Manusia Jahanam Jilid 08

 
Jilid 08

 Tetapi siapa sangka, disaat Giok Ie Lang tengah tergirang-girang karena menduga serangannya akan berhasil dengan baik, tahu-tahu Ban Ban Miang dengan tiba-tiba sekali telah memutar tubuhnya, kedua tangannya diangkat untuk menyanggah serangan-serangan dari Giok Ie Lang, gerakannya yang dilakukan orang she Ban tersebut sangat cepat, membuat Giok Ie Lang tidak sempat lagi untuk menarik pulang tenaga serangannya.

“Plakkkk!” terdengar seperti itu beruntun dua kali, karena telapak tangan Giok Ie Lang dan Ban Ban Miang telah saling bertemu satu dengan yang lainnya, saling menempel karena dua kekuatan tenaga dalam yang bukan main hebatnya tengah saling dorong dan saling tindih dengan keras sekali.

Mau tak mau Giok Ie Lang tercekat juga hatinya. Orang she Giok ini terkejut karena disebabkan dia teringat bahwa jago she Ban bertangan telengas ini memiliki dua macam kekuatan, yaitu lunak dan keras dengan berbareng, memang jarang sekali orang bisa mempergunakan kedua macam kekuatan tenaga yang berlainan sifat itu bisa dipergunakan di dalam waktu yang bersamaan, seperti apa yang sering dilakukau oleh Ban Ban Miang.

Memang kalau hanya ditangkis dengan mempergunakan  kekuatan tenaga iwekang saja, Giok Ie Lang tidak jeri, karena semua itu hanya bersifat keras dan terserah pada kekuatan masing-masing untuk mengempos seluruh semangat dan tenaga masing-masing untuk saling mengadu kekuatan.

Tetapi yang membuat Gik Ie Lang jeri, dia takut kalau-kalau nanti dia mengerahkan dan menyalurkan seluruh kekuatan   tenaga   iwekangnya, malah si iblis bertangan telengas Sian-koay Kwie Ong ini mempergunakan tenaga Im-jiu (tenaga lunak), sehingga jelas Giok Ie Lang yang bisa celaka di tangan si iblis, karena kekuatan tenaga iwekangnya selain akan amblas begitu saja seperti sebutir batu yang masuk kedasar lautan, juga seluruh kekuatan ini tenaga dalamnya dapat tersedot keluar menyebabkan tubuhnya akan lemas.

Kalau sampai terjadi urusan seperti ini, niscaya Giok Ie Lang akan celaka sekali, karena disaat tubuhnya lemas, jelas Ban Ban  Miang dengan mudah dapat menghajarnya sampai binasa! Tetapi sekarang untuk menarik pulang kedua tangannya menghindarkan agar tidak saling tempel telapak tangan itu, hal ini sudah tidak keburu, sudah kasip karena jarak mereka sudah begitu dekat, maka terpaksa otak Giok Ie Lang telah berputar keras sekali mencari akal, di dalam beberapa detik itu dia sudah memutuskan beberapa jalan untuk menghadapi kalau sampai si iblis bertangan telengas itu mempergunakan kekuatan tenaga iwekangnya yang hebat itu.

Dan telapak tangan mereka yang saling menempel itu telah melekat satu dengan yang lainnya. Apa yang ditakuti oleh Giok Ie Lang benar -benar terjadi. Waktu tangan mereka saling bentur satu dengan yang lainnya,

 memang dia merasakan betapa kekuatan tenaga dalam dari Sian-koay Kwie Ong itu keras bagaikan baja, sehingga waktu kedua telapak tangan Giok Ie Lang saling membentur dengan sepasang telapak tangan iblis tersebut, telah tergetar keras. Menimbulkan rasa sakit pada seluruh ototnya. Dan belum lagi Giok Ie Lang bisa menarik kedua tangannya itu, tenaga Yang (keras) itu telah berobah menjadi tenaga Im-jiu (tenaga lunak), sehingga Giok Ie Lang merasakan betapa kedua telapak tangannya itu seperti juga sedang mendorong tumpukan kapas saja.

Kejadian yang lebih mengejutkan hati Giok Ie Lang ialah seluruh kekuatan tenaga mendorongnya itu seperti telah lenyap juga, amblas  ke dalam sepasang tangan Ban Ban Miang. Inilah yang paling ditakuti oleh Giok Ie Lang dengan amblasnya tenaga dorongnya itu, berarti dia kehilanga n keseimbangan kekuatan iwekangnya.

Kalau sampai kesempatan ini dimanfaatkan oleh si iblis Ban Ban Miang, celakalah dia! Cepat-cepat Giok Ie Lang berusaha menarik pulang tenaga mendorongnya itu, tetapi gagal! Jangan kata dia berhasil menarik pulang sebagian dari tenaga dalamnya itu, sedangkan kejadian malah sebaliknya tenaganya itu seperti mengalir keluar dari kedua telapak tangannya, menyelusup tersedot masuk ke dalam telapak tangan Ban Ban Miang.

Berulang kali dan mati-matian Giok Ie Lang telah berusaha untuk menarik tenaganya yang sedang mengalir keluar, seperti kebobolan itu, tetapi selalu gagal. Wu Cie Siang yang menyaksikan keadaan Giok Ie Lang jadi terperanjat bukan main. Dia juga telah melihat apa yang dialami oleh kawannya itu, membuat hatinya jadi mencelos.

Cepat-cepat Wu Cie Siang melompat kebelakang Giok Ie Lang, dia telah langsung melekatkan telapak tangannya pada punggung Giok Ie Lang sambil menyalurkan tenaga dalamnya. Maksud Wu Cie Siang ingin membantu Giok Ie Lang dengan tenaga dalamnya itu, karena Wu Cie Siang yakin, kalau memang dua kekuatan tenaga dalam mereka ini digabungkan menjadi satu untuk menggempur pertahanan si iblis, niscaya mereka akan berhasil.

Tetapi kesudahannya malah membuat Wu Cie Siang jadi terperanjat lebih hebat, karena begitu kedua telapak tangannya menempel pada punggung Giok Ie Lang, segera juga Wu Cie Siang merasakan adanya suatu kekuatan menyedot yang bukan main derasnya.

Tenaga dalam yang semula akan disalurkan kepada punggung Giok Ie Lang itu dengan maksud membantu pihak kawannya itu menggempur si iblis Ban Ban Miang, malah dengan sendirinya telah menyelonong masuk ke dalam pundak Giok Ie Lang seperti amblas kedasar lautan. Malah yang telah

 membuat hati Wu Cie Siang jadi mencelos, tenaga dalamnya itu sudah t idak bisa dikendalikan lagi.

Beberapa kali Wu Cie Siang berusaha untuk membendung mengalirnya tenaga dalamnya itu jangan sampai kebobolan menerobos keluar dari telapak tangannya, namun selalu gagal. Tenaga dalamnya itu seperti juga sudah tidak bisa dikendalikan.

Ban Ban Miang sendiri telah tertawa gelak dengan suara yang menyeramkan. “Hmmm, begitu seluruh tenaga murni kalian telah tersedot seluruhnya olehku, niscaya kalian akan mampus!” katanya dengan suara ejekan.

Betapa kagetnya Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, mereka gugup bukan main, karena memang mereka mengetahui bahwa ancaman yang dikatakan oleh Ban Ban Miang bukanlah omongan kosong belaka. Kalau sampai benar mereka tidak berhasil membendung keluarnya tenaga dalam mereka, berarti mereka akan menghadapi kejadian yang tidak menggembirakan,   seluruh tubuh mereka akan lemas dan berarti setiap waktu Ban Ban Miang dengan mudah akan dapat menghajar binasa diri mereka berdua.

Keadaan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang benar-benar terancam bahaya yang tidak kecil. Keringat dingin juga telah membanjir keluar dari seluruh tubuh mereka.

Giok Ie Lang sendiri telah mengeluh di dalam hatinya, karena dia mulai merasakan bahwa sebagian besar tenaga dalamnya telah tersedot oleh Ban Ban Miang, dan tubuhnya muai lemas. Malah yang lebih-lebih mengejutkan hati Giok Ie Lang, adalah tenaga intinya yang berada di Tan-tian (pusar)nya, telah mulai bergolak akan menerobos untuk tersedot oleh lawannya.

Giok Ie Lang berusaha dengan berbagai cara untuk dapat menarik lepas sepasang telapak tangannya dari telapak tangan Ban Ban Miang, karena biar bagaimana hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.

Kalau saja umpama kata dia berhasil untuk melepaskan tempelan kedua telapak tangan dari lawannya, Giok Ie Lang bisa meloloskan diri dari kematian. Tetapi selama kedua tangannya masih menempel pada kedua telapak tangan si iblis she Ban itu berarti dia menghadapi bahaya yang tidak keci.

Sedangkan Wu Cie Siang sendiri menyadari bahaya yang tengah mengancam diri mereka. Tetapi Wu Cie Siang sendiri benar-benar  tidak berdaya, sama saja keadaannya kalau dibandingkan dengan Gio Ie Lang.

Malah kalau diingat, keadaan Wu Cie Siang jauh lebih berbahaya dari Giok Ie Lang, karena orang she Wu ini hanya dapat mengandalkan Giok Ie

 Lang saja. Kalau memang Giok Ie Lang berhasil  menarik pulang kedua tangannya dari tempelan kedua telapak tangan Ban Ban Miang, berarti memang mereka bisa lolos dari kematian. Tetap sekali saja Giok Ie Lang gagal, jangan harap mereka bisa hidup terus.

Keringat dingin telah membanjir keluar banyak sekali dari tubuh mereka, malah baju Wu Cie Siang telah basah kuyup oleh keringat yang membandiir keluar itu. Beberapa kali Wu Cie Siang telah memusatkan seluruh tenaga dalamnya pada Tan-tiannya, dia menyalurkan kepada kedua telapak tangannya dengan maksud akan menggentakknya menarik pulang kedua tangannya itu. Tetapi selalu pula Wu Cie Siang menemui kegagalan, karena jangan kata tenaga dalamnya itu bisa dipergunakan untuk menarik pu lang kekuatan yang ada pada kedua telapak tangannya, jangan kata dia bisa menarik pulang kedua telapak tangannya dari punggung Giok Ie Lang, malah tenaga dalam yang disalurkannya itu telah berbalik menerobos keluar, tidak bisa dikendalikan lagi.

Kejadian seperti ini telah berulang kali dilakukan oleh Wu Cie Siang, sehingga dia benar-benar jadi tambah gugup. “Celakalah kita!” keluh Wu Cie Siang waktu dia gagal kembali dengan usahanya itu.

