Makam Bunga Mawar Jilid 35 Tamat

 
Jilid 35 (Tamat)

Tiong sun Hui Kheng menggelengkan kepala dan berkata : "Ayah salah ! Anak bukan takut ia kalah. Melainkan merasa

khawatir akan tindakan nekad dari Pek-kut Ie-su. Coba ayah pikir, Pek-kut Ie-su yang sudah lama namanya sangat terkenal, sudah tentu tidak mau mandah mengalah begitu saja. Kalau sampai terjadi kedua pihak bertanding sampai sehabis-habis tenaga, pihak yang kalah sudah tentu urat nadinya pada terputus dan jantungnya hancur, mati seketika. Tetapi pihak yang menang, biar bagaimana tetap akan terluka parah bahkan mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan yang kalah."

"Kekuatiranmu ini memang benar !" akhirnya Tiong sun Seng mengakui juga kebenaran kata-kata anaknya.

"Harap ayah tolong pikirkan suatu cara yang sebaik- baiknya untuk memisahkan pertandingan mati-matian antara mereka itu."

Tiong sun Seng mengerutkan alisnya untuk berpikir dulu, kemudian ia berkata sambil menggelengkan kepala :

"Untuk sementara aku juga tidak dapat memikirkan cara yang baik untuk menghentikan pertandingan itu. Terpaksa kita cuma bisa tunggu waktu saja, melihat-lihat keadaan supaya dapat mengambil keputusan yang tepat."

Tiong sun Hui Kheng mendengar ayahnya berkata demikian terpaksa bersama May Giok Jie dan May Sin In berdua yang sama-sama mengandung perasaan khawatir memperhatikan keadaan dan perobahan Hee Thian Siang.

Pertandingan itu memakan waktu sangat panjang. Sebentar wajah mereka tampak merah membara, sebentar menjadi pucat, perobahan ini pada akhirnya hingga hampir jauh malam belum juga selesai.

Semula pada waktu saling menempelkan telapak tangan, sikap atau gerakan tangan Hee Thian Siang dan Pek-kut Ie-su tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka sedang melangsungkan suatu pertandingan mati-matian. Tetapi setelah rembulan timbul dari arah timur, keduanya sudah tidak bisa berlaku tenang seperti semula.

Hee Thian Siang lebih dulu tampak mengucurkan keringat di jidatnya, dadanya juga mulai tampak berombak.

Sesaat kemudian Pek-kut Ie-su juga menunjukkan tanda- tanda serupa.

Keadaan semacam itu jelas menunjukkan bahwa Hee Thian Siang yang masih kalah matang latihannya dalam mempertahankan waktu bertanding. Benar saja ia masih kalah setingkat dari Pek-kut Ie-su.

Khie Tay Cao dan lain-lainnya yang menyaksikan keadaan demikian menunjukkan sikap girang dan bisa bernapas lega.

Pek-kut Ie-su juga sudah tahu bahwa kemenangan akan berada dipihaknya. Ia diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk memperhebat desakannya kepada Hee Thian Siang juga nampak semakin banyak.

Kecuali beberapa orang yang pernah mengetahui bahwa Hee Thian Siang ada mempelajari ilmu Tay hoan cin lek, banyak diantara orang-orang dari pihak kebenaran menganggap bahwa Hee Thian Siang dalam babak ini pasti kalah.

Akan tetapi pada saat Pek-kut Ie-su menambah dan memforsir kekuatan tenaga dalamnya dan Hee Thian Siang dalam keadaan kritis, tiba-tiba wajah Hee Thian siang yang tadi demikian pucat pasi telah menjadi merah, sepasang alisnya berdiri. Tanda-tanda akan kalah tadi telah lenyap seluruhnya dan tangannya mendorong berulang-ulang bahkan balik mendesak Pek-kut Ie-su hingga yang disebut belakangan ini keringatnya mengucur deras bagaikan hujan.

Khie Tay Cao yang sudah pernah mengalami kekalahan dari ilmu Tay hoa cin lek ketua partai Bu tong Hong hoat Cinjin, menyaksikan keadaan demikian, lantas berseru kaget :

"Apakah Hee Thian Siang si setan kecil ini juga mengerti ilmu Tay hoan cin lek ?"

Pek-kut Ie-su yang sudah tinggi ilmunya dan cukup latihan tenaga dalamnya, sifatnya sangat kejam. Benar seperti apa yang diduga oleh Tiong sun Hui Kheng, meskipun sudah menunjukkan tanda akan kalah, ia masih mengandalkan latihannya yang dilakukan selama beberapa puluh tahun. Ia bertahan sekuat tenaga, dengan maksud hendak mati bersama-sama dengan Hee Thian Siang.

Kembali setengah jam telah berlalu, pakaian kedua orang itu sudah basah kuyup, sekujur badan mereka juga gemetaran.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan itu semua, kembali berkata kepada ayahnya sambil mengerutkan alisnya :

"Ayah, jikalau ayah tidak berusaha pikirkan cara yang baik lagi, adik Siang barangkali akan jatuh !"

Tiong sun Seng menghela napas sambil menggelengkan kepala lalu lompat melesat dari rombongannya.

Khie Tay Cao juga sudah buru-buru mengikuti jejaknya. Hee Thian Siang meskipun menampak Tiong sun Seng datang menghampiri namun masih tidak berdaya menarik kembali tangannya.

Sebab mengadu kekuatan dengan cara menempelkan telapakan tangan seperti itu, sesungguhnya sukar sekali dipisah kecuali bila kedua pihak dalam waktu yang bersamaan bisa menarik kembali dan melepaskan kekuatan masing- masing terhadap lawannya. Yang menarik tangan lebih dahulu, mudah sekali diserbu oleh kekuatan tenaga dalam lawannya. Itu sangat berbahaya.

Tiong sun Seng juga mengerti bahaya semacam itu. Maka ia menatap wajah Pek-kut Ie-su dan berkata padanya sambil tersenyum :

"Pek-kut Toyu, bagaimana kalau babak ini dihitung seri saja

? Kau dengan Hee Thian Siang sama-sama menarik kembali tangan dalam waktu yang bersamaan lalu diadakan pertandingan dengan cara lain atau diganti dengan orang lain

?"

Pek-kut Ie-su memancarkan sinar mata buas, menggeleng- gelengkan kepala sebagai tanda bahwa sebelum ada yang tewas, tak ada perdamaian macam apa pun juga.

Tiong sun Seng memang sudah tahu bahwa tak ada gunanya bicara dengan mulut kepada Pek-kut Ie-su. Tetapi ia masih coba menyadarkan padanya. Katanya pula :

"Hee Thian Saing telah mempelajari ilmu Tay hoan cin lek, daya tahannya kuat sekali. Perlu apa toyu menghendaki juga sampai ada salah satu yang. "

Tidak menantikan Tiong sun Seng menghabiskan ucapannya, Pek-kut Ie-su sudah memotongnya dan berkata dengan suara bengis : "Sebelum ada yang kalah dan menang, tidak akan aku berhenti. Biarlah aku dan dia sama-sama berangkat ke akherat !"

Tiong sun Seng memeriksa wajah dan sikap Hee Thian Siang. Ia tahu bahwa tenaga murni anak muda itu sudah terlalu banyak dihamburkan. Jikalau tidak lekas-lekas dipisahkan pada waktunya yang tepat barangkali akan mendapat luka parah, maka ia lalu bertanya kepada Pek-kut Ie-su sambil mengerutkan alisnya :

"Pek-kut toyu, kalau kau ingin merebut kemenangan sebagai tujuanmu, aku dapat memerintahkan kepada Hee Thian Siang supaya ia mengaku kalah darimu. Bagaimana pikiranmu ?"

"Kalau begitu lain lagi soalnya. Boleh juga kupertimbangkan

!" jawab Pek-kut Ie-su sambil tertawa nyengir.

Tiong sun Seng yang mendengar ucapan itu, lalu berkata kepada Hee Thian Siang :

"Hiantit, bersiap-siaplah ! Nanti kalau aku sudah turun tangan memisahkan kau berdua, tariklah segera tanganmu dan mengaku kalah sajalah kepada Pek-kut Ie-su locianpwe !"

Hee Thian Siang yang sudah berada di pihak menang kini dipaksa harus mengaku kalah. Sesungguhnya merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan. Tetapi kalau dipikir lebih lanjut, kedudukan Tiong sun Seng adalah lain. Ia merupakan angkatan tua bagi Hee Thian siang, juga bakal menjadi mertuanya. Maka, perintahnya itu sudah tentu terpaksa mesti diturutinya.

Tiong sun Seng menampak Hee Thian Siang sudah menerima baik perintahnya lalu berkata kepada Pek-kut Ie-su dengan suara lemah lembut : "Hee Thian Siang sudah mau mengaku kalah. Pek-kut toyu harap bersiap-siaplah untuk menarik kembali tanganmu. Tenangkan lah hatimu, aku hendak segera mulai memisahkan kalian berdua. Awas !"

Sehabis berkata demikian, ia lalu mengerahkan ilmunya Tay it thian hian cin khi, kedua tanganya bergerak dengan berbareng untuk memisahkan kedua tangan Hee Thian Siang dan Pek-kut Ie-su yang satu sama lain masih saling menempel dan belum terpisah sebelum ada salah satu yang mati.

Hee Thian Siang dan Pek-kut Ie-su buru-buru menarik kembali tangan masing-masing dan menenangkan pikiran. Mungkin karena terlalu banyak menghamburkan tenaga murni dan kedua karena menarik kembali kekuatan secara paksa dan mendadak pula, sudah tentu kekuatan tenaga dalam tadi dengan sendirinya membalik ke arah orang yang mengeluarkan tenaga itu masing-masing sehingga akhirnya darah keluar dari mulut kedua orang itu.

Tiong sun Seng tahu bahwa usahanya memisahkan pertandingan tadi agak terlambat. Oleh karenanya Hee Thian Siang jadi menderita luka dalam. Maka buru-buru membawanya balik ke dalam rombongannya dan segera minta Say han kong untuk pengobatannya. Say han kong dengan hati-hati memeriksa keadaan Hee Thian Siang kemudian diberikan pel, setelah mana baru ia berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa :

"NonaTiong sun, Hee laote meskipun tidak menjadi halangan tetapi dalam pertemuan di gunung Cong lam ini, jangan sekali-kali kau biarkan dia melawan musuh tangguh lagi. Jikalau sampai terjadi dia harus menghadapi musuh kuat, maka tidak kujamin lagi seluruh kekuatan tenaga dan kepandaiannya tentu akan musnah semua !" Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu terkejut dan ketakutan setengah mati. Buru-buru menarik Hee Thian Siang dan dihiburi dengan suara lemah lembut.

Pertandingan antara Hee Thian Siang dengan Pek-kut Ie- su ditetapkan semula dengan dua babak. Untuk pertandingan ilmu Hian kang dan ilmu kekuatan tenaga dalam. Babak pertama dalam pertandingan ilmu Hian kang, dimenangkan oleh Hee Thian Siang.

Babak kedua karena Hee Thian Siang dipaksa mengaku kalah oleh Tiong sun Seng, hingga kesudahannya jadi dihitung seri.

Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat menilai pertandingan dari kedua pihak kecuali pertandingan antara Khie Tay Cao dengan ketua partai Bu tong Hong hoat Cinjin yang tidak termasuk dalam sepuluh kali pertandingan, pertandingan- pertandingan yang sudah berlangsung sudah ada lima kali.

Pertandingan pertama dilakukan oleh si golok emas dengan May Sin In. Pertandingan kedua dilakukan oleh Pek- kut Sian-cu dengan Tang Siang Siang. Pada pertandingan ketiga yang turun adalah Pan Pek Giok dan Tiong sun Hui Kheng, lalu pertandingan antara Pek-kut Ie-su dengan Hee Thian Siang empat kali pertandingan antara Thian koan Totiang dengan ketua partai Ngo bie Hian hian Sian lo, berakhir dengan kematian Thiat koan Totiang.

Dengan demikian, dalam lima kali pertandinga, empat kali berakhir seri dan satu kali kekalahan di pihak Pat-bo Yao-ong hingga orang kuat dari daerah perbatasan yang diangkat sebagai kepala rombongang golongan orang sesat ini tampak sangat penasaran.

Sementara itu Khie Tay Cao yang melihat Pek-kut Ie-su sudah mundurkan diri, selagi memikirkan harus meminta siapa yang turun ke lapangan, Pat-bo Yao-ong sudah berkata kepadanya dengan suara perlahan :

"Khie ciangbunjin, kau tunggu kalau di pihak sana sudah ada orang turun ke lapangan. Kau baru memilih orangnya untuk menghadapi. Tetapi harus mendapatkan kemenangan supaya bisa berakhir seri. Sisanya yang empat kali, biarlah aku sendiri yang borong. Dengan begitu jadi lebih aman buat pihak kita."

Khie Tay Cao mengangguk-anggukkan kepala, menantikan siapa kira-kira yang akan turun ke lapangan dari pihak lawan.

Sementara itu Tiong sun Hui Kheng yang mengawasi orang-orang pihaknya sendiri, ketua Lo hu pay Peng sim Sin nie lalu mengajukan diri untuk turun ke lapangan.

