Manusia Jahanam Jilid 05

 
Jilid 05

Giok Ie Lang mendengar penuturan Cin Ko, jadi gemetaran  keras tubuhnya. Dia murka bukan main mendengar kebusukan Thaykam she Ban yang telah menghasut kaisar, sampai diambil tindakan begini oleh Hong-te (kaisar). Fitnah yang diberikan oleh Ban Thaykam (kebiri she Ban) itu ternyata sangat beracun dan telah berhasil menguasai diri Hongte, menyebabkan kehancuran dari keluarga Peng Po Siangsie See Un.

“Kalau memang Siauwjin mempunyai kesempatan, tentu Siauwjin ingin merasakan untuk menghajar pecah batok kepala Ban Thaykam!” Kata Giok Ie Lang dengan gusar.

Tetapi kemudian Giok Ie Lang rupanya dapat menguasai dirinya, karena dia telah menghela napas berulang kali dan wajahnya yang merah padam penuh kemurkaan itu telah berobah menjadi tenang kembali, beralih mem- perlihatkan kedukaan yang sangat.

 “Mulai saat ini, kita harus hati-hati, Siauw Kongcu!” kata Giok Ie Lang. “Selama Siauwjin mencari Siauw Kongcu, maka Siauwjin telah melihat, betapa Ban Thaykam telah menyebar luaskan orang-orangnya untuk membabat habis seluruh keluarga dan orang-orangnya Peng Po Siang Sie See Un, tidak satu nyawapun akan dibiarkannya hidup! Maka dari itu, Siauwjin bermaksud mengajak Siauw Kongcu menemui guruku, guna belajar ilmu silat dibawah bimbingan guru Siauwjin itu! Entah bagaimana pikiran Siauw Kongcu, Siauwjin hanya menunggu perintah saja!”

Cin Ko menyetujui usul Giok Ie Lang, karena kalau dia memang mengerti ilmu silat, sedikit-dikitnya dia bisa mempergunakan kepandaiannya itu   untuk   menjaga   diri dari gangguan orang-orangnya Ban Thaykam. Maka dari itu, mereka memutuskan hari itu juga berangkat untuk menemui guru Giok Ie Lang dilambing gunung Hoa-san!

******MDN******

HOA SAN merupakan sebuah gunung yang tinggi, di pegunungan ini juga terdapat pusat perguruan silat yang terkenal sekali, yaitu Hoa-san Pay. Selain keindahan alam yang dimiliki oleh gunung Hoa-san ini, juga pintu perguruan silat Hoa-san Pay telah mengangkat harum nama gunung Hoa-san ini, karena orang-orang mengetahui, pintu perguruan silat Hoa-san ini banyak sekali menghasil kau murid-murid yang pandai dan memiliki kepandaian yang bukan main tingginya! Pernah dua puluh lima tahun yang lalu, Hoa-san Pay (pintu perguruan silat Hoa-san) itu merajai dunia persilatan, karena boleh dibilang ilmu pedang dari Ciang-bun-jin (ketua pintu perguruan itu) tidak ada yang dapat tandingi. Hebat sekali.

Giok Ie Lang adalah salah seorang murid tingkat kedua dari pintu perguruan silat ini. Dia saat itu telah berusia diantara empat puluh tahun, Ciang-bun-jin Hoa-san Pay adalah Suhunya, karena memang Giok Ie Lang menerima langsung didikan dari Ciang-bun-jin Hoa-san Pay tersebut.

Disamping itu, Giok Ie Lang juga masih memiliki dua orang Suheng, yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi dan sempurna. Cuma kedua kakak seperguruan dari Giok Ie Lang itu telah hidup mengasingkan diri menjauhkan keduniawian, mereka telah menjadi Hweshio dan masing-masing bergelar San Hie Siansu, dan Ing Tay Siansu. Kedua Hweshio ini sudah tidak mau mencampuri pula segala macam bentuk urusan, selain ilmu keagamaannya.

 Saat itu, Ciang-bun-jin Hoa-san Pay memiliki nama besar di dalam rimba persilatan, yaitu Tang Siauw Bun dan bergelar Toat Beng Sian (Dewa Pencabut Nyawa). Tang Siauw Bun bergelar begitu, karena setiap tindakannya tegas sekali, menghadapi setiap penjahat selalu dia bersikap seperti menghadapi musuh bebuyutan, dengan sendirinya dia selalu turun tangan tidak pernah tanggung-tanggung kalau menghukum penjahat. Maka dari itu, di dalam rimba persilatan   Tang Siauw Bun lebih dikenal dengan gelarnya itu, yaitu Toat Beng Sian. Baik lawan maupun kawan, semuanya menaruh rasa segan dan menghormat pada Ciang-bun-jin Hoa-san Pay ini.

Giok Ie Lang sendiri telah memperoleh didikan  yang cukup dari Toat Eeng Sian ini, sehingga boleh dibilang Giok Ie Lang memiliki kepandaian yang sempurna dan dapat malang melintang di dalam rimba persilatan tanpa me- nemui kesulitan sedikitpun juga. Namun disebabkan urusan See Cin Ko adalah urusan besar, dengan sendirinya Giok Ie Lang tidak berani terlalu ceroboh memutuskan segala tindakannya. Maka dari itu, dia berpikir memang lebih baik lagi kalau gurunya bersedia untuk mendidik See Cin Ko, bukankah hal itu akan membawa faedah yang tidak kecil bagi cucu dari majikannya?! Tentu Cin Ko bisa memiliki kepandaian yang sempurna. Itulah sebabnya mengapa Giok Ie Lang telah memutuskan untuk mengajak See Cin Ko menemui gurunya.

Pagi yang cerah pada saat itu, dikala hawa udara masih sejuk dan segar diawali oleh cahaya matahari pagi yang melapangkan dada, tampak Giok Ie Lang dan See Cin Ko sudah sampai di kaki gunung Hoa-san-pay tersebut.

Jalanan yang menuju ke puncak Hoa-san itu merupakan sebuah jalur jalan yang tidak begitu besar dan berbelok-belok. Juga jalan ini, disaat sampai di pinggang   gunung telah berpecah tiga, yang kiri menuju kesebuah bukit di bagian selatan, sedangkan yang sebelah kanan menuju kebukit bagian timur, dan jalan yang lurus ditengah menuju ke puncak Hoa-san, dimana berdiri kuil pintu perguruan Hoa-san Pay dengan megahnya.

Giok Ie Lang dan Cin Ko sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh, tetapi karena memang Giok Ie Lang telah bertekad biar bagaimana menyelamatkan cucu dari majikannya ini, dengan sendirinya dia melakukan perjalanan dengan penuh kewaspadaan dan hati-hati, yang akhirnya mereka dapat juga mencapai pegunungan Hoa-san Pay tersebut.

Cin Ko yang melihat keindahan pegunungan Hoa-san jadi memuji tak hentinya. Dan mereka melakukan perjalanan tidak secepat dan terburu-buru seperti hari-hari  sebelumnya, karena menurut Giok Ie Lang, dengan sampainya mereka di kaki gunung Hoa-san tersebut, berarti keadaan mereka telah selamat. Umpama kata mereka menghadapi kesulitan, tentu sudah tidak begitu jauh pula untuk mencapai kuil Hoa sanpay, niscaya guru dan saudara seperguruannya dari berbagai tingkat akan turun tangan untuk membantunya.

Itulah sebabnya mengapa Giok Ie Lang tidak mendesak Cin Ko untuk melakukan perjalamn cepat-cepat, dia hanya membiarkan  saja Cin Ko menikmati keindahan alam pegunungan Hoa-san ini, karena Giok Ie Lang juga beranggapan keindahan gunung Hoa-san  ini mungkin dapat melenyapkan sedikit kedukaan di hati See Cin Ko.

Tetapi, ketika mereka sampai di pinggang gunung, di dekat jalanan bercabang tiga, tiba-tiba telinga Giok Ie Lang yang tajam bukan main dapat mendengar derap kaki kuda yang tengah menuju kearah mereka, jadi tegasnya tengah menuruni pegunungan ini.

Sepasang alis Giok Ie Lang jadi mengkerut dalam-dalam, dia jadi menduga-duga entah siapa yang tengah menunggang kuda itu menuruni gunung ini.

Biasanya murid-murid Hoa san Pay tidak pernah memakai kuda sebagai tunggangan, maka dari itu, Giok Ie Lang segera dapat menduga bahwa orang yang menunggang kuda yang sedang menuju kearah diri mereka bukanlah saudara seperguruannya.

Giok Ie Lang telah menyipitkan sedikit matanya, dia mengawasi tajam - tajam kearah depan.

“Ada apa, Giok Pehpeh?” tanya Cin Ko waktu melihat sikap Giok Ie

Lang.

“Ada penunggang kuda yang sedang menuruni gunung, Siauw

Kongcu!!” sahut Giok Ie Lang cepat. “Tetapi entah siapa orang ini, karena biasanya murid-murid Hoa-san Pay tidak pernah mempergunakan kuda se- bagai binatang tunggangan!!”

Hati Cin Ko jadi berdebar juga.

“Apakah, apakah orang dari pihak lawan?”  tanya si bocah dengan jantung yang tergoncang, dan telapak tangannya yang mencekal pergelangan tangan Giok Ie Lang, dingin bukan main.

Giok Ie Lang sendiri dapat merasakan betapa majikan mudanya ini gugup sekali.

“Jangan gugup Siauw Kongcu! Tenang saja!!” hibur Giok Ie Lang sambil berusaha tersenyum, guna menghibur hati si bocah, menenangkan kegugupannya itu. “Penunggang kuda itu kalau bukan kawan guruku, tentu merupakan orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kita! Hmmm, tidak mungkin ada musuh yang berani berkeliaran di pegunungan Hoa san!”

 Hati Cin Ko dapat dibuat tenang sejenak, dan saat itulah mereka melihat betapa debu telah mengepul tinggi sekali, karena ada seekor kuda yang sedang mencongklang menuju kearah mereka.

Diam-diam Cin Ko jadi merasa kagum pada Giok Pehpehnya ini, karena setidak-tidaknya dia mengakui ketajaman pendengaran telinga Giok Ie Lang yang sudah dapat mengetahui dan mendengar ada penunggang kuda yang tengah mendatangi, padahal Giok Ie Lang sendiri tadi-tadinya belum melihat penunggang kuda itu bersama binatang tunggangannya!

Giok Ie Lang sendiri telah mementang mata lebar-lebar  mengawasi kearah debu yang mengepul tinggi, berusaha melihat penunggang kuda itu.

Dari jauh sudah tampak, bahwa kuda tunggangan itu berbulu merah, tinggi besar dan gagah, seperti juga kuda Mongolia, yang me mang terkenal akan kekuatan dan kegagahannya. Sedangkan penunggang kuda itu semakin lama semakin terlihat, bahwa dia seorang telaki berusia diantara lima puluh tahun, berpakaian mewah dan perlente, dan juga memelihara sepasang kumis yang tipis terjuntai panjang. Mimik mukanya seperti muka tikus, matanya yang sipit memperlihatkan kelicikan yang sangat.

Giok Ie Lang jadi heran bukan main, karena dia baru pertama kali ini melihat orang itu, dia tidak mengenalnya sama sekali.

Tetapi anehnya, orang tersebut baru saja datang dari jurusan Hoa-san- pay! Dari jurusan itu tidak dapat dikatakan mengunjungi  tempat lainnya, karena disekitar jalan ini, hanyalah kuil Hoa-san-pay yang terdapat di puncak Hoa-san tersebut, dengan sendirinya sudah dapat dipastikan orang ini dari kuil perguruan Hoa-san pay itu.

