Manusia Jahanam Jilid 11

 
Jilid 11

Hati si Buntung segera teringat seseorang. Dilihat dari senjata emas yang berbentuk jarum, yang telah menghabisi jiwa kacungnya itu. dia teringat kepada seseorang yang selalu mempergunakan jarum emas beracun sebagai senjatanya.

Keringat dingin tanpa terasa telah mengalir  keluar dari keningnya. “Apakah, apakah dia juga turun kegelanggang pula?!” gumam si Buntung dengan suara yang sember dan mengandung keraguan.

Dia tampaknya ragu-ragu sekali melihat keadaan demikian, biarpun dia teringat kepada seseorang, tokh juga dia tidak berani memastikannya.

Namun karena kacungnya terbinasakan itu tak memberikan perlawanan, dia jadi teringat kepada orang itu, yang memang kebiasaannya membokong dengan senjata andalannya itu

Cepat-cepat si Buntung telah meneliti senjata jarum itu. Diam-diam matanya memancarkan sinar ngeri dan bercampur murka. Biar bagaimana kacungnya itu sangat disayangnya, maka dari itu, dengan kematian kacungnya itu, membuat dia berduka serta sakit hati. Berulang kali si Buntung  telah menghela napas.

Disaat itu telah menjelang tengah malam, dan diantara suara  desir angin malam, terdengar desir angin yang deras. Si Buntung ketika mendengar desir angin yang agak aneh itu jadi terkejut

Tetapi belum lagi dia bisa berbuat apa-apa, belum lagi sempat berpikir, maka kertas jendelanya telah kena ditomblos oleh sebutir  batu yang diikat oleh secarik kain.

Cepat-cepat si Buntung telah mengambil batu terbungkus kain yang telah jatuh dilantai kamarnya itu, dia cepat-cepat membuka lipatan kain yang dipakai membungkus batu itu.

Ternyata kain tersebut merupakan sepucuk surat,  dan surat ini datangnya dengan cara begitu, sama saja seperti juga surat kaleng, karena surat itu dikirimkannya hanya mempergunakan sebutir batu belaka,

menunjukkan bahwa orang yang mengirimkan surat kaleng itu tidak mau berjumpa dengan si Buntung.

Dengan hati yang tcrgoncang keras, si Buntung membacanya :

Sudah dua hari kau menantikan kembalinya kedua kawanmu, bukan! Bagus! Kali ini kau tidak perlu gelisah lagi, karena kedua kawanmu ini telah kukirim pulang, tetapi ke neraka! Juga mayatnya kukirim kepadamu, untuk kau urus penguburannya!

Dan tunggu saja giliranmu, karena tak lama lagi pasti tiba giliranmu itu, sabar saja.

Dari : Orang yang tidak senang dicampuri urusannya.

Membaca surat itu, tubuh si Buntung jadi gemetaran saking murka. Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia telah mencelat keluar dari jendela kamarnya itu.

Waktu sampai di luar kamarnya, di pekarangan  rumah penginapan tersebut, dia melihat tidak terdapat seorang manusiapun juga yang bisa dijumpainya, hanya angin malam yang berhembus dingin.

Juga di pekarangan itu sudah tidak terdapat tamu-tamu dari rumah penginapan ini, karena mungkin juga tamu-tamu  lainnya telah menyelimuti tubuh mereka   menghindarkan hawa udara yang dingin dan tengah bermimpi di dalam kamar masing-masing dan di ranjang masing-masing pula.

Keadaan sunyi sekali, karena hari sudah terlalu larut malam. Diantara desir angin itu, tiba-tiba mata si Bunumg telah melihat sesuatu. Apa yang dilihat si Buntung membuat hatinya jadi tergoncang bukan main. Dua sosok tubuh terbujur di atas tanah tanpa bergerak.

Hati si Buntung berdebar keras, hatinya tergoncang dan sepasang matanya dipentang lebar-lebar untuk mengawasi lebih jelas. Tetapi begitu dia dapat melihat apa yang ada dihadapannya, yaitu dua sosok tubuh yang rebah dalam keadaan tidak lengkap, kaki tangannya yang telah buntung, dia jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Apa lagi setelah si Buntung mengenali bahwa kedua sosok tubuh yang sudah tidak lengkap itu tidak lain dari Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang. Dengan sendirinya si Buntung merasakan seperti juga dirinya disambar petir. Dengan cepat dia telah memeriksa keadaan kedua mayat yang sudah tidak lengkap. Malah saking murka dan juga duka bukan main, si Buntung telah menangis menggerung-gerung.

Setelah puas menangis, dia mengangkat tubuh Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang sudah tidak lengkap dan menjadi mayat dengan sepasang mata

 mendelik lebar-lebar, seperti juga kedua orang ini binasa dalam keadaan penasaran sekali.

Direbahkannya mayat Giok Ie Lang dan Wu Ci Siang di atas lantai, disamping mayat kacungnya, yaitu Ming-jie.

Setelah meletakkan kedua sosok matat itu, maka si Buntung duduk termenung seorang diri. Dia merasakan sekarang, betapa musuhnya benar - benar biadab sekali Orang-orangnya, sahabat-sahabatnya telah dibabat habis satu persatu. Dia telah kehilangan kacungnya. Dan sekarang menyusul Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang telah terbinasa.

Sedangkan Thang Lan Hoa juga tengah terluka parah keracunan. Jiwanya masih belum ketentuan, karena dia bisa selamat dan bisa juga lukanya itu menyebabkan dia binasa dengan menyedihkan.

Tetapi kenyataan yang ada membuat si Buntung  jadi mempunyai harapan yang tipis sekali mengharapkan kesembuhan dari Thang Lan Hoa, karena dia nampaknya sudah gawat bukan main keadaannya, dan juga luka keracunannya semakin berat.

Berulang kali si Buntung telah menghela napas dalam-dalam. Dia juga telah mengucurkan air mata tidak hentinya. Biar bagaimana tetap saja si Buntung penasaran, namun sekarang dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya guna   menyelesaikan   persoalan   tersebut.   Terutama membalaskan dendam sahabat-sahabatnya ini.

Namun sekarang lawannya telah membuktikan bahwa lawannya itu jauh lebih kuat. Satu persatu kacung, sahabat dan juga Thang Lan Hoa telah dirubuhkan. Maka dari itu si Buntung cuma  mengambil keputusan nekad, bahwa dia akan tetap dengan pendiriannya, yaitu mencari musuhnya, guna menempurnya.

Walaupun dia harus mengorbankan jiwa dan mengadu jiwa dengan lawannya, tetap saja dia akan mencari musuhnya itu, menyelidiki siapa sebenarnya yang telah membunuh kacungnya itu. Walaupun dia telah dapat menduga seseorang karena melihat jarum emas yang telah merenggut nyawa kacungnya itu. Tetapi inipun belum dapat dipastikan

Tetapi yang membuatnya jadi tambah bingung adalah kematian Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang. Entah siapa yang telah turun tangan membunuh kedua sahabatnya itu. Inilah yang telah membingungkan benar hati dari si Buntung:.

Juga yang membuatnya jadi ragu-ragu, dia telah berpikir dua kali untuk mencari dan menyelidiki siapa musuhnya, lalu menerjangnya.

 Kalau sampai dia terbunuh juga di tangan lawannya, siapakah yang akan menyiarkan segala peisoalan tersebut?! Bukankah orang-orang  gagah tidak ada yang mengetahui kejadian seperti ini?

Tetapi untuk tidak membalaskan saki hati sahabat-sahabatnya itu, juga hati si Buntung tidak lega. Biarpun tokh kenyataannya dia bermaksud untuk mengumpulkan orang-orang gagah agar menyelidiki peristiwa ini, tetap saja hal itu tidak akan membawa keuntungan bagi dirinya.

Lawannya berada di tempat gelap, karena si Buntung sampai detik ini tidak mengetahui siapa lawannya yang sebenarnya. Sedangkan dirinya sendiri berada di tempat terang, lawannya telah mengetahuinya, sampai mengirimkan mayat kacungnya, mengirimkan pula mayat dari Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang ke kamar di rumah penginapannya ini.

Benar-benar si Buntung jadi diliputi oleh keraguan yang sangat. Untuk sementara waktu dia belum bisa mengambil keputusan yang dirasa tepat.

Sedang si Buntung termenung begitu dengan pikiran yang kalut dan tidak tenang, penuh kebimbangan, maka terdengar Thang Lan Hoa merintih denaan suara yang lirih sekali, menunjukkan bahwa orang she Thang tersebut tengah menderita kesakitan yang hebat.

Rupanya. racun yang mengendap ditubuhnya telah bekerja pula dengan keras, sehingga membuat dia jadi menderita sekali

Si Buntung yang melihat nasib kawannya ini. yang begitu tersiksa, benar-benar jadi tidak tega. Tetapi apa yang bisa dilakukannya? Sedangkan dia hanya mengerti ilmu silat belaka,  dia hanya mengerti cara berkelahi, namun tidak mengerti ilmu pengobatan.

Bagaimana dia bisa mengobati penyakit yang diderita oleh Thang Lan Hoa. Apa lagi penyakit yang diendap ini merupakan keracunan. Inilah yang lebih sulit lagi!

