Makam Bunga Mawar Jilid 34

 
Jilid 34

Baru berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar suara orang memuji nama Budha. Di tengah lapangan lalu tampak sesosok tubuh manusia, yang ternyata bukan lain dari pada ketua Bu tong pay Hong hoat Cinjin adanya. Pertama sekali padri ini menganggukkan

kepala ke arah Khie Tay Cao sebagai peradatan, kemudian berkata lambat-lambat :

"Khie ciangbunjin. Perkataan yang kau tujukan kepada Peng pek Sin kun tadi membuat pinto terharu ! Di sini, di hadapan para jago rimba persilatan semua, pinto hendak minta keterangan sedikit darimu. Kau pernah memimpin anak buahmu pergi ke kutub Hian peng goan. Tapi ternyata tidak dapat berbuat apa-apa dan Pek thao Losat malah terbinasa di sana. Dalam hal ini terang adalah kau yang bersalah. Tapi kenapa sebaliknya kau malah menagih hutang jiwa kepada Peng pek Sin kun suami istri dan Leng tayhiap bertiga ? Dan lagi, perbuatanmu dahulu terhadap partai kami Bu tong pay dan perbuatanmu di puncak Thian tu hong yang sudah menghancurkan kuil Sam goan koan dan menghabiskan jiwa tujuh orang dari anak buah pinto, sekarang apakah boleh pinto minta kau yang membayar hutang itu ? Dan berapa banyak bunganya ?"

Khie Tay Cao yang ditanya demikian oleh Hong hoat Cinjin menjadi gelagapan dan tidak bisa menjawab. Tapi sebagai orang buas, dalam keadaan seperti itu ia malah menjadi lebih marah. Katanya sambil tertawa mengejek : "Dalam usaha berebutan pengaruh dalam rimba persilatan, pertumpahan darah sudah tentu tidak dapat dihindarkan. Kutahu kau cuma dapat menangkan aku setengah jurus atau sejurus saja paling banter. Jadi tidak perduli berapa banyak bunga yang hendak kau tuntut dari aku, aku Khie Tay Cao akan bayar lunas kepadamu semuanya !"

Hong hoat Cinjin dengan sikap tenang berkata sambil menganggukkan kepala :

"Khie ciangbunjin ternyata seorang gagah, pinto sangat kagum. Tapi seandai pinto bisa merebut kemenangan, pinto minta supaya Khie ciangbunjin menghargai kedudukanmu sebagai ketua dari salah satu partai besar !"

Khie Tay Cao dengan cepat lalu berkata dengan suara garang :

"Khie Tay Cao selama hidupnya belum pernah mengingkari. "

Hee Thian Siang yang mendengar sampai disitu, lalu perdengarkan suara tertawanya yang nyaring. Kemudian katanya :

"Khie ciangbunjin. Kali ini asal kau tidak jilat ludahmu sendiri, itulah baik. Ingatlah bagaimana akhirnya kejadian di depan goa Siang swat digungung Kie lian san dulu itu ? Kau ingat pula bagaimana akhirnya perkara kuda Cian lie hoa ceng waktu itu ?"

Khie Tay Cao yang mendengar kata-kata pedas dari Hee Thian Siang wajahnya dirasakan panas. Tapi ia tidak dapat menjawab.

Maka terpaksa pura-pura tidak menghiraukannya, masih tetap menghadapi Hong hoat Cinjin dan tanyanya : "Kita hendak mengadu ilmu Hian kang ataukah dengan senjata tajam atau tangan kosong ? Dan berapa babak untuk menentukan kemenangan atau kekalahannya ?"

Hong hoat cinjin dengan lekas sudah menjawab sambil tersenyum :

"Semua tokoh-tokoh kuat dan kenamaan dalam rimba persilatan telah berkumpul di puncak Tay pek hong ini. Jadi kita tidak boleh menggunakan waktu terlalu lama. Begini saja, sebaiknya dalam .... babak saja kita harus dapat menyelesaikan pertempuran ini !"

Khie Tay Cao yang mendengar ucapan itu, ia menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Itulah yang paling baik !"

Dengan sinar matanya yang tajam, Hong hoat Cinjin menatap wajah Khie Tay Cao, kemudian berkata lambat- lambat :

"Khie ciangbunjin, kau terkenal karena memiliki tongkat berkepala garuda terbang itu. Pinto sekarang ingin belajar kenal dengan senjatamu yang terkenal itu !"

Hee Thian Siang yang mendengar itu, lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya :

"Enci Kheng, ilmu pedang dari partai Bu tong meskipun terkenal dengan kemahirannya tetapi untuk menghadapi senjata berat dari tongkat Khie Tay Cao, dalam mengadu senjata yang tidak seimbang ini, barangkali agak sulit buat dihadapi oleh Hong hoat Cinjin !" 

Tiong sun Hui Kheng lantas berkata sambil tersenyum : "Adik Siang, kau tidak perlu sangsikan kemampuan ketua Bu tong pay. Apa gunanya Hong hoat cinjin dengan tekun dan susah payah mempelajari ilmunya yang baru sekian lamanya

? Tentu yang dinanti-nantikan ialah pertandingan hari ini ! Ia sudah pasti yakin benar akan kemenangannya dan sudah lama mempersiapkan senjatanya untuk menghadapi Khie Tay Cao !"

Saat itu, senjata berat itu sudah diantarkan oleh salah seorang anak murid golongan Ceng thian pay. Kini ia ternyata sudah membuat lagi sebatang tongkat bajanya yang berat dan aneh itu. Sama beratnya dan rupanya dengan yang dahulu yang dipatahkan oleh Hee Thian Siang dengan senjata ringan bulu burung lima warna.

Hong hoat Cinjin menggapaikan tangannya, juga oleh salah seorang muridnya diantarkan sebatang tongkat rotan berwarna ungu.

Hee Thian Siang yang menyaksikan itu, rupanya baru sadar. Maka buru-buru ia berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala :

"Dugaan enci Kheng tidak salah. Hong hoat Cinjin yang tidak menggunakan pedang seperti biasanya dan mengganti dengan senjata tongkat, itu pasti mengandung maksud tertentu !"

"Adik Siang jangan banyak bicara. Perhatikan saja pertempuran ini. Antara dua ketua partai ini pasti akan terjadi suatu pertempuran yang amat seru !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, menganggukkan kepala. Ditengah lapangan telah terjadi suatu pertempuran sengit yang benar-benar sangat hebat.

Kiranya begitu senjata-senjata kedua pihak diterima oleh pemiliknya masing-masing, Khie Tay Cao lalu memperdengarkan suara geratunya yagn hebat. Tongkatnya diangkat tinggi-tinggi dan mulai melakuakn serangan yang hebat.

Adapun Khie Tay Cao ini terkenalnya adalah karena kekuatan tenaganya yang luar biasa. Ketika menampak Hong hoat Cinjin tidak menggunakan pedang sebagaimana biasanya untuk menghadapi dirinya, ternyata kini merobah kebiasaan itu dengan mengunakan tongkat rotan aneh yang berwarna ungu itu. Jelas mengandung maksud hendak mengadu kekuatan tenaga. Maka dalam babak selama itu ia sudah menggunakan tenaga penuh menyerang lawannya.

Hong hoat Cinjin benar saja tidak mundur buat mengelak, sebaliknya tongkat yang aneh bentuknya dan warnanya itu diangkat dengan kedua tangannya untuk menyambut serangan itu. Ia juga ingin mengadu kekuatan tenaga dalam dengan Khie Tay Cao yang terkenal orang kuat dengan tenaga besar luar biasa itu.

Ketika dua senjata itu saling beradu, tidak tampak atau terdengar suara apa-apa dan keadaan siapa yang lebih kuat dan yang lebih lemah. Tetapi Khie Tay Cao sebaliknya tahu bahwa dalam mengadu kekuatan tenaga dalam sekali ini, Hong hoat Cinjin masih kalah sedikit darinya.

Oleh karena sudah dapat menjajaki kekuatan tenaga lawannya, sudah tentu jadi besar hati Khie Tay Cao. Sambil tertawa terbahak-bahak dan dengan gerakannya yang serupa, kembali menggempur Hong hoat cinjin.

Dengan beruntun, tujuh kali Hong hoat Cinjin menyambut serangan Khie Tay Cao yang serupa itu. Kini perlahan-lahan tampaklah siapa yang lebih kuat dan siapa yang agak lemah. Khie Tay Cao masih tampak tetap garang, selangkah demi selangkah maju menghampiri lawannya. Sedang Hong hoat Cinjin, jidatnya sudah tampak peluh mengucur dan sudah mundur berulang-ulang beberapa kali. Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan pertandingan sampai disitu juga merasa heran. Ia berkata sendiri dengan suara perlahan :

"Hong hoat Cinjin locianpwe mengapa hendak mengadu kekuatan dengan Khie Tay Cao, sedangkan tenaganya terbatas cuma sebegitu saja ?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tertawa :

"Aku sekarang sudah mengerti maksud Hong hoat Cinjin locianpwe. Ia ingin Khie Tay Cao mati sendiri karena kehabisan tenaga !"

Tiong sun Hui Kheng terkejut mendengar ucapan itu dan menanyakan sebabnya kepadanya. Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa :

"Apakah enci Tiong sun sudah lupa bahwa Hong hoat Cinjin locianpwe pernah mengajarkan kepadaku semacam ilmu yang dinamakan .. yang sin kang dan Tay hoan cin lek ?"

TIong sun Hui Kheng kini baru sadar betapa besar kegunaannya ilmu Tay hoan cin lek itu, sehingga ilmu itu bisa menyalurkan kekuatan tenaga terus menerus tanpa putus- putusnya. Kalau mengadu kekuatan dengan orang luar biasa, dapat bertahan sedikitnya dua kali lipat dari waktu biasa, kini meskipun Hong hat Cinjin tampak berada di bawah angin tetapi pada saat yang sangat penting yaitu yang terakhir yang akan mengalami kerugian ialah Khie Tay Cao sendiri.

Selama mereka berdua saling menduga-duga, mereka mengobrol sendiri dengan suara perlahan. Orang dari pihak yang menyaksikan pertandingan semuanya tampak pada menahan napas dengan penuh perhatian mengawasi terus perkembangan dari dua orang itu. Sungguh suatu pertandingan aneh dan hebat yang jarang tampak dalam rimba persilatan !

Pertempuran kedua ketua partai itu kini sudah berlalu tiga puluh jurus. Setiap kali Khie Tay Cao selalu sebagai pihak penyerang dan selalu mengunakan tipu serangannya yang itu- itu juga. Sedangkan Hong hoat Cinjin juga menyambut dengan senjatanya yang aneh, juga dengan cara bertahan yang itu-itu juga.

Pertandingan yang nampaknya seperti pertandingan sangat bodoh dan tidak ada apa-apanya yang bagus itu, jangankan hal itu dilakukan oleh dua ketua partai yang mempunyai kedudukan baik dalam rimba persilatan. Sekalipun pada diri orang rimba persilatan biasa saja, juga belum pernah terjadi.

Sejak jurus ketujuh, Hong hoat Cinjin sudah mulai keteter. Tetapi ia selalu bertahan, tidak mau menunjukkan kelemahannya seolah-olah memaksakan diri untuk menyambut setiap gempuran Khie Tay Cao.

Khie Tay Cao tidak percaya Hong hoat Cinjin bisa bertahan lama. Maka ia tambah menggempur dan tekanannya makin hebat lagi.

Sampai pada jurus kelima puluh, meskipun Hong hoat Cinjin dengan perlahan-lahan sudah terdesak mundur sejauh satu tombak lebih, tetapi Khie Tay Cao juga sudah merasa mulai kehabisan tenaga.

Saat itulah, keadaan mendadak terbalik. Hong hoat Cinjin dengan mendadak mengeluarkan siulan panjang, wajahnya juga mendadak menjadi merah. Ia yang tadinya kelihatan seperti sudah letih sekali mendadak menjadi segar bugar. Tongkat rotannya yang tadi selalu digunakan untuk bertahan terus dari serangan lawannya kini dengan mendadak diputar, juga dengan menggunakan cara Khie Tay Cao menggempur dirinya, balas menggempur Khie Tay Cao ! Hong hoat Cinjin telah menggunakan cara yang dipakai Khie Tay Cao tadi. Jadi Khie Tay Cao juga merasa malu kalau menyingkir atau mengelak. Terpaksa dengan menggunakan cara yang dipakai oleh Hong hoat Cinjin, tongkatnya direntangkan ke atas kepalanya, dengan kedua tangan memegang satu ujung, coba menyambuti serangan Hong hoat Cinjin.

Dia tidak dapat melukiskan betapa hebatnya serangan Hong hoat Cinjin kala itu. Senjatanya tampaknya ringan saja, tetapi dalam waktu sangat singkat ia juga sudah menggempur Khie Tay Cao sampai lima puluh kali.

Setelah itu Hong hoat Cinjin mendadak menarik kembali serangannya, dengan sikap tenang dan wajahnya tidak berubah, berkata kepada Khi Tay Cao sambil tersenyum :

"Khie Ciangbunjin, nama besarmu yang telah kau pupuk selama beberapa puluh tahun sungguh tak mudah kau dapatkan. Senjatamu yang berat macam ini, dahulu sudah pernah patah satu kali terkena senjata bulu burung Hee Thian siang laote. Perlu apa hari ini kau harus mengulangi tragedi itu

?"

