-->

Mustika Gaib Bab 12

 
Bab 12

Goat Khouw melihat kedua orang hutannya jatuh binasa, dengan gemasnya ia berjingkrak-jingkrak lalu teriaknya, “Begitu aku mendengar suara suling, aku sudah menduga kalau kau orang bukan manusia baik- baik, karena kau mengelepot bersembunyi dalam lubang goa di atas sana, maka aku suruh dua orang hutan untuk menarik kau keluar, tidak tahunya kau telah turun tangan kejam membunuh mereka. ”

“Apa?” terdengar suara orang di atas gunung, “Aku membunuh, siapa yang membunuh, kau periksa, kematian kedua orang hutanmu itu apakah aku bunuh? Ia mampus karena terjatuh dari atas puncak gunung ini siapa suruh ia menyerang diriku? Hmmmmmmmm. Perempuan Biauw, aku di sini memandangi rembulan, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, bahkan kau di bawah sana dengan menggunakan pengaruhnya binatang buas memaksa orang menjadi suamimu. Dan dengan bertindak keterlaluan kau suruh binatang orang hutan perempuan itu untuk melakukan perbuatan terkutuk. Itu juga sebenarnya bukan urusanku, tapi karena suara gerengan binatang-binatang buasmu itu telah merusak ketenangan di sini. Maka aku terpaksa meniup seruling sedemikian rupa untuk membuat mereka jadi bungkam. Sebenarnya aku ingin mengusir kau begitu kau muncul di tempat ini, tapi dengan bertindak demikian, maka kau tentu akan memaki aku keterlaluan, tidak hujan tidak angin mengusir orang sembarangan. Tapi kau telah berbuat jahat mengirim dua orang hutan itu untuk mencelakai diriku, kalau aku tidak menunjukan sedikit kepandaianku tentunya kau akan memandang enteng lain orang. Dan sebaliknya kau pergilah dari tempat ini jangan paksa orang untuk mengikuti kehendakmu!”

Mendengarkan ucapan kata-kata orang itu dengan jelas sekali, tapi Goat Khouw tak pernah melihat wajah orang di atas sana, meskipun sang rembulan memancarkan sinarnya dapat menerangi lamping gunung mata si nona Biauw tidak bisa melihat bagaimana rupa orang itu. Bahkan orang itu berada di bagian mana dari puncak gunung iapun tak tahu. Beng Cie sianseng juga mendengar dengan jelas kata demi kata yang diucapkan si peniup seruling, kening orang tua itu beberapa kali berkerut, memperhatikan arah datangnya suara. Kalau mendengar dari suara yang masuk dalam telinganya seperti orang yang bicara itu sangat dekat, tapi bagaimana suara jeritan kedua orang hutan yang jatuh dari atas tadi begitu kecil sekali hampir tak terdengar dan lama baru kedua binatang itu jatuh ke tanah, itulah menandakan kalau goa dimana orang bersuling itu bicara sangat tinggi letaknya.

Kekaguman Beng Cie sianseng akibat suara seruling itu, hatinya jadi berdebaran keras, dengkulnya terasa lemas, bahkan itu binatang-binatang buas, ular-ular berbisa yang lari serabutan mundur mendadak saja jatuh roboh, hingga begitu suara seruling sirap tak terdengar binatang-binatang tadi belum berani mengangkat kepala, bahkan ular-ular berbisa, semua bergelayutan di atas dahan pohon tidak berani bergerak. Teringat akan ular emas, yang merayap di dalam goa, dengan memaksakan diri Beng Cie sianseng bangun berdiri lalu merayap naik ke atas lubang goa, memperhatikan ke dalam. Ternyata ketiga ular emas itu sudah pada jatuh di lantai goa, mereka melingkarkan dirinya, hingga tampak di dalam goa itu, tiga gumpalan kecil warna kuning emas.

