Makam Bunga Mawar Jilid 32

 
Jilid 32

Dan tindakannya terhadap Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng, oleh karena dari bawah ke atas puncak Kun-lun itu terpisah sejarah beberapa puluh tombak dan buat meledakkan bahan peledak itu hanya dapat digunakan sumbu yang disulut dari bawah, lain jalan sudah tidak ada lagi. Bahan peledak yang dipendam di bawah batu tidak terlalu dalam, sedangkan sumbu yang diletakkan dibawah kaki gunung juga memerlukan waktu yang cukup lama, baru dapat meledakkan bahan peledak itu. Apabila perhitungan It-pun Sin-ceng tidak salah, diwaktu terjadi peledakan di puncak gunung, Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan bayinya pasti lebih dulu sudah berada di dalam keranjang yang dipasang dari atas untuk turun ke bawah.

Kawanan penjahat Kun-lun-pay pasti menganggap Hee Thian Siang dan lain-lainnya sudah tidak luput dari bencana. Dengan demikian penjagaannya sudah pasti menjadi kendor. Kemudian barulah menetapkan tindakan selanjutnya supaya mereka bisa keluar dari situ dalam keadaan selamat.

Cara yang digunakan oleh It-pun Sin-ceng untuk menolong Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng turun dari puncak, memang merupakan suatu cara yang paling baik untuk menghindarkan bencana maut.

Tetapi Hee Thian Siang setelah mengikat keranjang rotannya, kembali memerintahkan Siaopek dan Taywong untuk membawa bayinya terlebih dulu turun ke bawah.

Tiong sun Hui Kheng terkejut dan menanyakan sebabnya, Hee Thian Siang lalu berkata sambil tertawa nyengir :

"Bahan peledak itu berada di atas kita. Apabila meledak, ledakan itu pasti hebat. Seandainya rotan itu terputus oleh ledakan itu, pasti akan melayang dan terjun ke bawah. Aku dan enci Kheng mungkin akan terjatuh ke dalam jurang. Hal ini kalau memang sudah nasib, yah apa boleh buat. Tetapi perlu apa harus membawa-bawa korban jiwa bayi yang masih belum tahu apa-apa ini ?"

"Adik Siang, pikiranmu demikian ini kurang baik. Kesatu bagian belakang puncak gunung Kun lun itu, jauh lebih licin dari pada di bagian depan. Siaopek dan Taywong meskipun memiliki kodrat yang diberikan oleh alam, dapat turun naik dengan leluasa. Tetapi kalau dengan membawa bayi untuk naik turun, ini tidak enak bagi mereka. Lagi pula harus membawa bayi, apabila sampai terpeleset, bukankah lebih berbahaya ?" Tiong sun Hui Kheng memprotes sambil menggelengkan kepala.

"Ya, kekuatiran enci Kheng ini memang benar !" Hee Thian Siang segera mengakui kesalahannya.

"Dan kedua, sekalipun Siaopek dan Taywong bisa membawa bayi itu sampai ke bawah dengan selamat, juga pasti harus memisahkan perhatiannya terhadap bayi itu. Maka It-pun Sin-ceng yang harus menolong enci Hwa Jie Swat, bukankah akan kekurangan bantuan tenaga ?" kata Tiong sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang mengangguk-anggukkan kepala. Lantas memerintahkan Siaopek dan Taywong lekas kembali kepada It-pun Sinceng, supaya mencari tempat untuk sembunyikan diri dan siap menolong Hwa Jie Swat. Sedang ia sendiri bersama bayinya dan Tiong sun Hui Kheng duduk didalam keranjang untuk mencobanya. Ternyata cukup kuat dan aman.

Hingga esok pagi-pagi sekali, suara Bo Cu Keng kembali terdengar melalui lubang dalam goa itu, katanya sambil tertawa :

"Hee Thian Siang, bagaimana hasilnya setelah kau pikir satu malam ? Maukah kau menerangkan caranya menggunakan senjata Kian thian pek lek ?"

Hee Thian Siang memperdengarkan suara tertawa dingin. Kemudian memberikan jawaban bahwa ia keberatan untuk memberitahukan apa pun.

Bo Cu Keng setelah mendengar jawaban itu, semula tampak marah. Tetapi kemudian ia berkata sambil tertawa : "Hee Thian Siang. Kau barangkali belum merasa takut jikalau belum mendapat bencana. Sekarang begini saja. Akan kubawa Hwa Jie Swat ke kaki gunung. Aku mau lihat, bisakah kau melihat dia diperhina atau tidak."

Setelah mengucap demikian, lalu tidak terdengar suaranya lagi.

Hee Thian Siang tahu bahwa kedua pihak sudah putus pembicaraannya. Maka lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, harap kau gendong bayi ini dan duduklah lebih dulu ke dalam keranjang. Kita sekarang siap untuk turun."

Tiong sun Hui Kheng juga tahu bahwa keadaan di puncak gunung Kun lun ini sangat istimewa. Di atasnya tampak luas tapi dibawahnya tajam, bagaikan bentu jamur. Dari atas keranjang rotan itu, meskipun hanya berjarak tiga tombak lebih, tetapi dengan menggendong bayi, juga merasa sulit untuk menancap kaki. Maka harus cepat mengadakan persiapan.

Ia lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil menganggukkan kepala.

"Aku akan lebih dulu masuk ke dalam keranjang. Rasanya lebih aman. Adik Siang harap kau hati-hati menghadapi keadaan !"

Hee Thian Siang menunggu sampai Tiong sun Hui Kheng sudah duduk di dalam keranjang. Lalu memutar tubuh ke bagian depan puncak gunung Kun lun itu, melongok ke bawah.

Dari atas melongok ke bawah, sudah tentu dapat melihat dengan nyata. Hee Thian Siang menyapu sebentar ke bawah, tampak di sela-sela batu aneh dibawah kaki gunung Kun lun ada berkelebat bayangan kelabu, bayangan kuning dan bayangan putih.

Bayangan itu bahkan melambai-lambaikan tangan kepadanya.

Hee Thian Siang tahu bahwa bayangan kuning dan bayangan putih pasti adalah Taywong dan Siaopek, sedangkan bayangan kelabu tentu adalah It-pun Sin-ceng. Maka juga melambaikan ke bawah untuk memberitahukan bahwa semuanya sudah siap.

Sesaat kemudian, tampak Siang Biauw Yan, Bo Cu Keng, Gu Long Goan, Pao It Hui dan beberapa anak murid golongan Kun lun berkumpul di bawah kaki gunung Kun lun. Tetapi tidak nampak Khong khong Hweshio.

Sedangkan Hwa Jie Swat waktu itu entah karena obat apa, sudah rebah diatas bale-bale bambu dalam keadaan pingsan, bersama balenya digotong dan diletakkan di bawah kaki gunung.

Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan, meskipun merupakan orang-orang jahat tetapi juga tidak menduga ada orang sembunyi

disampingnya. Maka mereka sudah meletakkan Hwa Jie Swat dengan balenya di dekat tumpukan batu-batu yang dibelakangnya ada sembunyi It-pun Sin-ceng, Taywong dan Siaopek.

Bo Cu Keng menampak Hee Thian Siang berdiri di tepi jurang sedang melongok ke bawah. Ia tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan sikap siaga : "Hee Thian Siang, dengarkan baik-baik. Sekarang aku akan membuka baju Hwa Jie Swat lebih dahulu, biar ia telanjang bulat !

Jikalau engkau masih tak mau juga menerangkan cara menggunakan senjata Kian thian pek lek, aku akan mengeluarkan perintah kepada anak buahku untuk memperkosa padanya dengan segera !"

It-pun Sin-ceng yang selamanya berhati sabar, tetapi ketika mendengar ucapan Bo Cu Keng yang mesum dan tidak tahu malu, juga sudah timbul amarahnya. Hingga terhadap Bo Cu Keng yang dahulu diasingkan oleh orang-orang golongan putih dan golongan

hitam, bencinya bukan main.

Bo Cu Keng sehabis berkata demikian, lalu melambaikan tangannya. Tampak dua orang murid golongan Kun lun berjalan menghampiri Hwa Jie Swat yang rebah diatas bale- bale dalam keadaan tidak ingat diri.

Hati It-pun Sin-ceng merasa cemas. Bagaimana dapat mengijinkan orang lain untuk membuka baju Hwa Jie Swat ? Selagi hendak menerjang keluar tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, Hee Thian Siang yang berada di atas sudah mengeluarkan suara bentakan keras :

"Tunggu dulu !"

Bo Cu Keng merasa girang. Lalu menggoyangkan tangan mencegah kedua murid Kun lun itu, kemudian bertanya :

"Hee Thian Siang, kiranya ada juga saatnya buat kau menyerah kepada orang heh ! Apa kau sudah pikir mau menerangkan rahasia senjata Kian thian pek lek ?" "Jikalau aku menerangkan rahasianya menggunakan senjata itu, apakah kalian lantas bisa mengijinkan kami turun dari sini dalam keadaan selamat ?'

Bo Cu Keng mengawasi Siang Biauw Yan yang berada disampingnya, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala :

"Asal kau mau menerangkan, aku jamin keselamatan kalian

!"

Hee Thian Siang ingin jangan sampai menimbulkan perasaan curiga, pura-pura tidak mau percaya ucapannya. Katanya :

"Kau bersumpah lebih dahulu, dan sumpah itu harus yang paling berat !"

Bo Cu Keng tertawa menyeringai, ia pura-pura bersikap sungguh-sungguh. Kemudian berkata dengan suara nyaring :

"Setelah kau menerangkan cara menggunakan senjata Kian thian pek lek jikalau aku mengingkari janjiku sendiri, tidak bisa

menjamin keselamatan kalian keluar dari sini, biarlah aku nanti akan mati dibawah kuku-kuku binatang buas !"

It-pun Sin-ceng yang mendengar Bo Cu Keng berani mengucapkan sumpah demikian berat, benar-benar merasa heran. Apakah kawanan orang jahat Kun lun ini benar-benar mau membebaskan Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat ?

Hee Thian Siang yang sudah mendengar sumpah Bo Cu Keng lalu berkata : "Di badan senjata peledak Kian thian pek lek, bukankah ada terdapat tujuh titik tanda hitam ?"

Pao It Hui segera menjawab :

"Ada, memang ada ! Tujuh titik hitam itu berbentuk bintang tujuh !"

"Jikalau kalian nanti hendak menggunakan Kian thian pek lek, lebih dulu kerahkanlah kekuatan tenaga jari Kim kong cie, titik-titik hitam berbentuk seperti duri itu kalian cabuti dulu tetapi harus hati-hati. Sebab benda itu memiliki kekuatan hebat sekali, dapat menggetarkan gunung. Waktu kalian melemparkan senjata itu harus lekas lari ke arah yang berlawanan. Jikalau tidak, kalian sendiri juga akan turut menjadi korban !"

Ucapan membohong itu, dibuatnya demikian sungguh- sungguh hingga seorang licik dan kejam dan banyak akalnya seperti Bo Cu Keng yang mendengar ucapan itu sedikitpun tidak timbul perasaan curiga hingga mengeluarkan suara tertawa terbahak-bahak.

Hee Thian Siang membentak dengan suara keras :

"Bo Cu Keng, aku sudah menerangkan rahasianya menggunakan senjata itu. Kau juga seharusnya menepati janjimu supaya kami bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat !"

Kembali Bo Cu Keng memperdengarkan suara tertawanya yang nyaring, kemudian berkata :

"Hee Thian Siang, kau sesungguhnya terlalu kekanak- kanakan. Apa kalian pikir masih bisa keluar dari situ dalam keadaan selamat ?" Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu tahu bahwa dugaan It-pun Sin-ceng sedikitpun tidak salah. Maka berkata dengan suara bengis sambil menggertak gigi :

"Bo Cu Keng ! Kau ternyata sudah mengingkari janjimu sendiri heh ! Ingat, kau tadi sudah mengeluarkan sumpah berat. Nanti kau dimakan sumpahmu sendiri !"

Bo Cu Keng kembali memperdengarkan suara tertawanya yang mengandung sindiran, lalu berkata :

"Tuhan mana punya begitu banyak waktu buat mengurusi urusan tetek bengek seperti ini ? Apa yang dinamakan sumpah hanya merupakan suatu hiasan mulut saja. Tidak tahukah kau ? Hee Thian Siang, sebaiknya sekarang kau saksikanlah lebih dulu Hwa

Jie Swat yang akan diperkosa oleh anak murid Kun lun pay. Kemudian aku nanti akan menghancur leburkan tulang- tulangmu !"

Sehabis berkata demikian, ia mengulurkan tangan menunjuk Hwa Jie Swat dan berkata kepada dua anak murid yang berdiri disisi kanannya :

"Seorang wanita begini cantik kuberikan untuk kalian nikmati. Mengapa tidak lekas kalian buka pakaiannya ? Telanjangi lekas !"

Dua anak murid Kun lun lalu memutar tubuh, mendekati bale-bale dimana ada tubuh Hwa Jie Swat. Tapi belum sempat mengulurkan tangannya, dari belakang sebuah gundukan batu tiba-tiba melesat dua bayangan, terus meluncur ke arah anak murid Kun lun pay tadi.

Siaopek dan Taywong merupakan binatang-binatang yang sangat cerdik. Mereka membenci sekali kelakuan kawanan manusia sangat buas dan kejam itu. Maka mereka sudah turun tangan. Sedikitpun tidak mengenal kasihan. Hanya terdengar suara jeritan mengerikan, mata dari anak murid Ku lun pay sudah dikorek keluar oleh Siaopek dan Taywong.

It-pun Sin-ceng juga tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang cepat luar biasa, ia sudah masukkan sebutir pel yang dibuat dari getah Leng cie ke mulu Hwa Jie Swat.

Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan sungguh tidak menduga ada kejadian mendadak seperti itu. Setelah merasa terkejut, segera mengambil tindakan seperlunya.

Siang Biauw Yan mengibaskan lengan jubahnya. Dari situ meluncur tujuh delapan batang berbisa Thian-keng-cek menuju ke arah Siaopek, Taywong, It-pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat yang masih rebah pingsan diatas bale-bale.

Sedangkan Bo Cu Keng segera menyalakan sumbu yang diletakkan di belakang sebuah batu menonjol, hingga sumbu itu menyala dan terus naik ke puncak gunun Kun lun.

Hee Thian Siang tahu bahwa kawanan iblis itu sudah mulai membakar bahan peledak yang ditanam di puncak gunung, maka ia lalu berkata dengan suara bengis :

"Bo Cu Keng, kau ternyata sudah menjilat ludahmu sendiri. Perbuatanmu terlalu rendah dan kejam serta tidak tahu malu. Kau nanti akan makan sumpahmu sendiri, disobek-sobek badanmu oleh Siaopek dan Taywong !"

