Makam Bunga Mawar Jilid 31

 
Jilid 31

Tiong sun Hui Kheng melirik ke arah Hee Thian Siang sejenak. Dari sinar matanya itu mengandung kasih sayang yang sangat besar, katanya sambil tersenyum :

"Adik Siang, cinta kasih seorang laki dan perempuan harus dititikberatkan juga kepada hati yang jujur. Jangan terlalu rapat juga jangan terlalu berlebih-lebihan. Perpisahan 100 hari lebih, apalah artinya. Apalagi kau juga sudah ada kawan. Jadi tidak usah terlalu kesepian !"

"Hei ! Enci dengan aku akan berjalan secara berpencaran, mengapa enci mengatakan aku masih ada kawan ?"

"Aku akan perintahkan Siaopek menjadi kawanmu, sedang aku akan membawa Taywong. Sebab Siaopek lebih cerdik, sedikit banyak ia bisa berkata dalam bahasa manusia !"

Hee Thian Siang juga sangat suka kepada Siaopek, begitulah dua orang itu lalu berpencaran untuk melakukan tugas masing-masing. Mereka berjanji sekali lagi hendak bertemu di puncak gunung Ngo-bie pada malaman Tong ciu tahun ini.

Pada waktu itu, Siang Biauw Yan, Bo Cu Keng dan lain- lainnya sedang hendak mengutus anak buahnya untuk memancing Hee Thian Siang pergi ke gunung Kun-lun. Kini Hee Thian Siang telah datang sendiri. Ini berarti pasti akan mendapat bencana, karena masuk perangkap Siang Biauw yan. Tetapi hal ini biarlah kita tinggalkan dahulu, kita ikuti dulu perjalanan Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun Hui Kheng sejak berpisah dengan Hee Thian Siang dibawah gunung Liok-tiauw san dalam hati juga merasa kesepian, dengan mengajak binatangnya Taywong, berjalan menuju ke arah barat. Sebabnya ia menuju ke barat ialah ingin pergi ke lembah Leng-cui-kok di gunung Ko-lee-kong-san untuk menengok Hong-tim Ong khek May Ceng Ong, Siang-swat Siangjin leng Biauw Biauw dan Kiu-thian Mi Lie Tang Siang Siang, tiga tokoh kenamaan dari angkatan tua. Apakah sudah berhasil dibujuk oleh It-pun Sin-ceng atau tidak dan mengapa It-pun Sin-ceng yang pergi sudah lama belum tampak kembali.

Tetapi sebelum tiba di gunung Ko-kong-san, sudah menemukan kejadian lagi di gunung Bu-liang-san.

Hari itu selagi Tiong sun Hui Kheng berjalan di sebuah lembah digunung Bu-liang-san, tiba-tiba merasakan ada hembusan angin kuat, meluncur dari atas.

Taywong yang mempunyai reaksi lebih gesit, sudah mengeluarkan suara aneh seperti memberi peringatan dan manakala Tiong sun Hui Kheng mendongak, benar-benar membuatnya terkejut !

Kiranya burung raksasa aneh yang kepalanya mirip dengan kucing, seperti burung yang pernah ditumpaki oleh Pan Pek Giok di gunung Liok-tiauw-san, tiba-tiba muncul diangkasa dan kemudian meluncur turun bagaikan bintang sipu yang jatuh.

Tiong sun Hui Kheng mengerutkan alisnya, mengerahkan kekuatan tenaganya Pan-sian-ciang dari golongan Lo-bu, sudah siap hendak menyambut serangan burung raksasa itu.

Tetapi terpisah kira-kira satu tombak diatas kepalanya, Tiong sun Hui Kheng sudah melihat baha mata burung raksasa itu tidak bersinar, kepalanya sudah teklok, tidak seperti melayang dengan sewajarnya.

Maka itu, ia tidak jadi menggunakan kekuatan tenaganya Pan-sian-ciang untuk menyambut, sebaliknya menyingkir beberapa tombak jauhnya sambil menarik tangan Taywong. Benar seperti apa yang ia duga, burung raksasa berkepala mirip kucing itu telah jatuh nyungsep di tanah, bulunya beterbangan, jadi jelaslah sudah bahwa burung itu sudah sejak tadi binasa di angkasa.

Tiong sun Hui Kheng diam-diam merasa heran sebab burung yang galak dan cerdik luar biasa ini, siapakah yang dapat membinasakannya di angkasa.

Selagi memikirkan soal itu, kembali ia dongakkan kepala. Tampak di angkasa masih ada sepotong kain putih sepanjang satu tombak yang melayang-layang turun dari atas dan diatas kain putih itu seperti ada tulisannya.

Tiong sun Hui Kheng menunggu hingga kain itu jatuh ke bawah. Lalu dipungutnya dan diperiksanya. Tampak diatas kain itu terdapat beberapa deretan huruf yang berbunyi : HIAN WAN TANPA TANDINGAN, HEE KOUW SOAN ADA DIMANA

?

Setelah membaca tulisan itu, Tiong sun Hui Kheng jadi teringat kepada cerita Hee Thian Siang, dalam pembicaraannya dengan Pat-bao Yao-ong di atas puncak Tay-pek-hong, baru tahu bahwa burung raksasa aneh yang mirip dengan kucing itu ternyata memang sengaja disuruh oleh Pat-bao Yao-ong terbang ke pelbagai tempat untuk mencari Hee Kouw Soan.

Tetapi kini burung itu telah mati secara mendadak, pasti dibinasakan oleh orang pandai luar biasa. Apakah itu ada dilakukan oleh Hee Kouw Soan ? Dan apakah Hee Kouw Soan berdiam di tempat-tempat berupa gunung ini ?

Belum hilang pikirannya, tiba-tiba tampak seorang tua berbaju kuning, bagaikan kilat cepatnya melayang turun ke lembah dari atas tebing tinggi. Tiong sun Hui Kheng memperhatikan orang tua itu. Segera mengetahui bahwa orang itu bukan lain dari pada Hee Kouw Soan adanya. Maka buru-buru memerintahkan Taywong supaya jangan bergerak dan jangan sampai menimbulkan marah kepada orang tua itu.

Hee Kouw Soan begitu melayang turun ke dalam lembah, setelah menampak Tiong sun Hui Kheng tampaknya juga sangat terkejut.

Tiong sun Hui Kheng lalu menghampiri dan memberi hormat seraya berkata sambil tersenyum-senyum :

"Hee kouw locianpwe, apakah selama ini ada baik-baik saja

?"

Hee kouw Soan menunjuk burung raksasa yang sudah mati

dan menggeletak di tanah, lalu bertanya kepada Tiong sun Hui Kheng :

"Nona Tiong sun, apa burung ini adalah peliharaanmu ?" "Boanpwe tidak memelihara burung ini, tetapi tahu siapa

orangnya dan nama serta asal usul orang yang memeliharanya." berkata Tiong sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Lekas kau ceritakan !" kata Hee kouw Soan girang.

Tetapi sehabis berkata demikian, agaknya seperti orang bingung sendiri. Katanya sambil tersenyum :

"Kau beritahukanlah padaku siapa orangnya yang memelihara burung ini, aku nanti akan memberikan kau sedikit kebaikan !"

"Locianpwe ingin tahu asal usul orang ini ? Sudah tentu bonpwe akan memberitahukan. Tapi urusan cuma sekecil ini, boanpwe tidak ingin mendapatkan hadiah apa-apa. Tentang kebaikan yang locianpwe janjikan tadi, boanpwe tidak berani menerima."

Hee kouw Soan menggoyangkan tangan dan berkata : "Nona TIong sun jangan terlalu merendahkan diri. Harap

kau sebutkan dul siapa orangnya yang memelihara burung ini."

"Orang yang memelihara burung ini namanya ialah Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat !"

Hee kouw Soan mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda telah mengingat baik-baik nama itu. Kemudian bertanya pula :

"Bagaimana kepandaian ilmu Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat itu ?"

"Dia telah diangkat sebagai pemimpin besar oleh orang- orang jahat dari luar daerah Tionggoan sehingga tokoh-tokoh kenamaan seperti Pek-kut Ie-su, Pek-kut Sian-cu dan lain-lain dari Ceng thian pay juga tunduk di bawah perintahnya. Kepandaian ilmunya boleh dikata tidak ada duanya di dalam dunia !"

Hee kouw Soan mendelikkan sepasang matanya, tanyanya heran :

"Tidak ada keduanya di dalam dunia ? Apakah kepandaian Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat itu masih diatasku ?"

Tiong sun Hui Kheng tahu Hee Thian Siang sedang mencari Hee kouw Soan dan hendak memancing keluar orang gaib ini untuk diadu dengan Pat-bao Yao-ong. Dan kini karena telah diketemukan jejaknya tanpa disengaja, maka ia pikir tidak akan melepaskan kesempatan yang sangat baik ini. Maka sengaja ulur waktu untuk mencari cara yang paling tepat buat memancing Hee kouw Soan. Maka katanya :

"Kepandaian ilmu locianpwe meskipun sudah sangat tinggi sekali, tetapi kalau dibandingkan dengan Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat, barangkali masih.  "

Tidak menunggu sampai habis ucapan Tiong sun Hui Kheng, wajah Hee kouw Soan sudah berubah. Kemudian mengebutkan lengan jubahnya. Sebuah batu besar yang berada tidak jauh disampingnya telah terbang beberapa tombak jauhnya. Katanya dengan suara tidak senang :

"Nona Tiong sun, jangan bicara lagi. Aku akan segera pergi untuk membunuh Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat. Aku pasti dapat memperlihatkan kepalanya padamu !"

Sehabis berkata ia lalu melesat tinggi lima tombak, dan menghilang ke atas tebing.

Tiong sun Hui Kheng diam-diam merasa geli, katanya dengan suara nyaring :

"Hee kouw Locianpwe tunggu dulu. Tahukah locianpwe dimana Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat itu berada ?"

Hee kouw Soan cepat melayang balik ke dalam lembah, katanya sambil tertawa :

"Ya, aku bukan saja sudah lupa menanyakan tempat tinggal Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat itu, juga lupa pada janjiku ! Benar-benar aku ini seorang tua pelupa !"

Tiong sun Hui Kheng memberi hormat dan berkata sambil tersenyum :

"Boanpwe ada ucapan yang barangkali kurang sopan, harap Locianpwe jangan marah !" "Nona Tiong sun kau katakan saja."

"Orang-orang rimba persilatan, selagi melakukan pertandingan, apabila kekuatan tenaga dan kepandaian berimbang, yang menang tentulah pihak yang bisa menguasai diri sendiri dan bersikap tenang. Barang siapa yang tidak dapat menguasai emosinya, pasti akan kalah ! Kepandaian ilmu Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat itu, sudah sangat tinggi sekali. Ia merupakan seorang jago tanpa tandingan pada dewasa ini. Locianpwe kalau berjumpa dengannya, harap berlalu tenang dan jangan terburu nafsu. Jangan sekali-kali pandang rendah musuh !"

Hee kouw Soan merasa telinganya menjadi panas, wajahnya juga menjadi merah. Katanya sambil menganggukkan kepala dan tertawa :

"Terima kasih atas pemberitahuanmu ini. Aku masih pikir hendak minta tolong kepadamu buat melakukan sesuatu hal !"

"Harap locianpwe katakan saja. Tiong sun Hui Kheng sudah pasti sedia akan menjalankan perintahmu !"

"Dahulu waktu kita berpisah di gunung Ko-lee-kong-san, akhirnya secara kebetulan aku dapat menemukan seorang wanita muda yang berbakat sangat bagus. Maka telah kuturunkan kepandaianku kepadanya !"

"Locianpwe dapat menemukan seorang yang berbakat baik, disini boanpwe ucapkan selamat kepadamu !"

"Oleh karena adatku ini selalu ingin menang saja, maka setelah kuturunkan semua pelajaran ilmu bathin, aku lantas menyekap dia di dalam sebuah goa kuno yang terpisah dengan dunia luar supaya ia tidak dapat gangguan apa-aoa dan bisa mempelajarinya dengan tekun !"

"Dimana goa kuno itu letaknya ?" "Goa jauh dari gunung Bu liang san sini, di daerah gunung Tay pa san !"

"Hei ! Tay pa san tidak dekat dari sini ! Kalau murid locianpwe itu menurut katamu pisah dari dunia luar, lalu bagaimana soal makan minumnya ?"

"Pertanyaan nona Tiong sun ini tepat sekali ! Yang hendak kuminta padamu justru adalah dalam soal ini !"

"Apakah locianpwe hendak minta boanpwe mengantarkan barang makanan dan minuman kepada muridmu itu setiap harinya ?"

"Di dalam goa itu ada air jernih yang boleh digunakan olehnya sebagai minuman. Tetapi soal makanan, paling banyak digunakan untuk makan hingga akhir tahun ini. Maka aku minta kepadamu sebelum habis tahun ini, sukalah kau pergi ke goa tua di gunung itu untuk melepaskan muridku !"

"Dan locianpwe sendiri ?" bertanya Tiong sun Hui Kheng tidak mengerti.

Hee kouw Soan unjukkan senyum pahit, katanya :

"Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat menganggap dirinya sendiri seorang kuat tanpa tandingan dan aku sendiri yng sudah berkelana beberapa puluh tahun juga tidak menemukan tandingan yang setimpal. Maka dalam pertandingan ini, sudah pasti masing-masing akan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Ada kemungkinan besar kami akan jatuh bersama-sama di daerah luar luar perbatasan itu. Sudah tentu aku harus menyerahkan urusanku yang belum selesai kepadamu !"

Tiong sun Hui Kheng meskipun sudah melihat sikap sedih Hee kouw Soan, tetapi ia juga tidak berdaya untuk memberi hiburan. Terpaksa memberi hormat dan menjawab : "Boanpwe selalu bersedia buat melakukan perintah Locianpwe. Tetapi harap locianpwe beri tahukan dimana letak goa kuno di gunung Tay pa san itu dan siapa muridmu itu."

Hee kouw Soan menjelaskan letak dan keadaan goa kuno di gunung Tay pa san itu, kemudian berkata sambil tertawa kecil :

"Nona Tiong sun, sebetulnya apa nama muridku itu, aku sendiri juga tidak tahu !"

Tiong sun Hui Kheng menjadi heran. Adakah seorang guru yang tidak mengenal muridnya ? Maka ia mengawasi beberapa kali kepada orang tua itu.

Hee kouw Soan berkata sambil tertawa :

"Nona Tiong sun jangan heran. Muridku ini karena mengalami sesuatu bahaya yaiu mendapat syok hebat. Meskipun sudah kutolong jiwanya, tetapi segala kejadian masa lalu sudah dilupakan semua olehnya. Ia malah tidak tahu namanya sendiri, juga tidak tahu asal usul perguruannya

!"

"Locianpwe perintahkan boanpwe melepaskan murid cianpwe itu. Apakah sudah tidak suruh mempelajari ilmu lagi

?"

Hee kouw Soan menarik napas panjang, kemudian berkata

:

"Semula oleh karena aku mencari Thian ie Siangjin dengan susah payah, selama beberapa puluh tahun tidak dapat menemukannya dan setelah kami bertemu lalu cita-citaku itu tidak tercapai. Maka baru aku mengadakan perjanjian dengan Hee Thian Laote, lima tahun kemudian bertemu lagi di gunung Tay san. Tapi kini karena aku harus menghadapi seorang lawan seperti Pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat, perlu apa persoalan yang mencari menang saja itu kubebankan kepada seorang angkatan muda."

"Kalau demikian halnya, jadi locianpwe sudah membatalkan janji yang hendak mengadakan pertemuan lagi di gunung Tay san lima tahun kemudian itu ?"

"Harap nona Tiong sun sampaikan kepada Hee Thian Siang laote, perjanjianku di gunung Ke-lee-kong san dahulu katakanlah dibatalkan saja !" kata Hee kouw Soan sambil menganggukkan kepada dan tertawa.

Sehabis mengucap demikian, ia masukkan tangannya ke dalam sakunya, mengeluarkan tiga batang bulu burung Phian- khim-ngo-sek-ie-mao yang diambilnya dari tangan Hee Thian Siang dahulu di gunung Ko-lee-kong-san, diberikan kepada Tiong sun Hui Kheng seraya berkata :

"Tiga batang bulu burung Phia-khim-ngo-sek-ie-mao ini juga kuharap sukalah nona kembalikan kepada Hee Thian Siang Laote dan kuminta juga kamu berdua selanjutnya tolonglah perhatikan baik-baik muridku itu !"

Mendengar ucapan Hee kouw Soan yang selalu meninggalkan pesan dari hal untuk kemudian hari, tampaknya ada firasat kurang baik. Maka setelah menyambut bulu burung itu, lalu berkata sambil tersenyum :

"Harap locianpwe jangan berkata demikian. Boanpwe sekalian sebenarnya masih mengharap bimbingan locianpwe

!"

Hee kouw Soan menggeleng kepala dan tertawa. Sambil menatap Tiong sun Hui Kheng, ia bertanya :

"Nona Tiong sun, harap kau beritahukan padaku dimana adanya pat-bao Yao-ong Hian Wan Liat itu sekarang !: "Hian Wan Liat berdiam di suatu tempat yang ia namakan istana Ciat tian-kiong, yang letaknya digunung Boan-phoa san di daerah Pat-bo. Orang ini bukan saja memiliki kepandaian ilmu sangat tinggi, tetapi istrinya Kim-hoa Seng-bo juga bukan seorang yang lemah. Di samping itu, mereka juga ada memelihara banyak sekai binatang buas dan ular-ular berbisa. Locianpwe yang pergi seorang diri, benar-benar harus berlaku hati-hati !"

"Terima kasih atas perhatianmu. Di sini aku ada sebuah barang mainan kecil, akan kuberikan padamu. Harap jangan kau anggap sebagai upah atau balas jasa dariku !"

Sehabis berkata demikian, ia lalu memberikan sebutir mutiara berwarna hijau kebiru-biruan sebesar buah lengkeng kepada Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun Hui Kheng tahu seorang berkedudukan seperti Hee kouw Soan ini, barang yang berada dalam tangannya tentu bukan barang sembarangan. Maka ia menerimanya sambil memberi hormat dan mengucap terima kasih/

Hee kouw Soan berkata pula sambil tertawa :

"Kegunaan mutiara ini, aku tidak tahu benar. Tetapi aku tahu barang ini bukanlah barang biasa. Jikalau kau nanti ketemu dengan seorang ahli yang mengetahui gunanya mutiara ini, kau boleh tanyakan padanya !"

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sementara itu Hee kouw Soan sudah mengerahkan ilmunya meringankan tubuh yang hebat sekali, terbang tinggi setelah kakinya menginjak tebing gunung, lalu menghilang di balik awan.

Tiong sun Hui Kheng mengawasi berlalunya orang gaib ini. Dalam hati juga merasa tidak enak. Ia pikir sukar kalau kepergiannya Hee kouw Sian kali ini bisa menyingkirkan Pat- bao Yao-ong suami istri supaya dalam pertemuan besar di puncak gunung Tay-pek hong di tahun depan, pihak orang- orang golongan kebenaran dana menumpas semua orang dari golongan penjahat hingga rimba persilaan boleh aman lagi selama dua - tiga puluh tahun mendatang.

Tetapi apabila tokoh gaib rimba persilatan ini juga tidak dapat melawan Pat-bao Yao-ong suami istri dan binasa di dalam istana Cian-thian kiong, maka bencana di kemudian hari, pasti akan melanda rimba persilatan.

Tiong sun Hui Kheng dengan pikiran penuh rasa khawatir, membawa binatangnya Taywong melanjutkan perjalanan ke barat untuk mencari jejak pemimpin istana kesepian, petani tua kesepian dan puteri kesepian.

Hingga tiba di daerah gunung Ko-lee-kong san, ia masih tidak dapat menemukan kejadian-kejadian yang mencurigakan.

Ketika ia berjalan ke sebelah dalam daerah pegunungan itu, lalu teringat kepada daerah pegunungan Ko-lee-kong san ini yang erat sekali hubungannya dengannya.

Hong tim Ong kheng May Ceng Ong, Siang swat Siangjin Leng Biauw Biauw dan Kiu thian Mo lie Teng Siang Siang, berdiam di daerah gunung ini. Liong hui Khiam Khek Su to Wie di tempat ini juga telah memulihkan kekuatan dan kepandaiannya dan mendapatkan pedan Pek liong kiam. Tiong sun Hui Kheng sendiri bersama Hee Thian Siang juga secara kebetulan ketemu dengna Sam ciok Cinjin, Thian ie Siangjin dan kemudian berhasil mempelajari ilmu luar biasa dari kedua tokoh luar biasa itu.

Tetapi daerah pegunungan ternama yang pernah memberi kesan baik kepada Tiong sun Hui Kheng itu, kini tampaknya seperti asing baginya. May Ceng Ong dan kedua istrinya tidak tampak keluar, sedangkan Thian ie Siangjin dan Sam ciok Cinjin hanya meninggalkan kuburannya di puncak bukit Giok can hong sebagai kenang-kenangan.

Tiong sun Hui Kheng berjalan mundar mandir seorang diri mengenankan segala kejadian yang sudah lalu. Dengan tiba- tiba Taywong yang mengikuti di belakangnya, memperdengarkan suara siulan panjang. Kemudian disusul oleh suara ringkikan kuda dari tempat yang sangat jauh. Suara ringkikan kuda itu sudah tidak asing lagi. Maka setelah masuk ke telingan Tiong sun Hui Kheng, ia segera mengetahui bahwa suara itu keluar dari mulut kudanya sendiri Ceng hong kie.

Tetapi setelah memperhatikan arah jalannya kuda, agaknya menuju ke barat laut. Bukan menuju ke arahnya. Maka ia lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, menggunakan ilmunya menyampaikan suara ke jarak jauh memanggil- manggil :

"Enci Hwa Jie Swat, adikmu Hui Kheng ada disini !"

Sesaat kemudian kuda Ceng hong kie itu memutar balik. Dari jauh sudah tampak Hwa Jiw Swat yang duduk di atas kuda.

Tiong sun Hui Kheng lari menghampiri dan bertanya sambil tersenyum :

"Apakah enci Swat sudah menemukan It-pun Sin-ceng ?"

Hwa Jie Swat menggelengkan kepala dan bertanya sambil tertawa :

"Aku meminjam kuda Ceng hong kie ini, dengan mengandalkan empat kakinya yang bisa lari demikian cepat, hampir menjelajahi seluruh barat laut tetapi belum menemukan jajaknya !" Mendengar keterangan Hwa Jie Swar bhawa dia belum menemukan It-pun Sin-ceng dalam hati diam-diam merasa heran. Tanyanya :

"Enci Swat, tadi pedal kuda hendak menuju ke barat laut.

Apakah lantaran itu ?"

