-->

Manusia Jahanam Jilid 03

 
Jilid 03

Sin Tek tidak menyangka bahwa Cin Ko mau membawakan minuman untuk sang tamu ini.

Tetapi dihadapan Su Cie Kiat. Phoa Sin Tek bersikap biasa saja dan tidak menegur Cin Ko, karena dia tidak mau sampai Cin Ko merasa tersinggung atau malu.

Setelah meletakkan cawan yang satunya di samping Phoa Sin Tek, Cin Ko menghampiri Su Cie Kiat, katanya sambil mengangsurkan cawan teh yang satunya itu dengan kedua tangannya : “Silahkan minum, Toaya!!”

Su Cie Kiat sembarangan saja mengulurkan tangannya mau menyambuti cawannya itu, sikapnya angkuh sekali.

Tetapi, dengan tidak diduga-duga, tangan Cin Ko telah bergerak cepat sekali, menyiramkan air teh panas mendidih itu kearah muka Su Cie Kiat sambil katanya : “Minumlah!!''

Tentu saja hal yang tidak diduga-duganya ini mengejutkan benar hati Su Cie Kiat, karena dia tidak menyangka bahwa Cin Ko akan menyira mkan air teh yang panas mendidih itu kearah mukanya. Malah di dalam  jarak yang begitu dekat.

Phoa Sin Tek sendiri juga terkesiap hatinya, dia ikut terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Cin Ko.

Tetapi disebabkan Su Cie Kiat memiliki kepandaian yang tinggi  maka biarpun air teh itu menyambar hanya tinggal beberapa dim lagi saja, toch dia masih sempat memiringkan tubuhnya ke kiri, sehingga dapat mengegoskan mukanya dari siraman air teh panas tersebut, hanya terkena beberapa perijikan saja.

------MDN------

SEE CIN KO ketika melihat dia gagal menyiram muka Su Cie Kiat dengan air teh panas itu, telah pura-pura  sempoyongan terhuyung-huyung  seperti juga mau rubuh tampaknya tadi dia melakukan siraman air teh itu bukan sengaja, hanya kakinya yang terpeleset. “Ohhh..... maaf........ maaf......

hampir saja aku mencclakai Toaya (tuan besar)! Maafkan.........!” teriak See Cin Ko dengan suara yang sengaja digugupkan dan kemudian berdiri dengan kedua tangan diturunkan lurus-lurus dan kepala yang ditundukkan.

“Kau................ kau kurang ajar!” bentak  Su Cie Kiat dengan suara

mengguntur penuh kemarahan. Tetapi hatinya jadi ragu-ragu, karena dia jadi

menduga entah disengaja atau memang benar-benar pelayan keluarga Phoa yang masih kecil ini telah tergelincir.

“Kojie, cepat kau memberi hormat kepada Su Toaya, kau harus meminta maaf dari Su Toaya!” sengaja Phoa Sin Tek telah berkata begitu, karena dia takut kalau-kalau Su Cie Kiat saking marahnya akan memukul Cin Ko.

Cin Ko juga mengerti maksud Phoa Sin Tek dan merasa berterima kasih pada jago she Phoa tersebut, karena biarpun Phoa Sin

Tek tentu selain terkejut akan merasa heran serta aneh atas sikap Cin Ko, toch bukannya dia menegur, malah telah memberikan jalan agar Cin Ko lolos menghadapi kemarahan Su Cie Kiat.

Cepat-cepat Cin Ko maju menghampiri dan menjura dalam-dalam sambil katanya : ''Su Toaya, maafkanlah keteledoran Siauw-jin tadi !”

“Hmmm! Hmmm!” Su Cie Kiat hanya dapat mengawasi dengan penuh kemurkaan. Disaat itulah dia bisa melihat jelas muka Cin Ko, hati orang she Su ini jadi tercekat tergoncang hebat, mukanya juga berobah hebat. Tetapi kemudian pulih seperti biasa kembali.  Malah mendadak sekali dia telah berobah sama sekali, karena kalau tadi dia memperlihatkan kemarahan yang bukan main, namun sekarang telah memperlihatkan senyumannya. “Tidak apa-apa ............tidak apa-apa....!” katanya. “Tentunya kau tadi telah terserimpat, hanya lain kali kuharap kau mau berlaku lebih hati-hati! Coba kalau aku tadi tersiram teh panas itu, bukankah berarti mukaku akan menjadi rusak?!”

Cin Ko mengiyakan berulang kali, dia heran sekali melihat perobahan yang begitu mendadak dari orang she Su tersebut.

Phoa Sin Tek juga telah melihatnya perobahan sikap Su Cie Kiat, dia merasa heran bukan main. Tetapi jago tua she Phoa ini tidak menemui jawabannya mengapa Su Cie Kiat jadi bisa bersikap begitu manis meng hadapi Cin Ko. Hanya Phoa Sin Tek berlaku waspada saja, dia takut kalau-kalau orang she Su tersebut hanya pura-pura  bersikap manis dan tahu-tahu turunkan tangan jahat. Maka dari itu, kalau perlu Phoa Sin Tek ingin memberikan pertolongannya akan keselamatan diri si bocah.

Tetapi Su Cie Kiat tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Dia telah duduk pula di tempat duduknya semula. Sedangkan Phoa Sin Tek telah memberikan isyarat pada Cin Ko agar meninggalkan ruangan tersebut.

Tak lama kemudian, Cin Ko melihat Su Cie Kiat telah keluar dari ruangan tengah itu diantar oleh Phoa Sjn Tek. Tampaknya dia telah pamitan.

Tak lama kemudian Phoa Sin Tek telah memerintahkan A Toa untuk memanggil Cin Ko ke ruangan perpustakaan.

Si bocah datang ke kamar perpustakaan tersebut dengan hati yang agak   berdebar. Dia mengerti, dirinya tentu akan dimarahi oleh jago tua she Phoa tersebut.

Benar saja, waktu Cin Ko datang di ruangan buku tersebut, tampak Phoa Sin Tek tengah duduk dengan wajah yang guram.

“Duduklah Kojie!” kata Phoa Sin Tek sambil menunjuk kearah kursi yang satunya.

Dengan hati berdebar Cin Ko telah duduk dihadapan jago tua she Phoa tersebut dengan kepala yang tertunduk.

Phoa Sin Tek tidak lantas menegur si bocah, dia hanya mengawasi sekian lama bocah yang duduk dihadapannya, kemudian dia menghela napas, hatinya jadi tidak tega untuk mendamprat Cin Ko, hanya katanya agak lembut

:   “Mengapa kau lakukan perbuatan seperti tadi, Kojie?”

Muka Cin Ko agak berubah, tetapi bocah ini telah mengeraskan hati. Dia mengangkat kepalanya, kemudian berdiri, menjura dalam-dalam  pada  Phoa Sin Tek.

“Phoa Pehpeh, maafkanlah kelancangan Siauwtit, tadinya tanpa sengaja Siauwtit melewati ruangan  tengah, sebetulnya Siauwtit bermaksud  untuk pergi kekamar Siauwtit, tetapi siapa tahu Siauwtit mendengar Phoa Pehpeh telah membicarakan persoalan Peng Po Siangsie See Un! Maka dari  itu, disebabkan perasaan tertarik. Siauwtit.. Siauwtit telah mengintai dari jendela itu!”

“Hmmm, Lohu memang sudah mengetahui kau mengintai disitu, tetapi Lohu sengaja tidak menegurnya, karena hanya akan membuat kau malu saja di hadapan tamu!” kata Phoa Sin Tek dengan suara yang agak tawar.

Hati Cin Ko tercekat, rupanya Phoa Sin Tek benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi sekali, memiliki pendengaran yang amat tajam. Tadinya dia menduga bahwa Phoa Sin Tek tidak mengetahui dia tengah mengintai di balik jendela itu.

“Apa keuntungannya dengan kau melakukan hal-hal seperti itu, Kojie?” tegur Phoa Sin Tek pula, walaupun dia menegur dengan kata-kata yang tidak keras, toch perkataannya itu menunjukkan bahwa orang tua she Phoa tersebut tidak menyukai perbuatan yang baru saja dilakukan Cin Ko terhadap tamunya.

“Sebetulnya, sebetulnya.....” Cin Ko jadi agak gugup, dia tidak mengetahui bagaimana menjelaskannya, karena It Mang, Sin Tang dan  Sin Bun memang telah berpesan, agar tidak membuka dulu rahasia dirinya pada siapapun juga.

Muka Phoa Sin Tek saat itu telah berobah jadi guram.

“Hmmm, Kojie, tadi kau telah melakukan suatu kesalahan yang   besar.” Kata Phoa Sin Tek pula waktu melihat kegugupan si bocah. “ Dengan perbuatanmu tadi, sama saja kau telah melibatkan diriku dengan orangnya Ban Hong Liu! Aku bukannya ingin mengatakan disebabkan perbuatanmu itu akan mempersulit kcdudukanku, tidak Kojie, tetapi  umpama kata orangnya Ban Hong Liu itu tidak gembira atas kejadian tersebut dan menyampaikan laporan yang tidak-tidak pada Thay-kam she Ban yang jahat itu, bukankah berarti keluargaku akan menghadapi kesulitan! Aku tidak takut mati Kojie, terus terang saja kukatakan kepadamu kematian tidak ada harganya dihadapanku. Namun aku tidak mau menerima kematian dengan cara yang mengecewakan, misalnya dengan ditawan oleh orang-orangnya Ban Hong Liu itu dengan tuduhan bahwa aku bermaksud memberontak pada negara! Bukankah itu suatu kematian yang mengecewakan sekali dan juga  akan membikin hati penasaran?! Tetapi sudahlah Kojie, kuharap dilain waktu kalau memang kau ingin bertindak sesuatu, harap kau pikirkan lebih masak lagi! Ini adalah pelajaran yang harus kau ingat!    Bukankah lebih    baik pula kalau kita tidak dibenci walaupun kita memang berpihak pada lawan dari Thaykam orang she Ban itu. Bukankah kita bisa bergerak lebih leluasa?”

Mendengar kata-kata Phoa Sin Tek, Cin Ko jadi menyesali perbaatannya tadi. Memang Cin Ko boleh tidak merasa jeri pada orang she Su itu, teta pi bagaimana dengan Phoa Sin Tek dan keluarganya? Bukankah disebab kan perbuatannya yang tanpa perhitungan itu bisa membawa bencana pada diri keluarga Phoa tersebut.