Sedangkan penunggang kuda berbulu merah yang berlari pesat  itu, tidak mengurangi kecepatan  berlarinya kuda tunggangannya, dia hanya melirik sedikit dengan sikap meremehkan kepada Giok Ie Lang berdua, dan melarikan terus kuda tunggangannya.

Malah Giok Ie Lang berdua dengan See Cin Ko harus menyingkir ke tepi agar tidak diterjang kuda yang gagah dan sedang berlari dengan pesat itu.

Giok Ie Lang berusaha memutar otak mengingat-ingat muka orang itu.

Tetapi tetap saja dia tidak bisa mengingatnya. Entah siapa orang yang berpakaian perlente yang mempunyai mimik muka seperti muka tikus itu?!

Lagi ada urusan apakah orang tersebut mengunjungi  Hoa-san-pay? Apakah orang berpakaian perlente itu telah menemui gurunya, yaitu  Tang Siauw Bun?!

 Benar-benar orang yang sedang menuruni pegunungan Hoa-san yang memelihara dua baris kumis tipis itu, menjadi tanda-tanya dan teka-teki dihati Giok Ie Lang. Lagi pula Giok Ie Lang mengetahui juga bahwa gurunya tidak pernah mempunyai sahabat seperti orang berpakaian perlente tersebut.

“Ah, mungkin juga orang itu baru saja bersembahyang di kuil Hoa-san!” berpikir Giok Ie Lang yang akhirnya mau menduga bahwa orang itu baru saja berziarah ke kuil Hoa-san-pay untuk bersembahyang saja.

Tetapi biarpun begitu, Giok Ie Lang merasakan hatinya masih juga tidak tenang.

Namun orang she Giok tersebut  tidak mau memperlihatkan kegelisahannya itu pada See Cin Ko, maka dari i tu, dia telah mengajak si bocah she See itu untuk melanjutkan perjalanan mereka lagi.

Setelah melakukan perjalanan setengah harian  pula, maka mereka akhirnya sampai di muka kuil Hoa-san Sie, dimana pusat pintu perguruan silat Hoa-san Pay.

See Cin Ko yang melihat kuil Hoa-san Sie, jadi kagum bukan main.

Dilihatnya kuil itu berdiri megah dan besar sekali, juga selain terawat bersih, lagi pula di sekelilingnya merupakan tempat yang nyaman dan indah.

Giok Ie Lang telah mendekati pintu kuil, dia telah mencekal gelang pintu, yang digerak-gerakkan membentur pintu kuil tersebut.

Tak lama kemudian seorang Totong (Hweshio kecil) membukakan pintu untuk mereka.

“Ah, Giok Suheng!!” seru Totong itu girang, rupanya dia memang mengenal Giok Ie Lang.

Giok Ie Lang juga telah membalas penghormatan Totong kecil itu sambil

tanyanya : “Cie Sute, kau baik-baik saja selama ini?”

“Baik Suheng! Terima kasih!” sahut si Totong kecil yang dipanggil oleh Giok Ie Lang dengan sebutan Cie Sute. “Sudah lama Giok Suheng tidak pulang!”

“Suhu ada?”

“Ada, baru saja mengantarkan kepergian seorang tamu!” Totong kecil

itu menjelaskan.

 “Aku tahu! Tentunya tamu suhu itu seorang penunggang kuda merah, bermuka kurus kecil dengan dua baris kumis panjang yang tipis, bukankah dia?” kata Giok Ie Lang.

“Benar! Bagaimana Giok Suheng bisa mengetahuinya seperti tukang

kwa-mia (peramal) saja?” teriak si Totong kagum.

“Tadi kami bertemu di tengah jalan, dia sedang menuruni gunung ini dengan mempergunakan kuda merahnya itu!” Giok Ie Lang menjelaskan. “Apakah suhu berada di kamar semedinya?”

“Ya, nanti aku beritahukan kedatangan Giok Suheng!” kata si Totong

kecil.

“Aku di sini, Giokjie!”  Tiba-tiba  terdengar suara yang sabar sekali.

“Sudah lama kau tidak datang pulang menengok kami!” dan disertai oleh suara

tertawa girang.

Giok Ie Lang jadi girang bukan main, itulah suara gurunya, suara Tang Siauw Bun. Dia menoleh ke kiri, ke pendopo kuil itu benar saja gurunya yang berdiri di sana, tampak gurunya telah tambah usia dan semakin tua, dengan jenggotnya yang sudah berwarna putih, walaupun wajahnya masih segar.

“Suhu! Giokjie datang menghadap!” teriak Giok Ie Lang girang sekali dengan dan cepat-cepat menekuk kedua lututnya berlutut di hadapan gurunya itu.

Sedangkan See Cin Ko telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat dengan hanya membungkukkan tubuhnya saja.

“Bangun! Bangun Giok-jie!” kata gurunya sambil tertawa. “Sudah lama aku merindukan kau pulang untuk berkumpul dengan kami! Rupanya dunia persilakan telah melibatkan dirimu dengan bermacam-macam  persoalan membuat kau selalu sibuk, bukan?!”

“Benar Suhu!!” kata Giok Ie Lang sambil bangkit berdiri, dan disaat itulah Giok Ie Lang baru tersadar, bahwa di samping gurunya berdiri seorang lainnya, yaitu seorang pemuda berusia dua belas tahun, dengan  tubuh ramping kurus, wajahnya agak panjang tetapi cakap, rambutnya dikonde rapi sekali, pakaiannya rapih sekali. Giok Ie Lang tidak mengetahui siapa engko kecil ini, karena dia memang selain tidak mengenalnya juga tidak pernah melihatnya. Maka dari itu, Giok Ie Lang jadi memandang melengak sejenak, lalu memandang kearah gurunya, seperti juga ingin meminta penjelasan.

“Nanti   akan kujelaskan segalanya!!”   kata Tang   Siauw   Bun,   yang

rupanya mengetahui kebingungan muridnya tersebut. Kemudian Tang Siauw

 Bun menoleh kepada pemuda berpakaian perlente itu, katanya: “Seng Kim, cepat kau beri hormat pada Giok Suhengmu!”

Pemuda kecil berpakaian  perlente itu, yang dipanggil namanya Seng Kim, telah maju dua tindak ke depan, dia telah merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya disertai senyumnya.

“Giok Suheng, selamat bertemu, untuk hari-hari selanjutnya Sute mengharapkan banyak sekali petunjuk-petunjuk Suheng!!” kala anak lelaki itu.

Giok Ie Lang biarpun terheran-heran melihat bocah itu seperti disayang benar oleh gurunya, seperti juga bocah ini merupakan murid kesayangan dari gurunya, karena belum pernah sang guru diiringi oleh muridnya yang mana - pun seperti apa halnya anak lelaki ini. Juga Giok Ie Lang tidak menyangka bahwa gurunya telah menerima seorang murid lagi. Tetapi biarpun begitu,

Giok Ie Lang senang sekali melihat anak lelaki itu yang sopan dan ramah

“Kalau memang Sute rajin-rajin belajar, tentu nanti malah bisa melebihi

kepandaian yang kumiliki!” kata Giok Ie Lang cepat.

“Benar Giok-jie!” kata guru mereka Tang Siauw Bun. “Seng Kim memang memiliki kecerdasan yang luar biasa, lain dari pada yang lain, dia mudah sekali mengingat apa yang dilihat dan didengarnya! Semua Kau w-hoat (teori ilmu silat) dari perguruan Hoa-san ini dipelajari hanya dalam satu hari satu malam saja! Kau boleh percaya atau tidak, tetapi kenyataannya begitu!” tampaknya Tang Siauw Bun waktu berkata begitu girang bukan main mukanya ber-seri-seri dan tangan kanannya juga mengusap-usap kepala Seng Kim.

“Ohhh, kejadian yang benar-benar luar biasa!” berseru Giok Ie Lang dengan terheran-heran, karena dia sendiri harus memerlukan waktu sampai empat tahun untuk menghafal seluruh kauwhoat ilmu silat Hoa-san Pay ini, baru dapat menguasainya!    Tetapi sekarang dari mulut gurunya sendiri, bahwa adik seperguruannya yang masih kecil ini telah dapat menghafal seluruh Kauwhoat Hoa-san-pay hanya di dalam tempo satu hari satu malam saja! Bukankah itu suatu kejadian yang luar biasa sekali?!

“Suhu hanya terlalu memuji, Giok suheng!” kata Seng Kim cepat-cepat. Dia merendah tetapi matanya memperlihatkan bahwa dia merasa bangga. Dan Giok Ie Lang bisa melihat sorot mata anak lelaki ini, entah kenapa Giok Ie Lang pada sorot mata anak lelaki itu dia melihat sesuatu yang tidak baik, karena dia melihat anak lelaki yang dipanggil namanya sebagai Seng Kim, seperti juga agak licik.

 “Giok-jie, siapa engkoh kecil yang kau ajak itu?” tanya Tang Siauw Bun waktu dia memandang kearah See Cin Ko yang sejak tadi berdiam diri dengan kepala tertunduk saja.

Giok Ie Lang seperti baru diingatkan pada diri Cin Ko.

“Inilah dia Suhu, kedatangan Tecu kemari selain ingin mengunjungi dan menengok Suhu, juga sekalian ingin membicarakan persoalan yang ada sangkut pautnya dengan diri See Kongcu ini! Kalau memang Suhu mempunyai waktu, bisakah Tecu menceritakan segalanya dibawah empat mata?”

Si guru, Tang Siauw Bun, jadi mengerutkan sepasang alisnya.

“Apakah kau mempunyai urusan yang pen ting sehingga harus

dibicarakan dibawah empat mata belaka?” tanya Tang Siauw Bun agak heran.

“Urusan ini jauh lebih besar kalau dibandingkan  dengan urusan apa saja, Suhu!!” kata Giok Ie Lang cepat. “Maka dari itu, Tecu harap Suhu mau mendengarkan penuturan Tecu!!”

Tang Siauw Bun berdiam diri sesaat, tampaknya dia ragu-ragu. Karena tidak biasanya Giok Ie Lang mendesak dia untuk bicara dibawah empat mata. Tentu urusan yang akan dibicarakan oleh Giok Ie Lang menyangkut urusan yang penting dan merupakan urusan besar juga. Kalau sampai dia meluluskan permintaan Giok Ie Lang dan mau     mendengarkan cerita dari Giok Ie Lang, berarti dirinya nanti akan terlibat di dalam urusan itu. Setidaknya Giok Ie Lang ingin menyampaikan urusannya itu kepada dia, maka pasti Giok Ie Lang mempunyai kesulitan yang ingin disampaikan juga. Apa lagi mengingat akan permintaan Giok Ie Lang, yang ingin bicara hanya empat mata itu, menyebabkan Tang Siauw Bun jadi tambah ragu-ragu. Dia sudah lama hidup mengasingkan diri dan menjauhkan diri dari segala macam persoalan di dalam rimba persilatan.

Tetapi karena yang mengajukan perminatan ini adalah muridnya, setidaknya Tang Siauw Bun tidak bisa menolaknya begitu saja.

“Bagaimana Suhu? Apakah kau menyetujuinya?” tanya Giok Ie Lang

ketika gurunya hanya berdiam diri saja.

