Manusia Jahanam Jilid 17

 
Jilid 17

 Hal ini benar-benar membuat Seng Kim tidak mengerti, mengapa pelayan itu jadi ketakutan demikian rupa ketika ditanyakan soal rumah penginapan. Tetapi biarpun begitu, Seng Kim tidak mau terlalu mendesak.

“Kalau memang desa ini tidak mempunyai rumah penginapan, ya sudah!” kata Seng Kim kemudian. “Terima kasih atas penjelasan Toako!”

Pelayan itu ngeloyor cepat-cepat. Saat itu pikiran Seng Kim jadi diliputi oleh berbagai macam pertanyaan. Dia benar-benar tidak bisa menjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang timbul dibenaknya. Biar bagaimana dia sangat heran dan aneh sekali menghadapi kejadian seperti ini.

Lama juga Seng Kim duduk berdiam  diri di tempatnya itu. Sampai akhirnya malampun telah tiba. Setelah membayar apa yang dimakannya, Seng Kim meninggalkan kedai arak itu. Tetapi perasaan heran masih meliputi hatinya, karena dia benar-benar tidak mengerti atas sikap si pelayan kedai arak itu yang demikian terkejut dan seperti orang ketakutan waktu Seng Kim menanyakan soal rumah penginapan.

Mengapa pelayan itu ketakutan begitu rupa?  Apakah pertanyaan mengenai rumah penginapan di desa ini merupakan suatu pertanyaan yang aneh? Untuk menyelidiki soal itu, Seng Kim ingin menanyakannya kepada beberapa orang penduduk, karena Seng Kim sendiri mengetahuinya, biarpun pelayan itu didesak mengapa dia bersikap begitu, jelas dia tidak akan mengata- kannya. Itulah sebabnya Seng Kim tidak mendesak pelayan itu untuk menjelaskannya, karena Seng Kim cerdik sekali, dia mengetahui bahwa untuk memancing keterangan harus dari orang lain.

Memang sudah biasanya, keadaan di dalam sebuah desa, kalau sudah menjelang malam, maka suasananya menjadi sepi. Hanya tampak beberapa orang-orang tua saja yang masih sering berlalu lalang di jalan di desa tersebut yang kecil

Maka dari itu, Seng Kim mencari-cari kepada siapa dia harus bertanya untuk memancing keterangan mengenai persoalan penginapan di desa in i. Ketika itu, kebetulan tampak seorang lelaki tua berusia diantara enam puluh tahun tengah berjalan mendatangi kejurusannya.

Cepat-cepat Seng Kim telah memapaknya. Dirangkapkannya kedua tangannya menjura memberi hormat kepada lelaki itu.

“Lopeh!” katanya dengan suara yang menghormat sekali. “Aku ingin

bertanya sesuatu, apakah Lopeh mau menjelaskannya?”

 Orang tua itu mempunyai potongan muka panjang dan mata yang agak redup, mulutnya biarpun tidak tersenyum, namun memperlihatkan   bahwa orang tua ini seorang lelaki tua yang ramah.

Dia mengangguk.

“Ada apa nak? Apa yang ingin kau tanyakan?” tanyanya.

“Begini Lopeh kebetulan sekali aku sedang melakukan perjalanan yang cukup jauh dan telah kemalaman, maka dari itu, aku bermaksud  akan bermalam dikampung ini, apakah Lopeh bisa menunjukkan kepadaku rumah penginapan di desa ini?”

Sambil bertanya begitu, Seng Kim mengawasi muka kakek tua itu tajam- diam. Dan dia telah memperoleh kenyataan yang membuat dia jadi tambah heran saja. Muka kakek tua itu telah berobah hebat, tampaknya dia ketakutan dan ngeri sekali.

“Kau kau menanyakan apa nak?” tanyanya dengan suara yang gemetar, tampaknya dia benar gugup sekali, bola matanya juga telah mencilak-cilak mengawasi kesana kemari.

“Aku menanyakan apakah di kampung ini ada rumah penginapan untuk

bermalam. Lopeh?” tanya Seng Kim mengulangi pertanyaannya.

“Ohhhh   ti    tidak   tahu,   nak!”   sahut   orang   tua   itu   sambil mengawasi ke kiri dan kanan dari jalan itu, tampaknya dia tambah ketakutan saja. “Aku   aku benar-benar tidak mengetahui   tetapi, menurut apa yang kutahu bahwa di desa ini di desa ini tidak ada rumah penginapannya!”

Benar-benar Seng Kim dihadapi oleh suatu persoalan yang rumit sekali. Biar bagaimana dia sangat aneh dan heran bukan main. Telah dua kali Seng Kim menghadapi kejadian seperti ini.

Dua orang penduduk desa yang ditanyakannya tentang rumah penginapan dan mereka memperlihatkan muka dan sikap seperti orang ketakutan begitu. Sedang Seng Kim berdiri bengong memandang heran kepada orang tua itu, maka dengan tidak mengatakan sesuatu apapun lagi, orang tua itu telah ngeloyor pergi.

Seng Kim jadi terbengong-bengong di tempatnya tanpa bisa mengatakan sesuatu. Biar bagaimana kejadian seperti ini sangat mengherankannya. Dia mengawasi saja kepergian kakek tua itu tanpa ada niat untuk menahannya.

Kalau memang Seng Kim mendesak terus kakek tua itu agar mau memberikan penjelasan, jelas orung tua itu tidak akan membuka mulut. Biar

 bagaimana dia sebagai seorang penduduk dikampung ini, mungkin juga dia mengetahui jelas perihal rumah penginapan yang ditanyakan oleh Seng Kim. Hal seperti ini, tentu terdapat sesuatu yang tidak beres. Biar bagaimana Seng Kim yakin di dalam desa ini pasti ada satu atau dua rumah penginapan.

Tetapi di belakang itu, tentu terdapat sesuatu kejadian yang luar biasa terhadap penduduk desa, sehingga setiap kali Seng Kim menanyakan perihal rumah penginapan, selalu saja mereka memperlihatkan sikap ketakutan  dan juga selalu pula tampaknya gugup bukan main.

Yang membuat Seng Kim jadi tambah heran,  dia telah menanyakan kepada hampir beberapa orang penduduk lainnya yang kebetulan berpapasan dengan dirinya. Tetapi semuanya itu memperlihatkan sikap yang sama. Tidak ada seorangpun yang diantara mereka mau membuka mulut menerangkan dimana letak rumah penginapan.

Hal semacam ini, selain membuat Seng Kim terheran-heran dan merasa aneh, dia juga merasa mendongkol bukan main. Saking jengkelnya, dikala Seng Kim sampai di tikungan jalan, dibawah sebatang pohon, dia telah duduk di situ mengawasi jalanan tersebut.

Saat itu keadaan di sekitar tempat tersebut sangat gelap, karena malam kian larut saja. Juga sekitar tempat tersebut, di jalanan kecil dimana Seng Kim berada, telah menjadi sepi, sebab sudah tidak tampak seorang manusiapun yang hilir mudik. Seng Kim duduk bengong dibawah pohon itu.

“Apakah aku harus tidur diudara terbuka seperti ini? berpikir Seng Kim di dalam hatinya. “Hmm kalau memang terpaksa, biarlah malam ini aku tidur saja didahan

pohon ini, besok pagi aku baru pergi meninggalkan desa ini!”

Karena berpikir begitu, maka hati Seng Kim jadi agak tenang. Dia menyenderkan tubuhnya pada batang pohon itu, mencoba memejamkan matanya. Tetapi karena hawa udara sansat dingin, dengan sendirinya dia tidak bisa tidur juga.

Lama juga Seng Kim rebah menyender di batang pohon itu untuk tidur, dia memejamkan terus matanya, namun usahanya tetap tidak berhasil. Hal ini membuat Seng Kim jadi jengkel sekali.

“Apakah lebih baik aku meninggalkan desa ini untuk melanjutkan perjalanan saja.” berpikir Seng Kim dalam keadian mendongkolnya itu. “Percuma aja aku berdiam di sini, karena tokh aku tidak bisa tidur!”

 Sedang Seng Kim bimbang begitu, tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap sesuatu suara yang agak aneh.

Sebagai seorang yang mengerti ilmu silat dan memiliki kepandaian yang tinggi dan pendengaran yang tajam, walaupun suara apa saja yang sekecil bagaimana, tetap saja dapat didengar oleh Seng Kim. Dan suara ane h yang dapat didengarnya itu, perlahan sekali.

Tetapi Seng Kim mengetahui bahwa suara yang perlahan itu, yang menyerupai jatuhnya sehelai daun kering, adalah suara langkah ka ki yang dalang mendekati ke tempatnya berada itu dengan cara yang berindap - indap. Tentu ada seseorang yang tengah mengintai dirinya.

Walaupun Seng Kim mengetahui adanya suara langka h kaki itu, namun dia tetap berdiam diri, tidak bergerak sedikitpun juga, dia hanya memasang pendengarannya lebih tajam namun matanya  tetap dipejamkan rapat- rapat.

