Manusia Jahanam Jilid 15

 
Jilid 15

Yang menarik kedatangan si pengemis tua itu digerobak panggang bebek itu, bukanlah panggang-panggang bebek yang gemuk-gemuk  tersebut. Jelas yang menarik kedatangan si-pengemis tua ke tempat ini adalah diri Wie Tu Hong sendiri!

“Hmmm, orang-orang Kaypang ini ternyata berlaku teliti sekali!!” diam- diam Wie Tu Hong berpikir di dalam hatinya. “Biarpun dia telah menyatakan bahwa diriku boleh pergi meninggalkan jalan kecil itu, dan tidak mendatangkan kecurigaan sedikitpun juga pada diri pengemis yang tadi, namun kenyataannya pihak mereka masih mengirim orang untuk memata-matai diriku! Jelas kalau memang aku ini langsung mendatangi salah satu rumah penduduk, kecurigaan pengemis-pengemis itu akan timbul kembali!   Hmmm, akupun tidak sebodoh itu! Sengaja aku telah datang ke gerobak bebek ini, sehingga pengemis tua ini jadi bingung sendirinya, yang membuat dia jadi menunjukkan diri juga, untuk melihat lebih dekat apa yang kulakukan. Setelah dia melihat tulang dari panggang bebek yang kuhabiskan itu berserakan, pengemis  tua ini tentu tambah bingung saja, karena aku hanya sekedar mengisi perut dengan dua ekor panggang bebek! Kalau memang kedatanganku tadi ke jalan kecil yang berliku-liku itu mempunyai maksud tertentu, jelas begitu aku kepergok dan dibiarkan pergi, aku akan segera mencari kontak dengan kawan-kawanku, tetapi kenyataan sekarang aku bukannya pergi kemana-mana.   hanya menikmati dua ekor panggung bebek ini! Hahahaha..... tentu   saja   pengemis tua itu jadi kebingungan sendiri, dia tidak mempunyai pegangan siap a diriku sebenarnya, tetapi yang jelas, rasa curiganya tentu sudah semakin berkurang!” dan sambil berpikir begitu, Wie Tu Hong geli sekali tertawa di dalam hatinya. Tetapi wajahnya tetap tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.

 Setelah mengasoh sebentar, dan setelah mengorek giginya yang selip sisa daging-daging panggang bebek itu, Wie Tu Hong telah bangkit berdiri dari duduknya, dia menghampiri penjual panggang  bebek itu, membayara harga kedua panggang bebek yang telah dimakannya.

Disaat Wie Tu Hong mengangsurkan uang untuk pembayaran kedua ekor panggang bebek yang telah dihabiskannya itu, disaat itu pula pengemis tua tersebut dengan langkah kaki terseok-seok telah menghampiri sambil me - ngulurkan tangan kanannya.

“Kasihan aku pengemis tua, Loya, aku belum makan empat hari empat malam.......kasihanilah aku, Loya...... berikanlah aku si pengemis tua seekor panggang bebek itu!” kata si pengemis tua itu dengan suara yang tergetar. Keadaannya memang mirip dengan seorang pengemis tua yang kelaparan.

Tetapi mata Wie Tu Hong mana bisa dikibuli?! Walaupun pengemis tua itu memperlihatkan sikap seperti pengemis tua yang kelaparan, tokh kenyataannya sinar matanya tidak bisa disembunyikan dari mata Wie Tu Hong, yang telah mengetahuinya bahwa dia adalah seorang pengemis  tua yang memiliki ilmu tinggi sekali

Tetapi karena pada saat itu W i e Tu Hong menyadari bahwa dirinya tengah melakukan suatu lakon sandiwara, dengan sendirinya dengan  muka yang kecut telah menyahutinya :

“Memberi sedekah?! Hu! Hu! Aku benar-benar kapok tujuh turunan memberikan se dekah kepada pengemis-pengemis dan jembel-jembel seperti kalian! Tadi saja aku pernah memberikan sedekah kepada seorang pengemis tetapi pengemis itu, hai, hai, hai, sungguh pengemis itu tidak tahu diri dan tidak mengenal budi! Aku telah memberikannya sedekah, tetapi dia malah memukul         diriku          sampai          terjerembab!         Lihatlah,         bajuku ini kotor dan dekil sekali! Aku bersumpah, kapok dan jera aku memberikan sedekah

kepada pengemis-pengemis seperti kalian!”

Muka pengemis itu memperlihatkan kemurungan dan kedukaan.

“Tetapi Loya jangan mempersamakan antara diriku si pengemis tua ini dengan pengemis yang pernah mengecewakan ha t i Loya, tidak semua baju itu sama warnanya, tidak semua hati manusia itu sama pikirannya, maka dari itu, kalau memang Loya bersedia memberikan sedekah kepadaku pengemis tua yang perlu dikasihani, jelas aku si pengemis tua ini tidak akan melupakan budi Loya yang maha besar, juga aku si pengemis tua akan berdoa siang dan malam unfuk keselamatan dan kesejahteran Loya!” dan kata-kata si pengemis ini

 seperti juga sedang membujuk Wie Tu Hong agar mau memberikan sedekah kepadanya.

Tetapi Wie Tu Hong sengaja tertawa dingin.

“Hu! Hu! Aku sudah tidak mau mempercayai mulutnya seorang

pengemis!” katanya seperti orang yang masih sengit.

Pengemis tua itu menghela napas, dia kemudian  memandang Wie Tu Hong sejenak, baru dia memutar tubuhnya untuk ngeloyor pergi.

Melihat pengemis tua itu sudah ngeloyor pergi, Wie Tu Hong tertawa di dalam hati kecilnya.

“Memang di kota raja ini paling banyak pengemis-pengemis  malas seperti dia tadi!!” mengoceh pemilik gerobak  dagangan panggang bebek itu sambil memberikan uang kembaliannya kepada Wie Tu Hong “Maklumlah, di kota raja ini para pengemis mengalami penghidupan yang lumayan, sering memperoleh jaman panen, karena sisa-sisa makanan banyak sekali yang dapat mereka peroleh, juga sering orang memberikan sedekah berbentuk  uang maupun pakaian-pakaian bekas! Nah, terima kasih Loya semoga panggang bebek Lohu itu memuaskan hati Loya!!”

W i e Tu Hons tidak mau melayani ocehan pedagang panggang bebek itu. Dia hanya menyambuti uang kembaliannya itu dengan berdiam diri saja. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa,  Wie Tu Hong telah meninggalkan tempat tersebut.

Wie Tu Hong mengambil arah yang berlawanan dengan pengemis tua yang tadi. Sedangkan di dalam  hatinya Wie Tu Hong tertawa geli sekali, teringat kepada sandiwaranya yang tadi.

Jelas pengemis tua itu mempercayainya bahwa Wie Tu Hong adalah seorang pedagang yang tolol. Dan pengemis tua itu jelas menduga bahwa Wie Tu Hong masih menaruh dendam kepada pengemis yang tadi te lah diberikan uang sedekah tetapi malah telah menerjangnya, membuat dia jadi terjerembab begitu rupa.

Mungkin setelah melihat dan mendengar kata-kata dari Wie Tu Hong tersebut, dengan sendirinya si pengemis  tersebut menduga  bahwa Wie Tu Hong memang benar-benar bukan orang rimba persilatan, hanya sebagai pedagang yang pesiar di kota raja.

Wie Tu Hong sendiri diam-diam telah mengawasi kepergian pengemis tua itu. Setelah melihat pengemis tua itu berlalu Wie Tu Hong mulai meninggalkan tempat tersebut. Tetapi Wie Tu Hong bukannya kembali ke-

 empat dimana kawan-kawannya tengah menantikan kembalinya dia, karena dihati Wie Tu Hong memang terdapat sebuah rencana untuk melakukan sesuatu.

Cepat sekali Wie Tu Hong telah mengambil arah kejurusan selatan dari kota raja, jadi berlawanan arah dengan arah yang tadi diambilnya. Setelah memandang kekiri kanan dan melihat orang-orang yang berada di tempat tersebut tidak memperhatikannya, dan juga dia telah berada di tempat yang agak sepi, maka dengan cepat Wie Tu Hong telah menjejakkan  kakinya, tubuhnya mencelat cepat sekali dengan gerakan yang ringan sekali, tubuh Wie Tu Hong telah melayang ke atas tengah-tengah udara, dan kemudian hinggap di atas genting salah satu rumah penduduk yang terdapat di situ.

Gerakan yang dilakukan oleh Wie Tu Hong begitu ringan, sehingga waktu kedua kakinya menginjak genting rumah tersebut, tidak terdengar  suara sedikitpun juga, seperti sehelai daun kering belaka yang jatuh dengan r ingan terhembus angin. Tetapi biarpun begitu, Wie Tu Hong tetap bersikap hati-hati sekali. Dia telah mendekam di atas genting itu, mendekam tanpa bergerak sedikitpun juga.

Tingkah laku Wie Tu Hone ini menunjukkan betapa Wie Tu Hone memiliki ketelitian yang sangat, yang memiliki kewaspadaan juga. Maka dari itu, setiap tindakannya selalu diperhitungkannya baik-baik. Dengan sendirinya, setiap kali Wie Tu Hong melakukan sesuatu pekerjaan, selalu berhasil dengan baik, karena disamping sifat teliti dan sikapnya yang selalu waspada itu, otak Wie Tu Hong juga cerdas sekali, dengan sendirinya memiliki banyak sekali akal guna menghadapi berbagai macam rintangan yang ditimbulkan oleh pihak lawannya.

