau mesti tahu, setiap gerakan anggota badanmu bisa mengeluarkan kekuatan Karakhter dan gerakan tadi, bila kau lakukan terhadap lawan yang menyerangmu, maka badan lawan itu akan terkoyak menjadi dua, robek terpisah dari kaki terus sampai ke batang leher. ”

Dengan duduk bersila menghadap sang guru, Kang Hoo mendengar keterangan itu, meskipun dalam hatinya masih diliputi tanda tanya tentang kebenaran kata-kata gurunya dan kekuatan Karakhter itu. Tapi ia tidak berani banyak bicara, terus ia mendengarkan dan menunggu sampai sang guru mengakhiri ucapannya.

“Nah. ” berkata lagi Haji Kong sun But Ok. “Dalam rimba persilatan, terdapat ilmu totok jalan darah untuk membuat lawan roboh tidak berkutik. Dan dalam ilmu Karakhter terdapat satu gerak mengunci, bila kau menggerakkan tanganmu terhadap lawan yang menyerang, lawan itu akan roboh terkunci tidak dapat bergerak sebelum kau membuka kunci ini. Ilmu totok jalan darah dan ilmu kunci karakhter hampir sama, hanya berbeda dalam gerakan dan penggunaan. Dalam ilmu totok orang bisa menggunakan totokan terhadap orang, meskipun orang itu tidak salah dosa tapi dalam ilmu kunci Karakhter kau tidak bisa menggunakan ilmu itu kalau orang itu tidak menyerang dirimu. Di sinilah keindahan seni bela diri Karakhter. Cocok dengan ajaran agama. Sekarang kau lihat. ”

Setelah berkata begitu Haji Kong-sun But Ok, kembali mengangkat kedua tangannya, kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas di depan mukanya, kemudian disilang, lalu silangan tangan di depan muka itu, dientak ke bawah. “Mudah!” kata sang guru setelah memperlihatkan gerakan itu. Kang Hoo memperhatikan saja semua gerak tangan sang guru. Lalu bagaimana gurunya memberi petunjuk membuka kunci gerakan itu. “Beberapa gerakan, kau bisa bikin sendiri. Itu terserah kehendakmu. Karena dengan duduk tenang seperti itu kau sudah dapat melindungi dirimu. Tak seorangpun dapat menyentuh dirimu. Itulah kekuatan ilmu Karakbter yang sangat luar biasa. ”

Setelah berkata begitu Haji Kong-sun But Ok menyerahkan suling perak pada sang murid katanya, “Kau ambillah ini hitung-hitung tanda mata dariku. Kau juga telah melatih bagaimana meniup suling ini. Suling ini kudapatkan dari seorang sahabat di negeri Bagdad, ia seorang ahli dalam ilmu sihir, ia juga bisa memelihara jin dan setan,”

“Guru        ”

“Ambillah!” seru sang guru. Kang Hoo terharu menerima pemberian gurunya, meskipun ia tidak tahu apa gunanya suara suling yang selama dua tahun ini dilatihnya, gurunya sendiri tidak pernah menerangkan kegunaan suling ini. Lebih-lebih pada dua tahun yang lalu sewaktu sang guru meniup seruling tadi di atas puncak gunung menaklukkan binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa juga bisa membuat orang jadi tidur kepulasan. Waktu itu Kang Hoo dalam keadaan pingsan, dan jiwanya yang mendengarkan suara seruling itu juga telah terpengaruh dari jatuh pingsan ia berubah menjadi tidur ngorok. Setelah menyelipkan seruling itu di pinggangnya. Kang Hoo baru bertanya,“Suhu, kawan suhu itu di negeri Bagdad bagaimana bisa memelihara setan. Dan apa itu Jin?”

“Mhm. ” sang guru tersenyum, “Memang aneh-aneh kejadian didunia ini. Lebih-lebih negeri Bagdad itu, di sana banyak keanehan seribu satu macam. Tentang Jin, aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk dan rupanya. Karena seumur hidupku aku belum pernah melihat  bagaimana rupanya Jin itu? Tapi orang-orang negeri sana bisa memerintahkan Jin itu untuk mencelakai orang yang tidak disukainya?”

“Apa seperti Hoat-sut?” kata Kang Hoo.

“Hoat-sut,” kata sang guru “Sedikit ada persamaan dan perbedaan. Nah, hari ini kau sudah selesai, merampungkan latihanmu. Kau tentunya ingin melihat bagaimana hasil latihan itu bukan?”