Saking menyesalnya, cepat-cepat Cin Ko telah menekuk kedua lututnya, dia telah berlutut dihadapan Phoa Sin Tek.

“Phoa Pehpeh... maafkanlah perbuatan Kojie yang tanpa perhitungan itu, sesungguhnya tidak sedikit pun dihati Kojie bermaksud mempersulit Phoa Pehpeh!”katanya dengan terharu dan merasa bersalah.

Phoa Sin Tek melihat kejujuran bocah ini, yang mau mengakui kesalahannya, jadi terharu juga.

Jago tua she Phoa tersebut menarik napas dan membangunkan diri Cin Ko. “Sudahlah Kojie, pada saat terjadinya urusan itu, dimana kau telah menyiramkan air teh panas itu, dihati Lohu hanya satu perasaan, yaitu ingin berusaha melindungi dirimu seumpama kata orang she Su itu menyerang

dirimu, sebab aku mengetahui benar, orang she Su itu bukanlah manusia baik- baik, dia datang kepadaku ini untuk membujuk guna aku bekerja sama dengan Ban Hong Liu, Thaykam jahat itu.”

Hati Cin Ko jadi tambah terharu. Saking terharunya, Cin Ko jadi tidak bisa mengeluarkan sepatah perkataanpun juga, dia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kalau memang Cin Ko tidak malu, tentu dia telah menangis atau menceritakan kedudukan dirinya yang sebenarnya. Namun Cin Ko biar bagaimana tidak mau melancangi It Mang, Sin Tang dan Sin Bun, maka dia tak berani menceritakan asal-usul dirinya. Cuma bocah ini mengucapkan terima kasih dan meminta diri pada Phoa Sin Tek untuk kembali ke kamarnya.

Setelah si bocah meninggalkan ruangan buku ini, tampak hanya tinggal Sin Tek seorang diri duduk termenung di situ. Perbuatan Cin Ko yang aneh itu, benar-benar membuat hati Phoa Sin Tek jadi curiga bukan  main. Dia menduga, di belakang dari peristiwa tersebut, pasti tersembunyi rahasia yang tidak mau diceritakan oleh Cin Ko padanya.

“Baiklah nanti kutanyakan saja kepada It Mang!” kata hati kecil Phoa Sin Tek. “Aku akan memaksa It Mang untuk menjelaskan siapa sebenarnya bocah luar biasa ini! Kulihat dari gerak-geriknya dia bukanlah manusia biasa! Dan, mengapa Su Cie Kiat waktu melihat wajah Kojie, mukanya jadi berobah dan malah sikapnya jadi begitu manis? Sebetulnya ada kejadian apakah diantara mereka? Apa maksud Kojie   menyiram muka Su Cie Kiat dengan teh panas itu! Hai! Hai! Benar-benar kejadian ini agak membingungkan!” dan berulang kali Phoa Sin Tek telah menghela napas.  Wajahnya juga murung sekali. Lama jago tua she Phoa tersebut duduk termenung di kamar bukunya itu.

------MDN------

BUKAN hanya Phoa Sin Tek saja yang duduk termenung di kamar bukunya, sebab Cin Ko begitu kembali di kamarnya, telah rebah di atas pembaringannya dengan pikiran yang mengambang tidak keruan.

Hatinya berduka bukan main, dia telah melampiaskan kedukaannya itu dengan meneteskan air mata. Tetapi tidak lama kemudian hati kecilnya telah berkata : “Tidak! Cin Ko! Cin Ko! Seorang Hohan, seorang lelaki sejati, tidak akan menitikkan air mata disebabkan penderitaan yang dialaminya, kau harus malu Cin Ko, hanya mengalami penderitaan seperti ini sudah mengucurkan air mata, sedangkan Yaya (maksudnya Pengpo Siang-sie See Un, kakeknya) telah mengalami penderitaan yang lebih hebat, ditawan dan digiring kekota raja untuk diadili dengan tuduhan yang membuat hati penasaran! Hai! Hai! Entah bagaimana dengan kesehatan Yaya dan Cin Ko telah menghapus air matanya,

dia mengeraskan hatinya untuk mengusir kedukaan yang mengendap di dalam jiwanya.

Dan yang membuat Cin Ko jadi heran, It Mang bertiga  belum lagi pulang. Hal ini menimbulkan rasa kuatir pada diri si bocah. Kemanakah perginya It Mang bertiga?!

Ternyata ketiga orang kepercayaan Pengpo Siangie ini memang benar - benar telah mengalami sesuatu yang tidak pernah diduganya. Mari kita tinggalkan Cin Ko untuk mengikuti keadaan It Mang bertiga.

------MDN------

TO IT MANG, Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun begitu keluar dari gedung Phoa Sin Tek telah menuju ketempat keramaian dari kampung ini. Pusat keramaian yang terdapat di perkampunan Lan-chie-chung terletak dibagian tengah-tengah perkampungan tersebut, yang merupakan pasar yang luas dan di sana penuh oleh pedagang-pedagang  berbagai macam barang  yang dijajakan dan juga terdapat  banyak sekali rumah-rumah  makan maupun rumah penginapan. Sebab memang daerah Selatan merupakan daerah yang paling ramai dikunjungi oleh orang yang pesiar, maka dari itu, banyak sekali penduduk yang membuka rumah penginapan dan rumah makan. Berusaha dengan cara demikian banyak mendatangkan keuntungan   bagi mereka. Apa lagi dikala musim semi tiba, maka pemandangan didaerah Kanglam indah luar biasa, sehingga tidak heran disaat itulah selama tiga bulan, pemilik rumah makan dan rumah penginapan diperkampungan Lan-chie-chung panen, sebab disaat-saat seperti itulah mereka banyak sekali kedatangan tamu-tamu dari kota-kota lainnya. Perkampungan Lan-chie-chung merupakan sebuah perkampungan yang letaknya sangat baik sekali, karena dipersimpangan pintu gerbang daerah Selatan tersebut.

Ketika It Mang bertiga sampai di pusat keramaian di tengah-tengah kampung itu, mereka melihat banyak sekali orang yang hilir mudik.

Maksud It Mang bertiga keluar rumah, hanyalah sekedar mempelajari situasi keadaan diperkampungan ini. Sebagai tiga orang pembantu Menteri Pertahanan, jelas It Mang mengerti taktik pertahanan dan keamanan, dengan sendirinya, begitu mereka mempelajari situasi keadaan di perkampungan ini, mereka menyadari, seharusnya rumah Phoa Sin Tek merupakan te mpat yang cocok untuk dipakai bersembunyi, karena letak rumah Phoa Sin Tek terletak di pintu gerbang kampung itu, jelas orang-orang yang berdatangan tidak akan begitu memperhatikan sekitar keadaan di pintu gerbang tersebut, karena

mereka umumnya pasti akan mencari tempat-tempat keramaian. Sedangkan gedung Phoa Sin Tek terletak jauh dari segala macam keramaian.

Ketika mereka bertiga tiba di gedung tempat berkumpulnya Bunga- bunga Raja (pelacur), dimana lelaki hidung belang dapat melampiaskan nafsunya di rumah itu tanpa   memperoleh gangguan, sebab dibuka dengan ijin pemerintah daerah setempat, It Mang bertiga berhenti sejenak. Mereka memperhatikan sekitar tempat itu, dimana tampak banyak sekali pemuda yang hilir mudik keluar masuk ke dalam dan keluar dari gedung Bunga-bunga Raja itu.

Sebagai orang-orang yang sudah lama dan kenyang makan asam garamnya rimba persilatan, It Mang bertiga mengetahui, di tempat-tempat seperti inilah banyak sekali orang-orang  yang mempergunakan  sebagai tempat persembunyian mereka dan juga kalau memang ingin memperoleh berita, memang di tempat seperti inilah mereka harus menyelinap untuk melakukan penyelidikan.

It Mang, Sin Tang dan Sin Bun telah masuk ke dalam gedung Bunga Raja itu.

Begitu mereka melangkahkan kaki mareka bertindak memasuki pintu gerbang gedung itu, segera juga hidung mereka dapat mencium bau wangi- wangian yang bermacam rupa. Juga di-dalam gedung itu tampak bermacam ragam orang-orang yang terdiri dan berbagai golongan, tengah bergurau serta pelesiran dengan wanita-wanita cantik, yang umumnya berpakaian  serta berdandan dalam keadaan yang menyolok.

Seorang wanita tua bertubuh gemuk pendek menyambut kedatangan ketiga orang ini.

“Sam-ya (tiga orang terhormat) tentu menginginkan  barang baru bukan? Sudah lama tidak datang kemari? Mari masuk! Mari masuk!! Aku akan menyediakan barang yang benar-benar baru!” kata peremnuan gemuk pendek itu yang tentunya germo dari tempat pelacuran tersebut.

It Mang bertiga mengerti yang dimaksudkan oleh germo ini dengan perkataan barang baru, tentunya perempuan-perempuan pelacur yang baru. Juga hati ketiga pendekar ini jadi tertawa geli sendirinya mendengar perkataan perempnan tua gemuk ini, yang membawakan sikap seperti juga telah mengenai It Mang bertiga dan seperti juga It Mang bertiga  pernah datang di tempat tersebut.

Dengan tersenyum-senyum tanpa memberikan komentar, It Mang bertiga hanya mengikuti perempuan gemuk itu, mereka dibawa ke sebuah

kamar yang terawat rapih dan bersih, juga dipenuhi oleh bau wangi-wangian bermacam-macam rupa memabokkan kepalanya.

Coba kalau memang It Mang bukannya setiang melakukan penyelidikan dan sengaja datang ketempat ini, siang-siang  dia sudah akan angkat kaki untuk meninggalkan tempat yang memusingkan ini.

Germo tua itu telah mengoceh tak hentinya sampai akhirnya dia telah meneriaki nama seseorang gadis, maka segera juga masuk ke dalam kamar ini seorang nona berusia diantara dua puluh tahun wajahnya cantik juga rambutnya digelung dua, tetapi dia memakai pupur dan gincu (merah bibir) terlalu tebal, membuat kecantikan wajahnya agak tertutup.

Sikap dan lagaknya juga genit bukan main, berjalan lenggang-lenggok dengan centrik sekali.

“Ada apa, Ma-po  (panggilan seorang germo)  memanggilku begitu sibuk?” tanyanya dengan suara yang manja, dan matanya juga telah melirik kearah It Mang bertiga secara tergantian.