********0dwkz0lynx0mukhdan0********

SAAT ITU mendadak rembulanpun kembali gelap, ditutup awan, Beng Cie Sianseng yang baru saja melongok ke dalam goa dibuat kaget, karena mendadak di dalam suasana hening itu terdengarnya suara jeritan panjang yang mirip suara burung. Mendengar suara jeritan itu, gadis Biauw yang sejak tadi kehilangan akal menghadapi si orang bersuling mendadak terjengkit girang serunya, “Suhu . . . . suhuuuuu. . . ”

Beng Cie sianseng, dari depan goa yang juga mendengar suara jeritan tadi, ia segera membalik badan, dan diantara gerombolan pohon dimana itu gadis liar bangsa Biauw berdiri tampak berkelebat sesosok bayangan, Karena rembulan masih ditutup awan maka wajah orang yang baru datang itu belum bisa dilihat jelas.

“Siapa meniup seruling?” terdengar bayangan yang baru muncul bertanya pada Goat Khouw yang ternyata adalah suhu si gadis. Goat Khouw menunjuk ke atas lamping gunung, serunya, “Orang itu selalu menyembunyikan kepalanya di dalam goa. ”

“Ngggg. ” Menggereng sang suhu. Begitu sang rembulan kembali memancarkan sinarnya, Beng Cie sianseng yang sejak tadi memperhatikan gadis Biauw dan suhunya dapat melihat jelas, wajah suhu Goat Khouw ternyata suhu gadis liar bangsa Biauw itu, adalah seorang nenek keriput, rambut nenek tadi putih seluruhnya awut-awutan tidak karuan, hampir menutupi wajahnya matanya memancarkan sinar biru, hidungnya bengkok seperti paruh betet, sedang kepalanya bundar seperti jeruk, bibirnya tebal, deretan gigi-giginya hitam mengkilat. Si nenek mendongakkan kepala ke atas ke arah yang ditunjuk Goat Khouw sinar matanya menembusi sinarnya rembulan.

“Dimana kira-kira,” tanya si nenek pada Goat Khouw. “Suhu, aku tidak tahu pasti, tapi kedua orang hutan

ini binasa dari tempat yang begitu tinggi, sukar ditentukan

dimana orang itu ngelepotkan kepalanya. ”

“Ngggg. . . . . . ”Kembali si nenek rambut putih menggereng lalu dari belakang gegernya, ia menarik sebuah tabung hitam mengkilat sepanjang delapan inch. Tabung hitam itu, lalu diputar-putarnya di tengah udara kemudian disentakkannya keras ke atas. Mendadak saja dari lubang tabung tadi meluncur segumpalan sinar merah darah ke angkasa. Di tengah angkasa, gumpalan sinar merah darah itu, pecah berserakan, meluncur keempat penjuru. Keadaan malam terang bulan itu, jadi lebih terang lagi, keadaan itu tidak bedanya seperti memancarnya kembang api dimalam Goan-siauw. Berbarengan dengan berpercikannya sinar merah darah di angkasa, si nenek rambut putih, mengeluarkan suara jeritan panjang, mirip suara burung hong, tapi jeritan itu mengandung sifat-sifat keras dan sedih menggetarkan seluruh rimba, menggema panjang berpantulan berulang-ulang.

Beng Cie sianseng dipaksa mendengar suara jeritan itu, hatinya kembali jadi berdebaran, buru-buru ia duduk di samping Kang Hoo yang masih terus pingsan, ia tidak mau meninggalkan sang murid begitu saja, juga ia ingin melihat perkembangan selanjutnya, tentu tak lama lagi satu pertempuran hebat antara si peniup seruling dan si nenek pasti akan terjadi sangat hebat.

Saat itu sinar merah darah yang pecah di angkasa mulai sirap, menyusul mana dari atas puncak gunung terdengar alunan suara seruling, suara seruling itu berbeda dengan suara yang pertama kali terdengar. Suara mana membawakan nyanyian burung-burung kecil, terdengar merdu sekali, dan sedap bagi siapa yang mendengar, kemudian lambat laun suara suling tadi berubah keras, penuh wibawa, membuat orang mendengarnya merasa tunduk.

Kalau dari atas tebing gunung dimalam rembulan itu terdengar suara seruling, maka dari bawah tebing, si nenek rambut putih terus mengeluarkan pekikkannya, melawan datangnya suara seruling itu. Berbarengan dengan pertandingan kekuatan suara itu, dari arah dimana si nenek rambut putih tadi datang, di atas angkasa meluncur delapan titik hitam, seperti bintang- bintang kecil, kian lama delapan titik hitam itu kian besar, dan jelas, rupanya itulah delapan ekor burung yang sedang terbang mendatangi.

