Misteri Rumah Berdarah Jilid 01

Jilid 01

PENDAHULUAN

“DISEWAKAN SEBUAH RUMAH REJEKI”

Silakan periksa di gunung, Liong-san Hutan Tauw Liem.

Itulah bunyi dari sebuah pengumuman penyewaan rumah yang ditempelkan diluar pintu sebelah utara kota kay Hong, bukan saja kertas warna merah tersebut sangat menarik perhatian, bahkan ada sesuatu yang jauh lebih menarik dari hal tersebut., banyak para pedagang berhenti sebentar untuk membaca isi pengumuman itu.

Bagi orang-orang yang sering melakukan perjalanan melalui jalan raya ini rasanya masih teringat oleh mereka akan peristiwa penyewaan rumah yang sangat aneh ini.

Karena setiap tahun pengumuman tersebut selalu muncul satu kali dan waktu pun sama, yaitu bulan tiga tanggal tiga belas !

Gunung Liong san terletak anatara Kota kay Hong dengan gunung Siong-san, disana terdapat sebuah hutan Tauw yang lebat, apakah rumah yang disewakan tersebut pernah disewa dan diadiami oleh orang ……?

Sudah tentu, persoalan ini jarang sekali diketahui orang, tetapi bila ditinjau dari keadaan rumah tersebut, tentu sudah pernah disewa oleh seseorang dan orang itu berdiam disana tidak bakal melebihi satu tahun lamamnya.

Kalau tidak, tidak mungkin setiap setahun sekali pengumuman kertas merah itu bisa muncul kembali ditempat semula!

Pernah ada beberapa orang karena tertarik, telah berangkat ke gunung Liong-san hutan Tauw Liem itu untuk melihata keadan sebenarnya, tetapi setelah tiba disana, orang-orang itu dengan hati kebat-kebit dan bulu roma pada berdiri, hingga melarikan diri terbirit-birit dari sana.

Mengapa ?

Rumah tersebut bukankah sebuah rumah rejeki, melainkan sebuah rumah yang memyai bentuk sangat aneh dan menyeramkan ……..

Kiranya ritu bentuknya seperti kerangka manusia, sehingga bagi setiap orang baru menemuinya terasa amat menyolok.

Didepan rumah tersebut diantara semak-semak yang lebat terdapat empat buah kuburan yang kuno dan baru tak tentu, hal ini menambah keseraman serta kengerian suasana disekitar sana.

Siapa yang berani mendiami rumah dalam suasana begitu menyeramkan …?????....

Tetapi, kediaman di kolong langit memang kadang- kadang berda di luar duagaan semua orang. Rumah itu bukan saja pernah disewa oleh seseorang, bahkan orang itu adalah seorang jago Bu-lim yang memiliki ilmu ssangat tinggi.

Cuma saying, orang-orang itu akhirnya harus dikubur didepan rumah tersebut.

Mati ????? betul, mati

Tetapi, mengapa ???????

Beratus-ratus bahkan beribu-ribu pendapat pada muncul dibalik benak para jago-jago bu-lim. Kendati begitu tak seorangpun yang bisa memahami keadan yang sebenarnya.

Sedang pengumuman sewa rumah itupun setahun demi setahun muncul terus didalam mayarakat …….. Hanya didalam sekejap mata, tiga tahun sudah berlalu !

……………..

Didepan pintu rumah rejeki itupun sudah bertambah lagi dengan tiga buah kuburan baru …..…………..

----------- ooo O ooo ----------

Bab 1

MUSIM SEMI bulan ketiga telah tiba ….

Sesosok bayangan manusia yang kurus tinggi perlahan- lahan muncul didepan sebuah pintu rumah yang berada diatas suatu bukit.

Dia adalah seorang pemuda berbaju hijau yang berusia kurang lebih delapan, sembilan belas tahunan, badannya kurus tinggi, sama sekali tidak kelihatan gagah, tampan maupun kekar.

Ia berjalan bolak-balik didepan rumah itu dengan gelisah, agaknya sedang menantikan sesuatu, sinar matanya tiada henti-hentinya ditengokkan kearah bawah tebing yang penuh ditutupi oleh kabut tebal.

Setiap kali ia menengok, suara helaan nafas panjangpun mengiringi perasaan kecewa yang timbul dalam hati, agaknya apa yang dinantikan selama ini membuat hatinya terasa semakin gelisah …….

Tiba-tiba ……….

Sesosok bayangan hitam bagaikan kilat menyambar datang melayang turun diatas puncak tersebut.

Semula pemuda berbaju hijau itu rada tertegun, tetapi sebentar kemudian ia sudah tak dapat membendung rasa girang dihatinya lagi. “Suhu, kau sudah pulang ?” teriaknya tak tertahan.

Kiranya si orang berbaju hitam itu adalah seorang kakek tua dengan dandanan sastrawan, terhadap sapaan dari pemuda berbaju hijau itu Cuma mendehem perlahan.

Sekali lagi pemuda berbaju hijau itu dibuat berdiri tertegun, karena dari suara deheman tadi, ia menemukan nadanya berat dan paras muka suhunya kelihatan amat sedih bercampur murung.

Agaknya selama ini pemuda berbaju hijau itu belum pernah mengalami kejadian dimana suhunya memperlihatkan sikap serta perubahan paras muka seperti hari ini, akhirnya ia berkata kembali :

“Suhu, perjalananmu kali ini sudah makan waktu lima hari …..”

“Emmmmm, aku tahu, mari kita masuk kedalam !” Nada ucapannya masih tetap berat, singkat dan tandas,

sepasang alisnya dikerutkan sangat rapat. Setelah menngucapkan kata-kata tadi tanpa menanti reaksi dari muridnya, ia telah mendahului masuk kedalam rumah.

Dengan termangu-mangu si pemuda berbaju hijau itu berdiri ditengah kalangan, matanya terus memandang bayangan punggung suhunya dengan sayu, didalam hati kecilnya pemuda ini mulai merasa ada sesuatu peristiwa bakal terjadi …… atau mungkin peristiwa tersebut sudah berlangsung.

Perubahan sikap serta paras muka suhunya yang ditunjukkan hari ini boleh dikata sangat luar biasa, karena selama ini belum pernah ia berubah sedemikian rupa, apalagi kepergian suhunya kali ini sudah membuang tempo lima hari, ini merupakan suatu kejadian yang sangat istimewa. Sekonyong-konyong …….

“Thian Kie, masuk !” dari balik ruangan berkumandang suara suhunya sedang memanggil.

Si pemuda berbaju hijau - ------- atau Pek Thian Kie kontan saja tersadar kembali dari lamunannya, dengan terburu-buru ia segera putar badan berlari masuk kedalam ruangan.

Tetapi sebentar kemudian ….. sewaktu sinar matanya berkelebat, ia merasakan hatinya bergidik.

Karena tampaklah suhunya duduk diatas kursi dengan wajah membesi, alisnya dikerutkan sedang selintas perasaan sedih, duka dan murung menghiasi air mukannya.

“Suhu, urusan apa yang telah terjadi?” Tanya Pek Thian Kie segera melangkah mendekat.

“Hei ….” Perlahan-lahan si sastrawan berbaju hitam itu menghela napas panjang.

“Ada suatu urusan yang bagaimanapun juga harus kuberitahukan kepadamu !”

“Suhu ! urusan apa ? Cepat kau beritahukan kepadaku !” kontan saja Pek Thian Kie merasakan hatinya berdesir.

Si satrawan berbaju hitam itu mengangguk berat.

Bukankah sejak kecil sampai kau menginjak dewasa selam ini selalu bersama-sama dengan diriku ?” tanyanya

“Benar!”

“Jika dihitung dengan jai kau sudah berdiam selama limabelas tahun lamanya diatas tebing “Pek Wu Leng” ini, selama ini bukankah suhumu belum pernah berpisah dengan dirimu?”

“Benar !” “Kepergianku kali ini yang telah menghabiskan waktu lima hari, bukankah kau merasa terlalu lama ?”

“Benar ! Kau orang tua belum pernah pergi selama ini….”

“Lama ?” Potong si sastrawan berbaju hitam itu tidak menanti muridnya selesai berbicara. “Lima hari kau anggap sangat lama ?”

“Benar ……!” Agaknya si sastrawan berbaju hitam itu dibuat melengak juga oleh pertanyaan tersebut, tetapi sebentar kemudian ia sudah meyambung kembali :

“Ooouw ……. Aku pergi menengok beberapa orang sahabat karibku, karena itu aku pulang kegunung rada terlambat. Cuma ….. kini aku punya maksud untuk meninggalkan tempat ini !”

“Benar !”

“Kita akan pergi kemana ?”

“Tidak! Kau salah, Cuma aku seorang saja pergi, kau tidak termasuk.”

Mendengar perkataan tersebuta itu juga Pek Thian Kie, kontan seketika jadi tertegun, agaknya perkataan tersebut benar-benar diluar dugaannya.

“Suhu kenapa ?” teriaknya tak kuasa lagi.

