Manusia Jahanam Jilid 16

 
Jilid 16

Setan penasaran ini tampak berdiri di pinggir peti mati.

“Saudara-saudara sekalian, sebentar lagi pemimpin kita akan segera datang kemari bersiap-siaplah!” teriaknya dengan suara yang nyaring.

Seketika ini juga suara kasak-kusuk jadi lenyap dan keadaan jadi sunyi. Umpama kata ada sebatang jarum yang jatuh, pasti akan terdengar, karena heningnya suasana pada saat itu.

Malah mereka tampaknya telah berdiri dengan sikap yang menghormat dan kepala yang tertunduk dalam-dalam sehingga tampaknya mereka sedang menantikan kedatangan pemimpin mereka yang benar-benar  sangat mereka segani dan hormati.

Agak lama juga setan-setan penasaran ini berdiam  diri dengan sikap berdiri yang menghormat begitu, sampai akhirnya tampak dari pe dalaman hutan itu telah berjalan keluar beberapa sosok tubuh.

Salah satu diantara sosok tubuh itu berpotongan pendek, jalan dimuka dengan memakai jubah warna merah tetapi mukanya tetap menyeramkan dengan rambutnya yang terurai panjang sampai ke bahunya

Di belakang dari orang yang memakai jubah merah darah itu, tampak berjalan pula beberapa setan penasaran yang semuanya me makai jubah warna putih.

Tampaknya orang yang memakai jubah warna merah darah dan berpotongan tubuh pendek  kecil itu, adalah pemimpin dari setan-seta penasaran itu, karena pakaiannya berbeda dengan yang lainnya.

“Beri hormat kepada pemimpin!” tiba-tiba ada yang berteriak begitu.

Maka tampak semua setam penasaran itu telah membungkukkan tubuh mereka dalam-dalam, tampaknya mereka memberi hormat kepada  setan penasaran yang memakai jubah warna merah itu.

Sedangkan pemimpin setan penasaran yang memakai jubah merah telah menaiki panggung dengan gerakan tubuh yang ringan. Sekali menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat ringan. Lama juga pemimpin  'setan penasaran' itu berdiri menghadapi anak buahnya.

 “Anak-anak semuanya!” tiba-tiba pemimpin setan penasaran itu telah membuka suara yang nyaring. “Kalian hari ini berkumpul di sini untuk menyaksikan pedang pendek mustika ini sudah menjadi rejeki kalian!! Pedang mustika itu akan kami kubur bersama-sama  dengan peti mati ini, karena memang sudah menjadi suatu kebiasaan, setiap tahunnya diadakan upacara seperti ini, mengubur pedang pendek mustika itu!”

Hening sekali. Sepi.

“Nah, sebelum upacara dimulai, kalau memang ada yang tidak mengerti, silahkan maju untuk menanyakannya!” kata si peammpin lagi.

Tetap sepi.

Tetapi tiba-tiba diantara keheningan itu terdengar orang berkata : Bengcu, ada suatu pertanyaan yang ingin kami tanyakan?”

“Silahkan!”

“Sebetulnya apa manfaatnya dari pedang mustika itu bagi perkumpulan kita?” “Banyak sekali!” “Misalnya?”

“Untuk keselamatan perkumpulan kita!”

'Tetapi Bengcu apakah tanpa pedang mustika itu perkumpulan kita akan rubuh hancur berantakan?” “Benar!”

“Jadi pedang mustika itu sebagai penumbal dari perkumpulan kita?” “Ya!”

“Pertanyaaan selesai!”

“Ada yang ingin bertanya lagi?” “Tidak ada, Beng cu!”

“Kalau begitu upacara segera dimulai!”

BEGITU pemimpin dari 'setan-setan penasaran' tersebut berkata begitu, maka semuanya telah diliputi oleh keheningan lagi.

 Kalau dilihat dari keadaan demikian, tentu orang tidak akan menduga bahwa di-tengah-tengah hutan tersebut sebetulnya berkumpul banyak sekali orang-orang yang berpakaian seperti setan penasran itu. Saat itu, pemimpin dari orang-orang tersebut, telah mengeluarkan sesuatu dari balik jubah merahnya. Ternyata benda yang dikeluarkannya itu berbentuk seperti sebatang pedang.

Namun pedang itu berukuran pendek sekali, hanya lima dim. Tampaknya benda itu benda pusaka karena orang yang memakai jubah merah itu memegangnya hati-hati. Dua orang lainnya pengikut dari orang berjubah merah tersebut telah menekuk kakinya. Mereka berlutut dengan sikap yang menghormat sekali.

Begitu pula yang lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut telah menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tampaknya mereka juga menaruh hormat dan segan yang besar pada benda pusaka itu.

Si pemimpin yang berjubah merah tersebut telah mengangkat pedang pendek tersebut tinggi-tinggi, katanya dengan suara yang nyaring :

“Dengarkanlah! Kali ini adalah upacara yang ketujuh kalinya pedang pendek mustika ini dikubur!!” kata pemimpin itu dengan suara yang keras dan nyaring sekali. “Dan upacara ini adalah upacara yang terbesar dari upacara- upacara sebelumnya, karena kali ini kita telah  mempergunakan sebuah peti mati untuk alat pengubur pedang pendek ini! Acara dimulai!!”

Begitu terdengar perkataan 'acara dimulai' seketika itu juga terdengar suara gembreng dipukul keras sekali. Seketika itu juga di dalam suasana malam yang sepi dan sunyi di tengah-tengah hutan tersebut, terdengar suara yang riuh.

Apa lagi orang-orang yang berada di situ telah masing-masing mengeluarkan suara yang hiruk-pikuk seperti juga suara teriakan-teriakan histeris seperti juga hantu-hantu penasaran yang tengah berpesta pora.

Dengan sendirinya, kalau ada yang mendengar suara itu, niscaya orang yang mendengarnya akan menduga bahwa itu adalah suara hantu-hantu yang tengah berpesta pora ditengah tengah hutan itu.

Suasana jadi sangat menyeramkan sekali, apa lagi tampak pemimpin dari  rombongan itu, yang memakai baju merah tersebut, telah melompat turun dari panggung kayu itu bergerak-gerak seperti orang yang menari-nari dibawah suara hiruk pikuk tersebut.

 Yang lainnya juga telah menggerak-gerakkan tubuh mereka, tangan mereka juga, tampaknya merekapun tengah menari. Dengan sendirinya, keadaan yang hiruk pikuk itu jadi ramai sekali.

Setelah menari-nari sekian lama, tampak pemimpin rombongan itu telah melompat naik ke atas panggung pula dengan gerakan yang gesit. Kedua orang setan penasaran yang masih tetap berlutut itu, telah cepat-cepat melompat dan membuka tutup peti mati itu.

Dibukanya tutup peti mati tersebut dengan penuh ketelitian dan hati-hati sekali. Dan setelah itu, si pemimpin rombongan tersebut telah memasukkan perlahan-lahan pedang pendek itu ke dalam peti mati.

Apa yang dilakukan orang itu ternyata hati-hati  juga, tampaknya dia sangat menghormati sekali pedang pendek tersebut.

Setelah pedang pendek yang dikatakannya sebagai barang mustika itu dapat dimasukkan ke dalam peti, tutup peti mati itu ditutup kembali.

Terdengar orang-orang yang berpakaian seperti 'setan penasaran' tersebut telah berulang kali mengeluarkan suara teriakan-teriakan  yang nyaring dan berisik sekali, bagaikan mereka ini kera sukan setan-setan penasaran.

Diantara suara berisik itu, tampaklah suatu kejadian yang benar-benar menakjubkan. Karena pemimpin rombongan 'setan penasaran' tersebut telah melompat tinggi sekali, diantara empat tombak lebih, tahu-tahu  tangan kanannya telah bergerak cepat sekali menghajar batok kepala salah seorang dari kedua orang yang tadi memegang tutup peti mati itu.

“Plakkkk!!” batok kepala dari yang diha. jar itu telah hancur,  namun masih sempat orang itu berteriak dengan suara yang nyaring :

“Relaaaa!”   kemudian   disusul tubuh orang itu rubuh   dengan   tidak

bernyawa lagi.

Tetapi kejadian yang mengerikan itu rupanya tidak mengejutkan sama sekali orang-orang yang lainnya. Malah tampaknya mereka seperti juga telah biasa menyaksikan kejadian seperti itu.

Dengan sendirinya, keadaan seperti ini telah membuat si pemimpin perkumpulan itu semakin menggila saja, dengan disertai oleh suara teriakan- teriakannya yang melengking nyaring, telah menghajar berulang kali kearah batok kepala anggota yang lainnya.

 Seketika itu juga, hanya di dalam waktu yang sangat singkat, telah ada tujuh orang korban. Barulah pemimpin tersebut menghentikan perbuatannya itu.

Tetapi baru saja dia ingin membuka suara, telah terdengar suara orang mendesis penuh kegusaran dan kemarahan:

“Sungguh suatu perbuatan gila dan kejam!” suara itu tajam sekali. Tentu saja suara ini sangat mengejutkan semua orang yang terdapat disitu. Seperti telah berjanji, mereka semuanya berbareng telah menoleh. Dan mereka melihatnya. betapa di dalam jarak yang tidak begitu jauh dari tempat berkumpul mereka, tampak seorang pemuda tanggung, berusia antara tujuh belas atau enam belas tahun tengah duduk bercokol di atas cabang pohon.

Sikap pemuda cilik itu tenang sekali tidak terlihat perasaan apapun juga pada wajahnya, hanya sorot matanya yang memancar tajam, menunjukkan bahwa dia sangat gusar sekali.

Sedangkan si pemimpin orang-orang yang berpakaian seperti setan penasaran itu rupanya jadi murka bukan main.

“Ohhh, makhluk tidak tahu diri!” berteriak orang yang memakai jubah merah itu. “Tangkap dan bunuh dia!!”