Setelah mendekam sekian lama di atas genting mengawasi keadaan di sekitar tempat itu, setelah melihatnya betapa keadaan di tempat itu sangat sepi, jarang orang yang menaruh perhatian kearahnya, dengan sendirinya Wie Tu Hong baru berani untuk bangkit, berlari ringan di atas genting, melompat dari genting rumah penduduk yang satu melompat ke genting yang satunya lagi.

Gerakan yang dilakukan oleh Wie Tu Hong itu benar-benar merupakan gerakan yang bukan main cepat dan gesitnya, kalau pada saat itu  orang melihatnya dengan mata kepala sendiri, tentu orang akan menduga bahwa sosok bayangan yang tengah berlari-lari itu adalah sosok bayangan hantu atau setan penasaran! Wie Tu Hong telah berlari-lari sampai di jalan kecil berliku- liku. Tetapi Wie Tu Hong tetap mengambil jalan di atas genting.

Hari pada saat ini hampir menjelang sore dan matahari tidak seterik tadi. Juga yang membuat Wie Tu Hong harus bersikap hati-hati adalah bayangan

 dari tubuhnya yang terkena sinar matahari. Mau tak mau Wie Tu Hong harus memperhitungkannya masak-masak agar bayangan dari tubuhnya itu tidak terjatuh di atas tanah, agar tidak diketahui pihak lawannya.

Mau tidak mau Wie Tu Hong harus mengambil jalan d i tengah-tengah genting rumah pend u d uk itu, dipertengahannya itu, agar bayangan tubuhnya yang terkena cahaya matahari tidak terpantul diatas jalanan.

Seluruh rumah-rumah yang terdapat pada jalanan kecil itu jelas adalah milik pihak Kaypang, dengan sendirinya dia harus bersikap hati-hati.  Sedikit saja dia menimbulkan suara diatas genting, niscaya orang-orang Kaypang yang tengah bersembunyi di dalam-dalam rumah itu akan segera mengetahuinya bahwa ada tamu yang tidak diundang telah datang ke tempat itu.

Dengan sendirin y a disamping Wie Tu Hong harus bersikap hati-hati agar bayangan tubuhnya tidak terjatuh kebawah jalanan, juga Wie Tu Hong harus berlari dengan seringan mungkin mempergunakan ginkangnya, agar tidak menimbulkan suara yang terlalu keras.

Setelah berlari-lari sekian lama, dimana Wie Tu Hong telah berada di atas genting rumah penduduk yang beberapa saat yang lalu pernah dilaluinya, maka dia memandang sekelilingnya. Tidak terlihat seorang manusiapun di sekitar tempat itu. Dan pengemis yang tadi telah mendorong Wie Tu Hong yang menyebabkan Wie Tu Hong terpaksa harus pura-pura  terjerembab, ternyata sudah tidak terdapat di jalanan kecil tersebut.

Wie Tu Hong jadi mengerutkan sepasang alisnya dia mendekam di a tas genting itu mengawasi sekitar tempat tersebut. Tetapi jalanan kecil itu memangnya merupakan jalanan terlarang, sehingga boleh dikatakan  sama sekali tidak ada seorang manusiapun yang lewat pada jalanan itu. Keadaan sepi sekali.

SEDANG Wie Tu Hong mendekam begitu di atas genting, tiba-tiba pendengarannya yang tajam sekali telah dapat menangkap suara langkah kaki. Cepat-cepat Wie Tu Hong lebih mendekamkah tubuhnya, lebih merapat. Matanya juga telah dipentang lebar-lebar mengawasi lebih teliti kerah jalanan kecil di bawahnya itu.

Keadaan masih sepi, tidak terlihat orang yang sedang berjalan itu. Tetapi suara langkah kaki tersebut masih juga terdengar jelas.

Semakin lama suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas dan disusul oleh suara pintu yang terbuka. Seketika itu juga pikiran Wie Tu Hong dapat

 menerkanya. Ternyata orang yang sedang berjalan itu adalah seseorang yang berada di dalam rumah dimana di atas gentingnya Wie Tu Hong tengah mendekam bersembunyi.

Tentu saja Wie Tu Hong dapat mendengar suara langkah kaki itu, tetapi tidak bisa melihat orangnya. Dan suara pintu terbuka mungkin juga orang itu akan keluar dari rumah tersebut. Tidak lama kemudian tampak punggung seseorang, disusul oleh suara langkah kaki lagi.

Rupanya memang benar bahwa orang itu baru keluar dari rumah dimana Wie Tu Hong bersembunyi di atasnya. Waktu Wie Tu Hong memperhatikan lebih jelas, ternyata orang itu tidak lain dari si pengemis yang sebelumnya telah dijumapinya.

Pengemis itu tidak lain dari si pengemis tua yang menguntit Wie Tu Hong sampai ke tempat tukang jual panggang bebek.

Gerakan pengemis tua ini berbeda dengan gerakan waktu dia meminta sedekah di penjual panggang bebek itu. Waktu sebelumnya gerakannya begitu gontai, terseok-seok seperti orang kekurangan makan. Tetapi berbeda dengan itu, sekarang gerakan tubuhnya telah begitu cepat dan gesit sekali, langkah kakinya juga ringan.

Pada wajahnya juga tidak memperlihatkan sikap ingin dikasihani, tetapi gagah dan angker sekali, walaupun baju yang dipakainya tidak berobah, penuh tambalan dari bermacam-macam kain.

Dengan gerakan cepat, pengemis tua itu telah menghampiri pintu rumah di seberangnya. Diketuk daun pintu itu. Waktu pintu terbuka, dari dalam keluar seorang pengemis kecil. Pengemis cilik tersebut telah memberi hor mat dengan sikap yang mengandung rasa hormat dan segan.

“Ada perintah apakah Kim-ciu Loya (Kim-cu adalah serupa pangkat seperti penasehat di dalam perkumpulan Kaypang)?” tanya pengemis kecil itu dengan suara yang menghormat setelah dia menjura memberi hormat kepada pengemis tua itu.

“Hmmm!” pengemis tua itu telah mendengus dengan suara yang berwibawa sekali. “Sampaikan kepada pimpinan bahwa semua tugas yang diberikan kepadaku, telah kuselesaikan, juga jelaskan bahwa orang tadi telah berhasil kukuntit, tidak ada  sesuatu yang mencurigakan pada diri pedagang tolol itu, karena dia benar-benar seperti seorang pedagang tolol belaka, dari kata-kata dan sikapnya, dia menunjukkan tidak menaruh kecurigaan sedikitpun juga terhadap apa yang dialaminya di jalan ini!”

 Pengemis cilik itu cepat-cepat merangkapkan kedua tangannya menjura memberi hormat.

“Siauwjin menerima perintah!!” katanya dengan cepat.

“Bagus! Dan setelah itu cepat kau kembali ke tempat ini, untuk kembali menjaga pos penjagaan yang sedang menjadi tugasmu!” kata pengemis tua itu sambil menganggukkan kepalanya.

Pengemis tua itu telah melangkah ke rumah itu, menutup daun pintunya kembali. Pengemis kecil itu tanpa banyak bicara lagi sudah berlari-lari dengan cepat menyusuri  jalan kecil itu, untuk melaksanakan perintah yang diberikan oleh pengemis tua tadi

Wie Tu Hong cepat-cepat menguntit pengemis cilik itu, Wie Tu Hong ingin mengetahui siapakah sebenarnya pemimpin dari Kapang ini. Gerakan yang dilakukan oleh Wie Tu Hong gesit dan hati-hati, sehingga si pengemis kecil yang tengah berlari-lari  di jalanan kecil itu tidak mengetahui bahwa dirinya tengah dikuntit seseorang.

Si pengemis kecil itu berlari berbelok-belok  di-beberapa tikungan. Sampai akhirnya dia telah sampai di depan sebuah rumah gedung yang mewah. Mata Wie Tu Hong terbuka lebar-lebar. Ternyata gedung itu tidak lain dari gedung dimana Wie Tu Hong dan kawan-kawannya pernah bertempur dengan Tan Keng Can.

“Apakah pemimpin Kaypang ini benar-benar si pemuda bergajulan itu?” berpikir Wie Tu Hong di dalam hatinya. “Apakah pemuda yang masih berusia begitu muda dapat menguasai jago-jago yang sudah lanjut dan tua usianya itu?”

Sedang Wie Tu Hong bingung dan terheran heran memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, maka pengemis kecil itu telah menghampiri pintu gedung mewah itu, mengetuknya perlahan.

“Siapa?” tegur orang di dalam.

“Siauwjin ingin memberikan laporan!!” teriak pengemis kecil itu.

Pintu itu terbuka. Tampak seorang pengemis berusia diantara tiga puluh tahun, dengan wajah yang tidak terurus, dengan cambang dan bewok memenuhi mukanya telah muncul. Mukanya garang sekali waktu dia menga- wasi si pengemis kecil itu dan tanyanya dengan suara yang agak parau :

“Laporan siapa  yang ingin kau  sampaikan?” tegurnya kemudian.

 “Laporan dari Kim-cu!!' menyahuti si pengemis cilik.

“Hmmm!” pengemis yang membukakan pintu itu telah mendengus : “Hayo masuk!”

Pengemis kecil itu mengiyakan. Dengan gesit si pengemis kecil telah menyelinap masuk ke dalam gedung itu. Pengemis yang membukakan pintu itu telah menyelinap masuk atau menutup daun pintunya, karena dia telah melongok kekiri dan kekanan. Sikapnya tampak begitu hati-hati sekali.

