Manusia Jahanam Jilid 18

 
Jilid 18

Mendengar perkataan Siauw-jie, rupanya keempat kawan Siauw-jie jadi terkejut. Mereka telah cepat-cepat berdiri. Dengan cara begitu, Seng Kim bisa menarik napas lega. Karena kalau sampai kelima wanita ini meneruskan permainan mereka, yang jelas Seng Kim tidak akan dapat mempertahankan bibit hidupnya, biar bagaimana dia seorang lelaki, dikeroyok begitu oleh

 permainan kelima wanita tersebut, dengan sendirinya dia akan gugur dengan cepat.

Sedangkan Siauw-jie dan keempat kawannya, telah berpakaian kembali. Seng Kim tidak mau melihat tubuh kelima wanita itu, yang terpampang di depan matanya. Seng Kim memejamkan matanya rapat-rapat, karena dia benar-benar murka sekali. Siauw-jie  saat itu telah mengeluarkan suara tertawa.

“Nah, tugas kami telah selesai silahkan kau mengaso saja dulu untuk

memupuk kekuatan!” kata Siauw-jie sambil tetap tertawa.

Seng Kim tidak meladeninya, dia juga tidak membuka kelopak matanya. Di dalam hatinya, dia memaki kalang kabutan terhadap kelima wanita itu. Namun tidak ada sepatah perkataanpun yang keluar dari mulutnya,

Cepat sekali Siauw-jie dan keempat kawannya telah meninggalkan kamar itu, sehingga Seng Kim kembali hanya rebah terlentang tidak berdaya begitu seorang diri, dan Seng Kim sampai mengucurkan air mata akibat perasaan duka dan penasaran yang berkecamuk di dalam hatinya.

Yang disesalkan oleh Seng Kim, mengapa justeru dia yang mengala mi kejadian seperti ini, perbuatan mesum dan memalukan.

Dan yang selalu menjadi pemikiran Seng Kim, dengan lenyapnya bibit hidup dari tubuh Seng Kim, berarti Iwekang yang telah dilatihnya memakan waktu cukup lama, akan hilang sebagian. Perasaan nikmat yang pernah dirasakannya itu tidak menutupi perasaan menyesalnya. Biar bagaimana Seng Kim tetap mengutuk Gouw She Niang dan murid-muridnya itu tidak habisnya.

SEDANG menggeletak dengan pikiran yang melayang-layang di atas pembaringan itu, karena hatinya tengah diliputi oleh perasaan duka dan penasaran, maka telinganya telah dapat mendengar lagi suara langkah kaki yang perlahan dan ringan.

Hal itu menunjukkan ada orang yang tengah mendekati ke kamarnya itu. Tetapi suara langkah orang itu yang perlahan dan ringan, menunjukkan bahwa orang itu memiliki ginkang yang sangat tinggi.

Seng Kim jadi tergoncang kembali hatinya. karena dia takut Siauw-jie dan keempat kawannya datang kembali ke kamar tersebut. Dia takut dipermainkan kembali. Maka dari itu, tanpa diinginkan olehnya, kedua matanya

 telah terpentang lebar-lebar mengawasi kearah pintu itu. Dan tampak pintu telah didorong oleh seorang terbuka lebar.

Mata Seng Kim jadi terpentang lebih lebar dari semula. Karena yang melangkah masuk itu tidak lain dari Gouw She Niang! Malahan wanita she Gouw tersebut melangkah masuk dengan bibir tersenyum girang.

“Tadi murid-muridku telah kuperintahkan untuk memancing kelaki- lakianmu, guna melihat apakah  kau masih memiliki kekuatan yang kuinginkan!!” kata Gouw She Niang sambil menutup pintu itu.

Seng Kim tidak menyahuti, dia berdiam diri dengan hati yang tergoncang keras. Setelah menutup pintu itu, dan menguncinya Gouw She Niang telah membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri pembaringan.

Mulut wanita itu masih mengoceh terus : “Dan murid-muridku itu telah memberikan laporan, bahwa kau masih memiliki kekuatan yang penuh dan kejantanan yang hebat sekali. Inilah yang menggirangkan benar hatiku! Inilah yang disebut Hokkie (rejeki) !”

Dan setelah berkata beitu, Gouw She Niang telah tertawa. Dia rupanya tidak bicara dusta, bahwa dirinya memang sedang girang. Suara tertawanya itu memperlihatkan bahwa dia memang sangat girang sekali.

Seng Kim masih berdiam diri saja. dia tidak mengetahui apa yang harus dikatakannya. Dan yang membuat kepala serta telapak tangan dan telapak kaki Seng Kim jadi dingin seperti direndam di dalam air es, adalah kedatangan wanita ini karena berarti dirinya akan mengalami suatu 'penyiksaan' kembali.

Walaupun tadi kenyataannya, Siauw-jie  dan keempat oran kawannya tidak melakukan 'penyiksaan' itu terlanjur jauh hanya bersifat 'menguji' saja, tetapi sekarang pada diri Gouw She Niang niscaya malahan akan membuktikan segalanya seperti tadi yang pertama.

Gouw She Niang telah menghampiri sampai didekat  pembaringan. Dia telah duduk ditepi pembaringan, tetapi dia belum membuka pakaiannya, rupanya memang Gouw She Niang sengaja melakukan hal seperti itu, untuk melakukan permainannya perlahan-lahan.

Seng Kim telah memejamkan matanya rapat-rapat.

“Engko kecil!!” panggil Gouw She Niang lagi waktu melihat sikap Seng

Kim. Seng Kim tetap memejamkan matanya. “Engko kecil!”

Tetapi Seng Kim berdiam diri.

 “Engko kecil!”

“Tidak usah kau memanggil diriku, aku benci! Benci! Benci padamu!” teriak Seng Kim tiba-tiba dengan suara yang keras. Tetapi Seng Kim menjerit begitu dengan kedua matanya masih tertutup rapat. Gouw She Niang tertawa kecil melihat akan sikap Seng Kim ini.

“Hai! Hai! Kembali silat kekanak-kanakanmu timbul kembali!!” kata Gouw

She Niang kemudian sambil menghela napas.

Namun bibir Gouw She Niang masih saja tersenyum ramah.

“Mengapa kaus harus marah-marah begitu? Bukankah kalau kita bicara secara baik-baik kita akan memperoleh kegembiraan yang sangat? Percuma saja kau marah-marah, karena segalanya tokh akan  tetap berjalan lancar tetapi dengan kau marah-marah seperti itu, berarti kau menyiksa dirimu sendiri dengan perasaanmu itu?”

“Memang kalian wanita-wanita keparat dan mesum!!” teriak Seng Kim. “Kalian adalah wanita-wanita cabul, aku berdoa agar Thian men urunkan kutukannya kepadamu!”

Mendengar makian Seng Kim, Gouw She Niang telah tersenyum.

“Jangan bicara terlalu kasar begitu, bukankah biarpun kami begini-begini juga telah memberikan kepuasan untuk dirimu!” kata Gouw She Niang sambil tersenyum, dia tidak marah mendengar makian yang dilontarkan  oleh Seng Kim.

Tetapi Seng Kim sudah naik darah, dia melengos kearah lain. Sepasang matanya juga telah dipejamkan rapat-rapat  kembali. Gouw She Niang tersenyum. Diulurkan tangan kanannya, dia mengusap muka Seng Kim .

“Menolehlah kemari, engko kecil!?” kata Gouw She Niang sambil tertawa.

“Ada yang ingin kutanyakan kepadamu!!”

Seng Kim jadi naik darah, dia tambah murka saja oleh perlakuan yang diterima oleh Gouw She Niang. Tetapi karena pada saat itu dia tidak berdaya, dengan sendirinya, biarpun dia murka sekali, tokh dia tidak bia berbuat apa- apa.

Dia hanya bisa memendam rasa dendam di dalam  hatinya. Biar bagaimana keadaan Seng Kim pada saat itu seperti juga orang lumpuh. Maka dari itu, dia tidak bisa mengumbar kemarahan hatinya.

 Coba kalau saja pada saat itu keadaan tubuhnya dalam keadaan bebas, niscaya dia akan melancarkan serangan kepada Gouw She Niang. Sedangkan Gouw She Niang sendiri waktu melihat Seng Kim 'mengambek' begitu, dia telah tersenyum lagi, diusapnya kembali muka Seng Kim. Usapannya itu malah lebih lembut dan seperti menyayanginya, seperti usapan seorang kekasih.

“Engko kecil, sekarang sekali lagi kuminta agar kau mau menjelaskan siapa namamu yang sebenarnya!'“ kata Gouw She Niang kembali dengan suara yang lembut dan perlahan.

“Jangan banyak bicara!” bentak Seng Kim gusar sekali, dia membentak begitu tetap dengan mata yang terpejamkan.

“Jangan banyak bicara!” tanya Gouw She Niang “Apakah kau memang sudah tidak sabar engkoh kecil dan ingin melakukan permainan  itu cepat- cepat?”

Tentu saja pertanyaan dari Gouw She Niang itu membuat darah Seng Kim meluap naik ke kepala. Biar bagaimana dia mengetahui bahwa Gouw She Niang memang sengaja ingin mempermainkan dirinya.

“Bunuhlah diriku!” teriak Seng Kim dengan suara yang nyaring ketika dia memutar kepalanya menoleh kepada si wanita she Gouw tersebut, “Bunuhlah diriku, janganlah kau merusak diri dan hidupku dengan perbuatan mesummu itu!”

Gouw She Niang ternyata sabar sekali, dia tidak marah oleh perkataan yang diucapkan oleh Seng Kim, malahan tersenyum.

“Membunuh dirimu? Apakah kau benar-benar sudah tidak menyayangi jiwamu dan ingin cepat-cepat mati, engko kecil?” tanyanya.