"Aku tadi hendak mengejar seorang yang sangat mencurigakan kelakuannya !"

"Orang bagaimana ?"

"Seorang perempuan muda berpakaian hitam mengenakan kerudung mata warna hitam. Perempuan itu setiap kali melihat bayi yang haru lahir dari penduduk pegunungan, lalu hendak dirampasnya. Tetapi setelah dijenguknya sebentar, lantas pergi lagi. Setelah aku mendengar cerita itu, aku merasa bahwa kelakuan gadis itu sangat aneh. Maka tertarik oleh kelakuannya itu, aku mengejar sampai disini !"

Tiong sun Hui Kheng mengeluarkan suara kaget, tanyanya pula :

"Dia....... apakah dia sekarang ini berada di daerah pegunungan Ko-lee-kong san ini ?"

Hwa Jie Swat menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa :

"Aku dengar orang kata bahwa perempuan muda berpakaian hitam yang sangat misterius ini, berlari-larian di daerah Kong-lee-kong san ini. Agaknya ada apa-apa yang dicari hingga untuk sementara tidak adakn berlalu dari sini !"

Berkata sampai disitu, lalu bertanya sambil menatap Tiong sun Hui Kheng : "Dari pertanyaanmu tadi, kau seolah-olah kenal dengan perempuan berbaju hitam itu."

"Aku sangsi perempuan berbaju hitam yang merebut setiap bayi dan dilihatnya sebentar mungkin adalah puteri kesepian Liok Giok Jie yang baru saja melahirkan anak yang didapat dari Hee Thian Siang !"

Kali ini adalah giliran Hwa Jie Swat yang terkejut bukan main. Setelah mengeluarkan suara "Ouw !" lalu bertanya :

"Kalau Liok Giok Jie sudah melahirkan anak yang didapat dari Hee Thian Siang, mengapa tidak berada di dalam istana kesepiannya utnuk merawat anak, sebaliknya lari kesana kesini seperti orang gila itu ?"

"Justru karena bayi yang dilahirkan olehnya itu sudah dibawa lari orang !"

Hwa Jie Swat yang mendengar keterangan itu semakin heran. Selagi hendak bertanya lagi, Tiong sun Hui Kheng sudah menceritakan semua apa yang terjadi setelah ia berpisahan dengan Hwa Jie Swat.

Sehabis mendengar penuturan Tiong sun Hui Kheng, Hwa Jie Swat berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa :

"Menurut ceritamu ini, perempuan muda berbaju hitam itu pasti Liok Giok Jie !"

"Kalau benar dian, kita harus lekas pergi mencari dan melindunginya. Tidak boleh membiarkan dia berbuat begitu lagi !"

Hwa Jie Swat memandang Tiong sun Hui Kheng beberapa kali, katanya sambil tersenyum : "Adik Kheng, kau ini benar-benar seorang yang berhati baik sekali. Mungkin dalam dunia ini sudah dicari bandingannya. Kalau orang lain pasti akan berusaha untuk menyingkirkan Liok Giok Jie."

Dengan muka kemerah-merahan, Tiong sun Hui Kheng memotong ucapan Hwa Je Swat :

"Enci Swat, tak usahlah kau memuji diriku demikian tinggi. Liok Giok Jie sejak masih bayi sudah berpisahan dengan ayah bundanya, ia dibesarkan dengan air susu binatang, diasuh oleh rusa, alangkah mengenaskan nasibnya itu. "

Baru berkata sampai disitu, dari jauh terdengar suara yang sangat memilukan diselingi tangisan yang menyedihkan sekali.

Tiong sun Hui Kheng terkejut, katanya :

"Orang yang menangis sedih itu, barangkali adalah Liok Giok Jie !"

Sehabis berkata demikian, ia sudah hendak bergerak menuju ke arah datangnya suara itu. Tapi Hwa Jie Swat sudah mencegahkan dan berkata sambil tersenyum :

"Adik Kheng, jangan terburu nafsu ! Orang yang mengeluarkan suara sedih itu, ada dibelakang puncak gunung tinggi ini. Jikalau kita bergerak, sedikit banyak tentu akan mengeluarkan suara hinga malah akan mengejutkan dia. Kurasa, sebaiknya kita bertindak secara diam-diam saja. Mungkin ada lebih tepat !"

Tiong sun Hui Kheng anggap bahwa ucapan Hwa Jie Swat ini memang benar. Maka ia pesan Taywong dan Ceng-hong- kie supaya menunggu disitu, sedang ia sendiri menggunakan ilmu meringankan tubuh bersama-sama degan Hwa Jie Swat diam-diam menuju ke belakang puncak gunung itu. Di belakang puncak gunung itu terdapat sebuah jurang yang dalam dan sepi sekali. Di bawah jurang hanya tampak diliputi oleh kabut tebal, tidak diketahui berapa dalamnya.

Di leher jurang benar saja tampak seorang perempuan berpakaian hitam bertubuh langsing berdiri bagaikan patung.

Perempuan itu berdiri membelakangi Hwa Jie Swat dan Tiong sun Hui Kheng, hingga kedua orang ini jadi tidak dapat dilihat wajahnya. Tetapi bisa dilihat memang benar mengenakan kerudung kain sutra warna hitam. Dandanan itu memang mirip dengan dandanannya orang-orag di dalam istana kesepian.

Hati Tiong sun Hui Kheng berdebaran, secepat kilat ia lompat ke belakang perempuan berbaju hitam itu sejarak enam tujuh kaki.

Perempuan berbaju hitam itu agaknya merasa ada orang dibelakangnya, dengan tiba-tiba memutar tubuhnay. Sinar matanya menembusi lubang kain hitamnya, memancarkan sinar tajam dan menyapu ke wajah Hwa Jie Swat dan Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun Hui Kheng tahu bahwa pukulan bathin yang menimpa perempuan berbaju hitam itu terlalu hebat. Mungkin sekarang ini pikirannya sudah butek, maka sengaja ia memperlahankan suaranya. Dan dengan senyum ramah bertanyalah ia :

"Nona ini bukankah Liok Giok Jie ?"

Perempuan berbaju hitam itu mendengar pertanyaan tersebut, rupanya terkejut sekali. Kembali mengawasi Hwa Jie Swat dan Tiong sun Hui Kheng dengan bergantian, barulah menjawab sambil menganggukkan kepala. "Kalian siapa ? Bagaimana tahu kalau aku bernama Liok Giok Jie ? Dimana anakku ?"

Jawaban itu malah merupakan pertanyaan, dan pertanyaan terakhir dimana anakku, suaranya itu kedengarannya sangat memilukan dan sikapnya tampak makin sedih.

Tiong sun Hui Kheng merasa sangat kasihan, jawabnya sambil tersenyum :

"Aku bernama Tiong sun Hui Khen, dan ini adalah suciku. "

Belum habis ucapannya, tiba-tiba Liok GIok Jie tertawa sambil menatap Tiong sun Hui Kheng. Suara tertawa itu kedengarannya sangat memilukan, tetapi juga seperti orang marah hingga Tiong sun Hui Kheng yang mendengarkan sampai bergidik sendiri.

Hwa Jie Swat bertanya sambil mengerutkan alisnya : "Nona Liok mengapa tertawa ?"

Liok Giok Jie menjawab sambil menunjuk Tiong sun Hui Kheng :

"Dia begitu cantik bagaikan bidadari dari kayangan. Pantas saja suamiku tidak suka aku lagi !"

Ucapan itu membuat Tiong sun Hui Kheng yang mendengarnya menjadi merah wajahnya, ia benar-benar merasa sangat tidak enak sekali.

Hwa Jie Swat hanya tertawa getir berulang-ulang, ia tidak tahu bagaimana harus memberi penjelasan.

Dalam keadaan seperti itu, Liok Giok Jie tiba-tiba memperdengarkan suaranya lagi, kali ini sangat bengis sekali. "Orang yang merampas suamiku adalah kau ! Sudah tentu anakku, kau juga yang rampas !"

Sehabis berkata demikian, lengan bajunya dikibaskan. Tiga butir duri berbisa Thien-keng-cek melesat keluar secepat kilat menuju ke muka Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun Hui Kheng benar-benar tidak menyangka bahwa maksuda baiknya mendapat sambutan demikian menyulitkan bagi dirinya, terpaksa ia menggunakan ilmunya meringankan tubuh, geser kakinya ke kanan untuk mengelakkan tiga butir duri berbisa itu. Di samping itu, ia berkata dengan suara nyaring kepada Hwa Jie Swat :

"Enci Swat, kau lihat bagaimana aku harus berbuat ?"

Hwa Jie Swat yang masih berpikir dan belum sampai menjawab, Liok Giok Jie sudah membentak lagi dengan suara bengis :

"Kau harus bagaimana ? Harus kubeset kulitmu hidup- hidup !"

Ucapannya ditutup dengan satu gerakan yagn menyerbu Tiong sun Hui Kheng dengan sepuluh jari tangannya dipentang dengan kalap, menerkam wajah Tiong sun Hui Kheng.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan sikap Liok Giok Jie berubah demikian, merasa sangat pilu hatinay. Sebab seorang gadis baik-baik karena pukulan batihin terlalu berat, hampir saja berubah seperti iblis. Maka ia buru-buru menyingkir untuk mengelakkan serbuannya tanpa balas menyerang.

Liok Giok Jie cuma menyerang tempat kosong. Tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja. Segera ia mengejar dan menyerbu lagi dengan melancarkan serangannya bertubi-tubi, setiap serangannya menghembuskan angin sangat hebat, sehingga membuat Tiong sun Hui Kheng terkurung dalam bayangan-bayangannya.

Tiong sun Hui Kheng masih tetap tak mau membalas. Juga sulit untuk memberi penjelasan. Terpaksa hanya mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, melayang ke sana kemari mengelakkan serangan hebat Liok Giok Jie.

Hwa Jie Swat tahu bahwa kepandaian Liok Giok Jie tidak lemah. Betul Tiong sun Hui Kheng di waktu-waktu belakangan ini sudah mendapatkan banyak kemajuan. Tetapi karean ia hanya terus menjaga diri tanpa mau membalas menyerang, dengan sendirinya agak merepotkan dirinya dan berulang- ulang jadi terancam bahaya. Maka lalu berkatalah Hwa Jie Swat dengan suara nyaring :

"Adik Kheng balaslah, jangan diam saja ! Jatuhkan dulu dia baru bicara lagi !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu juga sadar. Hanya dengan berbuat demikianlah baru tidak terlalu menyulitkan dirinya. Maka setelah ia mengelakkan serangan hebat dari Liok Giok Jie, lantas melancarkan serangannya ke depan dada Liok Giok Jie.

Siapa sangka, mungkin karena Liok Giok Jie sudah terlalu gelap pikiran, ia jadi lebih suka mati daripada harus menyerah. Serangan Tiong sun Hui Khegn tadi sedikit pun tidak dihiraukannya, sebaliknya malah balas melancarkan serangan, menyambuti seranga tadi. Dalam jarak sangat dekat seperti itu, sudah tentu kalau disambut serangan itu, sudah tentu kalau disambut serangan tadi sangat berbahaya bagi pihak yang bertenaga lemah.

Hal ini diluar dugaan Tiong sun Hui Kheng. Oleh karenanya, maka ia segera mengetahui bahaya apa yang sedang dihadapi dan hampir saja ia tidak dapat menolong dirinya.

Dalam keadaan terpaksa, ia lalu mengeluarkan ilmunya yang baru dapat dipelajari dari ayahnya tetapi belum sempurna betul. Ilmu itu ialah ilmu Tay it thian yan sin kang. Dengan menggunakan baju tangannya, ia mengebut dengan perlahan.

Ilmu Tay-it-thian yan-in-kang itu ternyata sangat luar biasa. Latihan Tiong sun Hui Kheng sebenarnya masih belum cukup sempurna, tetapi seorang seperti Liok Giok Jie mana sanggup menerimanya ? Begitulah Liok Giok Jie lantas mundur beberapa langkah, hampir jatuh ke jurang yang sangat dalam itu.

Hati Tiong sun Hui Kheng merasa sangat sedih sekali. Buru-buru menarik kembali tangannya dan berkata sambil tersenyum :

"Nona Liok, jangan kau salah mengerti. Dengarlah dahulu penjelasanku. "

Berkata sampai disitu, tiba-tiba bungkam tidak dapat melanjutkan lagi.

Kiranya Liok Giok Jie yang terhuyung-huyung mundur beberapa langkah itu, kerudung mukanya telah terlepas. Tampak perempuan muda itu sambil menggertak gigi, wajahnya menunjukkan sikap buas sekali. Sepasang matanya memancarkan sinar kebencian. Jelas ia sudah benci sekali kepada Tiong sun Hui Kheng, mana dapat lagi dijelaskan dengan kata-kata ?

Baru saja Tiong sun Hui Kheng berada dalam keadaan bingung, Liok Giok Jie sudah berkata dengan suaranya yang keras : "Tiong sun Hui Kheng ! Suamiku telah kau rampas. Anakku juga kau curi dan aku tidak sanggup melawan kau. Bagaimana aku dapat menuntut balas buat sakit hati ini ?"

Tiong sun Hui Kheng yang selama ini adalah seorang gadis yang sangat cerdas dan pandai berbicara, tetapi kini menghadapi keadaan seperti itu, wajahnya tampak merah. Tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Liok Giok Jie tadi.

Sinar matanya Liok Giok Jie yang tajam dan buas, berputaran menyapu wajah Tiong sun Hui Kheng dan Jwa Jie Swat, kemudian tertawa terbahak-bahak dan berkata :

"Aku selama masih jadi orang tidak bisa menuntut balas, biarlah kalau sudah jadi setan akan melaksanakan cita-citaku ini !"

Setelah berkata demikian, ia kembali melancarkan serangannya. Tangan kanan digunakan untuk menyerang Tiong sun Hui Kheng, tangan kiri digunakan untuk menyerang Hwa Jie Swat.

Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat semua mendapat dengar maksud Liok Giok Jie tadi, seolah-olah sudah bosan hidup. Maka mereka sudah siap hendak melindungi tetapi tidak menduga sedikitpun juga kalau mendadak akan diserang demikian hebat.

Serangan Liok Giok Jie itu membuat Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat semua salah menduga. Dikira mereka perempuan itu ada maksud hendak mengadu jiwa, sudah tentu tidak berani menyambut dengan kekerasan. Kedua- duanya lantas lompat mundur sehingga tujuh delapan kaki jauhnya.

Sungguh, siapa pun tidak akan menyangka bahwa tindakan Liok Giok Jie itu semata-mata hanya buat menyesatkan pandangan Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat. Serangannya itu baru saja dilancarkan, secepat kilat sudah ditariknya kembali dan orangnya lantas lompat ke belakang sambil mengeluarkan suara yang memilukan hati. Dengan begitu maka melayanglah tubuhnya ke dalam jurang yang sangat dalam !

Tiong sun Hui Kheng berseru kaget, ia buru-buru lompat menyusul. Tanpa menghiraukan keselamatan jiwanya sendiri, tangannya lantas menyambar pinggang Liok Giok Jie !

Sambaran tangannya ternyata telah membawa hasil, tetapi sayang sudah agak terlambat. Ia hanya dapat menjambret bajunya saja. Sedang tubuh Liok Giok Jie masih tetap meluncur turun dengan lajunya ke dalam jurang !

Oleh karena Tiong sun Hui Kheng hanya berhasil menyambar pakaiannya, sudah tentu ia sendiri tidak berhasil menguasai dirinya dan tubuhnya jadi turut melayang turun bersama-sama.

Untunglah pada saat itu, Hwa Jie Swat keburu bertindak. Sambil melayang menarik tangan Tiong sun Hui Kheng, melalui jarak empat tombak lebih sampailah mereka di lain seberang.

Tiong sun Hui Kheng sama sekali tidak merasa bahwa ia sendiri hampir turut terjatuh ke dalam jurang. Dengan matanya mengawasi jurang yang tertutup kabut tebal itu, sudaa tentu tak nampak lagi bayangan Liok Giok Jie. Maka ia lalu membanting-banting kakinya, hingga batu yang diinjaknya menjadi hancur. Sedang air matanya sudah mengalir bercucuran.

Hwa Jie Swat menghela napas panjang, sambil mengelus- elus rambut di kepala Tiong sun Hui Kheng, berkata dengan suara lemah lembut : "Adik Kheng, jangan terlalu berduka. Kejadian sudah jadi beginia, sekalipun dewa rasanya juga tidak bisa menolong !"

Air mata Tiong sun Hui Kheng mengalir dengan derasnya, katanya dengan suara terisak-isak :

"Enci.... Swat..... nasib Liok Giok Jie... terlalu menyedihkan... anaknya terjatuh ditangan iblis. Kini ia sendiri mengalami    nasib    celaka,    bagaimana    aku nanti

menceritakan kepada adik Siang ?"

Hwa Jie Swat berkata sambil menggelengkan kepala dan menghela napas :

"Dalam hal ini bukanlah tenaga manusia yang dapat menolongnya. Hea Thian Sian pasti bisa memaafkan kau. Aku nanti coba akan turun ke bawah untuk mencari, apakah masih ada harapan sedikit untuk menolong jiwa Liok GIok Jie !"

Sehabis berkata demikian, ia benar-benar turun ke jurang denan menggunakan ilmunya merambat di pinggir jurang, perlahan-lahan menghilang di balik awan yang menutupi jurang itu.

Dengan penuh pengharapan, Tiong sun Hui Kheng menantikan di atas.

Kira-kira setengah jam kemudian, Hwa Jie Swat muncul lagi dari bawah jurang. Begitu tiba diatas, lalu unjukkan senyum getir dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Menyaksikan sikap Hwa Jie Swat, hati Tiong sun Hui Kheng sangat pilu. Katanya dengan suara terisak-isak :

"Enci Swat, apakah enci dapat menemukan badan Liok Giok Jie ?" "Aku turun sedalam dua puluh tombak lebih, sudah ketutup jalan buntu. Maka terpaksa naik kembali, jadi tidak tahu Liok Giok Jie ada dimana !" menjawab Hwa Jie Swat sambil menggelengkan kepala.

Tiong sun HuiKheng menangis seperti anak kecil, katanya sambil membanting-banting kaki :

"Dengan tidak terduga-duga kita baru dapat menemukan Liok GIok Jie. Siapa tahu keudain telah memaksa ia buang diri ke dalam jurang sehingga badan kasarnya pun tidak dapat diketemukan !"

"Semua sudah terjadi begini. Terpaksa kita harus lekas cari Hee Thian Siang buat bantu dia menolong anaknya. Supaya arwah Liok Giok Jie di alam baka sedikit terhibur !" Hwa Jie Swat berkata sambil mengerutkan alisnya.

Tiong sun Kheng menganggukkan kepala dan berkata : "Benar. Urusan ini sngat penting. Tapi aku pikir sebelum

pergi ke gunung Kun-lun, baiknya menengok dulu ke goa Bo-

ciu sek di lembah Leng cui kok !"

"Apakah kau hendak mencari Hong tim Ong kheng May Ceng Ong Locianpwe dan lain-lainnya ?" tanya Hwa Jie Swat.

Tiong sun Hui Kheng menganggukkan kepala dan Hwa Jie Swat kembali berkata :

"Goa Bo ciu sek sudah aku kunjungi, pintunya sudah ditutup hingga tidak bisa masuk. Buka saja May locianpwe dan lain-lainnya sudah tidak ketahuan jejaknya, sedangkan It-pun Sin-ceng yang mencari mereka juga tidak tahu kemana perginya !"

"Meskipun aku tahun May locianpwe dan lain-lainnya sulit dicari tetapi Liok Giok Jie adalah puteri mereka. Kita seharusnya di tempat sekitar mereka berdiam, meninggalkan ucapan untuk memberitahukan sebab-sebabnya kematian Liok Giok Jie dan tempatnya ia membuang diri !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil tertawa getir.

Hwa Jie Swat menganggukkan kepala menyatakan setuju dan berkata sambil menghela napas :

"Itu memang seharusnya, baiknya lembah Leng cui kok tidak jauh letaknya dari sini. Setelah memutari puncak tinggi di sebelah kanan itu sudah sampai. Pergi ke sana sebentar juga tidak sampai menghambat waktu dalam perjalanan kita ke Kun-lun !"

Setelah mengambil keputusan demikian, keduanya lalu berjalan menuju lembah Leng cui kok sambil membawa Taywong dan Ceng hong kie.

Tiba di bawah tebing tinggi dimana terletak goa Bo ciu sek, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat pada terperanjat, berdiam terlongong-longon di tempatnya.

Apa yang telah terjadi ?

Kiranya di atas tebing yang semula licin dan sulit dicari dimana letaknya goa Bo ciu sek, kini tiba-tiba sudah tampak sebuah lubang goa yang sangat dalam.

Hwa Jie Swat mengira Hong tim Ong khek May Ceng Ong, Siang Swat Siangjin Leng Biauw Biauw dan Kiu thian Mo lie Tang Siang Siang sengaja keluar dari goa dan ia pun tahu benar bahwa tiga locianpwe itu semuanya memiliki kepandaian yang luar biasa yang dapat membuat lobang seperti itu hingga dalam hati merasa girang juga dan segera melesat ke atas. Di mulut goa mereka memberi hormat seraya berkata : "Teecu Hwa Jie Swat, Tiong sun Hui Kheng ada urusan penting ingin minta ketemu muka dengan Hong tim Ong khek, Siang Swat Sianjin dan Kiut hian Mo lie locianpwe !"

Baru saja menutup mulut, dari dalam goa terdengar suara tertawa bergelak-gelak.

Hwa Jie Swat mendengar suara tertawa, saat itu segera menegurnya :

"Aku mencari kau kemana-mana, kiranya sembunyi disini !"

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar perkataan Hwa Jie Swat, dalam keadaan masih heran mendadak dari dalam goa tampak berkelebat bayang orang dan muncul It-pun Sin-ceng dari situ !

It-pun Sin-ceng menatap wajah Hwa Jie Swat, berkata sambil tersenyum :

"Ada apa kau mencari aku ? Di dalam goa Bo ciu sek ini aku pikir lebih tenang !"

"Kau yang mengingat ketenangannya saja. Aku dan adik Kheng sebaliknya, harus mengalami banyak kesusahan !" berkata Hwa Jie Swat.

Tiong sun Hui Kheng juga berkata sambil tertawa getir : "Enci   Swat,   jangan   ribut   saja   dengan   It-pun   taysu.

Sebaiknya kita minta ketemu dengan May Ceng Ong ketiga

locianpwe !"

It-pun Sin-ceng yang mendengar ucapan itu, lalu berkata sambil tertawa : "Nona Tiong sun, sudah terlambat. May cianpwe dan kedua istrinya sudah lama tidak berdiam di dalam goa Bo ciu sek ini

!"