Tiong sun Seng tahu benar bahwa di pihak lawannya itu masih ada sepasang siluman beracun, empat Cian-cun dari daerah barat dan beberapa orang kuat pihak Pat-bo Yao-ong yang belum turun ke gelanggang. Maka ia kuatir Peng sim Sin nie nanti akan mengalami kekalahan sehingga membuat rusak nama baik partai Lo hu pay saja. Oleh karena itu maka ia lalu berkata sambil tertawa :

"Peng sim Taysu hendak turun ke gelanggang. Sudah tentu amat baik sekali. Tetapi di pihak sana belum satu kali pun mendapat kemenangan. Hal ini mungkin mempengaruhi sikap dan hati mereka yang mungkin akan bertindak lebih buas dan ganas. Kurasa, biarlah dalam babak ini kita pilih orang dari angkatan muda saja yang turun ke gelanggang supaya menang maupun kalah, tidak usah mengganggu prestasi pihak kita. Ini rasanya jauh lebih tepat dari pada Taysu yang turun sendiri."

Peng sim Sin nie sebagai seorang cerdik mendengar ucapan itu segera dapat memahami bahwa Tiong sun Seng tidak ingin dirinya sebagai seorang yang menduduki kursi dari salah satu partai besar turun ke gelanggang menempuha bahaya. Maka ia juga tidak mengukuhi pikirannya dan bersedia menerima saran Tiong sun Seng tadi.

May Giok Jie mendengar Tiong sun Hui Kheng kata hendak memilih orang-orang dari angkatan muda yang turun ke gelanggang, lalu bangkit dari tempat duduknya dan bertanya sambil tersenyum.

"Empek Tiong sun, apakah titlie boleh turun ke gelanggang untuk menghadapi salah seorang musuh dari pihak sana ?"

Karena mengingat May Giok Jie yang belum lama sembuh dari luka-lukanya yang terjatuh dari atas tebing gunung, maka Tiong sun Seng tidak segera menjawab dan berpikir dahulu untuk mempertimbangkan bagaimana kira-kira kondisi phisik May Giok Jie saat ini.

May Giok Jie melihat sikap Tiong sun Seng seperti ragu- ragu berkata sambil tersenyum :

"Empek Tiong sun, sewaktu enci Kheng dan adik In turun ke gelanggang tadi, empek toch tidak pernah menghalang- halangi mereka bukan ? Mengapa hanya terhadap aku. "

Tiong sun Seng menggoyangkan tangannya dan berkata sambil tertawa :

"Hian titlie jangan salah paham. Aku sebetulnya sedang memikirkan. "

May Ceng Ong yang berada disampingnya lalu berkata sambil tertawa :

"Saudara Tiong sun. Adat anakku Giok Jieini selalu lebih keras kepala dari pada In jie. Kalau tidak diperbolehkan ia turun gelanggang, ia pasti akan penasaran terus. Kurasa tidak halangan biar dia turun lapangan. Biar dia mengalami sedikit kesulitan juga tidak apa, asal jangan terlalu hebat !"

Mendengar ucapan itu, Tiong sun Seng lalu berkata :

"Giok Jie hiantitlie memiliki kepandaian ilmu dari keturunan keluarga dan juga dari partai Kun lun. Dengan sendirinya bukanlah seorang lemah. Aku hanya sangsikan apakah luka dipahamu itu sudah sembuh benar-benar. Apakah tidak menganggu bila dia mengadakan pertandingan ? Tapi kalau saudara May sudah berkata demikian, kita boleh sama-sama membantu mengawasi hiantitlie. Rasanya tidak akan ada halangan !"

Bukan kepalang girangnya May Giok Jie karena Tiong sun Seng akhirnya mengijinkan turun ke gelanggang. Maka dengan senyum berseri-seri berjalanlah ia masuk ke lapangan dengan langkah lebar.

Pat-bo Yao-ogn yang menyaksikan turunnya May Giok Jie ke lapangan bertanya kepada Khie Tay Cao :

"Khie ciangbunjin, siapa anak perempuan itu ?"

"Dia bernama Giok Jie, puteri Hong tim Ong khek May Ceng Ong dengang Siang swat Sianjin Leng Biauw Biauw. Ia telah mendapat warisan kepandaian dari ketua partai Kun lun Tie Hui Cu. Baik kepandaian ilmu silatnya maupun kekuatan tenaganya, boleh dibilang setarap dengan orang golongan atas !" jawab Khie Tay Cao.

Pat-bo Yao-ong berpikir lalu memanggil Goan tie Hweshio, salah seorang dari empat Ciancun daerah barat yang mempunyai julukan Tay lek kim kong Siong sen hud atau kalau diterjemahkan berarti Budha yang selalu menang. Orang ini memiliki tenaga bagaikan kingkong. Pat-bo Yao-ong lalu berkata padanya dengan suara perlahan : "Goan tie taysu, kali ini biarlah kau yang turun ke gelanggang. Di pihak sana adalah seorang perempuan muda, kekuatan tenaganya sudah pasti agak lemah. Kau tidak perlu melawan dengan menggunakan akal atau kecerdikan. Hadapi saja dengan kekuatan tenaga yang kau miliki."

Goan tie hweshio mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan masuk ke lapangan. Oleh karena May Giok Jie pada saat itu sudah menyebutkan namanya dan sedang dalam sikap menantang, maka ia lalu merangkapkan tangannya di dadanya dan berkata sambil tersenyum :

"Nona May, pinceng adalah Goan tie. Hendak main-main beberapa jurus denganmu !"

"Taysu bukankah salah seorang dari empat Budha daerah barat ?"

Goan tie Hweshio tersenyum kemudian berkata :

"Pinceng sungguh merasa malu sebab orang-orang liar di daerah barat jarang melihat orang, barulah memberikan pinceng gelar Tay lek kim kong Siong seng hud !"

Sementara itu Hee Thian Siang yang sudah minum obat dari Say han kong, kesehatannya sudah mulai pulih kembali, lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Adik Kheng, Tay lek kim kong Siong seng hud Goan tie Hweshio ini terkenal dengan kekuatan tenaga di sepasang tangannya.

Adik Giok barangkali bukan tandingannya !"

"Adik Siang jangan khawatir. Dalam lima pertandingan yang sudah berlangsung, empat berkesudahan seri. Sedang pihak kita sudah menang satu kali. Maka sekali ini meskipun kalah juga tidak jadi halangan !" jawab Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

"Bukannya soal menang atau kalah yang kupikirkan, melainkan kurasa lebih penting lagi adalah keselamatan diri adik Giok !" kata Hee Thian Siang sambil menggelengkan kepala.

"Kau tak usah kuatir. Ada ayahnya dan ayahku yang sama- sama menjaga keselamatannya. Mana mungkin mereka mau membiarkan adik Giok sampai mengalami kesusahan besar ?"

Mendengar Tiong sun Hui Kheng berkata demikian, maka Hee Thian Siang juga tidak terlalu khawatir lagi. Ia menantikan bagaimana kedua pihak hendak melangsungkan pertandingan.

Sementara itu Liok Giok Jie sehabis mendengar Goan tie Hweshio menyebutkan nama dan gelarnya, lalu berkata sambil tertawa :

"Taysu yang mendapat julukan Tay lek kim kong, apakah hendak mengadu kekuatan tenaga tangan dengan aku ?"

"Goan tie hanya seorang padri liar dari daerah barat. Kecuali kepandaina yang berupa Tay chiu in, tidak mempunyai keahlian apa-apa lagi. Jikalau nona May setuju, kita boleh mengadu kekuatan tenaga dengan mengadakan garis sebagai batas. Masing-masing menyambut tiga kali serangan. Jadi tidak perlu menggunakan waktu terlalu lama bukan ?" menjawab Goan tie Hweshio sambil menganggukkan kepala.

May Giok Jie pikir tentang ilmunya kekuatan tenaga tangan kosong dari golongan partai Kun lun juga merupakan salah satu ilmu terampuh dalam rimba persilatan dianggapnya belum tentu kalah dengan ilmu tay chiu in dari padri daerah barat ini. Maka ia lalu menerima baik dan katanya sambil tersenyum : "May Giok Jie menerima baik usul taysu. Kita boleh mengadakan suatu syarat, masing-masing menyambut tiga kali !"

Mendengar usulnya sudah diterima oleh lawannya, Goan tie Hweshio lalu memusatkan kekuatan tangannya ke kedua kakinya hingga tanah tempat ia berpijak lantas meninggalkan bekas telapakan kaki sedalam setengah cun. Setelah mana barulah ia berkata sambil tersenyum :

"Nona May, aku akan berdiri di atas telapakan kaki ini. Kita masing-masing menyambut tiga kali serangan. Siapa yang bergerak sedikit saja dari tempat berpijaknya sudah dihitung kalah !"

Setelah mendengar ucapan itu, May Giok Jie segera tahu bahwa dalam pertandingan ini, sedikit pun ia tidak bisa menaruh harapan untuk merebut kemenangan.

Sebab padri itu bisa meninggalkan bekas telapakan kaki demikian dalam. Sambil tertawa-tawa dan omong-omong, seandainya ia sendiri, sekalipun telah habis mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, barangkali juga hanya dapat meninggalkan bekas tidak sebegitu dalam.

Dari sini saja, jelaslah sudah menunjukkan kekuatan lawan. Bahwa dalam kekuatan tenaga dalam dan tenaga murni, Goan tie

Hweshio ini latihannya sudah jauh lebih sempurna dan menang setingkat dari May Giok Jie.

Tetapi karena sudah terlanjur, toh tidak boleh ditarik kembali perkataan yang telah keluar. Maka ia terpaksa berdiri di atas tanda telapakan kakinya dengan sikap dibuat setenang mungkin.Goan tie Hweshio sementara itu sudah berkata sambil tersenyum : "Nona Mya silahkan kau buka serangan lebih dulu. Kita masing-masing membuat tiga kali untuk mencoba kekuatan masing-masing !"

May Giok Jie menganggukkan kepala dan tertawa. Kedua tangannya bergerak cepat. Dengan beruntun tiga kali melancarkan serangannya yang sangat berat.

Kecepatan dan hebatnya serangan itu membuat Siang Biauw Yan yang menyaksikannya juga mengangguk- anggukkan kepala memberi pujian. Diam-diam membenarkan suhengnya ialah Tie Hui Cu yang telah anggap May Giok Jie sebagai pewarisnya sampai-sampai gadis itu mendapat latihan dan waktu cukup sebetulnya merupakan satu tenaga yang boleh diandalkan bagi partai Kun lun.

Goan tie Hweshio sendiri juga tidak menduga May Giok Jie mempunyai kekuatan tenaga demikian hebat. Maka ia sedikit pun tidak berani gegabah. Tangannya juga bergerak dengan ilmunya Tay chiu in menyambut tiga kali serangan May Giok Jie.

Ia telah mendapat julukan Tay lek kim kong Siong seng hud, kekuatan tenaganya di telapakan tangan sudah tentu boleh dibilang telah menjagoi dalam kalangan golongan sesat, baik di dalam mau pun di luar daerah.

Pertama dari kekuatan tenaga kedua pihak tampak berimbang. Tetapi setelah adu tenaga itu, May Giok Jie sudah tahu bahwa dalam ketiga kali mengadu kekuatan itu, ia pasti akan terlempar keluar dari tempatnya berpijak.

Di dalam keadaan yang sudah seharusnya kalau ia mengaku kalah, May Giok Jie telah mendapat satu akal supaya biar pun kalah, jangan sampai terlalu memalukan. Setelah mengambil keputusan demikian, lalu mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya. Dalam mengadu kekuatan yang kedua kalinya, ia telah melancarkan tenaga sepenuhnya.

Dengan demikian, maka kedua kalinya ini juga tidak ada salah satu yang tergoyah dari tempat berdirinya. Tetapi Goan tie

Hweshio masih cukup tenaganya, sedangkan May Giok Jie sudah kehabisan tenaga sama sekali kekuatannya.

Goan tie Hweshio tiba-tiba mengeluarkan geraman, lima jari tangan kanannya dipentang. Ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya dan melancarkan serangan yang ketiga.

Sedangkan May Giok Jie dalam serangan ketiga ini sudah diperhitungkan masak-masak. Tidak memforsir seluruh kekuatan tenaganya, hanya digunakan untuk mengimbangi sebagian tenaga Goan tie Hweshio saja.

Begitu kedua tangan saling beradu, orang-orang dalam golongan sesat riuh memperdengarkan suara tepuk tangan. Tampak May Giok Jie terpental dari tempat berdirinya, terus melayang ke udara sejauh satu tombak lebih.

Goan tie Hweshio sudah menjajaki tenaga May Giok Jie. Ia tahu paling-paling dapat mendorong mundur gadis itu setengah langkah. Tidak mungkin dapat mementalkan demikian jauh.

Dan sewaktu kedua tangan saling beradu, ia merasa bahwa tenaga lawannya ternyata kosong. Sama sekali tidak mirip dengan mengadu kekuatan. Maka ia sudah dapat menduga, bahwa dalam hal ini May Giok Jie pasti ada main.

