-->

Manusia Jahanam Jilid 12

 
Jilid 12

Tang Siauw Bun tercekat hatinya, dia menggerak-gerakkan tubuh Ang So Siansu.

“Katakanlah Ang So! Ang So! Siapa musuh di dalam selimut itu?!” teriak Tang Siauw Bun. Tetapi Ang So Siansu sudah tidak bisa bicara selanjutnya, karena arwahnya sudah terbang meninggalkan raganya. Tang Siauw Bun menghela napas, dia jadi berpikir keras.

“Entah apa maksudnya dia meminta aku menyingkirkan dan menyembunjikan Kojie? Dan siapakah musuh di dalam selimut itu? Apa maksud Ang So ini?! Hai! Hai! Apakah ada kemungkinan orang -orang

pemerintah sudah mengetahui bahwa aku menyembunjikan Kojie di tempatku

ini?!”

Tetapi sedang Tang Siauw Bun berpikir keras begitu, dan dikala yang lainnya tengah berdiri mematung dengan sikap berdiam diri saja, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di luar kuil.

Hal ini tentu saja mengejutkan Tang Siauw Bun, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.  Cepat-cepat dia memerintahkan beberapa orang muridnya untuk memeriksa keadaan di luar kuil.

Dengan cepat murid-murid Tang Siauw Bun tetali pergi untuk memeriksanya. Tetapi mereka dengan cepat telah kembali lagi dengan tubuh yang agak gemetar dan wajah yang pucat.

“Suhu celaka Suhu pasukan tentara negeri telah mengurung tempat kita, sedang maju kemari! Mereka mengurung beberapa lapis, tidak mungkin kita menerjang keluar!” murid-murid Tang Siauw Bun memberikan laporan.

Yang lainnya nrndengar ini jadi gempar dan panik. Tang Siauw Ban sendiri jadi terkejut sekali. Dia meminta kepada murid-muridnya agar tenang.

Segera juga Tang Siauw Bun bisa meraba maksud Ang So Siansu meminta agar dia menyingkirkan Cin Ko dari kuil ini.

“San Liong!” panggilnya kemudian.

Dari murid-muridnya telah maju San Liong Sian su sambil mengiyakan.

“Cepat kau panggil San Hie dan Ing Tay Siansu!” perintahnya

Dengan cepat Hweshio itu telah pergi memanggil kedua murid kepala itu. San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu telah menghadap dengan cepat.

“Cepat kau bawa dan loloskan Kojie!” perintah Tang Siauw Bun kepada San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu. “Biar apapun yang terjadi, kalian harus berusaha untuk menyembunyikan dan membawa keluar Kojie, menyelamatkannya, karena ada suatu urusan besar yang terpikul oleh Sute kecil kalian ini!”

San Hie dan Ing Tay Siansu tanpa banyak cerewet telah menerima perintah itu. Mereka telah membawa Cin Ko yang saat itu jadi ketakutan mendengar suara gemuruh semakin terdengar jelas dan menakutkan. Cin Ko telah dibawa oleh San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu ke belakang kuil .

Sedangkan Tang Siauw Bun telah memberikan perintah kepada murid- muridnya agar bubar dan bersikap biasa, tidak boleh ada seorangpun yang memperlihatkan kegugupan, harus bersikap biasa dan kembali pada tugasnya masing-masing. Namun disamping itu Tang Siauw Bun juga telah memerintahkan murid-muridnya itu agar tetap untuk menghadapi sesuatu kemungkinan.

 Suara gemuruh di luar kuil semakin terdengar jelas, dan pintu kuil telah digedor dengan keras.

Seorang murid Tang Siauw Bun telah membukakan pintu kuil tersebut, walaupun dia berusaha hersikap tenang, tetapi wajahnya tetap agak pucat.

Ternyata di luar kuil telah berdiri seorang perwira dengan beberapa orang anak buahnya. Di belakangnya, agak jauh, tampak barisan tentaranya. Wajah perwira itu bengis sekali, angker dan berwibawa.

Cepat-cepat murid Tang Siauw Bun telah merangkapkan sepasang tangannya.

“Sianchay! Sianchay! Ada keperluan apakah  Ciangkun datang ke kuil

kami yang buruk ini?” tanya si Hweshio dengan suara menghor mat.

Perwira itu mendengus tertawa dingin, wajahnya tawar dan bengis.

“Hmmm. kalian telah menyembunyikan cucu dari seorang pengkhianat, maka dari itu, kuil kalian harus diperiksa! Kalau memang terbukti kabar itu benar, kalian akan ditangkap semuanya!”

Muka si Hweshio jadi berobah pucat. “Ciangkun    mungkin    ini    hanya

fitnah belaka!” kata si Hweshio

“Hmmmm! Tidak usah banyak bicara!” mendengus perwira itu. Dan

perwira ini telah menoleh kepada belasan anak buahnya.

“Cepat kalian geladah kuil ini!!” perintahnya dengan suara yang lantang.

Anak buah dari perwira tersebut menuakan, mereka dengan cepat telah

memasuki  “ itu, menerobos tanpa memperdulikan Hwe-shio itu lagi.

Semua ruangan kuil telah mereka atiak dan periksa.

Tang Siauw Bun icng melihat muridnya itu tidak bisa mengatasi keadaan, cepat-cepat telah keluar menemui si-perwira yang garang itu.

“Omitohud ! Omitohud!” berseru

Tang Siauw Bun sambil menghampiri perwira

itu. “Ada persoalan apakah sehingga anak buah Ciangkun (perwira)

mengatiak acakdan mengacau tempat suci ini?'

Mata perwira itu telah memandang  tajam kepada Tang Siauw Bun, dia memandang dengan sorot mata yang bengis.

“Engkaukah pemimpin kuil ini?” tegurnya dengan suara yang tawar Tang Siauw Bun mengangguk dengan hati yang agak tergoncang. “Benar Ciangkun!” dia menyahuti.

Perwira itu tidak mengucapkan kata-kata apapun lagi, dia telah menoleh kepada beberapa orang anak buahnya.

 Bun. “Tangkap orang itu!” perintahnya.

Orang-orang si perwira telah mengiiakan, menghampiri Tang Siauw

Melihat dirinya akan ditangkap, tentu saja Tang Siauw Bun jadi gusar dan kaget.

“Ciangkun apa   kesalahanku?” tegurnya dengan   suara   mendongkol. “Kau membantu menyembunyikan cucu dari seorang pengkhianat!!”

sahut si perwira.

Tang Siauw Bun telah mundur beberapa langkah.  Si perwira melihat sikap Tang Siauw Bun, mukanya berobah jadi tambah bengis.

“Apakah kau ingin membangkang dan memberikan perlawanan, heh?” tegurnya dengan suara yang gusar. “Apakah kau benar-benar  mau dihancurkan sebagai pengkhianat?”

Tang Siauw Bun jadi lemas. “Baiklah!” katanya kemudian sa mbil mem- biarkan dirinya diborgol.

Sedangkan anak buah si perwira yang lainnya telah mengacak-acak bagian kuil itu, sampai ke belakang dari kuil tersebut telah diperiksa.

Akhirnya mereka telah memberikan laporan bahwa orang yang mereka cari tidak ada di kuil tersebut. Si perwira tampak jadi murka, dia telah menoleh kepada Tang Siauw Bun.

“Dimana kau menyembunyikan cucu pengkhianat itu, heh?” tanya si

perwira dengan suara yang keras dan bengis.

Saat itu, Tang Siauw Bun biarpun gusar, tetnpi dia jadi girang b ukan main. Dengan tidak ditemuinya Cin Ko berarti San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu sudah berhasil menyingkirkan si bocah shc See itu dari kuil ini.

Ditegur begitu, dia menyahuti dengan tenang : “Aku tidak -mengerti maksud Ciangkun, yang datang-datang telah menuduh diri  kami menyembunyikan cucu seorang pengkhianat!” katanya. “Dan juga, setelah Ciangkun lihat sendiri, tidak ada siapapun diantara kami semuanya, orang yang Ciangkun cari itu tidak ada bukan? Itu hanya fitnahan belaka, Ciangkun!!”

Tetapi perwira itu mendengus tertawa dingin.  “Hmmm, mungkin juga kalau kau tidak diperlihatkan kebijaksanaanku, tentu kau tidak  akan mau bicara! Baik! Aku mau lihat setelah kami melakukan sesuatu hal terhadap dirimu, apakah kau akan tetap menutup mulut!”

Waktu berkata begitu wajah si perwira memperlihatkan bahwa dia tengah gusar bukan main. Dengan cepat dia telah menoleh kearah beberapa anak buahnya.

 “Paksa dia membuka mulut memberikan keterangan!” perintahnya.

Beberapa anak buahnya mengiyakan. Tang Siauw Bun melihat keadaan sudah demikian rupa, cepat dia mengempos tenaga dalamnya.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras bukan main, tampak borgolan di tangannya itu telah diputuskan sekali gentak. Dan dengan tidak membuang-buang waktu lagi Tang Siauw Bun telah menotok beberapa orang anak buah si perwira, yang segera terjungkal. 

Bagaikan seekor harimau yang terluka, Tan Siauw Bun mencoba menubruk si perwira untuk membekuknya. Tetapi perwira itu rupanya memiliki kepandaian yang tinggi juga. Dengan cepat dia telah menyingkir ke belakang, dibarengi mana dia telah melompat lagi berapa kali lagi, membiarkan anak buahnya dengan cepat meluruk akan mengeroyok pada Tang Siauw Bun.

