-->

Misteri Rumah Berdarah Jilid 08

Jilid 08

Bab 22 Akhirnya Tong Ling menghela napas panjang, agaknya didalam hati ia merasa amat murung, setelah lewat beberapa saat, ia baru berkata tawar;

"Aku mohon diri dula!" Tidak menanti jawaban lagi, ia sudah putar badan dan berlalu.

Sebenarnya Pek Thian Ki ada maksud untuk memanggil dirinya sewaktu melihat gadis tersebut berlalu, tetapi iapun merasa bingung apa yang harus ia ucapkan setelah memanggil gadis itu kembali, Terpaksa dengan pandangan mendelong, ia memandang bayangan punggung gadis tersebut, hingga lenyap dari pandangan. . . .

Aku pun hendak pergi!" tiba-tiba Cu Tong Hua tertawa tawar pula.

"Kau.     kau jangan pergi dulu!"

"Ada urusan apa? cepat katakan!"

"Per-tama2, aku minta maaf atas perbuatanku tadi.   "

"Soal ini aku tak akan menyalahkan dirimu, soal kedua bukankah kau ingin bertanya kepadaku siapakah aku orang, dan darimanakah asal-usulku yang sebenarnya bukan? Disamping itu kau ingin bertanya pula apakah Sin Mo Kiam Khek benar-benar bernama Pek Thian Ki?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Beberapa persoalan ini untuk sementara waktu aku tidak ingin beritahukan kepadamu, dan waktunyapun belum tiba untuk memberitahukan seluruh persoalan ini kepadamu, akau mau pergi!"

Tubuhnya dengan gesit segera berkelebat dan meluncur kemuka. Dengan terpesona Pek Thian Ki memandang bayangan punggung dari Cu Tong Hoa yang makin lama berlalu semakain jauh, Dan ia. . tetap meninggalkan suatu teka-teki yang membuat setiap orang mulai menduga.

Pek Thian Ki menarik napas panjang2, ia sudah puas mencicipi tahu empuk, seluruh tubuh kedua orang gadis itupun sudah cukup digerayangi merata, Tetapi hal tersebut hanya meninggalkan suatu kenangan indah yang kosong. . .

.

Cinta itu adalah suatu benda yang tak berujud, kejadian yang tak dapat dilihat dengan mata, Selama hidup belum pernah dia orang mencintai seorang gadispun. . . dan tak pernah pula ada seorang gadispun yang menaruh rasa simpatik atau cinta terhadap dirinya.

Pernah beberapa kali ia berusaha mendapatkannya, tapi hasilnya tetap nihil, ia selalu gagal. Hal ini membuat hatinya jadi tawar dan tidak percaya pada diri sendiri. . .

Disamping itu iapun mengerti bahwa dirinya tidak memiliki perawakan serta tindak-tanduk yang dapat menyenangkan hati kaum gadis, badannya hanya tinggal sekerat tulang Bay-kut, ia percaya setiap gadis pasti tak mungkin akan mencintai dirinya.

Teringat akan persoalan tersebut, sekali lagi pemuda itu menghembuskan napas panjang, suara helaan napas tersebut penuh dengan perasaan sedih, duka dan murung.

Mendadak. . . .agaknya ia sudah teringat akan sesuatu, maka buru-buru menoleh tapi sebentar kemudian ia sudah berdiri tertegun lagi.

"Eeeeei. . .sejak kapan Suma Hun berlalu?" diam-diam pikirnya.

Pada waktu itulah tiba-tiba ia teringat pula akan teka-teki yang menyelubungi mati hidup suhunya, Apakah benar suhunya adalah Sin Mo Kiam Khek? Apakah benar2 Kiang To adalah dirinya sendiri?

Agaknya persoalan ini ada kemungkinannya benar, tapi ia tak dapat membuktikan kebenaran tersebut, Teringat persoalan itu, akhirnya ia menghela napas panjang. . . .

"Aku harus pergi menyewa rumah aneh tersebut," gumamnya.

Benar, memang seharusnya ia pergi untuk menyewa rumah aneh itu.

. . . .Syarat yang diajukan untuk menyewa rumah aneh tersebut, pada saat ini sudah ada dua yang berhasil dipenuhi. . . Uang emas seribu tail serta sebotol arak Giok Hoa Lok, Satu2nya syarat yang belum berhasil ia penuhi adalah seorang gadis cantik.

Gadis cantik hanya ada di Istana Perempuan, iapun teringat pula perkataan dari Tong Yong itu, anak murid dari Ciang Liong Kiam Khek;

"Didalam Istana Perempuan terdapat ratusan orang gadis cantik, setiap orang memiliki wajah yang rupawan dan mempesonakan, tapi diantara beratus orang gadis cantik itu hanya 'It Peng Hong' seorang yang memiliki kecantikan melebihi orang lain. "

Teringat sampai disini tak terasa lagi Pek Thian Ki tertawa, ia teringat pula dengan perkataan Tong Yong yong mengatakan 'It Peng Hong' sudah diborong oleh Kiang To. .

.

"Heeee. . .heee. . .heeee. . . aku sih kepingin benar menggoda kau si Kiang To!" gumannya sambil tertawa dingin. Pemuda itu tertawa, dan dibalaik suara tertawa itu penuh mengandung perasaan percaya pada diri sendiri. Tubuhnya dengan cepat mencelat kedepan langsung menuju kehutan Hong Siauw Lim gunung In Hauw San. . . .

Ketika kentongan ketiga sudah tiba, Pek Thian Ki pun sudah       berada       didepan       Istana       Perempuan. Pada waktu itu. . . .

Keadaan didalam Istana Perempuan tersebut sama sekali berbeda keadaannya dengan apa yang dilihatnya pagi tadi, Pintu besar terbentang lebar-lebar dengan sinar lampu yang redup.

Suara tertawa cekikikan dari perempuan tiada hentinya berkumandang keluar memecahkan kesunyian malam. . . .

Didalam Istana Perempuan tersebut penuh dengan suasana yang menggiurkan dan mempesonakan, membuat hati setiap orang terasa terikat.

Perlahan-lahan Pek Thian Ki melangkah masuk kedalam pintu, si kakek tua berbaju kuning yang pernah ditemuinya tadi pagi segera maju menyongsong kedatangan pemuda tersebut sambil menjura.

"Saudara, agaknya pagi tadi kau sudah datang bukan?" "Benar!"

Kembali siorang tua itu tertawa. "Aku lihat tentunya saudara baru pertama kali ini mendatangi sini?. '

"Sedikitpun tidak salah, kedatangan chayhe ketempat macam begini baru untuk pertama kalinya."

"Jadi maksud saudara hendak bermain-main saja?" "Betul!"

"Untuk bermain nona didalam Istana kami ada peraturan2nya, tahukah kau orang?" "Chayhe kurang jelas, harap Loo-tiang suka memberi petunjuk."

"Didalam Istana kami terdapat ratusan orang nona yang masing-masing memiliki kecantikan wajah melebihi siapapun. . ."

"Soal ini sih chayhe pernah dengar orang berkata.     "

"Diantara ratusan orang gadis cantik cantik itu, kami bagi pula menjadi empat golongan, Golongan pertama adalah berbicara, golongan kedua bermain, golongan ketiga memeluk dan golongan keempat menginap, Yang termasuk golongan berbicara sudah tentu hanya terbatas menemani dirimu untuk kongkow kongkow saja. "

"Kalau yang termasuk golngan bermain?"

"Menemani kau main catur, main Khim, membuat syair dan melukis."

"Kalau golongan memeluk?"

"Kau boleh memeluk dirinya dan mencium bibirnya, sedang golongan menginap? Kau boleh menemani dirinya satu malam penuh dan selama satu malam ini dia adalah isterimu!"

"Harus membayar untuk main dengan perempuan- perempuan itu?" tanya Pek thian Ki kembali sambil tertawa.

"Uang? Sauw-hiap; Kau sudah salah menduga, yang diarah paling utama oleh Istana Perempuan kami adalah kawan-kawan Bu-lim dan tujuan kitapun bukan untuk mencari keuntungan uang, Tapi untuk menentukan golongan manakah yang bisa kau dapat harus dicoba dulu seberapa tinggi kepandaian silat yang kau miliki."

"Lalu bagaimanakah caranya?" "Pertama, setiap orang yang hendak memasuki Istana, dari pihak kami akan mengirim seseorang untuk menjajal kepandaian silat pihak lawan."

"Dan aku boleh memilih gadis yang manapun untuk menemani aku orang menginap semalam disini?" seru pemuda itu sambil tertawa.

"Sudah tentu boleh!"

"Diantara ratusan orang gadis cantik yang ada dalam Istana Perempuan ini, menurut Loo-tiang siapakah yang tercantik."

"Waaah. . .soal ini sukar untuk ditentukan! Untuk mengikuti selera setiap orang bukan suatu soal yang gampang, apalagi setiap orang mempunyai cara berpikir sendiri-sendiri, Ada orang yang suka dengan kepala tinggi, muka lebar seperti kuda, ada pula yang suka sedangan, dengan wajah yang mengiurkan, ada pula yang suka gadis berwajah cantik, ada yang ingin pinggul montok. . ."

"Tetapi rasanya tidak mungkin kalau tak ada seorang gadispun yang dianggap umum paling cantik bukan?" potong sang pemuda sambil menyengir.

"Sudah tentu ada!" "Siapa?"

"Giok Kong Su Kiauw (empat gadis cantik dari Istana Pualam), Keempat orang gadis ini merupakan gadis-gadis yang memiliki raut wajah paling mempesonakan, Pertama adalah 'It Peng Hong' yang kedua, 'Ting Siang' ketiga 'Giok Lian Hoa, dan terakhir 'Siauw Tauw Hong'. . ."