Delapan ekor burung itu memiliki sayap yang lebarnya beberapa tombak, diantaranya hanya seekor yang kecil berwarna merah, bermata kelabu. Delapan ekor burung tadi, terus meluncur ke arah dimana terdengar suara seruling.

Si nenek rambut putih terus menerus memekik panjang, menyaksikan delapan ekor burung besar tadi datang terbang menerjang ke arah dimana suara seruling keluar, ia memperkeras suara pekikkannya, dan para burung tadi, tiba-tiba mempercepat terbangnya diantaranya terdengar suara pekik ganas mereka, seperti hendak menerkam si peniup seruling di dalam goa. Tapi sungguh aneh, kedelapan burung begitu sampai di depan lubang goa di atas tebing, mendadak menghentikan gerakkannya mereka hanya berputaran di sana, seperti tak sanggup terbang lebih jauh, dan dua diantaranya mendadak turun merendah. Suara seruling yang keluar dari lubang goa di atas lamping gunung, mendadak terdengar berubah keras, seperti suara geledek menyambar.

Delapan ekor burung besar yang masih berputar di angkasa itu, mendadak terbang, melesat berpencaran, dan si burung merah yang memiliki tubuh kecil sudah lari lebih dulu tapi tiga ekor burung yang memiliki badan dan sayap terbesar itu, gerakan mereka agak lamban, dan ketika suara guntur seruling memecahkan kesunyian, tiga ekor burung itu sudah pada jatuh ke bawah.

Burung-burung tadi menggelepar-geleparkan sayapnya menahan agar jangan sampai jatuh di tanah, tapi usaha mereka rupanya agak susah, karena burung- burung tadi telah jatuh diantara pohon-pohon Siong dan Pek yang banyak bertebaran di lereng gunung.

Pohon-pohon Siong dan Pek yang terkena sambaran sayap burung yang lebarnya bagaikan daun pintu besi, pada roboh bergulingan, sedang burung-burung itu terus menggeleparkan sayapnya. Baru setelah sekian lama maka mereka baru bisa naik kembali dengan lemahnya. Meninggalkan daerah berbahaya tadi. Terbang menjauhi bagaikan ayam-ayam jago yang kalah bertarung.

Saat itu, keadaan Beng Cie sianseng sangat kritis, ternyata jago tua itu tidak tahan mendengar suara seruling, tubuhnya jadi lemas tenaganyapun lenyap seketika. Begitu pula keadaannya si gadis liar bangsa Biauw, ia sudah jatuh duduk di atas tanah, sedang suhunya sendiri nenek rambut putih, yang mengeluarkan suara pekikan, melawan suara seruling kini suara pekikkan itu sudah tak terdengar lagi, si nenek rambut putihpun sudah kewalahan menahan serangan suara seruling aneh tadi, dengkulnya sudah dirasa lemas tapi ia masih berusaha menahan dirinya agar tidak roboh di tanah.

Yang aneh adalah keadaan Kang Hoo, ia pingsan di samping suhunya, tapi ketika suara seruling itu terdengar lagi, mendadak si pemuda menggeros, tidur kepulasan, keadaannya bukan lagi seperti orang pingsan tapi sudah seperti seorang yang sedang tidur nyenyak. Perobahan itu juga diketahui oleh Beng Cie sianseng, ia heran, tapi ia juga tidak bisa berbuat sesuatu apa, merasakan keadaan dirinya yang sangat lesu, bersandar pada batu gunung.

Saat itu mendadak irama suara seruling berubah halus merdu, membawakan irama perempuan rindu menantikan sang kekasih, tapi sang kekasih yang dinanti itu tiada datang juga.

Tiga orang yang mendengarkan suara irama seruling hati mereka menjadi sedih, lebih-lebih keadaan si gadis liar bangsa Biauw, keadaannya sudah demikian rupa dengan napas tersengal-sengal menggeletak di atas tanah. Tidak terkecuali si nenek rambut putih ia juga sudah jatuh duduk di atas tanah, tapi sepasang tangannya menunjang bumi seperti ia berusaha untuk bangkit berdiri.