Sehabis berkata demikian, buru-buru Hee Thian Siang memutar tubuh dan lompat ke bagian belakang puncak Kun lun. Dengan

menggunakan ilmunya merambat, dia merosot turun dari tebing yang tinggi, duduk didalam keranjang rotan bersama Tiong sun Hui Kheng sambil menantikan meledaknya puncak yang pasti akan mendebarkan hati itu. Bo Cu Keng yang mendengar ucapan Hee Thian Siang yang mengatakan pasti dia akan makan sumpahnya sendiri, mati ditangan Siaopek dan Taywong, diam-diam juga bergidik. Tapi karena waktu itu sumbu bahan peledak sudah menyala, Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng yang berada di puncak gunung dikiranya pasti sulit untuk meloloskan diri hingga tidak perlu dihiraukannya, maka ia lalu memutar tubuh dan bersiap hendak menghadapi It-pun Sin-ceng dan lain- lainnya.

Pada saat itu, bukan saja It-pun Sin-ceng dan kedua binatangnya yang oleh duri berbisa masih tidak mendapat luka apa-apa, sedang Hwa Jie Swat juga sudah sadar kembali dan duduk di bale-bale.

Sebab It-pun Sin-ceng tahu benar kecerdikan Siaopek dan Taywong, juga ketangkasannya. Maka bagi senjata tajam atau senjata rahasia yang biasa saja tidak perlu ditakuti. Tetapi untuk menghadapi dari Thian-keng-cek yang sangat berbisa, sedikitpun tidak boleh pandang ringan.

Oleh karenanya, maka ketika Siang Biauw Yan baru saja mengibaskan lengan bajunya, jubah It-pun Sin-ceng juga sudah bergerak, mengeluarkan ilmunya Sie-nie-kim-kong-sin- kang yang tidak pernah ia menggunakannya.

Tujuh delapan batang duri berbisa itu menghadapi ilmu tertinggi dari golongan Budha, sudah tentu segera berpencaran ke arah lain.

Sedang pel yang terbuat dari getah buah Leng cie yang dimasukkan ke dalam mulut Hwa Jie Swat, saat itu juga sudah menunjukkan khasiatnya, melayangkan obat mabuk.

Hwa Jie Swat segera dapat melihat It-pun Sin-ceng bersama Siaopek dan Taywong, tetapi masih belum mengerti benar keadaannya. Baru hendak lompat bangun, Siang Biauw Yan sudah berkata padanya, sambil tertawa menyindir : "Hwa Jie Swat, baik juga sudah sadar kau. Hee Thian Siang tidak jadi menonton pertunjukan atas dirimu. Biarlah sekarang kau yang lihat dia dan Tiong sun Hui Kheng sebentar lagi mati dengan tubuh hancur lebur diatas puncak Kun lun sana. Kau lihatlah itu ! Jelas sumbunya sudah hampir sampai ke atas !"

Baru saja menutup mulut, Hwa Jie Swat sudah bergerak dengan kecepatan bagaikan kilat. Tangan kanannya menyerang Siang Biauw Yan, sedang tangan kirinya menyerang Bo Cu Keng, sementara mulutnya membentak :

"Siang Biauw Yan ! Bo Cu Keng ! Kalau kalian berani mengganggu seujung rambut adik Tiong sun atau Hee Thian Siang serta bayinya, aku nanti akan beset-beset dadamu berdua sebagai gantinya !"

Kedua tangan wanita tangkas ini bergerak menyerang dua orang, sambil mengumpat caci ketua Kun lun pay. Kakinya tidak tinggal diam. Tapi selagi ia lompat menyerbu kedua lawannya itu, dengan tidak terduga-duga, kakinya menendang kepada Gu Long Goan yang saat itu berada di sebelah kanan Bo Cu Keng. Tendangan itu ditujukan ke bagian dada.

Bo Cu Keng bisa lantas mengelakkan serangan Hwa Jie Swat, sedang Siang Biauw Yan yang selama itu melatih ilmunya didalam istana kesepian, dengan ilmu yang dilatih yang bernama Hek-sat hian im-chiu juga sudah bisa melayani serangan Hwa Jie Swat.

Yang paling sial adalah Gu Long Goan. Orang she Gu ini tidak menduga sama sekali kalau bakal diserang oleh Hwa Jie Swat

dengan demikian kejam. Memang, waktu itu kedua tangannya Hwa Jie Swat sedang melancarkan seranga ke arah Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan. Jadi siapa yang akan menyangka kakinya tiba-tiba bisa menendang dadanya ? Ketika Gu Long Goan menyadari adanya bahaya, ia sudah tidak keburu mengelak lagi hingga tendangan kaki Hwa Jie Swat tadi mengenakan dengan telak dadanya !

Oleh karena tendangan itu dilakukan dengan penuh bernafsu hingga tulang-tulang dada Gu Long Goan hancur semua. Darah segar menyembur dari mulutnya. Kemudian ia jatuh tiga empat langkah dan mati disitu juga.

Tindakan Hwa Jie Swat itu bukan saja sudah menyingkirkan satu bahaya besar bagi rimba persilatan, juga meringankan beban tidak sedikit baginya dan bagi It-pun Sin- ceng.

Sebab kalau Gu Long Goan tidak mati, tujuh macam senjata rahasia orang she Gu yang tiap jenisnya mengandung racun sangat berbisa itu, meskipun buat It-pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat tidak mungkin dapat berbuat apa-apa, tetapi bagi Siaopek dan Taywong mungkin juga akan merepotkan mereka.

Dan kini, dengan matinya Gu Long Goan, Bo Cu Keng sudah tentu kehilangan satu pembantu yang dapat diandalkan. Maka dapat dibayangkan betapa marah dan sedihnya orang jahat itu. Bentaknya dengan suara bengis :

"Budak hina Hwa Jie Swat. Kau ternyata bisa juga berbuat kejam ! Kau lihat saja, kalau kau tidak   bisa   beset kulitmu. "

Baru berkata sampai disitu, diatas puncak gunung Kun lun tiba-tiba terdengar suara letusan dengan bunyi yang bergemuruh. Lalu tempat disekitar itu pada bergerak-gerak. Kini batu-batu bergelindingan turun bagai tanah longsor.

Batu-batu itu turun dari puncak gunung bagaikan hujan. Ada yang kecil, ada yang besar-besar. Kalau manusia biasa mana sanggup menyambuti hujan batu seperti itu ? Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan yang menyaksikan datangnya bahaya juga tidak memperdulikan lagi kepada It- pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat. Buru-buru melarikan diri dari bahaya itu, lari menuju ke istana Kun lun kiong.

It-pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat tidak bisa memilih tempat untuk menyingkir, maka segera memanggil Siaopek dan Taywong guna sama-sama berlindung ke bawah kaki gunung.

Perlu diketahui, ada pun puncak gunung Kun lun itu bagaikan jamur bentuknya, yang bagian atas lebar dan bagian bawah kecil.

Maka batu-batu yang bergelindingan dari atas cuma bisa melesat jauh keluar, tidak bisa menghantam tempat dibawah kaki gunung. Sehingga bagian bawah kaki gunung yang merapat dengan lamping gunung, sebetulnya merupakan tempat yang paling aman dari bahaya batu longsor itu.

Sekalipun ada juga batu-batu kecil yang mungkin jatuh terpental ke situ, juga tidaklah membahayakan.

Walaupun dirinya sendiri selamat, tetapi Hwa Jie Swat merasa sedih. Air matanya mengalir turun.

It-pun Sin-ceng yang menyaksikan keadaan demikian lalu bertanya dengan keheran-heranan :

"Adik Swat, kau kenapa ? Aku sejak kenal denganmu begitu banyak tahun, belum pernah melihat kau mengalirkan air mata !"

Hwa Swat Jie masih tidak bisa mengendalikan perasaan sedihnya, katanya :

"Aku sedih lantaran mengingat nasib adik Kheng dan adik Siang. " Belum habis ucapannya, It-pun Sin-ceng sudah tertawa terbahak-bahak dan berkata :

"Adik Swat jangan khawatirkan tentang adik Kheng dan adik Siang. Mereka sudah ada persiapan istimewa. Sudah pasti tidak ada halangan suatu apa !"

Hwa Jie Swat dengan air mata berlinang-linang mendelikkan matanya kepada It-pun Sin-ceng, kemudian berkata :

"Enak saja kau ngomong. Mereka toh bukan terbuat dari baja atau besi ? Dalam menghadapi bahaya begini hebat, mana dapat mereka menyingkirkan diri ?"

It-pun Sin-ceng melihat Hwa Jie Swat itu tidak percaya, maka lalu menceritakan semua rencana yang telah diatur.

Sehabis mendengar itu, hati Hwa Jie Swat benar-benar merasa lega. Ia menyeka air matanya dan berkata kepada It- pun Sin-ceng :

"Kalau begitu, sekarang kita harus lekas cari rotan-rotan yang panjang untuk menolong dulu adik Kheng dan adik Siang dari bahaya !"

"Adik Siang dan adik Kheng tidak mungkin mendapat bahaya. Untuk sementara juga tidak boleh diketahui oleh kawanan penjahat

Kun lun pay. Yang perlu, kita ajak dulu Taywong dan Siaopek guna menyelidiki keadaan di dalam Kun lun kiong. Baru berusaha lagi untuk menurunkan adik Siang dan adik Kheng dari puncak gunung. Ini rasanya lebih tepat !" kata It- pun Sin-ceng sambil menggelengkan kepala. "Semua ini adalah berkat jasamu, maka untuk seterusnya aku cuma bisa menurut kehendakmu saja !" berkata Hwa Jie Swat sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Tetapi mana kalau mereka mengajak Taywong dan Siaopek ke istana Kun-lun-kiong, satu sama lain cuma bisa berpandangan dengan perasaan terheran-heran dalam hati masing-masing. Kenapa ?

Sebabnya adalah begini. Bo Cu Keng dalam perjalanan pulang ke Kun-lun-kiong, sudah lekas dapat menganalisa keadaan gunung Kun lun. Dan Sing Biauw Yan memperhitungkan, karena Gu Long Goan sudah mati, dengan tenaga bersama Bo Cu Keng, Siang

Biauw Yan dan Pao It Hui dan ditambah lagi dengan Khong-khong Hweshio yang sedang mempersiapkan senjata berbisanya, juga belum yakin benar dapat mengalahkan It-pun Sin-ceng dan Hwa Jie Swat bersama kedua binatangnya.

Karena keadaan sudah demikian, mereka lalu memutuskan untuk melepaskan gunung Kun lun, memindahkan pusat pergerakan dari situ ke istana kesepian yang jauh lebih strategis letaknya dari pada Kun lun kiong. Disana diperkirakan dapat mereka melatih ilmu dengan tenang untuk menantikan tiba waktunya pada tahun depan.

Dengan begitu, maka ketika It-pun Sin-ceng, Hwa Jie Swat tiba di istana Kun lun kiong, cuma dapatkan istana itu yang sedang berkobar hebat. Tidak terlihat bayangan seorang pun juga.

It-pun Sin-ceng lalu menyebut nama Budha dan katanya : "Kawanan penjahat Kun lun ini benar-benar seorang yang

sangat kejam dan berpikiran panjang. Mereka telah rela

meninggalkan tempatnya yang dipupuk selama beberapa puluh tahun dan melarikan diri ke tempat jauh !" "Mereka sudah pergi. Itulah yang paling baik hingga kita tidak perlu merasa khawatir untuk menurunkan adik Kheng dan adik Siang dari puncak gunung Kun lun."

It-pun Sin-ceng lalu memerintahkan Siaopek dan Taywong mengumpulkan rotan-rotan. Dibuatnya tambang yang panjang, kemudian suruh mengantarkan ke puncak gunung Kun lun.

Bahaya dibawah puncak gunung waktu itu sudah lewat, tetapi keadaan di atas puncak gunung sangat mendebarkan hati.

Sebab belum lama Hee Thian Siang masuk ke dalam keranjang rotan, di puncak gunung lalu terdengar suara ledakan beruntun-runtun.

Untung keadaan puncak Kun lun itu yang dibagian atas luas dan bagian bawah kecil. Hee Thian Siang waktu itu berada di tempat yang agak tersembunyi. Maka hancuran batu-batu itu, semuanya lewat melalui bagian atasnya. Tidak ada batu yang mengenakan mereka.

Tetapi hebatnya ledakan itu telah menimbulkan getaran hebat. Tali yang mengikat keranjang Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng terdapat beberapa utas yang telah putus.

Oleh karenanya, maka hanya tinggal beberapa utas lagi saja yang dapat dipergunakan untuk mempertahankan keranjang itu.

Dengan demikian maka kedudukan keranjang itu lantas menjadi miring.

Jikalau Tiong sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang tidak memiliki kepandaian sangat tinggi, yang berhasil menjambret beberapa batang rotan yang telah terputus sehingga bisa terus menggelantung ditengah udara, keranjang itu pasti akan jatuh ke dalam jurang.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan demikian, bukan kepalang terkejutnya. Ia buru-buru berusaha kembali ke puncak Kun lun sehabis terjadi ledakan hebat tadi.

Setelah berada di puncak kembali, Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang.

"Adik Siang, bahaya kali ini benar-benar lebih hebat dari apa yang kita alami di gunung Liok tiauw san. Kita boleh dihitung seperti hidup kembali dari cengkeraman maut !"

"Dia sekarang ini punya ayah tetapi tidak ada ibunya. Sudah tentu boleh dikatakan sebagai anak yang tiada beribu !"

Mendengar ucapan itu, Hee Thian Siang berkata sambil tertawa :

"Enci Kheng, meskipun Liok Giok Jie sekarang tidak ada disini, tetapi kau bukankah sama saja menjadi ibu anak ini ?"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu, kedua pipinya menjadi merah. Memandang Hee Thian Siang dengan wajah kemalu-maluan, juga seperti marah. Selagi hendak membuak mulut, Siaopek dan Taywong tiba-tiba sudah muncul dengan membawa beberapa ratus batang rotan panjang.

Dengan adanya rotan yang disambung-sambung panjang itu, sudah tentu Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng bisa turun dari puncak itu, meloloskan diri dari tempat dimana mereka sudah terkurung.

Tiba dibawah, It-pun Sin-ceng segera memberikan kepada bayi itu sebutir pel yang terbuat dari bahan getah pohon Leng cie dan keadaan bayi itu benar-benar lantas menjadi lebih segar.