Murid-murid Tang Siauw Bun yang melihat ini dengan cepat telah bergerak, mereka telah meluruk metancarkan serangan-serangan yang hebat dengan mempergunakan berbagai senjata tajam membinasakan beberapa orang anak buah dari si perwira

Tentu saja, disaat itu juga pecahlah suatu pertempuran yang seru antara alat-alat negeri dengan Hweshio-hweshio murid Tang Siauw Bun.

Dengan cepat si perwira telah mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin. “Perintahkan agar kuil ini dibakar, dan bunuh semua pendeta-pendeta itu!!” katanya dengan suara yang dingin.

Orang-orangnya yang mengelilingi si perwira ini telah mengiyakan, mereka dengan cepat telah mengeluarkan aba-aba sehingga pasukan tentara negeri yang sejak tadi hanya mengurung kuil itu, telah meluruk masuk.

Melihat ini terbanglah semangat Tang Siauw Bun. Barisan tentara negeri itu rapat sekali menyerupai barisan dinding baja.

“Angin keras!” permtahnya dengan suara yang nyaring,  dia tujukan kepada murid-muridnya agar cepat-cepat berusaha menghindarkan dan meloloskan diri, karena mereka tidak akan unggulan melawan pasukan tentara negeri itu.

Cepat sekali Tang Siauw Bun mengamuk, dia sudah tidak memikirkan segala sesuatu apapun juga.

Tidak cuma-cuma Tang Siauw Bun memperoleh gelaran Toat Beng Sian (Dewa Pencabut Nyawa), karena setiap tangannya bergerak, maka ada saja jiwa tentara negeri yang telah dicabutnya.

Korban segera berjatuhan, dan juga Tang Siauw Bun telah terluka di sana sini pada tubuhnya.

 Tetapi biarpun begitu, kenyataannya Tang Siauw Bun selalu dapat membunuh lawannya. Maka darah telah membanjiri halaman kuil itu, dimana perempuran tengah berlangsung.

Juga api mulai berkobar, sebab beberapa orang pasukan tentara negeri telah mulai membakar kuil tersebut yang ingin dibumi hanguskan. Tentu saja melihat hal itu, hati Tang Siauw Bun sakit bukan main. Dengan mengeluarkan suara seruan marah dia telah mengamuk  lebih hebat, dia membuka  jalan darah.

Tang Siauw Bun berhasil menerobos sampai keluar dari kuil itu. Tetapi, ketika dia sampai di Pintu kuil, pasukan panah telah mulai melepaskan senjatanya, hujan anak panah telah berhamburan kearah dirinya.

Namun Tang Siauw Bun sudah murka bukan main, dia tidak mundur setindakpun juga, dengan cepat kedua tangannya diputar,  sehingga angin putaran tangannya itu menyebabkan anak-anak panah itu tidak ada  yang mampu mendekati dirinya, meluruk ke atas tanah.

Sambil memutar terus kedua tangannya Tang Siauw Bun telah melangkah terus membuka jalan. Begitulah, hujan anak panah terus juga berhamburan kearah dirinya. Tetapi selama Tang Siauw Bun menggerakkan tangannya, tidak nantinya ada anak panah yang bisa melukai dirinya.

Rupanya perwira itu jadi gusar bukan main berulang kali dia telah mengeluarkan perintahnya agar anak buahnya mengurung lebih rapat  dan tidak membiarkan Tang Siauw Bun lolos

Kepungan terhadap diri orang she Tang telah diperketat, tetapi Tang Siauw Bun tetap mengamuk dengan hebat, tidak ada yang dapat membendungnya. Darah telah berceceran diatas tanah. Begitu juga tubuh Tang Siauw Bun sudah terluka di sana-sininya.

Harus dimaklumi, biar bagaimana Tang Siauw Bun adalah seorang manusia juga. Dengan dikepung begitu  hebat, dengan sendirinya dia jadi payah juga.

Cepat sekali pertempuran itu jadi bertambah hebat, karena Tang Siauw Bun telah mengamuk terus menerus tidak hentinya. Anak buah dari perwira itu juga telah memperketat kepungan mereka.

Mereka mempergunakan cara untuk memancing agar Tang Siauw Bun kehabisan tenaga dengan sendirinya, disebabkan rasa letihnya.

Murid-murid Tang Siauw Bun sendiri telah melakukan pertempuran dengan seru.

Tetapi disebabkan murid-murid Tang Siauw Bun itu dikepung  rapat sekali oleh orangnya si perwira, dengan sendirinya seorang demi seorang mereka telah berguguran terbinasa menggeletak di atas lantai.

 Namun biarpun begitu, murid-murid Tang Siauw Bun juga bukannya tidak bisa melakukan sesuatu, karena mereka pun telah banyak membunuh pasukan tentara negeri itu. Entah sudah empat puluh atau lima puluh orang pasukan tentara negeri yang mereka binasakan, mayatnya telah rubuh menggeletak memenuhi lantai kuil itu.

Jumlah murid Tang Siauw Bun belasan orang, dan mereka melakukan pertempuran dengan mati-matian mempertaruhkan jiwa mereka. Di dalam waktu yang tidak begitu lama, jumlah murid Tang Siauw Bun telah menjadi lima orang, karena hampir tiga belas orang murid lainnya dari Tang Siauw Bun telah terbinasa.

Dengan sendirinya, berhubung jumlah murid dari Tang Siauw Bun semakin sedikit saja, mereka jadi semakin terdesak. Walaupun murid -murid dari Tang Siauv Bun telah berhasil membunuh puluhan pasukan anak gegeri tersebut, tetapi jumlah pasukan anak buah perwira tersebut sangat banyak sekali.

Maka dari itu, dengan terbinasanya puluhan orang itu tidak ada artinya bagi si perwira. Malah yang menerobos masuk ke dalam kuil jadi semakin banyak saja. Sisa murid Tang Siauw Bun yang tinggal lima  orang ini jelas semakin terdesak.

Namun sebagai seorang Hohan, kelima murid dari Tang Siauw Bun tidak mau menyerah. Walaupun mereka telah melihatnya betapa diri mereka akan terbunuh juga, tokh mereka tidak mau menyerah, karena mereka menetap - kan, lebih baik terbunuh dari pada tertangkap dan nantinya disiksa.

Itulah sebabnya, disebabkan mereka tidak bisa berusaha meloloskan diri dari kepungan ini, dengan sendirinya kelima murid Tang Siauw Bun tersebut telah melakukan perlawanan yang gigih.

Tubuh mereka telah banyak yang terluka juga baju mereka sudah tidak keruan, koyak di sana-sini. Darah juga telah melumuri tubuh mereka.

Namun kelima sisa murid Tang Siauw Bun dengan gigih telah memberikan perlawanan. Cepat sekali pertempuran   tersebut   berla ngsung lebih hebat.

Diantara suara jeritan yang menyayatkan, tampak beberapa amk buah dari perwira itu sudah berhasil dibunuh pula oleh kelima murid Tang Siauw Bun.

Tetapi disaat itu juga. salah seorang murid Tang Siauw Bun telah rubuh terjungkal, dan terbinasa karena batok kepalanya telah kena dibelah  oleh tabasan golok salah seorang pasukan tentara negeri itu, sehingga kontan arwahnya telah terbang meninggalkan raganya.

 Sekarang sisa murid Tang Siauw Bun hanya tinggal empat orang. Dengan sendirinya kekuatan tenaga mereka juga jadi berkurang. Namun, biar bagaimana mati-matian keempat murid Tang Siauw Bun ini telah memberikan perlawanan kepada pasukan pengepungnya itu.

Perwira yang memimpin pengepungan ini telah berteriak dengan suara

yang membentak : “Menyerahlah kalian kalau memang masih ingin hidup!”

Tetapi keempat murid Tang Siauw Bun itu tidak mau menyahuti. Malah mereka telah memperhebat serangan-serangan mereka mengamuk bagaikan empat ekor biruang yang tengah terluka, sehingga untuk sementara waktu pasukan tentara negeri itu jadi mundur membuka lowongan.

Namun keempat murid Tang Siauw Bun tidak tinggal diam, mereka telah menerjang lagi dan melancarkan serangan yang kalap. Segera terdengar suara jeritan.

Tiga orang pasukan tengara negeri ifu telah terjungkal dengan masing- masing batok kepala mereka terhajar hancur oleh telapak tangan ke empat murid Tang Siauw Bun.

Dengan sendirinya, tentara negeri yang tengah mengurung ini semakin murka, mereka memperketat lagi pengepungan terhadap keempat murid Tang Siauw Bun yang benar-benar telah kalap dan nekad itu.

Sedangkan si perwira sendiri telah mengerutkan sepasang alisnya.

Dia memang yakin, bahwa keempat orang sisa murid Tang Siauw Bun itu akan dapat ditangkap hidup-hidup atau dibunuh, namun banyak juga anak buabnya yang telah menjadi korban, terbinasa ditangan hweshio-hweshio ini.

Hal itulah yang tidak diinginkan oleh perwira tersebut. Maka dari itu perwira bermuka bengis itu telah mengeluarkan perinlah agar pengepungan di perketat.

Dengan sendirinya pasakan tentara negeri telah meluruk mengepung lebih rapat keempat Hweshio yang menjadi murid Tang Siauw Bun tersebut.

Keempat murid Tang Siauw Bun jadi kewalahan, mereka telah kehabisan tenaga, letih bukan main, apa lagi dari luka-luka di tubuh mereka telah mengalir keluar darah yang banyak sekali. Maka dari itu, dengan dikepungnya mereka lebih ketat, dengan sendirinya mereka jadi kewalahan juga.

