Mustika Gaib Bab 05

 
Bab 05

“ANAK GOBLOK,” pada suatu hari sang ibu menegor Siong In di dalam kamarnya. “Kau sekarang sudah berusia enambelas tahun dan badanmupun cukup besar, hingga kau boleh dikata bukan lagi seperti anak-anak, tapi sifatmu masih seperti anak kecil saja, setiap hari kau hanya bermain, kerjamu hanya pergi ke lain kampung keluyuran tidak keruan. Apa kau tidak pernah memikirkan tentang ayahmu yang pergi tanpa juntrungan? Sudah sepuluh tahun lamanya tiada kabar berita.”

Berkata sampai di situ, sang ibu menghela napas, lalu katanya lagi,

“Selama sepuluh tahun ini ayahmu tiada kabar berita. Mati atau masih hidup? Aih, kalau kau ini anak laki-laki, tentunya sudah lama aku suruh kau mencari jejak ayahmu itu. Tapi kau hanya seorang anak perempuan, meskipun kau telah mendapatkan  pelajaran ilmu silat, tapi seorang anak perempuan mau sampai dimana kekuatannya bila menghadapi orang-orang jahat.”

Siong In yang mendengar perkataan sang ibu, berkata,

“Oh, ibu, meskipun aku bukan anak laki-laki, tapi aku sanggup untuk pergi mencari ayah. Lagi pula aku tokh bukan gadis pingitan yang hanya mengeram dalam rumah gedung, sejak kecil aku mendapat pelajaran ilmu silat, dan aku sendiri sering berlari-larian di atas gunung. Hingga gunung dan hutan bukan lagi merupakan apa- apa bagiku, maka meskipun aku mengembara ke pelosok dunia juga tidak nanti takut pada orang.”

Sang ibu yang mendengar ucapan putrinya berkata, “Anakku, kau  tahu apa.  Itu  beberapa macam ilmu

silat yang aku ajarkan padamu, sama sekali tidak ada

artinya sedikitpun! Tempo dulu ayahmu bilang hendak pergi ke kotaraja, sedang perjalanan dari Ho-lam ke kotaraja mesti memakan waktu paling sedikit satu bulan, sedang di tengah jalan banyak orang jahat berkepandaian tinggi dan kepandaian yang kau miliki, mana bisa untuk menandingi mereka, itu hanya cukup untuk sekedar kau menjaga diri.”

Mendengar ucapan ibunya itu, Siong In tertawa,

“Oi, ibu,” seru Siong In “Ibu belum tahu, anakmu telah memiliki kepandaian silat tinggi, saat ini kepandaianku tidak berada di bawah lain orang, ibu tidak percaya? Boleh coba! Agar ibu tidak merasa kuatir, dan mengizinkan aku mengembara mencari jejak ayah, mari kuperlihatkan kemajuan ilmu silatku.”

Setelah berkata begitu Siong In mengajak ibunya keluar. Di luar rumah ia memandang ke langit. Kemudian sambil menunjuk ke arah seekor burung yang sedang terbang di udara ia berkata,

“Ibu lihatlah burung itu. Sebentar lagi ia akan segera jatuh ke bumi!”

Sang ibu memandang burung yang ditunjuk Siong In, berbarengan mana tangan si nona melempar sebuah Kim-piauw, maka piauw itu berkelebat menyambar burung yang sedang terbang, tepat mengenai dadanya dan tak ampun lagi burung itupun bergelepar di udara, lalu jatuh tepat di depan mereka.

Sang ibu bisa menyaksikan, bagaimana putrinya memamerkan kepandaiannya, ia jadi melongo, dari mana anak ini belajar ilmu lempar piauw, ia sendiri belum pernah mengajarkan ilmu itu.

Selagi sang ibu dibuat heran atas kepandaian putrinya itu, Siong In sudah bergerak lagi, kilat ia melakukan gerak-gerak ilmu silat yang pernah dilatihnya di atas puncak gunung. Dan sebagai penutup gerakan kepalan si nona yang telah disaluri kekuatan tenaga murni menghajar sebatang pohon cemara sebesar pelukan tangan.

Pohon cemara sebesar pelukan tangan bergoyang keras, daun-daun pada rontok berguguran.

“Ibu!” seru Siong In, “Apa sudah lihat ilmu tenaga dalamku belum sempurna betul kalau saja pada lima tahun lagi, pastilah pohon ini akan roboh berikut akar- akarnya terkena pukulanku.”

