Mustika Gaib Bab 13

 
Bab 13

MATAHARI mencorong tepat di tengah langit. Suara angin menderu. Puncak-puncak gunung menjulang tinggi ke angkasa. Diantara suara deruan angin dan mencorongnya sinar matahari, melesat sesosok bayangan putih menembusi awan ke atas puncak gunung paling tinggi. Begitu kepulan awan mengambang di tengah lereng gunung dilewati, bayangan tadi melesat terus bagaikan anak panah terlepas dari busurnya memasuki sebuah goa. Di dalam goa, bayangan putih itu mengembangkan tangannya, dan dari dalam balik jubah putihnya, keluar terhuyung-huyung mundur seorang pemuda tampan.

“Hmmm. ” Gumam bayangan putih tadi, “Di sini goa Hoa-ie-tong di atas puncak gunung Hong-tong-san, kau istirahatlah!”

Pemuda tadi bukan lain adalah jago muda kita Kang Hoo, begitu ia terlepas dari kempitan orang tua jubah putih sudah lantas terhuyung-huyung, kemudian begitu ia berhasil mengendalikan dirinya, ia memandang pada orang tua berjubah putih. Di tangan orang tua itu masih memegang sebuah seruling peraknya.

“Kau. . . . . . aki-aki siapa?” Tanya Kang Hoo

heran.

“Bocah,” seru si orang tua jubah putih, “Kau istirahatlah, setengah hari lebih kau dalam kempitan jubahku. Nah! makanlah buah-buah yang tersedia. Goa ini tempat pertapaanku. ”

“Mana suhuku?” Tanya Kang Hoo.

“Si tua tak berguna itu, ketika kau kubawa ke tempat ini ia masih tidur di bawah kaki gunung. Mungkin saat ini ia sudah meninggalkan tempat itu. ”

“Dan gadis Biauw itu?” “Eh, kau mencintai gadis liar itu?” Tanya si orang tua. Kang Hoo menundukkan kepala, ia tidak bisa menjawab tegas pertanyaan orang tua itu. Hatinya bingung, dan tiba-tiba saja ia bertanya lagi

“Bagaimana binatang buas dan ular-ular berbisa dan mereka itu bisa pada tidur kepulasan?”

“Kau makan dulu. ” kata orang tua jubah putih, kemudian ia membalikkan tubuh lalu keluar goa.

Meskipun waktu itu perut Kang Hoo sudah dirasa lapar, tapi karena menghadapi persoalan aneh itu, ia tidak segera mencari makan, lari keluar goa. Di lubang goa angin dingin santer meniup dari sobekan-sobekan bajunya terasa angin itu menusuk bekas luka-luka di badan Kang Hoo bahkan mata Kang Hoo sendiri terasa perih. Sejauh mata memandang, di sana hanya tampak beberapa buah puncak gunung tinggi, sedang kaki gunung tak kelihatan, karena diantara celah-celah gunung di bawah sana tampak mengambang awan putih menebal bagaikan kapas. Badan Kang Hoo sedikit gemetaran memandang ke bawah, ia menyurutkan langkahnya masuk kembali ke dalam goa. Sedang itu bayangan si orang tua bersuling entah sudah kemana lenyapnya. Di dalam goa, Kang Hoo memperhatikan sekitarnya, ternyata bagian itu terdiri dari dua ruangan, ruangan depan dan ruangan belakang, di bagian belakang terdapat sebuah pembaringan terbuat dari kayu, keadaannya lebih luas dari bagian luar. Meskipun keadaan di dalam goa itu agak gelap remang-remang tapi Kang Hoo sudah bisa melihat kalau dalam goa itu keadaannya bersih. Di sudut pojok goa depan terdapat sebuah paso berisi beberapa butir buah kemerah- merahan. Kang Hoo mengambil sebutir buah, dicium- ciumnya sebentar, buah itu wangi seperti buah apel maka segera juga digigitnya. Terasa garing manis. Baru saja ia menghabiskan sebutir buah, si orang tua berambut putih sudah balik kembali. Datang dan perginya orang tua berambut putih tadi sangat cepat, membuat Kang Hoo kagum, kalau dibandingkan dengan Beng Cie sianseng, orang tua ini tentunya lebih tua dua kali lipat. Tapi gerakannya sungguh gesit luar biasa. Orang tua itu, begitu berada di dalam goa, ia memandang sejenak pada si pemuda, kemudian dengan melangkah ringan ia berjalan ke goa belakang.