Membarengi dengan habisnya suara perintah sang   pemimpin, seketika itu juga tampak tiga sosok si setan penasaran, telah mencelat ke atas batang pohon itu untuk menubruk pemuda tanggung yang telah menyaksikan jalannya upacara yang sedang mereka lakukan itu. Tetapi pemuda tanggung itu tetap bercokol tenang di cabang pohon itu.

Dia memandangi saja ketiga sosok tubuh yang tengah menerjang kearah dirinya. Tetapi ketika dirinya hampir dicekuk oleh ketiga sosok tubuh tersebut, dengan gerakan yang cepat bukan main, tampak pemuda tanggung itu telah menggerakkan kedua tangannya.

“Plakkk!” terdengar suara bentrokan yang keras dan beruntun beberapa kali. Maka terdengarlah saling susul suara teriakan atau lebih mirip jeritan yang mengerikan. Tampak tubuh ketiga penyerangnya itu telah terpental dan ambruk di atas tanah tanpa bernyawa lagi!

Pemimpin dari rombongan orang-orang yang berpakaian seperti setan penasaran itu jadi benar-benar penasaran, dia sampai berjingkrak murka.

“Tangkap! Tangkap! Bunuh dia!” teriak pemimpin rombongan orang

tersebut.

 Maka tampak belasan orang-orang yang berpakaian seperti setan penasaran itu telah melompat menerjang kearah si pemuda tanggung i tu. Tetapi apa yang dilakukan oleh pemuda tanggung, sama seperti yang dilakukannya tadi. Begitu pemuda tanggung tersebut menggerakkan kedua tangannya, maka seketika itu juga belasan orang tersebut telah terpental keras. Tubuh mereka telah ambruk di atas tanah dan tidak bernyawa lagi!

Hal ini mengejutkan orang-orang yang menyaksikan, termasuk pemimpin rombongan tersebut. Mereka sampai memandang dengan melengak. Apa yang mereka saksikan itu benar-benar membuat mereka kaget setengah mati. Tetapi rupanya pemimpin rombongan itu dapat juga menguasai dirinya. Dengan mengeluarkan suara dengusan penuh kemurkaan, pemimpin  rombongan tersebut telah melangkah maju beberapa tindak.

“Siapa kau? Mengapa   mengganggu   jalannya upacara   kami?” bentak

pemimpin rombongan 'setan-setan penasaran' itu dengan suara yang bengis.

Pemuda tanggung yang bercokol di atas cabang pohon  itu tertawa dingin.

“Hahahaha apakah upacara sinting seperti itu tidak boleh disaksikan

orang?” tegurnya dengan suara mengejek.

“Siapa kau sebenarnya?!” bentak pemimpin rombongan itu gusar.

“Kalau   kalian   adalah setan-setan   penasaran,   maka   aku   ini   adalah

manusia!” sahut si pemuda tanggung itu dengan mengejek.

Betapa murkanya pemimpin rombongan  itu dengan anak buahnya. Mereka telah mengeluarkan suara teriakan mengandung kemurkaan. Tetapi pemimpin rombongan itu yang memakai baju merah telah mengangkat tangannya. Maka segera juga keadaan menjadi tenang kembali.

“Dengarlah hei anak muda!!” bentak pemimpin rombongan itu. “Kalau memang kau mau meminta maaf dan bersedia angkat kaki, kami berjanji tidak akan mempersulit dirimu!!”

“Kalau aku menolak?”

“Jelas kau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang

telah kau lakukan!”

“Apakah kalian sanggup melakukan hal yang kalian sebutkan itu?” “Maksudmu?”

“Yaitu menghukum diriku?”

 “Jelas kami akan sanggup untuk melakukan apa yang ingin kami lakukan!” bentak pemimpin rombongan itu dengan murka.

“Cobalah malah aku ingin membuktikan kebenaran dari kata-katamu

itu!”

Mendengar perkataan pemuda tanggung itu, rupanya pemimpin

rombongan tersebut jadi tambah murka,   dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, tubuhnya juga ber jingkrak saking murkanya.

“Baik! Baik! Rupanya kau membandel, heh?” dan membarengi dengan suara bentakannya itu, maka tampak tangan kanan dari pemimpin rombongan 'setan-setan penasaran’ tersebut telah bergerak. Tangannya itu bergerak cepat sekali, apa yang dilakukannya begitu gesit. Tampak melesat dua titik sinar yang terang sekali kearah pemuda tanggung itu.

“Rubuhlah kau!!” bentak pemimpin rombongan tersebut.

Dua sinar terang itu adalah dua senjata rahasia yang merupakan jarum- jarum halus. Tetapi pemuda tanggung yang bercokol di atas pohon itu tidak gentar sedikitpun juga. Dia telah memandangi terus datangnya sera ngan itu tanpa bergerak. Hanya bibirnya tampak bergerak tersenyum seperti mengejek.

Setelah kedua jarum senjata rahasia itu menyambar dekat, barulah tampak pemuda itu telah menggerakkan tangan kanannya.

“Cinrrringgg!!” terdengar suara benturan jarum itu. Ternyata dengan kekuatan telapak tangannya yang mengandung kekuatan tenaga Lwekang, pemuda itu telah memukul jatuh kedua jarum tersebut. Seketika itu juga jarum tersebut jatuh meluruk di atas tanah. Dengan sendirinya, kedua batang jarum itu tidak berhasil mengenai sasarannya.

Pemimpin rombongan setan-setan penasaran itu jadi tambah penasaran.

Saking murkanya, dia telah membanting-banting kakinya.

“Turunlah kau!” bentaknya dengan suara yang bengis sekali.

“Engkaulah yang naik kemari!” tantang pemuda tanggung itu.

Pemimpin rombongan tersebut jelas jadi tambah murka saja. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, tubuhnya yang pendek kecil itu telah melompat tinggi sekali. Dia menerjang dengan maksud akan me- lancarkan serangan-serangan yang mematikan kepada pemuda tanggung itu, yang sekarang jadi dibencinya.

 Tetapi pemuda tanggung itu yang mengetahui bahwa kepandaian dari orang pendek yang berpakaian serba merah, yang menjadi pemimpin dari rombongan orang-orang yang menyerupai setan penasaran itu, tidak berani meremehkannya.

Maka dari itu, waktu melihat pemimpin rombongan ini telah menjejakkan kakinya dan tubuhnya mencelat kearah dirnya, cepat bukan main, pemuda tanggung itu telah melompat turun, berdiri di atas tanah, mulutnya juga telah berkata : “Aku di sini!” maksudnya ingin mengejek.

TENTU saja hal ini membuat pemimpin rombongan itu jadi murka. Tahu- tahu sasarannya telah lenyap dari pandangan matanya. Dan diapun mendengar suara pemuda tanggung itu yang meneriaki : “Aku di sini!” jelas hal itu merupakan ejekan, membuat hati pemimpin dari rombongan itu tambah murka saja.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, dengan cepat dia telah memukul cabang pohon dimana tadi pemuda tanggung itu bercokol. Pukulannya itu keras sekali, sehingga cabang pohon itu patah.

Dengan meminjam tenaga membal balik dari tenaga pukulannnya tersebut, maka pemimpin rombongan orang-orang itu telah berbalik ditengah udara, dan tubuhnya telah meluncur turun. Tetapi  orang ini bukan hanya sekedar turun meluncur belaka. Karena dia telah meluncur dengan kecepatan yang bukan main. Dan yang lebih luar biasa, orang itu meluncur justru menubruk kearah pemuda tanggung itu, yang diincar akan dipukul oleh kedua tangannya lagi!

Dengan sendirinya, mau tidak mau pemuda tanggung itu jadi merasa kagum juga melihat kehebatan dari pemimpin rombongan itu. Tetapi kali ini pemuda tanggung itu tidak berkisar dari tempatnya berdiri. Dia  telah mengawasinya dengan tatapan mata yang tajam sekali. Dan waktu serangan lawannya hampir tiba, dengan berani dia telah menyambutinya.

Gerakan yang dilakukan oleh pemuda tanggung itu sangat cepat. Apa yang dilakukannya benar-benar telah membuat pemimpin rombongan itu jadi terkejut kembali. Dia tahu bahwa lawannya ingin mempergunakan kekerasan melawan kekerasan juga, maka dari itu, pemimpin rombongan itu telah mengempos semangatnya lebih kuat lagi, agar tenaga Lwekang yang tersalurkan pada kedua telapak tangannya itu bisa meluncur kuat.

 Tetapi, ketika tangan mereka saling bentrok, telah terjadi suatu kejadian yang tidak pernah diduga oleh orang berpakaian serba merah itu. Karena waktu tangannya mengenai tangan pemuda tanggung itu, dia merasakan telapak tangannya seperti memukul lempengan baja saja. Malahan tubuanya dengan cepat telah terpental keras sekali. Hal ini mengejutkan sekali pemimpin rom- bongan itu berikut anak buahnya.

Karena dengan terpentalnya tubuh dari pemimpin orang-orang yang berpakaian seperti setan penasaran itu, jelas berarti bahwa kepandaian yang dimiliki oleh pemuda tanggung itu berada disebelah atas dari kepandaian yang dimiliki oleh pemimpin rombongan tersebut.

Tubuh pemimpin rombongan dari orang yang berpakaian seperti setan penasaran itu telah ambruk di atas tanah dengan keras. Tetapi dia tidak sampai terluka, karena dia hanya terkejut belaka. Dengan cepat pemimpin rombongan dari orang-orang yang berpakaian seperti setan-setan penasaran itu  telah melompat bangun kembali.

Dengan mengeluarkan suara erangan murka, tanpak dia telah menerjang lagi kearah pemuda tanggung itu.

“Tunggu dulu      !” tiba-tiba pemuda tanggung itu telah membentak keras begitu.

Si pemimpin rombongan dari setan-setan penasaran tersebut telah merandek.

“Apa lagi yang ingin kau bicarakan?!” bentaknya bengis.