Tiong sun Hui Kheng lalu berkata kepada Hwa Jie Swat sambil tertawa :

"Enci Swat, kali ini lantaran adik Siang dan bayinya, hampir saja membuat kau mengalami bencana hebat ! Sekarang kau dengan It-pun taysu hendak kemana ?"

"Kami akan kembali dulu ke Tiauw in kiong dan mengadakan persiapan sambil menunggu tibanya pertandingan besar pada musim Tiong ciu tahun depan." jawab Hwa Jie Swat sambil tertawa.

Hee Thian Siang adalah seorang bernyali besar. Tetapi mengingat pengalamannya yang mengerikan tadi, juga masih bergidik.

Tiong sun Hui Kheng berkata pula sambil tertawa :

"Di bawah hujan batu dan suara gemuruh demikian hebat, bayi ini ternyata tidak menangis. Benar-benar sangat mengagumkan !"

Sambil bicara ia mengeluarkan bayi yang ditaruh di dalam dukungan baju dalam, baru sekarang kelihatan bayi itu pucat pasi mukanya, seperti sudah tidak bernyawa.

Tiong sun Hui Kheng yang belum mempunyai pengalaman tentang anak bayi, bukan kepalang terkejutnya dia. Dari mulutnya mengeluarkan suara seruan, air matanya mengalir turun.

Sebaliknya dengan Hee Thian Siang, tampaknya lebih tenang. Ia memeriksa bayi itu sebentar, lalu berkata : "Enci Kheng, jangan susah hati. Bayi ini cuma pingsan karena terlalu terkejut. Tapi napasnya belum putus. Enci Kheng boleh berikan sedikit hancuran obat pel, mungkin masih bisa ditolong !"

Tiong sun Hui Kheng menurut. Ia mengawasi sepasang mata bayi itu sejenak, katanya dengan suara sedih :

"Bayi yang demikian bagusnya, apabila tidak beruntung benar-benar sangat menyedihkan !"

Sehabis berkata demikian, ia mengeluarkan sebutir pel. Dihancurkannya dalam mulutnya, lalu dimasukkan ke dalam mulut si bayi.

Hee Thian Siang juga merasa cemas. Tetapi karena perlu menghibur Tiong sun Hui Kheng, maka sikapnya itu masih tenang-tenang saja. Katanya sambil tersenyum simpul :

"Enci Kheng, kehidupan manusia semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Anak ini kalau memang belum takdirnya, tentu tidak akan ada halangan. Andai memang tidak bisa hidup, itu juga sudah menjadi takdirnya. Kau tidak perlu sedih karena dia !"

Tiong sun Hui Kheng setelah memasukkan obat ke dalam mulut bayi, mendengar perut bayi itu mengeluarkan suara hingga ia tahu bahwa sudah tidak halangan, maka lalu tertawa dan berkata kepada Hee ThianSiang :

"Adik Siang, kuhaturkan selamat kepadamu. Bayi ini tidak apa-apa !"

Dalam hati Hee Thian Siang merasa girang. Ia berkata sambil tersenyum : "Bayi ini baru lahir sudah mengalami penderitaan begini hebat. Di kemudian hari pasti akan menjadi seorang yang berguna !"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala, berkata sambil tertawa manis :

"Benar-benar sangat beruntung. Seandai bocah yang tiada ibunya ini. "

Baru berkata sampai disitu, Hee Thian Siang sudah bertanya dengan wajah berubah :

"Enci Kheng, Liok Giok Jie hanya untuk sementara saja tidak diketahui jejaknya. Mengapa kau berkata begitu ?"

Tiong sun Hui Kheng tahu bahwa ia sudah kelepasan omong, maka juga buru-buru mengelakkan itu dan berkata sambil tertawa.

Hee Thian Siang waktu itu seolah-olah hendak mengucapkan sesuatu tetapi tidak jadi mengatakan apa-apa.

It-pun Sin-ceng yang mengetahui itu, segera bertanya sambil tertawa :

"Hee laote, kau ingin bicara apa ?"

"Aku pikir.........aku pikir........" gugup sekali Hee Thian Siang. Akhirnya cuma bisa mengeluarkan ucapan yang sama "aku pikir" saja.

Hwa Jie Swat berseru terkejut, kemudian berkata sambil tertawa geli :

"Adik Siang, kau biasanya sangat cerdik dan berani. Mengapa hari ini bicaramu gugup benar, tidak seperti biasa- biasanya ?" Hee Thian Siang yang ditegur demikian, terpaksa mengutarakan maksudnya sambil menunjuk bayi dalam gendongan Tiong sun Hui Kheng :

"Aku dengan enci Kheng masih hendak melakukan perjalaanan di dunia Kang ouw. Membawa-bawa bayi rasanya kurang leluasa. "

Hwa Jie Swat yang mendengar ucapan itu lalu berkata sambil tertawa :

"Adik Siang, apakah kau hendak minta kami memelihara anak itu ?"

Wajah Hee Thian Siang menjadi merah, katanya sambil tertawa :

"Aku pikir hendak minta enci Swat dan It-pun taysu, supaya kalian mau menerima anak ini sebagai murid. Enci Swat, tolong pelihara dan didiklah anak ini hingga dewasa. Nanti setelah siote menemukan ibunya. "

Tiong sun Hui Kheng lantaran sudah menyaksikan sendiri bahwa Liok Giok Jie terjun ke dalam jurang, maka mendengar ucapan

Hee Thian Siang melanjutkan ucapannya dan berkata sambil pura-pura tertawa :

"Adik Siang, kau salah. Lebih baik kau serahkan saja anak ini kepada enci Swat dan It-pun taysu. Dengan arti kata lain, angkat

mereka menjadi ibu dan ayah angkat. Dengan demikian, bukankah dalam usaha mereka mendidik anak ini, pasti jadi lebih bersemangat ?" Hwa Jie Swat juga mengerti apa yang terkandung dalam hati Tiong sun Hui Kheng. Maka lalu berkata sambil tertawa :

"Adik Kheng, kau ini banyak sekali permainanmu !"

It-pun Sin-ceng sebaliknya merangkapkan kedua tangannya. Tiga kali menyebut nama Budha lalu mengulurkan tangan dan menyambut bayi Hee Thian Siang dari tangan Tiong sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang yang menampak It-pun Sin-ceng mau memondong bayinya, segera mengetahui bahwa usul tadi sudah diterima baik. Maka ia sangat girang sekali. Buru-buru memberi hormat untuk mengucapkan terima kasih dan kemudian minta diri.

Turun dari gunung Kun lun san, Hee Thian Siang dapat menemukan kuda Ceng hong kie, dan bersama Tiong sun Hui Kheng menunggang kuda itu, lari belum beberapa tombak ia berkata sambil menarik napas panjang :

"Kuda Ceng hong kie ini meskipun memiliki tenaga luar biasa, tetapi dunia sangat luas. Kemana kita harus mencari Liok Giok Jie untuk memberitahukan bahwa anaknya sudah terlepas dari ancaman bahaya ?"

Tiong sun Hui Kheng dalam hati merasa sangat sedih. Ia sudah mengambil keputusan bahwa ia akan terus menyimpan rahasia yang menyedihkan itu untuk sementara waktu. Maka sambil senderkan kepalanya di dada Hee Thian Siang, ia berkata sambil tersenyum manis : 

"Adik Siang jangan khawatir. Segala urusan dalam dunia ini semuanya tergantung dengan jodoh. Jikalau jodohnya sampai sudah tentu akan berkumpul. Jikalau jodohnya habis tentu akan berpisah ! Karena kita tidak tahu herus menuju kemana untuk mencari, terpaksa kita menyerahkan kepada nasib dan jodoh kita. Mungkin juga kebetulan kita bisa menemukannya !" Dengan adanya perempuan cantik bagaikan bidadari seperti Tiong sun Hui Kheng yang berada dalam pelukannya, maka untuk sementara kesedihan karena terlalu memikirkan Liok Giok Jie sudah agak berkurang. Katanya sambil tertawa getir :

"Enci Kheng, tidak salah kau mengatakan itu. Sekalipun kita bisa saja mencari tanpa halangan, setidak-tidaknya juga harus ada

sedikit halangan. Bukankah begitu ?"Tiong sun Hui Kheng mendadak teringat pesan yang diminta oleh orang tua berbaju kuning Hee kouw Soan, maka lalu berkata :

"Adik Siang, sekarang ini kita justru tidak punya urusan apa-apa lagi. Kalau kita pergi menepati janji Hee kouw Soan locianpwe, kau pikir bagaimana ?"

"Locianpwe yang adatnya sangat aneh itu, mengurung muridnya yang tersayang entah dimana.."

"Hee kouw Soan locianpwe kata bahwa tempat yang digunakan untuk mengurung muridnya itu adalah sebuah goa kuno yang letaknya di gunung Tay pa san !" jawab Tiong sun Hui Kheng.

Tergerak hatinya Hee Thian Siang, buru-buru ia bertanya : "Enci Kheng, coba kau ceritakan bagaimana keadaan goa

batu kuno di gunung Tay-pa san itu. Kau tahu bukan ?"

Tiong sun Hui Kheng lalu menceritakan apa yang pernah didengarnya dari Hee kouw Soan.

Mendengar keterangan itu, Hee Thian Siang terheran- heran. Tiong sun Hui Kheng yang sangat cerdik menyaksikan keadaan itu lalu bertanya sambil tersenyum :

"Adik Siang, mengapa kau demikian terheran-heran ? Apa goa kuno di gunung Tay-pa san yang digunakan oleh Hee kouw Soan locianpwe mengurung muridnya itu, sama tempatnya dengan tempat dimana kau dahulu pernah berdiam bersama Liok Giok Jie dan tempat yang digunakan sebagai tempat kediaman selama-lamanya Duta Bunga Mawar ?"

"Gambaran yang enci lukiskan tadi sangat mirip, sekalipun goanya berbeda tetapi juga terpisah tidak jauh !"

Dari dalam sakunya Tiong sun Hui Kheng mengeluarkan tiga batang bulu burung lima warna yang bisa digunakan sebagai senjata rahasia, lalu diberikan kepada Hee Thian Siang seraya berkata :

"Adik Siang, Hee kouw locianpwe mengembalikan padamu tiga barang bulu burung lima warna ini dengan disertai keterangan bahwa ia akan menghapuskan perjanjiannya denganmu, pertandingan di gunung Tay-san pada lima tahun kemudian dibatalkan !"

Hee Thian Siang menyambuti bulu burung itu, dan berkata sambil menghela napas :

"Orang tua ini sungguh aneh sekali kelakuannya. Tapi bagaimana dengan perjalanannya ke daerah Lim-hong itu ? Apakah ia dapat mengalah Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat dan istrinya ?"

"Hee kouw locianpwe dengan seorang diri pergi menempuh bahaya, tidak mungkin bisa mencapai keuntungan !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala.

"Dugaan enci Kheng ini meskipun ada benarnya, tetapi sewaktu di gunung Ko-lee-kong san dan kita pernah menyaksikan sendiri betapa tinggi dan hebat kepandaian ilmu silat Hee kouw locianpwe, sesungguhnya sudah mencapai taraf yang tidak ada taranya !

Pat-bao Yao-ong Hian Wan Loat dan istrinya, meskipun mendapat keuntungan dengan berada di daerah sendiri, tetapi rasanya juga tidak mungkin dapat mengalahkan jago tua rimba persilatan yang sifatnya sangat aneh itu !"

"Adik Siang jangan salah paham. Aku bukanlah mengatakan bahwa dalam ilmu kepandaian Hee kouw locianpwe dibawah Pat-bao

Yao-ong suami istri. Aku hanya khawatir menempuh bahaya dengan seorang diri, lagi pula adat orang tua itu demikian keras, bisa-bisa setelah mendapatkan kemenangan dari pertandingannya, nanti akan tertipu oleh akal muslihat busuk musuh-musuhnya. Mungkin bisa menimbulkan bahaya bagi jiwanya !"

"Kekuatiran enci ini memang kemungkinan ada. Tetapi karena waktunya sudah lama, sekarang ini kedua pihak mungkin sudah saling bertanding. Hingga kita tidak keburu memberi bantuan. Maka kita hanya dapat mendoakan saja semoga dalam sesuatunya Hee kouw locianpwe dilindungi oleh Tuhan !"

Kedua muda mudi ini terus mengobrol tentang diri orang tua aneh itu disepanjang jalan hingga mereka jadi tidak merasa kesepian.

Kuda Ceng hong kie juga merupakan kuda jempolan, maka tidak berapa lama sudah tiba di daerah gunung Tay-pa san.

Oleh karena sudah mendapat gambaran jelas dari Hee kouw Soan tentang keadaan gunung itu dan goa kuno dimana muridnya itu dikeram, maka mencari dengan menurut gambar yang diceritakan, dapat mencari tempat itu dengan tidak mendapat banyak kesulitan.

Goa kuno itu terletak dibawah kaki puncak gunung yang tinggi. Di luar goa tertutup oleh pohon rotan yang sangat lebat. Jikalau tidak hati-hati memeriksanya, orang tidak akan tahu bahwa dibalik pohon rotan itu ada sebuah goa.

Tiong sun Hui Khegn memerintahkan Siaopek dan Taywong dan kudanya Ceng hong kie menunggu diluar goa, sedang ia sendiri bersama Hee Thian Siang memasuki goa kuno yang tertutup oleh pohon rotan itu. Dalam perjalanannya itu ia bertanya :

"Adik Siang, goa kuno ini apakah tempat dimana dahulu kau mengadakan hubungan dengan Liok Giok Lie dan tempat dimana Duta

Bunga Mawar bersemayam untuk selama-lamanya ?" "Bukan ! Goa kuno yang pernah aku datangi dahulu

rasanya terletak disebelah belakang puncak gunung ini !"

menjawab Hee Thian

Siang sambil menggelengkan kepala.

Mereka berjalan sambil tertawa-tawa. tetapi setelah melalui jalan tikungan tiga kali, tiba-tiba terhalang oleh dinding batu.

Karena dalam goa itu tidak terlohat tanda-tanda ada penghuninya, maka Tiong sun Hui Kheng lalu berkata sambil tertawa getir :

"Hee kouw locianpwe sesungguhnya pandai menggoda orang sehingga membuat kita melakukan perjalanan ribuan pal menuju ke gunung Tay pa san untuk mencari goa kuno yang letaknya sangat tersembunyi ini. Tetapi dalam goa kita tidak dapat menemukan jejak manusia !" Hee Thian Siang tidak menjawab, hanya menundukkan kepala untuk berpikir.