Sambil jalan orangtua itu berkata, “Setelah selesai makan kau masuklah ke goa belakang, aku hendak bicara!”

Sebenarnya perut Kang Hoo masih dirasa lapar, tapi mendengar kata orang tua rambut putih itu, ia segera berjalan mengikuti langkah si orangtua memasuki goa belakang di mana terdapat pembaringan kayu. Begitu Kang Hoo tiba dalam kamar goa itu, si orang tua telah duduk bersila di atas pembaringan, dan begitu ia melihat Kang Hoo sudah menyusul datang, tangannya menunjuk ke arah sudut goa, katanya, “Kau ambillah tikar di pojok sana, gelar di bawah, lalu duduk bersila.”

Kang Hoo menuruti kehendak orang tua baju putih itu, berjalan ke pojok goa, dan sana ia mengambil sebuah tikar anyam, kemudian dibawanya ke depan pembaringan kayu dimana si orang tua duduk bersila, tikar anyam itu digelarnya, ia lalu duduk bersila menghadapi si orang tua.

“Aku tidak kenal padamu!” seru si orang tua rambut putih. “Tapi karena kelakuan liarnya si gadis Biauw dan suhunya, aku merasa tertarik pada kekukuhan hatimu. Nah sekarang kau ceritakan, bagaimana kau sampai terlihat urusan asmara dengan gadis liar bangsa Biauw itu, dan siapakah orang tuamu?”

Mendapat pertanyaan demikian, dengan rasa sedih, Kang Hoo menceritakan asal usul dirinya, dan bagaimana sang ayah telah dibunuh mati oleh orang- orang seragam hitam yang tak dikenal. Hingga akhirnya ia berada di dalam hutan di lereng gunung itu, bersama gadis liar bangsa Biauw yang menuntut ia agar bersedia menjadi suaminya. Semua peristiwa itu diceritakan dengan jelas dan panjang lebar.

Oang tua berambut putih manggut-manggut kemudian katanya, “Jadi kau menganut agama baru itu? Hmmm, tak kusangka! Tak kusangka! Agama itu masih bisa merembes masuk ke dataran Tionggoan, dan orang golongan aneh itu juga tidak mau berhenti menumpas, belum bisa menerima kehadirannya agama baru.”

“Cianpwee,” potong Kang Hoo “Apakah mengetahui tentang agama baru itu?”

“Islam!” kata si orang tua tegas, “Aku bukan saja tahu, bahkan aku pernah mengembara ke negeri asal dimana agama itu muncul, dan aku juga telah mempelajari agama itu boleh dikata sempurna. ”

“Aaaaaa. . . . . . jadi cianpwe ini beragama Islam. ” seru Kang Hoo kaget.

“Heee, heee . . . . ” Orang tua rambut putih tertawa riang, “Sejak kecil aku mendapat didikan agama Budha, aku anak yatim piatu hidup dan dibesarkan dalam vihara, setelah dewasa aku mengembara mencari guru silat, dan pada beberapa tahun aku berhasil mendapatkan nama daerah utara dan selatan sungai Hong-ho, orang-orang memberi aku julukan Pek kut Ie-su, dan namaku sendiri Kong sun But Ok hampir kulupakan karena tenggelam oleh nama julukanku yang menakutkan itu. Memang keadaan manusia itu sewaktu-waktu bisa berubah. Setelah aku berusia tigapuluh lima tahun, mendadak kembali aku rindu akan ajaran Budha maka kembali aku mengasingkan diri bertapa mempelajari agama, sejak itu aku tidak mau turut campur lagi urusan dunia. Tambah lama aku mempelajari agama Budha itu, bertapa di tempat sunyi hatiku tambah tenang, keadaan jiwakupun tambah kuat. Entah bagaimana pada suatu hari terbetik satu pikiran, bukankah Budha itu dibawa oleh sarjana kita diantaranya sarjana Hwei Hseng dan Sung Yud dari negeri India, kedua sarjana itu membawa bermacam- macam buku Budha Mahayana, semua itu aku telah pelajari. Mengingat akan asal agama itu timbul niatku untuk mengunjungi India. Maka segera juga aku berangkat mengambil jalan darat, tapi di tengah jalan aku mendengar tentang adanya agama baru yang merembes di perbatasan Tiongkok, asal agama baru dari negeri Arabia. Mendengar itu, hatiku berubah, ingin aku mengunjungi negara Arabia dan mempelajari seni bentuk dan ragamnya agama itu, lalu niat itu kulaksanakan. Tanpa memperdulikan penderitaan. Aku akhirnya mengembara ke negeri orang, itulah benua Arabia asal dari agama yang kau anut. Hampir dua puluh tahun aku di sana, mengembara dari pojok ke pojok dunia Arab. Dan kini kau boleh panggil aku Haji . . . ” berkata sampai di situ, si orang tua menghela napas, memandangi Kang Hoo yang duduk bersila mendengarkan dengan penuh perhatian. Kongsun But Ok berkata lagi, “Setelah aku kembali ke negeri kita, aku bertapa di tempat ini, menghubungkan kedua macam agama yang pernah aku pelajari. Dari penyelidikanku, aku dapat menyimpulkan bahwa dari kedua agama itu mengandung inti sari kejiwaan yang sangat dalam dan kalau saja manusia berhasil menguras inti sari ilmu kejiwaan dari dua ajaran agama itu digabung menjadi satu. Maka akan timbul satu kekuatan tenaga bathin yang sangat luar biasa dan aneh. Sejak berpikir begitu aku memperdalam kedua ajaran agama itu dalam segi kerohanian. Dan akhirnya setelah memakan waktu belasan tahun kemudian berhasillah aku menciptakan satu ilmu kekuatan bathin yang bersumber dari kemurnian jiwa!”

