--> -->

Mustika Gaib Bab 10

 
Bab 10

DENGAN menarik tangan Kang Hoo, menerobos gerombolan-gerombolan pohon di lereng gunung itu Beng Cie sian-seng berkata,

“Cepat perempuan itu sudah mengetahui kau tidak berada di dalam goa.”

Kang Hoo yang lari terseret-seret oleh suhunya, berkata,

“Suhu, jarak yang telah kita lalui cukup jauh, dalam keadaan malam begini kukira tak mungkin dengan mudah ia menemui jejak kita. Untuk apa mesti menyeret- nyeret diriku. Duri-duri semak belukar telah melukai tubuhku. Jangan-jangan aku bisa mengalami luka bernanah.”

“Kau mana tahu, jarak dan waktu untuk gadis liar itu tidak ada artinya, Kau lihat di atas sana. Kau lihat dengan teliti.”

Kang Hoo menengadah ke atas, memandang langit yang bening bercahayakan sinar rembulan.

“Bintang bertebaran!” seru Kang Hoo.

“Tolol.” bentak Bersg Cie sianseng. “Aku bukan suruh kau lihat bintang! Itu binatang yang terbang di atas kepalamu,”

“Aaa, burung itu.” seru Kang Hoo. “Anak tolol.” kata Beng Cie siansent, “Itulah sejenis burung aneh, diwaktu malam matanya dapat melihat apapun dengan jelas. Itulah tentunya piaraannya gadis liar bangsa Biauw. Ia diperintah mencari jejak kita!”

Mendengar keterangan suhunya, Kang Hoo jadi kaget, ia mendongak terus ke atas memperhatikan burung yang terbang di angkasa, tampak burung tadi terbang berputaran di atas kepala mereka.

“Eh, suhu, melihat gerakan terbang burung sial itu, ia sudah tahu kita berada di sini.”

“Hmmm . . .” gumam Beng Cie sianseng, “Nah kau lihat ia menukik rendah.”

Berbarengan dengan ucapannya, Beng Cie sianseng, memotong sebatang ranting pohon dijadikan tiga potong, lalu menunggu burung tadi menukik rendah, ia melempar ketika potongan ranting pohon itu ke udara menyambar burung yang sedang terbang menukik.

Di bawah sinarnya rembulan, tampak tiga batang warna hitam meluncur ke atas, menuju burung aneh yang sedang menukik terbang turun.

Kang Hoo terus memandang ke atas, ia bisa melihat bagaimana tiga batang ranting kayu yang dilempar oleh suhunya itu meluncur ke atas, sedang dari atas udara, tampak itu burung hitam meluncur ke bawah. Dan buah benda luncuran itu saling mendatangi.

Burung tadi seperti tidak melihat adanya serangan yang datang dari bawah, ia masih terus terbang menukik turun, sedang tiga batang potongan kayu yang dilempar ke udara oleh Beng Cie sianseng seperti tiga buah titik hitam yang meluncur ke atas menuju satu titik sasaran. Tampak jelas bagaimana semakin tinggi tiga potongan kayu itu seakan bergerak melancip mengarah pada burung aneh.

“Heheheheheeee . . .... burung itu segera mampus,” kata Kang Hoo, “Badannya segera akan ditembus tiga potong ranting pohon,”

Berbarengan dengan akhir ucapan Kang Hoo, terdengar suara pekik burung di atas langit. Burung tadi kembali mencelat ke udara, kemudian terbang miring, mengelakkan datangnya serangan tiga ranting pohon.

Kang Hoo jadi melengak kaget, tiada disangka, kalau burung tadi berhasil mengelakkan sambaran tiga potong ranting kayu.

“Huhhh!” seru Beng Cie sianseng, “Ayo cepat lari. Burung itu pasti balik memberitahukan majikannya, Kalau saja ia berhasil mengejar jejakmu, itulah membuat kepalaku pusing tidak keruan macam.”