Mati-matian keempat murid Tang Siauw Bun telah memberikan perlawanan yang gigih. Tetapi murid Tang Siauw Bun sudah kehabisan tenaga, juga pasukan tentara telah menyerbu melancarkan serangan  yang bertubi- tubi sehingga tidak memberikan kesempatan bernapas kepada keempat murid Tang Siauw Bun

 Tidak lama kemudian, dua orang dari murid Tang Siauw Bun telah kena dibinasakan pula, dengan dada yang tembus oleh tombak dan leher yang putus oleh tabasan golok salah seorang pasukan tentara negeri itu.

Tang Siauw Bun sendiri yang melihat kejadian itu, jadi sakit hati bukan main. Dengan mengeluarkan suara seruan mengandung  kemurkaan  yang bukan main, dia telah mengamuk dan waktu dia menggerakkan se pasang tangannya, maka dua orang pasukan tentara negeri yang mengepung Tang Siauw Bun telah kena dihacurkan.

Seketika itu juga Tang Siauw Bun sudah menerjang lagi kesebelah kanannya, dia telah mencengkeram hancur dada dari dua orang pengepungnya lagi. Begitulah seterusnya, di mana Tang Siauw Bun bergerak, pasti di situ jatuh korban.

Sedangkan kedua murid Tana Siauw Bun yang lannya, telah dapat dibinasakan juga oleh pasukan pengepungnya, sehingga hanya tinggal Tang Siauw Bun seorang diri.

Melihat keadaan sudah demikian rupa, cepat-cepat Tang Siauw Bun membuka jalan darah dan berusaha juga meloloskan diri dari pengepungan tersebut. Tetapi pengepungan yang dilakukan oleh pasukan pengepungan itu, terlalu ketat sekali, sehingga agak sulit juga bagi Tang Siauw Bun untuk meloloskan diri begitu saja dari pengepungan bagi dirinya.

Tang Siauw Bun sendiri merasakan, betapa dirinya sudah mulai lemah, karena tenaganya sudah dikuras habiskan. Perwira pasukan itu telah mengeluarkan perintahnya berulang kali agar pengepungan lebih diperketat, sehingga pasukan pengepung itu telah merangsek semakin mempersempit ruang gerak dari Tang Siauw Bun

Malah tubuh Tang Siauw Bun sudah terdapat beberapa luka yang cukup parah. Tetapi Tang Siauw Bun sudah tidak rnemperdulikan keadaan dirinya.

Mati-matian dia membuka jalan darah. Walaupun jumlah pasukan pengepung itu cukup banyak, namun Tang Siauw Bun berhasil juga membuka jalan darah itu. Sampai akhirnya malah Tang Siauw Bun dapat meloloskan diri dari pengepungan tersebut. Dengan mengerahkan seluruh Ginkang yang dimilikinya, dia telah berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

Perwira pasukan pengepung tersebut jadi murka, dia membanting - banting kakinya dan memerintahkan agar melakukan pengejaran.

Tetapi pasukan tentara negeri itu mana bisa mengejar Tang Siauw Bun, yang memiliki Ginkang begitu tinggi? hanya di dalam waktu sckejap mata saja Tang Siauw Bun sudah lenyap dari pandangan mata.

Gerakan yang dilakukan oleh Tang Siauw Bun seperti gerakan seekor burung walet yang terbang dengan kecepatan yang bukan main, tubuhnya

 bagaikan kapas saja yang terhembus angin, ringan dan pesat sekali. Hanya sckejap saja dia sudah dapat berlari belasan lie.

Pasukan tentara negeri itu jadi kelabakan mereka mengeluarkan suara seruan-seruan yang panik dan gemuruh sekali, sebab mereka takut kalau- kalau buruan mereka ini lolos, berarti mereka akan kena makian dari perwira mereka itu.

Tetapi biar bagaimana Tang Siauw Bun bukan manusia biasa yang mudah untuk dikejar. Setelah dia berlari sekian lama, Tang Siauw Bun berhasil melenyapkan jejaknya, dia telah mendatangi sebuah tempa t yang sunyi di samping gunung itu. Dia bersembunyi di situ.

Samar-samar dikejauhan dia masih mendengar suara ribut-ribut dari pengejarnya. Namun lama kelamaan suara gemuruh itu telah  lenyap dan keadaan menjadi sunyi kembali.

HARI telah menjelang malam, keadaan sunyi bukan main disamping gunung itu, sehingga membuat tempat itu seperti tidak ada kehidupan dari manusia-manusia, hanya suara mengeritnya binatang malam dan desau angin yang mempermainkan daun-daun pohon belaka.

Tetapi diantara sela-sela batu dilamping gunung itu, tampak rebah sesosok tubuh. Orang itu tidak lain dari Tang Siauw Bun yang sedang rebah untuk memulihkan semangatnya. Tadi Tang Siauw Bun tidak merasakan luka - lukanya yang terdapat ditubuhnya.

Tetapi setelah dalam keadaan sunyi ini, dia baru merasakan luka - lukanya itu menimbulkan perasaan pedih yang bukan main. Cepat-cepat Tang Siauw Bun mengeluarkan bubuk obat, yang ditaburkan pada luka-lukanya.

Perasaan nyeri dan sakit mulai hilang, berangsur-angsur, lenyap, tetapi luka-lukanya itu tetap menyebabkan Tang Siauw Bun tidak bisa bergerak leluasa. Maka dan itu, dia untuk sementara  waktu berdiam diri dilamping gunung ini.

Lagi pula Tang Siauw Bun menyadari, bahwa di sekitar tempat itu pasti diadakan penjagaan oleh orang-orangnya perwira pasukan yang ingin menangkapnya.

Sambil menghela napas panjang, Tang Siauw Bun duduk termenung d i situ. Dia merasa berduka dan sakit hati bukan main, karena selain kuilnya telah hancur yang pasti telah termakan api, juga seluruh muridnya telah terbinasa disebabkan peristiwa tersebut.

Betapa dendamnya hati Tang Siauw Bun, karena segala-galanya telah hancur. Dan juga yang menjadi pemikiran Tang Siauw Bun ialah diri See Cin Ko.

 Entah San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu telah membawa kemana bocah itu. Setelah mengaso sesaat lamanya, Tang Siauw Bun keluar dari lamping gunung.

Dia melihat keadaan di sekitarnya sangat gelap, sebab malam telah larut. Perlahan-lahan Tang Siauw Bun menuruni gunung  itu, untuk mencari San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu.

Walaupun telah terluka begitu, tetapi disebabkan  Ginkangnya yang tinggi, dengan sendirinya Tang Siauw Bun masih dapat melakukan perjalanan dengan cepat.

Tetapi ketika Tang Siauw Bun tengah melewati di bawah kaki gunung, dia mendengar di belakangnya suara berkeresek. Dia jadi terkejut, cepat- cepat telah memutar tubuhnya memandang kebelakang.

Tetapi dia tidak melihat seorang manusiapun juga, hanya kegelapan belaka. Namun sebagai seorang yang telah ken yang makan asam garam, dengan sendirinya Tang Siauw Bun mengetahui ada orang yang tengah mengintai dirinya.

Maka dari itu Tang Siauw Bun telah tertawa dingin, katanya : “Keluarlah

perlihatkan diri, tidak baik main sembunyi-sembunyian begitu!!”

Terdengar orang tertawa dingin.

'Ternyata pendengaranmu masih tajam, tua bangka!” kata seseorang dan disusul dengan melompatnya keluar sesosok tubuh dari balik batu -batu gunung dengan gerakan yang bukan main gesitnya.

Ternyata orang yang baru melompat keluar itu adalah seorang nenek- nenek tua yang berusia diantara enam puluh tahun, wajahnya sudah keriput.

Sambil keluar dari tempat persembunyiannya itu, tidak hentinya si nenek tua ini tertawa.

“'Bagaimana tua bangka she Tang, apakah kau memperoleh banyak kemajuan?!” tegurnya pula.

Tang Siauw Bun waktu melihat si nenek telah tersenyum “Kukira siapa, tidak tahunya kau, dewi keriput?” tanyanya. “Kau masih kenal padaku, bukan?”

“Jelas aku mengenalnya.”

“Hmmm, kulihat keadaanmu seperti seorang pengemis dengan luka

penuh ditubuh!” kata nenek tua itu lagi. “Apakah kau sudah bangkrut?!”

Tang Siauw Bun tertawa pahit. “Memang nasibku sedang sial, kuil dan

muridku telah musnah semuanya!” kata Tang Siauw Bun. “Dan kau bagaimana

 Lian Hoa Sianlie (Dewi Bunga Teratai)? Apakah kau   sudah memperoleh

kemajuan?!”

“Aku sudah memperoleh kemajuan yang pesat sekali!” kata si nenek, yang ternyata bergelar Lian Hoa Sianlie. “Tentu saja aku telah memperoleh kebahagiaan dalam hidupku!!”

“Bagus kalau memang begitu '“

“Dan kau mempunyai rencana baru dengan hancurnya kuil itu?” “Tidak!”

“Aku ada objek!” “Objek apa?”

“Kau pasti akan hidup senang, tidak perlu pusing, sama seperti diriku!” “Katakan dulu, objek apa?”

“Hehehehe, kau tentu seorang yang mengenal budi, maka dari itu, mau aku menolongmu, kita telah lama hidup di dalam rimba persilatan yang selalu penuh oleh segala macam kejadian yang tidak menggembirakan! Maka dari itu, belum lama ini aku telah menerima tawaran dari seseorang, yang ingin mengangkat diriku menjadi pembantunya dengan segala macam kekayaan duniawi, maka aku setelah pikir-pikir memang tidak ada salahnya penawaran itu kuterima dan ternyata memang aku hidup senang!”

“Siapa yang kau kawal?”

“Inilah dia. kalau   memang kau mau, engkau  juga boleh   menjadi

pengawalnya!”