Sampai di situ, Kongsun But Ok Pek-kut Ie-su menatap wajah Kang Hoo yang duduk bersila di bawah pembaringannya. Kang Hoo sendiri yang mendengarkan cerita si orang tua, ia mendengarkan dengan melompongkan mulut, dan takkala si orang tua menatap wajahnya, ia bertanya, “Jadi cianpwe, adalah Kongsun But Ok Pek-kut Ie-su yang pernah menggemparkan rimba persilatan pada tiga puluhan tahun yang lalu?”

“Nnnggg, kau jangan sebut lagi julukan Pek kut Ie-su, julukan itu sudah tidak cocok dengan keadaanku sekarang. Kau boleh panggil saja aku Haji Kong-sun But Ok, aku lebih senang mendengar sebutan itu, bukan?”

Kang Hoo mengangguk-angguk katanya, “Hamba, pernah mendengar nama itu dari suhu. Harap cianpwe jangan gusar. ”

“Anak tolol!” seru Kong-sun But Ok. “Kau panggil aku Haji Kong-sun But Ok apa, sudah paham. ”

“Hamba paham. ” seru Kang Hoo.

“Paham apa?” tanya Haji Kong-sun But Ok.

“Hamba sedang berhadapan dengan Pak Haji Kong sun But Ok. ” kata Kang Hoo.

“Ha, . . . ha . . . haaaaa, haaaaaa . . . hua . . . a. . . . .

” tertawa berkakakan Kong sun But Ok, “Begitu, begitu, kau mesti panggil aku Haji Kong-sun But Ok. Hua haa . . . haaaaa . . . . aaaa bocah apa kau sudah sembahyang Dhuhur, hmmm, ehe heee. . . . . heee ”

Mendengar pertanyaan itu, Kang Hoo kelabakan, hatinya berdebar keras, bukankah sembahyang itu wajib bagi dirinya tapi selama ini ia tidak pernah melakukan sembahyang itu, maka dengan gugup ia berkata, “Pak . .

. haji , . . selama ini . . . . . . hamba tidak lagi melakukan sembahyang, ini karena keadaan hamba yang terus- terusan dikejar-kejar orang jahat, tapi hati sanubari hamba tetap yakin kepada Nya dan utusan Nya Nabi besar Muhammad!”

“Heheee . . . he . . heeee . . . heeeees          ” Kong-

sun But Ok tertawa terkekeh, “Mengapa kau mesti takut mengakui kenyataan, aku sendiri tidak pernah melakukan sembahyang ”

“Eh, tapi . . . . tapi . . . bukankah pak Haji wajib melakukan lima waktu itu, itulah wajib dalam rukun agama”, tanya Kang Hoo.