“Mengapa kalian mengadakan upacara gila-gilaan seperti ini?!”

“Itu urusan kami!” sahut pemimpin rombongan itu dengan murka. “Kau tidak usah mencampuri urusan kami itu!”

“Ohh, kalau begitu akupun tidak mau mendesaknya!!” kata si pemuda

tanggung itu dengan suara yang gusar juga.

“Kau terimalah seranganku itu!” teriak pemimpin rombongan itu dengan gusar. Dan membarengi dergan bentakannya itu, kepala rombongan tersebut telah melancarkan serangan lagi dengan pukulan-pukulan  yang hebat bukan main.

Gerakan yang dilakukannya itu bukan main sebatnya, dan juga setiap serangan yang dilakukannya itu mengincar ke bagian-bagian yang berbahaya di tubuh pemuda tanggung tersebut. Tetapi pemuda tanggung tersebut juga memiliki kegesitan yang bukan main.

 Rupanya dia memiliki kepandaian yang tinggi sekali, maka dari itu dia tidak menjadi jeri menghadapi serangan yang dilancarkan oleh lawannya. Malahan dengan cepat sekali pemuda tanggung tersebut telah mengeluarkan suara bentakan lagi, dan juga membalas serangan dari pemimpin rombongan itu.

Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat, sehingga kembali tangan mereka saling bentrok dengan kerasnya. Tetapi kali ini si pemimpin rombongan itu tidak terpental seperti tadi. Karena rupanya dia telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, dan juga telah berlaku waspada, maka dari itu, dia tidak sampai terpental akibat tangkisan yang diberikan oleh pemuda tanggung itu.

Cepat sekali pertempuran diantara mereka itu berlangsung lagi. Pukulan dan serangan yang dilancarkan oleh pihak lawannya selalu mengincar dibagian yang berbahaya ditubuh masing-masing. Dengan begitu, tubuh mereka berkelebat-kelebat dengan cepatnya, dan setiap serangan mereka berseliweran menimbulkan angin serangan yang kuat sekali.

Dikala mereka telah bertempur belasan jurus,   tiba-tiba pemimpin rombongan itu telah membentak dengan suara yang keras sekali :

“Sebutkan namamu kalau memang kau ingin hidup terus!” bentaknya. “Untuk apa namaku kau ketahui?” bentak pemuda tanggung itu

mendongkol. “Kalau memang kau mempunyai kemampuan, bunuhlah!”

Pemimpin rombongan orang yang berpakaian seperti muka setan itu jadi tambah murka.

“Baik, rupanya kau benar-benar seorang pemuda yang tidak tahu diri!!” dan setelah membentak begitu, pemimpin rombongan tersebut telah mempergencar serangan-serangan pukulannya.

Pemuda tanggung itu tertawa tergelak-gelak dengan suara yang nyaring.

“Hahahahahaha, kalau memang kau penakaran ingin mengetahui namaku, dengaranlah baik-baik, namaku adalah Seng Kim! Kau dengar? Seng Kim! Itulah namaku!”

“Hah?!” tiba-tiba pemimpin rombongan iu telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring, seperti juga dia terkejut sekali. “Kau kau Seng Kim Kongcu?!” tanyanya dengan suara gemetar.

Seng Kim telah mengerutkan sepasang ali snya, mengawasi kearah pemimpin rombongan itu dengan perasaan agak heran.

 “Mengapa kau menghentikan seranganmu?” Masih Seng Kim bertanya

begitu.

Tiba-tiba pemimpin rombongan itu telah menekuk kedua kakinya, dia telah berlutut dihadapan pemuda tanggung itu, yang tidak lain memang Seng Kim adanya.

“Ampunilah kami, Seng Kim Kongcu!” kata pemimpin rombongan itu. “Kami mempunyai mata, tetapi tidak bisa melihat tinggi dan megahnya gunung! Tidak tahunya Kongcu adalah Seng Kim Kongcu yang sedang kami nanti- nantikan!!”

“Jadi kalian memang sudah mengambil keputusan tidak akan

meneruskan pertempuran ini?” tegur Seng Kim dengan suara yang tawar.

Pemimpin romboagan itu telah memanggut-manggutkan  kepalanya dalam keadaan berlutut begitu, tampaknya dia ketakutan sekali. Tangan kanannya juga telah cepat-cepat menarik topeng mukanya, menarik rambut palsunya.

Seketika itu juga terlihat bahwa orang tersebut adalah seorang lelaki tua berusia diantara lima puluh tahun, dengan potongan muka seperti muka tikus, dengan tubuh yang pendek kecil. Dia tampaknya ketakutan sekali.

“Ampun Seng Kim Kongcu memang pasukan yang tengah kami susun ini adalah atas perintah dari ayah anda Seng Kim Kongcu!” kata lelaki kurus kecil yang menjadi pemimpin rombongan itu. “Dan Siauw-jien  (aku yang rendah) telah berusaha mengumpulkan sahabat-sahabat dari rimba persilatan di dalam Perkumpulan 'Setan Penasaran ini, untuk mengacaukan orang-orang di dalam rimba persilakan, agar usaha ayahanda Seng Kim Kongcu bisa berjalan lancar

. Hai! Hai! Hai! Memang Siauwjin harus mati! Tidak tahunya hari ini kami telah bertemu dengan Seng Kim Kongcu, bukannya menyambut baik-baik penuh kehormatan, malah telah berani berlaku kurang ajar! Benar-benar kami berani mati!” dan setelah berkata begitu, malah pemimpin  rombongan itu telah memukuli kepalanya beberapa kali.

Tampaknya dia seperti juga menyesali dirinya telah berani bertempur dengan Seng Kim. Tetapi Seng Kim telah berdiri dengan sikap yang agung, dan mukanya tawar tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.

“Hmmm   seharusnya kalau memang pihak kalian ingin membantu rencana ayahandaku, tidak seharusnya kau ini melakukan kekerasan kepada orang sendiri!” kata Seng Kim kemudian. “Mengapa  malahan ketika  kau memasuki pedang pendek yang kau katakan pedang mustika itu, kau malah telah merenggut nyawa anggotamu sendiri?!”

 Muka dari pemimpin rombongan itu seketika itu pula jadi berobah pucat.

“Ini ini semuanya ini!” katanya tidak lampias.

“Katakan yang jelas!” bentak Seng Kim yang tidak senang melihat sika p lelak itu yang tidak tegas dan selalu berkata-kata dengan sikap yang agak licik.

“Sebetulnya   sebetulnya ini adalah cara upacara penguburan pedang pendek mustika itu!!” menjelaskan lelaki pendek bermuka tikus tersebut. “Harap ------------------------- harap Seng Kim Kongcu tidak marah karenanya, kalau memang Seng Kim Kongcu melihat ada kesalahan, tolong memberiku petunjuk, pasti Siauw-jie akan menuruti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Seng Kim Kongcu!”

Seng Kim tidak segera berkata-kata, dia hanya mendengus saja. Diawasinya seluruh orang yang terdapat di sekitar tempat itu, di tengah -tengah hutan tersebut. Sorot mata Seng Kim tajam sekali.

Tampaknya lelaki kurus kecil yang menjadi pemimpin dari rombongan itu ketakutan sekali, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.  Begitu pula anggota dari si lelaki kurus kecil itu, jadi ketakutan sekali, karena mereka melihat betapa pemimpin mereka begitu ketakutan terhadap Seng Kim, begitu menghormatinya.

Dikala Seng Kim mengawasi mereka, maka dari itu tanpa diperintahkannya lagi, telah membuat mereka dengan sendirinya menekuk kedua kaki mereka. Berlutut! Seng Kim mengerutkan sepasang alisnya.

“Berapa banyak anggotamu itu?” tegurnya dengan suara yang tawar. “Seluruhnya berjumlah dua ratus orang Seng Kim Kongcu!” “Keperluannya?”

“Mengacaukan   perhatian orang-orang rimba   persnatan!”  menyahuti

lelaki itu.

“Apakah   kau   yakin   bisa   mengacaukan   perhatian   orang-orang   rimba

persilatan?”

“Akan kami usahakan!”

“Jawab yang tegas, bisa atau tidak mengacaukan dunia persilatan!?” bentak Seng Kim dengan suara mendongkol. Dengan adanya kata-kata AKAN KAMI USAHAKAN itu menunjukkan silelaki kurus kecil tersebut menunjukkan wataknya yang tidak tegas.

 “Tentu saja kami akan mempertaruhkan jiwa kami untuk menyokong

perjuangan dari ayahanda Seng Kim Kongcu!'

“Hmmm tetapi dengan diambilnya tujuh nyawa anggotamu, berarti kurangnya anggota perkumpulan kalian, bukan?” tegur Seng Kim lagi.

“Tetapi Seng Kim Kongcu sebetulnya yang ingin memasuki perkumpulan kami ini meliputi jumlah hampir ribuan orang, tetapi kami selalu menyeleksinya, menyaringnya benar-benar! Kepada yang berkepandaian cukup tinggi, maka kami akan menerimanya! Tetapi kalau yang hanya berkepandaian tanggung-tanggung,  tentu kami menolaknya! Sedangkan   pembunuhan terhadap ketujuh anggota kami tadi, hanyalah untuk menguji kesetiaan ang- gota lainnya, biarlah kami mengorbankan tujuh  orang anggota kami,  tetapi kami berhasil untuk menguji kesetiaan dari anggota kami yang lainnya, dengan sendirinya, di dalam perhitungan kami, dengan adanya kejadian demikian, sangat menguntungkan pihak kami, dengan sendirinya kami bisa melihat watak dan kesetiaan dan anggota kami itu. Dengan sendirinya kalau memang kelak ayahanda Seng Kim Kongcu membutuhkan tenaga kami, berarti kami sudah tidak perlu ragu-ragu lagi!”

“Hmmm!” Seng Kim mendengus dengan suara yang tawar.