“Mengapa harus pusing-pusing?” kata Kang Hoo. “Anak tolol! Kau kira perempuan liar itu mau mengerti

begitu saja atas kaburnya kau dari goa tadi. Pastilah ia akan membalas dendam sakit hatinya. Entah rencana apa yang telah ia siapkan untuk menyiksa dirimu. Kalau saja ia belum pernah menolong dirimu, itu bukan persoalan. Tapi gadis liar itu bukankah pernah memberikan rawatan dan pengobatan. Kita mesti bertindak bagaimana menghadapi sifat-sifat aneh gadis liar itu, juga kau harus tahu suhunya .... suhunya      aih

.... urusanmu ini mengapa begitu banyak keruwetan    ”

“Suhu jangan kuatir,” kata Kang Hoo, “Serahkan aku untuk menyelesaikan urusan ini dengan gadis liar itu. Atau suhunya.”

“Hmmm. Suhunya lebih gila lagi.” kata Beng Cie Sianseng. “Nah, di atas sana ada sebuah goa, sebaiknya kita tunggu kedatangan mereka di dalam goa itu.”

Kang Hoo mengikuti arah yang ditunjuk sang suhu, di atas lamping batu terdapat sebuah goa kemudian katanya,

“Kita lari saja terus.”

“Mana mungkin, burung itu akan membawa gadis liar itu ke tempat kita, ia akan terus mengejar, dan dalam kejar mengejar ini, pastilah akan banyak menghabiskan tenaga, sedang ia sendiri, di belakang gadis itu masih banyak terdapat binatang-binatang buas. Bagaimana kau kira untuk menghadapi mereka setelah kita kehabisan tenaga. Maka lebih baik kita menunggu saja kedatangan mereka di dalam goa itu. Dengan begitu kita tidak membuang tenaga percuma. Juga keadaan goa sangat menguntungkan, mereka bisa menyerang dari depan, tapi tak bisa melakukan serangan bokongan dari be- lakang.”

Mendengar keterangan sang suhu, Kang Hoo diam- diam memuji kecerdikan gurunya, langkah kakinya dipercepat merambat naik ke atas lamping batu di mana terdapat lubang goa.

Baru saja mereka tiba di atas lamping batu di depan lubang goa, mendadak dimalam rembulan itu terdengar sayup-sayup suara seruling.

Di depan lubang goa Beng Cie sianseng menahan langkah, ia memegang lengan Kang Hoo, katanya,

“Kau dengar suara seruling itu?” Kang Hoo mengangguk.

“Suara itu datangnya dari atas puncak gunung,”

guman Beng Cie sianseng “Entah manusia aneh mana lagi yang muncul di tempat begini sunyi.”

Setelah bergumam begitu, ia menarik ujung tongkat bambu yang tersembul di belakang gegernya.

“Eh,” Kang Hoo heran melihat tongkat bambu itu, karena kini suhunya bukan memegang sebuah tongkat bambu tujuh ruas seperti ia pernah lihat. Itulah sebilah pedang. Gagang pedang terbuat dari ruas bambu. Sedang sarung pedang terbuat dari kulit.

“Kau minggir!” seru Beng Cie sianseng menarik pedang dari serangkanya.

Kang Hoo melangkah mundur, menyaksikan sang suhu, dengan pedang terhunus memasuki lubang goa. Dan tak lama kemudian terdengar dari dalam goa sang suhu berteriak memanggil.

“Masuklah!”

Kang Hoo melangkah masuk, ternyata goa tadi sempit, karena sinar bulan tak dapat memasuki lubang goa, maka dalam goa itu sangat gelap.

Berbarengan dengan masuknya Kang Hoo ke dalam goa, di tengah udara terdengar suara pekikan burung memecahkan suara irama seruling.

Mendengar suara pekikan itu Kang Hoo menoleh ke arah sang suhu, kemudian ia jalan ke mulut lubang goa, mendongakkan kepala ke atas.

Di tengah udara melayang lima ekor burung besar, di bawah sinarnya bulan, bulu-bulu burung yang lebar, berkilauan memantulkan cahaya bulan. Berputaran terus di atas udara di depan lubang goa dimana Kang Hoo dan suhunya ngelepot di dalamnya.