Tiong sun Hui Kheng agak heran menyaksikan sikap pemuda itu, lalu bertanya :

"Adik Siang, kau sedang pikirkan apa ?"

"Aku pikir ucapan Hee kouw locianpwe tentunya tidak salah. Murid kesayangannnya itu pasti ditempakan dibelakang dinding batu ini !"

"Bagaimana adik Siang bisa menduga demikian ?" tanya Tiong sun Hui Kheng heran.

"Enci Kheng adalah seorang yang pintar, mengapa sekarang menjadi demikian ? Apakah kau lupa ucapan Hee kouw locianpwe yang menggunakan istilah disekap ? Seandainya muridnya itu bisa bergerak bebas di dalam goa, bagaimana memerlukan orang mengantarkan makanan baginya ?"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu tertawa geli sendiri. Tetapi setelah mengawasi keadaan dinding batu, ia lalu mengerutka alisnya dan bertanya pula :

"Hee kouw locianpwe barangkali karena mendadak mendapat kabar bahwa Pat-bao Yao-ong dapat digunakan sebagai bandingan, maka dalam kegirangannya itu hingga ia sudah melupakan untuk memberitahukan padaku tentang caranya untuk membuka dinding batu ini. "

"Enci Kheng jangan cemas dulu. Mungkin aku bisa membuka dinding batu ini !" berkata Hee Thian Siang sambil menggoyangkan tangan dan tertawa.

Tiong sun Hui Kheng heran. Tanyanya : "Adik Siang, dengan cara bagaimana kau bisa membuka dinding batu ini ? Apakah "

"Dugaan enci benar. Aku selalu menganggap bahwa goa kuno ini ada hubungan satu sama lain dengan goa yang dahulu pernah kutinggali. Maka aku pikir hendak menggunakan cara untuk membuka dinding batu ini yang waktu itu diajarkan oleh Duta Bunga Mawar !"

"Kalau begitu, adik Siang lekas coba. Kalau bisa membuka, itulah yang paling baik Andai tidak bisa, kita masih perlu mencari daya upaya yang lain !"

Hee Thian Siang menganggukkan kepala sambil senyum. Ia berjalan ke hadapan dinding batu, turut cara yang diajarkan oleh Duta Bunga Mawar dahulu. Ia mendorong sedikit kepada dinding batu itu. Benar saja, dibelakang dinding batu itu terdengar suara gemuruh dan dinding yang tadi tertutup itu tampak sebuah pintu.

Tiong sun Hui Kheng lalu lompat masuk, katanya sambil tersenyum :

"Adik Siang kau lihat, dibelakang dinding batu ini tidak terdapat bayangan orang. Masih merupakan sebuah goa saja

!"

Hee Thian Siang juga lantas masuk untuk memeriksanya, kemudian berkata sambil tertawa geli :

"Aku pikir Hee kouw locianpwe tentunya tidak akan omong main-main. Baiklah kita maju lagi untuk mencari tahu lebih jauh !"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepal. Setelah melalui beberapa jalan tikungan, dihadapan mereka mendadak terdapat sinar terang. Agaknya sudah keluar lagi dari dalam goa. Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan semuanya semakin terheran-heran. Mereka buru-buru keluar dari goa. Di luar goa itu ternyata ada sebuah lembah yang bentuknya sangat aneh.

Lembah itu luasnya hanya kira-kira tujuh delapan tombak persegi saja. Sekitarrnya terdapat lamping gunung yang tinggi, hingga sulit bagi manusia untuk keluar atau masuk. Di dasarnya lembah terdapat banyak rumah dan batu-batu yang aneh bentuknya.

Di seberang lain yang keadaannya serupa dengan lembah itu, juga terdapat sebuah mulut goa.

Hee Thian Siang lalu berkata sambil menunjuk ke mulut goa diseberang sana :

"Di dalam goa itu, pasti sama keadaannya dengan goa yang kita lalui tadi. Juga terhalang oleh dinding goa. Bahkan mungkin merupakan tempat bersemayam Duta Bunga Mawar

!"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala sambil tersenyum. Setelah mengawasi keadaan di sekitarnya, tiba- tiba menunjuk sebuah batu besar :

"Adik Siang, lihatlah diatas batu besar itu ada terdapat tanda telapak tangan sangat dalam. Apa yang dikatakan oleh Hee kouw locianpwe ternyata tidak salah. Benar-benar disini ada orang yang sedang melatih kekuatan tenaga dalam !"

Hee Thian Siang dengan mengawasi batu itu, lalu menghampirinya. Selagi hendak memeriksanya dengan seksama, dari sela-sela tampak sesosok bayangan orang yang kecil langsing. Bayangan orang itu menggerakkan tangannya dan melancarkan serangan jarak jauh kepada Hee Thian Siang. Tiong sun Hui Kheng yang khawatir Hee Thian Siang tidak keburu menyingkir, sambil berseru : "Ada orang membokong. Adik Siang lekas menyingkir ke sebelah kanan !" tangannya juga bergerak. Dengan menggunakan ilmunya dari golongan Lo bu pay ialah ilmu Pan sian cian lek, dari samping untuk menyambut serangan bayangan orang tadi.

Hee Thian Siang yang waktu itu sudah mendapat kemajuan banyak sekali, dengan sendirinya memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat. Sebelum Tiong sun Hui Kheng mengeluarkan suara peringatan itu, ia sudah menyadarinya hingga lompat melesat sejauh enam kaki.

Begitu ia menyingkir, serangan yang dilancarkan oleh Tiong sun Hui Kheng tadi, juga sudah lantas beradu dengan serangan bayanga orang kecil langsing tadi.

Kekuatan tenaga dalam Tiong sun Hui Kheng memang sudah sempurna. Ditambah lagi dengan pemberian daun pohon lengcie dari It-pun Sin-ceng, apalagi ilmu serangan tangan kosong Pan sian cian lek itu adalah ilmu terampuh dari golongan Lo bu pay yang namanya sudah sangat terkenal dalam rimba persilatan, seharusnya ia dapat memukul mundur bayangan orang itu.

Di luar dugaannya, ketika dua macam kekuatan tenaga dalam itu saling beradu di tengah udara, walaupun Tiong sun Hui Kheng berada diatas angin, lawannya hanya dapat dipaksa mundur selangkah saja.

Ketika Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng pasang mata, keduanya terkejut. Mereka saling berpandangan dengan diliputi oleh berbagai pertanyaan dalam hati masing-masing.

Ternyata bayangan yang muncul dari belakang batu besar dan melakukan serangan-serangan ganas kepada Hee Thian Siang bukan lain dari pada Hok Sin In yang dikabarkan telah jatuh dari puncak gunung Thian-san. Tiong sun Hui Kheng setelah berpikir sejenak lalu berkata kepada Hee Thian Siang :

"Adik Siang, sekarang aku mengerti adik Sin In mu ini ketika terjatuh dari puncak gunung Hoan san kebetulan telah ditolong oleh Hee kouw locianpwe yang kebetulan lewat disitu dan mungkin karena ia suka dengan bakatnya yang baik, maka lalu dibawa kemari denagn dididik pelajaran ilmu silatnya sendiri yang disediakan untuk menghadapi kau pada lima tahun kemudian. Tetapi entah apa sebab hari ini ketika melihatmu, mengapa dengan tiba-tiba melancarkan serangan padamu ?"

Sementara itu Hok Sin In telah berkata sambil menatap Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng bergiliran :

"Dengan cara bagaimana kalian bisa datang kemari ? Lekas keluar, karena suhuku tidak mengijinkan siapa pun juga masuk ke dalam lembah rahasia ini !"

Hee Thian Siang lalu berkata sambil mengerutkan alisnya : "Adik In. "

Tetapi baru saja mengeluarkan sepatah perkataan, Hok Sin In agaknya terkejut hingga mundur setengah langkah. Matanya terus menatap Hee Thian Siang. Sikapnya nampak seperti orang bingung, kemudian ia bertanya :

"Kau panggil siapa ? Ucapanmu adik In tadi, bagaimana dalam pendengaranku seperti tidak asing bagiku !"

Hee Thian Siang yang mendengarkan ucapan itu tahu bahwa Hok Sin In telah mengalami bencana dan kaget melampaui batas sehingga kehilangan seluruh daya ingatannya. Maka lalu ia berkata lagi : "Adik In, kau adalah Hok Sin In dan aku adalah Hee Thian Siang. Dia ini enci Tiong sun Hui Kheng yang dahulu pernah memberikan padamu sebilah pedang Liu yap bian sie kiam. Apakah kau sekarang bisa ingat ?"

Hok Sin In masih tetap memandang dengan kebingungan, katanya :

"Hok Sin In ? Hee Thian Siang ? pedang Liu yap bian sie kiam ? Tiong sun Hui Kheng ? Nama-nama ini meman benar tidak asing bagiku. Tapi aku sudah tidak ingat betul !"

Hee Thian Siang menghampiri lambat-lambat, katanya sambil tersenyum :

"Adik In, kau pikirkanlah baik-baik lagi. Nanti tentu kau ingat

!"

Tapi Hok Sin In kembali mengacungkan tangannya dan berkata dengan suara tajam :

"Aku tidak bisa ingat lagi ! Awas kalau kau berani maju mendekati aku, aku nanti akan pukul mampus kau !"

Hee Thian Siang yang mengandung maksud hendak membangkitkan kembali ingatan Hok Sin In, masih tetap memanggil-manggil adik In, terus berjalan menghampiri sambil tersenyum. Di luar dugaannya, Hok Sin In ternyata benar- benar sudah melancarkan seranganya yang hebat !

Hee Thian Siang memutar kakinya dengan gerakan sangat indah, mengelakkan serangan tersebut, sementara mulutnya berkata sambil tersenyum :

"Adik In, ingatkah kau bahwa kita dahulu pernah bersama- sama mengambil benda pusaka di gunung Tay pek san ? Kita pernah menggadangi rembulan malam di puncak Ngo-bie dan bersama-sama pergi ke gunung Kie-lan san, di goa Siang soat long mencari keterangan tentang orang aneh ini ?"

Hok Sin In tetap memandangnya dengan sinar mata dingin, katanya :

"Aku tidak ingat. Aku hanya ingat bahwa suhuku berkata barang siapa mendekati aku harus kuserang dianya !"

Sehabis berkata demikian, dengan beruntun ia melancarkan tiga kali serangan dengan gerak tipunya yang luar biasa sebatnya hingga bayangan tangan itu seperti mengurung diri Hee Thian Siang.

Hee Thia Siang tidak mengenali tiga jurus gerak tipu yang digunakan oleh Hok Sin In itu. Ia menduga pasti bahwa ilmu itu pastilah ilmu simpanan yang dimiliki oleh Hee kouw Soan. Oleh karenanya, maka ia tidak mau menyambut secara gegabah. Sebelum dirinya terkurung oleh ancaman serangan Hok Sin In, ia telah menggunakan ilmunya yang didapat dari Duta Bunga Mawar.

Bagaikan Bunga Mawar beterbangan, ia telah lompat melesat setinggi satu tombak lebih.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan itu, dalam hati merasa sedih.

Teringat pula kepada nasib Liok Giok Jie, karena kehilangan anaknya telah berubah menjadi gila hingga kemudian bertempur dengannya di gunung Ko lee kong san. Dan akhirnya terjun ke dalam lembah. Hingga saat ini masih belum dapat ditemukan bangkainya.

Dan sekarang Hok Sin In juga lantaran mengalami kekagetan yang melampaui batas sehingga kehilangan ingatannya. Dalam keadaan seperti itu ia telah bertempur dengan Hee Thian Siang yang menjadi kekasihnya. Pengalaman hidup sepasang saudara perempuan ini sesungguhnya amat menyedihkan sekali.

Tiong sun Hui Kheng yang sudah mendapat pengalaman dari Liok Giok Jie, dalam hati selalu waspada. Maka ia lalu berdiri terus disamping, memperhatikan setiap gerakan Hok Sin In menjaga-jaga jangan sampai terjadi lagi hal-hal yang tidak diingini.

Hee Thian Siang harus bekerja keras untuk mengelakkan setiap serangan yang dilancarkan oleh Hok Sin In.

Ilmu silat yang digunakan oleh Hok Sin In hampir setiap serangannya mengandung keganasan, juga sangat hebat sekali. Dalam keadaan demikian, Hee Thian Siang sebagai orang yang kena diserang, tetapi tidak dapat membalas hingga keadaannya sangat repot. Sambil melompat kesana kemari, ia berkata kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, adik In ini sudah kehilangan ingatannya. Tidak bisa diajak bicara secara wajar. Bagaimana aku harus berbuat

?"

Tiong sun Hui Kheng tampak berpikir. Jawabannya kepada Hee Thian Siang ternyata sama benar dengan maksud dari kata-kata Hwa Jie Swat ketika pertama kali bertemu di selat gunung Bu san, katanya :

"Adik Siang, karena sementara ia tidak dapat diajak bicara dengan sewajarnya, totok saja dia dulu !"

Hee Thian Siagn juga merasa bahwa kecuali jalan ini, sudah tidak ada jalan lain lagi. Maka dalam usahanya mengelak itu, ia kadang-kadang mencari kesempatan untuk membalas. Maksudnya hendak menotok Hok Sin In, barulah berusaha untuk memulihkan kembali ingatannya. Di luar dugaannya, Hee kouw Soan yang sifatnya selalu ingin menang saja, oleh karena ada maksud untuk mendidik Hok Sin IN sebagai orang kuat, aka bukan saja sudah menyalurkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya kepada gadis itu, tetapi juga sudah menurunkan seluruh kepandaian ilmunya yang jarang ada di dalam rimba persilatan. Oleh karenanya, maka Hok Sin In kecuali tenaganya yang masih belum cukup sempurna hingga tidak dapat dibandingkan dengan Hee Thian Siang, tetapi baik gerakan badannya dan ilmu silatnya, sudah selisih tidak jauh dengan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang yang beberapa kali coba balas menyerang, tetapi semuanya tidak berhasil sampai ia pun mengeluarkan ilmunya dari Bunga Mawar yagn dapat dielakkan oleh gerakan Hok Sin In yang sangat lincah yang dahulu belum pernah dilihatnya, hingga dalam hatinya diam- diam juga merasa heran. Dalam hatinya berpikir : "Apakah kalau hendak menundukkan gadis ini perlu harus menggunakan ilmu jari tangan Kian thian cie ?"