Melihat Seng Kim tidak mengeluarkan kata-kata, rupanya le'aki yang menjadi pemimpin rombongan tersebut jadi merasa tidak enak. Dia telah cepat-cepat membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat, sambil katanya

:

“Apakah apakah Seng Kim Kongcu mempunyai  perintah?”

Seng Kim menggelengkan kepalanya.

“Tidak!” sahutnya. Seng Kim kemudian berdiam diri sesaat baru

kemudian berkata :

“Kalau memang kalian bermaksud berdiri dipihak ayahku, hanya satu pesanku, yaitu kalian janganlah terlalu kejam melakukan segalanya! Setidak- tidaknya kau harus mengingatnya, bahwa kau juga adalah manusia, sedangkan yang kau bunuh itu adalah manusia juga, dengan sendirinya, berdasarkan perikemanusiaan, janganlah seenak hatimu kau melakukan   pembanuhan seperti itu, walaupun harus diakui bahwa dengan menjadi ketua rombongan ini, kau mempunyai kekuasaan yang besar, namun didasar hati kecilmu tentunya kau mengaku juga kalau memang dirimu diperlakukan begitu, tentunya kau

 tidak mau, bukan?! Coba kau pikir, kalau sekarang akupun menjatuhkan hukuman mati kepada dirimu, apakah kau rela menerimanya?”

Ditegur begitu, seketika itu juga wajah lelaki kurus kecil tersebut jadi berobah pucat. Kata-kata Seng Kim yang tajam itu, membuat dia jadi seperti orang kesima.

“Jawablah apakah kau sendiri rela kalau memang kubunuh?” tegur Seng

Kim

lagi dengan suara yang tawar.

Muka lelaki kurus kecil itu jadi semakin pucat pias.

“Ti     tidak!” sahutnya kemudian setelah berdiam ragu-ragu. Seng Kim juga menghela napas.

“Baiklah, apa yang kusaksikan kali ini tidak akan kusampaikan kepada ayahku, tetapi kalian harus merobah cara yang terdapat di dalam perkumpulan kalian ini!” kata Seng Kim

Lelaki kurus kecil dengan potongan muka seperti tikus itu, telah cepat- cepat berlutut menganggukkan kepalanya, menyatakan rasa terima kasihnya.

Malahan dia juga menambahkan kata-kata : “Kami akan mengingatnya

baik-baik nasehat yang diberikan oleh Seng Kim Kongcu!”

“Bagus!” kata Seng Kim. “Yang terpenting kalian tidak boleh melakukan keganasan terhadap penduduk di sekitar tempat ini! Sebetulnya kedatanganku kemari hanya kebetulan saja, aku mendengar ada sesuatu yang tidak beres, yaitu adanya setan penasaran di sekitar tempat ini, maka sengaja aku telah menyelidikinya, tidak tahunya yang melakukan semua itu adalah manusia juga, dan dengan sendirinya hal itu sangat menyebalkan sekali, lagi pula yang menjengkelkan justru yang melakukan perbuatan tolol itu adalah orang-orang ayahku! Hai! Hai! Benar- benar memalukan sekali!”

Dan setelah berkata begitu, Seng Kim menghela napas berulang  kali. Lelaki yang bertubuh kurus berpotongan muka seperti muka tikus dan juga dengan anggotanya yang lainnya telah menundukkan kepala mereka dalam- dalam, tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka.

Teguran yang diberikan oleh Seng Kim sangat keras, kalau memang hal ini sampai diketahui oleh ayah dari Seng Kim, niscaya urusan akan menjadi lain.

 Setelah menghela napas beberapa kali, Seng Kim kemudian berkata :

“Baiklah, aku harus meninggalkan tempat ini, cuma saja, kalau memang selanjutnya kalian tidak akan merobah sifat buruk kalian, aku akan  datang kembali untuk melihatnya dan disaat itu tentu aku tidak akan berpikir dua kali, niscaya segalanya yang kulihat  akan kulaporkan kepada  ayahku! Karena dengan sifat yang kalian perlihatkan itu, bukannya membantu ayahku, malah merusak dan mempersulit kedudukan ayahku!!”

“Kami mengerti! Kami telah mengerti! Dan mohon pergampunan kami bersumpah tidak akan melakukan perbuatan yang tercela lagi, melainkan kami akan mempersiapkan tenaga kami untuk membantu perjuangan ayahanda Seng Kim Kongcu!”

“Bagus!” kata Seng Kim. “Nah aku pergi dulu!”

Dan setelah berkata begitu, Seng Kim membalikkan tubuhnya. Kepergian Seng Kim diawasi oleh orang-orang setan penasaran itu. Tampaknya menaruh segan dan jeri sekali pada Seng Kim. Setelah bayangan si anak muda Seng Kim lenyap dari tatapan mata mereka, barulah orang-orang perkumpulan setan penasaran itu berani bergerak dan bicara kasak-kusuk.

Seng Kim sendiri telah melangkah keluar dari hutan kecil tersebut. Ketika sampai dipermukaan hutan, keadaan  sangat sepi sekali. Rembulan bersinar cukup terang, dengan langkah kaki yang ringan. Seng Kim telah melangkah cepat sekali menjauhkan diri dari tempat itu. Tetapi, biarpun begitu, hati si pemuda tanggung ini sangat jengkel sekali. Karena di dalam hatinya sebetulnya terdapat suatu pertentangan. Antara kasih sayang terhadap ayahnya dan terhadap apa yang dilakukan olen ayahnya itu.

Dengan sendirinya, biarpun bagaimana hubungan antara anak dan ayah itu sulit untuk dipecahkan. Walaupun Seng Kim tidak menyetujui tindakan yang dilakukan oleh ayahnya, namun apa mau dikata. Setidak-tidaknya dia sebagai anak dari ayahnya itu, harus patuh dan juga malahan membantu pekerjaan sang ayah.

Sedang berjalan perlahan-lahan begitu, tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara bentrokan  senjata tajam. Suara bentrokan senjata tajam itu berasal dari tempat yang jauh, terdengarnya samar sekali. Seng Kim telah mempertajam pendengarannya, dia telah memperhatikan benar-benar suara angin serangan dan bentrokan senjata ta jam itu.

Didengar dari suara tersebut, Seng Kim sudah mengetahui bahwa tidak jauh dari tempatnya tersebut pasti ada orang yang tengah bertempur. Maka

 dari itu, setelah memperhatikan sesaat, cepat-cepat Seng Kim berlari kearah asalnya suara bentrokan senjata tajam itu.

Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, Sens Kim telah mengambil arah keutara, dia telah berlari dengan cepat sekali. Tubuh Seng Kim melesat bagaikan kapas ringannya, dia bergerak cepat sekali sehingga di dalam sekejap mata dihadapannya telah terbentang  lapangan rumput yang agak luas.

Dari kejauhan itu, Seng Kim telah melihat di tengah-tengah  lapangan rumput itu tampak dua sosok tubuh yang berkelebat-kelebat melakukan per- tempuran. Di tangan kedua orang itu masing-masing menggenggam senjata tajam dan berkelebat-kelebat sinarnya menyilaukan mata, karena terpantul oleh cahaya rembulan.

Tetapi Seng Kim tidak mau segera memperlihatkan  dirinya. Dengan cepat Seng Kim telah melompat untuk bersembunyi dibalik batu gunung. Diintainya kedua orang yang tengah bertempur itu, tetapi Seng Kim belum bisa melihat jelas, apakah yang sedang bertanding itu seorang wanita atau seorang lelaki.

Kedua orang yang sedang melakukan pertandingan itu semakin lama jadi semakin hebat saja. Disamping mereka selalu melancarkan serangan-serangan dengan senjata yang ada di tangan masing-masing, juga mereka setiap kali mengeluarkan suara bentakan membarengi setiap serangan yang tengah mereka lancarkan terhadap lawan mereka.

Seng Kim melihat bahwa kedua orang itu melakukan pertempuran dengan mempergunakan ilmu pedang, Kiam-hoat, dan mereka bertempur juga mengandalkan kegesitan dan kelincahan tubuh mereka, sebab  tubuh kedua orang yang tengah bertempur itu berkelebat bagaikan dua sosok bayangan yang tidak jelas terlihat.

Seng Kim mementangkan matanya lebih lebar mengawasi jalannya pertempuran itu. Di dalam hatinya dia jadi menduga-duga, entah siapakah sebenarnya kedua orang itu, yang tengah melangsungkan pertempuran dengan serangan-serangan nekad, seperti juga kedua orang itu merupakan dua orang lawan musuh buyutan yang ingin melakukan pertempuran menentukan mati hidup diri mereka.

Lama kelamaan Seng Kim mulai bisa menangkap cara bertempur kedua orang itu. Karena Seng Kim melihatnya bahwa kedua orang itu masing -masing mempergunakan jurus-jurus serangan dari ilmu pedang Siauw Lim Sie.

 Tetapi anehnya, kedua orang itu mempergunakan ilmu yang sama, tetapi mengapa mereka melakukan pertempuran yang begitu hebat, seperti juga ingin mengadu jivva belaka?! Kalau memang mereka hanya sekedar berlatih  diri, tidak mungkin mereka melancarkan serangan-serangan yang begitu gencar dan selalu mengincar bagian-bagian yang berbahaya ditubuh lawannya.

Pertandingan dengan pedang itu, telah berlangsung tumbah seru. Bentakan-bentakan yang keluar dari mulut kedua orang itu menambah ketegangan belaka.

Sing Kim mengerutkan sepasang alisnya. Kalau memang dia memperhatikan benar-benar cara bertempur kedua orang itu, walaupun tampaknya hebat dan kepandaian mereka itu cukup tinggi, namun belum sempurna masih banyak tempat-tempat kelemahannya.

Tetapi untuk mencampuri urusan orang lain, jelas Seng Kim tidak mau. Dia sering mendengar bahwa urusan orang-orang di dalam rimba persilatan terkadang penuh oleh berbagai teka-teki dan kericuhan.

