-->

Manusia Jahanam Jilid 02

 
Jilid 02

Tentu saja It Mang bertiga jadi kian gugup.

“Kong-cu ........ ada persoalan apakah yang telah ka mi salah

lakukan?”tanya It Mang dengan hati yang tergoncang.

“Celaka! Semalam aku telah mengejek dan mentertawakan cucu orang tua itu oooh, untung saja dia tidak marah..............   !”   kata   Cin    Ko kemudian.

Mendengar perkataan Cin Ko, It Mang bertiga jadi melengak, namun akhirnya mereka tertawa gelak-gelak dengan suara yang nyaring. Mereka dari tegang jadi berobah menjadi lucu sendirinya.

“Ohhhh ........itu urusan yang tidak ada artinya Kongcu!!” kata It Mang cepat untuk menghibur majikan kecil mereka. “Oe y Locianpwe dan cucunya juga pasti mengetahui bahwa Kongcu hanya berguyon saja! Malah tampaknya mereka menyukai Kongcu, buktinya saja mereka seperti telah menduga siapa sebenarnya Kongcu, karena sebelum pergi,  Oey Locianpwe telah mening - galkan pesan :      Hati-hatilah menjaga engkoh kecil itu..........! Nah,   bukankah itu menunjukkan bahwa dia sangat menyukai diri Kongcu?! Lagi pula, bukti lainnya, Oey Locianpwe telah mau keluar muka untuk menghalau orang - orangnya Ban Hong Liu !!”

Cin Ko kembali meleletkan lidahnya.

“Tetapi perasaanku tetap saja jadi tidak enak!” kata Cin Ko. “Mengapa aku tadi malam telah berlaku kurang ajar begitu?”

Dan setelah berkata begitu, Cin Ko telah menghela napas berulang kali.

Tampaknya dia menyesal bukan main.

It Mang bertiga jadi kasihan melihat sikap majikan kecil mereka. Cepat- cepat mereka bertiga bergantian menghiburnya.

Sampai akhirnya It Mang seperti teringat sesuatu, dan katanya : “Sekarang ini memang kita harus berlaku lebih waspada dan hati-hati, karena memang benar juga apa yang dikatakan oleh Oey locianpwe bahwa orang orangnya Ban Hong Liu memang banyak berkeliaran di tempat ini.”

Sin Tang dan Sin Bun mengangguk-angguk membenarkan. Sedangkan Cin Ko telah mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum.

“Aku mana bisa berpikir untuk mencari jalan keluar? Bukankah aku harus berterima kasih bukan main pada kalian yang telah mempertaruhkan jiwa demi keselamatan jiwaku ......??!” dan setelah berkata begitu,  Cin Ko telah tersenyum lagi.

It Mang dan Sin Tang serta Sin Bun bertiga yang melihat sikap Cin Ko yang jenaka, jadi tertawa juga.

“Hari ini juga kita harus meninggalkan tempat ini! Tadi sebelum pergi dari ruangan ini, secara tidak langsung Oey Locianpwe telah memberikan kisikan secara halus kepadaku,  bahwa sebaiknya kita mengambil kearah Timur! Dengan begitu berarti kita menuju ke daerah Selatan! Tujuan kita adalah Kang-lam, karena memang di daerah Selatan itu penjagaan kaisar boleh dibilang sangat sedikit sekali kalau memang tidak mau dibilang sa ma sekali tidak ada! Di daerah Selatan kita bisa bergerak lebih leluasa! Nanti kita mencari suatu tempat yang benar-benar aman dan tenteram untuk Kongcu, barulah hati kita akan tenang, menantikan Kongcu sampai dewasa dan selama itu menyempurnakan ilmu silat dari guru-guru yang liehay, dan kelak baru membatinkan kekuatan untuk membalas sakit hati Kongcu pada Thaykam Ban Hong Liu yang telah menghasut kaisar sehingga keluarga See habis hancur berantakan !!”

Mendengar kata-kata It Mang, Cin Ko jadi terharu bukan main. Dia tiba- tiba merangkul It Mang dan menangis sesenggukan, karena dia tidak bisa mempertahankan rasa haru yang bergolak di dalam hatinya.

Apa lagi memang Cin Ko juga teringat kepada keluarganya yang telah hancur berantakkan akibat fitnahan Thaykam Ban Hong Liu kepada kaisar.

It Mang bertiga  jadi sibuk menghibur majikan kecil mereka ini.

Akhirnya Cin Ko dapat juga ditenangkan, dia telah berhenti menangis.

Pagi itu juga mereka mengadakan rencana untuk perjalanan mereka, dan dengan cepat, ketika matahari mulai naik tinggi, mereka berempat telah meninggalkan kuil Tek Kong Bio tersebut.

Mereka melakukan perjalanan mengambil ke arah timur, sebab mercka memang telah memutuskan bahwa mereka akan menuju ke daerah Selatan.

SELAMA dalam perjalanan di pegunungan  Cang-pay-san tersebut, It Mang bertiga telah menjaga dan mengawal Cin Ko dengan hati-hati sekali, mereka juga selalu bersikap waspada, karena disembarang waktu, bisa saja secara tiba-tiba muncul orang-orangnya Ban Hong Liu yang akan mengepung dan menangkap mereka.

Setidak-tidaknya Giok Bian Siuchay memang telah mengetahui bahwa It Mang berempat bersembunyi di kuil Tek Kong Bio, walaupun pada pagi itu Giok Bian Siuchay bersama Siangkang Ong tidak bisa bertindak apa-apa dan tidak berdaya disebabkan adanya  Oey Kwan Hoa bersama  cucu perempuannya, yang tampaknya sangat disegani oleh mereka, toch setidak- tidaknya Giok Bian Siuchay akan melakukan pengepungan di sekitar tempat tersebut. Pelajar bermuka Kumala itu pasti akan menyebar orang-orangnya untuk menghadang dan mengadakan pasukan Bay-hok (pengepung) di segala penjuru dari pegunungan Cang-pay-san tersebut.

Dengan sendirinya It Mang bertiga Sin Tang dan Sin Bun, benar-benar mengawal majikan kecil mereka ini penuh kewaspadaan.

Menjelang sore hari  mereka telah berada di kaki gunung Cang-pay-san di dekat perkampungan Siu-sie-chung. Perkampungan ini terletak diantara sebuah lembah yang agak ke dalam dan di daerah yang agak sukar didatangi, maka dari itu, karena letak perkampungan  ini agak di pedalaman menyebabkan keadaan di perkampungan ini agak sepi.

Namun biarpun begitu, toch It Mang tidak berani untuk mengajak majikan kecil mereka beristirahat di perkampungan itu.

Biar bagaimana mereka tetap harus berlaku waspada, karena diri mereka tetap saja disembarang waktu dalam inceran Giok Bian Siuchay dan orang-orangnya.

Kalau sampai jejak mereka ini tercium oleh orang-orangnya Thaykam Ban Hong Liu, niscaya mereka akan menghadapi kesukaran yang tidak kecil.

Tetapi, biar bagaimana mereka toch juga memperhatikan  kesehatan dan kesegaran majikan kecil mereka.

Ketiga jago kepercayaan dari Pengpo Siang-sie See Un, mengetahui, kalau mereka terlalu memaksakan Cin Ko melakukan perjalanan yang terus menerus, niscaya akan menyebabkan kesehatan Cin Ko akan terganggu , berarti kalau sampai Cin Ko jatuh sakit, hal ini akan lebih merepotkan lag i.

Itulah, dikala mereka melihat Cin Ko sudah terlalu letih, maka mereka mencarikan tempat yang agak aman dan terlindung guna dipakai oleh majikan kecil mereka beristirahat. Sedangkan mereka telah menjaga majikan  kecil mereka ini dari segala jurusan.

Melakukan perjalanan dua hari lagi, It Mang berempat  sudah meninggalkan Cang-pay-san sejauh tiga ratus Lie.

Tujuan mereka sekarang memang menuju ke daerah Selatan. Di Kanglam mereka akan mencari suatu tempat yang benar-benar aman untuk tempat mengasingkan diri bagi majikan kecil mereka ini.

Disamping itu, It Mang bertiga juga memang sudah mempunyai rencana, begitu mereka memperoleh tempat yang aman untuk Cin Ko, maka mereka akan berusaha mencari guru yang pandai, guna mendidik Cin Ko di dalam hal ilmu silat dan ilmu surat, agar majikan kecil mereka ini kelak menjadi seorang yang Bun Bu Coanchay (serba bisa, memiliki ilmu silat dan surat). Juga guru-guru yang ingin mereka cari itu adalah yang tertentu, yang mereka rasa memang memiliki kepandaian yang sempurna, terutama tokoh- tokoh rimba persilatan yang mengambil jalan putih.

Selama mereka belum berhasil mencarikan guru untuk Cin Ko, maka mereka bertiga yang akan mendidik Cin Ko di dalam hal ilmu silat. Setidak- tidaknya mereka bertiga memang memiliki kepandaian  yang cukup tinggi, yang bisa dipejajari oleh Cin Ko sebagai ilmu dasar. Namun disebabkan It Mang bertiga menyadari, bahwa jago-jago yang bekerja pada Ban Hong Liu, adalah jago-jago yang umumnya memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dan juga berjumlah sangat banyak, kalau Cin Ko hanya belajar ilmu silat dari mereka bertiga, itu masih belum cukup, setidak-tidaknya Cin Ko harus memperoleh seorang guru dari tokoh persilatan, yang benar-benar memiliki kepandaian luar biasa!

Dengan cepat mereka telah melakukan perjalanan siang dan malam, hanya mengaso jika Cin Ko sudah benar-benar letih dan tidak dapat mempertahankan dirinya lagi melawan kepenatan itu.

Sebetulnya meloloskan diri dari pegunungan Cang-pang-san tidaklah mudah, karena Giok Bian Siuchay niscaya akan menempatkan orangnya rapat seperti tembok di sekitar pegunungan Cang-pay-san tersebut. Waktu mau meninggalkan pegunungan itu, sebetulnya It Mang dan Sin Tang serta Sin Bun sudah meramalkan bahwa mereka akan bertempur hebat dan menerobos

tembok manusia dari jago-jago yang di tempatkan oleh Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong, tetapi kenyataannya toch mereka bisa meninggalkan gunung Cang-pay-san tersebut tanpa rintangan sesuatu apapun juga, malah dalam keadaan selamat. Tidak ada yang mereka jumpai, hanyalah kesunyian belaka dari pegunungan Cang-pay-san. Apa lagi mereka berempat  memang selalu memilih jalan hutan.