Setelah ragu-ragu sejenak, maka akhirnya Tang Siau w Bun mengangguk.

“Baiklah!” katanya kemudian. “Mari kita ke kamar semedhi!!”

Setelah berkata begitu, Tang Siauw Bun menoleh kepada Seng Kim, bocah berusia di antara dua belas tahun yang menjadi murid bontotnya itu.

 “Seng Kim, pergilah kau mengajak engkoh kecil she See itu untuk main- main di belakang kuil!!” kata Tang Siauw Bun pada muridnya itu. “Ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Giok Suhengmu!!”

Seng Kim mengiyakan, dia memberi hormat kepada Tang Siauw Bun, gurunya, dan Giok Ie Lang.

Begitu juga See Cin Ko, telah memberi hormat dia telah mengikuti Seng Kim tanpa banyak tanya lagi, karena dia memang telah mengetahui bahwa yang ingin dibicarakan oleh Giok Ie Lang adalah urusan dirinya, dengan sendirinya dia tidak mau terlalu mengganggu. 

Seng Kim telah mengajak Cin Ko ke pekarangan belakang di kuil tersebut. Sedangkan Giok Ie Lang telah diajak gurunya menuju ke kamar semedhi. Kamar semedhi itu tidak begitu luas, hanya berukuran tujuh kali tujuh tombak. Sekeliling ruangan tersebut diatur rak-rak  buku, dimana terdapat kitab-kitab agama. Di tengah-tengah ruangan kamar semedhi ini, tampak tiga buah tikar anyaman yang indah sekali.

Tang Siauw Bun telah duduk disalah satu tikar anyaman itu, dan menunjuk ke salah satu tikar anyaman alinnya, menyuruh Giok Ie Lang duduk disitu.

“Nah, sekarang kau ceritakan!” kataTang Siauw Bun setelah mereka duduk saling berhadapan. “Sekarang kita hanya berada berdua, aku jadi ingin mengetahui urusan besar apa yang ingin kau ceritakan!”

“Sebetulnya   Tecu   memang   tidak pantas mengganggu ketenangan Suhu, tetapi seperti apa yang tadi Tecu telah katakan bahwa uru san ini adalah urusan yang besar dan penting sekali, dengan sendirinya Tecu telah memak - sakan diri memberanikan diri untuk mengganggu sedikit ketenangan Suhu!!”

“Katakanlah Giok jie!” kata Tang Siauw Bun sambil mengawasi muridnya

dengan sorot mata yang sabar.

“Urusan ini mempunyai sangkut paut dengan Peng-po  Siangsie See

Un!!” Giok Ie Lang memulai ceritanya.

Tetapi baru saja Giok Ie Lang bercerita sampai disitu, Tang Siauw Bun telah menegurnya : “Apa? Mempunyai sangkut paut dengan seorang pembesar seperti Pengpo Siangsie?” tampaknya Tang Siauw Bun terkejut waktu bertanya begitu.

Giok Ie Lang telah mengangguk.

“Benar Suhu! Memang urusan Pengpo Siangsie inilah yang ingin Tecu ceritakan pada Suhu! Mungkin juga karena memang Suhu sudah hidup

 mengasingkan di tempat yang suci ini, berita perihal Pengpo Siangsie yang dituduh oleh Ban Thaykam di dalam istana yang telah berhasil  menghasut kaisar, tidak sampai pada pendengaran Suhu! Itulah sebabnya Tecu telah datang kemari untuk menceritakan segalanya dengan jelas!”

Tang Siauw Bun mengerutkan sepasang alisnya, tampaknya dia sedang berpikir keras. Namun mulutnya masih sempat untuk berkata : “Nah, kau ceritakanlah!”

Segera Giok Ie Lang menceritakan perihal menyedihkan yang telah menimpa diri Pengpo Siangsie See Un, yang telah ditawan dan digiring ke kota raja.

Segala-galanya diceritakan sejelas-jelasnya oleh Giok Ie Lang, membuat Tang Siauw Bun jadi tertarik saja mendengarkan cerita muridnya ini, apa lagi memang dia sendiri mendengar, bahwa kejadian ini malah mempunyai sangkut paut dengan musuh di luar tapal batas yang ingin melancarkan serangan ke daratan Tionggoan. Dengan sendirinya dia jadi mengakui bahwa urusan ini memang bukan merupakan urusan yang remeh dan bisa dipandang enteng. Mau tak mau memang orang seperti Tang Siauw Bun harus mengetahuinya dengan jelas.

Giok Ie Lang menceritakan segala-galanya itu sampai ke soal-soal sekecil-kecilnya. Dia menceritakan dengan semangat yang terbangun.  Jupa Giok Ie Lang telah menceritakan perihal asal-usul Cin Ko, cucunya Pengpo Siangsie yang telah terlunta-lunta dan terkatung-katung penuh penderitaan.

“Jadi anak lelaki she See itu adalah cucu satu-satunya dari Pengpo Siangsie See Un?” tanya Tang Siauw Bun setelah selesai mendengar  cerita Giok Ie Lang.

Cepat-cepat Giok Ie Lang menganggukkan kepalanya. “Benar Suhu!” “Hmmm kasihan anak itu!!” kata Tang Siauw Bun lagi. “Nasibnya terlalu

jelek!!”

“Maka dari itu Suhu, Tecu sengaja membawanya kemari, agar dapat diterima oleh Suhu menajadi murid, karena Tecu melihat  betapa anak ini memiliki bakat yang baik dan juga memang dibahunya terpanggul urusan yang sangat besar! Urusan ini mempunyai sangkut paut dengan urusan  ke- selamatan negeri kita, karena kalau sampai pihak musuh mengetahui kedudukan Pengpo Siangsie telah dijabat oleh orang lain, mere ka pasti akan berusaha mempengaruhi Peng Po Siangsie yang baru itu, karena setidak- tidaknya memang seorang Pengpo Siangsie yang baru itu adalah orangnya Ban Thaykam yang busuk itu!”

 Tang Siauw Bun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sepasang alis yang mengkerut dalam-dalam, dia seperti sedang berpikir  keras. Sebetulnya, kalau See Cin Ko ini putera  manusia biasa dan latar belakang dirinya tidak terdapat urusan yang begitu besar, niscaya Tang Siauw Bun akan menolaknya begitu saja permintaan Giok Ie Lang.

Tetapi kali ini persoalan yang dihadapinya adalah luar biasa sekali, mempunyai sangkut paut dengan negara, maka dari itu, biarpun Cin Ko akan terpendam selama dua puluh tahun atau kurang dari waktu itu, toch setidak - tidaknya mereka masih mempunyai kesempatan  untuk   menyelamatkan Pengpo Siangsie See Un yang sedang ditahan di kota raja. Inipun kala u Pengpo Siangsie masih belumdihukum mati! Tetapi berusaha memang  lebih baik dari pada berdiam diri saja. Maka dari itu, akhirnya Tang Siauw Bun telah mengangguk.

“Baiklah! Kalau memang begini, berarti Lohu harus   mencurahkan seluruh perhatian untuk mendidik See Kongcu!” katanya kemudian sambil tersenyum. “Dan lohu harap See Kongcu mempunyai kekerasan hati dan kemauan untuk mempelajari ilmu silat! Harus kau maklumi Giok-jie, sebagai cucu dari seorang Pengpo Siangsie, See Kongcu tentu hidup sehari-harinya dalam keadaan yang berkecukupan,  dengan sendirinya dia jadi tidak mempunyai semangat yang kuat untuk menembus segala macam rintangan dan segala macam tembok kesulitan!!”

“Tetapi Suhu, menurut Tecu, See Kongcu pasti akan mempelajari segala ilmu yang Suhu turunkan itu dengan tekun, karena setidak-tidaknya dia pun sakit hati dan dendam pada Ban Hong Liu Thaykam! Andaikata memang kita tidak keburu untuk menyelamatkan jiwa dari Pengpo Siangse See Un, biarlah kepandaian yang dimiliki See Kongcu nantinya dipakai untuk menuntut balas segala sakit hatinya pada Thaykam she Ban itu!”

Tang Siauw Bun mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda dia menyetujui perkataan Giok Ie Lang.

“Baiklah!!” kata Tang Siauw Bun kemudian. “Tetapi untuk sementara waktu memang kita harus merahasiakan perihal diri See Kongcu, karena kalau sampai urusan ini tersiar di luar, niscaya Hoa -san-pay akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil!”

“Semua itu terserah bagaimana Suhu mengaturnya, Tecu hanya menuruti saja!” kata Giok Ie Lang cepat. “Terima kasih atas kemurahan hati Suhu dan setelah berkata begitu, Giok Ie Lang cepat-cepat menekuk kedua kakinya, dia berlutut pada gurunya untuk menyatakan rasa terima kasihnya.

Cepat-cepat Tang Siauw Bun membangunkan muridnya, dan menyuruhnya duduk di tempatnya semula.

 “Dan   mengenai   dirimu   Giokjie,   bagaimana   rencanamu   selanjutnya”

tanya Tang Siauw Bun, setelah selang sesaat.

“Tecu bermaksud untuk pergi ke kota raja untuk menyelidiki perihal See Tayjin, kalau memang Tecu melihat ada kesempatan untuk menolong S ee Tayjin, tentu Tecu akan berusaha sekuat tenaga menghimpun beberapa orang kawan-kawan dan bekas orang-orang See Tayjin yang lainnya guna menolong See Tayjin dari kamar tahanannya!”

“Begitupun baik!” kata Tang Siauw Bun. “Cuma saja sekarang kau harus beristirahat satu atau dua hari dulu, karena kau ma sih letih telah melakukan perjalanan yang jauh!”

“Tecu berpikir lusa untuk turun gunung, Suhu!” kata Giok Ie Lang cepat. “Tetapi Tecu harap Suhu merahasiakannya pada See Kongcu, biar Tecu nanti berangkat secara diam-diam, dan setelah itu kalau memang See Kongcu menanyakan perihal diri Tecu, barulah Suhu menjelaskan bahwa Tecu telah menuju ke kota raja untuk menolongi Yayanya!”

Tang Siauw Bun mengangguk-angguk  mengiyakan, dan dia kagum sekali atas sepak terjang muridnya ini, biar bagaimana Giok Ie Lang telah memperlihatkan sifatnya yang gagah, sebagai seorang Hohan.

Mereka guru dan murid telah bercakap-cakap pula urusan yang lainnya. Karena memang sudah lama tidak saling jumpa, dengan sendirinya banyak urusan yang mereka bicarakan.

Malah, suatu kali Giok Ie Lang telah menyinggung persoalan adik seperguruannya, yaitu Seng Kim.

Ditanya perihal diri Seng Kim, Tang Siauw Bun menghela napas, tampaknya dia senang sekali, bangga dapat memiliki seorang murid penutup seperti Seng Kim.

“Adik seperguruanmu yang kecil itu mempunyai bakat yang luar biasa sekali. Seperti yang pernah Lohu katakan, dia dapat menghafal sesuatu yang dilihatnya atau didengarnya itu tanpa diulang dua kali, hanya sekali pan dang dia dapat mengingatnya di dalam hati, menyimpannya di dalam otaknya! Bayangkan saja, setiap syair yang Lohu berikan kepadanya, biar bagaimana sulitnya syair itu, toch hanya dibacanya sekelebatan, kemudian dia telah membacanya di luar kepala! Bukankah itu suatu kecerdasan  yang mujijat sekali?!”

“Dan mengenai asal-usul Seng Kim Sute itu, Suhu?”