Maka dari itu, di dalam rimba persilatan, terdapat sebuah larangan, yang melarang orang untuk mencampuri urusan dendam dari seseorang karena kalau sampai melibatkan diri, urusan dendam itu bisa berekor panjang sekali, bisa membawa akibat yang tidak baik bagi semua pihak yang ada.

Karena adanya larangan seperti itu, dan memang Seng Kim telah mengetahuinya, dia berdiam diri saja, tidak mau turun tangan  untuk memisahkan kedua orang itu.

Setelah memperhatikan sekian lama, akhirnya Seng Kim juga bisa melihat agak jelas juga, yaitu kedua orang yang tengah bertempur  itu sebetulnya seorang wanita berusia diantara empat puluh tahun dan seorang lelaki yang berusia diantara empat puluh lima tahun. Mereka juga telah bertempur dengan memperlihatkan wajah yang bengis, mata mereka memancarkan s i n a r ya ng bengis sekali, mengandung hawa pembunuhan.

Dengan sendirinya Seng Kim jadi heran bukan main. Kalau dilihat car a mereka itu, dan melihat sikap mereka satu dengan yang lainnya, jelas mereka adalah musuh buyutan. Tetapi anehnya, kepandaian mereka sama,  yaitu berasal dari satu sumber, yaitu Siauw Lim Sie. Inilah yang telah membingungkan hati Seng Kim, untuk sekian lama dia tidak bisa mengambil keputusan langkah apa yang harus dilakukannya.

Sedang Seng Kim bersembunyi begitu di belakang batu gunung, tiba-tiba kedua orang yang tengah melakukan pertempuran itu telah masing-masing

 melompat ke belakang memisahkan diri mereka. Keduanya berdiri saling berhadapan

“Kita hentikan dulu pertempuran kita ini, karena ada tikus air yang berani

mengintai pertempuran kita ini!” kata yang wanitanya.

Yang lelakinya mengiyakan.

'Benar! Tikus air itu harus kita singkirkan dulu, agar kita bisa bertempur

lebih

tenang!” katanya.

Dan lelaki itu bukan hanya berkata belaka, melainkan tangan kanannya yang mencekal pedangnya telah bergerak cepat sekali, dia menimpukkan pedangnya itu kearah Seng Kim!

Keadaan seperti ini tidak pernah diduga-duga oleh Seng Kim, dia terkejut sekali tahu-tahu pedang tengah meluncur kearah dadanya, mata pedang itu telah menukik akan menumbles kedadanya.

Tetapi biarpun keadaan terjadinya begitu mendadak, dan juga pedang sudah datang dekat, Seng Kim tidak menjadi gugup.

Cepat-cepat dia mengulurkan tangan kanannya menyentil tubuh pedang itu. “Tringggg!”

Pedang itu jadi terpental ke atas, dan disaat itulah Seng Kim mementang mulutnya, tahu-tahu dia telah menggigit pedang tersebut.

Itulah suatu cara mengelakkan diri yang indah sekali, karena tanpa menggeser kedudukan kakinya satu tapakpun juga, Seng Kim selain dapat mengindarkan diri dari sambaran pedang itu, malahan telah dapat menangkap pedang tersebut dengan cara menggigit tubuh pedang itu mempergunakan gi- ginya.

“Bagus!!' berseru lelaki itu yang jadi kagum sekali melihat cara Seng Kim membereskan menyambarnya pedang tersebut.

Seng Kim telah mengulurkan tangannya dia telah mengambil pedang itu dari mulutnya.

“Kau terlalu sembarangan sekali mempergunakan  pedang!!” kata Seng Kim dengan suara yang tawar. Dan Seng Kim bukan hanya berkata sampai di situ saja, karena tahu-tahu kedua tangannya telah bergerak dengan cepat.

 “Tranggg!” pedang itu telak dipatahkan menjadi dua.

Muka si lelaki yang tadi melontarkan pedang itu jadi berobah. Rupanya dia terkejut dan juga bercampur perasaan marah.

“Kau!?” berseru lelaki itu deagan muka yang berobah merah padam. Sedangkan yang wanitanya hanya memandang kearah Seng Kim dengan mulut yang terbuka, menganga.

“Hmmm!” Seng Kim telah mendengus tertawa dingin. “Janganlah kalian mengira kalau diri kalian sudah memiliki kepandaian yang tinggi,  lalu seenaknya saja mempergunakan kepandaian kalian itu tanpa pikir panjang lagi! Untung saja hari ini kalian bertemu dengan diriku, coba kalau orang lain, dengan cara kau yang begitu sembrono melontarkan pedangmu, bukankah akan ada urusan jiwa dan darah?”

Ditegur begitu, si lelaki dan si wanita tampak menjadi malu. Lebih-lebih yang lelakinya, selain mukanya merah padam akibat rasa malu, juga dia sangat murka sekali melihat pedangnya telah dipatah kan menjadi dua oleh Seng Kim.

Tetapi karena lelaki itu tadi telah melihat cara Seng Kim mengelakka n diri dengan cara menggigit pedangnya itu, seketika itu juga dia mengetahui bahwa Seng Kim memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Maka mereka jelas tidak berani untuk bertindak sembrono. Biar bagaimana mereka tidak mau kalau sampai disebabkan kecerobohan mereka itu, akan membawa kerugian bagi dan mereka sendiri.

Sedangkan si lelaki yang beusia dipertengahan itu, telah melangkah maju. “Siapa kau, anak kecil?” tegurnya dengan suara yang tawar. “Aku tidak mempunyai nama!”

Mendengar jawaban Seng K«m yang ketus begitu, lelaki itu rupanya jadi gusar juga.

“Jangan main-main, katakan siapa namamu!” bentaknya.

“Aku tidak mempunyai nama!” kembali Seng Kim menyahuti ketus begitu.

“Apakah kau anak haram afau anak jin dedemit sehingga tidak mempunyai nama, heh?” bentak lelaki itu dengan kegusaran yang semakin meluap.

 Seng Kim juga jadi naik darah mendengar dirinya disebut sebagai anak haram dan jin dedemit. Di dalam hatinya Seng Kim mengumam sendiri : “Hmmm kalau saja kau mengetahui aku ini anak siapa, tentu kau akan berlutut dan menangis darah meminta-minta ampun!”

Tetapi biarpun dihatinya dia berpikir begitu, tokh Seng Kim hanya menyahuti :

“Terserah apa pandanganmu, yang terpenting namaku tidak ada

harganya untuk diketahui oleh manusia seperti kau ini!!”

Tentu saja jawaban yang diberikan oleh Seng Kim ini membuat lelaki itu jadi tambah gusar bukan main, dia sampai mengeluarkan seruan yang nyaring, dan tubuhnya berjingkrak.

“Kurang ajar! Kau benar-benar  ingin mempermainkan diriku,  heh?”

bentaknya.

“Terserah pandanganmu saja!”

Melihat sikap Seng Kim yang begitu tawar dan tenang, lelaki ini jadi tambah murka saja.

“Apakah kau tidak tahu siapa Loya ini, heh!” bentaknya lagi. “Tentu saja aku mengetahuinya dengan jelas dan pasti!” “Siapa diriku?” bentak lelaki itu dengan penasaran.

“Yang jelas kau adalah manusia! ”

“Bandit!!” teriak lelaki itu dengan suara mengandung kemurkaan yang

sangat. “Kau ingin mempermainkan diriku, heh?”

“Apa untungnya kalau aku menpermainkan dirimu?”  balik tanya Seng

Kim dengan suara yang tawar.

Disanggapi begitu, tentu saja lelaki itu jadi tambah murka.

“'Baik! Baik! Sama saja kau mencari penyakit untuk dirimu sendiri!” teriaknya. “Terimalah seranganku ini, rupanya kau ingin mampus!” dan membarengi dengan suara bentiakannya itu, dengan cepat lelaki tersebut telah bergerak, kedua tangannya telah melancarkan serangan kearala Seng Kim.

Sedangkan wanita yang tadinya menjadi lawan dari lelaki itu hanya berdiri di pinggiran saja mengawasi lelaki tersebut melancarkan serangan kepada Seng Kim.

 Seng Kim sendiri yang melihat dirinya diserang oleh lelaki itu, telah mendengus tawar. “Mungkin engkau yang mencari penyakit untuk dirimu sendiri!” kata Seng Kim dengan suara yang dingin tidak berperasaan. Dan membarengi dengan perkataannya itu, Seng Kim telah menangkis  serangan yang meluncur datang kearah dirinya.

“Bukkkk!!” suara itu   terdengarnya keras sekali sehingga memekakan anak telinga. Tetapi untuk terkejutnya si wanita yang tadinya menjadi lawan dari lelaki setengah umur itu, dia menyaksikan suatu kejadian ya ng tiJak pernah diduganya.

Tampak tubuh lelaki itu telah terpental keras, lalu ambruk di atas tanah, berguling-guling di atas tanah itu beberapa tombak jauhnya. Hanya sekali tangkis saja, seorang anak lelaki tanggung seperti Seng Kim, telah dapat merubuhkan seorang jago yang boleh dikatakan jago tua yang tangguh sekali, benar-benar membuat wanita tadi itu jadi berdiri kesima dengan bengong.

Benar-benar dia seperti tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Maka dari itu, dengan cepat dia telah mementang  matanya lebar-lebar. Seng Kim sendiri masih berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun juga.

Malah tampaknya Seng Kim sangat tenang sekali, tidak ada perasaan pada wajahnya. Benar-benar wanita itu jadi takjub sendirinya, dia heran bukan main. Dengan sendirinya, dia seperti melihat adanya hantu disiang hari.

LELAKI setengah tua itu, yang telah dibikin terpelanting oleh Seng Kim, telah merangkak bangun dengan hati yang tergoncang keras, karena dia terkejut berbareng juga murka bukan main. Biar bagaimana dia tidak mempercayainya bahwa di dalam dunia bisa terdapat seorang  anak lelaki tanggung yang bisa merubuhkan dirinya.

