--> -->

Mustika Gaib Bab 07

 
Bab 07

DI TEPI SUNGAI Siong In menerobos lebatnya rumput alang-alang setinggi badan, haripun mulai gelap.

Suara binatang malam mulai berdendang jangkrik ramai memecahkan kesunyian malam.

Dimana langkah kaki si nona menerobos semak- semak, di situ suara jangkrik-jangkrik sirap seketika.

Jalan terus mendaki ke atas perbukitan, suasana di sekitar itu gelap pekat, bintang satu-satu mulai berkelap kelip.

Mendadak saja dari kegelapan malam dari dalam gerombolan rumput alang-alang tampak meluncur keluar segumpalan cahaya merah, memecah angkasa naik ke udara, gumpalan merah tadi begitu berada di atas udara buyar menjadi percikan api, Medan di tepi sungai terang benderang.

Sejenak si nona baju merah Siong In kaget ia mendekamkan badannya ke dalam rumput alang-alang. Begitu sinar terang itu sirip, keadaan jadi gelap kembali, ia berdiri lagi hatinya berkata,

“Huh, kembang api seperti itukah yang membuat takut orang-orang kampung?” Sambil berkata dalam hatinya, Siong In menerobos maju menyelusup ke dalam rumput, tujuan kakinya diarahkan dari mana keluarnya itu gumpalan sinar merah.

Benar saja, tidak jauh di depannya terdapat sebuah bangunan hitam, sekitar bangunan tadi dikelilingi rumput alang-alang tinggi, hingga dari jauh tak tampak bangunan tersebut. Dari sela-sela ketinggian rumput alang-alang Siong In memperhatikan bangunan tadi, mata si nona dapat melihat menyorotnya sinar pelita dari salah satu lubang jendela.

Dengan hati-hati, Siong In melangkah maju. Rupanya bangunan tadi adalah sebuah rumah terbuat dari kayu, terdiri dari dua wuwungan.

Diantara kedua wuwungan bangunan rumah itu dipisahkan oleh sebuah jalan berbatu putih. Sinar pelita menyorot dari sela-sela lubang jendela rumah bagian belakang.

Mendengar suara percakapan orang di dalam kamar dari wuwungan belakang. Ia mendekati jendela dimana menyorot sinar pelita, dari kertas lubang jendela ia mengintip ke dalam. Ternyata itu adalah sebuah kamar tidur. Di dalam kamar terdapat empat pembaringan. Selain itu tak tampak benda lainnya, ia heran. Bukankah tadi ia mendengar suara percakapan di dalam kamar ini?

Selagi Siong In terheran-heran memperhatikan keadaan kamar itu, mendadak pintu kamar dibuka orang, dari sana masuk seorang seragam berselubung muka hitam, memayang seorang perempuan muda, usia perempuan itu tidak lebih dari dua puluh tahunan, wajahnya tampak cantik, rambutnya ikal terurai, hanya malam itu wajah cantik perempuan tadi kelihatan memucat, sinar matanya redup.

Orang seragam hitam tadi membawa sang perempuan itu ke salah satu tempat tidur di bagian ujung, lalu didudukkan di atas pembaringan. Perempuan cantik itu seperti mayat hidup, ia menurut saja diperlakukan demikian rupa.

Baru saja seragam hitam tadi mendudukkan perempuan itu, dari pintu kamar kembali masuk berturut- turut tiga orang, juga mengenakan pakaian seragam hitam, masing-masing memayang seorang perempuan muda cantik, wajah perempuan itu keadaannya sama seperti wanita yang pertama dibawa masuk ke dalam kamar, wajahnya pucat, sinar matanya redup.

Perempuan itu, mereka dudukkan di atas pembaringan. Dan saat ini empat pembaringan telah diduduki oleh empat perempuan.

Siong In menyaksikan orang-orang aneh itu, hatinya heran, pertama cara bagaimana mereka selalu mengenakan seragam dan selubung mukanya sampaipun di dalam kamar bersama orang perempuan. Keheranan kedua, bagaimana pula perempuan- perempuan ini seperti mayat hidup, mereka duduk mematung, dengan mata mendelong sayu.

Empat orang seragam hitam tadi mendudukkan perempuan bawaan mereka masing-masing, kemudian saling tersenyum, seperti sudah sepakat, dengan perlahan-lahan mereka merebahkan keempat perempuan itu di atas pembaringan.

Berbarengan pula mereka mempereteli pakaian perempuan bawaan masing-masing.

“Heheeee . . . Kita bikin perlombaan,” kata seorang seragam hitam di ujung, “Siapa yang lebih tahan lama.”

“Heeeh, aku baru makan obat Jinsom, mana bisa kalian menandingi kekuatanku.”

Song In yang mengintip dari lubang kertas jendela, ia heran, perlombaan apakah yang segera akan berlangsung dalam kamar ini?

Karena rasa ingin tahunya Siong In terus mengintip kelakuan keempat orang seragam hitam berselubung muka itu. Sementara mereka sambil berbicara terus mempereteli seluruh pakaian sang korban.

Keempat perempuan tadi seperti mayat hidup, mereka mandah diperlakukan demikian rupa.

Sebenarnya waktu itu Siong In sudah siap menerjang masuk, tapi ia masih menunggu. Menunggu sampai keempat orang itu membuka selubung muka warna hitamnya, si nona baju merah ingin melihat bagaimana wajah mereka.

Menyaksikan keadaan empat perempuan yang tertelentang terbaring sudah tak berpakaian, bagi Siong In bukan merupakan hal yang aneh, karena ia sendiri seorang perempuan, hanya ia sedikit malu menyaksikan bentuk tubuh sejenisnya dalam keadaan sedemikian rupa dipandangi oleh empat orang seragam hitam. Maka dari rasa malu itu timbul marahnya.