“Tidak karena pa-apa. Tetapi yang jelas, aku mau tak mau harus pergi, sedang mengenai apa sebabnya, aku tidak ingin memberitahukan kepadamu. Karena aku merasa hal ini sama sekali tidak berguna dan tidak mendatangkan keuntungan bagimu ”

“suhu ! Tidak, aku ingin mengetahui sebab-sebabnya.” “Tidak perlu, kepergiaku kali ini Cuma setahun, setelah satu tahu. Kemungkinan sekali aku masih bisa kembali, ada banyak urusan aku tak dapat beritahukan kepadamu ….. tetapi ada pula beberapa urusan yang harus aku sampaikan kepadamu ”

“Suhu ! Bila kau ada urusan, katakanalah semuanya !” sahutnya Pek Thian Kie cepat-cepat.

“Kitab yang aku berikan kepadamu sudah selesai kau baca ?”

“Belum, masih ada empat-lima halaman.”

“Didalam satu tahun ini, kau harus menyelesaikan keempat, lima halaman tersebut?”

“Tecu ikuti perintah.”

Perlahan-lahan si sastrawan berbaju hitam itu mengangguk.

“Aku piker didalam satu tahun mendatang, kau pastu sudah bisa menyelesaikan kitab tersebut sampai halaman yang terakhir.” Katanya.

Ia merandek sejenak, sejurus kemudian sambungnya kembali : Sedangkan mengenai penyakitmu, sampai sekarang aku masih belum berhasil menemukan orang yang bisa menyembuhkannya, tentang ini terpaksa aku harus minta maaf ……”

“Suhu! Apakah kau sudah tidak mau menggubris tecu lagi?”

Si sastrawan berbaju hitam itu tertawa pahit.

Setelah satu tahun, kemungkinan sekali aku bisa pulang kembali, tetapi dikalau sampai ……” Berbicara sampai disitu mendadak ia tutup mulutnya rapat-rapat, diatas paras mukanya terlintaslah perasan yang murung.

“Suhu ……” jerit Pek Thian Kie dengan hati bergidik. “Jikalau sampai aku tidak kembali, kaupun tidak usah

pergi mencari aku.”

Saat itu Pek Thian Kie benar-benar merasakan bulu romanya pada berdiri semua.

“Suhu! Mengapa kau tidak pulang?”

“Heeeeeei ….. peristiwa yang terjadi dikolong langit memang kadang-kadang berada diluar dugaan orang lain.” Ujar si sastrawan berbaju hitam itu sambil tertawa pahit. “Kemungkinan juga kepergianku kali ini tak bakal kembali lagi untuk selamanya. Tetapi hal ini masih merupakan suatu kemungkinan, mungkin juga tidak sampai terjadi peristiwa semacam itu …..”

Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar tambahnya lagi :

“Heeeeei …… semisalnya sungguh-sungguh terjadi peristiwa semacam ini, kau tidak usah mencari aku lagi

…..”

“Kenap ?”

“Kau tidak usah tanyakan sebabnya!”

“Ba ……. Baik ………!” dengan gugup dan ketakutan Pek Thian Kie menyahut.

Perlahan-lahan paras muka si sastrawan berbaju hitam itu mulai berubah jadi ramah kembali.

“Persoalan lain yang harus kau ketahui adalah asal usulmu.” Ujarnya kembali. “Sampai sekarang aku masih belum berhasil mendapatkan tahu persoalan ini, perempuan itupun tak pernah ditemukan oleh orang lagi. Tetapi pada waktu itu ia sudah harus kau cari tahukan nammu beserta orang yang harus kau cari setelah menginjak dewasa. Aku percaya tentunya kau masih belum melupakannya bukan?”

“Benar! Untuk selamanya tecu tak akan melupakan hal ini ……” sahut Pek Thian Kie dengan suara yang berat. “Aku harus pergi mencari orang yang bernama Kiang To untuk menanyakan asal usulku.”

“Heeeeei ….. kalau begitu bagus sekali setahun kemudian kau pergilah sendiri untuk mencari dirinya.”

“baik, suhu …… “ Agaknya Pek Thian Kie hendak mengucapkan sesuatu lagi, tetapi untuk beberapa sat tak sanggup untuk mengucapkannya keluar.

Kembali sastrawan berbaju hitam itu menghela nafas panjang.

“Heeeei ….. sudahlah, perkataanku hanya sampai disini saja” katanya perlahan.

“malam Sudah semakin kelam, kau pergilah untuk beristirahat!”

“suhu ! Apakah kau benar-benar tidak suka memberitahukan kepadaku tujuanmu yang sebenarnya ????” desak sang pemuda tersebut dengn nada yang sedih.

“Benar, aku tidak akan beritahukan hal ini kepadamu karena persoalan tersebut tidak bakal mendatangkan keuntungan buat dirimu, sekarang kau beristirahatlah lebih dulu.”

Pek Thian Kie mengerti. Agaknya persoalan ini sangat besar dan maha penting bahkan mungkin juga bakal terjadi terhadap dirinya sendiri, hal ini merupakan suatu kejadian yang tak dapat diragukan kembali.

Iapun tidak ingin banyak bertanya lagi, karena ia mengerti sekalipun ia bertanya bertanya lebih lanjut kecuali memperoleh suara bentakan dari suhunya, tidak bakal memperoleh hasil apapun. Hal ini merupakan suatu kenyataan yang amat jelas.

“Suhu !” ujarnya kemudian setelah berpikir sebentar. “Selama diperjalanan kau tentu sangat lelah sekali, baiknya aku hantar kau orang tua untueristirahat terlebih dahulu !”

“Heeee …. Baiklah !”

“Selesai berkata, si sastrawan berbaju hitam itu lantas bangun berdiri dan melangkah keruangan sebelah belakang”

Dengan kencang Pek Thian Kie menguntil dari belakang, sesampainya dipintu kamar sebelah belakang, tampaklah si sastrawan berbaju hitam itu perlahan-lahan menoleh.

“Bocah, kaupun beristirahatlah!” ujarnya ramah.

Pek Thian Kie mengangguk, segera putar badan dan bergerak keluar lambat-lambat …….

Tiba-tiba ……..

“Thian Kie !” panggil si sastrawan berbaju hitam itu. Mendengar suara panggilan tersebut, dengan cepat Pek

Thian Kie berhenti dan putar badan.

“Suhu ! ada urusan apa ???” tanyanya cepat.

Ujung bibir si sastrawan berbaju hitam itu tampak bergerak-gerak, tetapi tak kedengaran sedikit suarapun. Akhirnya dengan sedih ia menghela napas panjang.

“Aaaakh ….! Tak ada urusan, kau pergilah tidur !” Fengan melongo-longo pemuda itu memandang suhunya, ia merasa sikap si orang tua itu hari ini sangat aneh sekali dan hal ini merupakan suatu keistimewaan.

Akhirnya dengan perasaan apa boleh ia melanjutkan kembali langkahnya berlalu dari sana.

Menanti bayangan punggung Pek Thian Kie lenyap dari pandangan, si sastrawan berbaju hitam itu baru menghela napas ringan.

“Heeeeei ….. buat apa dia orang mengetahui sejak sekarang??? Bukannya nanti ia bakal tahu sendiri ……” gumamnya tak terasa.

Untuk mengetahui soal apa ? ? ? ?

Agaknya hal inilah merupakan kesedihan yang sedang terkandung di hati sastrawan berbaju hitam itu dan ia tidak ingin memberitahukan peristiwa tersebut kepada Pek Thian Kie karena persoalan ini sepertinya mempunyai sangkut paut yang sangat erat dengan dirinya.

Perlahan-lahan Pek Thian Kie berjalan keluar dari dalam kamar dan kembali kedalam ruangan tamu. Tetapi sesaat ia berbelok keserambi yang lain pemuda itu mendadak berseru tertahan dan menghentikan langkahnya.

Sepasang matanya memancarkan sinar tajam melototi secarik kertas merah persegi empat yang berada diatas tanah, lama sekali pemuda itu tampak tertegun.

Akhirnya ia tersadar kembali diam-diam pikirnya : “Aaaakh ……! Mungkin juga barang ini terjatuh dari

saku suhu ……”

Buru-buru ia menjemput kertas tadi lalu berjalan kembali kearah kamar suhunya. Belum jauh ia melangkah, sekonyong-konyong didalam benaknya terlintas suatu bayangan dengan cepat

ia menghentikan langkahnya.

“Diluar apakah Thian Kie ??” dar balik kamar tahu-tahu berkumandang keluar suara pertanyaan dari suhunya.

“Benar suhu ”

“Ada perkataan boleh kau sampaikan besok saja !” Pek Thian Kie jadi tertegun.

“Baik, suhu !” sahutnya kemudian.

Selesai berkata, ia lantas putar badan dan berlalu.

Mengapa Pek Thian Kie tidak jadi serahkan itu kertas merah bersegi empat kepada suhunya ? didalam persoalan ini agaknya masih ada sesuatu rahasia yang tersembunyi.