“Siapa   dia?” “Ban Hong Liu!!”

“Ban Ban Thay-kam?!” “Benar'!”

“Tidak! Tidak!”  berseru Tang Siauw Bun dengan murka. “Tahukah

engkau bahwa kehancuranku ini justru disebabkan oleh orang she Ban itu!!”

'Tenang, sabar!!” terseru Lian Hoa  Sianlie waktu melihat Tang Siauw Bun begitu murka. “Jangan mencak-mencak begitu! Dengarkanlah dulu!! Ban Hong Liu dengan kau sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa, dia juga tidak bermaksud untuk menghancurkan dirimu! Kau belum terlambat untuk merobah kehancuranmu itu mcnjadi kemegahan dan kegemilangan!!”

“Tidak! Lebih baik aku menggorok leher dari pada harus bekerja pada

orang she Ban itu!”

“Kau terlalu keras kepala!”

 “Hmmm, aku tidak sehina itu!”

Muka Lian Hoa Sian Lie jadi berobah seketika itu juga.

“Jadi kau menganggap aku ini manusia hina dengan bekerja pada Ban

Hong Liu?'

“Tidak salah! ' tegas penyahutan Tang Siauw Bun, dia juga malah menyahuti dengan suara yang keras dan muka merah padam  disebabkan murka.

“Baik! Baik!” berseru Lian Hoa Sian Lie yang rupanya menjadi murka juga. “Kalau begitu aku telah salah mata, kau ternyata manusia tidak berbudi, maka dari itu, sekarang juga aku ingin melihat sampai dimana kebandelanmu itu tua bangka!!”

“Jadi apa maumu?”

“Menangkap dirimu, menyerahkan kepada Ban Tayjin!” sahut Lian HOA

Sian Lie dengan suara yang tegas dan angkuh.

Betapa murkanya Tang Siauw Bun, dia sampai mendengus beberapa kali. “Memang benar-benar kau manusia hina!!” cacinya penuh kemarahan.

Tetapi nenek tua itu tidak mau menyudahi begitu saja, dia telah mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin, membarengi mana dia telah melompat menerjang kearah Tang Siauw Bun.

Tang Siauw Bun jadi mengeluh di dalam hatinya, karena dia sedang terluka. Coba kalau memang sedang dalam keadaan biasa, dia tidak perlu jeri menghadapi nenek tua ini, namun sekarang dia tengah terluka, tenaganya juga telah habis tadi dikuras untuk meloloskan diri dari pengepungan tentara negeri dikuilnya.

Maka dari itu, melihat si nenek menerjang melancarkan serangannya , dia jadi murka berbareng berpikir bagaimana caranya menghadapi nenek tua ini.

Namun sebagai seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi, jelas dia tidak usah gugup menghadapi serangan tersebut.

Dengan mengeluarkan seruan mengandung kemurkaan yang   sangat, dia telah menangkis serangan dari si nenek tua itu dengan mempergunakan tangan kanannya. Gerakan yang dilakukan oleh Tang Siauw Bun cepat bukan main, dengan sendirinya dia telah berhasil untuk mendorong nenek tua itu dua langkah ke belakang.

Membarengi kesempatan itu, kaki kanan Tang Siauw Bun telah menendang. Gerakan yang dilakukannya sangat cepat, yang ditendang adalah perut si nenek.

 Nenek tua Lian Hoa Sianlie itu telah mengeluarkan seruan marah. Dia telah mengulurkan tangan kirinya, dengan  kelima jari tangan terpentang. Maksud nenek tua ini ingin mencengkeram kaki kanan Tang Siauw Bun.

Tang Siauw Bun sendiri mana mau membiarkan kakinya dicengkeram. Cepat sekali dia menarik pulang kakinya, juga kedua tangannya tidak tinggal diam.

Tangan kanannya diulu kan untuk menotok jalan darah Wie Tung Haatnya si nenek yang terletak didekat lengannya, sedangkan tangan yang lainnya dipakai untuk merabuh dada si nenek. Gerakan yang dilakukannya begitu cepat dan kuat sekali. Tentu saja si nenek jadi terkejut.

Tadinya Lian Hoa Sianlie melihat keadaan Tang Siauw Bun yang sedang dalam keadaan terluka begitu rupa, pasti dia dengan mudah dapat merubuhkan orang she Tang ini. Tetapi siapa sangka, begitu mereka berge- brak, ternyata Tang Siauw Bin masih tangguh dan sulit dihadapi begitu saja.

Namun dasarnya seorang wanita, biarpun usianya telah lanjut, tokh tetap aja dia tidak mau kalah. Melihat beberapa serangannya dapat  dipu- nahkan, dengan cepat dia telah mergeluarkan suara bentakan yang keras, membarengi mana dia telah melancarkan serangan lagi. Tang Siauw Bun tidak jeri, dia menghadapi serangan-serangan si nenek dengan gigih

Setiap pukulan yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie memang merupakan serangan-serangan yang bisa mendatangkan maut bagi  Tang Siauw Bun. Tetapi disebabkan Tang Siauw Bun memang memiliki kepandaian yang tinggi, dengan sendirinya dia bisa melayaninya dengan baik.

Walaupun dia tengah terluka cukup parah, tokh dalam menghadapi peristiwa yang membuat hatinya murka, Tang Siauw Bun tetap saja tangguh bagaikan seekor harimau yang selalu mengelakkan serangan Lian Hoa Sianlie dan membalas melancarkan serangan.

Hebat sekali cara penyerangan yang dilakukan oleh Lian Hoa Sianlie. Apa lagi semakin lama nenek tua ini semakin gusar. Bisa dibayangkan kalau dua orang jago yang tengah saling tempur dengan seru.

Tang Siauw Bun sendiri tidak pernah mau mundur. Dia sengit sekali mendenpar nenek tua ini adalah orangnya Ban Hong Liu.

Kedatangan dan kemunculan nenek tua Lian Hoa Sianhe di tempat ini tentu atas utusan dari Ban Hong Liu untuk dihadapinya. Maka dari itu, Tang Siauw Bun turun tangan tidak tanggung-tanggung.

 Dia telah membuka setiap serangan yang  dilancarkannya dengan disertai oleh seluruh tenaga iwekang yang terdapat pada dirinya. Sedangkan Lian Hoa Sianlie berulang kali berjingkrak saking murkanya.

Dia melancarkan serangan-serangan yang hebat dan selalu gagal mengenai sasarannya. Malah beberapa  serangannya telah   menyebabkan gugur batu-batu dan tumbangnya pohon-pohon, yang membuat mau tak mau Tang Siauw Bun harus lebih hati-hati.

Melihat kehebatan setiap pukulan yang dilancarkan nenek tua ini, Tang Siauw Bun sudah mengetahuinya bahwa nenek tua ini sudah memperoleh kemajuan yang pesat. Tentu saja, Tang Siauw Bun menyadarinya bahwa dia tidak boleh lengah, sebab sekali saja dia berlaku lengah dan dirinya terserang oleh salah satu serangan yang di lancarkan nenek tua itu, dengan sendirinya hal ini akan membawa kematian baginya.

Apa lagi Tang Siauw Bun menang melihat, betapa si nenek tua Lian Hoa Sianlie telah melancarkan serangan tanpa mengenal kasihan atau sungkan- sungkan, dia seperti benar-benar menginginkan jiwa Tang Siauw Bun.

Karena menghadapi kenyataan seperti ini, mau tidak mau Tang Siauw Bun harus mengempos seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Dia telah melancarkan serangan yang berbalik mendesak si nenek tua tersebut.

Tang Siauw Bun menyadari juga kalau sampai dia bertempur lebih lama dan berlarut-larut, niscaya dirinya yang akan payah. Kalau jalannya pertempuran tesebut berlarut-larut, pasti tenaganya  yang hampir habis itu tidak bisa mengimbangi si nenek.

Lian Hoa Sian Lie rupanya juga mengetahui akan hal itu. Maka dari itu, akhirnya si nenek tua telah merobah cara menyerangnya.

Tadinya dia melancarkan serangan yang bertubi-tubi  dan bernafsu, tetapi sekarang si nenek lebih banyak hanya mengelakkan atau main mundur belaka. Rupanya Lian Hoa Sian Lie menginginkan agar Tang Siauw Bun kehabisan tenaga.

Tang Siauw Bun sendiri sudah dapat menangkap maksud si nenek dengan cepat. Dia telah bisa menerkanya bahwa si nenek malah menginginkan jalannya pertempuran itu lebih panjang.

Disebabkan inilah, maka Tang Siauw Bun semakin mempergencar dan memperhebat serangan-serangannya.

Kesempatan baginya hanya tinggal sedikit saja, kalau di dalam waktu singkat dia tidak bisa merubuhkan nenek itu, dirinya yang akan berbalik menjadi sasaran dari nenek tua tersebut.

 Berulang kali Lian Hoa Sian Lie sengaja mengeluarkan suara ejekan, karena dia memang ingin memancing kemurkaan Tang Siauw Bun, agar orang shc Tang ini kehabisan tenaga.

Disaat itulah, dengan cepat sekali pertempuran  tersebut telah berlangsung dua puluh jurus lebih, selama itu keadaan mereka berimbang. Tang Siauw Bun tidak melihat adanya kesempatan untuk memperoleh kemenangan.

Maka dari itu, dia jadi gugup bukan main, maka dia mempergencar serangannya. Celakalah dirinya kalau sampai dua puluh jurus lagi dia masih belum bisa merubuhkan si nenek. Hal ini dirasakan sebab tenaganya mulai berkurang sekali.