"Kalau May Leng dan Tang locianpwe sudah lama tidak berdiam disini, maka perlu apa kau tinggal di goa ini begitu lama ?" bertanya Hwa Jie Swat heran.

It-pun SIn-ceng yagn menampak sikap cemas Hwa Jie Swat juga merasa heran. Tanyanya :

"Kau biasanya sangat tenang, mengapa hari ini kelihatannya begitu cemas ? Apakah diluar ada kejadian besar

?"

"Urusan terlalu hebat, kau ceritakan dulu pengalamanmu, baru nanti dengar ceritaku !" Hwa Jie Swat berkata sambil mengerutkan alisnya.

Mendengar Hwa Jie Swat berkata demikian, It-pun Sin- ceng tahu tentu ada sesuatu urusan yang hebat sekali. Maka ia lalu menceritakan pengalamannya sendiri degnan singkat.

It-pun Sin-ceng mulai menceritakan pengalamannya sejak meninggalkan kediamannya di Tiauw in hong, lalu menuju ke gunung Ko-lee-kong san. Begitu tiba diluar goa Bo ciu sek, lalu menggunakan ilmunya menyampaikan suara jarak jauh untuk berbicara dengan May Ceng Ong tetapi dari dalam tidak mendapat jawaban sama sekali hingga timbul perasaan curiganya. Ia mengira Hong tim Ong khek, Siang swat Sianjin dan Kiu thian Mo lie mungkin sudah keluar mengembara atau sudah naik ke surga.

Karena timbulnya perasaan curiga demikian, maka disekitar dinding goa itu ia mulai memeriksa dengan sangat teliti. Dari situ ia menampak sedikit gambara adanya sebuat pintu masuk. Maka dengan menggunakan ilmu kekuatan tenaga tangannya, terbukalah pintu goa Bo ciu sek olehnya. Tetapi begitu masuk ke dalam barulah ia tahu bahwa May Ceng Ong dan kedua istrinya belum pergi mengembara. Karena mereka sudah tahu masih ada dua tiga tahun lagi baru berhasil menyelesaikan tuga hidupnya dan tidak mau lagi terikat perasaannya oleh anak-anaknya, hingga sudah pindah ke tempat yang lebih sepi. Tapi mereka telah meninggalkan semacam ilmu yang dinamakan Cu thian kiu kiu tao lo ciu hoat, ciptaan tiga orang, diukir ditembok dalam goa. Maksudnya hendak ditinggalkan kepada Liok Giok Jie, Hek sin In atau Hee Thian Siang yang akan mencari kesitu.

It-pun Sin-ceng begitu mengetahui ketiga tokoh angkatan tua itu sudah pindah tempat tinggalnya, sebetulnya sudah ingin segera kembali lagi ke gunung Bu san. Tetapi kemudain ia telah menemukan tulisan yang tertera di dinding itu barangkali akrean kata-katanya yang kurang kuat, ada sebagian sudah mulai rontok, huruf-hurufnya juga sudah pada papas sehingga dari 81 jurus ilmu Cu thian kiu kiu tao lo ciu hoat itu sudah ada tiga jurus yang kurang jelas lukisannya.

Ia khawatir bahwa ilmu luar biasa yang diciptakan oleh tiga tokoh luar biasa dari angkatan tua itu akan rusak seluruhnya sehingga putus dan hilang dari rimba persilatan, maka ia terpaksa berdiam dulu di tempat itu. Ilmu Cu thian kiu kiu tao lo ciu hoat itu sejurus demi sejurus dilukiskan kembali diatas jubahnya sendiri.

Setiap orang rimba persilatan memang mempunyai kesukaan untuk mempelajari ilmu yang ditemukan. It-pun Sin- ceng juga tidak terkecuali dari sifat-sifat itu. Maka disamping menuliskan lukisannya itu, ia juga mempelajarinya sangat baik dan dari situ ia telah menemukan tiga jurus yang hampir hilang, lalu dilukisnya kembali.

Hari itu justru sudah tiba saatnya ia berhasil mengalihkan seluruh pelajaran ilmu itu kedalam jubahnya sendiri, maka ia membuka pintu goa sudah siap hendak kembali ke gunung Bu san. Sungguh kebetulan sekali saat itu Hwa Jie Swat dan Tiong sun Hui Kheng tiba di tempat itu.

Setelah It-pun Sin-ceng menceritakan semua pengalamannya, Hwa Jie Swat juga menceritakan apa yang telah terjadi dengan Liok Gok Jie sejak mulai dia melahirkan anak di istana kesepian, sampai belum lama ini membuang diri di dalam jurang.

It-pun Sin-ceng yang mendengarkan tidak berhentinya merangkapkan kedua tangannya ke depan dada sambil memuji nama Budha.

Hwa Jie Swat yang menyaksikan sikap It-pun Sin-ceng demikian, lalu berkata sambil tersenyum getir :

"Kau jangan memuji nama Budha saja. Tugas kita sekrang tidak boleh menantikan munculnya sang Budha, biar bagaimana kita toh harus memikirkan caranya untuk bertindak lebih jauh.

It-pun Sin-ceng lalu berkata, sesudah menyebut nama Budha sekali lagi :

"Menurut ceritamu tadi, bayi itu pasti sudah dibawa ke gunung Kun-lun. Hee Thian Siang juga pasti akan menuju ke tempat itu lebih dulu. Maka kita harus lekas-lekas pergi memberi pertolongan kepadanya. Inilah kupikir yang merupakan tugas utama dari kita semua !"

Hwa Jie Swat menganggukkan kepala dan lantas berkata : "Pergi menolong orang memang sangat penting tetapi juga

perlu direncanaka lebih dahulu. Sekarang begini saja bagaimana. Aku bersama adik Kheng menunggang seekor kuda Ceng hong kie langsung menuju ke gunung Kun-lun. Sedang kau boleh menyusul belakangan dengan mengajak Taywong ! Setuju ?" It-pun Sin-ceng mengawasi Taywong sejenak, katanya sambil tersenyum :

"Aku ingat Taywong ini sifatnya berangasan sekali. Ia berjalan bersama-sama denganku, apakah hanya mau dia dengar kata ?"

Tiong sun Hui Khegn karena urusan Liok Giok Jie itu merasa sangat tidak enak hatinya, lagi pula ia memikirkan keselamatan diri Hee Thian Siang. Benar-benar ingin segera tiba di gunung Kun-lun, maka lalu berkata :

"Taysu jangan khawatir, sifat Taywong kini sudah berubah. Di banding dengan dahulu sudah jauh lebih jinak. Tidak nanti ia berani melawan perintah taysu !"

Berkata sampai disitu, ia lalu berpaling dan berkata kepada Hwa Jie Swat :

"Enci Swat, baik juga kita mengatur begitu. Kita berangkat sekarang ?"

Hwa Jie Swat adalah seorang yang pernah mengalami gagal dalam asmara, tahu benar Tiong sun Hui Kheng sudah ingin sekali bertemu dengan Hee Thian Siang, sudah tentu pikirannya menjadi cemas. Maka lalu tersenyum. Sambil menganggukkan kepala, keduanya lalu lompat ke atas Ceng hong kie dan dilarikan dengan pesat.

It-pun Sin-ceng menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas. Setelah menutup pintu goa Bo ciu sek, juga segera berangkat sambil membawa Taywong.

Mereka bertiga bisa lari pesat sekai, tapi sebelum tiba di gunung Kun-lun, Hee Thian Siang sudah masuk jebakan lebih dulu. Ternyata tidak lama setelah Siang Biauw Yan mengutus orang kepercayaannya untuk memancing Hee Thian Siang datang ke gunung Kun-lun, Hee Thian Siang sudah datang sendiri ke istana Kun-lun-kiong !

Pada waktu itu di dalam partai Kun-lu, hampir semuanya sudah menjadi orang-orang kepercayaan Siang Biauw Yan. Maka ketika meliaht ada orang masuk ke istana, lalu seorang yang menjaga pintu latnas menegurnya :

"Ada urusan apa kau sembarangan masuk ke gunung Kun- lun ?'

Hee Thian Siang saat itu belum lagi tahu benar tidaknya bayinya disembunyikan di gunung Kun-lun, tapi ia tidak berani menjawab dengan ucapan kasar. Terpaksa menjawab sambil memberi hormat :

"Aku Hee Thian Siang, murid Pak hin ada sesuatu urusan sangat ingin ketemu dengan pemimpin Kun-lun !"

"Dalam partai kami kini ada dua pemimpin, kau hendak menemui yang mana ?" tanya murid yang menjaga pintu itu.

Hee Thian Siang mendengar pertanyaan itu merasa heran, tanyanya :

"Bagaimana partai Kun-lun dengan tiba-tiba ada dua pemimpinnya ? Hee Thian Siang ingin minta keterangan dulu siapa nama dan julukannya kedua pemimpin itu ?"

"Satu ialah Siang Biauw Yan dan yang lainnya ialah Bo Cu Keng !" jawab murid Kun-lun itu.

Siagn Biauw Yan masih belum mati memang sudah dalam dugaan Hee Thian Siang. Tetapi mendengar disebutnya nama Bo Cu Keng, benar-benar membuatnya terkejut sekali. Sebab seingat Hee Thian Siang, sewaktu Cin Lok Pho bertempur dengan May yu Kiesu dalam lembah May yu kok, pernah anggap bahwa gerakan lawannya itu mirip sekali dengan gerakan Bo Cu keng ! Dan kini Bo Cu Keng ternyata ada bersama-sama dengan Siang Biauw Yan, rupanya telah berserikat menjadi pemimpin partai Kun-lun. Apakah si bangkai terbang yagn dahulu tidak mendapat nama baik di rimba persilatan tiu, kemudian merubah dirinya menjadi May yu Kiesu yang berdiam di lembah May yu kok dan diam-diam berusaha hendak bangun lagi ?

Selagi ia masih berpikir, murid Kun-lun itu sudah bertanya lagi :

"Sahabat Hee, kau sebetulnya ingin ketemu denga Siang Ciangbunjin ataukah Bo Siangbunjin ?"

"Aku minta bertemu dengan Siang Biauw Yan !'

"Siang Ciangbunjin kini tidak berada didalam istana Kun-lun kiong. Ia sedang main-main dengan bayinya di puncak tertinggi gunung Kun-lun ini !"

Ucapan terakhir itu begitu masuk ke telinga Hee Thian Siang membuat darah anak muda itu bergolak hebat. Ia juga tidak banyak tanya lagi lantas menuju ke puncak gunung Kun- lun bersama Siaopek.

Baru saja Hee Thian Siang berangkat, dar dalam istana Kun-lun-kiong muncul dua orang. Mereka itu adalah Siang Biauw Yan dan May-yu Kiesu yang kini sudah menjadi pemimpin Kun-lun pay Bo Cu Keng.

Siang Biauw Yan lalu bertanya kepada murid yang menjaga pintu tadi :

"Apakah Hee Thian Siang datang sendirian ?" "Ya, Hee Thian Siang datang sendiri tapi bersamanya ada lagi seekor monyet kecil berbulu emas !" jawab sang murid dengan sikap menghormat.

Bo Cu Keng lalu berkata sambil tertawa dingin :

"Seekor monyet kecil apakah gunanya ? Kita segera bertindak menurut rencana kita semula !"

Siang Biauw Yan menganggukkan kepala sambil tertawa, kemudian bersama-sama Bo Cu Keng masuk ke istana Kun- lun kiong lagi hendak melaksanakan rencana jahat mereka.

Tindakan apa yang hendak mereka lakukan ? Untuk sementara, marilah kita tinggalkan dulu. Kita tengok bagaimana Hee Thian Siang dan Siaopek kini sudah mulai berjalana setapak demi setapak masuk ke dalam perangkap yang dipasang oleh Siang Biauw Yan.

Sewaktu Hee THian Siang tiba dibawah puncak Kun-lun, tampak keadaan dan pemandangan tempat yang pernah dikunjunginya ini masih seperti biasa. Hanya hari itu ada tambahan sebatang rotan yang sangat panjang dari puncak turun terus sampai ke bawah. Agaknya untuk memudahkan orang naik turun ke atas puncak itu.

Jangankan Hee Thian Siang yang sangat pintar, sekalipun orang biasa juga dapat mengerti pemandangan di depan matanya itu ada mengandung bahaya besar.

Tetapi oleh karena sifat kasih ayah terhadap anaknya ada demikian besar, ditambah lagi pikirannya yang selalu terpusat pada keselamatan Liok Giok Jie dan Cin Lok Pho, ia sudah ingin mencari Siang Biauw Yan untuk memecahkan semua pertanyaan yang ada dalam otaknya. Maka meskipun tahu ada bahaya besar, ia tidak mau pikir lebih jauh. Hakekatnya ia sudah mempunyai moto : Pukul dahulu bicara belakangan ! Begitulah ia lalu lompat melesat sambil memegangi oyot rotan itu terus naik ke atas !

Siaopek sudah tentu mengikuti saja jejaknya. Tiba ditengah-tengah Hee Thian Siang baru merasa bahwa perbuatannya itu sesungguhnya terlalu gegabah. Bila Siang Biauw Yan benar-benar berada di atas puncak, dengan mudah saja dia dapat memutuskan rotan itu. Lalu bukankah ia bersama Siaopek akan terjatuh di dalam jurang yang dalam ini

?

Berpikir sampai disitu, diam-diam jadi bergidik sendiri ! Ia tidak mau balik di tengah jalan, maka terpaksa ia melanjutkan terus usahanya naik keatas sambil menggertak gigi. Tetapi seluruh perhatiannya dipusatkan ke atas, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Tak ia sangka bahwa kekuatirannya itu ternyata cuma merupakan bayangan khayal belaka, ia sedikitpun tidak mendapatkan bahaya. Terpisah kira-kira setombak lebih denga puncak, mendadak terdengar suara tangisan bayi !

Suara tangisan bayi itu telah menambah besar hati Hee Thian Siang. Sambil mengeluarkan suara siulan panjang, ia bergerak cepat dan sebentar sudah naik ke puncak.

Di atas puncak Kun-lun itu tidak terdapat apa-apa, hanya ada seorang perempuan dari penduduk pegunungan itu sedang meneteki seorang bayi di depan goa kecil.

Dalam girangnya Hee Thian Siang sampai melupakan peraturan, ia segera bergerak, dari tangan perempuan muda itu merebut bayinya ! Ia mengamati-amati wajah sang bayi, benar saja mirip dengan dirinya sendiri, juga ada beberapa bagian yang hampir serupa dengan wajah Liok Giok Jie.

Setelah bayi itu berada dalam gendongannya, Hee THian Siang lantas berputaran ke pelbagai penjuru. Ia mengawasi keadaan disekitarnya. Dan timbullah berbagai pertanyaan dalam otaknya.

Ia benar-benar tidak mengerti tindakan apa yang akan diambil oleh Siang Biauw Yan karena setelah susah payah ia membawa kabut bayi itu, mengapa kini dapat diambil kembali dengan sangat mudahnya tanpa ada penjagaan apa pun ?

Pertanyaan itu masih berputaran di dalam otaknya, tiba-tiba terdegnar suara orang tertawa dari dalam goa kecil itu.

Dahulu Hee Thian Siang bersama Tiong sun Hui Kheng pernah terkurung lama di atas puncak Kun-lun ini. Maka ia hapal baik setiap penjuru tempat. Ia tahu bahwa goa kecil itu tidak seberapa dalam. Goa itu hanya cukup untuk meneduh dari angin dan hujan saja. Tapi kini dengan tiba-tiba terdengar suara tertawa orang, suatu bukti bahwa Siang Biauw Yan pernah merubah goa itu dengan alat-alat yang ia pasang, di bagian atas atau bawah mungkin ditambah dengan peralatan untuk menyampaikan suara orang.

Walaupun ia berpikir demikian, namun ia masih tetap berjalan menuju ke tepi jurang dan melongok ke bawah. Tampak olehnya oyot rotan yang digunakannya untuk mendaki ke atas tadi ternyata sudah putus hingga jalan pulangnya sudah tidak ada lagi. Dibawah tampak dua orang berdiri berdampingan, mereka bukan lain dari pada Siang Biauw Yan dan Bo Cue Keng.

Siang Biauw Yan yang menampak Hee Thian Siang melongokkan kepala dari atas, lalu berkata sambil tersenyum :

"Hee laote, apakah kau sudah menemui dan melihat anakmu ?"

Pertanyaan itu diucapkan dengan suara tidak seberapa nyaring tetapi kedengarannya sangat nyata seperti keluar dari dalam goa masuk ke telingan Hee Thian Siang. Hee Thian Siang tahu bahwa kini ia sendiri sudah terkurung lagi di puncak gunung Kun-lun, pasti akan menghadapi banyak bahaya lagi. Maka ia juga tidak perlu menggunakan ilmu menyampaikan suara ke jarak jauh, karena itu berarti akan menghamburkan tenaga secara cuma-cuma. Maka juga berkata sambil menghadap ke goa kecil itu.

"Terima kasih atas kebaikanmu yang telah mengembalikan anakku. Tetapi Hee Thian Siang masih ingin tanya sedikit, Liok Giok Jie dan Cin Lok Pho sekarang berada dimana ?"

Ia berbicara ke arah goa, suaranya itu benar saja bisa sampai ke bawah gunung.

Siang Biauw Yan perdengarkan suaranya sambil tertawa : "Hee laote, kalau kau mau tahu, Liok Giok Jie dan Cin Lok

Phi belum mencari sampai sini. Cuma baru kau seorang saja yang menjadi tamu agungku di puncak Kun-lun ini !"

Karena dari ucapan Siang Biauw Yan itu, Hee Thian Siang masih belum mendengar ada mengandung permusuhan, maka ia merasa semakin heran. Tanyanya pula :

"Sahabat she Siang. Kau ingin aku menjadi tamumu berapa lama diatas puncak ini ?"

Siang Biauw Yan perdengarkan suara tertawanya yang aneh beberapa kali, kemudian berkata dengan nada suaranya yang menyeramkan :

"Dahulu kau berdiam tiga belas hari lamanya di puncak gunung Kun-lun ini. Kali ini waktunya kau menjadi tamu, boleh kau putuskan sendiri kau ingin berapa lama. Tinggallah kau berapa lama pun kau suka disitu !"

Hee Thian Siang lalu menjawab : "Aku mau segera turun dari sini !"

"Asal kau suka menjawab satu pertanyaan, aku akan segera naik sendiri ke atas untuk mengajak kau turun !"

Hee Thian Siang waktu itu diliputi oleh perasaan curiga, ia tidak tahu apa yang dikehendaki oleh pemimpin Kun lun pay ini, yang mengharuskan ia menjawab sendiri, maka lalu bertanya ia :

"Soal apa ? Kau sebutkan dulu, supaya aku bisa pertimbangkan !"

Siang Biauw Yan sedapat mungkin menggunakan nada suara lemah lembut untuk mennghindarkan jangan samapi menyinggung perasaan Hee Thian Siang. Katanya lambat- lambat sambil tertawa :

"Aku ingin tanya, bagaimana caranya menggunakan senjata peledak Kian-thian-pek-lek ?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, sangat terkejut, buru-buru tanyanya :

"Senjatakau Kian-thian-pek-lek, apa sudah berada dalam tanganmu ?"

"Khong khong taysu, Pao in Hui dan Gu Liong Goan, bersama saudara Bo Cu Keng, kini semua sudah menjadi anggota Kun-lun pay. Sekarang mereka malah telah menjabat kedudukan sebagai pelindung hukum partai Kun lun !"

"Ouw ! Kalau begitu, Kun lun pay yang sudah hampir pecah berantakan, kini ternyata sudah mulai hendak pentang sayap lagi ?'

Siang Biauw Yan perdengarkan suara tertawanya yang menunjukkan perasaan bangganya, selanjutnya berkata pula : "Jikalau kau mau memberitahukan padaku cara menggunakan senjata Khian-thian-pek-lek itu, aku ada maksud hendak merebut kedudukan sebagai jago dengan pemimpin Ceng thian pay Kie Tay Cao !"

"Apa kau yakin aku akan memberitahukan padamu caranya menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek itu ?"

Bo Cu Keng yang sejak tadi diam saja, ketika mendengar ucapan itu lalu membuka suara :

"Hee Thian Siang, kalau kau seorang cerdik seharusnya kau mau menerangkan dengan terus terang bagaimana cara menggunakan senjata Kian thian Pek-lek itu. Sebab barang itu sudah berada ditanganku. Dan kau juga tentu tidak perlu mengorbankan dua jiwa untuk memegang terus rahasia penggunaan senjata itu !"

Hee Thian Siang sambil mengelus-elus bayinya, berkata sambil tertawa terbahak-bahak :

"Bo Cu Keng, kau anggap aku ini bisa saja kau tipu ? Jikalau aku lantas memberitahukan kepadamu caranya menggunakan senjata itu, bukankah akan membuat kalian tenang dan lebih cepat turun tangan kejam terhadapku ?"

Bo Cu Keng juga tahu Hee Thian Siang tidak percaya kepadanya, maka bersama-sama Siang Biauw Yan berunding sebentar, baru berkata lagi :

"Hee Thian Siang, kau tidak usah khawatir ! Beritahukanlah saja caranya menggunakan senjatanya itu, aku akan segera mengucapkan sumpah yang paling kuat untuk menjamin kau dan anakmu keluar dari sini dalam keadaan selamat !"

"Kalau kalian adalah seorang pendekar atau ksatria, sudah tentu janjinya sangat berharga. Tapi sumpah yang diucapkan oleh orang jahat dan pengecut seperti kalian ini, aku ragu sumpahnya toh akan bernilai nol besar !" kata Hee Thian Siang sambil tertawa besar.

"Hee Thian Siang !" seru Bo Cu Keng dalam gusarnya. "Apa kau tidak mau minum arak yang disediakan secara hormat dan ingin minum arak dengan secara paksa ?"

"Arak yang dipaksakan orang minum itu, sebenarnya bagaimana rasanya ? Aku justru ingin mencobanya ! Tetapi aku khawatir kalian tidak bisa berbuat apa-apa terhadaplu !"

Siang Biauw Yan sementara itu membentak dengan suara keras :

"Hee Thian Siang, kau seorang diri di kurung di puncak gunung Kun-lun. Apakah kira tidak dapat menyulitkan kau ?"

Hee Thian Siang kembali tertawa bergelak-gelak, katanya : "Siang Biauw Yan, ilmu silatmu yang tidak berarti itu tidak

dapat kau gunakan untuk menggertak aku. Apalagi kau adalah

pecundangku, sekalipun Bo Cu Keng dengan ilmunya Cit khao chiu, aku juga pernah belajar kenal di dalam lembah May yu kok. Ternyata hanya begitu saja ! Maka kalau kalian naik ke atas puncak pasti akan kalah, tidak naik juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku !"