Tiong sun Hui Kheng berdiri sebagai penonton, tentu jauh lebih jelas mengetahui dari pada Hee Thian Siang sendiri. Ia tahu bahwa Hee Thian Siang saat itu meskipun jauh berada di atas angin, tetapi jikalau pertempuran itu berlangsung lagi hingga seratus atau dua ratus jurus, ia belum tentu dapat mengalahkan Hok Sin In. Maka ia lalu berpikir untuk coba menggunakan caranya yang sudah direncanakan. Maka lalu berkata kepada Hee Thian Siang sambil tersenyum :

"Adik Siang, berhentilah dulu. Aku akan menanya kepadanya beberapa patah kata !"

Hee Thian Siang karena tidak menggunakan serangannya yang ampuh-ampuh, tentu saja jadi tidak dapat menjatuhkan Hok Sin In. Selagi berada dalam kesulitan, mendengar ucapan Tiong sun Hui Kheng tadi, sudah tentu lantas menghentikan gerakannya dan lompat keluar dari kalangan. Hok Sin In mengawasi Tiong sun Hui Kheng dengan mata terbuka lebar, seolah-olah ingin sekali mendengar apa yang hendak diucapkan oleh gadis itu.

Tiong sun Hui Kheng berjalan menghampiri sambil tersenyum. Baru berjalan dua langkah, Hok Sin In kembali sudah mengancam dengan katanya :

"Kau tidak boleh maju lagi. Jikalau tidak, aku juga akan pukul padamu !"

Tiong sun Hui Kheng segera berhenti dan berkata sambil tersenyum :

"Nona Hok, apakah antara kami dengan kau ada permusuhan ?"

Hok Sin In menggeleng-gelengkan kepala sebagai jawaban.

Tiong sun Hui Kheng berkata pula sambil tertawa :

"Kalau benar kita saling bermusuhan, mengapa kau hendak memukul kami ?"

"Ini adalah pesan dari suhuku, suhu kata siapa saja yang ingin mendekati aku, aku harus pukul orang itu !"

Mendapat kesempatan baik, Tiong sun Hui Kheng dengan sikap lemah lembut berkata sambil tersenyum :

"Apakah begitu saja kau hendak menuruti perintah suhumu

?"

"Sudah tentu ! Kalau aku tidak dengar perintah suhu, apa harus dengar perintahmu ?"

"Itu benar, kau harus dengar ucapanku !" Hok Sin In mendadak marah, sambil mengeluarkan siulan tajam ia menyerang Tiong sun Hui Kheng dengan hebatnya.

Tiong sun Hui Kheng mengelak dengan gayanya yang sangat indah.

Hok Sin In semakin gusar, katanya dengan sikap marah : "Mengapa aku harus dengar ucapanmu ? Jikalau kau tidak

bisa memberikan alasan yang cukup, aku akan menggunakan

ilmu yang paling hebat yang suhu turunkan kepadaku untuk menghadapi kau !"

"Aku dengan dia datang kemari," kata Tiong sun Hui Kheng sambil menunjuk Hee Thian Siang, "adalah atas permintaan suhumu. Sudah tentu kau harus dengar juga ucapanku !"

"Kau omong kosong. Dengan cara bagaimana suhu bisa mengutus kau datang kemari ?"

Tiong sun Hui Kheng melihat Hok Sin In kembali sudah menggerakkan kekuatan tenaganya, agaknya hendak turun tangan lagi. Maka buru-buru menggoyangkan tangannya dan lantas berkata sambil tertawa :

"Nona Hok, kau kenapa begitu tolol ? Jikalau kami tidak diutus oleh suhumu, dengan cara bagaimana dapat menemukan tempatmu yang sangat tersembunyi ini ?"

Mendengar ucapan itu Hok Sin In tercengang. Ia merasa bahwa ucapan Tiong sun Hui Kheng itu memang ada benarnya. Maka kemudian ia berkata :

"Kalau benar kalian telah diutus oleh suhu, seharusnya kalian tahu siapa nama suhuku dan bagaimana orangnya."

Hee Thian Siang yang berdiri disamping turut bicara : "Suhumu adalah orang tua berbaju kuning yang bernama Hee kouw Soan !"

Tiong sun Hui Kheng kembali menggambar bentuk dan dedak Hee kouw Soan, Hok Sin In barulah percaya benar. Maka barulah berkata sambil tersenyum :

"Mengapa suhu tidak datang sendiri ? Sebaliknya mengutus kalian datang kemari ? Sebetulnya hendak apa ?"

Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menunjuk Hee Thian Siang :

"Suhumu dengan Hee Thian Siang ini sudah menjadi sahabat baik, tidak akan bermusuhan lagi. Maka sengaja mengutus kami datang kemari untuk membebaskan kau supaya kau bisa bebas dari tempat ini. Karena ia telah mengambil keputusan untuk membatalkan janjinya yang hendak mengadakan pertemuan di gunung Tay san pada lima tahun kemudian !"

Hok Sin In barulah menjadi sadar. Sambil menatap Hee Thian Siang ia berkata :

"Oh ya benar. Suhu justru lantaran pernah berjanji kepadanya hendak mengadakan pertandingan di gunung Tay san pada lima tahun kemudian, maka tadi aku ketika mendengar nama Hee Thian Siang lantas merasa seperti pernah dengar namamu."

Tiong sun Hui Kheng berkata pula sambil tertawa :

"Inilah soal yang kesatu. Suhumu masih memberi pesan kepadaku mengenai soal yang kedua yakni beliau telah mnta kami mengajak kau untuk menjumpai seorang tabib kenamaan pada dewasa ini !" "Untuk apa pergi menjumpai tabib kenamaan ?" bertanya Hok Sin In.

"Menurut keterangan Hee kouw locianpwe, katanya kau pernah mengalami kekejutan hebat sehingga terhadap segala urusan yang sudah lalu, sudah tidak ingat semuanya. Mungkin tabib kenamaan itu bisa menyembuhkan penyakitmu yang aneh ini !"

"Urusan ini memang benar sangat aneh, terhadap segala apa yang sudah lalu, ingatanku menjadi samar-samar. Umpama saja tadi kalian katakan aku bernama Hok Sin In, aku lantas merasa bahwa itu memang tidak salah, teapi juga seperti merasa agak salah !"

Tiong sun Hui Kheng berjalan menghampiri, dengan menarik tangan Hok Sin In, berkata lagi sambil tersenyum :

"Penyakit aneh ini tidak menjadi soal, kau mengikut kami pergi menemui tabib kenamaan itu. Mungkin bisa lantas disembuhkan."

Hok Sin In kini ternyata menurut saja, ia berjalan bersama Tiong sun Hui Kheng sambil bergandengan tangan, sepanjang jalan ia bertanya sambil tertawa :

"Tabib kenamaan itu siapa namanya ? Dimana tempat tinggalnya ?"

"Dia bernaam Say han kong, tempat tinggalnya di Thian sin peng, di gunung Siong san !" jawab Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa.

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu mengagumi kecerdasan Tiong sun Hui Kheng. Ajakannya yang mengajak Hok Sin In pergi ke gunung Siong san, kemungkinan besar upaya dengan perobatan Say han kong, perlahan-lahan dapat memulihkan kembali ingatannya yang sudah hilang. Hok Sin In lalu membereskan barang-barangnya. Hee Thian Siang sebelum berlalu dari tempat itu, pergi dulu menghadap ke kuburan Duta Bunga Mawar, untuk memberi hormat. Setelah itu baru meninggalkan gunung Tay pa san, menuju ke gunung Siong san.

Tiong sun Hui Kheng bertiga dengan sendirinya tidak bisa naik kuda. Maka ia perintahkan Siaopek, Tatwong dan kudanya Ceng hong kie berjalan lebih dulu ke gunung Siong san dan menunggu disana.

Say han kong dahulu memang pernah menjadi majikan Ceng hong kie. Maka perjalanan ke gunung Siong san itu merupakan perjalanan yang sudah tidak asing baginya. Mendengar ucapan itu, segera berangkat bersama Siaopek dan Taywong.

Tiong sun Hui Kheng yang mengawasi Hok Sin In berjalan berdampingan dengan Hee Thian Siang tampaknya sangat akrab. Dalam hati juga merasa gembira.

Hok Sin In meskipun telah lupa semua hal-hal yang sudah lalu, tetapi setelah bersahabat lagi dengan Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng, terutama terhadap pemuda itu, seolah-olah seperti sudah menjadi jodohnya hingga tampaknya semakin erat.

Dengan perjalanan yang cepat, dalam waktu beberapa hari sudah tiba di gunung Siong san. Tetapi ketika tiba di kediaman Say han kong, hanya tampak Say han kong seorang diri, tidak tampak jejak Tiong sun Seng.

Hati Tiong sun Hui Kheng agak terkejut, maka buru-buru bertanya kepada Say han kong :

"Say locianpwe, kemana perginya ayahku ?" "Tiong sun tayhiap sudah pergi dari sini kira-kira sepuluh hari. Katanya ia akan pergi ke puncak tertinggi di gunung Ngo gak untuk bertempur dengan musuh tangguh !"

Terkejut Tiong sun Hui Kheng mendengar ucapan itu, maka lalu bertanya pula.

"Ayah selamanya sangat sabar. Sedikit sekali musuh- musuhnya. Diwaktu belakangan ini ayah telah mensucikan diri, lebih-lebih jarang melakukan perjalana ke dunia Kang ouw. Dengan cara bagaimana dengan mendadak hendak pergi ke puncak tertinggi gunung Ngo gak untuk bertemu dengan musuh tangguh ?"

Say han kong menggeleng-gelengkan kepala. Katanya sambil tertawa getir :

"Aku sendiri juga tidak tahu jelas. Hanya samar-sama dengar Tiong sun tayhiap berkata bahwa urusan ini telah timbul karena nona Tiong sun merupakan suatu bencana yang paling besar dan terakhir dalam hidupnya !"

Tiong sun Hui Kheng semakin mendengar semakin terheran-heran. Maka lalu berkata kepada Hee Thian Siang :

"Adik Siang, kau pikir urusan ini timbul dari kita ? Kita melakukan perjalan di dunia Kang ouw dengan baik-baik, tidak menimbulkan soal kepada orang lain. Bagaimana bisa merembet-rembet ayah samapi harus menghadapi bencana besar seperti ini ?"

Hee Thian Siang mengerutkan alisnya, bertanya kepada Say han kong :

"Say locianpwe, sebelum empek Tiong sun berangkat, apakah pernah meninggalkan pesan untuk enci Kheng ?" "Tiong sun tayhiap anggap bahwa gara-gara itu muncul karena nona Tiong sun. Mungkin bisa pergi mencari padanya. Maka suruh aku menyampaikan kepada nona Tiong sun dan kau sementara tidak perlu dicari. Tunggu sampai lain tahun permulaan bulan delapan, pergi ke lembah kematian di gunung Conglam untuk melihat bagaimana kesudahannya pertempuran itu !" berkata Say han kong sambil tertawa.

Tiong sun Hui Kheng semakin cemas mendengar ucapan itu :

"Mungkin semua itu keliru. Aku belum pernah menimbulkan gara-gara. Kedatanganku ini juga bukan buat mencari ayah, adalah untuk mencari Say locianpwe untuk mengeluarkan kepandaianmu dalam bidang obat-obatan !"

"Ouw ! Jadi nona Tiong sun mencari aku untuk menyembuhkan penyakit siapa ?'

Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menunjuk Hok Sin In : "Nona Hok ini dahulu bersama-sama San chiu-lo pan Oe tie

cianpwe telah mendapat bahaya di atas gunung Hoan san. Meskipun secara kebetulan ditolong oleh seorang pandai tetapi karena terkejutnya hingga segala urusan yang sudah lalu semuanya telah lupa. Sedangkan namanya sendiri dan asal usulnya juga sudah tidak ingat lagi !'

Say han kong mendengar ucapan itu lalu menatap wajah Hok Sin In. Tampak gadis itu tersenyum-senyum dengan sinar mata sayu, mengawasi dirinya.

Setelah diadakan pemeriksaan seperlunya, Tay han kong tampak mengerutkan alisnya sambil berpikir keras.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan ini lalu bertanya : "Say locianpwe, penyakit aneh hilang ingatan dari nona Hok ini, apakah tidak mudah disembuhkan ?"

"Untuk menyembuhkannya tidak sulit, hanya tidak dapat sembuh dalam waktu pendek. Berikan padanya obat-obat menenangkan pikiran. Dengan sendirinya perlahan-lahan bisa sembuh sendiri. Tapi lamanya paling sedikit harus tiga tahun, bisa-bisa lebih dari itu !" berkata Say han kong sambil menggelengkan kepala.

"Hanya, waktu tiga tahun sesungguhnya terlalu lama. Sedangkan pada musin Tiong ciu tahun depan kita kita masih perlu mengumpulkan tenaga untuk pergi ke puncak gunung Tay pek hong akan mengadakan pertempuran dengan kawanan penjahat partai Ceng thian pay dan Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat dan lain-lainnya !"

Say han kong menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Aku juga merasa apabila tidak menggunakan cara istimewa, sebetulnya memang terlalu lama untuk menyembuhkan penyakit macam ini !"

Tiong sun Hui Kheng sangat girang mendengar kata itu, kembali bertanya :

"Say locianpwe, apakah locianpwe masih mempunyai cara yang paling baik dan luar biasa untuk dapat menyembuhkan dalam waktu yang lebih singkat ?"

Say han kong tertawa tanpa menjawab. Kemudian memandang agak lama kepada Hok Sin In.

Tiong sun Hui Kheng yang sangat cerdik, menemukan keadaan demikian lantas mengerti. Maka berkata kepada Hee Thian Siang : "Adik Siang, diatas Thian sin peng ini pemandangan alamnya sangat indah, cobalah kau ajak adik In mu untuk melihat-lihat."

Hee Thian Siang segera mengerti bahwa Say han kong hendak mengadakan perundingan rahasia dengan Tiong sun Hui Kheng, maka lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kemudian mengajak Hok Sin In pergi ke puncak gunung Siong san untuk menikmati pemandangan alam.

Setelah Hee Thian Siang dan Hok Sin In berlalu, Tiong sun Hui Kheng lalu berkata :

"Say locianpwe, kau pikir hendak menggunakan cara luar biasa bagaimana ? Bagaimana nampaknya demikian misterius

?"

"Nona Tiong sun, tahukah kau apabila anak bayi dihinggapi penyakit kaget, apa yang harus dilakukan oleh ayah bundanya

?" tanya Say han kong sambil tersenyum.

Menurut tradisi rakyat jelata, tindakan yang dilakukan itu dinamakan memanggil sukma. Bayi itu harus dibawa ke tempat ia mendapat kaget, lalu memanggil namanya. Dengan demikian bayi itu lantas menjadi tenang !"

Say han kong berkata sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang.

