Manusia Jahanam Jilid 01

 
Jilid 01

DIWAKTU   musim rontok.

Sinar Lilin perak, Menyinari Lukisan dinding. Kipas kapas yang indah. Menepuk kunang-kunang, Tangga langit diwaktu malam, Dingin bagaikan bekunya sang air, Sambil rebah di rumput sutera, Memandangi bintang Niauw Lang

Cek Nie.

Di atas adalah syairan yang ditulis oleh seorang pujangga bernama Tu Mu, dia telah melukiskan keadaan dimusim rontok yang indah, dengan segala kesunyian yang ada. Dan yang terutama sekali, dia berusaha melukiskanpula dalam kata-katanya itu mengenai jiwa yang diliputi kebekuan, seperti pada kata-katasyairnya itu terdapat kalimat seperti ini : Dingin bagaikan bekunya sang air. Harus dimengerti, air dimana-mana, baik di sungai, di laut maupun di danau ataupun di kendi-kendi dari setiap rumah tangga. Pasti mengalir. Tetapi di sini Tu Mu telah melukiskan betapa air itu telah menjadi beku. Maka bisa dibayangkan betapa akan jadinya kalau air di permukaan  dunia telah menjadi beku seluruhnya  !

Tetapi keadaan di suatu tempat dibagian utara dari pegunungan Cang - pay-san, di sebuah tikungan gunung yang tidak begitu lebar, keadaan disitu tidaklah seperti apa yang diutarakan  dalam syairnya Tu Mu, karena di sini tidak ada sinar perak dari sang lilin, juga tidak ada pula lukisan berharga. Sinarrembulan yang dingin, arakpun tak ada. Jalanan yang sunyi dan  sepi sekali, meliputi keheningan yang sangat, malah dapat menimbulkan perasaan yang sepi bukan main.

Tetapi diantara kesunyian itu, diantara tengah  malam yang larut, terdengar suara langkah-langkah kaki, disusul oleh terlihatnya empat sosok tubuh yang sedang melakukan perjalanan malam, mereka tampaknya kesusu sekali. Sinar rembulan yang redup yangdingin, telah menyinari sekitar tempat itu dengan kesuraman, dan keempat orang yang sedang   melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa itu, tampaknya sudah letih bukan main. Pa- kaian mereka pun kotor dan dekil menunjukkan bahwa mereka  telah melakukan perjalanan yangcukup jauh. Juga pakaian mereka terdiri dari bahan-bahan kasar. Mereka terdiri dari tiga lelaki dewasa dan seorang anak

lelaki berusia diantara sepuluh tahun. Dua orang lelaki dewasa itu berpakaian seperti dua orang pedagang, dan yang seorang lagi seperti seorang Piauwsu. Usia kedua lelaki  yang berpakaian seperti pedagang itu berkisar diantara empat puluh tahun, sedangkan yang berpakaian seperti Piauwsu (pengawal barang) berusia diantara tiga puluh tahun. Wajah mereka memperlihatkan keletihan yang sangat, juga diliputi oleh perasaan takut yang bukan main.

Dan yang aneh pada diri mereka, adalah anak lelaki yang mereka ajak dalam perjalanan malam ini. Anak lelaki itu juga tampaknya telah lelah bukan main, bajunya yang sama dekilnya, terbuat dari bahan kasar, seperti juga anak lelaki ini adalah anak seorang petani atau tukang kayu. Sepasang alisnya tebal, bibirnya tipis, raut wajahnya tirus seperti sirih, hidungnya bangir, rambutnya dikonde, tubuhnya kurus tinggi, mukanya memperlihatkan bahwa dia pun sedang dikejar-kejar oleh perasaan yang menakutkan sekali. Tetapi kalau orang memperhatikan dengan seksama, maka akan terlihat, betapa dari bola mata anak lelaki ini memancarkan keagungan,sikapnya juga memperlihatkan bahwa dia bukanlah sebangsa manusia keturunan  keluarga petani walaupun dia berpakaian kasar begitu. Malah sikap ketiga orang yang bersama-sama melakukan perjalanan dengan anak lelaki ini memperlihatkan sikap yang menghormat dan selalu meminta dan mempersilahkan anak lelaki ini jalan di muka.

Ketika sampai ditikungan jalan gunung Cang-pay-san itulah, anak lelaki tersebut telah menjatuhkan dirinya di atas gundukan tanah,  dengan muka agak meringis, dia telah berkata dengan suara tertahan : “Sam Siok-siok (tiga paman), aku..... aku sudahtidak kuat lagi....            aku ..........

mengantuk sekali          !!”

Ketiga lelaki yang melakukan perjalanan bersamanya telah memandang anak lelaki tersebut dengankebingungan, mereka juga sebentar-sebentar menoleh kearah belakang, dari arah mana tadi mereka mendatangi.

Salah seorang diantara ketiga lelaki ini, yang berpakaian seperti Piauwsu, telah menghampiri anak lelaki tersebut.

“Kongcu (tuan muda)........” katanya dengan suara yang lembut dan ramah, mengandung rasa hormat. “Apakah tidak bisa kalau Kongcu bertahan sebentar lagi saja, di depan kutahu ada sebuah kuil gunung, kita bisa mempergunakannya untuk mengaso di sana!!”

Tetapi anak kecil itu telah menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah tidak kuat lagi untuk melakukan perjalanan, kedua kakiku sudah gemetaran....!” menyahuti anak lelaki itu dengan suara yang mengandung keletihan bukan main. “Kita sudah melakukan perjalanan tiga

hari tiga malam tanpa berhenti, benar-benar membuat kaki-kakiku ini seperti

mau bercopotan.”

“Tetapi tempat ini merupakan tempat yang tidak aman,  Kongcu.......

kita berada dalam alam terbuka ini bisa menggagalkan usaha

kita !”

“Kalian bertiga pergi saja lebih dulu ke kuil itu, kalau nanti rasa letihku agak lenyap, barulah aku akan menyusulnya kesana.” Kataanak lelaki ini.

Orang yang berpakaian seperti Piauwsu telah menghela napas, sedangkan kedua kawannya yang lain, kedua lelaki yang berpakaian sebagai pedagang itu tampak kebingungan dan gugup.

“Mana bisa begitu, Kongcu?!” kata orang yang berpakaian seperti Piauwsu itu. “Jiwa kami boleh terbinasa, kami boleh mati, tetapi tidak untuk Kongcu! Kau harus hidup  terus Kongcu..........................!  Kami bersedia untuk mati ...............asalkan Kongcu dapat diselamatkan..................................! Sekarang ini kaki tangan musuh tersebar dimana-mana, mana boleh kita berlaku lengah   dan ayal? Sekali saja kita terjatuh di tangan mereka, habislah cita-cita kami semuanya !!”

Anak lelaki itu tetap menggelengkan kepalanya, dia malah memejamkan matanya dan tidak mau berkata-kata lagi, rupanya benar-benar anak kecil ini telah letih bukan main dan tidak bisa bertahan lagi untuk melakukan perjalanan walaupun hanya untuk sepuluh langkah.

Orang yang berpakaian Piauw dan kedua orang yang berpakaian seperti pedagang itu, jadi kelabakan dan gugup bukan main melihat anak lelaki ini yang tidak mau melayani mereka.

“Kongcu ........!” panggil orang yang berpakaian seperti Piauwsu itu.

Tetapi anak lelaki itu tidak mau meladeninya, dia tetap memejamkan matanya.

Rupanya hal ini membuat ketiga lelaki jadi semakin gugup saja. Malah Piauwsu yang sudah tidak berhasil membujuk anak lelaki itu untuk melanjutkan perjalanan mereka, telah duduk numprah dan menangis. Sedangkan kedua lelaki yang berpakaian seperti pedagang itu, yang muka mereka mirip satu dengan yang lainnya seperti dua bersaudara kembar, juga sudah duduk numprah di atas tanah pula. Mereka bengong tanpa mengucapkan sepatah perkataan juga.

Anak lelaki yang sedang memejamkan matanya itu, mendengar suara tangis dari orang yang berpakaian seperti Piauwsu itu, yang menangis sesenggukan sedih sekali. Anak lelaki ini jadi terkejut. dia telah membuka

kelopak matanya, dilihatnya sikap ketiga orang itu, hatinya jadi bergerak dan terharu. Cepat-cepat dia telah melompat, dihampirinya orang yang berpakaian seperti Piauwsu itu.

“To... Sioksiok (paman To), mengapa kau menangis?” tegur anak lelaki

ini dengan lembut sambil memegang bahu lelaki itu.

Ditegur dengan suara yang begitu lembut orang yang berpakaian seperti Piauwsu itu, yang dipanggil dengan sebutan paman To  itu, jadi menangis semakin sedih, tubuhnya sampai tergetar. Tidak sepatah perkataan juga dia sanggup menyahutinya.

Hati anak lelaki ini tambah terharu, dia menghela napas.

“Hai! Hai! Memang Kojie (anak Ko) tidak tahu diri! Benar -benar Kojie tidak bisa mengenal budi kebaikan kalian bertiga!  Kalian sudah bersusah payah dan mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan Kojie, tetapi nyatanya Kojie malah tidak bisa menuruti nasehat dan perkataan dari Sam-wie Sioksiok! Hai! Hai! Maafkanlah To Sioksiok, dan kalian berdua, Wie Sioksiok!! Baiklah, mari kita melanjutkan perjalanan lagi!”

Mendengar perkataan anak lelaki ini, yang menamakan dirinya dengan sebutan Koji (anak Ko), si Piauwsu dan kedua kawannya rupanya jadi girang bercampur terharu.

Dengan air mata masih memenuhi mukanya, To Sioksiok ini telah merangkul si anak lelaki dengan penuh kasih sayang.

“Terima kasih Kongcu! Terima kasih Kongcu! Kami memang mengerti, kau sudah sangat letih, tetapi selama kita belum dapat keluar dari wilayah musuh, mau tak mau kita harus mencari tempat yang aman dulu untuk mengasoh, janganlah kita sampai menggagalkan urusan yang besar ini, biar bagaimana jiwa Kongcu harus kami selamatkan!!”

Dan merekapun melanjutkan perjalanan mereka lagi, kesunyian malam kian sunyi saja. Walaupun anak lelaki itu tampaknya sudah letih bukan main, langkah kakinya sudah sempoyongan dan tidak bisa berjalan dengan tetap, toch dia telah memaksakan diri untuk melangkah juga! Dia tidak mau kecewakan ketiga orang yang telah bersusah payah berusaha meloloskan diri anak lelaki ini dari mara bahaya yang sedang mengintai mereka.

Berjalan kurang lebih satu lie, Ko-jie, anak lelaki itu, merasakan kedua kakinya gemetaran dan seperti mau rubuh.