Disanggapi begitu, Seng Kim jadi merandek, dia melengak.

“Jawablah! Apakah kau benar-benar telah bosan hidup?” tegur Gouw She

Niang lagi.

Seng Kim saat itu menyadari bahwa Gouw She Niang bukan perempuan baik-baik, dia bisa saja membuktikan perkataannya. Maka dari itu, Seng Kim juga menyadarinya, kalau dia telah mendesak untuk dibunuh, dan  kalau memang wanita itu tersinggung, jelas dia memang bisa dibunuh oleh wanita she Gouw tersebut.

Melihat Seng Kim tidak menyahuti pertanyaannya, Gouw She Niang tertawa.

 “Hmmm, maka dari itu, kalau kau bicara jangan terlalu sembrono!!” kata Gouw She Niang lagi. Muka Seng Kim jadi berobah merah padam,  dia jadi nekad.

“Baik! Baik! Kau bunuhlah diriku!!” teriak Seng Kim. “Apakah kau kira aku jeri untuk mati?”

“Perkataanmu itu benar-benar  perkataan seorang Hohan!” kata Gouw

She Niang.

“Daripada aku dihina,  lebih baik aku mati saja!” teriak Seng Kim

memotong perkataan Gouw She Niang.

“Hmmm, apakah kalau kau kubunuh, maka kau kira dirimu mati dalam keadaan bersih? Bukankah tadi sebelumnya kau juga telah melakukan perbuatan mesum itu bersama-sama diriku?”

Ditegaskan begitu,  Seng Kim jadi melengak kembali, dia kaget sendirinya. Karena apa yang dikatakan oleh Gouw She Niang mempunyai kebenarannya juga. Kalau memang dia tadi terbinasa sebelum kejadian mesum yang memalukan itu terjadi, mungkin dia bisa mati dengan terhormat.

Tetapi sekarang, segalanya telah terlanjur, umpama kata diapun dibunuh oleh Gouw She Niang, malahan dia mati dengan penasaran sekali, begitu juga dirinya masih diliputi oleh noda yang tidak mungkin terhapuskan kembali.

Maka dari itu, Seng Kim jadi diliputi oleh keragu-raguan. Bukankah kalau memang dia terbinasa sekarang berarti dia yang akan menjadi rugi, karena penasaran dan sakit hatinya tidak akan terbalas?!

Siapakah yang mengetahui kejadian itu? Sedangkan ayahnya   sendiri tidak mungkin mengetahui bahwa dirinya terbunuh oleh seorang wanita seperti Gouw She Niang ini. Tentu ayahnya hanya mengirim orang untuk menyelidikinya.

Kalau penyelidikan itu bisa berhasil, tentu ayahnya akan membalaskan sakit hatinya, tetapi kalau memang penyelidikan  ini gagal, tentu segalanya akan sia-sia!! Apa lagi Seng Kim menyadari, wanita seperti Gouw She Niang ini merupakan seorang wanita yang tidak bermalu.

Jelas kalau dia membunuh Seng Kim, dia akan mencuci tangan dengan melemparkan mayat Seng Kim ke jalan raya saja. Hal itu sudah cukup baginya untuk melepaskan tanggung jawabnya.

“Bagaimana engko kecil, apakah sekarang kau masih mempunyai niat untuk mati?” tegur Gouw She Niang ketika melihat Seng Kim berdiam diri saja.

 Seng Kim tidak menyahuti.

“HMMM, kukira sebagai manusia, kau akan hidup bahagia kalau bisa merasakan nikmat yang kuberikan itu! Untuk apa mati muda-muda?!”

Seng Kim tetap tidak menyahuti, dia tetap berdiam diri saja. Saat itu, Gouw She Niang telah berdiri dari duduknya.

“Baiklah, kalau kau memang tidak  mau memberitahukan namamu, biarlah! Kita mulai saja permainan kita ini!!” kata Gouw She Niang kembali sambil membuka satu persatu pakaiannya.

Seng Kim mendesir darahnya, dia kaget dan ketakutan sekali.

“ Ja jangan tolonglah kau jangan mempermainkan diriku  lagi , aku tentu tidak akan melupakan budimu kalau memang kau mau membebaskan diriku!” kata Seng Kim gugup bukan main.

Gouw She Niang tertawa sambil sengaja memperlihatkan wajah seperti orang yang keheranan.

“Aku ingin memberikan kenikmatan yang luar biasa kepadamu, lalu mengapa kau malah seperti keberatan dan ingin menampik, malahan tampaknya kau seperti begitu ketakutan sekali? Bukankah dengan diberikan kenikmatan itu, kau bisa merasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa? Apa lagi memang usiamu masih muda, dan di dalam usia yang demikian muda, ternyata kau sudah bisa merasakan kenikmatan yang begitu hebat! Bukankah ini suatu yang luar biasa?”

Muak hati Seng Kim mendengar perkataan wanita ini. Belum lagi dia menyahuti, Gouw She Niang telah berjongkok. Dia telah melakukan perbuatan seperti sebelumnya, dari ujung kaki Seng Kim, terus naik sampai kedada, yang dijilati oleh ujung lidahnya, seperti juga Gouw She Niang ini seekor anjing betina yang sedang menjilat sepotong daging atau tulang.

Seng Kim merasakan kembali perasaan yang mengitik-ngitik hatinya. Dia juga berkelojotan kegelian bercampur suatu perasaan aneh. Sama seperti kemarin. Malahan tampaknya Gouw She Niang kali ini jauh lebih semangat dari sebelumnya.

Napasnya juga memburu keras sekali,mengandung hawa hangat, yang menimbulkan juga suatu perasaan yang membuat tubuh Seng Kim menggigil keras, karena desah napas itu telah menghembus-hembus pahanya, sehingga dia merasakan kegelian yang sangat.

 Seng Kim benar-benar kewalahan menghadapi perempuan seperti Gouw She Niang ini. Karena biarpun dia telah berusaha untuk membendung perasaannya itu, tokh tetap saja dia tidak berhasil juga.

Malahan perasaan geli dan perasaan yang mengitik-itik  hatinya itu, semakin terasa, semakin lama jadi semakin hebat, semakin lama jadi semakin naik tinggi kekepala membuat Seng Kim mengetahui bahwa dia akhirnya tokh narus menyerah pada segalanya karena Gouw She Niang memang telah ulung dan mengetahui bagian-bagian mana yang bisa melemahkan hati Seng Kim, yang bisa menimbulkan perasaan nikmat yang bukan main.

Seng Kim sendiri sudah memejamkan matanya, dia sudah tidak memperdulikan segala apapun juga, karena dia akhirnya benar-benar jadi merasakan dan menikmati perasaan nikmat yang aneh itu.

Maka dari itu. Seng Kim sudah terlambung di dalam dunianya yang lain. Malahan tanpa disadarinya, tubuhnya sudah menggeliat-geliat, seperti mengimbangi gerak kepala dan tubuh dari Gouw She Niang yang juga bergerak tidak hentinya, sibuk dengan pekerjaannya itu.

KITA tinggalkan dulu Seng Kim yang sedang dipermainkan oleh Gouw She Niang. Mari kita menengok kepada Siauw-jie  dan keempat orang kawannya.

Mereka telah memberikan laporan kepada guru mereka dan kemudian melihat sang guru telah pergi memasuki kamarnya lagi. Sebetulnya Siauw-jie dan keempat kawannya itu ingin pergi turun dari atas tangga tersebut. Namun salah seorang diantara keempat kawannya itu, Siauw-it, telah berkata :

“Apakah kalian tidak tertarik untuk menyaksikan  permainan Suhu?!”

tegurnya.

“Ihhh kau mau mencari mati?” tegur Siauw- jie terkejut. Kawannya itu, Siauw It, telah tertawa.

“ Suhu mana bisa mengetahui perbuatan ki ta, bukankah kita akan mengintainya dikala dia tengah sibuk melakukan pekerjaannya? Hmmm, dengan menyaksikan apa yang dila kukan oleh Suhu, kita bisa menari k pelajaran yang jauh lebih berharga, karena kalau yang diajarkan oleh Suhu, belum tentu sepenuhnya pengetahuan yang dimiliki Suhu! Te tapi kalau kita telah mengintainya dan menyaksikan dengan kepala dan mata

 sendiri   tentu   kita   bisa   melihatnya   cara   Suhu   me mpermainkan

korbannya!”

Siauw- jie dan ketiga gadis yang lainnya jadi berdiri ragu -ragu. Karena mereka menganggap perkataan Siauw It memang ada benarnya juga.

“ Bagaimana?” tegur Siauw It lagi. “Bu kankah kalau kita telah melihatnya, kita bisa mencobanya nan ti?!”

Siauw- jie masih tetap berdiri ragu -ragu. Sedangkan ketiga gadis yang lainnya telah mengangguk -anggukkan kepalanya. Tandanya mereka menyetujui saran kawan mereka, tetapi mereka belum memberikan ko - mentar. Rupanya ketiga galis i tu menantikan keputusan Siauw- jie. Sedangkan Siauw- jie masih saja ragu- ragu.

“ Tetapi ” kata Siauw- jie, dia t idak meneruskan perkataannya, hanya menatap kearah keempat kawannya bergantian.

“ Tetapi apa lagi?” tegur Siauw It dengan perasaan tidak sabar.

“ Kalau memang nanti Suhu  mengetahuinya?” “ Bagaimana Suhu bisa mengetahui?”