Siang Biauw Yan berkata dengan nada suara marah :

"Kita akan mengurung kau dalam waktu yang lama supaya kau mati kelaparan !"

"Dahulu aku bersama nona Tiong sun sudah pernah dikurung 13 hari diatas ini, apakah pernah mati kelaparan ? Akhirnya bahkan hampir saja kau sendiri yang akan menjadi setean kelaparan di puncak Kun lun ini !" berkata Hee Thian Siang. Wajah Siang Biauw Yan menjadi merah, sementara itu Bo Cu Keng lantas berkata :

"Taruhlah kau dapat menahan lapar, tetapi bayimu juga akan mati kelaparan !"

Hee Thian Siang mengawasi perempuan muda yang duduk tidak jauh di depan goa, katanya sambil tertawa :

"Kalian orang-orang bodoh ini, benar-benar sedang mengoceh sendiri. Kalian juga tidak pikir disini ada babu tetek, bagaimana bayiku bisa kelaparan ?"

Bo Cu Keng perdengarkan suara tertawanya yang seram berulang-ulang, lalu mengacukngkan tangannya dan melancarkan seragnan ke salah satu tempat dibawah puncak gunung yang terdapat pesawat rahasia.

Hee Thian Saing yang menyaksikan keadaan itu, tidak dapat menduga apa yang dilakukan Bo Cu Keng itu. Tiba-tiba dalam goa kecil itu terdengar suara nyaring dan tampak berkelebatnya senjata tajam.

Kini ia baru menyadari bahwa di dalam goa itu bukan saja dilengkapi dengan alat untuk menyampaikan suara dari bawah, tetapi juga telah diperlengkapi dengan pesawat rahasia. Tetapi sayang ia sudah tidak keburu memberi pertolongan. Maka bersamaan dengan berkelebatnya senjata tajam itu lalu disusul oleh suara jeritan yang mengerikan, perempuan yang mengasuh bayi itu sudah terkena serangan golok terbang yang ada racunnya hingga saat itu lantas melayang satu nyawa yang tak bersalah dosa.

Begitu perempuan pengasuh bayi itu mati, Hee Thian Siang hatinya berdebaran, darahnya bergolak. Dengan sangat marah ia berkata : "Siang Biauw Yan ! Bo Cu Keng ! Kalian mempunyai kepandaian apa ? Boleh kalian gunakan terhadap aku Hee Thian Siang dan anaknya, untuk apa membinasakan seorang perempuan yang tidak bersalah dosa ?"

Bo Cu Keng nampak bangga, kembali perdengarkan suara tertawanya dan katanya :

"Sekarang perempuan itu sudah mati dan untuk bayimu tidak ada air susu yang bisa diminum. Paling lama tiga hari pasti dia akan mati kelaparan. Sekarang kami persilahkan kau pikir baik-baik selama satu malam. Besok kami datang lagi kemari. Ingat jiwamu dan jiwa anakmu sebagai barang taruhan. Kalau menurut aku, tidak perlu lagi kau berkukuh mempertahankan rahasia senjata peledak Kian thian pek lek itu !"

Sehabis berkata demikian, benar-benar saja sudah menghilang bersama-sama Siang Biauw Yan.

Dua iblis itu begitu berlalu, rasa pilu lalu timbul dalam hati Hee Thian Siang. ia tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Sebab bayi dalam pelukannya itu, kini telah menangis.

Jelas waktu itu sudah ingin menetek lagi.

Sambil mendiamkan bayinya, Hee Thian Siang mengawasi babu susu yang sudah mati secara mengenaskan, berkata kepada Siaopek :

"Siaopek, dulu sewaktu aku bersama enci Kheng terkurung ditempat ini adalah kau bersama Taywong yang mencarikan makanan untuk kami. Tapi keadaan sekarang adalah lain, sekarang sudah tambah seorang bayi yang memerlukan air tetek. Bagaimana kita harus berbuat ?"

Siaopek menggaruk-garuk kepalanya, berpikir dahulu kemudian berkata dengan suaranya yang masih gelagapan : "Aku..... aku......... ada............akal "

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, dalam hati merasa girang. Buru-buru berkata sambil tertawa :

"Siaopek, kalau kau benar ada akal, mengapa tidak lekas pergi ?"

Siaopek lantas bergerak, sebentar sudah menghilang dari depan mata Hee Thian Siang. Arah yang dituju ialah tebing tinggi disudut lain puncak gunung Kun-lun itu. Dengan menggunakan kelincahan yang diwarisi oleh alam, ia telah turun dari tempat yang tinggi menjulan ke langit itu dengan kaki dan tangannya.

Hee Thian Siang seorang diri berdiam dipuncak gunung sambil menggendong anaknya. Dalam diamnya memikirkan bagaimana harus menghadapi Siang Biauw Yan, Bo Cu Keng dan anak buahnya yang sudah menggunakan bayinya sendiri untuk memancin ia datang kemari, sebetulnya ada mengandung maksud apa.

Dipikirnya bolak balik, akhirnya dapat menemukan jawabannya ialah orang-orang jahat itu tentunya hendak menggunakan senjata peledak Kian-thian pek leknya yang sangat ampuh, yang kini tidak tahu bagaimana menggunakannya, henda minta keterangan padanya supaya dapat digunakan untuk membasmi musuh-musuhnya kemudian menjagoi rimba persilatan.

Setelah ia dapat menduga maksud dan tujuan Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng, diam-diam merasa bergidik. Ia telah mengambil keputusan lebih baik mengorbankan segala apa, asal jagan membuka rahasia senjata ampuh perguruannya karena jiga ia berbuat demikian berarti pula ia telah membantu manusia-manusia jahat itu. Sementara itu, sang bayi menangis tidak berhenti sedangkan Siaopek yang sudah pergi belum juga kembali. Hee Thian Siang terpaksa dengan menggunakan obat pelnya yang manjur, dihancurkannya, lalu perlahan-lahan dimasukkan ke dalam mulut bayinya.

Pel itu adalah buatan Say-ha-kong yang mendapat julukan tabib dewa pada dewasa itu. Di dalamnya ada tercampur getah pohon Leng cie pemberian It-pun Sin-ceng. Sudah tentu sangat manjur sekali. Bayi itu setelah diberikan makan sedikit, lantas tidur dengan nyenyaknya.

Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan itu, dalam hati merasa agak lega. Tetapi pel manjur itu tidak banyak jumlahnya, hingga ia masih merasa gelisah. Bila Siaopek tidak berhasil menemukan air tetek, bagaimana harus melewati hari-hari yang panjang itu.

Dalam keadaan bingung seperti itu, tampaklah bayangan putih yang ternyata Siaopek sendiri yang sudah kembali. Monyet kecil itu ditangan kanannya membawa barang-barang makanan seperti buah-buahan yang tidak sedikit jumlahnya, sedangkan di depan dadanya ada menggantung sebuah kantong kulit.

Kantong kulit itu segera diambil dan dibuka oleh Hee Thian Siang. Tampak di dalam kantong ada susunya. Maka ia menjadi girang dan sambil menepuk pundak Siaopek, ia bertanya :

"Siaopek, ini air susu dari mana ?"

Siaopek menggunakan tangannya, diulurkan ke kanan dan ke kiri untuk memberi gambaran. Hee Thian Siang baru tahu bahwa susu dalam kantongan itu ternyata adalah air susu rusa sehingga ia teringat kembali kepada Liok Giok Jie yang dahulu juga hidup dari susu rusa sewaktu dibuang dibawah kaki gunung Kun-lun ini, kemudian dibawa kembali dan dipelihara oleh Tei ... Cu. Tak disangka-sangkanya bahwa bayi yang dilahirkan olehnya itu, juga terpaksa menggunakan air susu binatang rusa untuk menyambung nyawanya.

Susu untuk si bayi sekarang telah ada.

Ditambah dengan adanya Siaopek yang cerdik, yang dapat naik turun di tempat setinggi itu dengan leluasa, Hee Thian Siang jadi merasa agak lega. Tak apalah berdiam lebih lama juga dipuncak gunung Kun-lun ini, untuk mengulur waktu seberapa dapat.

Malam itu dilewati dengan tenang. Esoknya pagi sekali Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng berdua sudah muncul di bawah puncak dan bertanya apakah Hee Thian Siang sudah bersedia atau belum buat memberitahukan cara menggunakan senjata peledak Kian-thian pek-lek. 

Hee Thian Siang dari atas menjawab sambil tertawa dingin

:

"Kalian tidak perlu banyak bicara ! Asal kalian dapat

menghidupkan kembali perempuan pengasuh bayi yang tidak berdosa itu, aku akan segera menerangkan bagaimana caranya menggunakan Kian thian pek lek !"

Bo Cu Keng benar-benar tidak percaya bahwa Hee Thian Siang mempunyai kekerasan hati demikian rupa, maka berkata dengan suara bengis :

"Hee Thian Siang ! Kalau kau benar-benar tidka mau menerangkan caranya menggunakan Kian thian pek lek, aku nanti akan segera turun tangan kejam terhadap bayimu !"

Hee Thian Siang tahu bahwa dua manusia jahat itu sudah mempersiapkan banyak pesawat-pesawat rahasia yang sangat lihai. Bila mereka benar-benar menggerakkan salah satu pesawatnya, meskipun ia sendiri boleh tidak usah takut tetapi kalau agak lalai salah-salah akan membayakan bayinya 1 Maka cepat dicarinya akal. Ia lalu mengangkat tinggi bayinya dan berkata kepada Bo Cu Keng sambil tertawa terbahak- bahak :

"Bo Cu Keng ! Kau jangan kira bahwa dengan akalmu yang keji dapat mengganggu bayi ini. Heh heh ! Kau tak mungkin dapat menggertak dan memaksa aku Hee Thian Siang menceritakan cara menggunakan senjata Kian thian pek-lek ! Kau harus tahu bahwa Hee Thian Siang adalah seorang laki- laki berhati baja. Tidak mungkin mau memberatkan bayinya !"

Sehabis berkata demikian, bayinya itu lantas dilemparkannya tinggi ke belakang beberapa tombak kemudian berdiri sambil bertolak pinggang, setelah mana ia tertawa terbahak-bahak !

Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan sama sekali tidak menyangka Hee Thian Siang akan melemparkan anaknya sendiri. Siang Biauw Yan lalu berkata sambil menggertak gigi :

"Setan cilik itu sungguh keras kepala ! Biarlah kusundut sumbu bahan peledaknya supaya ia lekas mati !"

Setelah mana, ia benar-benar telah menyundut sumbu bahan peledak yagn diletakkan di dalam sebuah goa kecil, tapi buru-buru dipadamkan lagi oleh Bo Cu Keng.

"Saudara Siang," katanya. "Jikalau kau membinasakan setan kecil ini, siapa lagi yang bisa memberitahukan kepada kita caranya menggunakan senjata Kian thian pek lek ini ? Apabila kita tidak memiliki senjata ampuh ini, bagaimana pada tahun depan kita bisa membasmi semua tokoh rimba persilatan yang akan bertemu di puncak gunung Tay pek hong

?"

"Hee Thian Siang sudah tega membunuh anaknya sendiri. Kita masih ada akal apa untuk paksa menceritakan cara menggunakan senjatanya ?" kata Siang Biauw Yan sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.

"Saudara Siang jangan cepat putus asa dulu. Hee Thian Siang juga adalah manusia biasa seperti kita. Dan setiap manusia pasti ada mempunyai kelemahannya sendiri-sendiri. Jikalau kita bisa mencari sifat kelemahannya itu, pasti kita dapat menundukkan dia !" kata Bo Cu Keng.

Siang Biauw Yan anggap bahwa ucapan Bo Cu Keng itu cukup masuk diakal, sedangan Hee Thian Siang waktu itu ia tahu berada di puncak gunung Kun lun, tentunya tidak melarikan diri. Jadi untuk sementara masih bisa kiranya akal itu. Maka ia batalkan maksudnya hendak membakar bahan peledak.

Begitu dua manusia jahat itu undurkan diri, Hee Thian Siang yang seorang diri berada di puncak gunung Kun lun, dalam hatinya kembali merasa kesepian.

Ia sedikitpun tidak tahu bahwa di bawah kakinya banyak terdapat bahan peeldak yang setiap waktu bisa saja menghancurkan tubuhnya.

Ia hanya merasa bahwa ia sendiri, anaknya dan monyetnya Siaopek dikurung di puncak gunung Kun lun yang sepi sunyi itu selama jangka waktu yang sangat panjang. Rasanya tidak menyenangkan sekali.

Kiranya, Hee Thian Siang sebelum melempar bayinya tadi lebih dahulu sudah memerintahkan Siaopek menggelar jaring wasiatnya, disuruh menantikan di belakang dirinya. Maka begitu bayi itu jatuh ke dalam jaring, sudah tentu tidak mendapat luaka sedikit pun juga. Dengan demikian untuk sementara ia dapat membatalkan maksud Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng yang hendak mencelakakan anaknya untuk paksa ia menerangkan caranya menggunakan Kian thian pek lek. Kini dengan mengandalkan SIaopek dengan kepandaiannya yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa, yang diam-diam bisa naik dan turun dari tempat demikian tinggi untuk ditugaskan mencari makanan dan minuman bagi dirinya sendiri dan air susu rusa untuk bayinya, hingga selama itu dapat bertahan dari kelaparan sambil menantikan kesempatan baik. Tetapi lama kelamaan, apabila hal itu diketahui oleh musuh-musuhnya itu lalu menyerang Siaopek sehingga putus jalannya untuk naik turun, bukankah semuanya akan mati kelaparan diatas gunung ?

Beberapa hari telah berlalu, Bo Cu Keng ternyata masih belum berhasil menemukan sifat kelemahan Hee Thian Siang. Sementara itu Hee Thian Siang sendiri juga setiap hari memikirkan cara-caranya untuk meloloskan diri.

Di bawah puncak gunung Kun-lun, tampak kuda Ceng hong kie lari laksana terbang. Dari atas kuda itu lompat turun sepasang gadis cantik yang bukan lain dari pada Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat.

Tiong sun Hui Kheng memerintahkan Ceng hong kie menunggu dibawah gunung, sedang ia sendiri bersama Hwa Jie Swat mendaki ke gunung, tiba di luar istana kun lun kiong.

Waktu itu, Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng telah mendapat laporan juga. Bo Cu Keng dapat tahu bahwa Tiong sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang adalah sepasang kekasih yang sedang mencinta. Maka ia menjadi sangat girang, katanya :

"Mungkin kelemahan Hee Thian Siang itu terletak disini. Asal kita dapat menguasai Tiong sun Hui Kheng, pasti dapat memaksa ia menerangkan rahasianya Kian thian pek lek !"

"Kalau begitu, kita lebih dulu harus sambut secara baik dan persilahkan mereka masuk ke dalam Kun lun kiong. Barulah kita bertindak dengan melihat gelagat !" kata Siang Biauw Yan sambil tertawa.

"Akan kusambut sendiri kedatangan mereka, hanya anak murid kita jangan sampai kesalahan dalam melakukan percakapan dengan mereka !" kata Bo Cu Keng sambil tertawa.

Sehabis berkata, ia berjalan keluar dari dalam istana. Tepat saat itu, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat juga sudah datang menghampiri.

Bo Cu Keng yang sudha berdiam lama didalam istana kesepian, perempuan-perempuan yang pernah dijumpainya, sudah satu adalah Liok Giok Jie yang paling cantik dalam matanya. Tetapi kini setelah berhadapan dengan dua gadis cantik bagaikan bidadari itu, baik paras mereka, maupun segala seginya, semua masih lebih cantik kalau dibandingkan Liok Giok Jie. Bagaimana kalau ia tidak merasa terheran- heran. Diam-diam ia juga mengagumi dua gadis yang kecantikannya jarang ada di dalam dunia ini.

Bo Cu Keng hari itu mengenakan pakaian imam, setelah memberi hormat secara imam, berkata sambil tersenyum :

"Lie siecu berdua, bagaimana sebutan kalian yang mulia ? Ada keperluan apa Lie siecu berdua berkunjung ke Kun-lun ini

?"

Hwa Jie Swat yang memiliki pandangan mata sangat tajam, begitu melihat segera mengetahui bahwa imam berjubah hijau yang berada di hadapannya ini sebenarnya ada memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi, namun sifatnya sangat kejam sekali.

Oleh karena sudah mengetahui kekejaman imam itu, maka diam-diam Hwa Jie Swat sudah siap siaga. Jawabnya sambil tersenyum : "Aku yang rendah Hwa Jie Swat dan ini adalah sumoay ku Tiong sun Hui Kheng. Bolehkan kami menanyakan nama Totiang yang mulia ?"

Bo Cu Keng tahu tidak perlu menyembunyikan namanya, maka lalu menjawab sambil tersenyum :

"Pinto Bo Cu Keng. Dahulu mempunyai nama julukan yang tidak enak kedengarannya. Julukan itu ialah Ngo-tek-hui-sie !"

Nama Bo Cu Keng benar-benar telah mengejutkan Hwa Jie Swat dan Tiong sun Hui Kheng sehingga mereka pada mundur setengah langkah. Tiong sun Hui Kheng mengawasi Bo Cu Keng dari atas sampai ke bawah, lalu tanyanya :

"Bukankah Bo totian masih mempunyai nama julukan yang waktu belakangan ini. Kalau tidak salah biasa dipanggil May yu Kiesu ?"

Bo Cu Keng tertawa terkekeh-kekeh, Ia menganggukkan kepala berulang-ulang dan katanya :

"Benar-benar ! Ngo to kui sie Bo Cu Keng ialah aku. May yu Kiesu juga aku sendiri. Dan sekarang yang menjadi pimpinan Kun lun pay juga aku !"

"Jadi kau adalah pemimpin partai Kun lun pay sekarang ?" bertanya Tiong sun Hui Kheng.

"Nona Tiong sun jangan heran. Partai Kun lun sekarang ada mempunyai dua pemimpin. Disamping aku masih ada yang lain. Dia itu adalah kenalanmu yang lama. Tahukah kau siapakah dia ?'

Tiong sun Hui Kheng mengerutkan alisnya, sejenak memikir lalu katanya : "Bukankah pemimpin yang satunya lagi selain totiang Siang Biauw Yan adanya ?"

"Nona Tiong sun ternyata adalah seorang yang pintar. Dugaanmu ini sedikitpun tidak salah !" Jawab Bo Cu keng sambil menunjukkan jempolnya dan tertawa.

Hwa Jie Swat yang berdiri disamping lalu bertanya :

"Bo Ciangbunjin, aku masih ingin menanyakan kepadamu satu hal !"

Bo Cu Keng sambil mempersilahkan kedua tamunya itu masuk kedalam, menjawab sambil tersenyum :

"Hwa siecu, kalau ingin tanya apa-apa silahkan saja !" "Bayi yang dilahirkan oleh puteri istana kesepian Liok Giok

Jie, apakah dibawa Siang ciangbunjin kemari ?"

Bo Cu Keng ternyata sama sekali tidak menyangkal. Ia mengakui dengan terus terang, katanya sambil menganggukkan kepala :

"Dugaan Hwa siecu juga tidak salah. Bayi Liok Giok Jie memang dibawa kemari oleh Siang ciangbunjin untuk dirawat dan dibesarkan disini !"

Hwa Jie Swat juga Tiong sun Hui Kheng sama-sama tidak menduga bahwa Bo Cu Keng ternyata mau mengakui secara terus terang hingga mereka saling berpandangan sejenak. Lalu mengikuti Bo Cu Keng masuk ke dalam ruangan tamu istana Kun kun kiong.

Tiong sun Hui Kheng yang memikirkan keselamatan Hee Thian Siang, baru saja imam kecil menyuguhkan teh, ia sudah bertanya kepada Bo Cu Keng : "Bo Ciangbunjin, bolehkah aku numpang bertanya. Ayah dari bayi itu ialah Hee Thian Siang, pernahkah datang kemari

?"

Bo Cu Keng masih tetap tidak menyembunyikan sesuatu, jawabnya sambil menganggukkan kepala dan tertawa :

"Hee siecu sekarang ini justru sedang berada di puncak Kun lun !"

Mendengar jawaban yang terus terang itu, Tiong sun Hui Kheng diam-diam terkejut, tanyanya pula : "Dia. "

"Nona Tiong sun jangan khawatir, Hee Thian Siang siecu kini dalam keadaan selamat tidak kurang suatu apa. Hanya orangnya saja berada di puncak kun lun, untuk sementara tidak bisa turun ke bawah !" menerangkan Bo Cu Keng.

Sepasang alis Hwa Jie Swat tampak berdiri. Ia bertanya dengan nada suara dingin sambil menatap wajah Bo Cu Keng

:

"Bo Ciangbunjin, kalian sudah mengurung Hee Thian Siang dan anaknya di puncak Kun lun. Sebetulnya apa maksudmu ?"

Bo Cu Keng memang sudah tahu bahwa dua gadis cantik jelita ini, semuanya memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Maka itu, meskipun telah melihat Hwa Jie Swat seperti maksud menantang, tetapi ia tidak menghiraukan. Masih ia dengan sikapnya yang ramah tamah, menjawab sambil tersenyum :

"Terhadap Hee Thian Siang dan anaknya, Kun lun sedikitpun tidak mengandung maksud jaha. Aku hanya inginkan dari mulut Hee siecu sendiri mendapat keterangan mengenai suatu rahasia. Kalau Hee Thian Siang mau membuka rahasia, aku akan segera naik ke puncak Kun lun untuk menyambut dia dan anaknya kemari !" Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menggelengkan kepala :

"Perbuatan kalian ini keliru ! Hee Thian Siang cuma dapat diminta secara lemah lembut, tidak boleh dengan cara kekerasan. Dia adalah seorang yang tidak goyah imannya sekalipun dalam penderitaan. Juga tidak pernah tertarik oleh segala kesenangan. Apalagi segala kelakuan dan tindakan yang keras, tidak akan membuat dia bertekuk lutu. Karena dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa ksatria, berjiwa besar !"

Bo Cu Keng hanya memperlihatkan senyumnya yang mengandung arti mendengar ucapan Tiong sun Hui Kheng itu. Katanya :

"Ucapan nona Tiong sun ini benar. Kami sudah menggunakan berbagai cara, Hee siecu masih tetap tidak mau menyerah. Tapi bila maksud Kun lun pay tidak tercapai dan sudah hilang kesabaran kami, terpaksa kami akan menggunakan tindakan terakhir yang paling kejam, supaya ayah dan anak hancur lebur di puncak gunung. Dan saja nona Tiong sun juga menderita bathin selamanya !"

Sepasang alis Tiong sun Hui Kheng berdiri. Katanya :

"Aku tidak percaya kalian ada mempunyai senjata yang dapat membinasakan Hee Thian Siang !"