Setelah melihat bahwa si pengemis  cilik itu tidak ada yang kuntit, barulah si pengemis ini menutup daun pintu itu kembali. Wie Tu Hong yang bersembunyi di atas genting mengawasi keadaan demikian. Dia telah melihat betapa pengemis itu bersikap demikian hati-hati sekali.

Mungkin juga di dalam gedung itu sedang terdapat suatu perundingan atau mereka tengah melakukan sesuatu. Kalau tidak, tidak mungkin pengemis yang membukakan pintu untuk si pengemis kecil itu bersikap demikian hati - hati.

Setelah mendekam sesaat lamanya, dan setelah melihat tidak ada pengemis lainnya, Wie Tu Hong dengan gerakan yang ringan bukan main, telah melompat dari genting yang diseberang itu, telah melompat turun ke atas jalanan, dan begitu kakinya menginjak jalanan, seketika itu juga dia telah melompat pula keatas tembok dari gedung tersebut, tubuhnya mencelat masuk, bersembunyi dibalik sebatang pohon yang tinggi besar.

Untuk lebih aman, Wie Tu Hong telah menjejakkan kakinya. Tubuh orang she Wie ini telah mencelat tinggi sekali, kemudian bercongkol di atas sa lah satu batang pohon itu. Dari tempat yang tinggi seperti itu, Wie Tu Hong bisa memandang leluasa kearah sekitarnya.

Ternyata di dalam keadaan gedung itu sangat sepi sekali. Sepi bukan berarti tidak terdapat manusa di dalam gedung itu. Karena mata Wie Tu Hong yang tajam bukan main, telah dapat melihat  betapa didekat sudut-sudut tembok gedung itu, tampak dua atau tiga pengemis yang tengah rebah tertidur nyenyak. Tampaknya saat sekarang ini memang bukan  giliran  mereka melakukan penjagaan, sehingga mereka leluasa untuk tidur.

Setelah melihat betapa keadaan di gedung itu aman dan tidak ada seorang manusiapun juga, maka Wie Tu Hona baru melompat turun dari atas genting itu. Dengan gerakan yang gesit sekali, Wie Tu Hong sudah mencelat lagi ke sudut ruangan depan dari  gedung tersebut, dia memandang  lagi keadaan sekitar itu.

 Dengan berindap-indap dan penuh kewaspadaan, Wie Tu Hong telah memasuki gedung tersebut. Keadaan gedung ini sebetulnya masih diingat oleh Wie Tu Hong. Tetapi Wie Tu Hong juga tidak berani sembarangan, walaupun waktu beberapa hari yang lalu ketika dia bersama-sama dengan kawan- kawannya menyatroni gedung ini dan telah mengenal keadaannya, tetapi soal pos penjagaan yang di tempatkan oleh orang-orang Kaypang pada gedung tersebut kurang begitu diketahuinya.

Setelah melalui ruangan tengah, Wie Tu Hong terus juga menuju keruangan dalam.

“Siapa?” tiba-tiba terdengar suara orang membentak dengan suara yang nyaring arah samping tikungan. Wie Tu Hong terperanjat. Cepat-cepat dia telah melompat kesampingnya, bersembunyi dibalik tiang yang cukup besar.

Tampak dari tikungan itu muncul seorang pengemis tua yang memakai baju penuh tambalan. Mata pengemis itu mencilak-cilak memandang sekitar tempat itu.

“Aneh! Tadi jelas aku mendengar suara langkah kaki!!” mengumam pengemis itu. “Tetapi mengapa tidak terlihat seorang manusiapun  juga? Apakkah disore hari seperti ini bisa ada setan yang gentayangan?!”

Sedang pengemis itu kebingungan dengan penuh kecurigaan, tiba-tiba dari luar ruangan itu telah berlari seekor kucing. Gerakan kucing itu cepat sekali, tetapi telah dilihat si pengemis.

“Ohhh kiranya seekor kucing!” mengumam pengemis itu.   “Hmmm tadinya kukira manusia!!”

Dan setelah berkata begitu sambil menghela napas, si pengemis tertawa sendiri, membalikkan tubuhnya untuk kembali ketempat penjagaannya dibalik tikungan jalan itu.

Wie Tu Hong menantikan sampai pangemis i tu telah menghilang dibalik tikungan tersebut, dia kemudian memutar tubuhnya mengambil arah lain.

Karena kalau memang Wie Tu Hong tetap mengambil arah yang semula, jelas dia akan diketahui oleh penjaga tadi.

Maka dari itu, dengan jalan mengambil arah memutar, dengan cara begitu Wie Tu Hong bisa menghindarkan diri dari pandangan mata si pengemis penjaga itu.

Cepat sekali keadaan demikian berlangsung, di mana Wie Tu Hng berulang kali hampir berpapasan dengan penjaga gedung tersebut. Untung

 saja Wie Tu Hong selalu dapat menghindarkan diri dari tatapan mata pengemis- pengemis itu, ini semua disebabkan oleh gerakannya yang sangat gesit dan cepat sekali, sehingga dirinya tidak sampai kepergok.

Cepat bukan main Wie Tu Hong bisa menyelinap sampai di belakang gedung itu. Tetapi selama ini Wie Tu Hong masih belum mengetahuinya, entah di kamar mana Tan Keng Can sedang melakukan perundingan. Dan entah dimana pengemis cilik yang tadi diikuti oleh Wie Tu Hong.

Hal ini membuat Wie Tu Hong jadi agak bingung juga, karena biar bagaimana dia tidak bisa bergerak terlalu ceroboh dan sembarangan. Kalau sampai hal ini kena dipergoki oleh salah seorang pengemis penjaga, niscaya rencananya akan gagal sama sekali. Yang jelas dia akan bentrok dan juga akan dikejar-kejar oleh pengemis itu.

Untuk melakukan pertempuran dengan para pengemis itu, Wie Tu Hong tidak jeri. Tetapi, kalau sampai dia kena dipergoki oleh salah seorang pengemis itu, yang jelas keadaan gedung ini akan  bertambah diperketat  pula penjagaannya. Dengan sendirinya Wie Tu Hong mau tidak mau selalu harus berlaku waspada.

Biar bagaimana Wie Tu Hong menginginkan dia berhasil mencari keterangan-keterangan pada orang-orang Kaypang ini, untuk nanti diceritakan kepada kawan-kawannya.

Dengan cara dia menyelinap begitu, dia bisa  berhasil menerobos penjagaan Kaypang sampai di belakang gedung itu, jelas hal ini menunjukkan bahwa Wie Tu Hong memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Saat itu, jangankan seorang manusia, sedangkan seekor lalat saja yang terbang disitu akan diketahuinya dengan cepat.

Tetapi yang agak membingungkan Wie Tu Hong, dia masih belum mengetahui di mana ruangan yang dpakai oleh Tan Keng Can untuk melakukan perundingan diantara para pengemis itu.

Kedatangan Wie Tu Hong ke markas dari Tan Keng Can ini kalau hanya sekedar dapat menyelusup masuk ke dalam gedung, jelas tidak ada artinya sama sekali. Yang terpenting bagi dia ialah menyelidiki agar dia bisa menemui dan mendapatkan keterangan-ketarngan yang diperlukan oleh kawan- kawannya.

Waktu Wie Tu Hong sedang berindap-indap  jalan sampai didekat ruangan dapur, dia melihat dua orang pengemis tengah duduk dilantai, menikmati makanan yang ada dipiring di tangan mereka.

 Tampaknya kedua pengemis itu, yang berusia masih muda-muda, mungkin juga baru belasan tahun, tengah lapar, karena mereka melahap makanan mereka dengan cepat.

“Kau tahu, kalau memang kita melakukan penjagaan seperti ini terus menerus sampai satu atau dua bulan lagi, niscaya kita akan kurus karena pertama-tama kita kurang tidur, kedua kita sering menahan lapar!” kata pengemis yang seorangnya.

Pengemis yang satunya mengangguk.

“Benar! Itulah sebabnya, biar bagaimana kita harus dapat mengisi perut kenyang-kenyang, agar tidak masuk angin! Kalau sudah makan cukup, biarpun harus melakukan penjagaan di bawah hujan yang deras, kita tidak akan terserang angin jahat!” sahut pengemis yang satunya itu.

Pengemis yang tadi pertama-tama membuka suara telah menunda makannya.

“Hei Samjie, sebetulnya sampai kapan kita melakukan pcnjagaan terus menerus seperti sekarang ini?” tanyanya

“'Entahlah, aku sendiri belum mengetahuinya!” menyahuti yang

seorangnya.

“Sebetulnya   untuk   apakah Tan Kongcu memerintahkan   kita selalu

melakukan penjagaan seperti ini?”' tanya yang seorangnya lagi.

“Tentu saja agar gedung kita jangan sampai kena kemasukan musuh!” “Siapa musuh kita itu?”

“Aku mana tahu?”

“Kau tidak pernah dengar-dengar perihal musuh kita itu?” tanya yang

seorangnya itu.

“Tidak pernah!”

“Kemarin beberapa hari yang lain katanya terjadi pertempuran di sini!” “Benar!”

“Aku hanya mendengar saja tetapi tidak mengetahui siapa musuh yang

berusaha menyelusup ke dalam gedung kita ini!” “Sama seperti aku!”

 “Tetapi waktu kemarin kau dipanggil oleh Tan Kongcu, apakah Tan

Kongcu tidak mengatakan apa-apa kepadamu?” tanya yang seorangnya itu.

