Makam Bunga Mawar Jilid 33

 
Jilid 33

Say han kong lantas menjawab sambil menunjuk kepada tiga puncak gunung yang menjulang tinggi itu :

"Tiga puncak gunung ini adalah puncak tertinggi dari gunung Siong san. Yang berada disebelah timur bernama Tay-sek-hong, yang disebelah barat namanya Siao-sek-hong dan yang ditengah-tengah Cun-khek-hong namanya. Bagaimana kalau kita mendaki ke puncak Cun-khek-hong ini lebih dulu ?"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala sambil tertawa. Dengan demikian empat orang itu masing-masing lalu mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, mendaki puncak Cun-khek-hong.

Ilmu meringankan tubuh empat orang itu, adalah Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng yang paling mahir, Hok Sin In agak kurang dan yang paling ketinggalan adalah Say han kong. Tetapi Tiong sun Hui Kheng diam-diam sudah minta kepada Hee Thian Siang supaya agak mengendorkan gerakannya, supaya tetap terpisah tidak jauh dengan Say han kong, sehingga waktu tiba di puncak gunung boleh dikata hampir bersamaan waktunya.

Dugaan Say han kong ternyata benar, di puncak gunung Cun-khek-hong itu ada terdapat tanda-tanda bekas pertandingan antara Tiong sun Seng dengan lawan-lawannya.

Tetapi apa yang diketemukan hanya bekasnya saja, sedang orangnya sudah tidak ketahuan pergi kemana. Jelas mereka kembali sudah terlambat setindak.

Kali ini pada tanda-tanda bekas pertempuran itu, mereka telah menemukan tanda-tanda yang lebih mengejutkan lagi.

Di puncak gunung itu praktis tidak ada sejengkal tanah pun yang datar. Pertandingan itu dilakukan di tempat yang terjal dan miring menurun ke bawah. Di tempat yang miring itulah terdapat seratus delapan batang hio yang sebesar kira-kira jari tangan.

Say han kong lalu berkata sambil menunjuk hio sebanya seratus delapan buah itu :

"Kepandaian ilmu silat, sesungguhnya tidak ada batasnya. Orang yang mampu melakukan pertandingan diatas batang hio yang sekecil ini boleh terhitung orang-orang yang memiliki kepandaian luar biasa. Tapi yang mengherankan adalah seratus delapan batang hio ini bukanlah ditancapkan di tanah datar melainkan ditancapkan di tempat miring di lereng gunung. "

Hee Thian Siang lalu berkata :

"Bukan saja ditancapkan dilereng gunung yang tempatnya terjal dan miring, bahkan jarak antara batang-batang hio itu ada yang tinggi dan ada yang rendah, ada yang jauh dan ada juga yang dekat. Ada yang terpisah sejarak tiga empat kaki, tetapi ada yang terpisah hanya delapan dim saja. Tinggi rendahnya juga tidak teratur. Orang yang hendak melakukan pertandingan di atas batang hio tidak teratur ini, entah memerlukan tenaga berapa besar supaya dapat bertempur dengan tetap."

Selagi mereka berdua memperbincangkan soal ini, Tiong sun Hui Kheng dan Hok Sin In sudah berjalan ke bagian terujung dari batang-batang hio itu. Dan apa yang dilihatnya, membuat mereka tercengang.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, lalu bertanya sambil tersenyum :

"Enci Kheng, adik In, kalian telah melihat, ada apa-apa lagi

?"

Tiong sun   Hui   Kheng   berkata   sambil   menggerakkan

tangannya.

"Adik Siang dan Say locianpwe, lekas kemari ! Di sini ada terdapat hal-hal yang diluar dugaan kalian !"

Hee Thian Siang lalu menghampiri. Tampak di tanah bagian ujung yang ditancapi dengan batang hio itu terdapat tanda telapak kaki kiri yang kecil sekali.

Tiong sun Hui Kheng bertanya kepada Hee Thian Siang sambil menunjuk tanda telapak kaki kecil itu :

"Adik Siang, terhadap telapak kaki ini, bagaimana pandanganmu ?"

Tanpa banyak pikir Hee Thian Siang lalu menjawab :

"Aku mempunyai dua cara pemikiran untuk memecahkan soal itu !"

"Coba kau jelaskan !" "Kesatu, jelas kini kita dapat pastikan bahwa diantara lawan-lawan empek Tiong sun itu terdapat seorang wanita !"

"Engkoh Siang, apa artinya pemikiran semacam itu ? Melihat telapak kaki kecil seperti ini, siapa pun tentu akan langsung tahu tanda dari telapak kaki seorang wanita !" berkata Hok Sin In sambil tertawa.

Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menggoyang- goyangkan tangannya dan tertawa :

"Adik In, kuminta janganlah kau potong dulu keterangannya. Dengarlah dulu keterangan kelanjutan dari engkoh Siangmu !"

Hee Thian Siang lalu berkata pula :

"Kedua ialah tentang persoalan apa sebabnya terdapat satu tanda telapak kaki. Soal ini dapat juga dijawab memakai dua rupa cara pemikiran !"

"Perhitungan kali ini agaknya sangat teliti sekali." berkata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

Sambil mengawasi telapak kaki ditanah, Hee Thian Siang berkata :

"Menurut pandanganku, wanita ini ada cacadnya, yaitu hanya tinggal satu kakinya !"

Hok Sin In lantas berseru :

"Ah ! Ini masih terhitung suatu penilaian juga ?"

"Nona Hok, kau tak boleh tidak mengakui pandangan Hee laote seperti ini. Adalah merupakan suatu penjelasan yang cukup beralasan !" berkata Say han kong. Hok Sin In lalu bertanya kepada Hee Thian Siang sambil mengerutkan alisnya :

"Engkoh Siang, bagaimana pandanganmu yang kedua ?"

Hee Thian Siang lantas menjawab sambil tersenyum girang

:

"Pandanganku yang kedua ialah : Kuanggap perempuan ini dalam pertandingan di atas batang-batang hio itu kalah sejurus sehingga terdesak oleh empek Tiong sun dan terpaksa lompat turun dengan tergesa-gesa, dengan hanya satu kaki menginjak tanah sehingga ia tidak dapat menguasai diri. Ya sendirinya, dengan demikian, maka meninggalkan sebuah tanda telapakan kaki yang cukup dalam."

Kini barulah Hok Sin In menganggukkan kepala dan berkata :

"Kalau ini, baru masuk diakal !"

"Dalam menganalisa segala hal, kita harus berpegangan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Kemudian barulah diteliti dengan pandangan objektive dan akhirnya mengambil kesimpulan yang terakhir. Dengan demikian kadang-kadang kita mendekati faktanya !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

"Adik Siang, dari mana kau belajar filsafat ini ?" bertanya Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

"Enci Kheng, filsafat ini adalah kau sendir yang mengajarkan padaku !" jawab Hee Thian Siang.

Tiong sun Hui Kheng makin heran, katanya :

"Kapan pernah kuajarkan kau filsafat semacam ini ?" "Enci Kheng bagaimana mudah menjadi lupa ? Waktu pertama kali kita terkurung di puncak gunung Kun lun, bukankah kau pernah mengambil suatu kesimpulan dan kepastian tentang datangnya Siang Biauw Yan ke puncak gunung itu dengan perhitunganmu yang kau pertimbangkan dengan analisa-analisa dari kejadian yang pernah kita hadapi

? Waktu itu aku pernah memuji caramu ini, sesungguhnya sangat cerdik. Dan aku berjanji di kemudian hari apabila mendapat kesempatan, pasti akan belajar dan membuktikan sendiri !"

Kini Tiong sun Hui Kheng baru sadar, katanya sambil tertawa :

"Oh begitu ? Tapi kalau kau hendak menganalisa benar- benar dari dua kemungkinan yang kau katakan tadi, harus bisa kau ambil salah satu saja dari keduanya sebagai kesimpulan yang paling tepat."

"Untuk mengambil kesimpulan yang paling tepat diambil dari kenyataan yang menurut pandangan objective lebih dulu. Biarlah akan kuperiksa dulu batang-batang hio ini !"

"Mengapa harus periksa dulu batang hionya ?" tanya Hok Sin In.

Tiong sun Hui Kheng yang berdiri di sampingnya berkata : "Adik In, aku mengerti maksud engkoh Siangmu. Dalam

anggapannya tadi, jikalau perempuan tadi benar-benar kalah sejurus dari ayahku dan dipaksa hingga lompat turun ke tanah dengan kaki yang begitu terpaksa menginjak tanah dan tidak dapat mengendalikan dirinya, maka diatas barisan batang- batang hio ini pasti juga terdapat tandanya !"

"Benar, benar ! Enci Kheng benar seorang pandai dalam menganalisa sesuatu urusan !" Hok Sin In yang merasa senang mendengar keterangan itu, lalu berkata :

"Biarlah aku saja yang memeriksa batang-batang hio itu.

Bolehkan ?"

"Adik In tidak perlu memeriksa seluruhnya, asal kau bisa periksa batang-batang yang lebih pendek, kau perhatikan betul-betul itu sudahlah cukup !" kata Hee Thian Siang.

Hok Sin In menurut. Ia memeriksa dengan seksama. Benar saja, batang-batang hio itu hanya menancap sedikit saja di tanah. Tetapi ada satu yang menancap lebih dalam, terinjak dengan kekuatan tenaga yang lebih hebat.

Keadaan ini telah membuktikan bahwa apa yang diduga oleh Hee Thian Siang ternyata tepat, juga terbukti bahwa dalam pertandingan di puncak gunung ini, Tiong sun Seng sudah mendapat kemenangan.

Say han kong yang mendengar Tiong sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang tadi memperbincangkan soal ini yang ternyata sangat tepat dengan keadaannya, lantas memberi pujian. Ia pikir bahwa jago-jago muda ini benar-benar lebih hebat dari orang-orang yang lebih tua. Maka ia telah berjanji kepada diri sendiri hendak mengamalkan baktinya dalam ilmu ketabiban supaya dapat menolong sesama manusia.

Sambil memuji kepandaian dua anak muda tadi, matanya ditujukan kepada tanda telapakan kaki kecil itu, dalam hatinya mendadak timbul satu pikiran aneh.

Tiong sun Hui Kheng sementara itu yang menyaksikan Say han kong mengerutkan alisnya, seperti sedang berpikir keras, lalu bertanya sambil tertawa :

"Say locianpwe, locianpwe sedang memikirkan apa ?" "Aku sedang memikirkan tanda telapakan kaki perempuan ini!" berkata Say han kong sambil menunjuk tanda telapak kaki kecil itu.

"Say locianpwe juga ingin turut coba menganalisa soal ini

?" berkata Hok Sin In sambil tertawa.

"Aku bukannya hendak mencoba menganalisa, cuma hendak menyumbangkan suatu pikiran yang mungkin tidak ada dasarnya sedikitpun." kata Say han kong sambil menggoyang-goyangkan tangan.

"Coba locianpwe tolong terangkan pikiran apa yang ada dalam hati locianpwe." minta Tiong sun Hui Kheng.

"Menurut pandangan dan dugaan Hee laote tadi, diantara musuh Tiong sun tayhipa ada salah satu kaum wanita. Betulkah ?"

Hee Thian Siang yang tidak mengerti apa maksud ucapan Say han kong tadi, ia hanya menganggukkan kepala dengan perasaan heran.

Say han kong kembali sudah berkata pula sambil tertawa : "Pikiranku yang timbul itu ialah musuh perempuan Tiong

sun tayhiap itu, apakah tidak mungkin kalau lebih dari seorang

?"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu juga, lantas mengerutkan alisnya untuk berpikir.

Hok Sin In yang sikapnya masih kekanak-kanakan, sudah membuka lebar sepasang matanya dan berkata kepada Say han kong :

"Say locianpwe, locianpwe anggap bukan cuma seorang saja ? Lalu menurutmu, ada berapa orangkah ?" Tiong sun Hui Kheng tiba-tiba bertanya kepada Say han kong sambil mengerutkan alisnya :

"Say locianpwe, apakah locianpwe menganggap bahwa musuh ayah itu adalah seorang laki-laki dan dua orang wanita

?"

"Nona Tiong sun benar-benar sangat cerdik. Aku tadinya menganggap, dugaanku mungkin berbeda jauh dengan kenyataan !" berkata Say han kong sambil menganggukkan kepala.

"Say locianpwe, dugaan locianpwe ini tak selisih jauh dengan kenyataan. Bahkan mungkin begitulah sebenarnya !" kata Tiong sun Hui Kheng dengan sikap sungguh-sungguh.

Hee Thian Siang yang mendengar dari samping diliputi oleh berbagai pertanyaan, maka ia lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng dan Say han kong :

"Enci Kheng dan Say locianpwe, kalian sebetulnya sedang mengadakan teka teki apa ? Alangkah baiknya kalau locianpwe lekas jelaskan, supaya adik In juga bisa turut mendengar dan segera tahu !"

"Rupanya Say locianpwe sudah tahu benar siapa yang menjadi lawan-lawan ayah itu ?" kata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa getir.

Hee Thian Siang mengawasi Say han kong, Say han kong lalu berkata sambil tersenyum

"Aku kira tiga lawan Tiong sun tayhiap itu adalah Hong tim Ong khek May Ceng Ong, Siang swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan Kiu thian Mo lie Tang Siang Siang !"

Mendengar keterangan itu, Hee Thian Siang terkejut. Ia berkata dengan masih diliputi oleh kesangsian : "May locianpwe suami istri, memang benar mereka bertiga cocok dengan dugaan kita beramai. Tapi mereka dengan empek Tiong sun adalah sahabat lama."

Tiong sun Hui Kheng lalu menyela :

"Apakah adik Siang sudah lupa bahwa ayah berkata kepada Say locianpwe bahwa hal ini, semua adalah gara- garaku ?"

Hee Thian Siang teringat soal terjunnya Liok Giok Jie ke dalam jurang, maka lalu mengeluarkan seruan "Ouw !" lantas tidak mengatakan apa-apa lagi.

