-->

Misteri Rumah Berdarah Jilid 07

Jilid 07

Bab 19

SUASANA ditengah ruangan tengah masih tetap saja seperti sedia kala, hanya sewaktu Pek Thian Ki serta Tong Ling berjalan masuk, rata2 para jago yang hadir disana pada memandang mereka dengan sinar mata penuh perqasaan terperanjat bergidik dan kagum.

Senyuman Tong Ling masih tetap menghiasi bibirnya seperti sedia kala, setibanya dihadapan Hu Toa Kan langsung tegurnya;

"Hu Cung-cu, entah dimanakah putri kesayanganmu?" "Heee. . .heee. . .heee. . .Saudara! Kau boleh berlega

hati, aku sudah kirim orang untuk mengundang ia datang kemari."

"Kalau begitu, aku harus mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Hu Cung-cu."

"Hmmm! Kalian berdua silahkan minum arak."

Tong Ling tanpa banyak rewel angkat cawan sendiri lantas diangsurkan kehadapan wajah Pek Thian Ki.

"Pek-heng!" serunya sambil tertawa. "Aku menghormati secawan arak buat kecurigaanmu."

"Terima kasih. . . .terima kasih. . ." sahut Pek Thian Ki sambil tertawa dan angkat cawannya pula. "Pek Heng, aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya Kiang To itu seorang pria atau seorang gadis?"

"Mana aku bisa tahu? sampai detik inipun aku belum pernah berjumpa dengan Kiang To, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu itu?"

"Bagaimana? jadi kaupun tidak tahu kalau Kiang To itu seorang pria ataukah seorang gadis?"

"Kemungkinan sekali dia adalah seorang pria, tapi, ada kemungkinan besar pula dia adalah seorang gadis yang sedang menyaru seorang pria."

Mendengar jawaban tersebut, air muka Tong Ling kontan berubah hebat, Ia menggertak giginya kencang2 Agaknya saking gemasnya kepingin sekali dia orang memerseni sebuah tempelengan keatas wajah Pek- Thian Ki.

"Tong-te, kau jangan terlalu keburu marah dulu, perkataanku ini adalah perkataan sungguh-sungguh," ujar pemuda itu sambil tertawa.

"Baik. . .baiklah, anggap saja aku sangat lihay. . ." Belum habis Tong Ling berkata, mendadak. . .

"Sauw-hiap benar-benar memiliki kepandaian silat yang amat lihay, biarlah loohu hormati secawan arak kepadamu." ujar seseorang dengan suara yang nyaring.

Mendengar suara itu, baik Pek Thian Ki maupun Tong Ling sama-sama merasa amat terperanjat dan segera menoleh kearah mana berasalnya suara tersebut. Maka tampaklah seorang kakek tua bercambang dengan keren dan bibir penuh senyuman sudah berdiri disisi kedua orang itu.

"Aaaaaach.      kiranya orang ini adalah Cu Tong Hoa!"

pikir pemuda tersebut didalam hatinya. Belum sempat ia mengambil suatu tindakan, Tong Ling sambil tersenyum sudah mengangkat cawannya ditangannya.

"Terima kasih atas perhatian loocianpwee kepada diri cayhe, hal ini benar-benar membuat aku merasa amat bangga."

Sekali teguk ia menghabiskan isi cawannya. Sedang Pek Thian Ki sendiri diam2 merasa amat terperanjat, munculnya Cu Tong Hoa ditempat itu tanpa ditanya lagi sudah jelas tertera, bahwa maksud tujuannya tidak meleset dari diri Tong Ling. Dengan demikian, rasanya ada kemungkinan besar Tong Ling yang berada dihadapannya ini bukan lain adalah Kiang To.

"Teriam kasih Tong sauw-hiap suka memberi muka kepadaku." ketika itu terdengarlah sikakek tua bercambang sudah berseru.

"Aaaaach.      loocianpwee terlalu memuji."

"Dan siapakah dia orang?" Sinar mata Cu Tong Hoa per- lahan2 beralih keatas wajah Pek Thian Ki dan sengaja mengajukan pertanyaan tersebut.

"Cayhe bernama Pek Thian Ki." sahut pemuda itu buru- buru.

"Oooou. . . .kiranya Pek sauw-hiap, Heeeei.      agaknya

saue-hiap sedang menderita sakit? "Ehmmmmm! Benar!"

"Penyakit apa? Bukan sakit rindu khan?"

Mendengar perkataan itu, Pek Thian Ki hanya tertawa pahit. "Sudah tentu bukan!"

"Kalau kau memang sedang sakit, akupun tidak paksa untuk menghormati secawan arak kepadamu." "Loocianpwee tidak perlu sungkan-sungkan."

Sampai detik ini juga Pek Thian Ki masih belum tahu jelas Cu Tong Hoa yang ada dihadapannya ini sebenarnya adalah seorang pria ataukah seorang gadis. Apalagi ia pandai sekali didalam menyaru, Rasanya sulit untuk membedakan jenis kelamin yang sebenarnya.

Pada waktu itulah. Cu Tong Hoa sudah berjalan balik keasal tempat duduknya. Setelah Cu Tong Hoa berlalu, dengan suara setengah berbisik Tong Ling lantas menoleh kearah Pek Thian Ki.

"Heeeei.     siapakah sebetulnya orang itu?"

"Bagaimana aku bisa tahu?" teriak pemuda itu kaget, hatinya berdebar keras.

"Aku lihat jejaknya amat mencurigakan, ilmu menyamar dari orang ini amat lihay sekali, Tetapi tak bakal bisa lolos dari sepasang mataku, aku tahu dia orang paling banter berusia duapuluh tahun."

Setelah bergaul beberapa waktu lamanya, terhadap diri Tong Ling sang pemuda tersebut sudah menaruh was-was, hatinya bergidik juga menghadapi dara ini, Karena bukan saja ia memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, bahkan sepasang matanya terlalu lihay untuk memecahkan penyamaran orang lain.

"Oooouw. . .sungguh?" Sengaja teriaknya dengan nada kaget.

"Sedikitpun tidak salah."

"Menurut penglihatanmu, dia orang adalah seorang pria ataukah seorang gadis?" "Kelihatannya mirip seperti seorang pria, gerak-gerik orang ini sangat mencurigakan, Kemungkinan sekali adalah orang itu!"

"Siapa?" "Kiang To."

"Apa? Kau katakan. . .dia. . .dia. . .dia adalah Kiang To?" Kata Pek Thian Ki tak dapat menahan rasa kagetnya lagi setelah mendengar perkataan tersebut, sehingga ia berseru tertahan.

"Sedikitpun tidak salah, kemungkinan besar ia adalah orang she Kiang tersebut."

Kini, urusan semakin lama berubah jadi semakin kacau, Cu Tong Hoa menaruh curiga kalau Tong Ling adalah Kiang To, sebaliknya Tong Ling menaruh curiga pula kalau Cu Tong Hoa adalah Kiang To.

Sebenarnya siapakah Kiang To itu? Pek Thian Ki betul- betul dibuat pusing tujuh keliling oleh persoalan ini!

"Heee. . heee. .heee. . .perduli dia orang benar Kiang To atau bukan, aku tetap akan menyelidiki keadaannya." seru Tong Ling sambil tertawa dingin.

Sinar mata Pek Thian Ki perlahan-lahan menyapu sekejap kearah Tong Ling, tampaklah air muka gadis tersebut pada saat ini sudah terlintas suatu kebulatan tekad serta hawa napsu membunuh yang tebal. Hal ini seketika itu juga membuat Pek Thian Ki merasakan hatinya bergidik.

Disebabkan Kiang To, sebuah ruangan pesta ulang tahun yang semula sangat meriah itu kini penuh diliputi kecemasan dan ketegangan, diam-diam pemuda she Pek ini memuji kecakapan serta kelihayan dari manusia yang bernama Kiang To itu. Kiang To yang asli apakah dapat munculkan dirinya? Sudah tentu, hal ini pasti akan terjadi, hanya sekarang tergantung kapankah waktunya ia akan muncul.

Pada waktu itu. . . .

Suara langkah yang lambat bergema memecahkan kesunyian, tampaklah seorang dara cantik berbaju merah dengan langkah yang mengiurkan sudah muncul diruangan besar itu. Melihat munculnya gadis cantik itu, Pek Thian Ki rada tertegun juga dibuatnya.

Dara cantik berbaju merah yang muncul ditengah ruangan pesta ini bukan lain adalah gadis yang ditemuinya sewaktu berada diloteng tadi, wajahnya benar2 amat cantik jelita tiada tandingan. . . Bibirnya kecil, hidungnya yang mancung, serta biji matanya yang jeli. . .benar2 amat mempesonakan.

"Tia! Entah ada urusan apa kau orang tua memanggil In- ji?" sapa gadis tersebut sambil memberi hormat kepada ayahnya Hu Toa Kan.

"In-ji!" kata Hu Toa Kan setelah tertawa tawar, "Ayahmu sudah kalah bertaruh dengan orang lain, maka dari itu harap kau suka melayani kedua orang itu minum arak."

"Perintah dari Tia, siauw-li mana boleh membangkang?

Entah kedua orang manakah yang harus aku layani?"

"Kedua orang itu." ujar Hu Toa Kan sambil menuding kearah Pek Thian Ki serta Tong Ling. "Kau pergilah layani mereka minum arak."

"Tia! Kau tidak usah risau, aku akan melaksanakan perintahmu itu."