“Heheee . . . aku tahu. ” kata Kong-sun But Ok, “Karena sejak aku kembali dari negeri Arabia, aku sibuk dengan menyelidiki persamaan dan perbedaan antara agama yang lama dan agama yang baru, hingga aku tak sempat melakukan sembahyang tapi aku yakin Allah itu Pemurah dan Pengasih. Semoga Ia mengampuni dosaku, dan hal yang wajib itu, bukanlah hanya sembahyang lima waktu, kau tentunya juga tahu mencari ilmu dan menolong orang sengsara itu juga wajib. Nah aku telah menjalankan kewajiban mencari ilmu itu, selama ini waktu kuhabis untuk mencari ilmu. Dan akhirnya aku berhasil, heeehee heeee . . . heeee ”

Kembali si orang tua tertawa berkakakan.

Mendengar dan menyaksikan sikap orang tua itu hati Kang Hoo jadi kebingungan, mengapa ucapan orang tua ini agak melantur, dan suara tertawanya tadi, bukankah seperti suara tertawa orang gila. Maka pikir Kang Hoo dalam hati, “Apakah aku ini berhadapan dengan seorang Haji gila?”

“Eheee . . . . heeee . . . ” Kong sun But Ok terus tertawa melihat perobahan wajah Kang Hoo, lalu katanya, “Mungkin hatimu mengatakan aku ini seorang gila. Heeeheee ”

“Ah. Mana berani,” seru Kang Hoo terkejut.

“Hmmm, huaaheeeee. . . . . . . ” kembali Kong-sun But Ok tertawa lagi, “Nah mulai hari ini kau akan kujadikan muridku, aku akan menurunkan ilmu bathin yang selama puluhan tahun ini kuciptakan, nanti setelah kau menerima ilmu itu kau bisa malang melintang di atas dunia ini. Tapi sebelumnya kau harus membaca dulu surat Al-faatihah, sebanyak tujuh kali di hadapanku. Apa kau bisa?”

Kang Hoo mengangguk kepala, lalu ia mulai membacakan apa yang diminta oleh orang tua itu. Tapi setelah Kang Hoo membaca surat Al Faatihah, sebanyak satu kali, mendadak Haji Kong-sun But Ok mengerutkan kening, katanya dingin, “Aku tidak butuh lagu suara itu. Kau baca dengan bahasa kita!”

“Tafsirnya?” tanya Kang Hoo.

“Ya. Tafsirnya, tidak guna kau melagukan ayat demi ayat, bila kau tidak mengerti bagaimana bunyi tafsirnya. ” kata Haji Kong-sun But Ok. Maka setelah memandang sang guru, Kang Hoo membacakan tafsir dari Al Faatihah di depan sang guru. Ucapnya dengan pemusatan pikiran ke hadapan Tuhan,1. Dengan nama Allah yang Pemurah dan Pengasih. 2. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. 3. Yang Maha Pemurah dan Pengasih, 4. Yang memerintah di hari Qiamat. 5. Engkaulah yang kami sembah dan Engkaulah yang kami minta tolong. 6. Tunjukkanlah kami ke jalan yang benar. Jalannya orang- orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalannya orang yang sesat. Terimalah ya Tuhanku.

Sambil duduk bersila di atas pembaringan kayunya, Kong-sun But Ok mendengarkan terus Kang Hoo membacakan tafsir dari ayat Al Faatihah sebanyak tujuh kali. Setelah selesai Kang Hoo membacakan ayat itu, Haji Kong-sun But Ok, manggut-manggut, ia tersenyum, “Bagus, bagus . . . . mulai detik ini kau kuangkat jadi muridku, menerima gemblengan lahir bathin. Nah kau bangkitlah.”

Mendenpar perintah itu, Kang Hoo segera bangkit berdiri di depan sang guru agamanya. Kong-sun But Ok masih duduk bersila di atas pembaringannya. Ia memandang Kang Hoo, lalu katanya, “Pelajaran pertama. Pusatkan seluruh perhatianmu! Ciptakan hawa amarahmu!”

Mendapat perintah latihan pertama yang demikian rupa Kang Hoo, jadi berdiri bengong memandang sang guru. “Ah, Ayo! Jangan mematung begitu,” bentak Kong- sun But Ok.

“Guru, . . . . ini mana mungkin,” kata Kang Hoo memandang gurunya, “Menciptakan hawa amarah, bukankah itu bertentangan dengan ajaran agama. Kita harus menjauhkan sifat-sifat jelek, melenyapkan perasaan sirik dengki, menciptakan situasi damai pada jiwa kita. Hari ini guru memerintah aku menciptakan hawa amarah. Mana bisa. ” Mata Kong-sun But Ok, berputaran memperhatikan Kang Hoo, yang berani membantah perintahnya, tampak begitu pipi tuanya yang keriput itu bergerak-gerak, entah perasaan apa yang dikandung dalam dada si orangtua aneh itu. Sementara itu Kang Hoo masih terus berdiri mematung, hatinya sedikit bergidik menyaksikan sikap gurunya yang demikian rupa. Tanpa disadari, kakinya bergeser mundur ke belakang dua tindak.