“ Tentu langkah kaki kita diketahuinya '“

“Hmmm, kau bodoh Siauw- jie, t idak mau berpikir sedikit! Bukankah sudah kukatakan tadi, bahwa kita mengintainya dikala Suhu tengah sibuk dengan pekerjaannya i tu? Bukankah dia jadi tidak memperhatikan keadaan sekelilingn ya!  Apa  lagi  sedang  serunya!  Hmmm,  seperti  kau t idak pernah merasakannya saja, kalau memang kau sedang  seru- serunya dengan korbanmu, bukankah ada gempa bumi juga kau t idak memperdulikannya?!”

Siauw- jie masih ragu- ragu saja.

“ Bagaimana? Kita perlu ketegasan!!” de sak Siauw It.

“ Aku takut!”

“ Apa lagi yang kau takuti?”

“ Aku takut nanti dimarahi Suhu!”

“ Kalau omong kosongnya nanti perbuatan kita diketahui oleh Suhu, kita bisa saja  memberikan alasan kepada Suhu, bahwa kita tokh muridnya dan dengan menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang dikerjakan oleh Suhu, bukankah hal itu bisa menambah pengalaman kita? Bukankah Suhu menginginkan kita juga memperoleh kemajuan yang cepat. Hmmm, kau terlalu jauh berpikir Siauw-jie, terlalu banyak bertele-tele!”

 Siauw-jie berdiam diri saja. Tampaknya Siauw-jie memang tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat di dalam persoalan ini. Karena biar bagaimana dia adalah murid dari Gouw She Niang, dan dengan sendirinya dia sangat menghormati dan jeri kepada gurunya tersebut.

Tetapi keinginan dari kawannya yang keras itu, juga sebetulnya sangat merangsang diri Siauw-jie sendiri. Dihati kecilnya dia juga memang ingin sekali untuk menyaksikan permainan gurunya itu. Namun perasaan  takutnya  juga selalu menghantui dirinya. Keempat kawannya jadi mendongkol juga melihat sikap yang diperlihatkan oleh Siauw-jie.

“Sudahlah kalau memang kau tidak mau, kau boleh turun ke bawah. Sedangkan kami akan pergi untuk melihatnya! Kau jangan menyesal nantinya kalau tidak bisa menyaksikan pertunjukan yang seru itu!” kata Siauw It yang telah mendongkol juga.

Siauw-jie jadi tergerak hatinya.

“Tunggu dulu!” katanya. “Kau ikut kami?”

“Baiklah!!” menyahuti Siauw-jie sambil menganggukkan kepalanya.

“Nah   begitu saja sejak tadi, tidak akan ada kerewelan!!” kata Siauw It.

“Kapan kita mulai mengintainya?” tanya Siauw-jie dengan suara masih memperlihatkan bahwa diapun masih diliputi keragu-raguan.

“Kita bisa saja mengaturnya rencana kita itu sebaik mungkin!” Sauw It memberikan sarannya. “Kita masuk ke dalam kamar disebelah dari kamar Suhu, yaitu kamar nomor empat, bukankah di sana terkurung si tahanan nomor empat?! Kau Siauw-jie, pura-pura meneriaki Suhu, bahwa kau ingin main-main dulu dengan si tahanan nomor empat.”

“Benar!” menimpali ketiga kawan Siauw-jie yang lainnya. Siauw-jie juga merasakan bahwa alasan itu memang masuk akal.

Tentu gurunya tidak akan menyangka bahwa mereka berkumpul di kamar empat disebelah kamar guru mereka itu. Dan di kamar nomor empat tersebut, mereka bisa mengintainya permainan guru mereka, karena pada dinding papan pemisah kamar tersebut, terdapat sela-sela yang menembus ke kamar guru mereka.

Siauw-jie mengangguk.

 “Baiklah!” kata Siauw-jie sambil melangkah hati-hati dan perlahan menghampiri ke kamar nomor empat itu. Yang lainnya mengikuti di belakang Siauw-jie dengan tindakan kaki yang hati-hati.

Ketika sampai di muka kamar nomor empat itu, Siauw-jie telah membuka pintu itu. Mereka berlima memasuki kamar tersebut. Kamar itu kecil sekali, di atas pembaringan tampak seorang lelaki berusia diantara tiga puluh tahun, dalam keadaan telanjang rebah tidak berdaya di atas pembaringan, rupanya dia memang sama keadaannya dengan Seng Kim.

Tetapi, Siauw-jie dan yang lainnya tidak mengacuhkan lelaki itu, si tahanan nomor empat tersebut. Setelah menutup pintu itu kembali, Siauw-jie kemudian mencari tempat untuk mereka masing-masing  mengintai ke kamar guru mereka.

Si tahanan nomor empat itu jali heran sekali melihat lagak kelima gadis itu. Dia hanya memandang bengong dengan mata yang kuyup sekali. Rupanya lelaki yang menjadi tahanan nomor empat ini, telah digarap terlampau sering sehingga tubuhnya jadi kurus kering.

“Suhu!” Siauw-jie sengaja memanggil dengan suara tidak begitu keras.

“Hmmm......” hanya terdengar suara mendehem sang guru itu.

Rupanya Gouw She Niang sedang sibuk dengan pekerjaannya, sehingga untuk menyahuti saja dia tidak bisa. Malahan suara dari mendehemnya itu terdengar seperti juga suara mendehem yang bercampur oleh napas yang mendesah.

“Suhu! Tecu (murid) ingin main-main sebentar dengan tahanan nomor empat!” teriak

Siauw-jie lagi dengan hati ragu-ragu.

“Hmmm.....” kembali Gouw She Niang terdengar hanya mendengus begitu.

“Apakah Suhu mengijinkannya?!”

“Lakukanlah tetapi jangan menggangguku lagi!” menyahuti Gouw She Niang dengan suara yang tidak sabar, dan suara selanjutnya tidak jelas terdengar lagi karena mulut sang guru itu seperti repot didekap oleh sesuatu.

Siauw-jie jadi girang! Tanpa memperdulikan tahanan nomor empat, kelima gadis yang masih muda-muda ini telah mencari liang-liang kecil pada dinding pemisah kamar itu. Dan mereka telah memperoleh tempat yang mereka inginkan. Kelimanya telah memperoleh lobang-lobang kecil pada dinding itu.

 Dengan leluasa mereka telah dapat mengintai ke kamar gurunya. Halaman  s/d  tidak ada

Tetapi kenyataannya memang Seng Kim saat itu tidak berdaya sama sekali. Untuk menggerakkan sepasang tangan dan tubuhnya saja dia tidak bisa. Juga seluruh sendi-sendi tulang di tubuhnya, pada kedua siku tangan, lutut kakinya, semunya dirasakan begitu ngilu dan juga begitu pegal terasa begitu nyeri dan seperti juga mau bercopotan.

Dengan sendirinya, hal ini mau tidak mau membuat Seng Kim jadi tidak berdaya sama sekali untuk dapat menggerakkan tangannya.  Umpama kata pada saat itu Seng Kim memaksakan dirinya menggerakkan tangannya untuk menghantam Gouw She Niang, niscaya akan gagal, dan berarti Gouw She Niang akan murka dan juga malah bisa berbalik Seng Kim sendiri yang akan dibinasakannya!

Maka itu, mau tidak mau Seng Kim harus memperhitungkan segalanya, agar dirinya tidak mengalami penasaran yang jauh lebih hebat lagi.  Biar bagaimana memang Seng Kim sedang berpikir keras, bagaimana dia dapat meloloskan diri dari cengkeraman tangan perempuan cabul seperti Gouw She Niang ini.

Cuma saja, dalam kedaan dirinya begitu rupa, jelas hal tersebut tidak dapat membantu Seng Kim memperoleh jalan keluar. Walaupun Seng Kim memang memiliki kecerdikan yang bukan main, terani kenyataannya dia tidak dapat untuk mempergunakan kecerdikannya itu untuk dapat   meloloskan dirinya.

Karena persoalan yang tengah dihadapnya itu memang merupakan persoalan yang pelik sekali. Mau tidak mau memang Seng Kim harus berusaha seterusnya guna dapat menguasai dirinya.

Akhirnya, karena Seng Kim tidak mengetahui apa yang harus dilakukan ia, maka dia hanya memejamkan matanya juga, dan beru saha untuk mengaso. Dalam keadaan mata terpejamkan begitu, Seng Kim masih mendengar desah napas Gouw She Niang yang begitu memburu agak keras.

SAAT ITU Seng Kim rebah dalam keadaan tidak berdaya di atas pembaringan. Tubuhnya entah kenapa masih saja lemas tidak bertenaga. Dengan sendirinya, mau tidak mau Seng Kim masih tidak bisa untuk menggerakan kaki tangannya. Tetapi biar bagaimana  memang Seng Kim tetap

 penasaran. Disamping perasaan penasarannya itu, Seng Kim juga jadi tambah gugup saja.

Bayangkan, betapa sampai detik itu dia masih  belum  dapat menggerakkan kedua kaki dan kedua tangannya. Bagaikan mayat hidup saja yang rebah di atas pembaringan itu. Sedangkan Gouw She Niang sendiri telah meninggalkan kamar tersebut.

Memang tadinya Seng Kim masih memutar otak untuk berusaha mencari jalan keluar guna meloloskan diri. Namun setelah berselang begitu  lama tubuhnya masih saja lemas tidak bertenaga, membuat dia jadi putus asa dan lenyap harapan.

Dengan sendirinya, biar bagaimana memang kenyataannya Gouw She Niang waktu mau meninggalkan kamar itu, telah menciumnya, membuat Seng Kim tambah mendelu saja, namun dia tidak berdaya.

Sekarang hanya Seng Kim rebah seorang diri di pembaringan itu penuh keputus asaan dan kemendongkolan yang sangat. Biar bagaimana memang kenyataannya Seng Kim seorang pemuda tanggung yang memiliki kecerdikan yang bukan main dan juga memang dia memiliki kepandaian yang lumayan.