Dengan bersikap begitu, Seng Kim pura-pura tertidur nyenyak. Sedangkan suara langkah kaki i tu semakin lama semakin terdengar mendekat. Seng Kim menduga-duga, entah siapa orang yang sedang mengintai dirinya ini.

Setelah merasakan bahwa orang yang mengin tai dirinya lebih mendekat dan Seng Kim mengetahui bahwa orang i tu berada didekat belakang pohon tempat dia menyender itu, Seng Kim tiba - tiba telah mencelat bangun. Dengan kecepatan yang bukan main, tangannya juga telah bergerak melancarkan serangan kearah orang itu.

Sesosok bayangan melesat menghindarkan diri dari serangan Seng Kim itu dibarengi oleh seruan terkejutnya, karena rupanya dia tidak menyangka sama sekali bahwa Seng Kim akan melakukan hal seperti itu.

Dengan sendirinya, dia jadi terkejut bukan main, untung saja dia masih sempat mengelakkan diri. Dan yang menjadi sasaran dari telapak tangan Seng Kim adalah batang pohon tersebut.

“Bukkk!” batang pohon itu telah terpukul keras sekali. Begitu keras pukulan telapak tangan Seng Kim, sehingga batang pohon itu bergoyang - goyang karenanya.

Seng Kim dengan cepat dapat melihatnya bahwa orang yang mengelakkan diri dari serangannya itu ternyata seorang gadis berusia diantara sembilan belas tahun atau dua puluh tahun. Wajahnya cantik, pakaiannya begitu mewah, tetapi sinar matanya jelek, sipit dan tajam sekali, menunjukkan

 sifat gadis cantik ini buruk sekali. Saat itu muka si gadis cantik tersebut telah berobah merah.

“Hmmm, anak jahat!” gumam gadis itu dengan sikap yang mendongkol “Mengapa kau menyerangku secara membokong begitu?”

Seng Kim tertawa dingin.

“Seharusnya bukan kau yang menegur diriku, tetapi aku yang harus menegurmu! Apa maksudmu mengintai diriku, heh? Lagi pula, apakah pantas seorang gadis seperti kau mengintai seorang anak lelaki dengan sikap seperti maling kecil?!”

Muka gadis itu jadi berobah merah padam, rupanya dia likat sendirinya.

Namun disamping perasaan malunya itu, diapun jadi marah.

“Oh anak kecil bermulut kurang ajar'“ teriaknya dengan suara yang

gusar. “Kau berani menegur nona besarmu ini?”

“Mengapa aku harus takut?” sahut Seng Kim dengan suara yang tawar. “Apakah kau seorang malaikat yang harus kuhormati? Kalau memang kau seorang yang terhormat, tentunya kau tidak akan melakukan   pekerjaan rendah, mengintai seorang lelaki!”

Disanggapi begitu, tentu saja wanita itu tambah malu dan gusar.

“Baik! Baik! Rupanya kau tidak mengenal diriku, anak kecil!!” kala wanita itu dengan suara aseran, karena dia mendongkol sekali. Dan dia juga selalu menyebut Seng Kim dengan perkataan 'anak kecil’.

“Siapa mengatakan bahwa aku tidak mengenal dirimu?” balik tanya Seng Kim dengan suara mengandung ejekan yang sangat, sikapnya juga acuh tak acuh.

Gadis itu melengak. Mukanya juga telah berobah waktu dia bertanya :

“Jadi jadi kau mengetahui siapa diriku ini heh?” “Jelas aku mengetahuinya!”

“Dari siapa kau mengetahuinya?” “Aku yang mengetahuinya sendiri!” “Mustahil! Tidak mungkin!”

“Memang aku mengetahuinya sendiri, yaitu sejak sekarang ini aku sudah mengetahui dirimu!” kata Seng Kim lagi.

 “Siapa diriku?”

“Tentu saja kau seorang wanita yang tidak  tahu malu! Sudah jelas bukan? Kau seorang gadis yang tidak tahu malu, ditengah-tengah malam buta seperti ini mengintai-intai seorang lelaki seperti diriku!”

“Bangsat!” seketika itu juga gadis  tersebut  menyadarinya bahwa dia telah dipermainkan oleh Seng Kim, karena sesungguhnya Seng Kim memang tidak mengetahui siapa sebenarnya dia. “Kau ingin mempermainkan nona besarmu, heh?”

“Siapa yang ingin mempermainkan dirimu?” mengejek Seng Kim lagi. “Tetapi kukira tidak sesuai perkataan 'nona besar' itu untuk dirimu,  tidak pantas kau pergunakan perkataan itu untuk dirimu           karena    lebih    pantas lagi kalau kau menyebut dirimu sebagai 'nona tidak tahu malu', kukira itu lebih tepat!”

Muka gadis i tu jadi merah padam karena murkanya. Dia telah mengeluarkan suara seruan yang sangat yang nyaring, dengan cepat dia telah menggerakkan tangannya, dia telah melancarkan serangan kearah Seng Kim.

Seng Kim mana menganggap serangan dari gadis  itu? Walaupun serangan itu tampaknya kuat dan bertenaga sekali, namun bukan merupakan serangan yang terlalu berbahaya. Biar bagaimana serangan itu tidak mengandung serangan yang mematikan. Hal ini menunjukkan bahwa kepandaian yang dimiliki gadis itu masih terbatas.

Cepat sekali Seng Kim telah mengelakkan dan dari serangan itu.

MELIHAT gerakan Seng Kim yang ge sit dan cepat, yang dapat mengelakkan diri dari serangannya, gadis itu tambah murka. Dengan mengeluarkan suara seruan yang nyaring, dia telah melompat melancarkan serangan lagi beruntun kearah Seng Kim. Namun se tiap serangannya selalu dapat dielakkannya dengan mudah.

Dengan sendirinya, mau tidak mau Seng Kim jadi kena dibikin repot oleh serangan yang dilancarkan i tu oleh si gadis. Tetapi disebabkan kejadian ini, membuat gadis i tu disa mping terkejut, juga jadi penasaran bukan main.

Tadinya dia tidak memandang sebelah mata  terhadap kepandaian “si anak kecil’ yang dihadapinya ini, namun setelah kenyataannya setiap serangannya itu selalu dapat dielakkan dan dihindarkan oleh Seng Kim denga n mudah, membuat dia jadi kaget dan terheran-heran. Dia hampir tidak mempercayai penglihatan matanya bahwa 'si-anak kecil' yang tampaknya

 belum dewasa itu, dapat bergerak cepat dan gesit, malah dengan mudah diri si gadis seperti dipermainkan oleh 'si-anak kecil' ini. .

Biasanya, si gadis selalu bersikap congkak, karena dia merasakan dirinya memiliki kepandaian yang tinggi, dan lagi pula memang diapun belum pernah menemui tandingannya di kampung kecil tersebut, membuatnya dia tinggi hati dan kepala besar.

Biasanya gadis ini tidak pernah mau mengalah terhadap siapapun juga. Tetapi menghadapi Seng Kim, dia jadi mendongkol dan penasaran bukan main, namun dia mendongkol dan penasaran tanpa berdaya.

Karena biarpun dia telah mengempos semangatnya dan mempergencar serangan-serangannya, tetap saja dia tidak berhasil mendesak Seng Kim. Malahan tarnpaknya Seng Kim selalu bergerak seenaknya saja. Setiap gerakannya selalu begitu cepat dan gesit, seenaknya saja dia dapat menghindarkan diri dari setiap serangan si gadis.

Malahan si gadis itupun menyadarinya kalau dia bertempur terus dengan cara begitu, niscaya dirinya akan kena dirubuhkan Seng Kim. Sekarang gadis cilik itu baru menyadarinya bahwa si anak kecil yang tadinya dipandang ti dak sebelah mata olehnya, ternyata bukan anak kecil yang tidak mempunyai guna.

Malahan 'si anak kecil' ini merupakan seorang anak kecil yang berbahaya. Dengan sendirinya, dia jadi penasaran berbareng jeri juga. Cepat sekali gadis itu telah mempunyai rencana lainnya.

Dia telah mengerahkan semangatnya, menyalurkan tenaga dalamnya pada kedua telapak tangannya, kemudian melancarkan serangan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya merogoh saku bajunya.

Seng Kim melihat cara menyerang gadis ini tertawa dingin. Dia menduga bahwa si grdis sengaja melancarkan serangan dengan tangan kirinya itu sedangkan tangan kanannya itu merogoh saku bajunya jelas akan mengambil senjata rahasia.

Maka dari itu, Seng Kim berlaku lebih waspada, walaupun dia tidak jeri menghadapi apa saja yang akan dilakukan oleh gadis itu. Dengan mudah serangan tangan kiri gadis iu dielakkannya. Malahan Seng Kim telah membarengi dengan kepretan tangan kanannya kearah punggung si gadis. Maksud Seng Kim dia ingin mendorong rubuh tubuh si gadis.

Namun belum lagi tangan Seng Kim sempat mendorong bahu gadis itu. maka tampak tangan kanan si gadis telah bergerak cepat. Dia telah

 menimpukkan sesuatu kearah muka Seng Kim. Seng Kim memang  telah menduga bahwa dirinya akan diserang oleh senjata rahasia.