"Ehhmmm. . kalau begitu pergilah." Dengan langkah yang menggairahkan gadis cantik itu mendekati meja perjamuan dari Pek Thian Ki serta Tong Ling, waktu itu diatas bibir Tong Ling kelihatan tersungging suatu senyuman yang amat dingin.

Gadis tersebut setibanya didepan meja perjamuan kedua orang muda itu, dengan sangat hormat lantas menjura, ujarnya; "Kalian berdua suka datang kemari mengucapkan selamat buat Tia, aku Hu Siauw In mewakili Tia mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian kalian."

"Haaa. . .haaa. . .haaa. . .Nona Hu! Bukan saja wajahmu amat cantik, kiranya pembicaraanmu pun amat manis," Goda Tong Ling sembari tertawa.

"Aaarch. . .sauw-hiap terlalu memuji."

"Ehmmm! Sungguh, sungguh kau amat cantik, Nona Hu, silahkan duduk."

"Terima kasih."

Walaupun Hu Siauw In adalah seorang gadis perawan yang jarang sekali keluar rumah, tetapi bagaimanapun juga dia adalah putri seorang jagoan Bu-lim yang tidak terlalu mengikat diri dengan adat istiadat kuno yang terlalu menjirat kebebasan seseorang.

Dengan tiada rasa jengah atau rikuh lagi, gadis tersebut sudah duduk disamping kedua orang muda tersebut.

Dalam hati Pek Thian Ki mengerti, Tong Ling memaksa agar Hu Siauw In suka munculkan dirinya pasti bukan dikarenakan untuk melayani mereka minum arak saja, Dibalik kesemuanya ini pasti ada sesuatu persoalan yang hendak dilakukan.

Karena itu pemuda tersebut selama ini tetap bungkam dalam seribu bahasa, ia ingin melihat apa yang hendak dilakukan Tong Ling terhadap gadis cantik itu. Hu Siauw In angkat poci arak untuk penuhi cawan Tong Ling serta Pek Thian Ki, kemudian memenuhi pula cawannya sendiri, setelah itu ujarnya sambil angkat cawan;

"Mari, aku hormati kalian berdua dengan secawan arak." Sekali teguk ia habiskan isi cawannya.

"Nona Hu, sungguh hebat kekuatan minum arakmu." seru Tong Ling sambil tersenyum.

"Inilah yang dinamakan mempertaruhkan nyawa malayani lelaki sejati." sahut Hu Siauw In sambil tertawa manis. "Kalian berdua silahkan menikmati arak, aku hendak mengundurkan diri."

"Eeeei. . .eeeeei. . . nona Hu! Kenapa kau harus ter- gesa2? Aku masih ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu."

Mendengar perkataan dari Tong Ling ini, kelihatan Hu Siauw In rada melengak, badannya yang sudah bangun berdiri kembali duduk dikursi."

"Entah ada urusan apa yang hendak saudara tanyakan?" "Aku ada satu persoalan penting yang hendak

kutanyakan kepadamu."

"Silahkan saudara mengutarakan secara terus terang." "Menurut berita yang aku dengar, agaknya antara nona

Hu dengan Kiang To mempunyai ikatan perkawinan?" "Sedikitpun tidak salah!"

"Pernahkah kau orang berjumpa dengan Kiang To?"

Gadis cantik itu menggeleng lalu menghela napas. "Walaupun aku dengan dirinya ada ikatan perkawinan tetapi selama ini belum pernah kujumpai dirinya barang sekalipun."

"Lalu tahukah kau bagaimana watak dari Kiang To itu?" "Tahu sedikit. Tia pernah beritahu kepadaku tentang soal

ini."

"Ehmmm. . . Dan tahukah kau akan hubungan antara Kiang To dengan ayahmu?"

"Kiang To adalah putra dari Sam Ciat Sin-cun adalah sahabat karib dari ayahku dan sejak Sam Ciat Sin-cun meninggal. . ."

"Sam Ciat Sin-cun mati karena apa?" tiba-tiba Pek Thian Ki menimbrung.

"Soal ini akupun tidak tahu." "Lalu bagaimana selanjutnya?"

"Setelah Sam Ciat Sin-cun meninggal dunia, Tia pernah melakukan pencarian terhadap putranya Kiang To, tetapi susah payah tidak mendatangkan hasil apapun, Sampai pada setahun yang lalu, mendadak Kiang To munculkan dirinya dalam dunia kangoue. . ."

"Karenanya, ayahmu lantas merasa tidak puas dengan tindak-tanduk serta kelakuan dari Kiang To?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Bagaimana menurut perasaanmu terhadap tindak tanduk serta kelakuan Kiang To ini?. . ."

Biji matanya yang jeli itu mendadak memperlihatkan perasaan sedih, ia menghela napas perlahan. "Heeeei. . . aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Tapi aku percaya bahwa ia tak akan sejahat seperti apa yang disiarkan oleh orang-orang Bu-lim." "Aku dengar orang berkata bahwa ayahmu hendak membatalkan ikatan perkawinanmu dengan Kiang To. Bagaimana menurut pendapatmu menghadapi persoalan ini?"

"Aku tidak setuju, perkawinan sudah ditetapkan dan selama hidup tak akan kusesali."

Beberapa patah perkataan ini langsung menimbulkan perasaan kagum didasar hati Pek Thian Ki serta Tong Ling, Tidak malulah dara berbaju merah ini disebut seorang gadis suci yang pegang teguh janji."

"Bilamana ayahmu bersikeras hendak batalkan ikatan perkawinan? Apa yang hendak kau lakukan?" tanya Tong Ling lebih lanjut sambil tertawa pahit.

"Aku bisa menunggu dirinya. . ." "Menunggu Kiang To?"

"Benar aku bisa menunggu dirinya dan selama hidup tak akan kawin dengan orang lain."

"Bila aku adalah Kiang To, hatiku akan ikut terharu oleh pernyataan nona yang begitu mempesonakan.

Hu Siauw In hanya bisa tertaw pahit, setelah bungkam beberapa saat akhirnya kembali ia berkata; "Entah masih ada urusan apalagi yang hendak kau tanyakan?"

"Sudah tak ada lagi."

"Kalau begitu aku mohon diri dulu."

"Nona Hu. . . . silahkan, terima kasih.     terima kasih. .

."

Perlahan-lahan Hu Siauw In bangun berdiri, tetapi selagi

hendak melangkah pergi, mendadak. . . seperti ia sudah teringat akan sesuatu, Sambil putar badan tanyanya; "Aaarch. . .! Hampir-hampir saja aku sudah lupa menanyakan nama besar dari kalian berdua."

"Aku bernama Tong Ling dan ia bernama Pek Thian Ki."

Hu Siauw In mengangguk perlahan iapun putar badan dan berlalu.

Menanti gadis tersebut sudah berlalu, sinar mata Tong Ling dialihkan keatas wajah Pek Thian Ki, Tampaklah diatas wajahnya yang kurus kering penuh diliputi kemurungan, Alisnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu persoalan:

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Tong Ling perlahan.

"Aaach. . . tidak mengapa. . ." Pek thian Ki tertawa. "Peristiwa ini benar-benar meruoakan suatu peristiwa yang sangat membingungkan, sebenarnya siapakah Kiang To itu?"

"Aku pikir sebentar lagi ia pasti dapat munculkan dirinya disini."

"Bagaimanapun pada saat ini aku tak ada urusan lain" diam-diam pikir Pek thian Ki dalam hatinya. "Lebih baik aku tetap tinggal disini untuk melihat perubahan selanjutnya dalam peristiwa ini."

Perduli apapun yang akan terjadi, agaknya peristiwa ini ada sangkut pautnya dengan dia pribadi, karena itu ia harus membuat jelas persoalan ini.

"Pek Thian Ki kau duduklah disini sebentar, aku hendak keluar sebentar." seru Tong Ling mendadak sambil bangun berdiri. "Apa yang hendak kau lakukan?" Pemuda itu rada melengak.

Jelas sekali menunjukkan urusan sedikit diluar dugaan sewaktu melihat Tong Ling hendak berlalu dan hal ini segera menyeret pikirannya untuk menduga siapakah gadis itu. Sudah tentu Tong Ling sendiripun mengerti maksud dari Pek Thian Ki tersebut.

"Bukankah aku sudah berkata bahwa aku ingin keluar sebentar." serunya cepat.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Dengan wajah riku Tong Ling menunduk, lalu sambil menjatuhkan diri kedalam peluknya Pek Thian Ki bisiknya lirih.

"Urusan dari kami kaum gadis amat banyak sekali, hanya soal-soal itu tak dapat aku ucapkan keluar."

Akhirnya Pek thian Ki dapat dibuat mengerti, dengan perasaan apa boleh buat, ia mengangguk.

"Sewaktu aku pergi nanti, perhatikanlah kakek bercambang yang amat misterius itu dan amati juga semua orang yang patut dicurigai." ujar Tong Ling kembali.

Demikianlah Tong Ling, sigadis misterius ini lalu berlalu dari dalam ruangan. Dengan berlalunya Tong Ling secara mendadak ini, sudah tentu memancing perhatian banyak orang, sinar mata semua hadirin yang ada didalam ruangan bersama-sama dialihkan keatas tubuhnya. Sebaliknya Tong Ling dengan tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu, tetap melanjutkan perjalanannya keluar ruangan.