Waktu itu di jantung Khie Tay Cao sudah mulai terasa memukul keras, pikirannya sudah tidak karuan. Dia tahu, sekalipun menguras sampai habis seluruh kekuatan tenaganya yang pernah dilatih beberapa puluh tahun, tetapi senjata ditangannya yang amat berat diduga olehnya paling banter cuma bisa menyambut sampai sepuluh kali pukulan Hong hoat Cinjin dan setelah itu pasti akan patah.

Maka setelah mendengar ucapan Hong hoat Cinjin begitu, ia buru-buru melemparkan pegangannya yang berat itu ke tanah hingga batu-batu yang ketimpa senjata tersebut pada menghamburkan percikan api dan berhamburan. Katanya sambil menghela napas : "Terima kasih kuucapkan karena kau masih pandang mukaku, Khie Tay Cao mengaku kalah saja !"

Hong hoat Cinjin kini berubah sikapnya menjadi dingin.

Tanyanya dengan suara bengis :

"Khie ciangbunjin, kalau benar-benar sudah mengaku kalah, dengan cara bagaimana kau hendak memperhitungkan perbuatanmu dahulu di kuil Sam goan koan dan kematian murid-murid Bu tong pay yang sebanyak tujuh jiwa itu ?"

Khie Tay Cao tertawa terbahak-bahak dan dengan bengis jawabnya :

"Khie Tay Cao tadi sudah mengatakan sendiri, hutang uang bayar uang, hutang jiwa bayar jiwa. Sekarang kau boleh berbuat apa saja kepadaku menurut apa yang kau mau !"

Begitu ucapan itu keluar dari mulut Khie Tay Cao, semua kawanan penjahat dari partai Ceng thian pay pada mengerutkan alisnya.

Tetapi di depan tokoh-tokoh rimba persilatan demikian banyak, mereka juga tidak pantas untuk turut berbantahan dalam soal ini.

Hong hoat Cinjin kembali mengeluarkan siulan panjang. Dengan air mata bercucuran, mulutnya mengucapkan doa sambil menengadah ke langit :

"Hong hoat sunbu suheng dan saudara-saudaraku semua yang bersemayam di alam baka. Siaote akhirnya berhasil juga membangun kembali partai Bu tong dan menuntut balas dendam sakit hati kalian semua !"

Khie Tay Cao dengan wajah bagaikan mayat, berdiri sambil memejamkan mata. Menantikan hukuman yang akan dijatuhkan atas dirinya oleh Hong hoat Cinjin. Di luar dugaannya, setelah Hong hoat Cinjin berdoa ke atas, lalu menyeka airmatanya dan kembali berkata kepada Khie Tay Cao dengan sikap sungguh-sungguh :

"Khie Ciangbunjin ! Dengarlah olehmu baik-baik ! Hutang darah yang kau tanggung kepada tujuh jiwa orang-orang dari Bu tong pay, aku bersedia menghapuskan. Tetapi dengan syarat kau haru tobah semua kalakuanmu yang jahat dan bubarkan partai Ceng thian pay !"

Begitu ucapan itu keluar dari mulutnya, suasana di puncak gunung Tay pek hong mendadak menjadi sunyi senyap, tidak terdengar suara sedikit pun juga.

Setelah sejenak dalam keadaan hening, dari pihak golongan orang baik-baik, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dan seruan riuh. Semua memuji kebesaran jiwa Hong hoat Cinjin dan tindakannya yang adil serta bijaksana.

Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat yang menjadi kepala dari rombongan orang-orang golongan sesat, diam-diam juga menganggukkan kepala. Juga merasa betapa besar jiwa orang-orang rimba persilatan daerah Tiong goan. Dalam hatinya diam-diam juga ia merasa kagum.

Khie Tay Cao adalah seorang tokoh golongan jahat yang sudah terkenal kejahatan dan kebuasannya. Tetapi setelah diperlakukan oleh Hong hoat Cinjin dengan tindakannya yang berjiwa besar dan penuh cinta kasih antara sesama manusia, diam-diam juga merasa malu sendiri hingga ia dima saja sambil berdiri tepekur.

Wakil ketua partai Ceng thian pay Thiat koan Totiang, menampak Khie Tay Cao agaknya hendak menerima baik usul Hong hoat Cinjin, buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan berkata dengan suara nyaring : "Khie Ciangbunjin kalah atau menang adalah hal biasa. Dalam partai Ceng thian pay masih ada banyak orang pandai dan kuat. Tidak boleh lantaran kekalahan ini, lantas menjadi pudar ambisimu !"

Khie Tay Cao setelah mendengar ucapan Thiat koan Totiang, benar saja hatinya menjadi goyah lagi. Ia lalu berkata kepada Hong hoat Cinjin dengan alis berdiri :

"Ceng thian pay adalah partai gabungan dari partai Tiong cong dan Kie lian. Khie Tay Cao tidak dapat mengambil keputusan sendiri, sebaiknya. "

Dengan sikap masih tenang, Hong hoat Cinjin memotong ucapannya :

"Khie Ciangbunjin ada pendapat apa lagi ? Silahkan jelaskan saja !"

Khie Tay Cao mengawasi orang-orang yang berdiri diluar lapangan sejenak, kemudian berkata sambil tertawa terbahak- bahak :

"Bu tong pay dan Ceng thianpay, termasuk sahabat- sahabat dari kedua belah pihak yang senang hati boleh memberi bantuan tenaga. Begini, kita adakan sepuluh babak pertandingan untuk menetapkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang kalah rela menerima tindakan apa pun juga dari yang menang !"

Hong hoat Cinjin dengan sinar mata tajam alihkan pandangan matanya kepada Thiat koan Totiang, kemudian bertanya padanya :

"Thiat koan Totiang, apakah kau setuju dengan usul Khie Ciangbunjin ini ?" Thiat koan Totiang tahu bahwa Hong hoat Cinjin hendak mengikat dirinya dengan ucapan itu, maka ia tertawa terbahak-bahak sekian lama kemudian berkata sambil mengangguk-angguk :

"Pinto setuju seluruhnya !"

Hong hoat Cinjin mendengar jawaban itu lalu berkata lagi kepada Khie Tay Cao :

"Kalau begitu, sekarang silahkan Khie Ciangbunjin kembali. Pertandingan tadi anggap saja seri. Sekarang kita mulai lagi !"

Tindakan ketua Bu tong pay yang berjiwa besar itu telah membuat Khie Tay Cao yang namanya terkenal menjadi kehilangan muka.

Maka ia tidak berani lagi mengawasi orang banyak, sambil menundukkan kepala kembali ke dalam rombongannya.

Sementara itu Hong hoat Cinjin juga kembali ke rombongannya dan berkata kepada tokoh-tokoh yang lainnya sambil memberi hormat :

"Partai Bu tong dahulu telah dibokong dengan tiba-tiba, dalam keadaan tidak berjaga-jaga hingga banyak tokoh- tokohnya yang terbinasa. Dalam waktu singkat sulit untuk mengembalikan kekuatan tenaganya. Maka dalam pertandingan sepuluh babak hari ini, mohon bantuan tuan- tuan untuk membela kebenaran dan keadilan dengan bersama

!"

Permintaan Hong hoat Cinjin itu dengan serentak diterima oleh semua orang. Tiong sun Hui Kheng bahkan memuji tindakan Hong hoat Cinjin, katanya sambil tersenyum :

"Cinjin sesungguhnya tidak kecewa menjadi pemimpin golongan kebenaran. Tindakan Cinjin yang bijaksana tadi menunjukkan betapa besar jiwa Cinjin. Untuk membangun kembali partai Bu tong sebenarnya sudah tidak ada soal lagi. Tapi karena mengingat pihak lawan ada banyak tokoh-tokoh kuat kenamaan dari dalam dan luar negeri yang berkumpul di puncak Tay pekhong ini, maka sewaktu kita memilih orang untuk menghadapi mereka, masih perlu sangat hati-hati !"

"Kepandaian Tiong sun tayhiap sudah kita ketahui semua. Maka dari itu kita masih tetap akan mengangkat sicu sebagai pengomando. Kami semua akan mendengar dan mematuhi setiap perintah sicu !" kata Hong hoat Cinjin sambil tertawa.

Tiong sun Seng mengawasi May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang bergantian. Setelah mana baru berkata sambil menggelengkan kepala :

"Mana berani aku menerima jabatan ini ? Kukira saudara May dan kedua hujin. "

Belum habis ucapannya, Hong tim Ong khek sudah tertawa terbahak-bahak dan memotong ucapannya :

"Saudara Tiong sun tidak usah merendahkan diri. Lekaslah kau pegang pimpinan ini. Keluarkanlah segera komandomu. Coba kau lihat disana. Di pihak lawan sudah ada seorang penjahat yang terkenal buas dari negara timur yang kini sudah turun ke tengah lapangan !"

Mendengar ucapan itu, pandangan Tiong sun Seng lalu ditujukan ke tengah lapangan. Benar saja nampak orang yang turun di tengah lapangan waktu itu adalah seorang berperawakan pendek. Dandanannya sangat aneh, sepasang tangannya membawa golok yang berkilauan. Maka lalu bertanya kepada putrinya :

"Kheng jie, orang dari pihak lawan yang turun ke tengah lapangan itu, apakah salah satu dari tiga orang katai dari negara timur ?" Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala mengiakan dan berkata sambil tertawa :

"Ini adalah salah satu dari tiga orang kerdil dari negara timur yang mempunyai nama julukan golok emas. Dahulu pernah bertempur dengan adik Siang di gunung Liok tiauw san. Pernah patah goloknya oleh adik Siang. Mungkin ia masih mendendam. Tapi entah dari mana lagi ia dapatkan goloknya dan ia turun ke lapangan sebenarnya hendak menantang siapa ? Ayah harap hati-hati memilih orang untuk menghadapinya. Ilmu goloknya si golok emas itu, dalam waktu yang sangat singkat bisa memainkan tujuh puluh dua jurus. Hebatnya bukan buatan !"

Hee Thian Siang yang berdiri di samping, lalu berkata sambil tertawa :

"Biar aku saja yang menghadapi, supaya kurusak lagi goloknya !"

Tiong sun Hui Kheng melirik Hee Thian Siang sejenak, lalu katanya sambil senyum :

"Adik Siang, kini setelah kau disembuhkan dengan ilmu Siao coan lun, kekuatan tenagamu sudah jauh diatas para ketua partai yang ada disini. Maka itu, kau merupakan seorang tokoh tingkat tinggi. Maka harus disediakan untuk menghadapi orang yang setimpal. Mana boleh kau gunakan kepandaianmu cuma buat menghadapi iblis kerdil yang tidak berarti ini ?"

Tiong sun Seng yang mendengar itu, lalu bertanya sambil tersenyum :

"Kalau Kheng jie anakku sudah mengatakan begitu, apakah kau masih mempunyai pilihan buat orang kerdil itu ?"

Dengan lekas Tiong sun Hui Kheng menyahut : "Adik May Sin In ini, anak kira merupakan seorang yang paling tepat. Ada pedangnya Liu yap bian sie kiam ! Dan selain itu, ia kini sudah mendapat warisan seluruh kepandaian ilmu Hee kouw Soan locianpwe. Untuk menundukkan seorang seperti si golok emas itu, sudah lebih dari pada cukup !"

Mendengar putrinya berkata demkian, Tiong sun Seng lantas menengok ke arah May Sin In, seraya katanya sambil tersenyum :

"Sin In hiantitlie, bagaimana hiantitlie capaikan diri sedikit ?"

Sewaktu Tiong sun Hui Kheng mengajukan dirinya, May Sin In sudah merasa gembira. Dan sekarang setelah mendapat perintah dari Tiong sun Seng, maka lalu bangkit dari tempat duduknya. Tanpa mengatakan apa-apa, dengan langkahnya yang lemah gemulai, mulai berjalanlah ia menuju ke tengah lapangan.

Kali ini si golok emas turun ke lapangan sebetulnya hendak membalas sakit hati kepada Hee Thian Siang atas kekalahannya di gunung Liok tiauw san dahulu. Tetapi sesungguhnya terhadap seorang muda yang memiliki kepandaian seperti Hee Thian Siang itu ia masih merasa sedikit jeri.

Selagi pikirannya masih kebat kebit, tiba-tiba tampak seorang gadis cantik dan lemah gemulai berjalan menuju ke arahnya.

Orang-orang kedil dari negara timur kebanyakan gemar paras elok. Kedatangan si golok emas kali ini, lebih-lebih sudah mempersiapkan maksud jahatnya. Di dalam goloknya itu diperlengkapi dengan pesawat rahasia yang didalamnya disembunyikan obat mabuk. Maka begitu menampak May Sin In turun ke lapangan, dalam hatinya diam-diam merasa girang sebab ia pikir apabila dapat menangkap hidup-hidup gadis itu, bukan saja dapat menggetarkan orang-orang yang ada disitu, bahkan boleh bawa pulang ke negerinya untuk dijadikan selirnya.

Tetapi perhitungan yang muluk dari si golok emas itu belum lagi hilang, sudah dikejutkan oleh May Sin In.

Sebab ia baru melihat sekarang, May Sin In cantik jelita bagaikan bidadari itu, sebaliknya tidak membawa sepotong senjatapun ditangannya.

Si golok emas dalam keadaan terkejut lalu mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh May Sin In sambil menunjuk goloknya yang bersinar berkilauan.

May Sin In adalah seorang wanita yang cerdik. Meskipun ia tidak mengerti apa arti kata-kata yang diucapkan dalam bahasa orang kerdil itu tetapi ia telah dapat menduga bahwa si golok emas itu tentunya sedang menanyakan kepadanya mengapa ia tidak membawa senjata.