Tangan Siong In meraba saku bajunya, ia sudah siap dengan senjata Kim chi-hui-piauw, tapi mendadak saja ia ingat, bukankah keadaan orang-orang ini sangat aneh dan saat ini mereka berada di pinggir ranjang, kalau saja, ia menggunakan piauw menyerang dan mereka roboh jatuh di atas ranjang, tentulah mereka segera mampus mencair, dan cairan daging itu mungkin bisa mengenai pada perempuan-perempuan yang tak berdosa. Maka mengingat hal itu, ia memasukkan kembali piauw ke dalam saku.

Begitu Siong In memasukkan kembali piauw- piauwnya ke dalam saku, keempat orang seragam hitam tadi telah pada meloloskan pakaiannya. Tapi aneh, mereka hanya meloloskan pakaian bawah, sedang selubung dan mantel hitamnya tetap melekat pada badan mereka.

Berbarengan celana-celana hitam orang-orang itu pada merosot turun, hati Siong In bergidik, ia sudah tidak bisa menahan sabar lagi, mendadak saja hawa amarahnya meluap, bukankah perempuan-perempuan yang akan jadi korban perlombaan gila itu kawan sejenisnya, dan melihat dari keadaan perempuan- perempuan tadi mereka seperti terkena pengaruh obat pelupa diri. Dan sebagai gadis suci mana kesudian ia memandang bagian badan laki di bawah pusar itu.

Sambil menggeram pedang dicabut dari serangka kemudian diputar mendobrak daun jendela, berbarengan mana tubuh Siong In melompat masuk ke dalam kamar.

Suara dobrakan daun jendela terdengar oleh para seragam hitam yang baru saja melorotkan celana, mereka tersentak kaget, memandang ke arah jendela, di sana tampak berkelebat ujung pedang menghancurkan jendela, disusul menerobosnya bayangan merah. Tahu- tahu seorang sudah berada di dalam kamar.

Keempat setagam hitam berselubung hitam itu jadi kebingungan, dengan memegangi celana hitamnya yang kedodoran, mereka pada lompat membuat posisi mengurung. Mengurung Siong In di tengah-tengah.

Menyaksikan   kejadian    itu,    Siong    In    tertawa, pedangnya di ayun-ayunkannya di depan ke empat orang seragam hitam itu, katanya,

“Ayo, kalian mau bikin perlombaan, nah, mari, berlomba dengan aku, siapa yang lebih dulu mampus di tempat ini.”

Berbarengan dengan akhir ucapannya Siong In menyabetkan pedang ke kanan, dimana berdiri seorang seragam hitam yang masih memegangi celananya yang kedodoran.

Begitu ujung pedang si nona menyambar muka orang tadi, dengan memegangi celananya ia lompat mundur mengelakkan sabetan ujung pedang.

Tapi gerakan pedang si nona sangat cepat, sedangkan orang tadi dalam mundur mengelak ia masih memegangi celananya hingga gerakannya tidak leluasa, dan ujung pedang tadi berhasil merobek selubung muka orang tadi, darah mengucur keluar.

Siong In memang sengaja melakukan serangan demikian, ia ingin melihat bagaimana wajah muka orang di balik selubung hitam ini, begitu ujung pedangnya berhasil menyentuh tutup kerudung muka itu. Ia sudah jadi girang, pedangnya diayun lagi menyabet ke arah muka orang tadi.

Mendapat serangan demikian rupa, orang tadi menundukkan kepala, kemudian tubuhnya berputar dan ambruk jatuh di lantai.

Siong In heran, bagaimana lawan tiba-tiba bisa ambruk demikian rupa. Apakah itu gerak dari jurus silat mereka. Tapi keheranan itu tidak lama, karena sinar mata si nona dapat melihat kalau daging daging orang itu sudah mulai berubah biru. “Hmmm. Manusia-manusia aneh!” Seru Siong In. Ia tahu kalau orang tadi telah binasa. Kini ujung pedang si nona bergerak menyabet ke arah tiga orang seragam hitam yang masih berdiri memegangi celananya, mereka seperti kesima memandang si nona baju merah yang cantik itu bisa muncul di sana dengan tiba-tiba, dan dengan sekali gebrak saja berhasil membuat luka sang kawan.

Begitu pedang si nona menyambar ke arah mereka, tiga orang tadi mengeluh kaget, dan berbarengan dengan suara keluhannya, tubuh mereka melambung ke atas, menerobos langit-langit rumah tadi. Kemudian bayangannya lenyap.

Suara berisik dari atap rumah yang bobol dan suara bergedubrakannya potongan-potongan kayu jatuh ke dalam kamar.

Siong In memang sengaja tidak membunuh mereka, dengan berbuat demikian ia bisa menguntit dan menyelidiki mereka itu dari golongan mana, karena kalau melihat dari ilmu kepaniaian yang dimiliki oleh orang- orang seragam hitam ini, mereka tidak memiliki kepandaian silat tinggi, ilmu silat mereka hanyalah ilmu silat pasaran. Tentu di balik semua itu masih ada tokoh aneh yang mempergunakan orang-orang ini untuk mengacau rimba persilatan.

Bagi orang-orang kampung yang lemah, tentulah mereka itu dianggap komplotan iblis yang menakutkan, tapi bagi jago betina baju merah Siong In, mereka itu tidak lain dari pada gentong-gentong nasi.

Siong In mendongakkan kepala memandang lubang atap rumah yang sudah bobol, di atas sana hanya tampak kegelapan malam, beberapa bintang tampak berkelak-kelik.

Setelah memperhatikan lubang atap rumah, ia menghampiri keempat perempuan di atas pembaringan, satu persatu didudukkannya.

Sambil menggeleng kepala Siong In berkata, “Semua telah dicekok oleh obat pemunah ingatan.”

Setetah berkata demikian, ia berjalan keluar, meninggalkan keempat perempuan tadi, tak lama si nona baju merah sudah kembali membawa seember air dingin, dengan itu, ia membasahi muka setiap perempuan tadi.

Empat perempuan tadi begitu, mukanya tersiram air dingin, mendadak mereka pada tersentak kaget, kemudian mereka pada memandang diri sendiri yang telah tak mengenakan pakaian, lalu memandang si nona baju merah.

“Aaaaa.....” Teriak berbareng empat orang perempuan itu, mereka cepat mengenakan pakaian masing-masing.