“Ya, kalau kejadian seperti ini berlangsung satu batang hio dibakar habis, niscaya diri kita akan menemui kecelakaan besartanpa berdaya sama sekali!” sahut Giok Ie Lang dengan suara mendesis, sedangkan kedua matanya masih mengawasi penuh kewaspadaan dan agak gugup kepada lawannya.

Ban Ban Miang yang mendengar bisik-bisik dari Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, telah mengeluarkan suara tertawa bergelak yang nyaring bukan main. Tampaknya mereka begitu tidak dipandang oleh iblis she Ban tersebut.

“Hmmm, kalian berat untuk mampus?” tegur si iblis dengan suara yang nyaring mengandung kebengisan dan ejekan yang sangat. “Jadi kalian masih mau hidup terus? Jangan harap! Begitu tenaga kalian habis tersedot keluar olehku, hmmm, hmmm, seketika itu juga aku akan menghajar pecah berantakan batok kepala kalian masing-masing!  Hahahaha,   hahahahaha, maka dari itu bersiap-siaplah kalian untuk menerima kematian ka lian itu!”

Seketika itu juga lenyaplah segala harapan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang. Kata-kata si iblis Ban Ban Miang memang tidak salah, begitu tenaga mereka telah habis, berarti mereka akan menemui ajalnya, karena biar bagaimana si iblis dengan leluasa akan dapat membunuh mereka mudah sekali.

Maka dari itu, disamping gugup, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang juga jadi diliputi oleh perasaan ngeri juga. Biar mereka ingin berlaku nekad, tetapi

mereka tetap tidak dapat melakukannya, mereka tidak berdaya sama sekali. Keadaan jiwa Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang benar-benar terancam kematian.

Tetapi disaat yang sangat kritis itu, di dalam keadaan dimana jiwa Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tengah diliputi hawa maut, dimana nyawa mereka dapat melayang meninggalkan raga mereka terbunuh oleh iblis Ban Ban Miang, maka terdengar suara tertawa ngikik yang panjang bukan main di luar kuil itu.

Tentu saja suara tertawa ngikik itu terdengarnya demikian tiba-tiba dan mengejutkan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang. Terlebih lagi Ban Ban Miang. Mereka bertiga yang tengah bertempur ini jadi saling menduga-duga, entah siapa orangnya yang telah mengeluarkan suara tertawa ngikik itu. Entah pihak lawan atau pihak kawan. Namun yang jadi gusar bukan main adalah Ban Ban Miang, karena saat itu sebetulnya dia sedang girang bukan main, karena sebentar lagi dirinya akan segera memperoleh ke menangan.

Dengan munculnya orang baru di tempat tersebut, akan mempersulit pekerjaannya. Tetapi belum lagi Ban Ban Miang sempat membentak, maka telah terdengar suara orang berkata dengan suara yang tawar : “Hmmm pertempuran yang lucu! Pertempuran yang lucu!”

Menyusul suara itu, maka tampak melangkah masuk ke dalam kuil itu sesosok tubuh yang tinggi besar, tindakan kakinya juga tegap bukan main. Orang itu terus juga melangkah masuk ke tengah-tengah ruangan kuil ini dengan mulutnya sebentar-sebentar mengeluarkan suara tertawa ngikik yang menyeramkan itu.

Ternyata orang tersebut adalah seorang lelaki berusia diantara empat puluh tahun lebih tubuhnya tegap dan tinggi  besar, mukanya kasar, hidungnya mancung, dia memakai baju yang agak kebesaran, corak baju yang dikenakannya itu tidak mirip-miripnya  dengan baju orang-orang Han. Berlainan sekali.

Ban Ban Miang sendiri biarpun tengah bertempur dengan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, namun dia masih sempat melirik kearah orang itu. Ternyata Ban Ban Miang tidak mengenal orang tersebut yang pakaiannya aneh, dan mukanya dipenuhi oleh janggut dan bewok yang agak lebat.

Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang juga melirik, mereka telah melihat kearah orang itu. Ternyata kedua orang inipun tidak kenal pada orang yang baru datang tersebut. Ban Ban Miang tadinya menduga bahwa yang datang ini adalah kawan dari Wu Cie Siang atau Giok Ie Lang, tetapi setelah melihat potongan orang itu yang agak aneh, yang dilihat cara berpakaiannya dan

 mukanya menunjukkan bukan bangsa Han, dengan sendirinya dia segera menyadarinya bahva orang tersebut hanyalah orang asing belaka. Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang mempunyai tanggapan yang berbeda dengan Ban Ban Miang.

Melihat rupa orang ini yang aneh dan berpakaian bukan seperti orang- orang Han, melainkan pakaian itu mirip-mirip dengan pakaian orang Uigur di Thibet, mereka menduga bahwa orang ini adalah sahabat dari Ban Ban Miang.

Diam-diam Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi mengeluh di dalam hati. Untuk menggempur Ban Ban Miang seorang diri saja, mereka berdua sudah tidak berdaya, apa lagi harus menggempur orang itu lagi. Tentu mereka akan dibinasakan dengan mudah.

Namun, orang yang berpakaian seperti orang Uigur i tu telah mengeluarkan suara tertawa ngikik lagi sambil katanya : “Pertandingan yang lucu! Sungguh lucu!” kata orang itu dalam bahasa Tionggoan yang kaku. “Hmmm, telapak tanganku jadi gatal, biar kucoba-coba!!”

Dan setelah berkata begitu, tampak orang tersebut telah menggerakkan kakinya melangkah menghampiri gelanggang pertempuran itu. Gerakannya gesit sekali, biarpun tindakan kakinya sangat mantap. Ban Ban Miang jadi tercekat hatinya. Saat itu dia hampir saja memperoleh kemenangan,  maka kalau sampai orang yang seperti bangsa Uigur itu mencampurinya niscaya urusan bisa berantakan.

Tetapi apa yang ditakuti oleh Ban Ban Miang itu telah terjadi, karena orang asing dengan hidung yang bengkok  panjang itu, telah menghampiri lebih dekat lagi, dan sekaligus dia telah merangkapkan kedua tangannya kedepan dadanya.

Aneh sekali, tanpa menyentuhkan tangannya pada tangan Ban Ban Miang atau Wu Cie Siang atau juga Giok Ie Lang, namun dari kedua te lapak tangannya itu telah meluncur keluar serangkum angin serangan yang kua t bukan main, yang menerjang kearah Ban Ban Miang bertiga, dimana rangkuman tenaga serangan itu telah meluncur menerjang kearah telapak tangan Giok Ie Lang dan Ban Ban Miang yang tengah saling menempel itu, dan anehnya lagi, benturan tenaga dalam yang dilancarkan  orang yang berpakaian seperti orang Uigur ini kuat bukan main, sebab dapat menghajar sampai tubuh Giok Ie Lang serta Ban Ban Miang jadi terhuyung -huyung mundur hampir terjungkal, tempelan tangan mereka masing-masing  jadi terlepas dengan sendirinya. Malah Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telahterguling ditanah sampai saling tindih.

ORANG Uigur itu telah mengeluarkan suara tertawa tergelak-gelak yang nyaring sekali. Tampaknya dia girang bukan main melihat ketiga orang itu

tunggang-langgang akibat serangan dari tenaga dalamnya yang bukan main kuatnya.

Tetapi berbeda dengan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang telah saling terjungkal di atas lantai. Ban Ban Miang hanya terhuyung beberapa langkah kebelakang, kemudian oang she Ban ini telah dapat berdiri tegak lagi.

Mukanya tampak merah padam disebabkan perasaan murka yang bukan main, tubuhnya juga telah tergetar karena hawa amarah yang bergolak hebat di dalam hatinya.

“Kurang ajar! Siapa kau, kerbau dungu?” bentak Ban Ban Miang dengan suara yang bengis menyeramkan. Mukanya yang memangnya sudah buruk, jadi tambah menyeramkan sekali.

Orang Uigur itu telah tertawa tawar. “Kerbau dungu? Hahahaha, kalau aku ini kerbau, tentunya kau tidak akan terhuyung begitu! Nah, kalau memang kau ingin mampus, kerbau cerdik, silahkan maju, akan kuhajar hancur batok kepalamu! Tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa heh?” Dingin sekali suara orang Uigur itu, sehingga Ban Ban Miang jadi ragu-ragu juga.

Memang dia telah melihat bahwa kepandaian dimiliki oleh orang Uigur ini bukanlah yang sembarangan, juga kepandaian orang ini memang hebat. Dengan sendirinya Ban Ban Miang tidak berani memandang remeh atau tidak memandang sebelah mata.

Namun disebabkan hatinya yang angkuh, biarpun   begitu toch tetap saja dimulutnya Ban Ban Miang telah menyahuti dengan suara yang ketus bukan main : “Aku tidak mau tahu, biar kau setan dari neraka sekalipun, tetap harus mampus kalau mau mencampuri urusan Siankoay Kwie Ong Ban Ban Miang!” bentaknya.

“Ohoii, rupanya kau raja Setan! Bagus! Pantas saja wajahmu itu jauh lebih buruk kalau dibandingkan dengan setanmana saja! Tidak tahunya kau adalah raja setan?” ejek orang Uigur itu dengan suara yang tawar.

Darah Ban Ban Miang jadi meluap. “Kurang ajar, kubeset mulutmu!”

bentak Ban Ban Miang dengan suara yang murka bukan main.

“Hahahaha, boleh saja kalau memang kau bisa membeset mulutku ini, tentunya aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa kalau memang kau memiliki kepandaian untuk membeset mulutku ini!   Lakukanlah!” tantang orang Uigur itu dengan suara yang tawar.

Dengan mengeluarkan seruan murka, Ban Ban Miang telah mencelat kearah orang Uigur untuk melancarkan serangannya. Rupanya Ban Ban Miang sudah habis sabar, darahnya sudah meluap menyebabkan diri Ban Ban Miang

diliputi perasaan murka yang bukan main, sehingga begitu dia melancarkan serangannya, dia segera melancarkan serangan itu dengan pukulan yang hebat bukan main, mengandung kekuatan tenara iwekang yang hebat juga, sehingga membuat orang Uigur itu mau tak mau jadi terkejut juga melihat cara menyerang dari Ban Ban Miang ini, karena serangannya itu belum lagi sampai masih terpisah kurang lebih satu tambak lebih, tetapi angin serangan dari Ban Ban Miang telah tiba lebih dulu, menerjang dengan kuat.

“Aha, rupanya kau mempunyai sedikit permainan juga, heh?” ejek orang Uigur itu dengan suara yang tawar. “Bagus! Bagus! Aku mau melihat sampai di mana jago-jago di daratan Tionggoan ini memiliki kepandaian yang sebenarnya?!”