Tang Siauw Bun tersenyum kecil.

 “Dasar anak itu memang agak aneh, dan juga kecerdasannya luar biasa, begitu pula asal usulnya juga cukup mengherankan dan aneh! Dia sebenarnya adalah seorang murid tidak resmi dari pintu perguruan Bu Tong Pay mungkin sejak berusia lima tahun dia telah dididik sendiri oleh Ciang-bun- jin Bu Tong Pay itu, sampai memiliki kepandaian yang lumayan, biarpun usianya baru dua belas tahun! Kecerdasan yang dimiliknya itu membuat Ciang- bun-jin Bu Tong Pay, Sie Hie Cin-jin, jadi merasa sayang sekali kalau dibiarkan begitu saja, karena Ciang-bun-jin Bu Tong Pay merasakan bahwa dengan hanya mempelajari ilmu Bu Tong Pay saja, Seng Kim masih tidak cukup. Maka diajaknyalah Seng Kim oleh Sie Hie Cinjin menemui  Lohu, diceritakan segalanya, dan juga dibuktikan kecerdasan yang dimiliki oleh bocah itu. Juga di kemukakan bahwa kedatangan Ciang-bun-jin Bu Tong Pay ini untuk me- minta Lohu mendidik Seng Kim selama tiga tahun, karena Ciang-bun-jin Bu Tong Pay itu yakin, kalau memang Lohu mau mendidiknya, hanya di dalam tempo dua tahun Seng Kim sudah dapat menguasai seluruh ilmu Hoa-san-pay, dan yang setahunnya lagi untuk memperdalam dan menyempurnakannya! Lalu setelah nanti mempelajari kepandaian Hoa-san-pay,  Ciang-bun-jin dari Bu Tong itu akan membawa Seng Kim menemui Hweshio ketua dari Siauw Lim Sie, dari Go Bie Pay, dan dari pintu-pintu perguruan silat lainnya, agar mereka menerima Seng Kim sebagai murid pintu perguruan mereka  masing-masing secara bergiliran! Nah, kau bayangkan saja Giok-Jjie, bukankah Seng Kim akan menjadi manusia yang terhebat di dalam rimba persilatan umpama kata dia telah selesai mempelajari seluruh ilmu silat yang terdapat di dalam daratan Tionggoan ini! Seluruh ilmu-ilmu itu digabungnya dan dia pasti akan menjadi jago nomor wahid!”

Hati Giok Ie Lang jadi tercekat bukan main, dia sampai mendengarkan penuturan gurunya itu dengan bengong.

“Tetapi Suhu” kata Giok Ie Lang setelah gurunya itu selesai dengan penuturannya.

“Ya?”

“Bukankah hal ini terlalu hebat dan luar biasa sekali, umpama kata disuatu hari kelak Seng Kim melakukan hal yang...yang....” Giok Ie Lang tidak bisa melanjutkan perkataannya itu.

“Maksudmu jika kelak Seng Kim melakukan kejahatan dan tindakan- tindakan yang sewenang-wenang?!” tanya sang guru sambil menatap Giok Ie Lang dalam-dalam.

Giok Ie Lang mengangguk ragu-ragu.

“Benar Suhu!” sahut Giok Ie Lang. “Saat itu Seng Kim merupakan

seorang jago yang tanpa tanding, dan kalau sampai dia melakukan hal-hal

yang keterlaluan dan tidak terduga, bukankah hal ini akan menimbulkan

kesulitan? Bukankah tidak ada orang yang dapat mengatasinya lagi?”

“Kau berpikir terlalu jauh, Giok jie!” kata Tang Siauw Bun sambil tersenyum sabar.

“Hal itu memang pernah kami pikirkan! Tetapi seperti kau sendiri telah melihatnya, betapa Seng Kim sangat hormat dan sopan-santun  tahu menghormati siapa yang lebih tua tingkatannya, dan juga ramah tutur katanya, lagi pula dia memang tampaknya bersikap jujur, apa lagi  yang kurang? Bukankah kalau kami berhasil memupuk Seng Kim menjadi jago yang luar biasa, kita boleh merasa bangga bahwa di daratan Tionggoan terdapat seorang jago yang benar-benar hebat yang telah menguasai berbagai ilmu yang terdapat di daratan Tionggoan ini? Lagi pula kau harus ingat Giok-Jie, kalau sampai Seng Kim berhasil menguasai seluruh ilmu-ilmu dari bermacam- macam pintu perguruan, dan lagi pula mengingat akan kecerdasannya, tentu dari gabungan ilmu-ilmu itu dia akan berhasil menciptakan semacam il mu baru, aliran baru, yang pasti hebat sekali!” Waktu berkata begitu, tampaknya Tang Siauw Bun bangga dan girang sekali, dia juga tersenyum tak hentinya.

Sebetulnya Giok Ie Lang tidak menyetujui pendapat gurunya itu, karena ada semacam perasaan kuatir yang membayangi hati Giok Ie Lang mengenai diri Seng Kim. Setidak-tidaknya tadi waktu pemuda kecil itu memberi hormat padanya, Giok Ie Lang melihat sekilas sorot mata Seng Kim yang agak licik. Namun Giok Ie Lang tidak berani membantah pendapat gurunya itu, akhirnya dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya  saja, dan setelah bercakap- cakap sejenak lagi, barulah Giok Ie Lang diantar gurunya untuk mengaso di kamarnya.

******MDN******

MARI kita menengok See Cin Ko yang diajak oleh Seng Kim bermain - main di belakang kuil Hoa san Sie tersebut.

Tampaknya Seng Kim sangat ramah, dia memberikan penjelasan segala apa yang ditanyakan oleh Cin Ko mengenai kuil Hoa -san tersebut. Walaupun Seng Kim berusia memang lebih tua beberapa tahun, tetapi tidak berbeda banyak, boleh dihilang mereka memang masih kanak-kanak,  maka Cin Ko merasa cocok untuk bergaul dan bersahabat dengan Seng Kim.

 “Kim Koko, sudah lama kau belajar di Hoa-san-pay ini?” tanya Cin Ko ketika mereka sedang menikmati keindahan pohon -pohon bunga yang memang banyak sekali bertumbuhan di belakang kuil ini.

“Cukup lama!“ sahut Seng Kim. “Hampir satu tahun.”

“Menurut apa yang sering kudengar, kalau seseorang ingin mempelajari ilmu silat dari suatu pintu perguruan, akan memakan waktu hampir sepuluh tahun lebih! Benarkah itu Kim Koko?” tanya Cin Ko lagi. Si bocah she See ini bertanya demikian, karena dia menganggap bahwa Seng Kim setidak-tidaknya memang sudah terjun di dalam pintu perguruan Hoa san Pay ini, dan tentunya dia memang lebih mengetahui segalanya perihal pintu perguruan silat.

“Memang biasanya begitu, Ko-te!” sahut Seng Kim sambil tertawa. “Tetapi, hampir satu tahun ini, sudah cukup bagiku, karena aku telah mempelajari seluruh ilmu Hoa-san Pay, yang tinggal hanyalah memperdalam dan latihan saja!”

“Ohhh, luar biasa sekali!” puji Cin Ko sambil memperlihatkan  rasa kagum pada wajahnya.

Rupanya Seng Kim jadi bangga melihat Cin Ko begitu kagum pada dirinya. Biar bagaimana Seng Kim adalah seorang anak yang baru berusia dua belas tahun, jelas dia masih gemar pujian dan sanjugan, maka dari itu, dia telah berkata lagi dengan perasaan bangga : “Itu masih mending! Sebelum aku belajar di Hoa-san Pay ini aku malah telah selesai mempelajari seluruh ilmu silat Butong Pay! Nanti setelah aku selesai dengan pelajaran ilmu Hoa- san Pay ini, malah aku harus mempelajiari ilmu silat Siauw Lim Pay, Kun Lun, Go Bie, Ceng-shia Pay, dan pintu-pintu perguruan silat lainnya, karena ayahku menginginkan agar aku menjadi murid dari seluruh pintu perguruan  silat didaratan Tionggoan ini dan menguasai seluruh ilmu silat dari berbagai pintu perguruan itu!”

“Luar biasa sekali!” berseru Cin Ko dengan perasaan kagum. “Tentunya ayahmu akan senang mendengarnya!”

Tetapi mendengar perkataan Cin Ko yang terakhir ini Seng Kim menggelengkan kepalanya.

“Kau   tidak tahu Ko-te, sebetulnya aku merasa tersiksa! Bayangkan saja aku sudah tidak mempunyai waktu untuk bermain-main lagi seperti anak- anak kecil lainnya secara wajar, karena setiap harinya aku harus mem pelajari ilmu silat tak hentinya. Dari hari ke hari hanya melatih diri dari jurus yang satu kejurus yang lainnya! Bayangkan saja, enak tidak hidup begitu! Ayahku memang keterlaluan, apa lagi mengingat aku putera seorang bangsawan yang

 mempunyai kekuasaan besar di daratan Tionggoan ini, seharusnya aku hidup senang dan bergembira tanpa usah capai-capai pula!”

“Kau, kau putera seorang bangsawan?” tanya Cin Ko terheran-heran. Seng Kim telah mengangguk dengan sengit.

“Benar! Malah ayahku itu seorang pembesar negeri yang tinggi sekali pangkatnya!” sahut Seng Kim dengan suara yang agak nyaring.

“Apa pangkat ayahmu?” tanya Cin Ko lagi.

Tetapi ditegur Cin Ko kali ini, muka Seng Kim jadi berobah, seketika itu juga dia baru teringat akan dirinya yang sudah tertalu banyak bicara. Maka dari itu cepat-cepat dia telah tertawa lebar.

“Sudahlah Kote.” Katanya sambil tetap tertawa lebar. “Untuk apa kita membicarakan hal-hal yang tidak-tidak? Lebih bagus kita menikmati pemandangan yang indah dan gunung Hoa-san ini! Nah, kau lihat tidak di sebelah barat itu bayangan sebuah bukit yang tidak begitu tinggi?” sambil berkata begitu untuk  mengalihkan pembicaraan, Seng Kim juga telah menunjuk kearah sebuah bukit yang menjulang tinggi.

Cin Ko mengangguk. Cuma saja di hati Cin Ko jadi merasa heran, mengapa Seng Kim tampaknya berat sekali untuk menyebutkan p angkat ayahnya? Mengapa dia tampaknya seperti mau merahasiakan asal usulnya? Benar-benar Cin Ko tidak mengerti.

“Memang bukit itu tidak begitu tinggi, tetapi menurut pendapat Siauwte, tentunya bukit itu merupakan bukit yang jauh lebih tinggi dari puncak Hoa-san ini!”

“Tepat! Karena kita berdiri jauh, tentu dengan sendirinya kita melihat bahwa puncak bukit itu rendah, namun sebetulnya menjulang tinggi sekali! Hmm, menurut Suhuku, bahwa di bukit itu terdapat semacam binatang aneh yang sangat menakutkan dan melarang aku mendatangi bukit di bagian barat itu! Padahal sering kali dikala aku sedang bermain-main, aku ingin mendatangi bukit bagian barat itu, untuk melihat binatang apa yang disebut oleh Suhuku itu sebagai binatang yang menakutkan?!”

“Binatang menakutkan itu mungkin juga berbahaya sekali, sehingga gurumu telah melarang agar kau jangan mendekati bukit itu, Kim-koko!” Cin Ko mencoba mengemukakan pendapatnya.

Seng Kim menghela napas.