Tetapi dia menguatkan hatinya dan tetap bertindak  dengan langkah yang perIahan-lahan.

Ketiga orang yang mengiringinya juga memang mengetahui penderitaan anak kecil ini, tetapi mereka hanya bisa merasa iba dan kasihan, tetapi tidak berdaya, karena memang mereka mau tak mau harus melakukan perjalanan ini tanpa boleh mengasoh dulu.

“Kalau .....kalau Kongcu tidak keberatan, biarlah aku yang menggendongmu, Kongcu .....!!” kata To Sioksiok itu ketika melihat keadaan anak kecil tersebut semakin lemah dan tubuhnya sering sempoyongan seperti mau rubuh.

Namun anak kecil itu telah menggelengkan kepalanya cepat sekali.

“Tidak!”sahutnya tegas. “Kalian bertiga adalah manusia juga, kalian pun telah melakukan perjalanan denganku selama tiga hari tiga malam, tentunya kalian sama letihnya denganku! Bagaimana aku sampai hati membiarkan kau menderita, sedangkan aku enak-enak saja digendong oleh kau?”

Mendengar perkataan anak lelaki ini, To Sioksiok ini tambah terharu. Kedua orang yang berpakaian seperti pedagang, yang tadi dipanggil oleh anak lelaki itu dengan sebutan Wie Sioksiok (paman Wi), juga ikut terharu.

“Kami mempunyai tenaga yang lebih kuat, Kongcu, maka dari itu, janganlah Kongcu memikirkan diri kami!” kata To Sioksiok itu.

“Tidak................biarlah aku berjalan sendiri!” menyahuti anak lelaki tersebut. “Kalian malah telah bertempur dan kehabisan tenaga   ketika berusaha    meloloskan    diriku    dari    cengkeraman   orang-orang    jahat   itu

.......tentunya   malah   kalian   yang   lebih   letih   dari   diriku !

Sudahlah To Sioksiok, aku tidak mau memperoleh kesenangan di atas penderitaan orang lain !”

To Sioksiok tidak bisa membujuk anak kecil ini, dan dia hanya bisa membiarkan anak lelaki ini berjalan seorang diri dengan tubuh sempoyongan.

Malam semakin larut saja, dan setelah berjalan tiga lie lagi, (satu lie sama dengan limaratus enam puluh tujuh meter), muka kedua Wie Sioksiok jadi berseru girang.

''Lihatlah, itulah kuil penunggu gunung yang kita tuju .....di sana kita boleh beristirahat beberapa saat lamanya!” kata salah seorang Wie Sioksiok itu dengan suara yang girang. Muka To Sioksiok dan anak lelaki itu juga berseri-seri girang. Dengan mengempos seluruh sisa tenaga yang ada pada dirinya, si bocah telah berusaha untuk berjalan lebih cepat.

Dan ketika mereka sampai di depan kuil itu, ternyata kuil yang dinamakan kuil penunggu gunung itu, merupakan sebuah kuil yang sudah tua dan rusak. Di beberapa bagian dari dinding kuil tersebut sudah ada  yang gempur dan rusak, juga tampaknya sudah dekil dan kotor sekali.

Keadaan disekitar kuil tersebut sangat sunyi sekali, tidak terlihat seorang manusiapun juga, karena jangan kata dimalam hari seperti itu, disiang hari saja kuil ini sudah tidak ada yang kunjungi, malah sudah tidak ada Hwe-shio (pendeta) yang mengurusinya. 

Disekitar kuil tersebut juga telah tumbuh banyak sekali rumput-rumput liar dan alang-alang, yang tumbuh menjulang tinggi, sehingga sebagian dari kuil tersebut telah tertutup oleh rumput-rumput liar tersebut.

Di dekat pintu luar kuil tersebut, tambak sebuah  papan nama yang sudah rusak dan miring tergantung tidak benar, di atas papan nama itu samar- samar masih terlihat tiga huruf yangsudah guram, tetapi masih bisa dibaca, yang bunyinya Tek Kong Bio atau Kuil Dewa Bumi.

To Sioksok berempat telah memasuki kuil ini, mereka memeriksa seluruh ruangan kuil yang sudah lapuk itu, kalau-kalau di dalam kuil tersebut terdapat manusia atau binatang lainnya.Waktu melihat kuil tersebut kosong, mereka baru merebahkan dirinya.

Sedangkan Kojie anak lelaki itu, sejak memasuki ruangan kuil tersebut, telah merebahkan dirinya karena   terlalu letih, dia melihat ketiga pamannya itu tengah sibuk memeriksa keadaan ruangan kuil tersebut, tetapi Kojie tetap rebah tidak ikut memeriksanya. Kedua kakinya sudah sukar untuk dipakai berdiri, karena sudah gemetaran. Apalagi sekarang dia sudah rebah begitu, perasaan letih semakin dirasakannya. Kalau tadi Kojie masih sanggup untuk melakukan perjalanan, ini disebabkan dia telah memaksakan sekuat kemampuannya.

To Sioksiok tampak telah menghampiri Kojie, dia telah berkata lagi : “Kongcu, tentunya kau sudah lapar, biarlah aku yang pergi mencari makanan untukmu !!”

Kojie hanya mengangguk saja dan telah memejamkan matanya, letih dan penat bukan main, seluruh tubuhnya juga sakit-sakit.

Di dalam waktu yang sangat singkat, dia telah  tertidur nyenyak. Sedangkan kedua orang Wie Sioksioknya te lah duduk di sebelah kiri dan kanannya, mereka melakukan penjagaan begitu sebab takut kalau-kalau nanti ada hal-hal yang tidak diinginkannya.

To Sioksiok telah keluar kuil itu, untuk mencari makanan, binatang- binatang kecil seperti kelinci atau ayam hutan. Kesunyian malam telah menyelimuti sekitar tempat tersebut.

Salah seorang dari kedua Wie Sioksiok itu telah menyalakan api ungun untuk mengusir nyamuk dan juga menghangatkan tubuh mereka. Api itu dibuat dari kayu-kayu yang diambilnya di belakang kuil tersebut.

Tak lama kemudian, To Sioksiok  telah kembali,  rupanya dia telah berhasil menangkap dua ekor ayam hutan yang cukup besar.

Dengan cepat, To Sioksiok membersihkan sendiri kedua ayam hutan itu, mencabuti bulunya, sedangkan kedua orang Wie Sioksiok ini tetap duduk menjaga di samping Kojie.

Sikap mereka selalu memperlihatkan kegugupan  dan kegelisahan, seperti juga ada sesuatu yang mereka jerikan.

Setiap suara yang kecil bagaimanapun juga, tetap mengejutkan mereka, dan selalu salah seorang diantara mereka sudah melompat menjagai di pintu memeriksa keadaan di sekitar kuil itu.

Suara jatuhnya daun kering saja, akan membuat mereka terperanjat, begitu pula bersuara kereseknya rumput-rumput liar yang dipermainkan oleh hembusan sang angin, pasti mengejutkan  mereka sehingga sering-sering mereka memeriksa sekitar kuil tersebut.

Siapakah ketiga lelaki serta seorang bocah ini? Marilah kita mundur sejenak, untuk mengetahui siapa mereka sebenarnya?

------- m d n -------

LELAKI yang berpakaian  seperti seorang Piauwsu itu, yang dipanggil oleh Kojie dengan sebutan To Sioksiok, sebenarnya bernama To It Mang. Dia bukan seorang Piauwsu seperti pakaiannya yang dikenakannya, karena dia memang sengaja menyamar begitu untuk menghilangkan tanda-tanda dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya To It Mang adalah seorang jago dari Selatan yang mempunyai nama besar, dia juga memiliki kepandaian yang membuat musuh-musuhnya gentar untuk berurusan dengan dia, karena kepandaiannya yang paling diandalkannya itu, yang bernama Pek Lek Ciu (Tangan Geledek) itu, benar-benar terlalu tangguh, setiap lawan yang terkena serangan tangannya, niscaya tubuhnya akan hangus. To It Mang juga memakai gelaran sebagai Pek Lek Ciu (Si tangan Geledek). Nama Pek Lek Ciu ini telah menggemparkan daratan Tionggoan dan menggegerkan rimba persilatan disebabkan kepandaiannya yang luar biasa. Orang-orang di dalam rimba

persilatan tidak seorangpun yang mengetahui, sebetulnya si Pek Lek Jiu itu berasal dari pintu perguruan yang mana, sebab To It Mang sendiri belum pernah menceritakan asal usul dirinya pada siapapun juga.

Sedangkan kedua orang Wie Sioksiok yang seperti dua bersaudara kembar itu, memang sesungguhnya adalah kakak adik kembar, mereka masing-masing bernama Wie Sin Tang untuk kakaknya, sedangkan adiknya bernama Wie Sin Bun.

Kedua orang inipun mempunyai kepandaian yang tidak kalah hebatnya dari kepandaian yang dimiliki To It Mang, sebab kedua bersaudara kembar she Wie ini memiliki ilmu cambuk yang bukan main hebatnya, mereka selalu mempergunakan Joan-pian (Pecut lemas) sebagai senjata andalan mereka. Kalau dua bersaudara kembar ini sudah turun tangan berbareng, tidak ada lawan yang bisa menghadapi ilmu cambuk mereka yang liehay itu. Hal ini disebabkan kakak beradik kembar she Wie ini selalu kompak dan dapat bekerja sama di dalam setiap pertempuran. Itulah keistimewaan Wie Hengte (Wie bersaudara) ini, sehingga sulit dihadapi oleh lawannya yang mana saja. Hanya ada beberapa orang yangbisa menghadapi mereka, itupun bisa dihitung oleh jari-jari tangan.

Dan mengenai Kojie, anak lelaki itu, sebetulnya dia bernama Cin Ko, dia berasal dari keluarga See. Ayah See Cin Ko adalah putera seorang pembesar yang paling hebat di dalam sejarah daratan Tionggoan ini, bernama See Wan Ie. Kakek See Cin Ko pada saat itu menjabat kedudukan sebagai Peng Po Siang Sie (Menteri pertahanan) di perbatasan Tembok Besar. Dengan sendirinya, didiri See Cin Ko mengalir darah bangsawan, yang sangat dihormati oleh seluruh rakyat dalam bilangan wilayah daratan Tionggoan ini. Boleh dibilang Peng Po Siang Sie See Un (Menteri pertahanan See Un) adalah tangan kanan dari kaisar yang sedang berkuasa saat itu.

Tetapi mengapa See Cin Ko bisa bergalang gulung dengan orang-orang Kang ouw seperti To It Mang dan dua bersaudara Wie itu? Karena To It Mang dan kedua bersaudara Wie itu adalah orang-orangnya Peng Po Siang Sie, yang khusus menjaga keselamatan Menteri Pertahanan tersebut.