Berulang kali si Buntung telah menghela napas  dengan air mata bercucuran melihat nasib kawannya itu, dia hanya bisa melihat saja. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain berdia m di tepi pembaringan untuk memandangi keadaan kawannya tersebut.

Dilihatnya wajah Thang Lan Hoa sudah mulai kehitam-hitaman dan sebentar lagi pasti dia tidak tahan untuk mempertahankan hidupnya. Nyawanya pasti akan terbang meninggalkan raganya itu, yang telah penuh oleh amukan racun-racun yang ganas dan berbagai macam. 

Sebetulnya telah berpikir juga di dalam ingatan si Buntung, bahwa dia tidak tega melihat penderitaan Thang Lan Hoa dan bermaksud  akan menghabiskan saja nyawa kawannya ini, agar tidak terlalu menderita lebih

 lama lagi. Namun dia tidak berdaya sama sekali, karena biar bagaimana dia tidak tega untuk membunuh kawannya ini.

Thang Lan Hoa merintih terus menerus tidak hentinya, sebab dia benar- benar terlalu menderita. Malah Thang Lan Hoa telah mengigau tidak keruan, dia juga tidak hentinya menyebut-nyebut nama Wu Cie Siang berulang kali. Air mata si Buntung tidak bisa ditahan-tahan lagi, dia terharu sekali.

Malah si Buntung yang seumur hidupnya belum pernah menangis dan tidak pernah jeri menghadapi maut, menerima kenyataan seperti ini telah membuatnya jadi menangis menggerung-gerung.

Sedangkan Thang Lan Hoa sendiri masih terus juga merintih tidak hentinya. Orang she Thang ini berada dalam alam setengah sadar dan tidak. Terkadang dia melihat si Buntung yang berada disamping pembaringannya dan sering juga dia memanggil-manggil si Buntung dengan sebutan 'Loheng' yang berulang kali.

Hal ini menambah kedukaan pada diri si Buntung. Dikala si Buntung tengah memandangi Thang Lan Hoa yang sedang meregang nyawa itu, karena racun semakin menghebat mengamuk ditubuhnya, tiba-tiba  pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara langkah kaki yang r ingan bukan main.

Darah si Buntung jadi meluap naik ke kepala. '“Biarlah aku mengadu jiwa, lebih baik aku binasa juga, dari pada yang lainnya telah binasa dan hanya aku seorang diri yang masih hidup!!” pikirnya di dalam hati.

Karena berpikir begitu, cepat-cepat si Buntung penuh kemurkaan telah menghampiri kearah jendela. karena dia telah menyangkanya bahwa  yang datang menyatroninya pasti kawannya juga, yang telah mencelakai kawan- kawannya itu.

Si Buntung telah berjongkok didekat jendela, dia mengawasi kearah luar dengan sikap dan sinar mata yang beringas. Dengan sendirinya, sorot mata itu mengandung hawa pembunuhan juga.

Suara langkah kaki di atas genting terdengar  semakin jelas. Dengan penuh kemurkaan, mata si Buntung tidak berkedip mengawasi keluar.

Dia sudah memutuskan dengan nekad, begitu orang yang berada di atas genting itu melompat turun, dia akan segera menyergapnya. Rupanya orang yang berada di atas genting tidak mengetahui dibawah telah ada orang yang sedang menantikan dirinya. sebab tidak lama kemudian tampak dari atas genting itu telah melompat turun dengan kegesitan yang bukan main serta ringan sekali.

Disaat seperti inilah, dengan nekad dan dengan mengeluarkan seruan murka, si Buntung telah mempergunakan sepasang tangannya untuk menekan lantai, tubuhnya telah mencelat cepat sekali, dia telah menubruk kearah orang

 yang baru melompat turun itu dengan membarenginya juga mempergunakan kedua tangannya untuk menghajar melancarkan serangan yang hebat!

TENTU saja orang yang baru melompat turun dari atas genting itu jadi terkejut bukan main, karena tahu-tahu ada sesosok tubuh yang telah mencelat kearahnya melancarkan serangan hebat. Juga orang itu merasakan betapa serangan dari orang yang membokongnya itu mengandung tenaga serangan yang bukan main.

Namun orang yang baru turun dari atas genting itu memang memiliki kepadaian yang tinggi membuatnya biarpun dia diserang mendadak begitu, toch kenyataannya dia tidak menjadi panik dan gugup.

Dengan tenang tubuhnya telah melejit ke samping kiri, bagaikan mundur ke belakang beberapa tindak membarengi mana kaki kanannya telah menyepak kearah kempolan si Buntung dengan tendangan yang mengandung tenaga dalam yang tinggi sekali.

Hal ini memaksa si Buntung mau tak mau harus menarik pulang serangannya dan dia juga telah melompat mundur agar dirinya juga tidak celaka disebabkan tendangan orang itu.

Disaat itulah, orang yang baru turun dari atas genting yang telah berhasil mengelakkanserangan yang dilancarkan si Buntung telah berseru : “Omitohud! Omitohud!! Sabar!Pinceng datang kemari bukan untuk mencari urusan!”

Mendengar orang menyebut-nyebut Omitohud berulang kali, dengan sendirinya si Buntung jadi terkejut sekali karena dia segera dapat menerka bahwa orang yang baru datang ini pasti seorang Hweshio.

Cepat-cepat si Buntung telah mementang matanya lebar-lebar mengawasi orang itu. Benar saja, di hadapannya berdiri seorang H weshio berusia diantara lima puluh tahun, wajah Hweshio itu sabar sekali.

Sepasang alis si Buntung jadi mengkerut dalam-dalam.  “Siapakah Taysu?” tegur si Buntung dengan suara mengandung keheranan yang sangat. “Mengapa datang mindik-mindik begitu?!”

Si pendeta tidak segera menyahuti, tampaknya dia ragu-ragu. Namun biarpun begitu, dia tokh telah merangkapkan sepasang tangannya. “Pinceng lewat di tempat ini tidak bermaksud jahat terhadap siapapun juga!” katanya kemudian dengan suara yang sabar dan wajah yang welas asih. “Percayalah! Pinceng tidak mempunyai maksud jahat terhadap siapapun juga!”

“Lalu mengapa Taysu mengambil jalun di atas genting penduduk?”

tegur si Buntung dengan sikap bercuriga terus

Si pendeta jadi tambah ragu-ragu.

 “Katakanlah Taysu!” desak si Buntung yang bertambah curiga. “Apa maksudmu mengambil jalan di atas genting penduduk?”

“Sebetulnya!” sahut si pendeta dengan sikap yang masih  ragu-ragu.

“Pinceng sebenarnya sedang mencari seseorang!”

“Siapakah orang yang sedang Taysu cari itu?” tegur si Buntung. “Percuma, kau tidak akan mengenalnya, Loenghiong (orang gagah

tua)!” kata si pendeta yang jadi  tidak senang dirinya di  desak begitu,  juga cara bertanya dari si Buntung memang tidak sopan.

“Siapa tahu aku mengenalnya!!”

“Apakah perlu Pinceng sampai menyebutkan nama orang itu untuk

Loenghioig!” tanya si-pendeta yang jadi tersinggung bukan main.

“Ya!” menyahuti si Buntung tegas.

“Tetapi percuma saja!” kata si pendeta sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, biarpun dia tersinggung dan mendongkol di desak begitu rupa oleh si Buntung, namun dia masih bisa bersikap sabar.

“Hmmm      tidak! Biar bagaimana kau harus menyebutkan dulu siapa orang yang sedang kau cari itu, sebab bisa saja kau mempunyai alasan sedang mencari orang, padahal kau sedang mengintai diriku!!”

“Hah?” Pendeta itu terkcjut. “Kenapa terkejut?”

“Untuk apa pinceng  mengintai Loenghiong?” tegur pendeta itu.

“Siapa tahu?”

Muka pendeta itu jadi berobah merah, rupanya dia jadi gusar. Si Buntung tertawa dingin.

“Siapa tahu hati orang, bukan?” tanya si Buntung lagi.

'Tetapi yang jelas pinceng tidak bermaksud jahat terbadap siapapun juga!” 'Tetapi sudah tadi kukatakan, hati orang sukar untuk diterka!” “Kurang ajar sekali kau!”

Melihat Hweshio itu gusar. Si Buntung telah tertawa dingin.

“Hmmm, rupanya Taysu memang mencari-cari alasan belaka bahwa kau sedang   mencari seseorang,   padahal memang Taysu tengah menyelidiki

keadaan diriku!!” kata si Buntung dengan suara mengejek.

Hweshio itu jadi tambah gusar, dia telah membentak dengan suara yang

agak keras : “Sebetulnya yang pinceng cari adalah sese orang yang memiliki

 lama besar dan gelaran yang harum! Kalau kau mendengarnya, pinceng takut kalau-kalau kau akan mati disebabkan terkejut!”

“Katakan siapa orang itu!” desak si Buntung dengan suara yang tawar. “Dia bernama Thang Lan Hoa!” sahut si Hweshio.

“Hah?!” sekarang giliran si Buntung yang jadi kaget setengah mati.

“Kenapa kau terkejut?”? sekarang giliran si Hweshio yang bertanya begitu dengan nada yang mengejek,  dia mempergunakan perkataan  Si Buntung.

“Kau, apa maksudmu mencari Thang Lan Hoa?” tegur Si Buntung yang

jadi tambah curiga saja melihat keadaan demikian rupa.