“Kau layani ketiga tamu agung kita ini, San Niang (dewi gunung), ingat, kau harus melayani tuan-tuan ini dengan sebaik mungkin agar tuan-tuan agung kita ini jadi betah di sini dan merasa puas! Ingat, sekali saja kau membuat ketiga tamu agung kita ini jadi kecewa, telingamu  akan kutarik sampai panjang!!”

“Jangan takut Ma-po, percuma saja San Niang berada di kamar ini kalau tidak bisa memuaskan ketiga tamu agung kita ini!” kata si wanita pelacur itu sambil melirik kearah It Mang bertiga lagi, sikapnya sangat genit seka li.

Sin Tang bertiga jadi muak melihatnya, karena mereka menganggap sikap gadis pelacur tersebut sangat centil dan juga tengik sekali, menjijikkan.

Si germo tua itu telah tertawa hehehe, dan setelah mengoceh pula beberapa saat, dia telah berlalu.

Sedangkan San Niang telah mengambilkan minuman-minuman dan makanan kecil untuk ketiga tamu-tamunya ini, kemudian dengan sikap yang genit dan manja yang dibuat-buat, dia ingin duduk dipangkuan It Mang.

Jelas It Mang mana mau memangku perempuan pelacur ini.

“Kau duduk saja di kursi itu!” katanya sambil menunjuk kursi yang masih

kosong di dek a t mereka.

Muka San Niang jadi cemberut.

“Mengapa sih?” tanyanya genit. “Apakah kau jijik untuk memangkuku,

Toaya (tuan besar)?”

“Aku sangat letih, kalau memangku dirimu tentu aku akan kehabisan tenaga!” kata It Mang pula dengan suara yang tawar. ''Duduklah  disitu, marilah kita bercakap-cakap sebentar!”

San Niang rupanya tersinggung, walaupun dia tetap tersenyum genit, toch dia telah duduk ditepi pembaringan. Sikapnya centil sekali, duduk dengan sepasang kaki tang ditumpangkan, sehingga kun (gaun)nya agak tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih mulus itu.

“Bercakap-cakap?” tanyanya dengan suara yang manja dan bibir agak dimonyongkan, dijebikan. “Untuk apa? San Niang  kira lebih baik kalau kita mulai saja! Satu lawan tiga juga tidak apa-apa,  San Niang sanggup melayaninya, tentu dengan begitu lebih nikmat lagi!”

Mendengar tantangan yang diajukan oleh San Niang. It Mang bertiga jadi menggidik.

Satu lawan tiga?! Amboi!

Itulah suatu tantangan yang tentunya akan disambut gembira oleh lelaki hidung belang! Tetapi bagi It Mang bertiga, malah tantangan seperti itu benar-benar merupakan hal yang sangat menjijikkan sekali.

It Mang telah menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya : “Kami datang kemari sebetulnya selain ingin pelesir dan bersenang-senang,  juga ingin mencari seseorang kawan, yang katanya akan menantikan kami di tempat ini!”

“Siapa kawan Toaya?”

“Cu Kim Hoat!” sahut It Mang sembarangan saja.

“Cu Kim Hoat?! Hai! Hai! Mengapa San Niang jadi demikian pelupa? Rasanya San Niang sering mendengar nama itu! Tunggu dulu, San Niang coba- coba mengingatnya, ya, ya, tentu dia yang Toaya maksudkan!” manja sekali sikap San Niang dan dia selalu duduk tidak bisa diam, kakinya selalu berobah- obah, nanti yang kiri ditumpangkan pada yang kanan, lalu dirobah kaki kanan pada yang kiri. Sehingga dengan begitu, berulang kali kun (gaun)nya telah tersingkap dan juga sering kali menonjolkan pahanya yang putih halus itu. Seperti juga San Niang sambil bercakap-cakap juga sekalian memancing nafsu kelaki-lakian ketiga tamunya ini.

Muak sekali hati It Mang, Sin Tang dan Sin Bun waktu melihat sikap dan lagak perempuan lacur ini. Tetapi disebabkan mereka memang sedang ingin

menyelidiki keadaan dengan sendirinya, mereka menyabarkan diri dan hanya memaksakan diri mereka masing-masing untuk tersenyum.

“Siapa Cu Kim Hoat yang kau maksudkan?” sengaja It Mang bertanya

begitu.

“Seorang pedagang barang-barang permata, bukan?”tanya wanita lacur ini, padahal dia sendiri juga telah berkata sembarangan, karena dia sendiri memang tidak mengetahui siapa itu Cu Kim Hoat yang sedang dicari  oleh ketiga orang tamu-tamunya ini.

“Salah! Cu Kim Hoat yang kami maksudkan itu adalah seorang Busu

(guru silat)!!” berdusta It Mang pula.

“Ohhh, kalau begitu San Niang telah salah menerka!” kata perempuan

lacur itu tetap manja disertai oleh tertawanya yang centrik bukan main.

“Hmmm, menurut pesan kawan kami itu, dia akan menanti kami di sini, untuk bersama-sama pelesir!!” berdusta It Mang lebih lanjut. “Tetapi mengapa dia belum juga sampai di sini?”

“Mungkin juga dia akan sampai tidak lama  lagi!”kata San Niang mencoba mengemukakan pikirannya. “Apalah tidak ada baiknya kalau Samya (tiga tuan-tuan mulia) bersenang-senang dan pelesiran lebih dulu untuk naik ke sorga! San Niang akan melayaninya sedapat mungkin agar Samya bertiga menjadi puas! Sippp deh!!”

It Mang menghela napas, dia menggelengkan kepalanya perlahan.

“Kalau kawan kami she Cu itu telah sampai di sini, kami bisa pelesiran dengan tenang? Karena dia guru silat, kalau ada yang mau mengganggu ketenangan kami, dia tentu bisa memberikan perlindungan pada diri kami!” It Mang mulai mempergunakan pancingannya.

“Ohhh, Samya tidak usah kuatir, tempat ini aman dan tenteram. Walaupun Samya melihat banyak tamu-tamu kita yang berasal dari rimba persilatan, mereka adalah pendekar-pendekar yang baik hati!!” San Niang mencoba untuk membujuknya. “San Niang jamin,  Samya pasti bisa berpelesiran dengan tenang tanpa gangguan apapun juga!”

It Mang sengaja menghela napas, memperlihatkan muka yang muram.

“Tetapi tanpa adanya sahabat kami she Cu itu, tetap saja hati kami tidak bisa tenang!” kata It Mang kemudian. “ Oya, sebenarnya orang-orang rimba persilatan yang datang kemari untuk pelesiran, mereka itu terdiri dari golongan mana saja?”

“Umumnya dari golongan putih! Kami sendiri kalau harus melayani orang-orang golongan hitam (penjahat), tentu kami akan menolaknya dengan halus, karena umumnya mereka terlalu kasar dan terlalu banyak rewel! Sudahlah Toaya, untuk apa Toaya memusingkan kepala dengan segala urusan yang tidak ada gunanya! Mari kita pelesiran! Aku tutup pintunya, ya?”

Tetapi It Mang telah menggoyang-goyangkan tangannya.

“Kalau begitu, biarlah San Niang melayani Jie Toaya (dua tuan lainnya) saja!!” kata wanita lacur itu dengan sikap yang agak jengkel. “Toaya boleh menontonnya di dalam kamar ini atau boleh menunggunya di luar!”

It Mang tersenyum.

“Jangan tergesa-gesa, toch yang terpenting bagimu adalah bayarannya, bukan?! Nanti aku akan memberikan bayaran yang berapa kali lipat! Maka dari itu, kau tidak usah kuatir akan kehilangan waktu!” kata It Mang.

“Ach Toaya bisa saja!” kata San Niang yang mukanya telah berobah manis lagi, “Mengapa aku harus kehilangan waktu? Melayani Sam Toaya bertiga sampai besok pagipun aku bersedia!!” rupanya hati wanita lacur ini telah girang bukan main mendengar dirinya akan dibayar beberapa kali lipat dari harga tarif biasanya.

“Sekarang aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu!” kata It Mang sambil merogoh sakunya, mengeluarkah lima tail emas, diletakkan di atas meja. “Kalau kau mau menjawabnya dengan jujur, maka uang lima tail emas ini akan menjadi milikmu!!”

Melihat uang lima tail emas  yang menggeletak di atas meja, mata wanita lacur itu jadi jelalatan dengan muka girang bukan main. Jumlah lima tail emas itu sama saja dengan jumlah uang yang diperolehnya jika perempuan lacur ini 'menarik' sepuluh orang langganannya. Maka dari  itu, dengan tergesa-gesa   dia    telah    bertanya : “Katakanlah Toaya, apa yang ingin Toaya tanyakan? San Niang pasti akan menjawab dan menerangkan yang sejujurnya!”

“Apakah di tempat ini sering kedatangan orang-orang pemerintahan?” tanya It Mang sambi memandang tajam pada San Niang. Begitu pula Sin Tang dan Sin Bun mengawasi perempuan lacur ini.

San Niang terkejut mendengar perkataan It Mang tersebut, matanya dipentang   lebar-lebar karena rupanya wanita lacur ini   merasa heran bukan main.

“Orang pemerintahan? Apa maksud Toaya?” tanya San Niang setelah

mengawasi It Mang bertiga bergantian.

“Maksudku, apakah tempat ini sering dikunjungi oleh orang-orang pemerintahan yang ingin pelesiran juga?” tanya It Mang menegaskan pertanyaannya.

San Niang mengangguk.

“Sering, bahkan banyak memang orang-orang pemerintahan   yang datang pelesiran di sini! Oh, hooo, kalau mereka, umumnya terlepas dengan uang (tidak kikir), tetapi kalau bertemu dengan orang pemerintahan  yang berurat badak,   niscaya kita bisa rugi juga, karena terkadang tidak bayar .....

gratis!” setelah berkata     begitu, San Niang meringis, rupanya dia pernah

mengalami kejadian yang tidak menggembirakan itu.

It Mang, Sin Tang dan Sin Bun jadi tertawa geli di dalam hati mereka, sebab yang mereka tanyakan bukan soal itu, mereka hanya ingin mengetahui apakah tempat pelesiran ini banyak didatangi oleh orang pemerintahan, sebab menurut It Mang, kalau memang tempat ini banyak dikunjungi orang -orang pemerintahan, niscaya dia bisa memasang kuping mendengar-dengar perihal kejadian terakhir di kota raja.