Benarlah seperti apa yang diduga Guan tie Hweshio. Setelah tubuh May Giok Jie melayang sejauh setombak lebih, di tengah udara putrinya May Ceng Ong ini lantas mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang menjadi keahliannya dari partai Kun lun.

Kedua kakinya bergerak bagaikan kaki kodok sedang kedua tangannya juga bergerak membuat setengah lingkaran, kemudian melayang turun lagi ke tempatnya semula.

Bukan saja sudah tiba kembali di tempat semula, bahkan sepasang kakinya masih tetap menginjak bekas telapakan kakinya yang semula, sedikit pun tidak salah.

Tiga kali mengadu kekuatan tenaga tangan sudah habis, sedang May Giok Jie masih berdiri tegak ditempatnya sehingga membuat Goan tie Hweshio merasa bingung sendiri. Ia tidak tahu apakah ini boleh dihitung kemenangan bagi pihaknya.

May Giok Jie setiba ditempatnya lalau berkata sambil memberi hormat dan tertawa.

"Nama besar taysu ternyata bukan julukan belaka. Benar saja merasakan Budha yang bertenaga sangat besar !"

Oleh karena lawannya bersikap demikian merendah, mau tak mau Goan tie Hweshio juga mengucapkan kata-kata yang merendahkan diri. Ia menjawab sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada :

"Nona May dengan beruntun dapat menyambut serangan pinceng tiga kali dan masih tetap berdiri di atas telapakan kaki yang menjadi batas semula. Bagaimana boleh dikata pinceng yang menang ?"

May Giok Jie sudah menduga bahwa padri itu pasti mengucapkan ucapan demikian, maka dengan sangat licin sekali ia menyambungnya dengan suara lantang : "Kalau taysu memang menganggap bahwa kau tidak mau mendapat kemenangan, biarlah dihitung seri saja !"

Sehabis berkata demikian ia bergerak dengan gerakan yang sangat lincah. Ia berjalan kembali ke dalam rombongannya hingga membuat padri itu berdiri bingung, tidak bisa berbuat apa-apa di tengah lapangan.

Setelah May Giok Jie kembali ke rombongannya, berkata kepada ayahnya sambil tertawa :

"Ayah, punya tenaga kita gunakan tenaga, tidak ada tenaga kita boleh gunakan akal. Ayah lihatlah, Tay lek kim kong Siong seng hud itu masih berdiri bingung di tengah lapangan. Badannya gemetaran. Mungkin ia marah dan hampir mati karena mendongkol atas sikap anak tadi !"

May Ceng Ong mengerutkan alisnya, memandang puterinya sejenak lalu bangkit dari tempat duduknya dan berkata kepada Goan tie Hweshio yang masih berdiri menjublak di tengah lapangan !

"Goan tie Taysu silahkan kembali ke rombonganmu. Kali ini Taysulah yang keluar sebagai pemenang. May Ceng Ong mewakili anak perempuannya mengakui kekalahannya !"

Sementara itu Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat juga sudah memanggil kembali Goan tie Hweshio. Ia turun sendiri ke tengah lapangan dan berkata kepada rombongan orang-orang dari golongan kebenaran :

"Dalam pertandingan sepuluh babak sudah berlangsung enam kali dan kesudahannya justru menjadi seri. Sekarang biarlah Hian Wan Liat turun sendiri. Diantara tuan-tuan siapa kiranya yang suka turun guna memberi pelajaran ?" Pemimpin pihak lawan sudah turun. Tiong sun Seng yang melihat itu lalu bertanya kepada May Ceng Ong sambil tersenyum :

"Saudara May, bagaimana kita menghadapi si tua ini ?"

May Ceng Ong yang dahulu sudah pernah mengadakan pertempuran dengan Tiong sun Seng dari Lam-gak hingga Tiong-gak dan Tang-gak tahu benar bahwa baik kekuatan maupun kepandaian Tiong sun Seng boleh dibilang berimbang dengan dirinya sendiri.

Maka dengan cepat lalu menjawab sambil tersenyum : "Saudara Tiong sun boleh tanya dulu kepada si tua itu, ia

hendak bertempur dengan cara bagaimana. Barulah kita ambil

keputusan siapa yang harus menghadapinya !"

Tiong sun Seng menganggukkan kepala lalu turun ke lapangan dan bertanya kepada Pat-bo Yao-ong sambil menjura :

"Hian Wan Liat ong pikir dengan cara bagaimana hendak mengadakan pertandingan selanjutnya ini ?"

"Bertanding dalam ilmu meringankan tubuh, kekuatan tenaga dalam, kekuatan tenaga tangan dan senjata rahasia !" menjawab Hian Wan Liat sambil tersenyum.

Tiong sun Seng yang mendengar ucapan itu, sepasang alisnya dikerutkan. Ia tahu benar bahwa iblis yang demikian tinggi kepandaiannya seperti Hian Wan Liat ini, usul biasa yang diajukan olehnya, di dalamnya pasti mengandung beberapa inti yang tidak biasa.

Selagi Tiong sun Seng masih memikirkan soal itu Pat-bo Yao-ong sudah berkata lagi : "Empat macam pertandingan yang kuajukan ini, bukan dilakukan dalam satu babak melainkan tercakup dalam empat babak yang belum diselesaikan itu !"

Tiong sun Seng berseru terkejut dalam hatinya berpikir : Iblis tua ini benar-benar luar biasa liciknya. Dia seorang diri hendak memborong empat kali pertandingan yang belum selesai, bagaimana caranya dia hendak merebut kemenangan dari pihak kita ?

Pat-bo Yao-ong sudah berkata lagi sambil tertawa :

"Maka itu silahkan Tiong sun Tayhiap kembali dulu. Boleh memilih orang-orang yang paling mahir dalam empat macam ilmu kepandaian tadi lalu mengadakan pertandingan dengan Hian Wan Liat. Sebab hasil dari empat pertandingan ini bukan saja menetapkan kemenangan untuk kedua pihak, bahkan aku pikir dalam setiap kali pertandingan akan ditambah dengan sedikit barang hadiah buat menambah kegembiraan !"

"Hian Wan Liat ong pikir hendak menambah barang hadiah apa ?" tanya Tiong sun Seng sambil tersenyum.

"Monyet putih peliharaan putrimu ada mempunyai sebuah rompi sisik naga pelindung jalan darah. Sekarang berada di tangan tiga orang kerdil dari negara timur. Dalam babak pertama, kupikir hendak menggunakan barang ini sebagai hadiah ! Bila pihak kalian yang menang, barang itu akan kukembalikan kepadamu tapi kalau Hian Wan Liat yang menang, harap supaya putrimu mau menghadiahkan barang itu kepadaku hingga akan menjadi milikku untuk selama- lamanya !"

"Itu baik dan kedua ?"

"Hadiah dalam pertandingan pertama ini sebetulnya memang barang milik putrimu, dalam hal ini kami seperti mau untuk sendiri saja. Maka dalam pertandingan kedua sebagai barang hadiah seharusnya akulah yang mengeluarkan !" berkata sampai disitu, dari dalam sakunya Hian Wan Liat lalu mengeluarkan sebilah belati kecil yang tidak cukup satu kaki panjangnya, namun sinar belati itu berkilauan. Sediki saja belati kecil itu digoreskan ke atas batu, segera membuat terbelah batu yang digoresnya.

Tanpa terasa Tiong sun Seng sudah berkata dengan pujiannya :

"Ini adalah pisau belati yang terbuat dari batu Giok Khun- ngo. Pisau belati paling tajam dalam dunia !"

"Pemenang dalam babak kedua itu akan menjadi pemilik selama-lamanya dari pisau belati Khun ngo to ini !" berkata Hian Wan Liat sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Tiong sun Seng mengangguk-anggukkan kepala, sangat kagum atas tajamnya pisau Pat-bo Yao-ong. Maka lalu katanya :

"Cara mengatur pembagian hadiah menurut Hian Wan Liat ong semacam ini sesungguhnya sangat adil. Tetapi entah barang apa yang akan Liat ong keluarkan sebagai hadiah dalam babak ketiga."

"Babak ketiga kita boleh menggunakan pertaruhan yang lebih besar !"

Dalam hati Tiong sun seng sudah sangat terkejut. Lalu tanyanya :

"Bagaimana cara taruhannya ?"

"Membuat taruhan mengasingkan diri dari rimba persilatan selama dua puluh tahun ! Ini berarti siapa yang kalah harus melakukan sumpah berat untuk selanjutnya selama dua puluh tahun menghilang dari dunia Kang ouw. Tidak boleh lagi melakukan pergerakan dalam rimba persilatan !" Hian Wan Liat berkata demikian sambil tersenyum.

Tiong sun Seng tampak berpikir, kemudian menjawab sambil menganggukkan kepala :

"Tiong sun Seng disini atas nama seluruh kawan dan partai-partai rimba persilatan menerima pertaruhan ini ! Dan keempat ?"

"Dalam babak keempat kita mau pertaruhkan gelar-gelar jago daerah Pat-bong dan Manusia Teragung dalam rimba persilatan !"

Sehabis berkata demikian, tangannya menunjuk kepada patung yang lehernya dikalungi dengan tulisan : "Patung ini dihadiahkan kepada orang yang mendapat julukan orang kuat nomor satu di dalam rimba persilatan". Kembali berkata sambil tertawa :

"Orang yang berhasil menangkan Jago daerah Pat-bong dan Manusia Teragung dalam rimba persilatan juga menjadi pemilik dari patung batu giok putih ini !"

"Aku menerima baik seluruh usulmu ini. Dan sekarang aku akan berunding dahulu dengan semua kawan-kawanku !" berkata Tiong sun Seng sambil menatap patung batu giok putih.

"Mengenai urutan empat pertandingan ini, kalia boleh atur sendiri. Sebab bagaimana pun juga dipihak kalian memilih seseorang, akulah sendiri yang akan melayaninya !" berkata Hian Wan Liat sambil tertawa.

Tiong sun Seng dengan cepat lalu balik kembali ke dalam rombongannya untuk berunding dengan semua kawan- kawannya. Ketua partai Bu tong pay, Hong hoat Cinjin lebih dahulu berkata :

"Dalam empat babak pertandingan ini, menyangkut gagal atau berhasilnya pertandingan besar ini dan menyangkut pula nasib seluruh rimba persilatan. Kita harus hati-hati memilih orang-orang yang memiliki kemahiran dalam ilmu meringankan tubuh, kekuatan tenaga dalam, kekuatan tangan dan senjata rahasia untuk menghadapi Pat-bo Yao-ong !"

"Sebaiknya kita mengadakan pemilihan satu persatu. Sekarang saudara-saudara harap pilih salah seorang diantara kita yang memiliki kemahiran dalam ilmu meringankan tubuh !" berkata Tiong sun Seng sambil tertawa.

Ketua partai Ngo-bie Hian hian Sian lo menunjuk Hong tim Ong khek May Ceng Ong untuk yang pertama karean May Ceng Ong memiliki kemahiran ilmu meringankan tubuh terutama karena dia bisa berjalan di tengah udara.

Usul itu diterima baik oleh semua yang ada disitu. May Ceng Ong juga tidak dapat menolak dan diterimanya dengan baik.

Setelah itu Tiong sun Seng minta lagi supaya ditunjuk orang yang memiliki kekuatan luar biasa dalam pukulan tangan kosong.

Pelindung hukum gereja Sian lim sie Ceng-kak Siansu menunjuk ketua partai Lo hu Peng sim Sin nie, ketua partai Swat san

Peng-pek sin-kun, Siang swat Siangjin Leng Biauw Biauw, tiga orang.

Peng sin Sin nie lebih dulu menyatakan terima kasih, lalu berkata sambil tertawa : "Ilmu Pan sian ciang lek masih kurang matang latihannya. Sebaliknya dengan ilmu Lo han ciang atau Tong sian dari Siao lim sie, pin nie pikir lebih tepat untuk menghadapi Hian Wan Liat ong. "

Hee Thian Siang tiba-tiba berkata sambil menggoyangkan tangannya :

"Locianpwe sekalian tak usahlah kalian terlalu merendahkan diri lagi dalam mengadakan pemilihan ini. Hee Thian Siang disini ada mempunyai sedikit pikiran !"

Ceng-kak Siansu yang mendengar itu lalu berkata sambil tertawa :

"Mungkin Hee laote dari angkatan muda ini mempunyai pikiran yang agak berbeda dari kita orang-orang angkatan tua. Harap Hee laote utarakan pikiranmu itu !"

"Menurut apa yang sudah boanpwe alami dengan kawanan penjahat itu, kepandaian ilmu silat dan kekuatan tenaga Pat- bo Yao-ong benar-benar luar biasa hebatnya. Diantara cianpwe sekalian kecuali Tiong sun locianpwe dan May locianpwe, yang mungkin dapat mengimbangi kepandaian dan kekuatannya, dengan terus terang, yang lainnya barangkali agak sulit untuk menghadapinya."

Semua jago yang ada disitu tahu bahwa ucapan Hee Thian Siang itu memanglah dengan sebenar-benarnya. Maka semua pada diam.