Benar. Menurut dugaan Pek Thian Kie kepergian suhunya selamaa lima hari ditambah pula sekembalinya dari bepergian, mengucapkan kata-kata semacam itu, kesemuanya ini tentu ada sangkut pautnya dengan kertas merah tersebut.

Oleh karena itu, ia mulai melenyapkan maksudnya untuk menyerahkan kembali kertas merah tadi ketangan suhunya, dalam hati ia tahu tindakannya ini tidak patut tetapi perasan ingin tahu yang terus mendesak dihatinya memaksa juga ia harus mengambil tindakan tersebut untuk mencari tahu rahasia dibalik kesemuanya itu.

Terburu-buru pemuda itu berlari kembali kedalam kamrnya, setelah mengunci pintu kamar dengan tangan gemetar ia mulai membaca kertas merah itu, agaknya kertas itu mengandung suatu rahasia serta hawa pembunuhan yang tiada taranya. Akhirnya ia berhasil menenangkan hati yang sedang bergolak, dengan sangat hati-hati kertas merah itu mulai dibuka dan disapu dengan tajam.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah dibuat berdiri tertegun ! Apa yang telah terjadi ???

Kiranya kertas merah itu hanya tercantum kata-kata : “DISEWAKAN SEBUAH RUMAH REJEKI”

Silakan periksa di Gunung Liong San Hutan Tauw Liem.

Secarik kertas pengumuman tentang disewakannya sebuah rumah, peristiwa ini sangat biasa dan tiada yang aneh.

Kendati Pek Thian Kie sudah memeriksa dan menelitinya setengah harian belum juga ditemukan letak keistimewaan dari kertas pengumuman tersebut.

Satu-satunya persoalan yang tidak ia pahami adalah, mengapa kertas pengumuman tersebut justeru bisa berada disaku suhunya? ???????? Apakah suhu telah menyewa rumah di gunung Liong San Hutan tauw Liem itu ?

Atau ungkin pengumaman tersebut didapatkan suhunya dari tempat lain, lalu disimpan dalam sakunya ? sudah tentu kedua persoalan ini kesemuanya ada kemungkinan.

Mendadak satu ingatan kembali berkelebat didalam benaknya. Besok suhunya akan meninggalkan tempat ini dan selama setahun takkan kembali lagi. Apakah mungkin dia orang tua ada maksud untuk menyewa rumah tersebut ?

…………. Sudah tentu, hal inipun ada kemungkinan bisa terjadi.

Lama sekali Pek Thian Kie termanggu-manggu berpikir keras tetapi tak ia pahami juga persoalan ini. Sangking lelahnya terakhir ia masukan kertas tersebut kedalam saku kemudian ia jatuhkan diri tertidur diatas pembarngan tidak lama kemudian, hari sudah terang

tanah. Buru-buru pemuda tersebut bangun dari pembaringannya.

“Thian Kie !” mendadak dari luar kamar berkumndang dating suara panggilan dari suhunya yang sedang berjalan mendekat.

“Oooouw      suhu !”

Ditengah suara sahutan, buru-buru Pek Thian Kie meloncat kedepan membuka pintu kamar.

Tampaknya suhunya sudah berdiri didepan pintu, satu- satunya keadaan yang berbeda-beda pada hari ini adalah diatas punggung si orang tua itu kini sudah kelebihan sebilah pedang yang tersoren dengan amat gagah.

Menurut suhunya tempo dulu dia orang tua tak akan menggunkan pedang lagi, tidak disangka sebelum dia meninggalkan tempat ini, pedang yang sudah tak digunkan hamper mendekati puluhan tahun akhirnya digunakan kembali.

Kejadian ini diam-diam membuat Pek Thian Kie merasakan hatinya bergidik.

“Thian Kie ! Aku mau berangkat !” terdefar terdengar si sastrawan berbaju hitam itu memecahkan kesunyian.

“Suhu…     ” seru Pek Thian Kie sedih

“Tecu akan selalu mengingat-ingat perkataan dari kau s orang tua !” katanya.

Perlahan-lahan si sastrawan berbaju hitam itu menganagguk

“Kalau begitu, aku akan segera pergi !” Selesai berkata, tidak menunggu jawaban dari Pek Thian Kie tubuhnya segera berkelebat keluar dari pintu besar. Kemudian didalam beberapa lontaan lagi bayangan hitam itu sudah lenyap dibalik kabut nan putih …………

Dengan terpesona pemuda itu berdiri ditempat semula, segulung perasaan yang amat aneh mendesak naik ketenggorokannya menbuat dia saking sedihnya hamper- hampir meneteskan air mata lagi ……..

Lama sekali ……… akhirnya ia putar badan berjalan masuk kedalam rumah.

----------- ooo O ooo -----------

Bab 2

SUASANA   DIATAS   PUNCAK   “Pek   Wu   Leng”

kembali jadi hening …… sunyi tak kedengaran suara

apapun.

Keadaan berubah pula seperti keaadan tempo dulu, kabut putih yang amat tebal hampir menutupi seluruh tempat …..

Musim semi berlalu, musim rontokpun telah tiba …..

Diikuti musim semi berlalu. Musim semi kembali menjelang datang.

Waktu berlalu bagaikan mengalirnya air sungai, hanya didalam sekejap mata satu tahun sudah berlalu.

Mengikuti berlalunya waktu, berita tentang si sastrawan berbaju hitam itupun ikut lenyap tak berbekas, sejak waktu itu ia tak pernah kembali lagi ketas gunung. Siang malam Pek Thian Kie menanti dan mengharapkan suhunya cepat kembali ……. Tetapi harapan ini ternyata sia-sia belaka.

Apakah suhunya benar-benar tak akan kembali ??? Benar

! Kenyataan memang demikian untuk selamanya dia tak bakal kembali lagi.

Ia mulai teringat sesuatu ….

Diam-diam pikirnya :“Didalam satu tahun ini aku menyelesaikan beberapa halaman terakhir dari kitab tersebut. Kini aku harus pergi ! Aku harus pergi mencari suhu ……”

Iapun harus pergi mencari seseorang, dia adalah Kiang To ! …. Suhunya pernah beritahu kepada dirinya, hanya dia seorang yang tahu siapakah orang tuanya.

Berpikir akan persoalan ini, dengan cepat ia membereskan sebentar barang-barang keperluannya, kemudian lari keluar rumah dan meluncur kebawah tebing.

Gerakan tubuhnya pada saat ini cepat laksana sambaran kilat, kecepatannya boleh dikatakan jauh lebih hebat beberapa kali lipat jika dibandingkan dengan kecepatan si sastrawan berbaju hitam tempo dulu sewaktu menuruni tebing tersebut.

Hanya dalam sekejap Pek Thian Kie sudah tiba dibawah tebing Pek Wu Leng, mendadak ia menghentikan gerakan tubuhnya.

“Aku harus pergi kemana ?” otaknya mulai berputar keras, “Liong-san ? benar, aku harus pergi ke Gunung Liong-san !”

Setelah mengambil keputusan, tubuhnya kembali berkelebat kearah depan. Sekarang ia harus mencari seseorang untuk ditanyai arah yang benar, kemudian baru berangkat menuju ke gunung Liong-san. Pek Thian Kie yang melakukan perjalanan cepat hanya didalam sekejap saja berpuluh-puluh lie sudah dilalui. Tetapi tiba-tiba ….. ia menjerit keras, dan tubuhnya mendadak berhenti sedang dari keningnya mengucur keluar keringat sebesar kacang kedelei, sikapnya menunjukkan sangat menderita ……

Sepasang tangan ditekankan keras-keras ketas lambungnya, tubuhnya berjongkok sedang dari mulutnya terdengar suara rintihan yang menyayatkan hati …..

Mendadak …..

Sewaktu Pek Thian Kie sedang merintih kesakitan itulah, suara langkah kaki menusia memecahkan kesunyian bergema semakin mendekat.

“Eeeeei …. Kau kenapa ?” terdengar orang itu menegur dengan suara agak kaget.

Mendengar suara tegur tersebut Pek Thian Kie merasa agak terperanjat maka dengan cepat kepalanya didongakkan.

Tampak seorang pengemis muda berusia duapuluh tahunan dengan tenang berdiri dihadapannya.

“Kenapa kau ?” kembali orang itu bertanya, agaknya ia menaruh rasa kuatir terhadap keadaan diri Pek Thian Kie.

“Aku ….. aku sakit hati !”

“Sakit hati ? Kau sudah kehilangan barang apa yang berharga sehingga sakit hati?”

Menghadapi pertanyaan semacam ini Pek Thian Kie benar-benar dibuat kalang-kabut mau marah tak dapat, mau tertawapun sukar. “Sakit hatiku adalah suatu penyakit, bukan sakit hati karena kehilangan sesuatu baraang !” sahutnya kemudian.

Si pengemis muda mengiayakan beberapa kali agaknya ketika itu ia baru paham akan apa yang sebetulnya telah terjadi.