Tetapi It Mang tidak bilang apa-apa, dia hanya mengangguk-angguk saja.

pula. “Baiklah! Siapa-apa saja yang sering datang kemari?” tanya It Mang “Mau apa sih Toaya menanyakan perihal orang-orang pemerintahan? Apakah Toaya mempunyai kawan di dalam kalangan mereka?” tanya San Niang agak jengkel juga, sebab dia sudah ingin buru-buru memiliki uang lima tail emas di atas meja itu.

“Jawab dulu! Bukankah tadi kau sudah bcrjanji akan menjawab pertanyaanku dengan jujur! Sekali ini saja kalau kau mau menjawab dan memberikan keterangan yang jujur, uang ini akan menjadi milik mu!”

San Niang ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian akhirnya   dia mengangguk juga.

“BAIKLAH!” kata San Nian kemudian. “Yang sering datang kemari adalah Wakil Congtok (semacam penguasa daerah), dia memang paling gemar paras cantik, tetapi setelah menjadi langgananku, dia jadi tidak menyukai wanita yang lainnya! Asal Samya tahu saja mengapa dia bisa begitu!” kata San Niang dengan memperlihatkan perasaan bangga. “ Dia she Coa dan bernama Ting In. orangnya gagah perkasa, begitu pula di atas pembaringan juga gagah perkasa, kalau bertanding, dia yang selalu menang dua tingkat di atas diriku! Entah kenapa, mungkin juga disebabkan dia memang memiliki

ilmu mujijat atau memakai obat, aku sendiri tidak tahu! Tetapi, jelaslah, selalu saja pada babak ketiga baru dia mau menyerah, setelah aku terlemas -lemas!”

Dasar perempuan lacur, ditanya lain, malah dia telah mengocehnya lain, menceritakan apa saja kejadian yang dialami di dalam dunianya! It Mang bertiga sebetulnya muak mendengar cerita perempuan lacur ini yang begitu kotor.

“Sering orang she Coa itu datang kemari?” tanya It Mang.

“Jelas dong, yang pasti seminggu sekali dia akan datang, terkadang bisa sampai seminggu dua kali!” menyahuti San Niang dengan bangga. Oya, uang itu sudah menjadi milikku, bukan?!”

It Mang mengangguk dan membiarkan perempuan  lacur ini dengan rakus meraup uang lima tail emas itu dari atas meja. Mukanya berseri-seri, rupanya dia girang bukan main.

It Mang telah merogoh sakunya lagi mengeluarkan lima tail emas pula.

“Uang ini akan menjadi milikmu lagi!” kata It Mang sambil tersenyum. “Ehhh.....!”        perempuan lacur itu jadi terheran-heran,  seperti juga

takjub. “Be...benarkah Toaya? Benarkah itu?” tampaknya  perempuan lacur yang bergelar    Dewi Gunung ini tidak mempercayai pendengarannya sendiri. It Mang mengangguk.

“Ya.....Kami bertiga akan berdiam dulu di dalam kamar ini bersama kau beberapa saat lamanya, seperti juga kita sedang pelesir dan bersenang- senang. Tetapi terus terang kami sebetulnya tidak berselera untuk bersenang - senang pada hari ini. karena kami mempunyai urusan! Dan ingat, kami meminta kau agar menutup rapat-rapat dan tidak menceritakan kepada Ma- po (germo)mu itu atas sikap dan pertanyaan-pertanyaan kami, karena kalau Ma-po (germo)mu itu mengetahuinya, niscaya dia akan memotong uangmu meminta bagiannya! Segala ongkos sewa kamar akan kami tanggung!  Nah ambillah yang lima tail emas ini!!”

Betapa girangnja wanita lacur tersebut, dia tidak  menyangka bahwa hari ini dirinya bisa menerima tamu yang demikian aneh dan royal. Setelah meraup uang itu, dia saking kegirangan ingin mencium pipi It Mang.

Cepat-cepat It Mang berkelit teriaknya dengan nada suara yang ditekan perlahan : “Jangan menyentuhku, sudah kukatakan, hari ini aku tidak mempunyai selera untuk berpelesiran!”

Wanita lacur itu jadi bengong sejenak, tetapi kemudian tertawa-tawa tanpa memperdulikan keanehan-keanehan pula diri tamu-tamunya ini...........

------MDN------

SETELAH berdiam sesaat di dalam kamar San Niang ini, It Mang, Sin Tang, dan Sin Bun tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan, yang bisa dibuat untuk bahan mereka dalam penyelidikan tersebut.

It Mang memberi isyarat kepada Sin Tang dan Sin Bun bahwa mereka boleh berlalu meninggalkan tempat ini, karena sudah cukup lama mereka meninggalkan gedung Phoa Sin Tek. Selama itu mereka telah bercakap -cakap dengan San Niang mengenai persoalan yang tidak ada artinya, karena tidak hentinya San Niang selalu memuji langganannya orang she Coa itu, yang menurut dia adalah wakil Congtok. Tampaknya San Niang kagum bukan main pada diri lelaki she Coa itu.

Tetapi baru saja It Mang berdiri dari duduknya ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba mereka mendengar suara orang berkata dengan keras : “Dia menerima tamu lain? Hai! Hai! Kurang ajar! Ma-po! Siapa yang memberi ijin dia menerima tamu-tamu pula? Malah sampai tiga orang sekaligus, heh?”

Muka San Niang jadi berobah pucat seketika itu juga, apa lagi di luar kamar terdengar suara ribut-ribut.

“Hah!! Dia datang? Mengapa tidak menyuruh orangnya untuk mengabarkan kepadaku tentang kedatangannya itu ?” menggumam San Niang dengan sikap yang gugup bukan main, gelisah sekali.

“Siapa?” tanya It Mang.

“Coa.......CoaTing In!” sahut San Niang dengan suara agak tergetar.

It Mang jadi kasihan juga melihat kegugupan dan rasa takut pada diri wanita ini.

“Tenanglah, kau tidak usah takut, nanti kami yang akan memberikan penjelasan kepada kekasihmu she Coa itu, karena memang sebenarnya kami tidak berpelesir dengan kau, bukan?!”

“Tetapi, tetapi Coa Tayjin (pembesar she Coa) itu sangat berangasan dan cepat naik darah!” kata San Niang tambah gugup.

“Tenanglah,   percayalah,   kami pasti akan   dapat   menghadapinya!!”

menghibur It Mang.

Tetapi baru saja It Mang berkata sampai di situ, tiba-tiba pintu kamar itu telah disepak oleh seseorang dengan keras, daun pintu sampai menjeblak dengan mengeluarkan suara yang berisik sekali.

It Mang jadi mengerutkan sepasang alisnya, begitu juga halnya dengan Sin Tang dan Sin Bun, sepasang alis mereka telah terangkat naik saking mendongkol atas kekasaran orang yang telah menyepak pintu itu.

Di ambang pintu tampak berdiri seorang lelaki berusia pertengahan, kurang lebih empat puluh tahun, dengan tubuh yang tromok dan berpakaian militer, menunjukkan dia seorang perwira. Saat itu mukanya tengah  merah padam, rupanya dia tengah murka sekali.

“Bangsat! Akan kuperintahkan kalian untuk  dihukum  pancung berani main gila dengan kekasihku!!” teriak perwira itu dengan suara yang mengguntur karena dia rupanya cemburu sekali.

It Mang menyabarkan hatinya, karena It Mang mengerti, kalau sampai dia berkeras, niscaya akan terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan dan akan mempersulit diri mereka.

“Maaf Tayjin, siapakah Tayjin?” tanya It Mang sambil menjura. “Boleh kami mengetahui nama Tayjin?”

“Inshu (aku : bahasakan diri seorang perwira tinggi)  Coa Ting In, kaliankah bertiga yang telah memakai San Niang?!” bentak berwira itu dengan suara yang bengis dan galak sekali.

“Tenang Coa Tayjin, dengar dulu keterangan kami!!”  kata It Mang dengan sikap yang tenang. “Kami adalah orang pelancong yang baru sampai di kampung ini, maka dari itu, kami hanya bermaksud ingin menikmati pemandangan indah dan keramaian yang ada dengan sendirinya tidak ada niat kami untuk pelesiran. Kami hanya kebetulan ditemani oleh San Niang Siochia untuk minum-minum saja sekalian memberikan penjelasan-penjelasan kepada kami mengenai keadaan kampung ini, karena kami bertiga boleh dibilang buta sama sekali mengenai perkampungan ini !!”

“Hmmm.......Begitu?” tanya siperwira she Coa ragu-ragu.  “Bagus! Bagus! Tadinya kukira kalian berani berlaku kurang ajar pada orangku ini! Coa Ting In jangan harap dapat dibuat main, Peng Po Siang Sio See Un (Menteri Pertahanan See Un) yang memiliki pangkat begitu tinggi, telah kubabat habis! Hahahaha, apa lagi baru kalian!!”

Mendengar perkataan perwira ini yang menyebutkan perihal Peng Po Siang Sie See Un, hati It Mang, Sin Tang dan Sin Bun jadi terkesiap, mereka terkejut bukan main.

Tetapi karena menyadari sedang berhadapan dengan orang macam apa Coa Ting In, tentu saja mereka tidak berani memperlihat kan perasaan mereka itu. Dengan cepat It Mang bertiga telah berusaha menindih perasaan  kaget mereka dan bersikap biasa saja.

“Hebat sekali Tayjin! Memang  telah tersiar bahwa Peng Po Siangsie ingin melakukan pemberontakan telah ditindas oleh pihak pemerintah, karena Hongte telah mengirimkan utusan untuk menangkapnya ...! Bukankah begitu Tayjin?!”

“Benar!” sahut Coa Ting In. “Memang begitu kejadiannya! Tetapi orang Hongte telah meminta bantuan Congtok dan Congtok telah meminta agar aku mewakilinya, membantu orang-orang Hongte untuk menawan  Peng  Po Siangsie.” Waktu berkata-kata begitu, tampaknya Coa Ting In bangga sekali, tetapi kenyataannya. setelah dia teringat akan kedudukan dirinya dan berada di tempat apa cepat-cepat dia telah berhenti berkata, dan katanya : “Hayo cepat kalian menggelinding keluar!!” dan sambil membentak It Mang begitu, Coa Ting In telah melirik kearah San Niang dengan sikap yang mesra, sedangkan San Niang yang melihat dirinya sudah dapat diloloskan oleh It Mang dari suasana yang tidak menggembirakan, juga telah membalas lirikan mata Coa Ting In dengan senyuman genit.