“Kalian cepatlah keluar!” seru Siong In, “Rumah ini akan kubakar.”

Empat gadis tadi telah disadarkan, cepat-cepat mengenakan pakaian mereka lalu pada lari keluar rumah.

Siong In membawa pelita di atas meja, diluar ia melempar pelita tadi ke atas atap rumah itu, dan sebentar saja di sana terjadi kebakaran. Api melanda rumah itu, keadaan malam menjadi terang benderang.

“Lie-enghiong,” tiba-tiba salah seorang perempuan bertanya. “Mereka masih berada di sini, bagaimana kami bisa pulang?”

“Hmmm, Kalian jangan kuatir, aku akan usir tiga orang itu dari sini. Kalian boleh kembali ke rumah masing-masing!”

Belum lagi ucapan Siong In selesai, ia telah melejit ke arah utara, dimana ketiga seragam hitam tadi masih pada berdiri memandang markas mereka yang dimakan api.

Tiga orang seragam hitam itu menampak berkelebatnya sinar merah ke arah mereka, mereka pada lari kabur.

Siong In yang sengaja hendak menguntit jejak mereka, memperlambat gerakannya, ia tidak mengejar terus. Tapi matanya selalu memperhatikan gerak gerik keempat bayangan hitam itu.

Mulai dari tempat itulah si nona baju merah Siong In mengikuti jejak mereka, dan ketika tiba di kota Kun-san, ia memesan pada tukang besi untuk dibuatkan beberapa piauw besi yang bentuknya serupa dengan piauw yang dimilikinya, piauw-piauw tersebut dipesannya agar dibuat berwarna hitam.

Tindakan Siong In itu berdasar dua pertimbangan. Pertama, karena ia merasa sayang menggunakan piauw pemberian suhunya yang terbuat dari emas, untuk menyerang orang-orang seperti mereka, bukankah bilamana piauw tadi telah menembusi badan orang maka piauw tersebut akan terkena cairan biru dari mayat mereka. Hal itu tidak diharapkan Siong In. Pertimbangan kedua dengan menggunakan piauw besi berwarna hitam, ia bisa melakukan serangan tanpa diketahui lawan. Meskipun pertimbangan kedua ini sedikit curang. Boleh dikata si nona ingin menggunakan senjata gelap untuk menyerang lawan.

Empat hari   telah   dilewatinya,   ia   masih   terus menguntit, gerak-gerik keempat orang seragam hitam itu dan akhirnya pada malam bulan sabit, di dalam rimba Siong In menampak lagi sinar merah, yang pecah di udara bagaikan kembang api.

Melihat itu si nona cepat lari mengejar, lalu ia lompat ke atas dahan pohon memperhatikan kelakuan orang- orang seragam hitam.

Begitu pula tiga orang seragam hitam, mereka menampak tanda api di udara telah pada berkumpul.

Waktu itu, kawanan seragam hitam berselubung yang melepas tanda api ke udara mereka sedang mengurung si pemuda Kang Hoo, saat-saat kematian Kang Hoo telah di ambang pintu. Dan ketika Kang Hoo berteriak menyebutkan kebesaran nama Tuhannya, Siong In di atas dahan mendengar suara itu, ia tidak mengerti apa arti ucapan pemuda tadi tapi mengingat pihak pengurung terdiri dari orang-orang seragam hitam yang ia tahu adalah komplotan jahat, maka mendadak saja ia lompat turun dan berteriak menyebut nama Budha. Lalu berdiri di pihak Kang Hoo.

Walaupun baru pertama kali ini Siong In melihat Kang Hoo, tapi keadaan si pemuda yang sudah mandi darah tahulah ia kalau pemuda tadi dalam keadaan berbahaya di bawah pengeroyokan orang-orang berseragam hitam, yang ia ketahui mereka adalah orang-orang jahat.

Selanjutnya Siong In telah menolong Kang Hoo melarikan diri ketika rembulan sabit tertutup awan. Dengan menggunakan senjata piauwnya, ia berhasil merobohkan beberapa orang seragam hitam. Dan begitu rembulan kembali memancarkan sinarnya bayangan Kang Hoo sudah lenyap.

Sebagaimana kita telah ikuti di bagian depan, begitu awan beriring kembali menutupi rembulan sabit, orang- orang seragam hitam yang takut menghadapi senjata gelap si nona baju merah pada lompat bersembunyi di balik batang pohon. Dan ketika itu digunakan oleh si nona baju merah Siong In kabur meninggalkan mereka.

Kaburnya Siong In dari dalam kurungan orang-orang itu, bukanlah dikarenakan ia takut menghadapi keroyokan mereka, tapi ia merasa kuatir atas diri pemuda yang telah terluka parah, mana mungkin pemuda itu bisa lari jauh.

Sementara itu para seragam hitam yang menyaksikan si nona gagah Siong In melesat kabur, mereka pada bernapas lega. Dan secara diam-diam mereka melakukan gerakan penguntitan.

Kemanakah kaburnya Kang Hoo, maka mari kita ikuti kejadian-pada bab berikut

KANG HOO mengucap “Bismillah...........” lari kabur menerobos semak-semak belukar dalam rimba itu di bawah sinarnya rembulan sabit.

Meskipun ia melarikan diri dari kepungan orang- orang seragam berselubung muka hitam itu, bukanlah berarti ia seorang pemuda pengecut, sebenarnya sebelum munculnya si nona baju merah dari aliran Budha itu, ia telah nekad untuk adu jiwa dengan musuh- musuhnya, tapi entah bagaimana mendengar suara halus nyaring bernada bambu pecah dari bibir mungilnya si nona baju merah, hati Kang Hoo jadi lemah, dan seperti ia kena hipnotis menurut saja apa yang diucapkan nona baju merah tadi. Ia lari kabur meninggalkan mereka.