See Un, kakek See Cin Ko, adalah seorang menteri pertahanan yang tegas setiap mengambil tindakan, dan benar-benar pandai memperhitungkan segi-segi keamanan dengan segala macam cara, yang membuat untuk sekian lama daerah perbatasan itu bisa tenang dan aman dari ancaman pasukan Boan-ciu (Mongolia) yang memang  mengancam akan mengadakan penyerbuan. Tetapi disebabkan ketegasan dan keliehayan Pengpo Siangsie yang saat itu, yaitu See Un, dapat bertindak tegas dan mengatur sebaik- baiknya keamanan di perbatasan, membuat kaisar Boanciu berulang kali membatalkan penyerbuan. See Un sangat dihormati oleh rakyatnya, karena

kalau ada bawahannya yang menyeleweng dan diketahuinya, tentu tidak akan segan-segan See Un akan menghukumnya dengan pancung kepala! Dengan begitu boleh dikatakan pada saat keamanan diperbatasan dipegang oleh See Un, tidak ada bawahannya yang berani menyeleweng, semuanya melakukan tugas dengan bersungguh-sungguh.

Tetapi kesetiaan See Un dan kasih sayang Hong-te (kaisar) kepada Peng Po Siangsie ini, menyebabkan beberapa orang Thay Kam (orang-orang kebiri di istana) yang pada saat itu memang memegang sebagian pimpinan  dari tampuk pemerintahan, menjadi mengiri. Malah ada beberapa orang Thay-kam yang sudah bersekongkol dengan pihak Boanciu, jadi merasakan bahwa See Un hanya merupakan duri di depan mata mereka belaka. Itulah, dengan berbagai cara mereka ingin mencelakai Peng Po Siang Sie yang sudah lanjut usianya dan setia pada negara tersebut.

Entah sudah berapa kali beberapa orang Thay Kam yang terkemuka dan mempunyai kekuasaan di dalam istana mencoba mempengaruhi Hongsiang, terutama Thay Kam yang bernama Ban Hong Liu, dengan gigih telah menghasut Hongsiang   (kaisar). Walaupun telah gagal berulang kali, toch tanpa kenal putus asa dan dengan berbagai cara, tetap saja Thay Kam Ban Hong Liu selalu berusaha mempengaruhi kaisar agar menghukum  Pengpo Siangsie itu, karena Thay Kam ini selalu memberikan fitnahan-fitnahan kepada Menteri Pertahanan itu. Dan atas bantuan dari ibu suri kaisar, akhirnya Ban Hong Liu berhasil mempengaruhi Kaisar, sehingga waktu   See Cin Ko, cucu dari Pengpo Siangsie ini, Hongte telah mengirimkan utusannya untuk menangkap dan menghukum keluarga Menteri Pertahanan itu. Firman yang dibuat oleh ibu suri dan ditanda tangani dengan stempel kaisar itu, telah menghancurkan keluarga See tersebut.  Padahal kaisar hanya mengirimkan firman agar memanggil pulang Menteri   Pertahanannya yang setia itu, tetapi oleh ibu suri telah ditambahi dengan kata-kata : “menghukum mati seluruh keluarga See, sehingga tanpa ampun lagi See Un seluruh keluarganya telah ditangkap dan dibawa ke kota raja untuk menjalani hukuman. See Wan Ie, putera dari Peng Po Siang Sie, ayah dari See Cin Ko, telah terbinasa dalam pertempuran mempertahankan diri. Banyak juga orang-orang Pengpo Siangsie yang setia telah gugur dalam membela See Un, hanya kedua saudara she Wie dan To It Mang yang dapat meloloskan diri. Inipun mereka lakukan demi menyelamatkan jiwa cucu dari   Pengpo Siang Sie,    yaitu See Cin Ko ini, kalau tidak, niscaya mereka akan bertempur sampai titik darah yang terakhir.

Tidak ada satupun keluarga maupun pelayan dari keluarga See ini yang selamat, kalau tidak terbunuh, tentu telah diringkus dibawa ke ibukota! Dengan bersusah payah,To It Mang bertiga dapat juga menyelamatkan jiwa cucu Pengpo Siangsie itu. Tetapi biarpun begitu, karena mereka menjadi buronan, dan juga memang Thaykam Ban Hong Liu telah mengeluarkan

perintah untuk membabat habis keluarga See itu, dengan sendirinya See Cin Ko menjadi buronan. Siang malam To It Mang bertiga dengan Wie bersaudara itu telah melarikan See Cin Ko, sampai akhirnya mereka dapat menjauhkan juga perbatasan dan sampai pada gunung Cang-pay-san.

------- m d n -------

BAU WANGI dari daging ayam hutan yang terpanggang diperapian itu,menyebabkan Cin Ko terbangun dari tidurnya. Anak lelaki ini telah mengucek-ngucek matanya dengan perasaan lapar. To It Mang yang melihat sikap Cin Ko, jadi tersenyum.

“Sabar Kongcu, tidak lama lagi akan matang!!” kata To It Mang sambil tetap tersenyum, “Daging ayam hutan memang gurih dan membangkitkan selera lapar !!”

Muka Cin Ko jadi berobah merah, rupanya dia jadi malu, dan memaksakan dirinya untuk tersenyum juga. Sedangkan Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun hanya tersenyum saja. Ayam hutan yang sudah dibersihkan bulunya itu, bulat-bulat dibakar dalam kobaran api unggun, tubuh ayam hutan itu ditusuk oleh sebatang kayu sehingga bisa diputar-putar menyebabkan daging ayam hutan itu terpanggang rata. Tak lama kemudian, ayam panggang itu sudah matang dan kuning wangi sekali.

“Selesai ........!” kata To It Mang sambil menurunkan ayam panggang

itu dari tusukan kayunya.  “Silahkan Kongcu memakannya terlebih dahulu!”

Tetapi Cin Ko dengan tidak terduga telah menggelengkan kepalanya.

“Tidak!” kata si bocah dengan suara yang pasti. “'Aku tidak mau memakannya terlebih dulu, biarlah ayam ini dimakan oleh paman bertiga dulu, bukankah masih ada seekor lagi?”

“Kau dulu yang memakannya Kongcu ........” desak To It Mang.

Tetapi Cin Ko telah menggelengkan kepalanya dengan tegas.

“Tidak........kalau To Sioksiok memaksa juga, aku tidak akan memakannya secuilpun juga! Kalian yang lelah begitu capai dan bersusah payah menyelamatkan jiwa Kojie, juga kalian sudah mengeluarkan tenaga yang banyak sekali, bagaimana ayam itu harus Kojie yang memakannya lebih dulu? Bukankah semangat dan tenaga To Sioksiok lebih dipentingkan, karena kalian sewaktu-waktu bisa berhadapan dengan orang-orang yang ingin mencelakai diri Kojie. Bagaimana kalau kalian lapar, bukankah semangat dan tenaga kalian akan berkurang! Kalian makan saja dulu, To Sioksiok!”

“Kami mana berani melancangi Kongcu?” kata Wie Sin Tang sambil tersenyum. “Makanlah Kongcu, kami juga belum  lapar, ayamyang satu itu nanti baru buat kami!!”

Tetapi Cin Ko tetap tidak mau, dia telah menggelengkan kepalanya.

“Baiklah kalau begitu!” kala To It Mang yang tidak mendesak lebih jauh. “Kalau memang Kongcu tidak mau memakannya terlebih dulu, biarlah  kita taruh dulu saja, kita membakar yang seekornya lagi, nanti setelah matang, barulah kita bersama-sama memakannya! Bagiaimana Kongcu, apakah kau menyetujuinya?”

Cin Ko mengangguk menyetujui usul To It Mang, maka orang she To ini telah mengambil seekor ayam hutan lainnya yang telah dibersihkan, dia telah membakarnya pula.

Sebetulnya mereka berempat telah lapar bukan main, tetapi mau tak mau mereka harus menahan lapar dulu sejenak, karena bagi Wie Hengte dan It Mang jelas tidak akan berani melancangi memakan dulu dari majikan kecil mereka ini, begitu juga Cin Ko,diapun tidak mau lancang memakan ayam panggang itu seorang diri, biar bagaimana selain dia menghormati ketiga orang ini yang telah bersusah payah menyelamatkan jiwanya, juga memang dia tidak mau terlalu mementingkan dirinya sendiri, karena menurut anggapan Cin Ko, malah It Mang bertiga yang terlalu banyak mengeluar kan tenaga dan semangat, maka dari itu sepantasnya mereka yang memakannya terlebih dulu, agar semangat mereka pulih.

Ayam yang seekornya lagi dengan cepat menjadi kuning terpanggang diatas api unggun itu, dan bau harum yang begitu wangi dari ayam panggang ini telah menyebabkan rasa lapar diperut mereka semakin hebat. Namun, diantara suara kretikan yang berasal dari percikan kayu-kayu  terbakar itu, tiba-tiba pendengaran To It Mang bertiga Wie Heng-tee mendengar suara sesuatu.

“Ada orang.......!” bisik To It Mangdengan muka yang berobah dan suaranya sangat perlahan sekali, dia berkata kepada Wie Hengte ini.

Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun juga telah mendengar suara langkah kaki di luar kuil itu, yang tengah mendatangi kearah kuil.

“Suara langkah kakinya sangat ringan,  menunjukkan orang di luar memiliki ilmu entengi tubuh yang sempurna!” kata Wie Sin Tang sambil mencelat kesamping Cin Ko.

Cin Ko mengerutkan sepasang alisnya, dia kuatir juga orang yang tengah mendatangi ini adalah orang-orangnya Ban Hong Liu, karena orang-

orang yang menyerbu rumah kakeknya itu hampir seluruhnya terdiri dari orang-orangnya Thay-kam tersebut. Kesunyian jadi meliputi ruangan kuil ru- sak tersebut, To It Mang bertiga Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun jadi bersiap - siap dengan penuh ketegangan.

“Yang sedang menuju kemari terdiri dua orang!” kata To It Mang pula. “Suara kaki mereka menunjukkan mereka berdua adalah  orang-orangyang mengerti ilmu silat!!”

Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun tambah tegang. Tetapi mereka toch tetap mengambil sikap seperti tidak terjadi sesuatu. Wie Sin Tang berdiri disamping Cin Ko, sedangkan Wie Sin Bun tetap duduk di lantai dekat api unggun itu, dan To It Mang telah duduk meneruskan memanggang ayam hutan itu, tampaknya memang mereka sangat tenang sekali, padahal hati mereka tegang bukan main, bersiap-siap jika diperlukan, mereka akan mengadu jiwa untuk melindungi jiwa majikan kecil mereka ini.