Dia mencoba mengelakkannya dengan memiringkan kepalanya kekiri. Namun untuk kagetnya dia memperoleh kenyataan bahwa yang ditimpukkan oleh gadis itu bukanlah berbentuk senjata rahasia. Melainkan merupakan bubuk-bubuk putih yang sangat terang berkilauan terkena cahaya rembulan. Lagi pula bubuk putih itu telah bertebaran dengan menyiarkan bau harum menusuk hidung.

Disaat itulah hati Seng Kim tercekat. Dia merasakan, pasti ada sesuatu yang tidak beres, karena biar bagaimana dia merasakan bahwa tepung bubuk yang bertebaran itu bukan senjata rahasia yang umumnya dipergunakan. Lagi pula dia dapat mencium hawa harum yang bertebaran menerjang hidungnya.

Dengan sendirinya, dia jadi kaget dan cepat-cepat telah berusaha untuk menghentikan jalan pernapasannya agar hawa harum itu tidak  terhirup olehnya.

Tetapi terlambat! Karena hawa udara yang mengandung bau harum itu telah kena diciumnya. Seketika itu juga, yang membuat Seng Kim tambah kaget, pandangan matanya jadi kabur.  Juga yang lebih-lebih membuatnya terkejut adalah tubuhnya menjadi lemas, semangat dan tenaganya seperti juga telah meninggalkan tubuhnya.

Pandangan matanya yang berkunang-kunang  itu menimbulkan rasa pusing pada kepalanya, sehingga dia mengetahui ada sesuatu yang tidak beres pada hawa udara yang mengadung hawa harum itu. Sedangkan gadis itu telah melompat menjauhkan diri dari Seng Kim.

Seng Kim sendiri sebetulnya jadi gusar bukan main merasa dirinya telah diperdaya demikian rupa oleh si gadis, karena dia menduga bahwa bau harum itu pasti merupakan semacam racun yang dipergunakan  oleh gadis tersebut untuk merebut kemenangan dari lawannya.

Tetapi untuk menerjang kearah gadis itu, untuk melancarkan serangan lagi dia tidak bisa melakukannya, karena gadis itu selain telah  melompat menjauhi diri dari dia, juga memang tenaga Seng Kim seperti telah lenyap sendirinya.

Jelas tidak mungkin Seng Kim melompat mnenerjang gadis itu lagi. Malahan, belum lagi Seng Kim mengetahui apa yang harus dilakukannya, tubuhnya telah terjungkal rubuh terkulai di atas tanah. Gadis itu yang melihat usahanya berhasil, telah tertawa tergelak-gelak.

 SETELAH puas tertawa tergelak-gelak begitu, gadis ini segera menghampiri Seng Kim yang rebah di atas tanah tanpa dapat bergerak, karena seluruh tenaganya seperti telah lenyap dari tubuhnya.

“Hmmm, sekarang kau baru mengetahui kehebatan dan keliehayan dari

nona besarmu!!” kata si gadis dengan suara mengejek.

Seng Kim biarpun telah rubuh di atas tanah tanpa memiliki tenaga lagi akibat terpengaruh oleh bekerjanya 'racun' yang disebarkan oleh gadis  itu, yang mungkin merupakan obat bius, telah mengawasi mendelik, dia tidak bisa melakukan sesuatu apapun juga. Kesadarannya tetap penuh, tetapi dia tidak memiliki tenaga dan tidak berdaya untuk melakukan sesuatu apapun juga.

Sigadis setelah puas tertawa, segera juga mengulurkan tangannya. Tanpa likat atau canggung-canggung, gadis itu telah mengempit Seng Kim, lalu dibawanya lari meninggalkan tempat tersebut. Gerakan gadis itu cepat sekali, gesit bukan main. Tubuhnya mencelat berlari-lari dikegelapan sang malam.

Seng Kim yang berada di dalam kempitan gads itu mengawasi arah yang dibawa oleh gadis tersebut. Tetapi yang sudah jelas, bahwa Seng Kim kali ini telah menjadi tawanan si gadis.

Namun yang membuat Seng Kim jadi penasaran dan mendongkol sekali, dia rubuh ditangan si gadis bukan disebabkan kepandaian si gadis berada lebih tinggi dari kepandaiannya, melainkan disebabkan tipu akal licik dari si gadis yang telah mempergunakan bubuk bius, yang membuat Seng Kim jadi tidak berdaya.

Lama Juga gadis itu telah membawa Seng Kim dalam kempitannya. Dan dia mengambil arah kearah ke pertengahan desa. Secara samar-samar Seng Kim melihat dirinya dibawa menghampiri sebuah bangunan yang cukup besar dan mewah.

Kalau dilihat sepintas lalu saja, bangunan tersebut seperti bangunan tua. Namun Seng Kim masih sempat melihat bahwa dimuka gedung tua itu, tergantung sebuah papan yang bertulisan 'Rumah penginapan Sing Hwe' yang telah tergantung rusak

Seketika itu juga Seng Kim menyadarinya, bahwa di desa ini ternyata memang terdapat rumah penginapan. Tetapi rupanya rumah penginapan  ini telah diambil alih oleh seseorang. Dan rumah penginapan tersebut  lalu dijadikan markas orang itu melakukan kejahatan.

 Mungkin juga orang yang menjadikan rumah penginapan ini adalah seorang yang beradat berangasan dan kejam, sehingga tidak ada seorang penduduk desapun yang berani membuka mulut perihal penginapan itu.

Dan memang rumah penginapan tersebut merupakan sebuah rumah penginapan satu-satunya yang ada di desa tersebut, dengan diambil alih rumah penginapan itu, dengan sendirinya tidak ada rumah penginapan lainnya lagi. Cuma saja yang tidak diketahui oleh Seng Kim, entah siapa orangnya yang telah mengambil alih rumah penginapan tersebut. Entah penjahat mana yang telah membuat rumah penginapan tersebut seperti bangunan  tua yang dijadikan markas kejahatannya!

Si gadis yang telah merubuhkan Seng Kim dengan mempergunakan obat biusnya, telah melangkah masuk ke dalam ruangan penginapan itu. Tindakan kakinya tetap dan tidak terlihat keragu-raguan sedikitpun juga. Samar-samar Seng Kim mendengar suara orang bercakap-cakap,  menunjukkan bahwa di dalam rumah penginapan tersebut terdapat beberapa orang lainnya.

Gadis yang mengempit Seng Kim, telah menghampiri pintu, diketuknya.

“Kau, Siauw-jie?” tegur orang di dalam.

“Benar! Aku telah dapat menangkap daun muda!” sahut si gadis yang

mengempit Seng Kim, yang dipanggil dengan sebutan Siauw-jie.

Tampak pintu itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu i tu sama dengan si gadis, yaitu seorang gadis yang berpakaian mewah dan reboh. Dengan cepat Siauw-jie telah membawa Seng Kim memasuki pintu itu. Ketika berada di dalam ruangan itu yang diterangi oleh cahaya api penerangan, Seng Kim melihatnya bahwa di dalam ruangan itu terdapat tiga wanita lainnya, yang sama seperti Siauw-jie dan yang seorangnya. Jadi jumlah mereka menjadi lima orang.

Semuanya berusia masih muda-muda dan memiliki paras yang cantik. Tetapi sinar mata mereka berlima menunjukkan sifat yang sama, memancarkan sinar yang tajam dan menunjukkan sifat yang serakah. Seng Kim muak melihat kelima wanita itu saling pandang dengan tersenyum. Sikap mereka centil sekali.

“Hebat kau Siauw-jie!” kata si gadis yang tadi telah membukakan pinlu untuknya. “Kau benar-benar telah memperoleh hasil yang luar biasa! Jarang kita bisa memperoleh daun muda yang demikian, mungkin di dalam  waktu sepuluh tahun kita tidak mengalami satu kali! Hmmm, di desa ini mana bisa kita memperoleh daun muda yang seperti kau peroleh itu!”

 Siauw-jie tertawa girang, tampaknya dia senang sebali. Apa lagi ketiga gadis lainnya juga telah memuji-muji kehebatan Siauw-jie, yang dikatakannya hebat dan mempunyai rejeki besar.

“Mana Suhu?” tanya  Siauw-jie setelah selang sesaat.

“Ada di dalam kamarnya, kau tentu akan memperoleh pujian, Siauw-jie!”

kata yang satunya.

Siauw-jie tidak menyahuti, dia hanya mengempit terus Seng Kim, dibawanya menaiki undakan anak tangga. Dia telah menghampiri sebuah kamar. Diketuknya pintu kamar itu.

“Suhu!” panggilnya dengan suara yang menghormat.

“Siapa?” terdengar suara wanita menegur dari dalam.

“Siauw-jie ingin menghadap pada Suhu untuk menyerahkan daun muda!” “Daun muda? Kau berhasil memperoleh daun muda?” terdengar orang

bertanya dari dalam itu dengan nada suara yang girang.

“Benar Suhu!”

Cepat sekali daun pintu terbuka.

Tampak seorang wanita berusia  diantara tiga puluh lima tahun keluar dari kamar itu. Tetapi wajahnya cantik sekali terang dan bersinar.