Dalam melarikan diri di dalam semak belukar itu, hati kecil Kang Hoo yakin kalau nona baju merah dari aliran Budha itu dapat mengatasi keroyokan orang-orang seragam hitam, mengingat kalau ilmu silat nona itu memang lebih tinggi beberapa kali lipat dari dirinya sendiri, dengan matanya sendiri ia menyaksikan hanya dalam beberapa gerakan tangan saja nona itu berhasil merobohkan lawan. Kang Hoo tidak mengerti, dengan senjata apakah nona itu merobohkan lawan. Dalam hatinya juga menuji kecerdikan otak nona baju merah.

Sambil lari itu otak Kang Hoo, berputar terus mengenang peristiwa-peristiwa yang menimpa diri dan keluarganya. Di samping itu ia juga merasakan betapa seluruh tubuhnya dirasa sakit. Dan napasnya juga mulai tersengal sengal. Akhirnya, ketika ia memasuki gerombolan rumput alang-alang, langkah larinya tak secepat semula, ia sudah seperti orang mabuk, sempoyongan diantara tingginya rumput alang-alang. Kemudian dirinya ambruk di tanah.

Meskipun keadaan jasmaniahnya sudah begitu lemah, tapi otak si pemuda masih bisa berpikir, ia harus bisa menyembunyikan dirinya dari kejaran lawan. Dengan menggulingkan dirinya, ia berusaha menyesapkan badannya di bawah alang-alang yang tumbuh lebat di tengah hutan itu. Dan tak lama kemudian Kang Hoo pingsan karena lelahnya.

Haripun berganti pagi, sinarnya sang surya menguning keemas-emasan di ufuk timur, siliran angin basah berembun menyegarkan badan.

Embun-embun masih terotolan di atas batang-batang rumput alang-alang digoyang angin. Tubuh Kang Hoo menggeletak di dalam semak- semak alang-alang. Sinar matahari pagi dan angin basah sejuk berbareng menerpa wajah si pemuda dalam timbunan batang alang-alang.

Mendapat siraman sinarnya matahari pagi dan hembusan angin basah pada wajahnya mendadak Kang Hoo membuka matanya, ia sadar dari pingsannya, tapi keadaan tubuh itu masih lemah. Belum bisa digerakkan.

Begitu sepasang mata si pemuda terbuka, ia belum bisa melihat apa-apa, karena keadaan sekelilingnya tertutup oleh rumput alang-alang yang tinggi, tapi sepasang telinganya mendadak mendengar suara gerengan-gerengan binatang buas, dan suara mendesisnya binatang berbisa, mengurung tempat dimana ia menggeletak rebah.

“Ya Allah, mati aku. ” keluh Kang Hoo.

Rupanya nasib sial selalu membawa diri Kang Hoo, baru saja malam tadi ia berhasil lari dari kepungan orang- orang seragam hitam, kini mendadak di sekitar hutan itu sudah dipenuhi oleh suara gerengan binatang buas dan binatang-binatang berbisa.

Meskipun keadaan dirinya masih sangat lemah, ia berusaha bangkit duduk, untuk melihat dari arah mana munculnya suara gerengan binatang buas itu.

Begitu ia berhasil duduk di dalam timbunan rumput alang-alang itu, matanya melihat tetesan darah beku berceceran di tanah itulah darah beku yang semalam keluar dari luka-luka di badannya. Melihat darah tadi, kembali ia merasakan betapa perihnya bekas luka-luka bacokan pedang lawan, bahkan pundak tangan kanan tampak mulai membengkak, tangan itu sudah tak bisa digerakkan. Setelah memperhatikan di sekitar rimba alang-alang itu, ternyata di sana tak tampak seekorpun binatang buas. Tapi suara binatang itu masih terdengar menggereng-gereng di telinganya.

Kang Hoo menengadahkan kepala ke atas, di sana tampak lima ekor burung besar, sayapnya selebar beberapa tombak terpentang-lebar, burung-burung itu terbang berputaran, seekor tampak kecil bagaikan titik hitam di atas langit. Melihat pemandangan itu hatinya tambah heran.

Selagi ia terheran-heran, mendadak Kang Hoo mendengar suara bentakan-bentakan diantara suara gerengan binatang buas itu. Suara tadi ternyata datangnya dari arah belakang. Maka cepat ia menoleh ke belakang, dan di belakang sana merupakan bukit pegunungan. Di lereng bukit itu tampak bergerak beberapa bayangan berseragam hitam, bayangan- bayangan tadi laksana berlompatan, mereka rupanya sedang melakukan pertempuran. Entah mereka sedang bertempur dengan siapa?

“Gila . . .” pikir Kang Hoo “Dimana-mana selalu ada itu manusia-manusia berseragam dan berselubung hitam. Apakah isi dunia ini sudah dihuni oleh manusia- manusia biadab?”

Kang Hoo berusaha bangkit bangun ia ingin melihat apa yang sedang dikerjakan oleh orang-orang seragam hitam berselubung muka itu. Tapi begitu badan Kang Hoo berhasil berdiri dengan lemahnya, mendadak ia jatuh kembali duduk di atas semak belukar. Matanya terbelalak lebar, badannya jadi gemeteran.

“Aneh mengapa hutan ini mendadak penuh binatang buas dan binatang berbisa?” pikir Kang Hoo, “Bukankah malam tadi aku datang ke tempat ini tak tampak seekorpun binatang buas. Tapi bagaimana pagi ini di sekitar gerombolan rumput alang-alang penuh dengan binatang buas? Dan itu gadis baju merah, yang semalam menolong diriku juga sedang menghadapi tiga orang seragam hitam berselubung muka. Melihat gerakan ilmu silat tiga orang seragam hitam tadi, mereka rupanya memiliki kepandaian lebih tinggi dari kawan-awan mereka semalam. Dan aneh, mengapa di dada kiri mereka mengenakan lukisan Kalong Kuning, mengapa tidak mengenakan lukisan Kalong Putih? Apakah di sini telah muncul lain golongan.”

Ternyata begitu Kang Hoo berdiri, ia menampak sekeliling gerombolan rumput alang-alang dimana ia mendekam, sudah dikurung oleh binatang-binatang buas, dan diluar kurungan binatang-binatang buas, di sana terjadi satu pertempuran antara si nona baju merah dengan tiga orang seragam hitam berlambang Kalong Kuning.