Hee Thian Siang berkata pula :

"Hian Wan Liat berani menghina orang karena mengandalkan kepandaian dan kekuatannya yang luar biasa itu. Dengan seorang diri ia memborong empat kali pertandingan yang belum terselesaikan. Keadaan kita memang berbahaya. Tetapi berapa pun matang perhitungan  seseorang, berhasilnya masih tetap berada ditangan Tuhan hingga membuka pikiran Hee Thian Siang. Dari empat pertandingan yang diusulkan itu, Hee Thian Siang dapat mencuri kelemahannya !"

Peng-pek Sin-kun dengan penuh perhatian bertanya : "Dalam hal apa yang Hee laote anggap merupakan

kelemahan Hian Wan Liat ?"

"Hian Wan Liat dalam keadaan takabur demikian telah mengeluarkan ucapan tanpa di pikir panjang lagi sehingga Hee Thian Siang mudah sekali menemukan kelemahannya !"

Semua jago tahu bahwa urusan ini sangat penting sekali. Maka semua diam hendak mendengarkan uraian jago muda itu.

"Kelemahan Hian Wan Liat adalah tindakannya yang memperbolehkan kita memilih orang. Dia cuma menitikberatkan kepada hal-hal yang penting saja. Jadi agak mengabaikan kepada yang kurang penting. Oleh karena itu maka kita tidak perlu memperhatikan kalah menang seluruhnya. Dengan lain perkataan ialah dalam babak pertama, kita boleh kalah dan mengorbankan rompi sisik naga pelindung jalan darah dan babak kedua kita juga boleh mengorbankan nama baik kita dan tidak perlu pasti merebut kemenangan. Bahkan di dalam babak keempat, biar Pat-bo Yao-ong mendapat gelar Jago daerah Pat-bong dan Manusia Teragung rimba persilatan serta patung batu giok putih sebagai lambang orang kuat nomor satu. Tapi dalam babak ketiga, biar bagaimana kita tidak boleh tidak harus menang. Sebab setelah kita menangkan babak ketiga ini bisa membuat orang-orang jahat di dalam dan di luar daerah dalam waktu dua puluh tahun tidak bisa bergerak apa-apa hingga tidak dapat membahayakan rimba persilatan !" Peng-pek Sin-kun lalu berkata sambil mengacungkan ibu jarinya :

"Ucapan Hee laote ini benar-benar sangat berharga sekali ! Dewasa ini meskipun pengaruh orang-orang jahat besar sekali tetapi kecuali seorang seperti Pan Pek Giok dari angkatan muda, mereka sudah tidak ada orang lain lagi. Jadi asal kita bisa membuat kejahatan mereka untuk sementara ditindas, maka selama dua puluah tahun kemudian, orang-orang angkatan muda seperti Hee laote, Tiong sun Hui Kheng, May Giok Jie, May Sin In dan lain-lain dari golongan lain suah pasti akan dapat menguasai golongan muda mereka !"

"Hee hiantit kalau sudah mempunyai pikiran demikian, apakah kiranya juga sudah mempunyai rencana kongkrit untuk orang-orangnya dan urutannya dalam empat pertandingan itu

?" bertanya Tiong sun Seng sambil tersenyum.

"Untuk merebut kemenangan babak ketiga, boanpwe merasa sudah mempunyai keyakinan delapan puluh persen keatas. Tetapi disini harus ada dua locianpwe yang mau mengorbankan nama baiknya, baru bisa mencapai maksud kita !" jawab Hee Thian Siang sambil tertawa. 

"Untuk kepentingan nasib seluruh rimba persilatan, sekalipun mengorbankan nyawa, juga tidak sayang. Apalagi cuma buat mengorbankan nama kosong saja. Terus terang saja, dalam menghadapi babak terakhir yang tinggal empat pertandingan ini, biarlah kau yang memegang komandonya. Kami semua bersedia menurut perintahmu !" kata May Ceng Ong sambil tertawa.

Semua jago yang mendengar ucapan itu pada setuju. Hee Thian Siang pun tidak menolak lagi. Lalu katanya :

"Menurut boanpwe, baiknya dalam babak-babak terakhir ini urutannya dibuat : Pertandingan ilmu meringankan tubuh, pertandingan kekuatan telapak tangan, pertandingan kekuatan tenaga dalam dan pertandingan senjata rahasia !"

Meskipun semua jago tidak dapat menduga isi hati Hee Thian Siang tetapi mereka tahu bahwa jago muda itu tentunya tidak akan mengatur secara serampangan.

May Sin In tiba-tiba bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng : "Enci Kheng, tahukah kau apa yang terkandung dalam hati

engkoh Hee Thian Siang itu ?"

Tiong sun Hui Kheng hanya tersenyum saja. Sama sekali tidak menjawab. Lalu ia menggoyangkan tangannya sebagai tanda supaya May Sin In diam dan hanya mendengarkan saja.

Sementara itu Hee Thian Siang sudah berkata lagi :

"Kedua ialah soal pilihan orangnya. Babak pertama dalam pertandingan mengadu ilmu meringankan tubuh, biarlah May locianpwe yang maju. Babak kedua dalam pertandingan mengadu kekuatan telapakan tangan, biar Hong hoat Cinjin dari Bu tong yang keluar. "

Hong hoat Cinjin baru hendak menolak, Hee Thian Siang sudah berkata padanya sambil tersenyum :

"Hong hoat locianpwe janganlah menolak. Boanpwe minta locianpwe maju dalam babak ini, bukanlah karena menganggap kekuatan tenaga locianpwe jauh lebih tinggi dari pada ketua Lo hu dan Swat san serta Siang swat Siangjin locianpwe melainkan mengingat ilmu Thay khek ciang dari golongan Bu tong sesungguhnyalah boleh dibilang mempunyai keuletan dan locianpwe juga sudah mahir dalam ilmu Tay hoan cin lek." "Ouw ! Jadi laote menghendaki supaya aku mengadakan pertandingan cuma buat mengulur waktu saja ? Bukankah begitu ?" berkata Hong hoat Cinjin sambil tertawa.

Hee Thian Siang lalu menjawab sambil menatap wajah May Ceng Ong :

"Bukan hanya dalam pertandingan kekuatan tenaga tangan ini saja yang harus dilakukan dalam waktu sangat lama. Sekalipun dalam pertandingan ilmu meringankan tubuh juga harus memikirkancara yang lain dari pada yang lain. Kita harus berusaha sedapat mungkin supaya Hian Wan Liat ong si siluman tua itu menghamburkan tenaga sebanyak- banyaknya. Lebih baik lagi kalau bisa terkuras habis-habisan ! Pendek kata, dalam babak pertama dan kedua, titik penting ialah tidak perlu merebut kemenangan melainkan melelahkan pihak lawan. Sebab apabila pihak kita lelah, di pihak lawan juga sudah pasti menghamburkan kekuatan tenaga yang tentu tidak sedikit. Barulah di babak ketiga, kita yang masih dalam keadan penuh dapat menghadapi lawan yang sudah payah. Dengan demikian barulah kita berhasil dengan usaha kita !"

May Ceng Ong yang mendengar keterangan itu, berulang- ulang menganggukkan kepala. Katanya sambil tertawa :

"Akalmu ini benar-benar bagus sekali. Aku dengan Hong hoat Cinjin pasti akan melaksanakan rencanamu ini sebaik- baiknya !"

"Sebab kekuatan tenaga dan kepandaian ilmu Pat-bo Yao- ong terlalu tinggi sekali, meskipun di dalam babak pertama dan kedua ia harus menghamburkan banyak tenaga, tetapi di dalam babak ketiga jikalau bukan seorang yang tandingan yang memiliki kepandaian dan kekuatan yang luar biasa, masih sulit untuk merebut kemenangan darinya. Oleh karena itu, dengan pertandingan kekuatan tenaga dalam ini, boanpwe pikir hendak minta Tiong sun locianpwe yang mengambil sekaligus memikul tugas itu !" Tiong sun Seng hanya diam saja, sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Sementara May Ceng Ong sudah berkata pula :

"Pilihan Hee hiantit ini tepat sekali. Pasti ia yang baru sanggup mengimbangi dan menghabiskan tenaga Hian Wan Liat dengan ilmunya Tay it thian hian sin kang. Kalau tidak begitu, mana ada harapan untuk merebut kemenangannya dari diri Pat-bo Yao-ong ?"

"Jikalau babak ketiga ini Hian Wan Liat mengalami kekalahan, di dalam babak keempat ia pasti akan turun tangan dengan sepenuh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mendapatkan gelar Jago daerah Pat bong dan Manusia Teragung dalam rimba persilatan, untuk memulihkan nama baiknya. Para locianpwe sekalian yang ada disini, semua dari para ketua partai atau pendekar-pendekar pada dewasa ini. Semua tidak perlu harus mengorbankan nama baik para cianpwe sekalian untuk mengadu kekuatan dengannya. Maka itu biarlah boanpwe sendiri saja yang akan turun tangan dengan menggunakan tiga batang bulu burung warna lima ini untuk bertanding dengan siluman tua itu !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa penuh arti.

"Tadi bukankah Say locianpwe sudah mengatakan supaya kau jangan boleh menggunakan kekuatan tenaga murni lagi ?"

"Adik In tak usah terlalu khawatir begitu. Bertanding dengan senjata rahasia tentu tidak harus menggunakan kekuatan tenaga murni. Para locianpwe yang ada disini tidak sayang mengorbankan nama baiknya yang dipupuk hampir seumur hidupnya. Apakah tidak seharusnya kalau aku juga turut menyumbang sedikit tenaga ?" kata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Say han kong juga menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada May Sin In, suatu tanda bahwa Hee Thian Siang tidak akan kenapa-kenapa kalau cuma bertanding dengan menggunakan senjata rahasia saja.

Setelah perundingan selesai, May Ceng Ong lebih dahulu berjalan turun ke lapangan.

Pat-bo Yao-ong tahu bahwa lawan-lawannya itu adalah jago-jago dan pendekar-pendekar daerah Tiong goan yang baik kepandaian ilmu silatnya maupun kekuatan tenaga dalamnya masih diatas kebiasaan para ketua partai, maka ia juga tidak berani menyombongkan diri keterlaluan. Sambil mengangkat kedua tangannya ia bertanya :

"May tayhiap pikir hendak bertanding dalam ilmu apa ?" "Aku pikir hendak bertanding dengan mengadu ilmu

meringankan tubuh yang sejati untuk belajar kenal dengan kepandaian ilmu Hian Wan Liat ong."

"Kita harus bertanding dengan cara bagaimana ?"

"Kupikir hendak mencoba mendaki dan turun dari puncak Tay pek hong ini kemudian mendaki ke atasnya lagi untuk menetapkan ilmu siapa yang lebih tinggi.

Pat-bo Yao-ong tahu bahwa untuk turun dan naik lagi ke puncak Tay pek hong yang menjulang ke langit ini sesungguhnya tidak mudah. Tetapi ia sedikit pun tidak merasa gentar. Maka ia bertanya :

"Aku hendak minta sedikit keterangan lebih dahulu. May tayhiap hendak menggunakan ilmu meringankan tubuh cara apa ?"

"Di waktu lurus aku hendak menggunakan ilmu Mo khong cap sha hoan dan diwaktu mendaki nanti akan menggunakan ilmu berjalan di tengah udara !" Pat-bo yao-ong terkejut mendengar keterangan itu, katanya

:

"Ini adalah dua ilmu yang terampuh dalam ilmu

meringankan tubuh !"

May Ceng Ong juga bertanya kepadanya :

"Dan Hian Wan Liat ong hendak menggunakan cara apa ?" "Aku juga hendak menggunakan ilmu serupa seperti yang

kau gunakan !"

May Ceng Ong mendengar jawaban itu merasa sangat kagum, katanya sambil menganggukkan kepala :

"Dengan cara demikian, sesungguhnya sangat adil sekali !"

Pat-bo Yao-ong menggapai kepada si golok emas. Darinya minta rompi sisik naga pelindung jalan darah lalu diletakkan di atas sebuah batu besar, setelah mana barulah ia berkata kepada May Ceng Ong :

"May tayhiap, kita sama-sama turun dari puncak ini dengan menggunakan ilmu Mo khong cap sha hoan, lalu mendaki lagi dengan menggunakan ilmu jalan ditengah udara. Siapa yang lebih dahulu tiba di puncak Tay pek hong ini, dialah yang akan menjadi pemilik selamanya dari rompi sisik naga pelindung jalan darah ini !"

May Ceng Ong mengawasi rompi pusaka itu, lalu berkata sambil tersenyum :

"Baik, mari kita segera mulai !"

Keduanya lalu turun dari puncak Tay pek hong dengan sama-sama menggunakan ilmu Mo khong can sha hoan. Setelah pertandingan dimulai, Hee Thian Siang mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa bangga :

"Cara yang diajukan oleh empek May ini sesungguhnya sangat tepat. Sebab untuk naik dan turun dari puncak Tay pek hong ini

betul-betul harus membutuhkan tenaga penuh. Perjalananan setinggi beberapa ratus tombak ini, sedikitnya juga harus menghamburkan tenaga murni Pat-bo Yao-ong sepuluh persen keatas !"