"Kalau begitu 'It Peng Hong' merupakan gadis yang kecantikan wajahnya melebihi siapapun?" "Betul. . . cuma ia sudah tidak termasuk dalam hitungan!"

"kenapa?" sengaja Pek Thian Ki bertanya. "Ia sudah diborong oleh Kiang To."

"Loo-tiang!" Kalau begitu adanya urusan kan salah besar, kalau memangnya Istana kalian tidak melayani perbuatan2 seperti tempat diluaran, lalu menggunakan cara apa Kiang To memborong 'It Peng Hong'?"

"Sudah tentu ilmu silat."

"Oooow. . . Sekarang aku paham sudah, Majikan kalian tentu jeri terhadap kepandaian silat yang dimiliki Kiang To, maka dari itu kalian lantas persembahkan 'It Peng Hong' kepada Kiang To!"

"Salah. . . salah besar, bukan demikian urusannya! Sebetulnya beginilah kejadiannya, untuk bisa memborong seorang nona, maka pihak tamu harus meninggalkan setengah jurus ilmu silat, bilamana Cong-koan kami tak berhasil memecahkannya, maka pihak lawan boleh memborong seorang nona diantara ratusan nona yang ada."

"Kalau begitu! Kiang To pun sudah meninggalkan sejurus ilmu silat yang tak berhasil dipecahkan oleh Cong- koan kalian?"

"Benar!"

"Adakah orang lain yang berusaha untuk mendapatkan It Peng Hong?"

"Sudah tentu ada! Orang2 ini hampir-hampir saja menemui ajalnya ditangan Kiang To, Walaupun Cong-koan kami sudah memberi peringatan sebelum mereka bertindak, tapi mereka tidak suka mendengarkan nasehat itu, bahkan begitu ngotot hendak mencari nona 'It Peng Hong'." Pek thian Ki tersenyum, ketika itu kembali ada beberapa orang Bu-lim yang berjalan masuk kedalam Istana Perempuan.

Pemuda itupun lantas mengucapkan terima kasihnya kepada siorang tua itu, dengan mengikuti dari belakang jago-jago Bu-lim tersebut pemuda itu masuk kedalam pintu Istana.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan besar yang lebarnya bukan main, baru saja pemuda she Pek itu berjalan masuk, seorang gadis berbaju kuning sudah maju menyongsong kedatangannya.

"Kongcu, apakah kau mendatangi Istana kami untuk mencari nona?

"Benar!"

"Entah gadis mana yang paling kongcu sukai?" "Golongan yang terakhir?"

Mendengar perkataan tersebut, sidara berbaju kuning itu rada melengak dibuatnya, sebentar kemudian ia sudah tertawa cekikikan.

"Kau ingini seorang nona untuk menemani kau tidur satu malam?"

"Sedikitpun tidak salah!"

Dengan sinar mata yang tajam dara berbaju kuning itu memperhatikan diri Pek Thian Ki dari atas hingga kebawah, Agaknya gadis tersebut sedang berkata; "Usia masih muda, badan sudah tinggal sebaris Bay-kut, delapan bagian tentu habis dikarenakan main perempuan terlalu banyak. . ."

"Eeee. . . bagaimana? Tidak boleh?" tegur Pek Thian Ki rada melengak. "Boleh. . . boleh! Sudah tentu boleh, cuma saja rada tidak gampang. . . /'

"Tidak gampang?"

"Benar! Untuk mendapatkan seorang nona yang menemani kau semalam, maka kepandaian silat yang kau miliki harus bisa menangkan dulu kepandaian dari Cong- koan kami, sedangkan kau kelihatannya lemah-lembut tidak bertenaga, Aku lihat tak mungkin bisa jadi!"

Pek Thian Ki tertawa;

"Cayhe ada maksud untuk men-coba2, kemungkinan sekali ketika Cong-koan kalian melihat badanku tinggal sebaris Bay-kut saja lantas memberi satu kesempatan baik buatku, Bukankah hal ini ada kemungkinannya?"

"Hmmm! Kau jangan bermimpi disiang hari bolong, cuma kalau memang kau minta seorang nona untuk menemani dirimu, terpaksa akupun akan laporkan urusan ini kepada Cong-koan."

"Nona silahkan. . ."

Sambil menanti datangnya gadis itu kembali Pek Thian Ki jalan mondar-mandir didalam ruangan besar. Mendadak. . . . Dari pintu luar Istana berkumandang datang suara teriakan yang amat keras!

"Kawan-kawan sekalian, Diatas kata-kata wanita ada pisaunya, sejak dahulu kala perempuan disebut orang sebagai bibit bencana, banyak enghiong hoohan yang mati didalam pelukan kaum perempuan. Mari. . . mari. mari.

. . untuk mengetahui apakah akhirnya kalian akan mati karena perempuan atau tidak, silahkan datang untuk menanyakan nasib, kemungkinan sekali urusan berat diselesaikan, mari silahkan mencoba, tidak dipungut bayaran." Suara gemboran tersebut amat keras bagaikan sambaran geledek, terasa ditelinga mendengung tiada hentinya. Mendengar suara tersebut, Pek Thian Ki merasa hatinya tergetar sangat keras, ia merasa suara orang itu sangat dikenal olehnya.

Mendadak ia teringat kembali, suara tersebut agaknya berasal dari mulut si Sin Si-poa, yang sudah pernah ditemuinya beberapa kali. Tubuhnya dengan cepat mencelat kedepan, dan melayang keluar dari pintu Istana.

"Kawan, siapakah namamu, ingin tanya apa," Waktu itu terdengar Sin Si-poa sedang berseru.

"Cayhe she Lim bernama Cun Seng, lahir tanggal tiga bulan lima tengah malam, aku ingin menanyakan nasibku.

"Tanya nasib?" Baik. . .baik. . ."

Pek thian Ki yang sudah tiba didepan pintu, segera dapat melihat dibawah sebuah pohon liu yang lebat tergantung sebuah lampu teng-tengan yang memancar cahaya tajam, dibawah pohon terdapat sebuah meja dan dibelakang meja berdirilah seorang tua yang berbaju hitam yang bukan lain adalah Sin Si-poa.

Secarik kain putih dengan lima buah tulisan besar tergantung didepan meja tersebut. "Ahli Ramal dari Kolong Langit!" Disamping tulisan besar itu tertera pula beberapa tulisan dengan kata-kata yang lebih kecil.

"Melihatkan nasib orang-orang Bu-lim, Membacakan takdir tamu-tamu Kang-ouw." Ditengah tulisan tersebut tertera pula sebuah tulisan yang sangat menyolok; "Bilamana tidak cocok batok kepala dihadiahkan sebagai pengganti. " Sungguh bualan seorang sinting! Sekalipun Sin SI-poa adalah seorang dewa, iapun tidak mungkin bisa mengetahui nasib manusia dikolong langit dengan demikian jelasnya.

Tetapi bukan saja pihak lawan mengarahkan pekerjaannyan ini terutama bagi orang2 Bu-lim, bahkan syarat yang diajukan sangat mengejutkan pula. Bila tidak cocok, batok kepala akan dihadiahkan, suatu syarat yang sangat mengejutkan.

Pada waktu itu ada seorang lelaki berusia pertengahan sedang menanyakan nasibnya, Terdengar Sin Si-poa tertawa terbahak-bahak.

"Ha. . .haaa. . .haaa. . . kawan, bolehkah aku orang langsung membicarakan persoalan ini?"

"Sudah tentu."

"Jika ditinjau dari nasibmu, agaknya nama maupun kekayaanmu hanya termasuk golongan biasa saja," ujar Sin Si-poa dengan wajah serius. "Sejak kecil kau sudah kehilangan ayahmu, ibumu kawin lagi dengan orang lain, sedang kau sendiri hidup sebatang kara, sehingga akhirnya angkat guru dan berkelana didalam dunia kangouw, Sesudah menikah dan beristeri tidak beruntung, Hujin kena penyakit aneh, sehingga harus berbaring terus dirumah, karena itu sering sekali kau orang mencari kesenangan ditempat luaran, Tapi aku lihat nasibmu biasa-biasa saja. . "

Mendengar sampai disitu, silelaki yang bernama Lim Cun Seng itu tak dapat menahan gejolak hatinya lagi, ia berteriak keras; "Kau sungguh2 seorang dewa, tepat. .

.tepat. . .tepat. .terlalu tepat!"

"Aaaach. . kawan! Kau terlalu memuji." "Berapa ongkosnya?" "Tidak perlu, aku hanya bekerja menurut kemauan hati saja!"

"Terima kasih. . .terima kasih. ."

Dengan langkah lebar Lim Cun Seng segera putar badan dan langsung menuju kedalam ruangan Istana Perempuan. Sewaktu Lim Cun Seng menjerit kaget tadi, dari dalam Istana Perempuan kebetulan sekali muncul pula lima enam orang lelaki kekar.

Agaknya orang2 itupun mendengar pembicaraan dari Sin Si-poa serta teriakan Lim Cun Seng, kelihatan beberapa orang itu berdiri ter-mangu2.

"Eeeee. . . kawan!" akhirnya seorang lelaki berusia pertengahan menegur diri Lim Cun Seng, " Apakah siorang tua itu bisa meramal tepat?"

"Tepat. . .tepat. . .terlalu tepat!" Sembari berkata, ia langsung menuju kedalam ruangan Istana.

"Mari kita pergi lihat kesana." ajak siorang berusia pertengahan itu kepada kawan2nya, "Kita buktikan apakah orang tua itu benar-benar seorang dewa hidup."

Tidak menanti jawaban dari kawannya lagi, ia langsung menerjang kehadapan Sin Si-poa diikuti kawan- kawannya dari belakang.