Rupanya ketika malam tadi Kang Hoo lari menerobos hutan, ia tidak sempat memperhatikan medan sekelilingnya lebih-lebih keadaan badannya yang sudah penuh luka, hingga ketika ia memasuki gerombolan rumput alang-alang, ia tidak mengetahui kalau rumput alang-alang itu, hanya seluas beberapa tombak saja, karena diluar gerombolan rumput alang-alang itu merupakan dataran rumput hijau. Di sana tumbuh beberapa batang pohon kayu. Sedang di sebelah utara terdapat itu bukit pegunungan, dimana beberapa orang seragam hitam berlompatan melakukan gerak-gerak serangan. Sedang di bawah bukit, si nona baju merah menghadapi keroyokan tiga orang Kalong Kuning.

Lama Kang Hoo duduk terpekur, kemudian ia kembali menengadahkan kepala memandang ke atas, di atas udara sana, lima ekor burung-burung besar masih berputar melayang layang. Mata Kang Hoo yang sayu itu terus memandang burung-burung yang berputaran di atas kepalanya, saat itu mendadak saja dari arah atas bukit dimana orang orang berseragam hitam berlompatan, terdengar suara halus merdu,

“Ui-jie, kau bawa orang itu!”

Kang Hoo mendengar jelas suara tadi, lagi-lagi suara seorang perempuan, tapi nada suara itu berbeda dengan suara gadis baju merah yang sedang bertempur dengan tiga orang seragam hitam. Entah kini jago perempuan dari mana lagi yang muncul?

Kang Hoo membalik badan memandang ke arah bukit lereng gunung dari mana suara perempuan tadi datang. Di sana tampak orang-orang berseragam hitam sedang mengeroyok seorang gadis. Itulah seorang gadis berkulit hitam manis.

Selagi Kang Hoo memandang heran atas munculnya gadis yang sedang menempur orang-orang berselubung hitam itu, mendadak terdengar suara bentakan dari salah seorang Kalong Putih yang membentak si gadis hitam manis tadi,

“Perempuan Biauw, jangan kau turut campur urusan

ini!”

“Hmmm. Kalian minggirlah, aku ingin membawa anak

itu, ia telah mengganggu usahaku. Akan kubawa dirinya ke perkampungan suku bangsa Biauw.” Seru si gadis hitam manis yang rupanya gadis dari suku bangsa Biauw.

Terdengar lagi suara teriakan si gadis Biauw, “Ui-jie, cepat bawa anak itu!”

Kang Hoo bisa melihat dan mendengar pembicaraan tadi, tapi tidak mengarti apa yang dimaksud dengan kata Ui-jie, (kuning). Ia jadi heran.

Selagi Kang Hoo terheran-heran, mendadak saja, dari sebelah kirinya mendatangi seekor orang hutan berbulu kuning, tubuh orang hutan itu hampir setinggi dirinya, penuh bulu, matanya bersinar kuning, dengan lenggang lenggok menghampirinya.

Kang Hoo kebingungan, ia menyelusup mundur masuk ke dalam rumput alang-alang, tapi di belakangnya terdengar suara ular mendesis.

Dalam keadaan demikian rupa, maju menghadapi binatang hutan, di belakang bertemu ular berbisa, Kang Hoo jadi timbul nekadnya, beberapa hari ini ia selalu mengalami penderitaan dan gangguan-gangguan dari manusia, kini binatang-binatang ini hendak berbuat apa terhadap dirinya. Maka dengan nekat, ia mengempos seluruh sisa tenaganya bangkit menerjang si orang hutan.

Orang hutan bulu kuning tadi mengetahui kalau orang di depannya datang menyerbu, ia merentangkan kedua kaki depannya, dan sekali pukul saja tubuh Kang Hoo yang sudah kehilangan tenaga itu, roboh terguling, dan jatuh pingsan.

Setelah orang hutan merobohkan Kang Hoo dengan tangannya yang penuh bulu mengangkat tubuh si pemuda, lalu dipanggulnya pergi.

Binatang-binatang buas yang mengurung gerombolan rumput alang-alang, sejak tadi mengerang- erang, begitu mereka melihat si orang hutan berbulu kuning memondong Kang Hoo, mereka pada seliweran meninggalkan tempat itu, lari ke arah orang hutan bulu kuning, dengan sikap melindungi orang hutan bulu kuning, mereka pada berlalu dari tempat itu. Berbarengan mana lima burung-burung besar yang terbang di atas udara melayang meninggalkan udara dimana tadi Kang Hoo bersembunyi, burung-burung itu melayang ke arah lereng gunung. Dan salah seekor menukik ke bawah, menghampiri si perempuan Biauw. Sedang yang lainnya dengan cekatan melakukan serangan udara pada orang-orang berseragam hitam berselubung muka tadi.

Si perempuan Biauw menunggu burung besar itu menukik ke arahnya, ia mengenjot badannya dan lompat ke atas, kemudian duduk di atas punggung burung besar itu, lalu sang burung kembali terbang naik ke atas, melayang terbang ke arah rombongan binatang-binatang buas yang mengurung melindungi orang hutan bulu kuning.

SIONG IN sedang menghadapi keroyokan tiga orang seragam hitam, orang-orang itu berselubung muka dan berlambang Kalong Kuning di dada, merasa kewalahan menghadapi mereka, kenyataan orang-orang ini memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari mereka yang mengenakan lambang Kalong Patih.

Ketika Siong In mendengar suara teriakan dari perempuan Biauw memerintahkan orang hutan bulu kuningnya untuk membawa Kang Hoo, hati si nona lebih bingung lagi, ia coba lompat untuk menerjang barisan binatang-binatang buas yang mengurung Kang Hoo, tapi gerakan Siong In tidak leluasa, karena di depannya ia mesti menghadapi keroyokan tiga orang berlambang Kalong kuning dan juga ia mesti menghadapi barisan kurungan binatang-binatang buas.