Dengan cepat ia mulai berjalan mendekati diri Pek Thian Kie.

Setelah beristirahat beberapa saat, sakit hati dari Pek Thian Kie pun perlahan-lahan mulai lenyap kembali …..

“Hiiii …..hiiii ……hiiiii……hiiiii ku sudah sedikit baikan

?” Tanya pengemis muda itu lagi sambil tertawa cekikikan. “Baik ….. baik ……”

“Tentunya penyakitmu ini sudah kau derita sangat lama bukan ?”

“Bagaimana kau bisa tahu ?” teriak Pek Thian Kie kaget, hatinya merasa berdesir.

“Cukup dilihat dari beberapa kerut tulang Bay-kutmu serta lagakmu yang lemas tak bertenaga sudah jelas sekali, bukankah begitu ?”

“Aaaaakh …… salah, salah …… sejak lahir aku memang sudah sekurus ini,” buru-buru Pek Thian Kie membantah. “Sedang penyakit sakit hatiku ini baru aku derita, dua tiga tahun yang lalu.”

“Oooow ….. oooooow ….. kalau begitu aku sudah salah menebak !”

Pek Thian Kie pun tersenyum.

“Kawan ! Bila kau tak ada urusan, silakan berlalu, akupun harus pergi,” ujarnya. “Kau sedang sakit, apalagi badanmu tinggal beberapa kerat tulang bay-kut.

…… eeeeeeei …… kau mau kemana ????” seru si pengemis dengan kening yang dikerutkan.

“Terima kasih atas perhatianmu kawan, cayhe dapat mengatur kesemuanya sendiri.”

“Eeeeee ….eeeeeeeei …….. tunggu sebentar ! kawan, apakah kau punya uang ?”

Mendengar perkataan tersebut Pek Thian Kie segera tertawa, sekarang ia baru paham kiranya pengemis ini ada maksud ingin minta uang..

Pemuda itu segera merogoh kedalam sakunya mengambil keluar beberapa tail perak lantas diangsurkan ketangan pengemis tersebut.

“Di dalam saku ku Cuma tinggal ini saja, kau bawalah perg i.” ujarnya

Paras muka pengemis tersebut kontan saja berubah hebat.

“Siapa yang bilang aku ingin minta uang darimu ?” teriaknya

Kontan saja Pek Thian Kie jadi melengak. “Kau …… !”

Justeru aku yang lagi merasa kuatir apakah kau punya uang untuk periksakan penyakitmu itu ?”

Sekali lagi pemuda itu merasakan hatinya tergetar sangat keras, ia tidak menyangka kalau si pengemis ini ternyata adalah seorang yang baik hati. “Heng-thay, terima kasih atas perhatianmu.” Sahutnya sambil tertawa pahit. “Sungguh saying penyakit siauw-te ini tak bakal bisa sembuh …….”

“Omong kosong ! asal punya uang, siapa yang bilang penyakit tak dapat disembuhkan ?”

Pek Thian Kie tidak ingin banyak rebut lagi, sekali lagi ia tertawa pahit.

“Anggap saja cayhe tidak punya ung …..”

“bagaimana kalau kita pergi melakukan sesuatu perdagangan ?” sambung sang pengemis muda dengan alis yang dikerutkan.

“Dagang apa ?”

“Sudah tentu cari uang !” “Aaaakh ….. ! Mau mencuri ?”

Si pengemis muda itu segera menggeleng. “Merampas. ?”

Mendadak pengemis muda itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaa ……. Haaa …… haaa …. Haaaa ….. merampas ?” teriaknya kegelian. “Kalau hanya mengandalkan beberapa kerat tulang Bay-kutmu, bukannya berhasil merampas, mungkin kau sendiri yang kena ditangkap, bahkan mungkin juga dipanggang untuk teman arak …. Eeeei …. Bagaimna kau bisa punya pikiran untuk merampas ??”

“lalu kau ingin melakukan jual beli macam apa ?” sambung Pek Thian Kie tersenyum

“Kau pernah mendengar suatu tempat yang dinamakan Cay Yen atau istana harta ?” Tanya pengemis tersebut setengah berbisik. “Istana harta ? belum pernah kudengar

Kalau begitu bukankah sama saja aku sudah Tanya dengan sia-sia ? Kau bukan orang Bu-lim sudah tentu tidak tahu soal “Istana harta” ini. Aku minta uang sudah ada dua puluh tahun lamanya. Kali ini bagaimanapun juga aku harus memberi bagian kepadamu.”

Menurut pertimbangan Pek Thian Kie, kepandaian silat yang dimiliki pengemis muda ini agaknya tidak lemah, disamping itu iapun merasa keheranan terhadap “Istana Harta” dua perkataan tersebut.

“Eeeei …. Sebetulnya macam apakah istana harta itu?” tak kuasa lagi ia bertanya

“Sekalipun aku beritahukan kepadamu, kaupun tak bakal tahu. Buat apa kau orang banyak bertanya ?? apalagi sekalipun kau sudah tahupun tiada berguna!”

“Apakah istana harta itu khusus dibuka untuk memberi pinjaman uang kepada kalian kawan-kawan dari kalangan Bu-lim?” Tanya Pek Thian Kie lebih lanjut.

“Boleh dikata memang demikian.”

“Lalau bagaimna carany untuk meminjam uang ?” “Eeeeei …. ! Bagaimana kalau kau sedikit kurangi

pertanyaanmu ? Bukankah setelah sampai waktunya kau bakal tahu sendiri ?”

Mendengar jawaban itu pemuda tersebut segera mengerutkan dahinya.

“Dimanakah letak Istana harta itu ?”

“Didalam hutan bamboo dua lie diluar kota Kay Hong !” Sekali lagi Pek Thian Kie mengerutkan dahinya kencang-

kencang. “Bolehkah cayhe menanyakan sesuatu tempat terhadap diri Heng-thay ?. ”

“Tempat apa ?”

“Dimana letaknya gunung Liong-san ?”

“Apa ?” hampir-hampir saja pengemis muda itu meloncat tinggi saking kagetnya.

“Kau tanyakan gunung Liong-san ?” “benar !”

“Apa yang hendak kau lakukan disana ?”

“Aku …. Aku ingin mem …… mencari seorang kawan.”

“Mencari seorang kawan!” beberapa patah perkataan itu segera membuat paras muka pengemis muda tadi berubah kembali jadi sangat ramah.

“Sungguh kebetulan sekali,” serunya sambil tertawa. “Gunung Liong-san letaknya diluar kota Kay Hong, jika

mengikuti jalan raya ini, maka kita akan tiba dulu di istana

harta, kemudian baru sampai di gunung Liong San !”

“Harus butuhkan berapa lama untuk sampai disitu ???” “Jika dihitung sesuai dengan kekuatan kaki manusia-

manusia biasa, mungkin mungkin membutuhkan dua hari lamanya, tetapi keadaanku sama sekali berbeda, kurang lebih setengah hari sudah cukup untuk tiba dtempat tujuan.”

Ia rada merendek sejenak, lalu sambungnya kembali : “Kini aku sudah terlanjur menjadi orang baik, biarlah

aku jadi orang baik sampai akhir, mari ! Biar aku gendong dirimu”

“Aaaakh …. Hal ini mana boleh jadi ?” “Kau anggap pakaianku terlalu kotor ?”

“Oooouw ….. bukan, bukan karena soal itu, tolong Tanya Heng-thay ….”

“Aku bernama Cu Tong Hoa, Heng thay boleh langsung menyebut namaku saja.

“Aku bernama Pek Thian Kie, kalau begitu merepotkan Cu-heng harus harus bekerja keras.”

Cu Tong Hoa tertawa

“Agaknya kau belum pernah belajar jurus-jurus ilmu silat,” katanya

“Benar !” Pek Thian Kie tertawa tawar.

Berbohongnya pemuda tersebut tidak lain disebabkan karena suhunya pernah memberitahu kepadanya bila keadaan didalam dunia kangouw sangat berbahaya, banyak jago-jago Bu-lim yang yang berhati licik, kejam dan telengas, terhadap seorang teman yang belum dikenalnya terlalu rapat, lebih baik jangan berbicara yang sebetulnya.

Apalagi, keadaanya pada saat ini sama sekali tak bertenaga lagi, bahkan untuk menangkap seekor ayampun tak sanggup.

Kiranya, setiap kali penyakit sakit hatinya kambuh, maka satu jam kemudian tenaga dalamnya baru dapat pulih satu bagian, dan seluruh tenaga dalam yang dimilki akan pulih kembali dengan mengikuti bertambahnya waktu yang berlalu.

Jikalau semisalnya ia memilki dua belas bagian tenaga Iweekang didalam tubuhnya, maka pemuda tersebut hrus membutuhkan waktu dua belas jam lamanya untuk memulihkan seluruh tenaga dalam yang dimilkinya seperti sedia kala. Sudah tentu Cu Tong Ho tak tahu bila Pek Thian Kie mempunyai sebab-sebab semacam itu, sehingga ia harus berbohong terhadap kenyataannnya.