Di luar tahu mereka, sebetulnya Oey Kwan Hoa yang telah turun tangan membuka jalan mereka. Karena mengetahui bahwa It Mang berempat akan mengambil jalan ke Timur, maka sengaja Oey Kwan Hoa bersama cucunya berkeliaran di sekitar bagian timur dari pegunungan Cang-pay-san.

Orang-orang Giok Bian Siuchay yang melihat Oey Kwan Hoa berkeliaran di sekitar timur ini, mereka telah mundur melapangkan  daerah sekitar pegunungan bagian timur itu. Tidak ada seorangpun yang berani berjaga-jaga di sekitar daerah itu.

Itulah sebabnya mengapa It Mang berempat dapat meninggalkan Cang- pay-San untuk menuju ke daerah Selatan tanpa menemui rin tangan apapun juga.

Keanehan itu hanyalah menjadi tanda tanya di hati mereka, tanpa terjawab.

Giok Bian Siuchay hanya dapat mendongkol dan mengkelap di dalam hati, tetapi benar-benar tidak berdaya.  Dia sendiri tidak berani berurusan dengan Oey Kwan Hoa, maka dari itu waktu anak buahnya tidak ada yang berani melakukan penjagaan disekitar daerah timur pegunungan Cang -pay- san, diapun tidak bisa memaksanya! Malah Giok Bian Siuchay sendiri tidak berani untuk menjaga bagian timur dari pegunungan Cang-pay-san  sebab telah diterima kabar bahwa Oey Kwan Hoa serta cucunya berkeliaran di daerah itu. Dengan sendirinya daerah bagian timur dari pegunungan Cang -pay-san merupakan daerah yang kosong dari penjagaan dan daerah yang paling aman bagi It Mang berempat  melakukan perjalanan mereka, karena di luar kesadaran mereka, secara diam-diam Oey Kwan Hoa tetap melindungi mereka, walaupun tidak secara langsung!

Kang-lam merupakan daerah selatan yang terkenal akan keindahannya. Daerah Kanglam merupakan suatu tempat di mana orang pesiar untuk menikmati kelembutan dan juga segala ketenangan yang dapat menghibur diri, itulah sebabnya, banyak sekali orang berdatangan dari berbagai tempat untuk menetap satu atau dua bulan didaerah yang indah tersebut.

Malah, untuk memuji akan keindahan Kanglam,  pernah penjair Siangkoan Touw seorang penyair yang sangat ternama di daratan Tionggoan,

telah menuliskan beberapa kata untuk mengenang akan keindahan Kanglam, yang bunyinya sebagai berikut :

Pohon Yangliu menari gemulai, Dipermainkan hembusan musim Semi, Sungai bagaikan ular Naga Tiangkang, Dengan arak mencicipi keindahan malam.

Bintang bagaikan butir-butir batu manikam,

Di langit cerah bagaikan sehelai benang sutera. Gadis-gadis Kanglam bersolek untuk keindahan. Selembut pohon-pohon Yangliu itu,

Kuwe Tongciu-phia yang harum dan gurih,

Memandang rembulan Peh-gwe Cap-go (Tanggal lima belas bulan delapan)

Terkenanglah kita pada Chang Ngo.

Itulah syair yang ditulis oleh   penyair Siangkoan Touw yang   memuji akan keindahan Kanglam dengan sungai-sungainya,  dengan pohon Yangliunya, yang dipersamakan gadis-gadis Kanglam yang cantik dan lembut. Juga Siangkoan Touw telah memasukkan pula perihal makan kuwe Tong-ciu- phia pada tanggal Peh-gwe Cap-go, disaat rembulan bersinar terang dan penuh, juga yang dimaksudkan oleh Siangkoan Touw dengan perkataan Terkenanglah kita pada Chang Ngo dia seperti ingin mengingatkan pada kita perihal seorang gadis yang telah melarikan diri ke bulan. Ini ada dongengannya

Seorang raja Sie yang ganas dan terlalu pandai membidikkan panahnya, yang dapat sekaligus memanah dua puluh ekor burung yang sedang berterbangan dengan hanya mempergunakan sebatang anak panah belaka, dan juga (katanya) kalau matahari dipanah, matahari itupun akan rubuh ke bumi terkena bidikannya, kalau dia memanah rembulan, maka (katanya juga, sebab sampai kini rembulan dan matahari  masih tergantung di langit) rembulan itupun akan jatuh kepangkuannya.  Raja Sie inipun memiliki semacam obat bubuk, yang dapat membantu seseorang naik ke bulan. Jika orang memakan obat bubuk tersebut, niscaya orang itu dapat lari ke bulan dan mencapainya. Tetapi obat bubuk itu hanya dapat dipergunakan untuk satu

kali saja, maka dari itu, tidak pernah dipergunakan oleh Raja Sie, karena dia baru akan mempergunakannya nanti setelah dia berusia lanjut,   maka dia ingin berlari kebulan dai terbinasa di sana! Pada suatu hari Raja Sie telah melihat ada gadis yang cantik sekali dalam lingkungan rakyat negerinya. Dia jatuh hati dan ingin mengawininya. Tetapi gadis itu, yang bernama  Chang Ngo, berkeras menampiknya, karena dia memang telah mempunyai seorang kekasih yang benar-benar dicintainya. Namun disebabkan kekuasaan Raja Sie yang tidak dapat dibantah dan ditentang, maka gadis yang bernama Chang Ngo itu telah dipaksa untuk masuk ke dalam istana. Tetapi Chang Ngo tetap berkeras, dia malah mengancam kepada Raja Sie itu, kalau saja Raja Sie itu berani menyentuh seujung rambut saja, niscaya dia akan membunuh diri.

DI TANGANNYA selalu tergenggam sebilah pisau yang tajam bukan main. Raja Sie tidak berdaya, dia memerintahkan beberapa orang Mak Comblang untuk membujuk gadis itu. Sudah jelas Mak Comblang itu pandai sekali bicara, mereka menceritakan kegagahan raja mereka,   juga menceritakan betapa raja memiliki bubuk pusaka yang dapat membuat orang terbang ke bulan. Mendengar ini, Chang Ngo jadi mempunyai suatu rencana untuk meloloskan diri dari kelaliman raja Sie ini. Besoknya sengaja Chang Ngo pura-pura bersikap manis pada raja Sie ini, dia membujuk pada raja Sie untuk melihat bubuk pusaka yang dapat membuat orang terbang kebulan. Saking girang melihat sikap Chang Ngo yang sudah berobah jadi begitu lembut dan manis, juga disebabkan rasa bangganya raja Sie telah mengeluarkan pundi- pundi yang berisi bubuk wasiat itu. Tetapi, ketika raja Sie membiarkan Chang Ngo melihat-lihat bubuk pusaka itu, tidak diduga-duga Chang Ngo telah menuangkan bubuk pusaka itu ke dalam mulutnya sendiri, menelannya!

Tentu saja hal ini mengejutkan raja Sie, tetapi sudah terlambat. Chang Ngo telah terbang di bulan dan tinggal di bulan. Maka dari itu, sampai saat ini, kalau rembulan bersinar penuh pada anggai lima belas dibulan delapan (peh-gwe Cap-go), orang-orang mengenang Chang Ngo, gadis suci yang telah menjadi orang bulan itu. Kalau pada tanggal itu, orang memakan Tong-chiu- phia sambil memandangi rembulan yang bersinar penuh, maka tampak bayang-bayang seperti seorang gadis yang tengah duduk termenung ......

dan menurut kata-kata orang tua dulu itulah bayangan dari dari Chang Ngo sudah tidak bisa turun pula ke bumi dan kekasihnua juga tidak bisa menyusulnya ke bulan.

Dan kalau kita menilai keseluruhan syair yang dibuat oeh Siangkoan Touw ini, maka kita bisa membayangkan betapa keindahan Kang-lam.

Pada pagi hari itu di musim semi, tampak empat anak le laki sedang bermain petak di sebuah pinggir kampung Lang-chie-chung.

Kampung ini terletak di bagian tenggara dari daerah Kang-lam, di dalam suasana musim semi yang mulai datang, menyebabkan peman dangan dikampung ini sangat indah sekali. Lagi pula di permukaan  kampung  itu tampak bertumbuhan banyak sekali pohon Yangliu. Keempat anak lelaki kecil itu sedang main petak bersembunyi-sembunyi dibalik pohon-pohon  Yangliu itu. Tampaknya mereka riang sekali. Dan ada beberapa orang pedagang teh hangat yang sedang berdagang di depan perkampung tersebut.

Keadaan disekitar tempat itu masih sepi, karena masih belum begitu banyak orang yang berlalu lalang.

Tetapi diantara pagi yang sunyi itu, dan di antara suara gelak keempat anak lelaki kecil itu yang riang, tampak empat orang yang sedang mendatangi ke arah perkampungan itu. Tiga orang dewasa dan seorang anak telaki berusia diantara sepuluh tahun.

Mereka tidak lain dari To It Mang, Sin Tang, Sin Bun dan Cin Ko. Tampak wajah mereka agak lesu karena baru saja mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh dan meletihkan.

Memang perkampungan Lang-chie-chung  ini yang menjadi tujuan mereka, sebab menurut It Mang, dikampung  ini dia mempunyai seorang paman gurunya yang sudah hidup mengasingkan diri.

Ketika sampai dimuka perkampungan tersebut, It Mang telah menghampiri salah seorang pedagang teh itu. Dia merangkapkan kedua tangannya memberi hormat.

“Lopeh (paman), bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya It

Mang dengan sopan.

Pedagang teh keliling itu adalah seorang lelaki  tua berusia diantara enam puluh tahun, dia memandangi It Mang dari atas rambut sampai keujung kakinya, kemudian menganggukkan kepalanya.

“Boleh! Boleh! Apakah yang ingin ditanyakan oleh Heng-thay (saudara)?” katanya kemudian dengan suara yang parau.

“Bisakah Lopek menunjukkan rumah dari Phoa Sin Tek?!” kata It Mang

lagi.