“Hmmm, orang she Thang itu adalah kawanku, dia telah terluka oleh serangan seorang iblis, dan perlu cepat-cepat Pinceng menolongnya!!” sahut si Hweshio.

“Benarkah perkataanmu itu?”' tanya si Buntung jadi kaget bercampur

girang.

Si Pendeta telah   menganggukkan kepalanya beberapa   kali. “Ya!” “Kalau begitu, kalau begitu orang she Thang itu berada di dalam kamar.

Taysu boleh cepat-cepat  menolongnya, karena Thang Lojie tengah terluka

parah!!” kata si Buntung.

Si Hweshio juga telah berobah mukanya memperlihatkan ketegangan yang bukan main.

“Cepat! Kalau terlambat racun iblis itu akan menjalar ke jantungnya, tentu bisa membawa kematian bagi dirinya!” seru si Hweshio. “Sudah dua hari aku putarkota mencari-carinya, tetapi   tidak   berhasil   menemukannya! Sianchay! Sianchay! Rupanya Hud-couw masih melindungi!!”

Dan setelah berkata begitu, cepat-cepat si Hweshio telah mengikuti si Buntung melompat masuk ke dalam kamar.

Saat itu Thang Lan Hoa tengah mengerang-erang dengan suara yang lirih dan seperti juga dia menderita kesakitan yang bukan main. Tanpa dipersilahkan lagi, si Hweshio telah menyerbu ke dekat pembaringan.

Cepat-cepat dia memeriksa keadaan Thang Lan Hoa, mukanya jadi berobah pucat memperlihatkan ketegangan dan kepalanya yang gun dul itu telah digeleng-gelengkan berulang kali, seperti juga dia melihat keadaan Thang Lan Hoa benar-benar telah parah benar.

Maka dari itu, tanpa membuang-buang waktu lagi, setelah memeriksa keadaan Thang Lan Hoa, tampak si Hweshio telah merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah Yo-wan (obat yang berbentuk bulat) dia telah

 menjejalkan ke dalam mulut Thang Lan Hoa. Kemudian dia juga telah menotok beberapa jalan darah Thang Lan Hoa

Cepat dan sebat sekali si Hweshio bekerja, sehingga di dalam  waktu hanya sekejap mata dia telah menotok hampir tujuh puluh jalan darah di tubuh Thang Lan Hoa.

Pekerjaan menotok jalan darah ini, untuk membendung menjalarnya racun di dalam tubuh Thang Lan Hoa sebenarnya bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, sebab memakan banyak sekali tenaga!

Lagi pula, setelah menotok selesai seluruh jalan darah ditubuh Thang Lan Hoa, tampak Hweshio ini telah menempelkan telapak tangannya pada bahu Thang Lan Hoa, di sebelah kanannya, pada jalan darah Sung-siu-hiatnya.

Cepat sekali, keadaan berlangsung hening.

SI BUNTUNG telah menyaksikannya dengan ketegangan. Belum pernah si Buntung seumur kidupnya merasakan ketegangan seperti ini. Akhirnya, diapun juga telah memohon kepada Thian agarahweshio ini berhasil menyembuhkan Thang Lan Hoa.

Sedangkan Hweshio itu telah sibuk bekerja terus untuk menolong nyawa Thang Lan Hoa. Cepat sekali segalanya itu berlangsung, dan berselang sesaat lagi, segera si Hweshio telah menarik telapak tangannya itu. Dia telah selesai menyalurkan tenaga dalamnya pada tubuh Thang Lan Hoa, yang saat itu sudah tidak merintih dan tampak tertidur nyenyak, karena Yowan yang dijejali oleh Hweshio itu kemulutnya telah mulai bekerja memberikan reaksi.

Muka Thang Lan Hoa juga sudah tidak sehitam tadi. Napasnya mulai teratur. Si Hweshio menghela napas panjang, dia menghapus kermgatnya.

“Untung saja aku datang lebih cepat, kalau  terlambat sedikit saja, jangan kata Pinceng, biarpun dewata turun dari kahyangan, jangan harap bisa menolong jiwa Thang Lojie lagi!!” dan setelah berkata begitu si Hweshio menghela napas berulang kali.

Si Buntung masih diliputi ketegangan yang bukan main. “Jadi jadi jiwa Thang Lojie dapat tertolong Taysu?” tanyanya dengan suara harap-harap mengandung kecemasan juga.

Pendeta itu telah mengangguk. “Ya!” sahut pendeta itu. “Tetapi dia harus beristirahat yang cukup? Namun disebabkan Pinceng masih terlambat sedikit, racun itu telah memakan kaki kanannya, nanti kalau dia sembuh dan terhindar dari bahaya racun itu, mudah-mudahan saja kaki kanannya itu tidak menjadi lumpuh! Kita doakan saja!”

Hati si Buntung jadi giris. Hal ini disebabkan dia sendiri sudah tidak memiliki sepasang kaki. Dia telah merasakan bagaimana rasamu tidak memiliki kaki.

 Maka dari itu, kalau sampai Thang Lan Hoa menjadi lumpuh kaki kanannya, tentu hal itu akan menyebabkan jiwanya tergempur. Namun, yang terpenting adalah menyelamatkan jiwanya, maka dari itu itu si Buntung telah bersyukur kalau saja Thang Lan Hoa telah dapat diselamatkan jiwanya dari keracunan yang begitu ganas.

Disaat itulah si Hweshio baru melihat mayat-mayat dari kacungnya si Buntung, mayat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, mukanya berobah hebat.

“Hei!!” dia mengeluarkan seruan tertahan. “Mereka, apakah mereka telah binasa?”

Si Buntung berobah mukanya jadi berduka bukan main, dia telah mengangguk. '“Ya!” sahutnya. “Ini semua disebabkan oleh suatu persoalan, Taysu!!”

“Soal apa?”

Segera si Buntung menceritakannya asal usul dari semua kejadian yang telah menimpa kacung dan kawan-kawannya tersebut.

Mendengar cerita si Buntung, betapa gusar si Hweshio, dia sampai menggeprak rneja. “Benar-benar biadab!!” dia mendesis dengan muka yang merah padam disebabkan amarah yang bukan main.

“Siapakah Taysu sebenarnya?” tanya si Buntung kemudian.

Hweshio itu telah menghela napas panjang, mukanya murung. “Pinceng sebenarnya sudah lama tidak mau mencampuri urusan di dalam keduniawian dan sudah lama orang tidak menyebut gelaran Pinceng, sehingga hampir terlupa gelaran itu! Pinceng telah dianugerahi gelaran oleh Hudcouw (sang Budha) yaitu Ming Sing Siansu!”

“Ohhh, Ming Sing Siansu dari Siauw Lim Sie?” tegur si Buntung dengan

perasaan terkejut bukan main.

Hweshio itu telah menganggukkan kepalanya.

“Benar!!”

“Hai! Betapa sudah lama Lohu mendengar nama besar Taysu!!” kata si Buntung dengan suara yang girang dan mengandung rasa kagum. Lohu juga telah pernah mendengar, betapa tiga puluh perampok  digunung Cing-san telah dibabat habis oleh Taysu hanya seorang diri saja!”

Si Hweshio hanya tersenyum. '“Itu hanya urusan kecil yang dibesar -

besarkan orang!” katanya.

“Hmmm!” mendengus si Buntung, wajahnya tamoak girang bukan main. “Dengan turun tangannya Taysu mencampuri persoalan ini, jelas pihak Hohan memperoleh bantuan yang besar artinya!!'

 Muka si Hwshio berobah merah.

“Sianchay! Sianchay!” dia memuji kebesaran nama sang Budha. “Semua

itu hanyalah kebanggaan kosong belaka!”

“Benar! Tepat apa yang dikatakan oleh Taysu! Memang Lohu sendiri tadinya telah tawar untuk mencampuri persoalan dunia Kang-ouw! Tetapi berhubung kali ini mempunyai sangkut paut dengan keselamatan negara dan juga memang juga menyangkut keselamatan dan rasa penasaran dari Peng Po Siang Sie See Un, seorang Menteri Pertahanan yang     jujur dan tidak korup, maka dari itu mau tidak mau Lohu harus mencampuri persoalan ini!!”

Si Hweshio tersenyum. “Semua penghuni dibumi ini memang telah mempunyai jalan hidupnya masing-masing, dan harus mengalami apa  yang telah menjadi tulisan tangannya, nasibnya !!” kata si Hweshio.

'Tetapi    kita    juga    harus    berjuang    Taysu,    jangan    kita    terlalu

mengandalkan kepada nasib!”

“Benar!”   kata   si   Hweshio.   “Apa  yang   dikatakan   oleh   Loenghiong

memang benar!”

Dan mereka telah bercerita banyak mengenai jago-jago di dalam rimba persilatan. Pengetahuan Ming Sing Siansu ini ternyata luas sekali. Dia mengenal banyak sekali tokoh-tokoh di dalam rimba persilatan. Dengan sendirinya, dia juga telah menceritakan bagaimana pergolakan yang tengah terjadi di dalam rimba persilatan.

