Mustika Gaib Bab 09

 
Bab 09

TANPA DIRASA dua hari telah dilewati.

Luka di punggung Kang Hoo sudah sembuh, tangan kanannyapun sudah bisa digerakkan dengan leluasa. Hanya pakaiannya masih itu juga, pakaian robek-robek penuh noda darah.

Selama dua hari itu dalam rawatan gadis liar bangsa Biauw, ia merasakan bagaimana gadis tadi begitu telaten dan telitinya menjaga dirinya. Hingga bagaimanapun kuatnya hati seorang pemuda, mendapat pelayanan demikian rupa, maka goyanglah pendiriannya.

Ia tidak bisa menolak dengan ketus permintaan gadis Biauw itu untuk menjadi suaminya, juga ia tidak bisa menerima begitu saja lamaran yang diajukan gadis tersebut.

Teringat bagaimana dirinya sampai berada di dalam goa dalam daerah perkampungan suku bangsa Biauw, Kang Hoo terkenang pada gadis baju merah yang pertama kali ia temui, dan gadis itupun pernah melepas budi menolong dirinya dari cengkeraman orang-orang seragam hitam.

Dua orang gadis sekaligus membayang dalam otaknya, ia membanding-bandingkan kecantikan kedua gadis itu. Mereka hampir memiliki perawakan dan potongan tubuh yang sama, berkepandaian silat sama tinggi, mereka hanya beda dari asal keturunan, satu dari suku bangsa Biauw, berkulit hitam manis dan masih liar, dan satu keturunan bangsa Han berkulit putih kekuningan. Kecantikan kedua gadis itu boleh dibilang masing-masing punya kelebihan dan punya kekurangan. Tapi keduanya cukup menarik dan membuat hati Kang Hoo terkenang dan terbayang-bayang.

Begitu kenangan wajah kedua gadis tadi berlalu dari rongga otaknya, Kang Hoo meneteskan airmata, ia terkenang akan ayah tercinta, tewas di bawah keganasan orang-orang berseragam hitam berselubung muka misterius. Dan yang lebih mengenaskan, kematian ayahnya mengalami proses pelumeran daging, akibat terkena cairan mayat seragam orang seragam hitam yang berhasil dibunuh sang guru.

Teringat akan suhunya Beng Cie sianseng yang selama sepuluh tahun lebih mengajarkan ia ilmu surat dan juga memberikan pelajaran ilmu silat secara diam- diam pada dirinya, Kang Hoo jadi menghela napas. Karena tak disangkanya suhunya itu seorang jago rimba persilatan yang menyembunyikan diri. Dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana ia melihat gerakan suhunya memainkan tongkat bambu tujuh ruas menghadapi orang seragam hitam, bahkan dengan bengis sang suhu menyuruh ia membunuh orang berseragam hitam, yang telah membunuh ayahnya. Kemanakah suhunya itu, siapakah sebenarnya Beng Cie Sianseng? Pertanyaan itu berkecamuk dalam rongga otak Kang Hoo. Karena terlalu memikirkan keadaan dirinya, Kang Hoo lupa ia sedang berada di tempat apa, ia melangkah keluar goa, ternyata hari sudah mulai sore.

Di luar sana, Goat Khouw dan binatang buas berbulu kuning itu tidak kelihatan di sana, suasana sore di depan goa sangat sunyi, hanya daun-daun pohon yang terus bergoyang tiada hentinya ditiup angin.

Kang Hoo maju ke depan dan berada di depan goa ia memperhatikan keadaan medan di sana, itulah sebuah hutan di bawah kaki gunung yang sunyi disana sini hanya tumbuhan lebat.

Lereng gunung ditumbuhi pohon-pohon lebat, jauh di atas puncak gunung, tampak kepulan awan mengambang memotong tengah-tengah gunung, hingga tak tampak sampai dimana tingginya puncak gunung itu, di utara dan timur masih terdapat puncak gunung yang menjulang tinggi.

Tanpa disadari, Kang Hoo melangkah mendaki lereng gunung, tubuhnya menerobos rimbunnya ranting- ranting pohon.