Pek Thian Ki yang menonton jalannya peristiwa itu dari samping, mendadak merasakan keadaan sedikit kurang beres, kedatangan Sin Si-poa ditempat ini pasti membawa hal-hal yang luar biasa, apalagi ditengah malam buta ia meramalkan nasib orang, dibalik kesemuanya ini tentu mengandung suatu latar belakang yang misterius. Perlahan- lahan iapun berjalan mendekati si Sin Sipoa.

Ketika itu. . . . "Kawan! Apakah kalian beberapa orang pun hendak melihat nasib?" tegur si Sin Si-poa sambil mendengakkan kepalanya memperhatikan silelaki berusia pertengahan itu sekejap.

"Benar!"

"Kalau begitu kalian harus berbaris dan antri satu demi satu."

Keenam orang itu tidak banyak cakap lagi, mereka berbaris dan antri memanjang kebelakang dengan silelaki berusia pertengahan itu berada dipaling depan.

"Kawan! Coba beritahu siapakah namamu? Dan beritahu pula kapan kau dilahirkan apa yang ingin kau tanyakan?" ujar Sin Si-poa tertawa.

"Aku she Nyioo bernama Hong dilahirkan pada tanggal delapan bulan delapan siang. . ."

Sinar mata Sin Si-poa per-lahan2 dialihkan keatas wajah Nyioo Hong, lama sekali ia baru menggeleng. "Tidak benar!"

"Apa yang tidak benar?"

"Namamu tidak benar, jika ditinjau dari hari kelahiranmu serta namamu rasanya tidak ada persesuaian kawan! Bagaimanapun kau tidak boleh mencari nama palsu seenaknya!"

Air muka Nyioo Hong langsung berubah hebat. "Loocianpwee, perkataanmu tepat sekali, aku bukan

bernama Nyioo Hong. . . aku tidak jadi melihat nasib. . ." Tubuhnya segera diputar dan berlalu dengan ter-gesa2 dari sana.

Tiba-tiba. . . "Kawan! Apakah hitunganmu cocok?" Suara seseorang yang nyaring bergema datang.

Saking nyaring dan kerasnya suara tersebut, semua orang yang ada disana termasuk juga Pek thian Ki merasa amat terperanjat, karena mereka merasa bahwa nada suara orang itu kuat bertenaga, jelas bukan seorang sembarangan.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, tampaklah ditengah kalangan sudah bertambah lagi dengan seorang kakek tua berbaju hitam yang mempunyai raut muka buas dan jelek.

Sin Si-poa alihkan sinar matanya memandang sekejap kearah orang itu kemudian ia melengos dan tidak lagi memnggubris siorang tua berbaju hitam itu.

Kepada seorang lelaki yang berada dihadapannya ia berseru; "Sekarang ada seharusnya giliranmu."

Sikakek tua berbaju hitam yang melihat Sin Si-poa tidak ambil gubris terhadap dirinya, air mukanya kontan berubah hebat, hawa gusarpun melintasi wajahnya.

"Kawan!" bentaknya sambil menerjang maju kedepan, Perkataan yang aku tanyakan padamu sudah kau dengar belum?"

"Emmm! Memang aku dengar sangat jelas!" "Mengapa kau tidak menjawab?"

"Aku lihat sepasang matamu masih utuh dan normal, tidak seharusnya buta terhadap tulisan diatas kain itu?"

Beberapa patah perkataan ini terang2an terlalu tidak pandang mata terhadap siorangt tua berbaju hitam itu, air muka siorang tua tersebut sudah tentu berubah semakin hebat lagi. "Baik. . .baik. . .baik. . . akan kubiarkan kau menghitung nasibku, jika tidak tepat, hmmm! Akan kujagal dirimu." Sembari berkata tubuhnya menerjang maju kedepan meja.

"Eeeei kawan! Sekarang bukan giliranmu, sana antri dulu," tegur Sin Si-poa dingin.

Siorang tua berbaju hitam itu semakin gusar lagi, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa terhadap diri Sin Si-poa, terpaksa badannya mundur kembali kebelakang untuk antri.

Pada waktu itu Sin Si-poa sudah mulai membanyol dengan orang kedua.

"Pek sauw-hiap kau pun sudah tiba disini?" Pek thian Ki yang sedang melamun seorang diri, mendadak ditegur seseorang dari belakang tubuhnya.

Mendengar teguran tersebut pada mulanya Pek Thian Ki rada melengak, buru-buru ia menoleh kebelakang, tampaklah si dara berbaju hijau Suma Hun dengan gaya sangat menggiurkan sudah berada dibelakangnya.

"Nona Suma! Kebetulan sekali akupun sedang mencari dirimu." teriak Pek Thian Ki rada melengak. "Sewaktu berada digunung Lui Im-san mengapa secara mendadak kau berlalu?"

"Ooooouw. . . aku ada urusan," Suma Hun tersenyum. Ia merandek sejenak, sinar matanya lantas dialihkan keatas wajah Sin Sin-poa, kemudian sekali lagi tersenyum;

"Akupun kepingin melihat-lihat apakah ramalannya tepat atau tidak. . ." Sembari berkata, ia langsung berjalan mendekati diri Sin Si-poa tersebut. Melihat seorang gadis berjalan mendekati kearahnya, situkang ramal itu lantas menoleh; "Oooouw. . kiranya kau orang!" sapanya tersenyum. "Beruntung sekali tempo hari kau suka menahan badanku, sehingga tidak sampai mati terbanting, Nona, kaupun ingin diramal?"

"Sedikitpun tidak salah!"

Diantara biji mata Suma Hun yang jeli terlintaslah suatu hawa membunuh yang sangat menyeramkan, tapi sebentar kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala.

"Kalau begitu, kaupun harus antri." ujar situkang ramal itu lagi.

"Tidak, tidak bisa jadi, perempuan harus nomor satu." potong Suma Hun dingin.

"Oooh, yaa. . benar. .benar. . Perempuan harus nomor satu, perempuan harus nomor satu!"

Suma Hun tersenyum, ia berjalan mendekati Sin Si-poa tanpa banyak berpikir panjang lagi.

"Nona, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Aku ingin kau orang suka meramalkan diriku, coba kau hitung siapakah diriku dan bagaimana nasibku tempo dulu, Loocianpwee! Kau harus berhati-hati, salah sedikit, batok kepalamu akan pindah rumah.

"Soal ini kau boleh berlega hati, sekarang kau harus sebutkan nama serta tanggal kelahiranmu."

Suma Hun menyebutkan nama serta tanggal kelahirannya tanpa banyak rewel-rewel lagi. Lama sekali Sin Si-poa memperhatikan wajah Suma Hun, sidara berbaju hijau itu akhirnya berkata lagi;

"Coba kau keluarkan tangan kananmu agar bisa aku periksa." Suma Hun menurut dan keluarkan tangannya kehadapan Sin Si-poa. Sesudah diperiksa lama sekali, mendadak situkang ramal itu kerutkan alisnya.

"Nona, hal ini sedikit tidak benar!" "Apanya yang tidak benar?"

"Agaknya kau bukan bernama Suma Hun?"

"Omong kosong!" bentak Suma Hun dengan air muka berubah hebat. "Apa kau kira aku bisa mencari nama palsu untuk membohongi dirimu?"

"Jadi, namamu itu adalah yang asli?" "Benar."

"Waah. . . ! Kalau begitu urusan jadi sangat aneh." seru situkang ramal sambil manggut2. "Jika ditinjau dari garis nyawamu, seharusnya kau orang tidak seramah dan sehalus ini, sebaliknya nona merupakan seorang manusia yang berhati ganas dan kejam, karena ditanganmu banyak terdapat garis- garis melintang. "

Mengikuti perkataan dari Sin Si-poa, air muka Suma Hun pun ikut berubah tiada hentinya. . . .

"Walaupun garis jelek sangat banyak, tapi akhirnya terputus oleh garis Liang-sim, oleh sebab itu hingga sampai saat ini semua orang yang sudah roboh ditanganmu hanya terluka   saja,   tidak   sampai   terbunuh. sedangkan

mengenai   basibmu,   sejak   ayahmu   mati   lantas.   .   .   .

Munggkin sekali nasibmu akan berubah jauh lebih baikan, sedangkan didalam soal cinta, tidak begitu sukses. . . .

karena watakmu terlalu cemburuan, Soal ini asalkan kau bisa berubah, tentu tidak sukar untuk banyak menolong dirimu.

"Sungguh tepat sekali." "Kalau tidak cocok mana aku berani bergurau dengan taruhan batok kepalaku sendiri?"

"Sekarang aku ingin menemukan sebuah benda. coba kau lihat aku berhasil menemukan atau tidak?"

"Coba kau ambil sebuah ciam-si!" Dari dalam sakunya ia mengambil keluar delapan lembar kertas persegi delapan, kemudian sambil berkemak-kemik, ia suruh Suma Hun memilih satu.

Setelah gadis itu memilih dan diperiksa sebentar olehnya, siorang tua itu menggeleng.

"Sukar!"

"Bagaimana? Sukar ditemukan?"

"Benar! Sulit untuk ditemukan kembali, Tetapi kemungkinan sekali pihak lawan bisa bermurah hati dan mengembalikan barang itu kepadamu!"

"Hmmm. . .hmmm. . . ilmu meramal dari Loocianpwee benar-benar sangat tepat, entah bagaimana dengan ilmu silat?"

"Lohu sendiri pernah belajar beberapa jurus, cuma kurang bagus, nona, apa maksudmu menanyakan soal ini?"

"Jikalau kepandaian silatmu sama-sama lihaynya dengan ilmu meramalmu, maka keadaannya akan jauh lebih bagus.

Bab 23

Pek Thian Ki mendengar perkataan tersebut, agaknya secara mendadak menemukan kalau dibalik perkataan Suma Hun masih terselip juga maksud yang lebih mendalam, hanya saja untuk beberapa waktu ia tak mengerti apakah arti dari perkataannya itu. "Masing-masing orang mempunyai keahlian yang berbeda-beda, jika seseorang bisa menguasai segalanya. . . wah. . . itu baru hebat." sambung Sin Si-poa sambil tertawa.