Tiong sun Hui Kheng tiba-tiba menarik tangan Hee Thian siang dan bertanya dengan suara perlahan :

"Adik Siang, kau jangan girang dulu. Aku seperti mendapat satu firasat. Mungkin sebentar lagi akan terjadi suatu malapetaka hebat disini."

Hee Thian Siang sangat terkejut mendengar perkataan itu.

Ia lalu berkata :

"Dari mana enci Kheng mendapat firasat semacam itu ?" "Dari Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan dan lain-lainnya.

Mengapa hingga saat ini mereka masih tidak menunjukkan gerakan apa-apa ?"

"Oh ! Mungkin kekuatiran enci Kheng ini tidak cukup beralasan. Mana mungkin begitu ? Bom peledak Kian thian pek lek sudah diambil oleh Oe-tie locianpwe dengan menggunakan keahliannya mencopet. Sudah tentu mereka tidak berani memikirkan rencana jahat dalam hal itu lagi."

Tiong sun Hui Kheng menggeleng-gelengkan kepala dan lalu katanya : "Mengapa pandangan mata adik Siang kali ini demikian cupat ? Sejak adik In mengeluarkan senjatanya pedang pusaka Liu yap bian sie kiam, Bo Cu Keng dan lain-lainnya sudah pasti mengetahui kalau mereka telah kecurian. Mereka tahu kita tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Tetapi toh mereka tidak berlalu dengan diam-diam, bahkan sikapnya demikian tenang. Jelas masih ada apa-apa atau rencana keji yang diandalkan oleh mereka !"

Hee Thian Siang telah disadarkan oleh ucapan Tiong sun Hui Kheng ini. Katanya :

"Kalau begitu ucapan enci Kheng ini ada benarnya juga. Kepandaian mereka mana ada artinya buat kita ? Kalau mereka dihadapkan dengan kita, sesungguhnya seperti ikan dalam jala. Iya, mengapa sampai tak terpikir olehku. Setelah mengetahui bom peledak Kian thian pek lek tercuri, mereka tidak berlalu secara diam-diam, sebaliknya malah terus disini dengan sikap tenang-tenang. Apakah betul mereka hendak mengacau dengan rencana keji yang lain ?"

"Adik Siang harap pikir baik-baik. Suasana dan situasi sudah demikian gawat, bukankah ini suatu firasat akan adanya bencana hebat ?"

"Sekarang aku juga mempunyai kesan demikian. Enci Kheng kalau sudah mengetahui lebih dahulu, dapatkah menduga dengan pasti rencana apalagi kiranya yang akan dilakukan oleh Bo Cu Keng dan kawan-kawannya itu ?"

"Hal ini tidak mudah diduga dengan pasti. Tetapi akau selalu menganggap apakah tidak mungkin bahwa Bo Cu Keng itu telah membuat sebuah Kian thian pek lek tiruan, sengaja membiarkan Oe tie locianpwe mencuri supaya mengendorkan kewaspadaan kita terhadap mereka, kemudian dengan tiba- tiba diluar dugaan kita semua, menggunakan Kian thian pek lek yang tulen untuk menghadapi ktia semua !" Hee Thian siang tampak berpikir, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala :

"Pikiran enci Kheng ini memang ada benarnya. Tetapi ada dua hal yang rasanya tidak sesuai dengan kenyataannya !"

Tiong sun Hui Kheng menatap wajah Hee Thian Siang. Sementara itu Hee Thian Siang sudah melanjutkan keterangannya :

"Pertama Bo Cu Keng agaknya tidak dapat menduga bahwa kita bisa mengundang seorang ahli pencopet yang ditugaskan untuk menyambut kedatangan tamu sehingga barang mereka tercuri habis-habisan !"

Tiong sun Hui Kheng tidak dapat menyetujui pikiran Hee Thian Siang semacam itu, katanya sambil menggelengkan kepala :

"Meskipun Bo Cu Keng tidak menduga kita bisa mencuri barang-barangnya tetapi belum tentu mereka tidak dapat menduga bahwa kita akan menggeledah mereka !'

"Taruh kata benar dugaan enci Kheng ini, tetapi waktu Oe- tie locianpwe turun tangan, sudah mengadakan penggeledahan dengan teliti terhadap mereka. Sama sekali tidak menemukan bom Kian thian pek lek yang kedua !"

"Kenyataan ini memang benar telah menggulingkan dugaanku itu. Juga membuat aku tidak bisa mengadakan perhitungan yang agak tepat akal apa yang akan dipergunakan oleh Bo Cu Keng dan kawan-kawannya. Kita terpaksa harus berlaku dengan sangat hati-hati, memperhatikan segala apa yang akan terjadi dan siap siaga serta bertindak sigap untuk menghadapi segala kemungkinan

!" Tidak lama kemudian, sudah terdengar elahan napas dari Pat-bo Yao-ong dan May Ceng Ong yang sudah kembali ke puncak gunung Tay pek hong.

Kedatangan dua orang itu, agaknya tidak ada perbedaan satu sama lain. Keadaan semacam ini membuat semua orang yang menyaksikan tidak dapat mengetahui siapa sebetulnya yang lebih dahulu tiba dipuncak Tay pek hong ini.

Sesaat kemudian, suara itu sudah terdengar semakin dekat dan sudah akan tiba di tempat semula. Tetapi keadaan mereka masih tetap berimbang. Tidak ada yang tampak tiba lebih dahulu.

Meskipun dua orang itu hampir bersamaan waktunya tiba di puncak Tay pek hong, tetapi May Ceng Ong sengaja membiarkan Pat-bo Yao-ong menginjakkan kaki kanannya lebih dahulu di puncak gunung.

Sesaat tampak May Ceng Ong mengerutkan sepasang alisnya, tetapi segera pulih kembali. Lalu berkata kepada Pat- bo Yao-ong sambil menatap sisik naga pelindung jalan darah yang diletakkan di atas batu besar :

"Kepandaian ilmu meringankan tubuh Hian Wan Liat ong benar-benar sangat mengagumkan May Ceng Ong. Rompi ini selanjutnya biarlah menjadi milikmu selama-lamanya !"

"May tayhiap mengapa berkata demikian ? Kemenanganku ini hanya secara kebetulan saja !" kata Hian Wan Liat sambil tertawa.

May Ceng Ong lalu tersenyum dan kembali ke rombongannya. Ia lalu berkata kepada Tiong sun Seng sambil mengusap kepala Siaopek :

"Saudara Tiong sun, aku sudah mengerahkan seluruh kekuatanku yang ada untuk mengambil kembali rompi sisik naga pelindung jalan darah milik Siaopek ini. Tapi siapa tahu di luar dugaanku pada saat terakhir, aku telah gagal mempertahankan kedudukanku !'

Berkata sampai disitu, ia lalu berpaling dan berkata kepada Siaopek :

"Siaopek, janganlah kau susah hati. Aku berjanji padamu hendak menurunkan beberapa macam ilmu kepandaian kepadamu untuk menggantikan rompimu yang tak dapat kupertahankan dalam pertandingan tadi !"

Siaopek yang mendengar ucapan itu, rupanya sangat girang sekali. Ia menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan May Ceng Ong.

Seperti yang sudah direncanakan, begitu May Ceng Ong kembali ke rombongannya, Hong hoat Cinjin sudah turun ke lapangan tanpa memberikan kesempatan bagi Pat-bo Yao- ong untuk beristirahat lama-lama.

Pat-bo Yao-ong menyambut kedatangannya dan berkata sambil tertawa :

"Cinjin ternyata hendak turut memberikan pelajaran kepadaku juga. Tidak tahu Cinjin hendak bertanding dengan ilmu apa ?"

Hong hoat Cinjin menganggukkan kepala memberi hormat lebih dahulu, kemudian baru berkata sambil tersenyum :

"Kepandaian ilmu Hian Wan Liat ong benar-benar hebat sekali. Pinto rasa tidak mempunyai kepandaian apa-apa untuk menandingi. Hanya di dalam ilmu kekuatan tenaga tangan, ingin belajar kenal dengan Liat ong !"

Oleh karena melihat sikap Hong hoat Cinjin yang demikian merendahkan diri dan sopan santun, maka Hian Wan Liat menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kemudian dari dalam bajunya mengeluarkan sebilah pisau belati Khun ngo to lalu dilemparkannya ke atas batu hingga menancap sampai dalam.

Hong hoat Cinjin mengawasi pisau belati itu, berkata dengan pujiannya :

"Tajamnya pisau belati Khun go to ini, ternyata benar-benar tidak kalah dengan pedang pusaka Hie thong kiam !"

"Mari kita mulai. Asal Cinjin sanggup menahan seranganku seratus jurus tidak terkalahkan, pisau belati Khun go to ini Cinjin boleh ambil untuk dijadikan milik Cinjin selama-lamanya

!"

Mendengar Pat-bo Yao-ong menetapkan jumlahnya seratus jurus, Hong hoat Cinjin tahu bahwa lawannya itu tidak memandang terlalu rendah dirinya. Maka ia lalu bertanya sambil bersenyum :

"Hian Wan Liat ong, benarkah kau hendak menggunakan pisau belati pusakan ini untuk barang hadiah bagi si pemenang ?"

"Di dalam rimba persilatan, orang yang sudah memiliki kedudukan dan nama baik seperti kita ini apakah masih perlu disangsikan bakal dapat menarik kembali setiap ucapannya ?" demikian Hian Wan Liat membaliki.

"Kalau benar ada barang hadiah sangat berharga serupa ini, kita tentunya harus bertanding dengan seluruh kekuatan tenaga. Bolehkah disini pinto hendak mengajukan sedikit permintaan ?" berkata Hong hoat Cinjin.

"Permintaan apa ?" "Pinto minta supaya jumlah yang Hian Wan Liat ong tetapkan seratus jurus tadi, ditambah lagi tiga kali lipat ?"

"Pat-bo Yao-ong menatap wajah Hong hoat Cinjin, tanyanya sambil tersenyum :

"Apakah Cinjin yakin dapat menyambut seranganku hingga tiga ratus jurus ?"

"Ilmu serangan tangan kosong Thay khek ciang hoat dari partai Bu tong sudah terkenal dengan keuletan-keuletannnya. Pinto sebagai ketua partai sudah tentu memperdalam ilmu tunggal dari partai pinto ini. Dalam dua ratus lima puluh jurus, pinto yakin masih sanggup melayani. Barangkali sebelum duaratus lima puluh jurus ke atas, tidak dapat dipastikan !"

Hian Wan Liat mendengarkan ucapan Hong hoat Cinjin dengan tenang, tidak menyombongkan dirinya. Katanya sambil tersenyum :

"Kalau Cinjin sudah berkata demikian, Hian Wan Liat terpaksa cuma bisa mengiringi kehendakmu !"

Selesai pembicaraan, kedua orang itu sudah akan mulai melakukan pertandingan.

Pat-bo Yao-ong dalam hal ini bertindak sebagai pihak yang menyerang. Ia melancarkan serangannya gencar dan hebat.

Sedangkan Hong hoat cinjin yang berada di pihak orang yang diserang, tampak sedang mempertahankan dirinya demikian rapi dan dengan gigih menyambut setiap serangan yang dilancarkan oleh Pat-bo Yao-ong.

Kalau ditinjau dari kekuatan tenaga dua orang itu, Hong hoat Cinjin seharusnya sudah mesti kalah dalam tujuh delapan puluh jurus pertama. Akan tetapi karena ia mengandalkan ilmunya Cie yang sin kang yang dapat menyalurkan kekuatan tenaga murni tidak putus-putusnya, hingga kadang-kadang dalam keadaan sangat berbahaya ia bisa berbalik menang diatas angin. Dengan cara demikianlah ia tetap bertahan sampai dua ratus enam puluh jurus lebih.

Sampai pada jurus kedua ratus tujuh puluh, Hoan hoat Cinjin tampak sudah mulai letih. Dalam keadaan tidak berjaga- jaga dan agak lengah, jubah bagian bawahnya mendadak terpapas sepotong oleh serangan tangan Pat-bo Yao-ong.

Pertandingan akhirnya dimenangkan juga oleh Pat-bo Yao- ong. Tetapi jago dari luar perbatasan itu sudah menghamburkan kekuatan tenaga murninya terlalu banyak, yaitu lebih dari dua puluh persen dengan sendirinya merasan sangat letih sekali.

Dengan demikian, dalam sepuluh babak pertandingan, enam babak telah berakhir seri yakni tiga-tiga. Tetapi karena dua babak

belakangan ini telah dimenangkan lagi dengan beruntun oleh Pat-bo Yao-ong, maka stand berubah menjadi lima tiga untuk kemenangan pihak Pat-bo Yao-ong.

Oleh sebab itu orang-orang dari golongan sesat mulai dari pemimpinnya Khie Tay Cao ke bawah, rata-rata telah menunjukkan kegirangan yang luar biasa dan Pek-kut Ie-su sampai perlu turun ke lapangan sendiri untuk memberi tiga cairan arak kepada Pat-bo Yao-ong sebagai tanda penghargaan dan ucapan selamat.

