Manusia Jahanam Jilid 09

 
Jilid 09

“Suhu telah lebih dulu berangkat ke kota raja untuk melakukan penyelidikan! Kalau memang dapat, Suhu juga ingin memusnahkan Thaykam jahat itu, guna membalaskan sakit hati Thia-thia. Juga disamping itu, kalau Suhu mempunyai kesempatan, Suhu ingin  sekalian berusaha menyelidiki keadaan Peng Po Siang Sie, walaupun memang wajar kalau penjagaan yang dilakukan oleh orang-orang Thaykam she Ban itu ketat sekali, mengawal rapat pada diri Peng Po Siang Sie, dengan sendirinya harapan untuk mencoba mendobrak penjagaan itu, sangat tipis sekali. Suhu cu ma mengatakan. Suhu akan berusaha untuk menyelidiki terus, setidaknya hasil penyelidikannya itu bisa dipergunakan untuk dibalas oleh orang gagah nantinya!”

“BAGUS! Memang aku mengenal adatnya si tua bangka Thang Lan Hoa, dia selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu, selalu disertai  oleh perhitungan yang matang bukan main !!”

“Dan...................menurut Suhu, bahwa Peng Po Siang   Sie   telah dibawa ke kota raja!!” kata Wu Cie Siang lagi. “Maka dari itu, Boanpwe telah buru-buru menuju ke Pakkhia untuk menyusul Suhu!”

“Benar! Memang Peng Po Siang Sie telah berada di dalam tahanan orang she Ban itu, thaykam ini mengerti, bahwa dengan ditangkapnya Peng Po Siang Sie, berarti dia akan menghadapi kesulitan yang t idak kecil, sebab dia harus menghadapi hampir seluruh orang-orang  gagah di daratan Tionggoan ini. Maka dari itu Thaykam she Ban yang busuk ini telah mempersiapkan segala sesuatunya! Pertama yang dilakukan oleh Thaykam she Ban yang busuk itu ialah mengadu domba orang-orang gagah, dari golongan yang satu dengan golongan yang lain, dan mempergunakan pancingan harta serta pangkat

untuk memikat orang-orang gagah! Yang pendiriannya lemah, niscaya akan

runtuh di tangan Ban Hong Liu!!”

“Hmmm, tetapi biar bagaimana tidak akan kurang banyaknya orang- orang gagah yang muncul untuk membantu membebaskan Peng Po Siang Sie dari rasa penasaran! Umpamanya saja seperti Locianpwe, yang telah hidup mengasingkan diri, namun kenyataannya mendengar peristiwa penasaran ini, telah muncul pula untuk untuk menerjunkan diri di dalam pergolakan tersebut! Sedangkan disamping Locianpwe, pasti banyak pula tokoh-tokoh  rimba persilatan yang tadinya sudah hidup mengasingkan diri  mencari ketenangan hidup, akan muncul pula untuk berusaha menolong See Ongya. Hmmm, dengan berbuat demikian Ban Hong Liu seperti memancing macan yang sedang tidur, dengan menawan See Ongya, Ban Hong Liu sama saja harus menghadapi suatu kekuatan raksasa yang tiada bandingannya!!” dan waktu berkata-kata begitu muka Giok Ie Lang merah padam dan kelihatannya bersemangat sekali.

Kakek tua yang berkaki buntung itu, telah mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia juga mengatakan : “Benar!” berulang kali selama Giok Ie Lang tengah berkata-kata dengan bersemangat begini.

Mereka masing-masing telah menceritakan pengalaman yang telah dialami oleh mereka masing-masing, juga sudah berunding juga langkah- langkah yang bagaimana perlu mereka ambil untuk mengatasi persoalan tersebut.

Sedangkan kacungnya si kakek tua berkaki buntung itu telah mendengarkan dari samping dengan penuh perhatian, tampaknya bocah ini juga tertarik mendengar cerita perihal bergolaknya  orang-orang gagah  di dalam rimba persilatan akibat dari tindak tanduk Thaykam Ban Hong Liu itu.

“TAHUKAH kalian apa maksudku telah memanggil   kalian   berdua?” tanya tua berkaki buntung itu pada suatu saat sambil memandang tajam pada Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang dalam-dalam.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah menggelengkan kepala mereka. “Tidak Locianpwe, kami menuggu petunjuk-petunjuk yang akan diberikan oleh Locianpwe!!” mereka menyahuti hampir berbareng.

“Hmmm, kemarin ini, empat hari yang lalu, kacungku telah menemui sesuatu rahasia yang benar-benar  tidak pernah terpikirkan oleh kita semuanya!!” kata kakek berkaki buntung tersebut dengan wajah bersungguh- sungguh. “Pada pagi hari di hari itu, kacungku tengah pergi untuk membeli makanan untuk kami, tetapi tiba-tiba ditengah jalan dia melihat seorang

 pengemis tua yang aneh, yang tengah berjalan dengan tubuh terbungkuk- bungkuk. Waktu pengemis itu melihat kacungku ini, dia telah melambaikan tangannya. “Ada keperluan apa Lopeh (paman) memanggilku?” tanya kacungku. Pengemis itu telah meringis dengan mimik muka minta dikasihani, katanya : “Siauw kongcu, aku sudah tiga hari tiga malam tidak makan, maka dari itu kasihanilah, berikanlah sedekah padaku dua atau tiga tail perak untuk membeli makanan, agar aku tidak mati kelaparan!” Kacungku merasa kasihan, tanpa banyak rewel dan juga tidak berayal lagi, telah merog oh sakunya, dia telah mengambil lima tail perak, diberikan kepada pengemis itu. Si pengemis tua tersebut jadi kegirangan bukan main, dia telah mengucapkan terima kasih berulang kali. Waktu kacungku mau pergi meninggalkannya, penge mis itu telah menahannya, kata pengemis itu : “Kau seorang anak yang baik, memang sepantasnya kalau kau kuberikan sesuatu!” dan kacungku jadi heran mendengar perkataan pengemis itu.”

Si kakek berkaki buntung itu berhenti sejenak dengan ceritanya itu, dia telah menghela napas.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi diliputi tanda tanya dihati mereka, entah hadiah apa yang ingin diberikan oleh  pengemis  i tu kepada kacungnya kakek berkaki buntung ter sebut?!

Sedangkan si bocah yang menjadi kacungnya kakek tua berkaki buntung tersebut telah mendengarkan cerita gurun ya i tu dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

“ Dan............”  meneruskan  kakek  tua   berkaki  buntung  itu. “ Kacungku telah menanyakannya, hadiah apa yang ingin diberikan oleh pengemis i tu, karena dihati kacungku telah terpikir, kalau sampai pengemis itu ingin memberikan hadiah padanya sesuatu  benda, kacungku ini bermaksud akan menolaknya, tetapi kenyataannya pengemis tua itu sambil tertawa telah berkata : “ Hmmm, jelas yang akan kuhadiahkan  kepadamu  i tu merupakan  sesuatu  yang  berharga,  yang t idak bisa dinilai dengan uang!” mendengar perkataan pengemis tua itu, kacungku  jadi  tambah  heran  bercampur  perasaan  kaget,  tanyanya  : “ Hadiah apakah yang Lopeh maksudkan i tu?!” maka pengemis i tu telah menyahuti : “Sebuah rahasia, dan rahasia ini aku yakin diperlukan oleh kau dan gurumu!” lalu pengemis tua itu telah batuk -batuk beberapa kali, baru melanjutkan perkataannya: “Rahasia ini  mengenai  keadaan Peng Po Siang Sie Menteri Pertahanan itu memang telah dibawa ke ibukota, tetapi tid ak dikurung pada  tempat tahanan yang d isediakan semula, yaitu di dekat gedung Ban Hong Liu, melain kan telah dipindahkan ke ruangan Bieong -hu (ruangan Tercantik) yang Khusus untuk tempat ibu suri, sedangkan di  luar  telah  disiarkan bahwa Peng Po Siang  Si e ditahan dalam kamar tahanan dekat ge dung Ban Hong Liu, kalau sampai orang- orang gagah menyerbu ke sana untuk berusaha membebaskan

 Peng Po Siang Sie, dengan sendirinya mereka seperti masuk ke dalam perangkap, di sana telah disediakan pasukan Bay -hok (pasukan pembokong). Tidak ada seorangpun yang mengetahui atau menyangka, atau juga sampai mempunyai pikiran bahwa Peng Po Siang Sie ditahan dalam ruangan suci dari ibusuri.” Mendengar habis perkataan pengemis tua itu, kacungku segera tersadar bahwa pengemis tua yang ada dihadapannya ini bukanlah sembarangan pengemis, cepat- cepat kacungku merangkapkan kedua tangannya memberi hormat pa da pengemis itu untuk menyatakan rasa teri ma kasihnya, untuk menanyakan sekalian si apakah adanya pengemis tersebut. Tetapi pe - ngemis tua itu tidak mau memberitah ukan  keadaannya  yang sebenarnya, dia hanya tertawa sambil menambahi dengan kata -kata : “ Ingatlah keteranganku i tu, nanti kepada orang -orang gagah yang benar-benar tulus ingin menolong Peng Po Siang- sie See Un, kau boleh menceritakan kepada mereka keadaan s ebenarnya!” lalu setelah berkata begitu, pengemis tua tersebut telah membalikkan tubuhnya dan berlalu, meninggalkan kacungku berdiri terpaku diam di tempatnya dengan bingung. Tanpa meneruskan maksudnya membeli makanan, kacungku kemudian telah cepat-cepat kembali menemui diriku menceritakan segalanya !”

Dan kakek tua berkaki buntung i tu telah menghela napas mengakhiri ceritanya.

“ Kalau begitu     Peng Po Siang Sie masih ditahan di Bie- ong-hu i tu..........!” kata Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang dengan bernafsu sekali, bergolak perasaannya.

“ Sabar . ....... kita tidak boleh gegabah! Biarpun Peng Po Siang Sie memang sebenarnya ditahan di situ, yang jelas diruangan tersebut diadakan penjagaan yang ketat, berlapis-lapis!' Sukar  untuk kita terobos begitu saja!” kata kakek  tua  berkaki buntung tersebut. “ Lagi pula, i tu hanya didengar dari se orang pengemis yang penuh rahasia, maka dari itu, kita masih meragukan keterangan yang diberikannya.”