Ban Ban Miang bukan main murka sampai menjerit dengan suara yang kalap. Menyusul mana tampak tubuh Ban Ban Miang telah mencelat cepat sekali akan melancarkan serangan kepada orang Uigur itu dengan serangan yang bukan main hebatnya.

Orang Uigur itu tetap berdiri tenang-tenang di tempatnya, dia telah menatap kearah serangan yang dilancarkan  oleh Ban Ban Miang dengan sorot mata seperti juga memandang sebelah mata, dia seperti meremehkan.

Tentu saja sikap orang Uigur itu membuat Ban Ban Miang jadi tamba h murka bukan main. Dengan mengeluarkan suara seruan yang bengis, dengan penuh kekalapan, tampak Ban Ban Miang telah mengempos menambah tenaga serangannya itu.

Tetapi, tenaga serangan itu dilancarkannya bukannya kearah orang Uigur tersebut, melainkan kearah sampingnya. Orang Uigur ini jadi heran juga, dia tidak mengerti mengapa Ban Ban Miang melakukan hal seperti itu.

Yang aneh bukan main dan menjadi tanda tanya besar pada hati orang Uigur itu adalah cara menyerang Ban Ban Miang yang tidak menunjukkan serangannya itu kearah sasaran, melainkan mengincar lima dim terpisah dari pinggangnya.

Tetapi belum lagi rasa herannya itu lenyap telah terjadi sesuatu yang menjadi jawabannya, karena tangan Ban Ban Miang tahu -tahu berbelok dengan kecepatan yang bukan main.

“Licik! Sungguh licik kau!!” teriak orang Uigur itu dengan gusar. Harus dimaklumi, apa yang dilakukan oleh Ban Ban Miang memang lebih mirip kalau disebut sebagai serangan membokong, karena kalau dia   melancarkan serangan yang terpisah di dalam jarak satu tombak, niscaya lawannya memang akan dapat mengadakan penjagaan, tetapi kalau dia melancarkan serangan seperti yang dilakukannya itu, di dalam jarak pisah hanya kurang

 lebih lima dim dan tahu-tahu telah berbalik begitu, bukankah lawannya akan kelabakan mengadakan penjagaan di dalam jarak yang begitu pendek?!

Tetapi orang Uigur itu ternyata liehay sekali, karena dia tidak menjadi gugup karenanya. Setelah berteriak-teriak begitu, tampak orang Uigur ini menggerakkan pinggulnya, keatas sedikit, sehingga tangan  Ban Ban Miang jatuh pada pinggulnya, meleset seperti juga melejit memukul barang yang berminyak, dan mempergunakan kesempatan demikian,   dengan menpergunakan kaki kirinya, tahu-tahu orang Uigur ini telah menyepak kearah perut Ban Ban Miang.

Hati Ban Ban Miang jadi mencelos, dia  tidak menyangka bahwa lawannya dapat melakukan hal seperti ini, gerakan yang dilakukan oleh orang Uigur itu, karena biar bagaimana dia tidak pernah berpikir bahwa orang Uigur itu memiliki kepandaian yang cukup aneh juga, yaitu cara  menyepak kesamping seperti seekor kuda!

Tetapi dasarnya memang Ban Ban Miang liehay, dia tidak jeri menerima kenyataan seperti itu. Dengan cepat tangannya yang sedang menyampok kesamping itu, diturunkan kebawah, jadi bukannya menghajar   kearah pinggang orang Uigur itu, malah menghajar telak se kali kaki dari orang Uigur tersebut.

“Dukkkk!” terdengar suara benturan yang keras bukan main. Tampak orang Uigur itu meringis sambil mundur beberapa tindak kebelakang. Sedangkan Ban Ban Miang juga telah terhuyung mundur beberapa langkah.

Ternyata, biarpun tampaknya mereka hanya saling bentur antara kaki dan tangan saja kenyataannya lain sama sekali. Tenaga iwekang mereka yang saling bentur itu ternyata merupakan dua buah tenaga yang kuat bukan main, yang memiliki daya serang yang luar biasa.

Maka dari itu, mau tak mau Ban Ban Miang jadi mengala mi gempuran yang cukup keras. Begitu juga orang Uigur itu, diapun mengalami gempuran yang tidak ringan dari lawannya.

Dengan sendirinya, mereka berdiri di dalam  jarak yang cukup  jauh, saling mengawasi bersiap-siap untuk mulai melancarkan serangan-serangan pula. Tampaknya mereka seperti dua ekor macan yang tengah bersiap -siap untuk saling terkam.

Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang yang berdiri dipinggir tempat itu, jadi memandang dengan mata yang terpentang lebar. Mereka tadi sudah mengerahkan tenaga dalam  mereka untuk memulihkan semangat mereka yang hampir saja tersedot habis oleh Ban ban Miang.

 Dengan mengaso begitu, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi dapat memulihkan semangat mereka, kesegaran mereka jadi pulih sebagian. Tetapi biarpun begitu kenyataannya mereka masih lemas, hampir tidak kuat untuk melangkah.

Dengan hati yang agak berdebar-debar, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah memandang dengan wajah yang agak pucat  jalannya  pertempuran tersebut. Benar-benar mereka baru pertama kali ini menyaksikan hebatnya jalan pertempuran yang tengah terjadi itu. Angin serangan antara Ban Ban Miang dengan tendangan kaki orang Uigur itu, yang dilakukan hanya di dalam waktu beberapa detik saja dan hanya satu atau dua jurus belaka, tetapi telah menimbulkan deruan yang hebat bukan main.

Hal itu menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimiliki oleh orang Uigur dan Ban Ban Miang memang hebat dan telah sempurna sekali. Tadi saja telah dibuktikan, betapa Wu Cie Siang bersama-sama dengan Giok Ie Lang, tidak berhasil untuk menindih atau merubuhkan Ban Ban Miang!

“Siapa kau sebenarnya?” bentak Ban Ban Miang saat itu dengan suara mengandung kegusaran yang sangat. “Mengapa kau mencampuri persoalan kami?”

“Aku manusia biasa seperti kalian, cuma saja aku telah melihat betapa kau seorang yang congkak dan angkuh sekali, maka aku ingin mencoba-coba dengan kepandaian yang kau miliki!” sahut orang Uigur itu dengan suara yang agak kaku, dia berkata-kata dengan disertai suara tertawa mengejeknya.

”Hmmm, kau adalah orang asing, dengan kedatanganmu ke daratan Tionggoan ini, niscaya kau mengandung maksud-maksud tertentu dan jahat sekali!” kata Ban Ban Miang dengan suara yang tawar dan menyeramkan sekali.

Orang Uigur itu tertawa dingin. “Hmmm kau tidak perlu banyak bicara, kalau memang kau ingin mampus atau merasakan hebatnya tanganku ini, majulah akan kuberikan pukulan yang benar-benar lezat rasanya!!” kata orang Uigur itu dengan suara yang tawar. “Majulah!”

Muka Ban Ban Miang jadi berobah merah padam, tampaknya dia murka sekali. Tubuhnya yang kurus itupun telah gemetaran  menahan perasaan amarah didirinya. Biar bagaimana dia penasaran sekali tidak bisa merubuhkan orang Uigur tersebut, karena merasakan bahwa dirinya memiliki kepandaian yang tinggi dan biasanya jarang sekali ada orang yang bisa menandinginya.

Tetapi hari ini, orang asing tersebut malah telah dapat membuatnya tidak berdaya. Dengan sendirinya, Ban Ban Miang merasakan  betapa semuanya ini adalah suatu penghinaan bagi dirinya.

 Setelah mendengus beberapa kali sambil menatap kearah orang Uigur itu penuh kebencian dan sorot mata yang bengis mengandung hawa pembunuhan, tampak Ban Ban Miang telah melangkah maju atau tindakan dengan sikap yang mengancam.

Sedangkan orang Uigur itu juga telah bersiap-siap  pula, sikapnya tenang, tetapi sorot matanya begitu tajam, seperti juga mengandung hawa pembunuhan juga.

Karena sekarang dia memang sudah mengetahui bahwa lawannya memang liehay, maka orang Uigur itu dengan sendirinya tidak berani terlalu memandang enteng pada Ban Ban Miang, sebab bisa membawa kerugian yang tidak kecil bagi dirinya. Itulah sebabnya mengapa orang Uigur tersebut telah berlaku lebih waspada lagi kalau dibandingkan dengan tadi.

Sedangkan Ban Ban Miang sendiri telah melangkah maju lagi beberapa langkah lagi ke depan. Muka orang she Ban tersebut telah berobah merah padam, mungkin juga dia sedang diliputi oleh perasaan gusar yang bukan main, sehingga dia jadi begitu kalap dan bermaksud biar bagaimana akan membunuh orang Uigur tersebut.

Saat itu keadaan jadi tegang sekali. Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang sendiri merasakan betapa keadaan yang genting itu. Dengan sendirinya, mereka juga melihat bahwa suatu pertempuran yang hebat akan segera terjadi. Sepasang mata Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tampak terpentang lebar-lebar.

Ban Ban Miang ketika itu rupanya merasakan bahwa saatnya telah tiba baginya untuk mulai melancarkan serangan terhadap lawannya itu. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras, dia melancarkan serangan kosong, yaitu serangan menggertak belaka, tangan kanannya telah meluncur kearah dada orang Uigur itu.

Tampaknya serangan yang dilakukan oleh Ban Ban Miang ini mengandung kekuatan yang bukan  main besarnya. Tetapi waktu orang Uigur itu berusaha untuk menangkisnya, Ban Ban Miang telah menarik pulang serangannya itu, lalu melancarkan serangan yang sesungguhnya dengan tangan kirinya, dimana kelima jari jemari tangan kirinya telah terpentang lebar-lebar, dia bermaksud akan mencengkeram bahu orang Uigur itu.

Tentu saja kejadian seperti ini tidak diduga oleh orang Uigur, dia cepat berkelit, namun kalah cepat dengan luncuran tangan kiri Ban Ban Miang, telah menyebabkan baju bagian bahu dari orang Uigur itu kena jambret, sehingga pecah.

 Kejadian ini bukan saja sangat mengejutkan hati orang Uigur terebut, juga telah membuatnya jadi murka bukan main, sehingga orang Uigur tersebut mengeluarkan suara teriakan yang bukan main murkanya, memaki di dalam bahasanya, yaitu bahasa Uigur.