"Cara luar biasa yang kukatakan tadi ialah ingin membawa Hok Sin In ke tempat kejadiannya dan memanggil sukmanya."

"Tindakan memanggil sukma ini hanya suatu kepercayaan dari rakyat jelata. Locianpwe adalah tabib kenamaan pada dewasa ini, bagaimana juga. "

"Nona Tiong sun,   kau tidak tahu. Umumnya untuk menyembuhkan penyakit dibagi menjadi pengobatan dengan obat-obatan dan pengobatan dengan rohani. Ini harus ditinjau dari keadaan penyakitnya. Kadangkala harus menitikberatkan pada obat-obatan, tapi ada kalanya juga harus mengandalkan pengobatan rohani. Tapi ada kalanya juga pengobatan dengan obat dan rohani, sama-sama pentingnya !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar uraian itu hanya menganggukkan kepala, namun masih belum memahami benar-benar. Sementara itu Say han kong sudah berkata lagi sambil senyum :

"Aku pikir lebih dahulu memberikan makan obat kepada Hok Sin In, untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Disamping itu ingin bawa ia ke puncak gunung Hoan san dimana dahulu dia terjatuh. Bahkan mungkin kita akan mengadakan recontatie kejadian dahulu supaya Hok Sin In teringat kembali kejadian-kejadian itu. Dengan demikian dapat membuka ingatannya kembali. Kemudain kita berikan lagi obat yang agak keras, barangkali penyakit lupa ingatannya dapat disembuhkan dengan waktu yang agak cepat !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar keterangan itu sangat kagum sekali, katanya sambil menghela napas :

"Cara locianpwe menyembuhkan sesuatu penyakit benar saja jauh bedanya dengan tabib lain. Boanpwe sesungguhnya kagum sekali !"

"Kalian boleh berdiam disini beberapa hari dulu. Nanti setelah obat-obat untuk keperluan Hok Sin In sudah lengkap, kita berangkat bersama-sama menuju ke puncak gunung Hoan san !"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala sambil tersenyum. Dan diam-diam memberitahukan kepada Hee Thian Siang tentang maksud Say-han-kong itu. Tiga hari kemudian, obat-obat yang diperlukan untuk keperluan Hok Sin In itu sudah siap semua dan setiap harinya ia memberikan obat penenang pikiran kepada Hok Sin In.

Tiong sun Hui Kheng pesan kepada Taywong dan Ceng hong kie supaya berdiam di Thian san peng, hanya mengajak Siaopek saja.

Hok Sin In waktu itu meskipun belum pulih kembali ingatannya seperti dahulu, tetapi hubungannya dengan Tiong sun Hui Kheng sudah jadi akrab lagi. Maka ketika ia pergi bersama-sama Say han kong dan lain-lainnya meninggalkan gunugn Siong san, ia bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Tiong sun, aku sudah makan banyak obat dari tabib kenamaan Say locianpwe, tetapi bagaimana masih tidak ingat semua kejadian yang sudah lalu ?"

Tiong sun Hui Kheng menghiburi padanya sambil tersenyum :

"Adik In, kau jangan cemas dulu. Penyakitmu itu sudah terlalu dalam. Kita sekarang justru hendak mengajak kau untuk mencari semacam obat yang mustajab, pasti dapat menyembuhkan penyakitmu semua."

Hok Sin In bertanya pula sambil senyum :

"Enci Tiong sun, tahukah kau suhuku sekarang ini berada dimana ?"

Tiong sun Hui Kheng tidak suka memberitahukan kepergian Hee kouw Soan yang sebenarnya. Maka hanya menjawab sambil tersenyum :

"Suhumu sedang pergi menengok sahabat lamanya untuk beromong-omong. Ia perintahkan kepada kami setelah menyembuhkan penyakitmu yang aneh ini supaya menunggu di puncak gunung Tay pek hong di gunung Cong lam san pada malam Tiong ciu tahun depan, disana nanti bisa bertemu lagi dengannya !"

"Dan kemana sekarang kita hendak pergi ?" bertanya Hok Sin In sambil tertawa.

Tiong sun Hui Kheng menjawab dengan suara lemah lembut :

"Kita lebih dulu hendak pergi ke selat Wan hiap mencari semacam obat mujijat buat menyembuhkan penyakitmu. Kemudian dari sana pergi ke puncak gunung Ngo-bie untuk menikmati pemandangan amalm terang bulan diatas puncak gunung itu !"

Hee Thian Siang tahu bahwa Tiong sun Hui Kheng itu sedang menggunakan teknik menyembuhkan ingatan Hok Sin In supaya Hok Sin In perlahan-lahan mengingat kembali kejadian-kejadian yang lalu. Ia lalu berkata sambil tertawa :

"Selat Wan hiap di sungai Tiang kang, pemandangan sungguh hebat. Terutama di selat Wan bun, selat itu demikian keadaannya sehingga membuat jantung berdebaran, tentang pemandangan alam di puncak Ngo-bie. "

Belum habis ucapannya, Hok Sin In sudah menggoyangkan tangannya mencegah Hee Thian Siang melanjutkan terus kata-katanya dengan mengerutkan alisnya berkata :

"Engkoh Siang, dua tempat yang kau sebutkan tadi rasa- rasanya seperti pernah aku kunjungi !"

Hee Thian Siang dalam hati merasa girang, katanya sambil tersenyum :

"Adik In, cobalah kau ingat-ingat lagi baik-baik. Sebetulnya pernahkah kau berkunjung ke sana atau belum ?" Hok Sin In yang mendengar ucapan itu lantas terbenam dalam alam pikirannya sendiri.

Tiong sun Hui Kheng sengaja memperlambat jalannya, membiarkan Hok SIn In berjalan berdampingan dengan Hee Thian Siang dan selama itu ia berkata kepada Say han kong dengan suara sangat perlahan :

"Say locianpwe, menurut pandangan locianpwe dengan cara seperti ini, untuk kadang-kadang membangkitkan ingatan Hok Sin In, apakah dapat membantu memulihkan ingatannya

?"

Say han kong berpikir dahulu, kemudian menjawab sambil menggelengkan kepala :

"Pukulan bathin yang diterimanya itu sudah terlalu hebat. Dengan cara biasa seperti ini, barangkali hasilnya sedikit sekali. Tidak mungkin dapat mencapai hasil seperti yang kita harapkan."

Benar saja, Hok Sin In yang terbenam dalam pikirannya sekian lama masih menggeleng-gelengka kepala dan berkata kepada Hee Thian Siang sambil tertawa getir :

"Engkoh Siang, bagaimana pun juga aku berpikir juga tidak ingat lagi. Hanya samar-samar aku merasa bahwa nama Wan bun itu sangat menakutkan sekali. Sedangkan nama tempat puncak gunung Ngo bie ini, aku merasa sangat senang !"

"Adik In, kalau katamua tempat yang disebut Wan bun itu menakutkan, beranikah kau pergi kesana ?" tanya Hee Thian Siang.

Hok Sin In mengerutkan alisnya dan berkata sambil menggelengkan kepala : "Mengapa aku tidak berani ? Aku justru ingin menyaksikan dan melihat tempat itu. Bagaimana dalam pendengaranku terasa sangat menakutkan sehingga bulu-bulu romaku pada berdiri !"

Hee Thian Siang yang mendengar jawaban itu dalam hati diam-diam merasa girang. Ia tahu bahwa rencana penyembuhan yang diatur oleh Say han kong ini mungkin akan berhasil. Hok Sin In kini setelah mendengar naam Wan bun itu jelas merasa takut. Dan setelah ia nanti berada sendiri untuk mengadakan reconsenlie kejadian yang lalu, pasti akan mengalami pukulan bathin lagi hingga bisa kembali ingatannya seperti biasa.

Sepanjang jalan itu tidak ada kejadian apa-apa. Hingga tiba ditempat yang dinamakan Wan bun itu. Say han kong menurut keterangan Sam chiu lo pan dahulu memerintahkan Tiong sun Hui Kheng menyamar sebagai wanita kesepian, menyuruh Hee Thian Siang siap dengan jala wasiatnya warna merah untuk berjaga-jaga di tepi jurang.

Setelah selesai mengatur semua, Say han kong mengajak Hok Sin In diwaktu malam yang gelap mendaki puncak gunung Hoan san.

Sambil berjalan Hok Sin In memperhatikan keadaan disekitarnya, kemudian berkata kepada Say han kong sambil tertawa getir :

"Say locianpwe, tempat ini aku benar-benar seperti sudah pernah datang !"

"Nona Hok, ingatkah kau bahwa di dalam rimba persilatan ada seorang pendekar yagn sifatnya aneh, pendekar itu bernama Sam thian lo pan Oe tie Khao ?" bertanya Say han kong sambil tertawa. "Ia benar. Aku justru mengikuti Sam chiu lo pan Oe tie Khao pernah datang ke puncak gunung Hoan san ini !"

Say han kong dalam hati diam-diam merasa girang, cepat bertanya pula :

"Nona Hok, coba kau pikir lagi baik-baik. Waktu itu di puncak gunung Hoan san ini apakah hanya kau dan Sam chiu lo pan Oe tie Khao berdua saja ?"

Hok Sin In yang berada kembali di tempat kejadian dahulu, samar-samar mulai mendapat kembali ingatannya. Setelah berpikir sejenak, berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala :

"Bukan cuma kita berdua saja, rasanya masih ada seorang perempuan yang mengenakan baju hitam. Perempuan itu mengaku sebagai wanita kesepian !"

Say han kong lalu berkata lagi sambil menunjuk jari tangannya :

"Nona Hok, katamu benar. Wanita kesepian yang mengenakan pakaian hitam itu, bukankah ada disana ?"

Hok Sin In mengawasi ke tempat yang ditunjuk oleh Say han kong. Benar saja ia menampak seorang perempuan berpakaian hitam yang mengenakan kerudung muka, muncul perlahan-lahan dibelakangnya.

Peristiwa di waktu lalu, kini telah terbentang lagi dihadapan matanya. Tanpa disadarinya Hok Sin In lalu melancarkan tiga kali serangan yang hebat kepada wanita kesepian yang peranannya dipegang oleh Tiong sun Hui Kheng.

Hee Thian Siang sementara itu sembunyi di tepi jurang. Menyaksikan keadaan itu, diam-diam menganggukkan kepala sambil tersenyum sebab ilmu silat yang dipergunakan oleh Hok Sin In sekarang bukanlah ilmu silat pelajaran Hee kouw Soan yang aneh, melainkan ilmu silat golongan Ngo-bie.

Perubahan itu, merupakan bukti yang nyata bahwa pikiran Hok Sin In sudah nampak gejalanya pulih kembali ingatannya.

Tiong sun Hui Kheng mengelak, dengan beruntun dia harus mengelakkan diri dari serangan Hok Sin In yang dilancarkan hingga sepuluh jurus lebih.

Dalam keadaan seperti kalap menyerang lawan itu, Hok Sin In tiba-tiba seperti ingat sesuatu, ia bertanya dengan suara tajam :

"Say locianpwe, dimana pedangku Liu yap bian sie kiam ?"

Say han kong tidak menduga Hok Sin In akan mengajukan pertanyaan demikian, hingga waktu itu ia hampir tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Karena tidak mendapat jawaban, Hok Sin In berkata lagi kepada diri sendiri :

"Ouw ! Ya benar ! Pedangku Liu yap bian sie kiam terjatuh di tempat ini. Sekarang aku hendak mengambilnya kembali." sehabis berkata demikian, tiba-tiba badannya bergerak dan melompat terjun ke dalam jurang yang dalamnya seratus tombak lebih.

Tiong sun Hui Kheng tidak menduga Hok Sin In bisa mendadak bertindak demikian. Untuk mencegah sudah tidak keburu lagi. Untunglah waktu itu Hee Thian Siang sudah siap siaga dengan jaring pusakanya. Maka ketika Hok Sin In terjun, jaringnya lalu dilepaskan untuk menjala tubuh Hok Sin In.

Say han kong yang kemudian datang memburu lalu menotok dua bagian jalan darahnya ditubuh Hok Sin In, kemudian diberikannya lagi obat-obatan yang diperlukan. Setelah itu ai membuka totokannya dan diurut-urutnya sebentar supaya bisa tidur pulas.

Hee Thian Siang tahu asal Hok Sin In bisa tidur pulas, nanti kalau ia mendusin lagi maka berhasillah sudah usaha Say han kong yang menyembuhkan penyakit lupa ingatan itu. Maka saat itu ia bisa unjukkan senyum dan menarik napas lega.

Tiong sun Hui Kheng juga sangat mengagumi kepandaian Say han kong itu, katanya sambil tersenyum :

"Say locianpwe sejak dahulu kala, tabib kenamaan yang memiliki kepandaian benar-benar. Tidak memperdulikan hasilnya yang cepat, cara untuk memulihkan kembali ingatan adik In ini, benar-benar suatu cara yang luar biasa !'

"Caraku ini hanya kulakukan dalam keadaan terpaksa. Untuk mengetahui berhasilnya atau tidak, kita harus menunggu dahulu sampai Hok Sin In mendusin. Masih perlu dilihat sampai dimana pulih kembalinya ingatannya. Baru dapat dibuktikan hasil dari pekerjaan ini !" menjawab Say han kong sambil tertawa.

"Tadi Hok Sin In dengan tiba-tiba menyebut pedangnya Liu yap bian sie kiam. Hal ini membuat aku bingung sekali. Sebab pedang itu sudah terjatuh dari puncak gunung Hoa san. Bagaimana bisa dibawa oleh perempuan berbaju hitam itu dan tiga iblis gunung Conglam yang berdiam di lembah kematian

?" berkata Hee Thian Siang sambil mengerutkan alisnya.

"Adik Siang, perlu apa kau menjadi bingung ? Adik In waktu itu terjatuh dari puncak gunung Hoa san ini adalh terpisah dengan pedangnya. Ia dapat ditolong oleh Hee kouw locianpwe yang kemudian diberi pelajaran ilmu silatnya. Sedangkan pedangnya mungkin terus terjatuh ke sungai atau mungkin tertancap di tebing gunung dan kemudian diambil oleh perempuan berbaju hitam yang lain, yang selanjutnya terjatuh ditangan tiga iblis dari gunung Cong lam itu !" berkata Tiong sun Hui Kheng.

"Dugaanmu ini mungkin benar !" berkata Hee Thian Siang sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Kau menyebut lembah kematian di gunung Cong lam. Membuat aku teringat kepada ayah. Entah musuh tangguh siapa yang perlu mengadakan perjanjian mengadu kepandain di puncak gunung dan kemudian baru ke lembah kematian untuk bertempur mati-matian." berkata Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya.