Bermimpi saja tidak pernah, karena dia yakin bahwa dirinya memiliki kepandaian yang tinggi sekali, biar bagaimana seumur hidupnya dia merantau di dalam rimba persilatan jarang sekali ada yang bisa menandingi kepandaiannya, apa lagi ilmu pedangnya.

Dan umumnya yang bisa merubuhkan dirinya adalah jago-jago tua yang telah menjadi tokoh rimba persilatan. Tetapi hari ini, malahan seorang pemuda tanggung seperti Seng Kim, telah berhasil merubuhkannya  dengan begitu mudah. Hanya sekali gebrak saja Seng Kim telah membuat lelaki itu jadi tidak berdaya sama sekali. Dengan sendirinya, hal ini selain mengejutkan, juga jelas membuat lelaki itu jadi murka sekali bercampur penasaran.

 Waktu dia berusaha merangkak bangun, dia merasakan dadanya dibagian kiri agak sakit. Seketika itu juga dia jadi tambah terkejut saja.

Sebagai seorang jago yang telah berpengalaman  dan memiliki pengetahuan yang luas selama dia merantau dan berkelana di dalam rimba persilatan, dengan sendirinya jago ini telah menyadarinya, dirinya  telah tergempur dan terluka di dalam. Dengan begitu, kemarahan dari jago ini jadi tambah meluap.

“Bangsat, ilmu siluman apa yang kau pergunakan  heh?” bentaknya

dengan suara yang bengis sekali.

“Ilmu siluman? Hahahaha, itu yang dinamakan  ilmu silat! Kalau ilmu yang tadi kau pergunakan itu, hanyalah gerakan-gerakan  untuk menggertak bocah ingusan belaka? Kalau kau pergunakan untuk bertempur sungguhan, niscaya akan menyebabkan kau terbinasa dengan cepat. Karena ilmu silat yang kau pergunakan itu tidak ada gunanya sama sekali!”

Mendengar ejekan dari Seng Kim, tentu saja jago tersebut jadi tambah murka.

““Ohh, bocah setan kau!” teriaknya dengan tubuh gemetaran. “Aku bersumpah, kalau memang aku tidak bisa membinasakan dirimu, biarlah aku tidak akan menjadi manusi a lagi!”

Dikala jago itu tengah murka, malah jago  wanita yang tadi menjadi lawan dari jago itu, telah berdiri bengong. Benar-benar dia tidak mengerti, mengapa seorang anak lelaki tanggung  seusia Seng Kim bisa memiliki kepandaian yang begitu tinggi dan tangguh.

Bayangkan saja, hanya di dalam satu gebrakan, hanya satu jurus dia menangkis serangan yang dilancarkan oleh lawannya, tetapi Seng Kim telah dapat merubuhkan lawannya, malahan Seng  Kim tampaknya telah berhasil untuk melukai lawannya itu pula!

Keadaan demikian ini sebenarnya merupakan suatu kejadian yang langka sekali di dalam rimba persilatan. Dengan sendirinya, wanita itu jadi meman - dang dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar, penuh perhatian dan takjub sekali.

Seng Kim sendiri mengetahui bahwa lelaki yang berusia setengah baya itu, niscaya akan menerjangnya kembali dengan penuh penasaran.  Dan apa yang diterka oleh Seng Kim memang benar, sebab setelah memaki kalang kabutan begitu, Seng Kim melihat jago tua tersebut telah menjejakkan kakinya,

 tubuhnya telah mencelat cepat sekali, melancarkan serangan yang hebat bukan main pada Seng Kim.

Tetapi Seng Kim memperlihatkan sikap yang tenang bukan main. Sedikitpun juga dia tidak menjadi gugup walaupun melancarkan serangan yang nekad seperti itu. Seng Kim mengawasi serangan lelaki itu, yang meluncur dengan cepat akan mengenai sasarannya, yaitu bahunya dan perutnya.

Dan dikala kedua serangan yang dilancarkan oleh lelaki itu hampir tiba, disaat mana Seng Kim melihat kaki kanan dari lelaki itu maju dua dim ke depan, cepat-cepat Seng Kim mendahuluinya dengan menggeser kaki kirinya maju dua dim pula, dan kepalanya dimiringkan membiarkan tangan  lawannya jatuh di tempat kosong.

Hal ini disebabkan  dengan memiringkan kepalanya itu, dengan sendirinya Seng Kim juga telah membuat pundaknya jadi miring ke kanan. Itulah sebabnya pukulan yang dilancarkan oleh lawannya jadi jatuh di tempat kosong. Dan membarengi dengan itu, disaat tubuh lawannya agak dojong ke depan, cepat sekali kaki kiri Seng Kim telah menjengkat belakang tumit dari kaki Iawannya.

“Brakkkk!” tubuh lawannya ambruk di atas tanah dengan disertai oleh

suara

jeritan kagetnya. Disaat itulah Seng Kim bergerak cepat, dia tidak bergerak sampai disitu saja, karen a dia telah mengulurkan kedua tangannya. Dan apa yang dilakukan oleh Seng Kim bukan main, kedua tangannya itu dapat bergerak cepat bukan main, sukar diikuti oleh pandangan mata.

Disaat lelaki itu belum mengetahui apa yang harus dilakukannya, baju dibagian dadanya telah kena dicengkeram oleh Seng Kim. Dibarengi oleh suara bentakan “Terbanglah kau!” maka tubuh lelaki itu telah terlontarkan  keras sekali, sejauh kurang lebih lima tombak lebih! Itulah suatu tenaga lontar yang bukan main kerasnya, menunjukkan bahwa tenaga Lwekang yang dimiliki oleh Seng Kim sangat kuat sekali!

Wanita yang tadi bertempur dengan lelaki tersebut jadi memandang bengong dan takjub, malah saking herannya, dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan. Sedangkan tubuh lelaki itu yang telah terlontarkan keras sekali, telah terpental lebih dari lima tombak, dan ambruk di atas tanah dengan terbanting keras sekali.

Waktu terbanting begitulah, dari mulut lelaki  itu terdengar suara 'nggeekkk' suara yang tertahan  di tenggorokannya, dan telah merasakan betapa tunggirnya sangat sakit sekali. Malah yang hebat untuk sementara

 waktu dia tidak bisa segera bangun, sebab pandangan matanya jadi berkunang-kunang.

Seng Kim telah berdiri tegak dengan sikap mengejek memandang kearah lelaki itu.

“Hayo bangun, mari kau bunuh diriku kalau  memang kau mempunyai

kemampuan!” bentaknya dengan suara yang mengejek.

Lelaki itu tampaknya murka sekali, juga merasakan dadanya seperti akan meledak pecah. Tetapi dalam keadaannya yang demikian, jelas dia tidak bisa melakukan apa-apa. Se'ain pandangan matanya yang berkunang-kunang juga dia telah terluka di dalam yang lebih parah.

Kalau memang lelaki itu memaksakan diri untuk bergerak, niscaya dia akan memuntahkan darah segar dan kemungkinan keselamatan jiwanya tidak bisa dilindungi lagi! Juga lelaki itu telah menyadarinya bahwa Seng Kim walaupun usianya masih muda, namun dia memiliki kepandaian yang benar- benar luar biasa. Kalau dia menuruti hawa amarah di hatinya dan mcncoba menerjang lagi, niscaya dia akan menerima luka yang lebih parah. Malah kemungkinan Seng Kim akan turun tangan yang lebih keras, yang berarti jiwa orang ini sukar untuk dilindungi lagi.

Wanita setengah tua yang berdiri di pinggiran menyaksikan jalannya pertempuran itu jadi memandang bengong takjub. Dia seperti tidak mempercayai pandangan matanya dan membuat dia memandang dan berdiri seperti juga patung hidup belaka layaknya.

Lelaki setengah baya itu telah menarik napas dalam-dalam  untuk merasakan apakah luka di dalam tubuhnya itu parah atau tidak. Tetapi waktu dia menarik napas dalam-dalam seperti itu dirasakan dadanya yang sebelah kanan, didekat jalan darah Pay-tu hiatnya, terasa nyeri dan sakit sekali, seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

Dia tercekat hatinya. Rasa kagetnya bukan main, sampai dia mengucurkan keringat dingin. Inilah hebat, dengan adanya rasa nyeri pada jalan darah Pay tu-hiatnya itu, berarti dirinya telah terluka ciuup parah.

Kalau memang dia tidak cepat-cepat berusaha mengobati luka di dalamnya itu, niscaya dia akan merasakan akibatnya yang merugikan sa ngat dirinya, yaitu akan berkurangnya tenaga dalamnya sebanyak dalam  ukuran latihan dua puluh tahun, atau memang seluruh kepandaiannya akan musnah sama sekali. Itulah bayangan yang menakutkan dirinya bukan main.

 Sedikitpun juga dia tidak pernah bermimpi bahwa seorang pemuda tanggung seperti Seng Kim, bisa melukai dirinya sampai begitu parah, hanya di dalam dua gebrakan belaka! Inilah benar-benar suatu kejadian yang belum pernah dilihat atau didengarnya. Dengan sendirinya, setidak-tidaknya rasa jeri mulai menguasai jiwanya.

Dengan muka yang tidak secongkak tadi, lelaki setengah baya itu telah mencoba untuk berdiri. Walaupun akhirnya dia berhasil untuk berdiri, tetapi kedua kakinya tampak agak gemetaran keras.

“Siapa siapa   sebenarnya kau, bocah?” tanyanya dengan   suara

yang tidak lampias.

Seng Kim tertawa dingin.

“Hmm sudah kukatakan tadi bahwa manusia seperti kau ini tidak pantas dan tidak ada harganya untuk mendengar namaku!” hebat ejekan  yang diucapkan oleh Seng Kim membuat tubuh lelaki setengah baya itu jadi gemetaran keras sekali saking murkanya. Tetapi rupanya lelaki itu berusaha untuk membendung dan menahan rasa amarahnya itu.