“ Apakah Locianpwe kenal dengan pengemis?” tanya Giok Ie Lang. “ Kalau dideng ar penuturan kacungku, yang menceritakan bentuk

wajah  pengemis  tua  i tu dan  mengatakan  bahwa  di  kening  sebelah

kanannya seperti terdapat sebuah daging lebih yang bulat,  maka tentunya tidak salah lagi dia adalah Kauw - sian Sin Kay (Pengemis anjing sakti). Tetapi inipun hanya dugaan, kalau memang benar -benar pengemis itu adalah Kauw- sian Sin Kay, kita boleh merasa  tenang melihat dia juga telah mau mencampuri urusan ini, karena Kauw sian Sin Kay adalah bekas Pangcu. Kaypang ke dua puluh satu, yang telah mengundurkan  diri  dari  r imba  persilatan,  kepandaiannya  luar  biasa

 t ingginya dan juga memiliki hati yang luhur dan baik sekali. Dia paling

pantang melihat ada kejahatan didekatnya!!”

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menghe la napas lega, karena sejak tadi hati mereka diliputi ketegangan belaka. Yang mereka bicarakan adalah persoalan keselamatan Peng Po Siang Sie, bukannya persoalan yang kecil dan bisa diremehkan atau mengambil tindakan ceroboh.

“ Kalau menurut Locianpwe, bagaimana baiknya?” tanya Giok Ie

Lang kemudian.

“ Kita harus berusaha menghubungi bebera pa orang gagah, guna mengutus beberapa orang melakukan penyelidikan benar atau t idaknya keterangan yang diberikan oleh pengemis tua i tu!”

“ Itu memang jalan yang baik, Locianpwe!” seru Wu Cie Siang.

“ Ya, biar bagaimana kita harus mencurah kan seluruh perhatian kita untuk persoalan ini! Kita bicara bukan untuk kepentingan Peng Po Siang Sie perseorangan atau secara pribadi, tetapi ini  menyangkut perihal kesela matan negeri kita dari ancaman cengkeraman tangan bangsa asing yang tengah mengintai!”

Giok Ie Lang mengangguk. “ Ya, memang kenyataannya begitu, Locianpwe!” katanya. Wu Cie Siang juga mengiyakan. Mereka telah berembuk lagi.

Malah, akhirnya mereka berempat telah memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, untuk menuju ke kota raja, guna mengadakan penyelidikan, karena letak kota raja dengan tempat itu sudah t idak jauh lagi.

PAKKHIA merupakan ibu  kota dari daratan Tionggoan. Sebagai kota raja, dengan sendirinya kota tersebut merupakan kota yang megah dan besar sekali, gedung -gedung yang terdapat di kota raja inipun merupakan gedung -gedung yang bertingkat t iga atau empat, dibangun dengan segala kemegahan dan kemewahan.

Lagi pula, penduduk di kota raja ini sangat ramai, padat  dan banyak sekali yang berdagang. Sehin gga kotaraja ini merupa kan sebuah kota yang t idak pernah sepi siang maupun malam.

Waktu Giok Ie Lang, Wu Cie Siang, kakek tua yang ingin dipanggil sebagai si Buntung, dan kacungnya yang kecil i tu, yang  ternyata bernama Sun Mian, dan biasa dipanggil dengan  sebutan Miang- jie, telah t iba di kota raja Pakkhia ini. Mereka telah mengambil sebuah rumah penginapan, agar kehadiran mereka di kota raja ini tidak menjadi per - hatian orang banyak .

 Selama dalam perjalanan i tu, diam -diam Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang merasa kagum sekali terhadap diri si Buntung, walaupun kedua kaki dari kakek tua itu telah t idak ada, kenyataannya dia dapat melakukan perjalanan dengan gesit sekali, yaitu dengan diba ntu oleh kedua telapak tangannya. Setiap kali kedua telapak tangannya i tu menekan tanah, maka tubuhnya telah mencelat gesit bukan main.

Di rumah penginapan yang mereka tempati, mereka tidak keluar dari kamar mereka hanya berunding di dalam kamar dengan sik ap hati- hati dan penuh kewaspadaan. Hal ini disebabkan di dalam r imba persilatan memang berlaku perkataan : Dinding bertelinga, jendela bermata. Maka dari i tu, memang ada baiknya berlaku hati - hati di dalam percakapan.

Mereka berempat hanya mengambil sebuah kamar saja, karena hal ini agar mereka bisa berkumpul terus untuk menghada pi sesuatu hal yang t idak diinginkan.

Menjelang kentongan pertama, Giok Ie Lang telah mengajukan maksudnya ingin menyelidiki keadaan di sekitar kota raja i tu.

Si Buntung dan Wu Cie Siang menyetujuinya, sehingga menjelang kentongan kedua, Giok Ie Lang telah diam-diam keluar dari kamarnya mengambil jalan jendela. Tubuhnya te lah mencelat ke atas genting dengan gesit bukan main, berlari- lari menyelidiki keadaan di kota Pakkhia tersebut. 

Ternyata kota ini besar sekali, luas dan ju ga dibagi-bagi beberapa macam wilayah, sehingga di setiap tempat Giok Ie Lang melihat kera - maian belaka, walaupun hampir menjelang kentongan kedua.

Tetapi disebabkan ginkang Giok Ie Lang memang tinggi dan sempurna, dia bisa melakukan perjalanan di atas genting rumah pen - duduk tanpa menarik perhatian orang- orang di bawah i tu. Dia bisa berlari- lari dari genting yang satu ke genting yang lainnya, melompat - lompat seperti seekor tupai gesit saja, tubuhnya hanya berkelebat- kelebat bagaikan bayangan hantu belaka.

Setelah mengelilingi kota ra ja ini Giok Ie Lang akhirnya telah turun di jalan yang seni dan sunyi. Dari tempat ini dia berjalan ka ki, menghampiri sebuah rumah makan di lingkungan jalan tersebut, yang tampaknya masih ramai dikunjungi oleh para tamu - tamu dan pengunjungnya.

Sengaja Giok Ie Lang telah melangkah masuk ke dalam rumah makan itu, mengambil sebuah dan duduk di situ memesan beberapa macam sayur dan tiga kati arak untuk peng hangat tubuhnya.

 Sambil menantikan tibanya pesanannya i tu, Giok Ie Lang telah memandangi sekeliling ke adaan ruangan rumah makan  itu.  Banyak sekali pengunjung yang terdapat di dalam ruangan rumah makan ini.

Diantara para tamu-tamu itu ada yang berpakaian sekagai Siuchay atau Busu (guru si lat), selebihnya terbagi dari berbagai golongan, se - perti pedagang ata upun memang penduduk kota raja i tu sendiri, yang berpakaian perlen te dan mewah.

Rupanya rumah makan ini memang merupa kan rumah  makan nomor wahid di kota raja ini, sebab tamu t idak henti-hentinya keluar masuk. Tetap ramai walaupun hari sudah larut ma lam hampir kentongan ketiga.

Dikala pesanan makanannya telah diantar kan, Giok Ie Lang telah memakan dan menghirup araknya perlahan- lahan, sikapnya tenang se- kali, dia selalu menundukkan kepalanya, hanya matanya belaka yang memandang diam-diam mengawasi terus keadaan di dalam ruangan ini.

Selang sesaat, dikala tamu di meja sebelah Giok Ie Lang, yang terdiri dari dua orang pemuda berusia diantara sembilan belas tahun, berpakaian seperti anak-anak bangsawan, Giok Ie Lang telah melihat, ada suatu yang mencuriga kan pada diri kedua pemuda ini,  sebab sebelum meninggalkan mejanya, salah seorang diantara kedua pemuda tersebut telah menotok kaki meja sebelah kanan sampai  berlo bang dalam sekali oleh jari telunjuknya!

Inilah kejadian yang paling mengejutkan hati Giok I e Lang. Jarang sekali ada orang yang dapat melakukan hal seperti pemuda itu, hanya dengan jari telunjuknya telah membuat lobang de ngan  hanya sekali totok saja! Ini membuktikan tenaga dalam pemuda itu sudah sangat t inggi.

Kecurigaan Giok Ie Lang jadi semakin besar waktu dia melihat betapa kedua pemuda ini seperti saling membisikkan sesuatu, baru melangkah keluar dari rumah makan tersebut.

Giok Ie Lang menunggu sampai kedua pemu da itu telah keluar dari pintu rumah makan tersebut, cepat- cepat memanggil pelayan, membayar harga makanan yang telah dimakannya, lalu cepat - cepat keluar dari rumah makan i tu untuk menguntit kedua pemuda tersebut.

Saking terburu- buru, Giok Ie Lang sampai tidak mengambil kembalian uangnya, membuat pelayan i tu jadi berdiri bengong de ngan hati yang girang.

Waktu Giok Ie Lang sampai di  luar  rumah makan tersebut, dia masih sempat melihat kedua pemuda itu menikung di ujung jalan se - belah kiri.

 Cepat-cepat Giok Ie Lang menuju kesana setengah berlari. Dalam sekejap mata, dia sudah dapat m enyandak dan menguntitnya dengan hati-hati. Kepalanya ditundukkan dalam -dalam.

Pemuda i tu menuju ke tengah- tengah kota, dimana masih terdapat orang yang berlalu lalang.

Juga penerangan lampu-lampu jalan telah menyala menerangi jalan- jalan yang dilalui oleh kedua pemuda berpakaian seperti anak- anak bangsawan tersebut.

Sambil menguntit terus, Giok Ie Lang dili puti oleh  tanda  tanya yang tak habisnya. Karena dia melihat kedua pemuda i tu berpakaian seperti putera bangsawan, dan dengan sendirinya, jarang ada pu tera- putera bangsawan yang tertarik mempelajari ilmu Bu (silat), mereka lebih tertarik mempelajari Bun (sastra, i lmu surat), untuk nanti dipakai mengikuti ujian negara merebu t kedudukan dan pangkat.

Tetapi pemuda yang seorang ini, biarpun dia berpakaian seperti putera bangsawan, namun kenyataannya, dia telah menotok  meja sampai berlobang begitu dalam, dengan sendirinya hal i tu seperti juga suatu pertunjukan gratis bagi Giok T e Lang, sehingga Giok Ie Lang juga mengetahui bahwa kedua pemuda ini bukanlah s embarangan putera bangsawan setidak- tidaknya mereka orang - orang liehay.

Namun yang membuat Giok Ie Lang masih diliputi tanda tanya dan perasaan kagum adalah pemuda i tu berusia masih begitu muda, dengan dapat menotok bolong kaki meja dengan mempergunakan  jari telunjuknya saja, menunjukkan bahwa dia memiliki iwekang yang berkekuatan latihan sedikitnya dua puluh tahun. Tetapi melihat usianya yang belum dua puluh tahun, dengan send ir inya kekuatan iwekang yang dimiliki oleh pemuda tersebut benar -benar menakjubkan sekali!!