Pikiran Tang Siauw Bun sendiri telah bekerja keras mencari akal. Dia berpikir, percuma saja dia melayani si nenek tua ini.

Maka dan itu, Tane Siauw Bun berusaha untuk meloloskan diri saja. Cepat-cepat Tang Siauw Bun melancarkan serangan yang beruntun, serangan menggertak, agar si nenek melompat mundur.

Dan kenyataannya memang nenek tua itu telah menghindar dengan melompat ke belakang. Jelas Tang Siauw Bun tidak mau membuang-buang kesempatan itu.

Dia telah membarengi dengan melompat ke belakang yang berlawanan arah, lalu memutar tubuhnya, menjejakkan kakinya, tubuhnya  segera mencelat dengan kecepatan yang bukan main.

HANYA di dalam waktu yang sangat singkat dia telah meninggalkan tempat itu. Si nenek Lian Hoa Sianlie tentu saja jadi kaget, dia mana mau melepaskan calon mangsanya begitu saja. Lian Hoa Sianlie mengetahui, kalau mereka bertempur belasan jurus lagi, Tang Siauw Bun pasti akan kehabisan tenaga.

Maka cepat-cepat dia telah melompat mengejarnya sambil membentak

: “ Mau kabur kemana kau?”

Tubuh si nenek telah melesat bagaikan sehelai daun kering yang ringan

sekali.

Tetapi Tang Siauw Bun telah mengempos seluruh kekuatan Ginkang

yang ada pada dirinya, dengan cepat dia telah melarikan diri.

Ginkang kedua orang ini memang berimbang, dengan   sendirinya biarpun nenek tua ini melakukan peneejaran dengan cepat, tokh tetap saja mereka terpisah kurang lebih belasan tombak, karena Tang Siauw Bun telah berlari terlebih dahulu.

 Tetapi bagi Tang Siauw Bun sendiri tidak bisa meloloskan diri dari kejaran yang dilakukan oleh nenek tua Lian Hoa Sian Lie.

Begitulah, dimalam buta ini, kedua orang jago kawakan tersebut telah melakukan kejar mengejar dengan cepat. Kedua-duanya tidak mau mengalah, juga tidak mau berhenti, mereka saling kejar mengejar bagaikan dua sosok bayangan belaka, yang berkelebat-kelebat  cepat dan mengaburkan pandangan mata

Kalau saja pada saat itu ada yang melihatnya, niscaya akan menduga bahwa si nenek dan Tang Siauw Bun adalah hantu penasaran yang tengah main petak umpet.

TANG SIAUW BUN dan si nenek tua Lian Hoa Sianlie telah saling kejar mengejar sampai di kaki gunung, gerakan  mereka begitu cepat dan  gesit sekali.

Mereka telah berada di kaki gunung sebelah barat, di tempat mana terdapat batu-batu gunung yang bertonjolan. Lian Hoa Sianlie jadi agak sulit melakukan pengejarannya.

Karena dimalam huta itu, dengan adanya batu-batu gunung yang bertonjolan, dia harus hati-hati, sebab bisa saja Tang Siauw Bun bersembunyi dibalik salah satu batu-batu gunung itu untuk menghindarkan diri.

Mata Lian Hoa Sianlie telah dipentang lebar-lebar,  dia mengawasi dengan sorot yang bengis dan kejam, karena di hati nenek tua Lian Hoa Sianlie ini sudah memutuskan, biar bagaimana dia harus dapat mengejarnya Tang Siauw Bun, agar segera dia bisa menghabiskan jiwanya. Dan memang sebenarnya Lian Hoa Sianlie telah menerima perintah dari Ban Hong Liu bahwa dia harus berusaha membujuk Tang Siauw Bun, agar mau bekerja dibawah perintah Ban Hong Liu.

Kalau sampai Tang Siauw Bun menolaknya penawaran itu, Lian Hoa Sianlie menerima perintah untuk menghabiskan jiwa orang she Tang ini. Itulah sebabnya, biarpun mati-matian, dia harus mengejarnya jangan sampai Tang Siauw Bun berhasil meloloskan dirinya.

Keadaan di sekitar tempat kaki  gunung sebelah barat ini gelap gulita. Hanya bintang-bintang yang gemerlapan di atas langit, selain itu, tidak ada cahaya lainnya, rembulan termakan oleh gumpalan awan.

 Mata Lian Hoa Sianlie memang agak kabur, dengan sendirinya sulit bagi dia untuk melakukan pengejaran terkadap Tang Siauw Bun. Tetapi untuk membiarkan Tang Siauw Bun meloloskan diri, hal ini membuat hati si nenek jadi penasaran, maka dari itu dia telah melakukan pengejaran terus.

Tetapi di tempat ini Lian Hoa Sianlie telah kehilangan jejak dari orang buruannya. karena dia telah tidak melihat lagi Tang Siauw Bun. Dengan penasaran dan agak bingung dia telah melompat ke atas sebuah batu yang agak menonjol keluar.

Dia telah memperhatikannya baik-baik  sekitar tempat itu, dan melihatnya, betapa keadaan di sekitar tempat tersebut sunyi serta gelap. Sedang si nenek kebingungan, tiba-tiba dia merasakan ada angin serangan di belakangnya.

Nenek tua ini jadi terkejut, dia cepat-cepat mengelak ke samping. Disaat itulah, sebutir batu telah menyerempet lewat di sampingnya.

Dengan mengeluarkan seruan yang nyaring, si nenek telah menyentil batu itu, sehingga terpental, lalu dengan cepat dia telah mencelat juga kearah asalnya batu itu menyambar

Ketika tubuhnya tengah melayang di tengah udara, Lian Hoa Sianlie telah bersiap-siap, dia penuh kewaspadaan. Tetapi  tidak ada serangan lainnya.

Waktu tubuh si-neiek tua Lian Hoa Sianlie ini telah hinggap di tempat dari arah mana tadi menyambarnya batu itu, da melihat sesosok tubuh tengah duduk tenang-tenang menyender di batu gunung.

“Hmmm, sekarang kau tidak bisa kabur dari tanganku, tua bangka!!” bentak Lian Hoa Sianlie yang menduga bahwa orang itu adalah Tang Siauw Bun.

Namun baru saja nenek tua Lian Hoa Sianlie membentak begitu, dia telah mengenali bahwa orang yang sedang duduk itu bukan Tang Siauw Bun. Ternyata orang itu hanyalah seorang pengemis tua, berjenggot panjang dan tengah tidur.

Sepasang alis Lian Hoa Sianlie jadi mengkerut dalam -dalam. “Hei! Apakah engkau yang telah melemparkan batu kepadaku?” bentak Lian Hoa Sianlie dengan sikap yang angkuh.

Tetapi pengemis itu tetap tertidur nyenyak tak menyahuti. Lian Hoa Sianlie jadi mendongkol bukan main melihat sikap pengemis tersebut. “Hei!!” bentaknya dengan suara yang nyaring bukan main.

 Tetapi pengemis tua berjenggot panjang itu tidak bergerak. Tampaknya dia terus juga tertidur dengan nyenyaknya. Rupanya Lian Hoa Sianlie  jadi tambah gusar, dia telah mengambil sebutir batu.

Ditimpukkannya pada tubuh pengemis yang sedang tidur ini. “Pukkkkk!” batu tersebut telah membentur lengan si pengemis. Tetapi pengemis tersebut tetap saja tidak bergerak dari tempat duduknya, dia tetap berdiam diri dalam tidurnya yang nyenyak.

Tentu aja Lian Hoa Sianlie jadi tambah mengkal  dan gusar. Dia mengawasi lebih jelas wajah pengemis itu, dia tidak mengenalnya. Maka diambilnya sebutir batu lainnya lagi, dia telah menimpuk lebih keras.

Batu itu meluncur dengan pesat akan menghajar lengan pengemis itu. Tapi dikala batu itu meluncur cepat dan belum lagi mengenai sasarannya, maka batu tersebut telah meluruk jatuh.

Inilah suatu kejadian yang aneh bukan main, karena pengemis itu masih tertidur nyenyak, tetapi batu yang ditimpukan oleh Lian Hoa Sianlie tidak bisa mengena sasarannya.

Namun bagi Lian Hoa Sianlie hal tersebut bukanlah suatu kejadian yang aneh, karena dia segera mengetahui bahwa pengemis ini bukan sembarangan pengemis, dia memiliki tenaga dalam yang tinggi, sehingga dia bisa memukul rubuh batu yang menyambar kedirinya tanpa menggerakkan kedua tangannya atau anggota badannya, hanya melalui pori-pori kulit tubuhnya yang telah disalurkan tenaga dalam, membuat tubuhnya telah dilindungi oleh gumpalan tenaga dalamnya, sehingga batu itu juga tidak bisa mencapai pada sasarannya.

Tetapi melihat ini bukannya jeri, malah Lian Hoa Sianlie tambah gusar.

“Hmmm, kau pura-pura tidur, tetapi sebenarnya kau adalah bangsat yang paling licik!!” berseru Lian Hoa Sianlie dengan gusar. Dan Lian Hoa Sianlie bukan hanya membentak begitu saja, sebab dia telah membarengi dengan habisnya perkataannya itu, dia telah melancarkan serangan dengan mempergunakan telapak tangan kanannya. Dari telapak tangannya itu, telah meluncur keluar angin serangan yang keras bukan main.

Pengemis tua yang sedang tertidur nyenyak itu memang sebenarnya tidak tidur. Dia hanya pura-pura tertidur nyenyak, padahal tadipun dia telah mengetahui dirinya ditimpuk oleh batu dan dengan mempergunakan tenaga dalamnya, dia telah merubuhkan batu yang meluncur itu.