"Di atas puncak Kun lun sudah dipendam 18 buah bahan peledak. Sumbunya untuk menyalakan bahan-bahan peledak itu diletakkan dibawah sini. Asal aku menyulut dengan api, Hee siecu dan anaknya pasti akan hancur, lebur tulang- tulangnya menjadi abu !" kaat Bo Cu Keng sambil tertawa mengejek.

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu diam- diam juga bergidik. Bo Cu Keng rupanya begitu bangga sekali, terdengar suara tertawanya dan katanya :

"Kalau Lie siecu berdua tidak percaya, aku bersedia mengantar kalian berdua pergi ke bawah puncak Kun lun untuk menyaksikan sendiri keadaan mereka !"

Hwa Jie Swat yang sejak tadi memperhatikan kata-kata dan menyaksikan sikap Bo Cu Keng, tahu bahwa ucapannya itu bukan merupakan gertak sambal belaka. Maka ia lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya.

"Rahasia apa sebenarnya yang hendak diketahui oleh kalian orang-orang Kun lun dari padanya ?'

"Rahasia itu sebetulnya audah tidak ada keuntungannya dengan Hee siecu sendiri. Dia sebenarnya boleh menerangkan dengan terus terang !" kata Bo Cu Keng sambil tertawa.

"Bo ciangbunjin, kalau bicara jangan setengah-setengah. Apa sebetulnya yang Ciangbunjin ingin tahu itu ?" tanya Tiong sun Hui Kheng.

"Bukankah Hee siecu pernah kehilangan sebuah benda wasiat golongan Pak-bin dilembah kematian di gunung COng lam ?" berkata Bo Cu Keng sambil tertawa.

"Dia memang memiliki sebuah senjata peledak Kian thian pek lek yang terjatuh di tangan orang jahat dari Cong lam !" menjawab Tiong sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala.

"Yang kami ingin ketahui ialah cara menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek itu !" Bo Cu Keng lalu tertawa.

Tiong sun Hui Kheng sebagai seorang yang sangat pintar, setelah dipikirnya sejenak, kembali bertanya : "Khong khong Hweshio, Pao It Hui dan Gu Long Goan tiga orang jahat dari Cong lam itu, apakah juga ada di gunung Kun-lun ini ?"

"Mereka bertiga sudah kuangkat sebagai pelindung hukum partai Kun lun !" jawab Bo Cu Keng sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Hwa Jie Swat memperdengarkan suara tertawa dingin. Dengan sinar mata tajam menatap Bo Cu Keng, lalu tanyanya

:

"Kun lun pay rupanya kini sedang hendak mulai membentang pengaruhnya lagi. Kalian ingin mengetahu rahasia cara menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek

? Apakah kalian hendak menggunakan senjata sangat ampun yang dapat digunakan menggempur gunung ini untuk menyingkir semua musuh kalian dan kemudian menjagoi rimba persilatan ?"

"Jikalau bukan hendak menguasai rimba persilatan, perlu apa kami berusaha begitu susah payah, mengurung Hee Thian Siang dan anaknya di puncak Kun lun ?" kata Bo Cu Keng sambil tertawa terbahak-bahak.

Bo Cu Keng melihat perkembangan. Mereka agaknya akan masuh perangkap. Dengan bangga lalu mengulurkan tangannya menunjuk ke kamar sebelah kirinya, sambil tertawa berkata :

"Siang Ciangbunjin sekarang ini sedang berunding dengan Hee Thian Siang. Siang ciangbunjin minta siecu berdua tunggu dulu di kamar itu. Bukalah jendela yang menghadap ke utara. Dari situ kalian nanti dapat melihatnya dengan jelas !"

Hwa Jie Swat baru untuk pertama kali datang ke Kun lun san. Jadi dia tidak mengenal keadaan disitu. Tidak demikian dengan Tiong sun Hui Kheng. Gadis yang disebut belakangan ini dahulu pernah berkunjung sekali ke gunung Kun lun ini. Tetapi oleh karena terlalu memikirkan keselamatan Hee Thian Siang, ia sampai lupa bahwa puncak gunung Kun lun itu sebenarnya masih terpisah jauh dari situ, tidak mungkin dapat dilihat dari jendela istana Kun lun kiong sehingga ia tidak memperhatikan bahwa ucapan Bo Cu Keng itu ada bagian yang tidak benar.

Baru saja dua orang itu masuk ke dalam kamar yang ditunjuk, Bo Cu Keng diam-diam undurkan diri dan menggerakkan pesawat rahasianya hingga pintu kamar tersebut mendadak tertutup oleh dinding berlapis besi !

Tiong sun Hui Kheng marah. Masih pikir hendak mencari jalan keluar. Tetapi Hwa Jie Swat lantas mencegahnya, katanya sambil menggoyangkan tangan :

"Adik Kheng tidak perlu mencari lagi. Adalah salah kita yang berlaku kurang hati-hati. Mungkin juga sudah seharusnya kita terjatuh ke dalam jebakan musuh. Di sekitar kamar ini semuanya dibuat dari dinding besi. Mana mungkin ada jalan keluarnya ?"

Tiong sun Hui Kheng sekali lagi mencoba. Benar seperti apa yang diucapkan oleh Hwa Jie Swat. Dinding-dinding yang seperti ditempel oleh kertas, ternyata juga terbuat dari pada besi tebal. Sudah tentu tidak dapat digempur dengan kekuatan tenaga manusia.

Hwa Jie Swat memberikan Tiong sun Hui Kheng dua butir obat pel. Suruh ia masukkan ke dalam hidungnya untuk menjaga musuh menggunakan obat bius membokong mereka.

Sesaat kemudian, di dalam kamar itu benar-benar terendus bau-bauan yang aneh. Hwa Jie Swat terus berkata sambil tertawa dingin : "Bo Cu Keng, kau sebagai ketua dari satu partai besar. Mana boleh melakukan perbuatan yang demikian memalukan

? Kau juga rupaya tidak pikir lebih dulu, senjata obat bius yang biasa digunakan oleh bangsa-bangsa rendah ini, bisa berbuat apa terhadap kami ?"

Bo Cu Keng yang dikatakan demikian oleh Hwa Jie Swat, wajahnya menjadi merah. Dari lobang suara diluar yang bisa digunakan untuk bicara, ia berkata dalam :

"Hwa Jie Swat, ketahuilah olehmu ! Obat bius yang kugunakan ini dapat digunakan terus menerus tanpa berhenti. Kalau kalian hari ini dapat bertahan, kukira juga tidak sanggup bertahan sampai dua hari. Dapat bertahan dua hari, juga tidak mungkin sanggup menangkis sampai lima hari. Pokoknya asal ada sedikit saja yang masuk ke dalam hidung, hati dan pikiran kalian segera akan menjadi bingung. Sekujur tubuh merasa lemas. Nanti aku akan mencari dua anak buah Kun lun pay untuk mendobrak gerbang kesucian kalian berdua !"

Ucapan itu sesungguhnya sangat kotor dan amat memalukan. Bagi Tiong sun Hui Kheng yang mendengarkan merasa jijik, sedangkan Hwa Jie Swat yang sudah lama berkelana di dunia Kang ouw dan banyak pengalaman, juga mengerutkan alisnya, tidak berdaya apa-apa menghadapi keadaan itu.

Bo Cu Keng yang menunggu lama tidak mendapat jawaban dari dalam kamar. Tahu bahwa perang urat syaraf yang digunakan olehnya udah berhasil mempengaruhi dua gadis itu. Maka ia kembali berkata sambil memperdengarkan suara tertawa dinginnya :

"Hwa Jie Swat, Tiong sun Hui Kheng. Jikalau kalian hendak mempertahankan kesucian kalian berdua, bertindak sajalah kalian menurut perintah kami !" Lama Hwa Jie Swat berpikir. Ia merasa bahwa satu- satunya jalan pada saat itu ialah mengulur waktu. Kalau mereka bisa mengulur waktu sampai pada kedatangan It-pun Sin-ceng bersama Taywong, mungkin masih ada harapan untuk meloloskan diri.

Setelah mengambil keputusan demikian, maka ia lalu bertanya kepada Bo Cu Keng :

"Bo Cu Keng, apakah kau pikir hendak memperalat kami berdua ?'

"Aku cuma mau minta kalian menulis surat. Terangkan dalam suratmu keadaanmu sekaran ini. Kalau bisa sekalian nasehatkan supaya Hee Thian Siang mau lekas menerangkan rahasianya menggunakan senjata Kian thian pek lek !" kata Bo Cu Keng sambil tertawa.

Hwa Jie Swat tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata :

"Bo Cu Keng, caramu ini tidak kena ! Sebab Hee Thian Siang sama sekali tidak mengenali tulisanku. Lagi pula hanya dengan sepucuk surat saja, mana mau ia percaya kalau kita benar-benar terkurung disini ?"

Bo Cu Keng jadi berdiam begitu mendengar udapan itu. Sementara Hwa Jie Swat sudah berkata pula sambil tertawa :

"Jikalau kau suka menjamin keselamatan Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan bayi yang dilahirkan oleh Liok Giok Jie atau dengan kata lain, jiwa empat orang hendak ditukar dengan rahasia penggunaan senjata peledak kian thian pek lek, aku bisa bantu memikirkan suatu cara yang baik untukmu

!"

"Coba kau katakanlah cara itu. Aku dengan kalian memang sebelumnya tidak ada permusuhan apa-apa. Juga tiada maksud kami untuk mencelakakan diri kalian. Sudah tentu saja mempergunakan cara barter serupa itu."

"Caraku ini kukira bagus sekali buat kau." kata Hwa Jie Swat. "Kau biarkanlah aku sendiri di dalam kamar rahasi ini. Hitung-hitung sebagai orang tanggungan. Tiong sun Hui Kheng pergi sendiri ke puncak Kun lun. Biar dia berusaha membujuk Hee Thian Siang supaya mau menerangkan cara menggunakan senjata Kian tian pek lek nya !"

Bo Cu Keng segera menemui Siang Biauw Yan yang sedang sembunyikan diri di satu tempat rahasia. Disana mereka lantas mengadakan perundingan. Lama juga mereka berunding, baru anggap bahwa akal yang diusulkan oleh Hwa Jie Swat itu memang boleh juga dicoba.

Siang Biauw Yan lalu berkata kepada Bo Cu Keng dengan suara perlahan :

"Saudara Bo boleh saja terima usul mereka. Tetapi tentu saja tidak begitu gampang seperti yang mereka pikir. Setelah Hee Thian Siang menerangkan cara menggunakannya, kita boleh saja segera gerakkan pesawat rahasia kita, hancurkan mereka semua ! ha ha ha. "

Bo Cu Keng mengangguk sambil ikut tertawa. Lekas-lekas menemui lagi Hwa Jie Swat, lalu berkata kepadanya :

"Aku setuju sekali dengan usulmu tadi. Kau suruhlah nona Tiong sun Hui Kheng duduk disebuah kursi di sebelah kiri meja teh !"

Hwa Jie Swat tahu benar bahwa sebelum Hee Thian Siang menerangkan rahasia menggunakan senjata Kian thian pek lek, orang-orang jahat dari Kun lun pay itu tidak mungkin akan berani bertindak. Maka tanpa curiga sedikitpun segera menyuruh Tiong sun Hui Kheng duduk di kursi seperti apa yang diminta oleh Bo Cu Keng tadi sambil berpesan dengan suara perlahan :

"Adik Kheng, kau pergilah ke puncak gunung Kun lun. Suruh Hee Thian Siang ulur waktu sedapat mungkin. Di sana kau boleh perintahkan Siaopek pergi ke bawah kaki gunung Kun lun agar Siaopek tunggu kedatangan It-pun taysu supaya bisa dikabarkan keadaan kita disini dan supaya ia bisa bantu menolong kita !"

Baru ia berkata sampai disitu, kursi yagn diduduki oleh Tiong sun Hui Kheng mendadak bergerak, terdengar suara keresekan, lalu sesaat kemudian Tiong sun Hui Kheng bersama-sama kursinya mendadak hilagn !

Tiong sun Hui Kheng bersama kursi yang didudukinya, saat itu tengah meluncur ke dalam sebuah terowongan rahasian dan sebentar kemudian sudah berada di dalam goa di belakang istana Kun lun kiong.

Bo Cu Keng agaknya sudah menunggu lama di mulut goa. Bersama Tiong sun Hui Kheng lalu berjalan menuju ke puncak Kun lun.

"Nona Tiong sun," kata Bo Cu Keng tiba-tiba. "Kau sendiri sajalah yang naik ke sana. Kau boleh bujuk Hee Thian Siang. Tidak perlu kau menguatirkan apa-apa. Sebab kau harus tahu asal kau coba bertindak sedikit saja, Hee Thian Siang yang berada di puncak dan Hwa Jie Swat yang berada di dalam kamar rahasia akan mengalami siksaan apa."

Tiong sun Hui Kheng tertawa dingin. Belum ia menjawab, sudah tiba dibawah kaki puncak Kun lun.

Bo Cu Keng menunjuk ke arah tebing gunung, di bawah puncak Kun lun. Tiong sun Hui Kheng segera menuju ke tempat yang ditunjuk. Sesampainya Tiong sun Hui Kheng, Bo Cu Keng tampak menekan sebuah pesawat rahasia. Dinding di depan Tiong sun Hui Kheng segera terbuka sebuah lubang berbentu bundar.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian lalu bertanya :

"Bo ciangbunjin, apa maksudmu hendak menyuruh aku naik ke puncak dengan mengambil jalan di dalam goa ini ?"

Bo Cu Keng tampak mengangguk dan berkata sambil tertawa :

"Batu buatan alam ini, pada waktu paling belakang ini baru kita tembus dan ditambah dengan usaha yang tidak sedikit. Nona Tiong sun tidak udah kuatir. Masuklah saja. Aku tanggung akan dapat mengantar kau ke tempat tujuanmu dengan cepat, untuk menjumpai Hee Thian Siang !"

Toong sun Hui Heng yang mendengarkan itu, tidak ragu- ragu lagi. Lalu lompat masuk ke dalam mulut goa itu, sedangkan Bo Cu Keng juga segera menutup pintu goa.

Jalanan dalam goa itu sempit dan panjang serta berliku- liku, arahnya naik ke atas.

Tiong sun Hui Kheng harus berjalan dengan meraba-raba di dalam goa yang gelap itu. Dengan sendirinya jadi tidak bisa terlalu cepat. Kira-kira satu jam, tibalah ia di suatu tempat yang terhalang oleh tembok batu yang membuat ia tidak bisa maju lagi.

Sementara itu terdengar suara Bo Cu Keng yang samar- samar.

"Nona Tiong sun, aku sekarang hendak membuka dinding batu yang menghalang di depanmu itu supaya kau bisa keluar dari dalam goa. Pergunakanlah waktu yang hanya sekejap saja itu. Kau harus dapat menguasai waktu yang amat singkat itu, jangan sampai salah !"

Baru habis menutup mulut, benar saja ditembok depan Tiong sun Hui Kheng lalu tampak sedikit sinar terang. Kemudain perlahan-lahan terbuka sebuah lubang kecil. Tiong sun Hui Kheng tahu bahwa ia cuma diberi tempo yang sangat minim, maka buru-buru ia melesat keluar dari lubang batu yang kecil itu.

Tiba diluar, tembok batu itu mendadak tertutup lagi. Kini ia telah dapatkan dirinya benar-benar berada di puncak Kun lun.

Pada waktu itu, Hee Thian Siang sedang menidurkan anaknya. Melihat Tiong sun Hui Kheng mendadak berdiri didepannya seolah-olah melayang turun dari langit, disamping terkejut juga merasa girang. Tanyanya keheranan :

"Enci Kheng, dengan cara bagaimana kau bisa keluar dari situ ? Kalau memang ada jalan rahasia ini, bukankah kita bisa segera meloloskan diri ?"

"Aku diantar oleh Ngo-tok-kui-sie Bo Cu Keng melalui jalan rahasi ini sampai disini. Keadaanku sam denganmu, yang berarti bisa datang tetapi tidak bisa kembali !"

Sambil bicara, ia ambil bayi dari gendongan Hee Thian Siang, dipandanginya sepuas-puasnya, hatinya merasa pilu. Katanya sambil mengucurkan air mata :

"Mirip sekali dengan Liok Giok Jie ! Tetapi sayang, dia bisa diketemukan oleh ayahnya, namun ibunya. "

"Kemana pun ibunya pergi, kalau kita bisa keluar dari gunung Kun lun ini, biar secara perlahan, pasti bisa diketemukan !" kata Hee Thian Siang. Tiong sun Hui Kheng tahu bahwa Hee Thian Siang yang dikurung di puncak Kun lun, dalam hatinya sedikit banyak pasti merasa gelisah. Maka ia tidak sampai hati untuk menyampaikan berita jelek yang menimpa diri Liok Giok Jie. Matanya berputar sejenak. Ia mengalihkan pembicaraan dengan pura-pura bertanya :

"Mengapa tidak kelihatan Siaopek ? Kemana ia pergi ?" "Siaopek sesungguhnya terlalu cerdik dan terlalu baik

sekali ! Coba kalau enci tidak perintahkan ia ikut aku, bayi ini barangkali sudah lama mati kelaparan !"

"Apakah Siaopek pergi mencari makanan untuk bayi ini ?" "Ya ! Persediaan susu rusa disini tinggal sedikit. Siaopek

baru saja kusuruh turun gunung, untuk mencari lebih banyak lagi !"

"Adik Siang, lama juga kau dikurung disini. Tentunya banyak menderita."

"Menderita kalau cuma buat kau, tidak jadi soal. Yang kutakuti cuma kesepian dan kesunuian yang siang hari malam harus aku gadungi. Dengan adanya enci disini, taruh kta ada jalan keluar, aku masih suka tinggal disini dan aku benar- benar rela !"

Tiong sun Hui Kheng pendelikkan matanya. Lalu berkata : "Adik Siang, aku cuma pikir yang senang-senang saja !

Tahukah kau, tempat yang kita injak sekarang ini sebenarnya ada dipendam senjata peledak di delapan belas tempat ?"

Hee Thian Siang sedikitpun tidak merasa terkejut atau heran. Katanya sambil menganggukkan kepala : "Memang sudah dalam dugaanku begitu. Tetapi selama mereka tidak dikasih tahu cara menggunakan senjata Kian thian pek lek, tidak bakalan mereka berani turun tangan kejam ! Jadi kalau buat aku, biarpun kita harus tinggal ditempat yang dikitari oleh bahan peledak, malah merasa aman !"

"Memang betul aman. Tetapi apakah kita boleh tak usah memikirkan keselamatan dan kesucian enci Hwa Jie Swat yang kini sedang dikurung dalam istana Kun-lun kiong ?'

"Enci Hwa Jie Swat juga sudah datang ?' tanya Hee Thian Siang heran.

Tiong sun Hui Kheng lalu menceritakan pertemuannya secara kebetulan dengan orang tua berbaju kuning Hee kouw Soan dan Hwa Jie Swat serta It-pun Sin-ceng. Hanya merahasiakn peristiwa Liok Giok Jie yang buang diri ke dalam jurang.

Habis cerita Tiong sun Hui Kheng, Hee Thian Siang berkata sambil menghela napas :

"Celaka "

Tapi ia belum melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara Bo Cu Keng dibarengi suara tertawanya yang suaranya sangat aneh :

"Hee Thian Siang, jikalau kau tidak mau kasih tahu juga cara menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek, aku nanti akan gerakan seluruh pesawat dalam kamar rahasia. Lebih dahulu akan kutaklukan Hwa Jie Swat, lalu kubawa ke bawah gunung Kun kun ini, biar dia rasa bagaimana bila seluruh anak murid Kun lun pay memperkosa dirinya dengan bergiliran !"

Percuma saja Hee Thian Siang marah-marah dan mendongkol sebab ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa cuma minta supaya Bo Cu Keng mau memberikan waktu kepadanya untuk berpikir. Bo Cu Keng tahu bahwa ia sudah mendapatkan titik kelemahan Hee Thian Siang. Dianggap anak muda itu pasti akan menyerah, maka dengan merasa bangga ia lalu berkata :

"Hee Thian Siang ! Boleh kuberikan padamu waktu satu hari untuk berpikir. Tetapi awas, jika besok sampai tengah hari kau belum mau kasih tahu cara menggunakan senjata Kian thian pek lek, aku bisa suruh kau menyaksikan sendiri bagaimana dibawah sinar matahari Hwa Jie Swat akan diperkosa oleh banyak orang !"

Sehabis berkata demikian, tidak terdengar suara lagi.

Hingga suasana kembali menjadi hening.

Hee Thian Siang berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala dan menghela napas :

"Enci Kheng, sekarang bagaimana baiknya ? Enci Hwa Jie Swat berada ditangan kawanan iblis. Rasanya, rahasia cara menggunakan senjata Kian thian pek lek ini tidak akan dapat kupertahankan lagi !"

"Syukur kalau It-pun Sin-ceng bisa keburu sampai pada waktunya yang tepat. Sebab itulah yang paling baik. Tapi kalau tidak, yah ! Apa boleh buat harus kita beritahukan juga cara menggunakan senjata Kian thian pek lek itu biar dikemudian hari perlahan-lahan kita boleh rebut kembali !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya.

"Kian thian pek lek itu adalah senjata yang sangat ampuh dan luar biasa hebatnya. Kalau sampai digunakan oleh kawanan penjahat itu untuk melakukan kejahatan besar, bukankah golongan Pak bin yang akan mendapat malu besar

? Lalu bagaimana pula aku harus mempertanggungjawabkan semuanya kepada arwah suhu di alam baka ?"

"Adik Siang, apa kau tidak punya akal untuk memberitahukan rahasia penggunaan senjata itu yang palsu ? Biar bagaimana Kian thian pek lek itu toh cuma ada satu. Pasti mereka tak akan berani mencoba-coba menggunakan senjata itu !"

"Enci Kheng, aku juga sudah pikirkan hendak berbuat begitu. Tapi aku khawatir kawanan penjahat itu sesudah mendapatkan rahasia palsu tentang penggunaan senjata itu, lantas dianggap benar-benar. Sebaliknya nanti akan berusaha membasmi kita. Tentu hal itu tidak menguntungkan sekali bagi kita dan enci Swat sendiri !"

"Adik Siang, kekuatiranmu semcam ini memang cukup baik. Mungkin karena kau sudah dapat menembusi hati kawanan penjahat partai Kun lun itu. Kalau begitu, tak ada lain jalan. Terpaksa kita harus mengalihkan pengharapan kita pada diri It-pun Sin-ceng. Biarlah beberapa lama berdiam disini sampai dia datang dan menolong kita !"