Begitu melihat Seng Kim yang dikempit oleh Siauw-jie, dia mengeluarkan seruan girang, “Hai! Hai! Kau benar-benar mempunyai rejeki yang besar !!” memuji wanita setengah baya itu dengan suara yang girang. Siauw-jie juga mempelihatkan sikap dan wajah yang girang mendengar pujian gurunya.

“Letakkan di situ! Cepat bawa masuk!!” kata sang guru lagi dengan suara yang girang bukan main. “Jangan takut, kau tentu kebagian!”

“Terima kasih Suhu!”

Siauw-jie telah membawa masuk Seng Kim ke dalam kamar. Kamar itu ternyata merupakan sebuah kamar yang bersih dan juga harum sekali. Seng Kim yang berada dalam kempitan Siauw-jie, jadi heran bukan main. Sejak tadi dia tidak mengerti menyaksikan sikap dari wanita-wanita itu. Entah apa maksud mereka menangkap dirinya, dan juga mereka tampaknya begitu girang dengan dapatnya menangkap Seng Kim.

Tubuh Seng Kim diletakkan dipembaringan yang terdapat di kamar itu. Pembaringan tersebut mempunyai sprei dari sutera warna putih. Seng Kim

 menduga-duga, entah dirinya akan disiksa bagaimana. Saat itu, wanita yang berusia tiga puluh lima tahun itu, guru Siauw-jie, telah menoleh kepada Siauw- jie, katanya :

“Kau boleh pergi main-main dulu dengan nomor !” katanya.

Tetapi Siauw-jie telah menggelengkan kepalanya cepat-cepat

“Tidak Suhu, kalau memang Suhu mengijinkan, biarlah aku menantikan giliranku pada daun muda ini!” kata Siauw-jie “Kalau memang sekarang aku main-main dengan nomor empat belas, tentu sudah berkurang  nikmatnya nanti!! Dan daun muda ini jatuh nomor berapa Suhu?!”

Sang guru berdiam diri sejenak, tetapi kemudian dia berkata :

“Baiklah, kau boleh menunggunya sampai aku selesai, dan daun muda

ini jatuh pada nomor genap, yaitu dua puluh!'

“Terima kasih Suhu!! “Kau boleh pergi!” “Baik Suhu!”

“Beritahukan kepada saudara-saudara seperguruanmu   yang   lainnya, kalau memang mereka mau main, boleh ambil nomor berapa yang mereka senangi!!”

“Akan Siauw-jie sampaikan Suhu!” kata Siauw-jie.

Setelah memberi hormat kepada gurunya dan memandang kearah Seng Kim sekali lagi dengan sorot mata memancarkan sifat serakahnya, Siauw-jie telah keluar dari kamar itu.

Sedangkan wanita berusia pertengahan yang wajahnya masih cantik ini, telah cepat-cepat menutup daun pintu kamarnya. Sekilas Seng Kim melihat bahwa tangan wanita ini agak gemetar waktu menutup daun pintu itu.

“Benar-benar rejekiku besar !   Benar-benar   hok-kie!”   menggumam wanita itu berulang kali. Dan dia telah membalikkan tubuhnya, me mandangi Seng Kim, yang rebah di pembaringan itu.

Seng Kim juga balas menatap wanita itu dia tidak mengetahui, entah apa yang ingin dilakukan oleh wanita tersebut. Hanya yang dilihat oleh Seng Kim, bahwa wanita ini sangat girang sekali.

“Siapa namamu, engko kecil?” tegur wanita itu kemudian dengan mulut tersenyum manis. Seng Kim diam saja.

 “Siapa namamu engko kecil?” tegur wanita itu lagi sambil menghampiri pembaringan. Untuk kagetnya Seng Kim, wanita ini telah duduk ditepi pembaringan.

“Ohhh dia akan segera menyiksa diriku!” berpikir  Seng Kim. “Entah

siksaan bagaimana yang ingin dilakukan terhadap diriku?

Sedang Seng Kim berpikir begitu, tahu-tahu tangan kanan wanita itu telah diulurkannya, dia telah mengusap muka Seng Kim lembut sekali.

Darah Seng Kim mendesir.

“Ohhh dia dia tidak menyiksa diriku tetapi dilihat caranya dia dia

adalah wanita cabul!” tiba-tiba Seng Kim tersadar.

Biar bagaimana Seng Kim seorang anak yang cerdik sekali, yang memiliki kecerdasan yang bukan main. Dengan sendirinya, dia bisa melihat gerak-gerik wanita ini. Cuma saja di dalam usia seperti Seng Kim ini memang tidak pernah memikirkan persoalan wanita dan lelaki, dengan sendirinya dia hanya tahu bahwa wanita ini wanita cabul, karena berani memegang mukanya.

'“Siapa namamu engko kecil?” “Tidak tahu!”

“Jangan ketus begitu terhadapku, engko kecil kaupun akan gembira

dan senang bukan?” kata wanita itu lagi.

“Jangan banyak   bicara,   cepat  berikan obat   pemunah racun yang

dipergunakan oleh muridmu!” kata Seng Kim kasar sekali.

Wanita itu tersenyum.

“Mudah saja kuberikan obat itu nanti setelah segalanya beres!” kata wanita itu. “Katakanlah namamu, engko kecil nanti kuberitahukan namaku!”

“Aku tidak perlu namamu!”

“Aku tahu, kau memang tidak memerlukan namaku, tetapi aku tetap

akan memberitahukannya!” kata wanita tersebut. “Tidak usah kau banyak bicara!”

“Jangan kasar begitu terhadapku, engko kecil'“ kata wanita tersebut dengan suara yang tawar.

“Hmm kau sebetulnya menginginkan apa dari diriku?”

 “Tidak banyak, hanya satu, senang sama senang!”' menyahuti wanita itu,

bibirnya tetap tersenyum, tampaknya senang sekali.

Seng Kim diam saja.

“Katakanlah namamu!” kata wanita itu lagi, suaranya tambah lembut.

“Masa bodo!”

“Namaku Gouw She Niang, tetapi kau boleh  memanggilku dengan sebutan encie Gouw saja!”

“Perduli amat!”

“Hmm, kau masih anak-anak, engko kecil!!” kata wanita she Gouw itu. “Sikapmu menunjukkan bahwa kau memang benar-benar masih merupakan seorang bocah cilik!”

“Kalau memang kau mau menyiksaku, mulailah!!” kata Seng Kim dengan

mendongkol, “Untuk apa kau banyak bicara?!”

Wanita she Gouw itu jadi tersenyum lebar mendengar perkataan Seng

Kim.

“Jadi kau sudah mengetahui apa yang akan kita lakukan, engko kecil?”

tanya wanita itu dengan suara yang lembut, “Kau bersedia melakukannya?'

“Hmm, paling tidak aku mati disiksa olehmu!”  menyahuti Seng Kim

mendongkol.

“Tidak! Tidak! Aku tidak segila itu 'menyiksa' di rimu sampat mati!” kata

wanita she Gouw tersebut dengan manja sekali.

“Kalau begitu, kau mulai saja menyiksaku atau membunuhku sekalian!”

kata Seng Kim tambah sewot.

“Kau sudah bersedia untuk memulainya engko kecil? Hai! Hai! Dasar berdarah muda, sampai tidak sabar untuk memulainya! Tetapi memang begitu, setiap anak muda selalu mempunyai kekuatan yang lebih besar dan  luber, sehingga tidak sabaran!”

Tetapi disaat itulah Seng Kim jadi terkejut sendirinya. Dia mendengar dan melihat sikap wanita ini, segera dia jadi terbuka pandangan matanya. Tadinya pikiran Seng Kim menduga-duga bahwa wanita ini tentu akan menyiksanya di dalam  pengertian menyiksa sungguh-sungguh,   yaitu penyiksaan terhadap fisiknya, tetapi siapa tahu wanita itu malah mengartikan lain dalam perkataan 'penyiksaan' itu.

 Dan samar-samar Seng Kim dapat menangkap arah perkataan wanita itu. Dia jadi terkejut sendirinya. Karena kalau memang Gouw She Niang bermaksud benar-benar menyiksa dirinya di dalam perkataan yang sebenarnya menyiksa, niscaya sikapnya terhadap Seng Kim tidak akan semanis itu. Maka dari itu, Seng Kim jadi diliputi oleh berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Akhirnya karena dia tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh wanita she Gouw ini, dia malah jadi berdiam diri, membisu.

Sedangkan wanita itu telah berdiri dari duduknya ditepi pembaringan itu. Dia tidak melakukan sesuatu, hanya mengawasi  Seng Kim dalam, sinar matanya begitu tajam dan aneh, Seng Kim jadi menggidik sendirinya.

Malahan Seng Kim melihat muka wanita ini selain aneh, juga dia telah berulang kali

Hal  dan  tdk ada

buka baju begitu?” teriak Seng Kim dengan bingung.

“Diam-diam saja, kau tenang-tenang saja, nanti juga kau akan mengetahui! Yang penting, kau nanti boleh membuktikan, bahwa aku tidak akan membuat kau sengsara, tetapi kau malahan akan gembira sekali!”

