Mustika Gaib Bab 08

 
Bab 08

HARI MULAI GELAP, lima ekor burung aneh meluncur menembusi kegelapan awan. Ratusan binatang buas dan binatang berbisa saling menggereng dan mendesis, berlompatan maju ke muka, mengikuti arah meluncurnya lima ekor burung menembusi awan.

Kang Hoo yang tercapit di kedua kaki burung warna hijau biru bermata emas, masih belum sadarkan diri, angin langit menderu-deru membawa hawa dingin, mengibar-ngibarkan bajunya yang sudah pada robek. Beberapa tetesan darah masih jatuh menetes.

Lambat laun haripun menjadi gelap. Tak tampak lagi kegiatan di atas dunia. Begitu pula kelima burung aneh di langitpun tak kelihatan bayangan tertelan oleh kegelapannya suasana. Suara gerengan binatang buaspun lenyap tiada terdengar.

Begitu sang surya kembali memancarkan sinarnya di timur, di atas alam raya terjadi keramaian, burung-burung bernyanyi menari berterbangan kian kemari. Binatang- binatang hutan berlompatan kian kemari mencari makan. Terotolan embun di atas daun menguap tersedot hangatnya sang surya pagi.

Di bawah kaki gunung, di dalam rimba belantara, di dalam sebuah goa, menggeletak sesosok tubuh berdarah. Wajahnya pucat pasi, pakaiannya merah dinodai darah, tubuhnya penuh luka-luka bacokan.

Tubuh berdarah itu seorang pemuda, bukan lain Kang Hoo adanya, keningnya yang lebar mengkilat ditimpa sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke dalam goa.

Diantara kesiuran angin gunung dan suara keresekannya daun pohon bergoyang keras, terdengar langkah kaki ringan memasuki goa. Itulah langkah kaki seorang gadis berkulit hitam manis. Di tangan kiri gadis tadi membawa sebuah timba kayu, di tangan lainnya membawa bermacam-macam dedaunan. Gadis hitam manis itu melangkah tenang memasuki goa, mendatangi Kang Hoo yang masih rebah pingsan di atas kasur rumput di lantai goa.

Begitu berada di samping pemuda tadi, gadis itu meletakkan timba kayu yang berisi air, disamping begitu pula bermacam-macam warna daun di tangan lainnya diletakkan di samping timba.

Dengan bantuannya sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke dalam goa itu, gadis hitam manis memeriksa keadaan luka-luka Kang Hoo.

“Delapan luka ringan, satu luka berat,” gumam gadis hitam manis tadi setelah memeriksa keadaan Kang Hoo.

Setelah bergumam begitu, ia mengambil itu tumpukan daun-daun berwarna warni, lalu dipilihnya satu persatu, yang tidak perlu disingkirkan, kemudian kumpulan daun-daun yang telah dipilih tadi, dibasahi dengan air dalam timba kayu, setelah mana daun-daun tadi diremas-remasnya dengan kedua tangan hingga menjadi hancur dan mengeluarkan busa.

Kalau melihat dari cara meremas daun-daun tadi nyatalah gadis hitam itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, karena beberapa daun masih terdapat duri-duri pada rantingnya, tapi gadis tadi seperti tidak mendapat gangguan dari duri-duri itu, ia terus menggilas daun-daun hingga hancur mengeluarkan busa.

Busa-busa yang keluar dari remasan gilingan campuran daun itu, diolesinya pada luka-luka di tubuh Kang Hoo, hingga semua luka tadi tertutup rata oleh busa-busa itu.

Luka terberat yang diderita Kang Hoo, di bagian punggung kanan, hingga tangan kanannya lumpuh tak dapat digerakkan, pada bagian luka itu, gadis tadi seteliti memeras daun-daun itu, busa-busanya diteteskan pada luka tadi, kemudian luka itu ditutupi oleh ampas daun- daun remasan.

Setelah selesai mengobati luka Kang Hoo dengan daun-daun itu. Kembali ia melakukan pilihan pada daun- daun yang tadi dipisahkan, daun itu terdiri dari tiga warna, kemudian dimasukkan ke dalam timba kayu, di sana daun-daun tadi dihancurkannya.