Berkata sampai disitu, dari bawah puncak gunung tiba-tiba tampak berkelebat bayang putih. Ternyata Siaopek sudah kembali dengan membawa satu kantong penuh susu rusa.

Tiong sun Hui Kheng lantas meneteki bayi Liok Giok Jie dengan air susu binatang itu dan memerintahkan Siaopek turun lagi guna menantikan It-pun Sin-ceng dan suruh Hee Thian Saing menulis surat dengan kayu bakar tentang keadaan mereka disitu.

Sungguh kebetulan sekali, Siaopek baru saja turun dari puncak Kun lun sudah menampak sebuah bayangan kealbu dan bayangan kuning, yang dari jauh lari mendatangi.

Bayangan kuning itu bukan lain dari pada binatang gaib Taywong, sedangkan bayangan kelabu adalah It-pun Sin-ceng yang diharap-harapkan kedatangannya oleh Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng. Siaopek mengeluarkan siulan girang lalau lari menyongsong dan menyerahkan surat yang ditulis oleh Hee Thian Siang kepada It-pun Sin-ceng.

Setelah membaca habis surat Hee Thian siang, It-pun Sin- ceng mengerutkan alisnya. Diam-diam berpikir bahwa kawanan penjahat partai Kun lun itu banyak sekali jumlahnya, sedangkan ia sendiri hanya sendirian membawa-bawa dua binatang yang cerdik dan gaib itu. Bagaimana dapat menolong mereka yang terancam bahaya sangat besar itu ?

Karena berada dalam keadaan sangat sulit itu, It-pun Sin- ceng terpaksa menyingkirkan semua pikiran dan duduk bersila sambil memutar otak.

Tidak kecewa ia sebagai seorang pendekar besar. Setelah duduk tidak berapa lama, dari dalam ketenangannya itu ia mendapatkan suatu jalan yang cukup berbahaya dan harus menempuh jalan antara hidup dan mati.

Lebih dulu ia coba menganalisa keadaan diatas puncak, lalu menganggap bahwa apa yang dikuatirkan Hee Thian Siang itu memang tidak salah. Kawanan penjahat partai Kun lun asal mendapatkan rahasia cara menggunakan Kian thian pek lek, pasti akan bertindak terhadap Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat dengan segala kekejaman mereka.

Kedua It-pun Sin-ceng memastikan bahwa kekuatan tenaganya sendiri yang dibantu oleh Siaopek dan Taywong paling hanya dapat menolong jiwa Hwa Jie Swat dari tangan kawanan penjahat itu, untuk sementara tidak mungkin dapat menolong Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng meloloskan diri dari puncak gunung Kun-lun.

Karena toh harus kedua-duanya dapat dilaksakan dengan sempurna, terpaksa harus menempuh bahaya. Maka itu, It-pun Sin-ceng lalu memerintahkan Siaopek dan Taywong untuk mencari rotan-rotan gunung yang kasar-kasar dan banyak jumlahnya, sedangkan ia sendiri akan turun tangan membuat sebuah keranjang rotan yang kuat dan besar sekali.

Kemudian, mereka juga membaut lagi beberapa batang rotan yang panjangnya kira-kira tiga tombak. Bersama-sama keranjang itu dan sepucuk surat, ia memerintahkan Siaopek dan Taywong dengan melalui jalan belakang, mendaki ke puncak Kun lun.

Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng yang membaca surat itu sangat mengagumi kecerdikan It-pun Sin-ceng.

Beberapa puluh batang rotan gunung itu, diikat dengan keranjang rotan, setiap lima batang diikat menjadi satu.

Setelah itu, diantara pohon cemara yang berada di atas puncak Kun lun dengan batu-batu dibawah untuk diikatkan dengan rotan-rotan panjang meluncur ke bawah.

Dengan demikian, keranjang rotan itu lalu digunakan untuk turun dari atas yang berada di bagian belakang puncak Kun lun, dibawah terdapat jurang yang sangat dalam.

It-pun Sin-ceng mau supaya Hee Thian Siang begitu sampai besok tengah hari, itu adalah yang terakhir kawanan penjahat Kun lun akan membawa Hwa Jie Swat ke bawah puncak gunung itu untuk menggertak Hee Thian Siang supaya mau menyerah.

Sudah diperhitungkan, jikalau penjahat Kun lun pay itu mengetahui rahasia menggunakan senjata Kian thian pek lek, pasti mereka akan turun tangan kejam terhadap Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat. Itulah kegunaan keranjang besar itu, buat menyelamatkan Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng. Kalau mereka akan turun tangan terhadap Hwa Jie Swat, hal itu akan dihadapi oleh It-pun Sin-ceng, Siaopek dan Taywong yang lebih dulu sudah sembunyikan diri di tempat gelap dan akan berusaha merebut dan menolong Hwa Jie Swat dari tangan mereka.

Ucapan terakhir itu begitu masuk ke telinga Hee Thian Siang membuat darah anak muda itu bergolak hebat. Ia juga tidak banyak tanya lagi lantas menuju ke puncak gunung Kun- lun bersama Siaopek.

Baru saja Hee Thian Siang berangkat, dar dalam istana Kun-lun-kiong muncul dua orang. Mereka itu adalah Siang Biauw Yan dan May-yu Kiesu yang kini sudah menjadi pemimpin Kun-lun pay Bo Cu Keng.

Siang Biauw Yan lalu bertanya kepada murid yang menjaga pintu tadi :

"Apakah Hee Thian Siang datang sendirian ?"

"Ya, Hee Thian Siang datang sendiri tapi bersamanya ada lagi seekor monyet kecil berbulu emas !" jawab sang murid dengan sikap menghormat.

Bo Cu Keng lalu berkata sambil tertawa dingin :

"Seekor monyet kecil apakah gunanya ? Kita segera bertindak menurut rencana kita semula !"

Siang Biauw Yan menganggukkan kepala sambil tertawa, kemudian bersama-sama Bo Cu Keng masuk ke istana Kun- lun kiong lagi hendak melaksanakan rencana jahat mereka.

Tindakan apa yang hendak mereka lakukan ? Untuk sementara, marilah kita tinggalkan dulu. Kita tengok bagaimana Hee Thian Siang dan Siaopek kini sudah mulai berjalana setapak demi setapak masuk ke dalam perangkap yang dipasang oleh Siang Biauw Yan.

Sewaktu Hee THian Siang tiba dibawah puncak Kun-lun, tampak keadaan dan pemandangan tempat yang pernah dikunjunginya ini masih seperti biasa. Hanya hari itu ada tambahan sebatang rotan yang sangat panjang dari puncak turun terus sampai ke bawah. Agaknya untuk memudahkan orang naik turun ke atas puncak itu.

Jangankan Hee Thian Siang yang sangat pintar, sekalipun orang biasa juga dapat mengerti pemandangan di depan matanya itu ada mengandung bahaya besar.

Tetapi oleh karena sifat kasih ayah terhadap anaknya ada demikian besar, ditambah lagi pikirannya yang selalu terpusat pada keselamatan Liok Giok Jie dan Cin Lok Pho, ia sudah ingin mencari Siang Biauw Yan untuk memecahkan semua pertanyaan yang ada dalam otaknya. Maka meskipun tahu ada bahaya besar, ia tidak mau pikir lebih jauh. Hakekatnya ia sudah mempunyai moto : Pukul dahulu bicara belakangan ! Begitulah ia lalu lompat melesat sambil memegangi oyot rotan itu terus naik ke atas !

Siaopek sudah tentu mengikuti saja jejaknya. Tiba ditengah-tengah Hee Thian Siang baru merasa bahwa perbuatannya itu sesungguhnya terlalu gegabah. Bila Siang Biauw Yan benar-benar berada di atas puncak, dengan mudah saja dia dapat memutuskan rotan itu. Lalu bukankah ia bersama Siaopek akan terjatuh di dalam jurang yang dalam ini

?

Berpikir sampai disitu, diam-diam jadi bergidik sendiri ! Ia tidak mau balik di tengah jalan, maka terpaksa ia melanjutkan terus usahanya naik keatas sambil menggertak gigi. Tetapi seluruh perhatiannya dipusatkan ke atas, siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Tak ia sangka bahwa kekuatirannya itu ternyata cuma merupakan bayangan khayal belaka, ia sedikitpun tidak mendapatkan bahaya. Terpisah kira-kira setombak lebih denga puncak, mendadak terdengar suara tangisan bayi !

Suara tangisan bayi itu telah menambah besar hati Hee Thian Siang. Sambil mengeluarkan suara siulan panjang, ia bergerak cepat dan sebentar sudah naik ke puncak.

Di atas puncak Kun-lun itu tidak terdapat apa-apa, hanya ada seorang perempuan dari penduduk pegunungan itu sedang meneteki seorang bayi di depan goa kecil.

Dalam girangnya Hee Thian Siang sampai melupakan peraturan, ia segera bergerak, dari tangan perempuan muda itu merebut bayinya ! Ia mengamati-amati wajah sang bayi, benar saja mirip dengan dirinya sendiri, juga ada beberapa bagian yang hampir serupa dengan wajah Liok Giok Jie.

Setelah bayi itu berada dalam gendongannya, Hee THian Siang lantas berputaran ke pelbagai penjuru. Ia mengawasi keadaan disekitarnya. Dan timbullah berbagai pertanyaan dalam otaknya.

Ia benar-benar tidak mengerti tindakan apa yang akan diambil oleh Siang Biauw Yan karena setelah susah payah ia membawa kabut bayi itu, mengapa kini dapat diambil kembali dengan sangat mudahnya tanpa ada penjagaan apa pun ?

Pertanyaan itu masih berputaran di dalam otaknya, tiba-tiba terdegnar suara orang tertawa dari dalam goa kecil itu.

Dahulu Hee Thian Siang bersama Tiong sun Hui Kheng pernah terkurung lama di atas puncak Kun-lun ini. Maka ia hapal baik setiap penjuru tempat. Ia tahu bahwa goa kecil itu tidak seberapa dalam. Goa itu hanya cukup untuk meneduh dari angin dan hujan saja. Tapi kini dengan tiba-tiba terdengar suara tertawa orang, suatu bukti bahwa Siang Biauw Yan pernah merubah goa itu dengan alat-alat yang ia pasang, di bagian atas atau bawah mungkin ditambah dengan peralatan untuk menyampaikan suara orang.

Walaupun ia berpikir demikian, namun ia masih tetap berjalan menuju ke tepi jurang dan melongok ke bawah. Tampak olehnya oyot rotan yang digunakannya untuk mendaki ke atas tadi ternyata sudah putus hingga jalan pulangnya sudah tidak ada lagi. Dibawah tampak dua orang berdiri berdampingan, mereka bukan lain dari pada Siang Biauw Yan dan Bo Cue Keng.

Siang Biauw Yan yang menampak Hee Thian Siang melongokkan kepala dari atas, lalu berkata sambil tersenyum :

"Hee laote, apakah kau sudah menemui dan melihat anakmu ?"

Pertanyaan itu diucapkan dengan suara tidak seberapa nyaring tetapi kedengarannya sangat nyata seperti keluar dari dalam goa masuk ke telingan Hee Thian Siang.

Hee Thian Siang tahu bahwa kini ia sendiri sudah terkurung lagi di puncak gunung Kun-lun, pasti akan menghadapi banyak bahaya lagi. Maka ia juga tidak perlu menggunakan ilmu menyampaikan suara ke jarak jauh, karena itu berarti akan menghamburkan tenaga secara cuma-cuma. Maka juga berkata sambil menghadap ke goa kecil itu.

"Terima kasih atas kebaikanmu yang telah mengembalikan anakku. Tetapi Hee Thian Siang masih ingin tanya sedikit, Liok Giok Jie dan Cin Lok Pho sekarang berada dimana ?"

Ia berbicara ke arah goa, suaranya itu benar saja bisa sampai ke bawah gunung.

Siang Biauw Yan perdengarkan suaranya sambil tertawa : "Hee laote, kalau kau mau tahu, Liok Giok Jie dan Cin Lok Phi belum mencari sampai sini. Cuma baru kau seorang saja yang menjadi tamu agungku di puncak Kun-lun ini !"

Karena dari ucapan Siang Biauw Yan itu, Hee Thian Siang masih belum mendengar ada mengandung permusuhan, maka ia merasa semakin heran. Tanyanya pula :

"Sahabat she Siang. Kau ingin aku menjadi tamumu berapa lama diatas puncak ini ?"

Siang Biauw Yan perdengarkan suara tertawanya yang aneh beberapa kali, kemudian berkata dengan nada suaranya yang menyeramkan :

"Dahulu kau berdiam tiga belas hari lamanya di puncak gunung Kun-lun ini. Kali ini waktunya kau menjadi tamu, boleh kau putuskan sendiri kau ingin berapa lama. Tinggallah kau berapa lama pun kau suka disitu !"

Hee Thian Siang lalu menjawab :

"Aku mau segera turun dari sini !"

"Asal kau suka menjawab satu pertanyaan, aku akan segera naik sendiri ke atas untuk mengajak kau turun !"

Hee Thian Siang waktu itu diliputi oleh perasaan curiga, ia tidak tahu apa yang dikehendaki oleh pemimpin Kun lun pay ini, yang mengharuskan ia menjawab sendiri, maka lalu bertanya ia :

"Soal apa ? Kau sebutkan dulu, supaya aku bisa pertimbangkan !"

Siang Biauw Yan sedapat mungkin menggunakan nada suara lemah lembut untuk mennghindarkan jangan samapi menyinggung perasaan Hee Thian Siang. Katanya lambat- lambat sambil tertawa :

"Aku ingin tanya, bagaimana caranya menggunakan senjata peledak Kian-thian-pek-lek ?"

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, sangat terkejut, buru-buru tanyanya :

"Senjatakau Kian-thian-pek-lek, apa sudah berada dalam tanganmu ?"

"Khong khong taysu, Pao in Hui dan Gu Liong Goan, bersama saudara Bo Cu Keng, kini semua sudah menjadi anggota Kun-lun pay. Sekarang mereka malah telah menjabat kedudukan sebagai pelindung hukum partai Kun lun !"

"Ouw ! Kalau begitu, Kun lun pay yang sudah hampir pecah berantakan, kini ternyata sudah mulai hendak pentang sayap lagi ?'

Siang Biauw Yan perdengarkan suara tertawanya yang menunjukkan perasaan bangganya, selanjutnya berkata pula :

"Jikalau kau mau memberitahukan padaku cara menggunakan senjata Khian-thian-pek-lek itu, aku ada maksud hendak merebut kedudukan sebagai jago dengan pemimpin Ceng thian pay Kie Tay Cao !"

"Apa kau yakin aku akan memberitahukan padamu caranya menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek itu ?"

Bo Cu Keng yang sejak tadi diam saja, ketika mendengar ucapan itu lalu membuka suara :

"Hee Thian Siang, kalau kau seorang cerdik seharusnya kau mau menerangkan dengan terus terang bagaimana cara menggunakan senjata Kian thian Pek-lek itu. Sebab barang itu sudah berada ditanganku. Dan kau juga tentu tidak perlu mengorbankan dua jiwa untuk memegang terus rahasia penggunaan senjata itu !"

Hee Thian Siang sambil mengelus-elus bayinya, berkata sambil tertawa terbahak-bahak :

"Bo Cu Keng, kau anggap aku ini bisa saja kau tipu ? Jikalau aku lantas memberitahukan kepadamu caranya menggunakan senjata itu, bukankah akan membuat kalian tenang dan lebih cepat turun tangan kejam terhadapku ?"

Bo Cu Keng juga tahu Hee Thian Siang tidak percaya kepadanya, maka bersama-sama Siang Biauw Yan berunding sebentar, baru berkata lagi :

"Hee Thian Siang, kau tidak usah khawatir ! Beritahukanlah saja caranya menggunakan senjatanya itu, aku akan segera mengucapkan sumpah yang paling kuat untuk menjamin kau dan anakmu keluar dari sini dalam keadaan selamat !"

"Kalau kalian adalah seorang pendekar atau ksatria, sudah tentu janjinya sangat berharga. Tapi sumpah yang diucapkan oleh orang jahat dan pengecut seperti kalian ini, aku ragu sumpahnya toh akan bernilai nol besar !" kata Hee Thian Siang sambil tertawa besar.

"Hee Thian Siang !" seru Bo Cu Keng dalam gusarnya. "Apa kau tidak mau minum arak yang disediakan secara hormat dan ingin minum arak dengan secara paksa ?"

"Arak yang dipaksakan orang minum itu, sebenarnya bagaimana rasanya ? Aku justru ingin mencobanya ! Tetapi aku khawatir kalian tidak bisa berbuat apa-apa terhadaplu !"

Siang Biauw Yan sementara itu membentak dengan suara keras : "Hee Thian Siang, kau seorang diri di kurung di puncak gunung Kun-lun. Apakah kira tidak dapat menyulitkan kau ?"

Hee Thian Siang kembali tertawa bergelak-gelak, katanya : "Siang Biauw Yan, ilmu silatmu yang tidak berarti itu tidak

dapat kau gunakan untuk menggertak aku. Apalagi kau adalah

pecundangku, sekalipun Bo Cu Keng dengan ilmunya Cit khao chiu, aku juga pernah belajar kenal di dalam lembah May yu kok. Ternyata hanya begitu saja ! Maka kalau kalian naik ke atas puncak pasti akan kalah, tidak naik juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku !"

Siang Biauw Yan berkata dengan nada suara marah :

"Kita akan mengurung kau dalam waktu yang lama supaya kau mati kelaparan !"

"Dahulu aku bersama nona Tiong sun sudah pernah dikurung 13 hari diatas ini, apakah pernah mati kelaparan ? Akhirnya bahkan hampir saja kau sendiri yang akan menjadi setean kelaparan di puncak Kun lun ini !" berkata Hee Thian Siang.

Wajah Siang Biauw Yan menjadi merah, sementara itu Bo Cu Keng lantas berkata :

"Taruhlah kau dapat menahan lapar, tetapi bayimu juga akan mati kelaparan !"

Hee Thian Siang mengawasi perempuan muda yang duduk tidak jauh di depan goa, katanya sambil tertawa :

"Kalian orang-orang bodoh ini, benar-benar sedang mengoceh sendiri. Kalian juga tidak pikir disini ada babu tetek, bagaimana bayiku bisa kelaparan ?" Bo Cu Keng perdengarkan suara tertawanya yang seram berulang-ulang, lalu mengacukngkan tangannya dan melancarkan seragnan ke salah satu tempat dibawah puncak gunung yang terdapat pesawat rahasia.

Hee Thian Saing yang menyaksikan keadaan itu, tidak dapat menduga apa yang dilakukan Bo Cu Keng itu. Tiba-tiba dalam goa kecil itu terdengar suara nyaring dan tampak berkelebatnya senjata tajam.

Kini ia baru menyadari bahwa di dalam goa itu bukan saja dilengkapi dengan alat untuk menyampaikan suara dari bawah, tetapi juga telah diperlengkapi dengan pesawat rahasia. Tetapi sayang ia sudah tidak keburu memberi pertolongan. Maka bersamaan dengan berkelebatnya senjata tajam itu lalu disusul oleh suara jeritan yang mengerikan, perempuan yang mengasuh bayi itu sudah terkena serangan golok terbang yang ada racunnya hingga saat itu lantas melayang satu nyawa yang tak bersalah dosa.

Begitu perempuan pengasuh bayi itu mati, Hee Thian Siang hatinya berdebaran, darahnya bergolak. Dengan sangat marah ia berkata :

"Siang Biauw Yan ! Bo Cu Keng ! Kalian mempunyai kepandaian apa ? Boleh kalian gunakan terhadap aku Hee Thian Siang dan anaknya, untuk apa membinasakan seorang perempuan yang tidak bersalah dosa ?"

Bo Cu Keng nampak bangga, kembali perdengarkan suara tertawanya dan katanya :

"Sekarang perempuan itu sudah mati dan untuk bayimu tidak ada air susu yang bisa diminum. Paling lama tiga hari pasti dia akan mati kelaparan. Sekarang kami persilahkan kau pikir baik-baik selama satu malam. Besok kami datang lagi kemari. Ingat jiwamu dan jiwa anakmu sebagai barang taruhan. Kalau menurut aku, tidak perlu lagi kau berkukuh mempertahankan rahasia senjata peledak Kian thian pek lek itu !"

Sehabis berkata demikian, benar-benar saja sudah menghilang bersama-sama Siang Biauw Yan.

Dua iblis itu begitu berlalu, rasa pilu lalu timbul dalam hati Hee Thian Siang. ia tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Sebab bayi dalam pelukannya itu, kini telah menangis.

Jelas waktu itu sudah ingin menetek lagi.

Sambil mendiamkan bayinya, Hee Thian Siang mengawasi babu susu yang sudah mati secara mengenaskan, berkata kepada Siaopek :

"Siaopek, dulu sewaktu aku bersama enci Kheng terkurung ditempat ini adalah kau bersama Taywong yang mencarikan makanan untuk kami. Tapi keadaan sekarang adalah lain, sekarang sudah tambah seorang bayi yang memerlukan air tetek. Bagaimana kita harus berbuat ?"

Siaopek menggaruk-garuk kepalanya, berpikir dahulu kemudian berkata dengan suaranya yang masih gelagapan :

"Aku..... aku......... ada............akal "

Hee Thian Siang yang mendengar ucapan itu, dalam hati merasa girang. Buru-buru berkata sambil tertawa :

"Siaopek, kalau kau benar ada akal, mengapa tidak lekas pergi ?"

Siaopek lantas bergerak, sebentar sudah menghilang dari depan mata Hee Thian Siang. Arah yang dituju ialah tebing tinggi disudut lain puncak gunung Kun-lun itu. Dengan menggunakan kelincahan yang diwarisi oleh alam, ia telah turun dari tempat yang tinggi menjulan ke langit itu dengan kaki dan tangannya.

Hee Thian Siang seorang diri berdiam dipuncak gunung sambil menggendong anaknya. Dalam diamnya memikirkan bagaimana harus menghadapi Siang Biauw Yan, Bo Cu Keng dan anak buahnya yang sudah menggunakan bayinya sendiri untuk memancin ia datang kemari, sebetulnya ada mengandung maksud apa.

Dipikirnya bolak balik, akhirnya dapat menemukan jawabannya ialah orang-orang jahat itu tentunya hendak menggunakan senjata peledak Kian-thian pek leknya yang sangat ampuh, yang kini tidak tahu bagaimana menggunakannya, henda minta keterangan padanya supaya dapat digunakan untuk membasmi musuh-musuhnya kemudian menjagoi rimba persilatan.