Namun karena dia telah mengalami nasib yang begitu buruk, peristiwa yang memalukan dan melenyapkan semangat hidupnya itu beberapa bagian, dengan sendirinya membuat Seng Kim jadi tambah kecewa saja. Dengan sendirinya tidak ada maksud dihatinya untuk berusaha bagaimana caranya agar dapat membinasakan diri Gouw She Niang.

Sedang Seng Kim rebah termenung begitu, tiba-tiba  pendengarannya dapat mendengar suara yang perlahan sekali dari arah jendela kamar. Jendela kamar itu sejak pertama kali Seng Kim berada di dalam kamar tersebut memang telah tertutup terus menerus.

Maka dari itu, ketika mendengar suara itu walaupun suara itu perlahan sekali, namun Seng Kim telah menjadi heran sekali. Dia meliriknya kearah jendela itu. Dan dilihatnya daun jendela tersebut telah bergerak  perlahan- lahan. Seperti juga ada seseorang yang tengah membuka daun jendela itu perlahan-lahan.

Hati Seng Kim jadi heran dan bertanya-tanya siapakah orangnya yang tengah membuka jendela itu. Dengan sendirinya, hal ini membuat Seng Kim mengawasi terus jendela itu. Dan daun jendela tersebut telah terbuka dengan mengeluarkan bunyi yang perlahan.

 Menyusul mana tampak sesosok tubuh telah mencelat masuk ke dalam kamar itu. Gerakan dari orang tersebut sangat cepat sekali, sehingga Seng Kim hanya melihat sesosok tubuh belaka yang bergerak kearahnya.

“Jangan bersuara!” bisik sosok tubuh itu dengan suara yang perlahan. Seng Kim heran bukan main, entah siapa orang ini sebenarnya. Tetapi belum lagi Seng Kim sempat bertanya, dan belum sempat dia melihat wajah orang itu, tubuh Seng Kim sudah diselubungi oleh sehelai selimut yang tebal, dan juga orang itu telah menyambar tumpukan pakaian Seng Kim.

Dengan gerakan yang sebat dan cepat sekali, orang itu telah memanggul Seng Kim yang tergulung di dalam selimut itu. Hati Seng Kim berdebar cukup keras. Entah apa maunya orang ini. Entah memang orang tersebut ingin menolongnya atau memang hanya sekedar untuk dapat mempermainkannya lagi?! Atau memang orang yang telah menyelubungi dirinya dengan selimut itu mempunyai maksud tertentu seperti Gouw She Niang itu?

Berpikir begitu, Seng Kim jadi tambah gugup dan hatinya berdebar keras. Biar bagaimana memang Seng Kim jeri sekali kalau sampai dirinya mengalami kejadian-kejadian yang baru dilaluinya tadi.

Kalau memang watak dan jiwa orang yang menolongnya ini sama saja dengan Gouw She Niang, niscaya Seng Kim sama saja seperti  terlepas dari mulut macan jatuh ke mulut singa!

Maka dari itu, mau tidak mau Seng Kim jadi berpikir keras sekali. Apa lagi tubuhnya yang terselubung begitu tidak bisa melihat sesuatu apapun juga. Segalanya gelap. Hanya Seng Kim merasakan betapa tubuhnya melayang - layang seperti juga dibawa-bawa lari oleh orang itu dengan gerakan yang cepat dan gesit sekali.

Mau tidak mau memang Seng Kim hanya berdoa kepada Thian agar dirinya dilindungi dan tidak mengalami kejadian yang sama seperti apa yang baru saja dialaminya selama berada di tangannya Gouw She Niang.

Seng Kim hanya berdoa di dalam hatinya, meminta agar orang yang datang menolongnya ini benar-benar memang bermaksud untuk memberikan pertolongan kepada dirinya.

Maka dari itu, biar bagaimana memang Seng Kim berusaha untuk menenangkan hati. Tubuhnya masih saja dirasakan melayang-layang  dibawa lari oleh orang yang telah memanggulnya itu.

Entah orang itu ingin membawanya kemana, karena dia telah berlari-lari terus dan Seng Kim tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya. Apa lagi Seng

 Kim memang tergulung di dalam selimut yang tebal itu, dengan sendirinya mau tidak mau membuat Seng Kim jadi tidak mengetahui sebenarnya dirinya dibawa kemana oleh orang itu.

Namun dia merasakan dirinya dibawa berlari begitu lama, jelas bahwa dirinya dibawa kesuatu tempat yang agak jauh dari tempatnya Gouw She Niang. Dengan sendirinya, Seng Kim berdoa terus agar orang ini memang benar-benar bermaksud untuk menolong dirinya dari cengkeraman tangannya Gouw She Niang.

Selang sesaat, Seng Kim merasakan orang itu berhenti berlari. Juga Seng Kim merasakan betapa tubuhnya telah diturunkan dari panggulan orang itu. Juga memang Seng Kim merasakan betapa gulungan selimut itu telah terbuka.

Tubuh   Seng   Kim   menggelinding   keluar dari   gulungan   selimut   itu.

Matanya agak  disipitkan ketika sinar rembulan memancar kearah dirinya.

Ternyata Seng Kim teah dibawa oleh orang itu ke dalam sebuah hutan belukar, yang agak lebat. Namun sinar rembulan masih bisa menerobos masuk dari celah-celah daun-daun pepohonan, sehingga keadaan di sekitar tempat itu tidak terlalu gelap.

Waktu Seng Kim cepat-cepat menoleh, dia melihat orang yang menolong dirinya adalah seorang lelaki tua yang agak lanjut usianya. Melihat ini, Seng Kim menarik napas lega, hatinya jadi tenang. Karena kalau yang menolongnya itu seorang wanita, mungkin Seng Kim masih  meragukan bahwa wanita itu akan memperlakukan dirinya seperti Gouw She Niang.

Tetapi sekarang dikala dia memperoleh kenyataan bahwa   yang menolong dirinya adalah seorang lelaki tua, dengan sendirinya Seng Kim jadi tenang.

Orang tua itu telah berkata dengan suara yang tawar :

“Itu pakaianmu telah kubawa serta, pergilah kau berpakaian! Dua jalan darahmu yang ditotok oleh perempuan cabul itu telah kubuka waktu dalam perjalanan sehingga

sekarang kau bisa menggerakkan kaki tanganmu itu!”

Seng Kim girang sekali, dia mencoba menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Benar saja memang ia berhasil untuk menggerakkan kedua kaki dan kedua tangannya.

Dengan sendirinya, dia bertambah girang saja, cepat-cepat Seng Kim bangkit. Dia telah menyambar pakaiannya, dan telah berpakaian.  Di dalam waktu yang singkat, Seng Kim telah selesai berpakaian.

 Dia telah cepat-cepat menghampiri orang tua itu, menekuk kedua kakinya. Seng Kim telah berlutut dihadapan lelaki itu untuk menyatakan rasa terima kasihnya.

“Terima kasih Lojinke (orang tua)!” kata Seng Kim dengan suara yang menghormat sekali. “Terima kasih atas pertolongan yang diberikan Lojinke terhadap diriku!”

Orang tua itu tertawa tawar.

“Hmm, kau tidak usah mengucapkan terima kasih kepadaku, lebih baik kau ucapkan terima kasihmu kepada Thian, karena dirimu belum  terlanjur hancur di tangan perempuan cabul itu!”

“Ya, ya, Lojinke, maka dari itu, terima kasihku yang sebesar-besarnya

kepada Lojinke yang telah menyelamatkan jiwaku!”

“Hmm, sekarang kau pergilah dari tempat ini, jauhi tempat ini! Karena kalau sampai kau kena ditangkap oleh perempuan cabul itu atau anak buahnya, niscaya kau akan menghadapi kejadian yang tidak menggembirakan lagi!”

“Baik!   Baik   Lojinke!”   kata   Seng   Kim   cepat.   “Tetapi   bolehkah   aku

mengetahui nama besar dari Lojinke?!”

“Hmmm, tidak ada gunanya nama besar atau gelaran yang harum. Semua ini telah kulupakan! Kalau kau mau tahu, bahwa perempuan cabul itu tadinya adalah isteriku, tetapi perempuan celaka itu keterlaluan sekali, dia te- lah banyak sekali melakukan perbuatan serong, maka telah kuceraikan, tetapi siapa tahu bahwa dia telah memperluas keganasannya, perbuatan buruknya semakin menggila, maka dari itu aku datang ke daerah ini untuk menghukumnya.”

“Jadi jadi Lojinke bekas suami dari perempuan cabul itu?” tanya Seng

Kim dengan suara yang agak gugup dan ragu-ragu.

Lelaki tua itu telah menganggukkan kepalanya beberapa kali.

“Benar!” katanya setelah menghela napas beberapa kali. “Memang tadinya aku adalah suaminya, tetapi sayangnya dia keterlaluan sekali, sehingga aku ceraikan! Tetapi sekarang kejahatan yang dilakukannya itu su dah keterlaluan sekali. Dengan sendirinya aku harus membasminya! Kau pergilah, urusan ini kau tidak usah mencampurinya, karena ini urusanku, aku jamin dia akan kubasmi! Kau tidak usah mencampurinya! Pergilah!”

“Tetapi Lojinke!”

 “Sudahlah jangan terlalu banyak bicara, kau pergilah!”

“Baik Lojinke!” kata Seng Kim akhirnya, karena dia melihat orang tua itu

memang sudah tidak mau terlalu banyak bicara lagi.

Setelah memberi hormat lagi, Seng Kimpun berlalu. Orang tua itu mengawasi kepergian Seng Kim, dan dia menghela napas berulang kali.