“Tidak!”

“Habis apa saja katanya?”

“Hanya diperintahkan agar aku melakukan penjagaan baik-baik!” “Kenapa begitu? Mengapa kau sampai ditegur?” tanya kawannya.

“Katanya di dalam beberapa waktu ini mungkin akan ada musuh yang mencoba menyelusup kemari!”

“Kalau memang kenyataannya ada musuh yang menyelusup ke gedung ini, apa yang harus kita lakukan?!”

“Tangkap!”

“Tangkap? Tangkap apanya?'

“Tolol kau! yang jelas tangkap orangnya!” menyahuti kawannya dengan mendongkol.

“Tetapi orang itu berani menyelusup kemari jelas memiliki kepandaian yang tinggi!” kata yang seorang itu dengan mendongkol juga. '“Sedangkan kita ini manusia macam apa? Kepandaian apa saja yang kita miliki sehing ga bisa menangkap orang itu?”

“Hmmm!” menyahuti kawannya. “Tentu saja kita tidak bisa menangkapnya, apakah kau merasa dirimu sudah pandai dan berkepandaian tinggi? yang jelas, kita cukup berteriak ada musuh masuk! Semuanya  akan beres, saudara-saudara kita yang lainnya tentu akan   berdatangan! Bodoh benar kau!”

Dikatakan sebagai seorang yang bodoh, pengemis yang seorangnya rupanya jadi mendongkol. Dia tidak menyahutinya, hanya meneruskan makannya saja.

Wie Tu Hong mendengarkan beberapa saat lagi, tetapi kedua pengemis itu tidak bercakap-cakap lagi, mereka hanya meneruskan makan  mereka. Sebetulnya Wie Tu Hong ingin membekuk kedua pengemis itu. Namun setelah berpikir-pikir, Wie Tu Hong menganggap kedua pengemis itu tidak ada gunanya. Umpama kata dia membekuknya, tentu pengetahuan kedua pengemis itu tidak ada artinya, keterangan yang diharapkannya  tidak mung kin bisa dikorek dari mulut kedua pengemis itu. Maka dari itu, percuma saja, karena kedua pengemis itu melakukan penjagaan saja mereka tidak mengetahui untuk

 apa. Tampaknya mereka hanyalah manusia-manusia yang tidak penting di dalam Kaypang.

Setelah berdiam diri sesaat lagi, Wie Tii Hong telah meninggalkan ruangan dapur itu. Dia menyelidiki keadaan tempat lainnya. Ketika Wie Tu Hong sedang lewat dimuka sebuah jendela kamar, dia mendengar  orang berkata- kata.

“Kalau sampai malam ini tidak ada musuh yang datang, sudahlah! Kita juga tidak perlu melakukan pcnjagaan lagi!” terdengar suara itu dari  arah dalam kamar tersebut.

Wie Tu Hong tcrkejut, karena dia mengenali bahwa suara itu adalah suaranya Tan Keng Can. Cepat-cepat Wie Tu Hona memperlambat langkah kakinya dan berusaha sedapat mungkin agar langkah kakinya itu  tidak menimbulkan suara. Didekatinya jendela kamar itu, dia mengintai ke dalam kamar

Benar saja di dalam kamar itu terdapat  Tan Keng Can dan beberapa orang pengemis tua lainnya. Diantara mereka juga tampak pengemis kecil yang tadi dikuntit oleh Wie Tu Hong. Saat itu Tan KengCan tengah menoleh kepada pengemis kecil itu.

“Jadi orang yang tadi telah memasuki jalan yang menuju kemari memang tidak mempunyai maksud apa-apa?” tegur Tan Keg Can dengan suaa yang tawar, tidak mengandung perasaan apa-apa.

Pengemis kecil itu telah mengangguk dengan duduk memperlihatkan sikap menghormat sekali.

“Benar Tan Kongcu!” sahut pengemis cihk itu. “Malah Kimcu yang telah pergi menguntitnya sendiri          dan menurut penglihatan Kimcu bahwa orang itu memang benar-benar seorang pedagang tolol!!

Mendengar jawaban pengemis itu, Tan Keng Can tampak mengangguk- anggukkan lanya beberapa kali.

“Baiklah!” kata Tan Keng Can kemudian. “Kalau begitu kau boleh kembali ke pos penjagaanmu!!”

Pengemis cilik itu rnengiyakan dan telah berlalu. Dihati Wie Tu Hong mendongkol sekali bercampur perasaan geli. Disebabkan   dia   menyamar sebagai pedagang, maka dia telah memperoleh gelaran sebagai pedagang tolol.

 Saat itu, setelah pengemis cilik tersebut pergi  meninggalkan ruangan, Tan Keng Can telah menoleh kepada pengemis tua yang seoranguya, yang berada disampingnya.

“Bagaimana pandangan Toako (kakak) di dalam persoalan ini?”

tanyanya. “Apakah menurut Toako banwa segalanya akan berjalan lancar?!”

Pengemis tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Yang jelas akan berjalan lancar, asal kita benar-benar berlaku waspada dan hati-hati, jangan sampai urusan kita ini tersiar luas!”

Pengemis-pengemis tua yang lainnya juga telah mengangguk-anggukkan kepalanya walaupun mereka tidak ada seorangpun yang membuka mulut.

Keng Can menghela napas.

'Tetapi menurut pendapat Siauwte, bahwa urusan ini kalau memang kita melakukannya dengan penuh hati dan juga serius niscaya rencana kita itu akan berhasil dengan gemilang!” katanya.

'Tetapi Tan Kongcu harus ingat, bahwa segalanya ini harus kita lakukan tidak boleh terlalu lama lagi!!” kata pengemis tua yang tadi. “Kalau kita melakukannya lebih lama, jelas hal ini akan sampai ke telinga orang-orang Kaypang!”

Mendengar perkataan pengemis tua itu, Tan Keng Can tampak menganggukkan kepalanya sambil mengiyakan juga.

'Hal itu memang sudah kupikirkan juga!” katanya dengan suara yang perlahan dan sepasang alisnya yang mengkerut dalam-dalam.  Tampaknya seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.

“Kalau sampai urusan ini terdengar oleh orang-orang Kaypang, jelas kita akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil!”

“Benar! Maka dari itu, kita harus menyelesaikan  rencana kita jangan terlebih lama lagi. Kalau sudah berhasil, kita harus cepat -cepat membubarkan diri, karena kalau sampai pihak Kaypang mengetahui permainan kita ini, jelas kita menghadapi kesulitan yang tidak kecil, karena di Kaypang terdapat banyak sekali jago-jago yang liehay, maka kalau pihak Kaypang mengetahui permainan kita, jelas mereka akan mengirim orang-orangnya!”

Mendengarkan percakapan Tan Keng Can dan pengemis-pengemis tua itu, hati Wie Tu Hong jadi kaget bukan main, karena segera juga dia mengetahui bahwa Tan Keng Can dan orang-orangnya  itu ternyata mereka bukan dari Kaypang!

 “Pantas saja tidak ada seorangpun diantara mereka yang kukenal, kalau begitu mereka memang bukan dari Kaypang!” berpikir Wie Tu Hong di dalam hatinya dengan perasaan terkejut. “'Hmm, tetapi apa maksud mereka melakukan penyamaran menjual nama Kaypang? Pekerjaan dan rencana bagaimana yang sedang mereka susun?”

Banyak pertanyaan lainnya yang berkecamuk di dalam hati Wie Tu Hong.

Namun Wie Tu Hong tidak bisa memperoleh jawabannya itu.

Dengan sendirinya Wie Tu Hong jadi bingung juga, karena dia benar- benar tidak mengetahui sebenarnya Tan Keng Can dan orang-orangnya itu menyamar sebagai orang Kaypang untuk tujuan apa. Juga Wie Tu liong tidak mengetahui rencana yang sedang disusun oleh Tan Keng Can tu sebetulnya rencana yang bagaimana?!

Dengan penuh kewaspadaan Wie Tu Hong terus  juga memasang telinganya untuk mendengarkan lebih lanjut percakapan Tan Ke Can dan orang-orangnya itu.

Tetapi Tan Keng Can dan pengemis tua tidak bercakap-cakap  lebih lanjut, hanya terdengar pemuda she Tan itu telah berkata : “Sekarang lebih baik kita beristirahat saja!”

Dan selanjutnya tidak terdengar suara mereka lagi. Keadaan jadi hening sekali. Rupanya Tan Keng Can dan kawan-kawannya itu telah beristirahit di kamar tersebut.

Setelah mendekam sekian lama lagi untuk memasang kuping, dan setelah mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang bisa didengarnya lagi, maka Wie Tu Hong telah beringsut dari tempatnya itu.

Kemudian setelah agak jauh, dia menjejakkan tubuhnya. Denpan cepat Wie Tu Hong telah berlari-lari mengambil jalan di atas genting. Wie Tu Hong bermaksud akan cepat-cepat pulang ke tempat dimana kawan-kawannya tengah menantikan kedatangannya, saat itu hari mulai gelap.

DENGAN Cepat Wie T u Hong telah dapat kembali berkumpul dengan kawan-kawannya. Dia tidak menemui kesulitan di dalam  perjalanan pulang, karena dia memang memiliki ginkang yang  sempurna, sehingga dia bisa bergerak leluasa. Apa lagi memang hari mulai gelap menjelang malam, dengan sendirinya Wie Tu Hong biarpun mengambil jalan di atas genting rumah penduduk, tokh tidak begitu menarik perhatian orang.