Tetapi rupanya lelaki ini mengetahui bahwa dirinya bukan menjadi lawan dari Seng Kim maka dari itu, percuma saja dia berkeras.

“Tetapi sebutkanlah namamu, mungkin dilain waktu kita bisa bertemu lagi!” kata lelaki itu dengan suara yang tawar.

“Jadi sekarang kau ingin kabur sipat kuping dan nanti beberapa tahun lagi baru mencariku untuk membalas dendam?!” tegur Seng Kim dengan suara yang mengandung ejekan hebat.

Tentu saja muka lelaki itu jadi berobah merah padam, karena dia tidak menyangka bahwa dirinya akan disanggapi begitu rupa.

“Hmm, walaupun aku harus mempertaruhkan jiwaku, tidak nantinya aku akan kabur lari sipat kuping!!” dia menyahuti dengan penuh  kemurkaan, menuruti emosi hatinya yang panas bukan main.

“Bagus! Bagus kalau memang kenyataannya begitu, karena tadinya aku menyangka bahwa kau tidak memiliki sifat-sifat jantan! Tetapi siapa tahu bahwa kau juga seorang yang berjiwa kesatria juga!”

Kembali muka lelaki itu berobah merah penuh kemarahan. Karena lelaki itu mengetahui bahwa perkataan dari Seng Kim bukan sesungguhnya memuji, melainkan telah mengejeknya.

 Saat itu Seng Kim telah melanjutkan perkataannya lagi.

“Kalau memang kau memang benar-benar berjiwa kesatria, mari maju

lagi!!” tantangnya.

Ditantang begitu, lelahi setengah baya tersebut jadi serba salah, benar dia salah tingkah. Kalau dia menolaknya tantangan Seng Kim, berarti dia akan menderita malu, tetapi kalau memang dia menerima, berarti dia juga selain akan menerima kekalahan, juga akan menderita kesakitan karena jelas dirinya akan dibuat seperti bola oleh Seng Kim.

Sedang lelaki setengah baya itu terjepit dan berdiri mematung penuh keraguan, si wanita yang tadi menjadi lawannya lelaki itu telah tertawa kecil

“Bagus! Bagus! Di dalam dunia persilatan ternyata telah terjadi suatu kemujijatan dengan munculnya seorang jago kecil yang hebat sekali kepandaiannya!” katanya dengan suara yang nyaring.

Seng Kim menoleh kepada wanita itu dengan tatapan mata yang tidak mengandung perasaan apapun juga.

“Bagaimana kalau memang akupun coba-coba beberapa jurus main-main dengan kau, adik kecil?” tanya wanita itu lagi

“Boleh!” sahut Seng Kim dengan suara yang tegas. “Kalau memang Hujin (nyonya) ingin main-main beberapa jurus denganku,  jelas aku harus melayaninya dengan senang hati, bukan?!”

“Terima kasih!! Tegapi aku harap adik kecil tidak turunkan tangan keras kepadaku!!” kata wanita itu. Dan membarengi dengan perkataannya itu 'wwwuuuuttttt’ pedangnya berkelebat di tengah udara, dan hanya di dalam waktu yang sangat singkat wanita itu sudah berada dalam keadaan bersiap siaga.

Gerakan dan sikapnya itu memperlihatkan bahwa wanita ini waspada sekali, dia berlaku hati-hati, karena dia rupanya menyadari bahwa  lawannya yang biarpun masih berusia begitu muda, namun telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi.

Dengan sendirinya, wanita setengah  baya itu tidak berani berlaku ceroboh dan sembrono. Apa yang akan dilakukan, baikpun gerakan  setiap serangan yang akan dilancarkannya, pasti selalu telah diperhitungkan  baik - baik.

Tetapi Seng Kim berlaku tenang sekali walaupun dia melihat wanita setengah baya ini ingin mempergunakan pedang sebagai senjatanya, tetapi

 Seng Kim tidak jeri menghadapinya. Dia berdiri tegak di tempatnya mengawasi setiap gerak-gerik dari wanita tersebut, karena dia melihat pedang si wanita setengah bayra itu sebentar mendatar dan sebentar lagi mata pedang itu telah mendongak keatas

Apa yang dilakukannya itu menunjukkan bahwa wanita setengah baya tersebut memiliki kepandaian yang lumayan dan tidak bisa dipandang remeh. Selama itu, belum juga wanita setengah baya tersebut belum melaksanakan serangannya.

Hal ini menimbulkan perasaan sebal di hati Seng Kim, karena dia melihatnya betapa wanita itu hanya bergerak-gerak seperti memasang kuda- kuda belaka dan memperlihatkan gerakan kembang belaka. Dengan sendirinya mau tidak mau Seng Kim merasa muak dan memandang dengan muka memperlihatkan ejekan terhadap tingkah laku wanita setengah baya tersebut.

Sedangkan wanita setengah baya itu setelah bergerak-gerak dengan kembang ilmu pedangnya, setelah melihat betapa Seng Kim hanya berdiam diri saja, maka dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring bukan main.

Dan menbarengi seruannya yang nyaring itu dia telah membarengi dengan serangannya, pedangnya berkelebat, mata pedang tahu-tahu meluncur lurus menerjang menikam kearah dada Seng Kim. Serangan yang dilakukannya ini sebetulnya gerakan dari jurus yang tidak begitu luar biasa, Seng Kim melihatnya ilmu pedang ini adalah satu jurus dari ilmu pedang Siauw Lim Sie yang berjudul 'Kay-hong Sin Kiam Hoat', tetapi gerakan yang dilakukan oleh wanita setengah baya itu sangat cepat sekali, pedangnya bagaikan  sinar belakang yang berkelebat kearah Seng Kim dengan kecepatan seperti terbangnya meteor.

Seng Kim jadi heran juga melihat cara menyerang winita ini, apa lagi dia merasakan angin serangan wanita setengah baya tersebut yang begitu hebat, tidak seperti yang dilihat dan diduganya semula, dengan sendirinya Seng Kim jadi terkejut.

Tetapi serangan wanita setengah baya itu telah melunijur ctpat sekali tiba dekat sasaran. Seng Kim tidak bisa menjawab pertania-an di dalam hatinya itu.

Dengan cepat Seng Kim harus bergerak mengelakkan diri dari tikaman pedang itu. Kaki kirinya tahu-tahu telah menyepak dengan miring kearah pedang si wanita setengah baya itu dengan gerakan yang cepat.

Wanita itu terkejut, dia mengeluarkan seruan tertahan melihat cara mengelakkan diri dari Seng Kim dan malahan telah menyepak pedangnya

 dengan mempergunakan kakinya. Yang membuat wanita itu terkejut bukan lah disebabkan oleh gerakan yang dilakukan oleh Seng Kim, juga bukan disebabkan kecepatan bergerak dari Seng Kim atau kuatnya tenaga tendangan yang menerjang kearah pedangnya itu, tetapi yang membuat wanita itu terkejut bukan main adalah ilmu yang dipergunakan oleh Seng Kim, karena gerakan yang dilakukan oleh Seng Kim adalah gerakan 'Pay Tu Ping Hay’ suatu gerakan salah satu jurus dari ilmu silat bertangan kosong yang berasal dari pintu perguruan Siauw Lim Sie! Itulah yang telah menyebabkan wanita setengah baya tersebut jadi terkejut.

Dia telah mempergunakan ilmu pedang dari Siauw Lim Sie, tetapi Seng Kim juga telah mengelakkan serangannya dengan mempergunakan ilmu silat bertangan kosong dari Siauw Lim Sie juga, dengan sendirinya hal ini benar- benar membuat wanita setengah baya itu terheran berbareng kaget sekali.

Di dalam hatinya dia juga jadi bertanya-tanya, entah siapa sebenarnya Seng Kim ini?!! Namun wanita setengah baya tersebut tidak bisa berpikir lama- lama. Karena kalau dia tidak bertindak cepat-cepat untuk menarik pulang pedangnya itu, niscaya pedangnya itu, niscaya pedangnya  itu akan kena disepak oleh Seng Kim.

Itulah sebabnya wanita ini telah menarik pulang serangannya, tetapi bukan untuk berdiam diri, hanya disertai oleh suara bentakan : “Jaga !” tahu-tahu pedangnya itu telah berkelebat menyapu menyerampang kearah perut Seng Kim.!

Gerakan yang dilakukan oleh wanita setengah baya ini membuat Seng Kim mau tidak mau jadi merasa kagum juga terhadap cara menyerang wanita berusia setengah baya ini. Coba kalau memang Seng Kim tidak memiliki kepandaian yang tinggi, niscaya dirinya akan kena diserobot oleh mata pedang lawannya. Karena, dikala dia menyepak begitu, jelas gerakan tubuhnya agak terlambat dan lamban. Dan disaat ini ternyata telah dimanfaatkan oleh pihak lawannya.

Dengan menarik pulang pedangnya itu, wanita  tersebut telah membarengi untuk menyerampang perut Seng Kim dengm mata pedangnya. Bukankah kalau memang Seng Kim seorang yang berkenandaian tanggung - tanggung, perutnya itu akan kena dirobek oleh mata pedang wanita berusia setengah baya tersebut?! Tetapi Seng Kim tidak menjadi gugup walaupun diserang begitu rupa.

Dengan cepat dia telah menantikan mata pedang yang tengah menyambar kearah dirinya itu, kearah perutnya, sikapnya tenang sekali. Dan waktu mata pedang wanita setengah baya tersebut hampir mengenai

 sasarannya, hampir mengenai perutnya, Seng Kim menggerakkan tangan kirinya, dia telah menyentil pedang itu.