“Phoa Sin Tek? Apakah maksud Hengthay Phoa Siuchay yang berusia

diantara enam puluh tahun, orangnya sabar, bertubuh tinggi dan memelihara kumis   dan jenggot yang tipis?!” tanya pedagang teh itu nyerocos terus seperti juga senapan saja.

It Mang mengangguk girang. Karena ciri-ciri yang disebutkan oleh pedagang teh hangat itu memang ciri-ciri dari orang yang sedang dicarinya.

“Benar Lopeh...dapatkah Lopeh memberitahukan yang mana

rumahnya?!” kata It Mang tidak sabar.

“Tidak jauh lagi! Tujuh belas rumah dari pintu kampung ini! Rumah yang besar dan mewah berwarna kuning pada dindingnya  dan berwarna merah pada pintunya, adalah rumah dari Phoa Siuchay!”

Cepat-cepat It Mang mengucapkan terima kasihnya dan menghampiri Sin Tang, Sin Bun dan Cin Ko yang memang menantikan agak kejauhan. Cepat-cepat mereka telah memasuki perkampungan itu.

Dengan menuruti petunjuk yang diberikan oleh pedagang teh hangat itu, It Mang telah menyusuri jalan kecil itu bersama kawan-kawannya.    Dan benar saja, rumah yang jatuh pada hitungan tujuh belas dari rumah per tama di pintu kampung itu, ternyata memang sebuah rumah yang tinggi besar dan mewah sekali, temboknya berwarna kuning dan juga pintunya memang diberi cat berwarna merah.    Tetapi ada yang tidak   disebutkan oleh pedagang teh itu, karena pada pinggir kiri kanannya pintu gedung itu, tampak dua ekor singa-singaan batu yang sedang mengaum, gagah sekali.

It Mang menunjuk gedung itu, katanya : “Inilah rumah paman guruku yang kumaksudkan!!” kata It Mang pada Sin Tang. “Tunggulah sebentar, aku akan mengetuk pintunya dulu!!”

Kemudian It Mang juga telah meminta ijin pada Cin Ko, barulah dia menghampiri pintu berwarna merah tersebut.

Sedangkan Cin Ko bertiga dengan  Sin Tang dan Sin Bun menantikan agak jauh, untuk melihat apakah rumah tersebut memang masih ditinggali oleh paman gurunya It Mang, karena siapa tahu orang yang dicari oleh mereka telah pindah kelain tempat atau memang kebetulan pula nama pemilik rumah itu yang kebetulan sama saja. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka sengaja Cin Ko bertiga telah menanti agak berjauhan, hanya It Mang yang akan mengetuk pintu rumah tersebut.

It Mang melihat, pada pintu rumah ini terdapat gelang besi bulat yang berukuran besar. Dicekalnya gelang itu, dibentur-benturkan  pada pintu tersebut, sehingga menimbulkan suara yang nyaring dan berisik sekali.

Setelah itu, dengan sabar It Mang menantikannya orang membuka pintu. Namun, menanti sekian lama, tetap saja pintu itu masih tertutup rapat, tidak ada seorang manusiapun yang membukakan pintu padanya.

It Mang telah mencekal lagi gelang besi pada pintu itu, menggoyang- goyangkannya lebih keras.

“Siapa?!” terdengar orang bertanya dari dalam  dengan suara mengandung perasaan tidak senang. Disusul oleh terbuka sedikit daun pintu itu, tersembul kepala seorang lelaki berusia diantara empat puluh tahun, dari pakaiannya dapat dilihat bahwa dia seorang pelayan gedung tersebut.

“Maafkan Lopeh (paman)..........” kata It Mang   sambil   menjura memberi hormat. “Chayhe (aku) ingin bertemu dengan Phoa Sioksiok (paman guru she Phoa).”

Dahi pelayan setengah tua ini jadi berkerut dalam-dalam, matanya juga tajam sekali mengawasi It Mang, dari atas kepala sampai pada keujung kakinya, tampaknya dia curiga sekali.

Namun akhirnya dia berkata sambil tersenyum tidak sedap dipandang,

“Maafkan .....” katanya. “Loya kami sementara waktu tidak menerima tamu

..........!” kata pelayan tersebut dengan suara yang agak ketus. “Kalau kau

mempunyai urusan, kembali lagi saja nanti sepuluh hari kemudian!!”

“Tolonglah kau sampaikan pada majikanmu, bahwa aku To It Mang ingin menghunjuk hormat padanya...            !!” kata It Mang sambil menyabarkan diri, padahal hatinya sudah mendongkol bukan main melihat sikap p elayan tersebut.

Sepasang alis pelayan itu jadi berdiri terangkat menunjukkan bahwa dia jadi gusar bukan main.

“Apakah kau tuli?” bentaknya agak bengis. “Aku sudah mengatakan, majikanku tidak menerima tamu untuk sementara waktu!!”

“Tetapi Lopeh, aku bukan tamu, aku adalah keponakan muridnya ..!!” kata It Mang mengalah, sebab dia tahu, kalau memang dia menuruti bisikan hati dan adatnya, niscaya akan terjadi keributan, dan hal itu pasti tidak akan menggembirakan hati Phoa Sin Tek, Susiok (paman gurunya) itu .

“Tidak perduli siapa saja.!!” Teriak si pelayan sengit. Tetapi dia seperti teringat sesuatu. “Eh .. tadi kau bilang, kau masih mempunyai hubungan apa dengan Loya kami?”

“Chayhe adalah keponakan murid dari Phoa Susiok!!” menyahuti It

Mang.

Pelayan   tersebut   jadi   ragu-ragu,   kemudian katanya : “Tunggulah

sebentar, aku ingin menyampaikan dulu kepada Loya perihal kedatanganmu, kalau memang Loya bersedia menerimanya, kau boleh masuk, tetapi kalau

umpama kata Loya tidak mau menerimanya, ya, aku juga tidak bi sa bilang apa-apa !!”

It Mang hanya dapat mengangguk dengan perasaan mendongkol . Pelayan itu telah menutup pintu itu kembali, dan It Mang menantikan dengan tidak sabar.

Sin   Tang   telah   menghampirinya,   tanyanya   :   “Bagaimana   To-heng

(saudara To)?”

“Kita lihat saja nanti, apakah Phoa Susiok ingin menerima kita atau tidak!” menyahuti It Mang tidak berani memberikan kepastian juga. “Kalau didengar dari pelayan itu, Phoa Susiok seperti sedang menghadapi kesulitan juga, karena dia tidak ingin menerima tamu.............  ! Dan, nanti kalian bersama See Kongcu akan kuperkenalkan sebagai ka wan-kawan belaka, See Kongcu sebagai keponakan kalian, kita tidak perlu menceritakan yang sebenarnya dulu, karena ini untuk menjaga-jaga segala kemungkinan yang terjadi! Memang Phoa Susiok kukenal mempunyai jiwa yang baik dan jujur, tetapi aku jeri kalau-kalau di sekelilingnya terdapat orang yang berhati sir ik, niscaya kita akan menghadapi kesulitan! Nanti kalau memang kita melihat keadaan mengijinkan, barulah kita menceritakan yang sebenarnya!”

Sin Tang menyetujui usul It Mang, maka dia cepat-cepat menghampiri Sin Bun dan Cin Ko.

Diceritakannya usul It Mang itu, agar mereka tidak usah berterus terang juga mengenai asal-usul Cin Ko, karena urusan ini adalah urusan besar untuk menjaga keselamatan jiwa majikan cilik mereka ini, maka dari itu selalu mereka harus berlaku waspada dan hati-hati setiap kali ingin mengambil suatu tindakan.

Tak lama kemudian, pintu berwarna merah itu telah dibuka lagi, tetapi lebih lebar dari tadi.

“To-ya (tuan To)..............   !”   kata pelayan yang tadi juga sambil menjura, sikapnya tidak seperti tadi, sebab kali ini dia tersenyum dan memperlihatkan sikap yang manis. “Kami tidak menyangka bahwa To-ya memang benar-benar mempunyai hubungan dengan Loya, dan maafkan sikap Siauw-jin (hamba; aku orang kecil)...............      ! Loya telah mempersilahkan To-ya untuk menemuinya di ruangan perpustakaannya.”

To It Mang jadi girang, dia mengucapkan terima kasih dan memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Pelayan ini telah menutup pintu besar ter- sebut dan memimpin mereka ke ruangan perpustakaan.

Ternyata gedung milik Phoa Susioknya It Mang memang mewah dan besar. Mereka sebelum sampai diruangan perpustakaan,  harus  melalui beberapa ruangan dulu, ruangan Lian-bu-thia  (ruangan untuk melatih silat) yang besar dan penuh rak-rak senjata tajam, juga ruangan Hoa-tang (ruangan bunga), dan beberapa ruangan lainnya lagi. Sampailah mereka diruangan perpustakaan yang ditunjukkan oleh pelayan itu.

“Loya menantikan kalian di dalam!i!” kata pelayan itu. Dan telah menghampiri pintu, mengetuknya perlahan. “Lo-ya, To-ya bersama ketiga kawannya telah berada di sini!”

“Masuklah....... pintu tidak dikunci!!” kata seseorang dari dalam.

Sabar sekali suaranya.

To It Mang bersama Sin Tang, Sin Bun serta Cin Ko telah dipersilahkan oleh pelayan itu untuk masuk ke dalam ruangan perpustakaan tersebut.

Ketika mereka berada di dalam kamar itu, tampak seorang lelaki berusia diantara enam puluh tahun, dengan kumis dan jenggot yang pendek, muka yang angker dan bersih, sikap yang agung, telah menantikan dengan bibir tersenyum lembut. Tetapi diantara kerut-kerut matanya itu tampak cahaya kedukaan.

“Selamat datang di rumahku ini, To Hian-tit  (keponakan she To)!” sambut lelaki itu, yang tidak lain dari Phoa Sin Tek. “Aku tidak menyangka kau akan mengunjungiku!! Sudah lama kita tidak saling jumpa, bagaimana dengan keadaan gurumu, si tua bangka she Siauw itu?!”

“Suhu dalam keadaan baik, Phoa Susiok ..........    kami telah berpisah empat tahun yang lalu dan belum saling jumpa. Pada pertemuan yang terakhir dengan Insu (guru yang berbudi), memang Insu pernah menanyakan perihal Phoa Susiok!”menyahuti It Mang sambil maju memberi hormat kepada Phoa Sin Tek.