Kedua pemuda yang sedang dikuntit oleh Giok Ie Lang i tu telah melakukan perjalanan dengan cepat, walaupun mereka t idak berlari, tetapi langkah kaki mereka seperti tidak menginjak bumi! Hal ini menyebabkan rasa kagum Giok Ie Lang bertambah sa ja, karena kedua pemuda itu melakukan perjalanannya tanpa punggungnya bergoyang sedikitpun, menunjukkan lagi ginkangnya juga t inggi bukan main.

Ketika sampai di jalan kecil yang agak gelap dan sunyi, penuh oleh t ikungan-tikungan, Giok Ie Lang kembali dibua t heran oleh sikap ke dua pemuda itu, karena setiap kali mereka berbelok, pasti ada seorang pengemis yang duduk di jalan sambil mengangsurkan  tangannya, pemuda i tu seperti memberikan sesuatu. Hal i tu terjadi di dua atau tiga t ikungan, segera pikiran Giok Ie Lang terbuka, dia telah cepat- cepat menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelah ke atas genting. Dengan mengerahkan ginkangnya, dia telah berlari - lari ke arah jurusan dimana kedua pemuda ini mau tak mau harus melaluinya juga, sebab jalan itu

 biarpun berbelok-belok penuh tikungan, tetapi t idak mempunyai cabang lainnya.

Waktu Giok Ie Lang dengan r ingan turun di  sebuah tikungan dialau i tu, dia melihat benar saja di tempat itu tampak  duduk  seorang pengemis dengan sepasang tangan terulur, se perti sedang menantikan kedatangan kedua pe muda i tu. Dugaan Giok Ie Lang ternyata te pat. Dengan cepat dia telah bekerja, dia menghampiri pengemis i tu.

Pengemis tersebut terkejut melihat ada sesoso k tubuh yang melompat turun dari atas genting dan menghampiri kearah dirinya. B aru saja dia mau menegurnya, tahu- tahu Giok Ie Lang telah menubruk ke arahnya, jari tangan Giok Ie Lang telah menotok pengemis itu sehingga tanpa bisa membuka suara lagi, tubuh pengemis i tu terjungkal kejang tertotok diam.

Cepat-cepat Giok Ie Lang membuka baju pengemis itu, memakainya. Agak besar ukuran baju pengemis ini, karena pengemis tersebu memang memiliki bentuk tubuh yang t inggi be sar. Setelah i tu, si pengemis dalam keadaan telanjang diangkut ke atas genting, diletakkan di situ, ditotok lagi beberapa jalan darahnya.

“ Setelah tiga kali dua puluh empat jam kau akan bebas sendirinya, totokan ini akan terbuka!!” bisik Giok Ie Lang.

Tanpa membuang- buang waktu lagi, Giok Ie Lang melompat turun dan duduk di tempat si pengemis tadi, dia telah menggantikan nya. Dengan rambut yang diacak- acak, dan bajunya dilapis oleh baju pengemis i tu, dengan sendirinya Giok lo Lang pada saat i tu lebih mirip seperti seorang pengemis. Dia menundu kan kepalanya dalam-dalam sambil mengulurkan tangannya ditengah - tengah udara,  mengambil sikap seperti si pengemis.

Tidak lama kemudian, tampak kedua pemuda itu tengah mendatangi.

Tanpa curiga sedikitpun juga salah seorang diantara  kedua pemuda i tu, yang tadi telah menotok kaki meja sampai berlobang oleh jari telunjuknya, telah mengulurkan semacam benda yang kecil bentuknya, dia te lah meletakkan benda i tu di tangan Giok Ie Lang yang tengah diangkat terjulur i tu.

Tanpa menoleh sedikitpun juga, keduanya telah berlalu cepat sekali, dan Giok It Lang yakin  tentu  ditikungan -tikungan berikutnya pasti terdapat pengemis- pengemis lainnya lagi.

Cuma saja yang membuat Giok Ie Lang jadi heran, entah siapa kedua pemuda itu mengapa dia mempunyai kawan yang begitu banyak dan semuanya terdiri dari pengemis -pengemis belaka.

 Begitu bayangan kedua pemuda i tu lenyap di t ikungan lainnya, cepat-cepat Giok Ie Lang memeriksa benda yang diberikan kepadanya tadi.

Ternyata benda itu merupakan sepotong kayu kecil berukur an dua puluh dim dan lebar empat dim. Kayu ini merupakan kayu harum, yang diukir tengah -tengahnya berbentuk bu lat berlubang, menyerupai rembulan! Dan Giok Ie Lang baru teringat bahwa bentuk seperti ini menyerupai totokan jari telunjuk pemuda itu di kaki meja  di  rumah makan beberapa saat yang lalu. Sekarang barulah Giok Ie Lang menyadarinya bahwa bulatan berlubang itu tentunya merupakan lambang dari sebuah perkumpulan.

Sedang Giok Ie Lang duduk mengawasi benda tersebut, tampak berduyun-duyun pengemis-pengemis yang berjalan kearahnya.

Hati Giok Ie Lang jadi tercekat, dia men duga  bahwa  rahasia dirinya pasti terbongkar. Para pengemis itu berjalan  sambil menundukkan kepala, dan suara bisik -bisik mereka terdengar seperti dengung tawon.

Tetapi waktu lewat di depani Giok Ie Lang, tidak ada seorangpun diantara pengemis-pengemis i tu yang perhatikan Gi ok Ie Lang, mereka lewat tanpa menoleh lagi. Hal ini membuat Giok Ie Lang jadi lega juga, karena dia segera dapat menerka, para pengemis tersebut pasti sedang menuju ke suatu tempat untuk berkumpul.

Tetapi disaat Giok Ie Lang tengah ber diam diri mengawasi rombongan pengemis ini, salah seorang pengemis yang paling bela kang, seorang pengemis berusia pertengahan telah membentaknya : “Sie -kay (pengemis keempat), mengapa kau t idak turut rombongan kami, apakah kau t idak menerima Bok-leng (lambang harum)!!”

Giok Ie Lang terkejut, tetapi sekenanya dia menyahuti : “Terima, terima, tetapi kakiku kesemutan!”

Cepat-cepat Giok Ie Lang berdiri dari duduknya, dan mengikuti rombongan pengemis itu dari belakang. Cuma saja, sekarang dia juga telah mengetahui bahwa kedudukan dirinya adalah Sie -kay (pengemis t ingkat empat), dan ini tentunya dilihat dari jumlah karung yang empat helai tergemblok di punggungnya.

Sambil mengikuti, Giok Ie Lang memper hatikan  karung -karung yang menggemblok di punggung dari para pengemis terse but.

Ternyata diantara pengemis-pengemis itu umumnya menggemblok l ima karung, dan hanya beberapa orang saja diantaranya yang menggemblok empat karung. Dengan sendirin ya Giok Ie Lang juga bisa menduganya bahwa rombongan pengemis ini terdiri dari tingkat li ma dan tingkat keempat.

 Rombongan pengemis tersebut mengambil arah jalan yang dilalui oleh kedua pemuda tadi, t idak ada seorangpun yang berkata - kata de- ngan suara yang keras, mereka hanya ber bisik-bisik seperti sedang merundingkan sesuatu.

Giok Ie Lang mengikuti rombongan pengemis tersebut dari belakang, dia berdiam diri saja, dan juga sambil melangkah dengan kepala tunduk dalam-dalam, sebab dia takut kalau-kalau pengemis- pengemis tersebut bisa mengenalnya, niscaya dirinya sulit menyelidiki, permainan apa kah adanya yang tengah terjadi saat itu yang benar -benar menjadi tanda tanya di hati Giok Ie Lang  adalah perihal diri kedua pemuda yang berpakaian seperti putera bangsawan itu. Sebenarnya sangat kontras sekali, karena kedua pemuda i tu seperti putera bangsawan, berpakaian mewah dan perlente, sedangkan orang - orangnya atau kawan-kawannya terdiri dari rombongan pengemis tersebut.

Tidak lama kemudian rombongan pengemis in i t iba di depan sebuah gedung yang besar bukan main.

Di depan pintu gedung tersebut tampak berdiri dua orang penjaga yang khusus menyambut tamu -tamu ini, seorang demi seorang telah menyerahkan kayu berlubang bulat i tu dan langsung masuk.

Giok Ie Lang juga mengikuti para pengemis i tu, dia telah menyerahkan 'Bok-Ieng' itu pada salah seorang penjaga tersebut dan melangkah masuk mengikuti di belakang. Begitu melangkah ke dalam pekarangan gedung ini, mata Giok Ie Lang jadi silau.

Penerangan di pekarangan gedung tersebut sangat terang bukan main, bagaikan siang hari saja. Rombongan pengemis tersebut m asing- masing te lah mengambil tempat duduk.

Ditengah- tengah pekarangan gedung i tu tampak berbaris kursi - kursi yang berjumlah untuk t iga atau empat ratus orang. Waktu rombongan pengemis ini tiba, di dalam ruangan peka rangan sudah terdapat cukup banyak ta mu-tamu lainnya, yang juga berpakaian pengemis pula.

Sambil duduk dikursi yang agak disudut dan terhindar dari penerangan, Giok Ie Lang memperhatikan keadaan pekarangan gedung ini.

Kalau dilihat dari bentuk gedung ini yang mewah dan  besar, dengan sendirinya menunjukkan bahwa pemilik gedung ini tentunya golongan bangsawan.

Tetapi apa maksudnya mengumpulkan pengemis dalam  jumlah yang demikian banyak?

 Apakah untuk member ikan derma?! Tetapi Giok Ie Lang yakin, mustahil bangsawan pemilik gedung ini mau memberik an derma dengan cara demikian. Pasti dibalik segalanya yang  diliputi oleh  tanda  tanya dan rahasia bagi Giok Ie Lang, ada sesuatu yang penting sekali, suatu urusan yang besar.

Sedang Giok Ie Lang duduk ragu-ragu, dan penuh tanda tanya begitu, dilihatnya telah tiba rombongan pengemis lainnya yang berjumlah belasan orang. Mereka umumnya memakai t i ga karung, jadi tegasnya, dibawah t ingkat ke empat seperti pakaian yang di kenakan oleh Giok Ie Lang.

Rombongan pengemis yang menggemblok t iga karung itu, duduk dibarisan kursi yang ada di belakang Giok Ie Lang. Begitulah secara beruntun dan t idak henti-hentinya telah berdatangan rombongan pengemis-pengemis lainnya pula.

Tetapi biarpun di dalam pekarangan tersebut sudah dipenuhi kurang lebih dua ratus pengemis, tokh t idak ada seorangpun yang membuka suara, mereka hanya berbisik-bisik perlahan seka li , i tupun hanya  sekali- sekali dan keadaan  sangat sunyi dan tenang, seperti juga di dalam ruangan ini tidak terdapat seorang manusia pun juga.