"Entah aku harus membayar berapa untuk ramalanmu ini?"

"Tempo hari nona sudah menerima badanku, sehingga tidak sampai jatuh terbanting, kali ini bagaimanapun, aku tak bisa menerima uang pemberianmu itu."

"Tidak! Lebih baik aku beri sedikit uang untukmu." Dari dalam sakunya ia mengambil keluar setahil perak, dan dilemparkan kearah situkang ramal tersebut.

"Setahil perak ini aku hadiahkan semua untukmu!" serunya.

Dimana tangan kanan Sin Si-poa menyambar lewat, uang tersebut tahu-tahu sudah berada didalam genggamannya, tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah hebat, tangan yang digunakan untuk menerima uang perak itupun kelihatan gemetar keras.

Cukup ditinjau dari hal ini, jelas membuktikan kalau Suma Hun telah menggunakan tenaga lweekang tingkat teratas untuk melemparkan uang perak tersebut kearah Sin Si-poa.

Meninjau dari keadaan ini, diam-diam Pek Thian Ki merasa sangat terperanjat dan pada saat yang bersamaan pula Suma Hun sudah putar badan berlalu.

Pada waktu itu. . .

Terdengar Sin Si-poa tertawa ter-bahak2 dengan amat kerasnya. "Haaaa. . . . haaa. . . haaa. . . kalau memang nona paksa juga diriku untuk menerima uang ini, rasanya kurang enak kalau aku tidak menerima hadiah kebaikan hatimu itu, tapi tidak usah sebegini banyaknya, Nah, nona boleh ambil kembali separuh bagian."

Dimana cahaya putih berkelebat lewat dengan memancarkan cahaya tajam uang perak tersebut sudah meluncur kembali kearah Suma Hun.

Dengan sebat Suma Hun putar badan menerima uang perak tersebut, ketika ia memperhatikan lebih teliti lagi benda yang berada ditangannya, mendadak sang air muka berubah hebat, Kiranya uang perak yang berada ditangannya kini sudah tinggal separuh bagian.

Kesempurnaan dari tenaga dalam yang dimiliki Sin Si- poa, benar2 luar biasa tingginya, Dia ternyata bisa memutuskan uang perak tersebut jadi dua bagian hanya didalam sekali gerak tangan saja, hal ini membuktikan kalau kepandaian silatnya benar-benar sangat lihay.

"Loocianpwee! Kepandaianmu ternyata kuar biasa!" seru Suma Hun sambil tertawa tawar. Tubuhnya segera berkelebat kesisi Pek Thian Ki dan melemparkan satu senyuman manis kearahnya.

"Eeeeei.       si Bay-kut kurus, kau orang hendak melihat

nasib tidak?" tegur situkang ramal dengan suara keras. "Melihat nasib? Tapi cayhe tidak punya waktu. "

Baru saja Pek Thian Ki berbicara sampai disitu, mendadak terdengar suara langkah manusia bergerak mendekat memecahkan kesunyian, Tampaklah sidara berbaju kuning yang dijumpainya sewaktu ada didalam Istana Perempuan sudah berjalan mendekati dirinya.

Kepada pemuda tersebut, ia menjura, lalu ujarnya; "Kongcu, cong-koan kami ada undangan."

"Terima kasih." Tanpa banyak cakap lagi, ia mengikuti dari belakang tubuh dara berbaju kuning itu masuk kedalam ruangan Istana Perempuan.

"Pek Sauw-hiap, tunggu sebentar," teriak Suma Hun mendadak.

"Nona Suma, kau masih ada urusan yang lain?" jawab sang pemuda sambil berhenti dan menoleh.

"Kau. . . apa yang hendak kau lakukan disini?"

"Aku?. . . aku sudah datang kemari sudah tentu untuk bermain dengan nona-nona."

"Kau. . . lelaki busuk!"

Setelah memaki Suma Hun segera putar badan dan berlalu dari sana. Melihat gadis itu berlalu Pek Thian Ki tertawa ter-bahak2, air mukapun menunjukkan sikap yang sombong dan memandang tinggi diri sendiri.

Belum jauh pemuda itu berjalan kedalam istana, mendadak Sin Si-poa kembali berteriak;

"Eeee. . . . baykut kurus kau benar-benar seorang manusia gemar main perempuan, badanmu sudah sekurus itu masih juga kau orang ingin main perempuan, kau harus hati-hati. . . main perempuan kebanyakan akan berbahaya bagi dirimu."

Pek Thian Ki bergidik mendengar peringatan tersebut. "Hey Baykut-kut kurus, hati-hati, wanita adalah racun

dunia, berhati-hatilah mengdahapi segala kejadian." teriak

Sin Si-poa kembali.

Terutama sekali beberapa patah kata terakhir dari situkang ramal itu, bagaikan kena strom seluruh tubuh Pek Thian Ki gemetar keras. Justeru karena kedatangannya ke Istana Perempuan inilah ia merasa keadaan sangat berbahaya apa lagi sesudah mendengar peringatan tersebut.

Kedatangannya untuk mencari It Peng Hong bagaimanapun jelas pasti akan dihalangi oleh Kiang To.

"Baiklah aku akan menanyakan pula nasibku." akhirnya tanpa sadar ia sudah putar badan dan mendekati meja situkang ramal tersebut.

"Haaa. . .haaa. . .haaa. . .suatu dagangan yang amat besar. . ."

Ketika itu kembali si Sin Si-poa meramalkan nasib dari kelima orang yang terdepan, dan setiap orang merasa ramalannya sangat tepat. Kini adalah gilirang dari siorang tua berbaju hitam itu.

"Saudara, siapakah namamu?" tanya Sin Si-poa sambil memandang pihak lawannya.

"Bun Tong Yen, aku ingin mencari seseorang." "Cari orang? Siapa yang sedang kau cari?"

"Soal ini kau tidak perlu tahu, aku ingin bertanya apakah aku bisa menemukan orang itu atau tidak?"

"Coba ambil Ciam-si."

Kembali ia mengeluarkan beberapa lembar kartu, kemudian sambil membaca mantera, ia suruh Bun Tong Yen pilih satu lembar kartu. Setelah itu dengan perlahan- lahan, situkang ramal itu baru berkata;

"Kawan sebelum aku membebaskan dirimu dari persoalan yang sulit ini, terlebih dahulu ada satu persoalan hendak kusampaikan kepadamu, cuma aku takut kau tidak kuat untuk membayarnya." "Berapa?"

"Sebenarnya tidak banyak, juga tidak sedikit hanya seratus tahil uang emas!"

"Apa? Seratus tahil uang emas!" Kau. . .kau. . .bukankah kau sedang memeras?"

"Waaaah. . .waaah. . . dugaanmu salah besar, kawan! Mau atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri, jika kau tidak kuat untuk bayar, kitapun tak usah berunding lebih lanjut."

"Hmmm! Mana ada ongkos meramal yang demikian mahalnya?"

"Soalnya keadaan saudara sangat teristimewa!"

Beberapa patah perkataan dari Sin Si-poa ini segera membuat wajah siorang tua berbaju hitam itu berubah hebat, dengan perasaan kaget, ia melototi situkang ramal itu tajam-tajam.

"Apa keistimewaannya?"

"Aku tidak perlu terangkan rasanya kau sendiripun jelas bukan?" Bagaimana mau diteruskan atau tidak?"

Agaknya siorang tua berbaju hitam itu sudah terjebak didalam siasat Sin Si-poa, ujarnya dingin;

"Dalam sakuku tinggal beberapa puluh tahil perak saja, bagaimana kalau aku berikan semua kepadamu?"

"Tidak bisa jadi!"

Siorang tua berbaju hitam itu mengerutkan alisnya, secara samar-samar hawa membunuh mulai melintas diatas wajahnya, akhirnya dari dalam saku ia mengambil keluar sebutir mutiara berwarna merah dan dilemparkan keatas meja. "Bagaimana kalau aku membayar dengan sebutir mutiara tersebut?" teriaknya.

Dengan hati-hati dipungutnya mutiara tersebut, lalu diperiksa dengan teliti, setelah itu situkang ramal baru mengangguk;

"Boleh. . . boleh. . ."

"Tapi kau harus ingat, jika tidak tepat ramalanmu hati- hati kepalamu akan pindah rumah."

"Boleh. . .boleh. . . aku lihat saudara sedang menerima perintah untuk mencari orang, tapi orang yang sedang kau cari agaknya sukar untuk ditemukan dan saudara sudah sangat lama mencarinya. . "

"Teruskan. . .!"

"Tapi, malam nanti kau dapat menemui orang yang sedang kau cari itu!"

"Apakah perkataanmu itu sungguh-sungguh?"

"Kawan, coba kau pikir, apakah aku orang bisa menggunakan batok kepalaku sendiri sebagai bahan banyolan?"

"Heeee. . .heeee. . .heeee, baik. .baik!" seru siorang tua berbaju hitam itu kemudian. "Bilamana aku tak berhasil menemukan orang itu, Hmmm! Aku bisa datang kemari untuk menuntut kerugian."

Tanpa ambil pusing lagi keadaan disana, ia lantas putar badan dan berlalu.

Pek Thian Ki yang menonton jalannya peristiwa tersebut dari samping kalangan rada tertegun juga dibuatnya, Ia merasa siorang tua berbaju hitam itu terlalu misterius dan membuat orang men-duga2 asal-usulnya. "Bangsat cilik, apa yang membuat kau tertegun?" Tiba- tiba tegur situkang ramal dengan suara yang keras.

"Loocianpwee, siapakah orang itu?" "Bagaimana aku bisa tahu?"

"Kalau begitu, tolong loocianpwee ramalkan nasibku."