Tetapi sekarang kenyataannya, Lian Hoa Sianlie telah melancarkan serangan dengan mempergunakan telapak tangannya, yang mengandung tenaga iwekang yang bukan main besarnya.

 Pengemis tua ini juga tidak berani memandang remeh terhadap serangan ini. Kalau sampai dia berdiam diri saja, niscaya dia bisa terserang dan bisa juga dia akan terluka di dalam akibat gempuran itu

Maka dari itu, dengan cepat si pengemis telah melompat bangun, gerakannya gesit sekali, dia telah melompat ke samping kiri.

Lian Hoa Sianlie tengah bernafsu melancarkan serangannyaf dengan sendirinya dia jadi terkejut waktu sasarannya tahu-tahu telah lenyap dari pandangan matanya

Tetapi untuk menarik pulang serangannya jelas hal i tupun sudah tidak dapat. Tanpa ampun lagi batu yang tadi dipakai menyender oleh pengemis itu yang telan menggantikan si pengemis menjadi sasaran tangan Lian Hoa Sianlie.

Hebat sekali gempuran itu.

“Brakkkkk!!'

Tampak batu gunung itu telah meluruk jatuh hancur berkeping-keping terhajar oleh telapak tangan Lian Hoa Sianlie. Pengemis tua itu yang telah berdiri terpisah kurang lebih lima tombak itu telah tertawa bergelak-gelak.

“Empuk juga batu rupanya!” mengejek si pengemis tua tersebut.

Muka Lian Hoa Sianlie jadi berobah merah padam biar bagaimana dia jadi murka bukan main.

“Hmmmm, Baik! Baik!” serunya dengan suara murka. “Sebutkanlah, siapa kau sebenarnya, mau apa kau mencari urusan denganku?”

Pengemis tua itu telah tertawa bergelak-gelak dengan suara mengejek.

“Hmmm, mencari urusan denganmu?” tanyanya seperti juga terheran - heran “Bukankah aku yang sedang tidur dan berulang kali engkau yang telah mengganggu diriku sehingga tidurku jadi bantet!!”

Mendengar perkataan pengemis tersebut, Lian Hoa Sianlie berjingkrak murka. “Pengemis licik! Bukankah tadi engkau yang tebh melontarkan batu kepadaku? Menyerang dengan cara menggelap?”

“Tidak!” berseru pengemis itu tegas. “Aku tidak pernah menyerangmu

secara menggelap!”

“Oh pengemis rendah, kalau memang kau tidak mau mengakui perbuatanmu yang rendah itu untuk apa kau bentrok dengan diriku?”

 “Hahahaha memang aku tidak mau bentrok dengan seorang nenek- nenek tua keriput yang sudah tidak mempunyai tenaga, salah-salah nanti kalau aku kekerasan mempergunakan tenaga, kau bisa berabe, kau bisa mampus?” dan setelah berkata begitu, si pengemis tua itu telah tertawa bergelak-gelak lagi.

Tentu saja hal ini membuat Lian Hoa Sianlie tambah murka bukan main, tubuhnya sampai gemetaran keras bukan main, mukanya sebentar berobah merah dan sebentar berobah pucat.

“Siapa kau sebenarnya?” tegur Lian Hoa Sianlie menindih kemarahan dihatinya, karena dia ingin mengetahui siapa sebenarnya pengemis ini.

“Sah Lian Kihiap!” sahut si pengemis dengan suara yang nyaring  dan

mengandung ejekan.

Mendengar perkataan si penemis yang terakhir, Lian Hoa Sianlie merasakan   betapa dadanya seperti mau meledak, karena murka sekali, sampai membanting-banting kakinya dengan sikap yang geram. Arti dari Sah Lian Kihiap ialah pendekar pembunuh Bunga Teratai! 

Jelas itu bukan julukan si pengemis yang sebenarnya, dia hanya ingin mengejek Lian Hoa Sianlie, sebab Lian Hoa Sianlie memang bergelar Bidadari Bunga Teratai.

“Bangsat kau!!” teriak Lian Hoa Sianlie dengan murka. Membarengi dengan suara bentakannya itu, tubuhnya juga telah mencelat melancarkan erangan kearah pengemis tua itu

“Sabar! Sabar!”  seru si pengemis dengan suara mengejek.  “Jangan

cepat marah, nanti umurmu jadi pendek!”

Ejekan si pengemis menambah amarah Lan Hoa Sianlie, sehingga dia melancarkan serangannya itu jauh lebih hebat lagi. Setiap pukulan yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie mengincar bagian yang berbahaya dan juga mematikan sehingga merepotkan s pengemis tua itu. Tetapi tampaknya pengemis tua itu memang liehay sekali, sebab dia dapat bergerak dengan kecepatan yang bukan main.

Dia berulang kali telah mengelakkan dan melancarkan serangan pula kepada Lian Hoa Sianlie, selain dia dapat mengelakkan, juga pengemis tua ini dapat mendesak Lian Hoa Sianlie sampai terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang

Lian Hoa Sianlie jadi terkejut bukan main, karena biar bagaimana dia adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi. Jarang ada yang bisa menandingi kepandaiannya, tetapi kali ini dengan hanya beberapa

kali gebrakan saja, pengemis tua itu malah telah berhasil untuk mendesak dirinya mundur begitu rupa

Tentu saja hal tersebut membuat Lian Hoa Sianlie penasaran bercampur gusar. Dengan penasaran pendekar wanita yang sudah lanjut usianya ini telah mengeluarkan suara teriakan yang melengking tinggi.

Dia telah menerjang dan melancarkan serangannya kepada si pengemis lagi. Namun pengemis tua itu hanya tertawa mengejek dan dengan tenang telah menantikan tibanya serangan itu dengan sikap yang menantang. Kali ini Lian Hoa Sianlie melancarkan serangannya tersebut dengan mempergunakan kedua tangannya sekaligus. Hebat sekali.

Si mengemis juga mengetahui bahwa Lian Hoa Sianlie kali ini telah murka. Dan serangan yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie kali ini bukan main hebatnya, setidak-tidaknya di dalam keadaan marah seperti itu, jela s Lian Hoa Sianlie telah melancarkan serangan yang mengandung kekuatan te - naga iwekang yang bukan main hebatnya.

Tetapi pengemis tua itu tampaknya tidak jeri sedikitpun juga. Dia malah telah menantikan tibanya serangan itu, dia telah mengawasi kedua tangan Lian Hoa Sianlie yang tengah meluncur kearah dirinya, menuju kepada dua sasaran di badannya.

Ketika melihat serangan Lian Hoa Sianlie hampir mengenai dirinya, hanya terpisah kurang lebih tiga dim lagi, si pengemis tua itu telah mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin. Cepat bukan main, tahu-tahu kaki si pengemis telah menggeser ke samping kanan, lalu dengan disertai oleh suara bentakannya yang keras sekali, tahu-tahu dia telah menyepak kearah lambung si nenek tua.

Perbuatan yang dilakukan oleh si pengemis benar-benar berada di luar dugaan dan perhitungan dari Lian Hoa Sian L!e, mengejutkannya. Harus dimengerti, setiap orang kalau menerima  serangan seperti yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie, niscaya orang itu akan menangkisnya dengan mempergunakan kedua tangannya atau hanya satu tangan saja.

Namun belum pernah ada yang menangkis dan membarengi menyerang dengan hanya mempergunakan sepakan kaki belaka!!

Hal inilah yang telah benar-benar mengejutkan sekali hati Lian Hoa Sianlie, mau tak mau dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Cepat-cepat Lian Hoa Sianlie menahan tenaga serangannya, dia juga telah cepat-cepat menggeser kedudukan kuda-kuda kedua kakinya, karena

 kalau dia tidak bergerak  cepat, niscaya dirinya yang akan menjadi sasaran dari sepakan kaki pengemis tua itu.

Hal ini bisa dimaklumi, karena biar bagaimana  kaki memang lebih panjang kalau dibandingkan dengan panjangnya tangan.

Untung saja Lian Hoa Sianlie dapat bergerak cepat sehingga perutnya itu tidak menjadi tatakan dari sepakan kaki si pengemis. Tetapi kejadian ini bukannya membuat Lian Hoa Sianlie jadi jeri, malah dia jadi tambah murka.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, dengan tidak membuang-buang waktu lagi, dia telah merangsek maju lagi. Tetapi kali ini Lian Hoa Sianlie bukannya melancarkan serangan tangan kosong. Dia telah menyadari bahwa si pengemis memiliki kepandaian yang bukan main hebatnya.

Maka dari itu, waktu dia menyerang, tangannya juga dengan cepat telah mencabut pedangnya yang tergantung sejak tadi di pinggangnya. Pedang itu telah menyambar kearah ulu hati si pengemis.  Betapa hebatnya tikaman pedang yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie.

Tikaman tu bukannya   sembarangan tikaman, karena tikaman pedang itu tergetar, sehingga walaupun arah dari mata pedang itu adalah dada dari si pengemis, tetapi disembarang waktu bisa berobah menjurus kearah lain. Pengemis tua itu juga tidak berani meremehkannya, karena biar bagaimana dia tidak mau kalau sampai dirinya menghadapi kejadian yang tidak menggembirakan

Perlu diketahui bahwa serangan yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie itu mengandung tenaga iwekang yang bukan main besarnya. Juga apa yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie penuh perhitungan, di samping bahwa serangannya itu mengandung serangan yang sangat telengas sekali.

Pengemis tua itu waktu melihat telengasnya serangan yang dilancarkan oleh Lian Hoa Sianlie, jadi naik darah, dia jadi gusar juga.