“Tetapi biar bagaimana suatu hari nanti aku akan mencoba untuk mendatangi bukit itu secara diam-diam di luar tahu dari guruku, karena aku

ingin mengetahui sebetulnya binatang macam apakah yang disebut berbahaya itu! Hmmm, terus terang saja kukatakan, Ko-te, bahwa aku tidak jeri untuk menghadapi segala macam urusan, apalagi hanya harus menghadapi seekor binatang belaka, yang tentunya tidak memiliki otak atau kecerdikan! Tidak mungkin kita sebagai manusia bisa dikalahkan oleh seekor binatang!”

Mendengar perkataan Seng Kim yang agak takabur dan congkak itu, Cin Ko tidak mengatakan apa-apa, dia berdiam diri saja, melainkan tersenyum kecil, sebab dia pikir percuma saja kalau memang dia mendebat Seng Kim, tidak akan membawa keuntungan bagi dirinya, malah hanya akan menyebabkan dia dibenci oleh Seng Kim.

“Bagaimana kalau nanti kita main-main  dibukit itu, Ko-te?” tegur Seng

Kim pula sambil tertawa, dia memandang kearah Cin Ko.

Cin Ko mengangkat bahunya, mulutnya tersenyum kecil.

“Aku tidak berani terlalu lancang di tempat ini, karena aku terhitung

sebagai orang luar!” sahut Cin Ko diantara senyumnya itu.

“Hmmm, kau mengatakan bahwa dirimu adalah orang luar? Aha, dari sorot mata Giok Suheng, aku mengetahui bahwa dia mempunyai suatu permintaan yang ingin diajukan pada Suhu kami, dan permintaan dari Giok Suheng itu bukan kepentingan untuk dirinya sendiri, melainkan demi kepentinganmu Ko-te! Aku bisa melihat dan membaca jalan pikiran dari Giok Suheng!!”

Cin Ko jadi terkejut mendengar perkataan Seng Kim.

Kalau dilihat demikian, ternyata Seng Kim memang memiliki penglihatan yang tajam dan kecerdasan yang bukan main cerdiknya, sebab dia bisa saja melihat sesuatu dari   wajah orang, dan bisa menerkanya dengan   tepat sekali. Cin Ko sendiri untuk sesaat lamanya jadi berdiri seperti orang terkesima. Seng Kim telah tertawa lagi.

“Kote, kau tidak usah mendustai diriku! Coba kau katakan, terkaanku itu benar atau tidak?” desak Seng Kim.

Cin Ko didesak tidak bisa untuk membantah, melainkan dia hanya dapat mengangguk belaka.

“Dan.” kata Seng Kim pula sambil tetap tertawa. “Aku yakin, bahwa kalian berdua Giok Suheng, tengah menghadapi semacam urusan besar, yang telah melibat diri kalian! Saking hebatnya dan pentingnya urusan itu, sampai mengorbankan jiwa kalian juga rela!! Bukankah begitu?”

 Kembali Cin Ko jadi terkejut, dia tidak menyangka bocah yang masih berusia dua belas tahun ini bisa merangkaikan segalanya satu demi satu menurut dugaannya. Dan yang luar biasa, setiap terkaannya itu malah sela lu tepat, tidak pernah meleset.

Diam-diam Cin Ko jadi menggidik, segera juga dia menyadarinya bahwa dia harus berhati-hati menghadapi Seng Kim, karena kalau sampai dirinya dibiarkan untuk diusut secara halus oleh Seng Kim, mungkin dirinya bisa menghadapi kesulitan dikemudian hari.

Maka dari itu, cepat-cepat Cin Ko telah tersenyum tawar.

“Benar apa yang Kim-koko katakan, memang kami tengah menghadapi suatu urusan yang besar, dimana kami ingin membantu  orang-orang yang lemah dari tindasan si jahat! Maka dari itu, memang Giok Suhengmu ini sengaja telah mengajak Siauwte menghadap  kemari, guna meminta pertimbangan dari gurumu itu, boleh jadi menurut perkiraanku, bahwa Giok Suhengmu itu ingin mengambil diriku menjadi muridnya, dan meminta ijin dulu dari gurunya yang dengan sendirinya menjadi Sucouwku, dan kau sendiri menjadi Susiokku! Ini pun kalau memang diijinkan Giok Suhengmu itu mengambil diriku menjadi muridnya!!”

Tetapi baru saja Cin Ko berkata sampai disitu, dencan tidak diduga- duga Seng Kim telah tertawa tergelak-gelak.

Tentu saja hal ini membuat Cin Ko jadi terheran-heran dan memandang tidak mengerti pada diri pemuda yang baru berusia dua belas tahun ini.

“Kau bicara terlalu jauh, Ko-te!” kata Seng Kim kemtdian setelah puas tertawa. “Semua yang kau katakan itu kosong belaka, tidak ada ada artinya, karena tidak mempunyai hubungan apapun dengan keadaan yang sesungguhnya! Percayalah Ko-te, biar bagaimana kau telah bicara dari  hal yang tidak benar! Aku yakin, kau bicara dari hal yang tidak sesungguhnya! Dengarlah Ko-te, kalau memang Giok Suheng bermaksud untuk mengambil kau menjadi muridnya, niscaya dia tidak akan bersusah payah begitu  jauh datang ke Hoa-san ini hanya sekedar untuk memperoleh ijin dari Suhu kami, karena bisa saja dia langsung menerima dirimu  menjadi muridnya! Tetapi menurut penglihatanku bahwa Giok Suhengku itu malah ingin membicarakan suatu kemungkinan dengan guruku itu perihal dirimu, dapat atau tidaknya diterima menjadi murid oleh guruku sendiri, tegasnya kau menjadi adik se- perguruanku! Mengerti kau Kote?!”

Diam-diam Cin Ko jadi menggidik, dia tadi telah berusaha untuk mengelakkan pembicaraan dengan menceritakan suatu cerita dusta. Tetapi rupanya Seng Kim memang liehay pikiran dan otaknya, dia mengetahuinya dengan segera dan telah membantahnya dengan memajukan alasan-

alasannya! Menghadapi orang seperti Seng Kim ini diam-diam Cin Ko jadi ngeri juga, kalau sampai nanti mereka sudah sama-sama dewasa, tentunya pemuda yang bernama Seng Kim ini, akan mempunyai banyak sekali akal bulus dan tidak mungkin untuk dapat dikelabui.

Padahal Cin Ko sendiri bukannya termasuk seorang yang bodoh, dia juga cukup cerdas, namun kecerdikan dan kecerdasan yang dimiliki oleh Cin Ko tidak sehebat apa yang dimiliki Seng Kim, karena Seng Kim seperti juga seorang anak lelaki ajaib mempunyai otak mujijat.

Benar-benar Cin Ko tidak mengerti mengapa di dalam usia seperti Seng Kim, dia bisa memiliki kecerdikan yang bukan main. Dan Cin Ko juga jadi berpikir, umpama kata nanti Seng Kim telah dewasa,  tentunya dia akan menjadi manusia luar biasa sekali.

Saat itu Cin Ko sudah mengangkat kedua bahunya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

“Entahlah, urusan itu aku tidak mengerti!” kata Cin Ko untuk menyudahi pembicaraan tersebut. “Semuanya telah diatur oleh Giok Pehpeh, aku hanya menurut saja apa yang dirasakan baik olehnya!”

“Dari mana kalian bisa saling berkenalan?” tanya Seng Kim pula. “Hanya secara kebetulan, dikala Giok Pehpeh menemui aku sedang

kedinginan dan kelaparan di sebuah jalan kecil, karena aku kehilangan keluargaku, aku telah tersesat dan tidak bisa kembali pada keluargaku!” berdusta Cin Ko. Dia berbuat seperti juga bersungguh-sungguh, karena Cin Ko menyadari bahwa orang yang diajaknya bicara ini mempunyai kecerdikan yang bukan main.

Seng Kim mau mempercayainya. “Kudengar kau she See, bukankah begitu? Jadi tegasnya kau adalah  pulera orang she See.!” tanya Seng Kim pula.

Cin Ko mengangguk karena Giok Ie Lang pernah memperkenalkan dirinya pada Tang Siuaw Bun, Ciang-bun-jin  dari Hoa-san-pay ini, bahwa dirinya she See.

“Benar!” kata Cin Ko kemudian. “Mengapa  kau bertanya begitu, Kim

Koko?”

“Tidak apa-apa, cuma aku jadi teringat kepada seseorang, yaitu seorang Pengpo Siangsie See Un! Bukankah kalian kebetulan bersamaan she See?” kata Seng Kim.

 Hati Cin Ko jadi tercekat, dia kaget selengah mati. Tetapi mati-matian Cin Ko berusaha agar mukanya tidak berobah, dan malah sengaja memaksakan diri untuk tertawa : “Aku mana mempunyai rejeki begitu besar sehingga bisa menjadi kerabat dari orang-orang penggede?!” tanyanya.

“Hmm!” Seng Kim telah mendengus dan kemudian tertawa lebar, baru katanya : “Kau mengatakan rejeki besar bisa terhitung sebagai kerabat Pengpo Siangsie See Un itu? Hahaha, Kote, kau tidak mengetahui bahwa kalau kau masih mempunyai sangkut paut dengan orang she See itu, niscaya kau bukannya menerima rejeki, malah menerima malapetaka! Kau tahu, keluarga See Un telah dibabat habis oleh kaisar, karena dia berusaha mengkhianati negara!”

Hati Cin Ko jadi tergoncang keras, darahnya juga meluap, mukanya telah berobah seketika itu juga, dia sengit bukan main mendengar Seng Kim mengatakan bahwa kakeknya berusaha untuk mengkhianati negara. Tetapi si bocah masih mengerti selatan dan menahan dirinya, karena mengingat akan keadaan dirinya.

“Benar! Memang kabar-kabar yang tersebar begitu,  tetapi entah bagaimana kejadian yang sebenarnya?!” tanya Cin Ko dengan  suara yang tawar. “Benar-benar suatu kejadian yang tidak pernah diduga-duga  bahwa See Pengpo Siangsie bisa bermaksud mengkhianati negara!”

Seng Kim bukannya tidak melihat perobahan wajah Cin Ko, tetapi Seng Kim menduga mungkin juga Cin Ko terkejut mendengar ada seorang pembesar seperti Menteri Pertahanan yang ingin mengkhianati negara mereka. Juga Seng Kim menduga, mungkin juga Cin Ko merasa kagum pada Seng Kim di dalam usia sebesar dia telah mengetahui urusan besar tersebut.

Namun Seng Kim sendiri yang tidak mau memperpanjang percakapan mereka mengenai urusan ini, karena Seng Kim telah berkata: “Sudahlah untuk apa kita membicarakan utusan yang tidak ada artinya bagi kita? Hm memang hati orang sukar diduga, tidak dapat diraba dan tidak dapat dikendalikan! Oya, kau sudah makan atau belum, Ko-te?!”

“Sudah, sudah!” sahut Cin Ko cepat. “Terima kasih! Terima kasih!” “Mari kita kembali, mungkin juga Suhu dan Giok Sulteng sudah selesai

dengan perundingan mereka! Dan aku hanya mendoakan saja, semoga kau dapat tinggal di kuil ini lebih lama, sebab selama setahun ini boleh dibilang aku   tidak mempunyai   sahabat yang sebaya dengan diriku, membuat aku jadi tidak betah tinggal di kuil ini! Hai! Hai! Memang ayah agak keterlaluan juga, karena diriku mirip-mirip seperti orang sakit, dari kuil yang satu pindah kekuil yang lainnya lagi!”