Sang ibu yang menyaksikan kepandaian anaknya begitu hebat, ia bertambah heran, hingga karena herannya itu, ia berkata setengah berteriak,

“Anak, kau telah melatih ilmu itu semua dari mana? Dengan kepandaian yang kau miliki itu, berarti kau memiliki ilmu silat jauh lebih tinggi dari pada aku sendiri, meskipun aku tidak tahu ilmu silat itu dari aliran mana, tapi aku dapat duga itulah ilmu silat dari aliran ternama dan bukan ilmu silat pasaran. Tapi di tempat sunyi ini, dari mana bisa muncul orang pandai? Dan bagaimana kau sampai mempelajari pelajaran itu secara diam-diam. Ayo ceritakan pada ibumu.”

Siong In terpaksa menceritakan pada sang ibu, “Guruku seorang nikho, usianya mungkin baru

mencapai tiga puluh tahunan, wajahnya cantik, hanya sayang ia tidak mau memberitahukan nama dan gelarannya, pada lima tahun belakangan ini, aku sering bermain ke lain kampung, sebenarnya tidak lain pergi ke atas puncak gunung untuk melatih ilmu silat, anak terpaksa tidak memberitahu pada ibu karena begitulah kehendak suhu yang harus merahasiakan tentang anak belajar di dalam kelenteng Giok-lian-am, dan setelah tamat belajar barulah aku diijinkan untuk memberitahukan pada ibu, dan waktu itu sudah diliwati lima tahun, anak belajar secara diam-diam di bawah pimpinan suhu itu. Sekarang lima tahun sudah dilewati, bahkan suhu juga pernah berkata kalau anak telah selesai mempelajari ilmu yang diturunkan. Maka baru anak berani memberitahukan pada ibu. Hanya suhu memiliki sifat aneh, kalau ada orang menanyakan nama dan gelarannya, ia selalu menggelengkan kepala, itulah yang membuat anak sampai hari ini tidak mengerti.”

Mendengar cerita sang anak, ibu Siong In sangat girang, ia mengijinkan anaknya untuk pergi mengembara mencari sang ayah. Selanjutnya sang ibu juga memberikan sebilah pedang.

“Anakku,” kata   sang   ibu   ketika   Siong   In   akan berangkat, “Pedang ini bukan pedang mustika tapi ketajamannva luar biasa, untuk menjaga diri guna menghadapi orang-orang jahat, dan ingat cepatlah kau kembali pulang, bertemu atau tidak dengan ayahmu.”

“Anak mengerti, aku juga tidak tega hati meninggalkan ibu terlalu lama.” jawab Siong In, “Paling cepat anak akan pulang dalam satu atau dua bulan, dan paling lama dalam waktu setengah tahun, tentu anak, akan menengok ibu di sini.”

Setelah menerima pemberian pedang dari ibunya, Siong In lalu pamitan pergi, sebelum ia meneruskan perjalanannya, ia mendaki ke atas puncak gunung Hong- san untuk menemui sang suhu. Tapi setelah ia tiba di atas sana keadaan kelenteng itu sudah kosong. Suhunya sudah tak tampak lagi.

Siong In memeriksa ke setiap pelosok ke lenteng, di sana tak ditemui tanda-tanda kalau suhunya masih berdiam di situ, kemudian ia mencari kesekitar lereng gunung, kalau-kalau sang suhu pesiar kesana. Tapi setelah mencari ubekan ia tidak juga menemukan bayangan suhunya.

“Aneh, suhu memiliki sifat-sifat aneh,” pikir Siong In. Kemudian ia melesat meninggalkan kelenteng Ciok-lian- am. Ia langsung turun gunung menuju ke arah utara.

Demikianlah, hari demi hari dilewatinya, setelah memasuki daerah Kai-hong hu, keadaan jalan yang dilalui mulai menjadi sepi di sana sini hanya hutan belantara, karena baru pertama kali itulah Siong In keluar mengembara, tampak ia sedikit gugup.

Siong In mengenakan pakaian serba merah wajahnya cantik menarik, tidak heran kalau dalam perjalanan ia sering mendapat gangguan dari laki-laki hidung belang yang coba-coba mengganggu dirinya. Tapi semua gangguan itu dengan mudahnya dapat di atasinya. Tidak sedikit dari laki-laki hidung belang yang mesti terjungkal di bawah terjangannya ilmu silat Tai-kek- koan, atau Pat-kwa-koan dari si nona baju merah.