Sin Tang dan Sin Bun bersama-sama dengan Cin Ko juga telah memberi hormat.

It Mang segera memperkenalkan ketiga orang kawannya ini. Dia memperkenalkan Sin Tang, Sin Bun dan Cin Ko dengan nama mereka yang sesungguhnya, tetapi tidak menyinggung-nyinggung  bahwa mereka mempunyai sangkut paut dengan Peng-po Siangsie.

Sikap Phoa Sin Tek ramah bukan main, juga murah akan senyumnya. Dia banyak menanyakan perihal It Mang dan gurunya It Mang, yang sudah lama tidak saling jumpa itu, karena Guru It Mang, Siauw Tik Bong adalah kakak seperguruannya, dan mereka hampir lima belas tahun tidak pernah

saling jumpa, apa lagi Phoa Sin Tek pernah mendengar bahwa Siauw Tik Bong telah hidup mengasingkan diri dibawah kaki pegunungan Cung-lay san.

Juga perhatian Phoa Sin Tek tertarik pada Cin Ko, 'sahabat' ciliknya dari keponakan muridnya itu.

Ketika Phoa Sin Tek menanyakan perihal Cin Ko pada It Mang, maka To It Mang telah menceritakannya bahwa Cin Ko adalah keponakan Sin Tang dan Sin Bun, yang ingin ikut berkelana di dalam rimba persilatan, karena biarpun usianya masih kecil, toch Cin Ko gemar ilmu silat dan mau belajar dari kedua pamannya itu.

Phoa Sin Tek mempercayai keterangan yang diberikan It Mang, malah dia berkala sambil tersenyum : “Hmm, Lohu (aku orang tua) she Phoa yang tidak pandai apa-apa kalau mempunyai kesempatan mau   memberikan petunjuk satu atau dua jurus ilmu silat pada adik kecil ini !”

Mendengar perkataan Phoa Sin Tek, Cin Ko yang cerdik bukan main tidak mau membuang-buang kesempatan itu, apa lagi It Mang ber tiga Sin Tang dan Sin Bun telah melirik kearah dirinya, maka si bocah segera mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Cepat-cepat Cin Ko telah menghampiri Phoa Sin Tek, dan menekuk kedua kakinya berlutut di hadapan jago tua she Phoa tersebut.

“Terima kasih Phoa Peh-peh (paman Phoa) ......!” kata si bocah dengan suara yang nyaring. “Kalau nanti Phoa Peh-peh  memberikan petunjuk- petunjuk. Ko-jie niscaya akan melatih diri baik-baik agar tidak mengecewakan Phoa Peh-peh !”

Phoa Sin Tek cepat-cepat membangunkan Cin Ko, dia juga telah tertawa gelak-gelak.

“Kau cerdik sekali nak!” katanya diantara suara tertawanya itu. '“Juga disamping itu kau licik! Rupanya kau takut kalau-kalau  nanti aku tidak menepati janjiku. maka sengaja kau mengucapkan terima kasihnya sekarang juga untuk mengikat janjiku itu!” dan Phoa Sin Tek telah tertawa pula sambil mengusap-usap kepala si bocah.

Tampaknya Phoa Sin Tek menyukai dan menyayangi Cin Ko, yang memang memiliki wajah yang selalu dikasihani oleh siapapun   yang melihatnya.

It Mang bertiga Sin Tang dan Sin Bun ikut tertawa. Mereka gembira melihat Phoa Sin Tek menyukai Cin Ko, apa lagi memang mereka melihat Cin

Ko pandai membawa diri, niscaya Phoa Sin Tek tidak akan keberatan nantinya untuk mendidik bocah ini.

Tetapi setelah  puas tertawa, muka Phoa Sin  Tek telah berobah guram

lagi.

“Hai! Hai! Kedatangan kalian telah melenyapkan sebagian perasaan

sedih dihatiku!” kata jago tua she Phoa tersebut kemudian.

It Mang memang telah menduga, tentunya Phoa Susioknya ini sedang menghadapi suatu kesulitan. Tetapi sebagai keponakan murid jelas It Mang tidak berani banyak rewel menanyakannya.

Phoa Sin Tek telah menghela napas lagi, lalu mengawasi It Mang bertiga bergantian, tangannya masih mengusap-usap kepala Cin Ko.

“Apakah kalian telah mendengar perihal Peng Po Siangsie?!?” tanya Sin Tek kemudian, suaranya agak perlahan.

Hati It Mang, Sin Tan, Sin Bun dan Cin Ko jadi tergoncang hebat. Namun scdapat mungkin mereka telah berusaha untuk menindih  perasaan terkejut mereka dan tidak memperlihatkan pada wajah mereka masing-masing, yang paling tergoncang perasaannya adalah Cin Ko waktu mendengar Phoa Sin Tek menyebut perihal kakeknya itu.

“Ada kejadian apakah pada Peng Po Siang-sie itu, Phoa Susiok?”tanya

It Mang kemudian pura-pura tidak mengetahui.

Phoa Sin Tek menghela napas lagi, wajahnya tampak tambah murung.

“Kalian sendiri tentu mengetahui, bahwa Peng Po Siangsie See, Un adalah seorang Menteri Pertahanan yang paling jempolan, paling setia pada negara dan paling pandai untuk mengatur pertahanan ditapal batas, juga Peng Po Siang Sie See Un selalu bertindak tegas pada bawahannya, maka selama pertahanan di Tembok Besar dipegang oleh Peng Po Siang Sie See Un keadaan jadi aman dan tidak ada penyelewengan diantara anak buahnya, sebab Peng Po Siang Sie See Un berani mengambil tindakan tegas untuk menghukum bawahannya yang berlaku curang! Tetapi, belum lama yang lalu, telah terjadi sesuatu hal yang tidak terduga yang membuat seluruh rakyat jadi penasaran bukan main!! Bayangkan saja, Hongte (kaisar) yang masih berusia muda rtu, telah dapat dikuasai dan dihasut oleh seorang Thaykam, yang bernama Ban Hong Liu, dia adalah orang ketiga dari kepala Thaykam di istana, mempunyai kekuasaan yang besar sekali, sehingga kaisar kena dibujuknya dengan fitnahnya terhadap Peng Po  Siangsie, sehingga kaisar  telah menutup mata dan telinga atas jasa-jasa dari Peng Po Siangsie See Un dan mengirimkan utusan untuk menangkap menteri setia itu, menghancurkan keluarga menteri

penahanan itu! Hai! Hai! Coba kalian bayangkan! Bukankah ini akan membuat orang jadi penasaran dan gusar mendengarnya! Malah utusan-utusan  yang dikirim oleh Hongte, telah ditukar sebagian besar oleh  orang-orangnya Thaykam Ban Hong Liu, sehingga tanpa mengenal kasihan telah menangkap dan membunuh keluarga Peng Po Siang Sie! Hai! Hai! Seorang  Menteri pertahanan yang begitu setia dan mempertaruhkan jiwanya untuk negara ternyata telah mengalami penasaran begitu rupa! Bagaimana negara  mau selamat? Bagaimana musuh tidak akan tertawa mendengarnya karena tulang punggung negara yang mereka segani dan jeri hadapi,  ternyata telah dilenyapkan oleh Hongte sendiri!!”

“Hai! Hai! Dilihat begini gelagatnya, di dalam sepuluh tahun pasti negara kita akan diserbu oleh pihak Mongolia!! Sebetulnya, begitu kami mendengar perihal nasib keluarga Peng Po Siangsie, maka kami dari golongan putih, telah bersiap-siap untuk mencoba menyelamatkan jiwa menteri pertahanan itu, karena iringan-iringan kerajaan tengah menuju ke kota raja untuk menghadapkan Peng Po Siangsie pada Hongte dan nanti menjalankan hukuman mati, tetapi akhirnya kami membatalkan niat kami, tentu tindakan kami ini tidak akan disetujui oleh Peng Po Siangsie, karena kalau memang toch gerakan kami ini berhasil, namun tetap saja hal itu akan membuat Peng Po Siangsie tambah cemar dan fitnahan dari Ban Hong Liu akan bertambah tajam pada kaisar. Peng Po Siangsie pasti hanya menginginkan mata kaisar terbuka sendirinya akan kesetiaan yang dilakukannya, dia rela   untuk menerima hukuman mati, tetapi jangan sampai dicap sebagai pengkhianat! Hai! Hai! Inilah suatu urusan penasaran yang besar sekali! Kami gusar dan penasaran mendengar persoalan itu, tetapi kami tidak  berdaya dan hanya dapat menyimpan di dalam hati belaka! Bukankah ini membuat orang akan berduka dan jadi mati?!” berulang kali Phoa Sin Tek telah menghela napas, mukanya berduka bukan main, dari sudut matanya telah menitik butir-butir air mata.

It Mang bertiga Sin Tang dan Sin Bun mendengar kata-kata dari Phoa Sin Tek, jadi tergoncang hebat hati mereka. Lebih -lebih Cin Ko, dia  jadi terharu bukan main, hampir saja Cin Ko tidak bisa mengendalikan dirinya, dia ingin memeluk dan menangis, dipangkuan Phoa Sin Tek, sebab Cin Ko tidak menyangka bahwa persoalan kakeknya itu membuat pendekar-pendekar se- perti Phoa Sin Tek jadi berduka begitu rupa. Cuma saja. ada berita yang menggembirakan bagi It Mang dan kawannya waktu mendengar cerita Phoa Sin Tek, sebab mereka mengetahui bahwa Peng Po Siangsie belum terbinasa waktu penyerbuan itu, hanya menjadi tawanan dan dibawa keibukota. Mereka jadi berdoa kepada thian agar majikan mereka itu tidak cepat menjalankan hukuman, karena mereka bermaksud membentuk suatu kekuatan untuk berusaha membebaskan majikan tua mereka itu.

Sebetulnya It Mang mau membuka mulut mnceritakan kejadian yang sebenarnya bahwa mereka bertiga  sebenarnya adalah orang-orang kepercayaan Peng Po Siangsie See Un yang sempat meloloskan   diri dan Cin Ko adalah cucu Menteri Pertahanan itu. Tetapi akhirnya dia membatalkan, karena bukannya dia tidak mempercayai paman gurunya itu, tetapi disebabkan It Mang memang harus berusaha untuk berlaku hati-hati dan waspada, tidak terlalu ceroboh menceritakan perihal diri Cin Ko kepada siapapun, demi keselamatan jiwa Cin Ko. Sedikit saja mereka terpeleset dalam rencana dan salah perhitungan, niscaya segala-galanya apa yang mereka usahakan  akan gagal sama sekali.