“Pek-heng, kalau begitu, biarlah aku gendong kau untuk melakukan perjalanan kembali ujarnya memecahkan kesunyian.”

“Eeeehmmm …… baiklah !”

Cu Tong Hoa segera menggerakkan tangan kanannya menarik pergelangan tangan Pek Thian Kie keatas, dengan sangat entengnya ia mengangkat badan pemuda tersebut keats punggungnya, sedang tangannya yang sedang mencekal diatas pergelanganntya diam-diam diperkencang.

Agaknya didalam cekalan tersebut secara diam-diam pengemis ini sedang memeriksa apakah pemuda itu betul- betul tak berilmu ataukah sedang pura-pura.

“Haaa ….. haaaa ….. semula aku kira kau sedang menipu diriku, kiranya kau benar-benar tidak memiliki kepandaian silat” ujar Cu Tong Hoa, kemudian setelah pemuda tersebut berada diatas punggungnya.

Mendengar perkataan itu, diam-diam dalam hati Pek Thian Kie merasa kegelian.

“Bagaimana kau bisa tahu ?” sengaja tanyanya “Seseorang bila pernah belajar ilmu silat, maka susunan

jalan darah serta urat nadinya tentu berbeda …… aaaaach ! sekalipun aku terangkan kaupun tidak bakal paham, baiknya tidak usah kita ungkap lagi ”

Ditengah pembicaraan tersebut, tubuhnya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat berkelebat kerah depan. Kepandaian silat yang dimiliki Cu Tong Hoa betul-betul amat dasyat, kecepatan gerak larinya benar-benar membuat hati orang merasa sangat terperanjat.

Hanya dalam beberapa kali enjotan saja mereka sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula.

……. Wah …….. Cu-heng, kau sedang terbang diatas awan ?” sengaja Pek Thian Kie menjert keras pura-pura merasa kaget bercampur ketakutan.

…. Huuuus …… siapa yang bilang ? inilah yang dinamakan ilmu meringankan tubuh !”

“Ooow ….. oooow ”

Sebelum matahari tengelam dibalik gunung. Cu Tong Hoa yang menggendong Pek Thian Kie telah tiba diluar kota Kay Hong, pengemis itu segera menghentikan larinya.

….Akhirnya kita sampai juga ditempat tujuan,” katanya kemudian sambil tertawa girang.

“Sudah sampai ?”

“Benar !” Cu Tong Hoa lantas menuding kearah sebuah hutan dihadapannya.” Stelah melewati hutan lebat ini, maka kita akan sampai dihutan bamboo itu, ayoh berangkat.

“Baiklah !”

“Kalau begitu, kita segera jalan !”

Setelah berkata, tanpa banyak cakap lagi ia memimpin jalan didepan menerobosi hutan tersebut.

Setelah menerobosi hutan lebat, sampailah mereka didepan hutan bamboo yang luasnya ada beberapa puluh lie.Diantara hutan bamboo itu terdapat sebuah jalanan kecil yang langsung menembus hutan yang lebih dalam. Dengan Cu Tong Hoa didepan Pek Thian Kie dibelakang, kurang lebih seperminuman the kemudian sampailah mereka didepan sebuah bangunan berloteng yang amat megah.

Istana harta ini benar-benar luar biasa sekali, bukan saja bangunannya yang kokoh, besar dan megah, bahkan merek kata-kata “ISTANA HARTA” yang tergantung diatas pilarpun terbuat dari emas murni.

Cukup ditinjau dari hal tersebut, sudah bisa dibayangkan berapa banyak emas yang tersimpan didalam istana harta ini.

“Cu-heng !” mendadak pemuda itu seperti telah teringat akan sesuatu. “Aku ada satu persoalan yang hendak ditanyakan kepadamu !”

“urusan apa ?”

“Istana harta ini sudah dubuka berapa lama ?” “Kurang lebih ada puluhan tahun lamanya”

“Darimnakah pihak istana harta ini memperoleh uang emas yang begitu banyak ? sekalipun emas mereka banyak bagaikan gunung, perak mereka berlimpah bagikan samudera, tetapi kalau dipakai terus bukankah akhirny akan habis ?”

“Pertanyaan yang kau ajukan sangat bagus sekali. Tetapi kau jangan kuatir, walaupun Istana Harta ini sudah dibuka selama puluhan tahun lamanya, tetapi belum pernah mengalami kehabisan atau kekurangan uang, sedangkan sumber uang mereka ….. seperti juga kau, aku sendiripun tidak tahu.”

Perlahan-lahan Pek Thian Kie mengangguk.

Cu Tong Hoa segera berkelebat menuju kearah pintu besar diatas tangga batu, lalu dengan tenangnya dia menghampiri orang lelaki berpakaian perlente yang berdiri didekat pintu.

Usia kedua orang perlente itu kurang lebih tiga puluh tahunan, jalan darah”Thay Yang Hiat” diatas keningnya menonjol tinggi-tinggi, sekali pandang dapat diraba bila tenaga Iweekang mereka sangat luar biasa.

Ketika Cu Tong Hoa tiba didepan pintu, lelaki berpakaian perlente yang berada disebelah kanan segera menggerakkan pedangnya menghadang.

“Kawan tunggu sebentar,” serunya sembari menjura “Ehmmmm ….!”

“Kau dating kemari, apakah hendak minta uang ?” “Betul !”

“Sungguh maaf !” seru lelaki berpakaian perlente itu lagi setelah memandang tajam keseluruh wajah Cu Tong Hoa. Istana kami selamanya tidak suka memberi uang kepada kum pengemis, jika kau menginginkan uang lebih baik pergi sana minta kelain tempat saja !”

“Kenapa ?”

“Karena menurut peraturan istana kami hanya memberi pinjaman kepada kawan-kawan Bu-lim saja”

“Air muka Cu Tong Hoa segera berubah hebat. “Bagaimana kau bisa tahu aku bukan kawan-kawan dari

kalangan Bu-lim ?” teriaknya gusar

Lelaki berpakaian perlente itu agak melengak juga dibuatnya, tetapi sebentar kemudian ia sudah tersenyum kembali.

“Aaakh …. Kalau begitu maaf, hamba ada mata tak berbiji, harap kawan jangan marah dibuatnya.” “Hmmmmm ! lain kali jika sampai begitu lagi, akan kutebas dulu sepasang kakimu”

“Sebelum kalian masuk kedalam ruangan, aku ingin bertanya dulu akan sesuatu hal. Sudah tahukah kau akan peraturan yang berlaku didalam istana harta ini ?”

“Tahu !”

“Coba kau sebutkan !”

“Bukan kawan dari kalangan Bu-lim dilarang meminjam. Dan asal-usul perguruan tidak jelas juga dilarang meminjam.”

“Betul, lalu tahukah kau ada beraapa macam cara untuk meminjam uang ?”

“Sudah tentua aku tahu.” “Coba kau sebutkan.”

“Kesemuanya dibagi menjadi lima golongan, golongan yang pertama termasuk dalam golongan “Putih” dan bagian ini diperuntukkan bagi kawan-kawan kangouw yang sering berkelana jumlah uang diberikan dapat diatur oleh pihak istana. Golongan kedua adalah “Hijau”. Dari pihak istana kirim wakil untuk bergebrak dengan orang itu, jika menang mendapat hadiah seratus tail perak. Golongan ketiga adalah “Hijau tua” yang menang memperoleh hadiah seribu tail perak. Golongan keempat adalah “Biru” yang menang memperoleh hadiah seribu tahil emas murni. Dan golongan yang terakhir “Merah” yang menang memperoleh hadiah lima ribu tahil emas murni.”

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah.” Si lelaki perlente itu tertawa.

“Lalu kawan bersiap-siap hendak memasuki golongan yang mana ?” “Golongan Hijau tua !”

“Hmmmm ! dengan mengandalkan beberapa jurus cakar ayammu apa kau merasa yakin sanggup untuk menerobosnya ?”

“Buat apa saudara begitu memandang rendah diriku ? berhasil atau tidak bukankah besok pagi bisa kau ketahui sendiri ?’

“Baiklah ! Kalian ikut diriku, silakan !”

Tanpa banyak bacot lagi, dengan langkah lebar, Cu Tong Hoa segera berjalan masuk kedalam istana, Pek Thian Kie yang ada di belakangnya buru-buru mengikuti pula.

Mendadak ……….

“Eeeei …. Kau mau apa ?” seorang lelaki perlente yang lain sudah meloncat kedepan menghadang jalan perginya.”

“Kawan ! kau jangan cari gara-gara dia adalah saudaraku

!” teriak Cu Tong Hoa cepat sambil putar badannya

Sinar mata lelaki tersebut berkilat ….. agaknya ia rada ragu-ragu untuk bertindak.

“Ia tidak termasuk orang Bu-lim bukan ?” serunya kemudian

“Betul !”

“Kalau begitu maafkan kami terpaksa tak dapat membiarkan dia untuk ikut masuk.”