“Maka dari itu, kita juga tidak boleh terlalu ceroboh membicarakan persoalan Peng Po Siang Sie See Un ini kepada siapa saja! Seperti  tadi Loenghiong pernah mengatakan bahwa hati orang siapa tahu, tentunya memang demikian, walaupun di luarnya kita melihat bahwa orang itu baik dan jujur, namun belum tentu jiwanya sebersih wajahnya!!”

“Tepat! Memang itulah sebabnya mengapa Lohu sampai saat ini belum memperoleh kesempatan untuk berkumpul dengan sahabat yang bertujuan sama! Malah belum apa-apa Lohu telah mengalami kejadian seperti ini!”

“Sianchay! Sianchay! Itu sudah nasib dan tidak bisa kita katakan apa lagi! Sudah takdirnya bahwa ketiga sahabat Loenghiong  harus berpulang dengan jalan demikian!” dansetelah berkata begitu, Ming Sing Siansu menghela napas berulang kali .

“APA   RENCANA   Loenghiong   selanjutnya?”   tanya   Ming   Sing   Siansu

setelah mereka masing-masing berdiam diri sejenak.

“Belum tahu! Semuanya telah berantakan!” sahut si Buntung. “Sebenarnya Lohu ingin mengadu jiwa dengan orang-orang yang telah mencelakai kacung serta sahabat-sahabatku ini, tetapi apa mau dibilang,

waktu mereka masih hidup saja, disaat jumlah kami masih banyak, aku si Buntung sudah tidak mampu melakukan apa-apa lagi! Apa lagi hanya tinggal seorang diri apa yang dapat Lohu kerjakan?!”

Setelah berkata begitu, saking berdukanya, si Buntung telah meghela napas beberapa kali, malah sampai menguburkan air mata.

Ming Sing Siansu yang melihat sikap si Buntung, telah cepat-cepat menghiburnya. “Sudahlah, untuk apa Loenghiong terlalu menyiksa diri oleh segala kebohongan yang terdapat di dalam dunia ini! Setiap manusia tokh akhirnya akan kembali keasalnya?” katanya .

Mendengar perkataan si Hweshio, Si Buntung  telah menghapus air matanya sambil meng-angguk-anggukkan kepalanya, tiba-tiba dia teringat sesuatu.

Cepat-cepat si Buntung telah merogoh sakunya, dia telah mengeluarkan secarik kain, surat kaleng yang dikirimkan oleh seseorang yang   tidak diketahui siapa adanya diperlihatkannya kepada Ming Sing Siansu.

Si Hweshio telah membacanya, tetapi wajahnya tidak memperlihatkan perobahan apapun juga, dia hanya menghela napas.

“Untuk selanjutnya memang Lohu harus berlaku lebih hati-hati!!”  kata si Buntung sebelum si Hweshio membuka mulut berkata. “Karena Lohu mengerti bahwa diri Lohu tengah berada di dalam inceran orang-orang itu!!”

Ming Sing Siansu telah menganggukkan kepalanya berulang kali. “Benar!!” katanya cepat. “Tetapi disamping itu, L oenghiong juga tidak perlu takut di gertak' oleh orang-orang init karena biar bagaimana  kita berdiri dilandasan kebenaran! Mau tidak mau, biar apapun yang terjadi, kita harus menghadapinnya!”

Si Buntung mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali. “Ya! Memang keadaan telah berobah begini,  kalau sampai terpaksa, Lohu juga tidak sayang untuk mempertaruhkan jiwa yang sudah tua ini!”

“Tidak ' Tidak! Loenghiong bukannya berdiri seorang diri! Tahukah Loenghiong bahwa sudah banyak sekali jago-jago yang berdatangan ke kota raja, yang mempunyai tujuan dan maksud sama seperti Loenghiong?”

“Hah?” betapa terkejutnya si Buntung, tetapi disamping itu dia juga jadi

merasa girang bukan main. “Benarkah apa yang dikatakan oleh Taysu?”

Si pendeta telah tersenyum. “Untuk  apa Pinceng mendustai Loeng-

hiong?” katanya sabar.

“Bagus! Bagus!” berteriak si Buntung dengan perasaan girang. “Terima kasih kepada Thian yang telah membantu untuk menegakkan keadilan!! Oh Thian keadilan akan muncul untuk menumpas segala kejahatan!!”

 Si Hweshio menghela napas, dia terharu melihat sikap si Buntung. “Dan ada lagi yang masih belum diketahui oleh Loenghiong!!” kata si pendeta lagi.

“Persoalan apakah itu, Taysu?” tanya Si Buntung terburu-buru.

“Belum lama ini di dalam rimba persilatan telah muncul seorang iblis yang menggemparkan  kalangan Kangouw dengan tindak tanduknya, karena dia telah melakukan berbagai kejahatan yang benar-benar paling biadab!!”

“Siapakah iblis itu, Taysu?”

“Hanya di dalam waktu satu tahun saja, iblis itu telah mengangkat tinggi nama dan gelarnya. Nama iblis itu Tui Pu Cie dan bergelar Sam Liong Mo.” menjelaskan Ming Sing Siansu. “Dia mempunyai nama Tui Pu Cie yang berarti “maaf itu”, sebab dia banyak sekali melakukan kejahatan, maka dengan bernama begitu, seperti juga si iblis ingin meminta maaf. Sedangkan  Sam Liong Mo (Iblis Tiga Naga) merupakan julukannya yang cukup menyeramkan, kalau si iblis sudah menyebutkan gelarannya itu, pasti tubuh korbannya akan dibuat tiga terpotong! Kepala tubuh dan kaki!”

“Hah?”

“Itulah keistimewaannya!” “Kejam sekali!”

“Ya, terlalu biadab!”

“Tetapi Taysu, iblis itu sebenarnya bisa dibasmi  kalau orang-orang gagah bergabung!” kata si Buntung kemudian memotong perkataan  si Hweshio

“Justru disebibkan orang-orang gagah semuanya jeri untuk berurusan dengan iblis itu, setidak-tidaknya iblis tersebut sudah merupakan iblis yang terkosen dan memiliki kepandaian yang sukar untuk dijajaki.”

“Kalau begitu, dunia persilatan terancam kehancuran juga!”

“Nah itulah dia!” kata si Hweshio. “Justru di sini letak rahasianya! Iblis itu telah bekerja sama dengan Ban Thaykam, karena dia bekerja dibawah kaki Thaykam itu!!”

“Apa?” berseru Si Buntung dengan suara mengandung kekagetan bukan

main.

“Justru Ban Thaykam yang telah memancing iblis tersebut bekerja

untuknya! Dia sengaja mengacaukan rimba persilatan, me merintahkan si iblis untuk membuat dan melakukan huru-hara,   menimbulkan   kegoncangan didatam rimba persilatan, dengan sendirinya sukar bagi orang-orang rimba persilatan untuk bergabung guna mengurusi persoalan Peng Po Siang Sie See Un!”

 “Oh?!”

“Kau mengerti bukan maksud dari Ban Thaykam itu?” tanya Ming Sing

Siansu,

Si Buntung telah mengangguk. “Mengerti Taysu, tentunya dengan dikacaukan kalangan Kang-ouw oleh iblis tersebut, dengan sendirinya para jago rimba persilatan sibuk mengurusi si iblis, berarti persoalan Peng Po Siang Sie See Un jadi dilupakan dan khlalaik in

“Tepat!” berseru Mng Ming Siansu. “Memang itulah utama d.ari Ban Thaykam, dengan kacaunya orang-orang rimba persilatan dan perhatian para Hohan tertumpah pada diri si iblis, berarti Ban Thaykam tdak begitu berat menghadapi orang-orang rimba persilatan, bukan?”

“Benar Thaysu!!” menyahuti si Buntung sambil menganggukkan kenalanya. “Tetapi itulah suatu tipu mus'ihat yang paling jahat!!”

“Tetapi kalau di dalam urusan Peng Po Siang Sie See Un ini   sudah tidak pada tempatnya dipergunakan perkataan jahat atau intrik, sebab  kalau seseorang kurang licik dan kurang jahat, tidak nantinya di dalam bumi ini terdapat seorang manusia seperti Ban Thaykam!”

Si Buntung menganggukkan kepalanya lagi, setidak-tidaknya di dalam hatinya dia merasa kagum atas setiap perkataan si Hweshio.

Saat itu Ming Sing Siansu telah menghela napas dalam-dalam.

“Dan yang paling penting kita perhatikan adalah persoalan  Peng Po Siang Sie See Un, janganlah kita memecahkan perhatian kita pada diri si iblis!!”

“Tetapi Taysu!” tampak si Buntung ragu-ragu  meneruskan perkataannya.

“Kenapa?”

“Kalau dilihat peristiwa ia lg telah menimpa Giok Ie Lang Kongcu dan Wu Kongcu bersama kacung cilikku itu, yang telah berbarengan dan saling susul meninggal dunia dibunuh seseorang dengan cara yang begitu mengerikan. apakah kejadian ini tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan si iblis Tui Pu Cie itu?!”

Si Hweshio rampak termenung sejenak, dia tidak segera menyahutinya.