Daun-daun yang sudah dihancurkan dalam timba kayu tadi, dibawanya keluar goa, di luar goa itu, ia menuangkan air timba yang sudah bercampur dengan ramuan daun-daun itu ke dalam kuali tanah, yang terletak di atas dua buah batu.

Setelah menuang air ramuan daun ke dalam kuali tanah, ia menjejalkan ranting-ranting kering ke dalam dapur batu tadi, lalu, menggosokkan dua ranting kayu, tak lama kemudian kedua ranting kayu kering yang digosok itu mengeluarkan api.

Di dalam dapur itulah gadis hitam manis itu menggodok daun-daun ramuannya.

Tak lama berselang air dalam kuali tadi mendidih, dari sana keluar bau wangi ramuan daun-daun itu. Hidung si nona hitam kembang kempis menyedot-nyedot bau wangi godokan tadi.

Setelah sekian lama hidungnya kembang kempis, ia lalu mengangkat kuali tanah, isinya dituang ke dalam timba kayu lalu dibawanya kembali ke dalam goa.

Di dalam goa itu Kang Hoo masih rebah, ia belum sadarkan diri.

Gadis tadi meletakkan timba kayu, kemudian ia memeriksa denyut-denyut nadi tangan Kang Hoo.

Setelah memeriksa denyut-denyut nadi Kang Hoo, gadis itu menggeleng kepala. Lalu mengambil selembar daun, daun tadi digosok-gosoknya sebentar pada bajunya, lalu dengan daun tadi, ia menyendok air godokan ramuan dari dalam timba kayu. Lalu ditiup- tiupnya beberapa kali agar air itu menjadi dingin.

Dengan menggunakan daun itu, tetes demi tetes air godokan ramuannya dimasukkah ke dalam mulut Kang Hoo.

Karena mulut Kang Hoo tertutup rapat tetesan- tetesan ramuan tadi, meleleh di bibir si pemuda mengalir ke pipinya dan jatuh ke atas kasur rumput.

Gadis hitam manis itu kembali menyendok air godokan dalam timba kayu, ia mengulangi perbuatannya.

Hasilnya kembali seperti apa yang semula ia kerjakan. Nihil. Air obat godokan itu meleleh ke atas tanah.

“Hmmm.....” Gadis itu kembali menyedok air obat dalam timba kayu, tapi kali ini tangan kirinya menjepit kedua rahang si pemuda, hingga mulut Kang Hoo terbuka bibirnya sedikit menganga.

Setelah itu baru ia meneteskan cairan godokan ramuan itu ke dalam mulut Kang Hoo. Berulang ulang ia melakukan demikian, hingga dalam mulut Kang Hoo sudah dipenuhi oleh cairan obat itu, sampai luber ke bibirnya. Tapi Kang Hoo masih juga belum siuman. Jangankan siuman, air obat itu rupanva belum bisa masuk ke dalam perut si pemuda. Seakan di dalam tenggorokan si pemuda terdapat benda yang menyumbat. Si gadis jadi heran, pikirnya,

“Bukankah, air dalam mulut bisa masuk dalam perut, tapi mengapa ini bisa tertahan lama tidak mau masuk? Apakah kau sudah mau mampus?”

Setelah berpikir begitu gadis hitam manis tadi, menepuk-nepuk pipi Kang Hoo, tapi air dalam mulut tidak mau turun juga ke dalam perut si pemuda.

“Harus kutiup ke dalam.” Pikir gadis hitam manis tadi.

Setelah berpikir demikian, kemudian ia menundukkan kepalanya ke muka Kang Hoo lalu menempelkan kedua bibirnya di bibir si pemuda. Ia meniup mulut Kang Hoo mendorong air obat itu masuk ke dalam perut.

Begitu ia meniup mulut Kang Hoo, mendadak saja air godokan dalam mulut si pemuda kembali nyemprot keluar, dibarengi dengan suara batuk-batuk si pemuda.

Gadis hitam yang mendadak mendapat semprotan jadi kaget, mengangkat mukanya, wajah hitam manisnya basah dengan cairan obat godokannya sendiri yang menyembur wajah manis itu.