Tetapi Ban Ban Miang tidak memperdulikan makian-makian yang tidak dimengertinya itu. Dengan mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak yang menyeramkan sekali, tampak Ban Ban Miang sudah melancarkan serangannya lagi yang beruntun kepada lawannya.

Orang Uigur itu yang telah murka bukan main, juga tidak mau tinggal diam, dengan cepat dia telah menyambut serangan yang dilancarkan oleh Ban Ban Miang dengan gerakan yang cepat dan telah mempergunakan ke kerasan juga. Tentu saja terjadi bentrokan yang keras, karena Ban Ban Miang juga kala itu tengah melancarkan serangan yang bukan main hebatnya, dia telah melancarkan serangannya itu dengan pukulan yang bukan main kuatnya, se- hingga bentrokan yang terjadi itupun merupakan kejadian yang hebat bukan main, menyebabkan keadaan disekitar ruangan itu jadi tergetar keras sekali.

Orang Uigur itu tidak berhenti sampai di situ saja, dia telah mengerahkan tenaga dalamnya yang kuat sekali. Waktu dia berhasil menangkis serangan yang diiancarkan oleh Ban Ban Miang, maka orang Uigur tersebut telah melancarkan serangan membalas kepada Ban Ban Miang.

Serangan yang kali ini dilancarkan oeh orang Uigur itu, dilancarkannya dengan beruntun. Kedua tangannya itu tampak bergerak-gerak,  bagaikan seekor naga saja layaknya yang tengah menyambar-nyambar  dengan kekuatan yang tidak mungkin untuk dielakkan pula oleh Ban Ban Miang di dalam jarak yang begitu dekat.

Apa lagi memang kedua tangan orang Uigur tersebut bergerak-gerak cepat di segala penjuru, sehingga tampaknya diri Ban Ban Miang seperti ter- kurung. Tetapi Ban Ban Miang tidak menjadi jeri karenanya, dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur keras, dia telah cepat bersilat dengan jurus Bauw Tiauw Su Pang gerakannya bagaikan burung rajawali yang berkelebat menyambar mangsanya.

Seketika itu juga pertempuran itu jadi berlangsung dengan hebat, sehingga angin serangan yang dilancarkan oleh mereka seperti memenuhi ruangan tersebut.

Kedua orang yang sedang bertempur itupun juga jadi berkelebat - kelebat dengan kegesitan yang bukan main keberbagai  arah. berkelebat- kelebat seperti sosok bayangan belaka, tidak dapat dilihat  tegas, saking cepatnya gerakan tangan-tangan mereka, yang mengandung tenaga iwekang, maka menyebabkan disekitar tempat itu penuh oleh berkelebatnya tangan -

tangan yang berseliweran mengandung tenaga serangan yang bukan main hebatnya.

Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang sendiri merasakan sambaran angin serangan dari kedua orang yang tengah bertempur itu. Mereka berdua sampai menyingkir ke pinggir, agar diri mereka tidak menjadi sasaran dari serangan- serangan yang hebat itu, karena semangat mereka belum lagi terkumpul seluruhnya, kalau sampai mereka harus menerima salah satu serangan- serangan baik dari Ban Ban Miang atau orang Uigur itu, niscaya mereka bisa celaka.

Itulah sebabnya mengapa mereka telah menyingkir kedekat pintu kuil tersebut.

Semakin bertempur, Ban Ban Miang jadi semakin murka saja, karena selama ini juga dia belum dapat mendesak atau merubuhkan lawannya. Sedangkan musuhnya telah berulang  kali mendesak dirinya, sehingga terpaksa beberapa kali Ban Ban Miang harus mundur mengelakkan serangan - serangan lavyannya yang berbahaya sekali.

Dengan cepat telah dua puluh jurus lebih mereka lewatkan, tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang mau mengalah. Pertempuran itu masih berlangsung terus dengan hebat sekali, dengan penuh tenaga gempuran yang mematikan, karena kedua-duanya telah bertempur dengan mengeluarkan iwekang masing-masing, dan juga memang mereka memiliki kepandaian yang hebat sekali.

“Hmmm, hari ini aku bersumpah, kalau tidak dapat membunuh bangsa asing seperti kau, biarlah aku tidak akan hidup lebihlama lagi di dalam dunia ini!!” berteriak Ban Ban Miang suatu ketika dikala dia tengah melancarkan serangan-serangannya kepada lawannya.

Mendengar perkataan Ban Ban Miang, orang Uigur itu telah tertawa menyeramkan. “Apakah kau kira aku juga tidak mampu untuk mematahkan batang lehermu? Hmm, tidak perlu kau bicara takabur, kita buktikan saja nanti, siapa yang akan mampus diantara kita berdua!” dan setelah berkata begitu, orang Uigur tersebut telah mengempos  seluruh tenaganya, menambahkan tenaga serangannya menjadi lebih hebat lagi, sehingga angin serangan itu menderu-deru keras bukan main, membuat Ban Ban Miang mera - sakan dirinya agak terdesak, napasnya agak menye sak dan juga pandangan matanya agak kabur.

Sepasang tangan orang Uigur itu telah berkelebat-kelebat sukar dilihat dengan tegas, kearah mana sasaran yang sesungguhnya, karena orang Uigur itu telah merobah cara bertempurnya itu, membuat Ban Ban Miang mau ti dak

 mau harus memperhatikan dulu cara bertempur orang Uigur itu, jangan sampai dirinya menjadi sasaran dari serangan orang Uigur itu.

Cepat-cepat Ban Ban Miang juga telah mengeluarkan seluruh ilmu simpanannya. Sepalang tangan Ban Ban Miang tidak bergerak  secepat tadi, dia hanya sekali-kali membalas menyerang, karena Ban Ban Miang lebih banyak mengelakkan atau menangkis serangan lawannya. Hal ini disebabkan Ban Ban Miang ingin memperhatikan dulu cara bertempur lawannya,  yang telah merobah cara menyerangnya itu, dan Ban Ban Miang bermaksud akan mempelajari kelemahan pada diri lawannya itu, agar nanti  dia dapat melancarkan serangan yang mematikan kalau dia sudah dapat mengetahui kelemahan lawannya itu.

Namun maksud Ban Ban Miang tidak pernah  berhasil, karena orang Uigur itu merupakan seorang jago yang tinggi sekali kepandaiannya, terlalu kosen. Maka dari itu, tidak mudah untuk mencari kelemahan yang terdapat pada diri orang Uigur itu.

Tetapi biarpun begitu, Ban Ban Miang penasaran sekali, dia tetap memperhatikan baik-baik cara bertempur dari   orang Uigur itu, malah dengan cepat dia juga telah mencoba-coba beberapa kali memancing agar orang Uigur itu melakukan kesalahan, yaitu agar terbuka lowongan pada dirinya, untuk diserang oleh Ban Ban Miang dengan hebat.

Bukan hanya Ban Ban Mang belaka yang murka. Orang Uigur itu sendiri merasa penasaran sekali, karena di negerinya dia merasa dirinya merupakan seorang jago yang bukan main disegani. Tetapi hari ini, berhadapan dengan seorang jago dari daratan Tionggoan, yang tubuhnya kurus kerempeng dan mukanya seperti muka setan, namun kenyataannya dia tidak berhasil untuk merubuhkannya. Bukankah kalau hal ini sampai teruwar di negerinya, akan menjatuhkan nama besarnya?! Berpikir begitu, tentu saja orang Uigur itu jadi murka sekali, dia mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur dan telah melancarkan serangan yang jauh lebih hebat lagi, seperti juga ruangan kuil ini akan dirubuhkan oleh deru angin serangannya.

BAN BAN MIANG agak kecut juga hatinya sampai  sebegitu lama dia belum dapat menguasai lawannya. Malah yang membuat Ban Ban Miang jadi gugup juga, semakin dalam tenaga serangan dari orang Uigur itu bertambah hebat saja, juga setiap serangan-serangan yang dilancarkan oleh orang Uigur itu bertambah aneh dan sukar untuk diikuti oleh pandangan mata.

Tetapi sebagai seorang yang berkepandaian yang tinggi sekal i, Ban Ban Miang juga tidak hilang ketenangannya. Biar bagaimana dia yakin  akan kemampuan dirinya. Itulah sebabnya, biarpun dia tampaknya dia mulai

terdesak, namun kenyataannya Ban Ban Miang tidak mau menyerah begitu saja, dia juga telah cepat-cepat mempergunakan segala macam cara untuk menghadapi orang Uigur ini, seluruh kepandaian yang dimilikinya,  telah dikerahkan untuk melancarkan serangan yang mematikan kepada lawannya.

Begitulah, keduanya jadi saling tempur dengan seru, seperti juga pertempuran yang tengah berlangsung itu adalah suatu pertempuran untuk mengadu jiwa. Suatu kali, rupanya kesabaran orang Uigur itu telah habis, dengan nekad dia telah menerjang kalap sambil melancarkan serangan mempergunakan kedua tangannya sekaligus.

Ban Ban Miang jadi terkejut bukan main,  sampai mengeluarkan seruan

tertahan, “Kau     ?”

Tetapi belum lagi suara seruan Ban Ban Miang itu habis diucapkannya, maka tangan orang Uigur itu sudah hampir sampai, mau tak mau Ban Ban Miang telah mengempos seluruh kekuatan yang ada pada dirinya dan dia telah melancarkan tangkisannya sekuat tenaga,  “Bukkkk!!” terdengar   suara benturan yang keras bukan main, disusul oleh terpentalnya tubuh Ban Ban Miang dan orang Uigur itu, keras sekali.

Keduanya telah terbanting di atas lantai, malah  Ban Ban Miang tampaknya jauh lebih parah, punggungnya telah membentur menubruk dinding sebelum tubuhnya jatuh di atas lantai. Dengan sendirinya,  kedua orang ini telah mengalami luka di dalam yang cukup berat, membuat mereka tidak bisa segera untuk berdiri.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang melihat keadaan kedua orang ini, berdiam diri saja dengan perasaan tegang. Tadi mereka telah menyaksika n dengan mata kepala sendiri betapa hebatnya tenaga gempur yang saling bentrok di tengah udara itu yang telah menggetarkan keadaan di sekitar ruangan kuil ini.

Sedang Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang saling tatap begitu dengan perasaan tegang tampak Ban Ban Miang telah merangkak untuk bangun berdiri. Tetapi rupanya luka yang diderita oleh Ban Ban Miang terlalu heb at, sehingga dia tampaknya berdiri dengan susah payah.