Pada suatu hari Siong In tiba di kampung Sip-lie-ho yang terletak di tepi sungai Hoang-ho.

Hari itu masih pagi, sang matahari baru saja memancarkan sinarnya, hawa perkampungan itu sangat sejuk. Rumah-rumah penduduk berderetan di tepi jalan. Orang-orang kampung ramai lalu lalang dengan urusannya masing-masing, para pedagang sibuk menjajakan dagangannya.

Si nona baju merah Siong In melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang perkampungan yang dibangun dari pada kayu-kayu hutan.

Orang-orang kampung begitu menampak munculnya nona asing baju merah, mereka memperhatikan gerak gerik Siong In, ada beberapa diantaranya berbisik-bisik, kemudian bergegas-gegas menjauhi, seperti mereka itu ketakutan melihat munculnya setan di siang hari bolong.

Begitu memasuki pintu gerbang kampung itu, Siong In juga sudah melihat adanya keanehan pada penduduk kampung ini, mereka memandang si nona dengan sikap seperti menghadapi setan atau musuh besar. Tak seorangpun yang mendekati dirinya. Dimana ia mendekati seseorang, orang itu segera berlalu dengan langkah terburu-buru.

“Eh, apakah orang-orang ini takut karena aku membawa pedang?” pikir Siong In, tangannya meraba gagang pedang yang tersembul di belakang punggungnya. Berbarengan dengan gerakan tangan Siong In meraba gagang pedang, terjadilah satu keganjilan orang- orang yang melihat si nona baju merah meraba gagang pedang itu mereka sudah lari ngacir. Kelakuan orang- orang itu ternyata telah membuat penduduk kampung lainnya lari serabutan. Berbarengan pula, terdengar suara berisik dari pintu-pintu rumah yang terbanting ditutup. Sebentar saja, kampung itu jadi sunyi sepi. Bahkan seekor anjingpun tak tampak berkeliaran.

Di tengah jalan di dalam kampung itu Siong In judi berdiri mematung memperhatikan keadaan sekelilingnya, pikirnya,

“Mengapa orang-orang kampung ini begitu ketakutan, melihat aku meraba gagang pedang? Aku toh bermaksud memasukkan gagang pedang ini ke dalam baju agar tak tampak, tapi mereka ini mengapa menyingkir pergi? Apakah anggap mereka aku seorang penjahat perempuan?”

Jalan di dalam kampung ini jadi sunyi, angin pagi yang bertiup menerbangkan daun tua yang berserakan di jalan, bercampur kepulan debu. Baju merahnya si nona sedikit berkibar dihembus angin pagi itu.

Siong In dengan membawa perasaan herannya, ia melangkah maju, tiba di depan sebuah kedai, ia berdiri sebentar di sana memperhatikan pintu rumah makan yang tertutup rapat.

Begitu Siong In berhenti dan memperhatikan keadaan kedai itu, dari dalam kedai terdengar suara berisik seperti ada bangku dan meja terbalik.

Siong In tambah heran, ia melangkah maju menaiki tangga pintu rumah makan itu. Di depan pintu Siong In, berteriak, “Buka pintu! Buka pintu!”

Berulang kali ia berteriak, tapi pintu itu belum ada orang membukanya.

Karena kesalnya Siong In mendorong pintu tadi, ternyata sang pintu dikunci dari dalam. Ia jadi tertawa, lalu teriaknya lagi,

“Hai, orang-orang di dalam sana, apa guna kalian mengunci pintu ini. Kalau kalian tidak menghendaki aku masuk ke dalam dengan hanya mengunci pintu macam begini, inilah pekerjaan bodoh. Dengan sekali dobrak saja pintu ini akan menjadi hancur berkeping-keping, nah pikirlah, dari pada pintu ini rusak kudobrak, sebaiknya buka sajalah, aku juga tidak akan berbuat jahat pada kalian, aku kebetulan saja lewat di kampung ini. Ayo bukalah.”

Setelah berkata demikian Siong In menunggu sejenak. Kalau saja pintu itu masih belum juga dibuka apa boleh buat ia akan mendobraknya.

Tidak lama benar saja pintu dibuka orang.

Siong In tidak segera masuk, ia berdiri tentang di pintu, memperhatikan keadaan dalam kedai itu.