Setelah ia dapat menduga maksud dan tujuan Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng, diam-diam merasa bergidik. Ia telah mengambil keputusan lebih baik mengorbankan segala apa, asal jagan membuka rahasia senjata ampuh perguruannya karena jiga ia berbuat demikian berarti pula ia telah membantu manusia-manusia jahat itu.

Sementara itu, sang bayi menangis tidak berhenti sedangkan Siaopek yang sudah pergi belum juga kembali. Hee Thian Siang terpaksa dengan menggunakan obat pelnya yang manjur, dihancurkannya, lalu perlahan-lahan dimasukkan ke dalam mulut bayinya.

Pel itu adalah buatan Say-ha-kong yang mendapat julukan tabib dewa pada dewasa itu. Di dalamnya ada tercampur getah pohon Leng cie pemberian It-pun Sin-ceng. Sudah tentu sangat manjur sekali. Bayi itu setelah diberikan makan sedikit, lantas tidur dengan nyenyaknya. Hee Thian Siang yang menyaksikan keadaan itu, dalam hati merasa agak lega. Tetapi pel manjur itu tidak banyak jumlahnya, hingga ia masih merasa gelisah. Bila Siaopek tidak berhasil menemukan air tetek, bagaimana harus melewati hari-hari yang panjang itu.

Dalam keadaan bingung seperti itu, tampaklah bayangan putih yang ternyata Siaopek sendiri yang sudah kembali. Monyet kecil itu ditangan kanannya membawa barang-barang makanan seperti buah-buahan yang tidak sedikit jumlahnya, sedangkan di depan dadanya ada menggantung sebuah kantong kulit.

Kantong kulit itu segera diambil dan dibuka oleh Hee Thian Siang. Tampak di dalam kantong ada susunya. Maka ia menjadi girang dan sambil menepuk pundak Siaopek, ia bertanya :

"Siaopek, ini air susu dari mana ?"

Siaopek menggunakan tangannya, diulurkan ke kanan dan ke kiri untuk memberi gambaran. Hee Thian Siang baru tahu bahwa susu dalam kantongan itu ternyata adalah air susu rusa sehingga ia teringat kembali kepada Liok Giok Jie yang dahulu juga hidup dari susu rusa sewaktu dibuang dibawah kaki gunung Kun-lun ini, kemudian dibawa kembali dan dipelihara oleh Tei ... Cu. Tak disangka-sangkanya bahwa bayi yang dilahirkan olehnya itu, juga terpaksa menggunakan air susu binatang rusa untuk menyambung nyawanya.

Susu untuk si bayi sekarang telah ada.

Ditambah dengan adanya Siaopek yang cerdik, yang dapat naik turun di tempat setinggi itu dengan leluasa, Hee Thian Siang jadi merasa agak lega. Tak apalah berdiam lebih lama juga dipuncak gunung Kun-lun ini, untuk mengulur waktu seberapa dapat. Malam itu dilewati dengan tenang. Esoknya pagi sekali Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng berdua sudah muncul di bawah puncak dan bertanya apakah Hee Thian Siang sudah bersedia atau belum buat memberitahukan cara menggunakan senjata peledak Kian-thian pek-lek. 

Hee Thian Siang dari atas menjawab sambil tertawa dingin

:

"Kalian tidak perlu banyak bicara ! Asal kalian dapat

menghidupkan kembali perempuan pengasuh bayi yang tidak berdosa itu, aku akan segera menerangkan bagaimana caranya menggunakan Kian thian pek lek !"

Bo Cu Keng benar-benar tidak percaya bahwa Hee Thian Siang mempunyai kekerasan hati demikian rupa, maka berkata dengan suara bengis :

"Hee Thian Siang ! Kalau kau benar-benar tidka mau menerangkan caranya menggunakan Kian thian pek lek, aku nanti akan segera turun tangan kejam terhadap bayimu !"

Hee Thian Siang tahu bahwa dua manusia jahat itu sudah mempersiapkan banyak pesawat-pesawat rahasia yang sangat lihai. Bila mereka benar-benar menggerakkan salah satu pesawatnya, meskipun ia sendiri boleh tidak usah takut tetapi kalau agak lalai salah-salah akan membayakan bayinya 1 Maka cepat dicarinya akal. Ia lalu mengangkat tinggi bayinya dan berkata kepada Bo Cu Keng sambil tertawa terbahak- bahak :

"Bo Cu Keng ! Kau jangan kira bahwa dengan akalmu yang keji dapat mengganggu bayi ini. Heh heh ! Kau tak mungkin dapat menggertak dan memaksa aku Hee Thian Siang menceritakan cara menggunakan senjata Kian thian pek-lek ! Kau harus tahu bahwa Hee Thian Siang adalah seorang laki- laki berhati baja. Tidak mungkin mau memberatkan bayinya !" Sehabis berkata demikian, bayinya itu lantas dilemparkannya tinggi ke belakang beberapa tombak kemudian berdiri sambil bertolak pinggang, setelah mana ia tertawa terbahak-bahak !

Bo Cu Keng dan Siang Biauw Yan sama sekali tidak menyangka Hee Thian Siang akan melemparkan anaknya sendiri. Siang Biauw Yan lalu berkata sambil menggertak gigi :

"Setan cilik itu sungguh keras kepala ! Biarlah kusundut sumbu bahan peledaknya supaya ia lekas mati !"

Setelah mana, ia benar-benar telah menyundut sumbu bahan peledak yagn diletakkan di dalam sebuah goa kecil, tapi buru-buru dipadamkan lagi oleh Bo Cu Keng.

"Saudara Siang," katanya. "Jikalau kau membinasakan setan kecil ini, siapa lagi yang bisa memberitahukan kepada kita caranya menggunakan senjata Kian thian pek lek ini ? Apabila kita tidak memiliki senjata ampuh ini, bagaimana pada tahun depan kita bisa membasmi semua tokoh rimba persilatan yang akan bertemu di puncak gunung Tay pek hong

?"

"Hee Thian Siang sudah tega membunuh anaknya sendiri. Kita masih ada akal apa untuk paksa menceritakan cara menggunakan senjatanya ?" kata Siang Biauw Yan sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.

"Saudara Siang jangan cepat putus asa dulu. Hee Thian Siang juga adalah manusia biasa seperti kita. Dan setiap manusia pasti ada mempunyai kelemahannya sendiri-sendiri. Jikalau kita bisa mencari sifat kelemahannya itu, pasti kita dapat menundukkan dia !" kata Bo Cu Keng.

Siang Biauw Yan anggap bahwa ucapan Bo Cu Keng itu cukup masuk diakal, sedangan Hee Thian Siang waktu itu ia tahu berada di puncak gunung Kun lun, tentunya tidak melarikan diri. Jadi untuk sementara masih bisa kiranya akal itu. Maka ia batalkan maksudnya hendak membakar bahan peledak.

Begitu dua manusia jahat itu undurkan diri, Hee Thian Siang yang seorang diri berada di puncak gunung Kun lun, dalam hatinya kembali merasa kesepian.

Ia sedikitpun tidak tahu bahwa di bawah kakinya banyak terdapat bahan peeldak yang setiap waktu bisa saja menghancurkan tubuhnya.

Ia hanya merasa bahwa ia sendiri, anaknya dan monyetnya Siaopek dikurung di puncak gunung Kun lun yang sepi sunyi itu selama jangka waktu yang sangat panjang. Rasanya tidak menyenangkan sekali.

Kiranya, Hee Thian Siang sebelum melempar bayinya tadi lebih dahulu sudah memerintahkan Siaopek menggelar jaring wasiatnya, disuruh menantikan di belakang dirinya. Maka begitu bayi itu jatuh ke dalam jaring, sudah tentu tidak mendapat luaka sedikit pun juga. Dengan demikian untuk sementara ia dapat membatalkan maksud Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng yang hendak mencelakakan anaknya untuk paksa ia menerangkan caranya menggunakan Kian thian pek lek.

Kini dengan mengandalkan SIaopek dengan kepandaiannya yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa, yang diam-diam bisa naik dan turun dari tempat demikian tinggi untuk ditugaskan mencari makanan dan minuman bagi dirinya sendiri dan air susu rusa untuk bayinya, hingga selama itu dapat bertahan dari kelaparan sambil menantikan kesempatan baik. Tetapi lama kelamaan, apabila hal itu diketahui oleh musuh-musuhnya itu lalu menyerang Siaopek sehingga putus jalannya untuk naik turun, bukankah semuanya akan mati kelaparan diatas gunung ? Beberapa hari telah berlalu, Bo Cu Keng ternyata masih belum berhasil menemukan sifat kelemahan Hee Thian Siang. Sementara itu Hee Thian Siang sendiri juga setiap hari memikirkan cara-caranya untuk meloloskan diri.

Di bawah puncak gunung Kun-lun, tampak kuda Ceng hong kie lari laksana terbang. Dari atas kuda itu lompat turun sepasang gadis cantik yang bukan lain dari pada Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat.

Tiong sun Hui Kheng memerintahkan Ceng hong kie menunggu dibawah gunung, sedang ia sendiri bersama Hwa Jie Swat mendaki ke gunung, tiba di luar istana kun lun kiong.

Waktu itu, Siang Biauw Yan dan Bo Cu Keng telah mendapat laporan juga. Bo Cu Keng dapat tahu bahwa Tiong sun Hui Kheng dan Hee Thian Siang adalah sepasang kekasih yang sedang mencinta. Maka ia menjadi sangat girang, katanya :

"Mungkin kelemahan Hee Thian Siang itu terletak disini. Asal kita dapat menguasai Tiong sun Hui Kheng, pasti dapat memaksa ia menerangkan rahasianya Kian thian pek lek !"

"Kalau begitu, kita lebih dulu harus sambut secara baik dan persilahkan mereka masuk ke dalam Kun lun kiong. Barulah kita bertindak dengan melihat gelagat !" kata Siang Biauw Yan sambil tertawa.

"Akan kusambut sendiri kedatangan mereka, hanya anak murid kita jangan sampai kesalahan dalam melakukan percakapan dengan mereka !" kata Bo Cu Keng sambil tertawa.

Sehabis berkata, ia berjalan keluar dari dalam istana. Tepat saat itu, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat juga sudah datang menghampiri. Bo Cu Keng yang sudha berdiam lama didalam istana kesepian, perempuan-perempuan yang pernah dijumpainya, sudah satu adalah Liok Giok Jie yang paling cantik dalam matanya. Tetapi kini setelah berhadapan dengan dua gadis cantik bagaikan bidadari itu, baik paras mereka, maupun segala seginya, semua masih lebih cantik kalau dibandingkan Liok Giok Jie. Bagaimana kalau ia tidak merasa terheran- heran. Diam-diam ia juga mengagumi dua gadis yang kecantikannya jarang ada di dalam dunia ini.

Bo Cu Keng hari itu mengenakan pakaian imam, setelah memberi hormat secara imam, berkata sambil tersenyum :

"Lie siecu berdua, bagaimana sebutan kalian yang mulia ? Ada keperluan apa Lie siecu berdua berkunjung ke Kun-lun ini

?"

Hwa Jie Swat yang memiliki pandangan mata sangat tajam, begitu melihat segera mengetahui bahwa imam berjubah hijau yang berada di hadapannya ini sebenarnya ada memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi, namun sifatnya sangat kejam sekali.

Oleh karena sudah mengetahui kekejaman imam itu, maka diam-diam Hwa Jie Swat sudah siap siaga. Jawabnya sambil tersenyum :

"Aku yang rendah Hwa Jie Swat dan ini adalah sumoay ku Tiong sun Hui Kheng. Bolehkan kami menanyakan nama Totiang yang mulia ?"

Bo Cu Keng tahu tidak perlu menyembunyikan namanya, maka lalu menjawab sambil tersenyum :

"Pinto Bo Cu Keng. Dahulu mempunyai nama julukan yang tidak enak kedengarannya. Julukan itu ialah Ngo-tek-hui-sie !" Nama Bo Cu Keng benar-benar telah mengejutkan Hwa Jie Swat dan Tiong sun Hui Kheng sehingga mereka pada mundur setengah langkah. Tiong sun Hui Kheng mengawasi Bo Cu Keng dari atas sampai ke bawah, lalu tanyanya :

"Bukankah Bo totian masih mempunyai nama julukan yang waktu belakangan ini. Kalau tidak salah biasa dipanggil May yu Kiesu ?"

Bo Cu Keng tertawa terkekeh-kekeh, Ia menganggukkan kepala berulang-ulang dan katanya :

"Benar-benar ! Ngo to kui sie Bo Cu Keng ialah aku. May yu Kiesu juga aku sendiri. Dan sekarang yang menjadi pimpinan Kun lun pay juga aku !"

"Jadi kau adalah pemimpin partai Kun lun pay sekarang ?" bertanya Tiong sun Hui Kheng.

"Nona Tiong sun jangan heran. Partai Kun lun sekarang ada mempunyai dua pemimpin. Disamping aku masih ada yang lain. Dia itu adalah kenalanmu yang lama. Tahukah kau siapakah dia ?'

Tiong sun Hui Kheng mengerutkan alisnya, sejenak memikir lalu katanya :

"Bukankah pemimpin yang satunya lagi selain totiang Siang Biauw Yan adanya ?"

"Nona Tiong sun ternyata adalah seorang yang pintar. Dugaanmu ini sedikitpun tidak salah !" Jawab Bo Cu keng sambil menunjukkan jempolnya dan tertawa.

Hwa Jie Swat yang berdiri disamping lalu bertanya :

"Bo Ciangbunjin, aku masih ingin menanyakan kepadamu satu hal !" Bo Cu Keng sambil mempersilahkan kedua tamunya itu masuk kedalam, menjawab sambil tersenyum :

"Hwa siecu, kalau ingin tanya apa-apa silahkan saja !" "Bayi yang dilahirkan oleh puteri istana kesepian Liok Giok

Jie, apakah dibawa Siang ciangbunjin kemari ?"

Bo Cu Keng ternyata sama sekali tidak menyangkal. Ia mengakui dengan terus terang, katanya sambil menganggukkan kepala :

"Dugaan Hwa siecu juga tidak salah. Bayi Liok Giok Jie memang dibawa kemari oleh Siang ciangbunjin untuk dirawat dan dibesarkan disini !"

Hwa Jie Swat juga Tiong sun Hui Kheng sama-sama tidak menduga bahwa Bo Cu Keng ternyata mau mengakui secara terus terang hingga mereka saling berpandangan sejenak. Lalu mengikuti Bo Cu Keng masuk ke dalam ruangan tamu istana Kun kun kiong.

Tiong sun Hui Kheng yang memikirkan keselamatan Hee Thian Siang, baru saja imam kecil menyuguhkan teh, ia sudah bertanya kepada Bo Cu Keng :

"Bo Ciangbunjin, bolehkah aku numpang bertanya. Ayah dari bayi itu ialah Hee Thian Siang, pernahkah datang kemari

?"

Bo Cu Keng masih tetap tidak menyembunyikan sesuatu, jawabnya sambil menganggukkan kepala dan tertawa :

"Hee siecu sekarang ini justru sedang berada di puncak Kun lun !"

Mendengar jawaban yang terus terang itu, Tiong sun Hui Kheng diam-diam terkejut, tanyanya pula : "Dia. " "Nona Tiong sun jangan khawatir, Hee Thian Siang siecu kini dalam keadaan selamat tidak kurang suatu apa. Hanya orangnya saja berada di puncak kun lun, untuk sementara tidak bisa turun ke bawah !" menerangkan Bo Cu Keng.

Sepasang alis Hwa Jie Swat tampak berdiri. Ia bertanya dengan nada suara dingin sambil menatap wajah Bo Cu Keng

:

"Bo Ciangbunjin, kalian sudah mengurung Hee Thian Siang dan anaknya di puncak Kun lun. Sebetulnya apa maksudmu ?"

Bo Cu Keng memang sudah tahu bahwa dua gadis cantik jelita ini, semuanya memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Maka itu, meskipun telah melihat Hwa Jie Swat seperti maksud menantang, tetapi ia tidak menghiraukan. Masih ia dengan sikapnya yang ramah tamah, menjawab sambil tersenyum :

"Terhadap Hee Thian Siang dan anaknya, Kun lun sedikitpun tidak mengandung maksud jaha. Aku hanya inginkan dari mulut Hee siecu sendiri mendapat keterangan mengenai suatu rahasia. Kalau Hee Thian Siang mau membuka rahasia, aku akan segera naik ke puncak Kun lun untuk menyambut dia dan anaknya kemari !"

Tiong sun Hui Kheng berkata sambil menggelengkan kepala :

"Perbuatan kalian ini keliru ! Hee Thian Siang cuma dapat diminta secara lemah lembut, tidak boleh dengan cara kekerasan. Dia adalah seorang yang tidak goyah imannya sekalipun dalam penderitaan. Juga tidak pernah tertarik oleh segala kesenangan. Apalagi segala kelakuan dan tindakan yang keras, tidak akan membuat dia bertekuk lutu. Karena dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa ksatria, berjiwa besar !" Bo Cu Keng hanya memperlihatkan senyumnya yang mengandung arti mendengar ucapan Tiong sun Hui Kheng itu. Katanya :

"Ucapan nona Tiong sun ini benar. Kami sudah menggunakan berbagai cara, Hee siecu masih tetap tidak mau menyerah. Tapi bila maksud Kun lun pay tidak tercapai dan sudah hilang kesabaran kami, terpaksa kami akan menggunakan tindakan terakhir yang paling kejam, supaya ayah dan anak hancur lebur di puncak gunung. Dan saja nona Tiong sun juga menderita bathin selamanya !"

Sepasang alis Tiong sun Hui Kheng berdiri. Katanya :

"Aku tidak percaya kalian ada mempunyai senjata yang dapat membinasakan Hee Thian Siang !"

"Di atas puncak Kun lun sudah dipendam 18 buah bahan peledak. Sumbunya untuk menyalakan bahan-bahan peledak itu diletakkan dibawah sini. Asal aku menyulut dengan api, Hee siecu dan anaknya pasti akan hancur, lebur tulang- tulangnya menjadi abu !" kaat Bo Cu Keng sambil tertawa mengejek.

Tiong sun Hui Kheng yang mendengar ucapan itu diam- diam juga bergidik.

Bo Cu Keng rupanya begitu bangga sekali, terdengar suara tertawanya dan katanya :

"Kalau Lie siecu berdua tidak percaya, aku bersedia mengantar kalian berdua pergi ke bawah puncak Kun lun untuk menyaksikan sendiri keadaan mereka !"

Hwa Jie Swat yang sejak tadi memperhatikan kata-kata dan menyaksikan sikap Bo Cu Keng, tahu bahwa ucapannya itu bukan merupakan gertak sambal belaka. Maka ia lalu bertanya sambil mengerutkan alisnya. "Rahasia apa sebenarnya yang hendak diketahui oleh kalian orang-orang Kun lun dari padanya ?'

"Rahasia itu sebetulnya audah tidak ada keuntungannya dengan Hee siecu sendiri. Dia sebenarnya boleh menerangkan dengan terus terang !" kata Bo Cu Keng sambil tertawa.

"Bo ciangbunjin, kalau bicara jangan setengah-setengah. Apa sebetulnya yang Ciangbunjin ingin tahu itu ?" tanya Tiong sun Hui Kheng.

"Bukankah Hee siecu pernah kehilangan sebuah benda wasiat golongan Pak-bin dilembah kematian di gunung COng lam ?" berkata Bo Cu Keng sambil tertawa.

"Dia memang memiliki sebuah senjata peledak Kian thian pek lek yang terjatuh di tangan orang jahat dari Cong lam !" menjawab Tiong sun Hui Kheng sambil menganggukkan kepala.

"Yang kami ingin ketahui ialah cara menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek itu !" Bo Cu Keng lalu tertawa.

Tiong sun Hui Kheng sebagai seorang yang sangat pintar, setelah dipikirnya sejenak, kembali bertanya :

"Khong khong Hweshio, Pao It Hui dan Gu Long Goan tiga orang jahat dari Cong lam itu, apakah juga ada di gunung Kun-lun ini ?"

"Mereka bertiga sudah kuangkat sebagai pelindung hukum partai Kun lun !" jawab Bo Cu Keng sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

Hwa Jie Swat memperdengarkan suara tertawa dingin. Dengan sinar mata tajam menatap Bo Cu Keng, lalu tanyanya

: "Kun lun pay rupanya kini sedang hendak mulai membentang pengaruhnya lagi. Kalian ingin mengetahu rahasia cara menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek

? Apakah kalian hendak menggunakan senjata sangat ampun yang dapat digunakan menggempur gunung ini untuk menyingkir semua musuh kalian dan kemudian menjagoi rimba persilatan ?"

"Jikalau bukan hendak menguasai rimba persilatan, perlu apa kami berusaha begitu susah payah, mengurung Hee Thian Siang dan anaknya di puncak Kun lun ?" kata Bo Cu Keng sambil tertawa terbahak-bahak.

Bo Cu Keng melihat perkembangan. Mereka agaknya akan masuh perangkap. Dengan bangga lalu mengulurkan tangannya menunjuk ke kamar sebelah kirinya, sambil tertawa berkata :

"Siang Ciangbunjin sekarang ini sedang berunding dengan Hee Thian Siang. Siang ciangbunjin minta siecu berdua tunggu dulu di kamar itu. Bukalah jendela yang menghadap ke utara. Dari situ kalian nanti dapat melihatnya dengan jelas !"

Hwa Jie Swat baru untuk pertama kali datang ke Kun lun san. Jadi dia tidak mengenal keadaan disitu. Tidak demikian dengan Tiong sun Hui Kheng. Gadis yang disebut belakangan ini dahulu pernah berkunjung sekali ke gunung Kun lun ini. Tetapi oleh karena terlalu memikirkan keselamatan Hee Thian Siang, ia sampai lupa bahwa puncak gunung Kun lun itu sebenarnya masih terpisah jauh dari situ, tidak mungkin dapat dilihat dari jendela istana Kun lun kiong sehingga ia tidak memperhatikan bahwa ucapan Bo Cu Keng itu ada bagian yang tidak benar.

Baru saja dua orang itu masuk ke dalam kamar yang ditunjuk, Bo Cu Keng diam-diam undurkan diri dan menggerakkan pesawat rahasianya hingga pintu kamar tersebut mendadak tertutup oleh dinding berlapis besi ! Tiong sun Hui Kheng marah. Masih pikir hendak mencari jalan keluar. Tetapi Hwa Jie Swat lantas mencegahnya, katanya sambil menggoyangkan tangan :

"Adik Kheng tidak perlu mencari lagi. Adalah salah kita yang berlaku kurang hati-hati. Mungkin juga sudah seharusnya kita terjatuh ke dalam jebakan musuh. Di sekitar kamar ini semuanya dibuat dari dinding besi. Mana mungkin ada jalan keluarnya ?"