“Aneh, mengapa ia tidak segera turun,” kata Kang Hoo “Bukankah burung kecil itu sudah mengetahui kita berada di sini.”

Beng Cie sianseng memegang pedangnya, memandangi ke atas angkasa, dari kelima burung tadi, tampak seekor yang terbesar, di atas punggung burung itu duduk seorang gadis. Itulah Goat Khouw dengan rambutnya yang riap-riapan ditiup angin.

“Suhu, dia mau tunggu apa lagi.” tanya Kang Hoo “Eh, suara seruling itu masih terus mengumandang!”

“Lihat saja, permainan apa yang diperlihatkan perempuan Biauw itu.” kata Beng Cie sianseng.

Kang Hoo terus memandang ke angkasa di mana burung-burung itu beterbangan terus, dan mendadak saja terdengar suara teriakan dari gadis Biauw di atas punggung burung yang melayang berputaran.

“Pemuda dungu! Dengar! Kau mengkhianatiku. Kau tidak suka kawin denganku. Nah, binatang-binatang buasku akan segera membuat kau menjadi pengantin dari seekor orang hutan perempuan!”

Kang Hoo mengenali suara itu, itulah suaranya Goat Khouw. Ia memandang sang suhu. Tapi suhu itu hanya menggeleng kepala saja. Tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Dari atas angkasa, terdengar suara tertawa cekikikan gadis Biauw, disusul dengan ucapannya,

“Hai, mengapa kalian terlambat. Ayo, tangkap orang itu, bikin upacara perkawinan. Hai Toa sianseng.  ”

Berbarengan dengan suara ucapan dari angkasa, di bawah lereng gunung terdengar suara gerengan- gerengan binatang buas, sedang di atas angkasa suara suling masih terdengar terus. Mendengar suara gerengan-gerengan binatang buas itu, Beng Cie sianseng, menoleh ke arah Kang Hoo, katanya,

“Kau tunggu di dalam!”

Belum lagi Kang Hoo mengerti maksud kata-kata suhunya, sang suhu sudah lompat turun ke bawah tebing memasuki semak belukar.

Dari atas lobang goa Kang Hoo memandangi kepergian suhunya itu. Ia menunggu selama awan beriring menutupi rembulan, begitu sinar rembulan memancar kembali, sang suhu sudah lari datang, di tangan kirinya membawa dua batang kayu.

“Kau gunakan pedang ini.” kata Beng Cie sianseng ia lompat naik masuk dalam lubang goa. “Bunuh saja setiap binatang yang coba menerjang masuk.”

Setelah berkata begitu, orang tua tadi, menggunakan dua potong kayu di tangan kanan dan kiri sebagai senjata

Baru saja Kang Hoo menerima pemberian pedang bergagang bambu itu, dari dalam gerombolan pohon di bawah lubang goa keluar dua sosok tubuh orang hutan, satu berbulu kuning. Itulah orang hutan yang bernama Ui-jie. Dan satu lagi berbulu hitam, badannya tinggi besar, dua kali lebih besar dari orang hutan bulu kuning. Pada kedua dadanya tampak mendoyot dua buah susunya. Di belakang kedua orang hutan tadi terdengar suara gerengan-gerengan binatang-binatang buas yang terus menggereng, membuat suasana malam dalam rimba itu jadi berisik, mereka seperti mengurung medan di bawah lamping batu di depan lubang goa. Sedang itu dua binatang orang hutan dengan lenggak lenggok, jalan mendatangi. Inilah gaya Toa sianseng yang khas! Kang Hoo melihat kedua orang hutan itu, hatinya sudah bergidik, meskipun tangannya mencekal pedang, mengingat kekuatan terjangan seekor orang hutan bulu kuning saja ia sudah tak sanggup hadapi. Apalagi kini mesti menerima serangan dari dua orang hutan.

“Kau hadapi yang kuning.” seru Beng Cie Sianseng, “Dan yang betina ini serahkan padaku.”