“Benar-benar jahat tanganmu!” gumam pengemis  itu dengan gusar. “Coba kalau memang aku tidak mempunyai kepandaian yang berarti, bukankah aku akan menjadi korban keganasanmu ini?”

Dan membarengi dengan perkataannya itu, cepat sekali tangan kanan pengemis tua itu telah bergerak, dia bukannya untuk menangkis pedang dengan mempergunakan tangannya, karena kalau dia melakukan itu, niscaya tangannya akan buntung. Maka dari itu dia hanya menyentil pedang  yang sedang meluncur kearah dirinya itu.

“Trinnggg!”

 Tepat sekali sentilan tangan itu mengenai pedang tersebut, sehingga pedang itu terpental dan sampai terlepas dari cekalan  telapak tangan Lian Hoa Sian Lie, karena telapak tangannya pedih sekali.

Untuk sejenak Lian Hoa Sian Lie jadi berdiri menjublek. Tampaknya nenek tua ini terkejut bukan main, keringat dingin menitik keluar d ari ke- ningnya.

“Hmmm, sebetulnya kalau memang aku ingin membinasakan dirimu, sama mudahnya seperti aku membalik telapak tanganku ini! Pergilah menggelinding, tetapi robahlah sikapmu, watakmu yang buruk itu harus di - buang!” kata si pengemis.

Sambil menghela napas untuk menenangkan goncangan hatinya, Lian Hoa Sian Lie telah mengawasi si pengemis dengan penasaran.

“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya.

“Kau ingin mengetahui diriku ini untuk membalas dendam nantinya?” “Benar!”

“Hmmm!”

“Kau takut memberitahukan gelaranmu? Budimu yang besar ini tidak akan dilupakan oleh Lian Hoa Sian Lie, sampai kapanpun juga kalau kita ada kesempatan untuk bertemu lagi, niscaya Lian Hoa Sian Lie ingin meminta petunjuk-petunjuk lagi!!”

Mendengar perkataan Lian Hoa Sianlie, pengemis tua itu telah tertawa tergelak-gelak dengan suara yang mengandung ejekan.

“Hahahahah, benar-benar suatu kejadian yang lucu!! Sudah tidak mempunyai kepandaian apa-apa, masih bermimpi nantinya mau membalas dendam padaku!     Bukankah itu sangat menggelikan sekali? Baiklah agar kau nanti tak mampus penasaran, kau dengarlah baik-baik gelaranku adalaha Kay- ho-sim (pengemis baik hati) Wie Tu Hong!”

“Kay-ho-sim Wie Tu Hong?” mengulangi Lian Hoa Sian Lie dengan mengerutkan sepasang alisnya. “Aku belum pernah mendengar namamu itu!!”

Lian Hoa Sian Lie memang berkata dari hal yang sebenarnya, karena memang dia benar-benar belum pernah mendengar nama Kay-ho-sim Wie Tu Hong.

Sedangkan si pengemis yang mengakui dirinya bergelar Kay-ho-sim Wie Tu Hong itu telah tertawa tergelak-gelak.

“Nah, kau sudah mendengar namaku, cepat kau menggelinding enyah sebelum aku merobah pikiranku lagi!” bentaknya.

 Dengan muka merah padam mengandung kemurkaan yang bukan main dan perasaan penasaran, Lian Hoa Sianlie telah berkata: “Baik! Baik! Budi kebaikanmu ini tidak akan kulupakan!!”

Dan setelah berkata begini, Lian Hoa Sianlie telah menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan cepat telah mencelat pergi.

Si pengemis, Kay-ho-sim Wie Tu Hong telah tertawa tergelak-gelak.

SETELAH melihat Lian Moa Sianlie meninggalkan tempat tersebut, si pengemis kemudian menuju kebalik batu gunung itu. Di situ ternyata tampak sesosok tubuh tengah rebah tidak berkutik.

“Dia telah pergi!!” kata si pengemis Kay-ho-sim Wie Tu Hong, sambil menghampiri sosok tubuh itu.

Terdengar sesosok tubuh itu mengeluarkan suara erangan perlahan dan bangun duduk.

“Hampir saja nyaris aku terbinasa di tangan iblis wanita itu!!” kata orang

tersebut, yang ternyata tidak lain dari Tang Siauw Bun.

Kay-ho sim Wie Tu Hong telah tertawa. “Hmmm, kau tidak perlu takut pada manusia seperti itu!” kata si pengemis, tampaknya dia memandang enteng pada Lian Ho Sian Lie.

“Tetapi, keadaanku saat ini tengah terltka cukup parah!” menjelaskan Tang Siauw Bun. “Kalau tidak, akupun  tidak perlu jeri berurusan dengan manusia seperti dia itu!”

“Sebetulnya ada urusan besar bagaimana yang terjadi diantara kalian?!” tanya si pengemis sambil mengawasi Tang Siauw Bun dengan sorot mata yang tajam sekali.

Tang Siauw Bun menghela napas. Dia menceritakan seluruh peristiwa yang telah dialaminya, sampai kuilnya yang telah hancur, musnah termakan api dan juga murid-muridnya  yang telah terbunuh. Kejadian itu diceritakan oleh Tang Siauw Bun dengan cucuran air mata.

Tampaknya Tang Siauw Bun berduka bukan main.

Ternyata waktu tadi Tang Siauw Bun sedang berlari-lari dengan napas yang memburu dan mata berkunang-kunang,  sebab lukanya telah terbuka lagi dan darah mengalir keluar pula, telah bertemu dengan pengemis ini.

Tadinya Tang Siauw Bun menduga bahwa dirinya pasti akan mati di tangan Lian Hoa Sianlie. Apa lagi tubuhnya telah lemas dan dia hampir tidak kuat berlari.

 Waktu lewat di tikungan batu itu, tahu-tahu tangannya telah dicekal oleh seseorang, dan menariknya ke samping, kebalik batu -batu itu. Tadinya  Tang Siauw Bun menduga bahwa yang menariknya itu adalah musuh.

Tetapi orang itu telah membisikinya : “Jangan berisik aku mau menolongmu!” kata orang itu. Maka dari itu, Tang Siauw Bun jadi berdiam diri saja. Dia telah diseret kebalik batu-batu gunung itu, sedangkan si pengemis telah pura-pura tidur di batu tersebut.

Tidak lama kemudian Lia Hoa Sianlie yang mengejar telah tiba. Dengan mempergunakan sebutir batu, pengemis Kay Ho Sim Wie Tu Hong telah menimpuknya. Selanjut ia kejadian yang seperti di atas, maka sampai Lian Hoa Sianlie dapat diusir oleh Kay-ho-sim Wie Tu Hong.

Setelah mendengar cerita Tang Siauw Bun, Kay-ho-sim Wie Tu Hong telah menghela napas panjang, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Itu namanya sudah takdir, tidak bisa dielakkan  lagi!!” kata si pengemis, “Tetapi kau tidak perlu menyesal, yang penting kau harus menyembuhkan  dirimu benar, lalu melakukan pekerjaan besar!”

“Pekerjaan besar?” tanya Tang Siauw Bun dengan heran.

Pengemis itu mengangguk. “Ya, urusan besar itu sangat penting sekali, karena urusan ini akan mempunyai hubungan serta sangkut paut dengan negara kita ini, sebab hal ini adalah rasa penasaran dari Peng Po Siang Sie See Un!!”

“Peng Po Siang Sie See Un?!” tanya Tang Siauw Bun seperti disengat kala

Pengemis tua itu mengangguk.

“Benar! Kau juga disebabkan urusan ini telah menyebabkan kuilmu hancur dan murid muridmu binasa!!” sahut si pengemis. “Bukankah begitu?”

Tang Siauw Bun mengangguk. “Benar! Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

tanya Tang Siauw Bun heran.

Pengemis tua itu tertawa tergelak-gelak.  “Tentu saja aku mengetahuinya, karena memang cucu dari Peng Po Siang Sie See Un yang bernama See Cin Ko telah menjadi muridmu bukan?” tegurnya.

Kembali Tang Siauw Bun heran bercampur kagum, karena setidak-tidaknya dia kagum atas tajamnya pendengaran pengemis ini

“Benar!” sahut Tang Siauw Bun. “Memang cucu dari Peng Po Siang Sie itu akuyang merawat dan mendidiknya!!”

“Hmmm, urusan sudah menjadi demikian besar, maka dari itu kita  harus bekerja lebih hati-hati lagi!!” kata pengemis itu.

“Siapakah namamu?” tegur Tang Siauw Bun sambil mengawasi pengemis itu. “Sudah kukatakan tadi kepada Lian Hoa Sianlie, tentunya kau telah mendengar juga, yaitu Kay-ho-sim Wie Tu Hong!!” sahut si pengemis. “Dan untuk selanjutnya yang terpenting, kita harus pergi ke kota raja, untuk menyelidiki perihal  Peng Po Siang Sie See Un!”

“Tetapi!”

“Kenapa?' tanya Wie Tu Hong waktu melihat Tang Siauw Bun ragu-ragu.

“Tetapi kita harus mencari dulu Cin Ko, cucu dari Peng Po Siang Sie See Un,

karena waktu terjadi kekacauan, dua orang muridku telah menyelamatkannya.”

“Kau tidak usah menguatirkan diri mereka, Loheng!” Kata si pengemis. “Aku telah bertemu dengan mereka, dan katanya mau menuju ke kota raja!”

“Benarkah itu?” tanya Tang Siauw Bun yang jadi girang bukan main. Pengemis itu mengangguk.

“Maka dari itu, kila harus menuju ke kota raja untuk menyusul mereka!!” menjelaskan pengemis itu. “Dan akupun telah menyarankan kepada mereka, selama dalam perjalanan ada baiknya mereka rnenyamar sebagai pengemis saja!!”