DENGAN cepat Seng Kim melakukan perjalanan meninggalkan   tempat itu. Seng Kim telah keluar dari hutan kecil itu. Walaupun tubuhnya masih aga k lemas, tokh tidak selemas semasa dia berada di kamar Gouw She Niang. Maka dari itu, sekarang dia bisa melakukan perjalanan yang cepat.

Sebetulnya kalau orang tua yang menolong dirinya tadi tidak menyuruh dia pergi, Seng Kim bermaksud akan kembali ke tempat Gouw She Niang untuk menuntut balas.

Tetapi disebabkan orang tua itu telah menjamin bahwa dia akan menyelesaikan Gouw She Niang, membasmi kejahatannya juga, hati Seng Kim jadi tenang, dia telah meninggalkan tempat itu.

Selang sesaat, Seng Kim yang mempergunakan ilmu lari cepatnya, telah dapat meninggalkan tempat itu cukup jauh. Dengan sendirinya, Seng Kim merasakan bahwa segalanya telah berlalu dan dia tidak usah terlalu mengambil perduli pada diri Gouw She Niang, melainkan dia hanya harus pergi mencari pengalaman dan juga melatih diri agar ilmu dan tenaga murninya yang telah kena disedot oleh Gouw She Niang dapat dipulihkan kembali.

Dengan sendirinya Seng Kim merasakan, bahwa dirinya harus mempunyai waktu yang cukup guna melatih diri lagi agar dia dapat untuk melatih diri agar dapat sembuh keseluruhannya.

Dengan berpikir begitu, Seng Kim juga jadi bermaksud untuk kembali ke kota raja. Dia bermaksud akan kembali ke gedung ayahnya. Karena di gedung ayahnya itu Seng Kim bisa melatih diri dengan tenang tanpa terganggu oleh pemikiran apapun juga.

Seng Kim juga menyadarinya, kalau dia melatih diri sambil merantau, tentu dia akan menghadapi banyak sekali kerumitan. Berarti dirinya akan menghadapi berbagai kesukaran, dengan sendirinya dia tidak akan dapat melatih diri sepenuh pikirannya. Dengan sendirinya juga dia akan mengalami kelambatan untuk memulihkan semangatnya.

 Dengan cepat Seng Kim telah melakukan perjalanan menuju ke kota raja. Perjalanan itu cepat sekali, dan hanya di dalam waktu beberapa saat dia tel ah sampai di kota raja, tidak sampai satu bulan.

Ayah ibunya telah menyambutnya dengan gembira. Dan ayah dari Seng Kim memang seorang pembesar yang namanya pada saat itu sedang terkenal- terkenalnya, karena merupakan orang tangan kanannya kaisar.

Ayah Seng Kim itu ternyata memang tidak lain dari Thaykam Ban Hong Liu!! Dan she Seng Kim adalah she Ban, ternyata memang Seng Kim putera tunggal dari seorang pembesar berwibawa seperti halnya Ban Hong Liu ini! Untuk selanjutnya Seng Kim, atau lengkapnya Ban Seng Kim, telah melatih diri di gedung ayahnya itu, tanpa mau memperdulikan segala persoalan yang ada.

Di dalam waktu yang sangat singkat sekali, segalanya telah dapat dilatihnya. Berangsur-angsur tenaga murninya yang tadinya telah dirusak oleh wanita cabul Gouw She Niang, akhirnya dapat kembali pada dirinya dan dapat dilatih dikumpulkan kembali untuk memupuk semangat murninya itu.

Tetapi disebabkan kejadian dirinya dicelakai oleh Gouw She Niang, sehingga dia harus berusaha memulihkan kembali semangat murninya  yang tadinya telah diperoleh dan telah disempurnakan olehnya.

Tetapi Ban Seng Kim memang seorang anak yang cerdik dan hebat sekali daya latihannya, dia telah bisa menyempurnakan ilmunya kembali hanya di dalam beberapa waktu, walaupun pengaruh dari perbuatan  Gouw She Niang itu tetap membawa akibat yang tidak baik bagi dirinya.

BAN HONG LIU Thaykam pada hari itu tampak berjalan mondar mandir di kamarnya. Thaykam tua, tapi berpengaruh luar biasa besarnya di kota raja ini, tampaknya agak pusing memikirkan sesuatu persoalan yang tengah dihadapinya.

Rupanya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya, malah dia telah berjalan dengan kedua tangan terpaku pada pinggulnya. Sepasang   alisnya yang telah berobah warna abu-abu itu, tampak mengkerut dalam-dalam. Dia sedang berusaha untuk dapat memecahkan persoalan  yang tengah dihadapinya.

Sebetulnya Thaykam Ban Hong Liu tengah memikirkan diri Peng Po Siang Sie See Un yang telah diperintahkan  orang-orangnya untuk ditangkap. Sekarang Peng Po Siang Sie See Un memang sedang berada dalam kekuasaan.

 Dengan sendirinya, mau tidak mau Thaykam Ban tlong Liu harus dapat berusaha agar dirinya tidak sampai terlibat dalam kancah pergolakan diantara orang rimba persilatan yang berusaha agar dapat membebaskan dan menculik Peng Po Siang Sie See Un dari tangannya.

Tetapi yang membuat Thaykam Ban Hong Liu jadi pusing, ialah memikirkan bahwa dirinya harus berusaha dapat menguasai orang-orang rimba persilatan, agar dia dapat untuk menguasai dan mengendalikan orang-orang gagah itu, untuk dikendalikan dan orang-orang gagah itu mau bekerja untuk dirinya.

Sekarang juga sebenarnya Thaykam Ban Hong Liu telah memerintahkan orang-orangnya yang dapat dipercaya untuk berusaha mengacaukan rimba persilatan, agar memancing perhatian orang-orang  gagah itu jangan selalu tertuju kepada diri Peng Po Siang Sie See Un yang tengah ditawan  oleh Thaykam she Ban ini.

Malahan Ban Hong Liu juga telah memerintahkan kepada orang kepercayaannya itu, agar menyebar luaskan tawaran kepada jago-jago rimba persilatan, siapa yang mau tunduk dan bekerja dibawah kaki Ban Hong Liu, akan diberikan harta dan pangkat.

Banyak juga jago-jago yang telah dapat ditundukkan dan bersedia bekerja untuk Ban Hong Liu. Hal itu terjadi disebabkan bermacam -macam persoalan, ada jago-jago yang mau tunduk pada Ban Hong Liu disebabkan bujukan, ada pula disebabkan ancaman dan tekanan diri orang-orangnya Ban Hong Liu yang memang memiliki kewibawaan dan juga kegagahan. Dengan sendirinya, di dalam rimba persilatan timbul bermacam -macam persoalan. Beberapa kali, Ban Hong Liu telah disatroni oleh orang-orang gagah rimba persilatan, namun selalu saja orang-orang Ban Hong Liu dapat menghalaunya.

Selama putera tunggalnya, Ban Seng Kim pulang dari perantauannya, hati Ban Hong Liu semakin gelisah saja, karena memang puteranya itu memang seorang yang berkepandaian silat cukup tinggi, namun watak anaknya itu terlalu keras. Dia takut kalau-kalau nanti ada orang-orang gagah rimba persilatan yang menyatroni putera tunggalnya itu untuk dibinasakannya.

Dengan sendirinya, Ban Hong Liu selalu memikirkan keselamatan diri putera tunggalnya. Juga yang membuat Ban Hong Liu jadi agak kecewa adalah soal diri Ban Seng Kim yang tidak mau mempelajari pelajaran ke tatanegaraan, dan hanya condong mempelajari ilmu silat belaka.

 Dengan sendirinya Ban Hong Liu lenyap harapannya, agar nanti putera tunggalnya itu dapat mewarisi kedudukannya yang maha agung dan penuh kekuasaan itu.

Cepat sekali waktu berlalu, karena Ban Hong Liu telah melihatnya betapa cuaca telah mulai gelap, malam telah datang, dan jendelanya itu memperlihatkan rembulan yang bersinar terang.

Ban Hong Liu masih berjalan mondar-mandir,  tampaknya masih resah saja. Beberapa kali dia mendengar  suara kentongan dipukul, menunjukkan bahwa orang-orangnya tengah melakukan penjagaan.

Berulang kali Ban Hong Liu menghela napas.

“Hongte telah meminta kepadaku agar besok mengadili See Un!” berpikir Ban Hong Liu. “Hmmm, permintaan Hongte sebetulnya mempersulit diriku! Kalau memang aku mengadakan sidang untuk diri Peng Po Siang Sie See Un itu, jelas hal ini dapat memancing kekeruhan di dalam kalangan pemerintahan dan juga orang-orang gagah di dalam rimba persilatan! Bagaimana caranya agar aku dapat untuk menguasai semua keadaan ini?”

Dan berpikir begitu, Ban Hong Liu tambah pusing saja tampaknya.

“Apakah aku mencoba untuk membujuk Hongte?” berpikir Ban Hong Liu

lagi.

“Akh akh itu tidak mungkin!” kata hati kecil dari Ban Hong Liu lagi.

“Karena kalau aku meminta pengunduran waktu, Hongte jelas akan menaruh kecurigaan kepada diriku! Hmmm bagaimana baiknya?”

Dan setelah berpikir begitu, Ban Hong Liu telah berjalan mondar mandir lagi dengan hati yang agak gelisah. Sampai akhirnya dia menghela napas beberapa kali dan memukul meja perlahan.

“Benar! Baiklah! Memang aku harus mencobanya untuk menyidang See Un, tetapi aku tidak perlu mengumumkannya, hanya agar Hongte dan orang- orang pemerintahan tertentu saja yang mengetahui, kukatakan saja bahwa persoalan sangat hebat dan berat, dengan sendirinya harus disidangkan secara tertutup! Kukira Kaisar pasti akan mau mengerti!”