Dan sambil berkata-kata begtu, wanita she Gouw tersebut terus juga menggerakkan tangannya membuka sepatu dari Seng Kim. Kedua sepatu itu, kiri dan kanan telah dapat dibukanya.

Seng Kim jadi tambah kebingungan, dia menduga-duga entah apa yang ingin dilakukan wanita itu.

Pertama-tama wanita itu dengan tidak malu-malu  telah membuka seluruh pakaiannya, sehingga Seng Kim bisa melihat seluruh tubuhnya. Lalu sekarang Seng Kim telah dicopoti satu persatu. Benar-benar Seng Kim jadi kebingungan sekali, jantungnya jadi tergoncang keras.

Tetapi dikala wanita itu telah mengulurkan tangannya, menarik terbuka kaos kaki Seng Kim, disaat itulah serupa ingatan telah menyelinap di dalam benak Seng Kim. Dan ingatan serupa itu membuat Seng Kita seperti disambar petir.

“Apakah apakah wanita ini akan mengajak aku melakukan perbuatan

mesum dan cabul?” berpikir hati Seng Kim.

 Pikiran dan dugaan seperti ini yang telah membuat Seng Kim kaget setengah mati. Tetapi dia dalam  keadaan tidak berdaya karena pengaruh 'racun' obat bius yang dipergunakan Siauw-jie, dengan sendirinya biarpun Seng Kim pada saat itu sibuk seperti kebakaran jenggot, namun dia tidak berdaya untuk memberikan perlawanan.

Kaos kaki dari Seng Kim yang kiri dan kanan dan kedua kakinya, telah dilepaskan oleh wanita itu. Dan malahan tangan Gouw She Niang terus juga gerayangan, akan menarik terbuka celana Seng Kim.

“Celaka!” berseru Seng Kim di dalam hatinya. “Ohhh benar-benar wanita ini wanita cabul!”

Dan dia jadi ketakutan sekali.

“Hei! Hei! Jangan! Jangan membuka celanaku!!” teriak Seng Kim ke- takutan sekali.

“Kalau celanamu tidak dibuka, lalu bagaimana  melakukannya?” kata wanita she Gouw itu sambil tertawa centil, mukanya tampak merah seperti buah apel, rupanya wanita she Gouw ini tengah diliputi  oleh hawa yang membuat tubuhnya jadi panas seakan-akan menguap.

“Melakukan apa? Melakukan apa?” teriak Seng Kim gugup sekali.

“Melakukan senang sama senang!” sahut wanita itu.

“Ohhhh, perempuan terkutuk, perempuan cabul, bebaskan aku!!” teriak

Seng Kim gugup sekali. “Diamlah!” “Bebaskan aku!” “Tenanglah!” “Lepaskan aku!” “Jangan ribut!”

“Tidak! Lepaskan aku!”

“Engko kecil, jangan kau membikin gaduh!”

“Perempuan cabul, cepat kau lepaskan aku! Kau anggap apa aku ini?” “Jangan membuat gaduh!”

“Lepaskan!”

 “Sabar!”

“Lepaskan ooooh, lepaskan perempuan celaka!” “Jangan terlalu berisik!”

“Cepat kau bebaskan diriku!”

“Akan segera kulakukan setelah hubungan senang sama senang selesai!” “Tidak!”

“Tidak?”

“Ya! Biarpun aku mati, jangan kau harap  bisa melakukan perbuatan

cabul!”

“Perbuatan cabul?”

“Ya! Kau perempuan tidak tahu malu!”

“Aku kira perbuatan itu bukan perbuatan cabul, kau masih terlalu kecil engko kecil, sehingga tidak mengetahui manfaat dan nikmatnya perbuatan senang sama senang, kalau memang bukan adanya diriku dan muridku, sudah banyak lelaki yang kelabakan seperti kebakaran jenggot, karena biarpun mereka mencari-cari keujung dunia, mereka sukar memperoleh nikmat seperti yang kami berikan!”

“Perempuan tidak tahu malu, terkutuk, cabul, cepat lepaskan aku!” “Tenanglah!”

“Lepaskan!”

“Ini atas dasar senang sama senang!” “Jangan kau merusak diriku!!”

Wanita she Gouw itu tidak menyahuti lagi teriakan Seng Kim. Tetapi saat itu tangannya telah menarik terlepas celana Seng Kim. Tentu saja hal ini membuat Sing Kim jadi kelabakan dan gugup.

“Ohhh, perempuan cabul!” makinya dengan suara yang nyaring.

“Aku bukan cabul percayalah, apa yang akan kita lakukan ini bukan

perbuatan cabul, tetapi perbuatan senang sama senang!” “Terkutuklah kau!”

 “Kukira tidak akan ada yang mengutuk kita? Coba kau katakan, siapa yang mengutuk kita?”

“Perempuan cabul kau!”

“Ini adalah perbuatan senang sama senang dengan sendirinya tidak akan ada yang mengutuk kita, percayalah engko kecil, karena susah atau senangnya kita yang merasakan bersama!”

“Lepaskan aku!”

“Tenanglah, kalau kau masih membuat ribut-ribut, aku akan menotok Ahhiat (urat gagu)mu, sehingga kau tidak akan dapat bersuara?”

“Bangsat kau!”

“Baru pertama kali ini aku mendengar diriku  disebut bangsat, tetapi biarlah, aku tidak menyesal, karena kau merupakan satu -satunya daun muda yang pertama kali kuperoleh seperti kau! Ini namanya Hokkie dan umumnya Hokkie (rejeki) tidak boleh ditampik!”

“Benar-benar perempuan tidak tahu malu!!” maki Seng Kim terus. “Ohhh kau belum tahu nikmat yang akan kau peroleh, kalau nanti kau

sudah merasakan, tentu kau akan merangkak-rangkak  dan menghiba-hiba

meminta dikasih menciumi kakiku!”

“'Lepaskan aku lepaskan aku!” teriak Seng Kim dengan suara kalap. Saat itu Gouw She Niang telah berhasil melepaskan celana Seng Kim,

benar-benar Seng Kim ingin diperlakukan seperti bayi yang baru dilahirkan. Malahan telapak tangan Gouw She Niang telah mengusap perut bagan bawah dari Seng Kim.

Seketika itu juga Seng Kim merasakan semacam perasaan geli menggelegar ditubuhnya, usapan itu mendatangkan perasaan geli,   karena yang diusap oleh wanita itu bagian yang sensitif perasa. Seng Kim merasakan seperti ada arus listrik yang menyelinap ke dalam dirinya.

Perasaan seperti ini baru pertama kali dirasakannya, yang membuat tubuhnya terjengkit. Juga jantungnya berdebar aneh sekali. Muka Seng Kim jadi pucat dan bibirnya gemetaran. Itulah suatu perasaan aneh bukan main.

“Le     lepaskan      aku    le lepaskan aku!” kata Seng Kim dengan suara yang telah berobah jadi gemetaran

Wanita itu tersenyum.

 “Diamlah kalau kau masih banyak bicara, aku akan membuktikan ancamanku, yaitu menotok ah-hiatmu!” katanya tawar.

Tetapi Seng Kim masih terus juga memaki-maki dan berteriak-teriak.

Akhirnya, rupanya wanita ini merasakan ketenangannya terganggu.

Hal  s/d  tidak ada

“Membasmi kau dan murid-muridmu yang jahat dan cabul!” sahut Seng

Kim tegas.

Muka Gouw She Niang telah berobah seketika itu juga. Dia telah menatap kearah Seng Kim dengan sorot maa tajam.

“Ohhhh begitu?” dia menggumam perlahan dengan suara yang hampir

tidak terdengar.

Seng Kim tidak jeri ditatap begitu oleh Gouw She Niang. Karena Seng Kim sendiri telah merasa berputus  asa, menyesal, murka, karena merasa dirinya telah dihancurkan oleh wanita itu. Maka dari itu, bagi Seng Kim memang lebih baik dia dibunuh dari pada hidup dengan menanggung malu dan menderita demikian.

Setelah mengawasi Seng Kim sesaat lamanya, tiba-tiba Gouw She Niang telah tertawa tergelak-gelak dengan suara yang nyaring sekali.

“Engko kecil aku bisa memaklumi jalan pemikiranmu seperti itu!”

tiba-tiba

Gouw She Niang telah berkata dengan suara yang tidak begitu keras, setelah dia puas tertawa. “Usiamu memang masih terlalu muda, maka dari itu kau tentu akan pura-pura suci! Hmmm, kau tahu sebetulnya semua lelaki adalah anjing, yang setiap melihat wanita pasti alam pikirannya akan melayang -layang mengkhayalkan          sesuatu!          Apa           lagi           yang           dilihatnya itu seorang wanita cantik!”

“Dusta! Tetapi yang jelas sekarang ini, yang sudah menjadi kenyataan, bahwa engkaulah yang telah menjadi anjing! Kau telah begitu rakus dan tidak mengenal

jijik sedikitpun juga!”