“Hmmm orang Uigur, kali ini biarlah kita menghentikan dulu pertempuran ini tetapi suatu saat aku Siankoay Kwie Ong niscaya  akan mencarimu biarpun kau bersembunyi di ujung dunia sekalipun juga! Aku memperhitungkan semuanya ini! Ban BanMiang bukanlah sebangsa manusia yang mudah untuk disentuh !”

Dan setelah berkata begitu, Ban Ban Miang memandang dengan sorot mata yang mengerikan kearah orang Uigur itu, kemudian menoleh

 memandang Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tanpa mengucapkan kata-kata apapun juga.

“Baik Baik! Akupun belum puas untuk menguji kepandaianmu!!” sahut orang Uigur itu dengan murka dan berusaha merangkak bangun juga. Saat itu Ban Ban Miang tanpa mengucapkan kata-kata lainnya, telah membalikkan tubuhnya, dan berlalu dengan cepat dari dalam kuil tersebut.

Orang Uigur tersebut telah berhasil berdiri, dia telah menghela napas. Matanya melirik kearah Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang masih berdiri berdiam diri saja, dia memandane kearah Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang dengan mempergunakan sudut matanya, lalu tanpa mengucapkan sepatah perkataanpun juga tanpa menegurnya, dia telah melangkah meninggalkan ruangan kuil itu.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi berdiam saja memandangi kepergian orang Uigur yang agak aneh itu. Setelah selang sesaat, Wu Cie Siang meng- hela napas, lalu katanya seperti orang menggumam : “Sungguh berbahaya!” gumamnya. “Untung saja mereka telah pergi!!”

Dan tangan kanan Wu Cie Siang telah menghapus keringat di keningnya. “Ya, memang sangat berbahaya, nyaris kita binasa ditangan iblis Ban Ban Miang itu!” menimpali Giok Ie Lang yang menggidik  sendirinya teringat saat-saat berbahaya tadi. “Untungnya telah datang orang Uigur itu secara kebetulan, coba kalau tidak, bukankah sekarang ini kita sudah menggeletak menjadi mayat?!”

Wu Cie Siang mengangguk. “Hari ini kita terpaksa harus mengaso guna berusaha memulihkan semangat kita, kalau sampai kita bertemu dengan manusia jahat lainnya, niscaya kita bisa menghadapi bahaya yang lainnya!!”

“Ya! Ya!” kata Giok Ie Lang. “Aku sendiri  sudah letih bukan main!”

Sambil berkata begitu, Giok Ie Lang sudah merebahkan dirinya di antai.

Wu Cie Siang juga telah merebahkan dirinya dilantai tanpa membersihkan   debu yang terdapat dilantai itu, karena dia sudah terlalu letih sekali. Keduanya berusaha mempergunakan tenaga iwekang mereka untuk menyalurkan keseluruhan jalan-jalan darah ditubuh mereka, guna dapat memulihkan segala keletihan dan memulihkan semangat mereka juga.

Setelah selang sesaat, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang berhasil untuk memulihkan semangat mereka itu. Walaupun tidak seluruh kesegaran tubuh mereka dapat dipulihkan, tetapi sebagian besar boleh dibilang sudah dapat dikuasai kembali oleh diri mereka.

 Malam telah semakin larut saja, Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang telah tidur, karena merekapun sangat mengantuk. Lebih-lebih  Giok Ie Lang, dia telah tidur dengan nyenyak sekali, hanya terdengar suara menggerosnya.

Keesokan harinya dikala sang fajar mulai muncul, Giok Ie Lang telah terbangun lebih dulu dari Wu Cie Siang. Ie Lang telah duduk bersemedhi tanpa mengganggu Wu Cie Siang, karena dia menduga Cie Siang mungkin juga tengah letih dan masih mengantuk. Maka dari itu, Giok Ie Lang hanya duduk bersemedhi untuk menyatukan kembali tenaga dalamnya, dia mencobanya menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya itu keberbagai jalan darahnya, diseluruh tubuhnya, dan semuanya berjalan lancar.

Diam-diam Giok Ie Lang senang juga, karena pertempuran yang kemarin, dimana dia telah saling tempur dengan iblis Ban Ban Miang, tetapi kenyataannya dia tak sampai terluka hebat, juga pada kekuatan tenaga dalamnya, baikpun semangatnya, tidak mengalami sesuatu kekurangan yang menguatirkan.

Membayangkan kejadian semalam, dimana dia dan Wu Cie Siang nyaris binasa, membuat Giok Ie Lang jadi menggidik ngeri sendirinya, karena biar bagaimana memang kenyataan pahit yang diperolehnya dengan bertempur melawan si iblis Ban Ban Miang. Dia juga jadi membayangkan, betapa ke- hebatan yang dimiliki iblis itu, karena biarpun Giok Ie Lang telah bersama- samaWu Cie Siang bergabung diri untuk merubuhkan si iblis,  toch kenyataannya mereka tidak memperoleh hasil.

Juga mereka telah menyaksikan betapa iblis Ban Ban Miang itu telah menggempur orang Uigur dengan hebatnya, walaupun akhirnya kenyataa n Ban Ban Miang dan orang Uigur itu terluka bersama-sama, tetapi hal itu sudah memperlihatkan, betapa tenaga dalam Ban Ban Miang memang telah mencapai puncak kesempurnaan yang bukan main.

Disebabkan itulah, mau tak mau sekarang dikala Giok Ie Lang teringa t akan semuanya itu, membuat dia jadi berpikir dua kali kalau sampai dirinya harus berhadapan lagi dengan iblis Ban Ban Miang itu.

Dikala Giok Ie Lang tengah termenung, begitu,  memikirkan kejadian yang semalam Wu Cie Siang telah terbangun diri tidurnya. “Apa yang kau lamunkan Giok-heng?” tegur Wu Cie Siang.

Giok Ie Lang jadi tersadar dengan cepat dari lamunannya, dia jadi malu sendirinya, karena dia takut kalau-kalau Wu Cie Siang mengetahui  jalan pikirannya yang ragu-ragu untuk bertempur lagi dengan Ban Ban Miang.

 Tetapi Giok Ie Lang memang seorang yang tidak pandai berbohong, maka dari itu jawabnya : “Aku sedang memikirkan diri si iblis Sian-koay Kwie Ong Ban Ban Miang itu!” katanya.

Wu Cie Siang tersenyum. “Untuk apa kau memikirkan pula perihal diri si iblis?” kata orang she Wu ini sambil tetap tertawa. “Tidak ada gunanya! Lagi pula antara dia dengan kita memang tak mempunyai sangkut paut apapun juga, pertempuran yang semalam terjadi hanyalah secara kebetulan  saja! Hmm, kalau memang kita tidak diganggu lagi oleh si iblis Ban Ban Miang itu, untuk apa kita pusingkan diri kita sendiri? Mengapa kita harus berusaha memikirkannya?”

“Benar! Tetapi akupun sedang memikirkan orang Uigur itu!” kala Giok

Ie Lang lagi.

“Maksudmu, Giok-heng?” “Orang Uigur itu ”

“Aku mengerti, memang yang kita sedang bicarakan ini adalah orang Uigur itu! Tetapi apa maksudmu teringat kepada orang Uigur itu?” tanyanya lagi.

“Orang Uigur itu, aku jadi mencurigai apakah orang-orang Mongol telah berhasil menjebol menerobos masin kedaratan Tionggoan ini!”

“Ehhh!” Wu Cie Siang jadi mengeluarkan seruan tertahan, dia telah memandang Giok Ie Lang dengan sepasang matayang terpentang lebar-lebar. “Kenapa kau bisa mempunyai ingatan begitu?!”

Giok Ie Lang menghela napas. “Itulah satu-satunya yang kutakuti, aku ngeri kalau sampai negeri kita ini diinjak-injak oleh orang-orang Mongol atau bangsa asing lainnya! Hai! Hai! Benar-benar keadaan sudah berobah, keadaan sudah berobah! Aku hanya minta kepada Thian (Tuhan), agar negara kita ini terhindar dari jangkauan orang-orang Mongol itu! Hmm, Hongsiang kita telah dikuasai oleh manusia-manusia terkutuk para Thaykam jahat itu! Maka dari itu, aku jadi meragukan kesanggupan Kaisar untuk mengusir lawan yang berada di perbatasan, yang ingin menerobos masuk itu!”

Wu Cie Siang jadi berobah hebat pada wajahnya, dia memandang Giok Ie Lang dalam-dalam dan tajam sekali, tak ada sepatah perkataanpun juga yang diucapkannya. Giok Ie Lang melihat perobahan wajah Wu Cie Siang, dia segera tersadar bahwa dia sudah terlalu banyak bicara, maka dari itu, cepat- cepat Giok Ie Lang telah menahan perkataan yang baru saja ingin diucapkannya.

 “Sudahlah kita lebih baik jangan membicarakan soal itu!!” kata Giok Ie Lang. “Mari kita berangkat, hari mulai siang!”

Wu Cie Siang hanya mengangguk, rupanya orang she Wu ini tengah memikirkan kata-kata Giok Ie Lang yang tadi. Mereka berdua segera meninggalkan kuil tua tersebut. Wu Cie Siang sendiri ikut bersama-sama Giok Ie Lang menuju ke kota raja. Entah kemana tujuan Wu Cie Siang sebenarnya, karena waktu Giok Ie Lang menanyakan kepadanya tujuan orang she Wu ini, dia hanya mengatakan bahwa dirinya tengah menghadapi suatu urusan yang penting dan untuk saat-saat sekarang ini belum  lagi dapat diceritakan olehnya.

Giok Ie Lang tidak terlalu mendesak. Mengingat akan perbuatan Wu Cie Siang yang cukup mulia membela para penduduk yang lemah dengan membagi-bagikan harta curiannya, dengan sendirinya Giok Ie   Lang mempunyai pandangan tersendiri terhadap diri Wu Cie Siang.

Menurut pendapat Giok Ie Lang, setidak-tidaknya Wu Cie Siang tidak termasuk sebagai seorang yang jahat. Maka dari itu, biarpun akhir-akhir ini Giok Ie Lang melihat sikap Wu Cie Siang yang agak mencurigakan begitu, toch dia tetap saja mau melakukan perjalanan dengan orang she Wu ini .

Perjalanan ke kota raja bukanlah suatu perjalanan yang dekat, mereka mengambil ke arah barat, melalui daerah Heng-shia, Pheng-man-kwan, lalu tiba di kota Siu touw-kwan, sebuah kota yang sangat besar dan megah, karena dari kota ini ke kota raja jaraknya sudah tidak begttu jauh, dan boleh dibilang Siu-touw-kwan merupakan pintu gerbang bagi   orang-orang yang mau pergi ke kota raja, yaitu Pak-khia.