Sinar mata Pek Thian Ki perlahan-lahan menyapu sekejap keseluruh ruangan, mendadak hatinya merasa terperanjat karena didalam sekejap mata itulah Cu Tong Hoa yang menyaru sebagai seorang kakek tua bercambang pun sudah lenyap tak berbekas.

Pemuda she Pek ini merasakan hatinya bergidik, ia mulai menduga diantara kedua orang itu pasti salah satu adalah Kiang To, Kalau tidak tak mungkin dalam waktu yang bersamaan kedua orang itu bersama-sama melenyapkan diri dari pandangan.

Agaknya suatu pertarungan yang mengerikan sekali bakal berlangsung, suasana terasa berubah semakin tegang, Sekarang, Pek Thian Ki dapat menarik kesimpulan, bahwa diantara Cu Tong Hoa serta Tong Ling, salah satu diantaranya kemungkinan besar adalah Kiang To simanusia misterius itu.

Mendadak. . . Suara bentakan nyaring menyadarkan dirinya dari lamunan, terdengar Hu Toa Kan dengan lantang sedang berseru:

"Kawan-kawan sekalian, silahkan meneguk secawan arak!"

Sinar mata semua orang tak terasa pada dialihkan kearah Hu Toa Kan, suasana ditengah ruangan jadi sunyi senyap, kembali tak kedengaran sedikit suarapun.

"Kawan-kawan sekalian!" ujar Hu Toa Kan kembali. "Menggunakan kesempatan didalam merayakan ulang tahun Loolap ini, ada suatu urusan hendak aku sampaikan kepada saudara-saudara sekalian."

Suasana didalam ruangan tersebut semakin sunyi lagi, sampai jarum yang terjatuh keatas lantaipun pasti kedengaran.

"Tempo dulu, loolap dengan Sam Ciat Sin-cun sebagai jagoan yang paling lihay, waktu itu adalah sepasang sahabat karib, Kiang Lang ada menaruh sedikit budi pertolongan kepaad diri Loolap, rasanya didalam peristiwa ini kawan2 sudah pernah mengetahuinya bukan. . ." ujar siorang tua itu kembali.

"Sedikitpun tidak salah, urusan ini pernah kami dengar." sahut seseorang dengan lantang.

"Waktu itu, aku sudah menjodohkan putriku kepada Kiang To putra dari Kiang Lang." sambung Hu Toa Kan sambil tertawa. "Hanya saja setelah Kiang To munculkan dirinya didalam dunia kangouw ternyata sudah berubah jadi seorang bajingan iblis cabul yang ganas dan iblis pembunuh manusia berdarah dingin, maka dari itu setelah aku berpikir keras tiga kali, Loolap merasa bahwa kebahagiaan siauw-li tak dapat dihancurkan ditangan Kiang To. . ."

"Cara berpikir dari Hu Cung-cu sedikitpun tidak salah. .

." teriak para hadirin dengan gaduh.

"Tidak salah, putrimu tak dapat dijodohkan dengan iblis terkutuk itu. . ."

"Tindakan dari Hu Cung-cu sangat tepat. . ."

Kiranya para hadirin yang ada didalam ruangan tersebut rata-rata pada memuji tindakan dari Hu Toa Kan ini.

"Oleh karena itu." sambung Hu Toa Kan sambil ulapkan tangannya. "Dihadapan saudara2 sekalian aku orang she Hu hendak mengumumkan, bahwa sejak hari ini ikatan perkawinan antara Siauw-li Hu Siauw In dengan Kiang To dengan resmi diputuskan. . ."

Baru saja Hu Toa Kan berbicara sampai disitu, mendadak. . .

"Tunggu sebentar!" Serentetan suara bentakan yang amat dingin bergema memenuhi angkasa. Suara bentakan tersebut amat dingin, kaku dan penuh mengandung hawa napsu membunuh, Sehingga rata2 semua hadirin dibuat bergidik oleh kejadian tersebut.

Sewaktu semua orang dongakkan kepalanya, tampaklah didepan pintu ruangan itu secara mendadak sudah muncul seorang manusia berkurudung. Sekali lagi para jago dibuat bergidik melihat kejadian itu.

Sinar mata Pek Thian Ki berkilat, hatinya berdebar keras, Sedang suasana dalam ruangan itu, berubah jadi sunyi senyap bagaikan ditengah kuburan saja.

Tak seorangpun diantara para jago yang meneriakkan siapakah orang itu, tapi dalam hati mereka sudah pasti merasa sangat jelas kalau orang ini tak usah diragukan pastilah sang iblis yang paling menakutkan pada saat ini, KIang To adanya!

Suasana dalam ruangan begitu sunyi, hening, menyeramkan dan amat mengerikan. . .

Dengan langkah yang lebar dan menimbulkan suara detakan nyaring, orang berkerudung itu selangkah demi selangkah berjalan masuk kedalam ruangan, setiaplangkah kakinya meninggalkan suara yang amat menyeramkan. . .

Sudah tentu Hu Toa Kan sendiripun tahu kalau siapakah orang tersebut. Sambil tertawa dingin tiada hentinya, ia membentak keras:

"Siapa?"

Orang berkerudung itu sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya, ia tetap melanjutkan langkahnya setindak demi setindak mendekati siorang tua itu.

"Heee. . .heee. . .heee apakah kau orang ingin tahu siapakah diriku?" serunya kaku. "Sedikitpun tidak salah."

"Buat apa kau tanyakan lagi? Aku pikir kawan2 yang ada dikalangan ini rata-rata sudah pada mengerti semua, siapakah diriku,"

"Aku minta kau yang jelaskan sendiri siapakah dirimu!" "Kiang To!"

"Apa?" "Haaa. . .!"

"Kiang To. . ."

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh ruangan mendadak meledak suara jeritan kaget yang gegap gempita, air muka setiap hadirin tak terasa sudah berubah terlintas suatu perasaan terperanjat dan ketakutan. Pek Thian Ki sendiripun dibuat terperanjat oleh kejadian ini, sinar matanya tanpa berkedip segera dialihkan keatas tubuh simanusia misterius Kiang To.

"Heee. . . heee. . . heee. . . kiranya kaulah yang bernama Kiang To, sungguh kebetulan sekali kedatanganmu. . ." Jengek Hu Toa Kan sambil tertawa dingin.

"Benar, aku memang ada maksud untuk munculkan diri pada saat seperti ini."

"Kiang To! Aku sudah pergi kemana-mana untuk mencari jejakmu, ternyata kau sembunyi tidak mau munculkan diri. . ."

"Hmmm! Aku tidak ingin menemui manusia semacam kau, karena itu aku menghindari setiap perjumpaan dengan dirimu, kau sudahmengerti?"

"Perduli kau ingin menghindari aku atau tidak, aku tidak mau ambil perduli, Bagaimanapun juga akhirnya pada saat ini kita berjumpa satu sama lainnya, Kiang To, antara ayahmu dengan diriku pernah mempunyai suatu ikatan persahabatan yang sangat erat."

"Soal ini aku tahu."

Sewaktu Kiang To sedang menyahut tadi, ia sudah meloncat kehadapan Hu Toa Kan kurang lebih satu kaki jauhnya, kemudian beru berhenti, kejadian ini sudah tentu membuat suasana didalam ruangan tersebut berubah semakin tegang dan penuh diliputi hawa membunuh.

"Kiang To! Hatiku benar2 terluka terhadap semua tindak tandukmu setelah kau orang munculkan diri didalam dunia persilatan." seru Hu Toa Kan kembali dengan nada yang amat dingin.

"Soal ini, aku sih tak akan ambil perduli."

"Karena perbuatan dan tindak-tandukmu sangat kurang ajar, cabul dan ganas, maka aku putuskan mulai detik ini hubungan antara puteriku dengan dirimu putus sampai disini saja. . ."

"Heee. . .heee. . .heeee. . . tidak bisa jadi. ' teriak Kiang To dingin.

"Tidak bisa jadi?"

"Benar, tidak bisa jadi!" bentak Kiang To lagi dengan suara yan kasar.

Nada suara tersebut penuh diliputi hawa napsu membunuh, hal ini membuat setiap orang merasakan bulu kuduknya pada berdiri.

"Sungguh aneh. . .!" Tak terasa lagi Pek thian Ki berseru tertahan setelah melihat kejadian itu.

Kiranya ia dapat berseru aneh ini, karena ia mengerti kalau Kiang To yang ada dihadapannya pada saat ini bukanlah Kiang To yang asli, lalu apa sangkut pautnya dengan dibatalkannya perkawinannya ini?

Tetapi Kiang To palsu ini ternyata tidak menerima keputusan dibatalkannya perkawinan itu dengan senang hati, jadi jelas dibalik kesemuanya ini pasti masih tersimpan alasan2 yang lain. Bukankah kejadian ini sangat membingungkan hatinya?

"Hmmm! Perkataan yang aku katakan selamanya berat bagaikan gunung dan tak akan berubah kembali," teriak Hu Toa Kan tegas.

"Heee. . . heeee. . . .heeee. . . Hu Toa Kan! Aku mau bertanya kepadamu, Ide untuk membatalkan perkawinan ini datangnya dari dirimu sendiri ataukah dari putrimu?"

"Keputusanku sendiri." "Apakah puterimu setuju!"

"Aku putuskan sendiri persoalan ini."

"Hu Toa Kan!" Teriak Kiang To dengan keras. "Tidak salah puterimu adalah seorang gadis yang berwajah amat cantik, tetapi aku Kiang To pun bukanlah manusia yang belum pernah menemui gadis cantik, Jikalau putrimu suka berbicara sendiri bahwa secara tulus ia ingin putuskan hubungan perkawinan ini, maka cayhepun dengan senang hati akan menerima keputusan tersebut."