It Mang bertiga Sin Tang dan Sin Bun memang sudah tidak  betah berdiam lama-lama disitu, sebab memang dia juga sudah muak pada Coa Ting In ini, yang sikapnya memuakkan.

Dengan cepat It Mang dan kedua kawannya telah keluar dari ruangan tersebut.

Tetapi melangkah belum jauh, tiba-tiba  Coa Ting In telah menoleh kearah mereka, teriaknya : “Hei, tahukah kau, bahwa aku akan segera dinaikkan pula pangkatku kalau saja malam ini tugas yang diserahkan kepada Tayhu   untuk   menangkap   puteranya   Peng Po Siangsie itu berhasil dengan baik!! Hmmm .......putera Peng Po  Siangsie itu bersembunyi dikampung ini juga pasti dia tidak mungkin bisa meloloskan diri pula, karena seluruh perkampungan ini telah dikurung ketat, jangan kata seorang manusia, seekor lalatpun tidak mungkin bisa terbang lolos dari penglihatan orang -orangku!”

Kata-kata Coa Ting In seperti juga petir yang melanggar keras dipingggir telinga It Mang, Sin Tang dan Sin Bun.

Malah It Mang bertiga seperti tidak mau mempercayai pendengaran mereka.

Tetapi cepat-cepat ketiga pendekar ini berusaha mengendalikan goncangan hati mereka.

“Ohhh, kalau begitu kami mendoakan semoga usaha Tayjin berhasil dengan baik. Sebelumnya kami ucapkan selamat!!” kata It Mang sambil menjura memberi hormat.

Coa Ting In tertawa gelak-gelak dengan perasaan bangga.

It Mang bertiga melangkah biasa saja sampai di luar gedung itu, tetapi begitu telah berada di jalan raya, dengan cepat mereka mempergunakan ginkang mereka, berlari pesat untuk kembali pulang kerumah Phoa Sin Tek. Pada saat itu hari sudah menjelang sore hari, dan mereka jadi menduga-duga entah apa yang telah terjadi di gedungnya Phoa Sin Tek.

Dengan cepat mereka telah sampai di gedung Phoa Sin Tek dengan perasaan yang kuatir bukan main. Berkuatir akan keselamatan jiwa majikan kecil mereka.

Tetapi ketika mereka sampai di pintu gedung itu yang sepi dan tertutup rapat, hati mereka jadi agak tenang biarpun masih diliputi ketegangan. Dilihat dari keadaan gedung itu, tentu tidak pernah terjadi sesuatu apapun juga di gedung ini.

Tanpa mengetuk pintu lagi, ketiganya telah melompati dinding pekarangan gedung ini dengan gerakan yang gesit. Dan waktu tubuh mereka melayang di tengah udara, terdengar suara orang menjerit agak keras.

Semangat It Mang, Sin Tang, Sin Bun jadi melayang seperti ingin meninggalkan raga mereka saking terkejut, tetapi  setelah mereka turun dibumi dan mementang mata mereka lebar-lebar, ternyata orang yang mengeluarkan suara jeritan itu tidak lain dari A Toa, pelayannya keluarga Phoa tersebut. Rupanya A Toa kebetulan berada dipekarangan depan gedung ini. dan tahu-tahu melesat masuk tiga sosok bayangan hitam yang gesit sekali gerakannya. A Toa jelas jadi kaget setengah mati, karena dia menduga bahwa itulah bayangan hantu belaka!

Hati It Mang bertiga jadi tenang, malah It Mang menghampiri A Toa.

“Toa-heng, kalau nanti ada orang yang mengetuk pintu, kau jangan sekali-kali membukanya! Dan mana Siauwya? Dan juga Loyamu?” tanya It Mang agak gugup.

A Toa heran melihat sikap It Mang bertiga dengan Sin Tang dan Sin Bun begitu gugup.

“Sebenarnya ada urusan apakah tuan bertiga tampaknya begini gugup?”

tanya   A Toa sambil mengawasi It Mang bertiga bergantian.

“Aku tanya padamu, mana Siauwya dan majikanmu?” tanya It Mang

tidak sabar.

“Siauwya berada di kamarnya, dan dan Loya juga berada di kamarnya pula!!” sahut A Toa agak bingung dan gugup.

Sedang pelayan keluarga Phoa ini sedang kebingungan, It Mang bersama-sama Sin Tang dan Sin Bun telah mencelat cepat sekali menuju ke dalam. sehingga A Toa hanya dapat mengangkat bahunya sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.

Tanpa mengetuk daun pintu kamar lagi. It Mang bertiga  telah menerobos masuk, membuat Cin Ko yang tengah rebah di atas pembaringannya dalam keadaan termenung, sampai melompat turun dari pembaringan itu.

“Ach kiranya kalian, Sam Siok-siok!!” kata Cin Ko setelah melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya itu. “Membuat aku jadi kaget bukan main.”

It Mang bertiga jadi menarik napas lega, dan cepat-cepat dia memberi hormat.

“Maafkan Kongcu, kami terlalu kesusu!” kata It Mang. “Saat ini juga kita harus meninggalkan tempat ini, sebab sudah keendus oleh musuh, malah mereka   mulai melakukan pengepungan di luar perkampungan!  Menurut berita yang kami selidiki itu, bahwa malam ini juga mereka akan mengadakan penyerbuan!!”

Muka Cin Ko jadi berobah seketika itu juga, dia tampaknya terkejut

sekali.

“Sekarang hari sudah sore, kita harus secepat mungkin meninggalkan

tempat ini, sebab waktu kita tidak banyak lagi!!” kata Sin Tang yang ikut

bicara juga.

“Mari kita temui Phoa Susiok!!” kata It Mang sambil mempersilahkan

Cin Ko jalan dimuka mereka.

Dengan cepat mereka telah menuju ke kamarnya Phoa Sin Tek, dengan tidak sabar It Mang telah mengetuk pintu kamar yang tertutup itu.

Rupanya Phoa Sin Tek yang  berada di dalam kamar juga jadi terkejut diketuk begitu rupa pintunya.

“Ada apa? Kau A Toa?!” tegur Phoa Sin Tek dengan suara agak tidak senang.

“Maafkan Phoa Susiok, kami yang datang untuk menemui Phoa Susiok!!”

sahut It Mang cepat.

Terdengar seruan heran dari orang she Phoa tersebut, kemudian terdengar kunci pintu itu telah dibuka, maka tampak pintu telah menjeblak, tersembul kepala Phoa Sin Tek.

“Ada apa, Hiantit?” tanya Phoa Sin Tek kemudian sambil mengawasi Cin Ko berempat dengan heran. “Tampaknya ada sesuatu yang telah membuat kalian jadi demikian tegang!!”

Tempat persembunyian See Kongcu sudah diketahui oleh orang-orang Congtok dan Thaykam Ban Hong Liu. Phoa Susiok!!” kata It Mang dengan gugup. “Maka dari itu. kami tidak bisa berdiam lebih lama lagi di sini!”

“See Kongcu?   Siapa dia?” tanya Phoa Sin Tek tambah heran lagi saja.

It Mang segera tersadar bahwa dia belum menceritakan kepada paman gurunya ini mengenai asal usul Cin Ko yang sebenarnya.

“See Kongcu adalah cucu dari Peng Po  Siansie yang berhasil kami loloskan dari kepungan orang-orang Ban Hong Liu Thaykam, Cin Ko adalah cucu Peng Po Siansie!”

“Ihhh ..?!” Phoa Sin Tek terkejut bukan main, sampai dia berdiri menjublek sejenak, tetapi kemudian cepat dia telah merangkapkan kedua tangannya menjura pada Cin Ko, katanya : “Hai! Hai! Lohu mempunyai mata, tetapi seperti buta saja, karena tidak bisa melihat menjulangnya Kim san (gunung emas, maksudnya orang besar dan hebat) berdiri di hadapanku! Terimalah penghormatan Lohu!!”

Tetapi Cin Ko telah cepat-cepat menahan kedua tangan Phoa Sin Tek yang ingin menjura padanya.

“Jangan banyak peradatan, Lopeh, jangan banyak peradatan!!” kata Cin

Ko cepat.

“Mengapa kalian tidak menceritakan sejak semula bahwa Cin Ko Kongcu ini adalah See Kongcu cucu See Un Tayjin Peng po Siangsie!! Menyesal Lohu tidak bisa membelikan penyambutan yang semeriah-meriahnya pada  See Kongcu!!”

It Mang menggelengkan kepalanya.

“Ini kami lakukan karena kami memang sedang dikejar kejar! Tetapi siapa nyana, akhirnya biarpun kami melarikan diri kemanapun juga, kami tidak bisa meloloskan diri dari orang-orangnya Thaykam she Ban itu?!!” dan dengan kesusu It Mang telah menceritakan apa yang baru saja di alaminya.

Betapa terkejutnya Phoa Sin Tek, perkataan dari Coa Ting In jelas menunjukkan bahwa persembunyian Cin Ko di gedung keluarga Phoa ini telah dapat diendus. Tetapi siapa yang membocorkannya? Inilah yang membuat mereka jadi bingung, dan tidak habis mengerti.

Tetapi mereka semuanya tidak bisa berpikir terlalu lama.

Keadaan waktu mereka telah kesusu, mau tak mau mereka harus cepat - cepat meninggalkan tempat itu, agar nanti dikala pasukan Coa Ting  In menyerbu, mereka tidak bisa menemui Cin Ko, sehingga keluarga Phoa dapat diselamatkan.

“Tetapi tadi To Hiantit telah menceritakan bahwa Coa Ting In mengatakan bahwa sekitar perkampungan ini telah dikepung ketat oleh orang- orangnya, inilah membahayakan diri kalian kalau berangkat juga! Begini saja aku mempunyai sebuah ruangan kecil ruangan rahasia,  untuk sementara waktu kalian dapat bersembunyi di sini, menanti sampai keadaan telah aman kembali barulah kalian keluar pula!”

It Mang berpikir sejenak, tetapi setelah meminta pendapat Sin Tang dan Sin Bun, akhirnya mereka menyetujui usul Phoa Sin Tek.

Segera juga Phoa Sin Tek mengajak tamu-tamunya ini kebelakang gedungnya. Mereka diajak ke sudut taman sebelah kanan, dimana terdapat sebuah batu gunung-gunungan yang tidak begitu besar.

Phoa Sin Tek meminta It Mang untuk membantu dia mengangkat batu itu, menggesernya.