Phoa Sin Tek sendiri melihat perobahan wajah It Mang, Sin Tang, Sin Bun dan Cin Ko, tetapi dia tidak bercuriga, karena diduganya keempat orang ini hanya merasa gusar mendengar perbuatan Ban Hong Liu Thay-kam yang telah mencelakai Peng Po Siangsie See Un, menteri Pertahanan yang   setia itu, dan ikut berduka atas nasib menteri setia itu!

Setelah bercakap-cakap sebentar lagi, dan melihat keaadaan It Mang berempat, yang tampaknya letih habis melakukan perjalanan yang jauh, Phoa Sin Tek telah memanggil A Toa, pelayan  yang tadi, agar mempersiapkan kamar untuk keempat tamunya ini.

Dengan cepat A Toa telah mempersiapkan kamar-kamar  yang diperlukan, Cin Ko bersama Sin Bun satu kamar, sedangkan Sin Tang bersama It Mang satu kamar pula. Kamar mereka sebelah menyebelah.

Phoa Sin Tek telah mempersilahkan tamunya ini untuk beristirahat dulu.

-----MDN------

CIN KO dan ketiga orang kepercayaan kakeknya itu It Mang, Sin Tang. dan Sin Bun, merasa terima kasih atas perlakuan yang mereka terima dari Phoa Sin Tek, karena orang she Phoa tersebut memperlakukan mereka ramah dan telaten sekali.

Malamnya, mereka diundang untuk makan bersama-sama,  ada saja yang dipercakapkan oleh Phoa Sin Tek.

Dengan menetap di rumah Phoa Sin Tek, It Mang, Sin Tang dan Sin Bun merasa tenteram juga, karena untuk sementara waktu majikan kecil mereka ini boleh dibilang telah memperoleh tempat persembunyian yang aman dan terhindar dari pengawasan orang-orangnya Ban Hong Liu Thaykam.

Setelah seminggu kemudian, saat itu fajar baru saja menyinsing, Cin Ko sudah dibangunkan oleh It Mang.

Ternyata It Mang bertiga ingin pergi menyelidiki keadaan disekitar perkampungan tersebut, guna menyelidiki apakah orangnya Ban Hong Liu berkeliaran juga di kampung tersebut. Hal Ini untuk lebih menenangkan hati mereka.

Dengan meninggalkan Cin Ko di rumah Phoa Sin Tek, hati ketiga orang ini dapat tenang, karena Phoa Sin Tek pasti dapat melindungi Cin Ko kalau bocah ini terancam bahaya.

Setelah memberikan pesan agar Cin Ko tidak pergi kemana-mana dan jangan keluar dari gedung jago she Phoa tersebut. It Mang bertiga  telah berangkat untuk melakukan penyelidikan.

Cin Ko berdiam di dalam kamarnya tidak tahu apa yang harus dilakukannya, maka dia hanya berdiam diri saja duduk termenung.

Tetapi selang tidak lama, dia merasa kesepian berdiam terus di dalam kamarnya itu. Si bocah telah menuju ke pekarangan yang terdapat di belakang gedung Phoa Sin Tek, ternyata pekarangan ini luas sekali dan banyak ditumbuhi oleh bermacam tumbuh-tumbuhan yang indah, pohon-pohon bunga beraneka warna.

Di pekarangan gedung ini, Cin Ko bertemu dengan A Toa, pelayan tua yang dulu membukakan mereka pintu. Si bocah bercakap-cakap  sebentar, tetapi disebabkan Cin Ko melihat A Toa tengah sibuk membersihkan rumput- rumput di pekarangan itu, maka   si bocah   telah meninggalkannya. Rasa iseng dan sunyi membuat Cin Ko akhirnya keluar dari gedung itu secara diam-diam, dia bermaksud untuk berjalan-jalan  di dalam  perkampungan tersebut. Walaupun Cin Ko teringat akan pesan It Mang yang meminta si bocah tidak keluar dari gedung itu, tetapi Cin Ko berpikir mustahil di perkampungan kecil ini bisa kebetulan sekali berkeliaran orang-orangnya Ban Hong Liu.

Maka dari itu, si bocah telah melangkah di antara jalan-jalan di perkampungan ini. Pikirannya yang kusut disebabkan dia teringat pada kehancuran keluarganya, agak terhibur melihat keramaian yang ada di sekitar perkampungan itu.

Namun, tanpa disadarinya, si bocah telah sampai di pintu sebelah barat dari perkampungan ini, dia masih melangkah terus keluar perkampungan. Dilihatnya pemandangan di sekitar tempat itu indah sekali. Dan Cin Ko juga melihat, bahwa perkampungan ini terletak di dekat sebuah lembah, karena dibagian pintu barat perkampungan ini sudah terlihat bukit-bukit yang menjulang agak tinggi dan sebuah lembah yang cukup lebar.

Cin Ko jadi kesima melihat keindahan yang terdapat disekitar tempat itu. Pohon-pohon bunga yang berwarna-warni menarik sekali hatinya, karena memang pemandangan daerah Kanglam terkenal akan keindahannya.

Ketika sampai dimulut lembah itu, Cin Ko berdiri sejenak. Dia melihat rumput-rumput liar yang bertumbuhan juga indah sekali dipermainkan oleh hembusan angin, sehingga rumput-rumput yang lemas gemulai itu bergoyang- goyang seperti juga lautan warna hijau. Perlahan-lahan Cin Ko telah menaiki sebuah tebing terjal, yang agak rendah dan datar. Si bocah duduk temenung disitu. Hawa udara pagi sejuk dan menyegarkan, dan sekitar tempat itu sepi sekali tidak terlihat seorang manusiapun juga.

Pikiran Cin Ko jadi melayang-layang mengenangkan nasibnya.

Kalau saja kakeknya tidak difitnah oleh Thaykam Ban Hong Liu, niscaya dia masih hidup dalam lingkungan keluarganya   dengan   bahagia dan tenteram. Tentunya berbeda dengan sekarang, dimana si bocah harus terkatung-katung di dalam pelariannya ini, dan jiwanyja selalu diliputi oleh perasaan takut yang mengejar-ngejar dirinya. Disembarang waktu bisa saja dia dibunuh oleh orang-orangnya Ban Hong Liu, jika jejak dan tempat persembunyiannya diendus oleh orang-orang Ban Hong Liu itu. Mungkin juga Ban Hong Liu sendiri menyadarinya, lolosnya cucu dari Peng Po Siang See Un ini bisa membahayakan dirinya dan akan mempunyai ekor yang panjang. Maka dari itu, biar bagaimana Ban Hong Liu telah mengarahkan  orang-orangnya untuk berusaha menangkap Cin Ko.

Lama juga Cin Ko duduk termenung di situ, ketika matahari sudah naik tinggi, dan baru saja si bocah mau meninggalkan tempat tersebut, tahu-tahu bahunya yang kiri ditepuk seseorang.

“Apa yang kau lamunkan, bocah?” tegur suara seorang wanita.

Cin Ko jadi terkejut, sepasang alisnya mengkerut, dia menoleh kebelakang, dilihatnya seorang wanita berusia pertengahan, diantara empat puluh tahun, wajah yang cantik, baju berwarna kuning dan kunnya yang ber - warna merah, tengah berdiri mengawasi dia.

“Siapa kau?” tanya Cin Ko, tanpa disadarinya sikap agung dari seorang cucu Pengpo Siangsie terlihat jelas sekali, sikap seorang keluarga Bangsawan, karena memang dalam hidup sehari-harinya Cin Ko sangat dihormati oleh orang-orang kakeknya. Maka dari itu, hari ini karena dia ditegur  begitu mendadak dan kemunculan wanita tersebut begitu tiba-tiba, membuat Cin Ko tanpa tersadar lagi telah memperlihatkan sikap yang begitu agung.

Wanita ini terkejut bukan main, dia sampai melengak me lihat sikap Cin Ko waktu bertanya dengan wajah   angkuh dan dada agak membusung, seperti juga seorang bangsawan tengah menegur bawahannya.

Tetapi kemudian wanita ini setelah mengawasi pakaian Cin Ko sejenak, dia tertawa.

“Aha.........” katanya mendongkol. “Apa pangkatmu sehingga kau berani bertanya begitu kurang ajar padaku, heh?” tegur wanita ini dengan suara yang sengit.

Cin Ko dengan cepat tersadar, tetapi penyesalannya itu terlambat datangnya, karena segera juga dia merasakan betapa tangan wanita itu telah menempiling mukanya keras sekali, menimbulkan rasa  sakit yang bukan main.

Cin Ko sampai mengeluarkan seruan kecil dan memegang pipinya.

Matanya terpentang lebar-lebar karena gusar.

“Kau...kau ....mengapa   memukul orang disiang hari bolong?!”   tegur Cin Ko dengan suara gusar, dia juga kesakitan se kali pada pipinya, karena ditempiling cukup keras oleh wanita ini.

“Hahahaha!” perempuan  itu  telah tertawa  gelak.

Melihat wanita itu bukannya menyahuti, malah  telah tertawa gelak- gelak begitu, tentu saja Cin Ko jadi tambah mendongkol Sepasang matanya jadi dibuka lebar-lebar, mengawasi mendelik pada wanita itu.

“Kau bukan manusia rupanya!” memaki Cin Ko dengan gusar. “Tidak angin tidak hujan kau telah memukul orang, lalu sekarang tertawa gelak-gelak seperti orang gila!”

Namun Cin Ko baru berkata sampai disitu, muka wanita tersebut telah berobah merah padam, tangannya juga telah bergerak menyampok muka Cin Ko.

Begitu terkena sampokan tangan wanita ini, seketika itu juga Cin Ko merasakan kepalanya jadi pusing dan pandangan matanya berkunang-kunang.

“Rupanya kau belum mengenal siapa aku ini, heh!” bentak wanita itu, dan membarengi bentakannya itu, dengan penasaran dan perasaan belum puas, dia telah menyampok lagi dengan tangan kanannya, seketika itu ju ga Cin Ko terpental terguling-guling, rubuh sampai dua tombak lebih. Hampir saja pinggang Cin Ko menubruk batu yang menonjol tetapi untung hanya terkena menyerempet saja, membuat Cin Ko tidak sampai terluka.