Hok Sin In nampak semakin bingung, ia lalu bertanya kepada Say han kong :

"Say locianpwe, mengapa locianpwe bisa berpikir sampai ke situ ? Apa perlunya ayahku dan kedua ibuku, sampai mengadakan pertandingan dengan empek Tiong sun ?"

Say han kong yang ditanya demikian oleh Hok Sin In secara mendadak demikian, untuk sesaat tidak tahu bagaimana harus menjawab. Maka terpaksa hanya tertawa getir kepadanya.

Hok Sin In menampak Say han kong tidak mau menjawab, maka lalu minta keterangan kepada Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng, lantaran mereka berat untuk membuka rahasia tentang nasib Liok Giok Jie, maka semua juga diam.

Hok Sin In melihat semua tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya,maka dalam hati merasa kesal hingga matanya menjadi merah dan hendak mengeluarkan air mata. Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian, lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil menghela napas panjang :

"Adik Siang, tak perlu rasanya kita membuat adik In terbenam dalam kecurigaan. Ceritakanlah kepadanya semua kejadian di tepi jurang gunung Ko lee kong san !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu lalu menceritakan kepada Hok Sin In apa yang telah terjadi dengan Liok Giok Jie.

Hok Sin In mendengarkan dengan tenang, setelah mendengar habis keterangan Hee Thian Siang bibirnya lalu tersungging senyuman girang.

Hee Thian Siang terkejut dan bertanya :

"Adik In, semula kami tidak mau memberitahukan kepadamu tentang encimu Liok Giok Jie yang sudah buang diri ke dalam jurang, karena aku takut setelah mendengar kabar itu kau akan menjadi sedih. Tapi mengapa sekarang kelihatannya kau menjadi begitu girang ?"

"Bukan cuma aku saja yang girang, kalian juga seharusnya merasa girang semua !" berkata Hok Sin In sambil tersenyum.

Hee Thian Siang baru memikirkan jawaban Hok Sin In itu, Tiong sun Hui Kheng sudah bertanya kepadanya :

"Adik In, kau mempunyai pemandangan apa ? Coba kau ceritakan padaku !"

"Aku juga mempunyai dua perkiraan. Kesatu aku kira lawan empek Tiong sun itu kalau   bukan   ayah   dan   kedua ibuku. " Tiong sun Hui Kheng sudah memotong sambil menggeleng-gelengkan kepala :

"Adik In, pemikiranmu yang pertama ini sama sekali tidak bisa jadi. Aku kira lawan ayahku seratus persen adalah May locianpwe dan Leng dan Tang cianpwe !"

"Kalau benar ayah dan ibuku, itulah yang baik. Sebab bila benar ayahku lantaran kesimpulan enci, lalu muncul dan hendak membikin perhitungan kepada empek Tiong sun, maka dengan berdasar atas ini, jelaslah bahwa enciku pasti belum mati !" berkata Hok Sin In dengan serius.

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu lalu saling berpandangan dengan Say han kang dan berkata sambil tertawa :

"Say locianpwe, kita benar-benar bodoh sekali. Mengapa waktu itu tidak terpikirkan oleh kita yang kemungkinan itu ?"

"Asal enciku tidak mati saja, maka siapa lagi engkoh Siang juga ada disini dan bayinya juga dalam keadaan selamat. Ada kesalahan apa yang tidak dapat dipecahkan ? Tunggulah kita satu sama lain dapat bertemu, semua akan menjadi beres !" berkata pula Hok Sin In sambil tertawa.

"Ucapan adik In ini meskipun benar, tetapi orang tua itu semuanya bisa melakukan perjalanan demikian pesat. Apalagi berjalan lebih dahulu. Sudah tentu kita tidak dapat mengejar mereka, tidak bisa memberi penjelasan. Bukankah berarti harus tunggu dulu ayahku dan ayahmu dari puncak gunung Ngo gak melakukan pertandingan terus sampai ke lembah kematian ? Kalau sampai terjadi kesalahan. "

Hok Sin In mengerutkan alisnya, sementara Hee Thian Siang yang sejak tadi mendengarkan terus lantas berkata sambil tertawa : "Enci Kheng tak usah cemas. Soal ini sebenarnya mudah sekali diselesaikan !"

Tiong sun Hui Kheng memandang Hee Thian Siang sejenak, katanya terheran-heran :

"Adik Siang, hari ini kau benar-benar sudah berubah menjadi seorang pintar yang banyak akalnya. Aku ingin dengar kau ada mempunyai pandangan bagaimana lagi. Apa kau dapat membereskan persoalan sulit ini ?"

"Satu-satunya jalan untuk melenyapkan kesalahpahaman itu ialah memberi penjelasan seketika itu juga !"

"Kita tidak dapat mengejar ayah, bagaimana harus menjelaskan dihadapan mereka ?"

"Untuk mengejar para locianpwe itu berarti sangat mudah !"

"Adik Siang, kau sebenarnya mempunyai berapa tinggi kepandaian ? Mengapa kau berani mengucapkan perkataan begitu sombong ?"

"Segala persoalan kurasa tidak baik kalau dihadapi dengan hati cemas. Begitu hati cemas lantas menjadi kalut. Enci Kheng barangkali lantaran khawatir akan diri empek Tiong sun, maka dari itu tidak dapat memikirkan dengan seksama ! Cobalah sekarang kau pikir lagi baik-baik, bukankah kita bisa saja dengan mudah mengejar empek Tiong sun dan lain- lainnya ?"

Tiong sun Hui Kheng yang sangat cerdik, begitu ditunjukkan oleh Hee Thian Siang lantas mengerti. Maka katanya :

"Apakah maksud adik Siang hendak melepaskan maksud perjalanan kita yang melalui perjalanan demikian jauh, kemudian dari sini langsung menuju ke gunung Heng san ?" Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian berpaling dan bertanya kepada Say han kong :

"Say locianpwe, bagaimana pendapatmu mengenai cara ini

?"

"Menurut perhitungan dari perjalanan ke gunung Heng san dan Siong san ini, memang dapat dipastikan bahwa Tiong sun tayhiap dan lain-lainnya setelah berlalu dari sini, pasti seterusnya akan menuju ke sana. Jikalau kita tidak melakukan perjalan memutar ke propinsi San tong, tetapi langsung ke bagian utara gunung Ngo gak, seharusnya bisa mendahului mereka sampai di tempat yang dituju !"

Hee Thian Siang melihat semua orang menerima baik usulnya, merasa sangat girang. Lalu bersama-sama Say han kong dan Tiong sun Hui Kheng serta Hok Sin In langsugn melakukan perjalanan menuju ke gunung Heng san.

Katanya dengan perasaan bangga :

"Say locianpwe dan enci Kheng serta adik In, untung nasib Liok Giok Jie yang terjun ke jurang apabila masih dilindungi oleh Tuhan sehingga tidak binasa, bahkan dengan itu telah menyebabkan diri May locianpwe dan lain-lainnya keluar dan terjun lagi ke dunia Kang ouw, aku juga mempunyai pikiran lain !"

Tiong sun Hui Kheng tersenyum kepada Hok Sin In dan Say han kong, kemudian berkata :

"Kulihat adik Siang sekarang rasanya jadi senang sekali memikirkan segala persoalan yang sulit-sulit dan sekarang mungkin juga hendak mengutarakan pikirannya lagi. Biarlah kita dengarkan baik-baik !" "Menurut ucapan enci Kheng, ketika It-pun Sin-ceng tiba di gunung Ko lee kong san dan memasuki kamar Bo chiu sek di lembah Mo cui kok, tidak menemukan May locianpwe, Leng dan Tang locianpwe, sudah tidak berada disana lagi." berkata Hee Thian Siang.

"May locianpwe bertiga tidak ingin lagi terlibat dalam urusan dunia Kang ouw, maka mencari tempat yang lebih sepi untuk menghabiskan sisa hidupnya !" kata Tiong sun Hui Kheng sambil mengangguk-anguk.

"Tempat sepi itu, tentu terletak di bawah jurang dimana Liok Giok Jie terjun !"

"Dari apa yang kita saksikan sekarang ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa taksiran adik Siang ini hampir mendekati kenyataan !"

"Jikalau bukan May locianpwe berdiam di bawah jurang itu dan secara kebetulan telah dapat menolong Liok Giok Jie, juga tidak akan menimbulkan kesalahpahaman besar seperti ini. Pantas saja sebelum Tiong sun tayhiap meninggalkan Thian sin peng, aku pernah mendengar ada orang menyanyikan sajak Lie gie san........." dan Say han kong tertawa.

"Mengapa Say locianpwe waktu itu tidak mengatakan ? Sajak dari Lie gie san itu, justru merupakan merk dari May locianpwe ! Sekarang benar-benar telah terbukti bahwa dugaan kita pasti tidak salah lagi !" berkata Hee Thian Siang.

Karena sudah mengetahui dengan pasti bahwa lawan- lawan yang dihadapi oleh Tiong sun Seng itu adalah May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang, maka tentang nasib Liok Giok Jie sudah dapat dipastikan tidak sampai terbinasa di bawah jurang. Maka itu Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Hok Sin In, dalam hati merasa senang. Dengan muka berseri-seri lalu berangkat ke gunung Hong san, bersiap-siap menantikan kedatangan Tiong sun Seng, May Ceng Ong dan lain-lain supaya dapat dijelaskan kepada mereka segala persoalannya. Sebab, bila semuanya sudah jelas, maka ayah dan anak, suami dan istri bisa berkumpul menjadi satu.

Tetapi setelah tiba di gunung Heng san, mereka kembali merasa sangsi. Entah dimana harus menantikan kedatangan Tiong sun Seng dan lain-lain. Cuma, apabila terjadi kesalahan lagi, untuk melanjutkan pengejarannya, barangkali terpkas harus menuju ke Hoa san dan akhirnya ke lembah kematian di gunung Cong lam.

Say han kong yang merupakan orang tertua diantara mereka dan juga sudah mempunyai banyak pengalaman, setelah berpikir sejenak lalu memilih empat puncak gunung yang paling tinggi. Ia berkata kepada Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Hok Sin In :

"Empat puncak gunung ini lebih tinggi dari yang lainnya. Tiong sun tayhiap dan lain-lain pasti akan memilih satu diantaranya untuk melakukan pertandingan. Kita sekarang harus berlaku cepat, tidak boleh lengah lagi. Maka sebaiknya kita lantas sembunyikan diri untuk menantikan kedatangan mereka."

Hee Thian Siang dan lain-lainnya merasa bahwa cara itu memang tepat. Maka mereka lebih dulu mempersiapkan banyak bekal makanan kering, bekal bahan bakar yang perlu digunakan untuk memberi tanda satu sama lain, mereka terlah berjanji barang siapa yang melihat kedatangan Tiong sun Seng lebih dulu segera melepaskan tanda api ke tengah udara untuk mengumpulkan yang lain-lainnya dan supaya semua bisa cepat berkumpul ke tempat dimana tanda api dilepaskan.

Say han kong, Tiong sun Hui Kheng dan Hok Sin In, masing-masing sudah segera memilih satu puncak gunung. Oleh karena tidak ada kejadian luar biasa di puncak-puncak dimana mereka sembunyi, maka disini tidak diceritakan. Tapi ditempat yang di jaga oleh Hee Thian Siang, pada hari ketujuh telah terjadi suatu peristiwa luar biasa.

Hee Thian Siang yang sedang kesepian dengan seorang diri menantikan kedatangan Tiong sun Seng, lagi pula tidak berani meninggalkan posnya, tiba-tiba mendengar suara orang menggunakan ilmu meringankan tubuh yang agaknya sedang mendaki puncak gunung dimana ia sembunyi.

Mendengar suara orang mendaki gunung, ia juga bisa segera mengetahui bahwa orang-orang itu ternyata memiliki kepandaian ilmu silat yang sudah sempurna.

Benar juga dugaannya, namun jumlah orangnya ternyata tidak seperti apa yang diduga. orang yang mendaki gunung itu ternyata cuma dua orang saja.

Hee Thian Siang tidak mengerti. Selagi memikirkan persoalan itu, diatas gunung Heng san tampak berkelebat bayangan hitam, orang itu ternyata sudah unjuk diri, seorang laki-laki dan seorang wanita muncul disitu !

Tempat sembunyi Hee Thian siang itu adalah di dalam sebuah sarang burung raksasa yang dapat digunakan untuk meneduh dari hujan dan angin.

Ia berada di tempat tinggi, jadi dapat melihat ke bawah dengan jelas. Setelah mengetahui siapa orangnya yang mendaki gunung itu, terkejut dia bukan main, ternyata jauh sekali diluar dugaannya !

Sebab orang yang mendaki gunung ini, bukanlah Tiong sun Seng dan May Ceng Ong suami istri melainkan adalah dua orang pelindung hukum partai Ceng thian pay, Pek-kut Sian- cu dan Pek-kut Ie-su adanya ! Di dalam hati Hee Thian Siang berpikir, apakah dugaan- dugaannya, juga pemikiran Tiong sun Hui Heng serta Say han kong keliru semua ? Apakah orang-orang yang sedang bertempur dengan Tiong sun Seng itu adalah Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu ini ?

Belum lenyap pikirannya, Pek-kut Ie-su yang kini sudah tiba dibawah pohon, bertanya kepaad Pek-kut Sian-cu sambil tersenyum :

"Apakah puncak gunung ini yang kau maksudkan itu ?" "Benar, barangkali paling lama setengah jam kemudian

Tiong sun Seng dan lain-lainnya akan sampai juga di tempat ini !" menjawab Pek-kut Sian-cu sambil menganggukkan kepala.

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu, diam-diam merasa terkejut. Dalam hati bertanya-tanya kepada dirinya sendiri : Apakah Tiong sun Seng tidak bertindak seorang diri ? Ataukah ada kawan yang membantu ?