Dengan menggunakan tangannya, ia mengusap cairan yang memenuhi wajahnya. Sepasang mata gadis itu memperhatikan wajah Kang Hoo.

Kang Hoo masih diam tertelentang, matanya tetap meram, hanya dadanya tampak bergerak lebih keras dari semula.

Menyaksikan perobahan itu, perempuan hitam manis tadi tersenyum. Lalu kembali ia memasukkan cairan obat sodokannya ke dalam mulut Kang Hoo tetes demi tetes.

Kali ini usaha si gadis berhasil, karena begitu tetesan air godok dedaunan itu masuk ke dalam mulut Kang Hoo tampak tenggorokan si pemuda bergerak, seakan ia menelan cairan yang masuk ke dalam mulutnya.

Setelah beberapa kali gadis itu meminumkan obat godokannya, tampak bulu-bulu mata Kang Hoo mulai bergerak-gerak, kemudian sepasang mata itu perlahan- lahan terbuka.

Berbarengan terbukanya mata Kang Hoo, mulut si pemuda berkata,

“Ya Allah.     ”

Gadis hitam manis itu kembali jadi kaget, ia tidak mengerti apa yang diucapkan Kang Hoo, bahasa apakah itu? Seumur hidup gadis itu belum pernah mendengar.

“Apakah ini anak gila?” Pikir si gadis akhirnya.

Setelah berpikir demikian gadis hitam manis itu dibikin kaget lagi. Karena Kang Hoo, kembali sudah jatuh pingsan lagi.

Cepat-cepat gadis hitam manis itu memeriksa jalan nadi si pemuda.

“Kau memang banyak mengeluarkan darah.” Gumam si gadis hitam manis. “Mungkin karena banyak mengeluarkan darah itu otakmu jadi rusak, hingga kau berkata yang bukan-bukan. Ramuan daun ini berkhasiat luar biasa, ia bisa mengembalikan tenaga dan menambah darah, tapi kalau kau terus-terusan pingsan begitu, bagaimana aku bisa mencekok kau dengan jamu ramuanku. Inilah ramuan obat mujarab orang Biauw. Dan sebagai gadis Biauw aku telah menyentuh bibirmu, ini berarti aku telah jadi istrimu. Kalau tidak, aku tidak ada muka untuk hidup di atas dunia ini. Aku juga tidak mau jadi janda kembang aku harus menyembuhkanmu.”

Setelah berguman begitu, kembali si gadis Biauw memasukkan cairan godokan obat ke dalam mulut Kang Hoa, karena ia ingin cepat menyadarkan si pemuda, maka dengan mulutnya gadis Biauw tadi kembali menempelkan bibirnya di bibir si pemuda ia meniup mulut Kang Hoo. Tapi cepat ia mengangkat mukanya dari sana kuatir kalau Kang Hoo batuk lagi dan menyemburkan godokan obat ke wajah hitam manisnya.

Tapi kali ini Kang Hoo tidak menyemburkan godokan tadi. Air ramuan tadi berhasil didorong masuk ke dalam perut si pemuda.

Mengetahui kalau usahanya berhasil kembali, ia memasukkan air godokan ke dalam mulut si pemuda dan membantu mendorong dengan tiupan mulutnya.

Karena mengetahui kalau Kang Hoo tidak lagi menyemburkan godokan tadi, si gadis Biauw tidak segera menarik mukanya dengan menempelkan bibirnya di bibir si pemuda perlahan-lahan ia meniup.

Selagi bibir gadis Biauw hitam manis tadi masih menempel d bibir si pemuda, mendorong ramuan obat ke dalam tenggorokan pemuda itu dengan perlahan-lahan, mendadak saja ia merasakan bibir Kang Hoo bergerak, terasa bagaimana bibir itu menyedot, membantu menelan godokan obat ke dalam tenggorokannya.