“Dengarlah engko kecil, kau masih kecil dan tidak mengenal arti penghidupan. Kau masih terlampau bodoh. Itulah sebabnya kau tidak mengerti bagaimana harus menerima kenyataan seperti ini! Seharusnya  kau mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadaku, malah kau telah memaki-

 maki diriku. Tetapi mengingat usiamu yang masih kecil, mau aku memaafkannya, nanti setelah kau tahu sebenarnya dan mengetahui juga penghidupan dan kehidupan manusia dipermukaan bumi ini, aku yakin kau akan lari terbirit-birit  mengejar-ngejar  diriku untuk  menyatakan rasa maafmu!!”

Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Gouw She Niang, Seng Kim bertambah gusar saja, karena biar bagaimana dia merasa telah dirugikan oleh perempuan ini. Biarpun tadi Seng Kim merasakan sesuatu yang aneh, perasaan nikmat yang bukan main, yang membuat Seng Kim lupakan segalanya selama beberapa detik, tetap saja Seng Kim merasakan bahwa wanita itu yang telah merusak hidupnya, merusak dirinya.

Dengan sendirinya, dia jadi gusar sekali, dan lebih-lebih mendengar perkataan Gouw She Niang yang nadanya seperti juga membela diri, namun kenyataannya memang wanita ini terlalu banyak alasan.

Melihat Seng Kim tidak menyahuti perkataannya, hanya menatap kearah dia dengan sorot mata seperti orang mendongkol, Gouw She Niang telah tertawa lagi.

“Hmmm, percayalah engko kecil, nanti setelah kami lepas dari tempat ini, mungkin hanya di dalam beberapa hari kau bisa datang dengan sendirinya kemari pula! Semua itu hanya untuk memperoleh rasa nikmat yang per nah kau rasakan itu!”

“Benar-benar perempuan tidak tahu malu!” memaki Seng Kim saking tidak bisa menahan perasaan murka dan penasarannya. “Setelah melakukan perbuatan mesum, pikiranmu masih saja berpikir yang tidak-tidak! Aku tidak serendah dalam pandanganmu! Hmmm, kalau memang aku belum terkena obat bius dari muridmu yang terkutuk itu, tentu akan kubunuh dan kubasmi kalian!”

Wanita itu tertawa.

“Sungguh perkataan yang gagah bukan main!” katanya dengan suara yang nyaring. “Luar biasa! Luar biasa! Hmmm, tentunya kau seorang Hohan yang berkepandaian tinggi! Tetapi sayangnya, tadi dalam pertempuran dengan diriku, daya tahanmu tidak lama, hanya sekejap mata, terciptalah air mancur! Tetapi jelasnya tadi kau telah merasakan nikmat yang bukan main itu, bukan?! Hmmm, terus terang saja kukatakan kepadamu,  bahwa akupun sebetulnya tidak kesudian melakukan hal-hal seperti tadi demi kepentinganmu, tetapi karena akupun membunuh bibit hidup (sperma) dirimu, yang masih murni karena kau masih bujangan, anak baru besar, dengan sendirinya kulakukan juga perbuatan tadi. Kegunaan dari bibit hidupmu itu sangat berguna sekali bagiku, sangat kubutuhkan, karena selain dapat mempertahankan wajahku

 yang cantik ini agar tidak  rusak oleh usia tua, juga dapat mempertinggi ilmu

yang sedang kupelajari!”

“Gila!” mengutuk Seng Kim.

“Hmmmm, sekarang kau bisa mengatakan perbuatan itu adalah perbuatan gila!” kata Gouw She Niang dengan suara perlahan. “Tetapi kau lupa, bahwa perbuatan itu pula malah yang akan membuat aku sempurna, baik wajah dan bentuk tubuhku, yang akan tetap awet muda dan cantik, juga ilmuku yang akan sempurna! Sekarang saja kau tentu melihat dari wajahku, bahwa usiaku   baru   berkisar   diantara   tiga   puluh   tahun   lebih,   tetapi sesungguhnya, aku telah berusia tujuh puluh tiga tahun!!”

Mendengar keterangan yang diberikan oleh Gouw She Niang, Seng Kim jadi menggidik sendirinya, dia menggidik berbareng kaget setengah mati.

Siapa yang akan percaya, bahwa wanita secantik Gouw She Niang ini, yang tampaknya baru berusia diantara tiga puluh lima tahun tetapi kenyataannya malah telah berusia diantara tujuh puluh tiga tahun! Bayangkan saja, siapapun juga tidak akan mempercayainya. 

Seng Kim jadi memandang bengong saja pada diri wanita ini. Sedangkan Gouw She Niang telah tertawa dingin lagi.

“Maka dari itu, di dalam usia seperti diriku ini, sudah tidak terdapat lagi hawa nafsu cabul yang seperti kau katakan itu, karena aku sudah tida k membutuhkan pula rangsangan nafsu kebinatangan! Namun, yang kubutuhkan adalah bibit hidupmu itu, yang bisa membuat aku panjang umur dan tetap awet muda, disamping untuk menambah menyempurnakan ilmuku!!”

Seng Kim berdiam diri sesaat waktu Gouw She Niang menatapnya. Tetapi kemudian terlintas di dalam pikiran Seng Kim serapa ingatan.

“Apakah murid-muridmu juga mengambil jalan seperti kau, melatih ilmu siluman yang kau katakan tadi?” tanya Seng Kim kemudian.

Gouw She Niang tdak segera menjawab pertanyaan Seng Kim itu. Dia telah memandangi Seng Kim sekian lama dengan bibir yang tersenyum. Setelah menatap sekian lama, akhirnya Gouw She Niang telah menghela napas, lalu dia mengangguk.

“Benar! Memang murid-muridku itu jelas mengikuti aliranku!” menyahuti Gouw She Niang kemudian. “Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa guru kencing berdiri, murid kencing berlari? Dengan sendirinya, karena aku menuntut ilmu yang hebat itu, begitu pula dengan murid-muridku itu, mereka

 menginginkan untuk memperoleh kehebatan pula, agar berhasil melatih diri di dalam soal ilmu yang luar biasa itu !”

Seng Kim mendengus tertawa dingin.

“Inilah suatu perbuatan terkutuk, dengan kau  didik murid-muridmu itu di dalam ilmu siluman itu, jelas dunia persilatan akan muncul kekacauan!” kata Seng Kim kemudian dengan gusar.

“Kalau menurut penglihatanku  memang begitu, dan kurasa hanya seorang manusia seperti kau, tidak usah kuatir bahwa rimba persilatan akan ditelan oleh murid-muridku itu, karena biar bagaimana murid-muridku  itu hanya beberapa orang, maka tidak mungkin mereka memakan sekian ratusan ribu jago-jago rimba persilatan! Apa lagi memang kebanyakan di dalam rimba persilatan hanya terdapat jago-jago tua yang sudah lanjut usianya!”

Dan setelah berkata  begitu, Gouw She Niang telah tertawa gelak -

gelak.

Seng Kim jadi berdiam diri membungkam, karena dia mengetahui

bahwa Gouw She Niang seorang wanita yang sudah tidak mempunyai rasa malu.

Walaupun dia me-maki-maki dan menegur perbuatan Gouw She Niang yang kotor itu, niscaya Gouw She Niang tidak akan menggubrisnya.

Maka dari itu, percuma saja umpama kata dia mengotot terus, lebih baik dia menutup mulut rapat-rapat tidak mengacuhkan wanita itu.

Semakin melayaninya wanita itu bercakap dan berdebat, perasaan mendongkol dan penasaran semakin menghebat saja, membuat Seng Kim semakin sengit.

Setelah puas tertawa, Gouw She Niang telah memandang Seng Kim lagi.

“Kau baru sekali ini memberikan bibit hidupmu itu kepadaku, dan aku membutuhkan

sampai empat atau lima kali lagi!” kata Gouw She Niang. “Sekarang kau boleh beristirahat, nanti setelah aku merasa cukup dengan bibit hidupmu itu, sisanya akan kuberikan kepada murid-muridku itu! Tetapi disebabkan kau   seorang yang mengerti ilmu silat, kalau dibiarkan begitu sa ja, niscaya kau akan menimbulkan kerewelan, maka lebih baik kau mengaso dengan tenaga yang tetap tidak berada pada dirimu!”

Dan setelah berkata begitu, Gouw She Niang tampak merogoh sakunya. Seng Kim tercekat hatinya, karena dia mengetahui bahwa wanita itu ingin

 membius dirinya lagi. Dengan sendirinya, dia mencoba menahan napasnya dan mencoba mengerahkan sisa tenaga dalamnya. Tetapi Gouw She Niang yang saat itu telah mengeluarkan sehelai sapu tangan,  tidak melakukan gerakan seperti yang dilakukan Siauw-jie,  muridnya, melainkan dia telah mendekati Seng Kim, lalu sapu tangan itu didekapkan pada hidung Seng Kim, mau tidak mau hawa harum yang terdapat di dalam sapu tangan itu terhirup juga, karena jelas Seng Kim tidak bisa bertahan tidak bernapas lebih lama lagi!

BEGITU Seng Kim terhirup hawa udara dari sapu tangan itu, yang mengandung bau harum, seketika itu juga Seng Kim merasa kan kepalanya pening. Juga seluruh tubuhnya telah menjadi lemas seperti tidak bertenaga.