Sementara itu terdengar suara tertawa Pek-kut Ie-su yang kemudian disusul lagi dengan kata-katanya :

"Kesempatan kali ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Kita harus lebih dahulu mencari suatu tempat untuk sembunyi, disitu kita boleh duduk sambil menonton perkelahian antara dua ekor harimau. Tunggu salah satu sudah merasa lemah atau kehabisan tenaga, barulah kita unjuk diri !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu barulah sadar bahwa Tiong sun Seng masih ada lawan lain, sedangkan dua manusia iblis ini hanya secara kebetulan saja mengetahuinya dan dalam keadaan yang menguntungkan itu, mereka ingin memancing ikan dalam air keruh untuk kepentingan diri mereka sendiri. Berpikir sampai disitu, Hee Thian Siang merasa khawatir sebab dua manusia iblis itu juga hendak mencari tempat untuk sembunyikan diri. Seandai mereka juga memilih pohon besar yang sangat rindang yang sedang ditempatinya, bukanlah berarti jejaknya akan segera diketahui oleh mereka ?

Benar saja, Pek-kut Sian-cu lantas menunjuk sarang burung raksasa dimana Hee Thian Siang sembunyi, berkata sambil tertawa :

"Di atas pohon ini ada sebuah sarang burung raksasa, paling cocok buat kita sembunyikan diri !"

Pek-kut Ie-su yang mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tersenyum :

"Tiong sun Seng datangnya sungguh cepat sekali, kini mereka sudah tiba ditengah-tengah puncak gunung ini !"

"Kalau begitu, kita perlu lekas-lekas sembunyi !" kata Pek- kut Sian-cu.

Dua manusia iblis itu sambil berjalan menuju ke bawah pohon besar dimana Hee Thian Siang sembunyikan diri, berkata lagi sambil menunjuk sarang burung besar itu.

"Kita hanya boleh sembunyi di belakang pohon besar ini, sekali-kali tidak boleh mengambil tempat di dalam sarang burung itu !"

"Apa kau khawatir karena besarnya sarang burung itu yang gampang menarik perhatian orang ?" tanya Pek-kut Sian-cu sambil tertawa.

Pek-kut Ie-su menganggukkan kepala.

"Sarang burung sebesar ini gampang sekali menimbulkan perhatian orang. Dalam sarang burung ini bahkan mungkin ada sembunyi sejenis binatang atau burung berbisa. Bila kita mengejutkan mereka, bukankah akan segera diketahui jejak kita oleh orang lain ?"

Hee Thian Siang ketika menampak sepasang manusia iblis itu berjalan menghampiri ke pohon besar dan memilih sarang burung yang sedang ditempatinya, perasaannya mulai tegang. Tapi setelah mendengar perkataan Pek-kut Ie-su, ia jadi tenang kembali.

Tidak lama setelah Pek-kut Sian-cu dan Pek-kut Ie-su sembunyi di bawah pohon besar di puncak gunung Heng san itu, sudah meluncur lagi empat bayangan orang.

Kali ini orang yang muncul disitu benar seperti apa yang diduga oleh Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng. Mereka adalah Thian gwa Seng-mo Tiong sun Seng, Hong tim Ong khek May Ceng Ong, Siang swat Sianjin Leng Biauw Biauw dan Kiu thian Mo Lie Tang Siang-Siang ! Tetapi diluar dugaan, Liok Giok Jie ternyata tidak ada diantara mereka.

Hong-tim Ong khek May Ceng Ong membuka mulut lebih dahulu sambil menatap wajah Tiong sun Seng :

"Kita sudah mengadakan pertandingan berturut-turut melalui tiga puncak gunung Heng san, Siong san dan Tay san. Ternyata kepandaian ilmu saudara Tiong sun sangat tinggi sekali hingga pihak kita agak mengalami sedikit kekalahan. Hari ini dan ditempat ini, jika tidak bisa mendapat keputusan yang menentukan, May Ceng Ong tidak suka lagi berdiri di puncak tertinggi di gunung Heng san ini !"

Tiong sun Seng kelihatan sangat sabar, ia berkata dengan wajah berseri-seri :

"Pertemuan kita dari puncak gunung Ngo gak hingga saat ini cuma tinggal gunung Hoa san di bagian barat yang belum kita kunjungi dan lembah kematian di gunung Cong lam sebagai tempat terakhir. Perlu apa saudara May henda menetapkan keputusan di tempat ini ?"

"Diantara lima puncak gunung Ngo gak itu, puncak gunung Heng san inilah yang terkenal paling tinggi. Kalau kita bisa mati ditempat ini, rasanya boleh juga !"

"Kekuatan dan kepandaian kita sebetulnya berimbang. Saudara May suami istri juga tidak mau mengeroyok. Jadi kurasa barangkali tidak mudah mengambil keputusan cepat- cepat !" kata Tiong sun yang masih tetap dengan senyumnya yang ramah.

May Ceng Ong berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala :

"Tidak begitu. Kali ini aku hendak mengeluarkan ilmuku yang terampuh dan mematikan untuk mengadu jiwa denganmu ! Harap saudara Tiong sun berhati-hati sedikit !"

Tiong sun Seng menampak May Ceng Ong, nampaknya sudah marah benar-benar lalu mundur setengah langkah dan berkata sambil tersenyum :

"Setiap kali sebelum aku mengiringi kehendak saudara May suami istri, harus lebih dulu menjelaskan tentang diri Hee Thian Siang dan anak perempuanku Tiong sun Hui Kheng, supaya agak lega hatiku !"

Leng Biauw Biauw turut bicara, dengan alis berdiri berkata :

"Kata-katamu seperti ini sudah terlalu basi buat kami !" "Jikalau kalian suami istri tetap tidak memberikan

kesempatan bagiku untuk memberi penjelasan, maka aku juga tidak mau mengiringi kehendak kalian lagi !" berkata Tiong sun Seng yang masih tertawa berseri-seri. May Ceng Ong dalam keadaan terpaksa, lalu menganggukkan kepala dan berkata :

"Kalau saudara Tiong sun menghendaki demikian, harap lekas kau katakan. Aku hendak minta kepadamu untuk memberi sedikit penilaian tentang ilmu silatku yang baru kupelajari !"

Kini Tiong sun Seng tampak sungguh-sungguh, sinar matanya dengan tajam menyapu May Ceng On bertiga dengan suara lantang :

"Dengan nama kehormatanku sebagai jaminan, berani jamin bahwa Hee Thian Siang tidak mungkin demikian rendah martabatnya menyia-nyiakan putri kalian. Anak perempuanku Tiong sun Hui Kheng juga tidak mungkin memaksa Liok Giok Jie terjun ke dalam jurang !"

Hee Thian Siang yang menyaksikan Tiong sun Seng sudah hendak mengadakan pertandingan lagi dengan suami istri May Ceng Ong, hatinya merasa cemas. Tetapi lantaran sepasang manusia iblik Pek-kut sembunyi di bawah pohon, ia jadi tidak berani melepaskan tanda apinya untuk memberitahukan kepada Tiong sun Hui Kheng, Hok Sin In dan Say han kong.

Pada saat itu, Kiu thian Mo lie Tang Siang Siang sehabis mendengar ucapan Tiong sun Seng demikian, lalu berkata :

"Kalau menurut ucapan saudara Tiong sun ini, apakah cerita Liok Giok Jie itu saudara boleh anggap sebagai karangan belaka ?"

"Nona Liok Giok Jie bagaimana bisa mengarang yang bukan-bukan ? Tetapi dia mungkin lantaran anak kesayangannya diculik orang, sehingga mendapat pukulan bathin terlalu hebat. Dengan sendirinya pikirannya juga menjadi. " Siang swat Siangjin Leng Biauw Biauw lalu memutus ucapannya sambil tertawa dingin :

"Bagaimana pun juga saudara Tiong sun membantah, Hee Thian Siang tidak bisa luput dari dosanya yang menelantarkan anakku !"

Tiong sun Seng masih tetap berlaku sabar, katanya sambil tertawa :

"Hee Thian Siang adalah seorang pemuda yang penuh cita rasa. "

Belum habis ucapannya, May Ceng Ong sudah perdengarkan suara tertawa dinginnya, kemudian berkata :

"Ia terhadap anak perempuanmu mungkin demikian. Tetapi terhadap anakku, adalah lain !"

Hee Thian Siang yane mendengar sampai disitu tahu bahwa kesalahpahaman itu sudah tertanam terlalu dalam, tidak mungkin dapat dijernihkan hanya dengan perkataan Tiong sun Seng saja. Maka tanpa menghiraukan akibatnya, lebih dulu ia melepaskan tanda api ke tengah udara untuk memanggil Tiong sun Hui Kheng, Hok Sin In dan Say han kong supaya berkumpul di tempat ini, kemudian lompat turun dan jalan ke tengah-tengah lapangan seraya berkata dengan suara nyaring :

"May locianpwe, urusan ini semua terjadi karena salah paham. Dengarlah penjelasan Hee Thian Siang. "

Belum habis ucapannya, May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang sudah menggerakkan lengan baju masing-masing hingga mengeluarkan hembusan angin yang luar biasa hebatnya, menggulung tubuh Hee Thian Siang. Oleh karena Hee Thian Siang tahu dibelakang pohon itu ada sembunyi sepasang iblis yang mengawasi, maka ia khawatirkan akan melancarkan serangan tiba-tiba terhadap dirinya dan oleh karena itu pula maka waktu ia meloncat turun, sepenuh perhatiannya ditujukan kepada sepasang iblis Pek- kut itu. Sedikitpun tidak menduga bahwa May Ceng Ong suami istri sudah demikian rasa bencinya terhadapnya dirinya dan sudah melancarkan serangan dengan tangan ganas.

Setelah hembusan angin itu menggulung dirinya, ia baru sadar. Tetapi dalam keadaan terdesak, jangankan untuk mengelak, sedangkan untuk menyambut dengan kekerasan saja juga sudah tidak keburu. Maka ia terpaksa mengerahkan ilmunya Kian thian sin kang dengan kekuatan tenaga delapan puluh persen untuk sekedar menahan serangan dari tiga orang tua tadi dan dua puluh persen yang lainnya untuk melindungi bagian jantungnya supaya jangan sampai terserang dari dua pihak.

Ilmu Kian thian sin kang, warisan Pak bin Sin po meskipun merupakan salah satu ilmu terampuh dalam rimba persilatan, lagi pula dalam waktu belakangan ini Hee Thian Siang sudah mendapat kemajuan pesat, tetapi karean terpisah dalam jarak terlalu dekat, lagi pula Hee Thian siang sama sekali tidak menduga kalau bakal menghadapi serangan demikian, bagaimana ia sanggup menhadapi serangan May Ceng Ong bertiga yang demikian hebat ? Ketika hembusan angin itu menggulung dirinya, hembusan angin yang keluar dari ilmunya Kian thian sin kang segera menjadi buyar dan saat itu Hee Thian Siang merasakan jantungnya berdebar keras, tenggorokannya merasa asin dan tubuhnya terbang ke belakang sehingga mematahkan beberapa batang pohon, barulah terjatuh ke tanah.

Tiong sun Seng yang menyaksikan kejadian itu menghela napas dan buru-buru lompat melesat memburu ke tempat dimana Hee Thian Siang jatuh. Hee Thian Siang masih bertahan untuk menahan rasa sakit dalam dirinya, ia masih dapat mengeluarkan ucapan dengan suara gemetar :

"Empek..... Tiong sun, Pek-kut Sam mo. sedang

sembunyi buat cari kesempatan di belakang pohon besar ini !"

Ia menyemburkan darah segar hingga jubah panjang Tiong sun Seng jadi kecipratan banyak darah.

Tiong sun Seng mengerutkan alisnya, jari tangannya segera bergerak menotok beberapa jalan darah di tubuh Hee Thian Siang, setelah itu ia lalu berkata ke arah belakang pohon besar itu :

"Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu, kalian berdua juga sudah berada di gunung Heng san ini. Mengapa tidak mau unjuk muka ? Apakah ingin mendapat keuntungan dalam pertempuran antara aku dengan May Ceng Ong ?"

Ucapan Tiong sun Seng ini sesungguhnya sangat cerdik. Bukan saja sudah mengatakan secara blak-blakan maksud kedua iblis tadi, tetapi juga merupakan suatu peringatan kepada May Ceng Ong suami istri.

Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian-cu benar-benar tidak menduga bahwa didalam sarang burung raksasa itu ternyata ada sembunyi Hee Thian Siang. Dan kini karena Tiong sun Seng sudah menyebut namanya, bagaimana mereka ada muka untuk sembunyi terus ? Maka sambil perdengarkan tawanya yang aneh, lantas keluar dari tempat sembunyinya.

Tiong sun Seng sambil memberikan dua butir pel ke dalam mulut Hee Thian Siang berkata kepada May Ceng Ong suami istri :

"Saudara May lekas kemari, mari kuperkenalka kalian kepada dua tokoh terkemuka yang namanya sangat terkenal di daerah Patbong. Ini adalah Pek-kut Ie-su dan Pek-kut Sian- cu dari barisan Pek-kut Sam-mo !"

May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang sudah lama tahu tentang diri dua manusia iblis ini. Maka setelah mendengar ucapan Tiong sun Seng diam-diam juga terkejut.

Mereka bertiga berjalan menghampiri, May Ceng Ong setelah tertawa terbahak-bahak lalu berkata kepada dua manusia iblis itu :

"Saudara berdua kebetulan pesiar di gunung Pak gak ini ataukah benar seperti yang dikatakan oleh saudara Tiong sun ingin mengail ikan di dalam air keruh ?"

Pek-kut Ie-su tahu, menghadapi orang-orang seperti Tiong sun Seng dan May Ceng Ong, tidak bisa berbohong. Maka lalu menjawab :

"Kami sebetulnya secara kebetulan dapat tahu bahwa May tayhiap suami istri hendak mengadu kepandaian dengan Tiong sun tayhiap di atas puncak gunugn Heng san ini. Mak itulah kami baru sengaja datang kemari untuk menyaksikan suatu pertandingan yang bermutu !"