 “Kalau begitu Tan Keng Can dan orang-orangnya itu memang bukan orang-orang Kaypang!!” kata Ming Sing Siansu setelah mendengar cerita Wie Tu Hong.

“Kurang ajar benar!!” memaki si buntung, Thang Lan Hoa dan Tang Siauw Bun, “Kita tidak toleh membiarkan keadaan ini berlangsung terus! Kita tidak boleh membiarkan Tan Keng Can meneruskan sandiwaranya itu! Walaupun apa tujuannya, kita tidak perlu tahu , karena yang terpenting dia telah berusaha untuk mencatut nama baik pihak Kaypang, bukankah ini bisa berabe! Maka dari itu, kalau memang kita ingin agar peristiwa ini jangan berlarut-larut, salah seorang diantara kita harus cepat-cepat pergi melaporkan hal ini kepada Kaypang, kalau memang bisa dijumpai adalah Pangcu golongan Kaypang itu! Hmmm, kalau pihak Kaypang mengetahui, jelas pihak Kaypang akan segera mengambil tindakan, nanti baru jelas duduk perkaranya, sebenarnya apa yang diinginkan oleh Tan Keng   Can   dan kawan-kawannya itu?”

“Benar!!” kata Wie Tu Hong cepat. “Memang kita harus memberitahukan kejadian ini kepada pihak Kaypang, agar nama baik Kaypang tidak dirusak oleh beberapa orang kurang ajar ini! Tentu saja aku selamanya terheran-heran, sebab di dalam sekian banyak anggota pengemis-pengemis  itu, tidak ada satupun yang kukenal!!”

Mereka segera berunding langkah-langkah apa yang harus mereka lakukan.

“Sekarang kita atur begini saja!” kata si Buntung mencoba memberikan saran. “Bagaimana?”tanya Thang Lan Hoa.

“Kita utus salah seorang diantara kita untuk  mencari kontak dengan pihak Kaypang, yang lainnya tetap berdiam di kota raja ini, selain untuk menyerapi dan menyelidiki keadaan Peng Po Siang Sie See Un, juga kita sambil membagi waktu untuk menurunkan kepandaian kita kepada Cin Ko!! Bagaima- na?! Kalian setuju?”

Yang lainnya sudah lantas menyetujui saran yang dikemukakan oleh si buntung. Segera juga mereka merundingkan siapa yang mau pergi  untuk mencari kontak dengan pihak Kaypang yang sesungguhnya.

Akhirnya Wie Tu Hong menawarkan dirinya lagi, karena menurut Wie Tu Hong, dia yang memperoleh berita itu, dan mendengar cara berkata dari Tan Keng Can dan kawan-kawannya, sehingga nanti dia akan lebih leluasa

 menceritakan segalanya itu kepada pihak Kaypang. Maka dari itu, yang lainnya juga sudah lantas menyetujuinya. Segera juga Wie Tu Hong telah mengatur cara kberangkatannya.

Cin Ko juga sudah diberitahukan perihal itu, dan Cin Ko merasa berat sebetulnya untuk berpisah dengan Wie Tu Hong, karena setidak-tidaknya dia merasakan selama beberapa hari ini, Wie Tu Hong selalu memperlakuka n dirinya baik dan lemah lembut.

Tetapi karena urusan ini memang merupakan urusan yang besar juga, yang mempunyai sangkut paut dengan pihak Kaypang, dengar sendirinya keberangkatan Wie Tu Hong tidak bisa ditangguhkan lagi.

Malam itu Wie Tu Hong telah mengaso dulu, dan besok paginya, menjelang fajar, Wie Tu Hong telah pamitan untuk mulai melakukan perjalanan. Sebetulnya jago-jago tua yang lainnya berikut Cin Ko bermaksud akan mengantarkannya.

Tatapi Wie Tu Hong telah menolaknya, melarang  mereka mengantarkannya. Karena menurut Wie Tu Hong, kalau memang mereka melakukan perjalanan berkelompok  begitu, jelas akan menimbulkan kesulitan dan kecurigaan juga bagi pihak musuh.

Maka dari itu menurut anggapan Wie Tu Hong, memang lebih baik dia berangkat seorang diri tanpa diantar lagi. Dan yang lainnya juga membenarkan pendapat Wie Tu Hong. Maka, keberangkatan Wie Tu Hong itu secara diam- diam saja. Tidak ada seorangpun diantara jago tua itu yang  mengantarkan kepergian Wie Tu Hong.

Cin Ko sendiri sejak saat itu terus juga melatih  diri dengan giat.  Cin Ko memperoleh kemajuan yang pesat, karena dia tela h menerima bermacam- macam ilmu yang baru. Kalau tadinya dia memang telah  memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tetapi dengan turun tangannya jago-jago tua lainnya yang ber sama-sama gurunya ikut mendidik Cin Ko membuat Cin Ko bisa memperoleh kemajuan yang pesat bukan main.

Apa lagi memang si Buntung biarpun bercacad pada kedua kakinya, namun i lmu silatnya ternyata hebat sekali. Dia menurunkan seluruh kepandaiannya yang dimiliki oleh si Buntung.

Karena takut nanti waktu mereka terlalu sempi t, sengaja si Buntung telah menurunkan dulu seluruh Kauw-hoat (teori silat) yang di milikinya, sampai yang sekeci l- kecilnya. Dia meminta agar Cin Ko menghafalnya benar-benar, menyimpannya di dalam hati. Hal ini dilakukan si Buntung karena dia ta kut ada kejadian yang di luar dugaan, umpama kata suatu saat

 nanti mereka terpaksa berpisah sehingga Cin Ko tidak bisa menyelesaikan pelajarannya.

Tetapi kalau memang Kauw-hoat ilmu silatnya sudah dihafal oleh Cin Ko, jelas Cin Ko nantinya bisa mempelajari sendiri jurus-jurus  yang belum diturunkan oleh si Buntung.

Begitu pula dengan jago-jago tua lainnya, mereka menganggap bahwa cara si Buntung bagus sekali. Jago-jago tua yang lainnya juga telah mengambil cara seperti si Buntung.

Mereka telah meminta agar Cin Ko menghafalkan seluruh Kauw-hoat ilmu silat mereka. Dengan sendirinya Cin Ko telah menerima seluruh kepandaian dari guru-gurunya itu.

Tetapi seluruhnya itu hanya baru berupa teori belaka,  yang harus dihafalnya dan diingat-ingatnya di dalam otaknya. Sedangkan prakteknya sejurus demi sejurus setiap harinya dia menerima pelajaran il mu silat tersebut masing-masing. Tetapi yang jelas, Cin Ko sudah memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Setiap harinya tanpa mengenal telah Cin Ko telah melatih diri. Di dalam satu harinya Cin Ko hanya tidur kalau memang dia sudah lelah benar. Itupun dilakukannya hanya untuk dua atau tiga jam saja. Selanjutnya Cin Ko sudah melatih diri lagi. Begitulah, siang dan malam Cin Ko telah melakukan latihan giat bukan main.

Guru-gurunya yang menyaksikan ketekunan yang dimiliki oleh Cin Ko, dengan -sendirinya jadi girang bukan main, mereka mendoakan agar Cin Ko kelak bisa menjadi seorang jago yang benar-benar hebat dan tangguh sekali. Karena harapan jago-jago tua itu diletakkan di punggung Cin Ko, agar kelak dia yang dapat membalas sakit hari Peng Po Siang      Sie

See Un, kakek dari Cin Ko ini.

Suatu pagi, dikala Cin Ko sedang melatih diri dengan tekun, tampak si Buntung telah keluar dari kamarnya dengan cara berjalan mempergunakan kedua telapak tangannya. Tubuh si Buntung telah mencelat ke atas kursi dan bercokol di situ.

Tidak ada suara yang dikeluarkannya, karena dia tidak mau memecahkan perhatian Cin Ko, memecahkan perhatiannya berarti mengganggu  ketekunan Cin Ko untuk melatih diri. Itulah sebabnya si Buntung hanya berdiam diri saja menyaksikan betapa Cin Ko tengah mempergunakan gerakan yang bukan main

 kuat dan bertenaga, jurus-jurus yang sedang dilatih oleh Cin Ko adalah ilmu silat yang diturunkan oleh Thang Lan Hoa

Tetapi walaupun belum begitu lama Cin Ko dilatih mempergunakan ilmu silat Thang Lang Hoa, namun  kenyataannya kemajuan yang diperoleh Cin Ko sangat pesat sekali. Si Buntung yang menyaksikan keadaan demikian  jadi girang bukan main.

Jelas kalau sampai dua atau tiga tahun jago-jago tua itu memiliki kesempatan guna menggembleng Cin Ko terus, niscaya Cin Ko akan memperoleh kemajuan yang lebih pesat lagi.

Cin Ko sendiri biarpun tengah melatih diri dengan tekun, namun dia telah melihat kehadiran si Buntung. Maka dari itu, setelah menyelesaikan  jurus terakhir dari ilmu yang tengah dilatihnya, Cin Ko menyudahi latihannya.

Cepat-cepat Cin Ko menghampiri si Buntung, lalu menekuk kedua kakinya, dia telah memberi hormat kepada si Buntung dengan berlutut.

“Suhu!” panggilnya dengan suara yang hormat sekali.

Si Buntung telah mengangguk sambil tersenyum dan menggerakkan tangan kanannya memberi landa agar Cin Ko bangun dari berlututnya itu.