Dengan sendirinya, Giok Ie Lang jadi merasa  kagum  atas ketertiban pengemis-pengemis tersebut. Namun disamping perasaan kagumnya itu, Giok Ie Lang juga merasa tegang sendirinya, entah kejadian apa yang akan disaksikan nantinya.

WAKTU berselang beberapa saat lagi, dikala Giok Ie  Lang me lir ik ke belakang secara diam -diam dengan mempergunakan sudut matanya, dia jadi terkejut sendiri ni, karena ruangan pekarangan ini telah penuh oleh tamu-tamu yang  terdiri  seluruhnya dari pengemis-pengemis tua dan muda. Tidak ada kursi yang lowong.

Jumlah pengemis-pengemis yang berkumpul di pekarangan ini sudah mencapai hampir empat ratus orang.

Disaat itulah perhatian Giok Ie Lang ter tarik oleh suara- suara gembreng yang nyaring sekali dipukul oleh seseorang  di  sebuah lapangan yang cukup besar dihadapan da ri baris para tamu i tu.

Disusul kemudian keluarnya pemuda berpakaian seperti putera bangsawan yang tadi telah melubangi kaki meja dengan mempergu - nakan jari telunjuknya. Sikapnya angkuh sekali, t idak ada senyum dimulutnya, sikapnya tegas dan pada sepasan g alisnya tampak sifat kepemimpinan, biarpun usianya masih demi kian muda.

Giok Ie Lang melihat pemudi berpakaian seperti seorang putera bangsawan i tu telah membuka suara dengan nyaring, karena dia

berkata-kata dengan mempergunakan tenaga iwekang yang ting gi sekali

: “Saudara- saudara  senasib!” kata pemuda  itu  memulai kata - katanya, “ Sudah sejak beberapa bulan yang lalu sebetulnya Pangcu (ketua perkumpulan) ingin mengadakan pertemuan seperti ini,  tetapi sayangnya kesempatan i tu t idak pernah ada, sehingga  pertemuan seperti ini telah diundurkan dari hari ke hari. Tetapi berkat doa saudara - saudara sekalian,   maka akhirnya maksud  ini bisa dilaksanakan juga, kita telah berkumpul!”

Berkata sampai di situ, pemuda tersebut te lah berdiam diri, dia mendehem sambil memperhatikan rombongan tamu- tamunya i tu.

“ Dan hari ini, Siauwte Tan Keng Can, telah diperintahkan oleh Pangcu agar memberikan penjelasan kepada saudara - saudara sekalian, karena tentunya saudara- saudara sekalian masih bingung dan belum mengerti apa maksud sebenarnya berkumpulnya kita di sini, bukan?!”

Semua para pengemis i tu berdiam diri tidak ada yang menyahuti. keadaan hening sekali.

“ Seperti apa yang telah saud ara- saudara sekalian ketahui bahwa keadaan di negeri kita ini tengah terancam oleh bangsa lu ar, maka dari i tu, biar bagaimana, walaupun kecil bentuk bantuan kita, namun tetap kita harus memperjuangkan, walaupun dengan cara apa agar negara kita ini selamat dari cengkeraman tangan bangsa asing itu!” Berkata sampai di sini, Tan Keng Can telah memandang lagi kearah rombongan pengemis i tu.

Semua tamunya itu berdiam diri. '“ Bagaimana pendapat saudara - saudara? Kalau ada yang tidak menyetujuinya, keluarlah untuk memberikan penjelasan dan alasan nya mengapa dia t idak menyetujui usul-usul ini, karena pertemuan kita ini diadakan dengan bebas, t idak diadakan ikatan apa-apa, kalau memang ada diantara saudara - saudara yang ingin memberikan saran - saran, si lahkan maju!!”

Tetapi keadaan tetap hening. Tidak ada seorangpun diantara para pengemis i tu yang beranjak dari tempat duduknya masing- masing.

“ Tidak adakah yang ingin memberikan sa ran?” mengulangi

pemuda itu.

“ Tidak!” sahut salah seorang diantara pengemis-pengemis itu, yang duduk dibarisan kursi per tama, di mana pada punggungnya tampak tergemblok karung berlapis tujuh.

“ Bagus! Ternyata perkataan Pangcu memang benar, bahwa diantara kita harus ada kekompakan! Tadi Siauwte hanya menanyakan begitu, karena hanya ingin mengetahui apakah diantara kita terdapat suatu selisih pendapat dan t idak adanya kekompakan! Tetapi kalau memang kenyataan sudah jelas demikian, di mana kita bisa seia dan

 sekata, tentunya Pangcu juga akan girang mendengarnya!” kata pemuda berpakaian seperti put era bangsawan itu. “Sekarang Siauwte ingin menjelaskan pada kalian juga, bahwa belum lama in i, telah tersiar kabar bahwa Peng Po Siang Sie See Un ditangkap oleh Hongte (kaisar) atas bujukan dari Thaykam Ban Hong Liu!”

Baru saja pemuda yang bernama Tan Ke ng Can tersebut berkata sampai di  situ, terdengar suara kasak- kusuk dan bisik-bisik yang ramai di antara para pengemis itu.

Tampaknya mereka kaget dan heran sekali sehingga jadi agak panik. “Tenang! Tenanglah saudara - saudaraku!!” teriak pemuda she Tan i tu. “ Seluruh kejadian i tu akan Siauwte jelaskan sampai yang sekecil - kecilnya sekalipun juga.”

Suara bisik-bisik i tu perlahan- lahan telah sirap dan keadaan jadi tenang kembali.

Tetapi hanya Giok Ie Lang yang tergoncang keras hatinya, karena ternyata memang para pengemis ini berkumpul untuk membicarakan persoalan Peng Po Siang See Un, majikannya i tu .

Dengan sendirinya, perasaan Giok Ie Lang jadi tergoncang keras, dan juga hatinya telah berdebar keras, dia merasa tegang sendirinya. Dengan kepala ditundukkan dalam-dalam, takut orang- orang melihat perobahan mukanya. Giok Ie Lang mendengarkan baik -baik setiap perkataan dari pemuda berpakaian bangsawan itu.

Urusan seperti ini benar-benar tidah pernah diduga oleh Giok Ie Lang, bahwa pertemuan antara para pengemis tersebut adalah untuk memperbincangkan persoalan Peng Po Siang Sie See Un. Sedikit banyak, hati Giok Ie Lang jadi tergerak, dia terharu sendirinya.

Tadinya malah Giok Ie Lang mempunyai prasangka bahwa para pengemis ini  mengadakan pertemuan untuk suatu tujuan yang  tidak baik. Tetapi setelah melihat apa yang terjadi sebenarnya, tak hentinya Giok Ie Lang telah me maki dirinya sendiri.

Saat i tu, pemuda bemakaian seperti putera bangsawan, yang mengakui   dirinya   bernama   Tan   Ken   Can,   telah   berkata   lagi   : “ Sebenarnya, persoalan Peng Po Siang Sie ini bukan hanya menggerakkan hati kita dari golongan Kaypang saja, tetapi persoalan Peng Po Siang Sie See Un telah menggegerkan seluruh rimba persilatan, orang- orang gagah dari seluruh daratan Tionggoan murka mendengarnya! Bayangkan saja, betapa jadinya negeri kita ini kalau memang ternyata bangsa asing telah da pat menerobos masuk ke dalam daratan Tionggoan ini, bukankah akan menyebabkan segalanya berantakan? Maka dari itu, kita mana bisa membiarkan terus Hongte (kaisar) dikuasai oleh Thaykam she Ban i tu? Biar bagaimana kita harus berusaha melepaskan Hongte dari kungkungan Ban Hong Liu Thaykam,

agar Hongte segara dapat mengambil kebijaksanaan yang sesungguhnya sehingga negara kita ini bisa terhindar dari cengkeraman tangan bangsa asing!”

“ Benar!” terdengar pengemis-pengemis i tu telah berteriak dengan suara yang cu kup nyaring.

“ Nah, seperti saudara- saudara mengerti, bahwa Pangcu kita  kali ini tengah memupuk kekuatan untuk membantu pihak pemerintah mempertahankan negara, agar kekuasaan Hongte tidak terjatuh di tangannya Thaykam Ban Hong Liu, membuat segalanya  jadi  c elaka! Maka dari i tu, dengan adanya bantuan kita yang t idak besar ini, namun cukup berarti, setidak- tidaknya akan membawa pengaruh yang tidak kecil, sebab Kaypang merupakan sebuah perkumpulan yang cukup besar didaratan Tionggoan ini!”

Bersemangat sekali ka ta-kata yang diucapkan oleh pemuda  she Tan itu, sehingga kembali pengemis -pengemis i tu telah bersorak

Giok Ie Lang sendiri yang mendengar kata - kata Tan  Keng  Can yang begitu bersemangat, jadi terbangun semangatnya disamping perasaan haru yang meliputi hatinya.

“ Maka dari itu, Pangcu juga telah mengeluarkan perintah bahwa t idak diijinkan siapapun diantara kita membicarakan persoalan Peng Po Siang Sie di luaran, karena hal itu bisa mendatangkan kecurigaan yang besar dari pihak pemerintah, kalau sampai hal ini bocor keluar, berarti kita akan meng hadapi urusan yang tidak kecil!! Kaypang  akan mengalami bencana yang cukup serius! Juga, sebagai kata -kata sandi, selalu diucapkan kata- kata Pang-lan, Siu-hok dan Kong Bok. Tan da pengenal merupakan sebuah lingkaran bu lat berlubang,  yang menyerupai seperti bola. Ingatlah baik-baik semuanya itu, karena akan diperlukan jika kita sedang terlibat di dalam urusan yang  besar nantinya!” kata Tan Keng Can lagi, suaranya sudah tidak setinggi tadi.

Terdengar beberapa orang pengem is telah mengiyakan. Tetapi berbarengan dengan i tu, tampak se sosok tubuh yang berdiri dibarisan depan, telah melompat menghampiri pemuda ini.

“ Tunggu dulu aku ada pertanyaan!” kata  pengemis  yang melompat maju itu, “ 'Bagaimana kalau sampai berita ini boc or? Bu- kankah diantara kita yang berjumlah cukup banyak yang sedang berkumpul di sini sulit untuk diketahui kalau berkhianat?!”