Tetapi biarpun begitu, Cin Ko merasakan kesakitan yang hebat pada kepalanya, pusing dan juga pandangan matanya jadi kabur. Bintang -bintang

seperti menari dan bermain dipeIupuk matanya. Waktu Cin Ko berusaha untuk berdiri, tubuhnya juga masih bergoyang seperti akan rubuh, tidak bisa berdiri tetap.

Tetapi dasar Cin Ko seorang cucu dari seorang bangsawan, yang mempunyai kedudukan Menteri Pertahanan, dimana sebagai cucu dari seorang menteri pertahanan, jelas setiap harinya Cin Ko dihormati dan disegani, lagi pula setiap kata-katanya selalu akan dituruti oleh siapa saja, dari itu wajar kalau di dalam hati Cin Ko terdapat kekerasan hati bagaikan baja, karena jiwa kakeknya juga memang begitu, keras dan tidak pernah kenal menyerah, tampaknya menuruni kegagahan kakeknya itu pada Cin Ko.

Maka dari itu, biarpun Cin Ko segera menyadarinya bahwa wanita yang memukul dirinya ini tentu bukan wanita baik-baik, toch bukannya menjadi jeri, malah Cin Ko jadi gusar dan penasaran.

Waktu dilihatnya wanita itu menghampiri kearah  dirinya untuk menghajar pula, Cin Ko telah membentak sambil mengangkat tangannya menunjuk : “Berhenti disitu! Jangan kau maju   lagi! Selangkah lagi   saja kau maju, akan kuperintahkan untuk menghukum dirimu!!”  tanpa sesadarnya, karena kepalanya sedang pusing dan dalam keadaan gugup begitu, sikap cucu seorang bangsawan telah muncul pula.

Wanita itu jadi melengak, dan tanpa diinginkannya dia benar-benar jadi berhenti di tempatnya tidak melangkah maju lagi! Waktu Cin Ko mengucapkan kata-katanya itu, suaranya gagah dan berwibawa, juga sinar matanya tampak tajam, mukanya agung dan sikapnya yang memperlihatkan sebagai sikap seorang perwira dengan jari telunjuk yang menunjuk kedepan itu. Hanya beda bajunya yang tampak terbuat dari bahan yang kasar.

Benar-benar wanita ini tidak mengerti, siapa sebenarnya bocah di hadapannya ini.

“Siapa kau?” bentak wanita itu kemudian dengan ragu-ragu.

Cin Ko segera tersadar kembali pada keadaan dirinya, menyadari bahwa kembali dia telah melakukan suatu kesalahan pula.

Cepat-cepat Cin Ko merobah mimik mukanya biasa pula, dia hanya berkata tawar : “Kuharap kau mempunyai harga diri, tidak menyiksa seorang anak kecil tidak berdaya! Bukankah kau juga mengerti, kalau aku melaporkan perbuatanmu   yang tidak    hujan tidak angin, telah menyiksa diriku, maka kau bisa ditangkap oleh petugas-petugas Tiekwan (hakim)?!”

Mendengar perkataan Cin Ko, wanita itu mengerutkan sepasang alisnya. Wanita ini rupanya telah melihatnya  bahwa Cin Ko bukanlah seorang bocah

sembarangan, tetapi rupanya si bocah sedang merahasiakan sesuatu. Maka dari itu hati wanita inipun juga jadi penasaran sekali. Dia tidak percaya kalau bocah ini adalah anak seorang penduduk biasa.

“Hmmm, baru kata hanya untuk menghadapi Tiekwan, aku Khu Mei Sian tidak jeri, cuma yang kukuatirkan, malah kau adalah seorang pembesar yang tengah menyamar !!”

Mendengar perkataan wanita itu, yang tawar dan tidak mengandung perasaan, hati Cin Ko jadi terkesiap, hatinya   mencelos, karena dia tersadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar di luar kesadarannya, yang berarti bisa mengundang bahaya yang tidak kecil bagi dirinya!

Belum lagi Cin Ko sempat berkata-kata pula, tubuh wanita itu yang mengaku bernama Khu Mei Sian telah mencelat cepat sekali melesat kearah Cin Ko.

Cepat sekali gerakan Khu Mei Sian, karena belum lagi Cin Ko mengetahui apa-apa, tangan kanannya telah kena dicekal  oleh wanita ini, yang ditelingkung kebelakang, menyebabkan Cin Ko merasa kesakitan yang bukan main.

“Hei! Hei! Apa yang ingin kau lakukan terhadap diriku?!” teriak Cin Ko

agak gugup.

“Bletakkkk!!” kepala Cin Ko tahu-tahu telah ditepuk oleh telapak tangan wanita she Khu tersebut cukup keras.

Pusing bukan main kepala Cin Ko, bocah ini sampai mengeluh di dalam hati, sebab merasakan betapa kedua bola matanya seperti ingin melompat keluar saja.

“Katakan! Kau anak siapa?!” bentak Khu Mei Sian dengan suara yang bengis. “Jangan coba-coba main gila dihadapanku kalau memang tidak mau kusiksa lebih jauh!”

Cin Ko jadi gugup sendirinya, tetapi seketika itu juga otaknya berputar dengan cepat.

“Aku she To!” katanya berdusta. “Dan namaku Cin Ko!!” kata Cin Ko yang seketika itu telah merobah shenya menjadi she To, yang diambil she dari To It Mang.

“Siapa ayahmu?” bentak perempuan itu lagi dengan suara tetap bengis.

“To It Mang!”

“Mengapa sikapmu seperti sikap seorang anak raja dan terlalu bertingkah, heh? Apa pekerjaan ayahmu iui?” tegur wanita she Khu tersebut tetap masih mencekal tangan Cin Ko yang ditelikung kebelakang.

Dengan menahan rasa sakit Cin Ko menyahuti  juga :       “Ayahku

.....ayahku bekerja sebagai Piauwsu!”

“Hmmm.....dimana kalian tinggal di kampung ini?” tegur Khu Mei Sian

lagi dengan suara tetap bengis.

“Di rumah.....di rumahnya Phoa Peh-peh!” “Siapa itu Phoa Peh-peh?”

“Phoa Sin Tek!” menyahut Cin Ko, yang sengaja menyebutkan nama Phoa Sin Tek, karena Cin Ko maklum, setidak-tidaknya di kampung ini Phoa Sin Tek mempunyai nama yang cukup disegani penduduk.

Muka wanita she Khu itu jadi berobah hebat  dia juga telah mengeluarkan seruan : “Ihhhh?!” menunjukkan kekagetan hatinya. Hal ini membuat Cin Ko jadi girang juga, sebab menduga bahwa gertakannya telah termakan oleh wanita ini.

Tetapi siapa tahu, wanita itu malah telah berteriak dengan suara yang keras mengandung kemurkaan, membuat jantung Cin Ko seperti mau copot dan hatinya mencelos saking terkejutnya : “Aha, rupanya kau mempunyai sangkut paut dengan tua bangka she Phoa itu? Bagus! Bagus! Hari ini aku boleh puas dengan menangkap dirimu, karena dengan membunuh  dirimu, berarti sebagian sakit hatiku pada si tua bangka she Phoa itu terbayar! Hahahahaha!!” dan wanita she Khu tersebut tertawa gelak-gelak seperti kemasukan setan saja, mukanya jadi berobah mengerikan sekali, matanya juga memancarkan sinar yang bukan main tajammya, membuat Cin Ko yang melihatnya jadi menggidik saking ngeri dan takutnya.

Setelah puas tertawa, tahu-tahu wanita she Khu tersebut telah menggertakkan tangan Cin Ko mengangkat tinggi-tinggi tubuh bocah she See ini, dia telah mengayun-ayunkahnya, dan tanpa mengenal rasa kasihan sedikitpun juga, tubuh Cin Ko telah dibantingnya, sampai tubuh si bocah bergulingan di atas tanah. Untung saja disitu memang terdapat banyak sekali rumput-rumput liar, membuat Cin Ko terbanting tidak sampai terlalu menderita. Hanya kepalanya saja yang pusing dan pandangan matanya menjadi kabur.

Khu Mei Sian telah melesat kesamping Cin ko, belum lagi si bocah she See ini sempat untuk merangkak bangun, kaki wanita ini telah  menginjak perut Cin Ko keras-keras, membuat Cin Ko jadi tidak bisa untuk berdiri pula.

“Hmmm...hari ini aku akan menyiksa dirimu dulu, baru nanti akan membinasakan secara perlahan-lahan, agar hatiku puas! Thian ternyata mempunyai mata, siapa tahu akhirnya mengirimkan kau untuk menebus dosa tua bangka she Phoa itu   atas kematian puteraku!!” dan Khu Mei Sian telah tertawa gelak-gelak lagi dengan suara yang menyeramkan sekali.

Cin Ko merasakan, betapa wanita she Khu tersebut menginjak perutnya itu tanpa main-main, sebab dia menginjak dengan mempergunakan tenaga yang kuat sekali, sehingga Cin Ko merasakan perutnya itu seperti juga ditindihkan oleh sebuah batu yang beratnya ribuan kati.

Dengan mengeluarkan suara erangan, Cin Ko berusaha untuk meronta, kedua tangannya sekuat tenaga berusaha menarik kaki wanita itu  agar terlepas injakannya dari perutnya.

Tetapi wanita she Khu tersebut mengetahui maksud Cin Ko, dia malah tertawakan si bocah.

“Mana kau mempunya kekuatan untuk menarik kakiku, bocah!” katanya dengan suara mengejek, dan seperti orang gila, dia telah tertawa gelak-gelak lagi mentertawakan Cin Ko dengan kakinya masih menginjak keras-keras perut si bocah.

Cin Ko merasakan perutnya seperti ingin pecah, seperti juga isi perutnya ingin berhamburan keluar, darahnya juga seperti mengembang  diatas kepalanya, membuat pandangan matanya jadi gelap dan berkunang-kunang. Malah yang lebih berat lagi adalah napas si bocah yang jadi sesak karena dia sukar untuk bernapas dengan perut terinjak keras seperti itu. Keadaan bocah jadi gawat bukan main, malah Cin Ko sendiri sampai mengeluh : “Habislah riwayatku kali ini!!”