Cin Ko telah duduk dengan sikap yang menghormat menuruti pernah gurunya itu.

“Baik sekali cara berlatih yang kau lakukan tadi, Kojie!” puji si Buntung atas kecekatan dan kegesitan yang dilakukan oleh Cin Ko. “Kalau memang kau mau mempelajari lebih tekun lagi, niscaya kelak sukar mencari tandingan untuk dirimu!!-

“Suhu terlalu memuji!!” cepat-cepat  Cin Ko merendahkan diri. “Masih

banyak petunjuk yang tecu butuhkan dari Suhu!”

Si Buntung tertawa tergelak-gelak dengan suara yang nyaring sekali. Dia tampaknya girang sekali melihat manis budi dari muridnya ini.

“Kojie, memang setiap manusia itu harus berjuang terlebih dahulu kalau ingin memperoleh sukses yang besar di dalam hidupnya! Dan begitu pula dengan dirimu berarti kau juga harus berusaha keras untuk dapat mempelajari ilmu-ilmu yang diturunkan baik olehku, maupun oleh guru-gurumu  yang lainnya! Maka dari itu, dengan cara berlatih  yang kau lakukan, walaupun sekarang ini kau tampaknya agak payah, dan selalu disibuki  oleh latihan- latihanmu itu, toch kenyatannya nanti kau bisa menarik buahnya yang hebat. Syukur-syukur kalau nantinya kau bisa menjadi pemimpin orang-orang di

 dalam rimba persilatan dengan menjadi jago nomor wahid di dalam duma persilatan!! Tetapi, yang jelas kau harus belajar dengan tekun beberapa tahun lagi! Persoalan kakekmu itu, kau tidak usah terlalu banyak berpikir Kojie!”

Mendengar si Buntung menyinggung persoalan kakeknya, Cin Ko menundukkan kepalanya dan wajahnya tampak sinar duka yang bukan main.

Si Buntung yang melihat keadaan Cin Ko sudah dapat menerka perasaan apa yang tengah berkecamuk di dalam jiwa Cin Ko

“Persoalan kakekmu itu merupakan persoalan yang besar Cin Ko, persoalan itu dengan sendirinya tidak bisa diselesaikan di dalam waktu-waktu yang singkat! Hongte (kaisar) sendiri ingin turun tangan untuk membinasakan Yayamu (kakekmu) itu jelas harus berpikir seribu kali, karena setiap dia menurunkan hukuman mati kepada seseorang, jelas hal itu akan membawa akibat yang besar sekali, karena kaisar baru turun tangan sendiri kalau orang yang diadilinya itu adalah orang yang besar pengaruhnya! Dan di dalam persoalan Yayamu itu, jelas Hongte tidak bisa sembarangan menjatuhkan hukuman yang tidak adil, karena pengaruhnya akan hebat sekali, rakyat tentu bisa memherontak! Maka dari  itu, untuk mencegah hal seperti ini, sengaja kaisar mengambil jalan tengah, seperti yang sering dilakukan oleh ayah dan kakek kaisar itu sendiri, yaitu disaat untuk menenangkan suasana, maka kakekmu itu jelas hanya akan dikurung saja dulu! Entah lima tahun, entah sepuluh tahun, tetapi yang jelas kakekmu itu tidak akan diadili di dalam waktu yang singkat!”

Cin Ko semakin menundukkan kepalanya, tampak dari matanya telah mengalir air mata.

“Jangan menangis, Kojie!” kata si Buntung setelah menghela naps. Sebetulnya hati si Buntung juga sedili bukan main melihat keadaan Cin Ko. Dia dapat merasakan kedukaan yang sedang diderita oleh Cin Ko. “Seorang lelaki jantan dan ksatria, tidak jeri menghadapi kesulitan hidup, maka dari itu, hapuslah air matamu, janganlah kau menangis!”

Cin Ko mengiyakan, dia menuruti perintah gurunya ini. Dihapusnya air matanya, dia telah berhenti menangis walaupun hatinya masih berduka bukan main. Tetapi disebabkan Cin Ko malu kalau dikatakan bukan sebagai lelaki sejati atau ksatria, maka dengan sendirinya dia telah berhenti menangis dan mengeraskan hatinya agar tidak menangis kembali.

“Bagus!” kata si Buntung setelah Cin Ko tidak menangis lagi. “Dan persoalan dendam kakekmu itu, jelas biar bagaimana kelak kau harus membalaskannya! Tetapi kesempatan itu masih ada besar sekali pada dirimu!

 Entah        lima        tahun        atau        berapa        tahun        lagi,        kau harus akan berhasil menjadi seorang jago yang memiliki kepandaian  yang tinggi sekali, maka disaat itulah kau dapat mela mpiaskan dendammu itu! Mengerti Kojie?”

“Mengerti Suhu!” sahut Cin Ko   sambil   menganggukkan   kepalanya. “Nah, sekarang pergilah kau melatih diri lagi, aku ingin merundingkan

sesuatu dengan guru-gurumu yang lainnya!” kata si Buntung.

Cin Ko mengiyakan, dan si Buntung sendiri telah menekan kedua tangannya pada kursi dimana dia bercokol, tubuhnya mencelat cepat sekali, meninggalkan ruangan itu. Cin Ko berdiri termenung sejenak, mengawasi kearah pintu dimana si Buntung tadi telah lenyap, setelah menghela napas beberapa kali, dengan sikap yang agak lesu, barulah Cin Ko meneruskan latihannya.

MARI kita tinggalkan Cin Ko dengan para Hohan (orang gagah) itu.

Di kota Cing su khio terdapat seorang penjual peti mati, perusahaan peti mati ini cukup besar. Pemilik perusahaaw peti mati tersebut adalah seorang janda tua yang telah berusia diantara enam puluh tahun. Sejak kematian suaminya, janda tua ini hidup  seorang diri saja, karena diapun  tidak mempunyai anak atau turunan.

Maka dari itu, janda tua ini hanya mengandalkan pendapatannya dari membuka perusahaan peti mati itu, dengan mengambil beberapa orang pekerja yang mengerjakan peti- peti mati ini. Walaupun hasil keuntungan dari penjualan peti mati itu tidak begitu besar, namun kenyataannya janda tua itu bisa juga melewati hari-harinya dengan sederhana.

Kota Cing-su-khio merupakan kota yang cukup besar dan luas, sehingga boleh dibilang perdagagan kota itu sangat ramai.

Pada pagi itu, diperkirakan baru terang tanah, karena matahari baru muncul belum lama, tampak seorang lelaki berusa diantara tiga puluh tahun dengan berpakaian seperti Bosu (guru silat), telah mendatangi rumah  janda penjual peti mati itu.

Ketika melihat Bosu (guru silat) itu, si janda penjual peti mati tersebut telah berteriak gila: “Ohhh, kau Lang Suhu (guru Lang), apa kabar sehingga dipagi hari buta begini kau sudah datang kemari?!”

 “Hai! Hai! Ada kabar buruk, Lung-so!” seru Bosu itu dengan suara yang jengkel. “Benar-benar suatu kejadian yang aneh!!”

Muka si janda itu yang dipanggil Lung-so,  jadi memperlihatkan rasa heran yang sangat.

“Ada kabar buruk? Memangnya ada kejadian  hebat yang bagaimana, Lang Suhu?” tanya Lung-so kemudian sambil mengawasi si guru silat dengan tatapan mata yang tajam.

Si Bosu telah menghela napas lagi dengan muka yang susah.

“Hai! Memang kalau diceritakan orang tidak akan mempercayainya!” kata si Bosu kemudian. “Percayakah kau Lung so, kalau memang di dalam dunia ini terdapat setan?”

“Hei, apa kau bilang?” tampaknya Lung-so  begitu terperanjat, mukanya juga langsung saja telah berobah menjadi pucat.

“Percaya atau tidak bahwa di dalam dunia ini terdapat setan?” “Ti tidak!”

“Yang benar jawabnya! Percaya atau tidak?”

“Di dunia mana....... mana bisa ada setan?” menyahuti si pemilik

perusahaan peti

mati ini. “Sudah tentu itu hanya dongengan belaka!”

“Nah, kau sendiri mengatakan di dunia ini tidak ada setan, tetapi malam tadi aku benar-benar telah bertemu dengan setan penasaran!”

“Hah?”

“Benar-benar semalam aku telah bertemu dengan setan penasaran!” “Jangan berdusta, Lang Suhu!” kata Lung-so dengan perasaan ngeri.

“Apa untungnya aku mendustai dirimu?” menyahuti si guru silat she Lang itu. “Aku memang benar-benar telah bertemu dengan setan penasaran, itu menunjukkan bahwa nasibku sedang jelek!”

“Tetapi        ”

“Dan setan penasaran itu memerintahkan kepadaku agar membelikannya sebuah peti mati!” lanjut Lang Suhu tanpa menantikan si Lung-so itu sempat mengeluarkan pendapatnya.

 “Hah?” J

“Aneh kedengarannya, bukan?” “Be benar!”

“Maka dari itu, aku sendiri tidak habis mengerti!” “Mungkin juga kau hanya bermimpi saja, Lang Suhu!”

“Bagaimana dikatakan bermimpi, sedangkan aku sendiri semalam tengah melakukan tugas menjaga rumah Bun Wangwe (hartawan she Bun), dan aku bertemu dengan setan penasaran itu sekitar jam dua belas malam tepat!!”

“Aneh!”

“Tidak aneh, tetapi menakutkan!”