Waktu Giok Ie Tang dan Wu Cie Siang tiba di kota Siu-touw-kwan itu hari menjelang tengah hari, hawa udara cukup terik, angin juga berhembus kering sekali. Karena merasa letih bukan main, Giok Ie Lang telah mengajak Wu Cie Siang untuk singgah di kota ini untuk beristirahat sejenak.

Wu Cie Siang menyetujuinya, mereka telah mencari sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari pintu kota itu, memesan beberapa macam sayur dan juga telah memesan beberapa kali teh harum. Sengaja Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tidak   memesan arak, karena di dalam suasana dan hawa udara yang seperti itu, kering dan panas sekali, tidak sesuai untuk meminum arak.

Pelayan rumah makan ini melayani mereka dengan sikap yang menghormat, karena memang sudah menjadi peraturan di rumah makan tersebut, bahwa setiap pelayannya harus berlaku hormat sekali pada tamu. Kalau ada pelayan yang berlaku tidak sopan pada tamu, segera akan dipecat.

 Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menyukai disiplin yang dimiliki oleh para pelayan rumah makan tersebut, mereka juga kagum atas pengaturan ruangan yang mewah dan besar sekali.

“Ini merupakan rumah makan yang benar-benar memuaskan hati!?” puji

Wu Cie Siang sambil tersenyum dan memandangi sekitar ruangan tersebut.

Giok Ie Lang mengangguk. “Ya! Memang segalanya telah diatur dengan segala kemewahan untuk memuaskan semua tamu yang datang di tempat ini! Ini baru yang dinamakan tamu adalah raja, dan dilayani dengan segala kepuasan untuk dinikmati oleh para tamu itu, sehingga tidak akan terlupakan kesan yang diberikan oleh pihak rumah makan ini!!”

Wu Cie Siang telah mengangguk-anggukkan  kepalanya menyatakan rasa kagumnya. “Hmmm, memang semakin besar kota tempat dimana kita berdagang, semakin hebat pula persaingan yang terjadi!!” kata Wu Cie Siang kemudian. “Entah berapa banyak rumah makan yang terdapat di kota ini?“

“Tentunya sangat banyak sekali.” sahut Giok Ie Lang.

“Dan pasti di kota raja Pakkhia nanti kita akan menemui banyak sekali rumah-rumah makan yang lebih mewah dan besar, karena di sana merupakan tempat bersarangnya para bangsawan dan juga memang merupakan pusat dari segala keramaian!”

Mendengar perkataan Wu Cie Siang tersebut Giok Ie Lang tersenyum saja. Sedangkan di dalam hatinya dia telah berpikir diam-diam: “Hmmmm, kau tidak mengetahui orang she Wu! Kedatanganku ke kota raja bukan untuk menikmati keindahan yang terdapat di sana, bukan untuk melihat keramaian yang ada di tempat itu, tetapi untuk melakukan sesuatu hal yang cukup berbahaya Mungkin juga aku akan binasa di sana, membuang jiwa guna menolong Peng Po Siang-sie See Un Tayjin!”

Tetapi apa yang dipikirkan oleh Giok Ie Lang, tidak dikemukakannya kepada Wu Cie Siang, dia berdiam diri saja, karena Giok Ie Lang juga menyadarinya bahwa kalau sampai dia mengemukakan perihal itu kepad a Wu Cie Siang, dia jeri akan menghadapi kesulitan, setidak-tidaknya dia belum mengenal benar jiwa orang she Wu. Hati manusia siapa yang tahu?!”

Barang makanan yang mereka pesan tak lama kemudian telah diantarkan dan disiapkan di meja mereka. Selesai bersantap, Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang menikmati harumnya teh wangi itu.

Sedang mereka bercakap-cakap mengenai keindahan Pakkhia, tiba-tiba

ada seorang pelayan yang telah menghampiri meja mereka. “Jiewie Kongcu,

 ada surat yang dititipkan untuk kalian!” kata pelayan itu sambil meng- angsurkan sepucuk surat yang dilipat kecil.

Giok Ie Lang jadi mengerutkan sepasang alisnya, begitu juga Wu Cie Siang, tampaknya mereka sangat heran bukan main. “Dari siapa?” tegur Wu Cie Siang, mereka tidak lantas menerima surat itu.

“Dari seorang anak kecil berusia sembilan tahun, tadi dia telah meminta kepada Siauwjin untuk memberikan surat ini kepada Jie-Wie Kongcu!” sahut pelayan itu. “Muka anak kecil itu bulat, sepasang matanya agak besar dan jeli, tubuhnya kurus, berpakaian seperti seorang anak bangsawan, entah siapa?”

Sedang pelayan itu bicara, Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang jadi berpikir keras. Entah siapa bocah cilik itu itu, mereka merasakan tidak pernah mengenal anak lelaki yang disebutkan oleh pelayan ini.

“Mungkin juga kau sudah salah alamat, surat itu mungkin pula bukan untuk kami!” kata Giok Ie Lang kemudian setelah berdiam diri sejenak. Pelayan itu tampaknya jadi terkejut, dia juga mengeluarkan seruan tertahan.

“Ihh, bagaimana Siauwjin berani berlaku ceroboh  begitu?” katanya cepat tergopoh-gopoh. “Sudah Siauwjin tegaskan tadi danbocah kecil itu memang menunjuk kepada diri Jiewie berdua!”

Giok Ie Lang menghela napas dengan perabaan heran yang tidak pernah terlepas dari hatinya, diulurkan tangannya menyambuti surat itu. Wu Cie Siang telah merogoh sakunya mengeluarkan dua tail perak, diberikan kepala pelayan itu sebagai hadiahnya.

Tentu saja pelayan itu telah kegirangan bukan main, setelah mengucapkan terima kasih berulang kali, baru dia berlalu.

Giok Ie Lang cepat-cepat membuka lipatan kertas tersebut, dia telah membacanya. Wu Cie Siang melihat, selama membaca surat itu wajah Giok Ie Lang telah berobah-obah berulang kali, sepasang alisnya juga tampak mengkerut dalam-dalam.

Tentu saja Wu Cie Siang jadi heran bukan main, dia jadi menerka-nerka, entah apa isinya surat itu. Setelah selesai membaca isi surat tersebut, Giok Ie Lang menghela napas panjang dan mengangsurkan surat itu kepada Wu Cie Siang.

“Kau bacalah!” katanya kemudian. Wu Cie Siang menyambuti surat itu dan cepat-cepat membacanya. Ternyata isi surat tersebut antara lain sebagai berikut:

 “Tcntunya kalian heran menerima surat ini, tetapi hal  itu tidak perlu kalian pikirkan, karena memang selama kalian belum  bertemu denganku, tentu kalian tidak mengetahui siapa diriku sebenarnya! Kalau memang kalian menginginkan jiwa Pengpo Siang Sie See Un selamat, silahkan datang di tempat yang terletak tiga puuh lie dari arah  selatan kota ini, aku menanti di sana. Kalian tidak usah pura-pura, bahwa kalian sebenarnya melakukan perjalanan yang jauh ini untuk pergi ke Pakkhia adalah untuk menolong Pengpo Siang Sie See Un, bukan?!”

Dan surat itu tidak ditanda-tangani, juga tidak tertera nama yang mengirimkan surat itu.

Muka Wu Cie Siang juga telah berobah heran, tampak sepasang alisnya terangkat sejenak. Namun tidak lama kemudian rupanya Wu Cie Siang dapat mengendalikan bergolaknya perasaan dihatinya itu.

“Apa maksud sebenarnya orang yang menulis surat ini?” tanya Wu Cie Siang sambil mengembalikan surat itu kepada Giok Ie Lang. Giok Ie Lang mengangkat bahunya, sedangkan pada saat itu pikirannya tengah bekerja keras, “Entahlah, aku sendiri tidak tahu!” sahut Giok Ie Lang sembarangan.

“Tetapi aneh, surat ini ditujukan kepada kita berdua, tidak disebutkan dengan tegas, sebenarnya diberikan kepada siapa diantara kita berdua ini?” kata Wu Cie Siang lagi dengan suara ragu-ragu.

Giok Ie Lang mengangguk. “Ya, ya, entah siapa diantara kita berdua sebenarnya yang berhak menerima surat ini?” ngumam Giok Ie Lang sembarangan saja, karena hatinya tengah diliputi oleh berbagai dugaan dan otaknya tengah bekerja keras. Sebenarnya Giok Ie Lang sendiri telah menyadarinya bahwa surat itu tentunya ditujukan kepada dirinya, karena dia yang mempunyai kepentingan dengan Peng Po Siang Sie See Un, dan memang maksud perjalanannya ini untuk menyelidiki perihal Peng Po Siang Sie See Un yang malang itu. 

Namun disebabkan biar bagaimana Giok Ie Lang tidak bisa bicara terus terang kepada Wu Cie Siang, dia tidak dapat menceritakan segalanya itu.

“Apakah kita akan menemui orang itu?” tanya Wu Cie Siang kemudian. “Bagaimana pendapatmu?” tanya Giok Ie Lang yang tidak segera

memberikan jawabannya.

“Kita temui saja!”

“Tetapi, tampak Giok Ie Lang ragu-ragu, karena Giok Ie Lang telah dapat menerkanya, urusan akan menjadi lebih hebat lagi, kalau di dalam

 persoalan ini Wu Cie Siang turut serta pergi menemui orang itu, rahasia dirinya pasti akan diketahui oleh orang she Wu tersebut.

Hal inilah yang telah membuat Giok Ie Lang jadi ragu-ragu. “Tetapi biar bagaimana kita harus menemuinya, kalau tidak kita bagaimana bisa mengetahui siapa orang itu sebenarnya?” kata Wu Cie Siang.

Giok Ie Lang masih ragu-ragu, sampai akhirnya seperti  orang menggumam dia berkata juga : “Apakah ada baiknya dan keuntungannya ki ta menemui orang itu?”

“Bagaimana kalau pendapatmu?”

“Menurut pendapatku lebih baik tidak perlu kita layani orang ini!” sahut Giok Ie Lang. “Tentunya orang yang menulis surat ini yang sinting pikirannja!”

Tetapi Wu Cie Sang tampak masih pena saran sekali, dia masih berkata

: “Baiklah, kalau memang Giok-heng tidak mau pergi menemuinya, kau tunggu saja aku di rumah penginapan di kota ini, biarlah nanti aku yang pergi sendiri menemui orang itu untuk mengetahui apa sebenarnya maksud orang tersebut menulis surat seperti ini?!”

“Ehhh, apa?” Giok Ie Lang jadi terkejut bukan main, mukanya juga

berobah.