Karena biar bagaimana, racun bius yang dipergunakan oleh Gouw She Niang jadi lebih kuat dari pada racun bius yang dipergunakan murid-muridnya.

Cuma saja, Seng Kim tidak sampai pingsan, dia hanya merasa pening dengan kepala yang berdenyut-denyut  dan seluruh tubuhnya lemas seperti juga sudah tidak bertenaga sama sekali. Dengan sendirinya, Seng Kim jadi gugup dan ketakutan.

Apa lagi dia teringat akan kata-kata Gouw She Niang, bahwa wanita itu masih membutuhkan empat atau lima kali lagi bibit hidupnya, jelas hal ini bisa membahayakan dirinya, sebab setidak-tidaknya  dia tidak akan berdaya dan tidak mampu memberikan perlawanan, dirinya saat itu seperti juga sudah tidak bert e n aga sama sekali, seperti orang lumpuh, dengan sendirinya dia tidak akan mampu melakukan suatu apapun juga.

Tetapi segalanya telah terjadi begitu, mau tidak mau Seng Kim hanya menyesali dirinya, mengapa sejak pertama kali dia bertemu dengan Siauw-jie, dia tidak bersikap lebih waspada dan hati-hati, sehingga dirinya tidak sampai harus mengalami kejadian penasaran seperti saat itu.

Gouw She Niang telah melihat bahwa racun biusnya berhasil. Dia memasukkan sapu tangannya kembali, mengambil bajunya dan memakainya. Setelah itu Gouw She Niang meninggalkan ruangan tersebut. Seng Kim tetap rebah di atas pembaringan itu dalam keadaan yang tidak tertutup sehelai benangpun juga, sehingga membuat Seng Kim tambah mendongkol dan gusar saja, sebab Gouw She Niang telah seenaknya saja meninggalkan dia dalam keadaan begitu. Padahal tidak seharusnya Gouw She Niang membiarkan Seng Kim dalam keadaan begitu, karena bisa saja wanita ini mengambil baju Seng Kim dan memakaikannya.

 Lama juga Seng Kim rebah terlentang di atas pembaringan itu dalam keadaan begitu. Keadaan sunyi sekali, dia hanya mendengar samar-samar terkadang suara tertawa Siauw-jie dan kawan-kawannya yang lain, menambah kemarahan dihati Seng Kim.

Yang membuat Seng Kim tidak mengerti, mengapa di dalam dunia bisa terdapat perbuatan seperti itu. Dia memang sering mendengar cerita-cerita mengenai Niekouw cabul atau Hweshio cabul dari orang-orang kepandaian ayahnya, sewaktu dia masih berada di gedung ayahnya, tetapi mengapa wanita biasa ini juga bisa melakukan perbuatan terkutuk seperti itu.

Yang membuat Seng Kim terheran-heran dan tidak bisa mencarikan jawabannya atas keterheranannya itu, ialah menurut keterangan dari  Gouw She Niang, bahwa usia wanita itu telah mencapai tujuh puluh tiga, tetapi wajahnya masih tetap cantik dan seperti wanita berusia diantara tiga puluh tahun lebih. Apakah memang benar bahwa bibit hidup dari seorang lelaki dapat memberikan khasiatnya sebagai obat awet muda dan panjang umur?

Inilah yang tidak bisa terjawab oleh Seng Kim, karena di dalam persoalan ini benar-benar Seng Kim gelap dan tidak mengerti. Namun kenyataannya memang dia sudah hadapi dan lihat dengan mata kepala sendiri, lagi pula malah dia sendiri yang telah merasakan akibat dari perbuatan Gouw She Niang, sebab diri Seng Kim yang dijadikan boneka-bonekaan.

Apa lagi kalau memang Seng Kim teringat kepada perkataan Gouw She Niang, bahwa nanti setelah Gouw She Niang puas  melakukan  segalanya terhadap diri Seng Kim, maka Seng Kim akan diserahkan kepada murid- muridnya.

Itulah yang lebih parah lagi! Akibatnya tentu akan lebih hebat lagi dira - sakan oleh Seng Kim. Sedang Seng Kim rebah tidak berdaya di atas pembaringan itu tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki.

Hati Seng Kim jadi berdebar keras, karena dia menduga bahwa Gouw She Niang pasti datang lagi untuk melakukan perbuatan mesumnya seperti tadi. Dengan mempergunakan sudut matanya Seng Kim mengawasi kearah pintu. Dia melibat pintu itu telah didorong terbuka oleh seseorang.

Tetapi yang melangkah masuk ke dalam kamar itu bukan Gouw She Niang. Melainkan seorang gadis lainnya, yang memang telah dikenal Seng Kim. Siauw-jie! Ya, yang masuk ke dalam kamar itu memang Siauw-jie, gadis yang telah menawannya dengan mempergunakan bubuk racun bius itu.

Sepasang alis Seng Kim jadi mengkerut dalam-dalam. Entah apa yang ingin dilakukan oleh Siauw-jie dikala gurunya, Gouw She Niang, tengah keluar

 dari dalam kamar itu. Siauw-jie melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan bibir tersenyum. Tetapi dia datang ke kamar itu bukan berseorang diri. Sebab di belakangnya tampak beberapa orang, empat orang gadis  lainnya, yang menjadi saudara seperguruan Siauw-jie.

Hati Seng Kim jadi tambah kaget saja, dia jadi memandang bengong. Sedangkan Siauw-jie dan keempat gadis lainnya, yang tentunya murid dari Gouw She Niang juga, telah melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan wajah yang berseri-seri.

Siauw-jie sendiri telah menutup daun pintu itu kembali. Tetapi, Siauw- jie tidak menguncinya, hanya menutup merapatkannya saja. Setelah  itu, mereka berlima tdah menghampiri kepembaringan, tegasnya mereka menghampiri Seng Kim.

“Bagaimana anak kecil, apakah kau telah memperoleh kenikmatan luar biasa dari guru kami?” tanya Siauw-jie sambil tersenyum dan matanya memandang genit sekali, dia masih tetap memanggil Seng Kim dengan sebutan 'anak kecil' membuat Seng Kim jadi tambah gusar saja.

“Kalian perempuan-perempuan tidak tahu malu, dengan  berbuat perbuatan yang terkutuk, tentu kalian semuanya akan dikutuk oleh  Thian!!” memaki Seng Kim dengan suara yang nyaring.

Siauw-jie dan keempat kawannya tidak menjadi marah mendengar makian yang dilontarkan oleh Seng Kim kepada mereka. Malahan mereka telah saling pandang sambil tersenyum. Tampaknya seperti juga perkataan Seng Kim itu mengandung sesuatu yang lucu.

“Kau mengatakan bahwa kami akan dikutuk oleh Thian, tetapi kau sendiri juga akan dikutuk oleh Thian!!” kata Siauwjie kemudian. Muka Seng Kim jadi berobah tambah merah padam karena dia jadi semakin gusar saja.

“Jangan bicara sembarangan!!” teriak Seng Kim dengan suara yang

nyaring.

“Kami bukan bicara yang mengaco-balau'“ kata Siauw-jie. “Hmmm, kalau memang perbuatan kami ini dianggap olehmu sebagai perbuatan terkutuk, apakah yang telah kau lakukan bersama guru kami itu bukan suatu perbuatan terkutuk juga.”

Disanggapi begitu, Seng Kim jadi terkejut sendirinya. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan ditegur begitu. Jelas hal ini memang sengaja diada-adakan oleh Siauw-jie,  maka setelah tersadar dari melengaknya, Seng Kim jadi tambah marah.

 “Diriku mana bisa dipersamakan dengan diri kalian!!” teriak Seng Kim penasaran sekali “Kalau diriku hanya disebabkan tipu daya kalian, telah diperlakukan tidak baik tegasnya dalam  tidak berdaya kalian telah melakukannya, menyeret diriku ke dalam dunia maksiat yang penuh dosa ini! Tetapi kalau kalian?! Hmmm, yang jelas kalian adalah iblis-iblisnya yang telah tegas akan dikutuk oleh Thian!”

“Kau yakin itu?” “Yakin!”

“Hmmm, tetapi itu urusan kami!”

“Tetapi Thian tetap akan menurunkan kutukannya, walaupun memang benar semua itu adalah urusan kalian, tetapi kalian harus mempertanggung jawabkannya kepada Thian, perbuatan dosa yang kalian lakukan itu malah telah menyeret-nyeret orang lain, sehingga banyak sekali korban-korban dari kemesuman kalian!”

“Kau terlalu banyak bicara, anak kecil!!” kata Siauw-jie yang menjadi mendongkol juga mendengar perkataan Seng Kim. Itulah sebabnya dia telah memutushan perkataan Seng Kim dengan perkataannya, dia tidak menantikan sampai perkataan Seng Kim habis diucapkan semuanya oleh pemuda cilik ini.