“Tetapi mengapa setan itu bisa meminta peti mati?” tanya Lung-so dengan penuh keheranannya. “Sumur hidupku baru kali ini kudengar! Inilah keanehan yang kumaksud itu! Biasanya kalau ada setan-setan penasaran, jelas setan-setan penasaran itu akan meminta disembahyangkan atau sesajian, tidak ada yang meminta peti mati!”

“Justru ini yang telah membingungkan benar hatiku! Dia tidak meminta disembahyangkan, tetapi meminta peti mati, lalu untuk apa peti mati itu?! Aku sudah mengiyakannya dan meluluskan permintaannya, karena malam tadi aku ketakutan setengah mati melibat wajahnya yang begitu buruk, kalau aku tidak menepati janjiku, bisa malam ini dia muncul kembali, ihhh!” tampaknya guru silat itu benar-benar ketakutan.

Memang Lang Suhu ini mengerti ilmu silat yang cukup tinggi. Di kota ini dia dikenal sebagai seorang guru silat. Penduduk semuanya menaruh segan dan , menghormati guru silat ini.

Memang guru silat tersebut boleh tidak jeri terhadap penjahat mana saja, dia boleh tidak takut terhadap senjata tajam, tetapi kalau menghadapi setan penasaran? Yang jelas bulu kuduknya jadi meremang berdiri semuanya!

“Inilah aneh!” mengumam Lung-so dengan perasaan heran dan ngeri. “Baru pertama kali aku mendengar ada setan penasaran yang meminta peti mati! Apakah waktu setan penasaran itu masih berbentuk manusia dan menemui ajalnya, dia tidak dikubur sewajarnya, dikubur tidak memakai peti mati-sehingga perlu setannya itu datang meminta mati kepadamu, Lang Suhu?!”

“Entahlah?”

“Atau mungkin juga setan penasaran itu adalah salah seorang sanak familimu

 yang dikuburnya tidak baik, sehingga dia datang kepadamu untuk meminta

agar kau yang membelikan peti matinya!”

“Hmmm yang jelas setan penasaran itu sangat mengerikan sekali wajahnya!!” kata guru silat itu dengan wajah yang agak pucat. i

“Jadi kedatanganmu kemari untuk membeli peti mati?”

“Benar! Tetapi kau harus menghitungnya jangan mahal-mahal,  karena ini hanya untuk kuberikan sebagai sumbangan kepada setan pena saran itu!”

Lung-so tertawa.

“Yang d;elas aku belum pernah menjual peti mati dengan harga yang mahal, kau tidak usah takut, asal ada untungnya sedikit saja, akan kuberikan!” kata Lung-so kemudian.

Begitulah, setelah tawar menawar, akhirnya guru silat she Lang tersebut membayar harga peti mati yang dibelinya. Guru silat ini juga telah meminta agar Lung so mengantarkan peti mati itu ke rumahnya.

Lung-so memberikan janjinya bahwa barang pesanan langganannya ini akan datang sampai di tempat. Sore ini dia akan memerintahkan kepada kdua orangnya guna mengantarkan peti mati itu ke rumali guru silat she Lang tersebut.

Hari itu, ada dua pembeli lainnya yang telah membeli dua peti mati. Dengan scndirinya boleh dibilang hari ini Lung-so bisa memperoleh pemasukan yang cukup besar

Sore harinya, setelah tukang pembuat peti ma tinya itu selesai dengan pekerjaannya, Lung-so telah memerintahkan dua orang diantara mereka untuk pergi mengantarkan peti mati yang menjadi pesanan dari guru silat she Lang itu.

Ternyata rumah guru silat she Lang tersebut tidak begitu besar. Tetapi rupanya guru silat itu saking ketakutan pada setan penasaran yang telah menyatroni dirinya, sehingga dia telah mempersiapkan   segala-galanya. Malahan perlengkapan sembahyang juga telah dipersiapkannya.

Waktu peti mati tiba, tampak Lang Suhu tengah sibuk untuk mengatur persiapan sembahyangnya itu, karena dia tidak mau diganggu pula oleh setan penasaran yang pernah di dijumpainya.

Begitu pula isten Lang Suhu ini, telah sibuk membantu suaminya. Setelah lewat sekian lama segalanya siap untuk diatur. Peti mati itu telah diletakkan di muka meja sembahyang. Segala-galanya diatur persis seperti juga di rumah

 Lang Suhu terdapat kematian. Bau hio telah memenuhi ruangan rumah Lang Suhu

Perihal guru silat ini didatangi oleh setan penasaran, telah tersiar luas. Ada yang takut untuk datang, tetapi ada pula yang penasaran, dan telah berduyun-duyun berdatangan untuk menyaksikan apa yang   akan dilakukan oleh Lang Suhu ini setelah dirinya disatroni oleh setan penasaran itu, yang meminta agar dibelikan peti mati tersebut.

Sikap dan kelakuan Lang Suhu mirip seperti juga dikeluarganya itu ada yang kematian. Karena Lang Suhu sendiri sibuk telah memasang hio, mengatur jalannya sembahyang tersebut. Keadaan demikian berlangsung sampai tengah malam, menjelang kentongan ketiga. Saat itu tamu-tamu yang berdatangan juga sebagian besar sudah pulang, dengan sendirinya keadaan di rumah Lang Suhu mulai sepi.

Disaat itulah perasaan ngeri telah meliputi hati Lang Suhu ini. Diantara suasana tengah malam yang semakin mencekam dan penuh diliputi perasaan yang mengerikan sekali, maka Lang Suhu tidak mau terlalu jauh duduk dari isterinya, karena perasaan ngeri mulai menguasai hatinya.

Yang tetap tinggal di ruangan rumah Lang Suhu itu hanya tinggal kurang lebih enam orang saja, mereka inipun duduk berkelompok  tengah bercakap- cakap.

Suasana malam itu sepi sekali. Tetapi di dalam kesepian seperti itu, tiba- tiba terdengar suara yang melengking tinggi, di kejauhan dan samar-samar namun jelas. Terdengarnya suara ini mengerikan sekali, seperti salak serigala kelaparan. Tentu saja Lang Suhu dan yang lainnya jadi menggidik ngeri.

Apa lagi memang pada saat itu hawa udara dicampur oleh asap hio.

Dengan sendirinya  keadaan jadi timbul suasana yang menyeramkan.

Isteri Lang Suhu telah mencekal tangan suaminya, telapak  tangan perempuan ini dingin sekali seperti direndam  dalam es. Tubuh Lang Suhu sendiri tergetar.

“Su    suara apa itu?” tanya Lang Suhu dengan suara agak tergetar. “Hmm mungkin juga suara itu suara anjing saja!” sahut isterinya dengan

perasaan ngeri juga.

“Tetapi         suara itu aneh sekali kedengarannya.” “Be benar!”

Dan baru saja Lang Suhu mau berkata-kata lagi, telah terdengar lagi suara lolong itu. Namun sekarang suara itu semakin tergencar jelas dan dekat

 sekali. Dan untuk terkejutnya Lang Suhu dan orang-orang yang terdapat di dalam ruangan itu, malah tahu-tahu diatas peti mati itu telah berdiri sesosok tubuh. Untuk terkejutnya juga, sosok tubuh itu memakai baju serba putih.

Dan wajah makhluk itu menyeramkan sekali, dengan rambutnya yang terurai ke bahunya. Angin berhembus sepoi-sepoi mempermainkan jubah putih makhluk itu.

Benar-benar suasana seperti ini mengerikan sekali  apa lagi dicampur oleh bau asap hio, membuat makluk yang memakai juban putih itu seperti juga setan penasaran yang baru muncul dari peti mati! Dan yang paling terkejut adalah Lang Suhu sendiri.

Kenapa? Karena segera juga dia mengenalinya bahwa  makluk yang memakai jubah putih tersebut adalah makluk yang dikatakannya sebagai Setan Penasaran yang baru dijumpainya semalam.

Kontan tubuh Lang Suhu telah gemetaran keras sekali. Biarpun dia seorang ahli ilmu silat, tetapi untuk berurusan dengan setan penasaran, jelas dia jeri dan tidak mempunyai keberanian. Malah belum apa-apa dia sudah merasakan seluruh tubuhnya sudah lemas.

Terdengar makluk yang memakai jubah putih yang mengerikan itu, telah tertawa kiki-kikikan yang aneh sekali. Beberapa orang sisa tamu dari Lang Suhu, sudah cepat-cepat  kabur meninggalkan tempat itu dengan perasaan takut bukan main.

Dengan sendirinya, yang tinggal di tempat tersebut hanya Lang Sunu dan isterinya.

“Hihihihi ternyata kau seorang manusia yang cukup baik!” kata 'setan

penasaran'

itu dengan suara yang menyeramkan sekali.

“Kami ....kami berusaha untuk memenuhi permintaanmu!!” kata Lang

Suhu dengan suara yang gemetar

“Bagus! Memang kau telah membuktikan bahwa kau telah membelikan aku peti mati!” kata setan penasaran itu dengan suara yang tawar dan menyeramkan sekali, mukanya juga menakutkan. 'Tetapi           disamping      itu kau telah melakukan kesalahan juga!”

“Iiihhh?”

“Kau   melakukan kesalahan yang cukup besar.”

 “Kalau....kalau kami boleh tahu kesalahan apa yang telah kami lakukan?

Bukankah kami telah bersusah payah untuk membeli peti mati ini?”