“Kenapa Giok heng?”

“Kau ingin pergi menemuinya?” “Ya!”

Giok Ie Lang menghela napas, dia berdiam diri sesaat, tetapi kemudian, wajahnya telah berobah biasa lagi. “Baiklah!” katanya kemudian. “Aku juga ikut bersamamu untuk menemui orang itu!”

“Bagus!” seru Wu Cie Siang. “Mari kita berangkat!”

Giok Ie Lang mengangguk, mereka telah menghabiskan teh harum mereka, dan meninggalkan rumah makan itu.

DENGAN cepat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah meninggalkan kota Siu touw-kwan, menaambil arah ke selatan. Mereka telah berjalan dengan cepat, setengah berlari. Tiga puluh lie bukanlah jarak yang terlalu jauh, tetapi mengapa orang itu memilih tempat tersebut. Sebenarnya tempat apakah tempat yang dijanjikan oleh orang itu, yang terpisah kurang lehih tiga puluh lie itu?!

 Tetapi ketika Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang baru meninggalkan kota Siu-touw-kwan itu kurang lebih lima lie, mereka baru mengetahui bahwa di luar kota Siu-touw-kwan sebelah selatan ini tidak seperti bagian lainnya, ka - rena daerah di sekitar tempat tersebut tidak terdapat perumahan dan tidak ada penduduk yang berdiam di situ. Semuanya terdiri dari pepohonan yang tumbuh lebat sepanjang jalan dan alang-alang yang telah tumbuh panjang.

Dengan melihat keadaan seperti ini, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang sudah mengetahui bahwa tempat tersebut jarang sekali dilalui orang. Melhat kenyataan seperti ini, Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang jadi semakin terheran - heran saja, karena biar bagaimana mereka masih diliputi  oleh tanda tanya yang besar dihati masing masing.

Yang paling diliputi perasaan heran dan bingung adalah Giok Ie Lang. Dia telah menduga-duganya dengan tidak habis mengerti, siapakah orang yang telah mengirimkan surat itu kepada mereka. Dilihat dari bunyinya surat itu, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa orang itu tentunya mengenal Giok Ie Lang, karena dia mengetahui bahwa Giok Ie Lang ingin pergi ke Pakkhia untuk menolong Peng Po Siang Sie. Inilah yang telah membingungkan hati Giok Ie Lang, sehingga dia tidak habisnya memutar otak mencoba-coba mengingat- ingat seseorang.

Di dalam waktu yang cepat mereka telah berlari kurang lebih tiga puluh lie lebih. Tetapi sepanjang jalan mereka tidak melihat seorang manusiapun, tidak ada yang menyambut kedatangan mereka itu.

“Ahh!” seru Wu Cie Siang dengan hati yang jengkel. “Apakah orang itu sengaja mengirimkan surat tersebut kepada kita hanya sekedar mempermainkan diri kita?”

“Entahlah!!” sahut Giok Ie Lang sambil mengawasi sekitar tempat itu dengan teliti, karena hanya Giok Ie Lang sendiri dihatinya yang mengatakan, babwa orang yang mengirimkan surat itu kepadanya bukanlah seorang yang bermaksud main-main tidak keruan juntrungannya.

Giok Ie Lang juga yakin, orang itu pasti berada di tempat ini. Cuma, entah dimana si penulis surat tersebut menyembunyikan dirinya.

Sedang Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang memandang sekeliling mereka dengan penuh tanda tanya, tiba-tiba pendengaran mereka mendengar suara berkeresek perlahan. Tetapi bagi Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang memiiki kepandaian yang tinggi dan memiliki pendengaran yang tajam, dapat mendengar jelas suara itu. Mereka mengetahui ada orang yang bersembunyi disekitar mereka.

 Belum lagi Giok Ie Lang atau Wu Cie Siang sempat membentak, telah terdengar orang berkata dengan suara yang kemanja-manjaan, melengking nyaring : “Hai! Hai! Kiranya Jiewie Kongcu datang juga ke tempat ini! Selamat datang! Selamat datang!” seru orang yang bersembunyi itu, dan tidak lama kemudian menyusul berkelebat sesosok tubuh kecil yang melompat turun dari atas pohon.

Gerakan sosok bayangan ini gesit bukan main, lincah dan tubuhnya ringan sekali. Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang telah memperhatikannya dengan seksama pada sosok tubuh yang baru melompat keluar dari atas pohon itu. Ternyata dia adalah seorang bocah cilik yang berusia diantara sembilan atau sepuluh tahun.

Waktu Wu Cie Siang menegasi muka bocah itu, keadaannya sama seperti apa yang pelayan rumah makan pernah menceritakannya kepada mereka. Hati Wu Cie Siang jadi gusar bukan main bercampur perasaan mendongkol, karena segera juga dia menduga bahwa bocah ini hanya ingin mempermainkan mereka.

“Hei bocah, apa maksudmu mempermainkan kami dengan mengirimkan surat tidak keruan macam itu?” tegur Wu Cie Siang dengan suara yang bengis, mukanya merah padam disebabkan hawa amarah.

Bocah itu tertawa manis, “Hai! Hai! Jangan marah dulu Kongcu!” katanya, karena dia memang mengeta-hui Wu Cie Siang tengah mendongkol terhadap dirinya. “Dengarkanlah dulu keterangan Siauwte! Sebenarnya  yang ingin bertemu dengan Jiewie Kongcu bukanlah diri Siauwte, tetapi majikanku yang telah memerintahkan kepada Siauw-t agar dapat mengundang kalian berdua!”

“Majikanmu?” tanya Giok Ie Lang dengan hati agak berdebar dan bercampur perabaan heran. “Siapakah majikanmu itu?!”

“Nanti Jiewie Kongcu akan segera mengetahuinya!” sahut bocah tersebut. “Maukah Jiewie Kongcu ikut bersama Siauwte untuk menemui majikan Siauwte itu?! Tetapi terus terang saja Siauwte tidak berani memaksa Jiewie Kongcu, karena kalau memang Jiewie Kongcu merasa keberatan untuk pergi menemui majikan Siauw-te itu, maka memang Siauwte tidak bisa memaksanya, terserah pada Jiewie Kongcu saja!!”

“Hmm, katakan dulu siapa majikanmu itu sebenarnya!!” kata Wu Cie Siang yang tengah diliputi oleh perasaan mendongkol bukan main. “Juga sebutkan nama dan gelaran gurumu itu! Nanti kami pertimbangkan apakah kami perlu menemuinya atau tidak!”

 Bocah cilik itu tersenyum manis sekali, sikapnya sabar dan manja sekali. “Sudah Siauwte katakan bahwa Siauwte hanya menerima perintah, maka dan itu Siauwte mohon agar Jiewie Kongcu jangan mempersulit diri Siauwte! Harap Kongcu memberikan keputusan yang tegas saja, kalau memang Jiewie Kongcu memang bersedia untuk pergi menemui guru Siauwte, akan Siauwte pertemukan, mengajak ke tempat berdiamnya guru Siauwte itu, tetapi kalau memang Djiewie Kongcu pun merasa keberatan untuk bertemu dengan guru Siauwte, namun tidak menjadi soal, tidak ada paksaan di dalam hal ini! Hanya Siauwte minta agar Jiewie Kongcu tidak menanyakan segala macam urusan yang bersangkut paut dengan guru Siauwte itu kepada diri Siauwte, hal itu bisa mempersulit diriku!”

Dan setelah berkata begitu si bocah telah tertawa menyeringai memandang lucu kepada Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, bergantian.

Wu Cie Siang tentu saja jadi tambah penasaran, dia menganggap di dalam persoalan ini tentu terdapat apa-apanya yang aneh. Sedangkan Giok Ie Lang semakin tidak tenang saja, akhirnya waktu dia melihat Wu Cie Siang mau berdebat, cepat-cepat Giok Ie Lang telah maju dua langkah ke depan, lalu katanya : “Baiklah Siauwko! Tolong kau antarkan kami menghadap pada gurumu itu! Kami ingin menghunjukkan hormat dan juga saling berkenalan dengan guru Siauwko itu!”

Muka si bocah jadi terang, dia tertawa sambil menepuk tangannya berulang kali. “Nah! Nah! Begitu baru sedap!!” kata si bocah sambil tetap tertawa. “Apakah Kongcu seorang diri yang akan menemui guruku,  atau berdua bersama-sama dengan kawan Kongcu itu?”

“Tentu saja kawanku akan turut serta!” sahut Giok Ie Lang cepat, tanpa menantikan lagi habisnya perkataannya si bocah, hal ini dilakukan oleh Giok Ie Lang karena dia tidak mau kalau sampai Wu Cie Siang menolaknya. Mau tidak mau urusan ini memang harus dihadapi, kenyataan sudah mem- perlihatkan keadaan jadi demikian macam, dengan sendirinya mau tak   mau dia harus menemui juga orang yang menulis surat itu kepadanya, karena setidak-tidaknya Giok Ie Lang jadi ingin mengetahui siapa sebenarnya orang itu, agar urusan menjadi terang.

“Baiklah, aku turut serta!” sahut Wu Cie Siang kemudian. “Bagus!” seru si bocah sambil tertawa, “Mari ikut Siauwte!”

Dan setelah berkata begitu, si bocah membalikkan tubuhnya , menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat berlari-lari kearah barat dari tempat tersebut, gerakannya gesit dan cepat sekali.

 Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah mengikutinya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Mereka masing-masing berdiam  diri, hanya mengikuti  di belakang si bocah dengan di hati mereka muncul berbagai tanda tanya. Apa lagi diam-diam mereka juga melihat betapa gerakan si bocah begitu cepat dan gesi sekali, sehingga membuat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang bertambah heran saja, mereka jadi menduga-duga entah jago mana yang telah mendidik bocah ini.

Lagi pula, dihati Giok Ie Lang telah timbul pertanyaan juga, mengapa orang yang mengundang mereka itu mengetahui persoalan Peng Po Siang Sie? Mengapa dia tidak keluar memperlihatkan muka saja, mengapa dia harus mengutus bocah itu sebagai kurirnya?!

Tetapi semua tanda tanya itu tidak bisa dijawabnya, dan Giok Ie Lang hanya memutuskan, begitu dia menemui orang yang mengundangnya itu, niscaya dia akan segera memperoleh jawabannya.

Si bocah telah berlari-lari dengan cepat sekali, menunjukkan bahwa Ginkang (ilmu meringankan tubuhnya) cukup tinggi. Entah berapa  jauh mereka telah berlari-lari, tetapi si bocah tidak terlihat tanda-tandanya ingin berhenti. Maka dari itu Wu Cie Siang telah berteriak menegurnya: “Masih jauhkah tempat yang ingin kita datangi itu?!”