"Bangsat." bukankah tadi sudah kukatakan bahwa urusan ini dapat aku putuskan sendiri."

"Jadi dengan demikian, kau tidak ingin mengundang putrimu untuk keluar dan menjawab sendiri keputusan ini?" jengek Kiang To dengan ketus.

"Tak ada perlunya. . ." "Kurang ajar." potong jagoan she Kiang itu dengan suara gemboran yang keras, "Kau harus undang dia keluar, karena yang akan kawin dengan aku bukan dirimu, tapi dia, putrimu."

Suara bentakan ini penuh mengandung napsu membunuh, hal ini membuat para jago yang ada didalam ruangan jadi merindik dan bergidik, keganasan serta kebuasan dari Kiang To ini benar-benar bukan kabar bohong belaka.

"Aku sudah bilang, tidak perlu!" potong Hu Toa Kan tetap dingin.

Bab 20

Mendadak Kiang To memperdengarkan suara tawanya yang amat menyeramkan, suara tertawatersebut bukan saja amat sombong, seram bahkan mengandung hawa napsu membunuh yang amat tebal. Suara tertawa sangat menyeramkan ini dapat membuat hati orang ketakutan sehingga ter-kencing2.

"Hu Toa Kan, aku ingin bertanya kepadamu," kembali ia membentak keras sambil memperdengarkan suara tertawa sinisnya, "Mengapa Kiang Lang dapat disebut orang sebagai Sam Ciat Sin-cun?"

"Karena ia ternama dengan 'Perempuan, arak serta hartanya!"

"Sedikitpun tidak salah, lalu siapa pula yang mendirikan Istana Harta, Istana Perempuan serta Istana Arak itu?"

"Sam Ciat Sin-cun."

Beberapa patah perkataan itu segera membuat Pek Thian Ki jadi amat terperanjat karena persoalan ini sedikit banyak ada diluar dugaan pemuad tersebut, Ia sama sekali tidak menyangka kalau Istana Harta Istana Arak serta Istana Perempuan yang merupakan perguruan aneh didalam Bu- lim pada saat ini ternyata didirikan oleh Sam Ciat Sin Cun.

Bagaimanakah watak dari Sam Ciat Sin-cun itu? Bagaimana hasil yang sudah ia lakukan? Selagi Pek Thian Ki sedang berpikir keras, Kiang To sudah berkata kembali dengan suara yang amat dingin;

"Hu Toa Kan, kalau memang Istana Harta, Istana Perempuan serat Istana Arak didirikan oleh Sam Ciat Sin- cun, lalu aku mau bertanya lagi kepadamu secara bagaimana Sam Ciat Sin-cun bisa menemui ajalnya?"

"Aku tidak tahu."

"Apa? Kau tidak tahu. . ."

Nada ucapan dari Kiang To in penuh berisikan hawa napsu membunuh yang amat menyeramkan, agaknya jawaban dari Hu Toa Kan ini sudah menggusarkan hatinya.

"Tidak salah!" sahut Hu Toa Kan dingin. "Aku tidak mengetahui apa sebabnya ia mati."

"Bagaimana dengan moy-moayamu?" "Apa. .?"

"Hu Cung-cu masih mempunyai seorang moy-moy bukan. . .?"

"Kenapa kami belum pernah dengar orang mengatakan soal ini?. . "

". . . ."

". . . ."

Para jago Bu-lim yang ada didalam ruangan tersebut rata2 dibuat terperanjat oleh perkataan dari Kiang To ini. Mereka benar-benar tidak nyana kalu Hu Toa Kan ternyata masih mempunyai seorang moy-moy, bahkan berita ini baru untuk pertama kali ini mereka dengar.

"Hmmm! Aku sama sekali tidak punya adik perempuan.

. ."

"Apa?. . ." bentak Kiang To semakin gusar. "Kau tidak punya adik perempuan?"

"Sedikitpun Tidak salah!" "Lalu siapakah Hu Bei Sin?"

"Selama hidup aku orang she Hu baru untuk pertama kali ini mendengar nama orang itu."

"Hu Toa Kan! Perbuatanmu sungguh keterlaluan, kau tak akan lolos dari tanggung jawab atas kematian dari Sam Ciat Sin-cun, sedang adik perempuanmu kebahagiaannya pun hancur ditanganmu, sekarang kaupun ingin menghancurkan hidup putrimu, Hu Toa Kan, kau betul- betul seorang manusia yang patut dibunuh mati. ." Tubuhnya bagaikan sambaran kilat segera mencelat kedepan melakukan serangan.

Agaknya pada siang ini Kiang To sudah dibuat teramat gusar, didalam perputaran badannya itulah laksana elang, ia telah menyambar tubuh Hu Toa Kan.

Serangan yang dilancarkan Jiang To ini benar2 dahsyat sekali, tetapi se-konyong2. . . . Bayangan manusia berkelebat lewat, sesosok bayangan manusia tahu2 sudah menerjang pula kearah Kiang To sesaat ia mencelat kedepan.

Muncul bayangan manusia secara mendadak ini sama sekali tidak membuat Kiang To jadi jeri, ia malah tertawa dingin dan bertarung jadi satu dengan pihak lawannya. Beberapa saat kemudian diiringi suara bentrokan keras kedua sosok bayangan manusia itu berpencar satu dengan lainnya.

Ketika semua orang mendongakkan kepalanya, tampaklah bayangan manusia yang menubruk kearah Kiang To itu mendadak berkelebat kembali kearah luar jendela dan didalam sekejab mata lenyap dari pandangan.

Kecepatan gerak orang itu benar-benar luar biasa sekali, sehingga membuat semua orang merasa rada tertegun. Terdengar Kiang To tertawa dingin tiada hentinya, entah sejak kapan diatas genggamannya kini sudah bertambah dengan secarik kertas.

Apakah isi dari kertas tersebut tak seorangpun yang tahu, tapi yang jelas tulisan dari bayangan manusia tadi.

Tiba-tiba. . . .

"Hu Toa Kan! Biarlah kali ini aku ampuni satu kali jiwamu." terdengar Kiang To berseru dengan suara yang amat dingin. "Tetapi kau jangan keburu bergirang hati dulu, aku hanya satu kali ini saja mengampuni jiwamu, lain kali aku tak akan melepaskan dirimu lagi, Dan satu hal harus kau ingat tersu, bahwa putrimu masih tetap merupakan istriku. "

Tidak menanti jawaban lagi, ia sudah putar badan lantas berlalu dari dalam ruangan tersebut. Mendadak. . .

Bayangan manusia berkelebat lewat, sesosok bayangan manusia mendadak sudah menghadang dihadapan Kiang To dengan sikap yang gagah.

Ketika semua mata memperhatikan orang itu lebih cermat lagi, maka tampaklah dia bukan lain adalah sipemuda kurus tinggal tulang Bay-kut, Pek Thian Ki adanya. Kontan saja Kiang To jadi melengak dibuatnya.

"Heee. . .heee. . .heeee. . . kawan! Kau orangkah yang bernama Kiang To?. . ." tegur Pek thian Ki sambil tertawa.

Pada awalnya Kiang To rada melengak, tapi dengan cepat ia sudah tertawa. "Pertanyaan saudara ini bukankah sama saja sudah pura2 bertanya?"

"Jadi kalau demikian adanya kita pernah berjumpa, bukan?"

"Pernah berjumpa?"

Pek Yhian Ki tersenyum, senyuman tersebut begitu halus dan begitu mempesonakan, ia mengangguk.

"Kemungkinan sekali kita memang pernah berjumpa, tentunya saudara bernam Pek thian Ki, bukan?" jawab Kiang To dingin.

"Benar!"

"Kawan Pek, kau menghadang perjalananku, entah ada urusan apa yang hendak kau sampaikan kepadaku?"

"Aku ingin melihat wajahmu yang sebenarnya. ."

Kata terakhir begitu meloncat keluar dari ujung bibirnya, Pek thian Ki sudah menggerakkan tangan kanannya, laksana sambaran kilat mencengkeram kerudung hitam diatas wajah Kiang To.

Perlu diketahui, tenaga dalam yang dimiliki Pek thian Ki pada saat ini sudah pulih empat bagian, sudah tentu saja serangan cengkeraman ini luar biasa cepatnya. Didalam keadaan tidak bersiap sedia ini, hampir2 saja membuat kerudung hitam diatas wajah Kiang To kena tersambar robek. Tetapi, bagaimanapun juga, ia adalah seorang jagoan yang memiliki kepandaian ilmu silat amat tinggi, sewaktu Pek Thian Ki melancarkan serangan tadi, tubuhnya sudah berkelit lantas menangkis, setelah itu buru-buru meloncat kebelakang.

"Kau mencari mati?" bentaknya gusar.

Pek thian Ki tetap tersenyum dikulum. "Saudara Kiang, ternyata kepandaian silatmu bukanlah nama kosong belaka.

. ." pujinya ringan.

Senyuman yang menghiasi bibir Pek thian Ki ini bukan saja berada diluar dugaan semua orang, sekalipun Kiang To sendiripun dibuat melengak oleh kejadian ini.

Untuk beberapa saat lamanya Kiang To tidak berhasil memahami apa yang sedang dilakukan oleh Pek Thian Ki, karena senyuman itu benar-benar sangat aneh dan misterius, sehingga sukar untuk diketahui artinya.