Tetapi       !” kata si Hweshio kemudian dengan  suara masih ragu- ragu. “Kita tidak boleh cepat-cepat mempunyai prasangka buruk terhadap kejadian yang sedang kita hadapi ini! Harus kita ingat secara meluas, bahwa Ban Thaykam bukannya hanya memperalat si iblis Tui Pu Cie saja seorang diri, disamping itu dia juga telah mengundang beberapa orang iblis lainnya untuk diperalat        ! Dengan sendirinya, kalau sampai kejadhn ini terjadi, tentunya

 hal tersebut lebih hebat lagi! Bayangkan saja, menghadapi orang-orang Ban Thaykam yang lainnya, kita sudah kewalahan tidak  dapat memecahkan persoalan ini!”

“Benar Taysu, malah kepandaian dari Giok Kongcu dan Wu Kongcu tidak lemah! Mereka memiliki kepandaian yang tinggi sekali! Namun nyatanya mereka dibuat tidak berdaya dan telah dibunuh dengan cara yang demikian kejam!! Juga disamping itu, cara mengirimkan mayat-mayat mereka ini agak luar biasa, orang yang mengirimkan mayat-mayat mereka ini tentunya orang yang memiliki kepandaian yang tinggi dankosen sekali!”

“Aneh !” guman si Hweshio waktu telah mendengar perkataan si Buntung “Bagaimana caranya orang itu mengirimkan mayat -mayat ini sehingga kau tidak bisa mengetahuinya siapa pengirim mayat-mayat ini?”

Si Buntung cepat-cepat menceritakan segalanya, sampai kedetail - detailnya.

“Hmmm!” mendengus Ming Sing Siansu setelah mendengar habis cerita dar si Buntung. “Kalau begitu selanjutnya kita akan menghadapi kejadian - kejadian yang jauh lebih besar!”

“Benar Taysu, akupun juga telah berpikir begitu, tetapi biar bagimana tetap saja Lohu akan mempertaruhkan jiwa Lohu yang telah lanjut ini!!” kata Si Buntung cepat.

“Tetapi biarpun kita sudah berpatokan begitu, kita harus mempunyai rencana yang tepat, perhitungan yang matang, jangan sampai kita  yang menjadi sasaran dan korban kekalahan belaka!”

Si Buntung mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.

“Dan Loenghiong juga harus ingat, bahwa keadaan Thang Lojie masih dalam keadaan lemah dia tidak boleh mendengar dulu kejadian-kejadian yang bisa menggoncangkan hatinya! Maka dari itu, kematian ketiga sahabatmu itu, salah seorang diantaranya adalah murid dari Thang Lojie, kau harus merahasiakannya dulu, agar peristiwa ini sudah dapat kita selesai kan, atau kesehatan dari Thang Lcjie sudah pulih benar, barulah boleh diceritakan kepadanya!”

Si Buntung mengiyakan memberikan janjinya sambil menganggukkan kepalanya.

“Bagimana rencana Taysu   selanjutnya?”   tanya   si   Buntung. “'Sebetulnya Pinceng selalu bekerja sendiri, tidak pernah bergabung

dengan siapapun juga, tidak pernah Pinceng bergabung dengan gelongan manapun juga, karena Pinceng memang selalu tidak senang kalau harus berurusan dengan beramai-ramai   begitu! Apa lagi sekarang yang ingin Pinceng kerjakan adalah persoalan yang cukup besar, dengan sendirinya mau

tidak mau Pinceng harus mempunyai perhitungan yang matang! Juga, disamping itu, Pinceng harus dapat berusaha menolong Peng Po Siang Sie See Un, inilah yang paling penting!!” setelah berkata sampai di situ, dia berhenti sejenak.

Si Buntung telah memperhatikannya dengan penuh perhatian.

“Lalu, sekarang Pinceng menghadapi persoalan  seperti ini,  maka kebiasaan Pinceng itu mau tidak mau harns dilanggar. Pinceng mau tidak mau harus menggabungkan diri dengan kau, Loenghiong, karena kau juga sudah seorang diri, hanya tinggal Thang Lan Hoa seorang, yang belum tentu kesehatannya bisa pulih keseluruhannya!  Biarlah Pinceng bekerja sama dengan kau untuk menghadapi orang yang telah mengirimkan kau surat ka - leng itu!”

Si Buntung jadi girang bukan main, dia mengucapkan  terima kasih berulang kali. Dengan adanya Ming Sing Siansu, berarti si Buntung memperoleh bantuan yang tidak kecil. Beberapa tahun yang lalu, kurang lebih belasan tahun, Ming Sing Siansu merupakan seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian yang tinggi bukan main, maka dari itu jarang ada orang yang mau berurusan dengan Hwehsio itu.

Juga memang si Buntung telah mendengar nama besar dari Ming Sing Siansu, dengan sendirinya dia telah mempunyai rasa kagum di dalam hatinya terhadap Hweshio ini.

Ming Sing Siansu telah mengkela napas lagi beberapa kali, dia menoleh memandang Thang Lan Hoa yang masih rebah tertidur nyenyak.

Rupanya Yowan yang diberikan oleh Ming Sing Siansu telah membawa kesembuhan Thang Lan Hoa dari kematiannya! Keganasan racun yang mengendap di tubuh Thang Lan Hoa rupanya mulai mengendor.

“Sebetulnya, biar bagaimana kita lurus mengusahakan agar kita bisa membawa kabur Peng Po Siang Sie dari tahanannya, karena kalau memang Peng Po Siang Sie See Un mau keluar memperlihatkan mukanya, niscaya akan banyak sekali para Hohan yang mau menerjunkan diri untuk membela negara dari ancaman orang-orang asing diperbatasan!!”

Si Buntung telah mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali. Begitulah, si Hweshio dari Siauw Lim Sie dan juga si Buntung hanya berdua saja, telah berunding dan mengatur rencana mereka.

Tidak lama kemudian tampak Thang Lan Hoa menggerakkan tubuhnya. Juga disusul oleh suara ‘uwaaahhh’ maka tampak Thang LangHoa telah memuntahkan gumpalan darah yang mulai menghitam dari mulutnya.

Si Buntung jadi terkejut bukan main, mukanya juga segera jadi pucat.

 “Taysu, apa yang telah terjadi lagi pada diri Thang Lojie           dia,   dia

memuntahkan gumpalan darah itu!” seru si Buntung.

“Tenang! Tenang! Itu menunjukkan bahwa jiwa Thang Lojie dapat ditolong, karena kalau memang tadi dia tidak dapat memuntahkan gumpalan darah yang mengandung racun itu, niscaya hal ini akan membawa akibat yang buruk sekali bagi kesehatan Thang Lan Hoa. Tetapi sekarang, dia telah terlolos dari bahaya kematian, darah yang mengandung racun telah berkumpul membentuk jadi seperti gumpalan itu, sehingga dengan dimuntahkannya, bukankah tubuh Thang Lojie telah bersih sendirinya?!”

Si Buntung baru mengerti, dia jadi malu sendirinya.

“Maafkanlah Taysu, maklumlah bahwa Lohu tidak mcmpelajari ilmu pengobatan! Itulah sebabnya mengapa akhirnya aku jadi terkejut bukan main melihat Thang Lojie memuntahkan darah yang demikian banyaknya!!”  dan setelah berkata begitu, si Buntung telah merangkapkan sepasang tangannya dia telah memberi hormat kepada si Hweshio Ming Sing Siansu.

Ming Sing Siansu jadi sibuk untuk membalas penghormatan si Buntung.

“Jangan berlaku shejie begitu, Loenghiong!” katanya cepat. “Janganlah

Loenghiong membuat Pinceng jadi jengah.”

“Tetapi Taysu, berkat adanya Taysu hari ini di sini, dan juga disebabkan Taysu memiliki pandangan yang jauh berarti otak Lohu telah dicuci bersih, dengan sendirinya sekarang Lohu jadi mengerti dengan cara bagaimana Lohu harus mengambil tindakan menghadapi kejadian-kejadian seperti ini!”

“Sekarang Loenghiong tidak usab menguatirkan keselamatan Thang Lojie, dia telah memuntahkan darah segar, berarti keselamatannya  telah dapat ditolong! Maka dari itu yang terpenting besok kau meminta pelayan untuk mengubur ketiga mayat itu, karena kalau sampai mayat-mayat itu membusuk, niscaya hanya akan menambah penderitaan kawan-kawanmu itu arwahnya tentu akan penasaran sekali!”

Si Buntung jadi menepuk-nepuk keningnya. “Hai! Hai! Tepat! Mengapi aku jadi pelupa begini?!” serunya.

Dan setelah berseru begitu, cepat-cepat Si Buntung telah menghampiri pembaringan. Diawasinya Thang Lojie yang telah tertidur nyenyak lagi, hanya bibirnya yang dilumuri oleh darah merah. Cepat sekali Ming Sing Siansu juga menghampiri pembaringan. Dia memeriksa sekali lagi keadaan Thang  Lan Hoa, sampai akhirnya dia menghela napas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang jiwa Thang Lojie sudah lolos dari kematian,  tenangkanlah

hatimu. Loeng-kiong!” “Terima kasih Taysu!”

 Tetapi biarpun begitu, hati si Buntung tetap tidak tenang. Dia tetap mengawasi Thang Lan Hoa dengan sorot mata berkuatir. Yang dikuatirkan oleh si Buntung adalah racun yang masih terdapat di tubuh Thang Lan Hoa, karena racun itu sangat ganas dan disembarang waktu bisa saja mengamuk dengan ganasnya kumat kembali.