 Cin Ko tertawa dan dia hanya memberikan komentar : “Mungkin juga ayahmu menginginkan agar kau menjadi seorang jago yang benar -benar tangguh dan tanpa tanding, Kimko!”

Seng Kim tertawa tawar, dia tidak menyahuti perkataan Cin Ko, hanya mereka berdua telah kembali ke ruangan tengah.

******MDN******

MALAMNYA Cin Ko telah dipanggil oleh Tang Siauw Bun, bahwa seminggu lagi dia akan diterima menjadi murid Tang Siauw Bun.

Tentu saja hal ini benar-benar menggembirakan hati Cin Ko, walaupun tadinya dia memang telah dapat menduga bahwa Giok Ie Lang akan mengusahakan agar dia menjadi murid dari Tang Siauw Bun, namun kenyataan yang diterimanya ini benar-benar menggembirakan sekali. Tetapi disamping itu Cin Ko juga jadi heran bukan main terhadap diri Seng Kim, karena terkaan pemuda kecil yang baru berusia dua belas tahun itu tepat dan tidak meleset sedikitpun. Hal inilah yang membuat Cin Ko mau tak mau jadi kagum juga, karena Seng Kim baru pertama kali bertemu dengan Giok Ie Lang, tetapi sekali saja dia bertemu dan melihat wajah Giok Ie Lang, dia sudah dapat menerkanya bahwa Giok Ie Lang akan membicarakan kemungkinan- kemungkinan Cin Ko diterima menjadi murid Tang Siauw Bun. Benar-benar kenyataan seperti ini membuat Cin Ko hampir tidak mempercayainya, karena otak Seng Kim benar-benar luar biasa.

Juga malam itu Tang Siauw Bun telah meminta kepada Cin Ko, agar asal-usul si bocah dirahasiakan terhadap siapa saja, karena Tang Siauw Bun beranggapan kalau sampai ada orang yang mendengar perihal asal-usul  si bocah dan memberikan laporan kepada  pemerintah, niscaya pihak Hoa-san pay ini yang akan menghadapi kesulitan tidak kecil. Cin Ko memberikan janjinya.

“Tepat harian Capgo dibulan ini kau akan menjalankan upacara penerimaan dan pengangkatan guru dan murid! Kau harus bersiap-siap, Kojie!” kata Tang Siauw Bun disaat Cin Ko ingin meninggalkan ruangan semedhi dari Tang Siauw Bun. Cin Ko mengiyakan.

Waktu kembali ke kamarnya, Cin Ko jadi berpikir keras. Memang kehadirannya di kuil Hoa-san pay ini bisa membawa akibat yang tidak baik bagi orang-orang Hoa-san-pay.

 Tetapi segalanya terjadi dalam keadaan yang memaksa. Untuk mempelajari ilmu silat yang tinggi, tentu saja harus memperoleh seorang guru yang liehay seperti Tang Siauw Bun. Kalau sampai Cin Ko menyia-nyiakan kesempatan yang ada pada saat ini, niscaya kesudahannya akan membawa kerugian yang besar bagi dirinya. Maka dari itu, biarpun merasa tidak enak, karena dirinya merasa berhutang budi yang cukup besar pada Tang Siauw Bun. Cin Ko terpaksa menerima kenyataan ini.

Malam itu Cin Ko tidur tidak tenang, dia sebetulnya bermaksud untuk menemui Giok Ie Lang, untuk meminta pendapatnya. Namun Giok Ie Lang memperoleh kamar yang lain, dan untuk Cin Ko sendiri telah memperoleh kamar di belakang kuil itu. Mungkin juga Giok Ie Lang masih mempunyai banyak pembicaraan dengan gurunya, sehingga malam ini tidak menghubungi Cin Ko. Dan itu menjadi dugaan Cin Ko.

Ketika matahari pagi telah memancarkan sinarnya menerobos masuk melalui celah-celah jendelanya, Cin Ko terbangun dengan tubuh yang agak penat dan masih mengantuk, karena semalam hampir kentungan ketiga dia baru bisa tertidur.

Tetapi Cin Ko menyadarinya, kalau dia tidak segera bangun dan keluar memperlihatkan diri, pasti penghuni-penghuni kuil Hoa-an Pay ini akan menduga bahwa Cin Ko adalah seorang anak pemalas. Maka dari itu, cepat- cepat Cin Ko telah nencuci muka, kemudian keluar untuk melihat-lihat keadaan kuil Hoa-san Pay ini.

Namun, waktu dia membuka pintu kamarnya, tampak tengah bergegas mendatangi kearah seorang Totong kecil.

“Siauw Kongcu (tuan kecil)” kata Totong itu setelah berada dihadapan Cin Ko. “Ada surat yang dikirimkan Giok Suheng untuk Siauw Kongcu!” dan setelah berkata begitu, Totong kecil tersebut menyerahkan sepucuk sampul yang tertutup.

Hati Cin Ko jadi berdebar keras. Dia jadi menduga-duga, entah apa maksudnya Giok Ie Lang mengirimkan surat kepada dirinya. Bukankah Giok Ie Lang bisa datang menemuinya sendiri?!

Malah Cin Ko sampai menduga, apakah Giok Ie Lang tengah sibuk melakukan pembicaraan dengan Tang Siauw Bun, gurunya itu sehingga tidak sempat untuk datang menemuinya, maka telah ditulisnya sepucuk surat.

Cepat-cepat Cin Ko mengucapkan terima kasihnya. Totong kecil  itu telah berlalu, dan Cin Ko masuk kembali ke dalam kamarnya, dia cepat membuka surat itu.

 Surat tersebut ternyata ditulis oleh Giok Ie Lang, yang bunyinya sebagai berikut :

“Siauw Kongcu   maafkanlah   kelancangan   Siauw-jin,   sebetulnya memang Siauwjin ingin sekali menemui Siauw Kongcu untuk pamitan, karena Siauwjin ingin melakukan sesuatu yang penting sekali, yang   membuat Siauwjin harus cepat-cepat meninggalkan kuil ini! Maafkan sekali lagi. Pagi ini Siauw-jin sudah meninggalkan Hoa-san dan menuju ke kota raja, maka baik- baiklah Siauw Kongcu disamping guruku, yang tidak lama lagi katanya akan mengambilmu sebagai muridnya, maka dengan sendirinya Siauwjin menjadi Suheng (kakak seperguruan) Siauw Kongcu, tetapi hal itu bukan berarti Siauw- jin ingin berada di atas diri Siauw Kongcu, tetapi Siauwjin tetap sebagai hamba dari Siauw Kongcu, hamba dari keluarga See, maka dari itu, tidak usah Siauw Kongcu terlalu terikat oleh peraturan dan adat istiadat di dalam perguruan, juga boleh Siauw Kongcu menganggap Siauwjin sebagai Suheng dari Siauw Kongcu atau juga boleh tidak. Terserah bagaimana pendapat Siauw Kong cu, karena tegasnya tetap saja Siauwjin adalah hamba dari keluarga See. 

Lagi pula keberangkatan Siauwjin kali ini adalah untuk pergi menyelidiki ke kota raja bagaimana berita mengenai See Tayjin, karena kalau memang Siauwjin mempunyai kesempatan, tentu Siauwjin akan berusaha untuk menolong Tayjin, agar dapat diloloskan  dari tahanan orang orangnya Ban Hong Liu Thaykam!

Maka dari itu, sekali lagi Siauw Kongcu mau memaafkan kepergian Siauwjin yang secara diam-diam  dan tidak berpamitan dulu pada Siauw Kongcu, kalau memang Siauw Kongcu membutuhkan se suatu, katakan saja terus terang pada Suhu Tang Siauw Bun, karena Siauwjin sudah menjelaskan seluruhnya perihal asal-usul  Siauw Kongcu. Mudah-mudahan saja Siauw Kongcu betah tinggal di kuil Hoa-san Sie ini.

Perhormatan Siauwjin : Giok Ie Lang

MEMBACA surat yang ditinggalkan oleh Giok Ie Lang, Cin Ko jadi menghela napas berulang kali. Memang Giok Ie Lang dan beberapa orang pengawal setia dari Yayanya, selalu rela mempertaruhkan jiwanya untuk kepentingan keluarga See. Dan pengorbanan  yang dilakukan oleh para pendekar ini benar membuat Cin Ko jadi merasa berterima kasih bukan main. Harus diketahui, bahwa pada jaman itu, hubungan antara guru dengan murid, hubungan antara Suheng dengan Sute, sangat keras bukan main peraturan yang diikat oleh adat istiadat, malah boleh jadi sang Sute akan dijatuhkan hukuman mati oleh guru mereka kalau sampai sang Sute itu berani berlaku kurang ajar pada sang Suheng. Namun kenyataannya, di dalam surat Giok Ie

 Lang itu telah ditulis bahwa dia tetap menganggap Cin Ko sebagai majikannya, dan dia rela juga mau diakui sebagai Suheng Cin Ko nantinya, dia bersyukur, kalau tidak, pun tidak apa-apa. Hal ini menunjukkan betapa  besarnya pengorbanan yang diberikan oleh Giok Ie Lang.

Tanpa disadari oleh See Cin Ko, dua titik butir air mata bening telah menuruni pipinya. Itulah suatu kejadian yang membuatnya jadi terharu. Diam- diam Cin Ko berjanji di dalam hatinya, kalau memang dia mempunyai kesempatan, disuatu saat nanti dia akan berusaha untuk membalas budi orang-orang seperti Giok Ie Lang, To It Mang dan lain -lainnya, yang telah mati-matian mempertaruhkan jiwa mereka masing-masing untuk kepentingan keluarga See, khususnya menyelamatkan jiwa Cin Ko.

Surat yang ditinggalkan oleh Giok Ie Lang itu telah dilipat oleh Cin Ko, dimasukkannya ke dalam saku bajunya.

Perlahan-lahan Cin Ko menghapus air matanya, baru setelah menghela napas beberapa kali dia membuka pintu kamarnya dan menuju ke ruangan belakang kuil ini, dia duduk termenung disitu sambil memandangi keindahan pohon-pohon bunga yang banyak bertumbuhan di pekarangan kuil tersebut.

Angin gunung yang berhembus dingin dan lembut mempermainkan baju Cin Ko, tidak dirasakan oleh bocah ini. Dia cuma memikirkan, apakah dirinya dengan mempelajari ilmu silat akan dapat membalas sakit hati Yaya dan keluarganya! Apakah hanya jalan ini satu-satunya!

Benar-benar hati Cin Ko tengah diliputi oleh kebimbangan yang bukan main, walaupun dihati kecilnya Cin Ko merasakan juga, apa yang diatur oleh Giok Ie Lang sangat tepat, karena dengan mempunyai kepandaian yang tinggi, berarti orang-orang Ban Hong Liu yang melakukan pengejaran terus menerus pada dirinya pasti akan dapat dihadapinya. Kalau sampai dia tidak mempunyai kepandaian silat apa-apa, niscaya dirinya dengan mudah dibekuk oleh orang- orang Ban Hong Liu kalau saja jejaknya ditemui mereka.

Sedang Cin Ko termenung seorang diri begitu, tiba-tiba bahunya telah ditepuk seseorang disusul oleh teguran : “Sudah lama kau di sini?!”