Air muka Sin Si-poa berubah jadi memberat ujarnya tegas; "Bocah kurus lebih baik jangan punya ingatan untuk menggoda It Peng Hong kalau tidak, hal ini akan mendatangkan ketidak beruntungan buat dirimu."

Beberapa patah perkataan ini penuh mengandung nada yang seram, membuat setiap orang yang mendengar ikut merasa bergidik.

Dengan tanpa sadar, Pek Thian Ki mundur selangkah kebelakang, teriaknya keras; "Si i. . .siapa kau?"

"Soal ini kau tidak perlu bertanya. . ."

"Tapi It Peng Hong pasti akan kudapatkan." "Aku pikir tidak semudah itu. . ."

"Cayhe akan coba-coba."

Dalam pembicaraan tersebut, tanpa terasa Pek thian Ki sudah timbul perasaan curiga terhadap Sin Si-poa ini, sebenarnya darimanakah asal-usul orang ini?

Agaknya pemuda tersebut tidak ingin banyak ribut lagi disitu, tubuhnya mendadak berputar dan langsung berkelebat kearah ruangan Istana Perempuan.

"Bocah kurus, tunggu dulu!" kembali situkang ramal itu membentak dingin.

"Loocianpwee, kau masih ada pesan apa lagi?" "Aku bermaksud menasehati dirimu dengan baik-baik, mau percaya atau tidak, itu terserah dirimu sendiri, kau jangan pergi dulu, ada sebuah urusan hendak kutitipkan kepadamu dan hampir saja aku lupa."

"Urusan apa?"

Dari dalam sakunya Sin Si-poa mengambil keluar secarik kertas diserahkan kepada Pek Thian Ki. Tolong kau serahkan kertas ini buat nona Suma itu. . ." pesannya.

"Mengapa tidak kau sampaikan sendiri, sewaktu berjumpa tadi?. . ." tanya pemuda tersebut melengak.

"Hal ini tidak mungkin terjadi, kalau tidak, kenapa tidak aku serahkan sendiri? Maukah kau orang membantu diriku? Jika kau setuju, maka sewaktu berjumpa dengan dirinya lebih baik jangan sekali-kali menyebutkan kalau kertas ini akulah yang berikan kepadamu."

Secara mendadak, Pek Thian Ki mulai merasakan bahwa Sin Si-poa penuh mengandung misteri. Ia mulai memperingatkan dirinya untuk berwaspada, karena ia belum tahu maksudnya baik ataukah bermaksud jelek? Tiba-tiba, seperti pemuda itu sudah teringat akan sesuatu, tubuhnya kelihatan merinding dan suatu bayangan yang sangat menakutkan mendadak berkelebat didalam benaknya.

"Apa mungkin dialah Kiang To?. . ." pikirnya dihati. Sudah tentu hal inipun ada kemungkinannya, sebelum

Kiang To munculkan dirinya didepan umam setiap orang bisa dicurigai dialah samaran dari Manusia yang bernama Kiang To itu.

"Baiklah!" sahut Pek Thian Ki kemudian setelah berpikir sebentar. "Akan kubantu serahkan benda ini kepadanya." "Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasihku kepadamu." seru situkang ramal sambil serahkan kertas tersebut ketangannya.

Didalam benak Pek thian Ki pun mulai bertambah lagi dengan beberapa persoalan yang mencurigakan hatinya. Sebenarnya berasal darimanakah Suma Hun serta Sin Si- poa ini? Dan siapa pula siorang tua berbaju hitam tadi? Teka-teki ini sulit untuk dipecahkan oleh Pek thian Ki.

Benar, didalam benak Pek Thian Ki dasarnya memang sudah dipenuhi dengan berbagai persoalan yang mencurigakan hatinya, dan kini ditambah pula dengan beberapa persoalan yang demikian banyaknya, sudah tentu tak akan terjawabkan olehnya persoalan-persoalan tersebut.

Ia menarik napas panjang-panjang dan berguman seorang diri. "Buat apa aku turut campur didalam persoalan sampingan ini? Lebih baik cepat-cepat aku mencari seorang gadis, lalu menyewa rumah tersebut dan menyelidiki jejak dari suhu. . ."

Kepada sidara berbaju kuning itu ia lantas mengangguk. "Mari kita pergi!"

Demikianlah, dibawah bimbingan dara berbaju kuning itu, Pek Thian Ki berjalan masuk kedalam pintu istana, melewati ruangan besar dan menuju kesebuah ruangan disebelah belakang. Setelah masuk kedalam ruangan belakang suara tertawa cekikikan dari gadis2pun mulai kedengaran sangat ramai, Dan dara berbaju kuning itupun telah mengetuk pintu kamar belakang tersebut.

"Siapa?" Dari dalam ruangan berkumandang datang suara pertanyaan dari seorang perempuan.

"Aku! Lapor Cong-koan, ada orang hendak mencari nona untuk menemani dirinya satu malam." "Ehmmm. . .! Suruh dia masuk!"

"Baik!" Dara berbaju kuning itu lantas menoleh kearah Pek Thian Ki dan serunya; "Kawan, silahkan masuk kedalam."

Pek Thian Ki mengangguk, per-lahan2 ia mendorong pintu tersebut dan dengan sombong melangkah masuk kedalam. Ruangan yang berada dihadapannya pada saat ini merupakan sebuah ruangan yang sangat indah sekali dan mewah, seorang wanita setengah baya sedang berjalan mendekati kearahnya.

Wanita setengah baya itu amat cantik, walaupun usianya sudah lanjut, tapi kecantikan wajahnya masih belum luntur, Setelah tiba dihadapan Pek Thian Ki, ujarnya sambil tersenyum;

"Aku dengar mereka berkata bahwa saudara kesepian dan ingin mencari seorang nona untuk menemani dirimu satu malam?"

"Betul!"

"Entah siapakah namamu?"

"Cayhe she Pek bernama Pek Thian Ki." "Apa? Pek Thian Ki?"

Ketika mendengar disebutnya nama tersebut, sang Cong- koan berubah muka, agaknya ia sangat terperanjat, tubuhnya ber-turut2 mundur dua tiga langkah kebelakang, dan memandang kearah pemuda tersebut dengan mata melotot.

"Apanya yang salah?" tegur pemuda she Pek sambil tertawa.

Sikap yang gugup dari Cong-koan itupun perlahan-lahan jadi tenang kembali, "Kau. . .kau bernama Pek Thian Ki?" "Benar, bagaimana? Apakah tidak mirip?"

"Hmmm! Bukan saja tidak mirip, bahkan aku tidak percaya dengan sekerat tulang bay-kutnya yang amat kurus ternyata bisa mengacau diistana Arak serta Istana Harta." pikir Cong-koan tersebut.

Dilain pihak, iapun mendengar orang berkata bahwa Pek thian Ki adalah Kiang To.

Walaupun It Peng Hong sudah diborong oleh Kiang To, tapi kecuali It Peng Hong sendiri belum ada seorang manusiapun yang pernah menemui wajah Kiang To yang asli.

Setelah pikirannya berputar, siwanita setengah baya sang cong-koan dari Istana Perempuan itupun tersenyum, bagaimanapun juga sebagai pekerjaan sehari-harinya, ia sudah sering menemui tamu macam begini.

"Oooouw. . . kiranya saudara sudi mengunjungi istana kami, hal ini benar2 ada diluar dugaanku, dan inipun merupakan suatu kehormatan buat istana kami." serunya serius.

"Cong-koan terlalu memuji, kau boleh mulai menjajal kepandaian silatku."

"Bagus sekali, aku tahu kepandaian silat yang saudara milki sangat lihay, tapi terpaksa aku harus bergebrak juga dengan dirimu, harap saudara suka memaafkan kelakuanku ini."

"Silahkan Cong-koan beri petunjuk," "Baiklah, terimalah seranganku ini."

Selesai berkata, tubuhnya laksana sambaran kilat mencelat kedepan mengirim beberapa pukulan yang maha dahsyat keatas tubuh Pek thian Ki, kecepatan geraknya sangat luar biasa.

Pada saat ini, tenaga dalam yang dimiliki Pek thian Ki pun sudah pulih delapan bagian, menanti serangan wanita setengah baya itu, hampir mengenai tubuhnya, dengan sebat ia mencelat kesamping.

Baru saja Pek thian Ki mencelat kesamping serangan berikut dari wanita itu kembali sudah menggulung datang. Melihat datangnya serangan tersebut, bukannya mundur sebaliknya Pek thian Ki malah maju kedepan, gerakan tubuhnya jauh lebih cepat beberapa bagian daripada gerakan sang Cong-koan tersebut.

Hanya didalam sekejap mata iapun sudah mengirim dua buah serangan balasan. Walaupun wanita setengah baya itu mengerti bila kepandaian silat yang dimiliki Pek thian Ki sangat tinggi, tetapi ia tidak menduga bisa setinggi begini, sewaktu pemuda tersebut melancarkan dua buah serangan itulah tubuhnya tahu-tahu sudah menjadi kaku, sedang Pek thian Ki sendiripun telah melayang mundur kebelakang. Seketika itu juga wanita setengah baya itu berdiri mematung ditempatnya semula.

"Cong-koan terima kasih atas petunjukmu." seru Pek Thian Ki sambil tertawa ringan.

Seperti baru saja bangun dari impian, wanita setengah baya itu tertawa pahit. "Kepandaian sakti yang saudara miliki benar2 sangat mengejutkan, aku merasa sangat kagum."

"Kalau begitu aku sudah boleh mencari nona untuk menemani aku tidur bukan?" "Sudah tentu boleh, saudara baru pertama kali ini mengunjungi Istana kami, bagaimana kalau aku pilihkan seorang nona buat saudara?"

"Tidak perlu, walaupun cayhe baru pertama kali mengunjungi Istana ini, tetapi terhadap empat orang gadis cantik. . .'Giok Kong Su Kiauw' sudah lama merasa kagum.