Pat-bo Yao-ong yang berhasil menundukkan dua lawan tangguh, seorang jago kenamaan dan seorang ketua partai Bu tong sudah tentu juga merasa sangat bangga.

Pada saat orang-orang golongan sesat pada kegirangan atas hasil kemenangan pemimpinnya, tiba-tiba turunlah ke lapangan Tiong sun Seng yang menjadi kepala rombongan orang-orang golongan kebenaran. Dengan sikap yang sangat tenang sekali, pemimpin rombongan ini sudah berdiri di hadapan Pat-bo Yao-ong sambil tersenyum.

Begitu melihat lawan tangguh berdiri dihadapanya, Hian Wan Liat buru-buru menangkap pikirannya. Perasaan bangga yang tadinya begitu meluap-luap, telah lenyap seketika.

Tiong sun Seng mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata sambil tersenyum :

"Kuhaturkan selamat kepada Hoat ong yang telah berhasil memenangkan dua babak pertandingan ini !"

Hian Wan Liat menggelengkan kepala sambil tersenyum, dengan wajah merah karena kemalu-maluan ia berkata :

"Babak pertama dalam pertandingan ilmu meringankan tubuh dengan May tayhiap, kemenangan yang kudapat sebetulnya sangat tipis. Juga boleh dikata merupakan suatu kebetulan saja. Sedang dalam babak kedua, juga sesudah dua ratus tujuh puluh jurus baru dapat ditetapkan keputusannya. Sebetulnya, kedua-dua kali kemenangan ini sangat tipis sekali. Mana berani aku menerima pujian Tiong sun tayhiap ? Sekarang entah Tiong sun tayhiap hendak bertanding dalam ilmu apa denganku."

Tiong sun Seng ada maksud hendak mengikat Pat-bo Yao- ong dengan ucapannya sendiri. Maka ia hanya tertawa tidak lantas menjawab, sebaliknya ia balas bertanya :

"Numpang tanya, Hoat ong.. Dalam pertandingan babak ketiga ini menggunakan barang apakah sebagai hadiahnya ?"

"Yang dipertaruhkan buat pertandingan kali ini ialah mengasingkan diri selama dua puluh tahun bagi siapa saja yang kalah. Apakah Tiong sun tayhiap anggap bahwa pertaruhan ini terlalu berat ?" "Pertaruhan ini sangat ideal sebab bagi yang menang sudah terang tak usah dikata lagi, apalagi bagi yang kalah. Selama mengasingkan diri dalam waktu dua puluh tahun itu bagi yang kalah bisa digunakan waktunya untuk memikirkan perbuatan-perbuatan dan kelemahan-kelemahannya sendiri dalam waktu-waktu belakangan ini. Dengan sendirinya juga sangat berfaedah bagi perbaikan nasib di kemudian hari." berkata Tiong sun Seng.

"Jikalau Tiong sun tayhiap sudah setuju dengan perjanjian itu, lalu dengan cara bagaimana kita hendak bertanding ?"

"Aku sebenar-benarnya ingin sekali belajar kenal dengan kekuatan tenaga dalam Hoat ong. Tetapi setelah kupikir biarlah Hoat ong

mengasoh dulu beberapa saat, baru kita mulai lagi.

Setujukah ?"

"Mengapa harus mengasoh dulu ?" tanya Hian Wan Liat ong. "Tidak perlu !"

"Sebabnya begini. Bukankah Hoat ong tadi dengan beruntun sudah menghadapi dua lawan tangguh ? Setidak- tidaknya tentu ada

juga membawa pengaruh bagi kekuatan tenaga dalam maupun kekuatan tenaga murni. "

Sebelum Hian Wan Liat mendengar ucapan itu, memang benar sudah merasa letih. Sebetulnya juga ingin mendapat sedikit waktu untuk beristirahat. Tetapi kini setelah mendengar Tiong sun Seng berkata demikian, lalu berkata dengan alis berdiri :

"Kejujuran Tiong sun tayhiap sungguh-sungguh telah membuat Hian Wan Liat sangat kagum. Tetapi oleh karena Hian Wan Liat sudah menetapkan jumlah empat babak, dengan sendirinya tidak sampai tidak mengukur kekuatan tenaga sendiri. Sebaiknya Tiong sun tayhiap lekas sebutkan cara-caranya. Jikalau tidak mau lebih baik kita hapuskan saja pertandingan ini !"

Tiong sun Seng yang mendengar ucapan itu, lantas berkata sambil menatap wajah Khie Tay Cao :

"Khie ciangbunjin, tolong pinjamkan kepada kami dua batang tongkat besi untuk digunakan dalam pertandingan ini !"

Khie Tay Cao tidak dapat menduga maksud Tiong sun Seng. Tetapi juga terpaksa memerintahkan orang untuk mengambil dua batang ruyung besi, diantarkan ke tengah lapangan.

Tiong sun Seng mengambil sebatang, berkata kepada Pat- bo Yao-ong sambil tersenyum :

"Hian Wan Liat ong, kita masing-masing berdiri di ujung ruyung besi ini lalu menyambut serangan yang dilancarkan oleh kedua belah pihak sebanyak sepuluh jurus. Bagaimana Hian Wan Liat ong pikir ?"

"Dengan kekuatan tenaga seperti kau dan aku ini, jumlah sepuluh jurus barangkali belum tentu dapat menetapkan siapa yang menang dan siapa yang kalah !" berkata Hian Wan Liat yang juga mengambil sebatang ruyung besi.

"Apabila hal ini dilakukan di tanah datar, memang benar sulit untuk menetapkan kemenangan dalam jumlah sepuluh jurus saja !

Tetapi sekarang karena harus berdiri di ujung ruyung yang ditancapkan di tanah dan kita harus saling melancarkan serangan dalam waktu sepuluh jurus rasanya juga sudah cukup untuk menetapkan siapa yang harus mengasingkan diri selama dua puluh tahun !" berkata Tiong sun Seng sambil tertawa.

Sehabis berkata demikian, badannya lalu bergerak. Satu kakinya berdiri di ujung ruyung besi yang sudah ditancapkan diatas sebuah batu besar.

Namanya saja ditancapkan tetapi sebetulnya hanya diletakkan diatas batu hingga kalau bergerak sedikit saja, ruyung itu bergoyang-goyang seolah-olah hendak jatuh.

Pat-bo yao-ong Hian Wan Liat sudah tentu tidak mau mengalah. Ia juga berbuat seperti apa yang dilakukan oleh Tiong sun Seng.

Tiong sun Seng yang mendapat kehormatan untuk membuka serangan lebih dahulu, lalu memberi hormat dan mulai melakukan serangannya hingga sepuluh kali.

Hian Wan Liat menyambuti setiap serangan itu dengan sikap tenang.

Bagi orang luar yang menyaksikannya, pertandingan itu seperti seolah-olah permainan anak-anak. Sebetulnya sepuluh jurus serangan itu, setiap serangannya dilancarkan dengan penuh tenaga yang menggunakan kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna.

Dalam waktu sekejap mata saja, sepuluh kali serangan itu sudah selesai dilancarkan oleh kedua belah pihak. Dua orang itu semuanya masih tidak bergerak dari tempatnya, berdiri dengan satu kaki diujung ruyung besi.

Tiong sun Seng kembali mengangkat tangan memberi hormat dan berkata sambil tersenyum :

"Sebentar setelah pertemuan besar ini berakhir, Tiong sun Seng akan mengantarkan Hian Wan Liat ong pulang !" Dengan wajah menunjukkan sikapnya yang serius, Pat-bo Yao-ong menjawab sambil menganggukkan kepala :

"Tiong sun tayhiap jangan khawatir. Setelah perpisahan kita hari ini, dalam waktu dua puluh tahun, kalian tidak nanti dapat menemukan orang-orang Hian Wan Liat yang sekarang ada disini melakukan pergerakan apa-apa lagi di dunia Kang ouw."

Khie Tay Cao yang mendengar ucapan itu sudah tentu terkejut. Hingga saat itu, ia masih belum tahu dimana letak kekalahan sebenarnya dari Pat-bo Yao-ong.

Ternyata setelah bertanding sepuluh jurus, meskipun kedua pihak tidak ada yang lompat turun dari ujung ruyung besinya, tetapi ujung ruyung besi yang digunakan untuk berdiri oleh Pat-bo Yao-ong sudah melesak ke atas batu sedalam tiga dim.

Tiong sun Seng menampak Pat-bo Yao-ong mengakui kekalahannya dengan terus terang dan sejujurnya, dalam hati diam-diam juga merasa sangat kagum. Katanya sambil tersenyum :

"Hian Wan Liat ong, kau benar-benar seorang ksatri yang jujur. "

Tidak menantikan Tiong sun Seng berkata selanjutnya, Pat- bo Yao-ong sudah berkata sambil menggoyang-goyangkan tangannya :

"Tiong sun tayhiap tidak usah bicara lagi. Harap lekaslah kau mengutus orang-orangmu lagi untuk menyelesaikan pertandingan keempat. Sebab meskipun Hian Wan Liat akan segera menepati janjinya untuk mengasingkan diri selama dua puluh tahun tetapi sebelum aku mengasingkan diri, aku masih ingin merebut gelar Jago daerah Pat-bong dan Manusia teragung rimba persilatan !" Setelah mendengar ucapan itu, sudah tentu Tiong sun Seng terpaksa balik kembali ke rombongannya.

Orang-orang dari pihak golongan kebenaran karena kemenangan Tiong sun Seng dalam babak ini besar sekali hubungannya dengan nasib seluruh rimba persilatan, maka semua pada bangkit dari tempat duduknya untuk menghaturkan selamat.

Tiong sun Seng merasa malu, katanya sambil menggelengkan kepala dan menghela napas :

"Seumur hidupku, perbuatanku selalu mengutamakan kejujuran. Tetapi kali ini oleh karena lawan terlalu hebat dan mengingat kepentingan serta nasib seluruh rimba persilatan, mau tak mau harus menggunakan sedikit akal untuk mendapat kemenangan.

Kalau dipikir sesungguhnya aku merasa sangat malu !" "Ayah menggunakan akal apa ?" bertanya Tiong sun Hui

Kheng heran.

"Sewaktu aku turun ke lapangan, sebelum pertandingan dimulai, lebih dulu kutotok sendiri jalan darahku San goan tay hiat !"

Semua orang yang mendengar ucapan itu pada terkejut. Sebab tindakan Tiong sun Seng yang menotok jalan darahnya sendiri San goan tay hiat, meskipun dapat menambah kekuatan tenaga dalam sendiri hingga hampir dua tiga puluh persen, tetapi baik menang ataupun kalah, semuanya membawa akibat terluka parah bagian dalamnya.

Hee Thian Siang pertama-tama berseru dengan suara cemas :

"Empek Tiong sun    " Bibir Tiong sun Seng waku itu sudah tampak mengalir darah, tetapi ia masih bisa berkata sambil menunjuk Say han kong :

"Hiantit tidak perlu khawatir. Dengan adanya saudara Say han kong yang merupakan tabib dewa disampingku, apakah aku bisa mati ? Sekarang kau lekaslah turun ke lapangan. Dengan menggunakan bulu burung hadiah dari Thian ie taysu untuk bertanding senjata rahasia dengan Hian Wan Liat untuk mengakhiri pertandingan ini !"

Say han kong buru-buru memberikan dua butir pel kepada Tiong sun Seng dan setelah menelan pel itu, Tiong sun Seng merasa segar kembali. Maka ia berkata pula kepada Hee Thian Siang dengan suara perlahan :

"Hiantit, kau adalah seorang yang sifatnya ingin menang saja. Tetapi dalam pertandingan ini, kau hanya boleh kalah, tidak boleh menang. Aku hendak memberikan hadiah gelar Jago daerah Pat-bong dan Manusia teragung rimba persilatan ini kepada Hian Wan Liat sebelum ia mengasingkan diri. Dengan demikian barulah ia merasa tidak terlalu kehilangan muka. Sedangkan dalam hatiku juga dapat mengurangi perasaan maluku sendiri !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala menerima pesan itu, lalu turun ke lapangan.

Tiong sun Seng kembali memesan kepadanya :

"Hiantit awas. Bertanding dengan seorang berkepandaian tinggi luar biasa seperti Pat-bo Yao-ong ini kalau ingin merebut kemenangan sudah tentu lebih sulit dari pada mendaki ke langit. Tetapi buat pura-pura kalah juga bukanlah soal yang terlalu mudah

! Kau harus berbuat begini, kalau dapat janganlah sampai menunjukkan sedikit pun tanda-tanda dalam kekalahanmu. Jikalau tidak ini berarti ia akan terhina di hadapan umum. Tindakan demikian itu lebih berat perasaannya dari pada dibunuh !"

Dalam hati Hee Thian Siang meskipun menerima baik dan sudah lantas turun ke lapangan tapi diam-diam ia masih memikirkan tiga kali pertandingan yang sudah lalau dengan tokoh-tokoh terkuat seperti May Ceng Ong, Hong hoat Cinjin dan Tiong sun Seng.