"Urusan ini sesungguhnya sangat mengherankan rimba persilatan dewasa ini. Kecuali Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat suami istri dan Pek-kut Ie-su, masih ada siapa lagi yang berani mengadu kepandaian dengan empek Tiong sun ?" berkata Hee Thian Siang.

"Yang lebih mengherankan ialah, katanya ia mendapat musuh tangguh karena gara-garaku !"

"Sekarang ini kita justru tidak mempunyai urusan penting. Tunggu hingga adik In sudah pulih kembali ingatannya, kita bisa bersama-sama pesiar ke gunung Ngo-gak. Asal dapat menemukan empek Tiong sun, bukankah segera mengerti ?"

"Aku sebetulnya agak khawatir. Jikalau bisa menemui ayah untuk membantu padanya, itulah paling baik !"

Hee Thian Siang lalu bertanya kepada Say han kong : "Bagaimana say locianpwe ? Apakah Say locianpwe juga

mau turut bersama-sama kami pergi ke gunung Ngo-gak ?"

"Aku memang seorang pengangguran yang sama sekali tidak punya gawe. Untuk pesiar bersama-sama kalian kurasa juga baik !" jawab Say han kong sambil tertawa. Hee Thian Siang kembali bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Enci Kheng, kalau kita hendak melakukan perjalanan ke gunung Ngo-gak, jalananan daerah pegunungan yang terjal itu, rasanya tidak tepat kalau kita menggunakan kuda. Apakah tidak baik kalau kita tinggalkan Ceng hong kie dan Taywong di atas gunung Siong san aaja ?"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala sambil tersenyum. Karena melihat Hok Sin In masih tidur nyenyak, maka lalu melepaskan pakaian tebalnya untuk menutupi tubuh gadis itu.

Say han kong diam-diam menganggukkan kepala dan berkata kepada TIong sun Hui Kheng :

"Nona Tiong sun, kalau kita hendak pesiar ke gunung Ngo- gak, agaknya juga perlu membuat rencana lebih dahulu. Tidak boleh melakukan perjalanan dengan membabi buta !"

"Say locianpwe, apakah tidak baik nanti setelah urusan disin selesai, lebih dahulu kita pergi ke gunung Hoa san disebelah barat gunugn Ngo-gak, lalu pergi ke gunung Heng san sebelah utara Ngo-gak, kemudian ke gunung Tay-san disebelah timur Ngo-gak dan setelah itu ke gunung Siong san yang merupakan bagian tengah gunung itu. Dan pada akhirnya sama-sama ke Lam gak ?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, lantas menggoyang-goyangkan tangannya dan lalu berkata :

"Rencana perjalanan enci Khegn ini semuanya baik. Tapi dengan cara demikian, sebetulnya salah besar !"

"Dimana salahku ?" tanya Tiong sun Hui Kheng. "Sebab kesatu, empek Tiong sun sudah menjanjikan kepada kita pada permulaan bulan delapan tahun depan, ketemu di lembah kematian di gunung Cong lam. Kedua, kita perlu menghadiri pertemuan di gunung Tay pek hong pada musing Tiong ciu. Maka seharusnya kita lebih dahulu harus berkunjung ke Heng san di Lam-gak, sedangkan di See gak kita anggap sebagai pos yang terakhir, barulah tidak melakukan perjalanan !"

"Hee, adik Siang, hari ini mengapa bisa berpikir demikian cermat ?"

"Inilah yang dinamakan apabila orang sedang menghadapi. "

Belum habis ucapannya, mendadak berdiam. Sebab ia merasa bahwa ucapannya itu ada mengandung kesalahan, mungkin Tiong sun Hui Kheng nanti akan merasa tidak senang.

Tiong sun Hui Kheng yang sangat cerdik, sudah tentu segera dapat menangkap arti kata-kata yang akan diucapkan oleh Hee Thian Siang. Maka lalu berkata sambil menghela napas :

"Adik Siang, kau jangan gembira dulu. Sebab meskipun sekarang ini adik In ada harapan pulih kembali ingatannya, yang memang merupakan suatau kegembiraan besar buat kita, tetapi seperti peribahasa ada kata, nasib manusia siapa tahu, mungkin ditempat ini gembira untuk kita, di lain tempat lain pula keadaannya !"

Hee Thian Siang yang menyaksikan sikap Tiong sun Hui Kheng mendadak menjadi sedih dan waktu ia bicara matanya berkaca-kaca. Keadaan ini berbeda jauh dengan biasanya, maka ia lalu bertanya dengan terheran-heran : "Enci Kheng, mengapa dengan mendadak kau menjadi begitu sedih ? Apakah dalam ucapan-ucapanku tadi ada yang keliru ?"

Tiong sun Hui Kheng menggeleng-gelengkan kepala tidak menjawab, dan air matanya mengalir semakin deras.

Say han kong yang tidak tahu urusan Liok Giok Jie yang terjatuh di dalam jurang di gunung Ko lee kong san, menyaksikan keadaan itu juga merasa heran. Tanyanya :

"Nona Tiong sun, bagaimana kau dengan mendadak jadi begitu sedih ?"

Tiong sun Hui Kheng yang tidak bisa menutup hal itu selama-lamanya, sudah akan memberitahu kejadian di gunung Ko lee kong san itu kepada Hee Thian Siang.

"Adik Siang, harap kau tenang. Aku hendak memberitahukan suatu kabar buruk padamu."

Terkejut hati Hee Thian Siang. Ia merasa bahwa penuturan ini tentu merupakan suatau peristiwa penting, maka lebih dahulu ia menenangkan pikirannya, kemudian bertanya :

"Enci Kheng, kau ceritakanlah. Sebetulnya ada berita buruk apa ?"

"Liok Giok Jie sudah mati, bahkan ia mati ditanganku sendiri !"

Hee Thian Siang yang sejak suhunya Pak bin meninggal dunia, hidupnya sudah sebatang kara. Orang-orang yang hubungannya paling dekat dengannya hanya Liok Giok Jie, Hok Sin In dan Tiong sun Hui Kheng bertiga. Maka begitu mendengar ucapan Tiong sun Hui Kheng, ia segera menduga bahwa nasib buruk telah menimpa Liok Giok Jie. Bila benar demikian, meskipun ia menduga tetapi rupanya sudah diduga dari semula. Namun tentang ucapan Tiong sun Hui Kheng bahwa Liok Giok Jie mati ditangannya, ia menjadi terheran- heran, dengan menatap wajah Tiong sun Hui Kheng ia menahan sedihnya, tanyanya lambat-lambat :

"Mati hidup seseorang itu tergantung ditangan Tuhan. Kita ambil saja sebagai contoh, misal saja perjalanan kita yang membahayakan di gunung Kun lun. Bukankah aku dan enci Kheng menjelma menjadi orang lagi ? Maka itu, berita buruk demikian, meskipun menjadikan cukup kuat bagiku untuk tidak sampai terpengaruh perasaanku, enci Kheng boleh ceritakan sejelas-jelasnya bagaimana Liok Giok Jie menemukan nasibnya !"

Tiong sun Hui Kheng yang menampak Hee Thian Siang masih berlaku tenang, maka lantas menceritakan kejadian di gunung Ko lee kong san.

Hee Thian Siang setelah mendengar habis penuturan itu, perasaan sedihnya agaknya berkurang. Lalu berkata kepadanya :

"Enci Kheng, menurut ceritamu ini, Liok Giok Jie tentu sudah menemukan ajalnya !"

"Liok Giok Jie terjun kedalam jurang yang dmeikian dalam, bagaimana masih ada harapan hidup ?" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa getir.

Hee Thian Siang menunjuk ke bawah puncak gunung Wan san yang ada mengalirkan air sungai yang amat deras, lalu berkata :

"Enci Kheng, bagaimana dalamnya jurang gunung Ko lee kong san itu kalau dibandingkan dengan selat Wan hiap ini ?"

"Sekalipun jurang itu tidak dapat dibandingkan dengan selat Wan hiap ini tetapi juga tidak jauh perbedaannya !" Hee Thian Siang berkata lagi sambil menunjuk Hok Sin In yang sedang tidur nyenyak :

"Waktu adik In tergelincir dari puncak gunung Wan san, sudah terluka parah lebih dahulu. Keadaan adik In waktu itu toh jauh lebih berbahaya dari pada sewaktu Liok Giok Jie buang diri ke dalam jurang ? Tapi sekarang dia masih dalam keadaan selamat. Apakah Liok Giok Jie tidak mempunyai sebersih harapan hidup juga ?"

Tiong sun Hui Kheng meskipun merasa bahwa ucapan Hee Thian Siang itu karena terdorong oleh perasaannya sendiri, tetapi ia masih sangsi apakah benar masih ada orang tua berbaju kuning Hee kouw Soan yang kedua yang menunggu dijurang gunung Ko lee kong san itu, menolong Liok Giok Jie keluar dari bahaya ? Namun demikian, demi kepentingan pemuda itu, juga terpaksa membiarkan, katanya sambil menganggukkan kepala :

"Ucapanmu ini juga benar, apabila kau menggunakan adik In ini sebagai contoh, maka Liok Giok Jie bukan saja ada kemungkinan belum pasti mengalami kematiannya, bahkan mungkin akan menemukan kejadian gaib."

"Semoga bisa terjadi seperti apa yang kita harapkan. Jikalau tidak, kalau sampai tidak mempunyai ibu, sesungguhnya terlalu kasihan !"

Tiong sun Hui Kheng juga tahu baha Hee Thian Siang adalah seorang pemuda yang penuh perasaan. Sikapnya yang diunjukkant adi, karena terjunnya Liok Giok Jie ke dalam jurang itu ada hubungannya dengan dirinya, maka baru saja mencoba menekan perasaannya sendiri untuk membesarkan hati dirinya.

Tapi kini, perasaan itu susah ditekan lagi, sehingga pemuda itu nampak demikian sedih. Maka ia menghampiri dan menarik tangannya sambil berkata dengan lemah lembut : "Adik Siang jangan sedih. Kalau Liok Giok Jie masih ada harapan hidup, itulah memang yang kita harapkan. Tapi jikalau tidak, aku juga pasti akan mau merawat bayinya, akan kuperlakukan sebagai anakku sendiri."

Waktu itu, Say han kong yang menyaksikan betapa mesranya hubungan antara Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng, maka lalu menyingkir dan duduk bersemedi.

Sementara itu, Hee Thian Siang sudah dihiburi oleh Tiong sun Hui Kheng, sebaliknya malah merasa pilu hingga air matanya tidak tertahan lagi lantas mengalir keluar, katanya dengan suara sedih :

"Enci Kheng, aku tahu bahwa itu akulah sendiri yang bernasib terlalu baik. Satu orang agaknya tidak pantas mempunyai tiga kawan wanita yang begitu baik budi seperti enci Kheng ini semua '

Tak menunggu habis ucapannya Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng lalu menggunakan lengan bajunya untuk menyusut air mata Hee Thian Siang, katanya sambil tersenyum :

"Adik Siang, kau jangan bicara lagi. Aku, aku tahu hatimu !" "Enci Kheng tahu apa ?"

"Aku tahu, terhadapku boleh dikata kau berlaku terlalu baik sekali. Terhadap adik In ada juga kau menaruh kasih sayang, tetapi kejadian dalam goa di gunung Tay pa san, telah memaksa kau tidak boleh melupakan Liok Giok Jie, sehingga berakibat begini !"

"Enci Kheng, kau benar-benar seperti mengetahui tentang isi hatiku............" berkata Hee Thian Siang dengan muka merah. "Sebaliknya aku, Hok Sin In maupun Liok Giok Jie, semua bukanlah bangsa perempuan-perempuan biasa yang berpikiran cupat. Buat kami bertiga, melayani seorang suami yang sama, juga tidak menjadi soal, malah terlalu menguntungkan buat kau sendiri !" berktaa Tiong sun Hui Kheng dengan perlahan.

Beberapa patah kata ini telah membuat Hee Thian Siang tidak dapat mengendalikan perasaannya, maka ia lalu mengulurkan tangan menarik dengan perlahan tangan Tiong sun Hui Kheng, ia mencurahkan semua cinta kasihnya kepadanya.

Tetapi Tiong sun Hui Kheng mendorong padanya dan berkata dengan suara perlahan :

"Adik Siang, kira-kira sedikit. Benar, kita dengan Say locianpwe tidak perlu sembunyikan apa-apa, tetapi juga tidak boleh berbuat keliwatan di depan orang tua !"

Dikatai demikian tentu saja Hee Thian Siang menjadi malu. Ia melirik kepada Say han kong, sehingga tampak olehnya tabib kenamaan itu pasti sedang tidur nyenyak.

Malam itu dilewati dengan tenang.

Esok harinya, Say han kong lebih dulu mendusin, Hok Sin In juga sudah mendusin.

Waktu mendusin, ketika menampak Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Say han kong serta Siaopek, yang semuanya berada di dekatnya, lantas menjadi sadar dan pulih kembali ingatannya yang lama, semua kejadian yang sudah lalu, telah teringat semua sekarang.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan sikap Hok Sin In, segera mengetahui bahwa gadis itu sudah pulih kembali ingatannya seperti biasa. Maka lalu ditariknya ke dalam pelukannya, sambil menghiburi ia menceritakan bagaimana mereka telah berusaha untuk memulihkan kembali ingatan gadis itu.

Hok Sin In yang ingat pengalamannya sendiri yang terjatuh dari puncak gunung, masih merasa ngeri, seolah-olah anak kecil ia memeluk Tiong sun Hui Kheng dengan erat dan tubuhnya serasa menggigil.

Setelah satu sama lain menceritakan pengalaman masing- masing, Hok Sin In lalu berkata kepada Tiong sun Hui Kheng, Hee Thian Siang dan Say han kong :

"Enci Tiong sun, engkoh Siang dan Say locianpwe, ciangbun suciku sewaktu di dalam pertemua besar berdirinya partai Ceng thian pay, dari keterangan Sam chiu lo pan Oet tie locianpwe, tahu bahwa aku tergelincir dari puncak gunung Wan san. Hatinya pasti sedih sekali. Sekarang aku beruntung bisa hidup kembali. Apakah tidak seharusnya lebih dulu pulang ke gunung Ngo bie supaya cianpwe suci tidak merasa sedih ?"