“Dekat! Tidak jauh lagi!” sahut si bocah tanpa memperlambat larinya. Dia juga menyahuti dengan berteriak. Giok Ie Lang tidak banyak bertanya, karena pikirannya tengah kacau dipenuhi oleh tanda  tanya. Serasa Giok Ie Lang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui, siapakah sebenarnya orang yang telah mengundangnya?

Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang berlari berendeng di belakang, sedangkan bocah cilik tersebut, telah berusaha untuk berlari lebih cepat lagi. Tampaknya dia penasaran sekali melihat kedua orang tamu dari majikannya masih dapat mengikuti di belakangnya dengan baik. Dasar masih anak-anak bisa dimaklumi, biar bagaimana si bocah baru berusia sembilan atau sepuluh tahun, dan memang wajar kalau sifat kekanak-annya masih muncul.

Tidak lama kemudian bocah itu telah menghentikan langkah kakinya, dia telah berdiri menantikan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang.

“Kita telah sampai!” kata anak lelaki ini begitu Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tiba di tempat tersebut. Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang mengawasi sekitar tempat tersebut, mereka hanya melihat pohon-pohon  yang bertumbuhan liar dan juga hanya terdapat banyak batu-batu gunung.

Dengan sendirinya Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi heran sekali.

“Dimana orang yang menantikan kami itu?” tanya Wu Cie Siang tidak sabar.

 “Majikanku?” tanya si bocah. Wu Cie Siang mengangguk. “Ya!!” sahut orang she Wu itu. “Majikanmu itu yang telah mengundang kami datang untuk menemuinya!”

“Sudah jelas akan menemui kalian, kalau tidak, untuk apa aku dikirim untuk menjemput kalian?” sahut bocah itu sambil tertawa.  Dan setelah berkata begitu, dikala Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang tengah diliputi oleh tanda tanya, bocah tersebut telah menghajar batu gunung yang berada disisi kanannya. “Plakkkkk!!” batu iu telah hancur meluruk menjadi berkeping - keping.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang memandang tidak mengerti apa yang dilakukan oleh bocah tersebut, mereka hanya memandang diam  saja. Sedangkan si bocah telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam menghadap pada batu yang telah hancur itu.

“Loya, kedua tamu kita telah tiba!” kata si bocah dengan suara yang

nyaring.

“Hmmm!” terdengar orang menyahuti dengan suara yang tawar. “Kau telah melakukan tugas dengan baik, kacungku!” Menyusul dengan habisnya perkataan itu, maka terjadi ledakan.

Sisa batu gunung yang tadi dipukul oleh si bocah telah meledak dan hancur berantakan, maka terlihatlah dibalik semua itu sebuah goa yang cukup besar. Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang baru mengetahui bahwa dibalik batu gunung itu terdapat goa untuk bersembunyi.

Cuma saja yang menbuat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi heran bercampur perasaan kagum juga, karena tempat persembunyian seperti ini memang merupakan sebuah tempat persembunyian yang paling baik, karena tidak mungkin orang akan menduga bahwa dibalik batu gunung yang cukup besar itu terdapat sebuah goa tempat persembunyian.  Tentunya orang di dalam goa itu telah mengatur segalanya demikian rupa sehingga jalannya hawa udara tetap dapat masuk ke dalam goa itu.

Si bocah telah menoleh kepada Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, dia berkata: “Majikanku sebentar lagi akan keluar, goa ituterlalu panjang, memakan waktu beberapa detik untuk melaluinya!”

Tetapi belum lagi si bocah menyelesaikan perkataannya, belum lagi Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang menanyakan rasa heran mereka, dari dalam goa itu telah mencelat keluar sesosok tubuh.

 Gerakan sosok tubuh itu pendek sekali, dia merupakan seorang kakek - kakek tua yang jenggotnya tumbuh kasar tidak teratur. Malah yang lebih mengejutkan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, ternyata kakek tua itu bukannya pendek sembaraag pendek, karena kedua kakinya buntung sebatas paha, tegasnya dia tidak memiliki sepasang kakinya, dia seorang yang cacad.

Namun kalau dilihat gerakannya yang tadi yang begitu gesit dan lincah sekali, mau tidak mau Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi kagum sekali, hampir tidak mau percaya bahwa orang yang bisa bergerak begitu lincah dan gesit adalah seorang yang bercacad yang sudah tidak memiliki sepasang kaki.

“Akhirnya kalian datang juga” kata kakek tua berkaki buntung itu sambil tertawa lebar : “Bagus! Bagus!!”

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menyadari bahwa kakek tua ini bukanlah sembarangan orang, setidak-tidaknya dia merupakan seorang tokoh dirimba persilatan yang tentunya memiliki kepandaian yang tinggi.

Maka dari itu, cepat-cepat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah merangkapkan kedua tangan mereka memberi hormat kepada kakek tua tersebut. “Boanpwe Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menghunjuk hormat kepada Locianpwe!” kata Giok Ie Lang. “Bolehkah Boanpwe mengetahui she dan nama Locianpwe yang mulia dan gelaran Locianpwe yang harum?!”

“Nama? Gelaran yang harum? Ohhh, sudah bukan jamannya lagi kita memanggul gelar dan nama, yang penting saat ini ialah berjiwa ksatria, berbudi luhur, dan memiliki keinginan dari hati yang tulus untuk menyelamatkan negeri ini dari ancaman cengkeraman tangan penjajah bangsa asing! Mengerti kalian!”

Muka Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi berobah seketika itu juga. Tetapi mereka telah mengangguk sambil cepat-cepat  menyahuti: “Kami berdua menunggu petunjuk-petunjuk dari Locianpwe!” kata Giok Ie Lang.

“Bagus! Aku sudah cukup lama mengasingkan diri hidup di dalam kesunyian, sesungguhnya aku tidak mau mencampuri pula urusan duniawi ini, sehingga aku sudah mau menganggap diriku bagaikan mati, nama dan gelaranku telah dikubur bersama dengan segalaperbuatanku yang lalu! Maka dari itu, bisa saja sekarang kalian memanggilku dengan sebutan si Buntung!”

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tak menyahut, hanya menundukkan kepalanya saja, karena mereka ingin mendengarkan terus per kataan kakek tua itu.

“Dan!” kakek berkaki buntung itu telah berkata lagi. “Karena kalian

masih muda dan memiliki kepandaian yang tinggi, ada baiknya kalau apa yang

 kuketahui ini kuberitahukan juga kepada kalian! Disebabkan oleh pergolakan yang ada sekarang ini didaratan Tionggoan, di mana negeri kita sedang terancam bahaya kehancuran dan terancam akan jatuh  ditangan  bangsa asing, dengan sendirinya, mau tak mau aku harus muncul pula guna mencampurinya!   Kau adalah Giok Ie Lang, maka kau pasti orangnya Pengpo Siang Sie See Un, bukan?!”

Giok Ie Lang cepat-cepat mengangguk dengan perasaan kaget bukan main. “Be benar Locianpwe       bagaimana kau si orang tua bisa mengetahui hal itu?!” tanya Giok Ie Lang heran.

Kakek tua itu menghela napas. Wajahnya tampak guram. “Setahun yang lalu, waktu aku mendengar perihal pergolakan yang terjadi didaratan Tionggoan ini, segera aku pergi menghubungi Pengpo Siang Sie See Un untuk meminta keterangan yang sebenarnya dari dia! Banyak sekali keterangan yang diberikan oleh See Un Tayjin, sehingga aku mengerti bahwa negeri kita ini sedang terancam bahaya yang sangat besar sekali! Waktu itu, kau sedang tugas di luar, sehingga tidak bertemu denganku! Tetapi dari See Un Tayjin, aku telah sering mendengar perihal kehebatanmu!”

“See Ongya terlalu memuji diri Boanpwe!” kata Giok Ie Lang cepat - cepat sambil merangkapkan sepasang tangannya, membungkukkan tubuhnya menghormat sekali, seperti juga ingin merendahkan diri.

“Semuanya hasil pertemuanku dengan See Un Tayjin nanti akan kuceritakan yang jelas pada kalian!” dan setelah berkata begitu kakek tua berkaki buntung ini telah menoleh lagi kepada Wu Cie Siang, katanya : “Dan kau tentunya Wu Cie Siang Kongcu, putera tunggal dari Wu Tayjin, Tiekwan di kota Lamkhia yang telah dibunuh oleh pasukan kaisar juga, bukan?!”

Wu Cie Siang cepat-cepat merangkapkan kedua tangannya memberi hormat. “Benar Locianpwe...........!”mengiyakan Wu Cie Siang dengan suara menghormat.

Giok Ie Lang yang jadi terkejut bukan main, dia sendiri tidak mengetahui asal-usul dari orang she Wu ini, tadinya dia masih menaruh kecurigaan terhadap Wu Cie Siang,  namun tidak tahunya pemuda tersebut juga putera seorang pembesar negeri yang telah menjadi korban keganasan Hongte yang sedang memerintah saat ini.

Kakek tua berkaki buntung itu telah menghela napas. “Sebetulnya semua ini bukan kesalahan Hongte, cuma saja sayangnya Hongte telah dipengaruhi dan dikuasai oleh Ban Hong Liu Thaykam!” kata kakek tua itu lagi. “Inilah yang telah menyebabkan beberapa orang jadi mati dengan mata tak meram dan penasaran sekali!”

 “Benar Locianpwe, Thia-thia juga dibunuh akibat fitnah oleh Thaykam busuk Ban Hong Liu itu, sehingga harus menerima hukuman mati dari Hongte!” Wu Cie Siang menjelaskan.

“Aku sudah tahu, karena ayahmu itu Wu Tayjin adalah sahabatku! Kami sudah tidak bertemu selama dua puluh tahun, dan waktu aku mendenga r bencana yang mengancam keluargamu itu, cepat-cepat aku telah menuju ke Lamkhia untuk memberikan bantuan kepada ayahmu itu, tetapi sayangnya aku terlambat, dan setelah aku menyelidikinya, ternyata dari pihak keluargamu itu hanya engkau seorang diri yang berhasil meloloskan diri, sebab kau memiliki kepandaian yang tinggi yang diperoleh dari gurumu si tua bangka Thang Lan Hoa!”

“Sungguh luas pengetahuan Locianpwe!” puji Wu Cie Siang saking

kagumnya.

“Bagaimana keadaan si tua bangka Thang Lan  Hoa saat ini?” tanya kakek tua berkaki buntung itu.