. ."

"Lalu saudara hendak cari yang mana?" sambung wanita setengah baya itu dengan cepat. "Ting Siang Giok Lian Hoa? ataukah Siauw Tauw Hong?"

"Cong-koan, agaknya kau sudah lupa menyebutkan nama seorang nona diantaranya. . .?" tegur pemuda tersebut sambil tertawa.

"Kau. . .kau maksudkan It Peng Hong?" tanya wanita setengah baya itu dengan wajah berubah.

"Tidak salah. . ."

"Tapi. . ."

"Tapi It Peng Hong telah diborong oleh Kiang To?" "Benar!"

"Tapi aku tetap menginginkan dirinya!" "Tidak bisa jadi!"

Air muka Pek thian Ki berubah, bentaknya dingin; "Aku sudah bulatkan tekad untuk minta nona It Peng Hong, sekalipun tidak bisa, juga harus bisa!"

"Kawan kau hendak menggunakan kekerasan? Giok Kong Su Kiauw rata-rata memiliki wajah yang cantik jelita, mengapa kau harus mengingini dirinya?"

Pek Thian Ki begitu ngotot menginginkan It Peng Hong, sudah tentu dalam hatinya memiliki alasan sendiri, justru ia ada maksud untuk mencari gara-gara dengan Kiang To sibangsat cabul tersebut.

"Heee. . . heeee. . . heeee. . .banyak orang berkata kecantikan It Peng Hong melebihi siapapun, karena itu cayhe baru ada maksud mencicipi dirinya, kalau tidak buat apa aku datang kemari. . ." Jengek pemuda itu sambil tertawa dingin.

"Tapi Kiang To. . ."

"Kau takut dengan Kiang To?"

"Tidak salah, aku takut pada dirinya, orang lainpun takut pada dirinya. . ."

"Hmmm! Dugaanmu salah, ak Pek Thian Ki tak akan menaruh rasa jeri terhadap dirinya."

"Walaupun kau tidak takut dengan Kiang To, tapi jikalau seluruh akibat ini ia jatuhkan ketangan istana kami bukankah hal ini berarti pula kalau kamilah yang harus bertanggung jawab?"

"Cukup omonganmu!" teriak Pek Thian Ki sangat gusar. "Aku sudah pastikan untuk mendapatkan It Peng Hong, jika kau tidak setuju maka akan kuhancurkan Istana Perempuan ini, Jika kau tidak percaya, tunggu saja akibatnya."

Beberapa patah perkataan dari Pek thian Ki ini penuh mengandung napsu membunuh, hal ini sudah tentu membuat Cong-koan itu pun jadi bergidik dibuatnya. Dengan sinar mata ketakutan, ia melototi diri Pek Thian Ki tak berkedip, lama sekali ia baru berkata;

"Jikalau saudara benar-benar menginginkan It Peng Hong, aku pikir masih ada satu cara yang bisa ditempuh. .

." "Apa caramu itu?"

"Punahkan dulu sebuah jurus serangan Kiang To yang ditinggalkan didalam istana kami, jikalau kau berhasil memunahkan jurus serangannya itu, maka kau boleh mendapatkan It Peng Hong. . . Jurus serangan yang ia tinggalkan bernama 'Pauw Yu Hwie Hoa'(Hujan Badai Bunga Berguguran)!"

"Hujan Badai Bunga Berguguran?" "Benar!"

Bab 24

Dengan alis yang dikerutkan, Pek Thian Ki mulai memikirkan jurus-jurus serangan yang dipahaminya untuk memecahkan serangan tersebut, ia merasa jurus yang ditinggalkan oleh Kiang To tersebut benar-benar merupakan suatu jurus serangan yang amat lihay.

Untuk beberapa saat lamanya, Pek Thian Ki tak berhasil mendapatkan cara untuk memecahkan jurus serangan yang maha lihay itu, lama. . . .sekali. . . akhirnya ia menghela napas panjang.

"Suatu jurus serangan yang benar-benar amat lihay." "Bila saudara tak dapat memecahkan jurus serangan ini,

lebih baik kau jangan punya niat untuk mengingini It Peng Hong."

"Soal ini aku tahu. . ." pemuda itu manggut perlahan.

Kembali Pek thian Ki berjalan mondar-mandir ditengah kalangan, mendadak ia berhenti dan tertawa hambar; "Hujan Badai Bunga Berguguran. aaach! Sudah ada. ."

"Entah jurus apakah bisa pecahkan serangan tersebut?" "Jurus Hujan Badai Bunga Berguguran hanya bisa dipunahkan dengan Jurus 'Hoa Lok Hoa Kay'! (Bunga Rontok Bunga Mekar).

"Bunga Rontok Bunga Mekar?"

"Sedikitpun tidak salah, jika Kiang To datang lagi, maka katakan saja kepadanya bahwa jurus serangannya 'Hujan Badai Bunga Berguguran' telah dipunahkan dengan menggunakan jurus 'Bunga Rontok Bunga Mekar!"

"Saudara ingin memborongnya juga ataukah hanya memakai satu malam saja?" tanya wanita setengah baya itu kemudian.

"Akupun ingin memborong dirinya."

"Bila saudarapun ingin memborong It Peng Hong, maka ada seharusnya kaupun tinggalkan satu jurus serangan untuk aku punahkan, bila akupun tak bisa maka It Peng Hong sejak hari ini merupakan orangmu!"

"Boleh aku bawa pergi?" "Tidak salah!"

"Kalau begitu sangat bagus sekali." seru Pek thian Ki sambil tertawa tawar. "Aku mengeluarkan jurus 'Thian Hoa Luan Swi'(Bunga Langit jatuh Berantakan), dapatkah kau pecahkan?"

Jurus 'Thian Hoa Luan Swi' ini jangan dikata Cong-koan tersebut tak dapat menjawab, sekalipun Pek Thian Ki sendiripun tak bisa memecahkannya.

Jurus serangan ini adalah jurus terakhir yang didapatkan dari kitab pusaka pemberian suhunya, dan hingga ini hari Pek Thian Ki sendiripun masih belum dapat memecahkan jurus serangan tersebut. Mendengar disebutkannya nama jurus itu, wanita setengah baya tersebut kelihatan tertegun. "Biar aku pikir2 dulu dan besok pagi akan kuberi jawabannya, sekarang aku akan kirim orang untuk antar kau pergi kekamar tinggal It Peng Hong."

"Terima kasih atas kemurahan Cong-koan."

"Hey pelayan!" teriak wanita itu kemudian lantang.

Dari pintu luar bergema datang suara sahutan sidara berbaju kuning itu, sang wanita setengah baya tersebut lantas memerintahkan dara itu untuk mengantarkan Pek Thian Hong kekamar It Peng Hong.

Demikianlah dengan mengikuti dari belakang tubuh dara berbaju kuning itu, Pek Thian Ki keluar dari ruangan dan berbelok masuk kedalam sebuah lorong panjang. Dan dalam sekejap mata mereka sudah tiba dihalaman belakang.

Halaman belakang bersambung dengan sebuah bangunan loteng yang mungil dan indah, sidara berbaju kuning itu langsung membawa pemuda tersebut menuju kearah loteng tadi.

Mendadak. . .

"Berhenti!" bentak seseorang memecahkan kesunyian disekitar tempat itu.

Begitu suara tersebut berkumandang keluar, Pek thian Ki merasakan hatinya tergetar sangat keras, dengan cepat ia putar badannya kebelakang.

Tampaklah sesosok bayangan manusia tahu-tahu sudah berdiri dibelakang tubuhnya, Tanpa sadar pemuda she Pek ini mundur satu langkah, ketika ia mendongakkan kepalanya, maka segera mengenali kembali kalau siorang berbaju hitam itu bukan lain adalah Bun Tong Yen yang baru saja ditemuinya diluar istana.

Hal ini membuat Pek Thian Ki jadi melengak; "Apa maksudmu memanggil diri cayhe?" tegurnya.

Selintas senyuman yang amat menyeramkan menghiasi wajahnya.

"Saudarakah yang bernama Pek Thian Ki?" "Sedikitpun tidak salah."

"Juga yang bernama Kiang To?" "Bukan, aku tidak bernama Kiang To!"

"Barusan saja aku dengar orang berkata bahwa kau Pek thian Ki adalah Kiang To. Kawan, kau tidak usah mungkir lagi sudah amat lama aku mencari dirimu. . ."

"Apa maksudmu mencari diriku?"

"Mendapat perintah untuk sampaikan sepucuk surat kepadamu!"

"Tapi cayhe adalah Pek Thian Ki dan bukan Kiang To, lebih   baik   kau   pergi   mencari   Kiang    To    saja." Tanpa menanti jawaban lagi, pemuda itu putar badan dan berlalu.

"Berhenti!" kembali Bun Tong Yen membentak keras, tubuhnya meloncat kedepan menghalangi jalan pergi dari Pek Thian Ki, sedang diatas wajahpun terlintas hawa napsu membunuh yang sangat menyeramkan.

"Apa yang hendak kau lakukan?" teriak Pek thian Ki mulai panas hatinya.

"Kau mempunyai nyali untuk membunuh orang, mengapa tidak berani mengakui dirimu sendiri?" "Haaaa. . .haaaa. . . kawan, kau salah." seru Pek Thian Ki tertawa lantang, "Selama ini aku Pek thian Ki merupakan seorang manusia yang tidak ternama, sudah. . . susahlah, kau tak usah banyak rewel lagi, kalau usil terus. . . Hmmm! Jangan salahkan kalau aku tidak sungkan2 lagi."

"Apa yang hendak kau lakukan?" "Perintahkan kau orang segera menyingkir."

"Kawan, aku hanya menerima tugas untuk menyampaikan sepucuk surat kepadamu, mengapa tidak berani kau terima?"