"Perlu apa menggunakan kata-kata yang muluk-muluk ? Kalau saudara berdua ada minat, untuk sementara kita suami istri akan menangguhkan pertandingan dengan saudara Tiong sun. Lebih dulu hendak main-main dengan saudara berdua. Bukan lebih interesan ?" berkata May Ceng Ong sambil tertawa dingin.

Pek-kut Ie-su adalah seorang yang sangat licik. Menghadapi empat tokoh yang sangat kuat dalam rimba persilatan itu, sedang pihaknya sendiri cuma ada dua orang, bukan saja jumlahnya yang selisih jauh, tetapi juga tindakan itu bisa membuat lawannya nanti akan bersatu untuk menghadapi pihaknya sendiri. Maka kalau menerima baik tantangan May Ceng Ong, berarti merugikan pihaknya sendiri.

Oleh karena itu, maka ia lalu berkata kepada May Ceng Ong sambil tersenyum :

"May tayhiap suami istri pernah bersama-sama dengan ketua-ketua partai Ngo bie, Bu tong, Tiam yang, Lo hu, Swat san, Siao lim dan Tiong sun tayhiap, mengutus Hee Thian Siang laote pergi ke puncak gunung Tay pek hong untuk menyampaikan surat tantangan kepada Hian Wan Liat dan Kim-hoa Seng-bo suami istri, orang-orang dari partai Ceng thian pay, minta bertanding dan mengadu kepandaian pada musim Tiong ciu tahun depan. Apakah sekarang perlu harus dirobah waktunya buat melakukan pertandingan lebih dahulu disini ?"

May Ceng Ong merasa heran mendengar ucapan itu, tanyanya :

"Apakah kau sudah melihat sendiri surat tantangan itu ?"

Pek-kut Ie-su yang mendengar pertanyaan itu diam-diam juga heran, jawabnya :

"Di dalam surat tantangan itu terdapat nama-nama May tayhiap suami istri, bagaimana aku tidak mengetahui hal itu ? Untung orang yang mengantarkan surat ialah Hee laote juga ada disini. Jika ia nanti sudah sadar, May tayhiap tentu dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya tidak, May tayhiap tentu akan anggap pinto membuat karangan sendiri !"

May Ceng Ong tahu bahwa Pek-kut Ie-su sudah mengucapkan kata-kata demikian, pasti bukanlah bohong. Maka lalu berkata sambil mengerutkan alisnya : "Kalau ada hal serupa itu, aku suami istri seharusnya akan menunggu sampai bulan Tiong ciu tahun depan untuk bertemu lagi di puncak gunung Tay pek hong dan sekarang "

Pek-kut Ie-su yang mengerti selatan, segera berkata sambil tertawa :

"May tayhiap tentunya tidak ingin kami mengganggu kesenangan kalian yang akan mengadakan pertandingan dengan Tiong sun tayhiap. Maka pinto bersama Pek-kut Sian- cu hendak mohon diri lebih dulu !"

Sehabis mengucap demikian, juga tanpa menunggu jawaban May Ceng Ong, keduanya sudah menggunakan ilmunya meringankan tubuh, melayang turun dari puncak gunung Heng san.

Setelah kedua manusia iblis ini berlalu, Leng Biauw Biauw berkata kepada Tiong sun Seng sambil menunjuk Hee Thian Siang yang masih dalam keadaan pingsan :

"Tiong sun Seng, perlu apa kau masih hendak membela dirinya ? Bocah ini telah menggunakan nama kita untuk mencari gara-gara "

Belum habis ucapannya, empat tokoh terkemuka dalam rimba persilatan itu mendadak tercengang. Karena kembali terdengar suara ada orang mendaki puncak gunung.

Sesaat kemudian, muncullah beberapa bayangan orang. Mereka itu adalah Hok Sin In yang terpisah paling dekat dengan Hee Thian Siang. Ketika menampak tanda api yang dilepaskan oleh Hee Thian Siang, maka lebih dulu tiba di tempat tersebut.

Tiong sun Seng yang mendadak menampak Hok Sin In muncul dalam keadaan selamat, disamping terkejut juga merasa girang, tanyanya : "Nona Hok, setelah kau tergelincir dari puncak gunung Wan san ke jurang Wan bun kini ternyata kau lolos dari bahaya dan dalam keadaan sehal wal afiat. Benar-benar kau sangat beruntung, kuhaturkan selamat padamu !"

Kiu thian Mo Lie Tang Siang Siang, masih belum tahu peristiwa apa yang menimpa diri Hok SIn In. Mendengar ucapan itu, lantas bertanya :

"In jie, kau kenapa ?"

Selagi Hok Sin In hendak menubruk ayah bundanya untuk menceritakan segala apa yang telah terjadi, tetapi ketika menampak Hee Thian Siang dalam keadaan pingsan dan bibirnya masih tampak darah sedang jubahnya Tiong sun Seng sendiri juga berlepotan darah, ia menjadi terkejut dan berkata sambil membanting-banting kaki :

"Kesalahpahaman ini sesungguhnya terlalu hebat. Ayah dan ibu berdua mengapa memukul engkoh Siangku sampai begini rupa ?"

May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang bertiga, mendengar Hok Sin In berkata demikian jadi mengetahui dalam urusan ini tentu ada terselip apa-apa yang tidak beres hingga tiga orang itu saling berpandangan, tidak ada yang bisa menjawab.

Sementara itu Tiong sun Seng lalu berkata sambil tersenyum :

"Jikalau nona Hok sudah mengetahui persoalan ini, lekas berikan penjelasan kepada ayah bundamu. Luka-luka engkoh Siangmu meskipun berat tetapi ia sudah makan pelku, jiwanya sudah tidak berbahaya lagi !"

Hok Sin In mendengar ucapan itu, hatinya merasa lega.

Katanya sambil tersenyum : "Asal engkoh Siangku tidak mendapat bahaya apa-apa, itulah baik ! Enci Tiong sun bersama Say han kong locianpwe sebentar lagi juga akan datang kemari !"

Setelah berkata demikian, maka ia lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpa dirinya dan bagaimana Hee Thian Siang serta Tiong sun Hui Kheng dengan susah payah berhasil menolong bayi Liok Giok Jie.

May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang bertiga, setelah mendengar uraian Hok Sin In selagi masih berdiri termangu-mangu karena merasa malu tindakannya sendiri yang terlalu gegabah, Tiong sun Hui Kheng dan Say han kong juga sudah tiba disitu.

Tiong sun Hui Kheng lebih dulu memberitahukan ayahnya, kemudian oleh Tiong sun Seng bersama-sama Say hankong pergi memeriksa Hee Thian Siang.

Tiong sun Hui Kheng mendengar berita bahwa Liok Giok Jie berada dalam keadaan selamat, hatinya merasa lega. Ia lalu berjalan menghampiri May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang bertiga, setelah memberi hormat lebih dahulu, ia lalu menceritakan apa yang telah terjadi dengan Liok Giok Jie di atas puncak gunung Ko lee kong san, kemudian ia juga minta maaf atas kesalahannya.

May Ceng Ong menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas, kemudian berkata :

"Siapa bisa menduga bahwa urusan ini ternyata demikian berbelit-belit ? May Ceng Ong sesungguhnya merasa malu dengan perbuatannya yagn tidak dipikir ini..."

Tiong sun Seng yang habis memeriksa Hee Thian Siang, setelah mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tersenyum

: "Saudara May jangan berkata begitu. Kita inilah dari sahabat-sahabat lama, siapa juga tidak akan menganggap besar urusan yang sepele. "

Leng Biauw Biauw yang beradat keras, semula karena ia menganggap Hee Thian Siang merusak kehormatan Liok Giok Jie, benar-benar sangat marah sekali hingga akan dibunuhnya hingga merasa puas, tetapi kini setelah kesalahpahaman itu menjadi jernih, timbullah perasaan menyesal dan cintanya kepada bakal menantunya itu. Maka ia lalu bertanya kepada Say han kong :

"Saudara Say, bagaimana keadaan Hee Thian Siang ?'

Say han kong setelah memeriksa keadaan luka Hee Thian Siang, lalu berbangkit dan berkata sambil tertawa :

"Bukan main hebat serangan yang Mya tayhiap suami istri lakukan. Kalau orang lain, tentu sudah hancur luluh isi perutnya dan mati seketika juga. Untung Hee Thian Siang laote ini sudah sempurna sekali tenaga dalamnya, lagi pula cukup kuat bakat pembawaan dari lahirnya. Maka bisa terhindar dari malapetaka. Tapi yang terang agak terpengaruh juga dirinya. Mungkin dia tidak dapat melakukan tugasnya dalam pertandingan dengan kawanan iblis di puncak Tay pek hong nanti !"

May Ceng Ong lalu berkata sambil mengerutkan alisnya : "Saudara   Say,   harap lekaslah   saudara   menggunakan

keahlian saudara sebagai tabib. Lebih dulu sembuhkanlah

luka-lukanya. Mengenai luka dalamnya yang mempengaruhi kekuatan dan kepandaiannya sehingga tidak memungkinkan dia mengikuti pertempuran di atas puncak Tay pek hong nanti, saudara tak usah kuatir. Masih ada aku suami istri dengan saudara Tiong sun disini. Bagaimana pun juga pasti akan berusaha untuk menolongnya !" Say han kong mendengar ucapan itu, lalu memberikan sebutir pel kepada Hee Thian Siang kemudian mengurut-urut dadanya dan belakang punggungnya supaya Hee Thian Siang bisa tidur nyenyak. Kemudian berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa :

"Nona Tiong sun, sayang getah pohon leng cie pemberian It-pun Sin-ceng sudah dipakai habis. Jikalau tidak, luka-luka Hee Thian Siang laote ini bukan saja tidak jadi halangan, bahkan akan sembuh dengan cepat !"

Leng Biauw Biauw yang menampak Hee Thian Siang setelah diurut-urut oleh Say han kong dan minum obatnya lantas tidur nyenyak, tetapi wajahnya sudah berubah dari pucat menjadi merah, lalu berkata kepada Tiong sun Seng dan lain-lainnya :

"Pohon leng cie adalah obat yang sangat mujijat dalam dunia. Meskipun sangat mujarab untuk memulihkan kembali segala penyakit, tetapi terhadap kekuatan tenaga dalam, masih kalah dengan cara menggunakan ilmu kekuatan tenaga dalam. Cara semacam ini harus mengisi semua otot-ototnya adn sum-sumnya sehingga seperti dirombak tulang-tulangnya, tetapi sayang. "

Say han kong lalu berkata sambil tertawa :

"Sayang apa yang leng liehiap maksudkan ? Apakah liehiap selama berdiam di atas gunung Ko lee kong san sudah mendapatkan semacam ilmu yang dinamakan Siao coan lun untuk menjadikan Hee laote ini sebagai orang baru ?"

"Ilmu Siao coan lun itu, kami suami istri sudah mempelajarinya tetapi harus ada lima orang buat lima tempat dan lima orang itu semuanya harus memiliki kepandaian tinggi dan kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna betul. Sekarang ini kecuali aku suami istri dan saudara Tiong sun masih kurang seorang lagi. Jikalau tidak, dalam waktu empat puluh sembilan hari, selesai menggunakan ilmu Siao coan lun itu, setidak-tidaknya Hee Thian Siang akan memiliki kekuatan tenaga tiga kali lipat dari yang dimiliki sebelumnya !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu lalu bertanya kepada ayahnya :

"Ayah, ilmu Siao coan lun yang diuraikan oleh Leng locianpwe tadi benarkah mempunyai khasiat demikian hebat

?"

"Ilmu Siao can lun memang benar bisa membuat orang seperti tukar tulang dan daging. Orang itu kalau sudah mendapat ilmu Siao coan lun setidak-tidaknya bisa menambah kekuatan tenaganya tiga kali lipat ! Tetapi diwaktu menggunakan ilmu itu, lebih dahulu harus mengunakan cara pengobatan dengan jarum emas untuk menguasai dulu semua jalan darah orang yang dipermak itu. Cara inilah yang paling susah. Sebab bila kurang hati-hati, bisa-bisa membuat ia cacad seumur hidupnya !" berkata Tiong sun Seng.

Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menunjuk Hee Thian Siang :

"Ayah, tentang ini tidak perlu terlalu dipikirkan. Ada Say han kong locianpwe sebagai tabib kenamaan dewasa ini disini. Ilmunya menggunakan jarum emas bahkan merupakan ilmunya yang paling dibanggakan !"

Say han kong berkata sambil mengangguk-angguk ke arah Leng Biauw Biauw dan Tiong sun Seng.

"Leng lihiap dan Tiong sun tayhiap harap teruskan saja usaha liehiap dan tayhiap untuk menggunakan ilmu Siao coan lun terhadap Hee laote. Tentang menggunakan jarum untuk menguasai jalan darahnya, biarlah aku yang tanggung jawab

!" "Terima kasih atas kebaikan saudara Say. Tetapi untuk menggunakan ilmu ini membutuhkan lima orang yang menduduki lima tempat dan sekarang masih kurang seorang. " berkata Leng Biauw Biauw sambil mengerutkan

alisnya.

Say han kong tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata : "Leng lihiap tidak usah khawatir. Pilihan orang itu sudah

ada. Nona Tiong sun ini diwaktu belakangan ini kekuatan tenaganya mendapat kemajuan sangat pesat, dapat dipercayakan untuk tugas ini !"

Leng Biauw Biauw agaknya masih belum percaya, ia mengawasi Tiong sun Hui Kheng.

Tang Siang Siang yang berdiri di samping, lalu berkata sambil tersenyum :

"Tiong sun titlie, bukan kita tidak percaya kekuatan tenagamu. Sebab untuk melakukan tugas menjalankan ilmu Siao coan lun ini harus orang yang sudah mahir benar dan sempurna kekuatan tenaganya. Apabila ada sedikit kesalahan, bukan saja usaha kita tersia-sia semua, itu akan membuat Hee Thian Siang mendapat bahaya !"

Hok Sin In yang mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tersenyum :

"Ibu tak usah khawatir, kepandaian dan kekuatan enci Tiong sun ini benar-benar hebat !"