Meskipun sudah menghamburkan banyak kekuatan tenaga dalam lawannya, tetapi tadi masih merebut kemenangan secara tidak mudah. Disini dapat diketahui betapa hebat kepandaian ilmu iblis tua itu.

Kalau diingat hebatnya lawan itu, bukankah ia sendiri tidak ada harapan untuk merebut kemenangan ? Apa pula maksudnya Tiong sun Seng malah pesan wanti-wanti padanya dalam pertandingan ini ia cuma boleh kalah tidak boleh menang ?

Dengan otak penuh tanda tanya, Hee Thian Siang menghadapi Pat-bo yao-ong tetapi dalam hati Tiong sun Seng mengerti. Ia tahu bahwa tadi ia sudah menggunakan ilmnya Thian hian thay it sin kang dengan sepenuh tenaga. Hal ini sudah membuat Tiong sun Seng terluka parah bagian dalamnya.

Begitu berada di tengah lapangan, Hee Thian Siang segera memberi hormat kepada Pat-bo Yao-ong.Hian Wan Liat menghela napas kemudian berkata :

"Hee laote, kaukah yang akan mewakili partai-partai persilatan daerah Tiong goan hendak bertanding senjata rahasia denganku ?"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa : "Sebab aku merasa suka dengan patung batu giok warna putih ini. Lagi pula ingin mendapat gelar sebagai Jago daerah Pat-bong dan Manusia teragung dalam rimba persilatan. Barulah tanpa mengukur tenaga sendiri hendak minta kepada para locianpwe supaya mengutus aku turun ke lapangan !"

"Kau hendak menggunakan senjata rahasia apa ?" bertanya Hian Wan Liat.

Dari dalam sakunya Hee Thian Siang mengeluarkan tiga batang bulu burung warna lima yang bentuknya pendek. Bulu burung itu diletakkan ditangannya dan kemudian berkata pula sambil tersenyum :

"Senjata rahasia yang kugunakan ialah tiga batang Phian khim ngo sek ie mao ini !"

Hian Wan Liat mendengar ucapan itu tampak terkejut.

Tanyanya :

"Phian khim ngo sek ie mao ? Apakah itu bukan senjata Thian ie taysu dahulu yang pernah menggemparkan rimba persilatan ?"

"Benar. Ini adalah benda yang dihadiahkan oleh Thian ie taysu. Tetapi setelah taysu itu menghadiahkan aku tiga batang bulu burung ini dan mewariskan aku cara-cara menggunakannya, lantas menutup mata !"

"Sudah lama aku mendengar nama besar Thian ie taysu itu. Sayang belum pernah ketemu muka sekali saja. Tak kuduga setelah aku kalah dalam pertaruhan dan sebelum mengasingkan diri dua puluh tahun masih dapat berkenalan dengan senjata rahasianya yang pernah menggemparkan bumi ini !" berkata Pat-bo Yao-ong sambil menghela napas. "Hian Wan Liat ong sekarang hendak menggunakan senjata rahasia apa ?" bertanya Hee Thian Siang sambil tertawa.

Pat-bo Yao-ong meloloskan tiga buah cincin batu giok yang dipakai di tiga jari tangannya, berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa :

"Senjata rahasia yang kugunakan ialah tiga buah cincin yang dinamakan cincin penyabut nyawa ini. Tetapi sesudah beberapa puluh tahun lamanya aku tidak pernah menggunakan, barang kali ada sedikit kurang lancar !"

"Hian Wan Liat ong menghendaki bertanding dengan cara bagaimana ?" bertanya Hee Thian Siang sambil mengawasi tiga buah cincin batu giok di tangan Pat-bo Yao-ong.

"Kita coba-coba dengan beberapa pertunjukan tanpa dihitung menang kalahnya. Kemudian kita minta lagi dari orang ketiga yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kedua belah pihak untuk mengajukan acara pertandingan !"

Hee Thian Siang tahu maksud Pat-bo Yao-ong hendak mencoba-coba dulu kepandaiannya ialah karena menganggap bahwa kekuatan tenaga Hee Thian Siang masih belum seimbang dengannya hingga tidak pantas menjadi lawannya. Maka lalu menganggukkan kepala sambil tertawa. Setelah itu ia berkata :

"Bolehkah kiranya kuminta tiga cincin di tanganmu itu supaya dilemparkan setinggi empat tombak ?"

Pat-bo Yao-ong mendengar ucapan itu sambil tersenyum lalu menggerakkan tangannya hingga tiga buah cincin batu giok itu melayang ke tengah udara setinggi kira-kira empat tombak. Hee Thian Siang segera menganggukkan tiga batang bulu burung ditangannya yang meluncur ke tengah udara, jalannya seolah-olah tergabung menjadi satu.Tiga batang bulu burung itu ternyata lebih cepat melesatnya di tengah udara tetapi ketika hendak mencapai sasarannya, yakni tiba buah cincin batu giok tadi dengan mendadak tiga batang bulu burung itu terpisah menjadi tiga dan ujungnya menyusup kepada tiga buah cincin Pat-bo Yao-ong.

Ketika Pat-bo Yao-ong mengulurkan tangannya menerima kembali tiga buah cincinnya, ternyata disetiap cincin telah ditancapi oleh sebatang bulu burung yang dilancarkan oleh Hee Thian Siang.

Perbuatan itu sesungguhnya sulit sekali dilakukan tetapi yang lebih sulit lagi ialah bulu burung yang mempunyai ketajaman luar biasa dan dapat menembusi benda logam, kini ternyata dapat menyusup persis ditengah-tengah cincin tanpa merusak sedikitpun juga cincin yang dilaluinya. Disini dapat diketahui betapa mahirnya Hee Thian Siang mengendalikan kekuatan tenaga dalamnya.

Pat-bo Yao-ong tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata

:

"Pantas kau dapat mengimbangi kepandaian Pek-kut Ie-su.

Ternyata kau benar-benar merupakan seorang rimba persilatan luar biasa yang pernah kutemui dewasa ini !"

Dipuji demikian rupa oleh Pat-bo Yao-ong, muka Hee Thian Siang menjadi merah.

Pat-bo Yao-ong mengangsurkan kembali tiga batang bulu burung kepada Hee Thian Siang seraya berkata :

"Hee laote, harap kau lemparkan tiga batang bulu burung ini ke tengah udara dengan menggunakan ilmu memutar !" Hee Thian Siang berbuat seperti yang diminta oleh Pat-bo Yao-ong hingga juga tiga batang bulu burung itu lantas terbang berpayakan di tengah udara.

Pat-bo Yao-ong juga melemparkan tiga buah cincinnya ke tengah udara hingga seperti peluru putih melesat tinggi.

Ketika dua jenis barang itu bertemu di tengah udara, lantas melayang turun kembali. Hee Thian Siang menerima kembali tiga batang bulu burungnya, ternyata semuanya sudah dikalungi oleh tiga buah cincin batu giok Pat-bo Yao-ong.

Pertunjukan yang dipertontonkan kedua pihak itu telah membawa hasil yang sangat mengagumkan bagi orang-orang kedua belah pihak.

Pat-bo Yao-ong menerima kembali tiga buah cincinnya dari tangan Hee Thian Siang, kemudian matanya menyapu orang- orang dari kedua belah pihak. Setelah itu ia berkata sambil tersenyum :

"Sekarang aku hendak melakukan pertandingan benar- benar dengan Hee laote. Harap sahabat rimba persilatan yang tidak ada hubungannya dengan menang atau kalahnya kedua pihak untuk mengeluarkan acara pertandingan !"

Orang-orang yang bersangkutan dengan menang kalahnya pertandingan kali ini, semua tidak ada yang berani bersuara.

Bo Cu Keng segera bangkit dari tempat duduknya, sambil perdengarkan tertawanya yang aneh, ia berkata lambat- lambat :

"Bagaimana kalau aku mengeluarkan acara pertandingan

?"

Tiong sun Hui Kheng sementara itu yang menampak Bo Cu Keng tiba-tiba bersuara, lalu berkata kepada ayahnya : "Ayah awas. Orang jahat ini dengan tiba-tiba membuka mulut. Pasti ada mengandung rencana jahat !"

"Dugaanmu ini memang benar. Baiklah kita dengar dahulu apa ia kata. Baru mengambil tindakan selanjutnya !" menjawab sang ayah sambil menganggukkan kepala.

Hee Thian Siang ketika melihat bahwa orang yang mengajukan diri itu adalah Bo Cu Keng, sesaat juga nampak terkejut. Kemudian berkata dengan muka masam :

"Jadi kaulah yang hendak mengeluarkan acara bagi kami

?"

"Kalian berdua, yang satu mewakili partai-partai Ngo-bie, Siao lim, Bu tong, Swat san, Lo hu dan jago-jago rimba persilatan daerah Tiong gowan dan yang lain mewakili orang- orang dari partai Ceng thian pay dan lain-lain. Tidak perduli siapa yang menang dan mendapat gelar Jago daerah Pat- bong dan Manusia teragung rimba persilatan, semuanya tidak ada hubungan sedikit pun juga dengan aku Bo Cu Keng. Bukankah aku merupakan orang ketiga yang paling tepat untuk melakukan tugas itu ?" berkata Bo Cu Keng sambil tertawa.

"Kuharap kau jangan hanya diluarnya saja mengucapkan kata-kata yang menarik dan manis. Sebetulnya dalam hatimu ada mengandung maksud tidak baik, bukan ?" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa dingin.

Pat-bo Yao-ong yang selamanya belum pernah mengetahui sifat Bo Cu Keng yang sangat jahat itu, maka setelah mendengar ucapan Hee Thian Siang tersebut lalu berkata sambil menggoyang-goyangkan tangannya :

"Hee laote tak usah terlalu khawatir. Barang kali tidak ada orang yang berani main gila dihadapanku !" Setelah berkata demikian, ia lalu bertanya kepada Bo Cu Keng :

"Sahabat Bo, kau hendak mengeluarkan acara pertandingan apa ?"

"Gelar Jago daerah Pat-bong dan Manusia teragung rimba persilatan ini, betapakah agungnya ? Aku tidak bisa membiarkan kalian mendapatkan nama gelar itu dengan cara mudah !" menjawab Bo Cu Keng dingin.

"Acaramu itu lebih sulit lebih baik !" berkata Pat-bo Yao- ong.

"Aku hendak mengeluarkan tiga acara, yang satu lebih sulit dari pada yang lain. Biarlah kalian yang menang juga boleh merasa bangga dan yang kalah juga merasa puas." berkata Bo Cu Keng.

Ucapan itu bukan saja membuat Pat-bo Yao-ong menganggukkan kepala berulang-ulang, sedangkan Hee Thian Siang yang mendengarkan juga merasa tertarik.

"Apakah acara yang pertama itu ?" demikian ia bertanya.

Bo Cu Keng mengulurkan tangannya. Dari atas rambutnya mencabut sebatang tusuk konde lalu berkata sambil tersenyum :

"Hee Thian Siang, kau boleh gunakan tiga batang bulu burungmu dengan cara lebih dahulu berpencaran dan kemudian tergabung menjadi satu lalu tancapkan semua dirambutku ini sebagai gantinya tusuk kondeku ! Sedang Hian Wan Liat ong, harap Hoat ong menggunakan tiga cincin batu giok putihmu ini, kau kalungkan semua dalam tusuk kondeku yang kugigit dengan gigiku ini !" Pat-bo Yao-ong nampaknya sangat kecewa mendengar ucapan itu, bertanya sambil mengerutkan alis :

"Cara ini tidak sulit dan acara yang kedua bagaimana ?"

Bo Cu Keng lalu berkata sambil menunjuk patung batu giok putih :

"Acara kedua ialah menggunakan patung batu giok itu. Kalian berdua, masing-masing menggunakan senjata rahasia sendiri-sendiri, Hee Thian Siang harus tujukan senjatanya mengarah mata sebelah kanan patung ini sedang Hian Wan Liat ong arahlah mata sebelah kiri. Sasaran ini harus dilakukan dengan tepat dan harus dapat menggeser sedikit tubuh patungnya tetapi tidak boleh meninggalkan bekas sedikit pun juga diatas diri patung batu giok putih ini di bagian yang lainnya !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Acara ini masih boleh juga dan bagaimana dengan acara ketiga ?"

"Acara ketiga sulit sekali. Kukira lebih sulit dari naik ke sorga. Kalian berdua barangkali tidak sanggup melakukan !" berkata Bo Cu Keng sambil tertawa bangga.

Pat-bo Yao-ong yang mendengar ucapan itu sudah tertarik benar-benar, tanyanya :

"Sebetulnya bagaimana sulitnya ? Lekaslah kau katakan !"

Bo Cu Keng mengeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya dingin :

"Aku sama sekali tidak menghendaki kalian mengadakan persiapan lebih dahulu. Maka harus tunggu hingga pertandingan acara kesatu dan kedua selesai dijalankan. Barulah aku nanti akan menjelaskan acaranya yang ketiga itu

!"

Oleh karena Hee Thian Siang pernah bertempur dengan Bo Cu Keng dan tahu benar bagaimana sifat kejahatan orang itu, maka ia lalu dapat menduga bahwa dalam acara ketiga ini, pasti mengandung rencana jahatnya.