Pemuda i tu telah memandang pengemis yang melompat maju itu, dia telah mengenalinya, karena segera dia berkata : “Oh, kau Liok -bian- kay (pengemis bermuka enam)?” tanyanya. “Persoalan yang  kau tanyakan itu sangat mudah diselesaikan, karena kita yang saat ini berkumpul, telah tercatat namanya, tidak terdapat orang luar! Maka dari i tu, mudah saja kita mengetahui kalau sampai ada salah seorang

diantara kita membocorkan pembicaraan kita hari ini! Juga setiap yang menerima Bok- leng harus menyimpan lambang itu  baik-baik, karena akan dipergunakan sebagai tanda pengenal satu dengan yang lainnya!! Nanti akan dikembalikan Bok- Ieng itu satu per satu kepada kalian!”

Pengemis yang baru maju ke depan iu. yang berusia diantara tiga puluh tahun, telah mengangguk- anggukkan kepalanya.

“ Baiklah, kalau memang sudah ada ketelitian yang begitu rupa dari pengurus, tentunya kami bisa tenang!! Sebab harus dik etahui, kalau sampai urusan ini bocor di luar, kami yang bisa celaka semuanya, karena sukar mencari musuh di dalam selimut!”

Tan Keng Can hanya tersenyum sambi l mengucapkan terima kasihnya. Sedangkan pengemis yang tadi dipanggil de ngan gelaran Liok- bian- kay, telah kembali tempal duduknya.

Giok Ie Lang saat itu tengah memutar otak memikirkan cara untuk meninggalkan para pengemis yang sedang berembuk i tu.

Hal ini disebabkan Giok Ie Lang ingin cepat -cepat kembali ke rumah penginapannya untuk memberitahukan  segalanya yang dialaminya kepada kawan -kawannya.

Disaat i tu Giok Ie Lang melihat banyak pe ngemis-pengemis yang telah berdiri berkelompok -kelompok seperti sedang merundingkan sesuatu.

Giok Ie Lang merasakan inilah kesempatan yang  baik  baginya untuk mening galkan tempat tersebut. Maka dari itu, cepat -cepat dia telah berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri salah se orang pengemis yang berada t idak jauh dari di rinya, menanyakan dimana letak kamar kecil.

Pengemis itu memberitahukannya, maka Giok Ie Lang t elah pergi menurut petunjuk pengemis itu. Waktu sampai disudut pekarang an yang agak terhindar dari penerangan, Giok Ie Lang melihat t idak ada orang, maka cepat- cepat dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat melewati tembok itu, dan dia berlari -lari cepat menyusuri jalan yang penuh t ikungan tersebut, guna kembali ke tempat penginapannya.

Dengan cepat, Giok Ie Lang telah ke mbali di dalam kamar penginapannya.

Kakek tua berkaki buntung dan Wu Cie Siang tengah menantika n kembalinya Giok Ie Lang dengan hati yang tidak tenang.

Maka dari i tu, disaat melihat Giok Ie Lang sudah kembali, mereka telah cepat- cepat menghampiri.

“ Ada sesuatu  yang terjadi?”  tanya  Wu Cie  Siang,  karena  dia

melihat napas Giok Ie Lang agak memburu ker as, mukanya agak tegang.

Giok Ie Lang mengangguk. “Tutup dulu jendela!!” kata Giok Ie

Lang, yang takut kalau- kalau ada yang mengikutinya.

Kacung si kakek berkaki buntung, yang bernama Ming - jie, telah cepat-cepat menutup jendela i tu.

Giok Ie Lang segera menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

Si Buntung dan Wu Cie Siang jadi terkejut.

“ Apakah ada kejadian seperti ini?” tanya si Buntung setelah Giok Ie Lang selesai dengan ceritanya itu, menunjukkan si Buntung heran sekali.

Giok Ie Lang mengangguk berulang kali.

“ Benar! Malah, pihak Kaypang bukan hanya bergerak di  kota raja ini saja, karena cabang- cabang Kaypang yang lainnya juga akan di - kerahkan!”

“ Hmmm, kalau begini akan ramai jadinya!” kata si Buntung. “ Ya, akan ramai!” Wu Cie Siang juga telah meni mpali.

“ Apakah lebih baik kita memperlihatkan di ri dan  bergabung dengan pihak Kaypang?”' tanya Giok Ie Lang yang meminta pendapat si Buntung.

Tetapi si Buntung tidak segera menyahuti, dia berpikir keras sejenak, namun akhirnya dia mengulap -ulapkan tangann ya.

“ Jangan!” katanya tegas. “Percuma saja! Kalau kita menggabungkan diri dengan pihak mereka, tidak ada gunanya, dan lebih baik kita mengambil jalan masing - masing, tetapi tokh tujuan kita satu dan juga sama dengan tujuan mereka!!”

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menganggap perkataan si Buntung memang ada benarnya.

“ Baiklah! Sekarang kita telah berada di kota raja, apa yang ingin kita lakukan?” tanya Wu Cie Siang kemudian menatap si Buntung.

“ Maksudmu?”'

“ Apakah kita berdiam diri dulu atau sege ra bekerja untuk

menyelidiki keadaan Peng Po Siang Sie See Un?”

“ Dengan sendirinya kita tidak boleh terlalu menarik perhatian orang lain, karena segala sesuatu apapun juga yang sekecil -kecilnya pasti akan menarik perhatian dari alat negara! Kalian hari ingat, Pakkhia bukanlah seperti kota- kota lainnya di sini kita harus dapat berlaku jauh lebih hati-hati!”

 Dan setelah berkata begitu, si Buntung berdiam diri,  tampaknya dia tengah memutar otak memecahkan persoalan mereka.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang me l ihat keadaan si Buntung tersebut, tidak mau mengganggunya, mereka telah menyingkir ke samping untuk bercakap- cakap.

Begitu pula halnya dengan Ming- jie, kacung ci lik ini juga telah duduk di dekat Wu Cie Siang.

Sedangkan si Buntung sendiri masih memu tar keras pikirannya mencari jalan keluar memecahkan persoalan tersebut.

Keadaan di dalam kamar itu menjadi he ning bukan  main, hari sudah hampir mendekati fajar.

Tetapi, t iba- tiba suatu ketika si Buntug telah mencelat t inggi sekali, tubuhnya melayang ke diendela, dia te lah menghajar jendela itu agak keras, sehingga daun jendela telah menjeblak terkena hajaran telapak tangannya itu.

Berikut terbukanya daun jendela. si Bun tung telah menerobos keluar sambil membentak : “Siapa kau?!” teriaknya.

Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang jadi terkejut bukan main. Mereka telah cepat- cepat melompat keluar dari jendela itu, diikuti oleh Ming - jie.

Ternyata pada saat itu si Buntung tengah membe kuk seseorang. Waktu Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menegasi, ternyata orang yang dibekuk oleh si Bun tung berpakaian seperti seorang pelayan.

“ Hmmm, memang benar perkataan bahwa jendela memiliki mata dan dinding memiliki telinga!” gumam Wu Cie Siang. “Rupan ya gerak- gerik kita ingin diperhatikan oleh t ikus ini!”

Orang yang berpakaian seperti pelayan ru mah  penginapan tersebut jadi ketakutan bukan main. Tubuhnya tampak gemetaran keras sekalidan mulutnya tak hentinya telah berkata : “Ampun jangan membunuhku, aku hanya diperintahkan oleh seseorang, aku hanya diperintahkan oleh seseorang ampunilah jiwa Siauwj in.”

Si Buntung telah tertawa dingin. “Siapa yang telah memerintahkan

mu mengintai kamar kamar kami?” tegurnya.

“ Seorang lelaki tua  berkumis  putih  dan  panjang   sekali, memakai baju warna hijau!” menjelaskan orang yang berpakaian seperti pelayan i tu dengan suara tergagap.

“ Berapa usianya?” bentak si Buntung pula.

“ Mungkin, mungkin sudah enam puluh tahun!!”

 “ Mengapa dia memerintahkan kau untuk mengintai kamar k ami?”

“ Siauwjin tidak tahu! Sungguh mati, Siauwjin tidak  tahu, ampunilah jiwa Siauwjin, karena Siauw jin mempunyai anak isteri, kalau sampai Siauwjin dibunuh, tentu anak isteri Siauwjin akan terlantar!'

“ Hmmm, sungguh seorang pengecut kau!” bentak si Buntun g dengan mendong kol. “ Makanya kalau memang kau seorang yang takut mampus lain kali janganlah menjad i maling kecil coba- coba untuk mengintai kamar tamu mana saja, hmmm, kalau memang aku tidak mau berlaku kasihan kepadamu, bukankah kau berarti akan mampus dengan tubuh tidak keruan bentuk lagi?!”

“ Ya, ya, Siauwjin memang seorang pengecut, ampunilah jiwa Siauwjin!!” sesambatan orang itu dengan suara gemetar ketakutan. Dia juga memandang kearah Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, seperti juga meminta perlindungan

Tetapi Wu Cie Siang dan Giok le Lang malah menatap kearahnya dengan sorot mata yang bengis rupanya Gi ok Ie Lang dan Wu Cie Siang tengah gusar bukan main.

“ Di mana sekarang orang yang menyuruhmu mengintai kamar kami ini?” tanya Buntung dengan suara yang memb entak bengis.

“ Hmmm, Siauwjin tidak tahu, dia hanya tamu di rumah penginapan ini, tetapi t idak sampa i bermalam, tadi sore dia telah pergi, katanya besok dia akan kembali lagi kemari!”

Si Buntung telah tertawa dingin, tahu - tahu tangannya bergerak.

“ Plakkk!” muka pelayan i tu telah kena dihajarnya keras sekali.

“ Ampun!” teriak pelayan i tu dengan suara jtng nyaring, rupanya dia kesakitan bu kan main.

“ Plakkk!” kembali terdengar suara tempelengan yang keras. “ Ampunnn!”

“ Katakan, dimana orang itu berada?” bentak si Buntung lagi.

“ Siauwjin benar -benar t idak ta...” tetapi baru berkata sampai di situ, dia telah menjerit kesakitan, sebab tangan si Buntung telah bergerak menghajar lagi dengan telak batok kepalanya.

“ Ampun! Ampunnn! Siauwjin jangan dibunuh!”

“ Selama kau belum mau mengatakan yang jujur dimana beradanya orang yang telah menyuruhmu untuk mengintai ka mar kami, akan kutempeleng terus sampai mampus!” dan setelah berkata begitu, si Buntung telah menggerakkan tangannya berulang kali, sehingga terdengar suara “Plakkk! Plokkk! Plakkk!” yang keras bukan main.

 Suara tempelengan i tu juga disertai suara jerit s i pelayan yang t idak hentinya.

“ Kau mau mengatakannya atau tudak?” bentak si Buntung dengan

suara yang bengis.