Tiong sun Hui Kheng sekali lagi mencoba. Benar seperti apa yang diucapkan oleh Hwa Jie Swat. Dinding-dinding yang seperti ditempel oleh kertas, ternyata juga terbuat dari pada besi tebal. Sudah tentu tidak dapat digempur dengan kekuatan tenaga manusia.

Hwa Jie Swat memberikan Tiong sun Hui Kheng dua butir obat pel. Suruh ia masukkan ke dalam hidungnya untuk menjaga musuh menggunakan obat bius membokong mereka.

Sesaat kemudian, di dalam kamar itu benar-benar terendus bau-bauan yang aneh. Hwa Jie Swat terus berkata sambil tertawa dingin :

"Bo Cu Keng, kau sebagai ketua dari satu partai besar. Mana boleh melakukan perbuatan yang demikian memalukan

? Kau juga rupaya tidak pikir lebih dulu, senjata obat bius yang biasa digunakan oleh bangsa-bangsa rendah ini, bisa berbuat apa terhadap kami ?"

Bo Cu Keng yang dikatakan demikian oleh Hwa Jie Swat, wajahnya menjadi merah. Dari lobang suara diluar yang bisa digunakan untuk bicara, ia berkata dalam :

"Hwa Jie Swat, ketahuilah olehmu ! Obat bius yang kugunakan ini dapat digunakan terus menerus tanpa berhenti. Kalau kalian hari ini dapat bertahan, kukira juga tidak sanggup bertahan sampai dua hari. Dapat bertahan dua hari, juga tidak mungkin sanggup menangkis sampai lima hari. Pokoknya asal ada sedikit saja yang masuk ke dalam hidung, hati dan pikiran kalian segera akan menjadi bingung. Sekujur tubuh merasa lemas. Nanti aku akan mencari dua anak buah Kun lun pay untuk mendobrak gerbang kesucian kalian berdua !"

Ucapan itu sesungguhnya sangat kotor dan amat memalukan. Bagi Tiong sun Hui Kheng yang mendengarkan merasa jijik, sedangkan Hwa Jie Swat yang sudah lama berkelana di dunia Kang ouw dan banyak pengalaman, juga mengerutkan alisnya, tidak berdaya apa-apa menghadapi keadaan itu.

Bo Cu Keng yang menunggu lama tidak mendapat jawaban dari dalam kamar. Tahu bahwa perang urat syaraf yang digunakan olehnya udah berhasil mempengaruhi dua gadis itu. Maka ia kembali berkata sambil memperdengarkan suara tertawa dinginnya :

"Hwa Jie Swat, Tiong sun Hui Kheng. Jikalau kalian hendak mempertahankan kesucian kalian berdua, bertindak sajalah kalian menurut perintah kami !"

Lama Hwa Jie Swat berpikir. Ia merasa bahwa satu- satunya jalan pada saat itu ialah mengulur waktu. Kalau mereka bisa mengulur waktu sampai pada kedatangan It-pun Sin-ceng bersama Taywong, mungkin masih ada harapan untuk meloloskan diri.

Setelah mengambil keputusan demikian, maka ia lalu bertanya kepada Bo Cu Keng :

"Bo Cu Keng, apakah kau pikir hendak memperalat kami berdua ?'

"Aku cuma mau minta kalian menulis surat. Terangkan dalam suratmu keadaanmu sekaran ini. Kalau bisa sekalian nasehatkan supaya Hee Thian Siang mau lekas menerangkan rahasianya menggunakan senjata Kian thian pek lek !" kata Bo Cu Keng sambil tertawa.

Hwa Jie Swat tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata :

"Bo Cu Keng, caramu ini tidak kena ! Sebab Hee Thian Siang sama sekali tidak mengenali tulisanku. Lagi pula hanya dengan sepucuk surat saja, mana mau ia percaya kalau kita benar-benar terkurung disini ?"

Bo Cu Keng jadi berdiam begitu mendengar udapan itu. Sementara Hwa Jie Swat sudah berkata pula sambil tertawa :

"Jikalau kau suka menjamin keselamatan Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan bayi yang dilahirkan oleh Liok Giok Jie atau dengan kata lain, jiwa empat orang hendak ditukar dengan rahasia penggunaan senjata peledak kian thian pek lek, aku bisa bantu memikirkan suatu cara yang baik untukmu

!"

"Coba kau katakanlah cara itu. Aku dengan kalian memang sebelumnya tidak ada permusuhan apa-apa. Juga tiada maksud kami untuk mencelakakan diri kalian. Sudah tentu saja mempergunakan cara barter serupa itu."

"Caraku ini kukira bagus sekali buat kau." kata Hwa Jie Swat. "Kau biarkanlah aku sendiri di dalam kamar rahasi ini. Hitung-hitung sebagai orang tanggungan. Tiong sun Hui Kheng pergi sendiri ke puncak Kun lun. Biar dia berusaha membujuk Hee Thian Siang supaya mau menerangkan cara menggunakan senjata Kian tian pek lek nya !"

Bo Cu Keng segera menemui Siang Biauw Yan yang sedang sembunyikan diri di satu tempat rahasia. Disana mereka lantas mengadakan perundingan. Lama juga mereka berunding, baru anggap bahwa akal yang diusulkan oleh Hwa Jie Swat itu memang boleh juga dicoba. Siang Biauw Yan lalu berkata kepada Bo Cu Keng dengan suara perlahan :

"Saudara Bo boleh saja terima usul mereka. Tetapi tentu saja tidak begitu gampang seperti yang mereka pikir. Setelah Hee Thian Siang menerangkan cara menggunakannya, kita boleh saja segera gerakkan pesawat rahasia kita, hancurkan mereka semua ! ha ha ha. "

Bo Cu Keng mengangguk sambil ikut tertawa. Lekas-lekas menemui lagi Hwa Jie Swat, lalu berkata kepadanya :

"Aku setuju sekali dengan usulmu tadi. Kau suruhlah nona Tiong sun Hui Kheng duduk disebuah kursi di sebelah kiri meja teh !"

Hwa Jie Swat tahu benar bahwa sebelum Hee Thian Siang menerangkan rahasia menggunakan senjata Kian thian pek lek, orang-orang jahat dari Kun lun pay itu tidak mungkin akan berani bertindak. Maka tanpa curiga sedikitpun segera menyuruh Tiong sun Hui Kheng duduk di kursi seperti apa yang diminta oleh Bo Cu Keng tadi sambil berpesan dengan suara perlahan :

"Adik Kheng, kau pergilah ke puncak gunung Kun lun. Suruh Hee Thian Siang ulur waktu sedapat mungkin. Di sana kau boleh perintahkan Siaopek pergi ke bawah kaki gunung Kun lun agar Siaopek tunggu kedatangan It-pun taysu supaya bisa dikabarkan keadaan kita disini dan supaya ia bisa bantu menolong kita !"

Baru ia berkata sampai disitu, kursi yagn diduduki oleh Tiong sun Hui Kheng mendadak bergerak, terdengar suara keresekan, lalu sesaat kemudian Tiong sun Hui Kheng bersama-sama kursinya mendadak hilagn !

Tiong sun Hui Kheng bersama kursi yang didudukinya, saat itu tengah meluncur ke dalam sebuah terowongan rahasian dan sebentar kemudian sudah berada di dalam goa di belakang istana Kun lun kiong.

Bo Cu Keng agaknya sudah menunggu lama di mulut goa. Bersama Tiong sun Hui Kheng lalu berjalan menuju ke puncak Kun lun.

"Nona Tiong sun," kata Bo Cu Keng tiba-tiba. "Kau sendiri sajalah yang naik ke sana. Kau boleh bujuk Hee Thian Siang. Tidak perlu kau menguatirkan apa-apa. Sebab kau harus tahu asal kau coba bertindak sedikit saja, Hee Thian Siang yang berada di puncak dan Hwa Jie Swat yang berada di dalam kamar rahasia akan mengalami siksaan apa."

Tiong sun Hui Kheng tertawa dingin. Belum ia menjawab, sudah tiba dibawah kaki puncak Kun lun.

Bo Cu Keng menunjuk ke arah tebing gunung, di bawah puncak Kun lun. Tiong sun Hui Kheng segera menuju ke tempat yang ditunjuk. Sesampainya Tiong sun Hui Kheng, Bo Cu Keng tampak menekan sebuah pesawat rahasia. Dinding di depan Tiong sun Hui Kheng segera terbuka sebuah lubang berbentu bundar.

Tiong sun Hui Kheng yang menyaksikan keadaan demikian lalu bertanya :

"Bo ciangbunjin, apa maksudmu hendak menyuruh aku naik ke puncak dengan mengambil jalan di dalam goa ini ?"

Bo Cu Keng tampak mengangguk dan berkata sambil tertawa :

"Batu buatan alam ini, pada waktu paling belakang ini baru kita tembus dan ditambah dengan usaha yang tidak sedikit. Nona Tiong sun tidak udah kuatir. Masuklah saja. Aku tanggung akan dapat mengantar kau ke tempat tujuanmu dengan cepat, untuk menjumpai Hee Thian Siang !" Toong sun Hui Heng yang mendengarkan itu, tidak ragu- ragu lagi. Lalu lompat masuk ke dalam mulut goa itu, sedangkan Bo Cu Keng juga segera menutup pintu goa.

Jalanan dalam goa itu sempit dan panjang serta berliku- liku, arahnya naik ke atas.

Tiong sun Hui Kheng harus berjalan dengan meraba-raba di dalam goa yang gelap itu. Dengan sendirinya jadi tidak bisa terlalu cepat. Kira-kira satu jam, tibalah ia di suatu tempat yang terhalang oleh tembok batu yang membuat ia tidak bisa maju lagi.

Sementara itu terdengar suara Bo Cu Keng yang samar- samar.

"Nona Tiong sun, aku sekarang hendak membuka dinding batu yang menghalang di depanmu itu supaya kau bisa keluar dari dalam goa. Pergunakanlah waktu yang hanya sekejap saja itu. Kau harus dapat menguasai waktu yang amat singkat itu, jangan sampai salah !"

Baru habis menutup mulut, benar saja ditembok depan Tiong sun Hui Kheng lalu tampak sedikit sinar terang. Kemudain perlahan-lahan terbuka sebuah lubang kecil. Tiong sun Hui Kheng tahu bahwa ia cuma diberi tempo yang sangat minim, maka buru-buru ia melesat keluar dari lubang batu yang kecil itu.

Tiba diluar, tembok batu itu mendadak tertutup lagi. Kini ia telah dapatkan dirinya benar-benar berada di puncak Kun lun.

Pada waktu itu, Hee Thian Siang sedang menidurkan anaknya. Melihat Tiong sun Hui Kheng mendadak berdiri didepannya seolah-olah melayang turun dari langit, disamping terkejut juga merasa girang. Tanyanya keheranan : "Enci Kheng, dengan cara bagaimana kau bisa keluar dari situ ? Kalau memang ada jalan rahasia ini, bukankah kita bisa segera meloloskan diri ?"

"Aku diantar oleh Ngo-tok-kui-sie Bo Cu Keng melalui jalan rahasi ini sampai disini. Keadaanku sam denganmu, yang berarti bisa datang tetapi tidak bisa kembali !"

Sambil bicara, ia ambil bayi dari gendongan Hee Thian Siang, dipandanginya sepuas-puasnya, hatinya merasa pilu. Katanya sambil mengucurkan air mata :

"Mirip sekali dengan Liok Giok Jie ! Tetapi sayang, dia bisa diketemukan oleh ayahnya, namun ibunya. "

"Kemana pun ibunya pergi, kalau kita bisa keluar dari gunung Kun lun ini, biar secara perlahan, pasti bisa diketemukan !" kata Hee Thian Siang.

Tiong sun Hui Kheng tahu bahwa Hee Thian Siang yang dikurung di puncak Kun lun, dalam hatinya sedikit banyak pasti merasa gelisah. Maka ia tidak sampai hati untuk menyampaikan berita jelek yang menimpa diri Liok Giok Jie. Matanya berputar sejenak. Ia mengalihkan pembicaraan dengan pura-pura bertanya :

"Mengapa tidak kelihatan Siaopek ? Kemana ia pergi ?" "Siaopek sesungguhnya terlalu cerdik dan terlalu baik

sekali ! Coba kalau enci tidak perintahkan ia ikut aku, bayi ini barangkali sudah lama mati kelaparan !"

"Apakah Siaopek pergi mencari makanan untuk bayi ini ?" "Ya ! Persediaan susu rusa disini tinggal sedikit. Siaopek

baru saja kusuruh turun gunung, untuk mencari lebih banyak

lagi !" "Adik Siang, lama juga kau dikurung disini. Tentunya banyak menderita."

"Menderita kalau cuma buat kau, tidak jadi soal. Yang kutakuti cuma kesepian dan kesunuian yang siang hari malam harus aku gadungi. Dengan adanya enci disini, taruh kta ada jalan keluar, aku masih suka tinggal disini dan aku benar- benar rela !"

Tiong sun Hui Kheng pendelikkan matanya. Lalu berkata : "Adik Siang, aku cuma pikir yang senang-senang saja !

Tahukah kau, tempat yang kita injak sekarang ini sebenarnya

ada dipendam senjata peledak di delapan belas tempat ?"

Hee Thian Siang sedikitpun tidak merasa terkejut atau heran. Katanya sambil menganggukkan kepala : "Memang sudah dalam dugaanku begitu. Tetapi selama mereka tidak dikasih tahu cara menggunakan senjata Kian thian pek lek, tidak bakalan mereka berani turun tangan kejam ! Jadi kalau buat aku, biarpun kita harus tinggal ditempat yang dikitari oleh bahan peledak, malah merasa aman !"

"Memang betul aman. Tetapi apakah kita boleh tak usah memikirkan keselamatan dan kesucian enci Hwa Jie Swat yang kini sedang dikurung dalam istana Kun-lun kiong ?'

"Enci Hwa Jie Swat juga sudah datang ?' tanya Hee Thian Siang heran.

Tiong sun Hui Kheng lalu menceritakan pertemuannya secara kebetulan dengan orang tua berbaju kuning Hee kouw Soan dan Hwa Jie Swat serta It-pun Sin-ceng. Hanya merahasiakn peristiwa Liok Giok Jie yang buang diri ke dalam jurang.

Habis cerita Tiong sun Hui Kheng, Hee Thian Siang berkata sambil menghela napas : "Celaka "

Tapi ia belum melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara Bo Cu Keng dibarengi suara tertawanya yang suaranya sangat aneh :

"Hee Thian Siang, jikalau kau tidak mau kasih tahu juga cara menggunakan senjata peledak Kian thian pek lek, aku nanti akan gerakan seluruh pesawat dalam kamar rahasia. Lebih dahulu akan kutaklukan Hwa Jie Swat, lalu kubawa ke bawah gunung Kun kun ini, biar dia rasa bagaimana bila seluruh anak murid Kun lun pay memperkosa dirinya dengan bergiliran !"

Percuma saja Hee Thian Siang marah-marah dan mendongkol sebab ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa cuma minta supaya Bo Cu Keng mau memberikan waktu kepadanya untuk berpikir.

Bo Cu Keng tahu bahwa ia sudah mendapatkan titik kelemahan Hee Thian Siang. Dianggap anak muda itu pasti akan menyerah, maka dengan merasa bangga ia lalu berkata :

"Hee Thian Siang ! Boleh kuberikan padamu waktu satu hari untuk berpikir. Tetapi awas, jika besok sampai tengah hari kau belum mau kasih tahu cara menggunakan senjata Kian thian pek lek, aku bisa suruh kau menyaksikan sendiri bagaimana dibawah sinar matahari Hwa Jie Swat akan diperkosa oleh banyak orang !"

Sehabis berkata demikian, tidak terdengar suara lagi.

Hingga suasana kembali menjadi hening.

Hee Thian Siang berkata kepada Tiong sun Hui Kheng sambil menggelengkan kepala dan menghela napas :

"Enci Kheng, sekarang bagaimana baiknya ? Enci Hwa Jie Swat berada ditangan kawanan iblis. Rasanya, rahasia cara menggunakan senjata Kian thian pek lek ini tidak akan dapat kupertahankan lagi !"

"Syukur kalau It-pun Sin-ceng bisa keburu sampai pada waktunya yang tepat. Sebab itulah yang paling baik. Tapi kalau tidak, yah ! Apa boleh buat harus kita beritahukan juga cara menggunakan senjata Kian thian pek lek itu biar dikemudian hari perlahan-lahan kita boleh rebut kembali !" berkata Tiong sun Hui Kheng sambil mengerutkan alisnya.

"Kian thian pek lek itu adalah senjata yang sangat ampuh dan luar biasa hebatnya. Kalau sampai digunakan oleh kawanan penjahat itu untuk melakukan kejahatan besar, bukankah golongan Pak bin yang akan mendapat malu besar

? Lalu bagaimana pula aku harus mempertanggungjawabkan semuanya kepada arwah suhu di alam baka ?"

"Adik Siang, apa kau tidak punya akal untuk memberitahukan rahasia penggunaan senjata itu yang palsu ? Biar bagaimana Kian thian pek lek itu toh cuma ada satu. Pasti mereka tak akan berani mencoba-coba menggunakan senjata itu !"

"Enci Kheng, aku juga sudah pikirkan hendak berbuat begitu. Tapi aku khawatir kawanan penjahat itu sesudah mendapatkan rahasia palsu tentang penggunaan senjata itu, lantas dianggap benar-benar. Sebaliknya nanti akan berusaha membasmi kita. Tentu hal itu tidak menguntungkan sekali bagi kita dan enci Swat sendiri !"

"Adik Siang, kekuatiranmu semcam ini memang cukup baik. Mungkin karena kau sudah dapat menembusi hati kawanan penjahat partai Kun lun itu. Kalau begitu, tak ada lain jalan. Terpaksa kita harus mengalihkan pengharapan kita pada diri It-pun Sin-ceng. Biarlah beberapa lama berdiam disini sampai dia datang dan menolong kita !" Berkata sampai disitu, dari bawah puncak gunung tiba-tiba tampak berkelebat bayang putih. Ternyata Siaopek sudah kembali dengan membawa satu kantong penuh susu rusa.

Tiong sun Hui Kheng lantas meneteki bayi Liok Giok Jie dengan air susu binatang itu dan memerintahkan Siaopek turun lagi guna menantikan It-pun Sin-ceng dan suruh Hee Thian Saing menulis surat dengan kayu bakar tentang keadaan mereka disitu.

Sungguh kebetulan sekali, Siaopek baru saja turun dari puncak Kun lun sudah menampak sebuah bayangan kealbu dan bayangan kuning, yang dari jauh lari mendatangi.

Bayangan kuning itu bukan lain dari pada binatang gaib Taywong, sedangkan bayangan kelabu adalah It-pun Sin-ceng yang diharap-harapkan kedatangannya oleh Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng.

Siaopek mengeluarkan siulan girang lalau lari menyongsong dan menyerahkan surat yang ditulis oleh Hee Thian Siang kepada It-pun Sin-ceng.

Setelah membaca habis surat Hee Thian siang, It-pun Sin- ceng mengerutkan alisnya. Diam-diam berpikir bahwa kawanan penjahat partai Kun lun itu banyak sekali jumlahnya, sedangkan ia sendiri hanya sendirian membawa-bawa dua binatang yang cerdik dan gaib itu. Bagaimana dapat menolong mereka yang terancam bahaya sangat besar itu ?

Karena berada dalam keadaan sangat sulit itu, It-pun Sin- ceng terpaksa menyingkirkan semua pikiran dan duduk bersila sambil memutar otak.

Tidak kecewa ia sebagai seorang pendekar besar. Setelah duduk tidak berapa lama, dari dalam ketenangannya itu ia mendapatkan suatu jalan yang cukup berbahaya dan harus menempuh jalan antara hidup dan mati. Lebih dulu ia coba menganalisa keadaan diatas puncak, lalu menganggap bahwa apa yang dikuatirkan Hee Thian Siang itu memang tidak salah. Kawanan penjahat partai Kun lun asal mendapatkan rahasia cara menggunakan Kian thian pek lek, pasti akan bertindak terhadap Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat dengan segala kekejaman mereka.

Kedua It-pun Sin-ceng memastikan bahwa kekuatan tenaganya sendiri yang dibantu oleh Siaopek dan Taywong paling hanya dapat menolong jiwa Hwa Jie Swat dari tangan kawanan penjahat itu, untuk sementara tidak mungkin dapat menolong Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng meloloskan diri dari puncak gunung Kun-lun.

Karena toh harus kedua-duanya dapat dilaksakan dengan sempurna, terpaksa harus menempuh bahaya.

Maka itu, It-pun Sin-ceng lalu memerintahkan Siaopek dan Taywong untuk mencari rotan-rotan gunung yang kasar-kasar dan banyak jumlahnya, sedangkan ia sendiri akan turun tangan membuat sebuah keranjang rotan yang kuat dan besar sekali.

Kemudian, mereka juga membaut lagi beberapa batang rotan yang panjangnya kira-kira tiga tombak. Bersama-sama keranjang itu dan sepucuk surat, ia memerintahkan Siaopek dan Taywong dengan melalui jalan belakang, mendaki ke puncak Kun lun.

Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng yang membaca surat itu sangat mengagumi kecerdikan It-pun Sin-ceng.

Beberapa puluh batang rotan gunung itu, diikat dengan keranjang rotan, setiap lima batang diikat menjadi satu. Setelah itu, diantara pohon cemara yang berada di atas puncak Kun lun dengan batu-batu dibawah untuk diikatkan dengan rotan-rotan panjang meluncur ke bawah.

Dengan demikian, keranjang rotan itu lalu digunakan untuk turun dari atas yang berada di bagian belakang puncak Kun lun, dibawah terdapat jurang yang sangat dalam.

It-pun Sin-ceng mau supaya Hee Thian Siang begitu sampai besok tengah hari, itu adalah yang terakhir kawanan penjahat Kun lun akan membawa Hwa Jie Swat ke bawah puncak gunung itu untuk menggertak Hee Thian Siang supaya mau menyerah.

Sudah diperhitungkan, jikalau penjahat Kun lun pay itu mengetahui rahasia menggunakan senjata Kian thian pek lek, pasti mereka akan turun tangan kejam terhadap Hee Thian Siang, Tiong sun Hui Kheng dan Hwa Jie Swat. Itulah kegunaan keranjang besar itu, buat menyelamatkan Hee Thian Siang dan Tiong sun Hui Kheng.

Kalau mereka akan turun tangan terhadap Hwa Jie Swat, hal itu akan dihadapi oleh It-pun Sin-ceng, Siaopek dan Taywong yang lebih dulu sudah sembunyikan diri di tempat gelap dan akan berusaha merebut dan menolong Hwa Jie Swat dari tangan mereka.