Waktu itu dilain bagian pertempuran antara si perempuan Biauw dengan enam orang seragam hitam berselubung muka masih berlangsung, perempuan Biauw itu mendapat keroyokan dari mereka yang mengenakan lukisan kalong Hitam dan Kalong Kuning, Dan ketika seekor burung raksasa meluncur datang mengangkat terbang perempuan Biauw tadi. Mereka pada melempar pedang ke atas untuk membunuh burung tadi, tapi senjata-senjata pedang itu tak dapat mendekati sang burung, karena angin kipasan sayap burung yang besar itu berhasil membuat pedang-pedang tadi kembali jatuh ke tanah.

Di atas punggung burung raksasanya di tengah udara, gadis Biauw bersiul panjang. Berbarengan dengan suara siulannya dari atas udara, melayang satu titik hitam mendatangi, ternyata itulah seekor burung aneh yang turun meluncur ke bawah, burung tadi turun mendapatkan orang hutan bulu kuning yang sedang memondong Kang Hoo.

Menampk seekor burung aneh mendatangi, si orang hutan mendongakkan kepala ke atas, kemudian mengeluarkan suara jeritan.

Burung aneh itu memiliki bulu berwana hijau biru, berbuntut panjang, lebar sayapnya beberapa tombak, kedua sinar matanya memancarkan warna kuning emas meluncur terus merendah.

Begitu terkena sambaran angin dari bulu burung aneh itu, rumput alang-alang bergoyang-goyang keras, sedang itu binatang orang hutan bulu kuning yang membawa Kang Hoo merundukkan kepala, seperti tak tahan menerima sambaran angin bulu burung tadi. Begitu burung aneh tadi tiba di atas kepala si orang hutan bulu kuning, sepasang kakinya bagaikan capitan besi, diluruskan kebawah, ke arah kepala si orang hutan bulu kuning, sambil mengeluarkan suara pekikan.

Orang hutan bulu kunng terus menunduk ke bawah, sepasang tangannya yang penuh bulu mengangkat tubuh Kang Hoo ke atas. Rupanya ia mengerti kalau gadis Biauw, memerintahkan burung tadi mengambil tubuh Kang Hoo, kini tangannya berbulu itu ia menyerahkan Kang Hoo pada sang burung.

Burung tadi melongok ke bawah, matanya bermain memperhatikan keadaan Kang Hoo, kemudian sepasang kakinya mencapit tubuh Kang Hoo, lalu meluncur ke atas.

Setelah sang burung aneh warna hijau biru meluncur ke atas, baru orang hutan bulu kuning berani berdiri tegak, ia mendongakkan kepala.

Saat itu kembali terdengar suara siulan dari atas udara, maka seluruh binatang buas mundur dan meninggalkan tempat tadi.

Orang-orang seragam hitam berselubung muka, berdiri melongo, memandang berlalunya si gadis Biauw yang telah membawa kabur Kang Hoo.

Sementara itu Siong In yang menghadapi serangan tiga orang berlambang Kalong Kuning, ia masih berkutet. Menggerakkan pedangnya. Diiringi berkelebatnya sinar- sinar hitam menyerang jalan darah orang-orang seragam hitam tadi. Tapi mereka ternyata dengan mudah dapat mengelakkan serangangan senjata piauw si nona.

Siong In semakin penasaran, ia mempergencar serangannya, sekali-sekali mata si nona juga mendongak ke atas, melihat lenyapnya bayangan burung yang membawa Kang Hoo.

Pertempuran telah berlangsung empat puluh jurus, belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah dan menang.

Waktu itu, orang-orang seragam hitam yang tadi bertempur di atas bukit menghadapi si gadis Biauw, sudah pada berlari ke arah pertempuran antara Siong In, dan tiga kawan mereka yang mengenakan lukisan Kalong Kuning, tapi mereka tidak berani turun tangan, dengan sikap mengurung memperhatikan jalannya pertempuran tersebut.

Sampai matahari naik tinggi pertempuran belum juga berakhir.

Bagaimanapun tingginya ilmu silat si nona baju merah, tapi ia masih kurang pengalaman tempur. Saat itu napasnya sudah tersengal- sengal, sedang senjata piauw besinya sudah habis terbuang tanpa mengenai sasaran, kini masih tinggal piauw-piauw pemberian suhunya itulah piauw emas Kim chi-hui-piauw, tapi ia merasa sayang untuk menggunakan piauw itu. Kalau tidak terpaksa si nona tidak akan menggunakan senjata tadi.

Selagi Siong In kewalahan menghadapi keroyokan tiga orang tadi, mendadak di tengah udara terdengar suara batuk-batuk serak.

Tiga orang seragam hitam yang berlambang Kalong Kuning masih menempur Siong In, begitu mereka mendengar suara batuk-batuk, mereka lompat mundur menarik serangan, memandang ke arah datangnya suara batuk tadi.

Begitu pula orang-orang seragam hitam berlambang Kalong Putih mereka juga pada lompat mundur mengikuti gerakkan kawan-kawan mereka, memandang pada orang yang datang.

Siong In mulai kewalahan, begitu serangan tiga orang lawannya mengendur dan mereka lalu pada lompat mundur ia juga memperhatikan ke arah datangnya suara batuk-batuk tadi. Dan begitu ia melihat orang yang mengeluarkan suara batuk-batuk serak itu, ia berdiri melengak mulutnya menganga, lalu Siong In lari memburu dan berteriak,

“Ayah . . . Ayah     !”

Orang tadi masih terus terbatuk-batuk, usianya empat puluh lima tahunan, rambutnya sudah banyak yang putih. Wajahnya klimis tak selembar rambutpun tumbuh di sana.

Siong In terus berlari ke arah orang tua itu, sedang si orang tua dengan langkah kalem menyambut datangnya Siong In.

“Oh...... Ayah ..... Ayah.....!” Seru Siong In menubruk sang ayah. Orang tua tadi dipeluknya erat-erat, ia menangis sesenggukan. “Ayah.....! Kemana saja kau selama ini . . . Ibu . . . Ibu ..... Menunggu di rumah ”

Orang tua itu terbatuk-batuk kemudian katanya serak, “Anak ... Aiii. ”

Hanya itulah yang keluar dari mulut si orang tua.