“ Baik, baik! Aku akan mengataka nnya!” kata pelayan itu  yang telah mewek, mungkin juga saking kesakitan. “ Orang i tu t inggal di kamar nomor sepuluh!” 

“ Hmm, bukankah kalau sejak tadi kau bicara jujur, kau t idak usah mengalami kejadian demikian?” dan sehabis berkata begitu si Buntung telah menggerakkan tangannya, membanting tubuh pelayan itu sam bil bentaknya : “Pergilah kau!”

Pelayan itu bagaikan seek or anjing yang kena penggebuk, telah cepat-cepat meninggalkan tempat i tu.

Cepat-cepat si Buntung, Giok Ie Lang, Wu Cie Siang dan Ming - jie, telah menuju ke ruangan bawah, mencari kamar nomor sepuluh.

Kamar itu ternyata terletak di ujung dari lorong ruangan bawah. Pintu kamar itu tampak tertutup rapat, si Buntung  berempat  telah berdiri dengan penuh kewaspadaan di depan pintu kamar itu, sedang kan Giok Ie Lang telah bersiap - siap untuk menghadapi segala sesuatu.

Malahan Wu Cie Siang sendiri telah me ngulurkan tangannya mencekal gagang pedang yang tergantung dipinggangnya.

Ming- jie berdiri paling belakang, tetapi kacung cilik yang gesit ini juga telah bersiap- siap, karena siapa tahu orang yang berada di dalam kamar nomor sepuluh ini adalah mu suh mereka?!

Keadaan jadi tegang, apa lagi dari dalam kamar i tu tidak terdengar suara apapun juga, keadaan hening dan sunyi sekali.

SI BUNTUNG telah menarik napas dalam-dalam dia telah menyalurkan tenaga dalamnya pada telapak tangannya yang kanan.

Setelah memperhatikan sejenak lagi dan keadaan tetap  sunyi, maka dia telah mengge rakkan tangannya i tu menghajar pintu kamar tersebut.

“ Bukkk!' pintu i tu telah terbu ka dengan dipaksa. Kunci pintu i tu telah rusak, palang pintunya juga telah patah menjadi dua.

Begitu pintu menjeblak, si Buntung dan yang lainnya menerobos masuk. Namun, disaat itulah, Wu Cie Siang jadi  berdiri  menjublek dengan muka yang berobah pucat.

 Dilihatnya seorang lelaki tua tengah duduk bersemedhi dengan sikap yang tenang bukan main, sepasang matanya juga ter pejamkan.

Si Buntung dan Giok Ie Lang baru saja ingin menerjang untuk membekuk orang tua i tu, tetapi Wu Cie Siang telah cepat - menghadangnya.

“ Jangan, orang sendiri!” teriak Wu Cie Siang dengan suara yang

nyaring.

Hal ini tentu saja membuat terkejut si Bun tung dan Giok Ie Lang. Mereka sampai menghentikan langkah mere ka dan memperhatikan

Wu Cie Siang dongan sorot mata yang tajam. Sedangkan Wu Ci e Siang

sendiri telah membalikkan tubuhnya, dia telah menekuk kedua kakinya berlutut di hadapan orang tua ini.

“ Suhu!” panggil Wu Cie Siang dengan suara yang menghormat sekali. “Terimalah penghormatan Tecu!”

Si Buntung jadi terkejut. “ Wu  Kongcu, bukankah gurumu Thang

Lan Hoa?!” bentaknya t idak mengerti.

“ Benar Locianpwe, inilah suhu Boanpwe!!” sahut Wu Cie Siang “ Inilah Thang Suhu!”

Si Buntung jadi melengak sejenak, telapi kemudian telah tertawa dingin. “Kau jangan main- main Wu Kongcu! Jangan kau berpikir mau mempermainkan diriku!!” bentak si Buatung mendongkol. “Apakah kau kira aku tidak kenal dengan si tua bangka she Thang itu?”

“ Tetapi ini memang benar-benar Suhu Boanpwe!” sahut Wu Cie

Siang sambil tersenyum.

Perlahan- lahan kelopak mata dari orang tua i tu telah terbuka, sambil tersenyum dia telah berkata : “ Hai! Hai! Matamu benar -benar sudah lamur, bangsat Buntung!” katanya dengan suara yang tawar.

Sepasang alis si Buntung jadi mengkerut dalam -dalam mendengar perkataan orang i tu.

“ Tetapi aku ken al dengan Thang Lan Hoa, kau bukan si tua bangka

she Thang i tu!” kata si Buntung yang tetap berkeras.

Orang tua itu telah tersenyum lagi. Perlahan- lahan tangan kirinya telah terang kat dan menarik jenggotnya. Seketika itu juga jenggotnya yang sudah putih itu tertarik terlepas berikut selapis kulit penutup muka yang t ipis.

 “ Hebat bukan penyamaranku, sampai saha bat kentalku tidak mengenali lagi diriku!!' kata orang tua itu sambil  tertawa bergelak - gelak.

“ Hai! Benar- benar l icik kau!” teriak si Buntung yang t elah berteriak dengan girang “Ternyata kau memang tua bangka she Thang i tu!”

Dan si Buntung telah saling berpelukan dengan lelaki i tu, yang ternyata memang Thang Lan Hoa, guru dari Wu Cie Siang.

Tentu saja Giok  Ie Lang yang menyaksikan kejadian seperti  ini jadi kesima sejenak, te tapi kemudian dia telah menoleh kepada Wu Cie Siang yang berdiri tidak jauh disampingnya.

“ Mengapa kau segera bisa mengenali bahwa i tu adalah gurumu, Wu-heng?' tanya Giok Ie Lang dengan perasaan takjub. “Sungguh tajam matamu!”

“ Karena memang Suhu sering menyamar dengan mempergunakan jenggot palsunya i tu, sehingga aku sering pula melihatnya, maka da ri i tu, aku segera mengenalinya biarpun Suhu dalam keadaan menyamar!” menjelaskan Wu Cie Siang sambil tersenyum

Pertemuan dengan Thang Lan Hoa, guru dari pemuda she Wu tersebut, menimbulkan suasana yang menggembirakan bukan main.

Si Buntung menceritakan kepada Thang Lan Hoa, bahwa yang tertimpa celaka adalah si pelayan yang telah ditempeleng pulang pergi pada waktu- waktu sebelumnya.

Thang Lan Hoa tertawa mendengar cerita itu. “Biarlah nanti kuberikan hadiah pula padanya beberapa tail!” kata  orang  she Thang ini. “Untuk pengganti kerugian yang dideritanya.”

“ Hmmm, ini dia sifat burukmu keluar lagi, selalu gemar memberikan hadiah pada orang yang t idak melakukan sesuatu pekerjaan apapun padamu!”

“ Tetapi tidak ada salahnya bukan untuk berlaku baik hati kepada siapapun juga?” kata Thang Lan Hoa sambil tertawa “ Dari pada kau, si Buntung yang terkenal sering memukuli orang!!”

Mereka jadi tertawa bersama- sama, tampaknya girang  bukan main. Giok Ie Lang dan  Ming- jie juga telah diperkenalkan pada orang she Thang tersebut. 

Ming- jie telah memberi hormat kepada Thang Lan Hoa dengan membungkukkan tubuhnya dalam -dalam sambil berkata : “Kalau nanti Thang Locianpwe mempunyai waktu, sudi kiranya Locianpwe memberikan petunjuk -petunjuk pada Boanpwe, karena banyak kekurangan pada d iri Boanpwe.”

 “ Setan cil ik kau!” bentak Thang Lan Hoa sambil tertawa. “ Belum apa-apa kau sudah meminta kepadaku dengan li cik suat u permintaan yang belum tentu akan diperoleh orang lain! Baik! Nanti kalau aku mempunyai waktu senggang, biarlah aku menurunkan satu  atau dua jurus kepadamu! Kelicikanmu ini tentunya atas didikan majikanmu i tu, bukan?”

Ming- jie jadi girang bukan main, biarpun dirinya disemprot begitu, tetapi kenyataannya tokh Thang Lan Hoa telah menjanjikan kepadanya akan menurunkan satu atau du a jurus i lmu silatnya.

Cepat-cepat dia telah mengucapkan terima kasihnya sampai berulang kali. Si Buntung yang melihat kelakuan kacung cil iknya ini jadi tertawa bergelak-gelak.

“ Dasar ular muka dua kau!” memaki si Buntung diantara suara tertawanya. “Paling pandai kau menjilat- ji lat begitu untuk memperoleh keuntungan!”

“ Hmmmm, kau tidak perlu mempersalahkan diri kacungmu ini, karena engkau juga yang telah mendidiknya demikian rupa, Hahahaha!” tampaknya Thang Lan Hoa girang bukan main.

Setelah i tu mereka ma sing- masing menceritakan pengalaman mereka selama berpisah. Tampaknya kedua jago tua ini asyik bu kan main. Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah kembali ke kamar mereka.

Sedangkan Ming- jie tetap menemani majikannya, karena dia ingin melayani majikannya ini dan jago tua she Thang tersebut.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang tengah bcrjalan untuk kembali ke kamar mereka, telah bercakap -cakap mengenai guru si pemuda she Wu tersebut.

Wu Cie Siang tampaknya begitu menghormati gurunya itu, karena dia juga menceritakan keagungan gurunya i tu, kehebatan i lmu silat gurunya, maka dengan bergabungnya mereka berarti mereka telah memperoleh suatu bantuan yang tidak kecil.

Giok Ie Lang sendiri memang sering men dengar kehebatan sepak terjang dari Thang Lan Hoa, maka dari i tu beberapa kali dia ju ga telah memujinya.

Tampaknya Wu Cie Siang girang b ukan main mendengar gurunya dipuji oleh sahabatnya ini. Saat i tu Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah sampai di depan kamar mereka.

Tetapi hati mereka jadi terkejut bukan main, karena daun jendela kamar mereka yang tadinya terbuka i tu, telah tertutup rapat - rapat.

Hal ini mengejutkan sekali hati Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, tanpa berjanji lagi keduanya telah mencelat kearah jendela kamar

tersebut. Mereka mencoba membuka daun jendela itu, tetapi terkunci dari dalam.

Dengan sendirinya hati Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang  jadi mencelos. Hal ini pasti perbuatan seseorang, karena waktu mereka mau meninggalkan kamar mereka, karena kesusu, mereka lupa mengun cinya. Dengan cepat Wu Cie Siang menarik daun jendela i tu dengan kuat, sehingga menjeblak.

Kembali hati me reka jadi terkejut, karena sebaliknya dari jendela i tu yang tadinya terpentang dan sekarang telah terkunci, tetapi pintu kamar itu malah terbuka, sedangkan tadi waktu mereka meninggalkan kamar ini telah tertutup rapat.