Sudah tentu Pek thian Ki sendiripun paham, dengan tenaga dalam yang dimiliki pada saat ini tidak mungkin dia orang bisa berhasil menangkan pihak lawan, apalagi tenaga murninya baru pulih tiga, empat bagian saja.

"Apa maksud perkataanmu itu?" tegur Kiang To dengan nada yang amat dingin.

"Sudah lama cayhe menaruh rasa kagum terhadap kepandaian silat yang kau miliki, dan kini aku ada maksud untuk menjajal apakah berita yang aku dengar itu benar2 ataukah cuma berita angin belaka. ."

"Kurang ajar! Nyalimu benar-benar amat besar." "Akupun percaya kalau kau tak bakal dapat sampai

berhasil mencabut nyawaku. . ." "Hmmm! Memandang diatas nyalimu ada diluar dugaan untuk kali ini, biarlah aku ampuni nyawamu, tapi lain kali. .

.heee. . .heee. . . akan kusuruh kau orang merasakan kelihayanku."

Habis berkata tubuhnya berkelebat dan melayang keluar dari pintu depan. Pek Thian Ki yang melihat orang itu berkelebat leawt, hatinya mendadak bergerak, iapun ikut melayang dari ruangan.

Pada waktu itu. . . Hari sudah mendekati petang, tubuh Pek thian Ki yang mencelat keluar dari pintu depan dengan tidak mengeluarkan sedikit suarapun melakukan penguntitan dibelakang punggung Kiang- To.

Didalam anggapan Pek thian Ki, Kiang To menyelubungi wajahnya dengan kerudung ia pasti akan melepaskan juga kain kerudung itu, maka sampai pada saatnya, bukankah dia orang dengan sangat mudah dapat melihat jelas bagaimanakah wajahnya yang asli? Bagaikan terbang, Pek Thian Ki melakukan pengejaran kedepan.

Tiba-tiba. . .

Suara bentakan keras bergema datang, tampaklah dihadapannya terlihat dua sosok bayangan manusia sedang berkelebat, lalu saling berpisah dan mundur kearah belakang.

Melihat kejadian itu tak urung Pek thian Ki merasa hatinya amat terperanjat. Didalam sekejap mata itu, ia sudah tiba dikalangan pula.

Sewaktu ia memperhatikan suasana ditengah kalangan lebih cermat lagi, seketika itu juga Pek thian Ki jadi melongo, matanya mendelong dan badannya mematung. Kiranya kedua orang yang sedang berdiri saling ber- hadap2an itu bukan lain adalah Cu Tong Hoa serta Tong Ling.

Oooouw Thian! Apakah yang sudah terjadi?

"Kiang To! Akhirnya aku berhasil menjumpai dirimu." seru Tong Ling dengan suara yang amat dingin.

Cu Tong Hoa pun tertawa dingin tiada hentinya. "Akupun tidak menyangka kalau Kiang To adalah saudara." sambungnya tidak mau kalah.

"Kiang To. . .! Pintar benar kau berlagak pilon." "Bangsat! Kaulah yang pandai berlagak pilon."

Untuk beberapa saat lamanya Pek thian Ki jadi melengak dibuatnya ditengah kalangan, ia tak tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi disana. Maka buru-buru badannya meloncat kedepan melerai.

"Eeeei. . .eeei. . . kenapa kalian berdua? Apa yang sudah terjadi?"

"Dia adalah Kiang To!"

"Omong kosong!" bantah Cu Tong Hoa dingin. "Dialah bangsat Kiang To yang menjadi incaran semua jago-jago Bu-lim dikolon langit, Sebelum terjadinya peristiwa ini aku sudah menanti dirinya diluar dan sekarang aku berhasil mencegat jalan perginya. . ."

"Pek Thian Ki! Kau jangan suka mempercayai kata- katanya yang ngaco belo, dialah si Kiang To yang asli, Karena sejak tadi aku sudah menunggu ditempat luaran untuk menghadang jalan perginya, Sewaktu dia meluncur keluar, maka aku segera malakukan pengejaran kemari dan akhirnya berjumpa dengan dirinya." Pek thian Ki jadi me-longo2, ia berdiri melengak tak bisa berbicara. Sepasang alisnya berkerut, agaknya sedang memikirkan sesuatu, seperti pula sedang mengambil suatu kesimpulan.

Sedikitpun tidak salah! Ia memang sedang berpikir dan mengambil suatu kesimpulan, Kesimpulan dari suatu peristiwa yang maha penting.

Tadi, pada saat yang bersamaan mereka berdua keluar berbareng. . . dan setelah mereka berdua berlalu, Kiang To simanusia misterius yang menyeramkan itu segera munculkan dirinya. Jadi secara kasarnya saja diantara kedua orang itu pasti salah satu tentu hasil penyaruan dari Kiang To.

Tetapi siapakah diantara mereka berdua yang jauh lebih mencurigakan? Kepandaian silat yang dimiliki Cu Tong Hoa tidaklemah, ilmu menyamarpun merajai Bu-lim, Jika dia adalah Kiang To, maka ada kemungkinannya sangat besar.

Tetapi ia pernah mengakui bahwa dirinya adalah majikan Istana Harta, mana mungkin kalau seorang majikan Istana Harta adalah Kiang To? Apalagi kedelapan lembar jiwa anggota Istana Hartapun mati ditangan Kiang To, jadi tidak mungkin hal ini bisa terjadi.

Masih ada satu hal lagi yang menguatkan, menurut keadaan pada waktu itu sewaktu Kiang To turun tangan keji, Cu Tong Hoa pun sedang dikerubuti oleh ber-puluh2 orang jagoan Bu-lim didalam Istana Harta. . . . Jadi Cu Tong Hoa tetap ada kemungkinan, hanya kemungkinan tidak besar.

Sebaliknya Tong Ling pun mempunyai kemungkinan yang besar. Umpama saja kepandaian silatnya, nada ucapannya dan tingkah laku yang sangat aneh kemungkinan besar dia adalah Kiang To. Tetapi

menurut berita yang tersiar, ia pernah memperkosa kaum gadis? Lalu bagaimana penjelasannya. . .

Sewaktu Pek Thian Ki sedang termenung berpikir keras itulah. Tong Ling kembali sudah membentak keras; "Bangsat kau tidak mau mengaku? Baik akan kupaksa kau orang untuk mengaku sendiri."

Tubuhnya langsung mencelat ketengah udara dan menubruk tubuh Cu Tong Hoa, tangan kanannya diayunkan mengirim satu pukulan dahsyat. Serangan yang dilancarkan Tong Ling ini benar-benar amat cepat dan mengerikan.

Ter-buru2 Cu Tong Hoa berkelit kesamping meloloskan diri dari datangnya pukulan tersebut, kemudian tubuhnya menerjang maju kedepan balas melancarkan satu pukulan.

Bayangan manusia saling menyambar, diiringi dengan bentrokan2 keras, masing-masing pihak mundur beberapa langkah kebelakang.

Didalam bentrokan yang hanya menghabiskan waktu sedetik ini kedua orang tersebut sama-sama sudah melancarkan tiga jurus serangan, jika dibicarakan dari kecepatan gerak serta kemantapan jurus-jurus serangan maka Cu Tong Hoa rasanya masih bukan tandingan dari Tong Ling.

Heeee. . .heee. . .heee. . . kawan, sungguh hebat kepandaian silatmu. . . ." Jengek Cu Tong Hoa sambil tertawa dingin.

"Hmmmm! Kaupun tidak jelek.   "

"Kawan terlalu memuji."

"Tutup bacotmu! Nih, rasakan lagi sutu pukulan." Telapak tangan kanannya kembali menyambar lewat menghajar jalan darah 'Ciang-thay' diaras tubuh Cu Tong Hoa.

Kebutan dari Tong Ling ini dalam satu gerakan sudah menggunakan tiga buah perubahan yang berbeda, kecepatan serta kedahsyatannya pun luar biasa sekali.

Dengan sebat Cu Tong oa menangkis serangan tersebut dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya balas mengirim satu serangan totokan pula.

Jurus-jurus serangan yang dilancarkan kedua orang itu sama2 dilakukan dengan amat cepat, hanya didalam sekejab mata, lima jurus sudah berlalu.

Cu Tong Hoa yang rada kalah satu tingkat didalam perubahan jurus serangan ini, ditengah gencetan Tong Ling yang amat gencar ia kena dipaksa mundur sejauh tiga empat langkah jauhnya.

"Mendadak. . .

"Tahan!" bentak Pek Thian ki keras.

Begitu suara bentakan dari pemuda tersebut bergema memenuhi angkasa, dua orang itupun sama-sama menghentikan serangannya dan mundur kebelakang.

Mengambil kesempatan itu, Pek Thian Ki menerjang maju kedepan, tegurnya sembari tertawa. "Heeei. apa

sebabnya kalian berdua saling bergebrak?" "Karena Kiang To!" sahut Cu Tong Hoa dingin. "Kau anggap saudara ini adalah Kiang To?" "Benar!"

Pemuda itu lantas menoleh kearah Tong Ling dan tanyanya pula: "Dan kau anggap dia Kiang To?"

"Sedikitpun tidak salah!" "Aku rasa agaknya sama sekali tiada berharga apabila kalian berdua saling bergebrak hanya dikarenakan masing- masing pihak menaruh curiga kalau pihak lawannya adalah Kiang To, Sekarang perduli siapakah Kiang To diantara kalian berdua, bukankah urusan ini tiada sangkut pautnya dengan diri kita? Buat apa kita orang menjadi kesusahan dan kemurungan hanya disebabkan persoalan ini?"