“Nggg . . . ” menggereng Kong-sun But Ok menyaksikan sang murid mundur ke belakang, lalu katanya, “Kau maju dua langkah!”

Mendengar perintah maju dua langkah, sepasang kaki Kang Hoo, bergerak maju lagi dua langkah, mendekati sang guru.

“Apakah kau masih ingin mengangkat aku menjadi guru?” tanya Haji Kong-sun But Ok. Kang Hoo mengangguk kepala. Tapi mulutnya bungkam. Kong-sun But Ok masih duduk bersila di atas pembaringan kayunya, ia mengangguk angguk kepala lalu katanya, “Dengarlah! Pusatkan perhatianmu! Ciptakan hawa amarah. ”

Kembali Kang Hoo mendapat perintah latihan demikian, hatinya jadi gelisah mengapa gurunya ini memerintahkan ia menciptakan hawa amarah. Bukankah itu bertentangan dengan ajaran agama. Meskipun ia mesti melanggar ajaran agama itu. Tapi bagaimana secara mendadak tanpa hujan tanpa angin bisa timbul hawa amarahnya. Maka cepat-cepat ia berkata, “Guru. sebenarnya. . . . . . hamba bagaimana bisa menciptakan bawa amarah itu. Ini sulit. ”

Mendengar jawaban Kang Hoo demikian rupa, Kong- sun But Ok tertawa terbahak-bahak, lalu sambil menunjuk-nunjuk dengan suling peraknya, ia berkata, “Aku tahu, aku tahu, jawabanmu ini benar nah, begitulah harusnya kau menjawab, jangan sok pintar soal agama. Aku ini Haji, bertahun-tahun mengembara di tanah suci Mekah, aku lebih tahu darimu. Hmm. Untuk menciptakan hawa amarah, sebenarnya itu mudah kulakukan dengan meniup seruling ini, aku bisa membuat kau marah seperti kerbau gila. Tapi itu tidak sempurna, ilmu yang akan kuturunkan harus dipupuk dari semangatmu sendiri tanpa bantuan suara suling. Apa kau mengerti maksudku?”

Meskipun ia tidak mengerti akan apa yang diucapkan sang guru. Kang Hoo menganggukkan kepala, jawabnya, “Ya. ”

Jawaban singkat Kang Hoo itu terpaksa, ia kuatir kalau gurunya nanti menunjukkan wajah seperti tadi, Wajah itu sangat menakutkan. Maka meskipun ia sendiri kurang mengerti apa maksud kata gurunya tadi la menjawab saja “Ya. ” Urusan belakang bagaimana nanti saja.

“Apa kau sudah mulai memusatkan pikiranmu?” tanya Haji Kong-sun But Ok.

“Teecu akan mulai. ” jawab Kang Hoo tergetar.

“Nah cobalah,” seru sang guru. Kang Hoo memejamkan sepasang matanya, ia memusatkan pikirannya mengumpulkan hawa amarah. Otaknya diperas guna menciptakan hawa marah tadi. Pikirannya diarahkan pada lawan-lawan yang pernah melukainya. Dibayangkannya manusia-manusia seragam hitam beselubung muka yang membunuh ayahnya serta melukai dirinya. Tapi yang timbul bukanlah hawa amarah sebaliknya, rasa sedih yang mempengaruhi jiwanya, sedih ia teringat bagaimana sang ayah binasa di tangan musuh gelap, dan bagaimana ia melihat sendiri mayat ayah itu mencair. Tanpa dirasa matanya yang dipejamkan itu mulai membasah.

Kong-sun But Ok memperhatikan keadaan Kang Hoo, ia melihat sepasang mata si pemuda yang terpejam itu mengembang air, cepat ia membentak, “Anak tolol! Aku bukan suruh kau bersedih hati.”