Di sana banyak orang duduk termenung menundukkan kepala, sedang di atas meja masih ada hidangan makanan dan minuman tapi mereka tak berani menggegares makanan yang telah tersedia.

Setelah memperhatikan keadaan aneh dalam kedai itu. Siong In memandang pada orang yang membuka pintu. Usia orang itu tiga puluh lima tahunan, wajahnya kurus, berjenggot, matanya sipit, karena terlalu sipitnya mata orang itu hampir tak kelihatan biji matanya. Orang tadi menundukkan kepala sambil merangkapkan kedua tangannya di bawah jenggotnya yang hitam.

“Hmmm. Aneh” gerutu Siong In, melangkah memasuki kedai, ia duduk di satu meja di sudut belakang, menghadap ke depan pintu.

“Mana pelayan,” seru Siong In.

Orang yang tadi membuka pintu, mendengar seruan tamu asingnya, ia segera lari menghampiri sambil membungkukkan badan berkata,

“Nona mau pesan apa, makanan di sini kurang enak, harap maklum.”

“Bawa kemari makanan apa saja yang bisa bikin kenyang perut.” kata Siong In tersenyum.

Orang berjenggot itu membungkuk badan berlalu. Tak lama ia sudah balik lagi dengan membawa senampan makanan dan minuman, serentak dihidangkan di atas meja di depan si nona baju merah.

Asap makanan masih mengepul, harumnya merangsang hidung.

“Kau tukar saja arak ini dengan air teh hangat.” seru Siong In ketika di atas meja itu terdapat sepoci arak.

Si pelayan berjenggot, membungkukkan badan, berulang kali ia mengucapkan maaf lalu mengangkat poci arak, ditukarnya dengan sepoci teh istimewa berikut cawannya.

“Silahkan nona       ” seru pelayan berjenggot.

Siong In memandang pelayan itu, kemudian berkata sambil menunjuk ke arah tamu tamu lain yang duduk menundukkan kepala. “Mereka itu bagaimana, mengapa hanya terpekur di depan meja menghadapi hidangan, tidak segera melahap makanannya yang sudah tersedia.”

Pelayan tua berjenggot kaget, mendengar pertanyaan si nona, matanya yang sipit memperhatikan ke arah meja-meja tamu lainnya, dengan suara gugup ia berkata,

“Ini…... ini…. . dia orang …..”

Siong In jadi tertawa geli, melihat sikap pelayan! tadi seperti ketakutan setengah mati.

“Dia orang itu bagaimana?” tanya Siong In, “Mengapa begitu?”

Setelah berkata demikian, Siong In bangun berdiri, lalu ia berteriak kepada para tamu,

“Hai, kalian makanlah, jangan terpekur seperti itu!”

Tamu-tamu tadi seperti tersentak bangun dari lamunannya, dengan rupa pucat, mereka memandang Siong In.

“Ayo makan! Mau tunggu apa? Makanan kalian nanti keburu dingin.” kata Siong In. Setelah berkata begitu Siong In kembali duduk di bangkunya, lalu ia melahap makanan yang ada di depannya. Sekali-sekali mata si nona melirik ke meja para tamu, kini mereka sudah mulai berani mengangkat sumpit menjejal makanan ke dalam mulut, tapi mata mereka sering-sering juga memandang si nona baju merah. Bilamana kalau kebetulan pandangan mereka kebentrok dengan sinar mata si nona, orang itu segera menundukkan wajahnya dalam- dalam sambil mengunyah makanannya perlahan-lahan.

Si pelayan berwajah kurus berjenggot masih berdiri di pinggir meja Siong In ia belum berani berlalu sebelum sinona baju merah memerintahkannya.

“Eh, duduk!” kata Siong In pada pelayan tadi.

Si pelayan kurus membungkuk, “Terima kasih” ucapnya.

Siong In menarik bangku, menyuruh pelayan itu duduk. “Ayo duduk. Aku mau bicara!”

Dengan sedikit gemetar pelayan kurus tadi duduk di bangku di samping depan Siong In, ia menundukkan kepala.

“Kedai ini milik siapa?” tanya Siong In.

“Ini ... ini ...” kata pelayan tadi gugup, “Pemiliknya ......

biar hamba panggil dulu. Ia ada di dalam.”

“Tidak perlu.” kata Siong In, sambil menuang teh ke dalam cawan. Setelah menenggak isinya, ia memandang wajah kurus pelayan tadi, katanya,

“Mengapa orang-orang di sini, tidak suka kehadiranku? Mengapa mereka menyingkir, kalau melihat aku memasuki perkampungan?”