"Hmm! Aku mencari dirinya karena ingin menuntut balas!" seru Cu Tong Hoa dingin.

Bila perkataan dari Cu Tong Hoa adalah perkataan yang benar maka dendam yang hendak dibalas tentunya adalah dendam kedelapan lembar nyawa anggota Istana Harta yang menemui ajalnya ditangan Kiang To.

"Tidak! Akupun sedang mencari dirinya." sambung Tong Ling pula.

"Jadi dengan demikian kalian berdua sama-sama hendak mencari Kiang To sampai ketemu?"

"Benar!" jawab kedua orang itu hampir berbareng.

Pek Thian Ki tak dapat menahan rasa gelinya lagi, terpaksa ia tertawa ter-bahak2, "Haaa. . .haaa. . . haaa. . . padahal aku sendiripun punya perasaan bahwa satu diantara kalian berdua pasti adalah Kiang To. . ."

"Siapa?"

Ditengah suara teriakan tersebut sinar mata mereka berdua sama-sama dialihkan keatas wajah Pek thian Ki, Agaknya didalam anggapan mereka pemuda itu sebenarnya sudah tahu siapakah Kiang To sebenarnya diantara mereka berdua.

Sekali lagi Pek Thian Ki tertawa. "Soal ini sih harus menunggu pembuktian dulu." "Kau hendak membuktikan dengan cara apa?"

"Sebelum aku memberi jawaban, akan kutanya dulu kepada kalian berdua, sebenarnya Kiang To adalah seorang lelaki ataukah seorang gadis?" kata Pek Thian Ki setelah berpikir sebentar.

"Sudah tentu seorang laki!" jawab Cu Tong Hoa dengan cepat.

"Hmmm! Bagaimana kau begitu merasa yakin?" sela Tong Ling dingin.

"Sudah tentu! Karena ia telah memperkosa dan menodai beberapa gadis, juga buat apa memborong nona It Peng Hong dari Istana Perempuan, jika bukan seorang lelaki buat apa ia lakukan kesemuanya ini?"

"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, tetapi gadis-gadis yang diperkosa itu hanya pakaiannya saja yang dicopoti dan sama sekali tak ada pemerkosaan secara sungguh2, Sedang mengenai nona It Peng Hong yang diborong dari Istana Perempuan, apakah dia tak dapat menyaru sebagai seorang pria untuk memborong dirinya?"

Mendengar bantahan tersebut, Cu Tong Hoa jadi bungkam dalam seribu bahasa. Pek thian Ki sendiripun dibuat tertegun.

Perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, gadis2 tersebut hanya pakaiannya saja yang dicopoti dan sama sekali tak dapat dibuktikan kalau mereka benar-benar sudah diperkosa atau belum, Apalagi setiap gadispun bisa menyaru sebagai pria untuk memborong nona It Peng Hong tersebut dari Istana Perempuan.

Akhirnya Cu Tong Hoa tertawa. "Sedikitpun tidak salah!" katanya pula lambat-lambat. "Kiang To memang ada kemungkinan juga seorang gadis yang menyaru sebagai pria, tapi aku sekarang ingin bertanya satu persoalan dari kalian berdua, Setiap kali Kiang To selesai melakukan kejahatan tentu akan meninggalkan sebuah panji kecil bukan?. . ."

"Sedikitpun tidak salah!"

"Jadi dengan begitu panji kecil tersebut merupakan barang bawaan yang selalu ada disakunya bukan?"

"Benar!"

"Kalau begitu. . ." sengaja Pek thian Ki menghentikan pertanyaannya ditengah jalan, lama. lama sekali ia baru

menyambung kembali, katanya lebih lanjut: "Ada satu cara yang bisa kita ketahui siapakah diantara kalian berdua sebenarnya adalah Kiang To?"

"Cara apa?"

"Geledah seluruh badan setiap orang!" "Apa?"

Bab 21

Kedua orang itu sama2 berteriak tertahan, agaknya perkataan yang diucapkan oleh Pek Thian Ki ini ada diluar dugaan mereka.

"Kecuali cara ini rasanya tak ada cara lain lagi yang bisa ditempuh. ." sambung pemuda itu serius.

"Tidak bisa jadi!" seru Tong Ling dengan cepat. "Hmmm! Siapa yang tidak setuju dialah Kiang To

sibangsat tersebut. ." Sambung Cu Tong Hoa cepat. Tong Ling jadi tertegun, dia adalah seorang gadis perawan yang masih suci. Bagaimana mungkin boleh membiarkan seorang lelaki asing meraba dan menggerayangi seluruh badannya?

Tapi, jika ia tidak setuju bukankah hal ini sama saja kalau ia sudah mengaku kalau dirinya adalah Kiang To? Dengan hati berat, akhirnya ia menyapu sekejap kedua orang itu.

"Siapa yang akan turun tangan menggeledah?" bentaknya keras.

"Sudah tentu suruh Pek Sauw-hiap yang turun tangan menggeledah, karena rasanya dia seoranglah yang paling adil."

"Jadi dengan demikian kaupun sudah setuju untuk digeledah badan?. . ."

"Sedikitpun tidak salah."

"Baiklah! Kalau memang rasanya cuma cara ini saja yang bisa dilaksanakan, aku orang she Tong pun akan mengiringi dengan senang hati."

"Hmmm! Pek Sauw-hiap, kau geledah dulu badannya!" perintah Cu Tong Hoa kemudian dengan dingin.

"Harus menggeledah siapa dulu?" seru pemuda itu agak ragu-ragu.

"Geledah dulu badannya."

"Eeeei. . .kenapa harus menggeledah diriku terlebih dahulu?" teriak Tong Ling gusar.

"Menggeledah siapa dulu pun sama saja, bagaimana?

Kau takut?"

"Baik kalau begitu, geledah dulu badanku?" Kini Pek thian Ki-lah yang dibuat tertegun dan serba salah, ia merasa bingung apa yang harus dilakukan untuk mengatasi persoalan ini.

Usul untuk menggeledah badan setiap orang adalah muncul dari pikirannya, sudah tentu tugas ini harus ia lakukan, Tapi. . . ia pun tahu kalau Tong Ling adalah seorang gadis!? Untuk beberapa saat ia jadi gelagapan sendiri dibuatnya.

"Eeee. . . kau kenapa?" tegur Tong Ling keras. "Aku. . ."

"Ayoh, cepat kemari dan geledah badanku!"

"Baik!" Akhirnya dengan keraskan hati Pek Thian Ki maju kedepan, pada saat ini keadaannya mirip dengan menunggang diatas punggung harimau, mau menampik pun tak dapat.

Akhirnya ia tiba dihadapan Tong Ling dan memandang kearahnya dengan termangu-mangu.

"Ayoh cepat!" kembali Tong Ling membentak keras.

Pek Thian Ki menggigit kencang bibirnya, dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara serunya: "Nona Tong, maaf aku harus bertindak kasar." Ditengah suara ucapan tersebut, tangannya sudah lantas merogoh kedalam saku Tong Ling dan mengadakan pemeriksaan, tapi didalam saku gadis tersebut ternyata tidak ditemui panji kecil tanda dari Kiang To tersebut.

"Dia tak ada. . ." serunya sambil buru-buru menarik kembali tangannya.

"Hmmm! Kau cuma merogoh sakunya saja, badan bagian atas serta badan bagian bawahnya tidak kau periksa, bagaimana bisa membuktikan kalau benda tersebut tidak ada didalam badannya?" Kembali Cu Tong Hoa berteriak.

"Soal ini. . ."

"Pek-heng, kau geledah!" ujar Tong Ling perlahan.

Dengan kejadian ini maka Pek thian Ki semakin serba salah, dia bukanlah seorang jayhoacat (penjahat pemetik bunga), mana boleh secara terang2an menggerayangi tubuh bagian 'Atas' serta tubuh bagian 'Bawah' dari seorang gadis suci?

Tetapi, bagaimanapun juga ia harus melakukan penggeledahan, sehingga akhirnya tangan pemuda tersebut dengan sedikit gemetar mulai menggerayangi tubuh bagian

==       MISSING       PAGE       (Halaman       ROBEK)

======================================

====================

"Benar!"

Sungguh suatu omongan kosong yang ngaco belo, mari kemari! Coba kalian periksa dulu badanku."

"Apa perlunya repot-repot lagi?"

"Jikalau didalam badanku pun tiada terdapat panji tanda pembunuhan tersebut, bukankah hal ini sama artinya kalau aku bukan Kiang To?"

Perkataan ini agaknya membuat kedua orang itu jadi kaget, sedikitpun tidak berhasil ditemukan panji tanda pembunuhan tersebut, bukankah hal ini juga membuktikan kalau iapun bukanlah si Kiang To tersebut?

"Maksudmu didalam badanmupun tidak terdapat panji tanda pembunuhan?. . ." tanya Tong Ling melengak. "Ada atau tidak ada, bukankah sesudah digeledah segera akan ketahuan?. . ."

Sekali lagi Tong Ling melengak.

"Pek Thian Ki! Coba kau geledah badannya," perintahnya kemudian.

Pek Thian Ki mengangguk, untuk beberapa saat ia sendiripun dibuat bimbang, bingung dan ragu-ragu untuk menghadapi persoalan ini, Apakah mungkin Cu Tong Hoa benar2 bukan Kiang To?