Mendengar suara bentakan sang guru, Kang Hoo jadi kaget, ia tersentak, matanya dibuka, dengan lengan bajunya ia menggosok air mata tadi. Katanya gemetar, “Teecu teringat akan ayah. ”

“Hmm. Kalau kau tidak mampu memusatkan pikiranmu,” kata Kong-sun But Ok, “Baiklah aku akan mengambil cara lain. Nah sekarang kau robek baju rombengmu itu. ”

Kembali Kang Hoo dibuat bingung mendengar perintah sang guru. Tapi ia tidak mau banyak pikir, cepat ia merobek bajunya yang sudah rombeng. Maka di dalam goa itu terdengar suara memberebet yang panjang. Dan berbarengan dengan sirapnya suara koyakan baju itu, di tangan Kang Hoo sudah memegang sobekan kain bajunya.

“Kurang lebar. ” seru sang guru.

“Kurang lebar?” Kang Hoo berkata dalam hatinya. Lalu ia membuang sobekan itu di lantai goa. Kemudim membuka bajunya dan baju yang telah dibuka itu, dirobek-robeknya menjadi beberapa lembar. Lalu ditunjukkan di depan sang guru. Menampak kelakuan gila Kang Hoo. Dengan masih duduk bersila di atas ranjang kayu Kong sun But Ok tersenyum, katanya, “Berikan aku salah satu sobekan itu. ” Kang Hoo memberikan selembar koyak-koyakan kain bajunya yang terlebar pada sang guru, sedang sisa yang lainnya masih dipegangnya di tangan kiri. Sambil manggut-manggut, Kong sun But Ok menerima sobekan baju Kang Hoo, lalu ia meletakkan suling peraknya di atas pangkuan, sobekan baju tadi, diperas-perasnya berulang kali. Tampak wajah Haji Kong sun But Ok serius, seperti ia sedang mengerahkan tenaganya untuk menghancurkan sobekan kain tadi, Tapi sobekan kain tadi bukan dihancurkan setelah diperas-perasnya, lalu ia membuat tiga buah ikatan simpul. Setelah itu baru ia memandang Kang Hoo katanya, “Perhatikan!''

Berbarengan dengan kata-katanya, Kong-sun But Ok melemparkan sobekan baju Kang Hoo, ke atas langit- langit goa, maka sobekan baju itu meluncur terbang ke atas, berbareng mana, setelah ia melemparkan sobekan baju tadi, tangannya cepat mengambil itu seruling perak, lalu seruling tadi dilempar ke atas menyusul meluncurnya sobekan kain baju. Luncuran suling perak yang cepat itu membentur sobekan baju di tengah udara, kemudian terangkat naik ke atas lalu membentur langit-langit goa. Kang Hoo yang terus memperhatikan kelakuan gurunya, ia mempelototkan sepasang matanya, hatinya tidak mengerti, tapi ia tidak sempat bertanya apa maksud gurunya berbuat demikian, jelas sekali bagaimana suling perak itu meluncur menerjang sobekan kain bajunya lalu menancap membentur langit-langit goa batu. Dan sobekan baju tadi ditembusi suling, tiga simpul ikatan pada kain baju itu terjuntai ke bawah.

“Hmm. Dengar!” seru Haji Kong-sun But Ok. Mendengar seruan sang guru, Kang Hoo memandang wajah gurunya dengan penuh perhatian. “Untuk melatih menciptakan hawa amarah. Kau pukullah tiga simpul kain itu di atas langit-langit goa. ” Mendengar keterangan gurunya demikian rupa Kang Hoo menengadah ke atas, ia memperhatikan tiga simpulan sobekan kain baju itu di atas langit-langit goa. Meskipun langit-langit goa itu tingginya lebih dari tiga meter, tapi dengan mengandalkan latihan lompat tinggi yang ia pernah latih di bawah asuhan Beng Cie sianseng, baginya tidaklah sulit untuk dapat melakukan serangan di atas tadi. Tapi ia masih bingung, apakah dengan cara demikian benar bisa menciptakan hawa amarahnya. Sesaat ia masih memandangi ke atas langit- langit goa batu, gurunya sudah berkata lagi, “Sebelum kau berhasil melakukan latihan ini, kau dilarang meninggalkan goa, kecuali waktu makan dan waktu kau sembahyang, selainnya kau harus terus berlatih memukul tiga simpulan kain di atas sana. ”

“Sembahyang?” seru Kang Hoo.