“Ah, .... eh ....” kata si pelayan gugup. “Ini …...

eh. apakah nona ini satu golongan dengan orang-orang

itu?”

“Golongan apa?” tanya Siong In mengkerutkan kening. Menahan sumpit di depan mulutnya.

Mendapat pertanyaan demikian, pelayan menyipitkan matanya, memandang ke arah meja-meja di depan Siong In, ia memperhatikan para tamu yang sudah kehilangan napsu makan.

Siong In mengikuti arah pandangan si pelayan tadi, ia mengkerutkan kening, tanyanya, “Ayo golongan apa? Mengapa kalian sampai ketakutan tidak keruan?”

“Apa nona sudah lihat di depan pintu kedai?” kata pelayan rumah makan itu.

“Hmmm, ada apa di sana?” tanya Siong In heran. “Nona lihat sendiri di atas pintu itu. Nanti nona tahu.”

Jawab si pelayan perlahan

Siong In menganggukkan kepala, meletakkan sumpit di atas meja, kemudian ia bangkit dan berjalan keluar.

Di luar rumah makan itu suasana masih sepi, belum ada orang yang berani lalu lalang. Siong In memeriksa pada pintu kedai itu. Tapi di sana tak terdapat sesuatu yang aneh. Hanya di atas kusen pintu ia dapat melihat sebuah lukisan. Itulah lukisan seekor kalong yang mementangkan sayapnya terlukis putih, tampak jelas ukiran urat-urat kalong putih itu.

Menampak lukisan itu Siong In menggeleng kepala. Pikirnya, “Apakah rumah makan ini memasang merek “Kalong Putih? Aih, pelayan itu terlalu tolol, tokh aku tidak menanyakan nama kedai ini.”

Ternyata Siong In sudah salah tentang tentang lukisan Kalong Putih yang terpancang di atas kusen pintu itu. Ia telah menyangka kalau kedai itu bermerek “Kalong Putih”, sesuai dengan gambar lukisan. Ia tidak tahu kalau lukisan itulah yang merupakan setan dari penduduk kampung Sip-lie-ho, dan mereka telah menyangka kalau Siong In ini adalah salah seorang komplotan dari golongan Kalong Putih.

Setelah memperhatikan lukisan di atas pintu itu, Siong In kembali masuk, ia duduk di kursinya.

Pelayan rumah makan masih duduk di sana. Ia memperhatikan langkah kaki si nona baju merah yang cantik itu. Hatinya diliputi rasa takut yang luar biasa.

“Hmmn, apa kedai ini bermerek Kalong Putih?” tanya Siong In.

Pelayan tadi tampak kebingungan, ia menggeleng- geleng kepala.

“Jadi bagaimana ini?” seru Siong In mulai jengkel. “Ayo bicara yang terang!”

Pelayan tadi tambah gemetaran, ia bukan menjawab pertanyaan Siong In, malah saking takutnya mulainya jadi bungkam.

“Heh, kampung aneh,” gerutu Siong In menyaksikan sikap pelayan tadi. Ia bangkit berdiri, mengeluarkan uang recehan diletakkan di atas meja. Katanya,

“Apa cukup.”

Pelayan tadi melirik uang di atas meja, kemudian uang itu diraupnya, lalu disodorkan ke depan Siong In.

Siong In jadi bingung, tanyanya, “Apa kurang banyak?”

Pelayan tadi men geleng kepala. Ia menyodorkan uang itu ketangan Siong In, kalanya gemetaran,

“Jangan bayar!”

“Eh, manusia ajaib.............” pikir Siong In. Ia tidak menerima angsuran uang itu melangkah keluar.

Baru tiga tindak Siong In maju, mendadak di luar rumah makan terdengar suara tertawa dingin. Tak lama kemudian masuk dua orang berseragam hitam, muka mereka terbungkus oleh selubung hitam, di dada kiri setiap orang terpeta itu lukisan Kalong Putih. Melihat munculnya dua orarg itu, Siong In merandek, ia mundur kembali ke mejanya menarik bangku duduk di sana.

“Eh, apa mereka ini pemilik rumah makan?” tanya Siong In pada pelayan kurus tadi.

Tapi ketika Siong In menoleh ke arah pelayan tadi, ternyata pelawan sudah tidak ada di sana. Dan para tamu dalam rumah makan itu sudah bangkit berdiri dengan badan gemetaran.