Tangan orang tua itu terus mengelus-elus rambut Siong In.

“Ayah, mari pulang .... Ibu menunggu di rumah, ia kesunyian . . .” Kata Siong In sedih.

“Anak...... Anak . . .” seru si orang tua tadi. Air mata si nona meleleh membasahi kedua pipinya, ia menangis sedih, perpisahan sepuluh tahun itu membuat hati si nona begitu sedihnya.

Keadaan orang tua itupun tak ubahnya seperti keadaan Siong In, tampak kedua matanya menggenang air mata. Tapi ia berusaha menahan jatuhnya air mata itu, katanya,

“Anak . . . Kau sudah besar . . . Waktu ayah meninggalkan rumah kau masih kecil, itu waktu kau masih ingusan . . . Hari ini sepuluh tahun sudah lewat, kau sudah menjadi seorang gadis cantik jelita lagi gagah, eh, kau sudah mewarisi ilmu silat ibumu, tak kusangka kau sanggup menghadapi mereka.”

Begitu mendengar ucapan sang ayah yang terakhir itu, hati si nona jadi kaget, ia melepaskan pelukannya, kemudian membalik badan, pedangnya siap di depan dada.

Tapi begitu ia melihat ke tempat mana tadi terjadi pertempuran, di sana sudah tak tampak lagi seorangpun seragam hitam.

Mata Siong In masih basah digenangi air mata, pipinya licin mengkilap digenangi lelehan air mata itu, biji mata si nona membelalak, ia jadi heran, kemana perginya orang-orang seragam hitam tadi?

Setelah menggosok wajahnya dengan lengan baju, Siong In bertanya pada sang ayah,

“Ayah, apakah melihat mereka tadi?” Sang ayah mengangguk, katanya,

“Bukan saja aku lihat, tapi juga sudah menyaksikan bagaimana tadi kau menempur keroyokan mereka!” “Eh, aneh, bagaimana mereka takut kepadamu?” Seru Siong In.

“Anak ....” Seru si orang tua menghela napas. “Kau jangan campuri urusan mereka. Lebih-lebih tentang anak muda itu. Jangan sekali-kali kau mau tahu urusannya, dan ingat jangan sampai kau jatuh cinta padanya...!”

“Ayah!'' potong Siong In. “Mengapa? Pemuda itu tokh tidak berbuat jahat padaku, juga itu orang-orang seragam hitam bukan orang baik. Aku telah melihat sendri, perbuatan terkutuk mereka!”

“Diam!!!” Bentak sang ayah. Mendapat bentakan tadi Siong In kaget ia lompat mundur, matanya memandang wajah si orang tua, kembali air mata menetes turun di pipinya.

Kesedihan itu datang bertambah, mengapa sang ayah setelah sepuluh tahun tidak bertemu, kini berubah sikap terhadap dirinya, bukankah tempo dulu belum pernah ayahnya membentak demikian rupa. Ia sangat dimanja oleh ibu dan ayah itu, tapi setelah sepuluh tahun tidak jumpa dan pada perjumpaan pertama kali dalam sepuluh tahun itu, sang ayah telah membentaknya.

Orang tua itu, yang menampak keadaan putrinya demikian sedihnya, ia menghela napas, katanya, “Anak, kau jangan salah mengerti, ayahmu sangat sayang padamu, karena memikir keselamatan dirimu maka aku larang kau mencampuri urusan mereka!”

“Ayah . . . Tapi . . .”

“Sudahlah, sudahlah, mereka tokh telah berlalu. Jangan bicarakan lagi.” Seru sang ayah sambil berjalan maju menghampiri Siang In. Kedua tangan orang tua tadi, diletakkan di atas pundak Siong In, katanya, “Kau sudah besar, nah, pulanglah, beritahukan pada ibu, aku masih hidup, tidak kurang suatu apa, waktu ini aku belum bisa pulang ke rumah ”

“Ayah, mengapa?” Tanya Siong In.

“Apa tidak bisa ayah pulang sebentar, menengok ibu?”

“Anak, sampaikan pesanku padanya, tenang tenanglah ia, suatu hari pasti aku akan segera pulang,” jawab sang ayah.

“Tapi.     Sebaiknya ayah pulang dulu,” kata Siang In.

“Bukankah ayah tadi mendapat serangan penyakit batuk- batuk?”

Orang tua itu mendadak seperti kaget, serunya,

“Eh . . . Akh ... Ya...” Katanya sambil terbatuk-batuk. “Batuk ini tidak berbahaya, ayahmu bisa mencari obat untuk menyembuhkannya.”

Setelah berkata begitu sang ayah batuk-batuk terus menerus.

Siong In yang melihat ayahnya mendadak kumat penyakit batuknya, ia jadi menyesal mengucapkan kata- kata tadi, bukankah dengan ucapannya itu telah membuat sang ayah teringat akan penyakit batuknya? Hingga si orang tua mesti terbatuk-batuk terus.

“Ayah, maafkan anakmu,” kata Siong In sedih. “Seharusnya aku tidak mengingatkan ayah tentang penyakit batuk itu.”

Sang ayah teras batuk-batuk serak katanya, “Penyakit ini memang aneh, kalau sekali batuk, terus-

terusan saja, tapi kalau ia berhenti maka lama tak akan kumat. Kau jangan kuatir, nah pulanglah, beritahu ibumu kalau aku dalam keadaan sehat walafiat.”

Siong Ia jadi bingung, mengapa sang ayah ini bersikap begini aneh, maka dengan manjanya ia bertanya,

“Ayah sebenarnya sedang menghadapi urusan apa?”

“Anak tidak ada urusan apa-apa yang mesti dikuatirkan, beritahukan saja pada ibumu, ia akan mengerti. Dan dalam perjalanan pulang kau jangan bertindak sembarangan. Sebaiknya jangan mencampuri urusan orang lain!”

“Tapi . , . Bagaimana kalau orang-orang seragam hitam itu mengejar diriku, memusuhi aku.” Tanya Siong In.