Cin Ko sendiri berdiri dengan mementang mata lebar-lebar kearah pintu kuil tersebut. Ketegangan meliputi ruangan tersebut.

“Hmmm, bau harum ini harum dari ayam panggang berasal dari dalam kuil butut ini .....!!” terdengar seorang lelaki bersuara parau telah berkata. “Lebih baik kita mengaso saja di kuil itu Lan-Jjie, mungkin juga orang-orangdi dalam kuil itu akan membagi kita ayam panggang tersebut !!”

“Baik Yaya!!” terdengar suara seorang wanita menyahuti. Wanita yang dipanggil Lan-jie (anak Lan) itu memanggil si lelaki dengan sebutan Yaya (kakek; engkong), menunjukkan bahwa mereka berdua tentunya adalah dua orang kakek dan cucu.

Belum lagi suara mereka lenyap, tampak seorang lelaki berusia diantara lima puluh tahun, dengan pakaian berwarna merah darah, telah melangkah masuk ke dalam ruangan kuil ini, di depannya bertindak seorang gadis cilik yang cantik sekali berusia diantara sembilan atau delapan tahun. Rambut gadis kecil itu dikonde dua kiri kanan, sikapnya lincah sekali, pakaian gadis cilik ini berwarna putih bersih. Sikapnya agung sekali. Sedangkan muka lelaki yang mengiringnya itu, memelihara kumis yang tumbuh di sudut kiri kanan bibirnya, pendek sekali, dia memakai kopiah pendek, dengan bola-bola warna merah diatas kopiahnya itu.

Waktu melihat To It Mang dan Wie Sin Tang bersama Wie Sin Bun serta Cin Ko, memandang kedatangan mereka dengan mata terpentang lebar-lebar dan perasaan tegang, lelaki tua tersebut telah tertawa.

“Lan-jie.......apakah di diri kita berdua ada sesuatu yang tidak beres dan lucu?! Lihatlah, tuan-tuan itu memandang kita seperti juga kita ini manusia-manusia aneh!!”katanya.

Gadis cilik itu juga tertawa.

“Mungkin juga Yaya, tetapi menurut Lan-jie,tentunya kita tidak selucu patung dari Hudcouw itu!!” sahut si gadis cilik sambil menunjuk kearah patung seorang Hweshio di atas meja sembahyang.

Yaya dari si gadis telah tertawa. Mendengar perkataan kedua orang cucu dan kakek itu, muka To It Mang berempat jadi berobah merah, mereka mengerti gadis cilik dengan kakeknya itu tengah menyindir mereka. Cepat- cepat To It Mang telah meletakkan panggang ayam hutannya disamping, kemudian berdiri memberi hormat kearah lelaki tua itu dengan merangkapkan sepasang tangannya.

“Siapakah tuan? Kami tidak pernah bertemu dengan tuan atau nona kecil ini, maka dari itu, kami kira tidak ada salahnya kami berlaku waspada!!” kata To It Mang, yang biarpun dia berkata begitu, toch hatinya telah tenang kembali, karena dia telah melihat bahwa yang datang itu bukanlah orang- orang pemerintah dari kota raja.

Lelaki tua tersebut telah merangkapkan sepasang tangannya juga membalas penghormatan To It Mang, melirik kearah Wie SinTang dan Wie Sin Bun yang masih berdiri disamping Cin Ko dengan sikap waspada berjaga-jaga.

“Aha, kulihat tuan-tuan seperti juga sedang diliputi sesuatu yang menakutkan, sehingga tampaknya tuan-tuan tidak tenang!!” kata lelaki tua itu dengan jujur dan polos, dia berkata tanpa tedeng aling-aling, apa  yang dilihatnya telah di katakan secara blak-blakan, “Apakah kedatangan kami ini mengganggu tuan-tuan! Kalau memang hanya mengganggu biarlah  kami angkat kaki pula !!”

To It Mang telah melirik kearah Cin Ko yang tengah berdiri tegak dengan sepasang mata yang jeli menatap kearah lelaki tua itu. Tampaknya To It Mang ingin meminta ijin dari Cin Ko, apakah kakek dan cucu ini diperbolehkan berdiam di dalam kuil rusak tersebut

Cin Ko tidak memperlihatkan reaksi apapun juga, maka To It Mang telah kerkata dengan suara yang ramah: “Apa halangannya kalau Lojinke (kau si orang tua) bersama cucumu ini, si nona kecil, beristirahat  bersama-sama kami?”

Mendengar perkataan To It Mang yang ramah dan juga melihat Wie Sin Tang, Wie Sin Bun, serta Cin Ko mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti

juga mereka telah menyetujui kakek dan cucu ini beristirahat di dalam ru - angan kecil tersebut bersama-sama  mereka, maka lelaki tua tersebut tersenyum tawar.

“Terima kasih atas budi kebaikan kalian! Aku tentu tidak akan melupakan budi kebaikan kalian ini!” kata orang tua tersebut.

“Kami sebetulnya baru saja melakukan perjalanan yang jauh, dan kebetulan kami sampai di tempat ini kemalaman, sehingga tidak memperoleh tempat untuk menginap!! Syukur kalau memang kalian merasa iba dan kasihan pada aku seorang tua dan cucuku ini!” dan sambil berkata begitu, lelaki tua tersebut telah merangkapkan tangannya memberi hor mat, untuk menyatakan terima kasihnya.

To It Mang cepat-cepat membalas penghormatan  dari orang tua tersebut.

Gadis kecil itu Lanjie, telah menengadah kepada kakeknya, dia telah berkata dengan suara yang lantang disertai oleh tawanya yang cerah: “Yaya, coba kau si orang tua perhatikan baik-baik, keadaan mereka berempat sangat aneh! Tiga orang tuan itu berpakaian kumal seperti kambing tidak mandi satu bulan, dan engkoh kecil itu, hihihihihi............ mengingatkan aku pada Kauw - jie di rumah.......... lucu sekali!!”

“Husss!!” lelaki tua   itu, si Yaya, telah menghardik cucu perempuannya

itu, “Jangan bicara sembarangan, tidak tahu kesopanan!!”

Gadis cilik itu meleletkan lidahnya, dihardik begitu oleh kakeknya, dia tidak berani berkata-kata lagi, hanya tertawa saja. Cin Ko jadi ikut tersenyum melihat sikap gadis cilik itu yang jenaka.

“Lopeh (paman), siapakah Kauw-jie yang dimaksudkan oleh adik kecil

itu, yang katanya sama denganku?”tanya Cin Ko.

Muka si Yaya ini jadi berobah seketika, dia tampaknya jadi kikuk dan gugup, setelah melirik pada gadis cilik itu, cucunya , dengan sorot mata mengomel, dengan sorot mata yangterputus-putus  dia menyahuti juga, karena memang dia tidak bisa berdusta : “Sebenarnya-sebenarnya yang dimaksudkan oleh cucuku ini ialah Kauw-jie!”

Cin Ko tersenyum mendengar perkataan orang tua itu, begitu juga To It Mang dan kedua bersaudara she Wie itu. Lebih-lebih Cin Ko, dia jadi tambah tertarik dan ingin mengetahui siapa sebenarnya yang dikatakan bernama Kauw-Jie dan mirip dengan dirinya.

“Benar Lopeh, memang adik kecil itu tadi telah mengatakan bahwa Kauw-jie yang ada di rumahnya, tetapi bolehkah kuketahui, apakah yang bernama Kauw-jie itu adik atau kakak dari nona kecil itu?”' desak Cin Ko.

Lelaki tua yang menjadi Yaya dari Lan-jie, tampaknya tambah kikuk, dia telah menggaruk-garuk dagunya, tetapi kemudian dia menyahuti juga : “Hmm...... Kauw-jie adalah monyet kecil peliharaan cucuku in?!”

“Hah?!” muka Cin Ko jadi berobah merah seketika, dia jadi malu sendiri. Tadinya dia menyangka dirinya mirip dengan seseorang yang terdekat dengan keluarganya gadis cilik itu, tetapi siapa nyana, malah dirinya ternyata dipersamakan seperti monyet kecil peliharaan gadis cilik itu!

Sedangkan To It Mang, Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun telah tertawa tertahan, geli sekali hati mereka. Mata Cin Ko mendelik kearah gadis kecil itu.

“Gadis jahat!” kata Cin Ko mendongkol. “Mulutnya ternyata jahat sekali,

apakah ada monyet yang sama dengan diriku?!”

Lelaki tua yang menjadi Yaya dari gadis cilik itu telah tertawa terbahak - bahak melihat kemendongkolan Cin Ko.

“Hahaha, makanya, kukira lebih baik tadinya kau tidak mengetahuinya, bukankah dari namanya saja sudah bisa diketahui, yaitu Kauw-jie  (anak monyet) Hahaha!!”

Terpaksa Cin Ko mau tak mau tersenyum juga dengan muka yang merah. Sedangkan Lanjie, gadis cilik itu, telah tersenyum-senyum  sambil melirik jenaka.

“Aduh, engkoh kecil itu galak amat, Yaya?” kata si gadis  kepada kakeknya. “Matanya tadi mendelik padaku begitu besar, seperti buah jeruk, hai! Hai! Lan-jie takut, Yaya!”

“Maka dari itu, lain waktu kau tidak boleh bicara sembarangan!” kata

Yayanya sambil tersenyum.

Yang lainnya juga jadi tertawa pula. To It Mang secara diam-diam telah memperhatikan, walaupun kakek tua dan cucunya gadis cilik ini tampaknya mengerti ilmu silat, namun mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda yang mencurigakan dan To It Mang percaya mereka memang kelana yang kemalaman di jalan.

Dua ekor ayam panggang itu dengan cepat telah dilahap habis oleh mereka. Sambil menyusut bibirnya yang berminyak, lelaki tua itu, Yayanya Lan-jie, telah menggumam : “Hai! Hai! Karena aku bersama cucuku yang nakal

ini hadir di sini, menyebabkan bagian kalian jadi berkurang! Malah aku telah

demikian mujur memperoleh bagian pahanya!”

To It Mang dan yang lainnya hanya tersenyum, apa lagi tak hentinya Lan-jie mengoceh sambil mengunyah. Memuji-muji panggang ayam itu sangat enak, menyerupai panggang ayam yang sering dibuat oleh Popo (nenek)nya di rumah.

“Maka dari itu, Yaya selalu cerewet menyuruhmu membantui Popo dan Mamamu di dapur agar kau pandai juga memasak, kau seorang gadis, nanti kalau sudah dewasa kau harus pandai memasak, kalau tidak tentu tidak ada yang mau mengambilmu menjadi isterinya!” kata lelaki tua itu.