Kalau suara seruling itu membuat tiga orang tadi jatuh lemas tiada bertenaga, lebih-lebih keadaan gadis liar bangsa Biauw ia sudah jatuh pingsan tiada sadar diri, lain halnya keadaan Kang Hoo, ia terus ngorok tertidur nyenyak seperti seorang bayi tidur dinina bobokkan.

Rembulan yang sering-sering tertutup awan beriring itu, membuat keadaan disekitar hutan berubah-ubah gelap berganti terang, berbarengan dengan perubahan- perubahan suasana di dalam rimba itu, irama suara seruling yang terdengar dari atas lamping gunung, kembali berubah, lagu suara seruling itu berobah seperti suaranya hembusan angin musim semi, di mana segala kembang aneka warna sedang mekarnya, orang yang memandang merasa gembira membuat sekujur badan jadi lesu karena diganggu oleh rasa cinta menikmati pemandangan yang paling indah. Begitu suara seruling tadi melagukan suaranya angin musim semi yang sangat aneh luar biasa itu, mendadak saja si nenek rambut putih yang masih berkutet untuk bangun, tubuhnya ambruk di lantai, ia jatuh pingsan! Keadaan Beng Cie sianseng demikian pula, kelesuan badannya tak tertahankan lagi pelupuk matanya terasa berat, dan ia juga tertidur pulas. Di dalam hutan di bawah tebing itu, dibawahnya sinar rembulan, tampak empat sosok manusia yang sedang tidur berpencaran, mereka seperti tidur nyenyak, diantara keempat sosok badan manusia tadi, masih terdapat ratusan binatang buas yang mendekam, binatang-binatang itu seperti mati tak bergerak sedang ular-ular berbisa melingkar di tanah, di atas pohon ular-ular itu menggelantungkan dirinya, mereka seperti mau jatuh ke tanah. Irama seruling yang membawakan lagu suara angin musim semi perlahan- lahan lenyap di telan angin gunung. Berbarengan dengan sirapnya suara seruling, mendadak saja Kang Hoo yang tidur ngorok itu mendusin, ia kaget melihat keadaan sekitarnya, suhunya di samping sedang menggeros keenakan tidur, dan tidak jauh di depannya, binatang- binatang buas dan ular-ular berbisa pada melingkar tidak bergerak.

Karena rasa herannya Kang Hoo bangkit berdiri, perlahan-lahan ia melangkah maju untuk melihat apakah binatang-binatang buas itu sudah pada mampus atau bagaimana? Dan kemana itu gadis liar bangsa Biauw? Ia tak tampak bayangannya. Diantara serakan binatang- binatang buas yang mendekam. Kang Hoo melihat dua ekor orang hutan yang sudah menggeletak di tanah tidak jauh di depannya. Hatinya jadi bergidik mengingat bagaimana sifat orang hutan betina itu. Ketika ia sedang keheranan memperhatikan keadaan di sekitar rimba itu, mendadak saja keadaan jadi gelap, karena rembulan kembali ditutup awan. Kang Hoo menengadah ke atas memandang rembulan yang dilewati awan.

“Aaaaaa……. ” teriak Kang Hoo begitu kepalanya mendongak ke atas, karena di atas angkasa melayang satu bayangan putih terbang turun. Bayangan putih itu kian lama kian membesar juga. Dari bayangan itu memancar sinar terang. Begitu awan yang menutupi rembulan lewat, maka tampak jelaslah bayangan putih yang perlahan-lahan turun itu, itu bukannya burung, atau binatang terbang apapun, tapi adalah sesosok tubuh manusia yang sedang jatuh turun perlahan, tubuh orang itu melayang menelungkup ke bawah. Mata Kang Hoo terbelalak menperhatikan keadaan orang yang jatuh dari atas puncak gunung itu. Bilamana tubuh orang itu jatuh di bawah pastilah ia akan segera binasa. Ataukah memang orang itu telah mati terkena serangan orang- orang dan jatuh dari atas puncak gunung. Dan itu sinar terang yang terdapat pada badan orang itu, sinar apakah sebenarnya?

Kian lama, kian jelas juga keadaan dari rupa orang yang melayang turun ke bawah itu, kepala orang itu tampak dibungkus selendang putih dan pada punggung orang tadi tampak menggelembung ke atas, itulah jubah putih orang itu yang berkembang, bagaikan sayap burung hingga meluncurnya orang itu lambat, tertahan oleh kembangan jubahnya.