Cin Ko jadi terkejut bukan main, dia cepat-cepat menoleh, dan entah sejak kapan, Seng Kim sudah berdiri di dekatnya, “Kim Koko?” Cin Ko cepat- cepat ingin berdiri.

“Aku hanya mengganggu ketenanganmu belaka, Ko-te!” kata Seng Kim sambil menahan pundak Cin Ko, sehingga bocah ini telah duduk kembali, dan Seng Kim duduk disampingnya. “Akupun kemari secara tidak sengaja ingin mencari hawa udara segar! Kebetulan kulihat kau di sini, maka kupikir tidak

 ada salahnya kalau kita bercakap-cakap untuk melenyapkan kesenggangan

kita, bukan?!”

Cin Ko mengangguk.

“Aku baru saja mempelajari pelajaran Bun! Hai! Benar-benar membosankan sekali!” kata Seng Kim pula sebelum Cin Ko sempat menyahuti perkataannya yang tadi. “Bagaimana dengan kau Kote, bukankah terkaanku tepat bahwa kau akan diambil murid oleh Suhuku?! Tadi aku baru saja di- beritahukan!”

“Benar!” mengangguk Cin Ko. “Memang apa yang diterka oleh Kim Koko tidak meleset, ternyata Giok Pehpeh telah meminta agar Siauwte diterima menjadi murid Tang Suhu!”

“Hmmm, asal kau. bisa bertahan saja dari segala macam latihan yang berat-berat! Mempelajari ilmu silat tidak mudah Kote, maka dari itu kau harus tabah dan mempunyai kebulatan tekad untuk berjuang melatih diri sampai sempurna!!”

Cin Ko mengangguk-angguk dengan perasaan berterima kasih, dia merasakan kata-kata Seng Kim dikeluarkan setulus hatinya, tidak ter kandung maksud-maksud sedikitpun untuk mengejeknya.

“Untuk hari-hari selanjutnya nanti, aku menjadi Suhengmu dan  kau menjadi Suteku, dan sudah semestinya pula aku membantumu memberikan petunjuk-petunjuk agar kau bisa memperoleh kemajuan yang pesat! Malah, kita juga bisa berlatih berdua!” kata Seng Kim lagi.

“Terima kasih Kim Koko!!” kata Cin Ko dengan perasaan berterima kasih, “Memang hal ini sebenarnya di luar dari dugaan, karena ternyata Siauwte seorang anak yatim piatu dapat diterima menjadi murid Hoa-san-pay malah rejeki itu terlalu besar sekali, karena Siauwte langsung dibawah didikan Tang Suhu! Benar-benar budi yang diberikan Tang Suhu dan Giok Pehpeh sangat besar, setinggi gunung dan sedalam lautan!!”

Seng Kim menghela napas.

“Memang aku merasa kasihan melihat nasibmu,  Kote, karena kulihat kau hanyalah se orang anak yatim yang tidak mempunyai keluarga pula! Maka dari itu, kau harus pahit hati belajar sungguh-sungguh dibawah didikan Suhu nanti setelah kau memiliki kepandaian yang tinggi, tentu tidak ada orang yang berani menghina dirimu lagi!”

Kembali Cin Ko merasa terharu. Kalau dilihat sikap Seng Kim, pemuda berusia dua belas tahun ini, yang lebih tua dua atau tiga tabun dari dirinya, sangat menyayangi dia.

 Begitulah, Cin Ko sejak hari itu menetap di kuil Hoa-san Sie, pintu perguruan silat Hoa-san Pay, di gunung Hoa-san. Dia dididik langsung oleh Tang Siauw Bun, dan juga Seng Kim banyak sekali membantu Cin Ko mempelajari setiap ilmu yang diberikan oleh guru mereka. Malah Seng Kim seringkali menemani Cin Ko untuk berlatih diri melatih setiap gerakan-gerakan dan jurus-jurus baru yang diterima oleh Cin Ko.

Tampaknya Cin Ko dan Seng Kim intim sekali, dan Seng Kim juga menyayangi Cin Ko seperti  juga seorang kakak  menyayangiadiknya sendiri.

Tetapi Tang Siauw Bun sendiri, walaupun mendidik Cin Ko dengan bersungguh-sungguh, namun pada sikap sehari-harinya,  Cin Ko dapat merasakan bahwa Tang Siauw Bun lebih memanjakan Seng Kim,  yang mungkin dianggap sebagai anak emasnya, karena seluruh harapan dari Tang Siauw Bun diletakkan dibahu Seng Kim, agar kelak nanti Seng Kim dapat mengangkat naik nama pintu perguruan Hoa-san Pay, walaupun toch nantinya Seng Kim mempelajari ilmu-ilmu silat dari pintu perguruan lainnya .

Tetapi hal itu tidak membuat Cin Ko berkecil hati. Dia juga tidak merasa iri melihat Seng Kim lebih dimanja oleh guru mereka. Malah Cin Ko sudah merasa berterima kasih pada Tang Siauw Bun, yang mau menerimanya me- netap di Hoa-san Sie ini, sebab biar bagaimana risikonya terlalu besar sekali, kalau sampai hal Cin Ko ini tersebar luas dan tercium jejaknya oleh orang Ban Hong Liu, niscaya Hoa-san Pay tidak akan memperoleh pengampunan lagi, pasti akan memperoleh malapetaka yang tidak kecil dan mungkin juga akan membawa kehancuran bagi pintu perguruan silat tersebut.

Setiap harinya Cin Ko berlatih diri dengan tekun, dia telah mati-matian berusaha menguasai setiap jurus yang diturunkan oleh Tang Siauw Bun. Berkat bimbiman dan bantuan yang diberikan  oleh Seng Kim, dengan sendirinya Cin Ko tidak begitu memperoleh kesulitan, dia bisa mempelajari setiap ilmu yang diturunkan gurunya itu dengan cepat, walaupun tidak secepat apa yang dilakukan oleh Seng Kim, karena kecerdasan Seng Kim benar-benar sudah merupakan suatu kemujijatan pada diri pemuda ini. Cin Ko memaklumi itu, dia sudah merasa puas kalau dirinya bisa mempelajari setiap jurusnya memakan waktu tiga atau empat hari.

Tetapi Tang Siauw Bun yang diam-diam mengikuti gerak-gerik dan memperhatikan segala tingkah laku murid bontotnya ini, Cin Ko, dengan sendirinya jadi terkejut sekali. Hal ini disebabkan dia melihat Cin Ko dapat menguasai setiap ilmu yang diturunkannya itu memakan waktu paling lambat empat hari, padahal kalau manusia biasa pasti akan memakan waktu yang cukup lama, satu bulan lebih. Inilah hal yang menggembirakan juga. Tadinya Seng Kim sebagai murid bungsunya, tetapi setelah Tang Siauw Bun menerima

 Cin Ko sebagai muridnya juga, kedudukan murid bungsu diambil alih oleh Cin Ko.

Malah, kalau Seng Kim ingin dibandingkan dengan Cin Ko, ada perbedaannya juga bagi kedudukan mereka. Kalau Seng Kim mempelajari seluruh ilmu silat Hoa-san-Pay, namun dia tidak bisa disebut sebagai murid Hoa-san Pay secara mutlak, karena dia juga menjadi murid dari pintu-pintu perguruan lainnya, seperti Bu Tong Pay misalnya. Tetapi kalau Cin Ko, dia mutlak sebagai murid Hoa-san Pay. Kalau memang nanti Cin Ko bisa menjadi seorang jago yang luar biasa dan memiliki kepandaian yang bukan main tingginya, tentu dengan sendirinya Cin Ko akan mengangkat naik nama harum Hoa-san Pay.

Maka dari itu, Tang Siauw Bun telah mendidik Cin Ko lebih keras dan lebih berdisiplin kalau dibandingkan dia mendidik Seng Kim. Dan juga Tang Siauw Bun lebih memanjakan Seng Kim, karena terhadap Seng Kim memang selain Tang Siauw Bun merasa sayang pun juga disebabkan dia merasa segan bahwa bocah ini akan menjadi murid-murid dari pintu perguruan lainnya. Tetapi terhadap Cin Ko, dilihatnya biarpun bocah yang menjadi murid bungsunya ini memiliki kecerdasan tidak menyamai kecerdasan   Seng Kim, toch sudah melebihi dan kecerdasan manusia-manusia biasa.

Disebabkan itulah, maka walaupun Tang Siauw Bun juga merasa sayang pada diri Cin Ko, tetapi perasaan sayangnya itu tidak ditonjolkan. Kalau dia mendidik Cin Ko agak keras, tanpa mengingat bahwa Cin Ko adalah cucu dari seorang Peng Po Siang Sie, itulah disebabkan Tang Siauw Bun menginginkan Cin Ko berhasil mempelajari ilmu silat Hoa-san Pay ini.

******MDN******

HARI demi hari telah lewat dengan cepat, waktu beredar tanpa bisa ditunda-tunda. Dengan cepat Cin Ko sudah lima bulan belajar di Hoa-san Pay ini. Seluruh waktunya dicurahkan melatih diri untuk menguasai ilmu silat Hoa- san Pay yang diperolehnya . Berbeda dengan Cin Ko, Seng Kim mempelajari ilmu silat rangkap ilmu surat.

Setiap bulannya, pasti ada orang yang datang menengok Seng Kim, mengirimkan uang, pakaian yang bagus-bagus dan juga barang-barang yang diinginkan oleh Seng Kim. Tetapi berbeda dengan Cin Ko, selama lima bulan itu Cin Ko tidak pernah ditengok oleh siapapun juga.

 Tetapi Seng Kim sendiri ternyata sangat menyayangi Cin Ko, karena dia selalu membagi pakaian beberapa perangkat untuk adik seperguruannya ini, dan juga segala macam makanan yang enak-enak. Walaupun Cin Ko sering merasa segan untuk menerima pemberian-pemberian Seng Kim itu, namun dia tidak berani menolaknya, takut menyinggung perasaan Seng Kim. Sebetulnya barang yang indah-indah, baik makanan yang enak-enak itu, Cin Ko pernah memiliki dan merasakan seluruhnya waktu dia masih tinggal bersama-sama dengan keluarganya, sebelum Yayanya (kakeknya) ditangkap oleh orang - orang kaisar.

Selama lima bulan ini, Cin Ko sudah memiliki kepandaian yang lumayan. Dia bisa memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Siang dan malam, dan disetiap saat Cin Ko memiliki kesempatan, niscaya bocah ini akan melatih diri tanpa mengenal lelah.

Sikap demikian pula yang membuat Tang Siauw Bun tambah merasa sayang di dalam hati. Tetapi perasaan sayangnya itu tidak ditonjolkan, tetap dipendam di dalam hati. Dia hanya mempunyai harapan bagi masa depan dari Cin Ko. Kalau memang Cin Ko belajar selama empat tahun dibawah didikannya dan tidak terdapat gangguan apa-apa, niscaya Cin Ko akan dapat menguasai seluruh ilmu silat Hoa-san Pay. Dan tinggal melatih diri untuk menyempurnakan selama empat tahun pula. Disaat itulah Cin Ko akan berobah menjadi seorang jago yang luar biasa, yang dapat mengangkat tinggi -tinggi nama harum dari pintu perguruannya, yaitu Hoa-san Pay.

Giok Ie Lang yang pergi ke kota raja untuk memberikan pertolongan kepada See Un, Peng Po Siangsie yang telah difitnah itu, masih juga belum kembali. Juga Cin Ko atau Tang Siauw Bun belum menerima kabar berita dari orang she Giok tersebut.