Leng Biauw Biauw masih belum percaya sepenuhnya, mengulurkan tangan kanannya kepada Tiong sun Hui Kheng sambil tersenyum : "Tiong sun Hui Kheng mengerti maksud Leng Biauw Biauw. Ia juga mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum sehingga kedua telapakan tangan mereka saling menempel.

Sesaat kemudian, Leng Biauw Biauw perlahan-lahan menarik kembali tangannya. Berkata kepada May Ceng Ong sambil tertawa :

"Peruntungan Hee Thian Siang benar-benar sangat bagus. Kekuatan tenaga dalam Tiong sun titlie ini sudah cukup sempurna !"

Tiong sun Hui Kheng bertanya sambil tersenyum :

"Empek dan bibi, hendak dengan cara bagaimana untuk menggunakan ilmu Siao coan lun ini terhadap adik Siang ?"

May Ceng Ong setelah berpikir sejenak, baru menjawab : "Lebih dulu kita harus meilih tempat. Untuk itu ada lebih

baik kalau kita menggunakan tempat ini saja. Kita cari sebuah

goa untuk menyalurkan kekuatan baru itu !"

Tiong sun Hui Kheng menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian berkata :

"Tempat ini kurang baik !"

"Apa hian titlie sudah mempunyai tempat pilihan yang lebih baik dari sini ?" tanya May Ceng Ong sambil tersenyum.

Tiong sun Hui Kheng mengawasi kepada semua orang itu sejenak, kemudian berkata sambil tersenyum :

"Kukira paling baik dilakukan di istana Tiauw in kiong di gunung Bu san. Kesatu karena It-pun Sin-ceng dan suciku Hwa Jie Swat bisa turut membantu. Hal ini rasanya lebih sip. kedua empek May dan bibi sekalian, juga bisa sekalian menengok cucu yang kini berada disana !"

"Pikiran nona Tiong sun ini benar-benar sangat sempurna. Kita tetapkan saja pergi ke Tiauw in kiong di gunung Bu san untuk menyembuhkan Hee Thian Siang dengan ilmu Siao coan lun !" berkata Leng Biauw Biauw sambil tertawa.

Tiong sun Hui Kheng bertanya sambil tersenyum : "Bibi, dimana adanya adik Liok Giok Jie sekarang ini ?"

"Ia tergelincir dari puncak gunung sehingga patah kakinya. Maskipun sudah kami obati dengan sekuat tenaga, tetapi masih perlu berdiam seratus hari dibawah jurang sepi itu !" berkata Leng Biauw Biauw.

Tiong sun Seng juga lantas berkata kepada May Ceng Ong

:

"Saudara May, ada satu hal yang seharusnya telah kau

lakukan tapi sampai saat ini belum kau lakukan !" "Urusan apa ?" tanya May Ceng Ong heran.

"Itu adalah soal yang menyangkut diri Liok Giok Jie dan Hok Sin In yang seharusnya dipulihkan kembali she mereka kepadamu !" berkata Tiong san Seng sambil tertawa.

"Oh ! Urusan itu tidak perlu dilakukan upacara segala. Cukuplah sudah asal suruh mereka berdua selanjutnya dirobah shenya menjadi May dan disebut May Giok Jie dan May Sin In. Lalu, setelah pertandingan di puncak gunung Tay pek hong selesai, kami suami istri akan mengucapkan terima kasih lagi kepada ketua Ngo bie pay Hian hian Sianlo atas jerih payahnya yang sudah membesarkan dan mendidik In jie sehingga dewasa !" Selesai berunding, serombongan tokoh-tokoh rimba persilatan itu lalu meninggalkan gunung Heng san, langsung menuju ke gunung Bu san hendak menyembuhkan luka-luka Hee Thian Siang dengan menggunakan ilmu Siao coan lun.

It pun Sin ceng bersama Hwa Jie Swat yang waktu itu justru berada di kediamannya di Tiauw in kiong dan sedang memelihara anak Hee Thian Siang, tiba-tiba menampak Tiong sun Seng dan lain-lainnya tiba hingga mengetahui bahwa May Giok Jie, May Sin In, kedua-duanya tidak ada halangan suatu apa, maka juga merasa sangat girang.

Ilmu Siao-coan lun itu kecuali dilakukan oleh Tiong sun Seng, Leng Biauw Biauw, May Ceng Ong dan Tang Siang Siang berempat, yang setiap orang menguasai satu kedudukan, satu orang lagi ditugaskan kepada It-pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat. Sedang Say han kong ditugaskan untuk mengobati dengan jarum emasnya.

Tiong sun Hui Kheng tiba-tiba tergerak hatinya, ia lalu berkata kepada May Ceng Ong :

"Empek May, untuk menggunakan ilmu Siao coan lun, apakah hanya bisa dilakukan kepada seorang saja ?"

"Bukah hanya terbatas kepada seorang. Bisa juga ditambah dengan satu orang lagi. Apabila hiantitlie. "

May Ceng Ong baru bicara sampai disitu, telah dipotong kata-katanya oleh Tiong sun Hui Kheng.

"Kekuatan tenaga dalamku ada sedikit lumayan. Tetapi apakah sekiranya bisa empek May dan bibi sekalian, selagi berkumpul ditempat ini dan setelah selesai menyembuhkan adik Siang, juga menggunakan ilmu itu untuk anak adik Giok Jie ?" Leng Biauw Biauw yang sedang menggendong cucunya mendengar ucapan itu lalu menganggukkan kepala sambil tertawa :

"Usul Tiong sun titlie ini ada baiknya. Nanti habis kita gunakan ilmu ini untuk menyembuhkan Hee Thian Siang, bayi ini juga bisa sekalian kita sempurnakan !"

Setelah mengambil keputusan demikian dan semua persiapan sudah disediakan, maka mulailah mereka melakukan pengobatan secara itu untuk menyembuhkan luka Hee Thian Siang.

Dalam waktu empat belas hari, benar saja Hee Thian Siang sudah sembuh dari lukanya, kekuatan tenaganya bahkan sudah tambah berlipat ganda.

Sedang bayinya sendiri, tampaknya juga sangat segar.

Oleh kakeknya, bayi itu diberi nama Giok ......

Kini, tugas berat yang dihadapi oleh tokoh-tokoh rimba persilatan itu hanya tinggal satu ialah mengadakan pertandingan dengan golongan orang-orang sesat di puncak gunung Tay pek hong.

Tetapi karena waktunya itu masih cukup panjang, harian Tiong ciu tahun depan masih jauh, Tiong sun Hui Kheng lalu mengusulkan supaya pergi ke Ko lee kong san dulu untuk mengembalikan bayi itu kepada May Giok Jie dan menjelaskan segala sesuatu yang telah terjadi supaya May Giok Jie bisa lekas pulih kesehatannya.

Semua orang yang mendengar usul itu, serentak menyatakan setuju. Lalu bersama-sama, It-pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat juga turun dari gunung Bu san melakukan perjalanan ke gunung Ko lee kong san. Di tengah perjalanan Hee Thian Siang bertanya kepada Tiong sun Seng :

"Empek Tiong sun, selama waktu belakangan ini, mengapa keadaan rimba persilatan tampak tenang sekali ?"

"Keadaan tenang ini menunjukkan bahwa orang-orang kedua belah pihak, semua sedang mempersiapkan tenaga masing-masing. Juga suatu pertanda bahwa pertemuan besar di gunugn Cong lam nanti bakalan jadi ramai sekali !" menjawab Tiong sun Seng sambil tertawa.

"Betapa hebat dan dahsyatnya pertempuran di gunung Cong lam nanti kita dapat bayangkan dari sekarang. Aku hanya mengharap Hee kouw locianpwe dalam perjalanannya ke daerah Patbo itu bisa membinasakan Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat suami istri sehingga tidak bisa membuat pihak golongan sesat di dalam pertandingan besar itu nanti mendapat pengaruh lebih besar dari Pat-bao Yao-ong suami istri !" berkata Hee Thian Siang.

"Adik Siang, kau khawatirkan apa ? Empek May dan kedua bibi sekarang mau turun gunung. Kedudukan pihak kita dan pihak musuh bukankah boleh dikata sudah berimbang ?" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

Hee Thian Siang sebenarnya juga tahu bahwa kedudukan kedua pihak berimbang. Tetapi Tiong sun Seng, May Ceng Ong dan lain-lain dapat mengalahkan Pat-bao Yao-ong suami istri atau tidak, itulah disangsikan olehnya.

Akan tetapi meskipun dalam hatinya merasa khawatir, di luarnya tidak berani menyatakan. Terpaksa mengalihkan pembicaraannya ke soal lain :

"Pat-bao Yao-ong memelihara banyak sekali binatang- binatang buas yang aneh-aneh. Mengenai binatang-binatang peliharaannya itu, sudah ada Siaopek dan Taywong yang akan menghadapi. Tapi burung-burung anehnya, itulah pasti akan dirajai oleh pihak sana. Sedangkan Leng toako yang hendak menghadiahiku burung rajawali sayap emas, entah kapan baru akan dibawa."

Hok Sin In yang mendengar ucapan itu, nampaknya sangat tertarik. Sambil menarik tangan Hee Thian Siang, ia berkata :

"Engkoh Siang, apabila benar-benar ada seekor burung rajawali bersayap emas dan mengerti bahasa manusia, bukanlah kita boleh gunakan sebagai binatang tunggangan untuk menjelajahi angkasa ?"

Tiong sun Hui Kheng berkata sambil tertawa :

"Harapan adik Siang dan adik In seperti ini. Mungkin dalam pertemuan besar di gunung Cong lam itu nanti bisa terkabul sebab Swat san Peng lo Leng Pek Ciok adalah seorang yang tidak mudah memberikan janji kosong. Karena ia sudah memberikan janji seperti itu, sudah pasti akan dilaksanakan !"

"Kecuali urusan ini, masih ada lagi yang masih kukuatirkan

!" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa getir.

Tiong sun Hui Kheng tampak berpikir, tetapi tidak mengutarakan maksudnya.

Tanyanya : "Hal apa lagi yang menguatirkan hatimu ?" "Bom Kian thian pek lek peninggalan suhu masih berada di

tangan Siang Biauw Yan, Bo Cu Keng dan lain-lainnya. Karena barang pusaka itu berada di tangan orang jahat seperti mereka itu, bagaimana pun juga masih menguatirkan hatiku !" kata Hee Thian Siang.

"Adik Siang, sewaktu di puncak gunung Kun lun kau telah memberitahkan kepada Bo Cu Keng bahwa diatas bom Kian thian pek lek itu terdapat tanda-tanda yang merupakan bintang tujuh dan diatasnya yang ada tanda hitam apabila dicabut tutupnya lalu bisa digunakan. Kukira apa yang kau beritahukan padanya itu tidak mungkin benar. Dengan demikian, maka orang-orang itu meskipun mempunyai benda pusaka yang amat dahsyat itu tapi kalau tidak bisa menggunakannya, bukankah masih tetap tidak ada gunanya ? Mengapa kau masih pikir-pikir lagi ? Apa yang perlu dikuatirkan lagi ?" berkata Tiong sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa getir, kemudian berkata sambil mengerutkan alisnya :

"Enci Kheng tidak tahu. Sekarang aku benar-benar amat menyesal kenapa sewaktu di puncak gunung Kun lun itu demikian bodoh sehingga membuat kekeliruan !"

Tiong sun Hui Kheng terkejut. Tanyanya :

"Apakah kau berikan keterangan yang benar-benar buat menggunakan bom Kian thian pek lek itu ?"

"Cara yang sebenarnya buat menggunakan bom Kian thian pek lek ialah cabut tutupnya yang ada tanda titik hitam lalu dilemparkan ke tengah udara setinggi lima tombak lebih, sedang kita yang melemparkan harus lekas-lekas sembunyikan diri. Sebab kalau barang peledak itu turun dan jatuh di tempat kira-kira satu tombak, akan segera meledak denga menggetarkan tanah-tanah disekitarnya !"

"Kalau keterangan yang kau berikan dahulu itu bukan keterangan yang sebenarnya.  "

"Keteranganku itu meskipun bukan yang sebenarnya, tetapi waktu itu aku sebetulnya mengandung pikiran jahat terhadap mereka !"

Tiong sun Seng yang mendengar ucapan itu lalu bertanya sambil tersenyum : "Hiantit kata ada mengandung pikiran jahat. Sebetulnya bagaimana ?"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, katanya dengan suara tidak lancar :

"Oleh karena boanpwe benci sekali terhadap Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan serta yang lain-lainnya, maka boanpwe pikir hendak meminjam bom peledak Kian thian pek lek itu untuk memberi hajaran kepada mereka atas kejahatan- kejahatan mereka selama ini. Waktu itu boanpwe kata harus dicabut yang ada tanda hitam itu !"

Tiong sun Seng agak mengerti maksud Hee Thian Siang, ia bertanya pula sambil tersenyum :

"Apakah setelah dicabut tutup yang ada tanda hitamnya itu lantas terdapat perobahan kepada Kian thian pek lek ?"

"Asal tutup itu dicabut, bom Kian thian pek lek segera akan meledak !"

"Ouw ! Akibatnya dari ledakan itu hanya membuat Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan mati dalam keadaan hancur lebur dan di pihak kita cuma kehilangan sebuah benda wasiat saja juga tidak perlu kau merasa khawatir akan hal itu !" berkata Tiong sun Hui Kheng.

"Aku anggap bahwa Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan dengan berbagai akal dan cara memaksa aku untuk menerangkan caranya menggunakan bom Kian thian pek lek itu, maksudnya pasti untuk menggunakan benda wasiat itu untuk menjagoi rimba persilatan !"

"Hal ini toh tidak perlu kau menduga-duga lagi ? Siapa pun akan lantas tahu bahwa kawanan penjahat dari Kun lun pay itu pasti mempunyai maksud dan hasrat seperti itu !" "Kalau kita sudah mengetahui benar maksud dan tujuan dari kawanan penjahat Kun lun pay itu maka waktu yang paling baik bagi mereka untuk menggunakan bom peledak tersebut kukira adalah cuma waktu diadakan pertandingan bear di puncak Tay pek hong pada bulan Tiong ciu tahun depan !"