Cepat  keduanya  menerobos  masuk  ke dalam  kamar  itu.  Tetapi t idak ditemui seorang manusiapun di dalam kamar mereka ini.

Hanya tampak barang-barang mereka telah kacau seperti telah diaduk-aduk oleh seseorang.

“ Cepat kau beritahukan kepada gurumu!” kata Giok Ie Lang pada

W u Cie Siang. Pemud a she Wu itu mengiyakan.

Tubuhnya bagaikan terbang telah kembali ke kamar sepuluh, dia menceritakan, segalanya kepada gurunya dan juga Si Buntung. Tentu saja gurunya dan si Buntung jadi terkejut bukan main, mereka telah cepat-cepat berlari ke kamar itu.

Benar saja waktu si Buntung dan Thang Lan Hoa sampai di kamar tersebut, mereka melihat keadaan kamar i tu telah kacau balau seperti telah dimasuki oleh seseo rang yang mencari sesuatu.

Giok Ie Lang saat i tu tampak tengah me meriksa seluruh barang- barang mereka. Tidak ada yang hilang. Inilah yang  telah membingungkan benar hati Giok I e Lang. Mereka jadi penasaran ingin mengetahui sebenarnya benda apa yang dicari oleh orang yang telah memasuki kamar mereka.

Tetapi biarpun mereka telah bertukar pikir an, tetap saja mereka t idak bisa menemui jawabannya yang tepat.

Akhirnya sang fajarpun telah tiba, tetapi mereka tetap tidak bisa menerka siapa yang telah memasuki kama r mereka, dan  barang apa yang dicari oleh orang itu. Pauw-hok mereka yang telah kocar- kacir itu menunjukkan bahwa orang i tu mencari sesuatu yang diingin kan benar, karena dilakukan pencarian tersebut dengan tergesa - gesa.

Tiba- tiba Ming - jie telah mengeluarkan suara seruan kecil. Jago- jago yang lainnya telah menoleh dengan cepat, malah si Buntung telah menegurnya : Ada apa Ming - jie?” tanyanya.

 “ Lihatlah Loya!” kata Ming- jie sambil menunjuk kearah kaki meja sebelah kanan. Seketika i tu juga hati Giok Ie Lang ja di mendesir.

“ Dia yang telah mengambilnya kembali!” seru Giok Ie Lang

kemudian.

“ Siapa?” 

“ Pemuda berpakaian bangsawan Tan Keng Can i tu!” menjelaskan Giok Ie Lang. “Bukankah Boanpwe pernah menceritakan  bahwa  dia hanya dengan mempergunakan jari telunjuknya saja berhasil membuat tanda berbentuk bulat dan berlubang i tu di kaki meja?!”

“ Hmm, kalau begitu dia datang kemari untuk mengambil pulang Bok-leng yang kau peroleh tadi?”

“ Benar!” sahut Giok Ie Lang cepat. “ Mungkin juga ada seseorang yang mengendusi bahwa jumlah mereka kurang seorang, maka mereka telah menyelidiki dan menemui pengemis yang Boanpwe totok dan letakkan di atas di atas genting itu! Mereka  segera  melakukan pencarian, dan benar-benar tajam hidung dan mata mereka, karena dia segera bisa menemukan tempat kita! Sebetulnya memang t idak ada barang yang hilang, hanya Bok-leng i tu saja yang diambilnya!”

Thang  Lan  Hoa  telah  mengerutkan  sepa sang  alisnya.  “Apakah

kalian bentrok dengan pihak Kay -pang?” tanyanya cepat.

Giok Ie Lang menggelengkan kepala nya dan menceritakan pengalamannya beberapa saat yang lalu.

Thang Lan Hoa mendengar itu jadi me ngeluarkan seruan girang. “ Bagus! Bagus! Kalau pihak Kaypang berdiri dipihak kita dengan tujuan yang sama, tentu kita telah memperoleh bantuan ke kuatan yang besar sekali!!” serunya.

“ Tetapi kau harus ingat!”' kata si Buntung menyel a. “Kita tidak boleh sekali-kali menggabungkan diri dengan pihak Kaypang, kita harus mengambil jalan masing- masing, ini untuk menghindarkan kecurigaan dari mata para kuku garuda! Bukan kah tujuan mereka juga sama dengan kita, biarlah mereka ambil jalan send i ri dan kita juga mempunyai jalan sendiri!”

“ Begitu  juga  bagus!!”  kata  Thang  Lan  Hoa.  “Tetapi  setidak - t idaknya kita harus menghubungi mereka, agar mereka juga mengetahui bahwa kita berdiri dipihak mereka, mempunyai tujuan yang sama, untuk menghindarkan d iri dari bentrokan -bentrokan yang bisa terjadi akibat salah paham!”

Usul yang dikemukakan oleh Thang Lan Hoa disetujui oleh yang lainnya. Si Buntung juga telah menyetujuinya.

 “ Bagus! Bagus! Kita utus Giok Hiantit saja yang  pergi menghubungi pihak Kaypang!!” berseru si Buntung. “Bukankah dia yang telah mengalami kejadian dengan orang - orang Kaypang itu?!”

“ Benar!” sahut Thang Lan Hoa. “Semuanya bisa berjalan lancar

kalau pihak Kaypang telah kita hubungi!”

Maka, Giok Ie Langlah yang dipilih untuk menghubu ngi pihak Kaypang. Giok Ie Lang sendiri tidak menampiknya, karena dia mengerti pentingnya persoalan yang tengah mereka kerjakan saat ini.

“ Baiklah Jiewie Locianpwe, biarlah Boanpwe yang  mel akukan tugas ini!” kata Giok Ie Lang menerima tugas i tu. “ Doakan s ajaagar t idak terjadi salah paham dengan orang -orang Kaypang atas kedatangan Boanpwe lagi dikalangan mereka!!”

Segera juga Giok Ie Lang pamitan, tetapi waktu dia mau melompat keluar dari jendela, Thang Lan Hoa telah menahannya dengan mencekal lengan Giok Ie Lang.

“ Tunggu dulu Giok Hiantit    kau   t idak   bisa   pergi   sekarang, l ihatlah sang fajar mulai menyingsing, biarlah siang ini ki ta mengaso! Besok malam kau baru pergi untuk menghubungi orang - orang Kaypang i tu!”

Giok Ie Lang tidak membantah perkataan jago tua Thang Lan Hoa i tu, dia malah telah cepat-cepat mengiyakan. Maka. merekapun telah mengasoh, untuk memulihkan semangat mereka.

MALAM berikutnya rembulan tidak muncul, namun bintang - bintang penuh bertaburan memancarkan cahayanya yang cemerlang.

Giok Ie Lang telah mengganti pakaiannya, kali ini  dia  telah memakai baju Ya- heng-ie (pakaian peranti keluar malam). Dia telah bersiap- siap untuk menghubungi orang- orang Kaypang. Dari Thang Lan Hoa, Giok Ie Lang telah menerima surat yang digulung rapi h, yang di- minta oleh Thang Lan Hoa agar surat itu disampaikan kepada ketua Kaypang tersebut.

“ Dengan membawa surat ini, maka keri butan bisa dielakkan! Mereka tentu telah me ngenal siapa diriku yang sebenarnya, dengan sendirinya Lohu rasa mereka segera menyadari bahwa pihak kita t idak ada ganjalan apa -apa.”

Si Buntung telah mengantarkan Giok Ie Lang sampai d luar kamar. Sedangkan Giok Lang setelah pamitan, dikala kentongan terdengar dipukul dua kali.

 Ming- jie memaksa ingin ikut juga pergi menemui orang -orang Kaypang itu, tetapi oleh majikannya, yaitu si Buntung telah dilarangnya.

Maka dari itu, dengan perasaan mendongkol serta penasaran, si bocah ci lik ini telah berdiri dengan muka yang masam.

Tetapi Thang Lan Hoa dan si Buntung t idak memperdulikannya, karena jago- jago tua ini menyadari kalau sampai Ming - jie turut bersama- sama Giok Ie Lang pergi mencoba menghubungi orang - orang Kaypang i tu, maka akan terjadi sesuatu yang tidak menggembirakan, karena si Buntung telah mengenal benar wa tak kacung kecilnya ini, yang sering nakal mempermainkan orang.

Giok Ie Lang  sendiri sebenarnya merasa kasihan melihat sikap Ming- jie. Tetapi disebabkan urusan yang ingin dise lesaikan merupakan urusan  besar,  dengan  sendirinya  dia  t idak  berani  ceroboh  dalam t indakannya.

Dengan cepat Giok Ie Lang berlari -lari di atas genting rumah penduduk. Dia mengambil jurusan kemarin, di mana dia harus melalui jalan kecil yang banyak tikungan itu.

Ketika sampai dimuka gedung dimana para peng emis Kaypang i tu berkumpul kemarinnya. Giok Ie Lang telah menghampiri pintu gedung tersebut.

Diketuknya daun pintu beberapa kali. Tidak usah Giok Ie Lang menunggu terlalu lama keluar seorang lelaki berpakaian perlen te dan rapih, rambutmu juga disisir rapih. 

Bibir lelaki ini telah tersenyum terus, dan dia tampaknya ramah sekali. Cuma saja Giok Ie Lang melihat mata orang ini memancarkan cahaya yang tajam bukan main. Hal ini menunjukkan bahwa, orang tersebut diam-diam memiliki kepandaian yang t inggi.

“ Sahabat, kau cari siapa?” tegur lelaki berpakaian perlente i tu dengan suara yang sabar dan halus, tetapi matanya telah menatap ke arah Giok Ie Lang dengan sorot mata yang tajam sekali, dengan penuh tanda tanya.

Giok Ie Lang cepat- cepat merangkapkan sepasang tang annya memberi hormat.

“ Chayhe Giok Ie Lang, dan sebetulnya kedatangan Chayhe kemari

ingin menemui Tan Kongcu, Tan Keng Can!” sahut Gio Ie Lang.

Mendengar disebutnya nama Tan Keng Can, lelaki itu  berobah hebat pada wajahnya. “Tan Tan Keng Can?” tanyanya dengan suara perlahan, dan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam,  agar perobahan wajahnya t idak dilihat oleh Giok Ie Lang.

 “ Benar, ada suatu urusan yang penting ingin chayhe sampaikan kepadanya!!”

“ Tidak ada penghuni rumah ini yang ber nama seperti yang kau

cari i tu sahabat!” ka ta lelaki berpakaian perlente tersebut.

“ Hmm benar-benarkah t idak ada penghuni di gedung ini yang bernama Tan Keng Can?” menegasi Giok Ie Lang  dengan  perasaan heran.