“Benar! Tetapi aku meminta agar peti mati ini jangan diletakkan di rumahmu seperti ini, tetapi kau harus mengirimnya ke permukaan hutan di sebelah timur dari kota ini!”

“Kami tadinya kami tidak tahu!” kata Lang Suhu terkejut.

“Tetapi sekarang kau sudah tahu. bukan?”

Muka si Bosu jadi berobah pucat disanggapi begitu oleh si setan.

“Jadi...jadi malam-malam begini kami harus mengantarkan peti mati ini?” “Benar!” “Tetapi ”

“Ingat, tidak ada tawar menawar antara setan dan manusia!” “Tetapi ”

“Kau takut untuk mengantarkannya ke sana?” “Benar ”

“Kalau begitu biarlah aku yang pergi me mbawanya!” kata setan penasaran itu.

“Kalau.......... kalau memang sekiranya tidak merepotkan dirimu?” “Hmmm!” setan penasaran itu telah tertawa dingin.

Tahu-tahu dia telah melompat turun dari atas peti mati itu, dia telah mengulurkan tangannya, dan 'blakkk’ tahu-tahu peti mati itu telah diangkatnya dan terpanggul dibahunya.

Inilah suatu pertunjukan yang bukan main hebatnya. Lang Suhu sendiri sebagai guru silat, belum tentu sanggup melakukan perbuatan yang dilakukan oleh setan itu.

Tetapi si setan sendiri dengan mudah dapat mengangkat peti mati itu. Dengan sendirinya dugaan Lang Suhu semakin kuat bahwa setan penasaran ini benar-benar hantu penasaran.

“Terima kasih atas kebaikanmu yang telah membelikan peti mati ini!”

kata si setan penasaran itu sambil tersenyum  mengerikan. Ternyata  telah

 terjadi suatu keanehan lagi, karena tampak setan penasaran itu  telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat cepat sekali. Tubuhnya telah melompat ke atas genting, dan berlari-lari ringan, walaupun dibahunya tergemblok peti mati yang berukuran besar itu .

Hanya di dalam waktu yang sangat singkat, setan penasaran itu telah lenyap dari pandangan mata.

Lang Suhu yang telah menyaksikan kejadian hebat itu jadi memandang bengong. Lama dia memandang bengong begitu, sampai akhirn ya dia tersadar dari bengongnya, karena dia mendengar suara 'brakkkk' yang keras sekali disampingnya.

Waktu Lang Suhu menoleh kesampingnya, ternyata suara itu timbul karena tubuh isterinya telah rubuh pingsan menggeletak di atas tanah! Rupanya isteri Lang Suhu ini sejak tadi telah ketakutan bukan main. Dan sekarang, di kala setan penasaran itu telah pergi dengan sendirinya dia sudah tidak bisa mempertahankan dirinya lagi perempuan itu telah rubuh pingsan!

Lang Suhu jadi sibuk menolong isterinya ini, dia merasakan  kedua tangannya sendiri juga masih gemetaran waktu mencoba mengangkat tubuh isterinya itu, perasaan takut masih menguasai dirinya.

Berulang kali Lang Suhu telah menyebut-nyebut kebesaran sang Budha, agar dirinya dihindari dan tidak bertemu dengan setan penasaran seperti itu lagi.

SETAN penasaran yang memanggul peli mati itu, telah bergerak cepat sekali. Walaupun pada bahunya tergemblok peti mati yang berbobot berat itu, namun kenyataannya setan penasaran itu masih bisa berlari dengan cepat.

Gerakan dari setan penasaran itu benar-benar ringan sekali, tidik mirip- miripnya dengan gerakan seorang manusia, karena setan penasaran itu dapat berlari seperti juga angin belaka, tidak menimbulkan suara. Hanya di dalam sekejap mata saja, setan penasaran itu sudah berada di luar kota tersebut. Dia juga masih berlari.

Ketika sampai di muka sebuah hutan kecil dibagian timur dari kota itu, barulah setan penasaran itu menghentikan larinya. Dia meletakkan peti mati yang dibawanya itu di atas tanah, kemudian memasukkan kedua jari tangannya di mulutnya, dan terdengar suara siulan yang panjang dan nyaring sekali.

Tidak lama terdengarnya suara siulan i tu, terdengar suara siulan lainnya sebagai tanda menyahutinya siulan dari setan penasaran tersebut. Tidak lama

 kemudian tampak dari dalam hutan itu telah mencelat keluar sesosok bayangan putih. Ternyata sosok bayangan putih itu berpakaian dan keadaannya sama dengan setan penasaran yang tadi membawa peti mati tersebut.

Mereka tampak kasak-kusuk membicarakan sesuatu, kemudian 'setan penasaran' yang baru keluar dari dalam hutan itu menunjuk-nunjuk ke arah dalam hutan tersebut.

Si Setan penasaran yang pertama telah menganggukkan  kepalanya berulang kali. Kemudian tampak keduanya telah mengangkat bersama-sama peti mati tersebut. Apa yang mereka lakukan itu sangat cepat sekali, mereka juga bergerak ringan memasuki hutan yang lebat tersebut. Hanya di dalam sekejap mata saja, mereka telah berada di dalam hutan itu.

Salah seorang d'antara mereka telah mengeluarkan suara siulan pula. Dan memperoleh sahutan suara siulan yang ramai dari dalam hutan tersebut.

Suara siulan sahutan itu ramai sekali, menunjukkan bahwa yang menjawab siulan itu sangat banyak sekali. Kalau memang pada saat itu di tempat tersebut terdapat seseorang yang menyaksikan  kejadian tersebut, biarpun nyalinya besar, tokh tetap saja dia akan ketakutan setengah mati, karena suara siulan yang beruntun itu seperti setan-setan penasaran tengah berpesta.

Apa lagi melihat keadaan setan-setan penasaran yang berpakaian dengan pakaian yang seluruhnya warna putih dengan rambut yang terurai begitu panjang. Dengan sendirinya, hal ini mau tidak mau akan membuat seseorang yang  menyaksikan kejadian tersebut akan ketakutan setengah mati.

Cepat sekali kedua setan penasaran yang tengah menggotong peti mati tersebut telah sampai di tengah-tengah  hutan. Tetapi saat itu keadaan di tengah hutan tersebut sangat sepi. Tidak terlihat seorang manusia ataupun setan penasaran seperti mereka.

“Mana mereka yang lainnya?!” tanya si setan penasaran yang pertama tadi, karena dia tidak melihat kawan mereka, sedangkan tadi kawannya ini mengatakan bahwa kawan mereka tengah menantikan kedatangannya.

“Sudah jelas di tempat biasa!” sahut si setan penasaran yang kedua. “Hmmm kau seperti orang baru saja!”

Kawannya, si setan penasaran pertama telah menggumam dengan suara yang tidak jelas, tetapi dia berjalan terus. Benar saja, tidak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah lapangan.

Ditengah-tengah lapangan rumput itu telah berkumpul banyak sekali setan-setan penasaran yang berpakaian sama satu dengan yang lainnya seperti

 kedua setan penasaran itu. Ketika melihat kedatangan kedua setan penasaran tersebut, setan-setan penasaran lainnya yang berjumlah sekitar ratusan  itu, telah meluruk menghampirinya.

“Berhasil? Berhasil?!” tegur yang satunya dengan suara yang penuh

harap.

“Tentu saja berhasil! Apakah hanya mengambil  sebuah peti mati saja sulit dikerjakannya?!” menjawab si setan penasaran yang pertama.

“Bukan itu maksudku!” kata yang satunya. “Tadi telah diperintah oleh pemimpin kita agar membawa pedang pendek mustika itu kemari, apakah kau berhasil melakukannya! Hmmm, kalau hanya untuk pergi mengambil peti mati saja, pekerjaan itu mudah saja dilakukan, anak kecil juga bisa melakukannya!”

“Oh begitu!” kata si setan penasaran yang pertama. “Soal pedang pendek mustika itu, aku belum mengetahuinya!”

“Jadi bukan engkau yang diperintahkannya agar membawa pedang pendek mustika itu?”

“Bukan!” “Lalu siapa?”

“Aku mana tahu?!”

Tampaknya si Setan Penasaran yang bertanya-tanya begitu  jadi benar- benar-penasaran Dia berdiri menjublek sesaat.

“Minggir sedikit, kalau berdiri begini terus menerus dengan memanggul peti mati, lama-lama membuat semper dan pegal tangan kami berdua!” kati si setan penasaran yang pertama tadi, yang berdua memegang peti mati tersebut dengan sikap yang jengkel, karena kawan-kawannya  yang lainnya hanya pandai bertanya-tanya belaka.

Ditegur begitu, barulah setan penasaran yang lainnya menyingkir membuka jalan. Kedua 'setan pmasaran” yang menggotong peti mati itu telah membawa peti mati tersebut ke tengah-tengah lapangan. Diletakkan peti mati tersebut di atas panggung kecil yang dibuat dari kayu, peti mati itu angker sekali tampaknya dengan berada di tengah-tengah lapangan di atas panggung kayu itu.

Setelah itu, semua setan penasaran itu berkumpul dengan berkelompok. Terdengar diantara mereka kasak-kusuk dengan suara yang perlahan. Dengan sendirinya, sepintas lalu saja kalau ada yang melihatnya, jelas bahwa suasana

 itu seperti juga suasana dikala setan-setan tengah berpesta pora! Mengerikan sekali!

Setelah berselang sesaat, maka tampaklah salah seorang diantara setan- setan penasaran itu telah melompat ke atas panggung kecil itu.