Baru saja, Beng Cie sianseng berkata sampai di situ, mendadak saja, dari atas udara meluncur tiga batang sinar emas menyerang ke arah dadanya.

Beng Ce sianseng kaget, ia tidak tahu dari mana munculnya tiga batang sinar emas itu, panjangnya hanya sejengkal meluncur ke arah dada.

Berbarengan dengan luncuran tiga sinar emas menyerang dada Beng Cie sianseng, dari atas angkasa terdengar suara tertawa cekikikannya gadis Biauw di atas punggung burungnya, disusul dengan suara kata- katanya,

“Tua bangka, kau turut campur urusanku hehihihiheeee. ”

“Perempuan liar.” gerutu Beng Cie sianseng sambil mengelakkan datangnya serangan tiga batang sinar keemasan itu.

Kalau saja gerakan Beng Cie sianseng kurang cepat, pastilah ketiga serangan batang sinar emas tadi akan membentur dadanya. Tapi dengan ringannya ia telah berhasil mengelakkan datangnya serangan luncuran sinar emas itu dengan memiringkan badannya ke samping. Berbarengan mana batang kayu di tangannya diayun membentur ketiga batang sinar emas itu.

Tapi benturan kayu itu tidak mengenai sasaran. Karena ketiga sinar emas itu sudah meluncur lewat, dan membentur dinding batu belakang goa.

Sementara itu dua ekor orang hutan yang juga melihat adanya serangan sinar emas tadi mereka tak meneruskan langkahnya. Berdiri di bawah pohon menyaksikan gerakan ketiga batang sinar emas itu. Tampaknya mereka seperti takut menghadapi tiga batang sinar emas tadi. Tampak dari keadaan diri mereka yang pada merengket di bawah pohon.

Kang Hoo juga melihat adanya itu serangan tiga batang sinar emas. Semula ia ingin berteriak memperingatkan sang suhu, tapi gerakan suhunya lebih cepat, mengelakkan datangnya serangan tadi. Ketika ia melihat ke arah kedua orang hutan di bawah sinar bulan, kedua orang hutan itu seperti merengket. Ketakutan di bawah pohon. Hingga mereka tidak berani maju mendekati.

Sementara itu, Beng Cie Sianseng baru berhasil mengelakan serangan tiga batang sinar emas ke arah dadanya. Dan ketika serangan batang kayunya tidak berhasil membentur tiga batang sinar emas itu. Ia jadi tersentak kaget.

Di dalam goa itu keadaannya gelap, sedang sinarnya rembulan tidak dapat menembusi ruangan goa itu, tapi senjata sinar emas yang membentur batu goa dinding itu begitu membentur lantas melekat, tampak sinar emas tadi seperti hidup, bergerak perlahan.

Beng Cie sianseng melihat kejadian itu, melangkah mundur setindak, serunya,

“Ular mas!!!!”

“Suhu, biar kubunuh binatang melata itu.” seru Kang Hoo melangkah maju.

“Diam! Jangan bergerak!” kata Beng Cie sianseng mendorong mundur badan Kang Hoo dengan tongkat kayu. “Tiga binatang ini sangat berbisa. Tinggalkan goa.”

Berbareng dengan ucapan Beng Cie sianseng, tubuhnyapun sudah lompat turun keluar goa. Diikuti lompatan Kang Hoo.

Begitu mereka lompat keluar, dua orang hutan yang sejak tadi merengket di bawah pohon, mendadak mengeluarkan pekikkan, seekor orang hutan besar bersusu lari ke arah Kang Hoo, dan yang berbulu kuning menerkam Beng C e Sianseng.

Beng Cie sianseng telah siap dengan dua potong kayu pohon itu, ia segera menyambut dengan kemplangan kedatangan orang hutan bulu kuning. Tapi orang hutan bulu kuning juga cerdik, ia tidak mau kepalanya terkena kemplangan orang. Sambil memekik lompat mundur.

Sementara itu, si orang hutan raksaksa dengan cengar cengir memandangi Kang Hoo. Di tangan si pemuda mencekal pedang ia menuding-nuding orang hutan itu dengan ujung pedang.