Selagi ia mendaki lereng gunung tanpa arah tujuan itu, mendadak di belakangnya terdengar suara orang memanggil,

“Kang Hoo. !” Kang Hoo terkejut, ia menoleh ke belakang, suara itu sudah ia kenal, bagi telinganya suara tadi tidak asing lagi.

“Suhu        ” teriak Kang Hoo berlari datang.

Orang yang berteriak memanggil ternyata adalah si orang tua Beng Cie Sianseng, di punggungnya tersembul ujung bambu tujuh ruasnya. Ia cepat menghampiri Kang Hoo serunya,

“Ayo berangkat! Gadis liar itu sedang mengadakan persiapan pesta besar di kampung Biauw.”

“Aaaaah......jadi, ia benar-benar ingin melaksanakan niatnya?” tanya Kang Hoo.

“Ayo berangkat! Jangan banyak tanya lagi!” seru Beng Cie sianseng. “Belum waktunya kau mengurusi perempuan!”

“Suhu.....” seru Kang Hoo, sambil jalan terus ke atas lereng gunung, “Gadis itu meskipun liar, tapi ia telah melepas budi menolong diriku.”

“Aku tahu! Ia juga cukup cantik!” kata Beng Cie sianseng, menarik tangan Kang Hoo, mempercepat jalannya, “Berhari-hari aku mencari jejakmu, beruntung di tengah jalan aku bertemu dengan gadis baju merah, ia menceritakan bagaimana kau di bawa terbang oleh perempuan Biauw, maka dari keterangannya, aku menyusul ke daerah ini.”

“Suhu pernah berjumpa dengannya?” tanya Kang Hoo sambil mempercepat langkah kakinya.

“Nggg      apa benar, ia pernah menolong dirimu dari

kurungan orang-orang seragam hitam?!” tanya sang suhu. “Benar. Dia penganut ajaran Budha.” jawab Kang Hoo.

“Jangan bicara soal Budha atau apapun, kau lupakan semua itu, yang perlu selamatkanlah dirimu.” kata Beng Cie sianseng dengan suara agak marah, “Selama ini aku hanya menurunkan ilmu silat kosong, tiada artinya untuk menghadapi manusia-manusia kukuai rimba persilatan. Itu karena aku menghormati ayahmu, yang tidak menghendaki kau mempelajari ilmu silat. Bila kita berhasil keluar dari tempat ini, maka kau harus memperdalam ilmu silatmu. Dan kau juga harus berusaha membasmi perkumpulan Kalong itu guna membalas sakit hati ayahmu.”

Sambil lari menerobos semak-semak belukar mereka bicara perlahan.

“Suhu, tapi agama melarang aku membunuh!” kata Kang Hoo setelah ia mendengar perkataan suhunya agar membalas dendam.

“Anak tolol. Dalam agama yang kau anut itu, memang dilarang membunuh, tapi untuk melakukan Darul dan mempertahankan serta menegakkan agama kalau perlu melakukan perang.”

“Perang?” tanya Kang Hoo kaget. “Dari mana suhu tahu.”

“Lama aku mengikuti jejak ayahmu, aku juga pernah mendengar ketika ayahmu mendapat pelajaran agama itu dari seorang tua bersorban, ketika itu usiamu masih tiga tahun. Orang tua itu bercita-cita untuk melakukan Darul Islam!”

“Jadi suhu sudah lama mengenal ayah,” tanya Kang Hoo. “Dan apa itu Darul Islam?” “Mengembangkan agama. Kalau perlu dengan perang!” jawab Beng Cie sianseng “Sebenarnya ayahmu seorang pembesar negeri yang bijaksana. Aku senang dengan dirinya. Dan aku bersedia menjadi budaknya.”

“Hmm kemana kita?” tanya Kang Hoo sambil terus lari menerobos ranting-ranting pohon.