Ketika batu tersebut telah digeser, segera juga terlihat lubang rahasia yang terdapat undakan anak tangga yang menuju ke arah bawah.

“Nah, kalian masuklah ke dalam  lobang rahasia itu, aku akan menutupnya kembali. Di dalam lobang rahasia itu sudah diperlengkapi jalanrja hawa udara, maka biarpun batu ini akan menutupi lobang tersebut, toch kaliantidak usah kuatir tidak bisa bernapas!!”

It Mang dan yang lainnya mengucapkan terima kasih.  Kemudian Sin Tang yang jalan paling muka, kemudian menyusul Sin Bun, baru Cin Ko dan terakhir It Mang. Dengan cara begitu, mereka telah melindungi Cin Ko dari depan dan belakang mengawalnya cukup ketat.

Phoa Sin Tek telah memanggil A Toa, agar membantui dia menutup kembali lubang itu.

Dilihat dari letak tempat persembunyian itu, memang selain tidak akan mencurigakan orang, pun memang tidak akan diduga oleh siapapun bahwa

dibawah batu-batuan itu terdapat sebuah jalanan rahasia yang menuju ke sebuah ruangan rahasia di bawah tanah.

------MDN------

RUANGAN rahasia dibawah tanah itu ternyata cukup luas juga, berbentuk segi empat dan berukuran lima tombak persegi. Ruangan ini dicapai oleh It Mang berempat setelah menuruni undakan anak tangga yang agak panjang, kurang lebih sembilan belas undakan anak tangga.

Dan seperti apa yang dikatakan oleh Phoa Sin Tek, memang di dalam ruangan tersebut telah terdapat empat buah lubang yang cukup besar untuk keluar masuknya udara, janj dihubungkan oleh sebatang bambu bulat

Dengan bersembunyi di ruangan rahasia ini sebetulnya Cin Ko berempat memang dapat mengasoh dengan tenang, karena, selain tempat persembunyian tersebut terletak di belakang gedung, juga dibawah gunung- gunungan palsu itu, tidak mungkin orang akan mengetahui letak tempat persembunyian tersebut.

Maka dari itu, It Mang berempat telah merebahkan dirinya diruangan ini, untuk mengasoh mengumpulkan tenaga.

Namun di dalam suasana tegang seperti itu, mana bisa mereka memejamkan mata. Ketika menjelang tengah malam, Cin Ko tiba-tiba telah melompat bangun sambil menepuk tangannya.

“Aha, mengapa aku lupa pada dia!” teriak Cin Ko dengan suara yang

nyaring.

It Mang, Sin Tang dan Sin Bun jadi terkejut melihat sikap majikan kecil mereka ini, dengan penuh kewaspadaan, It Mang bertiga menjaga segala kemungkinan.

“Ada   apa, Kongcu?” tanya Sin Tang dengan berkuatir sekali.

“Aku telah melupakan seseorang, Wie Siok-siok!”  sahut Cin Ko. “Sekarang aku baru bisa mengingatnya lagi pada orang itu! Sekarang, aku pun bisa mengetahui mengapa musuh dapat mengendus tempat persembunyian kita di gedung Phoa Pehpeh!

Dan segera juga Cin Ko menceritakan perihal Phoa Sin Tek telah kedatangan seorang tamu yang bernama Su Cie Kiat, “dia adalah  salah seorang yang telah ikut menyerbu ke istana Yaya! Hmm, menurut katanya dia adalah orang kepercayaan Ban Hong Liu yang bekerja dibawah perintah Giok Bian Siuchay!” menjelaskan Cin Ko pada akhir ceritanya.

It Mang bertiga yang mendengar cerita Cin Ko jadi terperanjat bukan

main. Segera juga It Mang mengerutkan sepasang alisnya: “Apakah........

apakah di dalam persoalan ini Phoa Susiok mempunyai sangkut pautnya?” dia menduga-duga. “Tidak mungkin! Tetapi mana mungkin Phoa Susiok tega untuk menjual kami pada pihak musuh!”

“Memang benar To Sioksiok,  tadinya aku juga mempunyai dugaan seperti kau itu, tetapi setelah melihat betapa Phoa Pehpeh menolak segala macam tawaran yang diajukan oleh orangnya Thaykam she Ban itu,  maka barulah aku percaya Phoa Pehpeh tidak menpunyai sangkut paut apapun juga dengan persoalan ini! Apa lagi memang kita toch tidak menceritakan disaat- saat sebelumnya pada Phoa Pehpeh bahwa kita adalah buronan pemerintah! Hanya dugaan Siauwtt (ponakan kecil) tentunya orang she Su itu yang telah mengenali diriku, dan dia telah memberi laporan pada Giok Bian Siuchay! Karena waktu dia mau mendamprat diriku dan dapat melihat  jelas wajah Siauwtit, segera juga sikapnya jadi berobah lembut dan ramah, tidak segalak yang pertama-tama!”

It Mang telah menghela napas.

“Inilah, salah kami bertiga yang telah meninggalkan  Kongcu seorang diri! Ini adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan!!” kata It Mang kemudian dengan wajah berduka.

“Benar!” Sin Tang juga menimpali dengan wajah yang muram. “Kami memang bersalah besar dan telah salah melakukan tindakan yang menyebabkan ancaman bencana seperti ini!!”

Cin Ko cepat-cepat menghibur mereka, dan mengatakan, bahwa yang paling bersalah adalah dirinya sendiri sebab dikarenakan urusan kecil dan juga disebabkan sifat usilnya, menyebabkan rencana mereka jadi berantakan dan tempat persembunyian mereka di gedung Phoa Sin Tek kena terendus musuh.

Coba kalau Phoa Sin Tek tidak mempunyai ruangan rahasia dibawah tanah ini, bukankah berarti mereka harus menghadapi bahaya yang tidak kecil, karena seluruh perkampungan Lang-chic-chung ini telah dikepung oleh orang-orangnya Coa Ting In dan orang-orangnya Giok Bian Siuchay?!

Akhirnya mereka telah masing-masing berdiam diri. Disaat itu pula Cin Ko teringat pada wanita galak di luar perkampungan. Diceritakannya juga pertemuannya dengan wanita itu pada ketiga orang pamannya ini.

Hal ini menyebabkan It Mang bertiga tambah terkejut lagi. Waktu Cin Ko menyebutkan nama wanita itu, wajah It Mang berobah lebih hebat lagi.

“Siapa?! Coba kau sebutkan namanya sekali lagi!” kata It Mang.

“Khu Mei Sian!”   mengulangi Cin Ko.

Wajah It Mang jadi berobah guram.

“Hai! Hai! Mengapa manusia she Khu ini bisa berada di tempat ini

pula?!” mengeluh It Mang dengan suara yang berat.

Cin Ko jadi heran melihat sikap It Mang setelah mendengar disebutnya nama Khu Mei Sian. Tidak terkecuali Sin Tang dan Sin Bun, mereka juga jadi heran melihat sikap kawan mereka.

“Sebenarnya siapa orang sne Khu itu, Toheng?” tanya Sin Tang ingin

mengetahuinya.

“Khu Mei Sian adalah seorang jago wanita yang memiliki kepandaian yang bukan main!!” menjelaskan It Mang.”Dia adalah achli mempergunakan pedang dan pecut lemas dengan berbarengan, sehingga orang-orang Kang- ouw memberikan gelaran padanya Kiam Pian Liehiap (pendekar wanita pedang dan cambuk). Dia adalah seorang pendekar wanita yang aneh sekali adatnya sukar untuk ditundukkan! Kepandaiannya tinggi sekali,  tetapi disebabkan sifatnya yang agak aneh, dan juga disebabkan pikirannya boleh dibilang gila, jadi kepandaian yang hebat itu tidak bisa dipergunakan dengan baik! Hai! Hai! Dulu memang Phoa Susiok pernah bentrok dengan pendekar wanita she Khu ini. Phoa Susiok telah saling tempur dengan wanita tersebut satu hari satu malam lamanya, sampai akhirnya tidak ada satu orangpun yang terkalahkan dalam pertempuran tersebut. Rupanya hal ini membuat Khu Mei Sian jadi mendongkol dan penasaran sekali, maka dari itu dia telah melatih diri lebih giat, lima tahun kemudian telah menyatroni Phoa Susiok. Saat itu dia datang dengan membawa puteranya. Di dalam pertempuran tersebut, Khu Mei Sian ingin berlaku curang, dia telah menimpukkan dengan senjata rahasia beracun. Tetapi Phoa Susiok yang dapat menduga maksud buruk dari wanita tersebut, telah dapat menangkisnya, malangnya senjata rahasia itu telah menyambar dan mengenai tepat dada dari putera Khu Mei Sianyang berusia sebelas tahun itu. Sejak saat itulah Khu Mei San jadi menaruh dendam pada Phoa Susiok!” dan It Mang mengakhiri ceritanya itu dengan menghela napas berulang kali.

“Untung saja Kongcu tidak sampai dilukai oleh wanita tu, karena sejak kematian puteranya itu, tangan pendekar wanita she Khu tersebut sangat telengas sekali.

Cin Ko yang mendengar cerita It Mang, jadi menggidik. Coba kalau nasibnya waktu saat itu kurang bagus, tentu dia telah dibunuh oleh pendekar wanita tersebut. Begitulah, mereka bercakap-cakap  untuk melewati  sang waktu.

Dan tengah malam telah sampai, samar-samar  terdengar suara kentongan yang dipukul tiga kali. Disaat itulah, It Mang berempat  samar- samar telah mendengar suara ribut-ribut dan suara gembreng yang dipukul juga, diselingi oleh suara bentakan-bentakan yang bengis.

Agak lama keramaian itu berlangsung, rupanya pasukan tentara negeri telah menyerbu rumah Phoa Sin Tek    untuk membekuk Cin Ko. Tetapi ketika tidak memperoleh orang yang dicarinya, rupanya tentara negeri yang dipimpin oleh Coa Ting In, jadi murka bukan main. Mereka telah mendesak Phoa Sin Tek.

It Mang berempat tidak mengetahui bagaimana caranya Phoa Sin Tek memberikan bantahan dan penjelasan kepada tentara negeri itu, sebab setidak-tidaknya Phoa Sin Tek akan mengalami kesulitan yang tidak kecil, karena di dalam rombongan tersebut, telah turut menyerbu Su Cie Kiat, yang pernah melihat Cin Ko sebagai pelayan cilik dari Phoa Sin Tek.