Tiong sun Hui Kheng lantas berkata sambil tertawa : "Ciangbunjin Ngo bie pay Hian hian Sianlo dengan adik In

meskipun namanya saja sebagai suci dan sumoay, tetapi sebenarnya dia juga yang membesarkan dan memberi pelajaran padamu, jadi sudah boleh dianggap seperti suhu dengan murid. Kau yang terhindar dari kematian, sudah seharusnya segera ke gunung Ngo bie untuk menghiburi padanya, tapi sayang. Kau tahu, sejak bubarnya pertemuan partai Ceng thian pay itu, partai golongan sesat itu diam-diam telah menyerang partai Ngo-bie pay dan membakar leng to ie, Hian-hian Sianlo bersama tiga sumoaynya tidak diketahui dimana sekarang. Walaupun adik In kembali ke Ngo bie, juga tidak akan menemukan mereka. Jadi ada baiknya kalau ikut kami saja pesiar dulu ke gunung Ngo-gak, tunggu sampai musim Tiong ciu tahun depan, dalam pertemuan di puncak Tay pek hong, pasti bisa ketemu !"

Mendengar Tiong sun Hui Kheng berkata demikian, Hok Sin In lalu bertanya kepada Hee Thian Siang :

"Engkoh Siang, enci Tiong sun hendak ajak aku pesiar ke gunung Ngo-gak, apakah kau suka ?"

Sebelum Hee Thian Siang menjawab, sudah didahului oleh Tiong sun Hui Kheng :

"Engkoh Siangmu ini, lantaran urusan yang jatuh dari puncak gunung Wan san, entah sudah berapa banyak mengeluarkan air mata. Sekarang setelah bertemu kembali dalam keadaan selamat, kau suruh ia berpisah denganmu, ia juga tidak mau !"

"Enci Tiong sun, ucapanmu ini barangkali benar. Menurut apa yang aku tahu, engkoh Siang terhadap kau dan aku serta enciku bertiga, hanya kau seorang saja yang disukai olehnya

!"

Tiong sun Hui Kheng tidak menyangka bahwa Hok Sin In sifatnya masih kekanak-kanakan, maka mukanya lantas menjadi merah dan mengalihkan pembicaraannya ke soal lain

:

"Adik In, kuberitahukan kepadamu sebuah berita menggembirakan !"

"Berita gembira apa ?" tanya Hok Sin In sambil membelalakkan matanya.

"Engkoh Siangmu kini sudah menjadi ayah, ia sudah mempunyai seorang anak !" Hok Sin In mendengar kabaritu, benar-benar merasa girang. Katanya :

"Ini benar-benar merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Enci Tiong sun, kapan kau melahirkan anak

? Mengapa tidak mau bawa untuk diperlihatkan padaku ?"

Mendengar pertanyaan itu, Tiong sun Hui Kheng kembali menjadi malu. Dengan muka kemerah-merahan ia berkata :

"Adik In jangan berkata yang bukan-bukan. Anak engkoh Siangmu ini ialah encimu Liok Giok Jie yang melahirkan !"

"Enci Tiong sun jangan cemas. Tidak perduli siapa yang melahirkan anak itu, bagaimanapun juga engkoh Siangku toh sudah mempunyai anak !" berkata Hok Sin In sambil tertawa geli.

Setelah itu, ia lalu bertanya kepada Hee Thian Siang : "Engkoh Siang, dimana enciku sekarang ?"

Hee Thian Siang mengerutkan alisnya, sulit rasanya menjawab pertanyaan ini.

Tiong sun Hui Kheng yang tidak ingin Hok Sin In yang baru sembuh dari ingatannya kembali dikejutkan oleh berita buruk, maka buru-buru berkata sambil tersenyum :

"Encimu Liok Giok Jie, sekarang ini barangkali juga sedang pesiar ke gunung Ngo-gak."

"Kalau begitu baik sekali, mari kita lekas menemui dia. Aku sedang memikirkan hendak bersama-sama pergi ke lembah Leng cui kok di gunung Ko leng kong san untuk menemui ayah dan juga ibuku !"

Tiong sun Hui Kheng juga berkata : "Adik In, bagaimana kesehatanmu sekarang ? Kalau tidak ada halangan apa-apa, kita pergi dahulu untuk pesiar ke tujuh puluh dua puncak gunung Heng san !"

"Aku sebetulnya tidak sakit apa-apa, hanya lantaran telah pulih kembali ingatanku, kalau kucoba ingat kembali kejadian yang telah lalu, masih merasa ngerti !" menjawab Hok Sin Sin sambil tersenyum.

Mendengar ucapan itu, Tiong sun Hui Kheng berkata kepada Siaopek :

"Siaopek, Taywong saat ini meskipun sifatnya yang liar sudah mulai jinak, tetapi kalau ditinggalkan dia sendirian di gunung Siong san, aku sepenuhnya masih merasa khawatir. Kau tidak perlu ikut kami ke gunung Ngo-gak. Pulanglah dulu ke Siong san, baik-baik bantu juga Taywong dan Ceng hong kie !"

Siaopek berdiri sambil meluruskan kedua tangannya, lalu menjawab dalam bahasa manusia :

"Aku tahu !"

Hok Sin In terheran-heran sehingga ia lompata-lompatan seperti anak kecil, bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng dengan suara terheran-heran :

"Enci Tiong sun, apakah siaopek sudah bisa bicara seperti kita ?"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala dan tertawa, kemudian berkata lagi kepada Siaopek :

"Kalian berdiam di gunung Siong san yang begitu baik, dapat kalau gunakan untuk melatih ilmu masing-masing. Nanti pada malaman musin Tiong ciu tahun depan, kalian boleh berangkat ke puncak Tay pek hong di gunung Cong lam san, disitu baru kalian bisa bertemu dengan kami !"

Siaopek menganggukkan kepala berulang-ulang, lalu minta diri kepada Tiong sun Hui Kheng, Say han kong, Hee Thian Siang dan Hok Sin In, setelah mana dia lantas lompat melesat dan turun dari gunung Wan san.

Hok Sin In berkata dengan pujiannya :

"Enci Tiong sun, monyet cerdik pandai seperti peliharaanmu Siaopek ini benar-benar telah membuatku sangat kagum padamu. Bagaimana cara kau mendidiknya ?"

"Meskipun aku agak mengerti sedikit tentang binatang, tetapi bakatnya Siaopek sendiri sesungguhnya memang sudah terlalu baik. Taywong mempunyai kekuatan tenaga luar biasa, tetapi kecerdikannya kalau dibanding dengan Siaopek jauh sekali."

"Adik In jangan mengiri, tunggu setelah kita selesaikan pertandingan di gunung Cong lam san dan setelah kita sama- sama mengasingkan diri ke tempat sepi, biarlah Siaopek nanti dari keturunannya memberikan kita seekor anak saja yang kita bisa didik sebaik-baiknya !" berkata Hee Thian Siang sambil tertawa.

Mereka sambil mengobrol turun dari puncak gunung Wan san untuk melakukan perjalanan ke gunugn Ngo gak.

Tiba di gunung Heng san, Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menunjuk beberapa puncak gunung yang waktu itu masih diliputi oleh kabut tebal.

"Say locianpwe, kau tahu ayahku hendak mengadakan pertandingan di puncak gunung Ngo gak. Tahukah Say locianpwe di bagian mana dari tujuh puluh dua puncak gunung yang menjulang tinggi dan diliputi awan tebal iini mereka bertempurnya ?"

"Heng san dibagian selatan gunung Ngo gak mempunyai tujuh puluh dua puncak, tetapi diantara tujuh puluh dua puncak itu, puncak-puncaknya yang tertinggi cuma puncak Ciok yong, .........., Cie kay, Ciok tin dan Thian cu. Tiong sun tayhiap mengadakan perjanjian dengan musuhnya untuk bertanding di puncak yang tertinggi, maka lebih baik kita pergi dulu ke puncak lima itu saja untuk mencari !" menjawab Say han kong sambil mengurut-urut jenggotnya.

Tiong sun Hui Kheng setuju dengan pikiran Say han kong. Empat orang itu lalu mendaki lima puncak gunung yang disebutkan tadi untuk mencari jejak Tiong sun Seng.

Di puncak gunung Cie kay hong, benar saja mereka menemukan tanda-tanda yang aneh.

Pertama yang ditemukan oleh mereka ialah dua buah pohon cemara yang besar telah pada rontoh semua daunnya, tanah dibawah pohon kira-kira seputar tombak lebih telah penuh dengan daun-daun hijau, mengelilingi batang pohon dalam lingkaran bulat.

Kedua ialah ada dua ekor kalajengking, hidup-hidup dimasukkan dalam batang pohon itu sedalam satu dim hingga binatang mana jadi tidak bisa bergerak, hanya dua pasang matanya saja yang masih berputaran.

Kejadian aneh yang ketiga ialah disebuah pohon tua yang tinggi sekali jauh diatas kira-kira setinggi tombak lebih, terdapat dua lembar daun yang besar. Diatas masing-masing daun itu terdapat sebaris huruf-huruf yang berbunyi sama : "musuh". Kalau tidak diperhatikan benar-benar, dua lembar daun itu dari jauh tampak sebagai dua buah lubang besar diatas pohon. Say han kong menunjuk tiga kejadian aneh itu, berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya :

"Nona Tiong sun, kita datang terlambat. Ayahmu Tiong sun tayhiao, pasti sudah mengadakan pertandingan dengan musuhnya disini !"

Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya memandang pohon cemara tua, binatang kalajengking dan dua lembar daun itu berganti-ganti dengan penuh perhatian.

Hok Sin In bertanya sambil tersenyum :

"Enci Tiong sun, apa yang sedang kau perhatikan disitu ?"

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan Hee Thian Siang juga sedang mengamat-amati kejadian aneh itu, maka lalu bertanya padanya :

"Adik Siang, apa kau sudah menemukan tanda-tanda mencurigakan dari semua ini ?"

Hee Thian Siang dengang perasaan terkejut berkata : "Menurut apa yang aku lihat, musuh yang harus dihadapi

empek Tiong sun bukan saja memiliki kepandaian yang sangat tinggi, malah bisa ditaksir pasti bukan hanya seorang saja !"

Tiong sun Hui Kheng mengangukkan kepala dan berkata : "Daun-daun pada rontoh tetapi pohonnya masih tegak

berdiri. Dua ekor kalajengking amblas di batang pohon dalam keadaan hidup-hidup, bahkan dilakukan dari tempat sejarak tiga tombak. Lalu, dengan menggunakan kekuatan tenaga jari tangan membuat lubang diatas daun. Tiga kejadian ini menunjukkan kekuatan tenaga yang berbeda-beda, jelas ada tiga orang tokoh gaib rimba persilatan yang telah mengadu kepandaian dengan ayahku. Kalau ditilik dari keadaan ini, semua orang mempunyai kekuatan berimbang satu dengan lain, tidak ada yang lebih unggul !"

Say han kong juga lantas berkata dengan perasaan heran :

"Kalau kita pikir benar-benar, tokoh-tokoh kenamaan dalam rimba persilatan pada dewasa ini kecuali Thiat Sam mo dan Pat-bao Yao-ong suami isteri, sudah tidak ada orang lain yang dapat menandingi Tiong sun tayhiap. Tapi sekarang mengapa mendadak bisa muncul tokoh-tokoh kuat malah sampai tiga orang sekaligus ? Apakah ditempat-tempat pegunungan berbelukar seperti ini terdapat kawanan iblis yang sangat lihai, yang mendadak muncul lagi ?"

"Ini juga susah dikata, sebelum aku dan enci Kheng bertemu dengan Hee kouw Soan locianpwe, Sam ciok Ci jin dan Thian-ie taysu, siapa bisa menduga bahwa ditempat semacam ini sebenarnya sudah ada tersembunyi orang-orang gaib berkepandaian luar biasa ?" kata Hee Thian Siang sambil menghela napas.

"Sekalipun benar ada orang-orang gaib yang begitu tingi ilmunya, tapi aku tidak pernah merasa mengganggu mereka. Mengapa ayah berkata kepada Say locianpwe bahwa akulah yang menjadi gara-gara dalam hal ini ?" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alinya.

"Nona Tiong sun, di dalam hal ini kau tidak perlu menduga yang bukan-bukan. Kita masih ada tugas yang lebih penting !" berkata Say han kong sambil tersenyum.

"Tugas penting apa ?" bertanya Tiong sun Hui Kheng.

Say han kong menunjuk dua ekor kalajengking yang masih bergerak-gerak diatas pohon dan daun-daun cemara yang rontok di tanah, lalu berkata sambil tersenyum : "Nona Tiong sun, bukankah sudah kau lihat sendiri, kalajengking itu masih belum mati dan daun cemara dibawah itu juga masih belum pada kering ?"

"Jadi jelas juga tentunya Tiong sun tayhiap dan musuh- musuhnya belum lama meninggalkan tempat ini. Mengapa tidak lekas kita kejar mereka ke puncak gunung Siong san dibagian tengah gunung Ngo gak ? Mungkin kita masih dapat menjumpai mereka semua disana, buat memberi bantuan sekedarnya dan malah bisa segera mengetahui siapa musuh- musuhnya itu !"

Mendengar ucapan itu, Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala lalu mengajak Hee Thian Siang dan Hok Sin In untuk melakukan perjalanan ke gunung Siong san, bertanya pula kepada Say han kong :

"Say locianpwe, apabila ayahku setelah berlalu dari puncak Cie-kay hong ini langsung menuju ke gunung Siong san, apakah perjalanan kita ini. "

Belum habis ucapannya, Hee Thian Siang sudah berkata : "Enci Kheng jangan khawatir, perjalan kita ini tidak mungkin

tersia-sia. Sebab menurut janji empek Tiong sun kepadamu

adalah awal bulan delapan tahun depan, hendak bertemu denganmu di lembah kematian. Dari sini kita dapat menghitung-hitung, kecuali empek Tiong sun dan musuh- musuhnya itu ditengah jalan sudah mendapat keputusan siapa yang menang dan siapa yang kalah, jikalau tidak, pasti mengadakan pertandingan terus dari Lam gek, Tiong gek, Tang-gek, Pek-gek dan akhirnya ke See gak, inilah urut-urutan jalan yang pasti akan diambil."

Tiong sun Hui Kheng yang cemas hatinya ingin segera memberi bantuan kepada ayahnya, harus melakukan perjalanan siang malam tidak berhentinya. Dalam waktu yang sangat singkat sudah menyeberang propinsi Ouw pak, langsung meuju ke bawah kaki gunung Siong san di daerah propinsi Ho-lan.

Terlebih dahulu Hee Thian Sianglah yang menampak gunung Siong san yang menjulang tinggi ke langit, lalu berkata kepada Say han kong sambil tersenyum :

"Say locianpwe, kini kami minta sekali lagi advis locianpwe. Sesudah kita tiba di gunung Siong san ini, bagaimana seharusnya kita mencari jejak empek Tiong sun ?"