Tampaknya Thaykam tua ini girang juga dan agak  tenang dapat menemui jalan keluar bagi kesulitan dirinya. Maka setelah berdiam diri sejenak, dia telah menepuk tangannya.

 “Plooookk! Plooookk!” dia menepuk tangannya beberapa kali. Dengan

cepat dari luar kamar itu, dari arah pintu kamar itu, terdengar orang bertanya

: “Ada perintah apa Tayjin?”

“Masuk!” perintah Ban Hong Liu tanpa menoleh ke belakang lagi.

Tampak pintu kamar itu telah terbuka dan seorang perwira tua telah memasuki kamar tersebut dengan sikap menghormat. Perwira tua itu adalah salah seorang pengawal pribadi Ban Hong Liu yang kebetulan kena giliran jaga.

Pengawal itu, perwira tersebut, telah menekuk kedua kakinya berlutut

“Siauwjin Bong Siu Kang menantikan perintah Tayjin!” kata pengawal

itu.

Ban Hong Liu tidak segera membalikkan tubuhnya, dia berdiam sejenak,

rupanya dia sedang memilih kata-katanya yang baik. Setelah menghela napas beberapa kali, baru Ban Hong Liu membalikkan tubuhnya.

“Ya   kau pergi beritahukan kepada kepala penjara, bahwa besok pagi harus membawa ke ruangan sidang tawanan utama kita, yaitu Peng Po Siang Sie See Un, pengawalan harus ketat dan tidak boleh kebobolan!!”

“Siauwjin menerima perintah!” “Bagus! Sekarang kau boleh pergi!”

“Siauwjin menarik diri!” kata pengawal itu, dan setelah memberi hormat,

pengawal itu telah berlalu.

Ban Hong Liu hanya menghela napas dan berjalan mondar-mandir lagi. Dia rupanya tengah menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada Peng Po Siang Sie See Un dalam sidangnya besok.

SESOSOK bayangan hitam tengah berlari-lari di atas genting rumah penduduk di kotaraja. Gerakan sosok bayangan hitam itu sangat cepat sekali. Gerakan tubuhnya yang ringan itu, seperti juga sosok bayangan hantu belaka, sehingga tidak bisa dilihat jelas wajahnya. Entah yang tengah berlari -lari itu seorang wanita atau seorang lelaki.

Yang dapat dilihat hanyalah orang itu memakai baju Yahengie (peran ti keluar malam) yang berwarna biru tua, sehingga kalau tidak terlalu ditegaskan, sukar orang melihatnya, karena tertutup oleh gelapnya sang malam juga .

 Dengan sendirinya, orang itu benar-benar menyerupai seperti bayangan hantu belaka. Orang tersebut telah berlari-lari menuju kearah selatan kota raja ini. Di dalam waktu yang singkat sekali, dia telah sampai di tempat tujuannya. Dengan cepat sosok tubuh itu melompat turun ke sebuah gedung.

Gedung itu cukup luas, orang ini memasuki sebuah kamar. Ternyata di dalam kamar itu sudah berkumpul cukup banyak orang. Mereka tidak lain dari rombongan Cin Ko. Sedangkan yang tadi berlari-lari  merupakan sesosok bayangan belaka, yang baru tiba di gedung itu, tidak lain dari Ming Sing Siansu.

“Aku telah memperoleh kabar penting!” teriak Ming Sing Siansu girang. “Kabar yang penting sekali.”

Thang Lan Hoa, Wie Tu Hong dan yang lainnya telah menyerbu mengerumuninya.

“Kabar penting apa?” tanya Tang Siauw Bun tidak sabar.

Mine Sing Siansu telah melakukan penyelidikan pada malam ini, dan dia rupanya girang sekali memperoleh sesuatu yang dikatakannya sangat penting.

“Sabar!” kata Ming Sing Siansu dengan suara yang sabar. “Aku aka n menceritakannya!”

Cin Ko yang ikut mengerumuni di dekat si Hweshio jadi tidak sabar sekali, dia mengawasi dengan penuh ketegangan.

“Urusan ini menyangkut perihal Peng Po Siang Sie See Un,       kabar   ini yang akan menentukan segala-galanya!” kata Ming Sing Siansu.

Mendengar Ming Sing Siansu menyebutkan perihal Peng Po Siang Sie See Un, semua orang yang berada di tempat itu, termasuk Cin Ko, jadi tergoncang hebat perasaannya. Semuanya tampaknya tidak sabar.

Tetapi Ming Sing Siansu telah mengawasi dulu semua orang yang berada di tempat itu. Dia melihatnya betapa Cin Ko juga menatap dia dengan tidak sabar maka dari itu Ming Sing Siansu telah tertawa.

“Kali ini adalah perentuan segala-galanya!” kata Ming Sing Siansu. “Besok, Ban Hong Liu akan menyidangkan Peng Po Siang Sie di gedung pengadilannya atas perintah Hongte, secara kebetulan sekali aku telah dapat mendengar semua percakapan itu!”

Mendengar ini, semuanya yang berada di ruangan tersebut jadi girang, tetapi disamping itu bercampur juga perasaan tegang.

 “Jadi   jadi kita memulai tindakan kita besok dikala diadakan sidang untuk Peng Po Siang Sie Tayjin?” tanya Thang Lan Hoa dengan suara yang agak tergetar saking tegangnya.

Ming Sing Siansu telah menganggukkan kepalanya beberapa kali.

“Bisa kita rundingkan langkah apa yang harus kita ambil!” sahutnya.

Maka mereka segera juga telah berunding untuk membicarakan langkah- langkah apa yang harus mereka ambil, menentukan tindakan yang bagaimana harus mereka pergunakan.

CIN KO juga ikut di dalam perundingan ini, yang dibicarakan mereka adalah bagaimana caranya dapat menerobos masuk ke dalam gedungnya Thaykam Ban Hong Liu.

“Jelas sekeliling gedung itu akan  dijaga dan dikawal ketat sekali!” kata

Thang Lan Hoa sambil mengerutkan sepasang alisnya.

“Atau kita menyamar saja sebagai orang-orangnya Ban Hong Liu?” Ming Sing Siansu mencoba memberikan sarannya sambil mengawasi satu persatu dari orang-orang yang berada di ruangan itu.

“Bagaiman caranya?” tanya Tang Siauw Bun.

“Kita tangkap beberapa orang yang mengawal gedung Ban Hong Liu, kita menyamar dengan mempergunakan pakaian mereka!” kata Ming Sing Siansu. “Bukankah dengan cara demikian kita akan bebas keluar masuk di ge dungnya Thaykam tua she Ban itu?!”

Tetapi yang lainnya tidak menyetujui saran Ming Sing Siansu.

Pekerjaan itu sangat sulit dilakukan, karena orang-orangnya Ban Hong Liu yang mengawal di gedungnya itu juga bukanlah orang-orang yang lemah. Apa lagi memang hari itu di gedung tersebut sedang diadakan rapat, dengan sendirinya akan dijaga keras. Juga hari itu pula sedang diadakan sidangnya Peng Po Siang Sie yang dipimpin oleh Ban Hong Liu sendiri, dengan sendirinya akan menyebabkan segalanya dikawal ketat sekali.

Mereka jadi bingung juga untuk mencari jalan guna dapat melakukan penyelundupan ke dalam ruangan gedung Ban Hong Liu.

 bicara Cin Ko yang melihat semua orang tua itu tengah kebingungan, telah ikut

“Para Locianpwe apakah tidak lebih baik kalau kita menyerbu secara berterang? Yang terpenting kita bisa membawa dan membebaskan Yaya dari

kurungan mereka!” Cin Ko memberikan sarannya.

“Memang tujuan kita ke situ!” kata Thang Lan Hoa cepat. “Tetapi bagaimana caranya? Memang yang paling penting kita bisa menyelamatkan Peng Po Siang Sie Tayjin, agar dapat kita bawa kabur dari gedungnya Ban Hong Liu agar untuk selanjutnya kita bisa mengatur langkah-langkah kita bagaimana menghadapi Ban Hong Liu si jahanam itu!”

Yang lainnya mengangguk-anggukkan  kepala mereka  tanda membenarkan perkataan Thang Lan Hoa.

“Begini saja!” kata Ming Sing Siansu. “Kita memecah diri kita membagi diri beberapa rombongan! Kita berusaha untuk dapat menerobos masuk ke dalam gedung  Ban Hong Liu itu dari berbagai jurusan, nanti kita berusaha siapa saja yang berhasil lebih dulu untuk  merebut tawanan Ban Hong Liu, yaitu menyelamatkan Peng Po Siang Sie See Un Tayjin! Bagaimana? Apakah yang lainnya menyetujuinya? Itu kukira cara yang paling terbaik!”

Yang lainnya tampak berpikir seperti sedang mempertimbangkan saran yang dikatakan oleh Ming Sing Siansu tersebut. Akhirnya mereka menyetujui. Dan selanjutnya mereka merundingkan lagi bagaimana caranya agar  dapat untuk melaksanakan rencana mereka.

Mereka bermaksud membagi diri empat jurusan, menerobos ke dalam gedungnya Ban Hong Liu dari empat jurusan, tegasnya mereka akan membagi diri menjadi empat rombongan.

Cin Ko sendiri ikut di dalam penyerbuan ini, karena dia ingin berusaha mati-matian untuk membela Yayanya, untuk membebaskannya.

Malam itu mereka berunding sampai menjelang tengah malam. Dan akhirnya mereka telah memutuskan, dapat mengambil suatu rencana yang mereka tetapkan untuk besok di jalankan oleh mereka.

Tindakan mereka itu merupakan tindakan yang menentukan, karena mati hidup besok mereka akan berjuang untuk dapat meloloskan dan merebut Peng Po Siang Sie See Un dari tangan Thaykam Ban Hong Liu. Tekad mereka itu memang merupakan suatu tekad untuk menentukan suatu perjuangan mereka.