"Sudah kukatakan, bahwa aku bukan Kiang To."

"Kau tidak mau mengaku? Hmmm! Akan kupaksa untuk mengaku."

Tubuhnya segera melesat ketengah udara laksana sambaran kilat cepatnya langsung menerjang kearah Pek thian Ki, Kelima jari tangannya dipentangkan dan mencengkeram wajah pemuda tersebut.

Serangan cengkeraman yang dilancarkan olehnya ini boleh dikata dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, Tak urung Pek thian Ki dibuat terperanjat juga melihat kedahsyatan pihak lawan, Terburu-buru ia mencelat kesamping.

Baru saja pemuda itu berkelit, serangan dahsyat pihak lawan kembali menubruk datang. Lama-lama Pek Thian Ki dibuat gusar juga oleh sikap serta tingkah laku pihak lawan, ia membentak keras diantara berkelebatnya bayangan manusia, dengan menggunakan satu jurus serangan yang amat dahsyat, ia tangkis datangnya serangan lawan.

Telapak tangan kanannya menangkis, tangan kirinya menggulung keluar. Dua buah serangan yang dilancarkan oleh Pek Thian Ki ini hampir dilakukan dalam waktu yang bersamaan, tetapi kepandaian silat yang dimiliki siorang tua berbaju hitam itupun agaknya tidak lemah.

Tubuhnya berputar keras meloloskan diri dari dua buah serangan tersebut, kemudian meluncur kebelakang dengan gerakan tubuh yang sangat cepat.

"Kawan, sungguh mengagumkan sekali kepandaian silat yang kau miliki. . ." jengek Bun Tong Yen sambil tertawa dingin.

Kembali dua jurus serangan mematikan dengan mengambil arah dari sebelah kiri serta sebelah kanan langsung mengencet diri Pek Thian Ki ditengah kalangan.

"Kurang ajar, kubunuh dirimu. . ." bentak pemuda tersebut gusar.

Tubuhnya berkelebat lewat, bayangan tangan menyambar silih berganti memunahkan setiap serangan yang meluncur datang. Dari dua belas bagian tenaga dalam yang dimiliki Pek Thian Ki, pada saat ini sudah ada delapan bagian yang sudah pulih seperti sedia kala, melancarkan serangan dalam keadaan gusar kehebatannya ber-puluh2 lipat mengerikan.

Mendadak. . . "Braaaaak!" Ditengah suara bentrokan keras yang diiringi abu, pasir beterbangan memenuhi angkasa, tampak dua sosok bayangan manusia berpisah dan mundur kearah belakang.

Siorang tua berbaju hitam itu mundur sempoyongan beberapa puluh langkah kebelakang dan muntah darah segar, agaknya ia sudah berhasil dilukai oleh pemuda tersebut. "Kawan kau masih menganggap aku adalah Kiang To?" bentak Pek Thian Ki sambil mengangkat tubuh pihak lawannya keatas.

"Sedikitpun tidak salah!" "Saudara berasal dari mana?"

"Dalam surat tertulis sangat jelas, kau boleh membaca dari surat tersebut."

"Cepat serahkan surat itu kepadaku." Ternyata Pek Thian Ki minta sendiri surat tersebut, hal ini jauh berada diluar dugaan Bun Tong Yen, ia rada melengak kemudian buru-buru mengambil keluar sepucuk surat dan diangsurkan kedepan.

"Cepat pulang dan beritahukan kepada majikanmu, bahwa surat ini aku Pek Thian Ki akan menyimpannya sementara dan akan kuserahkan sendiri kepada Kiang To, cepat menggelinding pergi." bentak sang pemuda setelah menerima surat tersebut.

Tangannya langsung diayunkan kedepan melemparkan tubuh siorang tua berbaju hitam itu beberapa kaki jauhnya dari kalangan. Bagaikan anjing kena gebuk, Bun Tong Yen sipat kuping dan lari terbirit-birit dari sana.

Menanti bayangan orang itu sudah lenyap dari pandangan, Pek Thian Ki baru mengalihkan sinar matanya keatas surat tersebut.

"Dipersembahkan kepada; Kiang Tayhiap. Kiang To."

Pek Thian Ki tertawa dingin tiada hentinya, dalam hati diam-diam pikirnya; "Entah apa isi dari surat tersebut?" Sudah tentu iapun bisa menduga kalau didalam surat itu penuh berisikan hawa pembunuhan. Pek Thian Ki suka menerima suka tersebut, ia punya perhitungan bahwa Kiang To pasti akan munculkan dirinya sewaktu ia mencari It Peng Hong, dan sampai waktunya ia akan serahkan sendiri surat itu kepadanya.

Hanya saja ia tidak tahu berasal darimanakah surat tersebut. Sinar matanya per-han2 dialihkan kearah dara berbaju kuning itu, kemudian manggut.

"Nona, silahkan tunjuk jalan!"

"Oooouw. . . hampir-hampir saja saya lupa dengan sebuah urusan," teriak dara berbaju kuning itu seperti terbangun dari impian, "Tadi ada seorang menitipkan sepucuk surat untukmu."

"Sepucuk surat?"

"Benar!" Dari dalam sakunya gadis itupun mengambil keluar sepucuk surat dan langsung diserahkan ketangan Pek thian Ki.

"Surat ini siapa yang berikan kepadamu?" tanya pemuda tersebut tertegun.

"Entah, aku tidak berhasil melihat wajahnya dengan jelas."

Karena tidak berhasil mendapatkan keterangan yang berarti, Pek thian Ki mengalihkan sinar matanya keatas surat tersebut. Tampaklah diatas sampul surat bertuliskan beberapa patah kata; Dipersembahkan kepada: "Pek Thian Ki pribadi."

Pemuda itu langsung merobek sampulnya dan membaca isi surat tersebut; "Pek Thayhiap, Jangan coba-coba punya maksud mengganggu It Peng Hong, kalau tidak jangan salahkan aku orang akan ambil tindakan ganas terhadap kau orang!" Habis membaca surat tersebut, Pek Thian Ki rada tertegun, akhirnya simanusia paling menakutkan Kiang To munculkan dirinya juga, bahkan mengirim peringatan untuk yang kedua kalinya kepada dirinya. Tempo dulu sewaktu berada didalam Istana Arak, pihak lawan sudah memberikan satu kali peringatan agar dirinya jangan mengganggu rumah aneh tersebut.

Teringat akan persoalan ini, pemuda tersebut lantas mengambil keluar surat yang diberikan Kiang To tempo dulu. Tapi sebentar kemudian, ia sudah menjerit kaget, air mukanya berubah hebat, sedang matanya kelihatan melongo.

Ternyata gaya tulisan dari dua pucuk surat peringatan tersebut sangat berlainan sekali! Untuk beberapa waktu pemuda itu merasa kebingungan, jika dilihat dari nada peringatan kedua pucuk surat tersebut, jelas hasil perbuatan dari Kiang To, Tetapi gaya tulisannya berbeda, apakah mungkin Kiang To ada dua orang?

Peristiwa yang terjadi secara mendadak ini benar-benar membuat Pek Thian Ki jadi seperti orang bodoh, persoalan yang mencurigakan hatinya semakin menumpuk didalam benak, tapi tak sebuahpun yang berhasil ia pecahkan.

"Kongcu, mari ikut aku!" tegur dara berbaju kuning itu tiba-tiba.

Pek Thian Ki manggut, dengan mengikuti dari belakang tubuh dara berbaju kuning itu, mereka naik keatas loteng.

"Heeee. . . sudah, sudahlah, pikir pemuda tersebut sambil menghela napas panjang. Bagaimanapun sekarang aku harus mencari seorang gadis cantik untuk menyewa rumah aneh itu."

Pada waktu itu. . . Sementara irama lagu yang sangat sedih diiringi tetabuhan Pie-pa bergema dari atas loteng tersebut, irama lagu itu sangat sendu dan mempesonakan. Walaupun Pek thian Ki tidak kenal irama lagu, tetapi hatinyapun ikut tergerak oleh suara alat Pie-pa yang dimainkan dengan ahli, dalam hati ia ikut merasa berduka.

Setelah memasuki sebuah ruangan kecil, suara bunyi2an Pie-pa kedengaran semakin jelas lagi dari atas loteng.

"Kongcu, mari ikut aku naik keatas loteng." kata sidara berbaju kuning perlahan.

Mereka naik keloteng dan tiba didepan subuah ruangan kamar, suara irama Pie-pa masih ditabuh tiada hentinya. . .

.

"Nona It Peng Hong!" sapa sang gadis berbaju kuning itu sambil mengetuk pintu.

Suara Pie-pa berhenti, kemudian bergema keluar suara yang amat merdu;

"Siapa?"

"Aku, Ah Mie!" "Ada urusan apa?"

"Nona It Peng Hong, Cong-koan suruh aku mengantar seorang Pek Kongcu kemari, kau harus melayani satu malam buat dirinya."

"Tapi, bukankah aku sudah diborong oleh Kiang Kongcu?"

"Benar, tapi kongcu ini sudah berhasil menghancurkan persoalan sulit yang diajukan oleh Kiang Kongcu, sekarang kau bukan milik Kiang Kongcu lagi." "Kalau begitu, suruh dia masuk, dan kau sendiri boleh mengundurkan diri."

"Baik!" jawab sigadis itu dengan hormat, kepada Pek Thian Ki lantas serunya; "Pek Kongcu, kau masuklah sendiri."

Untuk beberapa saat lamanya Pek Thian Ki berdiri termangu-mangu didepan pintu, perbuatan macam ini boleh dikata baru untuk pertama kalinya hendak ia lakukan.

Lama. . . lama sekali, ia baru mendorong pintu dan melangkah masuk kedalam kamar, sinar matanya menyapu sekejap keseluruh isi ruangan.