Kang Hoo mengangguk kepala. “Bagus!” kata sang guru. “Kau pergilah keluar goa. Kemudian, kau terjunlah ke bawah tebing. ”

Mendengar kata-kata gurunya itu, mendadak saja sepasang mata Kang Hoo terbelalak lebar, ia mundur dua tindak. Bagaimana ia disuruh lombat terjun keluar goa. Puncak gunung ini begitu tingginya dan keadaan tebing di bawah goa sangat curam, di bawah tebing tertutup awan menebal tidak ketahuan dasarnya. Kini gurunya menyuruh ia lompat ke bawah. Bukankah itu berarti sang guru menyuruhnya bunuh diri? Sedangkan sampai dimana kekuatan dan kegunaan ilmu Karakhter sampai hari ini belum diketahui jelas buktinya, ia hanya mendengar dan menerima pelajaran itu teorinya, sedang prakteknya sama sekali belum pernah dilatih kecuali tapa. “Kau takut?” tanya Haji Kong-sun But Ok bersila di atas pembaringan kayu.

“Guru…. ”

“Apa kau takut?” potong sang guru “Kematian di tangan Tuhan bukan? Nah dengan lompat ke bawah jurang ini, kau juga menguji dirimu sendiri apakah kau berhasil melatih ilmu itu. Kalau kau sampai mampus di bawah jurang itu berarti kau tidak berhasil mencapai ilmu Karakhter!” “Guru, teecu tidak takut!” kata Kang Hoo kemudian ia bangkit membalik badan, jalan keluar goa. Sang guru memandang kepergian murid itu, ia tersenyum memejamkan sepasang matanya. Sementara Kang Hoo tanpa menoleh ke belakang ia sudah berada di pinggir lobang goa memandang ke bawah. Jauh di bawah sana merupakan tebing curam, dipenuhi kepulan awan, tak tampak bagaimana dasar jurang ini. Apakah itu merupakan hutan lebat, atau merupakan tonjolan batu gunung. Tapi hatinya mendadak berkata, “Ketika pertama kali aku bertemu dengan guru haji ini, ia tokh turun dari puncak gunung menggunakan jubahnya. Apakah hari ini ia ingin menguji ketabahan hatiku. Dan tentunya setelah aku lompat turun pastilah guru turun mengejar dan membawa aku kembali ke atas goa. ”

Setelah berpikir begitu, maka lompatlah Kang Hoo keluar goa. Sementara itu, Kong-sun But Ok yang duduk bersila di atas pembaringan kayunya setelah mendengar kesiuran angin lompatan sang murid ia memejamkan matanya bibirnya tersenyum, lalu wajahnya menunduk ke bawah dan kedua tangannya diletakkan di atas lutut. Setelah mengatur duduk demikian rupa, Kong sun But Ok menarik napas panjang, tarikan napas itu panjang sekali kemudian tubuhnyapun lemah terkulai menunduk. Napasnya terhenti seketika. Si orang tua aneh itu ternyata telah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Kang Hoo yang lompat terjun keluar dari dalam goa, badannya melayang-layang turun berputaran dimainkan angin gunung. Kian lama sang badan kian merosot turun mendekati kepulan awan. Ia masih mengharapkan kedatangan gurunya yang memberi pertolongan. Tapi sang guru yang dinanti itu tidak kunjung datang. Sedang badannya terus berputar turun ke bawah. Ia belum tahu kalau gurunya telah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Pulang ke alam baka. Sementara kita tinggalkan keadaan Kang Hoo yang terapung-apung jatuh dari atas lamping gunung. Nasib apa yang akan dialami olehnya? Apakah benar ia telah berhasil meyakinkan ilmu aneh dari sang guru. Ataukah selama dua tahun itu ia melatih ilmu yang sebenarnya dianggap mustahil, dan ia hanya menjadi alat percobaan dari Kong-sun But Ok dalam melakukan percobaan ilmu tenaga dalam terbaru yang diberi nama ilmu Katakhter. Apakah benar Kang Hoo, telah digunakan sebagai kelinci percobaan oleh Kong-sun But Ok? Ataukah ia memang benar-benar telah berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalam yang bersumber dari intisari dua macam kekuatan ilmu bathin dari dua golongan agama yang dipadu menjadi satu dan di beri nama ilmu Karakhter.

Pada bab-bab berikutnya kita akan bisa melihat dan mengikuti bagaimana perkembangan nasib Kang Hoo. Meninggalkan keadaan Kang Hoo yang masih jatuh ke bawah lamping gunung curam, kita kembali mundur ke belakang melihat keadaan Siong In di bagian penjuru dunia yang lain.