Dari atas angkasa kembali terdengar suara tertawa gadis Biauw di atas punggung burungnya, disusul dengan ucapannya,

“Hai! Pemuda, percuma pedangmu menghadapi orang hutan betina itu, tangan-tangan berbulunya keras bagaikan baja, beruntung ia begitu melihat wajahmu sudah jatuh cinta, heeeeeheheeeeeee.... bukankah ia saat ini sedang memandangmu sambil tersenyum girang. Nah kau nikmatilah kemantin perempuan itu. Heeeheee. ”

Mendengar suara si gadis Biauw, hati Kang Hoo mendongkol, teriaknya,

“Gadis liar. Hmmm.   ”

Tapi hanya itulah yang bisa keluar dari mulut Kang Hoo, karena mendadak saja ia melihat mulut orang hutan besar itu sedang cengar cengir mendatanginya, dan kedua tangan orang hutan perempuan itu menggaruk- garuk selangkangannya.

“Kang Hoo!” seru Beng Cie sianseng yang terus menempur orang hutan bulu kuning, “Gunakan pedang itu, tusuk matanya dan kau lari kabur!”

Mendengar teriakan sang suhu, Kang Hoo sadar, ia tidak boleh bertindak ayal, kalau tidak tentunya keadaannya akan lebih runyam lagi. Lebih-lebih melihat bagaimana orang hutan besar bersusu itu, tidak henti- hentinya cengar cengir terus sambil menggaruk-garuk selangkangannya yang penuh bulu lompat-lompatan di depan dia, rupanya si orang hutan perempuan tidak pandang mata dengan pedang yang diarahkan pada dirinya, ia lebih tertarik dengan ketampanan wajah Kang Hoo, hingga sifat nafsu binatangnya telah memuncak ke otak sampai ia tak henti-henti terus menggaruk-garuk selangkangan. Entah benda yang digaruk-garuk itu terasa gatal ataukah bagaimana Kang Hoo tidak mengerti. Yang mengerti hanyalah si orang hutan perempuan itu sendiri yang nafsu sexnya sudah mengalir dalam darah binatangnya.

Begitu Kang Hoo mendapat teguran sang suhu pedangnya cepat ditusukkan ke arah biji mata si orang hutan yang mengkilat berputaran. Orang hutan itu mendapat serangan tusukan ujung pedang, ia tidak mengelak dengan tangannya. Tangan itu masih terus menggaruk-garuk, ia hanya memiringkan kepala ke samping, lalu lompat maju ke depan. Dengan gerakan itu orang hutan tadi berhasil mengelakkan tusukan ujung pedang.

Serangan tusukan pedang begitu dapat dielakan oleh orang hutan perempuan itu, Kang Hoo menarik pedangnya, ia hendak mengulang serangannya, tapi mendadak saja, orang hutan yang baru saja berhasil me- ngelakkan serangan pedang, menubruk maju ke arah batang pedang, lalu dengan dagunya ia menjepit batang pedang itu, kemudian badannya lompat ke atas.

Kang Hoo jadi kaget, ia membetot pedang tadi, tapi jepitan leher orang hutan betina itu sangat keras, belum lagi ia berhasil menarik pedangnya, mendadak saja orang hutan tadi sudah lompat ke atas. Karena gerakan lompatan itu, maka pedang yang masih terjepit pada leher orang hutan tadi juga turut terbawa naik. Dan saat itu Kang Hoo sudah dibuat bingung dengan gerakan aneh orang hutan perempuan tadi, ia melepaskan cekalan pedang dan lompat mundur.

Berbarengan dengan gerak kaki Kang Hoo yang lompat mundur, mendadak saja sepasang kaki orang hutan perempuan yang lompat ke atas tiba-tiba menendang ke muka Kang Hoo. Si pemuda yang sedang kebingungan, mendapat tendangan kaki orang hutan perempuan tadi ia tak dapat mengelak, dan keningnya terhajar tendangan kaki berbulu itu. Kang Hoo mundur sempoyongan lalu jatuh terguling.