Si gadis Biauw merasakan sedotan bibir Kang Hoo, ia kaget, matanya terbelalak ke atas menatap mata Kang Hoo, tapi mata si pemuda masih meram, sedotan bibir Kang Hoo terasa lembut menyedot-nyedot bibir si gadis, mendapat sedotan demikian rupa gadis tadi menghentikan meniupnya, ia menarik bibirnya dari bibir Kang Hoo, tapi tiba-tiba saja entah bagaimana, mendadak ia juga menyedot bibir Kang Hoo, melakukan satu kecupan. Berbarengan kecupan gadis tadi, mata Kang Hoo terbuka, dan si gadis Biauw jadi merah wajahnya, cepat ia menarik mukanya dari atas wajah Kang Hoo.

Kang Hoo terbelalak kaget, seluruh badannya dirasa sakit, lengan kanannya masih belum bisa digerakkan, ia memperhatikan sekujur tubuhnya, tubuh itu penuh diolesi ramuan terasa luka pada badannya berdenyut-denyut menerima pengaruh ramuan yang melekat pada tubuhnya. Lebih-lebih keadaan pada luka di bahu kanan, luka mana terasa berdenyut keras.

Mulut dan tenggorokannya terasa sepat-sepat manis asam, rasa itulah tadi yang membuat Kang Hoo menggerakkan kedua bibir menyedot rasa asam manis sepat tadi, begitu ramuan obat itu didorong oleh tiupan si gadis Biauw.

“Eh ..... . Kau...... Siapa?” Tanya Kang Hoo lemah. “Mengapa berbuat begitu?”

Dengan wajah merah gadis Biauw itu, menyendok lagi ramuan dalam timba kayu, kemudian dimasukkan ke dalam mulut Kang Hoo.

Kang Hoo mengelak, ia memiringkan kepala ke kiri. “Minumlah!” Seru si gadis Biauw. “Inilah ramuan obat

guna mempercepat penyembuhan luka-lukatmu.”

Mendengar kata-kata tadi, mata Kang Hoo memandangi wajah gadis hitam manis yang duduk di sampingnya, katanya,

“Kau? Apa maksudmu?”

Si gadis Biauw tidak menjawab, ia menjejalkan itu ramuan godokan ke dalam mulut Kang Hoo.

Kang Hoa merasakan bagaimana cairan ramuan tadi menyentuh bibirnya, terasa asam sepat manis. Mengetahui kalau ramuan itulah yang tadi ia rasakan dalam tenggorokkannya, maka ia membiarkan gadis Biauw itu mencekok dirinya dengan obat godokannya.

“Cukup!” Seru Kang Hoo.

“Hmmm. Lukamu belum sembuh. Kau jangan bergerak dulu “ Kata gadis Biauw.

Tapi Kang Hoo mana mau mengerti, perlahan-lahan ia bangkit duduk. Rupanya luka-luka pada badannya sudah mulai sembuh, hanya luka pada pundak kanannya yang agak parah itu, masih terasa sakit luar biasa.

Setelah berhasil duduk, ia mencoba menggerakkan tangan kanannya perlahan-lahan.

Tampak wajah si pemuda meringis menahan sakit.

Tapi ia sudah bisa menggerakkan tangan kanan itu.

Gadis Biauw itu menyaksikan gerakan Kang Hoo, ia memandangi dengan penuh perhatian, ketika si pemuda menggerakkan tangannya dengan meringis, gadis tadi berkata,

“Luka pada punggungmu tidak ringan, memerlukan waktu dua hari untuk menyembuhkannya, baru kau bisa leluasa bergerak.”

SETELAH berkata demikian, si gadis Biauw berjalan keluar pintu goa, di sana ia bersiul. Kemudian terdengar berkata,

“Ui-jie, kau bawa makanan kemari.” Setelah berkata begitu, kembali si gadis Biauw menghampiri Kang Hoo, dan berkata,

“Aku sudah perintahkan Ui-jie untuk mencari makanan untukmu.”

“Ui-jie? Siapa Ui-jie? dan kau siapa, di mana ini?” tanya Kang Hoo keheranan memperhatikan sekeliling ruangan goa. Kemudian memandang si gadis.

“Tempat ini daerah Thiat-gan-tong, tidak jauh di belakang bukit terdapat perkampungan Biauw.” jawab si gadis.

“Hmmm. Jadi kau gadis Biauw?” tanya Kang Hoo.