Ketika ia sudah berada di tengah-tengah lapangan, lalu dimasukkannya tangannya ke dalam sakunya dan mengeluarkan pedang Liu yap bian sie kiam yang lemas dan yang digulung bagaikan butiran lunak.

Begitu Liu yap bian sie kiam keluar dari dalam sakunya, sudah ada dua orang dari golongan jahat yang pada terkejut.Orang pertama yang dikejutkan oleh keluarnya pedang itu adalah si golok emas sendiri. Ketika dalam pertandingan di gunung Liok tiauw san bersama Hee Thian Siang, setelah goloknya dipatahkan oleh senjata bulu burung lima warna dari Hee Thian Siang, dengan susah payah ia baru berhasil mendapatkan kembali sebilah golok yang bagus, bahkan sudah diperlengkapi dengan pesawat rahasia yang mengandung bisa. Tapi kini ketika menampak Hok Sin In mengeluarkan sebilah pedang yang kecil mungil dan bisa digulung, bagaimana kalau ia tidak lantas terkejut dan jadi waspada ? Orang kedua yang dikejutkan oleh pedang itu ialah Khong khong Hweshio. Dia yang melihat May Sin In mengeluarkan pedang Liu yap bian sie kiam secara tiba-tiba, dengan sendirinya merasa heran. Maka buru-buru masukkan tangannya ke dalam sakunya sendiri. Baru tahu bahwa semua barang dalam sakunya sudah lenyap tanpa terasa sama sekali olehnya.

Khong khong Hweshio begitu mengetahui kehilangan barang-barangnya, orang-orang yang lainnya seperti Siang Biauw Yan, Bo Cu Keng juga segera mengetahui bahwa barang-barang di dalam saku mereka sudah hilang semua. Tetapi Bo Cu Keng sebaliknya memperlihatkan tertawa dinginnya dan pesan kepada Siang Biauw Yan serta Khong khong Hweshio supaya tenang-tenang saja, jangan ribut-ribut.

Si golok emas semula masih pandang ringan May Sin In karena dianggapnya hanya seorang gadis biasa yang lemah. Tetapi setelah melihat senjatanya yang aneh itu, sebaliknya ia kini malah berlaku waspada betul-betul.

Ilmu goloknya yang paling dibanggakan ialah tujuh puluh dua jurus ilmu golok angin puyuh. Dahulu sewaktu ia bertempur dengan Hee Thian Siang, selagi hendak mempertunjukkan keahliannya itu, goloknya lebih dahulu sudah dirusak oleh senjata Hee Thian Siang yang hanya berupa bulu burun saja. Maka kali ini ia sudah mengambil keputusan tidak akan mengulangi kesalahan seperti

itu lagi. Begitu May Sin In mengeluarkan pedangnya, ia segera mengeluarkan suara seruan aneh, kemudian goloknya bergerak.

Lebih dulu membuka serangannya dengan ilmu goloknya yang sangat terkenal di negerinya.

Ilmu golok semacam itu, di dalam pandangan mata orang- orang rimba persilatan daerah Tiong goan, tidak menunjukkan apa-apanya yang aneh. Hanya dalam hal kecepatan saja yang memang patut di puji. Si golok emas yang memainkan goloknya dengan sepenuh tenaga, ditambah lagi dengan suara teriak-teriakannya yang aneh, dalam waktu sekejap saja sudah melancarkan tujuh kali serangan kepada May Sin In, tampaknya memang sangat tenang.

May Sin In yang baru pertama kali menghadapi lawan dari luar negeri itu, maka ia belum tahu keadaan musuhnya. Dengan sendirinya tidak berani bertindak sembarangan. Ia hanya mengandalkan ilmunya meringankan tubuh yang sudah mahir sekali. Di bawah serangan gencar dari si golok emas, tubuhnya berkelebatan bagaikan kupu-kupu diantara bunga- bunga, gerakannya tampak sangat indah sekali.

Oleh karena ia masih belum dapat meraba ilmu golok si golok emas itu maka dalam babak permulaan selama tiga empat puluh jurus itu, ia masih tetap dengan caranya semula, hanya mengelakkan saja setiap serangan musuhnya. Di tilik dari keadaan ini, memang tampaknya penuh bahaya dan justru hal tersebut mengawatirkan sekali kepada Hee Thian Siang.

Tetapi setelah si golok emas melancarkan serangannya hampir separuh dari ilmu goloknya itu, May Sin In sudah mengetahui bahwa ilmu golok si golok emas itu kecuali cepat dan ganas dalam keindahan dan kehebatannya, masih kalah dari ilmu pedang golongan Tiong goan.

Ketika mendekati hampir habisnya ilmu golok si golok emas, May Sin In baru mulai bertindak. Ia kini dari kedudukan defensive berbalik menjadi ovensive. Ia menggunakan ilmu pedangnya dari golongan Ngo bie pay.

Gerak tipu-gerak tipu yang terampuh dalam ilmu pedangnya, dalam waktu sekejap mata sudah digunakan semua hingga tubuh si golok emas kini tampak terkurung oleh sinar pedang yang berkilauan. May Sin In pada waktu belakang-belakangan ini banyak sekali perobahannya. Ia telah mendapat warisan dari Hee kouw Soan, maka kepandaian ilmu silatnya mendapat kemajuan sangat pesat. Kalau dibandingkan dengan keadaannya dahulu, sudah seperti lain orang saja.

Gerak tipu-gerak tipu ilmu pedang perguruannya yang dipergunakan May Sin In tadi benar-benar mengagumkan. Saudara-saudara seperguruannya seperti Seng Siu cie, Siu pan To kow dan Siu lang To kow, mereka tahu bahwa selama perpisahan itu, adik seperguruannya tentu telah mendapat kemajuan yang sangat pesat sehingga sudah dapat mengimbangi kepandaian sucienya ialah ketua Ngo bie pay Hian Hian Sian lo.

Si golok emas yang dicecar dengan serangan-serangan demikian gencar, benar saja menjadi kerepotanjuga. Apalagi ia mengetahui benar serangan-serangan gadis itu selain hebat, di dalamnya juga terkandung perobahan-perobahan yang terlalu banyak dan cukup rumit yang sulit di duga kemana tujuannya.Maka ia lalu mengeluarkan ilmunya yang istimewa dari dalam negerinya yang khusus digunakan untuk meloloskan diri dari kepungan lawan. Dengan menggunakan ilmunya itu ternyata ia telah berhasil meloloskan diri dari kurungan sinar pedang May Sin In.

May Sin In tidak membiarkan lawannya itu melarikan diri. Ia terus mengejar, sedang pedang Liu yap bian sie kiamnya digunakan untuk menikam dada si golok emas.

Pada serangannya kali ini, ia menggunakan pelajaran yang ia dapat dari Hee kouw Soan yang merupakan salah satu gerakan terampuh dari ilmunya Hee kouw Soan.

Si golok emas sebenarnya juga merupakan salah seorang pandai yang sudah terkenal namanya di dalam dan diluar negeri. Tetapi sewaktu hendak mengelak dan balas menyerang, tiba-tiba ia melihat bahwa gerakan serangan May Sin In yang dilakukan seperti lambat itu sesungguhnya ada mengandung kekuatan tenaga sangat hebat, tempat-tempat sejauh satu tombak lebih ternyata sudah terkurung oleh sinar pedang.

Dalam keadaan terkejut, ia terpaksa mengeluarkan kepandaiannya yang lain lagi. Tangannya memegangi golok, ia berdiri tegak bagaikan patung, goloknya ditujukan kepada pedang May Sin In yang pendek dan lemas itu, maksudnya hendak diadu dengan kekerasan.

May Sin In tertawa dingin, diam-diam sudah mengerahkan lebih banyak kekuatan tenaga dalamnya hingga sebilah pedang kenamaan dari daerah Tiong goan lantas beradu di tengah udara dengan golok si golok emas dari negara timur. Kedua senjata itu kini menempel menjadi satu, tetapi tidak terdengar suara beradunya senjata tajam.

Si golok emas yang bermaksud dan bertekad hendak menjatuhkan pedang May Sin In dengan suatu getaran yang menggunakan tenaga dalam tetapi sampai sekarang tidak berhasil juga menjatuhkan pedang ditangan lawannya. Sebaliknya malah goloknya sendiri yang sudah ditempel oleh ujung pedan May Sin In hingga tidak bisa melepaskan diri lagi.

May Sin In diam-diam mengerahkan lebih banyak lagi tenaga dalamnya, pedang Liu yap bian sie kiam yang lemas telah berubah menjadi keras, mematahkan setiap serangan si golok emas.

Pedang warisan Tay piat Siangjin ini yang kini merupakan salah satu benda pusaka dalam rimba persilatan daerah Tiong goan, benar-benar jauh lebih unggul dari pada golok buatan negara timur yang terbuat dari baja seluruhnya. Setelah memperdengarkan suara nyaring yang hebat, golok ditangan si golok emas telah terjatuh. Hanya gagangnya saja yang masih tergenggam dalam tangannya. Si golok emas membanting kaki sambil menghela napas. Sementara May Sinn In kembali sudah memperdengarkan suara tertawanya dan pedang Liu yap bian sie kiam ditangannya saat itu juga sudah bergerak menotok jalan darah di depan dada si golok emas.

Pedang Liu yap bian sie kiam merupakan barang pusaka dalam rimba persilatan yang dapat digunakan untuk menembusi barang keras atau mematahkan segala benda logam yang bagaimana pun kerasnya. Menurut aturan si golok emas seharusnya yang ditotok demikian pasti akan rubuh tidak ampun lagi.

Akan tetapi hal-hal diatas dunia ini kadang kala bisa saja terjadi perobahan yang tidak diduga-duga dari semula. Manakala ujung pedang Liu yap bian sie kiam sudha menotok depan dada si golok emas, orang kerdil dari timur itu ternyata mengerutkan alisnya, namun masih berdiri tegak. Sedangkan yang jatuh ditanah adalah May Sin In sendiri.

Kiranya si golok emas setelah mengetahui kehebatan serangan May Sin In, ia tahu tidak bakalan dapat melawan perempuan ini dengan kekerasan. Ia pun tahu pula bahwa orang-orang rimba persilatan daerah Tiong goan sulit sekali ditandingi. Maka sebelum turun ke lapangan hari itu, ia sudah memakai rompi sisik naga pelindung jalan darah yang dahulu ia dapat curi di gunung Kie lian.

Rompi itu digunakan untuk penjaga keselamatan dirinya pada bagian-bagian jalan darah tertentu.

Maka ketika ujung pedang May Sin In menotok jalan darah di depan dada si golok emas, tidak dapat menembusi rompi sisik naga pelindung jalan darah itu. Sebaliknya karena kedua pihak terpisah terlalu dekat sehingga ia sendiri yang tertipu oleh akal muslihat  si golok emas yang menggunakan obat bius yang bisa bikin mabuk orang hingga May Sin In pada saat itu juga sudah jatuh rubuh di tanah.

Begitu ia rubuh ditanah, dua sosok bayangan orang sudah keluar dari rombongan kedua pihak, turun ke tengah lapangan. Satu ialah pelindung hukum Ceng thian pay, Pek- kut Sian-cu dan yang lain ialah ibu kandung May Sin In, Kiu- thian Mo lie Tang Siang Siang.

Tang Siang Siang secepat kilat menyambar tubuh puterinya yang sudah dalam keadaan tidak ingat diri dan lantas memungut pedang Liu yap bian sie kiamnya yang terlempar ke tanah, kemudian dengan wajah dan sikap dingin, bertanya kepada Pek-kut Sian-cu :

"Bagaimana keputusan pertandingan ini ?"

"Dalam medan pertempuran tidak ada larangan menggunakan segala tipu muslihat. Barang siapa yang agak lengah, sudah pasti akan menjadi pecundang !" jawab Pek-kut Sian-cu sambil tertawa.

Tang Siang Siang yang mendengar jawaban itu perdengarkan suara tertawa dinginnya, sepasang alisnya tampak berdiri, sedang Pek-kut Sian-cu lalu berkata lagi :

"Si golok emas lebih dulu terkutung senjatanya dan kemudian disusul oleh rubuhnya nona May oleh karena kelalaian sendiri. Maka sulit sekali untuk mengambil keputusan. Dari pada susah-susah memikir, pertandingan ini lebih baik kita anggap seri saja biar adil !"

Tang Siang Siang menganggukkan kepala dan berkata : "Baiklah kita hitung seri saja. Tunggu aku mengantar dulu

anakku kembali ke rombongan, sebentar akan kuminta Sian- cu supaya suka memberi sedikit pelajaran padaku. Bagaimana

?"

"Tang toyu dahulu adalah bekas anggota menjabat sebagai pelindung hukum partai Ceng thian pay dan aku adalah pelindung hukum partai itu yang sekarang. Kalau kita mengadu kepandaian, merupakan suatu pertandingan kepandaian antara anggota pelindung hukum. Hal ini sebetulnya sangat unik sekali !: kata Pek-kut Sian-cu sambil tertawa.

Tang Siang Siang tidak mengetahui sambil tertawa dingin memondong Hok Sin In balik kembali ke rombongannya dan minta Say han kong supaya menghilangkan racun obat mabok dari golok si golok emas yang menyerang anaknya.

Tiong sun Seng diam-diam berkata kepada Tang Siang Siang dengan suara perlahan :

"Kepandaian dan kekuatan tenaga Pek-kut Sian-cu sudah mencapai taraf tidak ada taranya. Aku tahu ilmu kepandaian hujin juga sangat hebat. Hanya ada satu yang kuharap, jangan hujin sampai lengah !"