Sebaliknya dengan Pat-bo Yao-ong. Karena ia berkepandaian tinggi sekali maka nyalinya juga besar. Apalagi ia sebagai seorang kasar yang tidak bisa berpikir jauh. Ia tidak memperhatikan ucapan Bo Cu Keng yang mengandung maksud tersembunyi. Katanya kepada Hee Thian Siang :

"Hee laote, kita harus lekas mengadakan pertandingan ini supaya dua pertandingan ini diselesaikan dalam waktu secepatnya, barulah bisa mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Bo Cu Keng nanti !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala. Tiga batang bulu burungnya bersama-sama tiga buah cincin Pat-bo Yao-ong dalam waktu bersamaan sudah melesat dari tangannya.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan hingga saat itu, baru bertanya lagi kepada ayahnya dengan suara perlahan :

"Ayah, dua acara yang diajukan oleh Bo Cu Keng tadi agaknya tidak mengandung rahasia apa-apa. Maka maksud jahatnya itu pasti akan dilaksanakan dalam acara ketiga. Ayah lihat, Siang Biauw Yan, Khong khong Hweshio dan Pao It Hui, semua itu meskipun diluarnya tampak tenang-tenang saja tetapi di dalam hatinya tentunya sudah gelisah bukan main !"

Sang ayah menganggukkan kepala dan berkata : "Setelah acara kedua ini selesai, acara ketiga segera akan dimulai. Maka kita harus siap siaga untuk menghadapi segala macam kemungkinan !"

Berkata sampai disitu, di tengah udara tiba-tiba terdengar suara burung yang sangat aneh.

Oleh karena waktu itu semua perhatian orang yang ada di puncak Tay pek hong sedang dipusatkan kepada Hee Thian Siang dan

Pat-bo Yao-ong yang hendak melakukan pertandingan senjata rahasia, maka tidak ada yang perhatikan suara burung yang terdengar di angkasa itu.

Hanya Peng-pek Sin-kun dan Mao Giok Ceng suami istri yang mendongakkan kepala mengawasi burung yang terbang di angkasa itu.

Pada saat itu, tiga batang bulu burung Hee Thian Siang sudah menancap di konde rambut Bo Cu Keng, sedang cincin batu giok putih Pat-bo Yao-ong juga sudah mengalungi tusuk konde yang digigit oleh gigi Bo Cu Keng dan masih tampak berputaran tidak berhentinya.

Bo Cu Keng lambat-lambat mengambil dua rupa senjata rahasia itu, kemudian berkata dengan sikap dingin :

"Cara menggunakan tiga batang bulu burung Hee Thian Siang ini dengan cara Hian Wan Liat ong yang menggunakan senjata rahasia berputaran justru menunjukkan kemahiran yang berimbang. Cuma sayangnya dalam babak pertama ini tidak ada yang lebih unggul atau lebih asor. Sekarang, kalian boleh segera melakukan pertandingan yang kedua !"

Sehabis berkata demikian, lalu mengembalikan dua macam senjata rahasia kepada masing-masing pemiliknya. Setelah itu ia memutar tubuh dan berjalan ke tepi jurang, bersama-sama Siang Biauw Yan menyaksikan pertandingan yang akan berlangsung itu.

Dalam pertandingan kedua ini, Hee Thian Siang dan Pat-bo Yao-ong semuanya sudah diliputi oleh satu pikiran dan satu tujuan, maka masing-masing mengerahkan kepandaian sendiri-sendiri. Lebih dulu bulu burung dan cincin batu giok putih itu berputaran di tengah udara dan setelah berada ditengah udara cukup lama, baru mengarahkan serangannya kepada dua mata patung batu giok putih itu.

Tidak disangka-sangka oleh mereka, selagi bulu burung dan cincin batu giok itu baru saja melesat ke tengah udara dari tangan masing-masing, Bo Cu Keng sudah mengeluarkan suara tertawa dingin yang sangat aneh. Lalu secara bersama- sama, Siang Biauw Yan, Khong khong Hweshio dan Pao It Hui dengan mendadak terjun dari atas puncak gunung Tay pek hong.

Dengan adanya gerakan mereka yang ingin lekas-lekas melarikan diri itu, segera menyadarkan Tiong sun Hui Kheng. Maka lalu berseru kepada ayahnya :

"Ayah celaka ! Kita keliru memperhitungkan siasat dan rencana Bo Cu Keng ! Sekarang jelas, patung batu giok putih itulah yang pasti ada mengandung rencana jahat Bo Cu Keng

! Ia lebih dahulu mengirim orang supaya diberikan kepada Taywong dan dibawa kemari. Bom peledak Kian thian pek lek yang tulen disimpan di dalam perut patung itu. Jadi Khian thian pek lek yang dicuri oleh Oe-tie locianpwe tentunya barang palsu yang sengaja dibuat oleh Bo Cu Keng untuk mengelabui mata orang !"

Tiong sun Seng mendengar ucapan itu tahu bahwa bencana hebat akan segera terjadi di depan mztanya. Maka tanpa menghiraukan keadaan diri sendiri, sudah segera lompat melesat ke tengah lapangan dengan menggunakan ilmunya Tay it thian hian sin kang, ia berusaha supaya senjata bulu burung dan cincin batu giok jangan sampai mengenakan sasarannya.

Tetapi bagaimana sigapnya ia bertindak, masih terlambat juga !

Pada saat Tiong sun Seng melancarkan serangan tangannya dengan ilmunya Tay it thian hian sin kang, belum lagi mengenakan tujuannya, tiga batang bulu burung dan tiga buah cincin batu giok putih, masing-masing sudah mengenakan sasarannya yang sudah ditunjuk lebih dahulu oleh Bo Cu Keng.

Pada saat yang sangat kritis dan semua orang yang ada disitu, baik orang-orang golongan sesat maupun orang-orang golongan baik, semua akan hancur lebur menjadi korbannya bom Kian thian pek lek, tiba-tiba terdengar suara burung yang aneh. Kemudian bagaikan kilat cepatnya, seekor burung raksasa berbulu emas sudah menyambar patung batu giok dengan kedua sayapnya yang lebar dan hebat sekali.

Jangankan patung batu giok itu yang hanya beberapa kati beratnya saja, sekalipun benda yang beratnya ratusan kati juga tidak sanggup menahan serbuan burung itu. Begitulah, sesaat kemudian patung batu giok putih itu sudah terlempar sejauh sepuluh tombak lebih dan melayang turun mengikuti jejak Bo Cu Keng dan lain-lain yang turun meluncur ke jurang ! Tiong sun Seng sendiri jikalau tidak menggunakan ilmunya memberatkan badan barangkali juga akan ikut tergulung oleh hembusan angin yang keluar dari kedua sayap burung raksasa tadi.

Burung raksasa berbulu emas ini jarang tampak itu, dari atas punggungnya lantas melayang turun dua orang dari golongan baik-baik yang sudah dikenal oleh semua orang yang ada disitu. Kedua orang ini, yang satu ialah Swat san Peng lo Leng Pek Ciok, yang lain ialah Cin Lok Pho yang sudah cacat sebelah kakinya hingga harus ditunjang dan dibantu oleh sebuah tongkat besi.

Cin Lok Pho begitu melayang turun ke tanah tidak sempat bicara kepada kawan-kawannya. Lebih dahulu sudah menggapaikan tangannya mengundang orang-orang pihak sendiri supaya menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Orang-orang itu baru tiba ditepi jurang di atas puncak gunung Tay pek hong, di bawah sudah terdengar ledakan yang hebat sekali.

Ternyata dugaan Tiong sun Hui Kheng tadi sama sekali tidak salah. Benar saja Bo Cu Keng sudah meletakkan bom Kian thian pek lek yang tulen di dalam perut patung batu giok putih. Dengan susah payah ia membuat lagi sebuah yang palsu, kemudian dengan menyuruh seseorang memberikan kepada Taywong, patung itu dibawa ke puncak Tay pek hong.

Di dalam patung itu diperlengkapi dengan alat luar biasa. Asal kedua biji mata patung itu bergerak sedikit saja, lantas membuka tutup bom itu yang bisa meledak dalam waktu sangat singkat.

Dan kini setelah tiga batang bulu burung dan tiga buah cincin batu giok, masing-masing mengenakan dua biji mata patung tersebut, dengan sendirinya di atas benda bom Kian thian pek lek lantas terjadi perobahan.

Bagaimana dengan Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan, Khong khong Hweshio dan Pao It Hui, empat manusia jahat yang sedang hendak kabut dari puncak Tay pek hong itu ? Patung batu putih tadi, sesudah dikibas oleh sayap burung raksasa tadi lantas melesat dan mengikuti jejaknya turun ke dalam jurang. Bo Cu Keng mengira bahwa akal kejinya itu tidak diketahui orang, Semua jago-jago diatas puncak gunung Tay pek hong pasti akan binasa seluruhnya hingga dalam waktu sekejap mata ia akan berubah menjadi seorang jago nomor satu dalam rimba persilatan.

Tak disangka-sangka, baru ia merasa bangga akan hasilnya tiba-tiba tampak benda putih mengikuti jejaknya turun ke bawah dan benda putih itu bukan apa-apa selain dari pada patung batu giok putih yang sudah akan meledak.

Dengan demikian, habislah sudah pengharapan Bo Cu Keng. Ia tahu bahwa usaha manusia bagaimana pun juga pandainya tetapi berhasil atau tidaknya tetap berada di tangan Tuhan. Tuhanlah yang menetapkan segala-galanya diatas dunia ini !

Tak lama kemudian, terdengarlah suara ledakan hebat tadi hingga puncak gunung Tay pek hong juga menggetar. Ledakan itu sudah tentu membuat Bo Cu Keng dan lain- lainnya hancur lebur menjadi berkeping-keping.

Semua orang di puncak Tay pek hong yang menyaksikan kejadian sangat mengerikan itu, hati mereka pada bergidik, ambisi mereka juga mulai pudar.

Sebab apabila bukan Leng Pek Ciok dan Cin Lok Pho yang datang pada saat yang tepat dengan menunggang burung raksasa berbulu emas itu, maka orang-orang yang berada di puncak Tay pek hong ini, entah apa yang akan terjadi.

Baik orang-orang dari golongan sesat maupun dari golongan baik-baik, baik Thian gwa Ceng mo Tiong sun Seng maupun Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat, semua akan hancur lebur menjadi berkeping-keping seperti apa yang dialami oleh Bo Cu Keng dan kawan-kawannya. Hee Thian Siang yang waktu itu baru nampak kedatangan Leng Pek Ciok dan Cin Lok Pho lalu menegurnya sambil tersenyum :

"Leng toako, Cin locianpwe. "

Cin Lok Pho berkata sambil menggoyang-goyangkan tangannya :

"Hee laote, selesaikan dulu urusanmu dengan Hian Wan Liat ong. Kita bicara nanti !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu bertanya kepada Pat-bo Yao-ong sambil tersenyum :

"Hian Wan Liat ong, apakah pertandingan ini masih perlu dilanjutkan ?"

Hian Wan Liat tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata : "Tidak perlu, tidak perlu ! Kita bagi saja gelar ini menjadi

dua, aku yang jadi Jago di daerah Pat-bong, biarlah kau

menjadi Manusia teragung rimba persilatan. Bukankah itu sudah cukup memuaskan ?"

Sehabis mengucap demikian, ia kembali berkata kepada Tiong sun Seng :

"Tiong sun tayhiap, Hian Wan Liat akan menepati janji sendiri. Selanjutnya akan mengasingkan diri. Dalam dua puluh tahun mendatang apabila tampak ada orang-orang di pihakku yang berada disini, bergerak di kalangan Kang ouw, harap beritahukan padaku. Biarlah Hian Wan Liat yang bertanggung jawab memberi hajaran kepada mereka !"

Sehabis berkata demikian, lalu mengajak semua orang- orangnya turun dari puncak gunung Tay pek hong. Perbuatan Pat-bo Yao-ong yang bersifat jantan dan ksatria itu memberikan kesan sangat dalam di hati Tiong sun Seng dan kawan-kawannya, mereka semua mengantar sampai jauh baru berhenti.

Hee Thian Siang menunggu setelah kawanan orang-orang sesat itu berlalu, baru berbicara kepada Cin Lok Pho dan Leng Pek Ciok, yang masing-masing menceritakan pengalamannya sendiri-sendiri.

Selesai semua, Tiong sun Seng berkata kepada semua kawan-kawannya :

"Pertemuan besar hari ini, meskipun beruntung kita dapat merebut kemenangan, tetapi dua puluh tahun kemudian masih ada ancaman yang patut kita perhatikan ! Saudara-saudara harap baik-baik melatih kepandaian masing-masing dan jaga baik-baik anak murid semua golongan, baru kita nanti dapat menghadapi kawanan orang jahat yang mungkin akan menuntut pembalasan!"

Semua jago yang mendengar ucapan itu, telah berjanji hendak ingat baik-baik pesan tersebut. Dengan demikian, pertempuran hebat diatas puncak Tay pek hong itu kini telah berakhir. Dengan berakhirnya pertandingan besar itu, berakhirlah pula cerita ini.

TAMAT