Pagi itu, Cin Ko dan Seng Kim tengah melatih diri. Yang mereka latih adalah ilmu pedang. Masing-masing mempergunakan sebatang   pedang pendek.

Seng Kim sengaja mengiringi Cin Ko, karena dengan ada kawan berlatih begini, Cin Ko pasti dapat menguasai ilmu pedang itu dengan cepat.

Butir-butir keringat saat itu telah memenuhi kening  dan membasahi baju Cin Ko, karena dia melatih keras ilmu pedang itu.

“Pada jurus Ban Kiam Coan Sim (Puluhan Ribuan Pedang Menembus Hati) kau harus berlaku lebih cepat lagi, Ko Sute!!” Seng Kim memperingatkan, waktu melihat gerakan Cin Ko agak terlambat di dalam gerakannya yang satu ini. Seng Kim juga sudah memanggil Cin Ko dengan sebutan Ko Sute, karena Cin Ko sudah resmi diterima menjadi murid Hoa -san Pay dibawah bimbingan

 langsung gurunya, jadi Cin Ko termasuk murid tingkat pertama juga, setingkat dengan Seng Kim, maupun Giok Ie Lang.

“Coba kau ulangi lagi!”

“Baik Kim Suheng!!” menyahuti Cin Ko yang segera menarik pulang pedangnya dan mulai melancarkan serangannya lagi dengan mempergunakan jurus yang sama.

Dengan sendirinya, serangan yang kali ini dilakukan oleh Cin Ko lebih baik dari serangan yang pertama, karena dia telah diberitahukan kesalahan- kesalahan yang dilakukannya tadi oleh Seng Kim.

“Bagus!!” seru Seng Kim girang, karena dia melihat serangan Cin Ko kali ini dengan mempergunakan jurus yang sama, selain mengandung kecepatan yang bukan main, juga tenaga yang terkandung pada tikaman pedangnya sangat kuat. Dia telah menangkisnya, sehingga terdengar  suara Trang!

Baru saja Cin Ko mau melancarkan serangan pula dengan mempergunakan jurus-jurus yang lainnya, tiba-tiba mereka melihat seorang Totong (hweshio kecil) telah berlari-lari kearah mereka.

“Kim Suheng! Ko Suheng! Coba kalian berhenti dulu sebentar!!” teriak Totong kecil itu sebelum dirinya datang mendekat. Mungkin dia jeri kalau - kalau nanti pedang dari kedua orang yang tengah melatih diri itu nyasar ke dirinya.

Cin Ko dan Seng Kim cepat-cepat menghentikan latihan mereka.

“Ada apa, Cie Sute?” tegur Seng Kim sambil mengawasi Totong kecil itu, sebab tidak biasanya dikala mereka sedang melatih diri diganggu seperti ini.

“Suhu meminta Ko Suheng, untuk datang ke ruangan pendopo! !” sahut

Totong kecil itu.

“Heh? Ada urusan apakah?”tegur Seng Kim yang mendahului Cin Ko bertanya.

“Ada ada ......” muka si Totong agak berobah, tetapi dia kemudian melanjutkan perkataannya : “Ada dua orang utusan dari istana Hongte, yang ingin bertemu dengan Suhu!!”

“Hah?!” seru Seng Kim terkejut. Sedangkan muka Cin Ko seketika itu juga jadi berobah pucat.

 Seng Kim melihat perobahan muka adik seperguruannya ini, dia cepat - cepat menepuk bahu Cin Ko.

“Jangan kuatir Sute, kalau memang kau yang dipersoalkan oleh orang- orang istana, biarlah nanti aku yang akan menyelesaikannya! Aku  tidak mengetahui latar belakang asal usul dirimu, tetapi aku berjanji kalau sampai kau ingin dipersulit oleh orang-orang  istana, aku yang akan membereskannya!”

Cin Ko tidak berkata apa-apa, dia terlalu bingung. Ketika Seng Kim menuntun tangannya, dia hanya menurut saja dengan hati yang berdebar- debar.

Mereka menuju ke ruangan cendopo ruangan kuil itu, dan benar saja, di dalam ruangan tersebut tampak Tang Siauw Bun tengah duduk berhadapan dengan kedua orang tamunya , yaitu dua orag lelaki bertubuh tinggi besa r dan memelihara bewok yang tebal dan hitam. 

Muka kedua tamu Tang Siauw Bun itu angker  sekali, mereka juga memakai pakaian Gie-lim-kun (pasukan pengawal istana).

Tang Siauw Bun ketika melihat kedatangan Cin Ko bersama Seng Kim, wajahnya saat itu murung sekali.  Katanya : “Cin Ko, berilah hormat pada kedua Tayjin ini, mereka datang untuk bertemu dengan kau!!”

Cin Ko dengan hati yang tergoncang telah menghampiri kedua orang Gie-lim kun itu, dan merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat.

Kedua perwira istana itu hanya mendengus tertawa tawar, sorot matanya sangat tajam sekali.

“Kau harus ikut kami ke kota raja!” kata salah scorang Gie-lim-kun itu dengan suara yang tegas, seperti juga sudah tidak ada tawar menawar lagi, karena di dalam kata-katanya itu seperti mengandung juga suatu perintah.

“Tetapi, tetapi Siauwjin tidak mempunyai sangkutan hubungan apapun dengan Jiewie Tayjin, mengapa Siauwjin ingin dibawa oleh Jiewie Tayjin ke kota raja?!” tanya Cin Ko, suaranya agak tergetar.

Muka kedua perwira itu jadi berobah sesedikit, tetapi mereka kemudian telah tertawa tawar. Salah seorang diantara mereka, yang berusia lebih tua dari kawannya, telah berkata : “Kau ikut kami ke kota raja bukan untuk ditangkap, tetapi untuk keperluan sesuatu! Kalau nanti urusan itu  sudah selesai kami akan mengantarkan kau kembali ke Hoa-san  Sie ini! Ingat, biarpun kami tidak membawa firman perintah dari kaisar, namun ini juga merupakan perintah kaisar juga, sebab menyangkut persoalan dengan Ban Kongkong, maka dari itu, kalau memang kau bisa mempertimbangkan dengan

baik-baik, janganlah kau membuat kedudukan Hoa-san Pay jadi sulit di mata pemerintah! Lebih bagus jangan disebabkan hanya dirimu seorang, lalu mempersulit seluruh murid-murid Hoa-san! Kami telah menerima keterangan lengkap mengenai dirimu, maka dari itu, gurumu juga tidak dapat mengatakan apa-apa!”

Hati Cin Ko benar-benar tergoncang keras, dia melirik, dilihatnya Tang Siauw Bun hanya menghela napas  berulang kali sambil menundukkan kepalanya. Rupanya Tang Siauw Bun telah mengambil keputusan untuk membiarkan Cin Ko dibawa serta oleh kedua perwira itu, sebab kalau memang Tang Siauw Bun berusaha menghalanginya, niscaya Hoa-san Pay  akan memperoleh kesulitan yang belum bisa dibayangkan saat itu.

Seketika itu juga bermacam-macam perasaan berkecamuk di dalam hati Cin Ko, perasaan penasaran, marah, mendongkol   bercampur rasa takut juga. Tetapi dia hanya seorang bocah belaka, maka dari itu, ka lau memang gurunya sudah lepas tangan tidak mau mempertahankan dirinya, mana dia berdaya untuk menolak ajakan kedua perwira itu? Apa lagi  kedua perwira  ini tampaknya mempunyai kedudukan yang cukup penting di dalam istana, karena mereka sudah menjabat kedudukan sebagai perwira, setidak-tidaknya mereka pasti memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Setelah berdiri bengong sejenak, Cin Ko mengambil keputusan.

“Baiklah!” katanya kemudian, dia bermaksud mengelakkan Hoa-san Pay dari kesulitan disebabkan dirinya. “Siauwjin akan menuruti perintah Jiewie Tayjin!”

“Bagus!” seru kedua perwira Gie Lim Kun itu girang. “Ini baru namanya orang yang mengerti selatan (tahu gelagat)! Nah Tang Ciangbunjin, kami sangat berterima kasih sekali atas pengertianmu yang telah mau membiarkan muridmu ini kami bawa serta! Nanti kami akan memberikan laporan lengkap kepada Hongte baikpun Ban Kongkong, mencatat juga jasa-jasamu ini!!”

Tang Siauw Bun cepat-cepat  merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat kepada kedua perwira itu. “Terima kasih atas perhatian Jiewie Tay-jin, tetapi Lohu sudah cukup hidup senang di gunung ini, maka dari itu   tidak perlu Jiewie Tayjin menyebut-nyebut tentang urusan jasa! Cuma saja ada satu permintaan Lohu, kalau memang nanti ternyata dosa  yang dilakukan murid Lohu itu tidak begitu hebat, harap Jiewie Tayjin  mau memintakan maaf dan pengampunan dari Ban Kongkong, agar murid Lohu ini dapat kembali kemari dalam keadaan selamat, karena di dalam usia sebesar dia ini, tentu saja murid Lohu masih tidak mengerti apa-apa!”

“Oh jangan takut Tang Ciang-bunjin, pasti kami sampaikan pesan dari Tang Ciang-bunjin! Ban Kongkong sangat bijaksana, pasti akan

mempertimbangkan permintaan Tang Locianpwe! Bukankah tadi sebelumnya juga kami telah mengatakan, bahwa tenaga kami hanya sekedar mcminjam belaka anak yang bernama See Cin Ko, hanya untuk didengar kesak siannya belaka!”

Tang Siauw Bun telah mengangguk-anggukkan kepalanya, padahal dia berduka sekali karena mengerti benar bahwa dengan kata dipinjam sebenarnya keselamatan Cin Ko sulit untuk dijamin.

Dihampirinya Cin Ko yang tengah berdiri dengan kepala tertunduk, diusapnya kepala Cin Ko.

“Baik-baiklah kau menjaga diri, Cin Ko, ini terpaksa Lohu lakukan, karena untuk menghindarkan kejadian yang tidak diinginkan! Kami ingin melindungi dirimu, tetapi janganlah sampai satu generasi Hoa-san Pay lenyap disebabkan dirimu, pasti hal itu juga akan membuat kau tidak gembira, bukan? Nah, kau ikutilah kedua Tayjin itu!!”

Cin Ko terharu bukan main, dia bisa memahami kesulitan yang dihadapi oleh gurunya ini. Maka dari itu, sambil menghapus air mata yang menitik dipipinya, Cin Ko telah bertekuk lutut, dia telah berkata: “Semoga  budi kebaikan yang diberikan oleh Suhu pada Tecu selama ini, dapat dibalas oleh Thian!” dan Cin Ko sudah menganggukkan kepalanya tiga kali, lalu bangun berdiri, melangkah keluar diikuti oleh kedua pembesar istana Gie-lim-kun itu.

Seng Kim yang sejak tadi berdiri mematung diam saja jadi tersentak ketika melihat Cin Ko sudah akan dibawa pergi oleh kedua perwira  Gie-lim- kun itu.

“Tahan!” bentaknya tiba-tiba sekali dengan suara yang nyaring.

Kedua Gie-lim-kun itu telah menghentikan langkah mereka, waktu mereka melihat bahwa yang membentak mereka adalah seorang bocah yang baru berusia diantara dua belas tahun, mereka jadi melengak.

Salah seorang diantara mereka telah tertawa, tanyanya : “Engko kecil, mau apa kau memanggil kami?”