'“Bagus!” berseru Tang Siauw Bun dengan girang. “Kalau begitu mari kita harus

cepat-cepat menyusul mereka ke kota raja!”

“Tetapi di samping itu, kau juga harus mengobati luka-lukamu itu agar nanti kau juga bisa melakukan sesuatu yang besar, menggempur Ban Hong Liu, manusia jahanam itu!”

Tang Siauw Bun mengangguk dengan perasaan berterima kasih pada pengemis tua ini, yang juga termasuk tuan penolongnya. Mereka telah cepat-cepat meninggalkan tempat itu

MARI kita menengok pada See Cin Ko yang telah dibawa dan diselamatkan oleh San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu.

Kedua pendeta itu, San Hie dan Ing Tay Siansu telah mengajak serta Cin Ko mereka telah menerobos dari pintu belakang kuil itu, yang terletak didekat sebuah hutan. Dengan menerobos ke dalam hutan, mereka jadi terhindar dari pengepungan pasukan pemerintah.

Dengan gugup dan agak panik, San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu telah menarik-narik See Cin Ko agar melakukan perjalanan dengan cepat. Menjelang malam hari, mereka telah sampai pada kaki gunung.

Cin Ko juga samar-samar masih mendengar suara sorak sotai para tentara pasukan pengepung ini, juga dimalam hari itu mereka melihat sinar merah, menunjukkan bahwa kuil mereka telah terbakar. “Kasihan Suhu! Orang tua itu harus menghadapi pasukan pengepung  yang begitu banyak!” mengeluh San Hie Siansu dengan suara yang berduka dan menghela napas panjang-panjang. Ing Tay Siansu juga telah menghela napas panjang.

“Lihatlah, api itu pasti berasal dari kuil kita yang telah dimusnahkan oleh orang - orang jahanam itu, yang telah menghancurkan segala-galanya!”

Cin Ko hanya berdiam diri saja, dia telah mengawasi saja. San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu telah mengajak Cin Ko untuk melanjutkan perjalanan  mereka. Sebenarnya mereka masih belum mempunyai tujuan yang tetap, tetapi dengan tidak terduga mereka bertemu dengan pengemis Kay-ho-sim Wie Tu Hong.

Pengemis ini ternyata datang ke tempat tersebut  memang dalam perjalanan untuk menemui Cin Ko karena pengemis ini adalah orangnya Peng Po Siang Sie yang tengah menyamar sebagai pengemis. Nama sesungguhnya memang Wie Tu Hong, sedangkan gelarannya itu sekenanya saja waktu dia memberitahukan kepada Lian Hoa Sian Lie. Tentu saja Lian Hoa Sianlie tidak pernah mendengarnya karena memang sesungguhnya Wie Tu Hong bukan seorang pengemis.

Segera juga Wie Tu Hong menganjurkan mereka ke kota raja saja, sebab memang di sana sudah berkumpul kawan-kawan mereka. Juga Wie Tu Hong telah menganjurkan agar mereka menyamar sebagai seorang pengemis.

Sedangkan Wie Tu Hong sendiri telah bermaksud untuk menyelidiki  keadaan kuil itu. Dia ingin mendengar kabar mengenai diri Tang Siauw Bun . Hal itu disetujui oleh San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu, sebab memang mereka ingin sekali pengemis ini pergi menolong guru mereka.

Itulah sebabnya Wie Tu Hong tidak melakukan perjalanan bersama-sama dengan Cin Ko dan yang lain-lainnya, melainkan dia telah menaiki gunung itu, untuk memeriksa keadaan kuil Tang Siauw Bun

Tetapi siapa tahu, dia malah telah dapat menolong Tang Siauw Bun yang tengah dikejar-kejar oleh Lian Hoa Sian Lie.

Cin Ko bertiga telah melakukan perjalanan dengan cepat ke kota raja. Mereka telah memperoleh alamat tempat kawan-kawan mereka berkumpul dari Wie Tu Hong. Siang malam Cin Ko bertiga telah melakukan perjalanan. Mereka letih sekali, tetapi disebabkan waktu yang terlalu mendesak, mau tidak mau mereka harus melakukan pcrjalanan tanpa mengenal lelah.

Makan dan tidur sudah tidak teratur lagi, malah mereka sengaja tidak membeli baju untuk bersalin, sehingga baju mereka dekil dan banyak yang robek, menyerupai pengemis sungguhan.

Dua puluh hari lamanya mereka melakukan perjalanan, dan menjelang malam yang ke dua puluh satunya, mereka telah sampai di pinggiran kota raja itu. Namun, mereka tidak segera memasuki kota raja, Pakkhia,  karena mereka ingin mengaso dulu. Juga pintu kota telah tertutup rapat. Bisa saja San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu mempergunakan ginkang mereka untuk melewai tembok itu, tetapi mereka tidak mau melakukannya, sebab bisa menimbulkan kecurigaan. Itulah sebabnya mereka ingin mengaso menantikan sampai besok paginya. Mereka tidur di alam terbuka, dan keadaan mereka memang mirip sekali pengemis-pengemis kelaparan.

Waktu menjelang fajar pintu kota telah dibuka dan ramai sekali orang yang keluar masuk pada pintu kota bagian selatan ini.

Pertama-tama yang dilakukan oleh Cin Ko adalah mencari rumah makan, mereka membeli makanan, sedangkan San Hie dan Ing Tay Siansu hanya memenantikan agak kejauhan, sambil membawa bungkus makanan itu, Cin Ko telah kembali pada Ing Tay Siansu dan San Hie Siansu. Mereka makan dan sarapan dengan lahapnya.

“Suheng!” kata Cin Ko pada San Hie Siansu dikala mereka sedang makan.

“Apakah kita akan segeera mencari alamat yang diberikan oleh Wie Sioksiok?”

San Hie Siansu sambil mengunyah telah mengangguk. Tetapi belum lagi dia menyahuti, tampak dari dalam kota telah melangkah keluar seo rang Hweshio berpakaian kumal terbuat dari bahan yang kasar, di tangannya memegang pen - tungan, sambil berjalan telah berteriak-teriak seperti Hweshio gila :

“Siapa yang mau tahu nasib, peruntungan dan jodoh? Pinceng dapat membuka kartu semua nasib yang akan dialami oleh siapa pun juga!” perkataan in diulangi terus menerus dengan suara yang nyaring.

Cin Ko jadi tertarik, dia menoleh kepada Ing Tay Siansu.

“Ing Tay Suheng, apakali benar perkataannya itu?” tanya si bocah.

Ing Tay Siansu menggelengkan kepalanya. “Tidak!  Dia hanya mencari uang

untuk sesuap nasi!” Katanya kemudian.

“Tetapi biarlah, Sute ingin coba-coba  melihat nasib!” kata Cin Ko sambil tertawa.

“Anak nakal!” kata Ing Tay sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tetapi Cin Ko tidak memperdulikan perkataan dari Ing Tay Siansu. Dia telah

memanggil : “Taysu, coba kemari sebentar untuk melihat nasibku!!”

Pendeta ini baru saja mau berteriak lagi, tiba-tiba mendengar dirinya dipanggil. Dia menoleh dan mengawasi tajam kearah Cin Ko, dia melihat yang memanggil d irinya hanyalah seorang bocah cilik. Namun nyatanya Hweshio itu tidak menolaknya, walaupun dia telah melihatnya pakaian Cin Ko lebih mirip pengemis.

Dihampirinya Cin Ko, tahu-tahu Hweshio ini telah merangkapkan sepasang tangannya. “Ada keperluan apakah Thay  Kongcu (pemuda dari  golongan bangsawan)?” tanya Hweshio itu. Cin Ko jadi tercekat hatinya, tetapi dia dengan cepat dapat menguasai hatinya, karena dia telah tertawa,

“Coba tolong Taysu melihat jalannya nasibku!!” kata Cin Ko diantara tertawanyaitu. “Jangan Taysu melihat pakaian kami yang dekil dan kumal ini, tetapi kami sanggup membayar ongkos kwamian ini!”

Si Hweshio tertawa lebar, sikapnya sangat menghormat sekali. “Tentu saja Tay Kongcu sanggup membayarnya! Malah seharusnya sekarang ini Pinceng  berd iri terpisah sepuluh meter dari Tay Kongcu, tidak pantas berdiri di tempat yang sedekat ini!”

“Kenapa?”

“Karena Tay Kongcu seorang putera dari bangsawan besar yang berkuasa di

daratan Tionggoan ini!” sahut si Hweshio.

“Hah! Bisa saja Taysu!” sahut Cin Ko sambil tertawa. Tetapi hati si bocah kaget

setengah mati atas perkataan si Hweshio.

Si Hweshio berpakaian dekil itu telah tertawa lebar. “Tidak perlu Tay Kongcu membantah, karena pcrcuma saja, terserah di hati Kongcu sendiri yang mau mengakuinya atau tidak, jangan dikatakan oleh mulut Tay Kongcu!!”

'Tetapi Taysu, sebenarnya aku ini manusia yang sudah tidak ada harganya, lihatlah pakaianku ini yang dekil dan kotor, hidup sebagai seorang pengemis!!” kata Cin Ko.

Si Pendeta telah tertawa lagi. “Tidak usah Tay Kongcu merendahkan diri begitu, kita tidak bisa dilihat dari luarnya saja, tetapi yang dilihat adalah keadaan diri kita yang sesungguhnya!”

Cin Ko terkesima, dia tidak bisa berkata-kata lagi.

Pendeta itu telah mengawasi Cin Ko. Lama sekali, sampai akhirnya dia mengangguk-anggukkan kepalanya.