“Meninggalkan daerah ini sejauh mungkin,” jawab sang suhu sambil menoleh ke belakang, “Gadis liar itu telah melepas budi padamu, dan bilamana kehendaknya tidak kau penuhi, ia bisa membunuh kau. Dan kalau sampai terjadi demikian itulah kejadian yang sangat membingungkan, kita tidak bisa melukai dirinya, lebih- lebih membunuhnya, orang yang telah melepas budi, kita harus ingat atas budi itu.”

Tanpa dirasa mereka menyusuri bukit-bukit pegunungan penuh gerombolan pohon itu, hari pun sudah mulai gelap.

Sambil lari menerobos hutan Kang Hoo berkata, “Sebentar lagi malam tiba.”

“Dalam keadaan gelap, menguntungkan kita.” jawab

Beng Cie Sianseng.

Angin malam berhembus, hawa udara yang mulai dingin, bertambah dingin lagi, lebih-lebih keadaan Kang Hoo yang sebagian besar bajunya telah robek akibat serangan pedang orang-orang seragam hitam, siliran angin tadi menusuk-nusuk bekas luka-lukanya.

Dalam cekaman hawa dingin tadi, mendadak saja terdengar suara tetabuhan alat musik sayup terdengar mengumandang ke seluruh lereng gunung.

Beng Cie sianseng mendengar suara tetabuhan alat musik itu, ia jadi melengak, begitu pula Kang Hoo, ia menatap wajah sang suhu.

“Eh, suara musik apa?” Tanya Kang Hoo.

“Gadis liar tadi rupanya telah menyiapkan pesta kawin untukmu. Ia sudah kembali ke goa untuk menyambut pengantin laki-laki, Kau lihatlah, di bawah sana bukankah di depan goa dimana kau tinggal, itu nyala-nyala api obor menerangi keadaan. Kau kira betapa marahnya gadis itu, begitu melihat kau tak ada di dalam goa!”

Hoo tertawa, “Dia liar tapi lucu sekali. Bagaimana membikin pesta kawin tanpa menunggu persetujuan laki- laki.”

“Kau jangan banyak bicara! Cepat jalan!” bentak Beng Cie sianseng.

Sementara itu, rombongan musik yang telah disiapkan oleh Goat Khouw untuk menyambut pengantin laki telah berbondong-bondong datang ke depan goa. Obor-obor membuat keadaan gelap di depan goa jadi terang benderang.

Empat orang laki-laki Biauw berwajah hitam menggotong sebuah joli yang terhias bunga-bunga serta lukisan khas suku bangsa Biauw, di belakang penggotong tandu berbaris rombongan seni musik.

Di belakang barisan rombongan alat musik, tampak berlerot barisan binatang-binatang buas peliharaannya Goat Khouw.

Di depan pintu goa, Goat Khouw sudah dandan demikian rupa, ia memerintahkan beberapa orang pelayan laki-laki membawa satu perangkat pakaian kemantin baru. Agar mereka menggantikan pakaian Kang Hoo di dalam goa. Sementara itu, Goat Khouw dan rombongannya menunggu berdiri di depan pintu goa.

Tiga orang laki Biauw memasuki goa, mereka membawa sebuah obor, tugas mereka menggantikan pakaian Kang Hoo yang sudah robek-robek itu, dan meriasi si pemuda menjadi kemantin laki-laki kemudian membawa si pemuda keluar lalu dengan tandu ia akan dibawa ke perkampungan Biauw untuk melakukan pesta perkawinan.

Lama Goat Khouw menunggu di luar, hatinya sudah gelisah benar. Ingin lekas memandang wajah sang kekasih yang sudah dandan rapi.

Suara musik tetabuhan bangsa Biauw terus mengumandang dimalam hari, rembulan yang mulai bundar sudah nongolkan dirinya, mengintip peristiwa malam di atas dunia.

Tak lama tiga orang laki-laki Biauw sudah jalan keluar, salah seorang membawa obor, wajah mereka agak cemas. Dan dua orang lainnya, dengan masih membawa buntalan pakaian lari mendekati Goat Khouw, katanya perlahan,

“Di sana tak ada orang!”

“Hah!” Goat Khouw kaget, ia lari mengambil sebuah obor, lalu memasuki goa.