“Dia datang kemari mengikuti diriku, kau hendak suruh dia pergi kemana untuk beristirahat ?” teriak Cu Tong Hoa tertawa.

“Kawan ! Lebih baik kau lepaskan dirinya, besok kami tak tak akan lupa untuk membagikan sedikit upah untukmu.” “Soal ini ….. heee ….heee…..heeee ……. Baiklah ! untuk kali ini biarlah aku sedikit melanggar kebiasaan.”

Demikianlah, dibawah pimpinan lelaki berbaju perlente itu Cu Tong Hoa serta Pek Thian Kie berjalan masuk kedalam ruangan tengah.

Didalam, sekali pandang saja Pek Thian Kie segera dibuat melengak dan berdiri termanggu-manggu oleh keadaan disana.

Ruangan tersebut dibangun amat kekar, kokoh dan megah, kemewahannya jauh melebihi istana kaisar, intan permata, barang-barang antic yang mahal harganya berserakan dikeempat penjuru, jumlahnya sangat banyak dan benar-benar membuat orang merasa kurang percaya.

Cukup dibicarakan dari permata-permata yang ditaburkan dikedua belah tiang pilar batu pualam ditengah ruangan, sudah terdiri dari berpuluh-puluh butir, sedang kata-kata “Menolong kaum miskin” yang terpancang di tengah ruangan tersebutpun terbuat dari deretan intan berwarna merah yang diatur rapih menjadi bentuk huruf.

Disebelah depan ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua berusia enam puluh tahun.

----------- ooo O ooo -----------

Bab 3

SI LELAKI berbaju perlente itu langsung membawa Cu Tong Hoa berdua kehadapan kakek tersebut.

“Cungkwee, ada seorang kawan dating kemari untuk pinjam sedikit uang !” lapornya. “Ehmmmmm ……. Sudah tahu !” sahut kakek itu tanpa mendongakkan kepalanya.

Menanti lelaki berbaju perlente itu sudah mengundurkan diri, perlahan-lahan si kakek tua itu baru mengalihkan sinar matanya keatas wajah Cu Tong Hoa serta Pek Thian Kie.

“Siapa diantara kalian berdua yang hendak pinjam uang

?” tanyanya kaku, nada suaranya sangat dingin seperti berada di dalam gudang es.

“Aku !” sahut Cu Tong Hoa singkat “Mau pinjam berapa ?”

“Seribu tahil perak!”

“Apa ?” agakmya si kakek tua tersebut merasa terperanjat setelah mendengar jumlah tersebut, sekali lagi ia mengulangi pertanyaan :

“Kau ingin pinjam berapa ?” “Seribu tahil perak !”

“Bocah Sungguh besar amat kantong nasimu, perkataanmu betul-betul berada diluar dugaanku, bagus ….. bagus sekali, bukan peraturan yang berlaku didalam istana harta ini bila ingin mendapatkan uang sebesar seribu tahil perak ?”

“Sedikitpun tidak salah, aku sudah menyelidiki dengan jelas semua hal-hal yang perlu”

“bagus sekali, siapakah namamu ?” “Cu Tong Hoa !”

“Umur ?”

“Delapan belas tahun” “Asal perguruan ?” “Tongcu urusan begitu luas, perkumpulan Kay-pang diluar perbatasan !”

Air muka si kakek tua itu kelihatan sedikit berubah, agaknya ia dibuat terperanjat oleh sepatah kata yang diucapkan oleh Cu Tong Hoa barusan ini, karena nama dari perkumpulan “Kay-pang” diluar perbatasan memang amat terkenal sekali di seluruh dunia persilatan.

Kabarnya pangcu mereka Bian Ih kay-ong atau si Raja pengemis berpakaian perlente mengutamakan kelihayannya didalam permainan ilmu jari yang sangat lihay.

Pemuda ini kalau memang sudah mengaku sebagai Tongcu urusan bagian luar dari perkumpulan Kay-pang, maka kepandaian yang ia miliki tentu bukan sembarangan lagi.

Terpaksa si kakek tua itu tersenyum.

“Tempo dulu akupun mempunyai kesempatan untuk berkenalan dengan Pangcu kalian, entah bagaimana keadaan dari Pangcu kalian kini ?”

“Bagus bagus …… ia sangat bagus !”

“Tahun ini berapa usia Pangcu kalian ?”

Agaknya ia sedang mengecek kebenaran dari pengemis muda itu.

“Tujuh puluh enam tahun !”

Mendengar jawaban tersebut si kakek tua itu lantas mengangguk, sinar matanya mulai beralih keatas wajah Pek Thian Kie.

“Dan Siapakah saudara ini ?” “Dia adalah kawanku.” “Berasal dari mana ?” “Ia tak mengerti akan ilmu silat, aku piker dia orang tentunya tak mempunyai suhu, karena perjalananku kali ini berangkat bersama-sama dengan dia, maka iapun ikut aku dating kemari …..”

“Tidak bisa jadi !” belum habis pengemis muda itu menyelesaikan kata-katanya, si kakek tua tersebut sudah memotong.

“Kenapa tidak bisa jadi ?” seru Pek Thian Kie keheranan.

“Istana kami hanya mengizinkan kawan-kawan dari kalangan Bu-lim saja yang boleh masuk, kalau dia bukan orang Bu-lim …… maaf ! istana kami tak dapat melanggar peraturan tersebut.

“Apa kau suruh dia orang beristirahat ditempat terbuka

?”

“Soal itu merupakan urusanmu sendiri, Istana kami tidak

mencampuri urusan pribadi orang lain!”

Nada ucapannya sangat tegas dan kaku, agaknya sama sekali tiada maksud untuk memberi kesempatan kepada pihak lawannya guna berunding.

Sebetulnya Pek Thian Kie tidak ingin berdiam disitu, tetapi sekarang setelah dirasakan dibalik “Istana Harta” ini agaknya masih tersembunyi suatu rahasia yang amat mencurigakan, dalam hatinya lantas mengambil keputusan untuk melakukan suatu penyelidikan yang teliti teka-teka ini.

Alasannya mudah sekali, karena jikalau majikan dari istana harta ini memang seorang hartawan yang kerjaannya berlimpah-limpah, maka tidak seharusnya ia membagi- bagina harta kekayaannya itu kepada orang lain dengan percuma. Pastilah dibalik kesemuanya ini sudah tersembunyi sesuatu tujuan tertentu.

Dan bilamana sunguh-sungguh dibalik kesemuanya ini ada tujuan yang sedang dinantikan, maka peristiwa ini tidak gampang.

Karena itu, dalam hatinya, ia lantas mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan.

“Walaupun aku bukan orang asal Bu-lim,” ujarnya kemudian dengan sangat tenang. “Tetapi suhuku adalah seorang yang sering berkelana didalam dunia kangouw…..”

Beberapa patah kata yang diucapkan oleh Pek Thian Kie barusan ini bukan saja membuat si kakek tua sang Ciangkwee tersebut merasa kaget, sekalipun Cu Tong Hoa sendiripun merasa terperanjat. Bagi si pengemis muda itu kejadian ini benar-benar berada di luar dugaannya. “Oooooouw …………siapakah nama suhumu ?” seru sang kakek tua itu rada tertegun.

Menerima pertanyaan yang diajukan kepadanya ini, sekarang gentian Pek Thian Kie yang dibuat termanggu- manggu. Bicara sesungguhnya hingga saat ini I sendiripun tidak tahu siapakah nama suhunya.

Otaknya dengan cepat berputar keras, sejenak kemudian ia baru memperoleh satu bayangan.

“Ia bernama “Hek Ih Kiam Khek” atau si jagoan pedang berbaju hitam !” sahutnya.

“Jagoan pedang berbaju hitam? Agaknya didalam dunia kangouw belum pernah didengar seorang jagoan yang menggunakan gelar Semacam itu “

“Jagoan Bu-lim yang namanya tidak menonjol didalam kalangan persilatan amatlah banyak jumlahnya, sekalipun namanya terkenalpun belum tentu kau bisa mengenali dan mengetahui seluruh jago-jago Bu-lim yang ada di kolong langit pada saat ini.”

“Perkataan dari saudara sedikitpun tidak salah, asalkan didalam Bu-lim ada seorang yang bernama demikian ditanggung dalam tiga hari mendatang, kami dari pihak istana harta pasti berhasil menyelidiki dengan jelas.”

Tetapi saudarapun harus ingat menurut peraturan istana kami, barangsiapa yang berani berbohong, dia akan dihukum mati.”

Diam-diam Pek Thian Kie merasakan hatinya bergidik setelah mendengar perkataan tersebut tetapi diwadanya ia masih tetap tenang tanpa menunjukkan sedikit perubahan apapun.

“kalau memang tiga hari kemudian kalian dapat berhasil mengetahui jelas gelar orang ini, lalu buat apa kau banyak bacot lagi pada saat ini ?” sindirnya ketus.

“Bagus ….. bagus …… lalu siapakah nama saudara ?” “Pek Thian Kie ……. !”