Agaknya persoalan ini tidak mungkin terjadi.      karena

salah satu diantara mereka berdua pasti adalah seorang yang bernama Kiang To, Tetapi jika ditinjau dari perubahan sikap yan diperlihatkan Cu Tong Hoa, agaknya didalam badannya pun sungguh2 tidak terdapat panji tanda pembunuhan tersebut, menghadapi persoalan ini bagaimana mungkin Pek thian Ki tidak jadi kebingungan?

Tetapi, bagaimana juga ia harus mengadakan penggeledahan juga disaku Cu Tong Hoa. Dengan besarkan nnyali pemuda itu berjalan kearah Cu Tong Hoa, kemudian setelah tiba dihadapannya lantas mulai menggerayangi badan orang itu.

Mendadak. . .

Sewaktu Pek Thian Ki merogoh kedalam saku Cu Tong Hoa itulah, dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara teguran yang merdu:

"Pek Sauw-hiap, apa yang sedang kau lakukan?" Mendengar teguran tersebut dengan hati terperanjat Pek

Thian   Ki   putar   badan,   maka   tampaklah   dibelakang

dibelakang tubuhnya entah sejak kapan sudah berdiri sidara cantik berbaju hijau yang ditemuinya sewaktu berada didalam Istana Harta serta diluar rumah aneh tersebut.

Pek Thian Ki jadi melengak dibuatnya.       Kedatangan

dari dara berbaju hijau ini benar2 sangat mendadak sekali karena ia pernah juga memberitahukan kepadanya jika ingin mengetahui persoalan Rumah aneh serta Istana Arak, Istana Harta dan Istana Perempuan datanglah Kegunung Lui Im-san.

Ia berkata bahwa seluruh persoalan yang ingin diketahui olehnya harus pergi dulu kegunung Lui Im-san baru bisa diketahui, dan sekarang ia sudah datang kemari, tetapi tak berjumpa dengan dara tersebut.

Siapa tahu didalam keadaan seperti ini tahu-tahu dara cantik berbaju hijau itu sudah munculkan dirinya. Ketika dara cantik berbaju hijau itu melihat Pek Thian Ki memandang kearahnya dengan ter-mangu2, kembali ia menegur dengan suara yang merdu:

Pek Sauw-hiap! Apakah kau sudah lupa siapakah diriku?"

Dari perasaan ragu-ragu dan keheranannya Pek Thian Ki segera tersadar kembali.

"Ooow. . . kiranya kau!" Jawabnya ter-buru2. "Mana mungkin cayhe bisa melupakan diri nona? Tentunya kau barusan saja datang bukan?"

Emmm.    Apa yang sedang kau lakukan?"

Tong Ling yang berada disisi kalangan sewaktu melihat munculnya seorang gadis cantik disana dan langsung menegur pemuda tersebut, air mukanya segera berubah hebat, Tetapi sebentar kemudian, ia sudah mengatasinya. "Tolong tanya siapakah nama nona?" tanyanya kemudian kearah dara berbaju hijau itu.

"Aku bernama Suma Hun!" "Oooow! Kiranya nona Suma." Pada waktu itu. . .

Tangan Pek Thian Ki yang sudah berada didalam balik pakaian Cu Tong Hoa sudah mulai menggerayangi badan orang itu, sedang sinar mata Tong Ling pun dengan tajam dan tanpa berkedip memperhatikan terus wajah Pek Thian Ki.

Sang pemuda yang akhirnya tidak berhasil juga menemukan tanda panji apapun didalam saku Cu Tong Hoa, lantas mengalihkan tangannya untuk menggerayangi tubuh bagian 'Atas'

Tiba-tiba. . .

"Aaaaach. . .!" Pek Thian Ki berteriak kaget, tubuhnya ber-turut2 mundur sejauh empat lima langkah kebelakang. Pada saat Pek Thian Ki menjerit kaget itulah tubuh Tong Ling bagaikan sambaran kilat sudah menubruk kearah Cu Tong Hoa.

"Kiranya kaulah iblis cabul. . . .iblis ganas tersebut. . ." bentaknya keras.

Bayangan manusia segera berkelebat lewat laksana sambaran kilat, dengan menggunakan satu serangan yang dahsyat, gadis tersebut menerjang kearah Cu Tong Hoa.

Jelas sekali Pek Thian Ki menjerit kaget karena tangannya berhasil meraba panji tanda pembunuhan tersebut, kalau tidak, iapun tidak seharusnya menunjukkan perasaan kaget yang bukan alang-kepalang. Terjangan yang dilancarkan Tong Ling kali ini benar- benar luar biasa cepatnya, diam2 Pek thian Ki yang melihat terjangan itupun merasakan hatinya sangat terperanjat. Belum habis ia berpikir, serangan yang demikian gencarnya dari Tong Ling sudah berada dihadapan tubuh Cu Tong Hoa.

Dalam keadaan tidak bersiap sedia, hampir saja Cu Tong Hoa kena tersapu oleh datangnya serangan dari gadis itu, Beruntung sekali ilmu silat yang ia milikipun tidak lemah, maka dengan bersusah payah akhirnya ia berhasil juga meloloskan diri dari ancaman bahaya.

Dengan kejadian ini maka mau tak mau terpaksa Cu Tong Hoa harus menerima juga datangnya serangan dari Tong Ling ini dengan keras lawan keras.

"Tahan!" bentaknya keras. Sembari berteriak, telapak tangannya pun digetarkan mengunci seluruh lubang kelemahan dibadannya.

"Blaaam. . .!" diiringi suara ledakan yan amat keras, angin taupan menggulung dan memecah keempat penjuru diiringi pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa.

Oleh serangan yang amat gencar dari Tong Ling ini, Cu Tong Hoa kena terdesak mundur sepuluh langkah lebih kebelakang, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat. Sedang air muka Tong Ling pun mulai terlintas hawa napsu membunuh yang amat tebal, bentaknya dingin:

"Kiang To, kau masih ada perkataan apa lagi?" "Apa maksud dari perkataanmu itu?"

"Bukankah Pek Thian Ki sudah berhasil menemukan panji tanda pembunuhan tersebut didalam badanmu?" bentak Tong Ling sesudah melengak sejenak. "Omong kosong!" "Omong kosong?. . ."

Sinar mata Tong Ling dengan cepat dialihkan dengan tepat keatas wajah Pek Thian Ki, pada waktu itu pemuda tersebut masih tetap berdiri termangu ditengah kalangan tanpa berkutik, ia seperti sudah kehilangan semangat saja.

"Pek Thian Ki!" kembali Tong Ling membentak dingin. Kau kenapa? "Bukankah kau sudah berhasil meraba panji tanda pembunuhan tersebut?"

Begitu mendengar teguran tersebut bagaikan baru saja bangun dari impiannya, Pek Thian Ki menelan ludah, sedang sinar matanya lantas dialihkan kearah gadis tersebut.

"Apa yang sedang kau katakan?" tanyanya kebingungan. "Aku sedang bertanya kepadamu, apakah kau

menemukan panji tanda pembunuhan tersebut. . .?"

Baru saja Tong Ling selesai berbicara, Cu Tong Hoa sudah menyambung dengan bentakan yang dingin: "Pek sauw-hiap, katakanlah? Benar atau tidak?"

Pek Thian Ki tetap membungkam dalam seribu bahasa, ia merasa bingung untuk memberikan jawaban. Sedangkan didalam anggapan Tong Ling, pada saat ini Pek thian Ki tidak berani berbicara karena kaget, dan takut terhadap keganasan dari Kiang To, maka air mukanya segera berubah hebat.

"Kiang To! Kau tak usah jual lagak lagi disini!" bentaknya keras. Tubuhnya dengan cepat menerjang maju kedepan, telapak tangannya dengan diiringi angin pukulan tajam menghajar keatas tubuh Cu Tong Hoa. "Apa yang hendak kau lakukan?" teriak Cu Tong Hoa keras.

Ditengah suara bentakan yang sangat keras, tubuhnya mencelat kesamping sehingga angin pukulan yang dilancarkan oleh Tong Ling kali ini tak bisa dihindarkan lagi menghajar sebuah pohon besar dihadapannya yang langsung terpukul patah jadi dua bagian.

"Aduh. . . maknya. . . apa yang sudah terjadi?" mendadak dari atas pohon yang tumbang itu berkumandang keluar suatu jeritan kaget.

Sesosok bayangan hitam dengan cepatnya jatuh terjungkal dari atas pohon dan tidak menceng tidak melesat persis terjatuh dihadapan Suma Hun. Dengan sebat nona Suma gerakkan tangannya menyambar badan orang itu.

Masih beruntung Suma Hun berhasil menerima jatuhnya badan orang itu, kalau tidak, maka orang itu kalau bukannya patah tulang, sedikit2nya pasti akan jatuh pingsan tak sadarkan diri. Begitu sampai diatas tanah, kembali orang itu meloncat bangun dan memaki kalang- kabut.

"Cucu kura-kura mana yang berani membokong diriku? Kurang ajar! Maknya! Kalau ingin membunuh mati diriku, janganlah menggunakan kesempatan sewaktu aku masih tidur nyenyak.

Munculnya suatu peristiwa secara mendadak ini, kontan saja membuat semua orang yang ada disana jadi amat kaget setengah mati, sinar mata mereka ber-sama2 dialihkan kearah orang itu.