Si gadis mengangguk, ia menyendok lagi godokan ramuan di dalam timba kayu, diserahkan pada Kang Hoo, katanya,

“Kau minumlah ramuan ini, kugodok dari berbagai tumbuh-tumbuhan yang banyak mengandung khasiat bisa menyembuhkan luka dan menambah darah.”

Kang Hoo merasakan bagaimana keadaan lukanya yang begitu berat sudah hampir sembuh sebagian, ia percaya akan ucapan gadis Biauw tadi, tanpa banyak tanya lagi, ia menerima sodoran daun yang terisi air obat itu, lalu ditenggaknya sekaligus.

Baru saja Kang Hoo meminum air obat yang terasa sepat asam manis, dari pintu goa, berjalan masuk seekor orang hutan berbulu kuning.

Melihat orang hutan berbulu kuning tadi, Kang Hoo kaget, ia menggeser badannya ke belakang.

Gadis Biauw menoleh ke arah pintu goa, katanya, “Dia adalah Ui-jie , nah kau jangan takut.”

“Ui-jie ... . Ui-jie ..... Ui-jie . . .” gerutu Kang Hoo. Orang hutan berbulu kuning mendengar disebut namanya berulang-ulang oleh Kang Hoo menggaruk- garuk pinggangnya.

“Ui-jie, mana makanannya?” tanya gadis Biauw pada si orang hutan bulu kuning.

Orang hutan tadi melempar sebuah benda ke depan gadis Biauw. Luncuran benda itu disambut oleh gadis tadi, kemudian diserahkan pada Kang Hoo.

Kang Hoo masih bengong, memandangi orang hutan bulu kuning itu, otaknya mengingat beberapa hari yang lalu, ketika ia sudah terluka parah, mendadak saja di sekitarnya dikurung oleh puluhan binatang buas. Dan bagaimana orang-orang berseragam hitam bertempur dengan si gadis baju merah, dilain bagian di atas bukit juga terdapat kelompok pertempuran yang terjadi antara orang-orang seragam hitam dengan gadis hitam manis. Kini gadis hitam manis itu berada di samping dirinya, ia juga ingat, bagaimana gadis itu berteriak “Ui jie, cepat bawa anak itu,” dan kemudian muncullah ini binatang orang hutan bulu kuning, tapi setelah itu ia tak ingat lagi.

“Hei, ini, makanlah,” seru si gadis Biauw.

Kang Hoo tersentak kaget, ia menerima pemberian buah tadi, tanyanya,

“Apakah, kau yang memerintahkan orang hutan ini?

Dan bagaimana membawa aku kemari.” Gadis Biauw tersenyum, katanya,

“Namaku Goat Khouw, orang-kampungku menyebut aku dengan sebutan putri binatang, itulah disebabkan karena kepandaianku menundukkan binatang-binatang buas. Waktu kau dikejar oleh orang-orang berselubung muka, malam itu, aku kebetulan sedang menunggu munculnya seekor binatang aneh, yang jarang sekali terdapat di muka bumi ini, kami orang-orang Biauw percaya binatang itu mengandung khasiat luar biasa, siapa yang bisa meminum darah dan memakan nyali binatang itu, ia akan menjadi awet muda, dan memiliki tenaga besar. Tempat dimana binatang itu akan muncul tidak jauh dari tempat kau mendapat keroyokan, karena waktu itu kau lari lewat dimana binatang aneh itu akan keluar, hingga kau telah menyebabkan binatang itu jadi terkejut. Maka gagallah cita-cita ku itu. Tapi aku masih tetap menunggu munculnya binatang tadi!”

“Binatang apa?” tanya Kang Hoo memotong pembicaraan Goat Khouw.