Si Hweshio Ming Sing Siansu rupanya mengerti perasaan si Buntung. Namun apa yang hendak dikatakannya lagi, dia sudah cukup memberikan hiburan kepada si Buntung. Waktu berjalan dengan cepat, sang malam telah berlalu dan muncul sang fajar.

Disaat itulah, si Buntung telah membuka  pintu kamarnya, memanggil dua orang pelayan, dan memerintahkan untuk mengurus penguburan dari kacung ciliknya, dan kedua sahabatnya yang ketiga-tiganya  telah terbujur tanpa nyawa dan tidak bergerak lagi.

Pelayan-pelayan itu rupanya terkejut waktu melihat ketiga mayat tersebut. Tetapi disebabkan si Buntung cepat-cepat  memberikan sejumlah uang, mereka jadi menutup mulut. Dengan cepat penguburan mayat-mayat Giok Ie Lang, Mingjie, Wu Cie Siang, telah dilaksanakan.

Setelah segalanya beres, si Buntung dan Ming Sing Siansu telah beristirahat. Malam ini mereka harus berlaku hati-hati, karena mereka menyadarinya bahwa dari pihak lawan disembarang waktu bisa muncul untuk mengganggu. Walaupun mereka hanya tidur siang, tokh hati mereka  tetap tidak tenang.

Terlebih-lebih lagi adalah suara Thang Lan Hoa yang sering mengigau. Dengan sendirinya ketenangan hati si Buntung terpecahkan. Si Buntung lebih banyak merawatkan Thang Lan Hoa, dia melayaninya dengan penuh  kasih sayang

Juga Thang Lan Hoa berangsur-angsur telah sembuh. Apa lagi setelah Ming Sing Siansu melakukan pengobatan beberapa kali lagi, maka kesembuhan diri Thang Lan Hoa memperoleh kemajuan besar.

Si Buntung telah melihatnya, selama ini pihak musuh masih belum mengirim orang. Terlebih lebih lagi setelah lewat tiga hari, tetap saja tidak ada orang yang menyatroni mereka.

Thang Lan Hoa sendiri yang telah memperoleh kembali kesehatanma, sehingga dia tidak usah terbinasa dengan cara begitu konyol, dia telah dapat duduk-duduk ditepi pembaringan walaupun tubuhnya masih lemas dan juga sep sang kakinya masih tidak bertenaga sama sekali. Tetapi biarpun begitu, si Buntung merasa girang bukan main.

Karena berangsur-angsur dia melihat Thang Lan Hoa   sudah memperoleh kesegarannya. Sering juga Thang Lan Hoa menanyakan perihal

 mttridaya, yaitu Wu Cie Siang, dan juga memanyakan Giok Ie Lang, mengapa sampai sebegitu lama mereka masih belum juga terlihat.

Si Buntung dan Ming Sing Siansu telah memberikan alasan bahwa Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang telah memburu waktu untuk menyelesaikan suatu urusan, karena ada sesuatu persoalan yang  harus diselesaikan cepat-cepat yaitu yang mempunyai sangkut pautnya dengan Peng Po Siang Sie See Un . Thang Lan Hoa mempercayai keterangan yang diberikan oleh si Buntung.

Selama beberapa hari ini perasaan si Buntung tidak tenang. Biar bagaimana dia kuatir sekali kalau-kalau ada orang yang menyatroni mereka. Kalau yang menyatroni itu berjumlah sedikit, tetapi kalau sebaliknya?!

Tentu Thang Lan Hoa sukar untuk dilindungi, sebab keadaannya yang belum pulih seluruhannya kesehatan orang she Thang ini. Tetapi kenyataannya, selama beberapa hari ini tidak ada kejadian apa-apa.

Pada hari kesembilan, dikala Thang Lan Hoa mencoba untuk menggerak-gerakkan kedua, kakinya yang lemas itu, tampak Ming Sing Siansu telah memasuki kamar tersebut sambil tersenyum ramah.

“Thang Lojie, ada kabar untukmu!!” kala Ming Sing Siansu sambil tersenyum.

“Ada kabar untukku? Kabar mengenai muridku?” tanya Thang Lan Hoa dengan perasaan yang tegang, karena memang dia sangat mengharapkan pulangnya sang murid she Wu itu, dia terlampau merindukannya.

Tetapi si Hweshio telah menggelengkan kepalanya sambil memperlihatkan muka yang serius sekali.

“Bukan! Soal ini bukan mengenai persolan muridmu!” kata si Hweshio. “Tetapi mengenai persoalan PengPo Siang Sie See Un!”

“Ohhh, Taysu sudah memperoleh kabar mengenai Peng Po Siang Sie

See Un!” tanya Thang Lan Hoa dengan perasaan girang.

Ming Sing Siansu telah menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Wajah Hweshio ini juga tampak berseri-seri,  rupanya dia tengah gembira sekali.

“Urusan ini mengenai hukuman Peng Po Siang Sie See Un, yang telah dibiarkan dan diundurkan beberapa saat lagi! Sebetulnya hari ini adalah hari terakhir bagi Peng Po Siang Sie See Un untuk melaksanakan hukum matinya, tetapi oleh Hongte (kaisar) telah diberikan izin agar pelaksanaan hukuman itu diundurkan!!”

“Bagus!   Berarti   kita   masih   mempunyai   kesempatan  yang   banyak,

bukan?” berseru Thang Lan Hoa girang bukan main.

 Ming Sing Siansu mengangguk, wajahnya juga memperlihatkan kegirangan yang bukan main.

“Malah lucunya, pelaksana hukuman mati itu telah diundurkan di dalam waktu yang tidak terbatas!!” kata Ming Sing Siansu lagi. “Sama saja seperti menjalani hukuman seumur hidup!!”

“Sebab apa pelaksanaan hukuman mati itu diundurkan?” tanya Thang Lan Hoa dengan perasaan girang sekali. “Bisa Taysu menceritakannya kepadaku?”

Ming Sing Siansu telah menganggukkan kepaianya sambil tersenyum.

“Sebetulnya tadi Pinceng tengah menyelidiki keadaan sekitar   kotaraja ini untuk mengetahui perihal Peng Po Siang Sie See Un, tetapi siapa tahu Pinceng telah menerima kabar yang menggembirakan ini!!”

“Tentu ada sebabnya?”

“Jelas!” sahut Ming Sing Siansu. “Memang ada sebabnya pelaksanaan hukuman mati itu telah diundurkan oleh Hongte! Seperti kau mengetahui Thang Lojie, bahwa Peng Po Siang Sie See Un merupakan orang terpenting yang sangat dicintai rakyat, maka dari itu kalau sampai dihukum mati, Hongte takut banyak terjadi pemberontakan! Itulah sebabnya mengapa Hongte telah berusaha untuk mengundurkan hukaman mati itu agar para Hohan dapat menahan perasaan amarahnya!”

“Hmmm, Hongte juga rupanya licik sekali!!” gumam Thang Lan Hoa.

“Maka dari itu Thang Lojie, mulai saat ini kau harus baik-baik berstirahat untuk memupuk semangatmu! Tidak usah kau memikirkan yang tidak-tidak!!” hibur Ming Sing Siansu.

“Lalu kemana perginya si Buntung?”' tanya Thang Lojie lagi.

“Dia masih pergi menyelidiki, sekarang si Buntung telah menjadi nekad, dia tidak memperdulikan keadaan dirinya akan menarik perhatian orang banyak atau bukan. Malah lucunya si Buntung telah memakai baju pengemis, sehingga orang tidak akan menaruh kecurigaan pada dirinya, sebab memang sekali pengemis-pengemis yang cacad pada anggota tubuhnya!!”'

Thang Lan Hoa girang bukan main, dia menganggukkan kepalanya berulang kali.

Begitulah, mereka telah bercakap-cakap lagi, mengenai rencana mereka nantinya. Sedangkan Ming Sing Siansu juga telah memperhatikan keadaan kawannya ini. Walaupun sepasang kaki Thang Lan Hoa masih terasa lemas tidak bertenaga, namun jago tua she Thang ini telah terhindar dari kematian dan juga tidak sampai lumpuh seperti  apa yang tadinya ditakuti oleh Ming Sing Sansu.

 Begitulah, malam harinya si Buntung pulang ke kamar dihotelnya ini. Dia telah menceritakan pencalamannya, memang banyak yang dijumpai, baik keramaian atau apa saja, namun nyatanya dia tak berhasil untuk menyelidiki siapa dan dari mana golongan lawan-lawan mereka.

Beberapa hari kemudian Thang Lan Hoa sudah pulih kesehatannya. Orang she Thang ini telah dapat berjalan pula sebagaimana biasanya. Dari hari kehari dia telah melatih diri untuk melemaskan otot-ototnya, yang selama ini tidak pernah bergerak.

Begitulah, kejadian terbunuhnya Giok Ie Lang, Wu Cie Siang dan Ming jie, seperti juga telah sirna begitu saja, karena biarpun si Buntung dan Ming Sing Siansu berusaha sekuat tenaga untuk menyelidikinya, ternyata mereka tidak pernah berhasil siapa orangnya yang telah melakukan semua perbuatan jahat itu.

Sampai hampir satu bulan lagi mereka tinggal di rumah penginapan itu, tetap saja mereka tidak bisa menyelidiki lebih banyak berita mengenai Peng Po Siang Sie, sebab semuanya seperti juga merupakan kabut yang tebal sukar untuk ditembus.