Pek Thian Ki yang melihat munculnya orang itu, hatinya pun terasa amat terperanjat karena ia segera mengenali kalau siorang tua berbaju hitam bukan lain adalah 'Sin Si Poa' yang ditemuinya sewaktu berada didalam Istana Harta.

Dan dia pula orang yang memberitahukan kepadanya kalau Kiang To adalah dirinya sendiri. Dan sekarang pada saat dan keadaan seperti ini mendadak sikakek tua yang amat misterius ini kembali munculkan dirinya, sekarang kemunculannya ini disengajakah, atau tidak sengaja. . .?

Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya Pek Thian Ki tersenyum. "Oooouw. . . . kiranya kau Loocianpwee!" sapanya.

Sinar mata 'Sin Si-poa' dengan tajam dialihkan keatas wajah Pek Thian Ki.

"Hmmm, bangsat cilik, kiranya kaupun berada disini," tegurnya pula lantang. "Eeeei. . .bocah! Sewaktu aku tertidur pulas diatas pohon tadi, cucu kura2 serta bangsat dari manakah yang membabat putus pohonku itu?"

"Aku!" jawab Tong Ling dingin.

Sinar mata Sin Si-poa pun segera dialihkan keatas wajah Tong Ling. "Kau yang melakukan?" teriaknya gusar.

"Sedikitpun tidak salah, cayhe yang lakukan!"

"Apakah perbuatanmu itu disengaja ataukah tidak disengaja?"

"Sudah tentu tidak disengaja. . ."

"Kalau memang tidak sengaja, akupun akan ampuni jiwamu!"

"Tolong tanya siapakah nama besar dari Loocianpwee?" "Sin si=poa!" Habis berkata ia putar badan dan berlalu

dari tempat itu. "Loocianpwee! Tunggu sebantar!" mendadak Pek Thian Ki berteriak keras.

Mendengar teriakan tersebut, Sin Si-poa langsung menghentikan langkahnya dan menoleh memandang sekejap kearah pemuda tersebut.

"Ada urusan apa?" "Ada urusan apa?"

"Cayhe ada beberapa urusan hendak kutanyakan padamu!"

"Sekarang kau tak ada waktu yang luang sedangkan aku- pun tak ada waktu, lain kali saja kalau bertemu kembali, biarlah kita bicarakan lagi." Dengan langkah lebah, siorang tua itu lantas berlalu.

Sedang Pek thian Ki yang ditinggal seorang diri jadi melengak dibuatnya, Menanti siorang tua itu sudah berlalu, kembali sinar mata Tong Ling menyapu sekejap keatas wajah Cu Tong Hoa, bentaknya dingin;

"Kiang To! Sekarang kita orang boleh bergebrak kembali.

. ."

Bayangan manusia tampak berkelebat, sekali lagi ia menerjang kearah tubuh Cu Tong Hoa, Dimana tangan kanannya mengayun, ber-turut2 ia sudah mengirim tiga buah jurus serangan sekaligus dengan serangan-serangan yang dahsyat dan mematikan.

"Hmmm! Apa kau kira aku benar-benar jeri terhadapmu?" bentak Cu Tong Hoa ketus.

Bayangan manusia kembali berpencar, ia membalik badan balas melancarkan tubrukan kedepan menggagalkan setiap serangan dahsyat, dari Tong Ling. Mendadak. . . Terdengar Suma Hun berseru tertahan, tiba-tiba tubuhnya melayang pergi dengan melalui jalan semula.

Kedatangan dari Suma Hun sudah amat mengherankan, kepergiannya kali ini sangat mendadak, hal ini membuat Pek Thian Ki tidak ambil perhatian, sedang Tong Ling serta Cu Tong Hoa yang sedang bergebrakpun semakin tidak ambil perhatian lagi.

Ditengah kalangan pertarungan antara Cu Tong Hoa melawan Tong Ling berlangsung semakin lama semakin hebat.

Suara bentakan-bentakan keras yang memecahkan kesunyian, dengan cepat menyadarkan kembali pemuda tersebut dari lamunannya.

"Kalian semua berhenti bergebrak!" teriaknya keras.

Dengan bergemanya suara bentakan tersebut, kedua orang yang sedang melangsungkan pertarungan sengit ditengah kalanganpun segera berpisah dan menghentikan serangannya, sinar matapun bersama dialihkan keatas wajah Pek thian Ki.

"Mengapa kalian berdua jadi bergebrak sendiri?" tegur pemuda she Pek ini tertegun.

"Bukankah dia orang adalah Kiang To?" teriak Tong Ling melengak.

"Ngaco belo!" sambung Cu Tong Hoa cepat.

"Pek Thian Ki! Cepat kau jawab, apa yang baru saja berhasil kau raba?"

Aku. . ." untuk beberapa waktu Pek thian Ki merasa sulit untuk mengutarakan kelar maksud hatinya. "Ayoh cepat jawab! Bukankah kau menjerit kaget karena tanganmu yang ada dibalik bajunya berhasil meraba panji tanda pembunuhan yang disembunyikan olehnya bakan?"

"Buuu. . .bkan!"

"Apa? Bukan?" Agaknya Tong Ling merasakan jawaban dari pemuda tersebut jauh berada diluar dugaannya, sehingga sepasang mata yang jeli dengan penuh rasa terperanjat melototi wajah Pek thian Ki tak berkedip, Untuk beberapa saat iapun dibuat melengak dan kebingungan.

Lama. . . lama sekali ia baru bertanya kembali: "Lalu apa yang berhasil kau raba?"

"Aku. . .aku sudah meraba. . .sudah meraba. . ." Jawabannya tetap tidak karuan, gelagapan, ragu2 dan bingung.

Coba saudara2 terka apa sebenarnya yang berhasil diraba oleh Pek Thian Ki? Kiranya sepasang tangan pemuda tersebut telah menyentuh dua gumpal daging kenyal yang panas, dan empuk-empuk merangsang didada Cu Tong Hoa. . . itulah sepasang payudara mungil dari seorang gadis perawan!

Ternyata Cu Tong Hoa adalah seorang gadis perawan, hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang ada diluar dugaan Pek Thian Ki, oleh karena itu saking terkejutnya ia menjerit kaget.

Tetapi justru disebabkan suara jeritan kagetnya itulah, Tong Ling sudah salah menganggap kalau pemuda itu berhasil menemukan panji tanda pembunuhan didada lawan, oleh sebab itu tanpa banyak cakap lagi ia mengirim serangan-serangan gencar untuk berusaha merobohkan pihak lawannya. Melihat pemuda itu tetap gelagapan, Tong Ling jadi tidak sabaran: "Eeeei. . . sebenarnya apa yang berhasil kau raba didada orang itu? Ayoh, cepat jawab! Kenapa harus ragu-ragu dan gelagapan tidak karuan macam begitu?"

"Ia. . .ia seperti dirimu. . . maksudku dadanya. .dadanya seperti juga dada milik nona. . ."

"Dia. . .dia adalah seorang gadis?"

"Benar! Oleh karena itu cayhe merasa sangat terperanjat!"

"Heee. . .heee. . .heee. . . ilmu menyaru dari nona ini benar-benar sangat lihay." dengus Tong Ling dingin. "Wajahmu sikakek bercambang benar-benar sangat sempurna!"

"Pek Sauw-hiap!" ujar Cu Tong Hoa lagi dingin." Coba kau kemari dan periksa lagi seluruh badanku, apakah ada panji kecil yang aku sembunyikan dibadan!"

Dengan adanya kejadian ini, maka Pek Thian Ki jadi serba salah, keadaan yang dihadapinya pada saat ini mirip sekali dengan keadaannya sewaktu hendak melakukan pemeriksaan dibadan Tong Ling.

Tetapi, bagaimanapun juga, ia harus turun tangan untuk melakukan penggeledahan, sambik menggertak giginya kencang2 ia berjalan kehadapan tubuh Cu Tong Hua, kemudian kembali melakukan pemeriksaan yang sangat teliti sekali diseluruh tubuh gadis she Cu ini baik badan bagian 'Atas'nya maupun tubuh bagian 'Terbawah'nya.

Tetapi hasil yang didapat tetap nihil, panji yang dicari tetap tidak ditemukan. "Tidak ada!" seru Pek Thian Ki kemudian melengak. Dengan adanya kejadian ini, maka Tong Ling pun dibuat tertegun ditengah kalangan, Benar! Bukti terakhir yang mereka dapatkan ini benar-benar berada diluar dugaan mereka bertiga.

Karena didalam saku bahkan seluruh tubuh dari Tong Ling serta Cu Tong Hoa, tidak berhasil diketemukan panji tersebut, Hal ini sudah tentu, jelas membuktikan kalau mereka berdua sama2 bukan Kiang To!

Heeee. . . kalian berdua sama-sama bukan Kiang To." seru Pek thian Ki sambil tertawa pahit.

Tong Ling juga tertawa pahit; "Kemungkinan sekali kita sama-sama mengejar Kiang To dan kebetulan berjumpa satu dengan lainnya, sehingga masing2 lawannya adalah Kiang To."

"Sedikitpun tidak salah." sambung Cu Tong Hoa dengan cepat.

"Tidak kusangka bukan saja Kiang To tak berhasil kita temukan, bahkan kitalah yang harus menelan kerugian besar," kembali Tong Ling bereru sambil tertawa. "Pek Thian Ki! Kali ini kau orang benar2 lagi untung besar."

"Cayhe tidak ada maksud untuk berbuat cabul. . ." Tapi. . .heeeei!"