Dua orang seragam hitam berselubung hitam itu masuk ke dalam rumah makan, mereka melempar- lempar kursi dan meja, hingga di dalam kedai itu terjadi keributan, Beberapa orang tamu lari keluar. Dan beberapa lagi mendapat luka-luka akibat terkena lemparan kursi dan bangku.

“Heheeeeehheheheheheeeeee . ……” dua orang itu tertawa terkekeh, begitu mereka tiba di depan Siong In, salah seorang di sebelah kiri berkata,

“Nona manis baju merah. Kau orang asing di sini. Eh, apa agamamu?”

“Aiyaaaaaaa .......ia bawa pedang di punggungnya,” seru orang seragam hitam di samping kanannya.

Melihat tingkah laku kasar kedua orang seragam hitam itu, Siong In jadi sengit, lebih-lebih keadaan si nona waktu itu tidak beda seperti anak kerbau yang baru lahir, tidak takut macan. Maka sambil menarik pedang di punggungnya ia berkata,

“Nonamu memang bawa pedang.'*

Berbarengan dengan ucapannya pedang si nona dibantingkan di atas meja hingga mengeluarkan suara berisik. Sedang Siong In sendiri lalu berdiri, kakinya sebelah kiri diangkat ditaruh di atas bangku menghadapi kedua orang seragam hitam itu.

Melihat sikap Siong lu yang tidak memandang mata pada mereka, kedua orang itu saling pandang. Kemudian mereka mendengus,

“Hei sundel!” bentak salah seorang seragam hitam di sebelah kiri. “Jawab kau agama apa?”

“Apa urusanmu dengan agamaku. Inilah anak cucunya dewi Kwan In, kau sudah lihat belum.” Seru Siong In menepuk dada.

“Nggg.” dengus si seragam hitam, di sebelah kanan. “Kalau begitu, nyawamu masih bisa diselamatkan, tapi, kau sudah berlaku begitu sombong di depan kami maka kau harus menghibur kami.”

“Bagus,” kata Siong In. “Aku akan segera menghibur kalian. Nah dekatlah ke mari.”

Siong In masih berdiri dengan posisi kaki diletakkan di atas bangku. Kedua orang itu mendengar kalau si nona menyuruh mereka datang mendekat, mereka sudah jadi girang, dengan cepat mereka berlomba mendekati si nona manis baju merah. Satu dari sebelah kanan, dan satu dari sebelah kiri. Hingga keadaan mereka dipisahkan oleh kaki Siong In yang berada di atas bangku.

Begitu menampak kedua laki-laki tadi berebutan mendekat, kedua tangan Siong In di pentang lebar, sikapnya seperti orang yang hendak merangkul kedua orang tadi.

Kedua orang seragam hitam itu melihat kalau tangan si nona terbuka lebar menyambut kedatangan mereka, mereka sangatlah girangnya, semangat mereka seperti sudah terbang ke langit yang ketujuh.

Siong In tersenyum, senyum itu amatlah manisnya, hingga kedua orang yang menubruk datang itu, menyedot napas menikmat senyumnya si nona.

Selagi kedua orang seragam hitam itu menyedot napas menikmati senyum manisnya si nona, mendadak kedua tangan si nona yang dipentang lebar bergerak laksana kilat, membentur kepala kedua orang itu.

Dua orang itu sudah mabok kepayang, begitu kedua tapak tangan si nona masing-masing membentur kepalanya, mereka baru kaget tapi kekagetan mereka sudah terlambat, karena sang kepala sudah membentur kepala kawan sendiri. Terasa ruangan di dalam kedai itu berputar di dalam rongga otak kepala mereka yang baru saja dibentur tangan halusnya si nona. Tubuh mereka berputaran kemudian sempoyongan jatuh di lantai

Begitu kedua orang seragam hitam itu roboh terjengkang di lantai, mendadak saja salah seorang dari tamu rumah makan berteriak keras. Sejak munculnya kedua orang seragam hitam itu, ia duduk bersandar di dinding, kini kening mengucurkan darah akibat terkena lemparan meja yang dilakukan oleh kedua orang seragam hitam ketika mereka baru memasuki kedai tadi, orang itu dengan sinar mata buas bangkit berdiri. Ia mengambil sebuah bangku diangkatnya tinggi-tinggi lalu mendatangi ke arah meja Siong In.