“Hai! Hai! Yaya bisa saja, genit ach!” kata Lan-jie dengan muka yang seketika bĂ©robah merah. Walaupun Lan-jie masih kecil, toch wajahnya cantik sekali, menunjukkan nanti dikala dia dewasa, tentu dia akan menjadi seorang gadis yang cantik sekali.

Yayanya dan yang lain telah tertawa. Malah Cin Ko ingin melampiaskan perasaan mendongkolnya, karena tadi si gadis cilik ini telah mempersamakan dirinya dengan monyet peliharaannya,  telah sengaja tertawa gelak-gelak keras sekali. Yang lainnya telah berhenti tertawa, malah Cin Ko masih tertawa gelak-gelak. Gadis kecil itu mengetahui dirinya yang sedang ditertawakan oleh Cin Ko, dia jadi mengawasi Cin Ko dengan mata mendelik.

Tetapi Cin Ko tidak memperdulikannya, dia terus juga tertawa tak hentinya, sambil sebentar-sebentar memakan ayam panggangnya, dan melirik juga pada si gadis yang sedang mendelik   padanya, lalu tertawa lagi dengan keras. Begitu berulang kali, seperti juga dia sengaja ingin membikin gadis kecil itu menjadi mendongkol.

Malam itu, Cin Ko telah tidur dengan nyenyak, begitu juga gadis cilik itu, telah tidur lelap disamping Yayanya, tetapi orang tua yang menjadi kakek si gadis tidak tidur, dia bercakap-cakap dengan To It Mang, Wie Sien Tang dan Wie Sin Bun.

It Mang, Sien Bun dan Sien Tang memang sengaja tidak tidur, karena mereka memang ingin menjaga keselamatan majikan kecil mereka.

Banyak yang dibicarakan oleh lelaki tua itu yang menceritakan bahwa dia bersama cucu perempuannya itu memang sering berkelana di dalam rimba persilatan, karena ingin memperlihatkan kepada cucunya bahwa di dalam rimba persilatan bukanlah tempat yang mudah untuk menempatkan diri, sebab terlalu banyak kejahatan-kejahatan dan rintangan yang harus dihadapi. Kalau sampai kelak gadis kecil ini sudah dewasa,  tentu sang cucu sudah biasa dengan keadaan di dalam rimba persilatan.

Juga mereka telah masing-masing memperkenalkan nama mereka. Hanya It Mang, Sin Bun, dan Sin Tang memberikan   nama-nama   samaran, seperti It Mang memberikan nama Kong Mang sedangkan Sin Tang dan Sin Bun masing-masing telah menamakan diri mereka Liu Tang dan Liu Bun.

Yaya dari Lanjie sendiri memperkenalkan sebagai Oey Kwan Hoa, dan cucu perempuannya itu bernama Oey Lan, dua huruf saja.

“Hmmm, Oey Lan terlalu nakal, cucuku ini hanya satu-satunya, dia rupanya mengetahui dirinya  sangat disayang dan dimanjakan oleh kedua orang tuanya dan kakek neneknya, menyebabkan dia bertambah nakal dan binal. Terkadang tidak jarang dia menimbulkan kesulitan bagi kami,yaitu mengganggu orang-orang dengan sikap nakalnya itu, umpamanya menimpukkan batu kepada   seseorang, sehingga harus berurusan dengan orang itu. Untung saja, selama ini aku bisa memberi pengertian kepada orang- orang itu bahwa Oey Lan hanyalah seorang bocah yang masih mengompol dan tidak perlu dilayani!”

It Mang, Sin Tang dan Sin Bun yang mendengar cerita ini, jadi tertawa gelak-gelak, mereka merasa lucu sekali cerita mengenai cucunya si gadis. Banyak pula kenakalan-kenakalan Oey Lan yang diceritakan oleh engkongnya ini.

Waktu Oey Kwan Hoa menanyakan kepada It Mang bertiga, mengapa mereka   bersama Cin Ko berada di kuil rusak ini dalam keadaan yang begitu kumal seperti habis melakukan perjalanan yang jauh.

It Mang menceritakan sebuah cerita bohong mengatakan bahwa Sin Tang dan Sin Bun sebetulnya dua orang pedagang yang telah meminta kepada perusahaan Piauwkiok   (perusahaan untuk mengawal barang) tempat   dimana It Mang bekerja. Dengan dikawal oleh beberapa orang piauwsu, Sin Tang dan Sin Bun telah membawa barang-barang dagangan mereka ingin menuju ke Siam-say. Tetapi siapa tahu, di tengah jalan mereka telah dihadang oleh pe- rampok, sehingga barang-barang mereka habis digasaknya. Dan piauwsu- piauwsu yang lainnya telah terbinasa, hanya tinggal It Mang seorang.   Cin Ko juga dikatakan sebagai keponakan Sin Tang dan Sin Bun, yang kebetulan turut serta dalam rombongan mereka.

“Maka dari itu Lojinke (orang tua), kami selalu diliputi oleh perasaan was-was dan jeri, kalau-kalau nanti perampok-perampok itu dapat mengejar kami, karena hanya kami yang bisa meloloskan diri!” kata It Mang meneruskan dustanya.

Oey Kwan Hoa mempercayai cerita It Mang dia memanggutkan kepalanya terulang kali.

Akhirnya, setelah puas, bercakap-cakap,  akhirnya Oey Kwan Hoa meminta maaf karena dia ingin beristirahat juga.

Sin Tang bertiga telah mempersilahkan orang tua itu untuk mengasoh, tetapi mereka bertiga tetap saja melakukan penjagaan untuk ke selamatan Cin Ko dengan penuh kewaspadaan. Tidak berani mereka meninggalkan Cin Ko agak jauh, sehingga mereka bertiga mengambil tempat duduk mengelilingi si bocah yang tidur di atas lantai kuil itu dengan nyenyak,

Oey Kwan Hoa melihat sikap ketiga orang ini, tetapi dia tidak menanyakannya. Dia hanya memejamkan matanya untuk mengasoh. Malam dengan cepat telah berlalu, dan berganti dengan munculnya sang Fajar. Sinar matahari pagi mulai menyorot masuk ke dalam ruangan kuil itu.

Cin Ko masih tertidur nyenyak, rupanya perjalanan mereka yang berhari-hari tanpa mengasoh telah menyebabkan keletihan yang sangat pada Cin Ko, maka dari itu sekarang dikala dia mempunyai kesempatan untuk tidur, dia telah tidur pulas demikian lama.

Oey Kwan Hoa telah bangun dengan perasaan segar, dia menggeliat tetapi ketika menoleh dan melihat It Mang masih duduk mengelilingi Cin Ko yang tengah tertidur nyenyak, dan sepasang mata It Mang bertiga masih terbentang lebar-lebar, sepasang alis orang tua ini terangkat sedikit, rupanya dia heran bukan main.

“Ihhh, kalian tidak tidur sekejappun juga?”tegurnya.

It Mang tersenyum sambil   menggelengkan kepalanya.

“Kami takut kalau-kalau para perampok itu datang mencari kamu maka dari itu kami harus berjaga-jaga!” berdusta It Mang.

Orang tua she Oey itu melihat, ada sesuatu yang dirahasiakan oleh ketiga orang ini, tetapi dia tidak mau mendesaknya. Hanya Yaya dari Lan-jie telah menghela napas dan menggumam perlahan seperti membaca syair : “Mengapa dalam kekacauan timbul sinar terang? Mengapa kesuraman selalu meliputi langit Honghu (istana raja)? Bilakah titik terang yang diharapkan itu bisa muncul menyapu segala kekotoran-kekotoran  itu?” dan setelah mengumam begitu kembali Oey Kwan Hoa telah menghela napas pula.

Mendengar gumaman orang tua tersebut, hati It Mang bertiga jadi terkejut, mereka terkejut bukan main, seh ingga mereka bertiga hanya mengawasi bengong kepada orang tua she Oey itu.

Tiba-tiba It Mang telah melompat berdiri waktu melihat orang she Oey tersebut membungkukkan tubuhnya ingin membangunkan cucunya.

“Locianpwe!” kata It Mang sambil menjura memberi hormat kepada orang tuaitu. “Ternyata kami mempunyai mata, tetapi tidak bisa melihat bolehkah kami meminta petunjuk dari Locianpwe untuk menuju ke jalan yang terang itu?!”

Oey Kwan Hoa telah membatalkan niatnya membangunkan Oey Lan dia telah membalikkan tubuhnya menghadap pada It Mang. Mulutnya tampak tersenyum kecil.

“Jalan terang yang bagaimana Siecu (orang gagah) maksudkan?”tanya

Oey Kwan Hoa seperti tidak mengerti perkataan It Mang.

“Kami benar-benar manusia bodoh dan tidak bisa melihat tingginya gunung, kami memang sedang menghadapi kesulitan, yang belum bisa kami jelaskan saat ini! Tetapi kalau memang Locianpwe ingin memaafkan dan juga rela membantu kami, sudilah kiranya memberikan petunjuk-petunjuk?!”

It Mang telah menduga bahwa Oey Kwan Hoa tentu bukanlah sebangsa manusia sembarangan, kata-kata dalam syair yang diucapkan oleh Oey Kwan Hoa telah menyadari It Mang bertiga,  tentunya orang tua ini mempunyai sesuatu petunjuk yang ingin diberikan kepada mereka.

Oey Kwan Hoa tersenyum lagi, tetapi mukanya telah berobah guram, dia menghela napas berulang kali. Orang tua ini yang telah dirobah panggilannya oleh It Mang dari Lojinke (orang tua) menjadi Locianpwe (kata - kata untuk menghormati orang yang lebih tinggi tingkatannya di dalam rimba persilatan), tidak segera menyahuti, dia hanya   menundukkan   kepalanya sambil mengumam :

“Ke arah utara terdapat badai golok, ke selatan terdapat monyet - monyet tengik yang kejam, ke barat hanyalah    mengantarkan diri memasuki pintu neraka, lalu mengapa tidak mau mencoba-coba mengambil jalan ke arah timur yangcerah dan menggembirakan?!” dan setelahmengumam begitu, Oey Kwan Hoa telah menghela napas pula, tanpa menoleh kepada It Mang, dia telah menundukkan dirinya untuk membangunkan cucunya.

It Mang bukannya orang tolol, mendengar  kata-kata orang tua ini, segera dia mengerti maksudnya dan tersadar. Ditepuk -tepuk keningnya.

“Hai! Hai! Mengapa aku begitu tolol dan buta sehingga tidak tersadar dari siang-siang akan hal itu? Terima kasih Locianpwe! Terimakasih! Kau si orang tua telah membuka mata dan pikiranku, terima kasih!! Nanti kami akan mencari Locianpwe untuk menghunjuk hormat!!”