 Malam itu hampir sama sekali Cin Ko tidak  dapat tertidur nyenyak. Karena semalaman suntuk Cin Ko hanya rebah di atas pembaringannya dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar  mengawasi langit-langit rumah. Dia telah termenung memikirkan nasibnya.

Cin Ko juga teringat betapa keluarganya telah hancur, nasib keluarganya itu jelek sekali, difitnah oleh Ban Hong Liu, sehingga satu keluarga yang besar, seperti keluarga Peng Po Siang Sie See Un telah dihancurkan oleh Thaykam she Ban itu. Malahan sebagian dari keluarga itu telah dihancur leburkan.

Dengan sendirinya Cin Ko mengucurkan air matanya waktu dia teringat semua itu. Sekarang Cin Ko sudah mempelajari ilmu silat dari berbagai ja go- jago yang masing-masing memang memiliki kepandaian yang hebat. Dengan sendirinya dia telah memiliki kepandaian yang lumayan tingginya. Apa lagi memang mereka telah berdiam di kota raja cukup lama.

Sekarang Cin Ko memang telah bertambah besar, bentuk tubuhnya juga tegap. Kepandaiannya yang bermacam ragam itu membuat dia bisa disebut jago muda yang liehay.

Boleh dikatakan seluruh kepandaian dari Tang Siauw Bun,  Thang Lan Hoa, Ming Sing Siansu, Wie Tu Hong, si Buntung dan yang lainnya, telah dapat dipelajarinya. Maka dari itu, mau tidak mau Cin Ko telah  berobah menjadi seorang jago muda yang tiada tara kepandaiannya, sebab kepandaian yang dimiliki Cin Ko terdiri dari berbagai macam ragamnya.

Dengan sendirinya, sekarang penyerbuan ke gedungnya Ban Hong Liu adalah penentuan yang akan menentukan apakah mereka akan berhasil di dalam usaha mereka atau memang mereka akan hancur dan gagal sama sekali.

Memang orang-orang gagah yang berdiri untuk keadilan dan ingin membela Peng Po Siang Sie See Un itu sudah bertekad, biar bagaimana mereka ingin mempertaruhkan jiwa mereka untuk dapat membela Peng Po Siang Sie yang malang nasibnya itu.

CIN KO sendiri telah melihatnya, betapa orang-orang gagah itu memang bersungguh-sungguh hati untuk membela dirinya, dia tidak  tahu bagaimana caranya dapat mengucapkan rasa terima kasihnya itu. Berulang kali memang kejadian seperti ini telah dihadapi oleh Cin Ko, yaitu beberapa kali mere ka akan melakukan penyerbuan.

Tetapi selalu saja dibatalkan, karena mereka tidak mau kalau sampai mereka salah perhitungan, berarti mereka akan menderita dan gagal. Cin Ko

 merasakan, hatinya sering berdebar  kalau dia teringat bahwa besok adalah hari penentuan dimana mereka akan menerjang bahaya   membebaskan Yayanya itu. Juga Cin Ko membayangkan, entah bagaimana keadaan Yayanya sekarang ini. Biar bagaimana Cin Ko mendoakan kepada Thian, agar Yayanya iu tetap berada dalam keadaan sehat dan tetap dapat ditolong  serta dibebaskan oleh orang-orang gagah ini.

Maka dari itu, Cin Ko diam-diam telah menghapus air matanya, dia memejamkan matanya dan memohon kepada Thian agar usaha mereka kelak berhasil. Walaupun memang kenyataannya orang-orang Ban Hong Liu juga banyak yang memiliki kepandaian  yang sangat tinggi, toh mereka bisa diseludupi kalau saja memang Cin Ko dan kawan-kawannya mau mengatur lebih teliti rencana mereka.

Apa lagi memang Cin Ko merasa yakin, dengan kepandaian yang telah dimilikinya itu, dia akan dapat menerobos masuk ke dalam  gedungnya Ban Hong Liu, untuk memberikan pertolongan kepada Yayanya itu.

Cepat sekali sang waktu berlalu. Tanpa terasa sang fajar akan segera mendatang. Dmgan sendirinya, Cin Ko merasakan matanya sangat sepat dan mengantuk. Namun karena pagi ini adalah saat yang menentukan,  rasa kantuknya itu cepat-cepat disingkirkan.

Hanya untuk memelihara semangatnya, Cin Ko telah duduk bersemedhi mengatur semangat murni dan tenaga dalamnya itu. Dan memang  hanya duduk bersemedhi selama beberapa saat itu, semangat dan tenaga Cin Ko telah terkumpul kembali. Walaupun tidak tidur satu malaman,  tokh Cin Ko tampaknya segar.

Begitulah, pagi itu orang-orang gagah yang akan melakukan penyerbuan ke gedungnya Ban Hong Liu, telah bersiap-siap untuk melakukan tugas mereka.

PAGI ITU keadaan di kota raja tampak sebagai mana biasanya saja, yaitu ramai sekali. Baik para pedagang, baik orang-orang yang berkeluyuran di kota raja itu, karena memang setiap harinya kota raja sangat ramai sekali.

Tetapi diantara keramaian pusat kota raja ini, tidak ada seorangpun penduduk kota raja itu yang mengetahui bahwa sebetulnya suasana di kota raja itu sangat panas, sedang bergolak, karena akan adanya suatu penyerbuan yang ingin membebaskan seorang Peng Po Siang Sie dari tahanan seorang Thaykam tua, yaitu Thaykam tua Ban Hong Liu.

 Cin Ko dan orang-orang gagah lainnya masing-masing telah membagi diri. Mereka telah memecah diri menjadi empat rombongan dan mengambil empat jurusan. Masing-masing telah menentukan jalan masing-masing, tetapi tujuan mereka satu. Yaitu harus membebaskan dan meloloskan Peng Po Siang Sie See Un. Walaupun mereka harus mengorbankan jiwa raga mereka

Cin Ko sendiri telah melakukan tugas itu bersama-sama  dengan Ming Sing Siansu. Yang lainnya juga telah membagi-bagi diri beberapa jurusan. Cin Ko dan Ming Sing Siansu telah mengambil jurusan dari arah barat. Tegasnya mereka akan menerobos masuk ke dalam gedung itu guna memperjuangkan tekad mereka untuk berhasil membebaskan Peng Po Siang Sie See Un.

Ming Sing Siansu berpakaian sebagai seorang Hweshio sedangkan Cin Ko sendiri telah menyamar sebagai seorang pengemis cilik. Juga Cin Ko sengaja telah mencoret-coret dan mengotori mukanya. Keadaan Cin Ko benar-benar mirip seperti seorang pengemis muda yang berusia diantara lima atau enam belas tahun. Jalannya juga agak dipincangkan, karena dia sengaja melakukan hal itu agar tidak menarik perhatian orang, yang tentu akan dianggap oleh orang - orang yang melihatnya bahwa Cin Ko adalah pengemis muda yang cacad pada kakinya.

Cin Ko dan Ming Sing Siansu telah melakukan perjalanan agak terpisah. Namun mereka masing-masing masih bisa saling melihat, sehingga kalau terjadi sesuatu terhadap diri mereka, jelas salah seorang diantara mereka akan mengetahui.

Cin Ko melihat Ming Sing Siansu melakukan perjalanan sambil sebentar- sebentar meminta derma kepada orang-orang yang dilewati dan berpapasan dengan dia. Begitu pula Cin Ko, sebagai seorang yang menyamar seperti pengemis itu, jelas dia juga jadi melakukan pekerjaan meminta-minta. Ketika hampir tiba di gedungnya Ban Hong Liu Thaykam, keduanya bersikap jauh lebih hati-hati lagi.

Kalau dilihat sepintas lalu memang pada gedung pembesar negeri itu tidak diadakan penjagaan yang ketat dan biasa saja. Namun mata Cin Ko dan Ming Sing Siansu tidak bisa dikelabui.

Mereka mengetahui bahwa orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut, adalah orang-orangnya Ban Hong Liu yang tengah melakukan penjagaan, walaupun mereka berpakaian dengan cara menyamar, yaitu berpakaian sebagai rakyat biasa, namun Cin Ko dan Ming Sing Siansu mengetahuinya bahwa mereka itu adalah pasukan dari Ban Hong Liu yang cuma tidak memakai pakaian kebesaran mereka.

 Dengan tabah sekali Cin Ko dan Ming Sing Siansu telah mendatangi lebih dekat lagi gedung Ban Hong Liu itu. Malahan Cin Ko melihatnya betapa Ming Sing Siansu telah menghampiri dua orang lelaki  tua yang tengah duduk dibawah sebatang pohon didekat gedung Ban Hong Liu, usia kedua lelaki itu berkisar diantara empat puluh tahun.

Pakaian kedua lelaki itu sebagai pedagang, tampaknya mereka seperti keletihan dan sedang mengaso di situ. Padahal, mereka tentunya dua orang Ban Hong Liu yang tengah melakukan penjagaan di sekitar tempat itu hanya dengan cara menyamar.

Waktu melihat ada seorang Hweshio menghampiri mereka, kedua lelaki itu memandang Ming Sing Siansu dengan sorot mata yang tajam sekali. Ming Sing Siansu telah menghampiri lebih dekat, dia memperlihatkan senyumnya yang ramah dan sabar sekali dan membungkuk memberi, hormat :

“Selamat pagi Jiewie Toaya (tuan berdua)!!” kita Ming Sing Siansu sambil merangkapkan kedua tangannya. “Omitohud! Omitohud! Bisakah Lolap (aku pendeta tua)

meminta kemurahan hati dari Jiewie Toaya untuk memberikan sekedar derma?”