"Tokoh-tokoh terkemuka dari golongan baik dan golongan sesat pada bulan Tiong ciu tahun depan semuanya akan berkumpul di puncak gunung Tay pek hong. Bila Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan dan lain-lainnya pada waktu dan tempat itu menggunakan bom Kian thian pek lek, akibatnya sesungguhnya sangat hebat dan tidak dapat kita terangkan bagaimana ngerinya !"

"Kalau enci Kheng sudah mengetahui bahayanya, coba pikir bagaimana aku bisa tidak merasa menyesal ? Mana bisa aku tidak merasa khawati, aku takut orang-orang Kun lun pay yang memiliki bom peledak itu lalu timbul pikiran jahatnya dan mencabut tutupnya yang ada tanda hitam itu ? Bukankah diatas puncak gunung Tay pek hong nanti akan berubah bagaimana macamnya ?"

"Kekuatiran adik Siang ini memang pada tempatnya. Maka kita harus berusaha sebelum tiba waktunya pertemuan besar di atas puncak gunung Tay pek hong nanti lebih dulu kita harus bereskan kawanan penjahat Kun lun pay. Dengan demikian barulah kita lebih aman !"

"Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan dan lain-lain telah mengetahui cara menggunakan bom Kian thian pek lek itu. Sedangkan pusatnya isatan Kun lun kiong juga sudah ditinggalkan dan kabur jauh. Di dalam dunia yang luas ini kemana kita harus mencari jejaknya ?"

"Ini sesungguhnya merupakan suatu persoalan yang pelik. Bila benar bom Kian thian pek lek itu nanti diledakkan di puncak gunung itu dan benar-benar membawa akibat hancurnya semua orang, ini benar-benar merupakan suatu hal yang patut sangat disesalkan !"

Tiong sun Seng juga merasa bahwa persoalan ini sangat penting, maka lalu bertanya kepada Hee Thian Siang :

"Hee hiantit. Bom Kian thian pek lek itu meskipun merupakan benda wasiat milik suhumu dan juga merupakan benda pusaka yang menggetarkan dunia Kang ouw tetapi mungkin kau sendiri belum pernah tahu atau melihat sendiri betapa hebatnya barang itu !"

"Boanpwe benar-benar belum pernah menyaksikan hebanya Kian thian pek lek itu !" menjawab Heee Thian Siang.

"Dahulu di permukaan lau Pak bin sering diganggu oleh naga-naga berbisa. Naga-naga itu sering membalik-balikkan kapal-kapal atau perahu-perahu yang berlayar disitu dan orang-orang yang ada di dalam kapal-kapal itu semua dijadikan mangsanya hingga merupakan suatu bencana di lautan itu ! Suhumu lalu menggunakan bom peledak Kian thian pek lek untuk membinasakan naga yang sangat ganas itu. Hanya sebutir saja sudah cukup dapat membinasakan naga- naga berbisa yang jumlahnya ada empat ekor itu. Di sini dapat kita bayangkan sampai dimana hebatnya bom peledak itu. Bila diberi kesempatan, Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan membawa barang itu ke puncak gunung Tay pek hong, maka semua tokoh-tokoh rimba persilatan, satu pun barangkali tidak akan yang luput dari bencana kematian !" berkata Tiong sun Seng sambil tertawa.

Hong tim Ong khek May Ceng Ong yang mendengar ucapan itu lalu berkata sambil mengerutkan alisnya :

"Kalau demikian halnya, kita hendak mencari jejak mereka juga sulit dan untuk berjaga-jaga demikian juga. Maka satu- satunya jalan ialah pada waktu hendak diadakan pertandingan itu dilakukan penjagaan keras di sekitar puncak Tay pek hong. Jangan dibiarkan kawanan penjahat dari Kun lun pay itu mendaki puncak gunung !"

Siang swat Sianjin Leng Biauw Biauw lantas berkata : "Pikiranmu ini pikiran macam apa ? Puncak Tay pek hong

yang demikian luas, harus memerlukan berapa banyak tenaga

supaya dapat terjaga semua ? Apalagi kawanan penjahat Kun lun itu memang sudah mengandung maksud hendak menerbitkan bencana. Sudah tentu lebih dahulu sudah menyembunyikan diri di tempat yang paling bagus. Mana mungkin mereka mau datang tepat pada waktunya ?"

Di tegur demikian May Ceng Ong mengerutkan alisnya, kemudian bertanya :

"Lalu bagaimana menurut pikiranmu ?"

"Kalau memang sudah menjadi takdir kita, bagaimana pun juga kita tidak akan bisa mengelak. Sekarang biar pun kita pikir bolak balik juga akan cuma-cuma saja. Begini saja, aku cuma usul supaya kita semuanya berlaku waspada, tunggu sampai saat kita boleh selesaikan menurut keadaan dan gelagat !" menjawab Legn Biauw Biauw sambil tertawa.

Tiong sun Seng, May Ceng Ong dan Hee Thian Siang meskipun merasa tidak seharusnya bertindak tergesa-gesa pada saatnya nanti tiba, tetapi siapapun tidak dapat menemukan suatu cara yang baik untuk mencegah tindakan kawanan penjahat itu. Terpkasa mereka semua dima, sedang hati mereka diliputi rasa berat. Dalam keadaan demikianlah, mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke gunung Ko lee kong san.

Tiba di bawah gunung Ko lee kong san, May Ceng Ong lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi pada May Giok Jie. Dengan sendirinya semua kesalahpahaman lantas menjadi lenyap dan dua saudara itu dengan ayah bunda mereka serta dengan bayinya juga, semua sudah berkumpul menjadi satu dalam keadaan yang diliputi suasana kegirangan.

Oleh karena mengingat bahwa May Giok Jie telah melahirkan anak, maka May Ceng Ong perlu untuk menetapkan kedudukannya. Maka lalu berunding kepada Tiong sun Seng. Akhirnya diputuskan, baik Tiong sun Hui Kheng maupun May Giok Jie dan May Sin In bertiga tidak boleh dibeda-bedakan. Semua dinikahkan dengan Hee Thian Siang seorang. Tapi upacara pernikahannya ditunggu sampai selesainya pertandingan besar di bulan Tiong ciu tahun depan di puncak gunung Tay pek hong.

Tiong sun Hui Kheng, May Giok Jie dan May Sin In sudah saling bersepakat sebelumnya, begitu mendengar berita itu jadi tidak seberapa malu. Tapi bagi Hee Thian Siang meskipun dalam hati sangat girang, namun wajahnya saat itu tampak kemerah-merahan.

May Giok Jie yang masih belum sembuh benar luka-luka dipahanya, dengan adanya Say han kong disitu, dalam waktu tidak lama sudah sembuh semua luka-lukanya.

Sang waktu berlaludengan pesatnya, tanpa terasa bulan Tiong ciu sudah sampai waktunya. Tiong sun Seng dan May Ceng Ong merasa agak bingung.

Sebab mana pantas membawa-bawa seorang bayi dalam suatu pertempuran besar ? Tapi kalau mau ditinggalkan, harus dititipkan kepada siapa bayi tersebut ?

It-pun Sin-ceng rupanya dapat memahami pemikiran Tiong sun Seng dan May Ceng Ong semacam itu, maka berkata :

"Orang yang sudah mensucikan diri rasanya tidaklah baik kalau pergi menempuh bahaya atau melakukan pertempuran. Karena itu berarti saling bunuh. Bayi ini kemarikan saja, biar pinto yang merawatnya !"

Tiong sun Seng menampak It-pun Sin-ceng menyanggupi tugas itu lalu memerintahkan kepada Hwa Jie Swat juga tidak perlu ikut ke puncak gunung Tay pek hong dan berdiam di gunung Bu san untuk merawat bayi May Giok Jie.

Hwa Jie Swat berkata sambil tertawa :

"Sekarang ini muridmu sudah merasa tawar kepada nama dan kedudukan. Apabila hal ini terjadi pada beberapa tahun berselang, walaupun telah ada perintah demikian, rasanya muridmu ini dengan diam-diam akan pergi sendiri ke Tay pek hong untuk menyaksikan keramaian !"

Say han kong sebetulnya juga ingin berdiam di Bu san, tetapi karena Tiong sun Seng tahu ia pandai ilmu obat-obatan, takut kalau dalam pertandingan nanti ada orang terluka yang sudah pasti membutuhkan keahliannya untuk menyembuhkan, maka ia lantas mengajak pergi ke puncak gunung Tay pek hong.

Rombongan tokoh-tokoh rimba persilatan ini, pada tanggal dua belas bulan delapan sudah tiba di daerah gunung Cong lam. Mereka semua menantikan tibanya waktu yang dijanjikan untuk mendaki puncak Tay pek hong.

Hee Thian Siang menggunakan kesempatan itu, lalu bersama-sama Tiong sun Hui Kheng mengunjungi tamu pemabukan dari gunung Cong lam Ciauw San Gek lebih dulu, pergi ke tempat kediamannya di goa itu.

Hong hoat Cinjin yang kini sudah berhasil mempelajari ilmunya Cie yang sin kang dan Tay cin lek, sudah siap buat

maju dalam pertandingan besar nanti buat membangun kembali partai Bu tong. Hee Thian Siang pertama-tama mengembalikan peniti pedang emas yang dapat digunakan sebagai kuasa atau wakil Hong hoat Cinjin dan memberitahukan kepada padri itu bahwa ia sudah melakukan tugasnya menyuruh semua anak murid Bu tong pay supaya berkumpul di kaki puncak gunung Tay pek hong.

Hong hoat Cinjin yang melihat roman muka Hee Thian Siang sekarang, lalu berkata sambil tertawa :

"Hee laote dan nona Tiong sun benar-benar merupakan bibit-bibit muda yang paling baik dalam rimba persilatan dewasa ini, terutama Hee laote. Sejak perpisahan kita dulu, tampaknya sudah mendapat banyak kemajuan. Bila mata pinto ini belum terlalu lamur, laote menurut dugaan pinto mungkin lebih dulu sudah mendapat bencana tetapi kemudian menemui kejadian gaib lagi. Hasil yang kau capai sekarang ini, sudah cukuplah rasanya kalau cuma buat mengimbangi kekuatan dua manusia iblis Pek-kut Sam mo saja !"

Tiong sun Hui Kheng yang berada di dekatnya lantas berkata sambil mengangguk-angguk :

"Dugaan Cinjin ini tidak salah. Adik Siang memang benar pernah terluka parah, kemudian disembuhkan oleh ayah bersama May Ceng Ong, Leng Biauw Biauw dan Tang Siang Siang locianpwe, berbareng lima orang menggunakan ilmu Siao Coan lun sehingga bukan saja sembuh dari luka-lukanya, tetapi juga sudah tambah kekuatan tenaganya !"

Mendengar ucapan itu, Hong hoat Cinjin terkejut campur girang. Tanyanya :

"Apakah May tayhiap bersama Leng dan Tang liehiap juga sudah terjun kembali ke kalangan Kang ouw ?"

"Bukan cuma terjun kembali ke dunia Kang ouw saja, bahkan bersama-sama ayah kini sudah berada di gunung Cong lam ini. Hendak turut meramaikan suasana di puncak gunung Tay pek hong nanti !" Tiong sun Hui Kheng bersenyum.

Ciauw San Gek lalu berkata sambil tertawa :

"Tiong sun tayhiap, May tayhiap dan lain-lain adalah merupakan tokoh-tokoh kenamaan dalam rimba persilatan. Ciauw San Gek sudah lama ingin bertemu muka dengan mereka. Dimana mereka sekarang berada ? Bolehkah kiranya nona Tiong sun ajak aku menjumpai mereka ?"

"Ayahku dan lain-lainnya sekarang ini kebetulan hendak mencari tempat untuk menantikan datangnya waktu pertemuan besar itu......" Tiong sun Hui Kheng belum habis dengan kata-katanya telah dipotong oleh Ciauw San Gek.

"Bila Tiong sun tayhiap dan lain-lain tidak pandang hina gubukku yang reot ini. "

Hee Thian Siang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka lalu menyambungnya :

"Tiong sun locianpwe dan lain-lain justru ada itu maksud. Itu juga sebabnya kenapa Hee Thian Siang dan enci Kheng ini lebih dulu sudah datang kemari."

Ciauw San Gak tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata

:

"Tamu-tamu agung jarang ditemui. Jikalau datang

berkunjung kemari, benar-benar merupakan suatu kehormatan besar bagi kami ! Dalam goaku iji tidak ada apa-apanya yang istimewa, hanya arak buatanku sendiri yang rasanya dapat digunakan untuk menghidangi tetamunya !'

"Ciauw locianpwe demikian gemar bergaul. Maka aku sekarang juga hendak pergi mengundang ayah dan lain- lainnya untuk merepotkan locianpwe di temapt kediamanmu ini !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

Ciauw San Gek dan Hong hoat Cinjin tak mau meremehkan tetamunya. Maka bersama Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng, bersama-sama pergi menjemput Tiong sun Seng, May Ceng Ong dan lain-lain untuk diajak ke goa kediamannya dan disediakan arak buatannya yang istimewa.

Waktu dua hari dilewatkan dengan cepat. Tiong sun Seng dan lain-lain pada tanggal lima belas bulan delapan, pagi-pagi sekali sudah pergi mendaki ke puncak Tay pek hong.

Orang-orang rimba persilatan berbagai golongan dan partai sudah datang hampir semuanya. Tapi diantara orang-orang golongan sesat yang menjadi tuan rumah dalam pertemuan itu, tidak nampak istri Pat-bao Yao-ong, Kim-hoa Seng-bo !

Sedangkan Pek-tok Bie jin lo Pan Pek Giok juga entah apa sebabnya sudah kehilangan satu lengannya, kini hanya tinggal lengan kirinya saja.