Ternyata, di dalam kata syairan itu orang tua she Oey itu telah memberikan kisikan halus pada It Mang. Rupanya orang tua itu juga sedang menghadapi kesulitan, sehingga dia tidak mau menunjukkan siapa dirinya sebenarnya, maka dari itu, dia hanya memberikan kisikan secara halus dalam kata-katanya. Tetapi berkat kecerdikan yang dimiliki oleh It Mang, kata-kata dari Oey Kwan Hoa telah dapat dicernakannya. Yang dimaksudkan oleh Oey Kwan Hoa dengan perkataan ke utara terdapat badai golok, ialah di utara itulah jurusan menuju ke tapal batas di tembok besar, tentunya di sana memang telah di tempatkan oleh Kaisar atas bujukan Thaykam Ban Hong Lui, pasukan yang tidak kecil, kalau memang It Mang berempat  pergi kesana, niscaya mereka akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil. Sedang kan perkataan keselatan terdapat monyet-monyet tengik yang kejam  itu, dimaksudkan bahwa di selatan itulah terletak ibu kota, kalau memang It Mang bertiga membava majikan kecil mereka ke selatan, berarti mereka malah menghampiri ibu kota dan menghampiri sarang macan, bahaya yang menanti mereka niscaya jauh lebih hebat lagi. Sedangkan ke barat hanyalah mengantarkan diri masuk ke dalam pintu neraka dimaksudkan oleh Oey Kwan Hoa tentunya di sanalah letak dari kekuatan pasukan angkatan Perang dari kerajaan! Tentunya di sanapun terdapat banyak sekali orang-orangnya  Ban Hong Liu, apa lagi setelah Pengpo Siang-sie ditangkap oleh Kaisar dengan tuduhan sebagai pengkhianat yang ingin bekerja sama dengan musuh, berarti orang-orang Pengpo Siang-See Un telah banyakyang digeser atau digusur ke tiang penggantungan, digantikan   oleh   orang-orangnya Thaykam Ban Hong Liu.

Memang hanya jalan satu-satunya untuk selamat mengambil jalan ke timur. Kalau dari Cang pay-san menuju ke arah Timur, berarti mengambil kejurusan wilayah selatan di daratan Tionggoan, dimana akhirnya akan sampai didaerah Kang-lam, berarti di kota yang indah dan tenteram itu, tidak ada gangguan, atau bolehlah dikatakan gangguan yang akan ditemui sangat tipis sekali, karena seluruh kekuatan pemerintah hanyalah dipusatkan pada tapal- tapal batas Tembok Besar.

Tadinya It Mang bertiga memang ingin mengajak Cin Ko menuju ke Siam-say, karena di sana mereka mempunyai seorang kawan yang sangat intim. Mereka ingin meminta kawan mereka itu agar menampung Cin Ko untuk bersembunyi, agar si bocah she See ini mempunyai kesempatan mempelajari ilmu silat, agar kelak See Cin Ko bisa membalaskan sakit hati kakek dan ayah bunda serta keluarganya yang dihancurkan oleh Ban Hong Liu, Thay Kam yang sangat jahat itu.

Tetapi kata-kata yang diucapkan oleh Oey Kwan Hoa, seperti juga telah menyadarkan It Mang.

Kalau mereka mengambil kearah tmur, berarti  mereka menuju ke wilayah Selatan, dimana di kota Kang-lam mereka bisa menyembunyikan diri agak tenang, karena Kang-lam merupakan kota turis dan juga agak jauh ter - letak dari pusat pemerintahan pada saat itu.

Oey Kwan Hoa seperti tidak pernah terjadi sesuatu telah membangunkan cucu perempuannya. Katanya sambil tertawa: “Anak nakal, hayo bangun, hari sudah siang! Cepat kau mengucapkan terima kasih pada paman-paman itu, karena semalam kau telah memperoleh makanan yang lezat yang dibagi oleh paman itu!”

Oey Lan telah bangun sambil mengucek-ngucek matanya. Kemudian dengan cepat, dia menuruti perintah kakeknya, dirangkapkan sepasang tangannya memberi hormat, kepada It Mang, Sin Tang dan Sin Bun bergantian sambil berkata :   “Terima kasih atas kebaikan yang diberikan oleh Sam-wie Pehpeh (paman bertiga), semoga nanti Lan-jie mempunyai kesempatan untuk membalas budi kebaikan Pehpeh.”

It Mang bertiga cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah. Setelah itu Lan-jie telah melirik kearah Cin Ko yang masih tertidur nyenyak. Rupanya gadis kecil ini masih mendongkol pada Cin Ko yang kemarin malam telah mentertawakan dirinya terpingkal-pingkal begitu, maka sambil melirik dia juga telah menggumam : “Hu! Hu! Dasar memang sama seperti Kauw-jie, kerjanya hanya tidur saja!”

“Hus! Mulut usilmu sudah mulai datang lagi!” bentak Oey Kwan Hoa

sambil tersenyum.

It Mang bertiga Wie Hengte juga telah tersenyum, mereka anggap gadis cilik ini jenaka dan jujur. Setelah saling memberi hormat, lalu Oey Kwan Hoa pamitan untuk melanjutkan perjalanannya lagi.

It Mang berdua dengan Sin Tang telah mengantarkannya sampai di pintu kuil, sedangkanSin Bun tetap berdiam di dalam ruangan untuk menjagai majikan kecil mereka yang masih tertidur nyenyak itu.

Tetapi, baru saja mereka sampai di depan pintu kuil  itu, tiba-tiba dikejauhan tampak mengepul debu yang membumbung tinggi, juga dibarengi oleh suara tapak kaki kuda yang sedang mencongklang cepat sekali menuju kearah kuil rusak tersebut.

Wajah It Mang dan Sin Tang jadi berobah seketika itu juga. Apa lagi waktu mereka melihat samar-samar penunggang kuda itu, wajahnya kian berobah, karena dia mengenali bahwa dua orang penunggang kuda yang

sedang membalapkan kuda mereka menuju kekuil tersebut adalah dua orang yang termasuk dalam rombongan  yang telah mengobrak-abrik istana majikannya, yaitu Pengpo Siangsie. Kedua orang penunggang kuda itu yang seorangnya memakai baju seorang Siuchay, dia adalah pendekar kerajaan yang bergelar Giok Bian Siuchay (Pelajar bermuka Kumala),    namanya Bie Tin. Keahliannya mempergunakan sejilid buku sebagai senjatanya. Lembar- lembar bukunya itu bisa dipakai sebagai lempengan senjata, karena setiap sehelai halaman dari buku yang dirobeknya dan dilontarkan pada lawannya, niscaya akan menyambar dengan hebat, kertas  secarik itu akan berobah menjadi seperti lempengan  baja, hal ini menunjukkan betapa tingginya Lwekang dari Giok Bian Siuchay tersebut. Dia termasuk jago-jago yang datang untuk menangkap Peng Po Siangsie See Un, sebab Giok Bian Siuchay merupa- kan orang kepercayaan dari Ban Hong Liu Thaykam.

Sedangkan yang seorangnya lagi, berusia diantara tiga puluh tahun, rambutnya dikonde dan tubuhnya tinggi tegap. Dia adalah jago istana juga, pun orang kepercayaan dari Ban Hong Liu, yang bernama Chiu In Liu, dia bergelar Siang-kang Ong (Raja Gurun Pasir/Raja dari Siang-kang).  Ilmunya adalah telapak tangannya yang hebat bukan main.

Setelah dapat melihat kedua penunggang kuda itu, muka It Mang dan Sin Tang dengan cepat berobah, mereka telah menyelinap di balik pintu.

Tetapi Oey Kwan Hoa tetap berlaku tenang mengawasi kearah kedua orang penunggang kuda yang tengah mendatangi itu. Kemudian  mulutnya tampak berkomat-kamit berkata perlahan : “Kuminta tuan-tuan masuk ke dalam kuil pula, kalian jangan panik, dan kuharap sebelum orang itu berlalu, kalian jangan keluar memperlihatkan muka! Serahkanlah padaku untuk mengurusi kedua manusia babi ini!”

Sin Tang dan It Mang telah menyelinap dibalik pintu kuil   dengan    hati yang tergoncang. Rupanya orang-orang Ban Hong Lie Thaykam ini melakukan pengejaran juga. Mendengar perkataan dari Oey Kwan Hoa, mereka jadi ragu- ragu. Apakah orang tua she Oey tersebut akan dapat menghadapi kedua orang-orangnya Ban Hong Liu yang sangat liehay itu? Sedangkan It Mang sendiri pernah merasakan, ketika bertempur  di istana Peng Po Siangsie beberapa saat yang lalu, dirinya terdesak hebat sekali.

Tetapi keadaan yang sudah mendesak begini, cepat-cepat It Mang dan Sin Tang telah masuk ke dalam kuil memberitahukan kepada Sin Bun agar bersiap-siap. Cin Ko telah dibangunkan dari tidurnya.

Anak lelaki ini jadi agak gelagapan juga, dia baru mau menanyakan sesuatu, It Mang sudah menekap mulut si bocah dan menunjuk-nunjuk ke

arah pintu kuil itu, seperti juga ada sesuatu di luar kuil dan meminta agar majikan kecilnya ini tidak membuka suara.

Cin Ko cerdik, dia mengetahui dengan segera bahwa di luar kuil terdapat ancaman bahaya untuk mereka.

It Mang dan Sin Tang telah berjaga-jaga di dekat pintu kuil, sebelumnya mereka telah berpesan pada Sin Bun, umpama kata Oey Kwan Hoa tidak bisa menghadapi kedua orangnya Ban Hong Liu, dan kedua orang Ban Hong Liu menerjang masuk, It Mang dan Sin Tang yang akan menghadapinya  dan berusaha menghadangnya, mereka meminta agar Sin Bunlah yang berdaya sedapat mungkin membawa kabur Cin Ko dari pintu belakang kuil itu.

Keadaan di dalam ruangan kuil tersebut jadi tegang dengan sendirinya. It Mang dan Sin Tang telah berdiri di belakang pintu kuil bersiap -siap dengan senjata mereka.

Cin Ko yang melihat kesibukan ketiga orang kepercayaan kakeknya ini, jadi terharu bukan main. Dia merasa berterima kasih yang tidak terhingga, sebab Cin Ko menyadarinya bahwa ketiga orang kepercayaan kakeknya  ini bersedia mengorbankan jiwa mereka masing-masing  dengan melindungi dirinya.

Sin Bun sendiri telah mengucurkan keringat dingin akibat ketegangan dihatinya. Dia mengawasi kearah pirtu dengan hati berdebar, berdiri disamping Cin Ko, disetiap saat bersiap untuk membawa Cin Ko kabur dari tempat ini.