Untuk menyatroni istana kerataan, Ming Sing Siansu dan si Buntung serta Thang Lan Hoa, bukanlah manusia-manusia tolol, karena biar bagaimana mengetahui di dalam istana kerajaan pasti telah dilakukan penjagaan  yang kuat sekali oleh tokoh rimba persilatan dan aliran jalan hitam, yaitu penjahat.

Banyak juga orang-orang dari golongan putih yang kepicuk oleh janji muluk-muluk dan harta kekayaan atau pangkat.

Maka dari itu, walaupun sangat penasaran, tetapi si Buntung, Thang Lan Hoa dan juga Ming Sing Siansu tidak gila untuk menyatroni istana kerajaan.

Hari demi hari mereka lewati di kotaraja penuh kebosanan  dan kejemuan. Tetapi sampai sebegitu lama juga mereka selalu mengurung diri di kamar rumah penginapan, belum dapat mereka hubungi Hohan lainnya.

Sekarang marilah kita tinggalkan dulu diri si Buntung, Thang Lan Hoa dan juga Ming Sing Siansu yang sedang berada di kota raja ini.

SFKARANG mari kita menengok See Cin Ko yang telah begitu lama kita tinggalkan, yang sedang belajar dibawah bimbingaa Toat Beng Sian (Dewa Pencabut Nyawa) Tang Siauw Bun.

Pada suatu malam, See Cin Ko merasakan hatinya tidak tenang. Waktu itu mcnjelang kentongan kedua ditengah malam, Cin Ko tengah tidur dipembaringannya, dia tersentak kaget oleh suatu impian yang buruk, yaitu dia bermimpi bertemu dengan Giok Ie Lang, yang berdiri didekatnya dengan

tubuh berlumuran darah. Setelah tersadar dari tidurnya, See Cin Ko jadi mengucurkan keringat dingin,  dia tidak mengerti apa makna dari mimpinya itu

Tetapi Cin Ko tidak bisa tidur nyenyak lagi, karena alam pikirannya jadi melayang-layang tidak keruan, dia jadi gelisah sekali,

Bayangan keadaan Giok Ie Lang yang begitu menyeramkan, membuat See Cin Ko jadi menggidik ngeri dan juga dia berkuatir sekali keadaan Giok Ie Lang.

Apakah mimpi buruknya itu mempunyai arti? See Cin Ko jadi berkuatir kalau-kalau Giok Ie Lang telah mengalami bencana.

Sampai menjelang subuh, dia masih tidak bisa  tertidur lagi. Kacau bukan main alam pikiran si bocah she See tersebut.

Pagi harinya, diwaktu See Cin Ko melatih diri, dia tidak bisa memusatkan seluruh perhatiannya dan mencurahkan segenap   perhatiannya   untuk latihannya itu, karena bayangan Giok Ie Lang yang menyeramkan itu selalu terbayang dipelupuk matanya.

Sejak hari itulah, See Cin Ko jadi pemurung dia selalu memikirkan soal Suhengnya itu, yaitu Giok Ie Lang. Sebetulnya Cin Ko ingin menceritakan mimpinya itu kepada gurunya, Tang Siauw Bun, namun selalu dibatalkan maksudnya itu.

Maka dari itu, hanya si bocah seorang diri saja yang selalu diliputi kegelisahan. Apa lagi mimpi buruk perihal Giok Ie Lang, selalu saja datang dalam tidurnya. Entah sudah berapa kali Cin Ko memimpikan diri Giok Ie Lang, dan selalu pula Giok Ie Lang berdiri dengan berlumuran darah.

Jiwa si bocah jadi semakin tersiksa saja,  apa lagi dia juga memang sangat berterima kasih atas budi kebaikan Giok Ie Lang yang pernah menyelamatkan jiwanya, dan juga telah mengajak ke Tang Siauw Bun sampai Cin Ko diterima menjadi murid dari Tang Siauw Bun, dengan sendirinya semua itu berkat budi dan orang she Giok itu.

Akhirnya, pada hari ketujuh, dipagi hari, disaat Cin Ko terbangun dari tidurnya, setelah satu malaman dia menimbangkaa penuh keraguan,  bocah she She ini telah mengambil keputusan untuk menceritakan mimpinya itu kepada gurunya.

Setelah menyalin pakaiannya, cepat Cin Ko mcnuju ke kamar gurunya. Keadaan dikuil itu sangat sepi sekali, tidak terlihat  saudara-saudara seperguruan Cin Ko, mungkin juga tengah sibuk dengan pekerjaan masing- masing atau juga memang masih tertidur nyenyak.

Ketika sampai di muka kamar gurunya, Cin Ko mdihat pintu kamar masih tertutup. Si bocah jadi membatalkan maksudnya itu, dia berdiri dimuka kamar

itu. Pintu kamar juga tidak diketuknya, karena Cin Ko takut mengganggu gurunya.

Dengan sendirinya Cin K o jadi berjalan mondar-mandir di situ dengan penuh kegelisahan. Si bocah bermaksud akan menunggui sampai gurunya itu terbangun sendiri dan membuka pintu kamarnya, barulah dia bermaksud akan menemuinya.

Tetapi sampai sebegitu lama, pintu kamar masih tertutup rapat. Cin Ko jadi berdiri gelisah bukan main, juga ada beberapa saudara seperguruannya di tempat itu, yang melihat kelakuan dan sikap Cin Ko.

Mereka heran bukan main, tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang menanyakan mengapa si bocah berdiri terus dimuka kamar gurunya.

Cin Ko sendiri semakin lama semakin gelisah, sehingga dia bermaksud akan membatalkan maksudnya melaporkan mimpinya itu. Dihati si bocah memang menyadarinya bahwa bagi dirinya mimpi Giok Ie Lang sangat berarti sekali, namun bagi gurunya belum tentu mimpi itu dianggap penting, karena Giok Ie Lang memiliki kepandaian yang tinggi, dengan sendinnya gur unya itu tidak menganggap mimpi buruk itu.

Tetapi selama Cin Ko belum menceritakan perihal Giok Ie Lang yang begitu menyeramkan menjelma di dalam mimpinya, hati si bocah masih belum tenang, dia masih saja diliputi oleh keraguan dan kegelisahan. Maka dari itu, akhirnya Cui Ko telah menunggui beberapa saat lagi di muka kamar gurunya itu.

Sedang Cin Ko berjalan mondar-mandir dimuka kamar itu, tiba-tiba dari dalam kamar telah terdengar suara Tang Siauw Bun yang menegurnya : “Siapa di luar?! Mengapa sejak tadi berdiri disitu?!'

Hati Cin Ko tercekat kaget, karena dia jadi kagum sekali terhadap pendengaran gurunya yang begitu tajam sekali. Dengan hanya mendengar suara langkah kaki saja, ternyata gurunya telah mengetahui banwa Cin Ko telah berdiri di situ sekian lama.

Cepat-cepat Cin Ko menjatuhkan  diri berlutut dimuka pinu gurunya itu.

“Suhu   Tecu   ingin   menyampaikan   sesuatu   hal   kepada   Suhu,   yang

mempunyai sangkut-paut dengan Giok Suheng!” kata Cin Ko.

“Masuklah!” sahut Tang Siauw Bun dari dalam kamarnya.

Cin Ko jadi girang bukan main, cepat-cepat dia telah mendorong pintu itu. Ternyata biarpun pintu itu tertutup sejak tadi, namun tidak terkunci.

Waktu Cin Ko telah masuk ke dalam  kamar itu, maka dia melihat gurunya tengah duduk bersila membaca Liam-kheng. Di tangannya tampak gulungan tasbih. Tetapi disebabkan kedatangan Cin Ko, sang guru ini berhenti dulu membaca Liam-khengnya itu.

 Cin Ko jadi merasa mengganggu gurunya ini, sebetulnya juga dia menganggap persoalan mimpi bukanlah sesuatu yang terlalu penting.

Hati si bocah jadi takut lagi, karena dia kuatir kalau-kalau nanti dia yang akan dipersalahkan jika gurunya telah mendengar cerita Cin Ko, karena hanya soal mimpi belaka. Tetapi wajah Tang Siauw Bun sangat sabar dan welas asih. Dengan sendirinya keberanian See Cin Ko jadi muncul kembali.

“Apa yang ingin kau ceritakan, Kojie?” tegur sang guru dengan suara

yang lembut dan sabar, sambil mengawasi murid bontotnya ini.

“Yang ingin Tecu sampaikan adalah soal Giok Ie Lang!” jelas Cin Ko. “Entah kenapa, beberapa malam ini Tecu selalu diganggu oleh mimpi yang menyeramkan sekali. Tecu seperti didatangi oleh Giok Suheng, tetapi kedatangannya itu selalu dalam keadaan berlumuran darah dan menyeramkan sekali!”

Sepasang alis Tang Siauw Bun jadi mengerut dalam-dalam. Muka orang she Tang ini juga telah berobah seketika itu juga.

“Benarkah kau beruntun telah bermimpi yang itu-itu juga?” tegurnya.

See Cin Ko telah mengangguk.

“Benar Suhumalah  Suheng Giok Ie Lang tetap dalam  keadaan yang

mengerikan!”