Tang Siang Siang tahu maksud Tiong sun Seng hanya khawatir kejadian yang menimpa diri puterinya berulang lagi. Maka ia lalu mengangguk sambil tersenyum. Kemudian turun ke lapangan dengan jalan lambat-lambat, bertanya kepada Pek-kut Sian-cu :

"Sian-cu pikir hendak bertanding dengan cara bagaimana ? Mengadu ilmu meringankan tubuh ataukah kekuatan tenaga dalam ? Atau senjata tajam dan senjata rahasia ?"

Semula karena Pek-kut Sian-cu menganggap Tang Siang Siang meluap emosinya pasti tidak dapat mengendalikan pikirannya. Dianggapnya itu ada kesempatan baik untuk emndapat kemenangan. Akan tetapi kini ketika ia melihat Tang Siang Siang datang lagi dengan sangat tenang, diam-diam juga terkejut. Maka ia tidak berani mengharapkan kemenangannya lagi. Jawabnya sambil tersenyum : 

"Dengan orang-orang seperti Tang toyu dan aku ini yang semuanya sudah berusia lanjut dan barangkali tidak tepat untuk mengadu kepandaian meringakan tubuh, senjata tajam atau senjata rahasia !"

"Jadi Sian-cu menghendaki bertanding dengan ilmu Hian kang ?" tanya Tang Siang Siang.

"Setelah pertandingan di puncak Tay pek hong ini berakhir, sekalipun kita mungkin lolos dari bahaya maut, barangkali juga sulit untuk bertemu lagi ! Maka apa salahnya kalau kita mengadakan suatu pertandingan yang lain dari pada yang lain untuk meninggalkan sedikit kenang-kenangan buat kaum muda di kemudian hari !" kata Pek-kut Sian-cu sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

"Pada kesempatan ini, usul Sian-cu sebenarnya bagus sekali. Ingin sekali aku mendengar kau menyebutkan cara- cara pertandingan yang kau bilang sangat istimewa itu."

Pek-kut Sian-cu yang agaknya sudah mempunyai rencana yang cukup masak lalu sambil tersenyum berkata lambat- lambat :

"Kupikir hendak mengadu kekuatan ilmu Hian kang menurut emat macam kegemaran manusia hidup ialah Arak, Paras, Harta dan kedudukan !"

Bukan kepalang terkejutnya Tang Siang Siang mendengar usul itu. Ia pikir usul lawannya itu sesungguhnya memang benar terlalu luar biasa, terutama pertandingan paras, entah bagaimana harus diadakan. Meskipun dalam hatinya terkejut, tetapi sikapnya masih tampak tenang-tenang saja, katanya sambil tersenyum :

"Arak adalah barang beracun yang dapat menghancurkan usus, paras adalah barang yang bagaikan golok baja yang dapat mematahkan tulang, harta adalah jebakan yang dapat menghancurkan manusia, kedudukan adalah bibit dari segala bencana.

Manusia yang hidup di dunia yang fana ini tiada yang tidak lepas dari empat tunggal ini. Sian-cu sesungguhnya sangat cerdik, benar-benar luar biasa !"

Pek-kut Sian-cu tersenyum mendengar kata-kata pujian Tang Siang Siang lalu berpaling dan berkata kepada salah seorang anak murid Ceng thian pay yang berdiri di tepi lapangan. "Kalian pergi mengambil dua guci arak yang masing-masing berisi sepuluh kati arak !"

Arak yang memang banyak disitu yang tadinya disediakan untuk menjamu tamu-tamu, dalam waktu sekejap mata sudah ditaruh ditengah lapangan menurut pesanan.

Pek-kut Sian-cu memandang orang-orang disekitarnya sejenak, kemudian berkata sambil tertawa nyaring :

"Diantara tuan-tuan sekalian yang hadir disini, siapakah yang merupakan ahli kenamaan dalam menggunakan racun ?"

Hee Thian Siang bangkit berkata sambil menunjuk padri beracun Khong khong Hweshio :

"Menurut apa yang aku tahu adalah padri berbisa Khong khong Hweshio ini yang merupakan ahli paling mahir dalam segala racun !"

Pek-kut Sian-cu alihkan pandangan matanya kepada Khong khong Hweshio, lalu berkata sambil tersenyum : "Khong khong Hweshio, harap berikan sedikit racunmu yang paling keras untuk dicampurkan ke dalam arak ini !"

Khong khong Hweshio diam saja. Ia melemparkan sebuah bungkusan kertas berwarna putih ke tengah lapangan.

Pek-kut Sian-cu mencampurkan bubuk beracun itu ke dalam dua guci araknya. Setelah itu ia bertanya kepada Khong khong Hweshio :

"Khong khong taysu, sampai dimana kekuatan racun ini setelah dimasukkan rata ke dalam dua guci arak ini ?"

Ditanya demikian Khong khong Hweshio terpaksa menjawab dengan terus terang :

"Ini adalah racun yang paling keras. Satu bungkus sudah cukup untuk membinasakan sepuluh jiwa manusia. Apalagi kalau dicampurkan dalam arak, khasiatnya jauh lebih keras lagi. Barangkali begitu menempel di bibir, orang yang minumnya akan mati kojor seketika.

Semua orang yang ada disitu, ketika mendengar keterangan itu pada terkejut.

Tetapi Pek-kut Sian-cu sebaliknya tidak. Ia berkata sambil menunjuk dua guci arak beracun itu :

"Tempat ini terletak di daerah pegunungan Cong lam tertinggi. Waktunya adalah pertengahan bulan delapan. Ini merupakan hari baik bulan baik. Sedangkan orang-orang yang hadir disini, semua adalah jago-jago rimba persilatan dalam dan luar negeri. Di tempat dan waktu yang baik ini, sebelum benar-benar mati keracunan, kita juga harus sama-sama minum sampai kering. Apakah kita masing-masing bisa menghabiskan seguci arak ini untuk memperingati pertemuan kita hari ini ?" Tang Siang Siang sudah tentu tidak mau menunjukkan kelemahannya, dengan sikap tenagn ia menjawab sambil menganggukkan kepala dan tertawa :

"Kita sebagai manusia sebenarnya bisa bertahan hidup sampai berapa lama ? Usul Sian-cu ini sangat baik sekali. Tetapi, sepuluh kati arak beracun ini belum tentu bisa memuaskan buat kita !"

Pek-kut Sian-cu tersenyum. Bersama-sama Tang Siang Siang matanya mengawasi dua guci arak. Tidak terlihat tindakan apa yang dilakukan oleh mereka, arak beracun di dalam guci itu lantas berubah menjadi pancuran air, melesat tinggi ke tengah udara kemudian masuk ke dalam mulut dua orang wanita tadi.

Sesaat kemudian guci itu sudah kosong melompong. Tetapi anehnya, jangankan mereka itu berdua hancur usus-usunya seperti apa yang digambarkan oleh Khong khong Hweshio dengan kata-katanya, baik Pek-kut Sian-cu maupun Tang Siang Siang, wajah mereka sedikit pun menunjukkan tanda- tanda mabuk arak.

Di antara semua orang yang berada di puncak Tay pek hong itu, yang paling terkejut adalah Khong khong Hweshio. Sebab ia tahu benar sampai dimana keras dan ganasnya racun buatannya itu. apalagi kedua jago wanita tadi sudah mencampurkan bubuk beracunnya ke dalam arak dan sekaligus minum kering arak yang sepuluh kati itu. Namun mengapa sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda aneh ? Berapa tinggi sebenarnya kekuatan tenaga dalam mereka sehingga mampu menolak bekerjanya racun yang sangat keras ? Sesungguhnya tidak dapat dipikirkan.

Karena dua guci arak berbisa itu sudah habis, Pek-kut Sian-cu lalu berkata pula kepada Tang Siang Siang : "Dalam pertandingan pertama dengan arak ini, kedua pihak tidak ada yang kalah dan menang. Sekarang kita boleh segera dilakukan pertandingan dengan paras !"

Tang Siang Siang sejak tadi belum dapat memikirkan bagaimana sebetulnya pertandingan paras itu. Maka ia lalu bertanya :

"Sia-cu pikir bagaimana mengadakan pertandingan ini ?" "Tang toyu, kau dan ku sama-sama sudah lanjut usianya.

Usia remaja kita sudah lama meninggalkan kita. Sekarang semua sudah merupakan nenek-nenek yang rambutnya sudah berwarna dua. Cuma baik rasanya kalau dalam kesempatan ini kita menggunakan latihan beberapa puluh tahun yang dilakukan dengan susah payah itu, kita bikin balik jalannya waktu."

Tang Siang Siang lantas mengerti, lalu katanya :

"Ouw ! Kiranya Sian-cu pikir untuk sementara hendak mengembalikan wajah-wajah asli kita yang pernah kita miliki beberapa puluh tahun berselang ? Bukankah begitu ?"

"Penghidupan manusia adalah seperti mimpi. Setelah mimpi ini kita mengenangkan kembali apa yang sudah lalu. Hanya sayang,

sekalipun kita dapat mengandalkan ilmu Hian kang kita, kita dapat membuat keriput-keriput di wajah kita lenyap dan rambut-rambut putih di kepala kita berbalik menjadi hitam lagi. Tetapi itu semua hanya untuk sementara waktu saja, tidak tahan lama !"

Tang Siang Siang lantas menimpali Pek-kut Sian-cu sambil menghela napas : "Wajah kita sudah keriputan, rambut putih seolah-olah mendorong manusia mendekati lubang kubur. Tetapi, apabila kita dapat menggunakan kepandaian yang kita pelajari dan latih selama berpuluh tahun lamanya, bukan untuk mencari dan berebut harta dan kedudukan semata, mungkin kita masih dapat melawan takdir sehingga kita dapat tetap hidup hingga seratus tahun lebih dalam keadaan baik !"

Beberapa patah kata itu agaknya menarik perhatian Pek- kut Sian-cu yang mendengarkan. Tetapi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Lalu bersama Tang Siang-Siang tanpa banyak bicara lagi keduanya duduk bersila untuk semedi di tempatnya masing-masing.

Hendak menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk memutar balik jalannya waktu hingga dalam waktu semetara memulihkan kembali wajah-wajah dan keadaan mereka pada beberapa puluh tahun berselang, sesungguhnya merupakan suatu tindakan yang belum pernah terdengar di dalam cerita mana pun juga. Suasana di puncak gunung Tay pek hong untuk sesaat menjadi sunyi senyap. Semua mata dari orang- orang yang hadir disitu ditujukan kepada dua jago wanita itu dengan tidak berkedip.

Beberapa saat kemudian, pada wajah Pek-kut Sian-cu dan Tang Siang Siang benar saja perlahan-lahan terjadi perobahan.

Lebih dulu wajah dua orang itu dalam waktu yang bersamaan berubah menjadi merah, kulit-kulit mereka yang sudah mulai keriputan juga perlahan-lahan menjadi halus kembali, rambut-rambut putih di kepala mereka perlahan- lahan lenyap. Selanjutnya rambut-rambut putih tadi perlahan- lahan berobah menjadi hitam sama sekali.

Tidak sampai setengah jam Pek-kut Sian-cu dan Tang Siang Siang pada membuka mata untuk menyaksikan keadaan lawannya. Tampak dua jago wanita tadi yang duduk berhadapan, kini sudah berubah menjadi dua wanita cantik berusia tiga puluhan.

Dua orang itu saling pandang beberapa saat lamanya. Ternyata satupun tidak ada yang menunjukkan senyum. Sebaliknya mereka seperti dalam mimpi. Seperti merasa terharu mengenangkan masa-masa yang sudah silam. Di ujung mata masing-masing nampak berkaca-kaca dan dalam waktu hampir bersamaan sama-sama pada mengeluarkan elahan napas perlahan.

Setelah elahan napas itu berhenti, apa yang tertampak di hadapan mata elah terjadi pula perlahan. Baik Pek-kut Sian-cu maupun Tang Siang Siang dalam waktu sekejap mata sudah pulih kembali dalam keadaannya seperti semula yang pada keriputan wajahnya.

Tang Siang Siang lebih dulu membuka suara sambil menghela napas :

"Rambut hitam sekarang tinggal bayangannya saja. Wajah merah bagaimana pun juga tidak akan kembali lagi. Sian-cu, kita tadi apakah sedang mimpi ?"

Pek-kut Sian-cu juga seperti bangun dari mimpinya, mungkin tidak di dengarnya kata-kata Tang Siang Siang tadi. Berkata sambil menghela napas panjang :

"Semua kejadian yang telah lalu, sekarang sudah menjadi kosong. Kita seperti dalam mimpi saja. Tang toyu, aku hendak minta sedikit keterangan darimu. Kita tadi sebetulnya sadar atau baru bangun dari mimpi ?"

Tang Siang Siang dengan lekas menjawab sambil tertawa : "Sadar atau baru bangun dari mimpi, tergantung pada pikiran Sian-cu sendiri. Tentu saja orang lain tidak dapat merasakan !"

Pek-kut Sian-cu lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Sesaat kemudian, baru perlahan-lahan membuka kembali matanya.

Dengan sikap sangat tenang sekali, berkata kepada Tang Siang Siang sambil tersenyum :

"Aku sudah dapat menyadari filsafat kehidupan dalam waktu sekejap mata. Aku sekarang tahu bagaimana akan menjadi orang dalam mimpi lagi. Aku kira mimpiku yang buruk selama beberapa puluh tahun yang seperti selalu mengejar- ngejar nama dan kedudukan, sekarang sudah waktunya harus lenyap sama sekali !"