Begitu berada di dalam goa mendadak saja ia membanting-banting kaki, gerutunya,

“Laki-laki terkutuk! Dengan baik hati aku merawatmu. Kini kau kabur meninggalkan aku hmmm. Rupanya kau telah terpincuk dengan perempuan baju merah itu. Biar kelak akan kubunuh ia agar kau bisa tahu siapa aku!”

Goat Khouw yang mendapatkan goa sudah kosong, ia jadi marah tidak kepalang, karena kemarahannya itu, telah terbetik rasa cemburunya, bukankah di dalam hutan rumput alang-alang itu, si nona baju merah Siong In juga berusaha untuk menolong diri Kang Hoo dari tangan maut. Maka berpikir begitu kemendongkolannya merembet diri Siong In.

Setelah menggerutu di dalam goa, Goat Khouw lari keluar, ia melempar obor di dalam goa.

“Kalian balik ke perkampungan.” Teriak Goat Khouw pada rombongannya, “Pesta dibatalkan.”

Semua orang-orang laki perempuan jadi terheran- heran mendengar perintah si nona, mereka melompongkan mulutnya, suara musikpun sirap seketika.

Goat Khouw tidak memperdulikan rombongan kesenian itu, dengan wajah merah penuh kemarahan ia bersiul.

Suara siulan si nona liar mengumandang angkasa malam. Dan tak lama di atas udara di bawah sinar rembulan, tampak meluncur lima titik bayangan hitam menukik ke bawah, lima titik bayangan hitam tadi kian lama kian jelas bentuknya itulah lima ekor burung aneh. Mereka berterbangan di atas kepala Goat Khouw.

Goat Khouw mendongak kepala ke atas kemudian, ia bersiul lagi, suara siulan itu panjang pendek seperti suara burung.

Lima ekor burung aneh, mendengar suara siulan itu mereka terbang berpencaran ke setiap pelosok rimba.

Setelah memerintahkan kelima burung-burungnya, Goat Khouw bersiul lagi, suara siulannya disusul dengan terdengarnya suara gerengan-gerengan binatang buas, memenuhi hutan di depan goa.

“Ui-jie,” seru Goat   Khouw   begitu   ia menampak binatang orang hutan bulu kuning jalan menghampiri. “Kau panggil Toa sian-seng.”

Mendengar perintah si nona, orang hutan bulu kuning mengeluarkan suara pekikan, lalu ia lompat lari memasuki hutan. Dan tak lama kemudian sudah balik kembali dengan seekor orang hutan hitam berbadan besar, tubuh orang hutan itu dua kali lebih tinggi dan lebih besar dari pada orang hutan bulu kuning.

Ternyata yang dimaksud dengan Toa sian-seng adalah itu orang hutan hitam besar.

Di depan si nona Biauw, orang hutan besar Toa sianseng mulutnya cengar cengir, kepalanya miring ke kiri ke kanan memandang Goat Khouw.

“Kurang ajar, kau jangan cengar cengir!” bentak Goat Khouw, “Ayo ikut aku, kalian harus bekuk itu laki-laki Han. Kalau ia tidak mau kawin denganku, biar kuserahkan padamu. Rupanya ia lebih suka memilih kau dari pada menikah dengan aku.”

Toa sianseng yang baru datang mendengar ocehan Goat Khouw lompat kegirangan, mulutnya mengeluarkan suara pekik-pekikan.

“Jalan!” bentak Goat Khouw.

Maka kedua orang hutan itu tak berani membantah perintah majikan perempuannya, mereka pada jalan mendaki lereng gunung.

Rupanya si toa sianseng itu adalah orang hutan betina, ia jadi girang mendengar akan diberi seorang laki- laki untuk menghiburi dirinya.

Sebenarnya sifat orang hutan perempuan besar itu sangat buas, ia tidak boleh melihat laki-laki cakep, pasti laki-laki itu diterkam. Maka jika tidak perlu betul menggunakan tenaga orang hutan yang diberi nama Toa sianseng itu, ia jarang mengajaknya bepergian. Karena diantara sekalian binatang-binatang, Toa siansenglah yang paling susah diatur.