Tampaklah kamar tersebut benar-benar merupakan sebuah kamar yang sangat mewah, dengan segala perhiasan yang mahal harganya, didepan jendela duduklah seorang gadis berbaju merah.

Tak usah ditanya lagi, gadis tersebut tentunya nona yang bernama It Peng Hong itu. Untuk beberapa waktu Pek thian Ki kebingungan, ia cuma bisa berdiri termangu-mangu sambil memandang bayangan punggungnya dengan terpesona. . .

"Pek Kongcu, silahkan duduk!" ujar It Peng Hong tiba- tiba memecahkan kesunyian.

Nada suaranya amat mempesonakan, pemuda itupun tersadar kembali dari lamunannya, kemudian tertawa;

"Nona, kau bernam It Peng Hong?" "Benar!"

"Ini hari cayhe dapat berkenalan dengan nona, kejadian ini benar-benar merupakan suatu rejeki buat diriku!"

"Aaaach. . . Pek Kongcu terlalu sungkan, apakah Kongcu sering sekali bercanda ditempat luaran?" "Cayhe. . . memang sering sekali mencari kesenangan ditempat luaran. . .!"

"Berapakah usia Kongcu tahun ini?" "Delapan belas, dan nona. . ." "Akupun baru delapan belas!"

"Nona memainkan Pie-pa mu tadi benar-benar amat mempesonakan!"

"Pek Kongcu terlalu memuji!"

Perlahan-lahan gadis itu putar badannya, sehingga kelihatanlah selembar wajah yang amat cantik jelita dengan bibir yang kecil mungil merah merekah, hidung yang mancung, sepasang sujen menghiasi pipinya terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli.

"Waaaduhhh. . .! seorang gadis yang benar-benar amat cantik. . ." pikir Pek thian Ki didalam hatinya.

Beberapa saat lamanya, ia hanya bisa memandang It Peng Hong dengan termangu-mangu, apalagi senyumannya sangat mengiurkan, benar-benar membuat hatinya berdebar- debar keras.

"Eeeei. . . Pek Kongcu! Kau kenapa?" Tiba-tiba It Peng Hong menegur sambil tersenyum.

"Kecantikan wajah nona benar-benar bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan. . ."

"Pek Kongcu, kau betul-betul pintar membuat kaum gadis gembira!" Akhirnya ia tertawa. . . . senyumannya itu benar2 amat cantik, amat mempesonakan dan membuat birahi per-lahan2 memuncak. .

Mendadak. . . "Aaaaaach. . .! Pek Thian Ki berseru tertahan dan memandang kearah It Peng Hong dengan mata terbelalak.

"Pek Kongcu, kenapa kau?" teriak gadis tersebut kaget.

"Kau. . . aku seperti pernah berjumpa dengan dirimu. . ."

Sedikitpun tidak salah, kecantikan wajah dari It Peng Hong yang tiada tandingannya ini seperti pernah ditemui Pek thian Ki disuatu tempat, hanya saja untuk beberapa waktu ia tidak teringat.

"Tidak, aku pernah menemui dirimu. . . . biar aku berpikir sebentar. . ." Pek Thian Ki mulai berguman dan untuk beberapa saat lamanya ia duduk tepekur dan berpikir keras.

Mendadak. . .

Akhirnya Pek thian Ki berteriak tertahan; "Ooooo. . . kau ?. . ." Diatas air muka pemuda itu terlintaslah suatu perasaan terperanjat yang belum pernah dijumpainya selama ini.

Jeritan tertahan dari Pek Thian Ki segera membuat It Peng Hong itupun merasa ikut terperanjat, air mukanya kelihatan berubah hebat.

"Kau katakan aku mirip siapa?" tanyanya rada gemetar. "Kau adalah Tong Ling!?"

Sedikitpun tidak salah, kecantikan wajah dari It Peng Hong mirip dengan wajah Tong Ling, Oleh karena itu sewaktu untuk pertama kalinya Pek thain Ki bertemu muka dengan gadis It Peng Hong tersebut, ia lantas merasa pernah mengenalinya. Tetapi sewaktu It Peng Hong mendengar disebutkannya kata-kata Tong Ling, sikapnya kelihatan rada melengak.

"Siapakah Tong Ling?" "Kau!"

Agaknya It Peng Hong dibuat keheranan dan sedikit ada diluar dugaan melihat perbuatan serta perkataan dari pemuda tersebut.

"Siapakah Tong Ling? Kekasihmu?" tanyanya kemudian sambil tertawa tawar.

"Bukan, kawanku. . . Kau bukan Tong Ling?"

"Bukan, kau salah! Aku bukan Tong Ling, aku bernama It Peng Hong dan semua orang mengetahui jelas urusan ini.

. ."

Walaupun pemuda tersebut juga mendengar perkataan ini dengan jelas, tapi ia merasa bahkan hal tersebut tidaklah mungkin, Walaupun ia belum pernah melihat Tong Ling dengan memakai pakaian perempuan, tetapi wajahnya seratus persen adalah wajah dari Tong Ling.

Tetapi apakah mungkin Tong Ling bisa berada disini?

Agaknya persoalan inipun tidak mungkin terjadi, ia tidak seharusnya memandang Tong Ling sebagai perempuan macam begitu, Kalau tidak maka ini berarti pula ia sedang menghina dan merusak nama baik dari Tong Ling, gadis tersebut.

Akhirnya ia tertawa pahit; "Kemungkinan sekali wajahmu rada mirip dengan wajahnya." ia mendusta.

"Benar!" Sahut It Peng Hong tertawa, "Dikolong langit memang banyak sekali terdapat manusia dengan wajah yang hampir sama, kemungkinan besar saudara sudah salah melihat orang."

"Nona It Peng Hong, bolehkah aku bertanya satu urusan kepadamu?"

"Silahkan kau utarakan!" "Pernahkah kau orang berjumpa dengan Kiang To?" "Kau maksudkan Kiang Kongcu?"

"Sedikitpun tidak salah!"

Agaknya It Peng Hong dibuat melengak oleh pertanyaan yang mendadak ini, lama sekali ia baru mengangguk. "Aku pernah bertemu. . ."

"Bagaimana wajahnya?" "Amat tampan sekali." "Dan berapa besar usianya?"

"Kelihatannya hampir sama dengan usiamu, hanya saja ia tidak semurung dirimu!"

"Dia. . . seorang lelaki atau perempuan?"

"Eeeei. . . Pek Kongcu." tegur It Peng Hong sambil memandang pemuda itu dengan pandangan keheranan, "Pertanyaanmu ini benar-benar membingungkan sekali."

"Maksudku Kiang To sebenarnya seorang lelaki atau seorang gadis?. ."

"Pek Kongcu! Pandai benar kau bercanda, coba kau pikirkan dengan wajar, apakah dikolong langit ada seorang perempuan yang memborong seorang gadis untuk bersenang-senang?"

"Jadi maksudmu Kiang To adalah seorang lelaki?" "Sedikitpun tidak salah!"

"Pernahkah kau orang. . ."

"Maksudmu pernahkah dia orang tidur seranjang dengan diriku?"

"Benar. . . benar. . . aku memang bermaksud demikian." "Hal ini sudah tentu, karena pekerjaan tersebut merupakan pekerjaannya serta pekerjaanku yang rutin. . ."

Alis Pek Thian Ki berkerut semakin rapat, jika perkataan dari It Peng Hong ini tidak bohong, maka Kiang To benar2 seorang lelaki tulen, dan hal ini tak ada hal2 yang patut dicurigai lagi.

"Pek Kongcu, apakah kau kenal dengan Kiang Kongcu?" tanya It Peng Hong lagi.

"Ehmmmm!"

Setelah mengiyakan Pek Thian Ki membungkam dalam seribu bahasa, agaknya dia sedang mencari sebab akibat dari persoalan ini, hanya saja jawabannya tak kunjung datang.

Akhirnya pemuda itu disadarkan kembali oleh suara tawa cekikikan dari It Peng Hong.

"Pek Siangkong, malam hari semakin kelam, kentongan keempat hampir berlalu. . . mari kita tidur, membuang waktu dengan percuma sungguh patut disayangkan, mari aku bantu lepaskan bajumu!"

"Melepaskan pakaian?" teriak Pek Thian Ki terperanjat. "Benar, bukankah kita akan tidur bersama? Kalau tidak

buka pakaian bagaimana mungkin. . ."

"Aku. . ."

"Pek Kongcu, untuk menghilangkan kemurungan dimalam yang panjang, mari biarlah aku melayani semalam buat dirimu!"

"Aku. . ." "Pek Kongcu, kau sebagai seorang yang sering cari mangsa ditempat luaran tentunya sudah memahami bukan, permainan ini!"

Akhirnya Pek Thian Ki tertawa. . . senyumannya penuh kesunyian, penuh kemurungan, Selama hidup belum pernah dia orang disukai orang dan tak ada seorang gadispun yang pernah menyukai dirinya.

Ia mempunyai napsu yang matang, napsu yang besar, hanya saja sukar untuk dipersembahkan buat gadis pujaan hatinya. . . karena wajahnya tidak cakap, raut mukanya tidak ganteng, dan tak seorang gadispun yang suka kepadanya.

Keadaannya mirip pula dengan para pemuda lainnya yang tidak berhasil mendapatkan cinta kasih dari gadis- gadis pujaannya, sehingga akhirnya mempersembahkan cintanya itu kepada 'Bidadari'.

Dan kini, ia sedang berada dalam keadaan murung, dalam keadaan sedih, kemudian secara mendadak menaruh simpati pada seorang gadis, sudah tentu ia sendiripun tidak tahu perasaan ini sebetulnya normal atau tidak.

"Pek Kongcu apakah kau melihat aku kurang cantik?" terdengar It Peng Hong menegur dengan suara yang lirih.

"Tidak, wajah nona cantik jelita dan tiada bandingan. . .

."

---oodwoo---