Kedua orang yang berpakaian sebagai pedagang itu telah mengerutkan sepasang alis mereka. Mereka jadi saling pandang satu dengan yang lainnya. Barulah yang berpakaian baju yang berwarna kuning gading telah berkata : “Kami tidak mempunyai uang kecil!!” katanya.

“Benar lain waktu saja!” kata yang seorangnya lagi, yang

berpakaian baju hijau.

Ming Sing Siansu tersenyum, dia merangkapkan kedua tangannya.

“Sianchay! Sianchay! Tidak ada uang kecil, memberikan uang besar juga tidak ada salahnya, bukan?” kata Ming Sing Siansu.

Muka kedua orang pedagang itu telah berobah seketika itu juga waktu mendengar perkataan Ming Sing Siansu.

“Apa kau bilang?” tegur yang berpakaian warna kuning gading itu.

“Hmm ! Sianchay! Sianchay! Kalau memang Jiewie Toaya tidak keberatan memberikan sedekah kepada Lolap, bukankah tidak ada sesuatu yang bisa menghalanginya maka dari itu, uang kecil atau uang besar, itu sama saja, bukan?!”

Mendengar penyahutan dari Ming Sing Siansu rupanya kedua pedagang itu jadi gusar bukan main.

 “Oh pendeta kurang ajar!” teriak yang berbaju kuning itu dengan suara yang keras. “Kau rupanya ingin kami hajar, heh!”

Ming Sing Siansu pura-pura memperlihatkan sikap seperti terkejut.

“Ihhhh!” seru Ming Sing Siansu dengan suara yang nyaring. “Apa maksud

Toaya?”

“Mengapa kau bicara begitu kurang ajar heh?” bentak yang baju kuning.

“Kurang ajar?” “Ya!”

“Omitohud! Omitohud! Dimana letak kesalahan Lolap Toaya?”

“Pendeta gundul tidak tahu diri! Kau meminta sedekah, tetapi kami tidak memiliki uang kecil mengapa kau mau memperolok-olok kami, heh?”

“Memperolok-olok?”

“Benar! Berarti kau memang mencari mampus untuk dirimu sendiri!”

Muka Ming Sing Siangi telah berobah  memperlihatkan perasaan heran yang sangat.

“Mencari mampus? Sianchay! Sianchay! Manusia hidup didunia adalah berkah yang paling nikmat dari Hudcouw, maka dari itu, mana ada manusia yang ingin mencari kematian untuk dirinya sendiri! Lolap kira kalau memang di dalam dunia ini ada orang yang mau mencari kematian untuk dirinya sendiri, itu menunjukkan bahwa orang itu benar-benar  merupakan seorang manusia yang paling bodoh di dalam permukaan bumi ini!”

“Hmmm, kau terlalu banyak bicara, pendeta kurang ajar!!” bentak pedagang yang berbaju kuning dan hijau itu hampir berbareng. “Atau kau ingin kami hajar, heh!”

Dibentak begitu, dengan sendirinya Ming Sing Siansu memperlihatkan sikap seperti orang ketakutan.

“Ihhh, janganlah Toaya berdua galak-galak begitu, Lolap hanya datang ingin meminta sedekah sekedarnya atas kerelaan Toaya berdua, tetapi kalau memang Toaya berdua keberatan untuk memberikannya, ya sudah, jangan marah-marah begitu rupa!!”

Mendengar perkataan Ming Sing Siansu, darah kedua orang yang berpakaian seperti pedagang itu, jadi tambah meluap saja. Mereka malahan

 telah mengeluarkan seruan gusar dan maju ke depan menghampiri Ming Sing Siansu seperti juga ingin menghajar pendeta itu.

Cin Ko yang menyaksikan dari kejauhan mengerti apa maksud Ming Sing Siansu untuk mencari keributan dengan kedua orangnya Ban Hong Liu yang tengah menyamar dan mengadakan penjagaan itu.

Biar bagaimana memang Cin Ko juga menyadarinya, bahwa Ming Sing Siansu mencari keributan seperti itu jelas dia ingin agar Cin Ko mempergunakan disaat Ming Sing Siansu memancing kedua orang itu, kesem- patan ini, disaat kedua orang itu tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Cin Ko harus menerobos masuk ke dalam gedung Ban Hong Liu.

Maka dari itu, perlahan-lahan Cin Ko telah berjalan terpincang-pincang mendekati dinding tembok dari gedung Ban Hong Liu. Cin Ko berdiri di situ, seperti juga seorang pengemis yang tengah menyaksikan suatu keributan yang terjadi antara Ming Sing Siansu dengan kedua orang pedagang itu.

Saat itu pedagang yang berpakaian baju kuning telah menghampiri ke dekat Ming Sing Siansu.

“Kau rupanya perlu dihajar kerbau gundul!!” bentaknya.

Dan pedagang berpakaian baju kuning iui bukan banya membentak belaka, dia juga telah mengayunkan menempiling muka Min Sing Siansu.

“Plakkkkk!”

Muka Ming Sing Siansu telah kena ditempilingnya keras sekali. Ming Sing Siansu sengaja tidak mengelakkan tempilingan orang itu. Dia membiarkan dirinya ditempiling begitu oleh pedagang tersebut. Tetapi begitu  kena tertampar, maka Ming Sing Siansu telah berteriak dengan suara yang nyaring

: “Aduhhhh! Aduhh!” teriaknya dengan suara yang nyaring sekali. “Jangan

sembarangan kau menyakiti diri orang!”

Dan sambil berteriak-teriak begitu, dengan cepat dia mundur beberapa langkah ke belakang. Sedangkan tangan kanannya telah dipergunakan untuk memegangi pipinya. Rupanya tamparan yang dilakukan oleh orang yang berpakaian seperti pedagang itu keras sekali, sehingga tamparan itu mening - galkan bekas tapak yang merah di pipi dari Ming Sing Siansu.

Dan juga pedagang yang berpakaian baju hijau itu telah maju juga, dia rupanya ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh kawannya, dia seperti juga ingin menempiling Ming Sing Siansu juga.

Ming Sing Siansu mundur ke belakang beberapa langkah lagi.

 Wajahnya memperlihatkan bahwa dia seperti orang ketakutan.

“Jangan jangan menghina orang di siang hari? Jangan memukul!

Jangan memukul!” teriaknya dengan suara yang keras sekali.

Tetapi kedua orang yang berpakaian seperti pedagang itu tampaknya jadi tambah tertarik melihat Ming Sin Siansu ketakutan demikian rupa.

Mereka telah menghampiri dan mengayunkan kedua tangan mereka beruntun.

“Plakkkk! Plakkkk!!” dua kali terdengar suara yang keras.

Ming Sing Siansu jadi menjerit-jerit dengan suara yang keras.

“Aduhhhh!! Aduhhh! Jangan menyakiti orang!!” teriak Ming Sing Siansu dengan suara yang keras. '“Jangan menyakiti orang! Nanti Lolap adukan kepada yang berwajib!!”

Dan disaat ribut-ribut begitu, Cin Ko melihat bahwa kedua orang yang berpakaian seperti pedagang itu sama sekali tidak memperdulikan keadaan sekelilingnya yang saat itu agak sepi.

Cepat-cepat Cin Ko menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat melompati tembok itu, karena Cin Ko menganggap bahwa ini adalah kesempatannya. Tubuh Cin Ko telah melompat tinggi sekali dan ringan. Gerakan Cin Ko begitu cepat, dia telah dapat melompat di dalam waktu yang singkat telah lenyap dari pandangan orang.

Sedangkan kedua orang yang berpakaian seperti pedagang itu sama sekali tidak menyadari bahwa mereka telah kecolongan dan terlambat untuk mengetahui ada 'musuh' yang telah dapat menembus perbentengan dan per- tahanan mereka.

Ming Sing Siansu yang melihat Cin Ko telah berhasil melompati dinding itu dan berhasil memasuki gedung Ban Hong Liu, jadi girang bukan main. Rupanya memang inilah yang direncanakan oleh Ming Sing Siansu. Maka dari itu, dikala melihat rencananya sudah berjalan lancar, dia pura-pura membalik- kan tubuhnya berlari angkat kaki seribu sambil menjerit-jerit :

“Celaka! Celaka! Ada rampok yang mau menyiksa orang! Tolong!” Ming Sing Siansu berteriak-teriak begitu seperti juga dia sedang ketakutan. Dia telah berlari meninggalkan tempat tersebut.  Sedangkan kedua orang yang berpakaian seperti pedagang itu, telah tertawa tergelak -gelak. Tampaknya mereka girang sekali melihat orang yang baru  mereka siksa telah melarikan diri dengan ketakutan begitu rupa.

 Kedua orang yang berpakaian seperti pedagang itu telah duduk kembali di tempat duduk mereka yaitu di bawah pohon didekat gedung Ban Hong Liu. Mereka bercakap-cakap kembali, seperti juga tidak terjadi se su a t u. Mereka sedikitpun juga tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka baru saja terselip suatu kesalahan yang mereka lakukan.

Karena mereka telah kecolongan pihak luar yang berhasil menerobos masuh ke dalam gedung Ban Hong Liu itu, yang menjadi bagian mereka untuk menjaganya. Dengan sendirinya, berarti mereka telah kebobolan.   Tetapi mereka kebobolan tanpa menyadarinya.

MARI kita mengikuti Cin Ko yang telah berhasil untuk menerobos masuk ke dalam gedung Ban Hong Liu.

Waktu Cin Ko menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat melompati tembok ge dung itu, dia sampai di sebuah pekarangan yang banyak sekali ditumbuhi oleh berbagai macam pepohonan. Pekarangan gedung  itu sangat indah sekali, banyak terdapat pohon-pohon  Yangliu, yang berkibar- kibar terhembus oleh siliran angin.