“Kuya bumi!” kata Goat Khouw, “Karena gerakanmu membuat berisik hutan alang-alang itu hingga mengejutkan binatang tadi, dan selanjutnya ia tak mau muncul lagi. Semula aku hendak membunuhmu. Dan ketika aku hendak turun tangan membunuhmu, mendadak datang itu perempuan baju merah ia mencegah gerakanku. Maka terjadi pertempuran aku dengan ia hanya dalam beberapa jurus, aku tidak mengenal perempuan baju merah itu, ia juga tidak mengenal diriku, kami bertempur dengan berlainan tujuan, ia mempertahankan kau agar kau lolos dari kematian di tanganku, dan aku akan menghabiskan nyawamu. Selagi kami bertempur, muncul itu orang- orang seragam hitam, begitu mereka muncul mereka sudah mengeluarkan kata-kata kotor, membuat hatiku panas. Dan kami berbalik menyerang mereka. Pertempuran berlangsung sampai fajar, dan kami memencar menjadi dua kelompok pertempuran, sedang binatang-binatang buasku kuperintahkan untuk menjaga dirimu, karena aku masih penasaran dan ingin membetot nyawamu dengan tanganku sendiri. ” “Mengapa kau tidak bunuh aku?” potong Kang Hoo.

Goat Khow memandang wajah Kang, Hoo, lalu katanya,

“Umurku sudah tujuh belas tahun, sudah waktunya aku menikah, maka .... . mengingat itu aku telah memilih dirimu untuk calon suamiku, dengan adanya pikiran itu, aku batal membunuhmu dan kau kubawa ke tempat ini, kurawat dan kuobati dengan obat-obat ramuan bangsa kami.”

Mendengar keterangan gadis Biauw hitam manis itu, hati Kang Hoo jadi berdebaran. Wajahnya merah matang.

“Hmmm. Kau malu.” seru Goat Khouw, “Gadis-gadis Biauw, memiliki sifat polos dan terus terang, dan ia boleh mencari jodohnya sendiri, kini pilihan jodohku terhadap dirimu, meskipun kau seorang pemuda Han, tapi mengingat kalau aku telah melepas budi padamu, apakah kau bisa menolak kehendak hatiku?”

“Aku tidak menolak,” seru Kang Hoo, “Tapi mana mungkin, aku nikah denganmu.”

“Jangan banyak putar lidah!” seru si gadis Biauw, “Kalau kau bersedia, jawab yang tegas. Kalau tidak itu berarti dagingmu akan kuserahkan pada binatang- binatang buas.”

“Soal kawin bisa diurus belakangan,” kata Kang Hoo, “Aku masih punya banyak urusan, ayahku dibunuh orang, dan aku di kejar-kejar golongan pembunuh- pembunuh itu. Lagi pula aku harus mencari isteri yang seagama dengan diriku.”

“Agama?” tanya Goat Khouw membelalakkan mata. “Apapun agamamu aku tidak perduli yang penting kau harus bersedia kawin denganku.”

“Tidak mungkin!” sela Kang Hoo, “Seorang perempuan yang menjadi isteriku harus seagama denganku. Kalau tidak mana mungkin.”

“Kalau begitu, aku bersedia menganut agamamu.” kata Goat Khouw tegas.

Mendengar kesediaan si gadis Biauw, hati Kang Hoo dibuat kebingungan, bagaimana seseorang bisa dengan mudah memeluk agama yang dipeluknya. Maka katanya,

“Itu juga tidak gampang.”

“Kalau begitu kau memang memilih jalan kematian, dikoyak binatang buas,” seru Goat Khouw marah.

“Jika Tuhan menghendaki aku binasa di tempat ini, tak seorangpun bisa menghalangi. Begitu pula sebaliknya, bila Ia menghendaki aku berumur panjang, apa artinya segala macam binatang buas, kau boleh suruh binatang-binatang buasmu itu membunuh diriku, aku ingin lihat apa yang mereka bisa kerjakan.”

Mendengar kalau Kang Hoo berkeras hati pada pendiriannya. Biauw Kouw mengkerut kening, kemudian katanya,

“Kau memiliki hati keras. Lebih keras dari pada batu.

Tapi mau atau tidak kau mesti jadi suamiku.”

“Perempuan setan! Kau gila!” seru Kang Hoo, “Bagaimana seorang perempuan memaksa laki-laki menjadi suaminya?”