Dengan begitu, jelas Phoa Sin Tek tidak bisa berdusta. Keadaan hiruk pikuk itu tak lama kemudian telah sirap menjadi sunyi, hanya It Mang berempat mendengar suara langkah dari orang ramai, yang menghamp ir mendekati di tempat persembunyian mereka.

Jelas hal ini membuat keempat orang yang tengah bersembunyi di dalam kamar rahasia tersebut, jadi tegang sendirinya.

Malah It Mang merasakan betapa dari telapak tangannya telah mengalir keluar keringat-keringat dingin.

“Dimana?!” It Mang mendengar suara orang membentak dengan kasar. “Kalau kau berdusta, hmmm, hmmm, mata golok Tayhu tidak akan mengenal rasa kasihan, niscaya kau akan kami bunuh dengan cara yang paling enak!”

“Memang..memang   mereka   bersembunyi   di   dalam  ruangan   rahasia

dibawah tanah!” terdengar suara A Toa.

Seketika itu juga semangat It Mang berempat  seperti terbang meninggalkan raga mereka. Rupanya A Toa mengkhianati mereka! Dimanakah Phoa Sin Tek, tidak terdengar suaranya?

“Di kamar rahasia bawah tanah yang mana?” tegur suara yang galak itu

pula.

“Dibawah batu gunung-gunungan itu!!” menjahati A Toa dengan suara

yang gemetar, rupanya dia sedang dalam keadaan ketakutan.

Habislah harapan It Mang berempat. Rupanya Phoa Sin Tek tidak berhasil membendung penyerbuan orang-orang Giok Bian Siuchay dan A Toa saking ketakutan telah mengkhianati mereka.

Tangan It Mang jadi dingin seperti es, dia mencekal tangan Cin Ko.

“Kongcu, nanti kami akan menerjang keluar, kami bertiga akan berusaha membendung mereka, disaat itulah kau harus berusaha melarikan diri!!” bisik It Mang dengan suara tergetar, perasaannya tengah kacau saat itu, karena umpama kata Cin Ko berhasil melarikan diri  keluar dari kamar rahasia ini, belum tentu Cin Ko akan   berhasil melarikan diri keluar dari gedung Phoa Sin Tek yang tentunya telah dikepung ketat. Dan umpama kata Cin Ko berhasil meloloskan diri juga, tetap saja sukar bagi si bocah untuk meloloskan penjagaan kedua, yaitu pasukan Coa Ting In yang telah mengepung kampung Lang-chie-chung ini.

“Benar Kongcu, kami akan berusaha melindungi Kongcu, kau harus berusaha menyelamatkan dirimu! Dipundakmu tergemblok tugas yang maha berat dan besar, maka dari itu kau tidak boleh sampai tertawan!!” kata Sin Tang dan Sin Bun hampir berbareng.

Saat itu telah terdengar suara orang yang galak tersebut telah berteriak memerintahkan orang-orangnya untuk menggeser batu gunung-gunungan tersebut.

Hati It Mang berempat tambah tergoncang keras, mereka berdiam diri bersiap-siap untuk menerjang keluar begitu pintu ruangan rahasia itu terbuka lebar. Keadaan jadi tegang bukan main.

Tetapi disaat itulah Cin Ko telah berkata pada It Mang : “Tidak To Sioksiok, biar bagaimana aku harus bersama-sama kalian! Biarlah kita mati bersama-sama!”

It Mang, Sin Tang dan Sin Bun jadi tercekat hati mereka.

“Mana, mana boleh  begitu, Kongcu! Kau harus tetap hidup! Kami bertiga boleh mati, tetapi kau harus hidup terus, tugas besar memerlukan kau! Lagi pula, kau harus dapat menyelamatkan diri, karena kau harusberusaha mempelajari ilmu silat yang tinggi, guna membalas sakit hati keluarga! Maka dari itu, kau tidak usah memikirkan diri kami bertiga!!” kata It Mang, Sin Tang dan Sin Bun hampir berbareng, tampaknya mereka gugup dan berkuatir sekali, karena mereka berkuatir kalau-kalau Cin Ko berkeras tidak mau menuruti perintah mereka.

Hati Cin Ko jadi luluh dan berduka bukan main, dia terharu sekali melihat keikhlasan dari ketiga orang kepercayaan Yayanya yang ingin mengorbankan jiwanya asalkan Cin Ko bisa selamat.

Maka dari itu, tanpa bisa ditahan lagi, Cin Ko telah menubruk da n merangkul To It Mang bertiga.

“Kojie bersumpah, kalau memang nanti Kojie bisa memperoleh kepandaian yang tinggi, tentu Kojie juga akan membalaskan sakit hati Sam Soksiok!!”

To It Mang mengusap usap kepala si bocah.

“Kita bersiap-siap, pintu itu hampir terbuka!” memperingati Sin Tang,

dengan perasaan tegang. Yang lainnya jadi bersiap-siap.

Batu gunungan itu tergeser perlahan-lahan dan akhirnya lubang itu terbuka.

Disaat itulah, dengan beruntun, It Mang, Sin Tang dan Sin Bun telah mencelat keluar dari lubang rahasia tersebut, mereka sambil keluar sambil memutarkan senjata masing-masing. Lebih-lebih Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun, mereka telah memutar Joan-pian mereka, yang dimainkan dengan cepat sekali, berbentuk lingkaran yang cukup luas melindungi diri mereka.

Beberapa orang tentara negeri yang berdiri paling depan dari goa itu, jadi terkejut, mereka cepat-cepat melompat mundur untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan ketiga pendekar yang tengah mengamuk ini, namun tidak urung dua orang prajurit telah terjungkal roboh, lantas terbinasa, karena pecut lemas dari Sin Tang telah menghajar batok kepala mereka sampai pecah.

Tanpa membuang-membuang waktu pula, It Mang bertiga  telah mengamuk seperti juga macan yang terluka, karena mereka menyadari bahwa kesempatan untuk meloloskan diri jelas tipis sekali, maka dari itu, mereka bermaksud mengorbankan jiwa mereka, asal dapat meloloskan Cin Ko.

Ternyata pasukan tentara negeri ini bukan  hanya dipimpin oleh Coa Ting In atau Su Cie Kiat belaka, tetapi di dalam  rombongan ini terdapat beberapa orang pandai lainnya dari rimba persilatan.

Maka dari itu, waktu It Mang bertiga mencelat keluar dari tempat persembunyian itu dengan kegesitan yang bukan main dan mengamuk dengan mempergunakan senjata mereka masing-masing, maka segera juga beberapa orang jago-jago dalam rombongan tentara negeri itu telah menghadapinya, sehingga berkobarlah pertempuran yang seru sekali.

Cin Ko sendiri, setelah melihat It Mang bertiga menerobos keluar, maka cepat-cepat Cin Ko membarengi juga menerobos keluar dari lubang rahasia itu, karena menurut pesan It Mang, kesempatan seperti itulah satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Cin Ko.

Tetapi, sayangnya, pengepungan di lakukan terlalu ketat begitu keluar dari lubang persembunyian tersebut, Cin Ko jadi silau oleh cahaya obor yang dipasang terang menderang, dan juga melihat sekeliling tempat itu telah penuh oleh pasukan tentara negeri. Maka dari itu, Cin Ko jadi tidak mengetahui harus menyelinap kebagian mana untuk melarikan diri.

Disaat itulah, Su Cie Kiat yang ikat dalam pertempuran tersebut, telah melihat si bocah.

“Itulah dia!” teriak jago she Su itu dengan suara yang nyaring.

Dia juga bukan hanya berteriak begitu saja , melainkan tubuhnya telah melesat akan membekuk Cin Ko.

It Mang yang saat itu tengah menangkis golok salah seorang lawannya, jadi terkesiap hatinya. Kalau sampai Cin Ko kena dibekuk oleh orang she Su itu, habislah segala-galanya.

Maka dari itu, dengan mengeluarkan suara raungan yang keras bukan main, senjata It Mang telah bergerak menusuk perut lawannya, lalu dengan cepat tubuhnya mencelat menubruk kearah Su Cie Kiat sambil membentak: “Awas serangan!”

Su Cie Kiat saat itu tengah kegirangan karena dia segera akan berhasil membekuk Cin Ko. Tetapi orang she Su ini jadi terkejut waktu tahu dari arah belakangnya berkesiuran angin tajam yang menunjukkan dirinya tengah diserang orang.

Cepat-cepat Su Cie Kiat membatalkan tangannya menjambret baju Cin Ko, melainkan dengan cepat dia telah mengambil Sam ciok-nya (trisula)nya, dan menangkis serangan It Mang.

Tetapi It Mang tidak mau membuang-buang  ketika, dia telah meláncarkan serangan-serangan yang gencar sekali kepada lawannya itu. Hal ini menyebabkan Su Cie Kiat tidak bisa mengejar Cin Ko.

Namun, Coa Ting In rupanya memang telah mengetahui bahwa urusan menangkap cucunya Pengpo Siangsie See Un ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan kecil, maka dari itu, di dalam rombongannya dia telah meng ajak puluhan orang-orang jago dari rimba persilatan.

Waktu Ciu Ko dapat berlari kurang lebih tiga tombak akan menghampiri dinding pekarangan tersebut, tiba-tiba terdengar suara : “Tarrrr!” yang keras bukan main memecahkan udara.

Segera juga Cin Ko merasakan punggungnya pedih, tubuhnya juga telah terjungkal mencium tanah! Ternyata punggungnya telah   terhajar   cambuk yang menyambar kuat sekali. Sampai Cin Ko merasakan tulang punggungnya seperti mau patah.

Yang menyerang dengan mempergunakan cambuk panjang i tu ternyata seorang lelaki bertubuh kasar dan tegap sekali, dengan kumis dan bewok yang kasar bukan main. Dia juga tidak tinggal diam begitu saja waktu melihat si bocah telah berhasil dibuatnya terjungkal, karena dengan bengis cambuknya telah melayang lagi ditengah udara berbunyi keras, cambuk tersebut menghajar mempletar keras di tubuh Cin Ko.

Si bocah merasakan kepedihan dan rasa sakit yang bukan main, seperti juga menusuk sampai ke tulang sumsum, malah tubuh si bocah sampai terpental satu tombak lebih.