Hee Thian Siang yang selalu tidak dapat melupakan kepada pusaka perguruannya Kiant hian pek lek yang hilang dari tangannya, maka waktu itu mencurahkan perhatiannya kepada orang-orang dari Kun lun pay. Tetapi ternyata baik Bo Cu Keng maupun Siang Biauw Yan atau Khong khong hweshio dan Pao It Hui serta lain-lainnya ternyata tidak tampak di dalam rombongan kawana penjahat yang ada disitu.

Ketika matanya terbentur dengan orang-orang golong Swat san pay, Mao Giok Ceng segera menegur sambil tersenyum :

"Hee laote, kau sedang mencari siapa ? Apakah mencari Leng toakomu ?"

Mendengar teguran itu, Hee Thian Siang baru mengetahui bahwa Swat san Peng lo Leng Pek Ciak ternyata juga tidak tertampak diantara rombongan orang-orang Swat san pay. Maka ia menganggukkan kepala dan tanyanya dengan perasaan terkejut :

"Mao locianpwe, apakah Leng toako mendapat bahaya juga di Hian peng goan dan tidak bisa turut serta kemari ?"

"Leng toakomu itu meskipun usianya sudah lanjut tapi pikirannya masih seperti anak-anak. Mana mau ia melepaskan kesempatan yang begini baik begitu saja ?" jawab Mao Giok Ceng sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Kalau benar Leng toako hendak turut datang, mengapa sampai sekarang belum datang ?" tanya Hee Thian Siang.

Peng-pek Sin kun yang sejak tadi berdiri di samping istrinya lalu menalangi menjawab sambil tertawa :

"Apa Hee laote sudah lupa pada janji Leng toakomu di Hian peng goan dulu ? Apa yang pernah dijanjikanya waktu itu ?"

Mendengar jawaban itu, Hee Thian Siang terkejut bercampur girang, maka bertanya kepada Peng-pek Sin-kun :

"Apakah Leng toako sedang mencarikan seekor burung rajawali untukku ?"

Mao Giok Ceng menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Ia mengambil dariku sebuah lukisan di jaman kuno dan pergi ke gunung Thian san sebelah utara untuk mencari Bu kie Sianseng. Sebelum berangkat ia pernah memesan, biar tidak mendapatkan burung raksasa juga ia pasti akan datang kemari lebih dulu !"

Hee Thian Siang baru mendengar jawaban itu, dibawah tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda. Tiong sun Hui Kheng lalu berkata sambil tersenyum :

"Ceng hong kie bersama Siaopek dan Taywong sudah datang !"

Tampak Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat membisikkan beberapa patah kata kepada Pan Pek Giok lalu tampak wanita bertangan satu ini keluar dari tempat duduknya dan langsung berjalan menuju ke lapangan dan berkata sambil menghadap orang banyak :

"Hian Wan Liat ong mempersilahkan tuan-tuan yang ada disini supaya bersiap-siap seperlunya. Nanti pada jam dua belas tengah hari akan dimulai pertandingan di sini !"

Hee Thian Siang lalu bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng dengan suara perlahan :

"Pek-lok Bie jin lo Pan Pek Giok ini kepandaian ilmu silatnya jgua termasuk tinggi, mengapa bisa kehilangan sebelah tangannya ?"

Tampak berputaran biji mata Tiong sun Hui Kheng, lalu terdengar kata-katanya yang diucapkan sambil tersenyum :

"Menurut dugaanku, urusan ini barangkali perbuatan Hee kouw Soan locianpwe."

"Dugaan enci Kheng mungkin benar. Tetapi Kim-hoa Seng- bo yang kabarnya lebih jahat dan lebih ganas dari pada Hian Wan Liat, kemana perginya dia ?" bertanya Hee Thian Siang sambil tertawa.

Tiong sun Hui Kheng mencari-cari diantara orang banyak, terutama kepada diri Pan Pek Giok. Ia mengawasi sekian lama, kemudian berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum : "Kalau adik Siang ingin mendapat jawaban yang paling tepat rasanya tidaklah sulit. Asal kau tanya kepada enci Pekmu itu, tentu kau segera akan mengerti !"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, selagi hendak berusaha untuk bertanya kepada Pan Pek Giok, dibawah puncak Tay pek hong tiba-tiba tampak lompat melesat sesosok bayangan putih dan bayangan kuning.

Kedua bayangan itu sudah tentu adalah munculnya Siaopek dan Taywong.

Yang agak mengherankan adalah didalam pelukan Taywong waktu itu ada sebuah patung kuno yang terbuat dari batu giok putih setinggi kira-kira setengah meter.

Setelah berada dipuncak Tay pek hong, Taywong meletakkan patung kuno yang tentunya sangat berharga itu ditengah-tengah lapangan.

Di leher patung kuno itu ada tergantung sebuah plat yang diukir dengan tulisan :

"Patung ini dipersembahkan kepada orang yang memiliki kepandaian paling tinggi"

Tiong sun Hui Kheng sangat heran atas kejadian itu maka lalu bertaya kepada Siaopek. Baru tahu bahwa Siaopek dan Taywong dalam perjalanannya ke puncak Tay pek hong tadi, di tengah jalan dihentikan oleh seorang tua berbaju hitam. Mereka disuruh membawa patung kuno itu ke puncak gunung Tay pek hong. Katanya harus dihadiahkan benda tersebut kepada orang kuat nomor satu yang merebut kejuaraan dalam pertandingan besar di puncak gunung itu.

Setelah duduknya perkara, oarng-orang kedua pihak masing-masing jadi pada menduga-duga. Namun tiada satu pun yang dapat menduga siapa sebetulnya orang tua berbaju hitam itu.

Oleh karena Pat-bao Yao-ong sudah mengumumkan bahwa pertandingan itu akan dimulai pada waktu tengah hari dan kini waktunya masih terlalu pagi, maka orang-orang dari golongan baik-baik sudah tentu menggunakan kesempatan itu pada mencari kawan masing-masing untuk mengobrol.

May Sin In yang seolah-olah hidup kembali banyak sekali dikerumuni orang-orang yang meminta keterangan dan pengalamannya, terutama ketua Ngo bie pay Hian hian Sianlo. Juga Sam chiu lo pan Oe tie Khao yang waktu itu pergi bersama-sama dengannya dan mengetahui terjadinya peristiwa itu. Ia tampak sangat girang dan terkejut sehingga ia menanyakan bagaimana ia bisa mendapat pertolongan.

Jikalau mengingat peristiwa yang mengerikan itu, Hok Sin In juga masih merasa jeri. Dalam keadaan sedih dan girang, ia berada dalam pelukan sucinya dan menceritakan semua apa yang terjadi atas dirinya.

Sedangkan Hee Thian Siang sehabis menemui beberapa kawan lalu pergi seorang diri. Matanya ditujukan ke bawah gunung, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan itu, lalu bertanya sambil tertawa :

"Apakah adik Siang ingat lagi kepada Leng toakomu dan burung rajawali raksasanya yang masih menjadi tanda tanya itu ?"

Hee Thian Siang menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab sambil tertawa getir :

"Enci Kheng, dugaanmu kali ini keliru ! Mana boleh aku terus menerus memikirkan burung raksasa yang masih belum menjadi kenyataan itu ? Aku sebenarnya sedang memikirkan diri Cin locianpwe yang bersama-sama aku melakukan perjalanan ke istana kesepian dan kemudian hilang di sana tanpa bekas !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengarkan jawaban itu mengangguk-anggukkan kepala, juga merasa terharu. Katanya :

"Cin locianpwe sebetulnya baik sekali terhadapmu, dalam usianya yang telah demikian lanjut. "

Baru berkata sampai disitu, tiba-tiba berdiam dan tersenyum.

HeeThian Siang terheran-heran, katanya : "Enci Kheng, mengapa kau tertawa ?"

"Aku kira, biarpun Cin locianpwe sampai mengalami bahaya tapi belum tentu jiwanya terancam. Malah sekarang ini mungkin sudah diketahui dimana adanya !"

Hee Thian Siang jadi semakin heran, tanyanya pula :

"Enci Kheng, apakah selama aku disembuhkan dengan ilmu Siao coan lun dalam waktu empat puluh sembilan hari itu, enci ada menemukan dewa peramal sehingga kau juga mengerti ilmu ramalan ?"

Tiong sun Hui Kheng tertawa geli ditanya demikian, dengan cepat katanya :

"Dari mana aku belajar ilmu ramalan ? Cuma berdasar sedikit kenyataan yang kudapat lalu kuduga-duga saja dengan pikiranku sendiri !" "Keahlian enci dalam menganalisa sesuatu perkara sesungguhnya tidak kalah dengan tukang ramal. Coba enci ceritakan supaya bisa agak berkurang kekuatiranku !"

"Tadi bukankah kau sudah menjumpai beberapa locianpwe

?"

"Justru waktu aku menjumpai para locianpwe dan tidak dapat menemukan Cin Locianpwe, barulah aku merasa khawatir akan nasibnya !"

"Waktu aku menjumpai Peng sim Sin-nie, apa katanya padamu ?"

"Peng sim Sin nie hanya menanya kepadaku sampai dimana sudah kupelajari ilmu simpanan golongan Lo hu Pan sian ciang lek yang salinannya telah diberikan kepadaku di malam pertemuan partai Ceng thian pay dahulu."

"Nah, berdasar dari kenyataan itulah lalu kuambil kesimpulan bahwa Cin locianpwe sekarang ini pasti sudah diketahui jejaknya. Kau bisa pikir begini, Cin locianpwe adalah susiok Peng sim Sin nie. Bila Peng sim Sin nie begitu lama tidak mendengar kabar berita tentang susioknya, waktu berjumpa denganmu mengapa tidak lantas ditanyakan tentang diri susioknya itu ?"

Hee Thian Siang kini barulah sadar, katanya sambil menganggukkan kepala :

"Dugaan enci Kheng ini memang sangat tepat, biarlah sekarang akan kutanyakan kepada Peng sim Sin nie."

Sehabis berkata demikian, ia lalu berjalan ke depan Peng sim Sin nie. Setelah memberi hormat, ia berkata sambil tertawa : "Sin nie, boanpwe numpang tanya. Apakah ada kabar tentang Cin locianpwe yang disampaikan kepada Sin nie ?"

Peng sim Sin nie menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Cin susiokku oleh karena tidak dapat mencari dirimu, maka lalu minta orang menyampaikan kabar ke gunung Lo hu. Katanya meskipun ia telah dibokong oleh senjata rahasia jarum dari Siang Biauw Yan tapi cuma kehilangan sebelah kaki kira. Jiwanya sama sekali tidak terancam bahaya."

Hee Thian Siang yang mendengar bahwa Cin Lok Pho diserang secara membokong oleh Siang Biauw Yan sehingga kehilangan kaki kirinya, di samping terkejut juga menunjukkan sikap sedih.

Peng sim Sin nie lalu berkata pula sambil tertawa :

"Hee laote tidak perlu terlalu sedih. Orang-orang rimba persilatan yang hendak membela keadilan dan kebenaran, kadang-kadang tidak menghiraukan jiwanya sendiri. Cin susiokku kehilangan kakinya, apa yang harus disedihkan ?"

"Mengapa Cin locianpwe tidak pulang ke gunung Lo hu ?" "Cin susiokku berkata bahwa ia masih ada urusan yang

perlu diselesaikan dahulu. Mungkin hari ini ia bisa tiba di Tay pek hong untuk berjumpa denganmu !"

Mendengar berita bahwa Cin Lok Pho masih dalam keadaan selamat, hati Hee Thian Siang meskipun merasa lega tetapi ia juga masih agak sedih karena orang tua itu kehilangan sebelah kakinya. Ia berkata kepada Tiong sun Hui Kheng dengan suara perlahan :

"Enci Kheng, kawanan penjahat seperti Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan dan lain-lainnya itu sebetulnya orang-orang yang tidak tahu malu dan jahat sekali. Kita harus berhati-hati terhadap mereka. Dimana sjaa kita ketemu mereka, harus segera turun tangan buat membalaskan sakit hati Cin locianpwe !"

"Tentu saja. Apakah kita masih perlu menunggu mereka melemparkan bom Kian thian pek lek lebih dahulu sampai terjadi bencana hebat dulu ?"

Bukan hanya Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng saja yang memperhatikan jejak Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan, orang-orang angkatan tua seperti Tiong sun Seng, May Ceng Ong dan lain-lainnya juga diam-diam sudah siap siaga dan berjaga-jaga dari segala kemungkinan karena mengetahui benar betapa hebatnya Kian thian pek lek.

Namun demikian, Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan dan lain- lain ternyata mempunyai siasat yang lebih baik lagi. Mereka sudah mengatur rencananya demikian rupa. Kalau rencananya itu sampai berhasil, tokoh-tokoh terkemuka dari kedua pihak boleh dibilang semua akan mendapat bencana dan puncak gunung Tay pek hong yang kini hendak digunakan sebagai medan pertandingan akan berubah menjadi suatu neraka atau kuburan bagi semua orang dari rimba persilatan.

Menjelang waktu pertandigan, sedang kedua pihak sudah mulai siap-siap, tiba-tiba orangnya pat-bao yao-ong yang ditugaskan menjaga kedatangan tamu di bawah puncak gunung tampak menuju ke puncak gunung dan menyerahkan sebuah sampul berwarna merah.

Setelah dibuka dan dibacanya dan surat itu dikirim oleh empat orang. Ternyata mereka adalah Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan, Khong khong Hsweeshio dan Pao It Hui adanya !

Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat yang tidak mengenal empat orang itu lalu memberikan surat tadi kepada Khie Tay Cao sambil tanyanya kepada ketua Ceng thian pay ini : "Khie ciangbunjin, adakah empat orang ini sahabatmu ?"

Khie Tay Cao membacanya sejenak lalu menggeleng- gelengkan kepala sebagai tanda tidak kenal.

Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat lalu memerintahkan orang untuk memperlihatkan surat itu kepada orang-orang dari golongan baik yang akan menjadi lawannya, ditanyakan apakah empat orang ini adalah sahabat mereka.