Kiu thian Mo lie Tang Siang Siang sebenarnya tidak pernah menduga kalau Pek-kut Sian-cu akan insyaf atas semua kesalahannya dalam waktu begitu lekas. Maka saat itu ia merasa sangat girang sekali, katanya sambil tersenyum :

"Kalau benar Sian-cu sudah tawar terhadap nama dan kedudukan, maka sisa dua pertandingan ini kurasa tidak perlu dilanjutkan saja, bagaimana ?"

"Pertandingan kepandaian dengan adu ilmu boleh tidak usah kita langsungkan. Tetapi kita tak boleh tidak harus meninggalkan sedikit tanda peringatan ! Sahabat Tang, mari kita berbuat sedapat mungkin dengan menggunakan arak beracun yang kita minum tadi, meninggalkan sedikit tanda peringatan di dinding batu puncak gunung ini. Bagaimana sahabat pikir ?"

Kiu thian Mo lie Tang Siang Siang mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sambil tertawa : "Usul Sian-cu ini sangat baik. Penyair jaman dahulu pernah menulis demikian : Penghidupan bagaikan mimpi, bekas cawan arak masih tertingal di tepi sungai ! Sekarang mari kita robah bunyi syair itu menjadi : Penghidupan bagaikan mimpi, bekas-bekas tanda jari masih tertinggal di lamping gunung."

Sehabis berkata demikian kedua-duanya di dalam waktu yang bersamaan pada mengacungkan jari telunjuk kanan masing-masing.

Dari situ meluncur arak sangat harum yang langsung menuju batu di atas lamping gunung.

Setelah dua berkas arak itu meluncur, di atas dinding lalu dapat terbaca tulisan-tulisan yang berbunyi : Penghidupan bagaikan mimpi dan Bekas-bekas tanda jari tangan masih tertinggal di lamping gunung.

Setelah itu, Pek-kut Sian-cu tidak kembali lagi ke rombongannya. Ia memberi hormat sambil tersenyum kepada Kiu thian Mo lie kemudian lompat turun dari puncak gunung. Dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan orang banyak.

Sejak dimulai pertandingan antara kedua jago wanita yang masing-masing mempergunakan ilmu kekuatan tenaga dalam melakukan pertandingan yang sangat gaib sehingga meninggalkan bekas tulisan di lamping batu gunung, suasana masih tetap sepi sunyi. Sampai Pek-kut Sian-cu berlalu, juga tidak ada yang mengeluarkan suara.

Sebab dalam hati setiap orang diliputi oleh perasaan yang sangat mengharukan.

Begitu Pek-kut Sian-cu berlalu, Tiong sun Seng segera bangkit dan berkata kepada Pat-bo Yao-ong : "Hian Wan Liat ong, pujangga jaman dahulu pernah menulis begini : Penghidupan manusia bagaikan impian. Perlu apa sicu mencari nama yang tidak karuan ? Ada pula yang mengatakan nama baik atau nama besar. Pada akhirnya toh kesunyian juga yang mendampingi kita. "

Belum lagi habis ucapannya, Pat-bo Yao-ong sudah berkata sambil menggoyang-goyangkan tangannya dan tertawa :

"Tiong sun tayhiap jangan berbicara soal pelajaran ilmu kebathinan lagi segala, bisakah kau ? Bagi kami saat ini masih belum waktunya untuk sadar. Maka ucapan tayhiap ini kurasa akan tersia-sia belaka. Pertemuan besar di puncak gunung ini baru saja dimulai, masih belum waktunya untuk mengakhirinya. Aku minta lagi, janganlah kau mengucapkan lagi kata-kata yang tidak menggembirakan hati orang seperti tadi."

Tiong sun Seng tahu bahwa pertemuan besar ini tidak mungkin dapat diselesaikan dengan damai tetapi tidak boleh tidak ia toh masih harus berusaha sedapat mungkin mencari waktu yang baik buat mengucapkan beberapa patah kata untuk menyadarkan Pat-bo Yao-ong supaya dapat menghindarkan bencana.

Kini setelah mendengar ucapan Pat-bo Yao-ong, ia tahu bahwa takdir sudah tak dapat dielakkan lagi. Rasanya bencana sudah tak dapat dihindarkan lagi. Maka banyak bicara pun sudah tidak ada gunanya. Oleh karena itu, ia terpaksa balik kembali ke rombongannya.

Sementera itu, Pat-bo Yao-ong menoleh ke kanan ke kiri, kemudian berkata kepada Khie Tay Cao :

"Khie ciangbunjin tadi sudah menetapkan suatu ketentuan dengan orang pihak sana dengan pertandingan sepuluh jurus untuk menetapkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kini pertandingan sudah berlangsung dua babak, tetapi berakhir seri. Siapa lagi yang hendak turun ke lapangan untuk menjumpai jago-jago daerah Tiong goan ?"

Pan Pek Giok, si cantik yang tinggal satu lengan tangannya sudah majukan diri. Ia berkata sambil memberi hormat :

"Teecu ingin turun ke lapangan untuk menjumpai jago-jago daerah Tiong goan, bagaimana pikiran Liat ong ?"

Pat-bo Yao-ong tahu bahwa Pan Pek Giok ini meskipun pernah terluka parah sehingga lengannya tinggal satu tetapi kepandaian ilmu silatnya masih jauh lebih tinggi dari pada tiga manusia kerdil dari negara timur dan empat Ciancun dari daerah barat atau sepasang manusia beracun. Maka ia lalu berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

"Kalau Pek jie hendak turun ke lapangan, baik juga. Tetapi kau harus berlaku sangat hati-hati. Kau harus tahu bahwa semua orang yang hari ini berada di puncak Tay pek hong ini terdiri dari jago-jago daerah Tiong goan yang sudha kenamaan. Maka kalau kau menghendaki orang-orang seperti mereka, janganlah berlaku sombong !"

Pan Pek Giok menganggukkan kepala, perlahan-lahan ia berjalan masuk ke lapangan.

Hee Thian Siang yang melihat Pan Pek Giok jalan ke lapangan, lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng dengan suara perlahan :

"Enci Kheng, sekarang tibalah giliranmu yang harus turun ke lapangan !"

Tiong sun Hui Kheng terkejut. Tanyanya : "Adik Siang, dia adalah sahabat barumu enci Pek. Mengapa kau tidak mau turun sendiri untuk bercakap-cakap dengannya, sebaliknya suruh aku yang menghadapi ?"

"Aku tak suka kelibat dia lagi. Sebaiknya enci saja turun tangan, usirlah perempuan cantik berbisa itu !"

Mendengar Hee Thian Siang berkata demikian, Tiong sun Hui Kheng lalu berkata pada ayahnya :

"Ayah, biarlah anak yang turun ke lapangan untuk menghadapi Pan Pek Giok ini. Bagaimana ayah pikir ?"

"Pan Pek Giok ini meskipun sudah kehilangan satu lengan tangannya tetapi semangatnya masih menyala-nyala. Jelas ia ada memiliki kepandaian ilmu tinggi sekali. Kalau anak benar- benar sudah hendak turun ke lapangan, kunasehatkan janganlah kau memandang ringak kepadanya."

Tiong sun Hui Kheng menerima baik pesan ayahnya. Selagi hendak turun ke lapangan, Hee Thian Siang tiba-tiba berkata lagi kepadanya dengan suara sangat perlahan :

"Enci Kheng, sebelum kau melakukan pertandingan dengan Pan Pek Giok, ada tiga hal harap kau tanyakan lebih dulu kepadanya !"

"Aku tahu perhatianmu terhadap enci Pek ini besar sekali. Di dalam tiga hal itu, satu diantaranya pasti hendak menanyakan apa sebabnya sampai terputus sebuah lengan tangannya !" kata Tiong sun Hui Kheng sambil menatap wajah Hee Thian Siang.

Wajah Hee Thian Siang kemerah-merahan, katanya sambil tertawa :

"Tiga soal itu ada hubungan satu sama lain. Yaitu ialah menanyakan padanya apa sebab ia sampai terkutung sebelah lengan tangannya. Kedua tanyakan kepadanya tentang diri orang tua berbaju kuning Hee kouw Soan, sudah pernah datang ke Pat bo atau tidak dan bagaimana akhirnya."

"Adik Siang tak usah khawatir. Aku ingat. Sekarang kuminta kau supaya menjaga di pinggir lapangan !"

Hee Thian Siang tertawa dan berkata sambil menggelengkan kepalanya :

"Meskipun Pan Pek Giok ini sudah mendapat warisan ilmu kepandaian Pat-bo Yao-ong sendiri hingga ilmunya tidak lemah tetapi kepandaian ilmu enci Kheng untuk menghadapi padanya sudah lebih dari pada cukup. Apalagi ia sekarang sudah kehilangan sebelah tangannya. "

Tanpa menantikan Hee Thian Siang mengucapkan habis kata-katanya, Tiong sun Hui Kheng sudah lekas memotong :

"Adik Siang, adapun sebabnya kenapa sampai aku minta kau berjaga di pinggir lapangan bukan hanya untuk memperhatikan dan berjaga-jaga terhadap Pan Pek Giok semata tentunya."

Hee Thian Siang heran, tanyanya :

"Enci Kheng, kau bertanding dengan Pak Pek Giok, suruh aku perhatikan siapa ?"

"Bagi orang-orang rimba persilatan, mempunyai kebiasaan memperhatikan keadaan disekitarnya. Apakah adik Siang belum memperhatikan Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan dan lain-lainnya yang menunjukkan senyumnya yang penuh mengandung maksud kejam ? Di balik senyum mereka itu barangkali ada terkandung siasat yang sangat jahat yang mungkin akan segera dilaksanakan !" Hee Thian Siang alihkan pandangan matanya kepada Bo Cu Keng dan lain-lainnya, katanya :

"Bom Kian thian pek lek sudah dicuri kembali oleh Oe tie locianpwe, apa lagi yang hendak mereka perbuat ?"

"Sejak adik In mengeluarkan pedang pusakanya Liu yap bian sie kiam, orang-orang itu semua tentunya sudah mengetahui bahwa benda-benda yang berada dalam sakunya sudah hilang semua. Namun mereka masih bersikap sangat tenang dan berdiam disini, tidak mau berlalu. Di sini kita bisa menduga pasti bahwa mereka ada mempunyai rencana yang sangat kejam ! Adik Siang jangan agulkan diri sendiri. Sebaiknya dengarlah ucapanku. Perhatikanlah gerak gerik mereka. Itulah yang paling baik !"

Mendengar Tiong sun Hui Kheng memberi pesan demikian wanti-wanti, maka ia lalu mulai memperhatikan gerak gerik Bo Cu Keng dan lain-lainnya.

Setelah Tiong sun Hui Kheng memberi pesan kepada Hee Thian Siang, ia lalu turun ke lapangan dan berkata kepada Pan Pek Giok sambil tersenyum :

"Nona Pan, sudah lama kita baru ketemu kembali sejak perpisahan kita digunung Liok tiauw san."

"Bagaimana kau. "

Pan Pek Giok tahu, Tiong sun Hui Kheng tentunya hendak menanyakan apa sebab ia kehilangan sebelah tangannya. Maka tidak menantikan pertanyaan selanjutnya, sudah berkata lebih dulu sambil tertawa :

"Enci Tiong sun jangan heran. Sebelah tanganku ini terputus di tangan seorang jago rimba persilatan yang sangat hebat sekali kepandaiannya !" Tiong sun Hui Kheng tahu siapa yang dimaksud dengan jago itu, namun ia masih pura-pura bertanya sambil tersenyum

:

"Siapakah jago rimba persilatan yang sangat hebat kepandaiannya seperti yang nona Pan maksudkan ? Apakah dia bukan orang tua berbaju kuning Hee kouw Soan ?"

Sepasang mata Pan Pek Giok membelalak, lama sekali ia menatap wajah Tiong sun Huii Kheng. Kemudian balas bertanya :

"Nona Tiong sun, kenalkah kau dengan orang tua she Hee- kouw itu ?"

"Orang tua Hee kouw Soan itu sifatnya sangat pemarah dan tinggi hati. Dalam seumur hidupnya ia selalu menyesali dirinya karena belum pernah menemukan tandingan yang setimpal baginya. Maka itu lalu perkenalkan padanya untuk menjumpai Hian Wan Liat ong suapaya mereka bisa mengadakan pertandingan untuk menjajaki siapa yang lebih kuat !"

"Ouw ! Sayang keinginan nona Tiong sun itu tidak terlaksana, sebab orang tua Hee kouw Soan itu sama sekali belum pernah bertanding dengan Hian Wan Liat ong !" kata Pan Pek Giok dengan wajah terheran-heran.

"Jadi orang tua Hee kouw Soan itu belum mengadakan pertandingan dengan Hian Wan Liat ong ?"

"Ya. Ini bukanlah karena Hian Wan Liat ong takut padanya. Hanya kebetulan saja. Sebab percuma Hee kouw Soan datang dari tempat demikian jauh hendak bertanding dengan Hian Wan Liat ong. Karena ketika ia tiba, kebetulan Hian Wan Liat ong tidak berada di istananya !" "Jadi orang tua Hee kouw Soan itu datang dengan semangat menyala-nyala kembalinya harus dengan perasaan kecewa ?"

Pan Pek Giok mengawasi sebuah lengannya sebentar, lalu katanya sambil menggelengkan kepala :

"Orang tua itu meskipun merasa kecewa tetapi juga tidak lantas kembali !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar keterangan itu merasa heran, tanyanya :

"Apakah orang tua Hee kouw Soan itu terluka di tangan nona ?"