Khu Mei Sian masih saja menginjakkan kakinya ke perut Cin Ko disertai oleh suara tertawanya yang tidak hentinya, suara tertawanya itu menggema disekitar lembah itu, menyeramkan sekali, seperti ringkik hantu penasaran .

-----MDN-----

BUTIR-BUTIR keringat telah mengucur keluar dari kening dan seluruh tubuh Cin Ko, tampaknya bocah she See ini menderita sekali.

“Apa.....apa kesalahanku, sehingga.... sehingga aku diperlakukan demikian?!” tanya Cin Ko dengan suara yang susah.

“Hahahahaha, nanti kalau kau sudah sampai di neraka kau boleh menanyakannya kepada Lie Sie Bin atau jenderal SieJin Kwie, mengapa kau kukirim keneraka, mereka tentu mengetahui segalanya, pasti mereka akan menjelaskannya padamu!”

Hati Cin Ko jadi mencelos. Lie Sie Bin adalah Hongte (kaisar) ahala Tang (Tong), yang telah meninggal beberapa dynasti yang lalu, dan  juga jenderal Sie Jin Kwie adalah seorang jenderal diahala Tong itu juga. Dengan dikirimnya Cin Ko kepada kedua orang itu berarti Cin Ko memang hendak dikirim ke neraka! Tegasnya wanita ini ingin membunuhnya!

Keringat dingin jadi membasahi tubuh dan telapak tangan serta kaki Cin Ko, dia mengeluh dihati kecilnya.

Tetapi, sebagai seorang bocah yang masih mempunyai turunan darah seorang bangsawan gagah seperti See Un, Peng Po Siangsie yang gagah perkasa itu, tentu saja Cin Ko juga tidaklah terlalu pengecut seperti bocah- bocah lainnya yang sebaya dengan usianya. Apa lagi memang dihari-hari sebelumnya Cin Ko memang telah hidup di dalam lingkungan istana kakeknya itu, sehingga boleh dikata seluruh orang menyayangi dan  menghormatinya setiap perintahnya tidak ada yang berani membantahnya, membuat jiwa Cin Ko agak angkuh.

Maka dari itu, biarpun hatinya merasa ngeri bukan main, toch kenyataannya dia tidak sampai sesambatan   memperlihatkan   perasaan takutnya itu, malah si bocah waktu menget i-hui dirinya ingin dibunuh, malah dia telah menjadi tenang kembali.

“Bunuhlah!” katanya dengan suara yang tegas, mengandung suara memerintah. “Kalau memang kau mau membunuh, bunuhlah! Jangan harap kau bisa menghina diriku! Kematian tidak ada artinya bagiku! Lebih penting lagi dan mulia kalau kau berlaku gagah dan tidak menghina anak kecil! Aku mati dengan puas, karena biarpun aku tidak bisa membalas kematianku ini, pasti ada yang akan mewakilinya, kau tentu akan menyusulku keneraka!”

Mendengar perkataan Cin Ko yang begitu tegas, dan juga tidak memperlihatkan perasaan  jeri sedikitpun juga, wanita itu bukannya jadi murka, malah jadi melengak terheran-heran

“Kau tidak takut mampus, bocah?” tegurnya kemudian dengan terheran - heran.

Dengan menahan rasa sakit pada perutnya yang tetap diinjak, Cin Ko telah menyahuti sengit : “Kematian bukanlah suatu hal yang patut dibuat takut? Setiap orang akhirnya toch akan mati juga, untuk apa kita harus merasa

takut? Bukankah pada kata-kata Khongfucu telah mengatakan, siapa takut mati, tidak akan panjang umurnya!”

Mendengar perkataan Cin Ko, wanita ini jadi melengak lagi, dia sampai mengeluarkan seruan heran.

“Ihh.....!” serunya.   “Kau mengerti juga kata-kata Khongfucu?”

Memang akan mengejutkan orang bahwa di dalam usia sebesar Cin Ko, telah dapat mengerti kata-kata Khongfucu yang begitu berat. Perkataan : 'Siapa yang takut mati, tidak akan panjang umurnya' berarti setiap orang pengecut, niscaya dirinya akan selalu tersiksa oleh perasaan dan hati kecilnya, karena orang bisa mendustai orang lainnya, namun tidak bisa mendustai hati kecilnya sendiri! Maka dari itu, tanpa sesadarnya   perasaan   takutnya itu malah akan memperpendek masa hidupnya! Dengan kata-katanya  itu, Khongfucu seperti juga ingin menganjurkan,  agar setiap manusia harus bersikap gagah dan jantan penuh kejujuran!

Maka dari itu tidaklah mengherankan jika di dalam  sebesar Cin Ko, ternyata bocah tersebut sudah dapat mempergunakan dan mensitir kata-kata Khongfucu itu di dalam keadaan yang tepat.

Tentu saja Khu Mei Sian jadi tidak habis mengerti.

Malah kemudian sambil tertawa tawar dia telah mengangkat kakinya yang menginjak perut Cin Ko.

“Baiklah!” katanya kemudian dengan suara yang tawar, matanya memandang tajam pada si bocah. “Karena kulihat di dalam usia sedemikian kectl tetapi kau sudah mempunyai kecerdikan bukan main biarlah kali ini kuampuni jiwamu! Pergilah! Tetapi ingat, kalau kau berani berlaku kurang ajar pula padaku, hmmm, hmmm, aku tidak akan mengampuni lagi jiwamu!!”

Cin Ko merangkak bangun, dia memandang Khu Mei Sian dengan sorot mata yang tajam juga, sedikitpun Cin Ko tidak memperlihatkan perasaan jeri.

“Hmmm, memang aku akan mengingatnya seumur hidup, bahwa ada seorang wanita bernama Khu Mei Sian yang ingin membunuhku!!” kata Cin Ko dengan suara yang lantang.

Khu Mei Sian hanya mendengus saja, dia telah membentak : “Cepat kau

menggelinding enyah dari hadapanku sebelum aku merobah pikiran!”

Cin Ko berpikir, kalau dia terlalu lama berdiam disitu, memang tidak akan menggembirakan hatinya, sebab kalau sampai perempuan ini merobah pikirannya dan menyiksa dirinya, bukankah itu berarti dirinya yang akan menderita karena tidak mampu memberikan perlawanan?

Karena berpikir begitu, Cin Ko telah mengawasi mendelik sesaat pada Khu Mei Sian kemudian memutar tubuhnya berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Di dalam perjalanannya pulang ke gedung Phoa Sin Tek, Cin Ko jadi berpikir mengapa hari ini dia sial benar bisa bertemu degan perempuan she Khu yang tampaknya agak sinting?! Lagi pula, apa hubungan Khu Mei Sian dengan Phoa Sin Tek, karena dikala begitu mendengar disebutnya nama Phoa Sin Tek, wanita itu jadi berobah beringas marah bukan main! Menurut perkataan Khu Mei Sian tadi, bahwa puteranya telah dibunuh oleh Phoa Sin Tek dan Cin Ko meragukan perkataan wanita itu, sebab dia biarpun belum begitu lama mengenal jago tua she Phoa itu, namun si bocah merasakan bahwa Phoa Sin Tek merupakan seorang jago tua yang ramah dan sabar. Tidak mungkin dia membunuh putera dari wanita itu.

Ketika sampai di gedung jago tua she Phoa itu, hampir menjelang tengah hari. A Toa yang telah membukakan pintu untuk Cin Ko.

“Apakah ketiga pamanku telah pulang, Lopeh?” tanya Cin Ko pada pelayan keluarga Phoa tersebut.

“Belum Siauwya (tuan kecil)!” sahut A Toa sambit menutup kembali pintu itu. “Cuma tadi Loya telah menanyakan Siauw-ya,  tampaknya  Loya berkuatir atas kepergian Siauwya!”

Cin Ko menghela napas.

“Hai! Hai! Aku memang telah melakukan kesalahan besar membuat Phoa Pehpeh jadi berkuatir begitu, sebab aku pergi keluar tadi tanpa meminta ijinnya dulu! Aku harus pergi meminta maaf padanya.”

Dan setelah berkata begitu, Cin Ko telah memutar tubuhnya untuk pergi menemui Phoa Sin Tek dan meminta maaf pada jago tua she Phoa yang baik hati itu.

Tetapi waktu Cin Ko akan meninggalkan tempat itu, A Toa telah memanggilnya:

“Tunggu dulu Siauya..!!”   panggilnya.

“Ada apa, Lopeh?” Cin Ko jadi batal melangkah pergi, dia telah menoleh

pada pelayan itu.

“Saat ini Loya tengah menerima seorang tamu, dan mungkin ada urusan yang penting, baru saja Loya kedatangan tamu itu, tampaknya mereka tengah merudingkan sesuatu !!”

“Ohhh, kalau begitu sore nanti saja kutemui Phoa Peh-peh!!” kata Cin

Ko sambil mengucapkan terima kasih pada pelayan ini.

Dengan langkah lebar Cin Ko telah melangkah pergi meninggalkan pekarangan depan itu untuk kembali ke kamarnya.

Untuk mencapai kamarnya itu, Cin Ko harus melalui ruangan tengah.

Waktu melewati samping ruangan tengah itu, dikala dia lewat di dekat jendela ruangan tengah tersebut, dimana pintunya tertutup rapat, Cin Ko mendengar suara Phoa Sin Tek yang tengah berkata: “Kukira apa yang kau ceritakan mengenai Peng Po Siangsie itu agak berbeda dengan apa yang tersiar di dalam kalangan rakyat, inilah sesuatu yang sungguh-sungguh tidak pernah kuduga!!”

Cin Ko jadi heran, biasanya Phoa Sin Tek menerima tamu-tamunya diruangan perpustakaan yang terletak di belakang gedung ini, tetapi mengapa kali ini dia menerima tamunya itu diruangan tengah?! Dan yang lebih-lebih menarik hati Cin Ko, adalah perkataan Phoa Sin Tek yang menyebut-nyebut Peng Po Siangsie kakeknya itu. Dengan sendirinya Cin Ko jadi ingin mengetahui, sebenarnya apakah yang tengah dibicarakan  oleh kedua orang ini.

“Biarlah aku dikatakan tidak sopan, tetapi aku ingin mengetahui siapakah yang menjadi tamu Phoa Pehpeh itu?” pikir Cin Ko di dalam hatinya. Dia mendekati jendela itu dengan berindap-indap dan mengintai dari celah- celah yang terdapat disitu.