“Apa? Pek …. Thian ……. Kie?”

Nada suara kakek tua itu rada gemetar dan bimbang, ia menyebutkan nama Pek Thian Kie ini dengan suara yang keras dan panjang. Agaknya ! disuatu tempat tertentu ia pernah mendengar nama orang ini.

Pek Thian Kie sendiripun dibuat melengak oleh sikap sang Ciangkwee tersebut.

“Betul ….. apa yang tidak benar ?” serunya

“Aaaakh …. Tidak ada apa-apa yang tidak benar, aku Cuma merasa disuatu tempat agaknya sudah pernah mendengar nama orang itu …….” “Sungguh kebetulan sekali !”

“Hmmmm ! Kemungkinan memang suatu kejadian yang kebetulan.” Sahut sang kakek tuaitu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Tetapi kalau memang suhu saaudara adalah seorang Bu-lim, mengapa kau tidak mengerti akan ilmu silat ?”

“Soal ini sudah tentu ada alas an-alasannya. Menurut suhuku keadaan didalam dunia kangouw sangat berbahaya, bilamana belajar ilmu silat maka pada suatu hari ada kemungkinan bakal menemui ajal dibawah hantamanan orang lain, maka beliu suruh aku belajar membacsa dan bersyair saja, agar dikemudian hari berhasil merebut kedudukan yang layak di Ibukota.”

“Oooooouw …… kiranya begitu, berapa usia saudara ?” “Delapan belas!”

“Baiklah!” kata si kakek tua itu kemudian setelah termenung dan berpikir keras beberapa sat lamanya.” Biarlah Istana kami sekali ini melanggar kebiasan, tetapi didalam tiga hari kemudian istana kami baru berhasil menyelidiki asal-usul serta perguruanmu, jikalau ucapanmu ini ada sepatah kata saja yang berbohong, hati-hati saja badan bakal pindah tuan.”

“Soal ini kau boleh legakan hati, aku tak bakal melarikan diri.”

“Hantar tamu kebelakang!” Teriak si kakek tua itu kemudian setelah mendehem berat.

Diiringi suara bentakan tersebut, dari belakang ruangan muncullah seorang lelaki berbaju perlente yang langsung berjalan menuju kehadapan si kakek tua sang Ciang Kwee tersebut. “Hamba nantikan perintah.” Katanya

“Hantar kedua orang kawan ini untuk beristirahat.” “Baik!” perlahan-lahan lelaki itu menoleh kearah Cu

Tong Hoa serta Pek Thian Kie.

“Kalian berdua silakan mengikuti diriku …..”

Selesai berkata pertama-tama ia berjalan terlebih dulu menuju keruangan sebelah belakang.

Setelah melewati ruangan besar dan melewati sebuah serambi yang amat panjang, sampailah mereka didepan sebuah halaman yang penuh berisikan kamar-kamar.

Akhirnya lelaki itu memimpin kedua orang tersebut menuju kedalam salah satu kamr lalu kepada mereka berdua ujarnya :

“Kalian berdua silajan beristirahat, bila ada urusan silakan perintahkan saja.”

“Ehmmm …..! Kau boleh berlalu.” Sahut Cu Tong Hoa sambil mengangguk perlahan.

Setelah si lelaki berbaju perlente itu mengundurkan diri, Pek Thian Kie mulai mengalihkan sinar matanya menyapu sekejap keseluruhan ruangan kamar itu. Tampaklah olehnya walaupun kamar ini tidak begitu besar, tetapi sangat nyaman, bersih dan menyenangkan.

“Cu-heng, aku ada satu urusan yang hendak minta petunjuk.” Ujarn Pek Thian Kie kemudian memecahkan kesunyian.

“Ada urusan apa ?”

“Mengapa kita harus menanti sampai besok ?”

“Menanti dibuktikan dulu asal-usul kita yang sebenarnya.” Setelah memperoleh jawaban itu, Pek Thian Kie baru mengerti keadaan yang sebenarnya, segera tanyanya kembali : “Apakah sungguh-sungguh ada orang yang berhasil memperoleh uang dari dalam Istana Harta ini ?”

“Ada!”

“Banyak sekali?”

“Tidak begitu banyak, tetapi juga tidak begitu sedikit.” “Jikalau didalam pertandingan kita nanti kalah bergebrak

?” Tanya sang pemuda itu kembali sambil tertawa-tawa.

“Gampang sekali, tetap tinggal didalam Istana Harta ini, soal ini sudah dijadikan peraturan sejak dahulu.”

“Bila semisalnya orang itu tidak mau tinggal disini? “Oooouw …… mudah ……. Tinggalkan dulu batok

kepalanya, setelah itu kau boleh berlalu dari sini.”

“Kalau demikian adanya bukankah sama saja pihak “Istana Harta” ini sedang mengumpulkan jago-jago lihay dari Bu-lim dengan menggunakan harta kekayaan sebagai umpan?”

Semula Cu Tong Hoa rada tertegun, tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa.

“Aduuuuuuh sayng          ! kiranya kau masih tidak jelek

dan mengerti juga akan soal ini.”

“Acckh ……. Mana, mana …….. Siauw-te hanya menduga-duga saja sekenanya,” buru-buru sahut pemuda itu sambil tertawa rikuh.

“ada satu persoalan yang bagaimanapun juga aku harus beritahukan kepadamu,” ujar Cu Tong Hoa lebih lanjut dengan wajah yang keren dan serius. “Kau ada seorang manusia yang tidak mengerti akan urusan Bu-lim, lebih baik kurangilah buka suara dan mengucapkan kata-kata yang tak berguna sehingga jangan sampai mendatangkan banyak kerepotan buat dirimu sendiri tentang soal ini aku percaya tentunya kau tahu jelas bukan.”

“Siaue-te akan ingat-ingat.”

“Kalau begitu, kita harus beristirahat mulai sekarang, besok pagi masih ada urusan lagi!”

Kembali Pek Thian Kie mengangguk tanda menyetujui usul dari Cu Tong Hoa ini.

Didalam kamar itu terdapat dua buah tempat pembaringan yang terpisah, demikianlah Pek Thian Kie serta Cu Tong Hoa lantas masing-masing mengambil sebuah tempat pembaringan yang terpisah untuk beristirahat.

Pek Thian Kie yang didalam benaknya masih diliputi oleh berbagai persoalan, sampai tengah malam belum juga bisa tidur, pikirannya berputar dan melayang entah kemana

……..

Sebaliknya Cu Tong Hoa begitu berbaring sebentar kemudian sudah tertidur pulas, suara dengkurannya bergema memecahkan kesunyian dan memberikan irama yang amat lucu ditengah kesunyian.

Mendekati kentongan kedua, akhirnya Pek Thian Kie baru berhasil tidur pulas.

Sekonyong-konyong ……..

Pek Thian Kie tersadar kembali dari pulasnya oleh satu suara yang amat perlahan sekali, suara tersebut berasal dari pembaringan yang dibaringi oelh Cu Tong Hoa.

Buru-buru Thian-kie sedikit membuka matanya menengok, nampaklah dengan gerakan yang sangat hati- hati Cu Tong Hoa merangkak turun dari atas pembaringannya setelah memandang sekejap kearah Pek Thian Kie dengan langkah yang hati-hati ia membuka pintu, berjalan keluar …….

Menemui kejadian semacam ini, diam-diam Pek Thian Kie merasa amat terperanjat, ia merasa asal-usul Cu Tong Hoa rada sedikit mencurigakan. Ia menduga pula kedatangannya kedalam Istana Harta ini sama sekali bukan dikarenakan hendak mintakan uang but dirinya, melainkan dibalik kesemuanya ini masih tersembunyi satu persoalan

……. Agaknya ia hendak menyelidiki sesuatu.

Lama sekali Pek Thian Kie termenung, akhirnya satu pikiran terlintas didalam benaknya.

Dengan cepat ia bangun berdiri, turun dari pembaringan, lalu dengan gerakan sangat berhati-hati berjalan pula kearah luar kamar.

Baru saja tubuhnya hendak melangkah keluar, mendadak sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan kilat sudah menerjang kearahnya, sehingga bertumbukkan menjadi satu.

Ditengah suara bentrokan yang amat keras tubuh Pek Thian Kie kena terpukul mental enam, tujuh langkah kebelakang.

“Oooooouw kau ?” serunya kemudian

Ternyata orang yang baru saja menubruk kedalam pangkuannya bukan lain adalah Cu Tong Hoa, hal ini seketika itu juga membuat Pek Thian Kie merasa sangat terperanjat.

“Eeeei …… kau bangun mau apa?” tegur Cu Tong Hoa melengak ketika dilihatnya pemuda itupun sudah bangun. “Aku …… aku sedang mencari kau!” “Mencari aku?”

“Sewaktu aku terbangun dan melihat kau lenyap, maka buru-buru aku lantas bangun untuk mencari dirimu ………..

“Oooouw         Aku lagi pergi kencing!”