Suara derap kaki kuda terdengar semakin mendekat, menandakan Giok Bian Siuchay dan Siang-kang Ong itu telah semakin mendatangi dekat sekali pada kuil tersebut.

Di luar kuil itu, tampak Oey Kwan Hoa telah  mengajak cucu perempuannya, Oey Lan, ke dekat batu-batu gunung yang terdapat di samping kuil tersebut. Batu itu tinggi sekali, dau di bawahnya terdapat batu menonjol. Sengaja Oey Kwan Hoa duduk di batu bulat itu, sedangkan cucunya, Oey Lan telah berdiri di sampingnya.

Mereka dengan tenang telah menantikan kedatangan Giok Bian Siuchay dan Siang-kang Ong. Tidak terlihat sedikilpun perasaan jeri pada wajah mereka.

Hal ini benar-benar membuat It Mang dan Sin Tang jadi menduga-duga dihati mereka masing-masing entah apa yang ingin dilakukan orang tua she Oey itu bersama cucunya. Entah dengan cara bagaimana mereka menghadapi orang-orangnya Ban Hong Liu tersebut.

Dengan sendirinya, ketegangan yang meliputi hati It Mang dan Sin Tang semakin bergolak hebat, mereka juga merasakan telapakan tangan mereka dingin berkeringat, karena keselamatan Kongcu mereka, majikan kecil mereka ini, mau tak mau harus mereka perjuangan, walaupun harus mempertaruhkan nyawa mereka. Maka dari itu, bisa dimaklumi ketegangan yang meliputi diri mereka. Apa lagi memang mereka masih belum begitu mengenal  siapa sebenarnya Oey Kwan Hoa dan cucu perempuannya itu, bagaimana mereka bisa mempercayai bahwa orang she Oey itu berha sil untuk menghalau kedua orang-orangnya Ban Hong Liu yang liehay itu? Kalau gagal? Bukankah mereka akan menghadapi suatu pertempuran yang pasti tidak akan ringan. Sebab kepandaian kedua orang kepercayaan dari Ban Hong Liu ini sangat tinggi dan sempurna sekali.

------- m d n -------

DENGAN cepat Giok Bian Siuchay Bie Tin serta Siang-kang Ong Chiu In Liu telah sampai di depan kuil Tek Kong Bio.

Dengan gerakan yang gesit mereka telah melompat turun dari atas kuda mereka masing-masing yaitu dua ekor kuda pulih berbulu halus dan tinggi tegap.

Tetapi waktu Giok Bian Siuchay berdua Siang-kang Ong melihat tegas orang yang duduk di dekat batu di samping kuil itu, mereka jadi mengeluarkan seruan tertahan, tampaknya mereka terkejut sekali, wajah mereka juga telah berobah agak pucat seketika itu juga.

“Ihhh, kiranya......kiranya Lo Tay-siang (panggilan menghormat untuk orang yang berkedudukan tinggi sekali di dalam pemerintahan) dan Siauw Kuncu (Tuan puteri kecil) berada di sini?!” berseru Giok Bian Siu -chay dengan suara yang tidak lampias.

Begitu juga halnya dengan Siangkang Ong, mukanya telah berobah pucat seketika itu juga seperti melihat hantu di tengah hari bolong.

Giok Bian Siuchay dan Siang-kang Ong cepat-cepat telah menekuk lutut mereka berdua, bersujud dihadapan Oey Kwan Hwa dan OeyLan, memberi hormat. Malah mereka terus dalam keadaan berlutut tidak berani untuk bangun berdiri kembali. Sikap mereka sangat menghormat sekali.

Inilah suatu kejadian yang benar-tidak pernah diduga oleh It Mang dan Sin Tang yang sedang bersembunyi di balik pintu kuil itu. Tadinya  mereka menduga bahwa Oey Kwan Hwa ingin mempergunakan kepandaian ilmu silatnya untuk menghalau kedua orang kepercayaan Thaykam Ban Hong Liu,

tetapi siapa tahu Giok Bian Siuchay berdua Siangkang Ong waktu melihat Oey Kwan Hoa serta si gadis cilik Lan-jie, tampaknya jadi begitu menghormat dan jeri, malah telah bersujud memberi hormat tanpa berani untuk bangun berdiri pula!

Inilah benar-benar di luar dugaan dari It Mang dan Sin Tang, mereka sampai mengintai dengan bengong. Di hati mereka jadi saling duga, entah Oey Kwan Hoa   mempunyai kedudukan yang macam apa tingginya sehingga dua orang kepercayaan dari Ban Hong Liu tampaknya begitu jeri. Sedangkan sebetulnya Giok Bian Siuchay berdua Siangkang Ong mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam kalangan pemerintahan mereka sangat dihormati. Baru kata berpangkat Congtok (sama kedudukan sekarang seperti Gubernur), masih jeri untuk mencari urusan dengan kedua orang kepercayaan dari Thaykam Ban HongLiu, sebab kalau kedua orang kepercayaan dari Thaykam Ban Hong Liu ini memberikan hasutan dan laporan palsu pada Thaykam she Ban itu, niscaya orang yang mereka tidak senangi, akan celaka! Tetapi sekarang anehnya mereka malah tampaknya begitu tunduk,  dan  juga memanggil Oey Kwan Hoa serta cucunya dengan sebutan Lo Taysiang serta Siauw Kuncu! Inilah suatu kejadian yang benar-benar luar biasa. It Mang dan Sin Tang sendiri merasakan seperti berada dalam sebuah mimpi.

Saat itu Oey Kwan Hoa dan Oey Lan bersikap tenang sekali, Oey Kwan Hoa telah mengeluarkan suara dengusan tawar.

“Mengapa kalian berkeliaran di sini, heh?” tegurnya dengan suara yang dingin. “Apa kerja kalian di sini?”

Tampaknya Giok Bian Siuchay dan Siangkang  Ong jadi tambah ketakutan.

“Kami, kami sebetulnya bersatu dengan rombongan utusan Hongte (kaisar) untuk membawa Pengpo Siangsie See Un ke ibukota, maka  kami berada di sini!” sahut Giok Bian Siuchay dengan suara ragu-ragu.

“Hmm, tegasnya menangkap Pengpo Siangsie See Un, bukan?” tegur

Oey Kwan Hoa dengan suara tambah tawar saja.

Giok Bian Siuchay bersama Siangkang Ong dalam keadaan tetap berlutut begitu, telah berbareng menganggukkan kepala mereka.

“Be...benar Lo Taysiang!”sahut mereka hampir berbarengan juga, tampaknya mereka tidak berani sedikitpun mengangkat kepala untuk menatap Oey Kwan Hoa.

“Setahuku, Pengpo Siangsie See Un telah berjasa besar dalam

pengabdiannya pada negara dia juga seorang yang setia dan jujur, tidak

seharusnya dia disingkirkan dari pemerintahan, karena negara bisa terancam oleh musuh yang sedang mengincar!” kata Oey Kwan Hoa dengan suara yang tawar.

It Mang dan Sin Tang jadi lemas seluruh tubuhnya, mereka merasakan semangat mereka seperti terbang meninggalkan raganya, karena Oey Kwan Hoa telah memuji-muji Peng Po Siangsie See Un, majikan mereka, dihadapan orang-orangnya Ban Hong Liu, padahal Pengpo Siangsie malah telah dicap sebagai pengkhianat.   Sikap dan kata-kata Oey Kwan Hoa benar-benar suatu sikap yang sangat berani sekali, menyebabkan It Mang dan Sin Tang jadi menggidik. Bukankah dengan memuji PengpoSiangsie, berarti bahwa Oey Kwan Hoa bisa dicap sebagai pengkhianat yang menghina negara dan Hongte (kaisar), karena kata-katanya itu seperti juga menentang dan tidak membenarkan kebijaksanaan yang telah diambil oleh Hongte?! Bukankah dengan alasan seperti di atas, Oey Kwan Hoa serta cucu perempuannya ini bisa ditangkap?! Berpikir begitu, bukan main tegangnya hati It Mang dan Sin Tang, tubuh mereka sampai tergetar karenanya, disamping perasaan terima kasih dan syukur bahwa adaorang yang telah membela kebenaran dan kesetiaan dari majikan mereka yang telah ditawan oleh orang-orang kaisar.

Tetapi kenyataannya, berlainan dan di luar dugaan dari It Mang dan Sin Tang. Karena tampak Giok Bian Siuchay dan Sin Tang telah mengangguk- anggukkan kepala mereka berulang kali.

“Apa yang dikatakan oleh Lo Taysiansing memang tepat dan benar, memang Pengpo Siangsie See Un adalah seorang yang setia pada negeri, urusan ini kami tidak mengerti, karena kami hanya menjalankan perintah Hongte (kaisar), maka nanti petunjuk-petunjuk berharga yang diberikan oleh Lo Tay-siang akan kami sampaikan pada Hongsiang (kaisar)!” kata Giok Bian Siuchay dengan suara yang nyaring, tetapi dia masih dalam keadaan berlutut dengan kepala yang tertunduk. Begitu juga Siangkang Ong, masih tetap berlutut, hanya kepalanya saja yang mengangguk-angguk berulang kali.

Oey Kwan Hoa telah menghela napas, kemudian katanya lagi : “Kukira kata-kataku itu tidak pantas kalau kau sampaikan pada Hongte karena lebih bagus kalau kau sampaikan saja pada Taykam Ban Hong Liu, atasan kalian itu!!”

“Tidak berani! Kami tidak berani! Tidak berani!” kata Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong berulang kali dengan sikap yang ketakutan, kepala mereka semakin menunduk dalam-dalam.

Inilah hebat, kejadian ini disaksikan oleh It Mang dan Sin Tang seperti juga di dalam sebuah sandiwara atau di dalam mata. Malah It Mang telah

mengucek-ngucek matanya seperti tidak mempercayai apa yang disaksikannya dan dilihatnya.

Benar-benar suatu keajaiban, Oey Kwan Hoa telah begitu terang menegur dan menyebut nama Ban Hong Liu dengan sikap yang biasa saja, seperti tidak memperlihatkan perasaan apapun juga, malah Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong telah ketakutan begitu rupa, benar-benar suatu kejadian aneh yang paling aneh didunia ini bagi It Mang dan Sin Tang, hati mereka jadi tambah tergoncang. Siapakah sebenarnya Oey Kwan Hoa ini? Mengapa dia tampaknya seperti mempunyai kekuasaan yang bukan main hebatnya, sampai berani memberikan teguran kepada kedua orang kepercayaan Ban Hong Liu?!

Setelah menghela napas satu kali lagi, setelah memandang jauh sejenak, Oey Kwan Hoa telah berkata lagi tanpa memandang kearah Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong.

“Mengapa kalian tidak segera bangun berdiri?!” tegur Oey Kwan Hoa

dengan suara yang tawar.