"Perangai orang tua itu berangasan sekali. Ia anggap Hian Wan Liat ong bukanlah tidak ada melainkan tidak mau menjumpai padanya. Maka ia lalu marah dan menjadi kalap membikin ribut di istana Ciat thian kiong sehingga Kim-hoa Seng-bo terpaksa mewakili Hian Wan Liat ong bertanding dengannya."

Tiong sun Hui Kheng yang tidak tampak Kim-hoa Seng-bo ikut serta suaminya menghadiri pertemuan besar di puncak gunung Cong lam ini, sudah dapat menduga sebagian sebab- sebabnya. Tetapi ia masih melanjutkan pertanyaannya :

"Bagaimana akhirnya ?"

Pan Pek Giok berkata sambil menghela napas : "Pertempuran berlangsung tiga hari tiga malam, masih

belum ada yang menang dan yang kalah. Orang tua she Hee

kouw itu mendadak seperti orang gila. Ia melepaskan diri dari Kim-hoa Seng-bo lalu merusak istana Ciat thian kiong. Semua peliharaan yang terdiri dari empat ekor burung raksasa, empat ekor binatang buas dan empat ekor ular berbisa telah dihancurkan dan dibunuh mati olehnya semua. Sedang aku sendiri juga terkutung sebelah lengan tanganku ini akibat amukannya."

Tiong sun Hui Kheng mengerutkan alisnya mendengarkan penuturan itu, sementara itu Pak Pek Giok sudah berkata lagi :

"Kim-hoa Seng-bo tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya. Maka ia lalu menurunkan tangan kejam, menghadiahkan orang tua she Hee kouw itu dengan sembilan tangkai bunga emasnya. Tetapi orang tua she Hee kouw itu pada sebelum putus nyawanya juga membalas kepada Kim- hoa Seng-bo dengan satu pukulan yang dinamakan Cu thian ceng ciang. Dengan begitu, dua orang luar biasa pada jaman ini akhirnya telah mati kedua-duanya di puncak gunung tertinggi di atas gunung Boan pian san !"

Pan Pek Giok berkata sampai disitu. May Sin In yang berada di luar lapangan ketika mendengar kematian suhunya lalu menangis dengan sedihnya.

Hee Thian Siang juga ikut merasa sedih, tetapi ia masih bisa menasehati May Sin In dengan ucapan lemah lembut. Ia kata meskipun Hee kouw locianpwe itu menemui ajalnya, tetapi ia sudah berhasil dengan seorang diri membinasakan semua peliharan Pat-bo Yao-ong yang terdiri dari binatang- binatang buas dan ular-ular berbisa dan disamping itu juga sudah berhasil menyingkirkan Kim-hoa Seng-bo yang lebih ganas dan lebih berbahaya dari pada Pat-bo Yao-ong sendiri. Maka jasa-jasanya itu sudah cukup besar bagi seluruh rimba persilatan.

Tiong sun Hui Kheng setelah mengetahui duduk perkaranya, kini lalu beralih ke persoalan yang sedang dihadapinya. Ia bertanya keapda Pan Pek Giok sambil tersenyum. "Nona Pan, kau pikir dengan cara bagaimana kau hendak menghadapi aku ?"

Pan Pek Giok memandangi dengan tajam wajah Tiong sun Hui Kheng beberapa saat, lalu jawabnya dengan sombong :

"Terserah kepadamulah, baik dengan tangan kosong atau senjata tajam atau senjata rahasia atau ilmu Hian kang. Aku selalu sedia mengiringi kehendakmu !"

Tiong sun Hui Kheng tampak berpikir, kamudian baru berkata sambil tersenyum :

"Nona Pan sudah hilang sebelah tanganmu. Untuk mengadu kekuatan senjata atau senjata rahasia atau tangan kosong, barangkali kurang leluasa. Sebaiknya kita mengadakan pertandingan dalam ilmu Hian kang saja untuk meninggalkan sedikit tanda mata !"

Pan Pek Giok menunjuk huruf-huruf yang berarti penghidupan bagaikan impian yang ditulis dengan jari tangan di atas lamping gunung oleh Pek-kut Sian-cu dan Kiu-thian Mo lie Tang Siang Siang. Katanya :

"Apakah nona Tiong sun ingin meninggalkan tanda mata mengikuti cara mereka tadi ?"

"Kepandaian ilmu locianpwe kita tidak dapat tandingi. Mengapa kita harus meniru tindakannya ? Tetapi kupikir tidak ada salahnya kalau kita berikan sedikit hiasan di samping tulisan ini !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala.

"Pikiran nona Tiong sun seperti ini baik sekali tetapi harap kau berikan keterangan lebih jelas sedikit, bagaimana kita harus menambahkan hiasannya ?" "Kedua locianpwe itu menggunakan arak beracun yang diminumnya, dikeluarkan melalu jari tangan masing-masing berupa pancuran arak, meninggalkan tulisan di atas tebing itu

! Oleh karena ilmu kekuatan tenaga dalam kita masih belum berapa tinggi, sudah tentu tidak dapat menandingi tenaga cianpwe kita itu. Sebaiknya masing-masing menggunakan kekuatan tenaga dalam dari jari tangan. Seorang menulis tambahan huruf disamping huruf yang berarti Penghidupan bagaikan impian itu atau penjelasannya dan seorang lagi menambah garis kembang atau renda di seputar huruf-huruf itu buat meninggalkan suatu peringatan dan pemandangan indah di puncak Tay pek hong ini.:

"Nona Tiong sun pikir hendak ditambah dengan tulisan kata-kata apa ?"

"Istilah Penghidupan bagaikan impian sebenarnya sudah mengandung maksud dalam sekali. Tetapi artinya terlalu luas. Aku pikir hendak menambah dengan kata-kata :

Nama dan kekayaan bagaikan awan yang mengambang di angkasa !"

"Sungguh bagus sekali, tetapi entah siapa diantara kita yang harus mengukir huruf-huruf itu dan siapa yang harus mengukir garis kembang atau rand-nya ? Agaknya harus turun tangan berbareng untuk mengadu kekuatan tenaganya."

Oleh karena mengingat bahwa usul itu diajukan olehnya maka Tiong sun Hui Kheng sudah seharusnya memberikan tugas yang mudah kepada lawannya. Maka ia menjawab sambil tersenyum :

"Harap nona Pan mengukirkan garis kembangnya saja. Biar aku ukir tulisannya !"

Baru berkata sampai disitu, jari tangannya menunjuk ke tebing gunung dan katanya pula : "Tulisan yang berarti nama dan kekayaan bagaikan mengambang di angkasa ini harus dituliskan di sisi kiri dari tulisan penghidupan bagaikan impian. Besar kecilnya huruf- huruf itu dan letaknya harus sama seluruhnya dengan yang sudah ada. Jikalau nona Pan sudah siap, mari kita sekarang mulai !"

Pan Pek Giok menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Silahkan nona Tiong sun mulai. Aku tidak memerlukan persiapan apa-apa !"

Tiong sun Hui Kheng sudah lama tahu bahwa Pek tok Bie jin lo ini ada memiliki kepandaian ilmu luar biasa tingginya, merupakan salah seorang lawan yang tidak mudah dihadapinya. Sudah tentu ia tidak berani berlaku ayal lagi. Maka diam-diam mengerahkan ilmunya dari golongan Siao lim pay yang dinamakan It cie sian dan ilmu Thay it thian hian sin kang yang diwariskan oleh ayahnya sendiri. Ia meluruskan jari tangannya ditujukan kepada tebing yang terdiri dari batu keras, mengukir tulisan-tulisan melalui udara.

Pan Pek Giok juga mengulurkan tangannya yang tinggal satu dan berbuat seperti Tiong sun Hui Kheng sambil tersenyum.

Sungguh aneh, dua orang itu bergerak dalam waktu bersamaan dan berhenti dalam waktu bersamaan pula. Ternyata sedetik pun tidak ada yang ketinggalan.

Tetapi setelah mereka melihat hasilnya, Tiong sun Hui Kheng dan Pan Pek Giok sama-sama merasa kagum.

Kiranya dua orang itu meskipun diluarnya berlaku sopan dan merendah satu sama lain tetapi sebetulnya sama-sama ingin merebut kemenangan. Tulisan-tulisan yang diukirkan oleh Tiong sun Hui Kheng dan garis kembang yang digariskan oleh Pan Pek Giok di seputar tulisan itu sungguh bagus variasinya.

Tulisan Tiong sun Hui Kheng, guratannya memang sudah tidak sedikit dan tidak menggunakan tulisan yang disingkat, tapi tulisan buatannya sungguh indah sekali.

Sedang renda-renda kembang yang dibuat oleh Pan Pek Giok di seputar huruf-huruf itu, bukan saja lurus dan rapi bahkan disetiap sampingnya ditambah lagi dengan lin rangkap dan di bagian ujung atasnya ada lukisan empat tangkai bunga Bwee kecil.

Dengan demikian hingga menunjukkan perimbangan kekuatan dua orang tadi tidak dapat dibedakan siapa sebetulnya yang lebih unggul dalam pertandingan itu.

Tiong sun Hui Kheng dan Pan Pek Giok saling memberi hormat sambil tersenyum dan balik ke rombongan masing- masing.

Di antara semua jago di atas puncak Tay pek hong segera timbul pembicaraan ramai.

Buah pembicaraannya di sekitar Tiong sun Hui Kheng dan Pan Pek Giok, siapa sebetulnya yang lebih unggul dalam pertandingan tadi !

Tetapi Hian Wan Liat an Tiong sun Seng, sebaliknya karena melihat murid kesayangannya dan putrinya sama- sama memiliki kekuatan tenaga dalam demikian sempurna, diam-diam tambah tebal perasaan waspadanya.

Sementara itu, Khie Tay Cao sudah berbisik-bisik di telinga Thiat koat Totiang dengan suara perlahan sekali : "Pertandingan sudah berlangsung tiga babak dengan beruntun. Belum ada yang kalah dan yang menang. Kali ini di pihak kita, siapa yang seharusnya terjun ke lapangan ?"

Thiat koan Totiang lalu bangkit dari tempat duduknya dan berkata :

"Dari pihak Hian Wan Liat ong sudah memberi bantuan dua babak. Kali ini biarlah aku sendiri yang turun tangan !"

"Hu ciangbunjin harap berlaku hati-hati. Di pihak tamu yang datang kemari, semuanya adalah tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa !" kata Khie Tay Cao memperingati.

Thiat koan Totiang menganggukkan kepala. Dengan tindakan lambat-lambat berjalan masuk ke tengah lapangan. Matanya menyapu keadaan sekitarnya sebentar, kemudian membuka suara dengan sikap sombongnya :

"Pinto Thian koan adalah wakil ketua dari partai baru Ceng thian pay. Di antara saudara-saudara siapa yang sudi turun ke gelanggang untuk memberi pelajaran pada pinto ?"

Baru saja habis menutup mulut, dari kalangan tamu sudah ada dua pendekar luar biasa yang bangkit berdiri.

Satu ialah ketua partai Ngo bie Hian hian Sianlo, yang lain ialah Liong hui Kiam khek Su to Wie.

Sebabnya Hian hian Sian lo hendak turun ke lapangan ialah karena hendak menuntut balas dendam atas perbuatan Thiat koan Totiang yang pernah menyerbu ke gunung Ngo bie dan membakar kelenteng Khun leng to ie.

Sedang Liong hai Kiam khek Su to Wie karena hendak menghukum Thiat koan Totiang atas perbuatan si padri bejat itu yang sudah mencelakakan diri supeknya sendiri dan yang sudah membubarkan partai Tiam cong dan menggabungkan partai itu dengan Ceng thian pay.

Dengan tibanya berbareng di dalam lapangan antara dua pendekar ini, sudah tentu mengejutkan semua orang yang ada disitu.

Thiat koan Totiang setelah lebih dulu memperdengarkan suara tertawanya, baru bertanya :

"Tak kusangka kalian demikian pandang tinggi diri pinto. Mari, mari ! Harap semua keluarkan senjata kalian. Aku hendak menghadapi kalian berdua dengan seorang diri !"

Sepasang alis Hian hian Sian lo dikerutkan. Ia berkata kepada Liong hai Kiam khek sambil tertawa getir :

"Su to tayhiap, mengapa kita sampai bisa naik bersama- sama secara kebetulan ? Aku yang menyelesaikan untuk kali ini ataukah biar kuberikan padamu kesempatan untuk menghadapi saudara seperguruanmu ?"

Sepasang mata Su to Wie menatap tajam kepada Thiat koan Totian, lalu berkata sambil menghela napas :

"Sian lo mencari dia tentunya hendak menuntut balas dendam atas perbuatannya yang membawa anak buah Ceng thian pay yang pernah melakukan serangan pembokongan terhadap Ngo bie pay dan membakar Khun leng to ie. Sedang Su to Wie ialah hendak menanyakan perbuatannya mengapa dia mencelakan diri Koan Sam Pek supek dan mengapa dia berani lancang-lancang menggabungkan diri dengan partai Ceng thian pay.

Dosa besar bagi orang rimba persilatan ini, sudah tentu tidak boleh kita tinggal diam dengan begitu saja. Persoalanmu dengan persoalanku, jikalau dibandingkan sebenarnya sulit dibedakan mana yang berat dan mana yang ringan. Tetapi buat kali ini biarlah Su to Wie rela memberikan kesempatan ini supaya Sian lo dapat memenuhi hasratmu yang hendak menuntut balas dendam !"

Setelah berkata demikian ia memberi hormat kepada Hian hian Sian lo dan balik kembali ke rombongannya.