Orang tua tadi terbatuk-batuk, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam saku baju, dari sana mengeluarkan sebuah benda, katanya sambil menunjukkan benda itu pada Siong In,

“Kau pakailah benda ini di dadamu. Dan selanjutnya kau tidak perlu kuatir terhadap orang-orang seragam hitam.”

Mata Siong In terbelalak, memperhatikan benda di tangan sang syah. Itulah sebuah perhiasan emas berbentuk buah Tho, di atas buah itu terdapat dua lembar daun.

Selagi Siong In memperhatikan dengan terheran- heran benda tadi, tangan sang ayah telah menusukkan benda tadi di baju dada kiri Siong In.

Siong In membiarkan saja ayahnya menyematkan benda tadi, matanya memperhatikan bagaimana tangan sang ayah memasukkan peniti emas ke bajunya. “Nah, perhiasan ini banyak gunanya,” kata sang ayah setelah selesai menyematkan benda tadi. “Kau pulanglah, ayahmu tak bisa lama-lama di sini.”

Setelah berkata begitu, orang tua tadi membalikkan badan, tanpa menambah ucapannya ngeloyor pergi.

Siong In bengong terlongong-longong menyaksikan sikap aneh sang ayah itu. Mulutnya ingin berteriak memanggil, hatinya ingin mengejar berlalunya sang ayah, tapi sang mulut dan sang kaki tidak menurut perintah hatinya. Ia berdiri di situ terbengong-bengong, melihat belakang tubuh sang ayah, yang lenyap di balik lebatnya gerombolan pohon.

Begitu orang tua itu telah lenyap di balik pohon, mendadak saja badan Siong In melejit, ia lari mengejar ke arah lenyapnya sang ayah.

Di dalam gerombolan pohon, si nona mencari bayangan ayah itu, tapi di sana sudah tak terdapat bayangan orang tua tadi.

Siong Io terus ubek-ubekan mencari di dalam rimba.

Tapi tetap saja ia tak menemukan jejak ayahnya

“Heran!” Pikir Siong In. “Bagaimana ayah bisa bergerak begitu cepat? Bukankah gerakannya tadi sangat lemah? Ia seperti tidak bertenaga, tapi bagaimana kini bisa lenyap mendadak?”

Di dalam hutan itu Siong In dibuat heran atas lenyapnya sang ayah. Ia tidak mengerti bagaimana ayahnya bisa bergerak begitu cepat. Dan saat itu mendadak saja ia teringat pada orang-orang seragam hitam berselubung muka. Ketika orang-orang itu mendengar suara batuk-batuk sang ayah, mendadak mereka pada tersentak kaget, menghentikan serangan. Dan meninggalkan Siong In yang menubruk ayahnya. Kejadian-kejadian itu membuat hati si nona tambah bingung. Manusia-manusia yang ia temui semua serba misterius.

Kini kemana harus mengejar ayah itu, apakah ia harus kembali ke kampungnya memberitahukan pada sang ibu, kalau ayah itu masih hidup, dan pernah ia jumpai di dalam rimba ini. Tapi bagaimana ia mesti menceritakan pada ibunya tentang sikap ayahnya yang berubah misteri itu?

Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya Siong In mengambil keputusan. Katanya dalam hati,

“Dalam dunia ini ternyata banyak sekali orang-orang aneh, baru saja belum lama aku mengembara dalam rimba persilatan, telah menemukan tiga macam keganjilan, yang pertama, munculnya pemuda aneh yang mengucapkan kata-kata yang aku tidak mengerti apa maksudnya, ketika ia melarikan diri dari keroyokan orang-orang seragam hitam dimalam kemarin. Kedua dari hasil penguntitan terhadap orang-orang berseragam hitam lambang Kalong itu, aku mendapat kesimpulan, rupanya mereka terdiri dari dua tingkatan, tingkatan yang rendah itulah mereka yang mengenakan lambang Kalong Putih, ilmu kepandaian mereka tidak ada artinya. Dan tingkatan yang lebih tinggi mereka yang pada pagi ini kuhadapi, mereka cukup tangguh, di dada mereka terlukis lambang Kalong warna Kuning, selanjutnya, itu perempuan Biauw mau apa lagi dengan membawa lari pemuda itu. Ia juga memiliki kepandaian sangat aneh, binatang-binatang buas dan binatang-binatang berbisa begitu pula burung-burung aneh, mengapa bisa tunduk dibawah siulannya? Ilmu kepandaian yang sangat luar biasa!” Setelah hatinya berkata begitu, Siong In, meraba itu perhiasan buah Tho terbuat dari emas yang disematkan di dada kirinya oleh sang ayah, kemudian, katanya lagi,

“Ini lagi . . . urusan ayah, mengapa aneh begitu, aku disuruh pulang memberi tahu pada ibu, dan dilarang mencampuri urusan orang. Apa maksud benda emas ini? Apakah ini pemberian ibu? Kalau begini, sebaiknya aku pulang dulu ke gunung Hong-san memberi tahu sama ibu. Baru kemudian dengan diam-diam aku menyelidiki kemisteriusan ayah.”

Setelah berpikir demikian, ia masukkan pedang ke dalam serangka. Lalu melesat dari gerombolan pohon. Tapi baru berlari beberapa tombak, mendadak pikiran si nona berubah lagi, pikirnya,

“Aku tokh janji pada ibu paling lama setengah tahun, sedang aku meninggalkan rumah belum cukup dua bulan. Baiknya aku menyelidiki itu perempuan Biauw, apa maksudnya membawa lari pemuda aneh itu?”

Pikiran nona baju merah Siong In jadi kacau tidak keruan, ia dibingungkan dengan keanehan-keanehan yang baru saja dihadapinya. Berdiri mematung di antara lebatnya pohon dalam hutan tadi

Sementara kita tinggalkan dulu keadaan, si nona baju merah Siong In yang kebingungan, maka marilah kita mengikuti pengalaman Kang Hoo yang dibawa terbang oleh burung aneh mengikuti si perempuan Biauw.