Pek Thian Kie menghembuskan napas panjang, diam- diam pikirnya :

“Aaaakh …… ! kiranya Cu Tong Hoa lagi pergi kencing

……..Tak terasa lagi ia mulai merasa geli atas sikapnya barusan yang banyak menaruh curiga.

“Mari kita tidur! Hari sudah hampir terang tanah.” Terdengar Cu Tong Hoa kembali berseru.

Pagi hari sudah menjelang tiba!

Suara ketukan santar menyadarkan Pek Thian Kie serta Cu Tong Hoa dari pulasnya.

“Siapa?” bentak Cu Tong Hoa perlahan sembari meloncat bangun dengan kecepatan bagaikan kilat.

“Cu Tongcu, ada undangan.”

Si pengemis muda ini segera mendekati pintu dan membukanya perlahan-lahan, tampaklah si lelaki berpakaian perlente yang menghantar mereka berdua kekamar kemarin malam sudah berdiri didepan pintu.

“Tongcu ruangan hijau dari istana kami ada panggilan,” katanya

Selesai berbicara, tanpa banyak menunggu lagi, lelaki itu segera putar badan dan memimpin Cu Tong Hoa menuju kearah ruangan besar, lalu berputar dan masuk kedalam sebuah ruangan lain dan masuk kedalam sebuah ruangan lain yang jauh lebih besar dari ruangan semula. Tampaklah didalam ruangan besar tersebut duduk seorang kakaek tua bermata tunggal yang memakai pakaian perlente, tidak usah ditanya lagi semua orang bisa menduga kalau orang inilah yang merupakan Tongcu dari “Ruang Hijau Tua”

“Tongcu ! Kau orang mengundang cayhe ada keperluan apa ?” seru Cu Tong Hoa sambil menjura kearah kakek tua bermata tunggal itu.

“Tidak berani, tidak berani …… Mengenai asal-usul saudara dari Pihak Istana kami sudah berhasil menyelidikinya dengan sangat jelas. Agaknya kedatangan saudara kedaerah Tionggoan ini bukanlah untuk pertama kalinya, bukan ?”

Cu Tong Hoa tertawa tawar

“Betul ! Kedatanganku kali ini adalah untuk kedua kalinya.”

“Tempo dulu pada tanggal berapa kau dating kemari ?” “Bulan ketiga, tiga tahun yang silam.”

“Oooouw ….” Kakek tua bermata tunggal itu tertawa.

“Entah ada keperluan apa sehingga saudara hendak minta uang sebesar seribu tahil perak ?”

“Ini termasuk soal pribadiku”

“lalu tahukah kau bahwa untuk memperoleh seribu tahil perak itu kau harus berhasil menangkis diriku terlebih dahulu?”

“Soal ini cayhe tahu.”

“Bila kalah ………” seru kakek itu kembali sambil tertawa mengejek. “Menggabungkan diri dengan Istana Harta kalian untuk menjabat sebagai pembantu.”

“Heeee…….heeeee……..heeeee……kalau kau sudah tahu begitu jelas, akupun tidak usah banyak bicara lagi.” Kembali si kakek tua bermata tunggal itu tertawa dingin tiada hentinya. “Pertempuran kita kali ini hanya bersifat sebagsa pi-bu saja ….”

“Sudah tentu, sudah tentu. Harap Tongcu suka turun tangan agak ringan terhadap diriku.”

Kakek tua bermata tunggal tidak banyak bicara lagi, sembari tertawa dingin ia bangun berdiri kemudian sedikit menggerakkan badannya melayang kehadapan Cu Tong Hoa.

“Silakan!” seru Cu Tong Hoa sambil menjura

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar, tubuh si kakek tua bermata tunggal ini dengan kecepatan laksana anak panah yang terlepas dari busur meluncur kedepan, telapak tangannya dengan dasyat mengirim satu pukulan gencar membabat tubuh musuh.

Dengan amat gesit Cu Tong Hoa segera menyingkir kesamoing, tangan kanannya buru-buru diangkat untuk menangkis datangnya serangan lawan.

Sesaat Cu Tong Hoa menyingkir kesamping itulah, serangan yang kedua maha dasyat dari pihak lawan kembali sudah menyapu dating, serangan kali ini jauh lebih hebat dari pada serangan pertama.

Agaknya Cu Tong Hoa sama sekali tidak menduga bahwa ilmu kepandaian pihak lawan bisa sedemikian tinggi, tubuhnya tak kuasa lagi kena tergetar mundur dua langkah kebelakang. Tetapi didalm waktu yang amat singkat itu pula serangan yang kedua sudah menyapu kembali.. bayangan manusia berkelebat simpang siur, angina pukulan menderu-deru membuat suasana diempat penjuru jadi panas dan membuat pernapasan menjadi sesak. Hanya didalam sekali bentrokan saja masing-masing pihak sudah saling mengirim dua buah pukulan kearah musuhnya, cukup ditinjau dari hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa tenaga dalam yang mereka miliki ternyata seimbangn.

Mendadak Cu Tong Hoa membentak keras, tubuhnya mencelat ketengah udara kemudian langsung menyerang kearah depan. Didalam situasi yang amat kritis dan berbahaya itulah berturut-turut ia telah mengirim tiga buah serangan berantai kearah depan.

Ketiga buah jurus serangan tersebut telah menggunakan hampir seluruh tenaga Iweekang yang dimilki Cu Tong Hoa selama ini, kedasyatannya juga bukan alang kepalang lagi.

Tak kuasa lagi si manusia aneh bermata tunggal itu kena terdesak mundur empat, lima langkah kebelakang, dengan susah payah akhirnya ia baru berhasil menghindarkan diri dari teteran pihak musuh.

Bayangan telapak taangan salaing berkelebat, hawa Iweekang saling menghantam, menyambar dan membabat memenuhi empat penjuru hanya didalam sekejap saja sepuluh jurus telah berlalu.

Perlahan-lahan Pek Thian Kie yang berdiri disamping kalangan pertempuran menarik kembali sinar matanya, ia percaya tenaga dalam yang ia miliki sendiri masih jauh lebih rendah satu tingkat jika dibandingkan dengan tenaga dalam yang dimiliki oleh Cu Tong Hoa, maka itu ia percaya ada sembilan bagian kemenangan ada ditangan pihak pengemis muda tersebut. Mendadak …….

Diiringi suara bentakan keras yang gegap gempita tubuh Cu Tong Hoa berputar kencang ditengah udara, lalu melayang mundur kearah belakang.

“Tongcu, terima kasih atas kemurahan hatimu,” serunya sambil tertawa dingin.

Paras muka si manusia aneh bermata tunggal itu berubah hebat, selintas senyuman paksa mulai menghiasi bibirnya.

“Ehmmmm ……. Kepandaian ilmu silat saudara betul- betul sangat mengagumkan!” pujinya

“Terlalu memuji, kesemuanya ini bukan kah disebabkan Tongcu suka bermurah hati …….”

“Hmmmm ! apakah uang tersebut hendak saudara ambil sekarang juga ?”

“sedikitpun tidak salah, lebih baik diberi uang emas saja, sehingga rada gampang untuk membawanya ?”

“Bagus sekali !”

Demikianlah, si manusia aneh bermata tunggal itu lantas memerintahkan sang Ciangkwee untuk menyediakan uang seribu tahil perak menjadi beberapa batang emas murni untuk diserahkan ketangan Cu Tong Hoa.

“Pek-heng !” kata si pengemis itu kemudian sambil melirik sekejap kearah Pek Thian Kie. “Mari kita segera berangkat”

Mendengar ajakan tersebut agaknya Pek Thian Kie dibuat rada tertegun, kini ia sudah tiba disini, sebelum urusan selidikan jelas mengapa ia malah bermaksud hendak pergi ? Peristiwa ini betul-betul rada mengherankan. Baru saja ucapan Cu Tong Hoa selesai diutarakan, mendadak sang Ciang Kwee yang ada disamping sudah menimbrung :

“Cu Tongcu ! Kau hendak berlalu silakan berlalu, tetapi saudara ini masih harus tetap tinggal disini.”

“Mengapa?”

“Asal-usulnya belum berhasil kami selidiki jelas.”

“Jika kalian tak berhasil menyelidikinya, apakah kita diharuskan menanti setahun lamanya ?”

“Heeeee …….. heeeeeee heeeee …… Cu Tongcu

! Tentunya kau mengetahui keadaan disini bukan? Peraturan Istana harta selamanya tidak pernah menahan tetamunya melebihi tiga hari ”

“Heeeee …….. heeeeeee ……….heeeee ……baiklah, biar kita tunggu dua hari lagi!” sahut Cu Tong Hoa kemudian tertawa dingin.

Perubahan yang dilakukan oleh Cu Tong Hoa secara mendadak ini benar-benar berada diluar dugaan Pek Thian Kie, karena keinginan si pengemis tersebut untuk tetap tinggal didalam “Istana harta” amat jelas sekali. Kalau tidak, bukankah ia bisa tinggalkan emas itu, kemudian berlalu sendiri.

----------- ooo O ooo -----------