“Apakah tidak ada perkataan yang diucapkan oleh kakak sepergurunmu itu?” Cin Ko menggelengkan kepalanya.

Wajah Tang Siauw Bun jadi berobah seketika itu juga. Tampak orang tua ini telah menghela napas panjang dan wajahnya berduka.

“Hai ' Kasihan Giok-jie! Ternyata dia telah meninggal!” kata Tang Siauw Bun dengan suara berduka sekali.

“Apa Suhu?” tanya Cin Ko setengah berteriak karena kaget bukan main.

“Kalau memang biasanya, setiap adanya mimpi itu, menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan telah meninggal dunia! Dia datang berulang kali kepadamu, hanya untuk menjenguk belaka, itu arwahnya, karena dia telah terbinasa dengan penasaran sekali!”

Mendengar penjelasan Tang Siauw Bun, Cin Ko jadi menangis menggerung-gerung. Dia tidak menyangka sedikitpun juga bah wa dia akan memperoleh keterangan seperti itu.

“Tetapi tenanglah Ko jie!” kata sang guru ini dengan suara yang mengandung kedukaan juga, sebab dia melihat Cin Ko menangis, hatinya juga berduka sekali seperti diiris-iris. “Itu hanya merupakan ramalan dari arti

 sebuah mimpi, tetapi belum tentu Giok Suhengmu itu mengalami sesuatu yang merugikannya. -----------------------------------Sudahlah, kau tidak usah memikirkannya, nanti biarlak kuperintahkan beberapa Suhengmu untuk pergi menyelidikinya!”

Cin Ko mengangguk sambil menghapus air mata.

“Baik! Begitupun boleh Suhu!! Terima kasih atas budi kebaikan Suhu!!”

kata Cin Ko Dan dia telah pamitan untuk mengundurkan diri.

Di dalam kamarnya Cin Ko telah menangis menggerung-gerung. Dia jadi kuatir bukan main, kalau sampai Giok Suhengnya itu telah meninggal, berarti dia akan mengalami kedukaan yang sangat dan penyesalan yang bukan main

Sampai dua hari Cin Ko tidak mau makan atau turun dari pembaringan, tubuhnya panas dan sudah beberapa kali dia jatuh pingsan, mengigau menyebut-nyebut nama Giok Suhengnya.

Tang Siauw Bun jadi bingung bukan main, segera juga dia berusaha untuk mengobatinya, tetapi penyakit yang diderita oleh Cin Ko semakin berat saja. Akhirnya, Tang Siauw Bun memerintahkan kepada salah seorang muridnya untuk mengundang seorang tabib. Dibawah pengobatan tabib itu, walaupun tidak segera sembuh, tetapi berangsur angsur kesehatan See Cin Ko mulai pulih kembali

Tabib itu juga telah membuka resep untuk obat, dan meminta kepada murid Tang Siauw Bun guna membelinya. Cin Ko selama sepuluh hari telah jatuh sakit begitu. Walaupun akhirnya dia sembuh, tokh dia sudah jauh lebih kurus. Matanya cekung dan tampaknya dia lemah sekali, masih saja alam pikirannya terganggu oleh ingatannya kepada Giok Suhengnya.

Tang Siauw Bun sering menasehati muridnya ini, agar Cin Ko jangan sampai terlalu mencurahkan ingatannya kepada Giok Ie Lang.

“Bukankah Giok Suhengmu itu belum tentu telah dicelakai orang? Bukankah itu hanya mimpi saja?!” kata Tang Siauw Bun berulang kali. “Yang jelas kau harus menguatkan hatimu, kau harus melatih diri dengan tekun, karena dipundakmu terdapat sebuah tugas yang penting sekali!!”

Cin Ko akhirnya bia diberi pengertian juga, tetapi dia masi h tetap berada dalam keadaan berduka saja

“ Memang benar apa yang dikatakan oleh Suhu!!” sering Cin Ko berpikir begitu kalau dia sedang berada seorang diri.  “Memang di pundakku terdapat sebuah tugas yang besar dan penting sekali  mau tak, mau aku harus dapat melatih ilmu silat yang diajarkan oleh Suhu sampa i sempurna. Kalau sampai aku gagal, bukankah urusan besar akan berantakan juga?”

Karena berpikir begitu, Cin Ko berangsur -angsur dapat menindih

kedukaannya. Lebih- lebih kalau dia berpikir : “Disebabkan pe ristiwa yang menimpa Yayaku i tu, maka te lah berjatuhan banyak sekali korban- korban, dengan sendirinya, jangan disebabkan oleh Giok  Ie Lang Suheng seorang, mati at au hidup hanya disebabkan kekuatiran dan kedukaan belaka, aku jadi membuat urusan berantakan! Kalau sampai begitu, niscaya Giok Ie Lang Suheng juga akan menjadi penasaran  dan gusar dialam baqa!”

Dan karena berpikir begitu, maka akhirnya See  Cin  Ko telah melatih diri lebih giat lagi malah lebih tekun kalau dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Dengan cepat Cin Ko telah memperoleh kemajuan.

Tang Siauw Bun yang melihat kembalinya kegairahan berlatih dari muridnya ini, jadi girang, karena dengan cepat dia juga telah dapat melihat Cin Ko semakin memperoleh kemajuan, disebabkan ketekunannya berlatih diri siang atau sore.

TANPA TERASA hampir setengah tahun Cin Ko berada di pintu perguruannya itu di bawah gemblengan Tang Siauw Bun.

Sudah enam orang murid Tang Siauw Bun yang diperintahkan oleh guru she Tang tersebut untuk mencari tahu tentang diri Giok Ie Lang. Tetapi selama itu belum ada yang kembali memberikan laporan mengenai jejak Giok Ie Lang.

Pencarian dan penyelidikan lebih banyak di lakukan di Pakkhia, di kota raja, sebab setidak-tidaknya kota raja tempat dimana menjadi   tujuan terutama dari Giok Ie Lang. Namun sampai begitu lama, Cin Ko masih belum memperoleh kabar yang pasti mengenai Giok Ie Lang. Biarpun begitu, dengan sabar Cin Ko tetap menantikan berita mengenai kakak  seperguruannya Giok Ie Lang tersebut.

See Cin Ko selama itu tetap tekun melatih diri tidak ada waktu yang terbuang olehnya, karena setiap ada kesempatan, tentu dia akan segera melatih diri dengan giat. See Cin Ko jusa telah dilatih ilmu tenaga dalam oleh Tang Siauw Bun. Kemajuan Cin Ko pesat sekali, sudah boleh  dibilang memperoleh kemajuan yang berarti bagi dirinya.

Pagi itu, disaat udara agak dingin disaat keadaan dikuil tersebut maih sunyi, telah terdengar seseorang yang berteriak-teriak  sambil menggedor pintu kuil dengan gencar. Tentu saja hal ini mengejutkan penghuni  kuil tersebut.

Dua orang Suheng dari Cin Ko telah cepat-cepat membuka pintu itu. Orang yang mengetuk pintu kuil dengan rencar itu  tidak lain dari  Ang So Siansu, orang yang telah diperintahkan  oleh Tang Siauw Bun untuk menyelidiki keadaan Giok Ie Lang. Ang So Siansu sebetulnya telah be rangkat

 berlima dengan saudara seperguruan lainnya, tetapi hanya dia seorang diri yang kembali.

“Kau Ang So Sute?” tegur penjaga pintu itu dengan terkejut.

“'Bawa, bawa aku menghadap pada suhu, cepat  cepat keadaa n berbahaya sekali, terlambat sedikit saja        habislah   kita   semuanya!!”   kata Ang So Siansu dengan napas yang memburu keras dan kata-kata yang terputus-putus.

Baru saja dia berkata begitu, tubuhnya telah terjungkal rubuh di atas tanah. Hal ini menambah panik dan mengejutkan kakak seperguruannya yang membukakan pintu itu.

Cepat-cepat tubuh Ang So Siansu telah digotongnya untuk dibawa menghadap pada Tang Siauw Bun.

Kejadian apa yang dialami oleh Ang So Siansu benar-benar mengejutkan hati Tang Siauw Bun, apa lagi melihat wajah Ang So Siansu yang kehitam- hitama dan juga tampaknya tengah terluka parah.

Cepat-cepat diperiksanya, ternyata pada bagian dada  dari Ang So Siansu telah hitam dan bertapak lima jari tangan yang melesak. Hati Tang Siauw Bun jadi terkejut, dia cepat-cepat menotok jalan darah di sekitar luka pada dada Ang So Siansu. Setelah pingsan beberapa saat, Ang So Sian su tersadar dari pingsannya.

“Jangan terlalu banyak bicara dulu, Ang So!” kata Tang Siauw Bun. “Keadaanmu sangat menguatirkan sekali, kau harus   tenang-tenang beristirahat dulu!!”

Tetapi Ang So Siansu telah menggelengku; kepalanya dengan lemah, dari matanya telah menitik air mala.

'Tidak aku harus menceritakannya katanya dengan suara yang tergagap. Dia juga telah melihat para sutenya dan Cin Ko yang berdiri berendeng. “Harap ha rap Suhu menyingkirkan See Cin Ko Sue dari tempat  ini singkirkanlah ada musuh dalam selimut dan dan musuh itu adalah!” tetapi baru berkata sampai di situ, Ang So Siansu telah mendelik, napasnya terputus.