“Kami tidak berani, kami tidak berani!!!” kata Giok Bian Siuchay Bie Tin dan Siangkang Ong Chiu In Liu berbareng dengan menundukkan kepala mereka sehingga kening mereka menyentuh bumi.

“Berdirilah!” bentak Oey Lan, cucu Oey Kwan Hoa dengan suara yangnyaring. “Jangan seperti seekor jangkrik yang ingin berkelahi!!”

“Ya.....berdirilah!!” kata Oey Kwan Hoa kemudian.

“Baik Lo Taysiang! Baik Siauw Kuncu! Terima kasih atas kebaikan Lo Taysiang dan Siauw Kuncu!!” kata Giok Bian Siuchay dan Siangkang  Ong hampir berbareng.

Mereka kemudian telah berdiri, sikap mereka tampak menghormat sekali, mereka berdiri dengan kedua tangan yang diturunkan. Sikap angkuh yang biasa mereka perlihatkan, lenyap sama sekali dihadapan Oey Kwan Hoa serta cucu perempuannya ini.

“Apakah kalian masih tidak mau cepat-cepat angkat kaki meninggalkan tempat ini sebelum aku lebih banyak menanyai kalian?” tegur Oey Kwan Hoa pula.

Dengan sikap yang menghormat, tampak Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong telah melirik kearah kuil Tek Kong Bie dengan sorot mata menyelidik dan mengandung kecurigaan.

“Tadi.......tadi kalau memang kami tidak salah lihat, memang mata kami ini melek tetapi buta ada.....ada dua orang yang telah melompat masuk ke

dalam kuil, kami.....kami rasa kalau tidak salah, kedua orang itu kami k enal sebagai dua orang kepercayaan Pengpo Siangsie.......” kata Giok Bian Siuchay dengan suara ragu-ragu dan takut-takut.

“Ohhh kurang ajar benar kalian ini!” berseru Oey Kwan Hoa sambil memperlihatkan wajah seperti gusar, “Di dalam kuil itu adalah sahabatku, bagaimana kau bisa mengatakan  bahwa mereka adalah orang-orangyang sedang kalian cari-cari, heh?! Akan kupanggil mereka keluar, kalau memang mereka bukan orang yang sedang kalian cari-cari itu, hmmm. Kalian tahu sendiri.......... !!”

It Mang dan Sin Tang yang sedang bersembunyi dibalik pintu kuil, waktu mendengar perkataan Oey Kwan Hoa yang terakhir, yang ingin memanggil mereka keluar dari tempat persembunyian itu hati mereka menjadi mendongkol.

Tetapi keadaan di luar kuil saat itu benar-benar  sangat aneh menakjubkan karena Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong telah cepat-cepat memberi hormat dengan tubuh yang dibungkukkan.

“Tidak berani.....mana berani kami tidak mempercayai ucapan Lo Taysiang! Hai! Hai! Kami memang harus mati, sampai berani menggang gu ketenangan Lo Taysiang!” kata Giok Bian Siuchay berulang kali.

Hati It Mang dan Sin Tang jadi lega seperti terlepas dari tindihan batu ribuan kati. Mereka jadi bisa bernapas lapang pula, ketegangan yang meliputi diri mereka jadi lenyap.

“Nah, pergilah kalian menggelinding pergi!” bentak Oey Kwan Hoa pula.

“Baik.....baik Lo Taysiang.....terima kasih atas kemurahan hati Lo Taysiang.......!” kata Giok Bian Siuchay. Siangkang Ong juga telah menjura memberi hormat kepada Oey Kwan Hoa dan Oey Lan bergantian dan pamitan. Ketika mereka memutar tubuh, akan menghampiri kuda mereka, It Mang dan Sin Tang melihat dari tempat persembunyian mereka, kedua orang kepercayaan Thaykam Ban Hong Liu telah melirik ke arah pintu kuil, tampaknya mereka benar-benar  curiga karena tadi memang mereka melihat It Mang dan Sin Tang yang telah mereka kenali sebagai orang-orangya Peng Po Siangsie. Tetapi disebabkan di situ ada Oey Kwan Hoa dan Oey Lan, dua orang yang tampaknya disegani sekali oleh mereka, membuat kedua orang kepercayaan Thaykam Ban Hong Liu tidak berani bertindak apa-apa.

Setelah memberi hormat sekali lagi, Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong telah melompat kekuda mereka masing-masing. Dengan cepat kedua binatang tunggangan itu telah dilarikan mereka meninggalkan   tempat tersebut.

Oey Kwan Hoa masih duduk di tempatnya mengawasi kepergian Giok Bian Siuchay, sedangkan Oey Lan tetap berdiri di sisi kakeknya.

Setelah Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong lenyap di kejauhan, barulah Oey Kwan Hoa dan cucunya beranjak dari tempat mereka, rupanya akan meninggalkan tempat ini.

Di saat itulah, It Mang dan Sin Tang seperti baru tersadar dari mimpi mereka, keduanya cepat-cepat telah menerobos keluar.

“Locianpwe..... tunggu dulu.............. !” panggil It Mang dengan

suara yang nyaring.

Oey Kwan Hoa telah menahan langkah kakinya, bersama Oey Lan, dia telah menoleh ke belakang.

“Ada keperluan apakah, Jiewie Siecu?” tegur Oey Kwan Hoa sambil

tersenyum lembut.

It Mang dan Sin Tang seperti telah berjanji, mereka begitu sampai dihadapan Oey Kwan Hoa, cepat-cepat menekuk lutut mereka bersujud di hadapan kakek dan cucu she Oey tersebut.

“Kami mempunyai mata, tetapi benar-benar kami seorang buta yang melek, kami tidak mengetahui bahwa kami sedang berhadapan dengan Yang Mulia ...... maafkanlah kelancangan kami ..... dan terima kasih atas budi kebaikan Yang Mulia dan Kuncu yang telah menolong kami dari marabahaya

......!!”

Oey Kwan Hoa tampak jadi sibuk membangunkan It Mang dan Sin Tang.

“Bangunlah kalian, janganlah terlalu banyak penghormatan tadi sekedarnya apa yang dapat kami lakukan untuk membalas budi kebaikan kalian yang pernah diberikan kepada kami ......!!” kata Oey Kwan Hoa dengan lembut.

It Mang dan Sin Tang terpaksa berdiri pula ketika bahu mereka telah dicekal dan Oey Kwan Hoa membantu mereka berdiri.

“Yang Mulia, dapatkah kami mengetahui nama Yang Mulia yang harum, agar kami bisa mengingat budi kebaikan yang pernah Yang Mulia berikan kepada kami, agar kami selalu dapat mengenangkan, bahwa kami pernah berjumpa dengan Yang Mulia?” kata It Mang pula, dia membahasakan Oey Kwan Hoa dengan sebutan Yang Mulia, sebab It Mang dan Sin Tang saat itu sudah dapat menduga bahwa Oey Kwan Hoa berdua dengan cucunya itu bukanlah manusia biasa, sedikit-dikitnya Oey Kwan Hoa mempunyai

kedudukan yang lebih tinggi dari Thaykam Ban Hong Liu, sebab  tadi kedua orang kepercayaan Thaykam Ban Hong Liu ketakutan begitu rupa.

Oey Kwan Hoa ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh It Mang hanya tersenyum lembut.

“Cukup kalian kenang bahwa kami adalah Oey Kwan Hoa dan ini cucuku yang bernama Oey Lan. Kami manusia biasa, tidak perlu kau memanggil diriku dengan sebutan Yang Mulia, sebab akupun rakyat jelata biasa saja. Me ngenai budi, tidak perlu kalian bicara, karena sudah sepantasnya kita saling tolong satu dengan yang lainnya semampu kekuatan kita .....!!  Cukup asal kalian nanti disuatu saat kalau bertemu dengan cucuku ini dan dia sedang mengalami kesulitan, hendaknya kalian bermurah hati untuk turun tangan menolongnya dari kesulitan itu, sebab umur kita ada ditangan Thian (Tuhan), maka siapa tahu besok lusa Lohu (aku si orang tua) sudah ma suk ke dalam kubur?!”

It Mang dan Sin Tang cepat-cepat membungkukkan tubuh dalam-dalam menjura memberi hormat kepada Oey Kwan Hoa. Betapa rendah hatinya orang tua ini.

“Kami berjanji, kalau sampai disuatu saat kelak kami bertemu dengan Kuncu, dan Kuncu memerlukan bantuan kami yang tidak ada artinya, dengan senang hati kami akan melakukannya,  lakukannya, walaupun harus mcnceburkan diri diminyak mendidih, kami akan melakukannya!! “ berjanji It Mang.

“Bagus!” berseru Oey Kwan Hoa dengan suara yang nyaring. “Kalau memang begitu, hatiku si tua yang tidak tahu diri pasti akan dapat  mati dengan mata terpejamkan! Terima kasih atas janji kalian! Nah, aku  permisi saja! Cuma pesanku, jagalah engkoh kecil itu baik-baik, orang-orangnya Ban Hong Liu terlalu banyak berkeliaran di sekitar tempat ini !”

Berulang kali It Mang dan Sin Tang mengucapkan terima kasihnya, mereka telah membungkukkan tubuh mereka dalam-dalam, Oey Kwan  Hoa dan cucunya telah meninggalkan tempat tersebut.

Setelah Oey Kwan Hoa dan Oey Lan tidak terlihat pula, barulah It Mang dan Sin Tang cepat-cepat masuk ke dalam kuil, mereka segera menceritakan apa yang tadi mereka saksikan kepada Sin Bun dan Cin Ko.

Tentu saja cerita ini membuat Sin Bun dan Cin Ko jadi terheran-heran. Mereka juga hampir tidak mempercayai cerita yang diceritakan oleh It Mang dan Sin Tang.

“Siapa orang tua dan cucunya itu?” berkata Sin Bun seperti juga berkata kepada dirinya sendiri. “Inilah suatu kejadian yang paling aneh yang pernah kualami !”

Cin Ko sendiri telah meleletkan lidahnya panjang-panjang.

“Celaka! Celaka!” berseru Cin Ko dengan suara yang nyaring dan tiba- tiba sekali.

Tentu saja It Mang bertiga jadi terkejut bukan main. Muka mereka bertiga sampai berobah pucat seketika itu juga, karena mereka menduga tentu ada sesuatu yang tidak beres pada diri majikan kecil mereka ini.

“Ada apa yang tidak beres, Kongcu?” tanya It Mang bertiga  hampir

berbareng, mereka juga memperlihatkan ketegangan.

“Oh celaka! Benar-benar celaka! Aku telah melakukan salah besar!”

teriak Cin Ko dengan suara yang tetap nyaring.