“Tidak tahukah kau, bahwa kami guru dan murid sebetulnya sedang mencari keabadian di dalam dunia ini! Hmmm, malahan kami sedang menyelidikinya terus, bagaimana orang bisa hidup abadi di dalam dunia ini, dengan umur yang sangat panjang juga dengan muka dan bentuk tubuh yang tetap awet muda! Hmmm, kami baru menemui sedikit dari obat-obat  yang harus kami pergunakan itu! Tetapi kami percaya, guru kami, Gouw She Niang Suhu pasti akan berhasil menyelidiki dan menemui obat yang benar-benar mujarab, sehingga bisa menyebabkan manusia hidup abadi di dalam  dunia ini!!”

“Kalian berdosa, kalian ingin melawan ketentuan Thian, kalian benar- benar sudah sinting!” teriak Seng Kim dengan suara yang nyaring. “Kal ian manusia-manusia murtad yang memang harus binasa dengan perbuatan- perbuatan dosa yang telah kalian lakukan! Kalau manusia-sia semacam dirimu ini dibiarkan hidup terus, niscaya akan menyebabkan dunia tidak aman!”

Mendengar makian Seng Kim itu, tentu saja Siauw-jie jadi mendongkol. Tetapi salah seorang diantara kawan Siauw-jie  telah menyentuh lengan  si gadis, seperti juga memberi isyarat. Siauw-jie seperti tersadar. Muka merah padamnya telah lenyap, diganti oleh seulas senyuman pada bibirnya.

 “Baiklah!” kata Siauw jie kemudian. “Memang tidak ada baiknya kita melayani anak kecil ini?! Lebih baik kita segera memulainya!”

Dan setelah berkata begitu, Siauw-jie telah menghampiri pembaringan lebih dekat. Dia telah diikuti oleh keempat orang kawannya. Mereka mengambil posisi sendiri-sendiri, sehingga mereka seperti juga sedang mengurung pembaringan itu. Sedangkan Siauw-jie  sendiri telah mengangkat tangannya, dia telah membuka pakaiannya. Keempat orang kawannya juga telah mengikuti perbuatan Sauw-jie!

Hal ini tentu saja membuat Seng Kim jadi kaget setengah mati!

“Mau apa lagi kelima gadis ini terhadap dirinya?”

Sedang Seng Kim bertanya-tanya di dalam hatinya, Siauw-jie  telah berkata : “Hayo kita segera memulainya!” kata Siauw-jie dengan disertai oleh gerakan tubuhnya, yang berjongkok ditepi pembaringan.

Keempat gadis lainnya juga telah mengiyakan, mereka telah mengambil sikap masing-masing lagi. Untuk selanjutnya, mereka melakukan sama seperti apa yang pernah dilakukan Gouw She Niang yang terhadap diri Seng Kim. Hanya bedanya, kalau Gouw She Niang bekerja seorang diri namun Siauw-jie telah bekerja bersama-sama berlima.

Maka dari itu, 'sasaran' yang diserang oleh kelima gadis ini, telah berpencar-pencar, namun dapat dirasakan oleh Seng Kim di dalam waktu yang bersamaan.

Ada yang didekat kaki pinggang perut dan juga dada Seng Kim. Perasaan yang muncul pada diri Seng Kim juga bermacam-macam. Tetapi perasaan aneh yang muncul pada dri Seng Kim itu beruntun dan dapat dira sakan oleh Seng Kim di dalam waktu yang bersamaan.

Tentu saja perasaan geli dan gelisah yang menyelubungi diri Seng Kim semakin hebat saja kalau dibandingkan ketika dia dipermainkan oleh Gouw She Niang. Seng Kim jadi mengucurkan keringat dingin. Betapa kecelakaan  hebat akan menimpa dirinya, dia sebagai seorang perjaka, kalau memang dipermainkan terus menerus oleh permainan  wanita-wanita semacam ini, niscaya dirinya akan menerima kerugian yang besar.

Dengan diambil terus menerus bibit hidup yang terdapat pada dirinya, jelas Seng Kim akan lesu dan berkurang tenaga Iwekangnya karena semangat murninya juga telah berkurang dengan sendirinya. Itulah sebabnya, mengapa Seng Kim jadi kelabakan dan gugup sekali.

 Dia mengetahui, dengan terbuang-buangnya bibit hidup yang terdapat pada dirinya, niscaya tenaga Iwekangnya akan berkurang sebagian besarnya. Malahan, kalau sampai nanti bibit hidup itu terbuang di dalam  jumlah yang sangat banyak, niscaya akan menyebabkan tenaga latihannya yang telah dilatih begitu susah payah, akan buyar.

Berarti, dia akan lenyap atau hilang sama sekali kekuatan murninya, tenaga Sinkang yang terdapat di dalam dirinya juga akan lenyap. Maka dari itu, kalau sampai hal seperti itu terjadi, Seng Kim tidak bisa membayangkan betapa besarnya sakit hati Seng Kim terhadap wanita-wanita ini, yang telah membawa kehancuran untuk dirinya. Guna mencegah perbuatan-perbuatan wanita-wanita itu, jelas Seng Kim yang dalam keadaan terpengaruh bius itu, tidak dapat untuk memberikan perlawanannya.

Tetapi membiarkan saja juga dia tak rela, karena biar bagaimana dia tidak mau dirinya dihancurkan oleh wanita-wanita tersebut. Namun biar bagaimana, tetap saja keadaan itu berlangsung terus. Karena Siauw-jie dan keempat kawannya telah melakukan pekerjaan mereka terus. Malahan tampaknya mereka begitu bersemangat sekali, lebih-lebih Siauw-jie yang telah melakukan segalanya itu dengan bersemantat dan ngotot bukan main.

Tetapi, Seng Kim sendiri sering mengeluh di dalam hatinya. Dia telah berusaha sekuat tenaganya untuk melenyapkan bermacam-macam  perasaan geli yang terdapat pada dirinya, yang ditimbulkan oleh permainan d iri kelima wanita itu.

Seng Kim menyadarinya, bahwa segalanya sekarang ditentukan oleh hatinya, kekuatan yang akan dapat melawan perasaan yang merangsang dirinya. Kalau memang Seng Kim menuruti saja rangsangan yang timbul pada dirinya, niscaya akan membawa kehancuran bagi dirinya sendiri.

Itulah sebabnya, Seng Kim telah mengeluh, mengapa dia harus menghadapi urusan seperti ini. Dengan scndirinya, biar bagaimana dia merasa berduka juga. Apa lagi dia merasakan dirinya perlahan-lahan mulai diombang- ambingkan oleh semacam perasaan yang mengacaukan pikiran dan jiwanya.

Seng Kim telah mengempos seluruh dan segenap  kekuatan yang ada pada dirinya, guna membendung perasaan yang merangsang dirinya itu. Namun dia selalu menemui kegagalan. Sehingga  akhirnya dia telah dipermainkan oleh perasaannya itu.

Tubuhnya jadi menggeliat-geliat juga akibat perasaan yang timbul akibat permainan yang dilakukan oleh kelima gadis tersebut. Tetapi, biar bagaimana,

 Seng Kim tetap penasaran di dalam hatinya. Dengan sendirinya, pada saat itu, terdapat perasaan yang bertentangan sekali di dalam jiwa dari Seng Kim.

Namun, dia juga telah terpengaruh oleh rasa geli dan juga rangsangan yang timbul, membuat Seng Kim seperti diayun oleh gelombang  yang membuatnya terapung-apung di dalam dunia khayalan yang benar-benar membuatnya jadi gugup sekali.

Seng Kim sendiri, sekarang telah merasakan rangsangan yang terdapat pada dirinya mulai bergolak, mungkin juga sudah enam bagian dari seluruh apa yang ada pada dirinya karena sebagai seorang anak muda yang darahnya masih bergelora hebat sekali, jelas dia juga tidak bisa terlalu membendung perasaan yang bergolak di dalam jiwanya, walaupun sebenarnya dia tidak menginginkan adanya perasaan semacam itu.

Siauw-jie sendiri bersama keempat kawan-kawannya yang lain, telah mendengus deras napas  mereka. Malahan keringat juga telah membasahi tubuh kelima gadis ini. Seng Kim telah mengeluh di dalam hatinya berulang kali, dia juga berdoa kepada Thian, agar dirinya bisa dilindungi dan dihindarkan dari permainan dan perbuatan maksiat serta mesum ini.

Setelah selang sesaat, di kala Seng Kim mulai diombang-ambingkan oleh perasaannya yang merangsang semakin hebat, maka Siauw-jie telah menghentikan pekerjaannya itu.

Tampak Siauw-jie telah berdiri.

“Selesai! '“ kata Siauw-jie kemudian dengan suara yang agak nyaring. “Tugas kita telah selesai, karena anak kecil ini ternyata ma sih memiliki kekuatan yang berarti juga!”

Keempat kawan Siauw-jie telah menunda pekerjaan mereka, sinar  mata mereka memperlihatkan bahwa mereka memprotes atas perkataan Siauw-jie.

“Tanggung, sebentar lagi saja!!” yang seorangnya berkata begitu. “Terserah kalau   memang kalan   mau mempertanggung   jawabkannya

kepada Suhu, bukankah kita hanya ditugaskan terbatas untuk menguji anak

kecil ini? Tidak lebih dari itu?”