Dilihatnya Phoa Sin Tek tengah duduk menghadap kearah dalam, duduk membelakangi jendela, sehingga Cin Ko tidak bisa melihat wajah Phoa Sin Tek, yang entah pada saat itu tengah memperlihatkan perasaan marah, gusar atau berduka. Tetapi wajah tamu dari jago tua she Phoa itu dapat dilihat jelas sekali oleh Cin Ko, dan inilah yang telah ngejutkan benar hati Cin Ko, karena si bocah mengenali wajah orang itu, yang ada tanda daging lebih pada tengah- tengah keningnya berusia diantara empat puluh lima tahun, wajahnya tampak agak bengis, pakaiannya berwarna kuning dengan lapis warna merah beludru sutera, sepasang alisnya melengkung panjang seperti mata   pedang, hidungnya juga agak bengkok. Itulah dia pengikut Giok Bian Siuchay Bie Tin, termasuk orangnya Ban Hong Liu Thaykam, yang ikut menyerbu pada keluarga Peng Po Siangsie.

Hati Cin Ko jadi tergoncang waktu melihat  orang ini, dia jadi mengerutkan sepasang alisnya, menduga-duga  entah apa yang sedang dilakukan orang ini datang bertamu pada Phoa Sin Tek, diam-diam rasa curiga Cin Ko juga jadi timbul, apakah cerita Phoa Sin Tek mengenai kedukaannya pada dirinya akibat berita ditangkapnya Peng Po Siangsie itu hanyalah

sandiwara belaka, untuk mengelabuhi mereka, padahal sebenarnya orang tua she Phoa tersebut mempunyai hubungan dengan orang-orangnya Ban Hong Liu?!

Saat itu tamu Ban Hong Liu, yang keningnya terdapat daging lebih yang berbentuk bulat, bagaimana sebuah tanduk, telah berkata sambil tertawa.

“Phoa Enghiong (orang gagah she Phoa) kalau begitu telah mendengar kabar angin yang salah!” Kata Orang tersebut dengan suara yang sabar, tetapi matanya bersinar licik “Sebenarnya Ban Kongkong (maksudnya Ban Hong Liu Thaykam, Kongkong adalah panggilan menghormat pada Thaykam itu) telah melakukan sesuatu yang besar untuk negara dan berjasa besar pada negeri ini! Apakah Phoa Enghiong tidak mendengar bahwa Peng Po Siangsie See Un telah berkhianat bersekongkol dengan pihak Boanchiu yang ingin menyerbu kedaratan Tionggoan ini? Hmmm, hmmm, untung saja orang-orang  Ban Kongkong telah dapat mengagalkan maksud jahat Peng Po Siangsie See Un itu, karena mereka merencanakan begitu orang-orang Boanchiu menyerbu masuk, orang-orang Peng Po Siangsie See Un inilah yang ingin menyambut dari dalam! Phoa Enghiong bayangkan, bukankah ini berbahaya sekali? Sekarang bukti-bukti telah ada ditangan Hongsiang (kaisar), kita tunggu saja tanggal mainnya Peng Po Siangsie diperiksa oleh Hong-siang hahahaha,

tentunya Menteri Pertahanan yang ingin bertepuk tangan dan kaki main gil a pada negara bisa menerima hukuman yang setimpal, dosanya terlalu hebat, Phoa Enghiong!”

Saat itu Cin Ko jadi tergoncang keras hatinya, dia tidak mengetahui, apa tujuan dari orangnya Giok Bian Siuchay mencoba untuk membujuk Phoa Sin Tek.

Sedangkan Phoa Sin Tek telah tertawa tawar, Cin Ko tidak bisa melihat perubahan mukanya yang jadi guram sekali, karena Phoa Sin Tek duduk membelakangi tempat dimana Cin Ko sedang mengintai.

“Saudara Su Cie Kiat!” kata Phoa Sin Tek kemudian dengan suara yang tawar. “Inilah benar-benar tidak pernah diduga olehku si orang tua bahwa Pengpo Sianssie akan berkhianat begitu! Terima kasih atas keteranganmu! Tetapi menyesal sekali, bahwa aku si tua bangka memang sudah memutuskan untuk hidup menyendiri di tempat sepi ini, jadi Lobu bukannya tidak bersedia membantu negara, tetapi memang tenaga dan kepandaian Lohu sudah tid ak ada artinya lagi kalau dibandingkan dengan jago-jago muda yang banyak bermunculan saat ini!”

Cin Ko segera dapat menarik kesimpulan setelah mendengar perkataa n Phoa Sin Tek.

Tentunya orang Giok Bian Siuchay yang dipanggil namanya oleh Phoa Sin Tek sebagai Su Cie Kiat itu, ingin membujuk Phoa Sin Tek agar mau membantu pemerintah dan berdiri dipihak Ban Hong Liu. Tetapi untuk me- nolak secara terus terang, Phoa Sin Tek tak sebodoh itu, sebab berarti dia akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil, juga untuk  keluarganya. Maka dari itu,    dia telah menolaknya, namun secara halus, dengan alasan bahwa dia memang telah lama hidup mengasingkan diri dan mengatakan bahwa telah banyak jago-jago muda yang bcrmunculan pada saat ini. Didengarkan suaranya yang tawar Cin Ko juga mengetahui bahwa Phoa Sin Tek  tidak menyukai orang she Su tersebut.

Diam-diam Cin Ko jadi merasa berdosa pada dirinya sendiri, sebab tadi dia sampai menduga bahwa Phoa Sin Tek telah bersekongkol dengan orangnya Ban Hong Liu. Padahal Phoa Sin Tek telah begitu tegas berdiri dipihaknya Pengpo Siangsie.

Su Cie Kiat tersenyum dengan bola mata yang mencilak-cilak memain licik sekali.

“Apakah Phoa Enghiong tidak merasa sayang membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja? Bukankah kalau Phoa Enghiong menghendaki, Phoa Enghiong bisa memangku pangkat yang tidak kecil artinya Ban Kongkong tentu bersedia berlaku murah hati pada

Phoa Enghiong untuk memberikan pangkat yang dikehendaki oleh Phoa

Enghiong, misalnya pangkat Congtok?!”

Tiba-tiba Phoa Sin Tek telah berdiri, dia menjura pada Su Cie Kiat.

“Terima kasih! Terima kasih! Itulah anugerah yang terlalu hebat! Sampaikan saja terima kasih Lohu yang sebesar-besarnya pada Ban Kongkong bahwa Lohu Phoa Sin Tek orang dusun yang tidak pantas menjabat pangkat apapun juga, lagi pula memang Lohu sudah lama hidup mengasingkan diri, sudah terbiasa dengan suasana yang tenang sepera di tempat ini, maka dari itu sudah tidak ada selera untuk ikut mencampuri persoalan duniawi lagi, apa lagi urusan pemerintahan...!”

Mendengar perkataan Phoa Sin Tek, orangnya Giok Bian Siuchay tertawa gelak-gelak.

“Bisa saja Phoa Enghiong merendahkan diri!” katanya setelah tertawa. “Sebetulnya seorang pendekar yang berkepandaian hebat seperti Phoa Enghiong ini malah belum pnntas menjabat kedudukan Congtok ini, sedikitnya harus duduk sebagai tangan kanan Ban Kongkong, baru pantas! Tetapi, baiklah! Kalau memang Phoa Enghiong keberatan untuk melepaskan tempat yang tenang ini, itupun tidak akan membuat murka Ban Kongkong, tetapi Ban

Kongkong, juga tidak lupa sebelumnya telah mengirimkan salam juga untuk Phoa Enghiong, kata Ban Kongkong, kalau memang Phoa Enghiong tidak bersedia untuk menerjunkan diri  di dalam kancah kekacauan pemerintahan saat ini, itupun tidak apa-apa, hanya Ban Kongkong harapkan Phoa Enghiong dapat sedikit-sedikit dan sekedarnya membantu  untuk mengawasi   gerak- gerik dari para pemberontak itu! Nanti Siauwte akan sampaikan kepa da Ban Kongkong bahwa Phoa Enghiong sudah melepaskan segala macam persoalan dunia persilatan dan soal pemerintahan, tidak akan mencampurinya dan Ban Kongkong pasti tidak akan marah!”

Sepasang alis Phoa Sin Tek agak mengkerut,  wajahnya guram bukan main. Dia melihat betapa liciknya orang she Su ini.

Setelah dia mengetahui Phoa Sin Tek menolak  tawarannya untuk menjabat sesuatu pangkat dan kedudukan guna membantu Ban Hong Liu, dia juga telah memantek mati bahwa Phoa Sin Tek tidak akan membantu pihak orang-orang musuh Ban Hong Liu itu!

Tetapi untuk membantah dan menentangnya, jelas sangat berbahaya, maka Phoa Sin Tek hanya dapat tersenyum tawar saja.

Cin Ko yang tengah bersembunyi mengintai dibalik celah-celah jendela, tengah diliputi oleh hawa gusar dan mendongkol. Dia memutar otak untuk memberikan 'pelajaran' pada orang she Su itu.

Dilihatnya di atas meja belum lagi sang tamu disediakan minuman. Maka dari itu cepat-cepat Cin Ko pergi ke dapur, dia menuangkan dua cawan air teh yang benar-benar panas. Masih mendidih.

Dibawanya dua cawan teh itu ke ruangan tengah, diketuknya pintu ruangan tengah tersebut.

“Siapa?”tanya Phoa Sin Tek dari dalam.

“Siauwtit (keponakan kecil), Lopeh!” sahut Cin Ko. “Siauw-tit membawa minuman untuk tamu!”

“Masuklah!” Phoa Sin Tek telah mempersilahkan dengan suara yang berobah sabar, karena orang tua ini mengenali itulah suaranya Cin Ko.

Cin Ko mendorong pintu yang tidak terkunci itu, dilihatnya tuan rumah dan sang tamu sudah duduk berhadapan. Cin Ko menghampiri dengan membawa kedua cawan teh itu dengan kepala tertunduk. Su Cie Kiat menduga Cin Ko adalah pelayan cilik keluarga Phoa, dia tidak memperhatikannya.

Cawan yang satunya diletakkan Cin Ko di samping Phoa Sin Tek, yang mengawasi Cin Ko dengan sorot mata heran dan menduga-duga, karena Phoa