Tiong sun Seng yang membaca surat itu, sepasang alisnya lantas berdiri. Lalu memanggil Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng. Katanya dengan suara perlahan :

"Kheng jie dan Hee hiantit, coba perhatikan. Urusan ini sangat aneh dan diluar dugaan kita semua ! Coba kalian lihat, Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan, Khong khong Hweshio dan Pat It Hui ternyata dengan secara terang-terangan berani mengirim surat untuk turut serta dalam pertandingan ini !"

Hee Thian Siang yang waktu itu tampak telah diliputi oleh rasa kekuatiran yang semakin besar, katanya sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir :

"Bo Cu Keng sudah berani terang-terangan mengirim surat untuk ikut bertanding. Bagi kita rasanya tidaklah pantas kalau menolak !"

May Ceng Ong lalu berkata :

"Setiap orang dari rimba persilatan boleh saja datang kemari atau ikut bertanding. Aku kira kita tidak boleh berlaku tidak sopan sehingga menjadi buah tertawaan orang. Satu- satunya jalan ialah biarkan mereka mendaki gunung ini, nanti baru dibicarakan lagi !" Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat yang melihat Tiong sun Seng dan lain-lainnya sudah lama berunding tapi belum mendapat keputusan lalu bertanya :

"Saudara Tiong sun, apakah orang yang mengirim surat ini adalah orang rimba persilatan juga ataukah. ?"

Belum lagi habis pertanyaannya, Tiong sun Seng sudah menjawab sambil tersenyum :

"Empat orang ini sedikit pun tidak ada hubungan dengan kami. Mereka hanya sebagai orang-orang rimba persilatan biasa saja !"

"Karena mereka mengirim surat, menurut tata etika dunia Kang ouw maka kita juga tidak boleh mengabaikan peraturan ini. Harap saudara Tiong sun bersama Khie ciangbunjin masing-masing memilih seorang sebagai wakil untuk menyambut mereka kemari. Kita juga boleh selekasnya mulai pertandingan babak pertama !"

Khie Tay Cao yang mendengar ucapan itu, ia mengutus Lui Hwa sebagai wakilnya.

Tiong sun Seng selagi memilih orang yang tepat, Hee Thian Siang tiba-tiba tergerak pikirannya. Katanya dengan suara perlahan :

"Empek Tiong sun hendak mengutus orang sebagai wakil ? Bolehkah boanpwe mengusulkan seseorang yang boanpwe kita paling tepat untuk melakukan tugas itu ?"

Tiong sun Seng semula mengira Hee Thian Siang yang hendak menjalankan tugas itu sendiri, maka lalu bertanya :

"Hee hiantit, apakah kau ingin melakukan tugas itu sendiri

?" Hee Thian Siang menggelengkan kepala dan berkata :

"Tugas itu tidak tepat bagi boanpwe. Rasanya cuma Sam chiu lo pan Oe tie Khao locianpwe sajalah yang paling tepat buat diutus sebagai wakil kita untuk melakukan tugas itu !"

Tiong sun Seng mendengar Hee Thian Siang mengusulkan Oe-tie Khao, selagi memikirkan sebab-sebabnya, Tiong sun Hui Kheng sudah berbisik-bisik di telinga ayahnya, katanya :

"Ayah, adik Siang barangkali hendak minta Sam chiu lo pan Oe tie Khao locianpwe mengerahkan kepandaiannya dan menggunakan keahliannya sebagai pencopet yang tidak ada tandingannya dalam dunia ini. Selagi menyambut para tamunya itu, suruh cari kesempatan mencuri bom peledak Kian thian pek lek dari tubuh Bo Cu Keng !"

Mendengar itu, Tiong sun Seng merasa geli sendiri tetapi juga berbareng memuji kecerdikan Hee Thian Siang. Maka lalu katanya :

"Akal ini sungguh bagus juga sangat unik. Kalau begitu baik juga kita minta saudara Oe tie mencapaikan diri sediikit untuk melakukan tugas berat dini !"

Habis berkata begitu ia lalu memberitahukan maksudnya kepada Oe-tie Khao dan minta ia bersama Lui Hwa pergi menjemput Bo Cu Keng berempat naik ke puncak Tay pek hong.

Sam chiu lo pan Oe tie Khao lalu berkata sambil tersenyum getir :

"Aku si pencopet tua ini sudah banyak tahun cuci tangan. Tidak disangka hari ini dan di tempat ini harus menggunakan kepandaianku itu lagi !"

Tiong sun Seng berkata sambil tertawa : "Oe-tie locianpwe, asal kau mengeluarkan kepandaianmu tentu dapat menyingkirkan bahaya dan bencana hebat bagi seluruh rimba persilatan. Jadi untuk kepentingan jiwa orang banyak. Tindakanmu itu bukankah sangat berharga sekali buat kita semua ?"

Oe tie Khao menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lalu bersama-sama Lui hwa turun dari puncak gunung Tay pek hong.

Tak lama kemudian, benar saja, Bo Cu Keng, Siang Biauw Yan dan lain-lainnya dengan mengikuti Lui Hwa dan Oe-tie Khaow mendaki puncak Tay pek hong.

Tiong sun Hu Kheng waktu itu sudah pasang mata benar- benar. Ia berkata kepada ayahnya dengan suara perlahan :

"Ayah lihat ! Oe-tie locianpwe dengan mencari alasan pura- pura berbicara dengan empat orang itu. Ia tampak mondar mandir di antara empat orang jahat itu. Barangkali sudah berhasil dengan usahanya !"

Tiong sun Seng menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Suatu tanda dapat menyetujui pandangan anaknya.

Ketika Bo Cu Keng berempat tiba disitu, lebih dahulu memberi salam kepada semua orang yang ada disitu kemudian mencari tempat duduk yang ada batu besarnya, yang letaknya agak menyisi di pinggir jurang.

Hee Thian Siang yang menyaksikan itu semua, lalu berkata kepada Tiong sun Seng :

"Empek Tiong sun coba saksikan sendiri. Bo Cu Keng dan lain-lainnya telah memilih tempat duduk yang mendekati tebing. Pasti sudah siap hendak menggunakan bomnya Kian thian pek lek dan kemudian melarikan diri dengan mengambil jalan lompat dari tebing itu !" Tiong sun Seng menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Dugaan Hee hiantit tidak salah. Orang-orang itu pasti ada maksud begitu. Kita cuma bisa mendoakan semoga usaha saudara Oe tie berhasil, jangan sampai ada bencana !"

Berkata sampai disitu, Oe tie Khao sudah berjalan menghampiri dengan muka berseri-seri.

Hee Thian Siang lebih dulu bertanya sambil tersenyum : "Oe tie locianpwe, locianpwe tampak sangat gembira. Pasti

sudah berhasil mengambil alih bom peledak ?"

Oe tie Khao menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Mudah-mudahan. Barang-barang agak penting mereka bawa sudah pindah ke kantongku !"

Sambil mengucap demkian, ia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan kantong yang terbuat dari kulit macan tutul.

Tiong sun Hui Kheng menyambutnya lalu dibuka dan diperiksanya. Ternyata dalam kantong itu penuh dengan pasir halus-halus berwarna ungu.

Hee Thian Siang hendak meraba. Untung bisa dicegah oleh So-to Wie yang berkta kepadanya dengan suara sangat perlahan :

"Hee laote jangan terlalu gegabah. Jangan diraba pasir itu !

Kau tahu, inilah pasir beracun yang sangat lihay !"

Hee Thian Siang sewaktu di Po-hie lo koan di gunuan Tiam cong dahulu sudah pernah menyaksikan bagaimana hebatnya pasir beracun ini. Maka ia membatalkan maksudnya dan bertanya kepada Oe tie Khao dengan terheran-heran :

"Oe-tie locianpwe, apakah locianpwe tidak kesalahan mengambil ? Pasir beracun ini adalah miliknya Lui Hwa !"

"Hee laote jangan cemas dulu. Ini cuma sekedar hasil ikutan. Seorang pencopet mana mau membuang kesempatan paling baik ? Dimana ada barang berharga, tentu tak luput dari mata pencopet ulung seperti aku. Aku toh sudah membuka pantangan ? Maka sehabis mencopet habis barang Bo Cu Keng berempat, sekalian saja barang Lui Hwa juga kusikat !"

Beberapa patah kata yang paling belakang membuat tertawa orang-orang yang mendengarnya.

Sambil berbicara, Oe tie Khao kembali dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah benda bagaikan butiran perak.

Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa :

"Ini adalah pedang Liu yap bian sie kiam kepunyaan adik In yang terjatuh di selat Wan hiap dulu. Entah bagaimana bisa berada di dalam tangan Khong khong Hweshio."

Oe tie Khao lalu mengembalikan pedang Liu yap bian sie kiam kepada Hok Sin In. Setelah itu kembali mengeluarkan setumpuk jarum berbisa berwarna hitam yang sangat halus sekali dan duri berbentuk segitiga berwarna kebiru-biruan. Berkata kepada orang banyak :

"Benda ini kudapat dari tubuh Siang Biauw Yan. Duri berwarna kebiru-biruan ini adalah duri berbisa Thian keng ceng yang pernah menggemparkan dunia Kang ouw, tetapi jarum berbisa berwarna hitam ini aku tidak tahu "

Ketua Lo hu pay Peng sim Sin nie lalu menjelaskan : "Ini adalah jarum berbisa milik Siang Biauw Yan. Sebelah kaki Cin susiokku juga telah cacat dan kemudian dipotongnya sendiri lantaran jarum ini !"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, alisnya berdiri. Katanya dengan suara gemas :

"Sebentar aku pasti akan membalaskan sakit hati Cin locianpwe !"

Oe tie Khao berkata sambil tertawa :

"Di antara mereka berempat itu, cuma Pao It Hui yang paling miskin. Di dalam badannya tidak ada apa pun !"

"Dan bagaimana dengan Bo Cu Keng ?" bertanya Hee Thian Siang.

Oe tie Khao menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Dia ada membawa sebuah benda. Rupanya sih seperti benda Kian thian pek lek yang Hee laote katakan itu !"

Sehabis berkata demikian, kembali dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah kantong. Hee Thian Siang menyambutinya. Sebelum dibuka ditimang-timang dulu. Dari bobotnya barang ia tahu itu adalah benda pusaka milik perguruannya yang hilang di dalam lembah kematian.

Setelah dibuka dan diperiksanya, ternyata benar hingga Tiong sun Seng dan lain-lainnya merasa gembira. Semua memuji kepandaian Oe tie Khao.

Hanya Tiong sun Hui Kheng tampak mengerutkan alisnya, ia menundukkan kepala seolah-olah sedang berpikir keras. Hee Thian Siang yang menyaksikan itu lalu bertanya sambil tersenyum :

"Enci Kheng, kau sedang memikirkan apa ?"

Tiong sun Hui Kheng menarik tangan Hee Thian Siang berkata dengan suara perlahan :

"Meskipun aku belum pernah bertanding dengan Bo Cu Keng tetapi dari sikap dan kelakuannya, aku sudah tahu bahwa orang itu memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala dan berkata : "Kepandaian ilmu silat Bo Cu Keng sangat tinggi sekali.

Gerak tipunya juga sangat aneh. Seorang tingkatan tua seperti

Cin locianpwe, semua pernah mengalami  kekalahan ketika mengadakan pertempuran di lembah May yu kok !"

"Orang yang memiliki kepandaian tinggi seperti itu, bisa tercuri semua senjata-senjata rahasianya dari yang sangat halus yang tersimpan di badannya seperti jarum berbisa, duri Thian keng cek dan lain-lain sampai barang yang paling berat seperti Kian thian pek lek tanpa terasa, bukankah sangat aneh sekali ? Apakah dalam hal ini ada apa-apanya yang tidak beres ?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu timbul perasaan curiganya, katanya sambil mengerutkan alisnya :

"Enci Kheng, kecurigaanmu ini memang pada tempatnya. Tetapi kenyataannya barang yang diambil dari dalam badannya oleh Oe tie locianpwe itu memang benar adalah Kian thian pek lek dari perguruanku !"

Tiong sun Hui Kheng bersama Hee Thian Siang yang masih memperbincangkan soal itu, waktu pertandingan telah tiba. Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat telah memerintahkan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Maka para tamu masing-masing boleh mengeluarkan jago-jagonya untuk mengadakan pertandingan atau menyelesaikan permusuhan dahulu.

Ketua Ceng thian pay, Khie Tay Caolah yang lalu bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah batu rata yang berada di tengah-tengah puncak Tay pek hong, berkata kepada Peng pek Sin kun, ketua dari Swat san pay.

"Peng pek Sin kun, Khie Tay Cao mau tanya padamu. Suciku Pek-thao Losat Pao Sam kow sekarang ini masih ada di kutub Hian peng goan ataukah sudah terbinasa di sana ?"

Peng pek Sin kun segera menjawab sambil tersenyum : "Pao Sam kow hari itu setelah mengaku kalah pada Leng

Pek Ciok lantas bunuh diri sendiri. Kuburannya sekarang ini

masih ada di lembah Thian han-kok !"

Khie Tay Cao yang mendengar ucapan itu sampai mendelik matanya. Katanya bengis :

"Kalau begitu, hari ini Khie Tay Cao hendak minta hutang darah itu. Dimana Leng Pek Ciok sekarang ? Kenapa dia takut kemari ?"

"Leng Pek Ciok masih ada urusan lain. Sebentar lagi tentu akan datang. Jikalau Khie ciangbunjin mau tunggu, boleh saja tunggu. tapi bila Khie ciangbunjin hendak segera melakukan pembalasan itu, aku disini menyatakan bersedia untuk menerima pelajaranmu !" berkata Peng pek Sin kun dingin.

Khie Tay Cao tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata : "Aku sebetulnya ingin minta kau yang bertanggung jawab.

Hutang uang dibayar uang, hutang jiwa harus ganti jiwa. Hari ini yang jelas Khie Tay Cao pasti hendak mengambil jiwa Pek Ciok untuk mengganti jiwa suciku dan selain dari pada itu juga minta ditambah lagi dengan kau bersama istrimu sebagai bunga. "