Lelaki i tu mengangguk dengan muka yang  telah  berobah tidak enak dilihat, senyumannya jadi tawar dan wajahnya tidak seramah tadi. “ Aku adalah pengurus gedung ini, tidak ada untungnya mendustaimu sahabat!!” katanya agak mendongkol.

“ Tetapi kemarin malam baru saja  kami bertemu di  sini, dikala

diadakan pertemuan antara Kaypang!” kata Giok Ie Lang.

Hebat sekali kata- kata Giok Ie Lang ini bagi pendengaran lelaki i tu. Mukanya telah berobah bebat, tampaknya dia  terkejut dan heran, dia mengawasi Giok Ie Lang dengan sorot mata yang lebih tajam, tetapi kepalanya telah digelengkan cepat- cepat.

“ Kau mungkin sa lah alamat, sahabat?” katanya lagi.

Tetapi perobahan wajah lelaki ini sediak tadi t idak lewat dari mata Giok Ie Lang. “Kau sampaikan saja pada Tan Kongcu itu, bahwa aku diutus oleh Thang Lan Hoa Locianpwe untuk menemuinya!” kata G iok Ie Lang lagi dengan sikap yang mendesak.

“ Maaf, aku t idak ada waktu untuk menemani terlalu lama, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan!!” kata lelaki berpa kaian perlente i tu sambil merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada Giok Ie Lang, lalu membalikkan t ubuhnya untuk berlalu, dia juga sudah mau menutup daun pintu i tu.

Tetapi Giok Ie Lang cepat -cepat menahannya pintu itu, mendorongnya agak keras.

“ Tunggu dulu, ada sesuatu yang ingin kukatakan sedikit lagi!” kata Giok Ie Lang, yang telah cepat merogoh  sakunya  mengeluarkan gulungan surat Thang Lan Hoa.

“ Tolong berikan surat ini kepada Tan Kongcu, surat ini dari Thang Lan Hoa Locianpwe!” kata Giok Ie Lang sambil mengangsurkan su rat itu.

Lelaki berpakaian perlente i tu tetap meng gelengkan kepalanya. “ Di sini tidak ada orang yang bernama seper ti yang kau maksudkan i tu, sahabat!” kata lelaki i tu. “ Maafkan, bagaimana aku bisa memberikan surat i tu kepada orang yang kau maksudkan itu, sedangkan orang yang kau cari bukan tinggal di sini! Mungkin juga kau salah alamat!”

 Waktu berkata begitu, tampaknya lelaki ini t idak senang, dia mendongkol juga karena Giok Ie Lang terlalu mendesak.

Tetapi Giok Ie Lang mana mau mengerti, dia mengenali benar gedung mewah ini dimana kemarin malam dia telah berk umpul Bersama- sama dengan para pengemis yang lainnya.

“ Hmm, sahabat!” kata Giok Ie Lang. “Kau tidak usah pura -pura begitu terus, aku telah ikut waktu rapat para pengemis Kaypang di gedung ini karena akupun mempunyai sebuah Bhok -leng!”

Muka lelaki i tu seketika i tu juga jadi berobah pucat. “Siapa kau sebenarnya?” bentaknya dengan suara yang bengis.

Giok Ie Lang tertawa tawar. “Jangan takut sahabat, kita dari golongan yang sama, kita orang -orang sendiri, maka dari itu, sampaikan saja surat Thang Locianpwe in i kepada Tan Kongcu, agar urusan bisa selesai dengan cepat! Percayalah, semua ini demi kepentingan urusan kita!!”

Lelaki i tu berdiri ragu- ragu, sejenak dia memandang bimbang kepada Giok Ie Lang. Tetapi akhirnya dia mengangguk juga. “Baiklah!” katanya kemudian. “Kau tunggu sebentar, aku akan menanyakan kepa da semua penghuni gedung ini, apakah me mang benar-benar ada yang bernama Tan Keng Can!!” dan rupanya lelaki ini  masih t idak berani terlalu berterus terang, dia masih me ngatakan bahwa dia akan menanyakan dulu, t idak memastikan bahwa di dalam gedung ini memang terdapat orang yang bernama Tan Keng Can itu.

Tetapi Giok Ie Lang tidak ambil hati si kap lelaki  berpakaian perlente tersebut, dia telah tersenyum sabar dan diberikannya surat Thang Lan Hoa kepada lelaki itu.

Dengan sikap yang acuh tak acuh dan agak segan - segan, lelaki berpakaian perlente itu, yang mengakui sebagai pengurus gedung ini, telah menyambuti surat tersebut, kemudian menutup daun pintu dengan cepat.

Dengan sabar Giok Ie Lang, telah menanti kan kembalinya lelaki berpakaian perlente i tu.

Giok Ie Lang sebenarnya sudah mendong kol bukan main hatinya melihat sikap lelaki tersebut, tetapi dia menyabarkan diri, menin dih perasaan msndongkolnya i tu, karena Giok Ie Lang menyadari, kalau dia berkeras dan mengambil tindakan memaksa, niscaya akan t imbul kericuhan, yang nantinya bisa memba wa akibat yang tidak baik.

Maka dari itu, dengan sabar Giok Ie Lang telah menunggu kembalinya orang itu, untuk melewati waktunya i tu, dia telah memandangi keadaan gedu ng tersebut.

 Ternyata rumah gedung ini dibangun mewah  sekali, sebelah kiri dan kanan dari dinding pekarangan gedung tersebut tampak barisan pohon Yangliu, juga tampak sepasang singa - singaan batu yang dicat emas.

Megah sekali rumah ini, Giok Ie Lang sendiri jadi kagum. Apalagi melihat cara mengatur warna dari rumah tersebut, yang mena rik dan juga penuh oleh barang-barang berharga, membuat Giok Ie Lang tak hentinya memujinya.

Sedang Giok Ie Lang memperhatikan keadaan gedung te rsebut, tampak pintu rumah ini telah dibuka lagi oleh lelaki berpakaian perlente tadi wajahnya murung.

“ Menyesal sahabat, tidak ada orang yang bernama  Can  Keng Can di gedung ini, aku telah menanyakannya kepada seluruh  penghuni gedung ini, tetapi t idak ada seorangpun mengenal siapa adanya orang yang kau maksudkan i tu, sahabat!”

Hati Giok Ie Lang jadi mendongkol seka l i, baru saja dia mau berkata, lelaki berpakaian perlente i tu telah  mengangsurkan  surat Thang Lan Hoa yang akan dikembalikan kepada Giok Ie Lan g.

“ Terimalah surat ini, sahabat! Mungkin kau salah alamat, cari saja di tempat lain!” kata lelaki tersebut dengan suara yang tawar. “Su dah sejak tadi kukatakan, bahwa aku adalah pengurus gedung ini, dengan sendirinya aku mengetahui ada atau tidak orang y ang kau sedang cari ini!”

Darah Giok Ie Lang jadi meluap, dia tidak menyambuti surat Thang Lan Hoa i tu. Melainkan orang she Giok ini telah mengu lurkan tangannya untuk mencekal lengan dari Khekoan (pengurus gedung ) tersebut.

Lelaki berpakaian perlente itu jadi terkejut waktu melihat pergelangan tangannya mau dicekal oleh Giok Ie Lang, tepat jurusan jalan darah Sung-kho-hiatnya.

Tetapi Khekoan pedung ini ternyata  liehay  juga,  karena dia  tidak t inggal diam. Dengan sikap yang tetap tenang dan dengan tangannya yang memegang surat Thang Lan Hoa i tu tetap diulurkan, dia telah tertawa dingin. Cuma saja disaat pergelangan  tangannya hampir tercekal oleh Giok Ie Lang, disaat itulah dia telah  memiringkan tangannya, dan tahu -tahu sudah berada di atas tangan Giok Ie Lang, malah ujung surat Thang Lan Hoa dipakai untuk menotok jalan darah Sing- tu- meh pergelangan tangan Giok Ie Lang!

Inilah suatu kejadian yang t idak pernah dimimpikan oleh Giok Ie Lang, dia jadi terkejut bukan main menerima kenyataan seper ti ini. Malah saking terkejutnya, Giok Ie Lang sampai mengeluarkan seruan tertahan.

 Kalau sampai Sing- tu- mehnya kena ditolok oleh ujung surat Thang Lan Hou i tu, niscaya Giok Ie Lang akan mengalami bencana yang t idak kecil.

Sedangkan Khekoan rumah tangga itu telah meng ulurkan terus suratnya, suaranya tawar bukan main waktu dia berkata : “Terimalah surat ini!”

Giok Ie Lang telah membalikkan telapak tangannya, sehingga totokan uju ng surat i tu lolos, jalan darah Sing -tu- mehnya t idak sampai kena tertotok. Malah dia telah mensambil sikap seperti sedang menyambuti pemberian surat itu oleh Khekoan rumah tersebut.

Setelah memberikan surat Thang Lan Hoa i tu kepada Giok Ie Lang, tanpa mengatakan sepatah perkatanpun juga, Khekoan rumah ini ingin menutup pintu gedung tersebut lagi.

Giok Ie Lang jadi gusar bukan main, dia tidak tinggal diam. Cepat - cepat diulurkan tangan kirinya menahan majunya daun pintu yang mau ditutup i tu.

“ Tunggu dulu, dengarkanlah keteranganku ini!” kata Giok Ie Lang. “ Aku telah mengetahui bahwa kalian jeri kalua sampai urusan besar tersiar di luar! Tetapi ketahuilah bahwa aku telah mengetahui semua perundingan kalian mengenai Peng Po Siang Sie, dan aku  pu n mempunyai urusan yang sama, yaitu mengenai keselamatan diri Peng Po Siang Sie See Un yang saat ini tenga h ditahan oleh orang -orangnya Ban Hong Liu Thaykam!”

Mendengar disebutnya nama Peng Po Siang Sie See Un, lelaki berpakaian perlente i tu jadi mengelua rkan seruan tertahan, seperti juga lengannya kena tertusuk.

“ Kau, kau!” katanya agak tergugu, sambil menund a tangannya yang mendorong pintu itu. “Jadi, kau mengetahui juga perihal Peng Po Siang Sie See Un?”

“ Sudah chayhe katakan tadi, bahwa chayhe juga  mempunyai tujuan yang sa ma seperti kalian, yaitu menyelamatkan jiwa Peng Po Siang Sie See Un!! Maka dari itu, cepatlah kau beritahukan kepada Tan Keng Can Kongcu karena ada suatu urusan pen ting yang ingin kusampaikan kepadanya , mengenai tempat tahanan dimana Peng Po Siang Sie See Un telah dipindahkan, jarang yang mengetahuinya!”