“Ya. ” jawab sang guru tersenyum. “Lima waktu. Ingat jangan kau lalaikan. Sebenarnya, latihan ini harus diiringi dengan latihan semadhi, tapi semadhi itu mirip dengan ajaran Budha. Maka dengan jalan melakukan sembahyang lima waktu, itu sama saja kau bersemadhi memusatkan pikiran pada Tuhan Yang Maha Esa. Inilah ciptaan ilmuku. Kau nanti akan tahu bagaimana hasil dari latihan ini. Di bawah goa ini terdapat sebuah goa merupakan mata air, kau boleh turun ke sana menggunakan akar rotan untuk kau membersihkan dirimu, dan mengambil wudlu (air sembahyang). Ingat goa ini menghadap ke timur, jika kau hendak melaksanakan lima waktu kau harus menghadap ke barat. Mengerti?”

Kang Hoo nengangguk.

“Ayo mulai!” perintah sang guru. Kang Hoo memandang ke atas langit-langit goa lalu ia melempar sisa sobekan bajunya di lantai kemudian ia mengempos tenaganya lalu lompat melambung ke atas memukul sobekan kain bersimpul tiga itu. Gerakan pukulan pertama tadi berhasil dengan baik, Kang Hoo dengan mudahnya memukul sasarannya, kemudian tubuhnya kembali turun ke bawah. Lalu ia memandang sang guru.

“Lihat apa?” Tanya Kong-sun But Ok, ketika melihat muridnya itu memandang dirinya.

“Kau pukul benda di atas itu, pusatkan perhatianmu, anggap benda itu musuhmu. Ingat jangan berhenti kalau aku tidak memberi perintah. Kalau kau masih bego saja, kulempar kau keluar goa. Anak tolol!”

Mendengar makian sang guru, Kang Hoo tidak berani membantah, ia cepat melakukan serangan lagi pada simpulan kain di atas langit-langit goa. Kali ini gerakannya dilakukan berulang-ulang, bila ia telah tiba kembali di lantai goa, kembali melejit memukul ke atas.

Latihan berlangsung terus, mataharipun mulai doyong ke barat, hari menjadi sore. Kang Hoo yang melakukan latihan aneh itu, napasnya sudah tersengal, badannya sudah mandi keringat, bahkan pada badannya sudah terdapat luka-luka. Karena dalam latihan itu, tidak jarang Kang Hoo mesti jatuh terguling di lantai dan membuat badannya yang sudah tak berbaju itu mesti merasakan bagaimana tajamnya batu-batu gunung di dalam goa. Tapi ia tidak mau memperdulikan itu semua, tambah ia mendapat luka tambah semangatnya terbangun. Untuk mengulangi menyerang sobekan kain di atas langit-langit goa.

Ketika napasnya sedang memburu melakukan gerakan latihan aneh itu, mendadak saja terdengar sang guru berkata, “Berhenti! Waktu Ashar! Kau harus sembahyang empat raka'at. ”

Mendengar perintah suhunya, Kang Hoo cepat menghentikan latihan. Tubuhnya sudah basah mandi keringat!

Melihat kalau Kang Hoo sudah basah kuyup dengan keringat juga napasnya tersengal-sengal Kong-sun But Ok berkata. “Kau makan dulu buah di dalam kuali batu itu di luar sana. Setelah itu kau boleh merambat turun mencuci dirimu mengambil wudhu. Kau harus melakukan sembahyang di tempat ini. ”

Kang Hoo tidak berani membantah perintah gurunya, ia berjalan keluar mengambil buah di atas kuali tanah. Dengan napas ngos-ngosan ia melahap buah tadi. Setelah itu baru dengan menggunakan akar rotan ia merosot lurun ke arah goa dimana terdapat mata air. Tak lama Kang Hoo sudah merambat kembali naik ke atas goa. Lecet-lecet pada kulit badannya sudah dicuci bersih. Ia menghadap sang guru. Kong-sun But Ok mengetahui kalau sang murid sudah kembali ke dalam goa. Dengan masih duduk bersila ia berkata,“Nah, tunggu apa lagi, ini waktu Ashar jangan sampai terlambat!”

“Ya, ya, teecu tahu,” jawab Kang Hoo, ia memperhatikan letak tempat dalam goa itu, pintu goa menghadap ke timur jadi ia harus menghadap ke barat ke arah qiblat. Yang berarti ia mesti menghadapi gurunya yang masih duduk bersila di atas pembaringan kayu. Selagi Kang Hoo memperhatikan keadaan tempat itu, sang guru sudah bertanya lagi,“Apa celanamu sudah kau cuci bersih?”

Kang Hoo mengangguk.