Hian hian Sian lo mengeluarkan napas lega lalu berkata sambil tertawa :

"Terima kasih atas kebaikan Su to tayhiap. Tunggulah setelah aku berhasil menuntut balas dendam, nanti akan kuucapkan terima kasihku lagi kepadamu !"

Thiat koan totiang segera menghunus pedangnya dan diletakan ditangannya, katanya dengan suara bengis :

"Nenek, kau jangan terlalu sombong. Dengan kepandaianmu yang tidak berarti sama sekali itu, kau hendak menuntut balas dendam. Benar-benar kau seperti mimpi di siang bolong !"

Hian hian Sian lo tahu benar bahwa tidak perlu memperhatikan soal tata tertib dunia Kang ouw dalam menghadapi orang-orang seperti Thiat koan Totiang ini. Maka ia segera menghunus pedangnya tanpa banyak bicara.

Keduanya sama-sama berkedudukan sebagai ketua partai. Juga sama-sama ahli pedang pada dewasa ini. Sudah tentu siapapun tidak ada yang berani memandang rendah lawannya.

Thian koan Totiang lintangkan pedangnya di depan dadanya, sedangkan Hian hian Sian lo segera mengangkat pedangnya dan mulai bergerak. Arah serangannya ditujukan ke sebelah kiri pundak lawannya. Dua orang itu dengan penuh semangat memperhatikan setiap gerakan lawannya. Tiba-tiba Thiat koan Totiang bergerak melancarkan suatu serangan yang hebat. Seranga itu disambut oleh Hian hian Sian lo dengan gerak tipu membelah gunung Hoa san.

Gerakan dua orang itu ternyata sama-sama cepat dan luar biasa anehnya. Bahkan bergeraknya mereka hampir dalam waktu bersamaan.

Dua bilah pedang pusaka telah beradu dalam jarak beberapa kaki sehingga mengeluarkan suara benturan amat nyaring.

Dalam babak permulaan ini, siapa pun tidak ada yang berada di atas angin hingga sulit untuk membedakan siapa yang lebih unggul. Tetapi setelah terjadi benturan tadi, semua gerak tipu yang aneh di kedua pihak mulai digunakan. Badan Thiat koan Totiang dan Hian hian Sian lo perlahan-lahan terkurung oleh sinar pedang yang bergumpalan diseputarnya diri masing-masing.

Thiat koan Totiang sudah membubarkan partai Tiam cong tetapi sampai saat ini yang digunakan masih tetap ilmu pedang dari Tiam cong pay yang terkenal dengan nama ilmu pedang Bwee hong oe liu kiam hoat. Sedang Hian Hian Sian lo menggunakan ilmu pedang Thian hian kiam hoat dari golongan Ngo bie pay.

Seru sekali jalannya pertempuran hingga kecuali beberapa orang, yang lainnya sudah tidak dapat mengetahui ilmu pedang yang mereka gunakan dalam perobahan-perobahan gerak tipunya.

Suasana di seputarnya nampak tenang namun diliputi oleh perasaan tegang. Perasaan tegang setiap orang makin meningkat dengan perobahan yang terjadi di medan pertempuran. Beberapa saat kemudian, diantara orang-orang Ceng thian pay telah timbul suara gaduh oleh karena timbulnya perasaan kekuatiran terhadap wakil ketuanya. Keadaan demikian itu mencerminkan bahwa Thian koan Totiang sudah berada di bawah angin.

Kemenangan yang dicapai oleh partai Ceng thian pay atas partai-partai Bu tong dan Ngo bie berkat bantuan Pek-kut Sam-mo telah membuat Thiat koan Totiang merasa bangga. Selama ini sebenarnya dia belum pernah melalaikan latihan ilmu silatnya, tetapi kemajuannya tidaklah pesat.

Sebaliknya dengan Hian hian Sian lo. Terbakarnya kuil Khun leng to ie telah membuat panas hatinya hingga ia dengan membawa ketiga saudara seperguruannya dengan tekun di tempat persembunyiannya memperdalam ilmu pedangnya, sudah tentu mendapat kemajuan banyak.

Satu pihak mendapat kemajuan banyak, di lain pihak sedikit sekali kemajuannya. Dalam perbedaan demikian, maka setelah seratus jurus berlalu, mulailah tertampak perbedaan yang nyata diantara kedua ketua partai tadi.

Khie Tay Cao yang menyaksikan Thiat koan Totiang sudah tampak nyata akan menghadapi kekalahannya, selagi hendak mencari orang untuk menggantikan, serangan mematikan yang dipelajari dan dilatih dengan tekun oleh Hian hian Sian lo untuk maksud menuntut balas dendam sudah mulai dilancarkan dengan gencar.

Begitulah setelah Hian hian Sian lo melancarkan serangannya yang mematikan itu, darah mulai menyembur dari tubuh Thiat koan Totiang. Ketika Hian hian Sian lo menarik kembali tangannya dan lompat mundur, Thiat koan Totiang sudah mati menggeletak dalam keadaan terbelah tubuhnya menjadi dua potong. Liong hui Kiam khek Su to Wie yang pernah menjadi saudara seperguruan dengannya, tampak kematian dari bekas suhengnya yang mengenaskan sekali itu, juga sampai mengucurkan air mata.

Sejak dimulai diadakan pertandingan, sudah berturut-turut tiga babak dalam keadaan seri hingga babak ke empat ini, barulah ada satu pihak yang mengalami kekalahan.

Hian hian Sian lo setelah berhasil menuntut balas dendam partainya dan selagi hendak kembali ke rombongannya, tiba- tiba tertampak berkelebatnya sesosok bayangan orang yang melayang turun ke lapangan sambil perdengarkan suara pujian Budha.

Orang yang baru datang itu adalah salah satu dari Pek kut Sam mo ialah Pek-kut Ie-su. Lebih dulu ia memerintahkan orang untuk membawa keluar jenazah Thiat koan Totiang, kemudian ia berkata kepada Hian hian Sian lo dengan sikapnya rada dingin.

"Apakah Sian lo masih ada mempunyai keberatan untuk mengadakan pertandingan lagi ? Pinto ingin belajar kenal dengan ilmu pedang Ngo bie pay yang terkenal ganas itu !"

Hian hian Sian lo tahu benar bahwa kekuatan tenaga dalamnya masih kalah setingkat dari Pek-kut Ie-su. Tetapi oleh karena lawannya sudah menantang terang-terangan, sudah tentu ia tidak boleh takut atau mundur. Maka juga menjawab sambil tertawa dingin.

"Thiat koan Totiang dengan membawa anak buahnya telah melakukan serangan membokong terhadap partai Ngo bie, disamping melakukan juga pembunuhan terhadap anak murid kami, juga membakar habis kuil kami Khun leng to ie. Kekejamannya dan keganasannya terhadap partai Ngo bie sudah ada buktinya yang nyata. Urusan hari ini hanya tindakan Tuhan yang hendak menghukum dosanya dengan meminjam pedanng ditanganku saja. Di sini jelas bahwa Tuhan masih adil. Orang jahat mendapat pembalasan jahat ! Apakah Totiang sesalkan aku. "

Tidak menantikan Hian hian Sian lo meneruskan ucapannya, Pek-kut Ie-su sudah memotongnya dan berkata sambil tertawa dingin :

"Mana berani pinto sesalkan Sian lo ? Pinto hanya ingin belajar kenal dengan ilmu pedangmu itu saja !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan Pek-kut Ie- su, diam-diam mendorong Hee Thiang Siang dan berkata padanya dengan suara perlahan :

"Adik Siang, sekarang tibalah giliranmu yang harus keluar. Hian hian Sian lo adalah satu ketua dari saru partai besar. Tidak mudah mendapatkan nama dan kedudukan itu. Apalagi tadi sudah bertempur mati-matian menghadapi musuh tangguh. Dengan sendirinya sudah lelah. Maka kita tidak boleh tinggal diam sehingga nama baiknya dikorbankan di tangan Pek-kut Ie-su !"

Hee Thian Siang yang memang sudah gatal tangannya, mendengar ucapan itu lalu balas bertanya kepada Tiong sun Seng.

"Lopek, bagaimana kalau boanpwe yang menghadapi Pek- kut Ie-su ?"

Tiong sun Seng sebetulnya ingin minta Hong tim Ong khek untuk menggantikan Hian hian Sian lo, kini tampak Hee Thian siang mengajukan diri, memikir bahwa pemuda ini meamng telah mendapat banyak pengalaman gaib, lagi pula sudah mengalami ilmu memperbaharui keadaan ialah Siao coan lun, keadaannya sudah tentu telah mendapat pesat sekali. Terutama lagi angkatan muda, kalau dapat menang memang sangat menggirangkan. Kalah juga tidak sampai terlalu memalukan. Ini sebetulnya merupakan suatu pilihan yang tepat. Maka ia lalu menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum :

"Hiantit turun ke gelanggang, itulah yang paling baik. Tetapi lawanmu itu tinggi sekali kepandaiannya dan kekuatan tenaga dalamnya, sedangkan latihanmu dan pengalamanmu masih belum cukup. Maka itu harus berlaku hati-hati, tidak boleh mengandalkan kekuatan diri sendiri dan berlaku sombong terhadap lawan !"

Hee Thian Siang menerima baik pesan itu, ia berjalan menuju ke lapangan.

Saat itu, Hian hian Sian lo baru menghunus keluar pedangnya yang baru saja dimasukkan ke dalam sarungnya.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, lalu berkata sambil tersenyum :

"Hian hian locianpwe, boanpwe dengan Pek-kut Ie-su ini masih ada rekening lama yang belum diselesaikan. Bolehkah memberikan kesempatan kali ini kepada boanpwe ?"

Hian hian Sian lo tahu maksud Hee Thian Siang ialah hendak menggantikan dirinya dalam menghadapi tugas berat ini. Maka dengan perasaan bersyukur ia menarik kembali pedangnya dan lompat mundur. Katanya sambil tersenyum :

"Hee laote harap berlaku hati-hati. Lawan ini adalah seorang berilmu sangat tinggi pada dewasa ini !"

Pek-kut Ie-su merasa tidak baik kalau mencegah kepergian Hian hian Sian lo. Ia juga telah tahu benar bahwa Hee Thian Siang boleh dibilang merupakan seorang lawan yang sangat tangguh dan tidak mudah dihadapi. Namun sebagai seorang yang mempunyai nama dan kedudukan baik di kalangan Kang ouw, sudah tentu tidak boleh merasa takut. Katanya : "Hee Thian Siang, dahulu sudah dua kali aku tidak turun tangan kejam terhadapmu. Adalah karena masih mengingat kau memiliki bakat baik sekali dari angkatan muda yang setingkat denganmu hingga aku tidak sampai hati untuk menhancurkan pengharapanmu. Masih untung aku masih menaruh belas kasihan terhadapmu sehingga tidak sampai mati ditanganku. Tetapi dalam pertemuan hari ini, keadaan berlainan sekali. Sayang masih begini muda perlu apa hendak mencari mati ?"

Hee Thian Siang tertawa cekikian, dan jawabnya :

"Bisa mati ditanganmu, ditangan seorang berkepandaian sangat tinggi seperti kau ini sudah sepatutnya kalau merasa bangga !"

"Sebaiknya kau kembali saja. Boleh ganti dengan Tiong sun Seng atau May Ceng Ong yang akan menghadapi aku !" berkata Pek-kut Ie-su sambil menggelengkan kepala.

"Apa kau merasa karena usiaku muda, kedudukan dan kepandaian serta kekuatan tenagaku jadi tidak sesuai untuk menghadapi kau ?"

"Kalau kau sudah tahu keadaanmu sendiri, itulah yang bagus sekali !"

"Begini saja, kita dahulu sewaktu di gunung Tay swat san dalam mengadu kekuatan tangan itu masih ada satu kali yang belum selesai. Sekarang ini justru waktunya yang paling tepat untuk menyelesaikan perhitungan lama itu. Dengan begitu kau bisa dapat tahu, aku ada harga untuk menjadi tandinganmu atau tidak. Bagaimana ?"

Pek-kut Ie-su semula tidak begitu perhatikan Hee Thian Siang. Kini setelah mendengar ucapan yang mengandung maksud, barulah mengamat-amati keadaan pemuda itu. Kali ini benar-benar ia sangat terkejut sebab semangat Hee Thian Siang tampak meluap-luap, terutama sepasang matanya yang memancarkan sinar demikian penuh. Suatu tanda bahwa pemuda itu kekuatan tenaga dalamnya sudah mencapai ke taraf tertinggi.

Pek-kut Ie-su yang pernah menyaksikan Hee Thian Siang terpukul oleh May Ceng Ong suami istri demikian rupa, bukan saja dalam keadaan terluka parah bahkan sudah dalam keadaan pingsan. Bagaimana sekarang bisa berubah demikian ?

Hee Thian Siang menampak Pek-kut Ie-su mengawasi dirinya begitu rupa seperti orang terkejut, lalu berkata sambil tersenyum :

"Belum lama kita berpisahan, seharusnya kau bisa pandang aku dengan mata lain, bukan ? Apalagi kalau kita berpisahan lebih lama lagi. Aku harap pukulan terakhir ini, kau harus menggunakan ilmumu Pek kut cui sim ciang yang menjagoi rimba persilatan !"

"Aku belum pernah memandang ringan kepada dirimu. Sekarang kau boleh siap sedia. Aku hendak melancarkan serangan dengan menggunakan tenaga seratus sepuluh persen !"