Begitulah, tanpa mengenal kasihan, cambuk panjang lelaki berkumis dan bewok kasar itu telah bergerak-gerak  menyambar berulang  kali menghadiahi tubuh Cin Ko, menyebabkan tubuh si bocah terpental dengan keras ditengah udara seperti bola yang tengah di per mainkan, karena orang bertubuh kasar itu telah menyiksa Cin Ko dengan mempergunakan  tenaga iwekang yang tangguh sekali pada cambuknya.

Darah tampak telah muncrat dari tubuh Cin Ko, yang telah menjerit - jerit kesakitan bukan main, karena tubuhnya seperti disayat-sayat setiap kali cambuk itu menyambar datang. Dan juga bajunya telah koyak-koyak, sepotong demi sepotong terlepas berterbangan, seperti juga kupu-kupu ditengah udara mengerikan sekali!

***** MDN *****

TO IT MANG, Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun waktu melihat keadaan Cin Ko yang gagal untuk menerobos kabur itu, membuat hati  mereka  jadi mencelos. Lebih-lebih waktu melihat apa yang dialami oleh Cin Ko yang disiksa

begitu rupa oleh orang bertubuh tegap dan berbewok kasar itu, orangnya Coa Ting In, membuat hati To It Mang bertiga jadi pedih dan ikut sakit.

Maka dari itu, dengan penuh kemurkaan yang sangat dengan mengeluarkan suara raungan seperti harimau yang terluka, tampak serentak To It Mang, Sin Tang dan Sin Bun telah mengamuk dan berusaha untuk memecahkan kepungan pada diri mereka masing-masing  untuk mendekati orang bersenjata cambuk itu, untuk mencegah dan melindungi Cin Ko agar tidak tersiksa lebih jauh.

Tetapi orang-orangnya Coa Ting In rupanya dapat  membade maksud ketiga pendekar ini, mereka tetap tidak mau mengendorkan pengepungan mereka, malah semakin diperketat, karena memang tujuan mereka yang terutama adalah membekuk Cin Ko.

Tentu saja hal ini membuat It Mang bertiga jadi kelabakan dan tambah murka.

Senjata mereka telah berputar-putar  kesegala penjuru dengan kalap, dan karena mereka sudah tidak memperdulikan keselamatan diri mereka lagi, membuat senjata mereka itu bergerak ganas sekali, tiga orang tentara negeri yang berada di dekat mereka telah rubuh terbinasa disaat itu juga!

Tetapi pengepungan terlrdap diri mereka bertiga tetap diperketat, malah Coa Ting In yang melihat gelagat demikian, sudah memerintahkan orang-orangnya untuk ikut mengepung pula!

Sedangkan, It Mang telah terluka dua tusukan pada paha dan dadanya, Sin Tang telah terluka pada lengannya. dan Sin Bun juga terluka pada bahu serta lututnya. Keadaan mereka sudah tidak keruan, pakaian mereka telah koyak-koyak terserempet oleh senjata lawan.

Namun It Mang bertiga mati-matian masih berusaha untuk menerobos pengepungan itu. Pertempuran yang tengah bergolak itu, menimbulkan suara yang berisik sekali.

Sedangkan lelaki bertubuh tegap yang berbewok kasar itu, telah menggerak-gerrakkan cambuknya tetap menyiksa Cin Ko, dia menginginkan si bocah pingsan, agar mudah untuk dibawa  dari tempat itu. Tetapi, suatu kejadian yang tidak diduga-duga telah terjadi.

Pada saat itu, tampak sesosok bayangan berwarna merah telah berkelebat dari luar tembok  gedung tersebut. Gerakannya lincah sekali, disertai oleh berkelebatnya sinar tajam  dan mencetarnya suara cambuk. Disusul juga oleh suara jeritan yang mengerikan dari beberapa orang tentara negeri yang telah kena dilukainya oleh senjata orang tersebut.

Gerakan sosok bayangan itu cepat dan gesit bukan main. Dialah seorang wanita setengah baya usianya, mempergunakan pedang ditangan kanan dan cambuk lemas di tangan kirinya, kedua senjatanya itu bagaikan  naga dan harimau yang berkelebat-kelebat meminta korban. Tetapi rupanya maksud munculnya wanita ini di tempat tersebut bukan untuk hanya membunuh tentara negeri itu, karena tubuhnya dengan beberapa kali lompatan  saja, sudah berada di dekat lelaki bertubuh tinggi besar  berbewok kasar yang tengah mencambuki Cin Ko. Dia ternyata tidak lain dari Khu Mei Sian!

Dengan kecepatan yang sukar untuk diikuti oleh pandangan mata manusia biasa, cambuk ditangan kiri wanita she Khu itu telah bergerak dan melilit cambuk lelaki berewok kasar itu, dan membarengi gerakannya, maka pedang ditangan kanannya bergerak lebih cepat lagi menancap tepat di dada kiri dari lelaki bebewok kasar itu, yang segera juga menjerit dengan arwahnya sudah melayang ke neraka!

Coa Ting In tentu saja terkejut bukan main atas munculnya Khu Mei Sian. Tetapi ketika dia tersadar, cepat-cepat dia mengeluarkan seruan untuk mengepung wanita itu.

Namun tindakan yang diambil oleh Coa Ting In telah tertambat, karena dengan kecepatan yang bukan main, hanya di dalam waktu beberapa detik itu, Khu Mei Sian telah menjambret tubuh Cin Ko, yang dikempitnya untuk dibawa kabur.

Gerakannya yang dilakukan itu benar-benar luar biasa sekali, hanya beberapa kali enjotan saja, tubuhnya sudah berada di atas tembok pula.

Tentu saja Coa Ting In jadi terkejut bukan main, dia sampai berteriak :

“Panah! Panah!”

Pasukan panah yang memang telah dipersiapkan disekitar tempat itu, telah melepaskan anak panah mereka yang dibidikkan pada wanita she Khu itu.

Tetapi dengan hanya memutarkan cambuknya, anak-anak panah yang menyambar kearah dirinya telah dibikin rontok oleh Khu Mei Sian. Juga wanita ini bukannya hanya memutar cambuknya belaka, karena dia sudah terus bergerak, hanya di dalam sekejap mata telah lelah lenyap dari pandangan mata.

It Mang bertiga Sin Tang dan Sin Bun yang menyaksikan kejadian ini, setidaknya jadi agak tenang. Walaupun mereka tidak mengetahui siapa wanita itu dan apa maksudnya, toch mereka gembira melihat Cin Ko tidak sampai terjatuh di tangan tentara negeri! Di hati It Mang sebenarnya sudah menduga bahwa wanita itu adalah Khu Mei Sian, karena dia melihat senjata dari wanita

itu yang terdiri dari cambuk dan pedang. Namun di sebabkan memang It Mang sudah lama tidak bertemu dengan perempuan  itu, sudah belasan tahun, dengan sendirinya dia jadi tidak bisa mengenalinya pula.

Setelah melihat Cin Ko lolos dari kepungan tentara negeri tersebut, semangat It Mang, Sin Tang dan Sin Bun terbangun dengan cepat. mereka juga telah mengempos semangat mereka. Dengan cepat senjata mereka diputarnya bagaikan melindungi mereka, lalu berusaha meloloskan diri.

Melihat ini Coa Ting In jadi murka, dia berseru-seru meneriaki orang- orangnya agar tidak melepaskan ketiga pendekar ini.

Tetapi disebabkan It Mang bertiga telah nekad menerjang kepungan itu, akhirnya mereka dapat meloloskan diri juga dengan tubuh yang terluka -luka! Tanpa menoleh kebelakang lagi, mereka telah melarikan diri sekuat tenaga.

Orang-orang Coa Ting In telah melakukan pengejaran, tetapi akhirny a ketika It Mang bertiga memasuki sebuah hutan di muka perkampungan Lang - chie-chung itu, maka jejak mereka tidak bisa ditemui lagi!

Betapa murkanya Coa Ting Tn, dia jadi memaki kalang kabutan pada anak buahnya.

Dengan penuh kemurkaan, Coa Ting Tn telah memerintahkan kepada orang-orangnya untuk melakukan pencarian terus jejak It Mang bertiga, dan terutama adalah Cin Ko bersama wanita she Khu yang telah melarikan diri si bocah.

Mari kita menengok dulu pada Cin Ko yang telah dilarikan oleh Khu Mei Sian. Ketika wanita she Khu itu berhasil membawa Cin Ko keluar dari tembok pekarangan gedung Phoa Sin Tek di luar tembok itu dia disambut  oleh beberapa jago yang di tempatkan oleh Coa Ting In.

Tetapi dengan beberapa gerakan pedangnya saja, enam orangnya Coa Ting In telah dibuat tidak berdaya, rubuh terbinasa.

Dengan mempergunakan Gin kang (ilmu entengi tubuh ) yang luar biasa hebatnya Khu Mei Sian telah melarikan diri dengan cepat.

Gerakannya gesit, ada beberapa anak panah dari pasukan pemanah Coa Tin In yang membidiknya, tetapi semua anak-anak panah itu lelah disampok wanita she Khu itu dengan mempergunakan pedangnya sehingga anak-anak panah itu berhamburan diatas tanah. Tidak ada seorangpun jing bisa menahan gerakan Khu Mei Sian.

Hanya di dalam waktu yang singkat, Khu Mei Sian telah meninggalkan perkampungan Lang-chie-chung itu, dia telah menuju ke lembah di luar

perkampungan tersebut. Gerakannya yang ringan dan gesit,  menyebabkan hanya di dalam waktu yang sangat singkat dia telah sampai di tempat tujuannya, yaitu disebuah lembing dari lembah itu yang agak menonjol. Lembing menonjol itu terpisah dari bumi enam tombak lebih, tetapi dengan ringan tubuh Khu Mei Sian telah berhasil mencelat keatas lembing itu dengan membuka Cin Ko turut serta.

Malah, begitu kakinya menyentuh lembing yang menonjol, tubuhnya telah mencelat lagi, melompat tinggi delapan tombak, dan menyelusup ke dalam sebuah goa yang agak melesak ke dalam dinding, sehingga sukar dilihat orang dari bawah.

Tubuh Cin Ko yang dalam keadaannya pingsan, telah diturunkan dan direbahkan diturunkan di atas sebuah pembaringan kayu, kemudian memasukkan pedang dan menyimpan cambuknya.

Goa itu tidak begitu besar, tetapi Khu Mei Sian ternyata telah merobahnya goa itu seperti sebuah kamar.

Selain pembaringan kayu, juga terdapat sebuah meja yang terbuat dari kayu pula, dimana di atas meja tersebut terdapat banyak sekali obat-obatan.