“Nah sembahyanglah, gunakan tikar anyam itu!” Mendapat perintah itu, Kang Hoo tidak berani membantah ia mulai berdiri tegak menghadap qiblat lalu hatinya berniat. Sementara itu Kong-sun But Ok masih terus duduk di atas pembaringan kayunya memperhatikan Kang Hoo yang mulai melakukan sembahyang. Kang Hoo tahu kalau gurunya Haji itu masih duduk di depannya, tapi ia tidak mau perduli terus melakukan sembahyang hingga selesai empat rakaat. Setelah mana barulah ia berdiri.

“Bagus!” kata Kong sun But Ok.

“Guru,” seru Kang Hoo, “Mengapa guru tidak sembahyang?”

“Anak setan?” bentak haji Kong-sun But Ok, “Kau jangan banyak cerewet turut saja perintahku. Nah sekarang mulai kau berlatih lagi, nanti waktu Magrib kau mesti melakukan sembahyang lagi. Kalau kau masih berani banyak mulut akan kucekik batang lehermu. ”

Mendengar kalau sang guru menjadi marah besar. Kang Hoo jadi merengket ia cepat membalik badan memulai latihannya, dalam hati Kang Hoo berkata, “Haji gila! Orang dipaksa sembahyang ia sendiri duduk nongkrong di atas tempat tidur!” Hatinya berkata demikian, tangan dan kaki Kang Hoo bergerak melakukan latihan mengerahkan hawa amarah. Latihan tadi berlangsung sampai malam, waktu Maghrib dilewati. Menyusul mana waktu Isya berlalu. Kang Hoopun tidak lupa pada setiap waktu itu melakukan sembanyang tapi sang guru, haji Kong-sun But Ok masih terus saja duduk nongkrong di atas pembaringan kayunya ia tidak pernah melakukan sembahyang.

Pengalaman satu hari itu di bawah didikan guru barunya, Kang Hoo mendapatkan pengalaman baru yang sangat aneh, karena di dalam goa pada malam hari itu, keadaan tampak terang, sinar terang mana ternyata keluar dari suling perak sang guru di atas langit-langit batu. Siang tadi Kang Hoo tidak melihat adanya cahaya pada suling perak itu, tapi ketika hari memasuki waktu Magrib, pada batang seruling tampak titik-titik mengkilat yang memantulkan cahaya.

“Beginilah setiap hari kau mesti melatih,” kata Kong- sun But Ok, “Setelah lewat waktu Isya kau baru boleh berhenti berlatih. Dan itu suling perak mengandung titik sinar di malam hari. Kau jangan heran di dataran Tiongkok negeri kita ini, bukankah banyak benda mustika seperti itu. Tapi suling ini kudapatkan dari negeri Bagdad. Rupanya dunia ini sangat luas, dan sangat banyak dengan keanehan-keanehan, bukan saja negeri kita yang memiliki banyak benda-benda aneh, tapi negeri lain juga tidak kurang terdapat benda-benda antik. Nah, seperti suling itu, kudapat hadiah dari seorang Arab di tanah Bagdad. Negeri dari seribu satu malam,”

Kang Hoo mendengar cerita gurunya yang pernah mengembara ke benua Arabia itu. Meskipun telinganya mendengarkan semua kata-kata gurunya, tapi pikirannya masih di buat bingung. Bukankah gurunya ini seorang Haji? Mengapa ia tidak melakukan sembahyang lima waktu? Terus-terusan duduk nongkrong di atas ranjang kayunya. Juga Kang Hoo sedikit heran, sang guru itu setahunya sejak ia berada dalam goa belum pernah makan barang sedikitpun apa ia tidak merasa lapar? Berpikir bolak-balik akhirnya hati kecil Kang Hoo berkata, “Apakah aku benar-benar telah mendapatkan seorang guru otak miring? Apakah ia ini seorang Haji gila?” Tapi kata hati kecilnya itu ia tak berani utarakan di depan gurunya. Kuatir kalau sang guru timbul marahnya. “Nah, kau istirahat di goa depan, besok subuh, setelah kau melakukan sembahyang dua rakaat, kau mulai lagi melatih mengerahkan hawa amarahmu. Ingat diwaktu malam jangan ganggu aku!”

Mendengar perintah gurunya, Kang Hoo membalikkan badan ia jalan keluar goa depan, lalu karena lelahnya terus saja membaringkan diri dan tak lama kemudian ia sudah tidur menggeros.