Siong In kaget menyaksikan kelakuan orang itu, pikirnya,

“Kalau kau berani main gila di hadapanku, kau akan merasakan bagian seperti mereka.”

Siong In siap-siap menghadapi serangan orang tadi. Tapi rupanya arah sasaran kemarahan orang itu bukan pada Siong In, karena laki-laki berdarah di kening tadi begitu tiba ia segera mengayun bangku menghajar kepala kedua orang seragam hitam bergantian. Hingga kepala mereka bocor mengeluarkan darah.

Dua orang seragam hitam itu yang jatuh terjengkang akibat beradunya kepala mereka rupanya sudah jadi semaput, hingga ketika pukulan kursi mampir di kepala mereka, mereka hanya bisa mengeluarkan suara keluhan.

Orang tadi memukul kepala kedua orang seragam hitam itu sampai bocor, terus menerus menggebuki badan kedua orang itu.

Siong In yang menyaksikan perbuatan nekad orang itu, mendadak saja berkata,

“Tahan!”

Orang tadi jadi kaget, ia menahan ayunan bangku di atas kepalanya, kemudian memandang ke arah Siong In.

“Mundur! Lihat, tubuh mereka berubah biru,” seru Siong Ia menunjuk ke arah ke dua orang seragam hitam tadi.

Dengan masih memegangi bangku, orang itu mundur dua tindak, ia memperhatikan keadaan dua orang seragam hitam yang menggeletak di lantai, dari bagian wajah yang tak tertutup kain selubung hitamnya tampak muka orang itu membiru, kemudian kaki dan tangannya berubah biru matang. Dan tak lama kemudian, daging- daging biru itu mulai mengeluarkan cairan biru.

Siong In baru pertama kali itu melihat kejadian aneh, matanya terbelalak lebar, ia heran bagaimana mayat ini bisa berubah mencair jadi biru. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, daging-daging orang itu mulai mencair. Cairan biru menggenangi lantai rumah makan tadi.

Orang terluka pada kening menyaksikan kejadian itu, mendadak saja ia tertawa berkakakan, bangku yang dipegangnya dilempar ke samping, kemudian ia berteriak-teriak,

“Saudara-saudara lihatlah manusia kejam ini mampus menerima kutukan dewa. Ayo saksikan ramai- ramai…..”

Orang-orang dalam kedai itu menyaksikan ke dua orang seragam bitam tadi mati dengan mencair, mereka melongokkan kepala memandang dari jauh. Mereka tidak berani mendekat, sedang itu cairan biru dari daging dan tulang kedua orang seragam biru sudah menggenangi lantai.

Sementara itu orang berkening terluka dengan masih tertawa-tawa ia berteriak jalan mondar mandi,

“Kutukan dewa, kutukan dewa…  ”

Entah dendam apa yang tertanam atas diri orang kening terluka itu, hingga ia berteriak-teriak demikian seperti merasa puas melihat cara kematian kedua orang seragam hitam tadi. Karena gerakkannya yang mondar mandir di dekat mayat tadi, maka tanpa disadarinya cairan biru dari mayat kedua orang seragam hitam itu, terinjak oleh kakinya.

Kaki orang tadi mengenakan sepatu butut, begitu ia merasakan menginjak cairan biru mayat tadi, mendadak saja ia tertawa berkakakan, kaki bersepatu itu diinjak- injakkannya pada lantai yang sudah digenangi cairan biru. Sambil tertawa puas. Siong In menyaksikan kelakuan orang tua itu mundur lagi setindak keningnya berkerut. Dan tiba-tiba saja hati si nona baju merah jadi kaget, karena mendadak orang tua yang tertawa berkakakan sambil menginjak-injak cairan biru dari mayat kedua orang seragam hitam itu, mendadak saja tubuhnya jadi kaku mengejang, suara tawanya sirap seketika, lalu tubuhnya jatuh ambruk di lantai.

Siong In kembali lompat mundur. “Eh. Aneh,” pikir si nona.

Badan orang itu kejang di atas lantai, matanya mendelik keluar, sedang mulutnya yang tadi tertawa berkakakan terbuka lebar. Dari kaki bersepatu butut tadi, mulai menjalar warna biru. Menjalar terus ke seluruh tubuhnya. Kemudian perlahan-lahan tubuh tua itu mencair biru.

Siong In terheran-heran kini di depannya, tampak tiga gumpalan benda hitam, itulah tiga gumpalan rambut dari tiga orang korban kematian misterius.