"Ucapan ini agak berlebihan. Aku sudah berani menantang kepadamu, sudah tentu kekuatan tenaga dalamku cukup untuk menghadapi kau. Bagaimana masih perlu siap sedia ? Tetapi aku sebaliknya hendak menanya kepadamu, apa sebab kau hanya menggunakan seratus sepuluh persen kekuatan tenagamu ? Mengapa tidak menggunakan seratus dua puluh persen saja ?"

Pek-kut Ie-su yang mendengar ucapan sangat sombong itu, timbullah kemarahannya. Maka lalu berkata sambil tertawa dingin : "Kalau kau sudah begitu yakin dengan kekuatan tenagamu sendiri, baiklah aku nanti akan menggunakan kekuatan tenagaku sampai seratus dua puluh persen."

Ilmunya serangan tangan kosong Pek kut cui sim ciang sudah dilontarkan. Hampir bersamaan waktunya ketika ia mengucapkan perkataannya. Benar saja sudah menggunakan kekuatan tenaga seratus dua puluh persen.

Hee Thian Siang menyambut serangan itu dengan sepenuh tenaga.

Keduanya masih tak bergeser dari tempatnya, tetapi tubuh bagian atas dari keduanya terbitkan goncangan hebat. Tempat di sekitar mereka timbul suara menderu dan menggulungnya hembusan angin sehingga orang-orang yang terpisah agak dekat harus mempertahankan kedudukannya denagan memberatkan badan supaya tidak sampai terdorong mundur oleh kekuatan yang menggulung tadi.

Pek-kut Ie-su yang sudah menggunakan kekuatan tenaga hampir melampaui batas ternyata belum dapat menggeser Hee Thian Siang dari tempat berdirinya, diwajahnya segera timbul sikap terkejut dan terheran-heran.

Sedang Hee Thian Siang dari pengaduan tenaga ini sudah mengetahui kemajuan yang dicapai pada waktu belakangan ini hingga juga semakin besar keyakinannya untuk menjatuhkan Pek-kut Ie-su. Dengan tenang ia berkata :

"Perhitungan lama kini sudah selesai. Kita harus mulai dengan pembicaraan urusan hari ini, sekarang kau seharusnya sudah tahu bahwa aku sudah pantas jadi lawanmu, bukan ?"

Dalam waktu sesaat itu, Pek-kut Ie-su sudah memperhitungkan langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya. Ia berkata sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.

"Kemajuanmu benar-benar sangat pesat sekali. Kau sudah lebih dari pantas untuk menjadi lawanku !"

Hee Thian Siang tampak sangat girang, tanyanya sambil tersenyum :

"Sekarang kita akan mengadakan pertandingan dengan cara bagaimana ?"

"Kita harus bertanding sepuas-puasnya dengan dua babak untuk menetapkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Babak pertama bertanding ilmu Hian kang, babak kedua mengadu kekuatan tenaga dalam !"

Usul yang diajukan ini adalah usul yang sangat cerdik, sebab dengan cara ini ia diam-diam sudah dapat mengatasi kekurangan pada dirinya.

Sebab ia sudah memahami betul kekuatan tenaga yang dimiliki oleh Hee Thian Siang. Ia tahu apabila bertanding dengan tangan kosong, ilmunya Hee Thian Siang yang memusingkan seperti ilmu serangan Bunga Mawar, Ilmu Menyelamatkan jiwa, benar-benar tidak mudah dihadapi.

Bila bertanding dengan senjata tajam berarti ia harus berhadapan dengan senjata berupa bulu burung warna lima warisan Thian ie Taysu. Meskipun itu merupakan senjata ringan, tetapi bukan main hebat dan ganasnya. Ia juga tidak sanggup mematahkan senjata hebat itu.

Maka itulah ia telah memilih suatu jalan tengah yang maksudnya hendak menghindarkan keunggulan lawannya. Dia menyerang dibagian yang kekurangan bagi lawannya. Berdasar atas itulah, maka ia mengusulkan dengan dua cara tadi. Ia anggap bahwa dalam pertandingan mengadu ilmu Hian kang, Hee Thian Siang paling-paling cuma dapat mengimbangi sampai seri saja. Tetapi oleh karena usianya dan latihannya belum matang, ia sendiri pasti dapat kemenangan dalam mengadu kekuatan tenaga dalam.

Hee Thian Siang juga tahu bahwa usul Pek-kut Ie-su itu sangat licik sekali. Maka ia sengaja membukanya terang- terangan.

Katanya :

"Aya ! Dengan begitu bukankah semua ilmu-ilmuku yang terampuh seperti ilmu Bunga Mawar dan ilmu Menyelamatkan jiwa serta senjataku bulu burung warna lima jadi tidak dapat digunakan lagi ?"

Wajah Pek-kut Ie-su menjadi merah, ia lalu berkata sambil menggertak gigi :

"Jikalau kau anggap begitu ampuh ilmu-ilmu itu, tidak halangan dua babak itu ditambah lagi dengan dua babak pertandingan tangan kosong dan senjata tajam !"

Tapi Hee Thian Siang menolak. Katanya sambil tertawa dan menggelengkan kepala :

"Tak perlu. Hanya bertanding ilmu Hian kang dan kekuatan tenaga dalam saja sudah membutuhkan waktu banyak sekali, sedangkan pertandingan ini baru sampai di babak kelima !"

Pek-kut Ie-su yang mendengar ucapan itu, juga tidak mengukui ucapannya, katanya sambil menganggukkan kepala

:

"Kalau kau tidak menghendaki menghambat terlalu banyak waktu, baik juga kita segera mulai dengan pertandingan yang pertama !" "Bagaimana caranya pertandingan ini ?"

"Usul adalah aku yang mengajukan, sekarang cara-caranya sebaiknya kau yang menetapkan !"

Hee Thian Siang berpikir sejenak, kemudian berkata : "Harap kau suruh seseorang mengambil dua buah tameng

besi !"

Diantara murid-murid Ceng thian pay, kebetulan ada yang menggunakan tameng. Maka ketika mendengar ucapan itu, lalu menyerahkan senjata tersebut.

Hee Thian Siang menyambutnya, lalu berkata sambil tertawa :

"Kau dan aku masing-masing mengambil sebuah tameng ini dan kita tinggalkan sedikit tanda peringatan diatasnya !"

Pek-kut Ie-su mengambil sebuah tameng, bertanya kepada Hee Thian Siang :

"Apakah kita kalau mengadakan pertandingan ini harus dibatasi waktunya ?"

"Kita masing-masing menggunakan kekuatan tenaga tangan untuk membuat tameng ini menjadi berbentu bundar, lalu kita meninggalkan lagi tulisan sebagai tanda peringatan diatas tameng. Siapa yang menyelesaikan lebih dahulu, dialah yang dianggap menang !"

"Cara semacam ini boleh juga, tetapi harus ada batas waktunya !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan ini, lalu berpaling dan berkata kepada Tiong sun Hui Kheng : "Enci Kheng, harap kau menyanyikan syair Ceng khie ko buah tangan Bun thian Hong. Akan digunakan sebagai batas waktu dalam pertandingan kita ini !"

Sehabis berkata demikian, ia berkata lagi kepada Pek-kut Ie-su :

"Jikalau enci Tiong sunku nanti mulai menyanyikan syar Ceng khie ko, kita segera mulai bertindak. Begitu nyanyian berhenti, berakhirlah pertandingan ini !"

Pek-kut Ie-su menganggukan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Baik, baik. Cara pembatasan waktu semacam ini juga sangat unik !"

Hee Thian Siang melambaikan tangannya. Tiong sun Hui Kheng segera mulai menyanyikan syair Ceng khie ko.

Hee Thian Siang dan Pek-kut Ie-su kedua-duanya lalu duduk bersila. Masing-masing mengerahkan ilmu Hiang kangnya ke kedua tangannya untuk membuat tameng tadi menjadi bundar.

Pada saat Tiong sun Hi Kheng menyanyikan bait terakhir dari syair tadi, sebelum mengakhiri suaranya, Hee Thian Siang sudah menyelesaikan pekerjaannya dan dengan berseri-seri mengangkat tamengnya tinggi-tinggi.

Sebaliknya dengan Pek-kut Ie-su. Baru saja Tiong sun Hui Kheng mengakhiri nyanyiannya, barulah selesai pekerjaannya.

Pertandingan dalam waktu, Hee Thian Siang lebih cepat sedikit. Tetapi untuk membedakan siapa yang menang dan yang kalah, masih diukur dalam pertandingan kekuatan jari tangan yagn diukirkan diatas tameng itu. Keduanya dalam waktu yang bersamaan pula menggunakan kekuatan jari tangan mengukir delapan buah huruf di atas tameng tersebut.

Adapun huruf yang diukir oleh Pek-kut Ie-su diatas tameng maksudnya :

Hanya yang teragung, bisa menjagoi seluruh dunia !

Sedangkan Hee Thian Siang mengukir dengan huruf-huruf yang berarti :

Kawanan penjahat terbasmi semua, Pek-kut atau yang putih hancur menjadi abu !

Jumlahnya huruf sama-sama delapan buah, namun dalam guratan tulisan ada perbedaan.

Huruf-huruf yang diukir oleh Hee Thian Siang terdiri dari delapan puluh guratan. Sedang huruf-huruf yang diukir oleh Pek-kut Ie-su terdiri dari delapan puluh tiga guratan.

Jadi walau waktu untuk menyelesaikan kerjaan itu Hee Thian Siang bisa lebih cepat, tetapi ditilik dari guratan tulisan, Pek-kut Ie-su lebih banyak tiga gurat. Di dalam keadaan demikian, untuk memberi keputusan hanya tergantung dari dalam dan jeleknya guratan yang tergurat di atas tameng besi itu.

Keduanya lalu tukar tamengnya. Masing-masing memeriksa hasil pekerjaan lawannya. Hee Thian Siang yang melihatnya sebentar, menunjukkan sikap girang.

Kiranya Hee Thian Siang yang memiliki ilmu dari berbagai golongan tokoh-tokoh terkemuka dan terkenal, meskipun kekuatan tenaganya tidak beda jauh dengan Pek-kut Ie-su tetapi ia lebih unggul karena yang dipakai adalah ilmu jari tangan perguruannya yakni ilmu jari tangan Kian  thian cie hingga dalam hal itu ia lebih unggul dari lawannya.

Dengan demikian hingga Hee Thian Siang yang keluar sebagai pemenang dalam pertandingan babak pertama ini. Mengingat kemenangan yang di dapatkan dengan susah payah, maka ia mengucapkan terima kasih kepada Pek-kut Ie- su sambil memberi hormat kepadanya.

Pek-kut Ie-su setelah mengadu kekuatan tenaga dalam babak pertama ini, sudah tidak berani memandang rendah kepada Hee Thian siang. Tetapi masih menganggap paling- paling hanya dalam pertandingan ilmu Hian kang ini akan berkesudahan seri. Siapa tahu diluar dugaannya, dalam babak pertama ini ternyata Hee Thian Siang yang lebih unggul.

Kemenangan Hee Thian Siang untuk sementara tidak diketahui oleh orang luar. Tetapi Hee Thian Siang sudah mengumumkan kemenangannya. Karena itu Pek-kut Ie-su jadi mendongkol. Maka ia lalu mengajak Hee Thian Siang untuk segera mengadu kekuatan tenaga dalam. 

Oleh karena kemenangannya dalam mengadu ilmu Hian kang, Hee Thian Siang agaknya sudah mulai yakin akan kepandaiannya sendiri. Maka ia lalu berkata sambil tertawa :

"Tadi cara-cara mengadu ilmu Hian kang adalah aku yang menetapkan dan supaya kita bertanding dengan adil, maka sekarang seharusnya kaulah yang menetapkan dengan cara bagaimana mengadu kekuatan tenaga dalam itu."

Pek-kut Ie-su hanya menunjukkan senyum simpulnya, tidak berkata apa-apa. Kemudian mengulurkan tangan kanannya.

Hee Thian Siang terkejut menyaksikan perbuatannya itu, tanyanya : "Jadi kau menghendaki mengadu kekuatan tenaga dalam dengan menempelkan telapakan tanganmu ?"

"Cara demikian ini hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalam yang sebenar-benarnya. Sedikitpun tidak boleh menggunakan akal untuk merebut kemenangan !"

"Siapa yang mau mencari kemenangan degnan cara bangsat ? Apa kau kira aku takut mengadu kekuatan dengan cara begitu ?"

Sambil berkata demikian, ia juga sudah mengulurkan tangan kanannya hingga menjadi satu menempel dengan telapakan tangan Pek-kut Ie-su.

Tiong sun Hui Kheng tampak mengerutkan alisnya. Berkata kepada ayahnya dengan suara sangat perlahan :

"Ayah, pertandingan sudah jadi begini. Berarti kalau belum ada salah satu yang mati, belum ada yang akan berhenti. Bagaimana kita harus bertindak ?"

"Bakat Hee Thian Siang boleh dibilang bagus." kata Tiong sun Seng seolah-olah menghiburi anaknya. "Kekuatan tenaganya cukup tinggi. Biarpun latihannya masih belum cukup sempurna tapi buat mempertahankan waktu, kurasa dia masih dapat mengimbangi Pek-kut Ie-su !"

"Tentang waktunya tahan lama, itu tak perlu diperbincangkan lagi. Sebab Hong hoat Cinjin locianpwe pernah menurunkan ilmu Tay hoan ciu lek kepadanya."

"Apalagi kalau ia sudah berhasil mempelajari ilmu Tay hoan ciu lek. Seharusnya ia tidak bisa kalah !"