Begitu orang yang jatuh dari atas puncak tebing sudah berada beberapa tombak di atas tanah, mendadak saja tubuh orang itu berputar berdiri lalu meluncur turun dengan cepatnya, lalu berdiri menghadapi Kang Hoo. Kang Hoo mundur beberapa tindak, kini jelaslah kalau orang yang jatuh dari atas itu bukan orang mati, tapi seorang tua berambut putih menggunakan ikat kepala putih yang masih segar bugar, di tangan kiri orang itu memegang sebuah seruling perak yang mengeluarkan cahaya terang.

Yang membuat lebih heran hati si pemuda adalah jubah putih orang tua tadi, pada ujung-ujungnya terikat pada setiap pergelangan tangan dan kaki, bentuknya persis seperti sayap seekor kelelawar, dan ketika ia melayang turun ke bawah bagaikan seekor burung putih yang terbang turun. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat kejadian seperti itu.

Wajah orang tua itu putih dingin, sinar matanya memancarkan kebeningan. Perlahan-lahan orang tua berjubah putih tadi melangkah maju mendapatkan Kang Hoo yang berdiri mematung memandang dirinya. Kang Hoo ingin mundur ke belakang, tapi belum lagi kakinya bisa digerakkan mendadak saja, orang tadi telah menubruk dirinya, dan dengan jubahnya Kang Hoo dikempit dan dibawa lari meninggalkan rimba. Di dalam kempitan di bawah jubah orang tua tadi, Kang Hoo gelagapan, hampir ia tidak bisa bernapas. Terasa bagaimana diri nya seperti dibawa terbang. Haripun mulai fajar, langit di timur tampak sinarnya kuning keemasan menyorot diantara sela-sela puncak gunung. Binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa masih meringkel di bawah udara dingin di pagi hari, Daun-daun terotolan digenangi embun. Diantara berserakannya binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa yang pating keringkel, menggeletak tiga sosok tubuh. Itulah sosok tubuh dari dua orang perempuan Biauw tua dan muda yang sedang ngorok tidur di bawah rimbunnya daun- daun pohon.

Tidak jauh dari tempat itu, di bawah kaki lubang goa tampak ngorok menggeros bersandar batu Beng Cis sianseng. Saat itu mendadak saja sehelai daun tua ditiup angin jatuh tepat di atas hidung Beng Cie sianseng. Orang tua itu jadi kaget, ia tersentak bangun, dan mana kala melihat benda yang membentur hidungnya adalah sebuah daun, daun itu ia lempar ke samping. Lalu ia menoleh ke samping kanannya, dimana waktu malam tadi Kang Hoo terjatuh pingsan dan tertidur di situ. Tapi ia jadi heran, karena bayangan si pemuda sudah tak tampak. Beng Cie sianseng berdiri memperhatikan tiga penjuru hutan itu di sana hanya tampak binatang- binatang yang masih mendekam tidak berderak dan di bawah pohon rimbun, itu dua orang perempuan Biauw masih tertidur nyenyak, sedang suara seruling aneh sudah tak terdengar lagi.

Begitu ia mengetahui kalau Kang Hoo sudah tak berada di tempat itu, Beng Cie sianseng memperhatikan kelompokan binatang buas dan ular-ular berbisa, pikirnya, “Aku tokh dengan dua perempuan Biauw guru dan murid tidak ada permusuhan apa-apa, peristiwa malam tadi dikarenakan cintanya si gadis liar yang tak terbalas, dan bukankah gadis itu juga pernah melepas budi menolong Kang Hoo, selagi mereka belum terbangun lebih baik aku cepat meninggalkan tempat ini, mencari jejak Kang Hoo. Entah pergi kemana lagi anak gila itu?”

Setelah berpikir begitu Beng Cie sianseng mengambil pedangnya di tanah, kemudian dimasukkan dalam serangka lalu diselipkan dimana gegernya.

Dengan hati-hati ia meninggalkan hutan tadi. Sedang kedua perempuan Biauw guru dan murid yang telah terkena pengaruh suara seruling yang memilukan dan menyedihkan malam tadi masih belum bangun, ia masih tidur terus bersama binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa peliharaannya.