“Tringgggg!” terdengar suara tubuh pedang itu kena disentilnya nyaring. Dan kejadian selanjutnya benar-benar  membuat wanita setengah baya itu hampir tidak mempercayainya. Karena pedangnya yang kena disentil oleh jari telunjuk Seng Kim itu, telah menjadi patah tiga, jatuh potongannya ke atas tanah. Inilah suatu kejadian yang jarang sekali terdapat di dalam  rimba persilatan.

Bayangkan saja, sebuah jari telunjuk yang terdiri dari darah daging belaka dapat mematahkan pedang yang terbuat dari baja murni dan  tajam bukan main! Inilah benar-benar merupakan suatu kejadian yang jarang sekali orang jumpai di dalam rimba persilatan, karena jarang ada orang yang memiliki tenaga Iwekang yang bisa disalurkan kepada jari telunjuknya untuk dipergunakan mematahkan pedang lawannya!

Seng Kim masih berdiri tenang-tenang di tempatnya, sikapnya angkuh dan memandang enteng pada lawannya tersebut. Wanita berusia setengah baya itu berdiri menjublek di tempatnya.

“Bagaimana? Apakah Hujin (nyonya) ma sih mau main-main lagi beberapa jurus dengan diriku?” tegur Seng Kim dengan suara yang ta war.

“Hmmm,   siapakah sebenarnya kau ini, engko kecil?!”   tanya   wanita

berusia setengah baya itu setelah berdiam diri sejenak.

“Namaku Seng Kim!” Seng Kim memperkenalkan dirinya. “Kalau memang nanti Hujin mempunyai urusan dengan diriku, silahkan mencariku saja!!”

“Baiklah!” kata wanita setengah baya itu. “Tetapi kau telah membuka mataku ini, engko kecil, bahwa di dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago cilik seperti dirimu!”

Mendengar pu jian wanita setengah baya i tu, Seng Kim tertawa tawar.

“ Aku belum dapat disebut sebagai seorang jago, ka rena aku masih terlalu kecil dan usiaku belum mencukupi untuk disebut sebagai seorang jago!!” sahut Seng Kim. “Masih banyak orang-orang yang memiliki kepan - daian yang jauh lebih t inggi dari diriku!!”

“ Aku Sian Hoa Toanio (nyonya Bidadari Bunga) Thang- Ie Lin, kalau memang nanti

kita mempunyai jod oh, tentu ingin sekali lagi aku main- main beberapa

 jurus dengan kau, engko kecil!”

“Begitupun boleh!”

“ Dan bagaimana persoalanmu dengan ka wanku i tu?” tanya wanita yang bernama Thang Ie Lin itu kemudian sambil menoleh kepada si lelaki setengah umur i tu. “ Apakah kau ingin menyelesaikannya lagi?!”

Seng Kim tersenyum.

“ Antara diriku dengan kalian sebetulnya ti dak terdapat  suatu urusan apapun juga, juga tadinya memang kita tidak pernah saling kenal, maka dari itu persoalan dan gara-gara keributan ini dibuat oleh kawanmu itu! Aku tadi hanya kebetulan lewat dan mendengar suara benturan senjata tajam, maka telah tidak sengaja meniaksikan pertempuran kalian?! Apakah hal itu merupakan suatu perbuatan yang salah? Mengapa kawan Hujin itu tahu-tahu telah melancarkan serangan?!”

Muka si wanita berobah merah, rupanya dia jengah. Begitu pula si lelaki yang berusia setengah baya yang telah dirubuhkan beberapa kali oleh Seng Kim, jadi merah juga, rupanya dia malu se kali.

“Semua ini hanya disebabkan salah paham!” kata Thang Ie Lin dengan suara yang tidak begitu keras. “Sebetulnya kami adalah pasangan suami isteri yang tengah melatih ilmu pedang kami, dan walaupun tampaknya kami ber- tempur bersungguh-sungguh, itu hanyalah suatu kesungguhan dida├Čam latihan kami! Tentu saja, setiap orang yang sedang melatih ilmunya dan ada orang yang mengintainya, pasti akan timbul rasa dongkol, dan curiga. Engko kecil sendiri juga rasanya pernah mendengar peraturan dunia persilatan, bahwa dilarang keras sekali siapa saja untuk menyaksikan latihan ilmu silat dari pintu perguruan lain, bukan?”

Seng Kim mengangguk sambil tersenyum tawar.

“Benar            tetapi kurasa tidak perlu mempergunakan serangan seperti tadi, kukira cukup kalau ditegur saja! Baiklah, karena kalian sendiri yang telah mengatakan bahwa di antara kita telah terjadi kesalah pahaman, akupun tidak mau menarik panjang urusan ini. Maafkan aku telah mengganggu kalian dan selamat tinggal!”

Setelah berkala begitu,  Seng Kim memutar tubuhnya, dia telah melangkah pergi meninggalkan tempat itu tanpa menantikan  jawaban dari wanita itu.

 Juga Thang Ie Lin dan lelaki setengah baya yang ternyata adalah suaminya itu, telah memandang kepergian Seng Kim dengan tatapan bengong. Sebetulnya Thang Ie Lin mau menahan Seng Kim untuk menanyakan beberapa pertanyaan lagi, tetapi akhirnya dia membatalkannya.

SENG KIM sebetulnya agak mendongkol di dalam hatinya, tetapi disamping itu, dia juga menganggap urusan yang baru dihadapinya  tadi, dimana dia berurusan dengan Thang Ie Lin dan suaminya itu, merupakan suatu kejadian yang menggelikan dan lucu sekali.

Dengan langkah kaki yang tetap, Seng Kim telah bertindak dengan langkah kaki yang mantap dan menuju kearah selatan. Sens Kim sendiri belum mengetahui ingin pergi kemana, dia belum mempunyai tujuan yang tetap.

Sebetulnya waktu Seng Kim belajar pada Thang Siauw Bun dan telah dijemput oleh orang-orang ayahnya untuk pergi belajar pada pintu perguruan lainnya, guna menuntut ilmu pada beberapa pintu perguruan yang lainnya secara beruntun, Seng Kim berat untuk berpisah dengan Cin Ko. Dan begitulah, ditengah jalan, dia telah berpisah secara diam-diam  dengan orang-orang ayahnya. Karena Seng Kim memang telah memiliki kepandaian yang tinggi, dengan sendirinya mudah saja dia memisahkan dirinya dari kelompok orang- orang ayahnya tersebut.

Namun sejak memisahkan dirinya dari orang-orang  ayahnya itu, tegasnya kabur ditengah jalan, Seng Kim tidak mengetahui  harus pergi kemana. Maka dari itu, tanpa mempunyai tujuan, Seng Kim telah merantau dari kota yang satu ke kota yang lainnya, dari dusun yang satunya ke desa yang lainnya.

Banyak juga kejadian-kejadian  yang tidak menggembirakan  hatinya telah dihadapi oleh Seng Kim. Namun disebabkan kepandaiannya yang me- mang tinggi itu, menyebabkan Seng Kim selalu dapat mengatasi kesukaran yang dihadapinya. Begitulah, dan hari ke hari Seng Kim telah merantau tanpa menentu.

Sebetulnya dia juga mempunyai maksud untuk pulang  ke kota raja, untuk kembali ke gedung ayahnya. Namun hati kecilnya tidak menyetujuinya karena dia takut nanti menerima kenyataan menyaksikan sepak terjang ayahnya yang memang tidak disetujui oleh hati kecilnya Seng Kim.

Entah sudah berapa lama Seng Kim merantau, sehingga pada suatu hari dia telah sampai di sebuah desa kecil yang bernama Sui-hi-tihung. Desa ini cukup ramai, walaupun hanya merupakan sebuah desa kecil belaka, karena

 padat penduduknya. Dan Seng Kim telah singgah diwarung arak yang terdapat dimulut desa itu. Karena adanya warung arak itu di desa kecil, maka warung arak itupun dengan sendirinya merupakan warung arak kecil pula, yan g serba sederhana.

Seng Kim memesan dua cawan air teh hangat, dan beberapa macam makanan kering. Sambil menghirup air teh hangatnya itu perlahan-lahan, Seng Kim memandang sekitar tempat di muka warung arak tersebut. Dia melihat beberapa orang anak kecil yang berusia diantara tujuh delapan tahun, tengah bermain petak dengan suaranya yang ramai.

Saat itu hampir menjelang sore hari, matahari juga mulai turun akan tenggelam. Seng Kim telah meminum tehnya perlahan-lahan, karena dia merasakan bahwa dirinya tidak perlu minum cepat-cepat dia merasa tubuhnya masih penat dan juga memang dia pikir percuma saja meneruskan perjalanannya, karena hari sudah sore demikian dan sebentar lagi pasti malam tiba. Maka dari itu, Seng Kim bermaksud akan bermalam dikampung terse but.

Setelah habis menenguk air tehnya, Seig Kim menggapai tangannya, memanggil seorang pelayan warung arak tersebut. Cepat-cepat  pelayan itu telah menghampiri Seng Kim.

“Ada apa, Kongcu?” tanya si pelayan.  “Apakah Kongcu mempunyai pesanan lainnya?”

Seng Kim telah menggelengkan kepalanya.

“Tidak !” sahutnya. “Aku hanya ingin menanyakan apakah di desa

ini terdapat rumah penginapan?”

Ditanya soal rumah penginapan, pelayan kedai arak tersebut berdiri bengong. Dia tidak segera menyahuti pertanyaan Seng Kim. Hal ini tentu saja membuat Seng Kim jadi heran bukan main.

“Ihh, adakah yang aneh pada pertanjaanku itu Toako?” tanya Seng Kim

dengan sepasang alis mengkerut saking herannya.

Pelayan itu jadi gugup bukan main.

“Di sini         di sini tidak ada rumah penginapan?” katanya dengan suara yang tergugu, mukanya juga pucat bukan main.

Seng Kim jadi tambah heran saja melihat sikap pelayan ini. Tampaknya pelayan itu ketakutan sekali, waktu dia berkata-kata  begitu,  matanya juga telah mencilak-cilak memandang sekelilingnya.