Goat Khouw tertawa cekikikan, “Hatiku telah memilih kau menjadi suamiku, hidup atau mati,” katanya. “Tentang cara untuk menundukkanmu, itu bukan urusan susah, tunggu sampai luka-lukamu sembuh benar, baru kau akan tahu bagaimana kau merayap mencariku.    ”

Mendengar ucapan itu, sebenarnya Kang Hoo ingin memaki gadis liar bangsa Biauw ini, tapi mendadak otaknya berpikir. Tidak guna ia panjang lebar tarik urat di tempat itu tunggu setelah luka-lukanya sembuh, ia akan segera mencari daya untuk dapat lolos dari cengkeraman gadis Biauw liar ini.

Mendapat pikiran begitu, Kang Hoo tersenyum katanya,

“Seseorang yang menjadi isteri dari golongan agamaku, ia juga mesti menganut agama yang kuanut. Pertama ia harus melakukan upacara khitanan. Kemudian mempelajari ayat demi ayat ajaran agama. Mentaati Hukum dan Rukun agama. ”

“Aku bersedia,” potong Goat Khouw, “Kau tunjukkan saja bagaimana harus mempelajari agamamu, upacara khitanan atau apa saja aku sanggup menjalankannya. ”

“Tidak begitu gampang,” seru Kang Hoo “Lebih-lebih, untuk mengkhitankanmu .... itu ”

Kang Hoo tidak bisa meneruskan ucapannya, ia menahan rasa geli yang mendadak timbul di hatinya.

“Hei, kenapa?” tanya Goat Khouw, “Kau boleh segera khitan aku.”

“Gila . . . .” seru Kang Hoo, “Tabiblah yang melakukannya!”

“Kau bilang saja, apa itu khitan? nanti aku bisa cari tabib bangsa Biauw, menyuruh mengkhitankan diriku!”

Kang Hoo jadi gelagapan mendengar ucapan gadis itu, bagaimana ia menerangkan bagian anggota tubuh si gadis yang mesti dikhitan. Ia jadi melongo memandangi wajah ketololan gadis Biauw yang liar.

. “Bagaimana?” tanya Goat Khouw, “Apa kau juga sudah menjalani upacara itu?”

“Tentu,” jawab singkat Kang Hoo. “Bisa kau tunjukkan.” pinta Goat Kouw.

Kang Hoo tersenyum, bagian tubuh yang dikhitankan itu adalah anggota rahasianya yang amat vital. Bagaimana ia mesti menunjukkannya di depan gadis ini, sambil menggeleng kepala ia berkata,

“Mana bisa, mana bisa, urusan bisa jadi lebih berabe lagi.”

“Bilang saja kau tidak menerima kehendakku!” bentak gadis Biauw, “Jangan lagi banyak bicara bertele-tele. Huh! Macam agama apa yang kau anut itu?”

“Nggg.....” dengus Kang Hoo. “Kau dengar baik-baik aku menganut ajaran Islam!”

Mendengar disebutnya agama tadi, wajah Goat Khouw sedikit mengkerut, seumur hidupnya baru pertama kali ini ia mendengar nama aliran agama itu. Setelah sekian saat memandang Kang Hoo iapun bertanya,

“Dari mana kau dapatkan ajaran agama itu?” “Ayahku, almarhum berikan aku ajaran agama

tersebut.” jawab Kang Hoo.

“Dan ayahmu, mendapat darimana?” tanya lagi Goat Khouw.

“Eh, untuk apa kau banyak bertanya tidak keruan, kalau kau hendak menganut agamaku, aku bisa memberikan kau pelajaran tapi. ” “Tapi apa pemuda Islam?” seru Goat Khouw.

“Sudahlah, kau jangan banyak bicara tentang urusan agama, karena aliran agama ini kemungkinan besar yang menyebabkan terjadinya teror terhadap ayahku. Ada suatu golongan melakukan teror!!!”

“Siapa menteror kalian?” tanya gadis Biauw.

“Orang-orang seragam berselubung hitam,”' jawab pemuda Islam Kang Hoo.

“Mereka juga manusia-manusia aneh,” gerutu Goat Khouw, lalu ia bangkit keluar goa meninggalkan Kang- Hoo.

Kang Hoo memandangi belakang tubuh Goat Khouw, berlenggak-lenggok keluar goa, bibirnya tersungging senyum. Entah apa yang dipikirkan si pemuda.